+ 8. TAKWA LEVEL RAHMAH
Rahmah
berasal dari kata rahima-yarhamu-rahmatan artinya riqqatun;
lembut; dan Syafaqah; mengasihi; kemurahan hati; perasaan. Di dalam Al
Quran kata yang terbentuk dari kata dasar rahima terdapat sebanyak 563
kali di
ditemukan 422 ayat, termasuk di dalamnya kata ar rahman dan ar rahim yang ada di permulaan
surat.
Ayat-ayat
tersebut ditambah dengan hadits-hadits Rasulullah yang berkaitan dengan rahmah
akan diklasifikasikan dan dianalisa untuk dapat memperoleh pemahaman yang
menyeluruh tentang rahmah, sehingga rahmah dapat diamalkan menjadi sebuah
bentuk ketaqwaan di tingkat rahmah.
Di
dalam Al Quran Surat Al-Anbiya/ 21: 107 dengan tegas dinyatakan bahwa tidaklah
Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam;
وَمَا
أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Artinya: Dan
tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam.(QS. Al-Anbiya/ 21: 107)
Ayat ini memberikan gambaran bahwa Rasulullah Muhammad SAW di utus untuk menjadi
rahmat bagi semesta alam, artinya Rasulullah Muhammad SAW di utus untuk menebar
kasih sayang bagi seluruh alam, sedangkan di dalam Al Quran surat Al-A’raf/ 7:
156, dijelaskan bahwa Rahmat Allah meliputi segala sesuatu, tetapi rahmat Allah
ditetapkan bagi orang yang bertaqwa;
وَرَحْمَتِيْ
وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍۗفَسَاَ كْتُبُهَا لِلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَ وَيُؤْتُوْنَ
الزَّكٰوةَ وَا لَّذِيْنَ هُمْ بِاٰ يٰتِنَا يُؤْمِنُوْنَ ۚ
Artinya: “Dan
rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka, akan Aku tetapkan rahmat-Ku bagi
orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang beriman
kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf/ 7: 156)
Dari
dua ayat di atas dapat ditarik pengertian sementara bahwa rahmah adalah kasih
sayang Allah SWT yang melimputi semua makhluk ciptaan-Nya, dan diutusnya Nabi
Muhammad SAW sebagai Rasulullah merupakan bentuk realisasi rahmah Allah SWT
kepada semesta alam.
SSelanjutnya untuk dapat memberikan gambaran yang menyeluruh tentang takwa di tingkat rahmah, maka pada bab ini akan dikemukakan pembahasan tentang;
1.
Hikmah Rahmah,
2.
Keistimewaan Orang Yang Rahmah,
3.
Karakter Orang Yang Rahmah,
4.
Taqwa Di Tingkat Rahmah.
Adapun pembahasannya adalah sebagai berikut;
Berikut
akan dikemukakan beberapa hikmah yang berkaitan dengan rahmah, yaitu antara
lain:
1.1. Allah Menetapkan Atas Diri-Nya (berlaku) Kasih
Sayang
Di dalam Al Quran Surat Al-An'am/ 6: 54,
ditegaskan bahwa Allah telah menetapkan atas diri-Nya (berlaku) kasih sayang;
وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ
بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ ۖ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ
الرَّحْمَةَ ۖ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنْكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِنْ
بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya:
Apabila orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu,
maka katakanlah: "Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya
kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara
kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan
mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (QS. Al-An'am/ 6: 54)
1.2. Bergembiralah Dengan Rahmat Allah Karena Rahmat
Allah Lebih Baik Dari Segalanya
Di dalam Al Quran surat Yunus/ 10: 58 dinyatakan
bahwa Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka
kumpulkan;
قُلْ
بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَلِكَ فَلْيَفْرَحُوا هُوَ خَيْرٌ مِمَّا
يَجْمَعُونَ
Artinya:
“Katakanlah: ‘Dengan kurnia Allah dan rahmatNya, hendaklah dengan itu mereka
bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang
mereka kumpulkan” (QS. Yunus [10]: 58).
1.3. Hamba Allah Yang Maha Pengasih Itu Rendah Hati Dan
Berkata Selamat
Di dalam Al Quran Surat Al-Furqan/ 25: 63,
digambarkan bahwa hamba Allah yang maha penyayang itu rendah hati dan berkata
selamat;
وَعِبَادُ
الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ
الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
Artinya:
Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan
di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka,
mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.(QS. Al-Furqan/ 25:
63)
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 6469
dijelaskan bahwa Sesungguhnya Allah menjadikan rahmat (kasih sayang) seratus
bagian, maka dipeganglah di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan
diturunkannya satu bagian untuk seluruh makhluk-Nya
حَدَّثَنَا
قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ
عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الرَّحْمَةَ يَوْمَ
خَلَقَهَا مِائَةَ رَحْمَةٍ فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً
وَأَرْسَلَ فِي خَلْقِهِ كُلِّهِمْ رَحْمَةً وَاحِدَةً فَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ
بِكُلِّ الَّذِي عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الرَّحْمَةِ لَمْ يَيْئَسْ مِنْ الْجَنَّةِ
وَلَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ بِكُلِّ الَّذِي عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الْعَذَابِ لَمْ
يَأْمَنْ مِنْ النَّارِ [1]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] telah menceritakan kepada
kami [Ya'qub bin Abdurrahman] dari ['Amru bin Abu 'Amru] dari [Sa'id bin Abu
Sa'id Al Maqburi] dari [Abu Hurairah] radliallahu 'anhu dia berkata; saya
mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya
Allah menjadikan rahmat (kasih sayang) seratus bagian, maka dipeganglah di
sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan diturunkannya satu bagian untuk
seluruh makhluk-Nya, sekiranya orang-orang kafir mengetahui setiap rahmat
(kasih sayang) yang ada di sisi Allah, niscaya mereka tidak akan berputus asa
untuk memperoleh surga, dan sekiranya orang-orang mukmin mengetahui setiap
siksa yang ada di sisi Allah, maka ia tidak akan merasa aman dari neraka."
Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2752,
disebutkan bahwa hanya satu yang di turunkan Allah kepada jin, manusia, hewan
jinak dan buas, dengan satu rahmat tersebut mereka saling mengasihi dan
menyayangi, dan dengan rahmat itu pula binatang buas dapat menyayangi anaknya;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا عَبْدُ
الْمَلِكِ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ لِلَّهِ مِائَةَ رَحْمَةٍ أَنْزَلَ مِنْهَا
رَحْمَةً وَاحِدَةً بَيْنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالْبَهَائِمِ وَالْهَوَامِّ
فَبِهَا يَتَعَاطَفُونَ وَبِهَا يَتَرَاحَمُونَ وَبِهَا تَعْطِفُ الْوَحْشُ عَلَى
وَلَدِهَا وَأَخَّرَ اللَّهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً يَرْحَمُ بِهَا
عِبَادَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ [2]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin 'Abdullah bin Numair] telah
menceritakan kepada kami [bapakku] telah menceritakan kepada kami ['Abdul
Malik] dari ['Atha] dari [Abu Hurairah] dari Nabi ﷺ beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah memiliki seratus rahmat. Dari seratus
rahmat tersebut, hanya satu yang di turunkan Allah kepada jin, manusia, hewan
jinak dan buas. Dengan rahmat tersebut mereka saling mengasihi dan menyayangi,
dan dengan rahmat itu pula binatang buas dapat menyayangi anaknya. Adapun
Sembilan puluh sembilan rahmat Allah yang lain, maka hal itu ditangguhkan
Allah. Karena Allah hanya akan memberikannya kepada para hamba-Nya yang shalih
pada hari kiamat kelak.
1.6. Allah Tidak Akan Menyayangi Siapa Saja Yang Tidak
Menyayangi Manusia
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 7376,
disebutkan Allah tidak akan menyayangi siapa saja yang tidak menyayangi
manusia;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ
زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ وَأَبِي ظَبْيَانَ عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَرْحَمُ اللَّهُ
مَنْ لَا يَرْحَمُ النَّاسَ [3]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Salam] telah menceritakan kepada
kami [Abu Mu'awiyah] dari [Al A'masy] dari [Zaid bin Wahb] dan [Abu dlabyan]
dari [Jarir bin Abdullah] berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah tidak akan menyayangi siapa saja yang tidak
menyayangi manusia."
1.7. Barangsiapa Tidak Mengasihi Maka Dia Tidak Akan Di
Kasihi
Di dalam kitab Shahih Bukhari 95 dinyatakan bahwa
barangsiapa tidak mengasihi maka dia tidak akan di kasihi;
حَدَّثَنَا
عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ حَدَّثَنِي
زَيْدُ بْنُ وَهْبٍ قَالَ سَمِعْتُ جَرِيرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ[4]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Hafsh telah menceritakan kepada kami
Ayahku telah menceritakan kepada kami Al A'masy dia berkata; telah menceritakan
kepadaku Zaid bin Wahb dia berkata; saya mendengar Jarir bin Abdullah dari Nabi
ﷺ beliau bersabda: "Barangsiapa tidak mengasihi maka dia
tidak akan di kasihi."
1.8. Sesungguhnya Rahmat-Ku Mengalahkan Kemurkaan-Ku
Dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 3194,
disebutkan bahwa Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku;
حَدَّثَنَا
قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا مُغِيرَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
الْقُرَشِيُّ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لَمَّا قَضَى اللَّهُ الْخَلْقَ كَتَبَ فِي كِتَابِهِ فَهُوَ عِنْدَهُ
فَوْقَ الْعَرْشِ إِنَّ رَحْمَتِي غَلَبَتْ غَضَبِي [5]
Artinya:
Telah bercerita kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] telah bercerita kepada kami
[Mughirah bin 'Abdur Rahman Al Qurasyiy] dari [Abu Az Zanad] dari [Al A'raj]
dari [Abu Hurairah radliallahu 'anhu] berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: "Ketika Allah menetapkan penciptaan makhluq, Dia
menulis di dalam Kitab-Nya, yang berada di sisi-Nya di atas ai-'Arsy (yang
isinya): "Sesungguhnya rahmat-Ku mengalahkan kemurkaan-Ku".
1.9. Sesungguhnya Aku Diutus Sebagai Penyayang
Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2599
dinyatakan bahwa sesungguhnya aku diutus untuk rahmat;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ قَالَا حَدَّثَنَا مَرْوَانُ
يَعْنِيَانِ الْفَزَارِيَّ عَنْ يَزِيدَ وَهُوَ ابْنُ كَيْسَانَ عَنْ أَبِي
حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ادْعُ عَلَى
الْمُشْرِكِينَ قَالَ إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا وَإِنَّمَا بُعِثْتُ
رَحْمَةً [6]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Abbad dan Ibnu Abu 'Umar
keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Marwan yaitu Al Fazari dari
Yazid yaitu Ibnu Kaisan dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dia berkata;
"Seseorang pernah berkata; 'Ya Rasulullah, do'akanlah untuk orang-orang
musyrik agar mereka celaka! ' Mendengar itu, Rasulullah ﷺ menjawab: 'Sesungguhnya aku diutus bukan untuk menjadi pelaknat, tetapi aku
diutus sebagai rahmat.'"
1.10. Sesungguhnya Aku Adalah Rahmat Yang Diberi Petunjuk
Di dalam kitab Mustadrak Hakim hadits nomor 100
dinyatakan bahwa sesungguhnya aku merupakan rahmat yang diberi petunjuk;
حَدَّثَنَا
أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ الْمُزَكِّيُّ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي
طَالِبٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ بْنِ خُزَيْمَةَ، قَالَا: ثنا أَبُو
الْخَطَّابِ زِيَادُ بْنُ يَحْيَى الْحَسَّانِيُّ، وَثنا أَبُو الْفَضْلِ
مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، ثنا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ،
وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي طَالِبٍ، قَالَا: ثنا زِيَادُ بْنُ يَحْيَى
الْحَسَّانِيُّ، أَنْبَأَ مَالِكُ بْنُ سُعَيْرٍ، ثنا الْأَعْمَشُ، عَنْ أَبِي
صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَنَا رَحْمَةٌ مُهْدَاةٌ» .
«هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِهِمَا فَقَدِ احْتَجَّا جَمِيعًا بِمَالِكِ
بْنِ سُعَيْرٍ، وَالتَّفَرُّدُ مِنَ الثِّقَاتِ مَقْبُولٌ [7]
Artinya:
Abu Bakar Muhammad bin Ja'far Al Muzani menceritakan kepada kami, Ibrahim bin
Abi Thalib dan Muhammad bin Ishaq bin Khuzaiman menceritakan kepada kami,
keduanya berkata: Abu Al Khathab Ziyad bin Yahya Al Hassani menceritakan kepada
kami. Abu Al Fadhl Muhammad bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Husain bin
Muhammad bin Ziyad dan Ibrahim bin Abu Thalib »menceritakan kepada kami,
keduanya berkata: Ziyad bin Yahya Al Hassani menceritakan kepada kami, Malik
bin Su'air memberitakan (kepada kami), Al A'masy menceritakan kepada kami dari
Abu Shalih, dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Wahai manusia, sesungguhnya aku merupakan rahmat yang
diberi petunjuk." Hadis ini shahih sesuai dengan syarat Al Bukhari dan
Muslim. Keduanya sama-sama berhujjah dengan Malik bin Su'air. Riwayat yang
hanya diriwayatkan oleh seorang periwayat dari kalangan periwayat tsiqah
maqbul.
1.11. Aku Diutus Menjadi Penyayang Dan Pemersatu
Di dalam kitab Hilyatul Aulia hadits nomor 5213
dinyatakan bahwa aku dutus sebagai penyayang dan pemersatu
حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ جَعْفَرٍ، قَالَ: ثنا الْحُسَيْنُ بْنُ حَفْصٍ،
قَالَ: ثنا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي مُوسَى الْيَمَانِيِّ، عَنْ وَهْبِ بْنِ
مُنَبِّهٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «بُعِثْتُ مَرْحَمَةً وَمَلْحَمَةً، وَلَمْ أُبْعَثْ تَاجِرًا
وَلَا زَارِعًا، أَلَا وَإِنَّ شِرَارَ هَذِهِ الْأُمَّةِ التُّجَّارُ
وَالزَّرَّاِعُونَ، إِلَّا مَنْ شَحَّ عَلَى نَفْسِهِ». هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ
مِنْ حَدِيثِ الثَّوْرِيِّ تَفَرَّدَ بِهِ الْحَسَنُ
[8]
Artinya:
telah menceriterakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad ibnu Ja’far, berkata:
telah menceriterakan kepada kami Al Husain Ibnu Hafs, berkata: telah
menceriterakan kepada kami Sufyan, dari Abi Musa Al Yamani, dari Wahab ibnu
Munabih dari ibnu Abas, berkata: Bersabda Rasulullah ﷺ: Aku diutus menjadi
penyayang dan pemersatu, dan tidak diutus menjadi pedagang maupun petani,
ketahuilah sesungguhnya orang yang paling jahat di dalam umat ini adalah
pedagangnya dan petaninya, kecuali orang yang
pelit kepada dirinya sendiri,
1.12. Jangan Menyempitkan Rahmat Allah Yang Luas
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6010
tergambar untuk tidak menyempitkan rahmat Allah yang luas;
حَدَّثَنَا
أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو
سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَامَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةٍ وَقُمْنَا مَعَهُ فَقَالَ
أَعْرَابِيٌّ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي وَمُحَمَّدًا وَلَا
تَرْحَمْ مَعَنَا أَحَدًا فَلَمَّا سَلَّمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ لِلْأَعْرَابِيِّ لَقَدْ حَجَّرْتَ وَاسِعًا يُرِيدُ رَحْمَةَ
اللَّهِ [9]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami
Syu'aib dari Az Zuhri dia berkata; telah mengabarkan kepadaku Abu Salamah bin
Abdurrahman bahwa Abu Hurairah berkata; "Rasulullah ﷺ berdiri untuk shalat dan kami ikut berdiri dengannya, di tengah-tengah
shalat ada seorang Badui yang berbicara; 'Ya Allah, rahmatilah aku dan
Muhammad, dan janganlah Engkau merahmati seorangpun selain kami! ' Setelah
salam, Rasulullah Shalallah 'Alaihi Wa Sallam bersabda kepada orang Badui
tersebut: 'Engkau telah menyempitkan sesuatu yang luas! ' Maksudnya adalah
rahmat Allah."
Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 4659,
dijelaskan bahwa Rasulullah SAW berdoa: jadikanlah celaanku itu sebagai rahmat
bagi mereka di hari kiamat;
حَدَّثَنَا
أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ بْنُ قُدَامَةَ الثَّقَفِيُّ
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ قَيْسٍ الْمَاصِرُ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي قُرَّةَ قَالَ كَانَ
حُذَيْفَةُ بِالْمَدَائِنِ فَكَانَ يَذْكُرُ أَشْيَاءَ قَالَهَا رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأُنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ فِي الْغَضَبِ
فَيَنْطَلِقُ نَاسٌ مِمَّنْ سَمِعَ ذَلِكَ مِنْ حُذَيْفَةَ فَيَأْتُونَ سَلْمَانَ
فَيَذْكُرُونَ لَهُ قَوْلَ حُذَيْفَةَ فَيَقُولُ سَلْمَانُ حُذَيْفَةُ أَعْلَمُ
بِمَا يَقُولُ فَيَرْجِعُونَ إِلَى حُذَيْفَةَ فَيَقُولُونَ لَهُ قَدْ ذَكَرْنَا
قَوْلَكَ لِسَلْمَانَ فَمَا صَدَّقَكَ وَلَا كَذَّبَكَ فَأَتَى حُذَيْفَةُ
سَلْمَانَ وَهُوَ فِي مَبْقَلَةٍ فَقَالَ يَا سَلْمَانُ مَا يَمْنَعُكَ أَنْ
تُصَدِّقَنِي بِمَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقَالَ سَلْمَانُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ كَانَ يَغْضَبُ فَيَقُولُ فِي الْغَضَبِ لِنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ
وَيَرْضَى فَيَقُولُ فِي الرِّضَا لِنَاسٍ مِنْ أَصْحَابِهِ أَمَا تَنْتَهِي
حَتَّى تُوَرِّثَ رِجَالًا حُبَّ رِجَالٍ وَرِجَالًا بُغْضَ رِجَالٍ وَحَتَّى
تُوقِعَ اخْتِلَافًا وَفُرْقَةً وَلَقَدْ عَلِمْتَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ فَقَالَ أَيُّمَا رَجُلٍ مِنْ أُمَّتِي
سَبَبْتُهُ سَبَّةً أَوْ لَعَنْتُهُ لَعْنَةً فِي غَضَبِي فَإِنَّمَا أَنَا مِنْ
وَلَدِ آدَمَ أَغْضَبُ كَمَا يَغْضَبُونَ وَإِنَّمَا بَعَثَنِي رَحْمَةً
لِلْعَالَمِينَ فَاجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ صَلَاةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ, وَاللَّهِ
لَتَنْتَهِيَنَّ أَوْ لَأَكْتُبَنَّ إِلَى عُمَرَ [10]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus berkata, telah menceritakan
kepada kami Zaidah bin Qudamah Ats Tsaqafi berkata, telah menceritakan kepada
kami Umar bin Qais Al Mashiri dari Amru bin Abu Qurrah ia berkata, "Saat
berada di Madain, Hudzaifah menyebutkan sesuatu yang dikatakan oleh Rasulullah ﷺ kepada
para sahabatnya dengan marah. Orang-orang yang mendengar hal itu dari Hudzaifah
langsung pergi dan mendatangi Salman. Mereka kemudian menceritakan apa yang
dikatakan oleh Hudzaifah kepada Salman, namun Salaman justru berkata,
"Hudzaifah lebih tahu dengan apa yang ia katakan." Orang-orang itu
akhirnya kembali lagi menemui Hudzaifah dan berkata, "Ucapanmu tadi telah
kami sampaikan kepada Salman, tetapi ia tidak membenarkan atau mendustakan
kamu!" Hudzifah lantas pergi mendatangi Salman saat ia berada di Mabqalah,
Hudzaifah berkata, "Wahai Salman, apa yang menghalangimu untuk membenarkan
aku atas apa yang telah aku dengar dari Rasulullah ﷺ?"
Salman menjawab, "Rasulullah ﷺ pernah marah dan berbicara dengan para
sahabat dalam keadaam marah, tetapi beliau juga bisa ridha sehingga beliau
berbicara dengan para sahabatnya dalam keadaan ridha. Tidakkah sebaiknya kamu
tidak menceritakan apa yang telah kamu dengar hingga yang demikian itu dapat
menjadikan sebagian cinta kepada sebagian dan benci kepada sebagian yang lain;
agar tidak terjadi perpecahan. Engkau telah mendengar Rasulullah ﷺ berkhutbah: "Laki-laki manapun dari umatku yang pernah aku cela atau
laknat saat dalam kondisi marah, sesungguhnya aku hanyalah anak turun Adam,
hingga aku pun dapat marah sebagaimana mereka marah. Hanya saja aku diutus
sebagai rahmat bagi seluruh alam, (Ya Allah) jadikanlah celaanku itu sebagai
rahmat bagi mereka pada hari kiamat." Demi Allah, engkau segera berhenti
dari melakukan hal yang demikian itu atau aku akan menulis surat kepada
Umar."
1.14. Bukankah Allah Maha Penyayang Terhadap Hamba-Hambanya Melebihi Seorang
Ibu Terhadap Anaknya?
Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 4297
ditanyakan bahwa bukankah Allah maha penyayang terhadap hamba-hambaNya melebihi
seorang ibu terhadap anaknya?;
حَدَّثَنَا
هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَعْيَنَ حَدَّثَنَا
إِسْمَعِيلُ بْنُ يَحْيَى الشَّيْبَانِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ بْنِ
حَفْصٍ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ غَزَوَاتِهِ فَمَرَّ بِقَوْمٍ فَقَالَ مَنْ
الْقَوْمُ فَقَالُوا نَحْنُ الْمُسْلِمُونَ وَامْرَأَةٌ تَحْصِبُ تَنُّورَهَا
وَمَعَهَا ابْنٌ لَهَا فَإِذَا ارْتَفَعَ وَهَجُ التَّنُّورِ تَنَحَّتْ بِهِ
فَأَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ أَنْتَ رَسُولُ
اللَّهِ قَالَ نَعَمْ قَالَتْ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي أَلَيْسَ اللَّهُ
بِأَرْحَمِ الرَّاحِمِينَ قَالَ بَلَى قَالَتْ أَوَلَيْسَ اللَّهُ بِأَرْحَمَ
بِعِبَادِهِ مِنْ الْأُمِّ بِوَلَدِهَا قَالَ بَلَى قَالَتْ فَإِنَّ الْأُمَّ لَا
تُلْقِي وَلَدَهَا فِي النَّارِ فَأَكَبَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْكِي ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ إِلَيْهَا فَقَالَ إِنَّ
اللَّهَ لَا يُعَذِّبُ مِنْ عِبَادِهِ إِلَّا الْمَارِدَ الْمُتَمَرِّدَ الَّذِي
يَتَمَرَّدُ عَلَى اللَّهِ وَأَبَى أَنْ يَقُولَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ [11]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin 'Ammar telah menceritakan kepada kami
Ibrahim bin A'yan telah menceritakan kepada kami Isma'il bin Yahya As Syaibani
dari Abdullah bin Umar bin Hafsh dari Nafi' dari Ibnu Umar dia berkata;
"Katika kami bersama Nabi ﷺ di salah satu peperangan, lalu beliau
melawti suatu kaum, lantas beliau bertanya: "Siapakah mereka?" mereka
menjawab; "Kami adalah orang-orang Muslim", dan seorang wanita
bersama anaknya yang sedang menghidupkan tungku, ketika nyala api tersebut
membesar wanita tersebut menjauhkan anaknya, kemudian dia datang kepada Nabi ﷺ dan berkata; “ engkau Rasulullah?” beliau
menjawab; “ya” wanita tersebut bertanya; “bapak dan ibuku sebagai tebusanmu.
Bukankah Allah maha penyayang dari yang para penyayang?” beliau menjawab;
“betul” dia bertanya; “bukankah Allah maha penyayang terhadap hamba-hambaNya
melebihi seorang ibu terhadap anaknya?” wanita tersebut berkata; “sesungguhnya
seorang ibu tidak akan melemparkan anaknya kedalam api?” maka Nabi tertelungkup
menangis, kemudian mengangkat kepalanya memandang wanita tersebut dan berkata:
“sesungguhnya Allah tidak akan mengadzab hamba-hamb-Nya kecuali pembangkang yang
bandel yang membangkang kepada Allah dan menolak untuk mengucapkan Laa Ilaaha
Illallah.”
Di dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad hadits nomor 380
dinyatakan Sayangilah maka kalian akan disayangi, dan ampunilah (kesalahan
manusia) maka Allah akan mengampuni kesalahan kalian;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ عُقْبَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ الْقُرَشِيُّ
قَالَ: حَدَّثَنَا حَرِيزٌ قَالَ: حَدَّثَنَا حِبَّانُ بْنُ زَيْدٍ
الشَّرْعَبِيُّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، عَنِ النَّبِيِّ
ﷺ قَالَ: «ارْحَمُوا تُرْحَمُوا، وَاغْفِرُوا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكُمْ، وَيْلٌ
لِأَقْمَاعِ الْقَوْلِ، وَيْلٌ لِلْمُصِرِّينَ الَّذِينَ يُصِرُّونَ عَلَى مَا
فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ» [12]
Artinya:
Dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Āsh RA, dari Nabi ﷺ, beliau
bersabda: “Sayangilah (sesama), niscaya kalian akan disayangi; dan maafkanlah,
niscaya Allah akan mengampuni kalian. Celaka bagi orang-orang yang hanya
menjadi corong pembawa ucapan (yakni yang hanya menyampaikan tanpa memahami dan
mengamalkan). Celaka bagi orang-orang yang terus-menerus berbuat dosa, yaitu
mereka yang tetap bersikeras atas apa yang mereka lakukan padahal mereka
mengetahuinya.”
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 4850
disebutkan bahwa Allah berfirman kepada surga: 'Kau adalah rahmatKu, denganmu
Aku merahmati siapa saja yang Aku kehendaki dari hamba-hambaKu;
حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا
مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَحَاجَّتْ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ فَقَالَتْ
النَّارُ أُوثِرْتُ بِالْمُتَكَبِّرِينَ وَالْمُتَجَبِّرِينَ وَقَالَتْ الْجَنَّةُ
مَا لِي لَا يَدْخُلُنِي إِلَّا ضُعَفَاءُ النَّاسِ وَسَقَطُهُمْ قَالَ اللَّهُ
تَبَارَكَ وَتَعَالَى لِلْجَنَّةِ أَنْتِ رَحْمَتِي أَرْحَمُ بِكِ مَنْ أَشَاءُ
مِنْ عِبَادِي وَقَالَ لِلنَّارِ إِنَّمَا أَنْتِ عَذَابِي أُعَذِّبُ بِكِ مَنْ
أَشَاءُ مِنْ عِبَادِي وَلِكُلِّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا مِلْؤُهَا فَأَمَّا النَّارُ
فَلَا تَمْتَلِئُ حَتَّى يَضَعَ رِجْلَهُ فَتَقُولُ قَطْ قَطْ فَهُنَالِكَ
تَمْتَلِئُ وَيُزْوَى بَعْضُهَا إِلَى بَعْضٍ وَلَا يَظْلِمُ اللَّهُ عَزَّ
وَجَلَّ مِنْ خَلْقِهِ أَحَدًا وَأَمَّا الْجَنَّةُ فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ
يُنْشِئُ لَهَا خَلْقًا[13]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Telah menceritakan kepada
kami Abdurrazaq Telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Hammam dari Abu
Hurairah radliallahu 'anhu dia berkata; Nabi ﷺ bersabda: "Surga dan neraka
berbantah-bantahan. Neraka berkata: 'Orang-orang congkak dan sombong
memasukiku. Surga berkata: Sedangkan aku, tidak ada yang memasukiku selain
orang-orang lemah, yang hina dalam pandangan manusia. Lalu Allah berfirman kepada
surga: 'Kau adalah rahmatKu, denganmu Aku merahmati siapa saja yang Aku
kehendaki dari hamba-hambaKu.' Kemudian Allah berfirman kepada neraka: 'Kau
adalah siksaKu, denganmu Aku menyiksa siapa pun yang Aku kehendaki. Dan
masing-masing dari keduanya ada isinya.' Sedangkan neraka tidak terisi penuh
hingga Allah meletakkan kakiNya kemudian neraka berkata: 'Cukup, cukup.' Saat
itulah neraka penuh dan sebagiannya menindih sebagaian yang lain. Allah tidak
menzhalimi seorang pun dari makhlukNya. Sedangkan surga, Allah menciptakan
penghuninya."
1.17. Nabi Muhammad Adalah Nabi Rahmah; Kasih Sayang
Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2355
disebutkan bahwa salah satu nama Nabi Muhammad adalah Nabi Rahmah;
و
حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ عَنْ
الْأَعْمَشِ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى
الْأَشْعَرِيِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يُسَمِّي لَنَا نَفْسَهُ أَسْمَاءً فَقَالَ أَنَا مُحَمَّدٌ وَأَحْمَدُ
وَالْمُقَفِّي وَالْحَاشِرُ وَنَبِيُّ التَّوْبَةِ وَنَبِيُّ الرَّحْمَةِ[14]
Artinya:
Dan telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Handzali; Telah
mengabarkan kepada kami Jarir dari Al A'masy dari 'Amru bin Murrah dari Abu
'Ubaidah dari Abu Musa Al Asy'ari dia berkata; "Rasulullah ﷺ menyebutkan beberapa nama kepada kami yang merupakan nama beliau pribadi,
sabdanya: "Aku bernama Muhammad, Ahmad, Al Muqaffa (sama dengan nama Al
Aqib, penutup), Al Hasyir, Nabiyyut-Taubah dan Nabiyyur-Rahmah."
2. Keistimewaan Orang Yang Rahmah
Berikut ini akan dikemukakan beberapa keistimewaan
yang akan diperoleh bagi orang-orang yang Rahmah; penyayang;
2.1. Orang Yang Penyayang Disayangi Allah Yang Maha
Penyayang
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 1924
dinyatakan bahwa Orang-orang yang mengasihi akan dikasihi oleh Ar Rahman;
حَدَّثَنَا
ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي
قَابُوسَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمْ الرَّحْمَنُ ارْحَمُوا
مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ الرَّحِمُ شُجْنَةٌ مِنْ
الرَّحْمَنِ فَمَنْ وَصَلَهَا وَصَلَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَطَعَهَا قَطَعَهُ اللَّهُ
قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ [15]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami
Sufyan dari Amr bin Dinar dari Abu Qabus dari Abdullah bin Amr ia berkata;
Rasulullah ﷺ bersabda: "Orang-orang yang mengasihi akan dikasihi oleh
Ar Rahman, berkasih sayanglah kepada siapapun yang ada di bumi, niscaya Yang
ada di langit akan mengasihi kalian. Lafazh Ar Rahim (rahim atau kasih sayang)
itu diambil dari lafazh Ar Rahman, maka barang siapa yang menyambung tali
silaturrahmi niscaya Allah akan menyambungnya (dengan rahmat-Nya) dan barang
siapa yang memutus tali silaturrahmi maka Allah akan memutusnya (dari
rahmat-Nya)." Berkata Abu 'Isa: Ini merupakan hadits hasan shahih.
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 5673,
dijelaskan bahwa Tidak ada seorang pun yang masuk surga karena amalannya."
Para sahabat bertanya; "Begitu juga dengan engkau wahai Rasulullah?"
beliau bersabda: "tidak juga dengan diriku, kecuali bila Allah melimpahkan
karunia dan rahmat-Nya padaku;
حَدَّثَنَا
أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو
عُبَيْدٍ مَوْلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَنْ
يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
قَالَ لَا وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ
فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَلَا يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ إِمَّا
مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَزْدَادَ خَيْرًا وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ أَنْ
يَسْتَعْتِبَ [16]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] telah mengabarkan kepada kami
[Syu'aib] dari [Az Zuhri] dia berkata; telah mengabarkan kepadaku [Abu 'Ubaid]
bekas budak Abdurrahman bin Auf bahwa [Abu Hurairah] berkata; saya mendengar
Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak ada seorang pun
yang masuk surga karena amalannya." Para sahabat bertanya; "Begitu
juga dengan engkau wahai Rasulullah?" beliau bersabda: "tidak juga
dengan diriku, kecuali bila Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya padaku,
oleh karena itu berlaku luruslah dan bertaqarublah dan janganlah salah seorang
dari kalian mengharapkan kematian, jika dia orang baik semoga saja bisa
menambah amal kebaikannya, dan jika dia orang yang buruk (akhlaknya) semoga
bisa menjadikannya dia bertaubat."
Seseorang dapat beramal baik karena rahmat Allah, orang yang bertakwa di tingkat rahmah, melakukan amal ibadah sebagai bentuk rasa syukurnya atas rahmat Allah yang telah dikaruniakan kepadanya, dengan demikian hakekatnya manusia dapat masuk surga karena rahmat Allah.
2.3. Allah Menyayangi Hamba-Nya Yang Saling Menyayangi
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 6279
tergambar bahwa pada saat Nabi keluar air matanya ketika cucunya meninggal,
bersabda: ini adalah tanda kasih sayang yang Allah letakkan di hati hamba-Nya
yang dikehendaki-Nya, hanyasanya Allah menyayangi hamba-Nya yang saling
menyayangi.;
حَدَّثَنَا
حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ أَخْبَرَنَا عَاصِمٌ الْأَحْوَلُ سَمِعْتُ
أَبَا عُثْمَانَ يُحَدِّثُ عَنْ أُسَامَةَ أَنَّ بِنْتًا لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْسَلَتْ إِلَيْهِ وَمَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ وَسَعْدٌ وَأُبَيٌّ أَنَّ
ابْنِي قَدْ احْتُضِرَ فَاشْهَدْنَا فَأَرْسَلَ يَقْرَأُ السَّلَامَ وَيَقُولُ
إِنَّ لِلَّهِ مَا أَخَذَ وَمَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ مُسَمًّى
فَلْتَصْبِرْ وَتَحْتَسِبْ فَأَرْسَلَتْ إِلَيْهِ تُقْسِمُ عَلَيْهِ فَقَامَ
وَقُمْنَا مَعَهُ فَلَمَّا قَعَدَ رُفِعَ إِلَيْهِ فَأَقْعَدَهُ فِي حَجْرِهِ
وَنَفْسُ الصَّبِيِّ جُئِّثُ فَفَاضَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ سَعْدٌ مَا هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هَذِهِ
رَحْمَةٌ يَضَعُهَا اللَّهُ فِي قُلُوبِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَإِنَّمَا
يَرْحَمُ اللَّهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ
[17]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Hafsh bin Umar] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] Telah mengabarkan kepada kami ['Ashim Al Ahwal] aku mendengar [Abu 'Utsman] menceritakan dari [Usamah], bahwa puteri Rasulullah ﷺ (Zaenab) mengutus utusan untuk menemui Rasulullah ﷺ, yang ketika itu Rasulullah ﷺ bersama Usamah bin Zaid, Sa'd, dan Ubai. Sang utusan menyampaikan pesan yang isinya; 'Anak laki-lakiku telah menghadapi saat-saat kematian, maka kunjungilah kami'. Nabi kemudian mengutus seseorang, menyampaikan salam dan mengatakan; "Milik Allah sematalah segala yang diambil-Nya dan yang diberikan-Nya, dan segala sesuatu disisi-Nya ada ketentuan ajal tersendiri, maka suruhlah dia untuk bersabar dan mengharap pahala." Lantas puteri Nabi mengutus utusan untuk kedua kalinya, dan puteri beliau menyertakan sumpah. Maka beliau berdiri dan kami pun berdiri bersamanya. Tatkala beliau sampai (dan beliau) telah duduk, anak laki-laki dari puteri beliau (cucunya) diangkat kepada beliau, dan beliau mendudukkan di pangkuannya, ketika itu cucu beliau nafasnya sudah tersengal-sengal. Kedua mata Rasulullah pun bercucuran. Maka Sa'd bertanya: 'Mengapa mata anda sampai bercucuran?" Nabi menjawab; "ini adalah tanda kasih sayang yang Allah letakkan di hati hamba-Nya yang dikehendaki-Nya, hanyasanya Allah menyayangi hamba-Nya yang saling menyayangi."
Di
dalam kitab shahih Bukhari hadits nomor 6829 dinyatakan bahwa Allah menyayangi
hamba-Nya yang penyayang
حَدَّثَنَا
أَبُو النُّعْمَانِ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ
عَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ قَالَ كُنَّا
عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ جَاءَهُ رَسُولُ
إِحْدَى بَنَاتِهِ يَدْعُوهُ إِلَى ابْنِهَا فِي الْمَوْتِ فَقَالَ النَّبِيُّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ارْجِعْ إِلَيْهَا فَأَخْبِرْهَا أَنَّ لِلَّهِ
مَا أَخَذَ وَلَهُ مَا أَعْطَى وَكُلُّ شَيْءٍ عِنْدَهُ بِأَجَلٍ مُسَمًّى
فَمُرْهَا فَلْتَصْبِرْ وَلْتَحْتَسِبْ فَأَعَادَتْ الرَّسُولَ أَنَّهَا قَدْ
أَقْسَمَتْ لَتَأْتِيَنَّهَا فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَقَامَ مَعَهُ سَعْدُ بْنُ عُبَادَةَ وَمُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ فَدُفِعَ
الصَّبِيُّ إِلَيْهِ وَنَفْسُهُ تَقَعْقَعُ كَأَنَّهَا فِي شَنٍّ فَفَاضَتْ
عَيْنَاهُ فَقَالَ لَهُ سَعْدٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذَا قَالَ هَذِهِ
رَحْمَةٌ جَعَلَهَا اللَّهُ فِي قُلُوبِ عِبَادِهِ وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللَّهُ
مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاءَ [18]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'man] telah menceritakan kepada kami [Hammad bin Zaid] dari ['Ashim Al ahwal] dari [Abu Utsman an Nahdi] dari [Usamah bin Zaid] berkata, "Kami di sisi Nabi ﷺ, lantas utusan salah seorang di antara kedua puteri beliau memanggilnya karena anak laki-lakinya diambang kematian. Lantas Nabi ﷺ bersabda kepada sang utusan: "Pulanglah engkau ke rumah anak puteriku, dan beritahukanlah kepadanya bahwa segala milik Allah-lah yang diambil-Nya dan apa yang diberikan-Nya, dan segala sesuatu di sisi-Nya telah ada ketentuan yang ditetapkan. Suruhlah dia untuk bersabar dan mengharap-harap pahala." Anak puteri beliau kembali mengutus utusannya disertai sumpah yang isinya, 'Anda harus mendatanginya.' Kontan Nabi ﷺ berdiri bersama Sa'd bin Ubadah dan Muadz bin Jabal, lalu anak kecil dari puteri beliau diserahkan beliau sedang nyawanya sudah tersengal-sengal seolah-olah sudah di penghujung (sisa-sia) hayatnya. Kedua mata Nabi terus berlinang, maka Sa'd bertanya, 'Wahai Rasulullah, mengapa mata anda menangis? ' Nabi ﷺ menjawab: "Inilah rahmat yang Allah letakkan dalam hati hamba-Nya, hanyasanya Allah menyayangi hamba-Nya yang penyayang."
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 1659
dinyatakan barang siapa menyambung silaturrahim maka Allah akan menyambungnya;
حَدَّثَنَا
يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا هِشَامٌ الدَّسْتُوَائِيُّ عَنْ يَحْيَى بْنِ
أَبِي كَثِيرٍ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَارِظٍ أَنَّ أَبَاهُ
حَدَّثَهُ أَنَّهُ دَخَلَ عَلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ وَهُوَ مَرِيضٌ
فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ وَصَلَتْكَ رَحِمٌ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَنَا الرَّحْمَنُ
خَلَقْتُ الرَّحِمَ وَشَقَقْتُ لَهَا مِنْ اسْمِي فَمَنْ يَصِلْهَا أَصِلْهُ
وَمَنْ يَقْطَعْهَا أَقْطَعْهُ فَأَبُتَّهُ أَوْ قَالَ مَنْ يَبُتَّهَا أَبُتَّهُ[19]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah memberitakan kepada kami
Hisyam Ad Dastuwa`i dari Yahya bin Abu Katsir dari Ibrahim bin Abdullah bin
Farizh bahwa bapaknya telah menceritakan kepadanya, bahwa dia menemui
Abdurrahman bin Auf ketika sedang sakit. Abdurrahman berkata kepadanya;
"ar rahim telah menyambungmu, Nabi ﷺ bersabda: "Allah 'azza wajalla
berfirman: 'Aku adalah Ar Rahman yang telah menciptakan rahim dan Aku jadikan
kata itu pecahan dari namaKu, barangsiapa yang menyambungnya maka Aku akan
menyambungnya, dan barangsiapa yang memutusnya maka Aku akan memutusnya dan
memotongnya." atau dalam riwayat lain Allah berfirman: "Barangsiapa
memotongnya maka aku akan memotongnya."
2.5. Surga Didekatkan Kepada Orang Yang Bertaqwa; Yang
Khasyah Dengan Yang Maha Rahman
Di dalam Al Quran Surat Qaf/ 50: 31-33 tergambar
bahwa surga didekatkan kepada orang yang bertaqwa; yang khasyah dengan yang
maha rahman;
وَأُزْلِفَتِ
الْجَنَّةُ لِلْمُتَّقِينَ غَيْرَ بَعِيدٍ, هَٰذَا مَا تُوعَدُونَ لِكُلِّ
أَوَّابٍ حَفِيظٍ, مَّنْ خَشِيَ الرَّحْمَٰنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ
مُّنِيبٍ
Artinya:
Dan didekatkannya surga itu kepada orang-orang yang bertakwa kepada
Tuhan--dengan menaati perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya--pada tempat yang
tidak jauh dari mereka. Ini adalah pahala yang dijanjikan Allah kepada
orang-orang yang kembali kepada-Nya dan memelihara syariat-Nya. Yaitu orang
yang takut kepada siksa Allah yang rahmat-Nya mencakup segala sesuatu, meskipun
ia tidak melihat-Nya. Dan di akhirat ia datang dengan hati yang bertobat.(QS.
Qaf/ 50: 31-33)
2.6. Orang Yang Khasyah Kepada Ar Rahman Diberi Ampunan
Dan Pahala Yang Besar
Di dalam Al Quran surat Yasin/ 36: 11 dinyatakan
bahwa orang yang khasyah kepada Ar Rahman diberi ampunan dan pahala yang besar;
إِنَّمَا
تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ
بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ
Artinya:
Sesungguhnya kamu hanya memberi peringatan kepada orang-orang yang mau
mengikuti peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah walaupun dia
tidak melihatnya. Maka berilah mereka kabar gembira dengan ampunan dan pahala
yang mulia.(QS. Yasin/ 36)
Khasyah kepada Ar-Rahaman merupakan bentuk
kesadaran bahwa Allah yang telah banyak memberikan kebaikan untuk dirinya dan
semesta alam, sehingga muncul kesadaran untuk menjadi hamba yang banyak
bersyukur kepada Ar-Rahman di dalam keadaan apapun.
Ibn Qayyim al-Jauziyah memandang khasyah sebagai
tingkat ketakutan tertinggi yang lahir bukan hanya dari kesadaran akan hukuman
Allah, tetapi dari pengenalan mendalam terhadap keagungan, kemuliaan, dan
kesempurnaan-Nya. Baginya, khasyah adalah perpaduan antara rasa takut, cinta,
dan pengagungan yang membuat seorang hamba merasa rendah di hadapan Allah dan
terdorong kuat untuk taat. Ibn Qayyim membedakan khasyah dari khauf, di mana
khasyah lebih bersifat ilmiah dan lembut, sedangkan khauf lebih umum dan sering
muncul dari kebodohan atau ketidaktahuan. Ia menegaskan bahwa khasyah merupakan
tanda kematangan hati dan menjadi salah satu karakter utama para nabi, ulama,
dan para salikin.[20]
2.7. Tidak Masuk Surga Kecuali Yang Saling Berkasih
Sayang
Di dalam kitab Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain
hadits nomor 7926 dinyatkan bahwa kalian tidak akan masuk surga hingga saling
berkasih-sayang;
حدثنا
أبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقوبَ، أَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ
بْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ، أَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي حَيْوَةُ، عَنِ ابْنِ
الْهَادِ، أَنَّ الْوَلِيدَ بْنَ أَبِي هِشَامٍ، حَدَّثَهُ عَنْ أَبِي مُوسَى
الْأَشْعَرِيِّ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ، قَالَ: «لَنْ تُؤْمِنُوا حَتَّى
تَحَابُّوا، أَفَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا تَحَابُّوا عَلَيْهِ؟». قَالُوا: بَلَى
يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ تَحَابُّوا، وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ حَتَّى تَرَاحَمُوا». قَالُوا: يَا
رَسُولَ اللهِ، كُلُّنَا رَحِيمٌ. قَالَ: «إِنَّهُ لَيْسَ بِرَحْمَةِ أَحَدِكُمْ،
وَلَكِنْ رَحْمَةُ الْعَامَّةِ رَحْمَةُ الْعَامَّةِ». [21]
Artinya: telah menceritakan kepada kami Abu Al Abas Muhammad ibnu Ya’qub, telah memberitakan kepada kami Muhammad ibnu Abdillah ibnu Abdul Hakam, telah memberitakan kepada kami ibnu Wahab, telah memberitakan kepada kami Hayat dari ibnul Hadi bahwasannya Al Walid ibnu Abi Hisyam bercerita kepadanya tentang Abi Musa Al Asy’ari RA: bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:Kalian tidak akan beriman hingga saling menyayangi, apakah kalian tidak suka Aku tunjukkan dengan apa kamu dapat saling suka, mereka berkata: kenapa tidak ya Rasulallah ﷺ, Rasulullah bersabda: Tebarkanlah salam diantara kalian nisaca kalian akan menjadi saling menyukai, demi jiwaku yang ada di Tangan-Nya Tidak akan masuk Surga hingga kalian saling menyayangi, mereka berkata: wahai Rasulullah kita semua penyayang, Rasulullah ﷺ bersabda: sesungguhnya bukan yang kasih sayang kepada seseorang di antara kalian, tetapi kasih sayang yang umum, kasih sayang yang umum.
2.8. Tidak Masuk Surga Kecuali Penyayang
Di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor
11110 dinyatakan bahwa kalian tidak akan masuk kecuali orang yang penyayang;
أَخْبَرَنَا
عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ، أَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ الصَّفَّارُ،
ثَنَا عَيَّاشٌ السُّكَّرِيُّ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ
الْمِصِّيصِيُّ لُوَيْنٌ، ثَنَا عَبْدُ الْمُؤْمِنُ السَّدُوسِيُّ، عَنْ أَخْشَنَ
السَّدُوسِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْكُمْ إِلَّا
رَحِيمٌ " قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، كُلُّنَا رَحِيمٌ. قَالَ: "
لَيْسَ رَحْمَةُ أَحَدِكُمْ نَفْسَهُ وَأَهْلَ بَيْتِهِ حَتَّى يَرْحَمَ النَّاسَ "[22]
Artinya: Telah memberitakan kepada kami Ali ibnu Ahmad ibnu ‘Abdan, telah memberitakan kepada kami Ahmad ibnu ‘Ubaid Ash Shafar, telah memberitakan kepada kami’Ayas As Sukari, telah memberitakan kepada kami Muhammad ibnu Sulaiman Al mishishi Luwain, telah memberitakan kepada kami ‘Abdul Mu’min As Sudusi, dari Ahsan As Sudusi dari Anas Ibnu Malik berkata: Bersabda Rasulullah ﷺ: Kalian tidak akan masuk Surga kecuali penyayang, mereka berkata: Kita semua penyayang, Rasulullah ﷺ bersabda; Bukanlah sesorang menyayang dirinya sendiri dan keluarganya, sehingga menyayang semua manusia.
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 20495
dinyatakan bahwa Barangsiapa selama di dunia memuliakan pemimpin (yang taat)
Allah Tabaraka wa Ta'ala, maka Allah akan memuliakannya pada hari Kiamat kelak;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مِهْرَانَ حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ
أَوْسٍ عَنْ زِيَادِ بْنِ كُسَيْبٍ الْعَدَوِيِّ عَنْ أَبِي بَكْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَكْرَمَ
سُلْطَانَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي الدُّنْيَا أَكْرَمَهُ اللَّهُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ وَمَنْ أَهَانَ سُلْطَانَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي
الدُّنْيَا أَهَانَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ[23]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakar, telah menceritakan kepada
kami Humaid bin Mihran, telah menceritakan kepada kami Sa'ad bin Aus dari Ziyad
bin Kusaib Al 'Adawi dari Abu Bakrah, dia berkata; "Aku mendengar
Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa selama di dunia memuliakan pemimpin
(yang taat) Allah Tabaraka wa Ta'ala, maka Allah akan memuliakannya pada hari
Kiamat kelak. Dan barangsiapa selama di dunia menghinakan pemimpin (yang taat)
Allah Tabaraka wa Ta'ala, maka Allah akan menghinakannya pada hari Kiamat
kelak."
2.10. Orang Yang Menyambung Silaturrahmi Dilapangkan Rizkinya
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 5985
dinyatakan Barangsiapa ingin dibentangkan pintu rezeki untuknya dan
dipanjangkan ajalnya hendaknya ia menyambung tali silaturrahmi;
حَدَّثَنِي
إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْنٍ قَالَ:
حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﵁ قَالَ:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ
وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ.»
[24]
Artinya:
Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Al Mundzir telah menceritakan kepada
kami Muhammad bin Ma'an dia berkata; telah menceritakan kepadaku Ayahku dari
Sa'id bin Abu Sa'id dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dia berkata; saya
mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa ingin
dibentangkan pintu rezeki untuknya dan dipanjangkan ajalnya hendaknya ia
menyambung tali silaturrahmi."
Di
dalam ayat-ayat Al Quran dan hadits nabi tergambar karakter orang yang rahmah,
yakni antara lian sebagai berikut;
3.1. Saling Berkasih Sayang Sesama Orang Beriman
Di dalam Al Quran Surat Al-Fath/ 48: 29,
digambarkan bahwa umat Muhammad tegas kepada orang kafir, kasih sayang di
antara mereka (orang-orang beriman);
مُحَمَّدٌ
رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ
بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ
وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ
مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ
شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ
الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا
وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Artinya:
Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah
keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu
lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridlaan-Nya,
tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah
sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu
seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman
itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman
itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati
orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan
kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka
ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Fath/ 48: 29)
3.2. Barangsiapa Tidak Mengasihi Maka Ia Tidak Akan
Dikasihi
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 5538
ditegaskan bahwa Barangsiapa tidak mengasihi maka ia tidak akan dikasihi;
حَدَّثَنَا
أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ حَدَّثَنَا أَبُو
سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
قَالَ قَبَّلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنَ بْنَ
عَلِيٍّ وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ جَالِسًا فَقَالَ
الْأَقْرَعُ إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنْ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا
فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ
مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ [25]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami
Syu'aib dari Az Zuhri telah menceritakan kepada kami Abu Salamah bin
Abdurrahman bahwa Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; "Rasulullah ﷺ pernah
mencium Al Hasan bin Ali sedangkan disamping beliau ada Al Aqra' bin Habis At
Tamimi sedang duduk, lalu Aqra' berkata; "Sesungguhnya aku memiliki
sepuluh orang anak, namun aku tidak pernah mencium mereka sekali pun, maka
Rasulullah ﷺ memandangnya dan bersabda: "Barangsiapa tidak mengasihi
maka ia tidak akan dikasihi."
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 6011,
disebutkan bahwa Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling
mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh yang sakit, maka
seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas;
حَدَّثَنَا
أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ
سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ
وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ
جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى [26]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim(1) telah menceritakan kepada kami
Zakariya`(2) dari 'Amir(3) dia berkata; saya mendengar An Nu'man bin Basyir(4)
berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Kamu akan
melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan
menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang
sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan
sakitnya)."
3.4. Siapa Yang Tidak Bersyukur Kepada Manusia, Berarti
Ia Belum Bersyukur Kepada Allah
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 1878
dinyatakan Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, berarti ia belum
bersyukur kepada Allah;
حَدَّثَنَا
هَنَّادٌ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى ح و حَدَّثَنَا
سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
الرُّوَاسِيُّ عَنْ ابْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ لَمْ يَشْكُرْ
النَّاسَ لَمْ يَشْكُرْ اللَّهَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
وَالْأَشْعَثِ بْنِ قَيْسٍ وَالنُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا
حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ [27]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Hannad, telah menceritakan kepada kami Abu
Mu'awiyah dari Ibnu Abu Laila (dalam riwayat lain). Dan telah menceritakan
kepada kami Sufyan bin Waki', telah menceritakan kepada kami Humaid bin
Abdurrahman Ar Ruwasi dari Ibnu Abu Laila dari Athiyyah dari Abu Sa'id ia
berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Siapa yang tidak bersyukur
kepada manusia, berarti ia belum bersyukur kepada Allah." Hadits semakna
juga diriwyakan dari Abu Hurairah, Al Asy'ats bin Qais dan An Nu'man bin Basyir.
Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan shahih.
3.5. Jadilah Kalian Hamba-Hamba Allah Yang Saling
Bersaudara
Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 3849
dinyatakan janganlah kaling saling hasad, jangan saling membenci, jangan saling
memutus hubungan dan jangan saling bermusuhan, dan jadilah kalian hamba-hamba
Allah yang bersaudara;
حَدَّثَنَا
أَبُو بَكْرٍ وَعَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَا حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ
قَالَ سَمِعْتُ شُعْبَةَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ خُمَيْرٍ قَالَ سَمِعْتُ سُلَيْمَ بْنَ
عَامِرٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَوْسَطَ بْنِ إِسْمَعِيلَ الْبَجَلِيِّ أَنَّهُ سَمِعَ
أَبَا بَكْرٍ حِينَ قُبِضَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَامَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَقَامِي هَذَا عَامَ
الْأَوَّلِ ثُمَّ بَكَى أَبُو بَكْرٍ ثُمَّ قَالَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ
فَإِنَّهُ مَعَ الْبِرِّ وَهُمَا فِي الْجَنَّةِ وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ
فَإِنَّهُ مَعَ الْفُجُورِ وَهُمَا فِي النَّارِ وَسَلُوا اللَّهَ الْمُعَافَاةَ
فَإِنَّهُ لَمْ يُؤْتَ أَحَدٌ بَعْدَ الْيَقِينِ خَيْرًا مِنْ الْمُعَافَاةِ وَلَا
تَحَاسَدُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَقَاطَعُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَكُونُوا
عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا [28]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar dan Ali bin Muhammad keduanya berkata;
telah menceritakan kepada kami 'Ubaid bin Sa'id dia berkata; saya mendengar
Syu'bah dari Yazid bin Khumair dia berkata; saya mendengar Sulaim bin 'Amir
bercerita dari Ausath bin Isma'il Al Bajali bahwa dia mendengar Abu Bakar
ketika Nabi ﷺ meninggal dunia, katanya; "Rasulullah ﷺ telah
berdiri di tempat berdiriku ini pada tahun pertama." -kemudian dia
menangis- dia melanjutkan; "Kalian harus berlaku jujur, karena sesungguhnya
kejujuran bersama dengan kebaikan, dan keduanya berada di surga. Janganlah
kalian berdusta, karena sesungguhnya kedustaan bersama dengan kejahatan, dan
kedua-duanya berada di neraka. Memintalah kalian kepada Allah ampunan,
sesungguhnya ia tidak di berikan kepada seseorang setelah keyakinan yang lebih
baik daripada pengampunan, dan janganlah kalian saling hasad, jangan saling
membenci, jangan saling memutus hubungan dan jangan saling bermusuhan, dan
jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara."
3.6. Tidak Termasuk Ummatku Orang Yang Tidak
Menghormati Yang Lebih Tua, Tidak Mengasihi Yang Lebih Muda Dan Tidak Pula
Mengerti Hak Seorang Yang Alim
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22755 dinyatakan bahwa Tidak termasuk ummatku
orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak mengasihi yang lebih muda
dan tidak pula mengerti hak seorang yang alim;
حَدَّثَنَا هَارُونُ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ
حَدَّثَنِي مَالِكُ بْنُ الْخَيْرِ الزِّيَادِيُّ عَنْ أَبِي قَبِيلٍ
الْمَعَافِرِيِّ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا وَيَرْحَمْ
صَغِيرَنَا وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ قَالَ عَبْد اللَّهِ وَسَمِعْتُهُ
أَنَا مِنْ هَارُونَ [29]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami
Harun telah bercerita kepada kami Ibnu Wahb telah bercerita kepadaku Malik bin
Al Khair Az Ziyadi dari Abu Qobil Al Ma'afiri dari 'Ubadah bin Ash Shamit bahwa
Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak termasuk ummatku
orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak mengasihi yang lebih muda
dan tidak pula mengerti hak seorang yang alim." 'Abdullah berkata: Saya
mendengarnya dari Harun.
Di
dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad hadits nomor 363 dinyatakan Bukan termasuk
golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda di antara kami, dan
tidak mengetahui hak orang yang lebih tua di antara kami;
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ
اللَّهِ، حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي الزِّنَادِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ
الْحَارِثِ، عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا،
وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرِنَا» [30]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami
‘Abdul ‘Azīz bin ‘Abdillāh; ia berkata: telah menceritakan kepadaku Ibnu Abī
al-Zinād; dari ‘Abdurraḥmān bin al-Ḥārith;
dari ‘Amr bin Syu‘aib; dari ayahnya; dari kakeknya, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:“Bukan termasuk golongan kami orang yang
tidak menyayangi yang lebih muda di antara kami, dan tidak mengetahui hak orang
yang lebih tua di antara kami.”
Di
dalam kitab Al-Mu’jam Al-Ausath hadits nomor 4812 dinyatakan bahwa Bukan
termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua di
antara kami, tidak menyayangi yang lebih muda di antara kami
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
جَحْشٍ قَالَ: نَا جُنَادَةُ بْنُ مَرْوَانَ قَالَ: نَا الْحَارِثُ بْنُ
النُّعْمَانِ قَالَ: سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ، يَقُولُ: قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ ﷺ: «لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ
صَغِيرَنَا، وَيُؤَاخِي فِينَا وَيَزُورُ [31] »
Arinya: Telah menceritakan kepada kami
‘Ubayd bin ‘Abdillāh bin Jaḥsy; ia berkata: telah menceritakan kepada
kami Junādah bin Marwān; ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Ḥārith
bin al-Nu‘mān; ia berkata: aku mendengar Anas bin Mālik berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:“Bukan
termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua di
antara kami, tidak menyayangi yang lebih muda di antara kami, tidak menjalin
persaudaraan di antara kami, dan tidak saling berkunjung.”
3.7. Saling Menyayangi Dengan Berjabat Tangan
Di
dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 1220 digambarkan untuk saling
menghormati dan menyayangi dengan cara berjabat tangan;
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا
وَكِيعٌ عَنْ جَرِيرِ بْنِ حَازِمٍ عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
السَّدُوسِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيَنْحَنِي
بَعْضُنَا لِبَعْضٍ قَالَ لَا قُلْنَا أَيُعَانِقُ بَعْضُنَا بَعْضًا قَالَ لَا
وَلَكِنْ تَصَافَحُوا [32]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Muhammad telah menceritakan kepada kami Waki' dari Jarir bin Hazim dari Hanzhalah bin Abdurrahman As Sadusi dari Anas bin Malik dia berkata, "Kami berkata, "Wahai Rasulullah, apakah sebagian kami harus membungkuk kepada sebagian yang lain?" Beliau ﷺ menjawab: "Tidak." Kami bertanya lagi, "Apakah sebagian kami boleh memeluk sebagian yang lain?" Beliau ﷺ menjawab: "Tidak, akan tetapi saling berjabat tanganlah kalian."
Selain
itu di dalam kitab Muwatho Imam Malik hadits nomor 16 digambarkan bahwa
berjabat tangan akan menghilangkan kedengkian, dan saling memberi hadiah,
niscaya akan saling mencintai dan menghilanglah permusuhan;
و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي
مُسْلِمٍ عَبْدِ اللَّهِ الْخُرَاسَانِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَصَافَحُوا يَذْهَبْ الْغِلُّ وَتَهَادَوْا
تَحَابُّوا وَتَذْهَبْ الشَّحْنَاءُ [33]
Artinya: Telah menceritakan kepadaku
Malik dari 'Atha bin Abu Muslim Abdullah Al Khurasani berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Hendaklah kalian saling
berjabat tangan, niscaya maka akan hilanglah kedengkian. Hendaklah kalian
saling memberi hadiah, niscaya akan saling mencintai dan menghilanglah
permusuhan."
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 7816 dinyatakan perintah untuk
menyempurnakan wudhu sehingga Allah menyayanginya;
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا
مَعْمَرٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ قَالَ رَأَيْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ مَرَّ
بِقَوْمٍ يَتَوَضَّئُونَ مِنْ مَطْهَرَةٍ فَقَالَ أَحْسِنُوا الْوُضُوءَ
يَرْحَمْكُمْ اللَّهُ أَلَمْ تَسْمَعُوا مَا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيْلٌ لِلْأَعْقَابِ مِنْ النَّارِ [34]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami
Abdurrazzaq telah menceritakan kepada kami Ma'mar dari Muhammad bin Ziyad
berkata: aku melihat Abu Hurairah melewati suatu kaum yang sedang berwudlu dari
bejana, maka ia pun berkata; "Sempurnakanlah wudlu kalian maka Allah akan
menyayangi kalian, tidakkah kalian dengar apa yang dikatakan oleh Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: "celaka tumit-tumit yang
tidak terbasuh oleh air wudlu akan masuk neraka."
3.9. Mengharapkan Rahmat-Nya Dan Takut Akan Azab-Nya
Di
dalam Al Quran Surat Al-Israa/ 17: 57, dijelaskan mereka sendiri mencari jalan
kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan
mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya;
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ
إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ
وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ ۚ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا
Artinya: Orang-orang yang mereka seru
itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka
yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan
azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti.(QS.
Al-Israa/ 17: 57)
3.10. Menyadari Bahwa Al Quran Adalah Rahmat Allah
Di dalam Al Quran surat Al-A'raf/ 7: 52 dinyatakan
bahwa kitab Al Quran merupakan petunjuk dan rahmat bagi orang beriman;
وَلَقَدْ
جِئْنَاهُمْ بِكِتَابٍ فَصَّلْنَاهُ عَلَى عِلْمٍ هُدًى وَرَحْمَةً لِقَوْمٍ
يُؤْمِنُونَ
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka
yang Kami telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk
dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.
3.11. Suka Mendengar Atau Membaca Hadits Rasulullah Kemudian Menyampaikan-nya
kepada Orang Lain
Di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban 835 digambarkan
doa Nabi Muhammad SAW, Semoga Allah merahmati orang yang mendengar suatu hadis
dariku kemudian menyampaikannya sebagaimana yang didengar;
أَخْبَرَنَا
الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ صَالِحٍ، قَالَ:
حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا شَيْبَانُ، قَالَ:
حَدَّثَنِي سِمَاكُ بْنُ حَرْبٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَبْدِ اللهِ، عَنْ
أَبِيهِ ابْنِ مَسْعُودٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
قَالَ: رَحِمَ اللَّهُ مَنْ سَمِعَ مِنِّي حَدِيثًا فَبَلَّغَهُ كَمَا سَمِعَهُ،
فَرُبَّ مُبَلَّغٍ أَوْعَى لَهُ مِنْ سَامِعٍ. [35]
Artinya:
Hasan bin Sufyan mengabarkan kepada kami, dia berkata: Shafwan bin Shalah
menceritakan kepada kami, dia berkata: Al Walid bin Muslim menceritakan kepada
kami, dia berkata: Syaiban menceritakan kepada kami, dia berkata: Simak bin
Harb menceritakan kepada kami, dari Abdurrahman bin Abdul lah, dari ayahnya,
Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah ﷺ bersabda,
“Semoga Allah merahmati orang yang mendengar suatu hadis dariku kemudian
menyampaikannya sebagaimana yang didengar, berapa banyak orang yang disampaikan
(hadis) lebih memahami dari pada orang yang mendengar."
3.12. Bertanya Adalah Pintu Ilmu, Bertanyalah Allah Merahmatimu
Di dalam kitab Hilyatul Aulia 4147 dinyatakan
bahwa ilmu adalah perbendaharaan dan kuncinya adalah bertanya, maka bertanyalah
Allah merahmatimu
حَدَّثَنَا
يُوسُفُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُوسَى السَّهْمِيُّ الْجُرْجَانِيُّ، ثَنَا
عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ الْقَزْوِينِيُّ، ثَنَا دَاوُدُ بْنُ سُلَيْمَانَ
الْقَزَّازُ، ثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُوسَى الرِّضَا، حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ أَبِيهِ
جَعْفَرٍ عَنْ أَبِيهِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ أَبِيهِ الْحُسَيْنِ بْنِ
عَلِيٍّ، عَنْ أَبِيهِ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى
عَنْهُمْ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "
الْعِلْمُ خَزَائِنُ وَمِفْتَاحُهَا السُّؤَالُ، فَاسْأَلُوا يَرْحَمْكُمُ اللهُ،
فَإِنَّهُ يُؤْجَرُ فِيهِ أَرْبَعَةٌ: السَّائِلُ وَالْمُعَلِّمُ وَالْمُسْتَمِعُ
وَالْمُجِيبُ لَهُمْ ". هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ لَمْ
نَكْتُبْهُ إِلَّا بِهَذَا الْإِسْنَادِ قَالَ الشَّيْخُ أَبُو نُعَيْمٍ رَحِمَهُ
اللهُ: يُتْبَعُ جَعْفَرٌ بِأَبِيهِ وَإِنْ تَأَخَّرَتْ طَبَقَتُهُ عَنِ
الْمَذُكُورِينَ إِلْحَاقًا لِلْفَرْعِ بِالْأَصْلِ، وَإِشْفَاقًا مِنَ الْقَطْعِ
وَالْوَصْلِ [36]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Ibrahim ibnu Musa As Sahmi Al
Jurjani, telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Muhammad Al Qazwini, telah
menceritakan kepada kami Daud ibnu Sulaiman Al Qazazu, telah menceritakan
kepada kami Ali ibnu Musa Ar Ridha, telah menceritakan kepada kami Ayahku, dari
ayahnya Ja’far dari Ayahnya Muhammad ibnu Ali dari Ayahnya Al Husain ibnu Ali,
dari Ayahnya Ali ibnu Abi Thalib RA, berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Ilmu
merupakan perbendaharaan, kuncinya adalah pertanyaan, maka bertanyalah Allah
merahmatimu, karena sesungguhnya bertanya di dalamnya memberikan pahala bagi
empat orang: orang yang bertanya, orang yang mengajar, orang yang mendengar dan
orang yang menjawabnya”. Hadits Gharib, kami tidak menuliskannya kecuali dengan
sanad ini, Abu Nuaim Mengatakan Ja’far diikutu Ayahnya, jika waktunya lebih
akhir dari yang disebutkan cabang mengikuti pokoknya, dan sebagai
kehati-hatian antara terputus dan
tersambung.
3.13. Berdoa Mohon Dibukakan Pintu Rahmat
Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 713
disebutkan doa Ya Allah, bukalah pintu-pintu rahmat-Mu;
حَدَّثَنَا
يَحْيَى بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ
أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ
أَوْ عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي
أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ وَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ
مِنْ فَضْلِكَ قَالَ مُسْلِم سَمِعْتُ يَحْيَى بْنَ يَحْيَى يَقُولُ كَتَبْتُ
هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ كِتَابِ سُلَيْمَانَ بْنِ بِلَالٍ قَالَ بَلَغَنِي أَنَّ
يَحْيَى الْحِمَّانِيَّ يَقُولُا وَأَبِي أُسَيْدٍ و حَدَّثَنَا حَامِدُ بْنُ
عُمَرَ الْبَكْرَاوِيُّ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ حَدَّثَنَا عُمَارَةُ
بْنُ غَزِيَّةَ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَبْدِ
الْمَلِكِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ سُوَيْدٍ الْأَنْصَارِيِّ عَنْ أَبِي حُمَيْدٍ أَوْ
عَنْ أَبِي أُسَيْدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
بِمِثْلِهِ [37]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Yahya telah mengabarkan kepada kami
Sulaiman bin Bilal dari Rabi'ah bin Abdurrahman dari Abdul Malik bin Sa'id dari
Abu Humaid atau dari Abu Usaid katanya; Rasulullah ﷺ bersabda: "jika salah seorang diantara kalin masuk masjid, bacalah doa
Allaahummaftah Lii Abwaaba Rahmatika (Ya Allah, bukalah pintu-pintu
rahmat-Mu)." Dan apabila keluar, hendaknya ia membaca doa Allaahumma Innii
As`Aluka Min Fadhlika (Ya Allah, aku meminta kurnia-Mu)." Muslim berkata;
Aku mendengar Yahya bin Yahya mengatakan; "Aku menulis hadis ini dari
kitab Sulaiman bin Bilal, katanya; telah sampai berita kepadaku bahwa Yahya Al
Himmani mengatakan; dan Abu Usaid, telah menceritakan kepada kami Hamid bin
Umar Al Bakrawi telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Al Mufadlal telah
menceritakan kepada kami 'Umarah bin Ghaziyyah dari Rabi'ah bin Abdurrahman
dari Abdul Malik bin Sa'id bin Suwaid Al Anshari dari Abu Humaid atau Abu Usaid
dari Nabi ﷺ seperti hadits ini.
3.14. Berdoa Ya Allah, Rahmatilah Mereka, Ampunilah Mereka
Di dalam kitab Al-Sunan Al-Kubra hadits nomor
10053 disebutkan doa Ya Allah, rahmatilah mereka, ampunilah mereka
أَخْبَرَنِي
زِيَادُ بْنُ أَيُّوبَ قَالَ: حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ قَالَ: أَخْبَرَنَا هِشَامُ
بْنُ يُوسُفَ قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ بُسْرٍ يُحَدِّثُ: أَنَّ أَبَاهُ،
صَنَعَ لِلنَّبِيِّ ﷺ طَعَامًا فَدَعَاهُ فَأَجَابَهُ، فَلَمَّا فَرَغَ قَالَ: «اللهُمَّ
ارْحَمْهُمْ فَاغْفِرْ لَهُمْ، وَبَارِكْ لَهُمْ فِيمَا رَزَقْتَهُمْ»[38]
Artinya:
Diriwayatkan oleh Ziyād bin Ayyūb, ia berkata: telah menceritakan kepada
kami Hushaym, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Hisyām bin Yūsuf, ia
berkata: aku mendengar ‘Abdullāh bin Busr menyampaikan bahwa ayahnya membuatkan
makanan untuk Nabi ﷺ lalu mengundang beliau, maka beliau pun
memenuhi undangannya. Ketika beliau selesai (makan), beliau berdoa: “Allahumma
irhamhum faghfir lahum, wa bārik lahum fīmā razaqtahum.” Artinya: “Ya
Allah, rahmatilah mereka, ampunilah mereka, dan berkahilah bagi mereka apa yang
Engkau rezekikan kepada mereka.”
Mengikuti kitab Al
Quran dengan rasa syukur atas diturunkannya Al Quran sebagai berkah, merupakan
bentuk ketaqwaan di tingkat rahmah. Hal
ini didasari Al Quran Surat Al-An'am/6:155, di dalamnya ditegaskan bahwa Al
Quran yang diturunkan dengan penuh berkah untuk diikuti dan ditaqwai agar dapat
memperoleh rahmat Allah;
وَهٰذَا
كِتٰبٌ اَنْزَلْنٰهُ مُبٰرَكٌ فَاتَّبِعُوْهُ وَاتَّقُوْا لَعَلَّكُمْ
تُرْحَمُوْنَۙ
Artinya:
Dan ini adalah Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan dengan penuh berkah.
Ikutilah, dan bertakwalah agar kamu mendapat rahmat, (QS. Al-An'am/6:155)
Di dalam Al Quran surat Ali-'Imran (3): 123
disebutkan perintah untuk bertaqwa kepada Allah, supaya dapat bersyukur;
وَلَقَدْ
نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ
تَشْكُرُونَ
Artinya:
Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah
(ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah,
supaya kamu mensyukuri-Nya.
Taqwa di tingkat Rahmah ditandai dengan pandai
mensyukuri nikmat yang diberikan Allah SWT, di dalam ayat 123 surat Ali Imran
digambarkan bahwa pasukan Muslim dalam perang Badar merupakan pasukan yang
jumlahnya sedikit dan lemah tetapi dapat mengalahkan pasukan Musyrik yang
jumlahnya lebih banyak dan kuat, kemenangan tersebut harus diakui dan disadari
dapat terjadi berkat pertolongan dan rahmat Allah, sehingga atas pertolongan
tersebut diperintahkan untuk bertaqwa kepada Allah agar bersyukur, sebagai bentuk
ketaqwaan di tingkat Rahmah; berterimakasih kepada Allah atas rahmat
pertolongan Allah diberikan kemenangan.
Sedangkan di dalam Al Quran Surat Al-A'raf/7:63
juga dijelaskan bahwa Al Quran yang dirunkan kepada Rasulullah SAW digunakan
sebagai peringatan; pelajaran untuk ditaqwai, agar dapat memperoleh rahmat
Allah;
اَوَعَجِبْتُمْ
اَنْ جَاۤءَكُمْ ذِكْرٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ عَلٰى رَجُلٍ مِّنْكُمْ لِيُنْذِرَكُمْ
وَلِتَتَّقُوْا وَلَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
Artinya:
Dan herankah kamu bahwa ada peringatan yang datang dari Tuhanmu melalui seorang
laki-laki dari kalanganmu sendiri, untuk memberi peringatan kepadamu dan agar
kamu bertakwa, sehingga kamu mendapat rahmat? (QS. Al-A'raf/7:63)
Bersyukur atas diturunkannya Al Quran kepada
seorang Rasul untuk menjadi peringatan baginya, merupakan bentuk ketaqwaan di
level rahmah. Sedangkan di dalam kitab Musnad Ahmad Hadis No. 23171 disebutkan
perintah hendaklah kamu bertakwa kepada Allah Azzawajalla dan berkasih
sayanglah;
حَدَّثَنَا
ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا شَرِيكٌ عَنِ الْمِقْدَامِ بْنِ شُرَيْحٍ الْحَارِثِيِّ
عَنْ أَبِيهِ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ هَلْ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْدُو قَالَتْ نَعَمْ كَانَ يَبْدُو إِلَى هَذِهِ التِّلَاعِ
فَأَرَادَ الْبَدَاوَةَ مَرَّةً فَأَرْسَلَ إِلَى نَعَمٍ مِنْ إِبِلِ الصَّدَقَةِ
فَأَعْطَانِي مِنْهَا نَاقَةً مُحَزَّمَةً ثُمَّ قَالَ لِي يَا عَائِشَةُ عَلَيْكِ
بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالرِّفْقِ فَإِنَّ الرِّفْقَ لَمْ يَكُ فِي
شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا زَانَهُ وَلَمْ يُنْزَعْ مِنْ شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا شَانَهُ [39]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair Telah menceritakan kepada kami
Syarik dari Miqdam bin Syuraih Al-Haritsi dari ayahnya berkata: Saya berkata
kepada Aisyah: "Apakah Nabi ﷺ pernah pergi
menemui orang-orang arab pedalaman?" dia menjawab: "Ya, beliau pernah
pergi ke sebuah bukit. Suatu kali beliau pergi ke bukit, lantas mengutus
seseorang menemui unta-unta sedekah, kemudian beliau memberiku satu onta betina
yang terikat dari unta yang ada." Kemudian beliau bersabda kepadaku:
"Wahai Aisyah, hendaklah kamu bertakwa kepada Allah Azzawajalla dan
berkasih sayanglah. Karena tidaklah kasih sayang itu ada pada seseorang
melainkan ia akan menghiasinya dan tidaklah dicabutnya kasih sayang darinya
kecuali akan menghinakannya."
Di hadits ini perintah taqwa berdampingan dengan
kasih sayang, yang dapat dipahami sebagai bentuk taqwa di tingkat Rahmah, Adapun
bentuk-bentuk ketaqwaan di level rahmah yang lainnya adalah sebagai berikut:
4.1. Saling Menasehati Dalam Kesabaran Dan Kasih Sayang
Di dalam Al Quran surat Al-Balad/ 90: 17-18
digambarkan bahwa orang-orang yang beriman dan saling berpesan untuk bersabar
dan saling berpesan untuk berkasih sayang, adalah golongan kanan;
ثُمَّ
كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا
بِالْمَرْحَمَةِ, أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ
Artinya:
Dan dia (tidak pula) termasuk orang-orang yang beriman dan saling berpesan
untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang, adalah golongan
kanan.(QS. Al-Balad/ 90: 17-18)
4.2. Rasa Kasih Sayang Dalam Hati-Nya
Di dalam Al Quran Surat Maryam/ 19: 96 digambarkan
bahwa Allah menanamkan rasa kasih sayang dalam jiwa orang beriman;
إِنَّ
الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَٰنُ
وُدًّا
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha
Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang. (HR. Maryam/ 19:
96).
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 1492
digambarkan bahwa seorang mukmin jika dia mendapatkan kebaikan, dia memuji
Allah dan bersyukur, jika mendapatkan musibah dia memuji Allah dan bersabar
حَدَّثَنَا
عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَنْبَأَنَا مَعْمَرٌ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنِ الْعَيْزَارِ
بْنِ حُرَيْثٍ عَنْ عُمَرَ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجِبْتُ لِلْمُؤْمِنِ
إِذَا أَصَابَهُ خَيْرٌ حَمِدَ اللَّهَ وَشَكَرَ وَإِنْ أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ
حَمِدَ اللَّهَ وَصَبَرَ فَالْمُؤْمِنُ يُؤْجَرُ فِي كُلِّ أَمْرِهِ حَتَّى
يُؤْجَرَ فِي اللُّقْمَةِ يَرْفَعُهَا إِلَى فِي امْرَأَتِهِ [40]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq telah memberitakan kepada kami
Ma'mar dari Abu Ishaq dari Al 'Aizar bin Huraits dari Umar bin Sa'd bin Abu
Waqqash dari bapaknya berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Aku kagum dengan seorang
mukmin. Jika dia mendapatkan kebaikan, dia memuji Allah dan bersyukur, jika
mendapatkan musibah dia memuji Allah dan bersabar. Orang mukmin akan diberi
pahala pada setiap urusannya sampai suapan makanan yang dia angkat ke mulut
istrinya."
4.4. Jika Ingin Mengetahui Besarnya Nikmat Allah Adalah
Dengan Cara Memejamkan Mata
Adapun di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi hadits
nomor 4151 digambarkan bahwa untuk mengetahui besarnya nikmat Allah adalah
dengan cara memejamkan mata;
- أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عُبَيْدِ
اللهِ الْحرَفيِّ، أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ سَلْمَانَ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ
بْنُ أَبِي الدُّنْيَا، حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ رَاشِدٍ، حَدَّثَنَا أَبُو
رَبِيعَةَ، حَدَّثَنَا أَبُو غِيَاثٍ، قَالَ: سَمِعْتُ بَكْرَ بْنَ عَبْدِ اللهِ
الْمُزَنِيَّ، يَقُولُ: " يَا ابْنَ آدَمَ إِنْ أَرَدْتَ أن تَعْلَمَ قَدْرَ
مَا أَنْعَمَ اللهُ عَلَيْكَ فَغَمِّضْ عَيْنَيْكَ
[41]
"
Artinya:
Telah mengabarkan kepada kami ‘Abdurrahman ibnu ‘Ubaidillah Al Harafi, telah
mengabarkan kepada kami Ahmad ibnu Salman, telah menceriterakan kepada kami
Abdullah ibnu Abi Dunya, telah menceriterakan kepada kami Ibrahim ibnu Rasyid,
telah menceriterakan kepada kami Abu Rabi’ah, telah menceriterakan kepada kami
Abu Ghiyas berkata: Wahai anak adam jika engkau ingin mengetahui ukuran
keni’matan Allah kepadamu, maka pejamkanlah matamu.
Karena dengan memejamkan mata akan dapat merasakan
besarnaya nikmat yang telah diberikan Allah, yang melekat dalam tubuh manusia,
seperti; melihat, mendengar, berdegupnya jantung secara otomatis, keluar
masuknya nafas melalui hidung, dll.
4.5. Suka Menjadi Hamba Yang Bersyukur
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 4837
digambarkan ketika Rasulullah shalat malam hingga kakinya bengkak, ditanya
bunda A’isyah RA, beliau menjawab: Apakah aku tidak suka jika menjadi hamba
yang bersyukur;
حَدَّثَنَا
الْحَسَنُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَحْيَى
أَخْبَرَنَا حَيْوَةُ عَنْ أَبِي الْأَسْوَدِ سَمِعَ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
كَانَ يَقُومُ مِنْ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ فَقَالَتْ عَائِشَةُ
لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَقَدْ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ مَا
تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ قَالَ أَفَلَا أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ
عَبْدًا شَكُورًا فَلَمَّا كَثُرَ لَحْمُهُ صَلَّى جَالِسًا فَإِذَا أَرَادَ أَنْ
يَرْكَعَ قَامَ فَقَرَأَ ثُمَّ رَكَعَ [42]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin Abdul Aziz Telah menceritakan
kepada kami Abdullah bin Yahya Telah mengabarkan kepada kami Haiwah dari Abu Al
Aswad dia mendengar Urwah dari Aisyah radliallahu 'anha bahwa Nabi ﷺ melaksanakan shalat malam hingga kaki beliau bengkak-bengkak. Aisyah berkata:
Wahai Rasulullah, kenapa Anda melakukan ini padahal Allah telah mengampuni dosa
anda yang telah berlalu dan yang akan datang? Beliau bersabda: "Apakah aku
tidak suka jika menjadi hamba yang bersyukur?" Dan tatkala beliau gemuk,
beliau shalat sambil duduk, apabila beliau hendak ruku' maka beliau berdiri
kemudian membaca beberapa ayat lalu ruku.'
4.6. Boleh Memilki Kekayaan Dan Kesehatan Bagi Orang
Yang Bertaqwa
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22076
dinyatakan bahwa tidak apa-apa dengan kekayaan bagi orang yang bertakwa kepada
Allah 'azza wajalla dan kesehatan bagi orang yang bertakwa (digunakan untuk
ketakwaan; kebaikan; bersyukur);
حَدَّثَنَا
أَبُو عَامِرٍ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
أَبِي سُلَيْمَانَ مَدِينِيٌّ حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
خُبَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَمِّهِ قَالَ كُنَّا فِي مَجْلِسٍ فَطَلَعَ عَلَيْنَا
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى رَأْسِهِ أَثَرُ مَاءٍ
فَقُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَرَاكَ طَيِّبَ النَّفْسِ قَالَ أَجَلْ قَالَ
ثُمَّ خَاضَ الْقَوْمُ فِي ذِكْرِ الْغِنَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا بَأْسَ بِالْغِنَى لِمَنْ اتَّقَى اللَّهَ عَزَّ
وَجَلَّ وَالصِّحَّةُ لِمَنْ اتَّقَى اللَّهَ خَيْرٌ مِنْ الْغِنَى وَطِيبُ
النَّفْسِ مِنْ النِّعَمِ
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abu 'Amir 'Abdul Malik bin 'Amru telah
menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Abu Sulaiman Madini telah menceritakan
kepada kami Mu'adz bin 'Abdullah bin Hubaib dari ayahnya dari pamannya berkata;
Kami berada disuatu majlis kemudian Rasulullah ﷺ datang, di rambut beliau ada sisa-sisa air, kami berkata; Wahai Rasulullah!
Kami melihat Baginda sedang bahagia. Rasulullah ﷺ bersabda: "Benar." Kemudian orang-orang memperbincangkan kekayaan.
Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak apa-apa dengan
kekayaan bagi orang yang bertakwa kepada Allah 'azza wajalla dan kesehatan bagi
orang yang bertakwa kepada Allah itu lebih baik dan kebahagiaan jiwa itu termasuk
kenikmatan."
4.7. Tidak Berpaling Dari Mengingat Allah Yang Maha
Rahman
Di dalam Al Quran surat Az-Zukhruf / 43: 36
dinyatakan bahwa barang siapa yang lupa dari mengingat Allah Yang Maha Rahman,
akan menjadi teman syetan;
وَمَنْ
يَعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمَنِ نُقَيِّضْ لَهُ شَيْطَانًا فَهُوَ لَهُ قَرِينٌ
Artinya:
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Al Quran),
kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah yang menjadi
teman yang selalu menyertainya. (QS. Az-Zukhruf / 43: 36)
Sedangkan di dalam Al Quran surat Al-Anbiya'/ 21:
36 digambarkan sebaliknya bahwa orang kafir ingkar dari mengingat Allah Yang
Maha Pemurah;
وَإِذَا
رَآكَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِنْ يَتَّخِذُونَكَ إِلَّا هُزُوًا أَهَذَا الَّذِي
يَذْكُرُ آلِهَتَكُمْ وَهُمْ بِذِكْرِ الرَّحْمَنِ هُمْ كَافِرُونَ
Artinya:
Dan apahila orang-orang kafir itu melihat kamu, mereka hanya membuat kamu
menjadi olok-olok. (Mereka mengatakan): "Apakah ini orang yang mencela
tuhan-tuhan-mu?", padahal mereka adaIah orang-orang yang ingkar mengingat
Allah Yang Maha Pemurah.(QS. Al-Anbiya'/ 21: 36)
4.8. Mengasihi Wali-Wali Allah Dan Memusuhi Musuh Allah
Di dalam kitab Hilyatul Aulia Halaman 186
dinyatakan bahwa tidak akan mendapatkan rahmatku orang-orang yang tidak
mengasihi wali-wali-Ku dan tidak memusuhi musuh-musuh-Ku:
حَدَّثَنَا
سُلَيْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ، ثنا الْوَلِيدُ بْنُ حَمَّادٍ الرَّمْلِيُّ، ثنا
سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدِّمَشْقِيُّ، ثنا بِشْرُ بْنُ عَوْنٍ،
عَنْ بَكَّارِ بْنِ تَمِيمٍ، عَنْ مَكْحُولٍ، عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ،
عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " يَبْعَثُ اللهُ
عَبْدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا ذَنْبَ لَهُ، فَيَقُولُ اللهُ: بِأَيِّ
الْأَمْرَيْنِ أَحَبُّ إِلَيْكَ أَنْ أَجْزِيَكَ: بِعَمَلِكَ أَوْ بِنِعْمَتِي
عِنْدَكَ، قَالَ: يَا رَبِّ، إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنِّي لَمْ أَعْصِكَ، قَالَ:
خُذُوا عَبْدِي بِنِعْمَةٍ مِنْ نِعَمِي، فَمَا تَبْقَى لَهُ حَسَنَةٌ إِلَّا
اسْتَغْرَقَتْهَا تِلْكَ النِّعْمَةُ، فَيَقُولُ: رَبِّ، بِنِعْمَتِكَ
وَرَحْمَتِكَ، فَيَقُولُ: بِنِعْمَتِي وَرَحْمَتِي، وَيُؤْتَى بِعَبْدٍ مُحْسِنٍ
فِي نَفْسِهِ، لَا يَرَى أَنَّ لَهُ ذَنْبًا، فَيَقُولُ لَهُ: هَلْ كُنْتَ
تُوَالِي أَوْلِيَائِي؟ قَالَ: كُنْتُ مِنَ النَّاسِ سِلْمًا، قَالَ: فَهَلْ
كُنْتَ تُعَادِي أَعْدَائِي؟ قَالَ: رَبِّ لَمْ يَكُنْ بَيْنِي وَبَيْنَ أَحَدٍ
شَيْءٌ، فَيَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: لَا يَنَالُ رَحْمَتِي مَنْ لَمْ يُوَالِ
أَوْلِيَائِي، وَيُعَادِي أَعْدَائِي " غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ مَكْحُولٍ، لَمْ
نَكْتُبْهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ بِشْرٍ عَنْ بَكَّارٍ
[43]
Artinya:
telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada
kami Al Walid ibnu Hammad Ar Ramli, telah menceritakan kepada kami Sulaiman
ibnu Abdirrahman Ad Dimsyaqi, telah menceritakan kepada kami Bisyr ibnu Aun,
dari Bakar ibnu Tamim, dari Makhul, dari Wasilah ibnu Al Asqa’ dari Rasulullah ﷺ bersabda: “Pada hari Qiyamat Allah membangkitkan seorang hamba yang tidak
memilik dosa, kemudian Allah bersabda kepadanya: dengan dua hal yang mana yang
lebih kamu sukai yang akan Aku berikan balasan kepadamu; dengan amalmu atau
dengan kenikmatan-Ku yang akan kuberikan kepadamu, berkata: Wahai Rab,
sesungguhnya Engkau mengetahui bahwa aku tidak berma’siyat kepada-Mu, Allah
berfirman: Ambillah hamba-hambaku dengan kenikmatan di antara kenikmatan-kenikmatan
dari-Ku, maka tidaklah kekal baginya kebaikan tersebut kecuali tenggelam di dalam kenikmatan, maka mereka
berkata: dengan nikmat-Mu dan Rahmat-Mu, maka Allah berfirman: dengan nikmat-Ku
dan rahmat-ku, diberikan kepada hamba yang berbuat baik pada dirinya sendiri,
dia tidak dilihat memiliki dosa, maka ditanyakan kepada meraka: “Apakah kalian
mengasihi wali-waliku ?” mereka berkata: kami adalah orang-orang yang damai,
ditanyakan kepada mereka: “apakah kalian memusuhi musuh-musuh-Ku ?”, mereka
menjawab: “ Ya Rab, antara kami dengan orang lain tidak ada sesuatupun, maka
Allah Azza wa Jalla berfirman: “Tidak akan mendapatkan Rahmat-Ku orang yang
tidak mengasihi Wali-wali-Ku dan tidak memusuhi musuh-musuh-Ku”. Gharib d ari
hadits Makhul, kami tidak menuliskannya kecuali dari hadits Bisyri dari Bakar.
4.9. Bersungguh-Sungguh Dalam Meminta Ampunan Dan
Rahmat Allah
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 5864
dinyatakan untuk meminta rahmat dan ampunan dengan sungguh-sungguh;
حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ
الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِي إِنْ شِئْتَ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي إِنْ شِئْتَ لِيَعْزِمْ
الْمَسْأَلَةَ فَإِنَّهُ لَا مُكْرِهَ لَهُ
[44]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Abu Az
Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan; 'Ya Allah,
ampunilah aku jika Engkau kehendaki, dan rahmatilah aku jika Engkau
berkehendak.' Akan tetapi hendaknya ia bersungguh-sungguh dalam meminta, karena
Allah sama sekali tidak ada yang memaksa."
4.10. Berdoa Dengan Menyebut Ya Arhama Rahimin
Di dalam kitab Al
Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain hadits nomor 1996 disebutkan bahwa
Malaikat mengatakan bagi orang yang mengatakan Ya Arhama Rahimin tiga kali maka
Allah menerimanya :
حَدَّثَنَاهُ
أَبُو بَكْرِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْعُمَانِيُّ، ثنا مَسْعُودُ بْنُ زَكَرِيَّا
التُّسْتَرِيُّ، ثنا كَامِلُ بْنُ طَلْحَةَ، ثنا فَضَالُ بْنُ جُبَيْرٍ، عَنْ
أَبِي أُمَامَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «إِنَّ لِلَّهِ مَلَكًا
مُوَكَّلًا بِمَنْ يَقُولُ: يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، فَمَنْ قَالَهَا ثَلَاثًا
قَالَ الْمَلَكُ: إِنَّ أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ قَدْ أَقْبَلَ عَلَيْكَ فَاسْأَلْ» [45]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr ibnu Abdullah Al ‘Amani, telah
menceritakan kepada kami, Mas’ud ibnu Zakariya At Tastari telah menceritakan
kepada kami Kamil ibnu Thalhah telah menceritakan kepada kami ibnu Jubair dari
Abi Umamah RA. Berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya Allah mengutus
Malaikat bagi orang yang mengatakan: Ya Allah yang Maha Pengasih di antara yang
pengasih, maka siapa yang mengatakannya tiga kali Malaikat berkata sesungguhnya
Allah yang Maha Pengasih di antara yang Pengasih telah menerimamu maka
mintalah.”
Di dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad hadits nomor 690
digambarkan permohonan kepada Allah, untuk bantuan agar dapat berdzikir,
bersyukur dan beribadah kepada Allah dengan baik;
حَدَّثَنَا
أَبُو عَاصِمٍ، عَنْ حَيْوَةَ قَالَ: حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ مُسْلِمٍ، سَمِعَ
أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيَّ، عَنِ الصُّنَابِحِيّ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ
جَبَلٍ قَالَ: أَخَذَ بِيَدِي النَّبِيُّ ﷺ فَقَالَ: «يَا مُعَاذُ»، قُلْتُ:
لَبَّيْكَ، قَالَ: «إِنِّي أُحِبُّكَ»، قُلْتُ: وَأَنَا وَاللَّهِ أُحِبُّكَ،
قَالَ: «أَلَا أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ تَقُولُهَا فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاتِكَ؟»
قُلْتُ: نَعَمْ، قَالَ: «قُلِ: اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ،
وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ» [46]
Artinya:
Telah menceritakan kepada Kami 'Ubaidullah bin Umar bin Maisarah telah
menceritakan kepada Kami Abdullah bin Yazid Al Muqri`, telah menceritakan
kepada Kami Haiwah bin Syuraih, ia berkata; aku mendengar 'Uqbah bin Muslim
berkata; telah menceritakan kepadaku Abu Abdurrahman Al Hubuli dari Ash Shunabihi
dari Mu'adz bin Jabal bahwa Rasulullah ﷺ menggandeng tangannya dan berkata: "Wahai Mu'adz, demi Allah, aku
mencintaimu." Kemudian beliau berkata: "Aku wasiatkan kepadamu wahai
Mu'adz, janganlah engkau tinggalkan setiap selesai shalat untuk mengucapkan,
(Ya Allah, bantulah aku untuk berdzikir dan bersyukur kepadaMu serta beribadah
kepadaMu dengan baik.) Mu'adz mewasiatkan dengan hal tersebut kepada Ash
Shunabihi dan Ash Shunabihi mewasiatkan hal tersebut kepada Abdurrahman.
4.12. Berdo’a Agar Diperbesar Rasa Syukur Dan Diperbanyak Dzikir Kepada Allah
Di dalam kitab Suan Tirmidzi hadits nomor 3924
digambarkan doa Rasulullah untuk dijadikan hamba yang memperbesar rasa syukur
kepada-Mu dan memperbanyak dzikir kepada-Mu;
حَدَّثَنَا
هَاشِمٌ أَبُو النَّضْرِ قَالَ حَدَّثَنَا الْفَرَجُ يَعْنِي ابْنَ فَضَالَةَ
حَدَّثَنَا أَبُو سَعْدٍ الْحِمْصِيُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ دَعَوَاتٌ
سَمِعْتُهَا مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا
أَتْرُكُهَا مَا عِشْتُ حَيًّا سَمِعْتُهُ يَقُولُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي أُعْظِمُ
شُكْرَكَ وَأُكْثِرُ ذِكْرَكَ وَأَتْبَعُ نَصِيحَتَكَ وَأَحْفَظُ وَصِيَّتَكَ [47]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Hasyim Abu An Nadhr berkata; telah menceritakan
kepada kami Al Faraj -yaitu Ibnu Fadhalah- berkata; telah menceritakan kepada
kami Abu Sa'd Al Himshi dari Abu Hurairah, dia berkata; Sebuah doa yang aku
dengar dari Rasulullah ﷺ, aku tidak pernah meninggalkannya selama
aku hidup, aku mendengar beliau mengucapkan: "Ya Allah, jadikan aku hamba
yang memperbesar rasa syukur kepada-Mu dan memperbanyak dzikir kepada-Mu,
mengikuti nasihat dan menjaga wasiat-Mu."
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22181
disebutkan doa Ya Allah! Ampuni kami, rahmati kami, ridlai kami, terimalah
(amalan) kami, masukkanlah kami ke surga, dan selamatkanlah kami dari neraka
serta perbaikilah kondisi kami seluruhnya;
حَدَّثَنَا
ابْنُ نُمَيْرٍ، حَدَّثَنَا مِسْعَرٌ، عَنْ أَبِي الْعَنْبَسِ، عَنْ أَبِي
الْعَدَبَّسِ، عَنْ أَبِي مَرْزُوقٍ، عَنْ أَبِي غَالِبٍ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ
قَالَ: خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ وَهُوَ مُتَوَكِّئٌ عَلَى عَصًا
فَقُمْنَا إِلَيْهِ فَقَالَ: " لَا تَقُومُوا كَمَا تَقُومُ الْأَعَاجِمُ
يُعَظِّمُ بَعْضُهَا بَعْضًا ". قَالَ: فَكَأَنَّا اشْتَهَيْنَا أَنْ
يَدْعُوَ اللهَ لَنَا فَقَالَ: " اللهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا،
وَارْضَ عَنَّا وَتَقَبَّلْ مِنَّا وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ، وَنَجِّنَا مِنَ
النَّارِ، وَأَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ ". فَكَأَنَّا اشْتَهَيْنَا
أَنْيَزِيدَنَا. فَقَالَ: " قَدْ جَمَعْتُ لَكُمُ الْأَمْرَ "» [48]
Artinya: Diriwayatkan dari Ibn Numayr, dari Mis‘ar, dari Abī al-‘Anbas, dari Abī al-‘Adabbas, dari Abī Marzūq, dari Abī Ghālib, dari Abī Umāmah, ia berkata: Rasulullah ﷺ keluar menemui kami dalam keadaan bersandar pada sebuah tongkat, lalu kami berdiri menyambut beliau. Maka beliau bersabda, “Janganlah kalian berdiri sebagaimana orang-orang ‘Ajam berdiri, yaitu mengagungkan sebagian mereka atas sebagian yang lain.” Abū Umāmah berkata: seolah-olah kami menginginkan agar beliau mendoakan kami, maka beliau ﷺ berdoa, “Ya Allah, ampunilah kami, rahmatilah kami, ridhailah kami, terimalah (amal) dari kami, masukkanlah kami ke dalam surga, selamatkan kami dari neraka, dan perbaikilah seluruh urusan kami.” Lalu seakan-akan kami masih berharap beliau menambah doa lagi, maka beliau bersabda, “Aku telah mengumpulkan untuk kalian semua kebaikan.”
4.14. Berdoa: “Ya Allah, Ampunilah Aku, Rahmatilah Aku Serta Pertemukanlah
Daku Dengan Ar Rafiq”
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 5674
tergambar bahwa Rasulullah SAW memohon kepada Allah untuk diampuni, dirahmati
dan dipertemukan dengan Ar Rafiq (Maha Lemah Lembut)
حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ هِشَامٍ عَنْ
عَبَّادِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ سَمِعْتُ عَائِشَةَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَهُوَ مُسْتَنِدٌ إِلَيَّ يَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي
وَأَلْحِقْنِي بِالرَّفِيقِ [49]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abu Syaibah telah menceritakan
kepada kami Abu Usamah dari Hsiyam dari 'Abbad bin Abdullah bin Az Zubair dia
berkata; saya mendengar Aisyah radliallahu 'anha berkata; saya mendengar Nabi ﷺ ketika
beliau sedang berada di pangkauanku, sabdanya: "Ya Allah, ampunilah aku,
rahmatilah aku serta pertemukanlah daku dengan Ar Rafiq."
Di dalam kitab Shalih Muslim hadits nomor 2697 dan
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 19138, disebutkan doa Ya Allah,
ampunilah aku, kasihanilah aku, selamatkanlah aku, dan berikanlah rezeki
kepadaku
حَدَّثَنِي
زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا أَبُو مَالِكٍ
عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَأَتَاهُ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ أَقُولُ حِينَ أَسْأَلُ
رَبِّي قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَعَافِنِي وَارْزُقْنِي
وَيَجْمَعُ أَصَابِعَهُ إِلَّا الْإِبْهَامَ فَإِنَّ هَؤُلَاءِ تَجْمَعُ لَكَ
دُنْيَاكَ وَآخِرَتَكَ [50]
Artinya:
Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami
Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Abu Malik dari bapaknya
bahwasanya dia mendengar Nabi ﷺ ketika beliau didatangi oleh seorang
laki-laki dan kemudian laki-laki tersebut bertanya; "Ya Rasulullah, apa
yang sebaiknya saya ucapkan ketika saya memohon kepada Allah Yang Maha Mulia
dan Maha Agung?" Rasulullah ﷺ menjawab: 'Ketika kamu memohon kepada
Allah, maka ucapkanlah doa sebagai berikut; 'Ya Allah, ampunilah aku, kasihanilah
aku, selamatkanlah aku, dan berikanlah rezeki kepadaku! ' (Saat itu beliau
menggenggam jari-jari beliau kecuali ibu jari), karena sesungguhnya doa-doa
tersebut mencakup dunia dan akhiratmu.'
حَدَّثَنَا
وَكِيعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ يَزِيدَ أَبِي خَالِدٍ الدَّالَانِيِّ عَنْ
إِبْرَاهِيمَ السَّكْسَكِيِّ عَنِ ابْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي
لَا أَسْتَطِيعُ أَخْذَ شَيْءٍ مِنْ الْقُرْآنِ فَعَلِّمْنِي مَا يُجْزِئُنِي
قَالَ قُلْ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ قَالَ يَا
رَسُولَ اللَّهِ هَذَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَمَا لِي قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَعَافِنِي وَاهْدِنِي وَارْزُقْنِي ثُمَّ أَدْبَرَ
وَهُوَ مُمْسِكُ كَفَّيْهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَمَّا هَذَا فَقَدْ مَلَأَ يَدَيْهِ مِنْ الْخَيْرِ قَالَ مِسْعَرٌ فَسَمِعْتُ
هَذَا الْحَدِيثَ مِنْ إِبْرَاهِيمَ السَّكْسَكِيِّ عَنِ ابْنِ أَبِي أَوْفَى عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَثَبَّتَنِي فِيهِ غَيْرِي [51]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Waki' Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari
Yazid bin Abu Khalid Ad Dalani dari Ibrahim As Saksaki dari Ibnu Abu Aufa ia
berkata; Seorang laki-laki mendatangi Nabi ﷺ dan berkata, "Wahai Rasulullah,
sesungguhnya saya tidak bisa membaca sedikit pun dari Al Qur`an, karena itu,
ajarilah aku sesuatu yang dapat menggantikannya." Beliau bersabdas:
"Bacalah, (Maha Suci Allah dan Segala puji bagi Allah, Tidak ada Ilah yang
berhak disembah selain Allah, Allah Maha Besar. Tidak ada daya dan upaya
kecuali atas izin Allah).'" Laki-laki itu berkata, "Wahai Rasulullah,
ini semua hanya untuk Allah 'azza wajalla, maka apakah bagiku?" beliau
menjawab: "Bacalah, (Ya Allah ampunilah aku, rahmatilah aku, dan maafkanlah
aku. Berilah petunjuk dan curahkanlah rezeki untukku).'" Kemudian
laki-laki itu berpaling sambil menggenggam kedua telapak tangannya, maka Nabi ﷺ bersabda: "Adapun orang ini, maka sungguh, ia telah memenuhi kedua
tangannya dengan kebaikan." Mis'ar bekata; Saya mendengar hadits ini dari
Ibrahim As Saksaki, dari Ibnu Abu Aufa dari Nabi ﷺ.
4.16. Berdoa: “Ya Allah, Rahmatilah Aku, Selamatkanlah Aku, Dan Berikanlah
Rezeki Kepadaku”
kitab
Sunan Abu Daud hadits nomor 832 dimuat doa yang diajarkan Nabi untuk memohon Ya
Allah, rahmatilah aku, dan maafkanlah aku. Berilah petunjuk dan curahkanlah
rezeki untukku
حَدَّثَنَا
عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعُ بْنُ الْجَرَّاحِ حَدَّثَنَا
سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ أَبِي خَالِدٍ الدَّالَانِيِّ عَنْ إِبْرَاهِيمَ
السَّكْسَكِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أَوْفَى قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي لَا أَسْتَطِيعُ
أَنْ آخُذَ مِنْ الْقُرْآنِ شَيْئًا فَعَلِّمْنِي مَا يُجْزِئُنِي مِنْهُ قَالَ
قُلْ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
وَاللَّهُ أَكْبَرُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ الْعَلِيِّ
الْعَظِيمِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَمَا لِي
قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ ارْحَمْنِي وَارْزُقْنِي وَعَافِنِي وَاهْدِنِي فَلَمَّا
قَامَ قَالَ هَكَذَا بِيَدِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَمَّا هَذَا فَقَدْ مَلَأَ يَدَهُ مِنْ الْخَيْرِ
[52]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada
kami Waki' bin Al Jarrah telah menceritakan kepada kami Sufyan Ats Tsauri dari
Abu Khalid Ad Dalani dari Ibrahim As Saksaki dari Abdullah bin Abu Aufa dia
berkata; seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ seraya berkata; "Sesungguhnya aku
tidak dapat mempelajari Al Qur'an sedikit pun, maka ajarilah aku sesuatu yang
dapat memadai untukku sebagai gantinya." Beliau bersabda:
"Ucapkanlah; " (Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada
ilah yang hak kecuali Allah dan Allah Maha besar, tidak ada daya dan upaya
kecuali kecuali dengan pertolongan Allah yang Maha Luhur lagi Maha
Agung)." Laki-laki itu berkata; "wahai Rasulullah, ungkapan ini untuk
Allah Azza Wa Jalla, lantas (ungkapan) manakah yang untuk saya?" beliau
bersabda: "katakanlah; (Ya Allah, rahmatilah aku, berilah aku rezeki,
kesejahteraan, dan petunjuk." Ketika orang itu berdiri (shalat), maka dia
memberi isyarat dengan tangannya seperti ini (yaitu membaca sambil
menghitungnya) maka Rasulullah ﷺ bersabda: " Orang ini tangannya telah
di penuhi dengan kebaikan."
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 3717
digambarkan doa Rasulullah: Ya Allah, aku memohon rahmat dari sisiMu, dengannya
Engkau memberikan petunjuk kepada hatiku, dan dengannya Engkau kumpulkan
urusanku..;
حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عِمْرَانَ
بْنِ أَبِي لَيْلَى حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي لَيْلَى عَنْ دَاوُدَ
بْنِ عَلِيٍّ هُوَ ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ
ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ سَمِعْتُ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقُولُ لَيْلَةً حِينَ فَرَغَ مِنْ صَلَاتِهِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ
رَحْمَةً مِنْ عِنْدِكَ تَهْدِي بِهَا قَلْبِي وَتَجْمَعُ بِهَا أَمْرِي وَتَلُمُّ
بِهَا شَعَثِي وَتُصْلِحُ بِهَا غَائِبِي وَتَرْفَعُ بِهَا شَاهِدِي وَتُزَكِّي
بِهَا عَمَلِي وَتُلْهِمُنِي بِهَا رُشْدِي وَتَرُدُّ بِهَا أُلْفَتِي
وَتَعْصِمُنِي بِهَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ اللَّهُمَّ أَعْطِنِي إِيمَانًا وَيَقِينًا
لَيْسَ بَعْدَهُ كُفْرٌ وَرَحْمَةً أَنَالُ بِهَا شَرَفَ كَرَامَتِكَ فِي الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْفَوْزَ فِي الْعَطَاءِ وَنُزُلَ
الشُّهَدَاءِ وَعَيْشَ السُّعَدَاءِ وَالنَّصْرَ عَلَى الْأَعْدَاءِ اللَّهُمَّ
إِنِّي أُنْزِلُ بِكَ حَاجَتِي وَإِنْ قَصُرَ رَأْيِي وَضَعُفَ عَمَلِي
افْتَقَرْتُ إِلَى رَحْمَتِكَ فَأَسْأَلُكَ يَا قَاضِيَ الْأُمُورِ وَيَا شَافِيَ
الصُّدُورِ كَمَا تُجِيرُ بَيْنَ الْبُحُورِ أَنْ تُجِيرَنِي مِنْ عَذَابِ
السَّعِيرِ وَمِنْ دَعْوَةِ الثُّبُورِ وَمِنْ فِتْنَةِ الْقُبُورِ اللَّهُمَّ مَا
قَصُرَ عَنْهُ رَأْيِي وَلَمْ تَبْلُغْهُ نِيَّتِي وَلَمْ تَبْلُغْهُ مَسْأَلَتِي
مِنْ خَيْرٍ وَعَدْتَهُ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ أَوْ خَيْرٍ أَنْتَ مُعْطِيهِ
أَحَدًا مِنْ عِبَادِكَ فَإِنِّي أَرْغَبُ إِلَيْكَ فِيهِ وَأَسْأَلُكَهُ
بِرَحْمَتِكَ رَبَّ الْعَالَمِينَ اللَّهُمَّ ذَا الْحَبْلِ الشَّدِيدِ وَالْأَمْرِ
الرَّشِيدِ أَسْأَلُكَ الْأَمْنَ يَوْمَ الْوَعِيدِ وَالْجَنَّةَ يَوْمَ
الْخُلُودِ مَعَ الْمُقَرَّبِينَ الشُّهُودِ الرُّكَّعِ السُّجُودِ الْمُوفِينَ
بِالْعُهُودِ إِنَّكَ رَحِيمٌ وَدُودٌ وَأَنْتَ تَفْعَلُ مَا تُرِيدُ اللَّهُمَّ
اجْعَلْنَا هَادِينَ مُهْتَدِينَ غَيْرَ ضَالِّينَ وَلَا مُضِلِّينَ سِلْمًا
لِأَوْلِيَائِكَ وَعَدُوًّا لِأَعْدَائِكَ نُحِبُّ بِحُبِّكَ مَنْ أَحَبَّكَ
وَنُعَادِي بِعَدَاوَتِكَ مَنْ خَالَفَكَ اللَّهُمَّ هَذَا الدُّعَاءُ وَعَلَيْكَ
الْإِجَابَةُ وَهَذَا الْجُهْدُ وَعَلَيْكَ التُّكْلَانُ اللَّهُمَّ اجْعَلْ لِي
نُورًا فِي قَلْبِي وَنُورًا فِي قَبْرِي وَنُورًا مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَنُورًا
مِنْ خَلْفِي وَنُورًا عَنْ يَمِينِي وَنُورًا عَنْ شِمَالِي وَنُورًا مِنْ
فَوْقِي وَنُورًا مِنْ تَحْتِي وَنُورًا فِي سَمْعِي وَنُورًا فِي بَصَرِي
وَنُورًا فِي شَعْرِي وَنُورًا فِي بَشَرِي وَنُورًا فِي لَحْمِي وَنُورًا فِي
دَمِي وَنُورًا فِي عِظَامِي اللَّهُمَّ أَعْظِمْ لِي نُورًا وَأَعْطِنِي نُورًا
وَاجْعَلْ لِي نُورًا سُبْحَانَ الَّذِي تَعَطَّفَ الْعِزَّ وَقَالَ بِهِ
سُبْحَانَ الَّذِي لَبِسَ الْمَجْدَ وَتَكَرَّمَ بِهِ سُبْحَانَ الَّذِي لَا
يَنْبَغِي التَّسْبِيحُ إِلَّا لَهُ سُبْحَانَ ذِي الْفَضْلِ وَالنِّعَمِ
سُبْحَانَ ذِي الْمَجْدِ وَالْكَرَمِ سُبْحَانَ ذِي الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ قَالَ
أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مِثْلَ هَذَا مِنْ حَدِيثِ
ابْنِ أَبِي لَيْلَى إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَقَدْ رَوَى شُعْبَةُ
وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ عَنْ كُرَيْبٍ عَنْ ابْنِ
عَبَّاسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْضَ هَذَا
الْحَدِيثِ وَلَمْ يَذْكُرْهُ بِطُولِهِ
[53]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abdur Rahman telah mengabarkan
kepada kami Muhammad bin Imran bin Abu Laila telah menceritakan kepadaku ayahku
telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Laila dari Daud bin Ali yaitu anak
Abdullah bin Abbas dari ayahnya dari kakeknya yaitu Ibnu Abbas ia berkata;
saya mendengar Nabi ﷺ pada suatu malam ketika telah selesai dari
shalatnya mengucapkan: Ya Allah, aku memohon rahmat dari sisiMu, dengannya
Engkau memberikan petunjuk kepada hatiku, dan dengannya Engkau kumpulkan
urusanku, dengannya Engkau cela kekacauanku, dan dengannya Engkau perbaiki apa
yang tidak nampak dariku, dan dengannya Engkau angkat apa yang nampak padaku,
dengannya Engkau mensucikan amalanku, dengannya Engkau mengilhami pikiranku,
dan dengannya Engkau kembali kelembutanku, dengannya Engkau melindungiku dari
segala keburukan. Ya Allah, berikan kepadaku keimanan dan keyakinan yang tidak
ada kekafiran setelahnya, serta rahmat yang dengannya aku peroleh kemuliaan-Mu
di dunia dan akhirat. Ya Allah, aku memohon kepadaMu keberuntungan mendapatkan
pemberianMu, serta hidangan orang-orang yang mati syahid, kehidupan orang-orang
yang berbahagia, dan kemenangan atas musuh. Ya Allah kepadaMu aku sampaikan
hajatku, walaupun terbatas penglihatanku, serta lemah amalanku. Aku butuh
kepada rahmatMu, maka aku memohon kepadaMu wahai Dzat Yang Maha Mampu
menyelesaikan segala perkara, wahai Dzat yang mengobati hatiku, sebagaimana
Engkau melindungi diantara lautan aku mohon agar Engkau lindungi aku dari adzab
Neraka Sa'ir, serta seruan kebinasaan, serta fitnah kubur. Ya Allah, apa yang
tidak mampu terlihat oleh pandanganku, dan tidak dicapai oleh niatku, serta
tidak sampai permintaanku dari kebaikan yang telah Engkau janjikan kepada
seseorang diantara makhlukMu, atau kebaikan yang Engkau berikan kepada
seseorang diantara hamba-hambaMu, maka menginginkan dan memohonnya kepadaMu
dengan rahmatMu wahai Tuhan semesta alam. Ya Allah Yang memiliki tali (agama)
yang kuat, dan perkara yang lurus, aku memohon kepadaMu keamanan pada hari yang
penuh dengan ancaman, serta Surga pada hari yang kekal bersama orang-orang yang
dekat, yang mati syahid, yang banyak melakukan ruku' dan sujud, serta yang
senantiasa memenuhi janji, sesungguhnya Engkau Maha Pengasih dan Penyayang.
Engkau mampu melakukan apa yang Engkau kehendaki. Ya Allah, jadikanlah kami
orang-orang yang memberi petunjuk dan mendapatkan petunjuk, yang tidak tersesat
dan menyesatkan, menyerah kepada para waliMu dan memusuhi musuh-musuhMu. Kami
mencintai dengan kecintaanMu kepada orang yang mencintaiMu dan memusuhi dengan
permusuhanMu kepada orang yang menyelisihiMu. Ya Allah, inilah doa yang mampu
aku panjatkan dan kabulkanlah doa tersebut, dan inilah usahaku dan kepadaMu aku
bersandar. Ya Allah berikanlah cahaya dalam hatiku dan cayaha dalam kuburku,
cahaya di hadapanku, cahaya dari belakangku, cahaya dari kananku, cahaya dari
kiriku, cahaya dari atasku, cahaya dari bawahku, cahaya dalam pendengaranku,
cahaya dalam penglihatanku, cahaya dalam rambutku, cahaya dalam kulitku, cahaya
dalam dagingku, cahaya dalam darahku, dan cahaya dalam tulangku. Ya Allah,
perbesarkan cahaya untukku, berilah aku cahaya dan jadikan untukku cahaya. Maha
Suci Dzat Yang memberikan kemuliaan dan berfirman dengan kemuliaan. Maha Suci
dzat yang memiliki keagungan, dan memberi dengan keagungan. Maha Suci Dzat yang
tidak sepantas untuk memuji kecuali kepadaNya, Dzat Yang memiliki karunia dan
kenikmatan. Maha Suci Dzat yang memiliki keagungan dan kemurahan, Maha Suci
Dzat Yang memiliki kebesaran dan kemuliaan), Abu Isa berkata; ini adalah hadts
gharib, kami tidak mengetahuinya seperti ini dari hadits Ibnu Abu Laila kecuali
dari sisi ini. Dan Syu'bah serta Sufyan Ats Tsauri telah meriwayaktkan dari
Salamah bin Kuhail? dari Kuraib? dari Ibnu Abbas? dari Nabi? ﷺ sebagian hadits ini dan ia tidak menyebutkannya secara panjang.
4.18. Puncak Pemahaman Setelah Iman Kepada Allah Adalah Rasa Kasih Sayang
Kepada Manusia
Di dalam kitab Al-Sunan Al-Kubra hadis
nomor 20306, dijelaskan bahwa puncak pemahaman setelah iman kepada Allah adalah
rasa kasih sayang kepada manusia;
أَخْبَرَنَا
أَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ بِشْرَانَ بِبَغْدَادَ أَنْبَأَنَا أَبُو جَعْفَرٍ
مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو الرَّزَّازُ أَنْبَأَنَا يَحْيَى بْنُ جَعْفَرِ بْنِ
الزِّبْرِقَانِ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ أَنْبَأَنَا أَشْعَثٌ
أَنْبَأَنَا عَلِىُّ بْنُ زَيْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« رَأْسُ الْعَقْلِ بَعْدَ الإِيمَانِ
بِاللَّهِ التَّوَدُّدُ إِلَى النَّاسِ وَمَا يَسْتَغْنِى رَجُلٌ عَنْ مَشُورَةٍ
وَإِنَّ أَهْلَ الْمَعْرُوفِ فِى الدُّنْيَا هُمْ أَهْلُ الْمَعْرُوفِ فِى
الآخِرَةِ وَإِنَّ أَهْلَ الْمُنْكَرِ فِى الدُّنْيَا هُمْ أَهْلُ الْمُنْكَرِ فِى
الآخِرَةِ [54]
».
Artinya:
telah mengabarkan kepada kami Al Husain bin Bisran di Baghdad memberitakan
kepada kami Ja’far Muhammad bin ‘Amrin Ar Razaz memberitakan kepada kami Yahya
bin Ja’far bin Zairiqan menceriterakan kepada kami Zaid ibnu Al Hubab
memberitakan kepada kami Asy’ab memberitakan kepada kami Ali ibnu Zaid dari
Said bin Musayyab berkata: bersabda Rasulullah ﷺ;
Puncak pemahaman setelah iman kepada Allah adalah rasa kasih sayang kepada
manusia dan tidaklah seserang merasa cukup dengan terkenal karena sesungguhnya
orang yang ahli kebaikan di dunia adalah mereka ahli kebaikan di akhirat dan
sesungguhnya ahli kemungkaran di dunia mereka menjadi ahli kemunkaran di
akhirat.(HR. Baihaqi: 20802)
Rasulullah
Muhammad SAW diutus Allah sebagai rasul yang membawa rahmat untuk semesta alam,
ditegaskan di dalam Al-Quran surat Al-Anbiya'/ 21: 107;
وَمَا
أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ
Artinya: Dan
tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta
alam..
Bentuk
ketaqwaan di level rahmah dapat digambarkan secara ringkas melalui pemahaman
Al-Quran surat Al-Anbiya'/ 21: 107 dan hadis nomor 20306 di dalam kitab Musnad
Ahmad, yang di dalamnya dinyatakan bahwa bukan termasuk golongan kami orang
yang tidak menghormati yang lebih besar dan tidak menyayangi yang lebih kecil
serta tidak menyuruh kepada kebaikan dan melarang yang mungkar;
حَدَّثَنَا
عُثْمَانُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ عَبْد اللَّهِ بْن أَحْمَد وَسَمِعْتُهُ أَنَا
مِنْ عُثْمَانَ بْنِ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ لَيْثٍ عَنْ عَبْدِ
الْمَلِكِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ
يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ
مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرْ الْكَبِيرَ وَيَرْحَمْ الصَّغِيرَ وَيَأْمُرْ
بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَى عَنْ الْمُنْكَرِ
[55]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Utsman bin Muhammad], Abdullah bin Ahmad berkata; aku
telah mendengarnya dari Utsman bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami
[Jarir] dari [Laits] dari [Abdul Malik bin Sa'id bin Jubair] dari [Ikrimah]
dari [Ibnu Abbas], dan dia merafa'kannya kepada Nabi ﷺ, beliau bersabda:
"Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati yang lebih
besar dan tidak menyayangi yang lebih kecil serta tidak menyuruh kepada
kebaikan dan melarang yang mungkar."
Dari
hadits di atas dapat ditarik pengertian bahwa;
1. Nabi Muhammad ﷺ adalah rahmatan lil ‘alamin; kasih sayang untuk seluruh semesta alam.
2. Umat Nabi Muhammad ﷺ adalah orang yang mengikuti Nabinya, memiliki jiwa rahmah; kasih sayang.
3.
Bentuk kasih
sayang adalah yang lebih muda; kecil; lemah; berada di bawah harus menghormati
yang lebih tua; besar; kuat; di atas, dan sebaliknya yang lebih tua; besar;
kuat; di atas harus bersifat kasih sayang kepada yang lebih muda; kecil; lemah;
berada di bawah.
4.
Bentuk rasa kasih
sayang dari yang tua; besar; kuat; berada di atas kepada yang muda; kecil;
lemah; berada di bawah dapat berupa kesediaan memberikan bimbingan, bantuan dan
pertolongan, sedangkan bentuk penghormatan dari yang muda; kecil; lemah; berada
di bawah kepada yang tua; besar; kuat; berada di atas dapat berupa kesadaran
untuk berterimakasih atas bimbingan, bantuan dan pertolongannya.
5. Bentuk rahmah
Allah kepada makhluqnya yaitu menetapkan atau mewajibkan dirinya bersifat
rahmah dan sifat rahmahnya mengalahkan murkanya, sedangkan bentuk rahmah
Rasulullah adalah bahwa diutusnya Rasulullah Muhammad ﷺ adalah sebagai rahmah
bagi semesta alam, sehingga Rasulullah memiliki sifat rahmah yang besar
terhadap umatnya.
6. Bentuk rahmah
seorang hamba kepada Allah adalah bersyukur, memuji dan banyak-banyak mengingat
kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, sedangkan bentuk rahmah orang
beriman kepada Rasulullah Muhammad adalah mensyukuri atas diutusnya Rasulullah
dan memanjatkan shalawat; memintakan rahmah Allah untuknya.
7.
Melakukan amar
ma’ruf nahi munkar dilakukan atas dasar kesadaran rahmah; kasih sayang kepada
sesama manusia.
Berdasar ayat-ayat Al Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW yang telah dikemukakan di atas maka dapat ditarik pengertian bahwa taqwa di tingkat rahmah adalah tumbuhnya kesadaran kasih sayang yang ada di dalam qalbu yang mendorong seseorang untuk beramal dan beribadah karena telah hidupnya jiwa rahmah dalam dirinya dan segera bertaubat jika beramal dan beribadah bukan karena rahmat Allah.
Ketaqwaan
di level Rahmah mendorong orang menjadi berjiwa lembut dan kasih sayang,
pandangan, ucapan perkataannya didasari kasih sayang, tindakan dan keputusannya
mengandung kasih sayang, senang berbuat baik kepada orang lain karena kasih
sayang, berbuat baik kepada semesta alam karena kasih sayang, banyak menebar
kebaikan karena kasih sayang, hingga dapat menjadi rahmatan lil ‘alamin.
Doa Mohon Dirahmati Allah
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ رَحْمَةً
مِنْ عِنْدِكَ تَهْدِي بِهَا قَلْبِي وَتَجْمَعُ بِهَا أَمْرِي وَتَلُمُّ بِهَا
شَعَثِي وَتُصْلِحُ بِهَا غَائِبِي وَتَرْفَعُ بِهَا شَاهِدِي وَتُزَكِّي بِهَا
عَمَلِي وَتُلْهِمُنِي بِهَا رُشْدِي وَتَرُدُّ بِهَا أُلْفَتِي وَتَعْصِمُنِي
بِهَا مِنْ كُلِّ سُوءٍ
“Ya
Allah, aku memohon rahmat dari sisiMu, dengannya Engkau memberikan petunjuk
kepada hatiku, dan dengannya Engkau kumpulkan urusanku, dengannya Engkau cela
kekacauanku, dan dengannya Engkau perbaiki apa yang tidak nampak dariku, dan
dengannya Engkau angkat apa yang nampak padaku, dengannya Engkau mensucikan
amalanku, dengannya Engkau mengilhami pikiranku, dan dengannya Engkau kembali
kelembutanku, dengannya Engkau melindungiku dari segala keburukan.”
(HR.
Tirmidzi: 3341)
[1] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 99, Hadits nomor
6469.
[2] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4,
Halaman 2108, Hadits nomor 2752.
[3] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 115, Hadits
nomor 7376.
[4]
Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari, Al-Adab Al-Mufrad, Al-Mathba’ah
Al-Salafiyah Wa Maktabatuha, Kairo, 1989, Halaman 47, Hadits nomor 95.
[5] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 116, Hadits
nomor 3194.
[6] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4,
Halaman 2006, Hadits nomor 2599.
[7] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al
Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990,
Jilid 1, Halaman 91, Hadits nomor 100.
[8]
Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah Al-Asbahani, Hilyatul Auilya’ Wa Thabaqat Al-
Ashfiya’, Matba’ah Al-Sa’adiyah, Mesir, 1974, Jilid 4, Halaman 72, Tanpa
nomor.
[9] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 10, Hadits nomor
6010.
[10] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan
Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 4, Halaman 215,
Hadits nomor 4659.
[11]
Ibnu Majah Ibnu Abdullah
Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418
H, Jilid 2, Halaman 1436, Hadits nomor 3297.
[12]
Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari, Al-Adab Al-Mufrad, Al-Mathba’ah
Al-Salafiyah Wa Maktabatuha, Kairo, 1989, Halaman 138, Hadits nomor 380.
[13] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 6, Halaman 138, Hadits
nomor 4850.
[14] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4,
Halaman 1828, Hadits nomor 2355.
[15] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 3 halaman 483, Hadits nomor 1924.
[16] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 7, Halaman 121, Hadits
nomor 5673.
[17] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 6, Halaman 2452, Hadits
nomor 6279.
[18] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 115, Hadits
nomor 7377.
[19] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 3, Halaman 198,
Hadits nomor 1659.
[20]
Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Madārij as-Sālikīn bayna Manāzil Iyyāka Na‘budu wa
Iyyāka Nasta‘īn, Juz 2 (Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 2000), 505–512. Pembahasan
rinci tentang manzilah al-khasyah, perbedaan khauf–khasyah, dan pengaruhnya
pada perjalanan spiritual hamba.
[21] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al
Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990,
Jilid 8, Halaman 208, Hadits nomor 7498.
[22]
Abu Bakr Al-Baihaqi, Al-Adab Li Al-Baihaqi, Muassasah Al-Kitab
Al-Tsaqafah, Beirut, 1988, Jilid 1, Halaman 17, Hadits nomor 33.
[23] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 34, Halaman
135, Hadits nomor 20495.
[24] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 5, Hadits nomor
5985.
[25] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 7, Hadits nomor
5997.
[26] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 10, Hadits nomor
6011.
[27] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah
al-‘Alamiyah, , 2009, Jilid 3 halaman 505, Hadits nomor 1955.
[28]
Ibnu Majah Ibnu Abdullah
Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418
H, Jilid 2, Halaman 1265, Hadits nomor 3849.
[29] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 37, Halaman
416, Hadits nomor 22755.
[30]
Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari, Al-Adab Al-Mufrad, Al-Mathba’ah
Al-Salafiyah Wa Maktabatuha, Kairo, 1989, Halaman 133, Hadits nomor 363.
[31] Abu Qasim Al-Thabarani, Mu’jam
Al-Thabarani Ausath, Dar Al Haramain, Kairo, 1995, Jilid 5, Halaman 107,
Hadits nomor 4812.
[32]
Ibnu Majah Ibnu Abdullah
Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418
H, Jilid 2, Halaman 1220, Hadits nomor 3989.
[33]
Malik Ibn Anas, Muwatha’ Al-Imam Malik, Muassasah Al-Risalah, Beirut
1991, Jilid 2, Halaman 908, Hadits nomor 16.
[34] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 13, Halaman
221, Hadits nomor 7816.
[35]
Abu Hatim Muhammad Ibnu Hiban
Ibnu Ahmad, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibu Hazm, Beirut, 2012, Jilid 1,
Halaman 552, Hadits nomor 835.
[36]
Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah Al-Asbahani, Hilyatul Auilya’ Wa Thabaqat Al-
Ashfiya’, Matba’ah Al-Sa’adiyah, Mesir, 1974, Jilid 3, Halaman 192, Tanpa
nomor.
[37] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1, Halaman
494, Hadits nomor 713.
[38]
Ahmad ibn Syuaib Al-Nasa’i, Al-Sunan Al-Kubra, Muassasah Al-Risalah,
Beirut, 2001, Jilid 9, Halaman 118, Hadits nomor 10053.
[39] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 5,
Halaman 153, Hadits nomor 9346.
[40] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Dar Al-Hadits, Kairo, 1995, Jilid 2,
Halaman 233, Hadits nomor 1492.
[41]
Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar
Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 6, Halaman 267, Hadits nomor 4151.
[42] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 6, Halaman 135, Hadits
nomor 4837.
[43]
Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah Al-Asbahani, Hilyatul Auilya’ Wa Thabaqat Al-
Ashfiya’, Matba’ah Al-Sa’adiyah, Mesir, 1974, Jilid 5, Halaman 186, Tanpa
nomor.
[44] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, Dar Ibn Katsir, Damsyiq, 1993, Jilid 5, Halaman 2334, Hadits
nomor 5980.
[45] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al
Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990,
Jilid 1, Halaman 728, Hadits nomor 1996.
[46]
Muhammad ibn Ismail Al-Bukhari, Al-Adab Al-Mufrad, Al-Mathba’ah
Al-Salafiyah Wa Maktabatuha, Kairo, 1989, Halaman 239, Hadits nomor 690.
[47] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah
al-‘Alamiyah, , 2009, Jilid 6 halaman 196, Hadits nomor 3924.
[48] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 36, Halaman
515, Hadits nomor 22181.
[49] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 7, Halaman 121, Hadits
nomor 5674.
[50] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 Halaman
2073, Hadits nomor 2697.
[51] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah Ar-Risalah, 2001, Jilid 31, Halaman
479, Hadits nomor 19138.
[52] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan
Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 1, Halaman 220,
Hadits nomor 832.
[53] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 6 halaman 39, Hadits nomor 3717.
[54]
Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Al-Sunan Al-Kubra, Dar
Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2003, Jilid 10, Halaman 187, Hadits nomor 20306.
[55] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 4, Halaman 170,
Hadits nomor 2329.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar