22/04/2026

+ 4. TAQWA LEVEL ISLAM

+ 4. TAQWA LEVEL ISLAM

Kata Islam berasal dari kata Aslama-Yuslimu-Islaman artinya; menerima, tunduk, patuh, menyerahkan diri, menjadi selamat, berdasar pencarian kata di dalam Al Quran menggunakan aplikasi Al Quran Zekr 1.1 , kata aslama ditemukan 8 kali di 8 ayat, sedangkan berdasar kata dasar salama ditemukan sebnyak 140 kali di 127 ayat.

Orang Islam yang sudah melaksanakan shalat, puasa, zakat itu belum tentu sudah beriman, karena iman itu berada di dalam qalbu, hal ini ditegaskan di dalam Al Quran surat Al Hujurat/ 49: 14;

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِن تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُم مِّنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Artinya: Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. Al Hujurat/ 49: 14)

Pernyataan di atas diperkuat dengan hadits nomor 11933 dalam kitab Musnad Ahmad bahwa Islam itu sesuatu yang tampak sedangkan iman ada di dalam qalbu;

حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مَسْعَدَةَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْإِسْلَامُ عَلَانِيَةٌ وَالْإِيمَانُ فِي الْقَلْبِ قَالَ ثُمَّ يُشِيرُ بِيَدِهِ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَ ثُمَّ يَقُولُ التَّقْوَى هَاهُنَا التَّقْوَى هَاهُنَا [1]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Bahz berkata, telah menceritakan kepada kami Ali bin Mas'adah berkata, telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas ia berkata; Rasulullah  bersabda: "Islam itu sesuatu yang nampak sedangkan iman itu ada dalam hati." Anas berkata; "Lalu beliau menunjuk ke dadanya dengan tangan sebanyak tiga kali." Anas berkata; Kemudian beliau bersabda: "Takwa itu ada di sini, takwa itu ada di sini."

Sedangkan di dalam Al Quran surat Al Anbiya’/ 21: 108 digambarkan bahwa berislam adalah berserah diri kepada Allah yang Maha Esa;

قُلْ إِنَّمَا يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ فَهَلْ أَنتُم مُّسْلِمُونَ

Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya yang diwahyukan kepadaku adalah: "Bahwasanya Tuhanmu adalah Tuhan Yang Esa. maka hendaklah kamu berserah diri (kepada-Nya)". (QS. Al Anbiya’/ 21: 108)

Pengertian tersebut diperkuat dengan pernyataan yang ada di dalam hadits nomor 17027 dalam kitab Musnad Ahmad yang menggambarkan bahwa berislam adalah menyerahkan qalbu kepada Allah dan adapun Islam yang paling utama adalah iman;

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ أَنْ يُسْلِمَ قَلْبُكَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ يَسْلَمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِكَ وَيَدِكَ قَالَ فَأَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ قَالَ الْإِيمَانُ قَالَ وَمَا الْإِيمَانُ قَالَ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ قَالَ فَأَيُّ الْإِيمَانِ أَفْضَلُ قَالَ الْهِجْرَةُ قَالَ فَمَا الْهِجْرَةُ قَالَ تَهْجُرُ السُّوءَ قَالَ فَأَيُّ الْهِجْرَةِ أَفْضَلُ قَالَ الْجِهَادُ قَالَ وَمَا الْجِهَادُ قَالَ أَنْ تُقَاتِلَ الْكُفَّارَ إِذَا لَقِيتَهُمْ قَالَ فَأَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ عُقِرَ جَوَادُهُ وَأُهْرِيقَ دَمُهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ عَمَلَانِ هُمَا أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ إِلَّا مَنْ عَمِلَ بِمِثْلِهِمَا حَجَّةٌ مَبْرُورَةٌ أَوْ عُمْرَةٌ [2]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq berkata; telah menceritakan kepada kami Ma'mar dari Ayyub dari Abu Qilabah dari 'Amr bin 'Abasah berkata; ada seorang laki-laki berkata; "Wahai Rasulullah, apa maksud Islam?" beliau menjawab, "Kamu menyerahkan hatimu kepada Allah Azzawajalla dan orang muslim selamat dari lidah dan tanganmu." Dia bertanya, "Islam manakah yang paling utama?" Beliau menjawab, "Iman." Dia bertanya, "Apa maksud iman?" Beliau bersabda: "Kamu beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya dan kebangkitan setelah mati." Dia bertanya lagi, "Iman apa yang paling utama?" beliau bersabda: "Hijrah." dia bertanya, "Apa maksud hijrah itu?" beliau bersabda: "Kamu meninggalkan kejelekan." Dia bertanya, "Hijrah apa yang paling utama?." Beliau menjawab, "Jihad." Dia bertanya, "Apakah jihad itu?" beliau bersabda: "Kamu memerangi orang kafir jika kamu menemui mereka." dia bertanya, "Jihad apa yang paling utama?" beliau menjawab, "Barangsiapa yang kudanya disembelih dan darahnya ditumpahkan." Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Ada dua amalan yang kedua amalan itu adalah paling utama kecuali orang itu melakukan amalan semisal, haji mabrur atau umrah."

Hadits nomor 19171 di dalam kitab Musnad Ahmad, juga memperkuat pengertian di atas, bahwa berisalam adalah menyerahkan jiwa sepenuhnya hanya pada Allah Ta'ala dan menghadapkan wajah hanya kepada Allah saja, mengerjakan shalat, menunaikan zakat;

حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ أَخْبَرَنَا أَبُو قَزَعَةَ الْبَاهِلِيُّ عَنْ حَكِيمِ بْنِ مُعَاوِيَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ مَا أَتَيْتُكَ حَتَّى حَلَفْتُ عَدَدَ أَصَابِعِي هَذِهِ أَنْ لَا آتِيَكَ أَرَانَا عَفَّانُ وَطَبَّقَ كَفَّيْهِ فَبِالَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ مَا الَّذِي بَعَثَكَ بِهِ قَالَ الْإِسْلَامُ قَالَ وَمَا الْإِسْلَامُ قَالَ أَنْ يُسْلِمَ قَلْبُكَ لِلَّهِ تَعَالَى وَأَنْ تُوَجِّهَ وَجْهَكَ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى وَتُصَلِّيَ الصَّلَاةَ الْمَكْتُوبَةَ وَتُؤَدِّيَ الزَّكَاةَ الْمَفْرُوضَةَ أَخَوَانِ نَصِيرَانِ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ أَحَدٍ تَوْبَةً أَشْرَكَ بَعْدَ إِسْلَامِهِ  [3]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami 'Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, telah mengabarkan pada kami Abu Qar'ah Al Bahili dari Hakim bin Mu'awiyah dari Ayahnya ia berkata; Aku datang kepada Rasulullah , lalu aku berkata; "Tidaklah aku datang kepadamu kecuali aku telah bersumpah dengan beberapa jariku ini bahwa aku tidak akan datang kepadamu -'Affan memperlihatkan dan menengadahkan telapaknya- Demi dzat yang mengutusmu dengan kebenaran, dengan apakah kamu di utus?." Beliau menjawab: "Dengan Islam." Mu'awiyah bertanya; "Apakah Islam itu?." Beliau menjawab: "Hendaknya engkau serahkan jiwamu sepenuhnya hanya pada Allah Ta'ala dan engkau menghadapkan wajahmu hanya kepada Allah saja, engkau mengerjakan shalat, menunaikan zakat, itulah dua hal yang tidak bisa dipisahkan dan Allah Azza Wa Jalla tidak akan menerima taubat seorang hamba yang menyekutukan-Nya setelah ia masuk Islam."

Berdasar ayat-ayat Al Quran dan Hadits Rasulullah SAW di atas maka dapat diperoleh pengertian bahwa berisalam adalah kesadaran spiritual untuk berserah diri kepada Allah, tunduk, patuh, menerima dan bersedia melaksanakan ajaran-Nya, sehingga dapat memperoleh keselamatan dunia akhirat.

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa Islam adalah kepatuhan lahiriah seorang hamba kepada perintah Allah dan Rasul-Nya yang diwujudkan melalui amal-amal syariat. Ia membedakan antara Islam dan iman, di mana Islam berkaitan dengan ketundukan yang tampak secara lahiriah melalui ucapan syahadat, pelaksanaan ibadah, dan ketaatan syariat, sementara iman berkaitan dengan keyakinan batin. Menurut al-Ghazali, Islam adalah pintu masuk bagi seorang hamba untuk mencapai kedalaman iman dan ihsan, sehingga Islam menjadi fondasi awal sekaligus sarana untuk menapaki jalan kesempurnaan spiritual. Ia menegaskan bahwa kualitas Islam seseorang sangat ditentukan oleh kesungguhannya dalam menjalankan perintah lahir sekaligus menjaga kebersihan hati, karena syariat adalah jalan yang menyucikan batin menuju kedekatan dengan Allah. [4]

Sementara itu, Ibn Qayyim al-Jauziyah menjelaskan bahwa Islam berarti ketundukan total kepada Allah, baik secara lahir maupun batin, dengan merendahkan diri di hadapan-Nya dan menyerahkan seluruh urusan kepada-Nya. Ia menekankan bahwa Islam memiliki dua sisi: sisi lahir berupa amal syariat seperti shalat, zakat, puasa, dan haji, serta sisi batin berupa penyerahan kehendak hati kepada Allah. Ibn Qayyim menegaskan bahwa puncak Islam adalah al-istislam lillāh (penyerahan penuh kepada Allah), yang memadukan ketundukan fisik dan kepatuhan hati. Menurutnya, Islam yang sejati tidak berhenti pada ritual, tetapi meliputi ketaatan menyeluruh yang mengarahkan seluruh potensi manusia kepada keridhaan Allah. [5]

Untuk meningkatkan pemahaman tentang berislam, sehingga dapat mengamalkan taqwa di tingkat Islam, maka berikut ini akan dikemukakan pembahasan tentang;

1. Hikmah Islam,

2. Keistimewaan Orang Islam,

3. Karakter Orang Islam,

4. Taqwa Di Tingkat Islam,

Pembahasannya akan dikemukakan berdasar ayat-ayat Al Quran dan Hadits Rasulullah SAW berikut;

1.Hikmah Islam

Berikut akan dikemukakan beberapa hikmah yang berkaitan dengan keislaman berdasar ayat-ayat Al Quran dan Hadits Rasulullah SAW;

1.1. Apa Yang Ada Di Langit Dan Di Bumi Menyerahkan Diri Kepadanya

Al Quran Surat Ali 'Imran/ 3: 83, membeikan penjelaskan dengan pertanyaan; apakah masih mau mencari agama yang lain, padahal terlah berserah diri ke padanya apa yang ada di langit dan bumi;

أَفَغَيْرَ دِينِ اللَّهِ يَبْغُونَ وَلَهُ أَسْلَمَ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ طَوْعًا وَكَرْهًا وَإِلَيْهِ يُرْجَعُونَ

Artinya: Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal kepada-Nya-lah menyerahkan diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa dan hanya kepada Allahlah mereka dikembalikan. (QS. Ali 'Imran/ 3: 83)

1.2. Orang Yang Diberi Hidayah Allah Hatinya Lapang Menerima Islam

Di dalam Al Quran surat Al An’am/ 6: 125 dinyatakan bahwa orang yang dikehendaki Allah untuk diberi hidayah, hatinya dijadikan lapang untuk menerima dan melaksanakan Islam;

فَمَن يُرِدِ اللَّهُ أَن يَهْدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَن يُرِدْ أَن يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَٰلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ

Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. Dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (QS. Al An’am/ 6: 125)

1.3. Agama Milik Allah Adalah Islam

Di dalam Al Quran surat Ali Imran/ 3: 19 ditegaskan bahwa agama milik Allah adalah Islam;

إِنَّ الدِّينَ عِندَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِن بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ وَمَن يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

Artinya: Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (QS. Ali Imran/ 3: 19)

1.4. Allah Sebagai Rajanya, Istana Sebagai Islamnya, Rumah Sebagai Surganya Dan Engkau Wahai Muhammad Adalah Sebagai Seorang Utusannya

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2787, dijelaskan sebuah perumpaman menyangkut Islam Allah sebagai rajanya, istana sebagai Islamnya, rumah sebagai surganya dan engkau wahai Muhammad adalah sebagai seorang utusannya, barangsiapa yang memenuhi undanganmu berarti dia masuk Islam, dan barangsiapa masuk Islam, berarti akan masuk surga;

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ خَالِدِ بْنِ يَزِيدَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِلَالٍ أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيَّ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا فَقَالَ إِنِّي رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ كَأَنَّ جِبْرِيلَ عِنْدَ رَأْسِي وَمِيكَائِيلَ عِنْدَ رِجْلَيَّ يَقُولُ أَحَدُهُمَا لِصَاحِبِهِ اضْرِبْ لَهُ مَثَلًا فَقَالَ اسْمَعْ سَمِعَتْ أُذُنُكَ وَاعْقِلْ عَقَلَ قَلْبُكَ إِنَّمَا مَثَلُكَ وَمَثَلُ أُمَّتِكَ كَمَثَلِ مَلِكٍ اتَّخَذَ دَارًا ثُمَّ بَنَى فِيهَا بَيْتًا ثُمَّ جَعَلَ فِيهَا مَائِدَةً ثُمَّ بَعَثَ رَسُولًا يَدْعُو النَّاسَ إِلَى طَعَامِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَجَابَ الرَّسُولَ وَمِنْهُمْ مَنْ تَرَكَهُ فَاللَّهُ هُوَ الْمَلِكُ وَالدَّارُ الْإِسْلَامُ وَالْبَيْتُ الْجَنَّةُ وَأَنْتَ يَا مُحَمَّدُ رَسُولٌ فَمَنْ أَجَابَكَ دَخَلَ الْإِسْلَامَ وَمَنْ دَخَلَ الْإِسْلَامَ دَخَلَ الْجَنَّةَ وَمَنْ دَخَلَ الْجَنَّةَ أَكَلَ مَا فِيهَا وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِإِسْنَادٍ أَصَحَّ مِنْ هَذَا قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ مُرْسَلٌ سَعِيدُ بْنُ أَبِي هِلَالٍ لَمْ يُدْرِكْ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ [6]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah] telah menceritakan kepada kami [Al Laits] dari [Khalid bin Yazid] dari [Sa'id bin Abu Hilal] bahwa [Jabir bin Abdullah Al Anshari] berkata; "Pada suatu hari, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam keluar menemui kami, beliau bersabda: "Sesungguhnya aku bermimpi seakan-akan Jibril berada di sisi kepalaku, sedangkan Mika'il berada di sisi kakiku, salah satu dari keduanya berkata kepada yang lain; "Buatlah perumpamaan baginya, " dia berkata; "Dengarkanlah pasti telingamu mendengar dan fahamilah pasti hatimu memahami, perumpamaanmu dengan ummatmu seperti seorang raja yang hendak membuat istana, dan didalamnya dibangun rumah, setelah membangun rumah, dia menyiapkan jamuan makan dalam rumah tersebut, lalu dia menyuruh seorang utusan untuk mengundang rakyat agar menghadiri jamuannya, di antara mereka ada yang memenuhi undangan utusan tadi dan di antara mereka ada yang meninggalkannya, Allah sebagai rajanya, istana sebagai Islamnya, rumah sebagai surganya dan engkau wahai Muhammad adalah sebagai seorang utusannya, barangsiapa yang memenuhi undanganmu berarti dia masuk Islam, dan barangsiapa masuk Islam, berarti akan masuk surga dan barangsiapa masuk surga, berarti dia memakan apa yang ada di dalamnya." Hadis ini telah diriwayatkan dari beberapa jalur dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam dengan sanad yang lebih kuat dari sanad hadis ini. Abu Isa berkata; Hadis ini mursal, karena Sa'id bin Abu Hilal tidak bertemu dengan Jabir bin Abdullah. Dan dalam bab ini, ada juga hadis dari Ibnu Mas'ud.

1.5. Islam Dibangun Di Atas Lima (Landasan)

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 8 dinyatakan bahwa Islam dibangun di atas lima landasan;

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ [7]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Musa dia berkata, telah mengabarkan kepada kami Hanzhalah bin Abu Sufyan dari 'Ikrimah bin Khalid dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah  bersabda: "Islam dibangun diatas lima (landasan); persaksian tidak ada ilah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad utusan Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadlan".

Inilah hadits tentang pokok ajaran Islam, tetapi sesungguhnya ajaran Islam bukan hanya tentang lima ibadah tersebut saja.

1.6. Berserah Diri; Islam Meski Dalam Keadaan Terpaksa

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 12061 disebutkan perintah untuk berserah diri kepada Allah meski dalam keadaan terpaksa;

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ حُمَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِرَجُلٍ أَسْلِمْ قَالَ أَجِدُنِي كَارِهًا قَالَ أَسْلِمْ وَإِنْ كُنْتَ كَارِهًا [8] 

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Adi dari Humaid dari Anas berkata; Bahwasanya Rasulullah  bersabda kepada seorang laki-laki: "Masuk Islamlah kamu!" ia menjawab; "Namun aku belum mantap, " beliau bersabda: "Masuklah Islam, meskipun engkau belum mantap."

1.7. Islam Muncul Dalam Keadaan Asing, Dan Ia Akan Kembali Dalam Keadaan Asing

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 232 dinyatakan bahwa Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبَّادٍ وَابْنُ أَبِي عُمَرَ جَمِيعًا عَنْ مَرْوَانَ الْفَزَارِيِّ قَالَ ابْنُ عَبَّادٍ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ عَنْ يَزِيدَ يَعْنِي ابْنَ كَيْسَانَ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ  [9]

Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abbad dan Ibnu Abu Umar semuanya dari Marwan al-Fazari, Ibnu Abbad berkata, telah menceritakan kepada kami Marwan dari Yazid -yaitu Ibnu Kaisan- dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah  bersabda: "Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing."

1.8. Islamlah Maka Kamu Akan Selamat

Di dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabir hadits nomor 238 dinyatakan masuklah Islam maka engkau akan selamat;

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ غَنَّامٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ، ثنا يُونُسُ بْنُ بُكَيْرٍ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ، قَالَتْ: لَمَّا كَانَ يَوْمُ الْفَتْحِ، قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ لِأَبِي قُحَافَةَ: «أَسْلِمْ تَسْلَمْ»[10]   

Artinya: Ubaid bin Ghannam meriwayatkan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Numair meriwayatkan kepada kami, Yunus bin Bukair meriwayatkan kepada kami dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya, dari Asma’ binti Abu Bakar, ia berkata: Ketika terjadi hari Fathu Makkah (pembebasan Kota Makkah), Rasulullah  berkata kepada Abu Quhafah (ayah Abu Bakar): “Masuk Islamlah, niscaya engkau akan selamat.”

1.9. Ikatan-Ikatan Islam Akan Terburai Satu Demi Satu

Di dalam kitab Syuab Al-Iman hadits nomor 21139 disebutkan bahwa ikatan-ikatan Islam akan terburai satu demi satu pertama kali terburai adalah masalah hukum dan yang terakhir adalah shalat;

أخبرنا أبو نصر بن قتادة أنا أبو الحسن السراج نا مطين نا أحمد بن حنبل نا الوليد بن مسلم نا عبد العزيز بن إسماعيل بن عبيد الله أن سليمان بن حبيب حدثهم عن أبي أمامة الباهلي أن رسول الله ﷺ قال:«لينقضن عرى الإسلام عروة عروة فكلما انتقضت عروة تشبث الناس بالتي تليها فأولهن نقضا الحكم وآخرهن الصلاة». [11]

Artinya: Abu Nashr bin Qatadah mengabarkan kepada kami, Abu al-Hasan as-Sarraj meriwayatkan kepada kami, Mathin meriwayatkan kepada kami, Ahmad bin Hanbal meriwayatkan kepada kami, al-Walid bin Muslim meriwayatkan kepada kami, Abdul Aziz bin Ismail bin Ubaidillah meriwayatkan bahwa Sulaiman bin Habib telah menceritakan kepada mereka dari Abu Umamah al-Bahili, bahwa Rasulullah  bersabda: “Sungguh ikatan-ikatan Islam akan terlepas satu demi satu. Setiap kali satu ikatan terlepas, manusia akan berpegang pada ikatan berikutnya. Ikatan pertama yang terlepas adalah masalah hukum, dan ikatan terakhir adalah shalat.”

2.Keistimewaan Orang Islam

Berikut akan dikemukakan bebarapa keuntungan bagi orang Islam yang disebutkan di dalam Al Quran maupun hadits Rasulullah SAW;

2.1. Islam Merupakan Agama Yang Sempurna Dan Diridhai Allah

Di dalam Al Quran surat Al Maidah/ 5: 3 ditegaskan bahwa agama Islam merupakan agama yang telah diridhai Allah SWT;

..الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِّإِثْمٍ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ ﴿المائدة: ٣﴾  

Artinya: Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Maidah/ 5: 3)

2.2. Menempuh Jalan Yang Lurus

Di dalam Al Quran Surat Al-Jinn/ 72: 14, ditegaskan bahwa barang siapa yang telah Islam; berserah diri kepada Allah, maka berarti dia telah memilih jalan yang lurus;

وَأَنَّا مِنَّا الْمُسْلِمُونَ وَمِنَّا الْقَاسِطُونَ ۖ فَمَنْ أَسْلَمَ فَأُولَٰئِكَ تَحَرَّوْا رَشَدًا

Artinya: Dan sesungguhnya di antara kami ada orang-orang yang taat dan ada (pula) orang-orang yang menyimpang dari kebenaran. Barangsiapa yang Islam; berserah diri, maka mereka itu benar-benar telah memilih jalan yang lurus.(QS. Al-Jinn/ 72: 14)

2.3. Mendapat Limpahan Nikmat Dari Allah

Di dalam Al Quran surat Al Hujurat/ 49: 17 digambarkan bahwa atas keislamanmu berarti Allah telah memberi nikmat dengan hidayah iman;

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا قُل لَّا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُم بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ

Artinya: Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: "Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar". (Qs. Al Hujurat/ 49: 17)

2.4. Mendapat Cahaya Dari Allah

Di dalam AL Quran surat Az Zumar/ 39: 22 ditegaskan bahwa orang yang hatinnya lapang kepada Islam berarti mendapat cahaya dari Allah SWT;

أَفَمَن شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ فَهُوَ عَلَىٰ نُورٍ مِّن رَّبِّهِ فَوَيْلٌ لِّلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُم مِّن ذِكْرِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

Artinya: Maka apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. (QS. Az Zumar/ 39: 22)

2.5. Agama Islam Agama Yang Diterima Allah

Di dalam Al Quran surat Ali Imran/ 3: 85 ditegaskan bahwa selain agama islam tidak diterima Allah SWT;

وَمَن يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَن يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya: Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. (QS. Ali Imran/ 3: 85)

2.6. Mendapat Hidayah Dari Allah

Di dalam Al Quran surat Ash Shaf/ 61: 7 ditegaskan bahwa Allah tidak memberi petunjuk orang yang dhalim, tetapi memberi petunjuk orang Islam;

وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَىٰ إِلَى الْإِسْلَامِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya: Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim. (QS. Ash Shaf/ 61: 7)

Di dalam Al Quran surat Ali Imran/ 3: 20 dijelaskan jika seseorang telah Islam maka berarti dia telah mendapat hidayah;

فَإِنْ حَاجُّوكَ فَقُلْ أَسْلَمْتُ وَجْهِيَ لِلَّهِ وَمَنِ اتَّبَعَنِ وَقُل لِّلَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ وَالْأُمِّيِّينَ أَأَسْلَمْتُمْ فَإِنْ أَسْلَمُوا فَقَدِ اهْتَدَوا وَّإِن تَوَلَّوْا فَإِنَّمَا عَلَيْكَ الْبَلَاغُ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

Artinya: Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam), maka katakanlah: "Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku". Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi: "Apakah kamu (mau) masuk Islam". Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah). Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran/ 3: 20)

2.7. Menjadi Orang Yang Lebih Baik

Al Quran Surat Fushilat/ 41: 33, menjelaskan bahwa orang yang lebih baik perkataan adalah orang yang menyeru kepada Allah dan beramal shalih serta mengatakan aku termasuk muslim;

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya: Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"(QS. Fushilat/ 41: 33)

2.8. Mendapat Berita Gembira

Di dalam Al Quran surat Al-Hajj/ 22: 34 digambarkan bahawa orang yang tunduk dan patuh kepada Allah yang maha Esa diberi kabar gembira;

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنْسَكًا لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُمْ مِنْ بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

Artinya: Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, maka Tuhanmu ialah Tuhan Yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah), (QS. Al-Hajj/ 22: 34)

2.9. Mendapat Pahala Dari Allah Tidak Takut Dan Tidak Sedih; Bahagia

Di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 112, dijelaskan bahwa orang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan berbuat baik, akan mendapat pahala, tidak merasa takut dan sedih;

بَلَى مَنۡ أَسۡلَمَ وَجۡهَهُۥ لِلَّهِ وَهُوَ مُحۡسِن فَلَهُۥٓ أَجۡرُهُۥ عِندَ رَبِّهِۦ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

Artinya: Bukankan orang yang menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.”(QS. Al-Baqarah/ 2: 112)

2.10. Allah Dan Rasulullah Menjadi Pelindung Orang Islam

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 18037 dinyatakan bahwa Allah dan Rasulullah menjadi pelindung bagi orang Islam;

حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ عَبْدِ رَبِّهِ قَالَ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ فَيْرُوزَ الدَّيْلَمِيِّ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُمْ أَسْلَمُوا وَكَانَ فِيمَنْ أَسْلَمَ فَبَعَثُوا وَفْدَهُمْ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبَيْعَتِهِمْ وَإِسْلَامِهِمْ فَقَبِلَ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْهُمْ فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ نَحْنُ مَنْ قَدْ عَرَفْتَ وَجِئْنَا مِنْ حَيْثُ قَدْ عَلِمْتَ وَأَسْلَمْنَا فَمَنْ وَلِيُّنَا قَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ قَالُوا حَسْبُنَا رَضِينَا [12]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Abdu Rabbih ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim ia berkata, Telah menceritakan kepada kami Al Auza'i dari Abdullah bin Fairuz Ad Dailami dari Bapaknya, bahwa mereka telah masuk Islam, dan Dailam adalah orang yang termasuk salah seorang dari mereka (yang masuk Islam). Mereka kemudian mengirim utusan menemui Rasulullah  untuk menyampaikan bai'at dan keIslaman mereka. Rasulullah  pun menerimanya, kemudian mereka berkata, "Wahai Rasulullah, anda telah tahu siapa kami, kami pun datang dari tempat yang telah anda ketahui. Kami telah memeluk Islam, maka siapakah wali kami?" Beliau menjawab: "Allah dan Rasul-Nya." Maka mereka berkata, "Cukuplah bagi kami dan kami pun ridla."

2.11. Mendapat Kedudukan Sebagai Orang Yang Bepuasa Dan Membaca Al Quran

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 7052 ditegaskan bahwa Sesungguhnya seorang muslim yang baik akan mencapai derajat orang yang selalu berpuasa dan shalat di malam hari dengan membaca ayat-ayat Allah;

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْحَاقَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ أَخْبَرَنِي الْحَارِثُ بْنُ يَزِيدَ عَنِ ابْنِ حُجَيْرَةَ الْأَكْبَرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْمُسْلِمَ الْمُسَدِّدَ لَيُدْرِكُ دَرَجَةَ الصَّوَّامِ الْقَوَّامِ بِآيَاتِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لِكَرَمِ ضَرِيبَتِهِ وَحُسْنِ خُلُقِهِ [13]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq telah menceritakan kepada kami Abdullah telah mengkabarkan kepada kami Ibnu Lahi'ah telah mengkabarkan kepadaku Al Harits bin Yazid dari Ibnu Hujairoh Al Akbar dari Abdullah bin 'Amru, dia berkata; aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Sesungguhnya seorang muslim yang baik akan mencapai derajat orang yang selalu berpuasa dan shalat di malam hari dengan membaca ayat-ayat Allah 'azza wajalla karena tabi'atnya yang mulia dan akhlaqnya yang bagus."

2.12. Orang Muslim Yang Faqir Masuk Surga Lebih Dahulu Lima Ratus Tahun

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2277 dan kitab Musnad Ahmad hadits nomor 8165 ditegaskan bahwa Orang-orang miskin masuk surga setengah hari terlebih dahulu sebelum orang-orang kaya;

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا الْمُحَارِبِيُّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُسْلِمِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِنِصْفِ يَوْمٍ وَهُوَ خَمْسُ مِائَةِ عَامٍ [14] 

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Al Muharibi dari Muhammad bin 'Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Orang-orang miskin masuk surga setengah hari terlebih dahulu sebelum orang-orang kaya, lamanya limaratus tahun."

3.Karakter Islam

Pada sub bab ini akan dikemukakan pembahasan Islam dalam pengertian sebagai karakter yang seharusnya dimiliki oleh orang Islam, yang tumbuh sebagai sebuah kesadaran qalbu;

3.1. Ikhlas Menyerahkan Diri Kepada Allah Dan Berbuat Kebaikan

Di dalam Al Quran surat An-Nisa'/ 4: 125 digambarkan bahwa beragama yang baik adalah menyerahkan diri kepada Allah dan berbuat kebaikan;

وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا

Artinya: Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang diapun mengerjakan kebaikan, dan ia mengikuti agama Ibrahim yang lurus? Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.(QS. An-Nisa'/ 4: 125)

3.2. Berserah Diri Tunduk Patuh Kepada Allah

Di dalam Al Quran Surat Al-Baqarah/ 2: 131, dijelaskan bahwa Nabi Ibrahim telah Islam; tunduk dan patuh kepada Tuhan semesta Alam;

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ ۖ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Artinya: Ketika Tuhannya berfirman kepadanya: "Tunduk patuhlah!" Ibrahim menjawab: "Aku tunduk patuh kepada Tuhan semesta alam".(QS. Al-Baqarah/ 2: 131)

3.3. Beriman Kepada Ayat-ayat Allah Dan Berserah Diri Kepadanya

Di dalam Al Quran surat Az Zukhruf/ 43: 69 digambarkan bahwa orang-orang Islam beriman dengan ayat-ayat Allah;

الَّذِينَ آمَنُوا بِآيَاتِنَا وَكَانُوا مُسْلِمِينَ ﴿الزخرف: ٦٩﴾  

Artinya: (Yaitu) orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami dan adalah mereka dahulu orang-orang yang berserah diri. (QS. Az Zukhruf/ 43: 69)

3.4. Condong Kepada Perdamaian

Di dalam Al Quran surat Al Anfal/ 8: 61 digambarkan bahwa orang Islam condong kepada perdamian, sehingga jika mereka condong kepada perdamaian, maka kita terima perdamaiannnya dan dalam prosesnya berserah diri kepada Allah;

وَإِن جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya: Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Anfal/ 8: 61)

3.5. Islam Yang Utama; Orang Lain Selamat Dari Lisan Dan Tangannya

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 12 dan kitab Musnad Ahmad hadits nomor 8931 dinyatakan bahwa Muslim yang utama adalah Orang lain selamat dari lisan dan tangannya;

حَدَّثَنَا أَبِي قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو بُرْدَةَ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى رضي الله عنه قَالَ: «قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ» [15]

Artinya: Ayahku telah meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Abu Burdah bin Abdullah bin Abi Burdah meriwayatkan kepada kami, dari Abu Burdah, dari Abu Musa radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Mereka bertanya, “Wahai Rasulullah, Islam apakah yang paling utama?” Beliau menjawab: “Yaitu seorang Muslim yang kaum Muslimin selamat dari gangguan lisan dan tangannya.”

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا رِشْدِينُ عَنْ زَبَّانَ عَنْ سَهْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ  [16]  

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ghoilan telah menceritakan kepada kami Risydin dari Zabban dari Sahl dari Bapaknya dari Nabi Shallallahu'alaihiwasallam beliau bersabda: "Seorang muslim sejati adalah orang yang manusia lainnya selamat dari lidah dan tangannya".

3.6. Orang Islam Saling Bersaudara Tidak Mendzalimi, Membiarkannya Disakiti Dan Saling Tolong Menolong

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2262 ditegaskan bahwa Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzhaliminya dan tidak membiarkannya untuk disakiti dan saling tolong menolong;

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَنَّ سَالِمًا أَخْبَرَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ [17]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab bahwa Salim mengabarkannya bahwa 'Abdullah bin 'Umar radliallahu 'anhuma mengabarkannya bahwa Rasulullah ﷺ   bersabda: "Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, dia tidak menzhaliminya dan tidak membiarkannya untuk disakiti. Siapa yang membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya. Siapa yang menghilangkan satu kesusahan seorang muslim, maka Allah menghilangkan satu kesusahan dari kesusahan-kesusahannya di hari qiyamat. Dan siapa yang menutupi (aib) seorang muslim maka Allah akan menutup aibnya pada hari qiyamat".

3.7. Orang Islam Saling Bersaudara Dan Saling Menjaga Kehormatannya

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 1609, dijelaskan Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, tidak diperkenankan mendzaliminya dan menghinanya. Cukuplah seseorang itu disebut bertindak kejahatan, ketika dia menghina saudaranya muslim;

قَالَ حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ أَبِي شَيْبَةَ يَحْيَى بْنِ يَزِيدَ عَنْ عَبْدِ الْوَهَّابِ الْمَكِّيِّ عَنْ عَبْدِ الْوَاحِدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ النَّصْرِيِّ عَنْ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْمُسْلِمُ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَعِرْضُهُ وَمَالُهُ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَالتَّقْوَى هَاهُنَا وَأَوْمَأَ بِيَدِهِ إِلَى الْقَلْبِ قَالَ وَحَسْبُ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ [18]

Artinya: telah menceritakan kepada kami [Al Hakam bin Nafi'] berkata; telah menceritakan kepada kami [Isma'il bin 'Ayyash] dari [Abu syaibah, Yahya bin Yazid] dari [Abdul Wahab Al Maki] dari [Abdul Wahid bin Abdullah An Nashri] dari [Watsilah bin Al Asyqa'] berkata; saya mendengar Rasulullah  bersabda: "Seorang muslim atas muslim lainya adalah haram darahnya, kehormatanya dan hartanya. Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, tidak diperkenankan mendzaliminya dan menghinanya. Taqwa adalah di sini tempatnya", sambil beliau menunjuk hatinya dengan tangannya, dan beliau bersabda: "Cukuplah seseorang itu disebut bertindak kejahatan, ketika dia menghina saudaranya muslim".

3.8.         Orang-Orang Islam Berkewajiban Menepati Syarat Yang Telah Mereka Buat Antara Sesama

Di dalam kitab Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain hadits nomor 2340 ditegaskan bahwa Orang-orang Islam berkewajiban menepati syarat yang telah mereka buat antara sesama dan perdamaian dibenarkan di antara sesama muslim;

حدثنا أبو العباس محمد بن يعقوب، حدثنا الربيع بن سليمان، حدثنا عبد الله بن وهب، أخبرني سليمان بن بلال، عن كثير بن زيد، عن الوليد بن رَبَاح، عن أبي هريرة، أنَّ رسول الله ﷺ قال: "المسلمون على شُروطِهم، والصلحُ جائزٌ بين المسلمين [19]

Artinya: Abu al-Abbas Muhammad bin Ya‘qub telah meriwayatkan kepada kami, ia berkata: al-Rabi‘ bin Sulaiman telah meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Wahb telah meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Sulaiman bin Bilal mengabarkan kepadaku, dari Katsir bin Zaid, dari al-Walid bin Rabah, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah  bersabda: “Kaum Muslimin terikat dengan syarat-syarat yang mereka sepakati, dan perdamaian adalah sesuatu yang dibolehkan di antara kaum Muslimin.”

3.9. Melaksanakan Rukun Islam

Di dalam kitab Shahih Muslim hadis nomor 9, disebutkan bahwa ketika Rasulullah ditanya oleh malaikat Jibril tentang Islam beliau menyebutkan bahwa Islam adalah; Syahadat kepada Allah, Syahad kepada Rasul, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa Ramadhan dan haji bagi yang mampu;

حَدَّثَنِي أَبِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ، قَالَ: بَيْنَمَا نَحْنُ عند رسول الله ﷺ ذَاتَ يَوْمٍ، إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ. شَدِيدُ سَوَادِ الشَّعَرِ. لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ. وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ. حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ ﷺ. فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ. وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ. وَقَالَ: يَا مُحَمَّدُ! أَخْبِرْنِي عَنِ الإِسْلَامِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: "الإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ. وَتُقِيمَ الصَّلَاةَ. وَتُؤْتِيَ الزَّكَاةَ. وَتَصُومَ رَمَضَانَ. وَتَحُجَّ الْبَيْتَ، إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيلًا" قَالَ: صَدَقْتَ. قَالَ فَعَجِبْنَا لَهُ. يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ. [20]

Artinya: Umar bin al-Khattab radhiyallahu ‘anhu berkata: Suatu hari ketika kami sedang duduk bersama Rasulullah , tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang sangat putih pakaiannya dan sangat hitam rambutnya; tidak tampak padanya tanda-tanda pernah melakukan perjalanan, namun tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Hingga ia duduk di hadapan Nabi , lalu ia merapatkan kedua lututnya ke lutut Nabi  dan meletakkan kedua telapak tangannya di atas pahanya, kemudian berkata: “Wahai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam.” Maka Rasulullah  bersabda: “Islam adalah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, engkau menegakkan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di bulan Ramadan, dan menunaikan haji ke Baitullah jika engkau mampu menempuh perjalanannya.” Laki-laki itu berkata: “Engkau benar.” Umar berkata: Kami pun heran kepadanya; ia bertanya namun juga membenarkan jawaban Nabi.

Rukun Islam merupakan landasan pokok dalam menjalankan ajaran Islam, namun ajaran Islam tidak terbatas pada rukun Islam saja, tetapi mencakup semua syariat (hukum) Islam, seperti; ekonomi, sosial, pidana, perdata, tata negara, politik dan semua aspek kehidupan, ayat Al Quran berikut memerintahkan untuk masuk menjalankan ajaran Islam secara keseluruhan.

3.10. Berislam Secara Keseluruhanan Dan Tidak Mengikuti Langkah-langkah Setan

Al Quran Surat Al-Baqarah/ 2: 208, memberikan peringatan kepada orang beriman untuk masuk Islam secara keseluruhan;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (QS. Al-Baqarah/ 2: 208)

3.11. Memberi Makan, Mengucapkan Salam

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 12, disebutkan Islam manakah yang paling baik kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal;

حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ خَالِدٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ عَنْ أَبِي الْخَيْرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ [21]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami 'Amru bin Khalid berkata, Telah menceritakan kepada kami Al Laits  dari Yazid  dari Abu Al Khair dari Abdullah bin 'Amru Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam; "Islam manakah yang paling baik?" Nabi shallallahu 'alaihi wasallam menjawab: "Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal".

3.12. Makan Makanan Yang Baik Dan Beramal Shalih

Di dalam kitab Shahih Al Bukhari hadits nomor 1015 dinyatakan bahwa sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul;

و حَدَّثَنِي أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ حَدَّثَنَا فُضَيْلُ بْنُ مَرْزُوقٍ حَدَّثَنِي عَدِيُّ بْنُ ثَابِتٍ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللَّهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنْ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ }وَقَالَ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ }ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ [22]

Artinya: Dan telah menceritakan kepadaku Abu Kuraib Muhammad bin Al Ala` Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah Telah menceritakan kepada kami Fudlail bin Marzuq telah menceritakan kepadaku Adi bin Tsabit dari Abu Hazim dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah  bersabda: "Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: 'Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.' Dan Allah juga berfirman: 'Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.'" Kemudian Nabi  menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo'a: "Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku." Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do'anya?."

3.13. Hak Dan Kewajiban Muslim Atas Muslim Lainnya

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2162, disebutkan bahwa hak seorang muslim atas muslim lainya ada enam;

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ وَهُوَ ابْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ [23]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ayyub dan Qutaibah serta Ibnu Hujr mereka berkata; Telah menceritakan kepada kami Isma'il yaitu Ibnu Ja'far dari Al 'Alla dari Bapaknya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah  bersabda: "Hak seorang muslim terhadap seorang muslim ada enam perkara." Lalu beliau ditanya; 'Apa yang enam perkara itu, ya Rasulullah? ' Jawab beliau: (1) Bila engkau bertemu dengannya, ucapkankanlah salam kepadanya. (2) Bila dia mengundangmu, penuhilah undangannya. (3) Bila dia minta nasihat, berilah dia nasihat. (4) Bila dia bersin lalu dia membaca tahmid, doakanlah semoga dia beroleh rahmat. (5) Bila dia sakit, kunjungilah dia. (6) Dan bila dia meninggalkan, ikutlah mengantar jenazahnya ke kubur.'

3.13.1.  Tidak Menanyakan Sesuatu Yang Memberatkan

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 7289 ditegaskan bahwa dosa orang muslim yang paling besar adalah muslim yang bertanya tentang sesuatu, lantas sesuatu tersebut diharamkan karena pertanyaannya;

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ حَدَّثَنِي عُقَيْلٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَعْظَمَ الْمُسْلِمِينَ جُرْمًا مَنْ سَأَلَ عَنْ شَيْءٍ لَمْ يُحَرَّمْ فَحُرِّمَ مِنْ أَجْلِ مَسْأَلَتِهِ  [24]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid Al Muqri' Telah menceritakan kepadaku Said telah menceritakan kepadaku Uqail dari Ibnu Syihab dari 'Amir bin Sa'id bin Abu Waqash dari Bapaknya bahwa Nabi , beliau berkata: "Kaum muslimin yang paling besar dosanya adalah yang bertanya tentang sesuatu, lantas sesuatu tersebut diharamkan karena pertanyaannya, padahal sebelumnya tidak diharamkan."

3.13.2. Perumpamaan Orang-Oramg Muslim Seperti Tubuh Yang Satu

Di dalam Musnad Ahmad hadits nomor 17720 digambarkan perumpaan orang-orang muslim itu seperti tubuh yang satu;

حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُعَاوِيَةَ بْنِ عَاصِمِ بْنِ الْمُنْذِرِ بْنِ الزُّبَيْرِ حَدَّثَنَا سَلَّامٌ أَبُو الْمُنْذِرِ الْقَارِي حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ بَهْدَلَةَ عَنِ الشَّعْبِيِّ أَوْ خَيْثَمَةَ عَنِ النُّعْمَانِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّمَا مَثَلُ الْمُسْلِمِينَ كَالرَّجُلِ الْوَاحِدِ إِذَا وَجِعَ مِنْهُ شَيْءٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ [25]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Mu'awiyah bin Abdullah bin Mu'awiyah bin Ashim bin Al Mundzir bin Az Zubair telah menceritakan kepada kami Sallam Abul Mundzir Al Qari Telah menceritakan kepada kami Ashim bin Bahdalah dari Asy Sya'bi atau Khaistamah dari An Nu'man bin Basyir ia berkata; Rasulullah  bersabda: "Sesungguhnya perumpamaan kaum muslimin adalah seperti jasad yang satu, jika ada bagian yang sakit, niscaya seluruh jasadnya akan turut mengeluh kesakitan." 

3.13.3.  Bala’ Bagi Orang Islam Merupakan Ampunan Dan Rahmat Allah

Di dalam kitab Musnad Ahmad 12503 memberi gambaran bahwa Bala’ Bagi Orang Islam Merupakan Ampunan Dan Rahmat Allah;

حَدَّثَنَا حَسَنٌ وَعَفَّانُ قَالَا حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ سِنَانِ بْنِ رَبِيعَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ عَفَّانُ فِي حَدِيثِهِ قَالَ أَخْبَرَنَا أَبُو رَبِيعَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ابْتَلَى اللَّهُ الْعَبْدَ الْمُسْلِمَ بِبَلَاءٍ فِي جَسَدِهِ قَالَ اللَّهُ اكْتُبْ لَهُ صَالِحَ عَمَلِهِ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُهُ فَإِنْ شَفَاهُ غَسَلَهُ وَطَهَّرَهُ وَإِنْ قَبَضَهُ غَفَرَ لَهُ وَرَحِمَهُ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hasan dan Affan berkata, Telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Sinan bin Rabi'ah dari Anas berkata Affan dalam haditsnya, berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Rabi'ah berkata, saya telah mendengar Anas bin Malik berkata, Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam bersabda, "Jika Allah menguji hambanya yang muslim dengan bala' di tubuhnya, Allah berfirman: tulislah baginya amalan salihnya yang biasa dia kerjakan, dan jika telah disembuhkan, (Allah) telah membersihkannya dan mensucikannya. Dan jika dia diwafatkan maka (Allah) telah mengampuninya dan merahmatinya."

3.13.4. Orang Islam Tidak Mewarisi Orang Kafir Dan Sebaliknya

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6763 dinyatakan bahwa Orang Islam tidak mewarisi orang kafird Dan Sebaliknya;

حَدَّثَنَا أَبُو عَاصِمٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ حُسَيْنٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ عُثْمَانَ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَرِثُ الْمُسْلِمُ الْكَافِرَ وَلَا الْكَافِرُ الْمُسْلِمَ [26]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ashim dari Ibnu Juraij dari Ibnu Syihab dari Ali bin Husain dari Amru bin Utsman dari Usamah bin Zaid radliallahu 'anhuma, Nabi  bersabda: "Orang muslim tidak mewarisi orang kafir, dan orang Kafir tidak mewarisi orang muslim."

4.Taqwa Di Tingkat Islam

Di dalam Al Quran surat Ali Imran/ 3: 102 ditegaskan perintah bagi orang beriman untuk bertaqwa kepada Allah dengan taqwa yang sebenarnya taqwa, dan larangan untuk tidak mati kecuali dalam keadaan berserah diri; Islam;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (3: 102)

Ayat di atas juga dapat dipahami bahwa tingkat ketaqwaan minimal yang harus dijaga hingga akhir hayat adalah dalam bentuk berislam; berserah diri; ketaatan kepada Allah, Taqwa di tingkat Islam dapat difahami sebagai bentuk ketaqwaan untuk melaksanakan rukun Islam, tetapi taqwa di tingkat Islam tidak terbatas pada pelaksanaan rukun Islam saja, tetapi lebih luas mencakup seluruh aspek kehidupan yang bersifat dzahir, adapun bentuk-bentuk ketaqwaan di tingkat Islam antara lain;

4.1. Shalat Karena Taqwa Kepada Allah

Di dalam Al Quran surat Al-An'am/ 6: 71-72 dan Ar-Rum/ 30: 31 disebutkan perintah berserah diri (Islam) kepada Allah, shalat dan bertaqwa;

... قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ وَأُمِرْنَا لِنُسْلِمَ لِرَبِّ الْعَالَمِينَ, وَأَنْ أَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَاتَّقُوهُ وَهُوَ الَّذِي إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ

Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam. dan agar mendirikan sembahyang serta bertakwa kepada-Nya". Dan Dialah Tuhan yang kepada-Nya-lah kamu akan dihimpunkan. Dan agar mendirikan sembahyang serta bertakwa kepada-Nya". Dan Dialah Tuhan yang kepada-Nya-lah kamu akan dihimpunkan. (QS. Al-An'am/ 6: 72)

Di dalam Al Quran surat Ar-Rum/ 30: 31 disebutkan perintah bertaqwa dan mendirikan shalat;

مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Artinya: Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah, (QS. Ar-Rum/ 30: 31)

Perintah sholat berdampingan dengan taqwa maupun sebaliknya dapat difahamai bahwa pelaksanaan perintah tesebut dilakukan dalam satu aktifitas, yaitu shalat karena taqwa kepada Allah.

4.2. Haji Karena Taqwa

Di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 197, digambarkan bahwa syariat Haji diiringi dengan perintah bertaqwa kepada Allah;

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

Artinya: (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. (QS. Al-Baqarah/ 2: 197)

Pelaksanaan perintah haji memerlukan persiapan perbekalan yang cukup, bekal terbaik adalah taqwa, maka laksanakan perintah haji karena taqwa kepada Allah.

4.3. Merasa Bersaudara Dengan Sesama Muslim, Dari Dalam Hatinya Tidak menghina Saudaranya Yang Muslim

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2040 dinyatakan bahwa Seorang muslim itu saudara bagi seorang muslim, Takwa itu berada di sini, cukuplah dalam hati seseorang itu ada keburukan apabila dia menghina saudaranya yang muslim;

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ بْنُ أَسْبَاطِ بْنِ مُحَمَّدٍ الْقُرَشِيُّ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ هِشَامِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَخُونُهُ وَلَا يَكْذِبُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ عِرْضُهُ وَمَالُهُ وَدَمُهُ التَّقْوَى هَا هُنَا بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْتَقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ [27]

ArtinyaTelah menceritakan kepada kami Ubaid bin Asbath bin Muhammad Al Qurasyi, telah menceritakan kepadaku bapakku dari Hisyam bin Sa'd dari Zaid bin Aslam dari Abu Shalih dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah  bersabda: "Seorang muslim itu saudara bagi seorang muslim, dia tidak mengkhianatinya, tidak berdusta kepadanya juga tidak menelantarkannya. Seorang muslim itu haram atas muslim lainnya untuk mengganggu kehormatannya, hartanya dan tidak pula menumpahkan darahnya. Takwa itu berada di sini, cukuplah dalam hati seseorang itu ada keburukan apabila dia menghina saudaranya yang muslim."

4.4. Mendengar Dan Taat Dengan Senang Hati Atau Terpaksa

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 1838 ditegaskan perintah untuk orang Islam agar mau mendengar dan taat dalam keadaan senang hati atau terpaksa;

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ إِلَّا أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلَا سَمْعَ وَلَا طَاعَةَ [28]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Laits dari 'Ubaidullah dari Nafi' dari Ibnu Umar dari Nabi , bahwa beliau bersabda: "Wajib setiap orang untuk mendengar dan taat, baik terhadap sesuatu yang dia suka atau benci, kecuali jika dia diperintahkan untuk bermaksiat, maka tidak ada kewajiban baginya untuk mendengar dan taat."

4.5. Bergaul dan Bersabar Adalah Lebih Baik

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi  hadits nomor 2507 digambarkan bahwa seorang muslim yang bergauldengan orang lain dan bersabar atas gangguan mereka, adalah lebih baik daripada seorang muslim yang tidak bergaul dengan orang lain dan tidak bersabar;

حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى، قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ ، عَنْ شُعْبَةَ ، عَنْ سُلَيْمَانَ الْأَعْمَشِ ، عَنْ يَحْيَى بْنِ وَثَّابٍ ، عَنْ شَيْخٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ ﷺ، أُرَاهُ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «الْمُسْلِمُ إِذَا كَانَ يُخَالِطُ النَّاسَ، وَيَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ» خَيْرٌ مِنَ الْمُسْلِمِ الَّذِي لَا يُخَالِطُ النَّاسَ وَلَا يَصْبِرُ عَلَى أَذَاهُمْ. [29]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Musa Muhammad bin Al Mutsanna telah bercerita kepada kami Ibnu Abi 'Adi dari Syu'bah dari Sulaiman Al A'masy dari Yahya bin Watsab dari seorang syeikh salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam dari Nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam beliau bersabda: "Jika seorang muslim bergaul (berinteraksi sosial) dengan orang lain dan bersabar atas gangguan mereka, adalah lebih baik daripada seorang muslim yang tidak bergaul (tidak berinteraksi sosial) dengan orang lain dan tidak bersabar atas gangguan mereka."

4.6. Malu, Karena Malu Merupakan Akhlak Islam

Di dalam kitab Al-Muwatha hadits nomor 1406 dinyatakan bahwa Setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu;

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ سَلَمَةَ بْنِ صَفْوَانَ بْنِ سَلَمَةَ الزُّرَقِيِّ عَنْ زَيْدِ بْنِ طَلْحَةَ بْنِ رُكَانَةَ يَرْفَعُهُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقٌ وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ [30]

Artinya: Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Salamah bin Shafwan bin Salamah Az Zuraqi dari Zaid bin Thalhah bin Rukanah dia memarfu'kan kepada Nabi , dia berkata, "Rasulullah  bersabda: "Setiap agama memiliki akhlak, dan akhlak Islam adalah malu."

4.7. Memahami Agama

Di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor 1820 dinyatakan bahwa penyangga Islam adalah fuqaha; memahami agama Islam;

أَخْبَرَنَا أَبُو سَعْدٍ الْمَالِينِيُّ، أخبرنا أَبُو أَحْمَدَ بْنُ عَدِيٍّ الْحَافِظُ، حدثنا مُحَمَّدُ بْنُ -[234] سَعِيدِ بْنِ مِهْرَانَ، حدثنا شَيْبَانُ، حدثنا أَبُو الرَّبِيعِ السَّمَّانُ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لِكُلِّ شَيْءٍ دِعَامَةٌ، وَدِعَامَةُ الْإِسْلَامِ الْفِقْهُ فِي الدِّينِ، وَلَفَقِيهٌ أَشَدُّ عَلَى الشَّيْطَانِ مِنْ أَلْفِ عَابِدٍ " " تَفَرَّدَ بِهِ أَبُو الرَّبِيعِ، عَنْ أَبِي الزِّنَادِ [31] "

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Abu Said Al malini, telah mengabarkan kepada kami Abu Ahmad ibnu Adi Al hafidh, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu (234) Said ibnu Mihran, telah menceritakan kepada kami Syaiban, telah menceritakan kepada kami Abu Rabi’ As Saman, dari Abi Zinad, dari Al A’raj, dari Abu Hurairah berkata; Rasulullah SAW: “Segala sesuatu memiliki penyangga, penyangga Islam adalah fuqaha; memahami agama Islam, dan sungguh orang yang memahami agama Islam lebih kuat dalam menghadapi syetan dari pada seribu ahli ibadah”, “ Abu Rabi’ sendirian, dari Abi Zinad”.

Penyataan di atas didukung Hadits nomor 3495 dalam kitab Shahih Bukhari, yang juga menyatakan bahwa orang-orang yang baik pada zaman jahiliyyah akan menjadi baik pula pada zaman Islam bila mereka memahami (Islam);

حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَجِدُونَ النَّاسَ مَعَادِنَ خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْإِسْلَامِ إِذَا فَقِهُوا وَتَجِدُونَ خَيْرَ النَّاسِ فِي هَذَا الشَّأْنِ أَشَدَّهُمْ لَهُ كَرَاهِيَةً وَتَجِدُونَ شَرَّ النَّاسِ ذَا الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَيَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ [32] 

Artinya: Telah bercerita kepadaku Ishaq bin Ibrahim telah mengabarkan kepada kami Jarir dari 'Umarah dari Abu Zur'ah dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Rasulullah Shallallhu 'alaihi wa salam bersabda: "Kalian akan temui manusia beragam asal-usulnya (dan kwalitas perilakunya) maka orang-orang yang baik pada zaman jahiliyyah akan menjadi baik pula pada zaman Islam bila mereka memahami (Islam), dan akan kalian temui pula manusia yang paling baik dalam urusan (khilafah/pemerintahan) ini, yaitu mereka yang tidak selera terhadap jabatan dan akan kalian temui orang yang paling buruk dalam urusan ini adalah mereka yang bermuka dua (Oportunis), dia datang kepada satu golongan dengan wajah (pendapat) tertentu dan datang kepada kelompok lain dengan wajah (pendapat lain) lain".

4.8. Orang Yang Paling Baik Keislamannya Adalah Orang Yang Paling Baik Akhlaqnya, Jika Mereka Memahami Islam

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 10066 orang yang paling baik keIslamannya adalah orang yang paling baik akhlaqnya, jika mereka fakih (paham Islam;

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُكُمْ إِسْلَامًا أَحَاسِنُكُمْ أَخْلَاقًا إِذَا فَقُهُوا [33]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Muhammad bin Ziyad dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah  bersabda: ""orang yang paling baik diantara kalian keIslamannya adalah orang yang paling baik akhlaqnya, jika mereka fakih (paham Islam)."

4.9. Tidak Berbuat Keji Karena Kekejian Bukan Dari Islam

Di dalam kitab Musnad Ahmad 20831 dinyatakan bahwa Sesungguhnya berkata keji atau mengatakan yang keji bukanlah dari ajaran Islam;

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ وَسَمِعْتُهُ أَنَا مِنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَن زَكَرِيَّا بْنِ سِيَاهٍ أَبِي يَحْيَى عَن عِمْرَانَ بْنِ رَبَاحٍ عَن عَلِيِّ بْنِ عُمَارَةَ عَن جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ كُنْتُ فِي مَجْلِسٍ فِيهِ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَأَبِي سَمُرَةُ جَالِسٌ أَمَامِي فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْفُحْشَ وَالتَّفَحُّشَ لَيْسَا مِنْ الْإِسْلَامِ وَإِنَّ أَحْسَنَ النَّاسِ إِسْلَامًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا [34]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad, aku mendengar dari Abdullah bin Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Zakaria bin Siyah Abu Yahya dari 'Imran bin rabah dari Ali bin Umarah dari Jabir bin Samurah dia berkata; "Aku berada dalam suatu majelis (perkumpulan) yang di dalamnya terdapat Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam, Jabir berkata; Sementara Abu Samurah duduk di hadapanku, kemudian Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya berkata keji atau mengatakan yang keji bukanlah dari ajaran Islam, dan sesunggunya sebaik-baik Islamnya seseorang adalah yang paling baik akhlaknya."

4.10. Berdoa Agar Keluarga Dan Keturunan Menjadi Orang Islam

Di dalam Al Quran surat Al Baqarah/ 2: 128 disebutkan doa Nabi Ibrahim dirinya, anaknya dan keturunannya dijadikan sebagai orang yang berserah diri; islam  kepada Allah;

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِن ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُّسْلِمَةً لَّكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Artinya: Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. Al Baqarah/ 2: 128)

4.11. Segera Kembali Dan Berserah Kembali Kepadanya

Al Quran Surat Az-Zumar/ 39: 54, menjelaskan kepada manusia untuk kembali dan berserah diri kepada Allah sebelum datangnya adzab;

وَأَنِيبُوا إِلَىٰ رَبِّكُمْ وَأَسْلِمُوا لَهُ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنْصَرُونَ

Artinya: Dan kembalilah kamu kepada Tuhanmu, dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi).(QS. Az-Zumar/ 39: 54)

4.12. Memberi Makan, Minum Dan Pakaian Kepada Sesama Muslim

Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 1682 di gambarkan bahwa orang Islam yang meberi pakaikan, makanan, dan minuman kepada saudaranya sesame muslim, akan mendapatkan balasan semisalnya di surga;

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ بْنِ إِشْكَابَ حَدَّثَنَا أَبُو بَدْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الَّذِي كَانَ يَنْزِلُ فِي بَنِي دَالَانَ عَنْ نُبَيْحٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ  عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَيُّمَا مُسْلِمٍ كَسَا مُسْلِمًا ثَوْبًا عَلَى عُرْيٍ كَسَاهُ اللَّهُ مِنْ خُضْرِ الْجَنَّةِ وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ أَطْعَمَ مُسْلِمًا عَلَى جُوعٍ أَطْعَمَهُ اللَّهُ مِنْ ثِمَارِ الْجَنَّةِ وَأَيُّمَا مُسْلِمٍ سَقَى مُسْلِمًا عَلَى ظَمَإٍ سَقَاهُ اللَّهُ مِنْ الرَّحِيقِ الْمَخْتُومِ [35] 

Artinya: Telah menceritakan kepada Kami Ali bin Al Husain bin Ibrahim bin Isykab, telah menceritakan kepada Kami Abu Badr, telah menceritakan kepada Kami Abu Khalid yang pernah singgah di Bani Dalan, dari Nubaih dari Abu Sa'id Al Khudri dari Nabi , beliau bersabda: "Siapapun seorang muslim yang memakaikan pakaian kepada muslim yang lainnya karena ia tidak berpakaian maka Allah akan memakaikan kepadanya pakaian dari pakaian yang hijau di Surga, dan siapapun seorang muslim yang memberikan makan kepada muslim lainnya yang dalam keadaan lapar maka Allah memberinya makanan dari buah-buahan di Surga, dan siapapun seorang muslim yang memberi minum muslim lainnya yang dalam keadaan haus maka Allah akan memberinya minum dari Ar Rahiq Al Makhtum (arak Surga)."

4.13. Mencari Harta Yang Baik / Halal

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah Hadits nomor 2135 disebutkan perintah untuk bertakwalah kepada Allah dan carilah yang baik dalam mencari dunia;

  حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُصَفَّى الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ ابْنِ جُرَيْجٍ عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ فَإِنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَوْفِيَ رِزْقَهَا وَإِنْ أَبْطَأَ عَنْهَا فَاتَّقُوا اللَّهَ وَأَجْمِلُوا فِي الطَّلَبِ خُذُوا مَا حَلَّ وَدَعُوا مَا حَرُمَ [36]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mushaffa Al Himshi berkata: telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim dari Ibnu Juraij dari Abu Zubair dari Jabir bin Abdullah ia berkata: "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah dan carilah yang baik dalam mencari dunia. Sesungguhnya sebuah jiwa tidak akan mati hingga terpenuhi rizkinya meski tersendat-sendat. Bertakwalah kepada Allah, carilah yang baik dalam mencari dunia, ambilah yang halal dan tinggalkan yang haram."

4.14. Datang Kepada Allah Dengan Berserah Hati

Di dalam Al Quran surat Asy Syuara’/ 26: 89 digambarkan bahwa Ibrahim datang kepada Allah dengan qalbu yang bersih;

إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Artinyakecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, (QS. Asy Syuara’/ 26: 89)

Sedangkan di dalam Al Quran surat Ash Shafat/ 37: 84 ditegaskan bahwa diakhirat nanti tidak berharga lagi harta dan anak-anak, kecuali yang kembali kepadanya dengan qalbu yang berserah diri;

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ, إِذْ جَاءَ رَبَّهُ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

Artinya: di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih (QS. Ash Shafat/ 37: 83-84)

4.15.  Berdoa Kepada Allah Mohon Afiah; Keselamatan

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 10 dinyatakan bahwa  tidaklah kalian diberi sesuatu (yang kedudukannya lebih tinggi) setelah kalimat ikhlas seperti Al Afiyah (keselamatan), maka mohonlah Al Afiyah kepada Allah;

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمُقْرِئُ قَالَ حَدَّثَنَا حَيْوَةُ بْنُ شُرَيْحٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ الْحَارِثِ يَقُولُ إِنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى هَذَا الْمِنْبَرِ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي هَذَا الْيَوْمِ مِنْ عَامِ الْأَوَّلِ ثُمَّ اسْتَعْبَرَ أَبُو بَكْرٍ وَبَكَى ثُمَّ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَمْ تُؤْتَوْا شَيْئًا بَعْدَ كَلِمَةِ الْإِخْلَاصِ مِثْلَ الْعَافِيَةِ فَاسْأَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ [37]  

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abu Abdurrahman Al Muqri'] dia berkata; Telah menceritakan kepada kami [Haiwah Bin Syuraih] dia berkata; aku mendengar [Abdul Malik Bin Al Harits] berkata; Sesungguhnya [Abu Hurairah] berkata; aku mendengar [Abu Bakar Ash Shiddiq] berkata diatas mimbar ini; aku mendengar Rasulullah  bersabda pada hari ini ditahun pertama, kemudian Abu Bakar hanyut dalam nasehat sehingga menangis kemudian berkata; aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: tidaklah kalian diberi sesuatu (yang kedudukannya lebih tinggi) setelah kalimat ikhlas seperti Al Afiyah (keselamatan), maka mohonlah Al Afiyah kepada Allah.

Di dalam kitab Al Adab Al Mufrad hadits nomor 1200 disebutkan doa permohonan afiah: “Ya Allah, aku memohon kepada-mu keselamatan di dunia dan di akhirat. Ya Allah, aku mohon kepada-Mu pemaafan dan keselamatan dalam agama, dunia, keluarga dan harta”…;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَّامٍ قَالَ: حَدَّثَنَا وَكِيعٌ، عَنْ عُبَادَةَ بْنِ مُسْلِمٍ الْفَزَارِيِّ قَالَ: حَدَّثَنِي جُبَيْرُ بْنُ أَبِي سُلَيْمَانَ بْنِ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ قَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ: لَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ يَدَعُ هَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ إِذَا أَصْبَحَ وَإِذَا أَمْسَى: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِي وَدُنْيَايَ، وَأَهْلِي وَمَالِي. اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِي، وَآمِنْ رَوْعَاتِي. اللَّهُمَّ احْفَظْنِي مِنْ بَيْنِ يَدَيَّ وَمِنْ خَلْفِي، وَعَنْ يَمِينِي وَعَنْ شِمَالِي، وَمِنْ فَوْقِي، وَأَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ مِنْ أَنْ أُغْتَالَ مِنْ تَحْتِي»  [38]

Artinya: Muhammad bin Salam meriwayatkan bahwa Waki’ telah menceritakan kepada mereka dari ‘Ubādah bin Muslim al-Fazari, ia berkata: Jubair bin Abi Sulaiman bin Jubair bin Muth’im telah menceritakan kepadaku, ia berkata: Aku mendengar Ibnu Umar berkata: Rasulullah  tidak pernah meninggalkan doa-doa ini ketika memasuki waktu pagi dan ketika memasuki waktu petang: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu keselamatan di dunia dan di akhirat. Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ampunan dan keselamatan dalam agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku. Ya Allah, tutupilah aib-aibku dan tenangkanlah rasa takutku. Ya Allah, lindungilah aku dari depan, dari belakang, dari kanan, dari kiri, dan dari atas. Dan aku berlindung dengan keagungan-Mu dari disergap (bahaya atau kebinasaan) dari bawahku.”

4.16.  Berdoa Mohon Dijaga Dengan Islam

Di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 1797 digambarkan bahwa Nabi akan mengajarkan sebuah kalimat yang lebih baik, jika telah masuk Islam;

أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ قُتَيْبَةَ بِخَبَرٍ غَرِيبٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنَا يُونُسُ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، قَالَ‏:‏ أَخْبَرَنِي الْعَلاَءُ بْنُ رُؤْبَةَ التَّمِيمِيُّ هُوَ الْحِمْصِيُّ، عَنْ هَاشِمِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ الزُّبَيْرِ، أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ أَصَابَتْهُ مُصِيبَةٌ، فَأَتَى رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشَكَا إِلَيْهِ ذَلِكَ، وَسَأَلَهُ أَنْ يَأْمُرَ لَهُ بِوَسْقٍ مِنْ تَمْرٍ، فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ إِنْ شِئْتَ أَمَرْتُ لَكَ بِوَسْقٍ مِنْ تَمْرٍ، وَإِنْ شِئْتَ عَلَّمْتُكَ كَلِمَاتٍ هِيَ خَيْرٌ لَكَ‏؟‏ قَالَ‏:‏ عَلِّمْنِيهُنَّ، وَمُرْ لِي بِوَسْقٍ، فَإِنِّي ذُو حَاجَةٍ إِلَيْهِ، فَقَالَ‏:‏ قُلِ‏:‏ اللَّهُمَّ احْفَظْنِي بِالإِسْلاَمِ قَاعِدًا، وَاحْفَظْنِي بِالإِسْلاَمِ قَائِمًا، وَاحْفَظْنِي بِالإِسْلاَمِ رَاقِدًا، وَلاَ تُطِعْ فِيَّ عَدُوًّا حَاسِدًا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، وَأَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ الَّذِي هُوَ بِيَدِكَ كُلِّهِ‏.  [39]

Artinya: Muhammad bin Qutaibah dengan hadis gharib mengabarkan kepada kami, ia berkata: Harmalah bin Yahya menceritakan kepada kami, ia berkata: Ibnu104 Wahab menceritakan kepada kami, ia berkata: Yunus mengabarkan kepada kami, dari Ibnu Syihab, ia beikata: Al Ala bin Ru’yah At-Tamimi Al Hamshi mengabarkan kepadaku, dari Hasyim115 bin Abdullah bin Az-Zubair, bahwa Umar bin Al Khaththab suatu ketika tertimpa musibah, ia lalu mendatangi Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan mengadukannya kepada beliau, serta meminta beliau agar memerintahkan untuknya dengan satu muatan kurma. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kemudian bersabda, “Jika kamu mau, aku akan memerintahkan untukmu dengan satu muatan kurma, (namun) jika kamu mau, aku akan ajarkan kepadamu beberapa kalimat yang itu lebih baik untukmu?". Umar berkata, “Ajarkanlah kepadaku kalimat-kalimat itu, dan perintahkan juga untukku satu muatan kurma, karena sungguh aku amat membutuhkannya.” Beliau lalu bersabda, “Ucapkanlah: Ya Allah Jagalah kami dengan Islam dalam keadaan duduk, dan jagalah kami dengan Islam dalam keadaan berdiri, dan jagalah kami dengan Islam dalam keadaan  tidur, dan jangan engkau jadikan aku taat kepada musuh yang hasad, dan aku berlindung kepada-Mu dari bahaya sesuatu yang engkau ambil dengan cara menguping, dan aku mohon kepada-Mu segala kebaikan yang datang dari-Mu.” (HR. Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban: 934)

4.17. Berdoa Agar Dimatikan Dalam Keadaan Berserah Diri Kepada Allah

Di dalam Al Quran surat Yusuf/ 12: 101 disubutkan permohonan Nabi Sulaiman untuk diwafatkan dalam keadaan berserah diri kepada-Nya dan digabungkan dengan orang-orang shalih;

رَبِّ قَدْ آتَيْتَنِي مِنَ الْمُلْكِ وَعَلَّمْتَنِي مِن تَأْوِيلِ الْأَحَادِيثِ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ أَنتَ وَلِيِّي فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

Artinya: Ya Tuhanku, sesungguhnya Engkau telah menganugerahkan kepadaku sebahagian kerajaan dan telah mengajarkan kepadaku sebahagian ta'bir mimpi. (Ya Tuhan) Pencipta langit dan bumi. Engkaulah Pelindungku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang yang saleh. (QS. Yusuf/ 12: 101)

4.18. Berdoa Mohon Diilhami Kebaikan Pikirannya

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi 3483 diajarkan doa mohon diilhami kebaikan fikirannya dan dilindungi dari bahaya keburukan dirinya;

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ شَبِيبِ بْنِ شَيْبَةَ عَنْ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي يَا حُصَيْنُ كَمْ تَعْبُدُ الْيَوْمَ إِلَهًا قَالَ أَبِي سَبْعَةً سِتَّةً فِي الْأَرْضِ وَوَاحِدًا فِي السَّمَاءِ قَالَ فَأَيُّهُمْ تَعُدُّ لِرَغْبَتِكَ وَرَهْبَتِكَ قَالَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ قَالَ يَا حُصَيْنُ أَمَا إِنَّكَ لَوْ أَسْلَمْتَ عَلَّمْتُكَ كَلِمَتَيْنِ تَنْفَعَانِكَ قَالَ فَلَمَّا أَسْلَمَ حُصَيْنٌ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِيَ الْكَلِمَتَيْنِ اللَّتَيْنِ وَعَدْتَنِي فَقَالَ قُلْ اللَّهُمَّ أَلْهِمْنِي رُشْدِي وَأَعِذْنِي مِنْ شَرِّ نَفْسِي قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ  [40]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani' telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Syabib bin Syaibah dari Al Hasan Al Bashri dari Imran bin Hushain ia berkata; Nabi  berkata kepada ayahku: "Wahai Hushain, berapa tuhan yang engkau sembah dalam sehari?" Ayahku berkata; tujuh, enam di dunia dan satu di langit."Manakah yang engkau perhitungkan keinginanmu dan rasa rasa takutmu?"Ia berkata; Yang ada di langit."Wahai Hushain, ketahuilah seandainya engkau masuk Islam aku akan mengajarimu dua kalimat yang bermanfaat bagimu." Imran berkata; tatkala Hushain telah masuk Islam ia berkata; wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku dua kalimat yang engkau janjikan kepadaku! Kemudian beliau bersabda: "Katakan; Ya Allah, ilhamkan kepadaku petunjukku, dan lindungilah aku dari kejahatan diriku. Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan gharib. Dan telah diriwayatkan hadits ini dari Imran bin Hushain dan yang lainnya dari jalur ini.

Rukun Islam merupakan landasan pokok dalam menjalankan ajaran Islam, namun ajaran Islam tidak terbatas pada rukun Islam saja, tetapi mencakup semua syariat (hukum) Islam, seperti; ekonomi, sosial, pidana, perdata, tata negara, politik dan semua aspek kehidupan. Ketaqwaan pada level Islam ini ditandai dengan kesediaan menerima dan menjalankan agama Islam di tingkat syariat; hukum; aturan; ketentuan Islam, dengan harapan untuk dapat memperoleh imbalan; pahala dan terhindar dari dosa, sehingga selamat di dunia dan akherat.

Di dalam Al Quran surat Al-Hujurat/ 49: 14 ditegaskan bahwa iman itu ada di dalam qalbu;

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. Al-Hujurat/ 49: 14)

Ketika Iman belum masuk ke dalam qalbu, maka pengamalan agama masih di tingkat Islam, yaitu pengamalan agama masih bersifat lahiriyah, meskipun ketaatannya masih berada di tingkat Islam, pahalanya juga diberikan secara sempurna sesuai amalannya. 

Sedangkan di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 12381 dinyatakan bahwa Islam itu sesuatu yang nampak (empiris);

حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مَسْعَدَةَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْإِسْلَامُ عَلَانِيَةٌ وَالْإِيمَانُ فِي الْقَلْبِ قَالَ ثُمَّ يُشِيرُ بِيَدِهِ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَ ثُمَّ يَقُولُ التَّقْوَى هَاهُنَا التَّقْوَى هَاهُنَا [41]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Bahz berkata, telah menceritakan kepada kami Ali bin Mas'adah berkata, telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas ia berkata; Rasulullah  bersabda: "Islam itu sesuatu yang nampak sedangkan iman itu ada dalam hati." Anas berkata; "Lalu beliau menunjuk ke dadanya dengan tangan sebanyak tiga kali." Anas berkata; Kemudian beliau bersabda: "Taqwa itu ada di sini, taqwa itu ada di sini."

Berdasar uraian yang telah dikemukakan di atas dapat peroleh pengertian bahwa taqwa di tingkat Islam adalah kesadaran qalbu untuk taat dan berserah diri kepada Allah, diikuti dengan kesadaran untuk; pasrah, tunduk, patuh, bersedia mengikuti dan melaksanakan ajaran Islam, dengan harapan mendapatkan keselamatan, keberuntungan dan memperoleh banyak pahala kebaikan sesuai yang dijanjikan dari setiap amal ibadah yang dilakukan.

 

Doa Mohon Dijaga Dengan Islam

اللَّهُمَّ احْفَظْنِي بِالإِسْلاَمِ قَاعِدًا، وَاحْفَظْنِي بِالإِسْلاَمِ قَائِمًا، وَاحْفَظْنِي بِالإِسْلاَمِ رَاقِدًا، وَلاَ تُطِعْ فِيَّ عَدُوًّا حَاسِدًا، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا أَنْتَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهِ، وَأَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ الَّذِي هُوَ بِيَدِكَ كُلِّهِ‏. 

Ya Allah Jagalah kami dengan Islam dalam keadaan duduk, dan jagalah kami dengan Islam dalam keadaan berdiri, dan jagalah kami dengan Islam dalam keadaan  tidur, dan jangan engkau jadikan aku taat kepada musuh yang hasad, dan aku berlindung kepada-Mu dari bahaya sesuatu yang engkau ambil dengan cara menguping, dan aku mohon kepada-Mu segala kebaikan yang datang dari-Mu.”

(HR. Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban: 934)



[1] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 19, Halaman 374.Hadits nomor 12381.

[2] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 28, Halaman 251.Hadits nomor 17027.

[3] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 33, Halaman 225.Hadits nomor 20022.

[4] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 1 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, tt.), 101–105. (Pembahasan mengenai hubungan Islam, iman, dan ihsan; serta perbedaan antara ketaatan lahir dan keyakinan batin.)

[5] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Madārij as-Sālikīn bayna Manāzil Iyyāka Na‘budu wa Iyyāka Nasta‘īn, Juz 1 (Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 2000), 72–78. (Pembahasan tentang hakikat Islam, makna istislam, dan kedudukan Islam dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah.)

[6] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 540, Hadits nomor 2860.

[7] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 11, Hadits nomor 8.

[8] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 19, Halaman 117, Hadits nomor 12061.

[9] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1, Halaman 130, Hadits nomor 232.

[10] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 24, Halaman 90, Hadits nomor 238.

[11] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 9 Hal. 178, Hadits nomor 6448.

[12] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 29, Halaman 572.Hadits nomor 18037.

[13] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 11, Halaman 628, Hadits nomor 7052.

[14] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 173, Hadits nomor 2354.

[15] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 11, Hadits nomor 12.

[16] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 14, Halaman 499.Hadits nomor 8931.

[17] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 22, Hadits nomor 6951.

[18] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 25, Halaman 400.Hadits nomor 16019.

[19] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990, Jilid 3, Halaman 250, Hadits nomor 2340.

[20] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1, Halaman 36, Hadits nomor 8.

[21] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 12, Hadits nomor 12.

[22] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 2, Halaman 703, Hadits nomor 1015.

[23] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman 1705, Hadits nomor 2162.

[24] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 95, Hadits nomor 7289.

[25] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 19, Halaman 483.Hadits nomor 12503.

[26] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 18, Hadits nomor 37.

[27] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar Al-Risalah Al-Alamayah, Beirut, 2009, Jilid 4 halaman 52, Hadits nomor 2040.

[28] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 3 , Halaman 1469, Hadits nomor 1838.

[29] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 278, Hadits nomor 2507.

[30] Malik Ibnu Anas, Al-Muwatha, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1985 M, Jilid 2, Halaman 905, Hadits nomor 9.

[31] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 2 Hal. 267, Hadits nomor 1716.

[32] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 178, Hadits nomor 3495.

[33] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 16, Halaman 93.Hadits nomor 10066.

[34] Ibid, Jilid 34, Halaman 322.Hadits nomor 20831.

[36] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 1, Halaman 343, Hadits nomor 1081.

[37] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 1, Halaman 189, Hadits nomor 10.

[38] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Al Adab Al Mufrad , Al Mathbaah Al salafiyah Wa Maktabatuha, Kairo, 1379 H, Halaman 411, Hadits nomor 1200.

[39] Abu Hatim Muhammad Ibnu Hiban Ibnu Ahmad, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibu Hazm, Beirut, 2012, Jilid 2, Halaman 519, Hadits nomor 1797.

[40] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar Al-Risalah Al-Alamayah, Beirut, 2009, Jilid 5 halaman 468, Hadits nomor 3483.

[41] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 19, Halaman 374.Hadits nomor 12381.

Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post