+ 10. TAQWA LEVEL HIDAYAH
Hidayah merupakan hak dan kehendak Allah,
sebagaimana tergambar di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 4494 berikut;
حَدَّثَنَا
أَبُو الْيَمَانِ: أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ: أَخْبَرَنِي
سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيِّبِ، عَنْ أَبِيهِ قَالَ: لَمَّا
حَضَرَتْ أَبَا طَالِبٍ الْوَفَاةُ، جَاءَهُ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ، فَوَجَدَ عِنْدَهُ
أَبَا جَهْلٍ وَعَبْدَ اللَّهِ بْنَ أَبِي أُمَيَّةَ بْنِ الْمُغِيرَةِ، فَقَالَ:
(أَيْ عَمِّ، قُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، كَلِمَةً أُحَاجُّ لَكَ بِهَا
عِنْدَ اللَّهِ). فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي أُمَيَّةَ:
أَتَرْغَبُ عَنْ مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، فَلَمْ يَزَلْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
يَعْرِضُهَا عَلَيْهِ، وَيُعِيدَانِهِ بِتِلْكَ الْمَقَالَةِ، حَتَّى قَالَ أَبُو
طَالِبٍ آخِرَ مَا كَلَّمَهُمْ: عَلَى مِلَّةِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، وَأَبَى أَنْ
يَقُولَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: (وَاللَّهِ لَأَسْتَغْفِرَنَّ
لَكَ مَا لَمْ أُنْهَ عَنْكَ). فَأَنْزَلَ اللَّهُ: ﴿مَا
كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ﴾. وَأَنْزَلَ
اللَّهُ فِي أَبِي طَالِبٍ، فَقَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ ﷺ: ﴿إِنَّكَ
لا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ﴾. [1]
Artinya: Said bin
al-Musayyib meriwayatkan dari ayahnya bahwa ketika Abu Thalib berada dalam
sakaratul maut, Rasulullah ﷺ datang
menemuinya dan mendapati Abu Jahl serta Abdullah bin Abi Umayyah bin
al-Mughirah berada di sisinya. Rasulullah ﷺ berkata
kepadanya, “Wahai Paman, ucapkanlah La ilaha illa Allah, satu kalimat
yang akan aku jadikan hujjah bagimu di hadapan Allah.” Namun Abu Jahl dan
Abdullah bin Abi Umayyah berkata, “Apakah engkau membenci agama Abdul
Muththalib?” Nabi ﷺ terus mengulang-ulang permintaannya,
sementara keduanya juga terus mengulangi ucapan itu, hingga akhirnya Abu Thalib
berkata kepada mereka berdua sebagai ucapan terakhirnya: “(Aku tetap) di atas
agama Abdul Muththalib,” dan ia enggan mengucapkan La ilaha illa Allah.
Maka Rasulullah ﷺ bersabda, “Demi Allah, aku
benar-benar akan memohonkan ampun untukmu selama aku tidak dilarang
melakukannya.” Lalu Allah menurunkan ayat: “Tidak pantas bagi Nabi dan
orang-orang beriman memohonkan ampun bagi orang-orang musyrik…” dan Allah
menurunkan ayat lain tentang Abu Thalib: “Sesungguhnya engkau (Muhammad)
tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah
memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.”
Untuk dapat
memberikan gambaran menyeluruh mengenai takwa level hidayah di bab ini akan
dikemukakan pembahasan tentang;
1. Pengertian Hidayah,
2. Hikmah Hidayah,
3. Keistimewaan Orang Yang Mendapat Hidayah,
4. Karakter Orang Yang Mendapat Hidayah,
5. Takwa Di Tingkat Hidayah,
Adapun pembahasannya
adalah sebagai berikut;
1. Pengertian Hidayah
Berdasar
penelusuran terhadap ayat-ayat Al Quran yang berkaitan dengan kata hidayah,
ditemukan dua kata dasar sebagai pembentuk pengertian hidayah, yang dari
keduanya dapat ditarik gambaran pengertian
tentang petunjuk, adapun kata dasar tersebut adalah sebagai berikut;
1.1. Hada-Yahdi-Hidayatan
Kata Hidayah berasal dari
kata hada-yahdi-hidayatan, artinya; memandu, menunjukkan jalan,
menuntun, membimbing, menunjuki. di dalam Al Quran ditemukan 316 kata yang
terbentuk dari kata dasar hada, yang ditemukan di 268 ayat, ayat-ayat r
tersebut antara lain;
1.1.1. Al Quran surat Al Qashash/ 28: 56
إِنَّكَ
لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ وَهُوَ
أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya: Sesungguhnya kamu
tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah
memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui
orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al Qashas/28: 56)
1.1.2. Al Quran surat An Nur/ 26 : 35
اللَّهُ
نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ مَثَلُ نُورِهِ كَمِشْكَاةٍ فِيهَا مِصْبَاحٌ
الْمِصْبَاحُ فِي زُجَاجَةٍ الزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ دُرِّيٌّ يُوقَدُ
مِن شَجَرَةٍ مُّبَارَكَةٍ زَيْتُونَةٍ لَّا شَرْقِيَّةٍ وَلَا غَرْبِيَّةٍ
يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٍ
يَهْدِي اللَّهُ لِنُورِهِ مَن يَشَاءُ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ
وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ ﴿النور: ٣٥﴾
Artinya: Allah (Pemberi)
cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti
sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di
dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara,
yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang berkahnya, (yaitu) pohon zaitun
yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah
barat(nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak
disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada
cahaya-Nya siapa yang dia kehendaki, dan Allah memperbuat
perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(QS. An Nur/ 24: 35)
1.1.3. Al Quran surat Asy-Syura/ 42: 52
وَكَذَلِكَ
أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِنْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ
وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ
عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Artinya: Dan demikianlah Kami
wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu
tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui apakah
iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia
siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu
benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy-Syura/ 42: 52)
1.1.4. Al Quran surat Al-Maidah/ 5: 16
يَهْدِي
بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ
الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Artinya: Dengan kitab
itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan
keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu
dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan
menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. Al-Maidah/ 5: 16)
1.1.5. Al Quran surat Al Fatihah/ 1: 6-7
اهْدِنَا
الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ
الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Artinya: Tunjukilah kami
jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat
kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka
yang sesat. (QS. Al Fatihah/ 1: 6-7)
Dari empat ayat di atas di
dalamnya terdapat kata tahdi / yahdi / nahdi yang artinya memberi petunjuk, kata tersebut
mengandung pengertian bahwa yang memiliki kuasa untuk memberi petunjuk kepada
manusia hanyalah Allah, sehingga manusia akan mendapat hidayah jika dikehendaki
Allah, dan manusia tidak dapat memberi hidayah kepada orang lain, termasuk
orang yang dicintai.
Sehingga manusia harus
terus-menerus memohon hidayah kepada Allah, agar dapat hidup dalam petunjuk
Allah, sebagaimana permohonan yang tertuang di dalam Al Quran surat Al Fatihah/
1: 6-7, yang di dalamnya diawali dengan kata ihdina, yang mengandung
pengertian permohonan kepada Allah untuk diberi petunjuk, dimana ayat ini harus
dibaca setiap hari di dalam shalat lima waktu.
1.2. Ihtada-Yahtadi-Ihtida’an
Sedangkan di dalam ayat-ayat
berikut di dalamnya terdapat kata ihtada, yang terbentuk dari kata dasar
hada ditambah huruf alif
dan ta’, sehingga mengalami perubahan arti hada artinya;
menunjuki, memberi petunjuk, sedangkan ihtada artinya: menerima
petunjuk, memperoleh petunjuk, mendapati petunjuk, di dalam Al Quran kata yang
terbentuk dari kata dasar ihtada ditemukan sebanyak 46 kata, dengan
rincian; kata ihtada diulang sebanyak 9 kali di 9 ayat, kata yahtadi
3 kali di 3 ayat, kata yahtadun 10 kali di 10 ayat, kata tahtadi
1 kali dalam 1 ayat, kata tahtadun 6 kali di 6 ayat, muhtadin 9
kali dalam 9 ayat, kata muhtadun 8 kali dalam 8 ayat, di sini akan dikemukakan
sebagian dari ayat-ayat tersebut antara lain sebagai berikut;
1.2.1. Al Quran Surat Yunus/ 10: 108
قُلْ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَنِ اهْتَدَىٰ
فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَمَا
أَنَا عَلَيْكُم بِوَكِيلٍ ﴿يونس: ١٠٨﴾
Artinya: Katakanlah:
"Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari
Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya
(petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka
sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah
seorang penjaga terhadap dirimu". (QS. Yunus/ 10: 108)
1.2.2. Al Quran Surat An Naml/ 27: 92
وَأَنْ
أَتْلُوَ الْقُرْآنَ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ وَمَن
ضَلَّ فَقُلْ إِنَّمَا أَنَا مِنَ الْمُنذِرِينَ ﴿النمل: ٩٢﴾
Artinya: Dan supaya aku
membacakan Al Quran (kepada manusia). Maka barangsiapa yang mendapat petunjuk
maka sesungguhnya ia hanyalah mendapat petunjuk untuk (kebaikan) dirinya, dan
barangsiapa yang sesat maka katakanlah: "Sesungguhnya aku (ini) tidak lain
hanyalah salah seorang pemberi peringatan". (QS. An Naml/ 27: 92)
1.2.3. Al Quran Surat An Nahl/ 16: 125
ادْعُ
إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم
بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ
وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ ﴿النحل: ١٢٥﴾
Artinya: Serulah (manusia)
kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah
mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui
tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui
orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An Nahl/ 16: 125)
1.2.4. Al Quran Surat Al An’am/ 6: 82
الَّذِينَ
آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ
وَهُم مُّهْتَدُونَ
Artinya: Orang-orang yang
beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik),
mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang
mendapat petunjuk. (QS. Al An’am/ 6: 82)
Dari dua kelompok
asal kata hada dan ihtada di atas, dapat dipahami bahwa
hakekatnya hidayah merupakan bagian dari kuasa Allah untuk memberikannya kepada
seseorang yang dikehendakinya, namun di sisi lain seseorang dapat
memperoleh; menerima; mendapatkan hidayah
untuk dirinya sendiri, juga dapat menjadi perantara hidayah bagi orang lain.
Maka di sini perlu dirumuskan bahwa hidayah adalah petunjuk atau bimbingan dari
Allah secara langsung, atau melalui ayat-ayat-Nya, Rasul-Rasulnya, atau orang
lain untuk menerima dan mengikuti kebenaran petunjuk.
2. Hikmah Hidayah
Berikut akan dikemukakan beberapa hikmah yang berkaitan dengan hidayah yang termuat di dalam Al Quran maupun Hadits Rasulullah SAW;
2.1. Sesungguhnya Kami Telah Menunjukinya Jalan Yang
Lurus; Ada Yang Bersyukur Dan Ada Pula Yang Kafir
Di dalam Al Quran surat
Al-Insan/ 76: 3 ditegaskan bahwa sesungguhnya Kami telah menunjukinya jalan
yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir;
إِنَّا هَدَيْنَاهُ السَّبِيلَ إِمَّا شَاكِرًا
وَإِمَّا كَفُورًا
Artinya: Sesungguhnya
Kami telah menunjukinya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang
kafir.(QS. Al-Insan/ 76: 3)
2.2. Sebaik-Baik Petunjuk Adalah Petunjuk Muhammad ﷺ
Di dalam kitab shahih Bukhari
hadits nomor 5767 dinyatakan bahwa sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk
Muhammad ﷺ;
حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ: حَدَّثَنَا
شُعْبَةُ، عَنْ مُخَارِقٍ: سَمِعْتُ طَارِقًا قَالَ: قَالَ عَبْدُ اللَّهِ: إِنَّ
أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ تعالى، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ
مُحَمَّدٍ ﷺ .(أحسن الحديث) خير الكلام وأفضله وأنفعه.
(أحسن الهدي) السيرة والطريقة والمنهج. [2]
Artinya: Abu al-Walid
meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Syubah telah meriwayatkan kepada kami
dari Mukharriq, ia berkata: Aku mendengar Thariq berkata bahwa Abdullah (yakni
Abdullah bin Mas‘ud) mengatakan, “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah
Kitab Allah Ta‘ala, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ.” Makna “Ahsanal-hadîts” adalah ucapan yang paling baik, paling
utama, dan paling bermanfaat, sedangkan “Ahsanal-hady” adalah perjalanan hidup,
metode, dan tuntunan terbaik yang dibawa oleh Nabi ﷺ.
Di dalam kitab Shahih Bukhari
hadits nomor 6735 ditegaskan bahwa dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk
Muhammad ﷺ;
حَدَّثَنَا
آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ مُرَّةَ
سَمِعْتُ مُرَّةَ الْهَمْدَانِيَّ يَقُولُ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ إِنَّ أَحْسَنَ
الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَ إِنَّ مَا تُوعَدُونَ لَآتٍ وَمَا
أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ [3]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Adam bin Abu Iyas telah menceritakan kepada kami
Syu'bah telah mengabarkan kepada kami Amru bin Murrah, aku mendengar Murrah Al
Hamdani berkata, Abdullah berkata, "Sebaik-baik pembicaraan adalah
kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ, dan seburuk-buruk perbuatan adalah perkara baru, "
kemudian beliau mengutip ayat: '(Apa yang dijanjikan untuk kalian pasti akan
datang) ' (Qs. Al an'aam: 134).
2.3. Barang Siapa Terkena Cahayanya Maka Telah
Mendapatkan Hidayah
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi
hadits nomor 2642 digambarkan bahwa barangsiapa sebagian dari cahaya tersebut
menimpanya niscaya dia mendapatkan hidayah;
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ حَدَّثَنَا
إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي عَمْرٍو السَّيْبَانِيِّ عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الدَّيْلَمِيِّ قَال سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرٍو
يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ خَلَقَ خَلْقَهُ فِي ظُلْمَةٍ فَأَلْقَى عَلَيْهِمْ
مِنْ نُورِهِ فَمَنْ أَصَابَهُ مِنْ ذَلِكَ النُّورِ اهْتَدَى وَمَنْ أَخْطَأَهُ
ضَلَّ فَلِذَلِكَ أَقُولُ جَفَّ الْقَلَمُ عَلَى عِلْمِ اللَّهِ قَالَ أَبُو عِيسَى
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ [4]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin 'Arafah
telah menceritakan kepada kami Ismail bin 'Ayyasy dari Yahya bin Abu 'Amru asy
Syaibani dari Abdullah bin ad Dailami dia berkata, aku mendengar Abdullah bin
'Amru berkata, Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah telah
menciptakan makhluknya dalam kegelapan, lalu Dia menimpakan sebagian dari
cahayaNya kepada mereka, maka barangsiapa sebagian dari cahaya tersebut
menimpanya niscaya dia mendapatkan hidayah, dan barangsiapa sebagian dari
cahaya tersebut tidak mengenainya niscaya dia akan tersesat. Oleh karena itu,
aku mengatakan; 'Pena telah kering berdasarkan pengetahuan Allah'." Abu
Isa berkata; 'Ini hadits hasan.'
2.4. Allah Memberi Petunjuk Kepada Orang Yang
Dikehendakinya
Di dalam Al Quran surat
Al-Baqarah/ 2: 272, Al-An'am/ 6: 88, Al-Qashash/ 28: 56, Al-Baqarah/ 2: 142,
An-Nur/ 24: 46 dan surat Yunus/ 10: 25
serta surat Al-Hajj/ 22: 16 dinyatakan bahwa Allah menunjuki orang yang
dikehendakinya;
لَيْسَ عَلَيْكَ هُدَاهُمْ وَلَكِنَّ اللَّهَ
يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ فَلِأَنْفُسِكُمْ وَمَا
تُنْفِقُونَ إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ وَمَا تُنْفِقُوا مِنْ خَيْرٍ
يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنْتُمْ لَا تُظْلَمُونَ
Artinya: Bukanlah
kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah-lah yang
memberi petunjuk (memberi taufiq) siapa yang dikehendaki-Nya. Dan apa saja
harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan allah), maka pahalanya itu untuk
kamu sendiri. Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari
keridhaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu
akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya
(dirugikan). (QS. Al-Baqarah/ 2: 272)
ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ
مِنْ عِبَادِهِ وَلَوْ أَشْرَكُوا لَحَبِطَ عَنْهُمْ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya: Itulah
petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang
dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan
Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan. (QS.
Al-An'am/ 6: 88)
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ
اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya: Sesungguhnya
kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi
Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih
mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.(QS. Al-Qashash/ 28: 56)
سَيَقُولُ السُّفَهَاءُ مِنَ النَّاسِ مَا
وَلَّاهُمْ عَنْ قِبْلَتِهِمُ الَّتِي كَانُوا عَلَيْهَا قُلْ لِلَّهِ الْمَشْرِقُ
وَالْمَغْرِبُ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Artinya: Orang-orang
yang kurang akalnya diantara manusia akan berkata: "Apakah yang
memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu
mereka telah berkiblat kepadanya?" Katakanlah: "Kepunyaan Allah-lah
timur dan barat; Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke
jalan yang lurus". (QS. Al-Baqarah/ 2: 142)
لَقَدْ أَنْزَلْنَا آيَاتٍ مُبَيِّنَاتٍ وَاللَّهُ
يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Artinya: Sesungguhnya
Kami telah menurunkan ayat-ayat yang menjelaskan. Dan Allah memimpin siapa yang
dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. An-Nur/ 24: 46)
وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ
وَيَهْدِي مَن يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ ﴿يونس: ٢٥﴾
Artinya: Allah menyeru
(manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya
kepada jalan yang lurus (Islam). (QS. Yunus/ 10: 25)
وَكَذَلِكَ أَنْزَلْنَاهُ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ
وَأَنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يُرِيدُ
Artinya: Dan demikianlah
Kami telah menurunkan Al Quran yang merupakan ayat-ayat yang nyata, dan
bahwasanya Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki.
(QS. Al-Hajj/ 22: 16)
2.5. Jika Dia Menghendaki, Pasti Dia Memberi Petunjuk
Kepada Kamu Semuanya
Di dalam Al Quran surat
Al-An'am/ 6: 149 dan surat An-Nahl/ 16:
9 ditegaskan jika Dia menghendaki, pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu
semuanya
قُلْ فَلِلَّهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ فَلَوْ
شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ
Artinya: Katakanlah:
"Allah mempunyai hujjah yang jelas lagi kuat; maka jika Dia menghendaki,
pasti Dia memberi petunjuk kepada kamu semuanya". (QS.
Al-An'am/ 6: 149)
وَعَلَى اللَّهِ قَصْدُ السَّبِيلِ وَمِنْهَا
جَائِرٌ وَلَوْ شَاءَ لَهَدَاكُمْ أَجْمَعِينَ
Artinya: Dan hak bagi
Allah (menerangkan) jalan yang lurus, dan di antara jalan-jalan ada yang
bengkok. Dan jikalau Dia menghendaki, tentulah Dia memimpin kamu semuanya
(kepada jalan yang benar). (QS. An-Nahl/ 16: 9)
2.6. Al Quran Adalah Petunjuk Bagi Manusia
Di dalam Al Quran surat
Al-Baqarah/ 2: 185 dan surat Ali-'Imran/ 3: 4 di nyatakan bahwa Al Quran
merupakan petunjuk bagi manusia;
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ
الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ
شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ
فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ
بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا
هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: (Beberapa hari
yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan
(permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan
mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena
itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan
itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau
dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak
hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki
kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu
mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya
yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur. (QS. Al-Baqarah/ 2: 185)
مِنْ قَبْلُ هُدًى لِلنَّاسِ وَأَنْزَلَ
الْفُرْقَانَ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ
وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ
Artinya: Sebelum (Al
Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan.
Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh
siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa).
2.7. Al-Quran Merupakan Petunjuk Serta Rahmat Dan Kabar
Gembira Bagi Orang-Orang Yang Berserah Diri
Di dalam Al Quran surat
An-Nahl/ 16: 89 dan 102 dinyatakan bahwa Al Quran merupakan petunjuk serta
rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri;
وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا
عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَى هَؤُلَاءِ
وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً
وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
Artinya: (Dan ingatlah)
akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas
mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi
atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk
menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi
orang-orang yang berserah diri. (QS. An-Nahl/ 16: 89)
قُلْ نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ
بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
Artinya: Katakanlah:
"Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar,
untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk
serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS.
An-Nahl/ 16: 102)
2.8. Al-Quran Merupakan Petunjuk Dan Kasih Sayang Bagi
Orang Beriman
Di dalam Al-Quran surat
Al-A'raf/ 7: 52, Yusuf/ 12: 111 dan An-Nahl/ 16: 64 serta . Al-A'raf/ 7:
203 dinyatakan bahwa Al-Quran Merupakan Petunjuk Dan Kasih Sayang Bagi Orang
Beriman;
وَلَقَدْ جِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ
عَلَى عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Artinya: Dan sesungguhnya
Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah
menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman. (QS. Al-A'raf/ 7: 52)
لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِأُولِي
الْأَلْبَابِ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفْتَرَى وَلَكِنْ تَصْدِيقَ الَّذِي بَيْنَ
يَدَيْهِ وَتَفْصِيلَ كُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Artinya: Sesungguhnya pada
kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai
akal. Al Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan
(kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai
petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS. Yusuf/
12: 111)
وَمَا أَنْزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ إِلَّا
لِتُبَيِّنَ لَهُمُ الَّذِي اخْتَلَفُوا فِيهِ وَهُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ
يُؤْمِنُونَ
Artinya: Dan Kami tidak
menurunkan kepadamu Al-Kitab (Al Quran) ini, melainkan agar kamu dapat
menjelaskan kepada mereka apa yang mereka perselisihkan itu dan menjadi
petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman. (QS.
An-Nahl/ 16: 64)
وَإِذَا لَمْ تَأْتِهِمْ بِآيَةٍ قَالُوا لَوْلَا
اجْتَبَيْتَهَا قُلْ إِنَّمَا أَتَّبِعُ مَا يُوحَى إِلَيَّ مِنْ رَبِّي هَذَا
بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Artinya: Dan apabila kamu
tidak membawa suatu ayat Al Quran kepada mereka, mereka berkata: "Mengapa
tidak kamu buat sendiri ayat itu?" Katakanlah: "Sesungguhnya aku
hanya mengikut apa yang diwahyukan dari Tuhanku kepadaku. Al Quran ini adalah
bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang
beriman". (QS. Al-A'raf/ 7: 203)
2.9. Al Quran Ini Adalah Petunjuk Dan Rahmat Bagi Kaum
Yang Meyakini
Di dalam Al-Quran surat
Al-Jatsiyah/ 45: 20 dan surat As-Sajdah/ 32: 24 dinyatakan bahwa Al Quran ini
adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini
هَذَا
بَصَائِرُ لِلنَّاسِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Artinya: Al Quran ini
adalah pedoman bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini. (QS. Al-Jatsiyah/
45: 20)
وَجَعَلْنَا
مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا
يُوقِنُونَ
Artinya: Dan Kami jadikan
di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah
Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (QS.
As-Sajdah/ 32: 24)
2.10. Kitab Inilah Yang Dengannya Allah Memberi Petunjuk Kepada Rasul Kalian,
Maka Ambillah Sebagai Petunjuk, Niscaya Kalian Mendapatkan Petunjuk
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 7269
dijelaskan bahwa kitab inilah yang dengannya Allah memberi petunjuk kepada
Rasul kalian, maka ambillah sebagai petunjuk, niscaya kalian mendapatkan
petunjuk, hanyasanya dengan kitab itulah Allah memberi petunjuk (hidayah)
Rasul-Nya;
حَدَّثَنَا
يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ
أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّهُ سَمِعَ عُمَرَ الْغَدَ حِينَ بَايَعَ
الْمُسْلِمُونَ أَبَا بَكْرٍ وَاسْتَوَى عَلَى مِنْبَرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَشَهَّدَ قَبْلَ أَبِي بَكْرٍ فَقَالَ أَمَّا بَعْدُ
فَاخْتَارَ اللَّهُ لِرَسُولِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّذِي عِنْدَهُ
عَلَى الَّذِي عِنْدَكُمْ وَهَذَا الْكِتَابُ الَّذِي هَدَى اللَّهُ بِهِ
رَسُولَكُمْ فَخُذُوا بِهِ تَهْتَدُوا وَإِنَّمَا هَدَى اللَّهُ بِهِ رَسُولَهُ [5]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al
Laits dari Uqail dari Ibn Syihab telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik, ia
mendengar Umar sehari setelah kewafatan Nabi, ketika kaum muslimin berbaiat
kepada Abu Bakar dan berdiri di atas mimbar Rasulullah ﷺ, Umar
memberi kesaksian sebelum Abu Bakar seraya berkata, "Amma ba'du. Allah
memilih untuk Rasul-Nya ﷺ apa yang berada di sisi-Nya,
untuk mengatasi apa yang berada di sisi kalian, dan kitab inilah yang dengannya
Allah memberi petunjuk kepada Rasul kalian, maka ambillah sebagai petunjuk,
niscaya kalian mendapatkan petunjuk, hanyasanya dengan kitab itulah Allah
memberi petunjuk (hidayah) Rasul-Nya."
2.11. Sesungguhnya Allah Adalah Pemberi Petunjuk Bagi Orang-Orang Yang
Beriman Kepada Jalan Yang Lurus
Di dalam
Al-Quran surat Al-Hajj/ 22: 54 dan surat Yunus/ 10: 9 dinyatakan
sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada
jalan yang lurus
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ
اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Artinya: dan agar
orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang
hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan
sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada
jalan yang lurus.(QS. Al-Hajj/ 22: 54)
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ
يَهْدِيهِمْ رَبُّهُمْ بِإِيمَانِهِمْ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ فِي
جَنَّاتِ النَّعِيمِ
Artinya: Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi
petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir
sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan. (QS. Yunus/ 10: 9)
2.12. Sesungguhnya Aku Diutus Untuk Menjadi Rahmah Dan Hidayah
Di dalam kitab Mu’jam
Al-Thabarani Ausath hadits nomor 2981 dinyatakan Sesungguhnya aku diutus
untuk Menjadi rahmat dan hidayah;
حَدَّثَنَا
إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَحْمَدَ الْبَصْرِيُّ، وَكِيلُ أَكْثَمَ قَالَ: نا أَبُو
الْخَطَّابِ زِيَادُ بْنُ يَحْيَى قَالَ: نا مَالِكُ بْنُ سُعَيْرٍ، عَنِ
الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
ﷺ: «إِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً مُهْدَاةً».[6]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Isma‘il bin Ahmad al-Bashri, wakil Aktsam, ia berkata:
telah menceritakan kepada kami Abu al-Khattab Ziyad bin Yahya, ia berkata:
telah menceritakan kepada kami Malik bin Su‘ayr, dari al-A‘masy, dari Abu
Shalih, dari Abu Hurairah رضي الله عنه, ia
berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya aku
diutus hanyalah sebagai rahmat yang diberi petunjuk.”
2.13. Aku Hanyalah Penyampai Allah Pemberi Petunjuk
Di dalam kitab Musnad Ahmad
16936 dinyatakan bahwa Sesungguhnya aku hanyalah penyampai, dan Allah yang
memberi petunjuk;
حَدَّثَنَا
أَبُو الْمُغِيرَةِ قَالَ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو
الزَّاهِرِيَّةِ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا أَنَا مُبَلِّغٌ وَاللَّهُ
يَهْدِي وَقَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي فَمَنْ بَلَغَهُ مِنِّي شَيْءٌ بِحُسْنِ
رَغْبَةٍ وَحُسْنِ هُدًى فَإِنَّ ذَلِكَ الَّذِي يُبَارَكُ لَهُ فِيهِ وَمَنْ
بَلَغَهُ عَنِّي شَيْءٌ بِسُوءِ رَغْبَةٍ وَسُوءِ هُدًى فَذَاكَ الَّذِي يَأْكُلُ
وَلَا يَشْبَعُ [7]
Artinya: Telah menceritakan Abu al-Mughīrah, ia berkata: Safwan
berkata: Abu al-Zahiriyyah berkata dari Mu'awiyah bin Abi Sufyan bahwa
Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya aku hanyalah penyampai, dan Allah
yang memberi petunjuk. Aku hanyalah pembagi, dan Allah yang memberi (rezeki).
Maka barang siapa yang sampai kepadanya sesuatu dariku dengan niat yang baik
dan petunjuk yang baik, maka itulah yang akan diberkahi baginya. Dan barang
siapa yang sampai kepadanya sesuatu dariku dengan niat yang buruk dan petunjuk
yang buruk, maka itulah yang akan makan tetapi tidak pernah merasa
kenyang."
2.14. Berpegang Teguh Dengan Sunnahku Dan Sunnah Para Khulafaur Rasyidin Yang
Mendapat Petunjuk;
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2676 disebutkan wasiat untuk berpegang teguh dengan
sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk;
حَدَّثَنَا
عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ عَنْ بَحِيرِ بْنِ
سَعْدٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو
السُّلَمِيِّ عَنْ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ قَالَ وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا بَعْدَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ مَوْعِظَةً
بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ
رَجُلٌ إِنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا يَا رَسُولَ
اللَّهِ قَالَ أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ
عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا
وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ
ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ
الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ [8]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ali bin Hujr telah menceritakan kepada kami Baqiyyah
bin al Walid dari Bahir bin Sa'd dari Khalid bin Ma'dan dari Abdurrahman bin
Amru as Sulami dari al 'Irbadh bin Sariyah dia berkata; suatu hari Rasulullah ﷺ memberi wejangan kepada kami setelah shalat subuh wejangan yang
sangat menyentuh sehingga membuat air mata mengalir dan hati menjadi gemetar.
Maka seorang sahabat berkata; 'seakan-akan ini merupakan wejangan perpisahan,
lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami ya Rasulullah? ' Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku wasiatkan kepada kalian untuk (selalu)
bertaqwa kepada Allah, mendengar dan ta'at meskipun terhadap seorang budak
habasyi, sesungguhnya siapa saja diantara kalian yang hidup akan melihat
perselisihan yang sangat banyak, maka jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang
dibuat-buat, karena sesungguhnya hal itu merupakan kesesatan. Barangsiapa
diantara kalian yang menjumpai hal itu hendaknya dia berpegang teguh dengan
sunnahku dan sunnah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah
sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham."
2.15. Perumpamaan Agama Yang Rasulullah SAW Diutus Allah Azza Wajalla
Dengannya, Yaitu Berupa Petunjuk Dan Ilmu Ialah Bagaikan Hujan Yang Jatuh Ke
Bumi
Di dalam kitab Shahih Muslim
hadits nomor 2282 digambarkan perumpamaan agama yang Rasulullah SAW diutus
Allah 'azza wajalla dengannya, yaitu berupa petunjuk dan ilmu ialah bagaikan
hujan yang jatuh ke bumi;
حَدَّثَنَا
أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو عَامِرٍ الْأَشْعَرِيُّ وَمُحَمَّدُ
بْنُ الْعَلَاءِ وَاللَّفْظُ لِأَبِي عَامِرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ
عَنْ بُرَيْدٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللَّهُ بِهِ عَزَّ
وَجَلَّ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَتْ
مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ
الْكَثِيرَ وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا
النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا
أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً
فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ وَنَفَعَهُ بِمَا بَعَثَنِيَ
اللَّهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا
وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ [9]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu 'Amir Al Asy'ari
serta Muhammad bin Al 'Allaa lafazh ini milik Abu Amir mereka berkata; Telah
menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Buraid dari Abu Burdah dari Abu Musa
dari Nabi ﷺ beliau bersabda: "Perumpamaan agama yang aku diutus Allah
'azza wajalla dengannya, yaitu berupa petunjuk dan ilmu ialah bagaikan hujan
yang jatuh ke bumi. Diantaranya ada yang jatuh ke tanah subur yang dapat
menyerap air, maka tumbuhlah padang rumput yang subur. Diantaranya pula ada
yang jatuh ke tanah keras sehingga air tergenang karenanya. Lalu air itu
dimanfaatkan orang banyak untuk minum, menyiram kebun dan beternak. Dan ada
pula yang jatuh ke tanah tandus, tidak menggenangkan air dan tidak pula
menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Seperti itulah perumpamaan orang yang mempelajari
agama Allah dan mengambil manfaat dari padanya, belajar dan mengajarkan, dan
perumpamaan orang yang tidak mau tahu dan tidak menerima petunjuk Allah yang
aku di utus dengannya."
2.16. Memimpin Dengan Petunjuk Allah
Di dalam kitab Shahih Muslim
hadits nomor 1847 diganbarkan bahwa Setelahku nanti akan ada pemimpin yang
memimpin tidak dengan petunjukku dan mengambil sunah bukan dari sunahku, lalu
akan datang beberapa laki-laki yang hati mereka sebagaimana hatinya setan dalam
rupa manusia;
و
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ سَهْلِ بْنِ عَسْكَرٍ التَّمِيمِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى
بْنُ حَسَّانَ ح و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
الدَّارِمِيُّ أَخْبَرَنَا يَحْيَى وَهُوَ ابْنُ حَسَّانَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ
يَعْنِي ابْنَ سَلَّامٍ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ سَلَّامٍ عَنْ أَبِي سَلَّامٍ
قَالَ قَالَ حُذَيْفَةُ بْنُ الْيَمَانِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا
بِشَرٍّ فَجَاءَ اللَّهُ بِخَيْرٍ فَنَحْنُ فِيهِ فَهَلْ مِنْ وَرَاءِ هَذَا
الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ هَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الشَّرِّ خَيْرٌ قَالَ
نَعَمْ قُلْتُ فَهَلْ وَرَاءَ ذَلِكَ الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ قُلْتُ كَيْفَ
قَالَ يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ وَلَا يَسْتَنُّونَ
بِسُنَّتِي وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ فِي
جُثْمَانِ إِنْسٍ قَالَ قُلْتُ كَيْفَ أَصْنَعُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنْ
أَدْرَكْتُ ذَلِكَ قَالَ تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ
وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ [10]
Artinya: Telah
menceritakan kepadaku Muhammad Ibnu Sahl bin 'Askar At Tamimi telah
menceritakan kepada kami Yahya bin Hasan. (dalam jalur lain disebutkan) Telah
menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdurrahman Ad Darimi telah mengabarkan
kepada kami Yahya -yaitu Ibnu Hassan- telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah
-yaitu Ibnu Salam- telah menceritakan kepada kami Zaid bin Sallam dari Abu
Sallam dia berkata; Hudzaifah bin Yaman berkata, "Saya bertanya,
"Wahai Rasulullah, dahulu saya berada dalam kejahatan, kemudian Allah
menurunkan kebaikan (agama Islam) kepada kami, apakah setelah kebaikan ini
timbul lagi kejatahan?" beliau menjawab: "Ya." Saya bertanya
lagi, "Apakah setelah kejahatan tersebut akan timbul lagi kebaikan?"
beliau menjawab: "Ya." Saya bertanya lagi, "Apakah setelah
kebaikan ini timbul lagi kejahatan?" beliau menjawab: "Ya." Aku
bertanya, "Bagaimana hal itu?" beliau menjawab: "Setelahku nanti
akan ada pemimpin yang memimpin tidak dengan petunjukku dan mengambil sunah
bukan dari sunahku, lalu akan datang beberapa laki-laki yang hati mereka
sebagaimana hatinya setan dalam rupa manusia." Hudzaifah berkata; saya
betanya, "Wahai Rasulullah, jika hal itu menimpaku apa yang anda
perintahkan kepadaku?" beliau menjawab: "Dengar dan patuhilah kepada
pemimpinmu, walaupun ia memukulmu dan merampas harta bendamu, dengar dan
patuhilah dia."
2.17. Orang Yang Tidak Beriman Kepada Ayat-Ayat Allah (Al Quran), Allah Tidak
Akan Memberi Petunjuk
Di dalam Al Quran surat
An-Nahl/ 16: 104 Sesungguhnya orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat
Allah (Al Quran), Allah tidak akan memberi petunjuk
إِنَّ الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِ اللَّهِ
لَا يَهْدِيهِمُ اللَّهُ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Artinya: Sesungguhnya
orang-orang yang tidak beriman kepada ayat-ayat Allah (Al Quran), Allah tidak
akan memberi petunjuk kepada mereka dan bagi mereka azab yang pedih. (QS.
An-Nahl/ 16: 104)
2.18. Kamu Sekalian Dalam Kesesatan, Kecuali Yang Telah Aku Beri Petunjuk
Di dalam kitab Shahih Muslim
hadits nomor 2577, di jelaskan firman Allah; Hai hamba-Ku, kamu sekalian berada
dalam kesesatan, kecuali orang yang telah Aku beri petunjuk;
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ بْنِ بَهْرَامَ الدَّارِمِيُّ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ يَعْنِي ابْنَ
مُحَمَّدٍ الدِّمَشْقِيَّ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ
رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا رَوَى عَنْ اللَّهِ
تَبَارَكَ وَتَعَالَى أَنَّهُ قَالَ يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ
عَلَى نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّمًا فَلَا تَظَالَمُوا يَا عِبَادِي
كُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُهُ فَاسْتَهْدُونِي أَهْدِكُمْ[11]
Artinya: menceritakan
kepada kami ['Abdullah bin 'Abdur Rahman bin Bahram Ad Darimi]; Telah
menceritakan kepada kami [Marwan] yaitu Ibnu Muhammad Ad Dimasyqi; Telah
menceritakan kepada kami [Sa'id bin 'Abdul 'Aziz] dari [Rabi'ah bin Yazid] dari
[Abu Idris Al Khalwani] dari [Abu Dzar] dari Nabi ﷺ dalam meriwayatkan firman Allah Subhanahu wa Ta'ala yang berbunyi: "Hai
hamba-Ku, sesungguhnya Aku telah mengharamkan diri-Ku untuk berbuat zhalim dan
perbuatan zhalim itu pun Aku haramkan diantara kamu. Oleh karena itu, janganlah
kamu saling berbuat zhalim! Hai hamba-Ku, kamu sekalian berada dalam kesesatan,
kecuali orang yang telah Aku beri petunjuk. Oleh karena itu, mohonlah petunjuk
kepada-Ku, niscaya Aku akan memberikan hidayah kepadamu!
2.19. Allah Lebih Mengetahui Tentang Orang Orang Yang Mendapat Petunjuk
Di dalam Al-Quran surat
Al-An'am/ 6: 117, An-Nahl/ 16: 125,
Al-Qashash/ 28: 56, Al-Qalam/ 68: 7 dan
Al-Isra'/ 17: 84 dinyatakan bahwa Allah lebih mengetahui tentang orang orang
yang mendapat petunjuk;
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ مَنْ يَضِلُّ عَنْ
سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya: Sesungguhnya
Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang orang yang tersesat dari
jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang orang yang mendapat petunjuk. (QS.
Al-An'am/ 6: 117)
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ
وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ
هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya: Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS.
An-Nahl/
16: 125)
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَكِنَّ
اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya: Sesungguhnya
kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi
Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih
mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS.
Al-Qashash/ 28: 56)
إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ
سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya: Sesungguhnya
Tuhanmu, Dialah Yang Paling Mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya; dan
Dialah Yang Paling Mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS.
Al-Qalam/ 68: 7)
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ
فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلًا
Artinya: Katakanlah:
"Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka
Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya.
(QS.
2.20. Siapa Yang Dikehendaki-Nya Dibalikkan Qalbunya Dari Kesesatan Kepada
Hidayah Dan Dari Hidayah Kepada Kesesatan
Di dalam kitab Mujam
Thabarani Ausath hadits nomor 1530 digambarkan bahwa siapa yang dikehendakinya
dibalikkan qalbunya dari kesesatan kepada hidayah dan dari hidayah kepada
kesesatan;
حَدَّثَنَا
أَحْمَدُ قَالَ: نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ بِسْطَامٍ الزَّعْفَرَانِيُّ قَالَ: نا
الْمُعَلَّى بْنُ الْفَضْلِ الْقُشَيْرِيُّ قَالَ: نا مُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ،
عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدِ بْنِ جُدْعَانَ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، عَنْ
عَائِشَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ يَدْعُو: «يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ، ثَبِّتْ
قَلْبِي عَلَى دِينِكَ» . قَالَتْ عَائِشَةُ: فَقُلْتُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي
يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَتَخَافُ وَأَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ؟ فَقَالَ: «يَا
عَائِشَةُ إِنَّ قُلُوبَ بَنِي آدَمَ بَيْنَ أُصْبُعَيْنِ مِنْ أَصَابِعِ
الرَّحْمَنِ، فَمَنْ شَاءَ أَنْ يُقَلِّبَهُ مِنَ الضَّلَالَةِ إِلَى الْهُدَى،
وَمِنَ الْهُدَى إِلَى الضَّلَالَةِ فَعَلَ» لَمْ يَرْوِ
هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ مُبَارَكٍ إِلَّا مُعَلَّى، تَفَرَّدَ بِهِ: إِبْرَاهِيمُ
" [12]
Artinya: Telah menceriterakan kepada kami Ahmad, berkata: telah menceriterakan kepada kami Ibrahim ibnu Bustham Al Ja’farani berkata; telah menceriterakan kepada kami Al Ma’la ibnu Al Fadhl Al Qusyairi berkata; telah menceriterakan kepada kami Mubarak ibnu Fudhalah dari Ali ibnu Zaid ibnu Jad’an dari ibnu Abi Malikah dari ‘Aisyah RA, bahwa Nabi SAW berdoa; Wahai yang Membolak-balikkan qalbu, tetapkanlah qalbu kami pada agamamu, ‘Aisyah RA berkata; demi Ayahku, Engkau dan Ibuku Wahai Rasulullah apakah Engkau Takut, padahal engkau adalah Rasulullah, maka Rasulullah bersabda; wahai ‘Aisyah sesungguhnya qalbu bani Adam ada di antara dua jari dari jari-jari Ar Rahman, maka siapa yang dikehendakinya dibalikkan qalbunya dari kesesatan kepada hidayah dan dari hidayah kepada kesesatan
2.21. Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk
kepada siapa yang dikehendaki-Nya
Di dalam Al-Quran surat
An-Nahl/ 16: 93, An-Nahl/ 16: 93, Ibrahim/ 14: 4 dan Al-Muddatstsir/ 74: 31
ditegaskan bahwa Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi
petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً
وَاحِدَةً وَلَكِنْ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَلَتُسْأَلُنَّ
عَمَّا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya: Dan kalau Allah
menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah
menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu
kerjakan.(QS. An-Nahl/ 16: 93)
وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَعَلَكُمْ أُمَّةً
وَاحِدَةً وَلَكِنْ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ وَلَتُسْأَلُنَّ
عَمَّا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya: Dan kalau Allah
menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah
menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang
dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu
kerjakan. (QS. An-Nahl/ 16: 93)
وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ
قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ
يَشَاءُ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Artinya: Kami tidak
mengutus seorang rasulpun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat
memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka Allah menyesatkan siapa
yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan
Dialah Tuhan Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.(QS.
Ibrahim/ 14: 4)
وَمَا جَعَلْنَا أَصْحَابَ النَّارِ إِلَّا
مَلَائِكَةً وَمَا جَعَلْنَا عِدَّتَهُمْ إِلَّا فِتْنَةً لِلَّذِينَ كَفَرُوا
لِيَسْتَيْقِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَيَزْدَادَ الَّذِينَ آمَنُوا
إِيمَانًا وَلَا يَرْتَابَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْمُؤْمِنُونَ
وَلِيَقُولَ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ وَالْكَافِرُونَ مَاذَا أَرَادَ
اللَّهُ بِهَذَا مَثَلًا كَذَلِكَ يُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ
يَشَاءُ وَمَا يَعْلَمُ جُنُودَ رَبِّكَ إِلَّا هُوَ وَمَا هِيَ إِلَّا ذِكْرَى
لِلْبَشَرِ
Artinya: Dan tiada Kami
jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat: dan tidaklah Kami
menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang
kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang
yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan
orng-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam
hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir (mengatakan): "Apakah yang
dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?"
Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi
petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui
tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan
bagi manusia.(QS. Al-Muddatstsir/ 74: 31)
Sedangkan
di dalam
Al Quran surat Az-Zumar/ 39: 23 dan surat Az-Zumar/ 39: 23 juga dinyatakan
bahwa Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya.
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا
مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ
رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ
هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ
هَادٍ
Artinya: Allah telah
menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu
ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang
takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu
mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa
yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada
baginya seorang pemimpinpun. (Az-Zumar/ 39: 23)
2.22. Barangsiapa Yang Allah Sesatkan, Maka Baginya Tak Ada Orang Yang Akan
Memberi Petunjuk
Di dalam Al Quran surat
Al-A'raf/ 7: 186, Ar-Ra'd/ 13: 33,
Az-Zumar/ 39: 23, 36 dan Al-Mu'min/ 40: 33 ditegaskan bahwa Barangsiapa yang
Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk
مَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَا هَادِيَ لَهُ
وَيَذَرُهُمْ فِي طُغْيَانِهِمْ يَعْمَهُونَ
Artinya: Barangsiapa yang
Allah sesatkan, maka baginya tak ada orang yang akan memberi petunjuk. Dan
Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan. (QS.
Al-A'raf/ 7: 186)
أَفَمَنْ هُوَ قَائِمٌ عَلَى كُلِّ نَفْسٍ بِمَا
كَسَبَتْ وَجَعَلُوا لِلَّهِ شُرَكَاءَ قُلْ سَمُّوهُمْ أَمْ تُنَبِّئُونَهُ بِمَا
لَا يَعْلَمُ فِي الْأَرْضِ أَمْ بِظَاهِرٍ مِنَ الْقَوْلِ بَلْ زُيِّنَ
لِلَّذِينَ كَفَرُوا مَكْرُهُمْ وَصُدُّوا عَنِ السَّبِيلِ وَمَنْ يُضْلِلِ
اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
Artinya: Maka apakah Tuhan
yang menjaga setiap diri terhadap apa yang diperbuatnya (sama dengan yang tidak
demikian sifatnya)? Mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah. Katakanlah:
"Sebutkanlah sifat-sifat mereka itu". Atau apakah kamu hendak memberitakan
kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya di bumi, atau kamu mengatakan
(tentang hal itu) sekadar perkataan pada lahirnya saja. Sebenarnya orang-orang
kafir itu dijadikan (oleh syaitan) memandang baik tipu daya mereka dan
dihalanginya dari jalan (yang benar). Dan barangsiapa yang disesatkan Allah,
maka baginya tak ada seorangpun yang akan memberi petunjuk. (QS.
Ar-Ra'd/ 13: 33)
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا
مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ
رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ
هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ
هَادٍ
Artinya: Allah telah
menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu
ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang
takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu
mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa
yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada
baginya seorang pemimpinpun. (QS. , Az-Zumar/
39: 23)
أَلَيْسَ اللَّهُ بِكَافٍ عَبْدَهُ
وَيُخَوِّفُونَكَ بِالَّذِينَ مِنْ دُونِهِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ
مِنْ هَادٍ
Artinya: Bukankah Allah
cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. Dan mereka mempertakuti kamu dengan
(sembahan-sembahan) yang selain Allah? Dan siapa yang disesatkan Allah maka
tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya. (QS.
Az-Zumar/ 39: 36)
يَوْمَ تُوَلُّونَ مُدْبِرِينَ مَا لَكُمْ مِنَ
اللَّهِ مِنْ عَاصِمٍ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
Artinya: (yaitu) hari
(ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorangpun yang
menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya
tidak ada baginya seorangpun yang akan memberi petunjuk.
(QS. Al-Mu'min/ 40: 33)
2.23. Barangsiapa Yang Disesatkan-Nya, Maka Kamu Tidak Akan Mendapatkan
Seorang Pemimpinpun Yang Dapat Memberi Petunjuk Kepadanya
Di dalam Al-Quran surat
Al-Kahfi/ 18: 17 dan surat Asy-Syura/ 42: 44 dinyatakan barangsiapa yang
disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat
memberi petunjuk kepadanya;
وَتَرَى الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ
كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ
وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ذَلِكَ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ
فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا
Artinya: Dan
kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah
kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka
berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari
tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah,
maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka
kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk
kepadanya. (QS. Al-Kahfi/ 18: 17)
وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ وَلِيٍّ
مِنْ بَعْدِهِ وَتَرَى الظَّالِمِينَ لَمَّا رَأَوُا الْعَذَابَ يَقُولُونَ هَلْ
إِلَى مَرَدٍّ مِنْ سَبِيلٍ
Artinya: Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak ada baginya seorang pemimpinpun sesudah itu. Dan kamu akan melihat orang-orang yang zalim ketika mereka melihat azab berkata: "Adakah kiranya jalan untuk kembali (ke dunia)?" (QS. Asy-Syura/ 42: 44)
Sedangkan di dalam Al Quran
surat Al-Isra'/ 17: 97 dinyatakan barangsiapa yang Dia sesatkan maka
sekali-kali kamu tidak akan mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari
Dia;
وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ
يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِهِ وَنَحْشُرُهُمْ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ عَلَى وُجُوهِهِمْ عُمْيًا وَبُكْمًا وَصُمًّا مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ
كُلَّمَا خَبَتْ زِدْنَاهُمْ سَعِيرًا
Artinya: Dan
barangsiapa yang ditunjuki Allah, dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa
yang Dia sesatkan maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penolong-penolong
bagi mereka selain dari Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat
(diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman
mereka adalah neraka jahannam. Tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan
padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya.
2.24. Barangsiapa Yang Disesatkan Allah, Sekali-Kali Kamu Tidak Mendapatkan
Jalan
Di dalam Al-Quran surat
An-Nisa'/ 4: 88, 143 dan surat Asy-Syura/ 42: 46 dinyatakan Barangsiapa yang
disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi
petunjuk) kepadanya.
فَمَا لَكُمْ فِي الْمُنَافِقِينَ فِئَتَيْنِ
وَاللَّهُ أَرْكَسَهُمْ بِمَا كَسَبُوا أَتُرِيدُونَ أَنْ تَهْدُوا مَنْ أَضَلَّ
اللَّهُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا
Artinya: Maka mengapa kamu
(terpecah) menjadi dua golongan dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal
Allah telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka
sendiri? Apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang telah
disesatkan Allah? Barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak
mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya. (QS. An-Nisa'/ 4: 88)
مُذَبْذَبِينَ بَيْنَ ذَلِكَ لَا إِلَى هَؤُلَاءِ
وَلَا إِلَى هَؤُلَاءِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ سَبِيلًا
Artinya: Mereka dalam
keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada
golongan ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu
(orang-orang kafir), maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk
memberi petunjuk) baginya. (QS. An-Nisa' (4): 143)
وَمَا كَانَ لَهُمْ مِنْ أَوْلِيَاءَ
يَنْصُرُونَهُمْ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ
سَبِيلٍ
Artinya: Dan mereka
sekali-kali tidak mempunyai pelindung-pelindung yang dapat menolong mereka
selain Allah. Dan siapa yang disesatkan Allah maka tidaklah ada baginya satu
jalanpun (untuk mendapat petunjuk).(QS. Asy-Syura/ 42: 46)
3. Keistimewaan Orang Yang Menerima Hidayah
Berikut akan dikemukakan beberapa keuntungan dari orang yang menerima hidayah, yang disebutkan di dalam Al Quran atau hadits;
3.1.
Permisalan Para Ulama` Di Bumi Seperti Bintang-Bintang Di Langit
Di dalam kitab Musnad Ahmad
hadits nomor 12599 digambarkan permisalan para ulama` di bumi seperti
bintang-bintang di langit;
حَدَّثَنَا
هَيْثَمُ بْنُ خَارِجَةَ حَدَّثَنَا رِشْدِينُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ الْوَلِيدِ عَنْ أَبِي حَفْصٍ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ
يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مَثَلَ
الْعُلَمَاءِ فِي الْأَرْضِ كَمَثَلِ النُّجُومِ فِي السَّمَاءِ يُهْتَدَى بِهَا
فِي ظُلُمَاتِ الْبَرِّ وَالْبَحْرِ فَإِذَا انْطَمَسَتْ النُّجُومُ أَوْشَكَ أَنْ
تَضِلَّ الْهُدَاةُ [13]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Haitsam bin Kharijah telah menceritakan kepada kami
Risydin bin Sa'd dari Abdullah bin Al-Walid dari Abu Hafs menceritakannya,
mendengar Anas bin Malik berkata: Nabi Shallallahu'alaihi wa Sallam bersabda:
"Permisalan para ulama` di bumi seperti bintang-bintang di langit,
digunakan sebagai petunjuk dalam kegelapan daratan dan lautan. Jika
bintang-bintang itu hilang, dikhawatirkan orang-orang yang mencari petunjuk
menjadi sesat."
3.2. Orang Yang Mau Menerima Petunjuk, Akan Ditambah Petunjuk Dan Ketaqwaan
Di dalam Al Quran Surat
Muhammad/ 47: 17, dijelaskan bahwa orang yang mau menerima petunjuk, Allah akan
menambah petunjuk kepada mereka dan ketaqwaan;
وَالَّذِينَ
اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ
Artinya: Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan balasan ketakwaannya.(QS. Muhammad/ 47: 17)
Demikian juga di dalam Al
Quran surat Maryam/ 19: 76 dinyatakan bahwa Allah Akan Menambah Petunjuk Kepada
Mereka Yang Telah Mendapat Petunjuk
وَيَزِيدُ
اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ
رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ مَّرَدًّا
Artinya: Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya. (Qs. Maryam/ 19: 76)
3.3.
Yang Allah Kehendaki Diberi Petunjuk, Dilapangkan Dadanya Untuk Islam
Di dalam Al Quran surat
Al-An'am/ 6: 125, dijelaskan bahwa orang yang Allah menghendaki akan memberikan
kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama)
Islam;
فَمَنْ
يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ ۖ وَمَنْ يُرِدْ
أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي
السَّمَاءِ ۚ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا
يُؤْمِنُونَ
Artinya: Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.(QS. Al-An'am/ 6: 125)
Di dalam kitab Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain hadits nomor 7863 dijelaskan bahwa Sesungguhnya cahaya, ketika memasuki dada, membuatnya lapang ;
حَدَّثَنِي
أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ بَالَوَيْهِ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرِ بْنِ
مَطَرٍ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ الْوَرَكَانِيُّ، حَدَّثَنِي عَدِيُّ بْنُ
الْفَضْلِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمَسْعُودِيِّ، عَنِ
الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، ﵁ قَالَ:
تَلَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: ﴿فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ
صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ﴾ [الأنعام: ١٢٥] فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ
النُّورَ إِذَا دَخَلَ الصَّدْرَ انْفَسَحَ» فَقِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ
لِذَلِكَ مِنْ عِلْمٍ يُعْرَفُ؟ قَالَ: «نَعَمْ، التَّجَافِي عَنْ دَارِ
الْغُرُورِ، وَالْإِنَابَةُ إِلَى دَارِ الْخُلُودِ، وَالِاسْتِعْدَادِ لِلْمَوْتِ
قَبْلَ نُزُولِهِ» [14]
Artinya: Abu Bakr Muhammad bin Ahmad bin Balawiyah telah menceritakan kepadaku; Muhammad bin Bisyr bin Mathar telah meriwayatkan kepada kami; Muhammad bin Ja‘far al-Warkani telah meriwayatkan kepada kami; ‘Adi bin al-Fadhl telah menceritakan kepadaku; dari Abdurrahman bin Abdillah al-Mas‘udi; dari al-Qasim bin Abdurrahman; dari ayahnya; dari Ibnu Mas‘ud radhiyallāhu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ membaca firman Allah Ta‘ala: “Maka barang siapa yang Allah kehendaki untuk memberinya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk menerima Islam.” (QS. Al-An‘ām: 125). Lalu Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya apabila cahaya itu masuk ke dalam dada, maka dada itu akan menjadi lapang.” Lalu dikatakan kepada beliau: “Wahai Rasulullah, adakah tanda yang dapat dikenali dari hal itu?” Beliau menjawab: “Ya, yaitu menjauh dari negeri tipu daya (dunia), kembali dan condong kepada negeri keabadian (akhirat), serta mempersiapkan diri untuk kematian sebelum kedatangannya.”
3.4. Allah Akan Menambahkan Petunjuk Dan Ketaqwaan Kepada Orang Yang
Menerima Petunjuk
Di dalam Al Quran Surat
Muhammad/ 47: 17 dan surat Maryam/ 19: 76, digambarkan bahwa orang-orang yang
mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk;
وَالَّذِيْنَ
اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَّاٰتٰىهُمْ تَقْوٰىهُمْ
Artinya: Dan orang-orang yang mendapat petunjuk, Allah akan menambah petunjuk kepada mereka dan menganugerahi ketakwaan mereka. (QS. Muhammad/ 47: 17)
وَيَزِيدُ
اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِندَ
رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ مَّرَدًّا
Artinya: Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya. (QS. Maryam/ 19: 76)
3.5. Allah Sekali-Kali Tidak Akan Menyesatkan Suatu Kaum, Setelah Mereka
Diberi-Nya Petunjuk
Di dalam Al Quran Surat
At-Taubah/ 9: 115 ditegaskan bahwa Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan
suatu kaum, setelah mereka diberi-Nya petunjuk;
وَمَا كَانَ اللّٰهُ لِيُضِلَّ قَوْمًاۢ بَعْدَ
اِذْ هَدٰىهُمْ حَتّٰى يُبَيِّنَ لَهُمْ مَّا يَتَّقُوْنَۗ اِنَّ اللّٰهَ بِكُلِّ
شَيْءٍ عَلِيْمٌ
Artinya: Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, setelah mereka diberi-Nya petunjuk, sehingga dapat dijelaskan kepada mereka apa yang harus mereka jauhi. Sungguh, Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. At-Taubah/ 9: 115)
3.6. Tidak Ada Sesuatupun Yang Menghalangi Manusia Dari Beriman, Ketika
Petunjuk Telah Datang Kepada Mereka
Di dalam Al Quran surat
Al-Kahfi/ 18: 55, dijelaskan bahwa tidak ada sesuatupun yang menghalangi
manusia dari beriman, ketika petunjuk telah datang kepada mereka;
وَمَا
مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ جَاءَهُمُ الْهُدَى وَيَسْتَغْفِرُوا
رَبَّهُمْ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمْ سُنَّةُ الْأَوَّلِينَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ
الْعَذَابُ قُبُلًا
Artinya: Dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk telah datang kepada mereka, dan dari memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlalu pada) umat-umat yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata.(QS. Al-Kahfi/ 18: 55)
3.7. Barangsiapa Yang Diberi Petunjuk Oleh Allah, Maka Dialah Orang Yang
Mendapat Petunjuk
Di dalam Al Quran surat
Al-A'raf/ 7: 178, Al-Isra'/ 17: 97 dan Al-Kahfi/ 18: 17 dinyatakan bahwa
Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah orang yang mendapat
petunjuk;
مَنْ يَهْدِ
اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي وَمَنْ يُضْلِلْ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Artinya: Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah orang yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka merekalah orang-orang yang merugi. (QS. Al-A'raf/ 7: 178)
وَمَنْ
يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ
أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِهِ وَنَحْشُرُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى وُجُوهِهِمْ
عُمْيًا وَبُكْمًا وَصُمًّا مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ كُلَّمَا خَبَتْ زِدْنَاهُمْ
سَعِيرًا
Artinya: Dan barangsiapa yang ditunjuki Allah, dialah yang mendapat petunjuk dan barangsiapa yang Dia sesatkan maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penolong-penolong bagi mereka selain dari Dia. Dan Kami akan mengumpulkan mereka pada hari kiamat (diseret) atas muka mereka dalam keadaan buta, bisu dan pekak. Tempat kediaman mereka adalah neraka jahannam. Tiap-tiap kali nyala api Jahannam itu akan padam, Kami tambah lagi bagi mereka nyalanya. (QS. Al-Isra'/ 17: 97)
وَتَرَى
الشَّمْسَ إِذَا طَلَعَتْ تَزَاوَرُ عَنْ كَهْفِهِمْ ذَاتَ الْيَمِينِ وَإِذَا
غَرَبَتْ تَقْرِضُهُمْ ذَاتَ الشِّمَالِ وَهُمْ فِي فَجْوَةٍ مِنْهُ ذَلِكَ مِنْ
آيَاتِ اللَّهِ مَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ
تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا
Artinya: Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong dari gua mereka ke sebelah kanan, dan bila matahari terbenam menjauhi mereka ke sebelah kiri sedang mereka berada dalam tempat yang luas dalam gua itu. Itu adalah sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Allah. Barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barangsiapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tidak akan mendapatkan seorang pemimpinpun yang dapat memberi petunjuk kepadanya. (QS. Al-Kahfi/ 18: 17)
3.8. Barangsiapa Yang Diberi Petunjuk Oleh Allah, Maka Tidak Seorangpun Yang
Dapat Menyesatkannya
Di dalam Al-Quran surat Az-Zumar/ 39: 37 ditegaskan bahwa barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya
وَمَنْ
يَهْدِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ أَلَيْسَ اللَّهُ بِعَزِيزٍ ذِي
انْتِقَامٍ
Artinya: Dan barangsiapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorangpun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab? (QS. Az-Zumar/ 39: 37)
3.9. Siapa Yang Mengikuti Petunjuk Allah, Tidak Akan Sesat Dan Celaka
Al Quran Surat Ta Ha/ 20:
123, menjelaskan bahwa barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan
sesat dan tidak akan celaka;
قَالَ
اهْبِطَا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمَّا
يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا
يَشْقَىٰ
Artinya: Allah berfirman: "Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.(QS. Ta Ha/ 20: 123)
3.10. Tiadalah Orang Yang Sesat Itu Akan Memberi Mudharat Kepadamu Apabila
Kamu Telah Mendapat Hidayah
Di dalam Al Quran Surat
Al-Ma'idah/ 5: 105, dijelaskan bahwa tiadalah orang yang sesat itu akan memberi
mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat Hidayah;
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ أَنْفُسَكُمْ ۖ لَا يَضُرُّكُمْ مَنْ ضَلَّ
إِذَا اهْتَدَيْتُمْ ۚ إِلَى اللَّهِ مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا
كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.(QS. Al-Ma'idah/ 5: 105)
3.11. Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala
datang petunjuk kepadan
Di dalam Al Quran surat
Al-Isra'/ 17: 94 dan Al-Kahfi/ 18: 55 ditegaskan bahwa tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia
untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya;
وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ
جَاءَهُمُ الْهُدَى إِلَّا أَنْ قَالُوا أَبَعَثَ اللَّهُ بَشَرًا رَسُولًا
Artinya: Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: "Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasuI?" (QS. Al-Isra'/ 17: 94)
وَمَا مَنَعَ النَّاسَ أَنْ يُؤْمِنُوا إِذْ
جَاءَهُمُ الْهُدَى وَيَسْتَغْفِرُوا رَبَّهُمْ إِلَّا أَنْ تَأْتِيَهُمْ سُنَّةُ
الْأَوَّلِينَ أَوْ يَأْتِيَهُمُ الْعَذَابُ قُبُلًا
Artinya: Dan tidak ada sesuatupun yang menghalangi manusia dari beriman, ketika petunjuk telah datang kepada mereka, dan dari memohon ampun kepada Tuhannya, kecuali (keinginan menanti) datangnya hukum (Allah yang telah berlalu pada) umat-umat yang dahulu atau datangnya azab atas mereka dengan nyata. (QS. Al-Kahfi/ 18: 55)
3.12. Barang Siapa Mengajak Kepada Hidayah (Petunjuk), Maka Ia Akan Mendapat
Pahala Sebanyak Pahala Yang Diperoleh Orang Yang Mengikutinya
Di dalam kitab Shahih Muslim
hadis nomor 2674, dijelaskan bahwa Barang siapa mengajak kepada hidayah
(petunjuk), maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh
orang-orang yang mengikutinya;
حَدَّثَنَا
يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا
حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنْ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ
تَبِعَهُ لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى
ضَلَالَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنْ الْإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لَا
يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا [15]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Ayyub] dan [Qutaibah bin Sa'id] dan [Ibnu Hujr], mereka berkata; telah menceritakan kepada kami [Isma'il] yaitu Ibnu Ja'far dari [Al 'Ala] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah] bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam telah bersabda: "Barang siapa mengajak kepada hidayah (petunjuk), maka ia akan mendapat pahala sebanyak pahala yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun. Sebaliknya, barang siapa mengajak kepada kesesatan, maka ia akan mendapat dosa sebanyak yang diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa mereka sedikitpun."
3.13. Bila Ada Satu Orang Saja Yang Mendapat Petunjuk Melalui Dirimu Maka Itu
Lebih Baik Bagimu Dari Pada Unta-Unta Merah
Di dalam kitab Shahih Bukhari
hadits nomor 3009 dinyatakan bahwa bila ada satu orang saja yang mendapat
petunjuk melalui dirimu maka itu lebih baik bagimu dari pada unta-unta merah;
حَدَّثَنَا
قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ
مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدٍ الْقَارِيُّ عَنْ أَبِي حَازِمٍ قَالَ
أَخْبَرَنِي سَهْلٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ قَالَ قَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ خَيْبَرَ لَأُعْطِيَنَّ
الرَّايَةَ غَدًا رَجُلًا يُفْتَحُ عَلَى يَدَيْهِ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
وَيُحِبُّهُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ فَبَاتَ النَّاسُ لَيْلَتَهُمْ أَيُّهُمْ يُعْطَى
فَغَدَوْا كُلُّهُمْ يَرْجُوهُ فَقَالَ أَيْنَ عَلِيٌّ فَقِيلَ يَشْتَكِي
عَيْنَيْهِ فَبَصَقَ فِي عَيْنَيْهِ وَدَعَا لَهُ فَبَرَأَ كَأَنْ لَمْ يَكُنْ
بِهِ وَجَعٌ فَأَعْطَاهُ فَقَالَ أُقَاتِلُهُمْ حَتَّى يَكُونُوا مِثْلَنَا
فَقَالَ انْفُذْ عَلَى رِسْلِكَ حَتَّى تَنْزِلَ بِسَاحَتِهِمْ ثُمَّ ادْعُهُمْ
إِلَى الْإِسْلَامِ وَأَخْبِرْهُمْ بِمَا يَجِبُ عَلَيْهِمْ فَوَاللَّهِ لَأَنْ
يَهْدِيَ اللَّهُ بِكَ رَجُلًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ
النَّعَمِ [16]
Artinya: Telah bercerita kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah bercerita kepada kami Ya'qub bin 'Abdur Rahman bin Muhammad bin 'Abdullah bin 'Abdul Qoriy dari Abu Hazim berkata telah mengabarkan kepadaku Sahal radliallahu 'anhu, yakni putra dari Sa'ad berkata; Nabi ﷺ bersabda ketika perang Khaibar: "Sungguh bendera perang ini akan aku berikan esok hari kepada seseorang yang peperangan ini akan dimenangkan melalui tangannya. Orang itu mencintai Allah dan Rosul-Nya dan Allah dan Rosul-Nya juga mencintainya". Maka orang-orang melalui malam mereka dengan bertanya-tanya siapa yang akan diberikan kepercayaan itu. Keesokan harinya setiap orang dari mereka berharap diberikan kepercayaan itu. Maka Beliau berkata: "Mana 'Ali?" Dijawab: "Dia sedang sakit kedua matanya". Maka (setelah 'Ali datang) Beliau meludahi kedua matanya lalu mendo'akannya hingga sembuh seakan-akan belum pernah terkena penyakit sedikitpun. Lalu Beliau memberikan bendera perang kepadanya kemudian bersabda: "Perangilah mereka hingga mereka menjadi seperti kita (Muslim) ". Beliau melanjutkan: "Melangkahlah ke depan hingga kamu memasuki tempat tinggal mereka lalu serulah mereka ke dalam Islam dan beritahu kepada mereka tentang apa yang diwajibkan atas mereka. Demi Allah, bila ada satu orang saja yang mendapat petunjuk melalui dirimu maka itu lebih baik bagimu dari pada unta-unta merah (yang paling bagus) ".
3.14. Mengucapkan Istirja’ Saat Terkena Musibah Dicatat Sebagai Realisasi
Jalan Hidayah
Di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor 9843 digambarkan bahwa mengucapkan istirja’ ketika menerima musibah Allah mencatatnya dalam tiga kebiasaan dari kebaikan; Shalawat dan rahmat dari Allah dan realisasi jalan hidayah;
أَخْبَرَنَا
أَبُو زَكَرِيَّا بْنُ أَبِي إِسْحَاقَ، أَنَا أَبُو الْحَسَنِ الطَّرَائِفِيُّ،
نَا عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدٍ، نَا عَبْدُ اللهِ بْنُ صَالِحٍ، عَنْ مُعَاوِيَةَ
بْنِ صَالِحٍ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، فِي
قَوْلِهِ: {إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا
إِلَيْهِ رَاجِعُونَ} [البقرة: 156] إِلَى آخِرِ الْآيَةِ، قَالَ: أَخْبَرَ اللهُ
أَنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا سَلَّمَ لِأَمْرِ اللهِ وَرَجَعَ وَاسْتَرْجَعَ عِنْدَ
الْمُصِيبَةِ كَتَبَ اللهُ لَهُ ثَلَاثَ خِصَالٍ مِنَ الْخَيْرِ: الصَّلَاةَ مِنَ
اللهِ، وَالرَّحْمَةَ، وَتَحْقِيقَ سَبِيلِ الْهُدَى، وَقَالَ رَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:" مَنِ اسْتَرْجَعَ عِنْدَ الْمُصِيبَةِ
جَبَرَ اللهُ مَعْصِيَتَهُ، وَأَحْسَنَ عُقْبَاهُ، وَجَعَلَ لَهُ خَلَفًا صَالِحًا
يَرْضَاهُ" [17]
Artinya: Telah mengkabarkan kepada kami Abu Zakariya ibnu Abi Ishaq, telah mengkabarkan kepada kami Abu Hasan Al Tharaifiy, telah mengkabarkan kepada kami Utsman ibnu Said, telah mengkabarkan kepada kami Abdullah ibnu Salih, dari Mu’awiyah ibnu Shalih, Ali ibnu Abu Thalhah dari ibnu Abbas, dalam firmannya: Apabila mereka ditimpa musibah mereka mengatakan;sesungguhnya kita milik Allah dan hanya kepadanya kita kembali (Al Baqarah/ 2: 156) hingga akhir ayat, Allah memberi kabar bahwa orang beriman jika selamat dalam urusan Allah dan kembali serta mengucapkan istirja’ ketika menerima musibah Allah mencatatnya dalam tiga kebiasaan dari kebaikan; Shalawat dan rahmat dari Allah dan realisasi jalan hidayah, dan bersabda Rasulullah SAW: barang siapa beristirja’ ketika menerima musibah Allah memulihkan ma’siyatnya, dan memperbaiki balasannya, dan menjadikannya tinggalan baik yang diridhainya.
4. Karakter Orang Yang Menerima Hidayah
Berikut akan dikemukakan beberapa karakter dari orang yang menerima hidayah, yang disebutkan di dalam Al Quran atau hadits;
4.1. Berserah Diri
Dari dalam ayat Al Quran
surat An-Nahl/ 16: 89, An-Nahl/ 16: 102, An Naml/ 27: 81 dan Ar Rum / 30: 53,
tergambar bahwa Al Quran hanya dapat menjadi hidayah bagi orang-orang yang
berserah diri;
وَيَوْمَ
نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ
شَهِيدًا عَلَى هَؤُلَاءِ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ
شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
Artinya: (Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.(QS. An-Nahl/ 16: 89)
قُلْ
نَزَّلَهُ رُوحُ الْقُدُسِ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ لِيُثَبِّتَ الَّذِينَ آمَنُوا
وَهُدًى وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
Artinya: Katakanlah: "Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al Quran itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan (hati) orang-orang yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".(QS. An-Nahl/ 16: 102)
وَمَا أَنتَ
بِهَادِي الْعُمْيِ عَن ضَلَالَتِهِمْ إِن تُسْمِعُ إِلَّا مَن يُؤْمِنُ
بِآيَاتِنَا فَهُم مُّسْلِمُونَ
Artinya: Dan kamu sekali-kali tidak dapat memimpin (memalingkan) orang-orang buta dari kesesatan mereka. Kamu tidak dapat menjadikan (seorangpun) mendengar, kecuali orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami, lalu mereka berserah diri. (QS. An Naml/ 27: 81)
وَمَا أَنتَ
بِهَادِ الْعُمْيِ عَن ضَلَالَتِهِمْ إِن تُسْمِعُ إِلَّا مَن يُؤْمِنُ
بِآيَاتِنَا فَهُم مُّسْلِمُونَ
Dan kamu sekali-kali tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang-orang yang buta (mata hatinya) dari kesesatannya. Dan kamu tidak dapat memperdengarkan (petunjuk Tuhan) melainkan kepada orang-orang yang beriman dengan ayat-ayat Kami, mereka itulah orang-orang yang berserah diri (kepada Kami). (QS. Ar Rum / 30: 53)
4.2.
Berpegang Teguh Dan Mengambil Pelajaran Dari Dalam Al Quran
Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2408 dinyatakan bahwa Kitabullah yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Barang siapa yang berpegang teguh dengannya dan mengambil pelajaran dari dalamnya maka dia akan berada di atas petunjuk
حَدَّثَنِي
زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَشُجَاعُ بْنُ مَخْلَدٍ جَمِيعًا عَنْ ابْنِ عُلَيَّةَ
قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنِي أَبُو
حَيَّانَ حَدَّثَنِي يَزِيدُ بْنُ حَيَّانَ قَالَ انْطَلَقْتُ أَنَا وَحُصَيْنُ
بْنُ سَبْرَةَ وَعُمَرُ بْنُ مُسْلِمٍ إِلَى زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ فَلَمَّا
جَلَسْنَا إِلَيْهِ قَالَ لَهُ حُصَيْنٌ لَقَدْ لَقِيتَ يَا زَيْدُ خَيْرًا
كَثِيرًا رَأَيْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَمِعْتَ
حَدِيثَهُ وَغَزَوْتَ مَعَهُ وَصَلَّيْتَ خَلْفَهُ لَقَدْ لَقِيتَ يَا زَيْدُ
خَيْرًا كَثِيرًا حَدِّثْنَا يَا زَيْدُ مَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا ابْنَ أَخِي وَاللَّهِ لَقَدْ كَبِرَتْ
سِنِّي وَقَدُمَ عَهْدِي وَنَسِيتُ بَعْضَ الَّذِي كُنْتُ أَعِي مِنْ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَا حَدَّثْتُكُمْ فَاقْبَلُوا وَمَا لَا
فَلَا تُكَلِّفُونِيهِ ثُمَّ قَالَ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَوْمًا فِينَا خَطِيبًا بِمَاءٍ يُدْعَى خُمًّا بَيْنَ مَكَّةَ
وَالْمَدِينَةِ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ وَوَعَظَ وَذَكَّرَ ثُمَّ
قَالَ أَمَّا بَعْدُ أَلَا أَيُّهَا النَّاسُ فَإِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ يُوشِكُ
أَنْ يَأْتِيَ رَسُولُ رَبِّي فَأُجِيبَ وَأَنَا تَارِكٌ فِيكُمْ ثَقَلَيْنِ
أَوَّلُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى وَالنُّورُ فَخُذُوا بِكِتَابِ
اللَّهِ وَاسْتَمْسِكُوا بِهِ فَحَثَّ عَلَى كِتَابِ اللَّهِ وَرَغَّبَ فِيهِ
ثُمَّ قَالَ وَأَهْلُ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي
أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ بَيْتِي أُذَكِّرُكُمْ اللَّهَ فِي أَهْلِ
بَيْتِي فَقَالَ لَهُ حُصَيْنٌ وَمَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ يَا زَيْدُ أَلَيْسَ
نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ قَالَ نِسَاؤُهُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ وَلَكِنْ
أَهْلُ بَيْتِهِ مَنْ حُرِمَ الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ قَالَ وَمَنْ هُمْ قَالَ هُمْ
آلُ عَلِيٍّ وَآلُ عَقِيلٍ وَآلُ جَعْفَرٍ وَآلُ عَبَّاسٍ قَالَ كُلُّ هَؤُلَاءِ
حُرِمَ الصَّدَقَةَ قَالَ نَعَمْ و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارِ بْنِ
الرَّيَّانِ حَدَّثَنَا حَسَّانُ يَعْنِي ابْنَ إِبْرَاهِيمَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ
مَسْرُوقٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ حَيَّانَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ عَنْ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَسَاقَ الْحَدِيثَ بِنَحْوِهِ بِمَعْنَى
حَدِيثِ زُهَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا
جَرِيرٌ كِلَاهُمَا عَنْ أَبِي حَيَّانَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَ حَدِيثِ
إِسْمَعِيلَ وَزَادَ فِي حَدِيثِ جَرِيرٍ كِتَابُ اللَّهِ فِيهِ الْهُدَى
وَالنُّورُ مَنْ اسْتَمْسَكَ بِهِ وَأَخَذَ بِهِ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ
أَخْطَأَهُ ضَلَّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارِ بْنِ الرَّيَّانِ حَدَّثَنَا
حَسَّانُ يَعْنِي ابْنَ إِبْرَاهِيمَ عَنْ سَعِيدٍ وَهُوَ ابْنُ مَسْرُوقٍ عَنْ
يَزِيدَ بْنِ حَيَّانَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ دَخَلْنَا عَلَيْهِ
فَقُلْنَا لَهُ لَقَدْ رَأَيْتَ خَيْرًا لَقَدْ صَاحَبْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَلَّيْتَ خَلْفَهُ وَسَاقَ الْحَدِيثَ بِنَحْوِ
حَدِيثِ أَبِي حَيَّانَ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ أَلَا وَإِنِّي تَارِكٌ فِيكُمْ
ثَقَلَيْنِ أَحَدُهُمَا كِتَابُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ هُوَ حَبْلُ اللَّهِ مَنْ
اتَّبَعَهُ كَانَ عَلَى الْهُدَى وَمَنْ تَرَكَهُ كَانَ عَلَى ضَلَالَةٍ وَفِيهِ
فَقُلْنَا مَنْ أَهْلُ بَيْتِهِ نِسَاؤُهُ قَالَ لَا وَايْمُ اللَّهِ إِنَّ
الْمَرْأَةَ تَكُونُ مَعَ الرَّجُلِ الْعَصْرَ مِنْ الدَّهْرِ ثُمَّ يُطَلِّقُهَا
فَتَرْجِعُ إِلَى أَبِيهَا وَقَوْمِهَا أَهْلُ بَيْتِهِ أَصْلُهُ وَعَصَبَتُهُ
الَّذِينَ حُرِمُوا الصَّدَقَةَ بَعْدَهُ [18]
Artinya: Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan Syuja' bin Makhlad seluruhnya dari Ibnu 'Ulayyah, Zuhair berkata; Telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Ibrahim; Telah menceritakan kepadaku Abu Hayyan; Telah menceritakan kepadaku Yazid bin Hayyan dia berkata; "Pada suatu hari saya pergi ke Zaid bin Arqam bersama Husain bin Sabrah dan Umar bin Muslim. Setelah kami duduk, Husain berkata kepada Zaid bin Arqam. Hai Zaid, kamu telah memperoleh kebaikan yang banyak. Kamu pernah melihat Rasulullah. Kamu pernah mendengar sabda beliau. Kamu pernah bertempur menyertai beliau. Dan kamu pun pernah shalat jama'ah bersama beliau. Sungguh kamu telah memperoleh kebaikan yang banyak. OIeh karena itu hai Zaid. sampaikanlah kepada kami apa yang pernah kamu dengar dari Rasulullah ﷺ! Zaid bin Arqam berkata; Hai kemenakanku, demi Allah sesungguhnya aku ini sudah tua dan ajalku sudah semakin dekat. Aku sudah lupa sebagian dari apa yang pernah aku dengar dari Rasulullah ﷺ. Oleh karena itu, apa yang bisa aku sampaikan, maka terimalah dan apa yang tidak bisa aku sampaikan. maka janganlah kamu memaksaku untuk menyampaikannya." Kemudian Zaid bin Arqam meneruskan perkataannya. Pada suatu ketika, Rasulullah ﷺ berdiri dan berpidato di suatu tempat air yang di sebut Khumm, yang terletak antara Makkah dan Madinah. Beliau memuji Allah, kemudian menyampaikan nasihat dan peringatan serta berkata; Ketahuilah hai saudara-saudara, bahwasanya aku adalah manusia biasa seperti kalian. Sebentar lagi utusan Tuhanku, malaikat pencabut nyawa, akan datang kepadaku dan aku pun siap menyambutnya. Sesungguhnya aku akan meninggalkan dua hal yang berat kepada kalian, yaitu: Pertama, Al-Qur 'an yang berisi petunjuk dan cahaya. Oleh karena itu, laksanakanlah isi Al Qur'an dan peganglah. Sepertinya Rasulullah sangat mendorong dan menghimbau pengamalan Al Qur'an. Kedua, keluargaku. Aku ingatkan kepada kalian semua agar berpedoman kepada hukum Allah dalam memperlakukan keluargaku." (Beliau ucapkan sebanyak tiga kali). Husain bertanya kepada Zaid bin Arqarn; "Hai Zaid, sebenarnya siapakah ahlul bait (keluarga) Rasulullah itu? Bukankah istri-istri beliau itu adalah ahlul bait (keluarga) nya?" Zaid bin Arqam berkata; "Istri-istri beliau adalah ahlul baitnya. tapi ahlul bait beliau yang dimaksud adalah orang yang diharamkan untuk menerima zakat sepeninggalan beliau." Husain bertanya; "Siapakah mereka itu?" Zaid bin Arqam menjawab; "Mereka adalah keluarga Ali, keluarga Aqil. keluarga Ja'far, dan keluarga Abbas." Husain bertanya; "Apakah mereka semua diharamkan untuk menerima zakat?" Zaid bin Arqam menjawab."Ya." Dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakkar bin Ar Rayyan; Telah menceritakan kepada kami Hassan yaitu Ibnu Ibrahim dari Sa'id bin Masruq dari Yazid bin Hayyan dari Zaid bin Arqam dari Nabi ﷺ, (lalu dia menyebutkan Haditsnya yang semakna dengan Hadits Zuhair; Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah; Telah menceritakan kepada kami Muhamad bin Fudhail; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim; Telah mengabarkan kepada kami Jarir keduanya dari Abu Hayyan melalui jalur ini sebagaimana Hadits Ismail dan di dalam Hadits Jarir ada tambahan; 'Yaitu Kitabullah yang di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Barang siapa yang berpegang teguh dengannya dan mengambil pelajaran dari dalamnya maka dia akan berada di atas petunjuk. Dan barang siapa yang menganggapnya salah, maka dia akan tersesat. Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakkar bin Ar Rayyan; Telah menceritakan kepada kami Hassan yaitu Ibnu Ibrahim dari Sa'id yaitu Ibnu Masruq dari Yazid bin Hayyan dari Zaid bin Arqam dia berkata; Kami menemui Zaid bin Arqam, lalu kami katakan kepadanya; 'Sungguh kamu telah memiliki banyak kebaikan. Kamu telah bertemu dengan Rasulullah, shalat di belakang beliau…dan seterusnya sebagaimana Hadits Abu Hayyan. Hanya saja dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: 'Ketahuilah sesungguhnya aku telah meninggalkan untuk kalian dua perkara yang sangat besar. Salah satunya adalah Al Qur'an, barang siapa yang mengikuti petunjuknya maka dia akan mendapat petunjuk. Dan barang siapa yang meninggalkannya maka dia akan tersesat.' Juga di dalamnya disebutkan perkataan; Lalu kami bertanya; siapakah ahlu baitnya, bukankah istri-istri beliau? Dia menjawab; Bukan, demi Allah, sesungguhnya seorang istri bisa saja dia setiap saat bersama suaminya. Tapi kemudian bisa saja ditalaknya hingga akhirnya dia kembali kepada bapaknya dan kaumnya. Yang dimaksud dengan ahlu bait beliau adalah, keturunan beliau yang diharamkan bagi mereka untuk menerima zakat.'
4.3.
Meminta Petunjuk Kepada Allah, Yang Dimksudkan Untuk Petunjuk Jalan
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 1124 disebutkan perintah nabi untuk Mintalah petunjuk kepada Allah, yang kamu maksudkan untuk petunjuk jalan. Dan mintalah istiqamah kepada Allah, yang kamu maksudkan dengan istiqamah tersebut adalah seperti istiqamahnya anak panah;
حَدَّثَنَا
عَلِيُّ بْنُ عَاصِمٍ أَخْبَرَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ الْجَرْمِىُّ عَنْ أَبِي
بُرْدَةَ بْنِ أَبِي مُوسَى قَالَ كُنْتُ جَالِسًا مَعَ أَبِي فَجَاءَ عَلِيٌّ
فَقَامَ عَلَيْنَا فَسَلَّمَ ثُمَّ أَمَرَ أَبَا مُوسَى بِأُمُورٍ مِنْ أُمُورِ
النَّاسِ قَالَ ثُمَّ قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لِي رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَلْ اللَّهَ الْهُدَى وَأَنْتَ
تَعْنِي بِذَلِكَ هِدَايَةَ الطَّرِيقِ وَاسْأَلْ اللَّهَ السَّدَادَ وَأَنْتَ
تَعْنِي بِذَلِكَ تَسْدِيدَكَ السَّهْمَ . [19].
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ali bin 'Ashim telah mengabarkan kepada kami 'Ashim bin Kulaib Al Jarmi dari Abu Burdah bin Abu Musa berkata; Ketika saya duduk bersama bapakku, tiba-tiba datanglah Ali, dia mengucapkan salam dan menyuruh Abu Musa untuk mengurusi salah satu urusan orang banyak. Kemudian Ali Radhiallah 'anhu berkata; Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku: "Mintalah petunjuk kepada Allah, yang kamu maksudkan untuk petunjuk jalan. Dan mintalah istiqamah kepada Allah, yang kamu maksudkan dengan istiqamah tersebut adalah seperti istiqamahnya anak panah" ..
4.4. Beriman Dan Mengikuti Allah, Rasul-Nya Dan Kitab-Nya
Di dalam Al Quran surat Al A’raf/ 7: 159 digambarkan perintah untuk berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk;
قُلْ يَا
أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ
مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ
فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ
بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Artinya: Katakanlah: "Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat petunjuk". (QS. Al A’raf/ 7: 158)
4.5. Bertaubat, Beriman, Beramal Shalih Kemudian Menerima Hidayah
Di dalam Al Quran surat Thaha/ 20: 80 dinyatakan bahwa Allah akan
memberi ampunan kepada orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian
menerima hidayah;
وَإِنِّي
لَغَفَّارٌ لِّمَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا ثُمَّ اهْتَدَىٰ
Artinya: Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertaubat, beriman, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar. (QS. Thaha/ 20: 82)
4.6.
Berilmu
Hidayah sejatinya milik Allah, sehingga yang dapat memberikannya hanya Allah, manusia tidak dapat memberi hidayah kepada orang lain, tetapi manusia dapat menjadi perantara bagi orang lain untuk mendapatkan hidayah, selain itu manusia diberi kemampuan untuk mencari atau meraih hidayah untuk dirinya sendiri, sedangkan ilmu merupakan salah satu pintu menuju terbukanya hidayah, sehingga ilmu memiliki sifat yang sama dengan hidayah.
Sebagaimana hidayah Ilmu sejatinya milik Allah, sehingga hanya Allah yang dapat memberikan ilmu kepada manusia, sedangkan manusia tidak dapat memberi ilmu kepada orang lain, tetapi manusia dapat menjadi perantara bagi orang lain untuk mendapatkan ilmu, di sisi lain manusia diberi kemampuan untuk; mencari, meraih, menntut ilmu untuk dirinya sendiri, berikut ini akan dikemukakan beberapa ayat dan hadits yang berkaitan dengan ilmu, yang dikelompokkan berdasar beberapa kategori berikut;
4.6.1. Hikmah Ilmu
Berikut adalah ayat-ayat dan hadits nabi yang berkaitan dengan hikmah
ilmu;
4.6.1.1.
Diberi Petunjuk Jalan Yang Lurus
Di dalam Al Quran surat
Saba'/ 34: 6 digambarkan bahwa orang-orang yang diberi ilmu mengetahui bahwa Al
Quran benar, dan akan menunjuki kepada jalan yang benar;
وَيَرَى الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ الَّذِي
أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ هُوَ الْحَقَّ وَيَهْدِي إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ
الْحَمِيدِ
Artinya: Dan orang-orang
yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu
dari Tuhanmu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang
Maha Perkasa lagi Maha Terpuji. (QS. Saba'/ 34: 6)
4.6.1.2.
Dinaikkan Derajatnya
Di dalam Al Quran surat
Al-Mujadilah/ 58: 11 dinyatakan bahwa Allah meninggikan orang-orang beriman dan
orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ
لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ وَإِذَا
قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ
وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ
Artinya: Hai orang-orang
beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam
majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu.
Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya
Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang
yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa
yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah/ 58: 11)
4.6.1.3.
Keutamaan Ilmu Lebih Baik Daripada Keutamaan Ibadah
Di dalam kitab Mustadrak
Hakim hadits nomor 317 dinyatakan bahwa Keutamaan ilmu lebih baik daripada
keutamaan ibadah;
حَدَّثَنَاهُ أَبُو عَلِيٍّ الْحَافِظُ، ثنا
الْهَيْثَمُ بْنُ خَلَفٍ الدُّورِيُّ، ثنا عَبَّادُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا عَبْدُ
اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْقُدُّوسِ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ مُطَرِّفِ بْنِ
الشِّخِّيرِ، عَنْ حُذَيْفَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «فَضْلُ الْعِلْمِ خَيْرٌ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ، وَخَيْرُ
دِينِكُمُ الْوَرَعُ»[20]
Artinya: Abu Ali Al Hafizh
menceritakan kepada kami, Al Haitsam bin Khalaf Ad-Duri menceritakan kepada
kami, Abbad bin Ya'qub menceritakan kepada kami, Abdullah bin Abdul Quddus
menceritakan kepada kami dari Al A'masy, dan Mutharrif bin Asy- Syikhkhir, dari
Hudzaifah, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
”Keutamaan ilmu lebih baik daripada keutamaan ibadah, dan sebaik- baik agama
kalian adalah wara.”
4.6.1.4.
Keutamaan Ilmu Lebih Aku Sukai Daripada Keutamaan Ibadah
Di
dalam kitab Musnad Bazar hadits nomor 2969 disebutkan pernyataan Bahwa
keutamaan ilmu lebih aku sukai daripada keutamaan ibadah;
حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ يَعْقُوبَ، قَالَ:
أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْقُدُّوسِ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ
مُطَرِّفٍ، عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ: «فَضْلُ الْعِلْمِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ فَضْلِ
الْعِبَادَةِ، وَخَيْرُ دِينِكِمُ الْوَرَعُ» وَهَذَا الْكَلَامُ لَا نَعْلَمُهُ
يُرْوَى عَنِ النَّبِيِّ ﷺ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ، وَإِنَّمَا يُعْرَفُ
هَذَا الْكَلَامُ مِنْ كَلَامِ مُطَرِّفٍ، وَلَا نَعْلَمُ رَوَاهُ، عَنِ
الْأَعْمَشِ إِلَّا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْقُدُّوسِ، وَلَمْ نَسْمَعْهُ
إِلَّا مِنْ عَبَّادِ بْنِ يَعْقُوبَ [21]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami ‘Abbad bin Ya‘qub, ia berkata: telah mengabarkan
kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdul Quddus, dari al-A‘masy, dari Mutharrif, dari
Hudzaifah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Keutamaan ilmu lebih aku sukai daripada keutamaan ibadah, dan
sebaik-baik agama kalian adalah sifat wara‘.” Kemudian disebutkan bahwa ucapan
ini tidak diketahui diriwayatkan dari Nabi ﷺ kecuali
melalui jalur ini, dan sesungguhnya ucapan tersebut lebih dikenal sebagai
perkataan Mutharrif, serta tidak diketahui ada yang meriwayatkannya dari
al-A‘masy selain ‘Abdullah bin ‘Abdul Quddus, dan kami tidak mendengarnya
kecuali dari ‘Abbad bin Ya‘qub.
4.6.1.5.
Satu Ilmu Yang diamalkan Lebih Baik Dari Dunia Seisinya
Di dalam kitab Sunan Darimi
atsar nomor 397 digambarkan bahwa satu ilmu yang diamalkannya, lebih baik
dibandingkan dengan dunia dan seisinya;
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ
حَدَّثَنَا زَائِدَةُ عَنْ هِشَامٍ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ إِنْ كَانَ الرَّجُلُ
لَيُصِيبُ الْبَابَ مِنْ الْعِلْمِ فَيَعْمَلُ بِهِ فَيَكُونُ خَيْرًا لَهُ مِنْ
الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا لَوْ كَانَتْ لَهُ فَجَعَلَهَا فِي الْآخِرَةِ قَالَ
قَالَ الْحَسَنُ كَانَ الرَّجُلُ إِذَا طَلَبَ الْعِلْمَ لَمْ يَلْبَثْ أَنْ يُرَى
ذَلِكَ فِي بَصَرِهِ وَتَخَشُّعِهِ وَلِسَانِهِ وَيَدِهِ وَصِلَتِهِ وَزُهْدِهِ
قَالَ و قَالَ مُحَمَّدٌ انْظُرُوا عَمَّنْ تَأْخُذُونَ هَذَا الْحَدِيثَ
فَإِنَّمَا هُوَ دِينُكُمْ [22]
Artinya: Telah mengabarkan
kepada kami Ahmad bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Za`idah dari
Hisyam dari Al Hasan ia berkata: "Jika seseorang mendapatkan satu ilmu
kemudian diamalkannya, yang demikian lebih baik dibandingkan dengan dunia dan
seisinya. Kalaulah dunia tersebut berada dalam genggamannya, akan
dipergunakannya untuk akhirat. Perawi berkata, Hasan menambahkan: 'Jika seorang
lelaki serius mencari ilmu, maka pengaruhnya senantiasa nampak pada pandangan,
kekhusyu'an, lisan, tangan, shalat dan kezuhudannya. Perawi berkata, Dan
Muhammad telah berkata: 'lihatlah oleh kalian semua dari siapa kalian mengambil
hadits ini, karena hadits ini bagian dari kalian' ".
4.6.1.6.
Mencari Ilmu Harus Karena Allah
Di dalam kitab Sunan Ibnu
Majah hadits nomor 258 ditegaskan bahwa Barangsiapa mencari ilmu untuk selain
Allah, atau dengannya ia ingin mencari selain (ridla) Allah, maka hendaklah ia
menyiapkan tempat duduknya di neraka;
حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ أَخْزَمَ وَأَبُو بَدْرٍ
عَبَّادُ بْنُ الْوَلِيدِ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ
الْهُنَائِيُّ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْمُبَارَكِ الْهُنَائِيُّ عَنْ أَيُّوبَ
السَّخْتِيَانِيِّ عَنْ خَالِدِ بْنِ دُرَيْكٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ النَّبِيَّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِغَيْرِ اللَّهِ
أَوْ أَرَادَ بِهِ غَيْرَ اللَّهِ فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ [23]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Zaid bin Ahzam dan Abu Badr Abbad Ibnul Walid keduanya
berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Abbad Al Huna`i berkata,
telah menceritakan kepada kami Ali Ibnul Mubarak Al Huna`i dari Ayub As
Sikhtiyani dari Khalid bin Duraik dari Ibnu Umar bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa mencari ilmu untuk selain Allah,
atau dengannya ia ingin mencari selain (ridla) Allah, maka hendaklah ia
menyiapkan tempat duduknya di neraka."
4.6.1.7. Tidak Mencari Ilmu Untuk Membantah Ulama, Merendahkan Orang Bodoh,
Mencari Perhatian Atau Mendapat Keuntungan Dari Penguasa
Di dalam kitab Sunan Darimi
atsar nomor 369 dinyatakan Siapa yang mencari ilmu karena empat perkara akan
masuk neraka; untuk mendebat ulama, untuk berbantah-bantahan dengan orang-orang
bodoh, untuk memalingkan wajah manusia kepadanya (menjadi idola dan pusat
perhatian) atau untuk mengambil perhatian para penguasa;
أَخْبَرَنَا أَبُو عُبَيْدٍ الْقَاسِمُ بْنُ
سَلَّامٍ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْمَعِيلَ هُوَ إِبْرَاهِيمُ بْنُ سُلَيْمَانَ
الْمُؤَدِّبُ عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ عَنْ مَنْ حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي وَائِلٍ
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِأَرْبَعٍ دَخَلَ النَّارَ أَوْ
نَحْوَ هَذِهِ الْكَلِمَةِ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيُمَارِيَ بِهِ
السُّفَهَاءَ أَوْ لِيَصْرِفَ بِهِ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ أَوْ لِيَأْخُذَ
بِهِ مِنْ الْأُمَرَاءِ [24]
Artinya: Telah mengabarkan
kepada kami Abu 'Ubaid Al Qasim bin Salam telah menceritakan kepada kami Abu
Isma'il Ibrahim bin Sulaiman Al Mu`addib, dari 'Ashim Al Ahwal dari seseorang
yang menceritakan kepadanya dari Abu Wa`il dari Abdullah ia berkata:
"Siapa yang mencari ilmu karena empat perkara akan masuk neraka (atau yang
seperti kalimat tersebut), untuk mendebat ulama, untuk berbantah-bantahan
dengan orang-orang bodoh, untuk memalingkan wajah manusia kepadanya (menjadi
idola dan pusat perhatian) atau untuk mengambil perhatian para penguasa".
4.6.1.8.
Majelis Ilmunya Mengantar kepada Mengingat Allah
Di dalam kitab sunan Sunan
Darimi atsar nomor 383 dinyatakan untuk mengikuti majelis ilmu yang mengantar
kepada mengingat Allah;
أَخْبَرَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ أَخْبَرَنَا
شُعَيْبُ بْنُ أَبِي حَمْزَةَ عَنْ ابْنِ أَبِي حُسَيْنٍ عَنْ شَهْرِ بْنِ
حَوْشَبٍ قَالَ بَلَغَنِي أَنَّ لُقْمَانَ الْحَكِيمَ كَانَ يَقُولُ لِابْنِهِ يَا
بُنَيَّ لَا تَعَلَّمْ الْعِلْمَ لِتُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِتُمَارِيَ
بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ تُرَائِيَ بِهِ فِي الْمَجَالِسِ وَلَا تَتْرُكْ الْعِلْمَ
زُهْدًا فِيهِ وَرَغْبَةً فِي الْجَهَالَةِ يَا بُنَيَّ اخْتَرْ الْمَجَالِسَ
عَلَى عَيْنِكَ وَإِذَا رَأَيْتَ قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ فَاجْلِسْ مَعَهُمْ فَإِنَّكَ
إِنْ تَكُنْ عَالِمًا يَنْفَعْكَ عِلْمُكَ وَإِنْ تَكُنْ جَاهِلًا يُعَلِّمُوكَ
وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِمْ بِرَحْمَتِهِ فَيُصِيبَكَ بِهَا
مَعَهُمْ وَإِذَا رَأَيْتَ قَوْمًا لَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ فَلَا تَجْلِسْ
مَعَهُمْ فَإِنَّكَ إِنْ تَكُنْ عَالِمًا لَا يَنْفَعْكَ عِلْمُكَ وَإِنْ تَكُنْ
جَاهِلًا زَادُوكَ غَيًّا وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِمْ بِعَذَابٍ
فَيُصِيبَكَ مَعَهُمْ [25]
Artinya: Telah mengabarkan
kepada kami Al Hakam bin Nafi' telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Ibnu
Abu Hasan dari Syahr bin Hausyab berkata: Telah sampai kepadaku Lukman Al Hakim
berkata kepada anaknya: wahai anakku, janganlah anda mempelajari ilmu untuk menandingi
para ulama, atau untuk berbantah-bantahan dengan orang-orang bodoh atau untuk
berbuat riya dalam majlis-majlis, dan janganlah kamu meninggalkan ilmu karena
alasan tidak selera dan senang dalam kebodohan. Wahai anakku, pilihlah
majlis-majilis yang kau pandang baik oleh matamu, jika kamu melihat suatu kaum
berdzikir kepada Allah, duduklah bersama mereka, sesungguhnya jika engkau
menjadi seorang alim, ilmumu memberi manfaat kepadamu dan jika kamu menjadi
orang bodoh, mereka akan mengajarimu, dan semoga Allah membuka rahmatNya untuk
mereka sehingga rahmat itu akan turut diberikan kepadamu sekaligus orang-orang
yang bersamamu. Dan jika kamu melihat suatu kaum yang tidak berdzikir kepada
Allah, janganlah duduk bersama mereka, karena jika kamu seorang alim, ilmumu
tidak memberi manfaat kepadamu, dan jika kamu seorang yang bodoh, mereka tidak
menambah kepadamu kecuali kebodohan. Siapa tahu Allah menimpakan adzab atas
mereka, dan adzab itu menimpamu bersama mereka ".
4.6.1.9.
Jika Manusia Meninggal Dunia Terputus Amalnya Kecuali; .. Ilmu Yang
Bermanfaat
Di dalam kitab Shahih Muslim
hadits nomor 1631 ditegaskan bahwa jika manusia meninggal dunia terputuslah
amalannya, kecuali; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfa'at baginya dan anak
shalih yang selalu mendoakannya
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ
يَعْنِي ابْنَ سَعِيدٍ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ هُوَ ابْنُ
جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ
انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثَةٍ إِلَّا مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ
أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ [26]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah -yaitu Ibnu Sa'id- dan
Ibnu Hujr mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Isma'il -yaitu Ibnu
Ja'far- dari Al 'Ala' dari Ayahnya dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila salah seorang manusia meninggal dunia,
maka terputuslah segala amalannya kecuali tiga perkara; sedekah jariyah, ilmu
yang bermanfa'at baginya dan anak shalih yang selalu mendoakannya."
4.6.1.10. Dunia Itu Terlaknat Dan Terlaknat Pula Apa Yang Ada Di Dalamnya,
Kecuali Dzikir Kepada Allah Dan Yang Berhubungan Dengannya, Atau Seorang Yang
'Alim Dan Mengajarkan Ilmunya
Di dalam kitab Sunan Ibnu
Majah hadits nomor 4112 ditegaskan bahwa Dunia itu terlaknat dan terlaknat pula
apa yang ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan yang berhubungan
dengannya, atau seorang yang 'alim dan mengajarkan ilmunya;
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مَيْمُونٍ الرَّقِّيُّ
حَدَّثَنَا أَبُو خُلَيْدٍ عُتْبَةُ بْنُ حَمَّادٍ الدِّمَشْقِيُّ عَنْ ابْنِ
ثَوْبَانَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ قُرَّةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ ضَمْرَةَ
السَّلُولِيِّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقُولُ الدُّنْيَا مَلْعُونَةٌ
مَلْعُونٌ مَا فِيهَا إِلَّا ذِكْرَ اللَّهِ وَمَا وَالَاهُ أَوْ عَالِمًا أَوْ
مُتَعَلِّمًا [27]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ali bin Maimun Ar Raqqi telah menceritakan kepada kami
Abu Khulaid 'Utbah bin Hammad Ad Dimasyqi dari Ibnu Tsauban dari 'Atha bin
Qurrah dari Abdullah bin Dlamrah As Saluli dia berkata; telah menceritakan
kepada kami Abu Hurairah dia berkata, "Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Dunia itu terlaknat dan terlaknat pula apa yang
ada di dalamnya, kecuali dzikir kepada Allah dan yang berhubungan dengannya,
atau seorang yang 'alim dan mengajarkan ilmunya."
4.6.1.11. Satu Inti Sari Ilmu Lebih Aku Cintai Dari Seribu Raka’at, Orang yang
Meninggal Dunia Dalam Mencari Ilmu Termasuk Mati Syahid
Di dalam kitab Musnad Bazar
hadits nomor 8574 dinyatakan bahwa satu inti sari ilmu lebih aku cintai dari
seribu raka’at dan orang yang meninggal dunia dalam mencari ilmu termasuk mati
syahid;
حَدَّثنا أَبُو كنانة مُحَمد بن أشرس
المؤدب، قَال: حَدَّثنا أَبُو عامر العقدي، قَال: حَدَّثنا هلال بن عَبد الرحمن
الحنفي، عَن عَطاء بن أبي ميمونة، عَن أبي سَلَمَة، عَن أبي هُرَيرة، وأبي ذر
قالا: لباب من العلم يتعلمه الرجل أحب إِلَيَّ من ألف ركعة وقالا: قَالَ رَسُول
اللهِ ﷺ: إذا جاء الموت، -أو كلمة نحوها- لطالب العلم، وهُو على هذه الحال مات،
وهُو شهيد. وَهَذَا الْكَلامُ لا نَعْلَمُ رَوَاهُ عَنِ
النَّبِيّ ﷺ إلَاّ أَبُو هُرَيرة، وَأبُو ذر عَنِ النَّبِيّ ﷺ بِهَذَا الإسناد. [28]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu Kinanah Muhammad ibnu Asyras Al Mu’adib, berkata:
telah menceritakan kepada kami Abu ‘Amr Al ‘Aqdiy, berkata: telah menceritakan
kepada kami Hilal ibnu Abdurrahman Al Hanafy, dari ‘Atha ibnu Abi Maimunah,
dari Abi Salamah, dari Abi Hurairah, dan Abi Dzar berkata: satu inti sari ilmu
yang dipelajari seseorang lebih aku sukai dari seribu rakaat, dan berkata:
bersabda Rasulullah ﷺ: jika datang kematian (atau kalimat semisalnya) pada
orang yang mencari ilmu, dan dia dalam keadaan tersebut meninggal dunia, maka
di termasuk mati syahid, dan perkataan ini tidak kami ketahui riwayatnya dari
Nabi ﷺ kecuali Abu Hurairah, dan Abu Dzar dari Nabi ﷺ dengan sanad ini.
4.6.1.12. Tidurnya Orang Berilmu Lebih Utama dari Shalatnya
Orang Bodoh
Di dalam kitab Hilyatul Aulia
halaman 385 digambarkan bahwa tidurnya orang berilmu lebih baik dari ibadahnya
orang bodoh;
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، قَالَ:
ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْحَسَنِ، قَالَ: نا أَحْمَدُ بْنُ يَحْيَى
الصُّوفِيُّ، قَالَ: نا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الضَّرِيرُ، قَالَ: ثنا جَعْفَرُ
بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ أَبِي
الْبَخْتَرِيِّ، عَنْ سَلْمَانَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ: «نَوْمٌ عَلَى عِلْمٍ خَيْرٌ مِنْ صَلَاةٍ عَلَى جَهْلٍ». كَذَا
رَوَاهُ الْأَعْمَشُ عَنْ أَبِي الْبَخْتَرِيِّ، وَأَرْسَلَهُ أَبُو
الْبَخْتَرِيِّ عَنْ سَلْمَانَ، أَيْضًا [29]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad, berkata; telah menceritakan
kepada kami Abdurrahman ibnu Al hasan, berkata: telah menceritakan kepada kami
Ahmad ibnu Yahya As Shufiyu, berkata: telah menceritakan kepada kami Ismail,
dari Al A’masi, dari Abi Al bakhtary, dari Salman, bahwa Nabi ﷺ bersabda:
Tidurnya orang berilmu lebih baik dari shalatnya orang bodoh, Demikian juga
diriwayatkan Al A’masy dari Abu Al bakhtary, menyampaikan Abu Bahtary dari
Salman, dekian.
4.6.1.13. Ada Dua Jenis Ulama’
Di dalam kitab Mujam
Thabarani Ausath hadits nomor 7181 digambarkan dua jenis ulama’;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَحْمَوَيْهِ
الْجَوْهَرِيُّ، نَا أَحْمَدُ بْنُ الْمِقْدَامِ الْعِجْلِيُّ، ثَنَا عَبْدُ
اللَّهِ بْنُ خِرَاشٍ، عَنِ الْعَوَّامِ بْنِ حَوْشَبٍ، عَنْ شَهْرِ بْنِ
حَوْشَبٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «عُلَمَاءُ هَذِهِ
الْأُمَّةِ رَجُلَانِ، رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ عِلْمًا، فَبَذَلَهُ لِلنَّاسِ
وَلَمْ يَأْخُذْ عَلَيْهِ طُمْعًا، وَلَمْ يَشْتَرِ بِهِ ثَمَنًا، فَذَلِكَ
تَسْتَغْفِرُ لَهُ حِيتَانُ الْبَحْرِ، وَدَوَابُّ الْبَرِّ، وَالطَّيْرُ فِي
جَوِّ السَّمَاءِ، وَيَقْدُمُ عَلَى اللَّهِ سَيِّدًا شَرِيفًا حَتَّى يُرَافِقَ
الْمُرْسَلِينَ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ عِلْمًا، فَبَخِلَ بِهِ عَنْ عِبَادِ
اللَّهِ، وَأَخَذَ عَلَيْهِ طُمْعًا، وَاشْتَرَى بِهِ ثَمَنًا، فَذَاكَ يُلْجَمُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ، وَيُنَادِي مُنَادٍ، هَذَا الَّذِي
آتَاهُ اللَّهُ عِلْمًا فَبَخِلَ بِهِ عَنْ عِبَادِ اللَّهِ، وَأَخَذَ عَلَيْهِ
طُمْعًا، وَاشْتَرَى بِهِ ثَمَنًا، وَكَذَلِكَ حَتَّى يَفْرُغَ مِنَ الْحِسَابِ» [30]
Artinya: telah
menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Mahmuwiyah Al Jauhari, telah
menceritakan kepada kamiAhmad ibnu Al Miqdam Al ‘Ajli, telah menceritakan
kepada kamiAbdullah ibnu Kharasyi dari Al ‘Awam ibnu Hausyab dari Syahr ibnu
Hausab dari ibnu Abbas berkata: bersabda rasulullah ﷺ: ulama dalam umat ini
ada dua orang, seseorang yang diberi ilmu Allah kemudian memberikannya kepada
manusia dan tidak memiliki harapan dan tidak menjualnya dengan suatu harga,
maka yang demikian itu memohonkan ampun kepadnya ikan-ikan laut dan binatang
melata daratan dan burung-burung di langit, dan akan datang kepada Allah
sebagai orang terhormat yang mulia hingga ditemani para Rasul, dan laki-laki
yang diberi Allah ilmu kemudian dia bakhil dengannya dari mengabdi kepada
Allah, dan memiliki harapan dan menjualnya dengan suatu harga, maka yang
demikian itu di hari qiyamat akan dikekang dengan kekangan dari api, dan akan
dipanggil dengan panggilan inilah orang yang diberi ilmu Allah kemudian bakhil
dari mengabdi kepada Allah, dan memiliki harapan dan menjualnya dengan suatu
harga, dan demikian itu hingga menyelesaikan hisab. Hadits ini tidak
diriwayatkan secara umum kecuali Abdullah ibnu kharasy dan tidak diriwayatkan
dari ibnu Abbas kecuali sanad ini.
4.6.1.14. Ilmu Lebih Utama Dari Amal
Di dalam kitab Mujam
Thabarani Kabir hadits nomor 3111 digambarkan bahwa akan datang zaman ilmu
lebih utama dari amal;
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْحَاقَ
التُّسْتَرِيُّ، ثنا عَمْرُو بْنُ هِشَامٍ أَبُو أُمَيَّةَ الْحَرَّانِيُّ، ثنا
عُثْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ صَدَقَةَ، عَنْ زَيْدِ بْنِ وَاقِدٍ،
عَنِ الْعَلَاءِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ حِزَامِ بْنِ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ، عَنْ
أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «إِنَّكُمْ قَدْ أَصْبَحْتُمْ فِي زَمَانٍ
كَثِيرٍ فُقَهَاؤُهُ، قَلِيلٍ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيرٍ مُعْطُوهُ، قَلِيلٍ
سُؤَّالُهُ، الْعَمَلُ فِيهِ خَيْرٌ مِنَ الْعِلْمِ، وَسَيَأْتِي زَمَانٌ قَلِيلٌ
فُقَهَاؤُهُ، كَثِيرٌ خُطَبَاؤُهُ، كَثِيرٌ سُؤَّالُهُ، قَلِيلٌ مُعْطُوهُ،
الْعِلْمُ فِيهِ خَيْرٌ مِنَ الْعَمَلِ» [31]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Al Husain ibnu Ishaq At Tastari telah menceritakan
kepada kami ‘Amru ibnu Hisyam Abu Umayah Al Harani telah menceritakan kepada
kami Utsman ibnu Abdu Ar Rahman dari Shadaqah dari Zaid ibnu Waqidi dari Al
‘Ala’ ibnu Al Haris dari Hazam ibnu Hakim ibnu Hazam: dari Ayahnya dari Nabi
Muhammad ﷺ bersabda: sesungguhnya kalian telah mengalami zaman banyak
fuqaha’nya sedikit orang yang berbicara, banyak orang yang memberi dan sedikit
orang yang meminta, pada saati itu amal lebih baik dari ilmu, dan akan datang
zaman sedikit fuqaha’nya dan banyak orang berbicara, banyak orang meminta
sedikit orang yang memberi, maka saat itu ilmu lebih baik Dari amal.
4.6.2. Diberi Ilmu Oleh Allah
Berikut adalah ayat-ayat dan
hadits nabi yang berkaitan dengan orang-orang yang diberi ilmu;
4.6.2.1.
Bersujud Bila Dibacakan Ayat Al Quran
Di dalam Al Quran surat
Al-Isra'/ 17: 107 digambarkan bahwa orang-orang yang diberi pengetahuan
sebelumnya apabila Al Quran dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas
muka mereka sambil bersujud;
قُلْ آمِنُوا بِهِ أَوْ لَا تُؤْمِنُوا إِنَّ
الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهِ إِذَا يُتْلَى عَلَيْهِمْ يَخِرُّونَ
لِلْأَذْقَانِ سُجَّدًا
Artinya: Katakanlah:
"Berimanlah kamu kepadanya atau tidak usah beriman (sama saja bagi Allah).
Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Quran
dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil
bersujud,(QS. Al-Isra'/ 17: 107)
4.6.2.2.
Mengakui Kebenaran Al Quran, beriman dan hatinya tunduk
Di dalam Al Quran surat
Al-Hajj/ 22: 54 digambarkan bahwa orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini
bahwasanya Al Quran itulah yang hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan
tunduk hati mereka;
وَلِيَعْلَمَ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ أَنَّهُ
الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَيُؤْمِنُوا بِهِ فَتُخْبِتَ لَهُ قُلُوبُهُمْ وَإِنَّ
اللَّهَ لَهَادِ الَّذِينَ آمَنُوا إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Artinya: dan agar
orang-orang yang telah diberi ilmu, meyakini bahwasanya Al Quran itulah yang
hak dari Tuhan-mu lalu mereka beriman dan tunduk hati mereka kepadanya dan
sesungguhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada
jalan yang lurus.(QS. Al-Hajj/ 22: 54)
4.6.2.3.
Mengakui Ayat-Ayat Al Quran Adalah Penjelasan Yang Nyata
Di dalam Al Quran surat
Al-'Ankabut/ 29: 49 dijelaskan bahwa Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata
di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu;
بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ
الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ
Artinya: Sebenarnya, Al
Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi
ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang
zalim.(QS. Al-'Ankabut/ 29: 49)
4.6.2.4. Ilmu Yang Bermanfaat Dapat Membuatnya Menangis Karena Allah
Di dalam kitab Sunan Darimi
atsar nomor 299 dinyatakan bahwa barangsiapa yang dianugerahi ilmu dan ilmunya
tidak membuatnya menangis kepada Allah, berarti ia mendapatkan ilmu yang tidak
bermanfaat;
أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ أَبِي
أُسَامَةَ عَنْ مِسْعَرٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الْأَعْلَى التَّيْمِيَّ يَقُولُ
مَنْ أُوتِيَ مِنْ الْعِلْمِ مَا لَا يُبْكِيهِ لَخَلِيقٌ أَنْ لَا يَكُونَ
أُوتِيَ عِلْمًا يَنْفَعُهُ لِأَنَّ اللَّهَ تَعَالَى نَعَتَ الْعُلَمَاءَ ثُمَّ
قَرَأَ الْقُرْآنَ { إِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ إِلَى قَوْلِهِ يَبْكُونَ [32]
}
Artinya: Telah mengabarkan
kepada kami Sa'id bin Sulaiman dari Abu Usamah dari Mis'ar ia berkata:
"Aku pernah mendengar Abdul A'la At Taimi berkata: 'Barangsiapa yang
dianugerahi ilmu dan ilmunya tidak membuatnya menangis kepada Allah, berarti ia
mendapatkan ilmu yang tidak bermanfaat, karena Allah mensifati para ulama,
kemudian ia membaca Al Qur`an: sesungguhnya orang-orang yang dianugerahi ilmu)
sampai firmanNya: mereka selalu menangis -Qs. Al Isra`: 107-108-' ".
4.6.3. Mencari Ilmu (Belajar Dan Mengajar)
Di dalam Al Quran surat
Al-'Alaq/ 96: 1 ditegaskan perintah untuk membaca;
اقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ
Artinya: Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,
Perintah membaca tersebut
mengandung konsekwensi dari membaca, antara lain; berfikir, belajar, mengajar,
proses belajar-mengajaran dengan tujuan agar manusia semakin mengetahui dan
memahami, berikut akan dikemukakan beberapa hadits yang berkaitan dengan proses
mencari ilmu;
4.6.3.1.
Diriku Di Utus Sebagai Pengajar
Di dalam kitab Sunan Ibnu
Majah hadits nomor 229 Rasulullah menyatakan bahwa diriku diutus sebagai
pengajar;
حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ هِلَالٍ الصَّوَّافُ
حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ الزِّبْرِقَانِ عَنْ بَكْرِ بْنِ خُنَيْسٍ عَنْ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ
بْنِ عَمْرٍو قَالَ خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
ذَاتَ يَوْمٍ مِنْ بَعْضِ حُجَرِهِ فَدَخَلَ الْمَسْجِدَ فَإِذَا هُوَ
بِحَلْقَتَيْنِ إِحْدَاهُمَا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ وَيَدْعُونَ اللَّهَ
وَالْأُخْرَى يَتَعَلَّمُونَ وَيُعَلِّمُونَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلٌّ عَلَى خَيْرٍ هَؤُلَاءِ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ
وَيَدْعُونَ اللَّهَ فَإِنْ شَاءَ أَعْطَاهُمْ وَإِنْ شَاءَ مَنَعَهُمْ
وَهَؤُلَاءِ يَتَعَلَّمُونَ وَإِنَّمَا بُعِثْتُ مُعَلِّمًا فَجَلَسَ مَعَهُمْ [33]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Bisyr bin Hilal Ash Shawwafi berkata, telah
menceritakan kepada kami Dawud bin Az Zibirqan dari Bakr bin Khunais dari
Abdurrahman bin Ziyad dari Abdullah bin Yazid dari Abdullah bin 'Amru ia
berkata; Pada suatu hari Rasulullah ﷺ keluar
dari salah satu kamarnya dan masuk ke dalam masjid. Lalu beliau menjumpai dua
halaqah, salah satunya sedang membaca Al Qur`an dan berdo'a kepada Allah,
sedang yang lainnya melakukan proses belajar mengajar. Maka Nabi ﷺ pun bersabda: "Masing-masing berada di atas kebaikan,
mereka membaca Al Qur`an dan berdo`a kepada Allah, jika Allah menghendaki maka
akan memberinya dan jika tidak menghendakinya maka tidak akan memberinya. Dan
mereka sedang belajar, sementara diriku di utus sebagai pengajar, " lalu
beliau duduk bersama mereka.
4.6.3.2. Kelebihan Seorang Alim Dibanding Ahli Ibadah Seperti Keutamaan Rembulan
Pada Malam Purnama Atas Seluruh Bintang
Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 3641 dinyatakan bahwa barangsiapa meniti jalan untuk
menuntut ilmu, maka Allah akan mempermudahnya jalan ke surga. Sungguh, para
Malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridlaan kepada penuntut ilmu ..;
حَدَّثَنَا مُسَدَّدُ بْنُ مُسَرْهَدٍ حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دَاوُدَ سَمِعْتُ عَاصِمَ بْنَ رَجَاءِ بْنِ حَيْوَةَ
يُحَدِّثُ عَنْ دَاوُدَ بْنِ جَمِيلٍ عَنْ كَثِيرِ بْنِ قَيْسٍ قَالَ كُنْتُ
جَالِسًا مَعَ أَبِي الدَّرْدَاءِ فِي مَسْجِدِ دِمَشْقَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ فَقَالَ
يَا أَبَا الدَّرْدَاءِ إِنِّي جِئْتُكَ مِنْ مَدِينَةِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِحَدِيثٍ بَلَغَنِي أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا جِئْتُ لِحَاجَةٍ قَالَ فَإِنِّي سَمِعْتُ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا
يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ
وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ
الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ
وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ
كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ
الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا
دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ
وَافِرٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْوَزِيرِ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا
الْوَلِيدُ قَالَ لَقِيتُ شَبِيبَ بْنَ شَيْبَةَ فَحَدَّثَنِي بِهِ عَنْ عُثْمَانَ
بْنِ أَبِي سَوْدَةَ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ يَعْنِي عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَعْنَاهُ [34]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Musaddad bin Musarhad telah menceritakan kepada kami
Abdullah bin Daud aku mendengar 'Ashim bin Raja bin Haiwah menceritakan dari
Daud bin Jamil dari Katsir bin Qais ia berkata, "Aku pernah duduk bersama
Abu Ad Darda di masjid Damaskus, lalu datanglah seorang laki-laki kepadanya dan
berkata, "Wahai Abu Ad Darda, sesungguhnya aku datang kepadamu dari kota
Rasulullah ﷺ karena sebuah hadits yang sampai kepadaku bahwa engkau
meriwayatannya dari Rasulullah ﷺ. Dan
tidaklah aku datang kecuali untuk itu." Abu Ad Darda lalu berkata,
"Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa meniti jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan
mempermudahnya jalan ke surga. Sungguh, para Malaikat merendahkan sayapnya
sebagai keridlaan kepada penuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimintakan maaf
oleh penduduk langit dan bumi hingga ikan yang ada di dasar laut. Kelebihan
seorang alim dibanding ahli ibadah seperti keutamaan rembulan pada malam
purnama atas seluruh bintang. Para ulama adalah pewaris para nabi, dan para
nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanyalah mewariskan ilmu.
Barangsiapa mengambilnya maka ia telah mengambil bagian yang banyak."
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Wazir Ad Dimasyqi telah
menceritakan kepada kami Al Walid ia berkata; aku berjumpa dengan Syabib bin
Syaibah lalu ia menceritakannya kepadaku dari Utsman bin Abu Saudah dari Abu Ad
Darda dari Nabi ﷺ dengan maknanya."
4.6.3.3.
Mempelajari Dua Ayat Dari Kitab Allah 'Azza Wajalla Lebih Baik Baginya
Daripada Dua Ekor Unta
Di dalam kitab Sunan Abu Daud
hadits nomor 1456 digambarkan sungguh salah seorang diantara kalian setiap hari
datang ke Masjid, mempelajari dua ayat dari Kitab Allah 'azza wajalla adalah
lebih baik baginya daripada dua ekor unta, dua ayat lebih baik daripada tiga
unta;
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الْمَهْرِيُّ
حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ عَلِيِّ بْنِ رَبَاحٍ عَنْ
أَبِيهِ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ الْجُهَنِيِّ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ فِي الصُّفَّةِ فَقَالَ أَيُّكُمْ يُحِبُّ
أَنْ يَغْدُوَ إِلَى بُطْحَانَ أَوْ الْعَقِيقِ فَيَأْخُذَ نَاقَتَيْنِ
كَوْمَاوَيْنِ زَهْرَاوَيْنِ بِغَيْرِ إِثْمٍ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَلَا
قَطْعِ رَحِمٍ قَالُوا كُلُّنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَلَأَنْ يَغْدُوَ أَحَدُكُمْ
كُلَّ يَوْمٍ إِلَى الْمَسْجِدِ فَيَتَعَلَّمَ آيَتَيْنِ مِنْ كِتَابِ اللَّهِ
عَزَّ وَجَلَّ خَيْرٌ لَهُ مِنْ نَاقَتَيْنِ وَإِنْ ثَلَاثٌ فَثَلَاثٌ مِثْلُ
أَعْدَادِهِنَّ مِنْ الْإِبِلِ [35]
Artinya: Telah
menceritakan kepada Kami Sulaiman bin Daud Al Mahri, telah menceritakan kepada
Kami Ibnu Wahb, telah menceritakan kepada Kami Musa bin Ali bin Rabah dari
Ayahnya dari 'Uqbah bin 'Amir Al Juhani, ia berkata; Rasulullah ﷺ keluar menemui Kami sementara Kami berada di Shuffah,
kemudian beliau bertanya: "Siapakah diantara kalian ingin pergi ke Bathhan
atau 'Aqiq, kemudian mengambil dua ekor unta gemuk dan putih tanpa berbuat dosa
kepada Allah 'azza wajalla, dan tidak memutuskan hubungan kekerabatan?"
Mereka mengatakan; Kami semua wahai Rasul! Beliau bersabda: "Sungguh salah
seorang diantara kalian setiap hari datang ke Masjid, mempelajari dua ayat dari
Kitab Allah 'azza wajalla adalah lebih baik baginya daripada dua ekor unta,
tiga ayat lebih baik daripada tiga unta, seperti bilangan-bilangan unta
tersebut."
4.6.3.4.
Barangsiapa Datang Ke Masjidku Ini, Ia Tidak Datang Kecuali Untuk Suatu
Kebaikan Yang Ia Pelajari, Maka Ia Seperti Seorang Mujahid Fi Sabilillah
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 9419 dan kitab Mustadrak Hakim hadits nomor 309 dinyatakan
bahwa barangsiapa datang ke masjidku ini, ia tidak datang kecuali untuk suatu
kebaikan yang ia pelajari, maka ia seperti seorang mujahid fi sabilillah;
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا حَاتِمُ
بْنُ إِسْمَاعِيلَ عَنْ حُمَيْدٍ الْخَرَّاطِ عَنِ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ
جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا لَمْ يَأْتِ إِلَّا لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ فَهُوَ
بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ
فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ رَجُلٍ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ [36]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Qutaibah berkata; telah menceritakan kepada kami Hatim
bin Isma'il dari Humaid Al Kharrath dari Al Maqburi dari Abu Hurairah berkata;
Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa datang ke masjidku ini, ia tidak
datang kecuali untuk suatu kebaikan yang ia pelajari, maka ia seperti seorang
mujahid fi sabilillah. Dan barangsiapa datang bukan untuk tujuan itu, maka ia
seperti seorang yang melihat harta milik orang lain."
حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ
يَعْقُوبَ، أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ،
أَنْبَأَ ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنَا أَبُو صَخْرٍ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ،
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:
" مَنْ جَاءَ مَسْجِدَنَا هَذَا يَتَعَلَّمُ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ
كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَنْ جَاءَ بِغَيْرِ هَذَا كَانَ
كَالرَّجُلِ يَرَى الشَّيْءَ يُعْجِبُهُ وَلَيْسَ لَهُ وَرُبَّمَا قَالَ: يَرَى
الْمُصَلِّينَ وَلَيْسَ مِنْهُمْ، وَيَرَى الذَّاكِرِينَ وَلَيْسَ مِنْهُمْ [37]
Artinya: Abu Al Abbas
Muhammad bin Ya'qub menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Abdul
Hakam mengabarkan kepada kami, Ibnu Wahab mengabarkan kepada kami, Abu Shakhr
mengabarkan kepada kami dari Sa'id Al Maqburi, dari Abu Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, ”Barangsiapa mendatangi masjid
kami ini untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka dia seperti orang
yang berjihad di jalan Allah. (Sedangkan) barangsiapa datang untuk selain
tujuan ini, maka dia seperti orang yang melihat sesuatu yang membuatnya kagum
tapi bukan miliknya." Terkadang beliau bersabda, ”Seperti orang yang
melihat orang-orang sedang shalat, tapi dia sendiri tidak termasuk dari mereka
(tidak ikut shalat). (Juga) seperti orang yang melihat orang- orang yang sedang
berdzikir, tapi dia sendiri tidak termasuk dari mereka"
4.6.3.5. Barangsiapa Pergi Ke Masjid Pada Pagi Hari Untuk Belajar Kebaikan Atau
Untuk Mengajarkannya, Maka Dia Akan Mendapatkan Pahala Seperti Pahalanya Orang
Yang Menunaikan Umrah Secara Sempurna
Di dalam kitab Mustadrak
Hakim hadits nomor 315 dinyatakan barangsiapa pergi ke masjid pada pagi hari,
tiada menginginkan kecuali untuk belajar kebaikan atau untuk mengajarkannya,
maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang menunaikan umrah
secara sempurna;
أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ مُحَمَّدُ بْنُ
أَحْمَدَ بْنِ تَمِيمٍ الْقَنْطَرِيُّ، بِبَغْدَادَ، ثنا أَبُو قِلَابَةَ، ثنا
أَبُو عَاصِمٍ، عَنْ ثَوْرِ بْنِ يَزِيدَ، عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ، عَنْ
أَبِي أُمَامَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
«مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ
يَعْلَمَهُ كَانَ لَهُ أَجْرُ مُعْتَمِرٍ تَامِّ الْعُمْرَةِ، فَمَنْ رَاحَ إِلَى
الْمَسْجِدِ لَا يُرِيدُ إِلَّا لِيَتَعَلَّمَ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمَهُ فَلَهُ أَجْرُ
حَاجٍّ تَامِّ الْحِجَّةِ» . «قَدِ احْتَجَّ الْبُخَارِيُّ بِثَوْرِ بْنِ يَزِيدَ
فِي الْأُصُولِ وَخَرَّجَهُ مُسْلِمٌ فِي الشَّوَاهِدِ، فَأَمَّا ثَوْرُ بْنُ
يَزِيدَ الدِّيلِيُّ فَإِنَّهُ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ [38]
Artinya: Abu Al Husain
Muhammad bin Ahmad bin Tamim Al Qanthari mengabarkan kepada kami di Baghdad,
Abu Qilabah menceritakan kepada kami, Abu Ashim menceritakan kepada kami dari
Tsaur bin Yazid, dari Khalid bin Ma'dan, dari Abu Umamah, dia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda, ”Barangsiapa pergi ke masjid
pada pagi hari, tiada menginginkan kecuali untuk belajar kebaikan atau untuk
mengajarkannya, maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahalanya orang yang
menunaikan umrah secara sempurna. Barangsiapa pergi ke masjid pada siang hari
tiada menginginkan kecuali untuk belajar kebaikan atau untuk mempelajarinya
maka dia akan mendapatkan pahala seperti pahala orang yang menunaikan haji
secara sempurna." Al Bukhari berhujjah dengan T saur bin Yazid
hadis-badits pokoknya, sementara Muslim meriwayatkannya dalam hadis-hadis
syahidnya. Tsaur bin Yazid Ad-Dili merupakan orang yang disepakati
hadisnya.(HR. Hakim: 311)
4.6.3.6. Sedekah Yang Paling Utama Adalah Seorang Muslim Yang Mempelajari Satu
Disiplin Ilmu Kemudian Mengajarkannya Kepada Saudaranya Sesama Muslim
Di dalam kitab Sunan Ibnu
Majah hadits nomor 243 dinyatakan bahwa sedekah yang
paling utama adalah seorang muslim yang mempelajari satu disiplin ilmu kemudian
mengajarkannya kepada saudaranya sesama muslim;
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ حُمَيْدِ بْنِ كَاسِبٍ
الْمَدَنِيُّ حَدَّثَنِي إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ سُلَيْمٍ
عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ طَلْحَةَ عَنْ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَفْضَلُ
الصَّدَقَةِ أَنْ يَتَعَلَّمَ الْمَرْءُ الْمُسْلِمُ عِلْمًا ثُمَّ يُعَلِّمَهُ
أَخَاهُ الْمُسْلِمَ [39]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ya'qub bin Humaid bin Kasib Al Madani berkata, telah
menceritakan kepadaku Ishaq bin Ibrahim dari Shafwan Sulaim dari Thalhah dari
Al Hasan Al Bashri dari Abu Hurairah bahwa Nabi ﷺ bersabda: "Sedekah yang paling utama adalah seorang muslim yang
mempelajari satu disiplin ilmu kemudian mengajarkannya kepada saudaranya sesama
muslim."
4.6.3.7.
Engkau Berpagi-Pagi Untuk Mempelajari Satu Ayat Dari Kitab Allah Lebih
Baik Bagimu Dari Pada Engkau Shalat Sebanyak Seratus Raka'at
Di dalam kitab Sunan Ibnu
Majah hadits nomor 219 dinyatakan bahwa engkau berpagi-pagi untuk mempelajari
satu ayat dari kitab Allah lebih baik bagimu dari pada engkau shalat sebanyak
seratus raka'at;
حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ
الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ غَالِبٍ الْعَبَّادَانِيُّ عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ زِيَادٍ الْبَحْرَانِيِّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ
سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا ذَرٍّ لَأَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ
آيَةً مِنْ كِتَابِ اللَّهِ خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ مِائَةَ رَكْعَةٍ
وَلَأَنْ تَغْدُوَ فَتَعَلَّمَ بَابًا مِنْ الْعِلْمِ عُمِلَ بِهِ أَوْ لَمْ يُعْمَلْ
خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ تُصَلِّيَ أَلْفَ رَكْعَةٍ [40]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abbas bin Abdullah Al Wasithi berkata, telah
menceritakan kepada kami Abdullah bin Ghalib Al 'Abbadani dari Abdullah bin
Ziyad Al Bahrani dari Ali bin Zaid dari Sa'id Ibnul Musayyab dari Abu Dzar ia
berkata; Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku: "Hai
Abu Dzar, engkau berpagi-pagi untuk mempelajari satu ayat dari kitab Allah
lebih baik bagimu dari pada engkau shalat sebanyak seratus raka'at. Dan engkau
berpagi-pagi untuk mempelajari satu bab ilmu kemudian diamalkan ataupun tidak
diamalkan, adalah lebih baik bagimu dari pada engkau shalat sebanyak seribu
raka'at."
4.6.3.8. Mempelajari Suatu Ilmu Seharusnya Karena Allah Azza Wa Jalla
Di dalam kitab Sunan Abu Daud
hadits nomor 3664 dinyatakan bahwa mempelajari suatu ilmu seharusnya karena
Allah Azza Wa Jalla;
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ
حَدَّثَنَا سُرَيْجُ بْنُ النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ عَنْ أَبِي طُوَالَةَ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَعْمَرٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ
سَعِيدِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ
اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنْ
الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِي رِيحَهَا [41]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada
kami Suraij bin An Nu'man telah menceritakan kepada kami Fulaih dari Abu
Thuwalah Abdullah bin Abdurrahman bin Ma'mar Al Anshari dari Sa'id bin Yasar
dari Abu Hurairah ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya karena Allah
Azza Wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian
dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat."
4.6.3.9. Siapkanlah Diri Kamu (Menjadi) Seorang Ulama`/ Pengajar, Seorang
Pelajar, Seorang Pendengar Setia Atau Pecinta
Di dalam kitab Syuabul Iman
Li Al-Baihaqi hadits nomor 1581 dinyatakan Siapkanlah diri kamu (menjadi)
seorang ulama`/ pengajar, seorang pelajar, atau seorang pendengar setia, atau
pencinta ilmu dan janganlah kamu menjadi (bagian) dari yang kelima;
أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ بْنُ أَبِي عَلِيٍّ
السَّقَّاء، أخبرنا أَبُو سَهْلِ بْنُ زِيَادٍ الْقَطَّانُ، حدثنا أَحْمَدَ بْنِ
يَحْيَى الْحُلْوَانِيِّ، حدثنا عُبَيْدُ بْنُ جُنَادٍ، حدثنا عَطَاءُ بْنُ
مُسْلِمٍ الْخَفَّافُ، عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ
أَبِي بَكْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ: " اغْدُ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا أَوْ مُحِبًّا،
وَلَا تَكُنِ الْخَامِسَةَ فَتَهْلِكَ " قَالَ عُبَيْدُ بْنُ جُنَادٍ: قَالَ
عَطَاءٌ: قَالَ مِسْعَرُ بْنُ كِدَامٍ: " يَا عَطَاءُ هَذِهِ خَامِسَةٌ
زَادَنَا اللهُ فِي هَذَا الْحَدِيثِ لَمْ يَكُنْ فِي أَيْدِينَا إِنَّمَا كَانَ
فِي أَيْدِينَا، اغْدُ عَالِمًا أَوْ مُتَعَلِّمًا أَوْ مُسْتَمِعًا، وَلَا تَكُنِ
الرَّابِعَةَ فَتَهْلِكَ يَا عَطَاءُ، وَيْلٌ لِمَنْ لَيْسَ فِيهِ وَاحِدَةٌ مِنْ
هَذِهِ [42]
"
Artinya: Telah mengabarkan
kepada kami Abu Al Hasan ibnu Abi ‘Ali As Saqa, telah mengabarkan kepada kami
Abu Sahl ibnu Ziyad Al Qathan, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Yahya
Al Khalwani, telah menceritakan kepada kami ‘Ubaid ibnu Junaid, telah menceritakan
kepada kami ‘Atha ibnu Muslim Al Khafaf, dari Khalid Al Khadza, dari ‘Abdi Ar
Rahman ibnu Abi Bakr, dari Bapaknya, dari Nabi SAW bersabda:
Siapkanlah
diri kamu (menjadi) seorang ulama`/ pengajar, seorang pelajar, atau seorang
pendengar setia, atau pencinta ilmu dan janganlah kamu menjadi (bagian) dari
yang kelima, niscaya kamu akan celaka, berkata ibnu ‘Ubaid ibnu Junadin,
berkata ‘Atha: berkata Mis’ar ibnu Kidam: Hai ‘Atha yang ke lima ini
ditambahkan kepada kami di dalam hadits ini dan hal ini kita tidak memilikinya,
tetapi yang kami miliki; Siapkanlah diri kamu (menjadi) seorang ulama`/
pengajar, seorang pelajar, atau seorang pendengar setia, dan janganlah kamu
menjadi (bagian) dari yang keempat maka kamu akan binasa hai ‘Atha, celakalah
bagi orang yang tidak memiliki satu di antaranya.
4.6.4. Telah Memiliki Ilmu
Di dalam Al Quran surat
Ali-'Imran/3: 18 orang yang memiliki ilmu digambarkan dengan kata ulul ilmi;
yang memilki ilmu;
شَهِدَ
اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ
قَائِمًا بِالْقِسْطِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
Artinya: Allah menyatakan
bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang
menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga
menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak
disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.(QS. Ali-'Imran/3: 18)
Sedangkan di dalam surat
Ibrahim/ 14: 52 digambarkan dengan kata ulul albab; yang memiliki akal;
yang dapat berfikir;
هَذَا
بَلَاغٌ لِلنَّاسِ وَلِيُنْذَرُوا بِهِ وَلِيَعْلَمُوا أَنَّمَا هُوَ إِلَهٌ
وَاحِدٌ وَلِيَذَّكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya: (Al Quran) ini
adalah penjelasan yang sempurna bagi manusia, dan supaya mereka diberi
peringatan dengan-Nya, dan supaya mereka mengetahui bahwasanya Dia adalah Tuhan
Yang Maha Esa dan agar orang-orang yang berakal mengambil pelajaran.(QS.
Ibrahim/ 14: 52)
Dari dua ayat tersebut di
atas tergambar bahwa orang yang memiliki ilmu yang dapat berfikir untuk
menyaksikan bahwa tidak ada Tuhan kecuali Allah, juga dapat mengetahui bahwa Al
Quran merupakan penjelasan yang sempurna bagi manusia.
4.6.5. Memahami Agama
Memahami agama adalah karunia
yang sangat besar karena dengan pemahaman tersebut akan dapat digunakan untuk
memperoleh kebaikan, di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 71 dinyatakan
bahwa siapa yang dikehendaki baik oleh Allah, maka Allah pahamkan dia tentang
agama;
حَدَّثَنَا
سَعِيدُ بْنُ عُفَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ يُونُسَ عَنْ ابْنِ
شِهَابٍ قَالَ قَالَ حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ
خَطِيبًا يَقُولُ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
مَنْ يُرِدْ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَإِنَّمَا أَنَا
قَاسِمٌ وَاللَّهُ يُعْطِي وَلَنْ تَزَالَ هَذِهِ الْأُمَّةُ قَائِمَةً عَلَى
أَمْرِ اللَّهِ لَا يَضُرُّهُمْ مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ [43]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Sa'id bin 'Ufair Telah menceritakan kepada kami Ibnu
Wahab dari Yunus dari Ibnu Syihab berkata, Humaid bin Abdurrahman berkata; aku
mendengar Mu'awiyyah memberi khutbah untuk kami, dia berkata; Aku mendengar
Nabi ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang Allah kehendaki menjadi baik
maka Allah faqihkan dia terhadap agama. Aku hanyalah yang membagi-bagikan
sedang Allah yang memberi. Dan senantiasa ummat ini akan tegak diatas perintah
Allah, mereka tidak akan celaka karena adanya orang-orang yang menyelisihi
mereka hingga datang keputusan Allah".
Karena pentingnya memahami
agama, maka proses memahami agama dapat menjadi alasan untuk tidak mengikuti
perang, sebagaimana dimuat di dalam Al Quran surat At-Taubah/ 9: 122 di
dalamnya dinyatakan tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan
perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa
orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama;
وَمَا
كَانَ الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ
مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا
رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Artinya: Tidak sepatutnya
bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari
tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam
pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya
apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga
dirinya. (QS. At-Taubah/ 9: 122)
4.6.6. Memahami Hikmah
Salah satu tugas Rasul adalah
mengajarkan hikmah, sebagaimana dinyatakan di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/
2: 151;
كَمَا
أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِنْكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا
وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُمْ مَا
لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
Artinya: Sebagaimana (Kami
telah menyempurnakan nikmat Kami kepadamu) Kami telah mengutus kepadamu Rasul
diantara kamu yang membacakan ayat-ayat Kami kepada kamu dan mensucikan kamu
dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu
apa yang belum kamu ketahui.(QS. Al-Baqarah/ 2: 151)
Hikmah adalah pemahaman
terhadap sesuatu hingga di tingkat hakikat, sehingga memahami hikmah merupakan
karunia yang besar, karena dengan hikmah dapat memperoleh kebaikan yang banyak,
sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 269;
يُؤْتِي
الْحِكْمَةَ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا
كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya: Allah
menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah)
kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia
benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang
berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).(HR. Al-Baqarah/
2: 269)
Adapun salah satu tanda orang
yang telah memperoleh hikmah adalah bersikap zuhud terhadap dunia dan sedikit
bicara, sebagaimana digambarkan di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor
4101;
حَدَّثَنَا
هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ
سَعِيدٍ عَنْ أَبِي فَرْوَةَ عَنْ أَبِي خَلَّادٍ وَكَانَتْ لَهُ صُحْبَةٌ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَيْتُمْ الرَّجُلَ
قَدْ أُعْطِيَ زُهْدًا فِي الدُّنْيَا وَقِلَّةَ مَنْطِقٍ فَاقْتَرِبُوا مِنْهُ
فَإِنَّهُ يُلْقِي الْحِكْمَةَ [44]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Hisyam bin 'Ammar telah menceritakan kepada kami Al
Hakam bin Hisyam telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari Abu Farwah
dari Abu Khallad salah seorang sahabat Nabi, ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika kalian melihat ada seseorang yang diberi
sikap zuhud terhadap dunia dan sedikit berbicara, maka dekatilah sebab ia telah
di beri hikmah."
4.6.7. Hidayah Diberikan Ke Dalam Qalbu
Di dalam Al Quran surat At-Taghabun/ 64: 11 dinyatakan bahwa siapa yang beriman kepada Allah qalbunya diberi hidayah;
مَا أَصَابَ
مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ
قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya: Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. At-Taghabun/ 64: 11)
Memperkuat pernyataan di atas, di dalam kitab Sunan Darimi hadits nomor 377 dinyatakan bahwa ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang ada di dalam qalbu;
أَخْبَرَنَا
مَكِّيُّ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ الْحَسَنِ قَالَ الْعِلْمُ
عِلْمَانِ فَعِلْمٌ فِي الْقَلْبِ فَذَلِكَ الْعِلْمُ النَّافِعُ وَعِلْمٌ عَلَى
اللِّسَانِ فَذَلِكَ حُجَّةُ اللَّهِ عَلَى ابْنِ آدَمَ أَخْبَرَنَا عَاصِمُ بْنُ
يُوسُفَ عَنْ فُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ عَنْ هِشَامٍ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَ ذَلِكَ [45]
Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Makki bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hisyam dari Al Hasan ia berkata: "Ilmu itu ada dua, yaitu ilmu dalam hati, itulah ilmu yang bermanfaat dan ilmu yang ada di lisan, itulah hujjah Allah atas Ibnu Adam (manusia) ". 'Ashim bin Yusuf mengabarkan kepada kami dari Fudhail bin Iyadh dari Hisyam dari Al Hasan dari Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam seperti itu".(HR. Darimi Atsar nomor 367)
Senada dengan pernyataan di atas di dalam Al Quran surat Al-Hajj/ 22: 46 dan surat Al-A'raf/ 7: 179, terkandung pengertian bahwa qalbu yang dapat digunakan untuk berfikir dan memahami petunjuk yang terdapat di dalam ayat-ayat Allah yang ada di alam raya maupun di dalam Al Quran;
أَفَلَمْ
يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ
يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى
الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
Artinya: maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.(QS. Al-Hajj/ 22: 46)
وَلَقَدْ
ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا
يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا
يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ
الْغَافِلُونَ
Artinya: Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.(QS. Al-A'raf/ 7: 179)
5. Taqwa Tingkat Hidayah
Ketika Allah sudah memberi petunjuk hingga mmberi penjelasan tentang apa saja yang harus ditakwai, maka sekali- kali Allah tidak menyesatkannya, dinyatakan di dalam Al-Quran surat At-Taubah/ 9: 115;
وَمَا
كَانَ اللَّهُ لِيُضِلَّ قَوْمًا بَعْدَ إِذْ هَدَاهُمْ حَتَّى يُبَيِّنَ لَهُمْ
مَا يَتَّقُونَ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya: Dan Allah sekali-kali tidak akan menyesatkan suatu kaum, sesudah Allah memberi petunjuk kepada mereka sehingga dijelaskan-Nya kepada mereka apa yang harus mereka (takwai) jauhi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. At-Taubah/ 9: 115)
Berikut akan dikemukakan beberapa gambaran orang yang bertaqwa di level hidayah, yang disebutkan di dalam Al Quran dan hadits;
5.1. Memuji Dan Bersukur Kepada Allah Yang Telah
Menunjuki Dan Meyakini Sekali-Kali Tidak Akan Mendapat Petunjuk Kalau Allah
Tidak Memberi Petunjuk
Al-A'raf (7): 43 Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami
kepada (surga) ini. Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau
Allah tidak memberi kami petunjuk
وَنَزَعْنَا
مَا فِي صُدُورِهِمْ مِنْ غِلٍّ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهِمُ الْأَنْهَارُ وَقَالُوا
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا
أَنْ هَدَانَا اللَّهُ لَقَدْ جَاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّ وَنُودُوا أَنْ
تِلْكُمُ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya: Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam
dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata:
"Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini. Dan
kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami
petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa
kebenaran". Dan diserukan kepada mereka: "ltulah surga yang
diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan".
Di dalam Al Quran surat An
Naml/ 27: 93 dinyatakan katakanlah: "Segala puji bagi Allah, Dia akan
memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kebesaran-Nya;
وَقُلِ
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ سَيُرِيكُمْ ءَايَـٰتِهِۦ فَتَعْرِفُونَهَا ۚ وَمَا رَبُّكَ
بِغَـٰفِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ
Artinya: Dan katakanlah:
"Segala puji bagi Allah, Dia akan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda
kebesaran-Nya, maka kamu akan mengetahuinya. Dan Tuhanmu tiada lalai dari apa
yang kamu kerjakan". [Surat An-Naml (27) ayat 93]
5.2. Meyakini Sesungguhnya Petunjuk Adalah Petunjuk
Allah
Di dalam Al-Quran surat Al-Baqarah/ 2: 120, Ali-'Imran/ 3: 73,
Al-An'am/ 6: 71 disebutkan perintah untuk mengatakan (meyakini) Sesungguhnya
petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah;
وَلَنْ
تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ قُلْ
إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ
الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ
Artinya: Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada
kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: "Sesungguhnya
petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)". Dan sesungguhnya jika kamu
mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak
lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. (QS. Al-Baqarah/ 2: 120)
وَلَا
تُؤْمِنُوا إِلَّا لِمَنْ تَبِعَ دِينَكُمْ قُلْ إِنَّ الْهُدَى هُدَى اللَّهِ
أَنْ يُؤْتَى أَحَدٌ مِثْلَ مَا أُوتِيتُمْ أَوْ يُحَاجُّوكُمْ عِنْدَ رَبِّكُمْ
قُلْ إِنَّ الْفَضْلَ بِيَدِ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ
عَلِيمٌ
Artinya: Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang
mengikuti agamamu. Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti)
ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada
seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya)
bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu". Katakanlah:
"Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya
kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Luas karunia-Nya) lagi Maha
Mengetahui"; (QS. Ali-'Imran/ 3: 73)
قُلْ
أَنَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُنَا وَلَا يَضُرُّنَا وَنُرَدُّ
عَلَى أَعْقَابِنَا بَعْدَ إِذْ هَدَانَا اللَّهُ كَالَّذِي اسْتَهْوَتْهُ
الشَّيَاطِينُ فِي الْأَرْضِ حَيْرَانَ لَهُ أَصْحَابٌ يَدْعُونَهُ إِلَى الْهُدَى
ائْتِنَا قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَى وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ
الْعَالَمِينَ
Artinya: Katakanlah: "Apakah kita akan menyeru selain daripada
Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak
(pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke
belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah
disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung,
dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan
mengatakan): "Marilah ikuti kami". Katakanlah: "Sesungguhnya
petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar
menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam, (QS. Al-An'am/ 6: 71)
5.3. Meyakini Sesungguhnya Aku Telah Ditunjuki Oleh
Tuhanku Kepada Jalan Yang Lurus
Di dalam Al Quran surat Al-An'am/ 6: 161 disebutkan perintah untuk
mengatakan (meyakini) Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada
jalan yang lurus
قُلْ
إِنَّنِي هَدَانِي رَبِّي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ دِينًا قِيَمًا مِلَّةَ
إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ
Katakanlah: "Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada
jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan
Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik".
5.4. Meyakini Allah-lah yang menunjuki kepada kebenaran
Di dalam Al-Quran surat
Yunus/ 10: 35 disebutkan perintah untuk mengatakan Allah-lah yang menunjuki
kepada kebenaran;
قُلْ
هَلْ مِنْ شُرَكَائِكُمْ مَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ قُلِ اللَّهُ يَهْدِي
لِلْحَقِّ أَفَمَنْ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ أَحَقُّ أَنْ يُتَّبَعَ أَمَّنْ لَا
يَهِدِّي إِلَّا أَنْ يُهْدَى فَمَا لَكُمْ كَيْفَ تَحْكُمُونَ
Artinya: Katakanlah:
"Apakah di antara sekutu-sekuturmu ada yang menunjuki kepada
kebenaran?" Katakanlah "Allah-lah yang menunjuki kepada
kebenaran". Maka apakah orang-orang yang menunjuki kepada kebenaran itu
lebih berhak diikuti ataukah orang yang tidak dapat memberi petunjuk kecuali
(bila) diberi petunjuk? Mengapa kamu (berbuat demikian)? Bagaimanakah kamu
mengambil keputusan? (QS. Yunus/ 10: 35)
5.5. Allah Menunjuki Orang-Orang Yang Bertaubat
Kepada-Nya
Di dalam Al Quran surat
Ar-Ra'd/ 13: 27 dan surat Asy-Syura/ 42: 13 disebutkan pernyataan Sesungguhnya
Allah menunjuki orang-orang yang bertaubat / kembali kepada-Nya;
وَيَقُولُ
الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْلَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ آيَةٌ مِنْ رَبِّهِ قُلْ إِنَّ
اللَّهَ يُضِلُّ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ أَنَابَ
Artinya: Orang-orang
kafir berkata: "Mengapa tidak diturunkan kepadanya (Muhammad) tanda
(mukjizat) dari Tuhannya?" Katakanlah: "Sesungguhnya Allah
menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat
kepada-Nya", (QS. Ar-Ra'd/ 13: 27)
شَرَعَ
لَكُمْ مِنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ
وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ
وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ كَبُرَ عَلَى الْمُشْرِكِينَ مَا تَدْعُوهُمْ إِلَيْهِ
اللَّهُ يَجْتَبِي إِلَيْهِ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ
Artinya: Dia
telah mensyari'atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya
kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami
wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah
kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang
kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang
dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali
(kepada-Nya). (QS. Asy-Syura/ 42: 13)
5.6. Jika Mereka Berserah Diri/ Islam, Sesungguhnya
Mereka Telah Mendapat Petunjuk
Di dalam Al-Quran surat Ali-'Imran/ 3: 20 dinyatakan Jika mereka masuk
Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk;
فَإِنْ
حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ وَقُلْ
لِلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُوا
فَقَدِ اهْتَدَوْا وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَاللَّهُ
بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ
Artinya: Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran
Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan
(demikian pula) orang-orang yang mengikutiku". Dan katakanlah kepada
orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi:
"Apakah kamu (mau) masuk Islam". Jika mereka masuk Islam,
sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka
kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat
akan hamba-hamba-Nya.
5.7. Berjuang; Berjihad Untuk (Mencari Keridhaan) Allah
Di dalam Al Quran surat Al-'Ankabut/ 29: 69 dinyatakan bahwa
orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami;
وَالَّذِينَ
جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ
الْمُحْسِنِينَ
Artinya: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan)
Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan
sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS.
Al-'Ankabut (29): 69)
5.8. Siapa Yang Zuhud Dari Dunia Allah Akan
Mengajarinya Tanpa Belajar, Dan Menunjukinya Tanpa Hidayah
Di dalam kitab Hilyatul Aulia
hadits nomor 236 disebutkan bahwa siapa yang Zuhud dari dunia Allah akan
mengajarinya tanpa belajar, dan menunjukinya tanpa hidayah;
حَدَّثَنَا
أَبُو ذَرٍّ مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ يُوسُفَ الْوَرَّاقُ، ثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ حَفْصٍ، ثَنَا عَلِيُّ بْنُ حَفْصٍ الْعَبْسِيُّ،
ثنا نُصَيْرُ بْنُ حَمْزَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ
مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ، عَنِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنْ
عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ، عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ زَهِدَ فِي الدُّنْيَا عَلَّمَهُ اللهُ
تَعَالَى بِلَا تَعَلُّمٍ، وَهَدَاهُ بِلَا هِدَايَةٍ، وَجَعَلَهُ بَصِيرًا،
وَكَشَفَ عَنْهُ الْعَمَى» وَكَانَ بِذَاتِ اللهِ عَلِيمًا، وَعِرْفَانُ اللهِ فِي
صَدْرِهِ عَظِيمًا. وَقَدْ قِيلَ: «إِنَّ التَّصَوُّفَ الْبُرُوزُ مِنَ الْحِجَابِ
إِلَى رَفْعِ الْحِجَابِ»[46]
Artinya: Telah
menceriterakan kepada kami Abu Dzar Muhammad ibnu Al Husain ibnu Yusuf Al
Waraq, telah menceriterakan kepada kami Muhammad ibnu Husain Al Hafs, telah
menceriterakan kepada kami ‘Ali Al Hafs Al ‘Absiyu, telah menceriterakan kepada
kami Nushair ibnu Hamzah, dari Bapaknya dari Ja’far ibnu Muhammad, dari
Muhammad ibnu ‘Ali ibnu Husain, dari Husai ibnu ‘Ali, dari ‘Ali ibnu Abi Thalib
AS berkata: Berkata Rasulullah SAW: Siapa yang Zuhud dari dunia Allah akan
mengajarinya tanpa belajar, dan menunjukinya tanpa hidayah, dan menjadikannya
melihat dan dibukakan dari kebutaan, dan menjadi mengetahui dzat Allah, dan
ma’rifat Allah di dadanya menjadi besar, dan telah dikatakan: sesungguhnya
Tasawauf memperlihatkan hijab kepada penyingkapan hijab”
5.9. Kulitnya Gemetar Karena Al Quran Dan Takut Kepada
Allah, Menjadi Lembut Kulit Dan Qalbunya Ketika Mengingat Allah
Di dalam Al Quran surat
Az-Zumar/ 39: 23 tergambar bahwa orang yang menrima hidayah, gemetar karenanya
(Al Quran) kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi
tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah;
اللَّهُ
نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ
جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ
إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ
يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
Artinya: Allah telah
menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu
ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang
takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu
mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa
yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada
baginya seorang pemimpinpun.(QS. Az-Zumar/ 39: 23)
5.10. Tidak Khawatir Dan Tidah Bersedih Hati
Di dalam Al Quran Surat Al
Baqarah/ 2: 36, dinyatakan bahwa siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya
tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati;
قُلْنَا
اهْبِطُوا مِنْهَا جَمِيعًا ۖ فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّي هُدًى فَمَنْ
تَبِعَ هُدَايَ فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya: Kami berfirman:
"Turunlah kamu semuanya dari surga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku
kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada
kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati". (QS. Al
Baqarah/ 2: 36)
5.11. Takutlah Kepada-Ku (Saja). Dan Agar Ku-Sempurnakan Nikmat-Ku Atasmu,
Dan Supaya Kamu Mendapat Petunjuk
Di dalam Al-Quran surat
Al-Baqarah/ 2: 150 dan At-Taubah 9: 18 disebutkan perintah takutlah kepada-Ku
(saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat
petunjuk
وَمِنْ
حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا
كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ لِئَلَّا يَكُونَ لِلنَّاسِ عَلَيْكُمْ
حُجَّةٌ إِلَّا الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِي
وَلِأُتِمَّ نِعْمَتِي عَلَيْكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Artinya: Dan dari mana
saja kamu (keluar), maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. Dan
dimana saja kamu (sekalian) berada, maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar
tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim
diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku
(saja). Dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat
petunjuk. (QS. Al-Baqarah/ 2: 150)
إِنَّمَا
يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ
الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ
أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
Artinya: Hanya yang
memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan
Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut
(kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang
diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.
5.12. Beriman Dan Tidak Mencampuradukkan Iman Mereka Dengan Kezaliman
Di dalam
Al-Quran surat Al-An'am/ 6: 82 beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka
dengan kezaliman mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah
orang-orang yang mendapat petunjuk;
الَّذِينَ
آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ
وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Artinya: Orang-orang yang
beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik),
mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang
mendapat petunjuk. (QS. Al-An'am/ 6: 82)
5.13. Beriman Kepada Allah Dan Berpegang Teguh Kepada (Agama)-Nya, Allah Akan
Menunjuki Mereka Kepada Jalan Yang Lurus
Di dalam Al Quran Surat
An-Nisa' Ayat 175 dan surat Ali-'Imran/ 3: 103, ditegaskan bahwa orang-orang yang beriman kepada Allah dan
berpegang teguh kepada (agama)-Nya, Allah akan menunjuki mereka kepada jalan
yang lurus;
فَأَمَّا
الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَاعْتَصَمُوا بِهِ فَسَيُدْخِلُهُمْ فِي رَحْمَةٍ
مِنْهُ وَفَضْلٍ وَيَهْدِيهِمْ إِلَيْهِ صِرَاطًا مُسْتَقِيمًا
Artinya: Adapun
orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya
niscaya Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat yang besar dari-Nya
(surga) dan limpahan karunia-Nya. Dan menunjuki mereka kepada jalan yang lurus
(untuk sampai) kepada-Nya.
وَاعْتَصِمُوا
بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ
عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ
بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ
فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ
تَهْتَدُونَ
Artinya: Dan berpeganglah
kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan
ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah)
bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena
nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang
neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah
menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. (QS.
Ali-'Imran/ 3: 103)
Sedangkan di dalam Al-Quran
surat Al-A'raf/ 7: 158 disebutkan perintah untuk berimanlah kamu kepada Allah
dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada
kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat
petunjuk
قُلْ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ جَمِيعًا الَّذِي لَهُ
مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ
فَآمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ الَّذِي يُؤْمِنُ
بِاللَّهِ وَكَلِمَاتِهِ وَاتَّبِعُوهُ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ
Artinya: Katakanlah:
"Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua, yaitu
Allah Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; tidak ada Tuhan (yang berhak
disembah) selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, maka berimanlah kamu
kepada Allah dan Rasul-Nya, Nabi yang ummi yang beriman kepada Allah dan kepada
kalimat-kalimat-Nya (kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya kamu mendapat
petunjuk".
5.14. Menjadikan Al Quran Sebagai Petunjuk Dan Pelajaran Bagi Orang Bertaqwa
Di dalam Al Quran surat Al
Baqarah/ 2: 2, dijelaskan bahwa Al Quran adalah petunjuk bagi orang yang
bertaqwa;
ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ ۛ فِيهِ ۛ هُدًى
لِلْمُتَّقِينَ
Artinya: Kitab (Al Quran)
ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,(QS. Al
Baqarah/ 2: 2)
Sedangkan di dalam Al Quran
Surat Ali 'Imran/ 3: 138 dinyatakan bahwa Al Quran merupakan penjelasan,
petunjuk dan pelajaran bagi orang bertaqwa;
هٰذَا بَيَانٌ لِّلنَّاسِ وَهُدًى وَّمَوْعِظَةٌ
لِّلْمُتَّقِيْنَ
Artinya: Inilah (Al-Qur'an) suatu keterangan yang
jelas untuk semua manusia, dan menjadi petunjuk serta pelajaran bagi
orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali 'Imran/ 3: 138)
وَقَفَّيْنَا
عَلَى آثَارِهِمْ بِعِيسَى ابْنِ مَرْيَمَ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ
التَّوْرَاةِ وَآتَيْنَاهُ الْإِنْجِيلَ فِيهِ هُدًى وَنُورٌ وَمُصَدِّقًا لِمَا
بَيْنَ يَدَيْهِ مِنَ التَّوْرَاةِ وَهُدًى وَمَوْعِظَةً لِلْمُتَّقِينَ
Artinya: Dan Kami iringkan
jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan
Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab
Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan
membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk
serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa. (QS.
Al-Maidah/ 5: 46)
5.15. Menggunakan Al Quran Sebagai Petunjuk Dan Penawar Penyakit Yang Ada Di
Dada
Di dalam Al Quran Surat
Fushilat/ 41: 44 dan surat Yunus/ 10: 57, dinyatakan bahwa Al Quran itu adalah
petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin;
قُلْ هُوَ لِلَّذِينَ آمَنُوا هُدًى وَشِفَاءٌ ۖ
وَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ فِي آذَانِهِمْ وَقْرٌ وَهُوَ عَلَيْهِمْ عَمًى ۚ
أُولَٰئِكَ يُنَادَوْنَ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ
Artinya: Katakanlah:
"Al Quran itu adalah petunjuk dan penawar bagi orang-orang mukmin. Dan
orang-orang yang tidak beriman pada telinga mereka ada sumbatan, sedang Al
Quran itu suatu kegelapan bagi mereka. Mereka itu adalah (seperti) yang
dipanggil dari tempat yang jauh".(QS. Fushilat/ 41: 44)
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا
فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ
Artinya: Hai manusia,
sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi
penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi
orang-orang yang beriman.(QS. Yunus/ 10: 57)
5.16. Ikutilah Orang Yang Tiada Minta Balasan Kepadamu; Dan Mereka Adalah
Orang-Orang Yang Mendapat Petunjuk
Di dalam
Al-Quran surat Yasin/ 36: 21 dan Al-An'am/ 6: 90, disebutkan perintah Ikutilah
orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang
mendapat petunjuk;
اتَّبِعُوا
مَنْ لَا يَسْأَلُكُمْ أَجْرًا وَهُمْ مُهْتَدُونَ
Artinya: Ikutilah orang
yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat
petunjuk. (QS. Yasin/ 36: 21)
أُولَئِكَ
الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ قُلْ لَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ
أَجْرًا إِنْ هُوَ إِلَّا ذِكْرَى لِلْعَالَمِينَ
Artinya: Mereka itulah
orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk
mereka. Katakanlah: "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan
(Al-Quran)". Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh
ummat. (QS. Al-An'am/ 6: 90)
5.17. Allah Menunjuki Orang-Orang Yang Mengikuti Keridhaan-Nya Ke Jalan
Keselamatan
Di dalam Al-Quran surat
Al-Maidah/ 5: 16 ditegaskan Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti
keridhaan-Nya ke jalan keselamatan;
يَهْدِي
بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ
الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Dengan kitab itulah Allah
menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan
(dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita
kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke
jalan yang lurus. (QS. Al-Maidah/ 5: 16)
5.18. Meyakini Apa Saja Yang Menimpa Manusia Adalah Kehendak Allah
Di dalam Al Quran Surat At-Taghabun/ 64: 11
digambarkan bahwa Allah memberi hidayah pada qalbu orang yang meyakini bahwa
apa saja yang menimpa manusia adalah kehendak Allah dan beriman kepada Allah;
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا
بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ
شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya: Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang
kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya
Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala
sesuatu.(QS. At-Taghabun/ 64: 11)
5.19. Meyakini Taqdir Baik Dan Buruk
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22705
dinyatakan bahwa engkau tidak akan merasakan nikmatnya iman dan haqiqat ilmu
Allah hingga meyakini taqdir baik dan buruk;
حَدَّثَنَا أَبُو الْعَلَاءِ الْحَسَنُ
بْنُ سَوَّارٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ مُعَاوِيَةَ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ زِيَادٍ
حَدَّثَنِي عُبَادَةُ بْنُ الْوَلِيدِ بْنِ عُبَادَةَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ
دَخَلْتُ عَلَى عُبَادَةَ وَهُوَ مَرِيضٌ أَتَخَايَلُ فِيهِ الْمَوْتَ فَقُلْتُ
يَا أَبَتَاهُ أَوْصِنِي وَاجْتَهِدْ لِي فَقَالَ أَجْلِسُونِي قَالَ يَا بُنَيَّ
إِنَّكَ لَنْ تَطْعَمَ طَعْمَ الْإِيمَانِ وَلَنْ تَبْلُغْ حَقَّ حَقِيقَةِ
الْعِلْمِ بِاللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ
وَشَرِّهِ قَالَ قُلْتُ يَا أَبَتَاهُ فَكَيْفَ لِي أَنْ أَعْلَمَ مَا خَيْرُ
الْقَدَرِ وَشَرُّهُ قَالَ تَعْلَمُ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ
وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ
اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْقَلَمُ ثُمَّ قَالَ اكْتُبْ فَجَرَى فِي تِلْكَ
السَّاعَةِ بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ يَا بُنَيَّ إِنْ مِتَّ
وَلَسْتَ عَلَى ذَلِكَ دَخَلْتَ النَّارَ [47]
Artinya: Diceritakan kepada kami oleh Abu Al-'Ala
Al-Hasan bin Sawar, diceritakan kepada kami oleh Laits dari Mu’awiyah dari
Ayyub bin Ziyad, diceritakan kepada saya oleh 'Ubadah bin Al-Walid bin 'Ubadah,
diceritakan kepada saya oleh ayah saya, dia berkata: “Saya masuk ke rumah
'Ubadah yang sedang sakit dan saya melihat tanda-tanda kematian padanya. Saya
berkata, ‘Wahai ayah, berilah saya wasiat dan berusahalah untuk saya.’ Dia
berkata, ‘Dudukkan saya.’ Dia berkata, ‘Wahai anakku, kamu tidak akan merasakan
manisnya iman dan tidak akan mencapai hakikat ilmu tentang Allah yang Maha Suci
dan Maha Tinggi sampai kamu beriman kepada takdir, baik dan buruknya.’ Saya
berkata, ‘Wahai ayah, bagaimana saya bisa mengetahui apa yang baik dan buruk
dari takdir?’ Dia berkata, 'Kamu harus mengetahui bahwa apa yang tidak
menimpamu tidak akan pernah menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan pernah
meleset darimu. Wahai anakku, saya mendengar Rasulullah (saw) bersabda,
‘Sesungguhnya hal pertama yang diciptakan Allah yang Maha Suci dan Maha Tinggi
adalah pena, kemudian Dia berkata, ‘Tulislah.’ Maka pada saat itu pena menulis
apa yang akan terjadi hingga hari kiamat. Wahai anakku, jika kamu mati dan
tidak beriman kepada hal itu, kamu akan masuk neraka.’”
Hakekat hidayah adalah memahami hakekat ilmu,
tidak akan mencapai haqiqat ilmu Allah hingga meyakini taqdir baik dan
buruk.
5.20. Mendengarkan Perkataan Lalu Mengikuti Apa Yang Paling Baik Di Antaranya
Di dalam Al Quran Surat Az-Zumar/ 39: 18,
dijelaskan bahwa orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang
paling baik di antaranya Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah
petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal;
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ
فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ ۚ أُولَٰئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ ۖ
وَأُولَٰئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya: yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa
yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi
Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.(QS. Az-Zumar/
39: 18)
5.21. Dikehendaki Allah Mendapat Hidayah Kepada Jalan Yang Lurus
Di dalam Al Quran Surat
Yunus/ 10: 25, dinyatakan bahwa Allah memberi hidayah kepada yang dia kehendaki
ke jalan lurus;
وَاللَّهُ
يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ
مُسْتَقِيمٍ
Artinya: Allah menyeru
(manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya
kepada jalan yang lurus (Islam).
5.22. Memberi Petunjuk Dengan Hak, Dan Dengan Yang Hak Itu (Pula) Mereka
Menjalankan Keadilan
Di dalam Al Quran Surat
Al-A’raf / 7: 180, dijelaskan bahwa Kami ciptakan ada umat yang memberi
petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan
وَلِلَّهِ
الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي
أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ وَمِمَّنْ خَلَقْنَا أُمَّةٌ
يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ
Artinya: Hanya milik
Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul
husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam
(menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang
telah mereka kerjakan. Dan di antara orang-orang yang Kami ciptakan ada umat
yang memberi petunjuk dengan hak, dan dengan yang hak itu (pula) mereka
menjalankan keadilan.
5.23. Berpegang Teguh Kepada Allah
Di dalam Al Quran surat Ali
Imran/ 3: 101 dinyatakan bahwa Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama)
Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus;
وَكَيْفَ
تَكْفُرُونَ وَأَنتُمْ تُتْلَىٰ عَلَيْكُمْ آيَاتُ اللَّهِ وَفِيكُمْ رَسُولُهُ
وَمَن يَعْتَصِم بِاللَّهِ فَقَدْ هُدِيَ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Artinya: Bagaimanakah kamu
(sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan
Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh
kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan
yang lurus. (QS. Ali Imran: 101)
5.24. Memberikan Bimbingan; Petunjuk Yang Baik
Di dalam kitab Sunan Abu Daud
hadits nomor 4776 dinyatakan bahwa sesungguhnya petunjuk/ bimbingan yang baik,
sikap yang baik dan kesederhanaan adalah bagian dari dua puluh lima bagian
kenabian;
حَدَّثَنَا
حَسَنٌ حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ قَالَ حَدَّثَنَا قَابُوسُ بْنُ أَبِي ظَبْيَانَ أَنَّ
أَبَاهُ حَدَّثَهُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ زُهَيْرٌ لَا شَكَّ فِيهِ قَالَ إِنَّ الْهَدْيَ
الصَّالِحَ وَالسَّمْتَ الصَّالِحَ وَالِاقْتِصَادَ جُزْءٌ مِنْ خَمْسَةٍ
وَعِشْرِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ
حَدَّثَنَا زُهَيْرٌ وَجَعْفَرٌ يَعْنِي الْأَحْمَرَ عَنْ قَابُوسَ عَنْ أَبِيهِ
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ السَّمْتُ الصَّالِحُ فَذَكَرَ مِثْلَهُ [48]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Zuhair berkata;
telah menceritakan kepada kami Qabus bin Abu Thaiban bahwa ayahnya
menceritakannya dari Ibnu Abbas dari Nabiyullah ﷺ.
-Zuhair berkata; tidak ada keraguan di dalamnya.- Beliau bersabda:
"Sesungguhnya bimbingan yang baik, sikap yang baik dan kesederhanaan
adalah bagian dari dua puluh lima bagian kenabian." Telah menceritakan
kepada kami Aswad bin 'Amir telah menceritakan kepada kami Zuhair dan Ja'far
yakni al Ahmar, dari Qabus dari ayahnya dari Ibnu 'Abbas, dia berkata;
Rasulullah Salallahu 'Alaihi wa sallam bersabda: " sikap yang baik."
Kemudian dia menyebutkan seperti di atas.
5.25. Tidak Menyukai Dunia Dan Memendekkan Angan-Angannya Tentang Dunia
Di dalam kitab Syuabul Iman
Baihaqi hadits nomor 10582 digambarkan balasan bagi orang yang tidak menyukai
dunia dan memendekkan angan-angannya tentang dunia akan dihidayahi tanpa
hidayah;
أَخْبَرَنَا
أَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ بُشْرَانَ، أَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ صَفْوَانَ، ثَنَا
عَبْدُ اللهِ بْنُ -[154]- مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ
شَقِيقٍ، ثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْأَشْعَثِ، أَنَا الْفُضَيْلُ بْنُ عِيَاضٍ،
عَنْ عِمْرَانِ بْنِ حَسَّانَ، عَنِ الْحَسَنِ، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَصْحَابِهِ ذَاتَ يَوْمٍ، فَقَالَ:
" هَلْ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ أَنْ يُؤْتِيَهُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عِلْمًا
بِغَيْرِ تَعَلُّمٍ، وَهَدْيًا بِغَيْرِ هِدَايَةٍ، هَلْ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ
أَنْ يُذْهِبَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنْهُ الْعَمَى وَيَجْعَلَهُ بَصِيرًا إِلَّا
أَنَّهُ مَنْ رَغِبَ فِي الدُّنْيَا وَقَصَرَ أَمَلَهُ فِيهَا أَعْطَاهُ اللهُ
عِلْمًا بِغَيْرِ تَعَلُّمٍ، وَهَدًى بِغَيْرِ هِدَايَةٍ، أَلَا إِنَّهُ سَيَكُونُ
بَعْدَكُمْ قَوْمٌ لَا يَسْتَقِيمُ لَهُمُ الْمُلْكُ إِلَّا بِالْقَتْلِ،
وَالتَّجَبُّرِ، وَلَا الْغِنَى إِلَّا بِالْبُخْلِ وَالْفَخْرِ، وَلَا
الْمَحَبَّةُ إِلَّا بِالِاسْتِخْرَاجِ فِي الدِّينِ وَاتِّبَاعِ الْهَوَى، أَلَا
فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ الزَّمَانَ مِنْكُمْ فَصَبَرَ لِلْفَقْرِ وَهُوَ يَقْدِرُ
عَلَى الْغِنَى، وَصَبَرَ لِلْبَغْضَاءِ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى الْمَحَبَّةِ،
وَصَبَرَ عَلَى الذُّلِّ وَهُوَ يَقْدِرُ عَلَى الْعِزِّ لَا يُرِيدُ بِذَلِكَ
إِلَّا وَجْهَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ أَعْطَاهُ اللهُ ثَوَابَ خَمْسِينَ صِدِّيقًا [49]
"
Artinya: Telah mengabarkan
kepada kami Abu Al Husain ibnu Busyran, telah mengabarkan kepada kami Al Husain
ibnu Shafwan, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad, telah
menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ali ibnu Syaqiq, telah menceritakan
kepada kami Ibrahim ibnu al Asy’as, telah mengabarkan kepada kami Al Fudhail
ibnu ‘Iyadh, dari ‘Imran ibnu Hasan dari Al Hasan, berkata: pada suatu hari
telah keluar Rasulullah SAW menemui sahabatnya, kemudian berkata: Apakah di antara kalian ada orang yang mau
diberi Allah Azza wa Jalla ilmu tanpa belajar, dan Hidayah tanpa hidayah,
apakah ada di antara kalian mau dihilangkan darinya kebutaan dan dijadikannya
melihat, kecuali sesungguhnya orang yang tidak menyukai dunia dan memendekkan
angan-angannya tentang dunia, maka Allah akan memberikan kepadanya ilmu tanpa
belajar, dan memberinya petunjuk tanpa hidayah, ketahuilah bahwa sesesungguhnya
kaum yang tidak menegakkan kekuasaan kecuali dengan perang, dan pemaksaan, dan
tidaklah kaya kecuali dengan bakhil dan bualan, dan tidaklah cinta kecuali
dengan keluar dari agama dan mengikuti hawa nafsu, ketahuilah barang siapa di
antara kalian mengalami zaman seperti itu, maka bersabar dalam kefaqiran akan
dihargai sebagi kaya, dan bersabar dalam kebencian akan dihargai cinta, dan
sabar atas kehinaan akan dihargai mulia yang tidak dikehendakinya semua itu
kecuali menghadap wajah Allah ‘Azza wa jalla, Allah akan memberinya balasan
senilai lima puluh orang yang sidiq. (HR. Baihaqi: 10674)
5.26. Merasa Beruntung
Orang yang menerima hidayah
adalah orang yang beruntung, sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran surat
Al-Baqarah/2 : 5 dan Luqman/ 31: 5, dengan bunyi ayat yang sama;
أُولَئِكَ
عَلَى هُدًى مِنْ رَبِّهِمْ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya: Mereka itulah
yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang
beruntung. (QS. Al-Baqarah/2 : 5, Luqman/ 31: 5)
5.27. Memberi Petunjuk Dengan Hak
Di dalam Al Quran surat
Al-A'raf/ 7: 181 dan 159 disebutkan gambaran ungkapan rasa syukur atas hidayah
yang telah diberikan kepadanya;
وَمِمَّنْ
خَلَقْنَا أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ
Artinya: Dan di antara
orang-orang yang Kami ciptakan ada umat yang memberi petunjuk dengan hak, dan
dengan yang hak itu (pula) mereka menjalankan keadilan. (QS.
Al-A'raf/ 7: 181)
وَمِنْ
قَوْمِ مُوسَى أُمَّةٌ يَهْدُونَ بِالْحَقِّ وَبِهِ يَعْدِلُونَ
Artinya: Dan di antara
kaum Musa itu terdapat suatu umat yang memberi petunjuk (kepada manusia) dengan
hak dan dengan yang hak itulah mereka menjalankan keadilan. (QS.
Al-A'raf/ 7: 159)
5.28. Berdoa Ya Allah Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku Memohon Kepada-Mu Hidayah
Dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2721, disebutkan permohonan doa diberi petunjuk; Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu hidayah;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى و حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ غَيْرَ أَنَّ ابْنَ الْمُثَنَّى قَالَ فِي رِوَايَتِهِ وَالْعِفَّةَ [50]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] dan [Muhammad bin Basysyar]
mereka berkata; telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] telah
menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Abu Ishaq] dari [Abul Ahwash] dari
['Abdullah] dari Nabi ﷺ bahwasanya beliau pernah
berdoa: "alloohumma innii as-alukal hudaa wattuqoo wal'afaafa walghinaa
"Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu petunjuk,
ketakwaan, terhindar dari perbuatan yang tidak baik, dan kecukupan (tidak
minta-minta,
5.29. Berdoa Ya Allah, Berikanlah Petunjuk Kepadaku. Berilah Aku Jalan Yang
Lurus. Jadikan Petunjuk-Mu Sebagai Jalanku Dan Kelurusan Hidupku Selurus Anak
Panah
Shahih Muslim hadis nomor
2725 Ya Allah, berikanlah petunjuk kepadaku. Berilah aku jalan yang lurus.
Jadikan petunjuk-Mu sebagai jalanku dan kelurusan hidupku selurus anak panah:
حَدَّثَنَا
أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا ابْنُ إِدْرِيسَ قَالَ
سَمِعْتُ عَاصِمَ بْنَ كُلَيْبٍ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ قَالَ لِي
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْ اللَّهُمَّ اهْدِنِي
وَسَدِّدْنِي وَاذْكُرْ بِالْهُدَى هِدَايَتَكَ الطَّرِيقَ وَالسَّدَادِ سَدَادَ
السَّهْمِ و حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ
إِدْرِيسَ أَخْبَرَنَا عَاصِمُ بْنُ كُلَيْبٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ قَالَ قَالَ
لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي
أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالسَّدَادَ ثُمَّ ذَكَرَ بِمِثْلِهِ [51]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Abu Kuraib Muhammad bin Al 'Ala] telah menceritakan
kepada kami [Ibnu Idris] dia berkata; aku mendengar ['Ashim bin Kulaib] dari
[Abu Burdah] dari ['Ali] dia berkata; "Rasulullah ﷺ telah bersabda kepada saya: "Hai Ali, ucapkanlah doa. Aloohummah
Dinii Wasaddidnii Wadzkur Bilhudaa Hidaayatakath Thoriiqo Wassadaadi Sadaadas
Sahmi "Ya Allah, berikanlah petunjuk kepadaku. Berilah aku jalan yang
lurus. Jadikan petunjuk-Mu sebagai jalanku dan kelurusan hidupku selurus anak
panah." Telah menceritakan kepada kami [Ibnu Numair] Telah menceritakan
kepada kami [Abdullah] yaitu Ibnu Idris Telah mengabarkan kepada kami ['Ashim
bin Kulaib] melalui jalur ini, dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam berkata kepadaku: 'Katakanlah; Ya Allah aku memohon kepada-Mu petunjuk
dan kelurusan hidup, -lalu dia menyebutkan Hadis yang serupa.
5.30. Berdoa Ya Allah, Hiasilah Kami Dengan Hiasan Iman Dan Jadikanlah Kami
Orang Yang Menyampaikan Hidayah Dan Yang Mendapatkan Hidayah.
Di dalam kitab Sunan Nasai
hadits nomor 1306 disebutkan doa Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan
jadikanlah kami orang yang menyampaikan hidayah dan yang mendapatkan hidayah;
أَخْبَرَنَا
يَحْيَى بْنُ حَبِيبِ بْنِ عَرَبيٍّ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ قَالَ حَدَّثَنَا
عَطَاءُ بْنُ السَّائِبِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ صَلَّى بِنَا عَمَّارُ بْنُ يَاسِرٍ
صَلَاةً فَأَوْجَزَ فِيهَا فَقَالَ لَهُ بَعْضُ الْقَوْمِ لَقَدْ خَفَّفْتَ أَوْ
أَوْجَزْتَ الصَّلَاةَ فَقَالَ أَمَّا عَلَى ذَلِكَ فَقَدْ دَعَوْتُ فِيهَا
بِدَعَوَاتٍ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَلَمَّا قَامَ تَبِعَهُ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ هُوَ أُبَيٌّ غَيْرَ
أَنَّهُ كَنَى عَنْ نَفْسِهِ فَسَأَلَهُ عَنْ الدُّعَاءِ ثُمَّ جَاءَ فَأَخْبَرَ
بِهِ الْقَوْمَ اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ
أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا عَلِمْتَ
الْوَفَاةَ خَيْرًا لِي اللَّهُمَّ وَأَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ
وَأَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالْغَضَبِ وَأَسْأَلُكَ الْقَصْدَ
فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى وَأَسْأَلُكَ نَعِيمًا لَا يَنْفَدُ وَأَسْأَلُكَ
قُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعُ وَأَسْأَلُكَ الرِّضَاءَ بَعْدَ الْقَضَاءِ
وَأَسْأَلُكَ بَرْدَ الْعَيْشِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَأَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ
إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ فِي غَيْرِ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَلَا
فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا
هُدَاةً مُهْتَدِينَ [52]
Artinya: Telah mengabarkan
kepada kami Yahya bin Hubaib bin 'Arabi dia berkata; telah menceritakan kepada
kami Hammad dia berkata; telah menceritakan kepada kami 'Atha bin As Saib dari
Bapaknya, dia berkata; " Ammar bin Yasir pernah shalat bersama (mengimami)
kami, dan ia mempersingkat shalatnya. Lalu sebagian orang bertanya kepadanya,
'Engkau telah meringankan -mempersingkat- shalat? ' Ia menjawab, 'Dalam shalat
tadi aku memanjatkan doa dengan doa yang kudengar dari Rasulullah ﷺ.' Lalu ia bangkit dan diikuti oleh seseorang -dia adalah
Ubay, tetapi ia menyamarkan dirinya- lalu ia bertanya kepadanya tentang doa.
Kemudian ia datang dan memberitahukan doa tersebut kepada kaumnya, 'Ya Allah
dengan ilmu-Mu terhadap hal gaib dan kekuasaan-Mu atas makhluk, hidupkanlah aku
selagi Engkau mengetahui bahwa hidup itu lebih baik bagiku, dan matikanlah aku
jika Engkau mengetahui bahwa mati lebih baik bagiku. Ya Allah, aku memohon
kepada-Mu rasa takut kepada-Mu saat nampak ataupun saat tidak nampak. Aku memohon
kesederhanaan saat fakir dan kaya. Aku memohon kenikmatan tanpa habis dan
kesenangan tanpa henti. Aku memohon keridhaan setelah adanya keputusan, dan
kenyamanan hidup setelah mati dan kelezatan memandang kepada wajah-Mu serta
keridhaan berjumpa dengan-Mu tanpa ada bahaya yang membahayakan dan tanpa
fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan hiasan iman dan
jadikanlah kami orang yang menyampaikan hidayah dan yang mendapatkan
hidayah."
Di dalam kitab Musnad Ahmad
hadits nomor 18325 juga disebutkan doa seperti tersebut di atas tetapi
menggunakan kata “mahdiyyin”;
حَدَّثَنَا
إِسْحَاقُ الْأَزْرَقُ عَنْ شَرِيكٍ عَنْ أَبِي هَاشِمٍ عَنْ أَبِي مِجْلَزٍ قَالَ
صَلَّى بِنَا عَمَّارٌ صَلَاةً فَأَوْجَزَ فِيهَا فَأَنْكَرُوا ذَلِكَ فَقَالَ
أَلَمْ أُتِمَّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ قَالُوا بَلَى قَالَ أَمَا إِنِّي قَدْ
دَعَوْتُ فِيهِمَا بِدُعَاءٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَدْعُو بِهِ اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى
الْخَلْقِ أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا
كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ
وَالشَّهَادَةِ وَكَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا وَالْقَصْدَ فِي
الْفَقْرِ وَالْغِنَى وَلَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى
لِقَائِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَمِنْ فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ اللَّهُمَّ
زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مَهْدِيِّينَ [53]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ishaq Al Azraq dari Syarik dari Abu Hasyim dari Abu
Mijlaz ia berkata, " Ammar pernah shalat bersama kami dan ia menunaikannya
denan ringgkas, lalu orang-orang pun mengingkarinya. Maka Ammar bertanya,
"Bukankah aku telah menyempurnakan rukuk dan sujud?" mereka menjawab,
"Benar." Ammar berkata, "Sesungguhnya dalam dua rakaat itu, aku
telah berdo'a dengan do'a yang Rasulullah ﷺ pernah berdo'a dengannya, Ya Allah, dengan ilmu-Mu atas yang
ghaib, dan dengan kemahakuasaan-Mu atas seluruh makhluk, hidupkanlah aku jika
Engkau mengetahui bahwa hidup lebih baik bagiku, dan matikanlah aku jika Engkau
mengetahui bahwa kematian itu lebih baik bagiku. Ya Allah, sesungguhnya aku
memohon pada-Mu agar aku takut pada-Mu dalam keadaan sembunyi atau ramai. Aku
memohon pada-Mu agar dapat berkata dengan benar diwaktu ridla atau marah. Aku
minta kepada-Mu agar dapat melaksanakan kesederhanaan dalam keadaan kaya atau
fakir serta kenikmatan memandang wajah-Mu (di surga), rindu bertemu dengan-Mu.
Aku berlindung kepada-Mu dari penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang
menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan iman, dan jadikanlah kami sebagai
penunjuk (jalan) yang lurus yang memperoleh bimbingan dari-Mu.'"
Di dalam
kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 3842 disebutkan doa 'Ya Allah, jadikanlah dia
seorang yang memberi petunjuk dan mendapat petunjuk, dan berilah petunjuk
dengan perantaraannya;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا أَبُو مُسْهِرٍ عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ
مُسْهِرٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ عَنْ
عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي عُمَيْرَةَ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لِمُعَاوِيَةَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ هَادِيًا
مَهْدِيًّا وَاهْدِ بِهِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ [54]
Artinya: "Menceritakan
kepada kami Muhammad bin Yahya, menceritakan kepada kami Abu Mus-hir Abdul A'la
bin Mus-hir dari Sa'id bin Abdul Aziz dari Rabi'ah bin Yazid dari Abdurrahman
bin Abi Umairah, yang merupakan salah seorang sahabat Rasulullah ﷺ, dari Nabi ﷺ bahwa beliau berkata kepada
Mu'awiyah: 'Ya Allah, jadikanlah dia seorang yang memberi petunjuk dan mendapat
petunjuk, dan berilah petunjuk dengan perantaraannya.'
5.31. Berdoa Ya Allah, Ilhamkan Kepadaku Petunjukku, Dan Lindungilah Aku Dari
Kejahatan Diriku
Di dalam
kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 3483 disebutkan doa Ya Allah, ilhamkan
kepadaku petunjukku, dan lindungilah aku dari kejahatan diriku;
حَدَّثَنَا
أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ شَبِيبِ بْنِ شَيْبَةَ
عَنْ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لِأَبِي يَا حُصَيْنُ كَمْ تَعْبُدُ الْيَوْمَ إِلَهًا قَالَ أَبِي
سَبْعَةً سِتَّةً فِي الْأَرْضِ وَوَاحِدًا فِي السَّمَاءِ قَالَ فَأَيُّهُمْ
تَعُدُّ لِرَغْبَتِكَ وَرَهْبَتِكَ قَالَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ قَالَ يَا
حُصَيْنُ أَمَا إِنَّكَ لَوْ أَسْلَمْتَ عَلَّمْتُكَ كَلِمَتَيْنِ تَنْفَعَانِكَ
قَالَ فَلَمَّا أَسْلَمَ حُصَيْنٌ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِيَ
الْكَلِمَتَيْنِ اللَّتَيْنِ وَعَدْتَنِي فَقَالَ قُلْ اللَّهُمَّ أَلْهِمْنِي
رُشْدِي وَأَعِذْنِي مِنْ شَرِّ نَفْسِي قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ
غَرِيبٌ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ مِنْ غَيْرِ
هَذَا الْوَجْهِ [55]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani' telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Syabib bin Syaibah dari Al Hasan Al Bashri dari Imran bin Hushain ia berkata; Nabi ﷺ berkata kepada ayahku: "Wahai Hushain, berapa tuhan yang engkau sembah dalam sehari?" Ayahku berkata; tujuh, enam di dunia dan satu di langit."Manakah yang engkau perhitungkan keinginanmu dan rasa rasa takutmu?"Ia berkata; Yang ada di langit."Wahai Hushain, ketahuilah seandainya engkau masuk Islam aku akan mengajarimu dua kalimat yang bermanfaat bagimu." Imran berkata; tatkala Hushain telah masuk Islam ia berkata; wahai Rasulullah ﷺ, ajarkan kepadaku dua kalimat yang engkau janjikan kepadaku! Kemudian beliau ﷺ bersabda: "Katakan; Ya Allah, ilhamkan kepadaku petunjukku, dan lindungilah aku dari kejahatan diriku. Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan gharib. Dan telah diriwayatkan hadits ini dari Imran bin Hushain dan yang lainnya dari jalur ini.
5.32. Berdoa Tinggikan Derajatnya Di Kalangan Orang-Orang Yang Terpimpin
Dengan Petunjuk-Mu
Di dalam kitab Shahih Muslim
hadits nomor 920 hadits nomor disebutkan doa untuk orang lain yang sudah
meninggal tinggikan derajatnya di kalangan orang-orang yang terpimpin dengan
petunjuk-Mu;
حَدَّثَنِي
زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا أَبُو
إِسْحَقَ الْفَزَارِيُّ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ
قَبِيصَةَ بْنِ ذُؤَيْبٍ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَلَمَةَ وَقَدْ شَقَّ بَصَرُهُ
فَأَغْمَضَهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ الرُّوحَ إِذَا قُبِضَ تَبِعَهُ الْبَصَرُ فَضَجَّ
نَاسٌ مِنْ أَهْلِهِ فَقَالَ لَا تَدْعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِلَّا بِخَيْرٍ
فَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ يُؤَمِّنُونَ عَلَى مَا تَقُولُونَ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِأَبِي سَلَمَةَ وَارْفَعْ دَرَجَتَهُ فِي الْمَهْدِيِّينَ وَاخْلُفْهُ
فِي عَقِبِهِ فِي الْغَابِرِينَ وَاغْفِرْ لَنَا وَلَهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
وَافْسَحْ لَهُ فِي قَبْرِهِ وَنَوِّرْ لَهُ فِيهِ [56]
Artinya: Telah
menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Mua'wiyah
bin Amru telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq Al Fazari dari Khalid Al
Hadzdza` dari Abu Qilabah dari Qabishah bin Dzu`aib dari Ummu Salamah ia
berkata; Ketika Abu Salamah meninggal, Rasulullah ﷺ datang
ke rumah kami untuk menjenguk jenazahnya. Saat itu, mata Abu Salamah tengah
terbeliak, maka beliau pun menutupnya. Kemudian beliau bersabda: "Apabila
ruh telah dicabut, maka penglihatan akan mengikutinya dan keluarganya pun
meratap hiteris. Dan janganlah sekali-kali mendo'akan atas diri kalian kecuali
kebaikan, sebab ketika itu malaikat akan mengaminkan apa yang kalian
ucapkan." Setelah itu, beliau berdo'a: Ya Allah, ampunilah Abu Salamah,
tinggikan derajatnya di kalangan orang-orang yang terpimpin dengan petunjuk-Mu
dan gantilah ia bagi keluarganya yang ditinggalkannya. Ampunilah kami dan
ampunilah dia. Wahai Rabb semesta alam. Lapangkanlah kuburnya dan terangilah
dia di dalam kuburnya)."
5.33. Berdoa Ya Rabbku! Terimalah Taubatku, Bersihkanlah Kesalahanku,
Kabulkanlah Do'aku, Tetapkanlah Hujjahku, Tunjukilah Hatiku, Teguhkanlah
Lisanku Dan Cabutlah Segala Penyakit Hatiku
Di dalam kitab Musnad Ahmad
hadits nomor 1997 disebutkan doa Ya Rabbku! terimalah taubatku, bersihkanlah
kesalahanku, kabulkanlah do'aku, tetapkanlah hujjahku, tunjukilah hatiku,
teguhkanlah lisanku dan cabutlah segala penyakit hatiku;
حَدَّثَنَا
يَحْيَى قَالَ أَمْلَاهُ عَلَيَّ سُفْيَانُ إِلَى شُعْبَةَ قَالَ سَمِعْتُ عَمْرَو
بْنَ مُرَّةَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْحَارِثِ الْمُعَلِّمُ حَدَّثَنِي
طَلِيقُ بْنُ قَيْسٍ الْحَنَفِيُّ أَخُو أَبِي صَالِحٍ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو رَبِّ أَعِنِّي
وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ وَانْصُرْنِي وَلَا تَنْصُرْ عَلَيَّ وَامْكُرْ لِي وَلَا
تَمْكُرْ عَلَيَّ وَاهْدِنِي وَيَسِّرْ الْهُدَى إِلَيَّ وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ
بَغَى عَلَيَّ رَبِّ اجْعَلْنِي لَكَ شَكَّارًا لَكَ ذَكَّارًا لَكَ رَهَّابًا
لَكَ مِطْوَاعًا إِلَيْكَ مُخْبِتًا لَكَ أَوَّاهًا مُنِيبًا رَبِّ تَقَبَّلْ
تَوْبَتِي وَاغْسِلْ حَوْبَتِي وَأَجِبْ دَعْوَتِي وَثَبِّتْ حُجَّتِي وَاهْدِ
قَلْبِي وَسَدِّدْ لِسَانِي وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي [57]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Yahya berkata; Sufyan mendektekan kepadaku, untuk
dikirim kepada Syu'bah berkata; saya mendengar 'Amru bin Murrah telah
menceritakan kepadaku Abdullah bin Al Harits Al Mu'allim telah menceritakan
kepadaku Thaliq bin Qais Al Hanafi saudara Abu Shalih, dari Ibnu Abbas bahwa
Rasulullah ﷺ berdoa: (Ya Rabbku! Bantulah aku dan jangan Engkau memberi
bantuan mereka untuk mengalahkanku. Tolonglah aku dan jangan Engkau menolong
mereka untuk mengalahkanku. Buatlah makar untukku dan jangan Engkau buatkan
mereka makar untuk mengalahkanku. Tunjukilah aku dan mudahkanlah petunjuk-Mu
untukku. Tolonglah aku atas orang-orang yang menzhalimi aku. Ya Rabbku!
Jadikanlah aku orang yang selalu bersyukur kepadaMu, selalu ingat kepadaMu, selalu
takut kepadaMu selalu patuh padaMu, selalu tunduk dan pasrah terhadapMu, selalu
kembali dan taubat kepadaMu. Ya Rabbku! terimalah taubatku, bersihkanlah
kesalahanku, kabulkanlah do'aku, tetapkanlah hujjahku, tunjukilah hatiku,
teguhkanlah lisanku dan cabutlah segala penyakit hatiku) "
5.34. Berdoa Berilah Aku Petunjuk Dan Permudahlah Petunjuk Kepadaku
Di dalam kitab Sunan Abu Daud
hadits nomor 1510 dan 1511 disebutkan doa berilah aku petunjuk dan
permudahlah petunjuk kepadaku;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ عَنْ طُلَيْقِ بْنِ قَيْسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ
قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو رَبِّ أَعِنِّي
وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ وَانْصُرْنِي وَلَا تَنْصُرْ عَلَيَّ وَامْكُرْ لِي وَلَا
تَمْكُرْ عَلَيَّ وَاهْدِنِي وَيَسِّرْ هُدَايَ إِلَيَّ وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ
بَغَى عَلَيَّ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي لَكَ شَاكِرًا لَكَ ذَاكِرًا لَكَ رَاهِبًا
لَكَ مِطْوَاعًا إِلَيْكَ مُخْبِتًا أَوْ مُنِيبًا رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي
وَاغْسِلْ حَوْبَتِي وَأَجِبْ دَعْوَتِي وَثَبِّتْ حُجَّتِي وَاهْدِ قَلْبِي
وَسَدِّدْ لِسَانِي وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا
يَحْيَى عَنْ سُفْيَانَ قَالَ سَمِعْتُ عَمْرَو بْنَ مُرَّةَ بِإِسْنَادِهِ
وَمَعْنَاهُ قَالَ وَيَسِّرْ الْهُدَى إِلَيَّ وَلَمْ يَقُلْ هُدَايَ [58]
Artinya: Telah
menceritakan kepada Kami Muhammad bin Katsir, telah mengabarkan kepada Kami
Sufyan dari 'Amr bin Murrah dari Abdullah bin Al Harits dari Thalq bin Qais
dari Ibnu Abbas, ia berkata; Nabi ﷺ berdoa
dengan mengucapkan: Ya Allah, bantulah aku dan jangan Engkau bantu untuk
memusuhiku, tolonglah aku dan jangan Engkau tolong untuk memusuhiku, lakukan
tipu daya untukku dan jangan Engkau melakukan tipu daya terhadap diriku,
berilah aku petunjuk dan permudahlah petunjuk kepadaku, tolonglah aku menghadapi
orang yang berbuat lalim terhadap diriku. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang
bersyukur kepadaMu, ingat kepadaMu, takut kepadaMu, taat kepadaMu, tunduk
kepadaMu, atau kembali kepadaMu. Tuhanku, terimalah taubatku, hilangkan
kegelisahanku, dan kabulkan doaku, teguhkan hujjahku, dan berilah petunjuk
hatiku, luruskan lisanku, dan cabutlah kedengkian hatiku). Telah menceritakan
kepada Kami Musaddad telah menceritakan kepada Kami Yahya dari Sufyan, ia
berkata; aku mendengar 'Amr bin Murrah dengan sanad dan maknanya ia berkata;
"dan mudahkanlah petunjuk kepadaku" bukan "petunjukku".
5.35. Berdoa Agar Allah Menjadikan Al Qur`An Sebagai Penyejuk Hati Dan Cahaya
Di Dada Serta Penawar Kesedihan Dan Pelenyap Duka
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 3712 disebutkan doa agar menjadikan Al Qur`an sebagai
penyejuk hati dan cahaya dada serta penawar kesedihan dan pelenyap duka;
حَدَّثَنَا
يَزِيدُ أَنْبَأَنَا فُضَيْلُ بْنُ مَرْزُوقٍ حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ
الْجُهَنِيُّ عَنِ الْقَاسِمِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا
أَصَابَ أَحَدًا قَطُّ هَمٌّ وَلَا حَزَنٌ فَقَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي عَبْدُكَ
وَابْنُ عَبْدِكَ وَابْنُ أَمَتِكَ نَاصِيَتِي بِيَدِكَ مَاضٍ فِيَّ حُكْمُكَ
عَدْلٌ فِيَّ قَضَاؤُكَ أَسْأَلُكَ بِكُلِّ اسْمٍ هُوَ لَكَ سَمَّيْتَ بِهِ
نَفْسَكَ أَوْ عَلَّمْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ أَنْزَلْتَهُ فِي كِتَابِكَ
أَوْ اسْتَأْثَرْتَ بِهِ فِي عِلْمِ الْغَيْبِ عِنْدَكَ أَنْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ
رَبِيعَ قَلْبِي وَنُورَ صَدْرِي وَجِلَاءَ حُزْنِي وَذَهَابَ هَمِّي إِلَّا
أَذْهَبَ اللَّهُ هَمَّهُ وَحُزْنَهُ وَأَبْدَلَهُ مَكَانَهُ فَرَجًا قَالَ فَقِيلَ
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا نَتَعَلَّمُهَا فَقَالَ بَلَى يَنْبَغِي لِمَنْ
سَمِعَهَا أَنْ يَتَعَلَّمَهَا [59]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Yazid telah memberitakan kepada kami Fudlail bin
Marzuq telah menceritakan kepada kami Abu Salamah Al Juhani dari Al Qosim bin
Abdurrahman dari ayahnya dari Abdullah ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah seseorang mengalami kesedihan dan
tidak pula duka, lalu ia mengucapkan; Ya Allah, sesungguhnya aku adalah
hambaMu, anak hambaMu dan anak hamba wanitaMu, ubun-ubunku berada di tanganMu,
hukumMu berlaku padaku dan ketetapanMu padaku adalah adil. Aku memohon kepadaMu
dengan segenap namaMu atau yang Engkau namai diriMu dengannya, atau yang Engkau
ajarkan kepada salah seorang dari makhlukMu atau engkau turunkan di dalam
kitabMu atau yang Engkau simpan dalam ilmu ghaib di sisiMu agar Engkau menjadikan
Al Qur`an sebagai penyejuk hatiku dan cahaya dadaku serta penawar kesedihanku
dan pelenyap dukaku. Kecuali Allah akan menghilangkan kesedihan dan kedukaan
serta menggantinya dengan jalan keluar." Ia berkata; Lalu dikatakan; Wahai
Rasulullah, bolehkah kami mempelajarinya? Beliau menjawab: "Tentu, orang
yang telah mendengarnya semestinya mempelajarinya."
5.36. Berdoa Ya Allah, Aku Memohon Petunjuk-Mu Sehingga Lurus Urusanku
Di dalam kitab Musnad Ahmad
hadits nomor 17229 disebutkan doa Ya Allah, aku memohon petunjuk-Mu sehingga
lurus urusanku;
حَدَّثَنَا
حَسَنُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَن سَعِيدٍ الْجُرَيْرِيِّ
عَن أَبِي الْعَلَاءِ عَن عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ وَامْرَأَةٍ مِنْ قَيْسٍ أَنَّهُمَا
سَمِعَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَحَدُهُمَا
سَمِعْتُهُ يَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي خَطَئِي وَعَمْدِي اللَّهُمَّ
إِنِّي أَسْتَهْدِيكَ لِأَرْشَدِ أَمْرِي وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي [60]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Hammad
bin Salamah dari Sa'id Al Jurairi dari Abul Ala dari Utsman bin Abul Ash dan
Seorang perempuan dari Quwais, bahwa keduanya pernah mendengar Nabi ﷺ. Salah satu dari keduanya berkata, "Saya mendengar beliau
berdo'a: (Ya Allah, ampunilah dosaku baik yang sengaja ataupun yang tidak. Ya
Allah, aku memohon petunjuk-Mu sehingga lurus urusanku, dan aku berlindung
pada-Mu dari keburukan jiwaku)."
5.37. Berdoa Ya Allah, Jadikanlah Dalam Hatiku Cahaya, Pada Lisanku Cahaya,
Pada Pendengaranku Cahaya, Pada Penglihatanku Cahaya
Di
dalam kitab shahih Muslim disebutkan doa Ya Allah, jadikanlah dalam hatiku
cahaya, pada lisanku cahaya, pada pendengaranku cahaya, pada penglihatanku
cahaya;
(٧٦٣)
حَدَّثَنَا وَاصِلُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى ،
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ ،
عَنْ حُصَيْنِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ ،
عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ ،
عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ
اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ
« أَنَّهُ رَقَدَ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ
فَاسْتَيْقَظَ فَتَسَوَّكَ وَتَوَضَّأَ وَهُوَ يَقُولُ: ﴿إِنَّ فِي خَلْقِ
السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لآيَاتٍ لأُولِي
الأَلْبَابِ﴾ فَقَرَأَ هَؤُلَاءِ الْآيَاتِ حَتَّى خَتَمَ السُّورَةَ، ثُمَّ قَامَ
فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ فَأَطَالَ فِيهِمَا الْقِيَامَ وَالرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ،
ثُمَّ انْصَرَفَ فَنَامَ حَتَّى نَفَخَ. ثُمَّ فَعَلَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
سِتَّ رَكَعَاتٍ، كُلَّ ذَلِكَ يَسْتَاكُ وَيَتَوَضَّأُ وَيَقْرَأُ هَؤُلَاءِ
الْآيَاتِ. ثُمَّ أَوْتَرَ بِثَلَاثٍ فَأَذَّنَ الْمُؤَذِّنُ فَخَرَجَ إِلَى
الصَّلَاةِ وَهُوَ يَقُولُ: اللَّهُمَّ اجْعَلْ
فِي قَلْبِي نُورًا، وَفِي لِسَانِي نُورًا، وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا،
وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُورًا، وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِي نُورًا، وَمِنْ أَمَامِي
نُورًا، وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُورًا وَمِنْ تَحْتِي نُورًا. اللَّهُمَّ
أَعْطِنِي نُورًا . [61]
»
Artinya: Wāṣil bin ‘Abd al-A‘lā meriwayatkan kepada kami, ia
berkata: Muhammad bin Fuḍayl meriwayatkan
kepada kami, dari Ḥuṣayn bin ‘Abd al-Raḥmān, dari Ḥabīb bin Abī Thābit, dari Muḥammad bin ‘Alī bin ‘Abdillāh bin ‘Abbās, dari
ayahnya, dari ‘Abdullāh bin ‘Abbās ra., bahwa ia pernah bermalam di sisi
Rasulullah ﷺ. Ketika beliau terbangun dari tidurnya, beliau bersiwak lalu
berwudu sambil membaca firman Allah Ta‘ala: “Sesungguhnya dalam penciptaan
langit dan bumi serta pergantian malam dan siang benar-benar terdapat
tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal” (QS. Āli ‘Imrān: 190), kemudian beliau
membaca ayat-ayat tersebut hingga selesai seluruh surah. Setelah itu beliau
berdiri melaksanakan salat dua rakaat, dan pada dua rakaat itu beliau
memanjangkan berdiri, rukuk, dan sujud. Kemudian beliau selesai dan tidur
hingga terdengar suara napas beliau. Setelah itu beliau mengulangi hal yang
sama sebanyak tiga kali—hingga berjumlah enam rakaat—setiap kali beliau bangun,
beliau bersiwak, berwudu, dan membaca ayat-ayat tersebut. Setelah itu beliau
melakukan salat witir tiga rakaat. Lalu muazin mengumandangkan azan, maka
beliau keluar menuju salat sambil berdoa: “Ya Allah, jadikanlah dalam hatiku
cahaya, pada lisanku cahaya, pada pendengaranku cahaya, pada penglihatanku
cahaya; dan jadikanlah dari belakangku cahaya, dari depanku cahaya; jadikan
pula di atasku cahaya dan di bawahku cahaya. Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku
cahaya.”
Berdasar ayat-ayat Al Quran dan hadits-hadits Rasulullah SAW yang telah dikemukakan dalam pembahasan di atas dapat ditarik pengertian bahwa taqwa di level hidayah adalah kesadaran qalbu merasa dapat melihat, mengetahui dan memahami ayat-ayat Allah yang ada di dalam Al Quran maupun yang ada di alam semesta merupakan hidayah atas keberadaan dan kekuasaan Allah.
Kesadaran taqwa di level hidayah mendorong orang
beriman untuk merasa berpandangan luas, lapang dada menghadapi segala masalah,
berada di jalan kebenaran, karena menyadari bahwa dirinya akan selalu mendapat
bimbingan dan petunjuk Allah.
Doa
Mohon Dijadikan Orang Yang Mendapat Dan Menyampaikan Hidayah
"اللَّهُمَّ
زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مُهْتَدِينَ"
“Ya Allah,
hiasilah kami dengan hiasan iman dan jadikanlah kami orang yang menyampaikan
hidayah dan yang mendapatkan hidayah." (HR. Nasai: 1306)
"اللَّهُمَّ
زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مَهْدِيِّينَ"
“Ya
Allah, hiasilah kami dengan iman, dan jadikanlah kami sebagai penunjuk (jalan)
yang lurus yang memperoleh bimbingan dari-Mu” (HR. Ahmad: 18325)
[1] Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404,
Jilid 5, Halaman 2262, Hadits nomor 5767.
[2] Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404,
Jilid 5, Halaman 2262, Hadits nomor 5767.
[3] Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404,
Jilid 8, Halaman 114, Hadits nomor 6549 dan Jilid 9, halaman 151, hadits nomor
7518.
[4] Abu ‘Isa
Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi,
Dar al-Risalah al-‘Alamiyah, tt, 2009, Jilid 4 halaman 382, Hadits nomor 2642.
[5] Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404,
Jilid 9, Halaman 91, Hadits nomor 7269.
[6] Abu Qasim
Al-Thabarani, Mu’jam Al-Thabarani Ausath, Dar Al Haramain, Kairo, 1995,
Jilid 3, Halaman 223, Hadits nomor 2981.
[7] Al Imam Ahmad
Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibn Hambal, Muassasah Ar-Risalah,
2001, Jilid 28, Halaman 133, Hadits nomor 16936.
[8] Abu ‘Isa
Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi,
Dar al-Risalah al-‘Alamiyah, tt, 2009, Jilid 4 halaman 408, Hadits nomor 2676.
[9] Abu Al-Husain
Muslim Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Al-Thabaah Al-‘Amirah, Turki, 1334
H, Jilid 7, Halaman 63, Hadits nomor 2282.
[10] Abu Al-Husain Muslim
Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M,
Jilid 3, Halaman 1476, Hadits nomor 1847.
[11] Abu Al-Husain
Muslim Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Al-Thabaah Al-‘Amirah, Turki, 1334
H, Jilid 8, Halaman 16, Hadits nomor 2577.
[12] Abu Qasim
Al-Thabarani, Mu’jam Al-Thabarani Ausath, Dar Al Haramain, Kairo, 1995,
Jilid 2, Halaman 147, Hadits nomor 1530.
[13] Al Imam Ahmad
Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibn Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 20, Halaman 52, Hadits nomor 12599.
[14] Abdullah Al
Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah
Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990, Jilid 4, Halaman 346, Hadits nomor 7863.
[15] Abu Al-Husain Muslim
Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M,
Jilid 8, Halaman 62, Hadits nomor 2674.
[16] Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404,
Jilid 4, Halaman 60, Hadits nomor 3009.
[17]
Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar
Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 12, Halaman 178, Hadits nomor 9240.
[18] Imam Muslim,
Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman 1873,
Hadits nomor 2408.
[19] Al Imam Ahmad
Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibn Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 2, Halaman 345, Hadits nomor 1124.
[20] Abdullah Al
Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah
Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990, Jilid 1, Halaman 171, Hadits nomor 317.
[21] Ubaidillah
Al-‘Atkafy Al-Ma’ruf Bi Al-Bazar, Musnad Al-Bazar, Maktabah Al-Ulum Wa
Al-Hikmah, Madinah, 2009, Jilid 7, Halaman 372, Hadits nomor 2969.
[22]
Abd Al-Shamad Al-Darimi, Musnad Al-Darimi Al-Ma’ruf (Sunan Al-Darimi),
Dar Al-Mughni Li-Al-Nasyr Wa Al-Tauzi’, 2000, Jilid 1, Halaman 383, Hadits
nomor 397.
[23]
Ibnu Majah Ibnu
Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah,
Beirut, 1418 H, Jilid 1, Halaman 95, Hadits nomor 258.
[24]
Abd Al-Shamad Al-Darimi, Musnad Al-Darimi Al-Ma’ruf (Sunan Al-Darimi),
Dar Al-Mughni Li-Al-Nasyr Wa Al-Tauzi’, 2000, Jilid 4, Halaman 2148, Hadits
nomor 3458.
[25]
Abd Al-Rahman Al-Darimi, Musnad Al-Darimi Al-Ma’ruf, Ibnu Al-Hasan
Al-Zahrani, 2015, Jilid 1, Halaman 168, Hadits nomor 383.
[26] Abu Al-Husain Muslim
Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M,
Jilid 3, Halaman 1255, Hadits nomor 1631.
[27]
Ibnu Majah Ibnu
Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah,
Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman 1377, Hadits nomor 4112.
[28] Ubaidillah
Al-‘Atkafy Al-Ma’ruf Bi Al-Bazar, Musnad Al-Bazar, Maktabah Al-Ulum Wa
Al-Hikmah, Madinah, 2009, Jilid 15, Halaman 191, Hadits nomor 8574.
[29]
Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah Al-Asbahani, Hilyatul Auilya’ Wa Thabaqat Al-
Ashfiya’, Matba’ah Al-Sa’adiyah, Mesir, 1974, Jilid 4, Halaman 385, Tanpa
nomor.
[30] Abu Qasim
Al-Thabarani, Mu’jam Al-Thabarani Ausath, Dar Al Haramain, Kairo, 1995,
Jilid 7, Halaman 171, Hadits nomor 7187.
[31] Abu Qasim
Al-Thabarani, Mu’jam Al-Kabir Li Al-Thabarani, Dar Al Haramain, Kairo,
1995, jilid 3 halaman 197, Hadits nomor 3111.
[32]
Abd Al-Shamad Al-Darimi, Musnad Al-Darimi, Dar Al-Mughni Li Al-Nasyr Wa
Al-Tauzi’, 2000, Jilid 1, Halaman 335, Hadits nomor 299.
[33]
Abu Adullah Muhammad Yazid Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Dar Al-Shidiq li Al-Nsyr,
Saudi, 2014 H, Jilid 1, Halaman 83, Hadits nomor 229.
[34] Abu Daud
Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al-‘Ashriyah,
Beirut, tt, Jilid, 3, Halaman 317, Hadits nomor 3641.
[35] Abu Daud
Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al-‘Ashriyah,
Beirut, tt, Jilid, 2, Halaman 71, Hadits nomor 1456.
[36] Al Imam Ahmad
Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibn Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 15, Halaman 245, Hadits nomor 9419.
[37] Abdullah Al
Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah
Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990, Jilid 1, Halaman 168, Hadits nomor 309.
[38] Abdullah Al
Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah
Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990, Jilid 1, Halaman 433, Hadits nomor 315.
[39]
Abu Adullah Muhammad Yazid Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Dar Al-Shidiq li Al-Nsyr,
Saudi, 2014 H, Jilid 1, Halaman 89, Hadits nomor 243.
[40]
Abu Adullah Muhammad Yazid Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Dar Al-Shidiq li Al-Nsyr,
Saudi, 2014 H, Jilid 1, Halaman 79, Hadits nomor 219.
[41] Abu Daud
Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah,
Beirut, tt, Jilid, 3, Halaman 323, Hadits nomor 3664.
[42]
Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar
Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 3, Halaman 229, Hadits nomor 1581.
[43] Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid
1, Halaman 26, Hadits nomor 71.
[44]
Ibnu Majah Ibnu
Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah,
Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman 1373, Hadits nomor 4101.
[45]
Abd Al-Shamad Al-Darimi, Musnad Al-Darimi Al-Ma’ruf (Sunan Al-Darimi),
Dar Al-Mughni Li-Al-Nasyr Wa Al-Tauzi’, 2000, Jilid 1, Halaman 373, Hadits
nomor 377.
[46]
Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah Al-Asbahani, Hilyatul Auilya’ Wa Thabaqat Al-
Ashfiya’, Matba’ah Al-Sa’adiyah, Mesir, 1974, Jilid 1, Halaman 72, Tanpa
nomor.
[47] Al Imam Ahmad
Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibn Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 37, Halaman 378, Hadits nomor 22705.
[48] Abu Daud
Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah,
Beirut, tt, Jilid, 4, Halaman 247, Hadits nomor 4776.
[49]
Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar
Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 7, Halaman 360, Hadits nomor 10582.
[50] Abu Al-Husain
Muslim Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Al-Thabaah Al-‘Amirah, Turki, 1334
H, Jilid 8, Halaman 81, Hadits nomor 2721.
[51] Abu Al-Husain
Muslim Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Al-Thabaah Al-‘Amirah, Turki, 1334
H, Jilid 8, Halaman 83, Hadits nomor 2725.
[52]
Abu Abd Al-Rahman Ahmad ibn Syuaib al-Nasa’i, Sunan Al-Nasa’i Al-Mujtabi,
Dar Al-Risalah Al-Alamiyah, 2018, Jilid 3, Halaman 92, Hadits nomor 1306.
[53] Al Imam Ahmad
Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibn Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 30, Halaman 265, Hadits nomor 18325.
[54] Abu ‘Isa
Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi,
Dar al-Risalah al-‘Alamiyah, tt, 2009, Jilid 6 halaman 157, Hadits nomor 3842.
[55] Abu ‘Isa
Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi,
Dar al-Risalah al-‘Alamiyah, tt, 2009, Jilid 5 halaman 468, Hadits nomor 3483.
[56] Imam Muslim,
Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 2, Halaman 634,
Hadits nomor 920.
[57] Al Imam Ahmad
Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibn Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 3, Halaman 452, Hadits nomor 1997.
[58] Abu Daud
Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah,
Beirut, tt, Jilid, 2, Halaman 84, Hadits nomor 1510 dan 1511.
[59] Al Imam Ahmad
Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibn Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 6, Halaman 246, Hadits nomor 3712.
[60] Al Imam Ahmad
Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibn Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 29, Halaman 434, Hadits nomor 17905.
[61] Abu Al-Husain
Muslim Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Al-Thabaah Al-‘Amirah, Turki, 1334
H, Jilid 2, Halaman 182, Hadits nomor 763.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar