14/04/2026

53. Orang Bertakwa Adalah Orang Yang Benar

53. Orang Bertakwa Adalah Orang Yang Benar

Keistimewaan takwa ke lima puluh tiga “Orang bertakwa adalah orang yang benar”, Keistimewaan ini didasari Al Quran surat Az-Zumar/ 39: 33 di dalamnya dinyatakan bahwa orang yang membawa kebenaran dan membenarkannya adalah orang yang bertakwa;

وَالَّذِي جَاءَ بِالصِّدْقِ وَصَدَّقَ بِهِ أُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Artinya: Dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka itulah orang-orang yang bertakwa.(QS. Az-Zumar/ 39: 33)

Di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 177 dinyatakan bahwa orang-orang yang benar itulah orang yang bertakwa;

لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ

Artinya: Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah/ 2: 177)

Di dalam Al Quran Al-Hujurat/ 49: 15 ditegaskan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya yang berjuang di jalan Allah itulah orang yang benar;

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al-Hujurat/ 49: 15)

Orang yang berjuang di jalan Allah merupakan orang yang menduduki tingkat ketakwaan tertinggi, yaitu takwa tingkat jannah, penjelasan tingkatan takwa in syaa Allah akan dikemukakan di buku ilmu takwa dua dan tiga.

Begitu pentingnya menjaga kebenaran/kejujuran karena kebenaran akan membimbing kepada kebaikan, sebagaimana ditegaskan di dalam kitab Shahih Muslim 2607;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ قَالَا حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا [1]

Artinya: Muhammad bin Abdullah bin Numair meriwayatkan kepada kami, Abu Mu'awiyah dan Waki' meriwayatkan kepada kami, Al-A'masy meriwayatkan dari Syaqiq, dari Abdullah, dia berkata: Rasulullah   bersabda: "Berpeganglah kalian pada kejujuran, karena kejujuran akan membimbing kepada kebaikan, dan kebaikan akan membimbing kepada surga. Seorang laki-laki yang terus berkata jujur dan menjaga kejujuran, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan hindarilah kebohongan, karena kebohongan akan membimbing kepada keburukan, dan keburukan akan membimbing kepada neraka. Seorang laki-laki yang terus berbohong dan sengaja berbohong, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta."



[1] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid  4 , Halaman 2013, Hadits noor. 2607.

13/04/2026

52. Takwa Adalah Pemberian Yang Paling Bermanfaat, Merupakan Ilmu Yang Luar Biasa

52. Takwa Adalah Pemberian Yang Paling Bermanfaat, Merupakan Ilmu Yang Luar Biasa

Keistimewaan takwa ke lima puluh dua “Takwa adalah pemberian yang paling bermanfaat, merupakan ilmu yang luar biasa”, keistimewaan ini didasari Hadits nomor 1847 di dalam kitab Sunan Ibnu Majah, di dalamnya dinyatakan bahwa seorang mukmin tidak mendapatkan sesuatu yang lebih bermanfaat setelah ketakwaan kepada Allah selain istri yang salehah;

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي الْعَاتِكَةِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ يَزِيدَ عَنْ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ مَا اسْتَفَادَ الْمُؤْمِنُ بَعْدَ تَقْوَى اللَّهِ خَيْرًا لَهُ مِنْ زَوْجَةٍ صَالِحَةٍ إِنْ أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ وَإِنْ نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهُ وَإِنْ أَقْسَمَ عَلَيْهَا أَبَرَّتْهُ وَإِنْ غَابَ عَنْهَا نَصَحَتْهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ

Artinya: Hisyam bin Ammar menceritakan kepada kami, Shadaqah bin Khalid menceritakan kepada kami, Utsman bin Abi Al-Atikah menceritakan kepada kami, dari Ali bin Yazid, dari Al-Qasim, dari Abu Umamah, dari Nabi   bahwa beliau bersabda:"Seorang mukmin tidak mendapatkan sesuatu yang lebih bermanfaat setelah ketakwaan kepada Allah selain istri yang salehah. Jika ia memerintahkannya, ia menaatinya; jika ia memandangnya, ia membuatnya senang; jika ia bersumpah atasnya, ia memenuhinya; dan jika ia pergi, ia menjaga dirinya dan hartanya." [1]

Hadits riwayat Ibnu Majah tersebut memberi gambaran bahwa takwa merupakan pemberian yang paling bermanfaat dan istri salihah merupakan pemberian yang paling bermanfaat setelah takwa.

Sedangkan pemberian bermanfaat lainnya adalah ilmu, sebagaimana disebutkan di dalam kitab Musnad Darimi hadits nomor 377 bahwa Ilmu itu ada dua jenis: ilmu yang ada di dalam hati, itulah ilmu yang bermanfaat;

أَخْبَرَنَا مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ الْعِلْمُ عِلْمَانِ فَعِلْمٌ فِي الْقَلْبِ فَذَلِكَ الْعِلْمُ النَّافِعُ وَعِلْمٌ عَلَى اللِّسَانِ فَذَلِكَ حُجَّةُ اللَّهِ عَلَى ابْنِ آدَمَ أَخْبَرَنَا عَاصِمُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ فُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ عَنْ هِشَامٍ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ ذَلِكَ [2]

Artinya:  Telah mengabarkan kepada kami Makki bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Al Hasan ia berkata: "Ilmu itu ada dua, yaitu ilmu dalam hati, itulah ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang ada di lisan, itulah hujjah Allah atas Ibnu Adam (manusia) ". 'Ashim bin Yusuf mengabarkan kepada kami dari Fudhail bin Iyadh dari Hisyam dari Al Hasan dari Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam seperti itu".

Di dalam kitab Al-Zuhd Wa Al-Raqaiq Li Ibn Al-Mubarak hadits nomor 1161 disebutkan bahwa Ilmu itu ada dua macam: ilmu yang berada di dalam hati, maka itulah ilmu yang bermanfaat;

أَخْبَرَكُمْ أَبُو عُمَرَ بْنُ حَيَوَيْهِ قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى قَالَ: حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ، قَالَ: أَخْبَرَنَا عَبَّادُ بْنُ الْعَوَّامِ قَالَ: حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ حَسَّانَ، عَنِ الْحَسَنِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «الْعِلْمُ عِلْمَانِ: عِلْمٌ فِي الْقَلْبِ، فَذَلِكَ الْعِلْمُ النَّافِعُ، وَعِلْمٌ عَلَى اللِّسَانِ، فَذَلِكَ حُجَّةُ اللَّهِ عَلَى خَلْقِهِ» [3]

Artinya: Telah mengabarkan Abu ‘Umar bin Hayawayh, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Yahya, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Husain, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami ‘Abbad bin al-‘Awwam, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Hisyām bin Hassān dari al-Hasan, ia berkata: Rasulullah  bersabda: “Ilmu itu ada dua macam: ilmu yang berada di dalam hati, maka itulah ilmu yang bermanfaat; dan ilmu yang berada di atas lisan, maka itulah hujjah Allah atas makhluk-Nya.”

Sedangkan di dalam kitab Mushnaf Ibnu Abi Syaibah Hadits nomor 34361 dinyatakan bahwa Ilmu itu ada dua macam: ilmu yang berada di dalam hati, maka itulah ilmu yang bermanfaat;

ابْنُ نُمَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ، عَنِ الْحَسَنِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: الْعِلْمُ عِلْمَانِ: عِلْمٌ فِي الْقَلْبِ فَذَاكَ الْعِلْمُ النَّافِعُ، وَعِلْمٌ عَلَى اللِّسَانِ فَتِلْكَ حُجَّةُ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ [4] 

Artinya: Diriwayatkan oleh Ibnu Numair, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Hisyām, dari al-Hasan, ia berkata: Rasulullah  bersabda: “Ilmu itu ada dua macam: ilmu yang berada di dalam hati, maka itulah ilmu yang bermanfaat; dan ilmu yang hanya berada di atas lisan, maka itulah hujjah Allah atas hamba-hamba-Nya.”

Tiga Hadits ini memberi gambaran bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang ada di dalam hati, ilmu yang dapat membedakan kebaikan dan keburukan yaitu ilmu takwa.

Dengan demikian mohonlah kepada Allah ilmu yang bermanfaat, sebagai mana disebutkan di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 3843, mintalah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat;

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَلُوا اللَّهَ عِلْمًا نَافِعًا وَتَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ [5]

Artinya: Ali bin Muhammad menceritakan kepada kami, Waki' menceritakan kepada kami, dari Usamah bin Zaid, dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari Jabir, dia berkata: Rasulullah  bersabda, "Mintalah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan berlindunglah kepada Allah dari ilmu yang tidak bermanfaat."

Di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 6744 disebutkan doa Ya Allah! Aku meminta kepada-Mu ilmu yang bermanfaat dan aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat;

أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ‏:‏ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ‏.‏[6]

Artinya: Hasan bin Sufyan mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abu Bakar bin Abu Syaibah menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ menceritakan kepada kami dari Usamah bin Zaid, dari Muhammad bin Al-Munkadir, dari Jahir bin Abdullah, dia berkata : Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda "Ya Allah! Aku meminta kepada-MU ilmu yang bermanfaat dan aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat"

Di dalam dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2722 disebutkan do’a permohonan untuk diberi ketakwaan dalam jiwa dan mohon perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat;

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لِابْنِ نُمَيْرٍ قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا و قَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ وَعَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ لَا أَقُولُ لَكُمْ إِلَّا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا [7]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim dan Muhammad bin 'Abdullah bin Numair -dan lafadh ini milik Ibnu Numair- Ishaq berkata; Telah mengabarkan kepada kami, sedangkan yang lainnya berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Ashim dari Abdullah bin Al Harits dan dari Abu Utsman An Nahdi dari Zaid bin Arqam dia berkata; "Saya tidak akan mengatakan kepada kalian kecuali seperti apa yang pernah diucapkan Rasulullah  dalam doanya yang berbunyi: Ya Allah ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, ketakutan, kekikiran, kepikunan, dan siksa kubur. Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah ketakwaan kepada jiwaku, sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat mensucikannya, Engkaulah yang menguasai dan yang menjaganya. Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak berguna, hati yang tidak khusyu', diri yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak terkabulkan.'"

Adapun di dalam kitab Hilyatul Aulia wa Thabaqatul Ashfiya, hadits 57 tergambar bahwa takwa merupakan ilmu yang luar biasa; 

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْعَبَّاسِ، ثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْحَاقَ الْحَرْبِيُّ، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ، ثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُعَاوِيَةَ، ثَنَا خَالِدُ بْنُ أَبِي كَرِيمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الْمِسْوَرِ، أَنَّ رَجُلًا، أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ عَلِّمْنِي مِنْ غَرَائِبِ الْعِلْمِ , قَالَ: «مَا فَعَلْتَ فِي رَأْسِ الْعِلْمِ فَتَطْلُبَ الْغَرَائِبَ؟» قَالَ: وَمَا رَأْسُ الْعِلْمِ؟ قَالَ: «هَلْ عَرَفْتَ الرَّبَّ؟» قَالَ: نَعَمْ , قَالَ: «فَمَا صَنَعْتَ فِي حَقِّهِ؟» قَالَ: مَا شَاءَ اللهُ , قَالَ: «عَرَفْتَ الْمَوْتَ؟» قَالَ: نَعَمْ , قَالَ: «مَا أَعْدَدْتَ لَهُ؟» قَالَ: مَا شَاءَ اللهُ، قَالَ: «انْطَلِقْ فَاحْكُمْ هَاهُنَا , ثُمَّ تَعَالَ أُعَلِّمْكَ مِنْ غَرَائِبِ الْعِلْمِ» قَالَ الشَّيْخُ رَحِمَهُ اللهُ: فَمَبَانِي الْمُتَصَوِّفَةِ الْمُتَحَقِّقَةُ فِي حَقَائِقِهِمْ عَلَى أَرْكَانٍ أَرْبَعَةٍ: مَعْرِفَةُ اللهِ تَعَالَى , وَمَعْرِفَةُ أَسْمَائِهِ وَصِفَاتِهِ وَأَفْعَالِهِ , وَمَعْرِفَةُ النُّفُوسِ وَشُرُورِهَا وَدَوَاعِيهَا , وَمَعْرِفَةُ وَسْوَاسِ الْعَدُوِّ وَمَكَائِدِهِ وَمَضَالِّهِ , وَمَعْرِفَةُ الدُّنْيَا وَغُرُورِهَا وَتَفْتِينَهَا وَتَلْوِينِهَا , وَكَيْفَ الِاحْتِرَازُ مِنْهَا وَالتَّجَافِي عَنْهَا , ثُمَّ أَلْزَمُوا أَنْفُسُهُمْ بَعْدَ تَوْطِئَةِ هَذِهِ الْأَبْنِيَةِ دَوَامَ الْمُجَاهَدَةِ , وَشِدَّةَ الْمُكَابَدَةِ , وَحِفْظَ الْأَوْقَاتِ , وَاغْتِنَامَ الطَّاعَاتِ , وَمُفَارَقَةَ الرَّاحَاتِ , وَالتَّلَذُّذَ بِمَا أُيِّدُوا بِهِ مِنَ الْمُطَالَعَاتِ , وَصِيَانَةَ مَا خُصُّوا بِهِ مِنَ الْكَرَامَاتِ , لَا عَنِ الْمُعَامَلَاتِ انْقَطَعُوا , وَلَا إِلَى التَّأْوِيلَاتِ رَكَنُوا, رَغِبُوا عَنِ الْعَلَائِقِ , وَرَفَضُوا الْعَوَائِقَ , وَجَعَلُوا الْهُمُومَ هَمًّا وَاحِدًا , وَمُزَايَلَةَ الْأَعْرَاضِ طَارِفًا وَتَالِدًا، وَاقْتَدَوْا بِالْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ , وَفَارَقُوا الْعُرُوضَ وَالْعِقَارَ , وَآثَرُوا الْبَذْلَ وَالْإِيثَارَ, وَهَرَبُوا بِدِينِهِمْ إِلَى الْجِبَالِ وَالْقِفَارِ احْتِرَازًا مِنْ مُوَامَقَةِ الْأَبْصَارِ أَنْ يَوْمَى إِلَيْهَا بِالْأَصَابِعِ, وَيُشَارُ لِمَا أَنِسُوا بِهِ مِنَ التُّحَفِ وَالْأَنْوَارِ, فَهُمُ الْأَتْقِيَاءُ الْأَخْفِيَاءُ , وَالْغُرَبَاءُ النُّجَبَاءُ , صَحَّتْ عَقِيدَتُهُمْ فَسَلِمَتْ سَرِيرَتُهُمْ [8]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Abbas, telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Ishaq Al-Harbi, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus, telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Mu'awiyah, telah menceritakan kepada kami Khalid bin Abi Karima, dari Abdullah bin Al-Miswar, bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi dan berkata: "Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku tentang ilmu-ilmu yang luar biasa." Beliau bersabda: "Apa yang telah engkau lakukan dengan ilmu yang paling utama sehingga engkau mencari ilmu-ilmu yang luar biasa?" Orang itu bertanya: "Apa yang dimaksud dengan ilmu yang paling utama?" Beliau bersabda: "Apakah engkau sudah mengenal Tuhanmu?" Orang itu menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Lalu, apa yang telah engkau lakukan terhadap hak-Nya?" Orang itu menjawab: "Apa yang dikehendaki oleh Allah." Beliau bersabda: "Apakah engkau sudah mengenal kematian?" Orang itu menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?" Orang itu menjawab: "Apa yang dikehendaki oleh Allah." Beliau bersabda: "Pergilah dan lakukanlah kewajibanmu di sini, lalu datanglah kembali, maka aku akan mengajarkan kepadamu tentang ilmu-ilmu yang luar biasa." Syaikh (semoga Allah merahmatinya) berkata: "Dasar-dasar dari para sufi yang sejati dalam hakikat mereka didirikan atas empat pilar: mengenal Allah Ta'ala, mengenal nama-nama, sifat-sifat, dan perbuatan-Nya, mengenal jiwa-jiwa dan kejahatan-kejahatannya serta dorongannya, mengenal bisikan musuh dan tipu daya serta kesesatannya, dan mengenal dunia serta tipu dayanya, bagaimana cara menghindarinya dan menjauhinya. Setelah membangun dasar-dasar ini, mereka mengikat diri mereka untuk terus-menerus berjihad, berjuang keras, menjaga waktu, memanfaatkan kesempatan dalam ketaatan, meninggalkan kenyamanan, menikmati apa yang mereka dapati dari penglihatan (spiritual), dan menjaga karamah yang mereka miliki. Mereka tidak terputus dari transaksi spiritual, dan tidak bergantung pada tafsiran. Mereka meninggalkan segala ikatan, menolak segala halangan, menjadikan semua kekhawatiran hanya satu kekhawatiran saja, meninggalkan segala penampilan baik yang baru maupun yang lama. Mereka mengikuti jejak para Muhajirin dan Anshar, meninggalkan harta benda dan tanah, lebih memilih untuk memberi dan berkorban, dan melarikan diri dengan agama mereka ke gunung-gunung dan padang pasir, menjauhi perhatian orang lain agar tidak ditunjuk-tunjuk oleh jari-jari, dan demi menjaga diri dari kemewahan serta cahaya yang mereka temukan dalam bentuk anugerah dan cahaya spiritual. Mereka adalah orang-orang yang paling bertakwa dan paling tersembunyi, orang-orang yang luar biasa yang mulia, yang akidahnya benar sehingga hati mereka pun selamat."

Dari beberapa hadits yang telah disebutkan dapat diperoleh pengertian bahwa takwa merupakan pemberian yang paling bermanfaat, ketakwaan erat kaitannya dengan ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu yang ada di dalam qalbu, ketakwaan juga merupakan ilmu yang luar biasa, maka dari itu mohonlah kepada Allah ilmu yang bermanfaat dan mohonlah perlindungan dari ilmu yang tidak bermanfaat, agar dapat meninggalkan keburukan dan selalu bertakwa; melakukan kebaikan.



[1] Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al Kutub Al ‘Arabiyah, 1418 H, jilid 1, halaman 596, nomor Hadits  1857

[2] Ibnu Abdus Shamad Ad Darimi, Musnad Al-Darimi, Dar Al Mugni Linasyr Wa Tauzi’, 2000, Jilid 1, halamn 373, Hadits nomor 377.

[3] Abdullah Ibn Al-Mubarak Al-Marwazi (Wafat 181 H), Al-Zuhd Wa Al-Raqaiq Li Ibn Al-Mubarak, Dar Al-Kutub Al-Ilmiah, India, 1419H, Jilid 1, Halaman 407, Hadits nomor 1161

[4] Muhammad ibn Abi Syaibah Al-Kufi Al-Abasi  (Wafat 235 H), Al-Kitab Al-Mushanaf Fi Al-Ahadits Wa Al-Atsar, Maktabah Al-Ulum Wa Al-Hukm, Madinah, 1989, Jilid 7, Halaman 82, Hadits nomor 34361

[5] Ibnu Majah Abu Abdillah, Sunan Ibnu Majah, dar Al Kutub Al ‘Arabiyah: 1418 H, Jilid 2 halaman 1263, hadits nomor 3843

[6] Abu Hatim Muhammad Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban,  Dar Ibnu Hazm, Beirut, 1433 H, Jilid 7 halaman 437, Hadits nomor 6744.

[7] Imam Muslim, Shahih Muslim, Matba’ah ‘Isa Albabi Al Halabi, Kairo, 1955 M, Jilid  4 , Halaman 2088, Hadits nomor 2722.

[8] Abu Nuaim, Hilyatul Aulia wa Thabaqatul Ashfiya, Mathba’ah As Sa’adah, Mesir, 1409 H,  Jilid 1 Halaman 23, Hadits tanpa nomor

51. Orang Bertakwa Pemilik Kebahagiaan

51. Orang Bertakwa Pemilik Kebahagiaan

Keistimewaan takwa ke lim puluh satu “Orang bertakwa pemilik kebahagiaan” keistimewaan ini didasari hadits nomor 4786 di dalam kitab Shahih Muslim di dalamnya terkandung pengertian bahwa orang yang bertakwa merupakan orang yang dimudahkan ke jalan kemudahan (kebaikan), orang yang dimudahkan ke jalan kebaikan adalah orang yang berhak memperoleh kebahagiaan;  

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَاللَّفْظُ لِزُهَيْرٍ قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا و قَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ كُنَّا فِي جَنَازَةٍ فِي بَقِيعِ الْغَرْقَدِ فَأَتَانَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَعَدَ وَقَعَدْنَا حَوْلَهُ وَمَعَهُ مِخْصَرَةٌ فَنَكَّسَ فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِمِخْصَرَتِهِ ثُمَّ قَالَ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ إِلَّا وَقَدْ كَتَبَ اللَّهُ مَكَانَهَا مِنْ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَإِلَّا وَقَدْ كُتِبَتْ شَقِيَّةً أَوْ سَعِيدَةً قَالَ فَقَالَ رَجَلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَمْكُثُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ فَقَالَ مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ فَسَيَصِيرُ إِلَى عَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ فَقَالَ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ أَمَّا أَهْلُ السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا أَهْلُ الشَّقَاوَةِ فَيُيَسَّرُونَ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ ثُمَّ قَرَأَ { فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى } حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَهَنَّادُ بْنُ السَّرِيِّ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ مَنْصُورٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ فِي مَعْنَاهُ وَقَالَ فَأَخَذَ عُودًا وَلَمْ يَقُلْ مِخْصَرَةً وَقَالَ ابْنُ أَبِي شَيْبَةَ فِي حَدِيثِهِ عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ ثُمَّ قَرَأَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [1]

Artinya: Diriwayatkan kepada kami oleh ‘Utsman bin Abi Syaibah, Zuhair bin Harb, dan Ishaq bin Ibrahim—dan redaksi ini dari Zuhair—Ishaq berkata, "Telah mengabarkan kepada kami," sedangkan dua perawi lainnya berkata, "Telah menceritakan kepada kami Jareer dari Manshur, dari Sa’d bin ‘Ubaidah, dari Abu ‘Abdurrahman, dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu, disebutkan bahwa suatu ketika mereka berada dalam sebuah jenazah di Baqi' Al-Gharqad. Rasulullah datang, lalu duduk, dan kami pun duduk di sekeliling beliau. Beliau membawa tongkat kecil dan menundukkan kepala sambil menggaris-garis tanah dengan tongkat tersebut. Kemudian beliau bersabda: "Tidak ada seorang pun dari kalian, tidak ada satu jiwa pun yang diciptakan, kecuali Allah telah menetapkan tempatnya di surga atau di neraka, dan telah ditetapkan apakah ia termasuk yang sengsara atau bahagia."  Seorang laki-laki kemudian bertanya, "Wahai Rasulullah, kalau begitu, apakah kita tidak perlu beramal, cukup kita pasrah kepada ketetapan kita?" Rasulullah menjawab: "Barang siapa yang termasuk golongan orang yang bahagia, maka dia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan orang-orang yang bahagia, dan barang siapa yang termasuk golongan orang yang sengsara, maka dia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan orang-orang yang sengsara." Kemudian beliau bersabda: "Beramallah, karena setiap orang akan dimudahkan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan baginya. Adapun orang-orang yang bahagia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan orang-orang yang bahagia, dan orang-orang yang sengsara akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan orang-orang yang sengsara." Kemudian Rasulullah membaca ayat: "Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka Kami akan memudahkan baginya jalan kemudahan (kebahagiaan)." (QS. Al-Lail: 5-7) "Dan adapun orang yang kikir dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala yang terbaik, maka Kami akan memudahkan baginya jalan kesulitan (kesengsaraan)." (QS. Al-Lail: 8-10)

Di antara indikator kebahagiaan manusia adalah istikharahnya kepadaAllah sebagaimana disebutkan di dalam kitab Musnad Ahmad hadits 1444, bahwa di antara kebahagiaan anak Adam adalah istikharahnya kepada Allah, dan keridhaannya terhadap apa yang telah Allah tetapkan;

حَدَّثَنَا رَوْحٌ أَمْلَاهُ عَلَيْنَا بِبَغْدَادَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي حُمَيْدٍ عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ اسْتِخَارَتُهُ اللَّهَ وَمِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ رِضَاهُ بِمَا قَضَاهُ اللَّهُ وَمِنْ شِقْوَةِ ابْنِ آدَمَ تَرْكُهُ اسْتِخَارَةَ اللَّهِ وَمِنْ شِقْوَةِ ابْنِ آدَمَ سَخَطُهُ بِمَا قَضَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ [2]

Artinya: Diriwayatkan bahwa Rauh telah membacakan kepada kami di Baghdad, bahwa Muhammad bin Abi Humaid meriwayatkan dari Ismail bin Muhammad bin Sa'd bin Abi Waqqas, dari ayahnya, dari kakeknya, Sa'd bin Abi Waqqas, yang berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Di antara kebahagiaan anak Adam adalah istikharahnya kepada Allah, dan di antara kebahagiaan anak Adam adalah keridhaannya terhadap apa yang telah Allah tetapkan. Dan di antara kesengsaraan anak Adam adalah meninggalkan istikharah kepada Allah, dan di antara kesengsaraan anak Adam adalah ketidaksenangannya terhadap apa yang telah Allah tetapkan."

Indikator kebahagian lainya disebutkan di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 1368 bahwa di antara kebahagiaan anak Adam adalah wanita yang saleh, tempat tinggal yang baik, dan kendaraan yang baik;

حَدَّثَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ ثَلَاثَةٌ وَمِنْ شِقْوَةِ ابْنِ آدَمَ ثَلَاثَةٌ مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ وَالْمَسْكَنُ الصَّالِحُ وَالْمَرْكَبُ الصَّالِحُ وَمِنْ شِقْوَةِ ابْنِ آدَمَ الْمَرْأَةُ السُّوءُ وَالْمَسْكَنُ السُّوءُ وَالْمَرْكَبُ السُّوءُ [3]

Artinya: Diriwayatkan bahwa Rauh telah membacakan kepada kami, bahwa Muhammad bin Abi Humaid meriwayatkan kepada kami, bahwa Ismail bin Muhammad bin Sa'd bin Abi Waqqas meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya, yang berkata bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Di antara kebahagiaan anak Adam ada tiga, dan di antara kesengsaraan anak Adam ada tiga: Di antara kebahagiaan anak Adam adalah wanita yang saleh, tempat tinggal yang baik, dan kendaraan yang baik. Dan di antara kesengsaraan anak Adam adalah wanita yang buruk, tempat tinggal yang buruk, dan kendaraan yang buruk."



[1] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid  4 , Halaman 2039, Hadits No. 2647.

[2] Imam Ahmad Ibnu Hambal, Musnad Imam Ahmad, Dar Al Hadits, Kairo, 1995 M, Jilid 2, Halaman 210, Hadits nomor 1444.

[3] Imam Ahmad Ibnu Hambal, Musnad Imam Ahmad, Dar Al Hadits, Kairo, 1995 M, Jilid 2, Halaman 210, Hadits nomor 1445.

12/04/2026

50. Pesan Terakhir Rasulullah SAW Bertakwalah Kepada Allah

50. Pesan Terakhir Rasulullah SAW Bertakwalah Kepada Allah

Keistimewaan takwa ke lima puluh “Pesan terakhir Rasulullah SAW bertakwalah kepada Allah”, keistimewaan ini di dasari hadits nomor 11054 dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi, di dalamnya digambarkan bahwa pesan terakhir Rasulullah sebelum wafat adalah “bertakwalah kepada Allah dalam shalat, bertakwalah kepada Allah dalam shalat (diulang tiga kali)”;

 أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللهِ السَّرَّاجُ، أَنَا الْقَاسِمُ بْنُ غَانِمِ بْنِ حَمَوَيْهِ الطَّوِيلِ، ثَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْبُوشَنْجِيُّ، حَدَّثَنِي أَبُو الْقَاسِمِ عَامِرُ بْنُ زَرْبِيُّ، ثَنَا بِشْرُ بْنُ مَنْصُورٍ، عَنْ ثَابِتٍ، عَنْ أَنَسٍ، قَالَ: كُنَّا عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَيْثُ حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ، قَالَ: فَقَالَ لَنَا: " اتَّقُوا اللهَ فِي الصَّلَاةِ، اتَّقُوا اللهَ فِي الصَّلَاةِ ثَلَاثًا، اتَّقُوا اللهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ، اتَّقُوا اللهَ فِي الضَّعِيفَيْنِ الْمَرْأَةِ الْأَرْمَلَةِ وَالصَّبِيِّ الْيَتِيمِ، اتَّقُوا اللهَ فِي الصَّلَاةِ " فَجَعَلَ يُرَدِّدُهَا وَهُوَ يَقُولُ: " الصَّلَاةَ " وَهُوَ يُغَرْغِرُ حَتَّى فَاضَتْ نَفْسُهُ [1]

Artinya: Diriwayatkan oleh Abdul Rahman bin Muhammad bin Abdullah As-Sarraj, dari Al-Qasim bin Ghanim bin Hamawaih At-Tawil, dari Abu Abdullah Al-Bushanji, dari Abu Al-Qasim Amir bin Zarbi, dari Bisyr bin Mansur, dari Tsabit, dari Anas, yang berkata: “Kami berada di sisi Rasulullah SAW ketika beliau mendekati wafatnya. Beliau berkata kepada kami: ‘Bertakwalah kepada Allah dalam shalat, bertakwalah kepada Allah dalam shalat (diulang tiga kali), bertakwalah kepada Allah terhadap apa yang dimiliki oleh tangan kananmu, bertakwalah kepada Allah terhadap dua orang yang lemah, yaitu wanita janda dan anak yatim, bertakwalah kepada Allah dalam shalat.’ Beliau terus mengulanginya sambil berkata: ‘Shalat, shalat,’ hingga ruhnya keluar.”

Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 5156 digambarkan bahwa kalimat terakhir sebelum wafatnya adalah shalat, shalat , bertakwalah kepada Allah terhadap budak-budak kalian;

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْفُضَيْلِ عَنْ مُغِيرَةَ عَنْ أُمِّ مُوسَى عَنْ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَام قَالَ كَانَ آخِرُ كَلَامِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّلَاةَ الصَّلَاةَ اتَّقُوا اللَّهَ فِيمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ [2]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Utsman bin Abi Syaibah, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al-Fudail dari Mughirah dari Umm Musa dari Ali, beliau berkata: 'Kata-kata terakhir Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam adalah: Shalat, shalat. Bertakwalah kepada Allah terhadap apa yang dimiliki oleh tangan kananmu (budak).

Sedangkan di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2877 digambarkan bahwa tiga hari menjelang wafatnya, Rasulullah berpesan untuk khusnu dhan terhadap Allah sebelum kematiannya; 

و حَدَّثَنِي أَبُو دَاوُدَ سُلَيْمَانُ بْنُ مَعْبَدٍ حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ عَارِمٌ حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا وَاصِلٌ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَبْلَ مَوْتِهِ بِثَلَاثَةِ أَيَّامٍ يَقُولُ لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ [3]

Artinya: Telah menceritakan kepadaku Abu Dawud Sulaiman bin Ma'bad, telah menceritakan kepada kami Abu Nu'man 'Arim, telah menceritakan kepada kami Mahdi bin Maimun, telah menceritakan kepada kami Washil dari Abu az-Zubair dari Jabir bin Abdullah al-Ansari, ia berkata: 'Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tiga hari sebelum wafatnya berkata: 'Janganlah salah seorang dari kalian mati kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Allah Azza wa Jalla.'

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 4086 digambarkan bahwa doa terakhir Rasulullah menjelang wafatnya adalah 'Ya Allah, ampunilah aku dan rahmatilah aku serta pertemukanlah aku dengan teman yang luhur.';

حَدَّثَنَا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُخْتَارٍ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ عَبَّادِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ أَنَّ عَائِشَةَ أَخْبَرَتْهُ أَنَّهَا سَمِعَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْغَتْ إِلَيْهِ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ وَهُوَ مُسْنِدٌ إِلَيَّ ظَهْرَهُ يَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ [4]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Mu'alla bin Asad, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Mukhtar, telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Urwah, dari Abbad bin Abdullah bin Az-Zubair bahwa Aisyah menceritakan kepadanya bahwa ia mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dan memperhatikannya sebelum beliau wafat, saat beliau bersandar kepadanya, beliau berkata: 'Ya Allah, ampunilah aku dan rahmatilah aku serta pertemukanlah aku dengan teman yang luhur.'"

Allah dengan tegas memberi peringatan kepada orang beriman untuk benar-benar bertakwa kepada Allah dan jangan sampai mati kecuali dalam keadaan takwa di tingkat islam, pernyataan tersebut di muat di dalam Al Quran surat Ali-'Imran (3): 102;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali-'Imran (3): 102)

Di akhir hayat Rasulullah Muhammad SAW tetap memberi pesan kepada umatnya untuk bertaqwa kepada Allah dalam berbagai hal, terutama dalam shalat, juga doa terakhir beliau menggambarkan ketaqwaan yaitu memohon ampunan, memohon rahmat dan ingin diperjumpakan dengan teman yang luhur.



[1] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al Baihaqi, Syuabul Iman Baihaqi, Dar al Kitab Al Ilmiyah, Beirut, 2000, jilid 7 halaman 477, Hadits nomor 11054

[2] Abu Daud, Sunan Abu Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, jilid 4, Halaman 340, Hadits nomor 5156

[3] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid  4 , Halaman 2205, Hadits No. 2877

[4] Imam Bukhari, Shahih Bukhari, Dar al Yamamah, Damsyiq, 1993, Jilid 4, halaman 1613, nomor Hadits: 4176.

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post