01/04/2026

28. Manusia Diciptakan Untuk Mengabdi Kepada Allah, Tujuan Mengabdi Agar Bertakwa

28. Manusia Diciptakan Untuk Mengabdi Kepada Allah,
Tujuan Mengabdi Agar Bertakwa

Keistimewaan takwa ke dua puluh delapan “Manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Allah, tujuan mengabdi agar bertakwa”, hal ini tersirat di dalam Al Quran surat Adz-Dzariyat/ 51: 56 yang menegaskan bahwa tidaklah jin dan manusia diciptakan kecuali untuk mengabdi kepada Allah;

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat/ 51: 56)

Dan di dalam Al Quran surat Al-Bayyinah (98): 5 juga ditegaskan bahwa manusia tidaklah disuruk kecuali mengabdi/ menyembah Allah;

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus. (QS. Al-Bayyinah (98): 5)

Sedangkan tujuan dari mengabdi kepada Allah disebutkan di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 21 yaitu agar bertakwa;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, (QS. Al-Baqarah/ 2: 21)

Salah satu bentuk pengabdian manusia kepada Allah adalah berpuasa, sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 183, tujuan perintah berpuasa adalah agar bertakwa;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (QS. Al-Baqarah/ 2: 183)

Adapun di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 1420 dinyatakan bahwa Bumi ini adalah bumi milik Allah, semua hamba adalah hamba Allah, maka di manapun kalian mendapatkan kebaikan tegakkanlah;

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ عَبْدِ رَبِّهِ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ حَدَّثَنِي جُبَيْرُ بْنُ عَمْرٍو الْقُرَشِيُّ حَدَّثَنِي أَبُو سَعْدٍ الْأَنْصَارِيُّ عَنْ أَبِي يَحْيَى مَوْلَى آلِ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ الْعَوَّامِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْبِلَادُ بِلَادُ اللَّهِ وَالْعِبَادُ عِبَادُ اللَّهِ فَحَيْثُمَا أَصَبْتَ خَيْرًا فَأَقِمْ [1]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abdu Rabbihi telah menceritakan kepada kami Baqiyyah bin Al Walid telah menceritakan kepadaku Jubair bin 'Amru Al Qarsyi telah menceritakan kepadaku Abu Sa'd Al Anshari dari Abu Yahya mantan budak keluarga Zubair bin Awwam, dari Zubair bin Al Awwam radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah bersabda: "Bumi ini adalah bumi Allah, semua hamba adalah hamba Allah, maka di manapun kalian dapat melakukan kebaikan laksanakanlah."

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2701 dinyatakan bahwa Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun;

حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ سَمِعَ يَحْيَى بْنَ آدَمَ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَيْمُونٍ عَنْ مُعَاذٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنْتُ رِدْفَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حِمَارٍ يُقَالُ لَهُ عُفَيْرٌ فَقَالَ يَا مُعَاذُ هَلْ تَدْرِي حَقَّ اللَّهِ عَلَى عِبَادِهِ وَمَا حَقُّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ فَإِنَّ حَقَّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَحَقَّ الْعِبَادِ عَلَى اللَّهِ أَنْ لَا يُعَذِّبَ مَنْ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا أُبَشِّرُ بِهِ النَّاسَ قَالَ لَا تُبَشِّرْهُمْ فَيَتَّكِلُوا [2]

Artinya: Ishaq bin Ibrahim menceritakan kepadaku, dia mendengar Yahya bin Adam berkata: Abu Al-Ahwash meriwayatkan kepada kami dari Abu Ishaq, dari Amr bin Maimun, dari Mu’adz رضي الله عنه, dia berkata: Aku pernah membonceng Nabi di atas seekor keledai yang bernama 'Ufair. Lalu beliau bersabda, "Wahai Mu'adz, tahukah kamu apa hak Allah atas hamba-hamba-Nya dan apa hak hamba-hamba atas Allah?" Aku menjawab, "Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui." Beliau bersabda, "Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan hak hamba-hamba atas Allah adalah Dia tidak akan mengazab siapa pun yang tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun."

Aku berkata, "Wahai Rasulullah, bolehkah aku menyampaikan kabar gembira ini kepada manusia?" Beliau bersabda, "Jangan kamu sampaikan kabar gembira ini, agar mereka tidak bergantung (dan meninggalkan amal)."

Hak Allah atas hamba-hamba-Nya adalah agar mereka menyembah-Nya, maka dimanapun seorang hamba harus mengabdi, menyembah, beribadah kepada Allah dengan cara melakukan kebaikan, kebaikan yang diterima Allah adalah kebaikan yang dilakukan atas dasar takwa kepada Allah.



[1] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 2, Halaman 197.Hadits nomor 1420.

[2] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Al-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 3, Halaman 1049, Hadits nomor 2701.

Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post