+ 9. TAQWA LEVEL RIDHA
Ridha
berasal dari kata Radhiya-yardha-ridhaan/radhiyatan; suka, rela,
menerima, menyetujui, puas. Di dalam Al Quran ditemukan 73 kata yang terbentuk
dari kata dasar radhiya yang terdapat di 64 ayat.
Ayat-ayat
tersebut ditambah dengan hadits-hadits Rasulullah SAW yang berkaitan dengan
ridha akan diklasifikasikan dan dianalisa untuk dapat memperoleh pemahaman yang
menyeluruh tentang ridha, sehingga ridha dapat diamalkan menjadi sebuah bentuk
ketaqwaan di tingkat ridha.
Di
dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 207 digambarkan bahwa di antara manusia ada
orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah;
وَمِنَ
النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ
بِالْعِبَادِ
Artinya:
Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari
keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.(QS.
Al-Baqarah/ 2: 207)
Sedangkan
di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 3924 ditegaskan bahwa barang siapa
yang pada sore hari mengucapkan; aku ridha Allah sebagai Tuhanku dan Muhammad
sebagai nabi, maka Allah benar-benar akan meridhainya
حَدَّثَنَا
أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ أَبِي سَعْدٍ
سَعِيدِ بْنِ الْمَرْزُبَانِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ
حِينَ يُمْسِي رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ
نَبِيًّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ, قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا
حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ
[1]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abu Sa'idAl Asyaj telah menceritakan kepada kami
'Uqbah bin Khalid? dari Abu Sa'd Sa'id bin Al Marzuban? dari Abu Salamah? dari
Tsauban radliallahu 'anhu? ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam
bersabda: "Barang siapa pada sore hari mengucapkan; aku ridha Allah
sebagai Tuhanku dan Muhammad sebagai nabi, maka Allah benar-benar akan
meridhainya." Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan gharib dari
sisi ini.
Berdasar
pengertian secara bahasa, ayat Al Quran dan Hadits di atas dapat ditarik
pengertian bahwa ridha adalah kesadaran qalbu merasa puas dan bahagia mengikuti
ketetapan Allah, Islam dan Rasulullah Muhammad SAW.
Adapun
untuk dapat memberikan gambaran yang menyeluruh tentang takwa di tingkat ridha,
maka pada bab ini akan dikemukakan pembahasan tentang;
1.
Hikmah Ridha,
2.
Keistimewaan Orang Ridha,
3.
Karakter Orang Ridha
4.
Taqwa Di Tingkat Ridha.
Adapun
pembahasannya adalah sebagai berikut;
Di dalam potongan ayat Al Quran surat Al-Maidah/
5: 3 ditegaskan bahwa pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan
telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama
bagimu;
...الْيَوْمَ
يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي
وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ
مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya:
Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu,
sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari
ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa
terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Maidah/ 5: 3)
1.1. Keridhaan Allah Lebih Besar Dari Keni’matan Surga
Di
dalam Al Quran surat At-Taubah/ 9: 72 digambarkan bahwa keridhaan Allah adalah
lebih besar;
وَعَدَ
اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا
الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ
وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
Artinya: Allah
menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat)
surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan
(mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah
lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar. (QS. At-Taubah/ 9: 72)
1.2. Keridhaan Allah Lebih Utama Dari Semua Pemberian
Allah
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6549 dan 7518 dinyatakan bahwa
'Sekarang Aku beri kalian suatu yang lebih utama daripada itu.' Penghuni surga
bertanya; 'Wahai rabbi, apa yang lebih utama dari kesemuanya? ' Allah
berfirman; 'Kuhalalkan keridhaan-Ku untuk kalian, dan Aku tidak murka kepada
kalian selama-lamanya;
حَدَّثَنَا
مُعَاذُ بْنُ أَسَدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ
عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ
الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ لِأَهْلِ الْجَنَّةِ يَا أَهْلَ
الْجَنَّةِ فَيَقُولُونَ لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ فَيَقُولُ هَلْ
رَضِيتُمْ فَيَقُولُونَ وَمَا لَنَا لَا نَرْضَى وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ
تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ فَيَقُولُ أَنَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ
قَالُوا يَا رَبِّ وَأَيُّ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ فَيَقُولُ أُحِلُّ
عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا [2]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Mu'adz bin Asad telah mengabarkan kepada kami Abdullah
telah mengabarkan kepada kami Malik bin Anas dari Zaid bin Aslam dari 'Atho'
bin yasar dari Abu Said Al Khudzri mengatakan, Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah tabaraka wata'ala berfirman kepada penghuni
surga; 'Wahai penghuni surga! ' 'Baik, dan kami penuhi panggilan-Mu, ' Jawab
penghuni surga. Allah berfirman; 'telah puaskah kalian? ' mereka menjawab;
'Bagaimana mungkin kami tidak puas, sementara Engkau telah memberi kami yang
belum pernah Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu.' Maka Allah
berrfirman; 'Sekarang Aku beri kalian suatu yang lebih utama daripada itu.'
Penghuni surga bertanya; 'Wahai rabbi, apa yang lebih utama dari kesemuanya? '
Allah berfirman; 'Kuhalalkan keridhaan-Ku untuk kalian, dan Aku tidak murka
kepada kalian selama-lamanya.'"
1.3. Tidak Ada Sesuatu Yang Diharap Lagi Setelah
Ridla-Mu
Di
dalam kitab Sunan Darimi Atsar nomor 3354 tergambar bahwa tidak ada sesuatu
yang diharap lagi setelah ridla-Mu;
حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ الرَّقِّيُّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو
عَنْ زَيْدِ بْنِ أَبِي أُنَيْسَةَ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ قَالَ
سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ نِعْمَ
الشَّفِيعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّهُ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَا رَبِّ
حَلِّهِ حِلْيَةَ الْكَرَامَةِ فَيُحَلَّى حِلْيَةَ الْكَرَامَةِ يَا رَبِّ
اكْسُهُ كِسْوَةَ الْكَرَامَةِ فَيُكْسَى كِسْوَةَ الْكَرَامَةِ يَا رَبِّ
أَلْبِسْهُ تَاجَ الْكَرَامَةِ يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ فَلَيْسَ بَعْدَ رِضَاكَ
شَيْءٌ [3]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja'far Ar Raqqi dari Ubaidullah bin Amru
dari Zaid bin Abu Unaisah dari 'Ashim dari Abu Shalih ia berkata, "Aku
mendengar Abu Hurairah berkata, "Bacalah Al Qur'an sebab ia adalah
sebaik-baik pemberi syafaat pada hari kiamat, pada hari kiamat ia akan berkata
'Wahai Rabbku, hiasilah ia dengan hiasan kemuliaan, ' maka ia dihiasilah dengan
hiasan kemuliaan. 'Wahai Rabbku, selimutilah ia dengan selimut kemuliaan, '
maka ia diselimuti dengan selimut kemuliaan. 'Wahai Rabbku, pakaikanlah padanya
mahkota kemuliaan, wahai Rabbku ridlailah ia, sebab tidak ada sesuatu yang
diharap lagi setelah ridla-Mu'."
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22401 digambarkan bahwa jika seorang
hamba benar-benar mencari ridha Allah dan senantiasa seperti itu, maka Allah
'Azzawajalla berfirman kepada Jibril; 'Fulan hambaKu mencari ridhaKu, ingat!
Rahmat-Ku bersamanya;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ أَخْبَرَنَا مَيْمُونٌ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ
عَنْ ثَوْبَانَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ
الْعَبْدَ لَيَلْتَمِسُ مَرْضَاةَ اللَّهِ وَلَا يَزَالُ بِذَلِكَ فَيَقُولُ
اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِجِبْرِيلَ إِنَّ فُلَانًا عَبْدِي يَلْتَمِسُ أَنْ
يُرْضِيَنِي أَلَا وَإِنَّ رَحْمَتِي عَلَيْهِ فَيَقُولُ جِبْرِيلُ رَحْمَةُ
اللَّهِ عَلَى فُلَانٍ وَيَقُولُهَا حَمَلَةُ الْعَرْشِ وَيَقُولُهَا مَنْ
حَوْلَهُمْ حَتَّى يَقُولَهَا أَهْلُ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ ثُمَّ تَهْبِطُ لَهُ
إِلَى الْأَرْضِ [4]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr telah mengabarkan kepada kami Maimun
telah bercerita kepada kami Muhammad bin 'Abbad dari Tsauban dari Nabi ﷺ bersabda; "Jika seorang hamba benar-benar
mencari ridha Allah dan senantiasa seperti itu, maka Allah 'Azzawajalla
berfirman kepada Jibril; 'Fulan hambaKu mencari ridhaKu, ingat! rahmatKu
bersamanya.' Lalu Jibril berkata; Rahmat Allah bersama si fulan. Para malaikat
pemikul 'arsy juga mengucapkan seperti itu, para malaikat sekeliling mereka
juga mendoakan seperti ini dan malaikat-malaikat penghuni ketujuh langit yang
ada disekitarnya juga tidak luput mendoakannya kemudian mereka turun ke bumi
untuknya."
Di
dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 4189 dinyatakan bahwa tidak ada
tegukan yang lebih besar pahalanya di sisi Allah daripada tegukan amarah yang
ditahan dari seorang hamba karena mencari keridlaan Allah;
حَدَّثَنَا
زَيْدُ بْنُ أَخْزَمَ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ
سَلَمَةَ عَنْ يُونُسَ بْنِ عُبَيْدٍ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ جُرْعَةٍ أَعْظَمُ
أَجْرًا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ جُرْعَةِ غَيْظٍ كَظَمَهَا عَبْدٌ ابْتِغَاءَ وَجْهِ
اللَّهِ [5]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Zaid bin Akhzam telah menceritakan kepada kami Bisyr
bin Umar telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Yunus bin
'Ubaid dari Al Hasan dari Ibnu Umar dia berkata, "Rasulullah ﷺ
bersabda: "Tidak ada tegukan yang lebih besar pahalanya di sisi Allah
daripada tegukan amarah yang ditahan dari seorang hamba karena mencari
keridlaan Allah."
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 17649 digambarkan sekiranya seorang
laki-laki diseret di atas wajahnya semenjak hari ia dilahirkan hingga ia
meninggal dunia di hari tuanya, sedang ia dalam keridlaan Allah 'azza wajalla,
niscaya pada hari kiamat ia akan menganggap remeh kesengsaraan itu;
حَدَّثَنَا
حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ حَدَّثَنِي بَحِيرُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ
خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ عُتْبَةَ بْنِ عَبْدٍ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا يُجَرُّ عَلَى
وَجْهِهِ مِنْ يَوْمِ وُلِدَ إِلَى يَوْمِ يَمُوتُ هَرَمًا فِي مَرْضَاةِ اللَّهِ
عَزَّ وَجَلَّ لَحَقَّرَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
[6]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Haiwah bin Syuraih Telah menceritakan kepada kami
Baqiyyah telah menceritakan kepadaku Bahir bin Sa'd dari Khalid bin Ma'dan dari
Utbah bin Abd ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Sekiranya seorang
laki-laki diseret di atas wajahnya semenjak hari ia dilahirkan hingga ia
meninggal dunia di hari tuanya, sedang ia dalam keridlaan Allah 'azza wajalla,
niscaya pada hari kiamat ia akan menganggap remeh kesengsaraan itu."
Di
dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2009 dinyatakan bahwa Ridha Allah
terdapat pada ridha seorang bapak, dan murka Allah juga terdapat pada murkanya
seorang bapak;
حَدَّثَنَا
أَبُو حَفْصٍ عُمَرُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا
شُعْبَةُ عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رِضَى الرَّبِّ
فِي رِضَى الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ [7]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu Hafsh, Umar bin Ali telah menceritakan kepada kami
Khalid bin Al Harits telah menceritakan kepada kami telah menceritakan kepada
kami Syu'bah dari Ya'la bin Atha' Bapaknya dari Abdullah bin Amr radliallahu
'anhuma dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Ridha
Allah terdapat pada ridha seorang bapak, dan murka Allah juga terdapat pada
murkanya seorang bapak."
1.8. Ridha Allah SWT Tergantung Dengan Ridha Orang Tua
Di
dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 772 dinyatakan bahwa ridha Allah
SWT tergantung dengan ridha orang tua;
أَخْبَرَنَا
الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيبِ بْنِ
عَرَبِيٍّ، قَالَ: حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ
يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: رِضَاءُ اللهِ فِي
رِضَاءِ الْوَالِدِ، وَسَخَطُ اللهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ
[8]
Artinya: Al
Hasan bin Sufyan mengabarkan kepada kami, ia berkata, Yahya bin Hubaib bin
‘Arabi menceritakan kepada kami, ia berkata, Khalid bin Al Harits menceritakan
kepada kami, dari Syu’bah, dari180 Ya’la bin Atha', dari ayahnya, dari Abdullah
bin Amru, ia berkata:Rasulullah ﷺ bersabda, “Ridha
Allah SWT tergantung dengan ridha orang tua. Dan Murka Allah tergantung dengan
murkanya orang tua. ”
Di
dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 1715 dinyatakan bahwa Sesungguhnya Allah
meridhai bagimu tiga perkara; beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya
dengan sesuatu apapun, kalian berpegang teguh dengan agama-Nya dan tidak
berpecah belah.
حَدَّثَنِي
زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ
اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا فَيَرْضَى لَكُمْ
أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ
اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ
السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ, و حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ
أَخْبَرَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ سُهَيْلٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ غَيْرَ
أَنَّهُ قَالَ وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلَاثًا وَلَمْ يَذْكُرْ وَلَا تَفَرَّقُوا [9]
Artinya: Telah
menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir dari
Suhail dari ayahnya dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah meridhai bagimu tiga perkara dan membenci
tiga perkara; Dia menyukai kalian supaya beribadah kepada-Nya dan tidak
menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kalian berpegang teguh dengan agama-Nya
dan tidak berpecah belah. Dan Allah membenci kalian dari mengatakan sesuatu
yang tidak jelas sumbernya, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta." Dan
telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farruh telah mengabarkan kepada kami
Abu 'Awanah dari Suhail dengan isnad seperti ini, namun dia berkata, 'Dan dia
murka terhadap tiga perkara dari kalian', dan tidak menyebutkan, 'dan janganlah
kalian berpecah belah'."
1.10. Perumpamaan Orang Yang menafkahkan Hartanya Mengharap Ridha Allah
Di
dalam surat Al-Baqarah/ 2: 265 digambarkan perumpamaan orang yang menafkahkan
hartanya karena mengharap ridha Allah;
وَمَثَلُ
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا
مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ
أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللَّهُ بِمَا
تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Artinya: Dan
perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan
Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di
dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan
buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis
(pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. (QS. Al-Baqarah/
2: 265)
1.11. Ridha Allah Mengalahkan Murkanya
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 11898 digambarkan ridha Allah kepada
hambanya mengalahkan murkanya;
حَدَّثَنَا
عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ
بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَلَصَ الْمُؤْمِنُونَ مِنْ النَّارِ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ وَأَمِنُوا فَمَا مُجَادَلَةُ أَحَدِكُمْ لِصَاحِبِهِ فِي الْحَقِّ
يَكُونُ لَهُ فِي الدُّنْيَا بِأَشَدَّ مُجَادَلَةً لَهُ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ
لِرَبِّهِمْ فِي إِخْوَانِهِمْ الَّذِينَ أُدْخِلُوا النَّارَ قَالَ يَقُولُونَ
رَبَّنَا إِخْوَانُنَا كَانُوا يُصَلُّونَ مَعَنَا وَيَصُومُونَ مَعَنَا
وَيَحُجُّونَ مَعَنَا فَأَدْخَلْتَهُمْ النَّارَ قَالَ فَيَقُولُ اذْهَبُوا
فَأَخْرِجُوا مَنْ عَرَفْتُمْ فَيَأْتُونَهُمْ فَيَعْرِفُونَهُمْ بِصُوَرِهِمْ لَا
تَأْكُلُ النَّارُ صُوَرَهُمْ فَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ النَّارُ إِلَى
أَنْصَافِ سَاقَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ إِلَى كَعْبَيْهِ
فَيُخْرِجُونَهُمْ فَيَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرَجْنَا مَنْ أَمَرْتَنَا ثُمَّ
يَقُولُ أَخْرِجُوا مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ وَزْنُ دِينَارٍ مِنْ الْإِيمَانِ
ثُمَّ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ وَزْنُ نِصْفِ دِينَارٍ حَتَّى يَقُولَ مَنْ كَانَ
فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْ
بِهَذَا فَلْيَقْرَأْ هَذِهِ الْآيَةَ "{إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ
وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا"
قَالَ فَيَقُولُونَ رَبَّنَا قَدْ أَخْرَجْنَا مَنْ أَمَرْتَنَا فَلَمْ يَبْقَ فِي
النَّارِ أَحَدٌ فِيهِ خَيْرٌ قَالَ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ شَفَعَتْ
الْمَلَائِكَةُ وَشَفَعَ الْأَنْبِيَاءُ وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ وَبَقِيَ
أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ قَالَ فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنْ النَّارِ أَوْ قَالَ
قَبْضَتَيْنِ نَاسٌ لَمْ يَعْمَلُوا لِلَّهِ خَيْرًا قَطُّ قَدْ احْتَرَقُوا
حَتَّى صَارُوا حُمَمًا قَالَ فَيُؤْتَى بِهِمْ إِلَى مَاءٍ يُقَالُ لَهُ مَاءُ
الْحَيَاةِ فَيُصَبُّ عَلَيْهِمْ فَيَنْبُتُونَ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِي
حَمِيلِ السَّيْلِ فَيَخْرُجُونَ مِنْ أَجْسَادِهِمْ مِثْلَ اللُّؤْلُؤِ فِي
أَعْنَاقِهِمْ الْخَاتَمُ عُتَقَاءُ اللَّهِ قَالَ فَيُقَالُ لَهُمْ ادْخُلُوا
الْجَنَّةَ فَمَا تَمَنَّيْتُمْ أَوْ رَأَيْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ لَكُمْ
عِنْدِي أَفْضَلُ مِنْ هَذَا قَالَ فَيَقُولُونَ رَبَّنَا وَمَا أَفْضَلُ مِنْ
ذَلِكَ قَالَ فَيَقُولُ رِضَائِي عَلَيْكُمْ فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ أَبَدًا [10]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abdurrazzaq berkata, telah mengabarkan kepada kami
Ma'mar dari Zaid bin Aslam dari 'Atho` bin Yasar dari Abu Sa'id ia berkata;
Rasulullahﷺ bersabda: "Jika kaum mukminin pada hari kiamat telah lolos
dan aman dari neraka, maka tidaklah perdebatan salah seorang dari kalian dengan
temannya tentang kebenaran waktu di dunia lebih besar dari perdebatan kaum
mukminin terhadap Rabb mereka berkenaan dengan nasib saudaranya yang telah
dimasukkan ke dalam neraka." Beliau bersabda: "Mereka berkata; 'Wahai
Rabb kami, mereka adalah saudara kami, mereka shalat, puasa dan berhaji bersama
kami, tapi kenapa Engkau masukkan mereka ke dalam neraka? '" beliau
bersabda: "Lalu Allah berfirman: 'Masuklah kalian ke dalam neraka, dan
keluarkan orang-orang yang kalian kenal.' maka mereka pun masuk ke dalam neraka
dan mereka dapat mengenali mereka dengan wajah yang tidak dimakan oleh api. Di
antara mereka ada yang dimakan oleh api hingga pertengahan betisnya, dan ada
yang dimakan hingga kedua mata kakinya, lalu mereka mengeluarkannya. Setelah
itu mereka berkata; 'Wahai Rabb kami, kami telah mengeluarkan orang-orang yang
telah Engkau perintahkan (untuk kami keluarkan), ' lalu Allah berfirman;
'Keluarkan pula orang-orang yang dalam dadanya ada iman seberat dinar, lalu
orang-orang yang dalam dadanya ada iman seberat setengah dinar, ' hingga Allah
mengatakan; 'dan orang-orang yang dalam dadanya ada iman seberat biji
sawi." Abu Sa'id berkata; "Barangsiapa yang tidak yakin dengan ini
semua, hendaklah ia baca ayat ini: "Sesungguhnya Allah tidak menganiaya
seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah pun,
niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang
besar." Beliau bersabda: "Lalu mereka berkata; 'Wahai Rabb kami, kami
telah mengeluarkan semua orang yang telah Engkau perintah untuk kami keluarkan,
hingga tidak ada seorang pun di dalam neraka yang di dalam dadanya ada
kebaikan." Beliau bersabda: "Kemudian Allah berfirman: 'Para malaikat
telah memberikan syafa'at, para Nabi telah memberikan syafa'at, dan orang-orang
yang beriman telah memberikan syafa'at, sekarang tinggallah Dzat Yang Maha Pengasih."
Beliau bersabda: "Lalu Allah menggenggam dengan satu genggaman dari
neraka, atau beliau mengatakan, "dua genggaman, yaitu orang-orang yang
belum pernah melakukan amal kebaikan untuk Allah, mereka telah terbakar hingga
menjadi arang." Beliau bersabda: "Lalu mereka dibawa ke air (sungai)
yang disebut dengan air kehidupan, lalu mereka disiram dan tumbuh sebagaimana
tumbuhnya biji-bijian di tepi aliran sungai. Setelah itu mereka keluar dari
dalam jasad-jasad mereka seperti mutiara, pada leher mereka ada cincin, mereka
adalah orang-orang yang telah Allah bebaskan." Beliau bersabda: "Lalu
dikatakan kepada mereka; 'Masuklah kalian ke dalam surga, maka apa yang kalian
angan-angankan atau yang kalian lihat adalah untuk kalian, namun apa yang ada
di sisi-Ku adalah lebih utama dari ini." Beliau bersabda: "Mereka
lalu berkata; 'Wahai Rabb, apa yang lebih utama dari semua itu? ' beliau
bersabda: "Allah lalu berfirman; 'Keridha`an-Ku terhadap kalian semua,
maka Aku tidak akan murka kepada kalian selamanya." (HR. Ahmad: 11463)
2. Keistimewaan Orang Yang Ridha
Banyak keuntungan yang akan diperoleh bagi orang
yang ridha, yang disebutkan di dalam Al Quran maupun hadits Rasulullah SAW;
2.1. Diberi Petunjuk Oleh Allah
Di dalam Al Quran surat Al-Maidah (5): 16
digambarkan bahwa Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke
jalan keselamatan;
يَهْدِي
بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ
الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Artinya:
Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya
ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan
orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan
seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.(QS. Al-Maidah (5):
16)
Di
dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 1884 dijelaskan bahwa barangsiapa ridla
Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai Nabinya,
maka baginya wajib masuk surga;
حَدَّثَنَا
سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي أَبُو
هَانِئٍ الْخَوْلَانِيُّ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ أَبِي
سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ يَا أَبَا سَعِيدٍ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا
وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ فَعَجِبَ لَهَا أَبُو سَعِيدٍ
فَقَالَ أَعِدْهَا عَلَيَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَفَعَلَ ثُمَّ قَالَ وَأُخْرَى
يُرْفَعُ بِهَا الْعَبْدُ مِائَةَ دَرَجَةٍ فِي الْجَنَّةِ مَا بَيْنَ كُلِّ
دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ قَالَ وَمَا هِيَ يَا رَسُولَ
اللَّهِ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ [11]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Manshur telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb telah menceritakan kepadaku Abu Hani`Al Khaulani dari Abu Abdirrahman Al Hubuli dari Abu Sa'id Al Khudri, bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadanya: "Wahai Abu Sa'id, barangsiapa ridla Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad ﷺ sebagai Nabinya, maka wajib baginya masuk surga." Abu Sa'id takjub serya berkata, "Wahai Rasulullah, sudikah anda mengulanginya lagi untukku?" Beliau pun mengulanginya, kemudian beliau melanjutkan: "Dan ada satu amalan yang dengannya seorang hamba akan diangkat derajatnya di surga sebanyak seratus derajat, antara derajat satu dengan derajat yang lain seperti jarak antara langit dan bumi." Abu Sa'id berkata, "Amalan apakah itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah, Jihad di jalan Allah." (HR. Muslim: 3496)
2.3. Allah Meridlainya Pada Hari Kiamat
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 23111, dijelaskan bahwa Allah Meridlainya
Pada Hari Kiamat, Orang Yang Mengucap 'Radlitu Billahi Rabba Wa Bil Islaami
Diina Wa Bimuhammadin Nabiyya, setiap Pagi 3 Kali Dan Sore 3 Kali;
حَدَّثَنَا
أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي عَقِيلٍ قَاضِي وَاسِطٍ
عَنْ سَابِقِ بْنِ نَاجِيَةَ عَنْ أَبِي سَلَّامٍ قَالَ مَرَّ رَجُلٌ فِي مَسْجِدِ
حِمْصَ فَقَالُوا هَذَا خَادِمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ فَقُمْتُ إِلَيْهِ فَقُلْتُ حَدِّثْنِي حَدِيثًا سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَتَدَاوَلُهُ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ
الرِّجَالُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا
مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَقُولُ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ [12]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Aswad bin Amir] Telah menceritakan kepada kami
[Syu'bah] dari [Abu 'Aqil] Qadli Wasith, dari [Sabiq bin Najiyah] dari [Abu
Sallam] ia berkata; [Seorang laki-laki] berjalan melewati Masjid Himsh, maka
orang-orang pun berkata, "Orang ini adalah Khadimnya Nabi ﷺ." Maka saya pun beranjak ke arahnya dan berkata,
"Ceritakanlah kepadaku suatu hadis yang telah Anda dengar dari Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam, tanpa seorang perantara pun." Ia pun
berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah
seorang muslim membaca, 'radlitu billahi rabba wa bil islaami diina wa
bimuhammadin nabiyya (Aku ridla Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku,
dan Muhammad sebagai Nabi-ku).' saat ia memasuki sore hari sebanyak tiga kali
dan di pagi hari tiga kali, kecuali wajib bagi Allah untuk meridlainya pada
hari kiamat."
Di
dalam Al Quran surat An-Nisa'/ 4: 114 ditegaskan bahwa orang yang mengerjakan
kebaikan karena mengharap ridha Allah akan diberikan pahala yang besar;
لَا
خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ
مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ
مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا
Artinya: Tidak
ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan
dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau
mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian
karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang
besar. (Qs. An Nisa’/ 4: 114)
Di
dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 386 dinyatakan bahwa siapa membaca
ketika mendengar muadzin, 'Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak
disembah) selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan bahwa Muhammad
adalah hamba dan Rasul-Nya, saya ridha Allah sebagai Rabb, dan Muhammad sebagai
Rasul, serta Islam sebagai agama, ' niscaya dosanya akan diampuni;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنْ الْحُكَيْمِ بْنِ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ قَيْسٍ الْقُرَشِيِّ ح و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ
حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ الْحُكَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ
بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ
مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا
وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ قَالَ ابْنُ رُمْحٍ فِي رِوَايَتِهِ
مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ وَأَنَا أَشْهَدُ وَلَمْ يَذْكُرْ
قُتَيْبَةُ قَوْلَهُ وَأَنَا [13]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh telah mengabarkan kepada kami al-Laits dari al-Hukaim bin Abdullah bin Qais al-Qurasyi --lewat jalur periwayatan lain--, dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Laits dari al-Hukaim bin Abdullah dari Amir bin Sa'ad bin Abi Waqqash dari Sa'ad bin Abi Waqqash dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau bersabda, "Barangsiapa membaca ketika mendengar muadzdzin, 'Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan bahwa Muhammad ﷺ adalah hamba dan RasulNya, saya ridha Allah sebagai Rabb, dan Muhammad ﷺ sebagai Rasul, serta Islam sebagai agama, ' niscaya dosanya akan diampuni." Ibnu Rumh berkata dalam riwayatnya, "Barangsiapa membaca ketika mendengar muadzdzin, 'Dan saya bersaksi, ' sedangkan Qutaibah tidak menyebutkan ungkapan, 'Saya'."
2.6. Membuat Allah Ridha Dengan Perbuatan Yang Manusia
Benci, Maka Allah Mencukupkannya
Di
dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 4865 dinyatakan Siapa yang membuat
Allah ridha dengan perbuatan yang manusia benci, maka Allah mencukupkannya. Dan
siapa yang membuat Allah benci dengan perbuatan yang manusia ridhai, niscaya
Allah menyerahkan urusannya kepada manusia;
أَخْبَرَنَا
الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ يَعْقُوبَ
الْجُوزَجَانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ، قَالَ:
حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ وَاقِدِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ،
عَنِ الْقَاسِمِ، عَنْ عَائِشَةَ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، قَالَ: مَنْ أَرْضَى اللَّهَ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ،
وَمَنْ أَسْخَطَ اللَّهَ بِرِضَا النَّاسِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ.[14]
Artinya: Hasan
bin Sufyan mengabarkan kepada kami, dia berkata: Ibrahim bin Ya’qub Al Juzajani
menceritakan kepada kami, dia berkata: Utsman bin Umar menceritakan kepada
kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Waqid bin Muhammad
dari Ibnu Abi Mulaikah dari Al Qasim dari Aisyah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang membuat Allah ridha dengan perbuatan
yang manusia benci, maka Allah mencukupkannya. Dan siapa yang membuat Allah
benci dengan perbuatan yang manusia ridhai, niscaya Allah menyerahkan urusannya
kepada manusia.“
Adapun karakter orang ridha yang digambarkan di
dalam Al Quran dan Hadits Rasulullah SAW, antara lain;
3.1. Bersabar
Dan Bertasbih Memuji Namanya Di Pagi, Sore, Malam Dan Siang Agar Ridla;
bahagia
Di
dalam Al Quran Surat Ta Ha/ 20: 130, dijelaskan perintah Bersabarlan Dan Bertasbihlah Memuji Namanya Di Pagi,
Sore, Malam Dan Siang Agar Kamu Ridla; bahagia;
فَاصْبِرْ
عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ
وَقَبْلَ غُرُوبِهَا ۖ وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ
لَعَلَّكَ تَرْضَىٰ
Artinya: Maka
sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji
Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah
pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu
merasa ridla. (QS. Ta Ha/ 20: 130)
Di
dalam kitab Sunan Tirmidzi hadis nomor 2396, dijelaskan bahwa barangsiapa yang
ridla maka baginya keridlaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya
kemurkaan Allah;
حَدَّثَنَا
قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ سَعْدِ
بْنِ سِنَانٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ
إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ
فَلَهُ السَّخَطُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا
الْوَجْهِ [15]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah] telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari [Yazid bin Abu Habib] dari [Sa'id bin Sinan] dari [Anas] berkata:) dari Nabi ﷺ beliau bersabda: "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridla maka baginya keridlaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." Abu Isa berkata: Hadis ini hasan gharib dari jalur sanad ini.
3.3. Kebahagiaan Anak Adam Adalah Keridhaannya Kepada
Ketetapan Allah
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 1444, dijelaskan bahwa diantara
kebahagiaan anak Adam adalah keridhaannya kepada ketetapan Allah, sedangkan di
antara kesengsaraan anak Adam adalah dia meninggalkan istikharah kepada Allah;
حَدَّثَنَا
رَوْحٌ أَمْلَاهُ عَلَيْنَا بِبَغْدَادَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي حُمَيْدٍ
عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهِ
عَنْ جَدِّهِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ اسْتِخَارَتُهُ اللَّهَ
وَمِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ رِضَاهُ بِمَا قَضَاهُ اللَّهُ وَمِنْ شِقْوَةِ
ابْنِ آدَمَ تَرْكُهُ اسْتِخَارَةَ اللَّهِ وَمِنْ شِقْوَةِ ابْنِ آدَمَ سَخَطُهُ
بِمَا قَضَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ [16]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Rauh] -dia mendekte kepada kami ketika di Baghdad, -
telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abu Humaid] dari [Isma'il bin
Muhammad bin Sa'd bin Abu Waqqash] dari [bapaknya] dari [kakeknya, Sa'd bin Abu
Waqqash] berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Di
antara kebahagiaan anak Adam adalah istikharahnya (memohon pilihan dengan
meminta petunjuk kepada Allah) kepada Allah, dan diantara kebahagiaan anak Adam
adalah keridlaannya kepada ketetapan Allah, sedangkan diantara kesengsaraan
anak Adam adalah dia meninggalkan istikharah kepada Allah, dan diantara
kesengsaraan anak Adam adalah kemurkaannya terhadap ketetapan Allah."
Di
dalam Al Quran Surat Al Mujadilah/ 58: 22 ditegaskan bahwa orang beriman tidak
saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya,
sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara
ataupun keluarga mereka, sehingga Allah Ridha Terhadap Mereka, Dan Merekapun
Ridha kepada Allah;
لَّا
تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ
حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ
إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ
الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن
تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا
عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ
الْمُفْلِحُونَ
Artinya: Kamu
tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling
berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya,
sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara
ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan
keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang
daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan
merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan
Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang
beruntung. (QS. Al Mujadilah/ 58: 22)
3.5. Mengerjakan Ibadah Karena Mengharap Ridha Allah
SWT
Di
dalam kitab Musnad Bazzar hadits nomor 2919 ditegaskan bahwa barang siapa
berpuasa, bersedekah, haji karena mengharap ridha Allah maka diharamkan baginya
neraka dan diwajibkan baginya masuk surga;
حَدَّثَنَا
الْحَسَنُ بْنُ عَفَّانَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَطِيَّةَ، قَالَ:
أَخْبَرَنَا قَطَرِيٌّ، عَنْ سِمَاكِ بْنِ حُذَيْفَةَ، عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جِئْتُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
وَالْعَبَّاسُ جَالِسٌ عَنْ يَمِينِهِ وَفَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ
يَسَارِهِ فَقَالَ: «يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، اعْمَلِي لِلَّهِ خَيْرًا إِنِّي لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ
شَيْئًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ» ، قَالَ: يَعْنِي ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ
قَالَ: «يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، يَا عَمَّ رَسُولِ اعْمَلْ
لِلَّهِ خَيْرًا إِنِّي لَا أُغْنِي عَنْكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ اللَّهِ
شَيْئًا» ، قَالَهَا: ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ قَالَ: يَا حُذَيْفَةُ، ادْنُ،
فَدَنَوْتُ، ثُمَّ قَالَ: «يَا حُذَيْفَةُ، مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ» ، وَآمَنَ أَحْسَبُهُ قَالَ: «بِمَا جِئْتُ
بِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ النَّارَ، وَوَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ،
وَمَنَ صَامَ رَمَضَانَ يُرِيدُ وَجْهَ اللَّهِ، وَالدَّارَ الْآخِرَةِ خَتَمَ
اللَّهُ لَهُ بِهِ وَحَرَّمَ عَلَيْهِ النَّارَ، وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ
يُرِيدُ بِهَا وَجْهَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، وَالدَّارَ الْآخِرَةَ،
وَمَنْ حَجَّ بَيْتَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يُرِيدُ وَجْهَ اللَّهِ
تَبَارَكَ وَتَعَالَى، وَالدَّارَ الْآخِرَةَ خَتَمَ اللَّهُ بِهِ، وَحَرَّمَ
عَلَيْهِ النَّارَ وَوَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ» ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ،
أُسِرُّ هَذَا أَمْ أُعْلِنُهُ؟، قَالَ: «أَعْلِنْهُ» وَهَذَانِ الْحَدِيثَانِ لَا
نَعْلَمُهُمَا يُرْوَيَانِ عَنْ حُذَيْفَةَ إِلَّا بِهَذَا الْإِسْنَادِ، وَلَا
نَعْلَمُ لِحُذَيْفَةَ ابْنًا يُقَالُ لَهُ: سِمَاكٌ إِلَّا فِي هَذَا الْحَدِيثِ [17]
Artinya: Telah
berceritera kepada kami Al Hasan ibnu ‘Affan, berkata: telah mengabarkan kepada
kami Al hasan ibnu ‘Athiyah, berkata: telah mengabarkan kepada kami Qathari,
dari Simak ibnu hudzaifah, dari Hudzaifah RA berkata: saya telah datang kepada
Nabi Muhammad ﷺ, dan ‘Abar duduk di sebelah kanannya dan Fathimah di sebelah
kirinya, maka Nabi ﷺ Bersabda: Wahai Fathimah binti Rasulillah SAW berbuatlah
karena Allah dengan sebaik-baiknya, karena aku tidak dapat mencukupimu dari
yang diminta Allah sedikitpun pada hari Qiyamat, berkata seperti itu sebanyak
tiga kali, kemudian Nabi ﷺ Bersabda: Hai Abbas Ibnu ‘Abdi Al Muthalib, wahai
Paman Rasul berbuatlah karena Allah dengan sebaik-baiknya, karena aku tidak
dapat mencukupimu dari yang diminta Allah sedikitpun pada hari Qiyamat, berkata
seperti itu sebanyak tiga kali, kemudian Bersabda: Wahai Hudzaifah, kemudian,
maka Aku dipanggil kemudian beliau bersabda “Wahai Hudzaifah, siapa yang
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Aku Adalah utusan Allah,
dan percaya dengan perhitungannya berkata: “ kamu datang dengannya kecuali
diharamkan Allah baginya neraka, dan wajib baginya surga, dan barang siapa
berpuasa Ramadhan mengharap ridha Allah, dan Hari Akhir maka baginya Allah
menutup dan mengharamkan api neraka, dan barang siapa bersedekah mengharapkan
ridha Allah tabaraka wa ta’ala, dan rumah di akhirat maka baginya Allah menutup
dan mengharamkan api neraka, Aku berkata; Wahai Rasulullah, Sebaiknya aku
merahasiakan ini atau mengumumkannya ?, Beliau bersabda: umumkanlah. Kedua
hadits ini tidak kami ketauhui yang meriwayatkannya Abu Hudzaifah kecuali
dengan sanad ini, dan kami tidak mengetahui bahwa Abu Hudzaifah memiliki anak
yang disebut simak kecuali dalam hadits ini.
3.6. Penyejuk Hatinya Adalah Shalat
Di
dalam kitab Sunan Nasai hadits nomor 8836 digambarkan bahwa penyejuk hatinya
Rasulullah SAW adalah shalat;
حَدَّثَنِي
الشَّيْخُ الْإِمَامُ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ النَّسَائِيُّ قَالَ أَخْبَرَنَا
الْحُسَيْنُ بْنُ عِيسَى الْقُوْمَسِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ بْنُ مُسْلِمٍ
قَالَ حَدَّثَنَا سَلَّامٌ أَبُو الْمُنْذِرِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ
الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ [18]
Artinya: Telah
mengabarkan kepada kami Syekh Imam Abu Abdur Rahman An Nasai telah mengabarkan
kepada kami Al Husain bin Isa Al Qumasi telah menceritakan kepada kami 'Affan
bin Muslim telah menceritakan kepada kami Sallam Abu Al Mundzir dari Tsabit
dari Anas, dia berkata; "Rasulullah ﷺ bersabda: "Dijadikan kesenanganku
dari dunia ada pada wanita dan minyak wangi, dan dijadikan penyejuk hatiku ada
dalam shalat."
Qurrata
‘ain; penyejuk hati; kebahagiaan; kepuasan merupakan ekspresi dari keridhaan.
3.7. Perkataannya Mendatangkan Keridhaan Allah
Di
dalam kitab Mustadrak Imam Hakim hadits nomor 136 digambarkan bahwa
sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan perkataan yang mendatangkan
keridhaan Allah, dia tidak menyangka bahwa kata-kata tersebut akan sampai
(kepada ridha Allah), sehingga Allah meridhainya akibat kata-kata tersebut
hingga Hari Kiamat;
حَدَّثَنَا
أَبُو الْعَبَّاسِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْحُسَيْنِ الْقَاضِي، بِمَرْوَ، وَأَبُو
عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ مَخْلَدٍ الْجَوْهَرِيُّ،
بِبَغْدَادَ، قَالَ: ثنا الْحَارِثُ بْنُ أَبِي أُسَامَةَ، ثنا سَعِيدُ بْنُ
عَامِرٍ الضُّبَعِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَلْقَمَةَ، عَنْ أَبِيهِ،
عَنْ جَدِّهِ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ، قَالَ: كَانَ رَجُلٌ بَطَّالٌ يَدْخُلُ
عَلَى الْأُمَرَاءِ فَيُضْحِكُهُمْ، فَقَالَ لَهُ جَدِّي: وَيْحَكَ يَا فُلَانُ،
لِمَ تَدْخُلُ عَلَى هَؤُلَاءِ وَتُضْحِكُهُمْ، فَإِنِّي سَمِعْتُ بِلَالَ بْنَ
الْحَارِثِ الْمُزَنِيَّ صَاحِبَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ، يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
قَالَ: «إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، مَا
يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ فَيَرْضَى اللَّهُ بِهَا عَنْهُ إلى يَوْمَ
الْقِيَامَةِ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ
اللَّهِ، مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ فَيَسْخَطُ اللَّهُ بِهَا إِلَى
يَوْمِ يَلْقَاهُ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ وَقَدِ احْتَجَّ مُسْلِمٌ بِمُحَمَّدِ
بْنِ عَمْرٍو، وَقَدْ أَقَامَ إِسْنَادَهُ عَنْهُ سَعِيدُ بْنُ عَامِرٍ كَمَا
أَوْرَدتُهُ عَالِيًا هَكَذَا رَوَاهُ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ وَإِسْمَاعِيلُ بْنُ
جَعْفَرٍ وَعَبْدُ الْعَزِيزِ الدَّرَاوَرْدِيُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ
الْعَبْدِيُّ وَغَيْرُهُمْ، أَمَّا حَدِيثُ الثَّوْرِيِّ
[19]
Artinya: Abu Al
Abbas Abdullah bin Husain Al Qadhi menceritakan kepada kami di Marwa, dan Abu
Abdillah Muhammad bin Ali bin Makhlad Al Jauhari (menceritakan kepada kami) di
Baghdad, dia berkata: Harits bin Abu Usamah menceritakan kepada kami, Sa'id bin
Amir Adh-Dhab'i menceritakan kepada kami, Muhammad bin Amr bin Alqamah
menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari kakeknya Alqamah bin Waqqash, dia
berkata: Pernah ada seorang laki-laki pemberani yang menemui para amir lalu
membuat mereka tertawa. Kakekku lalu berkata, "Celaka kamu wahai fulan,
mengapa kamu menemui mereka dan membuat mereka tertawa? Sungguh, aku pernah
mendengar Bilal bin Harits Al Muzani, seorang sahabat Rasulullah ﷺ, menceritakan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, 'Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan perkataan yang
mendatangkan keridhaan Allah, dia tidak menyangka bahwa kata-kata tersebut akan
sampai (kepada ridha Allah), sehingga Allah meridhainya akibat kata-kata
tersebut hingga Hari Kiamat. Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan
perkataan yang menyebabkan kemurkaan Allah, dia tidak menyangka bahwa kata-kata
tersebut sampai (menyebabkan kemurkaan Allah) sehingga Allah murka kepadanya
hingga Hari Pembalasan” Hadis ini shahih. Muslim berhujjah dengan Muhammad bin
Amr. Sanadnya berasal darinya dan telah diluruskan (di-shahih-kan) oleh Sa'id
bin Amir, sebagaimana telah aku sebutkan dengan sanad ali [...]. Begitu pula
yang diriwayatkan oleh Sufyan Ats-Tsauri, Ismail bin Ja'far, Abdul Aziz
Ad-Darawardi, Muhammad bin Bisyr Al Abdi, dan lainnya. Adapun hadis Ats-Tsauri
adalah (HR. Imam Hakim: 136)
3.8. Suka Mencari Ilmu, Malaikat Akan Ridha Padanya
Di
dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2682 digambarkan bahwa Barangsiapa
menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan menuntunnya menuju surga dan
para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya karena ridha; senang kepada
pencari ilmu;
حَدَّثَنَا
مَحْمُودُ بْنُ خِدَاشٍ الْبَغْدَادِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ
الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ رَجَاءِ بْنِ حَيْوَةَ عَنْ قَيْسِ بْنِ
كَثِيرٍ قَالَ قَدِمَ رَجُلٌ مِنْ الْمَدِينَةِ عَلَى أَبِي الدَّرْدَاءِ وَهُوَ
بِدِمَشْقَ فَقَالَ مَا أَقْدَمَكَ يَا أَخِي فَقَالَ حَدِيثٌ بَلَغَنِي أَنَّكَ
تُحَدِّثُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَمَا
جِئْتَ لِحَاجَةٍ قَالَ لَا قَالَ أَمَا قَدِمْتَ لِتِجَارَةٍ قَالَ لَا قَالَ مَا
جِئْتُ إِلَّا فِي طَلَبِ هَذَا الْحَدِيثِ قَالَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا
يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ
الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضَاءً لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ
الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ
حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ
الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ
إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا
وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ [20]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Mahmud bin Khidasy Al Baghdadi telah menceritakan
kepada kami Muhammad bin Yazid Al Washiti telah menceritakan kepada kami Ashim
bin Raja` bin Haiwah dari Qais bin Katsir ia berkata; Seseorang dari Madinah
mendatangi Abu Darda` di Damaskus, Abu Darda` bertanya; "Apa yang
membuatmu datang kemari wahai saudaraku?" Orang itu menjawab: "Satu
hadits yang telah sampai kepadaku bahwa anda menceritakannya dari Rasulullah ﷺ."
Abu Darda` bertanya; "Bukankah kau datang karena keperluan lain?"
Orang itu menjawab; "Tidak." Abu Darda` bertanya; "Bukankah kau
datang untuk berniaga?" Orang itu menjawab: "Tidak, aku datang hanya
untuk mencari hadits tersebut." Abu Darda` berkata; "Aku mendengar
Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu,
maka Allah akan menuntunnya menuju surga dan para malaikat akan meletakkan
sayap-sayapnya karena ridha; senang kepada pencari ilmu, sesungguhnya orang
berilmu itu akan dimintakan ampunan oleh (makhluq) yang berada di langit dan di
bumi hingga ikan di air, keutamaan orang yang berlilmu atas ahli ibadah laksana
keutamaan rembulan atas seluruh bintang, sesungguhnya ulama adalah pewaris pada
nabi dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya
mewariskan ilmu, maka siapa yang mengambilnya berarti ia telah mengambil bagian
yang banyak." (HR. Tirmidzi: 2606)
3.9. Bersiwak Karena Sesungguhnya Siwak Dapat
Membersihkan Mulut Dan Menjadikan Rabb Ridha
Di
dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 289 dinyatakan hendaklah kalian
bersiwak, sesungguhnya siwak dapat membersihkan mulut dan menjadikan Rabb
ridha;
حَدَّثَنَا
هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ شُعَيْبٍ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ
بْنُ أَبِي الْعَاتِكَةِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ يَزِيدَ عَنْ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِي
أُمَامَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
تَسَوَّكُوا فَإِنَّ السِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ مَا
جَاءَنِي جِبْرِيلُ إِلَّا أَوْصَانِي بِالسِّوَاكِ حَتَّى لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ
يُفْرَضَ عَلَيَّ وَعَلَى أُمَّتِي وَلَوْلَا أَنِّي أَخَافُ أَنْ أَشُقَّ عَلَى
أُمَّتِي لَفَرَضْتُهُ لَهُمْ وَإِنِّي لَأَسْتَاكُ حَتَّى لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ
أُحْفِيَ مَقَادِمَ فَمِي [21]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar berkata, telah menceritakan kepada
kami Muhammad bin Syu'aib berkata, telah menceritakan kepada kami Utsman bin
Abu 'Atikah dari Ali bin Yazid dari Al Qasim dari Abu Umamah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Hendaklah kalian bersiwak, sesungguhnya siwak dapat
membersihkan mulut dan menjadikan Rabb ridla. Tidaklah Jibril datang kepadaku
kecuali menasihatiku untuk bersiwak hingga aku takut jika hal itu diwajibkan
atasku dan umatku. Sekiranya aku tidak khawatir memberatkan umatku sungguh akan
aku wajibkan mereka untuk bersiwak. Dan aku selalu bersiwak hingga aku khawatir
gigi depanku terkikis."
Di
dalam kitab Sunan Darimi hadits nomor 3458 ditegaskan bahwa Barangsiapa yang
membaca surat Yasin pada malam hari karena mengharap wajah Allah atau mengharap
keridlaan Allah niscaya ia akan diampuni;
حَدَّثَنَا
أَبُو الْوَلِيدِ مُوسَى بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ عَنْ أَبِيهِ قَالَ
بَلَغَنِي عَنْ الْحَسَنِ قَالَ مَنْ قَرَأَ يس فِي لَيْلَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ
اللَّهِ أَوْ مَرْضَاةِ اللَّهِ غُفِرَ لَهُ وَقَالَ بَلَغَنِي أَنَّهَا تَعْدِلُ
الْقُرْآنَ كُلَّهُ [22]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu Al Walid Musa bin Khalid telah menceritakan kepada
kami Mu'tamir dari ayahnya ia berkata; Telah sampai berita kepadaku dari Al
Hasan ia berkata; Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena
mengharap wajah Allah atau mengharap keridlaan Allah niscaya ia akan diampuni.
Ia berkata lagi; Telah sampai berita kepadaku bahwa surat itu menyamai Al
Qur'an seluruhnya.
3.11.
Membaca Doa Ketika Shalat Yang Tembus Ke Arsy
Di
dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 774, disebutkan doa yang tidak ada
penghalang untuk dapat tembus ke arsy;
حَدَّثَنَا
الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْعَظِيمِ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا
شَرِيكٌ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرِ
بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ عَطَسَ شَابٌّ مِنْ الْأَنْصَارِ خَلْفَ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ حَتَّى يَرْضَى
رَبُّنَا وَبَعْدَمَا يَرْضَى مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَلَمَّا
انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ
الْقَائِلُ الْكَلِمَةَ قَالَ فَسَكَتَ الشَّابُّ ثُمَّ قَالَ مَنْ الْقَائِلُ
الْكَلِمَةَ فَإِنَّهُ لَمْ يَقُلْ بَأْسًا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا
قُلْتُهَا لَمْ أُرِدْ بِهَا إِلَّا خَيْرًا قَالَ مَا تَنَاهَتْ دُونَ عَرْشِ
الرَّحْمَنِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى [23]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Al 'Abbas bin Abdul 'Adzim telah menceritakan kepada
kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Syarik dari 'Ashim bin
'Ubaidullah dari 'Abdullah bin 'Amir bin Rabi'ah dari ayahnya dia berkata;
"Seorang pemuda dari Anshar bersin dalam shalat di belakang Rasulullah ﷺ, lalu
dia mengucapkan: " (Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak,
baik, lagi penuh berkah. hingga Rabb kami ridha setelah Dia ridha terhadap
urusan dunia dan akhirat)." Seusai shalat, Rasulullah ﷺ bertanya: "Siapakah yang mengucapkan kalimat tadi?" Pemuda itu
terdiam, lalu beliau bertanya lagi: "Siapakah yang mengucapkan kalimat
tadi? Sesungguhnya dia tidak mengatakan sesuatu yang salah!" Maka
laki-laki itu menjawab: "Akulah yang mengatakannya wahai Rasulullah! Aku
tidak bermaksud kecuali hanya kebaikan." Beliau bersabda: "Tidak ada
yang dapat menghalangi kalimat tersebut untuk sampai ke Arsy Ar Rahman Tabaraka
wa Ta'ala."
Di dalam Al Quran Surat At-Taubah/ 9: 109
digambarkan bahwa orang yang membangun didasari ketaqwaan dan mengharap ridha
Allah itu lebih baik;
أَفَمَنْ
أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ
أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ
جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Artinya:
Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa
kepada Allah dan keridaan(-Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang
mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu (bangunan) itu roboh
bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang zalim.
Ayat di atas menggambarkan bahwa orang-orang yang
mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan(-Nya)
itu lebih baik, dari ayat tersebut di atas dapat ditarik pengertian bahwa
mendirikan bangunan bukan semata mendirikan masjid tetapi juga dapat artikan
dengan mendirikan: rumah tangga, usaha, lembaga, komunitas, organisasi, Negara
dll, jika didasari karena ketaqwaan dan ridha Allah adalah akan lebih baik
hasilnya.
Adapun gambaran yang dapat diperoleh dari Al Quran
dan Hadits Rasulullah SAW, mengenai taqwa di level ridha adalah sebagai
berikut;
4.1. Ridla Allah Sebagai Rabbnya, Islam Sebagai
Diennya, Dan Muhammad Sebagai Rasulnya
Di
dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 34, disebutkan Bahwa yang bisa merasakan
nikmatnya iman adalah orang yang rela Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai
diennya, dan Muhammad sebagai Rasulnya;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ أَبِي عُمَرَ الْمَكِّيُّ وَبِشْرُ بْنُ الْحَكَمِ
قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ وَهُوَ ابْنُ مُحَمَّدٍ الدَّرَاوَرْدِيُّ
عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْهَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَامِرِ بْنِ
سَعْدٍ عَنْ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ
بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا [24]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Abu Umar al-Makki dan Bisyr bin
al-Hakam keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz -yaitu
Ibnu Muhammad ad-Darawardi- dari Yazid bin al-Had dari Muhammad bin Ibrahim
dari Amir bin Sa'ad dari al-Abbas bin Abdul Muththalib bahwa dia mendengar
Rasulullah ﷺ bersabda: "Orang yang ridla dengan Allah sebagai Rabb dan
Islam sebagai agama serta Muhammad sebagai Rasul, maka dia telah merasakan
nikmatnya iman."
4.2. Di Wajahnya Tampak Bekas Sujud, Karena Sujudnya
Mengharap Ridha Allah
Di
dalam Al Quran surat Al-Fath (48): 29 tergambar bahwa Kamu lihat mereka ruku'
dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak
pada muka mereka dari bekas sujud
مُحَمَّدٌ
رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ
بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ
وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ
مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ
فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ
بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ
مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
Artinya: Muhammad
itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras
terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat
mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda
mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka
dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang
mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi
besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati
penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir
(dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang
beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala
yang besar. (QS. Al-Fath (48): 29)
Di
dalam Al Quran surat Az-Zumar/ 39: 7 ditegaskan jika kamu bersyukur Allah akan
meridhaimu;
إِنْ
تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ
وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ
إِلَى رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ إِنَّهُ
عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
Artinya: Jika kamu
kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai
kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu
kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.
Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang
telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam
(dada)mu.(QS. Az-Zumar/ 39: 7)
Dari
ayat tersebut dapat ditarik pengertian bahwa bersyukur merupakan bentuk
keridhaan, sehingga akan mendapat keridhaan Allah.
Dalam
kitab Mu’jam Al-Kabir Li Al-Thabarani hadis nomor 7490, dijelaskan bahwa nabi
mengajarkan kepada seseorang untuk berdoa; ya Allah aku memohon kepada-Mu.
ridla dengan keputusan-Mu dan menerima dengan tulus pemberian-Mu;
حَدَّثَنَا
الْحَسَنُ بْنُ جَرِيرٍ الصُّورِيُّ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ
الْغَفَّارِ الْبَيْرُوتِيُّ، حَدَّثَتْنِي رَوَاحَةُ بِنْتُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
بْنِ عَمْرٍو الْأَوْزَاعِيُّ، حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ: سَمِعْتُ سُلَيْمَانَ بْنَ
حَبِيبٍ الْمُحَارِبِيَّ يَقُولُ: حَدَّثَنِي أَبُو أُمَامَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ
قَالَ لِرَجُلٍ: «اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا بِكَ مُطْمَئِنَّةً،
تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ، وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ» [25]
Artinya:
Menceritakan kepadaku Al Hasan Ibnu Jari Al Shawary dari Abdur Rahman ibnu
Abdul Ghafar Al Bairuty menceritakan kepadaku Rawwahah binti Abdu Rahman ibnu
Abu Amr Al-Auza'i, telah meriwayatkan dari ayahnya, bahwa telah menceritakan
kepadaku Sulaiman ibnu Habib Al-Muharibi, telah menceritakan kepadaku Abu
Umamah, bahwa Rasulullah ﷺ. bersabda kepada seorang lelaki: Katakanlah,
"Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu jiwa yang hanya tenang
kepada Engkau, beriman kepada hari berjumpa dengan-Mu, dan ridla dengan
keputusan-Mu dan menerima dengan tulus pemberian-Mu.
Di
dalam Al Quran Surat An-Naml/ 27: 19, disebutkan doa Nabi Sulaiman; Ya Tuhanku
berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau
anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan
amal saleh yang Engkau ridlai
فَتَبَسَّمَ
ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ
الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا
تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ
Artinya: maka
dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia
berdoa: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu
yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan
untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridlai; dan masukkanlah aku dengan
rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".(QS. An-Naml/ 27:
19)
Sedangkan
di dalam Al Quran surat Al-Ahqaaf/ 46: 15 juga disebutkan do’a: Ya Tuhanku,
tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan
kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh
yang Engkau ridhai
وَوَصَّيْنَا
الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ
كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ
وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ
الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا
تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ
الْمُسْلِمِينَ
Artinya: Kami
perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya,
ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah
(pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga
apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:
"Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah
Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat
amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi
kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan
sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".(QS. Al-Ahqaaf/
46: 15)
Di
dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 276 dinyatakan siapa yang mencari
keridhaan Allah dengan perbuatan (baik) yang menimbulkan kebencian manusia,
niscaya Allah meridhainya dan akan menanamkan keridhaan manusia kepadanya;
أَخْبَرَنَا
الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ
الْجُعْفِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ الْمُحَارِبِيُّ، عَنْ
عُثْمَانَ بْنِ وَاقِدٍ الْعُمَرِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ
الْمُنْكَدِرِ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللهِ بِسَخَطِ
النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَأَرْضَى النَّاسَ عَنْهُ، وَمَنِ الْتَمَسَ
رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ
النَّاسَ [26]
Artinya: Hasan
bin Sufyan mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Umar Al Ju’fi
menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdurrahman Al Muharabi menceritakan
kepada kami, dari Utsman bin Waqid Al Umari dari ayahnya dari Muhamamd bin Al
Munkadir dari Urwah dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang mencari keridhaan Allah dengan perbuatan (baik)
yang menimbulkan kebencian manusia, niscaya Allah meridhainya dan akan
menanamkan keridhaan manusia kepadanya. Dan siapa yang mencari keridhaan
manusia dengan perbuatan yang menimbulkan kebencian Allah, niscaya Allah
membencinya dan akan menanamkan kebencian manusia kepadanya.”
4.7. Mengharap Ridha Rasulullah ﷺ.
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2574 digambarkan Sahabat Rasulullah
memberikan hadiah terbaik kepada Rasulullah di hari pernikahannya dengan
‘Aisyah, untuk mengharap ridha Rasulullah SAW.
حَدَّثَنَا
إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا عَبْدَةُ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّاسَ كَانُوا يَتَحَرَّوْنَ
بِهَدَايَاهُمْ يَوْمَ عَائِشَةَ يَبْتَغُونَ بِهَا أَوْ يَبْتَغُونَ بِذَلِكَ
مَرْضَاةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [27]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa telah menceritakan kepada kami 'Abdah
telah menceritakan kepada kami Hisyam dari bapaknya dari 'Aisyah radliallahu
'anha bahwa orang-orang memilih barang yang terbaik sebagai hadiah dari mereka
untuk hari pernikahan 'Aisyah dengan tujuan mengharap ridha Rasulullah ﷺ.
4.8. Allah Dan Rasulnya Lebih Berhak Engkau Ridha
Kepadanya
Di
dalam Al Quran surat At-Taubah/ 9: 62 ditegaskan bahwa Allah dan Rasulullah SAW
lebih berhak engkau ridha kepadanya;
يَحْلِفُونَ
بِاللَّهِ لَكُمْ لِيُرْضُوكُمْ وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ
إِنْ كَانُوا مُؤْمِنِينَ
Artinya: Mereka
bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, padahal
Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika
mereka adalah orang-orang yang mukmin.(QS. At-Taubah/ 9: 62)
4.9. Ridha Kepada Allah Dan Rasul-Nya
Di
dalam kitab Al-Du’a Li Al-Thabarani hadits nomor 235 digambarkan bahwa
Fathimah RA berkata; aku ridha kepada Allah dan RasulNya ﷺ;
حَدَّثَنَا
عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ
الرَّقَاشِيُّ، ثنا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ، عَنْ سَعِيدٍ الْجُرَيْرِيِّ،
عَنْ أَبِي الْوَرْدِ، عَنِ ابْنِ أَعْبُدٍ، قَالَ: قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي
طَالِبٍ رضي الله عنه: يَا ابْنَ أَعْبُدٍ، هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ الطَّعَامِ
إِذَا طَعِمْتَ؟ قُلْتُ: وَمَا حَقُّهُ يَا ابْنَ أَبِي طَالِبٍ؟ قَالَ: أَنْ
تَقُولَ بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَهَلْ
تَدْرِي مَا شُكْرُهُ إِذَا فَرَغْتَ؟ قُلْتُ: وَمَا شُكْرُهُ؟ قَالَ: شُكْرُهُ
أَنْ تَقُولَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا، ثُمَّ قَالَ:
أَلَا أُخْبِرُكَ عَنِّي وَعَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ كَانَتْ مِنْ
أَكْرَمِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ، وَكَانَتْ زَوْجَتِي فَرَحَّتِ الرَّحَا حَتَّى أَثَّرَ
الرَّحَا بِيَدِهَا، وَاسْتَقَتْ بِالْقِرْبَةِ حَتَّى أَثَّرَتِ الْقِرْبَةُ
بِنَحْرِهَا، وَقَمَّتِ الْبَيْتَ حَتَّى اغْبَرَّتْ ثِيَابُهَا، وَأَوْقَدَتْ
تَحْتَ الْقَدْرِ حَتَّى دَنِسَتْ ثِيَابُهَا فَأَصَابَهَا مِنْ ذَلِكَ الضُّرُّ،
قَالَ: وَقَدِمَ )٩٦( عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ خَدَمٌ أَوْ سَبْي، فَقُلْتُ لَهَا: لَوْ
أَتَيْتِ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَسَأَلْتِيهِ خَادِمًا يُعِينُكِ عَلَى مَا أَنْتِ
فِيهِ، قَالَ: فَانْطَلَقَتْ وَرَجَعَتْ وَلَمْ تَسْأَلْهُ فَغَدَا عَلَيْهَا
وَكَانَ يَفْعَلُ فَقَالَ: «السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَأَدْخُلُ؟» قَالَ: وَنَحْنُ
فِي لُفُعِنَا فَاسْتَحْيَيْنَا مِنْ مَكَانِنَا، فَمَكَثْنَا، فَأَعَادَ
الْقَوْلَ فَقَالَ: «السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَأَدْخُلُ؟» فَرَهِبْنَا - أَوْ قَالَ
رَهِبْتُ - أَنْ يُعِيدَ الثَّالِثَةَ فَنَسْكُتُ وَيَسْكُتُ، قَالَ: فَقُلْتُ
وَعَلَيْكَ السَّلَامُ ادْخُلْ، قَالَ: فَدَخَلَ فَقَعَدَ عِنْدَ رُءُوسِنَا
فَاسْتَحْيَتْ فَاطِمَةُ مِنْ مَكَانِهَا فَأَدْخَلَتْ رَأْسَهَا فِي لُفُعِهَا
فَقَالَ: «يَا فَاطِمَةُ إِنَّكِ جِئْتَنِي أَمْسِ، فَمَا كَانَتْ حَاجَتُكِ إِلَى
آلِ مُحَمَّدٍ» فَسَكَتَتْ، فَأَعَادَ عَلَيْهَا فَسَكَتَتْ فَرَهِبَتْ أَنْ
يُعِيدَ الثَّالِثَةَ فَتَسْكُتُ، فَقَصَصْتُ عَلَيْهِ الْقِصَّةَ وَأَنَّهُ
بَلَغَهَا أَنَّهُ قَدِمَ عَلَيْكَ خَدَمٌ أَوْ سَبْي فَقُلْتُ لَهَا: لَوْ
أَتَيْتِ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَسَأَلْتِيهِ خَادِمًا يُعِينُكِ عَلَى مَا أَنْتِ
فِيهِ فَانْطَلَقَتْ فَاسْتَحْيَتْ، فَرَجَعَتْ وَلَمْ تَسْأَلْكَ، فَقَالَ: «يَا
فَاطِمَةُ اتَّقِي اللَّهَ عز وجل وَاعْمَلِي عَمَلَ أَهْلِكِ، أَلَا أَدُلُّكِ
عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْ ذَلِكَ، إِذَا أَوَيْتِ إِلَى فِرَاشِكِ فَسَبِّحِي
اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَاحْمَدِيهِ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَكَبِّرِيهِ
أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ» فَأَخْرَجَتْ رَأْسَهَا مِنْ لُفُعِهَا وَقَالَتْ:
رَضِيتُ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى وَعَنْ رَسُولِهِ، رَضِيتُ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى
وَرَسُولِهِ [28]
Artinya: Diriwayatkan
dari ‘Ali bin ‘Abd al-‘Azīz, dari Muḥammad bin
‘Abdillāh ar-Raqqāsyī, dari ‘Abdul Wāḥid bin Ziyād, dari
Sa‘īd al-Jurayrī, dari Abī al-Ward, dari Ibn A‘bud, ia berkata: ‘Ali bin Abī Ṭālib
ra. berkata kepadaku, “Wahai Ibn A‘bud, tahukah engkau apa hak makanan ketika
engkau memakannya?” Aku menjawab, “Apa haknya, wahai Ibn Abī Ṭālib?”
Beliau berkata, “Engkau mengucapkan: *Bismillāh, Allahumma bārik lanā fīmā
razaqtanā.* Dan tahukah engkau apa syukurnya ketika engkau selesai makan?” Aku
bertanya, “Apa syukurnya?” Beliau menjawab, “Syukurnya adalah engkau
mengucapkan: *Alhamdulillāh alladzī aṭ‘amanā wa
saqānā.*” Kemudian beliau berkata, “Maukah aku ceritakan kepadamu tentang aku
dan Fāṭimah
binti Rasulullah ﷺ ? Ia adalah orang yang paling dimuliakan oleh beliau, dan ia
adalah istriku. Ia memutar penggiling gandum hingga tangannya terluka, ia
membawa air dengan qirbah hingga bekas talinya tampak di lehernya, ia
membersihkan rumah hingga pakaiannya berdebu, dan ia menyalakan api di bawah
periuk hingga pakaiannya kotor; semua itu membuatnya sangat letih.” Beliau
melanjutkan, “Kemudian datanglah beberapa budak atau tawanan kepada Rasulullah ﷺ, lalu
aku berkata kepadanya: ‘Seandainya engkau mendatangi Rasulullah ﷺ dan
meminta seorang pembantu untuk meringankan pekerjaanmu.’ Ia pun pergi namun
kembali tanpa bertanya. Keesokan paginya Rasulullah ﷺ mendatangi kami, sebagaimana biasanya beliau lakukan, lalu beliau memberi
salam, ‘Assalāmu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?’ Saat itu kami berada dalam
keadaan seadanya dan malu karena kondisi kami, sehingga kami diam; beliau
mengulangi salamnya, ‘Assalāmu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?’ Maka aku khawatir
beliau mengulanginya untuk ketiga kali sementara kami tetap diam, lalu aku menjawab,
‘Wa ‘alaikas salām, masuklah.’ Beliau masuk dan duduk di dekat kepala kami; Fāṭimah
malu dan menutupi kepalanya dengan selimut. Beliau bersabda, ‘Wahai Fāṭimah,
engkau telah datang kepadaku kemarin; apakah keperluanmu kepada keluarga Muḥammad?’
Namun ia diam. Beliau mengulangi pertanyaannya namun ia tetap diam karena malu,
lalu aku menceritakan keadaan Fāṭimah, dan bahwa ia
mendengar ada budak atau tawanan datang kepadamu sehingga aku menyarankannya
meminta seorang pembantu. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Wahai Fāṭimah,
bertakwalah kepada Allah dan lakukan pekerjaan keluargamu. Maukah aku tunjukkan
sesuatu yang lebih baik daripada seorang pembantu? Jika engkau telah berbaring
di tempat tidurmu, maka bertasbihlah kepada Allah tiga puluh tiga kali,
memujilah tiga puluh tiga kali, dan bertakbirlah tiga puluh empat kali.’”
Mendengar itu, Fāṭimah mengeluarkan kepalanya dari selimut lalu
berkata, “Aku ridha kepada Allah Ta‘ālā dan kepada Rasul-Nya; aku ridha kepada
Allah Ta‘ālā dan Rasul-Nya.”
4.10. Ridha Dengan Pembagian Allah
Di
dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2305 dinyatakan terimalah pemberian
Allah dengan rela niscaya kau menjadi orang terkaya;
حَدَّثَنَا
بِشْرُ بْنُ هِلَالٍ الصَّوَّافُ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ
سُلَيْمَانَ عَنْ أَبِي طَارِقٍ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَأْخُذُ عَنِّي
هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ فَيَعْمَلُ بِهِنَّ أَوْ يُعَلِّمُ مَنْ يَعْمَلُ بِهِنَّ
فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَقُلْتُ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَخَذَ بِيَدِي
فَعَدَّ خَمْسًا وَقَالَ اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَارْضَ
بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ
تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا
وَلَا تُكْثِرْ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَهَذَا
حَدِيثٌ غَرِيبٌ، لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ جَعْفَرِ بْنِ سُلَيْمَانَ،
وَالْحَسَنُ لَمْ يَسْمَعْ مِنْ أَبِي هُرَيْرَةَ شَيْئًا، هَكَذَا رُوِيَ عَنْ
أَيُّوبَ وَيُونُسَ بْنِ عُبَيْدٍ وَعَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ وَرَوَى أَبُو عُبَيْدَةَ
النَّاجِيُّ عَنِ الْحَسَنِ هَذَا الْحَدِيثَ قَوْلَهُ، وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. [29]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Bisyr bin Hilal Ash Shawwaf Al Bashri telah
menceritakan kepada kami Ja'far bin Sulaiman dari Abu Thariq dari Al Hasan dari
Abu Hurairah berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
"Siapa yang mau mengambil kalimat-kalimat itu dariku lalu mengamalkannya
atau mengajarkan pada orang yang mengamalkannya?" Abu Hurairah menjawab:
Saya, wahai Rasulullah. beliau meraih tanganku lalu menyebut lima hal; jagalah
dirimu dari keharaman-keharaman niscaya kamu menjadi orang yang paling ahli
ibadah, terimalah pemberian Allah dengan rela niscaya kau menjadi orang
terkaya, berbuat baiklah terhadap tetanggamu niscaya kamu menjadi orang mu`min,
cintailah untuk sesama seperti yang kau cintai untuk dirimu sendiri niscaya kau
menjadi orang muslim, jangan sering tertawa karena seringnya tertawa itu
mematikan hati." Berkata Abu Isa: Hadits ini gharib, kami hanya
mengetahuinya dari hadits Ja'far bin Sulaiman dan Al Hasan tidak mendengar apa
pun dari Abu Hurairah. Seperti itulah diriwayatkan dari Ayyub, Yunus bin
'Ubaid, 'Ali bin Zaid, mereka berkata: Al Hasan tidak mendengar dari Abu
Hurairah. Dan Abu 'Ubaidah An Naji meriwayatkan perkataan Al Hasan pada hadits
ini dan ia tidak menyebutkan dari Abu Hurairah dari nabi ﷺ.
4.11. Tidak Berkata Kecuali Perkataan Yang Diridhai Oleh
Allah SWT
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 1303 dinyatakan kedua mata boleh
mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan
kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita;
حَدَّثَنَا
الْحَسَنُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ حَدَّثَنَا
قُرَيْشٌ هُوَ ابْنُ حَيَّانَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ قَالَ دَخَلْنَا
مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَيْفٍ
الْقَيْنِ وَكَانَ ظِئْرًا لِإِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام فَأَخَذَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِبْرَاهِيمَ فَقَبَّلَهُ وَشَمَّهُ
ثُمَّ دَخَلْنَا عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ وَإِبْرَاهِيمُ يَجُودُ بِنَفْسِهِ
فَجَعَلَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
تَذْرِفَانِ فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ ثُمَّ
أَتْبَعَهَا بِأُخْرَى فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْعَيْنَ
تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا
وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ رَوَاهُ مُوسَى عَنْ
سُلَيْمَانَ بْنِ المُغِيرَةِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
[30]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Al Hasan bin 'Abdul 'Aziz telah menceritakan kepada
kami Yahya bin Hassan telah menceritakan kepada kami Quraisy dia adalah Ibnu
Hayyan dari Tsabit dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu berkata; Kami bersama
Rasulullah ﷺ mendatangi Abu Saif Al Qaiyn yang
(isterinya) telah mengasuh dan menyusui Ibrahim 'alaihissalam (putra Nabi ﷺ. Lalu Rasulullah ﷺ mengambil Ibrahim dan menciumnya. Kemudian setelah itu pada kesempatan yang
lain kami mengunjunginya sedangkan Ibrahim telah meninggal. Hal ini menyebabkan
kedua mata Rasulullah ﷺ berlinang air mata. Lalu
berkatalah 'Abdurrahman bin 'Auf radliallahu 'anhu kepada Beliau: "Mengapa
anda menangis, wahai Rasulullah?". Beliau menjawab: "Wahai Ibnu 'Auf,
sesungguhnya ini adalah rahmat (tangisan kasih sayang) ". Beliau lalu
melanjutkan dengan kalimat yang lain dan bersabda: "Kedua mata boleh
mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan
kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini wahai
Ibrahim pastilah bersedih". Dan diriwayatkan oleh Musa dari Sulaiman bin
Al Mughirah dari Tsabit dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu dari Nabi
4.12. Mencari Karunia Dari Allah Dan Keridhaan-Nya Dan Menolong Allah Dan
Rasul-Nya
Di
dalam Al Quran surat Al-Hasyr/ 59: 8 digambarkan bahwa Muhajirin terusir dari
kampunya untuk mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong
Allah dan Rasul-Nya
لِلْفُقَرَاءِ
الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ
يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
Artinya: (Juga)
bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta
benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka
menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS.
Al-Hasyr/ 59: 8)
4.13. Khasyah (Takut) Kepada Allah, Allah Ridla Kepada Mereka Dan Mereka
Ridla Kepada Allah
Di
dalam Al Quran Surat Al-Bayyinah/ 98: 8, dijelaskan bahwa surga adn sebagai
balasan bagi hamba yang khasya (takut) kepada Allah, Allah ridla kepada mereka
dan mereka ridla kepada Allah SWT;
جَزَاؤُهُمْ
عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ
فِيهَا أَبَدًا ۖ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ
خَشِيَ رَبَّهُ
Artinya:
Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridla terhadap
mereka dan merekapun ridla kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi
orang yang takut kepada Tuhannya.(HR. Al-Bayyinah/ 98: 8)
4.14. Beriman Dengan Taqdir Yang Baik Maupun Yang Buruk
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22705 digambarkan bahwa tidak akan
merasakan lezatnya iman dan tidak pula sampai kepada kebenaran hakikat ilmu
tentang Allah tabaaroka wa ta'aala sehingga kamu beriman dengan taqdir yang
baik maupun yang buruk;
حَدَّثَنَا
أَبُو الْعَلَاءِ الْحَسَنُ بْنُ سَوَّارٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ مُعَاوِيَةَ
عَنْ أَيُّوبَ بْنِ زِيَادٍ حَدَّثَنِي عُبَادَةُ بْنُ الْوَلِيدِ بْنِ عُبَادَةَ
حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ دَخَلْتُ
عَلَى عُبَادَةَ وَهُوَ مَرِيضٌ أَتَخَايَلُ فِيهِ الْمَوْتَ فَقُلْتُ يَا
أَبَتَاهُ أَوْصِنِي وَاجْتَهِدْ لِي فَقَالَ أَجْلِسُونِي قَالَ يَا بُنَيَّ
إِنَّكَ لَنْ تَطْعَمَ طَعْمَ الْإِيمَانِ وَلَنْ تَبْلُغْ حَقَّ حَقِيقَةِ
الْعِلْمِ بِاللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ
وَشَرِّهِ قَالَ قُلْتُ يَا أَبَتَاهُ فَكَيْفَ لِي أَنْ أَعْلَمَ مَا خَيْرُ
الْقَدَرِ وَشَرُّهُ قَالَ تَعْلَمُ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ
وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ
اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْقَلَمُ ثُمَّ قَالَ اكْتُبْ فَجَرَى فِي تِلْكَ
السَّاعَةِ بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ يَا بُنَيَّ إِنْ مِتَّ
وَلَسْتَ عَلَى ذَلِكَ دَخَلْتَ النَّارَ
[31]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu Al 'Alla` Al Hasan bin Sawwar telah bercerita
kepada kami Laits dari Mu'awiyah dari Ayyub bin Ziyad telah bercerita kepadaku
'Ubadah bin Al Walid bin 'Ubadah telah bercerita kepadaku ayahku, ia berkata;
aku menemui 'Ubadah bin Ash Shamit ketika ia sedang sakit, aku membayangkan
kematian pada dirinya, aku berkata: Wahai ayah, berwasiatlah kepadaku, dan
bersungguh-sungguhlah dalam berwasiat kepadaku. Ia berkata: Dudukkan saya. ia
berkata: Wahai anakku, kamu tidak akan merasakan lezatnya iman dan tidak pula
sampai kepada kebenaran hakikat ilmu tentang Allah Tabaaroka wa Ta'aala
sehingga kamu beriman dengan taqdir yang baik maupun yang buruk. Aku berkata:
Wahai ayah bagaimana saya bisa mengetahui taqdir yang baik dan taqdir yang
buruk? ayahku menjelaskan: Yaitu hendaknya kamu mengetahui bahwasanya apa saja
yang tidak akan mengenaimu tidak akan menimpamu dan apa saja yang mengenaimu
pasti tidak meleset darimu, wahai anakku, saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesuatu yang Allah Tabaaroka wa
Ta'aala cipta pertama kali adalah pena, kemudian Allah ta'ala berfirman:
"Tulislah, " maka pada saat itu pula diberlakukan apa saja yang
terjadi hingga hari kiamat, wahai anakku jika kamu meninggal dalam keadaan
tidak beriman terhadap yang demikian, maka kamu masuk ke dalam neraka".
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 16805 digambarkan bahwa Allah Azzawajalla
Maha Penyantun, menyukai kasih sayang dan meridhainya;
قَالَ
حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ
يُونُسَ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ عَنْ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ
وَيَرْضَاهُ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ [32]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Aswad bin 'Amr berkata; telah menceritakan kepada kami
Hammad bin Salamah dari Yunus dari Al Hasan dari Abdullah bin Mughaffal dari
Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah Azzawajalla
Maha Penyantun, menyukai kasih sayang dan meridlainya, memberi suatu hal kepada
orang yang santun yang tidak diberikan-Nya kepada orang yang bengis."
Di
dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 70 dinyatakan bahwa orang yang
meninggal dunia dalam keadaan ikhlas kepada Allah, beribadah kepada-Nya dan
tidak menyekutukan-Nya, menegakkan shalat dan menunaikan zakat, maka ia
meninggal dalam keridlaan Allah;
حَدَّثَنَا
نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ حَدَّثَنَا أَبُو
جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ عَنْ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ فَارَقَ الدُّنْيَا
عَلَى الْإِخْلَاصِ لِلَّهِ وَحْدَهُ وَعِبَادَتِهِ لَا شَرِيكَ لَهُ وَإِقَامِ
الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ مَاتَ وَاللَّهُ عَنْهُ رَاضٍ, قَالَ أَنَسٌ
وَهُوَ دِينُ اللَّهِ الَّذِي جَاءَتْ بِهِ الرُّسُلُ وَبَلَّغُوهُ عَنْ رَبِّهِمْ
قَبْلَ هَرْجِ الْأَحَادِيثِ وَاخْتِلَافِ الْأَهْوَاءِ وَتَصْدِيقُ ذَلِكَ فِي
كِتَابِ اللَّهِ فِي آخِرِ مَا نَزَلَ يَقُولُ اللَّهُ "فَإِنْ تَابُوا ",
قَالَ خَلْعُ الْأَوْثَانِ وَعِبَادَتِهَا "
وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوْا
الزَّكَاةَ", وَقَالَ فِي آيَةٍ أُخْرَى "
فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ
وَآتَوْا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ", حَدَّثَنَا أَبُو
حَاتِمٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى الْعَبْسِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو
جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ عَنْ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ مِثْلَهُ
[33]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Nashr bin Ali Al Jahdlami berkata, telah menceritakan
kepada kami Abu Ahmad berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Ja'far Ar
Razi dari Rabi' bin Anas dari Anas bin Malik ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: " Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan ikhlas kepada Allah,
beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya, menegakkan shalat dan
menunaikan zakat, maka ia meninggal dalam keridlaan Allah." Anas berkata;
"Itulah agama Allah yang dibawa oleh para Rasul, mereka menyampaikannya
dari Rabb mereka sebelum kacau balaunya pembicaraan dan perselisihan hawa
nafsu. Yang demikian itu terdapat dalam kitabullah diakhir ayat yang
diturunkan, Allah berfirman: "Sekiranya mereka bertaubat -Anas berkata;
menanggalkan berhala-berhala dan penghambaannya-, menegakkan shalat dan menunaikan
zakat." Dalam firman-Nya yang lain: "Jikalau mereka bertaubat,
menegakkan shalat, menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara-saudara kalian
di dalam Dien." Telah menceritakan kepada kami Abu Hatim berkata, telah
menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Musa Al 'Absi berkata, telah
menceritakan kepada kami Abu Ja'far Ar Razi dari Ar Rabi' bin Anas seperti
hadits di atas.
4.17. Wanita Yang meninggal Dunia Suaminya Ridha Masuk Surga
Di
dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 1161 digambarkan bahwa wanita yang
meninggal dunia suaminya dalam keadaan ridha akan dimasukkan Surga;
حَدَّثَنَا
وَاصِلُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَبِي نَصْرٍ عَنْ مُسَاوِرٍ الْحِمْيَرِيِّ عَنْ
أُمِّهِ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ
دَخَلَتْ الْجَنَّةَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ [34]
Artinya: Wasil
bin Abdul Ala mengatakan, Muhammad bin Fudail mengatakan, dari Abdullah bin
Abdul Rahman Abu Nasr, dari Musawir al-Himyari, dari ibunya, dari Ummu Salamah,
bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Setiap wanita yang meninggal dalam keadaan
suaminya ridha terhadapnya, dia akan masuk Surga." Abu Isa berkata: "Hadis ini adalah hadis hasan
gharib."
4.18. Berdoa Agar Berkata Dengan Benar Diwaktu Ridla Atau Marah
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 18325 disebutkan permohonan doa: Aku
memohon pada-Mu agar dapat berkata dengan benar diwaktu ridla atau marah;
حَدَّثَنَا
إِسْحَاقُ الْأَزْرَقُ عَنْ شَرِيكٍ عَنْ أَبِي هَاشِمٍ عَنْ أَبِي مِجْلَزٍ قَالَ
صَلَّى بِنَا عَمَّارٌ صَلَاةً فَأَوْجَزَ فِيهَا فَأَنْكَرُوا ذَلِكَ فَقَالَ
أَلَمْ أُتِمَّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ قَالُوا بَلَى قَالَ أَمَا إِنِّي قَدْ
دَعَوْتُ فِيهِمَا بِدُعَاءٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَدْعُو بِهِ اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى
الْخَلْقِ أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا
كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ
وَالشَّهَادَةِ وَكَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا وَالْقَصْدَ فِي
الْفَقْرِ وَالْغِنَى وَلَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى
لِقَائِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَمِنْ فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ
اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مَهْدِيِّينَ [35]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ishaq Al Azraq dari Syarik dari Abu Hasyim dari Abu
Mijlaz ia berkata, " Ammar pernah shalat bersama kami dan ia menunaikannya
denan ringgkas, lalu orang-orang pun mengingkarinya. Maka Ammar bertanya,
"Bukankah aku telah menyempurnakan rukuk dan sujud?" mereka menjawab,
"Benar." Ammar berkata, "Sesungguhnya dalam dua rakaat itu, aku
telah berdo'a dengan do'a yang Rasulullah ﷺ pernah berdo'a dengannya, Ya Allah, dengan
ilmu-Mu atas yang ghaib, dan dengan kemahakuasaan-Mu atas seluruh makhluk,
hidupkanlah aku jika Engkau mengetahui bahwa hidup lebih baik bagiku, dan
matikanlah aku jika Engkau mengetahui bahwa kematian itu lebih baik bagiku. Ya
Allah, sesungguhnya aku memohon pada-Mu agar aku takut pada-Mu dalam keadaan
sembunyi atau ramai. Aku memohon pada-Mu agar dapat berkata dengan benar
diwaktu ridla atau marah. Aku minta kepada-Mu agar dapat melaksanakan
kesederhanaan dalam keadaan kaya atau fakir serta kenikmatan memandang wajah-Mu
(di surga), rindu bertemu dengan-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari penderitaan
yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan
iman, dan jadikanlah kami sebagai penunjuk (jalan) yang lurus yang memperoleh
bimbingan dari-Mu).'"
4.19. Berdoa 'Ya Allah, Aku Berlindung Dengan Ridhamu Dari Bahaya Murkamu
Di
dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 486 disebutkan doa: Ya Allah, aku
berlindung dengan ridha-Mu dari bahaya murka-Mu;
حَدَّثَنَا
أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ حَدَّثَنِي عُبَيْدُ
اللَّهِ بْنُ عُمَرَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ عَنْ الْأَعْرَجِ
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً مِنْ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ
يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ
وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ
عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا
أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ [36]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada
kami Abu Usamah telah menceritakan kepadaku Ubaidullah bin Umar dari Muhammad
bin Yahya bin Habban dari al-A'raj dari Abu Hurairah ra dari Aisyah ra dia
berkata, "Aku kehilangan Rasulullah ﷺ pada suatu malam dari kasur
peraduanku, lalu aku mencarinya, lalu tanganku mendapatkan bagian luar kedua
telapak kakinya dalam keadaan beliau berada di masjid. Kedua telapak kakinya
tegak lurus, dan beliau berdoa, 'Ya Allah, aku berlindung dengan ridhaMu dari
bahaya murkaMu, dan berlindung dengan ampunanMu dari bahaya hukumanMu, dan aku
berlindung kepadaMu dar adzabMu, aku tidak bisa menghitung pujian atasMu.
Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji atas diriMu'."
Di
dalam kitab Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain hadits nomor 1203 digambarkan doa
untuk mohon: karuniakanlah kepadaku ketajaman pandangan dalam hal-hal yang
Engkau ridhai dan karuniakanlah agar aku dapat membaca Al Quran dengan cara
yang Engkau ridhai ..;
أخبرنا
أَبُو النَّضْرِ مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْفَقِيهُ وَأَبُو الْحَسَنِ أَحْمَدُ
بْنُ مُحَمَّدٍ الْعَنَزِيُّ، قَالَا: ثَنَا عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدِ
الدَّارِمِيُّ.وَحَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ الْمُزَكِّي،
ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْعَبْدِيُّ، قَالَا: ثَنَا أَبُو أَيُّوبَ
سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدِّمَشْقِيُّ، ثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ
مُسْلِمٍ، ثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ وَعِكْرِمَةَ
مَوْلَى ابْنِ عَبَاسِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أنَّهُ بَيْنَا هُوَ جَالِسٌ عِنْدَ
رَسُولِ اللهِ ﷺ، إِذْ جَاءَهُ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ، فَقَالَ: بِأَبِي
أَنْتَ وَأُمِّى يَا رَسُولَ اللهِ، تَفَلَّتَ هَذَا الْقُرْآن مِنْ صَدْرِي،
فَمَا أجِدُنِي أَقْدِرُ عَلَيْهِ. فَقَالَ لَهُّ رَسُولُ اللهِ ﷺ: "أَبَا
الْحَسَنِ، أَفَلَا أُعَلِّمُكَ كلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللهُ بِهِنَّ، وَيَنْفَعُ
بِهِنَّ مَنْ عَلَّمْتَهُ، وَيُثَبِّتُ مَا تَعَلَّمْتَهُ فِي صَدْرِكَ؟ ".
قَالَ: أجَلْ يَا رَسُولَ اللهِ، فَعَلِّمْنِى. قَالَ: "إِذَا كَانَتْ
لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَن تَقُومَ فِي ثُلُثِ اللَّيْلِ
الآخِرِ، فَإِنَّهَا سَاعَةٌ مَشْهُودَةٌ، وَالدُّعَاءُ فِيهَا مُسْتَجَابٌ،
وَهِيَ قَوْلُ أَخِي يَعْقُوبَ لِبَنِيهِ: ﴿سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي﴾،
حَتَّى تَأْتِيَ لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقُمْ فِي
وَسَطِهَا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقمْ فِي أَوَّلَهَا، فَصَلِّ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ،
تَقْرَأُ فِي الرَّكعَةِ الْأُولَى بفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، وَسُورَةِ يس، وَفِي
الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَ﴿الم ١ تَنْزِيلُ﴾
السَّجْدَةَ، وَفِي الرَّكْعَةِ الثَّالِثَةِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ،
وَ﴿الرَّحْمَنُ﴾ الدُّخَانَ، وَفِي الرَّكْعَةِ الرَّابِعَةِ بِفَاتِحَةِ
الْكِتَاب، وَ﴿تَبَارَكَ﴾ الْمُفَصَّلَ، فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ التَّشَهُّدِ
فَاحْمَدِ الله، وَأَحْسِنِ الثَّنَاءَ عَلَى اللهِ، وَصَلِّ عَلَيَّ، وَعَلَى
سَائِرِ النَّبِيِّينَ وَأَحْسِنْ، وَاسْتَغْفِرْ لإِخْوَانِكَ الَّذِينَ
سَبَقُوكَ بِالْإِيمَانِ، ثُمَّ اسْتَغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ،
ثمَّ قُلْ آخِرَ ذَلِكَ: اللَّهُمَّ ارْحَمْني بِتَرْكِ الْمَعَاصِي أَبَدًا مَا
أَبْقَيْتَنِي، وَارْحَمْنِي أَنْ أَتَكَلَّفَ مَا لَا يَعْنِينِي، وَارْزُقْني
حُسْنَ النَّظَرِ فِيمَا يُرْضِيكَ عَنِّي، اللَّهُمَّ بَدِيعَ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ، ذَا الْجَلالِ وَالْإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ،
أَسْأَلُكَ يَا اللهُ، يَا رَحْمَنُ بِجَلَالِكَ، وَنُورِ وَجْهِكَ أَنْ تُلْزِمَ
قَلْبِي حِفْظَ كِتَابِكَ كَمَا عَلَّمْتَنِي، وَارْزُقْنِي أَنْ أَتْلُوَهُ
عَلَى النَّحْوِ الَّذِي يُرْضِيكَ عَنِّي، اللَّهُمَّ بَدِيعَ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ، ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ،
أَسْأَلُكَ يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلالِكَ وَنُورِ وَجْهِكَ أَن تُنَوِّرَ
بِكِتَابِكَ بَصَرِي، وَأَنْ تُطلِقَ بِهِ لِسَانِي، وَأَنْ تفَرِّجَ بِهِ عَنْ
قَلْبِي، وَأَنْ تَشْرَحَ بهِ صَدْرِي، وَأَنْ تَشْغَلَ بِهِ بَدَنِي، فَإِنَّهُ
لَا يُعِينُنِي عَلَى الْحَقِّ غَيْرُكَ، وَلَا يُؤْتِنِيهِ إِلَّا أَنْتَ، وَلَا
حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ. أَبَا الْحَسَنِ،
تَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ، أَوْ خَمْسًا، أَوْ سَبْعًا، يُجَابُ بِإِذْنِ
اللهِ، فَوَالَّذِي بَعَثَنِي بِالْحَقِّ مَا أَخطَأَ مُؤْمِنًا قَطُّ".
قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبَّاسٍ: فَوَاللهِ مَا لَبِثَ عَلِيٌّ إِلَّا خَمْسًا،
أَوْ سَبْعًا حَتَّى جَاءَ رَسُولَ اللهِ ﷺ فِي مِثْلِ ذَلِكَ الْمَجْلِسِ،
فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي كُنْتُ فِيمَا خَلَا لَا أَتَعَلَّمُ أَرْبَعَ
آيَاتٍ أَوْ نَحْوَهُنَّ، فَإِذَا قَرَأْتُهُنَّ يَتَفَلَّتْنَ، فَأَمَّا
الْيَوْمَ، فَاتَعَلَّمُ الْأَرْبَعِينَ آيَةً وَنَحْوَهَا،
فَإِذَا قَرَأْتُهُنَّ عَلَى نَفْسِي، فكَأَنَّمَا كِتَابُ اللهِ نُصْبَ عَيْنِي،
وَلَقَدْ كُنْتُ أَسْمَعُ الْحَدِيثَ، فَإِذَا أَرَدْتُهُ تَفَلَّتَ، وَأَنَا
الْيَوْمَ أَسْمَعُ الْأَحَادِيثَ، فَإِذَا حَدَّثْتُ بِهَا لَمْ أَخْرِمْ مِنْهَا
حَرْفًا، فَقالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ عِنْدَ ذَلِكَ: "مُؤْمِنٌ وَرَبِّ
الْكَعْبَةِ أَبَا الْحَسَنِ". هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ
الشَّيْخَيْنِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ. [37]
Artinya: Diriwayatkan oleh Abu an-Naḍr Muḥammad bin Muḥammad al-Faqīh dan Abu al-Ḥasan Aḥmad bin Muḥammad al-‘Anazī, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Utsmān bin Sa‘īd ad-Dāramī; dan diriwayatkan pula oleh Abu Bakr Muḥammad bin Ja‘far al-Muzakkī, dari Muḥammad bin Ibrāhīm al-‘Abdī, mereka berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ayyūb Sulaimān bin ‘Abdirraḥmān ad-Dimasyqī, dari al-Walīd bin Muslim, dari Ibn Jurayj, dari ‘Aṭā’ bin Abī Rabāḥ dan ‘Ikrimah maulā Ibn ‘Abbās, dari Ibn ‘Abbās ra., bahwa ketika ia sedang duduk di sisi Rasulullah ﷺ, datanglah ‘Ali bin Abī Ṭālib seraya berkata: “Demi ayah dan ibuku engkau wahai Rasulullah, Al-Qur’an ini seakan-akan lepas dari hafalanku, aku merasa tidak mampu lagi menguasainya.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “Wahai Abal-Ḥasan, maukah engkau aku ajarkan beberapa kalimat yang Allah akan memberi manfaat kepadamu dengannya, memberi manfaat pula kepada siapa saja yang engkau ajarkan, dan akan meneguhkan hafalanmu dalam dadamu?” Ali berkata: “Tentu wahai Rasulullah ﷺ, ajarkanlah kepadaku.” Beliau bersabda: “Pada malam Jumat, jika engkau mampu bangun pada sepertiga malam terakhir, maka lakukanlah, karena itu adalah waktu yang disaksikan (para malaikat) dan doa di dalamnya dikabulkan; itulah maksud ucapan saudaraku Ya‘qub kepada anak-anaknya: ‘Aku akan memohonkan ampun bagi kalian kepada Rabbku’ hingga datang malam Jumat. Jika engkau tidak mampu, bangunlah pada pertengahannya, dan jika tidak mampu maka bangunlah pada awalnya, kemudian shalatlah empat rakaat: pada rakaat pertama bacalah al-Fātiḥah dan surat Yāsīn; pada rakaat kedua al-Fātiḥah dan surat Tanẓīl as-Sajdah; pada rakaat ketiga al-Fātiḥah dan surat ad-Dukhān; dan pada rakaat keempat al-Fātiḥah dan surat Tabārak. Setelah selesai tasyahud, pujilah Allah dan perbanyaklah sanjungan kepada-Nya, serta bershalawatlah kepadaku dan kepada para nabi, kemudian beristighfarlah untuk saudara-saudaramu yang telah mendahului dalam iman, lalu beristighfarlah untuk seluruh kaum mukminin dan mukminat. Setelah itu ucapkanlah: ‘Ya Allah, rahmatilah aku untuk meninggalkan maksiat selama Engkau menghidupkanku; rahmatilah aku agar tidak membebani diriku dengan apa yang tidak berguna bagiku; karuniakanlah kepadaku ketajaman pandangan dalam hal-hal yang Engkau ridai. Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Dzat yang memiliki keagungan, kemuliaan, dan kekuatan yang tidak tertandingi, aku memohon kepada-Mu wahai Allah, wahai Yang Maha Pengasih, dengan keagungan-Mu dan cahaya wajah-Mu agar Engkau menanamkan dalam hatiku hafalan Kitab-Mu sebagaimana Engkau mengajarkannya kepadaku, dan karuniakanlah agar aku dapat membacanya dengan cara yang Engkau ridai. Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Dzat yang memiliki keagungan, kemuliaan, dan kekuatan yang tidak tertandingi, aku memohon kepada-Mu wahai Allah, wahai Yang Maha Pengasih, dengan keagungan-Mu dan cahaya wajah-Mu agar Engkau menerangi penglihatanku dengan Kitab-Mu, melancarkan lisanku dengannya, melapangkan dadaku dengannya, melegakan hatiku dengannya, dan menyibukkan tubuhku dengannya, karena tidak ada yang dapat membantuku di atas kebenaran selain Engkau, dan tidak ada yang dapat memberikannya kepadaku kecuali Engkau, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Wahai Abal-Ḥasan, lakukanlah itu selama tiga Jumat, atau lima, atau tujuh; niscaya doamu dikabulkan dengan izin Allah. Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, tidaklah hal itu meleset dari seorang mukmin pun.” Ibnu ‘Abbās berkata: Demi Allah, tidak lama kemudian, hanya lima atau tujuh hari, ‘Ali datang kepada Rasulullah ﷺ dalam keadaan seperti pertemuan sebelumnya dan berkata: “Wahai Rasulullah, dahulu aku tidak mampu menghafal empat ayat atau yang semisalnya, ketika kubaca ayat-ayat itu ia terasa seakan-akan berlarian dariku; adapun sekarang, aku mampu menghafal empat puluh ayat atau semisalnya, dan ketika kubaca seakan-akan Kitab Allah terpampang di hadapanku. Dahulu, aku mendengarkan sebuah hadits, namun ketika aku ingin mengulanginya ia seperti terlepas; tetapi hari ini, aku mendengar hadits, dan ketika kusampaikan kembali, aku tidak meninggalkan satu huruf pun darinya.” Maka Rasulullah ﷺ berkata kepadanya: “Engkau benar-benar seorang mukmin, demi Tuhan Ka‘bah, wahai Abal-Ḥasan.” Hadits ini shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkannya.
4.21. Berdoa Radhitu Billahi Rabba Wa Bil Islami Dina Wa Bi Muhammadi
Nabiya Wa Rasula
Di
dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 4410 dinyatakan bahwa 'Barangsiapa
mengucapkan saat pagi dan sore: 'Kami ridha dengan Allah sebagai Rabb, dengan
Islam sebagai agama, dan dengan Muhammad sebagai Rasul,' maka sesungguhnya hak
Allah untuk meridhai hamba tersebut;
حَدَّثَنَا
حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي عَقِيلٍ عَنْ سَابِقِ بْنِ
نَاجِيَةَ عَنْ أَبِي سَلَّامٍ أَنَّهُ كَانَ فِي مَسْجِدِ حِمْصَ فَمَرَّ بِهِ
رَجُلٌ فَقَالُوا هَذَا خَدَمَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَقَامَ إِلَيْهِ فَقَالَ حَدِّثْنِي بِحَدِيثٍ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَتَدَاوَلْهُ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ
الرِّجَالُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقُولُ مَنْ قَالَ إِذَا أَصْبَحَ وَإِذَا أَمْسَى رَضِينَا بِاللَّهِ رَبًّا
وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى
اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ [38]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar, telah menceritakan kepada kami
Syu'bah, dari Abu Aqil, dari Sa'iq bin Najiyah, dari Abu Salam, bahwa dia
berada di Masjid Hims, lalu lewatlah seorang laki-laki. Mereka berkata,
"Ini adalah pelayan Nabi ﷺ." Maka dia mendekatinya dan berkata,
"Ceritakanlah kepadaku dengan hadits yang pernah engkau dengar dari
Rasulullah ﷺ yang belum banyak diketahui oleh orang-orang." Dia
berkata, "Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Barangsiapa mengucapkan saat
pagi dan sore: 'Kami ridha dengan Allah sebagai Rabb, dengan Islam sebagai
agama, dan dengan Muhammad sebagai Rasul,' maka sesungguhnya hak Allah untuk
meridhai hamba tersebut.'"
Di
dalam kitab Ad Du’a Thabarani hadits nomor 1428, memohon
kepada-Mu dengan Nama-Mu Yang Maha Agung agar Engkau memberikan keridaan-Mu
yang paling besar
حَدَّثَنَا
زَكَرِيَّا بْنُ يَحْيَى السَّاجِيُّ، ثنا أَبُو عُمَرَ بْنُ خَلَّادٍ
الْبَاهِلِيُّ، ثنا سَلْمَى بْنُ عِيَاضِ بْنِ مُنْقِذِ بْنِ سَلْمَى ابْنُ
فَاطِمَةَ بِنْتِ أَبِي مَرْثَدٍ، قَالَ: سَمِعْتُ جَدِّيَ أَبَا مَرْثَدٍ، عَنْ
حَدِيثِ حَمْزَةَ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رضي الله عنه، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ
قَالَ: «نَسْأَلُكَ بِاسْمِكَ الْأَعْظَمِ رِضْوَانَكَ الْأَكْبَرَ» يَقُولُهَا
مِرَارً [39]
Artinya: Diriwayatkan
oleh Zakariyyā bin Yaḥyā as-Sājī, dari Abū ‘Umar bin Khallād al-Bāhilī,
dari Salmā bin ‘Iyāḍ bin Munqidz bin Salmā bin Fāṭimah
binti Abī Marthad, ia berkata: Aku mendengar kakekku, Abū Marthad, dari hadis
Hamzah bin ‘Abd al-Muṭṭalib ra., dari Rasulullah ﷺ, beliau
bersabda: “Kami memohon kepada-Mu dengan Nama-Mu Yang Maha Agung agar Engkau
memberikan keridaan-Mu yang paling besar.” Beliau mengucapkannya berulang kali.
1.1.
Berdzikir
Subḥānallāhi
Riḍā
Nafsihi
Di dalam kitab
Sunan Tirmidzi disebutkan doa Subḥānallāhi riḍā
nafsihi;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ ، عَنْ شُعْبَةَ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ: سَمِعْتُ كُرَيْبًا يُحَدِّثُ
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، عَنْ جُوَيْرِيَةَ بِنْتِ الْحَارِثِ : «أَنَّ
النَّبِيَّ ﷺ مَرَّ عَلَيْهَا وَهِيَ فِي مَسْجِدِهَا، ثُمَّ مَرَّ النَّبِيُّ - ﷺ
- بِهَا قَرِيبًا مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ، فَقَالَ لَهَا: مَا زِلْتِ عَلَى
حَالِكِ؟» فَقَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ: أَلَا أُعَلِّمُكِ كَلِمَاتٍ تَقُولِينَهَا؟
سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ خَلْقِهِ، سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ خَلْقِهِ، سُبْحَانَ
اللهِ عَدَدَ خَلْقِهِ، سُبْحَانَ اللهِ رِضَا نَفْسِهِ، سُبْحَانَ اللهِ رِضَا
نَفْسِهِ، سُبْحَانَ اللهِ رِضَا نَفْسِهِ، سُبْحَانَ اللهِ زِنَةَ عَرْشِهِ،
سُبْحَانَ اللهِ زِنَةَ عَرْشِهِ، سُبْحَانَ اللهِ زِنَةَ عَرْشِهِ، سُبْحَانَ
اللهِ مِدَادَ كَلِمَاتِهِ، سُبْحَانَ اللهِ مِدَادَ كَلِمَاتِهِ، سُبْحَانَ اللهِ
مِدَادَ كَلِمَاتِهِ.هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ،
وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ هُوَ مَوْلَى آلِ طَلْحَةَ، وَهُوَ شَيْخٌ
مَدِينِيٌّ ثِقَةٌ، وَقَدْ رَوَى عَنْهُ الْمَسْعُودِيُّ، وَسُفْيَانُ
الثَّوْرِيُّ هَذَا الْحَدِيثَ. [1]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar, ia berkata: telah menceritakan
kepada kami Muhammad bin Ja‘far, dari Syu‘bah, dari Muhammad bin ‘Abd al-Rahman,
ia berkata: aku mendengar Kuraib menceritakan dari Ibnu ‘Abbas, dari Juwairiyah
binti al-Harits, bahwa Nabi ﷺ pernah melewatinya ketika ia sedang berada
di tempat ibadahnya. Kemudian Nabi ﷺ melewatinya lagi menjelang tengah hari,
lalu beliau bersabda kepadanya: “Apakah engkau masih dalam keadaan seperti
tadi?” Ia menjawab: “Ya.” Maka beliau bersabda: “Maukah aku ajarkan kepadamu
beberapa kalimat yang jika engkau mengucapkannya (sekali), niscaya lebih berat
timbangannya daripada apa yang engkau ucapkan sejak pagi?” Yaitu: Subḥānallāhi
‘adada khalqihi (Maha hebat Allah sebanyak bilangan makhluk-Nya) — diucapkan
tiga kali; Subḥānallāhi riḍā nafsihi (Maha
hebat Allah sesuai keridaan-Nya) — tiga kali; Subḥānallāhi
zinata ‘arsyihi (Maha hebat Allah seberat timbangan ‘Arsy-Nya) — tiga kali; Subḥānallāhi
midāda kalimātihi (Maha hebat Allah sebanyak tinta penulisan
kalimat-kalimat-Nya) — tiga kali.
At-Tirmiżī
berkata: “Hadis ini hasan sahih. Dan Muhammad bin ‘Abd al-Rahman adalah maula
keluarga Thalhah, ia seorang syekh dari Madinah yang terpercaya. Al-Mas‘udi dan
Sufyan ats-Tsauri juga meriwayatkan hadis ini darinya.”
Kemudian
al-Hakim berkata: “Hadis ini sahih sanadnya, tetapi keduanya (al-Bukhari dan
Muslim) tidak meriwayatkannya.”
[1] Abu ‘Isa
Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi,
Dar al-Gharb al-Ialmi, Beirut, 1996, Jilid 5 halaman 520, Hadits nomor 3555.
Berdasar ayat-ayat Al Quran dan hadits-hadits Rasulullah SAW yang telah dikemukakan dalam pembahasan dapat ditarik pengertian bahwa taqwa di level ridha adalah kesadaran ruhani merasa puas, bahagia dan senang menerima segala ketetapan dan ketentuannya untuk mentaati Allah dan Rasulullah.
Kesadaran taqwa di level ridha mendorong orang
beriman untuk merasa puas, bahagia, berkecukupan, qanaah, senang dengan segala
keadaan, karena menyadari bahwa semua yang terjadi di alam semesta merupakan
ketetapan Allah yang harus diterima dengan ridha.
Ikrar Ridha
"رَضِيتُ
بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ نَبِيًّا"
“Aku
ridla Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai
Nabi-ku"
(HR.
Abu Daud: 5072)
[1] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah
al-‘Alamiyah, , 2009, Jilid 5 halaman 196, Hadits nomor 3924.
[2] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 114, Hadits
nomor 6549 dan Jilid 9, halaman 151, hadits nomor 7518.
[3]
Abd Al-Shamad Al-Darimi, Musnad Al-Darimi Al-Ma’ruf (Sunan Al-Darimi),
Dar Al-Mughni Li-Al-Nasyr Wa Al-Tauzi’, 2000, Jilid 4, Halaman 2087, Hadits
nomor 3354.
[4] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah Ar-Risalah, 2001, Jilid 37, Halaman 87,
Hadits nomor 22401.
[5]
Ibnu Majah Ibnu Abdullah
Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418
H, Jilid 2, Halaman 1401, Hadits nomor 4189.
[6] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 29, Halaman
196, Hadits nomor 17649.
[7] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah
al-‘Alamiyah, , 2009, Jilid 4 halaman 33, Hadits nomor 2009.
[8]
Abu Hatim Muhammad Ibnu Hiban
Ibnu Ahmad, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibu Hazm, Beirut, 2012, Jilid 1,
Halaman 512, Hadits nomor 772.
[9] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Al-Thabaah Al-‘Amirah, Turki, 1334 H, Jilid 5,
Halaman 130, Hadits nomor 1715.
[10] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 18, Halaman
395, Hadits nomor 11898.
[11] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 3,
Halaman 1501, Hadits nomor 1884.
[12] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 38, Halaman
195, Hadits nomor 23111.
[13] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1, Halaman
290, Hadits nomor 386.
[14]
Abu Hatim Muhammad Ibnu Hiban
Ibnu Ahmad, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibu Hazm, Beirut, 2012, Jilid 6,
Halaman 56, Hadits nomor 4865.
[15] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah
al-‘Alamiyah, , 2009, Jilid 4 halaman 202, Hadits nomor 2396.
[16] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 32, Halaman
210, Hadits nomor 1444.
[17]
Ubaidillah Al-‘Akfi Al-Ma’ruf Bi Al-Bazar, Musnad Al-Bazar Al-Mansyur, Maktabah
Al-‘Ulum Wal Al-Hukm, 2009, Madinah, Jilid 7, Halaman 320, Hadits nomor 2919.
[18]
Ahmad ibn Syuaib Al-Nasa’i, Al-Sunan Al-Kubra, Muassasah Al-Risalah,
Beirut, 2001, Jilid 8, Halaman 149, Hadits nomor 8836.
[19] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al
Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990,
Jilid 1, Halaman 106, Hadits nomor 136.
[20] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 5 halaman 48, Hadits nomor 2682.
[21]
Ibnu Majah Ibnu Abdullah
Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Al-Risalah Al’Alamiyah, Beirut, 2009,
Jilid 1, Halaman 192, Hadits nomor 289.
[22]
Abd Al-Shamad Al-Darimi, Musnad Al-Darimi Al-Ma’ruf (Sunan Al-Darimi),
Dar Al-Mughni Li-Al-Nasyr Wa Al-Tauzi’, 2000, Jilid 4, Halaman 2148, Hadits
nomor 3458.
[23] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan
Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 1, Halaman 205,
Hadits nomor 774.
[24] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1,
Halaman 62, Hadits nomor 34.
[25] Abu Qasim Al-Thabarani, Mu’jam
Al-Kabir Li Al-Thabarani, Dar Al Haramain, Kairo, 1995, jilid 8
halaman 99, Hadits nomor
7490.
[26]
Al-Amir ‘Ala`i Al-Din ‘Ali ibn Balban Al-Farisi, Al-Ihsan Fi Taqrib Shahih
Ibn Hiban, Muassasah Al-Risalah, Beirut, 1988, Jilid 1, Halaman 510, Hadits
nomor 276.
[27] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 3, Halaman 155, Hadits
nomor 2574.
[28] Abu Qasim Al-Thabarani, Al-Du’a
Li Al-Thabarani, Dar Al Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 1413 H, Halaman 95,
Hadits nomor 235.
[29] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 140, Hadits nomor 2305.
[30] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 2, Halaman 83, Hadits nomor
1303.
[31] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 37, Halaman
378, Hadits nomor 22705.
[32] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 27, Halaman
360, Hadits nomor 16805.
[33]
Ibnu Majah Ibnu Abdullah
Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418
H, Jilid 1, Halaman 27, Hadits nomor 70.
[34] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah
al-‘Alamiyah, , 2009, Jilid 2 halaman 454, Hadits nomor 1161.
[35] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 30, Halaman
265, Hadits nomor 18325.
[36] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Al-Thabaah Al-‘Amirah, Turki, 1334 H, Jilid 2,
Halaman 51, Hadits nomor 486.
[37] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al
Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990,
Jilid 2, Halaman 245, Hadits nomor 1203.
[38] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan
Abi Daud, Al-Dar Al-Risalah Al-‘Alamiyah, tt , 2009, Jilid, 7, Halaman 407,
Hadits nomor 5072.
[39] Abu Qasim Al-Thabarani, Ad
Du’a Thabarani, Dar Al Kitab Al Alamiyah, Beirut, 1413 H, Hal. 424 nomor 1428.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar