44. Syafaat Rasulullah SAW Bukan Untuk Orang Bertakwa
Keistimewaan takwa ke empat puluh empat “Syafaat Rasulullah SAW bukan untuk orang bertakwa”, keistimewaan ini di dasari hadits nomor 4311 di dalam kitab Sunan Ibnu Majah, di dalamnya Rasulullah menyatakan bahwa apakah kalian mengira syafaatku untuk orang-orang yang bertakwa? Tidak, tetapi itu untuk orang-orang yang berdosa, banyak kesalahan, dan banyak noda;
حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا أَبُو
بَدْرٍ حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ خَيْثَمَةَ عَنْ نُعَيْمِ بْنِ أَبِي هِنْدٍ عَنْ رِبْعِيِّ
بْنِ حِرَاشٍ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خُيِّرْتُ بَيْنَ الشَّفَاعَةِ وَبَيْنَ أَنْ يَدْخُلَ
نِصْفُ أُمَّتِي الْجَنَّةَ فَاخْتَرْتُ الشَّفَاعَةَ لِأَنَّهَا أَعَمُّ وَأَكْفَى
أَتُرَوْنَهَا لِلْمُتَّقِينَ لَا وَلَكِنَّهَا لِلْمُذْنِبِينَ الْخَطَّائِينَ الْمُتَلَوِّثِينَ [1]
Artinya: "Telah menceritakan kepada kami Ismail bin Asad, telah menceritakan kepada kami Abu Badr, telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Khaitsamah, dari Nu'aim bin Abi Hind, dari Rabi' bin Hirasy, dari Abu Musa Al-Asy'ari, ia berkata: 'Rasulullah ﷺ Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku diberi pilihan antara syafaat dan setengah dari umatku masuk surga. Maka aku memilih syafaat karena itu lebih umum dan lebih mencukupi. Apakah kalian mengiranya untuk orang-orang yang bertakwa? Tidak, tetapi itu untuk orang-orang yang berdosa, banyak kesalahan, dan banyak noda."'
Sedangkan di dalam kitab Sunan
Abi Daud Hadits nomor 4739 dinyatakan bahwa Syafaatku adalah untuk pelaku dosa besar
dari umatku;
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ، حَدَّثَنَا
بَسْطَامُ بْنُ حُرَيْثٍ، عَنْ أَشْعَثَ الْحُدَّانِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ
مَالِكٍ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «شَفَاعَتِي لِأَهْلِ الْكَبَائِرِ مِنْ أُمَّتِي» [2]
Artinya: Abu Ali Al Husain bin Ali Al Hafizh menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Abu Thalib memberitakan (kepada kami), Muhammad bin Basysyar dan Ishaq bin Manshur menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abu Daud menceritakan kepada kami, Muhammad bin Tsabit Al Bunani menceritakan kepada kami dari Ja'far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Jabir bin Abdullah, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ”Syafaatku adalah untuk pelaku dosa besar dari umatku." Abu Ja'far berkata: Jabir berkata kepadaku, ''Wahai Muhammad ﷺ, barangsiapa tidak termasuk pelaku dosa besar, maka dia tidak perlu memperoleh syafaat.”
Adapun di antara orang-orang
berdosa yang akan mendapat syafaat Rasulullah SAW adalah, antara lain;
1. Orang
Yang Mengucapkan Laa Ilaaha Illallah Dengan Ikhlas Dari Hatinya Atau Jiwanya
Di dalam kitab Shahih Bukhari
Hadits nomor 99 dinyatakan bahwa syafaatku adalah bagi orang yang mengucapkan
Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya;
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ
قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ سَعِيدِ بْنِ
أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ قِيلَ يَا
رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا
هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ
لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ
الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ
نَفْسِهِ [3]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdul 'Aziz bin Abdullah berkata: telah menceritakan kepadaku Sulaiman dari 'Amru bin Abu 'Amru dari Sa'id Al Maqburi dari Abu Hurairah, bahwa dia berkata: Ditanyakan: "Wahai Rasulullah ﷺ siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafa'atmu pada hari kiamat?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Aku telah menduga wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada orang yang mendahuluimu dalam menanyakan masalah ini, karena aku lihat betapa perhatian dirimu terhadap hadits. Orang yang paling berbahagia dengan syafa'atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya".
2. Orang
Yang Mati Dalam Keadaan Tidak Menyekutukan Allah
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi
Hadits nomor 2441 dinyatakan bahwa siapa saja yang mati tidak menyekutukan Allah
dengan sesuatu pun termasuk dalam syafaatku;
حَدَّثَنَا هَنَّادٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدَةُ،
عَنْ سَعِيدٍ ، عَنْ قَتَادَةَ ، عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ، عَنْ عَوْفِ بْنِ مَالِكٍ
الْأَشْجَعِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «أَتَانِي آتٍ مِنْ عِنْدِ رَبِّي،
فَخَيَّرَنِي بَيْنَ أَنْ يُدْخِلَ نِصْفَ أُمَّتِي الْجَنَّةَ وَبَيْنَ
الشَّفَاعَةِ،» فَاخْتَرْتُ الشَّفَاعَةَ، وَهِيَ لِمَنْ مَاتَ لَا يُشْرِكُ
بِاللهِ شَيْئًا.وَقَدْ رُوِيَ عَنْ أَبِي الْمَلِيحِ، عَنْ رَجُلٍ آخَرَ مِنْ
أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، وَلَمْ يَذْكُرْ عَنْ عَوْفِ بْنِ
مَالِكٍ. [4]
Artinya: Diriwayatkan oleh
Hannād, ia berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Abdah, dari Sa‘īd, dari
Qatādah, dari Abu al-Malīḥ, dari ‘Auf bin Mālik
al-Asyja‘ī, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Seseorang datang kepadaku dari sisi
Tuhanku, lalu ia memberiku pilihan antara Allah memasukkan setengah dari umatku
ke dalam surga atau aku memilih syafaat; maka aku memilih syafaat, dan syafaat
itu bagi siapa saja yang meninggal tanpa mempersekutukan Allah dengan sesuatu
apa pun.” Telah pula diriwayatkan dari Abu al-Malīḥ, dari seorang lelaki lain dari kalangan sahabat Nabi ﷺ dari Nabi ﷺ , namun tidak menyebutkan
bahwa perawi tersebut adalah ‘Auf bin Mālik. Adapun orang bertakwa mendapat
banyak keistimewaan untuk dapat masuk surga sebagaimana telah dikemukakan di
beberapa keistimewaan sebelumnya dan yang akan datang.
3. Orang
Yang Menirukan Adzan Dan Membaca Doa Setelah Adzan
Di dalam kitab Shahih Bukhari
hadits nomor 214 dinyatakan bahwa barang siapa meniru ucapan muadzin kemudian
berdoa setelah adzan, maka dia akan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat;
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ قَالَ حَدَّثَنَا
شُعَيْبُ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ
عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ
قَالَ حِينَ يَسْمَعُ النِّدَاءَ اللَّهُمَّ رَبَّ هَذِهِ الدَّعْوَةِ التَّامَّةِ
وَالصَّلَاةِ الْقَائِمَةِ آتِ مُحَمَّدًا الْوَسِيلَةَ وَالْفَضِيلَةَ وَابْعَثْهُ
مَقَامًا مَحْمُودًا الَّذِي وَعَدْتَهُ حَلَّتْ لَهُ شَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ [5]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ayyasy, telah menceritakan kepada kami Syu'aib bin Abi Hamzah dari Muhammad bin Al-Munkadir dari Jabir bin Abdullah bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang mengucapkan ketika mendengar adzan: 'Allahumma rabba hadzihid da'watit tammati, was shalatil qa'imati, aati Muhammadanil wasilata wal fadilah, wab'ath-hu maqamam mahmudanil ladzi wa'adtah', (Ya Allah, Tuhan seruan yang sempurna ini, dan shalat yang akan ditegakkan, berikanlah kepada Muhammad ﷺ wasilah dan keutamaan, dan bangkitkanlah dia pada maqam yang terpuji yang telah Engkau janjikan), maka dia akan mendapatkan syafaatku pada hari kiamat."
Juga di dalam kitab Musnad
Ahmad Hadits nomor 11049 disebutkan pernyataan bahwa Barang siapa bershalawat
atas Muhammad dan mengucapkan: ‘Ya Allah, tempatkanlah beliau pada kedudukan
yang dekat di sisi-Mu pada hari kiamat,’ maka pasti ia memperoleh syafa’atku;
حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا ابْنُ
لَهِيعَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ سَوَادَةَ، عَنْ زِيَادِ
بْنِ نُعَيْمٍ، عَنْ وَفَاءٍ الْحَضْرَمِيِّ، عَنْ رُوَيْفِعِ بْنِ ثَابِتٍ
الْأَنْصَارِيِّ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: «مَنْ صَلَّى
عَلَى مُحَمَّدٍ، وَقَالَ: اللهُمَّ أَنْزِلْهُ الْمَقْعَدَ الْمُقَرَّبَ
عِنْدَكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَجَبَتْ لَهُ شَفَاعَتِي» [6]
Artinya: Diriwayatkan dari Hasan bin Musa, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi‘ah, ia berkata: telah menceritakan kepadaku Bakr bin Sawadah, dari Ziyad bin Nu‘aim, dari Wafâ’ al-Hadhramî, dari Ruwaifi‘ bin Tsabit al-Anshari, bahwa Muhammad ﷺ bersabda: “Barang siapa bershalawat atas Muhammad dan mengucapkan: ‘Ya Allah, tempatkanlah beliau pada kedudukan yang dekat di sisi-Mu pada hari kiamat,’ maka pasti ia memperoleh syafa’atku.”
[1] Ibnu
Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab
al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman 1441, Hadits nomor 4311.
[2] Abu
Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah,
Beirut, tt, Jilid, 4, Halaman 236, Hadits nomor 4739.
[3] Muhammad
bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Al-Sulthaniyah, Mesir, 1404,
Jilid 1, Halaman 31, Hadits nomor 99.
[4] Abu ‘Isa
Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi,
Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 Halaman 234, Hadits nomor 2441.
[5] Muhammad
bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Al-Sulthaniyah, Mesir, 1404,
Jilid 1, Halaman 126, Hadits nomor 214.
[6] Al Imam
Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah
ar-Risalah, 2001, Jilid 17, Halaman 102.Hadits nomor 11049.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar