24/04/2026

- 6. TAKWA DARI TAIASU

-6. TAKWA DARI TAIASU

Taiasu berasal dari kata Ya’su: Qanuth, artinya; putus asa, pengertiannya tidak memiliki harapan atas rahmat dan ampunan Allah SWT. Taiasu; putus asa merupakan batasan awal masuk pada kelompok kafir; tidak beriman, di dalam Al Quran ditemukan kata ya’su sebanyak 13 kata di 11 ayat, sedangkan kata qanuth sebanyak 6 kata di 6 ayat.

Imam al-Ghazālī menempatkan sifat taiasu; putus asa dari rahmat Allah sebagai salah satu penyakit hati yang paling berbahaya karena memutus hubungan spiritual seorang hamba dengan Tuhannya. Dalam Iyā’ ‘Ulūm al-Dīn, ia menegaskan bahwa putus asa merupakan bentuk buruk sangka terhadap Allah, sebab “orang yang berputus asa menganggap bahwa rahmat Allah lebih kecil daripada dosa-dosanya,” dan ini merupakan kekeliruan besar dalam akidah dan akhlak.[1] Al-Ghazālī menambahkan bahwa orang yang terjerumus ke dalam ya’s telah menutup pintu perbaikan diri dan kehilangan harapan untuk kembali kepada Allah. [2]

Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah memandang ya’s sebagai salah satu “penjara hati” yang paling keras, sebab ia mematikan motivasi taubat dan amal saleh. Dalam Ighāthat al-Lahfān, ia menjelaskan bahwa putus asa adalah “senjata terbesar setan,” karena ketika seorang hamba merasa Allah tidak akan lagi mengampuninya, ia menjadi mudah terjerumus ke dalam dosa-dosa yang lebih besar. [3]

Agar dapat memahami Takwa dari Tai’asu secara menyeluruh, maka di sini akan dikemukakan pembahasan tentang;

1. Hikmah Tentang taiasu

2. Karakter Orang Yang Taiasu

3. Takwa Dari Taiasu

Adapun pembahasannya adalah sebagai berikut;

1. Hikmah Tentang Taiasu

Berikut akan dikemukakan beberapa ayat Al Quran, Hadits maupun Atsar yang dapat memberikan gambaran tentang hikmah yang berkaitan dengan taiasu;

1.1. Sesungguhnya Tiada Berputus Asa Dari Rahmat Allah, Melainkan Kaum Yang Kafir

Di dalam Al Quran Surat Yusuf/ 12: 87, digambarkan perintah Nabi Ya’qub kepada putra-putranya untuk mencari Yusuf, dan memberikan peringatan untuk tidak berputus asa, karena hanya orang kafir yang berputus asa dari rahmat Allah;

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Artinya: Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".(QS. Yusuf/ 12: 87)

1.2. Orang-Orang Yang Kafir Terhadap Ayat-Ayat Allah Dan Pertemuan Dengan Dia, Mereka Putus Asa Dari Rahmat-Ku

Di dalam Al Quran Surat Al-'Ankabut Ayat 23, dijelaskan bahwa orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku;

وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَلِقَائِهِ أُولَٰئِكَ يَئِسُوا مِنْ رَحْمَتِي وَأُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Artinya: Dan orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan Dia, mereka putus asa dari rahmat-Ku, dan mereka itu mendapat azab yang pedih.

1.3. Tidak Ada Yang Berputus Asa Dari Rahmat Tuhannya, Kecuali Orang Yang Sesat

Al Quran surat Al-Hijr: 55-56 menyebutkan kata putus asa dengan kata yaqnathu, yang mengisahkan cerita ketika malaikat datang kepada Ibrahim  untuk memeberikan berita gembira, dan malaikat tersebut memperingatkan untuk tidak berputus asa, karena hanya orang dhalim yang putus asa dengan rahmat Allah.

قَا لُوْا بَشَّرْنٰكَ بِا لْحَـقِّ فَلَا تَكُنْ مِّنَ الْقٰنِطِيْنَ, قَالَ وَمَنْ يَّقْنَطُ مِنْ رَّحْمَةِ رَبِّه اِلَّا الضَّآ لُّوْنَ

Artinya: (Mereka) menjawab: “Kami menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan benar, maka janganlah engkau termasuk orang yang berputus asa.” Ibrahim berkata: “Tidak ada yang berputus asa dari rahmat Tuhannya, kecuali orang yang sesat.” (QS. Al-Hijr/ 15: 55-56)

1.4. Orang-orang Kafir Putus Asa terhadap Hari Akhir Sebagaimana Mereka Berputus Asa Di Dalam Qubur

Di dalam Al Quran surat Al Mumtahanah/ 60: 13 dijelakan bahwa Orang-orang Kafir Putus Asa terhadap Hari Akhir Sebagaimana Mereka Berputus Asa Di Dalam Qubur;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَوَلَّوْا قَوْمًا غَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ قَدْ يَئِسُوا مِنَ الْآخِرَةِ كَمَا يَئِسَ الْكُفَّارُ مِنْ أَصْحَابِ الْقُبُورِ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan penolongmu kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa. (QS. Al Mumtahanah/ 60: 13)

1.5. Hai Hamba-Hamba-Ku Yang Malampaui Batas Terhadap Diri Mereka Sendiri, Janganlah Kamu Berputus Asa Dari Rahmat Allah

Di dalam Al Quran Surat Az-Zumar/ 39: 53, Allah mengajak kepada orang-orang yang sudah banyak memiliki dosa untuk tidak berputus asa dengan rahmat Allah, karena besarnya rahmat Allah, sehingga Allah bersedia mengampuni dosa hambanya, meski sangat banyak;

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya: Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Az-Zumar/ 39: 53)

1.6. Sekiranya Orang-Orang Kafir Mengetahui Setiap Rahmat (Kasih Sayang) Yang Ada Di Sisi Allah, Niscaya Mereka Tidak Akan Berputus Asa Untuk Memperoleh Surga

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6469, dijelaskan bahwa sekiranya orang-orang kafir mengetahui setiap rahmat (kasih sayang) yang ada di sisi Allah, niscaya mereka tidak akan berputus asa untuk memperoleh surga, dan sekiranya orang-orang mukmin mengetahui setiap siksa yang ada di sisi Allah, maka ia tidak akan merasa aman dari neraka;

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ خَلَقَ الرَّحْمَةَ يَوْمَ خَلَقَهَا مِائَةَ رَحْمَةٍ فَأَمْسَكَ عِنْدَهُ تِسْعًا وَتِسْعِينَ رَحْمَةً وَأَرْسَلَ فِي خَلْقِهِ كُلِّهِمْ رَحْمَةً وَاحِدَةً فَلَوْ يَعْلَمُ الْكَافِرُ بِكُلِّ الَّذِي عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الرَّحْمَةِ لَمْ يَيْئَسْ مِنْ الْجَنَّةِ وَلَوْ يَعْلَمُ الْمُؤْمِنُ بِكُلِّ الَّذِي عِنْدَ اللَّهِ مِنْ الْعَذَابِ لَمْ يَأْمَنْ مِنْ النَّارِ [4]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] telah menceritakan kepada kami [Ya'qub bin Abdurrahman] dari ['Amru bin Abu 'Amru] dari [Sa'id bin Abu Sa'id Al Maqburi] dari [Abu Hurairah] radliallahu 'anhu dia berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah menjadikan rahmat (kasih sayang) seratus bagian, maka dipeganglah di sisi-Nya sembilan puluh sembilan bagian dan diturunkannya satu bagian untuk seluruh makhluk-Nya, sekiranya orang-orang kafir mengetahui setiap rahmat (kasih sayang) yang ada di sisi Allah, niscaya mereka tidak akan berputus asa untuk memperoleh surga, dan sekiranya orang-orang mukmin mengetahui setiap siksa yang ada di sisi Allah, maka ia tidak akan merasa aman dari neraka."

1.7. Janganlah Kalian Berputus Asa Dari Rizqi Allah Selama Kepala Kalian Masih Bergerak

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 15294, dituliskan peringatan Nabi SAW kepada umatnya untuk tidak berputus asa atas rizki Allah;

حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ سَلَّامِ بْنِ شُرَحْبِيلَ عَنْ حَبَّةَ وَسَوَاءَ ابْنَيْ خَالِدٍ قَالَا دَخَلْنَا عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصْلِحُ شَيْئًا فَأَعَنَّاهُ فَقَالَ لَا تَأْيَسَا مِنْ الرِّزْقِ مَا تَهَزَّزَتْ رُءُوسُكُمَا فَإِنَّ الْإِنْسَانَ تَلِدُهُ أُمُّهُ أَحْمَرَ لَيْسَ عَلَيْهِ قِشْرَةٌ ثُمَّ يَرْزُقُهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ [5]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abu Mu'awiyah] berkata; telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] dari [Sallam bin Syurahbil] dari [Habbah] dan [Sawa'], dua anak Khalid berkata; Kami berdua menemui Nabi Shallallahu'alaihiwasallam, beliau sedang memperbaiki sesuatu, kami berkeluh kesah kepadanya, beliau bersabda: "Janganlah kalian berputus asa dari rizqi Allah selama kepala kalian masih bergerak. manusia itu dilahirkan oleh ibunya dalam keadaan merah, tidak memiliki suatu apapun, lalu Allah Azzawajalla memberinya rizqi"

1.8. Sesungguhnya Orang Yang Masuk Surga Akan Merasakan Nikmat Dan Tidak Pernah Berputus Asa

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 9279 dinyatakan bahwa Sesungguhnya orang yang masuk surga akan merasakan nikmat dan tidak pernah berputus asa;

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ قَالَ أَخْبَرَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَبِي رَافِعٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَحْسِبُ حَمَّادٌ قَالَ إِنَّهُ مَنْ يَدْخُلْ الْجَنَّةَ يَنْعَمْ وَلَا يَبْأَسْ لَا تَبْلَى ثِيَابُهُ وَلَا يَفْنَى شَبَابُهُ فِي الْجَنَّةِ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ [6]  

Musnad Ahmad 8911: Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Hammad berkata: telah mengabarkan kepada kami Tsabit dari Abu Rafi' dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, yang menurut perkiraan Hammad bahwasanya beliau bersabda: "Sesungguhnya orang yang masuk surga akan merasakan nikmat dan tidak pernah berputus asa, baju mereka tidak lusuh dan tidak akan hilang masa mudanya. Dan di dalam surga terdapat sesuatu yang mata belum melihatnya, telinga belum mendengarnya dan belum terbetik di hati manusia."

2.Karakter Orang yang Taiasu

Berikut dikemukakan beberapa karakter orang yang taiasu yang disebutkan didalam Al Quran dan Hadits;

2.1. Jika Rahmat Dicabut Manusia Berputus Asa Dan Tidak Bersyukur

Di dalam Al Quran surat Hud/ 11: 9, digambarkan bahwa jika rahmat dicabut maka berputus asa dan tidak bersyukur;

وَلَئِنْ أَذَقْنَا الْإِنسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنَاهَا مِنْهُ إِنَّهُ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ

Artinya: Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa lagi tidak berterima kasih. (QS. Hud/ 11: 9)

2.2. Jika Diberi Kenikmatan Berpaling Dan Sombong Jika Ditimpa Kesusuhan Berputus Asa

Di dalam Al Quran Surat Al Isra’/ 17: 83 digambarkan bahwa manusia jika diberi kesenangan niscaya berpaling dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya berputus asa;

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا

Artinya: Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. (QS. Al Isra’/ 17: 83)

2.3.   Jika Ditimpa Keburukan Putus Asa dan Putus Harapan

Di dalam Al Quran surat Fushilat/ 41: 49 digambarkan bahwa manusia jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan;

لَّا يَسْأَمُ الْإِنسَانُ مِن دُعَاءِ الْخَيْرِ وَإِن مَّسَّهُ الشَّرُّ فَيَئُوسٌ قَنُوطٌ

Artinya: Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan. (QS. Fushilat/ 41: 49)

2.4. Jika Diberi Rahmat Merasa Bahagia Jika Ditimpa Keburukan Berputus Asa

Di dalam Al Quran Surat Ar Rum/ 30: 36, digambarkan bahwa manusia jika diberi rahmat merasa bahagia jika ditimpa keburukan berputus asa;

وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً فَرِحُوا بِهَا وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ إِذَا هُمْ يَقْنَطُونَ

Artinya: Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa. (QS. Ar Rum/ 30: 36)

2.5. Membantu Membunuh Seorang Mukmin Termasuk Putus Asa

Di dalam kitab Al-Sunan Al Kubra hadits nomor 15868 ditegaskan bahwa Barang siapa menolong untuk membunuh seorang mu'min meski dengan setengah kalimat, maka dia akan berjumpa dengan Allah dalam keadaan tertulis diantara kedua matanya; putus asa dari rahmat Allah;

أَخْبَرَنَاهُ أَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ الْفَضْلِ الْقَطَّانُ، بِبَغْدَادَ، ثنا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ ثَابِتٍ الصَّيْدَلَانِيُّ، ثنا عُبَيْدُ بْنُ شَرِيكٍ الْبَزَّازُ، ثنا نُوحُ بْنُ الْهَيْثَمِ، خَتَنُ آدَمَ بْنِ أَبِي إِيَاسٍ عَلَى أُخْتِهِ بِعَسْقَلَانَ سَنَةَ عِشْرِينَ وَمِائَتَيْنِ، ثنا الْفَرَجُ بْنُ فَضَالَةَ، عَنِ الضَّحَّاكِ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، يَرْفَعُهُ، قَالَ: «مَنْ أَعَانَ عَلَى قَتْلِ مُؤْمِنٍ بِشَطْرِ كَلِمَةٍ لَقِيَ اللهَ ﷿ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَكْتُوبٌ بَيْنَ عَيْنَيْهِ آيِسٌ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ» [7] 

Artinya: telah mengabarkan kepada kami Abul-usain bin al-Fal al-Qaṭṭān di Baghdad, telah meriwayatkan kepada kami Abu Bakr Muhammad bin ‘Utsmān bin Tsābit al-aidalānī, telah meriwayatkan kepada kami ‘Ubaid bin Syarīk al-Bazzāz, telah meriwayatkan kepada kami Nū bin al-Haytsam menantu Adam bin Abī Iyās atas saudara perempuannya di ‘Asqalān pada tahun 220 H, telah meriwayatkan kepada kami al-Faraj bin Faālah, dari al-aḥḥāk, dari al-Zuhrī, secara marfū‘ (diangkat sampai Nabi ): Sabda Nabi : Barang siapa membantu dalam pembunuhan seorang mukmin dengan setengah kata saja, maka ia akan menemui Allah pada hari kiamat dengan tertulis di antara kedua matanya: ‘Terputus dari rahmat Allah.’”

2.6.  Tergesa-gesa Dalam Berdoa, Sehingga merasa putus asa dan tidak pernah berdoa lagi

Di dalam kitab Shahih Muslim Hadits nomor 4918 digambarkan tentang orang yang tergesa-gesa untuk dikabulkan dalam berdoa, karena belum dikabulkan hingga putus asa tidak pernah berdoa lagi;

حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي مُعَاوِيَةُ وَهُوَ ابْنُ صَالِحٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يَزَالُ يُسْتَجَابُ لِلْعَبْدِ مَا لَمْ يَدْعُ بِإِثْمٍ أَوْ قَطِيعَةِ رَحِمٍ مَا لَمْ يَسْتَعْجِلْ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الِاسْتِعْجَالُ قَالَ يَقُولُ قَدْ دَعَوْتُ وَقَدْ دَعَوْتُ فَلَمْ أَرَ يَسْتَجِيبُ لِي فَيَسْتَحْسِرُ عِنْدَ ذَلِكَ وَيَدَعُ الدُّعَاءَ  [8]  

Artinya: Telah menceritakan kepadaku Abu Ath Thahir telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Mu'awiyah bin Shalih dari Rabi'ah bin Yazid dari Abu Idris Al Khaulani dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda: "Doa seseorang senantiasa akan dikabulkan selama ia tidak berdoa untuk perbuatan dosa ataupun untuk memutuskan tali silaturahim dan tidak tergesa-gesa." Seorang sahabat bertanya: 'Ya Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan tergesa-gesa? ' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: 'Yang dimaksud dengan tergesa-gesa adalah apabila orang yang berdoa itu mengatakan: 'Aku telah berdoa dan terus berdoa tetapi belum juga dikabulkan'. Setelah itu, ia merasa putus asa dan tidak pernah berdoa lagi.'

3.Takwa Dari Taiasu

Perasaan Taiasu dapat mendorong timbulnya sifat atau perasaan; putus asa, pesimis, tidak punya harapan, merasa; tidak bisa, tidak mampu, tidak kuat, tidak pantas, tidak berani, tidak sabar, tidak kuasa, tidak bagus, tidak cantik, tidak beruntung, tidak pintar, tidak baik, dll, selanjutnya akan mendorong perasaan rendah diri.

Berikut dikemukakan beberapa ayat Al Quran dan hadits yang dapat memberikan gambaran tentang takwa dari taiasu;

3.1. Seorang Yang Benar-Benar Faqih Adalah Orang Yang Tidak Membuat Manusia Putus Asa Dari Rahmat Allah

Di dalam Kitab Sunan Darimi hadits nomor 306, ditegaskan bahwa Seorang yang benar-benar faqih (Faham agama) adalah orang yang tidak membuat manusia putus asa dari rahmat Allah;

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ لَيْثٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ عَبَّادٍ قَالَ قَالَ عَلِيٌّ الْفَقِيهُ حَقُّ الْفَقِيهِ الَّذِي لَا يُقَنِّطُ النَّاسَ مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ وَلَا يُؤَمِّنُهُمْ مِنْ عَذَابِ اللَّهِ وَلَا يُرَخِّصُ لَهُمْ فِي مَعَاصِي اللَّهِ إِنَّهُ لَا خَيْرَ فِي عِبَادَةٍ لَا عِلْمَ فِيهَا وَلَا خَيْرَ فِي عِلْمٍ لَا فَهْمَ فِيهِ وَلَا خَيْرَ فِي قِرَاءَةٍ لَا تَدَبُّرَ فِيهَا [9]

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Al Hasan bin 'Arafah telah menceritakan kepada kami Ismail bin Ibrahim dari Laits dari Yahya bin 'Abbad ia berkata: " Ali radliallahu 'anhu telah berkata: 'Seorang yang benar-benar ahli fikih adalah orang yang tidak membuat manusia putus asa dari rahmat Allah, jangan membuat mereka merasa aman dari adzab Allah dan jangan memberikan mereka kemudahan hingga akhirnya terjatuh ke dalam perbuatan maksiat. Sesungguhnya tidak ada kebaikan dalam ibadah yang dilakukan tanpa dasar ilmu, tidak ada kebaikan dalam ilmu tanpa pemahaman dan tidak ada kebaikan dalam membaca Al qur`an tanpa merenungi maknanya' ".

Betapa penting keberadaan orang yang benar-benar faqih; yang mengajarkan tidak berputus asa dari Rahmat Allah dan tidak merasa aman dari adzab Allah serta tidak memberikan kemudahan yang dapat menyebabkan terjatuh pada kema’siyatan.

3.2. Bertindak Secara Lurus, Mendekat (Pada Kebenaran) Dan Bergembira

Di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadis nomor 4688 tergambar agar seorang hamba tidak berputus asa maka Rasulullah memerintahkan bertindaklah secara lurus, mendekatlah (pada kebenaran) dan bergembiralah;

سَمِعْتُ أَبَا خَلِيفَةَ، يَقُولُ‏:‏ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ بَكْرِ بْنِ الرَّبِيعِ بْنِ مُسْلِمٍ، يَقُولُ‏:‏ سَمِعْتُ الرَّبِيعَ بْنَ مُسْلِمٍ، يَقُولُ‏:‏ سَمِعْتُ مُحَمَّدًا، يَقُولُ‏:‏ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ‏:‏ مَرَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَهْطٍ مِنْ أَصْحَابِهِ وَهُمْ يَضْحَكُونَ، فَقَالَ‏:‏ لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً، وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا، فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ، فَقَالَ‏:‏ إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ لَكَ‏:‏ لِمَ تُقَنِّطُ عِبَادِي‏؟‏ قَالَ‏:‏ فَرَجَعَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ‏:‏ سَدِّدُوا، وَقَارِبُوا، وَأَبْشِرُوا‏.‏ قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ‏:‏ سَدِّدُوا يُرِيدُ بِهِ‏:‏ كُونُوا مُسَدَّدِينَ، وَالتَّسْدِيدُ‏:‏ لُزُومُ طَرِيقَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاتِّبَاعُ سُنَّتِهِ‏.‏ وَقَوْلُهُ‏:‏ وَقَارِبُوا يُرِيدُ بِهِ‏:‏ لاَ تَحْمِلُوا عَلَى الأَنْفُسِ مِنَ التَّشْدِيدِ مَا لاَ تُطِيقُونَ، وَأَبْشِرُوا، فَإِنَّ لَكُمُ الْجَنَّةَ إِذَا لَزِمْتُمْ طَرِيقَتِي فِي التَّسْدِيدِ، وَقَارَبْتُمْ فِي الأَعْمَالِ‏.‏ [10]

Artinya: Aku mendengar Abu Khalifah berkata: Aku mendengar Abdurrahman bin Bakar bin Ai-Rabi’ bin Muslim berkata: Aku mendengar Ar-Rabi’ bin Muslim berkata Aku mendengar Muhammad berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata : Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah melewati sekelompok sahabatnya tengah tertawa. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian bersabda; "Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui tentu kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." Jibril kemudian mendatanginya seraya berkata, "Sesungguhnya Allah berfirman kepadamu; 'Kenapa engkau membuat hamba- hamba-Ku berputus asa’. Abu Hurairah bertutur, “Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kabili menghampiri mereka dan bersabda,' Bertindaklah secara lurus, mendekatlah (pada kebenaran) dan bergembiralah’.” 3:66 Abu Hatim berkata: “Berlakulah lurus,” yang dimaksud adalah jadilah orang-orang yang berlaku lurus dengan tetap meneladani cara dan sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “Dan mendekatilah,” maksudnya adalah jangan membebani sesuatu pun yang tidak mampu dikerjakan oleh diri, dan bergembiralah sebab kalian akan mendapatkan surga jika kalian tetap meneladani caraku dalam bertindak lurus dan jika kalian tidak terlalu membebani diri dalam beramal.

3.3. Rabb Kita Tertawa Terhadap Hamba-Nya Yang Berputus Asa Karena Sadar Dirinya Lemah Dan Membutuhkan Pertolongan

Di dalam Kitab Musnad Ahmad hadits 15598, digambarkan bahwa Rabb kita tertawa terhadap hamba-Nya yang berputus asa karena sadar dirinya lemah dan membutuhkan pertolongan

قَالَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ قَالَ أَخْبَرَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءٍ عَنْ وَكِيعِ بْنِ عُدُسٍ عَنْ عَمِّهِ أَبِي رَزِينٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَحِكَ رَبُّنَا مِنْ قُنُوطِ عَبْدِهِ وَقُرْبِ غَيْرِهِ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَيَضْحَكُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ قَالَ نَعَمْ قَالَ لَنْ نَعْدَمَ مِنْ رَبٍّ يَضْحَكُ خَيْرًا [11]

Artinya: (Ahmad bin hanbal) berkata; telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun berkata; telah mengabarkan kepada kami Hammad bin Salamah dari Ya'la bin 'Atha` dari Waki' bin 'Udus dari pamannya, Abu Razin berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Rabb kita tertawa terhadap hamba-Nya yang berputus asa karena sadar dirinya lemah dan membutuhkan pertolongan". (Abu Razin) berkata; saya bertanya, "Wahai Rasulullah, Apakah Rabb AzzaWaJalla tertawa?" Rasulullah bersabda: "Ya". (Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam) bersabda: "Selama Rab kita tertawa, kita tidak kehilangan kebaikan."

Penting menanamkan kesadaran dalam diri bahwa dirinya sangat lemah sehingga membutuhkan pertolongan Allah, dan tidak boleh berputus asa dari mengharapkan rahmat Allah.

3.4. Dosa Besar Yang Terbesar Adalah Berbuat Syirik Pada Allah, Merasa Aman Dari Murka Allah Dan Merasa Putus Asa Dan Putus Harapan Dari Ampunan Allah

Di dalam kitab Mujam Thabarani Kabir Atsar nomor 8784, dijelaskan bahwa Dosa besar yang terbesar adalah berbuat syirik pada Allah, merasa aman dari murka Allah dan merasa putus asa dan putus harapan dari ampunan Allah;

حدثنا إسحاق بن إبراهيم عن عبد الرزاق أنا معمر عن أبي إسحاق عن وبرة عن عامر عن أبي الطفيل عن ابن مسعود أنه قال : أَكْبَرُ الكَبَائِرِ الإِشْرَاكُ باِللهِ وَالأَمْنُ مِنْ مَكَرِ اللهِ وَالقَنُوْطُ مِنْ رَحْمَةِ اللهِ وَاليَأْسُ مِنْ رَوْحِ اللهِ [12]

Artinya: Memberitakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim, dari Abdur Razak, dari Ma’mar dari Abi Ishaq dari wabrah dari Amir dari Abi Thufail dari Ibnu Mas’ud, bahwa dia berkata Dosa besar yang terbesar adalah berbuat syirik pada Allah, merasa aman dari murka Allah dan merasa putus asa dan putus harapan dari ampunan Allah.

3.5. Tidak Berputus Asa Dari Rahmat Allah Merupakan Kafarah Bagi Orang Yang Banyak Dosa

Di dalam kitab Shahih Bukhari 4810 digambarkan bahwa kafarat orang yang melampau batas (banyak dosa) adalah tidak berputus asa dengan rahmat Allah.

حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ أَنَّ ابْنَ جُرَيْجٍ أَخْبَرَهُمْ قَالَ يَعْلَى إِنَّ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ أَخْبَرَهُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ نَاسًا مِنْ أَهْلِ الشِّرْكِ كَانُوا قَدْ قَتَلُوا وَأَكْثَرُوا وَزَنَوْا وَأَكْثَرُوا فَأَتَوْا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا إِنَّ الَّذِي تَقُولُ وَتَدْعُو إِلَيْهِ لَحَسَنٌ لَوْ تُخْبِرُنَا أَنَّ لِمَا عَمِلْنَا كَفَّارَةً فَنَزَلَ } وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ{ وَنَزَلَتْ }قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ [13] {

Artinya: Telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Musa Telah mengabarkan kepada kami Hisyam bin Yusuf bahwa Ibnu Juraij mengabarkan kepada mereka dia berkata; Ya'laa, Sa'id bin Jubair telah mengabarkan kepadanya dari Ibnu Abbas radliallahu 'anhuma, bahwa orang-orang musyrik dahulu sering membunuh, sering berzina dan lalu mereka mendatangi Nabi dan berkata; wahai Muhammad, apa yang engkau katakan dan engkau serukan adalah baik jika engkau mengabarkan kepada kami bahwa apa yang telah kami perbuat ada kafaratnya, lalu Allah Azza wa jalla menurunkan ayat: Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar dan tidak berzina, dan turunlah ayat: Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. (Az Zumar: 53).

3.6. Pertolongan Allah Datang Di Saat Harapan Dipasrahkan Kepada Allah

Di dalam Al Quran surat Yusuf/ 12: 110 digambarkan bahwa ketika para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami;

حَتَّىٰ إِذَا اسْتَيْأَسَ الرُّسُلُ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ قَدْ كُذِبُوا جَاءَهُمْ نَصْرُنَا فَنُجِّيَ مَن نَّشَاءُ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُنَا عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ

Artinya: Sehingga apabila para rasul tidak mempunyai harapan lagi (tentang keimanan mereka) dan telah meyakini bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada para rasul itu pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang-orang yang Kami kehendaki. Dan tidak dapat ditolak siksa Kami dari pada orang-orang yang berdosa. (QS. Yusuf/ 12: 110)

3.7. Jangan Seseorang Mengatakan "Khobutsat Nafsii (Diriku Memang Brengsek)

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6179 dinyatakan Jangan seseorang mengatakn "khobutsat nafsii (diriku memang brengsek) yang menggambarkan keputus asaan;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَقُولَنَّ أَحَدُكُمْ خَبُثَتْ نَفْسِي وَلَكِنْ لِيَقُلْ لَقِسَتْ نَفْسِي [14]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Hisyam dari Ayahnya dari Aisyah radliallahu 'anha dari Nabi  beliau bersabda: "janganlah salah seorang dari kalian mengatakan; "Khabutsat nafsi (diriku sangat buruk), akan tetapi hendaknya ia mengatakan "laqishat nafsi (diriku ada kekurangan)."

3.8.  Doa Mohon Diberikan Ketakwaan Dari Putus Asa

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2722 disebutkan doa yang menggambarkan permohonan agar tidak menjadi hamba yang berputus asa dan mohon diberikan ketakwaan jiwa;

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لِابْنِ نُمَيْرٍ قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا و قَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ وَعَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ لَا أَقُولُ لَكُمْ إِلَّا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا [15]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Ishaq bin Ibrahim dan Muhammad bin 'Abdullah bin Numair -dan lafadh ini milik Ibnu Numair- Ishaq berkata: Telah mengabarkan kepada kami, sedangkan yang lainnya berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Ashim dari Abdullah bin Al Harits dan dari Abu Utsman An Nahdi dari Zaid bin Arqam dia berkata: "Saya tidak akan mengatakan kepada kalian kecuali seperti apa yang pernah diucapkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dalam doanya yang berbunyi: Ya Allah ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, ketakutan, kekikiran, kepikunan, dan siksa kubur. Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah ketakwaan kepada jiwaku, sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat mensucikannya, Engkaulah yang menguasai dan yang menjaganya. Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak berguna, hati yang tidak khusyu', diri yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak terkabulkan.'"

3.9. Doa Nabi Ayub Ketika Mengharapkan Mengalami Sakit

Di dalam Al Quran surat Al-Anbiya/ 21: 83, disebutkan doa nabi Ayub yang memperoleh ujian sakit;

وَأَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥٓ أَنِّى مَسَّنِىَ ٱلضُّرُّ وَأَنتَ أَرْحَمُ ٱلرَّٰحِمِينَ

Artinya: Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang". (QS. Al-Anbiya/ 21: 83)

3.10. Doa Nabi Zakariya Tidak Putus Asa Mengharapkan Keturunan Di Usia Tuanya

Di dalam Al Quran surat Maryam/ 19: 4 disebutkan doa Nabi Zakariya: Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku;

قَالَ رَبِّ إِنِّى وَهَنَ ٱلْعَظْمُ مِنِّى وَٱشْتَعَلَ ٱلرَّأْسُ شَيْبًۭا وَلَمْ أَكُنۢ بِدُعَآئِكَ رَبِّ شَقِيًّۭا

Artinya: Ia berkata "Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdoa kepada Engkau, ya Tuhanku. (QS. Maryam/ 19: 4)

Di dalam Al Quran surat Al-Anbiya/ 21: 89 disebutkan doa Nabi Zakariya: Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik;

وَزَكَرِيَّآ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُۥ رَبِّ لَا تَذَرْنِى فَرْدًۭا وَأَنتَ خَيْرُ ٱلْوَٰرِثِينَ

Artinya: Dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah Waris Yang Paling Baik. ( Al-Anbiya/ 21: 89)

3.11. Doa Nabi Muhammad Ketika Hijrah Ke Thaif, Tetapi Diusir Penduduknya

Di dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir hadits nomor 181 disebutkan doa Nabi Muhammad ketika duduk di bawah pohon, setelah menyeru kepada Islam penduduk Thaif, tetapi ditolak dan diusir;

حدثنا القاسم بن الليث أبو صالح الرسعني ، ثنا محمد بن عثمان أبي صفوان الثقفي ، ثنا وهب بن جرير بن حازم ، ثنا أبي ، عن محمد بن إسحاق ، عن هشام بن عروة ، عن أبيه ، عن عبد الله بن جعفر ، قال: لَمَّا تُوُفِّيَ أَبُو طَالِبٍ خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَاشِيًا إِلَى الطَّائِفِ إِلَى الْإِسْلَامِ فَلَمْ يُجِيبُوهُ فَأَتَى تَحْتَ ظِلِّ شَجَرَةٍ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ ثُمَّ قَالَ: " اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي وَقِلَّةَ حِيلَتِي وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ أَنْتَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِينَ إِلَى مَنْ تَكِلُنِي إِلَى عَدُوٍّ بِعِيدٍ يَتَجَهَّمُنِي ". أَيْ: يَلْقَانِي بِغِلْظَةٍ وَوَجْهٍ كَرِيهٍ عَلَى مَا فِي النِّهَايَةِ: " أَمْ إِلَى صَدِيقٍ قَرِيبٍ كَلَّفْتَهُ أَمْرِي إِنْ لَمْ تَكُنْ غَضْبَانًا عَلَيَّ فَلَا أُبَالِي غَيْرَ أَنَّ عَافِيَتَكُ أَوْسَعُ لِي، أَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِكَ الَّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظُّلُمَاتُ، وَصَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ أَنْ يَنْزِلَ بِي غَضَبُكَ، أَوْ يَحِلَّ بِي سَخَطُكَ، لَكَ الْعُتْبَى حَتَّى تَرْضَى وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِكَ» "  [16]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Al Qasim ibnu Al Laits Abu Shalih Ar Ras’ani, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Usman Abi Shafwan Ats Tsaqafi, telah menceritakan kepada kami Wahab ibnu Jarir ibnu Hazm, telah menceritakan kepada kami Ayahku, dari Muhammad ibnu Ishaq, dari Hisyam ibnu Urwah, dari Ayahnya dari Abdullah ibnu Ja’far, berkata: ketika Abu Thalib wafat Nabi SAW keluar berjalan ke Thaif menyeru kepada Islam, tapi mereka tidak menerimanya, maka kemudian berteduh di bawah pohon, dan shalat dua rekaat kemudian berdoa: "Ya Allah, aku mengadu kepada-Mu atas lemahnya kekuatanku dan sedikitnya usahaku serta kehinaan diriku di hadapan manusia. Ya Allah yang Maha Pengasih, Engkaulah Yang Maha Pengasih,  Engkaulah Tuhan semesta alam, Pelindung orang-orang yang lemah. Kepada siapa hendak Engkau serahkan diriku. Kepada musuh yang jauh yang menyerangku, yaitu: yang berjumpa denganku dengan hati yang keras dan wajah kebencian untuk mncegah,  ataukah kepada Zat yang dekat yang mengatur urusanku. Asalkan Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli selain ampunanmu yang luas untukku. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu Yang menerangi kegelapan dan memperbaiki segala urusan  dunia dan akhirat dari turunnya murka-Mu kepadaku, atau akan Kautimpakan kepadaku kemurkaan-Mu yang. Padamulah hak untuk menerima taubat hingga  ridha. Dan tiada daya dan upaya kecuali dengan-Mu."

3.12.  Doa Agar Dilindungi Dari Keputus Asaan

Di dalam kitab Shahih Muslim  hadits nomor 4922 disebutkan doa mohon perlindungan dari keputus asaan;

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الْكَرِيمِ أَبُو زُرْعَةَ حَدَّثَنَا ابْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنِي يَعْقُوبُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَ مِنْ دُعَاءِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ وَجَمِيعِ سَخَطِكَ [17]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami 'Ubaidullah bin 'Abdul Karim Abu Zur'ah telah menceritakan kepada kami Ibnu Bukair telah menceritakan kepadaku Ya'qub bin 'Abdurrahman dari Musa bin 'Uqbah dari 'Abdullah bin Dinar dari 'Abdullah bin 'Umar dia berkata; "Diantara doa Rasulullah  adalah: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari hilangnya kenikmatan yang telah Engkau berikan, dari lepasnya kesehatan yang telah Engkau anugerahkan, dari siksa-Mu yang datang secara tiba-tiba, dan dari segala kemurkaan-Mu.'" (HR. Muslim, Shahih Muslim: 4922)

Dengan demikian orang beriman perlu memahami tentang takwa dari taiasu, agar dapat menjaga diri dari taiasu, sehingga di sini perlu dirumuskan bahwa takwa dari taiasu adalah kesadaran untuk mengendalikan qalbu agar terjaga dari perasaan taiasu dalam menghadapi berbagai permasalahan yang dihadapi, dan jika terjadi taiasu harus segera mengakui dan diikuti kesadaran untuk bertaubat kepada Allah SWT.

Takwa dari taiasu juga perlu dipupuk dengan kesadaran beberapa kesadaran; kesadaran akan bahaya taiasu, karena taiasu merupakan salah satu dari dosa besar, kesadaran bahwa Allah mau menerima dan mengampuni orang yang melampau batas (banyak dosa) bila tidak berputus asa dengan rahmat Allah, serta kesadaran bahwa pertolongan Allah datang di saat harapan dipasrahkan kepada Allah.

 

Doa Mohon Ketakwaan Dari Keputus Asaan

"اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا"

“Ya Allah ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, ketakutan, kekikiran, kepikunan, dan siksa kubur. Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah ketakwaan kepada jiwaku, sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat mensucikannya, Engkaulah yang menguasai dan yang menjaganya. Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak berguna, hati yang tidak khusyu', diri yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak terkabulkan.'"

(HR. Muslim, Shahih Muslim 2722)



[1] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2005, Jilid 4, halaman. 92.

[2] Ibid, halaman. 95.

[3] Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Ighāthat al-Lahfān min Maṣāyid al-Syayṭān, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1997, Jilid 1, halaman. 68.

[4] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniya, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 99, Hadits nomor 6469.

[5] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 25, Halaman 186.Hadits nomor 15855.

[6] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 15, Halaman 159.Hadits nomor 9279.

[7] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al baihaqi, al-Sunan al-Kubra, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2003, Jilid 8 Hal. 41, Hadits nomor 15868.

[8] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman 2096, Hadits nomor 2735.

[9] Abdul-a-Shamad ad-Darimi, Musnad ad-Darimi (Sunan Darimi), Dar Al-Mughni Li-Nasyr wa Tauzi’, Saudi Arabia, 2000, Jilid 1, Halaman 339, Hadits nomor 306.

[10] Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibnu Hazm, Beirut, Jilid 5, Halaman, 429, Hadits nomor 4688.

[11] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 11, Halaman 312.Hadits nomor 6708.

[12] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 9, Halaman 156, Hadits nomor 8784.

[13] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniya, Mesir, 1404, Jilid 6, Halaman 125, Hadits nomor 4810.

[14] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniya, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 41, Hadits nomor 6179.

[15] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 2088, Hadits nomor 2722.

[16] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 13, Halaman 73, Hadits nomor 181.

[17] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 2097, Hadits nomor 97.


Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post