29/04/2026

TAKWA DARI FUJUR

TAKWA DARI FUJUR

Buku “Ilmu Takwa 3- ‘Cermin Qalbu Fujur’  melihat dan membersihkan Fujur Pada Diri Sendiri” dititik beratkan pada penyampaian ayat-ayat Al Quran dan Hadits-hadits Nabi Muhammad SAW, yang berkaitan dengan masing-masing tingkatan takwa, dengan harapan konsep ketakwaan dapat dipahami dan diamalkan secara utuh dan menyeluruh..

Pentingnya memahami dan mengamalkan ketakwaan secara utuh dan menyeluruh ini tercermin dari banyaknya ayat-ayat Al Quran yang di dalamnya terdapat kata takwa, yaitu ditemukan sebanyak 258 kata, di dalam 237 ayat Al Quran, dalam berbagai bentuk kata kerja maupun sifat, sedangkan kata yang secara khusus menggunakan kata kerja perintah “bertakwalah“ ditemukan sebanyak 72 kata, di dalam 70 ayat Al Quran, jumlah kata takwa jauh melampau jumlah kata shalat, yang ditemukan hanya sebanyak 98 kata di dalam 90 ayat, sedangkan dalam bentuk perintah dirikanlah shalat, hanya  ditemukan sebanyak 13 kata di dalam Al Quran.

Jumlah kata takwa yang ada di dalam Al Quran yang jauh lebih banyak dibanding kata shalat, menjadi peringatan kepada kita bahwa takwa merupakan pengamalan agama yang sangat penting untuk diperhatikan, sehingga kita harus memberi perhatian yang serius untuk dapat memahami dan mengamalkan ketakwaan, selain itu ketakwaan merupakan amalan agama yang harus dilaksanakan di mana saja manusia berada, sebagaimana wasiat Nabi Muhammad SAW yang dimuat di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 21047, berikut;

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ عَنْ لَيْثٍ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ مَيْمُونِ بْنِ أَبِي شَبِيبٍ عَنْ مُعَاذٍ أَنَّهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوْصِنِي قَالَ اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ أَوْ أَيْنَمَا كُنْتَ قَالَ زِدْنِي قَالَ أَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا قَالَ زِدْنِي قَالَ خَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ  [1].

Artinya: Telah bercerita kepada kami 'Abdullah telah bercerita kepadaku ayahku. Telah bercerita kepada kami Isma'il dari Laits dari Habib bin Abu Tsabit dari Maimun bin Abu Syabib dari Mu'adz bin Jabal berkata; Wahai Rasulullah! Berilah aku wasiat. Rasulullah SAW bersabda; "Bertakwalah kepada Allah di mana saja kamu berada." Mu'adz berkata; Tambahilah. Rasulullah SAW bersabda; "Sertakan kebaikan pada keburukan niscaya akan menghapusnya." Mu'adz berkata; Tambahilah. Rasulullah SAW bersabda; "Perlakukan orang dengan akhlak yang baik."

Takwa di mana saja berada dijadikan sebagai wasiat yang pertama, hal ini menunjukkan bahwa takwa merupakan sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan pelaksanaannya, karena takwa harus dilaksanakan di mana saja manusia berada, terkandung pengertian di dalam segala aktifitas yang sedang dilakukan harus ada ketakwaan. Karena pentingnya takwa ini, Allah mengingatkan kepada semua manusia untuk bertakwa kepada-Nya dengan cara menumbuhkan kesadaran bahwa langit dan bumi yang ditempati manusia adalah milik Allah SWT, sebagaimana yang dinyatakan di dalam Al Quran surat An Nisa’/ 4: 131, berikut;

وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ وَلَقَدْ وَصَّيْنَا الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلِكُمْ وَإِيَّاكُمْ أَنِ اتَّقُوا اللَّهَ ۚ وَإِن تَكْفُرُوا فَإِنَّ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَنِيًّا حَمِيدًا

Artinya: Dan kepunyaan Allah-lah apa yang di langit dan yang di bumi, dan sungguh Kami telah memerintahkan kepada orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan (juga) kepada kamu; bertakwalah kepada Allah. Tetapi jika kamu kafir maka (ketahuilah), sesungguhnya apa yang di langit dan apa yang di bumi hanyalah kepunyaan Allah dan Allah Maha Kaya dan Maha Terpuji. (An-Nisaa': 131)  

Dengan peringatan tersebut diharapkan manusia mau bertakwa kepada Allah, yang didasari kesadaran, bahwa dirinya hidup di bumi dan langit milik Allah SWT, dari sisi lain Allah juga mengingatkan manusia untuk bertakwa kepada-Nya dengan cara  menumbuhkan kesadaran bahwa dirinya, pasangannya dan keturunannya diciptakan oleh Allah SWT, sebagaimana digambarkan di dalam Al  Quran surat An Nisa’/ 4: 1, berikut;

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Artinya: Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. An-Nisaa'/ 4: 1)  

Dampak yang akan dirasakan ketika ketakwaan dilakukan secara perseorangan, maka seseorang yang mengamalkan akan diberikan Furqaan (kemampuan memahami benar-salah, baik-buruk, halal-haram dll), ditutupi keburukannya dan diampuni dosa dan kesalahannya, sebagaimana tertuang di dalam Al Quran Surat Al-Anfal/ 8: 29;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Artinya: Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.(QS. Al-Anfal/ 8: 29)

Sedangkan jika ketakwaan dilakukan secara komunal, akan memiliki dampak yang lebih luas, yaitu komunitas; penduduk kampung atau negeri yang mengamalkannya akan diberikan solusi untuk mengurai permasalahan kompleks yang dihadapinya, dalam bentuk keberkahan, sebagaimana janji Allah bagi penduduk negeri yang beriman dan bertakwa, akan diberikan limpahan berkah dari langit dan bumi, yang termuat di dalam Al Quran surat Al-A’raf / 7: 96, berikut;

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A’raf Ayat 96)

Dengan demikian membangun ketakwaan pada penduduk negeri, merupakan solusi terbaik untuk memperbaiki berbagai ketimpangan (ekonomi, sosial, politik, budaya, hukum) yang terjadi di negeri ini, salah satu bentuk ketakwaan adalah melakukan introspeksi, berdasar perintah Allah di dalam Al Quran Surat Al-Hasyr/ 59: 18;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.(QS. Al-Hasyr/ 59: 18)

Di dalam ayat tersebut, perintah bertakwa disebutkan dua kali, mengapit satu perintah untuk melihat apa yang telah diperbuat di masa lalu untuk kepentingan masa depannya, hal tersebut mengandung pengertian bahwa kejadian yang dialami umat Islam saat ini merupakan akibat dari perbuatan umat Islam pada masa lalu, sekarang mari kita lakukan introspeksi terhadap keadaan umat Islam dalam hal ketakwaannya.

Jika nasib umat Islam dilihat dengan dua ayat Al Quran di atas (Al-A’raf / 7: 96 dan Al-Hasyr/ 59: 180, maka kondisi umat Islam yang mengalami berbagai ketimpangan karena belum diberkahi Allah, sebab jika diberkahi akan mendapatkan banyak kebaikan, sedangkan keberkahan hanya akan diberikan kepada penduduk negeri yang beriman dan bertakwa, jadi sebab utama yang terjadi pada umat Islam adalah ketakwaannya.

Sekarang mari kita melakukan introspeksi untuk melihat lebih jauh pembelajaran ketakwaan di dalam sistem pendidikan yang berlaku di dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah, di dalamnya dirasakan ada unsur sekularisasi, yaitu upaya untuk memisahkan pendidikan agama dan ilmu pengetahuan lainnya, selain itu pendidikan agama masih diajarkan sebagai ilmu pengetahuan agama saja, sehingga belum mampu menghasilkan ketakwaan.

Seiring dengan laju perkembangan teknologi dan informasi, pola pikir ilmiyah semakin dipercayai sebagai salah satu standar kebenaran, sehingga agama juga dijadikan sebagai salah satu objek kajian ilmiyah, yang bekerja di ranah otak, yaitu harus ada gejala atau bukti yang tampak, dengan standar nilai benar dan salah, padahal agama lebih dominan di ranah qalbu; ruhaniyah yang berkaitan dengan nilai-nilai kebaikan dan keburukan yang gejalanya tidak dapat ditangkap oleh akal, tetapi hanya dapat dirasakan oleh qalbu.

Semoga dalam perkembangannya ke depan, dapat diciptakan teknologi yang dapat digunakan untuk meneliti gejala (frekuensi) qalbu pada saat mengamalkan agama, yang dapat digunakan untuk mengukur tingkat kesadaran spiritual seseorang, misalnya di tingkat nilai kebaikan seperti; ikhlas, Islam, iman, ihsan, jujur, dll, juga di tingkat keburukan, seperti; riya’, sombong, bohong, marah, takut sedih putus asa dan lain sebagainya, dengan demikian kesadaran spiritual seseorang dapat diketahui dengan pasti, seseorang tersebut termasuk pada kategori orang yang baik atau buruk, alat ukur tersebut utamanya digunakan sebagai alat bantu untuk peningkatan Pendidikan ketakwaan.

Buku serial Ilmu Takwa 3 “Cermin Qalbu Fujur melihat dan membersihkan Fujur Pada Diri Sendiri ” dihadirkan untuk dapat dijadikan sebagai alat introspeksi mengukur tingkat kebersihan qalbu dari nilai fujur, sedangkan buku serial Ilmu Takwa 4 “Cermin Qalbu Takwa melihat Dan menumbuhkan Takwa Pada Diri Sendiri, diharapkan dapat dijadikan sebagai Cermin untuk melihat tingkat ketakwaan /kesadaran spiritual qalbu pada diri sendiri. Kedua buku ini merupakan pasangan yang dapat digunakan sebagai alat ukur dalam melakukan introspeksi, untuk dapat menumbuhkan dan meningkatkan ketakwaan harus terlebih dahulu melakukan pembersihan qalbu dari sepuluh nilai fujur dari dalam qalbu, cermin qalbu ini sekaligus dapat dijadikan sebagai rumus pemecahan berbagai permasalahan yang dihadapi.

Adapun pendekatan dan metode membersihkan qalbu dari fujur dan meningkatkan takwa, akan dibahas pada buku seri Ilmu Takwa 5 “Tazkiyatun Nafs membersihkan qalbu dari fujur dan meningkatkan takwa dengan amal ibadah”, dengan mempelajari dan mempraktekkannya, seseorang akan dapat bercermin dengan jernih menggunakan cermin qalbu, untuk melihat dan membersihkan fujur dari dalam qalbu dengan penuh kesadaran, kemudian dengan penuh kesadaran menumbuhkan dan meningkatkan ketakwaan qalbu pada diri sendiri.

Umat Islam harus dapat memposisikan Qalbu sesuai fitrahnya, yaitu Qalbu memimpin akal, agar nilai-nilai kebaikan dan kebenaran spiritual dapat memimpin pemikiran ilmiyah, sebagaimana Rasulullah Muhammad SAW diutus Allah SWT untuk memimpin dan mengembangkan potensi qalbiyah umatnya, bukan untuk memimpin pemikiran aqliyahnya, sehingga Rasulullah dibekali dengan sifat wajib; shidiq, tabligh, amanah dan fathanah, semua sifat tersebut berada di ranah qalbu, yang akan tampak diluar dalam bentuk akhlaq.

Pernyataan Rasulullah SAW bahwa Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlaq, dimuat di dalam Hadits nomor 20782 dalam kitab Sunan Baihaqi Kabir;

أَخْبَرَنَا أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ يُوسُفَ الأَصْبَهَانِىُّ أَنْبَأَنَا أَبُو سَعِيدِ بْنُ الأَعْرَابِىِّ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ : مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ الْمَرْورُّوذِىُّ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنِى مُحَمَّدُ بْنُ عَجْلاَنَ عَنِ الْقَعْقَاعِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاَقِ ». كَذَا رُوِىَ عَنِ الدَّرَاوَرْدِىِّ. [2]  

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Abu Muhammad ibnu Yusuf Al Ashbahani, telah memberitakankepada kami Abu Sa’id ibnu A’rabi telah menceritakan kepada kami Abu Bakr: Muhammad ‘Ubaid Al Marurudzi telah menceritakan kepada kami Sa’id ibnu Manshur telah menceritakan kepada kami Abdul ‘Aziz ibnu Muhammad telah mengabarkan kepadaku Muhammad ibnu ‘Ajlan dari Al Qa’qa’ ibnu Hakim dari Abi Shalih dari Abi hurairah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemulyaan akhlaq, demikian juga riwayat dari Ad Darawardi

Karena Nabi Muhammad SAW diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlaq, maka menjadi kewajiban bagi umat Islam, untuk melanjutkan misi Rasulullah menyempurnakan kemuliaan akhlaq, kesempurnaan kemuliaan akhlaq akan dapat dicapai ketika akhlaq yang dilakukan didasari ketakwaan kepada Allah SWT. buku Ilmu takwa 3- Cermin Qalbu Fujur melihat dan membersihkan Fujur Pada Diri Sendiri dan Ilmu Takwa 4 “Cermin Qalbu Takwa melihat Dan menumbuhkan Takwa Pada Diri Sendiri disusun untuk dapat dijadikan sebagai materi pembentukan akhlaq mulia yang dilandasi ketakwaan kepada Allah SWT, disusun secara sistematis dan terstruktur, terdiri dari sepuluh tingkatan fujur dan sebelas tingkatan takwa yang tersusun secara gradual.

Ya Allah, kami bersyukur dan memuji kesempurnaan ajaran-Mu, Engkaulah yang maha mengetahui, maha mengetahui yang lahir yang batin dan maha bijaksana, limpahkanlah shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad SAW, keluarga dan keturunannya.



[1] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 36, Halaman 381, Hadits nomor 22059.

[2] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 10, Halaman 323, Hadits nomor 20782.

Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post