10/04/2026

45. Ketakwaan Itu Ada Di Dalam Qalbu Bersifat Ruhani

45. Ketakwaan Itu Ada Di Dalam Qalbu Bersifat Ruhani

Keistimewaan takwa ke empat puluh lima “Ketakwaan itu ada di dalam qalbu bersifat ruhani”, keistimewaan ini di dasari Al Quran Surat Al-Hajj/ 22: 32, tergambar bahwa ketakwaan ada di dalam qalbu (hati);

ذَٰلِكَ وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ

Artinya: Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.(QS. Al-Hajj/ 22: 32)

Sedangkan di dalam Al Quran Surat Al-Hujurat/ 49: 3, juga tergambar bahwa ujian ketakwaan ada di dalam qalbu;

إِنَّ الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya: Sesungguhnya orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Hujurat/ 49: 3)

Di dalam kitab Shahih Al-Kutub Al-Tis’ah hadits nomor 11973 dinyatakan bahwa takwa itu ada di dada (ruhani);

عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، يَقُولُ: "الْإِسْلَامُ عَلَانِيَةٌ، وَالْإِيمَانُ فِي الْقَلْبِ"، قَالَ: ثُمَّ يُشِيرُ بِيَدِهِ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، قَالَ: ثُمَّ يَقُولُ: "التَّقْوَى هَاهُنَا، التَّقْوَى هَاهُنَا [1] "

Artinya: Dari Anas ia berkata; Rasulullah  bersabda: "Islam itu sesuatu yang nampak sedangkan iman itu ada dalam hati." Anas berkata; "Lalu beliau menunjuk ke dadanya dengan tangan sebanyak tiga kali." Anas berkata; Kemudian beliau bersabda: "Takwa itu ada di sini, takwa itu ada di sini."

 

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 12381 juga dinyatakan bahwa takwa itu ada di dada (ruhani);

حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مَسْعَدَةَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْإِسْلَامُ عَلَانِيَةٌ وَالْإِيمَانُ فِي الْقَلْبِ قَالَ ثُمَّ يُشِيرُ بِيَدِهِ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَ ثُمَّ يَقُولُ التَّقْوَى هَاهُنَا التَّقْوَى هَاهُنَا [2]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Bahz berkata, telah menceritakan kepada kami Ali bin Mas'adah berkata, telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas ia berkata; Rasulullah  bersabda: "Islam itu sesuatu yang nampak sedangkan iman itu ada dalam hati." Anas berkata; "Lalu beliau menunjuk ke dadanya dengan tangan sebanyak tiga kali." Anas berkata; Kemudian beliau bersabda: "Takwa itu ada di sini, takwa itu ada di sini."

Hadits riwayat Imam Ahmad ini memberi gambaran yang cukup jelas dimana kedudukan takwa, jika pengamalan syariat di tingkat islam adalah pengamalan syariat yang bersifat lahiriyah; empiris dikendalikan oleh akal; fikiran; bersifat logis, sedangkan pengamalan syariat di tingkat iman, pengamalannya menggunakan qalbu; jantung; perasaan; bersifat dzanni, adapun ketakwaan merupakan pengamalan syariat yang bersifat ruhani; kesadaran.

Ketakwaan bersifat ruhani; kesadaran ini tergambar ketika Rasulullah menjelaskan tentang ketakwaan, tidak sama dengan ketika menjelaskan islam dan iman, dengan jelas pengamalan islam disebutkan sebagai pengamalan lahiriyah, dan iman dengan jelas menunjuk pada qalbu yang memilki fungsi perasaan, sedangkan ketika menjelaskan takwa Rasulullah menunjukkan pengamalannya hanya dengan menunjuk pada sadr; dada hingga diulang tiga kali.

Penunjukan pada dada tersebut untuk memberi penjelasan bahwa takwa merupakan pengamalan syariat yang lebih dalam dari qalbu, karena qalbu sudah disebut untuk pengamalan syariat iman, dengan demikian takwa merupakan pengamalan yang syariat ruhani; bersifat ruh, penunjukan dada untuk pengamalan takwa ini juga memberi gambaran bahwa letak ruh hanya dapat digambarkan sebagai sesuatu yang letaknya di dalam dada, yang memiliki fungsi untuk menjaga kesadaran, dimana kata kesadaran sendiri diserap dari bahasa arab, yaitu kata sadr; yang artinya dada, mendapat tambahan ke dan an menjadi kesadaran; yaitu sesuatu yang bersumber dari dada yang dapat menjadikan sesorang terjaga; sadar.  

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 4650, juga digambarkan bahwa takwa itu ada di dalam dada (ruhani);

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ، حَدَّثَنَا دَاوُدُ يَعْنِي: ابْنَ قَيْسٍ، عَنْ أَبِي سَعِيدٍ مَوْلَى عَامِرِ بْنِ كُرَيْزٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا، وَلَا تَبَاغَضُوا، وَلَا تَدَابَرُوا، وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ، وَكُونُوا عِبَادَ اللهِ إِخْوَانًا، الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ، وَلَا يَخْذُلُهُ، وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَا هُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنَ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ، كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ، وَمَالُهُ، وَعِرْضُهُ [3]

Artinya: Diriwayatkan oleh Abdullah bin Maslamah bin Qa‘nab, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Dawud—yakni Ibnu Qais—dari Abu Sa‘id maula ‘Amir bin Kurayz, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah  bersabda: “Janganlah kalian saling dengki, jangan saling menaikkan harga (secara curang), jangan saling membenci, jangan saling membelakangi, dan jangan sebagian kalian menjual atas jualan saudaranya. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya: ia tidak menzaliminya, tidak menelantarkannya, dan tidak menghinanya. Ketakwaan itu di sini,” lalu beliau menunjuk ke dadanya tiga kali. “Cukuplah keburukan bagi seseorang ketika ia merendahkan saudaranya sesama muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya adalah haram: darahnya, hartanya, dan kehormatannya.”

Sedangkan di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 4650, juga digambarkan bahwa Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati kalian. seraya mengisyaratkan telunjuknya ke dada beliau;

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ سَرْحٍ، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، عَنْ أُسَامَةَ وَهُوَ ابْنُ زَيْدٍ : أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ مَوْلَى عَبْدِ اللهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ كُرَيْزٍ يَقُولُ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ فَذَكَرَ نَحْوَ حَدِيثِ دَاوُدَ وَزَادَ وَنَقَصَ، وَمِمَّا زَادَ فِيهِ: «إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ، وَلَا إِلَى صُوَرِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى صَدْرِهِ [4]

Artinya: Telah menceritakan kepadaku Abu At Thahir Ahmad bin Amru bin Sarh Telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahab dari Usamah yaitu Ibnu Zaid Bahwa dia mendengar Abu Sa'id -budak- dari Abdullah bin Amir bin Kuraiz berkata; aku mendengar Abu Hurairah berkata; Rasulullah  bersabda: -kemudian perawi menyebutkan Hadits yang serupa dengan Hadits Daud, dengan sedikit penambahan dan pengurangan. Diantara tambahannya adalah; "Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat kepada hati kalian. seraya mengisyaratkan telunjuknya ke dada beliau.

Namun demikian tiga tingkat pengamalan syariat; islam, iman dan takwa bukan merupakan pengamalan syariat yang terpisah, tetapi yang menjadi inti syariat adalah ketakwaan, sehingga dapat tejadi pada seseorang yang tingkat ketakwaanya baru di tingkat islam; lahiriyah, atau tingkat ketakwaanya sudah berada di tingkat iman; qalbiyah, sehingga dapat ditemukan di beberapa sumber yang menyatakan ketakwaan itu di dalam qalbu. pembahasan mengenai tingkatan takwa akan dikemukakan di buku ilmu takwa ke dua.

Seperti di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 50 di dalamnya tergambar bahwa ketakwaan; menjaga diri (dari subhat) itu ada di dalam qalbu;

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ، عَنْ عَامِرٍ قَالَ: سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ، لَا يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ، أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلَا إِنَّ حِمَى اللهِ فِي أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ، أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ [5] ».

Artinya: Dari Abu Nu'aim, ia berkata: Zakariya menceritakan kepada kami, dari 'Amir yang berkata: Aku mendengar Nu'man bin Basyir berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda: "Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar-samar (syubhat) yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa yang menjaga diri dari syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Dan barang siapa yang terjerumus dalam syubhat, ia seperti seorang penggembala yang menggembalakan di sekitar area terlarang, sangat mungkin ia akan terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki area terlarang, dan area terlarang Allah di bumi-Nya adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa dalam tubuh terdapat segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati."

Juga di dalam kitab Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain Atsar nomor 8667 di dalamnya digambarkan bahwa Hari Kiamat tidak akan terjadi sampai Allah mengirimkan angin yang tidak akan meninggalkan seorang pun yang di dalam hatinya terdapat seberat zarrah (atom) dari ketakwaan atau pemahaman;

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حَمْشَاذَ الْعَدْلُ، ثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِسْحَاقَ الْقَاضِي، ثَنَا عَمْرُو بْنُ مَرْزُوقٍ، ثَنَا عِمْرَانُ الْقَطَّانُ، عَنْ قَتَادَةَ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ آدَمَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو ، قَالَ: «لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَبْعَثَ اللَّهُ رِيحًا لَا تَدَعُ أَحَدًا فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ تُقًى أَوْ نُهًى إِلَّا قَبْضَتْهُ، وَيُلْحَقُ كُلُّ قَوْمٍ بِمَا كَانَ يَعْبُدُ آبَاؤُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ [6] »

Artinya: Ali bin Hamshad al-Adl, ia berkata: Ismail bin Ishaq al-Qadhi berkata: Amr bin Marzuq berkata: Imran al-Qattan berkata dari Qatadah, dari Abdurrahman bin Adam, dari Abdullah bin Amr r.a., ia berkata: "Hari Kiamat tidak akan terjadi sampai Allah mengirimkan angin yang tidak akan meninggalkan seorang pun yang di dalam hatinya terdapat seberat zarrah (atom) dari ketakwaan atau pemahaman kecuali angin tersebut akan mencabut nyawanya, dan setiap kaum akan mengikuti apa yang disembah oleh nenek moyang mereka di masa jahiliah."



[1] Hisyam Muhammad Shalah ad-Din, Hisyam Muhammad Nashir Miqdad, Mahmud As-sayid ‘Utsman, Shahih Al-Kutub Al-Tis’ah, Maktabah Al Iman, Mesir, 2019 , Jilid 1, Halaman 77, Hadits nomor 11973.

[2] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 19, Halaman 374.Hadits nomor 12381.

[3] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al-Hajaj , Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 1986, Hadits nomor 32.

[4] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al-Hajaj , Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 1987, Hadits nomor 33.

[5] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Al-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 20, Hadits nomor 52.

[6] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Al Kitab Al-Alamiyah, Beirut, 1990, Jilid 4, Halaman 599, Hadits nomor 8667.

Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post