+ 3. TAQWA LEVEL IKHLAS
Ikhlas
berasal dari bahasa Arab dengan akar kata Khalasha berarti: menjadi
murni, tak bercampur, jelas, bersih, sedang jika dikembalikan ke akar kata Akhlasha
berarti: berlaku loyal, setia, tulus, jujur, berhati bersih, dari beberapa arti
kata tersebut dapat ditarik pengertian bahwa Ikhlas adalah kesadaran spiritual
untuk memurnikan ketaatan untuk mengabdi hanya kepada Allah, beribadah karena
Allah dan untuk Allah.
Imam
al-Ghazali menjelaskan bahwa ikhlas merupakan inti dari seluruh amal,
yaitu memurnikan niat dari segala dorongan selain Allah. Menurutnya, ikhlas
adalah ketika seorang hamba beramal tanpa terpengaruh pujian manusia,
penghargaan sosial, ataupun motif duniawi lain; amal tersebut diarahkan semata-mata
untuk mendekatkan diri kepada Allah. Al-Ghazali membedakan antara ikhlas dan
riya’, di mana riya’ adalah penyakit hati yang merusak nilai sebuah amal,
sedangkan ikhlas menuntut kebeningan niat dan kesadaran spiritual yang kuat. Ia
menegaskan bahwa proses mencapai ikhlas harus ditempuh melalui latihan jiwa,
mujahadah melawan hawa nafsu, dan kehadiran hati (ḥuḍūr
al-qalb) ketika beramal.[1]
Sementara
itu, Ibn Qayyim al-Jauziyah menekankan bahwa ikhlas adalah fondasi agama
sekaligus syarat diterimanya amal. Ia mendefinisikan ikhlas sebagai mengarahkan
seluruh amalan, ucapan, dan gerak hati hanya kepada Allah, bukan kepada makhluk
atau kepentingan diri. Ibn Qayyim menjelaskan bahwa ikhlas tidak mungkin
terwujud tanpa penafian total terhadap ketergantungan kepada selain Allah,
serta melepas segala bentuk pamrih yang tersembunyi dalam jiwa. Menurutnya,
derajat ikhlas bertingkat-tingkat, dari sekadar memurnikan niat hingga mencapai
maqam ṣidq,
yaitu keterikatan hati sepenuhnya pada Allah dalam setiap keadaan.[2]
Dalam
pengamalannya ikhlas dapat disamakan dengan taat yang berasal dari kata dasar
thawa’a; mengerjakan dengan suka rela, pencarian kata ikhlas di dalam Al Qur’an
menggunakan aplikasi Al Quran Dzekr 1.1 berdasar kata dasar khalasa
ditemukan 31 kali di 30 ayat, sedangkan kata yang memiliki pengertian sama
dengan ikhlas, yaitu kata thawa’a: Tha’at yang artinya taat;
patuh; senang hati, kata ini di dalam Al Quran ditemukan sebanyak 129 kali di
118 ayat, kata lainnya adalah kata Qanit; tunduk, patuh, taat, kata ini di
dalam Al Quran ditemukan sebanyak 13 kali di 12 ayat.
Di
dalam Al Quran surat Fushilat/ 41: 11 digambarkan bahwa bumi dan langit datang
kepada Allah dengan taat; senang hati; ikhlas;
ثُمَّ
اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا
طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ
Artinya: Kemudian
Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu
Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut
perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami
datang dengan suka hati". (QS. Fushilat/ 41: 11)
Demikian
juga di dalam Al Quran surat Ali Imran/ 3: 83 ditegaskan bahwa siapa saja yang
ada di langit maupun di bumi berserah diri taat; ikhlas kepada Allah, maka
apakah masih mau mencari agama lain selain agama Allah (Islam) ?;
أَفَغَيْرَ
دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ
Artinya: Maka
apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah
menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun
terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. (QS. Ali Imran/ 3: 83)
Di
dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 116 dan surat Ar-Rum/ 30: 26, ditegaskan
bahwa apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk
kepada-Nya;
وَقَالُوا
اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ
Artinya: Mereka
(orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah,
bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk
kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah/ 2: 116)
وَلَهُ
مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ
Artinya: Dan
kepunyaan-Nya-lah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya hanya
kepada-Nya tunduk. (QS. Ar-Rum/ 30: 26)
Di
dalam Al Quran surat Al-Ahzab/ 33: 31 dinyatakan bahwa siapa diantara kamu
sekalian (isteri-isteri nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan
mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali
lipat
وَمَنْ
يَقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُؤْتِهَا أَجْرَهَا
مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا
Artinya: Dan
barang siapa diantara kamu sekalian (isteri-isteri nabi) tetap taat kepada
Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan
kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezeki yang mulia.
(QS. Al-Ahzab/ 33: 31)
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6611, ditegaskan bahwa mendengar dan
taat adalah wajib bagi setiap muslim, baik yang ia sukai maupun yang tidak ia
sukai;
حَدَّثَنَا
مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ حَدَّثَنِي
نَافِعٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ
الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا
أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ
[3]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya bin
Sa'id dari 'Ubaidullah Telah menceritakan kepadaku Nafi' dari Abdullah
radliallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ bersabda: "mendengar dan taat adalah
wajib bagi setiap muslim, baik yang ia sukai maupun yang tidak ia sukai, selama
ia tidak diperintahkan melakukan kemaksiatan, adapun jika ia diperintahkan
melakukan maksiat, maka tidak ada hak mendengar dan menaati."
Sedangkan
di dalam Al Quran surat Az Zumar/ 39: 3 ditegaskan bahwa agama yang murni
hanyalah agama milik Allah (Islam);
أَلَا
لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا
نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ
يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي
مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ
Artinya: Ingatlah,
hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang
mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka
melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan
sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka
tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki
orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (QS. Az Zumar/ 39: 3)
Dari
beberapa ayat Al Quran dan Hadits di atas tergambar bahwa ketaatan, ketundukan
dan keikhlasan meliputi semua amal ibadah dalam agama Islam, artinya di dalam
semua amal dan ibadah manusia, agar diterima sebagai amal ibadah, maka di
dalamnya harus ada unsur keikhlasan.
Untuk
memberikan gambaran yang lengkap tentang hakekat ikhlas, maka berikut ini akan
dikemukakan pembahasan tentang;
1.
Hikmah Ikhlas,
2.
Aplikasi Ikhlas
3.
Taqwa Di Tingkat Ikhlas
Pembahasannnya adalah sebagai berikut;
- Hikmah Keikhlasan
Berikut
akan dikemukakan beberapa ayat Al Quran dan Hadits Rasulullah SAW, yang
mengandung hikmah tentang ikhlas, yakni sebagai berikut;
1.1. Sabar Dan Ikhlas Saat Tertimpa Musibah, Akan Mendapat Pahala Surga
Di
dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 1586, disebutkan bahwa Sabar dan
ikhlas saat tertimpa musibah, akan mendapat pahala surga;
حَدَّثَنَا
هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ حَدَّثَنَا ثَابِتُ
بْنُ عَجْلَانَ عَنْ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ ابْنَ آدَمَ إِنْ
صَبَرْتَ وَاحْتَسَبْتَ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى لَمْ أَرْضَ لَكَ ثَوَابًا
دُونَ الْجَنَّةِ [4]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Hisyam bin Ammar] berkata, telah menceritakan kepada
kami [Isma'il bin Ayyasy] berkata, telah menceritakan kepada kami [Tsabit bin
'Ajlan] dari [Al Qasim] dari [Abu Umamah] dari Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam, beliau bersabda: "Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman:
"Hai anak Adam, jika kamu bersabar dan ikhlas saat tertimpa musibah, maka
aku tidak akan meridlai bagimu sebuah pahala kecuali surga.
1.2. Bersaksi Tidak Ada Tuhan Selain Allah Dengan Ikhlas Akan Dimasukkan Ke
Jannah
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 8625 ditegaskan bahwa Barangsiapa
bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dengan tulus dari hatinya atau
yakin dari hati maka ia tidak akan masuk neraka, atau ia akan masuk surga;
حَدَّثَنَا
عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ
عَمْرٍو يَعْنِي ابْنَ دِينَارٍ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ
يَقُولُ أَنَا مَنْ شَهِدَ مُعَاذًا حِينَ حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ يَقُولُ اكْشِفُوا
عَنِّي سَجْفَ الْقُبَّةِ أُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ مَرَّةً أُخْبِرُكُمْ بِشَيْءٍ
سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ
يَمْنَعْنِي أَنْ أُحَدِّثَكُمُوهُ إِلَّا أَنْ تَتَّكِلُوا سَمِعْتُهُ يَقُولُ
مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ
يَقِينًا مِنْ قَلْبِهِ لَمْ يَدْخُلْ النَّارَ أَوْ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَقَالَ
مَرَّةً دَخَلَ الْجَنَّةَ وَلَمْ تَمَسَّهُ النَّارُ
[5]
Artinya: Telah
bercerita kepada kami 'Abdullah telah bercerita kepadaku ayahku. Telah
bercerita kepada kami Sufyan bin 'Uyainah dari 'Amr bin Dinar berkata; Saya
mendengar Jabir bin 'Abdullah berkata; Saya adalah satu diantara orang-orang
yang menghadiri Mu'adz saat sekarat, ia berkata; Bukalah tabir rumah, akan aku
ceritakan sebuah hadits pada kalian yang pernah saya dengar dari Rasulullah ﷺ. Sesekali ia berkata; Akan aku kabarkan sesuatu
yang pernah aku dengar dari Rasulullah ﷺ tidak ada
yang menghalangiku untuk menyampaikannya pada kalian selain karena khawatir
kalian mengandalkannya. Saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda; "Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dengan
tulus dari hatinya atau yakin dari hati maka ia tidak akan masuk neraka, atau
ia akan masuk surga." Sesekali Rasulullah ﷺ bersabda; "Masuk surga dan tidak akan tersentuh oleh neraka."
1.3. Orang Yang Ikhlas Tidak Diganggu Iblis
Di
dalam Al Quran Surat Al-Hijr/ 15: 39-40, Shad/ 38: 83, Ash Shafat/ 37: 169,
juga di surat Ash Shafat/ 37: 40 dikuti 3 ayat lain yang bunyinya sama dengan
ayat 40, yakni ayat 74, 128 dan 160, dijelaskan bahwa iblis berkata pasti aku
akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di
antara mereka;
قَالَ
رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ
وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ, إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
Artinya: Iblis
berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku
sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di
muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali
hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka".
إِلَّا
عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ
Artinya: kecuali
hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. (38: 83)
لَكُنَّا
عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ
Artinya: benar-benar
kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa)". (QS. Ash
Shafat/ 37: 169)
إِلَّا
عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ
Artinya: tetapi
hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). (QS. Ash Shafat/ 37: 40)
1.4.
Allah Menolong Umat Islam Dengan Keikhlasan Mereka.
Di
dalam kitab Sunan Nasai hadits nomor 3127
dinyatakan bahwa sesungguhnya Allah menolong umat
ini dengan orang lemahnya, dengan doa mereka, shalat mereka, dan keikhlasan
mereka.
أَخْبَرَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ قَالَ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ عَنْ
أَبِيهِ عَنْ مِسْعَرٍ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ
عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ ظَنَّ أَنَّ لَهُ فَضْلًا عَلَى مَنْ دُونَهُ مِنْ أَصْحَابِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ
بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ[6]
Artinya: Telah
mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Idris, ia berkata; telah menceritakan
kepada kami Umar bin Hafsh bin Ghiyats dari ayahnya dari Mis'ar dari Thalhah
bin Musharrif dari Mush'ab bin Sa'd dari ayahnya bahwa ia menyangka bahwa ia
memiliki keutamaan di atas orang selainnya dari kalangan para sahabat nabi ﷺ. Maka
Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan
orang lemahnya, dengan doa mereka, shalat mereka, dan keikhlasan mereka."
1.5.
Orang-Orang Yang Ikhlas Memperoleh Keberuntungan
Di
dalam kitab Syuab Al-Iman hadits nomor 6448 dinyatakan bahwa beruntunglah
orang-orang yang ikhlas;
حَدَّثَنَا أَبُو
عَمْرِو بْنُ حَمْدَانَ، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، حَدَّثَنَا أَبُو
مُوسَى إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْهَرَوِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ
عَمْرُو بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ السِّنْجَارِيُّ، حَدَّثَنَا عُبَيْدَةُ بْنُ
حَسَّانَ، عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ بْنِ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، مَوْلَى رَسُولِ
اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [16] قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ
جَدِّي: شَهِدْتُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَجْلِسًا
فَقَالَ: «طُوبَى لِلْمُخْلِصِينَ, أُولَئِكَ مَصَابِيحُ الْهُدَى تَنْجَلِي
عَنْهُمْ كُلُّ فِتْنَةٍ ظَلْمَاءُ» قَالَ الشَّيْخُ رَحِمَهُ اللهُ: وَهُمُ
الْوَاصِلُونَ بِالْحَبْلِ, وَالْبَاذِلُونَ لِلْفَضْلِ, وَالْحَاكِمُونَ
بِالْعَدْلِ [7]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Amr ibnu
Hamdan, telah menceritakan kepada kami Al Hasan ibnu Sufyan, telah menceritakan
kepada kami Al Hasan ibnu Sufyan, telah menceritakan kepada kami Abu Musa Ishaq
ibnu Ibrahim Al Harawi, telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah Amru ibnu
Abdi Al jabbar As Sinjari, telah menceritakan kepada kami Ubaidah ibnu Hasan,
dari Abdi Al hamid ibnu Tsabit ibnu Tsauban, Pembantu Rasulullah ﷺ berkata:
telah menceritakan kepada kami Ayahku dari kakekku: Aku menyaksikan Rasulullah ﷺ di dalam sebuah majelis bersabda: Beruntunglah orang-orang yang ikhlas,
mereka itulah pelita-pelita petunjuk tampak dengannya semua gangguan kegelapan”
berkata syaikh yang dirahmati Allah; dan mereka menjadi penyambung tali.
Warisan bagi keutamaan, hakim bagi keadilan.
Keikhlasan
mencakup semua amal ibadah manusia, berikut akan dikemukakan beberapa ayat Al
Quran dan Hadits Rasulullah SAW, yang memberikan gambaran cakupan aplikasi
ikhlas, yakni sebagai berikut;
Di
dalam Al Quran Surat Al-Bayyinah/ 95: 5 dan Az Zumar/ 39: 2, 11, 14 ditegaskan
bahwa manusia diperintahkan hanya untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas;
وَمَا
أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ
Artinya:
Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka
mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang
lurus.
إِنَّا
أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ
الدِّينَ
Artinya: Sesunguhnya
Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka
sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (QS. Az Zumar/ 39: 2)
قُلْ
إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ
Artinya: Katakanlah:
"Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (QS. Az Zumar/ 39: 11)
قُلِ
اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهُ دِينِي
Artinya: Katakanlah:
"Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya
dalam (menjalankan) agamaku". (QS. Az Zumar39: 14)
2.2.
Menyeru / Berdoa Kepada Allah Dengan Ikhlas
Di dalam Al Quran surat Al A’raf/ 7: 29
dan Al Mu’min/ 40: 14, 40 manusia diperintahkan untuk berdoa kepada Allah
dengan ikhlas;
قُلْ
أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ
وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ
Artinya: Katakanlah:
"Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". Dan (katakanlah):
"Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah
(Serulah/berdoalah) kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya.
Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu
akan kembali kepada-Nya)". (QS. Al A’raf/ 7: 29)
فَادْعُوا
اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
Artinya: Maka
sembahlah (Serulah/berdoalah) kepada Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya,
meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). (QS. Al Mu’min/ 40: 14)
هُوَ
الْحَيُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ
لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: Dialah
Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka
sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat (Seruan/doa) kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan
semesta alam. (QS. Al Mu’min/ 40: 65)
2.3.
Mengikhlaskan Amal Hanya Kepada Allah
Di
dalam Al Quran surat Al Baqarah/ 2: 139 tergambar bahwa amal perbuatan kami,
kami lakukan dengan ikhlas;
قُلْ
أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا
وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ
Artinya: Katakanlah:
"Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah
Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan
hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati, (QS. Al Baqarah/ 2: 139)
Di dalam kitab
Syuab Al-Iman hadits nomor 130 ditegaskan: Wahai manusia! Ikhlaskanlah amal
perbuatan kalian untuk Allah 'Azza wa Jalla. Karena sesungguhnya Allah tidak
akan menerima amal kecuali yang ikhlas karena-Nya;
نا
يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ صَاعِدٍ , وَجَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَعْقُوبَ
الصَّنْدَلِيُّ , قَالَا: نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَجْشَرٍ , نا عَبِيدَةُ بْنُ
حُمَيْدٍ , حَدَّثَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ رُفَيْعٍ , وَغَيْرُهُ عَنْ تَمِيمِ
بْنِ طَرَفَةَ , عَنِ الضَّحَّاكِ بْنِ قَيْسٍ الْفِهْرِيِّ , قَالَ: قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ اللَّهَ عَزَّ
وَجَلَّ يَقُولُ: أَنَا خَيْرُ شَرِيكٍ فَمَنْ أَشْرَكَ مَعِيَ شَرِيكًا فَهُوَ
لِشَرِيكِي يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَخْلِصُوا أَعْمَالَكُمْ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
, فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ إِلَّا مَا أُخْلِصَ لَهُ , وَلَا تَقُولُوا:
هَذَا لِلَّهِ وَلِلرَّحِمِ , فَإِنَّهَا لِلرَّحِمِ وَلَيْسَ لِلَّهِ مِنْهَا
شَيْءٌ , وَلَا تَقُولُوا: هَذَا لِلَّهِ وَلُوُجُوهِكِمْ , فَإِنَّهَا لِوُجُوهِكِمْ
وَلَيْسَ لِلَّهِ مِنْهَا شَيْءٌ [8]
Artinya: Yahya
bin Muhammad bin Sha'id dan Ja'far bin Muhamamd bin Ya'qub Ash-Shandali
mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan: Ibrahim bin Muhasysyir
mengabarkan kepada kami, Abidah bin Humaid mengabarkan kepada kami, Abdul Aziz
bin Rufai' dan yang lainnya mengabarkan kepadaku, dari Tamim bin Tharafah, dari
Adh-Dhahhak bin Qais Al Fihri, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda,
'Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berfirman, 'Aku adalah sebaik-baik sekutu.
Barangsiapa yang mempersekutukan-Ku dengan suatu sekutu, maka ia untuk
sekutu-Ku.' Wahai manusia! Ikhlaskanlah amal perbuatan kalian untuk Allah 'Azza
wa Jalla. Karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali yang
ikhlas karena-Nya. Dan janganlah kalian mengatakan, 'Ini untuk Allah dan rahim (keluarga),'
karena (jika begitu) berarti itu adalah untuk rahim (keluarga) dan tidak
sedikit pun yang untuk Allah. Dan jangan pula kalian mengatakan, 'Ini untuk
Allah dan kehormatan kalian,' (sebab jika begitu) maka tidak sedikit pun yang
untuk Allah'."
2.4. Ikhlas Dalam Semua Amal Ibadah, Taat Kepada Setiap Muslim
Di dalam kitab
Shahih Bukhari hadits nomor 2157 digambarkan seseorang berbai'at kepada
Rasulullah ﷺ untuk bersyahadah Laa ilaaha illallah wa anna Muhammadar Rasulullah, menegakkan
shalat, menunaikan zakat, mendengar dan tho'at serta setia kepada setiap
muslim;
حَدَّثَنَا
عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ إِسْمَاعِيلَ عَنْ قَيْسٍ
سَمِعْتُ جَرِيرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ
الزَّكَاةِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ [9]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami 'Ali bin 'Abdullah telah menceritakan kepada kami
Sufyan dari Isma'il dari Qais aku mendengar Jarir radliallahu 'anhu berkata:
"Aku berbai'at kepada Rasulullah ﷺ untuk bersyahadah Laa ilaaha illallah wa
anna Muhammadar Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mendengar dan
tho'at serta setia kepada setiap muslim".
2.5.
Mengikuti Burhan Dengan Ikhlas
Di
dalam Al Quran surat Yusuf/ 12: 24 digambarkan bahwa Yusuf merupakan hamba yang
ikhlas mengikuti burhan (keterangan; petunjuk; tanda) untuk meninggalkan
keburukan dan kekejian;
وَلَقَدْ
هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَن رَّأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَٰلِكَ
لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا
الْمُخْلَصِينَ
Artinya: Sesungguhnya
wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun
bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda
(dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran
dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas
(terpilih). (QS. Yusuf/ 12: 24)
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 8412, dijelaskan Sebaik-baik pekerjaan
adalah pekerjaan seseorang dengan tangannya jika dia sungguh-sungguh dan
ikhlas;
حَدَّثَنَا
أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمَّارٍ كَشَاكِشٍ قَالَ
سَمِعْتُ سَعِيدًا الْمَقْبُرِيَّ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ الْكَسْبِ كَسْبُ يَدِ
الْعَامِلِ إِذَا نَصَحَ [10]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Abu 'Amir Al 'Aqodi] dari [Muhammad bin 'Ammar
Kasyakisy] berkata; Aku mendengar [Sa'id Al Maqburi] menceritakan dari [Abu
Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:
"Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seseorang dengan tangannya jika
dia ikhlas."
Di
dalam Al Quran surat Shad/ 38: 46, digambarkan perintah untuk Ikhlas Mengingat
Akhirat; beramal untuk akhirat;
إِنَّا
أَخْلَصْنَاهُم بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ ﴿ص: ٤٦﴾
Artinya: Sesungguhnya
Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang
tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. (QS. Shad/
38: 46)
2.8. Mengucapkan Laa Ilaaha Illallah Dengan Ikhlas Dari Hatinya Atau Jiwanya
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 99, disebutkan bahwa orang yang paling
berbahagia dengan syafa'atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa
ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya;
حَدَّثَنَا
عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ عَنْ عَمْرِو
بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ
بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا
الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ
[11]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Abdul 'Aziz bin Abdullah] berkata, telah menceritakan
kepadaku [Sulaiman] dari ['Amru bin Abu 'Amru] dari [Sa'id Al Maqburi] dari
[Abu Hurairah], bahwa dia berkata: ditanyakan (kepada Rasulullah shallallahu
'alaihi wasallam: "Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling berbahagia
dengan syafa'atmu pada hari kiamat?" Rasulullah shallallahu 'alaihi
wasallam menjawab: "Aku telah menduga wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada
orang yang mendahuluimu dalam menanyakan masalah ini, karena aku lihat betapa
perhatian dirimu terhadap hadis. Orang yang paling berbahagia dengan syafa'atku
pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan
ikhlas dari hatinya atau jiwanya".
2.9. Ikhlas Hatinya Membenarkan Lisannya Dan Lisannya Membenarkan Hatinya
Di
kitab Musnad Ahmad hadits nomor 10713, disebutkan bahwa syafa'at Nabi Muhammad
SAW akan diberikan kepada orang yang bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah
dengan ikhlas, hatinya membenarkan lisannya dan lisannya juga membenarkan
hatinya;
حَدَّثَنَا
عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ يَزِيدَ
بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ مُغِيثٍ أَوْ مُعَتِّبٍ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَاذَا رَدَّ إِلَيْكَ رَبُّكَ
عَزَّ وَجَلَّ فِي الشَّفَاعَةِ قَالَ لَقَدْ ظَنَنْتُ لَتَكُونَنَّ أَوَّلَ مَنْ
سَأَلَنِي مِمَّا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْعِلْمِ شَفَاعَتِي لِمَنْ
يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصًا يُصَدِّقُ قَلْبُهُ لِسَانَهُ
وَلِسَانُهُ قَلْبَهُ
[12]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Utsman bin Umar berkata, telah menceritakan kepada
kami Abdul Hamid bin Ja'far dari Yazid bin Abu Habib dari Mu'awiyah bin Mughits
dari Abu Hurairah, ia berkata; "Wahai Rasulullah, apa tanggapan Rabbmu
'azza wajalla kepadamu perihal syafa'at?" beliau bersabda: "Sungguh,
aku telah mengira bahwa engkau adalah orang yang pertama kali bertanya kepadaku
tentang hal itu, sebab aku melihat engkau begitu antusias terhadap ilmu.
Syafa'atku hanyalah untuk orang-orang yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang
berhak untuk di sembah selain Allah dengan ikhlas, hatinya membenarkan lisannya
dan lisannya membenarkan hatinya."
Ikhlas
merupakan syarat taubat yang diterima, taubat dengan menyerahkan nyawa menjadi
taubat yang paling utama, disebutkan di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor
1696;
حَدَّثَنِي
أَبُو غَسَّانَ مَالِكُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْمِسْمَعِيُّ حَدَّثَنَا مُعَاذٌ
يَعْنِي ابْنَ هِشَامٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ
حَدَّثَنِي أَبُو قِلَابَةَ أَنَّ أَبَا الْمُهَلَّبِ حَدَّثَهُ عَنْ عِمْرَانَ
بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ أَتَتْ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ حُبْلَى مِنْ الزِّنَى فَقَالَتْ يَا نَبِيَّ
اللَّهِ أَصَبْتُ حَدًّا فَأَقِمْهُ عَلَيَّ فَدَعَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِيَّهَا فَقَالَ أَحْسِنْ إِلَيْهَا فَإِذَا
وَضَعَتْ فَأْتِنِي بِهَا فَفَعَلَ فَأَمَرَ بِهَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشُكَّتْ عَلَيْهَا ثِيَابُهَا ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَرُجِمَتْ
ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا فَقَالَ لَهُ عُمَرُ تُصَلِّي عَلَيْهَا يَا نَبِيَّ
اللَّهِ وَقَدْ زَنَتْ فَقَالَ لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ
سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ وَهَلْ وَجَدْتَ تَوْبَةً
أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ تَعَالَى و حَدَّثَنَاه أَبُو
بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا أَبَانُ
الْعَطَّارُ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ [13]
Artinya: Telah
menceritakan kepadakuu [Abu Ghassan Malik bin Abdul Wahid Al Misma'i] telah
menceritakan kepada kami [Mu'adz] -yaitu Ibnu Hisyam- telah menceritakan
kepadaku [ayahku] dari [Yahya bin Abu Katsir] telah menceritakan kepadaku [Abu
Qilabah] bahwa [Abu Al Muhallab] telah menceritakan kepadanya dari ['Imran bin
Hushain], bahwa seorang wanita dari Juhainah datang menghadap kepada Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam, padahal dia sedang hamil akibat melakukan zina.
Wanita itu berkata, "Wahai Rasulullah, aku telah melanggar hukum, oleh
karena itu tegakkanlah hukuman itu atasku." Lalu Nabi Allah memanggil wali
perempuan itu dan bersabda kepadanya: "Rawatlah wanita ini sebaik-baiknya,
apabila dia telah melahirkan, bawalah dia ke hadapanku." Lalu walinya
melakukan pesan tersebut. setelah itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
memerintahkan untuk merajam wanita tersebut, maka pakaian wanita tersebut
dirapikan (agar auratnya tidak terbuka saat dirajam). Kemudian beliau
perintahkan agar ia dirajam. Setelah dirajam, beliau menshalatkan jenazahnya,
namun hal itu menjadkan Umar bertanya kepada beliau, "Wahai Nabi Allah,
perlukah dia dishalatkan? Bukankah dia telah berzina?" beliau menjawab:
"Sunnguh, dia telah bertaubat kalau sekiranya taubatnya dibagi-bagikan
kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, pasti taubatnya akan mencukupi
mereka semua. Adakah taubat yang lebih utama daripada menyerahkan nyawa kepada
Allah Ta'ala secara ikhlas?" Dan telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar
bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami ['Affan bin Muslim] telah
menceritakan kepada kami [Aban Aal 'Athar] telah menceritakan kepada kami
[Yahya bin Abu Katsir] dengan isnad seperti ini."
2.11. Mengacungkan Jari Telunjuk Di Dalam Shalat Sebagai Isyarat Ikhlas
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 2985 digambarkan bahwa ucapan seseorang
dengan isyarat jarinya, yakni begini (maksudnya mengacungkan jari telunjuk) di
dalam shalat, Itu adalah keikhlasan (memurnikan Allah dengan isyarat jari
telunjuk bahwa Allah itu; Esa, Ahad).
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا إِسْحَاقَ
يُحَدِّثُ أَنَّهُ سَمِعَ رَجُلًا مِنْ بَنِي تَمِيمٍ قَالَ سَأَلْتُ ابْنَ
عَبَّاسٍ عَنْ قَوْلِ الرَّجُلِ بِإِصْبَعِهِ يَعْنِي هَكَذَا فِي الصَّلَاةِ
قَالَ ذَاكَ الْإِخْلَاصُ [14]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] telah menceritakan kepada kami
[Syu'bah] ia berkata; Aku mendengar [Abu Ishaq] menceritakan bahwa ia mendengar
[seorang laki-laki] dari bani Tamim, ia berkata; Aku bertanya kepada [Ibnu
Abbas] tentang ucapan seseorang dengan isyarat jarinya, yakni begini (maksudnya
mengacungkan jari telunjuk) di dalam shalat, maka Ibn Abbas menjawab; Itu
keikhlasan (memurnikan Allah dengan isyarat jari telunjuk bahwa Allah itu Esa,
atau Tunggal).
Di
dalam Al Quran surat An-Nahl/16: 52 tergambar bahwa langit dan bumi
taat tunduk, patuh dan ikhlas kepada
Allah selamanya, maka bertaqwalah hanya kepada Allah;
وَلَهٗ مَا
فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَلَهُ الدِّيْنُ وَاصِبًاۗ اَفَغَيْرَ اللّٰهِ تَتَّقُوْنَ
Artinya: Dan milik-Nya meliputi segala apa yang ada di
langit dan di bumi, dan kepada-Nyalah (ibadah dan) ketaatan selama-lamanya.
Mengapa kamu Taqwa kepada selain Allah? (QS. An-Nahl/16:52)
Bentuk
ketaqwaan kepada Allah di tingkat Ikhlas, yang disebutkan di dalam Al Quran dan
Hadits antara lain;
3.1. Bertaqwa Kepada Allah Sesuai Kemampuan Maksimal
Di
dalam Al Quran surat At Taghabun/ 64: 16 dijelaskan perintah untuk bertaqwa
kepada Allah sesuai kemampuan maksimal dengan cara mendengar dan taat (ikhlas)
kepada Allah;
فَاتَّقُوا
اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا
لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ
الْمُفْلِحُوْنَ
Artinya: Maka
bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta
taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang-siapa dijaga
dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. At-Tagabun/64: 16)
Di
dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 589 dinyatakan bahwa Apabila
seorang mukmin mengadu (kepada Allah), maka Allah membersihkan dia (dari dosa);
أَخْبَرَنَا
الْحُسَيْنُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ الْقَطَّانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا
عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ،
قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ
عَائِشَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا
اشْتَكَى الْمُؤْمِنُ أَخْلَصَهُ ذَلِكَ كَمَا يُخْلِصُ الْكِيرُ خَبَثَ
الْحَدِيدِ [15]»
Artinya: Dari
Aisyah radhiallahu 'anha, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:
"Apabila seorang mukmin mengadu (kepada Allah), maka Allah membersihkan
dia (dari dosa) sebagaimana tukang besi membersihkan besi yang buruk."
3.3. Shalat Malam Membaca Dua Ratus Ayat Al Quran
Di
dalam kitab Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain hadits nomor 1162 dinyatakan
bahwa barangsiapa yang shalat di malam hari dengan membaca dua ratus ayat niscaya ia akan ditulis
sebagai orang yang ikhlas tunduk kepada Allah;
نا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، نا سَعْدُ بْنُ عَبْدِ
الْحَمِيدِ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي الزِّنَادِ، عَنْ مُوسَى
بْنِ عُقْبَةَ، عَنِ ابْنِ سَلْمَانَ، عَنْ أَبِيهِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ
سَلْمَانَ الْأَغَرِّ قَالَ: قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ صَلَّى فِي لَيْلَةٍ بِمِائَةِ آيَةِ لَمْ
يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ، وَمَنْ صَلَّى فِي لَيْلَةٍ بِمِائَتَيْ آيَةٍ
فَإِنَّهُ يُكْتَبُ مِنَ الْقَانِتِينَ الْمُخْلِصِينَ
[16]
»
Artinya:
Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, Sa'ad bin Abdul Hamid menceritakan
kepada kami, Abdurrahman bin Abu Az-Zinad mengabarkan kepada kami dari Musa bin
Uqbah, dari Salman, dari ayahnya Abu Abdullah Salman Al Aghar, ia berkata: Abu
Hurairah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,
'Barangsiapa shalat di malam hari dengan membaca seratus ayat niscaya ia tidak
akan ditulis sebagai orang-orang yang lalai dan barangsiapa yang shalat di
malam hari dengan membaca dua ratus ayat
niscaya ia akan ditulis sebagai orang yang ikhlas tunduk kepada Allah'."
3.4. Melakukan Amal Ibadah Dengan Ikhlas dan
Mengharapkan WajahNya
Di
dalam kitab Sunan Nasai hadits nomor 3089 ditegaskan bahwa Allah tidak menerima
amalan kecuali jika dilakukan dengan ikhlas dan mengharapkan wajah-Nya;
أَخْبَرَنَا
عِيسَى بْنُ هِلَالٍ الْحِمْصِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حِمْيَرٍ قَالَ
حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ سَلَّامٍ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ عَمَّارٍ عَنْ
شَدَّادٍ أَبِي عَمَّارٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ
إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَرَأَيْتَ رَجُلًا
غَزَا يَلْتَمِسُ الْأَجْرَ وَالذِّكْرَ مَالَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا شَيْءَ لَهُ فَأَعَادَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ
يَقُولُ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا شَيْءَ لَهُ
ثُمَّ قَالَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ
خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ [17]
Artinya: Telah
mengabarkan kepada kami Isa bin Hilal Al Himshi, ia berkata; telah menceritakan
kepada kami Muhammad bin Humair, ia berkata; telah menceritakan kepada kami
Mu'awiyah bin Sallam dari 'Ikrimah bin 'Ammar dari Syaddad bin Abi 'Ammar dari
Abu Umamah Al Bahili, ia berkata; telah datang seorang laki-laki kepada Nabi ﷺ lalu berkata; bagaimana pendapat anda mengenai
seseorang yang berjihad mengharapkan upah dan sanjungan, apakah yang ia
peroleh? Rasulullah ﷺ menjawab:
"Ia tidak mendapatkan apa-apa, " lalu ia mengulanginya tiga kali,
Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: "Ia tidak
mendapatkan apa-apa". Kemudian beliau bersabda: " Allah tidak
menerima amalan kecuali jika dilakukan dengan ikhlas dan mengharapkan
wajahNya."
Di
dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor 6930 digambarkan tiga kelompok
orang beramal, dan dinyatakan bahwa orang yang beramal dengan ikhlas yang
diterima Allah;
أَخْبَرَنَا
أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، وَأَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ، قَالَا:
نا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، نا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ
عَفَّانَ، نا عُبَيْدُ اللهِ هُوَ ابْنُ مُوسَى، نا قَطَرِيٌّ الْخَشَّابُ، عَنْ
عَبْدِ الْوَارِثِ، عَنْ مَوْلَى أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ أَنَسٌ: قَالَ رَسُولُ
اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ
صَارَتْ أُمَّتِي ثَلَاثَ فِرَقٍ: فِرْقَةٌ يَعْبُدُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ
خَالِصًا، وَفِرْقَةٌ يَعْبُدُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ رِيَاءً، وَفِرْقَةٌ
يَعْبُدُونَ اللهَ يُصِيبُونَ بِهِ دُنْيَا. قَالَ: فَيَقُولُ لِلَّذِي كَانَ
يَعَبُدُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لِلدُّنْيَا: بِعِزَّتِي وَجَلَالِي، مَا أَرَدْتَ
بِعِبَادَتِي؟ فَيَقُولُ: الدُّنْيَا. فَيَقُولُ: لَا جَرَمَ، لَا يَنْفَعُكَ مَا
جَمَعْتَ وَلَا تَرْجِعُ إِلَيْهِ، انْطَلِقُوا بِهِ إِلَى النَّارِ، قَالَ:
وَيَقُولُ لِلَّذِي يَعَبُدُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ رِيَاءً: بِعِزَّتِي وَجَلَالِي،
مَا أَرَدْتَ بِعِبَادَتِي؟ قَالَ: الرِّيَاءَ. قَالَ: يَقُولُ: إِنَّمَا كَانَتْ
عِبَادَتُكَ الَّتِي كُنْتَ تُرَائِي بِهَا لَا يَصْعَدُ إِلَيَّ مِنْهَا شَيْءٌ،
وَلَا يَنْفَعُكَ الْيَوْمَ انْطَلِقُوا بِهِ إِلَى النَّارِ، قَالَ: وَيَقُولُ
لِلَّذِي كَانَ يَعَبُدُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ خَالِصًا: بِعِزَّتِي وَجَلَالِي،
مَا أَرَدْتَ بِعِبَادَتِي؟ فَيَقُولُ: بِعِزَّتِكَ وَجَلَالِكَ، لَأَنْتَ
أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي كُنْتُ أَعْبُدُكَ لِوَجْهِكَ وَلِدَارِكَ، قَالَ: صَدَقَ
عَبْدِي انْطَلِقُوا بِهِ إِلَى الْجَنَّةِ
[18] "
Artinya: Telah
mengabarkan kepada kami Abu Abdillah Al Hafidz dan Abu Bakar Ahmad ibnu Hasan,
berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Abas Muhammad ibnu Ya’qub, telah
mengabarkan kepada kami Al hasan ibnu Ali ibnu ‘Afan, telah mengabarkan kepada
kami ‘Ubaidullah yaitu ibnu Musa, telah mengabarkan kepada kami Qathari Al
Hasab, dari Abd Al Waris, dari Maula Anas, berkata, berkata Anas: Rasulullah ﷺ bersabda: Jika terjadi Hari Qiyamat umatku terbagi menjadi tiga kelompok,
kelompok yang menyembah Allah Azza wa Jalla dengan ikhlas, kelompok yang
menyembah Allah Azza wa Jalla dengan riya’, kelompok yang menyembah Allah Azza
wa Jalla untuk memperoleh dunianya, belia bersabda, Maka Allah berkata kepada
orang yang menyembah Allah Azza wa Jalla untuk duniannya, dengan keagungan dan
kemulyaanku, apa yang kamu inginkan dari ibadah kepadaKu ?, mereka berkata:
dunia, maka Allah berkata: tidak diragukan, tidak ada manfaat bagimu apa yang
telah kamu kumpulkan dan tidak dapat kembali kepadanya, karenanya lemparkanlah
ke Neraka, Allah berkata kepada orang yang menyembah Allah Azza wa Jalla untuk
duniannya, dengan keagungan dan kemulyaanku, apa yang kamu inginkan dari ibadah
kepadaKu ?, mereka berkata: riya’, maka Allah berkata: sesungguhnya ibadahmu
untuk siapa kamu ingin diperhatikan, ibadahmu tidak naik kepadaku sedikitpun,
dan hari ini tidak memberi manfaat kepadamu, karenanya lemparkanlah ke Neraka,
Allah berkata kepada orang yang menyembah Allah Azza wa Jalla dengan ikhlas,
dengan keagungan dan kemulyaanku, apa yang kamu inginkan dari ibadah kepadaKu
?, mereka berkata: dengan keagungan dan kemulyaanMu sungguh engakau lebih
mengetahui , maka Allah berkata:hambaKu benar karenanya bebaskan dia ke Jannah.
3.5. Mendengar Dan Taat, Baik Ketika Giat (Semangat) Maupun Malas
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6774 digambarkan bahwa orang yang
berbaiat kepada Nabi untuk bersedia mendengar dan taat, baik ketika giat
(semangat) maupun malas;
حَدَّثَنَا
إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ قَالَ أَخْبَرَنِي
عُبَادَةُ بْنُ الْوَلِيدِ أَخْبَرَنِي أَبِي عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ
قَالَ بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى
السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي الْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ وَأَنْ لَا نُنَازِعَ
الْأَمْرَ أَهْلَهُ وَأَنْ نَقُومَ أَوْ نَقُولَ بِالْحَقِّ حَيْثُمَا كُنَّا لَا
نَخَافُ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ [19]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ismail telah menceritakan kepadaku Malik dari Yahya
bin Sa'id mengatakan, telah mengabarkan kepadaku 'Ubadah bin Al Walid telah
mengabarkan kepadaku Ayahku dari Ubadah bin Ash Shamit mengatakan; 'kami
berbai'at kepada Rasulullah ﷺ untuk mendengar dan
taat, baik ketika giat (semangat) maupun malas, dan untuk tidak menggulingkan
kekuasaan dari orang yang berwenang terhadapnya, dan mendirikan serta
mengucapkan kebenaran dimana saja kami berada, kami tidak khawatir dijalan
Allah terhadap celaan orang yag mencela.'
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6532 juga disebutkan dalam baiat untuk
bersedia, lebih mementingkan urusan bersama, serta agar kami tidak mencabut
urusan dari ahlinya kecuali jika kalian melihat kekufuran yang terang-terangan;
حَدَّثَنَا
إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ عَنْ عَمْرٍو عَنْ بُكَيْرٍ عَنْ بُسْرِ
بْنِ سَعِيدٍ عَنْ جُنَادَةَ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى
عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ وَهُوَ مَرِيضٌ قُلْنَا أَصْلَحَكَ اللَّهُ حَدِّثْ
بِحَدِيثٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهِ سَمِعْتَهُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ
وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً
عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا
بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ
[20]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Isma'il telah menceritakan kepadaku Ibnu Wahb dari
Amru dari Bukair dari Busr bin Sa'id dari Junadah bin Umayyah mengatakan, kami
berkunjung ke Ubadah bin Shamit yang ketika itu sedang sakit. Kami menyapa;
'semoga Allah menyembuhkanmu, ceritakan kepada kami sebuah Hadits, yang kiranya
Allah memberimu manfaat karenanya, yang engkau dengar dari Nabi ﷺ! ' Ia
menjawab; 'Nabi ﷺ memanggil kami sehingga kami berbaiat
kepada beliau.' Ubadah melanjutkan; diantara janji yang beliau ambil dari kami
adalah, agar kami berbaiat kepada beliau untuk senantiasa mendengar dan ta'at,
saat giat mapun malas, dan saat kesulitan maupun kesusahan, lebih mementingkan
urusan bersama, serta agar kami tidak mencabut urusan dari ahlinya kecuali jika
kalian melihat kekufuran yang terang-terangan, yang pada kalian mempunyai
alasan yang jelas dari Allah.'
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6716 dinyatakan bahwa sama sekali tidak
ada ketaatan dalam kemaksiatan, ketaatan itu dalam kebaikan
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ زُبَيْدٍ
عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ
جَيْشًا وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ رَجُلًا فَأَوْقَدَ نَارًا وَقَالَ ادْخُلُوهَا
فَأَرَادُوا أَنْ يَدْخُلُوهَا وَقَالَ آخَرُونَ إِنَّمَا فَرَرْنَا مِنْهَا
فَذَكَرُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِلَّذِينَ
أَرَادُوا أَنْ يَدْخُلُوهَا لَوْ دَخَلُوهَا لَمْ يَزَالُوا فِيهَا إِلَى يَوْمِ
الْقِيَامَةِ وَقَالَ لِلْآخَرِينَ لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا
الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ [21]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami
Ghundar telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Zubaid dari Sa'd bin
Ubaidah dari Abu 'Abdurrahman dari 'Ali radliallahu 'anhu, bahwa Nabi ﷺ pernah mengutus sepasukan dan mengangkat seseorang
sebagai amir mereka, amir tersebut kemudian menyalakan api dan memberi
perintah, 'Masuklah kalian ke api ini! ' sebagian mereka ingin memasukinya dan
sebagian lain berkata, 'Bukankah kita sendiri ingin melarikan diri dari api
(neraka)? ' Akhirnya mereka laporkan kasus tersebut kepada nabi ﷺ dan beliau bersabda kepada mereka yang ingin
memasukinya: "Kalau mereka memasukinya, niscaya mereka tetap dalam api itu
hingga kiamat tiba." Dan beliau berkata kepada sebagian lain: "Sama
sekali tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan, ketaatan itu dalam kebaikan."
3.7. Menjaga Amal Setelah Ikhlas Itu Lebih Berat Dari
Amal Itu Sendiri
Di
dalam kitab Hilyatul Aulia digambarkan bahwa mengikhlaskan amal hingga
benar-benar ikhlas adalah lebih berat dari amal itu sendiri, dan menjaga amal
setelah ikhlas itu lebih berat dari amal itu sendiri;
حَدَّثَنَا
أَبِي، ثنا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُمَرَ، ثنا سَعِيدُ بْنُ عُثْمَانَ
قَالَ: سَمِعْتُ السَّرِيَّ، يَقُولُ: قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُطَرِّفٍ:
«تَخْلِيصُ الْعَمَلِ حَتَّى يَخْلُصُ أَشَدُّ مِنَ الْعَمَلِ، وَالِاتِّقَاءُ
عَلَى الْعَمَلِ بَعْدَ مَا يَخْلُصُ أَشَدُّ مِنَ الْعَمَلِ
[22].
»
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ayahku, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu
Ahmad ibnu Muhammad, telah menceritakan
kepada kami Sa’id ibnu ‘Utsman, berkata: aku telah mendengar As Sari berkata:
telah berkata Abdullah ibnu Mutharif: mengikhlaskan amal hingga benar-benar
ikhlas adalah lebih berat dari amal itu sendiri, dan menjaga amal setelah
ikhlas itu lebih berat dari amal itu sendiri .
Di
dalam kitab Al-Mustadrak 'Ala Shahihain hadits nomor 3277 dinyatakan bahwa Barangsiapa
meninggal dunia dalam keadaan ikhlas kepada Allah, beribadah kepada-Nya dan
tidak menyekutukan-Nya, menegakkan shalat dan menunaikan zakat, maka ia
meninggal dalam keridlaan Allah.;
أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الزَّاهِدُ،
ثنا أَحْمَدُ بْنُ مِهْرَانَ، ثنا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى، أَنْبَأَ أَبُو
جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ، وَأَخْبَرَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ حَمْدَانَ
الْجَلَّابُ، بِهَمْدَانَ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ أَحْمَدَ الْخَزَّازُ، ثنا
إِسْحَاقُ بْنُ سُلَيْمَانَ الرَّازِيُّ، ثنا أَبُو جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ، عَنِ الرَّبِيعِ
بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، قَالَ: " مَنْ فَارَقَ الدُّنْيَا عَلَى الْإِخْلَاصِ لِلَّهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ،
وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، فَارَقَهَا وَاللَّهُ عَنْهُ رَاضٍ،
وَهُوَ دِينُ اللَّهِ الَّذِي جَاءَتْ بِهِ الرُّسُلُ، وَبَلَّغُوهُ عَنْ رَبِّهِمْ
قَبْلَ مَرْجِ الْأَحَادِيثِ، وَاخْتِلَافِ الْأَهْوَاءِ، وَتَصْدِيقُ ذَلِكَ فِي
كِتَابِ اللَّهِ ﴿فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ، وَآتَوُا الزَّكَاةَ،
فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ﴾ [التوبة: ٥] وَقَوْلُهُ ﷿ ﴿فَإِنْ تَابُوا﴾ [التوبة: ٥] يَقُولُ: خَلَعُوا الْأَوْثَانَ وَعِبَادَتَهَا ﴿وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا
الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ﴾ [التوبة: ١١] «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخْرِجَاهُ [23]
Artinya: Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Abdillah al-Zahid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mihran, ia berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Ubaydullah bin Musa, telah memberitakan kepada kami Abu Ja‘far al-Razi. Dan telah mengabarkan kepadaku ‘Abd al-Rahman bin Hamdan al-Jallab di Hamdan, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ahmad al-Khazzaz, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman al-Razi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Ja‘far al-Razi, dari al-Rabi‘ bin Anas, dari Anas bin Malik, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: “Barangsiapa meninggalkan dunia dalam keadaan ikhlas kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, menegakkan salat, dan menunaikan zakat, maka ia keluar dari dunia ini dalam keadaan Allah ridha kepadanya. Dan itulah agama Allah yang dibawa oleh para rasul dan mereka sampaikan dari Rabb mereka, sebelum munculnya berbagai hadis-hadis baru, perbedaan hawa nafsu, dan penyimpangan. Dan kebenaran hal itu terdapat dalam Kitab Allah: ‘Jika mereka bertaubat, mendirikan salat, dan menunaikan zakat, maka biarkanlah mereka’ (QS. at-Tawbah: 5). Dan firman-Nya: ‘Jika mereka bertaubat’ (at-Tawbah: 5), yakni: mereka meninggalkan berhala-berhala dan penyembahannya. Dan firman-Nya: ‘Jika mereka bertaubat, mendirikan salat, dan menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara-saudaramu dalam agama’ (at-Tawbah: 11).”
Kemudian
al-Hakim berkata: “Hadis ini sahih sanadnya, tetapi keduanya (al-Bukhari dan
Muslim) tidak meriwayatkannya.”
3.9. Mengucapkan La Ilaha Illallah Dengan Ikhlas
Di
dalam kitab Shahih Bukhari Hadits nomor 97 dinyatakan bahwa Orang yang paling
berbahagia dengan syafa'atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa
ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya;
حَدَّثَنَا
عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ عَنْ عَمْرِو
بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ
بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا
الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ
أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ
[24]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abdul 'Aziz bin Abdullah berkata, telah menceritakan
kepadaku Sulaiman dari 'Amru bin Abu 'Amru dari Sa'id Al Maqburi dari Abu
Hurairah, bahwa dia berkata: ditanyakan (kepada Rasulullah ﷺ:
"Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafa'atmu
pada hari kiamat?" Rasulullah ﷺ menjawab:
"Aku telah menduga wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada orang yang
mendahuluimu dalam menanyakan masalah ini, karena aku lihat betapa perhatian
dirimu terhadap hadits. Orang yang paling berbahagia dengan syafa'atku pada
hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas
dari hatinya atau jiwanya".
3.10.
Mengucapkan Kalimat Ikhlas; Kalimat Taqwa “Asyhadu An laa Ilaha
Illallah”
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 447 digambarkan ada sebuah kalimat yang
disebut sebagai kalimat ikhlas tetapi juga disebut sebagai kalimat taqwa, jika
diucapkan dengan benar dari qalbunya, diharamkan baginya neraka yaitu; “Asyhadu
An laa Ilaha Illallah”;
حَدَّثَنَا
عَبْدُ الْوَهَّابِ الْخَفَّافُ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ مُسْلِمِ
بْنِ يَسَارٍ عَنْ حُمْرَانَ بْنِ أَبَانَ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقُولُ إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَا يَقُولُهَا عَبْدٌ حَقًّا مِنْ قَلْبِهِ
إِلَّا حُرِّمَ عَلَى النَّارِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ أَنَا أُحَدِّثُكَ مَا هِيَ هِيَ كَلِمَةُ الْإِخْلَاصِ الَّتِي
أَعَزَّ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِهَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَأَصْحَابَهُ وَهِيَ كَلِمَةُ التَّقْوَى الَّتِي أَلَاصَ عَلَيْهَا
نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَمَّهُ أَبَا طَالِبٍ عِنْدَ
الْمَوْتِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ
[25]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abdul Wahab Al Khaffaf Telah menceritakan kepada kami
Sa'id dari Qatadah dari Muslim Bin Yasar dari Humran Bin Aban bahwa Utsman Bin
Affan berkata; aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sungguh aku mengetahui sebuah kalimat yang tidaklah seorang hamba
mengucapkannya dengan hati yang ikhlas, kecuali pasti akan di haramkan neraka
untuknya." Maka Umar Bin Al Khaththab berkata kepadanya; "Saya akan
menceritakannya kepadamu kalimat apa itu, yaitu kalimat ikhlas yang dengannya
Allah Tabaraka wa Ta'ala memuliakan Muhammad ﷺ dan
para sahabatnya, yaitu kalimat Taqwa yang telah Nabiyullah ﷺ baca berulang ulang kepada pamannya Abu Thalib
menjelang wafatnya, yaitu persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak di
sembah selain Allah."
3.11. Berdoa Di Pagi Dan Petang Agar Berada Dalam Kalimat Ikhlas
Di dalam kitab
Musnad Ahmad hadits nomor 20219 disebutkan doa pagi dan petang Semoga kami di
pagi ini dalam keadaan fitrah Islam (agama Islam), dalam kalimat yang ikhlas,
dalam sunnah Nabi kami Muhammad ﷺ dan
dalam millah (agama) bapak kami Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk
orang-orang yang menyekutukan Allah;
حَدَّثَنَا عَبْد
اللَّهِ حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ يَحْيَى بْنِ سَلَمَةَ
بْنِ كُهَيْلٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَلَمَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ
عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَي عَنْ أَبِيهِ عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ كَانَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا إِذَا
أَصْبَحْنَا أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الْإِسْلَامِ وَكَلِمَةِ الْإِخْلَاصِ
وَسُنَّةِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِلَّةِ
أَبِينَا إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنْ الْمُشْرِكِينَ
وَإِذَا أَمْسَيْنَا مِثْلَ ذَلِكَ [26]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin
Isma'il bin Yahya bin Salamah bin Kuhail telah menceritakan kepadaku Ayahku
dari Ayahnya dari Salamah dari Sa'id bin Abdurrahman bin Abza dari Ayahnya dari
Ubay bin Ka'b dia berkata, "Rasulullah ﷺ telah
mengajarkan doa kepada kami apabila di pagi hari: Semoga kami di pagi ini dalam
keadaan fitrah Islam (agama Islam), dalam kalimat yang ikhlas, dalam sunnah
Nabi kami Muhammad ﷺ dan
dalam millah (agama) bapak kami Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk
orang-orang yang menyekutukan Allah) '. Dan pada sore hari juga dengan doa
seperti itu."
3.12. Bermajelis Dengan Guru Yang Mengajarkan Kepada Keikhlasan
Di
dalam kitab Hilyatul Aulia mengingatkan untuk tidak bermajelis dengan semua
guru, kecuali yang mengajarkan menghilangkan riya menuju kepada keikhlasan;
ما حَدَّثَنَاهُ
أَبُو الْقَاسِمِ زَيْدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ أَبِي بِلَالٍ , ثنا عَلِيُّ بْنُ
مَهْرَوَيْهِ , ثنا يُوسُفُ بْنُ حَمْدَانَ , ثنا أَبُو سَعِيدٍ الْبَلْخِيُّ ,
ثنا شَقِيقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الزَّاهِدُ , ثنا عَبَّادُ بْنُ كَثِيرٍ , عَنْ
أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لَا تَجْلِسُوا مَعَ كُلِّ عَالِمٍ إِلَّا مَعَ
عَالِمٍ يَدْعُوكُمْ مِنْ خَمْسٍ إِلَى خَمْسٍ: مِنَ الشَّكِّ إِلَى الْيَقِينِ ,
وَمِنَ الْعَدَاوَةِ إِلَى النَّصِيحَةِ وَمِنَ الْكِبْرِ إِلَى التَّوَاضُعِ
وَمِنَ الرِّيَاءِ إِلَى الْإِخْلَاصِ وَمِنَ الرَّغْبَةِ إِلَى الرَّهْبَةِ [27]
"
Artinya: Apa yang telah kami ceritakan kepadanya Abu
Qasim Zaid ibnu Ali ibnu abi Bilal. telah menceritakan kepada kami Ali ibnu
Mahrawaih, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Hamdan, telah menceritakan
kepada kami Abu Said Al Balhi, telah menceritakan kepada kami Syaqiq ibnu
Ibrahim Al Zahid, telah menceritakan kepada kami ‘Abad ibnu Katsir dari abu
Zubair, dari Jabir berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: Jangan bermajelis
(belajar) dengan semua guru, kecuali dengan yang mengajakmu dari lima hal
menuju lima; dari keraguan kepada keyakinan, dari permusuhan menuju nasehat,
dari takabur kepada tawadhu’, dari riya’ menuju ikhlas dan dari berhasrat
menuju merasa takut.”
3.13. Berdoa Agar Dijadikan Sebagai Orang Yang Ikhlas Kepada Allah
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 19293 disebutkan doa jadikanlah aku
sebagai orang yang ikhlas kepada-Mu, keluargaku dalam setiap waktu untuk dunia
maupun akhirat;
حَدَّثَنَا
إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ قَالَ سَمِعْتُ دَاوُدَ
الطُّفَاوِيَّ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي مُسْلِمٍ الْبَجَلِيِّ عَنْ زَيْدِ بْنِ
أَرْقَمَ قَالَ كَانَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
فِي دُبُرِ صَلَاتِهِ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ أَنَا شَهِيدٌ
أَنَّكَ أَنْتَ الرَّبُّ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ قَالَ إِبْرَاهِيمُ
مَرَّتَيْنِ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ أَنَا شَهِيدٌ أَنَّ مُحَمَّدًا
عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ أَنَا شَهِيدٌ أَنَّ
الْعِبَادَ كُلَّهُمْ إِخْوَةٌ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ
اجْعَلْنِي مُخْلِصًا لَكَ وَأَهْلِي فِي كُلِّ سَاعَةٍ مِنْ الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةِ ذَا الْجِلَالِ وَالْإِكْرَامِ اسْمَعْ وَاسْتَجِبْ اللَّهُ
الْأَكْبَرُ الْأَكْبَرُ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ اللَّهُ
الْأَكْبَرُ الْأَكْبَرُ حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ اللَّهُ
الْأَكْبَرُ الْأَكْبَرُ [28]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ibrahim bin Mahdi Telah menceritakan kepada kami
Mu'tamir ia berkata, saya mendengar Dawud Ath Thufawi menceritakan dari Abu
Muslim Al Bajali dari Zaid bin Arqam ia berkata; Rasulullah ﷺ membaca do'a di akhir shalatnya: Ya Allah, Rabb
kami dan Rabb-nya segala sesuatu, saya adalah saksi bahwa Muhammad adalah
hamba-Mu dan Rasul-Mu. Wahai Rabb kami dan Rabb-nya segala sesuatu, saya adalah
saksi bahwa seluruh hamba adalah saudara. Ya Allah, Rabb kami dan Rabb-nya
segala sesuatu, jadikanlah aku sebagai orang yang ikhlas kepada-Mu, keluargaku
dalam setiap waktu untuk dunia maupun akhirat, (Engkaulah Yang Maha) Kuasa dan
Mulia, dengar dan perkenankanlah. Allah Maha Besar. Yang Maha Besar adalah Allah,
Cahaya langit dan bumi. Allah Maha Besar, cukuplah Allah sebagai sebaik-baik
tempat berlindung. Allah Maha Besar."
3.14. Berdoa Menyatakan Beriman Kepada Allah Dengan Ikhlas
Di
dalam kitab Mujam Al Kabir Li Al Thabarani hadits nomor 944 disebutkan doa
beriman kepada Allah dengan ikhlas dalam beragama;
حَدَّثَنَا
جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْفِرْيَابِيُّ، ثنا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، ثنا
صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ، ثنا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي الْعَاتِكَةِ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ
يَزِيدَ، عَنِ الْقَاسِمِ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، أَنَّهُ
كَانَ يُقْسِمُ بِاللهِ ثَلَاثًا لَا يَسْتَثْنِي: «مَا عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ
مُسْلِمٌ يَقُولُ حِينَ يُصْبِحُ: اللهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ لَا إِلَهَ إِلَّا
أَنْتَ، رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ، آمَنْتُ بِكَ مُخْلِصًا لَكَ دِينِي، أَصْبَحْتُ
عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَتُوبُ إِلَيْكَ مِنْ سُوءِ عَمَلِي،
وَأَسْتَغْفِرُكَ لِذُنُوبِي لَا يَغْفِرُهَا إِلَّا أَنْتَ، فَيَمُوتُ مِنْ
يَوْمِهِ ذَلِكَ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ»
[29]
Artinya:
Diriwayatkan oleh Ja‘far bin Muḥammad al-Firyābī,
ia berkata: telah menceritakan kepada kami Hisyām bin ‘Ammār, telah
menceritakan kepada kami Ṣadaqah bin Khālid,
telah menceritakan kepada kami ‘Utsmān bin Abī al-‘Ātikah, dari ‘Alī bin Yazīd,
dari al-Qāsim, dari Abū Umāmah, dari Nabi ﷺ bahwa
beliau bersumpah atas nama Allah sebanyak tiga kali tanpa pengecualian:
“Tidaklah ada seorang muslim pun di atas permukaan bumi yang ketika memasuki
waktu pagi mengucapkan: ‘Ya Allah, hanya bagi-Mu segala puji. Tidak ada ilah
selain Engkau. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku beriman kepada-Mu
dan aku mengikhlaskan agamaku hanya untuk-Mu. Aku memasuki pagi dalam keadaan
tetap berpegang pada perjanjian dan janji-Mu sesuai kemampuanku. Aku bertaubat
kepada-Mu dari amal burukku, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosaku;
tidak ada yang dapat mengampuninya selain Engkau.’ Lalu ia meninggal pada hari
itu, melainkan pasti ia masuk surga.”
Ayat
dan Atsar di atas menggambarkan betapa pentingnya ketaqwaan di tingkat ikhlas,
agar ketaqwaan di tingkat ikhlas dapat dipahami dan diamalkan dengan baik, maka
disini perlu dirumuskan bahwa ketaqwaan di tingkat ikhlas adalah kesadaran
untuk taat kepada Allah, mengerjakan semua amal dan perbuatan didasari
keikhlasan karena Allah SWT, apabila terjadi perbuatan atau amal yang dilakukan
bukan karena Allah, segera menyadarinya dan bertaubat dan mohon ampun kepada
Allah SWT.
Keikhlasan
dapat menimbulkan kesadaran hati untuk merasakan amal perbuatannya yang
dikerjakannya bernilai baik, benar, memiliki arti, netral, suci, bersih, jujur,
aktif, percaya diri, optimis, semangat, senang, bahagia, mengenal kebenaran dan
menerima kenyataan.
Doa
Mohon Dijadikan Hamba Yang Ikhlas
"اللَّهُمَّ رَبَّنَا
وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ اجْعَلْنِي مُخْلِصًا لَكَ وَأَهْلِي فِي كُلِّ سَاعَةٍ مِنْ
الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ذَا الْجِلَالِ وَالْإِكْرَامِ اسْمَعْ وَاسْتَجِبْ
اللَّهُ الْأَكْبَرُ الْأَكْبَرُ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ اللَّهُ
الْأَكْبَرُ الْأَكْبَرُ حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ اللَّهُ
الْأَكْبَرُ الْأَكْبَرُ"
“Ya
Allah, Rabb kami dan Rabb-nya segala sesuatu, jadikanlah aku sebagai orang yang
ikhlas kepada-Mu, keluargaku dalam setiap waktu untuk dunia maupun akhirat,
(Engkaulah Yang Maha) Kuasa dan Mulia, dengar dan perkenankanlah. Allah Maha
Besar. Yang Maha Besar adalah Allah, Cahaya langit dan bumi. Allah Maha Besar,
cukuplah Allah sebagai sebaik-baik tempat berlindung. Allah Maha Besar."
"(HR.
Ahmad :
19293)
[1] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 4 (Beirut: Dār
al-Ma‘rifah, tt.), 330
[2] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Madārij as-Sālikīn bayna Manāzil Iyyāka
Na‘budu wa Iyyāka Nasta‘īn, Juz 2 (Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 2000),
91
[3] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 63, Hadits nomor
7144.
[4]
Ibnu
Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab
al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 1, Halaman 509, Hadits nomor 1597.
[5] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 14, Halaman
273.Hadits nomor 8625.
[6] Abu Abd Ar-Rahman Ahmad ibn Syuaib
Al-Nasa’i, Sunan Al-Nasa’I Al-Mujtabi, Dar ar-Risalah Al-Alamiyah, 2018, Jilid
6, Halaman 69, Hadits nomor 7524.
[7] Abu
Bakar Ahmad Al Husain Al Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah,
Beirut, 2000, Jilid 9 Hal. 178, Hadits nomor 6448.
[8] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al
baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 5 Hal.
335, Hadits nomor 6835.
[9] Muhammad
bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404,
Jilid 3, Halaman 72, Hadits nomor 2157.
[10] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 7, Halaman
350.Hadits nomor 8412.
[11] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 31, Hadits nomor
99.
[12] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 16, Halaman
417.Hadits nomor 10713.
[13] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar
Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 3, Halaman 1324, Hadits nomor
1696.
[14]
Al
Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Dar
Al-Hadits, Kairo, 1995, Jilid 5, Halaman 244, Hadits nomor 3152.
[15] Abu Hatim Muhammad Ibnu Hiban Ibnu Ahmad, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibu Hazm, Beirut, 2012, Jilid 1, Halaman 422, Hadits nomor 589.
[16] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Al Kitab Al-‘Ilmiyah, Beirut, 1990, Jilid 1, Halaman 452, Hadits nomor 1162.
[17] Abu Abd Ar-Rahman Ahmad ibn Syuaib
Al-Nasa’i, Sunan Al-Nasa’I Al-Mujtabi, Dar ar-Risalah Al-Alamiyah, 2018, Jilid
4, Halaman 286.Hadits nomor 4333.
[18] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al
Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 5 Hal.
327, Hadits nomor 6808.
[19] Muhammad
bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Dar Ibnu Katsir, Damsiq, 1993,
Jilid 6, Halaman 2633, Hadits nomor 5774.
[20] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 47, Hadits nomor
7055.
[21] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 88, Hadits nomor
7257.
[22] Abu Nu’aim
Ahmad ibn Abdullah Al-Ashbahani, Hilyatul Auliya’ Wa Thabaqatul Ashfiya’,
Mathba’ah Sa’adah, Mesir, 1974. Jilid 10 Halaman 121.
[23]
[24] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 31, Hadits nomor
99.
[25] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Dar Al-Hadits, Kairo, 1995, Jilid 1, Halaman 356,
Hadits nomor 447.
[26] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 35, Halaman
81.Hadits nomor 211440.
[27] Abu Nu’aim Ahmad ibn Abdullah
Al-Ashbahani, Hilyatul Auliya’ Wa Thabaqatul Ashfiya’, Mathba’ah
Sa’adah, Mesir, 1974. Jilid 8 Halaman 72.
[28] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 32, Halaman
48.Hadits nomor 19293.
[29] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam
Al-Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 8, Halaman 221.Hadits
nomor 7879.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar