PENGERTIAN & TINGKATAN TAKWA
Kesempurnaan syariat Islam
mampu mencakup semua aspek kehidupan, demikian juga tentang syariat takwa
merupakan konsep yang sangat luas, mencakup semua aspek kehidupan, karena takwa
harus dilakukan di semua keadaan, kapan saja dan di mana saja, terbukti dengan
ditemukannya di dalam Al-Quran kata takwa, Sadr, Nafs, Qalb, Fuad bahkan Taubat berdampingan
dengan kata yang mengandung pengertian sebelas tingkatan takwa dan sepuluh
tingkatan fujur.
Perumusan pengertian dan
tingkatan takwa diperlukan sebagai alat maupun sarana untuk mempermudah pemahaman
dan pengamalan syariat takwa, mengingat Firman Allah SWT di dalam Al Quran
surat Al-Maidah (5): 35;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَابْتَغُوا إِلَيْهِ
الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya,
dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan. (QS.
Al-Maidah (5): 35).
Untuk itu perlu dirumuskan
pengertian singkat tetapi mencakup semuanya unsur pengertian takwa, yang
diharapkan dapat menjadi wasilah; sarana untuk memahami takwa dengan
lebih mudah, sehingga dapat berjihad; bersungguh-sungguh dalam
mengamalkan takwa dengan sebenar-benarnya takwa.
Didasari kajian mendalam dari
dalam Ayat-ayat Al Quran dan Hadits Rasulullah SAW, maka dapat disusun definisi
“Takwa adalah seluruh tingkat kesadaran ruhani untuk selalu mengingat dan
mentaati Allah, bersungguh-sungguh menjaga diri untuk meninggalkan keburukan
dan mengerjakan kebaikan, dilandasi kesadaran bahwa takwa merupakan inti nilai
kebaikan seluruh amal perbuatan manusia.”
Karena begitu luasnya cakupan
takwa, maka untuk dapat memahami definisi tersebut diperlukan pemahaman tentang
tingkatan takwa secara keseluruhan, yang terdiri dari 11 tingkatan takwa dan 10
tingkatan fujur, yang dapat digambarkan dengan tabel berikut;
Susunan Herarki
Cermin Qalbu & Perspektif
Seluruh kriteria yang di
kolom spiritual merupakan bentuk ketakwaan, pada sepuluh kriteria yang ada di
dalam kategori fujur merupakan kriteria spiritual yang harus dibersihkan dari
dalam qalbu, sehingga dapat disebut dengan ketakwaan dari fujur (ananniyah,
ghadab, syahwat dst, dari negatif satu hingga negatif sepuluh). Sedangkan pada
sepuluh kriteria yang ada di dalam kategori takwa merupakan kriteria yang harus
ditumbuhkan atau ditingkatkan di dalam qalbu, sehingga dapat digunakan untuk
menggolongkan bahwa seseorang tingkat ketakwaannya berada di tingkat taubat,
sabar, ikhlas, ikhsan, dst sampai dengan Jannah.
Dasar hukum pada tingkatan
takwa taubat, sabar, ikhlas, islam, iman, ikhsan, dasar penyusunannya sangat
jelas tersurat di dalam Al Quran surat; An
Nisa’/ 4: 145-146, Az-Zumar/ 39: 10-11-12-13 dan hadits Rasulullah SAW; HR. Muslim: 11, karena di tingkatan ini masih pada tingkat pemahaman bayani
(keterangan) dan dan burhani (bukti), sedangkan pada tingkatan takwa mahabbah,
rahmah, ridha, hidayah dan jannah dasar penyusunan tingkatannya dapat diperoleh
secara tersirat di dalam do’a-doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, seperti
yang termuat di dalam Hadits Nabi; HR. Ahmad:
7923, HR. Ibnu Majah: 3826, yang hanya dapat dipahami secara ‘irfani (pemahaman
ruhani).
Ketakwaan di tingkat ‘irfani ini juga dapat dipahami secara
tersirat dari keterangan Al Quran surat Ar-Rahman/ 55: 60;
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
Artinya:
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).
Dari ayat tersebut diperoleh
pemahaman bahwa balasan orang yang melakukan ihsan (menebar kebaikan) akan
mendapat ihsan dari Allah, balasan orang yang mahabbah (menebarkan cinta) akan
mendapat mahabbah dari Allah, balasan orang yang rahmah (menebar kasih sayang)
akan mendapat rahmah dari Allah, balasan orang yang ridha (menebar perasaan
puas/bahagia) akan mendapatkan balasan keridhaan dari Allah, balasan orang yang
hidayah (menebarkan petunjuk) akan mendapatkan hidayah dari Allah dan balasan
orang yang jannah (berperilaku ahli jannah) akan mendapatkan balasan jannah
dari Allah.
Dari susunan tabel di atas
dapat diperoleh pemahaman tentang sempurnanya konsep takwa dalam Islam,
mencakup semua tingkatan ilmu; syariat, thariqat, hakikat hingga ma’rifat,
semua tingkatan jalan taqarub; syari’, thariq, shirath,
sabil, semua tingkatan amal; ibadah, aqidah, akhlaq, juga semua
tingkatan pemahaman; bayani, burhani dan ‘irfani, dengan
demikian takwa dapat dijadikan sebagai pengikat/ pemersatu semua jenis
tingkatan, karena tingkatan takwa menjadi sebuah standar penentu tingkat
kemuliaan manusia di sisi Allah.
Untuk membuktikan kebenaran
tingkatan takwa, di dalam buku ini secara khusus dikemukakan klasifikasi
ayat-ayat takwa yang ada di dalam Al Quran, sesuai dengan tingkatannya di dalam
“Cermin Qalbu”, rangkuman klasifikasi ayat-ayat takwa ke dalam tingkatan kesadaran
takwa “Cermin Qalbu”, dikemukakan dalam tabel berikut;
Rekap Hasil Klasifikasi
Ayat-ayat Takwa
Ke Dalam Tingkatan Takwa “Cermin Qalbu”
Berdasar tabel rekap hasil
klasifikasi ayat-ayat takwa, diketahui bahwa ketika kata-kata yang berkaitan
dengan takwa; takwa, qalb, sadr, fuad, nafs
dan taubat diklasifikasikan berdasar dengan kata-kata tersebut ke dalam “cermin qalbu”, secara merata, dari
total pencarian 814 ayat, 704 ayatnya dapat diklasifikasikan,
prosentasenya ayat-ayat yang
diklasifikasikan mencapai tingkatan yang tinggi, yaitu 86,4%.
Dengan demikian berdasar
bukti-bukti klasifikasi “ayat-ayat takwa”
yang telah dikemukakan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa
tingkat kesadaran manusia yang disusun menjadi cermin qalbu memiliki bukti yang
sangat kuat, sehingga tingkatan takwa yang tersusun di dalam cermin qalbu dapat
diterima kebenarannya.
Pada buku Ilmu Takwa seri ke
dua “Hakikat Takwa” ini secara khusus menyajikan kajian tentang pengertian
takwa secara utuh dan menyeluruh menggunakan pendekatan pemahaman bayani,
burhani maupun ‘irfani, namun ketika pembaca membaca hasil kajian di buku ini,
bisa jadi hanya dapat melihat sebagai sebuah kajian di tingkat bayani saja,
atau kajian di tingkat bayani dan burhani, atau mungkin juga dapat melihat dan
memahaminya sebagai sebuah kajian yang menyeluruh di tingkat bayani, burhani
maupun ‘irfani, hal itu dapat terjadi karena tingkat kesadaran takwa pembaca,
mempengaruhi tingkat kemampuan untuk dapat melihat dan memahami Al Quran,
apakah Al Quran dipahami sebagai sumber informasi bayani, burhani atau ‘irfani
?
Untuk dapat semakin memahami
dan meningkatkan kesadaran takwa, pada setiap tingkatan takwa yang telah
dikemukakan di buku Ilmu Takwa seri 2 “Hakikat Takwa Memahami Pengertian Dan
Tingkatan Takwa” akan dilakukan pembahasan yang lebih mendalam di buku Ilmu
Takwa seri ke tiga “Cermin Qalbu Melihat Tingkat Fujur Dan Takwa Pada Diri
Sendiri”, Pembahasan masing-masing tingkatan takwa dilengkapi dengan ayat-ayat
Al Quran Dan Hadits Rasulullah SAW yang berkaitan. Jika pada pembahasan pada buku “Hakekat
Takwa” kajiannya fokus pada ayat-ayat Al
Quran yang berkaitan dengan takwa, maka pada buku “Cermin Qalbu” ini, selain
dikemukan penjelasan berdasar ayat-ayat Al Qur’an, juga dilengkapi dengan
penjelasan berdasar Hadits Rasulullah SAW dan Atsar para Sahabat Nabi, dengan
pendekatan pemahaman bayani, burhani dan ‘irfani.
Pada buku seri ke lima “Tazkiyatun Nafs Membersihkan Jiwa Dari Fujur dan Menumbuhkan Takwa” akan
dikemukakan pembahasan tentang pendekatan dan metode yang efektif untuk
menumbuhkan ketakwaan, yaitu; Tazkiyatun Nafs yang dapat digunakan sebagai
bimbingan untuk Membersihkan jiwa dari Fujur dan Menumbuhkan Takwa, sedangkan
pada buku seri ke enam “Auliya’ Allah Menjadi Hamba Yang Di Cinta Allah Melalui
Jalan Takwa” akan dikemukakan pembahasan mengenai karakter orang-orang yang
dicintai Allah.
Buku ini tidak terlepas dari
kekurangan dan kesalahan, maka dengan rendah hati penulis mohon kritik, saran
dan masukan dari pembaca, juga kami ucapkan banyak terima kasih bagi pembaca
yang telah mencermati seluruh isi buku ini hingga titik ini. Semoga Allah
membimbing dan menyayangi Anda menjadi hamba-hamba Allah yang bertakwa..


Tidak ada komentar:
Posting Komentar