16/04/2026

57. Bertakwa Menjadikan Seseorang Senantiasa Berada Dalam Kebaikan

57. Bertakwa Menjadikan Seseorang Senantiasa Berada Dalam Kebaikan

 

Keistimewaan ke lima puluh tujuh “Bertakwa menjadikan seseorang senantiasa berada dalam kebaikan”, keistimewaan ini di dasari Hadits nomor 2803 di dalam kitab Shahih Bukhari, di dalamnya dinyatakan bahwa sesungguhnya ada orang diantara kalian yang akan senantiasa dalam kebaikan selama ia bertakwa kepada Allah;

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَقَدْ أَتَانِي الْيَوْمَ رَجُلٌ فَسَأَلَنِي عَنْ أَمْرٍ مَا دَرَيْتُ مَا أَرُدُّ عَلَيْهِ فَقَالَ أَرَأَيْتَ رَجُلًا مُؤْدِيًا نَشِيطًا يَخْرُجُ مَعَ أُمَرَائِنَا فِي الْمَغَازِي فَيَعْزِمُ عَلَيْنَا فِي أَشْيَاءَ لَا نُحْصِيهَا فَقُلْتُ لَهُ وَاللَّهِ مَا أَدْرِي مَا أَقُولُ لَكَ إِلَّا أَنَّا كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَسَى أَنْ لَا يَعْزِمَ عَلَيْنَا فِي أَمْرٍ إِلَّا مَرَّةً حَتَّى نَفْعَلَهُ وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَزَالَ بِخَيْرٍ مَا اتَّقَى اللَّهَ وَإِذَا شَكَّ فِي نَفْسِهِ شَيْءٌ سَأَلَ رَجُلًا فَشَفَاهُ مِنْهُ وَأَوْشَكَ أَنْ لَا تَجِدُوهُ وَالَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مَا أَذْكُرُ مَا غَبَرَ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا كَالثَّغْبِ شُرِبَ صَفْوُهُ وَبَقِيَ كَدَرُهُ [1]

Artinya: Telah bercerita kepada kami 'Utsman bin Abi Syaibah telah bercerita kepada kami Jarir dari Manshur dari Abu Wa'il berkata: 'Abdullah bin Mas'ud berkata: Pada hari ini ada seorang yang datang menemuiku lalu bertanya tentang sesuatu yang aku tidak tahu apa yang harus aku jawab. Dia berkata: "Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang bersemangat dan sungguh-sungguh, ia keluar bersama para pemimpin kita pada peperangan, lalu ia mengatakan kepada kita segala sesuatu yang kita tidak mampu menghitungnya?" aku jawab: "Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan padamu, kecuali ketika kami bersama Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dimana Beliau tidak menginginkan kepada kami kecuali hanya sekali hingga kami melakukannya. (Kata Beliau): "Dan sesungguhnya ada orang diantara kalian yang akan senantiasa dalam kebaikan selama ia bertakwa kepada Allah. Jika ia ragu pada dirinya tentang sesuatu ia bertanya kepada orang lain lalu ia meyelesaikan perkaranya. Dan hampir-hampir kalian tidak akan menemuinya. Demi Dzat yang tidak ada ilah selain Dia, aku ingat bahwa tidak ada yang menyelimuti dunia kecuali seperti air keruh yang diminum bagian bersihnya dan tersisa keruhnya".

Di dalam kitab Al-Mustadrak ‘Ala Shahihain Hadits No. 420 dinyatakan bahwa salah seorang dari kalian akan senantiasa berada dalam kebaikan selama dia bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla;

أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُقْبَةَ الشَّيْبَانِيُّ، بِالْكُوفَةِ، ثنا إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْحَاقَ الزُّهْرِيُّ، ثنا جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ، أَنْبَأَ الْأَعْمَشُ، وَحدثنا أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ الْفَقِيهُ، أَنْبَأَ مُوسَى بْنُ إِسْحَاقَ الْأَنْصَارِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ، ثنا أَبِي، ثنا الْأَعْمَشُ، وَحَدَّثَنَا أَبُو زَكَرِيَّا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدٍ الْعَنْبَرِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ النَّضْرِ الْجَارُودِيُّ، ثنا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى، ثنا جَرِيرٌ، وَأَبُو مُعَاوِيَةَ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ شَقِيقٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، قَالَ: سَأَلَنِي الْيَوْمَ رَجُلٌ عَنْ شَيْءٍ مَا أَدْرِي مَا أَقُولُ لَهُ، قَالَ: أَرَأَيْتَ رَجُلًا مُؤَدَّبًا نَشِيطًا حَرِيصًا عَلَى الْجِهَادِ، يَقُولُ: يَعْزِمُ عَلَيْنَا أُمَرَاؤُنَا أَشْيَاءَ لَا نُحْصِيهَا؟ قَالَ: فَقُلْتُ: «وَاللَّهِ مَا أَدْرِي مَا أَقُولُ لَكَ إِلَّا أَنَّا كُنَّا نَكُونُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَعَلَّهُ لَا يَأْمُرُ بِالشَّيْءِ إِلَّا فَعَلْنَاهُ، وَمَا أَشْبَهَ مَا غَبَرَ مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا كَالثَّغْبِ شُرِبَ صَفْوُهُ وَبَقِيَ كَدَرُهُ، وَإِنَّ أَحَدَكُمْ لَنْ يَزَالَ بِخَيْرٍ مَا اتَّقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، وَإِذَا حَاكَ فِي نَفْسِهِ شَيْءٌ أَتَى رَجُلًا فَسَأَلَهُ فَشَفَاهُ، وَايْمُ اللَّهِ لَيُوشِكَنَّ أَنْ لَا تَجِدُوهُ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ وَأَظُنُّهُ لِتَوْقِيفٍ فِيهِ» [2]

Artinya: Abu Al Hasan Ali bin Muhammad bin Uqbah Asy- Syaibani mengabarkan kepada kami di Kufah, Ibrahim bin Ishaq Az- Zuhri menceritakan kepada kami, Ja'far bin Aun menceritakan kepada kami, Al A'masy memberitakan (kepada kami). Abu Bakar bin Ishaq Al Faqih menceritakan kepada kami, Musa bin Ishaq Al Anshari memberitakan (kepada kami), Muhammad bin Abdullah bin Numair menceritakan kepada kami, ayahku menceritakan kepada kami, Al A'masy menceritakan kepada kami. Abu Zakaria Yahya bin Muhammad Al Anbari menceritakan kepada kami, Muhammad bin An-Nadhr Al Jarudi menceritakan kepada kami, Yusuf bin Musa menceritakan kepada kami, Jarir dan Abu Mu'awiyah menceritakan kepada kami dan Al A'masy, dari Syaqiq, dari Abdullah, dia berkata: Aku pernah ditanya oleh seorang lelaki tentang sesuatu yang tidak aku ketahui jawabannya. Dia bertanya, "Bagaimana menurut engkau tentang orang yang terdidik dan rajin, serta bersemangat melakukan jihad, yang berkata, 'Pemimpin kami menekankan (mewajibkan) kepada kami (untuk melakukan) beberapa hal yang tidak bisa kamu hitung (karena sangat banyaknya)'?” Aku berkata, "Demi Allah, aku tidak tahu apa yang harus aku katakan kepadamu. Hanya saja, dulu ketika kami bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau tidak pernah memerintahkan sesuatu kecuali kami melakukannya. Perumpamaan yang paling mirip dengan apa yang tersisa dari dunia ini adalah anak sungai yang telah diminum bagian jernihnya hingga hanya tersisa bagian yang kotor. Jadi, salah seorang dari kalian akan senantiasa berada dalam kebaikan selama dia bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla. Apabila ada sesuatu yang mengganjal di hatinya maka dia mendatangi seseorang lalu bertanya kepadanya, sehingga hilanglah ganjalan yang ada di hatinya tersebut. Demi Allah, hampir saja kalian tidak menemukannya." Hadits ini sanadnya shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya. Aku menduga status hadis ini mauquf.

Di dalam kitab Shahih Bukhari Hadits nomor 4476 disebutkan perkataan Aisyah RA, bahwa akan dalam keadaan baik-baik ketika bertakwa;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ عُمَرَ بْنِ سَعِيدِ بْنِ أَبِي حُسَيْنٍ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ أَبِي مُلَيْكَةَ قَالَ اسْتَأْذَنَ ابْنُ عَبَّاسٍ قَبْلَ مَوْتِهَا عَلَى عَائِشَةَ وَهِيَ مَغْلُوبَةٌ قَالَتْ أَخْشَى أَنْ يُثْنِيَ عَلَيَّ فَقِيلَ ابْنُ عَمِّ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِنْ وُجُوهِ الْمُسْلِمِينَ قَالَتْ ائْذَنُوا لَهُ فَقَالَ كَيْفَ تَجِدِينَكِ قَالَتْ بِخَيْرٍ إِنْ اتَّقَيْتُ قَالَ فَأَنْتِ بِخَيْرٍ إِنْ شَاءَ اللَّهُ زَوْجَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَنْكِحْ بِكْرًا غَيْرَكِ وَنَزَلَ عُذْرُكِ مِنْ السَّمَاءِ وَدَخَلَ ابْنُ الزُّبَيْرِ خِلَافَهُ فَقَالَتْ دَخَلَ ابْنُ عَبَّاسٍ فَأَثْنَى عَلَيَّ وَوَدِدْتُ أَنِّي كُنْتُ نِسْيًا مَنْسِيًّا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَبْدِ الْمَجِيدِ حَدَّثَنَا ابْنُ عَوْنٍ عَنْ الْقَاسِمِ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ اسْتَأْذَنَ عَلَى عَائِشَةَ نَحْوَهُ وَلَمْ يَذْكُرْ نِسْيًا مَنْسِيًّا [3]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna Telah menceritakan kepada kami Yahya dari 'Umar bin Sa'id bin Abu Hushain berkata: Telah menceritakan kepadaku Ibnu Abu Mulaikah dia berkata: Sebelum 'Aisyah wafat, Ibnu 'Abbas meminta izin untuk menemuinya yang pada waktu itu 'Aisyah dalam keadaan sangat lemah. 'Aisyah berkata: "Aku takut ia akan memujiku". Lalu di katakan kepadanya: "Ia adalah putra paman Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan pembesar kaum muslimin". Maka 'Aisyah pun berkata: "Izinkanlah ia masuk". Setelah masuk Ibnu Abbas berkata: "Bagaimana keadaamu?" 'Aisyah menjawab: "Saya dalam keadaan baik-baik jika saya bertakwa". Ibnu 'Abbas berkata: "Sebagai istri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Insya Allah engkau akan selalu dalam keadaan baik, beliau tidak menikahi seorang perawan selain engkau. Dan dari langit Allah telah membebaskanmu dari tuduhan keji". Ketika Ibnu Abbas pulang, Ibnu Jubair masuk. Lalu 'Aisyah berkata: "Barusan Ibnu Abbas masuk, dan ia telah memujiku. Aku ingin sekali bisa melupakannya (pujiannya)". Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna Telah menceritakan kepada kami 'Abdul Wahhab bin 'Abdul Majid Telah menceritakan kepada kami Ibnu 'Aun dari Al Qasim bahwa Ibnu 'Abbas radliyallahu 'anhu meminta izin untuk menemui 'Aisyah -dengan Hadits yang serupa- namun dia tidak menyebutkan kalimat: 'Aku ingin sekali bisa melupakannya'.



[1] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Bukhari,Dar Yamamah, Damsyq, 1993 H, Jilid 3, halaman 1082, Hadits nomor 2803.

[2] Abu Abdullah Muhammad ibnu Abdullah al-Hakim, Al-Mustadrak ‘Ala Shahihain, dar Al Kutub al-Ilmiyah, 1990, Beirut, Jilid 1, Halaman 210, nomor Hadits 420.

[3] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Yamamah, Damsiq, 1993 H, Jilid 4, halaman 1082, Hadits nomor 4476.

Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post