57. Bertakwa Menjadikan Seseorang Senantiasa Berada Dalam Kebaikan
Keistimewaan ke
lima puluh tujuh “Bertakwa menjadikan seseorang senantiasa berada dalam
kebaikan”, keistimewaan ini di dasari Hadits nomor 2803 di dalam kitab Shahih Bukhari,
di dalamnya dinyatakan bahwa sesungguhnya ada orang diantara kalian yang akan senantiasa
dalam kebaikan selama ia bertakwa kepada Allah;
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا
جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ لَقَدْ أَتَانِي الْيَوْمَ رَجُلٌ فَسَأَلَنِي عَنْ أَمْرٍ مَا دَرَيْتُ مَا
أَرُدُّ عَلَيْهِ فَقَالَ أَرَأَيْتَ رَجُلًا مُؤْدِيًا نَشِيطًا يَخْرُجُ مَعَ أُمَرَائِنَا
فِي الْمَغَازِي فَيَعْزِمُ عَلَيْنَا فِي أَشْيَاءَ لَا نُحْصِيهَا فَقُلْتُ لَهُ
وَاللَّهِ مَا أَدْرِي مَا أَقُولُ لَكَ إِلَّا أَنَّا كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَسَى أَنْ لَا يَعْزِمَ عَلَيْنَا فِي أَمْرٍ إِلَّا
مَرَّةً حَتَّى نَفْعَلَهُ وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَزَالَ بِخَيْرٍ مَا اتَّقَى اللَّهَ
وَإِذَا شَكَّ فِي نَفْسِهِ شَيْءٌ سَأَلَ رَجُلًا فَشَفَاهُ مِنْهُ وَأَوْشَكَ أَنْ
لَا تَجِدُوهُ وَالَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مَا أَذْكُرُ مَا غَبَرَ مِنْ الدُّنْيَا
إِلَّا كَالثَّغْبِ شُرِبَ صَفْوُهُ وَبَقِيَ كَدَرُهُ [1]
Artinya: Telah
bercerita kepada kami 'Utsman bin Abi Syaibah telah bercerita kepada kami Jarir
dari Manshur dari Abu Wa'il berkata: 'Abdullah bin Mas'ud berkata: Pada hari ini
ada seorang yang datang menemuiku lalu bertanya tentang sesuatu yang aku tidak tahu
apa yang harus aku jawab. Dia berkata: "Bagaimana pendapatmu tentang seseorang
yang bersemangat dan sungguh-sungguh, ia keluar bersama para pemimpin kita pada
peperangan, lalu ia mengatakan kepada kita segala sesuatu yang kita tidak mampu
menghitungnya?" aku jawab: "Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus
aku katakan padamu, kecuali ketika kami bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
dimana Beliau tidak menginginkan kepada kami kecuali hanya sekali hingga kami melakukannya.
(Kata Beliau): "Dan sesungguhnya ada orang diantara kalian yang akan senantiasa
dalam kebaikan selama ia bertakwa kepada Allah. Jika ia ragu pada dirinya tentang
sesuatu ia bertanya kepada orang lain lalu ia meyelesaikan perkaranya. Dan hampir-hampir
kalian tidak akan menemuinya. Demi Dzat yang tidak ada ilah selain Dia, aku ingat
bahwa tidak ada yang menyelimuti dunia kecuali seperti air keruh yang diminum bagian
bersihnya dan tersisa keruhnya".
Di dalam kitab Al-Mustadrak
‘Ala Shahihain Hadits No. 420 dinyatakan bahwa salah seorang dari kalian
akan senantiasa berada dalam kebaikan selama dia bertakwa kepada Allah Azza wa
Jalla;
أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ
مُحَمَّدِ بْنِ عُقْبَةَ الشَّيْبَانِيُّ، بِالْكُوفَةِ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ
إِسْحَاقَ الزُّهْرِيُّ، ثنا جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ، أَنْبَأَ الْأَعْمَشُ، وَحدثنا
أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ الْفَقِيهُ، أَنْبَأَ مُوسَى بْنُ إِسْحَاقَ
الْأَنْصَارِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ، ثنا أَبِي،
ثنا الْأَعْمَشُ، وَحَدَّثَنَا أَبُو زَكَرِيَّا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدٍ
الْعَنْبَرِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ النَّضْرِ الْجَارُودِيُّ، ثنا يُوسُفُ بْنُ
مُوسَى، ثنا جَرِيرٌ، وَأَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ شَقِيقٍ، عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: سَأَلَنِي الْيَوْمَ رَجُلٌ عَنْ شَيْءٍ مَا أَدْرِي مَا
أَقُولُ لَهُ، قَالَ: أَرَأَيْتَ رَجُلًا مُؤَدَّبًا نَشِيطًا حَرِيصًا عَلَى
الْجِهَادِ، يَقُولُ: يَعْزِمُ عَلَيْنَا أُمَرَاؤُنَا أَشْيَاءَ لَا نُحْصِيهَا؟
قَالَ: فَقُلْتُ: «وَاللَّهِ مَا أَدْرِي مَا أَقُولُ لَكَ إِلَّا أَنَّا كُنَّا
نَكُونُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَعَلَّهُ لَا
يَأْمُرُ بِالشَّيْءِ إِلَّا فَعَلْنَاهُ، وَمَا أَشْبَهَ مَا غَبَرَ مِنَ
الدُّنْيَا إِلَّا كَالثَّغْبِ شُرِبَ صَفْوُهُ وَبَقِيَ كَدَرُهُ، وَإِنَّ
أَحَدَكُمْ لَنْ يَزَالَ بِخَيْرٍ مَا اتَّقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، وَإِذَا
حَاكَ فِي نَفْسِهِ شَيْءٌ أَتَى رَجُلًا فَسَأَلَهُ فَشَفَاهُ، وَايْمُ اللَّهِ
لَيُوشِكَنَّ أَنْ لَا تَجِدُوهُ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ عَلَى
شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ وَأَظُنُّهُ لِتَوْقِيفٍ فِيهِ» [2]
Artinya: Abu
Al Hasan Ali bin Muhammad bin Uqbah Asy- Syaibani mengabarkan kepada kami di
Kufah, Ibrahim bin Ishaq Az- Zuhri menceritakan kepada kami, Ja'far bin Aun
menceritakan kepada kami, Al A'masy memberitakan (kepada kami). Abu Bakar bin
Ishaq Al Faqih menceritakan kepada kami, Musa bin Ishaq Al Anshari memberitakan
(kepada kami), Muhammad bin Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami,
ayahku menceritakan kepada kami, Al A'masy menceritakan kepada kami. Abu
Zakaria Yahya bin Muhammad Al Anbari menceritakan kepada kami, Muhammad bin
An-Nadhr Al Jarudi menceritakan kepada kami, Yusuf bin Musa menceritakan kepada
kami, Jarir dan Abu Mu'awiyah menceritakan kepada kami dan Al A'masy, dari
Syaqiq, dari Abdullah, dia berkata: Aku pernah ditanya oleh seorang lelaki
tentang sesuatu yang tidak aku ketahui jawabannya. Dia bertanya,
"Bagaimana menurut engkau tentang orang yang terdidik dan rajin, serta
bersemangat melakukan jihad, yang berkata, 'Pemimpin kami menekankan
(mewajibkan) kepada kami (untuk melakukan) beberapa hal yang tidak bisa kamu
hitung (karena sangat banyaknya)'?” Aku berkata, "Demi Allah, aku tidak
tahu apa yang harus aku katakan kepadamu. Hanya saja, dulu ketika kami bersama
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau tidak pernah memerintahkan
sesuatu kecuali kami melakukannya. Perumpamaan yang paling mirip dengan apa
yang tersisa dari dunia ini adalah anak sungai yang telah diminum bagian
jernihnya hingga hanya tersisa bagian yang kotor. Jadi, salah seorang dari
kalian akan senantiasa berada dalam kebaikan selama dia bertakwa kepada Allah
Azza wa Jalla. Apabila ada sesuatu yang mengganjal di hatinya maka dia
mendatangi seseorang lalu bertanya kepadanya, sehingga hilanglah ganjalan yang
ada di hatinya tersebut. Demi Allah, hampir saja kalian tidak
menemukannya." Hadits ini sanadnya shahih sesuai syarat Al Bukhari dan
Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya. Aku menduga status hadis ini
mauquf.
Di dalam kitab Shahih
Bukhari Hadits nomor 4476 disebutkan perkataan Aisyah RA, bahwa akan dalam keadaan
baik-baik ketika bertakwa;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا
يَحْيَى عَنْ عُمَرَ بْنِ سَعِيدِ بْنِ أَبِي حُسَيْنٍ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي
مُلَيْكَةَ قَالَ اسْتَأْذَنَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَبْلَ مَوْتِهَا عَلَى عَائِشَةَ وَهِيَ
مَغْلُوبَةٌ قَالَتْ أَخْشَى أَنْ يُثْنِيَ عَلَيَّ فَقِيلَ ابْنُ عَمِّ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِنْ وُجُوهِ الْمُسْلِمِينَ قَالَتْ ائْذَنُوا
لَهُ فَقَالَ كَيْفَ تَجِدِينَكِ قَالَتْ بِخَيْرٍ إِنْ اتَّقَيْتُ قَالَ فَأَنْتِ
بِخَيْرٍ إِنْ شَاءَ اللَّهُ زَوْجَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَلَمْ يَنْكِحْ بِكْرًا غَيْرَكِ وَنَزَلَ عُذْرُكِ مِنْ السَّمَاءِ وَدَخَلَ ابْنُ
الزُّبَيْرِ خِلَافَهُ فَقَالَتْ دَخَلَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَأَثْنَى عَلَيَّ وَوَدِدْتُ
أَنِّي كُنْتُ نِسْيًا مَنْسِيًّا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا
عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَبْدِ الْمَجِيدِ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ الْقَاسِمِ
أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ اسْتَأْذَنَ عَلَى عَائِشَةَ نَحْوَهُ
وَلَمْ يَذْكُرْ نِسْيًا مَنْسِيًّا [3]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna Telah menceritakan kepada kami
Yahya dari 'Umar bin Sa'id bin Abu Hushain berkata: Telah menceritakan kepadaku
Ibnu Abu Mulaikah dia berkata: Sebelum 'Aisyah wafat, Ibnu 'Abbas meminta izin untuk
menemuinya yang pada waktu itu 'Aisyah dalam keadaan sangat lemah. 'Aisyah berkata:
"Aku takut ia akan memujiku". Lalu di katakan kepadanya: "Ia adalah
putra paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan pembesar kaum muslimin".
Maka 'Aisyah pun berkata: "Izinkanlah ia masuk". Setelah masuk Ibnu Abbas
berkata: "Bagaimana keadaamu?" 'Aisyah menjawab: "Saya dalam keadaan
baik-baik jika saya bertakwa". Ibnu 'Abbas berkata: "Sebagai istri Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, Insya Allah engkau akan selalu dalam keadaan baik,
beliau tidak menikahi seorang perawan selain engkau. Dan dari langit Allah telah
membebaskanmu dari tuduhan keji". Ketika Ibnu Abbas pulang, Ibnu Jubair masuk.
Lalu 'Aisyah berkata: "Barusan Ibnu Abbas masuk, dan ia telah memujiku. Aku
ingin sekali bisa melupakannya (pujiannya)". Telah menceritakan kepada kami
Muhammad bin Al Mutsanna Telah menceritakan kepada kami 'Abdul Wahhab bin 'Abdul
Majid Telah menceritakan kepada kami Ibnu 'Aun dari Al Qasim bahwa Ibnu 'Abbas radliyallahu
'anhu meminta izin untuk menemui 'Aisyah -dengan Hadits yang serupa- namun dia tidak
menyebutkan kalimat: 'Aku ingin sekali bisa melupakannya'.
[1] Muhammad
bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Bukhari,Dar Yamamah, Damsyq, 1993 H, Jilid
3, halaman 1082, Hadits nomor 2803.
[2] Abu Abdullah Muhammad ibnu Abdullah al-Hakim, Al-Mustadrak
‘Ala Shahihain, dar Al Kutub al-Ilmiyah, 1990, Beirut, Jilid 1, Halaman
210, nomor Hadits 420.
[3] Muhammad
bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Yamamah, Damsiq, 1993
H, Jilid 4, halaman 1082, Hadits nomor 4476.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar