06/04/2026

38. Ikatan Yang Paling Kuat Adalah Kalimat Takwa

38. Ikatan Yang Paling Kuat Adalah Kalimat Takwa

Keistimewaan takwa ke tiga puluh delapan “Ikatan yang paling kuat adalah kalimat takwa”, keistimewaan ini didasari atsar nomor 491 kitab Mushanaf Ibnu Syaibah, di dalamnya dinyatakan bahwa ikatan yang paling kuat adalah kalimat takwa;

عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَائِشٍ، قَالَ حَدَّثَنِي إِيَاسٌ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ فِي خُطْبَتِهِ: إِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كَلَامُ اللَّهِ، وَأَوْثَقَ الْعُرَى كَلِمَةُ التَّقْوَى، وَخَيْرَ الْمِلَلِ مِلَّةُ إِبْرَاهِيمَ، وَأَحْسَنَ الْقَصَصِ هَذَا الْقُرْآنُ، وَأَحْسَنَ السُّنَنِ سُنَّةُ مُحَمَّدٍ ﷺ وَأَشْرَفَ الْحَدِيثِ ذِكْرُ اللَّهِ، وَخَيْرَ الْأُمُورِ عَزَائِمُهَا، وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ الْأَنْبِيَاءِ، وَأَشْرَفَ الْمَوْتِ قَتْلُ الشُّهَدَاءِ، وَأَغَرَّ الضَّلَالَةِ الضَّلَالَةُ بَعْدَ الْهُدَى، وَخَيْرَ الْعِلْمِ مَا نَفَعَ، وَخَيْرَ الْهُدَى مَا اتُّبِعَ، وَشَرَّ الْعَمَى عَمَى الْقَلْبِ، وَالْيَدَ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَمَا قَلَّ وَكَفَى خَيْرٌ مِمَّا كَثُرَ وَأَلْهَى، وَنَفْسٌ تُنْجِيهَا خَيْرٌ مِنْ أَمَارَةٍ لَا تُحْصِيهَا، وَشَرَّ الْعَذِيلَةِ عِنْدَ حَضْرَةِ الْمَوْتِ، وَشَرَّ النَّدَامَةِ نَدَامَةُ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمِنَ النَّاسِ مَنْ لَا يَأْتِي الصَّلَاةَ إِلَّا دُبُرًا، وَمِنَ النَّاسِ مَنْ لَا يَذْكُرُ اللَّهَ إِلَّا هَجْرًا، وَأَعْظَمَ الْخَطَايَا اللِّسَانُ الْكَذُوبُ، وَخَيْرَ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ، وَخَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى، وَرَأْسَ الْحِكْمَةِ مَخَافَةُ اللَّهِ، وَخَيْرَ مَا أُلْقِيَ فِي الْقَلْبِ الْيَقِينُ، وَالرَّيْبَ مِنَ الْكُفْرِ، وَالنَّوْحَ مِنْ عَمَلِ الْجَاهِلِيَّةِ، وَالْغُلُولَ مِنْ جَمْرِ جَهَنَّمَ، وَالْكَنْزَ كَيٌّ مِنَ النَّارِ، وَالشِّعْرَ مَزَامِيرُ إِبْلِيسَ، وَالْخَمْرَ جِمَاعُ الْإِثْمِ، وَالنِّسَاءَ حَبَائِلُ الشَّيْطَانِ، وَالشَّبَابَ شُعْبَةٌ مِنَ الْجُنُونِ، وَشَرَّ الْمَكَاسِبِ كَسْبُ الرِّبَا، وَشَرَّ الْمَآكِلِ أَكْلُ مَالِ الْيَتِيمِ، وَالسَّعِيدَ مَنْ وُعِظَ بِغَيْرِهِ، وَالشَّقِيَّ مِنْ شُقِيَ فِي بَطْنِ أُمِّهِ، وَإِنَّمَا يَكْفِي أَحَدُكُمْ مَا قَنَعَتْ بِهِ نَفْسُهُ، وَإِنَّمَا يَصِيرُ إِلَى مَوْضِعِ أَرْبَعِ أَذْرُعٍ وَالْأَمْرُ بِآخِرِهِ، وَأَمْلَكَ الْعَمَلِ بِهِ خَوَاتِمُهُ، وَشَرَّ الرِّوَايَا رِوَايَا الْكَذِبِ، وَكُلَّ مَا هُوَ آتٍ قَرِيبٌ، وَسِبَابَ الْمُؤْمِنِ فُسُوقٌ وَقِتَالَهُ كُفْرٌ، وَأَكْلَ لَحْمِهِ مِنْ مَعَاصِي اللَّهِ، وَحُرْمَةُ مَالِهِ كَحُرْمَةِ دَمِهِ، وَمَنْ يَتَأَلَّى عَلَى اللَّهِ يُكَذِّبْهُ، وَمَنْ يَغْفِرْ يَغْفِرِ اللَّهُ لَهُ، وَمَنْ يَعْفُ يَعْفُ اللَّهُ عَنْهُ، وَمَنْ يَكْظِمِ الْغَيْظَ يَأْجُرْهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَصْبِرْ عَلَى الرَّزَايَا يُعْقِبْهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَعْرِفُ الْبَلَاءَ يَصْبِرْ عَلَيْهِ، وَمَنْ لَا يَعْرِفْهُ يُنْكِرْهُ، وَمَنْ يَسْتَكْبِرْ يَضَعُهُ اللَّهُ، وَمَنْ يَبْتَغِ السُّمْعَةَ يُسَمِّعِ اللَّهُ بِهِ، وَمَنْ يَنْوِ الدُّنْيَا تُعْجِزْهُ، وَمَنْ يُطِعِ الشَّيْطَانَ يَعْصِ اللَّهَ، وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ يَعْذِبْهُ. [1].

Artinya: Abdullāh bin Numayr telah meriwayatkan kepada kami; ia berkata: Sufyān telah meriwayatkan kepada kami; ia berkata: ‘Abdullāh bin ‘Āisy telah meriwayatkan kepada kami; ia berkata: Iyās telah meriwayatkan kepadaku dari ‘Abdullāh, bahwa ia (Ibnu Mas‘ūd) biasa berkata dalam khutbahnya: Sesungguhnya perkataan yang paling benar adalah Kalamullah, dan ikatan agama yang paling kuat adalah kalimat takwa, dan sebaik-baik agama adalah agama Ibrāhīm, dan seindah-indah kisah adalah al-Qur’an ini, dan sebaik-baik sunnah adalah sunnah Muhammad , dan semulia-mulia ucapan adalah zikir kepada Allah, dan sebaik-baik perkara adalah yang paling tegas pelaksanaannya, dan seburuk-buruk perkara adalah setiap hal yang diada-adakan. Dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk para nabi, dan semulia-mulia kematian adalah kematian para syuhadā’, dan seburuk-buruk kesesatan adalah kesesatan setelah datangnya petunjuk, dan sebaik-baik ilmu adalah ilmu yang bermanfaat, dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk yang diikuti, dan seburuk-buruk kebutaan adalah kebutaan hati. Dan tangan di atas (pemberi) lebih baik daripada tangan di bawah (peminta), dan sedikit yang mencukupi lebih baik daripada banyak yang melalaikan, dan jiwa yang mampu menyelamatkan dirinya lebih baik daripada jiwa yang diperbudak hawa nafsu yang tak terhitung. Dan seburuk-buruk penyesalan adalah penyesalan di saat sakaratul maut, dan penyesalan yang paling buruk adalah penyesalan pada hari kiamat. Dan sebagian manusia ada yang tidak mendatangi salat kecuali di akhir waktunya, dan sebagian manusia tidak berdzikir kepada Allah kecuali dengan kelalaian. Dan dosa terbesar adalah lisan yang dusta, dan sebaik-baik kekayaan adalah kaya jiwa, dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan puncak hikmah adalah rasa takut kepada Allah, dan sebaik-baik yang ditanamkan ke dalam hati adalah keyakinan. Keraguan termasuk bagian dari kekufuran, dan ratapan termasuk perbuatan jahiliah, dan ghulul merupakan bara api Jahannam, dan harta yang ditimbun adalah lempengan api neraka, dan syair adalah seruling-seruling setan, dan khamar adalah ibu segala dosa, dan wanita adalah perangkap-perangkap setan, dan masa muda adalah satu cabang dari kegilaan. Dan seburuk-buruk penghasilan adalah penghasilan dari riba, dan seburuk-buruk makanan adalah memakan harta anak yatim. Dan orang beruntung adalah orang yang mengambil pelajaran dari selain dirinya, dan orang celaka adalah yang celaka sejak dalam perut ibunya. Dan cukuplah bagi salah seorang dari kalian apa yang dicukupkan oleh jiwanya; pada akhirnya ia hanya akan menuju tempat selebar empat hasta, dan perkara ditentukan oleh akhirnya, dan amal yang paling berkuasa adalah penutupnya. Dan seburuk-buruk riwayat adalah riwayat dusta, dan segala sesuatu yang akan datang itu dekat. Dan mencaci seorang mukmin adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran, dan memakan dagingnya (ghibah) termasuk maksiat kepada Allah, dan kehormatan hartanya seperti kehormatan darahnya. Barang siapa bersumpah atas nama Allah dengan dusta maka Allah mendustakannya; barang siapa memaafkan maka Allah memaafkannya; barang siapa menahan amarah maka Allah memberinya pahala; barang siapa bersabar atas musibah maka Allah menggantinya; barang siapa mengenal ujian maka ia bersabar atasnya, dan barang siapa tidak mengenalnya maka ia mengingkarinya. Barang siapa sombong maka Allah akan merendahkannya; barang siapa mencari ketenaran maka Allah akan membongkarnya; barang siapa berniat mengejar dunia maka dunia akan membuatnya lelah; barang siapa menaati setan maka ia bermaksiat kepada Allah; dan barang siapa bermaksiat kepada Allah maka Allah akan mengazabnya.

Di dalam Al Quran surat Al-Fath (48): 26 dinyatakan bahwa Allah melazimkan (mengikat, kuatkan, tetapkan, lekatkan, tidak dapat dipisahkan) bagi orang beriman dengan kalimat takwa;

إِذْ جَعَلَ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْحَمِيَّةَ حَمِيَّةَ الْجَاهِلِيَّةِ فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكِينَتَهُ عَلَى رَسُولِهِ وَعَلَى الْمُؤْمِنِينَ وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى وَكَانُوا أَحَقَّ بِهَا وَأَهْلَهَا وَكَانَ اللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا

Artinya: Ketika orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (yaitu) kesombongan jahiliyah lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan (mengikat, kuatkan, tetapkan, lekatkan, tidak dapat dipisahkan) kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. Al-Fath (48): 26)

Beriman kepada Allah dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (kalimat takwa), berarti telah berpegangan pada buhul/ simpul yang sangat kuat, sebagaimana digambarkan di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 256;

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى لَا انْفِصَامَ لَهَا وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(QS. Al-Baqarah/ 2: 256)

Demikian juga di dalam Al Quran surat Luqman/ 31: 22 digambarkan bahwa orang yang telah berserah diri kepada Allah, dan menyatakan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (kalimat takwa), berarti telah berpegangan pada buhul/ simpul yang sangat kuat;

وَمَنْ يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَى وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ

Artinya: Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.(QS. Luqman/ 31: 22)

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 3265 dijelaskan bahwa kalimat takwa adalah La ilaha illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah);

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ قَزَعَةَ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ حَبِيبٍ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ ثُوَيْرٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ الطُّفَيْلِ بْنِ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {وَأَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوَى} قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ [2]

Artinya: "Telah menceritakan kepada kami al-Hasan bin Qaza'ah al-Bashri, menceritakan kepada kami Sufyan bin Habib dari Syu'bah dari Tsuwayr dari ayahnya dari Thufayl bin Ubay bin Ka'b dari ayahnya, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam tentang firman Allah {dan Dia mewajibkan kepada mereka kalimat takwa} beliau bersabda: 'Itu adalah kalimat La ilaha illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah).'"

Di dalam kitab Musnad Ahmad Hadits nomor 447 digambarkan bahwa kalimat takwa adalah tiada Tuhan selain Allah;

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الْخَفَّافُ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ حُمْرَانَ بْنِ أَبَانَ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَا يَقُولُهَا عَبْدٌ حَقًّا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حُرِّمَ عَلَى النَّارِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا أُحَدِّثُكَ مَا هِيَ هِيَ كَلِمَةُ الْإِخْلَاصِ الَّتِي أَعَزَّ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِهَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابَهُ وَهِيَ كَلِمَةُ التَّقْوَى الَّتِي أَلَاصَ عَلَيْهَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَمَّهُ أَبَا طَالِبٍ عِنْدَ الْمَوْتِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ [3]

Artinya: "Menceritakan kepada kami Abdul Wahhab al-Khaffaf, menceritakan kepada kami Sa'id dari Qatadah dari Muslim bin Yasar dari Humran bin Aban bahwa Utsman bin Affan radhiyallahu 'anhu berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Sesungguhnya aku mengetahui sebuah kalimat yang tidak akan diucapkan seorang hamba dengan ikhlas dari hatinya kecuali dia akan terhindar dari neraka.' Kemudian Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu berkata kepadanya, 'Aku akan memberitahukan kepadamu apa itu. Itu adalah kalimat ikhlas yang dengannya Allah 'Azza wa Jalla memuliakan Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Itu adalah kalimat takwa yang diucapkan oleh Nabi Allah Shallallahu 'alaihi wa sallam kepada pamannya Abu Thalib di saat kematiannya, yaitu syahadat bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.'



[1] Muhammad ibn Abi Syaibah Al-Kufi Al-Abasi, Al-Kitab Al-Mushanaf Fi Al-Ahadits Wa Al-Atsar, Maktabah Al-Ulum Wa Al-Hukm, Madinah, 1989, Jilid 7, Halaman 106, Hadits nomor 34552.

[2] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 5 Halaman 306, Hadits nomor 3265.

[3] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 1, Halaman 499, .Hadits nomor 447.

Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post