30. Tingkat Kemuliaan Manusia Di Sisi Allah Ditentukan
Berdasar Tingkat Ketakwaannya
Keistimewaan takwa ke tiga puluh “Tingkat kemuliaan manusia di sisi Allah ditentukan berdasar tingkat ketakwaannya”, di dasari Al Quran Surat Al Hujurat/ 49: 13 yang menyatakan bahwa sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa;
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ
وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ
عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: Hai manusia, sesungguhnya
Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya
orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa
di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS.
Al Hujurat/ 49: 13)
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 3374 disebutkan bahwa orang yang paling mulia adalah
yang paling bertakwa kepada Rab-nya;
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ سَمِعَ الْمُعْتَمِرَ
عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قِيلَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مَنْ أَكْرَمُ النَّاسِ قَالَ أَكْرَمُهُمْ أَتْقَاهُمْ قَالُوا يَا نَبِيَّ
اللَّهِ لَيْسَ عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ قَالَ فَأَكْرَمُ النَّاسِ يُوسُفُ نَبِيُّ اللَّهِ
ابْنُ نَبِيِّ اللَّهِ ابْنِ نَبِيِّ اللَّهِ ابْنِ خَلِيلِ اللَّهِ قَالُوا لَيْسَ
عَنْ هَذَا نَسْأَلُكَ قَالَ فَعَنْ مَعَادِنِ الْعَرَبِ تَسْأَلُونِي قَالُوا نَعَمْ
قَالَ فَخِيَارُكُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُكُمْ فِي الْإِسْلَامِ إِذَا فَقُهُوا [1]
Artinya: Telah bercerita kepada
kami Ishaq bin Ibrahim dia mendengar Al Mu'tamir dari 'Ubaidillah dari Sa'id bin
Abi Sa'id Al Maqburiy dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; "Kepada
Nabi ﷺ pernah ditanyakan; "Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling
mulia?". Beliau menjawab: "Manusia yang paling mulia adalah yang paling
bertakwa di antara mereka?". Mereka berkata; "Wahai Nabi Allah, bukan
itu yang kami tanyakan". Beliau berkata: "Kalau begitu, Yusuf Nabi Allah,
putra dari Nabi Allah putra Khalilullah (kekasih Allah, Ibrahim 'Alaihissalam) ".
Mereka berkata lagi; "Bukan itu yang kami tanyakan". Beliau berkata: "Apakah
yang kalian maksudkan tentang kalangan bangsa Arab?. Mereka berkata; "Ya, benar".
Beliau bersabda: "Orang yang terbaik di antara kalian pada masa Jahiliyyah
adalah yang terbaik pula di masa Islam jika mereka memahami Islam".
Di dalam
kitab Syuab Al-Imam Baihaqi hadits nomor 5226 dinyatakan bahwa Sesungguhnya yang
paling mulia di kalangan kalian di sisi Allah adalah yang paling takwa di kalangan
kalian
أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، أنا أَبُو
عَبْدِ اللهِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْفَرَّاءُ،
ثنا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ الْمَخْزُومِيُّ، بِالْمَدِينَةِ، قَالَ: حَدَّثَتْنِي
أُمُّ سَلَمَةَ بِنْتُ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَعْقُوبَ،
عَنْ أَبِيهَا، عَنْ جَدِّهَا أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ: " إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ: أَمَرْتُكُمْ
فَضَيَّعْتُمْ مَا عَهِدْتُ إِلَيْكُمْ فِيهِ، وَرَفَعْتُمْ أَنْسَابَكُمْ، فَالْيَوْمَ
أَرْفَعُ نَسَبِي وَأَضَعُ أَنْسَابَكُمْ، أَيْنَ الْمُتَّقُونَ؟ أَيْنَ الْمُتَّقُونَ؟
إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَاكُمْ " [2]
Artinya: Telah mengabarkan
kepada kami Abu Abdillah Al hafidz, telah mengabarkan kepada kami Abu Abdillah Muhammad
ibnu Ya’qub, telah mengabarkan kepada kami Muhammad ibnu Abdi Al Wahab Al Farai,
telah mengabarkan kepada kami Muhammad ibnu Hasan Al Makhzumi di Madinah, berkata:
telah menceritakan kepadaku Umu Salamah binti Al ‘Alai ibni Abdi Rahman ibni Ya’qub
dari Ayahnya, dari kakeknya Abu Hurairah, bahwa Nabi SAW bersabda: “Sesungguhnya
Allah Azza wa Jalla akan berkata pada Hari Kiamat: Aku perintahkan kalian, lalu
kalian abaikan apa yang Aku janjikan kepada kalian di dalamnya, dan Aku angkat nasab-nasab
kalian, pada hari ini Aku akan mengangkat nasab-Ku dan Aku jatuhkan nasab-nasab
kalian. Di manakah orang-orang yang bertakwa? Sesungguhnya yang paling mulia di
kalangan kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di kalangan kalian.
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi
Hadits nomor 3271 disebutkan bahwa kemuliaan itu desebabkan karena takwa;
حَدَّثَنَا الْفَضْلُ بْنُ سَهْلٍ الْأَعْرَجُ الْبَغْدَادِيُّ
وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ سَلَّامِ بْنِ أَبِي
مُطِيعٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ سَمُرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَسَبُ الْمَالُ وَالْكَرَمُ التَّقْوَى قَالَ أَبُو عِيسَى
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ سَمُرَةَ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا
مِنْ حَدِيثِ سَلَّامِ بْنِ أَبِي مُطِيعٍ [3]
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami Al Fadll bin Sahl Al A'raj Al Baghdadi dan lainnya, mereka berkata:
Telah menceritakan kepada kami Yunus bin Muhammad dari Sallam bin Abu Muthi' dari
Qatadah dari Al Hasan dari Samurah dari nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda:
"Kebanggaan/ keterhomatan diperoleh karena harta, dan kemuliaan diperoleh
karena takwa." Abu Isa berkata: Hadits ini hasan shahih gharib dari hadits
Samurah, kami hanya mengetahuinya dari hadits Sallam bin Abu Muthi'.
Di dalam kitab Muwatha Imam
Malik Hadits nomor. 35 disebutkan
pernyataan Umar Ibnu Khatab bahwa Kemuliaan seorang mukmin adalah ketakwaannya,
agamanya adalah kehormatannya, wibawanya adalah akhlaknya;
حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ
أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالَ كَرَمُ الْمُؤْمِنِ تَقْوَاهُ وَدِينُهُ
حَسَبُهُ وَمُرُوءَتُهُ خُلُقُهُ وَالْجُرْأَةُ وَالْجُبْنُ غَرَائِزُ يَضَعُهَا
اللَّهُ حَيْثُ شَاءَ فَالْجَبَانُ يَفِرُّ عَنْ أَبِيهِ وَأُمِّهِ وَالْجَرِيءُ
يُقَاتِلُ عَمَّا لَا يَئُوبُ بِهِ إِلَى رَحْلِهِ وَالْقَتْلُ حَتْفٌ مِنْ
الْحُتُوفِ وَالشَّهِيدُ مَنْ احْتَسَبَ نَفْسَهُ عَلَى اللَّهِ [4]
Artinya: Telah
menceritakan kepadaku dari Malik dari Yahya bin Sa'id bahwa Umar bin Khattab
berkata: "Kemuliaan seorang mukmin adalah ketakwaannya, agamanya adalah
kehormatannya, wibawanya adalah akhlaknya, sedangkan keberanian dan jiwa
pengecut adalah adalah naluri yang Allah tanamkan kepada siapa yang Ia
kehendaki. Orang yang takut akan lari dari membela bapak dan ibunya, sedang
orang yang berani akan berperang membela sesuatu yang tidak akan dibawa ke
dalam rumahnya. Gugur dalam peperangan adalah salah satu jenis kematian,
sedangkan syahid adalah orang yang menyerahkan jiwanya kepada Allah."
[1]
Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Al-Sulthaniyah,
Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 147, Hadits nomor 3374.
[2] Abu
Bakar Ahmad Al Husain Al baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub
Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 13 Hal. 72, Hadits nomor 9970.
[3] Abu ‘Isa
Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi,
Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 5 Halaman 310, Hadits nomor 3271.
[4] Malik
Ibn Anas, Muwatha’ al-Imam malik, Dar Ihya’u Al-Turats Al-‘Arabi,
Beirut, 1985, Jilid 2 Halaman 463, Hadits nomor 35.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar