Huzn dalam Bahasa Arab berarti; kesedihan, duka cita, kesusahan, kemurungan, kemuraman, tidak bahagia, pengertiannya; adalah kesedihan karena peristiwa atau musibah yang sudah terjadi. Di dalam Al Quran ditemukan 42 kata huzn di 42 ayat, kata-kata tersebut untuk menggambarkan keadaan sedih dalam kondisi yang berbeda-beda.
Untuk dapat
memahami secara keseluruhan tentang takwa dari Huzn, di sini akan dikemukakan
pembahasan tentang;
1. Kategori Huzn
2. Karakter Huzn
3. Takwa Dari Huzn
Pembahasannya adalah sebagai berikut;
Keadaan huzn sebagaimana keadaan khauf dan khasyah dalam ayat-ayat Al Quran yang telah dibahas di dalam bab sebelumnya, dapat dikategorikan ke dalam 4 kategori keadaan rasa sedih;
1.1. Tidak Sedih Ketika Hidup Di Akhirat
Dalam kehidupan
di akhirat rasa takut dan sedih tidak dirasakan lagi oleh penduduk surga, di
antaranya digambarkan dalam ayat-ayat Al Quran berikut;
1.1.1. Mereka Tiada Disentuh Oleh Azab
(Neraka Dan Tidak Pula) Mereka Berduka Cita.
Di dalam Al Quran surat Az Zumar/ 39: 61, digambarkan bahwa mereka
tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita.;
وَيُنَجِّي اللَّهُ الَّذِينَ اتَّقَوْا
بِمَفَازَتِهِمْ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوءُ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya: Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena
kemenangan mereka, mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula)
mereka berduka cita. (QS. Az Zumar/ 39: 61)
1.1.2. Tiada Kekhawatiran Terhadapmu Pada
Hari Ini Dan Tidak Pula Kamu Bersedih Hati
Di dalam Al Quran surat Az Zukhruf/ 43: 68, digambarkan bahwa
orang-orang beriman pada hari itu (di akhirat) tidak disentuh kekhawatiran dan
kesedihan;
يَا عِبَادِ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَ
وَلَا أَنتُمْ تَحْزَنُونَ
Artinya: "Hai hamba-hamba-Ku, tiada kekhawatiran terhadapmu
pada hari ini dan tidak pula kamu bersedih hati. (QS. Az Zukhruf/ 43: 68)
1.1.3. Mereka Tidak Disusahkan Oleh
Kedahsyatan Yang Besar
Di dalam Al Quran surat Al Anbiya’/ 21: 103, digambarkan bahwa
orang-orang beriman tidak disedihkan dengan kedahsyatan yang besar di hari
akhir nanti;
لَا يَحْزُنُهُمُ الْفَزَعُ الْأَكْبَرُ
وَتَتَلَقَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ هَٰذَا يَوْمُكُمُ الَّذِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ
Artinya: Mereka tidak disusahkan oleh kedahsyatan yang besar (pada hari
kiamat), dan mereka disambut oleh para malaikat. (Malaikat berkata):
"Inilah harimu yang telah dijanjikan kepadamu". (21: 103)
1.2. Tidak Sedih Ketika Hidup Di Dunia
Dalam menjalani kehidupan di dunia terdapat banyak manusia yang tidak
merasakan kesedihan, karena mendapat perlindungan dari Allah sebagaima telah
dijelaskan pada bab taqwa dari khauf, yaitu antara lain karena:
1.2.1. Orang Yang Mengikuti Petunjuk Allah
Di dalam Al Quran surat Al Baqarah/ 2: 38, ditegaskan bahwa orang yang
mengikuti petunjuk Allah SWT tidak takut dan tidak sedih;
قُلْنَا اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا فَإِمَّا
يَأْتِيَنَّكُم مِّنِّي هُدًى فَمَن تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا
هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya:
Kami berfirman: "Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika
datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku,
niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih
hati". (QS. Al Baqarah/ 2: 38)
1.2.2. Orang Yang Menyerahkan Diri Kepada
Allah Dan Berbuat Kebaikan
Di dalam Al Quran surat Al Baqarah/ 2: 112 ditegaskan bahwa barangsiapa
yang menyerahkan diri kepada Allah dan berbuat kebajikan akan mendapat pahala
dari sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula)
mereka bersedih hati;
بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ
مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ
يَحْزَنُونَ
Artinya:
(Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah,
sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak
ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al
Baqarah/ 2: 112)
1.2.3. Orang Yang Bertuhan
Allah Dan Teguh Pendiriannya
Di
dalam Al Quran surat Al Ahqaf/ 46: 13 dinyatakan bahwa Sesungguhnya orang-orang
yang mengatakan: "Tuhan kami ialah Allah", kemudian mereka tetap
istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula)
bersedih hati;
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ
اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan kami ialah
Allah", kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran
terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. (QS. Al Ahqaf/ 46: 13)
1.3. Sedih Ketika Hidup Di Dunia
Di dalam Al Quran surat Al Baqarah/ 2: 62 dan surat Al Maidah/ 5: 69
ditegaskan bahwa siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada
Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan
mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih
hati;
إِنَّ
الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالنَّصَارَىٰ وَالصَّابِئِينَ مَنْ آمَنَ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُمْ أَجْرُهُمْ عِندَ
رَبِّهِمْ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan
orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada
Allah, hari kemudian dan beramal saleh, mereka akan menerima pahala dari Tuhan
mereka, tidak ada kekhawatiran kepada mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih
hati. (QS. Al Baqarah/ 2: 62)
إِنَّ
الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَادُوا وَالصَّابِئُونَ وَالنَّصَارَىٰ مَنْ آمَنَ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا
هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, Shabiin dan orang-orang
Nasrani, siapa saja (diantara mereka) yang benar-benar saleh, maka tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (5: 69)
Di dalam dua ayat tersebut kata la yahzanun; tidak huzn/bersedih,
juga ditemukan di banyak tempat berdampingan dengan kata la khaufun;
tidak khauf/takut, didahului dengan kata-kata orang-orang yang beriman kepada
Allah dengan hari akhir, sehingga menjadi sebuah keterangan bahwa kondisi hati
seorang yang beriman hatinya tidak ada perasaan takut dan sedih ketika hidup di
dunia maupun di akhirat, sebagaimana telah dibahas pada bab sebelum ini.
Karena perasaan huzn tidak ada pada hati orang beriman, maka huzn
pada bab ini untuk menggambarkan keadaan hati orang yang tidak beriman (imannya
tipis), yaitu akibat yang muncul dari harapan dan keinginan pada nilai -1
Nafsiyah, –2 Ghadab, -3 Syahwat yang tidak tercapai, serta mengalami -4 Khauf
yang berulang-ulang, seperti; kesedihan-kesedihan jika tidak dihormati, tidak
cukup banyak uangnya, tidak bagus kendaraannya, tidak memiliki jabatan, tidak
memiliki apa yang dimiliki orang lain, sering mengalami hal-hal yang ditakutkan
dll.
Di dalam Al Quran ditemukan gambaran beberapa hal yang dapat
menimbulkan perasaan sedih, antara lain;
2.1. Harapan Yang Tidak Terpenuhi Dan
Ketakutan Yang Terjadi
Di dalam Al Quran surat Ali Imran/ 3: 153, disebutkan peringatan supaya
kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap
apa yang menimpa kamu;
إِذْ تُصْعِدُونَ وَلَا تَلْوُونَ عَلَىٰ أَحَدٍ
وَالرَّسُولُ يَدْعُوكُمْ فِي أُخْرَاكُمْ فَأَثَابَكُمْ غَمًّا بِغَمٍّ
لِّكَيْلَا تَحْزَنُوا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا مَا أَصَابَكُمْ وَاللَّهُ
خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya:
(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang
Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu
Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan
bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang
menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali Imran/ 3: 153)
Senada dengan ayat di atas tetapi di dalam Al
Quran surat Al Hadid/ 57: 23, kata duka cita; sedih diungkapkan dengan kata ta’saw;
لِّكَيْلَا
تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ وَاللَّهُ لَا
يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Artinya:
(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap
apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa
yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong
lagi membanggakan diri, (QS. Al Hadid/ 57: 23)
2.2. Orang Yang Segera Menjadi Kafir
Di
dalam Al Quran surat Ali Imran/ 3: 176, diberikan peringatan untuk tidak
disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir; sesungguhnya mereka
tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah sedikitpun;
وَلَا
يَحْزُنكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ إِنَّهُمْ لَن يَضُرُّوا اللَّهَ
شَيْئًا يُرِيدُ اللَّهُ أَلَّا يَجْعَلَ لَهُمْ حَظًّا فِي الْآخِرَةِ وَلَهُمْ
عَذَابٌ عَظِيمٌ
Artinya:
Janganlah kamu disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir;
sesungguhnya mereka tidak sekali-kali dapat memberi mudharat kepada Allah
sedikitpun. Allah berkehendak tidak akan memberi sesuatu bahagian (dari pahala)
kepada mereka di hari akhirat, dan bagi mereka azab yang besar. (QS. Ali Imran/
3: 176)
Di
dalam Al Quran surat Al Maidah / 5: 41, Rasulullah juga diberi peringatan untuk
tidak disedihkan oleh orang-orang yang segera menjadi kafir;
يَا
أَيُّهَا الرَّسُولُ لَا يَحْزُنكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْكُفْرِ مِنَ
الَّذِينَ قَالُوا آمَنَّا بِأَفْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِن قُلُوبُهُمْ وَمِنَ
الَّذِينَ هَادُوا سَمَّاعُونَ لِلْكَذِبِ سَمَّاعُونَ لِقَوْمٍ آخَرِينَ لَمْ
يَأْتُوكَ يُحَرِّفُونَ الْكَلِمَ مِن بَعْدِ مَوَاضِعِهِ يَقُولُونَ إِنْ
أُوتِيتُمْ هَٰذَا فَخُذُوهُ وَإِن لَّمْ تُؤْتَوْهُ فَاحْذَرُوا وَمَن يُرِدِ
اللَّهُ فِتْنَتَهُ فَلَن تَمْلِكَ لَهُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا أُولَٰئِكَ
الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَن يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ لَهُمْ فِي الدُّنْيَا
خِزْيٌ وَلَهُمْ فِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ عَظِيمٌ
Artinya:
Hari Rasul, janganlah hendaknya kamu disedihkan oleh orang-orang yang
bersegera (memperlihatkan) kekafirannya, yaitu diantara orang-orang yang
mengatakan dengan mulut mereka: "Kami telah beriman", padahal hati
mereka belum beriman; dan (juga) di antara orang-orang Yahudi. (Orang-orang
Yahudi itu) amat suka mendengar (berita-berita) bohong dan amat suka mendengar
perkataan-perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu; mereka
merubah perkataan-perkataan (Taurat) dari tempat-tempatnya. Mereka mengatakan:
"Jika diberikan ini (yang sudah di rubah-rubah oleh mereka) kepada kamu,
maka terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini maka hati-hatilah".
Barangsiapa yang Allah menghendaki kesesatannya, maka sekali-kali kamu tidak
akan mampu menolak sesuatupun (yang datang) daripada Allah. Mereka itu adalah
orang-orang yang Allah tidak hendak mensucikan hati mereka. Mereka beroleh
kehinaan di dunia dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (QS. Al
Maidah / 5: 41)
Di
dalam Al Quran surat Luqman/ 31: 23, diingat untuk tidak sedih atas kekafiran
mereka;
وَمَن
كَفَرَ فَلَا يَحْزُنكَ كُفْرُهُ إِلَيْنَا مَرْجِعُهُمْ فَنُنَبِّئُهُم بِمَا
عَمِلُوا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
Artinya:
Dan barangsiapa kafir maka kekafirannya itu janganlah menyedihkanmu. Hanya
kepada Kami-lah mereka kembali, lalu Kami beritakan kepada mereka apa yang
telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala isi hati. (QS.
Luqman/ 31: 23)
2.3. Orang Yang Mendustakannya
Di
dalam Al Quran surat Al An’am/ 6: 33, diingatkan untuk tidak bersedih atas
pendustaan mereka;
قَدْ
نَعْلَمُ إِنَّهُ لَيَحْزُنُكَ الَّذِي يَقُولُونَ فَإِنَّهُمْ لَا يُكَذِّبُونَكَ
وَلَٰكِنَّ الظَّالِمِينَ بِآيَاتِ اللَّهِ يَجْحَدُونَ
Artinya:
Sesungguhnya Kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu
menyedihkan hatimu, (janganlah kamu bersedih hati), karena mereka sebenarnya
bukan mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari
ayat-ayat Allah. (QS. Al An’am/ 6: 33)
2.4. Perkataan Orang Yang Mempersekutukan
Allah
Di dalam Al Quran Surat Yunus Ayat 65, memberikan peringatan agar orang
beriman tidak perlu sedih dengan berbagai ucapan orang-orang tidak beriman;
وَلَا
يَحْزُنكَ قَوْلُهُمْ إِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا هُوَ السَّمِيعُ
الْعَلِيمُ
Artinya:
Janganlah kamu sedih oleh perkataan mereka. Sesungguhnya kekuasaan itu
seluruhnya adalah kepunyaan Allah. Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui. (10: 65)
Demikian
juga Di dalam Al Quran Surat Yasin/ 36: 76;
فَلَا
يَحْزُنكَ قَوْلُهُمْ إِنَّا نَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ
Artinya:
Maka janganlah ucapan mereka menyedihkan kamu. Sesungguhnya Kami mengetahui
apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan. (QS. Yasin/ 36: 76)
2.5. Nabi
Ya’qub Kehilangan Putranya; Yusuf
Di
dalam Al Quran surat Yusuf/ 12: 84, digambarkan kesedihan nabi Ya’qub
kehilangan putranya; Yusuf, namun masih mampu menahan marah terhadap
anak-anaknya;
وَتَوَلَّىٰ
عَنْهُمْ وَقَالَ يَا أَسَفَىٰ عَلَىٰ يُوسُفَ وَابْيَضَّتْ عَيْنَاهُ مِنَ
الْحُزْنِ فَهُوَ كَظِيمٌ
Artinya:
Dan Ya'qub berpaling dari mereka (anak-anaknya) seraya berkata: "Aduhai
duka citaku terhadap Yusuf", dan kedua matanya menjadi putih karena
kesedihan dan dia adalah seorang yang menahan amarahnya (terhadap
anak-anaknya). (QS. Yusuf/ 12: 84)
2.6. Kenikmatan
Dunia Yang Diberikan Kepada Orang Kafir
Di
dalam Al Quran surat Al Hijr/ 15: 88, ada peringatan untuk tidak bersedih atas
kenikmatan dunia yang dimiliki orang kafir;
لَا
تَمُدَّنَّ عَيْنَيْكَ إِلَىٰ مَا مَتَّعْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِّنْهُمْ وَلَا
تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَاخْفِضْ جَنَاحَكَ لِلْمُؤْمِنِينَ
Artinya:
Janganlah sekali-kali kamu menunjukkan pandanganmu kepada kenikmatan hidup
yang telah Kami berikan kepada beberapa golongan di antara mereka (orang-orang
kafir itu), dan janganlah kamu bersedih hati terhadap mereka dan berendah
dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman. (QS. Al Hijr/ 15: 88)
Al
Quran Surat An-Nahl Ayat 127 juga memberi peringatan untuk bersikap sabar dan
tidak perlu sedih dengan sifat-sifat kekafiran dan tipu daya orang-orang yang
tidak beriaman;
وَاصْبِرْ
وَمَا صَبْرُكَ إِلَّا بِاللَّهِ وَلَا تَحْزَنْ عَلَيْهِمْ وَلَا تَكُ فِي ضَيْقٍ
مِّمَّا يَمْكُرُونَ
Artinya:
Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan
pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka
dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. (QS. An-Nahl
Ayat 127)
2.8. Pembicaraan Rahasia Orang Munafiq
Orang-orang
beriman diperingatkan Allah dengan Al Quran Surat Al-Mujadilah/ 58: 10, agar
tidak sedih atas pembicaraan rahasia orang-orang munafiq mengenai dosa,
permusuhan dan durhaka kepada Rasul;
إِنَّمَا
النَّجْوَىٰ مِنَ الشَّيْطَانِ لِيَحْزُنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَلَيْسَ بِضَارِّهِمْ
شَيْئًا إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ
Artinya:
Sesungguhnya pembicaraan rahasia itu adalah dari syaitan, supaya orang-orang
yang beriman itu berduka cita, sedang pembicaraan itu tiadalah memberi mudharat
sedikitpun kepada mereka, kecuali dengan izin Allah dan kepada Allah-lah
hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal.(QS. Al-Mujadilah/ 58: 10)
2.9. Lemah Di Hadapan Orang Kafir
Al
Quran Surat Ali 'Imran Ayat 139, menguatkan kepada kita untuk tidak merasa
lemah dan sedih atas sifat orang-orang tidak beriman, karena orang berimanlah
yang memiliki kedudukan yang lebih tinggi;
وَلَا تَهِنُوا
وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Artinya:
Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal
kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang
beriman.(QS. Ali 'Imran Ayat 139)
2.10. Ancaman
Pembunuhan Terhadap Nabi Muhammad SAW
Nabi
Muhammad SAW juga pernah mengingatkan kepada Abu Bakar Ash shidiq, Ketika
keduanya bersembunyi di gua Tsur, saat dikejar kaum kafir Qurais untuk dibunuh,
nabi SAW mengatakan; Jangan bersedih sesunggunya Allah Bersama kita (orang
beriman), kisahnya diabadikan di dalam Al Quran Surat At-Taubah Ayat 40;
إِلَّا تَنْصُرُوهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللَّهُ إِذْ أَخْرَجَهُ
الَّذِينَ كَفَرُوا ثَانِيَ اثْنَيْنِ إِذْ هُمَا فِي الْغَارِ إِذْ يَقُولُ لِصَاحِبِهِ
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا ۖ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَيْهِ وَأَيَّدَهُ
بِجُنُودٍ لَمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِينَ كَفَرُوا السُّفْلَىٰ ۗ وَكَلِمَةُ
اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ
Artinya:
Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah
menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya
(dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada
dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: "Janganlah kamu bersedih,
sesungguhnya Allah beserta kita". Maka Allah menurunkan keterangan-Nya
kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya,
dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah
itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Perasaan Huzn tidak hanya dapat timbul dari penyebab di atas
saja, tetapi perasaan huzn dapat muncul dari semua harapan dan keinginan
seseorang yang tidak tercapai, selanjutnya perasaan huzn dapat menimbulkan
sifat atau perasaan lainnya, seperti; stres, murung, khawatir, gelisah, cemas,
bingung, kecewa, tidak tenang, tidak percaya diri, malas, resah, was-was,
curiga, ragu ragu, plin-plan, panik, tidak bahagia, prasangka buruk, hingga
putus asa.
Perasaan Khauf Dan Huzn Dapat Mendorong Orang Untuk Berprasangka Buruk,
Mencari-Cari Keburukan Orang Dan Menggunjingkan (Memfitnah) Orang Lain
Di dalam Al Quran Surat Al-Hujurat/ 49: 12, dijelaskan bahwa
orang-orang yang beriman, diminta untuk menjauhi dari kebanyakan purba-sangka
(kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa, Dan janganlah
mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan (memfitnah) satu sama
lain;
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ
يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ
تَوَّابٌ رَحِيمٌ
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan),
karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari
keburukan orang dan janganlah menggunjingkan (memfitnah) satu sama lain. Adakah
seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka
tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.(QS. Al-Hujurat/ 49: 12)
Di sini perlu dirumuskan bahwa taqwa dari huzn adalah kesadaran ruhani
untuk mengendalikan diri dari perasaan sedih, agar kesedihannya tidak menggangu
aktifitas untuk tetap taat dan berbakti kepada Allah dengan ihsan, disertai
kesadaran bertaubat dari kesalahan huzn yang berlebihan.
Agar ketaqwaan dari huzn dapat dilaksanakan dengan baik, perlu diiringi
dengan beberapa pemahaman dan kesadaran berikut;
3.1. Bertaqwa dan Mengadakan Perbaikan
Di dalam Al Quran surat Al-A'raf (7): 35 dinyatakan bahwa barangsiapa
yang bertakwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati;
يَا
بَنِي آدَمَ إِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ رُسُلٌ مِنْكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ
آيَاتِي فَمَنِ اتَّقَى وَأَصْلَحَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ
يَحْزَنُونَ
Artinya:
Hai anak-anak Adam, jika datang kepadamu rasul-rasul daripada kamu yang
menceritakan kepadamu ayat-ayat-Ku, maka barangsiapa yang bertakwa dan
mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak
(pula) mereka bersedih hati.
3.2. Wali-Wali Allah Tidak Takut Dan Sedih
Di dalam Al Quran surat Yunus/ 10: 62-63 dinyatakan bahwa tidak ada
kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu)
orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.
أَلَا
إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ, الَّذِينَ
آمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ
Artinya:
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap
mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman
dan mereka selalu bertakwa. (QS. Yunus/ 10: 62-63)
3.3. Mengadukan Kesusahan Dan Kesedihan
Hanya Kepada Allah
Di dalam Al Quran surat Yusuf/ 12: 86, disebutkan bahwa Nabi Ya’qub
Berkata:” Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan
kesedihanku..”;
قَالَ
إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ وَأَعْلَمُ مِنَ اللَّهِ مَا لَا
تَعْلَمُونَ
Artinya:
Ya'qub menjawab: "Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan
kesusahan dan kesedihanku, dan aku mengetahui dari Allah apa yang kamu tiada
mengetahuinya". (QS. Yusuf/ 12: 86)
Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2573 dinyatakan bahwa penderitaan,
kesengsaraan, sakit, kesedihan dan bahkan juga kekalutan yang menimpa seorang
mukmin, melainkan dengan semua itu dihapuskan sebagian dosanya;
حَدَّثَنَا
أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو
أُسَامَةَ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ
عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُمَا سَمِعَا
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا يُصِيبُ
الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلَا نَصَبٍ وَلَا سَقَمٍ وَلَا حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ
يُهَمُّهُ إِلَّا كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ
[1]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib keduanya
berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Al Walid bin Katsir
dari Muhammad bin 'Amru dari 'Athaa bin Yasar dari Abu Sa'id dan Abu Hurairah
bahwasanya kedua orang sahabat itu pernah mendengar Rasulullah ﷺ
bersabda: "Tidak ada penderitaan, kesengsaraan, sakit, kesedihan dan
bahkan juga kekalutan yang menimpa seorang mukmin, melainkan dengan semua itu
dihapuskan sebagian dosanya."
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 1303 dinyatakan kedua mata boleh
mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan
kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita;
حَدَّثَنَا
الْحَسَنُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ حَدَّثَنَا
قُرَيْشٌ هُوَ ابْنُ حَيَّانَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ قَالَ دَخَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَيْفٍ الْقَيْنِ وَكَانَ ظِئْرًا لِإِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ
السَّلَام فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِبْرَاهِيمَ فَقَبَّلَهُ وَشَمَّهُ ثُمَّ دَخَلْنَا عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ
وَإِبْرَاهِيمُ يَجُودُ بِنَفْسِهِ فَجَعَلَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَذْرِفَانِ فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ
عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ يَا ابْنَ
عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِأُخْرَى فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا
مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ رَوَاهُ
مُوسَى عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ المُغِيرَةِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [2]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin 'Abdul 'Aziz telah menceritakan
kepada kami Yahya bin Hassan telah menceritakan kepada kami Quraisy dia adalah
Ibnu Hayyan dari Tsabit dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu berkata; Kami
bersama Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam mendatangi Abu Saif Al Qaiyn yang
(isterinya) telah mengasuh dan menyusui Ibrahim 'alaihissalam (putra Nabi
Shallallahu 'alaihiwasallam. Lalu Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam
mengambil Ibrahim dan menciumnya. Kemudian setelah itu pada kesempatan yang
lain kami mengunjunginya sedangkan Ibrahim telah meninggal. Hal ini menyebabkan
kedua mata Rasulullah Shallallahu
'alaihiwasallam berlinang air mata. Lalu
berkatalah 'Abdurrahman bin 'Auf radliallahu 'anhu kepada Beliau: "Mengapa
anda menangis, wahai Rasulullah?". Beliau menjawab: "Wahai Ibnu 'Auf,
sesungguhnya ini adalah rahmat (tangisan kasih sayang) ". Beliau lalu
melanjutkan dengan kalimat yang lain dan bersabda: "Kedua mata boleh
mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan
kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini wahai
Ibrahim pastilah bersedih". Dan diriwayatkan oleh Musa dari Sulaiman bin
Al Mughirah dari Tsabit dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu dari Nabi
Shallallahu'alaihiwasallam.
3.6. Kesedihan Nabi Muhammad Yang Mendalam
Ketika Terbunuhnya Para Qurra’
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 1217 digambarkan Kesedihan
Nabi Muhammad Yang Mendalam Ketika Terbunuhnya Para Qurra’, orang-orang
memiliki arti besar terhadap agama;
حَدَّثَنَا
عَمْرُو بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ حَدَّثَنَا عَاصِمٌ
الْأَحْوَلُ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا حِينَ قُتِلَ الْقُرَّاءُ فَمَا
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَزِنَ حُزْنًا قَطُّ
أَشَدَّ مِنْهُ [3]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin "Ali telah menceritakan kepada
kami Muhammad bin Fudhail telah menceritakan kepada kami 'Ashim Al Ahwal dari
Anas radliallahu 'anhu berkata,: "Rasulullah Shallallahu 'alaihiwasallam
melaksanakan do'a qunut selama sebulan pada waktu terbunuhnya para Qurra'
(penghafal Al Qur'an). Dan belum pernah aku melihat Rasulullah
Shallallahu'alaihiwasallam sedemikian sedih yang melebihi kesedihannya pada
waktu itu".
3.7. Memberi
Kemudahan Kepada Orang Yang Berada Dalam Kesulitan
Di dalam kitab Shahih Muslim Hadis nomor 2699 dinyatakan barangsiapa
siapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah akan
membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat. Barang siapa memberi
kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan
kemudahan di dunia dan akhirat;
حَدَّثَنَا
يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ
وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ الْهَمْدَانِيُّ وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى قَالَ يَحْيَى
أَخْبَرَنَا و قَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ
عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ
الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ
وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ
أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ
بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ
اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ
عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ
وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ
يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ
حَدَّثَنَا أَبِي ح و حَدَّثَنَاه نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا
أَبُو أُسَامَةَ قَالَا حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ عَنْ
أَبِي صَالِحٍ وَفِي حَدِيثِ أَبِي أُسَامَةَ حَدَّثَنَا أَبُو صَالِحٍ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ قَالَ صَخَبَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
بِمِثْلِ حَدِيثِ أَبِي مُعَاوِيَةَ غَيْرَ أَنَّ حَدِيثَ أَبِي أُسَامَةَ لَيْسَ
فِيهِ ذِكْرُ التَّيْسِيرِ عَلَى الْمُعْسِرِ [4]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya At Tamimi dan Abu Bakr bin Abu
Syaibah dan Muhammad bin Al 'Ala Al Hamdani -dan lafadh ini milik Yahya- dia
berkata: telah mengabarkan kepada kami, dan berkata yang lainnya, telah
menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Al A'masy dari Abu Shalih dari Abu
Hurairah dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:
'Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari suatu kesulitan dunia, maka Allah
akan membebaskannya dari suatu kesulitan pada hari kiamat. Barang siapa memberi
kemudahan kepada orang yang berada dalam kesulitan, maka Allah akan memberikan
kemudahan di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang muslim, maka
Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong
hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama muslim. Barang siapa
menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga
baginya. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah)
untuk membaca Al Qur'an, melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan
dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada
malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. Barang siapa yang ketinggalan
amalnya, maka nasabnya tidak juga meninggikannya.' Telah menceritakan kepada
kami Muhammad bin 'Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Bapakku
Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, dan telah menceritakannya kepada
kami Nashr bin 'Ali Al Jahdhami telah menceritakan kepada kami Abu Usamah
mereka berkata: telah menceritakan kepada kami Al A'masy -telah menceritakan
kepada kami Ibnu Numair- dari Abu Shalih. Sebagaimana di dalam hadits Abu
Usamah Telah menceritakan kepada kami Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata:
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam berkata dengan lantang, -sebagaimana
Hadits Abu Mu'awiyah, hanya saja di dalam Hadits Abu Usamah tidak disebutkan:
memberi kemudahan kepada orang yang kesusahan.'
3.8. Dzikir Ketika Ditimpa Kesedihan
Di dalam kitab Mu’jam al-Ausath hadits nomor 6555 disebutkan
barangsiapa yang banyak kesulitannya, maka hendaklah ia banyak meminta ampunan
kepada Allah Ta'ala;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي غَسَّانَ أَبُو عُلَاثَةَ الْفَرَائِضِيُّ الْمِصْرِيُّ، نا
مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ الْمُرَادِيُّ، نا يُونُسُ بْنُ تَمِيمٍ، عَنِ
الْأَوْزَاعِيِّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مَنْ أَلْبَسَهُ اللَّهُ
نِعْمَةً فَلْيُكْثِرْ مِنَ الْحَمْدِ لِلَّهِ، وَمَنْ كَثُرَتْ هُمُومُهُ،
فَلْيَسْتَغْفِرِ اللَّهَ، وَمَنْ أَبْطَأَ عَنْهُ رِزْقُهُ فَلْيُكْثِرْ مِنْ
قَوْلِ: لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ، وَمَنْ نَزَلَ مَعَ قَوْمٍ
فَلَا يَصُومَنَّ إِلَّا بِإِذْنِهِمْ، وَمَنْ دَخَلَ دَارَ قَوْمٍ فَلْيَجْلِسْ
حَيْثُ أَمَرُوهُ، فَإِنَّ الْقَوْمَ أَعْلَمُ بِعَوْرَةِ دَارِهِمْ، وَإِنَّ مِنَ
الذَّنْبِ الْمَسْخُوطِ بِهِ عَلَى صَاحِبِهِ، الْحِقْدُ، وَالْحَسَدُ، وَالْكَسَلُ
فِي الْعِبَادَةِ، وَالضَّنْكُ فِي الْمَعِيشَةِ»»
[5]
Artinya:
Telah meriwayatkan kepada kami Muhammad bin Abī Ghassān, Abu ‘Ulātsah al-Farāiḍī al-Miṣrī.
Ia berkata: telah meriwayatkan kepada kami Muhammad bin Salamah al-Murādī,
telah meriwayatkan kepada kami Yunus bin Tamīm, dari al-Awzā‘ī, dari Yahyā bin
Abī Katsīr, dari Abī Salamah, dari Abī Hurairah. Bahwa Abu Hurairah berkata:
Sabda Rasulullah ﷺ: “Barang siapa Allah mengenakan kepadanya suatu nikmat, maka
hendaklah ia memperbanyak pujian kepada Allah. Dan barang siapa banyak
kegelisahan dan kesedihannya, hendaklah ia memperbanyak istighfar kepada Allah.
Dan barang siapa rezekinya terasa lambat datang, hendaklah ia memperbanyak
ucapan: Lā ḥawla wa lā quwwata illā billāh. Dan barang
siapa singgah bersama suatu kaum, maka janganlah ia berpuasa kecuali dengan
izin mereka. Dan barang siapa masuk ke rumah suatu kaum, hendaklah ia duduk di
tempat yang mereka perintahkan, karena mereka lebih mengetahui bagian mana yang
(perlu dijaga dan) tersembunyi dari rumah mereka. Dan sesungguhnya termasuk
dosa yang dimurkai Allah atas pelakunya adalah: kedengkian, hasad, malas dalam
ibadah, dan sempitnya hidup (karena dosa).
3.9. Dzikir Ketika Mengalami Kesedihan
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 5324
disebutkan dzikir ketika mengalami kesedihan;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ الْمُكْتِبُ حَدَّثَنَا أَبُو بَدْرٍ شُجَاعُ بْنُ
الْوَلِيدِ عَنْ الرُّحَيْلِ بْنِ مُعَاوِيَةَ أَخِي زُهَيْرِ بْنِ مُعَاوِيَةَ
عَنْ الرَّقَاشِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَرَبَهُ أَمْرٌ قَالَ يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ
بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ [6]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Hatim Al Muktib telah menceritakan
kepada kami Abu Badr Syuja' bin Al Walid dari Ar Ruhail bin Mu'awiyah saudara
Zuhair bin Mu'awiyah, dari Ar Raqasyi dari Anas bin Malik ia berkata; Nabi ﷺ apabila mengalami kesusahan beliau berdoa: "Yaa Hayyu, Yaa Qayyuum,
Birahmatika Astaghiitsu." (Wahai Dzat yang Maha hidup, Wahai Dzat yang
terus menerus mengurus makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku meminta
pertolongan."
Rasulullah mengajarkan doa kepada umatnya agar dilindungi Allah dari
perasaan sedih, doa tersebut yang dikutip darii dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6369 ;
حَدَّثَنَا
خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ قَالَ حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ أَبِي
عَمْرٍو قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ
وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ [7]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami [Khalid bin Makhlad] telah menceritakan kepada
kami [Sulaiman] dia berkata; telah menceritakan kepadaku ['Amru bin Abu 'Amru]
dia berkata; saya mendengar [Anas bin Malik] dia berkata; Nabi shallallahu
'alaihi wasallam mengucapkan: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari rasa
kesusahan dan kesedihan, lemah dan malas, pengecut dan kikir dan terlilit
hutang serta dikuasai musuh."
3.11. Doa
Agar Terlepas Dari Kesedihan dan Hutang
Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 1999 disebutkan kalimat yang
jika engkau ucapkan, Allah akan menghilangkan kesulitanmu dan melunasi
hutangmu;
حَدَّثَنَا
أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ الْغُدَانِيُّ أَخْبَرَنَا غَسَّانُ بْنُ عَوْفٍ
أَخْبَرَنَا الْجُرَيْرِيُّ عَنْ أَبِي نَضْرَةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ
قَالَ دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ
الْمَسْجِدَ فَإِذَا هُوَ بِرَجُلٍ مِنْ الْأَنْصَارِ يُقَالُ لَهُ أَبُو
أُمَامَةَ فَقَالَ يَا أَبَا أُمَامَةَ مَا لِي أَرَاكَ جَالِسًا فِي الْمَسْجِدِ
فِي غَيْرِ وَقْتِ الصَّلَاةِ قَالَ هُمُومٌ لَزِمَتْنِي وَدُيُونٌ يَا رَسُولَ
اللَّهِ قَالَ أَفَلَا أُعَلِّمُكَ كَلَامًا إِذَا أَنْتَ قُلْتَهُ أَذْهَبَ
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَمَّكَ وَقَضَى عَنْكَ دَيْنَكَ قَالَ قُلْتُ بَلَى يَا
رَسُولَ اللَّهِ قَالَ قُلْ إِذَا أَصْبَحْتَ وَإِذَا أَمْسَيْتَ اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ
وَالْكَسَلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ
غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ قَالَ فَفَعَلْتُ ذَلِكَ فَأَذْهَبَ
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ هَمِّي وَقَضَى عَنِّي دَيْنِي
[8]
Artinya:
Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Sa'id Al-Khudri. Rasulullah ﷺ masuk ke masjid pada suatu hari dan melihat seorang dari kaum Anshar yang
dikenal sebagai Abu Umamah duduk di dalam masjid di luar waktu shalat.
Rasulullah ﷺ bertanya kepadanya, "Ya Abu Umamah, mengapa aku melihatmu
duduk di dalam masjid di luar waktu shalat?" Abu Umamah menjawab,
"Kesulitan dan hutang menimpaku, ya Rasulullah." Rasulullah ﷺ bersabda, "Maukah aku ajarkan kepadamu kalimat yang jika engkau ucapkan,
Allah akan menghilangkan kesulitanmu dan melunasi hutangmu?" Abu Umamah
menjawab, "Ya, wahai Rasulullah." Rasulullah ﷺ bersabda, "Ucapkanlah pagi dan petang: 'Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu
dari kecemasan dan kesedihan, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan
kemalasan, aku berlindung kepada-Mu dari ketakutan dan kekikiran, aku
berlindung kepada-Mu dari sifat penakut dan pelit, dan aku berlindung kepada-Mu
dari terjerumus dalam hutang dan dikuasai oleh manusia.'" Abu Umamah
mengatakan, "Aku pun melakukannya, dan Allah menghilangkan kesulitan dan
melunasi hutangku."
Doa Mohon Perlindungan Dari Rasa Kesusahan, Sedih, Lemah Dan Malas
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ
وَالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَضَلَعِ الدَّيْنِ وَغَلَبَةِ الرِّجَالِ
“Ya Allah, aku berlindung
kepada-Mu dari kesusahan dan kesedihan, lemah dan malas, pengecut dan kikir dan
terlilit hutang serta dikuasai musuh." (HR. Bukhari: 5892)
[1] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al
‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 1996, Hadits nomor 2573.
[2] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-
Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 6, Halaman 83, Hadits nomor 1303.
[3] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-
Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 2, Halaman 82, Hadits nomor 1300.
[4] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al
‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 2074, Hadits nomor 2699.
[5] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Ausath, Dar
Al Haramain, Kairo, 1995, Jilid 6, Halaman 333, Hadits nomor 6555.
[6] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al
‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 5 , Halaman 539, Hadits nomor 3524.
[7] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-
Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 79, Hadits nomor 6369.
[8] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Dar al-Risalah
al-‘Alamiyah, , 2009, Jilid, 2, Halaman 651, Hadits nomor 1555.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar