55. Takwa Adalah Penjaga Dan Senjata Orang Beriman
Keistimewaan takwa ke lima puluh lima “Takwa adalah penjaga dan senjata orang beriman” keistimewaan ini di dasari Hadits di dalam kitab Hilyatul Aulia wa Thabaqatul Ashfiya, di dalamnya digambarkan bahwa sesungguhnya seorang mukmin tidak pernah merasa aman terhadap hatinya, tidak pernah merasa tenang dari kekhawatirannya, dan tidak merasa tenteram dari gejolaknya. Ia selalu mengharapkan kematian pada pagi dan sore hari. Ketakwaan adalah penjaganya, Al-Qur'an adalah penunjuk jalannya, rasa takut adalah hujjahnya, kehormatan adalah kendaraannya;
حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْكِنَانِيُّ،
ثَنَا أَبُو الْحَرِيشِ الْكِلَابِيُّ، ثَنَا عَلِيُّ بْنُ يَزِيدَ بْنِ بَهْرَامَ،
ثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ أَبِي كَرِيمَةَ، عَنْ أَبِي حَاجِبٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
بْنِ غَنْمٍ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
, أَنَّهُ قَالَ: «يَا مُعَاذُ إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَدَى الْحَقِّ أَسِيرٌ , يَعْلَمُ
أَنَّ عَلَيْهِ رَقِيبًا عَلَى سَمْعِهِ , وَبَصَرِهِ , وَلِسَانِهِ , وَيَدِهِ، وَرِجْلِهِ،
وَبَطْنِهِ، وَفَرْجِهِ، حَتَّى اللَّمْحَةُ بِبَصَرِهِ , وَفُتَاتُ الطِّينِ بِأُصْبُعِهِ
, وَكُحْلُ عَيْنَيْهِ , وَجَمِيعُ سَعْيِهِ , إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَا يَأْمَنُ قَلْبَهُ
, وَلَا يُسْكِنُ رَوْعَتَهُ , وَلَا يَأْمَنُ اضْطِرَابَهُ , يَتَوَقَّعُ الْمَوْتَ
صَبَاحًا وَمَسَاءً , فَالتَّقْوَى رَقِيبُهُ , وَالْقُرْآنُ دَلِيلُهُ , وَالْخَوْفُ
حُجَّتُهُ , وَالشَّرَفُ مَطِيَّتُهُ , وَالْحَذَرُ قَرِينُهُ , وَالْوَجَلُ شِعَارُهُ
, وَالصَّلَاةُ كَهْفُهُ , وَالصِّيَامُ جَنَّتُهُ , وَالصَّدَقَةُ فِكَاكُهُ , وَالصِّدْقُ
وَزِيرُهُ , وَالْحَيَاءُ أَمِيرُهُ , وَرَبُّهُ تَعَالَى مِنْ وَرَاءِ ذَلِكَ كُلِّهِ
بِالْمِرْصَادِ , يَا مُعَاذُ إِنَّ الْمُؤْمِنَ قَيْدُهُ الْقُرْآنُ عَنْ كَثِيرٍ
مِنْ هَوَى نَفْسِهِ وَشَهَوَاتِهِ , وَحَالَ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَنْ يَهْلِكَ فِيمَا
يَهْوَى بِإِذْنِ اللهِ , يَا مُعَاذُ إِنِّي أُحِبُّ لَكَ مَا أُحِبُّ لِنَفْسِي ,
وَأَنْهَيْتُ إِلَيْكَ مَا أَنْهَى إِلَيَّ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلَامُ , فَلَا
أَعْرِفَنَّكَ تُوَافِينِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَحَدٌ أَسْعَدُ بِمَا أَتَاكَ اللهُ
عَزَّ وَجَلَّ مِنْكَ [1] »
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Al-Abbas bin Muhammad Al-Kinani, telah menceritakan kepada
kami Abu Al-Harits Al-Kilabi, telah menceritakan kepada kami Ali bin Yazid bin Bahram,
telah menceritakan kepada kami Abdul Malik bin Abi Karimah, dari Abu Hajib, dari
Abdurrahman bin Ghanm, dari Mu’adz bin Jabal, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda: "Wahai Mu’adz, sesungguhnya seorang
mukmin itu di hadapan kebenaran seperti seorang tawanan. Ia mengetahui bahwa ada
pengawas terhadap pendengarannya, penglihatannya, lisannya, tangannya, kakinya,
perutnya, dan kemaluannya. Bahkan, pada sekecil-kecilnya seperti lirikan matanya,
remahan tanah di jarinya, celak di matanya, dan segala usahanya. Sesungguhnya seorang
mukmin tidak pernah merasa aman terhadap hatinya, tidak pernah merasa tenang dari
kekhawatirannya, dan tidak merasa tenteram dari gejolaknya. Ia selalu mengharapkan
kematian pada pagi dan sore hari. Ketakwaan adalah penjaganya, Al-Qur'an adalah
penunjuk jalannya, rasa takut adalah hujjahnya, kehormatan adalah kendaraannya,
kehati-hatian adalah pendampingnya, rasa cemas adalah lambangnya, salat adalah bentengnya,
puasa adalah pelindungnya, sedekah adalah pembebasnya, kejujuran adalah pembantunya,
dan rasa malu adalah pemimpinnya. Rabb-nya yang Maha Tinggi mengawasi segala sesuatu
di atas semuanya. Wahai Mu’adz, sesungguhnya seorang mukmin itu dikendalikan oleh
Al-Qur'an dari banyak keinginan hawa nafsunya dan syahwatnya. Al-Qur'an menghalanginya
dari kebinasaan dalam apa yang diinginkannya dengan izin Allah. Wahai Mu’adz, sesungguhnya
aku mencintaimu sebagaimana aku mencintai diriku sendiri. Dan aku telah menyampaikan
kepadamu apa yang Jibril عليه
السلام sampaikan kepadaku. Maka jangan sampai aku menemui engkau pada
hari kiamat sementara ada seseorang yang lebih berbahagia dengan apa yang Allah
عزّ وجلّ berikan kepadamu daripada
engkau sendiri."
Sedangkan di dalam
kitab Hilyatul
Aulia wa Thabaqatul Ashfiya dinyatakan tidak ada senjata yang lebih utama dari takwa;
حَدَّثَنَا أَبِي رَحِمَهُ اللهُ، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ
مُحَمَّدِ بْنِ عُمَرَ، ثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْأُمَوِيُّ، ثَنَا مُحَمَّدُ
بْنُ يَحْيَى بْنِ أَبِي حَاتِمٍ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ هَانِئٍ، عَنْ بَعْضِ
أَصْحَابِهِ قَالَ: " قَالَ رَجُلٌ لِأَبِي حَازِمٍ إِنَّكَ مُتَشَدِّدٌ، فَقَالَ
أَبُو حَازِمٍ: " وَمَا لِي لَا أَتَشَدَّدُ وَقَدْ تَرَصَّدَنِي أَرْبَعَةُ عَشَرَ
عَدُوًّا، أَمَّا أَرْبَعَةٌ: فَشَيْطَانٌ يَفْتِنُنِي، وَمُؤْمِنٌ يَحْسُدُنِي، وَكَافِرٌ
يَقْتُلُنِي، وَمُنَافِقٌ يُبْغِضُنِي، وَأَمَّا الْعَشَرَةُ فَمِنْهَا: الْجُوعُ،
وَالْعَطَشُ، وَالْحَرُّ، وَالْبَرْدُ، وَالْعُرْيُ، وَالْهَرَمُ، وَالْمَرَضُ، وَالْفَقْرُ،
وَالْمَوْتُ، وَالنَّارُ، وَلَا أَطِيقُهُنَّ إِلَّا بِسِلَاحٍ تَامٍّ، وَلَا أَجِدُ
لَهُنَّ سِلَاحًا أَفْضَلَ مِنَ التَّقْوَى " [2]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami ayahku (semoga Allah merahmatinya), dia berkata: Ahmad
bin Muhammad bin Umar telah menceritakan kepada kami, Abdullah bin Muhammad al-Umawi
telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Yahya bin Abi Hatim telah menceritakan
kepada kami, Muhammad bin Hani menceritakan kepadaku dari sebagian sahabatnya, dia
berkata: Seorang lelaki berkata kepada Abu Hazim, "Engkau terlalu keras (dalam
beragama)." Maka Abu Hazim menjawab: "Mengapa aku tidak bersikap keras,
padahal ada empat belas musuh yang mengintai diriku. Empat di antaranya: setan yang
berusaha menyesatkanku, orang beriman yang dengki padaku, orang kafir yang ingin
membunuhku, dan orang munafik yang membenciku. Adapun sepuluh yang lainnya adalah:
lapar, haus, panas, dingin, telanjang (kekurangan pakaian), usia tua, sakit, kemiskinan,
kematian, dan neraka. Aku tidak bisa menghadapi semuanya kecuali dengan senjata
yang sempurna, dan aku tidak menemukan senjata yang lebih baik dari takwa."
Adapun di dalam kitab
Mustadrak ‘Ala Shahihain Hadits nomor 1812 dinyatakan bahwa Doa adalah senjata
orang beriman, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi;
أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ
اللَّهِ الزَّاهِدُ الْأَصْبَهَانِيُّ، ثنا أَبُو بَكْرٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ
بْنِ عُبَيْدٍ الْقُرَشِيُّ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ حَمَّادٍ الضَّبِّيُّ، ثنا مُحَمَّدُ
بْنُ الْحَسَنِ بْنِ الزُّبَيْرِ الْهَمْدَانِيُّ، ثنا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ
عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ عَلِيٍّ ، قَالَ: قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «الدُّعَاءُ سِلَاحُ الْمُؤْمِنِ، وَعِمَادُ الدِّينِ، وَنُورُ
السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ» "[3]
Artinya: Abu Abdullah
Muhammad bin Abdullah al-Zahid al-Ashbahani memberitahu kami, Abu Bakar Abdullah
bin Muhammad bin Ubaid al-Qurasyi memberitahu kami, al-Hasan bin Hammad ad-Dhabbi
memberitahu kami, Muhammad bin al-Hasan bin az-Zubair al-Hamdani memberitahu kami,
Ja'far bin Muhammad bin Ali bin al-Husain, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Ali
radhiyallahu 'anhum, berkata: Rasulullah ﷺ, bersabda: "Doa adalah
senjata orang beriman, tiang agama, dan cahaya langit dan bumi."
Ketakwaan adalah
penjaga dan senjata orang beriman, dengan ketakwaannya orang selalu ingat
kepada Allah sehingga Allah menjaganya, dengan ketakwaannya orang selalu berdoa
dan bergantung kepada Allah, maka Allah melindungi dan menjaga keamannya untuk
selalu dalam kebaikan.
[1] Abu Nuaim, Hilyatul Aulia wa Thabaqatul
Ashfiya, Mathba’ah As Sa’adah, Mesir, 1409 H, Jilid 1 Hal. 23, Hadits tanpa nomor
[2] Abu Nuaim, Hilyatul Aulia wa Thabaqatul
Ashfiya, Mathba’ah As Sa’adah, Mesir, 1409 H, Jilid 3 Hal. 231, Hadits tanpa nomor
[3] Abu Abdullah Muhammad ibnu Abdullah al-Hakim, Mustadrak
‘Ala Shahihain, dar Al Kutub al-Ilmiyah, 1990, Beirut, Jilid 1, Halaman
229, nomor Hadits 1812.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar