17/04/2026

60. Ketakwaan Merupakan Bagian Dari Taqdir

60. Ketakwaan Merupakan Bagian Dari Taqdir

Keistimewaan takwa ke enam puluh “Ketakwaan merupakan bagian dari taqdir”, di dasari Hadits nomor 3428 dalam kitab Sunan Ibnu Majah, di dalamnya  dinyatakan bahwa takwa murupakan bagian dari taqdir;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ أَنْبَأَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ ابْنِ أَبِي خِزَامَةَ عَنْ أَبِي خِزَامَةَ قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَأَيْتَ أَدْوِيَةً نَتَدَاوَى بِهَا وَرُقًى نَسْتَرْقِي بِهَا وَتُقًى نَتَّقِيهَا هَلْ تَرُدُّ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ شَيْئًا قَالَ هِيَ مِنْ قَدَرِ اللَّهِ [1]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabah telah memberitakan kepada kami Sufyan bin 'Uyainah dari Az Zuhri dari Ibnu Abu Khizamah dari Abu Khizamah dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ditanya: "Bagaimana pendapatmu terhadap obat-obatan yang kami gunakan untuk berobat, ruqyah yang kami amalkan dan ketakwaan yang kami jalankan, apakah ia dapat menolak dari ketentuan Allah?" beliau menjawab: "Itu semua termasuk dari takdir Allah."

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi Hadits nomor 3344 digambarkan bahwa Tidak ada seorangpun dari kalian dan juga tidak satupun jiwa yang bernafas melainkan telah ditentukan tempatnya di surga atau di neraka dan melainkan sudah ditentukan jalan sengsaranya atau bahagianya;

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا زَائِدَةُ بْنُ قُدَامَةَ عَنْ مَنْصُورِ بْنِ الْمُعْتَمِرِ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كُنَّا فِي جَنَازَةٍ فِي الْبَقِيعِ فَأَتَى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَلَسَ وَجَلَسْنَا مَعَهُ وَمَعَهُ عُودٌ يَنْكُتُ بِهِ فِي الْأَرْضِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ مَا مِنْ نَفْسٍ مَنْفُوسَةٍ إِلَّا قَدْ كُتِبَ مَدْخَلُهَا فَقَالَ الْقَوْمُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَإِنَّهُ يَعْمَلُ لِلسَّعَادَةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَإِنَّهُ يَعْمَلُ لِلشَّقَاءِ قَالَ بَلْ اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ السَّعَادَةِ فَإِنَّهُ يُيَسَّرُ لِعَمَلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الشَّقَاءِ فَإِنَّهُ يُيَسَّرُ لِعَمَلِ الشَّقَاءِ ثُمَّ قَرَأَ { فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْيُسْرَى وَأَمَّا مَنْ بَخِلَ وَاسْتَغْنَى وَكَذَّبَ بِالْحُسْنَى فَسَنُيَسِّرُهُ لِلْعُسْرَى } قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Zaidah bin Qudamah dari Manshur bin Al Mu'tamir dari Sa`d bin 'Ubaidah dari Abu Abdur Rahman As Sulami dari Ali radliallahu 'anhu beliau berkata: kami berada di dekat jenazah di Baqi'. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam datang dan duduk, kami pun duduk bersamanya. Beliau membawa sebuah ranting yang beliau pukul-pukulkan ke tanah. Kemudian beliau angkat kepalanya ke langit, dan berkata: tidak ada jiwa yang telah diberi nafas melainkan telah tertulis tempat nantinya ia dimasukkan. Kemudian orang-orang berkata: "Wahai Rasulullah, tidakkah kita bersandar saja kepada catatan kita sehingga barang siapa yang termasuk orang yang akan berbahagia maka ia beramal untuk kebahagiaan?. Dan barang siapa yang termasuk orang yang akan sengsara maka ia akan beramal untuk kesengsaraan?. Beliau bersabda: "Oh, tetapi beramallah kalian, sebab segala sesuatu akan dimudahkan. Adapun orang yang akan berbahagia akan dimudahkan untuk melakukan kebahagiaan, dan barang siapa yang akan sengsara maka ia dimudahkan untuk melakukan kesengsaraan." Kemudian beliau membaca firman Allah: Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, dan membenarkan pahala yang terbaik (surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar." (QS. Allail 5-10). Abu Isa berkata: hadits ini adalah hadits hasan shahih.

Dari tiga hadits tersebut dapat diperoleh pengertian bahwa orang yang bertakwa merupakan taqdir Allah, dengannya akan dimudahkan mengerjakan kebaikan dan di akherat akan menjadi ahli sa’adah; kebahagiaan.

Ayat-ayat Al-Quran dan Hadits-Hadits Rasulullah yang telah dikemukakan dalam 60 klisifikasi di atas memberikan gambaran begitu istimewanya takwa dalam ajaran Islam, hal ini yang mendorong penulis untuk melakukan penelitian lebih mendalam terhadap ayat-ayat Al Quran dan Sunnah Rasulullah SAW yang berkaitan dengan takwa, untuk dapat memperoleh pemahaman yang sebenar-benarnya tentang takwa, sehingga takwa dapat diamalkan dengan takwa yang sebenar-benarnya takwa.



[1] Muhammad bin Yazid al-Qazwini, Sunan Ibn Majah, Dār al-Fikr, Beirut, 1413 H/1993 M, Juz 2 hlm. 1137, Hadits No. 3437.

Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post