+ 6. TAQWA LEVEL IHSAN
Ihsan berasal dari akar kata Hasana-yuhsinu-hasanatan; yang baik, bagus, manis, tampan, cantik, molek, indah dan ditambah satu huruf hamzah menjadi Ahsana-yuhsinu-ihsanan artinya: berbuat baik, melakukan dengan baik, melampaui, mengetahui dengan baik, dalam pencarian kata ihsan di dalam Al Quran menggunakan aplikasi Al Quran Zekr 1.1, berdasar pencarian kata dasar hasana ditemukan kata 194 kata di 177 ayat.
Ayat-ayat tersebut ditambah dengan hadits-hadits Rasulullah yang berkaitan dengan ihsan akan diklasifikasikan dan dianalisa untuk dapat memperoleh pemahaman yang menyeluruh tentang keihsanan, sehingga ihsan dapat diamalkan menjadi sebuah bentuk ketaqwaan di tingkat ihsan.
Di dalam Al Quran Surat An-Nahl Ayat 90 ditegaskan bahwa Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan berbuat ihsan
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ
Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
Di dalam kitab Shahih Muslim hadis nomor 8, disebutkan bahwa ketika Rasulullah ditanya oleh malaikat Jibril tentang Ihsan, beliau menjawab bahwa Ihsan adalah kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, jika tidak, maka sesungguhnya Dia melihatmu;
قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِحْسَانِ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ [1]
Artinya: Dia bertanya, 'Kabarkanlah kepadaku tentang ihsan itu? ' Beliau menjawab: "Kamu menyembah Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu."
Ihsan adalah melihat Sifat, Asma’ Atau Af’al Allah bukan melihat Dzat-Nya sebab di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 291 digambarkan bahwa ketika Rasulullah ditanya 'Apakah kamu melihat Rabbmu? ' Beliau menjawab, 'Hanya cahaya, bagaimana mungkin aku bisa melihatNya; [2]
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ يَزِيدَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ قَالَ نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ [3]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' dari Yazid bin Ibrahim dari Qatadah dari Abdullah bin Syaqiq dari Abu Dzar dia berkata, "Aku bertanya kepada Rasulullah ﷺ, 'Apakah kamu melihat Rabbmu? ' Beliau menjawab, 'Hanya cahaya, bagaimana mungkin aku bisa melihatNya.
Al Quran Surat Fathir/ 35: 28, menggambarkan bahwa orang-orang yang khasyah; kesadaran spiritual karena Allah adalah hamba-hambanya yang memiliki pengetahuan; mengenal-Nya;
وَمِنَ النَّاسِ وَالدَّوَابِّ وَالأنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ
Artinya:“Dan demikian (pula) di antara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. Fathir/ 35: 28)
Di dalam Al Quran Surat Al-Qasas/ 28: 77, ditegaskan perintah untuk berbuat ihsan sebagaimana Allah telah berbuat ihsan kepadamu;
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.(QS. Al-Qasas/ 28: 77)
Berdasar tiga ayat Al Quran dan satu Hadits di atas dapat diperoleh pengertian bahwa ihsan adalah: kesadaran spiritual untuk berbuat kebaikan yang sesuai ajaran Islam, karena dorongan kesadaran melihat atau dilihat Allah dengan penuh keyakinan bahwa Allah adalah sumber segala kebaikan.
Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa ihsan adalah puncak kesempurnaan agama, yaitu keadaan ketika seorang hamba beribadah kepada Allah dengan penuh kesadaran dan kehadiran hati seolah-olah ia melihat Allah. Baginya, ihsan bukan sekadar tingkat tertinggi dalam hierarki agama (Islam–Iman–Ihsan), tetapi merupakan buah dari penyucian jiwa, pengendalian hawa nafsu, dan pembiasaan diri dalam muraqabah. Al-Ghazali menekankan bahwa ihsan terjadi ketika cahaya pengetahuan (ma‘rifah) menyingkapkan hakikat kehadiran Allah dalam hati seorang hamba sehingga ia beribadah tanpa riya’, tanpa kelalaian, dan tanpa dorongan duniawi. Pada level ini, ibadah menjadi pengalaman ruhani yang mendalam dan melahirkan akhlak mulia.[4]
Sedangkan Ibn Qayyim al-Jauziyah memandang ihsan sebagai derajat paling tinggi dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah. Ia mendefinisikannya sebagai bentuk ibadah yang dilakukan dengan sepenuh hati, dilandasi cinta, takut, dan harap kepada Allah. Menurut Ibn Qayyim, ihsan memiliki dua tingkatan: pertama, beribadah kepada Allah seakan-akan melihat-Nya (musyāhadah), yaitu kehadiran hati yang penuh ma‘rifah; kedua, menyadari bahwa Allah selalu melihatnya (muraqabah), yang mendorong seorang hamba untuk selalu memperbaiki amalnya. Ia menegaskan bahwa ihsan merupakan kombinasi antara kesempurnaan niat, kedalaman cinta kepada Allah, serta ketulusan amal yang tidak tercampur dengan kepentingan selain-Nya.[5]
Untuk dapat memperoleh gambaran menyeluruh tentang Takwa di tingkat ihsan
maka berikut ini akan dikemukakan pembahasan tentang;
1. Hikmah Ihsan,
2. Keistimewaan Orang Yang Ihsan,
3. Karakter Orang Yang Ihsan
4. Taqwa Di Tingkat Ihsan,
Adapun pembahasannya adalah sebagai berikut;;
Rasulullah SAW ketika memberikan keterangan terhadap Al Quran surat Yunus/ 10: 26 (Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya), menjelaskan bahwa ketika penduduk surga telah memasuki surga, lalu Allah memberikan tambahan bagi orang yang ihsan dengan membukakan hijab pembatas, sehingga tidak ada satu pun yang dianugerahkan kepada mereka yang lebih dicintai daripada anugrah (dapat) memandang Rabb mereka, dimuat dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 297 berikut;
حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مَيْسَرَةَ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ صُهَيْبٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا دَخَلَ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ قَالَ يَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى تُرِيدُونَ شَيْئًا أَزِيدُكُمْ فَيَقُولُونَ أَلَمْ تُبَيِّضْ وُجُوهَنَا أَلَمْ تُدْخِلْنَا الْجَنَّةَ وَتُنَجِّنَا مِنْ النَّارِ قَالَ فَيَكْشِفُ الْحِجَابَ فَمَا أُعْطُوا شَيْئًا أَحَبَّ إِلَيْهِمْ مِنْ النَّظَرِ إِلَى رَبِّهِمْ عَزَّ وَجَلَّ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَزَادَ ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ " لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَى وَزِيَادَةٌ"[6]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Maisarah dia berkata, telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Tsabit al-Bunani dari Abdurrahman bin Abu Laila dari Shuhaib dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Bila penduduk surga telah masuk ke surga, maka Allah berfirman: 'Apakah kalian ingin sesuatu yang perlu Aku tambahkan kepada kalian? ' Mereka menjawab, 'Bukankah Engkau telah membuat wajah-wajah kami putih? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari neraka? ' Beliau bersabda: "Lalu Allah membukakan hijab pembatas, lalu tidak ada satu pun yang dianugerahkan kepada mereka yang lebih dicintai daripada anugrah (dapat) memandang Rabb mereka." Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dari Hammad bin Salamah dengan sanad ini, dan dia menambahkan, 'Kemudian beliau membaca Firman Allah: '(Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya) ' (Qs.Yunus: 26)
Dari hadits di atas dapat dipahami bahwa bagi orang yang ketika hidup di dunia melakukan amal ibadah kepada Allah dengan ihsan; merasa memandang Allah, maka di surga nanti akan mendapat tambahan kebahagiaan dengan kenikmatan memandang Allah, sebagai puncak kebahagiaan.
Berikut ini akan dikemukakan beberapa hikmah yang berkaitan dengan ihsan, agar dapat dijadikan sebagai motifasi untuk dapat melakukan amal ibadah dengan ihsan;
1.1. Berbuat Ihsan, Sejatinya Berbuat Kebaikan Untuk Dirimu Sendiri
Di dalam Al Quran Surat Al-Isra'/ 17: 7 disebutkan Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri;
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ ۖ وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا ۚ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا
Artinya: Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai.(QS. Al-Isra'/ 17: 7)
1.2. Perhiasan Kehidupan Untuk Menguji Siapa Yang Paling Ihsan Amalnya
Al Quran Surat Al-Kahfi/ 18: 7, mengandung pengertian apa yang ada di bumi sebagai perhiasan, untuk menguji siapakah di antara mereka yang paling ihsan perbuatannya;
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.(QS. Al-Kahfi/ 18: 7)
1.3. Sekiranya Aku Dapat Kembali (Ke Dunia), Niscaya Aku Akan Berbuat Ihsan
Di dalam Al Quran Surat Az-Zumar/ 39: 58, dijelaskan bahwa ketika seseorang melihat azab di akhirat, mereka berkata; Kalau sekiranya aku dapat kembali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat ihsan (baik)
أَوْ تَقُولَ حِينَ تَرَى الْعَذَابَ لَوْ أَنَّ لِي كَرَّةً فَأَكُونَ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: Atau supaya jangan ada yang berkata ketika ia melihat azab 'Kalau sekiranya aku dapat kemnbali (ke dunia), niscaya aku akan termasuk orang-orang berbuat baik.(QS. Az-Zumar/ 39: 58)
1.4. Allah Memiliki Asma’ul Husna; Nama-Nama Kebaikan; Indah
Di dalam Al Quran Surat Taha/ 20: 8, ditegaskan bahwa dia yang memiliki asma’ul husna;
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ لَهُ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ
Artinya: Dialah Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. Dia mempunyai al asmaaul husna (nama-nama yang baik) (QS. Taha/ 20: 8)
Nama-nama tersebut merupakan nama-nama yang dapat digunakan untuk mengenal dan mengingat Allah, dengan mengenalinya maka ketika melakukan amal ibadah merasa dapat melihat atau dilihat Allah SWT.
1.5. Rahmat Allah Dekat Dengan Orang Yang Berbuat Ihsan
Di dalam Al Quran Surat Al A’raf/ 7: 56 dinyatakan bahwa rahmat Allah sangat dekat dengan orang-orang yang berbuat ihsan;
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِينَ ﴿الأعراف: ٥٦﴾
Artinya: Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al A’raf/ 7: 56)
1.6. Sejelek-Jelek Kejahatan Adalah Kejahatan Ulama, Dan Sebaik-Baik Kebaikan Adalah Kebaikan Ulama
Di dalam kitab Sunan Darimi hadits nomor 382 digambarkan bahwa sejelek-jelek kejahatan adalah kejahatan ulama, dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama;
أَخْبَرَنَا نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ عَنْ الْأَحْوَصِ بْنِ حَكِيمٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الشَّرِّ فَقَالَ لَا تَسْأَلُونِي عَنْ الشَّرِّ وَاسْأَلُونِي عَنْ الْخَيْرِ يَقُولُهَا ثَلَاثًا ثُمَّ قَالَ أَلَا إِنَّ شَرَّ الشَّرِّ شِرَارُ الْعُلَمَاءِ وَإِنَّ خَيْرَ الْخَيْرِ خِيَارُ الْعُلَمَاءِ [7]
Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Nu'aim bin Hammad telah menceritakan kepada kami Baqiyyah dari Al `Ahwash bin Hakim dari ayahnya ia berkata: "Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam tentang kejahatan, maka Rasulullah sallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Janganlah anda sekalian bertanya kepadaku tentang kejahatan, dan bertanyalah kepadaku tentang kebaikan". Rasul berkata tiga kali, kemudian beliau bersabda: "Ketahuilah bahwa sejelek-jelek kejahatan adalah kejahatan ulama, dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama."
1.7. Sebaik Baik Dan Seburuk-buruk Manusia
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2263 dijelaskan bahwa Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan aman dari kejahatannya orang yang paling buruk di antara kalian adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan tidak aman dari kejahatannya;
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَفَ عَلَى أُنَاسٍ جُلُوسٍ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ قَالَ فَسَكَتُوا فَقَالَ ذَلِكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنَا بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ شَرُّهُ وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ [8]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah menceritakan kepada kami 'Abdul 'Aziz bin Muhammad dari Al 'Alla` bin Abdurrahman dari bapaknya dari Abu Hurairah Rasulullah Shallallahu 'alahi wa Salam berdiri di hadapan orang orang yang sedang duduk lalu beliau bersabda: "Maukah kalian aku beritahu orang yang paling baik di antara kalian dari orang yang paling buruk di antara kalian?" Abu Hurairah berkata: Para sahabat diam, beliau mengatakan demikian sampai tiga kali, kemudian salah seorang berkata: Ya, wahai Rasulullah, beritahukan kepada kami orang yang paling baik di antara kami dari orang yang paling buruk, beliau bersabda: "Orang yang paling baik di antara kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan aman dari kejahatannya, dan orang yang paling buruk di antara kalian adalah orang yang tidak diharapkan kebaikannya dan tidak aman dari kejahatannya." Abu Isa berkata: Hadits ini hasan shahih.
1.8. Sesungguhnya Yang Terbaik Diantara Kalian Adalah Siapa Yang Paling Baik Menunaikan Janji.
Di dalam kitab shahih Bukhari hadits nomor 2305 dinyatakan Sesungguhnya yang terbaik diantara kalian adalah siapa yang paling baik menunaikan janji;
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ سَلَمَةَ بْنِ كُهَيْلٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ كَانَ لِرَجُلٍ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سِنٌّ مِنْ الْإِبِلِ فَجَاءَهُ يَتَقَاضَاهُ فَقَالَ أَعْطُوهُ فَطَلَبُوا سِنَّهُ فَلَمْ يَجِدُوا لَهُ إِلَّا سِنًّا فَوْقَهَا فَقَالَ أَعْطُوهُ فَقَالَ أَوْفَيْتَنِي أَوْفَى اللَّهُ بِكَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً [9]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Salamah bin Kuhail dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radliyallahu 'anhu berkata: Ada seorang laki-laki yang dijanjikan diberi seekor anak unta oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam maka dia datang kepada Beliau untuk menagihnya. Maka Beliau bersabda: "Berikanlah!" Maka para sahabat mencarikan anak unta namun tidak mendapatkannya kecuali satu ekor anak unta yang umurnya lebih diatas yang semestinya. Maka Beliau bersabda: "Berikanlah kepadanya!" Orang tersebut berkata: "Engkau telah menepati janji kepadaku semoga Allah membalasnya buat Tuan." Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya yang terbaik diantara kalian adalah siapa yang paling baik menunaikan janji."
1.9. Sebaik-Baik Pembicaraan Adalah Kitabullah Dan Sebaik-Baik Petunjuk Adalah Petunjuk Muhammad
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6735 dijelaskan bahwa sebaik-baik pembicaraan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad;
حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ أَخْبَرَنَا عَمْرُو بْنُ مُرَّةَ سَمِعْتُ مُرَّةَ الْهَمْدَانِيَّ يَقُولُ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ إِنَّ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَأَحْسَنَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَ " إِنَّ مَا تُوعَدُونَ لَآتٍ وَمَا أَنْتُمْ بِمُعْجِزِينَ "[10]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Adam bin Abu Iyas telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah mengabarkan kepada kami Amru bin Murrah, aku mendengar Murrah Al Hamdani berkata, Abdullah berkata, "Sebaik-baik pembicaraan adalah kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ, dan seburuk-buruk perbuatan adalah perkara baru, " kemudian beliau mengutip ayat: '(Apa yang dijanjikan untuk kalian pasti akan datang) (Qs. Al an'aam: 134).
1.10. Hukum Yang Paling Baik (Ihsan) Adalah Hukum Allah
Di dalam Al Quran surat Al-Maidah/ 5: 50 dinyatakan bahwa hukum Allah adalah hukum terbaik;
أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ
Artinya: Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?(QS. Al-Maidah/ 5: 50)
1.11. Pendidikan Yang Paling Baik (Ihsan) Adalah Pendidikan Allah
Di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 138 dinyatakan bahwa shibghah; celupan; pendidikan yang paling baik adalah pendidikan Allah;
صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ
Artinya: Shibghah Allah. Dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.(QS. Al-Baqarah/ 2: 138)
1.12. Kehidupan Adalah Ujian Untuk Mengetahui Yang Paling Ihsan Amalnya
Di dalam Al Quran surat Al-Mulk/ 67: 2 dinyatakan bahwa kehidupan dunia adalah ujian untuk mengetahui siapa yang paling baik;
الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ
Artinya: Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun,(QS. Al-Mulk/ 67: 2)
1.13. Perhiasan Kehidupan Dunia Adalah Ujian Untuk Mengetahui Yang Paling Ihsan Amalnya
Di dalam Al Quran surat Al-Kahfi/ 18: 7 dinyatakan bahwa perhiasan kehidupan dunia adalah ujian untuk mengetahui yang paling baik amalnya;
إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, agar Kami menguji mereka siapakah di antara mereka yang terbaik perbuatannya.(QS. Al-Kahfi/ 18: 7)
1.14. Memberikan Syafa'at Yang Baik, Niscaya Ia Akan Memperoleh Bahagian (Pahala) Dari Padanya
Di dalam Al Quran surat An Nisa’/ 4: 85 ditegaskan bahwa barangsiapa yang memberikan syafa'at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya;
مَّن يَشْفَعْ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَكُن لَّهُ نَصِيبٌ مِّنْهَا وَمَن يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُن لَّهُ كِفْلٌ مِّنْهَا وَكَانَ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ مُّقِيتًا ﴿النساء: ٨٥﴾
Artinya: Barangsiapa yang memberikan syafa'at yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) dari padanya. Dan barangsiapa memberi syafa'at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) dari padanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. An Nisa/ 4: 85)
1.15. Sesungguhnya Telah Ada Pada (Diri) Rasulullah Itu Suri Teladan Yang Baik Bagimu
Di dalam Al Quran surat Al Ahzab/ 33: 21 dinyatakan bahwa sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu;
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا ﴿الأحزاب: ٢١﴾
Artinya: Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (QS. Al Ahzab/ 33: 21)
1.16. Sesungguhnya Allah Telah Mewajibkan Supaya Selalu Bersikap Ihsan Terhadap Segala Sesuatu
Perintah untuk berbuat ihsan mencakup dalam semua hal, berikut beberapa hal yang diperintahkan untuk melakukannya dengan baik;
1.16.1. Membunuh dan Menyembelih Dengan Cara Yang Baik
Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 1955 ditegaskan perintah sesungguhnya Allah telah mewajibkan supaya selalu bersikap baik terhadap setiap sesuatu;
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ خَالِدٍ الْحَذَّاءِ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي الْأَشْعَثِ عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ قَالَ ثِنْتَانِ حَفِظْتُهُمَا عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ فَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ [11]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Isma'il bin 'Ulayyah dari Khalid Al Khaddza` dari Abu Qilabah dari Abu Al Asy'ats dari Syaddad bin Aus dia berkata, "Dua perkara yang selalu saya ingat dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah telah mewajibkan supaya selalu bersikap baik terhadap setiap sesuatu, jika kamu membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik, jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik, tajamkan pisaumu dan senangkanlah hewan sembelihanmu."
1.16.2. Memberi Nama Yang Bagus
Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 4948 dijelaskan perintah untuk memberi nama dengan baik;
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عَوْنٍ قَالَ أَخْبَرَنَا ح و حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا هُشَيْمٌ عَنْ دَاوُدَ بْنِ عَمْرٍو عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي زَكَرِيَّا عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّكُمْ تُدْعَوْنَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِأَسْمَائِكُمْ وَأَسْمَاءِ آبَائِكُمْ فَأَحْسِنُوا أَسْمَاءَكُمْ قَالَ أَبُو دَاوُد ابْنُ أَبِى زَكَرِيَّا لَمْ يُدْرِكْ أَبَا الدَّرْدَاءِ [12]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Amru bin Aun ia berkata; telah mengabarkan kepada kami. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Musaddad ia berkata; telah menceritakan kepada kami Husyaim dari Dawud bin Amru dari Abdullah bin Abu Zakariya dari Abu Darda ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya pada hari kiamat kalian akan dipanggil dengan nama-nama kalian dan nama bapak-bapak kalian, maka baguskanlah nama kalian." Abu Dawud berkata, "Ibnu Abu Zakariya belum pernah bertemu dengan Abu Darda."
1.16.3. Memperbagus Lubang Kuburan
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 1713 dijelaskan perintah untuk memperbagus lubang kuburan;
حَدَّثَنَا أَزْهَرُ بْنُ مَرْوَانَ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ هِلَالٍ عَنْ أَبِي الدَّهْمَاءِ عَنْ هِشَامِ بْنِ عَامِرٍ قَالَ شُكِيَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْجِرَاحَاتُ يَوْمَ أُحُدٍ فَقَالَ احْفِرُوا وَأَوْسِعُوا وَأَحْسِنُوا وَادْفِنُوا الِاثْنَيْنِ وَالثَّلَاثَةَ فِي قَبْرٍ وَاحِدٍ وَقَدِّمُوا أَكْثَرَهُمْ قُرْآنًا فَمَاتَ أَبِي فَقُدِّمَ بَيْنَ يَدَيْ رَجُلَيْنِ قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ خَبَّابٍ وَجَابِرٍ وَأَنَسٍ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَرَوَى سُفْيَانُ الثَّوْرِيُّ وَغَيْرُهُ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ هِلَالٍ عَنْ هِشَامِ بْنِ عَامِرٍ وَأَبُو الدَّهْمَاءِ اسْمُهُ قِرْفَةُ بْنُ بُهَيْسٍ أَوْ بَيْهَسٍ [13]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Azhar bin Marwan Al Bashri berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Warits bin Sa'id dari Ayyub dari Humaid bin Hilal dari Abu Ad Dahma dari Hisyam bin Amir ia berkata, "Pernah dikeluhkan kepada Rasulullah ﷺ tentang orang-orang yang terbunuh pada perang uhud, beliau lalu bersabda: "Buatlah lubang, luaskan, perbagus dan kuburkanlah mereka dua orang atau tiga orang dalam satu lubang. Dan dahulukanlah di antara mereka yang banyak bafalan Al-Qur'annya." Lalu bapakku meninggal, hingga ia pun didahulukan di antara dua orang yang ada." Abu Isa berkata, "Dalam bab ini juga ada hadits dari Khabbab, Jabir dan Anas. Hadits ini derajatnya hasan shahih. Sufyan Ats Tsauri dan selainnya meriwayatkan hadits ini dari Ayyub, dari Humaid bin Hilal dan dari Hisyam bin Amir. Abu Dahma nama aslinya adalah Qirfah bin Buhais, atau Baihas."
1.16.4. Berbuat Baik Dalam Peperangan
Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 2614 dijelaskan untuk tetap berbuat baik dalam peperangan;
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ آدَمَ وَعُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنْ حَسَنِ بْنِ صَالِحٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ الْفِزْرِ حَدَّثَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ انْطَلِقُوا بِاسْمِ اللَّهِ وَبِاللَّهِ وَعَلَى مِلَّةِ رَسُولِ اللَّهِ وَلَا تَقْتُلُوا شَيْخًا فَانِيًا وَلَا طِفْلًا وَلَا صَغِيرًا وَلَا امْرَأَةً وَلَا تَغُلُّوا وَضُمُّوا غَنَائِمَكُمْ وَأَصْلِحُوا وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ [14]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Utsman bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Yahya bin Adam, serta 'Ubaidullah bin Musa dari Hasan bin Shalih dari Khalid bin Al Fizr, telah menceritakan kepadaku Anas bin Malik, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Pergilah dengan nama Allah, di atas agama Rasulullah, dan janganlah membunuh orang tua, anak kecil, dan wanita. Dan janganlah berkhianat (dalam pembagian ghanimah), dan kumpulkanlah rampasan perang kalian. Ciptakan perdamaian dan berbuatlah kebaikan, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan."
Bagi orang yang melakukan amal dan ibadah dengan ihsan akan memperoleh banyak keuntungan, antara lain;
2.1. Allah Menerima Amal Baik “Ihsan” Yang Mereka Kerjakan
Di dalam Al Quran surat Al-Ahqaf/ 46: 16 dijelaskan bahwa Allah menerima amal baik yang mereka kerjakan;
أُولَئِكَ الَّذِينَ نَتَقَبَّلُ عَنْهُمْ أَحْسَنَ مَا عَمِلُوا وَنَتَجَاوَزُ عَنْ سَيِّئَاتِهِمْ فِي أَصْحَابِ الْجَنَّةِ وَعْدَ الصِّدْقِ الَّذِي كَانُوا يُوعَدُونَ
Artinya: Mereka itulah orang-orang yang Kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan Kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga, sebagai janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.(QS. Al-Ahqaf/ 46: 16)
2.2. Balasan Ihsan Adalah Ihsan
Di dalam Al Quran surat Ar-Rahman/ 55: 60 ditegaskan bahwa balasan kebaikan adalah kebaikan;
هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
Artinya: Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).(QS. Ar-Rahman/ 55: 60)
Ketakwaan di tingkatan ihsan ini mulai memerlukan kesadaran ruhani; jiwa, dimana amal yang dilakukan dengan kesadaran ihsan akan dibalas Allah dengan ihsan, mahabbah dibalas mahabbah, rahmah dibalas rahmah, ridha dibalas ridha, hidayah dibalas hidayah, inilah yang kemudian disebut sebagai kesadaran takwa di tingkat mahabbah, takwa di tingkat rahmah, takwa di tingkat ridha, takwa di tingkat hidayah hingga takwa di tingkat jannah.
2.3. Allah Memberi Balasan Orang Yang Berbuat Baik Dengan Kebaikan
Di dalam Al Quran surat An-Najm/ 53: 31 dijelaskan bahwa Allah memberi balasan orang yang melakukan kebaikan dengan kebaikan;
وَلِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ لِيَجْزِيَ الَّذِينَ أَسَاءُوا بِمَا عَمِلُوا وَيَجْزِيَ الَّذِينَ أَحْسَنُوا بِالْحُسْنَى
Artinya: Dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (surga).(QS. An-Najm/ 53: 31)
2.4. Bagi Orang Yang Ihsan Diberikan Hikmah dan Pengetahuan
Di dalam Al Quran surat Al Qashash/ 28: 14 dijelaskan bahwa orang-orang yang ihsan diberikan hikmah dan pengetahuan;
وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسْتَوَىٰ آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ ﴿القصص: ١٤﴾
Artinya: Dan setelah Musa cukup umur dan sempurna akalnya, Kami berikan kepadanya hikmah (kenabian) dan pengetahuan. Dan demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al Qashash/ 28: 14)
2.5. Allah Memberi Pahala Orang Yang Mengerjakan Dengan Ihsan
Di dalam Al Quran surat Al-Kahfi/ 18: 30 dijelaskan bahwa Allah memberi pahala bagi orang yang mengerjakan amalnya dengan ihsan;
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ إِنَّا لَا نُضِيعُ أَجْرَ مَنْ أَحْسَنَ عَمَلًا
Artinya: Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.(QS. Al-Kahfi/ 18: 30)
2.6. Balasan Ihsan Adalah Pahala Di Sisi Allah
Di dalam Al Quran surat Al Baqarah/ 2: 112 disebutkan bahwa balasan bagi ihsan adalah pahala di sisi Allah;
بَلَىٰ مَنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهُ أَجْرُهُ عِندَ رَبِّهِ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ
Artinya: (Tidak demikian) bahkan barangsiapa yang menyerahkan diri kepada Allah, sedang ia berbuat kebajikan, maka baginya pahala pada sisi Tuhannya dan tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS. Al Baqarah/ 2: 112)
2.7. Balasan Ihsan Adalah Sepuluh Kali Kebaikannya
Di dalam Al Quran surat Al An’Am/ 6: 160 disebutkan bahwa balasan ihsan adalah sepuluh kali lipat ihsan yang dilakukan;
مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا وَمَن جَاءَ بِالسَّيِّئَةِ فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Artinya: Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan). (QS. Al An’am/ 6: 160)
2.8. Balasan Ihsan Adalah Balasan Yang Lebih Baik
Di dalam Al Quran surat An Naml/ 27: 89 disebutkan bahwa balasan ihsan adalah balasan yang lebih baik;
مَن جَاءَ بِالْحَسَنَةِ فَلَهُ خَيْرٌ مِّنْهَا وَهُم مِّن فَزَعٍ يَوْمَئِذٍ آمِنُونَ ﴿النمل: ٨٩﴾
Artinya: Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik dari padanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu. (QS. An Naml/ 27: 89)
2.9. Bagi Orang Yang Berbuat Ihsan, Ada Pahala Yang Terbaik (Surga) Dan Tambahannya
Di dalam Al Quran Surat Yunus/ 10: 26, disebutkan bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya;
لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا الْحُسْنَىٰ وَزِيَادَةٌ ۖ وَلَا يَرْهَقُ وُجُوهَهُمْ قَتَرٌ وَلَا ذِلَّةٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ ۖ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ
Artinya: Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan muka mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.(QS. Yunus/ 10: 26)
2.10. Allah Benar-Benar Beserta Orang-Orang Yang Berbuat Ihsan.
Di dalam Al Quran Surat Al-'Ankabut/ 29: 69, dinyatakan bahwa sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat ihsan;
وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridlaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat Ihsan (baik).(QS. Al-'Ankabut/ 29: 69)
2.11. Rahmat Allah Dekat Dengan Orang Yang Berbuat Ihsan
Di dalam Al Quran Surat Al-A’raf/ 7: 56, dinyatakan bahwa Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat Ihsan;
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat Ihsan (baik).(QS. Al-A’raf/ 7: 56)
2.12. Allah Mencintai Orang-Orang Yang Berbuat Ihsan
Di dalam Al Quran Surat Ali 'Imran/ 3: 134 dan Surat Al-Ma'idah/ 5: 93 dan Surat Al-Baqarah/ 2: 195, dinyatakan bahwa Allah mencintai orang-orang yang berbuat Ihsan (kebajikan)
الَّذِينَ يُنْفِقُونَ فِي السَّرَّاءِ وَالضَّرَّاءِ وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan (QS. Ali 'Imran/ 3: 134).
لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوْا وَآمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ثُمَّ اتَّقَوْا وَآمَنُوا ثُمَّ اتَّقَوْا وَأَحْسَنُوا ۗ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (QS. Al-Ma'idah/ 3: 93)
وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ ۛ وَأَحْسِنُوا ۛ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik (QS. Al-Baqarah / 2: 195)
2.13. Sesungguhnya Perbuatan Yang Baik Itu Menghapuskan (Dosa) Perbuatan Yang Buruk
Di dalam Al Quran Surat Hud/ 11: 114, disebutkan bahwa Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk;
وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ
Artinya: Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan dari malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat (QS. Hud/ 11: 114)
2.14. Mengikuti Yang Paling Baik Berarti Mendapat Hidayah dan Berakal
Di dalam Al Quran surat Az-Zumar/ 39: 18 dijelaskan bahwa orang yang mengikuti yang paling baik, maka orang tersebut mendapat hidayah dan berakal;
الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ
Artinya: Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS. Az-Zumar/ 39: 18)
2.15. Memberikan Pinjaman Yang Baik Kepada Allah Akan Diberi Balasan Yang Berlipat Ganda
Di dalam Al Quran surat Al Baqarah/ 2: 245, Al Hadid/ 57: 11, Al Hadid/ 57: 18 dan At Taghabun/ 64: 17 ditegaskan bahwa barang siapa memberikan pinjaman yang baik kepada Allah, maka Allah akan memberikan balasan yang berlipat ganda;
مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً وَاللَّهُ يَقْبِضُ وَيَبْسُطُ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ
Artinya: Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezeki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS. Al Baqarah/ 2: 245)
مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ وَلَهُ أَجْرٌ كَرِيمٌ
Artinya: Siapakah yang mau meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, maka Allah akan melipat-gandakan (balasan) pinjaman itu untuknya, dan dia akan memperoleh pahala yang banyak. (QS. Al Hadid/ 57: 11)
إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang membenarkan (Allah dan Rasul-Nya) baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipatgandakan (pembayarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak. (QS. Al Hadid/ 57: 18)
إِن تُقْرِضُوا اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا يُضَاعِفْهُ لَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ وَاللَّهُ شَكُورٌ حَلِيمٌ
Artinya: Jika kamu meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya Allah melipat gandakan balasannya kepadamu dan mengampuni kamu. Dan Allah Maha Pembalas Jasa lagi Maha Penyantun. (QS. At Taghabun/ 64: 17)
2.16. Balasan Ihsan Adalah Surga
Di dalam Al Quran surat Al Maidah/ 5: 85 dinyatakan bahwa balasan bagi orang yang berbuat ihsan adalah surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai;
فَأَثَابَهُمُ اللَّهُ بِمَا قَالُوا جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَٰلِكَ جَزَاءُ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: Maka Allah memberi mereka pahala terhadap perkataan yang mereka ucapkan, (yaitu) surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya, sedang mereka kekal di dalamnya. Dan itulah balasan (bagi) orang-orang yang berbuat kebaikan (yang ikhlas keimanannya). (QS. Al Maidah/ 5: 85)
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 4581 dinyatakan bahwa Allah akan mendatangi mereka dalam bentuk yang mendekati gambaran mereka tentang Dia dalam benak mereka;
حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ حَدَّثَنَا أَبُو عُمَرَ حَفْصُ بْنُ مَيْسَرَةَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ أُنَاسًا فِي زَمَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَعَمْ هَلْ تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ الشَّمْسِ بِالظَّهِيرَةِ ضَوْءٌ لَيْسَ فِيهَا سَحَابٌ قَالُوا لَا قَالَ وَهَلْ تُضَارُّونَ فِي رُؤْيَةِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ ضَوْءٌ لَيْسَ فِيهَا سَحَابٌ قَالُوا لَا قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تُضَارُونَ فِي رُؤْيَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا كَمَا تُضَارُونَ فِي رُؤْيَةِ أَحَدِهِمَا إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ أَذَّنَ مُؤَذِّنٌ تَتْبَعُ كُلُّ أُمَّةٍ مَا كَانَتْ تَعْبُدُ فَلَا يَبْقَى مَنْ كَانَ يَعْبُدُ غَيْرَ اللَّهِ مِنْ الْأَصْنَامِ وَالْأَنْصَابِ إِلَّا يَتَسَاقَطُونَ فِي النَّارِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ إِلَّا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ بَرٌّ أَوْ فَاجِرٌ وَغُبَّرَاتُ أَهْلِ الْكِتَابِ فَيُدْعَى الْيَهُودُ فَيُقَالُ لَهُمْ مَنْ كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ قَالُوا كُنَّا نَعْبُدُ عُزَيْرَ ابْنَ اللَّهِ فَيُقَالُ لَهُمْ كَذَبْتُمْ مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ صَاحِبَةٍ وَلَا وَلَدٍ فَمَاذَا تَبْغُونَ فَقَالُوا عَطِشْنَا رَبَّنَا فَاسْقِنَا فَيُشَارُ أَلَا تَرِدُونَ فَيُحْشَرُونَ إِلَى النَّارِ كَأَنَّهَا سَرَابٌ يَحْطِمُ بَعْضُهَا بَعْضًا فَيَتَسَاقَطُونَ فِي النَّارِ ثُمَّ يُدْعَى النَّصَارَى فَيُقَالُ لَهُمْ مَنْ كُنْتُمْ تَعْبُدُونَ قَالُوا كُنَّا نَعْبُدُ الْمَسِيحَ ابْنَ اللَّهِ فَيُقَالُ لَهُمْ كَذَبْتُمْ مَا اتَّخَذَ اللَّهُ مِنْ صَاحِبَةٍ وَلَا وَلَدٍ فَيُقَالُ لَهُمْ مَاذَا تَبْغُونَ فَكَذَلِكَ مِثْلَ الْأَوَّلِ حَتَّى إِذَا لَمْ يَبْقَ إِلَّا مَنْ كَانَ يَعْبُدُ اللَّهَ مِنْ بَرٍّ أَوْ فَاجِرٍ أَتَاهُمْ رَبُّ الْعَالَمِينَ فِي أَدْنَى صُورَةٍ مِنْ الَّتِي رَأَوْهُ فِيهَا فَيُقَالُ مَاذَا تَنْتَظِرُونَ تَتْبَعُ كُلُّ أُمَّةٍ مَا كَانَتْ تَعْبُدُ قَالُوا فَارَقْنَا النَّاسَ فِي الدُّنْيَا عَلَى أَفْقَرِ مَا كُنَّا إِلَيْهِمْ وَلَمْ نُصَاحِبْهُمْ وَنَحْنُ نَنْتَظِرُ رَبَّنَا الَّذِي كُنَّا نَعْبُدُ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ لَا نُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا[15]
Artinya: Telah menceritakan kepadaku Muhammad bin 'Abdul 'Aziz Telah menceritakan kepada kami Abu 'Umar Hafsh bin Maisarah dari Zaid bin Aslam dari 'Atha bin Yasar dari Sa'id Al Khudri radliallahu 'anhu dia berkata; sejumlah orang pada masa Rasulullah ﷺ berkata; 'Ya Rasulullah, apakah kami dapat melihat Allah pada hari kiamat? Nabi ﷺ menjawab. 'Ya, ' apakah kalian merasa kesulitan melihat matahari yang terang benderang serta tidak ada mendung?" Mereka berkata: "Tidak wahai Rasulullah!" lalu Rasulullah ﷺ bersabda: "Apakah kalian merasa kesullitan melihat rembulan pada malam purnama yang tidak ada mendung dibawahnya?", mereka berkata; "Tidak, wahai Rasulullah!" Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya kalian akan melihat-Nya kelak pada hari kiamat tanpa merasa kesulitan sebagaimana kalian melihat salah satu dari keduanya. Pada hari kiamat, sang penyeru akan mengumumkan, setiap umat mengikuti apa yang mereka sembah. Maka mereka yang menyembah selain Allah seperti berhala dan tuhan-tuhan yang lain akan berjatuhan ke neraka. Hingga yang tinggal hanyalah mereka yang menyembah Allah baik orang-orang yang saleh maupun orang yang jahat dan sejumlah orang dari ahlu kitab. Kemudian orang Yahudi akan dipanggil, Allah akan bertanya kepada mereka: Apa yang kamu sembah? Mereka menjawab; 'Kami menyembah Uzair putra Allah. Maka akan dikatakan kepada mereka; 'Kalian adalah para pendusta! Karena Allah tidak pernah mengambil istri atau memilik anak. Apa yang sekarang kalian inginkan? Mereka menjawab; 'Kami sangat haus ya Rabb, maka berilah kami minum. Maka mereka digiring dan ditunjukan, 'Minumlah. Pada saat itulah mereka akan dikumpulkan di dalam api neraka yang bentuknya seperti fatamorgana yang saling merusak satu sama yang lainnya. Kemudian mereka akan ditenggelamkan ke dalam api neraka. Setelah itu orang-orang Nashrani akan dipanggil, Apa yang kamu sembah? Mereka menjawab; 'Yesus putra Allah. Maka dikatakan kepada mereka: 'Kalian adalah para pendusta! Karena Allah tidak pernah mengambil istri atau memilik anak. Apa yang sekarang kalian inginkan? Maka mereka menjawab sebagaimana orang Yahudi dan akan dilemparkan ke dalam api neraka. Kemudian yang tetap tinggal adalah mereka yang hanya beribadah kepada Allah. Baik itu orang saleh atau orang yang berbuat kejahatan. Allah akan mendatangi mereka dalam bentuk yang mendekati gambaran mereka tentang Dia dalam benak mereka. Akan dikatakan kepada mereka; Apa yang kalian tunggu? Setiap bangsa mengikuti tuhan yang disembahnya didunia. Mereka akan menjawab; Kami meninggalkan orang-orang di dunia ketika kami sedang sangat membutuhkan mereka dan kami tidak mengambil mereka sebagai tandingan. Sekarang kami sedang menunggu Rabb kami yang kami sembah. Maka Allah akan berkata; Akulah Rabb kalian, mereka akan senantiasa berkata, sebanyak dua atau tiga kali; 'Kami tidak menyekutukan Allah.'
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6573 juga dinyatakan kalaulah Tuhan kami mendatangi kami, niscaya kami mengenal-Nya.' Kemudian Allah mendatangi mereka dengan bentuk yang mereka kenal dan mengatakan; 'Aku tuhan kalian! ' 'Betul, engkau tuhan kami'
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي سَعِيدٌ وَعَطَاءُ بْنُ يَزِيدَ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ أَخْبَرهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنِي مَحْمُودٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَزِيدَ اللَّيْثِيِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ أُنَاسٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ نَرَى رَبَّنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ هَلْ تُضَارُّونَ فِي الشَّمْسِ لَيْسَ دُونَهَا سَحَابٌ قَالُوا لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هَلْ تُضَارُّونَ فِي الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ لَيْسَ دُونَهُ سَحَابٌ قَالُوا لَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّكُمْ تَرَوْنَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ كَذَلِكَ يَجْمَعُ اللَّهُ النَّاسَ فَيَقُولُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ شَيْئًا فَلْيَتَّبِعْهُ فَيَتْبَعُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ الشَّمْسَ وَيَتْبَعُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ الْقَمَرَ وَيَتْبَعُ مَنْ كَانَ يَعْبُدُ الطَّوَاغِيتَ وَتَبْقَى هَذِهِ الْأُمَّةُ فِيهَا مُنَافِقُوهَا فَيَأْتِيهِمْ اللَّهُ فِي غَيْرِ الصُّورَةِ الَّتِي يَعْرِفُونَ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ نَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْكَ هَذَا مَكَانُنَا حَتَّى يَأْتِيَنَا رَبُّنَا فَإِذَا أَتَانَا رَبُّنَا عَرَفْنَاهُ فَيَأْتِيهِمْ اللَّهُ فِي الصُّورَةِ الَّتِي يَعْرِفُونَ فَيَقُولُ أَنَا رَبُّكُمْ فَيَقُولُونَ أَنْتَ رَبُّنَا فَيَتْبَعُونَهُ وَيُضْرَبُ جِسْرُ جَهَنَّمَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَكُونُ أَوَّلَ مَنْ يُجِيزُ وَدُعَاءُ الرُّسُلِ يَوْمَئِذٍ اللَّهُمَّ سَلِّمْ سَلِّمْ وَبِهِ كَلَالِيبُ مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ أَمَا رَأَيْتُمْ شَوْكَ السَّعْدَانِ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِنَّهَا مِثْلُ شَوْكِ السَّعْدَانِ غَيْرَ أَنَّهَا لَا يَعْلَمُ قَدْرَ عِظَمِهَا إِلَّا اللَّهُ فَتَخْطَفُ النَّاسَ بِأَعْمَالِهِمْ مِنْهُمْ الْمُوبَقُ بِعَمَلِهِ وَمِنْهُمْ الْمُخَرْدَلُ ثُمَّ يَنْجُو حَتَّى إِذَا فَرَغَ اللَّهُ مِنْ الْقَضَاءِ بَيْنَ عِبَادِهِ وَأَرَادَ أَنْ يُخْرِجَ مِنْ النَّارِ مَنْ أَرَادَ أَنْ يُخْرِجَ مِمَّنْ كَانَ يَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ أَمَرَ الْمَلَائِكَةَ أَنْ يُخْرِجُوهُمْ فَيَعْرِفُونَهُمْ بِعَلَامَةِ آثَارِ السُّجُودِ وَحَرَّمَ اللَّهُ عَلَى النَّارِ أَنْ تَأْكُلَ مِنْ ابْنِ آدَمَ أَثَرَ السُّجُودِ فَيُخْرِجُونَهُمْ قَدْ امْتُحِشُوا فَيُصَبُّ عَلَيْهِمْ مَاءٌ يُقَالُ لَهُ مَاءُ الْحَيَاةِ فَيَنْبُتُونَ نَبَاتَ الْحِبَّةِ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ وَيَبْقَى رَجُلٌ مِنْهُمْ مُقْبِلٌ بِوَجْهِهِ عَلَى النَّارِ فَيَقُولُ يَا رَبِّ قَدْ قَشَبَنِي رِيحُهَا وَأَحْرَقَنِي ذَكَاؤُهَا فَاصْرِفْ وَجْهِي عَنْ النَّارِ فَلَا يَزَالُ يَدْعُو اللَّهَ فَيَقُولُ لَعَلَّكَ إِنْ أَعْطَيْتُكَ أَنْ تَسْأَلَنِي غَيْرَهُ فَيَقُولُ لَا وَعِزَّتِكَ لَا أَسْأَلُكَ غَيْرَهُ فَيَصْرِفُ وَجْهَهُ عَنْ النَّارِ ثُمَّ يَقُولُ بَعْدَ ذَلِكَ يَا رَبِّ قَرِّبْنِي إِلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَيَقُولُ أَلَيْسَ قَدْ زَعَمْتَ أَنْ لَا تَسْأَلَنِي غَيْرَهُ وَيْلَكَ ابْنَ آدَمَ مَا أَغْدَرَكَ فَلَا يَزَالُ يَدْعُو فَيَقُولُ لَعَلِّي إِنْ أَعْطَيْتُكَ ذَلِكَ تَسْأَلُنِي غَيْرَهُ فَيَقُولُ لَا وَعِزَّتِكَ لَا أَسْأَلُكَ غَيْرَهُ فَيُعْطِي اللَّهَ مِنْ عُهُودٍ وَمَوَاثِيقَ أَنْ لَا يَسْأَلَهُ غَيْرَهُ فَيُقَرِّبُهُ إِلَى بَابِ الْجَنَّةِ فَإِذَا رَأَى مَا فِيهَا سَكَتَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَسْكُتَ ثُمَّ يَقُولُ رَبِّ أَدْخِلْنِي الْجَنَّةَ ثُمَّ يَقُولُ أَوَلَيْسَ قَدْ زَعَمْتَ أَنْ لَا تَسْأَلَنِي غَيْرَهُ وَيْلَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مَا أَغْدَرَكَ فَيَقُولُ يَا رَبِّ لَا تَجْعَلْنِي أَشْقَى خَلْقِكَ فَلَا يَزَالُ يَدْعُو حَتَّى يَضْحَكَ فَإِذَا ضَحِكَ مِنْهُ أَذِنَ لَهُ بِالدُّخُولِ فِيهَا فَإِذَا دَخَلَ فِيهَا قِيلَ لَهُ تَمَنَّ مِنْ كَذَا فَيَتَمَنَّى ثُمَّ يُقَالُ لَهُ تَمَنَّ مِنْ كَذَا فَيَتَمَنَّى حَتَّى تَنْقَطِعَ بِهِ الْأَمَانِيُّ فَيَقُولُ لَهُ هَذَا لَكَ وَمِثْلُهُ مَعَهُ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ وَذَلِكَ الرَّجُلُ آخِرُ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولًا قَالَ عَطَاءٌ وَأَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ جَالِسٌ مَعَ أَبِي هُرَيْرَةَ لَا يُغَيِّرُ عَلَيْهِ شَيْئًا مِنْ حَدِيثِهِ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَوْلِهِ هَذَا لَكَ وَمِثْلُهُ مَعَهُ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ هَذَا لَكَ وَعَشَرَةُ أَمْثَالِهِ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ حَفِظْتُ مِثْلُهُ مَعَهُ[16]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abul Yaman Telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az Zuhri telah mengabariku Sa'id dan 'Atho' bin Yazid, bahwasanya Abu Hurairah mengabari keduanya dari Nabi ﷺ -lewat jalur periwayatan lain-Telah mengabariku Mahmud telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq Telah mengabari kami Ma'mar dari Az Zuhri dari 'Atho' bin Yazid Al Laitsi dari Abu Hurairah mengatakan; Beberapa orang bertanya, 'wahai Rasulullah, apakah kami bisa melihat Tuhan kami pada hari kiamat? ' Nabiﷺ menjawab: "Apakah kalian mendapat kesulitan melihat matahari ketika tidak ada mendung?" 'Tidak wahai Rasulullah' Jawab mereka. Nabi ﷺ bertanya lagi; "Apakah kalian menadapat kesulitan melihat rembulan ketika purnama?" Mereka menjawab; 'Tidak wahai Rasulullah'. Nabi bersabda: "Sungguh kalian melihat-Nya pada hari kiamat. Allah kemudian menghimpun seluruh manusia kemudian berfirman; 'Siapa yang menyembah sesuatu, hendaklah ia mengikuti sesembahannya, ' Orang-orang pun mengikuti yang pernah disembahnya, ada yang mengikuti matahari karena menyembahnya, ada yang mengikuti bulan karena menyembahnya, ada yang mengikuti thaghut (segala sesembahan selain Allah) karena menyembahnya, sehingga yang tersisa adalah umat ini yang di dalamnya terdapat orang-orang munafiknya. Allah kemudian mendatangi mereka dengan bentuk yang belum pernah mereka kenal, dan mengatakan; 'Aku adalah Tuhan kalian' Namun mereka malah menjawab; 'kami berlindung kepada Allah dari-MU, inilah tempat kami, sampai Tuhan kami mendatangi kami, kalaulah Tuhan kami mendatangi kami, niscaya kami mengenal-NYA.' Kemudian Allah mendatangi mereka dengan bentuk yang mereka kenal dan mengatakan; 'AKU tuhan kalian! ' 'Betul, engkau tuhan kami' Jawab mereka. Mereka lantas mengikuti-Nya dan dipasanglah jembatan jahannam." Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Akulah manusia pertama-tama yang menyeberangi. Dan doa para Rasul ketika itu ialah; 'Allahumma Sallim-sallim (ya Allah selamatkanlah, selamatkanlah).' Dalam jembatan itu terdapat sekian banyak besi-besi pengait seperti pohon yang berduri tajam. Bukankah kalian pernah melihat pohon berduri tajam?". 'betul, ya Rasulullah, ' jawab mereka. Nabi meneruskan; 'Besi-besi pengait itu bagaikan pohon berduri tajam, hanya tidak ada yang tahu besarannya selain Allah. Besi-besi pengait itu menyambar manusia tergantung dengan amalan mereka, ada diantara mereka yang celaka lantaran amalannya, ada diantara mereka yang tercabik kemudian selamat. Hingga jika Allah selesai memutuskan diantara hamba-Nya, dan ingin mengeluarkan yang dikehendaki-NYA dari neraka dari mereka yang mengucapkan laa-ilaaha-illallah, Dia perintahkan malaikat untuk mengentaskan mereka, dan para malaikat mengenali mereka dengan bekas-bekas sujud, dan Allah mengharamkan neraka untuk memakan bekas-bekas sujud yang ada pada diri anak Adam, malaikat pun mengentaskan mereka setelah mereka gosong terbakar, mereka diguyur air yang disebut dengan air kehidupan, sehingga mereka tumbuh bagaikan tumbuhnya biji di tepi sungai, dan ada seseorang diantara mereka menghadapkan wajahnya kearah neraka dan mengatakan; 'Ya tuhanku, bau neraka telah menyesakkan hidungku dan nyalanya telah membakarku, maka palingkanlah wajahku dari neraka.' Hamba itu tiada henti memanjatkan doa untuk dipalingkan wajahnya dari neraka. Maka Allah berfirman; 'bisa jadi engkau jika AKU kabulkan permintaanmu, kamu minta yang lain lagi! ' hamba itu menjawab; 'Tidak, demi kebesaran -MU, aku tidak akan meminta yang lain lagi'. Allah pun memalingkan wajahnya dari neraka. Tetapi setelah itu ia meminta kembali; 'ya Tuhanku, dekatkanlah aku ke pintu surga!.' Allah menegur; 'Bukankah engkau telah menyatakan sanggup untuk tidak meminta-KU selainnya, celaka engkau wahai anak adam, betapa banyaknya alasanmu! ' hamba itu tiada henti memohon, sehingga Allah pun menjawab; 'bisa jadi jika AKU kabulkan permintaanmu, kamu akan meminta-KU yang lain lagi'. Hamba menjawab; 'Tidak, demi kebesaran-MU, saya tidak akan meminta-MU selainnya.' Maka Allah meminta janji dan ikrar agar ia tidak meminta-NYA selain itu, sehingga Allah mendekatkannya ke pintu surga. Namun setelah hamba tadi melihat isinya, ia diam beberapa saat sesuai kehendak Allah, kemudian ia berkata; 'Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke dalam surga! ' Allah menjawab; 'Bukankah engkau telah menyatakan sanggup untuk tidak meminta-KU selainnya, celaka engkau wahai anak Adam, alangkah banyaknya alasanmu'. Hamba terus merengek dengan mengucapkan; 'Wahai Tuhanku, janganlah Engkau jadikan aku menjadi manusia yang paling sengsara.' Hamba tiada henti memanjatkan doanya hingga Allah tertawa. Dan jika Allah telah tertawa, berarti ia mengizinkan hamba-NYA masuk surga. Setelah hamba memasukinya, dikatakan kepadanya; 'mengkhayallah seperti ini! ' maka ia pun mengkhayal, kemudian dikatakan kepadanya lagi; 'mengkhayallah seperti ini! ' maka ia pun mengkhayal sampai khayalannya benar-benar habis, kemudian Allah berkata kepadanya; 'Inilah bagimu dan semisalnya'." Kata Abu Hurairah; 'itulah laki-laki penghuni surga yang terakhir kali masuk.' Kata 'Atho`; Dan Abu Sa'id Al Khudzri sedang duduk bersama Abu Hurairah, dan ia tidak merubah haditsnya sedikitpun hingga ketika sampai sabdanya; 'Ini bagimu dan semisalnya bersamanya.' Maka Abu Sa'id menyelah; aku pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: 'Ini bagimu dan sepuluh kali semisalnya.' Abu Hurairah menjawab; 'yang aku hafal adalah semisalnya bersamanya.'
2.18. Allah Memberi Balasan Kebaikan Sebagaimana Kebaikan Yang Dilakukan-nya Kepada Orang Lain
Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2699 digambarkan bahwa Allah memberi balasan kebaikan sebagaimana kebaikan yang dilakukannya kepada orang lain;
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ يَحْيَى التَّمِيمِيُّ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ الْهَمْدَانِيُّ وَاللَّفْظُ لِيَحْيَى قَالَ يَحْيَى أَخْبَرَنَا و قَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ وَمَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمْ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمْ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمْ الْمَلَائِكَةُ وَذَكَرَهُمْ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ وَمَنْ بَطَّأَ بِهِ عَمَلُهُ لَمْ يُسْرِعْ بِهِ نَسَبُهُ [17]
Artinya: Diriwayatkan oleh Yahya bin Yahya at-Tamimi, Abu Bakr bin Abi Syaibah, dan Muhammad bin Alaa’ al-Hamdani, dengan lafaz dari Yahya. Yahya berkata: “Abu Mu’awiyah menceritakan kepada kami dari Al-A’masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah, yang berkata: Rasulullah SAW bersabda: ‘Barang siapa yang menghilangkan kesusahan seorang mukmin dari kesusahan-kesusahan dunia, Allah akan menghilangkan kesusahannya dari kesusahan-kesusahan hari kiamat. Barang siapa yang memudahkan orang yang dalam kesulitan, Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Barang siapa yang menutupi (aib) seorang Muslim, Allah akan menutupinya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menolong hamba-Nya selama hamba itu menolong saudaranya. Barang siapa yang menempuh jalan untuk mencari ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca Kitab Allah dan mempelajarinya di antara mereka, kecuali ketenangan akan turun kepada mereka, rahmat akan meliputi mereka, malaikat akan mengelilingi mereka, dan Allah akan menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. Dan barang siapa yang lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya.’”
Berikut ini akan dikemukakan beberapa ayat Al Quran dan Hadits Nabi yang menggambarkan tentang karakter orang ihsan;
3.1. Berbuat Ihsan Sebagaimana Allah Telah Berbuat Ihsan Kepadamu
Di dalam Al Quran Surat Al-Qashash/ 28: 77, disebutkan perintah untuk berbuat ihsan sebagaimana Allah telah berbuat ihsan kepadamu;
وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ ۖ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا ۖ وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.(QS. Al-Qashash/ 28: 77)
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 28 digambarkan bahwa banyaknya wanita masuk neraka karena mengingkari kebaikan, maka orang ihsan adalah orang yang menghargai kebaikan;
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ عَنْ مَالِكٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ قِيلَ أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ وَيَكْفُرْنَ الْإِحْسَانَ لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ [18]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah dari Malik dari Zaid bin Aslam dari 'Atho' bin Yasar dari Ibnu 'Abbas berkata, Nabi ﷺ bersabda: "Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita. Karena mereka sering mengingkari". Ditanyakan: "Apakah mereka mengingkari Allah?" Beliau bersabda: "Mereka mengingkari pemberian suami, mengingkari kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik terhadap seseorang dari mereka sepanjang masa, lalu dia melihat satu saja kejelekan darimu maka dia akan berkata: 'aku belum pernah melihat kebaikan sedikitpun darimu".
3.3. Membalas Penghormatan Dengan Penghormatan Yang Lebih Ihsan
Di dalam Al Quran surat An-Nisa'/ 4: 86 disebutkan perintah untuk membalas penghormatan itu dengan yang lebih baik dari penghormatannya;
وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا
Artinya: Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu. (QS. An-Nisa'/ 4: 86)
3.4. Mengucapkan Perkataan Yang Lebih Baik
Di dalam Al Quran surat Al-Isra'/ 17: 53 disebutkan perintah untuk mengucapkan perkataan yang lebih baik;
وَقُلْ لِعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ الشَّيْطَانَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلْإِنْسَانِ عَدُوًّا مُبِينًا
Artinya: Dan katakanlah kepada hamha-hamba-Ku: "Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia.(QS. Al-Isra'/ 17: 53)
3.5. Menyeru Kepada Allah, Berbuat Baik dan Menyatakan diri Sebagai Orang Yang Berserah Diri (Islam)
Di dalam Al Quran surat Fushilat/ 41: 33 tergambar bahwa orang yang paling baik perkataannya adalah orang yang menyeru kepada Allah, berbuat baik dan menyatakan diri berserah diri kepada Allah;
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Artinya: Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: "Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri?"(QS. Fushshilat/ 41: 33)
3.6. Menolak Kejahatan Dengan Cara Yang Baik
Di dalam Al Quran surat Fushilat/ 41: 34 dan Al-Mu'minun/ 23: 96 ditegaskan bahwa kebaikan dan keburukan itu tidak sama, tolaklah keburukan dengan kebaikan;
وَلَا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلَا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
Artinya: Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.(QS. Fushilat/ 41: 34)
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ السَّيِّئَةَ نَحْنُ أَعْلَمُ بِمَا يَصِفُونَ
Artinya: Tolaklah perbuatan buruk mereka dengan yang lebih baik. Kami lebih mengetahui apa yang mereka sifatkan.(QS. Al-Mu'minun/ 23: 96)
3.7. Mengikuti Sebaik-Baik Apa Yang Telah Diturunkan Allah
Di dalam Al Quran surat Az-Zumar/ 39: 55 ditegaskan perintah untuk mengikuti Al Quran; sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu;
وَاتَّبِعُوا أَحْسَنَ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكُمْ مِنْ رَبِّكُمْ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَأْتِيَكُمُ الْعَذَابُ بَغْتَةً وَأَنْتُمْ لَا تَشْعُرُونَ
Artinya: Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Tuhanmu sebelum datang azab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya,(QS. Az-Zumar/ 39: 55)
3.8. Al Quran Menjadikan Kulitnya Gemetar dan Tenang Karena Hatinya Mengingat Allah
Di dalam Al Quran surat Az-Zumar/ 39: 23 digambarkan bahwa Al Quran merupakan sebaik-baik perkataan, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah;
اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ
Artinya: Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.(QS. Az-Zumar/ 39: 23)
3.9. Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tuanya
Di dalam Al Quran surat Al Ahqaf/ 46: 15, An Nisa’/ 4: 36 dan Al Isra’/ 17: 23 ditegaskan perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua;
وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ
Artinya: Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan, sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (QS. Al Ahqaf/ 46: 15)
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (QS. An Nisa’/ 4: 36)
وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا
Artinya: Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. (QS. Al Isra’/ 17: 23)
3.10. Menyempurnakan Takaran dan Menimbang Dengan Benar
Di dalam Al Quran surat Al Isra’/ 17: 35 ditegaskan perintah untuk menyempurnakan takaran dan menyempurnakan timbangan, sebagai hal yang lebih utama dan lebih baik;
وَأَوْفُوا الْكَيْلَ إِذَا كِلْتُمْ وَزِنُوا بِالْقِسْطَاسِ الْمُسْتَقِيمِ ذَٰلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Artinya: Dan sempurnakanlah takaran apabila kamu menakar, dan timbanglah dengan neraca yang benar. Itulah yang lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. Al Isra’/ 17: 35)
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 1209 dinyatakan bahwa Seorang pedagang yang jujur dan dipercaya akan bersama dengan para Nabi, shiddiqun dan para syuhada;
حَدَّثَنَا هَنَّادٌ حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَبِي حَمْزَةَ عَنْ الْحَسَنِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ التَّاجِرُ الصَّدُوقُ الْأَمِينُ مَعَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ مِنْ حَدِيثِ الثَّوْرِيِّ عَنْ أَبِي حَمْزَةَ وَأَبُو حَمْزَةَ اسْمَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَابِرٍ وَهُوَ شَيْخٌ بَصْرِيٌّ حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ عَنْ أَبِي حَمْزَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ [19]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hannad telah menceritakan kepada kami Qabishah dari Sufyan dari Abu Hamzah dari Al Hasan dari Abu Sa'id dari Nabi ﷺ Di dalam Al Quran surat An-Nisa'/ 4: 86 disebutkan perintah untuk membalas penghormatan itu dengan yang lebih baik dari penghormatannya; beliau bersabda: "Seorang pedagang yang jujur dan dipercaya akan bersama dengan para Nabi, shiddiqun dan para syuhada`." Abu Isa berkata; Hadits ini hasan, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini yaitu dari hadits Ats Tsauri dari Abu Hamzah, Abu Hamzah bernama Abdullah bin Jabir ia seorang syaikh dari Bashrah. Telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Nash telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Mubarak dari Sufyan Ats Tsauri dari Abu Hamzah dengan sanad ini seperti itu.
3.12. Menyeru Kepada Allah Dengan Hikmah Dan Pelajaran Yang Baik
Di dalam Al Quran surat An Nahl/ 16: 125 disebutkan perintah untuk menyeru dengan hikmah dan pelajaran yang baik serta berdebat dengan cara yang lebih baik;
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An Nahl/ 16: 125)
3.13. Menafkahkan Harta Di Jalan Allah
Di dalam Al Quran surat Al baqarah/ 2: 195 disebutkan perintah untuk menafkahkan harta di jalan Allah dan berbuat baik (ihsan);
وَأَنفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al Baqarah/ 2: 195)
3.14. Muliakanlah Anak-Anak Kalian Dan Perbaikilah Tingkah Laku Mereka
Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 3671 disebutkan perintah Muliakanlah anak-anak kalian dan perbaikilah tingkah laku mereka;
حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ الْوَلِيدِ الدِّمَشْقِيُّ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ عُمَارَةَ أَخْبَرَنِي الْحَارِثُ بْنُ النُّعْمَانِ سَمِعْتُ أَنَسَ بْنَ مَالِكٍ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَكْرِمُوا أَوْلَادَكُمْ وَأَحْسِنُوا أَدَبَهُمْ [20]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Al 'Abbas bin Al Walid Ad Dimasyqi telah menceritakan kepada kami Ali bin 'Ayyasy telah menceritakan kepada kami Sa'id bin 'Umarah telah mengabarkan kepadaku Al Harits bin An Nu'man saya mendengar Anas bin Malik dari Rasulullah ﷺ beliau bersabda: "Muliakanlah anak-anak kalian dan perbaikilah tingkah laku mereka."
Tidak semua perbuatan baik langsung bernilai ihsan, perbuatan baik hanya akan bernilai ihsan jika dilakukan atas dasar ketaqwaan, ketika kata taqwa berdampingan dengan ihsan (atau sebaliknya) yang keduanya dihubungkan dengan huruf athaf, maka dapat difahami bahwa kedua perbuatan memiliki kedudukan yang sama, artinya taqwa dan ihsan merupakan perbuatan yang dilakukan bersamaan, atau juga dapat dikatakan bahwa keduanya sebenarnya merupakan satu perbuatan, yaitu perbuatan baik yang dilakukan karena taqwa.
Dengan demikian ayat Al Quran surat An Nahl/ 16: 128 berikut dapat difahami bahwa sesungguhnya Allah bersama dengan orang-orang yang bertaqwa yang berbuat ihsan (baik);
إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوا وَّالَّذِينَ هُم مُّحْسِنُونَ
Artinya: Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan. (QS. Al Anfal/ 16: 128)
Berikut akan dikemukakan beberapa ayat Al Quran maupun Hadits Nabi Muhammad SAW, yang dapat digunakan untuk memberikan gambaran tentang ketaqwaan di tingkat ihsan;
4.1. Tetap Mentaati Allah Dan Rasulnya
Di dalam Al Quran surat Ali-'Imran/ 3: 172 digambarkan bahwa orang-orang yang mentaati Allah dan Rasulnya meski dalam keadaan berat, disebut sebagai orang-orang yang berbuat ihsan dan bertaqwa, dan mereka akan diberi pahala yang besar;
الَّذِينَ اسْتَجَابُوا لِلَّهِ وَالرَّسُولِ مِنْ بَعْدِ مَا أَصَابَهُمُ الْقَرْحُ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا مِنْهُمْ وَاتَّقَوْا أَجْرٌ عَظِيمٌ
Artinya: (Yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). Bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.(QS. Ali-'Imran/ 3: 172)
4.2. Menyembah Allah Seakan Melihat-Nya, Menjadi Orang Asing Atau Penyeberang Jalan
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 6156 digambarkan perintah untuk menyembah Allah seakan melihatnya;
حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ أَخْبَرَنِي عَبْدَةُ بْنُ أَبِي لُبَابَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ أَخَذَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِبَعْضِ جَسَدِي فَقَالَ اعْبُدْ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ وَكُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ [21]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abul Mughirah telah menceritakan kepada kami Al Auza'i telah mengabarkan kepadaku Abdah bin Abi Lubabah dari Abdullah bin Umar dia berkata; Rasulullah ﷺ memegang sebagian badanku lalu beliau bersabda: "Beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, dan jadilah kamu di dunia ini seolah-seolah seperti orang asing, atau seorang musafir yang kehabisan bekal."
4.3. Menyadari Bahwa Al Quran Sebagai Petunjuk Dan Rahmat Allah Untuknya
Di dalam Al Quran surat Luqman/ 31: 1-3 tergambar bahwa ayat-ayat Al Quran yang penuh hikmah dapat menjadi petunjuk dan kasih sayang bagi orang-orang yang berbuat kebaikan;
الم , تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ الْحَكِيمِ, هُدًى وَرَحْمَةً لِّلْمُحْسِنِينَ .
Artinya: alif lam mim. Inilah ayat-ayat Al-Qur'an yang mengandung hikmah menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan,(QS. Luqman/ 31: 1-3)
Bagi orang yang bertakwa di tingkat ihsan menyadari bahwa Al Quran merupakan petunjuk dan wujud kasih sayang Allah
4.4. Mengakui Bahwa Al Quran Adalah Kebaikan
Al Quran surat An-Nahl/ 16: 30 mengandung pengertian bahwa orang bertaqwa mengakui bahwa Al Quran sebagai kebaikan, dinilai Allah sebagai orang yang taqwa di tingkat ihsan, sehingga akan mendapatkan balasan kebaikan;
وَقِيلَ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا مَاذَا أَنْزَلَ رَبُّكُمْ قَالُوا خَيْرًا لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَلَدَارُ الْآخِرَةِ خَيْرٌ وَلَنِعْمَ دَارُ الْمُتَّقِينَ
Artinya: Dan dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa: "Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhanmu?" Mereka menjawab: "(Allah telah menurunkan) kebaikan". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapat (pembalasan) yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat adalah lebih baik dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa,(QS. An-Nahl/ 16: 30)
4.5. Bertaqwa Dan Berbuat Baik Di Dunia
Al Quran surat Az-Zumar/ 39: 10 mengandung pengertian bahwa perintah kepada orang beriman untuk bertaqwa kepada Allah, dengan ketaqwaan yang diterapkan dengan berbuat kebaikan di dunia; ihsan, sehingga Allah akan memberikan balasan dengan kebaikan di akhirat;
قُلْ يَا عِبَادِ الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي هَذِهِ الدُّنْيَا حَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
Artinya: Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang beriman. bertakwalah kepada Tuhanmu". Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.(QS. Az-Zumar/ 39: 10)
4.6. Bertaqwa Dan Beriman Kemudian Bertaqwa Dan Berihsan
Di dalam Al Quran surat Al-Maidah/ 5: 93 disebutkan beriringan bertaqwa dan beriman kemudian dan beramal shalih kemudian beriman dan bertaqwa kemudian bertaqwa dan berihsan;
لَيْسَ عَلَى الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جُنَاحٌ فِيمَا طَعِمُوا إِذَا مَا اتَّقَوْا وَآمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ثُمَّ اتَّقَوْا وَآمَنُوا ثُمَّ اتَّقَوْا وَأَحْسَنُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: Tidak ada dosa bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.(QS. Al-Maidah/ 5: 93)
Perintah bertaqwa dan berihsan yang disebutkan secara berdampingan dapat dipahami sebagai perintah bertakwa di tingkat ihsan.
4.7. Membaca Al Quran Dengan Bersedih
Di dalam kitab Mujam Thabarani Kabir hadits nomor 10852 dinyatakan bahwa orang yang terbaik bacaan Al Qurannya adalah orang yang bila membaca Al Quran merasa sedih;
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ يَحْيَى بْنِ صَالِحٍ، ثنا أَبِي، ثنا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، عَنْ طَاوُسٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: «إِنَّ أَحْسَنَ النَّاسِ قِرَاءَةً مَنْ إِذَا قَرَأَ يَتَحَزَّنُ» [22]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Utsman ibnu Shalih telah menceritakan kepada kami Ayahku, telah menceritakan kepada kami ibnu Luhai’ah dari Amru ibnu Dinar dari Thawus dari ibnu Abas: Bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: “sesungguhnya orang yang paling bagus bacaan Al Qurannya adalah orang yang bila membaca Al Quran merasa sedih”
Takwa di tingkat ihsan dalam membaca Al Quran di antaranya membaca dengan merasa sedih.
4.8. Membaca Al Quran Dengan Merasa Takut Dengan Allah Azza Wa Jalla
Di dalam kitab Mu’jam Al-Thabarani Ausath hadits nomor 6205 dinyatakan bahwa orang yang paling bagus bacaanya Al Qurannya adalah Orang yang bila membaca Al Quran tampak bahwa dia merasa takut dengan Allah Azza wa Jalla;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنُ كُسَا الْوَاسِطِيُّ قَالَ: نا مُحَمَّدُ بْنُ مَعْمَرٍ الْبَحْرَانِيُّ قَالَ: نا حُمَيْدُ بْنُ حَمَّادَ بْنِ خُوَارٍ قَالَ: نا مِسْعَرُ بْنُ كِدَامٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ، عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: سُئِلَ النَّبِيُّ ﷺ: أَيُّ النَّاسِ أَحْسَنُ صَوْتًا بِالْقُرْآنِ؟ قَالَ: «مَنْ إِذَا قَرَأَ رَأَيْتَ أَنَّهُ يَخْشَى اللَّهَ [23] »
Artinya: Muhammad bin Ahmad bin Kusa al-Wasithi menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Ma‘mar al-Bahrani menceritakan kepada kami, ia berkata: Humayd bin Hammad bin Khuwar menceritakan kepada kami, ia berkata: Mis‘ar bin Kidam meriwayatkan dari Abdullah bin Dinar, dari Ibnu Umar, ia berkata: “Rasulullah ﷺ pernah ditanya: ‘Siapakah manusia yang paling indah suaranya dalam membaca Al-Qur’an?’ Beliau menjawab: ‘Yaitu orang yang ketika membaca, engkau melihat bahwa ia benar-benar takut (khusyuk) kepada Allah.’”.
Takwa di tingkat ihsan dalam membaca Al Quran di antaranya membaca dengan hati merasa takut kepada Allah.
4.9. Suara Yang Indah Adalah Perhiasan Bagi Al-Qur’an
Di dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabir hadits nomor 10023 dinyatakan bahwa Suara yang indah adalah perhiasan bagi Al-Qur’an;
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ الْعَلَّافُ الْمِصْرِيُّ، ثنا أَبُو صَالِحٍ الْحَرَّانِيُّ، ثنا سَعِيدُ بْنُ زَرْبِيٍّ، حَدَّثَنِي حَمَّادُ بْنُ أَبِي سُلَيْمَانَ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ قَيْسٍ قَالَ: كُنْتُ رَجُلًا قَدْ أَعْطَانِي اللهُ حُسْنَ الصَّوْتِ بِالْقُرْآنِ، فَكَانَ ابْنُ مَسْعُودٍ يُرْسِلُ إِلَيَّ فَأَقْرَأُ عَلَيْهِ الْقُرْآنَ، فَكُنْتُ إِذَا فَرَغْتُ مِنْ قِرَاءَتِي قَالَ: زِدْنَا مِنْ هَذَا فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي؛ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «حُسْنُ الصَّوْتِ زِينَةُ الْقُرْآنِ» [24]
Artinya: Yahya bin Ayyub al-‘Allāf al-Mishri meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Abu Shalih al-Harrani meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Sa‘id bin Zarbi meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Hammad bin Abi Sulaiman menceritakan kepadaku, dari Ibrahim, dari ‘Alqamah bin Qais, ia berkata: “Aku adalah seorang yang Allah karuniai suara yang indah dalam membaca Al-Qur’an. Ibnu Mas‘ud sering mengirim utusan kepadaku agar aku membacakan Al-Qur’an untuknya. Ketika aku selesai membaca, ia berkata: ‘Tambahkan lagi untuk kami bacaan seperti ini, ayah dan ibuku menjadi tebusanmu; karena aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Suara yang indah adalah perhiasan bagi Al-Qur’an.’’”
Takwa di tingkat ihsan dalam membaca Al Quran di antaranya membaca dengan suara yang bagus dan indah.
4.10. Berqurban Yang Didasari Ketaqwaan Diterima Sebagai Amal Yang Ihsan
Di dalam Al Quran surat Al Hajj/ 22: 37 tergambar bahwa orang-orang yang berqurban didasari ketaqwaan, diterima amalnya sebagai orang yang berbuat baik; ihsan;
لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al Hajj/ 22: 37)
4.11. Mengambil Pelajaran Dari Nama-Nama Allah
Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 3915 disebutkan perintah untuk mengambil pelajaran dengan nama-nama Allah;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ يَزِيدَ الرَّقَاشِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اعْتَبِرُوهَا بِأَسْمَائِهَا وَكَنُّوهَا بِكُنَاهَا وَالرُّؤْيَا لِأَوَّلِ عَابِرٍ [25]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair telah menceritakan kepada kami Ayahku telah menceritakan kepada kami Al A'masy dari Yazid Ar Raqasy dari Anas bin Malik dia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Ambillah pelajaran dengan nama-namanya dan pakailah kunyah dengan menggunakan kunyahnya, dan mimpi adalah ta'bir yang pertama."
Salah satu bentuk ketakwaan di tingkat ihsan adalah kesadaran untuk selalu mengambil pelajaran dengan nama-nama Allah dari seluruh amal perbuatan yang dilakukannya, perintah ini selaras dengan perintah di dalam wahyu ayat Al Quran yang pertama kali diturunkan Allah, yakni bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, Al Alaq ayat 1.
4.12. Bermohon Kepada Allah Dengan Menyebut Asmaul Husna
Di dalam Surat Al-A’raf/ 7: 180, dijelaskan bahwa Hanya milik Allah asmaul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaul husna itu;
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Artinya: Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.(QS. Al-A’raf/ 7: 180)
Salah satu bentuk ketakwaan di tingkat ihsan adalah memohon doa dengan menyebut dengan penuh kesadaran nama-nama asmaul husnanya Allah.
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 6843, disebutkan Bahwa Allah memiliki 99 nama 100-1, barang siapa menjaganya masuk surga;
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ لِلَّهِ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ اسْمًا مِائَةً إِلَّا وَاحِدًا مَنْ أَحْصَاهَا دَخَلَ الْجَنَّةَ { أَحْصَيْنَاهُ } حَفِظْنَاهُ [26]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abul Yaman] Telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] telah menceritakan kepada kami [Abuz Zinad] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah] Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, siapa yang meng ahsha nya, maka ia masuk surga." Dan makna meng ihsha adalah menjaga sebagaimana firman Allah: Ahshainaa (Kami menjaganya) (Qs. Yasin: 12).
Seseorang yang qalbunya telah memiliki kesadaran spiritual takwa di tingkat ihsan, akan memiliki komitmen untuk menegakkan semua nilai-nilai kebaikan yang ada di dalam asmaul husna di dalam kehidupannya, sehingga terdorong untuk berbuat; amar ma’ruf nahi munkar, disiplin, tanggung jawab, shidiq, tabligh, amanah dan fathanah. hal ini selaras dengan hadits di atas “Allah mempunyai sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, siapa yang mengahshanya (menjaganya), maka ia masuk surga. Menjaga bukan hanya menghafalnya tetapi juga memahami dan mengamalkan; mengaplikasikan nilainya tersebut dalam pekerjaannya.
4.14. Berlaku Jujur, Karena Kejujuran Itu Akan Membimbing Kepada Kebaikan.
Aplikasi nilai ihsan yang utama adalah kejujuran karena kejujuran akan membimbing kepada kebaikan-kebaikan, dan kebaikan akan mebimbing ke surga, sebagaimana dijelaskan dalam Kitab hadits Shahih Muslim hadis nomor 2607;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ قَالَا حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ ح و حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ شَقِيقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا [27]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin 'Abdullah bin Numair]; Telah menceritakan kepada kami [Abu Mu'awiyah] dan [Waki'] keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami [Al A'masy]; Demikian juga diriwayatkan dari jalur lainnya, Dan telah menceritakan kepada kami [Abu Kuraib]; Telah menceritakan kepada kami [Abu Mu'awiyah]; Telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] dari [Syaqiq] dari ['Abdullah] dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: 'Kalian harus berlaku jujur, karena kejujuran itu akan membimbing kepada kebaikan. Dan kebaikan itu akan membimbing ke surga. Seseorang yang senantiasa berlaku jujur dan memelihara kejujuran, maka ia akan dicatat sebagai orang yang jujur di sisi Allah. Dan hindarilah dusta, karena kedustaan itu akan menggiring kepada kejahatan dan kejahatan itu akan menjerumuskan ke neraka. Seseorang yang senantiasa berdusta dan memelihara kedustaan, maka ia akan dicatat sebagai pendusta di sisi Allah.
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2518 disebutkan bahwa tanda dari kejujuran adalah ketenangan dan tanda dusta keraguan keraguan, maka tinggalkan keraguan menuju kepada ketidak ragu-raguan;
حَدَّثَنَا أَبُو مُوسَى الْأَنْصَارِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ بُرَيْدِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ عَنْ أَبِي الْحَوْرَاءِ السَّعْدِيِّ قَالَ قُلْتُ لِلْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ مَا حَفِظْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَفِظْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ [28]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Musa Al Anshari telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Buraid bin Abu Maryam dari Abu Al Haura` As Sa'di berkata: Aku bertanya kepada Al Hasan bin Ali: Apa yang kau hafal dari Rasulullah ﷺ? Ia menjawab: Aku menghafal dari Rasulullah ﷺ: "Tinggalkan yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu karena kejujuran itu ketenangan dan dusta itu keraguan."
4.15. Bertindak Secara Lurus, Mendekat (Pada Kebenaran) Dan Bergembira
Di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 4688 disenutkan peringatan untuk bertindak secara lurus, mendekatlah (pada kebenaran) dan bergembiralah;
سَمِعْتُ أَبَا خَلِيفَةَ، يَقُولُ: سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ بَكْرِ بْنِ الرَّبِيعِ بْنِ مُسْلِمٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ الرَّبِيعَ بْنَ مُسْلِمٍ، يَقُولُ: سَمِعْتُ مُحَمَّدًا، يَقُولُ: سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ، يَقُولُ: مَرَّ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَهْطٍ مِنْ أَصْحَابِهِ وَهُمْ يَضْحَكُونَ، فَقَالَ: لَوْ تَعْلَمُونَ مَا أَعْلَمُ لَضَحِكْتُمْ قَلِيلاً، وَلَبَكَيْتُمْ كَثِيرًا، فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ، فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ يَقُولُ لَكَ: لِمَ تُقَنِّطُ عِبَادِي؟ قَالَ: فَرَجَعَ إِلَيْهِمْ فَقَالَ: سَدِّدُوا، وَقَارِبُوا، وَأَبْشِرُوا. قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ: سَدِّدُوا يُرِيدُ بِهِ: كُونُوا مُسَدَّدِينَ، وَالتَّسْدِيدُ: لُزُومُ طَرِيقَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَاتِّبَاعُ سُنَّتِهِ. وَقَوْلُهُ: وَقَارِبُوا يُرِيدُ بِهِ: لاَ تَحْمِلُوا عَلَى الأَنْفُسِ مِنَ التَّشْدِيدِ مَا لاَ تُطِيقُونَ، وَأَبْشِرُوا، فَإِنَّ لَكُمُ الْجَنَّةَ إِذَا لَزِمْتُمْ طَرِيقَتِي فِي التَّسْدِيدِ، وَقَارَبْتُمْ فِي الأَعْمَالِ [29]
Artinya: Aku mendengar Abu Khalifah berkata: Aku mendengar Abdurrahman bin Bakar bin Ai-Rabi’ bin Muslim berkata: Aku mendengar Ar-Rabi’ bin Muslim berkata Aku mendengar Muhammad berkata: Aku mendengar Abu Hurairah berkata : Rasulullah ﷺ pernah melewati sekelompok sahabatnya tengah tertawa. Rasulullah ﷺ kemudian bersabda; "Andai kalian mengetahui apa yang aku ketahui tentu kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis." Jibril kemudian mendatanginya seraya berkata, "Sesungguhnya Allah berfirman kepadamu; 'Kenapa engkau membuat hamba- hamba-Ku berputus asa’. Abu Hurairah bertutur, “Kemudian Rasulullah ﷺ kembali menghampiri mereka dan bersabda,' Bertindaklah secara lurus, mendekatlah (pada kebenaran) dan bergembiralah’.” [3:66] Abu Hatim berkata: “Berlakulah lurus,” yang dimaksud adalah jadilah orang-orang yang berlaku lurus dengan tetap meneladani cara dan sunnah Rasulullah ﷺ. Sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, “Dan mendekatilah,” maksudnya adalah jangan membebani sesuatu pun yang tidak mampu dikerjakan oleh diri, dan bergembiralah sebab kalian akan mendapatkan surga jika kalian tetap meneladani caraku dalam bertindak lurus dan jika kalian tidak terlalu membebani diri dalam beramal.
4.16. Tetangganya Menilai Sebagai Orang Baik
Di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 4548 dinyatakan bahwa kamu adalah orang baik jika tetanggamu mengatakan kamu orang baik;
أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ أَبِي عَوْنٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو قُدَيْدٍ عُبَيْدُ اللهِ بْنُ فَضَالَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، عَنْ مَعْمَرٍ، عَنْ مَنْصُورٍ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ، قَالَ: قَالَ رَجُلٌ: يَا رَسُولَ اللهِ مَتَى أَكُونُ مُحْسِنًا؟ قَالَ: إِذَا قَالَ جِيرَانُكَ: أَنْتَ مُحْسِنٌ، فَأَنْتَ مُحْسِنٌ، وَإِذَا قَالُوا: إِنَّكَ مُسِئٌ، فَأَنْتَ مُسِئٌ. [30]
Artinya: Muhammad bin Ahmad bin Abu Aun mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abu Qudaid Ubaidillah bin Fadhalah menceritakan kepada kami, ia berkata, Abdurrazaq menceritakan kepada kami, dari Ma’mar, dari Manshur, dari Abu Wa'il, dari Abdullah, ia berkata: Seseorang bertanya: Wahai Rasulullah ﷺ, kapankan aku dapat dikatakan orang yang baik? Beliau menjawab, “Apabila tetanggamu berkata: “Kamu orang baik”, maka kamu adalah orang baik. Dan apabila mereka berkata: “Sesungguhnya kamu orang yang jahat ” maka kamu adalah orang jahat”302 [3: 66]
4.17. Senantiasa Berbuat Kebaikan
Di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 783 digambarkan bahwa Allah berterima kasih kepada orang yang berbuat baik dengan memberikannya ampunan
أَخْبَرَنَا عُمَرُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ سِنَانٍ، قَالَ: أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي بَكْرٍ، عَنْ مَالِكٍ، عَنْ سُمَيٍّ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: بَيْنَمَا رَجُلٌ يَمْشِي بِطَرِيقٍ وَجَدَ غُصْنَ شَوْكٍ عَلَى الطَّرِيقِ فَأَخَذَهُ، فَشَكَرَ اللَّهُ لَهُ، فَغَفَرَ لَهُ.قَالَ أَبُو حَاتِمٍ: اللَّهُ جَلَّ وَعَلاَ أَجَلُّ مِنْ أَنْ يَشْكُرَ عَبِيدَهُ، إِذْ هُوَ الْبَادِئُ بِالْإحْسَانِ إِلَيْهِمْ، وَالْمُتَفَضِّلُ بِإتْمَامِهَا عَلَيْهِمْ، وَلَكِنَّ رِضَا اللهِ جَلَّ وَعَلاَ بِعَمَلِ الْعَبْدِ عَنْهُ يَكُونُ شُكْرًا مِنَ اللهِ، جَلَّ وَعَلاَ عَلَى ذَلِكَ الْفِعْلِ. [31]
Artinya: Umar bin Sa’id bin Sinan mengabarkan kepada kami, ia berkata, Ahmad bin Abu Bakar mengabarkan kepada kami, dari Malik, dari Sumayy, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, “Ketika seorang sedang berjalan di sebuah jalan, tiba-tiba ia menemukan ranting berduri dan ia (pun) menyingkirkannya. Maka Allah berterima kasih kepadanya kemudian memberikan ampunan untuknya. ” 314 Abu Hatim berkata: Allah Jalla wa ‘Alaa‘ lebih cepat di dalam mensyukuri hamba-Nya. Karena la adalah Al Mubdi’u (Yang Maha Memulai) dengan perbuatan baik terhadap mereka. Dan yang memberikan keutamaan kepada mereka. Dan Ridha Allah SWT terhadap perbuatan baik seorang hamba merupakan bentuk Syukur Allah SWT. [1:2]
4.18. Berbuat Baik Dengan Menggunakan Surat Al Fatihah Untuk Ruqyah
Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 3900 digambarkan sahabat Nabi dianggap berbuat kebaikan dengan meruqyah menggunakan Surat Al Fatihah;
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ أَبِي الْمُتَوَكِّلِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَهْطًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْطَلَقُوا فِي سَفْرَةٍ سَافَرُوهَا فَنَزَلُوا بِحَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ فَقَالَ بَعْضُهُمْ إِنَّ سَيِّدَنَا لُدِغَ فَهَلْ عِنْدَ أَحَدٍ مِنْكُمْ شَيْءٌ يَنْفَعُ صَاحِبَنَا فَقَالَ رَجُلٌ مِنْ الْقَوْمِ نَعَمْ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَرْقِي وَلَكِنْ اسْتَضَفْنَاكُمْ فَأَبَيْتُمْ أَنْ تُضَيِّفُونَا مَا أَنَا بِرَاقٍ حَتَّى تَجْعَلُوا لِي جُعْلًا فَجَعَلُوا لَهُ قَطِيعًا مِنْ الشَّاءِ فَأَتَاهُ فَقَرَأَ عَلَيْهِ أُمَّ الْكِتَابِ وَيَتْفُلُ حَتَّى بَرَأَ كَأَنَّمَا أُنْشِطَ مِنْ عِقَالٍ قَالَ فَأَوْفَاهُمْ جُعْلَهُمْ الَّذِي صَالَحُوهُمْ عَلَيْهِ فَقَالُوا اقْتَسِمُوا فَقَالَ الَّذِي رَقَى لَا تَفْعَلُوا حَتَّى نَأْتِيَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَسْتَأْمِرَهُ فَغَدَوْا عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرُوا لَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَيْنَ عَلِمْتُمْ أَنَّهَا رُقْيَةٌ أَحْسَنْتُمْ اقْتَسِمُوا وَاضْرِبُوا لِي مَعَكُمْ بِسَهْمٍ [32]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami Abu 'Awanah dari Abu Bisyr dari Abu Al Mutawakkil dari Abu Sa'id Al Khudri bahwa beberapa sahabat Nabi ﷺ pergi dalam suatu perjalanan yang mereka lakukan. Kemudian mereka singgah di sebuah kampung Arab, sebagian penduduk kampung tersebut lalu berkata, "Sesungguhnya pemimpin kami tersengat, apakah salah seorang di antara kalian memiliki sesuatu yang bermanfaat bagi sahabat kami tersebut?" Kemudian salah seorang dari para sahabat tersebut menjawab, "Ya. Demi Allah, sesungguhnya aku akan menjampi, akan tetapi kami telah meminta kalian agar menjamu kami namun kalian menolak untuk menjadikan kami sebagai tamu. Aku tidak akan menjampi hingga kalian memberikan hadiah kepadaku." Penduduk kampung tersebut kemudian memberikan hadiah sekumpulan kambing kepadanya, lalu sahabat tersebut datang kepada orang yang tersengat dan membacakan Surat Al Fatihah kepadanya, lalu meniupkan hingga orang tersebut sembuh seolah-olah telah terbebas dari ikatan." Abu Sa'id Al Khudri berkata, "Kemudian mereka memenuhi janjinya untuk memberikan hadiah kepada para sahabat sebagaimana yang mereka janjikan. Kemudian para sahabat berkata, "Bagilah kambing-kambing tersebut!" Lalu sahabat yang telah membacakan jampi mengatakan, "Kalian jangan melakukannya hingga kita datang kepada Rasulullah ﷺ dan minta pertimbangannya." Lalu mereka pergi menemui Rasulullah ﷺ dan menyebutkan hal tersebut kepada beliau. Rasulullah ﷺ lalu bersabda: "Dari mana kalian mengetahui bahwa Al Fatihah adalah jampi? Kalian telah berbuat baik, bagilah dan berilah aku bagian bersama kalian."
4.19. Berpegang Teguh Pada Ikatan Yang Kuat
Di dalam Al Quran surat Luqman/ 31: 22 dinyatakan bahwa barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh;
وَمَن يُسْلِمْ وَجْهَهُ إِلَى اللَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ وَإِلَى اللَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ ﴿لقمان: ٢٢﴾
Artinya: Dan barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang dia orang yang berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan. (QS. Luqman/ 31: 22)
4.20. Memuji Para Sahabatku Dengan Kebaikan
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 177 disebutkan perintah untuk memuji para sahabatku dengan kebaikan;
حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عُمَيْرٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ خَطَبَ عُمَرُ النَّاسَ بِالْجَابِيَةِ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فِي مِثْلِ مَقَامِي هَذَا فَقَالَ أَحْسِنُوا إِلَى أَصْحَابِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ يَجِيءُ قَوْمٌ يَحْلِفُ أَحَدُهُمْ عَلَى الْيَمِينِ قَبْلَ أَنْ يُسْتَحْلَفَ عَلَيْهَا وَيَشْهَدُ عَلَى الشَّهَادَةِ قَبْلَ أَنْ يُسْتَشْهَدَ فَمَنْ أَحَبَّ مِنْكُمْ أَنْ يَنَالَ بُحْبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمْ الْجَمَاعَةَ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ مَعَ الْوَاحِدِ وَهُوَ مِنْ الِاثْنَيْنِ أَبْعَدُ وَلَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ فَإِنَّ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ وَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ تَسُرُّهُ حَسَنَتُهُ وَتَسُوءُهُ سَيِّئَتُهُ فَهُوَ مُؤْمِنٌ [33]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Abdul Malik Bin 'Umair dari Jabir Bin Samurah dia berkata; Umar berkhutbah di hadapan manusia di Jabiyah (suatu perkampungan di Damaskus) dan berkata; "Sesungguhnya Rasulullah ﷺ berdiri di tempat seperti tempatku ini kemudian beliau bersabda: "Pujilah oleh kalian para sahabatku dengan kebaikan, kemudian kepada orang-orang setelah mereka, kemudian kepada orang-orang setelah mereka, kemudian akan datang suatu kaum, salah seorang diantara mereka bersumpah sebelum diminta bersumpah dan bersaksi di atas persaksian sebelum diminta untuk bersaksi, barangsiapa diantara kalian yang ingin mendapatkan baunya syurga hendaklah dia berpegang teguh kepada Jama'ah, karena setan bersama orang yang sendirian sedangkan kepada dua orang akan menjauh, dan janganlah salah seorang diantara kalian berduaan dengan wanita (yang bukan muhram) karena sesungguhnya orang yang ketiga darinya adalah setan, barangsiapa kebaikannya membuatnya senang dan kesalahannya membuat dia bersedih maka dia adalah seorang mukmin."
4.21. Tidak Mencapai Tingkatan Taqwa Bila Tidak Meninggalkan Yang Mubah
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2451 dinyatakan bahwa Seorang hamba tidak akan mencapai derajat orang-orang yang bertakwa hingga ia meninggalkan apa yang tidak mengapa (hal yang mubah)
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي النَّضْرِ حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ حَدَّثَنَا أَبُو عَقِيلٍ الثَّقَفِيُّ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَقِيلٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ حَدَّثَنِي رَبِيعَةُ بْنُ يَزِيدَ وَعَطِيَّةُ بْنُ قَيْسٍ عَنْ عَطِيَّةَ السَّعْدِيِّ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَبْلُغُ الْعَبْدُ أَنْ يَكُونَ مِنْ الْمُتَّقِينَ حَتَّى يَدَعَ مَا لَا بَأْسَ بِهِ حَذَرًا لِمَا بِهِ الْبَأْسُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ [34]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Nadr, telah menceritakan kepada kami Abu Nadr, telah menceritakan kepada kami Abu Aqil ats-Tsaqafi Abdullah bin Aqil, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Yazid, telah menceritakan kepada saya Rabi'ah bin Yazid dan 'Athiyyah bin Qais dari 'Athiyyah as-Sa'di, dan ia adalah salah seorang sahabat Nabi ﷺ, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Seorang hamba tidak akan mencapai derajat orang-orang yang bertakwa hingga ia meninggalkan apa yang tidak mengapa (hal yang mubah) karena khawatir ada dosa di dalamnya." Abu 'Isa berkata: "Hadis ini hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini."
Di dalam kitab Mustadrak Imam Hakim hadits nomor 316 dinyatakan bahwa sebaik-baik agama kalian adalah wara
حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عَفَّانَ الْعَامِرِيُّ، ثنا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ الْقَطَوَانِيُّ، ثنا حَمْزَةُ بْنُ حَبِيبٍ الزَّيَّاتُ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ مُصْعَبِ بْنِ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «فَضْلُ الْعِلْمِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ فَضْلِ الْعِبَادَةِ، وَخَيْرُ دِينِكُمُ الْوَرَعُ» [35]
Artinya: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya'qub menceritakan kepada kami, Al Hasan bin Ali bin Affan Al Amiri menceritakan kepada kami, Khalid bin Makhlad Al Qathawani menceritakan kepada kami, Hamzah bin Habib Az-Zayyat menceritakan kepada kami dari AJ A'masy, dari Al Hakam, dari Mush'ab bin Sa'ad bin Abi Waqqash, dari ayahnya, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda, ”Keutamaan ilmu lebih aku sukai daripada keutamaan ibadah, dan sebaik-baik agama kalian adalah wara.”
4.22. Belajar Dan Berusaha Memahami
Di dalam kitab Mujam Thabarani Kabir hadits nomor 929 dinyatakan bahwa sesungguhnya ilmu itu diperoleh dengan belajar, dan pemahaman (fiqh) itu diperoleh dengan memperdalam pemahaman;
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْمُعَلَّى الدِّمَشْقِيُّ، ثنا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، ثنا صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ، ثنا عُتْبَةُ بْنُ أَبِي حَكِيمٍ، عَمَّنْ حَدَّثَهُ، عَنْ مُعَاوِيَةَ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: «يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ، وَالْفِقْهُ بِالتَّفَقُّهِ، وَمَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَإِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ» [36]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Al-Mu'alla Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami Hisyam bin Ammar, telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Khalid, telah menceritakan kepada kami Utbah bin Abi Hakim, dari seseorang yang menceritakan kepadanya, dari Mu'awiyah, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Wahai manusia, sesungguhnya ilmu itu diperoleh dengan belajar, dan pemahaman (fiqh) itu diperoleh dengan memperdalam pemahaman. Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan memberinya pemahaman dalam agama. Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama."
4.23. Berdoa Mohon Segala Kebaikan Dan Mohon Perlindungan dari Segala Keburukan
Di dalam kitab Shahih Ibnu Hiban hadits nomor 1792 disebutkan doa mohon segala kebaikan dan mohon perlindungan dari segala keburukan;
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ أَخْبَرَنِي جَبْرُ بْنُ حَبِيبٍ عَنْ أُمِّ كُلْثُومٍ بِنْتِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَّمَهَا هَذَا الدُّعَاءَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ الْخَيْرِ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ الشَّرِّ كُلِّهِ عَاجِلِهِ وَآجِلِهِ مَا عَلِمْتُ مِنْهُ وَمَا لَمْ أَعْلَمْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا سَأَلَكَ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا عَاذَ بِهِ عَبْدُكَ وَنَبِيُّكَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْجَنَّةَ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ النَّارِ وَمَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ أَوْ عَمَلٍ وَأَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ قَضَيْتَهُ لِي خَيْرًا [37]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Affan, telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah, telah menceritakan kepadaku Jabr bin Habib dari Ummu Kultsum binti Abi Bakar dari Aisyah bahwa Rasulullah ﷺ mengajarkannya doa ini: "Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dari segala kebaikan, baik yang segera maupun yang akan datang, yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui. Aku berlindung kepada-Mu dari segala kejahatan, baik yang segera maupun yang akan datang, yang aku ketahui dan yang tidak aku ketahui. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu dari kebaikan yang hamba-Mu dan nabi-Mu telah memohon kepada-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan yang hamba-Mu dan nabi-Mu telah memohon perlindungan kepada-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada-Mu surga dan apa pun yang mendekatkan kepadanya baik perkataan atau perbuatan, dan aku berlindung kepada-Mu dari neraka dan apa pun yang mendekatkan kepadanya baik perkataan atau perbuatan. Dan aku meminta kepada-Mu agar Engkau menjadikan setiap takdir yang Engkau tetapkan untukku sebagai kebaikan."
4.24. Berdoa Mohon Kebaikan Dunia Dan Akhirat
Di dalam Al Quran surat Al Baqarah/ 2: 201 disebutkan doa orang yang memohon kebaikan di dunia maupun di akhirat dan di selamatkan dari apai neraka;
وَمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Artinya: Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka". (QS. Al Baqarah/ 2: 201)
4.25. Berdoa Agar Menjadi Orang Yang Bahagia Dengan Berihsan
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 26021 disebutkan doa permohonan untuk dijadikan sebagai orang di antara orang-orang yang apabila berbuat baik mereka bergembira;
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَبِي عُثْمَانَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ الَّذِينَ إِذَا أَحْسَنُوا اسْتَبْشَرُوا وَإِذَا أَسَاءُوا اسْتَغْفَرُوا [38]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dari Hammad bin Salamah dari Ali bin Zaid dari Abu Utsman dari 'Aisyah bahwa Nabi ﷺ mengucapkan do'a: "Ya Allah, jadikanlah aku di antara orang-orang yang apabila berbuat baik mereka bergembira dan apabila berbuat jelek mereka meminta ampun."
Sedangkan di dalam kitab Mu’jam Al-Thabarani Ausath hadits nomor 6558 dinyatakan bahwa sebaik-baik umatku adalah orang yang jika berbuat buruk beristigfar, dan jika berbuat baik bergembira;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِي غَسَّانَ، نا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَحْيَى بْنِ مَعْبَدٍ الْمُرَادِيُّ، ثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «خَيْرُ أُمَّتِي الَّذِينَ إِذَا أَسَاءُوا اسْتَغْفِرُوا، وَإِذَا أَحْسَنُوا اسْتَبْشَرُوا، وَإِذَا سَافَرُوا قَصَّرُوا وَأَفْطَرُوا» [39]
Artinya: Muhammad bin Abi Ghassan meriwayatkan kepada kami, Abdullah bin Yahya bin Ma‘bad al-Muradi meriwayatkan kepada kami, Ibnu Lahi‘ah meriwayatkan kepada kami dari Abu az-Zubair dari Jabir, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Sebaik-baik umatku adalah mereka yang apabila berbuat keburukan segera memohon ampun, apabila berbuat kebaikan bergembira karenanya, dan apabila bepergian mereka mengqashar salat dan berbuka (tidak berpuasa).”
4.26. Berdoa Agar Dapat Berihsan
Di dalam kitab Mu’jam Al-Thabarani Ausath hadits nomor 5962 digambarkan bahwa Nabi Muhammad SAW banyak berdoa dengan ya Allah jadikan kami khasyah kepadamu seakan-akan kami melihatmu selamanya hingga berjumpa dengan-Mu;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْأَحْمَرِ النَّاقِدُ قَالَ: نا عَمَّارُ بْنُ طَالُوتَ قَالَ: نا سَهْلُ بْنُ حَسَّانَ الْكُوفِيُّ قَالَ: ثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ خُثَيْمِ بْنِ عِرَاكِ بْنِ مَالِكٍ، )١٢١( عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ، كَانَ يُكْثِرُ أَنْ يَدْعُوَ بِهَذَا الدُّعَاءِ: «اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي أَخْشَاكَ حَتَّى كَأَنِّي أَرَاكَ أَبَدًا حَتَّى أَلْقَاكَ، وَأَسْعِدْنِي بِتَقْوَاكَ، وَلَا تُشْقِنِي بِمَعْصِيَتِكَ، وَخَرَّ لِي فِي قَضَائِكَ، وَبَارِكْ لِي فِي قَدَرِكَ حَتَّى لَا أَحَبَّ تَعْجِيلَ مَا أَخَّرْتَ، وَلَا تَأْخِيرَ مَا عَجَّلْتَ، وَاجْعَلْ غِنَائِي فِي نَفْسِي، وَأَمْتِعْنِي بِسَمْعِي وَبَصَرِي، وَاجْعَلْهُمَا الْوَارِثَ مِنِّي، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ ظَلَمَنِي، وَأَرِنِي فِيهِ ثَأْرِي، وَأَقَرَّ بِذَلِكَ عَيْنِي» [40]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Ali ibnul Ahmar An Naqid Al Bashri, dan Abdan ibnu Ahmad, berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Amar ibnu Thalut ibnu ‘Abad, telah menceritakan kepada kami Sahl ibnu Hasan, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Khatsim ibnu ‘arak ibnu Malik, telah menceritakan kepada kami Ayahku, dari Kakekku, dari Abu Hurairah RA, dari Nabi ﷺ bahwa beliau banyak berdoa dengan do’a ini, hampir-hampir tidak pernah meninggalkannya, beliau berdo’a: “Ya Allah jadikanlah aku takut kepada-Mu seakan-akan aku melihatmu selamanya hingga aku menjumpai-Mu, bahagiakan aku dengan taqwa kepada-Mu, dan jangan engkau sengsarakan aku dengan ma’siyat kepada-Mu, dan sungkurkanlah aku dengan qadha; ketetapan-Mu, dan berkahilah aku dalam qadar; ketentuan-Mu hingga engkau jadikan aku tidak suka untuk enkau segerakan apa yang engkau akhirkan, dan engkau jadikan tidak suka engkau akhirkan apa yang engkau segerakan, dan jadikanlah aku kaya dalam jiwaku, dan senangkanlah aku dengan pendengaranku dan penglihatanku, dan jadikanlah keduanya menjadi warisan untukku, dan tolonglah aku dari orang yang mendhalimi aku, dan tampakkanlah kepadaku pembalasan dendam atas kedhalimannya kepadaku yang mebuatku merasa puas”
Qurrata al ‘ain: ketenangan; keredaan mata dan kebahagiannya dan dapat mengambil pelajaran dari kegembiraan dan penglihatan pada yang di sukai manusia.
Kesadaran berihsan muncul ketika kesadaran qalbu merasa melihat Allah sebagai sumber segala kebaikan, sehingga mendorong seseorang melakukan kebaikan karena baiknya Allah. Tindakan orang yang hatinya telah ihsan mencakup; taubat, sabar, Ikhlas, Islam, dan beriman, sehingga perbuatan, perkataan, sikap dan amal yang dilakukan berdasar ihsan akan bernilai kebaikan di dunia dan akhirat.
Ihsan merupakan realisasi dari segala sifat kebaikan dan keindahan dalam Asma’ul Husna, antara lain; pengasih, penyayang, kuasa atas dirinya sendiri, mandiri, kreatif, sabar, adil, aman, bijaksana, pandai, kuat, terpuji, kaya, penemu, pemaaf, bermanfaat, penata, lembut, mulia, sejuk, bijaksana dan sebagainya.
Atas kebesaran Allah nama-nama Allah dalam Asma’ul husna dapat direalisasikan manusia menjadi profesi pekerjaan, seperti, Maha kuasa menjadi profesi pemerintahan, maha pandai menjadi profesi ilmuwan, guru, dosen, Maha adil menjadi: kehakiman, kejaksaan, pengacara, Maha mengamankan, menjadi; tantara, polisi, satpam, maha pencipta, menjadi profesi; peneliti, pencipta, desainer, creator, maha megetahui menjadi profesi; Humas, Informatika, jurnalistik dll.
Profesi tersebut akan bernilai ihsan, ketika melakukannya kebaikan dalam profesinya didasari karena Allah, hatinya dapat melihat dan merasakan Allah dalam profesi yang dijalani, dirinya merasakan sebagai representasi kebaikan Allah, sebagai khalifah fil ardi, dengan demikian pekerjaanya dapat bernilai amal shalih. Namun apabila yang menjadi dasar melakukan pekerjaan profesi adalah untuk memperoleh keuntungan materi, atau motivasi duniawi lainnya, maka pekerjaannya tidak bernilai amal shalih.
Di dalam kitab Sunan Musnad Ahmad nomor 12214 dinyatakan bahwa amal seseorang ditentukan akhirnya, apabila Allah menghendaki kebaikan pada hambanya maka akan digunakannya; dengan memberinya taufiq untuk beramal shalih sebelum kematian;
حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا حُمَيْدٌ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا عَلَيْكُمْ أَنْ لَا تَعْجَبُوا بِأَحَدٍ حَتَّى تَنْظُرُوا بِمَ يُخْتَمُ لَهُ فَإِنَّ الْعَامِلَ يَعْمَلُ زَمَانًا مِنْ عُمْرِهِ أَوْ بُرْهَةً مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ صَالِحٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا سَيِّئًا وَإِنَّ الْعَبْدَ لَيَعْمَلُ الْبُرْهَةَ مِنْ دَهْرِهِ بِعَمَلٍ سَيِّئٍ لَوْ مَاتَ عَلَيْهِ دَخَلَ النَّارَ ثُمَّ يَتَحَوَّلُ فَيَعْمَلُ عَمَلًا صَالِحًا وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا اسْتَعْمَلَهُ قَبْلَ مَوْتِهِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَكَيْفَ يَسْتَعْمِلُهُ قَالَ يُوَفِّقُهُ لِعَمَلٍ صَالِحٍ ثُمَّ يَقْبِضُهُ عَلَيْهِ [41]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun berkata, telah mengabarkan kepada kami Humaid dari Anas berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Janganlah kalian merasa kagum dengan seseorang hingga kalian dapat melihat akhir dari amalnya, sesungguhnya ada seseorang selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal kebaikan, yang sekiranya ia meninggal pada saat itu, ia akan masuk ke dalam surga, namun ia berubah dan beramal dengan amal keburukan. Dan sungguh, ada seorang hamba selama beberapa waktu dari umurnya beramal dengan amal keburukan, yang sekiranya ia meninggal pada saat itu, ia akan masuk neraka, namun ia berubah dan beramal dengan amal kebaikan. Jika Allah menginginkan kebaikan atas seorang hamba maka Ia akan membuatnya beramal sebelum kematiannya, " para sahabat bertanya; "Wahai Rasulullah, bagaimana Allah membuatnya beramal?" beliau bersabda: "Memberinya taufik untuk beramal shalih, setelah itu Ia mewafatkannya."
Hadits di atas mengandung pengertian bahwa amal perbuatan yang bernilai baik adalah amal perbuatan yang bernilai amal shalih, sehingga ketika Allah menghendaki kebaikan pada hambanya, maka hambanya dibimbing untuk dapat melakukan amal shalih, sedangkan amal perbuatan yang bernilai amal shalih adalah amal perbuatan yang dilakukan berdasar ketaqwaan di tingkat ihsan.
Maka di sini perlu dirumuskan pengertian taqwa di tingkat ihsan yaitu kesadaran qalbu mengenal Allah sehingga menimbulkan dorongan untuk taat kepada Allah, melakukan amal ibadah dengan penuh kesadaran untuk berbuat baik sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadanya dan segera bertaubat jika melakukan perbuatan bukan karena kebaikan.
“Doa Agar Bertaqwa Di Tingkat Ihsan”
اللَّهمَّ اجعَلْني أخشاكَ حتّى كأنِّي أراكَ أبدًا حتّى ألقاكَ وأسعِدْني بتقواكَ ولا تُشقِني بمعصيتِكَ وخِرْ لي في قضائِكَ وبارِكْ لي في قدَرِكَ حتّى لا أُحِبَّ تعجيلَ ما أخَّرْتَ ولا تأخيرَ ما عجَّلْتَ واجعَلْ غَنائي في نَفْسي وأمتِعْني بسَمْعي وبصَري واجعَلْهما الوارثَ منِّي وانصُرْني على مَن ظلَمني وأَرِني فيه ثَأْري وأقِرَّ بذلكَ عَيْني
“Ya Allah jadikanlah aku takut kepada-Mu seakan-akan aku melihatmu selamanya hingga aku menjumpai-Mu, bahagiakan aku dengan taqwa kepada-Mu, dan jangan engkau sengsarakan aku dengan ma’siyat kepada-Mu, dan sungkurkanlah aku dengan qadha; ketetapan-Mu, dan berkahilah aku dalam qadar; ketentuan-Mu hingga engkau jadikan aku tidak suka untuk enkau segerakan apa yang engkau akhirkan, dan engkau jadikan tidak suka engkau akhirkan apa yang engkau segerakan, dan jadikanlah aku kaya dalam jiwaku, dan senangkanlah aku dengan pendengaranku dan penglihatanku, dan jadikanlah keduanya menjadi warisan untukku, dan tolonglah aku dari orang yang mendhalimi aku, dan tampakkanlah kepadaku pembalasan dendam atas kedhalimannya kepadaku yang mebuatku merasa puas”
(HR. Thabarani: 1538)
[1] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1, Halaman 33, Hadits nomor 8.
[2] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1, Halaman 219, Hadits nomor 250.
[3] Ibid, Jilid 1, Halaman 161, Hadits nomor 291.
[4] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 4 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, tt.), 430–438. Pembahasan tentang maqam muraqabah, kehadiran hati, dan derajat ihsan dalam ibadah.
[5] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Madārij as-Sālikīn bayna Manāzil Iyyāka Na‘budu wa Iyyāka Nasta‘īn, Juz 2 (Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 2000), 498–507. Penjelasan tentang manzilah al-ihsan, tingkatan musyahadah dan muraqabah, serta hakikat ibadah yang sempurna.
[6] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1, Halaman 163, Hadits nomor 297.
[7] Abd al-shamad Al-Darimi, Sunan Al-Darimi, Dar al-Mughni Li al-Nasyr wa Al-Tauzi’, Saudi Arabia, 2000, Jilid 1 halaman 377, Hadits nomor 382.
[8] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 112, Hadits nomor 2263.
[9] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 3, Halaman 99, Hadits nomor 2305.
[10] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 25, Hadits nomor 6098.
[11] Muslim ibn Al hajaj ibn Muslim Al-Qusairi, Shahih Muslim, Dar Al-Thaba’ah Al-‘Amirah, Turki, 1334 H, Jilid 6, Halaman 72, Hadits nomor 1955.
[12] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 4, Halaman 287, Hadits nomor 4948.
[13] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 3 halaman 329, Hadits nomor 1713.
[14] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid 3, Halaman 37, Hadits nomor 2614.
[15] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 6, Halaman 44, Hadits nomor 4581.
[16] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 117, Hadits nomor 6573.
[17] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman 2074, Hadits nomor 2699.
[18] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 15, Hadits nomor 29.
[19] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 2 halaman 498, Hadits nomor 1209.
[20] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman 1211, Hadits nomor 3671.
[21] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 10, Halaman 297, Hadits nomor 6156.
[22] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 11, Halaman 7, Hadits nomor 10852.
[23] Abu Qasim Al-Thabarani, Mu’jam Al-Thabarani Ausath, Dar Al Haramain, Kairo, 1995, Jilid 6, Halaman 208, Hadits nomor 6205.
[24] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 10, Halaman 82, Hadits nomor 10023.
[25] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman 1288, Hadits nomor 3915.
[26] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 3, Halaman 198, Hadits nomor 2736.
[27] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 2013, Hadits nomor 2607.
[28] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 286, Hadits nomor 2518.
[29] Abu Hatim Muhammad Ibnu Hiban Ibnu Ahmad, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibu Hazm, Beirut, 2012, Jilid 5, Halaman 429, Hadits nomor 4688.
[30] Abu Hatim Muhammad Ibnu Hiban Ibnu Ahmad, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibu Hazm, Beirut, 2012, Jilid 5, Halaman 360, Hadits nomor 4548.
[31] Ibid, Jilid 1, Halaman 517, Hadits nomor 783.
[32] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 4, Halaman 14, Hadits nomor 3900.
[33] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 1, Halaman 310.Hadits nomor 177.
[34] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 242, Hadits nomor 2451.
[35] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990, Jilid 1, Halaman 170, Hadits nomor 316.
[36] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 19, Halaman 395, Hadits nomor 929.
[37] Abu Hatim Muhammad Ibnu Hiban Ibnu Ahmad, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibu Hazm, Beirut, 2012, Jilid 2, Halaman 516, Hadits nomor 1792.
[38] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 43, Halaman 148, Hadits nomor 26021.
[39] Abu Qasim Al-Thabarani, Mu’jam Al-Thabarani Ausath, Dar Al Haramain, Kairo, 1995, Jilid 6, Halaman 334, Hadits nomor 6558.
[40] Abu Qasim Al-Thabarani, Mu’jam Al-Thabarani Ausath, Dar Al Haramain, Kairo, 1995, Jilid 6, Halaman 120, Hadits nomor 5982.
[41] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 19, Halaman 236.Hadits nomor 12214.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar