46. Sumber Ketakwaan Adalah Qalbu Orang Yang Arif
Keistimewaan takwa ke empat puluh enam “Sumber ketakwaan adalah qalbu orang yang arif”, keistimewaan ini di dasari hadits nomor 13185 dalam kitab Mu’jam Thabarani Kabir, di dalamnya dinyatakan bahwa sumber takwa adalah hati orang-orang yang arif (berpengetahuan);
حَدَّثَنَا أَبُو عَقِيلٍ أَنَسُ بْنُ سَلْمٍ
الْخَوْلَانِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ رَجَاءَ السِّخْتِيَانِيُّ، ثنا مُنَبِّهُ
بْنُ عُثْمَانَ، حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ زَيْدٍ، عَنْ سَالِمِ بْنِ
عَبْدِ اللهِ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «لِكُلِّ شَيْءٍ
مَعْدِنٌ، وَمَعْدِنُ التَّقْوَى قُلُوبُ الْعَارِفِينَ». [1]
Artinya: "Menceritakan
kepada kami Abu Aqil Anas bin Salim al-Khaulani, dia berkata: Menceritakan kepada
kami Muhammad bin Rojak as-Sakhtiyani, dia berkata: Menceritakan kepada kami Munabbih
bin Utsman, dia berkata: Menceritakan kepada saya Umar bin Muhammad bin Zaid dari
Salim bin Abdullah dari ayahnya, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
sallam bersabda: 'Segala sesuatu memiliki sumber, dan sumber takwa adalah hati orang-orang
yang arif (berpengetahuan).'"
Sedangkan di dalam kitab Syuabul
Iman Baihaqi hadits nomor 4651, dinyatakan bahwa sumber takwa adalah hati orang-orang
yang berakal;
أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ، أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ
بْنُ عُبَيْدٍ، حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ -[362]- هُوَ ابْنُ مِلْحَانَ،
حَدَّثَنَا وَثِيمَةُ بْنُ مُوسَى، حَدَّثَنَا سَلَمَةُ بْنُ الْفَضْلِ، عَنْ رَجُلٍ،
ذَكَرَهُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ الزُّهْرِيِّ، عَنْ سَالِمٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عُمَرَ
بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ: " إِنَّ لِكُلِّ شَيْءٍ مَعْدِنٌ، وَمَعْدِنُ التَّقْوَى قُلُوبُ الْعَاقِلِينَ
". قَالَ الشَّيْخُ أَحْمَدُ: " وَهَذَا مُنْكَرٌ، وَلَعَلَّ الْبَلَاءَ
وَقَعَ مِنَ الرَّجُلِ الَّذِي لَمْ يُسَمَّ. وَاللهُ أَعْلَمُ [2] "
Artinya: "Telah mengabarkan
kepada kami Ali bin Ahmad bin Abdan, telah mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ubaid,
telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Ibrahim - dia adalah Ibnu Milhan, telah
menceritakan kepada kami Wathimah bin Musa, telah menceritakan kepada kami Salamah
bin al-Fadhl, dari seorang laki-laki yang disebutkannya, dari Ibnu Shihab az-Zuhri,
dari Salim, dari ayahnya, dari Umar bin al-Khattab radhiyallahu 'anhu, bahwa Nabi
Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Sesungguhnya segala sesuatu memiliki sumber,
dan sumber takwa adalah hati orang-orang yang berakal.' Syaikh Ahmad berkata: 'Ini
adalah hadits yang munkar, dan mungkin kesalahan berasal dari laki-laki yang tidak
disebutkan namanya. Dan Allah lebih mengetahui.'"
Sedangkan di dalam kitab Mujam
Thabarani Awsath 2492 dinyatakan bahwa termasuk dari sumber-sumber takwa adalah
kamu mengajarkan apa yang telah kamu ketahui kepada orang yang tidak mengetahuinya;
حَدَّثَنَا أَبُو مُسْلِمٍ قَالَ: نا الْمِسْوَرُ
بْنُ عِيسَى قَالَ: نا الْقَاسِمُ بْنُ يَحْيَى، عَنْ يَاسِينَ الزَّيَّاتِ، عَنْ
أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «مِنْ مَعَادِنِ
التَّقْوَى تَعَلُّمُكَ إِلَى مَا قَدْ عَلِمْتَ مَا لَمْ تَعْلَمْ،
وَالتَّقْصِيرُ فِيمَا قَدْ عَلِمْتَ قِلَّةُ الزِّيَادَةِ فِيهِ، وَإِنَّمَا
يُزْهِدُ الرَّجُلَ فِي عِلْمِ مَا لَمْ يَعْلَمْ قِلَّةُ الِانْتِفَاعِ بِمَا
قَدْ عَلِمَ» لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ إِلَّا يَاسِينُ [3]
Artinya: "Menceritakan
kepada kami Abu Muslim, dia berkata: Menceritakan kepada kami al-Maswar bin Isa,
dia berkata: Menceritakan kepada kami al-Qasim bin Yahya dari Yasin az-Zayyat dari
Abu az-Zubair dari Jabir, dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda: 'Termasuk dari sumber-sumber takwa adalah kamu mengajarkan apa yang telah
kamu ketahui kepada orang yang tidak mengetahuinya, dan kurangnya usaha dalam apa
yang telah kamu ketahui menunjukkan sedikitnya peningkatan dalam hal itu. Sesungguhnya
seseorang menjadi tidak tertarik untuk mempelajari apa yang belum dia ketahui karena
kurangnya manfaat dari apa yang telah dia ketahui.' Tidak ada yang meriwayatkan
hadits ini dari Abu az-Zubair kecuali Yasin."
Di dalam Al Quran surat Al-Hajj
(22): 46 digambarkan bahwa organ tubuh yang dapat digunakan untuk berpikir/ memahami
adalah qalbu yang ada di dalam dada;
أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ
قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ
وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
Artinya: Maka apakah mereka
tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka dapat
memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya
bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada. (QS.
Al-Hajj (22): 46)
Di dalam Al Quran surat Al-A'raf
(7): 179 juga digambarkan bahwa organ tubuh yang dapat digunakan untuk berpikir/
memahami adalah qalbu;
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ
وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ
بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ
أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Artinya: Dan sesungguhnya Kami
jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai
hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai
mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah),
dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat
Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka
itulah orang-orang yang lalai. (QS. Al-A'raf (7): 179)
Dari dalam Al Quran surat Al-Hujurat
(49): 13 tergambar bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang bertakwa,
yaitu yang paling ‘Arif di antara manusia;
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ
وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ
عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: Hai manusia, sesungguhnya
Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan
kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya
orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa
diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat
(49): 13)
[1] Abu
Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir li al-Thabarani, Maktabah Ibnu
Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 12, Halaman 303, Hadits nomor 13185.
[2] Abu
Bakar Ahmad Al Husain Al baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah,
Beirut, 2000, Jilid 4 Halaman 159, Hadits nomor 4651.
[3] Abu
Al-Qasim Sulaiman ibn Ahmad Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Ausath, Dar
al-Haramain, Kairo, 1995, Jilid, 3, Halaman 64, Hadits nomor 2492.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar