21/04/2026

+ 3. TAQWA LEVEL IKHLAS

+ 3. TAQWA LEVEL IKHLAS

Ikhlas berasal dari bahasa Arab dengan akar kata Khalasha berarti: menjadi murni, tak bercampur, jelas, bersih, sedang jika dikembalikan ke akar kata Akhlasha berarti: berlaku loyal, setia, tulus, jujur, berhati bersih, dari beberapa arti kata tersebut dapat ditarik pengertian bahwa Ikhlas adalah kesadaran spiritual untuk memurnikan ketaatan untuk mengabdi hanya kepada Allah, beribadah karena Allah dan untuk Allah.

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa ikhlas merupakan inti dari seluruh amal, yaitu memurnikan niat dari segala dorongan selain Allah. Menurutnya, ikhlas adalah ketika seorang hamba beramal tanpa terpengaruh pujian manusia, penghargaan sosial, ataupun motif duniawi lain; amal tersebut diarahkan semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah. Al-Ghazali membedakan antara ikhlas dan riya’, di mana riya’ adalah penyakit hati yang merusak nilai sebuah amal, sedangkan ikhlas menuntut kebeningan niat dan kesadaran spiritual yang kuat. Ia menegaskan bahwa proses mencapai ikhlas harus ditempuh melalui latihan jiwa, mujahadah melawan hawa nafsu, dan kehadiran hati (uūr al-qalb) ketika beramal.[1]

Sementara itu, Ibn Qayyim al-Jauziyah menekankan bahwa ikhlas adalah fondasi agama sekaligus syarat diterimanya amal. Ia mendefinisikan ikhlas sebagai mengarahkan seluruh amalan, ucapan, dan gerak hati hanya kepada Allah, bukan kepada makhluk atau kepentingan diri. Ibn Qayyim menjelaskan bahwa ikhlas tidak mungkin terwujud tanpa penafian total terhadap ketergantungan kepada selain Allah, serta melepas segala bentuk pamrih yang tersembunyi dalam jiwa. Menurutnya, derajat ikhlas bertingkat-tingkat, dari sekadar memurnikan niat hingga mencapai maqam idq, yaitu keterikatan hati sepenuhnya pada Allah dalam setiap keadaan.[2]

Dalam pengamalannya ikhlas dapat disamakan dengan taat yang berasal dari kata dasar thawa’a; mengerjakan dengan suka rela, pencarian kata ikhlas di dalam Al Qur’an menggunakan aplikasi Al Quran Dzekr 1.1 berdasar kata dasar khalasa ditemukan 31 kali di 30 ayat, sedangkan kata yang memiliki pengertian sama dengan ikhlas, yaitu kata thawa’a: Tha’at yang artinya taat; patuh; senang hati, kata ini di dalam Al Quran ditemukan sebanyak 129 kali di 118 ayat, kata lainnya adalah kata Qanit; tunduk, patuh, taat, kata ini di dalam Al Quran ditemukan sebanyak 13 kali di 12 ayat.

Di dalam Al Quran surat Fushilat/ 41: 11 digambarkan bahwa bumi dan langit datang kepada Allah dengan taat; senang hati; ikhlas;

ثُمَّ اسْتَوَىٰ إِلَى السَّمَاءِ وَهِيَ دُخَانٌ فَقَالَ لَهَا وَلِلْأَرْضِ ائْتِيَا طَوْعًا أَوْ كَرْهًا قَالَتَا أَتَيْنَا طَائِعِينَ

Artinya: Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: "Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa". Keduanya menjawab: "Kami datang dengan suka hati". (QS. Fushilat/ 41: 11)

Demikian juga di dalam Al Quran surat Ali Imran/ 3: 83 ditegaskan bahwa siapa saja yang ada di langit maupun di bumi berserah diri taat; ikhlas kepada Allah, maka apakah masih mau mencari agama lain selain agama Allah (Islam) ?;

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَن فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

Artinya: Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. (QS. Ali Imran/ 3: 83)

Di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 116 dan surat Ar-Rum/ 30: 26, ditegaskan bahwa apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya;

وَقَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا سُبْحَانَهُ بَلْ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ

Artinya: Mereka (orang-orang kafir) berkata: "Allah mempunyai anak". Maha Suci Allah, bahkan apa yang ada di langit dan di bumi adalah kepunyaan Allah; semua tunduk kepada-Nya. (QS. Al-Baqarah/ 2: 116)

وَلَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ كُلٌّ لَهُ قَانِتُونَ

Artinya: Dan kepunyaan-Nya-lah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk. (QS. Ar-Rum/ 30: 26)

Di dalam Al Quran surat Al-Ahzab/ 33: 31 dinyatakan bahwa siapa diantara kamu sekalian (isteri-isteri nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat

وَمَنْ يَقْنُتْ مِنْكُنَّ لِلَّهِ وَرَسُولِهِ وَتَعْمَلْ صَالِحًا نُؤْتِهَا أَجْرَهَا مَرَّتَيْنِ وَأَعْتَدْنَا لَهَا رِزْقًا كَرِيمًا

Artinya: Dan barang siapa diantara kamu sekalian (isteri-isteri nabi) tetap taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan mengerjakan amal yang saleh, niscaya Kami memberikan kepadanya pahala dua kali lipat dan Kami sediakan baginya rezeki yang mulia. (QS. Al-Ahzab/ 33: 31)

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6611, ditegaskan bahwa mendengar dan taat adalah wajib bagi setiap muslim, baik yang ia sukai maupun yang tidak ia sukai;

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ حَدَّثَنِي نَافِعٌ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ مَا لَمْ يُؤْمَرْ بِمَعْصِيَةٍ فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ  [3]  

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sa'id dari 'Ubaidullah Telah menceritakan kepadaku Nafi' dari Abdullah radliallahu 'anhu, dari Nabi bersabda: "mendengar dan taat adalah wajib bagi setiap muslim, baik yang ia sukai maupun yang tidak ia sukai, selama ia tidak diperintahkan melakukan kemaksiatan, adapun jika ia diperintahkan melakukan maksiat, maka tidak ada hak mendengar dan menaati."

Sedangkan di dalam Al Quran surat Az Zumar/ 39: 3 ditegaskan bahwa agama yang murni hanyalah agama milik Allah (Islam);

أَلَا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَىٰ إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ

Artinya: Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (QS. Az Zumar/ 39: 3)

Dari beberapa ayat Al Quran dan Hadits di atas tergambar bahwa ketaatan, ketundukan dan keikhlasan meliputi semua amal ibadah dalam agama Islam, artinya di dalam semua amal dan ibadah manusia, agar diterima sebagai amal ibadah, maka di dalamnya harus ada unsur keikhlasan.

Untuk memberikan gambaran yang lengkap tentang hakekat ikhlas, maka berikut ini akan dikemukakan pembahasan tentang;

1. Hikmah Ikhlas,

2. Aplikasi Ikhlas

3. Taqwa Di Tingkat Ikhlas

Pembahasannnya adalah sebagai berikut;

  1. Hikmah Keikhlasan

Berikut akan dikemukakan beberapa ayat Al Quran dan Hadits Rasulullah SAW, yang mengandung hikmah tentang ikhlas, yakni sebagai berikut;

1.1. Sabar Dan Ikhlas Saat Tertimpa Musibah, Akan Mendapat Pahala Surga

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 1586, disebutkan bahwa Sabar dan ikhlas saat tertimpa musibah, akan mendapat pahala surga;

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ حَدَّثَنَا ثَابِتُ بْنُ عَجْلَانَ عَنْ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ سُبْحَانَهُ ابْنَ آدَمَ إِنْ صَبَرْتَ وَاحْتَسَبْتَ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى لَمْ أَرْضَ لَكَ ثَوَابًا دُونَ الْجَنَّةِ  [4]  

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Hisyam bin Ammar] berkata, telah menceritakan kepada kami [Isma'il bin Ayyasy] berkata, telah menceritakan kepada kami [Tsabit bin 'Ajlan] dari [Al Qasim] dari [Abu Umamah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Allah Subhaanahu wa Ta'ala berfirman: "Hai anak Adam, jika kamu bersabar dan ikhlas saat tertimpa musibah, maka aku tidak akan meridlai bagimu sebuah pahala kecuali surga.

1.2. Bersaksi Tidak Ada Tuhan Selain Allah Dengan Ikhlas Akan Dimasukkan Ke Jannah

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 8625 ditegaskan bahwa Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dengan tulus dari hatinya atau yakin dari hati maka ia tidak akan masuk neraka, atau ia akan masuk surga;

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرٍو يَعْنِي ابْنَ دِينَارٍ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ أَنَا مَنْ شَهِدَ مُعَاذًا حِينَ حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ يَقُولُ اكْشِفُوا عَنِّي سَجْفَ الْقُبَّةِ أُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ مَرَّةً أُخْبِرُكُمْ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ أُحَدِّثَكُمُوهُ إِلَّا أَنْ تَتَّكِلُوا سَمِعْتُهُ يَقُولُ مَنْ شَهِدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ يَقِينًا مِنْ قَلْبِهِ لَمْ يَدْخُلْ النَّارَ أَوْ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَقَالَ مَرَّةً دَخَلَ الْجَنَّةَ وَلَمْ تَمَسَّهُ النَّارُ [5]

Artinya: Telah bercerita kepada kami 'Abdullah telah bercerita kepadaku ayahku. Telah bercerita kepada kami Sufyan bin 'Uyainah dari 'Amr bin Dinar berkata; Saya mendengar Jabir bin 'Abdullah berkata; Saya adalah satu diantara orang-orang yang menghadiri Mu'adz saat sekarat, ia berkata; Bukalah tabir rumah, akan aku ceritakan sebuah hadits pada kalian yang pernah saya dengar dari Rasulullah . Sesekali ia berkata; Akan aku kabarkan sesuatu yang pernah aku dengar dari Rasulullah  tidak ada yang menghalangiku untuk menyampaikannya pada kalian selain karena khawatir kalian mengandalkannya. Saya mendengar Rasulullah  bersabda; "Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dengan tulus dari hatinya atau yakin dari hati maka ia tidak akan masuk neraka, atau ia akan masuk surga." Sesekali Rasulullah  bersabda; "Masuk surga dan tidak akan tersentuh oleh neraka."

1.3. Orang Yang Ikhlas Tidak Diganggu Iblis

Di dalam Al Quran Surat Al-Hijr/ 15: 39-40, Shad/ 38: 83, Ash Shafat/ 37: 169, juga di surat Ash Shafat/ 37: 40 dikuti 3 ayat lain yang bunyinya sama dengan ayat 40, yakni ayat 74, 128 dan 160, dijelaskan bahwa iblis berkata pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka;

قَالَ رَبِّ بِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأُزَيِّنَنَّ لَهُمْ فِي الْأَرْضِ وَلَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ, إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

Artinya: Iblis berkata: "Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka".

إِلَّا عِبَادَكَ مِنْهُمُ الْمُخْلَصِينَ

Artinya: kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka. (38: 83)

لَكُنَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

Artinya: benar-benar kami akan jadi hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa)". (QS. Ash Shafat/ 37: 169)

إِلَّا عِبَادَ اللَّهِ الْمُخْلَصِينَ

Artinya: tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (dari dosa). (QS. Ash Shafat/ 37: 40)

1.4.    Allah Menolong Umat Islam Dengan Keikhlasan Mereka.

Di dalam kitab Sunan Nasai hadits nomor 3127 dinyatakan bahwa sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan orang lemahnya, dengan doa mereka, shalat mereka, dan keikhlasan mereka.

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيسَ قَالَ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ مِسْعَرٍ عَنْ طَلْحَةَ بْنِ مُصَرِّفٍ عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ ظَنَّ أَنَّ لَهُ فَضْلًا عَلَى مَنْ دُونَهُ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ[6] 

Artinya: Telah mengkhabarkan kepada kami Muhammad bin Idris, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh bin Ghiyats dari ayahnya dari Mis'ar dari Thalhah bin Musharrif dari Mush'ab bin Sa'd dari ayahnya bahwa ia menyangka bahwa ia memiliki keutamaan di atas orang selainnya dari kalangan para sahabat nabi . Maka Nabi  bersabda: "Sesungguhnya Allah menolong umat ini dengan orang lemahnya, dengan doa mereka, shalat mereka, dan keikhlasan mereka."

1.5.    Orang-Orang Yang Ikhlas Memperoleh Keberuntungan

Di dalam kitab Syuab Al-Iman hadits nomor 6448 dinyatakan bahwa beruntunglah orang-orang yang ikhlas;

حَدَّثَنَا أَبُو عَمْرِو بْنُ حَمْدَانَ، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ، حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْهَرَوِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَمْرُو بْنُ عَبْدِ الْجَبَّارِ السِّنْجَارِيُّ، حَدَّثَنَا عُبَيْدَةُ بْنُ حَسَّانَ، عَنْ عَبْدِ الْحَمِيدِ بْنِ ثَابِتِ بْنِ ثَوْبَانَ، مَوْلَى رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [16] قَالَ: حَدَّثَنِي أَبِي، عَنْ جَدِّي: شَهِدْتُ مِنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَجْلِسًا فَقَالَ: «طُوبَى لِلْمُخْلِصِينَ, أُولَئِكَ مَصَابِيحُ الْهُدَى تَنْجَلِي عَنْهُمْ كُلُّ فِتْنَةٍ ظَلْمَاءُ» قَالَ الشَّيْخُ رَحِمَهُ اللهُ: وَهُمُ الْوَاصِلُونَ بِالْحَبْلِ, وَالْبَاذِلُونَ لِلْفَضْلِ, وَالْحَاكِمُونَ بِالْعَدْلِ [7]

Artinya:  Telah menceritakan kepada kami Abu Amr ibnu Hamdan, telah menceritakan kepada kami Al Hasan ibnu Sufyan, telah menceritakan kepada kami Al Hasan ibnu Sufyan, telah menceritakan kepada kami Abu Musa Ishaq ibnu Ibrahim Al Harawi, telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah Amru ibnu Abdi Al jabbar As Sinjari, telah menceritakan kepada kami Ubaidah ibnu Hasan, dari Abdi Al hamid ibnu Tsabit ibnu Tsauban, Pembantu Rasulullah  berkata: telah menceritakan kepada kami Ayahku dari kakekku: Aku menyaksikan Rasulullah  di dalam sebuah majelis bersabda: Beruntunglah orang-orang yang ikhlas, mereka itulah pelita-pelita petunjuk tampak dengannya semua gangguan kegelapan” berkata syaikh yang dirahmati Allah; dan mereka menjadi penyambung tali. Warisan bagi keutamaan, hakim bagi keadilan.

  1. Aplikasi Keikhlasan

Keikhlasan mencakup semua amal ibadah manusia, berikut akan dikemukakan beberapa ayat Al Quran dan Hadits Rasulullah SAW, yang memberikan gambaran cakupan aplikasi ikhlas, yakni sebagai berikut;

2.1.    Ikhlas Dalam Ibadah

Di dalam Al Quran Surat Al-Bayyinah/ 95: 5 dan Az Zumar/ 39: 2, 11, 14 ditegaskan bahwa manusia diperintahkan hanya untuk beribadah kepada Allah dengan ikhlas;

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya: Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.

إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّينَ

Artinya: Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. (QS. Az Zumar/ 39: 2)

قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ

Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama. (QS. Az Zumar/ 39: 11)

قُلِ اللَّهَ أَعْبُدُ مُخْلِصًا لَّهُ دِينِي

Artinya: Katakanlah: "Hanya Allah saja Yang aku sembah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agamaku". (QS. Az Zumar39: 14)

2.2.    Menyeru / Berdoa Kepada Allah Dengan Ikhlas

Di dalam Al Quran surat Al A’raf/ 7: 29 dan Al Mu’min/ 40: 14, 40 manusia diperintahkan untuk berdoa kepada Allah dengan ikhlas;

قُلْ أَمَرَ رَبِّي بِالْقِسْطِ وَأَقِيمُوا وُجُوهَكُمْ عِندَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ كَمَا بَدَأَكُمْ تَعُودُونَ

Artinya: Katakanlah: "Tuhanku menyuruh menjalankan keadilan". Dan (katakanlah): "Luruskanlah muka (diri)mu di setiap sembahyang dan sembahlah (Serulah/berdoalah) kepada Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya. Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan (demikian pulalah kamu akan kembali kepada-Nya)". (QS. Al A’raf/ 7: 29)

فَادْعُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

Artinya: Maka sembahlah (Serulah/berdoalah) kepada Allah dengan memurnikan ibadat kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukai(nya). (QS. Al Mu’min/ 40: 14)

هُوَ الْحَيُّ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ فَادْعُوهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya: Dialah Yang hidup kekal, tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; maka sembahlah Dia dengan memurnikan ibadat (Seruan/doa)  kepada-Nya. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam. (QS. Al Mu’min/ 40: 65)

2.3.    Mengikhlaskan Amal Hanya Kepada Allah

Di dalam Al Quran surat Al Baqarah/ 2: 139 tergambar bahwa amal perbuatan kami, kami lakukan dengan ikhlas;

قُلْ أَتُحَاجُّونَنَا فِي اللَّهِ وَهُوَ رَبُّنَا وَرَبُّكُمْ وَلَنَا أَعْمَالُنَا وَلَكُمْ أَعْمَالُكُمْ وَنَحْنُ لَهُ مُخْلِصُونَ

Artinya: Katakanlah: "Apakah kamu memperdebatkan dengan kami tentang Allah, padahal Dia adalah Tuhan kami dan Tuhan kamu; bagi kami amalan kami, dan bagi kamu amalan kamu dan hanya kepada-Nya kami mengikhlaskan hati, (QS. Al Baqarah/ 2: 139)

Di dalam kitab Syuab Al-Iman hadits nomor 130 ditegaskan: Wahai manusia! Ikhlaskanlah amal perbuatan kalian untuk Allah 'Azza wa Jalla. Karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali yang ikhlas karena-Nya;

نا يَحْيَى بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ صَاعِدٍ , وَجَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ يَعْقُوبَ الصَّنْدَلِيُّ , قَالَا: نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَجْشَرٍ , نا عَبِيدَةُ بْنُ حُمَيْدٍ , حَدَّثَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ رُفَيْعٍ , وَغَيْرُهُ عَنْ تَمِيمِ بْنِ طَرَفَةَ , عَنِ الضَّحَّاكِ بْنِ قَيْسٍ الْفِهْرِيِّ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ: أَنَا خَيْرُ شَرِيكٍ فَمَنْ أَشْرَكَ مَعِيَ شَرِيكًا فَهُوَ لِشَرِيكِي يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَخْلِصُوا أَعْمَالَكُمْ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ , فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ إِلَّا مَا أُخْلِصَ لَهُ , وَلَا تَقُولُوا: هَذَا لِلَّهِ وَلِلرَّحِمِ , فَإِنَّهَا لِلرَّحِمِ وَلَيْسَ لِلَّهِ مِنْهَا شَيْءٌ , وَلَا تَقُولُوا: هَذَا لِلَّهِ وَلُوُجُوهِكِمْ , فَإِنَّهَا لِوُجُوهِكِمْ وَلَيْسَ لِلَّهِ مِنْهَا شَيْءٌ  [8]  

Artinya: Yahya bin Muhammad bin Sha'id dan Ja'far bin Muhamamd bin Ya'qub Ash-Shandali mengabarkan kepada kami, keduanya mengatakan: Ibrahim bin Muhasysyir mengabarkan kepada kami, Abidah bin Humaid mengabarkan kepada kami, Abdul Aziz bin Rufai' dan yang lainnya mengabarkan kepadaku, dari Tamim bin Tharafah, dari Adh-Dhahhak bin Qais Al Fihri, ia berkata, "Rasulullah SAW bersabda, 'Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla berfirman, 'Aku adalah sebaik-baik sekutu. Barangsiapa yang mempersekutukan-Ku dengan suatu sekutu, maka ia untuk sekutu-Ku.' Wahai manusia! Ikhlaskanlah amal perbuatan kalian untuk Allah 'Azza wa Jalla. Karena sesungguhnya Allah tidak akan menerima amal kecuali yang ikhlas karena-Nya. Dan janganlah kalian mengatakan, 'Ini untuk Allah dan rahim (keluarga),' karena (jika begitu) berarti itu adalah untuk rahim (keluarga) dan tidak sedikit pun yang untuk Allah. Dan jangan pula kalian mengatakan, 'Ini untuk Allah dan kehormatan kalian,' (sebab jika begitu) maka tidak sedikit pun yang untuk Allah'."

2.4. Ikhlas Dalam Semua Amal Ibadah, Taat Kepada Setiap Muslim

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2157 digambarkan seseorang berbai'at kepada Rasulullah  untuk bersyahadah Laa ilaaha illallah wa anna Muhammadar Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mendengar dan tho'at serta setia kepada setiap muslim;

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ إِسْمَاعِيلَ عَنْ قَيْسٍ سَمِعْتُ جَرِيرًا رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ بَايَعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ [9]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami 'Ali bin 'Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Isma'il dari Qais aku mendengar Jarir radliallahu 'anhu berkata: "Aku berbai'at kepada Rasulullah  untuk bersyahadah Laa ilaaha illallah wa anna Muhammadar Rasulullah, menegakkan shalat, menunaikan zakat, mendengar dan tho'at serta setia kepada setiap muslim".

2.5.    Mengikuti Burhan Dengan Ikhlas

Di dalam Al Quran surat Yusuf/ 12: 24 digambarkan bahwa Yusuf merupakan hamba yang ikhlas mengikuti burhan (keterangan; petunjuk; tanda) untuk meninggalkan keburukan dan kekejian;

وَلَقَدْ هَمَّتْ بِهِ وَهَمَّ بِهَا لَوْلَا أَن رَّأَىٰ بُرْهَانَ رَبِّهِ كَذَٰلِكَ لِنَصْرِفَ عَنْهُ السُّوءَ وَالْفَحْشَاءَ إِنَّهُ مِنْ عِبَادِنَا الْمُخْلَصِينَ

Artinya: Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang ikhlas (terpilih). (QS. Yusuf/ 12: 24)

2.6.    Bekerja Dengan Ikhlas

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 8412, dijelaskan Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seseorang dengan tangannya jika dia sungguh-sungguh dan ikhlas;

حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمَّارٍ كَشَاكِشٍ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدًا الْمَقْبُرِيَّ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ خَيْرُ الْكَسْبِ كَسْبُ يَدِ الْعَامِلِ إِذَا نَصَحَ [10]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abu 'Amir Al 'Aqodi] dari [Muhammad bin 'Ammar Kasyakisy] berkata; Aku mendengar [Sa'id Al Maqburi] menceritakan dari [Abu Hurairah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seseorang dengan tangannya jika dia ikhlas."

2.7.    Ikhlas Mengingat Akhirat

Di dalam Al Quran surat Shad/ 38: 46, digambarkan perintah untuk Ikhlas Mengingat Akhirat; beramal untuk akhirat;

إِنَّا أَخْلَصْنَاهُم بِخَالِصَةٍ ذِكْرَى الدَّارِ ﴿ص: ٤٦﴾  

Artinya: Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. (QS. Shad/ 38: 46)

2.8. Mengucapkan Laa Ilaaha Illallah Dengan Ikhlas Dari Hatinya Atau Jiwanya

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 99, disebutkan bahwa orang yang paling berbahagia dengan syafa'atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya;

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ [11]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abdul 'Aziz bin Abdullah] berkata, telah menceritakan kepadaku [Sulaiman] dari ['Amru bin Abu 'Amru] dari [Sa'id Al Maqburi] dari [Abu Hurairah], bahwa dia berkata: ditanyakan (kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafa'atmu pada hari kiamat?" Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Aku telah menduga wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada orang yang mendahuluimu dalam menanyakan masalah ini, karena aku lihat betapa perhatian dirimu terhadap hadis. Orang yang paling berbahagia dengan syafa'atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya".

2.9. Ikhlas Hatinya Membenarkan Lisannya Dan Lisannya Membenarkan Hatinya

Di kitab Musnad Ahmad hadits nomor 10713, disebutkan bahwa syafa'at Nabi Muhammad SAW akan diberikan kepada orang yang bersaksi bahwa tiada Ilah selain Allah dengan ikhlas, hatinya membenarkan lisannya dan lisannya juga membenarkan hatinya;

حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ مُغِيثٍ أَوْ مُعَتِّبٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَاذَا رَدَّ إِلَيْكَ رَبُّكَ عَزَّ وَجَلَّ فِي الشَّفَاعَةِ قَالَ لَقَدْ ظَنَنْتُ لَتَكُونَنَّ أَوَّلَ مَنْ سَأَلَنِي مِمَّا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْعِلْمِ شَفَاعَتِي لِمَنْ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصًا يُصَدِّقُ قَلْبُهُ لِسَانَهُ وَلِسَانُهُ قَلْبَهُ [12]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Umar berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid bin Ja'far dari Yazid bin Abu Habib dari Mu'awiyah bin Mughits dari Abu Hurairah, ia berkata; "Wahai Rasulullah, apa tanggapan Rabbmu 'azza wajalla kepadamu perihal syafa'at?" beliau bersabda: "Sungguh, aku telah mengira bahwa engkau adalah orang yang pertama kali bertanya kepadaku tentang hal itu, sebab aku melihat engkau begitu antusias terhadap ilmu. Syafa'atku hanyalah untuk orang-orang yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak untuk di sembah selain Allah dengan ikhlas, hatinya membenarkan lisannya dan lisannya membenarkan hatinya."

2.10.   Taubat Dengan Ikhlas

Ikhlas merupakan syarat taubat yang diterima, taubat dengan menyerahkan nyawa menjadi taubat yang paling utama, disebutkan di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 1696;

حَدَّثَنِي أَبُو غَسَّانَ مَالِكُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْمِسْمَعِيُّ حَدَّثَنَا مُعَاذٌ يَعْنِي ابْنَ هِشَامٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ حَدَّثَنِي أَبُو قِلَابَةَ أَنَّ أَبَا الْمُهَلَّبِ حَدَّثَهُ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ أَتَتْ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ حُبْلَى مِنْ الزِّنَى فَقَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَصَبْتُ حَدًّا فَأَقِمْهُ عَلَيَّ فَدَعَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِيَّهَا فَقَالَ أَحْسِنْ إِلَيْهَا فَإِذَا وَضَعَتْ فَأْتِنِي بِهَا فَفَعَلَ فَأَمَرَ بِهَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشُكَّتْ عَلَيْهَا ثِيَابُهَا ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَرُجِمَتْ ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا فَقَالَ لَهُ عُمَرُ تُصَلِّي عَلَيْهَا يَا نَبِيَّ اللَّهِ وَقَدْ زَنَتْ فَقَالَ لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ وَهَلْ وَجَدْتَ تَوْبَةً أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ تَعَالَى و حَدَّثَنَاه أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا أَبَانُ الْعَطَّارُ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ [13]

Artinya: Telah menceritakan kepadakuu [Abu Ghassan Malik bin Abdul Wahid Al Misma'i] telah menceritakan kepada kami [Mu'adz] -yaitu Ibnu Hisyam- telah menceritakan kepadaku [ayahku] dari [Yahya bin Abu Katsir] telah menceritakan kepadaku [Abu Qilabah] bahwa [Abu Al Muhallab] telah menceritakan kepadanya dari ['Imran bin Hushain], bahwa seorang wanita dari Juhainah datang menghadap kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, padahal dia sedang hamil akibat melakukan zina. Wanita itu berkata, "Wahai Rasulullah, aku telah melanggar hukum, oleh karena itu tegakkanlah hukuman itu atasku." Lalu Nabi Allah memanggil wali perempuan itu dan bersabda kepadanya: "Rawatlah wanita ini sebaik-baiknya, apabila dia telah melahirkan, bawalah dia ke hadapanku." Lalu walinya melakukan pesan tersebut. setelah itu Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memerintahkan untuk merajam wanita tersebut, maka pakaian wanita tersebut dirapikan (agar auratnya tidak terbuka saat dirajam). Kemudian beliau perintahkan agar ia dirajam. Setelah dirajam, beliau menshalatkan jenazahnya, namun hal itu menjadkan Umar bertanya kepada beliau, "Wahai Nabi Allah, perlukah dia dishalatkan? Bukankah dia telah berzina?" beliau menjawab: "Sunnguh, dia telah bertaubat kalau sekiranya taubatnya dibagi-bagikan kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, pasti taubatnya akan mencukupi mereka semua. Adakah taubat yang lebih utama daripada menyerahkan nyawa kepada Allah Ta'ala secara ikhlas?" Dan telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami ['Affan bin Muslim] telah menceritakan kepada kami [Aban Aal 'Athar] telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Abu Katsir] dengan isnad seperti ini."

2.11. Mengacungkan Jari Telunjuk Di Dalam Shalat Sebagai Isyarat Ikhlas

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 2985 digambarkan bahwa ucapan seseorang dengan isyarat jarinya, yakni begini (maksudnya mengacungkan jari telunjuk) di dalam shalat, Itu adalah keikhlasan (memurnikan Allah dengan isyarat jari telunjuk bahwa Allah itu; Esa, Ahad).

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا إِسْحَاقَ يُحَدِّثُ أَنَّهُ سَمِعَ رَجُلًا مِنْ بَنِي تَمِيمٍ قَالَ سَأَلْتُ ابْنَ عَبَّاسٍ عَنْ قَوْلِ الرَّجُلِ بِإِصْبَعِهِ يَعْنِي هَكَذَا فِي الصَّلَاةِ قَالَ ذَاكَ الْإِخْلَاصُ [14]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] ia berkata; Aku mendengar [Abu Ishaq] menceritakan bahwa ia mendengar [seorang laki-laki] dari bani Tamim, ia berkata; Aku bertanya kepada [Ibnu Abbas] tentang ucapan seseorang dengan isyarat jarinya, yakni begini (maksudnya mengacungkan jari telunjuk) di dalam shalat, maka Ibn Abbas menjawab; Itu keikhlasan (memurnikan Allah dengan isyarat jari telunjuk bahwa Allah itu Esa, atau Tunggal).

  1. Taqwa Di Tingkat Ikhlas

Di dalam Al Quran surat An-Nahl/16: 52 tergambar bahwa langit dan bumi taat  tunduk, patuh dan ikhlas kepada Allah selamanya, maka bertaqwalah hanya kepada Allah;

وَلَهٗ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَلَهُ الدِّيْنُ وَاصِبًاۗ اَفَغَيْرَ اللّٰهِ تَتَّقُوْنَ

Artinya:  Dan milik-Nya meliputi segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan kepada-Nyalah (ibadah dan) ketaatan selama-lamanya. Mengapa kamu Taqwa kepada selain Allah? (QS. An-Nahl/16:52)

Bentuk ketaqwaan kepada Allah di tingkat Ikhlas, yang disebutkan di dalam Al Quran dan Hadits antara lain;

3.1. Bertaqwa Kepada Allah Sesuai Kemampuan Maksimal

Di dalam Al Quran surat At Taghabun/ 64: 16 dijelaskan perintah untuk bertaqwa kepada Allah sesuai kemampuan maksimal dengan cara mendengar dan taat (ikhlas) kepada Allah;

فَاتَّقُوا اللّٰهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوْا وَاَطِيْعُوْا وَاَنْفِقُوْا خَيْرًا لِّاَنْفُسِكُمْۗ وَمَنْ يُّوْقَ شُحَّ نَفْسِهٖ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Artinya: Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah; dan infakkanlah harta yang baik untuk dirimu. Dan barang-siapa dijaga dirinya dari kekikiran, mereka itulah orang-orang yang beruntung.  (QS. At-Tagabun/64: 16)

3.2. Mengadu Kepada Allah

Di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 589 dinyatakan bahwa Apabila seorang mukmin mengadu (kepada Allah), maka Allah membersihkan dia (dari dosa);

أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ يَزِيدَ الْقَطَّانُ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «إِذَا اشْتَكَى الْمُؤْمِنُ أَخْلَصَهُ ذَلِكَ كَمَا يُخْلِصُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ [15]»

Artinya: Dari Aisyah radhiallahu 'anha, dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Apabila seorang mukmin mengadu (kepada Allah), maka Allah membersihkan dia (dari dosa) sebagaimana tukang besi membersihkan besi yang buruk."

3.3. Shalat Malam Membaca Dua Ratus Ayat Al Quran

Di dalam kitab Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain hadits nomor 1162 dinyatakan bahwa barangsiapa yang shalat di malam hari dengan membaca  dua ratus ayat niscaya ia akan ditulis sebagai orang yang ikhlas tunduk kepada Allah;

 نا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى، نا سَعْدُ بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ، أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أَبِي الزِّنَادِ، عَنْ مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، عَنِ ابْنِ سَلْمَانَ، عَنْ أَبِيهِ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ سَلْمَانَ الْأَغَرِّ قَالَ: قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ صَلَّى فِي لَيْلَةٍ بِمِائَةِ آيَةِ لَمْ يُكْتَبْ مِنَ الْغَافِلِينَ، وَمَنْ صَلَّى فِي لَيْلَةٍ بِمِائَتَيْ آيَةٍ فَإِنَّهُ يُكْتَبُ مِنَ الْقَانِتِينَ الْمُخْلِصِينَ [16]

 » 

Artinya: Muhammad bin Yahya menceritakan kepada kami, Sa'ad bin Abdul Hamid menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Abu Az-Zinad mengabarkan kepada kami dari Musa bin Uqbah, dari Salman, dari ayahnya Abu Abdullah Salman Al Aghar, ia berkata: Abu Hurairah berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Barangsiapa shalat di malam hari dengan membaca seratus ayat niscaya ia tidak akan ditulis sebagai orang-orang yang lalai dan barangsiapa yang shalat di malam hari dengan membaca  dua ratus ayat niscaya ia akan ditulis sebagai orang yang ikhlas tunduk kepada Allah'."

3.4. Melakukan Amal Ibadah Dengan Ikhlas dan Mengharapkan WajahNya

Di dalam kitab Sunan Nasai hadits nomor 3089 ditegaskan bahwa Allah tidak menerima amalan kecuali jika dilakukan dengan ikhlas dan mengharapkan wajah-Nya;

أَخْبَرَنَا عِيسَى بْنُ هِلَالٍ الْحِمْصِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حِمْيَرٍ قَالَ حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ سَلَّامٍ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ عَمَّارٍ عَنْ شَدَّادٍ أَبِي عَمَّارٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَرَأَيْتَ رَجُلًا غَزَا يَلْتَمِسُ الْأَجْرَ وَالذِّكْرَ مَالَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا شَيْءَ لَهُ فَأَعَادَهَا ثَلَاثَ مَرَّاتٍ يَقُولُ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا شَيْءَ لَهُ ثُمَّ قَالَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبَلُ مِنْ الْعَمَلِ إِلَّا مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ [17]

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Isa bin Hilal Al Himshi, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Humair, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah bin Sallam dari 'Ikrimah bin 'Ammar dari Syaddad bin Abi 'Ammar dari Abu Umamah Al Bahili, ia berkata; telah datang seorang laki-laki kepada Nabi  lalu berkata; bagaimana pendapat anda mengenai seseorang yang berjihad mengharapkan upah dan sanjungan, apakah yang ia peroleh? Rasulullah  menjawab: "Ia tidak mendapatkan apa-apa, " lalu ia mengulanginya tiga kali, Rasulullah  bersabda kepadanya: "Ia tidak mendapatkan apa-apa". Kemudian beliau bersabda: " Allah tidak menerima amalan kecuali jika dilakukan dengan ikhlas dan mengharapkan wajahNya."

Di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor 6930 digambarkan tiga kelompok orang beramal, dan dinyatakan bahwa orang yang beramal dengan ikhlas yang diterima Allah;

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، وَأَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ، قَالَا: نا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، نا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عَفَّانَ، نا عُبَيْدُ اللهِ هُوَ ابْنُ مُوسَى، نا قَطَرِيٌّ الْخَشَّابُ، عَنْ عَبْدِ الْوَارِثِ، عَنْ مَوْلَى أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ أَنَسٌ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صَارَتْ أُمَّتِي ثَلَاثَ فِرَقٍ: فِرْقَةٌ يَعْبُدُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ خَالِصًا، وَفِرْقَةٌ يَعْبُدُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ رِيَاءً، وَفِرْقَةٌ يَعْبُدُونَ اللهَ يُصِيبُونَ بِهِ دُنْيَا. قَالَ: فَيَقُولُ لِلَّذِي كَانَ يَعَبُدُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لِلدُّنْيَا: بِعِزَّتِي وَجَلَالِي، مَا أَرَدْتَ بِعِبَادَتِي؟ فَيَقُولُ: الدُّنْيَا. فَيَقُولُ: لَا جَرَمَ، لَا يَنْفَعُكَ مَا جَمَعْتَ وَلَا تَرْجِعُ إِلَيْهِ، انْطَلِقُوا بِهِ إِلَى النَّارِ، قَالَ: وَيَقُولُ لِلَّذِي يَعَبُدُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ رِيَاءً: بِعِزَّتِي وَجَلَالِي، مَا أَرَدْتَ بِعِبَادَتِي؟ قَالَ: الرِّيَاءَ. قَالَ: يَقُولُ: إِنَّمَا كَانَتْ عِبَادَتُكَ الَّتِي كُنْتَ تُرَائِي بِهَا لَا يَصْعَدُ إِلَيَّ مِنْهَا شَيْءٌ، وَلَا يَنْفَعُكَ الْيَوْمَ انْطَلِقُوا بِهِ إِلَى النَّارِ، قَالَ: وَيَقُولُ لِلَّذِي كَانَ يَعَبُدُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ خَالِصًا: بِعِزَّتِي وَجَلَالِي، مَا أَرَدْتَ بِعِبَادَتِي؟ فَيَقُولُ: بِعِزَّتِكَ وَجَلَالِكَ، لَأَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي كُنْتُ أَعْبُدُكَ لِوَجْهِكَ وَلِدَارِكَ، قَالَ: صَدَقَ عَبْدِي انْطَلِقُوا بِهِ إِلَى الْجَنَّةِ [18] "

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdillah Al Hafidz dan Abu Bakar Ahmad ibnu Hasan, berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Abas Muhammad ibnu Ya’qub, telah mengabarkan kepada kami Al hasan ibnu Ali ibnu ‘Afan, telah mengabarkan kepada kami ‘Ubaidullah yaitu ibnu Musa, telah mengabarkan kepada kami Qathari Al Hasab, dari Abd Al Waris, dari Maula Anas, berkata, berkata Anas: Rasulullah  bersabda: Jika terjadi Hari Qiyamat umatku terbagi menjadi tiga kelompok, kelompok yang menyembah Allah Azza wa Jalla dengan ikhlas, kelompok yang menyembah Allah Azza wa Jalla dengan riya’, kelompok yang menyembah Allah Azza wa Jalla untuk memperoleh dunianya, belia bersabda, Maka Allah berkata kepada orang yang menyembah Allah Azza wa Jalla untuk duniannya, dengan keagungan dan kemulyaanku, apa yang kamu inginkan dari ibadah kepadaKu ?, mereka berkata: dunia, maka Allah berkata: tidak diragukan, tidak ada manfaat bagimu apa yang telah kamu kumpulkan dan tidak dapat kembali kepadanya, karenanya lemparkanlah ke Neraka, Allah berkata kepada orang yang menyembah Allah Azza wa Jalla untuk duniannya, dengan keagungan dan kemulyaanku, apa yang kamu inginkan dari ibadah kepadaKu ?, mereka berkata: riya’, maka Allah berkata: sesungguhnya ibadahmu untuk siapa kamu ingin diperhatikan, ibadahmu tidak naik kepadaku sedikitpun, dan hari ini tidak memberi manfaat kepadamu, karenanya lemparkanlah ke Neraka, Allah berkata kepada orang yang menyembah Allah Azza wa Jalla dengan ikhlas, dengan keagungan dan kemulyaanku, apa yang kamu inginkan dari ibadah kepadaKu ?, mereka berkata: dengan keagungan dan kemulyaanMu sungguh engakau lebih mengetahui , maka Allah berkata:hambaKu benar karenanya bebaskan dia ke Jannah.

3.5. Mendengar Dan Taat, Baik Ketika Giat (Semangat) Maupun Malas

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6774 digambarkan bahwa orang yang berbaiat kepada Nabi untuk bersedia mendengar dan taat, baik ketika giat (semangat) maupun malas;

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَادَةُ بْنُ الْوَلِيدِ أَخْبَرَنِي أَبِي عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي الْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ وَأَنْ نَقُومَ أَوْ نَقُولَ بِالْحَقِّ حَيْثُمَا كُنَّا لَا نَخَافُ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ [19]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ismail telah menceritakan kepadaku Malik dari Yahya bin Sa'id mengatakan, telah mengabarkan kepadaku 'Ubadah bin Al Walid telah mengabarkan kepadaku Ayahku dari Ubadah bin Ash Shamit mengatakan; 'kami berbai'at kepada Rasulullah  untuk mendengar dan taat, baik ketika giat (semangat) maupun malas, dan untuk tidak menggulingkan kekuasaan dari orang yang berwenang terhadapnya, dan mendirikan serta mengucapkan kebenaran dimana saja kami berada, kami tidak khawatir dijalan Allah terhadap celaan orang yag mencela.'

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6532 juga disebutkan dalam baiat untuk bersedia, lebih mementingkan urusan bersama, serta agar kami tidak mencabut urusan dari ahlinya kecuali jika kalian melihat kekufuran yang terang-terangan;

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ عَنْ عَمْرٍو عَنْ بُكَيْرٍ عَنْ بُسْرِ بْنِ سَعِيدٍ عَنْ جُنَادَةَ بْنِ أَبِي أُمَيَّةَ قَالَ دَخَلْنَا عَلَى عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ وَهُوَ مَرِيضٌ قُلْنَا أَصْلَحَكَ اللَّهُ حَدِّثْ بِحَدِيثٍ يَنْفَعُكَ اللَّهُ بِهِ سَمِعْتَهُ مِنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ دَعَانَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْنَاهُ فَقَالَ فِيمَا أَخَذَ عَلَيْنَا أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةً عَلَيْنَا وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنْ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ [20]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Isma'il telah menceritakan kepadaku Ibnu Wahb dari Amru dari Bukair dari Busr bin Sa'id dari Junadah bin Umayyah mengatakan, kami berkunjung ke Ubadah bin Shamit yang ketika itu sedang sakit. Kami menyapa; 'semoga Allah menyembuhkanmu, ceritakan kepada kami sebuah Hadits, yang kiranya Allah memberimu manfaat karenanya, yang engkau dengar dari Nabi ! ' Ia menjawab; 'Nabi  memanggil kami sehingga kami berbaiat kepada beliau.' Ubadah melanjutkan; diantara janji yang beliau ambil dari kami adalah, agar kami berbaiat kepada beliau untuk senantiasa mendengar dan ta'at, saat giat mapun malas, dan saat kesulitan maupun kesusahan, lebih mementingkan urusan bersama, serta agar kami tidak mencabut urusan dari ahlinya kecuali jika kalian melihat kekufuran yang terang-terangan, yang pada kalian mempunyai alasan yang jelas dari Allah.'

3.6. Taat Dalam Kebaikan

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6716 dinyatakan bahwa sama sekali tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan, ketaatan itu dalam kebaikan

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ زُبَيْدٍ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ جَيْشًا وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ رَجُلًا فَأَوْقَدَ نَارًا وَقَالَ ادْخُلُوهَا فَأَرَادُوا أَنْ يَدْخُلُوهَا وَقَالَ آخَرُونَ إِنَّمَا فَرَرْنَا مِنْهَا فَذَكَرُوا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لِلَّذِينَ أَرَادُوا أَنْ يَدْخُلُوهَا لَوْ دَخَلُوهَا لَمْ يَزَالُوا فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَقَالَ لِلْآخَرِينَ لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةٍ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ  [21]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar telah menceritakan kepada kami Ghundar telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Zubaid dari Sa'd bin Ubaidah dari Abu 'Abdurrahman dari 'Ali radliallahu 'anhu, bahwa Nabi  pernah mengutus sepasukan dan mengangkat seseorang sebagai amir mereka, amir tersebut kemudian menyalakan api dan memberi perintah, 'Masuklah kalian ke api ini! ' sebagian mereka ingin memasukinya dan sebagian lain berkata, 'Bukankah kita sendiri ingin melarikan diri dari api (neraka)? ' Akhirnya mereka laporkan kasus tersebut kepada nabi  dan beliau bersabda kepada mereka yang ingin memasukinya: "Kalau mereka memasukinya, niscaya mereka tetap dalam api itu hingga kiamat tiba." Dan beliau berkata kepada sebagian lain: "Sama sekali tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan, ketaatan itu dalam kebaikan."

3.7. Menjaga Amal Setelah Ikhlas Itu Lebih Berat Dari Amal Itu Sendiri

Di dalam kitab Hilyatul Aulia digambarkan bahwa mengikhlaskan amal hingga benar-benar ikhlas adalah lebih berat dari amal itu sendiri, dan menjaga amal setelah ikhlas itu lebih berat dari amal itu sendiri;

حَدَّثَنَا أَبِي، ثنا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عُمَرَ، ثنا سَعِيدُ بْنُ عُثْمَانَ قَالَ: سَمِعْتُ السَّرِيَّ، يَقُولُ: قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُطَرِّفٍ: «تَخْلِيصُ الْعَمَلِ حَتَّى يَخْلُصُ أَشَدُّ مِنَ الْعَمَلِ، وَالِاتِّقَاءُ عَلَى الْعَمَلِ بَعْدَ مَا يَخْلُصُ أَشَدُّ مِنَ الْعَمَلِ [22]. »

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ayahku, telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ahmad  ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu ‘Utsman, berkata: aku telah mendengar As Sari berkata: telah berkata Abdullah ibnu Mutharif: mengikhlaskan amal hingga benar-benar ikhlas adalah lebih berat dari amal itu sendiri, dan menjaga amal setelah ikhlas itu lebih berat dari amal itu sendiri .

3.8. Barangsiapa Meninggalkan Dunia Dalam Keadaan Ikhlas Kepada Allah.., Maka Ia Meninggal Dalam Keridlaan Allah

Di dalam kitab Al-Mustadrak 'Ala Shahihain hadits nomor 3277 dinyatakan bahwa Barangsiapa meninggal dunia dalam keadaan ikhlas kepada Allah, beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya, menegakkan shalat dan menunaikan zakat, maka ia meninggal dalam keridlaan Allah.;

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الزَّاهِدُ، ثنا أَحْمَدُ بْنُ مِهْرَانَ، ثنا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى، أَنْبَأَ أَبُو جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ، وَأَخْبَرَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ حَمْدَانَ الْجَلَّابُ، بِهَمْدَانَ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ أَحْمَدَ الْخَزَّازُ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ سُلَيْمَانَ الرَّازِيُّ، ثنا أَبُو جَعْفَرٍ الرَّازِيُّ، عَنِ الرَّبِيعِ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عنْ رَسُولِ اللَّهِ ﷺ، قَالَ: " مَنْ فَارَقَ الدُّنْيَا عَلَى الْإِخْلَاصِ لِلَّهِ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَإِقَامِ الصَّلَاةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، فَارَقَهَا وَاللَّهُ عَنْهُ رَاضٍ، وَهُوَ دِينُ اللَّهِ الَّذِي جَاءَتْ بِهِ الرُّسُلُ، وَبَلَّغُوهُ عَنْ رَبِّهِمْ قَبْلَ مَرْجِ الْأَحَادِيثِ، وَاخْتِلَافِ الْأَهْوَاءِ، وَتَصْدِيقُ ذَلِكَ فِي كِتَابِ اللَّهِ ﴿فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ، وَآتَوُا الزَّكَاةَ، فَخَلُّوا سَبِيلَهُمْ﴾ [التوبة: ٥] وَقَوْلُهُ ﷿ ﴿فَإِنْ تَابُوا﴾ [التوبة: ٥] يَقُولُ: خَلَعُوا الْأَوْثَانَ وَعِبَادَتَهَا ﴿وَأَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ﴾ [التوبة: ١١] «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخْرِجَاهُ [23]

Artinya: Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Abdillah al-Zahid, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mihran, ia berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Ubaydullah bin Musa, telah memberitakan kepada kami Abu Ja‘far al-Razi. Dan telah mengabarkan kepadaku ‘Abd al-Rahman bin Hamdan al-Jallab di Hamdan, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ahmad al-Khazzaz, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Sulaiman al-Razi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Ja‘far al-Razi, dari al-Rabi‘ bin Anas, dari Anas bin Malik, dari Rasulullah , beliau bersabda: “Barangsiapa meninggalkan dunia dalam keadaan ikhlas kepada Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, menegakkan salat, dan menunaikan zakat, maka ia keluar dari dunia ini dalam keadaan Allah ridha kepadanya. Dan itulah agama Allah yang dibawa oleh para rasul dan mereka sampaikan dari Rabb mereka, sebelum munculnya berbagai hadis-hadis baru, perbedaan hawa nafsu, dan penyimpangan. Dan kebenaran hal itu terdapat dalam Kitab Allah: ‘Jika mereka bertaubat, mendirikan salat, dan menunaikan zakat, maka biarkanlah mereka’ (QS. at-Tawbah: 5). Dan firman-Nya: ‘Jika mereka bertaubat’ (at-Tawbah: 5), yakni: mereka meninggalkan berhala-berhala dan penyembahannya. Dan firman-Nya: ‘Jika mereka bertaubat, mendirikan salat, dan menunaikan zakat, maka mereka adalah saudara-saudaramu dalam agama’ (at-Tawbah: 11).”

Kemudian al-Hakim berkata: “Hadis ini sahih sanadnya, tetapi keduanya (al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya.”

3.9. Mengucapkan La Ilaha Illallah Dengan Ikhlas

Di dalam kitab Shahih Bukhari Hadits nomor 97 dinyatakan bahwa Orang yang paling berbahagia dengan syafa'atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya;

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لَا يَسْأَلُنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ [24]  

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdul 'Aziz bin Abdullah berkata, telah menceritakan kepadaku Sulaiman dari 'Amru bin Abu 'Amru dari Sa'id Al Maqburi dari Abu Hurairah, bahwa dia berkata: ditanyakan (kepada Rasulullah : "Wahai Rasulullah siapakah orang yang paling berbahagia dengan syafa'atmu pada hari kiamat?" Rasulullah  menjawab: "Aku telah menduga wahai Abu Hurairah, bahwa tidak ada orang yang mendahuluimu dalam menanyakan masalah ini, karena aku lihat betapa perhatian dirimu terhadap hadits. Orang yang paling berbahagia dengan syafa'atku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan Laa ilaaha illallah dengan ikhlas dari hatinya atau jiwanya".

3.10.   Mengucapkan Kalimat Ikhlas; Kalimat Taqwa “Asyhadu An laa Ilaha Illallah”

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 447 digambarkan ada sebuah kalimat yang disebut sebagai kalimat ikhlas tetapi juga disebut sebagai kalimat taqwa, jika diucapkan dengan benar dari qalbunya, diharamkan baginya neraka yaitu; “Asyhadu An laa Ilaha Illallah”;

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الْخَفَّافُ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ حُمْرَانَ بْنِ أَبَانَ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَا يَقُولُهَا عَبْدٌ حَقًّا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حُرِّمَ عَلَى النَّارِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا أُحَدِّثُكَ مَا هِيَ هِيَ كَلِمَةُ الْإِخْلَاصِ الَّتِي أَعَزَّ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِهَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابَهُ وَهِيَ كَلِمَةُ التَّقْوَى الَّتِي أَلَاصَ عَلَيْهَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَمَّهُ أَبَا طَالِبٍ عِنْدَ الْمَوْتِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ [25] 

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab Al Khaffaf Telah menceritakan kepada kami Sa'id dari Qatadah dari Muslim Bin Yasar dari Humran Bin Aban bahwa Utsman Bin Affan berkata; aku mendengar Rasulullah  bersabda: "Sungguh aku mengetahui sebuah kalimat yang tidaklah seorang hamba mengucapkannya dengan hati yang ikhlas, kecuali pasti akan di haramkan neraka untuknya." Maka Umar Bin Al Khaththab berkata kepadanya; "Saya akan menceritakannya kepadamu kalimat apa itu, yaitu kalimat ikhlas yang dengannya Allah Tabaraka wa Ta'ala memuliakan Muhammad  dan para sahabatnya, yaitu kalimat Taqwa yang telah Nabiyullah  baca berulang ulang kepada pamannya Abu Thalib menjelang wafatnya, yaitu persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak di sembah selain Allah."

3.11. Berdoa Di Pagi Dan Petang Agar Berada Dalam Kalimat Ikhlas

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 20219 disebutkan doa pagi dan petang Semoga kami di pagi ini dalam keadaan fitrah Islam (agama Islam), dalam kalimat yang ikhlas, dalam sunnah Nabi kami Muhammad  dan dalam millah (agama) bapak kami Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah;

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ يَحْيَى بْنِ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَلَمَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبْزَي عَنْ أَبِيهِ عَنْ أُبَيِّ بْنِ كَعْبٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعَلِّمُنَا إِذَا أَصْبَحْنَا أَصْبَحْنَا عَلَى فِطْرَةِ الْإِسْلَامِ وَكَلِمَةِ الْإِخْلَاصِ وَسُنَّةِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِلَّةِ أَبِينَا إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنْ الْمُشْرِكِينَ وَإِذَا أَمْسَيْنَا مِثْلَ ذَلِكَ [26]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Isma'il bin Yahya bin Salamah bin Kuhail telah menceritakan kepadaku Ayahku dari Ayahnya dari Salamah dari Sa'id bin Abdurrahman bin Abza dari Ayahnya dari Ubay bin Ka'b dia berkata, "Rasulullah  telah mengajarkan doa kepada kami apabila di pagi hari: Semoga kami di pagi ini dalam keadaan fitrah Islam (agama Islam), dalam kalimat yang ikhlas, dalam sunnah Nabi kami Muhammad  dan dalam millah (agama) bapak kami Ibrahim yang lurus, dan dia bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah) '. Dan pada sore hari juga dengan doa seperti itu."

3.12. Bermajelis Dengan Guru Yang Mengajarkan Kepada Keikhlasan

Di dalam kitab Hilyatul Aulia mengingatkan untuk tidak bermajelis dengan semua guru, kecuali yang mengajarkan menghilangkan riya menuju kepada keikhlasan;

ما حَدَّثَنَاهُ أَبُو الْقَاسِمِ زَيْدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ أَبِي بِلَالٍ , ثنا عَلِيُّ بْنُ مَهْرَوَيْهِ , ثنا يُوسُفُ بْنُ حَمْدَانَ , ثنا أَبُو سَعِيدٍ الْبَلْخِيُّ , ثنا شَقِيقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الزَّاهِدُ , ثنا عَبَّادُ بْنُ كَثِيرٍ , عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لَا تَجْلِسُوا مَعَ كُلِّ عَالِمٍ إِلَّا مَعَ عَالِمٍ يَدْعُوكُمْ مِنْ خَمْسٍ إِلَى خَمْسٍ: مِنَ الشَّكِّ إِلَى الْيَقِينِ , وَمِنَ الْعَدَاوَةِ إِلَى النَّصِيحَةِ وَمِنَ الْكِبْرِ إِلَى التَّوَاضُعِ وَمِنَ الرِّيَاءِ إِلَى الْإِخْلَاصِ وَمِنَ الرَّغْبَةِ إِلَى الرَّهْبَةِ [27] "

Artinya:  Apa yang telah kami ceritakan kepadanya Abu Qasim Zaid ibnu Ali ibnu abi Bilal. telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Mahrawaih, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Hamdan, telah menceritakan kepada kami Abu Said Al Balhi, telah menceritakan kepada kami Syaqiq ibnu Ibrahim Al Zahid, telah menceritakan kepada kami ‘Abad ibnu Katsir dari abu Zubair, dari Jabir berkata: Rasulullah  bersabda: Jangan bermajelis (belajar) dengan semua guru, kecuali dengan yang mengajakmu dari lima hal menuju lima; dari keraguan kepada keyakinan, dari permusuhan menuju nasehat, dari takabur kepada tawadhu’, dari riya’ menuju ikhlas dan dari berhasrat menuju merasa takut.”

3.13. Berdoa Agar Dijadikan Sebagai Orang Yang Ikhlas Kepada Allah

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 19293 disebutkan doa jadikanlah aku sebagai orang yang ikhlas kepada-Mu, keluargaku dalam setiap waktu untuk dunia maupun akhirat;

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ قَالَ سَمِعْتُ دَاوُدَ الطُّفَاوِيَّ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي مُسْلِمٍ الْبَجَلِيِّ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ كَانَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي دُبُرِ صَلَاتِهِ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ أَنَا شَهِيدٌ أَنَّكَ أَنْتَ الرَّبُّ وَحْدَكَ لَا شَرِيكَ لَكَ قَالَ إِبْرَاهِيمُ مَرَّتَيْنِ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ أَنَا شَهِيدٌ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ أَنَا شَهِيدٌ أَنَّ الْعِبَادَ كُلَّهُمْ إِخْوَةٌ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ اجْعَلْنِي مُخْلِصًا لَكَ وَأَهْلِي فِي كُلِّ سَاعَةٍ مِنْ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ذَا الْجِلَالِ وَالْإِكْرَامِ اسْمَعْ وَاسْتَجِبْ اللَّهُ الْأَكْبَرُ الْأَكْبَرُ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ اللَّهُ الْأَكْبَرُ الْأَكْبَرُ حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ اللَّهُ الْأَكْبَرُ الْأَكْبَرُ [28]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Mahdi Telah menceritakan kepada kami Mu'tamir ia berkata, saya mendengar Dawud Ath Thufawi menceritakan dari Abu Muslim Al Bajali dari Zaid bin Arqam ia berkata; Rasulullah  membaca do'a di akhir shalatnya: Ya Allah, Rabb kami dan Rabb-nya segala sesuatu, saya adalah saksi bahwa Muhammad adalah hamba-Mu dan Rasul-Mu. Wahai Rabb kami dan Rabb-nya segala sesuatu, saya adalah saksi bahwa seluruh hamba adalah saudara. Ya Allah, Rabb kami dan Rabb-nya segala sesuatu, jadikanlah aku sebagai orang yang ikhlas kepada-Mu, keluargaku dalam setiap waktu untuk dunia maupun akhirat, (Engkaulah Yang Maha) Kuasa dan Mulia, dengar dan perkenankanlah. Allah Maha Besar. Yang Maha Besar adalah Allah, Cahaya langit dan bumi. Allah Maha Besar, cukuplah Allah sebagai sebaik-baik tempat berlindung. Allah Maha Besar."

3.14. Berdoa Menyatakan Beriman Kepada Allah Dengan Ikhlas

Di dalam kitab Mujam Al Kabir Li Al Thabarani hadits nomor 944 disebutkan doa beriman kepada Allah dengan ikhlas dalam beragama;

حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْفِرْيَابِيُّ، ثنا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، ثنا صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ، ثنا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي الْعَاتِكَةِ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ يَزِيدَ، عَنِ الْقَاسِمِ، عَنْ أَبِي أُمَامَةَ، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ، أَنَّهُ كَانَ يُقْسِمُ بِاللهِ ثَلَاثًا لَا يَسْتَثْنِي: «مَا عَلَى ظَهْرِ الْأَرْضِ مُسْلِمٌ يَقُولُ حِينَ يُصْبِحُ: اللهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، رَبِّي وَأَنَا عَبْدُكَ، آمَنْتُ بِكَ مُخْلِصًا لَكَ دِينِي، أَصْبَحْتُ عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَتُوبُ إِلَيْكَ مِنْ سُوءِ عَمَلِي، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِذُنُوبِي لَا يَغْفِرُهَا إِلَّا أَنْتَ، فَيَمُوتُ مِنْ يَوْمِهِ ذَلِكَ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ» [29]

Artinya: Diriwayatkan oleh Ja‘far bin Muammad al-Firyābī, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Hisyām bin ‘Ammār, telah menceritakan kepada kami adaqah bin Khālid, telah menceritakan kepada kami ‘Utsmān bin Abī al-‘Ātikah, dari ‘Alī bin Yazīd, dari al-Qāsim, dari Abū Umāmah, dari Nabi  bahwa beliau bersumpah atas nama Allah sebanyak tiga kali tanpa pengecualian: “Tidaklah ada seorang muslim pun di atas permukaan bumi yang ketika memasuki waktu pagi mengucapkan: ‘Ya Allah, hanya bagi-Mu segala puji. Tidak ada ilah selain Engkau. Engkaulah Tuhanku dan aku adalah hamba-Mu. Aku beriman kepada-Mu dan aku mengikhlaskan agamaku hanya untuk-Mu. Aku memasuki pagi dalam keadaan tetap berpegang pada perjanjian dan janji-Mu sesuai kemampuanku. Aku bertaubat kepada-Mu dari amal burukku, dan aku memohon ampun kepada-Mu atas dosa-dosaku; tidak ada yang dapat mengampuninya selain Engkau.’ Lalu ia meninggal pada hari itu, melainkan pasti ia masuk surga.”

Ayat dan Atsar di atas menggambarkan betapa pentingnya ketaqwaan di tingkat ikhlas, agar ketaqwaan di tingkat ikhlas dapat dipahami dan diamalkan dengan baik, maka disini perlu dirumuskan bahwa ketaqwaan di tingkat ikhlas adalah kesadaran untuk taat kepada Allah, mengerjakan semua amal dan perbuatan didasari keikhlasan karena Allah SWT, apabila terjadi perbuatan atau amal yang dilakukan bukan karena Allah, segera menyadarinya dan bertaubat dan mohon ampun kepada Allah SWT.

Keikhlasan dapat menimbulkan kesadaran hati untuk merasakan amal perbuatannya yang dikerjakannya bernilai baik, benar, memiliki arti, netral, suci, bersih, jujur, aktif, percaya diri, optimis, semangat, senang, bahagia, mengenal kebenaran dan menerima kenyataan.

 

 

Doa Mohon Dijadikan Hamba Yang Ikhlas

"اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَرَبَّ كُلِّ شَيْءٍ اجْعَلْنِي مُخْلِصًا لَكَ وَأَهْلِي فِي كُلِّ سَاعَةٍ مِنْ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ ذَا الْجِلَالِ وَالْإِكْرَامِ اسْمَعْ وَاسْتَجِبْ اللَّهُ الْأَكْبَرُ الْأَكْبَرُ اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ اللَّهُ الْأَكْبَرُ الْأَكْبَرُ حَسْبِيَ اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ اللَّهُ الْأَكْبَرُ الْأَكْبَرُ"

“Ya Allah, Rabb kami dan Rabb-nya segala sesuatu, jadikanlah aku sebagai orang yang ikhlas kepada-Mu, keluargaku dalam setiap waktu untuk dunia maupun akhirat, (Engkaulah Yang Maha) Kuasa dan Mulia, dengar dan perkenankanlah. Allah Maha Besar. Yang Maha Besar adalah Allah, Cahaya langit dan bumi. Allah Maha Besar, cukuplah Allah sebagai sebaik-baik tempat berlindung. Allah Maha Besar."

"(HR. Ahmad : 19293)



[1] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 4 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, tt.), 330

[2] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Madārij as-Sālikīn bayna Manāzil Iyyāka Na‘budu wa Iyyāka Nasta‘īn, Juz 2 (Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 2000), 91

[3] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 63, Hadits nomor 7144.

[5] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 14, Halaman 273.Hadits nomor 8625.

[6] Abu Abd Ar-Rahman Ahmad ibn Syuaib Al-Nasa’i, Sunan Al-Nasa’I Al-Mujtabi, Dar ar-Risalah Al-Alamiyah, 2018, Jilid 6, Halaman 69, Hadits nomor 7524.

[8] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 5 Hal. 335, Hadits nomor 6835.

[10] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 7, Halaman 350.Hadits nomor 8412.

[11] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 31, Hadits nomor 99.

[12] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 16, Halaman 417.Hadits nomor 10713.

[13] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 3, Halaman 1324, Hadits nomor 1696.

[15] Abu Hatim Muhammad Ibnu Hiban Ibnu Ahmad, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibu Hazm, Beirut, 2012, Jilid 1, Halaman 422, Hadits nomor 589.

[16] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Al Kitab Al-‘Ilmiyah, Beirut, 1990, Jilid 1, Halaman 452, Hadits nomor 1162.

[17] Abu Abd Ar-Rahman Ahmad ibn Syuaib Al-Nasa’i, Sunan Al-Nasa’I Al-Mujtabi, Dar ar-Risalah Al-Alamiyah, 2018, Jilid 4, Halaman 286.Hadits nomor 4333.

[18] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 5 Hal. 327, Hadits nomor 6808.

[20] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 47, Hadits nomor 7055.

[21] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 88, Hadits nomor 7257.

[23] Abu Abdullah Muhammad ibn Abdullah Al-Hakim Al-Naisaburi, Al-Mustadrak ‘Ala Al-Shahihain, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 1990, Jilid 2 Hal. 362, Hadits nomor 3277.

[24] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 31, Hadits nomor 99.

[25] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Dar Al-Hadits, Kairo, 1995, Jilid 1, Halaman 356, Hadits nomor 447.

[26] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 35, Halaman 81.Hadits nomor 211440.

[27] Abu Nu’aim Ahmad ibn Abdullah Al-Ashbahani, Hilyatul Auliya’ Wa Thabaqatul Ashfiya’, Mathba’ah Sa’adah, Mesir, 1974. Jilid 8 Halaman 72.

[28] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 32, Halaman 48.Hadits nomor 19293.

[29] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 8, Halaman 221.Hadits nomor 7879.


Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post