11/04/2026

48. Rasulullah SAW Mengajarkan Doa Mohon Diberikan Ketakwaan

48. Rasulullah SAW Mengajarkan Doa Mohon Diberikan Ketakwaan

Keistimewaan takwa ke empat puluh delapan “Rasulullah SAW mengajarkan doa mohon diberikan ketakwaan”, di antaranya dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2721 di dalamnya disebutkan do’a permohonan untuk diberi hidayah dan ketakwaan;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى و حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ غَيْرَ أَنَّ ابْنَ الْمُثَنَّى قَالَ فِي رِوَايَتِهِ وَالْعِفَّةَ [1]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Basysyar mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Abu Ishaq dari Abul Ahwash dari 'Abdullah dari Nabi bahwasanya beliau pernah berdoa: "Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, terhindar dari perbuatan yang tidak baik, dan berkecukupan." Dan telah menceritakan kepada kami Ibnu Al Mutsanna dan Ibnu Basyar keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Sufyan dari Abu Ishaq melalui jalur ini dengan Hadits yang serupa. Namun Ibnu Mutsanna di dalam riwayatnya mengatakan lafazh; wal 'iffah (dan harga diri).

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 4899 disebutkan do’a permohonan untuk diberi ketakwaan dalam jiwa;

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لِابْنِ نُمَيْرٍ قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا و قَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ وَعَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ لَا أَقُولُ لَكُمْ إِلَّا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا [2]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim dan Muhammad bin 'Abdullah bin Numair -dan lafadh ini milik Ibnu Numair- Ishaq berkata; Telah mengabarkan kepada kami, sedangkan yang lainnya berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Ashim dari Abdullah bin Al Harits dan dari Abu Utsman An Nahdi dari Zaid bin Arqam dia berkata; "Saya tidak akan mengatakan kepada kalian kecuali seperti apa yang pernah diucapkan Rasulullah  dalam doanya yang berbunyi: Ya Allah ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, ketakutan, kekikiran, kepikunan, dan siksa kubur. Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah ketakwaan kepada jiwaku, sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat mensucikannya, Engkaulah yang menguasai dan yang menjaganya. Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak berguna, hati yang tidak khusyu', diri yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak terkabulkan.'"

Di dalam Al Quran surat Al-Furqan (25): 74-76 disebutkan doa dan jadikanlah kami sebagai imam bagi orang yang bertakwa;

وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا, أُولَٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا, خَالِدِينَ فِيهَا ۚ حَسُنَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا.

Artinya: Dan orang orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa. Mereka itulah orang yang dibalasi dengan martabat yang tinggi (dalam surga) karena kesabaran mereka dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebaik-baik tempat menetap dan tempat kediaman. (QS. Al-Furqan (25): 74-76)

Di dalam kitab Shahih Muslim nomor 1342 digambarkan doa mohon kebaikan dan takwa, serta amal perbuatan yang diridhai ketika akan melakukan perjalanan;

حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي أَبُو الزُّبَيْرِ أَنَّ عَلِيًّا الْأَزْدِيَّ أَخْبَرَهُ أَنَّ ابْنَ عُمَرَ عَلَّمَهُمْ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا اسْتَوَى عَلَى بَعِيرِهِ خَارِجًا إِلَى سَفَرٍ كَبَّرَ ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ { سُبْحَانَ الَّذِي سَخَّرَ لَنَا هَذَا وَمَا كُنَّا لَهُ مُقْرِنِينَ وَإِنَّا إِلَى رَبِّنَا لَمُنْقَلِبُونَ } اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ فِي سَفَرِنَا هَذَا الْبِرَّ وَالتَّقْوَى وَمِنْ الْعَمَلِ مَا تَرْضَى اللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هَذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ اللَّهُمَّ أَنْتَ الصَّاحِبُ فِي السَّفَرِ وَالْخَلِيفَةُ فِي الْأَهْلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَكَآبَةِ الْمَنْظَرِ وَسُوءِ الْمُنْقَلَبِ فِي الْمَالِ وَالْأَهْلِ وَإِذَا رَجَعَ قَالَهُنَّ وَزَادَ فِيهِنَّ آيِبُونَ تَائِبُونَ عَابِدُونَ لِرَبِّنَا حَامِدُونَ  [3]

Artinya: Harun bin Abdullah telah menceritakan kepadaku, telah menceritakan kepada kami Hujjaj bin Muhammad berkata, Ibn Juraij mengatakan, Abu Zubair memberitahuku bahwa Ali Al-Azdi memberitahunya bahwa Ibnu Umar mengajari mereka bahwa Rasulullah SAW ketika naik ke atas unta dalam perjalanan jauh, beliau mengucapkan takbir tiga kali, kemudian beliau mengucapkan: “Mahasuci Tuhan yang tundukkan ini untuk kami, sedangkan kami sebelumnya tidak mampu mengendalikannya. Sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan dan takwa, serta amal perbuatan yang Engkau ridai. Ya Allah, ringankanlah perjalanan ini bagi kami, dan singkirkan jauh daripada kami kesulitannya. Ya Allah, Engkau adalah sahabat dalam perjalanan, dan wakil bagi keluarga. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan, kesunyian pemandangan, dan buruknya akhir perjalanan dalam hal harta dan keluarga. Ketika dia kembali, dia mengucapkan hal ini dan menambahkan: 'Kami kembali dengan bertaubat, tunduk, dan bersyukur kepada Tuhan kami.'"

Di dalam kitab Du’a Li-Thabrani Hadis nomor 1435 disebutkan do’a permohonan diberikan kehidupan yang penuh dengan ketakwaan;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْحَضْرَمِيُّ، ثنا أَبُو كُرَيْبٍ، ثنا خَلَّادُ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ شَرِيكٍ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ، رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَدْعُو: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِيشَةً تَقِيَّةً، وَمِيتَةً سَوِيَّةً، وَمَرَدًّا غَيْرَ مُخْزٍ وَلَا فَاضِحٍ [4] »

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah al-Hadhrami, telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Khallad bin Yazid, dari Syarik, dari al-A‘masy, dari Mujahid, dari ‘Abdullah bin ‘Umar RA, bahwa Nabi  biasa berdoa:“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kehidupan yang bertakwa, kematian yang lurus (baik dan tenang), dan tempat kembali yang tidak memalukan serta tidak menimbulkan aib.”

Di dalam kitab Mu’jam Al-Thabarani Ausath hadits nomor 1435 digambarkan bahwa Nabi Muhammad SAW banyak berdoa  dengan ya Allah jadikan kami khasyah kepadamu seakan-akan kami melihatmu selamanya hingga berjumpa dengan-Mu, bahagiakan aku dengan taqwa kepada-Mu, dan jangan engkau sengsarakan aku dengan ma’siyat kepada-Mu ;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْأَحْمَرِ النَّاقِدُ قَالَ: نا عَمَّارُ بْنُ طَالُوتَ قَالَ: نا سَهْلُ بْنُ حَسَّانَ الْكُوفِيُّ قَالَ: ثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ خُثَيْمِ بْنِ عِرَاكِ بْنِ مَالِكٍ، )١٢١( عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ، كَانَ يُكْثِرُ أَنْ يَدْعُوَ بِهَذَا الدُّعَاءِ: «اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي أَخْشَاكَ حَتَّى كَأَنِّي أَرَاكَ أَبَدًا حَتَّى أَلْقَاكَ، وَأَسْعِدْنِي بِتَقْوَاكَ، وَلَا تُشْقِنِي بِمَعْصِيَتِكَ، وَخَرَّ لِي فِي قَضَائِكَ، وَبَارِكْ لِي فِي قَدَرِكَ حَتَّى لَا أَحَبَّ تَعْجِيلَ مَا أَخَّرْتَ، وَلَا تَأْخِيرَ مَا عَجَّلْتَ، وَاجْعَلْ غِنَائِي فِي نَفْسِي، وَأَمْتِعْنِي بِسَمْعِي وَبَصَرِي، وَاجْعَلْهُمَا الْوَارِثَ مِنِّي، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ ظَلَمَنِي، وَأَرِنِي فِيهِ ثَأْرِي، وَأَقَرَّ بِذَلِكَ عَيْنِي» [5]  

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ali ibnul Ahmar An Naqid Al Bashri, dan Abdan ibnu Ahmad, berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Amar ibnu Thalut ibnu ‘Abad,  telah menceritakan kepada kami Sahl ibnu Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Khatsim ibnu ‘arak ibnu Malik, telah menceritakan kepada kami Ayahku, dari Kakekku, dari Abu Hurairah RA, dari Nabi  bahwa beliau banyak berdoa dengan do’a ini, hampir-hampir tidak pernah meninggalkannya, beliau berdo’a: “Ya Allah jadikanlah aku takut kepada-Mu seakan-akan aku melihatmu selamanya hingga aku menjumpai-Mu, bahagiakan aku dengan taqwa kepada-Mu, dan jangan engkau sengsarakan aku dengan ma’siyat kepada-Mu, dan sungkurkanlah aku dengan qadha; ketetapan-Mu, dan berkahilah aku dalam qadar; ketentuan-Mu hingga engkau jadikan aku tidak suka untuk  enkau segerakan apa yang engkau akhirkan, dan engkau jadikan tidak suka  engkau akhirkan apa yang engkau segerakan, dan jadikanlah aku kaya dalam jiwaku, dan senangkanlah aku dengan pendengaranku dan penglihatanku, dan jadikanlah keduanya menjadi warisan untukku, dan tolonglah aku dari orang yang mendhalimi aku, dan tampakkanlah kepadaku pembalasan dendam atas kedhalimannya kepadaku yang mebuatku merasa puas”

Qurrata al ‘ain: ketenangan; keredaan mata dan kebahagiannya dan dapat mengambil pelajaran dari kegembiraan dan penglihatan pada yang di sukai manusia.

Di dalam kitab Al-Hilm hadits nomor 26133 disebutkan doa mohon dimuliakan dengan ketakwaan;

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ قُدَامَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ سُفْيَانَ بْنَ عُيَيْنَةَ، قَالَ: كَانَ مِنْ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ: «اللَّهُمَّ أَغْنِنِي بِالْعِلْمِ، وَزَيِّنِّي بِالْحِلْمِ، وَأَكْرِمْنِي بِالتَّقْوَى، وَجَمِّلْنِي بِالْعَافِيَةِ»[6]

Artinya: Muhammad bin Qudāmah meriwayatkan bahwa ia berkata: aku mendengar Sufyān bin ‘Uyainah berkata bahwa termasuk doa Rasulullah  adalah: “Ya Allah, kayakanlah aku dengan ilmu, dan hiasilah aku dengan kelembutan, serta muliakanlah aku dengan ketakwaan, dan perindahlah diriku dengan kesehatan dan keselamatan.”

Di dalam kitab Al-Du’at Al-Kabir hadits nomor 571 disebutkan doa “Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku hati yang bertakwa, bersih dari kejahatan, selamat, tidak kafir dan tidak celaka.”;

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الحافظ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ صَالِحِ بْنِ هَانِئٍ قَالَ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْحَاقَ الغسيلي حَدَّثَنَا وَهْبُ بْنُ بَقِيَّةَ، أَخْبَرنَا سَعْدُ بْنُ عَبْدِ الْكَرِيمِ الْوَاسِطِيُّ، عَنْ أَبِي النُّعْمَانِ السَّعْدِيِّ، عَنْ أَبِي الرَّجَاءِ الْعُطَارِدِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ﵁، قَالَ: بَعَثَنِي النَّبِيُّ ﷺ إِلَى مَنْزِلِ عَائِشَةَ ﵂ فِي حَاجَةٍ، فَقُلْتُ لَهَا: أَسْرِعِي فَإِنِّي تَرَكْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يُحَدِّثُهُمْ عَنْ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَقَالَتْ: يَا أُنَيْسُ اجْلِسْ حَتَّى أُحَدِّثَكَ بِحَدِيثِ لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، إِنَّ تِلْكَ اللَّيْلَةَ كَانَتْ لَيْلَتِي مِنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ فَجَاءَ النَّبِيُّ ﷺ وَدَخَلَ مَعِي فِي لِحَافِي، فَانْتَبَهْتُ مِنَ اللَّيْلِ فَلَمْ أَجِدْهُ، فَقُمْتُ فَطُفْتُ فِي حُجُرَاتِ نِسَائِهِ فَلَمْ أَجِدْهُ فَقُلْتُ لَعَلَّهُ ذَهَبَ إِلَى جَارِيَتِهِ مَارِيَةَ الْقِبْطِيَّةِ فَخَرَجْتُ فَمَرَرْتُ فِي الْمَسْجِدِ فَوَقَعَتْ رِجْلِي عَلَيْهِ وَهُوَ سَاجِدٌ وَهُوَ يَقُولُ: سَجَدَ لَكَ خَيَالِي وسَوَادِي، وَآمَنَ بِكَ فُؤَادِي، وَهَذِهِ يَدِي التي جَنَيْتُ بِهَا عَلَى نَفْسِي، فَيَا عَظِيمُ، هَلْ يَغْفِرُ الذَّنْبَ الْعَظِيمَ إِلَّا الرَّبُّ الْعَظِيمُ، فَاغْفِرْ لِي الذنب العظيم قَالَتْ: ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ وَهُوَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ هَبْ لِي قَلْبًا تَقِيًّا نَقِيًّا مِنَ الشَّرِّ، بَرِيئا لَا كَافِرًا وَلَا شَقِيًّا ثُمَّ عَادَ فَسَجَدَ، وَهُوَ يَقُولُ: أَقُولُ لَكَ كَمَا قَالَ أَخِي دَاوُدُ ﵇: أُعَفِّرُ وَجْهِي فِي التُّرَابِ لِسَيِّدِي وَحُقَّ لِوَجْهِ سَيِّدِي أَنْ تُعَفَّرَ الْوُجُوهُ لِوَجْهِهِ، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ فَقُلْتُ: بِأَبِي وَأُمِّي أَنْتَ في واد وأنا في واد، قَالَ: يَا حُمَيْرَاءُ، أَمَا تَعْلَمِينَ أَنَّ هَذِهِ اللَّيْلَةَ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ؟ إِنَّ لِلَّهِ فِي هَذِهِ اللَّيْلَةِ عُتَقَاءَ مِنَ النَّارِ بعدد شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَا بَالُ شَعْرِ غَنَمِ كَلْبٍ؟ قَالَ: لَمْ يَكُنْ فِي الْعَرَبِ قَبِيلَةُ قَوْمٍ أَكْبَرَ غَنَمًا مِنْهُمْ، لَا أَقُولُ سِتَّةُ نَفَرٍ: مُدْمِنُ خَمْرٍ، وَلَا عَاقٌّ لِوَالِدَيْهِ، وَلَا مُصِرٌّ عَلَى زِنًا، وَلَا مُصَارِمٌ، وَلَا مُضْرِبٍ، وَلَا قَتَّاتٌ. في هذا الإسناد بعض من يجهل وكذلك فيما قبله، وإذا انضم أحدهما إلى الآخر أخذا بعض القوة والله أعلم  [7]. 

Artinya: Telah meriwayatkan kepada kami Abu ‘Abdillah al-Hafizh, ia berkata: telah meriwayatkan kepada kami Abu Ja‘far Muhammad bin Shalih bin Hani’, ia berkata: telah meriwayatkan kepada kami Ibrahim bin Ishaq al-Ghasili, ia berkata: telah meriwayatkan kepada kami Wahb bin Baqiyyah, telah mengabarkan kepada kami Sa‘d bin ‘Abd al-Karim al-Wasithi, dari Abu al-Nu‘man al-Sa‘di, dari Abu al-Raja’ al-‘Utāridi, dari Anas bin Malik, ia berkata: Nabi   mengutusku ke rumah ‘Aisyah dalam suatu keperluan. Aku berkata kepadanya: “Bergeraklah cepat, karena aku meninggalkan Rasulullah   sedang menceritakan kepada mereka tentang malam Nisfu Sya‘ban.” Maka ‘Aisyah berkata: “Wahai Unais, duduklah, akan aku ceritakan kepadamu tentang malam Nisfu Sya‘ban. Malam itu adalah malam bahagianku bersama Rasulullah  .Ketika Nabi   datang dan masuk bersamaku ke dalam selimutku, aku terbangun pada malam itu dan tidak menemukannya. Maka aku bangkit dan berkeliling ke kamar-kamar istri-istrinya, tetapi aku tidak mendapatkannya. Aku berkata dalam hati: barangkali beliau pergi ke rumah budaknya, Maria al-Qibthiyyah. Lalu aku keluar dan ketika melewati masjid, kakiku menginjak beliau yang sedang sujud.” Dan beliau ketika itu berkata dalam sujudnya: “Kepada-Mu sujud bayanganku dan hitam tubuhku, dan hatiku beriman kepada-Mu. Dan ini tanganku yang telah berbuat dosa terhadap diriku. Wahai Yang Maha Agung, tidak ada yang mengampuni dosa besar selain Rabb Yang Maha Agung. Maka ampunilah dosa besarku.” Kemudian beliau mengangkat kepala sambil berkata: “Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku hati yang bertakwa, bersih dari kejahatan, selamat, tidak kafir dan tidak celaka.” Lalu beliau kembali bersujud seraya berkata: “Aku katakan kepada-Mu sebagaimana yang dikatakan saudaraku Dawud: aku menghinakan wajahku ke tanah di hadapan Tuhanku, dan pantas bagi wajah Tuhanku bahwa wajah-wajah bersujud merendah kepada-Nya.” Setelah beliau mengangkat kepala, aku berkata: “Demi ayah dan ibuku, engkau berada di satu lembah dan aku di lembah lain.” Maka Nabi   bersabda: “Wahai Humaira’, tidakkah engkau tahu bahwa malam ini adalah malam Nisfu Sya‘ban? Sesungguhnya Allah pada malam ini membebaskan manusia dari neraka sebanyak rambut domba Bani Kalb.” Aku bertanya: “Wahai Rasulullah, mengapa disebut rambut domba Bani Kalb?” Beliau menjawab: “Tidak ada kabilah Arab yang memiliki domba lebih banyak dari mereka. Tetapi tidak termasuk enam golongan: peminum khamar, anak durhaka kepada orang tua, pezina yang terus-menerus, orang yang memutus silaturahmi, orang yang memukul (menyakiti), dan nammam (penyebar adu domba).”

Kemudian perawi berkata: “Dalam sanad ini terdapat beberapa perawi yang majhul, begitu pula pada sanad sebelumnya. Jika keduanya digabungkan, sebagian dapat saling menguatkan. Allah lebih mengetahui.”

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 26133 disebutkan doa yang sering dibaca nabi: Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu (takwa); 

حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ وَعَفَّانُ قَالَا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ قَالَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ عَنْ أُمِّ مُحَمَّدٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَطَاعَتِكَ فَقِيلَ لَهُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ عَفَّانُ فَقَالَتْ لَهُ عَائِشَةُ إِنَّكَ تُكْثِرُ أَنْ تَقُولَ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَطَاعَتِكَ قَالَ وَمَا يُؤْمِنُنِي وَإِنَّمَا قُلُوبُ الْعِبَادِ بَيْنَ أُصْبُعَيْ الرَّحْمَنِ إِنَّهُ إِذَا أَرَادَ أَنْ يُقَلِّبَ قَلْبَ عَبْدٍ قَلَّبَهُ قَالَ عَفَّانُ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ [8]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdushshomad dan Affan, keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dia berkata; telah menceritakan kepada kami Ali bin Zaid dari Ummi Muhammad dari Aisyah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyak mengucapkan; “Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu).” Lalu dikatakan kepada beliau, wahai Rasulullah! Maaf telah berkata; Aisyah telah berkata kepadanya, sesungguhnya engkau memperbanyak membaca; “Wahai yang membolak-balikkan hati, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu dan ketaatan kepada-Mu).” Beliau bersabda: “Apa yang membuatku aman, sesungguhnya hati hamba berada diantara dua ujung jari Arrahman, apabila Ia berkehendak untuk memabalikkan hati seorang hamba maka Ia akan membalikkannya.” Affan meriwayatkan; “Di antara dua jari dari jari jemari Allah Azzawajalla”

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 9460, disebutkan Doa Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas ketaatan-Mu;

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ عَنْ صَالِحِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ زَائِدَةَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ مَا رَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ إِلَّا قَالَ يَا مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى طَاعَتِكَ [9]

Artinya: Diriwayatkan oleh Qutaibah, yang berkata: telah menceritakan kepada kami Hatim bin Isma'il dari Shalih bin Muhammad bin Zaidah dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Aisyah, bahwa ia berkata: Tidaklah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam mengangkat kepalanya ke langit kecuali beliau berkata, "Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkan hatiku di atas ketaatan-Mu."

Demikian juga Rasulullah mendoakan orang yang akan melakukan perjalanan agar diberi bekal takwa, sebagaimana telah dikemukakan di dalam keistimewaan takwa ke tiga puluh empat.



[1] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al-Hajaj , Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 2087, Hadits nomor 2721.

[2] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al-Hajaj , Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 2088, Hadits nomor 2722.

[3] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al-Hajaj , Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 2 , Halaman 978, Hadits nomor 1342.

[4] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Du’a Li-Al-Thabarani, Dar Al Kitab Al Ilmiyah, Kairo, 1994, Jilid 1, Halaman 424, Hadits nomor 1435.

[5] Abu Qasim Al-Thabarani, Mu’jam Al-Thabarani Ausath, Dar Al Haramain, Kairo, 1995, Jilid 6, Halaman 120, Hadits nomor 5982.

[6] Al-Qurasyi Al-Ma’rufi Bi Ibn Abi Al-Dunya, Al-Hilm, Al-Muassasah Al-Kutub Al-Tsaqafah, Beirut, 1413 H, Halaman 20. Dikutip Abu Hamid AlGhazali, Ihya Ulum Al-din, Dar Al-Ma’rifah, Beirut, tt, Jilid 3, halaman 176.

[7] Abu Bakr Al-Baihaqi, Al-Du’at Al-Kabir, Ghiras Li-Nasr Wa Al-Tauzi’, Kuwait, 2009, Jilid 2, Halaman 147, Hadits nomor 571.

[8] Imam Ahmad Ibnu Hambal, Musnad Imam Ahmad, Muassasah Ar Risalah, 2001 M, Jilid 43, Halaman 231, Hadits nomor 26133.

[9] Imam Ahmad Ibnu Hambal, Musnad Imam Ahmad, Muassasah Ar Risalah, 2001 M, Jilid 15, Hal. 246, Hadits nomor 9460.

Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post