41. Allah Yang Paling Berhak Ditakwai Dan Yang Paling
Mengetahui Orang Yang Bertakwa
Keistimewaan takwa ke empat puluh satu “Allah yang paling berhak ditakwai”, di dasari Al Quran surat An-Nahl/ 16: 52 yang menggambarkan bahwa segala apa yang ada di langit dan di bumi adalah milik Allah, maka adakah yang lebih berhak ditakwai selain Allah;
وَلَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَلَهُ
الدِّينُ وَاصِبًا أَفَغَيْرَ اللَّهِ تَتَّقُونَ
Artinya: Dan
kepunyaan-Nya-lah segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan untuk-Nya-lah
ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah?
Di dalam Al Quran Surat Al-Muddatsir/
74: 56, Allah menyatakan bahwa Allahlah yang paling berhak untuk ditakwai;
وَمَا يَذْكُرُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ ۚ
هُوَ أَهْلُ ٱلتَّقْوَىٰ وَأَهْلُ ٱلْمَغْفِرَةِ
Artinya: Dan mereka tidak akan
mengambil pelajaran daripadanya kecuali (jika) Allah menghendakinya. Dia (Allah)
adalah Tuhan Yang patut (kita) bertakwa kepada-Nya dan berhak memberi ampun. (QS.
Al-Muddatsir/ 74: 56)
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi
hadits nomor 3328 dijeskan oleh nabi bahwa Allah Azza
wa Jalla menyatakan bahwa Allahlah yang paling berhak ditakwai dengan cara tidak
mempersekutukannya;
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ الصَّبَّاحِ الْبَزَّارُ
حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ حُبَابٍ أَخْبَرَنَا سُهَيْلُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْقُطَعِيُّ
وَهُوَ أَخُو حَزْمِ بْنِ أَبِي حَزْمٍ الْقُطَعِيُّ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ
مَالِكٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ فِي
هَذِهِ الْآيَةَ { هُوَ أَهْلُ التَّقْوَى وَأَهْلُ الْمَغْفِرَةِ } قَالَ قَالَ اللَّهُ
عَزَّ وَجَلَّ أَنَا أَهْلٌ أَنْ أُتَّقَى فَمَنْ اتَّقَانِي فَلَمْ يَجْعَلْ مَعِي
إِلَهًا فَأَنَا أَهْلٌ أَنْ أَغْفِرَ لَهُ, قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ
وَسُهَيْلٌ لَيْسَ بِالْقَوِيِّ فِي الْحَدِيثِ وَقَدْ تَفَرَّدَ بِهَذَا الْحَدِيثِ
عَنْ ثَابِتٍ [1]
Artinya: Telah bercerita kepada
kami Al Hasan ibnu Shabah Al bazar, telah menceritakan kepada kami Zaid ibnu Hubab
telah mengabarkan kepada kami Suhail ibnu Abdillah Al Quthai dan dia saudaranya
Hazm ibnu Abi Hazm Al Quthai dari Sabit dari Anas ibnu Malik dari Rasulullah SAW
bahwa beliau pada ayat ini “Dia (Allah) adalah Tuhan Yang patut (kita) bertakwa
kepada-Nya dan berhak memberi ampun” bersabda: Allah Azza wa Jalla berfirman Akulah
yang paling berhak untuk ditakwai barang siapa bertakwa kepadaku dan tidak menjadikan
bersamaku Tuhan selain-Ku, maka Aku paling berhak mengampuninya.”
Di dalam Kitab Mushannaf Ibnu
Abi Syaibah hadits nomor 35717 digambarkan bahwa jika kamu bertakwa kepada Allah, Dia akan cukupkan
(melindungi) kamu dari (kebutuhan akan) manusia;
مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَسَدِيُّ، عَنْ
سُفْيَانَ، عَنْ هِشَامٍ، عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا كَتَبَتْ إِلَى مُعَاوِيَةَ:
أُوصِيكَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَإِنَّكَ إِنِ اتَّقَيْتَ اللَّهَ كَفَاكَ النَّاسَ فَإِنِ
اتَّقَيْتَ النَّاسَ لَمْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا , فَعَلَيْكَ بِتَقْوَى
اللَّهِ أَمَّا بَعْدُ [2]
Artinya: Muhammad bin
‘Abdillāh al-Asadī telah meriwayatkan dari Sufyān, dari Hisyām, dari ayahnya
(‘Urwah), dari ‘Āisyah r.a. bahwa beliau pernah menulis surat kepada Mu‘āwiyah:
“Aku mewasiatkan kepadamu agar bertakwa kepada Allah, karena jika engkau
bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupimu dari manusia; tetapi jika
engkau bertakwa (takut) kepada manusia, mereka sama sekali tidak dapat memberi
manfaat apa pun bagimu di hadapan Allah. Maka wajib atasmu untuk bertakwa
kepada Allah. Amma ba‘du…”
Sedangkan di dalam kitab Hilyatul
Aulia Atsar nomor 9625 dinyatakan bahwa Jika
engkau bertakwa kepada Allah, maka cukuplah Allah bagimu;
عَنْ سُوَيْدِ بْنِ نَصْرٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ
بْنِ الْمُبَارَكِ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ رَجُلٍ، عَنْ عُرْوَةَ،
قَالَ: كَتَبْتْ عَائِشَةُ إِلَى مُعَاوِيَةَ: «أَمَا بَعْدُ: فَاتَّقِ اللهَ،
فَإِنَّكَ إِنِ اتَّقَيْتَ اللهَ، كَفَاكَ النَّاسَ، وَإِنِ اتَّقَيْتَ النَّاسَ،
لَمْ يَغْنَوْا عَنْكَ مِنَ اللهِ شَيْئًا» [3]»
Artinya: Diriwayatkan dari
Suwaid bin Nashr, dari Abdullah bin al-Mubarak, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari
seorang lelaki, dari ‘Urwah, ia berkata: “‘Aisyah pernah menulis surat kepada
Mu‘awiyah: ‘Amma ba‘du, maka bertakwalah kepada Allah; karena jika engkau
bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkanmu dari (ketergantungan
kepada) manusia, tetapi jika engkau takut kepada manusia, mereka sama sekali
tidak akan mampu memberi manfaat apa pun bagimu dari (azab) Allah.’”
Di dalam Al Quran surat
An-Najm/ 53: 32 dinyatakan bahwa Dialah yang paling mengetahui tentang orang
yang bertakwa;
الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ
وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ
أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنْشَأَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنْتُمْ أَجِنَّةٌ فِي
بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنْفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ
اتَّقَى
Artinya: (Yaitu)
orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari
kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia
lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan
ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan
dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (QS.
An-Najm/ 53: 32)
[1] Abu
‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan
Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 5 Halaman 354,
Hadits nomor 3328.
[2] Muhammad
ibn Abi Syaibah Al-Kufi Al-Abasi, Al-Kitab Al-Mushanaf Fi Al-Ahadits Wa
Al-Atsar, Maktabah Al-Ulum Wa Al-Hukm, Madinah, 1989, Jilid 7, Halaman 244,
Hadits nomor 35717
[3] Abu Abd
al-Rahman Ahma ibn Syu’aib al-Nasa’i, Al-Sunan al-Kubra, Muassasah al-Risalah,
Beirut, 2001 M, Jilid 10 , Halaman 405, Hadits nomor 11853.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar