+ 11. TAQWA LEVEL JANNAH
Jannah
berarti taman, taman yang ada di hari akhir yaitu surga, merupakan tempat
tinggal orang bertaqwa, Jannah ditempatkan di peringkat tertinggi pada kelompok
cermin qalbu positif, puncak pencapaian akhir orang bertaqwa, kesadaran jannah
ini diharapkan dapat menjadikan seseorang untuk istiqamah mengamalkan ketaqwaan
dari tingkat taqwa terbawah Taubat hingga Hidayah, sebagai bentuk kesadaaran
untuk memantaskan diri menjadi penduduk Jannah.
حَدَّثَنَا
رَوْحٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ سُلَيْمَانَ عَنْ مُجَاهِدٍ أَنَّ
النَّاسَ كَانُوا يَطُوفُونَ بِالْبَيْتِ وَابْنُ عَبَّاسٍ جَالِسٌ مَعَهُ
مِحْجَنٌ فَقَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ { يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ } وَلَوْ أَنَّ قَطْرَةً مِنْ الزَّقُّومِ قُطِرَتْ
لَأَمَرَّتْ عَلَى أَهْلِ الْأَرْضِ عَيْشَهُمْ فَكَيْفَ مَنْ لَيْسَ لَهُمْ
طَعَامٌ إِلَّا الزَّقُّومُ [1]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Rauh] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah]
berkata; aku mendengar [Sulaiman] dari [Mujahid] bahwa orang-orang melakukan
thawaf sementara [Ibnu Abbas] sedang duduk bersama Mihjan, maka ia berkata;
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: " (firman Allah): (Hai
orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah sebenar-benar taqwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
beragama Islam), "Seandainya setetes zaqqum diteteskan, niscaya akan
membuat pahit (mencemarkan) makanan (kehidupan) penduduk bumi, lalu bagaimana
orang yang tidak memiliki makanan kecuali zaqqum."
Hadits
di atas menjadi peringatan untuk benar-benar bertaqwa hingga akhir hayat
sehingga di hari akhir nanti dimasukkan ke jannah, tidak dimasukkan ke dalam
neraka.
Untuk
memberikan gambaran yang lengkap tentang ketaqwaan di level jannah maka
berikuti ini akan dikemukakan pembahasan mengenai;
1.
Tingkatan Jannah,
2.
Hikmah Jannah,
3.
Keistimewaan Orang Yang Berkarakter Jannah,
4.
Karakter Ahlul Jannah
5.
Taqwa Di Tingkat Jannah,
Pembahasannya
adalah berdasar informasi yang dikemukakan di dalam Al Quran dan Hadits;
Pada bab ini akan
diawali dengan memberikan gambaran bahwa Surga terdiri dari dari beberapa
tingkat sebagaimana dinyatakan di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor
6567-6568 bahwa dalam surga terdapat sekian banyak tingkatan;
حدَّثنا قُتَيْبَةُ: حدَّثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ
جَعْفَرٍ، عَنْ حُمَيْدٍ: عَنْ أَنَسٍ: أَنَّ أُمَّ حَارِثَةَ أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ، وَقَدْ
هَلَكَ حَارِثَةُ يَوْمَ بَدْرٍ، أَصَابَهُ غَرْبُ سَهْمٍ، فَقَالَتْ: يَا رَسُولَ
اللَّهِ، قَدْ عَلِمْتَ مَوْقِعَ حَارِثَةَ مِنْ قَلْبِي، فَإِنْ كَانَ فِي
الْجَنَّةِ لَمْ أَبْكِ عَلَيْهِ، وَإِلَّا سَوْفَ تَرَى مَا أَصْنَعُ؟ فَقَالَ لَهَا: «هَبِلْتِ؟، أَجَنَّةٌ وَاحِدَةٌ هِيَ؟
إِنَّهَا جِنَانٌ كَثِيرَةٌ، وَإِنَّهُ فِي الْفِرْدَوْسِ الأَعْلَى». وَقَالَ:
«غَدْوَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ رَوْحَةٌ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا
فِيهَا، وَلَقَابُ قَوْسِ أَحَدِكُمْ، أَوْ مَوْضِعُ قَدَمٍ مِنَ الْجَنَّةِ خَيْرٌ
مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا، وَلَوْ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ نِسَاءِ أَهْلِ
الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى الأَرْضِ لأَضَاءَتْ مَا بَيْنَهُمَا، وَلَمَلأَتْ
مَا بَيْنَهُمَا رِيحًا، وَلَنَصِيفُهَا -يَعْنِي الْخِمَارَ- خَيْرٌ مِنَ
الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا» [2]
Artinya: Qutaibah meriwayatkan kepada kami; Ismā‘īl bin Ja‘far
meriwayatkan kepada kami, dari Ḥumaid, dari Anas bin Malik ra. bahwa Ummu Ḥāritsah datang kepada Rasulullah ﷺ setelah Ḥāritsah gugur pada hari Perang Badar karena terkena
anak panah yang melesat tanpa diketahui dari mana arahnya. Ia berkata, “Wahai
Rasulullah, engkau mengetahui kedudukan Ḥāritsah di hatiku; jika ia berada di surga, aku
tidak akan menangisinya, tetapi jika tidak, engkau akan melihat apa yang akan
kulakukan.” Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya,
“Celakakah engkau? Apakah surga itu hanya satu? Surga itu banyak tingkatannya,
dan sesungguhnya ia berada di Firdaus yang paling tinggi.” Beliau juga
bersabda: “Pergi pagi hari atau sore hari di jalan Allah lebih baik daripada
dunia dan seluruh isinya; dan tempat busur salah seorang dari kalian, atau
sekadar pijakan kaki di surga, lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya;
dan jika seorang wanita dari penghuni surga menampakkan dirinya kepada penduduk
bumi, niscaya ia akan menerangi antara langit dan bumi, dan akan memenuhi
keduanya dengan keharuman; dan sesungguhnya kerudungnya—yakni kain penutup
kepalanya—lebih baik daripada dunia dan seluruh isinya.”
Hadits tersebut
menjelaskan bahwa surga bertingkat-tingkat, berikut ini akan di kemukakan
nama-nama surga beserta karakter
orang-orang yang akan dimasukkan ke dalamnya;
Di dalam Al Quran Surat Al-Mu'minun/ 23: 1-11 disebutkan surga Firdaus dan karakter
calon penghuninya;
قَدْ أَفْلَحَ
الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ
هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4)
وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5) إِلَّا عَلَى أَزْوَاجِهِمْ أَوْ
مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ فَإِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُومِينَ (6) فَمَنِ ابْتَغَى
وَرَاءَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْعَادُونَ (7) وَالَّذِينَ هُمْ
لِأَمَانَاتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَاعُونَ (8) وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ
يُحَافِظُونَ (9) أُولَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ (10) الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ
هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ (11)
Artinya:
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang
yang khusyu' dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari
(perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan
zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap isteri-isteri
mereka atau budak yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka dalam hal ini
tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah
orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat
(yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara sembahyangnya.
Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi, (yakni) yang akan mewarisi surga
Firdaus. Mereka kekal di dalamnya."(QS. Al-Mu'minun/ 23: 1-11)
Di dalam Al Quran Surat
Ar-Rad/ 13: 22-24 digambarkan tentang
surga ‘Adn, dan karakter orang yang akan dimasukkan ke dalamnya;
وَالَّذِينَ صَبَرُوا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِمْ
وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَأَنْفَقُوا مِمَّا رَزَقْنَاهُمْ سِرًّا وَعَلانِيَةً
وَيَدْرَءُونَ بِالْحَسَنَةِ السَّيِّئَةَ أُولَئِكَ لَهُمْ عُقْبَى الدَّارِ (22)
جَنَّاتُ عَدْنٍ يَدْخُلُونَهَا وَمَنْ صَلَحَ مِنْ آبَائِهِمْ وَأَزْوَاجِهِمْ
وَذُرِّيَّاتِهِمْ وَالْمَلائِكَةُ يَدْخُلُونَ عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ (23)
سَلامٌ عَلَيْكُمْ بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ (24)
Artinya: "Dan
orang-orang yang sabar karena mencari keridlaan Tuhannya, mendirikan shalat,
dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka, secara
sembunyi atau terang-terangan serta menolak kejahatan dengan kebaikan;
orang-orang itulah yang mendapat tempat kesudahan (yang baik), (yaitu) surga
'Adn yang mereka masuk ke dalamnya bersama-sama dengan orang-orang yang saleh
dari bapak-bapaknya, isteri-isterinya dan anak cucunya, sedang
malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; sambil
mengucapkan): "Salamun 'alaikum bima shabartum". Maka alangkah
baiknya tempat kesudahan itu."(QS. Ar-Rad/ 13: 22-24 )
Di dalam Alquran, kata
Al-Jannah disebutkan sebanyak 54 kali di dalam 28 surat. Salah satunya di dalam
Al Quran Surat Al Baqarah/ 2: 25, yang menggambarkan tentang jannah dan
karakter orang yang akan dimasukkan ke dalamnya;
وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ كُلَّمَا
رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا قَالُوا هَذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ
قَبْلُ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ وَهُمْ
فِيهَا خَالِدُونَ
Artinya: Dan
sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa
bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.
Setiap mereka diberi rezeki buah-buahan dalam surga-surga itu mereka
mengatakan, "Inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu." Mereka
diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada istri-istri
yang suci, dan mereka kekal di dalamnya.(QS. Al Baqarah/ 2: 25)
Di dalam Al Quran Surat
Yunus/ 10: 25 tergambar adanya Dar Assalam, dan karakter penghuninya disebutkan
di dalam Al Quran surat Al-An'am/ 6: 127;
وَاللَّهُ يَدْعُو إِلَىٰ دَارِ السَّلَامِ وَيَهْدِي
مَنْ يَشَاءُ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ
Artinya:
"Dan Allah menyeru (manusia) ke Darus-salam (surga), dan memberikan
petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus (Islam)."
(QS. Yunus/ 10: 25)
لَهُمْ دَارُ السَّلَامِ عِنْدَ رَبِّهِمْ وَهُوَ
وَلِيُّهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya: Bagi
mereka (disediakan) Darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung
mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.(QS. Al-An'am/ 6:
127)
Di dalam Al Quran surat
An-Naziat/ 79 dan karakter orang yang akan dimasukkna ke dalamya: 40-41;
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى
النَّفْسَ عَنِ الْهَوَى, فَإِنَّ الْجَنَّةَ هِيَ الْمَأْوَى
Artinya:
"Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan
diri dari keinginan hawa nafsunya, surgalah tempat tinggal(nya)."
Di dalam Al Quran surat
Al-Furqan/ 25: 15 digmabrkan tentang Jannatul Khuld dan karakter orang yang
akan dimasukkan ke dalamnya;
قُلْ أَذَلِكَ خَيْرٌ أَمْ جَنَّةُ الْخُلْدِ الَّتِي
وُعِدَ الْمُتَّقُونَ كَانَتْ لَهُمْ جَزَاءً وَمَصِيرًا
Artinya:
Katakanlah: “Apa (azab) yang demikian itukah yang baik, atau Jannatul Khuldi
(surga yang kekal) yang telah dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa?” Dia
menjadi balasan dan tempat kembali bagi mereka?”(QS. Al-Furqan/ 25: 15)
Di dalam Al Quran surat
Fathir/ 35: 34-35 digambarkan tentang Dar al Muqamah:
وَقَالُوا الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَذْهَبَ عَنَّا
الْحَزَنَ إِنَّ رَبَّنَا لَغَفُورٌ شَكُورٌ, الَّذِي أَحَلَّنَا دَارَ
الْمُقَامَةِ مِنْ فَضْلِهِ لَا يَمَسُّنَا فِيهَا نَصَبٌ وَلا يَمَسُّنَا فِيهَا
لُغُوبٌ
Artinya:
"Dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan
duka cita dari kami. Sesungguhnya Tuhan kami benar-benar Maha Pengampum lagi
Maha Mensyukuri. Yang menempatkan kami dalam tempat yang kekal (surga) dari
karunia-Nya; di dalamnya kami tiada merasa lelah dan tiada pula merasa
lesu".(QS. Fathir/ 35:
34-35)
Berikut akan dikemukakan beberapa ayat Al Quran
dan Hadits yang yang berkaitan dengan hikmah dari Jannah;
2.1. Penghuni Surga Dan Penghuni Neraka Telah Diketahui
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6596 digambarkan bahwa penghuni surga dan penghuni neraka telah diketahui;
حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا
يَزِيدُ الرِّشْكُ قَالَ سَمِعْتُ مُطَرِّفَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الشِّخِّيرِ
يُحَدِّثُ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ
أَيُعْرَفُ أَهْلُ الْجَنَّةِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَلِمَ
يَعْمَلُ الْعَامِلُونَ قَالَ كُلٌّ يَعْمَلُ لِمَا خُلِقَ لَهُ أَوْ لِمَا
يُسِّرَ لَهُ [3]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah menceritakan kepada kami Yazid Ar Risyk menuturkan; aku mendengar Mutharrif bin Abdullah bin Syikhkhir menceritakan dari Imran bin Hushain menuturkan; ada seorang laki-laki mengatakan; 'Wahai Rasulullah, apakah penghuni surga dan penghuni neraka telah diketahui? ' 'Iya' jawab Nabi ﷺ. Orang tadi bertanya lagi; 'lantas apa gunanya orang beramal? ' Nabi ﷺ menjawab; "setiap orang mengamalkan sesuai dengan kehendak penciptannya, -atau- kepada yang dimudahkan baginya."
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 4949 dinyatakan bahwa Tidak ada seorang pun, kecuali tempat duduknya telah ditulis
di neraka dan tempat duduknya di surga;
حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ
الْأَعْمَشِ قَالَ سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي عَبْدِ
الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَازَةٍ فَأَخَذَ شَيْئًا
فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهِ الْأَرْضَ فَقَالَ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ
كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنْ الْجَنَّةِ قَالُوا يَا
رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ قَالَ
اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ
السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ
أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ ثُمَّ قَرَأَ " فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى
وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى" الْآيَةَ [4]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Adam Telah menceritakan kepada kami Syu'bah
dari Al A'masy ia berkata; Aku mendengar Sa'd bin Ubaidah menceritakan dari Abu
Abdurrahman As Sulami dari Ali radliallahu 'anhu ia berkata; Suatu ketika
Rasulullah ﷺ berada dalam rombongan pelayat Jenazah, lalu beliau mengambil
sesuatu dan memukulkannya ke tangah. Kemudian beliau bersabda: "Tidak ada
seorang pun, kecuali tempat duduknya telah ditulis di neraka dan tempat
duduknya di surga." Para sahabat bertanya, "Wahai Rasulullah, kalau
begitu, bagaimana bila kita bertawakkal saja terhadap takdir kita tanpa
beramal?" beliau menajawab: "Ber'amallah kalian, karena setiap orang
akan dimudahkan kepada yang dicipta baginya. Barangsiapa yang diciptakan
sebagai Ahlus Sa'adah (penduduk surga), maka ia akan dimudahkan untuk
mengamalkan amalan Ahlus Sa'adah. Namun, barangsiapa yang diciptakan sebagai
Ahlusy Syaqa` (penghuni neraka), maka ia akan dimudahkan pula untuk melakukan
amalan Ahlusy Syaqa`." Kemudian beliau membacakan ayat: Dan barangsiapa
yang memberi, dan bertakwa serta membenarkan kebaikan)."
2.2. Jannah Itu Karena Takdir Yang Telah Ditentukan Sejak Dahulu Atas Mereka
Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2650
dinyatakan bahwa penghuni jannah itu karena takdir yang telah ditentukan sejak
dahulu atas mereka
حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ
الْحَنْظَلِيُّ حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا عَزْرَةُ بْنُ
ثَابِتٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ عُقَيْلٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ أَبِي
الْأَسْوَدِ الدِّيلِيِّ قَالَ قَالَ لِي عِمْرَانُ بْنُ الْحُصَيْنِ أَرَأَيْتَ
مَا يَعْمَلُ النَّاسُ الْيَوْمَ وَيَكْدَحُونَ فِيهِ أَشَيْءٌ قُضِيَ عَلَيْهِمْ
وَمَضَى عَلَيْهِمْ مِنْ قَدَرِ مَا سَبَقَ أَوْ فِيمَا يُسْتَقْبَلُونَ بِهِ
مِمَّا أَتَاهُمْ بِهِ نَبِيُّهُمْ وَثَبَتَتْ الْحُجَّةُ عَلَيْهِمْ فَقُلْتُ
بَلْ شَيْءٌ قُضِيَ عَلَيْهِمْ وَمَضَى عَلَيْهِمْ قَالَ فَقَالَ أَفَلَا يَكُونُ
ظُلْمًا قَالَ فَفَزِعْتُ مِنْ ذَلِكَ فَزَعًا شَدِيدًا وَقُلْتُ كُلُّ شَيْءٍ
خَلْقُ اللَّهِ وَمِلْكُ يَدِهِ فَلَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَهُمْ
يُسْأَلُونَ فَقَالَ لِي يَرْحَمُكَ اللَّهُ إِنِّي لَمْ أُرِدْ بِمَا سَأَلْتُكَ
إِلَّا لِأَحْزِرَ عَقْلَكَ إِنَّ رَجُلَيْنِ مِنْ مُزَيْنَةَ أَتَيَا رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَا يَا رَسُولَ اللَّهِ
أَرَأَيْتَ مَا يَعْمَلُ النَّاسُ الْيَوْمَ وَيَكْدَحُونَ فِيهِ أَشَيْءٌ قُضِيَ
عَلَيْهِمْ وَمَضَى فِيهِمْ مِنْ قَدَرٍ قَدْ سَبَقَ أَوْ فِيمَا يُسْتَقْبَلُونَ
بِهِ مِمَّا أَتَاهُمْ بِهِ نَبِيُّهُمْ وَثَبَتَتْ الْحُجَّةُ عَلَيْهِمْ فَقَالَ
لَا بَلْ شَيْءٌ قُضِيَ عَلَيْهِمْ وَمَضَى فِيهِمْ وَتَصْدِيقُ ذَلِكَ فِي
كِتَابِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ { وَنَفْسٍ وَمَا
سَوَّاهَا فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا [5] }
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim Al Hanzhali; Telah
menceritakan kepada kami 'Utsman bin 'Umar; Telah menceritakan kepada kami
'Azrah bin Tsabit dari Yahya bin 'Uqail dari Yahya bin Ya'mar dari Abu Al Aswad
Ad Daili dia berkata; " Imran bin Hushain pernah bertanya kepada saya;
'Apakah perilaku dan jerih payah kaum muslimin sekarang ini karena adanya
takdir yang telah ditentukan sejak dulu atas mereka, ataukah karena mereka
mengetahui ajaran yang dibawa oleh nabi ﷺ dan ada hujjah yang akan menuntut mereka?
' Saya (Abul Aswad) menjawab; 'Itu karena takdir yang telah ditentukan sejak
dahulu atas mereka.' lmran bin Hushain bertanya lagi; 'Bukankah yang demikian
itu suatu kezhaliman?.' Abul Aswad menjawab; 'Saya sangat terkejut dengan
pertanyaan itu, lalu saya katakan; 'Segalanya adalah ciptaan-Nya, Allah tidak
akan diminta pertanggung jawaban mengenai apa yang Dia perbuat, tetapi manusia
pasti akan dimintai pertanggung jawaban.' lmran bin Hushain berkata kepada
saya; 'Wahai Abul Aswad, semoga Allah memberimu rahmat. Sebenarnya saya tidak
bermaksud bertanya kepadamu melainkan hanya untuk menjaga pikiranmu.' Pada
suatu hari ada dua orang laki-laki dari suku Muzainah datang kepada Rasulullah ﷺ dan
bertanya; 'Ya Rasulullah, menurut engkau apakah perilaku dan usaha kaum
muslimin sekarang ini karena sudah suratan takdir yang telah ditetapkan sejak
dahulu atau karena mereka mengamalkan ajaran yang dibawa oleh Nabi mereka dan
mereka sadar atas hujjah yang akan menuntut mereka? ' Rasulullah ﷺ menjawab: 'Itu merupakan suratan takdir yang telah ditetapkan (Allah) sejak
dahulu yang sesuai dengan firman Allah yang berbunyi: 'Dan demi jiwa serta
penyempurnaannya/ penciptaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu jalan
kefasikan dan jalan ketakwaan.' (Asy-Syamsy (91): 7-8).
2.3. Sungguh Amalan Itu Ditentukan Dengan Penutupan
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6607
dinyatakan bahwa sungguh amalan itu
ditentukan dengan penutupan;
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ حَدَّثَنَا
أَبُو غَسَّانَ حَدَّثَنِي أَبُو حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ رَجُلًا مِنْ
أَعْظَمِ الْمُسْلِمِينَ غَنَاءً عَنْ الْمُسْلِمِينَ فِي غَزْوَةٍ غَزَاهَا مَعَ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَظَرَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى الرَّجُلِ مِنْ أَهْلِ
النَّارِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا فَاتَّبَعَهُ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ وَهُوَ
عَلَى تِلْكَ الْحَالِ مِنْ أَشَدِّ النَّاسِ عَلَى الْمُشْرِكِينَ حَتَّى جُرِحَ
فَاسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ فَجَعَلَ ذُبَابَةَ سَيْفِهِ بَيْنَ ثَدْيَيْهِ حَتَّى
خَرَجَ مِنْ بَيْنِ كَتِفَيْهِ فَأَقْبَلَ الرَّجُلُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْرِعًا فَقَالَ أَشْهَدُ أَنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ
فَقَالَ وَمَا ذَاكَ قَالَ قُلْتَ لِفُلَانٍ مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى
رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ النَّارِ فَلْيَنْظُرْ إِلَيْهِ وَكَانَ مِنْ أَعْظَمِنَا
غَنَاءً عَنْ الْمُسْلِمِينَ فَعَرَفْتُ أَنَّهُ لَا يَمُوتُ عَلَى ذَلِكَ
فَلَمَّا جُرِحَ اسْتَعْجَلَ الْمَوْتَ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عِنْدَ ذَلِكَ إِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ
عَمَلَ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَيَعْمَلُ عَمَلَ
أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنَّهُ مِنْ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّمَا الْأَعْمَالُ
بِالْخَوَاتِيمِ [6]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Sa'id bin Abi Maryam telah menceritakan
kepada kami Abu Ghassan telah menceritakan kepadaku Abu Hazim dari Sahal bin
Sa'd bahwasanya ada seorang muslimin yang gagah berani dalam peperangan ikut
serta bersama Nabi ﷺ, kemudian Nabi ﷺ memperhatikan orang itu dan berujar; "Barangsiapa ingin melihat lelaki
penghuni neraka, silahkan lihat orang ini." Seorang laki-laki akhirnya
menguntitnya, dan rupanya lelaki tersebut merupakan orang yang paling ganas
terhadap orang-orang musyrik. akhirnya lelaki tersebut terluka dan dia ingin
segera dijemput kematian sebelum waktunya, maka ia ambil pucuk pedangnya dan ia
letakkan di dadanya kemudian ia hunjamkan hingga tembus diantara kedua
lengannya. Orang yang menguntit lelaki tersebut langsung menemui Nabi ﷺ dan
berujar; 'Saya bersaksi bahwa engkau utusan Allah.' 'apa itu? ' Tanya Nabi.
Orang tadi menjawab; 'anda berkata terhadap; 'siapa yang ingin melihat penghuni
neraka, silahkan lihat orang ini, ' orang itu merupakan orang yang paling
pemberani diantara kami, kaum muslimin. Lalu aku tahu, ternyata dia mati tidak
diatas keIslaman, sebab dikala ia mendapat luka, ia tak sabar menanti kematian,
lalu bunuh diri.' Seketika itu pula Nabi ﷺ bersabda: "Sungguh ada seorang hamba
yang melakukan amalan-amalan penghuni neraka, namun berakhir menjadi penghuni
surga, dan ada seorang hamba yang mengamalkan amalan-amalan penghuni surga,
namun berakhir menjadi penghuni neraka, sungguh amalan itu ditentukan dengan
penutupan."
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 5673,
dijelaskan bahwa Tidak ada seorang pun yang masuk surga karena amalannya,
kecuali bila Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya;
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ
عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو عُبَيْدٍ مَوْلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ
بْنِ عَوْفٍ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَنْ يُدْخِلَ أَحَدًا عَمَلُهُ الْجَنَّةَ
قَالُوا وَلَا أَنْتَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا وَلَا أَنَا إِلَّا أَنْ
يَتَغَمَّدَنِي اللَّهُ بِفَضْلٍ وَرَحْمَةٍ فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا وَلَا
يَتَمَنَّيَنَّ أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَزْدَادَ
خَيْرًا وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ أَنْ يَسْتَعْتِبَ [7]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] telah mengabarkan kepada kami
[Syu'aib] dari [Az Zuhri] dia berkata; telah mengabarkan kepadaku [Abu 'Ubaid]
bekas budak Abdurrahman bin Auf bahwa [Abu Hurairah] berkata; saya mendengar
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada seorang pun
yang masuk surga karena amalannya." Para sahabat bertanya; "Begitu
juga dengan engkau wahai Rasulullah?" beliau bersabda: "tidak juga
dengan diriku, kecuali bila Allah melimpahkan karunia dan rahmat-Nya padaku,
oleh karena itu berlaku luruslah dan bertaqarublah dan janganlah salah seorang
dari kalian mengharapkan kematian, jika dia orang baik semoga saja bisa
menambah amal kebaikannya, dan jika dia orang yang buruk (akhlaknya) semoga
bisa menjadikannya dia bertaubat."
2.5. Pergi Dan Masuklah Kamu Ke Dalam Surga Dengan Rahmat-Ku.
Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 4901 di
gambarkan bahwa ada sesorang yang banyak berbuat dosa tetapi justru disuruh;
Pergi dan masuklah kamu ke dalam surga dengan rahmat-Ku;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ بْنِ
سُفْيَانَ أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ ثَابِتٍ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ عَمَّارٍ قَالَ
حَدَّثَنِي ضَمْضَمُ بْنُ جَوْسٍ قَالَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَانَ رَجُلَانِ فِي بَنِي
إِسْرَائِيلَ مُتَوَاخِيَيْنِ فَكَانَ أَحَدُهُمَا يُذْنِبُ وَالْآخَرُ مُجْتَهِدٌ
فِي الْعِبَادَةِ فَكَانَ لَا يَزَالُ الْمُجْتَهِدُ يَرَى الْآخَرَ عَلَى
الذَّنْبِ فَيَقُولُ أَقْصِرْ فَوَجَدَهُ يَوْمًا عَلَى ذَنْبٍ فَقَالَ لَهُ
أَقْصِرْ فَقَالَ خَلِّنِي وَرَبِّي أَبُعِثْتَ عَلَيَّ رَقِيبًا فَقَالَ
وَاللَّهِ لَا يَغْفِرُ اللَّهُ لَكَ أَوْ لَا يُدْخِلُكَ اللَّهُ الْجَنَّةَ
فَقَبَضَ أَرْوَاحَهُمَا فَاجْتَمَعَا عِنْدَ رَبِّ الْعَالَمِينَ فَقَالَ لِهَذَا
الْمُجْتَهِدِ أَكُنْتَ بِي عَالِمًا أَوْ كُنْتَ عَلَى مَا فِي يَدِي قَادِرًا
وَقَالَ لِلْمُذْنِبِ اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ بِرَحْمَتِي وَقَالَ لِلْآخَرِ
اذْهَبُوا بِهِ إِلَى النَّارِ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ
لَتَكَلَّمَ بِكَلِمَةٍ أَوْبَقَتْ دُنْيَاهُ وَآخِرَتَهُ [8]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ash Shabbah bin Sufyan berkata,
telah mengabarkan kepada kami Ali bin Tsabit dari Ikrimah bin Ammar ia berkata;
telah menceritakan kepadaku Dhamdham bin Jaus ia berkata; Abu Hurairah berkata,
"Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Ada dua orang laki-laki
dari bani Isra'il yang saling bersaudara; salah seorang dari mereka suka
berbuat dosa sementara yang lain giat dalam beribadah. Orang yang giat dalam
beribdah itu selalu melihat saudaranya berbuat dosa hingga ia berkata,
"Berhentilah." Lalu pada suatu hari ia kembali mendapati suadaranya
berbuat dosa, ia berkata lagi, "Berhentilah." Orang yang suka berbuat
dosa itu berkata, "Biarkan aku bersama Tuhanku, apakah engkau diutus untuk
selalu mengawasiku!" Ahli ibadah itu berkata, "Demi Allah, sungguh
Allah tidak akan mengampunimu, atau tidak akan memasukkanmu ke dalam
surga." Allah kemudian mencabut nyawa keduanya, sehingga keduanya
berkumpul di sisi Rabb semesta alam. Allah kemudian bertanya kepada ahli
ibadah: "Apakah kamu lebih tahu dari-Ku? Atau, apakah kamu mampu melakukan
apa yang ada dalam kekuasaan-Ku?" Allah lalu berkata kepada pelaku dosa:
"Pergi dan masuklah kamu ke dalam surga dengan rahmat-Ku." Dan
berkata kepada ahli ibadah: "Pergilah kamu ke dalam neraka." Abu
Hurairah berkata, "Demi Dzat yang jiwaku ada dalam tangan-Nya, sungguh ia
telah mengucapkan satu ucapan yang mampu merusak dunia dan akhiratnya.")
2.6. Jika Dia Termasuk Penduduk Surga, Maka Akan (Melihat Kedudu-kannya)
Sebagai Penduduk Surga
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 1379,
dijelaskan Jika seorang dari kalian meninggal dunia maka akan ditampakkan
kepadanya tempat duduk (tinggal) nya setiap pagi dan petang hari, Jika dia
termasuk penduduk surga, maka akan (melihat kedudukannya) sebagai penduduk
surga dikatakan kepadanya inilah tempat duduk tinggalmu hingga nanti Allah
membangkitkanmu pada hari qiyamat;
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ
عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا
مَاتَ عُرِضَ عَلَيْهِ مَقْعَدُهُ بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ إِنْ كَانَ مِنْ
أَهْلِ الْجَنَّةِ فَمِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَإِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ النَّارِ
فَمِنْ أَهْلِ النَّارِ فَيُقَالُ هَذَا مَقْعَدُكَ حَتَّى يَبْعَثَكَ اللَّهُ
يَوْمَ الْقِيَامَةِ [9]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami [Isma'il] berkata, telah menceritakan kepadaku
[Malik] dari [Nafi'] dari ['Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhuma] bahwa
Rasulullah ﷺ bersabda: "Jika seorang dari
kalian meninggal dunia maka akan ditampakkan kepadanya tempat duduk (tinggal)
nya setiap pagi dan petang hari. Jika dia termasuk penduduk surga, maka akan
(melihat kedudukannya) sebagai penduduk surga dan jika dia termasuk penduduk
neraka, maka akan (melihat kedudukannya) sebagai penduduk neraka lalu dikatakan
kepadanya inilah tempat duduk tinggalmu hingga nanti Allah membangkitkanmu pada
hari qiyamat".
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 4949,
dijelaskan bahwa Barangsiapa yang diciptakan sebagai Ahlus Sa'adah (penduduk
surga), maka ia akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan Ahlus Sa'adah;
حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ
الْأَعْمَشِ قَالَ سَمِعْتُ سَعْدَ بْنَ عُبَيْدَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي عَبْدِ
الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَنَازَةٍ فَأَخَذَ شَيْئًا
فَجَعَلَ يَنْكُتُ بِهِ الْأَرْضَ فَقَالَ مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ
كُتِبَ مَقْعَدُهُ مِنْ النَّارِ وَمَقْعَدُهُ مِنْ الْجَنَّةِ قَالُوا يَا
رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نَتَّكِلُ عَلَى كِتَابِنَا وَنَدَعُ الْعَمَلَ قَالَ
اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ أَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ
السَّعَادَةِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ السَّعَادَةِ وَأَمَّا مَنْ كَانَ مِنْ
أَهْلِ الشَّقَاءِ فَيُيَسَّرُ لِعَمَلِ أَهْلِ الشَّقَاوَةِ ثُمَّ قَرَأَ {
فَأَمَّا مَنْ أَعْطَى وَاتَّقَى وَصَدَّقَ بِالْحُسْنَى } الْآيَةَ [10]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami [Adam] Telah menceritakan kepada kami [Syu'bah]
dari [Al A'masy] ia berkata; Aku mendengar [Sa'd bin Ubaidah] menceritakan dari
[Abu Abdurrahman As Sulami] dari [Ali radliallahu 'anhu] ia berkata; Suatu
ketika Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam berada dalam rombongan pelayat
Jenazah, lalu beliau mengambil sesuatu dan memukulkannya ke tangah. Kemudian
beliau bersabda: "Tidak ada seorang pun, kecuali tempat duduknya telah
ditulis di neraka dan tempat duduknya di surga." Para sahabat bertanya,
"Wahai Rasulullah, kalau begitu, bagaimana bila kita bertawakkal saja
terhadap takdir kita tanpa beramal?" beliau menajawab: "Ber'amallah
kalian, karena setiap orang akan dimudahkan kepada yang dicipta baginya.
Barangsiapa yang diciptakan sebagai Ahlus Sa'adah (penduduk surga), maka ia
akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan Ahlus Sa'adah. Namun, barangsiapa yang
diciptakan sebagai Ahlusy Syaqa` (penghuni neraka), maka ia akan dimudahkan
pula untuk melakukan amalan Ahlusy Syaqa`." Kemudian beliau membacakan
ayat: "fa`ammaa man `a'thaa wat taqaa wa shaddaqa bil husnaa (Dan
barangsiapa yang memberi, dan bertakwa serta membenarkan kebaikan).."(HR.
Bukhari: 4568)
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 8048,
dijelaskan bahwa surga telah dikelilingi dengan sesuatu yang dibenci, neraka
ditutupi dengan hal yang disukai oleh syahwat;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بِشْرٍ، حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو، حَدَّثَنَا أَبُو سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ،
قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: " لَمَّا خَلَقَ اللهُ الْجَنَّةَ وَالنَّارَ،
أَرْسَلَ جِبْرِيلَ، قَالَ: انْظُرْ إِلَيْهَا وَإِلَى مَا أَعْدَدْتُ لِأَهْلِهَا
فِيهَا، فَجَاءَ فَنَظَرَ إِلَيْهَا وَإِلَى مَا أَعَدَّ اللهُ لِأَهْلِهَا
فِيهَا، فَرَجَعَ إِلَيْهِ، فقَالَ: وَعِزَّتِكَ، لَا يَسْمَعُ بِهَا أَحَدٌ
إِلَّا دَخَلَهَا، فَأَمَرَ بِهَا فَحُجِبَتْ بِالْمَكَارِهِ، قَالَ: ارْجِعْ
إِلَيْهَا فَانْظُرْ إِلَيْهَا وَإِلَى مَا أَعْدَدْتُ لِأَهْلِهَا فِيهَا، قَالَ:
فَرَجَعَ إِلَيْهَا فَإِذَا هِيَ قَدْ حُجِبَتْ بِالْمَكَارِهِ، فَرَجَع إِلَيْهِ، فَقَالَ:
وَعِزَّتِكَ، قَدْ خَشِيتُ أَنْ لَا يَدْخُلَهَا أَحَدٌ، قَالَ: اذْهَبْ إِلَى
النَّارِ فَانْظُرْ إِلَيْهَا وَإِلَى مَا أَعْدَدْتُ لِأَهْلِهَا فِيهَا،
فَجَاءَهَا فَنَظَرَ إِلَيْهَا وَإِلَى مَا أُعِدَّ لِأَهْلِهَا فِيهَا، فَإِذَا
هِيَ يَرْكَبُ بَعْضُهَا بَعْضًا، فَرَجَعَ، فقَالَ: وَعِزَّتِكَ، لَا يَسْمَعَ
بِهَا أَحَدٌ فَيَدْخُلَهَا، فَأَمَرَ بِهَا فَحُفَّتْ بِالشَّهَوَاتِ، فَرَجَعَ
إِلَيْهِ، قَالَ: وَعِزَّتِكَ، لَقَدْ خَشِيتُ أَنْ لَا يَنْجُوَ مِنْهَا أَحَدٌ
إِلَّا دَخَلَهَا
" [11]
Artinya:
Muhammad bin Bisyr meriwayatkan kepada kami; Muhammad bin ‘Amr meriwayatkan
kepada kami; Abu Salamah meriwayatkan kepada kami, dari Abu Hurairah ra., ia
berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Ketika Allah menciptakan surga
dan neraka, Dia mengutus Jibril. Allah berfirman, ‘Pergilah, lihatlah surga dan
apa yang telah Kusiapkan di dalamnya bagi para penghuninya.’ Maka Jibril pun
datang melihat surga dan segala kenikmatan yang Allah sediakan bagi para
penghuninya, lalu ia kembali dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, tidaklah
seseorang mendengarnya melainkan pasti ingin memasukinya.’ Maka Allah
memerintahkan agar surga dikelilingi dengan perkara-perkara yang dibenci
(kesulitan dan ujian). Allah berfirman, ‘Kembalilah kepadanya dan lihatlah
surga serta apa yang telah Kusiapkan bagi penghuninya.’ Maka Jibril kembali dan
ternyata surga telah dikelilingi oleh berbagai kesulitan. Ia lalu kembali
kepada Allah dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, aku khawatir tidak ada seorang
pun yang akan memasukinya.’ Allah berfirman, ‘Pergilah ke neraka, lihatlah ia
dan apa yang telah Kusiapkan di dalamnya bagi para penghuninya.’ Maka Jibril
pun pergi melihat neraka dan segala azab yang disediakan bagi penghuninya, dan
terlihat neraka itu saling menumpuk sebagian atas sebagian yang lain. Ia kembali
kepada Allah dan berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, tidak ada seorang pun yang
mendengarnya (tentang dahsyatnya) lalu ingin memasukinya.’ Maka Allah
memerintahkan agar neraka dikelilingi dengan syahwat. Setelah Jibril kembali
melihatnya, ia berkata, ‘Demi kemuliaan-Mu, sungguh aku khawatir tidak ada
seorang pun yang selamat darinya kecuali pasti akan memasukinya.’”
2.9. Wahai Penduduk Surga, Kalian Hidup Abadi Dan Tak Ada Lagi Kematian
Di dalma kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6179
dinyatakan Wahai penduduk surga, kalian hidup abadi dan tak ada lagi kematian;
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ
حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَالُ لِأَهْلِ الْجَنَّةِ يَا
أَهْلَ الْجَنَّةِ خُلُودٌ لَا مَوْتَ وَلِأَهْلِ النَّارِ يَا أَهْلَ النَّارِ
خُلُودٌ لَا مَوْتَ [12]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman telah mengabarkan kepada kami
Syu'aib telah menceritakan kepada kami Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu
Hurairah mengatakan, telah bersabda Nabi ﷺ:
"(dihari kiamat), penduduk surga dipanggil: 'Wahai penduduk surga, kalian
hidup abadi dan tak ada lagi kematian', dan penduduk neraka dipanggil; 'Wahai
penduduk neraka, kalian hidup abadi dan tak ada kematian lagi.'"
2.10. Ketahuilah Bahwa Surga Itu Terletak Di Bawah Sabetan Pedang
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2861
dinyatakan bahwa apabila kalian telah berjumpa dengan musuh maka bersabarlah
dan ketahuilah bahwa surga itu terletak di bawah sabetan pedang;
حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا عَاصِمُ
بْنُ يُوسُفَ الْيَرْبُوعِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ الْفَزَارِيُّ عَنْ
مُوسَى بْنِ عُقْبَةَ قَالَ حَدَّثَنِي سَالِمٌ أَبُو النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ
بْنِ عُبَيْدِ اللَّهِ كُنْتُ كَاتِبًا لَهُ قَالَ كَتَبَ إِلَيْهِ عَبْدُ اللَّهِ
بْنُ أَبِي أَوْفَى حِينَ خَرَجَ إِلَى الْحَرُورِيَّةِ فَقَرَأْتُهُ فَإِذَا
فِيهِ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ
أَيَّامِهِ الَّتِي لَقِيَ فِيهَا الْعَدُوَّ انْتَظَرَ حَتَّى مَالَتْ الشَّمْسُ
ثُمَّ قَامَ فِي النَّاسِ فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَمَنَّوْا لِقَاءَ
الْعَدُوِّ وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا
وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ ثُمَّ قَالَ اللَّهُمَّ
مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ
وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ [13]
Artinya:
Telah bercerita kepada kami Yusuf bin Musa telah bercerita kepada kami
'Ashim bin Yusuf Al Barbu'iy telah bercerita kepada kami Abu Ishaq Al Fazariy
dari Musa bin 'Uqbah berkata telah bercerita kepadaku Salim Abu an-Nadlir,
maula 'Umar bin 'Ubaidillah; Aku adalah juru tulis baginya. Katanya: 'Abdullah
bin Abi Awfaa menulis surat kepadanya ketika dia keluar berperang untuk
menghadapi kaum Al Haruriyah. Maka aku membacakan surat itu ternyata didalamnya
berisi keterangan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam pada sebagian
kehidupan Beliau saat berjumpa dengan musuh, Beliau menunggu hingga matahari
tergelincir kemudian Beliau berdiri di hadapan manusia lalu bersabda:
"Wahai sekalian manusia, janganlah kalian mengharapkan berjumpa dengan musuh
akan tetapi mohonlah kepada Allah keselamatan. Dan apabila kalian telah
berjumpa dengan musuh maka bersabarlah dan ketahuilah bahwa surga itu terletak
di bawah sabetan pedang". Kemudian Beliau berdo'a: Ya Allah, Yang
Menurunkan Kitab, Yang Menggiring awan, Yang Menghancurkan pasukan sekutu,
hancurkanlah mereka dan tolonglah kami menghadapi mereka".
2.11. Tidak Masuk Surga Kecuali Orang Beriman
Di dalam kitab Shahih Muslim
hadits nomor 114
ditegaskan bahwa sesungguhnya tidak akan masuk
surga kecuali orang beriman;
حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا هَاشِمُ
بْنُ الْقَاسِمِ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ قَالَ حَدَّثَنِي سِمَاكٌ
الْحَنَفِيُّ أَبُو زُمَيْلٍ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ قَالَ
حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ لَمَّا كَانَ يَوْمُ خَيْبَرَ أَقْبَلَ
نَفَرٌ مِنْ صَحَابَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا
فُلَانٌ شَهِيدٌ فُلَانٌ شَهِيدٌ حَتَّى مَرُّوا عَلَى رَجُلٍ فَقَالُوا فُلَانٌ
شَهِيدٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلَّا إِنِّي
رَأَيْتُهُ فِي النَّارِ فِي بُرْدَةٍ غَلَّهَا أَوْ عَبَاءَةٍ ثُمَّ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ اذْهَبْ
فَنَادِ فِي النَّاسِ أَنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ
قَالَ فَخَرَجْتُ فَنَادَيْتُ أَلَا إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا
الْمُؤْمِنُونَ [14]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada
kami Hasyim bin al-Qasim telah menceritakan kepada kami Ikrimah bin Ammar dia
berkata, telah menceritakan kepada kami Simak al-Hanafi Abu Zumail dia berkata,
telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abbas dia berkata, telah
menceritakan kepada kami Umar bin al-Khaththab dia berkata, "Ketika
terjadi perang Khaibar, maka sejumlah sahabat menghadap Nabi ﷺ seraya
berkata, 'Fulan mati syahid, fulan mati syahid', hingga mereka melewati seorang
laki-laki lalu berkata, 'fulan mati syahid.' Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak demikian, sesungguhnya aku melihatnya di neraka dalam
pakaian atau mantel yang dia ambil (sebelum dibagi).' Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda lagi: 'Wahai Ibnu al-Khaththab, pergi dan serukanlah kepada manusia
bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang beriman.' Maka Umar
berkata, 'Aku keluar seraya berseru, 'Ketahuilah, tidak akan masuk surga
kecuali orang orang beriman."
2.12. Dunia Penjara Bagi Orang Mu`Min Dan Surga Bagi Orang Kafir
Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2956
dinyatakan bahwa dunia penjara orang mu`min dan surga orang kafir
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا
عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي الدَّرَاوَرْدِيَّ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ [15]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada
kami Abdulaziz Ad Darawardi dari Al Ala` dari ayahnya dari Abu Hurairah
berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Dunia penjara
orang mu`min dan surga orang kafir."
2.13. Memberi Minum Anjing Yang Kehausan
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 171
digambarkan seorang laki-laki yang memberikan minum anjing yang kehausan, Allah
berterimakasih kepadanya dan memasukkannya ke jannah;
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ سَمِعْتُ أَبِي
عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّ رَجُلًا رَأَى كَلْبًا يَأْكُلُ الثَّرَى مِنْ الْعَطَشِ
فَأَخَذَ الرَّجُلُ خُفَّهُ فَجَعَلَ يَغْرِفُ لَهُ بِهِ حَتَّى أَرْوَاهُ
فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ فَأَدْخَلَهُ الْجَنَّةَ وَقَالَ أَحْمَدُ بْنُ شَبِيبٍ
حَدَّثَنَا أَبِي عَنْ يُونُسَ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ حَدَّثَنِي حَمْزَةُ بْنُ
عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَتْ الْكِلَابُ تَبُولُ وَتُقْبِلُ
وَتُدْبِرُ فِي الْمَسْجِدِ فِي زَمَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَلَمْ يَكُونُوا يَرُشُّونَ شَيْئًا مِنْ ذَلِكَ [16]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Ishaq telah mengabarkan kepada kami 'Abdush
Shamad telah menceritakan kepada kami 'Abdurrahman bin 'Abdullah bin Dinar aku
mendengar Bapakku dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, bahwa
ada seorang laki-laki melihat seekor anjing menjilat-jilat tanah karena
kehausan, lalu orang itu mengambil sepatunya dan mengisinya air untuk kemudian
diminumkan kepada anjing tersebut hingga kenyang. Allah lalu berterima kasih
kepadanya dan memasukkannya ke dalam surga." Ahmad bin Syabib berkata,
telah menceritakan kepada kami Bapakku dari Yunus dari Ibnu Syihab berkata,
telah menceritakan kepadaku Hamzah bin 'Abdullah dari Bapaknya, bahwa pada masa
Rasulullah ﷺ ada beberapa anjing yang kencing dan membuang kotoran di dalam
masjid, namun para sahabat tidak menyiramnya dengan sesuatu."
Di dalam Musnad Ahmad hadits nomor 6570 dinyatakan
bahwa yang paling pertama kali masuk surga adalah golongan orang-orang fakir
dan orang-orang yang berhijrah
حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنِي
سَعِيدُ بْنُ أَبِي أَيُّوبَ حَدَّثَنِي مَعْرُوفُ بْنُ سُوَيْدٍ الْجُذَامِيُّ
عَنْ أَبِي عُشَّانَةَ الْمَعَافِرِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ
العَاصِي عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ
هَلْ تَدْرُونَ أَوَّلَ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ خَلْقِ اللَّهِ قَالُوا
اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ خَلْقِ
اللَّهِ الْفُقَرَاءُ وَالْمُهَاجِرُونَ الَّذِينَ تُسَدُّ بِهِمْ الثُّغُورُ وَيُتَّقَى
بِهِمْ الْمَكَارِهُ وَيَمُوتُ أَحَدُهُمْ وَحَاجَتُهُ فِي صَدْرِهِ لَا
يَسْتَطِيعُ لَهَا قَضَاءً فَيَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لِمَنْ يَشَاءُ مِنْ
مَلَائِكَتِهِ ائْتُوهُمْ فَحَيُّوهُمْ فَتَقُولُ الْمَلَائِكَةُ نَحْنُ سُكَّانُ
سَمَائِكَ وَخِيرَتُكَ مِنْ خَلْقِكَ أَفَتَأْمُرُنَا أَنْ نَأْتِيَ هَؤُلَاءِ
فَنُسَلِّمَ عَلَيْهِمْ قَالَ إِنَّهُمْ كَانُوا عِبَادًا يَعْبُدُونِي لَا
يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَتُسَدُّ بِهِمْ الثُّغُورُ وَيُتَّقَى بِهِمْ
الْمَكَارِهُ وَيَمُوتُ أَحَدُهُمْ وَحَاجَتُهُ فِي صَدْرِهِ لَا يَسْتَطِيعُ
لَهَا قَضَاءً قَالَ فَتَأْتِيهِمُ الْمَلَائِكَةُ عِنْدَ ذَلِكَ فَيَدْخُلُونَ
عَلَيْهِمْ مِنْ كُلِّ بَابٍ"{ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ
بِمَا صَبَرْتُمْ فَنِعْمَ عُقْبَى الدَّارِ " [17]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abu Abdirrahman telah menceritakan kepadaku
Sa'id bin Abi Ayub telah menceiritakan kepadaku Ma'ruf bin Suwaid Al Judzami
dari Abi Usyanah Al Ma'afiri dari Abdullah bin Amr bin Ash dari Rasulullah SAW,
beliau bersabda: "Tahukah kalian diantara makhluk Allah yang paling
pertama masuk surga?" Para sahabat menjawab, "Allah dan RasulNya yang
lebih mengetahui." Beliau bersabda: "Diantara makhluk Allah yang
paling pertama kali masuk surga adalah golongan orang-orang fakir dan
orang-orang yang berhijrah untuk mengisi tapal-tapal perbatasan antara kaum
muslimin dan kafir, yang dengan perantara mereka malapetaka dapat dihindarkan,
dan salah seorang diantara mereka wafat sedang keinginan yang masih berada di
dadanya tidak dapat terlaksana, maka Allah berkata kepada salah satu dari
malaikat yang dikehendakiNya: 'Datangilah mereka dan ucapkanlah selamat kepada
mereka! ' Maka malaikat itu berkata: 'Kami adalah para penghuni langit dan
semulia-mulianya makhlukMu, kenapa Engkau menyuruh kami untuk mendatangi mereka
dan memberi salam kepada mereka? ' Allah berkata: 'Sesungguhnya mereka adalah
para hamba yang beribadah kepadaKu dan tidak menyekutukanKu dengan yang lain,
mereka menjaga tapal batas antara kaum muslimin dan orang kafir, dan dengan
mereka pula dapat dihindarkan malapetaka, ada salah seorang dari mereka yang
mati sedang dalam dadanya masih keinginannya yang tidak bisa ia penuhi.'"
Beliau berkata: "Maka para malaikat itupun mendatangi mereka dan masuk
dari setiap pintu yang ada (seraya mengucapkan), 'Salamun 'alaikum bima
shabartum (Keselamatan atas kalian oleh karena kesabaran kalian).' Maka
alangkah baiknya tempat kesudahan itu."
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6657
dijelaskan bahwa penghuni surga adalah setiap orang lemah dan tertindas, dan
sekiranya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah mengabulkannya;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنِي
غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مَعْبَدِ بْنِ خَالِدٍ سَمِعْتُ حَارِثَةَ بْنَ
وَهْبٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى أَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعَّفٍ لَوْ
أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ وَأَهْلِ النَّارِ كُلُّ جَوَّاظٍ عُتُلٍّ
مُسْتَكْبِرٍ [18]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] telah menceritakan
kepadaku [Ghundar] Telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Ma'bad bin
Khalid] aku mendengar [Haritsah bin Wahb] mengatakan; Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda: "maukah kalian kutunjukkan penghuni
surga? Yaitu setiap orang lemah dan tertindas, dan sekiranya ia bersumpah atas
nama Allah, niscaya Allah mengabulkannya, dan penghuni neraka adalah setiap
orang yang berhati keras dan menentang kebenaran lagi sombong."
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi
hadits nomor 2575 dinyatakan barangsiapa meminta
surga kepada Allah sebanyak tiga kali, surga berkata: Ya Allah, masukkan ia ke
surga. Dan barangsiapa meminta perlindungan dari neraka sebanyak tiga kali,
neraka berkata: Ya Allah, lindungilah ia dari neraka;
حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ
عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مَنْ سَأَلَ اللَّهَ الْجَنَّةَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَتْ الْجَنَّةُ
اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ اسْتَجَارَ مِنْ النَّارِ ثَلَاثَ
مَرَّاتٍ قَالَتْ النَّارُ اللَّهُمَّ أَجِرْهُ مِنْ النَّارِ قَالَ هَكَذَا رَوَى
يُونُسُ بْنُ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ بُرَيْدِ
بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ نَحْوَهُ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي
مَرْيَمَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ مَوْقُوفًا أَيْضًا [19]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Hannad telah menceritakan kepada kami Abu Al Ahwash
dar Abu Ishaq dari Buraid bin Abu Maryam dari Anas bin Malik berkata:
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Barangsiapa meminta
surga kepada Allah sebanyak tiga kali, surga berkata: Ya Allah, masukkan ia ke
surga. Dan barangsiapa meminta perlindungan dari neraka sebanyak tiga kali,
neraka berkata: Ya Allah, lindungilah ia dari neraka." Abu Isa berkata:
Demikian Yunus bin Abu Ishaq meriwayatkan hadits ini dari Abu Ishaq dari Buraid
bin Maryam dari Anas dari nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam sepertinya. Dan
diriwayatkan dari Abu Ishaq dari Buraid bin Abu Maryam dari Anas bin Malik
secara mauquf juga.
3. Keistimewaan Orang Yang Berkarakter Jannah
Di sini akan
dikemukakan beberapa keuntungan bagi orang-orang yang memiliki karakter jannah,
meski mereka masih berada di dunia tetapi telah memiliki karakter penduduk
Jannah,;
Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 180-181
digambarkan bahwa tidak ada satu pun yang dianugerahkan kepada mereka yang
lebih dicintai daripada anugrah (dapat) memandang Rabb mereka;
بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَزَادَ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ
الْآيَةَ { حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مَيْسَرَةَ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ
الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ
الْبُنَانِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ صُهَيْبٍ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَ أَهْلُ
الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ
شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا
الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنْ النَّارِ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا
أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ
وَجَلَّ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ
هَارُونَ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى
وَزِيَادَةٌ [20] }
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami [Ubaidullah bin Maisarah] dia berkata, telah
menceritakan kepada kami [Abdurrahman bin Mahdi] telah menceritakan kepada kami
[Hammad bin Salamah] dari [Tsabit al-Bunani] dari [Abdurrahman bin Abu Laila]
dari [Shuhaib] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda:
"Bila penduduk surga telah masuk ke surga, maka Allah berfirman: 'Apakah
kalian ingin sesuatu yang perlu Aku tambahkan kepada kalian? ' Mereka menjawab,
'Bukankah Engkau telah membuat wajah-wajah kami putih? Bukankah Engkau telah
memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka? ' Beliau
bersabda: "Lalu Allah membukakan hijab pembatas, lalu tidak ada satu pun
yang dianugerahkan kepada mereka yang lebih dicintai daripada anugrah (dapat)
memandang Rabb mereka." Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu
Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Yazid bin Harun] dari [Hammad bin
Salamah] dengan sanad ini, dan dia menambahkan, 'Kemudian beliau membaca Firman
Allah: '(Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga)
dan tambahannya) ' (Qs.Yunus: 26)
Sedangkan di dalam kitab Musnad Ahmad Hadits nomor
18941 digambarkan bahwa tidak sesuatu pun yang telah diberikan Allah kepada
mereka yang lebih mereka cintai dari pada (kenikmatan) melihat wajah-Nya;
حَدَّثَنَا عَفَّانُ أَخْبَرَنَا حَمَّادٌ
أَخْبَرَنَا ثَابِتٌ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ صُهَيْبٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ "{ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا
الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ" قَالَ إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ
وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ نَادَى مُنَادٍ يَا أَهْلَ الْجَنَّةِ إِنَّ لَكُمْ
عِنْدَ اللَّهِ مَوْعِدًا يُرِيدُ أَنْ يُنْجِزَكُمُوهُ فَيَقُولُونَ وَمَا هُوَ
أَلَمْ يُثَقِّلْ مَوَازِينَنَا وَيُبَيِّضْ وُجُوهَنَا وَيُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ
وَيُجِرْنَا مِنْ النَّارِ قَالَ فَيُكْشَفُ لَهُمْ الْحِجَابُ فَيَنْظُرُونَ
إِلَيْهِ قَالَ فَوَاللَّهِ مَا أَعْطَاهُمْ شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ
النَّظَرِ إِلَيْهِ وَلَا أَقَرَّ بِأَعْيُنِهِمْ [21]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah mengabarkan kepada kami Hammad
telah mengabarkan kepada kami Tsabit dari Abdurrahman bin Abu Laila dari
Shuhaib bahwa Rasulullah ﷺ membaca ayat ini: "Bagi orang-orang
yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya."
(Kemudian beliau melanjutkan sabdanya): "Jika penghuni surga telah
memasuki surga, dan penghuni neraka telah memasuki neraka, maka sang penyeru
pun akan menyerukan, 'Wahai penduduk surga, sesungguhnya kalian masih memiliki janji
di sisi Allah, dan Dia ingin memenuhinya untuk kalian.' Mereka bertanya, 'Janji
apakah itu? bukankah timbangan kami telah diberatkan, memberi cahaya pada
wajah-wajah kami? Bukankah kami telah dimasukkan ke dalam surga dan dibebaskan
dari api nereka? ' kemudian hijab pun disingkap hingga mereka pun melihat
(wajah-Nya). Maka Demi Allah, tidak sesuatu pun yang telah diberikan Allah
kepada mereka yang lebih mereka cintai dari pada (kenikmatan) melihat
wajah-Nya."
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 4623
dinyatakan sesungguhnya penghuni surga yang paling mulia derajatnya akan
melihat wajah Allah Ta'ala setiap hari sebanyak dua kali;
حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ
الْمَلِكِ بْنُ أَبْجَرَ عَنْ ثُوَيْرِ بْنِ أَبِي فَاخِتَةَ عَنِ ابْنِ عُمَرَ
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَدْنَى
أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً لَيَنْظُرُ فِي مُلْكِ أَلْفَيْ سَنَةٍ يَرَى
أَقْصَاهُ كَمَا يَرَى أَدْنَاهُ يَنْظُرُ فِي أَزْوَاجِهِ وَخَدَمِهِ وَإِنَّ
أَفْضَلَهُمْ مَنْزِلَةً لَيَنْظُرُ فِي وَجْهِ اللَّهِ تَعَالَى كُلَّ يَوْمٍ
مَرَّتَيْنِ [22]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah telah menceritakan kepada kami
Abdul Malik bin Abjar dari Tsuwair bin Abu Fakhitah dari Ibnu Umar ia berkata,
"Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya penghuni surga yang paling rendah
derajatnya, ia akan melihat dalam sebuah istana selama dua ribu tahun. Ia
melihat bagian paling ujungnya sebagaimana ia melihat bagian paling dekatnya,
ia juga akan melihat para isteri dan pembantunya. Dan sesungguhnya penghuni
surga yang paling mulia derajatnya akan melihat wajah Allah Ta'ala setiap hari
sebanyak dua kali."
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 2587,
dijelaskan bahwa seandainya seorang perempuan (bidadari) penduduk surga muncul
di tengah penduduk bumi niscaya ia akan menerangi apa yang ada diantara
keduanya (cakrawala langit dan bumi);
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا
مُعَاوِيَةُ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ عَنْ حُمَيْدٍ قَالَ
سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَرَوْحَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ غَدْوَةٌ خَيْرٌ
مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَلَقَابُ قَوْسِ أَحَدِكُمْ مِنْ الْجَنَّةِ أَوْ
مَوْضِعُ قِيدٍ يَعْنِي سَوْطَهُ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا وَلَوْ
أَنَّ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ اطَّلَعَتْ إِلَى أَهْلِ الْأَرْضِ لَأَضَاءَتْ
مَا بَيْنَهُمَا وَلَمَلَأَتْهُ رِيحًا وَلَنَصِيفُهَا عَلَى رَأْسِهَا خَيْرٌ
مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا [23]
Artinya:
Telah bercerita kepada kami 'Abdullah bin Muhammad telah bercerita kepada kami
Mu'awiyah bin 'Amru telah bercerita kepada kami Abu Ishaq dari Humaid berkata aku mendengar Anas bin Malik
radliallahu 'anhu dari Nabi ﷺ: "Pergi keluar
berperang di jalan Allah pada awal (pagi) hari atau pergi keluar berperang pada
akhir (siang) hari lebih baik dari pada dunia dan seisinya. Dan sungguh panjang
(sehasta) busur panah seorang dari kalian di surga atau tempat (sarung)
cambuknya lebih baik dari dunia dan seisinya. Dan seandainya seorang perempuan
(bidadari) penduduk surga muncul di tengah penduduk bumi niscaya ia akan
menerangi apa yang ada diantara keduanya (cakrawala langit dan bumi) dan arama
wanginya akan memenuhi cakrawala itu dan sungguh kerudung yang ada di kepalanya
itu lebih baik dari pada dunia dan seisinya".
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 10932,
dijelaskan bahwa penduduk Jannah akan mendapatkan sebanyak tujuh puluh dua
istri dari bidadari selain dari istri-istrinya di dunia;
حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا سُكَيْنُ بْنُ عَبْدِ
الْعَزِيزِ حَدَّثَنَا الْأَشْعَثُ الضَّرِيرُ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
إِنَّ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةً إِنَّ لَهُ لَسَبْعَ دَرَجَاتٍ وَهُوَ
عَلَى السَّادِسَةِ وَفَوْقَهُ السَّابِعَةُ وَإِنَّ لَهُ لَثَلَاثَ مِائَةِ
خَادِمٍ وَيُغْدَى عَلَيْهِ وَيُرَاحُ كُلَّ يَوْمٍ ثَلَاثُ مِائَةِ صَحْفَةٍ
وَلَا أَعْلَمُهُ إِلَّا قَالَ مِنْ ذَهَبٍ فِي كُلِّ صَحْفَةٍ لَوْنٌ لَيْسَ فِي
الْأُخْرَى وَإِنَّهُ لَيَلَذُّ أَوَّلَهُ كَمَا يَلَذُّ آخِرَهُ وَإِنَّهُ
لَيَقُولُ يَا رَبِّ لَوْ أَذِنْتَ لِي لَأَطْعَمْتُ أَهْلَ الْجَنَّةِ
وَسَقَيْتُهُمْ لَمْ يَنْقُصْ مِمَّا عِنْدِي شَيْءٌ وَإِنَّ لَهُ مِنْ الْحُورِ
الْعِينِ لَاثْنَيْنِ وَسَبْعِينَ زَوْجَةً سِوَى أَزْوَاجِهِ مِنْ الدُّنْيَا
وَإِنَّ الْوَاحِدَةَ مِنْهُنَّ لَيَأْخُذُ مَقْعَدُهَا قَدْرَ مِيلٍ مِنْ
الْأَرْضِ [24]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami [Hasan] berkata; telah menceritakan kepada kami
[Sukain bin Abdul Aziz] berkata; telah menceritakan kepada kami [Al Asy'ats Adl
Dlarir] dari [Syahr bin Hausyab] dari [Abu Hurairah] berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya kedudukan terendah
penduduk surga adalah, bahwa dia memiliki tujuh derajat, dan dia berada di yang
keenam, dan ketujuh ada di atasnya. Ia mempunyai tiga ratus pembantu, setiap
hari akan dihidangkan jamuan kepadanya sebanyak tiga ratus piring besar, -dan
aku tidak mengetahuinya kecuali bahwa beliau mengatakan, - "terbuat dari
emas, di setiap piring ada ragam (makanan) yang tidak terdapat pada piring yang
lain. Ia merasakan nikmat di awal sebagaimana diakhirnya juga. Dan ia akan
berkata; 'Wahai Rabb, sekiranya Engkau izinkan, aku akan memberi makan dan
minum seluruh penduduk surga, dan itu tidak akan mengurangi nikmat yang ada
padaku sedikitpun, ' Dan ia juga akan mendapatkan sebanyak tujuh puluh dua
istri dari bidadari selain dari istri-istrinya di dunia, dan tempat duduk salah
seorang dari mereka (istri-istri) adalah sebanding dengan satu mil dari
bumi."
Di dalam kitab Shahih Muslim hadis nomor 2834,
dijelaskan bahwa Sesungguhnya golongan pertama yang masuk surga wujudnya
seperti bulan di malam purnama, golongan selanjutnya wujudnya seperti bintang
paling terang di langit, mereka tidak kencing, tidak berak, tidak ingusan dan
tidak meludah, sisir mereka emas, keringat mereka minyak kesturi, tempat bara
api mereka kayu wangi, istri-istri mereka bidadari;
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا
عَبْدُ الْوَاحِدِ يَعْنِي ابْنَ زِيَادٍ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ
حَدَّثَنَا أَبُو زُرْعَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُا قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ
الْجَنَّةَ ح و حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ
وَاللَّفْظُ لِقُتَيْبَةَ قَالَا حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ عَنْ أَبِي
زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَوَّلَ زُمْرَةٍ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ
الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ وَالَّذِينَ يَلُونَهُمْ عَلَى أَشَدِّ كَوْكَبٍ
دُرِّيٍّ فِي السَّمَاءِ إِضَاءَةً لَا يَبُولُونَ وَلَا يَتَغَوَّطُونَ وَلَا
يَمْتَخِطُونَ وَلَا يَتْفُلُونَ أَمْشَاطُهُمْ الذَّهَبُ وَرَشْحُهُمْ الْمِسْكُ
وَمَجَامِرُهُمْ الْأَلُوَّةُ وَأَزْوَاجُهُمْ الْحُورُ الْعِينُ أَخْلَاقُهُمْ
عَلَى خُلُقِ رَجُلٍ وَاحِدٍ عَلَى صُورَةِ أَبِيهِمْ آدَمَ سِتُّونَ ذِرَاعًا فِي
السَّمَاءِ [25]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] telah menceritakan kepada
kami [Abdul Wahid bin Ziyad] dari [Umarah bin Al Qa'qa'] telah menceritakan
kepada kami [Abu Zur'ah] berkata: Aku mendengar [Abu Hurairah] berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda: "Orang pertama yang
masuk surga." Dan telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] dan
[Zuhair bin Harb], teks milik Qutaibah, keduanya berkata: Telah menceritakan
kepada kami [Jarir] dari [Umarah] dari [Abu Zur'ah] dari [Abu Hurairah]
berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya
golongan pertama yang masuk surga wujudnya seperti bulan di malam purnama,
golongan selanjutnya wujudnya seperti bintang paling terang di langit, mereka
tidak kencing, tidak berak, tidak ingusan dan tidak meludah, sisir mereka emas,
keringat mereka minyak kesturi, tempat bara api mereka kayu wangi, istri-istri
mereka bidadari, postur mereka sama seperti wujud ayah mereka, Adam, enampuluh
dzira' di langit."
3.6. Sesungguhnya Orang Yang Masuk Surga Akan Merasakan Nikmat Dan Tidak
Pernah Berputus Asa
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 9279
dinyatakan bahwa sesungguhnya orang yang masuk surga akan merasakan nikmat dan
tidak pernah berputus asa;
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ قَالَ
أَخْبَرَنَا ثَابِتٌ عَنْ أَبِي رَافِعٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَحْسِبُ حَمَّادٌ قَالَ إِنَّهُ مَنْ
يَدْخُلْ الْجَنَّةَ يَنْعَمْ وَلَا يَبْأَسْ لَا تَبْلَى ثِيَابُهُ وَلَا يَفْنَى
شَبَابُهُ فِي الْجَنَّةِ مَا لَا عَيْنٌ رَأَتْ وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتْ وَلَا
خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ [26]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Hammad
berkata; telah mengabarkan kepada kami Tsabit dari Abu Rafi' dari Abu Hurairah
dari Nabi ﷺ, yang menurut perkiraan Hammad bahwasanya beliau bersabda:
"Sesungguhnya orang yang masuk surga akan merasakan nikmat dan tidak
pernah berputus asa, baju mereka tidak lusuh dan tidak akan hilang masa
mudanya. Dan di dalam surga terdapat sesuatu yang mata belum melihatnya,
telinga belum mendengarnya dan belum terbetik di hati manusia."
Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2837
dinyatakan sesungguhnya kalian (penduduk jannah) hidup dan tidak mati
selamanya, kalian sehat dan tidak sakit selamanya, kalian muda dan tidak tua
selamanya, kalian bersenang-senang dan tidak akan bersedih selamanya;
حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَبْدُ بْنُ
حُمَيْدٍ وَاللَّفْظُ لِإِسْحَقَ قَالَا أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ
قَالَ الثَّوْرِيُّ فَحَدَّثَنِي أَبُو إِسْحَقَ أَنَّ الْأَغَرَّ حَدَّثَهُ عَنْ
أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ وَأَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُنَادِي مُنَادٍ إِنَّ لَكُمْ أَنْ تَصِحُّوا فَلَا
تَسْقَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَحْيَوْا فَلَا تَمُوتُوا أَبَدًا
وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ تَشِبُّوا فَلَا تَهْرَمُوا أَبَدًا وَإِنَّ لَكُمْ أَنْ
تَنْعَمُوا فَلَا تَبْأَسُوا أَبَدًا فَذَلِكَ قَوْلُهُ عَزَّ وَجَلَّ { وَنُودُوا أَنْ
تِلْكُمْ الْجَنَّةُ أُورِثْتُمُوهَا بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ [27] }
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan Abdu bin Humaid, teks
milik Ishaq, keduanya berkata: telah mengkhabarkan kepada kami Abdurrazzaq
berkata: Berkata Ats Tsauri telah menceritakan kepadaku Abu Ishaq bahwa Al
Aghar telah menceritakan kepadanya dari Abu Sa'id Al Khudri dan Abu Hurairah
dari nabi ﷺ bersabda: "Penyeru menyerukan:
Sesungguhnya kalian hidup dan tidak mati selamanya, kalian sehat dan tidak
sakit selamanya, kalian muda dan tidak tua selamanya, kalian bersenang-senang
dan tidak akan bersedih selamanya. Itulah firmanNya 'azza wajalla: Dan Itulah
surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu
kerjakan." (Az Zukhruuf: 72)
3.8. Penghuni Jannah Sibuk Dalam Bersenang-senang
Di dalam Al Quran surat Yasin/ 36: 55 ditegaskan
bahwa penduduk jannah sibuk dalam kesenangan;
إِنَّ أَصْحَابَ الْجَنَّةِ الْيَوْمَ فِي شُغُلٍ
فَاكِهُونَ
Artinya:
Sesungguhnya penghuni surga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan
(mereka). (QS. Yasin/ 36: 55)
3.9. Penduduk Jannah Kekal Di Dalamnya
Di dalam Al Quran surat Yunus/ 10: 26 dinyatkan
bahwa penduduk Jannah kekal di dalamnya;
لِّلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ
وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ
هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Artinya:
Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan
tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula)
kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. (Qs. Yunus/
10: 26)
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 3246
digambarkan bahwa penduduk jannah tidak ada perselisihan (pertengkaran) di sana
dan tidak ada pula saling benci. Hati mereka bagaikan hati yang satu yang
senantiasa bertasbih pagi dan petang. Mereka tidak pernah sakit, tidak pernah
beringus dan tidak pernah meludah
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ
حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
أَوَّلُ زُمْرَةٍ تَدْخُلُ الْجَنَّةَ عَلَى صُورَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ
وَالَّذِينَ عَلَى إِثْرِهِمْ كَأَشَدِّ كَوْكَبٍ إِضَاءَةً قُلُوبُهُمْ عَلَى
قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ لَا اخْتِلَافَ بَيْنَهُمْ وَلَا تَبَاغُضَ لِكُلِّ امْرِئٍ
مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ كُلُّ وَاحِدَةٍ مِنْهُمَا يُرَى مُخُّ سَاقِهَا مِنْ
وَرَاءِ لَحْمِهَا مِنْ الْحُسْنِ يُسَبِّحُونَ اللَّهَ بُكْرَةً وَعَشِيًّا لَا
يَسْقَمُونَ وَلَا يَمْتَخِطُونَ وَلَا يَبْصُقُونَ آنِيَتُهُمْ الذَّهَبُ
وَالْفِضَّةُ وَأَمْشَاطُهُمْ الذَّهَبُ وَوَقُودُ مَجَامِرِهِمْ الْأَلُوَّةُ
قَالَ أَبُو الْيَمَانِ يَعْنِي الْعُودَ وَرَشْحُهُمْ الْمِسْكُ وَقَالَ مُجَاهِدٌ
الْإِبْكَارُ أَوَّلُ الْفَجْرِ وَالْعَشِيُّ مَيْلُ الشَّمْسِ إِلَى أَنْ أُرَاهُ
تَغْرُبَ [28]
Artinya:
Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib
telah bercerita kepada kami Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah
radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Rombongan pertama yang
memasuki surga rupa mereka bagaikan bulan saat purnama dan rombongan berikutnya
yang mengiringi mereka bagaikan bintang yang sangat terang cahayanya. Hati
mereka bagaikan hati seorang laki-laki yang tidak pernah berselisih dan saling
membenci di antara mereka. Setiap orang dari mereka memiliki dua istri
(bidadari) yang setiap istri itu sumsum tulangnya dapat kelihatan dari
betis-betis mereka dari balik daging karena teramat sangat cantiknya. Tidak ada
perselisihan (pertengkaran) di sana dan tidak ada pula saling benci. Hati mereka
bagaikan hati yang satu yang senantiasa bertasbih pagi dan petang. Mereka tidak
pernah sakit, tidak pernah beringus dan tidak pernah meludah. Perabotan mereka
terbuat dari emas dan perak, sisir-sisir mereka terbuat dari emas dan tempat
perapian mereka terbuat dari kayu cendana". Abu Al Yaman berkata;
"Maksudnya kayu yang dibakar untuk wewangian". Keringat mereka
seharum minyak misik". Mujahid berkata; 'al-Ibkar artinya awal fajar
sedangkan al-'asyiyy condongnya matahari ke barat hingga akan terlihat akan
terbenam".
Berikut akan dikemukakan beberapa karakter calon
penduduk Jannah, yang dikemukkan berdasar Al Quran dan Hadits;
Di dalam Al Quran surat Al-Hasyr/ 59: 20
dinyatakan bahwa penghuni-penghuni surga adalah orang yang beruntung;
لَا يَسْتَوِي أَصْحَابُ النَّارِ وَأَصْحَابُ
الْجَنَّةِ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمُ الْفَائِزُونَ
Artinya:
Tidaklah sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni jannah;
penghuni-penghuni jannah itulah orang-orang yang beruntung.(QS. Al-Hasyr/ 59:
20)
4.2. Bersegeralah Kamu Kepada Ampunan Dari Tuhanmu Dan
Kepada Jannah
Al Quran Surat Ali 'Imran/ 3: 133 memberikan
peringatan untuk bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada
surga;
وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ
وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ
Artinya:
Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya
seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,(QS. Ali
'Imran/ 3: 133)
4.3. Bersabar Terkena Penyakit
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 5652,
menjelaskan tentang wanita penduduk surga yang bersabar terkena penyakit;
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ
عِمْرَانَ أَبِي بَكْرٍ قَالَ حَدَّثَنِي عَطَاءُ بْنُ أَبِي رَبَاحٍ قَالَ قَالَ
لِي ابْنُ عَبَّاسٍ أَلَا أُرِيكَ امْرَأَةً مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى
قَالَ هَذِهِ الْمَرْأَةُ السَّوْدَاءُ أَتَتْ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَقَالَتْ إِنِّي أُصْرَعُ وَإِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ لِي
قَالَ إِنْ شِئْتِ صَبَرْتِ وَلَكِ الْجَنَّةُ وَإِنْ شِئْتِ دَعَوْتُ اللَّهَ
أَنْ يُعَافِيَكِ فَقَالَتْ أَصْبِرُ فَقَالَتْ إِنِّي أَتَكَشَّفُ فَادْعُ اللَّهَ
لِي أَنْ لَا أَتَكَشَّفَ فَدَعَا لَهَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدٌ أَخْبَرَنَا
مَخْلَدٌ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي عَطَاءٌ أَنَّهُ رَأَى أُمَّ زُفَرَ
تِلْكَ امْرَأَةً طَوِيلَةً سَوْدَاءَ عَلَى سِتْرِ الْكَعْبَةِ [29]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami [Musaddad] telah menceritakan kepada kami
[Yahya] dari [Imran bin Abu Bakar] dia berkata; telah menceritakan kepadaku
['Atha` bin Abu Rabah] dia berkata; [Ibnu Abbas] pernah berkata kepadaku;
"Maukah aku tunjukkan kepadamu seorang wanita dari penduduk surga?"
jawabku; "Tentu." Dia berkata; "Wanita berkulit hitam ini, dia
pernah menemui Nabi ﷺ sambil berkata;
"Sesungguhnya aku menderita epilepsi dan auratku sering tersingkap (ketika
sedang kambuh), maka berdoalah kepada Allah untukku." Beliau bersabda:
"Jika kamu berkenan, bersabarlah maka bagimu surga, dan jika kamu
berkenan, maka aku akan berdoa kepada Allah agar Allah menyembuhkanmu." Ia
berkata; "Baiklah aku akan bersabar." Wanita itu berkata lagi;
"Namun berdoalah kepada Allah agar (auratku) tidak tersingkap." Maka
beliau mendoakan untuknya." Telah menceritakan kepada kami Muhammad telah
mengabarkan kepada kami Makhlad dari Ibnu Juraij telah mengabarkan kepadaku
'Atha' bahwa dia pernah melihat Ummu Zufar adalah wanita tersebut, ia adalah
wanita berpawakan tinggi, berkulit hitam sedang berada di tirai Ka'bah."
Dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 12469
digambarkan bahwa barang siapa saja yang kamu dapati di dalam hatinya seberat
biji atom dari iman maka bawalah dia masuk ke dalam surga;
حَدَّثَنَا يُونُسُ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ يَزِيدَ
يَعْنِي ابْنَ الْهَادِ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ أَنَسٍ قَالَ سَمِعْتُ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنِّي لَأَوَّلُ
النَّاسِ تَنْشَقُّ الْأَرْضُ عَنْ جُمْجُمَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا فَخْرَ
وَأُعْطَى لِوَاءَ الْحَمْدِ وَلَا فَخْرَ وَأَنَا سَيِّدُ النَّاسِ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ وَلَا فَخْرَ وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ وَلَا فَخْرَ وَإِنِّي آتِي بَابَ الْجَنَّةِ فَآخُذُ بِحَلْقَتِهَا فَيَقُولُونَ
مَنْ هَذَا فَيَقُولُ أَنَا مُحَمَّدٌ فَيَفْتَحُونَ لِي فَأَدْخُلُ فَإِذَا
الْجَبَّارُ عَزَّ وَجَلَّ مُسْتَقْبِلِي فَأَسْجُدُ لَهُ فَيَقُولُ ارْفَعْ
رَأْسَكَ يَا مُحَمَّدُ وَتَكَلَّمْ يُسْمَعْ مِنْكَ وَقُلْ يُقْبَلْ مِنْكَ
وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ فَأَرْفَعُ رَأْسِي فَأَقُولُ أُمَّتِي أُمَّتِي يَا رَبِّ
فَيَقُولُ اذْهَبْ إِلَى أُمَّتِكَ فَمَنْ وَجَدْتَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ
حَبَّةٍ مِنْ شَعِيرٍ مِنْ الْإِيمَانِ فَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ فَأُقْبِلُ فَمَنْ
وَجَدْتُ فِي قَلْبِهِ ذَلِكَ فَأُدْخِلُهُ الْجَنَّةَ فَإِذَا الْجَبَّارُ عَزَّ
وَجَلَّ مُسْتَقْبِلِي فَأَسْجُدُ لَهُ فَيَقُولُ ارْفَعْ رَأْسَكَ يَا مُحَمَّدُ
وَتَكَلَّمْ يُسْمَعْ مِنْكَ وَقُلْ يُقْبَلْ مِنْكَ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ
فَأَرْفَعُ رَأْسِي فَأَقُولُ أُمَّتِي أُمَّتِي أَيْ رَبِّ فَيَقُولُ اذْهَبْ
إِلَى أُمَّتِكَ فَمَنْ وَجَدْتَ فِي قَلْبِهِ نِصْفَ حَبَّةٍ مِنْ شَعِيرٍ مِنْ
الْإِيمَانِ فَأَدْخِلْهُمْ الْجَنَّةَ فَأَذْهَبُ فَمَنْ وَجَدْتُ فِي قَلْبِهِ
مِثْقَالَ ذَلِكَ أُدْخِلُهُمْ الْجَنَّةَ فَإِذَا الْجَبَّارُ عَزَّ وَجَلَّ
مُسْتَقْبِلِي فَأَسْجُدُ لَهُ فَيَقُولُ ارْفَعْ رَأْسَكَ يَا مُحَمَّدُ
وَتَكَلَّمْ يُسْمَعْ مِنْكَ وَقُلْ يُقْبَلْ مِنْكَ وَاشْفَعْ تُشَفَّعْ
فَأَرْفَعُ رَأْسِي فَأَقُولُ أُمَّتِي أُمَّتِي فَيَقُولُ اذْهَبْ إِلَى
أُمَّتِكَ فَمَنْ وَجَدْتَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ
الْإِيمَانِ فَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ فَأَذْهَبُ فَمَنْ وَجَدْتُ فِي قَلْبِهِ
مِثْقَالَ ذَلِكَ أَدْخَلْتُهُمْ الْجَنَّةَ وَفَرَغَ اللَّهُ مِنْ حِسَابِ
النَّاسِ وَأَدْخَلَ مَنْ بَقِيَ مِنْ أُمَّتِي النَّارَ مَعَ أَهْلِ النَّارِ
فَيَقُولُ أَهْلُ النَّارِ مَا أَغْنَى عَنْكُمْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَعْبَدُونَ
اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا تُشْرِكُونَ بِهِ شَيْئًا فَيَقُولُ الْجَبَّارُ عَزَّ
وَجَلَّ فَبِعِزَّتِي لَأُعْتِقَنَّهُمْ مِنْ النَّارِ فَيُرْسِلُ إِلَيْهِمْ
فَيَخْرُجُونَ وَقَدْ امْتَحَشُوا فَيَدْخُلُونَ فِي نَهَرِ الْحَيَاةِ
فَيَنْبُتُونَ فِيهِ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِي غُثَاءِ السَّيْلِ وَيُكْتَبُ
بَيْنَ أَعْيُنِهِمْ هَؤُلَاءِ عُتَقَاءُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَيُذْهَبُ بِهِمْ
فَيَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ فَيَقُولُ لَهُمْ أَهْلُ الْجَنَّةِ هَؤُلَاءِ الْجَهَنَّمِيُّونَ
فَيَقُولُ الْجَبَّارُ بَلْ هَؤُلَاءِ عُتَقَاءُ الْجَبَّارِ عَزَّ وَجَلَّ حَدَّثَنَا
أَبُو سَلَمَةَ الْخُزَاعِيُّ حَدَّثَنَا لَيْثُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ
الْهَادِ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنِّي
لَأَوَّلُ النَّاسِ فَذَكَرَ مَعْنَاهُ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ كَمَا تَنْبُتُ
الْحَبَّةُ [30]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Yunus telah menceritakan kepada kami Laits
dari Yazid yaitu Abu Al-Had dari Amr bin Abi Amr dari Anas berkata: saya
mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Saya orang
pertama yang terbelah lubang kuburnya pada hari kiamat dan tidak ada rasa
sombong, dan diberikan kepada saya bendera pujian dan tidak ada rasa sombong.
Saya adalah pemimpin manusia pada kiamat dan tidak ada rasa sombong. Sayalah
orang pertama masuk surga pada kiamat dan tidak ada rasa sombong, saya datangi
pintu surga, saya pegang daun pintunya, dan mereka bertanya: siapa ini?
Rasulullah ﷺ menjawab: saya Muhammad, serta merta
mereka membukanya untukku, lalu saya masuk dan ternyata Sang Maha Penguasa
telah menyambutku maka aku bersujud kepadaNya, lalu Allah berfirman:
"Angkatlah kepalamu wahai Muhammad dan berbicaralah, Aku mendengarnya, dan
ucapkanlah akan Aku kabulkan dan berikan syafaat, sungguh syafaatmu akan
diterima ", lalu saya mengangkat kepalaku dan berkata: tolonglah umatku,
tolonglah umatku, Allah berfirman: temuilah umatmu dan siapa saja yang masih
kamu dapatkan iman di dalam hatinya meski seberat biji gandum maka masukkanlah
ke dalam surga, maka saya diterima dan siapa saja yang masih saya dapati dalam
hatinya seberat biji gandum dari iman, saya bawa ke dalam surga, dan ternyata
Sang Maha Penguasa telah menyambutku, aku bersujud kepada-Nya dan Dia
berfirman: angkatlah kepalamu wahai Muhammad, dan berbicaralah, Aku mendengarmu
dan ucapkanlah, Aku mengabulkanmu, dan berilah syafaat, akan diterima
syafaatmu, lalu saya mengangkat kepalaku dan berkata: umatku wahai Robku
umatku, maka Allah berfirman: pergilah kepada umatmu dan siapa saja yang kamu
dapatkan di dalam hatinya seberat setengah biji gandum dari iman maka bawalah
ia masuk ke dalam surga, lalu saya pergi dan siapa saja yang saya dapatkan di
dalam hatinya seberat setengah biji gandum dari iman maka saya membawanya masuk
ke dalam surga, dan ternyata Sang Maha Penguasa telah menyambutku lalu saya bersujud
kepadanya dan Dia berfirman: wahai Muhammad berbicaralah maka Aku mendengarnya,
ucapkanlah maka Aku mengabukannya dan berilah syafaat maka Aku menerima
syafaatmu, lalu saya mengangkat kepalaku dan berkata: umatku wahai Robku
umatku, maka Allah berfirman: pergilah kepada umatmu dan barang siapa saja yang
kamu dapati di dalam hatinya seberat biji atom dari iman maka bawalah dia masuk
ke dalam surga, lalu saya pergi dan siapa saja yang saya dapati di dalam
hatinya seberat setengah biji atom maka saya membawanya ke dalam surga. Setelah
itu Allah selesai dari penghisapan manusia dan memasukkan yang tersisa dari
umatku ke dalam neraka.Lalu para penghuni neraka berkata: 'tidak cukupkah bagi
kalian beribadah kepada Allah Azza wa Jalla dengan tidak berbuat syirik
kepada-Nya', maka Sang Maha Penguasa Azza wa Jalla berfirman: " demi
keagungan-Ku, sungguh Aku akani membebaskan mereka dari neraka, lalu Dia
mengutus malaikat untuk membebaskan mereka dan mereka pun keluar dalam keadaan
hangus terbakar, lalu mereka masuk ke dalam sungai kehidupan hingga mereka
tumbuh di dalamnya sebagaimana biji bijian yang tumbuh dalam genangan buih dan
ditulis di antara kedua mata mereka orang-orang yang telah dibebaskan oleh
Allah Azza wa Jalla. Lalu mereka dibawa masuk ke surga dan para penghuni surga
berkata: mereka adalah para penghuni Jahanam, maka Allah Yang Maha Kuasa
berfirman: bahkan mereka adalah orang orang yang telah dibebaskan oleh Sang
Maha Penguasa Azza wa Jalla ", telah berbicara kepada kami Abu Salamah Al
Khuza'i telah menceritakan kepada kami Laits bin Saad dari Yazid bin Al Had
dari Amr bin Abi Amru dari Anas bin Malik berkata: saya mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya saya orang pertama
kali..." lalu ia menyebut seperti makna hadits, hanya ia berkata dalam
riwayat ini dengan lafadz "kamaa tanbutul habbatu ", (dan bukan kamaa
tanbutul hibbatu).
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 1764
digambarkan bahwa barangsiapa yang menginfaqkan dua jenis (berpasangan) dari
hartanya di jalan Allah, maka dia akan dipanggil dari pintu-pintu surga;
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْمُنْذِرِ قَالَ
حَدَّثَنِي مَعْنٌ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ
بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَنْفَقَ
زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ
اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ
الصَّلَاةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ
وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ
مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلَى
مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ
تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ [31]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Al Mundzir berkata, telah
menceritakan kepada saya Ma'an berkata, telah menceritakan kepada saya Malik
dari Ibnu Syihab dari Humaid bin 'Abdur Rahman dari Abu Hurairah radliallahu
'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa yang
menginfaqkan dua jenis (berpasangan) dari hartanya di jalan Allah, maka dia
akan dipanggil dari pintu-pintu surga; (lalu dikatakan kepadanya): "Wahai
'Abdullah, inilah kebaikan (dari apa yang kamu amalkan). Maka barangsiapa dari
kalangan ahlu shalat dia akan dipanggil dari pintu shalat dan barangsiapa dari
kalangan ahlu jihad dia akan dipanggil dari pintu jihad dan barangsiapa dari
kalangan ahlu shiyam (puasa) dia akan dipanggil dari pintu ar-Rayyan dan
barangsiapa dari kalangan ahlu shadaqah dia akan dipanggil dari pintu
shadaqah". Lantas Abu Bakar Ash-Shidiq radliallahu 'anhu: "Demi bapak
dan ibuku (sebagai tebusan) untukmu wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku, jika
seseorang dipanggil diantara pintu-pintu yang ada, itu sebeuah kepastian, namun
apakah mungkin seseorang akan dipanggil dari semua pintu?". Beliau ﷺ menjawab: "Benar, dan aku berharap kamu termasuk diantara mereka".
Di dalam kitab Shahih Al Bukhari hadits nomor 1397
disebutkan amalan yang jika dikerjakan akan dapat memasukannya ke dalam surga;
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ:
حَدَّثَنَا عَفَّانُ بْنُ مُسْلِمٍ: حَدَّثَنَا وُهَيْبٌ، عَنْ يَحْيَى بْنِ
سَعِيدِ بْنِ حَيَّانَ، عَنْ أَبِي زُرْعَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﵁: «أَنَّ أَعْرَابِيًّا
أَتَى النَّبِيَّ ﷺ فَقَالَ: دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا عَمِلْتُهُ دَخَلْتُ
الْجَنَّةَ. قَالَ: تَعْبُدُ اللهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ
الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ، وَتُؤَدِّي الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ، وَتَصُومُ
رَمَضَانَ. قَالَ: وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَا أَزِيدُ عَلَى هَذَا. فَلَمَّا
وَلَّى، قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ
الْجَنَّةِ فَلْيَنْظُرْ إِلَى هَذَا.» [32]
Artinya:
Muhammad bin Abdur Rahim telah meriwayatkan kepada kami; ia berkata: Affan bin
Muslim telah meriwayatkan kepada kami; ia berkata: Wuhaib telah meriwayatkan
kepada kami dari Yahya bin Sa‘id bin Hayyan, dari Abu Zur‘ah, dari Abu Hurairah
ra. bahwa seorang Arab Badui datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata: “Tunjukkanlah kepadaku suatu
amalan yang apabila aku mengerjakannya, aku akan masuk surga.” Nabi ﷺ menjawab: “Engkau menyembah Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu
apa pun, menunaikan shalat wajib, membayar zakat yang diwajibkan, dan berpuasa
Ramadan.” Orang itu berkata: “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku
tidak akan menambah dari ini sedikit pun.” Maka ketika ia pergi, Nabi ﷺ bersabda: “Barang siapa ingin melihat salah seorang dari penghuni surga, maka
lihatlah orang ini.”
4.7. Shalat; Karena Shalat Adalah Kunci Jannah
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 4
dinyatakan bahwa shalat merupakan kunci jannah;
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ مُحَمَّدُ بْنُ زَنْجَوَيْهِ
الْبَغْدَادِيُّ وَغَيْرُ وَاحِدٍ قَالَ حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ قَرْمٍ عَنْ أَبِي يَحْيَى الْقَتَّاتِ عَنْ
مُجَاهِدٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِفْتَاحُ الْجَنَّةِ
الصَّلَاةُ وَمِفْتَاحُ الصَّلَاةِ الْوُضُوءُ [33]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr Muhammad bin Zanjawih Al Baghdadi
dan tidak hanya satu, ia berkata; telah menceritakan kepada kami Husain bin
Muhammad berkata, telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Qarn dari Abu
Yahya Al Qattat dari Mujahid dari Jabir bin Abdullah Radliaallahu 'anhuma, ia
berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: " Kunci surga
adalah shalat, sedang kunci shalat adalah wudlu."
4.8. Sepuluh Orang Yang Akan Masuk Jannah
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 3748
disebutkan sepuluh orang yang akan masuk jannah;
حَدَّثَنَا صَالِحُ بْنُ مِسْمَارٍ الْمَرْوَزِيُّ
حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي فُدَيْكٍ عَنْ مُوسَى بْنِ يَعْقُوبَ عَنْ عُمَرَ بْنِ
سَعِيدٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حُمَيْدٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ سَعِيدَ بْنَ
زَيْدٍ حَدَّثَهُ فِي نَفَرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ عَشَرَةٌ فِي الْجَنَّةِ أَبُو بَكْرٍ فِي الْجَنَّةِ وَعُمَرُ
فِي الْجَنَّةِ وَعُثْمَانُ وَعَلِيٌّ وَالزُّبَيْرُ وَطَلْحَةُ وَعَبْدُ
الرَّحْمَنِ وَأَبُو عُبَيْدَةَ وَسَعْدُ بْنُ أَبِي وَقَّاصٍ قَالَ فَعَدَّ
هَؤُلَاءِ التِّسْعَةَ وَسَكَتَ عَنْ الْعَاشِرِ فَقَالَ الْقَوْمُ نَنْشُدُكَ
اللَّهَ يَا أَبَا الْأَعْوَرِ مَنْ الْعَاشِرُ قَالَ نَشَدْتُمُونِي بِاللَّهِ
أَبُو الْأَعْوَرِ فِي الْجَنَّةِ قَالَ أَبُو عِيسَى أَبُو الْأَعْوَرِ هُوَ
سَعِيدُ بْنُ زَيْدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ نُفَيْلٍ وَسَمِعْتُ مُحَمَّدًا يَقُولُ
هُوَ أَصَحُّ مِنْ الْحَدِيثِ الْأَوَّلِ [34]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Shalih bin Mismar Al Marwazi telah
menceritakan kepada kami Ibnu Abu Fudaik dari Musa bin Ya'qub dari 'Umar bin
Sa'id dari Abdurrahman bin Humaid dari ayahnya dari Sa'id bin Zaid pernah
bercerita kepadanya mengenai beberapa orang (dikabarkan masuk surga),
Rasulullah ﷺ bersabda: "Sepuluh orang (akan) masuk surga, yaitu; Abu
Bakar masuk surga, Umar masuk surga, Utsman, Ali, Zubeir, Thalhah, Abdurrahman,
Abu Ubaidah dan Sa'ad bin Abi Waqash." Humaid berkata, "Jumlah mereka
baru sembilan, sedang yang kesepuluh Sa'id diam, " Maka sebagian orang
berkata; "Kami bersumpah atas nama Allah siapa yang kesepuluh wahai Abul
A'war!". Lalu Sa'id berkata; "Kalian telah bersumpah dengan nama
Allah kepadaku, (iya) Abu A'war masuk dalam syurga." Abu Isa berkata;
"Abu A'war adalah Sa'id bin Zaid bin 'Amru bin Nufail, dan aku mendengar
Muhammad berkata; "Hadits ini lebih shahih dari hadits yang pertama."
Di dalam kitab Mujam Thabarani Shaghir hadits
nomor 118 disebutkan orang-orang yang akan masuk surga: para nabi, orang
shidiq, orang yang syahid, orang tua, dan orang yang mengunjungi saudaranya
karena Allah;
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْجَعْدِ الْوَشَّاءُ
الْبَغْدَادِيُّ ، حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَكَّارِ بْنِ الرَّيَّانِ ،
حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ زِيَادٍ الْقُرَشِيُّ ، عَنِ أَبِي حَازِمٍ ، عَنْ
أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ :
أَلا أُخْبِرُكُمْ بِرِجَالِكُمْ فِي الْجَنَّةِ ؟ قَالُوا : بَلَى يَا رَسُولَ
اللهِ ، فَقَالَ : النَّبِيُّ فِي الْجَنَّةِ ، وَالصِّدِّيقُ فِي الْجَنَّةِ ،
وَالشَّهِيدُ فِي الْجَنَّةِ ، وَالْمَوْلُودُ فِي الْجَنَّةِ ، وَالرَّجُلُ يَزُورُ
أَخَاهُ فِي نَاحِيَةِ الْمِصْرِ لا يَزُورُهُ إِلَّالِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي
الْجَنَّةِ ، قَالَ : أَلا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ؟
قَالُوا : بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ ، قَالَ : كُلُّ وَلُودٌ وَدُودٌ ، إِذَا
غَضِبَتْ أَوْ أُسِيءَ إِلَيْهَا أَوْ غَضِبَ ، أَيْ زَوْجُهَا ، قَالَتْ : هَذِهِ
يَدِي فِي يَدِكَ لا أَكْتَحِلُ بِغُمْضٍ حَتَّى تَرْضَى" لَمْ يَرْوِهِ عَنْ
أَبِي حَازِمٍ سَلَمَةَ بْنِ دِينَارٍ الزَّاهِدِ ، إِلَّاإِبْرَاهِيمُ بْنُ
زِيَادٍ ، تَفَرَّدَ بِهِ ابْنُ بَكَّارٍ ، وَهُوَ مِمَّنْ يُكْنَى أَبَا حَازِمٍ
، مِمَّنْ رَوَى عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَبُو حَازِمٍ هَذَا ، وَقَدْ رَوَى عَنْ
سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ ، وَأَبُو حَازِمٍ التَّمَّارُ الْمَدَنِيُّ ، وَأَبُو حَازِمٍ
الأَشْجَعِيُّ الْكُوفِيُّ يَرْوِي عَنْهُ مَنْصُورٌ ، وَالأَعْمَشُ يُسَمَّى
مَيْسَرَةَ ، وَقَدِ اخْتُلِفَ فِي اسْمِهِ ، وَأَبُو حَازِمٍ ، الَّذِي رَوَى
عَنْهُ إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي خَالِدٍ ، اسْمُهُ نَبْتَلُ ، وَهُوَ كُوفِيُّ [35]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Al Ja’di Al Wasya’ Al Baghdadi, telah
menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Bakar ibnur Rayan, telah menceritakan
kepada kami Ibrahim ibnu Ziyad Al Qurasyi, dari Abi Hazim, dari Anas ibnu
Malik, dari Nabi Muhammad ﷺ, beliau bersabda: Maukah Kalian Aku kabari siapa
orang laki-laki yang masuk jannah, mereka berkata: tentu, ya Rasulullah, maka
beliau bersabda: Nabi-Nabi di jannah, Orang-orang shidiq di jannah, Orang-orang
syahid di jannah, bapak-bapak di jannah dan seseorang yang mengunjungi
saudaranya di tempat yang jauh, yang tidak mengunjunga kecuali karena Allah
‘Azza wa Jalla di jannah, beliaau bertanya; Maukah Aku kabari siapa perempuan
penduduk jannah, mereka berkata; tentu.. ya Rasulullah, beliau bersabda: Semua
Ibnu yang dengan cinta kasih, jika dimarahi atau mendapat keburukan atau marah,
yaitu suaminya, mereka berkata: tanganku
ini ada ditanganmu aku tidak memakai celak mata dengan samar-samar
hingga engkau ridha, hadits ini tidak diriwayatkan dari Abi Hazim Salamah ibnu
Dinar Az Zahid, kecuali Ibrahim ibnu Ziyad, sendirian ibnu Bakar, dan dia yang
dipanggil Aba Hazim, dari yang diriwayatkan Abi Hurairah,Abu Hazim ini, dan
telah diriwayatkan dari Sahl ibnu Sa’id, dan Abu Hazim at Tamar Al madani, dan
Abu hazm Al Asja’I Al kufi yang meriwayatkan dari Manshur, Dan A’masy yang
dipanggil Maisarah, da nada perselisihan dalam namanya, dan Abu Hazim, yang
meriwayatkan dari Isma’il ibnu Abi Khalid, namanya teruji dan dia orang Kufah.
Jannah yang disedikan untuk orang bertaqwa
mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak henti-henti sedang naungannya
(demikian pula), digambarkan di dalam Al Quran Surat Ar-Ra’d/ 13: 35;
مَثَلُ الْجَنَّةِ الَّتِي وُعِدَ الْمُتَّقُونَ ۖ
تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ أُكُلُهَا دَائِمٌ وَظِلُّهَا ۚ تِلْكَ
عُقْبَى الَّذِينَ اتَّقَوْا ۖ وَعُقْبَى الْكَافِرِينَ النَّارُ
Artinya: Perumpamaan jannah yang dijanjikan kepada orang-orang yang
takwa ialah (seperti taman); mengalir sungai-sungai di dalamnya; buahnya tak
henti-henti sedang naungannya (demikian pula). Itulah tempat kesudahan bagi
orang-orang yang bertakwa, sedang tempat kesudahan bagi orang-orang kafir ialah
neraka (HR. Ar-Ra’d/ 13: 35)
Bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan)
surga-surga yang penuh kenikmatan, disebutkan di dalam Al Quran Surat Al-Qalam/
68: 34;
إِنَّ لِلْمُتَّقِينَ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنَّاتِ
النَّعِيمِ
Artinya: Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa (disediakan)
surga-surga yang penuh kenikmatan di sisi Tuhannya. (HR. Al-Qalam/ 68: 34)
Sedangkan di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor
9696 dinyatakan bahwa yang paling banyak memasukkan seseorang ke dalam surga
adalah taqwa kepada Allah dan akhlaq yang mulia;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ قَالَ حَدَّثَنَا
دَاوُدُ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَكْثَرَ مَا يُدْخِلُ النَّاسَ النَّارَ
الْأَجْوَفَانِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْأَجْوَفَانِ قَالَ الْفَرْجُ
وَالْفَمُ قَالَ أَتَدْرُونَ أَكْثَرَ مَا يُدْخِلُ الْجَنَّةَ تَقْوَى اللَّهِ
وَحُسْنُ الْخُلُقِ [36]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Ubaid berkata;
telah menceritakan kepada kami Dawud dari bapaknya dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
"Sesungguhnya kebanyakkan yang menyebabkan manusia masuk neraka adalah dua
lubang, " para sahabat bertanya; "Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud
dengan dua lubang?" maka beliau bersabda: "Kemaluan dan mulut, "
beliau bersabda: "Tahukah kalian apa yang banyak memasukkan seseorang ke
dalam surga? taqwa kepada Allah dan akhlaq yang mulia."
Orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke
dalam surga berombong-rombongan, disebutkan di dalam Al Quran surat Az-Zumar
/39: 73;
وَسِيقَ ٱلَّذِينَ ٱتَّقَوْا۟ رَبَّهُمْ إِلَى ٱلْجَنَّةِ
زُمَرًا ۖ حَتَّىٰٓ إِذَا جَآءُوهَا وَفُتِحَتْ أَبْوَٰبُهَا وَقَالَ لَهُمْ
خَزَنَتُهَا سَلَـٰمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ فَٱدْخُلُوهَا خَـٰلِدِينَ
Artinya: Dan orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan dibawa ke dalam
surga berombong-rombongan (pula). Sehingga apabila mereka sampai ke surga itu
sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah kepada mereka
penjaga-penjaganya: "Kesejahteraan (dilimpahkan) atasmu. Berbahagialah
kamu! maka masukilah surga ini, sedang kamu kekal di dalamnya". (QS.
Az-Zumar /39: 73)
Di
dalam kitab Hilyatul Aulia atsar nomor 6003 dinyatakan bahwa Pembukaan taqwa
(kesalehan) adalah niat yang baik, dan puncaknya adalah mendapatkan
pertolongan;
حَدَّثَنَا أَبِي، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبَانَ،
ثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عُبَيْدٍ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ، ثنا
عَيَّاشُ بْنُ عَاصِمٍ الْكَلْبِيُّ، حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ صَدَقَةَ
الْكَيْسَانِيُّ، وَكَانَ يُقَالُ أَنَّهُ مِنَ الْأَبْدَالِ، قَالَ: قَالَ عَوْنُ
بْنُ عَبْدِ اللهِ: «فَوَاتِحَ التَّقْوَى حُسْنُ النِّيَّةِ، وَخَوَاتِيمُهَا
التَّوْفِيقُ، وَالْعَبْدُ فِيمَا بَيْنَ ذَلِكَ بَيْنَ هَلَكَاتٍ، وَشُبُهَاتٍ،
وَنَفْسٍ تَحْطِبُ عَلَى شِلْوِهَا، وَعَدُوٍّ مَكِيدٍ غَيْرِ غَافِلٍ وَلَا
عَاجِزٍ». ثُمَّ قَرَأَ: {إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ
عَدُوًّا} [فاطر: 6] [37]
Artinya: Ayahku telah meriwayatkan kepada kami; ia berkata: Ahmad bin
Aban telah meriwayatkan kepada kami; Abu Bakar bin Ubaid telah meriwayatkan
kepada kami; Muhammad bin al-Husain telah menceritakan kepadaku; Ayyasy bin
‘Ashim al-Kalbi telah meriwayatkan kepada kami; Sa‘id bin Shadaqah
al-Kaysani—yang dikatakan termasuk salah satu dari para Abdal—telah
menceritakan kepadaku, ia berkata: ‘Aun bin Abdillah berkata: “Permulaan dari
ketakwaan adalah baiknya niat, dan akhir dari ketakwaan adalah taufik dari Allah;
sementara seorang hamba berada di antara keduanya di hadapan berbagai
kebinasaan dan syubhat, dengan jiwa yang selalu mendorong kepada keburukan,
serta musuh yang penuh tipu daya, tidak pernah lengah dan tidak pula lemah.”
Kemudian ia membaca firman Allah Ta‘ala: “Sesungguhnya setan adalah musuh
bagimu, maka jadikanlah ia sebagai musuh.” (QS. Fathir: 6).
Berikut akan dikemukakan gambaran orang-orang yang
bertaqwa di tingkat jannah berdasar keterangan Al Quran dan Hadits;
5.1. Jannah Diwariskan Kepadamu Karena Amal Yang Telah
Dikerjakan
Di dalam Al Quran Surat Az-Zukhruf/ 51: 72,
dijelaskan bahwa itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal
yang dahulu kamu kerjakan;
وَتِلْكَ الْجَنَّةُ الَّتِي أُورِثْتُمُوهَا بِمَا
كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya: Dan
itulah surga yang diwariskan kepada kamu disebabkan amal-amal yang dahulu kamu
kerjakan.(HR. Az-Zukhruf/ 51: 72)
5.2. Masuklah Ke Dalam Surga Disebabkan Apa Yang Telah Kamu Kerjakan
Di dalam Al Quran Surat An-Nahl/ 16: 32,
dijelaskan masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu
kerjakan;
الَّذِينَ تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ طَيِّبِينَ
ۙ يَقُولُونَ سَلَامٌ عَلَيْكُمُ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya:
(yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat
dengan mengatakan (kepada mereka): "Salaamun'alaikum, masuklah kamu ke
dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan".(QS. An-Nahl/ 16:
32)
5.3. Barang Siapa Beramal Karena Mengharap Ridha Allah Akan Masuk Jannah
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22235
digambarkan barang siapa beramal karena mengharap ridha Allah akan masuk
jannah;
حَدَّثَنَا حَسَنٌ وَعَفَّانُ قَالَا حَدَّثَنَا
حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ عُثْمَانَ الْبَتِّيِّ عَنْ نُعَيْمٍ قَالَ عَفَّانُ
فِي حَدِيثِهِ ابْنِ أَبِي هِنْدٍ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ أَسْنَدْتُ النَّبِيَّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى صَدْرِي فَقَالَ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ قَالَ حَسَنٌ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا دَخَلَ
الْجَنَّةَ وَمَنْ صَامَ يَوْمًا ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ لَهُ بِهَا
دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ ابْتِغَاءَ وَجْهِ اللَّهِ خُتِمَ
لَهُ بِهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ [38]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Hasan dan 'Affan keduanya berkata; telah bercerita
kepada kami Hammad bin Salamah dari 'Utsman Al Batti dari Nu'aim berkata 'Affan
dalam haditsnya: Ibnu Abi Hind dari Hudzaifah bin Al Yaman berkata; Aku
sandarkan Nabi Shallallahu 'alaihi wa salam didadaku lalu beliau bersabda:
"Barangsiapa mengucapkan Laa Ilaaha Illallaah -berkata Hasan: karena
mencari- wajah Allah dan ia mati dengannya, ia masuk surga, barangsiapa puasa
sehari karena mencari wajah Allah dan ia mati dengannya, ia masuk surga dan
barangsiapa mensedekahkan sesuatu karena mencari wajah Allah dan ia mati
dengannya, ia masuk surga."
Di dalam Al Quran surat Al-'Ankabut/ 29: 6
dinyatakan bahwa barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu
adalah untuk dirinya sendiri;
وَمَنْ جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ
إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Artinya:
Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk
dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan
sesuatu) dari semesta alam.(QS. Al-'Ankabut/ 29: 6)
Di dalam Al Quran surat Al-Hajj/ 22: 78 disebutkan
perintah untuk berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang
sebenar-benarnya;
وَجَاهِدُوا فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ
اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ
إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ
الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا
الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ
الْمَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيرُ
Artinya:
Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.
Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam
agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah
menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam
(Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu
semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang,
tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah
Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.
Kesadaran
untuk bersedia berjihad di jalan Allah dapat terwujuda dalam benbagai bentuk
perjuangan, antara lain;
5.4.1. Tidak Akan Meminta Izin Untuk Tidak Ikut Berjihad Dengan Harta Dan
Dirinya
Di dalam Al Quran surat At-Taubah/ 9: 44
ditegaskan bahwa orang-orang beriman tidak akan meminta izin kepadamu untuk
tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka;
لَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَاللَّهُ
عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ
Artinya:
Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta
izin kepadamu untuk tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah
mengetahui orang-orang yang bertakwa.(QS. At-Taubah/ 9: 44)
5.4.2. Orang-Orang Yang Berjihad Akan Ditunjukkan Jalan Allah
Di dalam Al Quran surat Al-'Ankabut/ 29: 69,
ditegaskan bahwa orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami,
benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami;
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ
سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: Dan
orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar
beserta orang-orang yang berbuat baik.
5.4.3. Orang Yang Berjihad Adalah Orang-Orang Yang Beruntung
Di dalam Al Quran surat At-Taubah/ 9: 88
dinyatakan bahwa berjihad dengan harta dan diri akan memperoleh kebaikan, dan
keberuntungan;
لَكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ
جَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَأُولَئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ
وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya: Tetapi
Rasul dan orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta
dan diri mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan
mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Di dalam Al Quran surat Al-Maidah/ 5: 35
dinyatakan bahwa bertaqwa, mendekatkan diri kepada Allah dan berjihad akan
mendapatkan keberuntungan;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَةَ وَجَاهِدُوا فِي سَبِيلِهِ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُونَ
Artinya: Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang
mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu
mendapat keberuntungan.
5.4.4. Orang Yang Berjihad Dengan Harta Dan Jiwa: Orang Yang Benar
Di dalam Al Quran surat Al-Hujurat/ 49: 15
digambarkan bahwa orang yang benar adalah orang-orang yang percaya (beriman)
kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang
(berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah;
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ
وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ
فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
Artinya: Sesungguhnya
orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada
Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang
(berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah
orang-orang yang benar.
5.4.5. Allah Memuliakan Orang Yang Berjihad Di Jalan Allah
Di dalam Al Quran surat An-Nisa'/ 4: 95 dinyatakan
bahwa Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan
pahala yang besar;
لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ
وَأَنْفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ
عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَى وَفَضَّلَ
اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا
Artinya: Tidaklah
sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai
'uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan
jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya
atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah
menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang
berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar,(QS. An-Nisa'/ 4: 95)
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2786
dinyatakan bahwa manusia yang paling utama adalah orang yang berjihad dengan
jiwa dan hartanya di jalan Allah;
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ
عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي عَطَاءُ بْنُ يَزِيدَ اللَّيْثِيُّ أَنَّ
أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حَدَّثَهُ قَالَ قِيلَ يَا
رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُؤْمِنٌ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ
قَالُوا ثُمَّ مَنْ قَالَ مُؤْمِنٌ فِي شِعْبٍ مِنْ الشِّعَابِ يَتَّقِي اللَّهَ
وَيَدَعُ النَّاسَ مِنْ شَرِّهِ [39]
Artinya: Telah
bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari
Az Zuhriy berkata telah bercerita kepadaku 'Atha' bin Yazid Al Laitsiy bahwa
Abu Sa'id Al Khudriy radliallahu 'anhu bercerita kepadanya, katanya:
"Ditanyakan kepada Rasulullah, siapakh manusia yang paling utama?"
Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Seorang mu'min yang berjihad di jalan Allah
dengan jiwa dan hartanya". Mereka bertanya lagi: "Kemudian siapa
lagi?" Beliau menjawab: "Seorang mu'min yang tinggal diantara bukit
dari suatu pegunungan dengan bertaqwa kepada Allah dan meninggalkan manusia
dari keburukannya".
Di dalam kitab kitab Shahih Bukhari hadits nomor
132, 2810 dan 7458, dinyatakan bahwa 'Barangsiapa yang berperang agar kalimat
Allah menjadi yang tertinggi, maka ia berada di jalan Allah 'Azza wa Jalla;
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ قَالَ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ عَنْ
مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا
الْقِتَالُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَإِنَّ أَحَدَنَا يُقَاتِلُ غَضَبًا وَيُقَاتِلُ
حَمِيَّةً فَرَفَعَ إِلَيْهِ رَأْسَهُ قَالَ وَمَا رَفَعَ إِلَيْهِ رَأْسَهُ
إِلَّا أَنَّهُ كَانَ قَائِمًا فَقَالَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ
هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ [40]
Artinya: Utsman bercerita kepada kami, telah
mengabarkan kepada kami Jarir dari Mansur dari Abu Wa'il dari Abu Musa, ia
berkata: "Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, 'Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan berperang di
jalan Allah? Karena salah seorang dari kami berperang karena marah dan
berperang karena semangat kesukuan.' Maka Nabi ﷺ mengangkat kepalanya dan berkata, 'Barangsiapa yang berperang agar kalimat
Allah menjadi yang tertinggi, maka ia berada di jalan Allah 'Azza wa
Jalla.'"
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا
شُعْبَةُ عَنْ عَمْرٍو عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَقَالَ الرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلْمَغْنَمِ وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِلذِّكْرِ
وَالرَّجُلُ يُقَاتِلُ لِيُرَى مَكَانُهُ فَمَنْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ مَنْ
قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ [41]
Artinya: Diriwayatkan dari Sulaiman bin Harb,
dari Syu'bah, dari 'Amr, dari Abu Wa'il, dari Abu Musa radhiyallahu 'anhu, ia
berkata: Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan
berkata: "Seseorang berperang untuk mendapatkan harta rampasan, seseorang
berperang untuk mendapatkan nama, dan seseorang berperang untuk menunjukkan
kedudukannya. Maka siapakah yang berada di jalan Allah?" Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang berperang agar kalimat Allah
menjadi yang tertinggi, maka dia berada di jalan Allah."
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ حَدَّثَنَا
سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي وَائِلٍ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ جَاءَ
رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ الرَّجُلُ
يُقَاتِلُ حَمِيَّةً وَيُقَاتِلُ شَجَاعَةً وَيُقَاتِلُ رِيَاءً فَأَيُّ ذَلِكَ
فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَالَ مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِيَ
الْعُلْيَا فَهُوَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
Artinya: Diriwayatkan dari Muhammad bin Katsir,
dari Sufyan, dari Al-A'masy, dari Abu Wa'il, dari Abu Musa, ia berkata: Seorang
laki-laki datang kepada Nabi ﷺ dan berkata:
"Seseorang berperang karena hamiyyah (fanatisme), seseorang berperang
karena keberanian, dan seseorang berperang karena riya (ingin dilihat orang).
Maka yang manakah di antara itu yang berada di jalan Allah?" Nabi
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barangsiapa yang berperang agar
kalimat Allah menjadi yang tertinggi, maka dia berada di jalan Allah."
5.4.7. Mujahid Adalah Orang Yang Berjihad Melawan Dirinya Sendiri Di Jalan
Allah
Di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 312
dinyatakan bahwa Mujahid adalah orang yang berjihad melawan dirinya sendiri di
jalan Allah;
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
الْجُنَيْدِ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ الْعَتَكِيُّ،
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ، عَنْ حَيْوَةَ بْنِ شُرَيْحٍ، حَدَّثَنِي أَبُو هَانِئٍ
الْخَوْلَانِيُّ، أَنَّهُ سَمِعَ عَمْرَو بْنَ مَالِكٍ الْجَنْبِيَّ، يَقُولُ:
سَمِعْتُ فَضَالَةَ بْنَ عُبَيْدٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «الْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي
اللَّهِ [42] »
Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Muhammad
bin Abdullah bin al-Junaid, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abdul
Warits bin Ubaidillah al-'Ataki, dari Abdullah, dari Huywah bin Syuraih, ia
berkata: Telah menceritakan kepadaku Abu Hani' al-Khaulani bahwa ia mendengar
'Amr bin Malik al-Janbi berkata: Aku mendengar Fadhalah bin 'Ubaid berkata: Aku
mendengar Rasulullah sﷺ bersabda: "Mujahid
adalah orang yang berjihad melawan dirinya sendiri di jalan Allah."
5.4.8. Berjihad Merupakan Perniagaan Yang Menguntungkan
Di dalam Al Quran surat Ash-Shaff/ 61: 10-11
dinyatakan bahwa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah
dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ
عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ
ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ, تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ
وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ
ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya: Hai
orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang
dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah
dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang
lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.(QS. Ash-Shaff/ 61: 10-11)
Di dalam Al Quran surat . At-Taubah/ 9: 20
dinyatakan bahwa orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan
diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah;
الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي
سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللَّهِ
وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
Artinya: orang-orang
yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda
dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah
orang-orang yang mendapat kemenangan.(QS. At-Taubah/ 9: 20)
5.4.10. Allah Tertawa Melihat Orang Yang membunuh Dan Terbunuh Dalam Jihad
Keduanya Masuk Jannah
Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 1890 digambarkan bahwa
Allah tertawa terhadap dua orang yang saling membunuh, namun keduanya masuk
surga;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ رَافِعٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ
الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ هَمَّامِ بْنِ مُنَبِّهٍ قَالَ هَذَا مَا
حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَذَكَرَ أَحَادِيثَ مِنْهَا وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَضْحَكُ اللَّهُ لِرَجُلَيْنِ يَقْتُلُ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ
كِلَاهُمَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ قَالُوا كَيْفَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ
يُقْتَلُ هَذَا فَيَلِجُ الْجَنَّةَ ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَى الْآخَرِ
فَيَهْدِيهِ إِلَى الْإِسْلَامِ ثُمَّ يُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
فَيُسْتَشْهَدُ [43]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Rafi' telah menceritakan kepada kami
Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Hammam bin Munabbih dia
berkata; ini sebagaimana yang pernah diceritakan oleh Abu Hurairah kepada kami
dari Rasulullah ﷺ, lalu dia menyebutkan beberapa hadits yang di antaranya adalah,
"Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah tertawa terhadap dua orang yang saling
membunuh, namun keduanya masuk surga." Para sahabat bertanya,
"Bagaimana hal itu bisa terjadi wahai Rasulullah?" beliau menjawab:
"Seseorang terbunuh kemudian dia masuk surga, kemudian Allah menerima
taubatnya si pembunuh dan menunjukinya untuk masuk Islam, setelah itu dia
berjihad di jalan Allah dan akhirnya mati syahid."
Di dalam kitab Mustadrak Hakim hadits
nomor 68 digambarkan bahwa orang yang apabila suatu golongan terbuka
(kejahatannya) maka dia memerangi di belakangnya sendirian semata-mata karena
Allah;
حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ أَحْمَدُ بْنُ يَعْقُوبَ
الثَّقَفِيُّ، ثنا يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ
الْمُقَدَّمِيُّ، ثنا فُضَيْلُ بْنُ سُلَيْمَانَ، ثنا مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ، ثنا
عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ سَلْمَانَ الْأَغَرُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي
الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " ثَلَاثَةٌ يُحِبُّهُمُ اللَّهُ وَيَضْحَكُ إِلَيْهِمُ:
الَّذِي إِذَا تَكَشَّفَ فِئَةً قَاتَلَ وَرَاءَهَا بِنَفْسِهِ لِلَّهِ عَزَّ
وَجَلَّ. هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ وَقَدِ احْتَجَّا بِجَمِيعِ رُوَاتِهِ وَلَمْ
يُخَرِّجَاهُ إِنَّمَا خَرَّجَا فِي هَذَا الْبَابِ حَدِيثَ أَبِي الزِّنَادِ،
عَنْ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ «يَضْحَكُ اللَّهُ إِلَى رَجُلَيْنِ» الْحَدِيثُ
فِي الْجِهَادِ[44]
Abu
Sa'id Ahmad bin Ya'qub Ats-Tsaqafi menceritakan kepada kami, Yusuf bin Ya'qub
menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abu Bakar Al Maqdami menceritakan kepada
kami, Fudhail bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Musa bin Uqbah
menceritakan kepada kami, Ubaidillah bin Salman Al Aghar menceritakan kepada
kami dari ayahnya, dari Abu Ad-Darda ,dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, "Ada tiga orang yang Allah cintai dan tertawa
terhadap mereka, (yaitu) orang yang apabila suatu golongan terbuka
(kejahatannya) maka dia memerangi di belakangnya sendirian semata-mata karena
Allah Azza wa Jalla." Hadis ini shahih. Al Bukhari dan Muslim sama-sama
berhujjah dengan seluruh periwayatnya, tapi keduanya tidak meriwayatkannya.
Dalam bab ini Al Bukhari dan Muslim hanya meriwayatkannya dari hadis Abu
Az-Zinad, dari Al A'raj, dari Abu Hurairah , dari Nabi ﷺ, (beliau bersabda), يَضْحَكُ اللَّهُ إِلَى رَجُلَيْنِ "Allah tertawa terhadap dua orang laki-laki." Hadis
ini disebutkan dalam bab jihad. (HR. Hakim: 68)
Di dalam kitab Shahih Muslim 1731 digambarkan wasiat untuk bertakwa kepada
Allah dan berbuat baik kepada kaum Muslimin yang bersamanya. 'Berperanglah
dengan nama Allah di jalan Allah;
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ
حَدَّثَنَا وَكِيعُ بْنُ الْجَرَّاحِ عَنْ سُفْيَانَ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ
إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ
أَمْلَاهُ عَلَيْنَا إِمْلَاءً ح و حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ هَاشِمٍ
وَاللَّفْظُ لَهُ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ يَعْنِي ابْنَ مَهْدِيٍّ
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ مَرْثَدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ
بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِذَا أَمَّرَ أَمِيرًا عَلَى جَيْشٍ أَوْ سَرِيَّةٍ أَوْصَاهُ فِي
خَاصَّتِهِ بِتَقْوَى اللَّهِ وَمَنْ مَعَهُ مِنْ الْمُسْلِمِينَ خَيْرًا ثُمَّ
قَالَ اغْزُوا بِاسْمِ اللَّهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ
بِاللَّهِ اغْزُوا وَلَا تَغُلُّوا وَلَا تَغْدِرُوا وَلَا تَمْثُلُوا وَلَا
تَقْتُلُوا وَلِيدًا... [45]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah, ia berkata: Telah
menceritakan kepada kami Waki' bin Jarrah dari Sufyan. (Juga) telah
menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim, ia berkata: Telah mengabarkan
kepada kami Yahya bin Adam, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sufyan
yang membacakannya kepada kami. (Juga) telah menceritakan kepada saya Abdullah
bin Hashim, dan lafazhnya adalah darinya, ia berkata: Telah menceritakan kepada
saya Abdurrahman bin Mahdi dari Sufyan dari 'Alqamah bin Martsad dari Sulaiman
bin Buraidah dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah ﷺ, ketika
mengangkat seorang pemimpin untuk memimpin pasukan atau satuan kecil, beliau
memberi wasiat khusus kepadanya untuk bertakwa kepada Allah dan berbuat baik
kepada kaum Muslimin yang bersamanya. Kemudian beliau bersabda: 'Berperanglah
dengan nama Allah di jalan Allah. Perangilah orang-orang yang kafir kepada
Allah. Berperanglah, dan jangan berkhianat, jangan melanggar perjanjian, jangan
menyiksa (musuh), dan jangan membunuh anak kecil.'
Di dalam Al Quran Surat Ali ‘Imran/ 3: 142, ditanyakan
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, dengan memenuhi syarat
berjihad dan bersabar;
اَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا
يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ
Artinya: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk Surga, padahal
belum nyata bagi Allah orang-orang yang berjihad di antara kamu, dan belum
nyata orang-orang yang sabar.”(QS. Ali ‘Imran/ 3: 142)
Untuk mengetahui kesungguhan dalam dalam berjihad dan bersabar, Allah memberikan ujian,
sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran surat Muhammad/ 47: 31;
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ
مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ
Artinya: Dan
sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui
orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, dan agar Kami menyatakan
(baik buruknya) hal ihwalmu.(QS. Muhammad/ 47: 31)
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits
nomor 9419 dan kitab Mustadrak Hakim hadits nomor 309 dinyatakan bahwa
barangsiapa datang ke masjidku ini, ia tidak datang kecuali untuk suatu
kebaikan yang ia pelajari, maka ia seperti seorang mujahid fi sabilillah;
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ قَالَ حَدَّثَنَا حَاتِمُ بْنُ
إِسْمَاعِيلَ عَنْ حُمَيْدٍ الْخَرَّاطِ عَنِ الْمَقْبُرِيِّ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ
جَاءَ مَسْجِدِي هَذَا لَمْ يَأْتِ إِلَّا لِخَيْرٍ يَتَعَلَّمُهُ فَهُوَ
بِمَنْزِلَةِ الْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَنْ جَاءَ لِغَيْرِ ذَلِكَ
فَهُوَ بِمَنْزِلَةِ رَجُلٍ يَنْظُرُ إِلَى مَتَاعِ غَيْرِهِ [46]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Qutaibah berkata; telah menceritakan kepada kami Hatim
bin Isma'il dari Humaid Al Kharrath dari Al Maqburi dari Abu Hurairah berkata;
Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa datang ke masjidku ini, ia tidak
datang kecuali untuk suatu kebaikan yang ia pelajari, maka ia seperti seorang
mujahid fi sabilillah. Dan barangsiapa datang bukan untuk tujuan itu, maka ia
seperti seorang yang melihat harta milik orang lain."
حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ
يَعْقُوبَ، أَنْبَأَ مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الْحَكَمِ،
أَنْبَأَ ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنَا أَبُو صَخْرٍ، عَنْ سَعِيدٍ الْمَقْبُرِيِّ،
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ:
" مَنْ جَاءَ مَسْجِدَنَا هَذَا يَتَعَلَّمُ خَيْرًا أَوْ يُعَلِّمُهُ فَهُوَ
كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَنْ جَاءَ بِغَيْرِ هَذَا كَانَ
كَالرَّجُلِ يَرَى الشَّيْءَ يُعْجِبُهُ وَلَيْسَ لَهُ وَرُبَّمَا قَالَ: يَرَى
الْمُصَلِّينَ وَلَيْسَ مِنْهُمْ، وَيَرَى الذَّاكِرِينَ وَلَيْسَ مِنْهُمْ [47]
Artinya: Abu Al
Abbas Muhammad bin Ya'qub menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin
Abdul Hakam mengabarkan kepada kami, Ibnu Wahab mengabarkan kepada kami, Abu
Shakhr mengabarkan kepada kami dari Sa'id Al Maqburi, dari Abu Hurairah, dari
Nabi ﷺ, beliau bersabda, ”Barangsiapa mendatangi
masjid kami ini untuk mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka dia
seperti orang yang berjihad di jalan Allah. (Sedangkan) barangsiapa datang
untuk selain tujuan ini, maka dia seperti orang yang melihat sesuatu yang
membuatnya kagum tapi bukan miliknya." Terkadang beliau bersabda, ”Seperti
orang yang melihat orang-orang sedang shalat, tapi dia sendiri tidak termasuk
dari mereka (tidak ikut shalat). (Juga) seperti orang yang melihat orang- orang
yang sedang berdzikir, tapi dia sendiri tidak termasuk dari mereka"
5.4.15. Di Dunia Tidak Ada Yang Bernilai Sedikit Pun, Kecuali Orang Yang Mati
Syahid
Di dalam kitab Shahih
Bukhari hadits nomor 2817 dinyatakan bahwa di dunia tidak ada yang bernilai
sedikit pun, kecuali orang yang mati syahid;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا
غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ
بْنَ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ مَا أَحَدٌ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يُحِبُّ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى
الدُّنْيَا وَلَهُ مَا عَلَى الْأَرْضِ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا الشَّهِيدُ يَتَمَنَّى
أَنْ يَرْجِعَ إِلَى الدُّنْيَا فَيُقْتَلَ عَشْرَ مَرَّاتٍ لِمَا يَرَى مِنْ
الْكَرَامَةِ [48]
Artinya: Telah bercerita kepada kami Muhammad bin Basysyar telah
bercerita kepada kami Ghundar telah bercerita kepada kami Syu'bah berkata aku
mendengar Qatadah berkata aku mendengar Anas bin Malik radliallahu 'anhu dari
Nabi ﷺ bersabda: "Tidak seorangpun yang masuk surga namun dia suka untuk kembali
ke dunia, karena menurutnya di dunia tidak ada yang bernilai sedikit pun,
kecuali orang yang mati syahid dimana dia berkeinginan untuk kembali ke dunia
kemudian berperang lalu terbunuh hingga sepuluh kali karena dia melihat
keistimewaan karamah (mati syahid). (HR. Bukhari: 2606)
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22110
dinyatakan bahwa barangsiapa meminta mati syahid pada Allah dengan tulus, Allah
akan memberinya pahala mati syahid meski ia meninggal di atas kasurnya;
حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي أَبِي
حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ يَحْيَى الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا ابْنُ ثَوْبَانَ عَنْ
أَبِيهِ عَنْ مَكْحُولٍ عَنْ كَثِيرِ بْنِ مُرَّةَ عَنْ مَالِكِ بْنِ يَخَامِرَ
السَّكْسَكِيِّ قَالَ سَمِعْتُ مُعَاذًا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ جُرِحَ جُرْحًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ جَاءَ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ لَوْنُهُ لَوْنُ الزَّعْفَرَانِ وَرِيحُهُ رِيحُ الْمِسْكِ عَلَيْهِ
طَابَعُ الشُّهَدَاءِ وَمَنْ سَأَلَ اللَّهَ الشَّهَادَةَ مُخْلِصًا أَعْطَاهُ
اللَّهُ أَجْرَ شَهِيدٍ وَإِنْ مَاتَ عَلَى فِرَاشِهِ وَمَنْ قَاتَلَ فِي سَبِيلِ
اللَّهِ فُوَاقَ نَاقَةٍ وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ [49]
Artinya: Telah
bercerita kepada kami 'Abdullah telah bercerita kepadaku ayahku. telah
bercerita kepada kami Zaid bin Yahya Ad Dimasyqi telah bercerita kepada kami
Ibnu Tsauban dari ayahnya dari Makhul dari Katsir bin Murrah dari Malik bin
Yakhamir As Saksaki berkata; Saya mendengar Mu'adz bin Jabal berkata;
Rasulullah ﷺ bersabda; "Barangsiapa terluka
dijalan Allah akan datang pada hari kiamat, warnanya seperti za'faran dan
baunya seperti kesturi, terdapat stempel syuhada' padanya. Barangsiapa meminta
mati syahid pada Allah dengan tulus, Allah akan memberinya pahala mati syahid
meski ia meninggal diatas kasurnya dan barangsiapa berperang dijalan Allah
selama waktu memeras susu unta maka ia wajib mendapatkan surga."
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2790
ditegaskan bahwa sesungguhnya di surga itu ada seratus derajat (kedudukan) yang
Allah menyediakannya untuk para mujahid di jalan Allah dimana jarak derajat
antara keduanya seperti jarak antara langit dan bumi;
حَدَّثَنَا يَحْيَى
بْنُ صَالِحٍ حَدَّثَنَا فُلَيْحٌ عَنْ هِلَالِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ
يَسَارٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَبِرَسُولِهِ وَأَقَامَ
الصَّلَاةَ وَصَامَ رَمَضَانَ كَانَ حَقًّا عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ
الْجَنَّةَ جَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ جَلَسَ فِي أَرْضِهِ الَّتِي وُلِدَ
فِيهَا فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ أَفَلَا نُبَشِّرُ النَّاسَ قَالَ إِنَّ فِي
الْجَنَّةِ مِائَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللَّهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ
اللَّهِ مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَإِذَا
سَأَلْتُمُ اللَّهَ فَاسْأَلُوهُ الْفِرْدَوْسَ فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الْجَنَّةِ
وَأَعْلَى الْجَنَّةِ أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ وَمِنْهُ تَفَجَّرُ
أَنْهَارُ الْجَنَّةِ قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ فُلَيْحٍ عَنْ أَبِيهِ وَفَوْقَهُ
عَرْشُ الرَّحْمَنِ [50]
Artinya: Telah bercerita kepada kami Yahya bin Shalih telah bercerita kepada kami Fulaih dari Hilal bin 'Ali dari 'Atha' bin asar dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa yang beriman kepada Allah, menegakkan shalat, berpuasa bulan ramadhan, maka sudah pasti Allah akan memasukkannya kedalam surga, baik apakah dia berjihad di jalan Allah atau dia hanya duduk tinggal di tempat di mana dia dilahirkan". Mereka bertanya: "Wahai Rasulullah, apakah tidak sebaiknya kami sampaikan berita gembira ini kepada orang-orang?" Beliau ﷺ bersabda: "Sesungguhnya di surga itu ada seratus derajat (kedudukan) yang Allah menyediakannya buat para mujahid di jalan Allah dimana jarak antara dua derajat seperti jarak antara langit dan bumi. Untuk itu bila kalian minta kepada Allah maka mintalah surga firdaus karena dia adalah tengahnya surga dan yang paling tinggi. Aku pernah diperlihatkan bahwa diatas firdaus itu adalah singgasanannya Allah Yang Maha Pemurah dimana darinya mengalir sungai-sungai surga". Berkata Muhammad bin Fulaih dari bapaknya: "Diatasnya adalah singgasanannya Allah Yang Maha Pemurah."
Dalam
kitab Shahih Muslim hadits nomor 1884, ditegaskan bahwa Dengan Jihad di Jalan
Allah seorang hamba akan diangkat derajatnya di surga sebanyak seratus derajat;
حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ
اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ حَدَّثَنِي أَبُو هَانِئٍ الْخَوْلَانِيُّ عَنْ أَبِي عَبْدِ
الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَا أَبَا سَعِيدٍ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ
رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ نَبِيًّا وَجَبَتْ لَهُ الْجَنَّةُ
فَعَجِبَ لَهَا أَبُو سَعِيدٍ فَقَالَ أَعِدْهَا عَلَيَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ
فَفَعَلَ ثُمَّ قَالَ وَأُخْرَى يُرْفَعُ بِهَا الْعَبْدُ مِائَةَ دَرَجَةٍ فِي
الْجَنَّةِ مَا بَيْنَ كُلِّ دَرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ
قَالَ وَمَا هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ [51]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Sa'id bin Manshur] telah menceritakan kepada kami
[Abdullah bin Wahb] telah menceritakan kepadaku [Abu Hani`Al Khaulani] dari
[Abu Abdirrahman Al Hubuli] dari [Abu Sa'id Al Khudri], bahwa Rasulullah ﷺ pernah bersabda kepadanya: "Wahai Abu Sa'id,
barangsiapa ridla Allah sebagai Rabbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad
sebagai Nabinya, maka ia pasti masuk surga." Abu Sa'id takjub serya
berkata, "Wahai Rasulullah, sudikah anda mengulanginya lagi untukku?"
Beliau pun mengulanginya, kemudian beliau melanjutkan: "Dan ada satu
amalan yang dengannya seorang hamba akan diangkat derajatnya di surga sebanyak
seratus derajat, antara derajat satu dengan derajat yang lain seperti jarak antara
langit dan bumi." Abu Sa'id berkata, "Amalan apakah itu wahai
Rasulullah?" Beliau menjawab: "Jihad di jalan Allah, Jihad di jalan
Allah."
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 7457
ditegaskan bahwa Allah menjamin bagi siapa yang berjihad di jalan-Nya, yang
tidaklah ia berangkat selain benar-benar untuk berjihad di jalan-Nya dan
membenarkan kalimat-Nya, bahwa Dia akan memasukkannya dalam surga;
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ
أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَكَفَّلَ اللَّهُ لِمَنْ جَاهَدَ فِي
سَبِيلِهِ لَا يُخْرِجُهُ إِلَّا الْجِهَادُ فِي سَبِيلِهِ وَتَصْدِيقُ
كَلِمَاتِهِ بِأَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ يَرْجِعَهُ إِلَى مَسْكَنِهِ
الَّذِي خَرَجَ مِنْهُ مَعَ مَا نَالَ مِنْ أَجْرٍ أَوْ غَنِيمَةٍ [52]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ismail telah menceritakan kepadaku Malik dari Abu
Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah menjamin bagi siapa yang berjihad di jalan-Nya, yang
tidaklah ia berangkat selain benar-benar untuk berjihad di jalan-Nya dan
membenarkan kalimat-Nya, bahwa Dia akan memasukkannya dalam surga atau Ia akan
mengembalikannya ke tempat tinggalnya yang ia tinggalkan beserta yang
diperolehnya berupa pahala dan ghanimah."
5.5. Sedikit Tidur Dan Banyak Memohon Ampun
Di dalam Al Quran surat Adz Dzariyat/ 51: 15-18
digambarkan bahwa calon penghuni Jannah adalah orang bertakwa yang sedikit
tidur dan banyak beristighfar di waktu sahur;
إِنَّ الْمُتَّقِينَ فِي جَنَّاتٍ وَعُيُونٍ ﴿١٥﴾
آخِذِينَ مَا آتَاهُمْ رَبُّهُمْ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَبْلَ ذَٰلِكَ مُحْسِنِينَ
﴿١٦﴾ كَانُوا قَلِيلًا مِّنَ اللَّيْلِ مَا يَهْجَعُونَ ﴿١٧﴾ وَبِالْأَسْحَارِ
هُمْ يَسْتَغْفِرُونَ ﴿١٨﴾
Artinya:
Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu berada dalam taman-taman (surga)
dan mata air-mata air, sambil menerima segala pemberian Rabb mereka.
Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat
kebaikan. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. Dan selalu
memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. (QS. Adz Dzariyat/ 51: 15-18)
Sedangkan di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi
Hadits nomor 4745 dinyatakan bahwa tidur merupakan saudaranya mati, sedangkan
penduduk surga tidak mati;
حَدَّثَنَا أَبُو الْحَسَنِ مُحَمَّدُ بْنُ
الْحُسَيْنِ الْعَلَوِيُّ، أنا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْحَسَنِ بْنِ
الشَّرْقِيِّ، نا عَبْدُ اللهِ بْنُ هَاشِمٍ، نا مُعَاذُ بْنُ مُعَاذٍ
الْعَنْبَرِيُّ، نا سُفْيَانُ، -[410]- عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ، عَنْ
جَابِرٍ، قَالَ: سَأَلَ رَجُلٌ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَيَنَامُ أَهْلُ الْجَنَّةِ؟ قَالَ: " النَّوْمُ أَخُو الْمَوْتِ، وَلَا
يَمُوتُ أَهْلُ الْجَنَّةِ [53] "
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abu Al hasan Muhammad ibnu husain Al Alawi,
telah mengabarkan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad ibnu Al Hasan ibnu Asy
Syarqi, telah mengababarkan kepada kami Abdullah ibnu Hasyim, telah mengabarkan
kepada kami Mu’adz ibnu Muadz Al ‘Anbari, telah mengabarkan kepada kami Sufyan
(410) dari Muhammad ibnu Al Munkadir, dari Jabir, berkata: “Seorang laki-laki
bertanya kepada Rasulullah ﷺ, Apakah penduduk Surga tidur ? Rasulullah ﷺ menjawab: “Tidur itu saudaranya mati, dan penduduk Surga tidak mati.”
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 17130,
dijelaskan bahwa siapa yang membaca sayyidul istighfar pada waktu pagi hari
dalam keadaan beriman dengannya, lalu dia mati pada hari itu, maka dia termasuk
dari penduduk surga. Barangsiapa yang telah membacanya pada waktu sore dalam
keadaan beriman dengannya lalu dia mati pada malamnya, maka dia termasuk dari
penduduk surga ;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي عَدِيٍّ حَدَّثَنَا
حُسَيْنٌ يَعْنِي الْمُعَلِّمَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ بُشَيْرِ
بْنِ كَعْبٍ عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَيِّدُ الِاسْتِغْفَارِ اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّي لَا
إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ خَلَقْتَنِي وَأَنَا عَبْدُكَ وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ
وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ أَبُوءُ لَكَ
بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ وَأَبُوءُ لَكَ بِذَنْبِي فَاغْفِرْ لِي إِنَّهُ لَا يَغْفِرُ
الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ قَالَ مَنْ قَالَهَا بَعْدَمَا يُصْبِحُ مُوقِنًا بِهَا
فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ وَمَنْ قَالَهَا بَعْدَمَا
يُمْسِي مُوقِنًا بِهَا فَمَاتَ مِنْ لَيْلَتِهِ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ [54]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abu 'Adi] telah menceritakan kepada kami
[Husain] yaitu Al Mu'allim dari [Abdullah bin Buraidah] dari [Busyair bin
Ka'ab] dari [Syaddad bin Aus] berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Sayidul istighfar yaitu: Ya Allah engkau adalah Rabku, tidak
ada ilah kecuali Engkau. Engkau telah menciptakanku dan saya adalah hamba-Mu.
Saya berada pada perjanjian-Mu dan ancaman-Mu semaksimal kemampuan saya. Saya
berlindung kalian-MU dari kejelekan yang telah saya perbuat, saya kembali
kepada-Mu dengan nikmat-Mu kepadaku. Saya mengadu kepada-Mu dengan dosaku.
Ampunilah aku, sesungguhnya tidak ada yang mengampuni dosa kecuali Engkau.
(Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam) bersabda: "Barangsiapa yang
mengatakannya pada waktu pagi hari dalam keadaan beriman dengannya, lalu dia
mati pada hari itu, maka dia termasuk dari penduduk surga. Barangsiapa yang
telah membacanya pada waktu sore dalam keadaan beriman dengannya lalu dia mati
pada malamnya, maka dia termasuk dari penduduk surga.
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 7199 digambarkan bahwa untuk mentaati
Allah dan Rasul-Nya juga harus disertai rasa tidak takut terhadap celaan orang
yang mencela;
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ
يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ قَالَ أَخْبَرَنِي عُبَادَةُ بْنُ الْوَلِيدِ أَخْبَرَنِي
أَبِي عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي الْمَنْشَطِ
وَالْمَكْرَهِ وَأَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ وَأَنْ نَقُومَ أَوْ
نَقُولَ بِالْحَقِّ حَيْثُمَا كُنَّا لَا نَخَافُ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ [55]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ismail telah menceritakan kepadaku Malik dari Yahya
bin Sa'id mengatakan, telah mengabarkan kepadaku 'Ubadah bin Al Walid telah
mengabarkan kepadaku Ayahku dari Ubadah bin Ash Shamit mengatakan; 'kami
berbai'at kepada Rasulullah ﷺ untuk mendengar dan
taat, baik ketika giat (semangat) maupun malas, dan untuk tidak menggulingkan
kekuasaan dari orang yang berwenang terhadapnya, dan menegakkan serta
mengucapkan kebenaran dimana saja kami berada, kami tidak khawatir dijalan
Allah terhadap celaan orang yang mencela.'
Di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban nomor 812
dinyatakan Siapa yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dengan keikhlasan
penuh dari hatinya, niscaya ia masuk surga;
أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ
الْحُسَيْنِ الْعَسْكَرِيُّ بِالرَّقَّةِ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدَانُ بْنُ
مُحَمَّدٍ الْوَكِيلُ، قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي زَائِدَةَ، عَنْ
سُفْيَانَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، عَنْ جَابِرٍ، أَنَّ مُعَاذًا: لَمَّا
حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ، قَالَ: اكْشِفُوا عَنِّي سِجْفَ الْقُبَّةِ، سَمِعْتُ
رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: مَنْ شَهِدَ أَنْ
لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ مُخْلِصًا مِنْ قَلْبِهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ. قَالَ
أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: قَوْلُهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: دَخَلَ الْجَنَّةَ يُرِيدُ بِهِ جَنَّةً دُونَ جُنَّةٍ لأَنَّهَا
جِنَانٌ كَثِيرَةٌ، فَمَنْ أَتَى بِالإِقْرَارِ الَّذِي هُوَ أَعْلَى شُعَبِ
الإِيمَانِ، وَلَمْ يُدْرِكِ الْعَمَلَ ثُمَّ مَاتَ، أُدْخِلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ
أَتَى بَعْدَ الإِقْرَارِ مِنَ الأَعْمَالِ قَلَّ أَوْ كَثُرَ، أُدْخِلَ
الْجَنَّةَ، جَنَّةً فَوْقَ تِلْكَ الْجَنَّةِ، لأَنَّ مَنْ كَثُرَ عَمَلُهُ
عَلَتْ دَرَجَاتُهُ، وَارْتَفَعَتْ جَنَّتُهُ، لاَ أَنَّ الْكُلَّ مِنَ
الْمُسْلِمِينَ يَدْخُلُونَ جَنَّةً وَاحِدَةً، وَإِنْ تَفَاوَتَتْ أَعْمَالُهُمْ
وَتَبَايَنَتْ، لأَنَّهَا جِنَانٌ كَثِيرَةٌ لاَ جَنَّةٌ وَاحِدَةٌ.[56]
Artinya: Ali
bin Al Husain Al Askari di daerah Raqqah mengabarkan kepada kami, dia berkata:
Abdan bin Muhammad Al Wakil menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibnu Abi
Za’idah menceritakan kepada kami, dari Sufyan dari Amru bin Dinar dari Jabir,
bahwa ketika Mu’adz sudah mendekati wafat, dia berkata: Bukakan untukku kain
penutup Qubah! Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda;
“ Siapa yang bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dengan keikhlasan penuh
dari hatinya, niscaya ia masuk surga.” 499 [1: 2] Abu Hatim RA berkata: Sabda
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “ Niscaya ia masuk surga” maksudnya
adalah surga tertentu di bawah (tingkat) surga yang lain, karena surga itu
banyak dan bertingkat-tingkat. Siapa yang berikrar dengan dua kalimat syahadat,
dan itu adalah cabang keimanan yang paling tinggi derajatnya di antara
cabang-cabang keimanan yang lain, sedangkan dia tidak sempat melakukan amal
shalih, lalu meninggal dunia, maka ia akan dimasukkan ke dalam suiga- Siapa
yang berikrar dua kalimat syahadat, lalu ia mengerjakan amal shalih, baik
sedikit ataupun banyak, niscaya ia akan dimasukkan ke dalam surga; surga yang
berada di atas surga tersebut. Hal itu, karena semakin banyak amal shalih yang
dilakukan oleh seseorang, maka semakin tinggi derajatnya, dan semakin tinggi
surga yang akan ia raih. Bukan maksudnya bahwa seluruh kaum muslim akan
memasuki satu surga yang sama, meskipun amalnya berlainan dan berbeda-beda,
karena surga itu banyak, tidak hanya satu surga.
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6472
disebutkan Ada tujuh puluh ribu orang dari umatku yang masuk surga tanpa hisab,
yaitu yang tidak meminta diruqyah (pengobatan dengan jampi-jampi, atau
mantera), tidak berfirasat sial karena melihat burung dan hanya bertawakkal
kepada Tuhan mereka;
حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ
عُبَادَةَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ حُصَيْنَ بْنَ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
قَالَ كُنْتُ قَاعِدًا عِنْدَ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ فَقَالَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ
مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ هُمْ الَّذِينَ لَا
يَسْتَرْقُونَ وَلَا يَتَطَيَّرُونَ وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ [57]
Artinya: Telah
menceritakan kepadaku Ishaq telah menceritakan kepada kami Rauh bin Ubadah
telah menceritakan kepada kami Syu'bah, dia berkata; saya mendengar Hushain bin
Abdurrahman dia berkata; saya berdiri di samping Sa'id bin Jubair lalu dia
berkata; dari Ibnu Abbas bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda: Ada tujuh puluh ribu orang dari
umatku yang masuk surga tanpa hisab, yaitu yang tidak meminta diruqyah
(pengobatan dengan jampi-jampi, atau mantera), tidak berfirasat sial karena
melihat burung dan hanya bertawakkal kepada Tuhan mereka.
Di
dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 5081 dinyatakan bahwa orang yang
bertawakal kepada Allah akan dicukupi;
حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ مُحَمَّدٍ الدِّمَشْقِيُّ
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ بْنُ مُسْلِمٍ الدِّمَشْقِيُّ وَكَانَ مِنْ ثِقَاتِ
الْمُسْلِمِينَ مِنْ الْمُتَعَبِّدِينَ قَالَ حَدَّثَنَا مُدْرِكُ بْنُ سَعْدٍ
قَالَ يَزِيدُ شَيْخٌ ثِقَةٌ عَنْ يُونُسَ بْنِ مَيْسَرَةَ بْنِ حَلْبَسٍ عَنْ
أُمِّ الدَّرْدَاءِ عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ مَنْ
قَالَ إِذَا أَصْبَحَ وَإِذَا أَمْسَى حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ
عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ سَبْعَ مَرَّاتٍ كَفَاهُ
اللَّهُ مَا أَهَمَّهُ صَادِقًا كَانَ بِهَا أَوْ كَاذِبًا [58]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Yazid bin Muhammad Ad-Dimasyqi, telah menceritakan
kepada kami Abdurrazzaq bin Muslim Ad-Dimasyqi, yang merupakan salah seorang
perawi terpercaya dari kalangan kaum Muslimin yang tekun beribadah. Ia berkata:
Telah menceritakan kepada kami Mudrik bin Sa’d. Yazid menyebutkan bahwa (Mudrik
adalah) seorang syaikh yang terpercaya, dari Yunus bin Maisarah bin Halbas,
dari Ummu Darda’, dari Abu Darda’ رضي الله عنه, ia
berkata:"Barang siapa yang mengucapkan di waktu pagi dan petang: 'Hasbiyallahu
laa ilaaha illa huwa 'alaihi tawakkaltu wa huwa rabbul 'arsyil 'adzim'
(Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain Dia, hanya kepada-Nya aku
bertawakal, dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ‘Arsy yang agung) sebanyak tujuh
kali, maka Allah akan mencukupkan segala yang menjadi kekhawatirannya, baik ia
mengucapkannya dengan jujur ataupun berdusta."
5.11. Adil, Jujur Lagi Bersikap Baik, Kasih Sayang Dan Lembut Hati
Di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor
4755 disebutkan bahwa penghuni surga ada tiga: pemimpin yang adil, jujur lagi
bersikap baik, orang yang kasih sayang dan lembut hati terhadap setiap kerabat
dan orang islam, dan orang yang menjaga harga diri sekalipun fakir, lagi jujur;
أَخْبَرَنَا أَبُو خَلِيفَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا
حَفْصُ بْنُ عُمَرَ الْحَوْضِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا هَمَّامُ بْنُ يَحْيَى،
قَالَ: حَدَّثَنَا قَتَادَةُ، قَالَ: حَدَّثَنِي الْعَلاَءُ بْنُ زِيَادٍ،
قَالَ: حَدَّثَنِي يَزِيدُ، أَخُو مُطَرِّفٍ، قَالَ: وَحَدَّثَنِي رَجُلاَنِ
آخَرَانِ أَنَّ مُطَرِّفًا حَدَّثَهُمْ: أَنَّ عِيَاضَ بْنَ حِمَارٍ حَدَّثَهُمْ
أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي
خُطْبَتِهِ: إِنَّ اللَّهَ أَمَرَنِي أَنْ أُعَلِّمَكُمْ مَا جَهِلْتُمْ مِمَّا
عَلَّمَنِي يَوْمِي هَذَا، إِنَّ كُلَّ مَا أَنْحَلْتُهُ عَبْدِي حَلاَلٌ،
وَإِنِّي خَلَقْتُ عِبَادِي حُنَفَاءَ كُلَّهُمْ، وَإِنَّهُ أَتَتْهُمُ
الشَّيَاطِينُ فَاجْتَالَتْهُمْ عَنْ دِينِهِمْ، وَحَرَّمَتْ عَلَيْهِمْ مَا
أَحْلَلْتُ لَهُمْ، فَأَمَرَتْهُمْ أَنْ يُشْرِكُوا بِي مَا لَمْ أُنْزِلْ بِهِ
سُلْطَانًا، وَإِنَّ اللَّهَ اطَّلَعَ إِلَى أَهْلِ الأَرْضِ، فَمَقَتَهُمْ
عَرَبَهُمْ وَعَجَمَهُمْ، غَيْرَ بَقَايَا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ، فقَالَ يَا
مُحَمَّدُ إِنَّمَا بَعَثْتُكَ لأَبْتَلِيَكَ وَأَبْتَلِيَ بِكَ، وَأُنْزِلَ
عَلَيْكَ كِتَابًا لاَ يَغْسِلُهُ الْمَاءُ، تَقْرَؤُهُ يَقْظَانَ وَنَائِمًا،
وَإِنَّ اللَّهَ جَلَّ وَعَلاَ أَمَرَنِي أَنْ أُخْبِرَ قُرَيْشًا، فَقُلْتُ:
إِذًا يَثْلَغُوا رَأْسِي فَيَتْرُكُوهُ خُبْزَةً، قَالَ فَاسْتَخْرِجْهُمْ كَمَا
اسْتَخْرَجُوكَ، وَاغْزُهُمْ يَسْتَغْزُوكَ، وَأَنْفِقْ يُنْفَقْ عَلَيْكَ،
وَابْعَثْ جَيْشًا نَبْعَثْ خَمْسَةً أَمْثَالَهُمْ، وَقَاتِلْ بِمَنْ أَطَاعَكَ
مَنْ عَصَاكَ وَقَالَ: أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ثَلاَثَةٌ: إِمَامٌ مُقْسِطٌ
مُصَدِّقٌ مُوَفَّقٌ، وَرَجُلٌ رَحِيمٌ رَقِيقُ الْقَلْبِ بِكُلِّ ذِي قُرْبَى
وَمُسْلِمٍ، وَرَجُلٌ عَفِيفٌ فَقِيرٌ مُصَّدِّقٌ وَ، قَالَ: أَصْحَابُ النَّارِ
خَمْسَةٌ: رَجُلٌ جَائِرٌ لاَ يَخْفَى لَهُ طَمَعٌ وَإِنْ دَقَّ، وَرَجُلٌ لاَ
يُمْسِي وَلاَ يُصْبِحُ إِلاَّ وَهُوَ يُخَادِعُكَ عَنْ أَهْلِكَ وَمَالِكَ،
وَالضَّعِيفُ الَّذِينَ هُمْ فِيكُمْ تَبَعٌ لاَ يَبْغُونَ أَهْلاً وَلاَ مَالاً،
فقَالَ لَهُ رَجُلٌ: يَا أَبَا عَبْدِ اللهِ أَمِنَ الْمَوَالِي هُوَ، أَوْ مِنَ
الْعَرَبِ؟ قَالَ: هُوَ التَّابِعَةُ يَكُونُ لِلرَّجُلِ فَيُصِيبُ مِنْ
حُرْمَتِهِ سِفَاحًا غَيْرَ نِكَاحٍ وَالشِّنْظِيرُ: الْفَاحِشُ وَذَكَرَ
الْبُخْلَ وَالْكَذِبَ. [59]
Artinya: Abu
Khalifah mengabarkan kepada kami, ia berkata, Hafsh bin Umar Al Haudhi
menceritakan kepada kami, ia berkata, Hammam bin Yahya menceritakan kepada
kami, ia berkata, Qatadah menceritakan kepada kami, ia berkata, Ala' bin Ziad
menceritakan kepadaku, ia berkata, Yazid, saudara Mutharrif, menceritakan
kepadaku, -ia berkata, dan dua laki-laki lain menceritakan kepadaku bahwa
Mutharrif menceritakan kepada mereka-, bahwa Iyadh bin Himar menceritakan
kepada mereka, bahwa ia mendengar Nabi ﷺ bersabda
dalam khutbah, “Sesungguhnya Allah memerintahkan kepadaku untuk mengajarkan
kepada kalian hal-hal yang kalian tidak ketahui daripada hal-hal yang telah Dia
ajarkan kepadaku pada hariku ini; (Yaitu) Sesungguhnya semua yang telah Ku-berikan
kepada hamba-Ku adalah halal (untuknya).
Sesunggunya Aku telah menciptakan hamba-hamba-Ku dalam keadaan muslim
seluruhnya. Lalu syaitan-syaitan mendatangi mereka, maka syaitan-syaitan itupun
membawa mereka menjauh dari agama mereka dan mengharamkan atas mereka apa yang
telah Ku-halalkan bagi mereka. Syaitan-syaitan juga menyuruh mereka agar
menyekutukan dengan-Ku apa yang Aku tidak menurunkan keterangan tentang itu.
Sesungguhnya Allah memandang kepada penduduk bumi, maka Dia marah terhadap
mereka, baik orang Arab maupun orang asing (non Arab), kecuali beberapa orang
dari ahli kitab. Lalu Dia berfirman, ‘Hai Muhammad, sesungguhnya Aku mengutusmu
untuk mengujimu dan menguji manusia denganmu. Aku juga menurunkan kepadamu
sebuah kitab yang tidak akan dapat terkikis oleh air. Kitab itu dapat kamu baca
dalam keadaan bangun dan tidur. ’ Sesungguhnya Allah yang agung dan tinggi juga
memerintahkanku agar aku mengabarkan kepada kaum Quraisy. Aku pun berkata,
‘Kalau begitu, mereka pasti akan memecahkan kepalaku lalu mereka
meninggalkannya seperti adonan roti. ’ Allah menjawab, ‘Maka usirlah mereka
sebagaimana mereka mengusirmu. Perangi mereka maka mereka akan memerangimu
juga. Berinfaklah niscaya kamu akan diberi balasannya. Kirimkan sebuah pasukan
maka kami akan mengirimkan beberapa kali lipat dari jumlah pasukan itu.
Perangilah bersama orang yang taat kepadamu orang-orang yang membangkang
terhadapmu. Penghuni surga ada tiga: Pemimpin yang adil, jujur lagi bersikap
baik, orang yang kasih sayang dan lembut hati terhadap setiap kerabat dan orang
Islam, dan orang yang menjaga harga diri sekalipun fakir, lagi jujur. Sedangkan
penghuni neraka itu ada lima: orang yang khianat lagi selalu tamak sekalipun
terhadap yang kecil, orang yang tidak berada di waktu sore dan tidak berada di
waktu pagi kecuali ia menipumu terkait keluarga dan hartamu, dan orang lemah,
-yaitu- yang menjadi penolong kalian namun tidak menginginkan kekeluargaan dan
harta.’ (Maksudnya, menolong namun bertujuan jahat)” Seorang laki-laki bertanya
kepada Mutharrif bin Abdullah bin Syakhir, ‘Wahai Abu Abdullah, apakah ia dari
para budak atau dari orang Arab?’ Dia menjawab, ‘Dia adalah budak seseorang.
Dia melakukan hubungan intim dengan isteri seseorang tanpa nikah. Dan (penghuni
neraka selanjutnya adalah) syinzhir, yakni orang yang melakukan perbuatan
cabul.’ Beliau juga menyebutkan bakhil dan dusta.
5.12. Meneladani Rasulullah Sebagai Orang Yang Paling Bertaqwa
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 20
dinyatakan bahwa Nabi Muhammad SAW sebagai orang yang paling bertaqwa dan orang
yang paling mengerti tentang Allah;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَامٍ قَالَ أَخْبَرَنَا
عَبْدَةُ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَمَرَهُمْ أَمَرَهُمْ مِنْ الْأَعْمَالِ
بِمَا يُطِيقُونَ قَالُوا إِنَّا لَسْنَا كَهَيْئَتِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ
اللَّهَ قَدْ غَفَرَ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَيَغْضَبُ
حَتَّى يُعْرَفَ الْغَضَبُ فِي وَجْهِهِ ثُمَّ يَقُولُ إِنَّ أَتْقَاكُمْ
وَأَعْلَمَكُمْ بِاللَّهِ أَنَا [60]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Salam berkata, telah mengabarkan kepada
kami 'Abdah dari Hisyam dari bapaknya dari Aisyah berkata: "Rasulullah ﷺ bila
memerintahkan kepada para sahabat, Beliau memerintahkan untuk melakukan amalan
yang mampu mereka kerjakan, kemudian para sahabat berkata; "Kami tidaklah
seperti engkau, ya Rasulullah, karena engkau sudah diampuni dosa-dosa yang lalu
dan yang akan datang". Maka Beliau ﷺ menjadi marah yang dapat terlihat dari
wajahnya, kemudian bersabda: "Sesungguhnya yang paling taqwa dan paling
mengerti tentang Allah diantara kalian adalah aku"
5.13. Bershalawat Untuk Nabi Muhammad ﷺ
Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 904
dinyatakan bahwa barang siapa lupa membaca shalawat untuk nabi shallallahu
'alaihi wa sallam akan keliru menempuh jalan ke jannah;
حَدَّثَنَا جُبَارَةُ بْنُ الْمُغَلِّسِ حَدَّثَنَا
حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ زَيْدٍ عَنْ
ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
مَنْ نَسِيَ الصَّلَاةَ عَلَيَّ خَطِئَ طَرِيقَ الْجَنَّةِ [61]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Jubarah bin Al Mughallas berkata, telah menceritakan
kepada kami Hammad bin Zaid dari Amru bin Dinar dari Jabir bin Zaid dari Ibnu
Abbas ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa lupa
bershalawat kepadaku, maka ia akan keliru menempuh jalan ke surga. "
5.14. Bahagia Dengan Istrinya Di Surga
Di dalam kitab SunanTirmizi
hadits nomor 1174 digambarkan sikap istrinya yang
di surga jika istri yang di dunia menyakiti suaminya;
حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ، قَالَ:
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، عَنْ بَحِيرِ بْنِ سَعْدٍ ، عَنْ خَالِدِ
بْنِ مَعْدَانَ، عَنْ كَثِيرِ بْنِ مُرَّةَ الْحَضْرَمِيِّ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ
جَبَلٍ؛ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «لَا تُؤْذِي امْرَأَةٌ زَوْجَهَا فِي
الدُّنْيَا» إِلَّا قَالَتْ زَوْجَتُهُ مِنَ الْحُورِ الْعِينِ: لَا تُؤْذِيهِ
قَاتَلَكِ اللهُ، فَإِنَّمَا هُوَ عِنْدَكِ دَخِيلٌ يُوشِكُ أَنْ يُفَارِقَكِ
إِلَيْنَا.هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ، لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا
الْوَجْهِ. [62]
Artinya: Al-Hasan
bin ‘Arafah telah meriwayatkan kepada kami; ia berkata: Ismā‘īl bin ‘Ayyāsy
telah meriwayatkan kepada kami dari Bahīr bin Sa‘d, dari Khālid bin Ma‘dān,
dari Katsīr bin Murrah al-Hadhramī, dari Mu‘ādz bin Jabal radhiyallāhu ‘anhu;
dari Nabi ﷺ beliau bersabda: “Tidaklah seorang wanita menyakiti suaminya di
dunia, kecuali istri (calonnya) dari kalangan bidadari surga akan berkata:
‘Jangan engkau sakiti dia, semoga Allah membinasakanmu, karena dia hanyalah
seorang tamu sementara di sisimu; sebentar lagi ia akan berpisah darimu dan
kembali kepada kami.’” Hadis ini adalah hadis hasan gharib, dan kami tidak
mengetahuinya kecuali melalui jalur ini saja.
5.15. Berwasiat Dengan Kebaikan
Di
dalam Al Quran surat Al-Baqarah (2): 180, ditegaskan kewajiban bagi orang
bertaqwa jika akan meninggal dunia untuk berwasiat dengan kebaikan;
كُتِبَ عَلَيْكُمْ إِذَا حَضَرَ أَحَدَكُمُ الْمَوْتُ
إِنْ تَرَكَ خَيْرًا الْوَصِيَّةُ لِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ
بِالْمَعْرُوفِ حَقًّا عَلَى الْمُتَّقِينَ
Artinya:
Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda)
maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan
karib kerabatnya secara ma'ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang
bertakwa.(QS. Al-Baqarah (2): 180)
Di
dalam kitab Sunan Ibnu Majah Hadits hadits nomor 2701 digambarkan bahwa barang
siapa yang meninggal dalam keadaan berwasiat maka dia meninggal di atas jalan
yang benar dan sunnah, dan dia meninggal di atas ketaqwaan dan syahadah;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ
بْنُ الْوَلِيدِ عَنْ يَزِيدَ بْنِ عَوْفٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرِ
بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مَنْ مَاتَ عَلَى وَصِيَّةٍ مَاتَ عَلَى سَبِيلٍ وَسُنَّةٍ وَمَاتَ
عَلَى تُقًى وَشَهَادَةٍ وَمَاتَ مَغْفُورًا لَهُ [63]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mushaffa Al Himshi, telah
menceritakan kepada kami Baqiyyah bin Al Walid dari Yazid bin
'Auf dari Abu Zubair dari Jabir bin Abdullah, ia berkata:
bersabda Rasulullah ﷺ: "Barang siapa yang
meninggal dalam keadaan berwasiat maka dia meninggal diatas jalan yang benar
dan sunnah, dan dia meninggal diatas ketaqwaan dan syahadah, dan dia meninggal
dalam keadaan diampuni."
5.16. Keinginannya Hanya Kehidupan Akhirat
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2633
dinyatakan Barangsiapa yang keinginannya hanya kehidupan akhirat maka Allah
akan memberi rasa cukup dalam hatinya;
حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ
الرَّبِيعِ بْنِ صَبِيحٍ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبَانَ وَهُوَ الرَّقَاشِيُّ عَنْ
أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مَنْ كَانَتْ الْآخِرَةُ هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ غِنَاهُ فِي قَلْبِهِ
وَجَمَعَ لَهُ شَمْلَهُ وَأَتَتْهُ الدُّنْيَا وَهِيَ رَاغِمَةٌ وَمَنْ كَانَتْ
الدُّنْيَا هَمَّهُ جَعَلَ اللَّهُ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَفَرَّقَ عَلَيْهِ
شَمْلَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا مَا قُدِّرَ لَهُ [64]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Hannad telah menceritakan kepada kami Waqi' dari
Ar Rabi' bin Shabih dari Yazid bin Abban Ar Raqasyi dari Anas bin Malik
berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa
yang keinginannya hanya kehidupan akhirat maka Allah akan memberi rasa cukup
dalam hatinya, menyatukan urusannya yang berserakan dan dunia datang kepadanya
tanpa dia cari, dan barangsiapa yang keinginannya hanya kehidupan dunia maka
Allah akan jadikan kemiskinan selalu membayang-bayangi di antara kedua matanya,
mencerai beraikan urusannya dan dunia tidak akan datang kepadanya kecuali
sekedar apa yang telah ditentukan baginya."
5.17. Melazimkan Kalimat Laa Hawla Wa Laa Quwwata Illa Billah
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 4205 disebutkan percakapan Rasulullah ﷺ : "Maukah aku tunjukkan kepadamu satu kalimat yang termasuk perbendaharaan surga?". Aku jawab; "Tentu wahai Rasulullah, demi bapak ibuku sebagai tebusan tuan." Beliau bersabda: "laa hawla wa laa quwwata illa billah."
حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ حَدَّثَنَا
عَبْدُ الْوَاحِدِ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ أَبِي مُوسَى
الْأَشْعَرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ لَمَّا غَزَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْبَرَ أَوْ قَالَ لَمَّا تَوَجَّهَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشْرَفَ النَّاسُ عَلَى وَادٍ فَرَفَعُوا
أَصْوَاتَهُمْ بِالتَّكْبِيرِ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلَهَ
إِلَّا اللَّهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
ارْبَعُوا عَلَى أَنْفُسِكُمْ إِنَّكُمْ لَا تَدْعُونَ أَصَمَّ وَلَا غَائِبًا
إِنَّكُمْ تَدْعُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا وَهُوَ مَعَكُمْ وَأَنَا خَلْفَ دَابَّةِ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعَنِي وَأَنَا أَقُولُ
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ فَقَالَ لِي يَا عَبْدَ اللَّهِ بْنَ
قَيْسٍ قُلْتُ لَبَّيْكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَلَا أَدُلُّكَ عَلَى
كَلِمَةٍ مِنْ كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الْجَنَّةِ قُلْتُ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ
فَدَاكَ أَبِي وَأُمِّي قَالَ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ [65]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma'il telah menceritakan kepada
kami 'Abdul Wahid dari 'Ashim dari Abu 'Utsman dari Abu Musa Al Asy'ari
radliallahu 'anhu ia berkata; Ketika Rasulullah ﷺ perang melawan (penduduk) Khaibar, -atau
dia berkata- Ketika Rasulullah ﷺ melihat orang-orang menuruni lembah sambil
meninggikan suara dengan bertakbir, Allahu Akbar, Allahu Akbar laa ilaaha
illallah (Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tidak ada ilah yang berhak
disembah selain Allah), maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Rendahkanlah, karena
kalian tidak menyeru kepada Dzat yang tuli dan Dzat yang ghaib. Sesungguhnya
kalian menyeru Dzat yang Maha Mendengar lagi Maha Dekat dan Dia selalu bersama
kalian". Saat itu aku berada di belakang hewan tunggangan Rasulullah ﷺ dan
beliau mendengar apa yang aku ucapkan. Saat itu aku membaca; "laa hawla wa
laa quwwata illa billah (Tidak ada daya dan upaya melainkan dari Allah) ",
maka beliau berkata kepadaku: "Wahai Abdullah bin Qais". Aku jawab;
"Aku penuhi panggilanmu wahai Rasulullah." Beliau melanjutkan:
"Maukah aku tunjukkan kepadamu satu kalimat yang termasuk perbendaharaan
surga?". Aku jawab; "Tentu wahai Rasulullah, demi bapak ibuku sebagai
tebusan tuan." Beliau bersabda: "laa hawla wa laa quwwata illa
billah."
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 4205
disebutkan Sungguh aku mengetahui sebuah kalimat yang tidaklah seorang hamba
mengucapkannya dengan hati yang ikhlas, kecuali pasti akan di haramkan neraka
untuknya, yaitu kalimat ikhlas; kalimat taqwa;
حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الْخَفَّافُ
حَدَّثَنَا سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ مُسْلِمِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ حُمْرَانَ
بْنِ أَبَانَ أَنَّ عُثْمَانَ بْنَ عَفَّانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنِّي لَأَعْلَمُ
كَلِمَةً لَا يَقُولُهَا عَبْدٌ حَقًّا مِنْ قَلْبِهِ إِلَّا حُرِّمَ عَلَى
النَّارِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَا
أُحَدِّثُكَ مَا هِيَ هِيَ كَلِمَةُ الْإِخْلَاصِ الَّتِي أَعَزَّ اللَّهُ
تَبَارَكَ وَتَعَالَى بِهَا مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَأَصْحَابَهُ وَهِيَ كَلِمَةُ التَّقْوَى الَّتِي أَلَاصَ عَلَيْهَا نَبِيُّ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَمَّهُ أَبَا طَالِبٍ عِنْدَ
الْمَوْتِ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ [66]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abdul Wahab Al Khaffaf Telah menceritakan
kepada kami Sa'id dari Qatadah dari Muslim Bin Yasar dari Humran Bin Aban bahwa
Utsman Bin Affan berkata; aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Sungguh aku mengetahui sebuah kalimat yang tidaklah seorang
hamba mengucapkannya dengan hati yang ikhlas, kecuali pasti akan di haramkan
neraka untuknya." Maka Umar Bin Al Khaththab berkata kepadanya; "Saya
akan menceritakannya kepadamu kalimat apa itu, yaitu kalimat ikhlas yang dengannya
Allah Tabaraka wa Ta'ala memuliakan Muhammad ﷺ dan para sahabatnya, yaitu kalimat Taqwa
yang telah Nabiyullah ﷺ baca berulang ulang kepada pamannya Abu
Thalib menjelang wafatnya, yaitu persaksian bahwa tidak ada tuhan yang berhak
di sembah selain Allah."
5.19. Berprasangka Baik Kepada Allah Saat Ajal Menjemput
Di dalam kitab Shahih Muslim
hadits nomor 2877 diaebutkan pesan Rasulullah,
tiga hari sebelum meninggalnya; Jangalah salah seorang dari kalian meninggal
dunia kecuali ia berbaik sangka kepada Allah 'azza wajalla;
و حَدَّثَنِي أَبُو دَاوُدَ سُلَيْمَانُ بْنُ
مَعْبَدٍ حَدَّثَنَا أَبُو النُّعْمَانِ عَارِمٌ حَدَّثَنَا مَهْدِيُّ بْنُ
مَيْمُونٍ حَدَّثَنَا وَاصِلٌ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ
اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَبْلَ مَوْتِهِ بِثَلَاثَةِ أَيَّامٍ يَقُولُ لَا يَمُوتَنَّ
أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ الظَّنَّ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ [67]
Artinya:
Telah menceritakan kepadaku Abu Dawud Sulaiman bin Ma'bad telah menceritakan
kepada kami Abu An Nu'man Arim telah menceritakan kepada kami Mahdi bin Maimun
telah menceritakan kepada kami Washil dari Abu Az Zubair dari Jabir bin
Abdullah Al Anshari berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda tiga hari sebelum beliau wafat: "Jangalah salah seorang
dari kalian meninggal dunia kecuali ia berbaik sangka kepada Allah 'azza
wajalla."
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22060,
dinyatakan bahwa barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada Ilah (yang haq) selain
Allah dengan tulus dari hatinya atau yakin dari hati maka ia tidak akan masuk
neraka, atau ia akan masuk surga;
حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمْرٍو
يَعْنِي ابْنَ دِينَارٍ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ يَقُولُ أَنَا
مَنْ شَهِدَ مُعَاذًا حِينَ حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ يَقُولُاكْشِفُوا عَنِّي سَجْفَ
الْقُبَّةِ أُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ مَرَّةً أُخْبِرُكُمْ بِشَيْءٍ سَمِعْتُهُ
مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَمْنَعْنِي أَنْ
أُحَدِّثَكُمُوهُ إِلَّا أَنْ تَتَّكِلُوا سَمِعْتُهُ يَقُولُ مَنْ شَهِدَ أَنْ
لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ مُخْلِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ يَقِينًا مِنْ قَلْبِهِ
لَمْ يَدْخُلْ النَّارَ أَوْ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَقَالَ مَرَّةً دَخَلَ الْجَنَّةَ
وَلَمْ تَمَسَّهُ النَّارُ [68]
Artinya:
Telah bercerita kepada kami 'Abdullah telah bercerita kepadaku ayahku. Telah
bercerita kepada kami Sufyan bin 'Uyainah dari 'Amr bin Dinar berkata; Saya
mendengar Jabir bin 'Abdullah berkata; Saya adalah satu diantara orang-orang
yang menghadiri Mu'adz saat sekarat, ia berkata; Bukalah tabir rumah, akan aku
ceritakan sebuah hadits pada kalian yang pernah saya dengan dari Rasulullah ﷺ. Sesekali ia berkata; Akan aku kabarkan sesuatu yang pernah aku dengar dari
Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam tidak ada yang menghalangiku untuk
menyampaikannya pada kalian selain karena khawatir kalian mengandalkannya. Saya
mendengar Rasulullah ﷺ bersabda; "Barangsiapa bersaksi bahwa tidak ada
Ilah (yang haq) selain Allah dengan tulus dari hatinya atau yakin dari hati
maka ia tidak akan masuk neraka, atau ia akan masuk surga." Sesekali
Rasulullah ﷺ bersabda; "Masuk surga dan tidak akan tersentuh oleh
neraka."
5.21. Berdoa Ya Allah, Saya Meminta Surga Kepada-Mu. Ya Allah, Peliharalah
Aku Dari Api Neraka
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 18054
disebutkan sebuah doa Ya Allah, saya meminta surga kepada-Mu. Ya Allah,
peliharalah aku dari api neraka ' sebanyak tujuh kali. Karena jika kamu
meninggal di malam itu, maka Allah 'azza wajalla akan menetapkanmu sebagai
orang yang terpelihara dari dari neraka;
حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ عَبْدِ رَبِّهِ قَالَ
حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حَسَّانَ
الْكِنَانِيِّ أَنَّ الْحَارِثَ بْنَ مُسْلِمِ بْنِ الْحَارِثِ التَّمِيمِيَّ
حَدَّثَهُ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِذَا صَلَّيْتَ الصُّبْحَ فَقُلْ قَبْلَ أَنْ تُكَلِّمَ أَحَدًا مِنْ
النَّاسِ اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنْ النَّارِ سَبْعَ مَرَّاتٍ فَإِنَّكَ إِنْ
مِتَّ مِنْ يَوْمِكَ ذَلِكَ كَتَبَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَكَ جِوَارًا مِنْ
النَّارِ وَإِذَا صَلَّيْتَ الْمَغْرِبَ فَقُلْ قَبْلَ أَنْ تُكَلِّمَ أَحَدًا
مِنْ النَّاسِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ اللَّهُمَّ أَجِرْنِي مِنْ
النَّارِ سَبْعَ مَرَّاتٍ فَإِنَّكَ إِنْ مِتَّ مِنْ لَيْلَتِكَ تِلْكَ كَتَبَ اللَّهُ
عَزَّ وَجَلَّ لَكَ جِوَارًا مِنْ النَّارِ [69]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abdu Rabbih ia berkata, Telah
menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim dari Abdurrahman bin Hassan Al
Kinani bahwa Al Harits bin Muslim bin Al Harits At Tamimi telah menceritakan
kepadanya dari Bapaknya ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda kepadaku: "Jika kamu telah usai menunaikan shalat subuh, sebelum
kamu bercakap-cakap dengan seseorang, maka ucapkanlah, Ya Allah, lindungilah
aku dari api neraka ' sebanyak tujuh kali. Karena jika kamu mati pada hari itu,
maka Allah akan menetapkanmu sebagai orang yang terpelihara dari api neraka.
Dan setelah kamu usai menunaikan shalat Maghrib dan sebelum kamu bercakap-cakap
dengan seorang pun, maka ucapkanlah, Ya Allah, saya meminta surga kepada-Mu. Ya
Allah, peliharalah aku dari api neraka ' sebanyak tujuh kali. Karena jika kamu
meninggal di malam itu, maka Allah 'azza wajalla akan menetapkanmu sebagai
orang yang terpelihara dari dari neraka."
Di dalam kitab Musnad Ahmad
hadits nomor 25019
disebutkan doa saya memohon surga kepada-Mu dan apa-apa yang mendekatkan
kepadanya baik dari perkataan ataupun perbuatan. Dan aku berlindung dari Neraka
dan yang dapat mendekatkan kepadanya baik dari perkataan ataupun perbuatan;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا
شُعْبَةُ عَنْ جَبْرِ بْنِ حَبِيبٍ عَنْ أُمِّ كُلْثُومٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ
أَبَا بَكْرٍ دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
فَأَرَادَ أَنْ يُكَلِّمَهُ وَعَائِشَةُ تُصَلِّي فَقَالَ لَهَا رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكِ بِالْكَوَامِلِ أَوْ كَلِمَةً أُخْرَى
فَلَمَّا انْصَرَفَتْ عَائِشَةُ سَأَلَتْهُ عَنْ ذَلِكَ فَقَالَ لَهَا قُولِي
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا
عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الشَّرِّ كُلِّهِ
عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ وَأَسْأَلُكَ
الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ
النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَسْأَلُكَ مِنْ
الْخَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَأَسْتَعِيذُكَ مِمَّا اسْتَعَاذَكَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَرَسُولُكَ
مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَسْأَلُكَ مَا قَضَيْتَ لِي مِنْ
أَمْرٍ أَنْ تَجْعَلَ عَاقِبَتَهُ رَشَدًا, حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ
حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا جَبْرُ بْنُ حَبِيبٍ قَالَ سَمِعْتُ أُمَّ
كُلْثُومٍ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ تُحَدِّثُ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهَا عَلَيْكِ بِالْجَوَامِعِ الْكَوَامِلِ
فَذَكَرَ الْحَدِيثَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ
حَدَّثَنَا جَبْرُ بْنُ حَبِيبٍ عَنْ أُمِّ كُلْثُومٍ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ
عَائِشَةَ فَذَكَرَ نَحْوَهُ [70]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada
kami Syu'bah dari Jabar bin Habib dari Ummi Kultsum dari Aisyah bahwa Abu Bakar
pernah menemui Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam dan ia ingin mengajak
beliau berbincang-bincang sedang 'Aisyah sedang shalat. Maka Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: "Hendaknya kamu memanjatkan
doa penyempurna." Tatkala Aisyah selesai shalatnya, dia menanyakan doa
penyempurna itu kepada beliau, maka beliau bersabda: Panjatkanlah doa-doa; 'Ya
Allah, aku memohon kebaikan kepada-Mu baik segera atau lambat, baik yang aku
ketahui ataupun tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari semua
kejahatan, baik cepat atau lambat, baik yang saya ketahui ataupun tidak saya
ketahui. Dan saya memohon surga kepada-Mu dan apa-apa yang mendekatkan
kepadanya baik dari perkataan ataupun perbuatan. Dan aku berlindung dari Neraka
dan yang dapat mendekatkan kepadanya baik dari perkataan ataupun perbuatan. Dan
aku memohon kebaikan yang dipinta oleh hamba dan Rasul-Mu, Muhammad
Shallallahu'alaihiwasallam, dan aku memintakan perlindungan kepada-Mu dari
segala hal yang hamba dan Rasul-Mu meminta perlindungan terhadapnya, Muhammad
Shallallahu'alaihi wasallam, dan aku memohon perkara yang telah Engkau tetapkan
untukku agar menjadi petunjuk." Telah menceritakan kepada kami Abdush
Shamad telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah menceritakan kepada kami
Jabar bin Habib berkata; saya telah mendengar Ummi Kultsum binti Abu Bakar
menceritakan dari Aisyah bahwa Rasulullah ﷺ pernah
bersabda kepadanya: "Hendaknya engkau menggunakan kata yang simpel."
Kemudian ia menyebutkan hadits tersebut. Telah menceritakan kepada kami Affan
telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah menceritakan kepada
kami Jabar bin Habib dari Ummi Kultsum binti Abu Bakar dari Aisyah lalu ia
menceritakan yang serupa.
Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 3846
disebutkan doa Ya Allah, sungguh aku memohon surga kepada-Mu dan semua yang
mendekatkan diriku kepadanya dari perkataan atau perbuatan, dan aku berlindung
kepada-Mu dari neraka dan semua yang mendekatkan diriku kepadanya dari
perkataan dan perbuatan;
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ أَخْبَرَنِي جَبْرُ بْنُ
حَبِيبٍ عَنْ أُمِّ كُلْثُومٍ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَهَا هَذَا الدُّعَاءَ
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا
عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الشَّرِّ كُلِّهِ
عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ اللَّهُمَّ إِنِّي
أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ
شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ
الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ
النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَسْأَلُكَ أَنْ
تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا [71]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan
kepada kami 'Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah
mengabarkan kepadaku Jabr bin Habib dari Ummu Kultsum binti Abu Bakar dari
'Aisyah bawha Rasulullah ﷺ pernah mengajarinya do'a ini, yaitu;
"Ya Allah, aku memohon kepada-Mu semua kebaikan, baik yang cepat (di
dunia) maupun yang di tangguhkan (di akhirat), yang aku ketahui maupun yang
tidak aku ketahui. Dan aku berlindung kepada-Mu dari semua keburukan, baik yang
cepat (di dunia) maupun yang di tangguhkan (di akhirat), yang aku ketahui
maupun yang tidak aku ketahui. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan yang di
mohonkan hamba-Mu dan Nabi-Mu kepada-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan yang hamba-Mu dan Nabi-Mu berlindung darinya kepada-Mu. Ya Allah,
sungguh aku memohon surga kepada-Mu dan semua yang mendekatkan diriku kepadanya
dari perkataan atau perbuatan. Dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan
semua yang mendekatkan diriku kepadanya dari perkataan dan perbuatan. Serta aku
memohon kepada-Mu agar Engkau menjadikan semua ketentuan yang Engkau tentukan
kepadaku sebagai kebaikan."
Di dalam kitab Musnad Ahmad
hadits nomor 22181 disebutkan doa Ya Allah! Ampuni
kami, rahmati kami, ridhoi kami, terimalah kami, masukkan kami ke surga,
selamatkan kami dari neraka, perbaikilah kondisi kami seluruhnya
حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا مِسْعَرٌ عَنْ
أَبِي الْعَنْبَسِ عَنْ أَبِي الْعَدَبَّسِ عَنْ أَبِي مَرْزُوقٍ عَنْ أَبِي
غَالِبٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ مُتَوَكِّئٌ عَلَى عَصًا فَقُمْنَا إِلَيْهِ
فَقَالَ لَا تَقُومُوا كَمَا تَقُومُ الْأَعَاجِمُ يُعَظِّمُ بَعْضُهَا بَعْضًا
قَالَ فَكَأَنَّا اشْتَهَيْنَا أَنْ يَدْعُوَ اللَّهَ لَنَا فَقَالَ اللَّهُمَّ
اغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا وَارْضَ عَنَّا وَتَقَبَّلْ مِنَّا وَأَدْخِلْنَا
الْجَنَّةَ وَنَجِّنَا مِنْ النَّارِ وَأَصْلِحْ لَنَا شَأْنَنَا كُلَّهُ
فَكَأَنَّا اشْتَهَيْنَا أَنْ يَزِيدَنَا فَقَالَ قَدْ جَمَعْتُ لَكُمْ الْأَمْرَ حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا مِسْعَرٌ عَنْ أَبِي
عَنْ أَبِي عَنْ أَبِي مِنْهُمْ أَبُو غَالِبٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ أَوْ نَحْوَهُ [72]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami
Mis'ar dari Abu Al 'Anbas dari Abu Al 'Adabbas dari Abu Marzuq dari Abu Ghalib
dari Abu Umamah berkata; Rasulullah ﷺ keluar
menghampiri kami dan beliau bersandar pada tongkat, kami berdiri menghampiri
beliau, beliau bersabda; "Jangan berdiri seperti orang-orang Persi berdiri
seraya saling mengagungkan satu sama lain." Sepertinya kami menginginkan
beliau berdoa pada Allah untuk kami lalu beliau berdoa; "Ya Allah! Ampuni
kami, rahmati kami, ridhoi kami, terimalah kami, masukkan kami ke surga,
selamatkan kami dari neraka, perbaikilah kondisi kami seluruhnya."
Sepertinya kami menginginkan beliau menambahi doa untuk kami lalu beliau
bersabda; "Aku telah menyatukan urusan untuk kalian." Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Abbad telah menceritakan kepada kami
Sufyan telah menceritakan kepada kami Mis'ar dari ayahku dari ayahku dari
ayahku diantaranya dari Abu Ghalib dari Abu Umamah dari Nabi Shallallahu'alaihiWasallam,
hadits serupa.
Di dalam kitab Al-Du’a Li Al-Thabarani hadits
nomor 1422 disebutkan doa Ya Allah terimalah kebaikan-kebaikanku dan aku
memohon kepada-Mu tingkatan jannah tertinggi;
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ
حَنْبَلٍ، حَدَّثَنِي مُصْعَبُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الزُّبَيْرِيُّ، ثنا عَبْدُ
الْعَزِيزِ بْنُ أَبِي حَازِمٍ، عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ مُوسَى
بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ أَبِي عُبَيْدٍ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، ﵂ عَنْ رَسُولِ
اللَّهِ ﷺ أَنَّهُ كَانَ يَدْعُو يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ
الْمَسْأَلَةِ، وَخَيْرَ الدُّعَاءِ، وَخَيْرَ النَّجَاةِ، وَخَيْرَ الْعَمَلِ،
وَخَيْرَ الثَّوَابِ، وَخَيْرَ الْحَيَاةِ، وَخَيْرَ الْمَمَاتِ، وَثَبِّتْنِي
وَثَقِّلْ مَوَازِينِي، وَأَحِقَّ إِيمَانِي، وَارْفَعْ دَرَجَتِي، وَتَقَبَّلْ
صَلَاتِي، وَاغْفِرْ خَطِيئَتِي، وَأَسْأَلُكَ الدَّرَجَاتِ الْعُلَى مِنَ
الْجَنَّةِ، آمِينَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فَوَاتِحَ الْخَيْرِ
وَخَوَاتِمَهُ، وَجَوَامِعَهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ، وَظَاهِرَهُ وَبَاطِنَهُ،
وَالدَّرَجَاتِ الْعُلَى مِنَ الْجَنَّةِ، آمِينَ، اللَّهُمَّ نَجِّنِي مِنَ
النَّارِ، وَمَغْفِرَةً بِاللَّيْلِ وَمَغْفِرَةً بِالنَّهَارِ، وَالْمَنْزِلَ
الصَّالِحَ مِنَ الْجَنَّةِ، آمِينَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ خَلَاصًا مِنَ
النَّارِ سَالِمًا، وَأَدْخِلْنِي الْجَنَّةَ آمِنًا، اللَّهُمَّ إِنِّي
أَسْأَلُكَ أَنْ تُبَارِكَ لِي فِي نَفْسِي، وَفِي سَمْعِي، وَفِي بَصَرِي، وَفِي
رُوحِي، وَفِي خَلْقِي، وَفِي خِلْقَتِي، وَفِي أَهْلِي، وَفِي حَيَاتِي
وَمَمَاتِي، وَفِي عِلْمِي، اللَّهُمَّ وَتَقَبَّلْ حَسَنَاتِي وَأَسْأَلُكَ
الدَّرَجَاتِ الْعُلَى مِنَ الْجَنَّةِ آمِينَ»[73]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Ahmad ibnu Ahmad ibnu Hambal,
telah menceritakan kepadaku Mus’ab ibnu Abdullah Az Zabairi, telah menceritakan
kepada kami Abdul Aziz ibnu Abi Hazim, dari Suhail ibnu Abi Shalih, dari Musa
ibnu ‘Uqbah, dari ‘Asim ibnu Abi ‘Ubaid, dari Umu Salamah RA, dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau saat berdoa Memohon: Ya Allah Sesungguhnya Aku memohon
kepada-Mu Sebaik-baik permohonan, dan sebaik-baik permintaan, dan sebaik-baik
pertolongan, dan sebaik-baik amal, dan sebaik-baik balasan, dan sebaik-baik
kehidupan, dan sebaik-baik kematian, dan tetapkanlah aku dan beratkanlah
timbanganku, dan benarkanlah imanku, dan tinggikanlah tingkatanku, dan
terimalah shalatku, dan ampunilah kesalahan-kesalahanku, dan aku mohon kepadamu
tingkatan jannah yang tertinggi, amiin, Ya Allah aku mohon kepada-Mu pembukaan
dan penutupan yang baik, dan semuanya, dan akhirnya, dan yang lahir dan
bathinnya, dan tingkatan jannah yang tertinggi, amiin, Ya Allah lindungilah aku
dari neraka, dan ampunan di malam hari dan ampunan di siang hari, dan kedudukan
yang baik di dalam Jannah, amiin, Ya Allah aku mohon kepada-Mu berkahilah aku
dan jiwaku, dan dalam pendengaranku, dan dalam penglihatanku, dan di dalam
ruhku, dan di dalam bentuk ciptaanku, dan dalam keluargaku, dan dalam hidupku,
dan dalam matiku, dan dalam ilmuku, Ya Allah terimalah kebaikan-kebaikanku dan
aku memohon kepada-Mu tingkatan jannah tertinggi, amiin.
Di
sini perlu dikemukakan alasan kenapa ada Taqwa Level Jannah, sekarang
perhatikan Al Quran surat Al-Fath/ 48: 5, berikut;
لِيُدْخِلَ
الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ
خَالِدِينَ فِيهَا وَيُكَفِّرَ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَكَانَ ذَلِكَ عِنْدَ
اللَّهِ فَوْزًا عَظِيمًا
Artinya: Supaya
Dia memasukkan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan ke dalam surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya dan supaya Dia
menutupi kesalahan-kesalahan mereka. Dan yang demikian itu adalah
keberuntungan/ kemenangan yang besar di sisi Allah, (QS. Al-Fath/ 48: 5)
Ayat
di atas memberikan gambaran bahwa orang yang beriman yang dimasukkan ke dalam
jannah adalah orang yang memperoleh keberuntungan atau kemenangan yang besar,
sedangkan dari dalam Al Quran surat Al-Ahzab/ 33: 70-71, diperoleh tambahan
keterangan, bahwa orang beriman yang bertaqwa dan berjuang menegakkan perkataan
yang benar, yang akan memperoleh kemenangan yang besar;
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا, يُصْلِحْ
لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Artinya: Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah
perkataan yang benar,niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan
mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya,
maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.
Ketaqwaan
kepada Allah diwujudkan dengan cara mentaati Allah dan Rasul-nya, Bukti yang
menunjukkan bahwa orang bertaqwa yang akan mendapatkan kemenangan “Jannah”,
juga dikemukakan di dalam Al Quran surat An-Nur/ 24: 52, Az-Zumar/ 39: 61 dan
An-Naba’/ 78: 31;
وَمَنْ
يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللَّهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ
الْفَائِزُونَ
Artinya: Dan
barang siapa yang taat kepada Allah dan rasul-Nya dan takut kepada Allah dan
bertakwa kepada-Nya, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat
kemenangan.(QS. An-Nur/ 24: 52)
وَيُنَجِّي
اللَّهُ الَّذِينَ اتَّقَوْا بِمَفَازَتِهِمْ لَا يَمَسُّهُمُ السُّوءُ وَلَا هُمْ
يَحْزَنُونَ
Artinya: Dan
Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka
tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita.(QS.
Az-Zumar/ 39: 61)
إِنَّ
لِلْمُتَّقِينَ مَفَازًا
Artinya: Sesungguhnya
orang-orang yang bertakwa mendapat kemenangan. (QS. An-Naba’/ 78: 31)
Kehidupan
di dunia hanyalah kesenangan yang memperdayakan, jika manusia telah mati maka
pahala akan disempurnakan di hari Qiyamat dan orang yang dijauhkan dari neraka
dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah memperoleh kemenangan/
keberuntungan sebagaimana digambarkan di dalam Al Quran surat Ali-'Imran/ 3:
185, berikut;
كُلُّ
نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ
وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Artinya: Tiap-tiap
yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah
disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke
dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain
hanyalah kesenangan yang memperdayakan.(QS. Ali-'Imran/ 3: 185)
Kemenangan
sejati akan diperoleh ketika seseorang telah mati dan di hari akhir dimasukkan
ke dalam Jannah, ketaqwaan level jannah dikemukakan untuk membangun kesadaran
spiritual bahwa kebahagian hakiki akan diperoleh di hari akhir, namun
kebahagiaan spiritual Jannah sudah harus terbentuk dalam kehidupan di dunia.
Puncak
ketaqwaan adalah taat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan sepenuh jiwa dan raga,
hingga Allah memberi kenikmatan kepada mereka sebagaimana kenikmatan yang
diberikan kepada para Nabi, Siddiqin, Syuhada dan Shalihin, segaimana
digambarkan di dalam Al Quran surat
An-Nisa'/ 4: 69
وَمَنْ
يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ
عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ
أُولَئِكَ رَفِيقًا
Artinya: Dan
barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama
dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para
shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka
itulah teman yang sebaik-baiknya.(QS. An-Nisa'/ 4: 69)
Akhirnya di sini perlu dirumuskan pengertian taqwa di level jannah, adalah: kesadaran qalbu memahami dan meyakini kebenaran jalan agama Allah, berpegang teguh dengan ajaran tersebut dan bersungguh-sungguh berjuang “berjihad” beristiqamah untuk mengamalkan dan menegakkannya serta mengajak orang lain untuk mengikuti, memahami dan mengamalkannya.
Kesadaran spiritual Jannah menduduki peringkat
tertinggi dalam level ketaqwaan, kesadaran spiritual ini mendorong manusia
untuk memantaskan diri menjadi manusia yang layaknya menjadi penduduk Jannah, semangatnya
selalu tetap muda, kuat dalam berjihad menegakkan Agama Allah, merasa; bahagia,
beruntung dan memperoleh kemenangan dan kemuliaan, dekat dengan Allah, berada
di jalan yang benar, dan merasa mendapat cinta, rahmat, ridha, hidayah Allah.
Berdoa
Mohon Tingkatan Jannah Yang Tertinggi
اللَّهُمَّ
إِنِّي أَسْأَلُكَ خَيْرَ الْمَسْأَلَةِ، وَخَيْرَ الدُّعَاءِ، وَخَيْرَ
النَّجَاةِ، وَخَيْرَ الْعَمَلِ، وَخَيْرَ الثَّوَابِ، وَخَيْرَ الْحَيَاةِ،
وَخَيْرَ الْمَمَاتِ، وَثَبِّتْنِي وَثَقِّلْ مَوَازِينِي، وَأَحِقَّ إِيمَانِي،
وَارْفَعْ دَرَجَتِي، وَتَقَبَّلْ صَلَاتِي، وَاغْفِرْ خَطِيئَتِي، وَأَسْأَلُكَ
الدَّرَجَاتِ الْعُلَى مِنَ الْجَنَّةِ، آمِينَ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ
فَوَاتِحَ الْخَيْرِ وَخَوَاتِمَهُ، وَجَوَامِعَهُ، وَأَوَّلَهُ وَآخِرَهُ،
وَظَاهِرَهُ وَبَاطِنَهُ، وَالدَّرَجَاتِ الْعُلَى مِنَ الْجَنَّةِ، آمِينَ
“Ya
Allah Sesungguhnya Aku memohon kepada-Mu Sebaik-baik permohonan, dan
sebaik-baik permintaan, dan sebaik-baik pertolongan, dan sebaik-baik amal, dan
sebaik-baik balasan, dan sebaik-baik kehidupan, dan sebaik-baik kematian, dan
tetapkanlah aku dan beratkanlah timbanganku, dan benarkanlah imanku, dan
tinggikanlah tingkatanku, dan terimalah shalatku, dan ampunilah
kesalahan-kesalahanku, dan aku mohon kepadamu tingkatan jannah yang tertinggi,
amiin. Ya Allah aku mohon kepada-Mu pembukaan dan penutupan yang baik, dan
semuanya, dan akhirnya, dan yang lahir dan bathinnya, dan tingkatan jannah yang
tertinggi, amiin”
(Al-Du’a
Li Al-Thabarani: 1422)
[1] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah Ar-Risalah, 2001, Jilid 4, Halaman 467,
Hadits nomor 2735.
[2] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 116, Hadits
nomor 6567-6568.
[3] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 122, Hadits
nomor 6596.
[4] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 6, Halaman 171, Hadits
nomor 4949.
[5] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Al-Thabaah Al-‘Amirah, Turki, 1334 H, Jilid 8,
Halaman 48, Hadits nomor 2650.
[6] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 124, Hadits
nomor 6607.
[7] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 7, Halaman 121, Hadits nomor 5673.
[8] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan
Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 4, Halaman 275,
Hadits nomor 4901.
[9] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 2, Halaman 99, Hadits nomor
1379.
[10] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 6, Halaman 171, Hadits
nomor 4949.
[11] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 14, Halaman
125, Hadits nomor 8397.
[12] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, Dar Ibnu Katsir, Damsiq, 1993, Jilid 5, Halaman 2397, Hadits
nomor 6179.
[13] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, Dar Ibnu Katsir, Damsiq, 1993, Jilid 3, Halaman 1101, Hadits
nomor 2861.
[14] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Al-Thabaah Al-‘Amirah, Turki, 1334 H, Jilid 1,
Halaman 75, Hadits nomor 114.
[15] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4,
Halaman 2272, Hadits nomor 2956.
[16] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, Dar Ibnu Katsir, Damsiq, 1993, Jilid 1, Halaman 75, Hadits
nomor 171.
[17] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 11, Halaman
131, Hadits nomor 6570.
[18] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 134, Hadits
nomor 6657.
[19] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah
al-‘Alamiyah, tt, 2009, Jilid 4 halaman 328, Hadits nomor 2575.
[20] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1,
Halaman 163, Hadits nomor 180-181.
[21] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah Ar-Risalah, 2001, Jilid 31, Halaman
270, Hadits nomor 18941.
[22] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah Ar-Risalah, 2001, Jilid 8, Halaman 240,
Hadits nomor 4623.
[23] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 17, Hadits nomor
2796.
[24] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah Ar-Risalah, 2001, Jilid 16, Halaman
545, Hadits nomor 10932.
[25] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Al-Thabaah Al-‘Amirah, Turki, 1334 H, Jilid 8,
Halaman 146, Hadits nomor 2834.
[26] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah Ar-Risalah, 2001, Jilid 15, Halaman
159, Hadits nomor 9279.
[27] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Al-Thabaah Al-‘Amirah, Turki, 1334 H, Jilid 8,
Halaman 148, Hadits nomor 2837.
[28] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 118, Hadits
nomor 3246.
[29] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 7, Halaman 116, Hadits
nomor 5652.
[30] Al Imam Ahmad Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001,, Jilid 19, Halaman
452, Hadits nomor 12469.
[31] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 3, Halaman 25, Hadits nomor
1897.
[32] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 2, Halaman 105, Hadits
nomor 1397.
[33] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah
al-‘Alamiyah, tt, 2009, Jilid 1 halaman 55, Hadits nomor 4.
[34] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah
al-‘Alamiyah, tt, 2009, Jilid 6 halaman 101, Hadits nomor 3748.
[35] Abu Qasim Al-Thabarani, Mu’jam
Al-Shagir Li Al-Thabarani, Al-Maktab Al-Islami, Beirut, 1985, Jilid 1,
Halaman 89, Hadits nomor 118.
[36] Al Imam Ahmad Ibnu Hambal,
Musnad al-Imam Ahmad Ibn Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 15,
Halaman 435, Hadits nomor 9696.
[37] Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah
Al-Asbahani, Hilyatul Auilya’ Wa Thabaqat Al- Ashfiya’, Matba’ah
Al-Sa’adiyah, Mesir, 1974, Jilid 4, Halaman 250, Tanpa nomor.
[38] Al Imam Ahmad Ibnu Hambal,
Musnad al-Imam Ahmad Ibn Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 38,
Halaman 350, Hadits nomor 23324.
[39] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 15, Hadits nomor
2786.
[40] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 36, Hadits nomor
123.
[41] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 20, Hadits nomor
2810.
[42] Abu Hatim Muhammad Ibn Hiban, Shahih
Ibnu Hibban, Dar ibnU Hazm, Beirut, 2012, Jilid 1, Halaman 285, Hadits
nomor 312.
[43] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar
Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 3, Halaman 1505, Hadits nomor
1890.
[44] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al
Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990,
Jilid 1, Halaman 77, Hadits nomor 68.
[45] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Al-Thabaah Al-‘Amirah, Turki, 1334 H, Jilid 5, Halaman 139, Hadits nomor 1731.
[46] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 15, Halaman
245, Hadits nomor 9419.
[47] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al
Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990,
Jilid 1, Halaman 168, Hadits nomor 309.
[48] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 22, Hadits nomor
2817.
[49] Al Imam Ahmad Ibnu Hambal,
Musnad al-Imam Ahmad Ibn Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 32,
Halaman 425, Hadits nomor 22110.
[50] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 16, Hadits nomor
2790.
[51] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar
Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 3, Halaman 1501, Hadits nomor
1884.
[52] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 136, Hadits
nomor 7457.
[53] Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn
Ali Al-Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2000,
Jilid 4, Halaman 183, Hadits nomor 4745.
[54] Al Imam Ahmad Ibnu Hambal,
Musnad al-Imam Ahmad Ibn Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 28,
Halaman 354, Hadits nomor 17130.
[55] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniya, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 77, Hadits nomor 7199.
[56] Abu Hatim Muhammad Ibn Hiban, Shahih
Ibnu Hibban, Dar ibnu Hazm, Beirut, 2012, Jilid 1, Halaman 539, Hadits
nomor 812.
[57] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 100, Hadits nomor
6472.
[58] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan
Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 4, Halaman 321,
Hadits nomor 5081.
[59] Abu Hatim Muhammad Ibn Hiban, Shahih
Ibnu Hibban, Dar ibnu Hazm, Beirut, 2012, Jilid 5, Halaman 465, Hadits
nomor 4755.
[60] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 13, Hadits nomor
20.
[61]
Ibnu Majah Ibnu Abdullah
Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418
H, Jilid 1, Halaman 294, Hadits nomor 904.
[62] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah
al-‘Alamiyah, tt, 2009, Jilid 2 halaman 464, Hadits nomor 1174.
[63]
Ibnu Majah Ibnu Abdullah
Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418
H, Jilid 2, Halaman 901, Hadits nomor 2701.
[64] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah
al-‘Alamiyah, tt, 2009, Jilid 4 halaman 4565, Hadits nomor 2633.
[65] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 5, Halaman 133, Hadits
nomor 4205.
[66] Al Imam Ahmad Ibnu Hambal,
Musnad al-Imam Ahmad Ibn Hambal, Muassasah Ar-Risalah, 2001, Jilid 1,
Halaman 499, Hadits nomor 447.
[67] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Al-Thabaah Al-‘Amirah, Turki, 1334 H, Jilid 8,
Halaman 165, Hadits nomor 2877.
[68] Al Imam Ahmad Ibnu Hambal,
Musnad al-Imam Ahmad Ibn Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 36,
Halaman 381, Hadits nomor 22060.
[69] Al Imam Ahmad Ibnu Hambal,
Musnad al-Imam Ahmad Ibn Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 29,
Halaman 592, Hadits nomor 18054.
[70] Al Imam Ahmad Ibnu Hambal,
Musnad al-Imam Ahmad Ibn Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 41,
Halaman 474, Hadits nomor 25019.
[71]
Ibnu Majah Ibnu Abdullah
Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418
H, Jilid 2, Halaman 1264, Hadits nomor 3846.
[72] Al Imam Ahmad Ibnu Hambal,
Musnad al-Imam Ahmad Ibn Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 36,
Halaman 515, Hadits nomor 22181.
[73] Abu Qasim Sulaiman ibn Ahmad
Al-Thabarani, Al-Du’a Li Al-Thabarani Ausath, Dar Al Kitab Al-“ILmiyah,
Beirut, 1413, Halaman 421, Hadits nomor 1422.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar