21/04/2026

- 3. TAKWA DARI SYAHWAT DAN HAWA

- 3. TAKWA DARI SYAHWAT DAN HAWA

Syahwat: nafsu, selera, keinginan adalah dorongan hati untuk memperturutkan segala keinginan, syahwat mencakup semua kesenangan, keinginan yang diperturutkan secara terus menerus akan menjadi kecintaan, kecintaan pada kesenangan ini disebut sebagai Al Hawa. Dua kata ini Syahwat dan Al Hawa banyak digunakan di dalam Al Quran , keduanya sering diartikan sebagai hawa nafsu.

Imam al-Ghazālī menjelaskan bahwa syahwat dan ghadab (amarah) diciptakan dalam diri manusia untuk kemaslahatan dirinya;

«اِعْلَمْ أَنَّ الشَّهْوَةَ وَالْغَضَبَ خُلِقَا فِي الْإِنْسَانِ لِمَصَالِحِهِ، وَإِنَّمَا الْهَلَاكُ فِي الْإِفْرَاطِ وَالتَّفْرِيطِ فِيهِمَا[1]

Artinya: “Ketahuilah bahwa syahwat dan ghadab (amarah) diciptakan dalam diri manusia untuk kemaslahatan dirinya, namun kebinasaan terjadi ketika keduanya digunakan secara berlebihan (ifrā) atau sebaliknya secara lalai (tafrī).”

Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa sumber segala maksiat, bencana, dan kejahatan adalah mengikuti hawa nafsu;

«أَصْلُ كُلِّ مَعْصِيَةٍ وَبَلَاءٍ وَشَرٍّ إِنَّمَا هُوَ اتِّبَاعُ الْهَوَى، فَإِنَّهُ يُعْمِي وَيُصِمُّ، وَيَصُدُّ عَنِ الْحَقِّ[2]

Artinya: “Sumber segala maksiat, bencana, dan kejahatan adalah mengikuti hawa nafsu (ittibā‘ al-hawā), karena ia dapat membutakan mata hati, menulikan pendengaran, dan menghalangi seseorang dari kebenaran.”

Kehidupan Manusia Di Dunia Dihiasi Dengan Kecintaan-Kecintaan Kepada; Wanita, Anak-Anak, Harta Benda, Emas, Perak, Kuda, Binatang Ternak, Ladang

 Di dalam Al Quran surat Ali 'Imran/ 3: 14, Allah memberikan gambaran bahwa kehidupan manusia di dunia dihiasi dengan kecintaan-kecintaan kepada; wanita, anak-anak, harta benda, emas, perak, kuda, binatang ternak, ladang;

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

Artinya: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali 'Imran/ 3: 14)

Ayat di atas menggambarkan beberapa kecintaan yang dapat mendatangkan kesenangan di dunia, tetapi kecintaan kesenangan dunia tidak terbatas pada hal yang tersebut di atas saja, melainkan semua kesenangan terhadap apa yang ada di dunia, yang akan mengakibatkan cinta pada kehidupan dunia.

Dorongan syahwat ini memiliki cakupan yang sangat luas melimputi seluruh upaya untuk meraih kecintaan kebahagiaan duniawi, ketika upaya untuk meraih kebahagiaan dunia tidak mengikuti aturan dan ketentuah hukum Islam, maka upaya tersebut merupakan upaya yang hanya mengikuti syahwat dan hawa, dan upaya mengikuti syahwat dan hawa ini dapat mencakup semua aspek kehidupan, seperti; ekonomi, politik, pendidikan, kesehatan, profesi bahkan pada ibadah. Adanya syahwat dan hawa juga dapat mendorong perilaku buruk berikutnya seperti; korupsi, suap, penipuan, janji palsu untuk meraih kekuasaan, pencitraan, suap untuk mendapatkan pekerjaan, suap proyek, suap pengadilan, eksploitasi wanita, iklan tidak jujur, perjudian, undian peruntungan, narkoba, minuman keras, panggung hiburan kema’siyatan, pelacuran, pornografi, dll.

Agar dapat memehamai takwa dari Syahwat dan Hawa secara menyeluruh, maka pada bab ini akan dikemukakan pembahasan tentang;

1.   Hikmah Menjaga Diri Dari Syahwat Dan Al-Hawa

2.   Akibat Dari Mengikuti Syahwat Dan Al-Hawa

3.   Bentuk Kecintaan Pada Syahwat Dan Al-Hawa

4.   Takwa Dari Syahwat Keinginan Hawa Nafsu

Adapun pembahasannnya adalah sebagai berikut;

1.   Hikmah Menjaga Diri Dari Syahwat Dan Al-Hawa

Di sini akan dikemukakan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits Rasulullah SAW yang berkaitan dengan hikmah menjaga diri dari Syahwat dan Hawa;

1.1. Ketahuilah, Bahwa Sesungguhnya Kehidupan Dunia Ini Hanyalah Permainan Dan Suatu Yang Melalaikan Dan Kesenangan Yang Menipu

Di dalam Al Quran Surat Al-Hadid/ 57: 20, Allah memperingatkan manusia bahwa sesungguhnya kehidupan di dunia hanyalah permainan, suatu yang melalaikan dan kesenangan yang menipu;

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya: Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.

1.2. Kehidupan Dunia Hanyalah Permainan Dan Senda Gurau. Dan Jika Kamu Beriman Dan Bertakwa, Allah Akan Memberikan Pahala Kepadamu

Bagi orang yang beriman dan bertakwa yang tidak tertipu dengan kesenangan kehidupan dunia yang merupakan permainan dan sendau gurau tersebut, akan diberikan pahala oleh Allah SWT, dijelaskan di dalam Al Quran Surat Muhammad/ 47: 36;

إِنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ

Artinya: Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu.(QS. Muhammad/ 47: 36)

1.3. Akan Datang Sebuah Zaman Yang Sedikit Ahli Fikihnya, Namun Banyak Qari`nya. Huruf-Huruf Al-Qur'an Dijaga Sedangkan Hukum-Hukumnya Disia-Siakan, Mereka Mendahulukan Hawa Nafsu Sebelum Amal Mereka

Di dalam kitab Muwatho Malik disebutkan atsar nomor 575 digambarkan keadaan keadaan orang-orang yang mendahulukan hawa nafsu sebelum amalnya;

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ قَالَ لِإِنْسَانٍ إِنَّكَ فِي زَمَانٍ كَثِيرٌ فُقَهَاؤُهُ قَلِيلٌ قُرَّاؤُهُ تُحْفَظُ فِيهِ حُدُودُ الْقُرْآنِ وَتُضَيَّعُ حُرُوفُهُ قَلِيلٌ مَنْ يَسْأَلُ كَثِيرٌ مَنْ يُعْطِي يُطِيلُونَ فِيهِ الصَّلَاةَ وَيَقْصُرُونَ الْخُطْبَةَ يُبَدُّونَ أَعْمَالَهُمْ قَبْلَ أَهْوَائِهِمْ وَسَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ قَلِيلٌ فُقَهَاؤُهُ كَثِيرٌ قُرَّاؤُهُ يُحْفَظُ فِيهِ حُرُوفُ الْقُرْآنِ وَتُضَيَّعُ حُدُودُهُ كَثِيرٌ مَنْ يَسْأَلُ قَلِيلٌ مَنْ يُعْطِي يُطِيلُونَ فِيهِ الْخُطْبَةَ وَيَقْصُرُونَ الصَّلَاةَ يُبَدُّونَ فِيهِ أَهْوَاءَهُمْ قَبْلَ أَعْمَالِهِمْ [3]

Artinya: Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Yahya bin Sa'id bahwa Abdullah bin Mas'ud berkata kepada seseorang; "sesungguhnya engkau hidup di zaman yang ahli fikihnya banyak sementara para qari`nya sedikit, hukum-hukum Al-Qur'an dijaga sementara huruf-hurufnya disia siakan. Sedikit yang bertanya tetapi banyak yang mampu memberi (fatwa) . Mereka memanjangkan shalat dan memendekkan khuthbah. Dan mendahulukan amal daripada hawa nafsu. Lalu akan datang kepada manusia sebuah zaman yang sedikit ahli fikihnya, namun banyak qari`anya. Huruf-huruf Al-Qur'an dijaga sedangkan hukum-hukumnya disia-siakan. Banyak yang bertanya dan sedikit yang bisa memberi (fatwa) . Mereka memanjangkan khutbah dan memendekkan shalat. Dan mereka mendahulukan hawa nafsu sebelum amal mereka." (Muwatho Malik no 379)

1.4. Orang Yang Cerdas Adalah Orang Yang Menghitung-Hitung Dirinya Dan Beramal Untuk Setelah Kematian, Orang Yang Lemah Adalah Orang Yang Mengikuti Jiwanya Dengan Hawa Nafsunya Dan Berangan-Angan Kepada Allah

Sehingga Nabi Muhammad SAW memberikan pelajaran yang bagus dalam mensikapi kehidupan ini, yakni Bahwa orang yang cerdas adalah orang yang menghitung-hitung dirinya dan beramal untuk setelah kematian, sebaliknya orang yang lemah adalah orang yang mengikuti jiwanya dengan hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah, dituangkan di dalam kitab Mu’jam Thabarani al-Kabir hadits nomor 7141; 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ السَّلَامِ الْبَيْرُوتِيُّ مَكْحُولٌ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَمْرِو بْنِ بَكْرٍ السَّكْسَكِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُ، عَنْ ثَوْرِ بْنِ يَزِيدَ، وَغَالِبِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، عَنْ مَكْحُولٍ، عَنِ ابْنِ غَنْمٍ، عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ، وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ» [4]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Ali bin Ishaq] berkata; telah mengabarkan kepada kami [Abdullah] yaitu Ibnu Mubarak berkata; telah mengabarkan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Maryam] dari [Dlamrah bin Habib] dari [Syaddad bin Aus] berkata; Rasulullah SAW bersabda: "Orang yang cerdas adalah orang yang menghitung-hitung dirinya dan beramal untuk setelah kematian, sebaliknya orang yang lemah adalah orang yang mengikuti jiwanya dengan hawa nafsunya dan berangan-angan kepada Allah."

1.5. Sungguh Yang Sangat Aku Takutkan Dari Kalian Adalah Syahwat Keji Dari Perut, Dan Kemaluan Kalian, Serta Hawa Nafsu Yang Menyesatkan

Rasulullah Muhammad SAW memberikan peringatan kepada umatnya, bahwa yang sangat ditakutkan Rasulullah dari umatnya adalah godaan syahwat keji dari perut, dan kemaluan kalian, serta hawa nafsu yang menyesatkan, di muat di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 19787;

حَدَّثَنَاه يَزِيدُ قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُو الْأَشْهَبِ عَنْ أَبِي الْحَكَمِ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَبِي بَرْزَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مِمَّا أَخْشَى عَلَيْكُمْ شَهَوَاتِ الْغَيِّ فِي بُطُونِكُمْ وَفُرُوجِكُمْ وَمُضِلَّاتِ الْهَوَى [5]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah bin ‘Abdissalām al-Bayrūtī al-Makūl, telah menceritakan kepada kami Ibrāhīm bin ‘Amr bin Bakr as-Saksakī, ia berkata: Aku mendengar ayahku menceritakan dari aur bin Yazīd dan Ghālib bin ‘Abdillah, dari Makūl, dari Ibnu Ghanm, dari Syaddād bin Aws, dari Nabi , beliau bersabda Orang yang cerdas  الكيِّس) adalah orang yang menundukkan dan menghisab dirinya sendiri, serta beramal untuk kehidupan setelah mati.  Sedangkan orang yang lemah (العاجز) adalah orang yang menuruti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah (tanpa amal).”

1.6. Aku Tidak Lebih Khawatir Terhadap Syirik Yang Kalian Perbuat, Akan Tetapi Aku Sangat Khawatir Terhadap Dunia Yang Akan Kalian Perebutkan.

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 4042 dinyatakan “Aku tidak lebih khawatir terhadap syirik yang kalian perbuat, akan tetapi aku sangat khawatir terhadap dunia yang akan kalian perebutkan.”;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ أَخْبَرَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ عَدِيٍّ أَخْبَرَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ حَيْوَةَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ أَبِي الْخَيْرِ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ صَلَّى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى قَتْلَى أُحُدٍ بَعْدَ ثَمَانِي سِنِينَ كَالْمُوَدِّعِ لِلْأَحْيَاءِ وَالْأَمْوَاتِ ثُمَّ طَلَعَ الْمِنْبَرَ فَقَالَ إِنِّي بَيْنَ أَيْدِيكُمْ فَرَطٌ وَأَنَا عَلَيْكُمْ شَهِيدٌ وَإِنَّ مَوْعِدَكُمْ الْحَوْضُ وَإِنِّي لَأَنْظُرُ إِلَيْهِ مِنْ مَقَامِي هَذَا وَإِنِّي لَسْتُ أَخْشَى عَلَيْكُمْ أَنْ تُشْرِكُوا وَلَكِنِّي أَخْشَى عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا أَنْ تَنَافَسُوهَا قَالَ فَكَانَتْ آخِرَ نَظْرَةٍ نَظَرْتُهَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [6]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdurrahim telah mengabarkan kepada kami Zakariya bin 'Adi telah mengabarkan kepada kami Ibnu Al Mubarrak dari Haiwah dari Yazid bin Abu Habib dari Abu Al Khair dari 'Uqbah bin 'Amir dia berkata, "Rasulullah  menshalati para korban Uhud setelah delapan tahun, seolah-olah seperti perpisahan antara orang yang hidup dengan orang yang telah mati. Kemudian beliau naik mimbar seraya bersabda: "Sesungguhnya aku mendahului kalian, dan aku adalah saksi atas kalian. Sungguh, yang dijanjikan bagi kalian adalah telaga, dan aku benar-benar telah melihatnya di tempatku ini. Aku tidak lebih khawatir terhadap syirik yang kalian perbuat, akan tetapi aku sangat khawatir terhadap dunia yang akan kalian perebutkan." 'Uqbah berkata, "Dan itu adalah terakhir kali aku melihat Rasulullah ."

1.7. Makanlah, Minumlah, Bersedekahlah, Dan Berpakaianlah Kalian Dengan Tidak Merasa Bangga Dan Sombong Serta Berlebih-Lebihan

Nabi Muhammad SAW memberikan batasan dalam hal makan, minum, bersedekah dan berpakaian untuk tidak melakukannya untuk kebanggaan, kesombongan dan berlebi-lebihan, tertuang di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 6708;

حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُوا وَاشْرَبُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا فِي غَيْرِ مَخِيلَةٍ وَلَا سَرَفٍ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُرَى نِعْمَتُهُ عَلَى عَبْدِهِ [7]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Bahz] telah menceritakan kepada kami [Hammam] dari [Qotadah] dari ['Amru bin Syu'aib] dari [bapaknya] dari [kakeknya], dia berkata; bahwa seseungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Makanlah, minumlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah kalian dengan tidak merasa bangga dan sombong serta berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah bangga bila nikmat-Nya ada pada hamba-Nya diperlihatkan."

1.8. Neraka Dikelilingi Dengan Syahwat (Hal-Hal Yang Menyenangkan Nafsu), Sedang Surga Dikelilingi Hal-Hal Yang Tidak Disenangi (Nafsu)

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 4687, mencantumkan penjelasan Rasulullah SAW, Bahwa Neraka dikelilingi dengan syahwat (hal-hal yang menyenangkan nafsu), sedang surga dikelilingi hal-hal yang tidak disenangi (nafsu);

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حُجِبَتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ وَحُجِبَتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ [8]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Ismail] mengatakan, telah menceritakan kepadaku [Malik] dari [Abu Az Zanad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah] radliallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: "Neraka dikelilingi dengan syahwat (hal-hal yang menyenangkan nafsu), sedang surga dikelilingi hal-hal yang tidak disenangi (nafsu)."

1.9. Jagalah Dirimu Dari Dunia Dan Jagalah Dirimu Dari Wanita, Karena Sesungguhnya Sumber Bencana Bani Isarail Adalah Wanita

Di dalam kitab Shahih Muslim hadis nomor 99 kita diingatkan untuk menjaga diri dari dunia dan wanita, karena sesungguhnya sumber bencana Bani Isarail adalah wanita;

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي مَسْلَمَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا نَضْرَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ وَإِنَّ اللَّهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ فَإِنَّ أَوَّلَ فِتْنَةِ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَانَتْ فِي النِّسَاءِ وَفِي حَدِيثِ ابْنِ بَشَّارٍ لِيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ  [9]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] dan [Muhammad bin Basysyar] keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Abu Maslamah] dia berkata; aku mendengar [Abu Nadlrah] bercerita dari [Abu Sa'id Al Khudri] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya dunia itu manis. Dan sesungguhnya Allah telah menguasakannya kepadamu sekalian. Kemudian Allah menunggu (memperhatikan) apa yang kamu kerjakan (di dunia itu). Karena itu takutilah dunia dan takutilah wanita, karena sesungguhnya sumber bencana Bani Isarail adalah wanita." Sedangkan di dalam Hadis Ibnu Basyar menggunakan kalimat; 'liyandlur kaifa ta'malun.' (Kemudian Allah (memperhatikan) apa yang kamu kerjakan (di dunia itu).' 

2.    Akibat Dari Mengikuti Syahwat Dan Al-Hawa

Orang yang mengikuti syahwat dan al hawa akan menerima akibat yang buruk ketika di dunia maupun di akherat, adapun akibatnya antara lain sebagai berikut;

2.1. Orang Yang Menjadikan Hawa Nafsunya Sebagai Tuhannya, Mereka Itu Tidak Lain, Hanyalah Seperti Binatang Ternak, Bahkan Mereka Lebih Sesat Jalannya

Di dalam Al Quran Surat Al-Furqan/ 25: 43-44, dijelaskan bahwa orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya

أَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ أَفَأَنْتَ تَكُونُ عَلَيْهِ وَكِيلًا, أَمْ تَحْسَبُ أَنَّ أَكْثَرَهُمْ يَسْمَعُونَ أَوْ يَعْقِلُونَ ۚ إِنْ هُمْ إِلَّا كَالْأَنْعَامِ ۖ بَلْ هُمْ أَضَلُّ سَبِيلًا

Artinya: Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya?, atau apakah kamu mengira bahwa kebanyakan mereka itu mendengar atau memahami. Mereka itu tidak lain, hanyalah seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat jalannya (dari binatang ternak itu). (QS. Al-Furqan/ 25: 43-44)

2.2. Orang Yang Menjadikan Hawa Nafsunya Sebagai Tuhannya Dan Allah Menyesatkannya Berdasarkan Ilmu-Nya Dan Allah Telah Mengunci Mati Pendengaran Dan Hatinya Dan Meletakkan Tutupan Atas Penglihatannya

Di dalam Al Quran Surat Al-Jasiyah/ 45: 23, dijelaskan bahwa orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah menyesatkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya;

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ وَخَتَمَ عَلَىٰ سَمْعِهِ وَقَلْبِهِ وَجَعَلَ عَلَىٰ بَصَرِهِ غِشَاوَةً فَمَنْ يَهْدِيهِ مِنْ بَعْدِ اللَّهِ ۚ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ

Artinya: Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah menyesatkannya berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran? (HR. Al-Jasiyah/ 45: 23)

2.3. Bagi Orang Kafir Yang Telah Bersenang-Senang Dengannya (Dunia); Maka Pada Hari Ini Kamu Dibalasi Dengan Azab Yang Menghinakan

Sedangkan bagi orang kafir karena telah menghabiskan rizki yang baik untuk bersenang-senang dan tertipu dengan kehidupan dunia, maka Allah akan memberikan azab yang menghinakan, dijelaskan di dalam Al Quran surat Al Ahqaf/ 46: 20;

وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ فِي الأرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنْتُمْ تَفْسُقُونَ

Artinya: Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan), "Kamu telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak dan karena kamu telah fasik.” (QS. Al Ahqaf/ 46: 20)

Syahwat dan Al Hawa mendorong seseorang untuk mencintai kehidupan dunia, dan akan berusaha sekuat tenaga untuk meraihnya, bahkan hingga mengabaikan dan tidak mentaati aturan agama, seperti; riba, monopoli, menipu, korupsi, mencuri, fitnah, suap, perjudian, berita bohong, tidak jujur, zina, perselingkuhan, prostitusi, pornografi, lgbt, murtad dll.

3.   Bentuk Kecintaan Pada Syahwat Dan Al-Hawa

Syahwat dan al hawa mendorong seseorang cinta kepada kesenangan dunia, kecintaan kepada kesenangan dunia mendorong orang untuk berlaku; thamak, hasad, bakhil, tabdzir, senang pada makanan, laqhwun, zina, cinta dunia, ma’siyat, khianat dan lain-lainnya masih banyak sekali, disini hanya dikemukakan sepuluh hal tersebut;

3.1. Hubb al- Dunya (Cinta Dunia)

Hubb al-dunya berasal dari kata hubb dan al-dunya, hubb artinya mencintai al-dunya artinya dunia; mencintai dunia; mencintai kehidupan dunia; mencintai kesenangan kehidupan dunia. Menurut Imam al-Ghazālī, hubb al-dunyā adalah keterikatan batin yang berlebihan terhadap kenikmatan materi, kedudukan, dan syahwat sehingga hati menjadi condong kepada dunia dan berpaling dari Allah. [10] Dalam Iyā’ ‘Ulūm al-Dīn, al-Ghazālī menegaskan bahwa bahaya cinta dunia bukan terletak pada wujud dunia itu sendiri, melainkan pada dominasi dunia atas hati manusia hingga menghalangi perjalanan ruhani menuju akhirat. [11] Ia bahkan menyebut hubb al-dunyā sebagai “induk segala kesalahan” (umm al-khaāyā) karena menjadi sumber munculnya sifat tamak, hasad, riya’, dan kelalaian spiritual. [12]

Ibn Qayyim al-Jawziyyah memandang hubb al-dunyā sebagai penyakit hati yang muncul ketika dunia menempati posisi yang seharusnya hanya layak bagi Allah dalam hati seorang hamba. [13] Dalam Ighāthat al-Lahfān, ia menjelaskan bahwa cinta dunia menumbuhkan keterikatan yang menjerat jiwa, melemahkan tekad (himmah), dan menutup pintu hidayah. [14] Bagi Ibn Qayyim, cinta dunia menjadi akar kehancuran spiritual karena melahirkan kelalaian (ghaflah) dan menjadikan hawa nafsu sebagai pemimpin yang menyesatkan. [15]

Prinsip dasar seorang mukmin dalam memandang kehidupan dunia adalah menggunakan segala karunia yang diberikan Allah dalam kehidupan dunia untuk meraih kehidupan akherat, tetapi tidak boleh lupa dengan Nasib kehidupannya di dunia, sebagaimana perintahkan Allah yang tertuang di dalam Al Quran surat  Al-Qashash/ 28: 77;

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash/ 28: 77)

Agar orang beriman tidak tertipu; terpedaya; terlena dengan kehidupan dunia maka, tetapi juga tidak lupa mengurus nasibnya dalam kehidupan dunia, maka perlu memahami beberapa ayat Al Quran dan Hadits yang berkaitan dengan kehidupan dunia;

3.1.1. Akherat Lebih Baik Dan Lebih Kekal Dibandingkan Dunia

Penting untuk dipahami bahwa akherat lebih baik dan lebih kekal dibandingkan dunia, sebagaimana ditegaskan di dalam Al Quran surat Al-A’la/ 87: 16-17;

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ,وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Artinya: Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal. (QS. Al-A’la/ 87: 16-17)

3.1.2. Ancaman Allah Kepada Orang Yang Lebih Mencintai Keluarga Dan Harta Dibandingkan Cintanya Kepada Allah, Rasul Dan Jihad Di Jalan-Nya

Di dalam Al Quran surat At-Taubah/ 9: 24, dijelaskan bila keluarga dan harta lebih dicintai mengalahkan cintanya kepada Allah, Rasul dan jihad di jalannya, maka diancam Allah dengan perhitungan di hari Akhir;

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Artinya: Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah/ 9: 24)

3.1.3. Lebih Mencintai Kehidupan Dunia Dari Pada Kehidupan Akhirat: Tersesat

Di dalam Al Quran surat Ibrahim/14: 3, ditegaskan bahwa orang yang lebih mencintai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat berada dalam kesesatan yang jauh;

الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ

Artinya: (yaitu) orang-orang yang lebih mencintai kehidupan dunia dari pada kehidupan akhirat, dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah dan menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh.(QS. Ibrahim/14: 3)

3.1.4. Kehidupan Dunia Itu (Dibanding Dengan) Kehidupan Akhirat, Hanyalah Kesenangan (Yang Sedikit)

Di dalam Al Quran surat Ar-Ra'd/ 13: 26 dinyatakan bahwa kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit);

اللَّهُ يَبْسُطُ الرِّزْقَ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَقْدِرُ وَفَرِحُوا بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا مَتَاعٌ

Artinya: Allah meluaskan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang Dia kehendaki. Mereka bergembira dengan kehidupan di dunia, padahal kehidupan dunia itu (dibanding dengan) kehidupan akhirat, hanyalah kesenangan (yang sedikit).(QS. Ar-Ra'd/ 13: 26)

3.1.5. Kehidupan Dunia Itu Tidak Lain Hanyalah Kesenangan Yang Memperdayakan

Di Dalam Al Quran surat Ali-'Imran/ 3: 185 dinyatakan bahwa Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan;

كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.(QS. Ali-'Imran/ 3: 185)

3.1.6. Kehidupan Dunia Ini Tidak Lain Hanyalah Kesenangan Yang Menipu

Di Dalam Al Quran surat Al-Hadid/ 57: 20 dinyatakan bahwa kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu;

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ

Artinya: Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al-Hadid/ 57: 20)

3.1.7. Sesungguhnya Kehidupan Dunia Ini Hanyalah Kesenangan (Sementara)

Di Dalam Al Quran surat Al-Mu'min/ 40: 39 dinyatakan bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara);

يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ

Artinya: Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.(QS. Al-Mu'min/ 40: 39)

3.1.8. Kehidupan Dunia Ini Melainkan Senda Gurau Dan Main-Main

Di Dalam Al Quran surat Al-'Ankabut/ 29: 64 dinyatakan bahwa kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main;

وَمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَهْوٌ وَلَعِبٌ وَإِنَّ الدَّارَ الْآخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Artinya: Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.(QS. Al-'Ankabut/ 29: 64)

3.1.9. Kehidupan Dunia Ini, Selain Dari Main-Main Dan Senda Gurau Belaka

Di Dalam Al Quran surat Al-An'am/ 6: 32 dinyatakan bahwa kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka;

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Artinya: Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (QS. Al-An'am/ 6: 32)

3.1.10. Sesungguhnya Allah Telah Membeli Dari Orang-Orang Mukmin Diri Dan Harta Mereka Dengan Memberikan Surga Untuk Mereka

Di dalam Al Quran surat At-Taubah/ 9: 111 ditegaskan bahwa Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka ;

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Artinya: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah/ 9: 111)

3.1.11.  Wahn Adalah Cinta Dunia Dan Takut Mati

Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 4297, dijelaskan bahwa Al Wahn adalah cinta dunia dan takut mati;

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ بَكْرٍ حَدَّثَنَا ابْنُ جَابِرٍ حَدَّثَنِي أَبُو عَبْدِ السَّلَامِ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا فَقَالَ قَائِلٌ وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ قَالَ بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمْ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمْ الْوَهْنَ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ قَالَ حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ [16]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami 'Abdurrahman bin Ibrahim bin Ad Dimasyqi berkata, telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Bakr berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Jabir berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Abdus Salam dari Tsauban ia berkata, "Rasulullah  bersabda: "Hampir-hampir bangsa-bangsa memperebutkan kalian (umat Islam), layaknya memperebutkan makanan yang berada di mangkuk." Seorang laki-laki berkata, "Apakah kami waktu itu berjumlah sedikit?" beliau menjawab: "Bahkan jumlah kalian pada waktu itu sangat banyak, namun kalian seperti buih di genangan air. Sungguh Allah akan mencabut rasa takut kepada kalian, dan akan menanamkan ke dalam hati kalian Al wahn." Seseorang lalu berkata, "Wahai Rasulullah, apa itu Al wahn?" beliau menjawab: "Cinta dunia dan takut mati."

3.1.12. Hati Orang Tua Masih Tetap Berjiwa Muda Dalam Dua Perkara, Yaitu; Mencintai Dunia Dan Panjang Angan-Angan

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6420, dijelaskan bahwa Hati orang tua masih tetap berjiwa muda dalam dua perkara, yaitu; mencintai dunia dan panjang angan-angan;

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا أَبُو صَفْوَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَزَالُ قَلْبُ الْكَبِيرِ شَابًّا فِي اثْنَتَيْنِ فِي حُبِّ الدُّنْيَا وَطُولِ الْأَمَلِ [17]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Abu Shufwan Abdullah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Yunus dari Ibnu Syihab dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Sa'id bin Al Musayyab bahwa Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; saya mendengar Rasulullah  bersabda: "Hati orang tua masih tetap berjiwa muda dalam dua perkara, yaitu; mencintai dunia dan panjang angan-angan."

3.1.13.  Jadilah Kalian Dari Anak-Anak Akhirat, Janganlah Menjadi Anak-Anak Dunia

Di dalam kitab Hilyatul Aulia hadits dinyatakan jadilah kalian dari anak-anak akhirat, janganlah menjadi anak-anak dunia;

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الطَّلْحِيُّ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْحَضْرَمِيُّ، ثَنَا عَوْنُ بْنُ سَلَّامٍ، ثَنَا أَبُو مَرْيَمَ، عَنْ زُبَيْدٍ، عَنْ مُهَاجِرِ بْنِ عُمَيْرٍ، قَالَ: قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: «إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ اتِّبَاعُ الْهَوَى، وَطُولُ الْأَمَلِ. فَأَمَّا اتِّبَاعُ الْهَوَى فَيَصُدُّ عَنِ الْحَقِّ، وَأَمَّا طُولُ الْأَمَلِ فَيُنْسِي الْآخِرَةَ. أَلَا وَإِنَّ الدُّنْيَا قَدْ تَرَحَّلَتْ مُدْبِرَةً، أَلَا وَإِنَّ الْآخِرَةَ قَدْ تَرَحَّلَتْ مُقْبِلَةً، وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا بَنُونَ، فَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الْآخِرَةِ، وَلَا تَكُونُوا مِنْ أَبْنَاءِ الدُّنْيَا، فَإِنَّ الْيَوْمَ عَمَلٌ وَلَا حِسَابَ، وَغَدًا حِسَابٌ وَلَا عَمَلَ» رَوَاهُ الثَّوْرِيُّ وَجَمَاعَةٌ، عَنْ زُبَيْدٍ مِثْلَهُ، عَنْ عَلِيٍّ مُرْسَلًا، وَلَمْ يَذْكُرُوا مُهَاجِرَ بْنَ عُمَيْرٍ قَالَ أَبُو نُعَيْمٍ: أَفَادَنِي هَذَا الْحَدِيثَ الدَّارَقُطْنِيُّ عَنْ شَيْخِي، لَمْ أَكْتُبْهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ [18]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr al-Talhi, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah al-Hadrami, telah menceritakan kepada kami Awn bin Salam, telah menceritakan kepada kami Abu Maryam, dari Zubaid, dari Muhajir bin Umayr, dia berkata: Ali bin Abi Thalib berkata, "Sesungguhnya yang paling aku takuti adalah mengikuti hawa nafsu dan harapan yang panjang. Adapun mengikuti hawa nafsu, itu akan menghalangi dari kebenaran, dan adapun harapan yang panjang, itu akan membuat melupakan akhirat. Ingatlah, dunia ini telah berbalik dan menuju ke belakang, dan akhirat telah mendekat dan mendatangi, dan setiap dari keduanya memiliki anak-anak. Maka jadilah kalian dari anak-anak akhirat, janganlah menjadi anak-anak dunia. Sesungguhnya hari ini adalah amal tanpa hisab, dan esok hari adalah hisab tanpa amal." Diriwayatkan oleh al-Thawri dan sejumlah perawi lainnya, dari Zubaid dalam bentuk yang serupa, dari Ali dalam bentuk marfu', tetapi mereka tidak menyebutkan Muhajir bin Umayr. Abu Nu'aim berkata, "Hadis ini disampaikan kepada saya oleh al-Daraqutni dari gurunya (Zubaid), saya tidak mencatatnya kecuali dengan cara ini."

3.1.14. Ada Dua Golongan Yang Tidak Pernah Merasa Kenyang, Yaitu Pemilik Ilmu Dan Pemilik Dunia

Di dalam kitab Sunan Darimi hadits nomor 344, dijelaskan bahwa ada dua golongan yang tidak pernah merasa kenyang, yaitu pemilik ilmu dan pemilik dunia;

أَخْبَرَنَا جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ أَخْبَرَنَا أَبُو عُمَيْسٍ عَنْ عَوْنٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ مَنْهُومَانِ لَا يَشْبَعَانِ صَاحِبُ الْعِلْمِ وَصَاحِبُ الدُّنْيَا وَلَا يَسْتَوِيَانِ أَمَّا صَاحِبُ الْعِلْمِ فَيَزْدَادُ رِضًا لِلرَّحْمَنِ وَأَمَّا صَاحِبُ الدُّنْيَا فَيَتَمَادَى فِي الطُّغْيَانِ ثُمَّ قَرَأَ عَبْدُ اللَّهِ { كَلَّا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَيَطْغَى أَنْ رَآهُ اسْتَغْنَى } قَالَ وَقَالَ الْآخَرُ { إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ } [19]

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Ja'far bin 'Aun telah mengabarkan kepada kami Abu 'Umais dari 'Aun ia berkata: " Abdullah berkata: 'Ada dua golongan yang tidak pernah merasa kenyang, yaitu pemilik ilmu dan pemilik dunia, dan keduanya tidak sama. Adapun pemilik ilmu semakin menambah kerelaan terhadap Ar Rahman, dan pemilik dunia selalu melampaui batas (menambah kelaliman), kemudian Abdullah membaca: (Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui batas, karena ia melihat dirinya serba cukup), dia berkata juga, yang lain juga berkata: 'Yang takut kepada Allah diantara hambaNya, hanyalah ulama".

3.1.15.             Sesungguhnya Yang Paling Aku Takutkan Atas Kalian Adalah Apa Yang Akan Allah Keluarkan Dari Tumbuhan Bumi Dan Perhiasan Dunia

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 10611 dinyatakan bahwa sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah apa yang akan Allah keluarkan dari tumbuhan bumi dan perhiasan dunia;

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنِ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ عِيَاضِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي سَرْحٍ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ مَا يُخْرِجُ اللَّهُ مِنْ نَبَاتِ الْأَرْضِ وَزَهْرَةِ الدُّنْيَا فَقَالَ رَجُلٌ أَيْ رَسُولَ اللَّهِ أَوَ يَأْتِي الْخَيْرُ بِالشَّرِّ فَسَكَتَ حَتَّى رَأَيْنَا أَنَّهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ قَالَ وَغَشِيَهُ بُهْرٌ وَعَرَقٌ فَقَالَ أَيْنَ السَّائِلُ فَقَالَ هَا أَنَا وَلَمْ أُرِدْ إِلَّا خَيْرًا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْخَيْرَ لَا يَأْتِي إِلَّا بِالْخَيْرِ إِنَّ الْخَيْرَ لَا يَأْتِي إِلَّا بِالْخَيْرِ إِنَّ الْخَيْرَ لَا يَأْتِي إِلَّا بِالْخَيْرِ وَلَكِنَّ الدُّنْيَا خَضِرَةٌ حُلْوَةٌ وَكَانَ مَا يُنْبِتُ الرَّبِيعُ يَقْتُلُ حَبَطًا أَوْ يُلِمُّ إِلَّا آكِلَةُ الْخَضِرِ فَإِنَّهَا أَكَلَتْ حَتَّى امْتَدَّتْ خَاصِرَتَاهَا وَاسْتَقْبَلَتْ الشَّمْسَ فَثَلَطَتْ وَبَالَتْ ثُمَّ عَادَتْ فَأَكَلَتْ فَمَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهَا بِغَيْرِ حَقِّهَا لَمْ يُبَارَكْ لَهُ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ قَالَ سُفْيَانُ وَكَانَ الْأَعْمَشُ يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ [20]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ibnu Ajlan dari Iyadh bin Abdullah bin Sa'd bin Abu Sarh bahwa ia mendengar Abu Sa'id berkata; Rasulullah  bersabda ketika beliau sedang berada di atas mimbar: "Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah apa yang akan Allah keluarkan dari tumbuhan bumi dan perhiasan dunia, " lalu seorang lelaki bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah kebaikan datang bersama keburukan?" Beliau diam hingga kami melihat wahyu turun kepada beliau. Abu Sa'id berkata, "Beliau terengah dan berkeringat, lalu beliau bersabda: "Mana orang yang bertanya tadi?" Orang itu menjawab, "Aku di sini, dan aku tidak menginginkan kecuali kebaikan, " kemudian Rasulullah  bersabda: "Sesungguhnya kebaikan tidak akan datang kecuali dengan kebaikan, sesungguhnya kebaikan tidak akan datang kecuali dengan kebaikan, sesungguhnya kebaikan tidak akan datang kecuali dengan kebaikan, akan tetapi dunia adalah hijau dan terasa manis, dan apa yang tumbuh pada musim semi dapat membunuh seseorang karena kekenyangan, kecuali penyakit tanaman, sesungguhnya ia makan hingga memanjangkan kedua sisi perutnya, ia menyambut matahari lalu membuang kotorannya, kencing, kemudian kembali makan. Maka barangsiapa mengambil dengan haknya ia akan diberkahi karenanya, dan barangsiapa mengambilnya tidak sesuai dengan haknya maka tidak akan diberkahi, ia seperti orang yang makan tapi tidak pernah merasa kenyang." Sufyan berkata; "Al A'masy bertanya kepadaku tentang hadits ini."

3.1.16. Barangsiapa Yang Dunia Menjadi Kepentingan Utamanya, Allah Akan Mencerai-Beraikan Urusannya

Di dalam kitab Mujam Thabarani Awsath hadits nomer 186 dinyatakan bahwa  barangsiapa yang dunia menjadi kepentingan utamanya, Allah akan mencerai-beraikan urusannya;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ الْحَسَنِ، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ الضَّحَّاكِ، ثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُصَرِّفٍ، ثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ، عَنْ جُنَيْدِ بْنِ الْعَلَاءِ بْنِ أَبِي وَهْرَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سَعِيدٍ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ، عَنْ أُمِّ الدَّرْدَاءِ، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «تَفَرَّغُوا مِنْ هُمُومِ الدُّنْيَا مَا اسْتَطَعْتُمْ، فَإِنَّهُ مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّهِ أَفْشَى الله عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ، وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ، وَمَنْ كَانَتِ الْآخِرَةُ أَكْبَرَ هَمِّهِ جَمَعَ اللهُ تَعَالَى لَهُ أُمُورَهُ، وَجَعَلَ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ، وَمَا أَقْبَلَ عَبْدٌ بِقَلْبِهِ إِلَى اللهِ تَعَالَى إِلَّا جَعَلَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ قُلُوبَ الْمُؤْمِنِينَ تَفِدُ عَلَيْهِ بِالْوِدِّ وَالرَّحْمَةِ، وَكَانَ اللهُ إِلَيْهِ بِكُلِّ خَيْرٍ أَسْرَعَ» كَذَا حَدَّثَنَاهُ عَنْ زَيْدِ بْنِ الْحُبَابِ، وَهُوَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ بِشْرٍ الْعَبْدِيِّ، عَنِ الْجُنَيْدِ أَشْهَرُ [21]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin al-Hasan, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yusuf bin al-Dhahhak, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Musarrif, telah menceritakan kepada kami Zaid bin al-Hubab, dari Junaid bin al-Ala' bin Abi Wahrah, dari Muhammad bin Sa'id, dari Isma'il bin 'Ubaydillah, dari Ummu al-Darda', dari Abu al-Darda' beliau berkata: Rasulullah  bersabda, "Luangkanlah diri kalian dari kepenatan urusan dunia sejauh yang kalian mampu, karena barangsiapa yang dunia menjadi kepentingan utamanya, Allah akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di antara matanya, sedangkan barangsiapa yang akhirat menjadi kepentingan utamanya, Allah akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di dalam hatinya. Tidaklah seorang hamba mendekatkan hatinya kepada Allah kecuali Allah akan menjadikan hati orang-orang beriman itu cenderung kepada dirinya dengan kasih sayang dan rahmat, dan Allah akan segera memberikan kepadanya segala kebaikan." Ini adalah hadis yang disampaikan oleh Zaid bin al-Hubab, dan ia mendapatkannya dari Muhammad bin Bishr al-Abdi, dari Junaid, dan dia termasuk perawi yang lebih terpercaya.

3.1.17.  Barangsiapa Yang Dunia Menjadi Keinginannya, Maka Allah Mengharamkan Berdekatan Denganku

Di dalam kitab al-Mu’jam al-Kabir li-Thabarani hadits nomor 765 dinyatakan bahwa barangsiapa yang dunia menjadi keinginannya, maka Allah mengharamkan berdekatan denganku;     

 حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ , ثنا جَبْرُونُ بْنُ عِيسَى , ثنا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ الْحَفْرِيُّ , ثنا فُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ , ثنا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ , عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ , عَنْ أَبِيهِ , أَنَّ مُعَاوِيَةَ، ضَرَبَ عَلَى النَّاسِ بَعْثًا فَخَرَجُوا , فَرَجَعَ أَبُو الدَّحْدَاحٍ , فَقَالَ لَهُ مُعَاوِيَةُ: أَلَمْ تَكُنْ خَرَجْتَ مَعَ النَّاسِ؟ قَالَ: بَلَى , وَلَكِنِّي سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثًا فَأَحْبَبْتُ أَنْ أَضَعَهُ عِنْدَكَ مَخَافَةَ أَنْ لَا تَلْقَانِي , سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ مَنْ وَلِي مِنْكُمْ عَمَلًا فَحَجَبَ بَابَهُ عَنْ ذِي حَاجَةٍ لِلْمُسْلِمِينَ حَجَبَهُ اللهُ أَنْ يَلِجَ بَابَ الْجَنَّةِ , وَمَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا نَهْمَتَهُ حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ جُوَارِي فَإِنِّي بُعِثْتُ بِخَرَابِ الدُّنْيَا ولَمْ أُبْعَثْ بِعِمَارَتِهَا» غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ الْفُضَيْلِ وَالثَّوْرِيِّ لَمْ نَكْتُبْهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ الْحَفَرِيِّ [22]

Artinya: "Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Ahmad, dari Jabrun bin 'Isa, dari Yahya bin Sulaiman al-Hafri, dari Fudhail bin 'Iyadh, dari Sufyan ats-Thawri, dari 'Awn bin Abi Juhaifah, dari ayahnya, bahwa Muawiyah memerintahkan orang-orang untuk keluar, dan mereka pun keluar. Kemudian Abu ad-Dahdah kembali, lalu Muawiyah berkata kepadanya, 'Bukankah kamu ikut keluar bersama orang-orang?' Abu ad-Dahdah menjawab, 'Ya, tetapi aku mendengar hadits dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, maka aku lebih suka menyimpannya di sini (di rumah) karena khawatir tidak dapat bertemu denganmu.' Aku mendengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Wahai manusia, barangsiapa yang diberi tanggung jawab oleh kalian atas suatu urusan, lalu dia menutup pintu (kesempatan) bagi orang yang membutuhkannya di antara kaum Muslimin, maka Allah akan menutup pintu-Nya bagi orang tersebut untuk masuk ke pintu surga. Dan barangsiapa yang dunia menjadi keinginannya, maka Allah mengharamkan berdekatan denganku. Sesungguhnya aku diutus untuk memerangi dunia, bukan untuk membangunnya.' Hadits ini gharib dari hadits Fudhail dan ats-Thawri, kami hanya mencatatnya dari hadits al-Hafri."

3.1.18. Barangsiapa Yang Hatinya Tertanam Cinta Kepada Dunia, Tiga Hal Akan Menjangkitinya

Di dalam kitab al-Mujam al-Kabir li-Thabarani: hadits nomor 10328 dinyatakan bahwa 'Barangsiapa yang hatinya tertanam cinta kepada dunia, tiga hal akan menjangkitinya;

حَدَّثَنَا جَبْرُونُ بْنُ عِيسَى الْمِصْرِيُّ , ثنا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ الْحَفَرِيُّ , ثنا فُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ , عَنِ الْأَعْمَشِ , عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أُشْرِبَ قَلْبُهُ حُبَّ الدُّنْيَا الْتَاطَ مِنْهُ بِثَلَاثٍ , شَقَاءٌ لَا يَنْفَدُ , وَحَرْصٌ لَا يَبْلُغُ عَنَاهُ , وَأَمَلٌ لَا يَبْلُغُ مُنْتَهَاهُ , وَالدُّنْيَا طَالِبَةٌ وَمَطْلُوبَةٌ فَمَنْ طَلَبَ الدُّنْيَا طَلَبَتْهُ الْآخِرَةُ , وَمَنْ طَلَبَ الْآخِرَةَ طَلَبَتْهُ الدُّنْيَا حَتَّى يَسْتَوْفِيَ مِنْهَا رِزْقَهُ» غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ فُضَيْلٍ وَالْأَعْمَشِ وَحَبِيبٍ , لَمْ نَكْتُبْهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ جَبْرُونَ عَنْ يَحْيَى [23]

Artinya: "Diceritakan kepada kami oleh Jabrun bin Isa al-Misri, dia mengatakan: Diceritakan kepada kami oleh Yahya bin Sulaiman al-Hafarri, dia mengatakan: Diceritakan kepada kami oleh Fudhail bin 'Iyad, dari Al-A'masy, dari Habib bin Abi Thabit, dari Abu Abdurrahman As-Sulami, dari Abdullah bin Mas'ud, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Barangsiapa yang hatinya tertanam cinta kepada dunia, tiga hal akan menjangkitinya: kesengsaraan yang tak berkesudahan, kerinduan yang tak terpenuhi, dan harapan yang tak tercapai. Dunia adalah pencari dan dicari, maka siapa yang mencari dunia, dunia akan mencarinya untuk akhiratnya. Dan siapa yang mencari akhirat, dunia akan mencarinya sampai dia mendapatkan rezekinya.'"

3.1.19. Barangsiapa Mencintai Dunianya, Dia Akan Merugikan Akhiratnya

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 18866 dinyatakan bahwa  'Barangsiapa mencintai dunianya, dia akan merugikan akhiratnya;

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْهَاشِمِيُّ قَالَ ثَنَا إِسْمَاعِيلُ يَعْنِي ابْنَ جَعْفَرٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عَمْرٌو عَن الْمُطَّلِبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَن أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ دُنْيَاهُ أَضَرَّ بِآخِرَتِهِ وَمَنْ أَحَبَّ آخِرَتَهُ أَضَرَّ بِدُنْيَاهُ فَآثِرُوا مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى [24]

Artinya: "Diceritakan kepada kami oleh Sulaiman bin Dawud al-Hashimi, dia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Isma'il, yang dimaksud adalah Ibnu Ja'far, dia berkata: Amru mengabarkan kepada kami dari Al-Muttalib bin Abdullah, dari Abu Musa al-Asy'ari, bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Barangsiapa mencintai dunianya, dia akan merugikan akhiratnya, dan barangsiapa mencintai akhiratnya, dia akan merugikan dunianya. Oleh karena itu, berilah prioritas kepada apa yang abadi daripada yang fana.'"

3.1.20. Manisnya Dunia Itu Pahitnya Akhirat, Dan Pahitnya Dunia Itu Manisnya Akhirat

Di dalam kitab Sunan Abi Daud hadits nomor 19698 dinyatakan 'Manisnya dunia itu pahitnya akhirat, dan pahitnya dunia itu manisnya akhirat;

حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ عَنْ شُرَيْحِ بْنِ عُبَيْدٍ الْحَضْرَمِيِّ أَنَّ أَبَا مَالِكٍ الْأَشْعَرِيَّ لَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ قَالَ يَا سَامِعَ الْأَشْعَرِيِّينَ لِيُبَلِّغْ الشَّاهِدُ مِنْكُمْ الْغَائِبَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ حُلْوَةُ الدُّنْيَا مُرَّةُ الْآخِرَةِ وَمُرَّةُ الدُّنْيَا حُلْوَةُ الْآخِرَةِ [25]

Artinya: Diceritakan kepada kami oleh Abu Al-Mughirah, dia berkata: Diberitakan kepada kami oleh Safwan, dari Shurayh bin 'Ubayd al-Hadrami, bahwa Abu Malik al-Asy'ari, ketika kematian mendekatinya, berkata: 'Wahai pendengar dari orang-orang Asy'ari, sampaikanlah pesanku kepada yang tidak hadir di antara kalian. Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Manisnya dunia itu pahitnya akhirat, dan pahitnya dunia itu manisnya akhirat.'"

3.1.21. Dunia Adalah Penjara Bagi Orang Mukmin Dan Surga Bagi Orang Kafir

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2956 digambarkan bahwa  'Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir;

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي الدَّرَاوَرْدِيَّ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ [26]

Artinya: "Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz, yaitu al-Darawardi, dari Al-Ala', dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan surga bagi orang kafir.'"

3.1.22. Dunia Adalah Penjara Bagi Orang Mukmin Dan Kehidupannya

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 6855 digambarkan bahwa 'Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan kehidupannya;

و حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جُنَادَةَ الْمَعَافِرِيُّ أَنَّ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيَّ حَدَّثَهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو حَدَّثَهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَسَنَتُهُ فَإِذَا فَارَقَ الدُّنْيَا فَارَقَ السِّجْنَ وَالسَّنَةَ [27]

Artinya: "Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abi Ishaq, telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub, telah menceritakan kepada saya Abdullah bin Junadah al-Ma'afiri, bahwa Abu Abdurrahman al-Hubuli menceritakan kepadanya dari Abdullah bin Amr, yang menceritakan kepadanya dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Dunia adalah penjara bagi orang mukmin dan kehidupannya, maka ketika seseorang meninggalkan dunia, dia juga meninggalkan penjara dan kehidupannya.'"

3.1.23. Jika Kamu Meminta Dari Urusan Akhirat, Itu Memudahkan Bagimu, Maka Kamu Dalam Keadaan Baik

Di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor 9970 digambarkan bahwa jika kamu meminta dari urusan akhirat, itu memudahkan bagimu, maka kamu dalam keadaan baik;

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّلَمِيُّ , أَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ مُوسَى أَبُو عَلِيٍّ الْقَاضِي , ثَنَا حَمْزَةُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْكَاتِبُ , ثَنَا نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ , أَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ , عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ: أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ , كَيْفَ لِي أَنْ أَعْلَمَ مَا كَانَ عِنْدَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ قَالَ: " إِذَا رَأَيْتَ كُلَّمَا طَلَبْتَ شَيْئًا مِنَ الدُّنْيَا يُسِّرَ لَكَ , وَإِذَا طَلَبْتَ شَيْئًا مِنْ أَمْرِ الْآخِرَةِ عُسِّرَ عَلَيْكَ فَأَنْتَ عَلَى حَالَةٍ قَبِيحَةٍ , وَإِذَا طَلَبْتَ شَيْئًا مِنَ الدُّنْيَا عُسِّرَ عَلَيْكَ , وَإِذَا طَلَبْتَ مِنْ أُمُورِ الْآخِرَةِ يُسِّرَ لَكَ فَأَنْتَ عَلَى حَالَةٍ حَسَنَةٍ " هَكَذَا جَاءَ مُنْقَطِعًا [28]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdul Rahman al-Salami, saya adalah Al-Husain bin Muhammad bin Musa Abu Ali al-Qadhi, menceritakan kepada kami Hamzah bin Muhammad al-Katib, menceritakan kepada kami Nuaim bin Hammad, saya adalah Ibnu al-Mubarak, dari Abdul Rahman bin Yazid bin Jabir, bahwa Umar bin Khattab berkata: Seorang bertanya, 'Wahai Rasulullah, bagaimana saya bisa mengetahui apa yang ada di sisi Allah Azza wa Jalla?' Beliau bersabda: 'Jika setiap kali kamu meminta sesuatu dari dunia, itu memudahkan bagimu, dan jika kamu meminta sesuatu dari urusan akhirat, itu menjadi sulit bagimu, maka kamu dalam keadaan buruk. Dan jika kamu meminta sesuatu dari dunia, itu menjadi sulit bagimu, dan jika kamu meminta dari urusan akhirat, itu memudahkan bagimu, maka kamu dalam keadaan baik.' Demikianlah hadis ini disampaikan tanpa putus."

Ayat-ayat Al Quran dan hadits yang telah dikemukakan mengingatkan kepada orang beriman untuk bertakwa kepada Allah Dan Janganlah Sekali-Kali Kehidupan Dunia Memperdayakan Kamu, sebagaimana diperingatkan Allah di dalam Al Quran surat Luqman/ 31: 33;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ وَاخْشَوْا يَوْمًا لَا يَجْزِي وَالِدٌ عَنْ وَلَدِهِ وَلَا مَوْلُودٌ هُوَ جَازٍ عَنْ وَالِدِهِ شَيْئًا إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ

Artinya: Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah. (QS. Luqman (31): 33)

Demikian juga tetap berharap dan memohon doa untuk diberikan kebaikan dunia dan akhirat, sebagaimana di sebutkan dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 201;

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". (QS. Al-Baqarah/ 2: 201)

Berawal dari Hubbu dunya selanjutnya akan dapat mendorong perilaku syahwat dan hawa berikutnya; mencintai harta, tamak, bakhil, hasad, zina, khamr dan sebagainya.

Kesadaran untuk menjaga diri agar tidak terpedaya dari kehidupan dunia yang dilakukan karena Allah adalah bentuk ketakwaan kepada Allah dari hubbu dunya, yang merupakan bagian takwa dari syahwat dan hawa.

3.2. Hub Al-Mal (Mencintai Harta)

Imam al-Ghazālī menjelaskan bahwa kecintaan terhadap harta (ubb al-māl) merupakan kecenderungan alami manusia, namun dapat berubah menjadi penyakit hati apabila melampaui batas kebutuhan dan mendorong seseorang terjerumus dalam ketamakan. Dalam Iyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ia menegaskan bahwa kecintaan berlebihan terhadap harta menghalangi perjalanan spiritual karena “harta adalah syahwat yang paling kuat mengikat hati manusia,” sehingga ketika hati dikuasai oleh kecintaan tersebut, ia tidak lagi mampu fokus kepada Allah. [29] Al-Ghazālī menilai ubb al-māl yang tidak terkendali sebagai salah satu akar dari sifat tercela seperti bakhil, tamak, dan hasad. [30]

Sementara itu, Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah melihat ubb al-māl sebagai fitrah yang dapat bernilai positif atau negatif, bergantung pada cara seseorang memperolehnya dan tujuan penggunaannya. Dalam Ighāthat al-Lahfān, ia menyebut bahwa kecintaan berlebihan terhadap harta adalah “penyakit hati yang merusak,” karena menghubungkan jiwa dengan dunia secara berlebihan dan menjadikan harta sebagai tujuan, bukan sebagai sarana ibadah. [31]

Dalam al-Fawā’id, Ibn al-Qayyim menekankan bahwa orang yang dikuasai ubb al-māl akan kehilangan kelapangan hati, sebab “semakin kuat kecintaan seseorang kepada harta, semakin sempit hatinya,” dan hal ini merupakan penghalang besar dalam meraih kedekatan dengan Allah. [32] Dengan demikian, kedua ulama sepakat bahwa ubb al-māl yang melampaui batas adalah penyakit ruhani yang dapat merusak hubungan manusia dengan Tuhannya.

Berikut akan dikemukakan ayat-ayat Al Quran dan Hadits yang menggambarkan tentang kedudukan harta bagi orang beriman;

3.2.1. Dialah Allah, Yang Menjadikan Segala Yang Ada Di Bumi Untuk Kamu

Di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 29 ditegaskan bahwa Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu;

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya: Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.

Berdasar ayat ini ini diperoleh pemahaman pada hakekatnya apa saja yang telah diciptakan Allah di bumi disediakan untuk manusia, namun untuk kebaikan manusia syariat Islam mengatur penggunaannya.

3.2.2. Sesungguhnya Hartamu Dan Anak-Anakmu Hanyalah Cobaan

Di dalam Al Quran surat At-Taghabun/ 64: 15 dan Al-Anfal/ 8: 28 dinyatakan bahwa Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan;

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya: Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. At-Taghabun/ 64: 15)

وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya: Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS. Al-Anfal/ 8: 28)

3.2.3. Janganlah Hartamu Dan Anak-Anakmu Melalaikan Kamu Dari Mengingat Allah

Di dalam Al Quran surat Al-Munafiqun/ 63: 9 disebutkan larangan: janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya: Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi. (QS. Al-Munafiqun/ 63: 9)

3.2.4. Makanlah Yang Halal Lagi Baik Dari Apa Yang Terdapat Di Bumi

Al-Baqarah/ 2: 168 dan 172 makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah/ 2: 168)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah. (QS. Al-Baqarah/ 2: 172)

3.2.5. Janganlah Kamu Saling Memakan Harta Sesamamu Dengan Jalan Yang Batil

Di dalam Al Quran surat An-Nisa'/ 4: 29 disebutkan larangan janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلَّا أَنْ تَكُونَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. (QS. An-Nisa'/ 4: 29)

3.2.6. Makanlah Di Antara Rezeki Yang Baik Yang Telah Kami Berikan Kepadamu, Dan Janganlah Melampaui Batas Padanya

Thaha (20): 81 Makanlah di antara rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya

كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَلَا تَطْغَوْا فِيهِ فَيَحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبِي وَمَنْ يَحْلِلْ عَلَيْهِ غَضَبِي فَقَدْ هَوَى

Artinya: Makanlah di antara rezeki yang baik yang telah Kami berikan kepadamu, dan janganlah melampaui batas padanya, yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barangsiapa ditimpa oleh kemurkaan-Ku, maka sesungguhnya binasalah ia.

3.2.7. Janganlah Kamu Mendekati Harta Anak Yatim, Kecuali Dengan Cara Yang Lebih Baik

Al-Isra' (17): 34 janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّى يَبْلُغَ أَشُدَّهُ وَأَوْفُوا بِالْعَهْدِ إِنَّ الْعَهْدَ كَانَ مَسْئُولًا

Artinya: Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik (bermanfaat) sampai ia dewasa dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya.

3.2.8. Celakalah Budak Dinar, Budak Dirham Dan Budak Pakaian (Sutra Kasar) Serta Budak Khamishah (Campuran Sutera)

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6435 ditegaskan Celakalah Budak Dinar, Budak Dirham Dan Budak Pakaian (Sutra Kasar) Serta Budak Khamishah (Campuran Sutera);

حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا أَبُو بَكْرٍ عَنْ أَبِي حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ وَالدِّرْهَمِ وَالْقَطِيفَةِ وَالْخَمِيصَةِ إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ لَمْ يَرْضَ [33]

Artinya: Telah menceritakan kepadaku Yahya bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Abu Bakr dari Abu Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah bersabda: "Celakalah budak dinar, budak dirham dan budak pakaian (sutra kasar) serta budak Khamishah (campuran sutera), jika diberi ia akan ridla dan jika tidak diberi maka dia tidak akan ridla."

3.2.9. Makanlah Makanan Yang Halal Lagi Baik Dari Apa Yang Allah Telah Rezekikan Kepadamu, Dan Bertakwalah Kepada Allah

Di dalam Al Quran surat Al-Maidah/ 5: 88 disebutkan perintah makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah;

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

Artinya: Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. (QS. Al-Maidah/ 5: 88)

3.2.10. Bertakwalah Kepada Allah Dan Tinggalkan Sisa Riba

Di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 278 disebutkan perintah bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَذَرُوا مَا بَقِيَ مِنَ الرِّبَا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Al-Baqarah/ 2: 278)

3.2.11. Ambillah Zakat Dari Sebagian Harta Mereka, Dengan Zakat Itu Kamu Membersihkan Dan Mensucikan Mereka

Di dalam Al Quran surat At-Taubah/ 9: 103 Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka;

خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan mensucikan mereka dan mendoalah untuk mereka. Sesungguhnya doa kamu itu (menjadi) ketenteraman jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. At-Taubah/ 9: 103)

3.2.12. Bukanlah Kekayaan Itu Karena Banyaknya Harta, Akan Tetapi Kekayaan Itu Adalah Kaya Hati

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6081 dinyatakan bahwa Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah kaya hati;

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو حَصِينٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ [34]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Abu Bakr telah menceritakan kepada kami Abu Hashin dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda: "Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, akan tetapi kekayaan itu adalah kaya hati."

3.2.13. Barangsiapa Yang Tertimpa Kemiskinan Lalu Menampakkannya Kepada Manusia, Maka Kemiskinannya Tidak Hilang

Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 1642 dinyatakana bahwa Barangsiapa yang tertimpa kemiskinan lalu menampakkannya kepada manusia, maka kemiskinannya tidak hilang;

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ ح و حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ حَبِيبٍ أَبُو مَرْوَانَ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ وَهَذَا حَدِيثُهُ عَنْ بَشِيرِ بْنِ سَلْمَانَ عَنْ سَيَّارٍ أَبِي حَمْزَةَ عَنْ طَارِقٍ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصَابَتْهُ فَاقَةٌ فَأَنْزَلَهَا بِالنَّاسِ لَمْ تُسَدَّ فَاقَتُهُ وَمَنْ أَنْزَلَهَا بِاللَّهِ أَوْشَكَ اللَّهُ لَهُ بِالْغِنَى إِمَّا بِمَوْتٍ عَاجِلٍ أَوْ غِنًى عَاجِلٍ [35]

Artinya: Telah menceritakan kepada Kami Musaddad, telah menceritakan kepada Kami Abdullah bin Daud, dan telah diriwayatkan dari jalur yang lain: Telah menceritakan kepada Kami Abdul Malik bin Habib Abu Marwan, telah menceritakan kepada Kami Ibnu Al Mubarak, dan ini adalah haditsnya, dari Basyir bin Salman dari Sayyar Abu Hamzah, dari Thariq dari Ibnu Mas'ud, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang tertimpa kemiskinan lalu menampakkannya kepada manusia, maka kemiskinannya tidak hilang, dan barangsiapa yang menampakkannya kepada Allah, maka Allah akan mempercepat kekayaan baginya, baik dengan kematian yang segera atau dengan kekayaan yang cepat."

3.2.14. Tidak Apa-Apa Dengan Kaya Bagi Orang Yang Bertakwa

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 16643 dinyatakan bahwa tidak apa-apa dengan kaya bagi orang yang bertakwa;

حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي سُلَيْمَانَ مَدِينِيٌّ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خُبَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَمِّهِ قَالَ كُنَّا فِي مَجْلِسٍ فَطَلَعَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى رَأْسِهِ أَثَرُ مَاءٍ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرَاكَ طَيِّبَ النَّفْسِ قَالَ أَجَلْ قَالَ ثُمَّ خَاضَ الْقَوْمُ فِي ذِكْرِ الْغِنَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنْ اتَّقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَالصِّحَّةُ لِمَنْ اتَّقَى اللَّهَ خَيْرٌ مِنْ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنْ النِّعَمِ [36]

Artinya:  Telah menceritakan kepada kami Abu 'Amir 'Abdul Malik bin 'Amru telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Abu Sulaiman Madini telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin 'Abdullah bin Hubaib dari ayahnya dari pamannya berkata: Kami berada disuatu majlis kemudian Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam datang, di rambut beliau ada sisa-sisa air, kami berkata: Wahai Rasulullah! Kami melihat Baginda sedang bahagia. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Benar." Kemudian orang-orang memperbincangkan kekayaan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Tidak apa-apa dengan kekayaan bagi orang yang bertakwa kepada Allah 'azza wajalla dan kesehatan bagi orang yang bertakwa kepada Allah itu lebih baik dan kebahagiaan jiwa itu termasuk kenikmatan."

3.2.15. Doa Mohon Perlindungan Dari Ujian Kaya Dan Ujian Miskin

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6015 disebutkan doa aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kekayaan dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kefakiran;

 حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا سَلَّامُ بْنُ أَبِي مُطِيعٍ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ خَالَتِهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَتَعَوَّذُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ النَّارِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْغِنَى وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْفَقْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ [37]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il telah menceritakan kepada kami Salam bin Abu Muthi' dari Hisyam dari Ayahnya dari Bibinya bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam biasa meminta perlindungan dengan (membaca): Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah neraka dan siksa neraka, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kubur dan siksa kubur, aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kekayaan dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah kefakiran dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah Dajjal)."

Berdasar ayat dan hadits yang telah dikemukakan dapat ditarik pemahaman bahwa meskipun semua harta yang ada di muka bumi disediakan untuk manusia tetapi untuk dapat menggunakannya harus mengikuti syariat yang telah ditetapkan, seperti; memperolehnya dengan cara yang baik dan halal, tidak melampaui batas, tidak mengandung riba.

Harta hanyalah sebagai sarana untuk menggapai Ridha Allah hingga dapat mengantar kepada kebahagiaan di akherat, mencintai harta tidak boleh melebihi cintanya kepada Allah, Rasulullah dan berjuang di jalan Allah. Boleh menjadi kaya selama hartanya dapat digunakan untuk ketakwaan kepada Allah.

Kesadaran mengendalikan diri untuk mengharapkan, memperoleh dan menggunakan harta sesuai syariat Islam adalah bentuk ketakwaan kepada Allah dari mencintai harta, merupakan bentuk ketakwaan dari Syahwat dan Hawa. Dan salah satu cara untuk membersihkan qalbu dari cinta harta adalah dengan bersedekahkan/ zakat.

3.3. Tamak

Tamak; loba; serakah adalah selalu ingin beroleh banyak untuk diri sendiri. [38]  Imam al-Ghazālī menjelaskan bahwa ama‘ adalah adalah lemahnya jiwa yang menggantungkan diri kepada apa yang ada di tangan manusia, serta berharap dan bergantung kepadanya.”[39]

Di dalam Al Quran Surat Al-Humazah/ 104: 2 dan Surat Al-Fajr/ 89: 20, Allah menggambarkan orang tamak dengan orang yang mengumpulkan harta dan terus menghitungnya dan mencintai harta dengan kecitaan yang berlebihan;

الَّذِي جَمَعَ مَالًا وَعَدَّدَهُ, يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ

Artinya: yang mengumpulkan harta dan menghitung-hitung, dia mengira bahwa hartanya itu dapat mengkekalkannya, (QS. Al-Humazah/ 104: 2)

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبًّا جَمًّا

Artinya: dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.(QS. Al-Fajr/ 89: 20)

Sifat tamak (ama‘) dalam perspektif Islam dipahami sebagai kondisi psikologis ketika hati manusia cenderung menginginkan sesuatu secara berlebihan dan menggantungkan harapan kepada selain Allah sehingga menghilangkan rasa cukup (qanā‘ah). Al-Qur’an menggambarkan sifat ini sebagai keserakahan yang bersumber dari kecintaan berlebihan terhadap harta, sebagaimana ditegaskan dalam QS. al-‘Ādiyāt (100):8 bahwa “sesungguhnya manusia sangat kuat kecintaannya kepada harta”. Bentuk tamak ini juga tampak pada perilaku mengumpulkan dan menghitung-hitung harta dengan anggapan bahwa materi duniawi mampu memberi kekekalan, sebagaimana digambarkan dalam QS. al-Humazah (104):2–3.

Berikut dikemukakan beberapa ayat dan hadits yang berkaitan dengan perilaku tamak dan upaya yang harus dilakukan menjaga diri dari perilaku tamak; takwa dari tamak;

3.3.1. Seburuk Buruk Hamba Adalah Hamba Yang Dikendalikan Oleh Sifat Tamak

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi Hadis nomor 2372 dinyatakan bahwa seburuk buruk hamba adalah hamba yang dikendalikan oleh sifat tamak;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الْأَزْدِيُّ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا هَاشِمٌ وَهُوَ ابْنُ سَعِيدٍ الْكُوفِيُّ حَدَّثَنِي زَيْدٌ الْخَثْعَمِيُّ عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ الْخَثْعَمِيَّةِ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ تَخَيَّلَ وَاخْتَالَ وَنَسِيَ الْكَبِيرَ الْمُتَعَالِ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ تَجَبَّرَ وَاعْتَدَى وَنَسِيَ الْجَبَّارَ الْأَعْلَى بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ سَهَا وَلَهَا وَنَسِيَ الْمَقَابِرَ وَالْبِلَى بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ عَتَا وَطَغَى وَنَسِيَ الْمُبْتَدَا وَالْمُنْتَهَى بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ يَخْتِلُ الدُّنْيَا بِالدِّينِ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ يَخْتِلُ الدِّينَ بِالشُّبُهَاتِ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ طَمَعٌ يَقُودُهُ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ هَوًى يُضِلُّهُ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ رَغَبٌ يُذِلُّهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَلَيْسَ إِسْنَادُهُ بِالْقَوِيِّ [40]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya Al Azdi Al Bashri telah menceritakan kepada kami 'Abdus Shamad bin 'Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Sa'id Al Kufi telah menceritakan kepada kami Zaid Al Khats'ami dari Asma` binti 'Umais Al Khats'amiyah berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Seburuk buruk hamba adalah hamba yang sombong, berbangga diri dan lupa terhadap Dzat yang maha besar dan maha tinggi, seburuk buruk hamba adalah hamba yang diktator dan kejam dan dia lupa terhadap Dzat yang maha perkasa lagi maha tinggi, seburuk buruk hamba adalah hamba yang lupa dan lalai dan lupa akan kuburan dan ujian, seburuk buruk hamba adalah hamba yang melampaui batas dan berlebih lebihan, lupa terhadap adanya permulaan dan kesudahan, seburuk buruk hamba adalah hamba yang mencari dunia dengan mengorbankan agama, seburuk buruk hamba adalah hamba yang mencari agama dengan hal hal yang syubhat, seburuk buruk hamba adalah hamba yang dikendalikan oleh sifat tamak, seburuk buruk hamba adalah hamba yang dikuasai oleh hawa nafsu yang menyesatkannya dan seburuk buruk hamba adalah hamba yang dikuasai sifat rakus yang menjadikannya hina." Abu Isa berkata: Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur sanad ini sedangkan sanadnya tidak kuat."

3.3.2. Yang Menghilangkan Ilmu Dari Hati Seseorang Adalah Sikap Tamak

Di dalam kitab Musnad Darimi Hadis No. 595 digambarkan 'Apa yang menghilangkan ilmu dari hati seseorang? '. 'Yaitu sikap tamak (rakus) ' "

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ أَبِي خَلَفٍ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ مَنْ أَرْبَابُ الْعِلْمِ قَالَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ بِمَا يَعْلَمُونَ قَالَ فَمَا يَنْفِي الْعِلْمَ مِنْ صُدُورِ الرِّجَالِ قَالَ الطَّمَعُ [41]

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Abu Khalaf telah menceritakan kepada kami Anas bin 'Iyadl telah menceritakan kepadaku 'Ubaidullah bin Umar. Bahwasanya Umar bin Al Khatthab radliallahi 'anhu berkata kepada Abdullah bin Salam: 'Siapakah yang disebut sebagai orang yang berilmu? ', ia menjawab: 'Yaitu orang yang mengamalkan ilmunya'. Kemudian Umar berkata lagi: 'Apa yang menghilangkan ilmu dari hati seseorang? '. Ia menjawab: 'Yaitu sikap tamak (rakus) ' ".

3.3.3. Amalan Mereka Hanya Ketamakan Tanpa Tercampuri Rasa Takut Jika Mereka Melakukan Kelalaian

Di dalam kitab Musnad Darimi Hadis nomor 3389 dinyatakan bahwa

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُبَارَكِ حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ جَابِرٍ حَدَّثَنَا شَيْخٌ يُكَنَّى أَبَا عَمْرٍو عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ سَيَبْلَى الْقُرْآنُ فِي صُدُورِ أَقْوَامٍ كَمَا يَبْلَى الثَّوْبُ فَيَتَهَافَتُ يَقْرَءُونَهُ لَا يَجِدُونَ لَهُ شَهْوَةً وَلَا لَذَّةً يَلْبَسُونَ جُلُودَ الضَّأْنِ عَلَى قُلُوبِ الذِّئَابِ أَعْمَالُهُمْ طَمَعٌ لَا يُخَالِطُهُ خَوْفٌ إِنْ قَصَّرُوا قَالُوا سَنَبْلُغُ وَإِنْ أَسَاءُوا قَالُوا سَيُغْفَرُ لَنَا إِنَّا لَا نُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا [42]

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Al Mubarak telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Khalid dari Ibnu Jabir telah menceritakan kepada kami seorang syaikh yang dijuluki Abu Amr dari Mu'adz bin Jabal ia berkata; Al Qur'an akan usang di dalam dada beberapa kaum sebagaimana usangnya pakaian. Mereka berlomba membacanya namun mereka tidak merasakan kenikmatan dan kelezatan membacanya. Mereka ibarat orang yang mengenakan pakaian dari kulit domba namun berhati serigala, amalan mereka hanya ketamakan tanpa tercampuri rasa takut jika mereka melakukan kelalaian. Mereka berkata; Kami pasti akan sampai, sekalipun mereka berbuat jahat. Mereka berkata; Kami pasti akan diampuni, karena sesungguhnya kami tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun.

3.3.4. Setiap Manusia Pasti Akan Menjadi Tua. Namun Jiwanya Tetap Muda Mengenai Dua Perkara, Yaitu: Tamak Akan Harta Benda Dan Selalu Ingin Panjang Umur

Di dalam Shahih Muslim hadits nomor 1047; dijelaskan bahwa Setiap manusia pasti akan menjadi tua. Namun jiwanya tetap muda mengenai dua perkara, yaitu: tamak akan harta benda dan selalu ingin panjang umur;

و حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يَحْيَى وَسَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ كُلُّهُمْ عَنْ أَبِي عَوَانَةَ قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَهْرَمُ ابْنُ آدَمَ وَتَشِبُّ مِنْهُ اثْنَتَانِ الْحِرْصُ عَلَى الْمَالِ وَالْحِرْصُ عَلَى الْعُمُرِ  [43]

Artinya: Dan telah menceritakan kepadaku [Yahya bin Yahya] dan [Sa'id bin Manshur] dan [Qutaibah bin Sa'id] semuanya dari [Abu Awanah] - [Yahya] berkata- telah mengabarkan kepada kami [Abu Awanah] dari [Qatadah] dari [Anas] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Setiap manusia pasti akan menjadi tua. Namun jiwanya tetap muda mengenai dua perkara, yaitu: tamak akan harta benda dan selalu ingin panjang umur."

3.3.5. Ambisi Seseorang Terhadap Harta Dan Kemuliaan (Kedudukan) Terhadap Agamanya

Di dalam kitab Musnad Darimi Hadis No. 595 digambarkan 'Apa yang menghilangkan ilmu dari hati seseorang? '. 'Yaitu sikap tamak (rakus) ' "

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ الْمُبَارَكِ ،  عَنْ زَكَرِيَّا بْنِ أَبِي زَائِدَةَ ،  عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعْدِ بْنِ زُرَارَةَ ،  عَنِ ابْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ الْأَنْصَارِيِّ ،  عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ». [44]

Artinya: Telah meriwayatkan kepada kami Suwail bin Nar, ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullāh bin al-Mubārak, dari Zakariyyā bin Abī Zā’idah, dari Muammad bin ‘Abdirramān bin Sa‘d bin Zurārah, dari Ibn Ka‘b bin Mālik al-Anārī, dari ayahnya (Ka‘b bin Mālik), ia berkata: Rasulullah  bersabda:Tidaklah dua serigala lapar yang dilepaskan pada sekawanan kambing lebih merusak dibandingkan ambisi seseorang terhadap harta dan kemuliaan (kedudukan) terhadap agamanya.”.

3.3.6. Sekiranya Anak Adam Diberi Satu Bukit Yang Dipenuhi Dengan Emas, Niscaya Ia Akan Menginginkan Bukit Yang Kedua Dan Apabila Diberi Yang Kedua, Niscaya Ia Menginginkan Bukit Yang Ketiga

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6438, dijelaskan gambaran sifat thamak manusia dengan permisalan sebagai berikut;

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سُلَيْمَانَ بْنِ الْغَسِيلِ عَنْ عَبَّاسِ بْنِ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ الزُّبَيْرِ عَلَى الْمِنْبَرِ بِمَكَّةَ فِي خُطْبَتِهِ يَقُولُ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ ابْنَ آدَمَ أُعْطِيَ وَادِيًا مَلْئًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَانِيًا وَلَوْ أُعْطِيَ ثَانِيًا أَحَبَّ إِلَيْهِ ثَالِثًا وَلَا يَسُدُّ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَاب [45]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] telah menceritakan kepada kami [Abdurrahman bin Sulaiman bin Al Ghasil] dari ['Abbas bin Sahl bin Sa'd] dia berkata; saya mendengar [Ibnu Zubair] dalam khutbahnya di atas mimbar ketika di Makkah, katanya; "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Sekiranya anak Adam diberi satu bukit yang dipenuhi dengan emas, niscaya ia akan menginginkan bukit yang kedua, dan apabila diberi yang kedua, niscaya ia menginginkan bukit yang ketiga, dan tidaklah perut anak Adam dipenuhi melainkan dengan tanah, dan Allah akan menerima taubat siapa saja yang bertaubat.'

3.3.7. Orang Yang Jika Berlebih-Lebihan Atas Ketamakan Ia Tinggalkan Untuk Allah

Di dalam kitab Musnad Ahmad  Hadis nomor. 10628 digambarkan bahwa Orang-orang yang beriman di dunia ini ada tiga golongan, salah satunya orang yang jika berlebih-lebihan atas ketamakan ia tinggalkan untuk Allah;

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا رِشْدِينُ قَالَ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ عَنْ أَبِي السَّمْحِ عَنْ أَبِي الْهَيْثَمِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُونَ فِي الدُّنْيَا عَلَى ثَلَاثَةِ أَجْزَاءٍ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِي يَأْمَنُهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ثُمَّ الَّذِي إِذَا أَشْرَفَ عَلَى طَمَعٍ تَرَكَهُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ [46]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ghailan berkata: telah menceritakan kepada kami Risydin berkata: telah menceritakan kepada kami 'Amru Ibnul Harits dari Abu As Samh dari Abu Al Haitsam dari Abu Sa'id Al Khudri Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Orang-orang yang beriman di dunia ini ada tiga golongan: orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya kemudian tidak ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa-jiwa mereka di jalan Allah, orang-orang yang mana manusia merasa aman terhadap diri-diri mereka harta-harta mereka, kemudian orang yang jika berlebih-lebihan atas ketamakan ia tinggalkan untuk Allah 'azza wajalla."

3.3.8. Berdoa Mohon Perlindungan Dari Sifat Tamak Yang Menyeret Kepada Tamak Lainnya

Di dalam kitab Al Du’a Li-Al-Thabarani Hadits nomor 1036 disebutkan doa Mohonlah perlindungan kepada Allah dari sifat tamak (ketamakan) yang menyeret kepada tamak lainnya;

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ خُلَيْدٍ الْحَلَبِيُّ، ثنا أَبُو نُعَيْمٍ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَامِرٍ الْأَسْلَمِيُّ، عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْجُرَشِيِّ، عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: «اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ طَمَعٍ يَهْدِي إِلَى طَمَعٍ، وَمِنْ طَمَعٍ إِلَى غَيْرِ مَطْمَعٍ، وَمِنْ طَمَعٍ حَيْثُ لَا طَمَعَ»[47]

Artinya: Telah meriwayatkan kepada kami Ahmad bin Khulaid al-Halabī, telah meriwayatkan kepada kami Abū Nu‘aim, telah meriwayatkan kepada kami ‘Abdullāh bin ‘Āmir al-Aslamī, dari al-Walīd bin ‘Abdirramān al-Jurashī, dari Jubair bin Nufair, dari Mu‘ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu, bahwa Nabi  bersabda:Mohonlah perlindungan kepada Allah dari sifat tamak (ketamakan) yang menyeret kepada tamak lainnya, dan dari tamak yang mengantarkan kepada sesuatu yang tidak layak ditamaki, serta dari tamak pada tempat yang tidak ada harapan (untuk didapatkan).”

3.3.9. Berdoa Mohon Perlindungan Kepada Allah Dari Sifat Tamak Yang Menyeret Kepada Perilaku Tercela

Di dalam kitab Al Du’a Li-Al-Thabarani Hadits nomor 1036 disebutkan doa Mintalah perlindungan kepada Allah dari sifat tamak yang menyeret kepada perilaku tercela;

حَدَّثَنَا طَالِبُ بْنُ قُرَّةَ الْأَذَنِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عِيسَى الطَّبَّاعُ، ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ سُلَيْمٍ الْكِنَانِيِّ، عَنْ يَحْيَى بْنِ جَابِرٍ الطَّائِيِّ، عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ الْكِنْدِيِّ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: «تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ طَمَعٍ يَهْدِي إِلَى طَبَعٍ، وَمِنْ طَمَعٍ يَهْدِي إِلَى غَيْرِ مَطْمَعٍ»[48]

Artinya: Telah meriwayatkan kepada kami ālib bin Qurrah al-Adzanī, telah meriwayatkan kepada kami Muammad bin ‘Īsā ath-Thabbā‘, telah meriwayatkan kepada kami Ismā‘īl bin ‘Ayyāsy, dari Sulaimān bin Sulaim al-Kinānī, dari Yayā bin Jābir ath-ā’ī, dari al-Miqdām bin Ma‘dī Karib al-Kindī radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Aku mendengar Nabi  bersabda:Mintalah perlindungan kepada Allah dari sifat tamak yang menyeret kepada perilaku tercela, dan dari tamak yang mengantarkan kepada sesuatu yang tidak layak ditamaki.”

Ayat-ayat dan hadits yang telah dikemukakan mengingatkan kepada orang beriman untuk mengabdi; menyembah; mentaati Allah dan untuk tidak tamak yang dilakuakan karena takwa; taat kepada Allah, ketaatan untuk tidak tamak ini termasuk di dalam ketakwaan kepada Allah dari syahwat dan hawa.

3.4. Hirs

Dalam bahasa Arab “Hirs” berarti ambisi; sangat menginginkan; hasrat yang berlebihan, mam al-Ghazālī menjelaskan bahwa ir adalah sifat jiwa yang membuat manusia tidak pernah merasa cukup, selalu menginginkan lebih, dan terus mencari dunia tanpa batas.

»وَالْحِرْصُ هُوَ شَرَهُ النَّفْسِ فِي طَلَبِ الزِّيَادَةِ، وَلَا يَقِفُ صَاحِبُهُ عَلَى حَدٍّ [49]. «

Artinya: “Hir adalah keburukan jiwa dalam menuntut tambahan, dan pemiliknya tidak akan berhenti pada batas apa pun.”

Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa hakikat ir adalah keinginan yang tidak ada batasnya, sehingga seseorang terus mengejar dunia sepanjang hayatnya.

»الْحِرْصُ شَرَفُ الدُّنْيَا يَسْتَغْرِقُ الْقَلْبَ، وَلَا يَشْبَعُ صَاحِبُهُ أَبَدًا.[50] «

Artinya: “Hirs terhadap dunia menyita seluruh hati, dan pemiliknya tidak akan pernah merasa puas.”

Ibnu Qayyim juga menjelaskan bahwa ir termasuk penyakit hati yang sangat berbahaya karena mendorong manusia mengejar dunia tanpa batas.

»وَالْحِرْصُ مِنْ أَكْبَرِ أَمْرَاضِ الْقُلُوبِ، فَإِنَّهُ لَا يَزَالُ يَجُرُّ الْعَبْدَ إِلَى الطَّمَعِ وَالتَّعَلُّقِ بِالْخَلْقِ. [51] «

Artinya: “Kerakusan (ir) termasuk penyakit hati terbesar, karena ia selalu menyeret seorang hamba kepada tamak (ama‘) dan ketergantungan kepada makhluk.”

Berikut ini dikemukakan ayat Al Quran dan Hadits tentang keburukan hirs terhadap dunia dan jabatan, antara lain;

3.4.1. Sungguh Kamu Akan Mendapati Mereka, Manusia Yang Paling Loba/ Ambisi Kepada Kehidupan (Di Dunia)

Di dalam Al Quran surat Al-Baqarah (2): 96 dinyatakan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia);

وَلَتَجِدَنَّهُمْ أَحْرَصَ النَّاسِ عَلَى حَيَاةٍ وَمِنَ الَّذِينَ أَشْرَكُوا يَوَدُّ أَحَدُهُمْ لَوْ يُعَمَّرُ أَلْفَ سَنَةٍ وَمَا هُوَ بِمُزَحْزِحِهِ مِنَ الْعَذَابِ أَنْ يُعَمَّرَ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا يَعْمَلُونَ

Artinya: Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya daripada siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah (2): 96)

3.4.2. Kalian Akan Berambisi Terhadap Jabatan, Padahal Jabatan Itu Akan Menjadi Penyesalan Dihari Kiamat

Di dalam kitab Shahih Bukhari Hadits nomor 6615 dinyatakan bahwa kalian akan berambisi terhadap jabatan, padahal jabatan itu akan menjadi penyesalan dihari kiamat

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الْإِمَارَةِ وَسَتَكُونُ نَدَامَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَنِعْمَ الْمُرْضِعَةُ وَبِئْسَتْ الْفَاطِمَةُ وَقَالَ مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ حُمْرَانَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْحَكَمِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَوْلَهُ [52]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi'b dari Sa'id Al Maqburi dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "kalian akan berambisi terhadap jabatan, padahal jabatan itu akan menjadi penyesalan dihari kiamat, ia adalah seenak-enak penyusuan dan segetir-getir penyapihan." Muhamad bin Basyar berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Humran telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Ja'far dari Sa'id Al Maqburi dari Umar bin Al Hakam dari Abu Hurairah seperti diatas.

3.4.3. Kami Tidak Akan Memberikan Jabatan Ini Kepada Orang Yang Memintanya, Tidak Juga Kepada Orang Yang Ambisi Terhadapnya

Sedangkan di dalam kitab Shahih Bukhari Hadits nomor. 6616 disebutkan pernyataan Rasulullah SAW terhadap orang yang menginginkan jabatan; Kami tidak akan memberikan jabatan ini kepada orang yang memintanya, tidak juga kepada orang yang ambisi terhadapnya;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ بُرَيْدٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَا وَرَجُلَانِ مِنْ قَوْمِي فَقَالَ أَحَدُ الرَّجُلَيْنِ أَمِّرْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَالَ الْآخَرُ مِثْلَهُ فَقَالَ إِنَّا لَا نُوَلِّي هَذَا مَنْ سَأَلَهُ وَلَا مَنْ حَرَصَ عَلَيْهِ [53]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al 'Ala` telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid dari Abu Burdah dari Abu Musa radliallahu 'anhu mengatakan: aku menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersama dua orang kaumku, lantas satu diantara kedua orang itu mengatakan: 'Jadikanlah kami pejabat ya Rasulullah? ' orang kedua juga mengatakan yang sama. Secara spontan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Kami tidak akan memberikan jabatan ini kepada orang yang memintanya, tidak juga kepada orang yang ambisi terhadapnya."

Sedangkan Hirs yang diperbolehkan disebutkan di dalam kitab Shahih Muslim Hadits nomor. 4816, Rasulullah SAW menyatakan “Pada masing-masing memang terdapat kebaikan, Capailah dengan sungguh-sungguh apa yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla”;

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ [54]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Ibnu Numair mereka berdua berkata: telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Idris dari Rabi'ah bin 'Utsman dari Muhammad bin Yahya bin Habban dari Al A'raj dari Abu Hurairah dia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta 'ala daripada orang mukmin yang lemah. Pada masing-masing memang terdapat kebaikan. Capailah dengan sungguh-sungguh apa yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah. Apabila kamu tertimpa suatu kemalangan, maka janganlah kamu mengatakan: 'Seandainya tadi saya berbuat begini dan begitu, niscaya tidak akan menjadi begini dan begitu'. Tetapi katakanlah: 'lni sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan dilaksanakan-Nya. Karena sesungguhnya ungkapan kata 'law' (seandainya) akan membukakan jalan bagi godaan syetan.'"

Dengan demikian menjaga diri dari ambisi terhadap dunia dan jabatan adalah bentuk ketakwaan dari hirs, yang merupakan bagian ketakwaan dari syahwat dan hawa. Sedangkan ambisi terhadap dunia dan jabatan diperbolehkan jika digunakan untuk kebaikan.

3.5. Hasad

Kata hasad berasal dari hasada-yahsudu-hasadan yang artinya adalah keirian, kecemburuan, kedengkian.[55]  Menurut Imam al-Ghazālī, hasad merupakan salah satu penyakit hati paling berbahaya yang memiliki dampak spiritual, psikologis, dan sosial. Ia mendefinisikan hasad sebagai sikap batin ketika seseorang membenci nikmat yang Allah berikan kepada orang lain, disertai keinginan agar nikmat tersebut hilang darinya. [56] Dalam analisis etisnya, al-Ghazālī menegaskan bahwa hasad tidak muncul kecuali dari jiwa yang rusak (khubts al-nafs), lemahnya komitmen keagamaan, dan kecintaan berlebihan terhadap dunia. [57] Lebih jauh, hasad disebut sebagai sumber berbagai kerusakan moral karena ia merusak kejernihan hati, menimbulkan permusuhan, memecah ikatan sosial, dan menimbulkan penderitaan batin yang terus-menerus bagi pelakunya. [58]

Dengan demikian Hasad dapat disebut sebagai sebuah emosi yang timbul karena merasa kurang senang, kurang bersyukur dengan apa yang dimilikinya dan cemburu dengan apa yang didapatkan atau dimiliki oleh orang lain karena dia anggap hal tersebut lebih dari apa yang dimilikinya.

Di dalam Al Quran Surat An-Nisa'/ 4: 32, menjelaskan larangan iri terhadap karunia orang lain, janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain;

وَلَا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ ۚ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا ۖ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ ۚ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Artinya: Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. An-Nisa'/ 4: 32)

Berikut dikemukakan beberapa ayat dan hadits yang berkaitan dengan perilku hasad;

3.5.1. Jauhilah Hasad (Dengki), Karena Hasad Dapat Memakan Kabaikan Seperti Api Memakan Kayu Bakar

Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 4904, dijelaskan untuk menjauhi hasad (dengki), karena hasad dapat memakan kabaikan seperti api memakan kayu bakar;

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ صَالِحٍ الْبَغْدَادِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ يَعْنِي عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ عَمْرٍو حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ أَبِي أَسِيدٍ عَنْ جَدِّهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِيَّاكُمْ وَالْحَسَدَ فَإِنَّ الْحَسَدَ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ أَوْ قَالَ الْعُشْبَ [59]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Utsman bin Shalih Al Baghdadi] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abu Amir] -maksudnya Abdul Malik bin Amru- berkata, telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Bilal] dari [Ibrahim bin Abu Asid] dari [Kakeknya] dari [Abu Hurairah] bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Jauhilah hasad (dengki), karena hasad dapat memakan kabaikan seperti api memakan kayu bakar."

3.5.2. Penyakit Ummat-Ummat Sebelum Kalian Merayap Mendatangi Kalian: Hasad Dan Kebencian

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi Hadits nomor 2434 disebutkan bahwa Penyakit ummat-ummat sebelum kalian merayap mendatangi kalian: hasad dan kebencian;

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ عَنْ حَرْبِ بْنِ شَدَّادٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ يَعِيشَ بْنِ الْوَلِيدِ أَنَّ مَوْلَى الزُّبَيْرِ حَدَّثَهُ أَنَّ الزُّبَيْرَ بْنَ الْعَوَّامِ حَدَّثَهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَبَّ إِلَيْكُمْ دَاءُ الْأُمَمِ قَبْلَكُمْ الْحَسَدُ وَالْبَغْضَاءُ هِيَ الْحَالِقَةُ لَا أَقُولُ تَحْلِقُ الشَّعَرَ وَلَكِنْ تَحْلِقُ الدِّينَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَفَلَا أُنَبِّئُكُمْ بِمَا يُثَبِّتُ ذَاكُمْ لَكُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ قَدْ اخْتَلَفُوا فِي رِوَايَتِهِ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ فَرَوَى بَعْضُهُمْ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ يَعِيشَ بْنِ الْوَلِيدِ عَنْ مَوْلَى الزُّبَيْرِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَذْكُرُوا فِيهِ عَنْ الزُّبَيْرِ [60]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Waki' telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi dari Harb bin Syaddad dari Yahya bin Abu Katsir dari Ya'isy bin Al Walid bahwa budak Az Zubair menceritakan padanya bahwa Az Zubair bin Al 'Awwam menceritakan padanya bahwa nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Penyakit ummat-ummat sebelum kalian merayap mendatangi kalian: hasad dan kebencian, itu memangkas. Aku tidak mengatakan memangkas rambut tapi memangkas agama. Demi Dzat yang jiwaku ada ditanganNya, kalian tidak masuk surga hingga kalian beriman dan kalian tidak beriman hingga kalian saling menyintai. Maukah kalian aku beritahu yang menguatkan hal itu pada kalian?: Yaitu sebarkanlah salam diantara kalian." Berkata Abu Isa: Hadits ini diperselisihkan tentang riwayat Yahya bin Abu Katsir, sebagaiannya meriwayatkan dari Yahya bin Abu Katsir dari Ya'isy bin Al Walid dari budak Az Zubair dari nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam, mereka tidak menyebutkan: Dari Az Zubair.

3.5.3. Tidak Akan Berkumpul Di Hati Seorang Hamba, Keimanan Dan Rasa Dengki

Di dalam kitab Sunan al-Kubra hadits nomor 4302 dinyatakan bahwa tidak akan berkumpul di hati seorang hamba, keimanan dan rasa dengki;

أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ حَمَّادٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ ابْنِ عَجْلَانَ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَجْتَمِعَانِ فِي النَّارِ مُسْلِمٌ قَتَلَ كَافِرًا ثُمَّ سَدَّدَ وَقَارَبَ وَلَا يَجْتَمِعَانِ فِي جَوْفِ مُؤْمِنٍ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَفَيْحُ جَهَنَّمَ وَلَا يَجْتَمِعَانِ فِي قَلْبِ عَبْدٍ الْإِيمَانُ وَالْحَسَدُ [61]

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Isa bin Hammad, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Ibnu 'Ajlan dari Suhail bin Abu Shaleh dari ayahnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Tidak akan berkumpul di neraka, seorang muslim yang membunuh orang kafir kemudian bersikap istiqamah dan berlaku sederhana, dan tidak akan berkumpul dalam diri orang yang beriman, debu di jalan Allah dan panasnya Jahannam, dan tidak akan berkumpul di hati seorang hamba, keimanan dan rasa dengki.

3.5.4. Doa Mohon Perlindungan Dari Orang Yang Hasad

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2185 disebutkan Doa “Dengan nama Allah yang menciptakanmu. Dia-lah Allah yang menyembuhkanmu dari segala macam penyakit dan dari kejahatan pendengki ketika ia mendengki serta segala macam kejahatan sorotan mata jahat semua makhluk yang memandang dengan kedengkian”

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عُمَرَ الْمَكِّيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ الدَّرَاوَرْدِيُّ عَنْ يَزِيدَ وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أُسَامَةَ بْنِ الْهَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهَا قَالَتْ كَانَ إِذَا اشْتَكَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَقَاهُ جِبْرِيلُ قَالَ بِاسْمِ اللَّهِ يُبْرِيكَ وَمِنْ كُلِّ دَاءٍ يَشْفِيكَ وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ وَشَرِّ كُلِّ ذِي عَيْنٍ [62]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu 'Umar Al Makki: Telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz Ad Darawardi dari Yazid yaitu Ibnu 'Abdillah bin Usamah bin Al Hadi dari Muhammad bin Ibrahim dari Abu Salamah bin 'Abdur Rahman dari 'Aisyah istri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dia berkata: "Bila Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sakit, Jibril datang meruqyahnya. Jibril mengucapkan: 'Bismillaahi yubriika, wa min kulli daa-in yusyfika, wa min syarri hasidin idza hasad, wa syarri kulli dzi 'ainin.' (Dengan nama Allah yang menciptakanmu. Dia-lah Allah yang menyembuhkanmu dari segala macam penyakit dan dari kejahatan pendengki ketika ia mendengki serta segala macam kejahatan sorotan mata jahat semua makhluk yang memandang dengan kedengkian).

3.5.5. Tidak Ada Hasad Kecuali Pada Dua Hal

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor  7141 dinyatakan bahwa tidak ada hasad kecuali pada dua hal;

حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَدَّثَنِي إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ عَلَى غَيْرِ مَا حَدَّثَنَاهُ الزُّهْرِيُّ قَالَ سَمِعْتُ قَيْسَ بْنَ أَبِي حَازِمٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا حَسَدَ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالًا فَسُلِّطَ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ الْحِكْمَةَ فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا [63]

Artinya: Ceritakan oleh al-Humaidi, dia berkata, diceritakan oleh Sufyan, dia berkata, diceritakan oleh Isma'il bin Abi Khalid, berbeda dengan yang diceritakan oleh al-Zuhri, dia berkata, "Aku mendengar Qais bin Abi Hazim berkata, aku mendengar Abdullah bin Mas'ud berkata, Rasulullah SAW bersabda, 'Tidak ada hasad kecuali pada dua hal: seorang yang Allah berikan kepadanya harta, lalu dia menggunakannya untuk mendukung kebenaran, dan seorang yang Allah berikan hikmah, maka dia mengambil keputusan dengannya dan mengajarkannya.'"

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah Hadits nomor 4206 dinyatakan bahwa Hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada kedurhakaan dan kelaliman padanya, serta kedengkian dan hasad;

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَمْزَةَ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ وَاقِدٍ حَدَّثَنَا مُغِيثُ بْنُ سُمَيٍّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ قَالَ كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ صَدُوقِ اللِّسَانِ قَالُوا صَدُوقُ اللِّسَانِ نَعْرِفُهُ فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ قَالَ هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ لَا إِثْمَ فِيهِ وَلَا بَغْيَ وَلَا غِلَّ وَلَا حَسَدَ [64]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin 'Ammar telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hamzah telah menceritakan kepada kami Zaid bin Waqid telah menceritakan kepada kami Mughits bin Sumay dari Abdullah bin 'Amru dia berkata: Ditanyakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam: "Manusia bagaimanakah yang paling mulia?" Beliau menjawab: "Senua (orang) yang hatinya bersedih dan lisan (ucapannya) benar." Mereka berkata: "Perkataannya yang benar telah kami ketahui, lantas apakah maksud dari hati yang bersedih?" Beliau bersabda: "Hati yang bertakwa dan bersih, tidak ada kedurhakaan dan kelaliman padanya, serta kedengkian dan hasad."

3.6. Bakhil

Bakhil berasal dari kata Bakhula-Yabkhalu-Bukhilun artinya kekikiran, kebakhilan, kepelitan, sifat hemat. [65] Ibnu Qayyim al-Jawziyyah memandang bakhil (al-bukhl) sebagai salah satu penyakit hati yang muncul dari dominasi cinta dunia dan lemahnya keyakinan terhadap balasan Allah. Ia menjelaskan bahwa bakhil bukan sekadar sikap enggan memberi, tetapi merupakan kondisi jiwa yang terikat pada harta sehingga seseorang merasa berat untuk menunaikan hak Allah maupun hak sesama manusia. [66] Dalam kerangka etika spiritualnya, Ibnu Qayyim menegaskan bahwa akar bakhil adalah ketakutan terhadap kemiskinan dan lemahnya tawakal, sehingga pelakunya seolah lebih percaya kepada harta daripada kepada janji Allah. [67]

Karena itu, menurutnya, bakhil termasuk akhlak yang merusak, sebab ia menutup pintu kebaikan, mematikan kepekaan sosial, serta menghalangi penyucian jiwa yang menjadi tujuan agama. [68] Dengan demikian, dalam perspektif Ibnu Qayyim, bakhil bukan sekadar perilaku individual, tetapi indikator penyakit batin yang bertentangan dengan kesempurnaan iman dan karakter mukmin sejati.

Bakhil merupakan sikap seseorang menahan atau tidak memberikan sesuatu yang semestinya diberikan kepada seseorang yang pantas menerima. Orang bakhil tidak suka mengeluarkan harta untuk kepentingan umum atau untuk menolong orang yang memerlukan pertolongan juga untuk keperluannya sendiri.

Di dalam Al Quran surat Al-'Adiyat/ 100: 8, dijelaskan bahwa Kebakhilan terjadi karena sangat mencintai harta;

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

Artinya: dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. (QS. Al-'Adiyat/ 100: 8)

Berikut ini akan dikemukakan beberapa ayat dan hadits yang berkaitan dengan perilaku bakhil;

3.6.1. Adapun Orang-Orang Yang Bakhil Dan Merasa Dirinya Cukup, Serta Mendustakan Pahala Yang Terbaik, Maka Kelak Kami Akan Menyiapkan Baginya (Jalan)Yang Sukar

Di dalam Al Quran surat Al Lail/ 92: 5-11, dijelaskan bahwa Allah memberikan gambaran perbandingan antara orang yang mau memberikan harta di jalan Allah karena takwa dengan orang bakhil;

فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى, وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى, فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى, وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى, وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى, فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى, وَمَا يُغْنِي عَنْهُ مَالُهُ إِذَا تَرَدَّى

Artinya: Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan)yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. (QS. Al Lail/ 92: 5-11)

3.6.2. Harta Yang Mereka Bakhilkan Itu Akan Dikalungkan Kelak Di Lehernya Di Hari Kiamat

Di dalam Al Quran Surat Ali 'Imran/ 3: 180, dijelaskan harta yang dibakhilkan akan dikalungkan pada diriya di hari Qiyamat,;

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ هُوَ خَيْرًا لَهُمْ ۖ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَهُمْ ۖ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُوا بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ۗ وَلِلَّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۗ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya: Sekali-kali janganlah orang-orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya menyangka, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan kelak di lehernya di hari kiamat. Dan kepunyaan Allah-lah segala warisan (yang ada) di langit dan di bumi. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Ali 'Imran/ 3: 180)

3.6.3. Tidak Akan Masuk Surga Orang Yang Bakhil, Penipu, Pengecut, Dan Tidak Pula Orang Yang Berperangai Kasar

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 13, Rasulullah Muhammad SAW menegaskan Bahwa tidak akan masuk surga orang yang bakhil, penipu, pengecut, dan tidak pula orang yang berperangai kasar;

 حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ مَوْلَى بَنِي هَاشِمٍ قَالَ حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ مُوسَى صَاحِبُ الدَّقِيقِ عَنْ فَرْقَدٍ عَنْ مُرَّةَ بْنِ شَرَاحِيلَ عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ بَخِيلٌ وَلَا خَبٌّ وَلَا خَائِنٌ وَلَا سَيِّئُ الْمَلَكَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ الْجَنَّةِ الْمَمْلُوكُونَ إِذَا أَحْسَنُوا فِيمَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَفِيمَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ مَوَالِيهِمْ [69]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abu Sa'id] mantan budak Bani Hasyim, dia berkata; Telah menceritakan kepada kami [Shadaqah Bin Musa] sahabat Ad Daqiq, dari [Farqad] dari [Murrah Bin Syarahil] dari [Abu Bakar Ash Shiddiq], dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "tidak akan masuk surga orang yang bakhil, penipu, pengecut, dan tidak pula orang yang berperangai kasar, dan orang yang pertama kali mengetuk pintu syurga adalah para hamba sahaya yang bagus dalam menjalankan apa yang ada diantara mereka dan Allah Azza wa Jalla serta apa yang ada diantara mereka dan tuannya."

3.6.4. Tidak Akan Berkumpul Antara Sifat Pelit Dan Iman Dalam Diri Seorang Muslim

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 9693, dijelaskan bahwa tidak akan berkumpul sifat bakhil dan iman;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ صَفْوَانَ بْنِ أَبِي يَزِيدَ عَنْ حُصَيْنِ بْنِ اللَّجْلَاجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَجْتَمِعُ الشُّحُّ وَالْإِيمَانُ فِي جَوْفِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ وَلَا يَجْتَمِعُ غُبَارٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَدُخَانُ جَهَنَّمَ فِي جَوْفِ رَجُلٍ مُسْلِمٍ [70]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin 'Ubaid] berkata; telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin 'Amru] dari [Shafwan bin Abi Yazid] dari [Hushain bin Al Lajlaj] dari [Abu Hurairah] berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak akan berkumpul antara sifat pelit dan iman dalam diri seorang muslim, dan tidak akan berkumpul debu karena jihad di jalan Allah dengan asap Jahannam di dalam rongga seorang muslim."

3.6.5. Siksa Yang Menghinakan Disediakan Untuk Orang-Orang Yang Kikir, Dan Menyuruh Orang Lain Berbuat Kikir, Dan Menyembunyikan Karunia Allah Yang Telah Diberikan-Nya Kepada Mereka

Di dalam Al Quran Surat An-Nisa'/ 4: 37, dijelaskan bahwa orang yang bakhil dan menyuruh orang lain juga berbuat bakhil, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka disediakan siksa yang menghinakan;

الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُونَ مَا آتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ ۗ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا

Artinya: (yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir, dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan Kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan.(QS. An-Nisa'/ 4: 37)

3.6.6. Dan Adalah Manusia Itu Sangat Kikir

Di dalam Al Quran Surat Al-Isra'/ 17: 100, dijelaskan bahwa Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya;

قُلْ لَوْ أَنْتُمْ تَمْلِكُونَ خَزَائِنَ رَحْمَةِ رَبِّي إِذًا لَأَمْسَكْتُمْ خَشْيَةَ الْإِنْفَاقِ ۚ وَكَانَ الْإِنْسَانُ قَتُورًا

Artinya: Katakanlah: "Kalau seandainya kamu menguasai perbendaharaan-perbendaharaan rahmat Tuhanku, niscaya perbendaharaan itu kamu tahan, karena takut membelanjakannya". Dan adalah manusia itu sangat kikir. (QS. Al-Isra'/ 17: 100)

3.6.7. Berhati-Hatilah Kalian Dari Sifat Bakhil, Sesungguhnya Sifat Bakhil Telah Membinasakan Orang-Orang Sebelum Kalian

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 6837 dijelaskan untuk berhati-hatilah kalian dari sifat bakhil, sesungguhnya sifat bakhil telah membinasakan orang-orang sebelum kalian;

 حَدَّثَنَا وَكِيعٌ قَالَ حَدَّثَنَا الْمَسْعُودِيُّ وَيَزِيدُ قَالَ أَخْبَرَنَا الْمَسْعُودِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ الْمُكْتِبِ عَنْ أَبِي كَثِيرٍ الزُّبَيْدِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِيَّاكُمْ وَالشُّحَّ فَإِنَّهُ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ أَمَرَهُمْ بِالظُّلْمِ فَظَلَمُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْقَطِيعَةِ فَقَطَعُوا وَأَمَرَهُمْ بِالْفُجُورِ فَفَجَرُوا وَإِيَّاكُمْ وَالظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْفُحْشَ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْفُحْشَ وَلَا التَّفَحُّشَ [71]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Waqi'] telah menceritakan kepada kami [Al Mas'udi]. Dan [Yazid] berkata; telah mengkhabarkan kepada kami [Al Mas'udi] dari ['Amru bin Murroh] dari [Abdullah bin Al Harits Al Muktibi] dari [Abu Katsir Az Zubaidi] dari [Abdullah bin 'Amru], dia berkata; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "berhati-hatilah kalian dari sifat bakhil, sesungguhnya sifat bakhil telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, jika sifat itu menyuruh mereka berbuat zhalim, mereka pun berbuat zhalim, jika menyuruh mereka untuk memutuskan hubungan kekerabatan mereka pun memutuskannya, jika menyuruh berbuat dosa mereka pun berbuat dosa. maka berhati-hatilah kalian dari berbuat zhalim, karena kezhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Dan berhati-hatilah kalian dari sifat keji, karena sesungguhnya Allah tidak suka dengan kekejian dan perkataan keji.

3.6.8. Seburuk-Buruk Perkara Yang Ada Pada Seseorang Adalah Kekikiran Serta Ketamakan, Dan Sifat Penakut Serta Lemah

Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 2511, dijelaskan bahwa Seburuk-buruk perkara yang ada pada seseorang adalah kekikiran serta ketamakan, dan sifat penakut serta lemah;

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْجَرَّاحِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ مُوسَى بْنِ عَلِيِّ بْنِ رَبَاحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ مَرْوَانَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ شَرُّ مَا فِي رَجُلٍ شُحٌّ هَالِعٌ وَجُبْنٌ خَالِعٌ [72]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Al Jarrah], dari [Abdullah bin Yazid] dari [Musa bin Ali bin Rabah], dari [ayahnya], dari [Abdul 'Aziz bin Marwan], ia berkata; saya mendengar [Abu Hurairah] berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seburuk-buruk perkara yang ada pada seseorang adalah kekikiran serta kepanikan, dan sifat penakut serta lemah."

Berdasar beberapa ayat dan hadits yang telah dikemukakan terkandung perintah bagi orang beriman untuk menjaga diri agar tidak bakhil, sekaligus menjadi perintah untuk berperilku dermawan, Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 1887, dijelaskan perbedaan antara orang beriman dan orang kafi, bahwa Seorang mukmin itu senantiasa berlapang dada dan dermawan, sedangkan seorang fajir itu bakhil dan berakhlak buruk;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ عَنْ بِشْرِ بْنِ رَافِعٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ غِرٌّ كَرِيمٌ وَالْفَاجِرُ خِبٌّ لَئِيمٌ  [73]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi', telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq dari Bisyr bin Rafi' dari Yahya bin Abu Katsir dari Abu Salamah dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah  bersabda: "Seorang mukmin itu senantiasa berlapang dada dan dermawan, sedangkan seorang fajir itu bakhil dan berakhlak buruk."

Al Quran surat At-Taghabun (64): 16 juga memberikan perintah untuk bertakwa kepada Allah dengan mentaatinya untuk bersedia berinfak dengan yang baik untuk dirinya sendiri (dermawan), sekaligus bertakwa kepada Allah dari bakhil terhadap dirinya;

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَأَنْفِقُوا خَيْرًا لِأَنْفُسِكُمْ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.(QS. At-Taghabun (64): 16)

Kesadaran takwa kepada Allah dari kebakhilan merupakan bagian takwa dari syahwat dan hawa, dalam pelaksanaannya harus diwujudkan dengan takwa kepada Allah untuk menafkahkan harta di jalan Allah.

3.7. Mubadzir/ Tabdzir

Mubadzir artinya yang menghambur-hamburkan, pemboros, tidak berguna, royal, tidak bermoral, [74] Imam al-Ghazālī memaknai mubadzir sebagai setiap bentuk penggunaan harta yang tidak memiliki tujuan yang benar menurut syariat serta tidak menghasilkan manfaat duniawi maupun ukhrawi. [75] Ia menegaskan bahwa inti mubadzir bukan semata-mata banyaknya jumlah harta yang dikeluarkan, tetapi karena penggunaannya keluar dari jalur yang dibenarkan, dilakukan tanpa kebutuhan, dan didorong oleh hawa nafsu, kesombongan, atau pamer. [76]

Ibnu Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa mubadzir merupakan bentuk penyimpangan dari prinsip syar‘i dalam menggunakan nikmat, terutama harta. Ia tidak hanya memaknai mubadzir sebagai pengeluaran yang berlebihan, tetapi sebagai segala bentuk penggunaan nikmat yang keluar dari tujuan syariat, tidak mengandung maslahat, dan bahkan mengantarkan kepada kerusakan serta maksiat. [77] Menurutnya, hakikat mubadzir adalah tindakan yang menyalahi hikmah penciptaan harta, yakni untuk digunakan pada jalan ketaatan dan kemanfaatan. [78]

Dengan demikian Mubadzir dapat dipahami menggunakan Rizki Allah (Harta, waktu, tenaga, fikiran dll) bukan pada jalan yang benar, bukan untuk ketakwaan kepada Allah.

Di dalam Al Quran Surat Al-Isra'/ 17: 26-27, dijelaskan peringatan dalam penggunaan harta untuk tidak menghambur-hamburkan (boros), karena pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan;

وَآتِ ذَا الْقُرْبَىٰ حَقَّهُ وَالْمِسْكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيرًا, إِنَّ الْمُبَذِّرِينَ كَانُوا إِخْوَانَ الشَّيَاطِينِ ۖ وَكَانَ الشَّيْطَانُ لِرَبِّهِ كَفُورًا

Artinya: Dan berikanlah kepada keluarga-keluarga yang dekat akan haknya, kepada orang miskin dan orang yang dalam perjalanan dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya. (QS. Al-Isra'/ 17: 26-27)

Di dalam kitab Mujam Thabarani Kabir jilid 9 halaman 207 atsar nomor 9028, dijelaskan bahwa Tabdzir adalah pembelanjaan dalam hal yang tidak benar;

حدثنا محمد بن علي الصائغ ثنا سعيد بن منصور ثنا أبو وكيع عن أبي إسحاق عن أبي العبيدين قال : سألت عبد الله عن قوله { ولا تبذر تبذيرا } قال : هو النفقة في غير حق [79]

Artinya: Telah menceriterakan kepada kami Muhammad bin Ali Ashai’ telah menceriterakan Said bin Mashur telah menceriterakan Abu Waki’ dari Abi Ishaq dari Abil ‘Ubaidin berkata: Aku bertanya kepada Abdullah tentang firmannya walaa tubadzir Tabdzira, dia berkata: yaitu pembelanjaan dalam hal yang tidak benar.

Berdasar keterangan riwayat di atas dapat difahami bahwa larangan tabdzir  dalam hal pembelanjaan menggunakan suatu yang berharga, jika diperhatikan semua aktifitas pasti menggunakan karunia Allah yang berharga, seperti; menggunaan waktu, tempat, tenaga, energi, listrik, air, makanan, fikiran, perasaan, ucapan, pendengaran, penglihatan, dll. Maka ketika sebuah aktifitas yang dilakukan tidak bernilai kebaikan, dapat dikatakan sebagai perbuatan tabdzir, karena merupakan bentuk kesia-siaan, pemborosan dan menghambur-hamburkan suatu yang berharga.

3.8. Israf

Dalam Bahasa Arab Israf berarti lebih dari batas memboroskan, berlaku boros, menghambur-hamburkan, [80] Imam al-Ghazālī menjelaskan bahwa isrāf adalah tindakan melampaui batas dalam menggunakan harta atau nikmat Allah, baik dengan menggunakannya di luar kadar kebutuhan maupun pada hal-hal yang tidak memiliki maslahat. [81] Menurutnya, inti isrāf bukan ditentukan oleh banyaknya pengeluaran, tetapi oleh ketidaktepatan penggunaan harta sehingga keluar dari prinsip keseimbangan (i‘tidāl) yang diajarkan syariat. [82] Al-Ghazālī menegaskan bahwa isrāf merupakan perilaku tercela karena lahir dari dominasi hawa nafsu dan lemahnya kontrol spiritual, sehingga seseorang menggunakan nikmat Allah tanpa pertimbangan akal, manfaat, dan tujuan keagamaan. [83] Dalam perspektif etika tasawufnya, isrāf menjadi penghalang tazkiyatun-nafs karena menunjukkan ketidakmampuan jiwa menjaga kemajuan dalam menikmati dunia; akibatnya, ia menumbuhkan sifat lalai, cinta dunia berlebihan, dan kecenderungan pada tindakan sia-sia yang menjauhkan seseorang dari ketaatan. [84]

3.8.1. Ancaman Azab Bagi Orang Yang Israf

وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي مَنْ أَسْرَفَ وَلَمْ يُؤْمِن بِآيَاتِ رَبِّهِ وَلَعَذَابُ الْآخِرَةِ أَشَدُّ وَأَبْقَىٰ

Artinya: Dan demikianlah Kami membalas orang yang melampaui batas dan tidak percaya kepada ayat-ayat Tuhannya. Dan sesungguhnya azab di akhirat itu lebih berat dan lebih kekal. (QS. Thaha/ 20: 127)

وَإِذَا مَسَّ الْإِنسَانَ الضُّرُّ دَعَانَا لِجَنبِهِ أَوْ قَاعِدًا أَوْ قَائِمًا فَلَمَّا كَشَفْنَا عَنْهُ ضُرَّهُ مَرَّ كَأَن لَّمْ يَدْعُنَا إِلَىٰ ضُرٍّ مَّسَّهُ كَذَٰلِكَ زُيِّنَ لِلْمُسْرِفِينَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdoa kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdoa kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya. Begitulah orang-orang yang melampaui batas itu memandang baik apa yang selalu mereka kerjakan. (QS. Yunus/ 10: 12)

3.8.2. LGBT Merupakan Israf

إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِّن دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنتُمْ قَوْمٌ مُّسْرِفُونَ

Artinya: Sesungguhnya kamu mendatangi lelaki untuk melepaskan nafsumu (kepada mereka), bukan kepada wanita, malah kamu ini adalah kaum yang melampaui batas. (QS. Al A’raf/ 7: 81)

3.8.3. Allah Tidak Menyukai Orang-Orang Yang Israf

Di dalam Al Quran surat Al A’raf/ 7: 31 dan Al An’am/ 6: 141 ditegaskan bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan;

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya: Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al A’raf/ 7: 31)

وَهُوَ الَّذِي أَنشَأَ جَنَّاتٍ مَّعْرُوشَاتٍ وَغَيْرَ مَعْرُوشَاتٍ وَالنَّخْلَ وَالزَّرْعَ مُخْتَلِفًا أُكُلُهُ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُتَشَابِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ كُلُوا مِن ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya: Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al An’am/ 6: 141)

Di kedua ayat tersebut mengandung peringatan untuk tidak berlaku israf dalam; menghias diri ketika ke Masjid, makan, minum dan bersedekah.

3.8.4. Janganlah Kamu Makan Harta Anak Yatim Lebih Dari Batas Kepatutan (Israf)

Di dalam Al Quran surat An Nisa’/ 4: 6 disebutkan larangan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan;

وَابْتَلُوا الْيَتَامَىٰ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغُوا النِّكَاحَ فَإِنْ آنَسْتُم مِّنْهُمْ رُشْدًا فَادْفَعُوا إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ وَلَا تَأْكُلُوهَا إِسْرَافًا وَبِدَارًا أَن يَكْبَرُوا وَمَن كَانَ غَنِيًّا فَلْيَسْتَعْفِفْ وَمَن كَانَ فَقِيرًا فَلْيَأْكُلْ بِالْمَعْرُوفِ فَإِذَا دَفَعْتُمْ إِلَيْهِمْ أَمْوَالَهُمْ فَأَشْهِدُوا عَلَيْهِمْ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا

Artinya: Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. Barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan barangsiapa yang miskin, maka bolehlah ia makan harta itu menurut yang patut. Kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. Dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).

3.8.5. Kemudian Banyak Diantara Mereka Sesudah Itu Sungguh-Sungguh Melampaui Batas (Israf) Dalam Berbuat Kerusakan Dimuka Bumi

Di dalam Al Quran surat Al Ma’idah/ 5: 32 digambarkan bahwa sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi;

مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ

Artinya: Oleh karena itu Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa) keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi. (QS. Al Ma’idah/ 5: 32)

3.8.6. Dan Orang-Orang Yang Apabila Membelanjakan (Harta), Mereka Tidak Berlebihan

Dalam membelanjakan harta untuk kebaikan infaq saja Allah memperingatkan untuk tidak berlaku Israf: berlebihan, tetapi juga tidak pelit, diungkapkan di dalam Al Quran Surat Al-Furqan/ 25: 67;

وَالَّذِينَ إِذَا أَنْفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذَٰلِكَ قَوَامًا

Artinya: Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.(QS. Al-Furqan/ 25: 67)

3.8.7. Apakah Dalam Wudlu Juga Ada Berlebih-Lebihan?" Beliau Menjawab: "Ya, Meskipun Engkau Berada Di Sungai Yang Mengalir.

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah Hadits nomor 419 digambarkan Apakah dalam wudlu juga ada berlebih-lebihan?" beliau menjawab: "Ya, meskipun engkau berada di sungai yang mengalir.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى الْحِمْصِيُّ، حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْفَضْلِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ سَالِمٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: رَأَى رَسُولُ اللَّهِ - ﷺ - رَجُلًا يَتَوَضَّأُ، فَقَالَ: "لَا تُسْرِفْ، لَا تُسْرِفْ" [85]

Artinya: Telah meriwayatkan kepada kami Muammad bin al-Muaffā al-imī, telah meriwayatkan kepada kami Baqiyyah, dari Muammad bin al-Fal, dari ayahnya, dari Sālim, dari Ibn ‘Umar, ia berkata: Rasulullah melihat seorang laki-laki berwudu. Maka beliau bersabda: “Jangan berlebih-lebihan! Jangan berlebih-lebihan!”.

3.8.8. Harta Itu Hijau Lagi Manis, Maka Barangsiapa Yang Mencarinya Untuk Kedermawanan Dirinya Maka Harta Itu Akan Memberkahinya. Namun Barangsiapa Yang Mencarinya Untuk Keserakahan Maka Harta Itu Tidak Akan Memberkahinya

Pernyataan Nabi Muhammad SAW yang dikutip di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2910, menjelaskan bahwa harta itu hijau lagi manis, maka barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya maka harta itu akan memberkahinya tetapi barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan (ambisius, tamak) maka harta itu tidak akan memberkahinya;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ وَعُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّ حَكِيمَ بْنَ حِزَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعْطَانِي ثُمَّ سَأَلْتُهُ فَأَعْطَانِي ثُمَّ قَالَ لِي يَا حَكِيمُ إِنَّ هَذَا الْمَالَ خَضِرٌ حُلْوٌ فَمَنْ أَخَذَهُ بِسَخَاوَةِ نَفْسٍ بُورِكَ لَهُ فِيهِ وَمَنْ أَخَذَهُ بِإِشْرَافِ نَفْسٍ لَمْ يُبَارَكْ لَهُ فِيهِ وَكَانَ كَالَّذِي يَأْكُلُ وَلَا يَشْبَعُ وَالْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنْ الْيَدِ السُّفْلَى  [86]

Artinya: Telah bercerita kepada kami [Muhammad bin Yusuf] telah bercerita kepada kami [Al Awza'iy] dari [Az Zuhriy] dari [Sa'id bin 'Abdullahl-Musayyab] dan ['Urwah bin Az Zubair] bahwa [Hakim bin Hizam radliallahu 'anhu] berkata; 'Aku meminta sesuatu kepada Rasulullah SAW, lalu Beliau memberikannya, kemudian aku meminta lagi dan Beliaupun kembali memberikannya lalu Beliau berkata kepadaku: "Wahai Hakim, harta itu hijau lagi manis, maka barangsiapa yang mencarinya untuk kedermawanan dirinya maka harta itu akan memberkahinya. Namun barangsiapa yang mencarinya untuk keserakahan maka harta itu tidak akan memberkahinya, seperti orang yang makan namun tidak kenyang. Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah".

Isrāf dan Mubadzir merupakan dua konsep yang sama-sama merujuk pada perilaku penyimpangan dalam penggunaan harta, namun memiliki perbedaan mendasar. Menurut Imam al-Ghazālī, mubadzir adalah penggunaan harta pada sesuatu yang tidak memiliki tujuan yang benar menurut syariat dan tidak menghasilkan maslahat, sehingga apa pun bentuknya dianggap sebagai tindakan sia-sia. [87]

Dengan demikian, inti mubadzir terletak pada hilangnya manfaat, bukan pada banyak atau sedikitnya harta yang dikeluarkan. Berbeda dengan itu, isrāf menurut al-Ghazālī adalah penggunaan harta yang melampaui batas kebutuhan meskipun pada perkara yang mubah atau bermanfaat. [88] Karena itu, seseorang dapat terjatuh pada isrāf ketika ia menggunakan nikmat Allah secara berlebihan, tidak proporsional, dan keluar dari prinsip moderasi (i‘tidāl) yang ditetapkan syariat. [89]

Menurut Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, mubadzir dan isrāf merupakan dua bentuk penyimpangan dalam menggunakan nikmat Allah, namun keduanya berbeda dari sisi hakikat dan motivasi spiritualnya. Ia menjelaskan bahwa mubadzir adalah penggunaan harta pada jalan yang batil—yakni pada perkara haram, maksiat, atau sesuatu yang tidak mengandung maslahat sama sekali—sehingga tindakan tersebut identik dengan mengikuti langkah-langkah setan. [90]

Karena itu, mubadzir bukan dinilai dari kuantitas pengeluaran, melainkan dari penyimpangannya dari tujuan syar‘i harta. Sementara itu, isrāf menurut Ibnu Qayyim adalah penggunaan harta melampaui batas moderasi walaupun pada perkara mubah; pelakunya menggunakan nikmat Allah secara berlebihan akibat dominasi hawa nafsu dan kurangnya pengendalian akal. [91]

Kesadaran untuk tidak berlebihan dalam melakukan amal perbuatan merupakan bentuk ketakwaan dari israf, sedangkan jika telah melakukan israf tidak boleh berputus asa untuk bertaubat kepada Allah yang Maha Pengasih, diikuti doa memohon ampunan atas israf yang pernah dilakukan, sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran surat Az-Zumar (39): 53 dan hadits Riwayat bukhari nomor berikut;

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya: Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Di dalam kitab Shahih Bukhari Hadits nomor 5920 disebutkan doa mohon ampunan dari perbuatan israf;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْمَجِيدِ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مُوسَى وَأَبِي بُرْدَةَ أَحْسِبُهُ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَدْعُو اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي خَطِيئَتِي وَجَهْلِي وَإِسْرَافِي فِي أَمْرِي وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي هَزْلِي وَجِدِّي وَخَطَايَايَ وَعَمْدِي وَكُلُّ ذَلِكَ عِنْدِي [92]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah bin Abdul Majid telah menceritakan kepada kami Isra`il telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Abu Bakr bin Abu Musa dan Abu Burdah aku mengiranya dari Abu Musa Al Asy'ari dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa beliau biasa berdo'a: Ya Allah, ampunilah aku, kesalahan-kesalahanku, kebodohanku, perbuatanku yang melampaui batas di setiap urusanku yang Engkau lebih mengetahui daripadaku. Ya Allah, ampunilah aku, canda tawaku, kesungguhanku, kesalahanku, kesengajaanku dan setiap perkara yang ada padaku."

Meninggalkan perilaku berlebihan yang dilakukan karena Allah SWT adalah bentuk takwa dari israf, takwa dari israf merupakan bagian ketakwaan dari syahwat dan hawa.

3.9. Suka Makan 

Makan adalah kenikmatan yang besar dari Allah, yang dikaruniakan kepada manusia, karena nikmat (rasanya) langsung dapat dirasakan, kenikmatannya dapat terbayang dari aroma maupun sajiannya, sehingga mudah menimbulkan godaan untuk ingin terus menikmati dan terus mencoba rasa yang berbeda.

Di dalam Al Quran surat Al-Baqarah (2): 168 ditegaskan perintah untuk makan apa saja yang telah disediakan di bumi yang halal dan baik;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah/ 2: 168)

Ayat ini menjadi perintah bagi seluruh manusia untuk mengonsumsi apa yang ada di bumi dengan ketentuan alālan ayyiban”, yaitu makanan yang memenuhi dua kriteria utama: kehalalan hukum dan kebaikan kualitas. Istilah alāl dalam ayat ini menunjuk pada makanan yang dibolehkan syariat, tidak haram zatnya, tidak diperoleh melalui cara yang batil, serta tidak mengandung bahaya fisik maupun spiritual. [93] Sementara itu, istilah ayyib bermakna sesuatu yang baik, suci, bersih, sehat, dan bermanfaat bagi tubuh maupun jiwa. [94]

Para mufassir menjelaskan bahwa penyandingan dua istilah ini menunjukkan bahwa syariat tidak hanya menekankan aspek legalitas, tetapi juga kualitas dan kemaslahatan makanan; suatu makanan bisa halal tetapi tidak ayyib jika mengandung mudarat, kotoran, atau sesuatu yang merusak kesehatan. [95]

Ayat ini kemudian dihubungkan dengan larangan mengikuti langkah-langkah setan, yang menurut para ulama merupakan penegasan bahwa konsumsi makanan haram atau tidak baik akan memudahkan seseorang terjerumus pada bisikan setan dan perilaku yang menyimpang. [96] Dengan demikian, prinsip alālan ayyiban merupakan landasan syariat dalam konsumsi, yang menuntut kesucian sumber, kebersihan proses, dan kemanfaatan hasil bagi manusia.

Berikut ini akan dikemukakan bebarapa ayat Al Quran dan Hadits yang berkaitan dengan makan, yaitu antara lain;

3.9.1. Keduanya Digelincirkan Oleh Setan Dari Surga Itu Dan Dikeluarkan Dari Keadaan Semula

Pelajaran dari Nabi Adam as. yang dapat dibujuk rayu setan, untuk memakan buah dari pohon khuld yang sudah dilarang oleh Allah untuk mendekati pohonnya, sehingga menyebabkan Nabi Adam dan istrinya diturunkan dari surga, yang kisahnya diabadikan di dalam Al Quran surat Thaha/ 20: 120-122.

فَوَسْوَسَ إِلَيْهِ الشَّيْطَانُ قَالَ يَا آدَمُ هَلْ أَدُلُّكَ عَلَىٰ شَجَرَةِ الْخُلْدِ وَمُلْكٍ لَّا يَبْلَىٰ . فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ ۚ وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ . ثُمَّ اجْتَبَاهُ رَبُّهُ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدَىٰ

Artinya: Kemudian syaitan membisikkan pikiran jahat kepadanya, dengan berkata: "Hai Adam, maukah saya tunjukkan kepada kamu pohon khuldi dan kerajaan yang tidak akan binasa?". Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka. (QS. Thaha/ 20:  120-122)

3.9.2. Makanlah Yang Halal Lagi Baik Dari Apa Yang Terdapat Di Bumi, Dan Janganlah Kamu Mengikuti Langkah-Langkah Syaitan

Allah memberi kebebasan kepada manusia untuk makan apa saja yang dusukai, hanya saja diberi batasan pada makanan yang halal dan baik saja, hal tersebut dijelaskan di dalam Al Quran Surat Al-Baqarah/ 2: 168;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الْأَرْضِ حَلَالًا طَيِّبًا وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya: Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.(QS. Al-Baqarah/ 2: 168)

3.9.3. Orang-Orang Kafir Bersenang-Senang (Di Dunia) Dan Mereka Makan Seperti Makannya Binatang

Orang orang beriman yang dapat menjaga diri dari kesenangan dunia dengan beramal shalih dimasukkan ke dalam syurga, sedangkan orang-orang kafir yang terlena tipu daya kesenangan dunia dan mereka makan seperti makannya binatang ternak, mereka akan dimasukkan ke dalam neraka, disebutkan di dalam Al Quran surat Muhammad/ 47: 12;

إِنَّ اللَّهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ وَالَّذِينَ كَفَرُوا يَتَمَتَّعُونَ وَيَأْكُلُونَ كَمَا تَأْكُلُ الْأَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَهُمْ

Artinya: Sesungguhnya Allah memasukkan orang-orang mukmin dan beramal saleh ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Dan orang-orang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang. Dan jahannam adalah tempat tinggal mereka. (QS. Muhammad/ 47: 12)

3.9.4. Makan Dan Minumlah, Dan Janganlah Berlebih-Lebihan

Allah juga mengingatkan untuk kebaikan manusia (menjaga kesehatan), yakni diperintahkan untuk tidak berlebihan ketika makan dan minum, disebutkan di dalam Al Quran Surat Al-A’raf/ 7: 31;

يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

Artinya: Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS. Al-A’raf/ 7: 31)

3.9.5. Cukup Bagi Manusia Beberapa Suapan Yang Menegakkan Tulang Punggungnya, Bila Tidak Bisa Maka Sepertiga Untuk Makanannya, Sepertiga Untuk Minumnya Dan Sepertiga Untuk Nafasnya

Nabi Muhammad SAW memperingatkan kepada umatnya untuk sedikit makan atau jika tidak bisa, maka hendaknya membagi isi perutnya dengan sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minum dan sepertiga untuk nafasnya, tertuang di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2302;

حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ حَدَّثَنِي أَبُو سَلَمَةَ الْحِمْصِيُّ وَحَبِيبُ بْنُ صَالِحٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ جَابِرٍ الطَّائِيِّ عَنْ مِقْدَامِ بْنِ مَعْدِي كَرِبَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ بِحَسْبِ ابْنِ آدَمَ أُكُلَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ فَإِنْ كَانَ لَا مَحَالَةَ فَثُلُثٌ لِطَعَامِهِ وَثُلُثٌ لِشَرَابِهِ وَثُلُثٌ لِنَفَسِهِ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ نَحْوَهُ و قَالَ الْمِقْدَامُ بْنُ مَعْدِي كَرِبَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ [97]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Suwaid bin Nashr] telah mengkhabarkan kepada kami [Abdullah bin Al Mubarak] telah mengkhabarkan kepada kami [Isma'il bin 'Ayyasy] telah menceritakan kepadaku [Abu Salamah Al Himshi] dan [Habib bin Shalih] dari [Yahya bin Jabir Ath Tho`i] dari [Miqdam bin Ma'dikarib] berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Manusia tidak memenuhi wadah yang buruk melebihi perut, cukup bagi manusia beberapa suapan yang menegakkan tulang punggungnya, bila tidak bisa maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya dan sepertiga untuk nafasnya." Telah menceritakan kepada kami [Al Hasan bin 'Arafah] telah menceritakan kepada kami [Isma'il bin 'Ayyasy] Sepertinya dan berkata Al Miqdam bin Ma'dikarib dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam namun didalamnya ia tidak menyebut: Aku mendengar nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam. Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih.(HR. Tirmidzi: 2302)

3.9.6. Orang Yang Kekenyangan Di Dunia Kelak Pada Hari Kiamat Adalah Orang Yang Paling Lama Merasakan Kelaparan

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi 2402 dinyatakan sesungguhnya kebanyakan orang yang kekenyangan di dunia kelak pada hari kiamat adalah orang yang paling lama merasakan kelaparan;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حُمَيْدٍ الرَّازِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْقُرَشِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى الْبَكَّاءُ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ تَجَشَّأَ رَجُلٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كُفَّ عَنَّا جُشَاءَكَ فَإِنَّ أَكْثَرَهُمْ شِبَعًا فِي الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي جُحَيْفَةَ  [98]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Humaid Ar Rozi telah bercerita kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah Al Qurasyi telah bercerita kepada kami Yahya Al Bakka' dari Ibnu Umar berkata: Ada seorang lelaki bersendawa di sisi Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam, kemudian Nabi bersabda: "Hentikan sendawamu dari kami karena sesungguhnya kebanyakan orang yang kekenyangan di dunia kelak pada hari kiamat adalah orang yang paling lama merasakan kelaparan." Abu Isa berkata: Hadits ini hasan gharib dari jalur sanad ini, dan dalam bab ini ada hadits dari Abu Juhaifah.

3.9.7. Sesungguhnya Setan Itu Mengikuti Makanan Yang Tidak Disebutkan Nama Allah Di Atasnya

Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 3274 dinyatakan bahwa Sesungguhnya setan itu mengikuti makanan yang tidak disebutkan nama Allah di atasnya;

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ خَيْثَمَةَ عَنْ أَبِي حُذَيْفَةَ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ كُنَّا إِذَا حَضَرْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ طَعَامًا لَمْ يَضَعْ أَحَدُنَا يَدَهُ حَتَّى يَبْدَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِنَّا حَضَرْنَا مَعَهُ طَعَامًا فَجَاءَ أَعْرَابِيٌّ كَأَنَّمَا يُدْفَعُ فَذَهَبَ لِيَضَعَ يَدَهُ فِي الطَّعَامِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ ثُمَّ جَاءَتْ جَارِيَةٌ كَأَنَّمَا تُدْفَعُ فَذَهَبَتْ لِتَضَعَ يَدَهَا فِي الطَّعَامِ فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهَا وَقَالَ إِنَّ الشَّيْطَانَ لَيَسْتَحِلُّ الطَّعَامَ الَّذِي لَمْ يُذْكَرْ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ جَاءَ بِهَذَا الْأَعْرَابِيِّ يَسْتَحِلُّ بِهِ فَأَخَذْتُ بِيَدِهِ وَجَاءَ بِهَذِهِ الْجَارِيَةِ يَسْتَحِلُّ بِهَا فَأَخَذْتُ بِيَدِهَا فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ إِنَّ يَدَهُ لَفِي يَدِي مَعَ أَيْدِيهِمَا [99]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy, dari Khitsamah, dari Abu Hudzaifah, dari Hudzaifah, ia berkata, "Ketika kami bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam dan makanan telah disajikan, tidak seorang pun dari kami meletakkan tangannya hingga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam mulai makan. Suatu ketika, kami bersama beliau dan makanan telah disajikan, lalu datang seorang Arab Badui seakan-akan dia terus didorong untuk meletakkan tangannya ke dalam makanan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian mengambil tangannya. Kemudian datang seorang gadis hamba seakan-akan dia terus didorong untuk meletakkan tangannya ke dalam makanan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengambil tangannya. Beliau bersabda, 'Sesungguhnya setan itu mengikuti makanan yang tidak disebutkan nama Allah di atasnya. Orang ini (Arab Badui) datang dengan membawa makanan yang setan telah mengikuti dengannya, dan aku mengambil tangannya.' Kemudian datang gadis hamba itu, seakan-akan dia terus didorong untuk meletakkan tangannya ke dalam makanan. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam juga mengambil tangannya. Beliau berkata, 'Sesungguhnya setan itu mengikuti makanan yang tidak disebutkan nama Allah di atasnya. Orang ini (gadis hamba) datang dengan membawa makanan yang setan telah mengikuti dengannya, dan aku mengambil tangannya. Demi Allah, tangannya berada di tanganku bersama tangan keduanya.'" (Sunan Abu Dawud, Kitab At-Tarahis, Hadis 3274)

3.9.8. Sesungguhnya Hal Pertama Yang Akan Diadili Pada Manusia Di Hari Kiamat Adalah Perutnya

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6619 dinyatakan Sesungguhnya hal pertama yang akan diadili pada manusia di hari kiamat adalah perutnya;

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ طَرِيفٍ أَبِي تَمِيمَةَ قَالَ شَهِدْتُ صَفْوَانَ وَجُنْدَبًا وَأَصْحَابَهُ وَهُوَ يُوصِيهِمْ فَقَالُوا هَلْ سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ وَمَنْ يُشَاقِقْ يَشْقُقْ اللَّهُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالُوا أَوْصِنَا فَقَالَ إِنَّ أَوَّلَ مَا يُنْتِنُ مِنْ الْإِنْسَانِ بَطْنُهُ فَمَنْ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يَأْكُلَ إِلَّا طَيِّبًا فَلْيَفْعَلْ وَمَنْ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا يُحَالَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجَنَّةِ بِمِلْءِ كَفِّهِ مِنْ دَمٍ أَهْرَاقَهُ فَلْيَفْعَلْ قُلْتُ لِأَبِي عَبْدِ اللَّهِ مَنْ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُنْدَبٌ قَالَ نَعَمْ جُنْدَبٌ [100]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ishaq al-Wasiti, telah menceritakan kepada kami Khalid, dari al-Jurairi, dari Tsuraif Abu Tamimah, dia berkata: "Aku menyaksikan Shafwan, Jundab, dan teman-temannya sedang Rasulullah  memberikan wasiat kepada mereka. Mereka berkata, 'Apakah kamu pernah mendengar sesuatu dari Rasulullah ?' Dia menjawab, 'Aku mendengarnya mengatakan, "Barangsiapa yang mendengar (menerima petunjuk), niscaya Allah akan mendengar darinya pada Hari Kiamat. Barangsiapa yang menentang Allah, maka Allah akan menentangnya pada hari kiamat" Mereka bertanya, 'Berikan kami wasiat.' Beliau bersabda, 'Sesungguhnya hal pertama yang akan diadili pada manusia di hari kiamat adalah perutnya. Jika seseorang mampu untuk tidak makan kecuali yang baik, maka hendaklah dia melakukannya. Dan siapa yang mampu agar tidak ada yang berdiri antara dirinya dan surga kecuali sejengkal darah yang dia tuangkan, maka hendaklah dia melakukannya.' Aku berkata kepada Abu Abdullah (Imam Ahmad bin Hanbal), 'Siapa yang mengatakan, 'Aku mendengar dari Rasulullah ?' Dia menjawab, 'Jundablah yang mengatakan itu.'" (HR. Bukhari: 6619)

3.9.9. Keluarga Muhammad SAW Tidak Pernah Kenyang Dari Makanan Selama Tiga Hari Berturut-Turut Hingga Beliau Wafat.

Di dalam kitab Shahih Bukhari Hadits nomor 5374 disebutkan bahwa Keluarga Muhammad  tidak pernah kenyang dari makanan selama tiga hari berturut-turut hingga beliau wafat;

حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ عِيسَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ مَا شَبِعَ آلُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ طَعَامٍ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ حَتَّى قُبِضَ[101] 

Artinya: Telah meriwayatkan kepada kami Yusuf bin ‘Īsā, telah meriwayatkan kepada kami Muammad bin Fuail, dari ayahnya, dari Abū āzim, dari Abū Hurairah, ia berkata: “Keluarga Muhammad  tidak pernah kenyang dari makanan selama tiga hari berturut-turut hingga beliau wafat.”

Menjadikan aktifitas makan dan minum bukan menjadi sebuah kesenangan sahwat dan hawa nafsu, tetapi menjadikanya sebagai wujud rasa syukur dan ketakwaan atas keimanan dan pengabdiannya kepada Allah SWT. sebagaimana diperintahkan Allah yang termuat di dalam Al Quran surat Al-Maidah/ 5: 88 dan An-Nahl/ 16: 114 berikut;

وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ

Artinya: Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah telah rezekikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. (QS. Al-Maidah/ 5: 88)

فَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلَالًا طَيِّبًا وَاشْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Artinya: Maka makanlah yang halal lagi baik dari rezeki yang telah diberikan Allah kepadamu; dan syukurilah nikmat Allah, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah. (QS. An-Nahl/ 16: 114)

Menjaga diri karena Allah dari makan yang dijadikan sebagai kesenangan syahwat dan hawa nafsu merupakan bentuk ketakwaan kepada Allah dari syahwat dan hawa.

3.10. Laghwun Dan Lahwun

Laghwun berasal dari kata laghw artinya perbuatan yang tidak berguna, sedangkan Lahwun berasal dari lahw artinya sendau gurau, menghibur, melalaikan, mengalihkan, mengganggu, melewatkan waktu, bermain.

Perbedaan antara al-laghw dan al-lahw terkait langsung dengan konsep pemeliharaan hati (if al-qalb) dan pengendalian anggota tubuh dari segala bentuk kesia-siaan (al-‘amal al-bāil). Menurutnya, al-laghw adalah segala ucapan dan perbuatan yang tidak memberikan manfaat spiritual maupun duniawi, meskipun tidak selalu memicu kerusakan langsung; ia merupakan bentuk “kekosongan nilai” yang melemahkan konsentrasi hati terhadap Allah. Karena itu, al-Ghazālī menempatkan laghw sebagai bagian dari penyakit lisan yang mengikis kualitas jiwa secara perlahan, terutama karena ia membuka ruang bagi kelalaian (ghaflah)—sebuah kondisi yang sangat dikhawatirkan dalam pembinaan akhlak. [102]

Adapun al-lahw, menurut al-Ghazālī, merupakan tingkat yang lebih rendah dan lebih berbahaya karena tidak sekadar tanpa manfaat, tetapi mengalihkan seseorang dari kewajiban dan tujuan penciptaannya. Dalam Iyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ia menjelaskan bahwa lahw adalah bentuk permainan, hiburan, dan kesibukan yang menumpulkan kesadaran spiritual, serta mengikat hati dengan kesenangan duniawi sehingga seseorang terputus dari perhatian kepada akhirat. [103]

Dengan demikian, perbedaan prinsipnya adalah bahwa laghw bersifat pasif—sekadar sia-sia—sementara lahw bersifat aktif dalam menyesatkan, karena menjadi sebab seseorang berpaling dari ketaatan. Bagi al-Ghazālī, kedua hal ini harus dihindari, tetapi lahw dipandang lebih merusak karena secara langsung memalingkan hati dari Allah dan menimbulkan konsekuensi moral yang lebih berat. [104]

Sehingga Laghwun dan Lahwun dapat dipahami sebagai segala aktifitas yang tidak meiliki nilai kebaikan. Berikut akan dikemukakan ayat-ayat Al Quran dan Hadits yang berkaitan dengan Laghwun dan Lahwun;

3.10.1. Apabila Mereka Bertemu Dengan (Orang-Orang) Yang Mengerjakan Perbuatan-Perbuatan Yang Tidak Berfaedah, Mereka Lalui (Saja) Dengan Menjaga Kehormatan Dirinya

Orang beriman menjaga kehormatan dirinya dari perbuatan laghwun baik ketika melewati orang-orang yang sedang laghwun maupun mendengar pembicaraan laghwun, disebutkan di dalam Al Quran Surat Al-Furqan/ 25: 72 dan Surat Al-Qasas/ 28: 55, berikut;

وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا

Artinya: Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.(QS. Al-Furqan/ 25: 72)

وَإِذَا سَمِعُوا اللَّغْوَ أَعْرَضُوا عَنْهُ وَقَالُوا لَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ لَا نَبْتَغِي الْجَاهِلِينَ

Artinya: Dan apabila mereka mendengar perkataan yang tidak bermanfaat, mereka berpaling daripadanya dan mereka berkata: "Bagi kami amal-amal kami dan bagimu amal-amalmu, kesejahteraan atas dirimu, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang jahil".(QS. Al-Qasas/ 28: 55)

3.10.2. Banyak Bicara Tanpa Mengingat Allah Membuat Hati Menjadi Keras

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2411, dijelaskan peringatan untuk : Janganlah kalian banyak bicara tanpa berdzikir kepada Allah, karena banyak bicara tanpa mengingat Allah membuat hati menjadi keras, dan orang yang paling jauh dari Allah adalah orang yang berhati keras;

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي ثَلْجٍ الْبَغْدَادِيُّ صَاحِبُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَاطِبٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُكْثِرُوا الْكَلَامَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلَامِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللَّهِ قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ وَإِنَّ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْ اللَّهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي  [105]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abu 'Abdillah Muhammad bin Abu Tsalj Al Baghdadi] sahabat Ahmad bin Hambal, telah menceritakan kepada kami ['Ali bin Hafsh] telah menceritakan kepada kami [Ibrahim bin 'Abdillah bin Hatib] dari [Abdullah bin Dinar] dari [Ibnu Umar] berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Janganlah kalian banyak bicara tanpa berdzikir kepada Allah, karena banyak bicara tanpa mengingat Allah membuat hati menjadi keras, dan orang yang paling jauh dari Allah adalah orang yang berhati keras.

3.10.3. Allah Membenci Orang Yang Berlebihan Dalam Berbicara

Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 4352 disebutkan bahwa Allah membenci orang yang berlebihan dalam berbicara;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سِنَانٍ الْبَاهِلِيُّ وَكَانَ يَنْزِلُ الْعَوَقَةَ حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ عُمَرَ عَنْ بِشْرِ بْنِ عَاصِمٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ أَبُو دَاوُد هُوَ ابْنُ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُبْغِضُ الْبَلِيغَ مِنْ الرِّجَالِ الَّذِي يَتَخَلَّلُ بِلِسَانِهِ تَخَلُّلَ الْبَاقِرَةِ بِلِسَانِهَا [106]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sinan Al Bahili - dia singgah di suatu tempat bernama Awaqah- berkata, telah menceritakan kepada kami Nafi' bin Umar dari Bisyr bin Ashim dari Bapaknya dari Abdullah -Abu Dawud berkata; maksudnya adalah Abdullah bin Umar- ia berkata, "Rasulullah  bersabda: "Sesungguhnya Allah membenci laki-laki yang berlebihan dalam berbicara seperti sapi yang memainkan lidahnya."

3.10.4. Di Antara Manusia (Ada) Orang Yang Mempergunakan Perkataan Yang Tidak Berguna Untuk Menyesatkan (Manusia) Dari Jalan Allah Tanpa Pengetahuan

Di dalam Al Quran Surat Luqman/ 31: 6 dijelaskan bahwa di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan;

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْتَرِي لَهْوَ الْحَدِيثِ لِيُضِلَّ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَيَتَّخِذَهَا هُزُوًا ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ مُهِينٌ

Artinya: Dan di antara manusia (ada) orang yang mempergunakan perkataan yang tidak berguna untuk menyesatkan (manusia) dari jalan Allah tanpa pengetahuan dan menjadikan jalan Allah itu olok-olokan. Mereka itu akan memperoleh azab yang menghinakan. (QS. Luqman/ 31: 6)

3.10.5. Hai Orang-Orang Beriman, Janganlah Hartamu Dan Anak-Anakmu Melalaikan Kamu Dari Mengingat Allah

Allah SWT memberikan peringatan kepada orang yang beriman, agar tidak dilalaikan oleh harta dan anak-anak dari mengingat Allah. Dimuat di dalam Al Quran Surat Al-Munafiqun/ 63: 9;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya: Hai orang-orang beriman, janganlah hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang berbuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang merugi.(QS. Al-Munafiqun/ 63: 9)

3.10.6.  Banyak Tertawa Akan Mematikan Hati.

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah nomor 4193 Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati;

حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ خَلَفٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الْحَنَفِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُنَيْنٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُكْثِرُوا الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ [107]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Bakar bin Khalaf telah menceritakan kepada kami Abu Bakar Al Hanafi telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Ja'far dari Ibrahim bin Abdullah bin Hunain dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah  bersabda: "Janganlah kalian banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati."

3.10.7. Nyayian Akan Menumbuhkan Kenifakan Dalam Hati

Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 4927, dijelaskan bahwa Nyayian akan menumbuhkan kenifakan dalam hati;

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا سَلَّامُ بْنُ مِسْكِينٍ عَنْ شَيْخٍ شَهِدَ أَبَا وَائِلٍ فِي وَلِيمَةٍ فَجَعَلُوا يَلْعَبُونَ يَتَلَعَّبُونَ يُغَنُّونَ فَحَلَّ أَبُو وَائِلٍ حَبْوَتَهُ وَقَالَ سَمِعْتْ عَبْدَ اللَّهِ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْغِنَاءُ يُنْبِتُ النِّفَاقَ فِي الْقَلْبِ [108]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim ia berkata; telah menceritakan kepada kami Sallam bin Miskin dari seorang Syaikh Bahwasanya ia pernah melihat Abu Wail dalam sebuah jamuan walimah. Orang-orang lalu bermain rebana dan menyanyikan lagu, maka Abu Wail kemudian bangkit dari duduk ihtiba (duduk di atas bokong dengan mendekap kedua pahanya menempel dada) dan berkata, "Aku mendengar Abdullah berkata, "Aku mendengar Rasulullah bersabda: "Nyayian akan menumbuhkan kenifakan dalam hati."

3.10.8. Tanda-Tanda Seorang Munafik Ada Tiga: Ketika Dia Berbicara, Dia Berbohong

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 33 dinyatakan bahwa Tanda-tanda seorang munafik ada tiga: ketika dia berbicara, dia berbohong;

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ أَبُو الرَّبِيعِ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ مَالِكِ بْنِ أَبِي عَامِرٍ أَبُو سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ [109]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman Abu al-Rabi', dia berkata, telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ja'far, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Nafi' bin Malik bin Abi 'Amir, Abu Suhail, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW beliau bersabda, "Tanda-tanda seorang munafik ada tiga: ketika dia berbicara, dia berbohong; ketika dia berjanji, dia tidak memenuhi janjinya; dan ketika dia diberi amanah, dia berkhianat."

3.10.9. Celakalah Orang Yang Berbicara Padahal Ia Bohong Untuk Sekedar Membuat Orang-Orang Tertawa

Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 4990 dinyatakan Celakalah orang yang berbicara padahal ia bohong untuk sekedar membuat orang-orang tertawa;

حَدَّثَنَا مُسَدَّدُ بْنُ مُسَرْهَدٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ بَهْزِ بْنِ حَكِيمٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ [110]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Musaddad ibnu Musarhadin telah menceritakan kepada kami Yahya dari Bahez Ibnu Hakim dari ayahnya dari kakeknya Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Celakalah orang yang berbicara padahal ia bohong untuk sekedar membuat orang-orang tertawa celakalah dia kemudian celakalah dia.

3.10.10. Berpegang Teguhlah Pada Kejujuran Dan Waspadalah Terhadap Kebohongan

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 104 dinyatakan Berpegang teguhlah pada kejujuran Dan Waspadalah terhadap kebohongan;

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ قَالَا حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا [111]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair, menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dan Waki', keduanya berkata, menceritakan kepada kami Al-A'masy dari Abu Kurayb, dari Abu Mu'awiyah, dari Al-A'masy, dari Syaqiq, dari Abdullah bin Amr. Dia berkata, Rasulullah  SAW bersabda, "Berpegang teguhlah pada kejujuran, karena kejujuran membimbing ke arah kebajikan, dan kebajikan membimbing ke surga. Seseorang akan terus berbicara jujur dan berusaha untuk tetap jujur, hingga dia dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Waspadalah terhadap kebohongan, karena kebohongan membimbing ke arah kefasikan, dan kefasikan membimbing ke neraka. Seseorang akan terus berbohong dan berusaha untuk tetap berbohong, hingga dia dicatat di sisi Allah sebagai pendusta."

3.10.11. Berbohong Dibenarkan Hanya Dalam Tiga Hal

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 27275 dinyatakan bahwa  berbohong dibenarkan hanya dalam tiga hal;

حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنَا لَيْثٌ يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ عَنْ يَزِيدَ يَعْنِي ابْنَ الْهَادِ عَنْ عَبْدِ الْوَهَّابِ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ عَنْ أُمِّهِ أُمِّ كُلْثُومٍ بِنْتِ عُقْبَةَ قَالَتْ مَا سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَخَّصَ فِي شَيْءٍ مِنْ الْكَذِبِ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ الرَّجُلِ يَقُولُ الْقَوْلَ يُرِيدُ بِهِ الْإِصْلَاحَ وَالرَّجُلِ يَقُولُ الْقَوْلَ فِي الْحَرْبِ وَالرَّجُلِ يُحَدِّثُ امْرَأَتَهُ وَالْمَرْأَةِ تُحَدِّثُ زَوْجَهَا [112]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad, dia berkata, telah menceritakan kepada kami Laits, yakni Ibnu Sa'd, dari Yazid, yakni Ibnu al-Had, dari Abdul Wahhab, dari Ibnu Syihab, dari Humaid bin Abdurrahman bin Auf, dari ibunya, Ummu Kultsum binti Ukba. Dia berkata, "Aku tidak pernah mendengar Rasulullah SAW membenarkan berbohong kecuali dalam tiga hal: seorang laki-laki yang mengatakan sesuatu dengan tujuan perbaikan (perdamaian), seorang laki-laki yang berbicara di medan perang, dan seorang wanita yang berbicara dengan suaminya."

3.10.12. Sesungguhnya Allah Tidak Menyukai Tiga Hal, Yaitu Banyak Bicara Tentang Orang Lain, Seringnya Bertanya;

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 1477 Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiga hal, yaitu banyak bicara tentang orang lain, seringnya bertanya;

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُلَيَّةَ حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ عَنْ ابْنِ أَشْوَعَ عَنْ الشَّعْبِيِّ حَدَّثَنِي كَاتِبُ الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ قَالَ كَتَبَ مُعَاوِيَةُ إِلَى الْمُغِيرَةِ بْنِ شُعْبَةَ أَنْ اكْتُبْ إِلَيَّ بِشَيْءٍ سَمِعْتَهُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَتَبَ إِلَيْهِ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ كَرِهَ لَكُمْ ثَلَاثًا قِيلَ وَقَالَ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ [113]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Isma'il bin 'Ulayyah, telah menceritakan kepada kami Khalid al-Hadza', dari Ibnu Asywa', dari Ash-Sha'bi, dia berkata, "Katsib al-Mughirah bin Syu'bah menulis kepada Mu'awiyah bin Abi Sufyan, 'Tulis untukku sesuatu yang pernah engkau dengar dari Nabi .' Mu'awiyah menulis kepadanya, 'Aku pernah mendengar Nabi  bersabda: "Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiga hal, yaitu ghibah (berbicara buruk) tentang orang lain, pemborosan harta dan seringnya bertanya." (HR. Bukhari: 1383)

Tiga hal yang tidak disukai Allah tersebut merupakan laghwun dan lahwun.

3.10.13. Siapa Yang Meninggalkan Perdebatan, Padahal Dia Benar Untuknya Dibangun Rumah Di Tengah-Tengah Surga

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 1993 dinyatakan bahwa siapa yang meninggalkan perdebatan, padahal dia benar, untuknya dibangun rumah di tengah-tengah surga;

حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ مُكَرِّمٍ الْعَمِّيُّ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ قَالَ حَدَّثَنِي سَلَمَةُ بْنُ وَرْدَانَ اللَّيْثِيُّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَهُوَ بَاطِلٌ بُنِيَ لَهُ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ وَمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَهُوَ مُحِقٌّ بُنِيَ لَهُ فِي وَسَطِهَا وَمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ بُنِيَ لَهُ فِي أَعْلَاهَا وَهَذَا الْحَدِيثُ حَدِيثٌ حَسَنٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ سَلَمَةَ بْنِ وَرْدَانَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ [114]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Uqbah bin Mukrim al-‘Ami al-Bashri, telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Fudhak, dia berkata, telah menceritakan kepada saya Salamah bin Wardan al-Laithi dari Anas bin Malik, dia berkata: Rasulullah  bersabda, "Barangsiapa meninggalkan kebohongan ketika dia dalam keadaan salah, untuknya dibangun rumah di taman surga. Dan siapa yang meninggalkan perdebatan, padahal dia benar, untuknya dibangun rumah di tengah-tengah surga. Dan siapa yang memperbaiki akhlaknya, untuknya dibangun rumah di puncak surga." Hadis ini dikategorikan sebagai hadis hasan, dan kami hanya mengetahuinya dari riwayat Salamah bin Wardan dari Anas bin Malik.

3.10.14. Kebanyakan Tidur Di Malam Hari Akan Meninggalkan Seseorang Miskin Di Hari Kiamat

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 1332, dinyatakan bahwa kebanyakan tidur di malam hari akan meninggalkan seseorang miskin di hari kiamat;

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ وَالْحَسَنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الصَّبَّاحِ وَالْعَبَّاسُ بْنُ جَعْفَرٍ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو الْحَدَثَانِيُّ قَالُوا حَدَّثَنَا سُنَيْدُ بْنُ دَاوُدَ حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ أُمُّ سُلَيْمَانَ بْنِ دَاوُدَ لِسُلَيْمَانَ يَا بُنَيَّ لَا تُكْثِرْ النَّوْمَ بِاللَّيْلِ فَإِنَّ كَثْرَةَ النَّوْمِ بِاللَّيْلِ تَتْرُكُ الرَّجُلَ فَقِيرًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ [115]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Muhammad, dan Al-Hasan bin Muhammad bin Al-Sabbah, dan Al-Abbas bin Ja'far, dan Muhammad bin 'Amr Al-Hadzani, mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Sunaid bin Dawud, telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Muhammad bin Al-Munkadir, dari ayahnya, dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, Rasulullah  bersabda, "Ummu Sulaiman bin Dawud berkata kepada Sulaiman, 'Wahai anakku, jangan terlalu banyak tidur di malam hari, karena kebanyakan tidur di malam hari akan meninggalkan seseorang miskin di hari kiamat.'" 

3.10.15. Setan Mengikat Tiga Simpul Di Bagian Belakang Kepala Seseorang Di Antara Kalian Ketika Dia Tidur

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 1074 dinyatakan bahwa Setan mengikat tiga simpul di bagian belakang kepala seseorang di antara kalian ketika dia tidur;

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ قَالَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَعْقِدُ الشَّيْطَانُ عَلَى قَافِيَةِ رَأْسِ أَحَدِكُمْ إِذَا هُوَ نَامَ ثَلَاثَ عُقَدٍ يَضْرِبُ كُلَّ عُقْدَةٍ عَلَيْكَ لَيْلٌ طَوِيلٌ فَارْقُدْ فَإِنْ اسْتَيْقَظَ فَذَكَرَ اللَّهَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ تَوَضَّأَ انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَإِنْ صَلَّى انْحَلَّتْ عُقْدَةٌ فَأَصْبَحَ نَشِيطًا طَيِّبَ النَّفْسِ وَإِلَّا أَصْبَحَ خَبِيثَ النَّفْسِ كَسْلَانَ [116]

Artinya: Yusuf berkata, "Telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu al-Zinad dari al-A'raj dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah  bersabda, 'Setan mengikat tiga simpul di bagian belakang kepala seseorang di antara kalian ketika dia tidur. Setiap simpul yang diikatkan akan membuat malam yang panjang bagimu. Jika kalian terbangun dan menyebut nama Allah, satu simpul akan terlepas. Jika kalian berwudhu, satu simpul akan terlepas. Jika kalian shalat, maka simpul yang terakhir pun akan terlepas. Oleh karena itu, kalian akan bangun dengan semangat yang baik dan jiwa yang bersih. Jika tidak, kalian akan bangun dengan jiwa yang buruk dan malas.'"

3.10.16. Barangsiapa Yang Pagi Hari Kesibukannya Adalah Dunia, Maka Ia Tidak Memiliki Bagian Dari Allah Dalam Sesuatu Pun

Di dalam kitab Mustadrak Hakim hadits nomor 7889 dinyatakan bahwa Barangsiapa yang pagi hari kesibukannya adalah dunia, maka ia tidak memiliki bagian dari Allah dalam sesuatu pun;

حدثنا جعفر بن محمد الخلدي ثنا الحسن علي القطان ثنا إسماعيل بن العطار ثنا إسحاق بن بشر ثنا سفيان الثوري عن الأعمش عن شقيق عن سلمة عن حذيفة رضي الله عنه : عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : من أصبح و الدنيا أكبر همه فليس من الله في شيء و من لم يتق الله فليس من الله في شيء و من لم يهتم للمسلمين عامة فليس منهم [117]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Muhammad al-Khuldi, telah menceritakan kepada kami al-Hasan Ali al-Qattan, telah menceritakan kepada kami Isma'il bin al-'Atar, telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Bishr, telah menceritakan kepada kami Sufyan al-Thawri, dari al-A'mash, dari Syuqaiq, dari Salim, dari Hudhaifah radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi  bersabda, "Barangsiapa yang pagi hari kesibukannya adalah dunia, maka ia tidak memiliki bagian dari Allah dalam sesuatu pun. Barangsiapa yang tidak bertakwa kepada Allah, maka ia tidak memiliki bagian dari Allah dalam sesuatu pun. Barangsiapa yang tidak peduli terhadap urusan umat Islam secara umum, maka ia bukan bagian dari mereka.".

Berdasar hadits ini kesibukan seseorang bila hanya tentang dunia, tidak ada ketakwaan serta tidak ada kaitan dengan urusan umat Islam, maka kesibukannya hanyalah merupakan laghwun dan lahwun.

3.10.17.Itu Adalah Laki-Laki Yang Setan Telah Buang Air Kecil Di Telinganya

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 3270 dikisahkan tentang seorang laki-laki yang tidur semalaman hingga pagi, Itu adalah laki-laki yang setan telah buang air kecil di telinganya;

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ ذُكِرَ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ نَامَ لَيْلَهُ حَتَّى أَصْبَحَ قَالَ ذَاكَ رَجُلٌ بَالَ الشَّيْطَانُ فِي أُذُنَيْهِ أَوْ قَالَ فِي أُذُنِهِ [118]

Artinya: Utsman bin Abi Shaybah menceritakan kepada kami, Jarir menceritakan kepada kami, dari Mansur, dari Abi Wail, dari Abdullah, semoga Allah meridhoinya, berkata: Dikisahkan di hadapan Nabi, semoga shalawat dan salam tercurah kepadanya, tentang seorang laki-laki yang tidur semalaman hingga pagi. Beliau berkata, "Itu adalah laki-laki yang setan telah buang air kecil di telinganya, atau beliau berkata, di telinganya."

 

Menjaga diri dari perbuatan yang bernilai laghwun dan lahwun merupakan ciri dari orang beriman, disebutkan di dalam Al Quran Surat Al-Mu’minun/ 23: 3;

 وَٱلَّذِينَ هُمْ عَنِ ٱللَّغْوِ مُعْرِضُونَ

Artinya: Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.(QS. Al-Mu’minun/ 23: 3)

Kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau, hanya orang yang beriman dan bertakwa yang akan mendapatkan pahala, sebagaimana dinyatakan di dalam Al Quran surat Muhammad/ 47: 36;

إِنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَإِنْ تُؤْمِنُوا وَتَتَّقُوا يُؤْتِكُمْ أُجُورَكُمْ وَلَا يَسْأَلْكُمْ أَمْوَالَكُمْ

Artinya: Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman dan bertakwa, Allah akan memberikan pahala kepadamu dan Dia tidak akan meminta harta-hartamu. (QS. Muhammad/ 47: 36)

Kesadaran untuk menjaga diri dari perbuatan yang bernilai laghwun dan lahwun (a.l: banyak bicara, berlebihan dalam bicara, perkataan tak berguna, kesenangan terhadap harta dan anak, banyak tertawa, nyanyi-nyanyian, berbohong, sering bertanya, perdebatan, banyak tidur, angan-angan, nonton hiburan tv /hp/ langsung secara berlebihan, permainan/ game dsb) yang dilakukan karena Allah, merupakan bentuk ketakwaan dari laghwun dan lahwun, sebagai bagian ketakwaan dari syahwat dan hawa.

3.11.  Zina Dan Pornografi

Zina dalam Bahasa Arab artinya; mempererat, mengencangkan, menyumbat, memampatkan, menekan,

pengertiannya; hubungan seksual yang dilakukan oleh seorang mukallaf yang Muslim pada faraj adami (manusia), yang bukan budak miliknya, tanpa ada syubhat dan dilakukan dengan sengaja. Itu merupakan batasan pengertian fiqh.

Janganlah Kamu Mendekati Zina; Sesungguhnya Zina Itu Adalah Suatu Perbuatan Yang Keji

Pelarangan zina mencakup semua hal yang mengarah kepada perbuatan zina, di sebutkan di dalam Al Quran surat Al-Isra'/ 17: 32

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Artinya: Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.(QS. Al-Isra'/ 17: 32)

Pelarangan mendekati zina ini menggambarkan sangat berbahaya (godaan untuk melakukannya sangat besar) bila melakukannya, sebab perbuatan zina merupakan perbuatan fahsya: cabul, dekil, vulgar, porno, keji; yang melampaui batas, di luar batas kewajaran, menyolok, memalukan. Dan zina merupakan jalan atau cara yang buruk.

Zina inilah yang sering dipahami sebagai Syahwat dan hawa nafsu, padahal syahwat dan hawa mencakup semua kesenangan dan kecenderungan manusia, sedangkan zina hanya merupakan bagian darinya, berikut ini dikemukakan ayat dan hadits yang berkaitan dengan zina;

3.11.1. Allah Menetapkan Atas Anak Adam Bagiannya Dari Zina

Di dalam kitab Shahih Bukhari Hadits nomor 6612, dijelaskan gambaran besarnya godaan zina ini, sehingga Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, ia pasti melakukan hal itu dengan tidak dipungkiri lagi, melalui; mata, lisan dan hayalan;

حَدَّثَنِي مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ ابْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ مَا رَأَيْتُ شَيْئًا أَشْبَهَ بِاللَّمَمِ مِمَّا قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنْ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ وَقَالَ شَبَابَةُ حَدَّثَنَا وَرْقَاءُ عَنْ ابْنِ طَاوُسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [119]

Artinya: Telah menceritakan kepadaku [Mahmud bin Ghailan] telah menceritakan kepada kami [Abdurrazaq] telah memberitakan kepada kami [Ma'mar] dari [Ibnu Thawus] dari [ayahnya] dari [Ibnu 'Abbas] mengatakan, belum pernah kulihat sesuatu yang lebih mirip dengan dosa-dosa kecil daripada apa yang dikatakan oleh [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; "Allah menetapkan atas anak Adam bagiannya dari zina, ia pasti melakukan hal itu dengan tidak dipungkiri lagi, zina mata adalah memandang, zina lisan adalah bicara, jiwa mengkhayal dan kemaluan yang akan membenarkan itu atau mendustakannya". Dan [Syababah] mengatakan, telah menceritakan kepada kami [Warqa'] dari [Ibnu Thawus] dari [ayahnya] dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam.

3.11.2. Zina Mata Adalah Melihat, Zina Kedua Tangan Adalah Memegang

Zina dari seluruh anggota badan disebutkan di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 8170;

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ أَخْبَرَنَا سُهَيْلُ بْنُ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِكُلِّ بَنِي آدَمَ حَظٌّ مِنْ الزِّنَا فَالْعَيْنَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْيَدَانِ تَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلَانِ يَزْنِيَانِ وَزِنَاهُمَا الْمَشْيُ وَالْفَمُ يَزْنِي وَزِنَاهُ الْقُبَلُ وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ أَوْ يُكَذِّبُهُ [120]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami ['Affan] telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Salamah] berkata; telah mengabarkan kepada kami [Suhail bin Abu Shalih] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah], dia berkata; Bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda: "Setiap anak cucu Adam telah tertulis bagiannya dari zina, maka kedua mata berbuat zina dan zina mata adalah melihat, kedua tangan berzina dan zina kedua tangan adalah memegang, kedua kaki berzina dan zina kedua kaki adalah melangkah, mulut berzina dan zina mulut adalah mengucapkan, hati berharap dan berangan-angan, adapun kemaluan ia yang membenarkan atau mendustakannya."

3.11.3. Setiap Mata Memiliki Bagian Dari Zina

Pelarangan berbuat zina karena begitu berbahayanya perbuatan zina, bahkan ketika terbetik dalam hati untuk melakukan perbuatan dengan tujuan menarik perhatian dari lawan jenis, sudah termasuk Zina, sebagaimana digambarkan di dalam Hadits nomor 2786 dalam kitab Sunan Tirmidzi;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ الْقَطَّانُ عَنْ ثَابِتِ بْنِ عُمَارَةَ الْحَنَفِيِّ عَنْ غُنَيْمِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ وَالْمَرْأَةُ إِذَا اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِالْمَجْلِسِ فَهِيَ كَذَا وَكَذَا يَعْنِي زَانِيَةً وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ [121]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Basyar] telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id Al Qattan] dari [Tsabit bin 'Umarah Al Hanafi] dari [Ghunaim bin Qais] dari [Abu Musa] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Setiap mata memiliki bagian dari zina, dan wanita yang memakai wewangian kemudian lewat di perkumpulan (lelaki) berarti dia begini dan begini." Maksud beliau berbuat zina. Dan dalam bab ini ada juga hadits dari Abu Hurairah, Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih.

3.11.4. Tidaklah Berzina Orang Yang Berzina Ketika Ia Berzina Dalam Keadaan Beriman

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6312, dijelaskan bahwa Begitu buruknya perilaku zina dalam Islam, sehingga pelaku zina dianggap kehilangan imannya;

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ ذَكْوَانَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَالتَّوْبَةُ مَعْرُوضَةٌ بَعْدُ [122]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Adam] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Al A'masy] dari [Dzakwan] dari [Abu Hurairah] mengatakan, Nabi SAW bersabda: Tidaklah berzina orang yang berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman, dan tidaklah mencuri orang yang mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman, tidaklah ia meminum khamr ketika meminumnya dan ia dalam keadaan beriman, dan taubat terhampar setelah itu."

3.11.5. Tidak Ada Yang Lebih Cemburu Daripada Allah Saat Dia Melihat Hambanya Atau Hamba Perempuannya Berzina

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 4820, menjelaskan bahwa Allah melarang hambanya berbuat zina karena besarnya kasih sayang Allah kepada manusia, sehingga Allahlah yang paling cemburu Ketika seorang hamba melakukan zina,

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ مَا أَحَدٌ أَغْيَرَ مِنْ اللَّهِ أَنْ يَرَى عَبْدَهُ أَوْ أَمَتَهُ تَزْنِي يَا أُمَّةَ مُحَمَّدٍ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلًا وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا [123]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Maslamah] dari [Malik] dari [Hisyam] dari [bapaknya] dari [Aisyah] radliallahu 'anha, bahwasanya; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Wahai umat Muhammad, tidak ada yang lebih cemburu daripada Allah saat Dia melihat hambanya atau hamba perempuannya berzina. Wahai umat Muhammad, sekiranya kalian tahu apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan kalian akan banyak menangis." (HR. Bukhari: 4820)

3.11.6. Sesungguhnya Sesuatu Yang Paling Aku Khawatirkan Dari Ummatku Adalah Perbuatan Kaum Luth

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 1377 dinyatakan bahwa sesungguhnya sesuatu yang paling aku khawatirkan dari ummatku adalah perbuatan kaum Luth;  

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْمَكِّيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عُقَيْلٍ أَنَّهُ سَمِعَ جَابِرًا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي عَمَلُ قَوْمِ لُوطٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عُقَيْلِ بْنِ أَبِي طَالِبٍ عَنْ جَابِرٍ [124]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani', telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah menceritakan kepada kami Hammam dari Al Qasim bin Abdul Wahid Al Makki dari Abdullah bin Muhammad bin 'Uqail bahwa ia mendengar Jabir berkata; Rasulullah  bersabda: "Sesungguhnya sesuatu yang paling aku khawatirkan dari ummatku adalah perbuatan kaum Luth." Abu Isa berkata; Hadits ini hasan gharib, sesungguhnya kami hanya mengetahui dari jalur ini dari Abdullah bin Muhammad bin 'Uqail bin Abu Thalib dari Jabir.

3.11.7. Hukuman Bagi Pelaku Zina

Kerasnya larangan berbuat zina, sehingga diikuti dengan ketentuan hukuman yang berat bagi pelanggarnya, hukuman bagi pelaku zina dibagi menjadi dua, yakni;

3.11.7.1.  Zina Gairu Muhsan

Zina Gairu Muhsan merupakan macam zina yang dilakukan oleh mereka yang belum sah atau belum pernah menikah. Contohnya adalah mereka yang sedang menjalin hubungan sebelum menikah atau berpacaran, namun melakukan perbuatan zina.

Perempuan Yang Berzina Dan Laki-Laki Yang Berzina, Maka Deralah Tiap-Tiap Seorang Dari Keduanya Seratus Kali Dera

Di dalam Al Quran Surat An-Nur/ 24: 2; Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera;

الزَّانِيَةُ وَالزَّانِي فَاجْلِدُوا كُلَّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا مِائَةَ جَلْدَةٍ ۖ وَلَا تَأْخُذْكُمْ بِهِمَا رَأْفَةٌ فِي دِينِ اللَّهِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ۖ وَلْيَشْهَدْ عَذَابَهُمَا طَائِفَةٌ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ

Artinya: Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan orang-orang yang beriman. (QS. An-Nur/ 24: 2)

Bagi Siapa Yang Berzina Dan Belum Pernah Menikah Agar Dicambuk Seratus Kali Dan Diasingkan Selama Setahun

Demikan juga hadits di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2455; menegaskan bagi siapa yang berzina dan belum pernah menikah agar dicambuk seratus kali dan diasingkan selama setahun;

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ أَمَرَ فِيمَنْ زَنَى وَلَمْ يُحْصَنْ بِجَلْدِ مِائَةٍ وَتَغْرِيبِ عَامٍ [125]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Bukair] telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari ['Uqail] dari [Ibnu Syihab] dari ['Ubaidulloh bin 'Abdullah] dari [Zaid bin Khalid radliallahu 'anhu] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, bahwa Beliau memerintahkan bagi siapa yang berzina dan belum pernah menikah agar dicambuk seratus kali dan diasingkan selama setahun". (HR. Bukhari 2455)

3.11.7.2.   Zina Muhson

Zina muhson adalah zina yang dilakukan oleh perempuan dan laki-laki yang sudah menikah.

Hukuman Bagi Pelaku Zina Muhson Adalah Dirajam; Dilempari Batu Sampai Meninggal

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 4865; hukuman bagi pelaku zina muhson adalah dirajam; dilempari batu sampai meninggal;

حَدَّثَنَا أَصْبَغُ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ يُونُسَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَسْلَمَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَقَالَ إِنَّهُ قَدْ زَنَى فَأَعْرَضَ عَنْهُ فَتَنَحَّى لِشِقِّهِ الَّذِي أَعْرَضَ فَشَهِدَ عَلَى نَفْسِهِ أَرْبَعَ شَهَادَاتٍ فَدَعَاهُ فَقَالَ هَلْ بِكَ جُنُونٌ هَلْ أَحْصَنْتَ قَالَ نَعَمْ فَأَمَرَ بِهِ أَنْ يُرْجَمَ بِالْمُصَلَّى فَلَمَّا أَذْلَقَتْهُ الْحِجَارَةُ جَمَزَ حَتَّى أُدْرِكَ بِالْحَرَّةِ فَقُتِلَ [126]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Ashbagh] Telah mengabarkan kepada kami [Ibnu Wahab] dari [Yunus] dari [Ibnu Syihab] ia berkata; Telah mengabarkan kepadaku [Abu Salamah bin Abdurrahman] dari [Jabir] bahwa seorang laki-laki dari Bani Aslam mendatangi Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang saat itu sedang berada di dalam Masjid. Laki-laki itu mengatakan bahwa ia telah berzina, namun beliau berpaling darinya. Maka laki-laki itu menghadap ke arah wajah beliau seraya bersaksi atas dirinya dengan empat orang saksi. Akhirnya beliau memanggil laki-laki itu dan bertanya: "Apakah kamu memiliki penyakit gila?" ia menjawab, "Tidak." Beliau bertanya lagi: "Apakah kamu telah menikah?" ia menjawab, "Ya." Akhirnya beliau memerintahkan untuk merajamnya di lapangan luas. Dan ketika lemparan batu telah mengenainya, ia berlari hingga ditangkap dan dirajam kembali hingga meninggal. (QS. Bukhari: 4865)

Wanita Dan Pria Yang Telah Kawin Jika Berzina Dihukum Seratus Kali Cambuk Dan Rajam, Jejaka Dan Gadis Hukumannya Seratus Kali Cambuk Dan Diasingkan Selama Satu Tahun

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 21656, menjelaskan hukuman bagi pelaku zina muhson dihukum seratus kali cambuk dan rajam, sedangkan untuk ghairu muhson hukumannya seratus kali cambuk dan diasingkan selama satu tahun;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ حِطَّانَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الرَّقَاشِيِّ عَنِ ابْنِ الصَّامِتِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا نَزَلَ عَلَيْهِ الْوَحْيُ أَثَّرَ عَلَيْهِ كَرَبَ لِذَلِكَ وَتَرَبَّدَ وَجْهُهُ عَلَيْهِ الصَّلَاة وَالسَّلَامُ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ذَاتَ يَوْمٍ فَلَمَّا سُرِّيَ عَنْهُ قَالَ خُذُوا عَنِّي قَدْ جَعَلَ اللَّهُ لَهُنَّ سَبِيلًا الثَّيِّبُ بِالثَّيِّبِ وَالْبِكْرُ بِالْبِكْرِ الثَّيِّبُ جَلْدُ مِائَةٍ وَرَجْمٌ بِالْحِجَارَةِ وَالْبِكْرُ جَلْدُ مِائَةٍ ثُمَّ نَفْيُ سَنَةٍ [127]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] telah bercerita kepada kami [Sa'id] dari [Qatadah] dari [Al Hasan] dari [Hiththon bin 'Abdullah Ar Roqqosyi] dari [Ibnu Ash Shamit] berkata; bila turun wahyu kepada Nabi Shallallahu'alaihiwasallam, beliau terbebani dengan berat dan muka beliau memasam. Pada suatu hari Allah menurunkan ayat dan saat beliau bergembira karenanya, beliau bersabda: "Ambillah ketetapan hukumku -nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam mengucapkannya sebanyak tiga kali- sungguh Allah telah memberi ketetapan hukuman bagi mereka, maksudnya zinanya seorang wanita dengan pria yang telah kawin dan zinanya seorang jejaka dengan seorang gadis, wanita dan pria yang telah kawin jika berzina dihukum seratus kali cambuk dan rajam, jejaka dan gadis hukumannya seratus kali cambuk dan diasingkan selama satu tahun." (HR. Ahmad: 21656)

3.11.8.  Bertakwa Kepada Allah Dari Perbuatan Zina

Syariat Islam mengajarkan beberapa cara untuk menjaga diri; bertakwa dari perbuatan zina, antara lain;

3.11.8.1. Hendaklah Mereka Menahan Pandangan Dan Kemaluannya

Di dalam Al Quran surat An Nur/ 24: 30,31 disebutkan perintah bagi orang beriman untuk merendahkan pandangan;

قُل لِّلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ أَزْكَىٰ لَهُمْ ۗ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ ﴿٣٠﴾ وَقُل لِّلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلَا يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إِلَّا مَا ظَهَرَ مِنْهَا ۖ

Artinya: Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. (QS. An Nur/ 24 : 30)

3.11.8.2. Janganlah Kamu Mengikuti Satu Pandangan Dengan Pandangan Lainnya

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 1298 dinyatakan 'Janganlah kamu mengikuti satu pandangan dengan pandangan lainnya;

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ أَبِي الطُّفَيْلِ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تُتْبِعْ النَّظَرَ النَّظَرَ فَإِنَّ الْأُولَى لَكَ وَلَيْسَتْ لَكَ الْأَخِيرَةُ [128]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, dari Muhammad bin Ishaq, dari Muhammad bin Ibrahim, dari Salamah bin Abi Al-Tufail, dari Ali radhiyallahu 'anhu. Ali berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku, 'Janganlah kamu mengikuti satu pandangan dengan pandangan lainnya, karena sesungguhnya bagimu pandangan pertama dan tidak untukmu pandangan yang terakhir.'"

3.11.8.3. Menikahlah Supaya Kamu Cenderung Dan Merasa Tenteram Kepadanya

Di dalam Al Quran surat Ar-Rum/ 30: 21 digambarkan bahwa salah satu tujuan menikah adalah supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya;

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Artinya: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar-Rum/ 30: 21)

3.11.8.4.  Hendaklah Ia Berpuasa, Karena Puasa Itu Dapat Menjadi Pengekang Baginya

Di dalam kitab Shahih Al-Bukhari hadits nomor 5065 disebutkan perintah untuk berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi pengekang baginya;

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَامِرِ بْنِ زُرَارَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُسْهِرٍ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ قَيْسٍ، قَالَ: كُنْتُ مَعَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ بِمِنًى، فَخَلَا بِهِ عُثْمَانُ فَجَلَسْتُ قَرِيبًا مِنْهُ، فَقَالَ لَهُ عُثْمَانُ: هَلْ لَكَ أَنْ أُزَوِّجَكَ جَارِيَةً بِكْرًا تُذَكِّرُكَ مِنْ نَفْسِكَ بَعْضَ مَا قَدْ مَضَى؟ فَلَمَّا رَأَى عَبْدُ اللَّهِ أَنَّهُ لَيْسَ لَهُ حَاجَةٌ سِوَى هَذَا، أَشَارَ إِلَيَّ بِيَدِهِ، فَجِئْتُ وَهُوَ يَقُولُ: لَئِنْ قُلْتَ ذَلِكَ، لَقَدْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ»: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ، مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ، وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ، فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ [129] «

Artinya: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Āmir bin Zurārah,ia berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Alī bin Mus-hir, dari al-A‘mash, dari Ibrāhīm (an-Nakha‘ī), dari ‘Alqamah bin Qais, ia berkata: “Aku bersama ‘Abdullah bin Mas‘ūd di Mina. Lalu ‘Utsmān bin ‘Affān datang menemuinya secara pribadi, maka aku duduk tidak jauh dari mereka. ‘Utsmān berkata kepadanya: ‘Maukah aku nikahkan engkau dengan seorang gadis perawan, agar ia dapat mengingatkanmu kepada masa mudamu yang telah berlalu?’ Tatkala ‘Abdullah melihat bahwa ‘Utsmān tidak mempunyai maksud lain selain itu, ia memberi isyarat dengan tangannya kepadaku, maka aku pun datang mendekat, sementara beliau berkata: ‘Jika engkau mengatakan demikian, sungguh Rasulullah  telah bersabda: Wahai para pemuda! Barang siapa di antara kalian mampu menikah, maka hendaklah ia menikah, karena pernikahan itu lebih dapat menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa belum mampu (menikah),maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi pengekang baginya.”

3.11.8.5. Berdoa Mohon Perlindungan Kepada Allah Dari Perbuatan Zina

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor disebutka doa diantarany amohon perlindungan kepada Allah dari keburukan mani atau kemaluan;

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ أَوْسٍ ،  عَنْ بِلَالِ بْنِ يَحْيَى الْعَبْسِيِّ ،  عَنْ شُتَيْرِ بْنِ شَكَلٍ ،  عَنْ أَبِيهِ شَكَلِ بْنِ حُمَيْدٍ قَالَ: «أَتَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، عَلِّمْنِي تَعَوُّذًا أَتَعَوَّذُ بِهِ، قَالَ: فَأَخَذَ بِكَفِّي فَقَالَ: قُلِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي»، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي، يَعْنِي فَرْجَهُ. [130]

Artinya: Telah meriwayatkan kepada kami Ahmad bin Mani’, ia berkata: telah meriwayatkan kepada kami Abu Ahmad az-Zubairi, ia berkata: telah meriwayatkan kepada kami Sa‘d bin Aws, dari Bilal bin Yahyā al-‘Absī, dari Shutair bin Syakal, dari ayahnya, Syakal bin umaid, ia berkata: “Aku datang kepada Nabi  lalu berkata: Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku doa perlindungan yang dapat aku baca untuk berlindung. Maka beliau memegang telapak tanganku dan bersabda: Ucapkanlah: “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari keburukan pendengaranku, dari keburukan penglihatanku, dari keburukan lisanku, dari keburukan hatiku, dan dari keburukan maniyyiku,’ yakni (keburukan) kemaluannya.”

Kesadaran untuk menjaga diri dari segala perbuatan yang mengarah pada perbuatan zina dan pornografi (mulut, mata, telinga, seluruh anggota badan) adalah bentuk ketakwaan dari zina dan pornografi, dan ketakwaan ini merupakan bagian ketakwaan kepada Allah dari Syahwat dan hawa.

3.12.  Berbuat Ma’siyat

Kata ma’siyat terbentuk dari kata dasar ‘asha artinya menentang, mendurhakai, melanggar, membangkang, tidak melaksanakan perintah.

Menurut Imam al-Ghazālī, ma‘iyat bukan sekadar tindakan melanggar hukum syariat, tetapi merupakan penyakit hati yang merusak cahaya batin (nūr al-qalb), menutup pintu hidayah, dan menimbulkan kegelapan spiritual yang menghalangi seseorang dari makrifat kepada Allah.[131] Ia menjelaskan dalam Iyā’ ‘Ulūm al-Dīn bahwa setiap dosa melahirkan titik hitam dalam hati, yang jika terus berulang akan mengakibatkan hati tertutup (rān), sehingga sulit merasakan manisnya ibadah dan taat.[132]

Sementara itu, Ibn Qayyim al-Jawziyyah menegaskan bahwa maksiat adalah sebab utama turunnya musibah batin maupun lahir, karena ia memutus hubungan hamba dari penjagaan Allah dan menjadikan nafsu sebagai penguasa hati.[133] Ibn Qayyim menekankan bahwa setiap dosa membawa akibat kausal—baik psikologis maupun spiritual—seperti hilangnya keberkahan, lemahnya tekad (himmah), dominasi syahwat, dan ketergantungan pada dunia yang menggelapkan fitrah manusia.[134]

Berikut akan dikemukakan beberapa ayat Al Quran dan hadits yang dapat digunakan untuk memahami ma’siyat;

3.12.1. Barangsiapa Mendurhakai Allah Dan Rasul-Nya Maka Sungguhlah Dia Telah Sesat, Sesat Yang Nyata

Di dalam Al Quran surat Al Ahzab/ 33: 36 ditegaskan bahwa orang beriman tidak punya pilihan lain kecuali taat, barangsiapa mendurhakai  (tidak taat) Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata;

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَن يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُّبِينًا

Artinya: Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.

3.12.2. Durhakalah Adam Kepada Tuhan Dan Sesatlah Ia

Di dalam Al Quran Surat Thaha/ 20/ 121 digambarkan ketika keduanya memakan dari buah pohon yang dilarang, maka durhakalah (melanggar larangan) Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia;

فَأَكَلَا مِنْهَا فَبَدَتْ لَهُمَا سَوْآتُهُمَا وَطَفِقَا يَخْصِفَانِ عَلَيْهِمَا مِن وَرَقِ الْجَنَّةِ وَعَصَىٰ آدَمُ رَبَّهُ فَغَوَىٰ

Artinya: Maka keduanya memakan dari buah pohon itu, lalu nampaklah bagi keduanya aurat-auratnya dan mulailah keduanya menutupinya dengan daun-daun (yang ada di) surga, dan durhakalah Adam kepada Tuhan dan sesatlah ia. (QS. Thaha/ 20/ 121)

3.12.3. Ma’siyat Adalah Melanggar Ketentuan-Ketentuan Allah dan Rasul-Nya

Di dalam Al Quran Surat An Nisa’/ 4: 14 ditegaskan bahwa ma’siyat; melanggar ketentuan Allah akan dimasukkan ke dalam neraka;

وَمَن يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُّهِينٌ

Artinya: Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (QS. An Nisa’/ 4: 14)

3.12.4. Sami’na Wa ‘Ashaina Adalah Seburuk-Buruk Perbuatan Yang Telah Diperintahkan Imanmu

Di dalam Al Quran surat Al Baqarah/ 2: 93 digambarkan ketika bani Israil diambil perjanjian di bawah bukit Tursina untuk memegang erat perjanjian dan mendengar (taat), tetapi mereka menjawab: “kami dengar dan kami tidak taati” , maka itulah seburuk-buruk perbuatan yang telah diperintahkan imanmu;

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاسْمَعُوا قَالُوا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُم بِهِ إِيمَانُكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Artinya: Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu dan Kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya Kami berfirman): "Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!" Mereka menjawab: "Kami mendengar tetapi tidak mentaati". Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah: "Amat jahat perbuatan yang telah diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat). (QS. Al Baqarah/ 2: 93)

3.12.5. Jangan Terlambat Menyadari Kedurhakaan Dan Berbuat Kerusakan

Di dalam Al Quran Surat Yunus/ 10: 91 digambarkan ketika Firaun ditenggelamkan ke laut baru sadar bahwa dirinya telah lama durhaka dan berbuat kerusakan;

آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ

Artinya: Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Yunus/ 10: 91)

3.12.6. Jika Kalian Melihat Allah Memberikan Dunia Kepada Seorang Hamba Pelaku Maksiat Dengan Sesuatu Yang Ia Sukai, Maka Sesungguhnya Itu Hanyalah Merupakan Istidraj

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 16673, ditegaskan bahwa Jika kalian melihat Allah memberikan dunia kepada seorang hamba pelaku maksiat dengan sesuatu yang ia sukai, maka sesungguhnya itu hanyalah merupakan istidraj;

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ غَيْلَانَ قَالَ حَدَّثَنَا رِشْدِينُ يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ أَبُو الْحَجَّاجِ الْمَهْرِيُّ عَنْ حَرْمَلَةَ بْنِ عِمْرَانَ التُّجِيبِيِّ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا رَأَيْتَ اللَّهَ يُعْطِي الْعَبْدَ مِنْ الدُّنْيَا عَلَى مَعَاصِيهِ مَا يُحِبُّ فَإِنَّمَا هُوَ اسْتِدْرَاجٌ ثُمَّ تَلَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ( فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنَا عَلَيْهِمْ أَبْوَابَ كُلِّ شَيْءٍ حَتَّى إِذَا فَرِحُوا بِمَا أُوتُوا أَخَذْنَاهُمْ بَغْتَةً فَإِذَا هُمْ مُبْلِسُونَ ) [135]

Artinya: Telah meneritakan kepada kami Yahya bin Ghailan dia berkata, Telah meneritakan kepada kami Risydin -yakni Ibnu Sa'd Abul Hajjaj Al Mahari- dari Harmalah bin Imran At Tujibi dari Uqbah bin Muslim dari Uqbah bin Amir dari Nabi  beliau bersabda: "Jika kalian melihat Allah memberikan dunia kepada seorang hamba pelaku maksiat dengan sesuatu yang ia sukai, maka sesungguhnya itu hanyalah merupakan istidraj." Kemudian Rasulullah , membacakan ayat: '(Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang Telah diberikan kepada mereka, kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang Telah diberikan kepada mereka, kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa) '. (Qs. Al An'am: 44).


Siapa Yang Allah Ta’ala Pindahkan Dari Kerendahan Ma’siyat Kepada Kemulyaan Taqwa, Maka Ia Telah Diberi Kekayaan Tanpa Harta

Di dalam kitab Hilyatul Aulia hadits nomor 4143 dinyatakan Siapa yang Allah Ta’ala pindahkan dari kerendahan ma’siyat kepada kemulyaan taqwa, maka ia telah diberi kekayaan tanpa harta;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرَ بْنِ سَلْمٍ، ثَنَا الْقَاسِمُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عُمَرَ بْنِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمْ حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي عَبْدِ اللهِ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنْ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمْ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ نَقَلَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ ذُلِّ الْمَعَاصِي إِلَى عِزِّ التَّقْوَى، أَغْنَاهُ بِلَا مَالٍ، وَأَعَزَّهُ بِلَا عَشِيرَةٍ، وَآنَسَهُ بِلَا أَنِيسٍ، وَمَنْ خَافَ اللهَ أَخَافَ اللهُ تَعَالَى مِنْهُ كُلَّ شَيْءٍ، وَمَنْ لَمْ يَخْفِ اللهَ أَخَافَهُ اللهُ تَعَالَى مِنْ كُلِّ شَيْءٍ، وَمَنْ رَضِيَ مِنَ اللهِ تَعَالَى بِالْيَسِيرِ مِنَ الرِّزْقِ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ بِالْيَسِيرِ مِنَ الْعَمَلِ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَحِي مِنْ طَلَبِ الْمَعِيشَةِ خَفَّتْ مُؤْنَتُهُ، وَرَخَى بَالُهُ، وَنَعِمَ عِيَالُهُ، وَمَنْ زَهِدَ فِي الدُّنْيَا ثَبَّتَ اللهُ الْحِكْمَةَ فِي قَلْبِهِ، وَأَنْطَقَ اللهُ بِهَا لِسَانَهُ، وَأَخْرَجَهُ مِنَ الدُّنْيَا سَالِمًا إِلَى دَارِ الْقَرَارِ». هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَمْ يَرْوِهِ مَرْفُوعًا مُسْنَدًا إِلَّا الْعِتْرَةُ الطَّيِّبَةُ، خَلْفُهَا عَنْ سَلَفِهَا، وَمَا كَتَبْنَاهُ إِلَّا عَنْ هَذَا الشَّيْخِ [136]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Umar ibnu Salim, telah menceritakan kepada kami Al Qasim ibnu Muhammad ibnu Ja’far ibnu Muhammad ibnu Abdillah ibnu Muhammad ibnu Umar ibnu Ali ibnu Abi Thalib RA, elah menceritakan kepadaku Ayahku dari Ayahnya dari Abi Abdillah Ja’far ibnu Muhamma ibnu Ali dari Ayahnya ibnu Al Husain ibnu Ali, dari Amirul Mu’minin Ali RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: Siapa yang Allah Ta’ala pindahkan dari kerendahan ma’siyat kepada kemulyaan taqwa, maka ia telah diberi kekayaan tanpa harta, memulyakannya tanpa kekerabatan, dan menjamunya tanpa jamuan, dan siapa yang takut kepada Allah, Allah Ta’ala menjadikan takut darinya segala sesuatu, dan barang siapa yang tidak takut kepada Allah, Allah Ta’ala menjadikannya takut dari segala sesuatu, dan siapa yang ridha dengan kemudahan rizki dari Allah, Allah ridha kepadanya dengan kemudahan amal, dan siapa yang tidak malu dari menuntut penghidupan akan diringankan .., dan mengendurkan pikirannya, dan diringankan keluhannya, dan siapa yang zuhud di dunia, Allah Allah menetapkan hikmah di dalam qalbunya, dan Allah berbicara menggunkan lisannya, dan mengeluarkannya dari dunia dengan selamat menuju rumah yang kekal. (Abu Nu’aim Hilyatul Auliya’: 4143)

Saat ini ma’siyat maknanya mengalami penyempitan, ma’siyat sering difahami hanya sebagai perbuatan zina, tempat ma’siyat berarti tempat perzinahan, padahal makna ma’siyat mencakup semua kedurhakan kepada Allah dan Rasul-Nya, yaitu tidak menjalankan perintahnya dan justru melakukan larangannya, yang disebabkan karena keengganan atau kemalasannya, dan lebih suka mengikuti kemauan dan kesenangannya hawa nafsunya sendiri.

Kesadaran untuk menjaga diri agar tidak berbuat ma’siyat; tidak menjalankan perintah-Nya dan melakukan larangan-Nya, merupakan bentuk ketakwaan dari ma’siyat, yang merupakan bagian ketakwaan dari syahwat dan hawa.

3.13. Khamr Dan Narkoba

Dalam Bahasa arab khamr berarti minuman keras, Menurut Imam al-Ghazālī, khamr merupakan “induk segala keburukan” (umm al-khabā’ith) karena sifatnya yang menghancurkan akal, yaitu alat utama manusia untuk mengenal Allah dan membedakan antara yang benar dan salah. [137] Dalam Iyā’ ‘Ulūm al-Dīn, al-Ghazālī menegaskan bahwa bahaya terbesar khamr bukan hanya pada mabuk yang ditimbulkan, tetapi pada kerusakan integral terhadap fungsi akal, hilangnya kontrol diri, dan terbukanya pintu bagi segala bentuk maksiat lain. [138] Ia menilai bahwa setiap zat yang menghilangkan kejernihan akal, meskipun bentuknya berbeda dari minuman anggur klasik, memiliki hukum yang sama karena illat-nya adalah hilangnya kemampuan berpikir. [139]

Sementara itu, Ibn Qayyim al-Jawziyyah menekankan pendekatan kausalitas moral dan spiritual dalam menjelaskan bahaya khamr. Dalam Zād al-Ma‘ād, ia menyatakan bahwa khamr adalah musuh akal dan iman sekaligus, karena memutuskan hubungan antara hati dan Allah dengan cara menutupi cahaya hidayah, menguatkan dominasi syahwat, serta melemahkan tekad spiritual (himmah). [140] Dalam al-Jawāb al-Kāfī, Ibn Qayyim juga menjelaskan bahwa khamr termasuk dalam kategori “pintu maksiat terbesar,” sebab mabuk yang dihasilkannya mendorong seseorang kepada zina, pembunuhan, kebohongan, dan kerusakan moral lainnya, menjadikannya salah satu sumber kehancuran sosial. [141]

Para ulama klasik dan kontemporer sepakat bahwa segala zat yang memabukkan, merusak akal, atau menghilangkan kesadaran termasuk dalam kategori khamr, meskipun tidak berbentuk minuman anggur sebagaimana pada masa awal Islam. Kaidah ini merujuk kepada definisi khamr yang dikemukakan oleh para ulama besar, seperti Imam al-Nawawī yang menegaskan bahwa “khamr adalah setiap zat yang menutupi akal, tanpa membedakan bentuk, jenis, atau bahan pembuatannya.” [142]

Pandangan ini juga dipertegas oleh Ibn ajar al-‘Asqalānī yang menyatakan bahwa patokan hukum khamr adalah sifat memabukkan (al-iskār)—bukan zatnya—sehingga segala jenis narkotika, ganja, dan obat-obatan psikotropika masuk dalam hukum yang sama. [143] Sedangkan di Indonesia dikenal dengan islilah Narkoba; Narjotika dan Obat-obat terlarang.

Berikut dikemukakan beberapa ayat Al Quran dan Hadits tentang keharaman dan keburukan khamr dan narkoba;

3.13.1. Dosa Keduanya Lebih Besar Dari Manfaatnya

Di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 219 dinyatakan bahwa Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

Artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: "Yang lebih dari keperluan". Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir, (QS. Al-Baqarah/ 2: 219)

3.13.2. Janganlah Kamu Shalat, Sedang Kamu Dalam Keadaan Mabuk

Di dalam Al Quran surat An-Nisa'/ 4: 43 disebutkan larangan janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْرَبُوا الصَّلَاةَ وَأَنْتُمْ سُكَارَى حَتَّى تَعْلَمُوا مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِي سَبِيلٍ حَتَّى تَغْتَسِلُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan, (jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi. Dan jika kamu sakit atau sedang dalam musafir atau datang dari tempat buang air atau kamu telah menyentuh perempuan, kemudian kamu tidak mendapat air, maka bertayamumlah kamu dengan tanah yang baik (suci); sapulah mukamu dan tanganmu. Sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. (QS. An-Nisa'/ 4: 43)

3.13.3. Sesungguhnya Khamar, …, Adalah Termasuk Perbuatan Syaitan.

Di dalam Al Quran surat Al-Maidah/ 5: 90 ditegaskan bahwa sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan.;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. (QS. Al-Maidah/ 5: 90)

3.13.4.   Khamr Adalah Induk Segala Perbuatan Keji

Di dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir li al-Thabarani Hadits nomor 11372, dinyatakan bahwa Khamr (minuman memabukkan) adalah induk segala perbuatan keji, dan termasuk dosa besar yang paling besar;

حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنْباعِ رَوْحُ بْنُ الْفَرَجِ، ثنا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، ثنا رِشْدِينُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ أَبِي صَخْرٍ، عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ أَبِي أُمَيَّةَ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «الْخَمْرُ أُمُّ الْفَوَاحِشِ، وَأَكْبَرُ الْكَبَائِرِ مَنْ شَرِبَهَا وَقَعَ عَلَى أُمِّهِ وَخَالَتِهِ وَعَمَّتِهِ»[144] 

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu az-Zinba‘ Rū bin al-Faraj, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair, telah menceritakan kepada kami Rasydīn bin Sa‘d, dari Abu Shakhr, dari ‘Abd al-Karīm Abu Umayyah, dari ‘Athā’ bin Abi Rabā, dari Ibnu ‘Abbās ra., ia berkata: Aku mendengar Rasulullah  bersabda: Khamr (minuman memabukkan) adalah induk segala perbuatan keji, dan termasuk dosa besar yang paling besar. Barang siapa meminumnya, niscaya (dalam keadaan mabuk) ia bisa sampai berbuat zina dengan ibunya, bibinya dari pihak ibu, dan bibinya dari pihak ayah.”

3.13.5.  Setiap Yang Memabukkan Adalah Khamr

Di dalam kitab Shahih Muslim  hadits nomor 75 dinyatakan bahwa Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap khamr adalah haram;

وحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ حَاتِمٍ. قَالَا: حَدَّثَنَا يَحْيَى (وَهُوَ الْقَطَّانُ) عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ. أَخْبَرَنَا نَافِعٌ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: (وَلَا أَعْلَمُهُ إِلَّا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ) قَالَ: (كُلُّ مُسْكِرٍ خَمْرٌ. وَكُلُّ خمر حرام) [145]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsannā dan Muhammad bin ātim, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Yayā (yakni Yayā al-Qaṭṭān), dari ‘Ubaidullāh, telah mengabarkan kepada kami Nāfi‘, dari Ibnu ‘Umar —dan aku (Ibnu ‘Umar) tidak mengetahui hadis ini kecuali dari Nabi , beliau bersabda: Setiap yang memabukkan adalah khamr, dan setiap khamr adalah haram.”

3.13.6. Siapa Minum Khamar Di Dunia Dan Tidak Bertaubat Maka Ia Akan Diharamkan Di Akhirat

Sedangkan di dalam kitab Shahih Muslim  hadits nomor 77 dinyatakan bahwa Barang siapa minum khamar di dunia, lalu ia tidak bertaubat darinya, maka ia akan diharamkannya di akhirat;

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ. حَدَّثَنَا مَالِكٍ عَنْ نَافِعٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ. قَالَ: (مَنْ شَرِبَ الْخَمْرَ فِي الدُّنْيَا فَلَمْ يَتُبْ مِنْهَا، حُرِمَهَا فِي الْآخِرَةِ فَلَمْ يُسْقَهَا) قِيلَ لِمَالِكٍ: رَفَعَهُ؟ قَالَ: نَعَمْ.[146]

Artinya: Telah meriwayatkan kepada kami ‘Abdullah bin Maslamah bin Qa‘nab. Ia berkata: telah meriwayatkan kepada kami Mālik, dari Nāfi‘,dari Ibnu ‘Umar. Ia (Ibnu ‘Umar) berkata: “Barang siapa minum khamar di dunia, lalu ia tidak bertaubat darinya, maka ia akan diharamkan (tidak diberi minum) khamar di akhirat.” Kemudian ditanyakan kepada Imam Mālik: “Apakah hadis ini marfū‘ (disandarkan kepada Nabi )?” Beliau menjawab:Ya.”

Berdasar ayat dan hadits yang telah dikemukakan, dapat ditarik pemahaman bahwa meminum khamr hukumnya haram, termasuk hukum turunannya, yaitu; membuatnya, menjualnya, membelinya, menyajikannya, menyediakannya. Demikian juga hukum benda yang memiliki sifat yang sama dengan hamr, yaitu memabukkan, menghilangkan akal pikiran, meskipun wujudnya berbeda, seperti; narkotika, heroin, psikotropika, ekstasi dll.

Maka menjaga diri dari mengkonsumsi segala bentuk benda yang dapat memabukkan yang dilakukan karena Allah adalah bentuk ketaqwaan kepada Allah dari khamr dan narkoba, yang merupakan ketakwaan dari syahwat dan hawa.

4.   Takwa Dari Syahwat Keinginan Hawa Nafsu

Akhirnya di sini perlu dirumuskan bahwa takwa dari syahwat dan hawa adalah kesadaran qalbu untuk menjaga diri dari segala perbuatan yang diakibatkan dari dorongan syahwat dan hawa yang dilarang, serta diikuti kesadaran diri untuk mengakui kesalahan diri ketika dirinya melakukan kesalahan-kesalahan yang didorong syahwat dan hawa, kemudian dengan disertai kesadaran penuh untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah atas kesalahan syahwat dan hawa yang dilakukan.

Di sini akan dikemukakan beberapa ayat Al Quran dan Hadits yang dapat digunkan untuk meningkatkan ketakwaan dari Syahwat dan Hawa; 

4.1. Meyakini Kesenangan Di Dunia Ini Hanya Sebentar Dan Akhirat Itu Lebih Baik Untuk Orang-Orang Yang Bertakwa

Di dalam Al Quran surat An-Nisa'/ 4: 77 perkataan yang harus diucapkan/ diyakini bahwa Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa;

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ قِيلَ لَهُمْ كُفُّوا أَيْدِيَكُمْ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ إِذَا فَرِيقٌ مِنْهُمْ يَخْشَوْنَ النَّاسَ كَخَشْيَةِ اللَّهِ أَوْ أَشَدَّ خَشْيَةً وَقَالُوا رَبَّنَا لِمَ كَتَبْتَ عَلَيْنَا الْقِتَالَ لَوْلَا أَخَّرْتَنَا إِلَى أَجَلٍ قَرِيبٍ قُلْ مَتَاعُ الدُّنْيَا قَلِيلٌ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ لِمَنِ اتَّقَى وَلَا تُظْلَمُونَ فَتِيلًا

Artinya: Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka: "Tahanlah tanganmu (dari berperang), dirikanlah sembahyang dan tunaikanlah zakat!" Setelah diwajibkan kepada mereka berperang, tiba-tiba sebahagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih sangat dari itu takutnya. Mereka berkata: "Ya Tuhan kami, mengapa Engkau wajibkan berperang kepada kami? Mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai kepada beberapa waktu lagi?" Katakanlah: "Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertakwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikitpun. (QS. An-Nisa'/ 4: 77)

4.2. Bertakwalah Kepada Allah Dan Carilah Yang Baik Dalam Mencari Dunia

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah Hadits nomor 2144 disebutkan perintah untuk bertakwalah kepada Allah dan carilah yang baik dalam mencari dunia

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ [147]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mushaffa Al Himshi berkata: telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim dari Ibnu Juraij dari Abu Zubair dari Jabir bin Abdullah ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan carilah yang baik dalam mencari dunia. Sesungguhnya sebuah jiwa tidak akan mati hingga terpenuhi rizkinya meski tersendat-sendat. Bertakwalah kepada Allah, carilah yang baik dalam mencari dunia, ambilah yang halal dan tinggalkan yang haram."

4.3.  Melakukan Pekerjaan Dengan Bertakwa Kepada Allah, Baik Dan Jujur

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 1131 dinyatakan bahwa Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai orang-orang yang berdosa kecuali yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik serta jujur;

حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ يَحْيَى بْنُ خَلَفٍ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ عُبَيْدِ بْنِ رِفَاعَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّهُ خَرَجَ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْمُصَلَّى فَرَأَى النَّاسَ يَتَبَايَعُونَ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ التُّجَّارِ فَاسْتَجَابُوا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَرَفَعُوا أَعْنَاقَهُمْ وَأَبْصَارَهُمْ إِلَيْهِ فَقَالَ إِنَّ التُّجَّارَ يُبْعَثُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فُجَّارًا إِلَّا مَنْ اتَّقَى اللَّهَ وَبَرَّ وَصَدَقَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَيُقَالُ إِسْمَعِيلُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ رِفَاعَةَ أَيْضًا [148]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Yahya bin Khalaf telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadhdhal dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim dari Isma'il bin Ubaid bin Rifa'ah dari ayahnya dari kakeknya bahwa ia pernah keluar bersama Nabi  menuju tempat shalat, lalu beliau melihat orang-orang melakukan transaksi jual beli, beliau pun bersabda: "Wahai para pedagang." Lalu mereka menyambut seruan Rasulullah  dan mengangkat leher dan pandangan mereka kepada beliau, lalu beliau bersabda: "Sesungguhnya para pedagang akan dibangkitkan pada hari kiamat sebagai orang-orang yang berdosa kecuali yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik serta jujur." Abu Isa berkata; Hadits ini hasan shahih. Isma'il bin Ubaid bin Rifa'ah dipanggil juga dengan Isma'il bin Ubaidullah bin Rifa'ah.

4.4.  Bertaubat dari Mengikuti Syahwat

Di dalam Al Quran surat An-Nisa'/ 4: 27 dijelaskan bahwa Allah menghendaki hamba-Nya untuk taubat; mengikuti jalan Allah, sedangkan orang yang mengikuti syahwat supaya berpaling sejauh-jauhnya;

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا

Artinya: Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran). (QS. An-Nisa'/ 4: 27)

4.5. Harus (Berpegangan) Terhadap Mata Hatimu Dan Tinggalkan Orang-Orang Awam

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadis nomor 2984 disebutkan bahwa engkau harus (berpegangan) terhadap mata hatimu dan tinggalkan orang-orang awam;

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ يَعْقُوبَ الطَّالَقَانِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا عُتْبَةُ بْنُ أَبِي حَكِيمٍ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ جَارِيَةَ اللَّخْمِيُّ عَنْ أَبِي أُمَيَّةَ الشَّعْبَانِيِّ قَالَ أَتَيْتُ أَبَا ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيَّ فَقُلْتُ لَهُ كَيْفَ تَصْنَعُ بِهَذِهِ الْآيَةِ قَالَ أَيَّةُ آيَةٍ قُلْتُ قَوْلُهُ تَعَالَى { يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ } قَالَ أَمَا وَاللَّهِ لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْهَا خَبِيرًا سَأَلْتُ عَنْهَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ بَلْ ائْتَمِرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنَاهَوْا عَنْ الْمُنْكَرِ حَتَّى إِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَهَوًى مُتَّبَعًا وَدُنْيَا مُؤْثَرَةً وَإِعْجَابَ كُلِّ ذِي رَأْيٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَدَعْ الْعَوَامَّ فَإِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ أَيَّامًا الصَّبْرُ فِيهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ لِلْعَامِلِ فِيهِنَّ مِثْلُ أَجْرِ خَمْسِينَ رَجُلًا يَعْمَلُونَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ وَزَادَنِي غَيْرُ عُتْبَةَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنَّا أَوْ مِنْهُمْ قَالَ بَلْ أَجْرُ خَمْسِينَ مِنْكُمْ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ [149]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Sa'id bin Ya'qub Ath Thalaqani] telah menceritakan kepada kami [Abdullah bin Al Mubarak] telah mengabarkan kepada kami ['Utbah bin Abu Hakim] telah menceritakan kepada kami ['Amru bin Jariyah Al Lakhmi] dari [Abu Umaiyah Asy Sya'bani] ia berkata; Aku menemui [Abu Tsa'labah Al Khusyani] lalu aku berkata padanya; "Apa yang kamu perbuat dengan ayat ini?" ia bertanya; "Ayat yang mana?" Aku menjelaskan; Firman Allah Ta'ala Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu, tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. QS Al Ma`idah: 105, Abu Tsa'labah berkata; "Ingatlah, demi Allah, kamu bertanya dengan orang yang tahu, aku pernah menanyakannya kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, lalu beliau menjawab: "Akan tetapi, perintahkanlah kebaikan dan cegahlah kemungkaran hingga kamu melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, kehidupan dunia lebih diprioritaskan dan kekaguman setiap orang dengan pendapatnya, engkau harus (berpegangan) terhadap mata hatimu dan tinggalkan orang-orang awam, karena dibalik kalian akan ada suatu masa dimana kesabaran saat itu laksana memegang bara api, orang yang beramal saat itu sama seperti pahala limapuluh orang yang melakukan seperti amalan kalian." Abdullah bin Al Mubarak berkata; Selain 'Utbah menambahiku: Dikatakan; "Wahai Rasulullah, pahala limapuluh orang dari kami atau dari mereka?" Beliau menjawab: "Bahkan pahala limapuluh orang dari kalian." Abu Isa berkata; Hadis ini hasan gharib.

4.6. Puasa Adalah Milik-Ku Dan Aku Yang Akan Membalasnya. Dia Meninggalkan Makan, Minum, Dan Keinginannya Karena-Ku

Di dalam kitab Shahih Ibnu Hiban nomor 145 'Puasa adalah milik-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Dia meninggalkan makan, minum, dan keinginannya karena-Ku. Aku yang akan membalasnya;

أَخْبَرَنَا أَبُو عَرُوبَةَ الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ، بِحَرَّانَ، حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ خَالِدٍ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ سُلَيْمَانَ، عَنْ ذَكْوَانَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «كُلُّ حَسَنَةٍ يَعْمَلُهَا ابْنُ آدَمَ بِعَشْرِ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِ مِائَةِ ضِعْفٍ، يَقُولُ اللَّهُ: إِلَّا الصَّوْمَ فَهُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، يَدَعُ الطَّعَامَ مِنْ أَجْلِي، وَالشَّرَابَ مِنْ أَجْلِي، وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ، وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ: فَرْحَةٌ حِينَ يُفْطِرُ، وَفَرْحَةٌ حِينَ يَلْقَى رَبَّهُ، وَلَخُلُوفِ فَمِ الصَّائِمِ حِينَ يَخْلُفُ مِنَ الطَّعَامِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ [150] »

Artinya: Abu 'Aroobah Al-Husain bin Muhammad di Harran memberitakan kepada kami, Bishr bin Khalid memberitakan kepada kami, Muhammad bin Ja'far memberitakan kepada kami, dari Syu'bah, dari Sulaiman, dari Zakwan, dari Abu Hurairah, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Setiap kebaikan yang dilakukan oleh anak Adam akan dilipatgandakan sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali lipat, kecuali puasa, Allah berfirman: 'Puasa adalah milik-Ku dan Aku yang akan membalasnya. Dia meninggalkan makan, minum, dan keinginannya karena-Ku. Aku yang akan membalasnya.' Bagi orang yang berpuasa, ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka puasa dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Tuhannya. Dan sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kesturi."

4.7. Berdoa Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari berbagai kemungkaran akhlak, amal maupun hawa nafsu

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadis nomor 3591 disebutkan doa Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari berbagai kemungkaran akhlak, amal maupun hawa nafsu;

حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ بَشِيرٍ وَأَبُو أُسَامَةَ عَنْ مِسْعَرٍ عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ عَنْ عَمِّهِ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَعَمُّ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ هُوَ قُطْبَةُ بْنُ مَالِكٍ صَاحِبُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [151]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Sufyan bin Waki'] telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Basyir] dan [Abu Usamah] dari [Mis'ar] dari [Ziyad bin 'Ilaqah] dari [pamannya] dia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengucapkan: Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari berbagai kemungkaran akhlak, amal maupun hawa nafsu." Abu Isa berkata; "Hadis ini derajatnya hasan gharib." Sedangkan pamannya Ziyad bin 'Ilaqah bernama Quthbah bin Malik seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam."

4.8.  Berdoa Mohon Berlindunglah Kepada Allah Dari Ketamakan Yang Mengarahkan Kepada Watak, Dari Ketamakan Yang Mengarahkan Pada Sesuatu Yang Tidak Diinginkan Dan Dari Ketamakan Yang Tidak Dimaui

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 22021 disebutkan perintah untuk berlindunglah kepada Allah dari ketamakan yang mengarahkan kepada watak, dari ketamakan yang mengarahkan pada sesuatu yang tidak diinginkan dan dari ketamakan yang tidak dimaui;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَامِرٍ الْأَسْلَمِيُّ عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ طَمَعٍ يَهْدِي إِلَى طَبْعٍ وَمِنْ طَمَعٍ يَهْدِي إِلَى غَيْرِ مَطْمَعٍ وَمِنْ طَمَعٍ حَيْثُ لَا طَمَعَ [152]

Artinya: Telah bercerita kepada kami [Muhammad bin Bisyr] telah bercerita kepada kami ['Abdullah bin 'Amir Al Aslami] dari [Al Walid bin 'Abdur Rahman] dari [Jubair bin Nufair] dari [Mu'adz bin Jabal], ia berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda; "Berlindunglah kepada Allah dari ketamakan yang mengarahkan kepada watak, dari ketamakan yang mengarahkan pada sesuatu yang tidak diinginkan dan dari ketamakan yang tidak selayaknya ditamaki."

4.9. Mohon Perlindungan Kepada Allah Dari Ketamakan Yang Menjerumuskan Kepada Watak, Ketamakan Yang Tiada Habisnya, Dan Ketamakan Yang Tidak Ada Obatnya

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 22128 disebutkan perintah untuk berlindung kepada Allah dari ketamakan yang menjerumuskan kepada watak, ketamakan yang tiada habisnya, dan ketamakan yang tidak ada obatnya

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَامِرٍ الْأَسْلَمِيُّ عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ مُعَاذٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ طَمَعٍ يَهْدِي إِلَى طَبْعٍ وَمِنْ طَمَعٍ فِي غَيْرِ مَطْمَعٍ وَمِنْ طَمَعٍ حَيْثُ لَا مَطْمَعَ [153]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah telah menceritakan kepadaku ayahku. Telah menceritakan kepada kami ['Utsman bin 'Umar] telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin 'Amir Al Aslami] dari [Al Walid bin 'Abdur Rahman] dari [Jubair bin Nufair] dari [Mu'adz bin Jabal] bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihiWasallam bersabda; "Berlindunglah kepada Allah dari ketamakan yang menjerumuskan kepada watak, ketamakan yang tiada habisnya, dan ketamakan yang tidak ada obatnya.'

4.10. Berdoa Mohon Perlindungan Keburukan Telinga, Mata, Lisan, Hati, Dan Kemaluan

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi  hadits nomor 3414 Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari keburukan telingaku, dari keburukan mataku, dari keburukan lisanku, dari keburukan hatiku, dan dari keburukan kemaluanku;

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ الزُّبَيْرِيُّ قَالَ حَدَثَنِي سَعْدُ بْنُ أَوْسٍ عَنْ بِلَالِ بْنِ يَحْيَى الْعَبْسِيِّ عَنْ شُتَيْرِ بْنِ شَكَلٍ عَنْ أَبِيهِ شَكَلِ بْنِ حُمَيْدٍ قَالَ أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي تَعَوُّذًا أَتَعَوَّذُ بِهِ قَالَ فَأَخَذَ بِكَتِفِي فَقَالَ قُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي يَعْنِي فَرْجَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ سَعْدِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ بِلَالِ بْنِ يَحْيَى [154]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani' Telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad Az Zubairi ia berkata; telah menceritakan kepadaku Sa'd bin Aus dari Bilal bin Yahya Al 'Absi dari Syutair bin Syakal dari ayahnya yaitu Syakal bin Humaid ia berkata; saya datang kepada Nabi  dan berkata; wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku perlindungan yang aku gunakan untuk berlindung. Syakal berkata; kemudian beliau memegang pundakku dan berkata: "Ucapkanlah; Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari keburukan telingaku, dari keburukan mataku, dari keburukan lisanku, dari keburukan hatiku, dan dari keburukan kemaluanku. Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini, dari hadits Sa'd bin Aus dari Bilal bin Yahya.

4.11. Berdoa Ya Allah, Peliharalah Aku Dari Kejahatan Diriku Sendiri Dan Teguhkanlah Aku Dalam Mengarahkan Urusanku

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 19992 disebutkan doa Ya Allah, peliharalah aku dari kejahatan diriku sendiri dan teguhkanlah aku dalam mengarahkan urusanku;

حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَوْ غَيْرِهِ أَنَّ حُصَيْنًا أَوْ حَصِينًا أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ لَعَبْدُ الْمُطَّلِبِ كَانَ خَيْرًا لِقَوْمِهِ مِنْكَ كَانَ يُطْعِمُهُمْ الْكَبِدَ وَالسَّنَامَ وَأَنْتَ تَنْحَرُهُمْ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ فَقَالَ لَهُ مَا تَأْمُرُنِي أَنْ أَقُولَ قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ قِنِي شَرَّ نَفْسِي وَاعْزِمْ لِي عَلَى أَرْشَدِ أَمْرِي قَالَ فَانْطَلَقَ فَأَسْلَمَ الرَّجُلُ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ إِنِّي أَتَيْتُكَ فَقُلْتَ لِي قُلْ اللَّهُمَّ قِنِي شَرَّ نَفْسِي وَاعْزِمْ لِي عَلَى أَرْشَدِ أَمْرِي فَمَا أَقُولُ الْآنَ قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَخْطَأْتُ وَمَا عَمَدْتُ وَمَا عَلِمْتُ وَمَا جَهِلْتُ [155]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Syaiban, dari Mansur, dari Rib'i bin Hiraasy, dari Imran bin Husain atau yang lainnya, bahwa Husain atau Haseen datang kepada Rasulullah  dan berkata, "Wahai Muhammad, Abu al-Muttalib itu lebih baik bagi kaumnya darimu. Dia biasa memberi mereka daging hati dan lemak, sedangkan kamu menyembelih mereka." Rasulullah  menjawab, "Allah tidak menghendaki aku mengucapkan sesuatu yang lain." Kemudian Husain atau Haseen bertanya, "Apa yang engkau perintahkan aku ucapkan?" Rasulullah  menjawab, "Katakanlah, 'Ya Allah, peliharalah aku dari kejahatan diriku sendiri dan teguhkanlah aku dalam mengarahkan urusanku.'" Kemudian dia pergi dan orang itu masuk Islam. Kemudian dia kembali dan berkata, "Aku datang kepada mu, kemudian engkau katakan padaku, 'Katakanlah, 'Ya Allah, peliharalah aku dari kejahatan diriku sendiri dan teguhkanlah aku dalam mengarahkan urusanku.'' Apa yang harus aku katakan sekarang?" Rasulullah  menjawab, "Katakanlah, 'Ya Allah, ampunilah aku atas apa yang aku sembunyikan dan apa yang aku tunjukkan, dan atas kesalahan yang aku lakukan dengan sengaja atau tanpa sengaja, atas apa yang aku ketahui dan apa yang aku tidak ketahui.'"

 

 

 

 

Doa Mohon Perlindungan Dari Keburukan Akhlaq, Amal Dan Hawa Nafsu

 

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ

Ya Allah! Aku berlindung kepada-Mu dari berbagai kemungkaran akhlak, amal maupun hawa nafsu.(HR. Tirmidzi: 3591)



[1] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, juz 3 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1405 H/1985 M), h. 54.

[2] Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Ighāthat al-Lahfān min Maṣāyid asy-Syaithān, juz 1 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1423 H/2002 M), h. 69.

[3] Malik Ibn Anas, Muwatha’ al-Imam malik, Muassasah al-Risalah, Beirut, 1991, Jilid 1 halaman 224, Hadits nomor 575.

[4] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 7, Halaman 281, Hadits nomor 7141.

[5] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 33, Halaman 33.Hadits nomor 19787.

[6] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 5, Halaman 94, Hadits nomor 4042.

[7] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 11, Halaman 312.Hadits nomor 6708.

[8] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 102, Hadits nomor 6487.

[9] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 2098, Hadits nomor 99.

[10] Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 3 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.), 212.

[11] Ibid, halaman 210–213.

[12] Ibid, halaman 214.

[13] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, al-Fawā’id (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1998), 87.

[14] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Ighāthat al-Lahfān, Juz 1 (Riyadh: Dār ‘Ālam al-Fawā’id, 2012), 45–47.

[15] Ibid,  Juz 2, hlm. 162–164.

[16] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 4, Halaman 111, Hadits nomor 4297.

[17] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 89, Hadits nomor 6420.

[18] Abu Nu’aim Ahmad ibn Abdullah Al-Ashbahani, Hilyatul Auliya’ Wa Thabaqatul Ashfiya’, Mathba’ah Sa’adah, Mesir, 1974. Jilid 1 Halaman 76.

[19] Abd as-Shamad al-Darimi, Sunan Abi Daud, Dar al-Mughni li al-Nasyr wa al-Tauzi’, Saudi Arabia, 2000, Jilid, 1, Halaman 355, Hadits nomor 344.

[20] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 17, Halaman 84.Hadits nomor 17140.

[21] Abu al-Qasim Sulaiman ibn Ahmad al-Thabarani, al-Mu’jam al-Ausath, Dar al-Haramain, Kairo, 1995, Jilid, 1, Halaman 5, Hadits nomor 186.

[22] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir li-Thabarani, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 22, Halaman 301, Hadits nomor 765.

[23] Ibid, Jilid 10, Halaman 162, Hadits nomor 10328.

[24] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 32, Halaman 472.Hadits nomor 19698.

[25] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 1, Halaman 123, Hadits nomor 448.

[26] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman 2272, Hadits nomor 2956.

[27] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 11, Halaman 442.Hadits nomor 6855.

[28] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 13 Hal. 72, Hadits nomor 9970.

[29] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz III, Bab Dhamm Ḥubb al-Māl wa al-Jāh, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005), halaman 212–213.

[30] Ibid., halaman 214–215.

[31] Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Ighāthat al-Lahfān min Maṣāyid al-Syayṭān, Juz I, (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1997), halaman. 58–60.

[32] Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, al-Fawā’id, (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 2004), halaman. 118–119.

[33] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 92, Hadits nomor 6435.

[34] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Dar Ibnu Katsir, Damsyiq, 1993, Jilid 5, Halaman 2368, Hadits nomor 6081.

[35] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 2, Halaman 121, Hadits nomor 1642.

[36] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 27, Halaman 203. Hadits nomor 16643.

[37] Ibid, Halaman 2344, Hadits nomor 6015.

[38] https://www.kbbi.web.id/tamak

[39] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn, juz 3 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1405 H/1985 M), Juz 3, hlm. 259.

[40] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 240, Hadits nomor 2448.

[41] Ibnu Bahram ibn Abd al-Shamad al-Darimi, Musnad Darimi al-Ma’ruf, Dar al-Mughni Li an-Nasyr Wa al-Tauzi’, Arab Saudi, 2000, Jilid 1 halaman 469, Hadits nomor 595.

[42] Ibid, Jilid 4 halaman 2107, Hadits nomor 3389.

[43] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 2 , Halaman 724, Hadits nomor 1047.

[44] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 185, Hadits nomor 2376.

[45] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 93, Hadits nomor 6438.

[46] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 17, Halaman 102.Hadits nomor 11049.

[47] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Du’a Li-Al-Thabarani, Dar Al Kitab Al Ilmiyah, Kairo, 1994, Jilid 1, Halaman 315, Hadits nomor 1036.

[48] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Du’a Li-Al-Thabarani, Dar Al Kitab Al Ilmiyah, Kairo, 1994, Jilid 1, Halaman 315, Hadits nomor 1036.

[49] al-Ghazālī Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 3, hlm. 259

[50] Ibnu Qayyim al-Jauziyah Madarij as-Sālikīn, 1/339

[51] Ibid, 2/483

[52] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 63, Hadits nomor 7148.

[53] Ibid, Jilid 9, Halaman 64, Hadits nomor 7149.

[54] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 2052, Hadits nomor 2664.

[55] https://www.almaany.com/id/dict/ar-id/حسد

[56] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 3 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.), 435.

[57] Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, 436.

[58] Ibid., 437.

[59] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Maktabah al-‘Asriyah, Beirut, tt, Jilid, 4, Halaman 276, Hadits nomor 4904.

[60] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 280, Hadits nomor 2510.

[61] Abu Abd al-Rahman Ahma ibn Syu’aib al-Nasa’i, al-Sunan al-Kubra, Muassasah al-Risalah, Beirut, 2001 M, Jilid 4 , Halaman 274, Hadits nomor 4302.

[62] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 1718, Hadits nomor 2185.

[63] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 62, Hadits nomor 7141.

[64] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman 1409, Hadits nomor 4216.

[65] https://www.almaany.com/id/dict/ar-id/بحل/

[66] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Madārij al-Sālikīn, Juz 2 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2012), 9–10.

[67] Ibid, 11.

[68] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, al-Fawā’id (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 2007), 137.

[69] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 1, Halaman 191.Hadits nomor 13.

[70] Ibid, Jilid 15, Halaman 433.Hadits nomor 9693.

[71] Ibid, Jilid 11, Halaman 429.Hadits nomor 6837.

[72] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Maktabah al-‘Asriyah, Beirut, tt, Jilid, 13, Halaman 12, Hadits nomor 2511.

[73] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 3 halaman 512, Hadits nomor 1964.

[74] https://www.almaany.com/id/dict/ar-id/مبذر/

[75] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 3 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.), halaman 302.

[76] Ibid., halaman 303.

[77] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Ighāthat al-Lahfān min Maṣāyid al-Syayṭān, Juz 1 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996), 349.

[78] Ibid., halaman 350.

[79] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 9, Halaman 207, Hadits nomor 909.

[80] https://www.almaany.com/id/dict/ar-id/ إِسْرَاف/

[81] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 3 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.), 300.

[82] Ibid., 301.

[83] Ibid., 302.

[84] Al-Ghazālī, Mīzān al-‘Amal (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2011), 119.

[85] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar ar-Risalah al-‘Alamiyah, tt, 2009, Jilid 1, Halaman 272, Hadits nomor 424.

[86] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 5, Hadits nomor 2750.

[87] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 3 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.), halaman 302.

[88] Ibid., halaman 300.

[89] Ibid., halaman 301

[90] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Ighāthat al-Lahfān min Maṣāyid al-Syayṭān, Juz 1 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1996), halaman 349.

[91] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Madārij al-Sālikīn, Juz 2 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2012), halaman 12.

[92] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 85, Hadits nomor 6399.

[93] Al-Ṭabarī, Jāmi‘ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āy al-Qur’ān, Juz 3 (Beirut: Mu’assasat al-Risālah, 2000), halaman 275.

[94] Ibn Kathīr, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, Juz 1 (Riyadh: Dār Ṭayyibah, 1999), halaman 532.

[95] Al-Qurṭubī, al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān, Juz 2 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2006), halaman 242.

[96] Fakhr al-Dīn al-Rāzī, Mafātīḥ al-Ghayb, Juz 4 (Beirut: Dār al-Fikr, 1981), halaman 88.

[97] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 188, Hadits nomor 2879.

[98] Ibid, Jilid 4 halaman 260, Hadits nomor 2478.

[99] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 3, Halaman 347, Hadits nomor 3766.

[100] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 24, Hadits nomor 7152.

[101] Ibid, Jilid 7, Halaman 67, Hadits nomor 5374.

[102] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Beirut: Dār al-Ma‘rifah, Kitāb Āfāt al-Lisān, hlm. 63–66.

[103] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Kitāb Dhamm al-Dunyā, hlm. 210–214

[104] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Kitāb Riyāḍat al-Nafs, hlm. 58–61.

[105] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 211, Hadits nomor 2411.

[106] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Matba’ah Al ‘Ashriyah, Dahlawi, India, 1323 H, , Jilid 4 halaman 459, Hadits nomor 5005.

[107] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman 1403, Hadits nomor 4193.

[108] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 4, Halaman 282, Hadits nomor 4927.

[109] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 12, Hadits nomor 33.

[110] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 4, Halaman 297, Hadits nomor 4990.

[111] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 2013, Hadits nomor 104.

[112] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 45, Halaman 245.Hadits nomor 27275.

[113] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniya, Mesir, 1404, Jilid 2, Halaman 124, Hadits nomor 1477.

[114] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 3 halaman 530, Hadits nomor 1993.

[115] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 1, Halaman 422, Hadits nomor 1332.

 

[116] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 2, Halaman 52, Hadits nomor 1142.

[117] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Al Kitab Al-Alamiyah, Beirut, 1990, Jilid 4, Halaman 352, Hadits nomor 7889.

[118] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 122, Hadits nomor 3270.

[119] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 125, Hadits nomor 6612.

[120] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 14, Halaman 211.Hadits nomor 8526.

[121] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 487, Hadits nomor 2786.

[122] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 159, Hadits nomor 6782.

[123] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 7, Halaman 35, Hadits nomor 5221.

[124] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 58, Hadits nomor 1457.

[125] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 122, Hadits nomor 3270.

[126] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 122, Hadits nomor 3270.

[127] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 122, Hadits nomor 3270.

[128] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 122, Hadits nomor 3270.

[129] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 7, Halaman 3, Hadits nomor 5065.

[130] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 5 halaman 474, Hadits nomor 3492.

[131] Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Kitāb Dhamm al-Ma‘ṣiyah, (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.), 34–36.

[132] Ibid, halaman. 37–39..

[133] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, al-Jawāb al-Kāfī liman Sa’ala ‘an al-Dawā’ al-Shāfī (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1997), 25–27.

[134] Ibid, halaman 42–44.

[135] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 28 Hal. 547, Hadits nomor 17311.

[136] Abu Nu’aim Ahmad ibn Abdullah Al-Ashbahani, Hilyatul Auliya’ Wa Thabaqatul Ashfiya’, Mathba’ah Sa’adah, Mesir, 1974. Jilid 1 Halaman 255.

[137] Al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Kitāb Āfāt al-Lisān wa al-Baṭn, (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.), 122.

[138] Ibid, Halaman 123–125.

[139] Ibid, Juz 3, halaman. 214.

[140] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, Zād al-Ma‘ād, Juz 4 (Beirut: Mu’assasat al-Risālah, 1998), 276–277.

[141] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, al-Jawāb al-Kāfī liman Sa’ala ‘an al-Dawā’ al-Shāfī (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1997), 108–110.

[142] Al-Nawawī, Sharḥ Ṣaḥīḥ Muslim, Juz 13 (Beirut: Dār Ihyā’ al-Turāth, 1991), 146.

[143] Ibn Ḥajar al-‘Asqalānī, Fatḥ al-Bārī, Juz 10 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1959), 45.

[144] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir li al-Thabarani, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 11, Halaman 164, Hadits nomor 11372.

[145] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 3 , Halaman 1588, Hadits nomor 75.

[146] Ibid, Hadits nomor 77.

[147] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman 725, Hadits nomor 2144.

[148] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 2 halaman 499, Hadits nomor 1210.

[149] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 5 halaman 146, Hadits nomor 3058.

[150] Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibnu Hazm, Beirut, Jilid 1, Halam, 204, Hadits nomor 145.

[151] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 5 halaman 575, Hadits nomor 3591.

[152] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 32, Halaman 351.Hadits nomor 22021.

[153] Ibid, Halaman 444.Hadits nomor 22128

[154] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 5 halaman 474, Hadits nomor 3492.

[155] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 33, Halaman 197.Hadits nomor 19992.

Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post