27/04/2026

+ 9. TAQWA LEVEL RIDHA

+ 9. TAQWA LEVEL RIDHA

Ridha berasal dari kata Radhiya-yardha-ridhaan/radhiyatan; suka, rela, menerima, menyetujui, puas. Di dalam Al Quran ditemukan 73 kata yang terbentuk dari kata dasar radhiya yang terdapat di 64 ayat.

Ayat-ayat tersebut ditambah dengan hadits-hadits Rasulullah SAW yang berkaitan dengan ridha akan diklasifikasikan dan dianalisa untuk dapat memperoleh pemahaman yang menyeluruh tentang ridha, sehingga ridha dapat diamalkan menjadi sebuah bentuk ketaqwaan di tingkat ridha.

Di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 207 digambarkan bahwa di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah;

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَشْرِي نَفْسَهُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ

Artinya: Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.(QS. Al-Baqarah/ 2: 207)

Sedangkan di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 3924 ditegaskan bahwa barang siapa yang pada sore hari mengucapkan; aku ridha Allah sebagai Tuhanku dan Muhammad sebagai nabi, maka Allah benar-benar akan meridhainya

حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ خَالِدٍ عَنْ أَبِي سَعْدٍ سَعِيدِ بْنِ الْمَرْزُبَانِ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ ثَوْبَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قَالَ حِينَ يُمْسِي رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ, قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ [1]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa'idAl Asyaj telah menceritakan kepada kami 'Uqbah bin Khalid? dari Abu Sa'd Sa'id bin Al Marzuban? dari Abu Salamah? dari Tsauban radliallahu 'anhu? ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Barang siapa pada sore hari mengucapkan; aku ridha Allah sebagai Tuhanku dan Muhammad sebagai nabi, maka Allah benar-benar akan meridhainya." Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan gharib dari sisi ini.

Berdasar pengertian secara bahasa, ayat Al Quran dan Hadits di atas dapat ditarik pengertian bahwa ridha adalah kesadaran qalbu merasa puas dan bahagia mengikuti ketetapan Allah, Islam dan Rasulullah Muhammad SAW.

Adapun untuk dapat memberikan gambaran yang menyeluruh tentang takwa di tingkat ridha, maka pada bab ini akan dikemukakan pembahasan tentang;

1. Hikmah Ridha,

2. Keistimewaan Orang Ridha,

3. Karakter Orang Ridha

4. Taqwa Di Tingkat Ridha.

Adapun pembahasannya adalah sebagai berikut;

1.  Hikmah Ridha

Di dalam potongan ayat Al Quran surat Al-Maidah/ 5: 3 ditegaskan bahwa pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu;

...الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al-Maidah/ 5: 3)

1.1. Keridhaan Allah Lebih Besar Dari Keni’matan Surga

Di dalam Al Quran surat At-Taubah/ 9: 72 digambarkan bahwa keridhaan Allah adalah lebih besar;

وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Artinya: Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar. (QS. At-Taubah/ 9: 72)

1.2. Keridhaan Allah Lebih Utama Dari Semua Pemberian Allah

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6549 dan 7518 dinyatakan bahwa 'Sekarang Aku beri kalian suatu yang lebih utama daripada itu.' Penghuni surga bertanya; 'Wahai rabbi, apa yang lebih utama dari kesemuanya? ' Allah berfirman; 'Kuhalalkan keridhaan-Ku untuk kalian, dan Aku tidak murka kepada kalian selama-lamanya;

حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ أَسَدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ لِأَهْلِ الْجَنَّةِ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ فَيَقُولُونَ لَبَّيْكَ رَبَّنَا وَسَعْدَيْكَ فَيَقُولُ هَلْ رَضِيتُمْ فَيَقُولُونَ وَمَا لَنَا لَا نَرْضَى وَقَدْ أَعْطَيْتَنَا مَا لَمْ تُعْطِ أَحَدًا مِنْ خَلْقِكَ فَيَقُولُ أَنَا أُعْطِيكُمْ أَفْضَلَ مِنْ ذَلِكَ قَالُوا يَا رَبِّ وَأَيُّ شَيْءٍ أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ فَيَقُولُ أُحِلُّ عَلَيْكُمْ رِضْوَانِي فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ بَعْدَهُ أَبَدًا [2]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Asad telah mengabarkan kepada kami Abdullah telah mengabarkan kepada kami Malik bin Anas dari Zaid bin Aslam dari 'Atho' bin yasar dari Abu Said Al Khudzri mengatakan, Rasulullah  bersabda: "Allah tabaraka wata'ala berfirman kepada penghuni surga; 'Wahai penghuni surga! ' 'Baik, dan kami penuhi panggilan-Mu, ' Jawab penghuni surga. Allah berfirman; 'telah puaskah kalian? ' mereka menjawab; 'Bagaimana mungkin kami tidak puas, sementara Engkau telah memberi kami yang belum pernah Engkau berikan kepada seorang pun dari makhluk-Mu.' Maka Allah berrfirman; 'Sekarang Aku beri kalian suatu yang lebih utama daripada itu.' Penghuni surga bertanya; 'Wahai rabbi, apa yang lebih utama dari kesemuanya? ' Allah berfirman; 'Kuhalalkan keridhaan-Ku untuk kalian, dan Aku tidak murka kepada kalian selama-lamanya.'"

1.3. Tidak Ada Sesuatu Yang Diharap Lagi Setelah Ridla-Mu

Di dalam kitab Sunan Darimi Atsar nomor 3354 tergambar bahwa tidak ada sesuatu yang diharap lagi setelah ridla-Mu;

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرٍ الرَّقِّيُّ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ زَيْدِ بْنِ أَبِي أُنَيْسَةَ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ نِعْمَ الشَّفِيعُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّهُ يَقُولُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَا رَبِّ حَلِّهِ حِلْيَةَ الْكَرَامَةِ فَيُحَلَّى حِلْيَةَ الْكَرَامَةِ يَا رَبِّ اكْسُهُ كِسْوَةَ الْكَرَامَةِ فَيُكْسَى كِسْوَةَ الْكَرَامَةِ يَا رَبِّ أَلْبِسْهُ تَاجَ الْكَرَامَةِ يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ فَلَيْسَ بَعْدَ رِضَاكَ شَيْءٌ [3]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Ja'far Ar Raqqi dari Ubaidullah bin Amru dari Zaid bin Abu Unaisah dari 'Ashim dari Abu Shalih ia berkata, "Aku mendengar Abu Hurairah berkata, "Bacalah Al Qur'an sebab ia adalah sebaik-baik pemberi syafaat pada hari kiamat, pada hari kiamat ia akan berkata 'Wahai Rabbku, hiasilah ia dengan hiasan kemuliaan, ' maka ia dihiasilah dengan hiasan kemuliaan. 'Wahai Rabbku, selimutilah ia dengan selimut kemuliaan, ' maka ia diselimuti dengan selimut kemuliaan. 'Wahai Rabbku, pakaikanlah padanya mahkota kemuliaan, wahai Rabbku ridlailah ia, sebab tidak ada sesuatu yang diharap lagi setelah ridla-Mu'."

1.4. Jika Seorang Hamba Benar-Benar Mencari Ridha Allah Dan Senantiasa Seperti Itu, Maka Allah 'Azzawajalla Berfirman Kepada Jibril; 'Fulan Hambaku Mencari Ridhaku, Ingat! Rahmat-Ku Bersamanya

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22401 digambarkan bahwa jika seorang hamba benar-benar mencari ridha Allah dan senantiasa seperti itu, maka Allah 'Azzawajalla berfirman kepada Jibril; 'Fulan hambaKu mencari ridhaKu, ingat! Rahmat-Ku bersamanya;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكْرٍ أَخْبَرَنَا مَيْمُونٌ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ عَنْ ثَوْبَانَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَلْتَمِسُ مَرْضَاةَ اللَّهِ وَلَا يَزَالُ بِذَلِكَ فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِجِبْرِيلَ إِنَّ فُلَانًا عَبْدِي يَلْتَمِسُ أَنْ يُرْضِيَنِي أَلَا وَإِنَّ رَحْمَتِي عَلَيْهِ فَيَقُولُ جِبْرِيلُ رَحْمَةُ اللَّهِ عَلَى فُلَانٍ وَيَقُولُهَا حَمَلَةُ الْعَرْشِ وَيَقُولُهَا مَنْ حَوْلَهُمْ حَتَّى يَقُولَهَا أَهْلُ السَّمَوَاتِ السَّبْعِ ثُمَّ تَهْبِطُ لَهُ إِلَى الْأَرْضِ  [4]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Bakr telah mengabarkan kepada kami Maimun telah bercerita kepada kami Muhammad bin 'Abbad dari Tsauban dari Nabi  bersabda; "Jika seorang hamba benar-benar mencari ridha Allah dan senantiasa seperti itu, maka Allah 'Azzawajalla berfirman kepada Jibril; 'Fulan hambaKu mencari ridhaKu, ingat! rahmatKu bersamanya.' Lalu Jibril berkata; Rahmat Allah bersama si fulan. Para malaikat pemikul 'arsy juga mengucapkan seperti itu, para malaikat sekeliling mereka juga mendoakan seperti ini dan malaikat-malaikat penghuni ketujuh langit yang ada disekitarnya juga tidak luput mendoakannya kemudian mereka turun ke bumi untuknya."

1.5. Tidak Ada Tegukan Yang Lebih Besar Pahalanya Di Sisi Allah Daripada Tegukan Amarah Yang Ditahan Dari Seorang Hamba Karena Mencari Keridlaan Allah

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 4189 dinyatakan bahwa tidak ada tegukan yang lebih besar pahalanya di sisi Allah daripada tegukan amarah yang ditahan dari seorang hamba karena mencari keridlaan Allah;

حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ أَخْزَمَ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ يُونُسَ بْنِ عُبَيْدٍ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ جُرْعَةٍ أَعْظَمُ أَجْرًا عِنْدَ اللَّهِ مِنْ جُرْعَةِ غَيْظٍ كَظَمَهَا عَبْدٌ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ [5]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Akhzam telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Umar telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Yunus bin 'Ubaid dari Al Hasan dari Ibnu Umar dia berkata, "Rasulullah bersabda: "Tidak ada tegukan yang lebih besar pahalanya di sisi Allah daripada tegukan amarah yang ditahan dari seorang hamba karena mencari keridlaan Allah."

1.6. Sekiranya Seorang Laki-Laki Diseret Di Atas Wajahnya Semenjak Hari Ia Dilahirkan Hingga Ia Meninggal Dunia Di Hari Tuanya, Sedang Ia Dalam Keridlaan Allah 'Azza Wajalla, Niscaya Pada Hari Kiamat Ia Akan Menganggap Remeh Kesengsaraan Itu.

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 17649 digambarkan sekiranya seorang laki-laki diseret di atas wajahnya semenjak hari ia dilahirkan hingga ia meninggal dunia di hari tuanya, sedang ia dalam keridlaan Allah 'azza wajalla, niscaya pada hari kiamat ia akan menganggap remeh kesengsaraan itu;

حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ حَدَّثَنِي بَحِيرُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ عَنْ عُتْبَةَ بْنِ عَبْدٍ قَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا يُجَرُّ عَلَى وَجْهِهِ مِنْ يَوْمِ وُلِدَ إِلَى يَوْمِ يَمُوتُ هَرَمًا فِي مَرْضَاةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَحَقَّرَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ [6]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Haiwah bin Syuraih Telah menceritakan kepada kami Baqiyyah telah menceritakan kepadaku Bahir bin Sa'd dari Khalid bin Ma'dan dari Utbah bin Abd ia berkata, "Rasulullah  bersabda: "Sekiranya seorang laki-laki diseret di atas wajahnya semenjak hari ia dilahirkan hingga ia meninggal dunia di hari tuanya, sedang ia dalam keridlaan Allah 'azza wajalla, niscaya pada hari kiamat ia akan menganggap remeh kesengsaraan itu."

1.7. Ridha Allah Terdapat Pada Ridha Seorang Bapak, Dan Murka Allah Juga Terdapat Pada Murkanya Seorang Bapak

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2009 dinyatakan bahwa Ridha Allah terdapat pada ridha seorang bapak, dan murka Allah juga terdapat pada murkanya seorang bapak;

حَدَّثَنَا أَبُو حَفْصٍ عُمَرُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الْوَالِدِ وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ [7]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Hafsh, Umar bin Ali telah menceritakan kepada kami Khalid bin Al Harits telah menceritakan kepada kami telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Ya'la bin Atha' Bapaknya dari Abdullah bin Amr radliallahu 'anhuma dari Nabi , beliau bersabda: "Ridha Allah terdapat pada ridha seorang bapak, dan murka Allah juga terdapat pada murkanya seorang bapak."

1.8. Ridha Allah SWT Tergantung Dengan Ridha Orang Tua

Di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 772 dinyatakan bahwa ridha Allah SWT tergantung dengan ridha orang tua;

أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَبِيبِ بْنِ عَرَبِيٍّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ الْحَارِثِ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو، قَالَ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ رِضَاءُ اللهِ فِي رِضَاءِ الْوَالِدِ، وَسَخَطُ اللهِ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ‏ [8]

Artinya: Al Hasan bin Sufyan mengabarkan kepada kami, ia berkata, Yahya bin Hubaib bin ‘Arabi menceritakan kepada kami, ia berkata, Khalid bin Al Harits menceritakan kepada kami, dari Syu’bah, dari180 Ya’la bin Atha', dari ayahnya, dari Abdullah bin Amru, ia berkata:Rasulullah  bersabda, “Ridha Allah SWT tergantung dengan ridha orang tua. Dan Murka Allah tergantung dengan murkanya orang tua. ”

1.9. Allah Meridhai Bagimu Tiga Perkara; Beribadah Kepada-Nya Dan Tidak Menyekutukan-Nya Dengan Sesuatu Apapun, Kalian Berpegang Teguh Dengan Agama-Nya Dan Tidak Berpecah Belah.

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 1715 dinyatakan bahwa Sesungguhnya Allah meridhai bagimu tiga perkara; beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kalian berpegang teguh dengan agama-Nya dan tidak berpecah belah.

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلَاثًا وَيَكْرَهُ لَكُمْ ثَلَاثًا فَيَرْضَى لَكُمْ أَنْ تَعْبُدُوهُ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَأَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَيَكْرَهُ لَكُمْ قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةِ الْمَالِ, و حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ أَخْبَرَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ سُهَيْلٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلَاثًا وَلَمْ يَذْكُرْ وَلَا تَفَرَّقُوا [9]

Artinya: Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir dari Suhail dari ayahnya dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah  bersabda: "Sesungguhnya Allah meridhai bagimu tiga perkara dan membenci tiga perkara; Dia menyukai kalian supaya beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, kalian berpegang teguh dengan agama-Nya dan tidak berpecah belah. Dan Allah membenci kalian dari mengatakan sesuatu yang tidak jelas sumbernya, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta." Dan telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farruh telah mengabarkan kepada kami Abu 'Awanah dari Suhail dengan isnad seperti ini, namun dia berkata, 'Dan dia murka terhadap tiga perkara dari kalian', dan tidak menyebutkan, 'dan janganlah kalian berpecah belah'."

1.10. Perumpamaan Orang Yang menafkahkan Hartanya Mengharap Ridha Allah

Di dalam surat Al-Baqarah/ 2: 265 digambarkan perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya karena mengharap ridha Allah;

وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِنْ أَنْفُسِهِمْ كَمَثَلِ جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِنْ لَمْ يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Artinya: Dan perumpamaan orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. (QS. Al-Baqarah/ 2: 265)

1.11. Ridha Allah Mengalahkan Murkanya

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 11898 digambarkan ridha Allah kepada hambanya mengalahkan murkanya;

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَلَصَ الْمُؤْمِنُونَ مِنْ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَمِنُوا فَمَا مُجَادَلَةُ أَحَدِكُمْ لِصَاحِبِهِ فِي الْحَقِّ يَكُونُ لَهُ فِي الدُّنْيَا بِأَشَدَّ مُجَادَلَةً لَهُ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ لِرَبِّهِمْ فِي إِخْوَانِهِمْ الَّذِينَ أُدْخِلُوا النَّارَ قَالَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِخْوَانُنَا كَانُوا يُصَلُّونَ مَعَنَا وَيَصُومُونَ مَعَنَا وَيَحُجُّونَ مَعَنَا فَأَدْخَلْتَهُمْ النَّارَ قَالَ فَيَقُولُ اذْهَبُوا فَأَخْرِجُوا مَنْ عَرَفْتُمْ فَيَأْتُونَهُمْ فَيَعْرِفُونَهُمْ بِصُوَرِهِمْ لَا تَأْكُلُ النَّارُ صُوَرَهُمْ فَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ النَّارُ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ إِلَى كَعْبَيْهِ فَيُخْرِجُونَهُمْ فَيَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرَجْنَا مَنْ أَمَرْتَنَا ثُمَّ يَقُولُ أَخْرِجُوا مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ وَزْنُ دِينَارٍ مِنْ الْإِيمَانِ ثُمَّ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ وَزْنُ نِصْفِ دِينَارٍ حَتَّى يَقُولَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْ بِهَذَا فَلْيَقْرَأْ هَذِهِ الْآيَةَ "{إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا" قَالَ فَيَقُولُونَ رَبَّنَا قَدْ أَخْرَجْنَا مَنْ أَمَرْتَنَا فَلَمْ يَبْقَ فِي النَّارِ أَحَدٌ فِيهِ خَيْرٌ قَالَ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ شَفَعَتْ الْمَلَائِكَةُ وَشَفَعَ الْأَنْبِيَاءُ وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ وَبَقِيَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ قَالَ فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنْ النَّارِ أَوْ قَالَ قَبْضَتَيْنِ نَاسٌ لَمْ يَعْمَلُوا لِلَّهِ خَيْرًا قَطُّ قَدْ احْتَرَقُوا حَتَّى صَارُوا حُمَمًا قَالَ فَيُؤْتَى بِهِمْ إِلَى مَاءٍ يُقَالُ لَهُ مَاءُ الْحَيَاةِ فَيُصَبُّ عَلَيْهِمْ فَيَنْبُتُونَ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ فَيَخْرُجُونَ مِنْ أَجْسَادِهِمْ مِثْلَ اللُّؤْلُؤِ فِي أَعْنَاقِهِمْ الْخَاتَمُ عُتَقَاءُ اللَّهِ قَالَ فَيُقَالُ لَهُمْ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ فَمَا تَمَنَّيْتُمْ أَوْ رَأَيْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ لَكُمْ عِنْدِي أَفْضَلُ مِنْ هَذَا قَالَ فَيَقُولُونَ رَبَّنَا وَمَا أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ قَالَ فَيَقُولُ رِضَائِي عَلَيْكُمْ فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ أَبَدًا [10]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq berkata, telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Zaid bin Aslam dari 'Atho` bin Yasar dari Abu Sa'id ia berkata; Rasulullah bersabda: "Jika kaum mukminin pada hari kiamat telah lolos dan aman dari neraka, maka tidaklah perdebatan salah seorang dari kalian dengan temannya tentang kebenaran waktu di dunia lebih besar dari perdebatan kaum mukminin terhadap Rabb mereka berkenaan dengan nasib saudaranya yang telah dimasukkan ke dalam neraka." Beliau bersabda: "Mereka berkata; 'Wahai Rabb kami, mereka adalah saudara kami, mereka shalat, puasa dan berhaji bersama kami, tapi kenapa Engkau masukkan mereka ke dalam neraka? '" beliau bersabda: "Lalu Allah berfirman: 'Masuklah kalian ke dalam neraka, dan keluarkan orang-orang yang kalian kenal.' maka mereka pun masuk ke dalam neraka dan mereka dapat mengenali mereka dengan wajah yang tidak dimakan oleh api. Di antara mereka ada yang dimakan oleh api hingga pertengahan betisnya, dan ada yang dimakan hingga kedua mata kakinya, lalu mereka mengeluarkannya. Setelah itu mereka berkata; 'Wahai Rabb kami, kami telah mengeluarkan orang-orang yang telah Engkau perintahkan (untuk kami keluarkan), ' lalu Allah berfirman; 'Keluarkan pula orang-orang yang dalam dadanya ada iman seberat dinar, lalu orang-orang yang dalam dadanya ada iman seberat setengah dinar, ' hingga Allah mengatakan; 'dan orang-orang yang dalam dadanya ada iman seberat biji sawi." Abu Sa'id berkata; "Barangsiapa yang tidak yakin dengan ini semua, hendaklah ia baca ayat ini: "Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah pun, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar." Beliau bersabda: "Lalu mereka berkata; 'Wahai Rabb kami, kami telah mengeluarkan semua orang yang telah Engkau perintah untuk kami keluarkan, hingga tidak ada seorang pun di dalam neraka yang di dalam dadanya ada kebaikan." Beliau bersabda: "Kemudian Allah berfirman: 'Para malaikat telah memberikan syafa'at, para Nabi telah memberikan syafa'at, dan orang-orang yang beriman telah memberikan syafa'at, sekarang tinggallah Dzat Yang Maha Pengasih." Beliau bersabda: "Lalu Allah menggenggam dengan satu genggaman dari neraka, atau beliau mengatakan, "dua genggaman, yaitu orang-orang yang belum pernah melakukan amal kebaikan untuk Allah, mereka telah terbakar hingga menjadi arang." Beliau bersabda: "Lalu mereka dibawa ke air (sungai) yang disebut dengan air kehidupan, lalu mereka disiram dan tumbuh sebagaimana tumbuhnya biji-bijian di tepi aliran sungai. Setelah itu mereka keluar dari dalam jasad-jasad mereka seperti mutiara, pada leher mereka ada cincin, mereka adalah orang-orang yang telah Allah bebaskan." Beliau bersabda: "Lalu dikatakan kepada mereka; 'Masuklah kalian ke dalam surga, maka apa yang kalian angan-angankan atau yang kalian lihat adalah untuk kalian, namun apa yang ada di sisi-Ku adalah lebih utama dari ini." Beliau bersabda: "Mereka lalu berkata; 'Wahai Rabb, apa yang lebih utama dari semua itu? ' beliau bersabda: "Allah lalu berfirman; 'Keridha`an-Ku terhadap kalian semua, maka Aku tidak akan murka kepada kalian selamanya." (HR. Ahmad: 11463)

2.  Keistimewaan Orang Yang Ridha

Banyak keuntungan yang akan diperoleh bagi orang yang ridha, yang disebutkan di dalam Al Quran maupun hadits Rasulullah SAW;

2.1. Diberi Petunjuk Oleh Allah

Di dalam Al Quran surat Al-Maidah (5): 16 digambarkan bahwa Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan;

يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Artinya: Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.(QS. Al-Maidah (5): 16)

2.2. Wajib Masuk Surga

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 1884 dijelaskan bahwa barangsiapa ridla Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad sebagai Nabinya, maka baginya wajib masuk surga;

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي أَبُو هَانِئٍ الْخَوْلَانِيُّ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا أَبَا سَعِيدٍ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ فَعَجِبَ لَهَا أَبُو سَعِيدٍ فَقَالَ أَعِدْهَا عَلَيَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَفَعَلَ ثُمَّ قَالَ وَأُخْرَى يُرْفَعُ بِهَا الْعَبْدُ مِائَةَ دَرَجَةٍ فِي الْجَنَّةِ مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ قَالَ وَمَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ  [11]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Manshur telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb telah menceritakan kepadaku Abu Hani`Al Khaulani dari Abu Abdirrahman Al Hubuli dari Abu Sa'id Al Khudri, bahwa Rasulullah  pernah bersabda kepadanya: "Wahai Abu Sa'id, barangsiapa ridla Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad  sebagai Nabinya, maka wajib baginya masuk surga." Abu Sa'id takjub serya berkata, "Wahai Rasulullah, sudikah anda mengulanginya lagi untukku?" Beliau pun mengulanginya, kemudian beliau melanjutkan: "Dan ada satu amalan yang dengannya seorang hamba akan diangkat derajatnya di surga sebanyak seratus derajat, antara derajat satu dengan derajat yang lain seperti jarak antara langit dan bumi." Abu Sa'id berkata, "Amalan apakah itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah, Jihad di jalan Allah." (HR. Muslim: 3496)

2.3. Allah Meridlainya Pada Hari Kiamat

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 23111, dijelaskan bahwa Allah Meridlainya Pada Hari Kiamat, Orang Yang Mengucap 'Radlitu Billahi Rabba Wa Bil Islaami Diina Wa Bimuhammadin Nabiyya, setiap Pagi 3 Kali Dan Sore 3 Kali;

حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي عَقِيلٍ قَاضِي وَاسِطٍ عَنْ سَابِقِ بْنِ نَاجِيَةَ عَنْ أَبِي سَلَّامٍ قَالَ مَرَّ رَجُلٌ فِي مَسْجِدِ حِمْصَ فَقَالُوا هَذَا خَادِمُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَقُمْتُ إِلَيْهِ فَقُلْتُ حَدِّثْنِي حَدِيثًا سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَتَدَاوَلُهُ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ الرِّجَالُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ عَبْدٍ مُسْلِمٍ يَقُولُ حِينَ يُصْبِحُ وَحِينَ يُمْسِي ثَلَاثَ مَرَّاتٍ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ [12]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Aswad bin Amir] Telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Abu 'Aqil] Qadli Wasith, dari [Sabiq bin Najiyah] dari [Abu Sallam] ia berkata; [Seorang laki-laki] berjalan melewati Masjid Himsh, maka orang-orang pun berkata, "Orang ini adalah Khadimnya Nabi ." Maka saya pun beranjak ke arahnya dan berkata, "Ceritakanlah kepadaku suatu hadis yang telah Anda dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tanpa seorang perantara pun." Ia pun berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidaklah seorang muslim membaca, 'radlitu billahi rabba wa bil islaami diina wa bimuhammadin nabiyya (Aku ridla Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Nabi-ku).' saat ia memasuki sore hari sebanyak tiga kali dan di pagi hari tiga kali, kecuali wajib bagi Allah untuk meridlainya pada hari kiamat." 

2.4. Diberi Pahala Yang Besar

Di dalam Al Quran surat An-Nisa'/ 4: 114 ditegaskan bahwa orang yang mengerjakan kebaikan karena mengharap ridha Allah akan diberikan pahala yang besar;

لَا خَيْرَ فِي كَثِيرٍ مِنْ نَجْوَاهُمْ إِلَّا مَنْ أَمَرَ بِصَدَقَةٍ أَوْ مَعْرُوفٍ أَوْ إِصْلَاحٍ بَيْنَ النَّاسِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ فَسَوْفَ نُؤْتِيهِ أَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma'ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhaan Allah, maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar. (Qs. An Nisa’/ 4: 114)

2.5. Dosanya Diampuni

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 386 dinyatakan bahwa siapa membaca ketika mendengar muadzin, 'Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya, saya ridha Allah sebagai Rabb, dan Muhammad sebagai Rasul, serta Islam sebagai agama, ' niscaya dosanya akan diampuni;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رُمْحٍ أَخْبَرَنَا اللَّيْثُ عَنْ الْحُكَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ قَيْسٍ الْقُرَشِيِّ ح و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ الْحُكَيْمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا غُفِرَ لَهُ ذَنْبُهُ قَالَ ابْنُ رُمْحٍ فِي رِوَايَتِهِ مَنْ قَالَ حِينَ يَسْمَعُ الْمُؤَذِّنَ وَأَنَا أَشْهَدُ وَلَمْ يَذْكُرْ قُتَيْبَةُ قَوْلَهُ وَأَنَا [13]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Rumh telah mengabarkan kepada kami al-Laits dari al-Hukaim bin Abdullah bin Qais al-Qurasyi --lewat jalur periwayatan lain--, dan telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Laits dari al-Hukaim bin Abdullah dari Amir bin Sa'ad bin Abi Waqqash dari Sa'ad bin Abi Waqqash dari Rasulullah  bahwa beliau bersabda, "Barangsiapa membaca ketika mendengar muadzdzin, 'Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan (yang berhak disembah) selain Allah semata, tidak ada sekutu bagiNya, dan bahwa Muhammad  adalah hamba dan RasulNya, saya ridha Allah sebagai Rabb, dan Muhammad  sebagai Rasul, serta Islam sebagai agama, ' niscaya dosanya akan diampuni." Ibnu Rumh berkata dalam riwayatnya, "Barangsiapa membaca ketika mendengar muadzdzin, 'Dan saya bersaksi, ' sedangkan Qutaibah tidak menyebutkan ungkapan, 'Saya'."

2.6. Membuat Allah Ridha Dengan Perbuatan Yang Manusia Benci, Maka Allah Mencukupkannya

Di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 4865 dinyatakan Siapa yang membuat Allah ridha dengan perbuatan yang manusia benci, maka Allah mencukupkannya. Dan siapa yang membuat Allah benci dengan perbuatan yang manusia ridhai, niscaya Allah menyerahkan urusannya kepada manusia;

أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ يَعْقُوبَ الْجُوزَجَانِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ، عَنْ وَاقِدِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، عَنِ الْقَاسِمِ، عَنْ عَائِشَةَ‏:‏ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ‏:‏ مَنْ أَرْضَى اللَّهَ بِسَخَطِ النَّاسِ كَفَاهُ اللَّهُ، وَمَنْ أَسْخَطَ اللَّهَ بِرِضَا النَّاسِ وَكَلَهُ اللَّهُ إِلَى النَّاسِ‏.[14]

Artinya: Hasan bin Sufyan mengabarkan kepada kami, dia berkata: Ibrahim bin Ya’qub Al Juzajani menceritakan kepada kami, dia berkata: Utsman bin Umar menceritakan kepada kami, dia berkata: Syu’bah menceritakan kepada kami, dari Waqid bin Muhammad dari Ibnu Abi Mulaikah dari Al Qasim dari Aisyah bahwa Rasulullah  bersabda, “Siapa yang membuat Allah ridha dengan perbuatan yang manusia benci, maka Allah mencukupkannya. Dan siapa yang membuat Allah benci dengan perbuatan yang manusia ridhai, niscaya Allah menyerahkan urusannya kepada manusia.“

3.  Karakter Orang Ridha

Adapun karakter orang ridha yang digambarkan di dalam Al Quran dan Hadits Rasulullah SAW, antara lain;

3.1. Bersabar  Dan Bertasbih Memuji Namanya Di Pagi, Sore, Malam Dan Siang Agar Ridla; bahagia

Di dalam Al Quran Surat Ta Ha/ 20: 130, dijelaskan perintah Bersabarlan  Dan Bertasbihlah Memuji Namanya Di Pagi, Sore, Malam Dan Siang Agar Kamu Ridla; bahagia;

فَاصْبِرْ عَلَىٰ مَا يَقُولُونَ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا ۖ وَمِنْ آنَاءِ اللَّيْلِ فَسَبِّحْ وَأَطْرَافَ النَّهَارِ لَعَلَّكَ تَرْضَىٰ

Artinya: Maka sabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya dan bertasbih pulalah pada waktu-waktu di malam hari dan pada waktu-waktu di siang hari, supaya kamu merasa ridla. (QS. Ta Ha/ 20: 130)

3.2. Ridla Atas Ujiannya Maka Baginya Keridlaan Allah, Murka Atas Ujiannya Maka Baginya Kemurkaan Allah

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadis nomor 2396, dijelaskan bahwa barangsiapa yang ridla maka baginya keridlaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah;

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ سِنَانٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلَاءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلَاهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ [15]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah] telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari [Yazid bin Abu Habib] dari [Sa'id bin Sinan] dari [Anas] berkata:) dari Nabi  beliau bersabda: "Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridla maka baginya keridlaan Allah, namun barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan Allah." Abu Isa berkata: Hadis ini hasan gharib dari jalur sanad ini.

3.3. Kebahagiaan Anak Adam Adalah Keridhaannya Kepada Ketetapan Allah

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 1444, dijelaskan bahwa diantara kebahagiaan anak Adam adalah keridhaannya kepada ketetapan Allah, sedangkan di antara kesengsaraan anak Adam adalah dia meninggalkan istikharah kepada Allah;

 حَدَّثَنَا رَوْحٌ أَمْلَاهُ عَلَيْنَا بِبَغْدَادَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي حُمَيْدٍ عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ اسْتِخَارَتُهُ اللَّهَ وَمِنْ سَعَادَةِ ابْنِ آدَمَ رِضَاهُ بِمَا قَضَاهُ اللَّهُ وَمِنْ شِقْوَةِ ابْنِ آدَمَ تَرْكُهُ اسْتِخَارَةَ اللَّهِ وَمِنْ شِقْوَةِ ابْنِ آدَمَ سَخَطُهُ بِمَا قَضَى اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ [16]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Rauh] -dia mendekte kepada kami ketika di Baghdad, - telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abu Humaid] dari [Isma'il bin Muhammad bin Sa'd bin Abu Waqqash] dari [bapaknya] dari [kakeknya, Sa'd bin Abu Waqqash] berkata; Rasulullah  bersabda: "Di antara kebahagiaan anak Adam adalah istikharahnya (memohon pilihan dengan meminta petunjuk kepada Allah) kepada Allah, dan diantara kebahagiaan anak Adam adalah keridlaannya kepada ketetapan Allah, sedangkan diantara kesengsaraan anak Adam adalah dia meninggalkan istikharah kepada Allah, dan diantara kesengsaraan anak Adam adalah kemurkaannya terhadap ketetapan Allah."

3.4. Tidak Berkasih-Sayang Dengan Orang-Orang Yang Menentang Allah Dan Rasul-Nya, Sekalipun Orang-Orang Itu Bapak-Bapak, Atau Anak-Anak Atau Saudara-Saudara Ataupun Keluarga Mereka

Di dalam Al Quran Surat Al Mujadilah/ 58: 22 ditegaskan bahwa orang beriman tidak saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka, sehingga Allah Ridha Terhadap Mereka, Dan Merekapun Ridha kepada Allah;

لَّا تَجِدُ قَوْمًا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ يُوَادُّونَ مَنْ حَادَّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَوْ كَانُوا آبَاءَهُمْ أَوْ أَبْنَاءَهُمْ أَوْ إِخْوَانَهُمْ أَوْ عَشِيرَتَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ كَتَبَ فِي قُلُوبِهِمُ الْإِيمَانَ وَأَيَّدَهُم بِرُوحٍ مِّنْهُ ۖ وَيُدْخِلُهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ أُولَٰئِكَ حِزْبُ اللَّهِ ۚ أَلَا إِنَّ حِزْبَ اللَّهِ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudara-saudara ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan merekapun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung. (QS. Al Mujadilah/ 58: 22)

3.5. Mengerjakan Ibadah Karena Mengharap Ridha Allah SWT

Di dalam kitab Musnad Bazzar hadits nomor 2919 ditegaskan bahwa barang siapa berpuasa, bersedekah, haji karena mengharap ridha Allah maka diharamkan baginya neraka dan diwajibkan baginya masuk surga;

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَفَّانَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَطِيَّةَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا قَطَرِيٌّ، عَنْ سِمَاكِ بْنِ حُذَيْفَةَ، عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: جِئْتُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَالْعَبَّاسُ جَالِسٌ عَنْ يَمِينِهِ وَفَاطِمَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ يَسَارِهِ فَقَالَ: «يَا فَاطِمَةُ بِنْتَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، اعْمَلِي لِلَّهِ خَيْرًا إِنِّي لَا أُغْنِي عَنْكِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ» ، قَالَ: يَعْنِي ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ قَالَ: «يَا عَبَّاسُ بْنَ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، يَا عَمَّ رَسُولِ اعْمَلْ لِلَّهِ خَيْرًا إِنِّي لَا أُغْنِي عَنْكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا» ، قَالَهَا: ثَلَاثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ قَالَ: يَا حُذَيْفَةُ، ادْنُ، فَدَنَوْتُ، ثُمَّ قَالَ: «يَا حُذَيْفَةُ، مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ» ، وَآمَنَ أَحْسَبُهُ قَالَ: «بِمَا جِئْتُ بِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ النَّارَ، وَوَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ، وَمَنَ صَامَ رَمَضَانَ يُرِيدُ وَجْهَ اللَّهِ، وَالدَّارَ الْآخِرَةِ خَتَمَ اللَّهُ لَهُ بِهِ وَحَرَّمَ عَلَيْهِ النَّارَ، وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ يُرِيدُ بِهَا وَجْهَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، وَالدَّارَ الْآخِرَةَ، وَمَنْ حَجَّ بَيْتَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يُرِيدُ وَجْهَ اللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، وَالدَّارَ الْآخِرَةَ خَتَمَ اللَّهُ بِهِ، وَحَرَّمَ عَلَيْهِ النَّارَ وَوَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ» ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أُسِرُّ هَذَا أَمْ أُعْلِنُهُ؟، قَالَ: «أَعْلِنْهُ» وَهَذَانِ الْحَدِيثَانِ لَا نَعْلَمُهُمَا يُرْوَيَانِ عَنْ حُذَيْفَةَ إِلَّا بِهَذَا الْإِسْنَادِ، وَلَا نَعْلَمُ لِحُذَيْفَةَ ابْنًا يُقَالُ لَهُ: سِمَاكٌ إِلَّا فِي هَذَا الْحَدِيثِ [17]

Artinya: Telah berceritera kepada kami Al Hasan ibnu ‘Affan, berkata: telah mengabarkan kepada kami Al hasan ibnu ‘Athiyah, berkata: telah mengabarkan kepada kami Qathari, dari Simak ibnu hudzaifah, dari Hudzaifah RA berkata: saya telah datang kepada Nabi Muhammad , dan ‘Abar duduk di sebelah kanannya dan Fathimah di sebelah kirinya, maka Nabi  Bersabda: Wahai Fathimah binti Rasulillah SAW berbuatlah karena Allah dengan sebaik-baiknya, karena aku tidak dapat mencukupimu dari yang diminta Allah sedikitpun pada hari Qiyamat, berkata seperti itu sebanyak tiga kali, kemudian Nabi  Bersabda: Hai Abbas Ibnu ‘Abdi Al Muthalib, wahai Paman Rasul berbuatlah karena Allah dengan sebaik-baiknya, karena aku tidak dapat mencukupimu dari yang diminta Allah sedikitpun pada hari Qiyamat, berkata seperti itu sebanyak tiga kali, kemudian Bersabda: Wahai Hudzaifah, kemudian, maka Aku dipanggil kemudian beliau bersabda “Wahai Hudzaifah, siapa yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Aku Adalah utusan Allah, dan percaya dengan perhitungannya berkata: “ kamu datang dengannya kecuali diharamkan Allah baginya neraka, dan wajib baginya surga, dan barang siapa berpuasa Ramadhan mengharap ridha Allah, dan Hari Akhir maka baginya Allah menutup dan mengharamkan api neraka, dan barang siapa bersedekah mengharapkan ridha Allah tabaraka wa ta’ala, dan rumah di akhirat maka baginya Allah menutup dan mengharamkan api neraka, Aku berkata; Wahai Rasulullah, Sebaiknya aku merahasiakan ini atau mengumumkannya ?, Beliau bersabda: umumkanlah. Kedua hadits ini tidak kami ketauhui yang meriwayatkannya Abu Hudzaifah kecuali dengan sanad ini, dan kami tidak mengetahui bahwa Abu Hudzaifah memiliki anak yang disebut simak kecuali dalam hadits ini.

3.6. Penyejuk Hatinya Adalah Shalat

Di dalam kitab Sunan Nasai hadits nomor 8836 digambarkan bahwa penyejuk hatinya Rasulullah SAW adalah shalat;

حَدَّثَنِي الشَّيْخُ الْإِمَامُ أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ النَّسَائِيُّ قَالَ أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ عِيسَى الْقُوْمَسِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ بْنُ مُسْلِمٍ قَالَ حَدَّثَنَا سَلَّامٌ أَبُو الْمُنْذِرِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ [18]

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Syekh Imam Abu Abdur Rahman An Nasai telah mengabarkan kepada kami Al Husain bin Isa Al Qumasi telah menceritakan kepada kami 'Affan bin Muslim telah menceritakan kepada kami Sallam Abu Al Mundzir dari Tsabit dari Anas, dia berkata; "Rasulullah  bersabda: "Dijadikan kesenanganku dari dunia ada pada wanita dan minyak wangi, dan dijadikan penyejuk hatiku ada dalam shalat."

Qurrata ‘ain; penyejuk hati; kebahagiaan; kepuasan merupakan ekspresi dari keridhaan.

3.7. Perkataannya Mendatangkan Keridhaan Allah

Di dalam kitab Mustadrak Imam Hakim hadits nomor 136 digambarkan bahwa sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan perkataan yang mendatangkan keridhaan Allah, dia tidak menyangka bahwa kata-kata tersebut akan sampai (kepada ridha Allah), sehingga Allah meridhainya akibat kata-kata tersebut hingga Hari Kiamat;

حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْحُسَيْنِ الْقَاضِي، بِمَرْوَ، وَأَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ مَخْلَدٍ الْجَوْهَرِيُّ، بِبَغْدَادَ، قَالَ: ثنا الْحَارِثُ بْنُ أَبِي أُسَامَةَ، ثنا سَعِيدُ بْنُ عَامِرٍ الضُّبَعِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ عَلْقَمَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ عَلْقَمَةَ بْنِ وَقَّاصٍ، قَالَ: كَانَ رَجُلٌ بَطَّالٌ يَدْخُلُ عَلَى الْأُمَرَاءِ فَيُضْحِكُهُمْ، فَقَالَ لَهُ جَدِّي: وَيْحَكَ يَا فُلَانُ، لِمَ تَدْخُلُ عَلَى هَؤُلَاءِ وَتُضْحِكُهُمْ، فَإِنِّي سَمِعْتُ بِلَالَ بْنَ الْحَارِثِ الْمُزَنِيَّ صَاحِبَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «إِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ رِضْوَانِ اللَّهِ، مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ فَيَرْضَى اللَّهُ بِهَا عَنْهُ إلى يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَتَكَلَّمُ بِالْكَلِمَةِ مِنْ سَخَطِ اللَّهِ، مَا يَظُنُّ أَنْ تَبْلُغَ مَا بَلَغَتْ فَيَسْخَطُ اللَّهُ بِهَا إِلَى يَوْمِ يَلْقَاهُ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ وَقَدِ احْتَجَّ مُسْلِمٌ بِمُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو، وَقَدْ أَقَامَ إِسْنَادَهُ عَنْهُ سَعِيدُ بْنُ عَامِرٍ كَمَا أَوْرَدتُهُ عَالِيًا هَكَذَا رَوَاهُ سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ وَإِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ وَعَبْدُ الْعَزِيزِ الدَّرَاوَرْدِيُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ الْعَبْدِيُّ وَغَيْرُهُمْ، أَمَّا حَدِيثُ الثَّوْرِيِّ [19]

Artinya: Abu Al Abbas Abdullah bin Husain Al Qadhi menceritakan kepada kami di Marwa, dan Abu Abdillah Muhammad bin Ali bin Makhlad Al Jauhari (menceritakan kepada kami) di Baghdad, dia berkata: Harits bin Abu Usamah menceritakan kepada kami, Sa'id bin Amir Adh-Dhab'i menceritakan kepada kami, Muhammad bin Amr bin Alqamah menceritakan kepada kami dari ayahnya, dari kakeknya Alqamah bin Waqqash, dia berkata: Pernah ada seorang laki-laki pemberani yang menemui para amir lalu membuat mereka tertawa. Kakekku lalu berkata, "Celaka kamu wahai fulan, mengapa kamu menemui mereka dan membuat mereka tertawa? Sungguh, aku pernah mendengar Bilal bin Harits Al Muzani, seorang sahabat Rasulullah , menceritakan bahwa Rasulullah  bersabda, 'Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan perkataan yang mendatangkan keridhaan Allah, dia tidak menyangka bahwa kata-kata tersebut akan sampai (kepada ridha Allah), sehingga Allah meridhainya akibat kata-kata tersebut hingga Hari Kiamat. Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan perkataan yang menyebabkan kemurkaan Allah, dia tidak menyangka bahwa kata-kata tersebut sampai (menyebabkan kemurkaan Allah) sehingga Allah murka kepadanya hingga Hari Pembalasan” Hadis ini shahih. Muslim berhujjah dengan Muhammad bin Amr. Sanadnya berasal darinya dan telah diluruskan (di-shahih-kan) oleh Sa'id bin Amir, sebagaimana telah aku sebutkan dengan sanad ali [...]. Begitu pula yang diriwayatkan oleh Sufyan Ats-Tsauri, Ismail bin Ja'far, Abdul Aziz Ad-Darawardi, Muhammad bin Bisyr Al Abdi, dan lainnya. Adapun hadis Ats-Tsauri adalah (HR. Imam Hakim: 136) 

3.8. Suka Mencari Ilmu, Malaikat Akan Ridha Padanya

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2682 digambarkan bahwa Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan menuntunnya menuju surga dan para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya karena ridha; senang kepada pencari ilmu;

حَدَّثَنَا مَحْمُودُ بْنُ خِدَاشٍ الْبَغْدَادِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ رَجَاءِ بْنِ حَيْوَةَ عَنْ قَيْسِ بْنِ كَثِيرٍ قَالَ قَدِمَ رَجُلٌ مِنْ الْمَدِينَةِ عَلَى أَبِي الدَّرْدَاءِ وَهُوَ بِدِمَشْقَ فَقَالَ مَا أَقْدَمَكَ يَا أَخِي فَقَالَ حَدِيثٌ بَلَغَنِي أَنَّكَ تُحَدِّثُهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَمَا جِئْتَ لِحَاجَةٍ قَالَ لَا قَالَ أَمَا قَدِمْتَ لِتِجَارَةٍ قَالَ لَا قَالَ مَا جِئْتُ إِلَّا فِي طَلَبِ هَذَا الْحَدِيثِ قَالَ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَبْتَغِي فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضَاءً لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ حَتَّى الْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ [20]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Mahmud bin Khidasy Al Baghdadi telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yazid Al Washiti telah menceritakan kepada kami Ashim bin Raja` bin Haiwah dari Qais bin Katsir ia berkata; Seseorang dari Madinah mendatangi Abu Darda` di Damaskus, Abu Darda` bertanya; "Apa yang membuatmu datang kemari wahai saudaraku?" Orang itu menjawab: "Satu hadits yang telah sampai kepadaku bahwa anda menceritakannya dari Rasulullah ." Abu Darda` bertanya; "Bukankah kau datang karena keperluan lain?" Orang itu menjawab; "Tidak." Abu Darda` bertanya; "Bukankah kau datang untuk berniaga?" Orang itu menjawab: "Tidak, aku datang hanya untuk mencari hadits tersebut." Abu Darda` berkata; "Aku mendengar Rasulullah  bersabda: "Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan menuntunnya menuju surga dan para malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya karena ridha; senang kepada pencari ilmu, sesungguhnya orang berilmu itu akan dimintakan ampunan oleh (makhluq) yang berada di langit dan di bumi hingga ikan di air, keutamaan orang yang berlilmu atas ahli ibadah laksana keutamaan rembulan atas seluruh bintang, sesungguhnya ulama adalah pewaris pada nabi dan sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, mereka hanya mewariskan ilmu, maka siapa yang mengambilnya berarti ia telah mengambil bagian yang banyak." (HR. Tirmidzi: 2606)

3.9. Bersiwak Karena Sesungguhnya Siwak Dapat Membersihkan Mulut Dan Menjadikan Rabb Ridha

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 289 dinyatakan hendaklah kalian bersiwak, sesungguhnya siwak dapat membersihkan mulut dan menjadikan Rabb ridha;

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ شُعَيْبٍ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي الْعَاتِكَةِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ يَزِيدَ عَنْ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَسَوَّكُوا فَإِنَّ السِّوَاكَ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ مَا جَاءَنِي جِبْرِيلُ إِلَّا أَوْصَانِي بِالسِّوَاكِ حَتَّى لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ يُفْرَضَ عَلَيَّ وَعَلَى أُمَّتِي وَلَوْلَا أَنِّي أَخَافُ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي لَفَرَضْتُهُ لَهُمْ وَإِنِّي لَأَسْتَاكُ حَتَّى لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ أُحْفِيَ مَقَادِمَ فَمِي [21]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Syu'aib berkata, telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu 'Atikah dari Ali bin Yazid dari Al Qasim dari Abu Umamah bahwa Rasulullah  bersabda: "Hendaklah kalian bersiwak, sesungguhnya siwak dapat membersihkan mulut dan menjadikan Rabb ridla. Tidaklah Jibril datang kepadaku kecuali menasihatiku untuk bersiwak hingga aku takut jika hal itu diwajibkan atasku dan umatku. Sekiranya aku tidak khawatir memberatkan umatku sungguh akan aku wajibkan mereka untuk bersiwak. Dan aku selalu bersiwak hingga aku khawatir gigi depanku terkikis."

3.10. Membaca Surat Yasin Pada Malam Hari Karena Mengharap Wajah Allah Atau Mengharap Keridlaan Allah Niscaya Ia Akan Diampuni

Di dalam kitab Sunan Darimi hadits nomor 3458 ditegaskan bahwa Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mengharap wajah Allah atau mengharap keridlaan Allah niscaya ia akan diampuni;

حَدَّثَنَا أَبُو الْوَلِيدِ مُوسَى بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ عَنْ أَبِيهِ قَالَ بَلَغَنِي عَنْ الْحَسَنِ قَالَ مَنْ قَرَأَ يس فِي لَيْلَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ أَوْ مَرْضَاةِ اللَّهِ غُفِرَ لَهُ وَقَالَ بَلَغَنِي أَنَّهَا تَعْدِلُ الْقُرْآنَ كُلَّهُ [22]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Walid Musa bin Khalid telah menceritakan kepada kami Mu'tamir dari ayahnya ia berkata; Telah sampai berita kepadaku dari Al Hasan ia berkata; Barangsiapa yang membaca surat Yasin pada malam hari karena mengharap wajah Allah atau mengharap keridlaan Allah niscaya ia akan diampuni. Ia berkata lagi; Telah sampai berita kepadaku bahwa surat itu menyamai Al Qur'an seluruhnya.

3.11.                Membaca Doa Ketika Shalat Yang Tembus Ke Arsy

Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 774, disebutkan doa yang tidak ada penghalang untuk dapat tembus ke arsy;

حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ الْعَظِيمِ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا شَرِيكٌ عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ عَطَسَ شَابٌّ مِنْ الْأَنْصَارِ خَلْفَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الصَّلَاةِ فَقَالَ الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ حَتَّى يَرْضَى رَبُّنَا وَبَعْدَمَا يَرْضَى مِنْ أَمْرِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ فَلَمَّا انْصَرَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ الْقَائِلُ الْكَلِمَةَ قَالَ فَسَكَتَ الشَّابُّ ثُمَّ قَالَ مَنْ الْقَائِلُ الْكَلِمَةَ فَإِنَّهُ لَمْ يَقُلْ بَأْسًا فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنَا قُلْتُهَا لَمْ أُرِدْ بِهَا إِلَّا خَيْرًا قَالَ مَا تَنَاهَتْ دُونَ عَرْشِ الرَّحْمَنِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى [23]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Al 'Abbas bin Abdul 'Adzim telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Syarik dari 'Ashim bin 'Ubaidullah dari 'Abdullah bin 'Amir bin Rabi'ah dari ayahnya dia berkata; "Seorang pemuda dari Anshar bersin dalam shalat di belakang Rasulullah , lalu dia mengucapkan: " (Segala puji bagi Allah dengan pujian yang banyak, baik, lagi penuh berkah. hingga Rabb kami ridha setelah Dia ridha terhadap urusan dunia dan akhirat)." Seusai shalat, Rasulullah  bertanya: "Siapakah yang mengucapkan kalimat tadi?" Pemuda itu terdiam, lalu beliau bertanya lagi: "Siapakah yang mengucapkan kalimat tadi? Sesungguhnya dia tidak mengatakan sesuatu yang salah!" Maka laki-laki itu menjawab: "Akulah yang mengatakannya wahai Rasulullah! Aku tidak bermaksud kecuali hanya kebaikan." Beliau bersabda: "Tidak ada yang dapat menghalangi kalimat tersebut untuk sampai ke Arsy Ar Rahman Tabaraka wa Ta'ala."

4.  Taqwa Level Ridha

Di dalam Al Quran Surat At-Taubah/ 9: 109 digambarkan bahwa orang yang membangun didasari ketaqwaan dan mengharap ridha Allah itu lebih baik;

أَفَمَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى تَقْوَى مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٍ خَيْرٌ أَمْ مَنْ أَسَّسَ بُنْيَانَهُ عَلَى شَفَا جُرُفٍ هَارٍ فَانْهَارَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya: Maka apakah orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan(-Nya) itu lebih baik, ataukah orang-orang yang mendirikan bangunannya di tepi jurang yang runtuh, lalu (bangunan) itu roboh bersama-sama dengan dia ke dalam neraka Jahanam? Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.

Ayat di atas menggambarkan bahwa orang-orang yang mendirikan bangunan (masjid) atas dasar takwa kepada Allah dan keridaan(-Nya) itu lebih baik, dari ayat tersebut di atas dapat ditarik pengertian bahwa mendirikan bangunan bukan semata mendirikan masjid tetapi juga dapat artikan dengan mendirikan: rumah tangga, usaha, lembaga, komunitas, organisasi, Negara dll, jika didasari karena ketaqwaan dan ridha Allah adalah akan lebih baik hasilnya.

Adapun gambaran yang dapat diperoleh dari Al Quran dan Hadits Rasulullah SAW, mengenai taqwa di level ridha adalah sebagai berikut;

4.1. Ridla Allah Sebagai Rabbnya, Islam Sebagai Diennya, Dan Muhammad Sebagai Rasulnya

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 34, disebutkan Bahwa yang bisa merasakan nikmatnya iman adalah orang yang rela Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai diennya, dan Muhammad sebagai Rasulnya;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ أَبِي عُمَرَ الْمَكِّيُّ وَبِشْرُ بْنُ الْحَكَمِ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ وَهُوَ ابْنُ مُحَمَّدٍ الدَّرَاوَرْدِيُّ عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْهَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا [24]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Abu Umar al-Makki dan Bisyr bin al-Hakam keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz -yaitu Ibnu Muhammad ad-Darawardi- dari Yazid bin al-Had dari Muhammad bin Ibrahim dari Amir bin Sa'ad dari al-Abbas bin Abdul Muththalib bahwa dia mendengar Rasulullah  bersabda: "Orang yang ridla dengan Allah sebagai Rabb dan Islam sebagai agama serta Muhammad sebagai Rasul, maka dia telah merasakan nikmatnya iman."

4.2. Di Wajahnya Tampak Bekas Sujud, Karena Sujudnya Mengharap Ridha Allah

Di dalam Al Quran surat Al-Fath (48): 29 tergambar bahwa Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud

مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar. (QS. Al-Fath (48): 29)

4.3. Bersyukur

Di dalam Al Quran surat Az-Zumar/ 39: 7 ditegaskan jika kamu bersyukur Allah akan meridhaimu;

إِنْ تَكْفُرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ عَنْكُمْ وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ وَإِنْ تَشْكُرُوا يَرْضَهُ لَكُمْ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَى ثُمَّ إِلَى رَبِّكُمْ مَرْجِعُكُمْ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ إِنَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ

Artinya: Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya; dan jika kamu bersyukur, niscaya Dia meridhai bagimu kesyukuranmu itu; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan dalam (dada)mu.(QS. Az-Zumar/ 39: 7)

Dari ayat tersebut dapat ditarik pengertian bahwa bersyukur merupakan bentuk keridhaan, sehingga akan mendapat keridhaan Allah.

4.4. Jiwa Yang Tenang, Percaya Dengan Perjumpaan Dengan Allah, Ridha Dengan Keputusan Allah Dan Menerima Dengan Tulus Pemberian-Nya.

Dalam kitab Mu’jam Al-Kabir Li Al-Thabarani hadis nomor 7490, dijelaskan bahwa nabi mengajarkan kepada seseorang untuk berdoa; ya Allah aku memohon kepada-Mu. ridla dengan keputusan-Mu dan menerima dengan tulus pemberian-Mu;

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ جَرِيرٍ الصُّورِيُّ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ الْغَفَّارِ الْبَيْرُوتِيُّ، حَدَّثَتْنِي رَوَاحَةُ بِنْتُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو الْأَوْزَاعِيُّ، حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ: سَمِعْتُ سُلَيْمَانَ بْنَ حَبِيبٍ الْمُحَارِبِيَّ يَقُولُ: حَدَّثَنِي أَبُو أُمَامَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ لِرَجُلٍ: «اللهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ نَفْسًا بِكَ مُطْمَئِنَّةً، تُؤْمِنُ بِلِقَائِكَ، وَتَرْضَى بِقَضَائِكَ، وَتَقْنَعُ بِعَطَائِكَ» [25]

Artinya: Menceritakan kepadaku Al Hasan Ibnu Jari Al Shawary dari Abdur Rahman ibnu Abdul Ghafar Al Bairuty menceritakan kepadaku Rawwahah binti Abdu Rahman ibnu Abu Amr Al-Auza'i, telah meriwayatkan dari ayahnya, bahwa telah menceritakan kepadaku Sulaiman ibnu Habib Al-Muharibi, telah menceritakan kepadaku Abu Umamah, bahwa Rasulullah . bersabda kepada seorang lelaki: Katakanlah, "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu jiwa yang hanya tenang kepada Engkau, beriman kepada hari berjumpa dengan-Mu, dan ridla dengan keputusan-Mu dan menerima dengan tulus pemberian-Mu.

4.5. Mensyukuri Nikmat Allah Yang Telah Dianugerahkan Kepadanya Dan Kepada Dua Orang Ibu Bapaknya Dan Mengerjakan Amal Saleh Yang Allah Ridlai

Di dalam Al Quran Surat An-Naml/ 27: 19, disebutkan doa Nabi Sulaiman; Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridlai

فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Artinya: maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridlai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".(QS. An-Naml/ 27: 19)

Sedangkan di dalam Al Quran surat Al-Ahqaaf/ 46: 15 juga disebutkan do’a: Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya: Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri".(QS. Al-Ahqaaf/ 46: 15)

4.6. Mencari Keridhaan Allah Dengan Perbuatan (Baik) Yang Menimbulkan Kebencian Manusia, Niscaya Allah Meridhainya Dan Akan Menanamkan Keridhaan Manusia Kepadanya

Di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 276 dinyatakan siapa yang mencari keridhaan Allah dengan perbuatan (baik) yang menimbulkan kebencian manusia, niscaya Allah meridhainya dan akan menanamkan keridhaan manusia kepadanya;

أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ الْجُعْفِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ الْمُحَارِبِيُّ، عَنْ عُثْمَانَ بْنِ وَاقِدٍ الْعُمَرِيِّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ مَنِ الْتَمَسَ رِضَى اللهِ بِسَخَطِ النَّاسِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، وَأَرْضَى النَّاسَ عَنْهُ، وَمَنِ الْتَمَسَ رِضَا النَّاسِ بِسَخَطِ اللهِ سَخَطَ اللَّهُ عَلَيْهِ، وَأَسْخَطَ عَلَيْهِ النَّاسَ‏ [26]

Artinya: Hasan bin Sufyan mengabarkan kepada kami, dia berkata: Abdullah bin Umar Al Ju’fi menceritakan kepada kami, dia berkata: Abdurrahman Al Muharabi menceritakan kepada kami, dari Utsman bin Waqid Al Umari dari ayahnya dari Muhamamd bin Al Munkadir dari Urwah dari Aisyah, ia berkata: Rasulullah  bersabda, “Siapa yang mencari keridhaan Allah dengan perbuatan (baik) yang menimbulkan kebencian manusia, niscaya Allah meridhainya dan akan menanamkan keridhaan manusia kepadanya. Dan siapa yang mencari keridhaan manusia dengan perbuatan yang menimbulkan kebencian Allah, niscaya Allah membencinya dan akan menanamkan kebencian manusia kepadanya.”

4.7. Mengharap Ridha Rasulullah .

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2574 digambarkan Sahabat Rasulullah memberikan hadiah terbaik kepada Rasulullah di hari pernikahannya dengan ‘Aisyah, untuk mengharap ridha Rasulullah SAW.

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا عَبْدَةُ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ النَّاسَ كَانُوا يَتَحَرَّوْنَ بِهَدَايَاهُمْ يَوْمَ عَائِشَةَ يَبْتَغُونَ بِهَا أَوْ يَبْتَغُونَ بِذَلِكَ مَرْضَاةَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [27]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Musa telah menceritakan kepada kami 'Abdah telah menceritakan kepada kami Hisyam dari bapaknya dari 'Aisyah radliallahu 'anha bahwa orang-orang memilih barang yang terbaik sebagai hadiah dari mereka untuk hari pernikahan 'Aisyah dengan tujuan mengharap ridha Rasulullah .

4.8. Allah Dan Rasulnya Lebih Berhak Engkau Ridha Kepadanya

Di dalam Al Quran surat At-Taubah/ 9: 62 ditegaskan bahwa Allah dan Rasulullah SAW lebih berhak engkau ridha kepadanya;

يَحْلِفُونَ بِاللَّهِ لَكُمْ لِيُرْضُوكُمْ وَاللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَقُّ أَنْ يُرْضُوهُ إِنْ كَانُوا مُؤْمِنِينَ

Artinya: Mereka bersumpah kepada kamu dengan (nama) Allah untuk mencari keridhaanmu, padahal Allah dan Rasul-Nya itulah yang lebih patut mereka cari keridhaannya jika mereka adalah orang-orang yang mukmin.(QS. At-Taubah/ 9: 62)

4.9. Ridha Kepada Allah Dan Rasul-Nya

Di dalam kitab Al-Du’a Li Al-Thabarani hadits nomor 235 digambarkan bahwa Fathimah RA berkata; aku ridha kepada Allah dan RasulNya ;

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الرَّقَاشِيُّ، ثنا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ، عَنْ سَعِيدٍ الْجُرَيْرِيِّ، عَنْ أَبِي الْوَرْدِ، عَنِ ابْنِ أَعْبُدٍ، قَالَ: قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ رضي الله عنه: يَا ابْنَ أَعْبُدٍ، هَلْ تَدْرِي مَا حَقُّ الطَّعَامِ إِذَا طَعِمْتَ؟ قُلْتُ: وَمَا حَقُّهُ يَا ابْنَ أَبِي طَالِبٍ؟ قَالَ: أَنْ تَقُولَ بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيمَا رَزَقْتَنَا، وَهَلْ تَدْرِي مَا شُكْرُهُ إِذَا فَرَغْتَ؟ قُلْتُ: وَمَا شُكْرُهُ؟ قَالَ: شُكْرُهُ أَنْ تَقُولَ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَطْعَمَنَا وَسَقَانَا، ثُمَّ قَالَ: أَلَا أُخْبِرُكَ عَنِّي وَعَنْ فَاطِمَةَ بِنْتِ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ كَانَتْ مِنْ أَكْرَمِ أَهْلِهِ عَلَيْهِ، وَكَانَتْ زَوْجَتِي فَرَحَّتِ الرَّحَا حَتَّى أَثَّرَ الرَّحَا بِيَدِهَا، وَاسْتَقَتْ بِالْقِرْبَةِ حَتَّى أَثَّرَتِ الْقِرْبَةُ بِنَحْرِهَا، وَقَمَّتِ الْبَيْتَ حَتَّى اغْبَرَّتْ ثِيَابُهَا، وَأَوْقَدَتْ تَحْتَ الْقَدْرِ حَتَّى دَنِسَتْ ثِيَابُهَا فَأَصَابَهَا مِنْ ذَلِكَ الضُّرُّ، قَالَ: وَقَدِمَ )٩٦( عَلَى رَسُولِ اللَّهِ ﷺ خَدَمٌ أَوْ سَبْي، فَقُلْتُ لَهَا: لَوْ أَتَيْتِ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَسَأَلْتِيهِ خَادِمًا يُعِينُكِ عَلَى مَا أَنْتِ فِيهِ، قَالَ: فَانْطَلَقَتْ وَرَجَعَتْ وَلَمْ تَسْأَلْهُ فَغَدَا عَلَيْهَا وَكَانَ يَفْعَلُ فَقَالَ: «السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَأَدْخُلُ؟» قَالَ: وَنَحْنُ فِي لُفُعِنَا فَاسْتَحْيَيْنَا مِنْ مَكَانِنَا، فَمَكَثْنَا، فَأَعَادَ الْقَوْلَ فَقَالَ: «السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَأَدْخُلُ؟» فَرَهِبْنَا - أَوْ قَالَ رَهِبْتُ - أَنْ يُعِيدَ الثَّالِثَةَ فَنَسْكُتُ وَيَسْكُتُ، قَالَ: فَقُلْتُ وَعَلَيْكَ السَّلَامُ ادْخُلْ، قَالَ: فَدَخَلَ فَقَعَدَ عِنْدَ رُءُوسِنَا فَاسْتَحْيَتْ فَاطِمَةُ مِنْ مَكَانِهَا فَأَدْخَلَتْ رَأْسَهَا فِي لُفُعِهَا فَقَالَ: «يَا فَاطِمَةُ إِنَّكِ جِئْتَنِي أَمْسِ، فَمَا كَانَتْ حَاجَتُكِ إِلَى آلِ مُحَمَّدٍ» فَسَكَتَتْ، فَأَعَادَ عَلَيْهَا فَسَكَتَتْ فَرَهِبَتْ أَنْ يُعِيدَ الثَّالِثَةَ فَتَسْكُتُ، فَقَصَصْتُ عَلَيْهِ الْقِصَّةَ وَأَنَّهُ بَلَغَهَا أَنَّهُ قَدِمَ عَلَيْكَ خَدَمٌ أَوْ سَبْي فَقُلْتُ لَهَا: لَوْ أَتَيْتِ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ فَسَأَلْتِيهِ خَادِمًا يُعِينُكِ عَلَى مَا أَنْتِ فِيهِ فَانْطَلَقَتْ فَاسْتَحْيَتْ، فَرَجَعَتْ وَلَمْ تَسْأَلْكَ، فَقَالَ: «يَا فَاطِمَةُ اتَّقِي اللَّهَ عز وجل وَاعْمَلِي عَمَلَ أَهْلِكِ، أَلَا أَدُلُّكِ عَلَى مَا هُوَ خَيْرٌ مِنْ ذَلِكَ، إِذَا أَوَيْتِ إِلَى فِرَاشِكِ فَسَبِّحِي اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَاحْمَدِيهِ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ، وَكَبِّرِيهِ أَرْبَعًا وَثَلَاثِينَ» فَأَخْرَجَتْ رَأْسَهَا مِنْ لُفُعِهَا وَقَالَتْ: رَضِيتُ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى وَعَنْ رَسُولِهِ، رَضِيتُ عَنِ اللَّهِ تَعَالَى وَرَسُولِهِ [28]

Artinya: Diriwayatkan dari ‘Ali bin ‘Abd al-‘Azīz, dari Muammad bin ‘Abdillāh ar-Raqqāsyī, dari ‘Abdul Wāid bin Ziyād, dari Sa‘īd al-Jurayrī, dari Abī al-Ward, dari Ibn A‘bud, ia berkata: ‘Ali bin Abī ālib ra. berkata kepadaku, “Wahai Ibn A‘bud, tahukah engkau apa hak makanan ketika engkau memakannya?” Aku menjawab, “Apa haknya, wahai Ibn Abī ālib?” Beliau berkata, “Engkau mengucapkan: *Bismillāh, Allahumma bārik lanā fīmā razaqtanā.* Dan tahukah engkau apa syukurnya ketika engkau selesai makan?” Aku bertanya, “Apa syukurnya?” Beliau menjawab, “Syukurnya adalah engkau mengucapkan: *Alhamdulillāh alladzī a‘amanā wa saqānā.*” Kemudian beliau berkata, “Maukah aku ceritakan kepadamu tentang aku dan Fāimah binti Rasulullah  ? Ia adalah orang yang paling dimuliakan oleh beliau, dan ia adalah istriku. Ia memutar penggiling gandum hingga tangannya terluka, ia membawa air dengan qirbah hingga bekas talinya tampak di lehernya, ia membersihkan rumah hingga pakaiannya berdebu, dan ia menyalakan api di bawah periuk hingga pakaiannya kotor; semua itu membuatnya sangat letih.” Beliau melanjutkan, “Kemudian datanglah beberapa budak atau tawanan kepada Rasulullah , lalu aku berkata kepadanya: ‘Seandainya engkau mendatangi Rasulullah  dan meminta seorang pembantu untuk meringankan pekerjaanmu.’ Ia pun pergi namun kembali tanpa bertanya. Keesokan paginya Rasulullah  mendatangi kami, sebagaimana biasanya beliau lakukan, lalu beliau memberi salam, ‘Assalāmu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?’ Saat itu kami berada dalam keadaan seadanya dan malu karena kondisi kami, sehingga kami diam; beliau mengulangi salamnya, ‘Assalāmu ‘alaikum, bolehkah aku masuk?’ Maka aku khawatir beliau mengulanginya untuk ketiga kali sementara kami tetap diam, lalu aku menjawab, ‘Wa ‘alaikas salām, masuklah.’ Beliau masuk dan duduk di dekat kepala kami; Fāimah malu dan menutupi kepalanya dengan selimut. Beliau bersabda, ‘Wahai Fāimah, engkau telah datang kepadaku kemarin; apakah keperluanmu kepada keluarga Muammad?’ Namun ia diam. Beliau mengulangi pertanyaannya namun ia tetap diam karena malu, lalu aku menceritakan keadaan Fāimah, dan bahwa ia mendengar ada budak atau tawanan datang kepadamu sehingga aku menyarankannya meminta seorang pembantu. Maka Rasulullah  bersabda, ‘Wahai Fāimah, bertakwalah kepada Allah dan lakukan pekerjaan keluargamu. Maukah aku tunjukkan sesuatu yang lebih baik daripada seorang pembantu? Jika engkau telah berbaring di tempat tidurmu, maka bertasbihlah kepada Allah tiga puluh tiga kali, memujilah tiga puluh tiga kali, dan bertakbirlah tiga puluh empat kali.’” Mendengar itu, Fāimah mengeluarkan kepalanya dari selimut lalu berkata, “Aku ridha kepada Allah Ta‘ālā dan kepada Rasul-Nya; aku ridha kepada Allah Ta‘ālā dan Rasul-Nya.”

4.10. Ridha Dengan Pembagian Allah

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2305 dinyatakan terimalah pemberian Allah dengan rela niscaya kau menjadi orang terkaya;

حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ هِلَالٍ الصَّوَّافُ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ أَبِي طَارِقٍ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَأْخُذُ عَنِّي هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ فَيَعْمَلُ بِهِنَّ أَوْ يُعَلِّمُ مَنْ يَعْمَلُ بِهِنَّ فَقَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ فَقُلْتُ أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَأَخَذَ بِيَدِي فَعَدَّ خَمْسًا وَقَالَ اتَّقِ الْمَحَارِمَ تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَارْضَ بِمَا قَسَمَ اللَّهُ لَكَ تَكُنْ أَغْنَى النَّاسِ وَأَحْسِنْ إِلَى جَارِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُسْلِمًا وَلَا تُكْثِرْ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَهَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ، لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ جَعْفَرِ بْنِ سُلَيْمَانَ، وَالْحَسَنُ لَمْ يَسْمَعْ مِنْ أَبِي هُرَيْرَةَ شَيْئًا، هَكَذَا رُوِيَ عَنْ أَيُّوبَ وَيُونُسَ بْنِ عُبَيْدٍ وَعَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ وَرَوَى أَبُو عُبَيْدَةَ النَّاجِيُّ عَنِ الْحَسَنِ هَذَا الْحَدِيثَ قَوْلَهُ، وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ: عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ. [29]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Hilal Ash Shawwaf Al Bashri telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Sulaiman dari Abu Thariq dari Al Hasan dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah  bersabda: "Siapa yang mau mengambil kalimat-kalimat itu dariku lalu mengamalkannya atau mengajarkan pada orang yang mengamalkannya?" Abu Hurairah menjawab: Saya, wahai Rasulullah. beliau meraih tanganku lalu menyebut lima hal; jagalah dirimu dari keharaman-keharaman niscaya kamu menjadi orang yang paling ahli ibadah, terimalah pemberian Allah dengan rela niscaya kau menjadi orang terkaya, berbuat baiklah terhadap tetanggamu niscaya kamu menjadi orang mu`min, cintailah untuk sesama seperti yang kau cintai untuk dirimu sendiri niscaya kau menjadi orang muslim, jangan sering tertawa karena seringnya tertawa itu mematikan hati." Berkata Abu Isa: Hadits ini gharib, kami hanya mengetahuinya dari hadits Ja'far bin Sulaiman dan Al Hasan tidak mendengar apa pun dari Abu Hurairah. Seperti itulah diriwayatkan dari Ayyub, Yunus bin 'Ubaid, 'Ali bin Zaid, mereka berkata: Al Hasan tidak mendengar dari Abu Hurairah. Dan Abu 'Ubaidah An Naji meriwayatkan perkataan Al Hasan pada hadits ini dan ia tidak menyebutkan dari Abu Hurairah dari nabi .

4.11. Tidak Berkata Kecuali Perkataan Yang Diridhai Oleh Allah SWT

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 1303 dinyatakan kedua mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita;

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ حَسَّانَ حَدَّثَنَا قُرَيْشٌ هُوَ ابْنُ حَيَّانَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ  دَخَلْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى أَبِي سَيْفٍ الْقَيْنِ وَكَانَ ظِئْرًا لِإِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام فَأَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِبْرَاهِيمَ فَقَبَّلَهُ وَشَمَّهُ ثُمَّ دَخَلْنَا عَلَيْهِ بَعْدَ ذَلِكَ وَإِبْرَاهِيمُ يَجُودُ بِنَفْسِهِ فَجَعَلَتْ عَيْنَا رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَذْرِفَانِ فَقَالَ لَهُ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ وَأَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ يَا ابْنَ عَوْفٍ إِنَّهَا رَحْمَةٌ ثُمَّ أَتْبَعَهَا بِأُخْرَى فَقَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ وَالْقَلْبَ يَحْزَنُ وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يَرْضَى رَبُّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لَمَحْزُونُونَ رَوَاهُ مُوسَى عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ المُغِيرَةِ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [30]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin 'Abdul 'Aziz telah menceritakan kepada kami Yahya bin Hassan telah menceritakan kepada kami Quraisy dia adalah Ibnu Hayyan dari Tsabit dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu berkata; Kami bersama Rasulullah  mendatangi Abu Saif Al Qaiyn yang (isterinya) telah mengasuh dan menyusui Ibrahim 'alaihissalam (putra Nabi . Lalu Rasulullah  mengambil Ibrahim dan menciumnya. Kemudian setelah itu pada kesempatan yang lain kami mengunjunginya sedangkan Ibrahim telah meninggal. Hal ini menyebabkan kedua mata Rasulullah  berlinang air mata. Lalu berkatalah 'Abdurrahman bin 'Auf radliallahu 'anhu kepada Beliau: "Mengapa anda menangis, wahai Rasulullah?". Beliau menjawab: "Wahai Ibnu 'Auf, sesungguhnya ini adalah rahmat (tangisan kasih sayang) ". Beliau lalu melanjutkan dengan kalimat yang lain dan bersabda: "Kedua mata boleh mencucurkan air mata, hati boleh bersedih, hanya kita tidaklah mengatakan kecuali apa yang diridhai oleh Rabb kita. Dan kami dengan perpisahan ini wahai Ibrahim pastilah bersedih". Dan diriwayatkan oleh Musa dari Sulaiman bin Al Mughirah dari Tsabit dari Anas bin Malik radliallahu 'anhu dari Nabi 

4.12. Mencari Karunia Dari Allah Dan Keridhaan-Nya Dan Menolong Allah Dan Rasul-Nya

Di dalam Al Quran surat Al-Hasyr/ 59: 8 digambarkan bahwa Muhajirin terusir dari kampunya untuk mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya

لِلْفُقَرَاءِ الْمُهَاجِرِينَ الَّذِينَ أُخْرِجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ وَأَمْوَالِهِمْ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا وَيَنْصُرُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Artinya: (Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al-Hasyr/ 59: 8)

4.13. Khasyah (Takut) Kepada Allah, Allah Ridla Kepada Mereka Dan Mereka Ridla Kepada Allah

Di dalam Al Quran Surat Al-Bayyinah/ 98: 8, dijelaskan bahwa surga adn sebagai balasan bagi hamba yang khasya (takut) kepada Allah, Allah ridla kepada mereka dan mereka ridla kepada Allah SWT;

جَزَاؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Artinya: Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridla terhadap mereka dan merekapun ridla kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.(HR. Al-Bayyinah/ 98: 8)

4.14.   Beriman Dengan Taqdir Yang Baik Maupun Yang Buruk

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22705 digambarkan bahwa tidak akan merasakan lezatnya iman dan tidak pula sampai kepada kebenaran hakikat ilmu tentang Allah tabaaroka wa ta'aala sehingga kamu beriman dengan taqdir yang baik maupun yang buruk;

حَدَّثَنَا أَبُو الْعَلَاءِ الْحَسَنُ بْنُ سَوَّارٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ مُعَاوِيَةَ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ زِيَادٍ حَدَّثَنِي عُبَادَةُ بْنُ الْوَلِيدِ بْنِ عُبَادَةَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ  دَخَلْتُ عَلَى عُبَادَةَ وَهُوَ مَرِيضٌ أَتَخَايَلُ فِيهِ الْمَوْتَ فَقُلْتُ يَا أَبَتَاهُ أَوْصِنِي وَاجْتَهِدْ لِي فَقَالَ أَجْلِسُونِي قَالَ يَا بُنَيَّ إِنَّكَ لَنْ تَطْعَمَ طَعْمَ الْإِيمَانِ وَلَنْ تَبْلُغْ حَقَّ حَقِيقَةِ الْعِلْمِ بِاللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ قُلْتُ يَا أَبَتَاهُ فَكَيْفَ لِي أَنْ أَعْلَمَ مَا خَيْرُ الْقَدَرِ وَشَرُّهُ قَالَ تَعْلَمُ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْقَلَمُ ثُمَّ قَالَ اكْتُبْ فَجَرَى فِي تِلْكَ السَّاعَةِ بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ يَا بُنَيَّ إِنْ مِتَّ وَلَسْتَ عَلَى ذَلِكَ دَخَلْتَ النَّارَ [31]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Al 'Alla` Al Hasan bin Sawwar telah bercerita kepada kami Laits dari Mu'awiyah dari Ayyub bin Ziyad telah bercerita kepadaku 'Ubadah bin Al Walid bin 'Ubadah telah bercerita kepadaku ayahku, ia berkata; aku menemui 'Ubadah bin Ash Shamit ketika ia sedang sakit, aku membayangkan kematian pada dirinya, aku berkata: Wahai ayah, berwasiatlah kepadaku, dan bersungguh-sungguhlah dalam berwasiat kepadaku. Ia berkata: Dudukkan saya. ia berkata: Wahai anakku, kamu tidak akan merasakan lezatnya iman dan tidak pula sampai kepada kebenaran hakikat ilmu tentang Allah Tabaaroka wa Ta'aala sehingga kamu beriman dengan taqdir yang baik maupun yang buruk. Aku berkata: Wahai ayah bagaimana saya bisa mengetahui taqdir yang baik dan taqdir yang buruk? ayahku menjelaskan: Yaitu hendaknya kamu mengetahui bahwasanya apa saja yang tidak akan mengenaimu tidak akan menimpamu dan apa saja yang mengenaimu pasti tidak meleset darimu, wahai anakku, saya mendengar Rasulullah  bersabda: "Sesuatu yang Allah Tabaaroka wa Ta'aala cipta pertama kali adalah pena, kemudian Allah ta'ala berfirman: "Tulislah, " maka pada saat itu pula diberlakukan apa saja yang terjadi hingga hari kiamat, wahai anakku jika kamu meninggal dalam keadaan tidak beriman terhadap yang demikian, maka kamu masuk ke dalam neraka".

4.15. Penyantun

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 16805 digambarkan bahwa Allah Azzawajalla Maha Penyantun, menyukai kasih sayang dan meridhainya;

قَالَ حَدَّثَنَا أَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ قَالَ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ يُونُسَ عَنِ الْحَسَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ رَفِيقٌ يُحِبُّ الرِّفْقَ وَيَرْضَاهُ وَيُعْطِي عَلَى الرِّفْقِ مَا لَا يُعْطِي عَلَى الْعُنْفِ [32] 

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Aswad bin 'Amr berkata; telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Yunus dari Al Hasan dari Abdullah bin Mughaffal dari Nabi  bersabda: "Sesungguhnya Allah Azzawajalla Maha Penyantun, menyukai kasih sayang dan meridlainya, memberi suatu hal kepada orang yang santun yang tidak diberikan-Nya kepada orang yang bengis."

4.16. Meninggal Dunia Dalam Keadaan Ikhlas Kepada Allah, Beribadah Kepada-Nya Dan Tidak Menyekutukan-Nya, Menegakkan Shalat Dan Menunaikan Zakat

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 70 dinyatakan bahwa orang yang meninggal dunia dalam keadaan ikhlas kepada Allah, beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya, menegakkan shalat dan menunaikan zakat, maka ia meninggal dalam keridlaan Allah;

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو أَحْمَدَ حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ عَنْ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ فَارَقَ الدُّنْيَا عَلَى الْإِخْلَاصِ لِلَّهِ وَحْدَهُ وَعِبَادَتِهِ لَا شَرِيكَ لَهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ مَاتَ وَاللَّهُ عَنْهُ رَاضٍ, قَالَ أَنَسٌ وَهُوَ دِينُ اللَّهِ الَّذِي جَاءَتْ بِهِ الرُّسُلُ وَبَلَّغُوهُ عَنْ رَبِّهِمْ قَبْلَ هَرْجِ الْأَحَادِيثِ وَاخْتِلَافِ الْأَهْوَاءِ وَتَصْدِيقُ ذَلِكَ فِي كِتَابِ اللَّهِ فِي آخِرِ مَا نَزَلَ يَقُولُ اللَّهُ "فَإِنْ تَابُوا ", قَالَ خَلْعُ الْأَوْثَانِ وَعِبَادَتِهَا " وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوْا الزَّكَاةَ", وَقَالَ فِي آيَةٍ أُخْرَى " فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوْا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ", حَدَّثَنَا أَبُو حَاتِمٍ حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى الْعَبْسِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ عَنْ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ مِثْلَهُ [33]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali Al Jahdlami berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Ahmad berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Ja'far Ar Razi dari Rabi' bin Anas dari Anas bin Malik ia berkata; Rasulullah  bersabda: " Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan ikhlas kepada Allah, beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya, menegakkan shalat dan menunaikan zakat, maka ia meninggal dalam keridlaan Allah." Anas berkata; "Itulah agama Allah yang dibawa oleh para Rasul, mereka menyampaikannya dari Rabb mereka sebelum kacau balaunya pembicaraan dan perselisihan hawa nafsu. Yang demikian itu terdapat dalam kitabullah diakhir ayat yang diturunkan, Allah berfirman: "Sekiranya mereka bertaubat -Anas berkata; menanggalkan berhala-berhala dan penghambaannya-, menegakkan shalat dan menunaikan zakat." Dalam firman-Nya yang lain: "Jikalau mereka bertaubat, menegakkan shalat, menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara-saudara kalian di dalam Dien." Telah menceritakan kepada kami Abu Hatim berkata, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Musa Al 'Absi berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Ja'far Ar Razi dari Ar Rabi' bin Anas seperti hadits di atas.

4.17.  Wanita Yang meninggal Dunia Suaminya Ridha Masuk Surga

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 1161 digambarkan bahwa wanita yang meninggal dunia suaminya dalam keadaan ridha akan dimasukkan Surga;

حَدَّثَنَا وَاصِلُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ فُضَيْلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَبِي نَصْرٍ عَنْ مُسَاوِرٍ الْحِمْيَرِيِّ عَنْ أُمِّهِ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّمَا امْرَأَةٍ مَاتَتْ وَزَوْجُهَا عَنْهَا رَاضٍ دَخَلَتْ الْجَنَّةَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ [34]

Artinya: Wasil bin Abdul Ala mengatakan, Muhammad bin Fudail mengatakan, dari Abdullah bin Abdul Rahman Abu Nasr, dari Musawir al-Himyari, dari ibunya, dari Ummu Salamah, bahwa Rasulullah  bersabda: "Setiap wanita yang meninggal dalam keadaan suaminya ridha terhadapnya, dia akan masuk Surga." Abu Isa  berkata: "Hadis ini adalah hadis hasan gharib."

4.18. Berdoa Agar Berkata Dengan Benar Diwaktu Ridla Atau Marah

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 18325 disebutkan permohonan doa: Aku memohon pada-Mu agar dapat berkata dengan benar diwaktu ridla atau marah;

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ الْأَزْرَقُ عَنْ شَرِيكٍ عَنْ أَبِي هَاشِمٍ عَنْ أَبِي مِجْلَزٍ قَالَ صَلَّى بِنَا عَمَّارٌ صَلَاةً فَأَوْجَزَ فِيهَا فَأَنْكَرُوا ذَلِكَ فَقَالَ أَلَمْ أُتِمَّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ قَالُوا بَلَى قَالَ أَمَا إِنِّي قَدْ دَعَوْتُ فِيهِمَا بِدُعَاءٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو بِهِ اللَّهُمَّ بِعِلْمِكَ الْغَيْبَ وَقُدْرَتِكَ عَلَى الْخَلْقِ أَحْيِنِي مَا عَلِمْتَ الْحَيَاةَ خَيْرًا لِي وَتَوَفَّنِي إِذَا كَانَتْ الْوَفَاةُ خَيْرًا لِي أَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ وَكَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا وَالْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى وَلَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ وَالشَّوْقَ إِلَى لِقَائِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ ضَرَّاءَ مُضِرَّةٍ وَمِنْ فِتْنَةٍ مُضِلَّةٍ اللَّهُمَّ زَيِّنَّا بِزِينَةِ الْإِيمَانِ وَاجْعَلْنَا هُدَاةً مَهْدِيِّينَ [35]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ishaq Al Azraq dari Syarik dari Abu Hasyim dari Abu Mijlaz ia berkata, " Ammar pernah shalat bersama kami dan ia menunaikannya denan ringgkas, lalu orang-orang pun mengingkarinya. Maka Ammar bertanya, "Bukankah aku telah menyempurnakan rukuk dan sujud?" mereka menjawab, "Benar." Ammar berkata, "Sesungguhnya dalam dua rakaat itu, aku telah berdo'a dengan do'a yang Rasulullah  pernah berdo'a dengannya, Ya Allah, dengan ilmu-Mu atas yang ghaib, dan dengan kemahakuasaan-Mu atas seluruh makhluk, hidupkanlah aku jika Engkau mengetahui bahwa hidup lebih baik bagiku, dan matikanlah aku jika Engkau mengetahui bahwa kematian itu lebih baik bagiku. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pada-Mu agar aku takut pada-Mu dalam keadaan sembunyi atau ramai. Aku memohon pada-Mu agar dapat berkata dengan benar diwaktu ridla atau marah. Aku minta kepada-Mu agar dapat melaksanakan kesederhanaan dalam keadaan kaya atau fakir serta kenikmatan memandang wajah-Mu (di surga), rindu bertemu dengan-Mu. Aku berlindung kepada-Mu dari penderitaan yang membahayakan dan fitnah yang menyesatkan. Ya Allah, hiasilah kami dengan iman, dan jadikanlah kami sebagai penunjuk (jalan) yang lurus yang memperoleh bimbingan dari-Mu).'" 

4.19. Berdoa 'Ya Allah, Aku Berlindung Dengan Ridhamu Dari Bahaya Murkamu

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 486 disebutkan doa: Ya Allah, aku berlindung dengan ridha-Mu dari bahaya murka-Mu;

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ حَدَّثَنِي عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ فَقَدْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْلَةً مِنْ الْفِرَاشِ فَالْتَمَسْتُهُ فَوَقَعَتْ يَدِي عَلَى بَطْنِ قَدَمَيْهِ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ وَهُمَا مَنْصُوبَتَانِ وَهُوَ يَقُولُ اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنْ سَخَطِكَ وَبِمُعَافَاتِكَ مِنْ عُقُوبَتِكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْكَ لَا أُحْصِي ثَنَاءً عَلَيْكَ أَنْتَ كَمَا أَثْنَيْتَ عَلَى نَفْسِكَ [36]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Usamah telah menceritakan kepadaku Ubaidullah bin Umar dari Muhammad bin Yahya bin Habban dari al-A'raj dari Abu Hurairah ra dari Aisyah ra dia berkata, "Aku kehilangan Rasulullah  pada suatu malam dari kasur peraduanku, lalu aku mencarinya, lalu tanganku mendapatkan bagian luar kedua telapak kakinya dalam keadaan beliau berada di masjid. Kedua telapak kakinya tegak lurus, dan beliau berdoa, 'Ya Allah, aku berlindung dengan ridhaMu dari bahaya murkaMu, dan berlindung dengan ampunanMu dari bahaya hukumanMu, dan aku berlindung kepadaMu dar adzabMu, aku tidak bisa menghitung pujian atasMu. Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji atas diriMu'."

4.20. Berdoa Karuniakanlah Kepadaku Ketajaman Pandangan Dalam Hal-Hal Yang Engkau Ridhai Dan Karuniakanlah Agar Aku Dapat Membaca Al Quran Dengan Cara Yang Engkau Ridhai.

Di dalam kitab Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain hadits nomor 1203 digambarkan doa untuk mohon: karuniakanlah kepadaku ketajaman pandangan dalam hal-hal yang Engkau ridhai dan karuniakanlah agar aku dapat membaca Al Quran dengan cara yang Engkau ridhai ..;

أخبرنا أَبُو النَّضْرِ مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْفَقِيهُ وَأَبُو الْحَسَنِ أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْعَنَزِيُّ، قَالَا: ثَنَا عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدِ الدَّارِمِيُّ.وَحَدَّثَنِي أَبُو بَكْرِ مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ الْمُزَكِّي، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْعَبْدِيُّ، قَالَا: ثَنَا أَبُو أَيُّوبَ سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدِّمَشْقِيُّ، ثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، ثَنَا ابْنُ جُرَيْجٍ، عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ وَعِكْرِمَةَ مَوْلَى ابْنِ عَبَاسِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أنَّهُ بَيْنَا هُوَ جَالِسٌ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ، إِذْ جَاءَهُ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ، فَقَالَ: بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّى يَا رَسُولَ اللهِ، تَفَلَّتَ هَذَا الْقُرْآن مِنْ صَدْرِي، فَمَا أجِدُنِي أَقْدِرُ عَلَيْهِ. فَقَالَ لَهُّ رَسُولُ اللهِ ﷺ: "أَبَا الْحَسَنِ، أَفَلَا أُعَلِّمُكَ كلِمَاتٍ يَنْفَعُكَ اللهُ بِهِنَّ، وَيَنْفَعُ بِهِنَّ مَنْ عَلَّمْتَهُ، وَيُثَبِّتُ مَا تَعَلَّمْتَهُ فِي صَدْرِكَ؟ ". قَالَ: أجَلْ يَا رَسُولَ اللهِ، فَعَلِّمْنِى. قَالَ: "إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ، فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَن تَقُومَ فِي ثُلُثِ اللَّيْلِ الآخِرِ، فَإِنَّهَا سَاعَةٌ مَشْهُودَةٌ، وَالدُّعَاءُ فِيهَا مُسْتَجَابٌ، وَهِيَ قَوْلُ أَخِي يَعْقُوبَ لِبَنِيهِ: ﴿سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي﴾، حَتَّى تَأْتِيَ لَيْلَةُ الْجُمُعَةِ، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقُمْ فِي وَسَطِهَا، فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقمْ فِي أَوَّلَهَا، فَصَلِّ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ، تَقْرَأُ فِي الرَّكعَةِ الْأُولَى بفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، وَسُورَةِ يس، وَفِي الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَ﴿الم ۝١ تَنْزِيلُ﴾ السَّجْدَةَ، وَفِي الرَّكْعَةِ الثَّالِثَةِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ، وَ﴿الرَّحْمَنُ﴾ الدُّخَانَ، وَفِي الرَّكْعَةِ الرَّابِعَةِ بِفَاتِحَةِ الْكِتَاب، وَ﴿تَبَارَكَ﴾ الْمُفَصَّلَ، فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ التَّشَهُّدِ فَاحْمَدِ الله، وَأَحْسِنِ الثَّنَاءَ عَلَى اللهِ، وَصَلِّ عَلَيَّ، وَعَلَى سَائِرِ النَّبِيِّينَ وَأَحْسِنْ، وَاسْتَغْفِرْ لإِخْوَانِكَ الَّذِينَ سَبَقُوكَ بِالْإِيمَانِ، ثُمَّ اسْتَغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، ثمَّ قُلْ آخِرَ ذَلِكَ: اللَّهُمَّ ارْحَمْني بِتَرْكِ الْمَعَاصِي أَبَدًا مَا أَبْقَيْتَنِي، وَارْحَمْنِي أَنْ أَتَكَلَّفَ مَا لَا يَعْنِينِي، وَارْزُقْني حُسْنَ النَّظَرِ فِيمَا يُرْضِيكَ عَنِّي، اللَّهُمَّ بَدِيعَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، ذَا الْجَلالِ وَالْإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ، أَسْأَلُكَ يَا اللهُ، يَا رَحْمَنُ بِجَلَالِكَ، وَنُورِ وَجْهِكَ أَنْ تُلْزِمَ قَلْبِي حِفْظَ كِتَابِكَ كَمَا عَلَّمْتَنِي، وَارْزُقْنِي أَنْ أَتْلُوَهُ عَلَى النَّحْوِ الَّذِي يُرْضِيكَ عَنِّي، اللَّهُمَّ بَدِيعَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ وَالْعِزَّةِ الَّتِي لَا تُرَامُ، أَسْأَلُكَ يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ بِجَلالِكَ وَنُورِ وَجْهِكَ أَن تُنَوِّرَ بِكِتَابِكَ بَصَرِي، وَأَنْ تُطلِقَ بِهِ لِسَانِي، وَأَنْ تفَرِّجَ بِهِ عَنْ قَلْبِي، وَأَنْ تَشْرَحَ بهِ صَدْرِي، وَأَنْ تَشْغَلَ بِهِ بَدَنِي، فَإِنَّهُ لَا يُعِينُنِي عَلَى الْحَقِّ غَيْرُكَ، وَلَا يُؤْتِنِيهِ إِلَّا أَنْتَ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ. أَبَا الْحَسَنِ، تَفْعَلُ ذَلِكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ، أَوْ خَمْسًا، أَوْ سَبْعًا، يُجَابُ بِإِذْنِ اللهِ، فَوَالَّذِي بَعَثَنِي بِالْحَقِّ مَا أَخطَأَ مُؤْمِنًا قَطُّ". قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبَّاسٍ: فَوَاللهِ مَا لَبِثَ عَلِيٌّ إِلَّا خَمْسًا، أَوْ سَبْعًا حَتَّى جَاءَ رَسُولَ اللهِ ﷺ فِي مِثْلِ ذَلِكَ الْمَجْلِسِ، فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنِّي كُنْتُ فِيمَا خَلَا لَا أَتَعَلَّمُ أَرْبَعَ آيَاتٍ أَوْ نَحْوَهُنَّ، فَإِذَا قَرَأْتُهُنَّ يَتَفَلَّتْنَ، فَأَمَّا الْيَوْمَ، فَاتَعَلَّمُ الْأَرْبَعِينَ آيَةً وَنَحْوَهَا، فَإِذَا قَرَأْتُهُنَّ عَلَى نَفْسِي، فكَأَنَّمَا كِتَابُ اللهِ نُصْبَ عَيْنِي، وَلَقَدْ كُنْتُ أَسْمَعُ الْحَدِيثَ، فَإِذَا أَرَدْتُهُ تَفَلَّتَ، وَأَنَا الْيَوْمَ أَسْمَعُ الْأَحَادِيثَ، فَإِذَا حَدَّثْتُ بِهَا لَمْ أَخْرِمْ مِنْهَا حَرْفًا، فَقالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ ﷺ عِنْدَ ذَلِكَ: "مُؤْمِنٌ وَرَبِّ الْكَعْبَةِ أَبَا الْحَسَنِ". هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ. [37]

Artinya: Diriwayatkan oleh Abu an-Nar Muammad bin Muammad al-Faqīh dan Abu al-asan Amad bin Muammad al-‘Anazī, keduanya berkata: Telah menceritakan kepada kami ‘Utsmān bin Sa‘īd ad-Dāramī; dan diriwayatkan pula oleh Abu Bakr Muammad bin Ja‘far al-Muzakkī, dari Muammad bin Ibrāhīm al-‘Abdī, mereka berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Ayyūb Sulaimān bin ‘Abdirramān ad-Dimasyqī, dari al-Walīd bin Muslim, dari Ibn Jurayj, dari ‘Aā’ bin Abī Rabā dan ‘Ikrimah maulā Ibn ‘Abbās, dari Ibn ‘Abbās ra., bahwa ketika ia sedang duduk di sisi Rasulullah , datanglah ‘Ali bin Abī ālib seraya berkata: “Demi ayah dan ibuku engkau wahai Rasulullah, Al-Qur’an ini seakan-akan lepas dari hafalanku, aku merasa tidak mampu lagi menguasainya.” Maka Rasulullah  bersabda: “Wahai Abal-asan, maukah engkau aku ajarkan beberapa kalimat yang Allah akan memberi manfaat kepadamu dengannya, memberi manfaat pula kepada siapa saja yang engkau ajarkan, dan akan meneguhkan hafalanmu dalam dadamu?” Ali berkata: “Tentu wahai Rasulullah , ajarkanlah kepadaku.” Beliau bersabda: “Pada malam Jumat, jika engkau mampu bangun pada sepertiga malam terakhir, maka lakukanlah, karena itu adalah waktu yang disaksikan (para malaikat) dan doa di dalamnya dikabulkan; itulah maksud ucapan saudaraku Ya‘qub kepada anak-anaknya: ‘Aku akan memohonkan ampun bagi kalian kepada Rabbku’ hingga datang malam Jumat. Jika engkau tidak mampu, bangunlah pada pertengahannya, dan jika tidak mampu maka bangunlah pada awalnya, kemudian shalatlah empat rakaat: pada rakaat pertama bacalah al-Fātiah dan surat Yāsīn; pada rakaat kedua al-Fātiah dan surat Tanīl as-Sajdah; pada rakaat ketiga al-Fātiah dan surat ad-Dukhān; dan pada rakaat keempat al-Fātiah dan surat Tabārak. Setelah selesai tasyahud, pujilah Allah dan perbanyaklah sanjungan kepada-Nya, serta bershalawatlah kepadaku dan kepada para nabi, kemudian beristighfarlah untuk saudara-saudaramu yang telah mendahului dalam iman, lalu beristighfarlah untuk seluruh kaum mukminin dan mukminat. Setelah itu ucapkanlah: ‘Ya Allah, rahmatilah aku untuk meninggalkan maksiat selama Engkau menghidupkanku; rahmatilah aku agar tidak membebani diriku dengan apa yang tidak berguna bagiku; karuniakanlah kepadaku ketajaman pandangan dalam hal-hal yang Engkau ridai. Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Dzat yang memiliki keagungan, kemuliaan, dan kekuatan yang tidak tertandingi, aku memohon kepada-Mu wahai Allah, wahai Yang Maha Pengasih, dengan keagungan-Mu dan cahaya wajah-Mu agar Engkau menanamkan dalam hatiku hafalan Kitab-Mu sebagaimana Engkau mengajarkannya kepadaku, dan karuniakanlah agar aku dapat membacanya dengan cara yang Engkau ridai. Ya Allah, Pencipta langit dan bumi, Dzat yang memiliki keagungan, kemuliaan, dan kekuatan yang tidak tertandingi, aku memohon kepada-Mu wahai Allah, wahai Yang Maha Pengasih, dengan keagungan-Mu dan cahaya wajah-Mu agar Engkau menerangi penglihatanku dengan Kitab-Mu, melancarkan lisanku dengannya, melapangkan dadaku dengannya, melegakan hatiku dengannya, dan menyibukkan tubuhku dengannya, karena tidak ada yang dapat membantuku di atas kebenaran selain Engkau, dan tidak ada yang dapat memberikannya kepadaku kecuali Engkau, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Wahai Abal-asan, lakukanlah itu selama tiga Jumat, atau lima, atau tujuh; niscaya doamu dikabulkan dengan izin Allah. Demi Dzat yang mengutusku dengan kebenaran, tidaklah hal itu meleset dari seorang mukmin pun.” Ibnu ‘Abbās berkata: Demi Allah, tidak lama kemudian, hanya lima atau tujuh hari, ‘Ali datang kepada Rasulullah  dalam keadaan seperti pertemuan sebelumnya dan berkata: “Wahai Rasulullah, dahulu aku tidak mampu menghafal empat ayat atau yang semisalnya, ketika kubaca ayat-ayat itu ia terasa seakan-akan berlarian dariku; adapun sekarang, aku mampu menghafal empat puluh ayat atau semisalnya, dan ketika kubaca seakan-akan Kitab Allah terpampang di hadapanku. Dahulu, aku mendengarkan sebuah hadits, namun ketika aku ingin mengulanginya ia seperti terlepas; tetapi hari ini, aku mendengar hadits, dan ketika kusampaikan kembali, aku tidak meninggalkan satu huruf pun darinya.” Maka Rasulullah  berkata kepadanya: “Engkau benar-benar seorang mukmin, demi Tuhan Ka‘bah, wahai Abal-asan.” Hadits ini shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim, namun keduanya tidak meriwayatkannya.

4.21. Berdoa Radhitu Billahi Rabba Wa Bil Islami Dina Wa Bi Muhammadi Nabiya Wa Rasula

Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 4410 dinyatakan bahwa 'Barangsiapa mengucapkan saat pagi dan sore: 'Kami ridha dengan Allah sebagai Rabb, dengan Islam sebagai agama, dan dengan Muhammad sebagai Rasul,' maka sesungguhnya hak Allah untuk meridhai hamba tersebut;

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي عَقِيلٍ عَنْ سَابِقِ بْنِ نَاجِيَةَ عَنْ أَبِي سَلَّامٍ أَنَّهُ كَانَ فِي مَسْجِدِ حِمْصَ فَمَرَّ بِهِ رَجُلٌ فَقَالُوا هَذَا خَدَمَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَامَ إِلَيْهِ فَقَالَ حَدِّثْنِي بِحَدِيثٍ سَمِعْتَهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَتَدَاوَلْهُ بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ الرِّجَالُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ قَالَ إِذَا أَصْبَحَ وَإِذَا أَمْسَى رَضِينَا بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا إِلَّا كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُرْضِيَهُ  [38]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hafsh bin Umar, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dari Abu Aqil, dari Sa'iq bin Najiyah, dari Abu Salam, bahwa dia berada di Masjid Hims, lalu lewatlah seorang laki-laki. Mereka berkata, "Ini adalah pelayan Nabi ." Maka dia mendekatinya dan berkata, "Ceritakanlah kepadaku dengan hadits yang pernah engkau dengar dari Rasulullah  yang belum banyak diketahui oleh orang-orang." Dia berkata, "Aku mendengar Rasulullah  bersabda: 'Barangsiapa mengucapkan saat pagi dan sore: 'Kami ridha dengan Allah sebagai Rabb, dengan Islam sebagai agama, dan dengan Muhammad sebagai Rasul,' maka sesungguhnya hak Allah untuk meridhai hamba tersebut.'"

4.22. Berdoa Memohon Kepada-Mu Dengan Nama-Mu Yang Maha Agung Agar Engkau Memberikan Keridaan-Mu Yang Paling Besar

Di dalam kitab Ad Du’a Thabarani hadits nomor 1428, memohon kepada-Mu dengan Nama-Mu Yang Maha Agung agar Engkau memberikan keridaan-Mu yang paling besar

حَدَّثَنَا زَكَرِيَّا بْنُ يَحْيَى السَّاجِيُّ، ثنا أَبُو عُمَرَ بْنُ خَلَّادٍ الْبَاهِلِيُّ، ثنا سَلْمَى بْنُ عِيَاضِ بْنِ مُنْقِذِ بْنِ سَلْمَى ابْنُ فَاطِمَةَ بِنْتِ أَبِي مَرْثَدٍ، قَالَ: سَمِعْتُ جَدِّيَ أَبَا مَرْثَدٍ، عَنْ حَدِيثِ حَمْزَةَ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ رضي الله عنه، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ قَالَ: «نَسْأَلُكَ بِاسْمِكَ الْأَعْظَمِ رِضْوَانَكَ الْأَكْبَرَ» يَقُولُهَا مِرَارً [39]

Artinya: Diriwayatkan oleh Zakariyyā bin Yayā as-Sājī, dari Abū ‘Umar bin Khallād al-Bāhilī, dari Salmā bin ‘Iyā bin Munqidz bin Salmā bin Fāimah binti Abī Marthad, ia berkata: Aku mendengar kakekku, Abū Marthad, dari hadis Hamzah bin ‘Abd al-Muṭṭalib ra., dari Rasulullah , beliau bersabda: “Kami memohon kepada-Mu dengan Nama-Mu Yang Maha Agung agar Engkau memberikan keridaan-Mu yang paling besar.” Beliau mengucapkannya berulang kali.

1.1.            Berdzikir Subānallāhi Riā Nafsihi

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi disebutkan doa Subānallāhi riā nafsihi;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ ، عَنْ شُعْبَةَ ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ: سَمِعْتُ كُرَيْبًا يُحَدِّثُ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، عَنْ جُوَيْرِيَةَ بِنْتِ الْحَارِثِ : «أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ مَرَّ عَلَيْهَا وَهِيَ فِي مَسْجِدِهَا، ثُمَّ مَرَّ النَّبِيُّ - ﷺ - بِهَا قَرِيبًا مِنْ نِصْفِ النَّهَارِ، فَقَالَ لَهَا: مَا زِلْتِ عَلَى حَالِكِ؟» فَقَالَتْ: نَعَمْ، قَالَ: أَلَا أُعَلِّمُكِ كَلِمَاتٍ تَقُولِينَهَا؟ سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ خَلْقِهِ، سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ خَلْقِهِ، سُبْحَانَ اللهِ عَدَدَ خَلْقِهِ، سُبْحَانَ اللهِ رِضَا نَفْسِهِ، سُبْحَانَ اللهِ رِضَا نَفْسِهِ، سُبْحَانَ اللهِ رِضَا نَفْسِهِ، سُبْحَانَ اللهِ زِنَةَ عَرْشِهِ، سُبْحَانَ اللهِ زِنَةَ عَرْشِهِ، سُبْحَانَ اللهِ زِنَةَ عَرْشِهِ، سُبْحَانَ اللهِ مِدَادَ كَلِمَاتِهِ، سُبْحَانَ اللهِ مِدَادَ كَلِمَاتِهِ، سُبْحَانَ اللهِ مِدَادَ كَلِمَاتِهِ.هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ، وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ هُوَ مَوْلَى آلِ طَلْحَةَ، وَهُوَ شَيْخٌ مَدِينِيٌّ ثِقَةٌ، وَقَدْ رَوَى عَنْهُ الْمَسْعُودِيُّ، وَسُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ هَذَا الْحَدِيثَ. [1]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basyar, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja‘far, dari Syu‘bah, dari Muhammad bin ‘Abd al-Rahman, ia berkata: aku mendengar Kuraib menceritakan dari Ibnu ‘Abbas, dari Juwairiyah binti al-Harits, bahwa Nabi pernah melewatinya ketika ia sedang berada di tempat ibadahnya. Kemudian Nabi melewatinya lagi menjelang tengah hari, lalu beliau bersabda kepadanya: “Apakah engkau masih dalam keadaan seperti tadi?” Ia menjawab: “Ya.” Maka beliau bersabda: “Maukah aku ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang jika engkau mengucapkannya (sekali), niscaya lebih berat timbangannya daripada apa yang engkau ucapkan sejak pagi?” Yaitu: Subānallāhi ‘adada khalqihi (Maha hebat Allah sebanyak bilangan makhluk-Nya) — diucapkan tiga kali; Subānallāhi riā nafsihi (Maha hebat Allah sesuai keridaan-Nya) — tiga kali; Subānallāhi zinata ‘arsyihi (Maha hebat Allah seberat timbangan ‘Arsy-Nya) — tiga kali; Subānallāhi midāda kalimātihi (Maha hebat Allah sebanyak tinta penulisan kalimat-kalimat-Nya) — tiga kali.

At-Tirmiżī berkata: “Hadis ini hasan sahih. Dan Muhammad bin ‘Abd al-Rahman adalah maula keluarga Thalhah, ia seorang syekh dari Madinah yang terpercaya. Al-Mas‘udi dan Sufyan ats-Tsauri juga meriwayatkan hadis ini darinya.”

Kemudian al-Hakim berkata: “Hadis ini sahih sanadnya, tetapi keduanya (al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.”



[1] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Ialmi, Beirut, 1996, Jilid 5 halaman 520, Hadits nomor 3555.

Berdasar ayat-ayat Al Quran dan hadits-hadits Rasulullah SAW yang telah dikemukakan dalam pembahasan dapat ditarik pengertian bahwa taqwa di level ridha adalah kesadaran ruhani merasa puas, bahagia dan senang menerima segala ketetapan dan ketentuannya untuk mentaati Allah dan Rasulullah.


Kesadaran taqwa di level ridha mendorong orang beriman untuk merasa puas, bahagia, berkecukupan, qanaah, senang dengan segala keadaan, karena menyadari bahwa semua yang terjadi di alam semesta merupakan ketetapan Allah yang harus diterima dengan ridha.

 

Ikrar Ridha

"رَضِيتُ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَبِيًّا"

“Aku ridla Allah sebagai Rabb-ku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad sebagai Nabi-ku"

(HR. Abu Daud: 5072)



[1] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah al-‘Alamiyah, , 2009, Jilid 5 halaman 196, Hadits nomor 3924.

[2] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 114, Hadits nomor 6549 dan Jilid 9, halaman 151, hadits nomor 7518.

[3] Abd Al-Shamad Al-Darimi, Musnad Al-Darimi Al-Ma’ruf (Sunan Al-Darimi), Dar Al-Mughni Li-Al-Nasyr Wa Al-Tauzi’, 2000, Jilid 4, Halaman 2087, Hadits nomor 3354.

[4] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah Ar-Risalah, 2001, Jilid 37, Halaman 87, Hadits nomor 22401.

[5] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman 1401, Hadits nomor 4189.

[6] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 29, Halaman 196, Hadits nomor 17649.

[7] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah al-‘Alamiyah, , 2009, Jilid 4 halaman 33, Hadits nomor 2009.

[8] Abu Hatim Muhammad Ibnu Hiban Ibnu Ahmad, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibu Hazm, Beirut, 2012, Jilid 1, Halaman 512, Hadits nomor 772.

[9] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Al-Thabaah Al-‘Amirah, Turki, 1334 H, Jilid 5, Halaman 130, Hadits nomor 1715.

[10] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 18, Halaman 395, Hadits nomor 11898.

[11] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 3, Halaman 1501, Hadits nomor 1884.

[12] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 38, Halaman 195, Hadits nomor 23111.

[13] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1, Halaman 290, Hadits nomor 386.

[14] Abu Hatim Muhammad Ibnu Hiban Ibnu Ahmad, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibu Hazm, Beirut, 2012, Jilid 6, Halaman 56, Hadits nomor 4865.

[15] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah al-‘Alamiyah, , 2009, Jilid 4 halaman 202, Hadits nomor 2396.

[16] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 32, Halaman 210, Hadits nomor 1444.

[17] Ubaidillah Al-‘Akfi Al-Ma’ruf Bi Al-Bazar, Musnad Al-Bazar Al-Mansyur, Maktabah Al-‘Ulum Wal Al-Hukm, 2009, Madinah, Jilid 7, Halaman 320, Hadits nomor 2919.

[18] Ahmad ibn Syuaib Al-Nasa’i, Al-Sunan Al-Kubra, Muassasah Al-Risalah, Beirut, 2001, Jilid 8, Halaman 149, Hadits nomor 8836.

[19] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990, Jilid 1, Halaman 106, Hadits nomor 136.

[20] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 5 halaman 48, Hadits nomor 2682.

[21] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Al-Risalah Al’Alamiyah, Beirut, 2009, Jilid 1, Halaman 192, Hadits nomor 289.

[22] Abd Al-Shamad Al-Darimi, Musnad Al-Darimi Al-Ma’ruf (Sunan Al-Darimi), Dar Al-Mughni Li-Al-Nasyr Wa Al-Tauzi’, 2000, Jilid 4, Halaman 2148, Hadits nomor 3458.

[23] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 1, Halaman 205, Hadits nomor 774.

[24] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1, Halaman 62, Hadits nomor 34.

[25] Abu Qasim Al-Thabarani, Mu’jam Al-Kabir Li Al-Thabarani, Dar Al Haramain, Kairo, 1995, jilid 8 halaman 99, Hadits nomor 7490.

[26] Al-Amir ‘Ala`i Al-Din ‘Ali ibn Balban Al-Farisi, Al-Ihsan Fi Taqrib Shahih Ibn Hiban, Muassasah Al-Risalah, Beirut, 1988, Jilid 1, Halaman 510, Hadits nomor 276.

[27] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 3, Halaman 155, Hadits nomor 2574.

[28] Abu Qasim Al-Thabarani, Al-Du’a Li Al-Thabarani, Dar Al Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 1413 H, Halaman 95, Hadits nomor 235.

[29] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 140, Hadits nomor 2305.

[30] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 2, Halaman 83, Hadits nomor 1303.

[31] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 37, Halaman 378, Hadits nomor 22705.

[32] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 27, Halaman 360, Hadits nomor 16805.

[33] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 1, Halaman 27, Hadits nomor 70.

[34] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah al-‘Alamiyah, , 2009, Jilid 2 halaman 454, Hadits nomor 1161.

[35] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 30, Halaman 265, Hadits nomor 18325.

[36] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Al-Thabaah Al-‘Amirah, Turki, 1334 H, Jilid 2, Halaman 51, Hadits nomor 486.

[37] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990, Jilid 2, Halaman 245, Hadits nomor 1203.

[38] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al-Dar Al-Risalah Al-‘Alamiyah, tt , 2009, Jilid, 7, Halaman 407, Hadits nomor 5072.

[39] Abu Qasim Al-Thabarani, Ad Du’a Thabarani, Dar Al Kitab Al Alamiyah, Beirut, 1413 H,  Hal. 424 nomor 1428.


Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post