TAKWA DARI FUJUR
Buku “Ilmu Takwa 3- ‘Cermin Qalbu
Fujur’ melihat dan membersihkan Fujur Pada
Diri Sendiri” dititik beratkan pada penyampaian ayat-ayat Al Quran dan
Hadits-hadits Nabi Muhammad SAW, yang berkaitan dengan masing-masing tingkatan
takwa, dengan harapan konsep ketakwaan dapat dipahami dan diamalkan secara utuh
dan menyeluruh..
Pentingnya memahami dan
mengamalkan ketakwaan secara
utuh dan menyeluruh ini tercermin dari banyaknya ayat-ayat Al Quran yang di
dalamnya terdapat kata takwa, yaitu ditemukan sebanyak 258 kata, di dalam
237 ayat Al Quran, dalam berbagai bentuk kata kerja maupun sifat, sedangkan
kata yang secara khusus menggunakan kata kerja perintah “bertakwalah“
ditemukan sebanyak 72 kata, di dalam 70 ayat Al Quran, jumlah kata takwa jauh
melampau jumlah kata shalat, yang ditemukan hanya sebanyak 98 kata di dalam 90 ayat, sedangkan dalam bentuk perintah dirikanlah
shalat, hanya ditemukan sebanyak 13 kata
di dalam Al Quran.
Jumlah kata takwa yang ada di dalam Al Quran yang jauh lebih banyak dibanding
kata shalat, menjadi peringatan kepada kita bahwa takwa merupakan pengamalan agama yang sangat penting untuk
diperhatikan, sehingga kita harus memberi perhatian yang serius untuk dapat
memahami dan mengamalkan ketakwaan, selain
itu ketakwaan merupakan amalan agama yang harus dilaksanakan di mana saja manusia
berada, sebagaimana wasiat Nabi Muhammad SAW yang dimuat di dalam kitab Musnad
Ahmad hadits nomor 21047, berikut;
حَدَّثَنَا
عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ عَنْ لَيْثٍ عَنْ حَبِيبِ
بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ مَيْمُونِ بْنِ أَبِي شَبِيبٍ عَنْ مُعَاذٍ أَنَّهُ قَالَ
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوْصِنِي قَالَ اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ أَوْ
أَيْنَمَا كُنْتَ قَالَ زِدْنِي قَالَ أَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ
تَمْحُهَا قَالَ زِدْنِي قَالَ خَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ [1].
Artinya: Telah bercerita kepada kami 'Abdullah telah
bercerita kepadaku ayahku. Telah bercerita kepada kami Isma'il dari Laits dari
Habib bin Abu Tsabit dari Maimun bin Abu Syabib dari Mu'adz bin Jabal berkata;
Wahai Rasulullah! Berilah aku wasiat. Rasulullah SAW bersabda;
"Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada." Mu'adz berkata;
Tambahilah. Rasulullah SAW bersabda; "Sertakan kebaikan pada keburukan
niscaya akan menghapusnya." Mu'adz berkata; Tambahilah. Rasulullah SAW
bersabda; "Perlakukan orang dengan akhlak yang baik."
Takwa di mana saja berada
dijadikan sebagai wasiat yang pertama, hal ini menunjukkan bahwa takwa merupakan sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan
pelaksanaannya,
karena takwa harus dilaksanakan di mana saja manusia berada, terkandung pengertian di dalam segala aktifitas yang sedang dilakukan harus ada
ketakwaan. Karena pentingnya takwa ini, Allah mengingatkan kepada semua manusia untuk bertakwa kepada-Nya dengan cara menumbuhkan kesadaran bahwa langit dan
bumi yang ditempati manusia adalah milik Allah SWT, sebagaimana yang dinyatakan
di dalam Al Quran surat An Nisa’/ 4: 131, berikut;
وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ
وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن
قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ ۚ وَإِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ
لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا
حَمِيدًا
Artinya:
Dan kepunyaan Allah-lah apa yang
di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada
orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah
kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang
di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan
Maha Terpuji. (An-Nisaa': 131)
Dengan
peringatan tersebut diharapkan manusia mau bertakwa kepada Allah, yang didasari kesadaran, bahwa dirinya hidup di
bumi dan langit milik Allah SWT, dari sisi lain Allah juga mengingatkan manusia
untuk bertakwa kepada-Nya dengan cara menumbuhkan kesadaran bahwa dirinya,
pasangannya dan keturunannya diciptakan oleh Allah SWT, sebagaimana digambarkan
di dalam Al Quran surat An Nisa’/ 4: 1,
berikut;
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا
رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي
تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
Artinya:
Hai sekalian manusia, bertakwalah
kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya
Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan
laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan
(mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah)
hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.
(QS. An-Nisaa'/ 4: 1)
Dampak yang akan dirasakan ketika
ketakwaan
dilakukan secara perseorangan, maka seseorang yang mengamalkan akan diberikan Furqaan (kemampuan memahami benar-salah,
baik-buruk, halal-haram dll), ditutupi keburukannya dan diampuni dosa dan
kesalahannya, sebagaimana tertuang di dalam Al Quran Surat Al-Anfal/ 8: 29;
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا
وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ
الْعَظِيمِ
Artinya: Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada
Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari
kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai
karunia yang besar.(QS. Al-Anfal/ 8: 29)
Sedangkan jika ketakwaan
dilakukan secara komunal, akan memiliki dampak yang lebih luas, yaitu
komunitas; penduduk kampung atau negeri yang mengamalkannya akan diberikan
solusi untuk mengurai permasalahan kompleks yang dihadapinya, dalam bentuk
keberkahan, sebagaimana janji Allah bagi penduduk negeri yang beriman dan bertakwa, akan
diberikan limpahan berkah dari langit dan bumi, yang termuat di dalam Al Quran
surat Al-A’raf / 7: 96, berikut;
وَلَوْ
أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ
مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا
يَكْسِبُونَ
Artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman
dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit
dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa
mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A’raf Ayat 96)
Dengan demikian membangun ketakwaan pada
penduduk negeri, merupakan solusi terbaik untuk memperbaiki berbagai
ketimpangan (ekonomi, sosial, politik, budaya, hukum) yang terjadi di negeri
ini, salah satu bentuk ketakwaan adalah melakukan introspeksi, berdasar perintah Allah di
dalam Al Quran Surat Al-Hasyr/ 59: 18;
يَا أَيُّهَا
الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا
اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya:
Hai orang-orang yang beriman,
bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah
diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah,
sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Hasyr/ 59:
18)
Di dalam ayat tersebut, perintah
bertakwa disebutkan
dua kali, mengapit satu perintah untuk melihat apa yang telah diperbuat di masa
lalu untuk kepentingan masa depannya, hal tersebut mengandung pengertian bahwa
kejadian yang dialami umat Islam saat ini merupakan akibat dari perbuatan umat
Islam pada masa lalu, sekarang mari kita lakukan introspeksi terhadap keadaan
umat Islam dalam hal ketakwaannya.
Jika nasib
umat Islam dilihat dengan dua ayat Al Quran di atas (Al-A’raf / 7: 96 dan Al-Hasyr/ 59:
180, maka kondisi umat Islam yang mengalami berbagai ketimpangan karena
belum diberkahi Allah, sebab jika diberkahi akan mendapatkan banyak kebaikan, sedangkan keberkahan hanya akan diberikan kepada penduduk negeri yang
beriman dan bertakwa, jadi sebab utama yang terjadi pada umat
Islam adalah ketakwaannya.
Sekarang mari
kita melakukan introspeksi untuk melihat lebih jauh pembelajaran ketakwaan di
dalam sistem pendidikan yang berlaku di dalam kurikulum pendidikan dasar dan
menengah, di dalamnya dirasakan ada unsur sekularisasi, yaitu upaya untuk
memisahkan pendidikan agama dan ilmu pengetahuan lainnya, selain itu pendidikan
agama
masih diajarkan sebagai ilmu pengetahuan agama saja, sehingga belum mampu
menghasilkan ketakwaan.
Seiring
dengan laju perkembangan teknologi dan informasi, pola pikir ilmiyah semakin
dipercayai sebagai salah satu standar kebenaran, sehingga agama juga dijadikan
sebagai salah satu objek kajian ilmiyah, yang bekerja di ranah otak, yaitu
harus ada gejala atau bukti yang tampak, dengan standar nilai benar dan salah,
padahal agama lebih dominan di ranah qalbu; ruhaniyah yang berkaitan dengan
nilai-nilai kebaikan dan keburukan yang gejalanya tidak dapat ditangkap oleh
akal, tetapi hanya dapat dirasakan oleh qalbu.
Semoga dalam
perkembangannya ke depan, dapat diciptakan teknologi yang dapat digunakan untuk
meneliti gejala (frekuensi) qalbu pada saat mengamalkan agama, yang dapat
digunakan untuk mengukur tingkat kesadaran spiritual seseorang, misalnya di
tingkat nilai kebaikan seperti; ikhlas, Islam, iman, ihsan, jujur, dll, juga di
tingkat keburukan, seperti; riya’, sombong, bohong, marah, takut sedih putus
asa dan lain sebagainya, dengan demikian kesadaran spiritual seseorang dapat
diketahui dengan pasti, seseorang tersebut termasuk pada kategori orang yang
baik atau buruk, alat ukur tersebut utamanya digunakan sebagai alat bantu untuk
peningkatan Pendidikan ketakwaan.
Buku serial Ilmu Takwa 3 “Cermin Qalbu Fujur melihat dan membersihkan Fujur Pada Diri
Sendiri ” dihadirkan untuk dapat dijadikan
sebagai alat introspeksi mengukur tingkat kebersihan qalbu dari nilai
fujur, sedangkan buku serial Ilmu Takwa 4 “Cermin Qalbu Takwa
melihat Dan menumbuhkan Takwa Pada Diri Sendiri, diharapkan dapat dijadikan sebagai Cermin untuk melihat tingkat ketakwaan /kesadaran spiritual qalbu pada diri sendiri. Kedua buku ini merupakan pasangan yang dapat digunakan sebagai alat
ukur dalam melakukan introspeksi, untuk dapat menumbuhkan dan meningkatkan
ketakwaan harus terlebih dahulu melakukan pembersihan qalbu dari sepuluh nilai
fujur dari dalam qalbu, cermin qalbu ini sekaligus dapat
dijadikan sebagai rumus pemecahan berbagai permasalahan yang dihadapi.
Adapun pendekatan
dan metode membersihkan qalbu dari fujur dan meningkatkan takwa, akan dibahas
pada buku seri Ilmu Takwa 5 “Tazkiyatun Nafs membersihkan qalbu dari fujur dan meningkatkan takwa dengan amal ibadah”, dengan mempelajari dan mempraktekkannya, seseorang akan dapat bercermin dengan jernih menggunakan
cermin qalbu, untuk melihat dan membersihkan fujur dari dalam qalbu dengan
penuh kesadaran, kemudian dengan penuh kesadaran menumbuhkan dan meningkatkan ketakwaan qalbu pada diri sendiri.
Umat Islam
harus dapat memposisikan Qalbu sesuai fitrahnya, yaitu Qalbu memimpin akal,
agar nilai-nilai kebaikan dan kebenaran spiritual dapat memimpin pemikiran
ilmiyah, sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW diutus Allah SWT untuk memimpin
dan mengembangkan potensi qalbiyah umatnya, bukan untuk memimpin pemikiran
aqliyahnya, sehingga Rasulullah dibekali dengan sifat wajib; shidiq, tabligh,
amanah dan fathanah, semua sifat tersebut berada di ranah qalbu, yang akan
tampak diluar dalam bentuk akhlaq.
أَخْبَرَنَا
أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ يُوسُفَ الأَصْبَهَانِىُّ أَنْبَأَنَا أَبُو سَعِيدِ بْنُ
الأَعْرَابِىِّ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ : مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ
الْمَرْورُّوذِىُّ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ
الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنِى مُحَمَّدُ بْنُ عَجْلاَنَ عَنِ
الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ
اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« إِنَّمَا
بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ ». كَذَا رُوِىَ عَنِ الدَّرَاوَرْدِىِّ. [2]
Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad ibnu
Yusuf Al Ashbahani, telah memberitakankepada kami Abu Sa’id ibnu A’rabi telah
menceritakan kepada kami Abu Bakr: Muhammad ‘Ubaid Al Marurudzi telah
menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Manshur telah menceritakan kepada kami
Abdul ‘Aziz ibnu Muhammad telah mengabarkan kepadaku Muhammad ibnu ‘Ajlan dari
Al Qa’qa’ ibnu Hakim dari Abi Shalih dari Abi hurairah RA berkata: Rasulullah
SAW bersabda: Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemulyaan akhlaq, demikian
juga riwayat dari Ad Darawardi
Karena Nabi
Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlaq, maka menjadi kewajiban bagi umat Islam, untuk
melanjutkan misi Rasulullah menyempurnakan kemuliaan akhlaq, kesempurnaan kemuliaan akhlaq akan dapat dicapai ketika akhlaq yang dilakukan
didasari ketakwaan kepada Allah SWT. buku Ilmu takwa 3- Cermin
Qalbu Fujur
melihat dan membersihkan Fujur Pada Diri Sendiri dan Ilmu Takwa 4 “Cermin Qalbu
Takwa melihat Dan menumbuhkan Takwa Pada Diri Sendiri disusun untuk dapat dijadikan sebagai materi pembentukan
akhlaq mulia yang dilandasi ketakwaan kepada
Allah SWT, disusun secara sistematis dan terstruktur, terdiri dari sepuluh
tingkatan fujur
dan sebelas tingkatan takwa yang tersusun secara gradual.
Ya Allah, kami bersyukur dan
memuji kesempurnaan ajaran-Mu, Engkaulah yang maha mengetahui, maha mengetahui
yang lahir yang batin dan maha bijaksana, limpahkanlah shalawat dan salam untuk
Nabi Muhammad SAW, keluarga dan keturunannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar