HADIAH
Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga, kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam yang menginginkan kesempurnaan pengamalan ajaran Islam dengan bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa, karena takwa menentukan nilai kemuliaan manusia di sisi Allah, takwa merupakan inti dari agama (segala sesuatu), takwa menentukan nilai kebaikan amal. Buku ini kami hadiahkan dengan harapan "Ilmu Takwa" semakin cepat tersebar dengan tujuan dapat menjadikan penduduk negeri ini beriman dan bertakwa, sehingga negeri ini, menjadi negeri yang diberkahi Allah. (Al-A’raf/ 7: 96), maka kami mohon bantuan bagi para pembaca untuk dapat menyebarkan buku Ilmu Takwa ini sebanyak-banyaknya agar tujuan membentuk penduduk negeri beriman dan bertakwa semakin cepat tercapai.
Pemberian hadiah ini sekaligus
sebagai bentuk pengamalan ketakwaan tingkat 7 mahabbah dan ketakwaan
tingkat 11 Jannah, maka kami mengajak kepada para pembaca untuk siap
menjadi menjadi Mutahabbin dan Mujahidin, bagaimana caranya untuk
dapat menjadi mengamalkan ketakwaan tingkat 7 mahabbah dengan menjadi
Mutahabbin dan mengamalkan ketakwaan tingkat 11 Jannah dengan
menjadi Mujahidin, berikut penjelasannya;
1. MUTAHABBIN
Sekelompok orang yang
bukan Nabi ataupun syuhada’ tapi para nabi dan syuhada’ iri kepada mereka
karena kedudukan dan kedekatan mereka dengan Allah, Mereka adalah orang-orang
yang berasal dari berbagai penjuru dan orang-orang yang tidak saling kenal,
diantara meraka tidak dihubungkan oleh kekerabatan yang dekat, mereka saling
mencintai karena Allah dan saling tulus ikhlas, Allah menempatkan untuk mereka
mimbar-mimbar dari cahaya pada hari kiamat, Allah mendudukkan mereka di
atasnya, Allah menjadikan wajah-wajah mereka cahaya, pakaian-pakaian mereka
cahaya, orang-orang ketakutan pada hari kiamat sementara mereka tidak
ketakutan, mereka adalah para wali-wali Allah yang tidak takut dan tidak
bersedih hati." digambarkan di dalam kitab Musnad Ahmad Hadits nomor
22906;
ثُمَّ إِنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ أَقْبَلَ إِلَى
النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اسْمَعُوا وَاعْقِلُوا
وَاعْلَمُوا أَنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عِبَادًا لَيْسُوا بِأَنْبِيَاءَ وَلَا
شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ عَلَى مَجَالِسِهِمْ
وَقُرْبِهِمْ مِنْ اللَّهِ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْأَعْرَابِ مِنْ قَاصِيَةِ
النَّاسِ وَأَلْوَى بِيَدِهِ إِلَى نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ نَاسٌ مِنْ النَّاسِ لَيْسُوا
بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ عَلَى
مَجَالِسِهِمْ وَقُرْبِهِمْ مِنْ اللَّهِ انْعَتْهُمْ لَنَا يَعْنِي صِفْهُمْ
لَنَا فَسُرَّ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِسُؤَالِ
الْأَعْرَابِيِّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُمْ
نَاسٌ مِنْ أَفْنَاءِ النَّاسِ وَنَوَازِعِ الْقَبَائِلِ لَمْ تَصِلْ بَيْنَهُمْ
أَرْحَامٌ مُتَقَارِبَةٌ تَحَابُّوا فِي اللَّهِ وَتَصَافَوْا يَضَعُ اللَّهُ
لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ فَيُجْلِسُهُمْ عَلَيْهَا
فَيَجْعَلُ وُجُوهَهُمْ نُورًا وَثِيَابَهُمْ نُورًا يَفْزَعُ النَّاسُ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ وَلَا يَفْزَعُونَ وَهُمْ أَوْلِيَاءُ اللَّهِ الَّذِينَ لَا خَوْفٌ
عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [1]
Artinya: Kemudian
saat Rasulullah Shallallahu 'alaihiwasallam usai shalat, beliau menghadap ke
arah jamaah dengan wajah beliau lalu bersabda: "Wahai sekalian manusia!
Dengar, fahami dan ketahuilah bahwa Allah AzzaWaJalla memiliki hamba-hamba,
mereka bukan nabi atau pun syuhada` tapi para nabi dan syuhada` iri pada mereka
karena tempat dan kedekatan mereka dengan Allah pada hari kiamat."
Kemudian salah seorang badui datang, ia berasal dari pedalaman jauh dan
menyendiri, ia menunjuk tangannya ke arah Nabi Shallallahu 'alaihiwasallam lalu
berkata: Hai Nabi Allah! Sekelompok orang yang bukan Nabi ataupun syuhada` tapi
para nabi dan syuhada` iri kepada mereka karena kedudukan dan kedekatan mereka
dengan Allah, sebutkan ciri-ciri mereka untuk kami. Wajah Rasulullah
Shallallahu 'alaihiwasallam bergembira karena pertanyaan orang badui itu lalu
Rasulullah Shallallahu 'alaihiwasallam bersabda: "Mereka adalah
orang-orang yang berasal dari berbagai penjuru dan orang-orang asing, diantara
meraka tidak dihubungkan oleh kekerabatan yang dekat, mereka saling mencintai
karena Allah dan saling tulus ikhlas, Allah menempatkan untuk mereka
mimbar-mimbar dari cahaya pada hari kiamat, Allah mendudukan mereka di atasnya,
Allah menjadikan wajah-wajah mereka cahaya, pakaian-pakaian mereka cahaya,
orang-orang ketakutan pada hari kiamat sementara mereka tidak ketakutan, mereka
adalah para wali-wali Allah yang tidak takut dan tidak bersedih hati."
Siapakah Mutahabbin,
berdasar informasi dari beberapa Hadits, berikut gambaran orang yang termasuk
kelompok orang-orang yang mutahabbin, yaitu;
1.1. Orang Yang Saling
Mencintai Karena Allah
Di dalam kitab Muwatho
Malik hadits nomor 2007 ditegaskan bahwa 'Kecintaan-ku pasti turun kepada siapa
yang saling mencintai karena-Ku. Siapa saja yang bermajlis karena-Ku, dan
saling mengunjungi karena-Ku. Yang saling berusaha karena-Ku;
و حَدَّثَنِي عَنْ
مَالِك عَنْ أَبِي حَازِمِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ
أَنَّهُ قَالَ دَخَلْتُ مَسْجِدَ دِمَشْقَ فَإِذَا فَتًى شَابٌّ بَرَّاقُ
الثَّنَايَا وَإِذَا النَّاسُ مَعَهُ إِذَا اخْتَلَفُوا فِي شَيْءٍ أَسْنَدُوا
إِلَيْهِ وَصَدَرُوا عَنْ قَوْلِهِ فَسَأَلْتُ عَنْهُ فَقِيلَ هَذَا مُعَاذُ بْنُ
جَبَلٍ فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ هَجَّرْتُ فَوَجَدْتُهُ قَدْ سَبَقَنِي
بِالتَّهْجِيرِ وَوَجَدْتُهُ يُصَلِّي قَالَ فَانْتَظَرْتُهُ حَتَّى قَضَى
صَلَاتَهُ ثُمَّ جِئْتُهُ مِنْ قِبَلِ وَجْهِهِ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ ثُمَّ قُلْتُ
وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ لِلَّهِ فَقَالَ أَاللَّهِ فَقُلْتُ أَاللَّهِ
فَقَالَ أَاللَّهِ فَقُلْتُ أَاللَّهِ فَقَالَ أَاللَّهِ فَقُلْتُ أَاللَّهِ قَالَ
فَأَخَذَ بِحُبْوَةِ رِدَائِي فَجَبَذَنِي إِلَيْهِ وَقَالَ أَبْشِرْ فَإِنِّي
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ
اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ
وَالْمُتَجَالِسِينَ فِيَّ وَالْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ وَالْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ
وحَدَّثَنِي عَنْ مَالِك أَنَّهُ بَلَغَهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ
أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ الْقَصْدُ وَالتُّؤَدَةُ وَحُسْنُ السَّمْتِ جُزْءٌ مِنْ
خَمْسَةٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ [2]
Artinya: Telah
menceritakan kepadaku dari Malik dari Abu Hazim bin Dinar dari Abu Idris Al
Khaulani berkata, "Aku memasuki masjid Damaskus. Ternyata di dalamnya ada
seorang pemuda yang bergigi putih berkilau. Apabila orang-orang yang bersamanya
berselisih pendapat, mereka mengembalikannya kepada pemuda itu dan menerima
pendapatnya. Lalu aku bertanya tentangnya, lantas ada yang menjawab bahwa dia
adalah Mu'adz bin Jabal . Keesokan harinya, aku bergegas ke masjid pada waktu
yang masih sangat pagi, ternyata aku mendapatinya telah mendahuluiku. Aku
mendapatinya sedang shalat, maka aku menunggunya sampai dia selesai shalat.
Lalu aku menemuinya dari arah depannya seraya mengucapkan salam, aku berkata
kepadanya; 'Demi Allah, sungguh aku mencintaimu karena Allah.' Dia bertanya;
'Apakah karena Allah? ' Aku menjawab; 'Karena Allah.' Dia bertanya lagi;
'Apakah karena Allah? ' Aku menjawab; 'Karena Allah.' Dia bertanya; 'Apakah
karena Allah? ' Aku menjawab; 'Karena Allah'." Abu Idris berkata;
"Dia menarik ujung serbanku dan menarik diriku ke arahnya lalu berkata;
Bergembiralah! aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah Tabaraka Wa Ta'ala berfirman; 'Kecintaan-ku pasti
turun kepada siapa yang saling mencintai karena-Ku. Siapa saja yang bermajlis
karena-Ku, dan saling mengunjungi karena-Ku. Yang saling berusaha
karena-Ku'." Telah menceritakan kepadaku dari Malik bahwa telah sampai
kabar kepadanya, dari Abdullah bin Abbas bahwa dia berkata; "Tengah-tengah
dalam suatu urusan (adil), bersikap lemah lembut dan penyambutan yang baik
adalah sebagian dari dua puluh bagian kenabian."
Di dalam kitab Musnad
Ahmad Hadits nomor 11829 ditegaskan bahwa Sesungguhnya orang-orang yang saling
mencintai karena Allah, kamar-kamar mereka di surga akan tampak bagaikan
bintang yang bersinar di ufuk timur atau barat;
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ
عَيَّاشٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُطَرِّفٍ حَدَّثَنَا أَبُو حَازِمٍ عَنْ
أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُتَحَابِّينَ لَتُرَى غُرَفُهُمْ فِي الْجَنَّةِ كَالْكَوْكَبِ
الطَّالِعِ الشَّرْقِيِّ أَوْ الْغَرْبِيِّ فَيُقَالُ مَنْ هَؤُلَاءِ فَيُقَالُ
هَؤُلَاءِ الْمُتَحَابُّونَ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ [3]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy, telah menceritakan kepada kami
Muhammad bin Mutarrif, telah menceritakan kepada kami Abu Hazim, dari Abu Sa‘id
Al-Khudri, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:"Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai karena Allah,
kamar-kamar mereka di surga akan tampak bagaikan bintang yang bersinar di ufuk
timur atau barat. Maka dikatakan, 'Siapakah mereka itu?' Lalu dijawab, 'Mereka
adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah 'Azza wa Jalla.'"
1.2. Saling Memberi Hadiah
Akan Menumbuhkan Rasa Saling Mencintai
Di dalam kitab Al-Muwatho
Imam Malik Hadits nomor 16 dinyatakan bahwa saling memberi hadiah
dapat menumbuhkan perasaan saling mencintai;
و حَدَّثَنِي عَنْ
مَالِك عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي مُسْلِمٍ عَبْدِ اللَّهِ الْخُرَاسَانِيِّ
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَصَافَحُوا
يَذْهَبْ الْغِلُّ وَتَهَادَوْا تَحَابُّوا وَتَذْهَبْ الشَّحْنَاءُ [4]
Artinya: Telah
menceritakan kepadaku Malik dari 'Atha bin Abu Muslim Abdullah Al Khurasani
berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Hendaklah kalian saling berjabat tangan, niscaya maka akan
hilanglah kedengkian. Hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscaya akan
saling mencintai dan menghilanglah permusuhan."
1.3. Saling Memberi Hadiah
Dapat Melipatgandakan Rasa Cinta
Di dalam kitab Al
Mu’jam Al Kubra Li-Thabarani Hadits nomor 393, dinyatakan bahwa Saling
memberi hadiahlah, karena sesungguhnya hadiah itu dapat melipatgandakan rasa
cinta;
حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ
بْنُ الْفَضْلِ، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَتْنَا حُبَابَةُ
بِنْتُ عَجْلَانَ الْخُزَاعِيَّةُ، قَالَتْ: حَدَّثَتْنِي أُمِّي حَفْصَةُ، عَنْ
صَفِيَّةَ بِنْتِ جَرِيرٍ، عَنْ أُمِّ حَكِيمٍ بِنْتِ وَدَاعٍ الْخُزَاعِيَّةِ، قَالَتْ:
سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ، يَقُولُ: «تَهَادَوْا فَإِنَّ الْهَدِيَّةَ تُضْعِفُ
الْحُبَّ وَتَذْهَبُ بِغَوَائِلِ الصَّدْرِ [5] »
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Al-‘Abbas bin Al-Fadhl, telah menceritakan kepada kami
Musa bin Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Hubabah binti ‘Ajlan
Al-Khuza‘iyyah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ibuku Hafshah, dari
Shafiyyah binti Jarir, dari Ummu Hakim binti Wada‘ Al-Khuza‘iyyah, ia berkata:
Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda:"Salinglah memberi hadiah, karena sesungguhnya hadiah itu
dapat melipatgandakan rasa cinta dan menghilangkan kebencian yang ada di dalam
dada."
1.4. Menerima Hadiah Dan
Membalasnya
Di dalam kitab Shahih
Bukhari hadits nomor 2585 dinyatakan bahwa Rasulullah ﷺ menerima pemberiah hadiah dan membalasnya;
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ
حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا لَمْ يَذْكُرْ وَكِيعٌ وَمُحَاضِرٌ
عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ [6]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami 'Isa bin Yunus
dari Hisyam dari bapaknya dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Adalah
Rasulullah ﷺ menerima pemberiah
hadiah dan membalasnya". Waki' dan Muhadhir tidak menyebutkan dari Hisyam
dari bapaknya dari 'Aisyah radliallahu 'anha.
Mutahabbin merupakan bentuk
ketakwaan tingkat Mahabbah, untuk dapat memahami dan mengamalkannya
baca selengkapnya di buku Ilmu Takwa 2 Hakekat Takwa dan buku Ilmu Takwa 3
Cermin Qalbu Takwa, di bab Takwa Tingkat Mahabbah.
Seluruh buku Seri Ilmu
Takwa 1, 2, 3, 4 juga 5 dan 6 yang masih dalam proses penyelesaian In Syaa
Allah, dengan penuh rasa cinta kami hadiahkan untuk seluruh umat Islam sebagai
langkah awal membentuk masyarakat Islam yang beriman dan bertakwa, dalam upaya
membangun Negeri yang diberkahi (dibukakan pintu keberkahan dari langit dan
bumi), sebagaimana dijanjikan Allah di dalam Al Quran surat Al-A’raf/ 7: 96.
Langkah ini juga merupakan upaya membentuk masyarakat Mutahabbin saling mencintai karena Allah dengan cara saling memberi hadiah, sebagai bentuk pengamalan takwa tingkat Mahabbah, maka kami memberi kesempatan bagi para pembaca yang hendak membalas hadiah buku yang sangat berharga ini, dapat mengirimkannya ke Rekening BSI nomor 7089033831 dengan inisial nama MWH selaku penulis buku, cantumkan nomor referensi 737, jika hendak memberikan barang dapat menghubungi nomor WA. 081770970914 untuk konfirmasi jenis barang dan alamat tujuan.
Ya Allah.. Ridhailah
Seberapapun dan apapun yang dihadiahkan kepada kami, sebagai bukti kita saling
mencintai karena ketakwaan kepada Allah dan memasukkan kita sebagai kelompok Mutahabbin.
2. MUJAHIDIN
Manusia yang paling
utama adalah orang yang berjihad; berjuang dengan jiwa dan hartanya di jalan
Allah, dinyatakan di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2786;
حَدَّثَنَا أَبُو
الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي عَطَاءُ بْنُ
يَزِيدَ اللَّيْثِيُّ أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
حَدَّثَهُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ قَالُوا ثُمَّ مَنْ قَالَ مُؤْمِنٌ فِي
شِعْبٍ مِنْ الشِّعَابِ يَتَّقِي اللَّهَ وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ [7]
Artinya: Telah
bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari
Az Zuhriy berkata telah bercerita kepadaku 'Atha' bin Yazid Al Laitsiy bahwa
Abu Sa'id Al Khudriy radliallahu 'anhu bercerita kepadanya, katanya:
"Ditanyakan kepada Rasulullah, siapakh manusia yang paling utama?"
Maka Rasulullahﷺ bersabda: "Seorang
mu'min yang berjihad di jalan Allah dengan jiwa dan hartanya". Mereka
bertanya lagi: "Kemudian siapa lagi?" Beliau menjawab: "Seorang
mu'min yang tinggal diantara bukit dari suatu pegunungan dengan bertaqwa kepada
Allah dan meninggalkan manusia dari keburukannya".
Siapakah Mujahidin,
berdasar informasi dari beberapa Ayat Al Quran dan Hadits, berikut gambaran
orang yang termasuk kelompok orang-orang yang Mujahidin, yaitu;
2.1. Orang Yang Berperang
(Berjuang) Agar Kalimat Allah Menjadi Yang Tertinggi
Di dalam kitab kitab
Shahih Bukhari hadits nomor 123 dinyatakan bahwa Barangsiapa yang berperang
agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi, maka ia berada di jalan Allah 'Azza
wa Jalla;
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ
بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَمْرٍو عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ أَبِي
مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ الرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلْمَغْنَمِ وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ
لِلذِّكْرِ وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِيُرَى مَكَانُهُ فَمَنْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
قَالَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ [8]
Artinya: Diriwayatkan
dari Sulaiman bin Harb, dari Syu'bah, dari 'Amr, dari Abu Wa'il, dari Abu Musa
radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam dan berkata: "Seseorang berperang untuk
mendapatkan harta rampasan, seseorang berperang untuk mendapatkan nama, dan
seseorang berperang untuk menunjukkan kedudukannya. Maka siapakah yang berada
di jalan Allah?" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi,
maka dia berada di jalan Allah."
2.2. Allah Menjamin Bagi
Siapa Yang Berjihad Di Jalan-Nya Dan Membenarkan Kalimat-Nya Akan Memasukkannya
Ke Dalam Surga
Di dalam kitab Shahih
Bukhari hadits nomor 7457 ditegaskan bahwa Allah menjamin bagi siapa yang
berjihad di jalan-Nya, yang tidaklah ia berangkat selain benar-benar untuk
berjihad di jalan-Nya dan membenarkan kalimat-Nya, bahwa Dia akan memasukkannya
dalam surga;
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ
حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
تَكَفَّلَ اللَّهُ لِمَنْ جَاهَدَ فِي سَبِيلِهِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الْجِهَادُ
فِي سَبِيلِهِ وَتَصْدِيقُ كَلِمَاتِهِ بِأَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ
يَرْجِعَهُ إِلَى مَسْكَنِهِ الَّذِي خَرَجَ مِنْهُ مَعَ مَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ
أَوْ غَنِيمَةٍ [9]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ismail telah menceritakan kepadaku Malik dari Abu
Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah menjamin bagi siapa yang berjihad di jalan-Nya, yang
tidaklah ia berangkat selain benar-benar untuk berjihad di jalan-Nya dan
membenarkan kalimat-Nya, bahwa Dia akan memasukkannya dalam surga atau Ia akan
mengembalikannya ke tempat tinggalnya yang ia tinggalkan beserta yang
diperolehnya berupa pahala dan ghanimah."
2.3. Mujahid Adalah Orang
Yang Berjuang Mengendalikan Dirinya Di Jalan Allah Ta’ala
Di dalam kitab Shahih
Ibnu Hibban Hadits nomor 312 dijelaskan bahwa mujahid adalah orang yang
berjuang mengendalikan dirinya di jalan Allah Ta’ala;
أَخبَرنا مُحَمَّدُ بْنُ
عَبْدِ اللهِ بْنِ الْجُنَيْدِ، حَدثنا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ عُبَيْدِ اللهِ
الْعَتَكِيُّ، عَنْ عَبْدِ اللهِ، عَنْ حَيْوَةَ بْنِ شُرَيْحٍ، حَدَّثَنِي أَبُو
هَانِئٍ الْخَوْلَانِيُّ، أَنَّهُ سَمِعَ عَمْرَو بْنَ مَالِكٍ الْجَنْبِيَّ، يَقُولُ:
سَمِعْتُ فَضَالَةَ بْنَ عُبَيْدٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ:
«الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي اللهِ تعالى [10] »
Artinya: Telah
mengabarkan kepada kami Muhammad bin ‘Abdillah bin al-Junayd, telah
menceritakan kepada kami ‘Abd al-Wārith bin ‘Ubaydillah al-‘Ataki, dari
‘Abdillah, dari Haywah bin Syarih, telah menceritakan kepadaku Abu Hāni’
al-Khawlani bahwa ia mendengar ‘Amr bin Malik al-Janbi berkata: aku mendengar
Fadhalah bin ‘Ubaid berkata: aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: “Seorang mujahid adalah orang yang berjuang mengendalikan dirinya
di jalan Allah Taala.”
2.4. Tidak Akan Meminta Izin
Untuk Tidak Ikut Berjihad Dengan Harta Dan Dirinya
Di dalam Al Quran surat
At-Taubah/ 9: 44 ditegaskan bahwa orang-orang beriman tidak akan meminta izin
kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka;
لَا يَسْتَأْذِنُكَ
الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يُجَاهِدُوا
بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ
Artinya: Orang-orang
yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu
untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui
orang-orang yang bertakwa.(QS. At-Taubah/ 9: 44)
2.5. Tidak Sama Orang Yang
Duduk-duduk Dengan Orang Yang Berjihad, Allah Mengutamakan Orang Yang Berjihad.
Di dalam Al Quran surat
An-Nisa'/ 4: 95 dinyatakan bahwa Allah melebihkan orang-orang yang berjihad
atas orang yang duduk dengan pahala yang besar;
لَا يَسْتَوِي
الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ
بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ
اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ
أَجْرًا عَظِيمًا
Artinya: Tidaklah
sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai
'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan
jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya
atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah
menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang
berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar,(QS. An-Nisa'/ 4:
95)
2.6. Berjihad Di Jalan Allah
Akan Diangkat Derajatnya Di Surga Sebanyak Seratus Derajat
Dalam kitab Shahih
Muslim Hadits nomor 3496, ditegaskan barang siapa ridla Allah sebagai Rabbnya,
Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai Nabinya, maka ia pasti masuk
Jannah;
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ
مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي أَبُو هَانِئٍ
الْخَوْلَانِيُّ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ
الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا أَبَا
سَعِيدٍ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ
نَبِيًّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ فَعَجِبَ لَهَا أَبُو سَعِيدٍ فَقَالَ
أَعِدْهَا عَلَيَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَفَعَلَ ثُمَّ قَالَ وَأُخْرَى يُرْفَعُ
بِهَا الْعَبْدُ مِائَةَ دَرَجَةٍ فِي الْجَنَّةِ مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ
كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ قَالَ وَمَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ
الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ [11]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Sa'id bin Manshur] telah menceritakan kepada kami
[Abdullah bin Wahb] telah menceritakan kepadaku [Abu Hani`Al Khaulani] dari
[Abu Abdirrahman Al Hubuli] dari [Abu Sa'id Al Khudri], bahwa Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam pernah bersabda kepadanya: "Wahai Abu Sa'id,
barangsiapa ridla Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad
sebagai Nabinya, maka ia pasti masuk surga." Abu Sa'id takjub serya
berkata, "Wahai Rasulullah, sudikah anda mengulanginya lagi untukku?"
Beliau pun mengulanginya, kemudian beliau melanjutkan: "Dan ada satu
amalan yang dengannya seorang hamba akan diangkat derajatnya di surga sebanyak
seratus derajat, antara derajat satu dengan derajat yang lain seperti jarak antara
langit dan bumi." Abu Sa'id berkata, "Amalan apakah itu wahai
Rasulullah?" Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah, Jihad di jalan
Allah."
Mujahidin Fi Sabilillah adalah orang yang
berjuang menegakkan dan menjunjung tinggi kalimat Allah dan berjuang
mengendalikan dirinya di jalan Allah Ta’ala, mujahidin kedudukannya dimuliakan
Allah dan diangkat derajatnya hingga seratus derajat, Mujahiddin merupakan
bentuk ketakwaan tingkat Jannah, baca selengkapnya di bab takwa level Jannah di
buku Ilmu Takwa 2 Hakekat Takwa dan buku Ilmu Takwa 3 Cermin Qalbu Takwa.
Penyusunan Seluruh buku
Seri Ilmu Takwa 1, 2, 3, 4 juga 5 dan 6 yang masih dalam proses penyelesaian In
Syaa Allah, yang dengan penuh rasa cinta kami hadiahkan untuk seluruh umat
Islam, merupakan langkah awal dalam membentuk masyarakat Islam yang beriman dan
bertakwa, dalam upaya membangun Negeri yang diberkahi (dibukakan pintu
keberkahan dari langit dan bumi), sebagaimana dijanjikan Allah di dalam Al
Quran surat Al-A’raf/ 7: 96.
Penyusunan buku Ilmu
Takwa merupakan upaya jihad menegakkan dan menjunjung tinggi kalimat Allah,
kalimat Allah tentang takwa merupakan konsep Allah yang ideal untuk membentuk
karakter Muttaqin (Orang yang baik), konsep takwa ini mendapat jaminan keberkahan
dari Allah, karena luasnya cakupan ketakwaan yang harus dilakukan kapanpun dan
dimanapun berada, maka takwa perlu dirumuskan menjadi sebuah ilmu yang mencakup
seluruh pemahaman tentang ketakwaan.
Tazkiya institute
berinisiatif memberanikan diri untuk melakukan penelitian dan menyusunnya
menjadi “Ilmu Takwa” yang membahas tentang keistimewaan takwa, pengertiannya
dan tingkatan takwa, cermin takwa dan fujur, metode pendidikan takwa dan
menjadi kekasih Allah dengan jalan takwa. Meski belum sempurna, in syaa Allah
dengan mempelajari seri Ilmu Takwa ini dapat mengantar pembaca untuk dapat
memahami dan mengamalkan takwa dengan sebenar-benarnya takwa.
Setelah buku tersusun
jihad berikutnya adalah mensosialisasikan Ilmu Takwa kepada umat Islam
sekaligus melakukan uji publik atas kebenaran konsep Ilmu Takwa, ini merupakan
langkah perjuangan yang berat, karena Ilmu Takwa merupakan konsep lama, namun
baru dapat dirumuskan menjadi sebuah ilmu baru, ilmu takwa merupakan ilmu
ruhani yang harus dipahami secara bayani, burhani dan irfani, yang belum tentu
dapat dipahami hanya dari membaca buku Ilmu Takwa ini saja, sehingga diperlukan
banyak penjelasan dan kajian melalui berbagai media, baik media ilmiyah maupun
media sosial untuk mempopulerkan pemahaman tentang Takwa.
Bahkan perlu
diperjuangkan agar dapat diangkat menjadi bagian dari kurikulum pendidikan
nasional, karena pendidikan takwa merupakan tujuan utama pendidikan nasional,
sebagaimana diamanatkan di dalam UUD 1945. UUD 1945 Pasal 31 Ayat 3 :
“Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional,
yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang.” Artinya
pemerintah wajib mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan
nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia.
Tazkiya Institute
barulah nama, belum memiliki badan hukum dan sarana prasarana, namun
mempersiapkan diri untuk mengemban tugas Jihad menegakkan dan menjunjung tinggi
kalimat Allah “Kalimat Takwa”, dimulai sejak tahun 2019 bermujahadah dan
berijtihad melakukan penelitian terhadap ayat-ayat Al Quran, Hadits dan Atsar
dan berbagai literatur yang terkait dengan ketakwaan, lalu
mengklasifikasikannya dan merumuskannya menjadi sebuah teori “Ilmu Takwa”,
kemudian tugas berikutnya adalah mendakwahkannya agar diterima, diikuti dan
diamalkannya, dengan semakin banyak penduduk negeri yang bertakwa akan
menjadikan Indonesia menjadi negeri yang diberkahi Allah dari langit dan bumi,
dipimpin oleh orang yang bertakwa. (QS. Al-A’raf/ 7: 96 dan Al-Furqan/ 25: 74)
Kami berharap "Ilmu Takwa" ini bermanfaat untuk membentuk karakter penduduk negeri Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, menjadi semakin banyak yang berkarakter takwa, sehingga negeri ini menjadi negeri yang diberkahi Allah, kami memberi kesempatan kepada para pembaca yang bersedia mendukung Jihad (perjuangan) menegakkan dan menjunjung tinggi kalimat Allah “Kalimat Takwa” agar ketakwaan segera membumi di Negeri ini, dengan cara; Menyebarluaskan buku “Ilmu Takwa” dan Menyebarluaskan “Ilmu Takwa”.
Setelah membaca dan mempelajari "Ilmu Takwa" dan memperoleh manfaat meningkatnya pemahaman dan pengamalan takwa, maka kami memberi kesempatan kepada para pembaca, untuk mengamalkan Takwa tingkat 11 Jannah, untuk memberi dukungan kepada Tazkiya Institute dalam berjihad (berjuang) menegakkan dan menjunjung tinggi kalimat Allah “Kalimat Takwa”. dengan cara menyisihkan sebagian hartanya untuk dikirimkan ke Rekening BSI nomor 7089033831 dengan inisial nama MWH selaku pendiri Tazkiya Institute, cantumkan nomor referensi 914, adapun yang hendak menyumbangkan pemikiran untuk penyempurnaan Ilmu Takwa dapat mengirim melalui email: Tazkiyainst@gmail.com.
Ya Allah.. Ridhailah
Seberapapun dan apapun yang dikirimkan kepada kami, sebagai bukti ikut berjihad
menegakkan dan menjunjung tinggi kalimat Allah “Kalimat Takwa”, sehingga
memasukkan kami menjadi kelompok Mujahidin Fi Sabilillah.
Ancaman Bagi Orang Yang Lebih Mencintai Keluarga, Harta Dan Usahanya Dibanding Cintanya Kepada Allah, Rasuullah dan Jihad Di Jalannya
Di dalam Al-Quran surat
At-Taubah/ 9: 24 disebutkan ancaman ancaman bagi orang yang lebih mencintai
keluarga, harta dan usahanya dibanding cintanya kepada Allah, Rasulullah dan
jihad di jalannya;
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ
وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا
وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ
اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ
بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Artinya: Katakanlah:
"jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum
keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri
kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari
Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang fasik. (QS. At-Taubah/ 9: 24)
Ancaman bagi orang yang
lebih mencintai keluarga, harta dan usahanya dibanding cintanya kepada Allah,
Rasulullah dan jihad di jalan-Nya yang dibuktikan dengan ketaatan kepada Allah
dan Rasulullah serta memperjuangkan tegaknya kalimat Allah adalah akan dijadikan
sebagai orang yang fasik dan tidak memberinya petunjuk..
[1] Al Imam Ahmad bin
Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 37, Halaman 541, Hadits nomor 22906.
[2] Malik Ibn
Anas, Muwatha’ Al-Imam Malik, Muassasah Al-Risalah, Beirut
1991, Jilid 2, Halaman 133, Hadits nomor 2007.
[3] Al Imam Ahmad bin
Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 18, Halaman 345, Hadits nomor 11829.
[4] Malik Ibn
Anas, Muwatha’ Al-Imam Malik, Muassasah Al-Risalah, Beirut
1991, Jilid 2, Halaman 908, Hadits nomor 16.
[5] Abu Al-Qasim
Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo,
1994, Jilid 25, Halaman 162, Hadits nomor 393.
[6] Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404,
Jilid 3, Halaman 157, Hadits nomor 2585.
[7] Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404,
Jilid 4, Halaman 15, Hadits nomor 2786.
[8] Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404,
Jilid 1, Halaman 36, Hadits nomor 123.
[9] Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404,
Jilid 9, Halaman 136, Hadits nomor 7457.
[10] Abu Hatim
Muhammad ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibnu Hazm, Beirut,
Jilid 1, Halaman, 285, Hadits nomor 312.
[11] Imam Muslim,
Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 3, Halaman
1501, Hadits nomor 1884.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar