26/04/2026

+ 8. TAKWA LEVEL RAHMAH

+ 8. TAKWA LEVEL RAHMAH

Rahmah berasal dari kata rahima-yarhamu-rahmatan artinya riqqatun; lembut; dan Syafaqah; mengasihi; kemurahan hati; perasaan. Di dalam Al Quran kata yang terbentuk dari kata dasar rahima terdapat sebanyak 563 kali  di  ditemukan 422 ayat, termasuk di dalamnya kata ar rahman  dan ar rahim yang ada di permulaan surat.

Ayat-ayat tersebut ditambah dengan hadits-hadits Rasulullah yang berkaitan dengan rahmah akan diklasifikasikan dan dianalisa untuk dapat memperoleh pemahaman yang menyeluruh tentang rahmah, sehingga rahmah dapat diamalkan menjadi sebuah bentuk ketaqwaan di tingkat rahmah.

Di dalam Al Quran Surat Al-Anbiya/ 21: 107 dengan tegas dinyatakan bahwa tidaklah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam;

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Artinya: Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.(QS. Al-Anbiya/ 21: 107)

Ayat ini memberikan gambaran bahwa Rasulullah Muhammad SAW di utus untuk menjadi rahmat bagi semesta alam, artinya Rasulullah Muhammad SAW di utus untuk menebar kasih sayang bagi seluruh alam, sedangkan di dalam Al Quran surat Al-A’raf/ 7: 156, dijelaskan bahwa Rahmat Allah meliputi segala sesuatu, tetapi rahmat Allah ditetapkan bagi orang yang bertaqwa;

وَرَحْمَتِيْ وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍۗفَسَاَ كْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَا لَّذِيْنَ هُمْ بِاٰ يٰتِنَا يُؤْمِنُوْنَۚ

Artinya: “Dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka, akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf/ 7: 156)

Dari dua ayat di atas dapat ditarik pengertian sementara bahwa rahmah adalah kasih sayang Allah SWT yang melimputi semua makhluk ciptaan-Nya, dan diutusnya Nabi Muhammad SAW sebagai Rasulullah merupakan bentuk realisasi rahmah Allah SWT kepada semesta alam.

SSelanjutnya untuk dapat memberikan gambaran yang menyeluruh tentang takwa di tingkat rahmah, maka pada bab ini akan dikemukakan pembahasan tentang;

1. Hikmah Rahmah,

2. Keistimewaan Orang Yang Rahmah,

3. Karakter Orang Yang Rahmah,

4. Taqwa Di Tingkat Rahmah.

Adapun pembahasannya adalah sebagai berikut;

1.  Hikmah Rahmah

Berikut akan dikemukakan beberapa hikmah yang berkaitan dengan rahmah, yaitu antara lain:

1.1. Allah Menetapkan Atas Diri-Nya (berlaku) Kasih Sayang

Di dalam Al Quran Surat Al-An'am/ 6: 54, ditegaskan bahwa Allah telah menetapkan atas diri-Nya (berlaku) kasih sayang;

وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۖ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ ۖ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka katakanlah: "Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-An'am/ 6: 54)

1.2. Bergembiralah Dengan Rahmat Allah Karena Rahmat Allah Lebih Baik Dari Segalanya

Di dalam Al Quran surat Yunus/ 10: 58 dinyatakan bahwa Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan;

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ

Artinya: “Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10]: 58).

1.3. Hamba Allah Yang Maha Pengasih Itu Rendah Hati Dan Berkata Selamat

Di dalam Al Quran Surat Al-Furqan/ 25: 63, digambarkan bahwa hamba Allah yang maha penyayang itu rendah hati dan berkata selamat;

وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا

Artinya: Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.(QS. Al-Furqan/ 25: 63)

1.4. Rahmat Allah Seratus Bagian, Dipegang Sembilan Puluh Sembilan Bagian Dan Diturunkannya Satu Bagian Untuk Seluruh Makhluk-Nya

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 6469 dijelaskan bahwa Sesungguhnya Allah menjadikan rahmat (kasih sayang) seratus bagian, maka dipeganglah di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan diturunkannya satu bagian untuk seluruh makhluk-Nya

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الرَّحْمَةَ يَوْمَ خَلَقَهَا مِائَةَ رَحْمَةٍ فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً وَأَرْسَلَ فِي خَلْقِهِ كُلِّهِمْ رَحْمَةً وَاحِدَةً فَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ بِكُلِّ الَّذِي عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الرَّحْمَةِ لَمْ يَيْئَسْ مِنْ الْجَنَّةِ وَلَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ بِكُلِّ الَّذِي عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الْعَذَابِ لَمْ يَأْمَنْ مِنْ النَّارِ [1] 

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] telah menceritakan kepada kami [Ya'qub bin Abdurrahman] dari ['Amru bin Abu 'Amru] dari [Sa'id bin Abu Sa'id Al Maqburi] dari [Abu Hurairah] radliallahu 'anhu dia berkata; saya mendengar Rasulullah  bersabda: "Sesungguhnya Allah menjadikan rahmat (kasih sayang) seratus bagian, maka dipeganglah di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan diturunkannya satu bagian untuk seluruh makhluk-Nya, sekiranya orang-orang kafir mengetahui setiap rahmat (kasih sayang) yang ada di sisi Allah, niscaya mereka tidak akan berputus asa untuk memperoleh surga, dan sekiranya orang-orang mukmin mengetahui setiap siksa yang ada di sisi Allah, maka ia tidak akan merasa aman dari neraka."

1.5. Dengan Satu Rahmat Penduduk Bumi Saling Mengasihi Dan Menyayangi, Dan Dengan Rahmat Itu Pula Binatang Buas Dapat Menyayangi Anaknya

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2752, disebutkan bahwa hanya satu yang di turunkan Allah kepada jin, manusia, hewan jinak dan buas, dengan satu rahmat tersebut mereka saling mengasihi dan menyayangi, dan dengan rahmat itu pula binatang buas dapat menyayangi anaknya;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا عَبْدُ الْمَلِكِ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ أَنْزَلَ مِنْهَا رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَى وَلَدِهَا وَأَخَّرَ اللَّهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ   [2]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin 'Abdullah bin Numair] telah menceritakan kepada kami [bapakku] telah menceritakan kepada kami ['Abdul Malik] dari ['Atha] dari [Abu Hurairah] dari Nabi  beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Dari seratus rahmat tersebut, hanya satu yang di turunkan Allah kepada jin, manusia, hewan jinak dan buas. Dengan rahmat tersebut mereka saling mengasihi dan menyayangi, dan dengan rahmat itu pula binatang buas dapat menyayangi anaknya. Adapun Sembilan puluh sembilan rahmat Allah yang lain, maka hal itu ditangguhkan Allah. Karena Allah hanya akan memberikannya kepada para hamba-Nya yang shalih pada hari kiamat kelak.

1.6. Allah Tidak Akan Menyayangi Siapa Saja Yang Tidak Menyayangi Manusia

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 7376, disebutkan Allah tidak akan menyayangi siapa saja yang tidak menyayangi manusia;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ وَأَبِي ظَبْيَانَ عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرْحَمُ اللَّهُ مَنْ لَا يَرْحَمُ النَّاسَ [3]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Salam] telah menceritakan kepada kami [Abu Mu'awiyah] dari [Al A'masy] dari [Zaid bin Wahb] dan [Abu dlabyan] dari [Jarir bin Abdullah] berkata, "Rasulullah  bersabda: "Allah tidak akan menyayangi siapa saja yang tidak menyayangi manusia."

1.7. Barangsiapa Tidak Mengasihi Maka Dia Tidak Akan Di Kasihi

Di dalam kitab Shahih Bukhari 95 dinyatakan bahwa barangsiapa tidak mengasihi maka dia tidak akan di kasihi;

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ حَدَّثَنِي زَيْدُ بْنُ وَهْبٍ قَالَ سَمِعْتُ جَرِيرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ[4] 

Artinya: Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Hafsh telah menceritakan kepada kami Ayahku telah menceritakan kepada kami Al A'masy dia berkata; telah menceritakan kepadaku Zaid bin Wahb dia berkata; saya mendengar Jarir bin Abdullah dari Nabi beliau bersabda: "Barangsiapa tidak mengasihi maka dia tidak akan di kasihi."

1.8. Sesungguhnya Rahmat-Ku Mengalahkan Kemurkaan-Ku

Dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 3194, disebutkan bahwa Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku;

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا مُغِيرَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْقُرَشِيُّ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ فَوْقَ الْعَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي  [5]

Artinya: Telah bercerita kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] telah bercerita kepada kami [Mughirah bin 'Abdur Rahman Al Qurasyiy] dari [Abu Az Zanad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] berkata, Rasulullah  bersabda: "Ketika Allah menetapkan penciptaan makhluq, Dia menulis di dalam Kitab-Nya, yang berada di sisi-Nya di atas ai-'Arsy (yang isinya): "Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku".

1.9. Sesungguhnya Aku Diutus Sebagai Penyayang

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2599 dinyatakan bahwa sesungguhnya aku diutus untuk rahmat;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالَا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ يَعْنِيَانِ الْفَزَارِيَّ عَنْ يَزِيدَ وَهُوَ ابْنُ كَيْسَانَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ قَالَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً [6] 

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Abbad dan Ibnu Abu 'Umar keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Marwan yaitu Al Fazari dari Yazid yaitu Ibnu Kaisan dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dia berkata; "Seseorang pernah berkata; 'Ya Rasulullah, do'akanlah untuk orang-orang musyrik agar mereka celaka! ' Mendengar itu, Rasulullah  menjawab: 'Sesungguhnya aku diutus bukan untuk menjadi pelaknat, tetapi aku diutus sebagai rahmat.'"

1.10. Sesungguhnya Aku Adalah Rahmat Yang Diberi Petunjuk

Di dalam kitab Mustadrak Hakim hadits nomor 100 dinyatakan bahwa sesungguhnya aku merupakan rahmat yang diberi petunjuk;

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ الْمُزَكِّيُّ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ خُزَيْمَةَ، قَالَا: ثنا أَبُو الْخَطَّابِ زِيَادُ بْنُ يَحْيَى الْحَسَّانِيُّ، وَثنا أَبُو الْفَضْلِ مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، ثنا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ، وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ، قَالَا: ثنا زِيَادُ بْنُ يَحْيَى الْحَسَّانِيُّ، أَنْبَأَ مَالِكُ بْنُ سُعَيْرٍ، ثنا الْأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَنَا رَحْمَةٌ مُهْدَاةٌ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِهِمَا فَقَدِ احْتَجَّا جَمِيعًا بِمَالِكِ بْنِ سُعَيْرٍ، وَالتَّفَرُّدُ مِنَ الثِّقَاتِ مَقْبُولٌ  [7]

Artinya: Abu Bakar Muhammad bin Ja'far Al Muzani menceritakan kepada kami, Ibrahim bin Abi Thalib dan Muhammad bin Ishaq bin Khuzaiman menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Abu Al Khathab Ziyad bin Yahya Al Hassani menceritakan kepada kami. Abu Al Fadhl Muhammad bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Husain bin Muhammad bin Ziyad dan Ibrahim bin Abu Thalib »menceritakan kepada kami, keduanya berkata: Ziyad bin Yahya Al Hassani menceritakan kepada kami, Malik bin Su'air memberitakan (kepada kami), Al A'masy menceritakan kepada kami dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah  bersabda, "Wahai manusia, sesungguhnya aku merupakan rahmat yang diberi petunjuk." Hadis ini shahih sesuai dengan syarat Al Bukhari dan Muslim. Keduanya sama-sama berhujjah dengan Malik bin Su'air. Riwayat yang hanya diriwayatkan oleh seorang periwayat dari kalangan periwayat tsiqah maqbul.

1.11.  Aku Diutus Menjadi Penyayang Dan Pemersatu

Di dalam kitab Hilyatul Aulia hadits nomor 5213 dinyatakan bahwa aku dutus sebagai penyayang dan pemersatu

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ، قَالَ: ثنا الْحُسَيْنُ بْنُ حَفْصٍ، قَالَ: ثنا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي مُوسَى الْيَمَانِيِّ، عَنْ وَهْبِ بْنِ مُنَبِّهٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بُعِثْتُ مَرْحَمَةً وَمَلْحَمَةً، وَلَمْ أُبْعَثْ تَاجِرًا وَلَا زَارِعًا، أَلَا وَإِنَّ شِرَارَ هَذِهِ الْأُمَّةِ التُّجَّارُ وَالزَّرَّاِعُونَ، إِلَّا مَنْ شَحَّ عَلَى نَفْسِهِ». هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ الثَّوْرِيِّ تَفَرَّدَ بِهِ الْحَسَنُ [8]

Artinya: telah menceriterakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad ibnu Ja’far, berkata: telah menceriterakan kepada kami Al Husain Ibnu Hafs, berkata: telah menceriterakan kepada kami Sufyan, dari Abi Musa Al Yamani, dari Wahab ibnu Munabih dari ibnu Abas, berkata: Bersabda Rasulullah : Aku diutus menjadi penyayang dan pemersatu, dan tidak diutus menjadi pedagang maupun petani, ketahuilah sesungguhnya orang yang paling jahat di dalam umat ini adalah pedagangnya dan petaninya, kecuali orang yang  pelit kepada dirinya sendiri,

1.12.  Jangan Menyempitkan Rahmat Allah Yang Luas

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6010 tergambar untuk tidak menyempitkan rahmat Allah yang luas;

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةٍ وَقُمْنَا مَعَهُ فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي وَمُحَمَّدًا وَلَا تَرْحَمْ مَعَنَا أَحَدًا فَلَمَّا سَلَّمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْأَعْرَابِيِّ لَقَدْ حَجَّرْتَ وَاسِعًا يُرِيدُ رَحْمَةَ اللَّهِ   [9]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Abu Hurairah berkata; "Rasulullah  berdiri untuk shalat dan kami ikut berdiri dengannya, di tengah-tengah shalat ada seorang Badui yang berbicara; 'Ya Allah, rahmatilah aku dan Muhammad, dan janganlah Engkau merahmati seorangpun selain kami! ' Setelah salam, Rasulullah Shalallah 'Alaihi Wa Sallam bersabda kepada orang Badui tersebut: 'Engkau telah menyempitkan sesuatu yang luas! ' Maksudnya adalah rahmat Allah."

1.13. Hanya Saja Aku Diutus Sebagai Rahmat Bagi Seluruh Alam, (Ya Allah) Jadikanlah Celaanku Itu Sebagai Rahmat Bagi Mereka Pada Hari Kiamat

Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 4659, dijelaskan bahwa Rasulullah SAW berdoa: jadikanlah celaanku itu sebagai rahmat bagi mereka di hari kiamat;

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ بْنُ قُدَامَةَ الثَّقَفِيُّ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ قَيْسٍ الْمَاصِرُ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي قُرَّةَ قَالَ كَانَ حُذَيْفَةُ بِالْمَدَائِنِ فَكَانَ يَذْكُرُ أَشْيَاءَ قَالَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأُنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فِي الْغَضَبِ فَيَنْطَلِقُ نَاسٌ مِمَّنْ سَمِعَ ذَلِكَ مِنْ حُذَيْفَةَ فَيَأْتُونَ سَلْمَانَ فَيَذْكُرُونَ لَهُ قَوْلَ حُذَيْفَةَ فَيَقُولُ سَلْمَانُ حُذَيْفَةُ أَعْلَمُ بِمَا يَقُولُ فَيَرْجِعُونَ إِلَى حُذَيْفَةَ فَيَقُولُونَ لَهُ قَدْ ذَكَرْنَا قَوْلَكَ لِسَلْمَانَ فَمَا صَدَّقَكَ وَلَا كَذَّبَكَ فَأَتَى حُذَيْفَةُ سَلْمَانَ وَهُوَ فِي مَبْقَلَةٍ فَقَالَ يَا سَلْمَانُ مَا يَمْنَعُكَ أَنْ تُصَدِّقَنِي بِمَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ سَلْمَانُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَغْضَبُ فَيَقُولُ فِي الْغَضَبِ لِنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ وَيَرْضَى فَيَقُولُ فِي الرِّضَا لِنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ أَمَا تَنْتَهِي حَتَّى تُوَرِّثَ رِجَالًا حُبَّ رِجَالٍ وَرِجَالًا بُغْضَ رِجَالٍ وَحَتَّى تُوقِعَ اخْتِلَافًا وَفُرْقَةً وَلَقَدْ عَلِمْتَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ فَقَالَ أَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي سَبَبْتُهُ سَبَّةً أَوْ لَعَنْتُهُ لَعْنَةً فِي غَضَبِي فَإِنَّمَا أَنَا مِنْ وَلَدِ آدَمَ أَغْضَبُ كَمَا يَغْضَبُونَ وَإِنَّمَا بَعَثَنِي رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ فَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ صَلَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ, وَاللَّهِ لَتَنْتَهِيَنَّ أَوْ لَأَكْتُبَنَّ إِلَى عُمَرَ  [10]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus berkata, telah menceritakan kepada kami Zaidah bin Qudamah Ats Tsaqafi berkata, telah menceritakan kepada kami Umar bin Qais Al Mashiri dari Amru bin Abu Qurrah ia berkata, "Saat berada di Madain, Hudzaifah menyebutkan sesuatu yang dikatakan oleh Rasulullah  kepada para sahabatnya dengan marah. Orang-orang yang mendengar hal itu dari Hudzaifah langsung pergi dan mendatangi Salman. Mereka kemudian menceritakan apa yang dikatakan oleh Hudzaifah kepada Salman, namun Salaman justru berkata, "Hudzaifah lebih tahu dengan apa yang ia katakan." Orang-orang itu akhirnya kembali lagi menemui Hudzaifah dan berkata, "Ucapanmu tadi telah kami sampaikan kepada Salman, tetapi ia tidak membenarkan atau mendustakan kamu!" Hudzifah lantas pergi mendatangi Salman saat ia berada di Mabqalah, Hudzaifah berkata, "Wahai Salman, apa yang menghalangimu untuk membenarkan aku atas apa yang telah aku dengar dari Rasulullah ?" Salman menjawab, "Rasulullah  pernah marah dan berbicara dengan para sahabat dalam keadaam marah, tetapi beliau juga bisa ridha sehingga beliau berbicara dengan para sahabatnya dalam keadaan ridha. Tidakkah sebaiknya kamu tidak menceritakan apa yang telah kamu dengar hingga yang demikian itu dapat menjadikan sebagian cinta kepada sebagian dan benci kepada sebagian yang lain; agar tidak terjadi perpecahan. Engkau telah mendengar Rasulullah  berkhutbah: "Laki-laki manapun dari umatku yang pernah aku cela atau laknat saat dalam kondisi marah, sesungguhnya aku hanyalah anak turun Adam, hingga aku pun dapat marah sebagaimana mereka marah. Hanya saja aku diutus sebagai rahmat bagi seluruh alam, (Ya Allah) jadikanlah celaanku itu sebagai rahmat bagi mereka pada hari kiamat." Demi Allah, engkau segera berhenti dari melakukan hal yang demikian itu atau aku akan menulis surat kepada Umar."

1.14. Bukankah Allah Maha Penyayang Terhadap Hamba-Hambanya Melebihi Seorang Ibu Terhadap Anaknya?

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 4297 ditanyakan bahwa bukankah Allah maha penyayang terhadap hamba-hambaNya melebihi seorang ibu terhadap anaknya?;

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَعْيَنَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ يَحْيَى الشَّيْبَانِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ حَفْصٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ غَزَوَاتِهِ فَمَرَّ بِقَوْمٍ فَقَالَ مَنْ الْقَوْمُ فَقَالُوا نَحْنُ الْمُسْلِمُونَ وَامْرَأَةٌ تَحْصِبُ تَنُّورَهَا وَمَعَهَا ابْنٌ لَهَا فَإِذَا ارْتَفَعَ وَهَجُ التَّنُّورِ تَنَحَّتْ بِهِ فَأَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ قَالَتْ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَرْحَمِ الرَّاحِمِينَ قَالَ بَلَى قَالَتْ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَرْحَمَ بِعِبَادِهِ مِنْ الْأُمِّ بِوَلَدِهَا قَالَ بَلَى قَالَتْ فَإِنَّ الْأُمَّ لَا تُلْقِي وَلَدَهَا فِي النَّارِ فَأَكَبَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْكِي ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ إِلَيْهَا فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ لَا يُعَذِّبُ مِنْ عِبَادِهِ إِلَّا الْمَارِدَ الْمُتَمَرِّدَ الَّذِي يَتَمَرَّدُ عَلَى اللَّهِ وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ  [11]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin 'Ammar telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin A'yan telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Yahya As Syaibani dari Abdullah bin Umar bin Hafsh dari Nafi' dari Ibnu Umar dia berkata; "Katika kami bersama Nabi  di salah satu peperangan, lalu beliau melawti suatu kaum, lantas beliau bertanya: "Siapakah mereka?" mereka menjawab; "Kami adalah orang-orang Muslim", dan seorang wanita bersama anaknya yang sedang menghidupkan tungku, ketika nyala api tersebut membesar wanita tersebut menjauhkan anaknya, kemudian dia datang kepada Nabi  dan berkata; “ engkau Rasulullah?” beliau menjawab; “ya” wanita tersebut bertanya; “bapak dan ibuku sebagai tebusanmu. Bukankah Allah maha penyayang dari yang para penyayang?” beliau menjawab; “betul” dia bertanya; “bukankah Allah maha penyayang terhadap hamba-hambaNya melebihi seorang ibu terhadap anaknya?” wanita tersebut berkata; “sesungguhnya seorang ibu tidak akan melemparkan anaknya kedalam api?” maka Nabi tertelungkup menangis, kemudian mengangkat kepalanya memandang wanita tersebut dan berkata: “sesungguhnya Allah tidak akan mengadzab hamba-hamb-Nya kecuali pembangkang yang bandel yang membangkang kepada Allah dan menolak untuk mengucapkan Laa Ilaaha Illallah.”

1.15. Sayangilah Maka Kalian Akan Disayangi, Dan Ampunilah (Kesalahan Manusia) Maka Allah Akan Mengampuni Kesalahan Kalian

Di dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad hadits nomor 380 dinyatakan Sayangilah maka kalian akan disayangi, dan ampunilah (kesalahan manusia) maka Allah akan mengampuni kesalahan kalian;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُقْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الْقُرَشِيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا حَرِيزٌ قَالَ: حَدَّثَنَا حِبَّانُ بْنُ زَيْدٍ الشَّرْعَبِيُّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «ارْحَمُوا تُرْحَمُوا، وَاغْفِرُوا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ، وَيْلٌ لِأَقْمَاعِ الْقَوْلِ، وَيْلٌ لِلْمُصِرِّينَ الَّذِينَ يُصِرُّونَ عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ»  [12] 

Artinya: Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Āsh RA, dari Nabi , beliau bersabda: “Sayangilah (sesama), niscaya kalian akan disayangi; dan maafkanlah, niscaya Allah akan mengampuni kalian. Celaka bagi orang-orang yang hanya menjadi corong pembawa ucapan (yakni yang hanya menyampaikan tanpa memahami dan mengamalkan). Celaka bagi orang-orang yang terus-menerus berbuat dosa, yaitu mereka yang tetap bersikeras atas apa yang mereka lakukan padahal mereka mengetahuinya.”

1.16. Allah Berfirman Kepada Surga: Kau Adalah Rahmatku, Denganmu Aku Merahmati Siapa Saja Yang Aku Kehendaki Dari Hamba-Hambaku

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 4850 disebutkan bahwa Allah berfirman kepada surga: 'Kau adalah rahmatKu, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki dari hamba-hambaKu;

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحَاجَّتْ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَقَالَتْ النَّارُ أُوثِرْتُ بِالْمُتَكَبِّرِينَ وَالْمُتَجَبِّرِينَ وَقَالَتْ الْجَنَّةُ مَا لِي لَا يَدْخُلُنِي إِلَّا ضُعَفَاءُ النَّاسِ وَسَقَطُهُمْ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِلْجَنَّةِ أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي وَقَالَ لِلنَّارِ إِنَّمَا أَنْتِ عَذَابِي أُعَذِّبُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا مِلْؤُهَا فَأَمَّا النَّارُ فَلَا تَمْتَلِئُ حَتَّى يَضَعَ رِجْلَهُ فَتَقُولُ قَطْ قَطْ فَهُنَالِكَ تَمْتَلِئُ وَيُزْوَى بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ وَلَا يَظْلِمُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ خَلْقِهِ أَحَدًا وَأَمَّا الْجَنَّةُ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُنْشِئُ لَهَا خَلْقًا[13] 

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq Telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Hammam dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dia berkata; Nabi  bersabda: "Surga dan neraka berbantah-bantahan. Neraka berkata: 'Orang-orang congkak dan sombong memasukiku. Surga berkata: Sedangkan aku, tidak ada yang memasukiku selain orang-orang lemah, yang hina dalam pandangan manusia. Lalu Allah berfirman kepada surga: 'Kau adalah rahmatKu, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki dari hamba-hambaKu.' Kemudian Allah berfirman kepada neraka: 'Kau adalah siksaKu, denganmu Aku menyiksa siapa pun yang Aku kehendaki. Dan masing-masing dari keduanya ada isinya.' Sedangkan neraka tidak terisi penuh hingga Allah meletakkan kakiNya kemudian neraka berkata: 'Cukup, cukup.' Saat itulah neraka penuh dan sebagiannya menindih sebagaian yang lain. Allah tidak menzhalimi seorang pun dari makhlukNya. Sedangkan surga, Allah menciptakan penghuninya."

1.17.  Nabi Muhammad Adalah Nabi Rahmah; Kasih Sayang

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2355 disebutkan bahwa salah satu nama Nabi Muhammad adalah Nabi Rahmah;

و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُسَمِّي لَنَا نَفْسَهُ أَسْمَاءً فَقَالَ أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَحْمَدُ وَالْمُقَفِّي وَالْحَاشِرُ وَنَبِيُّ التَّوْبَةِ وَنَبِيُّ الرَّحْمَةِ[14] 

Artinya: Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Handzali; Telah mengabarkan kepada kami Jarir dari Al A'masy dari 'Amru bin Murrah dari Abu 'Ubaidah dari Abu Musa Al Asy'ari dia berkata; "Rasulullah  menyebutkan beberapa nama kepada kami yang merupakan nama beliau pribadi, sabdanya: "Aku bernama Muhammad, Ahmad, Al Muqaffa (sama dengan nama Al Aqib, penutup), Al Hasyir, Nabiyyut-Taubah dan Nabiyyur-Rahmah."

2.  Keistimewaan Orang Yang Rahmah

Berikut ini akan dikemukakan beberapa keistimewaan yang akan diperoleh bagi orang-orang yang Rahmah; penyayang;

2.1. Orang Yang Penyayang Disayangi Allah Yang Maha Penyayang

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 1924 dinyatakan bahwa Orang-orang yang mengasihi akan dikasihi oleh Ar Rahman;

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي قَابُوسَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ الرَّحِمُ شُجْنَةٌ مِنْ الرَّحْمَنِ فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعَهُ اللَّهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ  [15]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Amr bin Dinar dari Abu Qabus dari Abdullah bin Amr ia berkata; Rasulullah  bersabda: "Orang-orang yang mengasihi akan dikasihi oleh Ar Rahman, berkasih sayanglah kepada siapapun yang ada di bumi, niscaya Yang ada di langit akan mengasihi kalian. Lafazh Ar Rahim (rahim atau kasih sayang) itu diambil dari lafazh Ar Rahman, maka barang siapa yang menyambung tali silaturrahmi niscaya Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya) dan barang siapa yang memutus tali silaturrahmi maka Allah akan memutusnya (dari rahmat-Nya)." Berkata Abu 'Isa: Ini merupakan hadits hasan shahih.

2.2. Tidak Ada Seorang Yang Masuk Surga Karena Amalannya, Kecuali Bila Allah Melimpahkan Karunia Dan Rahmat-Nya

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 5673, dijelaskan bahwa Tidak ada seorang pun yang masuk surga karena amalannya." Para sahabat bertanya; "Begitu juga dengan engkau wahai Rasulullah?" beliau bersabda: "tidak juga dengan diriku, kecuali bila Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya padaku;

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو عُبَيْدٍ مَوْلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَلَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَزْدَادَ خَيْرًا وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعْتِبَ [16] 

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhri] dia berkata; telah mengabarkan kepadaku [Abu 'Ubaid] bekas budak Abdurrahman bin Auf bahwa [Abu Hurairah] berkata; saya mendengar Rasulullah  bersabda: "Tidak ada seorang pun yang masuk surga karena amalannya." Para sahabat bertanya; "Begitu juga dengan engkau wahai Rasulullah?" beliau bersabda: "tidak juga dengan diriku, kecuali bila Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya padaku, oleh karena itu berlaku luruslah dan bertaqarublah dan janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian, jika dia orang baik semoga saja bisa menambah amal kebaikannya, dan jika dia orang yang buruk (akhlaknya) semoga bisa menjadikannya dia bertaubat."

Seseorang dapat beramal baik karena rahmat Allah, orang yang bertakwa di tingkat rahmah, melakukan amal ibadah sebagai bentuk rasa syukurnya atas rahmat Allah yang telah dikaruniakan kepadanya, dengan demikian hakekatnya manusia dapat masuk surga karena rahmat Allah.

2.3. Allah Menyayangi Hamba-Nya Yang Saling Menyayangi

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 6279 tergambar bahwa pada saat Nabi keluar air matanya ketika cucunya meninggal, bersabda: ini adalah tanda kasih sayang yang Allah letakkan di hati hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, hanyasanya Allah menyayangi hamba-Nya yang saling menyayangi.;

 حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ أَخْبَرَنَا عَاصِمٌ الْأَحْوَلُ سَمِعْتُ أَبَا عُثْمَانَ يُحَدِّثُ عَنْ أُسَامَةَ أَنَّ بِنْتًا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِ وَمَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ وَسَعْدٌ وَأُبَيٌّ أَنَّ ابْنِي قَدْ احْتُضِرَ فَاشْهَدْنَا فَأَرْسَلَ يَقْرَأُ السَّلَامَ وَيَقُولُ إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَمَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ مُسَمًّى فَلْتَصْبِرْ وَتَحْتَسِبْ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ تُقْسِمُ عَلَيْهِ فَقَامَ وَقُمْنَا مَعَهُ فَلَمَّا قَعَدَ رُفِعَ إِلَيْهِ فَأَقْعَدَهُ فِي حَجْرِهِ وَنَفْسُ الصَّبِيِّ جُئِّثُ فَفَاضَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ سَعْدٌ مَا هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هَذِهِ رَحْمَةٌ يَضَعُهَا اللَّهُ فِي قُلُوبِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ [17]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Hafsh bin Umar] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] Telah mengabarkan kepada kami ['Ashim Al Ahwal] aku mendengar [Abu 'Utsman] menceritakan dari [Usamah], bahwa puteri Rasulullah  (Zaenab) mengutus utusan untuk menemui Rasulullah , yang ketika itu Rasulullah  bersama Usamah bin Zaid, Sa'd, dan Ubai. Sang utusan menyampaikan pesan yang isinya; 'Anak laki-lakiku telah menghadapi saat-saat kematian, maka kunjungilah kami'. Nabi kemudian mengutus seseorang, menyampaikan salam dan mengatakan; "Milik Allah sematalah segala yang diambil-Nya dan yang diberikan-Nya, dan segala sesuatu disisi-Nya ada ketentuan ajal tersendiri, maka suruhlah dia untuk bersabar dan mengharap pahala." Lantas puteri Nabi mengutus utusan untuk kedua kalinya, dan puteri beliau menyertakan sumpah. Maka beliau berdiri dan kami pun berdiri bersamanya. Tatkala beliau sampai (dan beliau) telah duduk, anak laki-laki dari puteri beliau (cucunya) diangkat kepada beliau, dan beliau mendudukkan di pangkuannya, ketika itu cucu beliau nafasnya sudah tersengal-sengal. Kedua mata Rasulullah pun bercucuran. Maka Sa'd bertanya: 'Mengapa mata anda sampai bercucuran?" Nabi menjawab; "ini adalah tanda kasih sayang yang Allah letakkan di hati hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, hanyasanya Allah menyayangi hamba-Nya yang saling menyayangi."

Di dalam kitab shahih Bukhari hadits nomor 6829 dinyatakan bahwa Allah menyayangi hamba-Nya yang penyayang

حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَسُولُ إِحْدَى بَنَاتِهِ يَدْعُوهُ إِلَى ابْنِهَا فِي الْمَوْتِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْجِعْ إِلَيْهَا فَأَخْبِرْهَا أَنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى فَمُرْهَا فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ فَأَعَادَتْ الرَّسُولَ أَنَّهَا قَدْ أَقْسَمَتْ لَتَأْتِيَنَّهَا فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَامَ مَعَهُ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ وَمُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ فَدُفِعَ الصَّبِيُّ إِلَيْهِ وَنَفْسُهُ تَقَعْقَعُ كَأَنَّهَا فِي شَنٍّ فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ فَقَالَ لَهُ سَعْدٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذَا قَالَ هَذِهِ رَحْمَةٌ جَعَلَهَا اللَّهُ فِي قُلُوبِ عِبَادِهِ وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ [18]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'man] telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari ['Ashim Al ahwal] dari [Abu Utsman an Nahdi] dari [Usamah bin Zaid] berkata, "Kami di sisi Nabi , lantas utusan salah seorang di antara kedua puteri beliau memanggilnya karena anak laki-lakinya diambang kematian. Lantas Nabi  bersabda kepada sang utusan: "Pulanglah engkau ke rumah anak puteriku, dan beritahukanlah kepadanya bahwa segala milik Allah-lah yang diambil-Nya dan apa yang diberikan-Nya, dan segala sesuatu di sisi-Nya telah ada ketentuan yang ditetapkan. Suruhlah dia untuk bersabar dan mengharap-harap pahala." Anak puteri beliau kembali mengutus utusannya disertai sumpah yang isinya, 'Anda harus mendatanginya.' Kontan Nabi  berdiri bersama Sa'd bin Ubadah dan Muadz bin Jabal, lalu anak kecil dari puteri beliau diserahkan beliau sedang nyawanya sudah tersengal-sengal seolah-olah sudah di penghujung (sisa-sia) hayatnya. Kedua mata Nabi terus berlinang, maka Sa'd bertanya, 'Wahai Rasulullah, mengapa mata anda menangis? ' Nabi  menjawab: "Inilah rahmat yang Allah letakkan dalam hati hamba-Nya, hanyasanya Allah menyayangi hamba-Nya yang penyayang."

2.4. Aku Adalah Ar Rahman Yang Telah Menciptakan Rahim Dan Aku Jadikan Kata Itu Pecahan Dari Namaku, Barangsiapa Yang Menyambungnya Maka Aku Akan Menyambungnya

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 1659 dinyatakan barang siapa menyambung silaturrahim maka Allah akan menyambungnya;

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا هِشَامٌ الدَّسْتُوَائِيُّ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَارِظٍ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَهُوَ مَرِيضٌ فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ وَصَلَتْكَ رَحِمٌ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا الرَّحْمَنُ خَلَقْتُ الرَّحِمَ وَشَقَقْتُ لَهَا مِنْ اسْمِي فَمَنْ يَصِلْهَا أَصِلْهُ وَمَنْ يَقْطَعْهَا أَقْطَعْهُ فَأَبُتَّهُ أَوْ قَالَ مَنْ يَبُتَّهَا أَبُتَّهُ[19]  

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami Hisyam Ad Dastuwa`i dari Yahya bin Abu Katsir dari Ibrahim bin Abdullah bin Farizh bahwa bapaknya telah menceritakan kepadanya, bahwa dia menemui Abdurrahman bin Auf ketika sedang sakit. Abdurrahman berkata kepadanya; "ar rahim telah menyambungmu, Nabi  bersabda: "Allah 'azza wajalla berfirman: 'Aku adalah Ar Rahman yang telah menciptakan rahim dan Aku jadikan kata itu pecahan dari namaKu, barangsiapa yang menyambungnya maka Aku akan menyambungnya, dan barangsiapa yang memutusnya maka Aku akan memutusnya dan memotongnya." atau dalam riwayat lain Allah berfirman: "Barangsiapa memotongnya maka aku akan memotongnya."

2.5. Surga Didekatkan Kepada Orang Yang Bertaqwa; Yang Khasyah Dengan Yang Maha Rahman

Di dalam Al Quran Surat Qaf/ 50: 31-33 tergambar bahwa surga didekatkan kepada orang yang bertaqwa; yang khasyah dengan yang maha rahman;

وَأُزْلِفَتِ الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ, هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ أَوَّابٍ حَفِيظٍ, مَّنْ خَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُّنِيبٍ

Artinya: Dan didekatkannya surga itu kepada orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan--dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya--pada tempat yang tidak jauh dari mereka. Ini adalah pahala yang dijanjikan Allah kepada orang-orang yang kembali kepada-Nya dan memelihara syariat-Nya. Yaitu orang yang takut kepada siksa Allah yang rahmat-Nya mencakup segala sesuatu, meskipun ia tidak melihat-Nya. Dan di akhirat ia datang dengan hati yang bertobat.(QS. Qaf/ 50: 31-33)

2.6. Orang Yang Khasyah Kepada Ar Rahman Diberi Ampunan Dan Pahala Yang Besar

Di dalam Al Quran surat Yasin/ 36: 11 dinyatakan bahwa orang yang khasyah kepada Ar Rahman diberi ampunan dan pahala yang besar;

إِنَّمَا تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ

Artinya: Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala yang mulia.(QS. Yasin/ 36)

Khasyah kepada Ar-Rahaman merupakan bentuk kesadaran bahwa Allah yang telah banyak memberikan kebaikan untuk dirinya dan semesta alam, sehingga muncul kesadaran untuk menjadi hamba yang banyak bersyukur kepada Ar-Rahman di dalam keadaan apapun.

Ibn Qayyim al-Jauziyah memandang khasyah sebagai tingkat ketakutan tertinggi yang lahir bukan hanya dari kesadaran akan hukuman Allah, tetapi dari pengenalan mendalam terhadap keagungan, kemuliaan, dan kesempurnaan-Nya. Baginya, khasyah adalah perpaduan antara rasa takut, cinta, dan pengagungan yang membuat seorang hamba merasa rendah di hadapan Allah dan terdorong kuat untuk taat. Ibn Qayyim membedakan khasyah dari khauf, di mana khasyah lebih bersifat ilmiah dan lembut, sedangkan khauf lebih umum dan sering muncul dari kebodohan atau ketidaktahuan. Ia menegaskan bahwa khasyah merupakan tanda kematangan hati dan menjadi salah satu karakter utama para nabi, ulama, dan para salikin.[20]

2.7. Tidak Masuk Surga Kecuali Yang Saling Berkasih Sayang

Di dalam kitab Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain hadits nomor 7926 dinyatkan bahwa kalian tidak akan masuk surga hingga saling berkasih-sayang;

حدثنا أبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقوبَ، أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ، أَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي حَيْوَةُ، عَنِ ابْنِ الْهَادِ، أَنَّ الْوَلِيدَ بْنَ أَبِي هِشَامٍ، حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ، قَالَ: «لَنْ تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَفَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا تَحَابُّوا عَلَيْهِ؟». قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ تَحَابُّوا، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تَرَاحَمُوا». قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، كُلُّنَا رَحِيمٌ. قَالَ: «إِنَّهُ لَيْسَ بِرَحْمَةِ أَحَدِكُمْ، وَلَكِنْ رَحْمَةُ الْعَامَّةِ رَحْمَةُ الْعَامَّةِ».  [21]

Artinya: telah menceritakan kepada kami Abu Al Abas Muhammad ibnu Ya’qub, telah memberitakan kepada kami Muhammad ibnu Abdillah ibnu Abdul Hakam, telah memberitakan kepada kami ibnu Wahab, telah memberitakan kepada kami Hayat dari ibnul Hadi bahwasannya Al Walid ibnu Abi Hisyam bercerita kepadanya tentang Abi Musa Al Asy’ari RA: bahwa Rasulullah  bersabda:Kalian tidak akan beriman hingga saling menyayangi, apakah kalian tidak suka Aku tunjukkan dengan apa kamu dapat saling suka, mereka berkata: kenapa tidak ya Rasulallah , Rasulullah bersabda: Tebarkanlah salam diantara kalian nisaca kalian akan menjadi saling menyukai, demi jiwaku yang ada di Tangan-Nya Tidak akan masuk Surga hingga kalian saling menyayangi, mereka berkata: wahai Rasulullah  kita semua penyayang, Rasulullah  bersabda: sesungguhnya bukan yang kasih sayang kepada seseorang di antara kalian, tetapi kasih sayang yang umum, kasih sayang yang umum.

2.8. Tidak Masuk Surga Kecuali Penyayang

Di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor 11110 dinyatakan bahwa kalian tidak akan masuk kecuali orang yang penyayang;

 أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ، أَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ الصَّفَّارُ، ثَنَا عَيَّاشٌ السُّكَّرِيُّ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْمِصِّيصِيُّ لُوَيْنٌ، ثَنَا عَبْدُ الْمُؤْمِنُ السَّدُوسِيُّ، عَنْ أَخْشَنَ السَّدُوسِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْكُمْ إِلَّا رَحِيمٌ " قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، كُلُّنَا رَحِيمٌ. قَالَ: " لَيْسَ رَحْمَةُ أَحَدِكُمْ نَفْسَهُ وَأَهْلَ بَيْتِهِ حَتَّى يَرْحَمَ النَّاسَ "[22]

Artinya: Telah memberitakan kepada kami Ali ibnu Ahmad ibnu ‘Abdan, telah memberitakan kepada kami Ahmad ibnu ‘Ubaid Ash Shafar, telah memberitakan kepada kami’Ayas As Sukari, telah memberitakan kepada kami Muhammad ibnu Sulaiman Al mishishi Luwain, telah memberitakan kepada kami ‘Abdul Mu’min As Sudusi, dari Ahsan As Sudusi dari Anas Ibnu Malik berkata: Bersabda Rasulullah : Kalian tidak akan masuk Surga kecuali penyayang, mereka berkata: Kita semua penyayang, Rasulullah   bersabda; Bukanlah sesorang menyayang dirinya sendiri dan keluarganya, sehingga menyayang semua manusia. 

2.9. Barangsiapa Selama Di Dunia Memuliakan Pemimpin (Yang Taat) Allah Tabaraka Wa Ta'ala, Maka Allah Akan Memuliakannya Pada Hari Kiamat Kelak

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 20495 dinyatakan bahwa Barangsiapa selama di dunia memuliakan pemimpin (yang taat) Allah Tabaraka wa Ta'ala, maka Allah akan memuliakannya pada hari Kiamat kelak;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مِهْرَانَ حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ أَوْسٍ عَنْ زِيَادِ بْنِ كُسَيْبٍ الْعَدَوِيِّ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَكْرَمَ سُلْطَانَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّنْيَا أَهَانَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ[23] 

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakar, telah menceritakan kepada kami Humaid bin Mihran, telah menceritakan kepada kami Sa'ad bin Aus dari Ziyad bin Kusaib Al 'Adawi dari Abu Bakrah, dia berkata; "Aku mendengar Rasulullah  bersabda: "Barangsiapa selama di dunia memuliakan pemimpin (yang taat) Allah Tabaraka wa Ta'ala, maka Allah akan memuliakannya pada hari Kiamat kelak. Dan barangsiapa selama di dunia menghinakan pemimpin (yang taat) Allah Tabaraka wa Ta'ala, maka Allah akan menghinakannya pada hari Kiamat kelak."

2.10. Orang Yang Menyambung Silaturrahmi Dilapangkan Rizkinya

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 5985 dinyatakan Barangsiapa ingin dibentangkan pintu rezeki untuknya dan dipanjangkan ajalnya hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi;

حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْنٍ قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﵁ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.» [24]

Artinya: Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Al Mundzir telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ma'an dia berkata; telah menceritakan kepadaku Ayahku dari Sa'id bin Abu Sa'id dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dia berkata; saya mendengar Rasulullah  bersabda: "Barangsiapa ingin dibentangkan pintu rezeki untuknya dan dipanjangkan ajalnya hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi."

3.  Karakter Orang Yang Rahmah

Di dalam ayat-ayat Al Quran dan hadits nabi tergambar karakter orang yang rahmah, yakni antara lian sebagai berikut;

3.1. Saling Berkasih Sayang Sesama Orang Beriman

Di dalam Al Quran Surat Al-Fath/ 48: 29, digambarkan bahwa umat Muhammad tegas kepada orang kafir, kasih sayang di antara mereka (orang-orang beriman);

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridlaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Fath/ 48: 29)

3.2. Barangsiapa Tidak Mengasihi Maka Ia Tidak Akan Dikasihi

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 5538 ditegaskan bahwa Barangsiapa tidak mengasihi maka ia tidak akan dikasihi;

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ جَالِسًا فَقَالَ الْأَقْرَعُ إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنْ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ [25]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri telah menceritakan kepada kami Abu Salamah bin Abdurrahman bahwa Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; "Rasulullah  pernah mencium Al Hasan bin Ali sedangkan disamping beliau ada Al Aqra' bin Habis At Tamimi sedang duduk, lalu Aqra' berkata; "Sesungguhnya aku memiliki sepuluh orang anak, namun aku tidak pernah mencium mereka sekali pun, maka Rasulullah  memandangnya dan bersabda: "Barangsiapa tidak mengasihi maka ia tidak akan dikasihi." 

3.3. Orang Beriman Dalam Hal Saling Mencintai, Mengasihi, Dan Menyayangi Bagaikan Satu Tubuh Yang Sakit, Maka Seluruh Tubuhnya Akan Ikut Terjaga Dan Panas

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 6011, disebutkan bahwa Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas;

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى [26] 

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim(1) telah menceritakan kepada kami Zakariya`(2) dari 'Amir(3) dia berkata; saya mendengar An Nu'man bin Basyir(4) berkata; Rasulullah  bersabda: "Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya)."

3.4. Siapa Yang Tidak Bersyukur Kepada Manusia, Berarti Ia Belum Bersyukur Kepada Allah

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 1878 dinyatakan Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, berarti ia belum bersyukur kepada Allah;

حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى ح و حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الرُّوَاسِيُّ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَشْكُرْ النَّاسَ لَمْ يَشْكُرْ اللَّهَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَالْأَشْعَثِ بْنِ قَيْسٍ وَالنُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ [27]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hannad, telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Ibnu Abu Laila (dalam riwayat lain). Dan telah menceritakan kepada kami Sufyan bin Waki', telah menceritakan kepada kami Humaid bin Abdurrahman Ar Ruwasi dari Ibnu Abu Laila dari Athiyyah dari Abu Sa'id ia berkata; Rasulullah  bersabda: "Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, berarti ia belum bersyukur kepada Allah." Hadits semakna juga diriwyakan dari Abu Hurairah, Al Asy'ats bin Qais dan An Nu'man bin Basyir. Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan shahih.

3.5. Jadilah Kalian Hamba-Hamba Allah Yang Saling Bersaudara

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 3849 dinyatakan janganlah kaling saling hasad, jangan saling membenci, jangan saling memutus hubungan dan jangan saling bermusuhan, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara;

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ وَعَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَا حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ سَمِعْتُ شُعْبَةَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ خُمَيْرٍ قَالَ سَمِعْتُ سُلَيْمَ بْنَ عَامِرٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَوْسَطَ بْنِ إِسْمَعِيلَ الْبَجَلِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا بَكْرٍ حِينَ قُبِضَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَامَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَقَامِي هَذَا عَامَ الْأَوَّلِ ثُمَّ بَكَى أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ قَالَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّهُ مَعَ الْبِرِّ وَهُمَا فِي الْجَنَّةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّهُ مَعَ الْفُجُورِ وَهُمَا فِي النَّارِ وَسَلُوا اللَّهَ الْمُعَافَاةَ فَإِنَّهُ لَمْ يُؤْتَ أَحَدٌ بَعْدَ الْيَقِينِ خَيْرًا مِنْ الْمُعَافَاةِ وَلَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَقَاطَعُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا [28]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar dan Ali bin Muhammad keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami 'Ubaid bin Sa'id dia berkata; saya mendengar Syu'bah dari Yazid bin Khumair dia berkata; saya mendengar Sulaim bin 'Amir bercerita dari Ausath bin Isma'il Al Bajali bahwa dia mendengar Abu Bakar ketika Nabi  meninggal dunia, katanya; "Rasulullah  telah berdiri di tempat berdiriku ini pada tahun pertama." -kemudian dia menangis- dia melanjutkan; "Kalian harus berlaku jujur, karena sesungguhnya kejujuran bersama dengan kebaikan, dan keduanya berada di surga. Janganlah kalian berdusta, karena sesungguhnya kedustaan bersama dengan kejahatan, dan kedua-duanya berada di neraka. Memintalah kalian kepada Allah ampunan, sesungguhnya ia tidak di berikan kepada seseorang setelah keyakinan yang lebih baik daripada pengampunan, dan janganlah kalian saling hasad, jangan saling membenci, jangan saling memutus hubungan dan jangan saling bermusuhan, dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara."

3.6. Tidak Termasuk Ummatku Orang Yang Tidak Menghormati Yang Lebih Tua, Tidak Mengasihi Yang Lebih Muda Dan Tidak Pula Mengerti Hak Seorang Yang Alim

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22755 dinyatakan bahwa Tidak termasuk ummatku orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak mengasihi yang lebih muda dan tidak pula mengerti hak seorang yang alim;

حَدَّثَنَا هَارُونُ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي مَالِكُ بْنُ الْخَيْرِ الزِّيَادِيُّ عَنْ أَبِي قَبِيلٍ الْمَعَافِرِيِّ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ  أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ قَالَ عَبْد اللَّهِ وَسَمِعْتُهُ أَنَا مِنْ هَارُونَ [29]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Harun telah bercerita kepada kami Ibnu Wahb telah bercerita kepadaku Malik bin Al Khair Az Ziyadi dari Abu Qobil Al Ma'afiri dari 'Ubadah bin Ash Shamit bahwa Rasulullah  bersabda: "Tidak termasuk ummatku orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak mengasihi yang lebih muda dan tidak pula mengerti hak seorang yang alim." 'Abdullah berkata: Saya mendengarnya dari Harun.

Di dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad hadits nomor 363 dinyatakan Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda di antara kami, dan tidak mengetahui hak orang yang lebih tua di antara kami;

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي الزِّنَادِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْحَارِثِ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرِنَا» [30]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Azīz bin ‘Abdillāh; ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ibnu Abī al-Zinād; dari ‘Abdurramān bin al-ārith; dari ‘Amr bin Syu‘aib; dari ayahnya; dari kakeknya, bahwa Rasulullah  bersabda:Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda di antara kami, dan tidak mengetahui hak orang yang lebih tua di antara kami.”

Di dalam kitab Al-Mu’jam Al-Ausath hadits nomor 4812 dinyatakan bahwa Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua di antara kami, tidak menyayangi yang lebih muda di antara kami

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ جَحْشٍ قَالَ: نَا جُنَادَةُ بْنُ مَرْوَانَ قَالَ: نَا الْحَارِثُ بْنُ النُّعْمَانِ قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيُؤَاخِي فِينَا وَيَزُورُ [31] »

Arinya: Telah menceritakan kepada kami ‘Ubayd bin ‘Abdillāh bin Jasy; ia berkata: telah menceritakan kepada kami Junādah bin Marwān; ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-ārith bin al-Nu‘mān; ia berkata: aku mendengar Anas bin Mālik berkata: Rasulullah  bersabda:“Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua di antara kami, tidak menyayangi yang lebih muda di antara kami, tidak menjalin persaudaraan di antara kami, dan tidak saling berkunjung.”

3.7. Saling Menyayangi Dengan Berjabat Tangan

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 1220 digambarkan untuk saling menghormati dan menyayangi dengan cara berjabat tangan;

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ جَرِيرِ بْنِ حَازِمٍ عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّدُوسِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ  قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِي بَعْضُنَا لِبَعْضٍ قَالَ لَا قُلْنَا أَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا قَالَ لَا وَلَكِنْ تَصَافَحُوا [32]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Waki' dari Jarir bin Hazim dari Hanzhalah bin Abdurrahman As Sadusi dari Anas bin Malik dia berkata, "Kami berkata, "Wahai Rasulullah, apakah sebagian kami harus membungkuk kepada sebagian yang lain?" Beliau   menjawab: "Tidak." Kami bertanya lagi, "Apakah sebagian kami boleh memeluk sebagian yang lain?" Beliau   menjawab: "Tidak, akan tetapi saling berjabat tanganlah kalian."

Selain itu di dalam kitab Muwatho Imam Malik hadits nomor 16 digambarkan bahwa berjabat tangan akan menghilangkan kedengkian, dan saling memberi hadiah, niscaya akan saling mencintai dan menghilanglah permusuhan;

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي مُسْلِمٍ عَبْدِ اللَّهِ الْخُرَاسَانِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَصَافَحُوا يَذْهَبْ الْغِلُّ وَتَهَادَوْا تَحَابُّوا وَتَذْهَبْ الشَّحْنَاءُ [33]

Artinya: Telah menceritakan kepadaku Malik dari 'Atha bin Abu Muslim Abdullah Al Khurasani berkata, "Rasulullah  bersabda: "Hendaklah kalian saling berjabat tangan, niscaya maka akan hilanglah kedengkian. Hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscaya akan saling mencintai dan menghilanglah permusuhan."

3.8. Membaguskan Wudhu

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 7816 dinyatakan perintah untuk menyempurnakan wudhu sehingga Allah menyayanginya;

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ قَالَ رَأَيْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ مَرَّ بِقَوْمٍ يَتَوَضَّئُونَ مِنْ مَطْهَرَةٍ فَقَالَ أَحْسِنُوا الْوُضُوءَ يَرْحَمْكُمْ اللَّهُ أَلَمْ تَسْمَعُوا مَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنْ النَّارِ [34]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma'mar dari Muhammad bin Ziyad berkata: aku melihat Abu Hurairah melewati suatu kaum yang sedang berwudlu dari bejana, maka ia pun berkata; "Sempurnakanlah wudlu kalian maka Allah akan menyayangi kalian, tidakkah kalian dengar apa yang dikatakan oleh Rasulullah , beliau bersabda: "celaka tumit-tumit yang tidak terbasuh oleh air wudlu akan masuk neraka."

3.9. Mengharapkan Rahmat-Nya Dan Takut Akan Azab-Nya

Di dalam Al Quran Surat Al-Israa/ 17: 57, dijelaskan mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya;

 أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا

Artinya: Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.(QS. Al-Israa/ 17: 57)

3.10.  Menyadari Bahwa Al Quran Adalah Rahmat Allah

Di dalam Al Quran surat Al-A'raf/ 7: 52 dinyatakan bahwa kitab Al Quran merupakan petunjuk dan rahmat bagi orang beriman;

وَلَقَدْ جِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَى عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.

3.11. Suka Mendengar Atau Membaca Hadits Rasulullah Kemudian Menyampaikan-nya kepada Orang Lain

Di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban 835 digambarkan doa Nabi Muhammad SAW, Semoga Allah merahmati orang yang mendengar suatu hadis dariku kemudian menyampaikannya sebagaimana yang didengar;

 أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ صَالِحٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنِي سِمَاكُ بْنُ حَرْبٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، عَنْ أَبِيهِ ابْنِ مَسْعُودٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ‏:‏ رَحِمَ اللَّهُ مَنْ سَمِعَ مِنِّي حَدِيثًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ، فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى لَهُ مِنْ سَامِعٍ‏. [35] 

Artinya: Hasan bin Sufyan mengabarkan kepada kami, dia berkata: Shafwan bin Shalah menceritakan kepada kami, dia berkata: Al Walid bin Muslim menceritakan kepada kami, dia berkata: Syaiban menceritakan kepada kami, dia berkata: Simak bin Harb menceritakan kepada kami, dari Abdurrahman bin Abdul lah, dari ayahnya, Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah  bersabda, “Semoga Allah merahmati orang yang mendengar suatu hadis dariku kemudian menyampaikannya sebagaimana yang didengar, berapa banyak orang yang disampaikan (hadis) lebih memahami dari pada orang yang mendengar."

3.12. Bertanya Adalah Pintu Ilmu, Bertanyalah Allah Merahmatimu

Di dalam kitab Hilyatul Aulia 4147 dinyatakan bahwa ilmu adalah perbendaharaan dan kuncinya adalah bertanya, maka bertanyalah Allah merahmatimu

حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُوسَى السَّهْمِيُّ الْجُرْجَانِيُّ، ثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ الْقَزْوِينِيُّ، ثَنَا دَاوُدُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْقَزَّازُ، ثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُوسَى الرِّضَا، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ أَبِيهِ جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أَبِيهِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنْ أَبِيهِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُمْ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " الْعِلْمُ خَزَائِنُ وَمِفْتَاحُهَا السُّؤَالُ، فَاسْأَلُوا يَرْحَمْكُمُ اللهُ، فَإِنَّهُ يُؤْجَرُ فِيهِ أَرْبَعَةٌ: السَّائِلُ وَالْمُعَلِّمُ وَالْمُسْتَمِعُ وَالْمُجِيبُ لَهُمْ ". هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ لَمْ نَكْتُبْهُ إِلَّا بِهَذَا الْإِسْنَادِ قَالَ الشَّيْخُ أَبُو نُعَيْمٍ رَحِمَهُ اللهُ: يُتْبَعُ جَعْفَرٌ بِأَبِيهِ وَإِنْ تَأَخَّرَتْ طَبَقَتُهُ عَنِ الْمَذُكُورِينَ إِلْحَاقًا لِلْفَرْعِ بِالْأَصْلِ، وَإِشْفَاقًا مِنَ الْقَطْعِ وَالْوَصْلِ [36]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Ibrahim ibnu Musa As Sahmi Al Jurjani, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad Al Qazwini, telah menceritakan kepada kami Daud ibnu Sulaiman Al Qazazu, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Musa Ar Ridha, telah menceritakan kepada kami Ayahku, dari ayahnya Ja’far dari Ayahnya Muhammad ibnu Ali dari Ayahnya Al Husain ibnu Ali, dari Ayahnya Ali ibnu Abi Thalib RA, berkata: Rasulullah  bersabda: “Ilmu merupakan perbendaharaan, kuncinya adalah pertanyaan, maka bertanyalah Allah merahmatimu, karena sesungguhnya bertanya di dalamnya memberikan pahala bagi empat orang: orang yang bertanya, orang yang mengajar, orang yang mendengar dan orang yang menjawabnya”. Hadits Gharib, kami tidak menuliskannya kecuali dengan sanad ini, Abu Nuaim Mengatakan Ja’far diikutu Ayahnya, jika waktunya lebih akhir dari yang disebutkan cabang mengikuti pokoknya, dan sebagai kehati-hatian  antara terputus dan tersambung.

3.13. Berdoa Mohon Dibukakan Pintu Rahmat

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 713 disebutkan doa Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu;

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ أَوْ عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ قَالَ مُسْلِم سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ يَحْيَى يَقُولُ كَتَبْتُ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ كِتَابِ سُلَيْمَانَ بْنِ بِلَالٍ قَالَ بَلَغَنِي أَنَّ يَحْيَى الْحِمَّانِيَّ يَقُولُا وَأَبِي أُسَيْدٍ و حَدَّثَنَا حَامِدُ بْنُ عُمَرَ الْبَكْرَاوِيُّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ حَدَّثَنَا عُمَارَةُ بْنُ غَزِيَّةَ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ سُوَيْدٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ أَوْ عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمِثْلِهِ [37]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Rabi'ah bin Abdurrahman dari Abdul Malik bin Sa'id dari Abu Humaid atau dari Abu Usaid katanya; Rasulullah  bersabda: "jika salah seorang diantara kalin masuk masjid, bacalah doa Allaahummaftah Lii Abwaaba Rahmatika (Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu)." Dan apabila keluar, hendaknya ia membaca doa Allaahumma Innii As`Aluka Min Fadhlika (Ya Allah, aku meminta kurnia-Mu)." Muslim berkata; Aku mendengar Yahya bin Yahya mengatakan; "Aku menulis hadis ini dari kitab Sulaiman bin Bilal, katanya; telah sampai berita kepadaku bahwa Yahya Al Himmani mengatakan; dan Abu Usaid, telah menceritakan kepada kami Hamid bin Umar Al Bakrawi telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadlal telah menceritakan kepada kami 'Umarah bin Ghaziyyah dari Rabi'ah bin Abdurrahman dari Abdul Malik bin Sa'id bin Suwaid Al Anshari dari Abu Humaid atau Abu Usaid dari Nabi  seperti hadits ini.

3.14. Berdoa Ya Allah, Rahmatilah Mereka, Ampunilah Mereka

Di dalam kitab Al-Sunan Al-Kubra hadits nomor 10053 disebutkan doa Ya Allah, rahmatilah mereka, ampunilah mereka

أَخْبَرَنِي زِيَادُ بْنُ أَيُّوبَ قَالَ: حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ قَالَ: أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ بُسْرٍ يُحَدِّثُ: أَنَّ أَبَاهُ، صَنَعَ لِلنَّبِيِّ ﷺ طَعَامًا فَدَعَاهُ فَأَجَابَهُ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ: «اللهُمَّ ارْحَمْهُمْ فَاغْفِرْ لَهُمْ، وَبَارِكْ لَهُمْ فِيمَا رَزَقْتَهُمْ»[38] 

Artinya: Diriwayatkan oleh Ziyād bin Ayyūb, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Hushaym, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Hisyām bin Yūsuf, ia berkata: aku mendengar ‘Abdullāh bin Busr menyampaikan bahwa ayahnya membuatkan makanan untuk Nabi  lalu mengundang beliau, maka beliau pun memenuhi undangannya. Ketika beliau selesai (makan), beliau berdoa: Allahumma irhamhum faghfir lahum, wa bārik lahum fīmā razaqtahum.” Artinya: Ya Allah, rahmatilah mereka, ampunilah mereka, dan berkahilah bagi mereka apa yang Engkau rezekikan kepada mereka.”

4.  Taqwa Di Tingkat Rahmah

Mengikuti kitab Al Quran dengan rasa syukur atas diturunkannya Al Quran sebagai berkah, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat rahmah.  Hal ini didasari Al Quran Surat Al-An'am/6:155, di dalamnya ditegaskan bahwa Al Quran yang diturunkan dengan penuh berkah untuk diikuti dan ditaqwai agar dapat memperoleh rahmat Allah;

وَهٰذَا كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ مُبٰرَكٌ فَاتَّبِعُوْهُ وَاتَّقُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَۙ

Artinya: Dan ini adalah Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan dengan penuh berkah. Ikutilah, dan bertakwalah agar kamu mendapat rahmat, (QS. Al-An'am/6:155)

Di dalam Al Quran surat Ali-'Imran (3): 123 disebutkan perintah untuk bertaqwa kepada Allah, supaya dapat bersyukur;

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.

Taqwa di tingkat Rahmah ditandai dengan pandai mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT, di dalam ayat 123 surat Ali Imran digambarkan bahwa pasukan Muslim dalam perang Badar merupakan pasukan yang jumlahnya sedikit dan lemah tetapi dapat mengalahkan pasukan Musyrik yang jumlahnya lebih banyak dan kuat, kemenangan tersebut harus diakui dan disadari dapat terjadi berkat pertolongan dan rahmat Allah, sehingga atas pertolongan tersebut diperintahkan untuk bertaqwa kepada Allah agar bersyukur, sebagai bentuk ketaqwaan di tingkat Rahmah; berterimakasih kepada Allah atas rahmat pertolongan Allah diberikan kemenangan.

Sedangkan di dalam Al Quran Surat Al-A'raf/7:63 juga dijelaskan bahwa Al Quran yang dirunkan kepada Rasulullah SAW digunakan sebagai peringatan; pelajaran untuk ditaqwai, agar dapat memperoleh rahmat Allah;

اَوَعَجِبْتُمْ اَنْ جَاۤءَكُمْ ذِكْرٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَلٰى رَجُلٍ مِّنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ وَلِتَتَّقُوْا وَلَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

Artinya: Dan herankah kamu bahwa ada peringatan yang datang dari Tuhanmu melalui seorang laki-laki dari kalanganmu sendiri, untuk memberi peringatan kepadamu dan agar kamu bertakwa, sehingga kamu mendapat rahmat? (QS. Al-A'raf/7:63)

Bersyukur atas diturunkannya Al Quran kepada seorang Rasul untuk menjadi peringatan baginya, merupakan bentuk ketaqwaan di level rahmah. Sedangkan di dalam kitab Musnad Ahmad Hadis No. 23171 disebutkan perintah hendaklah kamu bertakwa kepada Allah Azzawajalla dan berkasih sayanglah;

حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ شُرَيْحٍ الْحَارِثِيِّ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ هَلْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْدُو قَالَتْ نَعَمْ كَانَ يَبْدُو إِلَى هَذِهِ التِّلَاعِ فَأَرَادَ الْبَدَاوَةَ مَرَّةً فَأَرْسَلَ إِلَى نَعَمٍ مِنْ إِبِلِ الصَّدَقَةِ فَأَعْطَانِي مِنْهَا نَاقَةً مُحَزَّمَةً ثُمَّ قَالَ لِي يَا عَائِشَةُ عَلَيْكِ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالرِّفْقِ فَإِنَّ الرِّفْقَ لَمْ يَكُ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا زَانَهُ وَلَمْ يُنْزَعْ مِنْ شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا شَانَهُ  [39] 

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair Telah menceritakan kepada kami Syarik dari Miqdam bin Syuraih Al-Haritsi dari ayahnya berkata: Saya berkata kepada Aisyah: "Apakah Nabi  pernah pergi menemui orang-orang arab pedalaman?" dia menjawab: "Ya, beliau pernah pergi ke sebuah bukit. Suatu kali beliau pergi ke bukit, lantas mengutus seseorang menemui unta-unta sedekah, kemudian beliau memberiku satu onta betina yang terikat dari unta yang ada." Kemudian beliau bersabda kepadaku: "Wahai Aisyah, hendaklah kamu bertakwa kepada Allah Azzawajalla dan berkasih sayanglah. Karena tidaklah kasih sayang itu ada pada seseorang melainkan ia akan menghiasinya dan tidaklah dicabutnya kasih sayang darinya kecuali akan menghinakannya."

Di hadits ini perintah taqwa berdampingan dengan kasih sayang, yang dapat dipahami sebagai bentuk taqwa di tingkat Rahmah, Adapun bentuk-bentuk ketaqwaan di level rahmah yang lainnya adalah sebagai berikut:

4.1. Saling Menasehati Dalam Kesabaran Dan Kasih Sayang

Di dalam Al Quran surat Al-Balad/ 90: 17-18 digambarkan bahwa orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang, adalah golongan kanan;

ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ, أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ

Artinya: Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang, adalah golongan kanan.(QS. Al-Balad/ 90: 17-18)

4.2. Rasa Kasih Sayang Dalam Hati-Nya

Di dalam Al Quran Surat Maryam/ 19: 96 digambarkan bahwa Allah menanamkan rasa kasih sayang dalam jiwa orang beriman;

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ وُدًّا

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. (HR. Maryam/ 19: 96).

4.3. Jika Mendapatkan Kebaikan, Memuji Allah Dan Bersyukur, Jika Mendapatkan Musibah Memuji Allah Dan Bersabar

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 1492 digambarkan bahwa seorang mukmin jika dia mendapatkan kebaikan, dia memuji Allah dan bersyukur, jika mendapatkan musibah dia memuji Allah dan bersabar

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَنْبَأَنَا مَعْمَرٌ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنِ الْعَيْزَارِ بْنِ حُرَيْثٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ إِذَا أَصَابَهُ خَيْرٌ حَمِدَ اللَّهَ وَشَكَرَ وَإِنْ أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ حَمِدَ اللَّهَ وَصَبَرَ فَالْمُؤْمِنُ يُؤْجَرُ فِي كُلِّ أَمْرِهِ حَتَّى يُؤْجَرَ فِي اللُّقْمَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى فِي امْرَأَتِهِ  [40]  

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami Ma'mar dari Abu Ishaq dari Al 'Aizar bin Huraits dari Umar bin Sa'd bin Abu Waqqash dari bapaknya berkata; Rasulullah  bersabda: "Aku kagum dengan seorang mukmin. Jika dia mendapatkan kebaikan, dia memuji Allah dan bersyukur, jika mendapatkan musibah dia memuji Allah dan bersabar. Orang mukmin akan diberi pahala pada setiap urusannya sampai suapan makanan yang dia angkat ke mulut istrinya."

4.4. Jika Ingin Mengetahui Besarnya Nikmat Allah Adalah Dengan Cara Memejamkan Mata

Adapun di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor 4151 digambarkan bahwa untuk mengetahui besarnya nikmat Allah adalah dengan cara memejamkan mata;

- أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ الْحرَفيِّ، أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ سَلْمَانَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَبِي الدُّنْيَا، حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ رَاشِدٍ، حَدَّثَنَا أَبُو رَبِيعَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو غِيَاثٍ، قَالَ: سَمِعْتُ بَكْرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ الْمُزَنِيَّ، يَقُولُ: " يَا ابْنَ آدَمَ إِنْ أَرَدْتَ أن تَعْلَمَ قَدْرَ مَا أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْكَ فَغَمِّضْ عَيْنَيْكَ [41] "

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdurrahman ibnu ‘Ubaidillah Al Harafi, telah mengabarkan kepada kami Ahmad ibnu Salman, telah menceriterakan kepada kami Abdullah ibnu Abi Dunya, telah menceriterakan kepada kami Ibrahim ibnu Rasyid, telah menceriterakan kepada kami Abu Rabi’ah, telah menceriterakan kepada kami Abu Ghiyas berkata: Wahai anak adam jika engkau ingin mengetahui ukuran keni’matan Allah kepadamu, maka pejamkanlah matamu.

Karena dengan memejamkan mata akan dapat merasakan besarnaya nikmat yang telah diberikan Allah, yang melekat dalam tubuh manusia, seperti; melihat, mendengar, berdegupnya jantung secara otomatis, keluar masuknya nafas melalui hidung, dll.

4.5. Suka Menjadi Hamba Yang Bersyukur

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 4837 digambarkan ketika Rasulullah shalat malam hingga kakinya bengkak, ditanya bunda A’isyah RA, beliau menjawab: Apakah aku tidak suka jika menjadi hamba yang bersyukur;

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا حَيْوَةُ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ سَمِعَ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُومُ مِنْ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا فَلَمَّا كَثُرَ لَحْمُهُ صَلَّى جَالِسًا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَرْكَعَ قَامَ فَقَرَأَ ثُمَّ رَكَعَ [42]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Abdul Aziz Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yahya Telah mengabarkan kepada kami Haiwah dari Abu Al Aswad dia mendengar Urwah dari Aisyah radliallahu 'anha bahwa Nabi  melaksanakan shalat malam hingga kaki beliau bengkak-bengkak. Aisyah berkata: Wahai Rasulullah, kenapa Anda melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa anda yang telah berlalu dan yang akan datang? Beliau bersabda: "Apakah aku tidak suka jika menjadi hamba yang bersyukur?" Dan tatkala beliau gemuk, beliau shalat sambil duduk, apabila beliau hendak ruku' maka beliau berdiri kemudian membaca beberapa ayat lalu ruku.'

4.6. Boleh Memilki Kekayaan Dan Kesehatan Bagi Orang Yang Bertaqwa

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22076 dinyatakan bahwa tidak apa-apa dengan kekayaan bagi orang yang bertakwa kepada Allah 'azza wajalla dan kesehatan bagi orang yang bertakwa (digunakan untuk ketakwaan; kebaikan; bersyukur);

حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي سُلَيْمَانَ مَدِينِيٌّ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ خُبَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَمِّهِ قَالَ كُنَّا فِي مَجْلِسٍ فَطَلَعَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى رَأْسِهِ أَثَرُ مَاءٍ فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرَاكَ طَيِّبَ النَّفْسِ قَالَ أَجَلْ قَالَ ثُمَّ خَاضَ الْقَوْمُ فِي ذِكْرِ الْغِنَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنْ اتَّقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَالصِّحَّةُ لِمَنْ اتَّقَى اللَّهَ خَيْرٌ مِنْ الْغِنَى وَطِيبُ النَّفْسِ مِنْ النِّعَمِ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu 'Amir 'Abdul Malik bin 'Amru telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Abu Sulaiman Madini telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin 'Abdullah bin Hubaib dari ayahnya dari pamannya berkata; Kami berada disuatu majlis kemudian Rasulullah  datang, di rambut beliau ada sisa-sisa air, kami berkata; Wahai Rasulullah! Kami melihat Baginda sedang bahagia. Rasulullah  bersabda: "Benar." Kemudian orang-orang memperbincangkan kekayaan. Rasulullah  bersabda: "Tidak apa-apa dengan kekayaan bagi orang yang bertakwa kepada Allah 'azza wajalla dan kesehatan bagi orang yang bertakwa kepada Allah itu lebih baik dan kebahagiaan jiwa itu termasuk kenikmatan."

4.7. Tidak Berpaling Dari Mengingat Allah Yang Maha Rahman

Di dalam Al Quran surat Az-Zukhruf / 43: 36 dinyatakan bahwa barang siapa yang lupa dari mengingat Allah Yang Maha Rahman, akan menjadi teman syetan;

وَمَنْ يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ

Artinya: Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya. (QS. Az-Zukhruf / 43: 36)

Sedangkan di dalam Al Quran surat Al-Anbiya'/ 21: 36 digambarkan sebaliknya bahwa orang kafir ingkar dari mengingat Allah Yang Maha Pemurah;

وَإِذَا رَآكَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَذَا الَّذِي يَذْكُرُ آلِهَتَكُمْ وَهُمْ بِذِكْرِ الرَّحْمَنِ هُمْ كَافِرُونَ

Artinya: Dan apahila orang-orang kafir itu melihat kamu, mereka hanya membuat kamu menjadi olok-olok. (Mereka mengatakan): "Apakah ini orang yang mencela tuhan-tuhan-mu?", padahal mereka adaIah orang-orang yang ingkar mengingat Allah Yang Maha Pemurah.(QS. Al-Anbiya'/ 21: 36)

4.8. Mengasihi Wali-Wali Allah Dan Memusuhi Musuh Allah

Di dalam kitab Hilyatul Aulia Halaman 186 dinyatakan bahwa tidak akan mendapatkan rahmatku orang-orang yang tidak mengasihi wali-wali-Ku dan tidak memusuhi musuh-musuh-Ku:

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ، ثنا الْوَلِيدُ بْنُ حَمَّادٍ الرَّمْلِيُّ، ثنا سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدِّمَشْقِيُّ، ثنا بِشْرُ بْنُ عَوْنٍ، عَنْ بَكَّارِ بْنِ تَمِيمٍ، عَنْ مَكْحُولٍ، عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " يَبْعَثُ اللهُ عَبْدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا ذَنْبَ لَهُ، فَيَقُولُ اللهُ: بِأَيِّ الْأَمْرَيْنِ أَحَبُّ إِلَيْكَ أَنْ أَجْزِيَكَ: بِعَمَلِكَ أَوْ بِنِعْمَتِي عِنْدَكَ، قَالَ: يَا رَبِّ، إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي لَمْ أَعْصِكَ، قَالَ: خُذُوا عَبْدِي بِنِعْمَةٍ مِنْ نِعَمِي، فَمَا تَبْقَى لَهُ حَسَنَةٌ إِلَّا اسْتَغْرَقَتْهَا تِلْكَ النِّعْمَةُ، فَيَقُولُ: رَبِّ، بِنِعْمَتِكَ وَرَحْمَتِكَ، فَيَقُولُ: بِنِعْمَتِي وَرَحْمَتِي، وَيُؤْتَى بِعَبْدٍ مُحْسِنٍ فِي نَفْسِهِ، لَا يَرَى أَنَّ لَهُ ذَنْبًا، فَيَقُولُ لَهُ: هَلْ كُنْتَ تُوَالِي أَوْلِيَائِي؟ قَالَ: كُنْتُ مِنَ النَّاسِ سِلْمًا، قَالَ: فَهَلْ كُنْتَ تُعَادِي أَعْدَائِي؟ قَالَ: رَبِّ لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَحَدٍ شَيْءٌ، فَيَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: لَا يَنَالُ رَحْمَتِي مَنْ لَمْ يُوَالِ أَوْلِيَائِي، وَيُعَادِي أَعْدَائِي " غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ مَكْحُولٍ، لَمْ نَكْتُبْهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ بِشْرٍ عَنْ بَكَّارٍ [43]

Artinya: telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Al Walid ibnu Hammad Ar Ramli, telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Abdirrahman Ad Dimsyaqi, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Aun, dari Bakar ibnu Tamim, dari Makhul, dari Wasilah ibnu Al Asqa’ dari Rasulullah  bersabda: “Pada hari Qiyamat Allah membangkitkan seorang hamba yang tidak memilik dosa, kemudian Allah bersabda kepadanya: dengan dua hal yang mana yang lebih kamu sukai yang akan Aku berikan balasan kepadamu; dengan amalmu atau dengan kenikmatan-Ku yang akan kuberikan kepadamu, berkata: Wahai Rab, sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak berma’siyat kepada-Mu, Allah berfirman: Ambillah hamba-hambaku dengan kenikmatan di antara kenikmatan-kenikmatan dari-Ku, maka tidaklah kekal baginya kebaikan tersebut kecuali  tenggelam di dalam kenikmatan, maka mereka berkata: dengan nikmat-Mu dan Rahmat-Mu, maka Allah berfirman: dengan nikmat-Ku dan rahmat-ku, diberikan kepada hamba yang berbuat baik pada dirinya sendiri, dia tidak dilihat memiliki dosa, maka ditanyakan kepada meraka: “Apakah kalian mengasihi wali-waliku ?” mereka berkata: kami adalah orang-orang yang damai, ditanyakan kepada mereka: “apakah kalian memusuhi musuh-musuh-Ku ?”, mereka menjawab: “ Ya Rab, antara kami dengan orang lain tidak ada sesuatupun, maka Allah Azza wa Jalla berfirman: “Tidak akan mendapatkan Rahmat-Ku orang yang tidak mengasihi Wali-wali-Ku dan tidak memusuhi musuh-musuh-Ku”. Gharib d ari hadits Makhul, kami tidak menuliskannya kecuali dari hadits Bisyri dari Bakar.

4.9. Bersungguh-Sungguh Dalam Meminta Ampunan Dan Rahmat Allah

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 5864 dinyatakan untuk meminta rahmat dan ampunan dengan sungguh-sungguh;

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ لِيَعْزِمْ الْمَسْأَلَةَ فَإِنَّهُ لَا مُكْرِهَ لَهُ [44]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah  bersabda: "Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan; 'Ya Allah, ampunilah aku jika Engkau kehendaki, dan rahmatilah aku jika Engkau berkehendak.' Akan tetapi hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam meminta, karena Allah sama sekali tidak ada yang memaksa."

4.10.  Berdoa Dengan Menyebut Ya Arhama Rahimin

Di dalam kitab Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain hadits nomor 1996 disebutkan bahwa Malaikat mengatakan bagi orang yang mengatakan Ya Arhama Rahimin tiga kali maka Allah menerimanya :

حَدَّثَنَاهُ أَبُو بَكْرِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْعُمَانِيُّ، ثنا مَسْعُودُ بْنُ زَكَرِيَّا التُّسْتَرِيُّ، ثنا كَامِلُ بْنُ طَلْحَةَ، ثنا فَضَالُ بْنُ جُبَيْرٍ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ لِلَّهِ مَلَكًا مُوَكَّلًا بِمَنْ يَقُولُ: يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، فَمَنْ قَالَهَا ثَلَاثًا قَالَ الْمَلَكُ: إِنَّ أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ قَدْ أَقْبَلَ عَلَيْكَ فَاسْأَلْ» [45]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr ibnu Abdullah Al ‘Amani, telah menceritakan kepada kami, Mas’ud ibnu Zakariya At Tastari telah menceritakan kepada kami Kamil ibnu Thalhah telah menceritakan kepada kami ibnu Jubair dari Abi Umamah RA. Berkata: Rasulullah  bersabda: “Sesungguhnya Allah mengutus Malaikat bagi orang yang mengatakan: Ya Allah yang Maha Pengasih di antara yang pengasih, maka siapa yang mengatakannya tiga kali Malaikat berkata sesungguhnya Allah yang Maha Pengasih di antara yang Pengasih telah menerimamu maka mintalah.”

4.11. Berdo’a Agar Diberi Pertolongan Untuk Dapat Berdzikir, Bersyukur Dan Beribadah Kepada Allah Dengan Baik

Di dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad hadits nomor 690 digambarkan permohonan kepada Allah, untuk bantuan agar dapat berdzikir, bersyukur dan beribadah kepada Allah dengan baik;

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ، عَنْ حَيْوَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ مُسْلِمٍ، سَمِعَ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيَّ، عَنِ الصُّنَابِحِيّ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ: أَخَذَ بِيَدِي النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ: «يَا مُعَاذُ»، قُلْتُ: لَبَّيْكَ، قَالَ: «إِنِّي أُحِبُّكَ»، قُلْتُ: وَأَنَا وَاللَّهِ أُحِبُّكَ، قَالَ: «أَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ تَقُولُهَا فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاتِكَ؟» قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: «قُلِ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ» [46] 

Artinya: Telah menceritakan kepada Kami 'Ubaidullah bin Umar bin Maisarah telah menceritakan kepada Kami Abdullah bin Yazid Al Muqri`, telah menceritakan kepada Kami Haiwah bin Syuraih, ia berkata; aku mendengar 'Uqbah bin Muslim berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Ash Shunabihi dari Mu'adz bin Jabal bahwa Rasulullah  menggandeng tangannya dan berkata: "Wahai Mu'adz, demi Allah, aku mencintaimu." Kemudian beliau berkata: "Aku wasiatkan kepadamu wahai Mu'adz, janganlah engkau tinggalkan setiap selesai shalat untuk mengucapkan, (Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir dan bersyukur kepadaMu serta beribadah kepadaMu dengan baik.) Mu'adz mewasiatkan dengan hal tersebut kepada Ash Shunabihi dan Ash Shunabihi mewasiatkan hal tersebut kepada Abdurrahman.

4.12. Berdo’a Agar Diperbesar Rasa Syukur Dan Diperbanyak Dzikir Kepada Allah

Di dalam kitab Suan Tirmidzi hadits nomor 3924 digambarkan doa Rasulullah untuk dijadikan hamba yang memperbesar rasa syukur kepada-Mu dan memperbanyak dzikir kepada-Mu;

حَدَّثَنَا هَاشِمٌ أَبُو النَّضْرِ قَالَ حَدَّثَنَا الْفَرَجُ يَعْنِي ابْنَ فَضَالَةَ حَدَّثَنَا أَبُو سَعْدٍ الْحِمْصِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ دَعَوَاتٌ سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا أَتْرُكُهَا مَا عِشْتُ حَيًّا سَمِعْتُهُ يَقُولُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي أُعْظِمُ شُكْرَكَ وَأُكْثِرُ ذِكْرَكَ وَأَتْبَعُ نَصِيحَتَكَ وَأَحْفَظُ وَصِيَّتَكَ [47]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hasyim Abu An Nadhr berkata; telah menceritakan kepada kami Al Faraj -yaitu Ibnu Fadhalah- berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Sa'd Al Himshi dari Abu Hurairah, dia berkata; Sebuah doa yang aku dengar dari Rasulullah , aku tidak pernah meninggalkannya selama aku hidup, aku mendengar beliau mengucapkan: "Ya Allah, jadikan aku hamba yang memperbesar rasa syukur kepada-Mu dan memperbanyak dzikir kepada-Mu, mengikuti nasihat dan menjaga wasiat-Mu."

4.13. Berdoa: “Ya Allah! Ampuni Kami, Rahmati Kami, Ridlai Kami, Terimalah (Amalan) Kami, Masukkanlah Kami Ke Surga, Dan Selamatkanlah Kami Dari Neraka Serta Perbaikilah Kondisi Kami Seluruhnya”

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22181 disebutkan doa Ya Allah! Ampuni kami, rahmati kami, ridlai kami, terimalah (amalan) kami, masukkanlah kami ke surga, dan selamatkanlah kami dari neraka serta perbaikilah kondisi kami seluruhnya;

حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ، حَدَّثَنَا مِسْعَرٌ، عَنْ أَبِي الْعَنْبَسِ، عَنْ أَبِي الْعَدَبَّسِ، عَنْ أَبِي مَرْزُوقٍ، عَنْ أَبِي غَالِبٍ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ وَهُوَ مُتَوَكِّئٌ عَلَى عَصًا فَقُمْنَا إِلَيْهِ فَقَالَ: " لَا تَقُومُوا كَمَا تَقُومُ الْأَعَاجِمُ يُعَظِّمُ بَعْضُهَا بَعْضًا ". قَالَ: فَكَأَنَّا اشْتَهَيْنَا أَنْ يَدْعُوَ اللهَ لَنَا فَقَالَ: " اللهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا، وَارْضَ عَنَّا وَتَقَبَّلْ مِنَّا وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ، وَنَجِّنَا مِنَ النَّارِ، وَأَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ ". فَكَأَنَّا اشْتَهَيْنَا أَنْيَزِيدَنَا. فَقَالَ: " قَدْ جَمَعْتُ لَكُمُ الْأَمْرَ "» [48]

Artinya: Diriwayatkan dari Ibn Numayr, dari Mis‘ar, dari Abī al-‘Anbas, dari Abī al-‘Adabbas, dari Abī Marzūq, dari Abī Ghālib, dari Abī Umāmah, ia berkata: Rasulullah  keluar menemui kami dalam keadaan bersandar pada sebuah tongkat, lalu kami berdiri menyambut beliau. Maka beliau bersabda, “Janganlah kalian berdiri sebagaimana orang-orang ‘Ajam berdiri, yaitu mengagungkan sebagian mereka atas sebagian yang lain.” Abū Umāmah berkata: seolah-olah kami menginginkan agar beliau mendoakan kami, maka beliau  berdoa, “Ya Allah, ampunilah kami, rahmatilah kami, ridhailah kami, terimalah (amal) dari kami, masukkanlah kami ke dalam surga, selamatkan kami dari neraka, dan perbaikilah seluruh urusan kami.” Lalu seakan-akan kami masih berharap beliau menambah doa lagi, maka beliau bersabda, “Aku telah mengumpulkan untuk kalian semua kebaikan.”

4.14. Berdoa: “Ya Allah, Ampunilah Aku, Rahmatilah Aku Serta Pertemukanlah Daku Dengan Ar Rafiq”

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 5674 tergambar bahwa Rasulullah SAW memohon kepada Allah untuk diampuni, dirahmati dan dipertemukan dengan Ar Rafiq (Maha Lemah Lembut)

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامٍ عَنْ عَبَّادِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُسْتَنِدٌ إِلَيَّ يَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ [49]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Hsiyam dari 'Abbad bin Abdullah bin Az Zubair dia berkata; saya mendengar Aisyah radliallahu 'anha berkata; saya mendengar Nabi  ketika beliau sedang berada di pangkauanku, sabdanya: "Ya Allah, ampunilah aku, rahmatilah aku serta pertemukanlah daku dengan Ar Rafiq."

4.15. Berdoa: “Ya Allah Ampunilah Aku, Rahmatilah Aku, Dan Maafkanlah Aku. Berilah Petunjuk Dan Curahkanlah Rezeki Untukku”

Di dalam kitab Shalih Muslim hadits nomor 2697 dan Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 19138, disebutkan doa Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku, dan berikanlah rezeki kepadaku

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا أَبُو مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ أَقُولُ حِينَ أَسْأَلُ رَبِّي قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي وَيَجْمَعُ أَصَابِعَهُ إِلَّا الْإِبْهَامَ فَإِنَّ هَؤُلَاءِ تَجْمَعُ لَكَ دُنْيَاكَ وَآخِرَتَكَ [50]

Artinya: Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Abu Malik dari bapaknya bahwasanya dia mendengar Nabi  ketika beliau didatangi oleh seorang laki-laki dan kemudian laki-laki tersebut bertanya; "Ya Rasulullah, apa yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung?" Rasulullah  menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku, dan berikanlah rezeki kepadaku! ' (Saat itu beliau menggenggam jari-jari beliau kecuali ibu jari), karena sesungguhnya doa-doa tersebut mencakup dunia dan akhiratmu.'

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ يَزِيدَ أَبِي خَالِدٍ الدَّالَانِيِّ عَنْ إِبْرَاهِيمَ السَّكْسَكِيِّ عَنِ ابْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي لَا أَسْتَطِيعُ أَخْذَ شَيْءٍ مِنْ الْقُرْآنِ فَعَلِّمْنِي مَا يُجْزِئُنِي قَالَ قُلْ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَمَا لِي قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَعَافِنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي ثُمَّ أَدْبَرَ وَهُوَ مُمْسِكُ كَفَّيْهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا هَذَا فَقَدْ مَلَأَ يَدَيْهِ مِنْ الْخَيْرِ قَالَ مِسْعَرٌ فَسَمِعْتُ هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ إِبْرَاهِيمَ السَّكْسَكِيِّ عَنِ ابْنِ أَبِي أَوْفَى عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَثَبَّتَنِي فِيهِ غَيْرِي [51]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Waki' Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Yazid bin Abu Khalid Ad Dalani dari Ibrahim As Saksaki dari Ibnu Abu Aufa ia berkata; Seorang laki-laki mendatangi Nabi  dan berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya tidak bisa membaca sedikit pun dari Al Qur`an, karena itu, ajarilah aku sesuatu yang dapat menggantikannya." Beliau bersabdas: "Bacalah, (Maha Suci Allah dan Segala puji bagi Allah, Tidak ada Ilah yang berhak disembah selain Allah, Allah Maha Besar. Tidak ada daya dan upaya kecuali atas izin Allah).'" Laki-laki itu berkata, "Wahai Rasulullah, ini semua hanya untuk Allah 'azza wajalla, maka apakah bagiku?" beliau menjawab: "Bacalah, (Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku, dan maafkanlah aku. Berilah petunjuk dan curahkanlah rezeki untukku).'" Kemudian laki-laki itu berpaling sambil menggenggam kedua telapak tangannya, maka Nabi  bersabda: "Adapun orang ini, maka sungguh, ia telah memenuhi kedua tangannya dengan kebaikan." Mis'ar bekata; Saya mendengar hadits ini dari Ibrahim As Saksaki, dari Ibnu Abu Aufa dari Nabi .

4.16. Berdoa: “Ya Allah, Rahmatilah Aku, Selamatkanlah Aku, Dan Berikanlah Rezeki Kepadaku”

kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 832 dimuat doa yang diajarkan Nabi untuk memohon Ya Allah, rahmatilah aku, dan maafkanlah aku. Berilah petunjuk dan curahkanlah rezeki untukku

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعُ بْنُ الْجَرَّاحِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ أَبِي خَالِدٍ الدَّالَانِيِّ عَنْ إِبْرَاهِيمَ السَّكْسَكِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي لَا أَسْتَطِيعُ أَنْ آخُذَ مِنْ الْقُرْآنِ شَيْئًا فَعَلِّمْنِي مَا يُجْزِئُنِي مِنْهُ قَالَ قُلْ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَمَا لِي قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي وَارْزُقْنِي وَعَافِنِي وَاهْدِنِي فَلَمَّا قَامَ قَالَ هَكَذَا بِيَدِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا هَذَا فَقَدْ مَلَأَ يَدَهُ مِنْ الْخَيْرِ [52]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' bin Al Jarrah telah menceritakan kepada kami Sufyan Ats Tsauri dari Abu Khalid Ad Dalani dari Ibrahim As Saksaki dari Abdullah bin Abu Aufa dia berkata; seorang laki-laki datang kepada Nabi  seraya berkata; "Sesungguhnya aku tidak dapat mempelajari Al Qur'an sedikit pun, maka ajarilah aku sesuatu yang dapat memadai untukku sebagai gantinya." Beliau bersabda: "Ucapkanlah; " (Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada ilah yang hak kecuali Allah dan Allah Maha besar, tidak ada daya dan upaya kecuali kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Luhur lagi Maha Agung)." Laki-laki itu berkata; "wahai Rasulullah, ungkapan ini untuk Allah Azza Wa Jalla, lantas (ungkapan) manakah yang untuk saya?" beliau bersabda: "katakanlah; (Ya Allah, rahmatilah aku, berilah aku rezeki, kesejahteraan, dan petunjuk." Ketika orang itu berdiri (shalat), maka dia memberi isyarat dengan tangannya seperti ini (yaitu membaca sambil menghitungnya) maka Rasulullah  bersabda: " Orang ini tangannya telah di penuhi dengan kebaikan."

4.17. Berdoa: “Ya Allah, Aku Memohon Rahmat Dari Sisimu, Dengannya Engkau Memberikan Petunjuk Kepada Hatiku, Dan Dengannya Engkau Kumpulkan Urusanku ..”

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 3717 digambarkan doa Rasulullah: Ya Allah, aku memohon rahmat dari sisiMu, dengannya Engkau memberikan petunjuk kepada hatiku, dan dengannya Engkau kumpulkan urusanku..;

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِمْرَانَ بْنِ أَبِي لَيْلَى حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي لَيْلَى عَنْ دَاوُدَ بْنِ عَلِيٍّ هُوَ ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ سَمِعْتُ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَيْلَةً حِينَ فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِكَ تَهْدِي بِهَا قَلْبِي وَتَجْمَعُ بِهَا أَمْرِي وَتَلُمُّ بِهَا شَعَثِي وَتُصْلِحُ بِهَا غَائِبِي وَتَرْفَعُ بِهَا شَاهِدِي وَتُزَكِّي بِهَا عَمَلِي وَتُلْهِمُنِي بِهَا رُشْدِي وَتَرُدُّ بِهَا أُلْفَتِي وَتَعْصِمُنِي بِهَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ اللَّهُمَّ أَعْطِنِي إِيمَانًا وَيَقِينًا لَيْسَ بَعْدَهُ كُفْرٌ وَرَحْمَةً أَنَالُ بِهَا شَرَفَ كَرَامَتِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْفَوْزَ فِي الْعَطَاءِ وَنُزُلَ الشُّهَدَاءِ وَعَيْشَ السُّعَدَاءِ وَالنَّصْرَ عَلَى الْأَعْدَاءِ اللَّهُمَّ إِنِّي أُنْزِلُ بِكَ حَاجَتِي وَإِنْ قَصُرَ رَأْيِي وَضَعُفَ عَمَلِي افْتَقَرْتُ إِلَى رَحْمَتِكَ فَأَسْأَلُكَ يَا قَاضِيَ الْأُمُورِ وَيَا شَافِيَ الصُّدُورِ كَمَا تُجِيرُ بَيْنَ الْبُحُورِ أَنْ تُجِيرَنِي مِنْ عَذَابِ السَّعِيرِ وَمِنْ دَعْوَةِ الثُّبُورِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْقُبُورِ اللَّهُمَّ مَا قَصُرَ عَنْهُ رَأْيِي وَلَمْ تَبْلُغْهُ نِيَّتِي وَلَمْ تَبْلُغْهُ مَسْأَلَتِي مِنْ خَيْرٍ وَعَدْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ خَيْرٍ أَنْتَ مُعْطِيهِ أَحَدًا مِنْ عِبَادِكَ فَإِنِّي أَرْغَبُ إِلَيْكَ فِيهِ وَأَسْأَلُكَهُ بِرَحْمَتِكَ رَبَّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ ذَا الْحَبْلِ الشَّدِيدِ وَالْأَمْرِ الرَّشِيدِ أَسْأَلُكَ الْأَمْنَ يَوْمَ الْوَعِيدِ وَالْجَنَّةَ يَوْمَ الْخُلُودِ مَعَ الْمُقَرَّبِينَ الشُّهُودِ الرُّكَّعِ السُّجُودِ الْمُوفِينَ بِالْعُهُودِ إِنَّكَ رَحِيمٌ وَدُودٌ وَأَنْتَ تَفْعَلُ مَا تُرِيدُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا هَادِينَ مُهْتَدِينَ غَيْرَ ضَالِّينَ وَلَا مُضِلِّينَ سِلْمًا لِأَوْلِيَائِكَ وَعَدُوًّا لِأَعْدَائِكَ نُحِبُّ بِحُبِّكَ مَنْ أَحَبَّكَ وَنُعَادِي بِعَدَاوَتِكَ مَنْ خَالَفَكَ اللَّهُمَّ هَذَا الدُّعَاءُ وَعَلَيْكَ الْإِجَابَةُ وَهَذَا الْجُهْدُ وَعَلَيْكَ التُّكْلَانُ اللَّهُمَّ اجْعَلْ لِي نُورًا فِي قَلْبِي وَنُورًا فِي قَبْرِي وَنُورًا مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَنُورًا مِنْ خَلْفِي وَنُورًا عَنْ يَمِينِي وَنُورًا عَنْ شِمَالِي وَنُورًا مِنْ فَوْقِي وَنُورًا مِنْ تَحْتِي وَنُورًا فِي سَمْعِي وَنُورًا فِي بَصَرِي وَنُورًا فِي شَعْرِي وَنُورًا فِي بَشَرِي وَنُورًا فِي لَحْمِي وَنُورًا فِي دَمِي وَنُورًا فِي عِظَامِي اللَّهُمَّ أَعْظِمْ لِي نُورًا وَأَعْطِنِي نُورًا وَاجْعَلْ لِي نُورًا سُبْحَانَ الَّذِي تَعَطَّفَ الْعِزَّ وَقَالَ بِهِ سُبْحَانَ الَّذِي لَبِسَ الْمَجْدَ وَتَكَرَّمَ بِهِ سُبْحَانَ الَّذِي لَا يَنْبَغِي التَّسْبِيحُ إِلَّا لَهُ سُبْحَانَ ذِي الْفَضْلِ وَالنِّعَمِ سُبْحَانَ ذِي الْمَجْدِ وَالْكَرَمِ سُبْحَانَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مِثْلَ هَذَا مِنْ حَدِيثِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَقَدْ رَوَى شُعْبَةُ وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ عَنْ كُرَيْبٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْضَ هَذَا الْحَدِيثِ وَلَمْ يَذْكُرْهُ بِطُولِهِ [53]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdur Rahman telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Imran bin Abu Laila telah menceritakan kepadaku ayahku telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Laila dari Daud bin Ali yaitu anak Abdullah bin Abbas dari ayahnya dari kakeknya yaitu Ibnu Abbas ia berkata; saya mendengar Nabi  pada suatu malam ketika telah selesai dari shalatnya mengucapkan: Ya Allah, aku memohon rahmat dari sisiMu, dengannya Engkau memberikan petunjuk kepada hatiku, dan dengannya Engkau kumpulkan urusanku, dengannya Engkau cela kekacauanku, dan dengannya Engkau perbaiki apa yang tidak nampak dariku, dan dengannya Engkau angkat apa yang nampak padaku, dengannya Engkau mensucikan amalanku, dengannya Engkau mengilhami pikiranku, dan dengannya Engkau kembali kelembutanku, dengannya Engkau melindungiku dari segala keburukan. Ya Allah, berikan kepadaku keimanan dan keyakinan yang tidak ada kekafiran setelahnya, serta rahmat yang dengannya aku peroleh kemuliaan-Mu di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon kepadaMu keberuntungan mendapatkan pemberianMu, serta hidangan orang-orang yang mati syahid, kehidupan orang-orang yang berbahagia, dan kemenangan atas musuh. Ya Allah kepadaMu aku sampaikan hajatku, walaupun terbatas penglihatanku, serta lemah amalanku. Aku butuh kepada rahmatMu, maka aku memohon kepadaMu wahai Dzat Yang Maha Mampu menyelesaikan segala perkara, wahai Dzat yang mengobati hatiku, sebagaimana Engkau melindungi diantara lautan aku mohon agar Engkau lindungi aku dari adzab Neraka Sa'ir, serta seruan kebinasaan, serta fitnah kubur. Ya Allah, apa yang tidak mampu terlihat oleh pandanganku, dan tidak dicapai oleh niatku, serta tidak sampai permintaanku dari kebaikan yang telah Engkau janjikan kepada seseorang diantara makhlukMu, atau kebaikan yang Engkau berikan kepada seseorang diantara hamba-hambaMu, maka menginginkan dan memohonnya kepadaMu dengan rahmatMu wahai Tuhan semesta alam. Ya Allah Yang memiliki tali (agama) yang kuat, dan perkara yang lurus, aku memohon kepadaMu keamanan pada hari yang penuh dengan ancaman, serta Surga pada hari yang kekal bersama orang-orang yang dekat, yang mati syahid, yang banyak melakukan ruku' dan sujud, serta yang senantiasa memenuhi janji, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih dan Penyayang. Engkau mampu melakukan apa yang Engkau kehendaki. Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang memberi petunjuk dan mendapatkan petunjuk, yang tidak tersesat dan menyesatkan, menyerah kepada para waliMu dan memusuhi musuh-musuhMu. Kami mencintai dengan kecintaanMu kepada orang yang mencintaiMu dan memusuhi dengan permusuhanMu kepada orang yang menyelisihiMu. Ya Allah, inilah doa yang mampu aku panjatkan dan kabulkanlah doa tersebut, dan inilah usahaku dan kepadaMu aku bersandar. Ya Allah berikanlah cahaya dalam hatiku dan cayaha dalam kuburku, cahaya di hadapanku, cahaya dari belakangku, cahaya dari kananku, cahaya dari kiriku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku, cahaya dalam pendengaranku, cahaya dalam penglihatanku, cahaya dalam rambutku, cahaya dalam kulitku, cahaya dalam dagingku, cahaya dalam darahku, dan cahaya dalam tulangku. Ya Allah, perbesarkan cahaya untukku, berilah aku cahaya dan jadikan untukku cahaya. Maha Suci Dzat Yang memberikan kemuliaan dan berfirman dengan kemuliaan. Maha Suci dzat yang memiliki keagungan, dan memberi dengan keagungan. Maha Suci Dzat yang tidak sepantas untuk memuji kecuali kepadaNya, Dzat Yang memiliki karunia dan kenikmatan. Maha Suci Dzat yang memiliki keagungan dan kemurahan, Maha Suci Dzat Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan), Abu Isa berkata; ini adalah hadts gharib, kami tidak mengetahuinya seperti ini dari hadits Ibnu Abu Laila kecuali dari sisi ini. Dan Syu'bah serta Sufyan Ats Tsauri telah meriwayaktkan dari Salamah bin Kuhail? dari Kuraib? dari Ibnu Abbas? dari Nabi?  sebagian hadits ini dan ia tidak menyebutkannya secara panjang.

4.18. Puncak Pemahaman Setelah Iman Kepada Allah Adalah Rasa Kasih Sayang Kepada Manusia

Di dalam kitab Al-Sunan Al-Kubra hadis nomor 20306, dijelaskan bahwa puncak pemahaman setelah iman kepada Allah adalah rasa kasih sayang kepada manusia;

 أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ بِشْرَانَ بِبَغْدَادَ أَنْبَأَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو الرَّزَّازُ أَنْبَأَنَا يَحْيَى بْنُ جَعْفَرِ بْنِ الزِّبْرِقَانِ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ أَنْبَأَنَا أَشْعَثٌ أَنْبَأَنَا عَلِىُّ بْنُ زَيْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« رَأْسُ الْعَقْلِ بَعْدَ الإِيمَانِ بِاللَّهِ التَّوَدُّدُ إِلَى النَّاسِ وَمَا يَسْتَغْنِى رَجُلٌ عَنْ مَشُورَةٍ وَإِنَّ أَهْلَ الْمَعْرُوفِ فِى الدُّنْيَا هُمْ أَهْلُ الْمَعْرُوفِ فِى الآخِرَةِ وَإِنَّ أَهْلَ الْمُنْكَرِ فِى الدُّنْيَا هُمْ أَهْلُ الْمُنْكَرِ فِى الآخِرَةِ [54] ».

Artinya: telah mengabarkan kepada kami Al Husain bin Bisran di Baghdad memberitakan kepada kami Ja’far Muhammad bin ‘Amrin Ar Razaz memberitakan kepada kami Yahya bin Ja’far bin Zairiqan menceriterakan kepada kami Zaid ibnu Al Hubab memberitakan kepada kami Asy’ab memberitakan kepada kami Ali ibnu Zaid dari Said bin Musayyab berkata: bersabda Rasulullah ; Puncak pemahaman setelah iman kepada Allah adalah rasa kasih sayang kepada manusia dan tidaklah seserang merasa cukup dengan terkenal karena sesungguhnya orang yang ahli kebaikan di dunia adalah mereka ahli kebaikan di akhirat dan sesungguhnya ahli kemungkaran di dunia mereka menjadi ahli kemunkaran di akhirat.(HR. Baihaqi: 20802)

Rasulullah Muhammad SAW diutus Allah sebagai rasul yang membawa rahmat untuk semesta alam, ditegaskan di dalam Al-Quran surat Al-Anbiya'/ 21: 107;

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

Artinya: Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam..

Bentuk ketaqwaan di level rahmah dapat digambarkan secara ringkas melalui pemahaman Al-Quran surat Al-Anbiya'/ 21: 107 dan hadis nomor 20306 di dalam kitab Musnad Ahmad, yang di dalamnya dinyatakan bahwa bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih besar dan tidak menyayangi yang lebih kecil serta tidak menyuruh kepada kebaikan dan melarang yang mungkar;

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ عَبْد اللَّهِ بْن أَحْمَد وَسَمِعْتُهُ أَنَا مِنْ عُثْمَانَ بْنِ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ لَيْثٍ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ الْكَبِيرَ وَيَرْحَمْ الصَّغِيرَ وَيَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ [55]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Utsman bin Muhammad], Abdullah bin Ahmad berkata; aku telah mendengarnya dari Utsman bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami [Jarir] dari [Laits] dari [Abdul Malik bin Sa'id bin Jubair] dari [Ikrimah] dari [Ibnu Abbas], dan dia merafa'kannya kepada Nabi , beliau bersabda: "Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih besar dan tidak menyayangi yang lebih kecil serta tidak menyuruh kepada kebaikan dan melarang yang mungkar."  

Dari hadits di atas dapat ditarik pengertian bahwa;

1. Nabi Muhammad  adalah rahmatan lil ‘alamin; kasih sayang untuk seluruh semesta alam.

2. Umat Nabi Muhammad  adalah orang yang mengikuti Nabinya, memiliki jiwa rahmah; kasih sayang.

3.   Bentuk kasih sayang adalah yang lebih muda; kecil; lemah; berada di bawah harus menghormati yang lebih tua; besar; kuat; di atas, dan sebaliknya yang lebih tua; besar; kuat; di atas harus bersifat kasih sayang kepada yang lebih muda; kecil; lemah; berada di bawah.

4.   Bentuk rasa kasih sayang dari yang tua; besar; kuat; berada di atas kepada yang muda; kecil; lemah; berada di bawah dapat berupa kesediaan memberikan bimbingan, bantuan dan pertolongan, sedangkan bentuk penghormatan dari yang muda; kecil; lemah; berada di bawah kepada yang tua; besar; kuat; berada di atas dapat berupa kesadaran untuk berterimakasih atas bimbingan, bantuan dan pertolongannya.

5. Bentuk rahmah Allah kepada makhluqnya yaitu menetapkan atau mewajibkan dirinya bersifat rahmah dan sifat rahmahnya mengalahkan murkanya, sedangkan bentuk rahmah Rasulullah adalah bahwa diutusnya Rasulullah Muhammad  adalah sebagai rahmah bagi semesta alam, sehingga Rasulullah memiliki sifat rahmah yang besar terhadap umatnya.

6. Bentuk rahmah seorang hamba kepada Allah adalah bersyukur, memuji dan banyak-banyak mengingat kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, sedangkan bentuk rahmah orang beriman kepada Rasulullah Muhammad adalah mensyukuri atas diutusnya Rasulullah dan memanjatkan shalawat; memintakan rahmah Allah untuknya.

7.   Melakukan amar ma’ruf nahi munkar dilakukan atas dasar kesadaran rahmah; kasih sayang kepada sesama manusia.

Berdasar ayat-ayat Al Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW yang telah dikemukakan di atas maka dapat ditarik pengertian bahwa taqwa di tingkat rahmah adalah tumbuhnya kesadaran kasih sayang yang ada di dalam qalbu yang mendorong seseorang untuk beramal dan beribadah karena telah hidupnya jiwa rahmah dalam dirinya dan segera bertaubat jika beramal dan beribadah bukan karena rahmat Allah.

Ketaqwaan di level Rahmah mendorong orang menjadi berjiwa lembut dan kasih sayang, pandangan, ucapan perkataannya didasari kasih sayang, tindakan dan keputusannya mengandung kasih sayang, senang berbuat baik kepada orang lain karena kasih sayang, berbuat baik kepada semesta alam karena kasih sayang, banyak menebar kebaikan karena kasih sayang, hingga dapat menjadi rahmatan lil ‘alamin.

 

Doa Mohon Dirahmati Allah

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ رَحْمَةً مِنْ عِنْدِكَ تَهْدِي بِهَا قَلْبِي وَتَجْمَعُ بِهَا أَمْرِي وَتَلُمُّ بِهَا شَعَثِي وَتُصْلِحُ بِهَا غَائِبِي وَتَرْفَعُ بِهَا شَاهِدِي وَتُزَكِّي بِهَا عَمَلِي وَتُلْهِمُنِي بِهَا رُشْدِي وَتَرُدُّ بِهَا أُلْفَتِي وَتَعْصِمُنِي بِهَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ

“Ya Allah, aku memohon rahmat dari sisiMu, dengannya Engkau memberikan petunjuk kepada hatiku, dan dengannya Engkau kumpulkan urusanku, dengannya Engkau cela kekacauanku, dan dengannya Engkau perbaiki apa yang tidak nampak dariku, dan dengannya Engkau angkat apa yang nampak padaku, dengannya Engkau mensucikan amalanku, dengannya Engkau mengilhami pikiranku, dan dengannya Engkau kembali kelembutanku, dengannya Engkau melindungiku dari segala keburukan.”

(HR. Tirmidzi: 3341)



[1] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 99, Hadits nomor 6469.

[2] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman 2108, Hadits nomor 2752.

[3] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 115, Hadits nomor 7376.

[4] Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari, Al-Adab Al-Mufrad, Al-Mathba’ah Al-Salafiyah Wa Maktabatuha, Kairo, 1989, Halaman 47, Hadits nomor 95.

[5] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 116, Hadits nomor 3194.

[6] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman 2006, Hadits nomor 2599.

[7] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990, Jilid 1, Halaman 91, Hadits nomor 100.

[8] Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah Al-Asbahani, Hilyatul Auilya’ Wa Thabaqat Al- Ashfiya’, Matba’ah Al-Sa’adiyah, Mesir, 1974, Jilid 4, Halaman 72, Tanpa nomor.

[9] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 10, Hadits nomor 6010.

[10] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 4, Halaman 215, Hadits nomor 4659.

[11] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman 1436, Hadits nomor 3297.

[12] Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari, Al-Adab Al-Mufrad, Al-Mathba’ah Al-Salafiyah Wa Maktabatuha, Kairo, 1989, Halaman 138, Hadits nomor 380.

[13] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 6, Halaman 138, Hadits nomor 4850.

[14] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman 1828, Hadits nomor 2355.

[15] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 3 halaman 483, Hadits nomor 1924.

[16] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 7, Halaman 121, Hadits nomor 5673.

[17] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 6, Halaman 2452, Hadits nomor 6279.

[18] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 115, Hadits nomor 7377.

[19] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 3, Halaman 198, Hadits nomor 1659.

[20] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Madārij as-Sālikīn bayna Manāzil Iyyāka Na‘budu wa Iyyāka Nasta‘īn, Juz 2 (Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 2000), 505–512. Pembahasan rinci tentang manzilah al-khasyah, perbedaan khauf–khasyah, dan pengaruhnya pada perjalanan spiritual hamba.

[21] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990, Jilid 8, Halaman 208, Hadits nomor 7498.

[22] Abu Bakr Al-Baihaqi, Al-Adab Li Al-Baihaqi, Muassasah Al-Kitab Al-Tsaqafah, Beirut, 1988, Jilid 1, Halaman 17, Hadits nomor 33.

[23] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 34, Halaman 135, Hadits nomor 20495.

[24] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 5, Hadits nomor 5985.

[25] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 7, Hadits nomor 5997.

[26] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 10, Hadits nomor 6011.

[27] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah al-‘Alamiyah, , 2009, Jilid 3 halaman 505, Hadits nomor 1955.

[28] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman 1265, Hadits nomor 3849.

[29] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 37, Halaman 416, Hadits nomor 22755.

[30] Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari, Al-Adab Al-Mufrad, Al-Mathba’ah Al-Salafiyah Wa Maktabatuha, Kairo, 1989, Halaman 133, Hadits nomor 363.

[31] Abu Qasim Al-Thabarani, Mu’jam Al-Thabarani Ausath, Dar Al Haramain, Kairo, 1995, Jilid 5, Halaman 107, Hadits nomor 4812.

[32] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman 1220, Hadits nomor 3989.

[33] Malik Ibn Anas, Muwatha’ Al-Imam Malik, Muassasah Al-Risalah, Beirut 1991, Jilid 2, Halaman 908, Hadits nomor 16.

[34] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 13, Halaman 221, Hadits nomor 7816.

[35] Abu Hatim Muhammad Ibnu Hiban Ibnu Ahmad, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibu Hazm, Beirut, 2012, Jilid 1, Halaman 552, Hadits nomor 835.

[36] Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah Al-Asbahani, Hilyatul Auilya’ Wa Thabaqat Al- Ashfiya’, Matba’ah Al-Sa’adiyah, Mesir, 1974, Jilid 3, Halaman 192, Tanpa nomor.

[37] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1, Halaman 494, Hadits nomor 713.

[38] Ahmad ibn Syuaib Al-Nasa’i, Al-Sunan Al-Kubra, Muassasah Al-Risalah, Beirut, 2001, Jilid 9, Halaman 118, Hadits nomor 10053.

[39] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 5, Halaman 153, Hadits nomor 9346.

[40] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Dar Al-Hadits, Kairo, 1995, Jilid 2, Halaman 233, Hadits nomor 1492.

[41] Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 6, Halaman 267, Hadits nomor 4151.

[42] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 6, Halaman 135, Hadits nomor 4837.

[43] Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah Al-Asbahani, Hilyatul Auilya’ Wa Thabaqat Al- Ashfiya’, Matba’ah Al-Sa’adiyah, Mesir, 1974, Jilid 5, Halaman 186, Tanpa nomor.

[44] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Dar Ibn Katsir, Damsyiq, 1993, Jilid 5, Halaman 2334, Hadits nomor 5980.

[45] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990, Jilid 1, Halaman 728, Hadits nomor 1996.

[46] Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari, Al-Adab Al-Mufrad, Al-Mathba’ah Al-Salafiyah Wa Maktabatuha, Kairo, 1989, Halaman 239, Hadits nomor 690.

[47] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah al-‘Alamiyah, , 2009, Jilid 6 halaman 196, Hadits nomor 3924.

[48] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 36, Halaman 515, Hadits nomor 22181.

[49] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 7, Halaman 121, Hadits nomor 5674.

[50] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 Halaman 2073, Hadits nomor 2697.

[51] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah Ar-Risalah, 2001, Jilid 31, Halaman 479, Hadits nomor 19138.

[52] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 1, Halaman 220, Hadits nomor 832.

[53] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 6 halaman 39, Hadits nomor 3717.

[54] Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Al-Sunan Al-Kubra, Dar Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2003, Jilid 10, Halaman 187, Hadits nomor 20306.

[55] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 4, Halaman 170, Hadits nomor 2329.


Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post