CERMIN QALBU FUJUR
Melalui Al Quran Surat Asy-Syams/ 91: 7-8, Allah memberikan gambaran tentang keberadaan fujur dan taqwa dalam diri manusia;
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا, فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا
Artinya: dan (demi) jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (QS. Asy-Syams/ 91: 7-8)
Di dalam kitab tafsir Ath-Thabari disebutkan beberapa penjelasan tentang ayat Al Quran surat Asy-Syams/ 91 ayat 8;
حدثني محمد بن سعد، قال: ثني أبي، قال: ثني عمي، قال: ثني أبي، عن أبيه، عن ابن عباس، قوله: (فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا) يقول: بين الخيرَ والشرَّ. [1]
Artinya: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin Sa‘d, ia berkata: ayahku telah menceritakan kepadaku, ia berkata: pamanku telah menceritakan kepadaku, ia berkata: ayahku telah menceritakan kepadaku dari ayahnya, dari Ibnu Abbas tentang firman Allah “Fa alhamahā fujūrahā wa taqwāhā” (QS. Asy-Syams: 8), ia berkata: Allah menjelaskan kepadanya kebaikan dan keburukan.
محمد بن سعد، قال: ثني أبي، قال: ثني عمي، قال: ثني أبي، عن أبيه، عن ابن عباس: (فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا) قال: علَّمها الطاعة والمعصية. [2]
Artinya: Dari Muhammad bin Sa‘d, dari ayahnya, dari pamannya, dari ayahnya, dari kakeknya, dari Ibnu Abbas mengenai firman Allah tersebut, beliau berkata: Allah mengajarkan kepada jiwa itu ketaatan dan kemaksiatan.
حدثني يونس، قال: أخبرنا ابن وهب، قال: قال ابن زيد، في قوله: (فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا) قال: جعل فيها فجورَها وتقواها[3].
Artinya: Telah menceritakan kepadaku Yunus, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb, ia berkata: Ibnu Zaid menafsirkan firman Allah “Fa alhamahā fujūrahā wa taqwāhā” dengan mengatakan: Allah menjadikan dalam diri manusia kecenderungan kepada kefajiran dan ketakwaannya.
Ayat Al Quran tersebut memberikan informasi bahwa dalam proses penyempurnaan penciptaan manusia, manusia diberi ruh (jiwa) kemudian di dalam jiwa itu diilhami (install system operasi) Fujur dan Taqwa. Fujur merupakan potensi keburukan, durhaka kepada Allah, sedangkan taqwa merupakan potensi kebaikan, ketaatan kepada Allah, keduanya memiliki potensi yang sama, yaitu mampu memilih dan mengendalikan amal perbuatan manusia, dorongan fujur atau taqwa inilah yang menentukan nilai amal perbuatan manusia, bernilai kebaikan atau keburukan.
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 3270 juga digambarkan bahwa Manusia terdiri dari dua kelompok: yaitu baik, bertakwa, mulia bagi Allah dan keji, sengsara, hina bagi Allah;
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ النَّاسَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَتَعَاظُمَهَا بِآبَائِهَا فَالنَّاسُ رَجُلَانِ بَرٌّ تَقِيٌّ كَرِيمٌ عَلَى اللَّهِ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ هَيِّنٌ عَلَى اللَّهِ وَالنَّاسُ بَنُو آدَمَ وَخَلَقَ اللَّهُ آدَمَ مِنْ تُرَابٍ قَالَ اللَّهُ { يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ } قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ يُضَعَّفُ ضَعَّفَهُ يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ وَغَيْرُهُ وَعَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ هُوَ وَالِدُ عَلِيِّ بْنِ الْمَدِينِيِّ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَابْنِ عَبَّاسٍ[4]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr telah mengkhabarkan kepada kami Abdullah bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam berkhutbah saat penaklukkan Makkah, beliau bersabda: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kebanggaan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyangnya dari kalian. Manusia terbagi dua: baik, bertakwa, mulia bagi Allah dan keji, sengsara, hina bagi Allah. Manusia adalah anak cucu Adam dan Allah menciptakan Adam dari tanah. Allah berfirman: "Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al Hujuraat: 13) Abu Isa berkata: Hadits ini gharib, kami hanya mengetahuinya dari hadits Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar dari jalur sanad ini. Abdullah bin Ja'far dilemahkan oleh Yahya bin Ma'in dan lainnya. Abdullah bin Ja'far adalah ayah Ali bin Al Madini. Abu Isa berkata: Dalam hal ini ada hadits serupa dari Abu Hurairah dan Ibnu Abbas.
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi Hadits nomor. 279 dinyatakan bahwa (yang ada) hanyalah mukmin yang bertakwa atau pendosa yang celaka;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ يَفْتَخِرُونَ بِآبَائِهِمْ الَّذِينَ مَاتُوا إِنَّمَا هُمْ فَحْمُ جَهَنَّمَ أَوْ لَيَكُونُنَّ أَهْوَنَ عَلَى اللَّهِ مِنْ الْجُعَلِ الَّذِي يُدَهْدِهُ الْخِرَاءَ بِأَنْفِهِ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَفَخْرَهَا بِالْآبَاءِ إِنَّمَا هُوَ مُؤْمِنٌ تَقِيٌّ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ النَّاسُ كُلُّهُمْ بَنُو آدَمَ وَآدَمُ خُلِقَ مِنْ تُرَابٍ وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَبُو عِيسَى وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ [5]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar telah menceritakan kepada kami Abu 'Amir Al 'Aqadi telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Sa'd dari Sa'id bin Abu Sa'id Al Maqburi dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda: "Hendaklah mereka segera berhenti dari membangga-banggakan nenek moyang mereka yang telah mati, -hanyasanya nenek moyang mereka adalah arang neraka Jahannam- atau mereka lebih hina di sisi Allah dari hewan yang mendorong kotoran dengan hidungnya, sesungguhnya Allah telah menghapus dari kalian seruan Jahiliyyah dan berbangga-bangga dengan nenek moyang, (yang ada) hanyalah mukmin yang bertakwa atau pendosa yang celaka, semua manusia adalah anak Adam, sedangkan Adam tercipta dari tanah." Dan dalam bab ini, ada juga riwayat dari Ibnu Umar dan Ibnu Abbas. Abu Isa berkata: "Hadits ini adalah hadits hasan gharib."
Senada dengan Al Quran Surat Asy-Syams/ 91: 7-8, dua hadits tersebut menjelaskan bahwa realitanya manusia hanya terdiri dari dua, yaitu mukmin yang bertakwa atau pendosa yang celaka.
Di dalam Al Quran Surat Al-Maidah/ 5: 27, ditegaskan bahwa sesungguhnya Allah hanya menerima amal yang dilakukan berdasar ketaqwaan;
وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ
Artinya: Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".(QS. Al-Maidah/ 5: 27)
Nabi Muhammad SAW memberikan informasi yang berkaitan dengan alat/tempat yang menjadi penentu nilai perbutan manusia, dimuat di dalam hadits yang diriwayatkan Imam Bukhari nomor 52 ;
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ.. أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ [6]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abu Nu'aim] Telah menceritakan kepada kami [Zakaria] dari ['Amir] berkata; aku mendengar [An Nu'man bin Basyir] berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:.. Dan ketahuilah pada setiap tubuh ada segumpal darah yang apabila baik maka baiklah tubuh tersebut dan apabila rusak maka rusaklah tubuh tersebut. Ketahuilah, ia adalah hati".
Melalui hadits di atas Nabi Muhammad menegaskan bahwa alat yang ada di dalam tubuh manusia, yang dapat dijadikan sebagai barometer untuk mengetahui nilai amal perbuatan manusia, yaitu Qalbu yang secara fisik menunjuk pada jantung, sedangkan dalam bahasa Indonesia diartikan dengan hati. Jadi amal perbuatan manusia ditentukan berdasar qalbu bukan ditentukan berdasar pada apa yang tampak pada perbuatan tubuh manusia, dengan demikian apa yang terlihat secara kasat mata tampak oleh manusia beramal shalih, belum tentu benar-benar bernilai amal shalih di sisi Allah.
Hadits di ini juga memberi penjelasan bahwa tindakan yang dapat dilakukan dengan tubuh manusia, berupa perbuatan, perkataan dan sikap, dapat dikategorikan menjadi dua kelompok, yaitu shalih; yang berdampak pada kebaikan dan Fasad; yang berdampak pada kerusakan.
Karunia yang diberikan Allah bagi orang yang bertaqwa kepada Allah adalah diberi Furqan, yaitu kemampuan untuk memahami perbedaan antara yang baik dan yang buruk, dengan pemahaman tersebut kemudian tumbuh kesadaran untuk meninggalkan keburukan, hal ini diungkapkan di dalam Al Quran surat Al-Anfal/ 8: 29;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
Artinya: Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar. (QS. Al-Anfal/ 8: 29)
Di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 185 dinyatakan bahwa Al Quran merupakan petunjuk, keterangan dari petunjuk dan furqan;
شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.(QS. Al-Baqarah/ 2: 185)
Ayat di atas dapat difahami bahwa antara satu ayat dengan ayat yang lain dapat digunakan sebagai keterangan, juga dapat digunakan sebagai penjelas perbedaan, di sini akan dikemukakan beberapa ayat Al Quran dan Hadits yang berkaitan dengan qalbu dan aktifitas bercermin; melihat, mengukur diri sendiri, untuk mengetahui baik atau buruknya diri sendiri;
1. Bertaqwalah-Melihat Diri-Bertaqwalah
Al Quran surat Al-Hasyr/ 59: 18 memberikan gambaran bahwa introspeksi diri merupakan bentuk ketaqwaan;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Hasyr/ 59: 18)
Ayat ini mengandung perintah untuk bertakwa dan memperhatikan apa yang telah diperbuat, artinya memperhatikan amal perbuatannya sendiri untuk mengukur tingkat ketakwaan merupakan bentuk ketakwaan.
2. Tidak Bertaqwa Kecuali Telah Menghisab/ Mengukur Diri Sendiri
Di dalam Kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2459, dijelaskan bahwa Seorang hamba tidak akan bertakwa hingga dia menghisab dirinya sebagaimana dia menghisab temannya;
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ ح و حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ أَخْبَرَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ أَبِي بَكْرِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ قَالَ وَمَعْنَى قَوْلِهِ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ يَقُولُ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا قَبْلَ أَنْ يُحَاسَبَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيُرْوَى عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ حَاسِبُوا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوا وَتَزَيَّنُوا لِلْعَرْضِ الْأَكْبَرِ وَإِنَّمَا يَخِفُّ الْحِسَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَى مَنْ حَاسَبَ نَفْسَهُ فِي الدُّنْيَا وَيُرْوَى عَنْ مَيْمُونِ بْنِ مِهْرَانَ قَالَ لَا يَكُونُ الْعَبْدُ تَقِيًّا حَتَّى يُحَاسِبَ نَفْسَهُ كَمَا يُحَاسِبُ شَرِيكَهُ مِنْ أَيْنَ مَطْعَمُهُ وَمَلْبَسُهُ.[7].
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Sufyan bin Waqi'] telah menceritakan kepada kami ['Isa bin Yunus] dari [Abu Bakar bin Abu Maryam], dan telah mengkhabarkan kepada kami [Abdullah bin Abdurrahman] telah mengkhabarkan kepada kami ['Amru bin 'Aun] telah mengkhabarkan kepada kami [Ibnu Al Mubarak] dari [Abu Bakar bin Abu Maryam] dari [Dlamrah bin Habib] dari [Syaddad bin Aus] dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam beliau bersabda: "Orang yang cerdas adalah orang yang mempersiapkan dirinya dan beramal untuk hari setelah kematian, sedangkan orang yang bodoh adalah orang jiwanya mengikuti hawa nafsunya dan berangan angan kepada Allah." Dia berkata: Hadis ini hasan, dia berkata: Maksud sabda Nabi "Orang yang mempersiapkan diri" dia berkata: Yaitu orang yang selalu mengoreksi dirinya pada waktu di dunia sebelum di hisab pada hari Kiamat. Dan telah diriwayatkan dari Umar bin Al Khottob dia berkata: hisablah (hitunglah) diri kalian sebelum kalian dihitung dan persiapkanlah untuk hari semua dihadapkan (kepada Rabb Yang Maha Agung), hisab (perhitungan) akan ringan pada hari kiamat bagi orang yang selalu menghisab dirinya ketika di dunia." Dan telah diriwayatkan dari Maimun bin Mihran dia berkata: Seorang hamba tidak akan bertakwa hingga dia menghisab dirinya sebagaimana dia menghisab temannya dari mana dia mendapatkan makan dan pakaiannya."
Menghisab; menghitung diri sama dengan melihat diri, mengukur diri seberapa tingkat kebaikannya merupakan bentuk ketakwaan.
3. Apakah Kamu Tidak Memperhatikan Pada Dirimu Sendiri ?
Di dalam Al Quran Surat Az-Zariyat/ 51: 21, terkandung peringatan kepada manusia untuk memperhatikan dirinya sendiri;
وَفِي أَنْفُسِكُمْ ۚ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
Artinya: dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. Az-Zariyat/ 51: 21)
4. Seorang Mukmin Itu Cermin Bagi Mukmin Lainnya
Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadis nomor 4918 dijelaskan bahwa Seorang mukmin itu cermin bagi mukmin lainnya;
حَدَّثَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ الْمُؤَذِّنُ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ سُلَيْمَانَ يَعْنِي ابْنَ بِلَالٍ عَنْ كَثِيرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ رَبَاحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُ مِرْآةُ الْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنُ أَخُو الْمُؤْمِنِ يَكُفُّ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَيَحُوطُهُ مِنْ وَرَائِهِ .[8] .
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ar Rabi' bin Sulaiman Al Muadzdzin berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb dari Sulaiman -maksudnya Sulaiman bin bilal- dari katsir bin Zaid dari Al Walid bin Rabah dari Abu Hurairah dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Seorang mukmin itu cermin bagi mukmin lainnya, dan seorang mukmin itu saudara bagi mukmin lainnya; ia membantunya saat kehilangan (ikut menanggung kesulitannya) serta menjaganya (membelanya) dari belakang."
5. Sesungguhnya Seorang Dari Kalian Cermin Bagi Saudaranya
Di dalam kitab Sunan Abi Daud hadits nomor 4918, dijelaskan bahwa Sesungguhnya seorang dari kalian cermin bagi saudaranya, jika dia melihat ada aib padanya maka hendaknya dia menghilangkannya darinya;
حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَحَدَكُمْ مِرْآةُ أَخِيهِ فَإِنْ رَأَى بِهِ أَذًى فَلْيُمِطْهُ عَنْهُ قَالَ أَبُو عِيسَى وَيَحْيَى بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ ضَعَّفَهُ شُعْبَةُ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَنَسٍ.[9] .
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad, telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Al Mubarak, telah mengabarkan kepada kami Yahya bin Ubaidullah dari bapaknya dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya seorang dari kalian cermin bagi saudaranya, jika dia melihat ada aib padanya maka hendaknya dia menghilangkannya darinya." Berkata Abu Isa: Yahya bin Ubaidillah didha'ifkan oleh Syu'bah. Hadits semakna diriwayatkan dari Anas.
6. Qalbu Orang Beriman Itu Putih, Bening, Jelas, Dapat Untuk Menghias Diri Bagaikan Cermin
Di dalam kitab Syuabul Imam Baihaqi jilid 5 halaman 441 hadis nomor 7205, 7347, dijelaskan bahwa Qalbu orang beriman itu putih, bening, jelas, dapat untuk menghias diri bagai cermin;
أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، أَنَا أَبُو جَعْفَرِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْخَوَّاصُ، حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ نَصْرٍ، حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ: سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ أَدْهَمَ يَقُولُ: " قَلْبُ الْمُؤْمِنِ أَبْيَضُ نَقِيٌّ مَجْلِيٌّ مُحَلًّى مِثْلَ الْمِرْآةِ، فَلَا يَأْتِيهُ الشَّيْطَانُ مِنْ نَاحِيَةٍ مِنَ النَّوَاحِي بِشَيْءٍ مِنَ الْمَعَاصِي إِلَّا نَظَرَ إِلَيْهِ كَمَا يَنْظُرُ إِلَى وَجْهِهِ فِي الْمِرْآةِ، فَإِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِنْ تَابَ مِنْ ذَنْبِهِ مُحِيَتِ النُّكْتَةُ مِنْ قَلْبِهِ وَانْجَلَى، وَإِنْ لَمْ يَتُبْ وَعَاوَدَ أَيْضًا، وَتَتَابَعَتِ الذُّنُوبُ، ذَنْبٌ بَعْدَ ذَنْبٍ، نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ نُكْتَةٌ حَتَّى يَسْوَدَّ الْقَلْبُ، وَهُوَ قَوْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [المطففين: 14]، قَالَ: " الذَّنْبُ بَعْدَ الذَّنْبِ، حَتَّى يَسْوَدَّ الْقَلْبُ فِي إِبْطَاءٍ، مَا نَجَعَ فِي هَذَا الْقَلْبِ الْمَوَاعِظُ، فَإِنْ تَابَ إِلَى اللهِ قَبِلَهُ اللهُ وَانْجَلَى عَنْ قَلْبِهِ كَجَلْيِ الْمِرْآةِ " [10]
Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Abu Ubaidillah Al Hafidz, Aku Abu Ja’far ibnu Muhammad Al Khawash, telah menceriterakan kepadaku Ibrahim ibnu Nashir telah menceriterakan kepadaku Ibrahim ibnu Basyar, berkata; aku telah mendengar Ibrahim bin Adham berkata: Qalbu orang beriman itu putih, bening, jelas, dapat untuk menghias diri bagaikan cermin, maka syetan tidak dapat datang dengan maksiat dari berbagai arah kecuali melihat kepadanya sebagaimana melihat wajah di cermin, maka jika berbuat sebuah dosa terdapat titik di dalam qalbunya titik hitam, maka jika bertaubat dari dosanya terhapuslah titik dari qalbunya dan kembali bening, dan jika belum bertaubat dan mengulangi lagi, dan diikuti dosa, dosa-dosa yang lain, terdapat titik di dalam qalbunya titik yang banyak hingga qalbu menjadi hitam, yaitu sebagaimana Firman Allah azza wa jalla “ Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”.QS. Al Muthafifin: 14, dia berkata dosa sesudah dosa hingga qalbu perlahan-lahan menjadi hitam, pada qalbu ini pelajaran tidak berguna, tetapi jika bertaubat kepada Allah, Allah menerimanya dan qalbu menjadi bening seperti beningnya cermin.
Di dalam kitab Shahih Muslim hadis nomor 231 qalbu tersebut terbagi dua: sebagian menjadi putih bagaikan batu licin yang tidak lagi terkena bahaya fitnah (cobaan, gangguan, hasutan) Sedangkan sebagian yang lain menjadi hitam keabu-abuan seperti bekas tembaga berkarat, tidak menyuruh kebaikan dan tidak pula melarang kemungkaran kecuali sesuatu yang diserap oleh hawa nafsunya
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ يَعْنِي سُلَيْمَانَ بْنَ حَيَّانَ عَنْ سَعْدِ بْنِ طَارِقٍ عَنْ رِبْعِيٍّ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ أَيُّكُمْ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ الْفِتَنَ فَقَالَ قَوْمٌ نَحْنُ سَمِعْنَاهُ فَقَالَ لَعَلَّكُمْ تَعْنُونَ فِتْنَةَ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَجَارِهِ قَالُوا أَجَلْ قَالَ تِلْكَ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ وَلَكِنْ أَيُّكُمْ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ الْفِتَنَ الَّتِي تَمُوجُ مَوْجَ الْبَحْرِ قَالَ حُذَيْفَةُ فَأَسْكَتَ الْقَوْمُ فَقُلْتُ أَنَا قَالَ أَنْتَ لِلَّهِ أَبُوكَ قَالَ حُذَيْفَةُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتْ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ [11]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abdullah bin Numair] telah menceritakan kepada kami [Abu Khalid] -yaitu Sulaiman bin Hayyan- dari [Sa'ad bin Thariq] dari [Rib'i] dari [Hudzaifah] dia berkata, "Umar pernah bertanya kepadaku ketika aku bersamanya, 'Siapakah di antara kamu yang pernah mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. meriwayatkan tentang fitnah (godaan, gangguan, hasutan)? ' Para Sahabat menjawab, 'Kami pernah mendengarnya! ' Umar bertanya, 'Apakah yang kamu maksud fitnah seorang lelaki bersama keluarga dan tetangganya? ' Mereka menjawab, 'Ya, benar.' Umar lalu berkata, 'Fitnah tersebut bisa dihapuskan oleh shalat, puasa, dan zakat. Tetapi, siapakah di antara kamu yang pernah mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda tentang fitnah yang bergelombang sebagaimana gelombangnya lautan? ' Hudzaifah berkata, 'Para Sahabat terdiam.' Kemudian Hudzaifah berkata, 'Aku, wahai Umar! ' Umar berkata, 'Kamu! Ayahmu sebagai tebusan bagi Allah.' Hudzaifah berkata, "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Fitnah akan dipaparkan pada qalbu manusia bagai tikar yang dipaparkan perutas (secara tegak menyilang antara satu sama lain). Mana pun hati yang dihinggapi oleh fitnah, niscaya akan terlekat padanya bintik-bintik hitam. Begitu juga mana pun hati yang tidak dihinggapinya, maka akan terlekat padanya bintik-bintik putih sehingga qalbu tersebut terbagi dua: sebagian menjadi putih bagaikan batu licin yang tidak lagi terkena bahaya fitnah, selama langit dan bumi masih ada. Sedangkan sebagian yang lain menjadi hitam keabu-abuan seperti bekas tembaga berkarat, tidak menyuruh kebaikan dan tidak pula melarang kemungkaran kecuali sesuatu yang diserap oleh hawa nafsunya.
8. Tidak Sama Yang Buruk Dengan Yang Baik, Meskipun Banyaknya Yang Buruk Itu Menarik Hatimu
Di dalam Al Quran Surat Al-Ma'idah/ 5: 100, dijelaskan bahwa Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal;
قُلْ لَا يَسْتَوِي الْخَبِيثُ وَالطَّيِّبُ وَلَوْ أَعْجَبَكَ كَثْرَةُ الْخَبِيثِ ۚ فَاتَّقُوا اللَّهَ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Artinya: Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan".(HR. Al-Ma'idah/ 5: 100)
9. Mintalah Petunjuk Pada Hati Dan Jiwamu; Bercerminlah Pada Qalbumu
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 17320 dijelaskan bahwa mintalah petunjuk pada hati dan jiwamu, Kebaikan itu adalah sesuatu yang dapat menenangkan dan menentramkan jiwa. Sedangkan keburukan itu adalah sesuatu yang meresahkan hati dan menyesakkan dada, meskipun manusia memberimu fatwa dan membenarkanmu;
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ أَخْبَرَنَا الزُّبَيْرُ أَبُو عَبْدِ السَّلَامِ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مِكْرَزٍ وَلَمْ يَسْمَعْهُ مِنْهُ قَالَ حَدَّثَنِي جُلَسَاؤُهُ وَقَدْ رَأَيْتُهُ عَنْ وَابِصَةَ الْأَسَدِيِّ قَالَ عَفَّانُ حَدَّثَنِي غَيْرَ مَرَّةٍ وَلَمْ يَقُلْ حَدَّثَنِي جُلَسَاؤُهُ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ لَا أَدَعَ شَيْئًا مِنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ إِلَّا سَأَلْتُهُ عَنْهُ وَحَوْلَهُ عِصَابَةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ يَسْتَفْتُونَهُ فَجَعَلْتُ أَتَخَطَّاهُمْ قَالُوا إِلَيْكَ يَا وَابِصَةُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ دَعُونِي فَأَدْنُوَ مِنْهُ فَإِنَّهُ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ أَنْ أَدْنُوَ مِنْهُ قَالَ دَعُوا وَابِصَةَ ادْنُ يَا وَابِصَةُ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا قَالَ فَدَنَوْتُ مِنْهُ حَتَّى قَعَدْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَقَالَ يَا وَابِصَةُ أُخْبِرُكَ أَوْ تَسْأَلُنِي قُلْتُ لَا بَلْ أَخْبِرْنِي فَقَالَ جِئْتَ تَسْأَلُنِي عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ نَعَمْ فَجَمَعَ أَنَامِلَهُ فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهِنَّ فِي صَدْرِي وَيَقُولُ يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ وَأَفْتَوْكَ [12]..
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengabarkan kepada kami Az Zubair Abu Abdus Salam dari Ayyub bin Abdullah bin Mikraz -namun ia tidak mendengar hadits itu darinya- ia berkata, telah menceritakan kepadaku orang-orang yang duduk bersamanya dan saya melihatnya dari Wabishah Al Asadi -Affan berkata; ia telah menceritakan kepadaku beberapa kali, namun ia belum pernah mengatakan, 'Telah menceritakan kepadaku orang-orang yang bermajelis dengannya'-, Ia berkata, " Saya datang kepada Rasulullah ﷺ, dan saya ingin agar tidak ada sesuatu baik berupa kebaikan atau keburukan kecuali aku telah menanyakannya pada beliau. Dan pada saat itu di sekeliling beliau banyak terdapat kaum muslimin yang sedang meminta nasehat kepadanya beliau. Maka aku pun nekar melangkahi mereka hingga orang-orang itu berkata, "Wahai Wabishah, menjauhlah dari Rasulullah ﷺ, menjauhlah wahai Wabishah!" Saya berkata, "Biarkan saya mendekat kepada beliau. Karena beliau adalah orang yang paling saya cintai dan sukai untuk saya dekati." Maka beliau pun berkata, "Biarkan Wabisah mendekat. Mendekatlah wahai Wabishah." Beliau mengatakannya dua atau tiga kali. Wabishah berkata, "Saya pun mendekat kepada beliau hingga saya duduk di hadapannya. Kemudian beliau bertanya: "Wahai Wabisah, aku beritahukan kepadamu atau kamu yang akan bertanya padaku?" saya menjawab, "Tidak, akan tetapi beritahukanlah padaku." Beliau lantas bersabda: "Kamu datang untuk bertanya mengenai kebaikan dan keburukan (dosa)?" Saya menjawab."Benar." Beliau kemudian menyatukan ketiga jarinya seraya menepukkannya ke dadaku. Setelah itu beliau bersabda: "Wahai Wabishah, mintalah petunjuk pada hati dan jiwamu -beliau mengulanginya tiga kali-. Kebaikan itu adalah sesuatu yang dapat menenangkan dan menentramkan jiwa. Sedangkan keburukan itu adalah sesuatu yang meresahkan hati dan menyesakkan dada, meskipun manusia memberimu fatwa dan membenarkanmu." (HR. Ahmad: 17320)
10. Berbakti, Taqwa, Mulia VS Durhaka, Kurang ajar, Hina
Di dalam kitab hadits Sunan Tirmidzi hadits nomor 3193 dijelaskan bahwa Manusia terbagi dua; bakti, bertakwa, mulia bagi Allah dan durhaka, kurang ajar, hina bagi Allah;
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ دِينَارٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطَبَ النَّاسَ يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ قَدْ أَذْهَبَ عَنْكُمْ عُبِّيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ وَتَعَاظُمَهَا بِآبَائِهَا فَالنَّاسُ رَجُلَانِ بَرٌّ تَقِيٌّ كَرِيمٌ عَلَى اللَّهِ وَفَاجِرٌ شَقِيٌّ هَيِّنٌ عَلَى اللَّهِ وَالنَّاسُ بَنُو آدَمَ وَخَلَقَ اللَّهُ آدَمَ مِنْ تُرَابٍ قَالَ اللَّهُ { يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ }[13]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr telah mengkhabarkan kepada kami Abdullah bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Dinar dari Ibnu Umar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam berkhutbah saat penaklukkan Makkah, beliau bersabda: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kebanggaan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyangnya dari kalian. Manusia terbagi dua; bakti, bertakwa, mulia bagi Allah dan durhaka, bangsat, hina bagi Allah. Manusia adalah anak cucu Adam dan Allah menciptakan Adam dari tanah. Allah berfirman: "Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal." (Al Hujuraat: 13).
11. Kebaikan Itu Adalah Kebiasaan (‘Aadah). Dan Keburukan Adalah Keras Kepala (Lajaajah).
Di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 4644 dinyatakan bahwa Kebaikan itu adalah kebiasaan (‘Aadah). Dan keburukan adalah keras kepala (Lajaajah).
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ خَلِيلٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا مَرْوَانُ بْنُ جُنَاحٍ، عَنْ يُونُسَ بْنِ مَيْسَرَةَ، قَالَ: سَمِعْتُ مُعَاوِيَةَ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: الْخَيْرُ عَادَةٌ، وَالشَّرُّ لَجَاجَةٌ، مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ. [14]
Artinya: Muhammad bin Hasan bin Khalil mengabarkan kepada kami, ia berkata, Hisyam bin Ammar menceritakan kepada kami, ia berkata, Al Walid bin Muslim menceritakan kepada kami, ia berkata, Marwan bin Janah menceritakan kepada kami, dari Yunus bin Maisarah, ia berkata, “Aku mendengar Mu’awiyah bercerita dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Kebaikan itu adalah kebiasaan (‘Aadah). Dan keburukan adalah keras kepala (Lajaajah). Apabila Allah SWT menghendaki kebaikan atas seseorang, maka Dia akan memberikan kefahaman tentang urusan agama.
12. Kebaikan Adalah Budi Pekerti Yang Baik, Sedangkan Dosa Adalah Apa Yang Terlintas/Terdetik Dalam Dadamu Dan Kamu Tidak Suka Jika Hal Itu Diketahui Orang Lain.
Di dalam kitab Shahih Muslim hadis nomor 2003 dinyatakan bahwa Kebaikan adalah budi pekerti yang baik, sedangkan dosa adalah apa yang terlintas/terdetik dalam dadamu dan kamu tidak suka jika hal itu diketahui orang lain.
حَدَّثَنِي هَارُونُ بْنُ سَعِيدٍ الْأَيْلِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي مُعَاوِيَةُ يَعْنِي ابْنَ صَالِحٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ نَوَّاسِ بْنِ سِمْعَانَ قَالَ أَقَمْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْمَدِينَةِ سَنَةً مَا يَمْنَعُنِي مِنْ الْهِجْرَةِ إِلَّا الْمَسْأَلَةُ كَانَ أَحَدُنَا إِذَا هَاجَرَ لَمْ يَسْأَلْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ شَيْءٍ قَالَ فَسَأَلْتُهُ عَنْ الْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبِرُّ حُسْنُ الْخُلُقِ وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي نَفْسِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ [15]
Artinya: Telah menceritakan kepadaku [Harun bin Sa'id Al Aili]; Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Wahb]; Telah menceritakan kepadaku [Mu'awiyah] yaitu Ibnu Shalih dari ['Abdur Rahman bin Jubair bin Nufair] dari [Bapaknya] dari [Nawwas bin Sim'an] dia berkata; "Saya pernah tinggal bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam selama satu tahun di Madinah. Saya tidak dapat pergi hijrah (bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam) karena adanya suatu masalah." Seseorang dari kami apabila berhijrah biasanya tidak menanyakan tentang sesuatupun kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Kemudian saya bertanya kepada Rasulullah tentang kebaikan dan dosa. Lalu beliau bersabda: 'Kebaikan adalah budi pekerti yang baik, sedangkan dosa adalah apa yang terlintas/terdetik dalam dadamu dan kamu tidak suka jika hal itu diketahui orang lain.'
13. Ada Manusia Yang Diciptakan Menjadi Pembuka Kebaikan Atau Pembuka Keburukan
Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 233 dinyatakan bahwa di antara manusia ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup kejahatan dan ada ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kejahatan dan penutup kebaikan;
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ الْحَسَنِ الْمَرْوَزِيُّ أَنْبَأَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَدِيٍّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي حُمَيْدٍ حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ وَإِنَّ مِنْ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ [16]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Al Husain bin Al Hasan Al Marwazi berkata, telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin Abu 'Adi berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abu Humaid berkata, telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Ubaidullah bin Anas dari Anas bin Malik ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesunggunya di antara manusia ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kebaikan dan penutup kejahatan. Dan di antara manusia itu juga ada yang menjadi kunci-kunci pembuka kejahatan dan penutup kebaikan. Maka beruntunglah bagi orang yang Allah jadikan sebagai kunci-kunci pembuka kebaikan melalui tangan-Nya, dan celakalah bagi orang yang Allah jadikan sebagai kunci-kunci pembuka kejahatan melalui tangannya." (HR. Ibnu Majah: 233)
Di dalam kitab Ad Du’a At Thabarani hadits nomor 403 dan 404 disebutkan doa Rasulullah SAW ketika bercermin;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زَكَرِيَّا الْغَلَابِيُّ، ثنا الْعَبَّاسُ بْنُ بَكَّارٍ الضَّبِّيُّ، ثنا أَبُو بَكْرٍ الْهُذَلِيُّ، عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا نَظَرَ فِي الْمَرْآةِ قَالَ: «الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَنِي وَأَحْسَنَ خَلْقِي، وَزَانَ مِنِّي مَا شَانَ مِنْ غَيْرِي»
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Zakariya Al-Ghalabi, telah menceritakan kepada kami Al-‘Abbas bin Bakkar Ad-Dhabbi, telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Al-Hudzali, dari Tsumamah bin ‘Abdillah bin Anas, dari Anas bin Malik, bahwa Nabi ﷺ apabila melihat ke dalam cermin, beliau mengucapkan: "Segala puji bagi Allah yang telah menciptakanku dan memperindah penciptaanku, serta memperbagus dariku apa yang Dia jadikan buruk pada selainku." (HR. Thabarani, Ad Du’a At Thabarani: 403)
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، ثنا مُعَلَّى بْنُ أَسَدٍ الْعَمِّيُّ، ثنا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ الْمُخْتَارِ، عَنْ عَاصِمٍ الْأَحْوَلِ، عَنْ عَوْسَجَةَ بْنِ الرَّمَّاحِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي الْهُذَيْلِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ كَمَا حَسَّنْتَ خَلْقِي فَحَسِّنْ خُلُقِي»
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Mu‘alla bin Asad Al-‘Ammi, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Al-Mukhtar, dari ‘Ashim Al-Ahwal, dari ‘Awsajah bin Ar-Rammah, dari Abdullah bin Abi Al-Hudzail, dari Abdullah bin Mas‘ud, ia berkata:Rasulullah ﷺ biasa berdoa: "Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memperindah penciptaanku, maka perindahlah pula akhlakku." (HR. Thabarani, Ad Du’a At Thabarani: 404)
Ayat-ayat Al Quran dan Hadits yang telah dikemukakan memberikan gambaran bahwa qalbu manusia memiliki dua potensi, yaitu baik dan buruk, seorang mukmin diperintahkan untuk menhisab; menghitung; mengukur kebaikan dan keburukan dalam qalbunya, dasar-dasar penyusunan “Cermin Qalbu” telah dikemukakan pada buku “Ilmu Taqwa” seri kedua “Hakekat Taqwa Memahami Pengertian dan Tingkatan Taqwa” maka pada buku “Ilmu Taqwa” seri ketiga “Cermin Qalbu Melihat Fujur dan Taqwa Pada Diri Sendiri” pembahasannya akan berfokus pada “Cermin Qalbu” yang dapat digunakan sebgai sarana untuk bercermin; melihat qalbu sendiri, karena nilai kebaikan sebuah amal perbuatan yang sesungguhnya ada di dalam qalbu, nilai baik diukur dengan ketaqwaan dan nilai buruk diukur dengan fujur.
Di dalam “Cermin Qalbu” disebutkan bahwa ketakwaan memiliki nilai bertingkat dari nol, positif satu sampai nilai positif sepuluh, demikian juga fujur memilki nilai bertingkat mulai dari nilai negatif satu sampai dengan nilai negatif sepuluh. Satu amal perbuatan hanya dapat memilki satu nilai, bernilai fujur atau bernilai taqwa saja, amal perbuatan yang secara dhahir tampak sebagi amal perbutan ketaqwaan dapat rusak nilai ketaqwaannya disebabkan ada nilai fujur di dalam qalbu, sehingga amal perbuatannya menjadi bernilai fujur, contohnya Shalat berjamaah bila di dalam qalbu terdapat nafsiyah; riya maka shalat jamaah tidak bernilai sebagai ketaqwaan tetapi bernilai fujur karena riya.
Adapun tingkatan taqwa dan tingkatan fujur, dikemukakan dalam bentuk gambar tabel “Cermin Qalbu” berikut;
Pada bab-bab berikutnya akan dikemukakan pembahasan tentang masing-masing tingkat, pembahasannya lebih banyak dengan mengemukakan ayat-ayat Al Quran maupun Hadits sesuai dengan tingkatan yang sedang dibahas, ayat-ayat Al Quran dan Hadits yang disusun secara sistematis sesuai tingkatannya, diharapkan dapat memunculkan kesadaran kepada para pembaca untuk melihat ke dalam qalbu sendiri, sehingga bersedia meninggalkan atau membersihkan qalbu dari keburukan (fujur) dan sekaligun bersedia meningkatkan kebaikan (takwa). Cermin Qalbu diharapkan dapat digunakan sebagai pedoman dan alat ukur dalam Upaya membersihkan diri dari fujur dan menumbuhkan takwa.
Doa Ketika Bercermin
“الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَنِي وَأَحْسَنَ خَلْقِي، وَزَانَ مِنِّي مَا شَانَ مِنْ غَيْرِي”
"Segala puji bagi Allah yang telah menciptakanku dan memperindah penciptaanku, serta memperbagus dariku apa yang Dia jadikan buruk pada selainku."
(HR. Thabarani, Ad Du’a At Thabarani: 403)
[1] Muhammad ibnu Jarir Ath-Thabari, Jami’ al-Bayan ‘An Ta’wil Ayyi al-Quran, Dar at Tarbiyah Wa at-Turats, Makah Al-Mukaramah, Jilid 24, Halaman 455.
[2] Ibid.
[3] Ibid.
[4] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 5 halaman 309, Hadits nomor 3270
[5] Ibid, Jilid 6, Halaman 224, hadits nomor 279.
[6] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 60, Hadits nomor 52.
[7] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Syirkah Maktabah Wa Mathba’ah Musthafa Al Babi Al Halbi, Mesir, 1975, Jilid 4 halaman 639, Hadits nomor 2459.
[8] Abu Daud Sulaiman, Sunan Abi Daud, Al-Maktabah Al-‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid 4 Halaman 280, Hadits nomor 4918.
[9] Abu Daud Sulaiman, Sunan Abi Daud, Ad-Dar Ar Risalah Al-‘Aliyah, 2009, Jilid 7, Hal. 279, Hadits nomor 4918.
[10] Abu Bakr Ahmad ibn Al Husain Al-Baihaqi, Syu’ab Al Iman, Dar Al Kutub Al “Ilmiyah, Jilid 5 Halaman 441, Hadits nomor 7205.
[11] Abu Al-Husain Muslim ibn Al-Hajaj, Al-Jami’ Al-Shahih (Shahih Muslim), Dar Al-Amirah, Turkey, Jilid 1, Halaman 89, Hadits nomor 231.
[12] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 29, Halaman 533, Hadits nomor 18004.
[13] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 5 halaman 309, Hadits nomor 3270
[14] Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibnu Hazm, Beirut, Jilid 5, Halam, 407, Hadits nomor 4644.
[15] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 1980, Hadits nomor 12 (2003).
[16] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 1, Halaman 86, Hadits nomor 237.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar