- 3. TAKWA DARI SYAHWAT DAN HAWA
Syahwat: nafsu, selera,
keinginan adalah dorongan hati untuk memperturutkan segala keinginan, syahwat
mencakup semua kesenangan, keinginan yang diperturutkan secara terus menerus
akan menjadi kecintaan, kecintaan pada kesenangan ini disebut sebagai Al
Hawa. Dua kata ini Syahwat dan Al Hawa banyak digunakan di
dalam Al Quran , keduanya sering diartikan sebagai hawa nafsu.
Imam al-Ghazālī
menjelaskan bahwa syahwat dan ghadab (amarah) diciptakan dalam
diri manusia untuk kemaslahatan dirinya;
«اِعْلَمْ أَنَّ الشَّهْوَةَ وَالْغَضَبَ خُلِقَا
فِي الْإِنْسَانِ لِمَصَالِحِهِ، وَإِنَّمَا الْهَلَاكُ فِي الْإِفْرَاطِ
وَالتَّفْرِيطِ فِيهِمَا.»[1]
Artinya: “Ketahuilah bahwa syahwat
dan ghadab (amarah) diciptakan dalam diri manusia untuk kemaslahatan
dirinya, namun kebinasaan terjadi ketika keduanya digunakan secara berlebihan (ifrāṭ) atau sebaliknya secara lalai (tafrīṭ).”
Ibn al-Qayyim
menjelaskan bahwa sumber segala maksiat, bencana, dan kejahatan adalah
mengikuti hawa nafsu;
«أَصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَبَلَاءٍ وَشَرٍّ
إِنَّمَا هُوَ اتِّبَاعُ الْهَوَى، فَإِنَّهُ يُعْمِي وَيُصِمُّ، وَيَصُدُّ عَنِ
الْحَقِّ.»[2]
Artinya: “Sumber segala maksiat,
bencana, dan kejahatan adalah mengikuti hawa nafsu (ittibā‘ al-hawā), karena ia
dapat membutakan mata hati, menulikan pendengaran, dan menghalangi seseorang
dari kebenaran.”
Kehidupan Manusia Di Dunia Dihiasi Dengan
Kecintaan-Kecintaan Kepada; Wanita, Anak-Anak, Harta Benda, Emas, Perak, Kuda,
Binatang Ternak, Ladang
Di dalam Al Quran surat Ali 'Imran/ 3: 14,
Allah memberikan gambaran bahwa kehidupan manusia di dunia dihiasi dengan
kecintaan-kecintaan kepada; wanita, anak-anak, harta benda, emas, perak, kuda,
binatang ternak, ladang;
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ
وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ
الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Artinya: Dijadikan indah pada (pandangan)
manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita,
anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan,
binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia,
dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali 'Imran/ 3: 14)
Ayat di atas
menggambarkan beberapa kecintaan yang dapat mendatangkan kesenangan di dunia,
tetapi kecintaan kesenangan dunia tidak terbatas pada hal yang tersebut di atas
saja, melainkan semua kesenangan terhadap apa yang ada di dunia, yang akan
mengakibatkan cinta pada kehidupan dunia.
Dorongan syahwat
ini memiliki cakupan yang sangat luas melimputi seluruh upaya untuk meraih
kecintaan kebahagiaan duniawi, ketika upaya untuk meraih kebahagiaan dunia
tidak mengikuti aturan dan ketentuah hukum Islam, maka upaya tersebut merupakan
upaya yang hanya mengikuti syahwat dan hawa, dan upaya mengikuti syahwat dan
hawa ini dapat mencakup semua aspek kehidupan, seperti; ekonomi, politik,
pendidikan, kesehatan, profesi bahkan pada ibadah. Adanya syahwat dan hawa juga
dapat mendorong perilaku buruk berikutnya seperti; korupsi, suap, penipuan,
janji palsu untuk meraih kekuasaan, pencitraan, suap untuk mendapatkan
pekerjaan, suap proyek, suap pengadilan, eksploitasi wanita, iklan tidak jujur,
perjudian, undian peruntungan, narkoba, minuman keras, panggung hiburan
kema’siyatan, pelacuran, pornografi, dll.
Agar
dapat memehamai takwa dari Syahwat dan Hawa secara menyeluruh, maka pada bab
ini akan dikemukakan pembahasan tentang;
1.
Hikmah
Menjaga Diri Dari Syahwat Dan Al-Hawa
2.
Akibat
Dari Mengikuti Syahwat Dan Al-Hawa
3.
Bentuk
Kecintaan Pada Syahwat Dan Al-Hawa
4.
Takwa
Dari Syahwat Keinginan Hawa Nafsu
Adapun
pembahasannnya adalah sebagai berikut;
1.
Hikmah
Menjaga Diri Dari Syahwat Dan Al-Hawa
Di sini akan dikemukakan ayat-ayat
Al-Quran dan Hadits Rasulullah SAW yang berkaitan dengan hikmah menjaga diri
dari Syahwat dan Hawa;
Di dalam Al Quran
Surat Al-Hadid/ 57: 20, Allah memperingatkan manusia bahwa sesungguhnya
kehidupan di dunia hanyalah permainan, suatu yang melalaikan dan kesenangan
yang menipu;
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ
وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ
وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ
فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ
وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا
مَتَاعُ الْغُرُورِ
Artinya: Ketahuilah, bahwa sesungguhnya
kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan
bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan
anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian
tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi
hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta
keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang
menipu.
Bagi orang yang
beriman dan bertakwa yang tidak tertipu dengan kesenangan kehidupan dunia yang
merupakan permainan dan sendau gurau tersebut, akan diberikan pahala oleh Allah
SWT, dijelaskan di dalam Al Quran Surat Muhammad/ 47: 36;
إِنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَإِنْ
تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ
Artinya: Sesungguhnya kehidupan dunia
hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah
akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.(QS. Muhammad/
47: 36)
Di
dalam kitab Muwatho Malik disebutkan atsar nomor 575 digambarkan keadaan
keadaan orang-orang yang mendahulukan hawa nafsu sebelum amalnya;
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ يَحْيَى بْنِ
سَعِيدٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ قَالَ
لِإِنْسَانٍ إِنَّكَ فِي زَمَانٍ كَثِيرٌ فُقَهَاؤُهُ قَلِيلٌ قُرَّاؤُهُ تُحْفَظُ
فِيهِ حُدُودُ الْقُرْآنِ وَتُضَيَّعُ حُرُوفُهُ قَلِيلٌ مَنْ يَسْأَلُ كَثِيرٌ
مَنْ يُعْطِي يُطِيلُونَ فِيهِ الصَّلَاةَ وَيَقْصُرُونَ الْخُطْبَةَ يُبَدُّونَ
أَعْمَالَهُمْ قَبْلَ أَهْوَائِهِمْ وَسَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ قَلِيلٌ
فُقَهَاؤُهُ كَثِيرٌ قُرَّاؤُهُ يُحْفَظُ فِيهِ حُرُوفُ الْقُرْآنِ وَتُضَيَّعُ
حُدُودُهُ كَثِيرٌ مَنْ يَسْأَلُ قَلِيلٌ مَنْ يُعْطِي يُطِيلُونَ فِيهِ
الْخُطْبَةَ وَيَقْصُرُونَ الصَّلَاةَ يُبَدُّونَ فِيهِ أَهْوَاءَهُمْ قَبْلَ
أَعْمَالِهِمْ [3]
Artinya: Telah
menceritakan kepadaku dari Malik dari Yahya bin Sa'id bahwa Abdullah bin Mas'ud
berkata kepada seseorang; "sesungguhnya engkau hidup di zaman yang ahli
fikihnya banyak sementara para qari`nya sedikit, hukum-hukum Al-Qur'an dijaga
sementara huruf-hurufnya disia siakan. Sedikit yang bertanya tetapi banyak yang
mampu memberi (fatwa) . Mereka memanjangkan shalat dan memendekkan khuthbah.
Dan mendahulukan amal daripada hawa nafsu. Lalu akan datang kepada manusia
sebuah zaman yang sedikit ahli fikihnya, namun banyak qari`anya. Huruf-huruf
Al-Qur'an dijaga sedangkan hukum-hukumnya disia-siakan. Banyak yang bertanya
dan sedikit yang bisa memberi (fatwa) . Mereka memanjangkan khutbah dan
memendekkan shalat. Dan mereka mendahulukan hawa nafsu sebelum amal mereka."
(Muwatho Malik no 379)
Sehingga Nabi
Muhammad SAW memberikan pelajaran yang bagus dalam mensikapi kehidupan ini,
yakni Bahwa orang yang cerdas adalah orang yang menghitung-hitung dirinya dan
beramal untuk setelah kematian, sebaliknya orang yang lemah adalah orang yang
mengikuti jiwanya dengan hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah,
dituangkan di dalam kitab Mu’jam Thabarani al-Kabir hadits nomor 7141;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ
عَبْدِ السَّلَامِ الْبَيْرُوتِيُّ مَكْحُولٌ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَمْرِو بْنِ
بَكْرٍ السَّكْسَكِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُ، عَنْ ثَوْرِ بْنِ
يَزِيدَ، وَغَالِبِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، عَنْ مَكْحُولٍ، عَنِ ابْنِ غَنْمٍ، عَنْ
شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ،
وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا،
وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ» [4]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Ali bin Ishaq] berkata; telah mengabarkan kepada kami
[Abdullah] yaitu Ibnu Mubarak berkata; telah mengabarkan kepada kami [Abu Bakar
bin Abu Maryam] dari [Dlamrah bin Habib] dari [Syaddad bin Aus] berkata;
Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang cerdas adalah orang yang
menghitung-hitung dirinya dan beramal untuk setelah kematian, sebaliknya orang
yang lemah adalah orang yang mengikuti jiwanya dengan hawa nafsunya dan
berangan-angan kepada Allah."
Rasulullah
Muhammad SAW memberikan peringatan kepada umatnya, bahwa yang sangat ditakutkan
Rasulullah dari umatnya adalah godaan syahwat keji dari perut, dan kemaluan
kalian, serta hawa nafsu yang menyesatkan, di muat di dalam kitab Musnad Ahmad
hadits nomor 19787;
حَدَّثَنَاه يَزِيدُ قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُو الْأَشْهَبِ
عَنْ أَبِي الْحَكَمِ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَبِي بَرْزَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي
بُطُونِكُمْ وَفُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْهَوَى [5]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdissalām al-Bayrūtī
al-Makḥūl, telah
menceritakan kepada kami Ibrāhīm bin ‘Amr bin Bakr as-Saksakī, ia berkata: Aku
mendengar ayahku menceritakan dari Ṯaur bin Yazīd dan Ghālib bin ‘Abdillah, dari Makḥūl, dari Ibnu Ghanm, dari Syaddād bin Aws,
dari Nabi ﷺ, beliau bersabda “Orang yang cerdas الكيِّس) adalah orang yang
menundukkan dan menghisab dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan
setelah mati. Sedangkan orang yang lemah
(العاجز) adalah orang yang menuruti
hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah (tanpa amal).”
Di dalam kitab
Shahih Bukhari hadits nomor 4042 dinyatakan “Aku tidak lebih khawatir terhadap
syirik yang kalian perbuat, akan tetapi aku sangat khawatir terhadap dunia yang
akan kalian perebutkan.”;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ
أَخْبَرَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ عَدِيٍّ أَخْبَرَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ
حَيْوَةَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ أَبِي الْخَيْرِ عَنْ عُقْبَةَ
بْنِ عَامِرٍ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
عَلَى قَتْلَى أُحُدٍ بَعْدَ ثَمَانِي سِنِينَ كَالْمُوَدِّعِ لِلْأَحْيَاءِ
وَالْأَمْوَاتِ ثُمَّ طَلَعَ الْمِنْبَرَ فَقَالَ إِنِّي بَيْنَ أَيْدِيكُمْ
فَرَطٌ وَأَنَا عَلَيْكُمْ شَهِيدٌ وَإِنَّ مَوْعِدَكُمْ الْحَوْضُ وَإِنِّي
لَأَنْظُرُ إِلَيْهِ مِنْ مَقَامِي هَذَا وَإِنِّي لَسْتُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ
تُشْرِكُوا وَلَكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا أَنْ تَنَافَسُوهَا قَالَ
فَكَانَتْ آخِرَ نَظْرَةٍ نَظَرْتُهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [6]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahim telah mengabarkan kepada kami
Zakariya bin 'Adi telah mengabarkan kepada kami Ibnu Al Mubarrak dari Haiwah
dari Yazid bin Abu Habib dari Abu Al Khair dari 'Uqbah bin 'Amir dia berkata,
"Rasulullah ﷺ menshalati para
korban Uhud setelah delapan tahun, seolah-olah seperti perpisahan antara orang
yang hidup dengan orang yang telah mati. Kemudian beliau naik mimbar seraya
bersabda: "Sesungguhnya aku mendahului kalian, dan aku adalah saksi atas
kalian. Sungguh, yang dijanjikan bagi kalian adalah telaga, dan aku benar-benar
telah melihatnya di tempatku ini. Aku tidak lebih khawatir terhadap syirik yang
kalian perbuat, akan tetapi aku sangat khawatir terhadap dunia yang akan kalian
perebutkan." 'Uqbah berkata, "Dan itu adalah terakhir kali aku
melihat Rasulullah ﷺ."
Nabi Muhammad SAW
memberikan batasan dalam hal makan, minum, bersedekah dan berpakaian untuk
tidak melakukannya untuk kebanggaan, kesombongan dan berlebi-lebihan, tertuang
di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 6708;
حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ
عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُوا وَاشْرَبُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا فِي
غَيْرِ مَخِيلَةٍ وَلَا سَرَفٍ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُرَى نِعْمَتُهُ عَلَى
عَبْدِهِ
[7]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Bahz] telah menceritakan kepada kami [Hammam] dari
[Qotadah] dari ['Amru bin Syu'aib] dari [bapaknya] dari [kakeknya], dia
berkata; bahwa seseungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda:
"Makanlah, minumlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah kalian dengan tidak
merasa bangga dan sombong serta berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah bangga
bila nikmat-Nya ada pada hamba-Nya diperlihatkan."
Di dalam kitab
Shahih Bukhari hadits nomor 4687, mencantumkan penjelasan Rasulullah SAW, Bahwa
Neraka dikelilingi dengan syahwat (hal-hal yang menyenangkan nafsu), sedang
surga dikelilingi hal-hal yang tidak disenangi (nafsu);
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ
عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حُجِبَتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتْ
الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ [8]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Ismail] mengatakan, telah menceritakan kepadaku
[Malik] dari [Abu Az Zanad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah] radliallahu
'anhu, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Neraka dikelilingi dengan
syahwat (hal-hal yang menyenangkan nafsu), sedang surga dikelilingi hal-hal
yang tidak disenangi (nafsu)."
Di dalam kitab
Shahih Muslim hadis nomor 99 kita diingatkan untuk menjaga diri dari dunia dan
wanita, karena sesungguhnya sumber bencana Bani Isarail adalah wanita;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي مَسْلَمَةَ قَالَ
سَمِعْتُ أَبَا نَضْرَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ
خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ
فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي
إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ وَفِي حَدِيثِ ابْنِ بَشَّارٍ لِيَنْظُرَ
كَيْفَ تَعْمَلُونَ [9]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] dan [Muhammad bin Basysyar]
keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] telah
menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Abu Maslamah] dia berkata; aku
mendengar [Abu Nadlrah] bercerita dari [Abu Sa'id Al Khudri] dari Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya dunia itu manis. Dan
sesungguhnya Allah telah menguasakannya kepadamu sekalian. Kemudian Allah
menunggu (memperhatikan) apa yang kamu kerjakan (di dunia itu). Karena itu
takutilah dunia dan takutilah wanita, karena sesungguhnya sumber bencana Bani
Isarail adalah wanita." Sedangkan di dalam Hadis Ibnu Basyar menggunakan
kalimat; 'liyandlur kaifa ta'malun.' (Kemudian Allah (memperhatikan) apa yang
kamu kerjakan (di dunia itu).'
2.
Akibat
Dari Mengikuti Syahwat Dan Al-Hawa
Orang yang mengikuti syahwat
dan al hawa akan menerima akibat yang buruk ketika di dunia maupun di akherat,
adapun akibatnya antara lain sebagai berikut;
Di dalam Al Quran
Surat Al-Furqan/ 25: 43-44, dijelaskan bahwa orang yang menjadikan hawa
nafsunya sebagai tuhannya, Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang
ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya
أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ
تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا, أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ
ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا
Artinya:
Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai
tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, atau apakah kamu
mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak
lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya
(dari binatang ternak itu). (QS. Al-Furqan/ 25: 43-44)
Di dalam Al Quran
Surat Al-Jasiyah/ 45: 23, dijelaskan bahwa orang yang menjadikan hawa nafsunya
sebagai tuhannya dan Allah menyesatkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah
mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya;
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ
اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ
غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ
Artinya: Maka
pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan
Allah menyesatkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati
pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka
siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat).
Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (HR. Al-Jasiyah/ 45: 23)
Sedangkan bagi
orang kafir karena telah menghabiskan rizki yang baik untuk bersenang-senang
dan tertipu dengan kehidupan dunia, maka Allah akan memberikan azab yang
menghinakan, dijelaskan di dalam Al Quran surat Al Ahqaf/ 46: 20;
وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ
أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ
تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ
الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ
Artinya: Dan (ingatlah) hari (ketika)
orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan), "Kamu
telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu
telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab
yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak
dan karena kamu telah fasik.” (QS. Al Ahqaf/ 46: 20)
Syahwat dan Al Hawa
mendorong seseorang untuk mencintai kehidupan dunia, dan akan berusaha sekuat
tenaga untuk meraihnya, bahkan hingga mengabaikan dan tidak mentaati aturan
agama, seperti; riba, monopoli, menipu, korupsi, mencuri, fitnah, suap,
perjudian, berita bohong, tidak jujur, zina, perselingkuhan, prostitusi,
pornografi, lgbt, murtad dll.
3.
Bentuk
Kecintaan Pada Syahwat Dan Al-Hawa
Syahwat dan al
hawa mendorong seseorang cinta kepada kesenangan dunia, kecintaan kepada
kesenangan dunia mendorong orang untuk berlaku; thamak, hasad, bakhil, tabdzir,
senang pada makanan, laqhwun, zina, cinta dunia, ma’siyat, khianat dan
lain-lainnya masih banyak sekali, disini hanya dikemukakan sepuluh hal
tersebut;
3.1.
Hubb
al- Dunya (Cinta Dunia)
Hubb al-dunya berasal dari kata
hubb dan al-dunya, hubb artinya mencintai al-dunya
artinya dunia; mencintai dunia; mencintai kehidupan dunia; mencintai kesenangan
kehidupan dunia. Menurut Imam al-Ghazālī, hubb al-dunyā adalah
keterikatan batin yang berlebihan terhadap kenikmatan materi, kedudukan, dan
syahwat sehingga hati menjadi condong kepada dunia dan berpaling dari Allah. [10] Dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, al-Ghazālī
menegaskan bahwa bahaya cinta dunia bukan terletak pada wujud dunia itu
sendiri, melainkan pada dominasi dunia atas hati manusia hingga menghalangi
perjalanan ruhani menuju akhirat. [11] Ia bahkan
menyebut hubb al-dunyā sebagai “induk segala kesalahan” (umm al-khaṭāyā) karena menjadi
sumber munculnya sifat tamak, hasad, riya’, dan kelalaian spiritual. [12]
Ibn Qayyim
al-Jawziyyah memandang hubb al-dunyā sebagai penyakit hati yang muncul
ketika dunia menempati posisi yang seharusnya hanya layak bagi Allah dalam hati
seorang hamba. [13] Dalam Ighāthat
al-Lahfān, ia menjelaskan bahwa cinta dunia menumbuhkan keterikatan yang
menjerat jiwa, melemahkan tekad (himmah), dan menutup pintu hidayah. [14] Bagi Ibn Qayyim,
cinta dunia menjadi akar kehancuran spiritual karena melahirkan kelalaian (ghaflah)
dan menjadikan hawa nafsu sebagai pemimpin yang menyesatkan. [15]
Prinsip dasar
seorang mukmin dalam memandang kehidupan dunia adalah menggunakan segala
karunia yang diberikan Allah dalam kehidupan dunia untuk meraih kehidupan
akherat, tetapi tidak boleh lupa dengan Nasib kehidupannya di dunia,
sebagaimana perintahkan Allah yang tertuang di dalam Al Quran surat Al-Qashash/ 28: 77;
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ
الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ
اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا
يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Artinya: Dan carilah pada apa yang
telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah
kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash/ 28: 77)
Agar orang beriman
tidak tertipu; terpedaya; terlena dengan kehidupan dunia maka, tetapi juga
tidak lupa mengurus nasibnya dalam kehidupan dunia, maka perlu memahami
beberapa ayat Al Quran dan Hadits yang berkaitan dengan kehidupan dunia;
3.1.1.
Akherat
Lebih Baik Dan Lebih Kekal Dibandingkan Dunia
Penting untuk
dipahami bahwa akherat lebih baik dan lebih kekal
dibandingkan dunia, sebagaimana ditegaskan di dalam Al Quran surat Al-A’la/
87: 16-17;
بَلْ تُؤْثِرُونَ
الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ,وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
Artinya: Tetapi
kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat
adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Al-A’la/ 87: 16-17)
Di dalam Al Quran
surat At-Taubah/ 9: 24, dijelaskan bila keluarga dan harta lebih dicintai
mengalahkan cintanya kepada Allah, Rasul dan jihad di jalannya, maka diancam
Allah dengan perhitungan di hari Akhir;
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ
وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا
وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ
مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ
اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Artinya: Katakanlah:
"jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum
keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri
kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari
Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah/ 9: 24)
3.1.3.
Lebih
Mencintai Kehidupan Dunia Dari Pada Kehidupan Akhirat: Tersesat
Di dalam Al Quran
surat Ibrahim/14: 3, ditegaskan bahwa orang yang lebih mencintai kehidupan
dunia dari pada kehidupan akhirat berada dalam kesesatan yang jauh;
الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
عَلَى الْآخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا
أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ
Artinya: (yaitu)
orang-orang yang lebih mencintai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat,
dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan
Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.(QS.
Ibrahim/14: 3)
3.1.4.
Kehidupan
Dunia Itu (Dibanding Dengan) Kehidupan Akhirat, Hanyalah Kesenangan (Yang
Sedikit)
Di dalam Al Quran
surat Ar-Ra'd/ 13: 26 dinyatakan bahwa kehidupan dunia itu (dibanding dengan)
kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit);
اللَّهُ
يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ
Artinya: Allah
meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka
bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding
dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).(QS. Ar-Ra'd/
13: 26)
3.1.5.
Kehidupan
Dunia Itu Tidak Lain Hanyalah Kesenangan Yang Memperdayakan
Di Dalam Al Quran
surat Ali-'Imran/ 3: 185 dinyatakan bahwa Kehidupan dunia itu tidak lain
hanyalah kesenangan yang memperdayakan;
كُلُّ
نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Artinya: Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah
disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke
dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain
hanyalah kesenangan yang memperdayakan.(QS. Ali-'Imran/ 3: 185)
3.1.6.
Kehidupan
Dunia Ini Tidak Lain Hanyalah Kesenangan Yang Menipu
Di Dalam Al Quran
surat Al-Hadid/ 57: 20 dinyatakan bahwa kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah
kesenangan yang menipu;
اعْلَمُوا
أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ
وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ
الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا
وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Artinya: Ketahuilah,
bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang
melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan
tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya
mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat
warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang
keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak
lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al-Hadid/ 57: 20)
3.1.7.
Sesungguhnya
Kehidupan Dunia Ini Hanyalah Kesenangan (Sementara)
Di Dalam Al Quran
surat Al-Mu'min/ 40: 39 dinyatakan bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini
hanyalah kesenangan (sementara);
يَا
قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ
دَارُ الْقَرَارِ
Artinya: Hai
kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan
sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.(QS. Al-Mu'min/ 40: 39)
3.1.8.
Kehidupan
Dunia Ini Melainkan Senda Gurau Dan Main-Main
Di Dalam Al Quran
surat Al-'Ankabut/ 29: 64 dinyatakan bahwa kehidupan dunia ini melainkan senda
gurau dan main-main;
وَمَا
هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ
لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ
Artinya: Dan
tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan
sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.(QS.
Al-'Ankabut/ 29: 64)
3.1.9.
Kehidupan
Dunia Ini, Selain Dari Main-Main Dan Senda Gurau Belaka
Di Dalam Al Quran
surat Al-An'am/ 6: 32 dinyatakan bahwa kehidupan dunia ini, selain dari
main-main dan senda gurau belaka;
وَمَا
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ
لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ
Artinya: Dan
tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan
sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka
tidakkah kamu memahaminya? (QS. Al-An'am/ 6: 32)
Di dalam Al Quran
surat At-Taubah/ 9: 111 ditegaskan bahwa Sesungguhnya Allah telah membeli dari
orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka ;
إِنَّ
اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ
لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ
وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ
أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي
بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya:
Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka
dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu
mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah
di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya
(selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu
lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah/ 9:
111)
3.1.11. Wahn
Adalah Cinta Dunia Dan Takut Mati
Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 4297, dijelaskan bahwa Al
Wahn adalah cinta dunia dan takut mati;
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ
الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ بَكْرٍ حَدَّثَنَا ابْنُ جَابِرٍ
حَدَّثَنِي أَبُو عَبْدِ السَّلَامِ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ
كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ
نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ
السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ
وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ
اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ [16]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami 'Abdurrahman bin Ibrahim bin Ad Dimasyqi berkata,
telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Bakr berkata, telah menceritakan
kepada kami Ibnu Jabir berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Abdus Salam
dari Tsauban ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Hampir-hampir
bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan
yang berada di mangkuk." Seorang laki-laki berkata, "Apakah kami
waktu itu berjumlah sedikit?" beliau menjawab: "Bahkan jumlah kalian
pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air.
Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian, dan akan menanamkan ke
dalam hati kalian Al wahn." Seseorang lalu berkata, "Wahai
Rasulullah, apa itu Al wahn?" beliau menjawab: "Cinta dunia dan takut
mati."
Di dalam kitab
Shahih Bukhari hadits nomor 6420, dijelaskan bahwa Hati orang tua masih tetap
berjiwa muda dalam dua perkara, yaitu; mencintai dunia dan panjang angan-angan;
حَدَّثَنَا
عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا أَبُو صَفْوَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ
الْمُسَيَّبِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَزَالُ قَلْبُ
الْكَبِيرِ شَابًّا فِي اثْنَتَيْنِ فِي حُبِّ الدُّنْيَا وَطُولِ الْأَمَلِ [17]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Abu
Shufwan Abdullah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ibnu
Syihab dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Sa'id bin Al Musayyab bahwa Abu
Hurairah radliallahu 'anhu berkata; saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Hati orang tua masih tetap
berjiwa muda dalam dua perkara, yaitu; mencintai dunia dan panjang
angan-angan."
3.1.13. Jadilah
Kalian Dari Anak-Anak Akhirat, Janganlah Menjadi Anak-Anak Dunia
Di dalam kitab
Hilyatul Aulia hadits dinyatakan jadilah kalian dari anak-anak akhirat,
janganlah menjadi anak-anak dunia;
حَدَّثَنَا
أَبُو بَكْرٍ الطَّلْحِيُّ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْحَضْرَمِيُّ،
ثَنَا عَوْنُ بْنُ سَلَّامٍ، ثَنَا أَبُو مَرْيَمَ، عَنْ زُبَيْدٍ، عَنْ مُهَاجِرِ
بْنِ عُمَيْرٍ، قَالَ: قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: «إِنَّ أَخْوَفَ مَا
أَخَافُ اتِّبَاعُ الْهَوَى، وَطُولُ الْأَمَلِ. فَأَمَّا اتِّبَاعُ الْهَوَى
فَيَصُدُّ عَنِ الْحَقِّ، وَأَمَّا طُولُ الْأَمَلِ فَيُنْسِي الْآخِرَةَ. أَلَا
وَإِنَّ الدُّنْيَا قَدْ تَرَحَّلَتْ مُدْبِرَةً، أَلَا وَإِنَّ الْآخِرَةَ قَدْ
تَرَحَّلَتْ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ
أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ، وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ
الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلَ» رَوَاهُ
الثَّوْرِيُّ وَجَمَاعَةٌ، عَنْ زُبَيْدٍ مِثْلَهُ، عَنْ عَلِيٍّ مُرْسَلًا،
وَلَمْ يَذْكُرُوا مُهَاجِرَ بْنَ عُمَيْرٍ قَالَ أَبُو نُعَيْمٍ: أَفَادَنِي
هَذَا الْحَدِيثَ الدَّارَقُطْنِيُّ عَنْ شَيْخِي، لَمْ أَكْتُبْهُ إِلَّا مِنْ
هَذَا الْوَجْهِ [18]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu Bakr al-Talhi, telah menceritakan kepada kami
Muhammad bin Abdullah al-Hadrami, telah menceritakan kepada kami Awn bin Salam,
telah menceritakan kepada kami Abu Maryam, dari Zubaid, dari Muhajir bin Umayr,
dia berkata: Ali bin Abi Thalib berkata, "Sesungguhnya yang paling aku
takuti adalah mengikuti hawa nafsu dan harapan yang panjang. Adapun mengikuti
hawa nafsu, itu akan menghalangi dari kebenaran, dan adapun harapan yang
panjang, itu akan membuat melupakan akhirat. Ingatlah, dunia ini telah berbalik
dan menuju ke belakang, dan akhirat telah mendekat dan mendatangi, dan setiap
dari keduanya memiliki anak-anak. Maka jadilah kalian dari anak-anak akhirat,
janganlah menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah amal tanpa
hisab, dan esok hari adalah hisab tanpa amal." Diriwayatkan oleh al-Thawri
dan sejumlah perawi lainnya, dari Zubaid dalam bentuk yang serupa, dari Ali
dalam bentuk marfu', tetapi mereka tidak menyebutkan Muhajir bin Umayr. Abu
Nu'aim berkata, "Hadis ini disampaikan kepada saya oleh al-Daraqutni dari
gurunya (Zubaid), saya tidak mencatatnya kecuali dengan cara ini."
3.1.14. Ada
Dua Golongan Yang Tidak Pernah Merasa Kenyang, Yaitu Pemilik Ilmu Dan Pemilik
Dunia
Di dalam kitab
Sunan Darimi hadits nomor 344, dijelaskan bahwa ada dua golongan yang tidak
pernah merasa kenyang, yaitu pemilik ilmu dan pemilik dunia;
أَخْبَرَنَا
جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ أَخْبَرَنَا أَبُو عُمَيْسٍ عَنْ عَوْنٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ
اللَّهِ مَنْهُومَانِ لَا يَشْبَعَانِ صَاحِبُ الْعِلْمِ وَصَاحِبُ الدُّنْيَا
وَلَا يَسْتَوِيَانِ أَمَّا صَاحِبُ الْعِلْمِ فَيَزْدَادُ رِضًا لِلرَّحْمَنِ
وَأَمَّا صَاحِبُ الدُّنْيَا فَيَتَمَادَى فِي الطُّغْيَانِ ثُمَّ قَرَأَ عَبْدُ
اللَّهِ { كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى } قَالَ
وَقَالَ الْآخَرُ { إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ } [19]
Artinya: Telah
mengabarkan kepada kami Ja'far bin 'Aun telah mengabarkan kepada kami Abu
'Umais dari 'Aun ia berkata: " Abdullah berkata: 'Ada dua golongan yang
tidak pernah merasa kenyang, yaitu pemilik ilmu dan pemilik dunia, dan keduanya
tidak sama. Adapun pemilik ilmu semakin menambah kerelaan terhadap Ar Rahman,
dan pemilik dunia selalu melampaui batas (menambah kelaliman), kemudian
Abdullah membaca: (Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui
batas, karena ia melihat dirinya serba cukup), dia berkata juga, yang lain juga
berkata: 'Yang takut kepada Allah diantara hambaNya, hanyalah ulama".
Di dalam kitab
Musnad Ahmad hadits nomor 10611 dinyatakan bahwa sesungguhnya yang paling aku
takutkan atas kalian adalah apa yang akan Allah keluarkan dari tumbuhan bumi
dan perhiasan dunia;
حَدَّثَنَا
سُفْيَانُ عَنِ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدِ
بْنِ أَبِي سَرْحٍ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ
عَلَيْكُمْ مَا يُخْرِجُ اللَّهُ مِنْ نَبَاتِ الْأَرْضِ وَزَهْرَةِ الدُّنْيَا
فَقَالَ رَجُلٌ أَيْ رَسُولَ اللَّهِ أَوَ يَأْتِي الْخَيْرُ بِالشَّرِّ فَسَكَتَ
حَتَّى رَأَيْنَا أَنَّهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ قَالَ وَغَشِيَهُ بُهْرٌ وَعَرَقٌ
فَقَالَ أَيْنَ السَّائِلُ فَقَالَ هَا أَنَا وَلَمْ أُرِدْ إِلَّا خَيْرًا
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْخَيْرَ لَا
يَأْتِي إِلَّا بِالْخَيْرِ إِنَّ الْخَيْرَ لَا يَأْتِي إِلَّا بِالْخَيْرِ إِنَّ
الْخَيْرَ لَا يَأْتِي إِلَّا بِالْخَيْرِ وَلَكِنَّ الدُّنْيَا خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ
وَكَانَ مَا يُنْبِتُ الرَّبِيعُ يَقْتُلُ حَبَطًا أَوْ يُلِمُّ إِلَّا آكِلَةُ
الْخَضِرِ فَإِنَّهَا أَكَلَتْ حَتَّى امْتَدَّتْ خَاصِرَتَاهَا وَاسْتَقْبَلَتْ
الشَّمْسَ فَثَلَطَتْ وَبَالَتْ ثُمَّ عَادَتْ فَأَكَلَتْ فَمَنْ أَخَذَهَا
بِحَقِّهَا بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهَا بِغَيْرِ حَقِّهَا لَمْ يُبَارَكْ
لَهُ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ قَالَ سُفْيَانُ وَكَانَ
الْأَعْمَشُ يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ [20]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Ajlan dari Iyadh bin Abdullah bin
Sa'd bin Abu Sarh bahwa ia mendengar Abu Sa'id berkata; Rasulullah ﷺ bersabda ketika beliau sedang berada di
atas mimbar: "Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah apa
yang akan Allah keluarkan dari tumbuhan bumi dan perhiasan dunia, " lalu
seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kebaikan datang bersama
keburukan?" Beliau diam hingga kami melihat wahyu turun kepada beliau. Abu
Sa'id berkata, "Beliau terengah dan berkeringat, lalu beliau bersabda:
"Mana orang yang bertanya tadi?" Orang itu menjawab, "Aku di
sini, dan aku tidak menginginkan kecuali kebaikan, " kemudian Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya kebaikan
tidak akan datang kecuali dengan kebaikan, sesungguhnya kebaikan tidak akan
datang kecuali dengan kebaikan, sesungguhnya kebaikan tidak akan datang kecuali
dengan kebaikan, akan tetapi dunia adalah hijau dan terasa manis, dan apa yang
tumbuh pada musim semi dapat membunuh seseorang karena kekenyangan, kecuali
penyakit tanaman, sesungguhnya ia makan hingga memanjangkan kedua sisi
perutnya, ia menyambut matahari lalu membuang kotorannya, kencing, kemudian
kembali makan. Maka barangsiapa mengambil dengan haknya ia akan diberkahi
karenanya, dan barangsiapa mengambilnya tidak sesuai dengan haknya maka tidak
akan diberkahi, ia seperti orang yang makan tapi tidak pernah merasa
kenyang." Sufyan berkata; "Al A'masy bertanya kepadaku tentang hadits
ini."
3.1.16. Barangsiapa
Yang Dunia Menjadi Kepentingan Utamanya, Allah Akan Mencerai-Beraikan Urusannya
Di dalam kitab
Mujam Thabarani Awsath hadits nomer 186 dinyatakan bahwa barangsiapa yang dunia menjadi kepentingan
utamanya, Allah akan mencerai-beraikan urusannya;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ الْحَسَنِ، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ
الضَّحَّاكِ، ثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُصَرِّفٍ، ثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ، عَنْ
جُنَيْدِ بْنِ الْعَلَاءِ بْنِ أَبِي وَهْرَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ
إِسْمَاعِيلَ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ، عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ، عَنْ أَبِي
الدَّرْدَاءِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«تَفَرَّغُوا مِنْ هُمُومِ الدُّنْيَا مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّهُ مَنْ كَانَتِ
الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّهِ أَفْشَى الله عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ
بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ أَكْبَرَ هَمِّهِ جَمَعَ اللهُ
تَعَالَى لَهُ أُمُورَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَمَا أَقْبَلَ عَبْدٌ
بِقَلْبِهِ إِلَى اللهِ تَعَالَى إِلَّا جَعَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ قُلُوبَ
الْمُؤْمِنِينَ تَفِدُ عَلَيْهِ بِالْوِدِّ وَالرَّحْمَةِ، وَكَانَ اللهُ إِلَيْهِ
بِكُلِّ خَيْرٍ أَسْرَعَ» كَذَا حَدَّثَنَاهُ عَنْ زَيْدِ بْنِ الْحُبَابِ، وَهُوَ
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ بِشْرٍ الْعَبْدِيِّ، عَنِ الْجُنَيْدِ أَشْهَرُ [21]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin al-Hasan, telah menceritakan
kepada kami Ahmad bin Yusuf bin al-Dhahhak, telah menceritakan kepada kami
Yusuf bin Musarrif, telah menceritakan kepada kami Zaid bin al-Hubab, dari
Junaid bin al-Ala' bin Abi Wahrah, dari Muhammad bin Sa'id, dari Isma'il bin
'Ubaydillah, dari Ummu al-Darda', dari Abu al-Darda' beliau berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Luangkanlah diri kalian
dari kepenatan urusan dunia sejauh yang kalian mampu, karena barangsiapa yang
dunia menjadi kepentingan utamanya, Allah akan mencerai-beraikan urusannya,
menjadikan kefakiran di antara matanya, sedangkan barangsiapa yang akhirat
menjadi kepentingan utamanya, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan
kekayaan di dalam hatinya. Tidaklah seorang hamba mendekatkan hatinya kepada
Allah kecuali Allah akan menjadikan hati orang-orang beriman itu cenderung
kepada dirinya dengan kasih sayang dan rahmat, dan Allah akan segera memberikan
kepadanya segala kebaikan." Ini adalah hadis yang disampaikan oleh Zaid
bin al-Hubab, dan ia mendapatkannya dari Muhammad bin Bishr al-Abdi, dari
Junaid, dan dia termasuk perawi yang lebih terpercaya.
3.1.17. Barangsiapa
Yang Dunia Menjadi Keinginannya, Maka Allah Mengharamkan Berdekatan Denganku
Di dalam kitab
al-Mu’jam al-Kabir li-Thabarani hadits nomor 765 dinyatakan bahwa barangsiapa
yang dunia menjadi keinginannya, maka Allah mengharamkan berdekatan
denganku;
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ , ثنا
جَبْرُونُ بْنُ عِيسَى , ثنا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ الْحَفْرِيُّ , ثنا
فُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ , ثنا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ , عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي
جُحَيْفَةَ , عَنْ أَبِيهِ , أَنَّ مُعَاوِيَةَ، ضَرَبَ عَلَى النَّاسِ بَعْثًا
فَخَرَجُوا , فَرَجَعَ أَبُو الدَّحْدَاحٍ , فَقَالَ لَهُ مُعَاوِيَةُ: أَلَمْ
تَكُنْ خَرَجْتَ مَعَ النَّاسِ؟ قَالَ: بَلَى , وَلَكِنِّي سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثًا فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَضَعَهُ
عِنْدَكَ مَخَافَةَ أَنْ لَا تَلْقَانِي , سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ وَلِي مِنْكُمْ
عَمَلًا فَحَجَبَ بَابَهُ عَنْ ذِي حَاجَةٍ لِلْمُسْلِمِينَ حَجَبَهُ اللهُ أَنْ
يَلِجَ بَابَ الْجَنَّةِ , وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا نَهْمَتَهُ حَرَّمَ اللهُ
عَلَيْهِ جُوَارِي فَإِنِّي بُعِثْتُ بِخَرَابِ الدُّنْيَا ولَمْ أُبْعَثْ
بِعِمَارَتِهَا» غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ الْفُضَيْلِ وَالثَّوْرِيِّ لَمْ نَكْتُبْهُ
إِلَّا مِنْ حَدِيثِ الْحَفَرِيِّ [22]
Artinya: "Telah
menceritakan kepada kami Sulaiman bin Ahmad, dari Jabrun bin 'Isa, dari Yahya
bin Sulaiman al-Hafri, dari Fudhail bin 'Iyadh, dari Sufyan ats-Thawri, dari
'Awn bin Abi Juhaifah, dari ayahnya, bahwa Muawiyah memerintahkan orang-orang
untuk keluar, dan mereka pun keluar. Kemudian Abu ad-Dahdah kembali, lalu
Muawiyah berkata kepadanya, 'Bukankah kamu ikut keluar bersama orang-orang?'
Abu ad-Dahdah menjawab, 'Ya, tetapi aku mendengar hadits dari Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, maka aku lebih suka menyimpannya di sini (di
rumah) karena khawatir tidak dapat bertemu denganmu.' Aku mendengar dari
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Wahai manusia, barangsiapa
yang diberi tanggung jawab oleh kalian atas suatu urusan, lalu dia menutup
pintu (kesempatan) bagi orang yang membutuhkannya di antara kaum Muslimin, maka
Allah akan menutup pintu-Nya bagi orang tersebut untuk masuk ke pintu surga.
Dan barangsiapa yang dunia menjadi keinginannya, maka Allah mengharamkan
berdekatan denganku. Sesungguhnya aku diutus untuk memerangi dunia, bukan untuk
membangunnya.' Hadits ini gharib dari hadits Fudhail dan ats-Thawri, kami hanya
mencatatnya dari hadits al-Hafri."
3.1.18. Barangsiapa
Yang Hatinya Tertanam Cinta Kepada Dunia, Tiga Hal Akan Menjangkitinya
Di dalam kitab
al-Mujam al-Kabir li-Thabarani: hadits nomor 10328 dinyatakan bahwa
'Barangsiapa yang hatinya tertanam cinta kepada dunia, tiga hal akan
menjangkitinya;
حَدَّثَنَا
جَبْرُونُ بْنُ عِيسَى الْمِصْرِيُّ , ثنا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ الْحَفَرِيُّ
, ثنا فُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ , عَنِ الْأَعْمَشِ , عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي
ثَابِتٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ
مَسْعُودٍ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ
أُشْرِبَ قَلْبُهُ حُبَّ الدُّنْيَا الْتَاطَ مِنْهُ بِثَلَاثٍ , شَقَاءٌ لَا
يَنْفَدُ , وَحَرْصٌ لَا يَبْلُغُ عَنَاهُ , وَأَمَلٌ لَا يَبْلُغُ مُنْتَهَاهُ ,
وَالدُّنْيَا طَالِبَةٌ وَمَطْلُوبَةٌ فَمَنْ طَلَبَ الدُّنْيَا طَلَبَتْهُ
الْآخِرَةُ , وَمَنْ طَلَبَ الْآخِرَةَ طَلَبَتْهُ الدُّنْيَا حَتَّى يَسْتَوْفِيَ
مِنْهَا رِزْقَهُ» غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ فُضَيْلٍ وَالْأَعْمَشِ وَحَبِيبٍ , لَمْ
نَكْتُبْهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ جَبْرُونَ عَنْ يَحْيَى [23]
Artinya: "Diceritakan
kepada kami oleh Jabrun bin Isa al-Misri, dia mengatakan: Diceritakan kepada
kami oleh Yahya bin Sulaiman al-Hafarri, dia mengatakan: Diceritakan kepada
kami oleh Fudhail bin 'Iyad, dari Al-A'masy, dari Habib bin Abi Thabit, dari
Abu Abdurrahman As-Sulami, dari Abdullah bin Mas'ud, dia berkata: Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Barangsiapa yang hatinya tertanam
cinta kepada dunia, tiga hal akan menjangkitinya: kesengsaraan yang tak
berkesudahan, kerinduan yang tak terpenuhi, dan harapan yang tak tercapai.
Dunia adalah pencari dan dicari, maka siapa yang mencari dunia, dunia akan
mencarinya untuk akhiratnya. Dan siapa yang mencari akhirat, dunia akan
mencarinya sampai dia mendapatkan rezekinya.'"
3.1.19. Barangsiapa
Mencintai Dunianya, Dia Akan Merugikan Akhiratnya
Di dalam kitab
Musnad Ahmad hadits nomor 18866 dinyatakan bahwa 'Barangsiapa mencintai dunianya, dia akan
merugikan akhiratnya;
حَدَّثَنَا
سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْهَاشِمِيُّ قَالَ ثَنَا إِسْمَاعِيلُ يَعْنِي ابْنَ
جَعْفَرٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو عَن الْمُطَّلِبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَن
أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ
آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى [24]
Artinya: "Diceritakan
kepada kami oleh Sulaiman bin Dawud al-Hashimi, dia berkata: Diberitakan kepada
kami oleh Isma'il, yang dimaksud adalah Ibnu Ja'far, dia berkata: Amru
mengabarkan kepada kami dari Al-Muttalib bin Abdullah, dari Abu Musa
al-Asy'ari, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
'Barangsiapa mencintai dunianya, dia akan merugikan akhiratnya, dan barangsiapa
mencintai akhiratnya, dia akan merugikan dunianya. Oleh karena itu, berilah
prioritas kepada apa yang abadi daripada yang fana.'"
3.1.20. Manisnya
Dunia Itu Pahitnya Akhirat, Dan Pahitnya Dunia Itu Manisnya Akhirat
Di dalam kitab Sunan
Abi Daud hadits nomor 19698 dinyatakan 'Manisnya dunia itu pahitnya akhirat,
dan pahitnya dunia itu manisnya akhirat;
حَدَّثَنَا
أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ عَنْ شُرَيْحِ بْنِ عُبَيْدٍ
الْحَضْرَمِيِّ أَنَّ أَبَا مَالِكٍ الْأَشْعَرِيَّ لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ
قَالَ يَا سَامِعَ الْأَشْعَرِيِّينَ لِيُبَلِّغْ الشَّاهِدُ مِنْكُمْ الْغَائِبَ
إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
حُلْوَةُ الدُّنْيَا مُرَّةُ الْآخِرَةِ وَمُرَّةُ الدُّنْيَا حُلْوَةُ الْآخِرَةِ [25]
Artinya:
Diceritakan kepada kami oleh Abu Al-Mughirah, dia berkata: Diberitakan kepada
kami oleh Safwan, dari Shurayh bin 'Ubayd al-Hadrami, bahwa Abu Malik
al-Asy'ari, ketika kematian mendekatinya, berkata: 'Wahai pendengar dari
orang-orang Asy'ari, sampaikanlah pesanku kepada yang tidak hadir di antara
kalian. Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
'Manisnya dunia itu pahitnya akhirat, dan pahitnya dunia itu manisnya
akhirat.'"
3.1.21. Dunia
Adalah Penjara Bagi Orang Mukmin Dan Surga Bagi Orang Kafir
Di dalam kitab
Shahih Muslim hadits nomor 2956 digambarkan bahwa 'Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan
surga bagi orang kafir;
حَدَّثَنَا
قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي الدَّرَاوَرْدِيَّ
عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ
الْكَافِرِ
[26]
Artinya:
"Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id, telah menceritakan
kepada kami Abdul Aziz, yaitu al-Darawardi, dari Al-Ala', dari ayahnya, dari
Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
'Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.'"
3.1.22. Dunia
Adalah Penjara Bagi Orang Mukmin Dan Kehidupannya
Di dalam kitab
Musnad Ahmad hadits nomor 6855 digambarkan bahwa 'Dunia adalah penjara bagi
orang mukmin dan kehidupannya;
و
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا
يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جُنَادَةَ الْمَعَافِرِيُّ
أَنَّ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيَّ حَدَّثَهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عَمْرٍو حَدَّثَهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَسَنَتُهُ فَإِذَا فَارَقَ الدُّنْيَا فَارَقَ
السِّجْنَ وَالسَّنَةَ [27]
Artinya: "Telah
menceritakan kepada kami Ali bin Abi Ishaq, telah menceritakan kepada kami
Abdullah, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub, telah menceritakan
kepada saya Abdullah bin Junadah al-Ma'afiri, bahwa Abu Abdurrahman al-Hubuli
menceritakan kepadanya dari Abdullah bin Amr, yang menceritakan kepadanya dari
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Dunia adalah penjara bagi orang
mukmin dan kehidupannya, maka ketika seseorang meninggalkan dunia, dia juga
meninggalkan penjara dan kehidupannya.'"
3.1.23. Jika
Kamu Meminta Dari Urusan Akhirat, Itu Memudahkan Bagimu, Maka Kamu Dalam
Keadaan Baik
Di dalam kitab
Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor 9970 digambarkan bahwa jika kamu meminta dari
urusan akhirat, itu memudahkan bagimu, maka kamu dalam keadaan baik;
أَخْبَرَنَا
أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّلَمِيُّ , أَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ
مُوسَى أَبُو عَلِيٍّ الْقَاضِي , ثَنَا حَمْزَةُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْكَاتِبُ ,
ثَنَا نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ , أَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ , عَنْ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ: أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالَ:
قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ , كَيْفَ لِي أَنْ أَعْلَمَ مَا كَانَ عِنْدَ
اللهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ قَالَ: " إِذَا رَأَيْتَ كُلَّمَا طَلَبْتَ شَيْئًا
مِنَ الدُّنْيَا يُسِّرَ لَكَ , وَإِذَا طَلَبْتَ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْآخِرَةِ
عُسِّرَ عَلَيْكَ فَأَنْتَ عَلَى حَالَةٍ قَبِيحَةٍ , وَإِذَا طَلَبْتَ شَيْئًا
مِنَ الدُّنْيَا عُسِّرَ عَلَيْكَ , وَإِذَا طَلَبْتَ مِنْ أُمُورِ الْآخِرَةِ
يُسِّرَ لَكَ فَأَنْتَ عَلَى حَالَةٍ حَسَنَةٍ " هَكَذَا جَاءَ مُنْقَطِعًا [28]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu Abdul Rahman al-Salami, saya adalah Al-Husain bin
Muhammad bin Musa Abu Ali al-Qadhi, menceritakan kepada kami Hamzah bin
Muhammad al-Katib, menceritakan kepada kami Nuaim bin Hammad, saya adalah Ibnu
al-Mubarak, dari Abdul Rahman bin Yazid bin Jabir, bahwa Umar bin Khattab
berkata: Seorang bertanya, 'Wahai Rasulullah, bagaimana saya bisa mengetahui
apa yang ada di sisi Allah Azza wa Jalla?' Beliau bersabda: 'Jika setiap kali
kamu meminta sesuatu dari dunia, itu memudahkan bagimu, dan jika kamu meminta
sesuatu dari urusan akhirat, itu menjadi sulit bagimu, maka kamu dalam keadaan
buruk. Dan jika kamu meminta sesuatu dari dunia, itu menjadi sulit bagimu, dan
jika kamu meminta dari urusan akhirat, itu memudahkan bagimu, maka kamu dalam
keadaan baik.' Demikianlah hadis ini disampaikan tanpa putus."
Ayat-ayat
Al Quran dan hadits yang telah dikemukakan mengingatkan kepada orang beriman
untuk bertakwa kepada Allah Dan Janganlah Sekali-Kali Kehidupan Dunia
Memperdayakan Kamu, sebagaimana diperingatkan Allah di dalam Al Quran surat
Luqman/ 31: 33;
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ
عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ
اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ
بِاللَّهِ الْغَرُورُ
Artinya: Hai
manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari
itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat
(pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar,
maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan
(pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. (QS.
Luqman (31): 33)
Demikian
juga tetap berharap dan memohon doa untuk diberikan kebaikan dunia dan akhirat,
sebagaimana di sebutkan dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 201;
وَمِنْهُمْ
مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً
وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: Dan di
antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan
di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka".
(QS. Al-Baqarah/ 2: 201)
Berawal
dari Hubbu dunya selanjutnya akan dapat mendorong perilaku syahwat dan hawa
berikutnya; mencintai harta, tamak, bakhil, hasad, zina, khamr dan sebagainya.
Kesadaran
untuk menjaga diri agar tidak terpedaya dari kehidupan dunia yang dilakukan
karena Allah adalah bentuk ketakwaan kepada Allah dari hubbu dunya, yang
merupakan bagian takwa dari syahwat dan hawa.
3.2.
Hub
Al-Mal (Mencintai Harta)
Imam
al-Ghazālī menjelaskan bahwa kecintaan terhadap harta (ḥubb al-māl) merupakan kecenderungan alami manusia, namun dapat berubah
menjadi penyakit hati apabila melampaui batas kebutuhan dan mendorong seseorang
terjerumus dalam ketamakan. Dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ia menegaskan bahwa kecintaan berlebihan terhadap
harta menghalangi perjalanan spiritual karena “harta adalah syahwat yang paling
kuat mengikat hati manusia,” sehingga ketika hati dikuasai oleh kecintaan
tersebut, ia tidak lagi mampu fokus kepada Allah. [29] Al-Ghazālī
menilai ḥubb al-māl yang
tidak terkendali sebagai salah satu akar dari sifat tercela seperti bakhil,
tamak, dan hasad. [30]
Sementara
itu, Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah melihat ḥubb al-māl sebagai fitrah yang dapat bernilai positif atau negatif,
bergantung pada cara seseorang memperolehnya dan tujuan penggunaannya. Dalam
Ighāthat al-Lahfān, ia menyebut bahwa kecintaan berlebihan terhadap harta
adalah “penyakit hati yang merusak,” karena menghubungkan jiwa dengan dunia
secara berlebihan dan menjadikan harta sebagai tujuan, bukan sebagai sarana
ibadah. [31]
Dalam
al-Fawā’id, Ibn al-Qayyim menekankan bahwa orang yang dikuasai ḥubb al-māl akan kehilangan kelapangan hati, sebab “semakin kuat
kecintaan seseorang kepada harta, semakin sempit hatinya,” dan hal ini
merupakan penghalang besar dalam meraih kedekatan dengan Allah. [32] Dengan demikian,
kedua ulama sepakat bahwa ḥubb al-māl yang
melampaui batas adalah penyakit ruhani yang dapat merusak hubungan manusia
dengan Tuhannya.
Berikut
akan dikemukakan ayat-ayat Al Quran dan Hadits yang menggambarkan tentang
kedudukan harta bagi orang beriman;
3.2.1.
Dialah
Allah, Yang Menjadikan Segala Yang Ada Di Bumi Untuk Kamu
Di dalam Al Quran
surat Al-Baqarah/ 2: 29 ditegaskan bahwa Dialah Allah, yang menjadikan segala
yang ada di bumi untuk kamu;
هُوَ
الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى
السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya: Dialah
Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak
(menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui
segala sesuatu.
Berdasar ayat ini ini
diperoleh pemahaman pada hakekatnya apa saja yang telah diciptakan Allah di
bumi disediakan untuk manusia, namun untuk kebaikan manusia syariat Islam
mengatur penggunaannya.
3.2.2.
Sesungguhnya
Hartamu Dan Anak-Anakmu Hanyalah Cobaan
Di dalam Al Quran
surat At-Taghabun/ 64: 15 dan Al-Anfal/ 8: 28 dinyatakan bahwa Sesungguhnya
hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan;
إِنَّمَا
أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Artinya: Sesungguhnya
hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala
yang besar. (QS. At-Taghabun/ 64: 15)
وَاعْلَمُوا
أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ
عَظِيمٌ
Artinya: Dan
ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan
sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. Al-Anfal/ 8: 28)
3.2.3.
Janganlah
Hartamu Dan Anak-Anakmu Melalaikan Kamu Dari Mengingat Allah
Di
dalam Al Quran surat Al-Munafiqun/ 63: 9 disebutkan
larangan: janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat
Allah;
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ
عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Artinya: Hai
orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari
mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah
orang-orang yang merugi. (QS. Al-Munafiqun/ 63: 9)
3.2.4.
Makanlah
Yang Halal Lagi Baik Dari Apa Yang Terdapat Di Bumi
Al-Baqarah/
2: 168 dan 172 makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا
تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Artinya: Hai
sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi,
dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya
syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah/ 2: 168)
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا
لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Artinya: Hai
orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami
berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya
kamu menyembah. (QS. Al-Baqarah/ 2: 172)
3.2.5.
Janganlah
Kamu Saling Memakan Harta Sesamamu Dengan Jalan Yang Batil
Di
dalam Al Quran surat An-Nisa'/ 4: 29 disebutkan larangan janganlah kamu saling
memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil;
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ
إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا
أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
Artinya: Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan
jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka
sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya
Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An-Nisa'/ 4: 29)
Thaha
(20): 81 Makanlah di antara rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu,
dan janganlah melampaui batas padanya
كُلُوا
مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَلَا تَطْغَوْا فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ
غَضَبِي وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَى
Artinya: Makanlah
di antara rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah
melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan
barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia.
3.2.7.
Janganlah
Kamu Mendekati Harta Anak Yatim, Kecuali Dengan Cara Yang Lebih Baik
Al-Isra'
(17): 34 janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang
lebih baik
وَلَا
تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ
أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا
Artinya: Dan
janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik
(bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti
diminta pertanggungan jawabnya.
Di dalam kitab
Shahih Bukhari hadits nomor 6435 ditegaskan Celakalah Budak Dinar, Budak Dirham
Dan Budak Pakaian (Sutra Kasar) Serta Budak Khamishah (Campuran Sutera);
حَدَّثَنِي
يَحْيَى بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي
صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ
وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ
يَرْضَ
[33]
Artinya: Telah
menceritakan kepadaku Yahya bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr
dari Abu Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dia
berkata; Rasulullah ﷺ bersabda:
"Celakalah budak dinar, budak dirham dan budak pakaian (sutra kasar) serta
budak Khamishah (campuran sutera), jika diberi ia akan ridla dan jika tidak
diberi maka dia tidak akan ridla."
Di
dalam Al Quran surat Al-Maidah/ 5: 88 disebutkan perintah makanlah makanan yang
halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah
kepada Allah;
وَكُلُوا
مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ
بِهِ مُؤْمِنُونَ
Artinya: Dan
makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan
kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. (QS. Al-Maidah/
5: 88)
3.2.10. Bertakwalah
Kepada Allah Dan Tinggalkan Sisa Riba
Di
dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 278 disebutkan perintah bertakwalah kepada
Allah dan tinggalkan sisa riba;
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا
إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ
Artinya: Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba
(yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah/
2: 278)
Di
dalam Al Quran surat At-Taubah/ 9: 103 Ambillah zakat dari sebagian harta
mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka;
خُذْ
مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ
عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: Ambillah
zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan
mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu
(menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha
Mengetahui. (QS. At-Taubah/ 9: 103)
3.2.12. Bukanlah
Kekayaan Itu Karena Banyaknya Harta, Akan Tetapi Kekayaan Itu Adalah Kaya Hati
Di dalam kitab
Shahih Bukhari hadits nomor 6081 dinyatakan bahwa Bukanlah kekayaan itu karena
banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah kaya hati;
حَدَّثَنَا
أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو حَصِينٍ عَنْ
أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى
غِنَى النَّفْسِ [34]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Abu
Bakr telah menceritakan kepada kami Abu Hashin dari Abu Shalih dari Abu
Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda:
"Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu
adalah kaya hati."
Di dalam kitab
Sunan Abu Daud hadits nomor 1642 dinyatakana bahwa Barangsiapa yang tertimpa
kemiskinan lalu menampakkannya kepada manusia, maka kemiskinannya tidak hilang;
حَدَّثَنَا
مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ ح و حَدَّثَنَا عَبْدُ
الْمَلِكِ بْنُ حَبِيبٍ أَبُو مَرْوَانَ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ وَهَذَا
حَدِيثُهُ عَنْ بَشِيرِ بْنِ سَلْمَانَ عَنْ سَيَّارٍ أَبِي حَمْزَةَ عَنْ طَارِقٍ
عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ
فَاقَتُهُ وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى إِمَّا
بِمَوْتٍ عَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِلٍ [35]
Artinya: Telah
menceritakan kepada Kami Musaddad, telah menceritakan kepada Kami Abdullah bin
Daud, dan telah diriwayatkan dari jalur yang lain: Telah menceritakan kepada
Kami Abdul Malik bin Habib Abu Marwan, telah menceritakan kepada Kami Ibnu Al
Mubarak, dan ini adalah haditsnya, dari Basyir bin Salman dari Sayyar Abu
Hamzah, dari Thariq dari Ibnu Mas'ud, ia berkata: Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang tertimpa kemiskinan lalu
menampakkannya kepada manusia, maka kemiskinannya tidak hilang, dan barangsiapa
yang menampakkannya kepada Allah, maka Allah akan mempercepat kekayaan baginya,
baik dengan kematian yang segera atau dengan kekayaan yang cepat."
3.2.14. Tidak
Apa-Apa Dengan Kaya Bagi Orang Yang Bertakwa
Di dalam kitab
Musnad Ahmad hadits nomor 16643 dinyatakan bahwa tidak apa-apa dengan kaya bagi
orang yang bertakwa;
حَدَّثَنَا
أَبُو عَامِرٍ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
أَبِي سُلَيْمَانَ مَدِينِيٌّ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
خُبَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَمِّهِ قَالَ كُنَّا فِي مَجْلِسٍ فَطَلَعَ عَلَيْنَا
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى رَأْسِهِ أَثَرُ مَاءٍ
فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرَاكَ طَيِّبَ النَّفْسِ قَالَ أَجَلْ قَالَ
ثُمَّ خَاضَ الْقَوْمُ فِي ذِكْرِ الْغِنَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنْ اتَّقَى اللَّهَ عَزَّ
وَجَلَّ وَالصِّحَّةُ لِمَنْ اتَّقَى اللَّهَ خَيْرٌ مِنْ الْغِنَى وَطِيبُ
النَّفْسِ مِنْ النِّعَمِ [36]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu 'Amir
'Abdul Malik bin 'Amru telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Abu
Sulaiman Madini telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin 'Abdullah bin Hubaib
dari ayahnya dari pamannya berkata: Kami berada disuatu majlis kemudian
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam datang, di rambut beliau ada sisa-sisa
air, kami berkata: Wahai Rasulullah! Kami melihat Baginda sedang bahagia.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Benar." Kemudian
orang-orang memperbincangkan kekayaan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam
bersabda: "Tidak apa-apa dengan kekayaan bagi orang yang bertakwa kepada
Allah 'azza wajalla dan kesehatan bagi orang yang bertakwa kepada Allah itu
lebih baik dan kebahagiaan jiwa itu termasuk kenikmatan."
3.2.15. Doa
Mohon Perlindungan Dari Ujian Kaya Dan Ujian Miskin
Di dalam kitab
Shahih Bukhari hadits nomor 6015 disebutkan doa aku berlindung kepada-Mu dari
fitnah kekayaan dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kefakiran;
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا
سَلَّامُ بْنُ أَبِي مُطِيعٍ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ خَالَتِهِ أَنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ اللَّهُمَّ
إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ وَأَعُوذُ
بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ
بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْغِنَى وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْفَقْرِ وَأَعُوذُ
بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ [37]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il telah menceritakan kepada kami Salam
bin Abu Muthi' dari Hisyam dari Ayahnya dari Bibinya bahwa Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam biasa meminta perlindungan dengan (membaca): Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari fitnah neraka dan siksa neraka, aku berlindung
kepada-Mu dari fitnah kubur dan siksa kubur, aku berlindung kepada-Mu dari
fitnah kekayaan dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kefakiran dan aku
berlindung kepada-Mu dari fitnah Dajjal)."
Berdasar
ayat dan hadits yang telah dikemukakan dapat ditarik pemahaman bahwa meskipun
semua harta yang ada di muka bumi disediakan untuk manusia tetapi untuk dapat
menggunakannya harus mengikuti syariat yang telah ditetapkan, seperti;
memperolehnya dengan cara yang baik dan halal, tidak melampaui batas, tidak
mengandung riba.
Harta
hanyalah sebagai sarana untuk menggapai Ridha Allah hingga dapat mengantar
kepada kebahagiaan di akherat, mencintai harta tidak boleh melebihi cintanya
kepada Allah, Rasulullah dan berjuang di jalan Allah. Boleh menjadi kaya selama
hartanya dapat digunakan untuk ketakwaan kepada Allah.
Kesadaran
mengendalikan diri untuk mengharapkan, memperoleh dan menggunakan harta sesuai
syariat Islam adalah bentuk ketakwaan kepada Allah dari mencintai harta,
merupakan bentuk ketakwaan dari Syahwat dan Hawa. Dan salah satu cara untuk
membersihkan qalbu dari cinta harta adalah dengan bersedekahkan/ zakat.
Tamak; loba;
serakah adalah selalu ingin beroleh banyak untuk diri sendiri. [38] Imam al-Ghazālī menjelaskan bahwa ṭama‘ adalah adalah lemahnya jiwa yang menggantungkan diri kepada apa
yang ada di tangan manusia, serta berharap dan bergantung kepadanya.”[39]
Di dalam Al Quran
Surat Al-Humazah/ 104: 2 dan Surat Al-Fajr/ 89: 20, Allah menggambarkan orang
tamak dengan orang yang mengumpulkan harta dan terus menghitungnya dan
mencintai harta dengan kecitaan yang berlebihan;
الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ, يَحْسَبُ أَنَّ
مَالَهُ أَخْلَدَهُ
Artinya: yang mengumpulkan harta dan
menghitung-hitung, dia mengira bahwa
hartanya itu dapat mengkekalkannya, (QS. Al-Humazah/ 104: 2)
وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا
Artinya: dan kamu mencintai harta benda
dengan kecintaan yang berlebihan.(QS. Al-Fajr/ 89: 20)
Sifat tamak
(ṭama‘) dalam perspektif
Islam dipahami sebagai kondisi psikologis ketika hati manusia cenderung
menginginkan sesuatu secara berlebihan dan menggantungkan harapan kepada selain
Allah sehingga menghilangkan rasa cukup (qanā‘ah). Al-Qur’an
menggambarkan sifat ini sebagai keserakahan yang bersumber dari kecintaan
berlebihan terhadap harta, sebagaimana ditegaskan dalam QS. al-‘Ādiyāt (100):8
bahwa “sesungguhnya manusia sangat kuat kecintaannya kepada harta”.
Bentuk tamak ini juga tampak pada perilaku mengumpulkan dan menghitung-hitung
harta dengan anggapan bahwa materi duniawi mampu memberi kekekalan, sebagaimana
digambarkan dalam QS. al-Humazah (104):2–3.
Berikut
dikemukakan beberapa ayat dan hadits yang berkaitan dengan perilaku tamak dan
upaya yang harus dilakukan menjaga diri dari perilaku tamak; takwa dari tamak;
3.3.1.
Seburuk
Buruk Hamba Adalah Hamba Yang Dikendalikan Oleh Sifat Tamak
Di dalam kitab
Sunan Tirmidzi Hadis nomor 2372 dinyatakan bahwa seburuk buruk hamba adalah
hamba yang dikendalikan oleh sifat tamak;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الْأَزْدِيُّ
الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا
هَاشِمٌ وَهُوَ ابْنُ سَعِيدٍ الْكُوفِيُّ حَدَّثَنِي زَيْدٌ الْخَثْعَمِيُّ عَنْ
أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ الْخَثْعَمِيَّةِ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ تَخَيَّلَ
وَاخْتَالَ وَنَسِيَ الْكَبِيرَ الْمُتَعَالِ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ تَجَبَّرَ
وَاعْتَدَى وَنَسِيَ الْجَبَّارَ الْأَعْلَى بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ سَهَا وَلَهَا
وَنَسِيَ الْمَقَابِرَ وَالْبِلَى بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ عَتَا وَطَغَى وَنَسِيَ
الْمُبْتَدَا وَالْمُنْتَهَى بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ يَخْتِلُ الدُّنْيَا
بِالدِّينِ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ يَخْتِلُ الدِّينَ بِالشُّبُهَاتِ بِئْسَ
الْعَبْدُ عَبْدٌ طَمَعٌ يَقُودُهُ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ هَوًى يُضِلُّهُ
بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ رَغَبٌ يُذِلُّهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ
غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَلَيْسَ إِسْنَادُهُ
بِالْقَوِيِّ [40]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya Al Azdi Al Bashri telah
menceritakan kepada kami 'Abdus Shamad bin 'Abdul Warits telah menceritakan
kepada kami Hasyim bin Sa'id Al Kufi telah menceritakan kepada kami Zaid Al
Khats'ami dari Asma` binti 'Umais Al Khats'amiyah berkata: Aku mendengar
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Seburuk buruk hamba
adalah hamba yang sombong, berbangga diri dan lupa terhadap Dzat yang maha
besar dan maha tinggi, seburuk buruk hamba adalah hamba yang diktator dan kejam
dan dia lupa terhadap Dzat yang maha perkasa lagi maha tinggi, seburuk buruk
hamba adalah hamba yang lupa dan lalai dan lupa akan kuburan dan ujian, seburuk
buruk hamba adalah hamba yang melampaui batas dan berlebih lebihan, lupa
terhadap adanya permulaan dan kesudahan, seburuk buruk hamba adalah hamba yang
mencari dunia dengan mengorbankan agama, seburuk buruk hamba adalah hamba yang
mencari agama dengan hal hal yang syubhat, seburuk buruk hamba adalah hamba
yang dikendalikan oleh sifat tamak, seburuk buruk hamba adalah hamba yang
dikuasai oleh hawa nafsu yang menyesatkannya dan seburuk buruk hamba adalah
hamba yang dikuasai sifat rakus yang menjadikannya hina." Abu Isa berkata:
Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur sanad ini
sedangkan sanadnya tidak kuat."
3.3.2.
Yang
Menghilangkan Ilmu Dari Hati Seseorang Adalah Sikap Tamak
Di dalam kitab Musnad Darimi Hadis No. 595 digambarkan 'Apa yang
menghilangkan ilmu dari hati seseorang? '. 'Yaitu sikap tamak (rakus) ' "
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ أَبِي
خَلَفٍ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ
أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ مَنْ
أَرْبَابُ الْعِلْمِ قَالَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ بِمَا يَعْلَمُونَ قَالَ فَمَا
يَنْفِي الْعِلْمَ مِنْ صُدُورِ الرِّجَالِ قَالَ الطَّمَعُ [41]
Artinya: Telah
mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Abu Khalaf telah menceritakan
kepada kami Anas bin 'Iyadl telah menceritakan kepadaku 'Ubaidullah bin Umar.
Bahwasanya Umar bin Al Khatthab radliallahi 'anhu berkata kepada Abdullah bin
Salam: 'Siapakah yang disebut sebagai orang yang berilmu? ', ia menjawab:
'Yaitu orang yang mengamalkan ilmunya'. Kemudian Umar berkata lagi: 'Apa yang
menghilangkan ilmu dari hati seseorang? '. Ia menjawab: 'Yaitu sikap tamak
(rakus) ' ".
3.3.3.
Amalan
Mereka Hanya Ketamakan Tanpa Tercampuri Rasa Takut Jika Mereka Melakukan
Kelalaian
Di dalam kitab Musnad Darimi Hadis nomor 3389 dinyatakan bahwa
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُبَارَكِ
حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ جَابِرٍ حَدَّثَنَا شَيْخٌ يُكَنَّى
أَبَا عَمْرٍو عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ سَيَبْلَى الْقُرْآنُ فِي صُدُورِ
أَقْوَامٍ كَمَا يَبْلَى الثَّوْبُ فَيَتَهَافَتُ يَقْرَءُونَهُ لَا يَجِدُونَ
لَهُ شَهْوَةً وَلَا لَذَّةً يَلْبَسُونَ جُلُودَ الضَّأْنِ عَلَى قُلُوبِ
الذِّئَابِ أَعْمَالُهُمْ طَمَعٌ لَا يُخَالِطُهُ خَوْفٌ إِنْ قَصَّرُوا قَالُوا
سَنَبْلُغُ وَإِنْ أَسَاءُوا قَالُوا سَيُغْفَرُ لَنَا إِنَّا لَا نُشْرِكُ
بِاللَّهِ شَيْئًا [42]
Artinya: Telah
mengabarkan kepada kami Muhammad bin Al Mubarak telah menceritakan kepada kami
Shadaqah bin Khalid dari Ibnu Jabir telah menceritakan kepada kami seorang
syaikh yang dijuluki Abu Amr dari Mu'adz bin Jabal ia berkata; Al Qur'an akan
usang di dalam dada beberapa kaum sebagaimana usangnya pakaian. Mereka berlomba
membacanya namun mereka tidak merasakan kenikmatan dan kelezatan membacanya.
Mereka ibarat orang yang mengenakan pakaian dari kulit domba namun berhati
serigala, amalan mereka hanya ketamakan tanpa tercampuri rasa takut jika mereka
melakukan kelalaian. Mereka berkata; Kami pasti akan sampai, sekalipun mereka
berbuat jahat. Mereka berkata; Kami pasti akan diampuni, karena sesungguhnya
kami tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.
Di dalam Shahih
Muslim hadits nomor 1047; dijelaskan bahwa Setiap manusia pasti akan menjadi
tua. Namun jiwanya tetap muda mengenai dua perkara, yaitu: tamak akan harta
benda dan selalu ingin panjang umur;
و حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَسَعِيدُ بْنُ
مَنْصُورٍ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ كُلُّهُمْ عَنْ أَبِي عَوَانَةَ قَالَ يَحْيَى
أَخْبَرَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَشِبُّ مِنْهُ اثْنَتَانِ
الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ [43]
Artinya: Dan
telah menceritakan kepadaku [Yahya bin Yahya] dan [Sa'id bin Manshur] dan
[Qutaibah bin Sa'id] semuanya dari [Abu Awanah] - [Yahya] berkata- telah
mengabarkan kepada kami [Abu Awanah] dari [Qatadah] dari [Anas] ia berkata;
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap manusia pasti
akan menjadi tua. Namun jiwanya tetap muda mengenai dua perkara, yaitu: tamak
akan harta benda dan selalu ingin panjang umur."
3.3.5.
Ambisi
Seseorang Terhadap Harta Dan Kemuliaan (Kedudukan) Terhadap Agamanya
Di dalam kitab Musnad Darimi Hadis No. 595 digambarkan 'Apa yang
menghilangkan ilmu dari hati seseorang? '. 'Yaitu sikap tamak (rakus) ' "
حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ، قَالَ:
أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ الْمُبَارَكِ ،
عَنْ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي زَائِدَةَ ،
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعْدِ بْنِ زُرَارَةَ ، عَنِ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ
الْأَنْصَارِيِّ ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ
بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ». [44]
Artinya: Telah
meriwayatkan kepada kami Suwail bin Naṣr, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullāh bin al-Mubārak,
dari Zakariyyā bin Abī Zā’idah, dari Muḥammad bin ‘Abdirraḥmān bin Sa‘d bin Zurārah, dari Ibn Ka‘b
bin Mālik al-Anṣārī, dari ayahnya
(Ka‘b bin Mālik), ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:“Tidaklah dua serigala lapar yang
dilepaskan pada sekawanan kambing lebih merusak dibandingkan ambisi seseorang
terhadap harta dan kemuliaan (kedudukan) terhadap agamanya.”.
Di dalam kitab
Shahih Bukhari hadits nomor 6438, dijelaskan gambaran sifat thamak manusia
dengan permisalan sebagai berikut;
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ
بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ الْغَسِيلِ عَنْ عَبَّاسِ بْنِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ سَمِعْتُ
ابْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِمَكَّةَ فِي خُطْبَتِهِ يَقُولُ يَا أَيُّهَا
النَّاسُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ
ابْنَ آدَمَ أُعْطِيَ وَادِيًا مَلْئًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا وَلَوْ
أُعْطِيَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا وَلَا يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا
التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَاب [45]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] telah menceritakan kepada kami
[Abdurrahman bin Sulaiman bin Al Ghasil] dari ['Abbas bin Sahl bin Sa'd] dia
berkata; saya mendengar [Ibnu Zubair] dalam khutbahnya di atas mimbar ketika di
Makkah, katanya; "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu
'alaihi wasallam bersabda: 'Sekiranya anak Adam diberi satu bukit yang dipenuhi
dengan emas, niscaya ia akan menginginkan bukit yang kedua, dan apabila diberi
yang kedua, niscaya ia menginginkan bukit yang ketiga, dan tidaklah perut anak
Adam dipenuhi melainkan dengan tanah, dan Allah akan menerima taubat siapa saja
yang bertaubat.'
3.3.7.
Orang
Yang Jika Berlebih-Lebihan Atas Ketamakan Ia Tinggalkan Untuk Allah
Di dalam kitab
Musnad Ahmad Hadis nomor. 10628
digambarkan bahwa Orang-orang yang beriman di dunia ini ada tiga golongan,
salah satunya orang yang jika berlebih-lebihan atas ketamakan ia tinggalkan
untuk Allah;
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا
رِشْدِينُ قَالَ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ عَنْ أَبِي السَّمْحِ عَنْ
أَبِي الْهَيْثَمِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُونَ فِي الدُّنْيَا عَلَى ثَلَاثَةِ
أَجْزَاءٍ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا
وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِي
يَأْمَنُهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ثُمَّ الَّذِي إِذَا
أَشْرَفَ عَلَى طَمَعٍ تَرَكَهُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ [46]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Yahya bin Ghailan berkata: telah menceritakan kepada
kami Risydin berkata: telah menceritakan kepada kami 'Amru Ibnul Harits dari
Abu As Samh dari Abu Al Haitsam dari Abu Sa'id Al Khudri Bahwasanya Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Orang-orang yang beriman di dunia
ini ada tiga golongan: orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya
kemudian tidak ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa-jiwa mereka di
jalan Allah, orang-orang yang mana manusia merasa aman terhadap diri-diri
mereka harta-harta mereka, kemudian orang yang jika berlebih-lebihan atas
ketamakan ia tinggalkan untuk Allah 'azza wajalla."
3.3.8.
Berdoa
Mohon Perlindungan Dari Sifat Tamak Yang Menyeret Kepada Tamak Lainnya
Di dalam kitab Al
Du’a Li-Al-Thabarani Hadits nomor 1036 disebutkan doa Mohonlah perlindungan
kepada Allah dari sifat tamak (ketamakan) yang menyeret kepada tamak lainnya;
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ خُلَيْدٍ الْحَلَبِيُّ،
ثنا أَبُو نُعَيْمٍ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَامِرٍ الْأَسْلَمِيُّ، عَنِ
الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْجُرَشِيِّ، عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ،
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «اسْتَعِيذُوا
بِاللَّهِ مِنْ طَمَعٍ يَهْدِي إِلَى طَمَعٍ، وَمِنْ طَمَعٍ إِلَى غَيْرِ
مَطْمَعٍ، وَمِنْ طَمَعٍ حَيْثُ لَا طَمَعَ»[47]
Artinya: Telah
meriwayatkan kepada kami Ahmad bin Khulaid al-Halabī, telah meriwayatkan kepada
kami Abū Nu‘aim, telah meriwayatkan kepada kami ‘Abdullāh bin ‘Āmir al-Aslamī,
dari al-Walīd bin ‘Abdirraḥmān al-Jurashī,
dari Jubair bin Nufair, dari Mu‘ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu, bahwa Nabi ﷺ bersabda:“Mohonlah perlindungan kepada Allah dari
sifat tamak (ketamakan) yang menyeret kepada tamak lainnya, dan dari tamak yang
mengantarkan kepada sesuatu yang tidak layak ditamaki, serta dari tamak pada
tempat yang tidak ada harapan (untuk didapatkan).”
3.3.9.
Berdoa
Mohon Perlindungan Kepada Allah Dari Sifat Tamak Yang Menyeret Kepada Perilaku
Tercela
Di dalam kitab Al
Du’a Li-Al-Thabarani Hadits nomor 1036 disebutkan doa Mintalah perlindungan
kepada Allah dari sifat tamak yang menyeret kepada perilaku tercela;
حَدَّثَنَا طَالِبُ بْنُ قُرَّةَ الْأَذَنِيُّ،
ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى الطَّبَّاعُ، ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ
سُلَيْمَانَ بْنِ سُلَيْمٍ الْكِنَانِيِّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ جَابِرٍ الطَّائِيِّ،
عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ الْكِنْدِيِّ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ
النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: «تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ طَمَعٍ يَهْدِي إِلَى طَبَعٍ،
وَمِنْ طَمَعٍ يَهْدِي إِلَى غَيْرِ مَطْمَعٍ»[48]
Artinya: Telah
meriwayatkan kepada kami Ṭālib bin Qurrah
al-Adzanī, telah meriwayatkan kepada kami Muḥammad bin ‘Īsā ath-Thabbā‘, telah
meriwayatkan kepada kami Ismā‘īl bin ‘Ayyāsy, dari Sulaimān bin Sulaim
al-Kinānī, dari Yaḥyā bin Jābir ath-Ṭā’ī, dari al-Miqdām bin Ma‘dī Karib
al-Kindī radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda:“Mintalah perlindungan kepada Allah dari
sifat tamak yang menyeret kepada perilaku tercela, dan dari tamak yang
mengantarkan kepada sesuatu yang tidak layak ditamaki.”
Ayat-ayat dan
hadits yang telah dikemukakan mengingatkan kepada orang beriman untuk mengabdi;
menyembah; mentaati Allah dan untuk tidak tamak yang dilakuakan karena takwa;
taat kepada Allah, ketaatan untuk tidak tamak ini termasuk di dalam ketakwaan
kepada Allah dari syahwat dan hawa.
Dalam
bahasa Arab “Hirs” berarti ambisi; sangat menginginkan; hasrat yang
berlebihan, mam al-Ghazālī menjelaskan bahwa ḥirṣ adalah sifat jiwa
yang membuat manusia tidak pernah merasa cukup, selalu menginginkan lebih, dan
terus mencari dunia tanpa batas.
»وَالْحِرْصُ هُوَ شَرَهُ النَّفْسِ فِي طَلَبِ
الزِّيَادَةِ، وَلَا يَقِفُ صَاحِبُهُ عَلَى حَدٍّ [49]. «
Artinya: “Hirṣ adalah keburukan jiwa dalam menuntut
tambahan, dan pemiliknya tidak akan berhenti pada batas apa pun.”
Ibnu
Qayyim menjelaskan bahwa hakikat ḥirṣ adalah keinginan yang tidak ada batasnya, sehingga seseorang terus
mengejar dunia sepanjang hayatnya.
»الْحِرْصُ شَرَفُ الدُّنْيَا يَسْتَغْرِقُ
الْقَلْبَ، وَلَا يَشْبَعُ صَاحِبُهُ أَبَدًا.[50] «
Artinya: “Hirs terhadap dunia menyita
seluruh hati, dan pemiliknya tidak akan pernah merasa puas.”
Ibnu
Qayyim juga menjelaskan bahwa ḥirṣ termasuk penyakit hati yang sangat berbahaya karena mendorong manusia
mengejar dunia tanpa batas.
»وَالْحِرْصُ مِنْ أَكْبَرِ أَمْرَاضِ الْقُلُوبِ،
فَإِنَّهُ لَا يَزَالُ يَجُرُّ الْعَبْدَ إِلَى الطَّمَعِ وَالتَّعَلُّقِ
بِالْخَلْقِ. [51] «
Artinya: “Kerakusan
(ḥirṣ) termasuk penyakit hati terbesar, karena
ia selalu menyeret seorang hamba kepada tamak (ṭama‘) dan ketergantungan kepada makhluk.”
Berikut
ini dikemukakan ayat Al Quran dan Hadits tentang keburukan hirs terhadap dunia
dan jabatan, antara lain;
Di dalam Al Quran
surat Al-Baqarah (2): 96 dinyatakan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia
yang paling loba kepada kehidupan (di dunia);
وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى
حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ
سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ وَاللَّهُ
بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ
Artinya: Dan
sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan
(di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing
mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu
sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa
yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah (2): 96)
Di dalam kitab
Shahih Bukhari Hadits nomor 6615 dinyatakan bahwa kalian akan berambisi
terhadap jabatan, padahal jabatan itu akan menjadi penyesalan dihari kiamat
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا
ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ
عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَنِعْمَ
الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتْ الْفَاطِمَةُ وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حُمْرَانَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ
جَعْفَرٍ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْحَكَمِ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ قَوْلَهُ [52]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Ibnu
Abu Dzi'b dari Sa'id Al Maqburi dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam, beliau bersabda: "kalian akan berambisi terhadap jabatan,
padahal jabatan itu akan menjadi penyesalan dihari kiamat, ia adalah
seenak-enak penyusuan dan segetir-getir penyapihan." Muhamad bin Basyar
berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Humran telah menceritakan
kepada kami Abdul Hamid bin Ja'far dari Sa'id Al Maqburi dari Umar bin Al Hakam
dari Abu Hurairah seperti diatas.
Sedangkan di dalam
kitab Shahih Bukhari Hadits nomor. 6616 disebutkan pernyataan Rasulullah SAW
terhadap orang yang menginginkan jabatan; Kami tidak akan memberikan jabatan
ini kepada orang yang memintanya, tidak juga kepada orang yang ambisi
terhadapnya;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا
أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنَا وَرَجُلَانِ مِنْ قَوْمِي فَقَالَ أَحَدُ الرَّجُلَيْنِ
أَمِّرْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَالَ الْآخَرُ مِثْلَهُ فَقَالَ إِنَّا لَا
نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَأَلَهُ وَلَا مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ [53]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Al 'Ala` telah menceritakan kepada kami
Abu Usamah dari Buraid dari Abu Burdah dari Abu Musa radliallahu 'anhu
mengatakan: aku menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersama dua orang
kaumku, lantas satu diantara kedua orang itu mengatakan: 'Jadikanlah kami
pejabat ya Rasulullah? ' orang kedua juga mengatakan yang sama. Secara spontan
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kami tidak akan
memberikan jabatan ini kepada orang yang memintanya, tidak juga kepada orang
yang ambisi terhadapnya."
Sedangkan
Hirs yang diperbolehkan disebutkan di dalam kitab Shahih Muslim Hadits nomor.
4816, Rasulullah SAW menyatakan “Pada masing-masing memang terdapat kebaikan, Capailah
dengan sungguh-sungguh apa yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada
Allah Azza wa Jalla”;
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ
وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ عَنْ رَبِيعَةَ
بْنِ عُثْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ
الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ
بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي
فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ
فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ [54]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Ibnu
Numair mereka berdua berkata: telah menceritakan kepada
kami 'Abdullah bin Idris dari Rabi'ah bin
'Utsman dari Muhammad bin Yahya bin Habban dari Al
A'raj dari Abu Hurairah dia berkata: "Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Orang mukmin yang kuat lebih baik dan
lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta 'ala daripada orang mukmin yang
lemah. Pada masing-masing memang terdapat kebaikan. Capailah dengan
sungguh-sungguh apa yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah Azza
wa Jalla dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah. Apabila kamu tertimpa
suatu kemalangan, maka janganlah kamu mengatakan: 'Seandainya tadi saya berbuat
begini dan begitu, niscaya tidak akan menjadi begini dan begitu'. Tetapi
katakanlah: 'lni sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan
dilaksanakan-Nya. Karena sesungguhnya ungkapan kata 'law' (seandainya) akan
membukakan jalan bagi godaan syetan.'"
Dengan
demikian menjaga diri dari ambisi terhadap dunia dan jabatan adalah bentuk
ketakwaan dari hirs, yang merupakan bagian ketakwaan dari syahwat dan hawa.
Sedangkan ambisi terhadap dunia dan jabatan diperbolehkan jika digunakan untuk
kebaikan.
Kata hasad berasal
dari hasada-yahsudu-hasadan yang artinya adalah keirian, kecemburuan,
kedengkian.[55] Menurut Imam al-Ghazālī, hasad
merupakan salah satu penyakit hati paling berbahaya yang memiliki dampak
spiritual, psikologis, dan sosial. Ia mendefinisikan hasad sebagai sikap batin
ketika seseorang membenci nikmat yang Allah berikan kepada orang lain, disertai
keinginan agar nikmat tersebut hilang darinya. [56] Dalam analisis
etisnya, al-Ghazālī menegaskan bahwa hasad tidak muncul kecuali dari jiwa yang
rusak (khubts al-nafs), lemahnya komitmen keagamaan, dan kecintaan
berlebihan terhadap dunia. [57] Lebih jauh, hasad
disebut sebagai sumber berbagai kerusakan moral karena ia merusak kejernihan
hati, menimbulkan permusuhan, memecah ikatan sosial, dan menimbulkan
penderitaan batin yang terus-menerus bagi pelakunya. [58]
Dengan demikian
Hasad dapat disebut sebagai sebuah emosi yang timbul karena merasa kurang
senang, kurang bersyukur dengan apa yang dimilikinya dan cemburu dengan apa
yang didapatkan atau dimiliki oleh orang lain karena dia anggap hal tersebut
lebih dari apa yang dimilikinya.
Di dalam Al Quran
Surat An-Nisa'/ 4: 32, menjelaskan larangan iri terhadap karunia orang lain,
janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan allah kepada sebahagian
kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain;
وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ
عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا
اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ
عَلِيمًا
Artinya: Dan
janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian
kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada
bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada
bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari
karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An-Nisa'/
4: 32)
Berikut dikemukakan beberapa ayat dan
hadits yang berkaitan dengan perilku hasad;
3.5.1.
Jauhilah
Hasad (Dengki), Karena Hasad Dapat Memakan Kabaikan Seperti Api Memakan Kayu
Bakar
Di dalam kitab
Sunan Abu Daud hadits nomor 4904, dijelaskan untuk menjauhi hasad (dengki),
karena hasad dapat memakan kabaikan seperti api memakan kayu bakar;
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ صَالِحٍ الْبَغْدَادِيُّ
حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ يَعْنِي عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ عَمْرٍو حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ
بْنُ بِلَالٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَبِي أَسِيدٍ عَنْ جَدِّهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ
فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ أَوْ قَالَ
الْعُشْبَ
[59]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Utsman bin Shalih Al Baghdadi] berkata, telah
menceritakan kepada kami [Abu Amir] -maksudnya Abdul Malik bin Amru- berkata,
telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Bilal] dari [Ibrahim bin Abu Asid]
dari [Kakeknya] dari [Abu Hurairah] bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda: "Jauhilah hasad (dengki), karena hasad dapat memakan kabaikan
seperti api memakan kayu bakar."
3.5.2.
Penyakit
Ummat-Ummat Sebelum Kalian Merayap Mendatangi Kalian: Hasad Dan Kebencian
Di dalam kitab
Sunan Tirmidzi Hadits nomor 2434 disebutkan bahwa Penyakit ummat-ummat sebelum
kalian merayap mendatangi kalian: hasad dan kebencian;
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ حَدَّثَنَا
عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ حَرْبِ بْنِ شَدَّادٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ
أَبِي كَثِيرٍ عَنْ يَعِيشَ بْنِ الْوَلِيدِ أَنَّ مَوْلَى الزُّبَيْرِ حَدَّثَهُ
أَنَّ الزُّبَيْرَ بْنَ الْعَوَّامِ حَدَّثَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ الْحَسَدُ
وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ لَا أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعَرَ وَلَكِنْ
تَحْلِقُ الدِّينَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى
تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِمَا
يُثَبِّتُ ذَاكُمْ لَكُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ قَالَ أَبُو عِيسَى
هَذَا حَدِيثٌ قَدْ اخْتَلَفُوا فِي رِوَايَتِهِ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ
فَرَوَى بَعْضُهُمْ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ يَعِيشَ بْنِ الْوَلِيدِ
عَنْ مَوْلَى الزُّبَيْرِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَلَمْ يَذْكُرُوا فِيهِ عَنْ الزُّبَيْرِ [60]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Sufyan bin Waki' telah menceritakan kepada kami
Abdurrahman bin Mahdi dari Harb bin Syaddad dari Yahya bin Abu Katsir dari
Ya'isy bin Al Walid bahwa budak Az Zubair menceritakan padanya bahwa Az Zubair
bin Al 'Awwam menceritakan padanya bahwa nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam
bersabda: "Penyakit ummat-ummat sebelum kalian merayap mendatangi kalian:
hasad dan kebencian, itu memangkas. Aku tidak mengatakan memangkas rambut tapi
memangkas agama. Demi Dzat yang jiwaku ada ditanganNya, kalian tidak masuk
surga hingga kalian beriman dan kalian tidak beriman hingga kalian saling
menyintai. Maukah kalian aku beritahu yang menguatkan hal itu pada kalian?:
Yaitu sebarkanlah salam diantara kalian." Berkata Abu Isa: Hadits ini
diperselisihkan tentang riwayat Yahya bin Abu Katsir, sebagaiannya meriwayatkan
dari Yahya bin Abu Katsir dari Ya'isy bin Al Walid dari budak Az Zubair dari
nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam, mereka tidak menyebutkan: Dari Az Zubair.
3.5.3.
Tidak
Akan Berkumpul Di Hati Seorang Hamba, Keimanan Dan Rasa Dengki
Di dalam kitab
Sunan al-Kubra hadits nomor 4302 dinyatakan bahwa tidak akan berkumpul di hati
seorang hamba, keimanan dan rasa dengki;
أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ حَمَّادٍ قَالَ
حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ
أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَجْتَمِعَانِ فِي النَّارِ مُسْلِمٌ قَتَلَ كَافِرًا ثُمَّ
سَدَّدَ وَقَارَبَ وَلَا يَجْتَمِعَانِ فِي جَوْفِ مُؤْمِنٍ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ
اللَّهِ وَفَيْحُ جَهَنَّمَ وَلَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ الْإِيمَانُ
وَالْحَسَدُ [61]
Artinya: Telah
mengabarkan kepada kami Isa bin Hammad, ia berkata: telah menceritakan kepada
kami Al Laits dari Ibnu 'Ajlan dari Suhail bin Abu Shaleh dari ayahnya dari Abu
Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak
akan berkumpul di neraka, seorang muslim yang membunuh orang kafir kemudian
bersikap istiqamah dan berlaku sederhana, dan tidak akan berkumpul dalam diri
orang yang beriman, debu di jalan Allah dan panasnya Jahannam, dan tidak akan
berkumpul di hati seorang hamba, keimanan dan rasa dengki.
3.5.4.
Doa
Mohon Perlindungan Dari Orang Yang Hasad
Di dalam kitab
Shahih Muslim hadits nomor 2185 disebutkan Doa “Dengan nama Allah yang
menciptakanmu. Dia-lah Allah yang menyembuhkanmu dari segala macam penyakit dan
dari kejahatan pendengki ketika ia mendengki serta segala macam kejahatan
sorotan mata jahat semua makhluk yang memandang dengan kedengkian”
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُمَرَ
الْمَكِّيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ الدَّرَاوَرْدِيُّ عَنْ يَزِيدَ وَهُوَ
ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُسَامَةَ بْنِ الْهَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ
إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ إِذَا
اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَقَاهُ جِبْرِيلُ
قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ يُبْرِيكَ وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيكَ وَمِنْ شَرِّ
حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ وَشَرِّ كُلِّ ذِي عَيْنٍ [62]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu 'Umar Al Makki: Telah menceritakan
kepada kami 'Abdul 'Aziz Ad Darawardi dari Yazid yaitu Ibnu 'Abdillah bin
Usamah bin Al Hadi dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah bin 'Abdur Rahman
dari 'Aisyah istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dia berkata: "Bila
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sakit, Jibril datang meruqyahnya.
Jibril mengucapkan: 'Bismillaahi yubriika, wa min kulli daa-in yusyfika, wa min
syarri hasidin idza hasad, wa syarri kulli dzi 'ainin.' (Dengan nama Allah yang
menciptakanmu. Dia-lah Allah yang menyembuhkanmu dari segala macam penyakit dan
dari kejahatan pendengki ketika ia mendengki serta segala macam kejahatan
sorotan mata jahat semua makhluk yang memandang dengan kedengkian).
3.5.5.
Tidak
Ada Hasad Kecuali Pada Dua Hal
Di dalam kitab
Shahih Bukhari hadits nomor 7141
dinyatakan bahwa tidak ada hasad kecuali pada dua hal;
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا
سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنِي إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ عَلَى غَيْرِ مَا
حَدَّثَنَاهُ الزُّهْرِيُّ قَالَ سَمِعْتُ قَيْسَ بْنَ أَبِي حَازِمٍ قَالَ
سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ
مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ
الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا [63]
Artinya: Ceritakan
oleh al-Humaidi, dia berkata, diceritakan oleh Sufyan, dia berkata, diceritakan
oleh Isma'il bin Abi Khalid, berbeda dengan yang diceritakan oleh al-Zuhri, dia
berkata, "Aku mendengar Qais bin Abi Hazim berkata, aku mendengar Abdullah
bin Mas'ud berkata, Rasulullah SAW bersabda, 'Tidak ada hasad kecuali pada dua
hal: seorang yang Allah berikan kepadanya harta, lalu dia menggunakannya untuk
mendukung kebenaran, dan seorang yang Allah berikan hikmah, maka dia mengambil
keputusan dengannya dan mengajarkannya.'"
Di dalam kitab
Sunan Ibnu Majah Hadits nomor 4206 dinyatakan bahwa Hati yang bertakwa dan
bersih, tidak ada kedurhakaan dan kelaliman padanya, serta kedengkian dan
hasad;
حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا
يَحْيَى بْنُ حَمْزَةَ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ وَاقِدٍ حَدَّثَنَا مُغِيثُ بْنُ
سُمَيٍّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ قَالَ كُلُّ مَخْمُومِ
الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ قَالُوا صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا
مَخْمُومُ الْقَلْبِ قَالَ هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا
بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ [64]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Hisyam bin 'Ammar telah menceritakan kepada kami Yahya
bin Hamzah telah menceritakan kepada kami Zaid bin Waqid telah menceritakan
kepada kami Mughits bin Sumay dari Abdullah bin 'Amru dia berkata: Ditanyakan
kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Manusia bagaimanakah
yang paling mulia?" Beliau menjawab: "Senua (orang) yang hatinya
bersedih dan lisan (ucapannya) benar." Mereka berkata: "Perkataannya
yang benar telah kami ketahui, lantas apakah maksud dari hati yang
bersedih?" Beliau bersabda: "Hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada
kedurhakaan dan kelaliman padanya, serta kedengkian dan hasad."
Bakhil berasal
dari kata Bakhula-Yabkhalu-Bukhilun artinya kekikiran, kebakhilan,
kepelitan, sifat hemat. [65] Ibnu Qayyim
al-Jawziyyah memandang bakhil (al-bukhl) sebagai salah satu
penyakit hati yang muncul dari dominasi cinta dunia dan lemahnya keyakinan
terhadap balasan Allah. Ia menjelaskan bahwa bakhil bukan sekadar sikap enggan
memberi, tetapi merupakan kondisi jiwa yang terikat pada harta sehingga seseorang
merasa berat untuk menunaikan hak Allah maupun hak sesama manusia. [66] Dalam kerangka
etika spiritualnya, Ibnu Qayyim menegaskan bahwa akar bakhil adalah ketakutan
terhadap kemiskinan dan lemahnya tawakal, sehingga pelakunya seolah lebih
percaya kepada harta daripada kepada janji Allah. [67]
Karena itu,
menurutnya, bakhil termasuk akhlak yang merusak, sebab ia menutup pintu
kebaikan, mematikan kepekaan sosial, serta menghalangi penyucian jiwa yang
menjadi tujuan agama. [68] Dengan demikian,
dalam perspektif Ibnu Qayyim, bakhil bukan sekadar perilaku individual, tetapi
indikator penyakit batin yang bertentangan dengan kesempurnaan iman dan
karakter mukmin sejati.
Bakhil merupakan
sikap seseorang menahan atau tidak memberikan sesuatu yang semestinya diberikan
kepada seseorang yang pantas menerima. Orang bakhil tidak suka mengeluarkan
harta untuk kepentingan umum atau untuk menolong orang yang memerlukan
pertolongan juga untuk keperluannya sendiri.
Di dalam Al Quran
surat Al-'Adiyat/ 100: 8, dijelaskan bahwa Kebakhilan terjadi karena sangat
mencintai harta;
وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ
Artinya: dan
sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. (QS. Al-'Adiyat/
100: 8)
Berikut ini akan
dikemukakan beberapa ayat dan hadits yang berkaitan dengan perilaku bakhil;
Di dalam Al Quran
surat Al Lail/ 92: 5-11, dijelaskan bahwa Allah memberikan gambaran
perbandingan antara orang yang mau memberikan harta di jalan Allah karena takwa
dengan orang bakhil;
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى, وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى,
فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى, وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى, وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى,
فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى, وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى
Artinya: Adapun
orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan
adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya
jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup,
serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya
(jalan)yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah
binasa. (QS. Al Lail/ 92: 5-11)
3.6.2.
Harta
Yang Mereka Bakhilkan Itu Akan Dikalungkan Kelak Di Lehernya Di Hari Kiamat
Di dalam Al Quran
Surat Ali 'Imran/ 3: 180, dijelaskan harta yang dibakhilkan akan dikalungkan
pada diriya di hari Qiyamat,;
وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ
اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ
مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya:
Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan
kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi
mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka
bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan
Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui
apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali 'Imran/ 3: 180)
Di dalam kitab
Musnad Ahmad hadits nomor 13, Rasulullah Muhammad SAW menegaskan Bahwa tidak
akan masuk surga orang yang bakhil, penipu, pengecut, dan tidak pula orang yang
berperangai kasar;
حَدَّثَنَا
أَبُو سَعِيدٍ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ قَالَ حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ مُوسَى صَاحِبُ
الدَّقِيقِ عَنْ فَرْقَدٍ عَنْ مُرَّةَ بْنِ شَرَاحِيلَ عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بَخِيلٌ وَلَا خَبٌّ وَلَا خَائِنٌ وَلَا سَيِّئُ الْمَلَكَةِ
وَأَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ الْجَنَّةِ الْمَمْلُوكُونَ إِذَا أَحْسَنُوا فِيمَا
بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَفِيمَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَوَالِيهِمْ [69]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Abu Sa'id] mantan budak Bani Hasyim, dia berkata;
Telah menceritakan kepada kami [Shadaqah Bin Musa] sahabat Ad Daqiq, dari
[Farqad] dari [Murrah Bin Syarahil] dari [Abu Bakar Ash Shiddiq], dia berkata;
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "tidak akan masuk surga
orang yang bakhil, penipu, pengecut, dan tidak pula orang yang berperangai
kasar, dan orang yang pertama kali mengetuk pintu syurga adalah para hamba
sahaya yang bagus dalam menjalankan apa yang ada diantara mereka dan Allah Azza
wa Jalla serta apa yang ada diantara mereka dan tuannya."
3.6.4.
Tidak
Akan Berkumpul Antara Sifat Pelit Dan Iman Dalam Diri Seorang Muslim
Di dalam kitab
Musnad Ahmad hadits nomor 9693, dijelaskan bahwa tidak akan berkumpul sifat
bakhil dan iman;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ قَالَ حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ صَفْوَانَ بْنِ أَبِي يَزِيدَ عَنْ حُصَيْنِ بْنِ اللَّجْلَاجِ
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لَا يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيمَانُ فِي جَوْفِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ وَلَا يَجْتَمِعُ
غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ فِي جَوْفِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ [70]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Muhammad bin 'Ubaid] berkata; telah menceritakan
kepada kami [Muhammad bin 'Amru] dari [Shafwan bin Abi Yazid] dari [Hushain bin
Al Lajlaj] dari [Abu Hurairah] berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda: "Tidak akan berkumpul antara sifat pelit dan iman dalam diri
seorang muslim, dan tidak akan berkumpul debu karena jihad di jalan Allah
dengan asap Jahannam di dalam rongga seorang muslim."
Di dalam Al Quran
Surat An-Nisa'/ 4: 37, dijelaskan bahwa orang yang bakhil dan menyuruh orang
lain juga berbuat bakhil, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah
diberikan-Nya kepada mereka disediakan siksa yang menghinakan;
الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ
وَيَكْتُمُونَ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ
عَذَابًا مُهِينًا
Artinya:
(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan
menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami
telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.(QS. An-Nisa'/
4: 37)
3.6.6.
Dan
Adalah Manusia Itu Sangat Kikir
Di dalam Al Quran
Surat Al-Isra'/ 17: 100, dijelaskan bahwa Kalau seandainya kamu menguasai
perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu
tahan, karena takut membelanjakannya;
قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ
رَبِّي إِذًا لَأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنْفَاقِ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا
Artinya:
Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan
rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut
membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir. (QS. Al-Isra'/ 17:
100)
Di dalam kitab
Musnad Ahmad hadis nomor 6837 dijelaskan untuk berhati-hatilah kalian dari
sifat bakhil, sesungguhnya sifat bakhil telah membinasakan orang-orang sebelum
kalian;
حَدَّثَنَا
وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا الْمَسْعُودِيُّ وَيَزِيدُ قَالَ أَخْبَرَنَا الْمَسْعُودِيُّ
عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ الْمُكْتِبِ عَنْ أَبِي
كَثِيرٍ الزُّبَيْدِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ
كَانَ قَبْلَكُمْ أَمَرَهُمْ بِالظُّلْمِ فَظَلَمُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا
وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا وَإِيَّاكُمْ وَالظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ
ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُحْشَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ
الْفُحْشَ وَلَا التَّفَحُّشَ [71]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Waqi'] telah menceritakan kepada kami [Al Mas'udi].
Dan [Yazid] berkata; telah mengkhabarkan kepada kami [Al Mas'udi] dari ['Amru
bin Murroh] dari [Abdullah bin Al Harits Al Muktibi] dari [Abu Katsir Az
Zubaidi] dari [Abdullah bin 'Amru], dia berkata; Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa Salam bersabda: "berhati-hatilah kalian dari sifat bakhil, sesungguhnya
sifat bakhil telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, jika sifat itu
menyuruh mereka berbuat zhalim, mereka pun berbuat zhalim, jika menyuruh mereka
untuk memutuskan hubungan kekerabatan mereka pun memutuskannya, jika menyuruh
berbuat dosa mereka pun berbuat dosa. maka berhati-hatilah kalian dari berbuat
zhalim, karena kezhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Dan
berhati-hatilah kalian dari sifat keji, karena sesungguhnya Allah tidak suka
dengan kekejian dan perkataan keji.
Di dalam kitab
Sunan Abu Daud hadits nomor 2511, dijelaskan bahwa Seburuk-buruk perkara yang
ada pada seseorang adalah kekikiran serta ketamakan, dan sifat penakut serta
lemah;
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْجَرَّاحِ عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ مُوسَى بْنِ عَلِيِّ بْنِ رَبَاحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ
الْعَزِيزِ بْنِ مَرْوَانَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ شَرُّ مَا فِي رَجُلٍ شُحٌّ هَالِعٌ
وَجُبْنٌ خَالِعٌ [72]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Abdullah bin Al Jarrah], dari [Abdullah bin Yazid]
dari [Musa bin Ali bin Rabah], dari [ayahnya], dari [Abdul 'Aziz bin Marwan],
ia berkata; saya mendengar [Abu Hurairah] berkata; saya mendengar Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seburuk-buruk perkara yang ada
pada seseorang adalah kekikiran serta kepanikan, dan sifat penakut serta
lemah."
Berdasar beberapa
ayat dan hadits yang telah dikemukakan terkandung perintah bagi orang beriman
untuk menjaga diri agar tidak bakhil, sekaligus menjadi perintah untuk
berperilku dermawan, Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor
1887,
dijelaskan perbedaan antara orang beriman dan orang kafi, bahwa Seorang mukmin
itu senantiasa berlapang dada dan dermawan, sedangkan seorang fajir itu bakhil
dan berakhlak buruk;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا
عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ بِشْرِ بْنِ رَافِعٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ
عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ غِرٌّ كَرِيمٌ وَالْفَاجِرُ خِبٌّ لَئِيمٌ
[73]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi', telah menceritakan kepada kami
Abdurrazzaq dari Bisyr bin Rafi' dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Salamah
dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Seorang mukmin itu
senantiasa berlapang dada dan dermawan, sedangkan seorang fajir itu bakhil dan
berakhlak buruk."
Al Quran surat
At-Taghabun (64): 16 juga memberikan perintah untuk bertakwa kepada Allah
dengan mentaatinya untuk bersedia berinfak dengan yang baik untuk dirinya
sendiri (dermawan), sekaligus bertakwa kepada Allah dari bakhil terhadap
dirinya;
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا
وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ
فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya: Maka
bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah
dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara
dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.(QS.
At-Taghabun (64): 16)
Kesadaran takwa
kepada Allah dari kebakhilan merupakan bagian takwa dari syahwat dan hawa,
dalam pelaksanaannya harus diwujudkan dengan takwa kepada Allah untuk
menafkahkan harta di jalan Allah.
Mubadzir artinya
yang menghambur-hamburkan, pemboros, tidak berguna, royal, tidak bermoral, [74] Imam al-Ghazālī memaknai mubadzir sebagai setiap bentuk
penggunaan harta yang tidak memiliki tujuan yang benar menurut syariat serta
tidak menghasilkan manfaat duniawi maupun ukhrawi. [75] Ia menegaskan
bahwa inti mubadzir bukan semata-mata banyaknya jumlah harta yang dikeluarkan,
tetapi karena penggunaannya keluar dari jalur yang dibenarkan, dilakukan tanpa
kebutuhan, dan didorong oleh hawa nafsu, kesombongan, atau pamer. [76]
Ibnu Qayyim
al-Jawziyyah menjelaskan bahwa mubadzir merupakan bentuk penyimpangan
dari prinsip syar‘i dalam menggunakan nikmat, terutama harta. Ia tidak hanya
memaknai mubadzir sebagai pengeluaran yang berlebihan, tetapi sebagai segala
bentuk penggunaan nikmat yang keluar dari tujuan syariat, tidak mengandung
maslahat, dan bahkan mengantarkan kepada kerusakan serta maksiat. [77] Menurutnya,
hakikat mubadzir adalah tindakan yang menyalahi hikmah penciptaan harta, yakni
untuk digunakan pada jalan ketaatan dan kemanfaatan. [78]
Dengan demikian
Mubadzir dapat dipahami menggunakan Rizki Allah (Harta, waktu, tenaga, fikiran
dll) bukan pada jalan yang benar, bukan untuk ketakwaan kepada Allah.
Di dalam Al Quran
Surat Al-Isra'/ 17: 26-27, dijelaskan peringatan dalam penggunaan harta untuk
tidak menghambur-hamburkan (boros), karena pemboros-pemboros itu adalah
saudara-saudara syaitan;
وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ
السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا, إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ
ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا
Artinya: Dan
berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin
dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan
(hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah
saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya.
(QS. Al-Isra'/ 17: 26-27)
Di dalam kitab
Mujam Thabarani Kabir jilid 9 halaman 207 atsar nomor 9028, dijelaskan bahwa
Tabdzir adalah pembelanjaan dalam hal yang tidak benar;
حدثنا محمد بن علي الصائغ ثنا سعيد بن منصور ثنا أبو
وكيع عن أبي إسحاق عن أبي العبيدين قال : سألت عبد الله عن قوله { ولا تبذر تبذيرا
} قال : هو النفقة في غير حق [79]
Artinya: Telah menceriterakan
kepada kami Muhammad bin Ali Ashai’ telah menceriterakan Said bin Mashur telah
menceriterakan Abu Waki’ dari Abi Ishaq dari Abil ‘Ubaidin berkata: Aku
bertanya kepada Abdullah tentang firmannya walaa tubadzir Tabdzira, dia
berkata: yaitu pembelanjaan dalam hal yang tidak benar.
Berdasar
keterangan riwayat di atas dapat difahami bahwa larangan tabdzir dalam hal pembelanjaan menggunakan suatu yang
berharga, jika diperhatikan semua aktifitas pasti menggunakan karunia Allah
yang berharga, seperti; menggunaan waktu, tempat, tenaga, energi, listrik, air,
makanan, fikiran, perasaan, ucapan, pendengaran, penglihatan, dll. Maka ketika
sebuah aktifitas yang dilakukan tidak bernilai kebaikan, dapat dikatakan
sebagai perbuatan tabdzir, karena merupakan bentuk kesia-siaan, pemborosan dan
menghambur-hamburkan suatu yang berharga.
Dalam Bahasa Arab
Israf berarti lebih dari batas memboroskan, berlaku boros,
menghambur-hamburkan, [80] Imam al-Ghazālī
menjelaskan bahwa isrāf adalah tindakan melampaui batas dalam
menggunakan harta atau nikmat Allah, baik dengan menggunakannya di luar kadar
kebutuhan maupun pada hal-hal yang tidak memiliki maslahat. [81] Menurutnya, inti isrāf
bukan ditentukan oleh banyaknya pengeluaran, tetapi oleh ketidaktepatan
penggunaan harta sehingga keluar dari prinsip keseimbangan (i‘tidāl)
yang diajarkan syariat. [82] Al-Ghazālī
menegaskan bahwa isrāf merupakan perilaku tercela karena lahir dari
dominasi hawa nafsu dan lemahnya kontrol spiritual, sehingga seseorang
menggunakan nikmat Allah tanpa pertimbangan akal, manfaat, dan tujuan
keagamaan. [83] Dalam perspektif
etika tasawufnya, isrāf menjadi penghalang tazkiyatun-nafs karena
menunjukkan ketidakmampuan jiwa menjaga kemajuan dalam menikmati dunia;
akibatnya, ia menumbuhkan sifat lalai, cinta dunia berlebihan, dan
kecenderungan pada tindakan sia-sia yang menjauhkan seseorang dari ketaatan.
[84]
3.8.1. Ancaman
Azab Bagi Orang Yang Israf
وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِن
بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَىٰ
Artinya: Dan
demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada
ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih
kekal. (QS. Thaha/ 20: 127)
وَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا
لِجَنبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ
كَأَن لَّمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَّسَّهُ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ
مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya: Dan
apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring,
duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia
(kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa
kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah
orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka
kerjakan. (QS. Yunus/ 10: 12)
إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن
دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ
Artinya: Sesungguhnya
kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada
wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. (QS. Al A’raf/ 7:
81)
3.8.3.
Allah
Tidak Menyukai Orang-Orang Yang Israf
Di dalam Al Quran
surat Al A’raf/ 7: 31 dan Al An’am/ 6: 141 ditegaskan bahwa Allah tidak
menyukai orang-orang yang berlebihan;
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ
مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ
الْمُسْرِفِينَ
Artinya: Hai
anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan
minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al A’raf/ 7: 31)
وَهُوَ الَّذِي أَنشَأَ جَنَّاتٍ مَّعْرُوشَاتٍ
وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ
وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُوا مِن
ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلَا تُسْرِفُوا
إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Artinya: Dan
Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung,
pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang
serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya
(yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari
memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu
berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang
berlebih-lebihan. (QS. Al An’am/ 6: 141)
Di kedua ayat
tersebut mengandung peringatan untuk tidak berlaku israf dalam; menghias diri
ketika ke Masjid, makan, minum dan bersedekah.
3.8.4.
Janganlah
Kamu Makan Harta Anak Yatim Lebih Dari Batas Kepatutan (Israf)
Di dalam Al Quran
surat An Nisa’/ 4: 6 disebutkan larangan janganlah kamu makan harta anak yatim
lebih dari batas kepatutan;
وَابْتَلُوا الْيَتَامَىٰ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغُوا
النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ
أَمْوَالَهُمْ وَلَا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَن يَكْبَرُوا وَمَن
كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَن كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ
بِالْمَعْرُوفِ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا
عَلَيْهِمْ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا
Artinya: Dan
ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika
menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka
serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak
yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa
(membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara
itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu)
dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang
patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah
kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah
Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).
Di dalam Al Quran
surat Al Ma’idah/ 5: 32 digambarkan bahwa sesungguhnya telah datang kepada
mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas,
kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas
dalam berbuat kerusakan dimuka bumi;
مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي
إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي
الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا
أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ
إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ
Artinya: Oleh
karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa
yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain,
atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah
membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang
manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan
sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa)
keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu
sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi. (QS. Al
Ma’idah/ 5: 32)
3.8.6.
Dan
Orang-Orang Yang Apabila Membelanjakan (Harta), Mereka Tidak Berlebihan
Dalam
membelanjakan harta untuk kebaikan infaq saja Allah memperingatkan untuk
tidak berlaku Israf: berlebihan, tetapi juga tidak pelit, diungkapkan di
dalam Al Quran Surat Al-Furqan/ 25: 67;
وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ
يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا
Artinya: Dan
orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan
tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang
demikian.(QS. Al-Furqan/ 25: 67)
Di dalam kitab
Sunan Ibnu Majah Hadits nomor 419 digambarkan Apakah dalam wudlu juga ada
berlebih-lebihan?" beliau menjawab: "Ya, meskipun engkau berada di
sungai yang mengalir.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى
الْحِمْصِيُّ، حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْفَضْلِ، عَنْ
أَبِيهِ، عَنْ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: رَأَى رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ -
رَجُلًا يَتَوَضَّأُ، فَقَالَ: "لَا تُسْرِفْ، لَا تُسْرِفْ" [85]
Artinya: Telah
meriwayatkan kepada kami Muḥammad bin al-Muṣaffā al-Ḥimṣī, telah meriwayatkan kepada kami
Baqiyyah, dari Muḥammad bin al-Faḍl, dari ayahnya, dari Sālim, dari Ibn
‘Umar, ia berkata: Rasulullah ﷺ melihat seorang laki-laki
berwudu. Maka beliau bersabda: “Jangan berlebih-lebihan! Jangan
berlebih-lebihan!”.
Pernyataan Nabi
Muhammad SAW yang dikutip di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2910,
menjelaskan bahwa harta itu hijau lagi manis, maka barangsiapa yang mencarinya
untuk kedermawanan dirinya maka harta itu akan memberkahinya tetapi barangsiapa
yang mencarinya untuk keserakahan (ambisius, tamak) maka harta itu tidak akan
memberkahinya;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ
عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ وَعُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّ
حَكِيمَ بْنَ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَانِي ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي ثُمَّ قَالَ
لِي يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ
بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ
وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ
السُّفْلَى [86]
Artinya: Telah
bercerita kepada kami [Muhammad bin Yusuf] telah bercerita kepada kami [Al
Awza'iy] dari [Az Zuhriy] dari [Sa'id bin 'Abdullahl-Musayyab] dan ['Urwah bin
Az Zubair] bahwa [Hakim bin Hizam radliallahu 'anhu] berkata; 'Aku meminta
sesuatu kepada Rasulullah SAW, lalu Beliau memberikannya, kemudian aku meminta
lagi dan Beliaupun kembali memberikannya lalu Beliau berkata kepadaku:
"Wahai Hakim, harta itu hijau lagi manis, maka barangsiapa yang mencarinya
untuk kedermawanan dirinya maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa
yang mencarinya untuk keserakahan maka harta itu tidak akan memberkahinya,
seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik
daripada tangan yang di bawah".
Isrāf dan Mubadzir
merupakan dua konsep yang sama-sama merujuk pada perilaku penyimpangan dalam
penggunaan harta, namun memiliki perbedaan mendasar. Menurut Imam al-Ghazālī,
mubadzir adalah penggunaan harta pada sesuatu yang tidak memiliki tujuan yang
benar menurut syariat dan tidak menghasilkan maslahat, sehingga apa pun
bentuknya dianggap sebagai tindakan sia-sia. [87]
Dengan demikian,
inti mubadzir terletak pada hilangnya manfaat, bukan pada banyak atau
sedikitnya harta yang dikeluarkan. Berbeda dengan itu, isrāf menurut al-Ghazālī
adalah penggunaan harta yang melampaui batas kebutuhan meskipun pada perkara
yang mubah atau bermanfaat. [88] Karena itu,
seseorang dapat terjatuh pada isrāf ketika ia menggunakan nikmat Allah secara
berlebihan, tidak proporsional, dan keluar dari prinsip moderasi (i‘tidāl) yang ditetapkan syariat. [89]
Menurut Ibnu
Qayyim al-Jawziyyah, mubadzir dan isrāf merupakan dua bentuk penyimpangan dalam
menggunakan nikmat Allah, namun keduanya berbeda dari sisi hakikat dan motivasi
spiritualnya. Ia menjelaskan bahwa mubadzir adalah penggunaan harta pada jalan
yang batil—yakni pada perkara haram, maksiat, atau sesuatu yang tidak
mengandung maslahat sama sekali—sehingga tindakan tersebut identik dengan
mengikuti langkah-langkah setan. [90]
Karena itu,
mubadzir bukan dinilai dari kuantitas pengeluaran, melainkan dari
penyimpangannya dari tujuan syar‘i harta. Sementara itu, isrāf menurut Ibnu
Qayyim adalah penggunaan harta melampaui batas moderasi walaupun pada perkara
mubah; pelakunya menggunakan nikmat Allah secara berlebihan akibat dominasi
hawa nafsu dan kurangnya pengendalian akal. [91]
Kesadaran untuk
tidak berlebihan dalam melakukan amal perbuatan merupakan bentuk ketakwaan dari
israf, sedangkan jika telah melakukan israf tidak boleh berputus asa untuk
bertaubat kepada Allah yang Maha Pengasih, diikuti doa memohon ampunan atas
israf yang pernah dilakukan, sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran surat
Az-Zumar (39): 53 dan hadits Riwayat bukhari nomor berikut;
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى
أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ
الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya: Katakanlah:
"Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
Di dalam kitab
Shahih Bukhari Hadits nomor 5920 disebutkan doa mohon ampunan dari perbuatan
israf;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا
عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْمَجِيدِ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ حَدَّثَنَا
أَبُو إِسْحَاقَ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مُوسَى وَأَبِي بُرْدَةَ أَحْسِبُهُ
عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَدْعُو اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي
وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي اللَّهُمَّ اغْفِرْ
لِي هَزْلِي وَجِدِّي وَخَطَايَايَ وَعَمْدِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي [92]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada
kami 'Ubaidullah bin Abdul Majid telah menceritakan kepada kami Isra`il telah
menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Abu Bakr bin Abu Musa dan Abu Burdah
aku mengiranya dari Abu Musa Al Asy'ari dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
bahwa beliau biasa berdo'a: Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan-kesalahanku,
kebodohanku, perbuatanku yang melampaui batas di setiap urusanku yang Engkau
lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku, canda tawaku,
kesungguhanku, kesalahanku, kesengajaanku dan setiap perkara yang ada
padaku."
Meninggalkan
perilaku berlebihan yang dilakukan karena Allah SWT adalah bentuk takwa dari
israf, takwa dari israf merupakan bagian ketakwaan dari syahwat dan hawa.
Makan adalah
kenikmatan yang besar dari Allah, yang dikaruniakan kepada manusia, karena
nikmat (rasanya) langsung dapat dirasakan, kenikmatannya dapat terbayang dari
aroma maupun sajiannya, sehingga mudah menimbulkan godaan untuk ingin terus
menikmati dan terus mencoba rasa yang berbeda.
Di dalam Al Quran
surat Al-Baqarah (2): 168 ditegaskan perintah untuk makan apa saja yang telah
disediakan di bumi yang halal dan baik;
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي
الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ
لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Artinya: Hai sekalian manusia, makanlah
yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu
mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh
yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah/ 2: 168)
Ayat ini menjadi
perintah bagi seluruh manusia untuk mengonsumsi apa yang ada di bumi dengan
ketentuan “ḥalālan ṭayyiban”, yaitu makanan
yang memenuhi dua kriteria utama: kehalalan hukum dan kebaikan kualitas.
Istilah ḥalāl dalam ayat ini
menunjuk pada makanan yang dibolehkan syariat, tidak haram zatnya, tidak
diperoleh melalui cara yang batil, serta tidak mengandung bahaya fisik maupun
spiritual. [93] Sementara itu,
istilah ṭayyib bermakna sesuatu
yang baik, suci, bersih, sehat, dan bermanfaat bagi tubuh maupun jiwa. [94]
Para mufassir
menjelaskan bahwa penyandingan dua istilah ini menunjukkan bahwa syariat tidak
hanya menekankan aspek legalitas, tetapi juga kualitas dan kemaslahatan
makanan; suatu makanan bisa halal tetapi tidak ṭayyib jika mengandung
mudarat, kotoran, atau sesuatu yang merusak kesehatan. [95]
Ayat ini kemudian
dihubungkan dengan larangan mengikuti langkah-langkah setan, yang menurut para
ulama merupakan penegasan bahwa konsumsi makanan haram atau tidak baik akan
memudahkan seseorang terjerumus pada bisikan setan dan perilaku yang
menyimpang. [96] Dengan demikian,
prinsip ḥalālan ṭayyiban merupakan
landasan syariat dalam konsumsi, yang menuntut kesucian sumber, kebersihan
proses, dan kemanfaatan hasil bagi manusia.
Berikut ini akan
dikemukakan bebarapa ayat Al Quran dan Hadits yang berkaitan dengan makan,
yaitu antara lain;
3.9.1.
Keduanya
Digelincirkan Oleh Setan Dari Surga Itu Dan Dikeluarkan Dari Keadaan Semula
Pelajaran dari
Nabi Adam as. yang dapat dibujuk rayu setan, untuk memakan buah dari pohon
khuld yang sudah dilarang oleh Allah untuk mendekati pohonnya, sehingga
menyebabkan Nabi Adam dan istrinya diturunkan dari surga, yang kisahnya
diabadikan di dalam Al Quran surat Thaha/ 20: 120-122.
فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ
هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ .
فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ
عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ ۚ وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ . ثُمَّ
اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَىٰ
Artinya:
Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai
Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak
akan binasa?". Maka keduanya
memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan
mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan
durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka
Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman: "Turunlah
kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian
yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa
yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Thaha/
20: 120-122)
Allah memberi
kebebasan kepada manusia untuk makan apa saja yang dusukai, hanya saja diberi
batasan pada makanan yang halal dan baik saja, hal tersebut dijelaskan di dalam
Al Quran Surat Al-Baqarah/ 2: 168;
يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ
حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ
مُبِينٌ
Artinya: Hai
sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi,
dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya
syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.(QS. Al-Baqarah/ 2: 168)
3.9.3.
Orang-Orang
Kafir Bersenang-Senang (Di Dunia) Dan Mereka Makan Seperti Makannya Binatang
Orang orang
beriman yang dapat menjaga diri dari kesenangan dunia dengan beramal shalih
dimasukkan ke dalam syurga, sedangkan orang-orang kafir yang terlena tipu daya
kesenangan dunia dan mereka makan seperti makannya binatang ternak, mereka akan
dimasukkan ke dalam neraka, disebutkan di dalam Al Quran surat Muhammad/ 47:
12;
إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا
يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ
Artinya: Sesungguhnya
Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di
dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat
tinggal mereka. (QS. Muhammad/ 47: 12)
3.9.4.
Makan
Dan Minumlah, Dan Janganlah Berlebih-Lebihan
Allah juga
mengingatkan untuk kebaikan manusia (menjaga kesehatan), yakni diperintahkan
untuk tidak berlebihan ketika makan dan minum, disebutkan di dalam Al Quran
Surat Al-A’raf/ 7: 31;
يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ
وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ
Artinya: Hai
anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan
minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raf/ 7: 31)
Nabi Muhammad SAW
memperingatkan kepada umatnya untuk sedikit makan atau jika tidak bisa, maka
hendaknya membagi isi perutnya dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk
minum dan sepertiga untuk nafasnya, tertuang di dalam kitab Sunan Tirmidzi
hadits nomor 2302;
حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ
اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ حَدَّثَنِي أَبُو
سَلَمَةَ الْحِمْصِيُّ وَحَبِيبُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ جَابِرٍ الطَّائِيِّ
عَنْ مِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ
ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ
وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ حَدَّثَنَا
إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ نَحْوَهُ و قَالَ الْمِقْدَامُ بْنُ مَعْدِي كَرِبَ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ سَمِعْتُ النَّبِيَّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ [97]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Suwaid bin Nashr] telah mengkhabarkan kepada kami
[Abdullah bin Al Mubarak] telah mengkhabarkan kepada kami [Isma'il bin 'Ayyasy]
telah menceritakan kepadaku [Abu Salamah Al Himshi] dan [Habib bin Shalih] dari
[Yahya bin Jabir Ath Tho`i] dari [Miqdam bin Ma'dikarib] berkata: Aku mendengar
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Manusia tidak memenuhi
wadah yang buruk melebihi perut, cukup bagi manusia beberapa suapan yang
menegakkan tulang punggungnya, bila tidak bisa maka sepertiga untuk makanannya,
sepertiga untuk minumnya dan sepertiga untuk nafasnya." Telah menceritakan
kepada kami [Al Hasan bin 'Arafah] telah menceritakan kepada kami [Isma'il bin
'Ayyasy] Sepertinya dan berkata Al Miqdam bin Ma'dikarib dari Nabi Shallallahu
'alaihi wa Salam namun didalamnya ia tidak menyebut: Aku mendengar nabi
Shallallahu 'alaihi wa Salam. Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih.(HR. Tirmidzi:
2302)
Di dalam kitab
Sunan Tirmidzi 2402 dinyatakan sesungguhnya kebanyakan orang yang kekenyangan
di dunia kelak pada hari kiamat adalah orang yang paling lama merasakan
kelaparan;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدٍ الرَّازِيُّ
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْقُرَشِيُّ حَدَّثَنَا
يَحْيَى الْبَكَّاءُ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ تَجَشَّأَ رَجُلٌ عِنْدَ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كُفَّ عَنَّا جُشَاءَكَ فَإِنَّ
أَكْثَرَهُمْ شِبَعًا فِي الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ
أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَفِي الْبَاب
عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ [98]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Humaid Ar Rozi telah bercerita kepada
kami Abdul Aziz bin Abdullah Al Qurasyi telah bercerita kepada kami Yahya Al
Bakka' dari Ibnu Umar berkata: Ada seorang lelaki bersendawa di sisi Nabi
Shallallahu 'alaihi wa Salam, kemudian Nabi bersabda: "Hentikan sendawamu
dari kami karena sesungguhnya kebanyakan orang yang kekenyangan di dunia kelak
pada hari kiamat adalah orang yang paling lama merasakan kelaparan." Abu
Isa berkata: Hadits ini hasan gharib dari jalur sanad ini, dan dalam bab ini
ada hadits dari Abu Juhaifah.
3.9.7. Sesungguhnya
Setan Itu Mengikuti Makanan Yang Tidak Disebutkan Nama Allah Di Atasnya
Di dalam kitab
Sunan Abu Daud hadits nomor 3274 dinyatakan bahwa Sesungguhnya setan itu
mengikuti makanan yang tidak disebutkan nama Allah di atasnya;
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ
حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ خَيْثَمَةَ عَنْ أَبِي
حُذَيْفَةَ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ كُنَّا إِذَا حَضَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا لَمْ يَضَعْ أَحَدُنَا يَدَهُ حَتَّى
يَبْدَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّا حَضَرْنَا
مَعَهُ طَعَامًا فَجَاءَ أَعْرَابِيٌّ كَأَنَّمَا يُدْفَعُ فَذَهَبَ لِيَضَعَ
يَدَهُ فِي الطَّعَامِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ بِيَدِهِ ثُمَّ جَاءَتْ جَارِيَةٌ كَأَنَّمَا تُدْفَعُ فَذَهَبَتْ
لِتَضَعَ يَدَهَا فِي الطَّعَامِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهَا وَقَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَسْتَحِلُّ
الطَّعَامَ الَّذِي لَمْ يُذْكَرْ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ جَاءَ بِهَذَا
الْأَعْرَابِيِّ يَسْتَحِلُّ بِهِ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ وَجَاءَ بِهَذِهِ
الْجَارِيَةِ يَسْتَحِلُّ بِهَا فَأَخَذْتُ بِيَدِهَا فَوَالَّذِي نَفْسِي
بِيَدِهِ إِنَّ يَدَهُ لَفِي يَدِي مَعَ أَيْدِيهِمَا [99]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami
Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy, dari Khitsamah, dari Abu Hudzaifah, dari
Hudzaifah, ia berkata, "Ketika kami bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam dan makanan telah disajikan, tidak seorang pun dari kami meletakkan
tangannya hingga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mulai makan. Suatu
ketika, kami bersama beliau dan makanan telah disajikan, lalu datang seorang
Arab Badui seakan-akan dia terus didorong untuk meletakkan tangannya ke dalam
makanan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian mengambil tangannya.
Kemudian datang seorang gadis hamba seakan-akan dia terus didorong untuk
meletakkan tangannya ke dalam makanan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
juga mengambil tangannya. Beliau bersabda, 'Sesungguhnya setan itu mengikuti
makanan yang tidak disebutkan nama Allah di atasnya. Orang ini (Arab Badui)
datang dengan membawa makanan yang setan telah mengikuti dengannya, dan aku
mengambil tangannya.' Kemudian datang gadis hamba itu, seakan-akan dia terus
didorong untuk meletakkan tangannya ke dalam makanan. Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam juga mengambil tangannya. Beliau berkata, 'Sesungguhnya setan
itu mengikuti makanan yang tidak disebutkan nama Allah di atasnya. Orang ini
(gadis hamba) datang dengan membawa makanan yang setan telah mengikuti
dengannya, dan aku mengambil tangannya. Demi Allah, tangannya berada di
tanganku bersama tangan keduanya.'" (Sunan Abu Dawud, Kitab At-Tarahis,
Hadis 3274)
3.9.8.
Sesungguhnya
Hal Pertama Yang Akan Diadili Pada Manusia Di Hari Kiamat Adalah Perutnya
Di dalam kitab
Shahih Bukhari hadits nomor 6619 dinyatakan Sesungguhnya hal pertama yang akan
diadili pada manusia di hari kiamat adalah perutnya;
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنَا
خَالِدٌ عَنْ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ طَرِيفٍ أَبِي تَمِيمَةَ قَالَ شَهِدْتُ
صَفْوَانَ وَجُنْدَبًا وَأَصْحَابَهُ وَهُوَ يُوصِيهِمْ فَقَالُوا هَلْ سَمِعْتَ
مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَالَ سَمِعْتُهُ
يَقُولُ مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ وَمَنْ
يُشَاقِقْ يَشْقُقْ اللَّهُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالُوا أَوْصِنَا
فَقَالَ إِنَّ أَوَّلَ مَا يُنْتِنُ مِنْ الْإِنْسَانِ بَطْنُهُ فَمَنْ اسْتَطَاعَ
أَنْ لَا يَأْكُلَ إِلَّا طَيِّبًا فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا
يُحَالَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجَنَّةِ بِمِلْءِ كَفِّهِ مِنْ دَمٍ أَهْرَاقَهُ
فَلْيَفْعَلْ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ مَنْ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُنْدَبٌ قَالَ نَعَمْ جُنْدَبٌ [100]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ishaq al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami
Khalid, dari al-Jurairi, dari Tsuraif Abu Tamimah, dia berkata: "Aku
menyaksikan Shafwan, Jundab, dan teman-temannya sedang Rasulullah ﷺ memberikan wasiat kepada mereka. Mereka
berkata, 'Apakah kamu pernah mendengar sesuatu dari Rasulullah ﷺ?' Dia menjawab, 'Aku mendengarnya
mengatakan, "Barangsiapa yang mendengar (menerima petunjuk), niscaya Allah
akan mendengar darinya pada Hari Kiamat. Barangsiapa yang menentang Allah, maka
Allah akan menentangnya pada hari kiamat" Mereka bertanya, 'Berikan kami
wasiat.' Beliau bersabda, 'Sesungguhnya hal pertama yang akan diadili pada
manusia di hari kiamat adalah perutnya. Jika seseorang mampu untuk tidak makan
kecuali yang baik, maka hendaklah dia melakukannya. Dan siapa yang mampu agar
tidak ada yang berdiri antara dirinya dan surga kecuali sejengkal darah yang
dia tuangkan, maka hendaklah dia melakukannya.' Aku berkata kepada Abu Abdullah
(Imam Ahmad bin Hanbal), 'Siapa yang mengatakan, 'Aku mendengar dari Rasulullah ﷺ?' Dia menjawab, 'Jundablah yang mengatakan
itu.'" (HR. Bukhari: 6619)
Di dalam kitab
Shahih Bukhari Hadits nomor 5374 disebutkan bahwa Keluarga Muhammad ﷺ tidak pernah kenyang dari makanan selama tiga hari berturut-turut hingga beliau
wafat;
حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ عِيسَى حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
قَالَ مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ طَعَامٍ
ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ حَتَّى قُبِضَ[101]
Artinya: Telah
meriwayatkan kepada kami Yusuf bin ‘Īsā, telah meriwayatkan kepada kami Muḥammad bin Fuḍail, dari ayahnya, dari Abū Ḥāzim, dari Abū Hurairah, ia berkata:
“Keluarga Muhammad ﷺ tidak pernah kenyang dari
makanan selama tiga hari berturut-turut hingga beliau wafat.”
Menjadikan
aktifitas makan dan minum bukan menjadi sebuah kesenangan sahwat dan hawa
nafsu, tetapi menjadikanya sebagai wujud rasa syukur dan ketakwaan atas
keimanan dan pengabdiannya kepada Allah SWT. sebagaimana diperintahkan Allah
yang termuat di dalam Al Quran surat Al-Maidah/ 5: 88 dan An-Nahl/ 16: 114
berikut;
وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاتَّقُوا
اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ
Artinya: Dan
makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan
kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. (QS.
Al-Maidah/ 5: 88)
فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا
طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Artinya: Maka
makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu;
dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (QS.
An-Nahl/ 16: 114)
Menjaga
diri karena Allah dari makan yang dijadikan sebagai kesenangan syahwat dan hawa
nafsu merupakan bentuk ketakwaan kepada Allah dari syahwat dan hawa.
Laghwun berasal dari kata
laghw artinya perbuatan yang tidak berguna, sedangkan Lahwun
berasal dari lahw artinya sendau gurau, menghibur, melalaikan,
mengalihkan, mengganggu, melewatkan waktu, bermain.
Perbedaan antara al-laghw
dan al-lahw terkait langsung dengan konsep pemeliharaan hati (ḥifẓ al-qalb) dan pengendalian
anggota tubuh dari segala bentuk kesia-siaan (al-‘amal al-bāṭil). Menurutnya, al-laghw
adalah segala ucapan dan perbuatan yang tidak memberikan manfaat spiritual
maupun duniawi, meskipun tidak selalu memicu kerusakan langsung; ia merupakan
bentuk “kekosongan nilai” yang melemahkan konsentrasi hati terhadap Allah.
Karena itu, al-Ghazālī menempatkan laghw sebagai bagian dari penyakit
lisan yang mengikis kualitas jiwa secara perlahan, terutama karena ia membuka
ruang bagi kelalaian (ghaflah)—sebuah kondisi yang sangat dikhawatirkan
dalam pembinaan akhlak. [102]
Adapun al-lahw,
menurut al-Ghazālī, merupakan tingkat yang lebih rendah dan lebih berbahaya
karena tidak sekadar tanpa manfaat, tetapi mengalihkan seseorang dari kewajiban
dan tujuan penciptaannya. Dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ia menjelaskan bahwa lahw adalah bentuk permainan, hiburan,
dan kesibukan yang menumpulkan kesadaran spiritual, serta mengikat hati dengan
kesenangan duniawi sehingga seseorang terputus dari perhatian kepada akhirat.
[103]
Dengan demikian,
perbedaan prinsipnya adalah bahwa laghw bersifat pasif—sekadar
sia-sia—sementara lahw bersifat aktif dalam menyesatkan, karena menjadi
sebab seseorang berpaling dari ketaatan. Bagi al-Ghazālī, kedua hal ini harus
dihindari, tetapi lahw dipandang lebih merusak karena secara langsung
memalingkan hati dari Allah dan menimbulkan konsekuensi moral yang lebih berat.
[104]
Sehingga Laghwun
dan Lahwun dapat dipahami sebagai segala aktifitas yang tidak
meiliki nilai kebaikan. Berikut akan dikemukakan ayat-ayat Al Quran dan Hadits
yang berkaitan dengan Laghwun dan Lahwun;
Orang beriman
menjaga kehormatan dirinya dari perbuatan laghwun baik ketika melewati
orang-orang yang sedang laghwun maupun mendengar pembicaraan laghwun,
disebutkan di dalam Al Quran Surat Al-Furqan/ 25: 72 dan Surat Al-Qasas/ 28:
55, berikut;
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا
بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
Artinya: Dan
orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka
bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak
berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.(QS. Al-Furqan/
25: 72)
وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا
لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ
Artinya: Dan
apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling
daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu
amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan
orang-orang jahil".(QS. Al-Qasas/ 28: 55)
3.10.2. Banyak
Bicara Tanpa Mengingat Allah Membuat Hati Menjadi Keras
Di dalam kitab
Sunan Tirmidzi hadits nomor 2411, dijelaskan peringatan untuk : Janganlah
kalian banyak bicara tanpa berdzikir kepada Allah, karena banyak bicara tanpa
mengingat Allah membuat hati menjadi keras, dan orang yang paling jauh dari
Allah adalah orang yang berhati keras;
حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي
ثَلْجٍ الْبَغْدَادِيُّ صَاحِبُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حَفْصٍ
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَاطِبٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لَا تُكْثِرُوا الْكَلَامَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلَامِ بِغَيْرِ
ذِكْرِ اللَّهِ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَإِنَّ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْ اللَّهِ الْقَلْبُ
الْقَاسِي [105]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Abu 'Abdillah Muhammad bin Abu Tsalj Al Baghdadi]
sahabat Ahmad bin Hambal, telah menceritakan kepada kami ['Ali bin Hafsh] telah
menceritakan kepada kami [Ibrahim bin 'Abdillah bin Hatib] dari [Abdullah bin
Dinar] dari [Ibnu Umar] berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam
bersabda: "Janganlah kalian banyak bicara tanpa berdzikir kepada Allah,
karena banyak bicara tanpa mengingat Allah membuat hati menjadi keras, dan
orang yang paling jauh dari Allah adalah orang yang berhati keras.
3.10.3. Allah
Membenci Orang Yang Berlebihan Dalam Berbicara
Di dalam kitab
Sunan Abu Daud hadits nomor 4352 disebutkan bahwa Allah membenci orang yang
berlebihan dalam berbicara;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِنَانٍ الْبَاهِلِيُّ
وَكَانَ يَنْزِلُ الْعَوَقَةَ حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ عُمَرَ عَنْ بِشْرِ بْنِ
عَاصِمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أَبُو دَاوُد هُوَ ابْنُ عَمْرٍو
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ
عَزَّ وَجَلَّ يُبْغِضُ الْبَلِيغَ مِنْ الرِّجَالِ الَّذِي يَتَخَلَّلُ
بِلِسَانِهِ تَخَلُّلَ الْبَاقِرَةِ بِلِسَانِهَا [106]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinan Al Bahili - dia singgah di suatu
tempat bernama Awaqah- berkata, telah menceritakan kepada kami Nafi' bin Umar
dari Bisyr bin Ashim dari Bapaknya dari Abdullah -Abu Dawud berkata; maksudnya
adalah Abdullah bin Umar- ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah
membenci laki-laki yang berlebihan dalam berbicara seperti sapi yang memainkan
lidahnya."
Di dalam Al Quran
Surat Luqman/ 31: 6 dijelaskan bahwa di antara manusia (ada) orang yang
mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan
Allah tanpa pengetahuan;
وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ
لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ
لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ
Artinya: Dan di
antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna
untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan
jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan.
(QS. Luqman/ 31: 6)
Allah SWT
memberikan peringatan kepada orang yang beriman, agar tidak dilalaikan oleh
harta dan anak-anak dari mengingat Allah. Dimuat di dalam Al Quran Surat
Al-Munafiqun/ 63: 9;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ
وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ
الْخَاسِرُونَ
Artinya: Hai
orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari
mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah
orang-orang yang merugi.(QS. Al-Munafiqun/ 63: 9)
3.10.6. Banyak
Tertawa Akan Mematikan Hati.
Di dalam kitab
Sunan Ibnu Majah nomor 4193 Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak
tertawa akan mematikan hati;
حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ خَلَفٍ حَدَّثَنَا أَبُو
بَكْرٍ الْحَنَفِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ
إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُنَيْنٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ
فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ [107]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Bakar bin Khalaf telah menceritakan kepada kami Abu
Bakar Al Hanafi telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Ja'far dari
Ibrahim bin Abdullah bin Hunain dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian banyak
tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati."
3.10.7. Nyayian
Akan Menumbuhkan Kenifakan Dalam Hati
Di dalam kitab
Sunan Abu Daud hadits nomor 4927, dijelaskan bahwa Nyayian akan menumbuhkan
kenifakan dalam hati;
حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ
حَدَّثَنَا سَلَّامُ بْنُ مِسْكِينٍ عَنْ شَيْخٍ شَهِدَ أَبَا وَائِلٍ فِي
وَلِيمَةٍ فَجَعَلُوا يَلْعَبُونَ يَتَلَعَّبُونَ يُغَنُّونَ فَحَلَّ أَبُو
وَائِلٍ حَبْوَتَهُ وَقَالَ سَمِعْتْ عَبْدَ اللَّهِ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْغِنَاءُ يُنْبِتُ
النِّفَاقَ فِي الْقَلْبِ [108]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim ia berkata; telah
menceritakan kepada kami Sallam bin Miskin dari seorang Syaikh Bahwasanya ia
pernah melihat Abu Wail dalam sebuah jamuan walimah. Orang-orang lalu
bermain rebana dan menyanyikan lagu, maka Abu Wail kemudian bangkit dari duduk
ihtiba (duduk di atas bokong dengan mendekap kedua pahanya menempel dada) dan
berkata, "Aku mendengar Abdullah berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Nyayian akan menumbuhkan
kenifakan dalam hati."
3.10.8. Tanda-Tanda
Seorang Munafik Ada Tiga: Ketika Dia Berbicara, Dia Berbohong
Di dalam kitab
Shahih Bukhari hadits nomor 33 dinyatakan bahwa Tanda-tanda seorang
munafik ada tiga: ketika dia berbicara, dia berbohong;
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ أَبُو الرَّبِيعِ قَالَ
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ مَالِكِ
بْنِ أَبِي عَامِرٍ أَبُو سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ
إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ [109]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Sulaiman Abu al-Rabi', dia berkata, telah menceritakan
kepada kami Isma'il bin Ja'far, dia berkata, telah menceritakan kepada kami
Nafi' bin Malik bin Abi 'Amir, Abu Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah,
dari Nabi SAW beliau bersabda, "Tanda-tanda seorang munafik ada tiga:
ketika dia berbicara, dia berbohong; ketika dia berjanji, dia tidak memenuhi
janjinya; dan ketika dia diberi amanah, dia berkhianat."
3.10.9. Celakalah
Orang Yang Berbicara Padahal Ia Bohong Untuk Sekedar Membuat Orang-Orang
Tertawa
Di dalam kitab
Sunan Abu Daud hadits nomor 4990 dinyatakan Celakalah orang yang berbicara
padahal ia bohong untuk sekedar membuat orang-orang tertawa;
حَدَّثَنَا مُسَدَّدُ بْنُ مُسَرْهَدٍ حَدَّثَنَا
يَحْيَى عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِيهِ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَيْلٌ
لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ [110]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Musaddad ibnu Musarhadin telah menceritakan kepada
kami Yahya dari Bahez Ibnu Hakim dari ayahnya dari kakeknya Radliyallaahu 'anhu
bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Celakalah orang
yang berbicara padahal ia bohong untuk sekedar membuat orang-orang tertawa
celakalah dia kemudian celakalah dia.
3.10.10. Berpegang
Teguhlah Pada Kejujuran Dan Waspadalah Terhadap Kebohongan
Di dalam kitab
Shahih Muslim hadits nomor 104 dinyatakan Berpegang teguhlah pada kejujuran Dan
Waspadalah terhadap kebohongan;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ
وَوَكِيعٌ قَالَا حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ
حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ
الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى
الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ
فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى
النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى
يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا [111]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair, menceritakan kepada
kami Abu Mu'awiyah dan Waki', keduanya berkata, menceritakan kepada kami
Al-A'masy dari Abu Kurayb, dari Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy, dari Syaqiq,
dari Abdullah bin Amr. Dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Berpegang teguhlah
pada kejujuran, karena kejujuran membimbing ke arah kebajikan, dan kebajikan
membimbing ke surga. Seseorang akan terus berbicara jujur dan berusaha untuk
tetap jujur, hingga dia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Waspadalah
terhadap kebohongan, karena kebohongan membimbing ke arah kefasikan, dan
kefasikan membimbing ke neraka. Seseorang akan terus berbohong dan berusaha
untuk tetap berbohong, hingga dia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta."
3.10.11. Berbohong
Dibenarkan Hanya Dalam Tiga Hal
Di dalam kitab
Musnad Ahmad hadits nomor 27275 dinyatakan bahwa berbohong dibenarkan hanya dalam tiga hal;
حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ
حَدَّثَنَا لَيْثٌ يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ عَنْ يَزِيدَ يَعْنِي ابْنَ الْهَادِ عَنْ
عَبْدِ الْوَهَّابِ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
بْنِ عَوْفٍ عَنْ أُمِّهِ أُمِّ كُلْثُومٍ بِنْتِ عُقْبَةَ قَالَتْ مَا سَمِعْتُ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَخَّصَ فِي شَيْءٍ مِنْ
الْكَذِبِ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ الرَّجُلِ يَقُولُ الْقَوْلَ يُرِيدُ بِهِ
الْإِصْلَاحَ وَالرَّجُلِ يَقُولُ الْقَوْلَ فِي الْحَرْبِ وَالرَّجُلِ يُحَدِّثُ
امْرَأَتَهُ وَالْمَرْأَةِ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا [112]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad, dia berkata, telah menceritakan
kepada kami Laits, yakni Ibnu Sa'd, dari Yazid, yakni Ibnu al-Had, dari Abdul
Wahhab, dari Ibnu Syihab, dari Humaid bin Abdurrahman bin Auf, dari ibunya,
Ummu Kultsum binti Ukba. Dia berkata, "Aku tidak pernah mendengar
Rasulullah SAW membenarkan berbohong kecuali dalam tiga hal: seorang laki-laki
yang mengatakan sesuatu dengan tujuan perbaikan (perdamaian), seorang laki-laki
yang berbicara di medan perang, dan seorang wanita yang berbicara dengan
suaminya."
Di dalam kitab
Shahih Bukhari hadits nomor 1477 Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiga hal,
yaitu banyak bicara tentang orang lain, seringnya bertanya;
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُلَيَّةَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ
ابْنِ أَشْوَعَ عَنْ الشَّعْبِيِّ حَدَّثَنِي كَاتِبُ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ
قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنْ اكْتُبْ إِلَيَّ
بِشَيْءٍ سَمِعْتَهُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَتَبَ
إِلَيْهِ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ
اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ
السُّؤَالِ
[113]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami
Isma'il bin 'Ulayyah, telah menceritakan kepada kami Khalid al-Hadza', dari
Ibnu Asywa', dari Ash-Sha'bi, dia berkata, "Katsib al-Mughirah bin Syu'bah
menulis kepada Mu'awiyah bin Abi Sufyan, 'Tulis untukku sesuatu yang pernah
engkau dengar dari Nabi ﷺ.' Mu'awiyah menulis
kepadanya, 'Aku pernah mendengar Nabi ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiga hal, yaitu ghibah (berbicara
buruk) tentang orang lain, pemborosan harta dan seringnya bertanya." (HR.
Bukhari: 1383)
Tiga hal yang
tidak disukai Allah tersebut merupakan laghwun dan lahwun.
Di dalam kitab
Sunan Tirmidzi hadits nomor 1993 dinyatakan bahwa siapa yang meninggalkan
perdebatan, padahal dia benar, untuknya dibangun rumah di tengah-tengah surga;
حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ مُكَرِّمٍ الْعَمِّيُّ
الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ قَالَ حَدَّثَنِي سَلَمَةُ بْنُ
وَرْدَانَ اللَّيْثِيُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَهُوَ بَاطِلٌ بُنِيَ
لَهُ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بُنِيَ لَهُ
فِي وَسَطِهَا وَمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ بُنِيَ لَهُ فِي أَعْلَاهَا وَهَذَا
الْحَدِيثُ حَدِيثٌ حَسَنٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ سَلَمَةَ بْنِ وَرْدَانَ
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ [114]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Uqbah bin Mukrim al-‘Ami al-Bashri, telah menceritakan
kepada kami Ibnu Abi Fudhak, dia berkata, telah menceritakan kepada saya
Salamah bin Wardan al-Laithi dari Anas bin Malik, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Barangsiapa meninggalkan
kebohongan ketika dia dalam keadaan salah, untuknya dibangun rumah di taman
surga. Dan siapa yang meninggalkan perdebatan, padahal dia benar, untuknya
dibangun rumah di tengah-tengah surga. Dan siapa yang memperbaiki akhlaknya,
untuknya dibangun rumah di puncak surga." Hadis ini dikategorikan sebagai
hadis hasan, dan kami hanya mengetahuinya dari riwayat Salamah bin Wardan dari
Anas bin Malik.
3.10.14. Kebanyakan
Tidur Di Malam Hari Akan Meninggalkan Seseorang Miskin Di Hari Kiamat
Di dalam kitab
Sunan Ibnu Majah hadits nomor 1332, dinyatakan bahwa kebanyakan tidur di malam
hari akan meninggalkan seseorang miskin di hari kiamat;
حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ وَالْحَسَنُ
بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الصَّبَّاحِ وَالْعَبَّاسُ بْنُ جَعْفَرٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ
عَمْرٍو الْحَدَثَانِيُّ قَالُوا حَدَّثَنَا سُنَيْدُ بْنُ دَاوُدَ حَدَّثَنَا
يُوسُفُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ
اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ
أُمُّ سُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُدَ لِسُلَيْمَانَ يَا بُنَيَّ لَا تُكْثِرْ النَّوْمَ
بِاللَّيْلِ فَإِنَّ كَثْرَةَ النَّوْمِ بِاللَّيْلِ تَتْرُكُ الرَّجُلَ فَقِيرًا
يَوْمَ الْقِيَامَةِ [115]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Muhammad, dan Al-Hasan bin Muhammad bin Al-Sabbah, dan Al-Abbas bin Ja'far, dan Muhammad bin 'Amr Al-Hadzani, mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Sunaid bin Dawud, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Muhammad bin Al-Munkadir, dari ayahnya, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda, "Ummu Sulaiman bin Dawud berkata kepada Sulaiman, 'Wahai anakku, jangan terlalu banyak tidur di malam hari, karena kebanyakan tidur di malam hari akan meninggalkan seseorang miskin di hari kiamat.'"
Di dalam kitab
Shahih Bukhari hadits nomor 1074 dinyatakan bahwa Setan mengikat tiga simpul di
bagian belakang kepala seseorang di antara kalian ketika dia tidur;
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ
أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا
هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ
فَارْقُدْ فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ
تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ
نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ [116]
Artinya: Yusuf
berkata, "Telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu al-Zinad dari
al-A'raj dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, 'Setan mengikat tiga simpul di
bagian belakang kepala seseorang di antara kalian ketika dia tidur. Setiap
simpul yang diikatkan akan membuat malam yang panjang bagimu. Jika kalian
terbangun dan menyebut nama Allah, satu simpul akan terlepas. Jika kalian
berwudhu, satu simpul akan terlepas. Jika kalian shalat, maka simpul yang
terakhir pun akan terlepas. Oleh karena itu, kalian akan bangun dengan semangat
yang baik dan jiwa yang bersih. Jika tidak, kalian akan bangun dengan jiwa yang
buruk dan malas.'"
3.10.16. Barangsiapa
Yang Pagi Hari Kesibukannya Adalah Dunia, Maka Ia Tidak Memiliki Bagian Dari
Allah Dalam Sesuatu Pun
Di dalam kitab Mustadrak Hakim hadits nomor 7889 dinyatakan bahwa
Barangsiapa yang pagi hari kesibukannya adalah dunia, maka ia tidak memiliki
bagian dari Allah dalam sesuatu pun;
حدثنا
جعفر بن محمد الخلدي ثنا الحسن علي القطان ثنا إسماعيل بن العطار ثنا إسحاق بن بشر
ثنا سفيان الثوري عن الأعمش عن شقيق عن سلمة عن حذيفة رضي الله عنه : عن النبي صلى
الله عليه و سلم قال : من أصبح و الدنيا أكبر همه فليس من الله في شيء و من لم يتق
الله فليس من الله في شيء و من لم يهتم للمسلمين عامة فليس منهم [117]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Muhammad
al-Khuldi, telah menceritakan kepada kami al-Hasan Ali al-Qattan, telah
menceritakan kepada kami Isma'il bin al-'Atar, telah menceritakan kepada kami
Ishaq bin Bishr, telah menceritakan kepada kami Sufyan al-Thawri, dari
al-A'mash, dari Syuqaiq, dari Salim, dari Hudhaifah radhiyallahu 'anhu, bahwa
Nabi ﷺ bersabda, "Barangsiapa yang pagi hari kesibukannya adalah
dunia, maka ia tidak memiliki bagian dari Allah dalam sesuatu pun. Barangsiapa
yang tidak bertakwa kepada Allah, maka ia tidak memiliki bagian dari Allah
dalam sesuatu pun. Barangsiapa yang tidak peduli terhadap urusan umat Islam
secara umum, maka ia bukan bagian dari mereka.".
Berdasar hadits ini kesibukan seseorang bila hanya tentang dunia, tidak
ada ketakwaan serta tidak ada kaitan dengan urusan umat Islam, maka
kesibukannya hanyalah merupakan laghwun dan lahwun.
3.10.17.Itu Adalah Laki-Laki Yang Setan Telah
Buang Air Kecil Di Telinganya
Di dalam kitab
Shahih Bukhari hadits nomor 3270 dikisahkan tentang seorang laki-laki yang
tidur semalaman hingga pagi, Itu adalah laki-laki yang setan telah buang air
kecil di telinganya;
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ
حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ قَالَ ذُكِرَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
رَجُلٌ نَامَ لَيْلَهُ حَتَّى أَصْبَحَ قَالَ ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِي
أُذُنَيْهِ أَوْ قَالَ فِي أُذُنِهِ [118]
Artinya: Utsman
bin Abi Shaybah menceritakan kepada kami, Jarir menceritakan kepada kami, dari
Mansur, dari Abi Wail, dari Abdullah, semoga Allah meridhoinya, berkata:
Dikisahkan di hadapan Nabi, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya,
tentang seorang laki-laki yang tidur semalaman hingga pagi. Beliau berkata,
"Itu adalah laki-laki yang setan telah buang air kecil di telinganya, atau
beliau berkata, di telinganya."
Menjaga diri dari
perbuatan yang bernilai laghwun dan lahwun merupakan ciri dari
orang beriman, disebutkan di dalam Al Quran Surat Al-Mu’minun/ 23: 3;
وَٱلَّذِينَ
هُمْ عَنِ ٱللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
Artinya: Dan orang-orang yang
menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.(QS. Al-Mu’minun/
23: 3)
Kehidupan dunia
hanyalah permainan dan senda gurau, hanya orang yang beriman dan bertakwa yang
akan mendapatkan pahala, sebagaimana dinyatakan di dalam Al Quran surat
Muhammad/ 47: 36;
إِنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ
وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ
أَمْوَالَكُمْ
Artinya: Sesungguhnya kehidupan dunia
hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah
akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (QS.
Muhammad/ 47: 36)
Kesadaran untuk menjaga diri dari
perbuatan yang bernilai laghwun dan lahwun (a.l: banyak bicara,
berlebihan dalam bicara, perkataan tak berguna, kesenangan terhadap harta dan
anak, banyak tertawa, nyanyi-nyanyian, berbohong, sering bertanya, perdebatan,
banyak tidur, angan-angan, nonton hiburan tv /hp/ langsung secara berlebihan,
permainan/ game dsb) yang dilakukan karena Allah, merupakan bentuk ketakwaan
dari laghwun dan lahwun, sebagai bagian ketakwaan dari syahwat
dan hawa.
Zina dalam Bahasa
Arab artinya; mempererat, mengencangkan, menyumbat, memampatkan, menekan,
pengertiannya;
hubungan seksual yang dilakukan oleh seorang mukallaf yang Muslim pada faraj
adami (manusia), yang bukan budak miliknya, tanpa ada syubhat dan dilakukan
dengan sengaja. Itu merupakan batasan pengertian fiqh.
Janganlah Kamu Mendekati Zina;
Sesungguhnya Zina Itu Adalah Suatu Perbuatan Yang Keji
Pelarangan zina
mencakup semua hal yang mengarah kepada perbuatan zina, di sebutkan di dalam Al
Quran surat Al-Isra'/ 17: 32
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً
وَسَاءَ سَبِيلًا
Artinya: Dan
janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan
yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.(QS. Al-Isra'/ 17: 32)
Pelarangan
mendekati zina ini menggambarkan sangat berbahaya (godaan untuk melakukannya
sangat besar) bila melakukannya, sebab perbuatan zina merupakan perbuatan fahsya:
cabul, dekil, vulgar, porno, keji; yang melampaui batas, di luar batas
kewajaran, menyolok, memalukan. Dan zina merupakan jalan atau cara yang buruk.
Zina inilah yang
sering dipahami sebagai Syahwat dan hawa nafsu, padahal syahwat dan hawa
mencakup semua kesenangan dan kecenderungan manusia, sedangkan zina hanya
merupakan bagian darinya, berikut ini dikemukakan ayat dan hadits yang
berkaitan dengan zina;
3.11.1. Allah
Menetapkan Atas Anak Adam Bagiannya Dari Zina
Di dalam kitab
Shahih Bukhari Hadits nomor 6612, dijelaskan gambaran besarnya godaan zina ini,
sehingga Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, ia pasti
melakukan hal itu dengan tidak dipungkiri lagi, melalui; mata, lisan dan
hayalan;
حَدَّثَنِي مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا عَبْدُ
الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ ابْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
قَالَ مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَشْبَهَ بِاللَّمَمِ مِمَّا قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ
حَظَّهُ مِنْ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ
وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ
ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ وَقَالَ شَبَابَةُ حَدَّثَنَا وَرْقَاءُ عَنْ ابْنِ طَاوُسٍ
عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [119]
Artinya: Telah
menceritakan kepadaku [Mahmud bin Ghailan] telah menceritakan kepada kami
[Abdurrazaq] telah memberitakan kepada kami [Ma'mar] dari [Ibnu Thawus] dari
[ayahnya] dari [Ibnu 'Abbas] mengatakan, belum pernah kulihat sesuatu yang
lebih mirip dengan dosa-dosa kecil daripada apa yang dikatakan oleh [Abu
Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; "Allah menetapkan atas
anak Adam bagiannya dari zina, ia pasti melakukan hal itu dengan tidak
dipungkiri lagi, zina mata adalah memandang, zina lisan adalah bicara, jiwa
mengkhayal dan kemaluan yang akan membenarkan itu atau mendustakannya".
Dan [Syababah] mengatakan, telah menceritakan kepada kami [Warqa'] dari [Ibnu
Thawus] dari [ayahnya] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.
3.11.2. Zina
Mata Adalah Melihat, Zina Kedua Tangan Adalah Memegang
Zina dari seluruh
anggota badan disebutkan di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 8170;
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ
أَخْبَرَنَا سُهَيْلُ بْنُ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكُلِّ بَنِي آدَمَ حَظٌّ
مِنْ الزِّنَا فَالْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْيَدَانِ تَزْنِيَانِ
وَزِنَاهُمَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلَانِ يَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْمَشْيُ وَالْفَمُ
يَزْنِي وَزِنَاهُ الْقُبَلُ وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ
ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ [120]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami ['Affan] telah menceritakan kepada kami [Hammad bin
Salamah] berkata; telah mengabarkan kepada kami [Suhail bin Abu Shalih] dari
[bapaknya] dari [Abu Hurairah], dia berkata; Bahwa Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam Bersabda: "Setiap anak cucu Adam telah tertulis bagiannya
dari zina, maka kedua mata berbuat zina dan zina mata adalah melihat, kedua
tangan berzina dan zina kedua tangan adalah memegang, kedua kaki berzina dan
zina kedua kaki adalah melangkah, mulut berzina dan zina mulut adalah
mengucapkan, hati berharap dan berangan-angan, adapun kemaluan ia yang
membenarkan atau mendustakannya."
3.11.3. Setiap
Mata Memiliki Bagian Dari Zina
Pelarangan berbuat
zina karena begitu berbahayanya perbuatan zina, bahkan ketika terbetik dalam
hati untuk melakukan perbuatan dengan tujuan menarik perhatian dari lawan
jenis, sudah termasuk Zina, sebagaimana digambarkan di dalam Hadits nomor 2786
dalam kitab Sunan Tirmidzi;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى
بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ عَنْ ثَابِتِ بْنِ عُمَارَةَ الْحَنَفِيِّ عَنْ غُنَيْمِ
بْنِ قَيْسٍ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ وَالْمَرْأَةُ إِذَا اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِالْمَجْلِسِ
فَهِيَ كَذَا وَكَذَا يَعْنِي زَانِيَةً وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ
أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ [121]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basyar] telah menceritakan kepada kami
[Yahya bin Sa'id Al Qattan] dari [Tsabit bin 'Umarah Al Hanafi] dari [Ghunaim
bin Qais] dari [Abu Musa] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau
bersabda: "Setiap mata memiliki bagian dari zina, dan wanita yang memakai
wewangian kemudian lewat di perkumpulan (lelaki) berarti dia begini dan
begini." Maksud beliau berbuat zina. Dan dalam bab ini ada juga hadits
dari Abu Hurairah, Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih.
3.11.4. Tidaklah
Berzina Orang Yang Berzina Ketika Ia Berzina Dalam Keadaan Beriman
Di dalam kitab
Shahih Bukhari hadits nomor 6312, dijelaskan bahwa Begitu buruknya perilaku
zina dalam Islam, sehingga pelaku zina dianggap kehilangan imannya;
حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْأَعْمَشِ
عَنْ ذَكْوَانَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ حِينَ
يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَالتَّوْبَةُ
مَعْرُوضَةٌ بَعْدُ [122]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Adam] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari
[Al A'masy] dari [Dzakwan] dari [Abu Hurairah] mengatakan, Nabi SAW bersabda:
Tidaklah berzina orang yang berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman,
dan tidaklah mencuri orang yang mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan
beriman, tidaklah ia meminum khamr ketika meminumnya dan ia dalam keadaan
beriman, dan taubat terhampar setelah itu."
Di dalam kitab
Shahih Bukhari hadits nomor 4820, menjelaskan bahwa Allah melarang hambanya
berbuat zina karena besarnya kasih sayang Allah kepada manusia, sehingga
Allahlah yang paling cemburu Ketika seorang hamba melakukan zina,
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ
عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَحَدٌ أَغْيَرَ
مِنْ اللَّهِ أَنْ يَرَى عَبْدَهُ أَوْ أَمَتَهُ تَزْنِي يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ لَوْ
تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا [123]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Abdullah bin Maslamah] dari [Malik] dari [Hisyam]
dari [bapaknya] dari [Aisyah] radliallahu 'anha, bahwasanya; Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam bersabda: "Wahai umat Muhammad, tidak ada yang lebih
cemburu daripada Allah saat Dia melihat hambanya atau hamba perempuannya
berzina. Wahai umat Muhammad, sekiranya kalian tahu apa yang aku ketahui,
niscaya kalian akan sedikit tertawa dan kalian akan banyak menangis." (HR.
Bukhari: 4820)
3.11.6. Sesungguhnya
Sesuatu Yang Paling Aku Khawatirkan Dari Ummatku Adalah Perbuatan Kaum Luth
Di dalam kitab
Sunan Tirmidzi hadits nomor 1377 dinyatakan bahwa sesungguhnya sesuatu yang
paling aku khawatirkan dari ummatku adalah perbuatan kaum Luth;
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا
يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ
الْوَاحِدِ الْمَكِّيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عُقَيْلٍ أَنَّهُ
سَمِعَ جَابِرًا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي عَمَلُ قَوْمِ لُوطٍ قَالَ أَبُو
عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عُقَيْلِ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ
جَابِرٍ
[124]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani', telah menceritakan kepada kami Yazid
bin Harun telah menceritakan kepada kami Hammam dari Al Qasim bin Abdul Wahid
Al Makki dari Abdullah bin Muhammad bin 'Uqail bahwa ia mendengar Jabir
berkata; Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya sesuatu yang paling aku khawatirkan dari ummatku adalah
perbuatan kaum Luth." Abu Isa berkata; Hadits ini hasan gharib,
sesungguhnya kami hanya mengetahui dari jalur ini dari Abdullah bin Muhammad
bin 'Uqail bin Abu Thalib dari Jabir.
3.11.7. Hukuman
Bagi Pelaku Zina
Kerasnya larangan
berbuat zina, sehingga diikuti dengan ketentuan hukuman yang berat bagi
pelanggarnya, hukuman bagi pelaku zina dibagi menjadi dua, yakni;
Zina Gairu Muhsan
merupakan macam zina yang dilakukan oleh mereka yang belum sah atau belum
pernah menikah. Contohnya adalah mereka yang sedang menjalin hubungan sebelum
menikah atau berpacaran, namun melakukan perbuatan zina.
Perempuan Yang
Berzina Dan Laki-Laki Yang Berzina, Maka Deralah Tiap-Tiap Seorang Dari
Keduanya Seratus Kali Dera
Di dalam Al Quran
Surat An-Nur/ 24: 2; Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka
deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera;
الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ
مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ
إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا
طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
Artinya:
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap
seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada
keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman
kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka
disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. (QS. An-Nur/ 24: 2)
Bagi Siapa Yang
Berzina Dan Belum Pernah Menikah Agar Dicambuk Seratus Kali Dan Diasingkan
Selama Setahun
Demikan juga
hadits di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2455; menegaskan bagi siapa
yang berzina dan belum pernah menikah agar dicambuk seratus kali dan diasingkan
selama setahun;
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ
عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ
زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنَّهُ أَمَرَ فِيمَنْ زَنَى وَلَمْ يُحْصَنْ بِجَلْدِ مِائَةٍ وَتَغْرِيبِ
عَامٍ
[125]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Yahya bin Bukair] telah menceritakan kepada kami [Al
Laits] dari ['Uqail] dari [Ibnu Syihab] dari ['Ubaidulloh bin 'Abdullah] dari
[Zaid bin Khalid radliallahu 'anhu] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,
bahwa Beliau memerintahkan bagi siapa yang berzina dan belum pernah menikah
agar dicambuk seratus kali dan diasingkan selama setahun". (HR. Bukhari
2455)
Zina muhson adalah
zina yang dilakukan oleh perempuan dan laki-laki yang sudah menikah.
Hukuman Bagi
Pelaku Zina Muhson Adalah Dirajam; Dilempari Batu Sampai Meninggal
Di dalam kitab
Shahih Bukhari hadits nomor 4865; hukuman bagi pelaku zina muhson adalah
dirajam; dilempari batu sampai meninggal;
حَدَّثَنَا أَصْبَغُ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ
يُونُسَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ إِنَّهُ قَدْ زَنَى فَأَعْرَضَ عَنْهُ فَتَنَحَّى
لِشِقِّهِ الَّذِي أَعْرَضَ فَشَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ فَدَعَاهُ
فَقَالَ هَلْ بِكَ جُنُونٌ هَلْ أَحْصَنْتَ قَالَ نَعَمْ فَأَمَرَ بِهِ أَنْ يُرْجَمَ
بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا أَذْلَقَتْهُ الْحِجَارَةُ جَمَزَ حَتَّى أُدْرِكَ بِالْحَرَّةِ
فَقُتِلَ
[126]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Ashbagh] Telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Wahab]
dari [Yunus] dari [Ibnu Syihab] ia berkata; Telah mengabarkan kepadaku [Abu
Salamah bin Abdurrahman] dari [Jabir] bahwa seorang laki-laki dari Bani Aslam
mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang saat itu sedang berada di
dalam Masjid. Laki-laki itu mengatakan bahwa ia telah berzina, namun beliau
berpaling darinya. Maka laki-laki itu menghadap ke arah wajah beliau seraya
bersaksi atas dirinya dengan empat orang saksi. Akhirnya beliau memanggil
laki-laki itu dan bertanya: "Apakah kamu memiliki penyakit gila?" ia
menjawab, "Tidak." Beliau bertanya lagi: "Apakah kamu telah
menikah?" ia menjawab, "Ya." Akhirnya beliau memerintahkan untuk
merajamnya di lapangan luas. Dan ketika lemparan batu telah mengenainya, ia
berlari hingga ditangkap dan dirajam kembali hingga meninggal. (QS. Bukhari:
4865)
Wanita Dan Pria
Yang Telah Kawin Jika Berzina Dihukum Seratus Kali Cambuk Dan Rajam, Jejaka Dan
Gadis Hukumannya Seratus Kali Cambuk Dan Diasingkan Selama Satu Tahun
Di dalam kitab
Musnad Ahmad hadits nomor 21656, menjelaskan hukuman bagi pelaku zina muhson
dihukum seratus kali cambuk dan rajam, sedangkan untuk ghairu muhson hukumannya
seratus kali cambuk dan diasingkan selama satu tahun;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ حِطَّانَ
بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الرَّقَاشِيِّ عَنِ ابْنِ الصَّامِتِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نَزَلَ عَلَيْهِ الْوَحْيُ أَثَّرَ عَلَيْهِ
كَرَبَ لِذَلِكَ وَتَرَبَّدَ وَجْهُهُ عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَامُ فَأَنْزَلَ
اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذَاتَ يَوْمٍ فَلَمَّا سُرِّيَ عَنْهُ قَالَ خُذُوا عَنِّي
قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا الثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ وَالْبِكْرُ بِالْبِكْرِ
الثَّيِّبُ جَلْدُ مِائَةٍ وَرَجْمٌ بِالْحِجَارَةِ وَالْبِكْرُ جَلْدُ مِائَةٍ ثُمَّ
نَفْيُ سَنَةٍ [127]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] telah bercerita kepada kami
[Sa'id] dari [Qatadah] dari [Al Hasan] dari [Hiththon bin 'Abdullah Ar
Roqqosyi] dari [Ibnu Ash Shamit] berkata; bila turun wahyu kepada Nabi
Shallallahu'alaihiwasallam, beliau terbebani dengan berat dan muka beliau
memasam. Pada suatu hari Allah menurunkan ayat dan saat beliau bergembira
karenanya, beliau bersabda: "Ambillah ketetapan hukumku -nabi Shallallahu
'alaihi wa Salam mengucapkannya sebanyak tiga kali- sungguh Allah telah memberi
ketetapan hukuman bagi mereka, maksudnya zinanya seorang wanita dengan pria
yang telah kawin dan zinanya seorang jejaka dengan seorang gadis, wanita dan
pria yang telah kawin jika berzina dihukum seratus kali cambuk dan rajam,
jejaka dan gadis hukumannya seratus kali cambuk dan diasingkan selama satu
tahun." (HR. Ahmad: 21656)
3.11.8. Bertakwa
Kepada Allah Dari Perbuatan Zina
Syariat Islam
mengajarkan beberapa cara untuk menjaga diri; bertakwa dari perbuatan zina,
antara lain;
3.11.8.1. Hendaklah
Mereka Menahan Pandangan Dan Kemaluannya
Di dalam Al Quran
surat An Nur/ 24: 30,31 disebutkan perintah bagi orang beriman untuk
merendahkan pandangan;
قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ
أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ
اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ ﴿٣٠﴾ وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ
أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا
مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ
Artinya:
Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan
pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci
bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat".
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan
pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya,
kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. (QS. An Nur/ 24 : 30)
3.11.8.2. Janganlah
Kamu Mengikuti Satu Pandangan Dengan Pandangan Lainnya
Di dalam kitab
Musnad Ahmad hadits nomor 1298 dinyatakan 'Janganlah kamu mengikuti satu
pandangan dengan pandangan lainnya;
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا
حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ
إِبْرَاهِيمَ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ أَبِي الطُّفَيْلِ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا
تُتْبِعْ النَّظَرَ النَّظَرَ فَإِنَّ الْأُولَى لَكَ وَلَيْسَتْ لَكَ
الْأَخِيرَةُ [128]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq, telah menceritakan kepada kami Hammad
bin Salamah, dari Muhammad bin Ishaq, dari Muhammad bin Ibrahim, dari Salamah
bin Abi Al-Tufail, dari Ali radhiyallahu 'anhu. Ali berkata, "Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku, 'Janganlah kamu mengikuti satu
pandangan dengan pandangan lainnya, karena sesungguhnya bagimu pandangan
pertama dan tidak untukmu pandangan yang terakhir.'"
3.11.8.3. Menikahlah
Supaya Kamu Cenderung Dan Merasa Tenteram Kepadanya
Di dalam Al Quran
surat Ar-Rum/ 30: 21 digambarkan bahwa salah satu tujuan menikah adalah supaya
kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya;
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ
أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً
وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: Dan di
antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri
dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar-Rum/
30: 21)
3.11.8.4. Hendaklah
Ia Berpuasa, Karena Puasa Itu Dapat Menjadi Pengekang Baginya
Di dalam kitab Shahih
Al-Bukhari hadits nomor 5065 disebutkan perintah untuk berpuasa, karena puasa
itu dapat menjadi pengekang baginya;
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَامِرِ بْنِ
زُرَارَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ
إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ قَيْسٍ، قَالَ: كُنْتُ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ مَسْعُودٍ بِمِنًى، فَخَلَا بِهِ عُثْمَانُ فَجَلَسْتُ قَرِيبًا مِنْهُ،
فَقَالَ لَهُ عُثْمَانُ: هَلْ لَكَ أَنْ أُزَوِّجَكَ جَارِيَةً بِكْرًا
تُذَكِّرُكَ مِنْ نَفْسِكَ بَعْضَ مَا قَدْ مَضَى؟ فَلَمَّا رَأَى عَبْدُ اللَّهِ
أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ سِوَى هَذَا، أَشَارَ إِلَيَّ بِيَدِهِ، فَجِئْتُ
وَهُوَ يَقُولُ: لَئِنْ قُلْتَ ذَلِكَ، لَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ»: يَا
مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ،
فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ،
فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ [129] «
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Āmir bin Zurārah,ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami ‘Alī bin Mus-hir, dari
al-A‘mash, dari Ibrāhīm
(an-Nakha‘ī), dari ‘Alqamah bin
Qais, ia berkata: “Aku bersama ‘Abdullah bin
Mas‘ūd di Mina. Lalu ‘Utsmān bin
‘Affān datang menemuinya secara pribadi,
maka
aku duduk tidak jauh dari mereka. ‘Utsmān berkata kepadanya:
‘Maukah
aku nikahkan engkau dengan seorang gadis perawan,
agar
ia dapat mengingatkanmu kepada masa mudamu yang telah berlalu?’
Tatkala
‘Abdullah melihat bahwa ‘Utsmān tidak mempunyai maksud lain selain itu,
ia
memberi isyarat dengan tangannya kepadaku,
maka
aku pun datang mendekat, sementara beliau berkata:
‘Jika
engkau mengatakan demikian, sungguh Rasulullah ﷺ telah bersabda: Wahai para pemuda!
Barang
siapa di antara kalian mampu menikah, maka hendaklah ia menikah,
karena
pernikahan itu lebih dapat menundukkan pandangan
dan
lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa
belum mampu (menikah),maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat
menjadi pengekang baginya.”
3.11.8.5. Berdoa
Mohon Perlindungan Kepada Allah Dari Perbuatan Zina
Di dalam kitab
Sunan Tirmidzi hadits nomor disebutka doa diantarany amohon perlindungan kepada
Allah dari keburukan mani atau kemaluan;
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ، قَالَ:
حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ أَوْسٍ
، عَنْ بِلَالِ بْنِ يَحْيَى الْعَبْسِيِّ
، عَنْ شُتَيْرِ بْنِ شَكَلٍ ، عَنْ أَبِيهِ شَكَلِ بْنِ حُمَيْدٍ قَالَ:
«أَتَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، عَلِّمْنِي تَعَوُّذًا
أَتَعَوَّذُ بِهِ، قَالَ: فَأَخَذَ بِكَفِّي فَقَالَ: قُلِ اللَّهُمَّ إِنِّي
أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي»، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي،
وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي، يَعْنِي فَرْجَهُ. [130]
Artinya: Telah
meriwayatkan kepada kami Ahmad bin Mani’, ia berkata: telah meriwayatkan kepada
kami Abu Ahmad az-Zubairi, ia berkata: telah meriwayatkan kepada kami Sa‘d bin
Aws, dari Bilal bin Yahyā al-‘Absī, dari Shutair bin Syakal, dari ayahnya,
Syakal bin Ḥumaid, ia berkata:
“Aku datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata: Wahai
Rasulullah, ajarkanlah kepadaku doa perlindungan yang dapat aku baca untuk
berlindung. Maka beliau memegang telapak tanganku dan bersabda: Ucapkanlah: “Ya
Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pendengaranku, dari keburukan penglihatanku,
dari keburukan lisanku, dari keburukan hatiku, dan dari keburukan maniyyiku,’
yakni (keburukan) kemaluannya.”
Kesadaran untuk
menjaga diri dari segala perbuatan yang mengarah pada perbuatan zina dan
pornografi (mulut, mata, telinga, seluruh anggota badan) adalah bentuk
ketakwaan dari zina dan pornografi, dan ketakwaan ini merupakan bagian
ketakwaan kepada Allah dari Syahwat dan hawa.
Kata
ma’siyat terbentuk dari kata dasar ‘asha artinya menentang,
mendurhakai, melanggar, membangkang, tidak melaksanakan perintah.
Menurut
Imam al-Ghazālī, ma‘ṣiyat bukan sekadar
tindakan melanggar hukum syariat, tetapi merupakan penyakit hati yang merusak
cahaya batin (nūr al-qalb), menutup pintu hidayah, dan menimbulkan
kegelapan spiritual yang menghalangi seseorang dari makrifat kepada Allah.[131] Ia menjelaskan
dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn bahwa setiap dosa
melahirkan titik hitam dalam hati, yang jika terus berulang akan mengakibatkan
hati tertutup (rān), sehingga sulit merasakan manisnya ibadah dan taat.[132]
Sementara
itu, Ibn Qayyim al-Jawziyyah menegaskan bahwa maksiat adalah sebab utama
turunnya musibah batin maupun lahir, karena ia memutus hubungan hamba dari
penjagaan Allah dan menjadikan nafsu sebagai penguasa hati.[133] Ibn Qayyim
menekankan bahwa setiap dosa membawa akibat kausal—baik psikologis maupun
spiritual—seperti hilangnya keberkahan, lemahnya tekad (himmah),
dominasi syahwat, dan ketergantungan pada dunia yang menggelapkan fitrah
manusia.[134]
Berikut
akan dikemukakan beberapa ayat Al Quran dan hadits yang dapat digunakan untuk
memahami ma’siyat;
Di dalam Al Quran
surat Al Ahzab/ 33: 36 ditegaskan bahwa orang beriman tidak punya pilihan lain
kecuali taat, barangsiapa mendurhakai
(tidak taat) Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat
yang nyata;
وَمَا
كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن
يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا
Artinya: Dan
tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang
mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada
bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa
mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang
nyata.
3.12.2. Durhakalah
Adam Kepada Tuhan Dan Sesatlah Ia
Di dalam Al Quran
Surat Thaha/ 20/ 121 digambarkan ketika keduanya memakan dari buah pohon yang
dilarang, maka durhakalah (melanggar larangan) Adam kepada Tuhan dan sesatlah
ia;
فَأَكَلَا
مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن
وَرَقِ الْجَنَّةِ وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ
Artinya: Maka
keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya
aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di)
surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. (QS. Thaha/ 20/ 121)
3.12.3. Ma’siyat
Adalah Melanggar Ketentuan-Ketentuan Allah dan Rasul-Nya
Di dalam Al Quran
Surat An Nisa’/ 4: 14 ditegaskan bahwa ma’siyat; melanggar ketentuan Allah akan
dimasukkan ke dalam neraka;
وَمَن
يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا
فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ
Artinya: Dan
barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar
ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang
ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (QS. An Nisa’/ 4:
14)
3.12.4. Sami’na
Wa ‘Ashaina Adalah Seburuk-Buruk Perbuatan Yang Telah Diperintahkan Imanmu
Di dalam Al Quran
surat Al Baqarah/ 2: 93 digambarkan ketika bani Israil diambil perjanjian di
bawah bukit Tursina untuk memegang erat perjanjian dan mendengar (taat), tetapi
mereka menjawab: “kami dengar dan kami tidak taati” , maka itulah seburuk-buruk
perbuatan yang telah diperintahkan imanmu;
وَإِذْ
أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم
بِقُوَّةٍ وَاسْمَعُوا قَالُوا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُوا فِي
قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُم بِهِ إِيمَانُكُمْ
إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ
Artinya: Dan
(ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit
(Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa
yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!" Mereka menjawab: "Kami
mendengar tetapi tidak mentaati". Dan telah diresapkan ke dalam hati
mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah:
"Amat jahat perbuatan yang telah diperintahkan imanmu kepadamu jika betul
kamu beriman (kepada Taurat). (QS. Al Baqarah/ 2: 93)
3.12.5. Jangan
Terlambat Menyadari Kedurhakaan Dan Berbuat Kerusakan
Di dalam Al Quran
Surat Yunus/ 10: 91 digambarkan ketika Firaun ditenggelamkan ke laut baru sadar
bahwa dirinya telah lama durhaka dan berbuat kerusakan;
آلْآنَ
وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ
Artinya: Apakah
sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak
dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Yunus/
10: 91)
Di dalam kitab
Musnad Ahmad hadits nomor 16673, ditegaskan bahwa Jika kalian melihat Allah
memberikan dunia kepada seorang hamba pelaku maksiat dengan sesuatu yang ia
sukai, maka sesungguhnya itu hanyalah merupakan istidraj;
حَدَّثَنَا
يَحْيَى بْنُ غَيْلَانَ قَالَ حَدَّثَنَا رِشْدِينُ يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ أَبُو
الْحَجَّاجِ الْمَهْرِيُّ عَنْ حَرْمَلَةَ بْنِ عِمْرَانَ التُّجِيبِيِّ عَنْ
عُقْبَةَ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ
الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ثُمَّ
تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( فَلَمَّا
نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى
إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ ) [135]
Artinya: Telah meneritakan kepada kami Yahya bin Ghailan dia berkata, Telah meneritakan kepada kami Risydin -yakni Ibnu Sa'd Abul Hajjaj Al Mahari- dari Harmalah bin Imran At Tujibi dari Uqbah bin Muslim dari Uqbah bin Amir dari Nabi ﷺ beliau bersabda: "Jika kalian melihat Allah memberikan dunia kepada seorang hamba pelaku maksiat dengan sesuatu yang ia sukai, maka sesungguhnya itu hanyalah merupakan istidraj." Kemudian Rasulullah ﷺ, membacakan ayat: '(Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang Telah diberikan kepada mereka, kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang Telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa) '. (Qs. Al An'am: 44).
Siapa
Yang Allah Ta’ala Pindahkan Dari Kerendahan Ma’siyat Kepada Kemulyaan Taqwa,
Maka Ia Telah Diberi Kekayaan Tanpa Harta
Di
dalam kitab Hilyatul Aulia hadits nomor 4143 dinyatakan Siapa yang Allah Ta’ala
pindahkan dari kerendahan ma’siyat kepada kemulyaan taqwa, maka ia telah diberi
kekayaan tanpa harta;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ بْنِ سَلْمٍ،
ثَنَا الْقَاسِمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ
بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عُمَرَ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، رَضِيَ اللهُ
تَعَالَى عَنْهُمْ حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ
جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ
الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ
تَعَالَى عَنْهُمْ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«مَنْ نَقَلَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ ذُلِّ الْمَعَاصِي إِلَى عِزِّ
التَّقْوَى، أَغْنَاهُ بِلَا مَالٍ، وَأَعَزَّهُ بِلَا عَشِيرَةٍ،
وَآنَسَهُ بِلَا أَنِيسٍ، وَمَنْ خَافَ اللهَ أَخَافَ اللهُ تَعَالَى مِنْهُ
كُلَّ شَيْءٍ، وَمَنْ لَمْ يَخْفِ اللهَ أَخَافَهُ اللهُ تَعَالَى مِنْ كُلِّ
شَيْءٍ، وَمَنْ رَضِيَ مِنَ اللهِ تَعَالَى بِالْيَسِيرِ مِنَ الرِّزْقِ رَضِيَ
اللهُ تَعَالَى عَنْهُ بِالْيَسِيرِ مِنَ الْعَمَلِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَحِي مِنْ
طَلَبِ الْمَعِيشَةِ خَفَّتْ مُؤْنَتُهُ، وَرَخَى بَالُهُ، وَنَعِمَ عِيَالُهُ،
وَمَنْ زَهِدَ فِي الدُّنْيَا ثَبَّتَ اللهُ الْحِكْمَةَ فِي قَلْبِهِ، وَأَنْطَقَ
اللهُ بِهَا لِسَانَهُ، وَأَخْرَجَهُ مِنَ الدُّنْيَا سَالِمًا إِلَى دَارِ
الْقَرَارِ». هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَمْ يَرْوِهِ مَرْفُوعًا مُسْنَدًا إِلَّا
الْعِتْرَةُ الطَّيِّبَةُ، خَلْفُهَا عَنْ سَلَفِهَا، وَمَا كَتَبْنَاهُ إِلَّا
عَنْ هَذَا الشَّيْخِ [136]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Umar ibnu Salim, telah
menceritakan kepada kami Al Qasim ibnu Muhammad ibnu Ja’far ibnu Muhammad ibnu
Abdillah ibnu Muhammad ibnu Umar ibnu Ali ibnu Abi Thalib RA, elah menceritakan
kepadaku Ayahku dari Ayahnya dari Abi Abdillah Ja’far ibnu Muhamma ibnu Ali
dari Ayahnya ibnu Al Husain ibnu Ali, dari Amirul Mu’minin Ali RA berkata:
Rasulullah SAW bersabda: Siapa yang Allah Ta’ala
pindahkan dari kerendahan ma’siyat kepada kemulyaan taqwa, maka ia telah diberi
kekayaan tanpa harta, memulyakannya tanpa kekerabatan, dan
menjamunya tanpa jamuan, dan siapa yang takut kepada Allah, Allah Ta’ala
menjadikan takut darinya segala sesuatu, dan barang siapa yang tidak takut
kepada Allah, Allah Ta’ala menjadikannya takut dari segala sesuatu, dan siapa
yang ridha dengan kemudahan rizki dari Allah, Allah ridha kepadanya dengan
kemudahan amal, dan siapa yang tidak malu dari menuntut penghidupan akan
diringankan .., dan mengendurkan pikirannya, dan diringankan keluhannya, dan
siapa yang zuhud di dunia, Allah Allah menetapkan hikmah di dalam qalbunya, dan
Allah berbicara menggunkan lisannya, dan mengeluarkannya dari dunia dengan
selamat menuju rumah yang kekal. (Abu Nu’aim Hilyatul Auliya’: 4143)
Saat
ini ma’siyat maknanya mengalami penyempitan, ma’siyat sering difahami hanya
sebagai perbuatan zina, tempat ma’siyat berarti tempat perzinahan, padahal
makna ma’siyat mencakup semua kedurhakan kepada Allah dan Rasul-Nya, yaitu
tidak menjalankan perintahnya dan justru melakukan larangannya, yang disebabkan
karena keengganan atau kemalasannya, dan lebih suka mengikuti kemauan dan
kesenangannya hawa nafsunya sendiri.
Kesadaran
untuk menjaga diri agar tidak berbuat ma’siyat; tidak menjalankan perintah-Nya
dan melakukan larangan-Nya, merupakan bentuk ketakwaan dari ma’siyat, yang
merupakan bagian ketakwaan dari syahwat dan hawa.
Dalam
Bahasa arab khamr berarti minuman keras, Menurut Imam al-Ghazālī, khamr
merupakan “induk segala keburukan” (umm al-khabā’ith) karena sifatnya yang
menghancurkan akal, yaitu alat utama manusia untuk mengenal Allah dan
membedakan antara yang benar dan salah. [137] Dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, al-Ghazālī menegaskan bahwa bahaya terbesar khamr
bukan hanya pada mabuk yang ditimbulkan, tetapi pada kerusakan integral
terhadap fungsi akal, hilangnya kontrol diri, dan terbukanya pintu bagi segala
bentuk maksiat lain. [138] Ia menilai bahwa
setiap zat yang menghilangkan kejernihan akal, meskipun bentuknya berbeda dari
minuman anggur klasik, memiliki hukum yang sama karena illat-nya adalah
hilangnya kemampuan berpikir. [139]
Sementara
itu, Ibn Qayyim al-Jawziyyah menekankan pendekatan kausalitas moral dan
spiritual dalam menjelaskan bahaya khamr. Dalam Zād al-Ma‘ād, ia menyatakan
bahwa khamr adalah musuh akal dan iman sekaligus, karena memutuskan hubungan
antara hati dan Allah dengan cara menutupi cahaya hidayah, menguatkan dominasi
syahwat, serta melemahkan tekad spiritual (himmah). [140] Dalam al-Jawāb
al-Kāfī, Ibn Qayyim juga menjelaskan bahwa khamr termasuk dalam kategori “pintu
maksiat terbesar,” sebab mabuk yang dihasilkannya mendorong seseorang kepada
zina, pembunuhan, kebohongan, dan kerusakan moral lainnya, menjadikannya salah
satu sumber kehancuran sosial. [141]
Para
ulama klasik dan kontemporer sepakat bahwa segala zat yang memabukkan, merusak
akal, atau menghilangkan kesadaran termasuk dalam kategori khamr, meskipun
tidak berbentuk minuman anggur sebagaimana pada masa awal Islam. Kaidah ini
merujuk kepada definisi khamr yang dikemukakan oleh para ulama besar, seperti
Imam al-Nawawī yang menegaskan bahwa “khamr adalah setiap zat yang menutupi
akal, tanpa membedakan bentuk, jenis, atau bahan pembuatannya.” [142]
Pandangan
ini juga dipertegas oleh Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī
yang menyatakan bahwa patokan hukum khamr adalah sifat memabukkan
(al-iskār)—bukan zatnya—sehingga segala jenis narkotika, ganja, dan obat-obatan
psikotropika masuk dalam hukum yang sama. [143] Sedangkan di
Indonesia dikenal dengan islilah Narkoba; Narjotika dan Obat-obat terlarang.
Berikut
dikemukakan beberapa ayat Al Quran dan Hadits tentang keharaman dan keburukan
khamr dan narkoba;
3.13.1. Dosa
Keduanya Lebih Besar Dari Manfaatnya
Di dalam Al Quran
surat Al-Baqarah/ 2: 219 dinyatakan bahwa Pada keduanya terdapat dosa yang
besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari
manfaatnya
يَسْأَلُونَكَ
عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ
وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ
الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ
تَتَفَكَّرُونَ
Artinya: Mereka
bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya
terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa
keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa
yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan".
Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (QS.
Al-Baqarah/ 2: 219)
3.13.2. Janganlah
Kamu Shalat, Sedang Kamu Dalam Keadaan Mabuk
Di dalam Al Quran
surat An-Nisa'/ 4: 43 disebutkan larangan janganlah kamu shalat, sedang kamu
dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan;
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى
تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى
تَغْتَسِلُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ
مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً
فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ
اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا
Artinya: Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang
kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan,
(jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali
sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam
musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan,
kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang
baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi
Maha Pengampun. (QS. An-Nisa'/ 4: 43)
3.13.3. Sesungguhnya
Khamar, …, Adalah Termasuk Perbuatan Syaitan.
Di dalam Al Quran
surat Al-Maidah/ 5: 90 ditegaskan bahwa sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi,
(berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk
perbuatan syaitan.;
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ
وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُونَ
Artinya: Hai
orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban
untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan.
Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maidah/
5: 90)
3.13.4. Khamr
Adalah Induk Segala Perbuatan Keji
Di dalam kitab Al
Mu’jam Al Kabir li al-Thabarani Hadits nomor 11372, dinyatakan bahwa Khamr
(minuman memabukkan) adalah induk segala perbuatan keji, dan termasuk dosa
besar yang paling besar;
حَدَّثَنَا
أَبُو الزِّنْباعِ رَوْحُ بْنُ الْفَرَجِ، ثنا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، ثنا
رِشْدِينُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ أَبِي صَخْرٍ، عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ أَبِي
أُمَيَّةَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «الْخَمْرُ أُمُّ الْفَوَاحِشِ، وَأَكْبَرُ
الْكَبَائِرِ مَنْ شَرِبَهَا وَقَعَ عَلَى أُمِّهِ وَخَالَتِهِ وَعَمَّتِهِ»[144]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu az-Zinba‘ Rūḥ bin al-Faraj, telah menceritakan kepada
kami Yahya bin Bukair, telah menceritakan kepada kami Rasydīn bin Sa‘d, dari
Abu Shakhr, dari ‘Abd al-Karīm Abu Umayyah, dari ‘Athā’ bin Abi Rabāḥ, dari Ibnu ‘Abbās ra., ia berkata: Aku
mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Khamr (minuman
memabukkan) adalah induk segala perbuatan keji, dan termasuk dosa besar yang
paling besar. Barang siapa meminumnya, niscaya (dalam keadaan mabuk) ia bisa sampai
berbuat zina dengan ibunya, bibinya dari pihak ibu, dan bibinya dari pihak
ayah.”
3.13.5. Setiap
Yang Memabukkan Adalah Khamr
Di dalam kitab Shahih
Muslim hadits nomor 75 dinyatakan
bahwa Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap khamr adalah haram;
وحَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا يَحْيَى
(وَهُوَ الْقَطَّانُ) عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ. أَخْبَرَنَا نَافِعٌ عَنْ ابْنِ
عُمَرَ قَالَ: (وَلَا أَعْلَمُهُ إِلَّا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ)
قَالَ: (كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ. وَكُلُّ خمر حرام) [145]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsannā dan Muhammad bin Ḥātim, keduanya berkata: Telah menceritakan
kepada kami Yaḥyā (yakni Yaḥyā al-Qaṭṭān), dari ‘Ubaidullāh, telah mengabarkan
kepada kami Nāfi‘, dari Ibnu ‘Umar —dan aku (Ibnu ‘Umar) tidak mengetahui hadis
ini kecuali dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan
setiap khamr adalah haram.”
3.13.6. Siapa
Minum Khamar Di Dunia Dan Tidak Bertaubat Maka Ia Akan Diharamkan Di Akhirat
Sedangkan di dalam
kitab Shahih Muslim hadits nomor
77 dinyatakan bahwa Barang siapa minum khamar di dunia, lalu ia tidak bertaubat
darinya, maka ia akan diharamkannya di akhirat;
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ
قَعْنَبٍ. حَدَّثَنَا مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ. قَالَ: (مَنْ
شَرِبَ الْخَمْرَ فِي الدُّنْيَا فَلَمْ يَتُبْ مِنْهَا، حُرِمَهَا فِي الْآخِرَةِ
فَلَمْ يُسْقَهَا) قِيلَ لِمَالِكٍ: رَفَعَهُ؟ قَالَ: نَعَمْ.[146]
Artinya: Telah
meriwayatkan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah bin Qa‘nab. Ia berkata: telah
meriwayatkan kepada kami Mālik, dari Nāfi‘,dari Ibnu ‘Umar. Ia (Ibnu ‘Umar)
berkata: “Barang siapa minum khamar di dunia, lalu ia
tidak bertaubat darinya, maka ia akan diharamkan (tidak diberi minum) khamar di
akhirat.” Kemudian ditanyakan kepada Imam Mālik: “Apakah hadis ini marfū‘
(disandarkan kepada Nabi ﷺ)?” Beliau menjawab:“Ya.”
Berdasar
ayat dan hadits yang telah dikemukakan, dapat ditarik pemahaman bahwa meminum
khamr hukumnya haram, termasuk hukum turunannya, yaitu; membuatnya, menjualnya,
membelinya, menyajikannya, menyediakannya. Demikian juga hukum benda yang
memiliki sifat yang sama dengan hamr, yaitu memabukkan, menghilangkan akal
pikiran, meskipun wujudnya berbeda, seperti; narkotika, heroin, psikotropika,
ekstasi dll.
Maka
menjaga diri dari mengkonsumsi segala bentuk benda yang dapat memabukkan yang
dilakukan karena Allah adalah bentuk ketaqwaan kepada Allah dari khamr dan
narkoba, yang merupakan ketakwaan dari syahwat dan hawa.
4.
Takwa
Dari Syahwat Keinginan Hawa Nafsu
Akhirnya di sini perlu dirumuskan bahwa takwa dari syahwat dan hawa
adalah kesadaran qalbu untuk menjaga diri dari segala perbuatan yang
diakibatkan dari dorongan syahwat dan hawa yang dilarang, serta diikuti
kesadaran diri untuk mengakui kesalahan diri ketika dirinya melakukan
kesalahan-kesalahan yang didorong syahwat dan hawa, kemudian dengan disertai
kesadaran penuh untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah atas kesalahan
syahwat dan hawa yang dilakukan.
Di sini akan dikemukakan beberapa ayat Al Quran dan Hadits yang dapat
digunkan untuk meningkatkan ketakwaan dari Syahwat dan Hawa;
Di dalam Al Quran surat An-Nisa'/ 4: 77 perkataan yang harus diucapkan/
diyakini bahwa Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih
baik untuk orang-orang yang bertakwa;
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا
أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ
عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ
اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً وَقَالُوا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا
الْقِتَالَ لَوْلَا أَخَّرْتَنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا
قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا
Artinya:
Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka:
"Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah
zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian
dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya
kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: "Ya
Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau
tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu
lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan
akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan
dianiaya sedikitpun. (QS. An-Nisa'/ 4: 77)
4.2. Bertakwalah
Kepada Allah Dan Carilah Yang Baik Dalam Mencari Dunia
Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah Hadits nomor 2144 disebutkan perintah
untuk bertakwalah kepada Allah dan carilah yang baik dalam mencari dunia
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى
الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِي
الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي
الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ
أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ
وَدَعُوا مَا حَرُمَ [147]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mushaffa Al Himshi berkata: telah
menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim dari Ibnu Juraij dari Abu Zubair
dari Jabir bin Abdullah ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: "Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan carilah yang
baik dalam mencari dunia. Sesungguhnya sebuah jiwa tidak akan mati hingga
terpenuhi rizkinya meski tersendat-sendat. Bertakwalah kepada Allah, carilah
yang baik dalam mencari dunia, ambilah yang halal dan tinggalkan yang
haram."
4.3. Melakukan
Pekerjaan Dengan Bertakwa Kepada Allah, Baik Dan Jujur
Di dalam kitab
Sunan Tirmidzi hadits nomor 1131 dinyatakan bahwa Sesungguhnya para pedagang
akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai orang-orang yang berdosa kecuali
yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik serta jujur;
حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ يَحْيَى بْنُ خَلَفٍ
حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ
خُثَيْمٍ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ رِفَاعَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ
جَدِّهِ أَنَّهُ خَرَجَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى
الْمُصَلَّى فَرَأَى النَّاسَ يَتَبَايَعُونَ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ
فَاسْتَجَابُوا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعُوا
أَعْنَاقَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ إِلَيْهِ فَقَالَ إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلَّا مَنْ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ قَالَ
أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَيُقَالُ إِسْمَعِيلُ بْنُ عُبَيْدِ
اللَّهِ بْنِ رِفَاعَةَ أَيْضًا [148]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu Salamah Yahya bin Khalaf telah menceritakan kepada
kami Bisyr bin Al Mufadhdhal dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim dari Isma'il
bin Ubaid bin Rifa'ah dari ayahnya dari kakeknya bahwa ia pernah keluar bersama
Nabi ﷺ menuju tempat
shalat, lalu beliau melihat orang-orang melakukan transaksi jual beli, beliau
pun bersabda: "Wahai para pedagang." Lalu mereka menyambut seruan
Rasulullah ﷺ dan mengangkat
leher dan pandangan mereka kepada beliau, lalu beliau bersabda:
"Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai
orang-orang yang berdosa kecuali yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik serta
jujur." Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih. Isma'il bin Ubaid bin
Rifa'ah dipanggil juga dengan Isma'il bin Ubaidullah bin Rifa'ah.
4.4. Bertaubat
dari Mengikuti Syahwat
Di dalam Al Quran
surat An-Nisa'/ 4: 27 dijelaskan bahwa Allah menghendaki hamba-Nya untuk
taubat; mengikuti jalan Allah, sedangkan orang yang mengikuti syahwat supaya
berpaling sejauh-jauhnya;
وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ
وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا
Artinya: Dan
Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya
bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). (QS. An-Nisa'/
4: 27)
4.5. Harus
(Berpegangan) Terhadap Mata Hatimu Dan Tinggalkan Orang-Orang Awam
Di dalam kitab
Sunan Tirmidzi hadis nomor 2984 disebutkan bahwa engkau harus (berpegangan)
terhadap mata hatimu dan tinggalkan orang-orang awam;
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ يَعْقُوبَ
الطَّالَقَانِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا
عُتْبَةُ بْنُ أَبِي حَكِيمٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ جَارِيَةَ اللَّخْمِيُّ عَنْ
أَبِي أُمَيَّةَ الشَّعْبَانِيِّ قَالَ أَتَيْتُ أَبَا ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيَّ
فَقُلْتُ لَهُ كَيْفَ تَصْنَعُ بِهَذِهِ الْآيَةِ قَالَ أَيَّةُ آيَةٍ قُلْتُ
قَوْلُهُ تَعَالَى { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا
يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ } قَالَ أَمَا وَاللَّهِ لَقَدْ
سَأَلْتَ عَنْهَا خَبِيرًا سَأَلْتُ عَنْهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَلْ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ
الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا
مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ
نَفْسِكَ وَدَعْ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ
فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ
خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ
وَزَادَنِي غَيْرُ عُتْبَةَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنَّا
أَوْ مِنْهُمْ قَالَ بَلْ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا
حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ [149]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Sa'id bin Ya'qub Ath Thalaqani] telah menceritakan
kepada kami [Abdullah bin Al Mubarak] telah mengabarkan kepada kami ['Utbah bin
Abu Hakim] telah menceritakan kepada kami ['Amru bin Jariyah Al Lakhmi] dari
[Abu Umaiyah Asy Sya'bani] ia berkata; Aku menemui [Abu Tsa'labah Al Khusyani]
lalu aku berkata padanya; "Apa yang kamu perbuat dengan ayat ini?" ia
bertanya; "Ayat yang mana?" Aku menjelaskan; Firman Allah Ta'ala Hai
orang-orang yang beriman, jagalah dirimu, tiadalah orang yang sesat itu akan
memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. QS Al Ma`idah:
105, Abu Tsa'labah berkata; "Ingatlah, demi Allah, kamu bertanya dengan
orang yang tahu, aku pernah menanyakannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam, lalu beliau menjawab: "Akan tetapi, perintahkanlah kebaikan dan
cegahlah kemungkaran hingga kamu melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu
yang diikuti, kehidupan dunia lebih diprioritaskan dan kekaguman setiap orang
dengan pendapatnya, engkau harus (berpegangan) terhadap mata hatimu dan
tinggalkan orang-orang awam, karena dibalik kalian akan ada suatu masa dimana
kesabaran saat itu laksana memegang bara api, orang yang beramal saat itu sama
seperti pahala limapuluh orang yang melakukan seperti amalan kalian."
Abdullah bin Al Mubarak berkata; Selain 'Utbah menambahiku: Dikatakan;
"Wahai Rasulullah, pahala limapuluh orang dari kami atau dari
mereka?" Beliau menjawab: "Bahkan pahala limapuluh orang dari
kalian." Abu Isa berkata; Hadis ini hasan gharib.
Di dalam kitab Shahih Ibnu Hiban nomor 145 'Puasa adalah milik-Ku dan
Aku yang akan membalasnya. Dia meninggalkan makan, minum, dan keinginannya
karena-Ku. Aku yang akan membalasnya;
أَخْبَرَنَا أَبُو عَرُوبَةَ الْحُسَيْنُ بْنُ
مُحَمَّدٍ، بِحَرَّانَ، حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ
بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ سُلَيْمَانَ، عَنْ ذَكْوَانَ، عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «كُلُّ
حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا ابْنُ آدَمَ بِعَشْرِ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ
ضِعْفٍ، يَقُولُ اللَّهُ: إِلَّا الصَّوْمَ فَهُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ،
يَدَعُ الطَّعَامَ مِنْ أَجْلِي، وَالشَّرَابَ مِنْ أَجْلِي، وَشَهْوَتَهُ مِنْ
أَجْلِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ حِينَ
يُفْطِرُ، وَفَرْحَةٌ حِينَ يَلْقَى رَبَّهُ، وَلَخُلُوفِ فَمِ الصَّائِمِ حِينَ
يَخْلُفُ مِنَ الطَّعَامِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ [150] »
Artinya: Abu
'Aroobah Al-Husain bin Muhammad di Harran memberitakan kepada kami, Bishr bin
Khalid memberitakan kepada kami, Muhammad bin Ja'far memberitakan kepada kami,
dari Syu'bah, dari Sulaiman, dari Zakwan, dari Abu Hurairah, dari Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Setiap kebaikan yang dilakukan
oleh anak Adam akan dilipatgandakan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali
lipat, kecuali puasa, Allah berfirman: 'Puasa adalah milik-Ku dan Aku yang akan
membalasnya. Dia meninggalkan makan, minum, dan keinginannya karena-Ku. Aku
yang akan membalasnya.' Bagi orang yang berpuasa, ada dua kebahagiaan:
kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan
Tuhannya. Dan sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah
daripada bau minyak kesturi."
Di dalam kitab
Sunan Tirmidzi hadis nomor 3591 disebutkan doa Ya Allah! Aku berlindung
kepada-Mu dari berbagai kemungkaran akhlak, amal maupun hawa nafsu;
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ حَدَّثَنَا
أَحْمَدُ بْنُ بَشِيرٍ وَأَبُو أُسَامَةَ عَنْ مِسْعَرٍ عَنْ زِيَادِ بْنِ
عِلَاقَةَ عَنْ عَمِّهِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ
وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ
وَعَمُّ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ هُوَ قُطْبَةُ بْنُ مَالِكٍ صَاحِبُ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [151]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Sufyan bin Waki'] telah menceritakan kepada kami
[Ahmad bin Basyir] dan [Abu Usamah] dari [Mis'ar] dari [Ziyad bin 'Ilaqah] dari
[pamannya] dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengucapkan: Ya
Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari berbagai kemungkaran akhlak, amal maupun
hawa nafsu." Abu Isa berkata; "Hadis ini derajatnya hasan
gharib." Sedangkan pamannya Ziyad bin 'Ilaqah bernama Quthbah bin Malik
seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam."
Di dalam kitab
Musnad Ahmad hadis nomor 22021 disebutkan perintah untuk berlindunglah kepada
Allah dari ketamakan yang mengarahkan kepada watak, dari ketamakan yang
mengarahkan pada sesuatu yang tidak diinginkan dan dari ketamakan yang tidak
dimaui;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَامِرٍ الْأَسْلَمِيُّ عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ قَالَ
لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ
مِنْ طَمَعٍ يَهْدِي إِلَى طَبْعٍ وَمِنْ طَمَعٍ يَهْدِي إِلَى غَيْرِ مَطْمَعٍ
وَمِنْ طَمَعٍ حَيْثُ لَا طَمَعَ [152]
Artinya: Telah
bercerita kepada kami [Muhammad bin Bisyr] telah bercerita kepada kami
['Abdullah bin 'Amir Al Aslami] dari [Al Walid bin 'Abdur Rahman] dari [Jubair
bin Nufair] dari [Mu'adz bin Jabal], ia berkata; Rasulullah
Shallallahu'alaihiwasallam bersabda; "Berlindunglah kepada Allah dari
ketamakan yang mengarahkan kepada watak, dari ketamakan yang mengarahkan pada
sesuatu yang tidak diinginkan dan dari ketamakan yang tidak selayaknya
ditamaki."
Di dalam kitab
Musnad Ahmad hadis nomor 22128 disebutkan perintah untuk berlindung kepada
Allah dari ketamakan yang menjerumuskan kepada watak, ketamakan yang tiada
habisnya, dan ketamakan yang tidak ada obatnya
حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي أَبِي
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَامِرٍ
الْأَسْلَمِيُّ عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ
نُفَيْرٍ عَنْ مُعَاذٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ طَمَعٍ يَهْدِي إِلَى طَبْعٍ وَمِنْ طَمَعٍ فِي
غَيْرِ مَطْمَعٍ وَمِنْ طَمَعٍ حَيْثُ لَا مَطْمَعَ [153]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami 'Abdullah telah menceritakan kepadaku ayahku. Telah
menceritakan kepada kami ['Utsman bin 'Umar] telah menceritakan kepada kami
['Abdullah bin 'Amir Al Aslami] dari [Al Walid bin 'Abdur Rahman] dari [Jubair
bin Nufair] dari [Mu'adz bin Jabal] bahwa Rasulullah Shallallahu
'alaihiWasallam bersabda; "Berlindunglah kepada Allah dari ketamakan yang
menjerumuskan kepada watak, ketamakan yang tiada habisnya, dan ketamakan yang
tidak ada obatnya.'
4.10. Berdoa
Mohon Perlindungan Keburukan Telinga, Mata, Lisan, Hati, Dan Kemaluan
Di
dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 3414 Ya Allah, aku berlindung
kepadaMu dari keburukan telingaku, dari keburukan mataku, dari keburukan
lisanku, dari keburukan hatiku, dan dari keburukan kemaluanku;
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا
أَبُو أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ قَالَ حَدَثَنِي سَعْدُ بْنُ أَوْسٍ عَنْ بِلَالِ
بْنِ يَحْيَى الْعَبْسِيِّ عَنْ شُتَيْرِ بْنِ شَكَلٍ عَنْ أَبِيهِ شَكَلِ بْنِ
حُمَيْدٍ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ
يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي تَعَوُّذًا أَتَعَوَّذُ بِهِ قَالَ فَأَخَذَ
بِكَتِفِي فَقَالَ قُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي وَمِنْ
شَرِّ بَصَرِي وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي
يَعْنِي فَرْجَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ
لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ سَعْدِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ
بِلَالِ بْنِ يَحْيَى [154]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani' Telah menceritakan kepada kami Abu
Ahmad Az Zubairi ia berkata; telah menceritakan kepadaku Sa'd bin Aus dari
Bilal bin Yahya Al 'Absi dari Syutair bin Syakal dari ayahnya yaitu Syakal bin
Humaid ia berkata; saya datang kepada Nabi ﷺ dan berkata; wahai Rasulullah, ajarkan
kepadaku perlindungan yang aku gunakan untuk berlindung. Syakal berkata;
kemudian beliau memegang pundakku dan berkata: "Ucapkanlah; Ya Allah, aku
berlindung kepadaMu dari keburukan telingaku, dari keburukan mataku, dari
keburukan lisanku, dari keburukan hatiku, dan dari keburukan kemaluanku. Abu
Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan gharib, kami tidak mengetahuinya
kecuali dari jalur ini, dari hadits Sa'd bin Aus dari Bilal bin Yahya.
Di dalam kitab
Musnad Ahmad hadits nomor 19992 disebutkan doa Ya Allah, peliharalah aku dari
kejahatan diriku sendiri dan teguhkanlah aku dalam mengarahkan urusanku;
حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ عَنْ
مَنْصُورٍ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَوْ
غَيْرِهِ أَنَّ حُصَيْنًا أَوْ حَصِينًا أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ لَعَبْدُ الْمُطَّلِبِ كَانَ خَيْرًا
لِقَوْمِهِ مِنْكَ كَانَ يُطْعِمُهُمْ الْكَبِدَ وَالسَّنَامَ وَأَنْتَ
تَنْحَرُهُمْ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا
شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ فَقَالَ لَهُ مَا تَأْمُرُنِي أَنْ أَقُولَ قَالَ قُلْ
اللَّهُمَّ قِنِي شَرَّ نَفْسِي وَاعْزِمْ لِي عَلَى أَرْشَدِ أَمْرِي قَالَ
فَانْطَلَقَ فَأَسْلَمَ الرَّجُلُ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ إِنِّي أَتَيْتُكَ فَقُلْتَ
لِي قُلْ اللَّهُمَّ قِنِي شَرَّ نَفْسِي وَاعْزِمْ لِي عَلَى أَرْشَدِ أَمْرِي
فَمَا أَقُولُ الْآنَ قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا أَسْرَرْتُ وَمَا
أَعْلَنْتُ وَمَا أَخْطَأْتُ وَمَا عَمَدْتُ وَمَا عَلِمْتُ وَمَا جَهِلْتُ [155]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari
Mansur, dari Rib'i bin Hiraasy, dari Imran bin Husain atau yang lainnya, bahwa
Husain atau Haseen datang kepada Rasulullah ﷺ dan berkata, "Wahai Muhammad, Abu
al-Muttalib itu lebih baik bagi kaumnya darimu. Dia biasa memberi mereka daging
hati dan lemak, sedangkan kamu menyembelih mereka." Rasulullah ﷺ menjawab, "Allah tidak menghendaki
aku mengucapkan sesuatu yang lain." Kemudian Husain atau Haseen bertanya,
"Apa yang engkau perintahkan aku ucapkan?" Rasulullah ﷺ menjawab, "Katakanlah, 'Ya Allah,
peliharalah aku dari kejahatan diriku sendiri dan teguhkanlah aku dalam
mengarahkan urusanku.'" Kemudian dia pergi dan orang itu masuk Islam.
Kemudian dia kembali dan berkata, "Aku datang kepada mu, kemudian engkau
katakan padaku, 'Katakanlah, 'Ya Allah, peliharalah aku dari kejahatan diriku
sendiri dan teguhkanlah aku dalam mengarahkan urusanku.'' Apa yang harus aku
katakan sekarang?" Rasulullah ﷺ menjawab, "Katakanlah,
'Ya Allah, ampunilah aku atas apa yang aku sembunyikan dan apa yang aku
tunjukkan, dan atas kesalahan yang aku lakukan dengan sengaja atau tanpa
sengaja, atas apa yang aku ketahui dan apa yang aku tidak ketahui.'"
Doa Mohon Perlindungan Dari Keburukan Akhlaq, Amal Dan Hawa Nafsu
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ
الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ
Ya
Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari berbagai kemungkaran akhlak, amal maupun
hawa nafsu.(HR. Tirmidzi: 3591)
[1] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, juz 3
(Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1405 H/1985 M), h. 54.
[2] Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Ighāthat al-Lahfān min Maṣāyid
asy-Syaithān, juz 1 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1423 H/2002 M), h. 69.
[3] Malik Ibn Anas, Muwatha’ al-Imam malik,
Muassasah al-Risalah, Beirut, 1991, Jilid 1 halaman 224, Hadits nomor 575.
[4] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, Maktabah Ibnu
Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 7, Halaman 281, Hadits nomor 7141.
[5] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal,
Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 33, Halaman 33.Hadits nomor 19787.
[6] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 5, Halaman 94, Hadits nomor 4042.
[7] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal,
Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 11, Halaman 312.Hadits nomor 6708.
[8] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-
Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 102, Hadits nomor 6487.
[9] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M,
Jilid 4 , Halaman 2098, Hadits nomor 99.
[10] Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 3 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah,
t.t.), 212.
[11] Ibid, halaman 210–213.
[12] Ibid, halaman 214.
[13] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, al-Fawā’id (Beirut: Dār al-Kutub
al-‘Ilmiyyah, 1998), 87.
[14] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Ighāthat al-Lahfān, Juz 1 (Riyadh: Dār
‘Ālam al-Fawā’id, 2012), 45–47.
[15] Ibid, Juz 2, hlm. 162–164.
[16] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al
Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 4, Halaman 111, Hadits nomor 4297.
[17] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 89, Hadits nomor 6420.
[18] Abu Nu’aim Ahmad ibn Abdullah Al-Ashbahani, Hilyatul
Auliya’ Wa Thabaqatul Ashfiya’, Mathba’ah Sa’adah, Mesir, 1974. Jilid 1
Halaman 76.
[19] Abd as-Shamad al-Darimi, Sunan Abi Daud, Dar
al-Mughni li al-Nasyr wa al-Tauzi’, Saudi Arabia, 2000, Jilid, 1, Halaman 355,
Hadits nomor 344.
[20] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam
Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 17, Halaman 84.Hadits
nomor 17140.
[21] Abu al-Qasim Sulaiman ibn Ahmad al-Thabarani,
al-Mu’jam al-Ausath, Dar al-Haramain, Kairo, 1995, Jilid, 1, Halaman 5, Hadits
nomor 186.
[22] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir
li-Thabarani, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 22, Halaman 301,
Hadits nomor 765.
[23] Ibid, Jilid 10, Halaman 162, Hadits nomor 10328.
[24] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam
Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 32, Halaman 472.Hadits
nomor 19698.
[25] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud,
Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 1, Halaman 123, Hadits nomor 448.
[26] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al
‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman 2272, Hadits nomor 2956.
[27] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam
Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 11, Halaman 442.Hadits
nomor 6855.
[28] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al baihaqi, Syuab Al-Iman,
Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 13 Hal. 72, Hadits nomor 9970.
[29] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz III,
Bab Dhamm Ḥubb al-Māl wa al-Jāh, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005),
halaman 212–213.
[30] Ibid., halaman 214–215.
[31] Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Ighāthat al-Lahfān min Maṣāyid
al-Syayṭān, Juz I, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1997), halaman. 58–60.
[32] Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, al-Fawā’id, (Beirut: Dār
al-Ma‘rifah, 2004), halaman. 118–119.
[33] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 92, Hadits nomor 6435.
[34] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Dar Ibnu
Katsir, Damsyiq, 1993, Jilid 5, Halaman 2368, Hadits nomor 6081.
[35] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al
‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 2, Halaman 121, Hadits nomor 1642.
[36] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal,
Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 27, Halaman 203. Hadits nomor 16643.
[37] Ibid, Halaman 2344, Hadits nomor 6015.
[38] https://www.kbbi.web.id/tamak
[39] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, juz 3 (Beirut: Dār
al-Ma‘rifah, 1405 H/1985 M), Juz 3, hlm. 259.
[40] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan
Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 240,
Hadits nomor 2448.
[41] Ibnu Bahram ibn Abd al-Shamad al-Darimi, Musnad Darimi al-Ma’ruf, Dar al-Mughni Li an-Nasyr
Wa al-Tauzi’, Arab Saudi, 2000, Jilid 1 halaman 469, Hadits nomor 595.
[42] Ibid, Jilid 4 halaman 2107,
Hadits nomor 3389.
[43] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al
‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 2 , Halaman 724, Hadits nomor 1047.
[44] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 185, Hadits nomor 2376.
[45] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 93, Hadits nomor 6438.
[46] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal,
Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 17, Halaman 102.Hadits nomor 11049.
[47] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Du’a Li-Al-Thabarani, Dar Al Kitab Al
Ilmiyah, Kairo, 1994, Jilid 1, Halaman 315, Hadits nomor 1036.
[48] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Du’a Li-Al-Thabarani, Dar Al Kitab Al
Ilmiyah, Kairo, 1994, Jilid 1, Halaman 315, Hadits nomor 1036.
[49] al-Ghazālī Iḥyā’ ‘Ulūm
al-Dīn, Juz 3, hlm. 259
[50] Ibnu Qayyim al-Jauziyah Madarij as-Sālikīn, 1/339
[51] Ibid, 2/483
[52] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-
Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 63, Hadits nomor 7148.
[53] Ibid, Jilid 9, Halaman 64, Hadits nomor 7149.
[54] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al
‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 2052, Hadits nomor 2664.
[55] https://www.almaany.com/id/dict/ar-id/حسد
[56] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz
3 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.), 435.
[57] Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, 436.
[58] Ibid., 437.
[59] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud,
Maktabah al-‘Asriyah, Beirut, tt, Jilid, 4, Halaman 276, Hadits nomor 4904.
[60] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 280, Hadits nomor 2510.
[61] Abu Abd al-Rahman Ahma ibn Syu’aib al-Nasa’i,
al-Sunan al-Kubra, Muassasah al-Risalah, Beirut, 2001 M, Jilid 4 , Halaman 274,
Hadits nomor 4302.
[62] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al
‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 1718, Hadits nomor 2185.
[63] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 62, Hadits nomor 7141.
[64] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu
Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman
1409, Hadits nomor 4216.
[65] https://www.almaany.com/id/dict/ar-id/بحل/
[66] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Madārij al-Sālikīn,
Juz 2 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2012), 9–10.
[67] Ibid, 11.
[68] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, al-Fawā’id (Beirut:
Dār al-Ma‘rifah, 2007), 137.
[69] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam
Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 1, Halaman 191.Hadits
nomor 13.
[70] Ibid, Jilid 15, Halaman 433.Hadits nomor 9693.
[71] Ibid, Jilid 11, Halaman 429.Hadits nomor 6837.
[72] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud,
Maktabah al-‘Asriyah, Beirut, tt, Jilid, 13, Halaman 12, Hadits nomor 2511.
[73] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 3 halaman 512, Hadits nomor 1964.
[74] https://www.almaany.com/id/dict/ar-id/مبذر/
[75] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz
3 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.), halaman 302.
[76] Ibid., halaman 303.
[77] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Ighāthat al-Lahfān min Maṣāyid
al-Syayṭān, Juz 1 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996), 349.
[78] Ibid., halaman 350.
[79] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir,
Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 9, Halaman 207, Hadits nomor 909.
[80] https://www.almaany.com/id/dict/ar-id/ إِسْرَاف/
[81] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 3 (Beirut: Dār
al-Ma‘rifah, t.t.), 300.
[82] Ibid., 301.
[83] Ibid., 302.
[84] Al-Ghazālī, Mīzān al-‘Amal (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2011),
119.
[85] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu
Majah, Dar ar-Risalah al-‘Alamiyah, tt, 2009, Jilid 1, Halaman 272, Hadits
nomor 424.
[86] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 5, Hadits nomor 2750.
[87] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz
3 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.), halaman 302.
[88] Ibid., halaman 300.
[89] Ibid., halaman 301
[90] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Ighāthat al-Lahfān min Maṣāyid
al-Syayṭān, Juz 1 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996), halaman 349.
[91] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Madārij al-Sālikīn,
Juz 2 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2012), halaman 12.
[92] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 85, Hadits nomor 6399.
[93] Al-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān,
Juz 3 (Beirut: Mu’assasat al-Risālah, 2000), halaman 275.
[94] Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Juz 1
(Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), halaman 532.
[95] Al-Qurṭubī, al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, Juz 2
(Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2006), halaman 242.
[96] Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, Juz 4
(Beirut: Dār al-Fikr, 1981), halaman 88.
[97] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 188, Hadits nomor 2879.
[98] Ibid, Jilid 4 halaman 260,
Hadits nomor 2478.
[99] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al
Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 3, Halaman 347, Hadits nomor 3766.
[100] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 24, Hadits nomor 7152.
[101] Ibid, Jilid 7, Halaman 67, Hadits nomor 5374.
[102] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn,
Beirut: Dār al-Ma‘rifah, Kitāb Āfāt al-Lisān, hlm. 63–66.
[103] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn,
Kitāb Dhamm al-Dunyā, hlm. 210–214
[104] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn,
Kitāb Riyāḍat al-Nafs, hlm. 58–61.
[105] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 211, Hadits nomor 2411.
[106] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al
Matba’ah Al ‘Ashriyah, Dahlawi, India, 1323 H, ,
Jilid 4 halaman 459, Hadits nomor 5005.
[107] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu
Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman
1403, Hadits nomor 4193.
[108] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al
Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 4, Halaman 282, Hadits nomor 4927.
[109] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 12, Hadits nomor 33.
[110] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al
Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 4, Halaman 297, Hadits nomor 4990.
[111] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al
‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 2013, Hadits nomor 104.
[112] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam
Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 45, Halaman 245.Hadits
nomor 27275.
[113] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
As- Sulthaniya, Mesir, 1404, Jilid 2, Halaman 124, Hadits nomor 1477.
[114] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 3 halaman 530, Hadits nomor 1993.
[115] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu
Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 1, Halaman
422, Hadits nomor 1332.
[116] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 2, Halaman 52, Hadits nomor 1142.
[117] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala
Ash-Shahihain, Dar Al Kitab Al-Alamiyah, Beirut, 1990, Jilid 4, Halaman
352, Hadits nomor 7889.
[118] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 122, Hadits nomor 3270.
[119] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 125, Hadits nomor 6612.
[120] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam
Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 14, Halaman 211.Hadits
nomor 8526.
[121] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 487, Hadits nomor 2786.
[122] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 159, Hadits nomor 6782.
[123] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 7, Halaman 35, Hadits nomor 5221.
[124] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 58, Hadits nomor 1457.
[125] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 122, Hadits nomor 3270.
[126] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 122, Hadits nomor 3270.
[127] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 122, Hadits nomor 3270.
[128] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 122, Hadits nomor 3270.
[129] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari,
As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 7, Halaman 3, Hadits nomor 5065.
[130] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan
Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 5 halaman 474,
Hadits nomor 3492.
[131] Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Kitāb Dhamm
al-Ma‘ṣiyah, (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.), 34–36.
[132] Ibid, halaman. 37–39..
[133] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, al-Jawāb al-Kāfī liman
Sa’ala ‘an al-Dawā’ al-Shāfī (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1997),
25–27.
[134] Ibid, halaman 42–44.
[135] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al baihaqi, Syuab Al-Iman,
Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 28 Hal. 547, Hadits nomor 17311.
[136] Abu Nu’aim Ahmad ibn Abdullah Al-Ashbahani, Hilyatul
Auliya’ Wa Thabaqatul Ashfiya’, Mathba’ah Sa’adah, Mesir, 1974. Jilid 1
Halaman 255.
[137] Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Kitāb Āfāt al-Lisān
wa al-Baṭn, (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.), 122.
[138] Ibid, Halaman 123–125.
[139] Ibid, Juz 3, halaman. 214.
[140] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Zād al-Ma‘ād, Juz 4 (Beirut:
Mu’assasat al-Risālah, 1998), 276–277.
[141] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, al-Jawāb al-Kāfī liman
Sa’ala ‘an al-Dawā’ al-Shāfī (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1997),
108–110.
[142] Al-Nawawī, Sharḥ Ṣaḥīḥ Muslim, Juz 13 (Beirut: Dār
Ihyā’ al-Turāth, 1991), 146.
[143] Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, Fatḥ al-Bārī, Juz 10 (Beirut:
Dār al-Ma‘rifah, 1959), 45.
[144] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir li al-Thabarani,
Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 11, Halaman 164, Hadits nomor 11372.
[145] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats
Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 3 , Halaman 1588, Hadits nomor 75.
[146] Ibid, Hadits nomor 77.
[147] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu
Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman
725, Hadits nomor 2144.
[148] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 2 halaman 499, Hadits nomor 1210.
[149] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 5 halaman 146, Hadits nomor 3058.
[150] Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hiban,
Dar Ibnu Hazm, Beirut, Jilid 1, Halam, 204, Hadits nomor 145.
[151] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 5 halaman 575, Hadits nomor 3591.
[152] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam
Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 32, Halaman 351.Hadits
nomor 22021.
[153] Ibid, Halaman 444.Hadits nomor 22128
[154] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 5 halaman 474, Hadits nomor 3492.
[155] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam
Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 33, Halaman 197.Hadits
nomor 19992.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar