43.
Rasulullah SAW Merupakan Imam Orang Yang Bertakwa
Keistimewaan takwa ke empat puluh tiga “Rasulullah SAW merupakan imam bagi orang yang bertakwa, keistimewaan ini tergambar di dalam kitab Sunan Ibnu Majah Hadits nomor 907, yang di dalamnya disebutkan pengajaran Abdullah ibnu Masud untuk bershalawat kepada Rasulullah ﷺ dengan menyebutnya sebagai Imam orang-orang bertakwa;
حَدَّثَنَا
الْحُسَيْنُ بْنُ بَيَانٍ حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا
الْمَسْعُودِيُّ عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي فَاخِتَةَ عَنْ
الْأَسْوَدِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ إِذَا
صَلَّيْتُمْ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَأَحْسِنُوا الصَّلَاةَ عَلَيْهِ فَإِنَّكُمْ لَا تَدْرُونَ لَعَلَّ ذَلِكَ
يُعْرَضُ عَلَيْهِ قَالَ فَقَالُوا لَهُ فَعَلِّمْنَا قَالَ قُولُوا اللَّهُمَّ
اجْعَلْ صَلَاتَكَ وَرَحْمَتَكَ وَبَرَكَاتِكَ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ
وَإِمَامِ الْمُتَّقِينَ وَخَاتَمِ النَّبِيِّينَ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ
إِمَامِ الْخَيْرِ وَقَائِدِ الْخَيْرِ وَرَسُولِ الرَّحْمَةِ اللَّهُمَّ
ابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا يَغْبِطُهُ بِهِ الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ اللَّهُمَّ
بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى
إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ [1]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Al Husain bin Bayan berkata: telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Abdullah berkata: telah menceritakan kepada kami Al Mas'udi dari Aun bin Abdullah dari Abu Fakhitah dari Al Aswad bin Yazid dari Abdullah bin Mas'ud ia berkata: "Jika kalian membaca shalawat kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam maka baguskanlah, sebab kalian tidak tahu, bisa jadi shalawat itu dihadirkan di hadapannya (Rasulullah ﷺ). " Al Aswad berkata: "Orang-orang pun berkata Abdullah bin Mas'ud, "Ajarkanlah kepada kami, " Abdullah bin Mas'ud berkata: "Bacalah: Ya Allah, jadikanlah shalawat, rahmat dan berkah-Mu kepada pemimpin para Nabi yang diutus, imam orang-orang yang bertakwa dan penutup para Nabi, Muhammad, hamba dan rasul-Mu. Seorang imam dan pemimpin kebaikan, serta rasul pembawa rahmat. Ya Allah, bangkitkanlah ia pada kedudukan yang terpuji, kedudukan yang menjadikan iri orang-orang terdahulu dan yang akan datang. Ya Allah, berilah shalawat kepada Muhammad ﷺ dan keluarganya sebagaimana Engkau memberi shalawat kepada Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Agung. "
Shalawat kepada Rasulullah ﷺ dengan menyebutnya sebagai Imam orang-orang bertakwa, juga disebutkan di dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabir
Li Al-Thabarani Hadits nomor 8595;
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ
الدَّبَرِيُّ، عَنْ عَبْدِ الرَّزَّاقِ، عَنِ الثَّوْرِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ،
عَنْ عَوْنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، عَنْ رَجُلٍ، عَنِ الْأَسْوَدِ بْنِ يَزِيدَ، عَنِ
ابْنِ مَسْعُودٍ، أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: «اللهُمَّ اجْعَلْ صَلَوَاتِكَ
وَرَحْمَتَكَ عَلَى سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ، وَإِمَامِ الْمُتَّقِينَ، وَخَاتَمِ
النَّبِيِّينَ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، إِمَامِ الْخَيْرِ، وَقَائِدِ
الْخَيْرِ، وَرَسُولِ الرَّحْمَةِ، اللهُمَّ ابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا
يَغْبِطُهُ بِهِ الْأَوَّلُونَ وَالْآخَرُونَ، اللهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ
وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ،
اللهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى
آلِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ» وَأَبُو سَلَمَةَ هَذَا الَّذِي رَوَى
عَنْهُ الثَّوْرِيُّ هَذَا الْحَدِيثَ: مِسْعَرُ بْنُ كِدَامٍ [2] "
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim ad-Dabari, dari ‘Abdur Razzaq, dari ats-Tsauri, dari Abu Salamah, dari ‘Aun bin ‘Abdillah, dari seorang laki-laki, dari Al-Aswad bin Yazid, dari Ibnu Mas‘ud, bahwa beliau biasa berdoa: “Ya Allah, limpahkanlah salawat dan rahmat-Mu kepada penghulu para rasul, imam orang-orang bertakwa, dan penutup para nabi (Muhammad ﷺ), hamba dan utusan-Mu, pemimpin kebaikan, pembimbing kebaikan, serta rasul pembawa rahmat. Ya Allah, bangkitkanlah beliau pada kedudukan yang terpuji, yang membuat para pendahulu dan orang-orang kemudian merasa iri (dalam makna kagum). Ya Allah, limpahkanlah salawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah melimpahkan salawat kepada keluarga Ibrahim; sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim; sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” Dan Abu Salamah yang diriwayatkan hadits ini darinya oleh ats-Tsauri adalah Mis‘ar bin Kidam.
Setelah wafatnya Rasulullah ﷺ Ali bin Abi Thalib telah dikhabarkan Rasulullah menjadi imam bagi orang bertakwa,
Sebagaimana disebutkan di dalam kitab Al-Mujam Al-Thabarani Al-Shaghir hadits nomor
1012, di dalamnya dinyatakan bahwa Sesungguhnya
Allah Azza wa Jalla telah mewahyukan kepadaku (Rasulullah ﷺ) tentang Ali tiga
hal pada malam aku diisra'kan, bahwa dia adalah pemimpin orang-orang beriman, imam
orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin orang-orang yang bercahaya wajahnya (ghurrul
muhajjallin);
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُسْلِمِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ
الأَشْعَرِيُّ الأَصْبَهَانِيُّ ، حَدَّثَنَا مُجَاشِعُ بْنُ عَمْرٍو ، بِهَمْدَانَ
، سَنَةَ خَمْسٍ وَثَلاثِينَ وَمِئَتَيْنِ ، حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ سَوَادَةَ الرَّازِيُّ
، حَدَّثَنَا هِلالُ بْنُ أَبِي حُمَيْدٍ الْوَزَّانُ ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُكَيْمِ
الْجُهَنِيِّ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنَّ
اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَوْحَى إِلَيَّ فِي عَلِيٍّ ثَلاثَةَ أَشْيَاءَ لَيْلَةَ أُسْرِيَ
بِي ، أَنَّهُ سَيِّدُ الْمُؤْمِنِينَ ، وَإِمَامُ الْمُتَّقِينَ ، وَقَائِدُ الْغُرِّ
الْمُحَجَّلِينَ. لَمْ يَرْوِهِ عَنْ هِلالٍ ، إِلَّاعِيسَى ، تَفَرَّدَ بِهِ مُجَاشِعٌ [3]
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami Muhammad bin Muslim bin Abdul Aziz Al-Ash'ari Al-Isfahani, telah menceritakan
kepada kami Mujasyi' bin 'Amr, di Hamadhan, pada tahun dua ratus tiga puluh lima
Hijriah, telah menceritakan kepada kami Isa bin Sawadah Ar-Razi, telah menceritakan
kepada kami Hilal bin Abi Humaid Al-Wazzan, dari Abdullah bin Ukaim Al-Juhani, ia
berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah
Azza wa Jalla telah mewahyukan kepadaku tentang Ali tiga hal pada malam aku diisra'kan,
bahwa dia adalah pemimpin orang-orang beriman, imam orang-orang yang bertakwa, dan
pemimpin orang-orang yang bercahaya wajahnya (ghurrul muhajjallin)." Tidak
ada yang meriwayatkannya dari Hilal kecuali Isa, dan yang meriwayatkannya adalah
Mujasyi'.
Demikian juga di dalam kitab Mustadrak
Hakim hadits nomor 4668 juga dinyatakan bahwa
Telah diwahyukan kepadaku tentang Ali tiga hal: bahwa dia adalah pemimpin
kaum Muslimin, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin orang-orang yang bercahaya
wajahnya (ghurul muhajjalin)
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ، أَنْبَأَ
مُحَمَّدُ بْنُ أَيُّوبَ، أَنَا عَمْرُو بْنُ الْحُصَيْنِ الْعُقَيْلِيُّ،
أَنْبَأَ يَحْيَى بْنُ الْعَلَاءِ الرَّازِيُّ، ثنا هِلَالُ بْنُ أَبِي حُمَيْدٍ،
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَسْعَدَ بْنِ زُرَارَةَ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: " أُوحِيَ إِلَيَّ فِي عَلِيٍّ ثَلَاثٍ: أَنَّهُ سَيِّدُ
الْمُسْلِمِينَ، وَإِمَامُ الْمُتَّقِينَ، وَقَائِدُ الْغُرِّ الْمُحَجَّلِينَ
«هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ [4]
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami Abu Bakr bin Ishaq, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Ayyub,
telah menceritakan kepada kami Amr bin Al-Husain Al-'Aqeeli, telah mengabarkan kepada
kami Yahya bin Al-'Alaa' Ar-Razi, telah menceritakan kepada kami Hilal bin Abi Humaid,
dari Abdullah bin As'ad bin Zurarah, dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Telah diwahyukan kepadaku tentang Ali tiga hal:
bahwa dia adalah pemimpin kaum Muslimin, imam orang-orang yang bertakwa, dan pemimpin
orang-orang yang bercahaya wajahnya (ghurul muhajjalin)." Hadis ini shahih
isnadnya, namun tidak dikeluarkan oleh Bukhari dan Muslim.
Di dalam kitab Hilyatul Aulia
hadits nomor 215 digambarkan bahwa Rasulullah SAW memberikan ucapan kepada Ali Ibnu
Abi Thalib "Selamat datang, wahai pemimpin
kaum Muslimin dan imam orang-orang yang bertakwa.";
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عُمَرَ الْقَاضِي
الْقَصَبَانِيُّ، ثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْعَبَّاسِ الْبَجَلِيُّ، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ
يَحْيَى، ثَنَا الْحَسَنُ بْنُ الْحُسَيْنِ، ثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ
أَبِي إِسْحَاقَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، قَالَ: قَالَ عَلِيٌّ: قَالَ لِي
رَسُولُ اللهِ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: «مَرْحَبًا بسَيِّدِ الْمُسْلِمِينَ،
وَإِمَامِ الْمُتَّقِينَ»، فَقِيلَ لِعَلِيٍّ: فَأَيُّ شَيءٍ مِنْ شُكْرِكَ؟ قَالَ:
حَمِدْتُ اللهَ تَعَالَى عَلَى مَا أَتَانِي، وَسَأَلْتُهُ الشُّكْرَ عَلَى مَا آتَانِي
وَأَنْ يَزِيدَنِي مِمَّا أَعْطَانِي [5]
"
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami Umar bin Ahmad bin Umar Al-Qasabani, telah menceritakan kepada kami
Ali bin Al-Abbas Al-Bajali, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yahya, telah
menceritakan kepada kami Al-Hasan bin Al-Husain, telah menceritakan kepada kami
Ibrahim bin Yusuf bin Abi Ishaq, dari ayahnya, dari Asy-Sya'bi, ia berkata: Ali
berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadaku: "Selamat
datang, wahai pemimpin kaum Muslimin dan imam orang-orang yang bertakwa." Maka
dikatakan kepada Ali: "Apa yang engkau lakukan sebagai bentuk syukurmu?"
Ali berkata: "Aku memuji Allah Ta'ala atas apa yang diberikan kepadaku, dan
aku memohon kepada-Nya untuk memberiku rasa syukur atas apa yang telah diberikan
kepadaku dan agar Dia menambah apa yang telah diberikan kepadaku."
Sedangkan di dalam kitab Hilyatul
Auliya’ disebutkan bahwa 'Sesungguhnya Ali adalah panji petunjuk, pemimpin para
wali-Ku, cahaya bagi orang yang menaati-Ku. Ia adalah kalimat yang Aku tetapkan
bagi orang-orang yang bertakwa;
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ الطَّلْحِيُّ، ثَنَا مُحَمَّدُ
بْنُ عَلِيِّ بْنِ دُحَيْمٍ، ثَنَا عَبَّادُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ عَبَّادٍ الْجُعْفِيُّ،
ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْبُهْلُولِ، حَدَّثَنِي صَالِحُ بْنُ
أَبِي الْأَسْوَدِ، عَنْ أَبِي الْمُطَهَّرِ الرَّازِيِّ، عَنِ الْأَعْشَى الثَّقَفِيِّ،
عَنْ سَلَّامٍ لْجُعْفِيِّ، عَنْ أَبِي بَرْزَةَ،
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ اللهَ تَعَالَى
عَهِدَ إِلَيَّ عَهْدًا فِي عَلِيٍّ، فَقُلْتُ: يَا رَبِّ بَيِّنْهُ لِي، فَقَالَ:
اسْمَعْ فَقُلْتُ: سَمِعْتُ، فَقَالَ: إِنَّ عَلِيًّا رَايَةُ الْهُدَى، وَإِمَامُ
أَوْلِيَائِي، وَنُورُ مَنْ أَطَاعَنِي، وَهُوَ الْكَلِمَةُ الَّتِي أَلْزَمْتُهَا
الْمُتَّقِينَ، مَنْ أَحَبَّهُ أَحَبَّنِي، وَمَنْ أَبْغَضَهُ أَبْغَضَنِي، فَبَشَّرْهُ
بِذَلِكَ ". فَجَاءَ عَلِيٌّ فَبَشَّرْتُهُ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَنَا
عَبْدُ اللهِ، وَفِي قَبْضَتِهِ، فَإِنْ يُعَذِّبْنِي فَبِذَنْبِي، وَإِنْ يُتِمَّ
لِيَ الَّذِي بَشَّرْتَنِي بِهِ فَاللهُ أَوْلَى بِي، قَالَ: " قُلْتُ: اللهُمَّ
اجْلُ قَلْبَهُ، وَاجْعَلْ رَبِيعَهَ الْإِيمَانَ " فَقَالَ اللهُ: قَدْ فَعَلْتُ
بِهِ ذَلِكَ، ثُمَّ إِنَّهُ رُفِعَ إِلَيَّ أَنَّهُ سَيَخُصُّهُ مِنَ الْبَلَاءِ بِشَيْءٍ
لَمْ يَخُصَّ بِهِ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِي، فَقُلْتُ: يَا رَبِّ أَخِي وَصَاحِبِي،
فَقَالَ: إِنَّ هَذَا شَيْءٌ قَدْ سَبَقَ، إِنَّهُ مُبْتَلًى، وَمُبْتَلًى بِهِ [6] "
Artinya: Telah menceritakan kepada
kami Abu Bakar Ath-Thalhi.Dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin
Ali bin Duhim. Dia berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Abbad bin Sa’id bin
‘Abbad Al-Ju’fi. Dia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Utsman
bin Abi Al-Buhlul. Dia berkata: Telah menceritakan kepada saya Shalih bin Abi Al-Aswad.
Dari Abu Al-Muthahhar Ar-Razi. Dari Al-A’sya
Ats-Tsaqafi. Dari Salam Al-Ju’fi. Dari Abu Barzah berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta’ala telah berjanji
kepadaku suatu janji mengenai Ali. Maka aku berkata, 'Ya Rabb, jelaskanlah itu kepadaku.'
Allah berfirman, 'Dengarkanlah.' Maka aku berkata, 'Aku mendengar.' Allah berfirman,
'Sesungguhnya Ali adalah panji petunjuk, pemimpin para wali-Ku, cahaya bagi orang
yang menaati-Ku. Ia adalah kalimat yang Aku tetapkan bagi orang-orang yang bertakwa.
Barang siapa mencintainya, maka ia mencintai-Ku. Barang siapa membencinya, maka
ia membenci-Ku. Maka sampaikanlah kabar gembira ini kepadanya.' Kemudian Ali datang, lalu aku sampaikan kabar
gembira itu kepadanya. Maka Ali berkata, 'Wahai Rasulullah, aku adalah hamba Allah
dan berada dalam genggaman-Nya. Jika Allah mengazabku, itu karena dosaku. Namun,
jika Allah menyempurnakan untukku apa yang engkau kabarkan, maka hanya Allah yang
lebih berhak untuk itu.' Lalu Rasulullah ﷺ berdoa,
'Ya Allah, bersihkanlah hatinya, dan jadikanlah keimanannya sebagai musim semi hatinya.'
Allah berfirman, 'Aku telah melakukannya untuknya.' Kemudian ditampakkan kepadaku bahwa Ali akan diuji
dengan suatu cobaan yang tidak akan dialami oleh seorang pun dari sahabatku. Maka
aku berkata, 'Ya Rabb, dia adalah saudaraku dan sahabatku.' Allah berfirman, 'Ini
adalah sesuatu yang telah ditetapkan. Sesungguhnya dia akan diuji dan akan menjadi
ujian bagi orang lain.'"
Ali bin Abi Thalib merupakan
imam bagi orang bertakwa setelah wafatnya Rasulullah SAW, selain itu Ali bin
Abi Thalib juga merupakan pintu ilmu, sebagaimana disebutkan di dalam kitab
Mustadrak Imam Hakim hadits nomor 4637;
حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ
يَعْقُوبَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ الْهَرَوِيُّ، بِالرَّمْلَةِ،
ثنا أَبُو الصَّلْتِ عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ صَالِحٍ، ثنا أَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ
الْأَعْمَشِ، عَنْ مُجَاهِدٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ:
«أَنَا مَدِينَةُ الْعِلْمِ وَعَلِيٌّ بَابُهَا، فَمَنْ أَرَادَ الْمَدِينَةَ
فَلْيَأْتِ الْبَابَ» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ [7]
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami Abu al-‘Abbas Muhammad bin Ya‘qub, telah menceritakan kepada kami
Muhammad bin ‘Abd ar-Rahim al-Harawi di Ramla, telah menceritakan kepada kami
Abu ash-Shalt ‘Abdus Salam bin Shalih, telah menceritakan kepada kami Abu
Mu‘awiyah, dari al-A‘masy, dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku
adalah kota ilmu, dan Ali adalah pintunya. Maka siapa yang ingin (memasuki)
kota itu, hendaklah ia datang melalui pintunya.” Hadis ini memiliki sanad yang
sahih, namun tidak diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Gambaran hamba-hamba Allah
yang Maha Pengasih disebutkan di dalam Al Quran surat Al Furqan/ 25 mulai ayat
63 hingga di ayat 74 disebutkan salah satu gambarannya adalah memohon dijadikan
sebagi imam orang bertakwa;
وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ
أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا
Artinya: Dan orang orang yang
berkata: "Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan
keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi
orang-orang yang bertakwa.
Di dalam kitab tafsir Ahkam
Al Quran Li bakri ibnu al ‘Alai, Bakr Ibnu Al ‘Alai (Wafat 344 H), makna jadikanlah
kami sebagai imam orang-orang bertakwa adalah sebagai berikut;
قال اللَّه عز وجل: ﴿وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ
إِمَامًا﴾ قال الحسن، ومجاهد: ﴿لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا﴾:
نأْتَمّ بمَن قبلَنا، ويَأْتَمّ بنا مَن بعدَنا.وقال الأحوص بن
حكيم، عن أبي الزاهرية، عن جُبَيْر بن نُفَيْر، أن رسول اللَّه -ﷺ- قال: "من
رُزق إيمانًا وحسن خلق، فذاك إمام المتقين [8] ".
“Allah ‘Azza wa Jalla
berfirman: “Dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
(QS. Al-Furqan: 74) Al-Hasan dan Mujahid menafsirkan firman Allah: “(Jadikanlah
kami) pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa”
maksudnya: “Kami mengikuti (meneladani) orang-orang bertakwa sebelum
kami, dan orang-orang yang datang sesudah kami akan mengikuti kami.” Dan
al-Ahwash bin Hakim, dari Abu az-Zahiriyyah, dari Jubair bin Nufair,
meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:“Barang siapa diberi rezeki berupa iman dan akhlak yang baik, maka
dialah pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.”
[1] Ibnu
Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab
Al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 1, Halaman 293, Hadits nomor 907.
[2] Abu
Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir li-Thabarani, Maktabah Ibnu
Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 9, Halaman 115, Hadits nomor 8595.
[3] Abu
Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Shagir li-Thabarani, Maktab Al Islami, Beirut,
1985, Jilid 2, Halaman 192, Hadits nomor 1012.
[4] Abdullah
Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Al Kitab
Al-Alamiyah, Beirut, 1990, Jilid 3, Halaman 138, Hadits nomor 4668.
[5] Abu
Nu’aim Ahmad ibn Abdullah Al-Ashbahani, Hilyatul Auliya’ Wa Thabaqatul
Ashfiya’, Mathba’ah Sa’adah, Mesir, 1974. Jilid 1 Halaman 66, Tanpa Nomor.
[6] Abu
Nu’aim Ahmad ibn Abdullah Al-Ashbahani, Hilyatul Auliya’ Wa Thabaqatul
Ashfiya’, Mathba’ah Sa’adah, Mesir, 1974. Jilid 1 Halaman 67, Tanpa Nomor.
[7] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Al Kitab Al-Alamiyah, Beirut, 1990, Jilid 3, Halaman 137, Hadits nomor 4638.
[8] Abu A-Fudzail Bakr Ibn Muhammad Ibn Al ‘Alai Al-Qusyairi, Ahkam Al Quran, Al-Imarah Al-Arabiyah Al-Mutahidah, Jilid 2, halaman 258, Hadits nomor 74.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar