05/04/2026

35. Orang Bertakwa Merupakan Orang Yang Paling Cerdas

35. Orang Bertakwa Merupakan Orang Yang Paling Cerdas

Keistimewaan takwa ke tiga puluh lima “orang bertakwa merupakan orang yang paling cerdas”, keistimewaan ini didasari  Atsar nomor 13009 dalam kitab Al-Sunan Al-Kubra Al-Baihaqi, di dalamnya disebutkan bahwa Abu Bakar Ash Shidiq dalam khutbahnya menyatakan bahwa orang yang paling cerdas di antara orang cerdas adalah orang yang bertakwa;

 وَأَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْحَافِظُ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ طَاهِرِ بْنِ يَحْيَى حَدَّثَنِى أَبِى أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَبِى خَالِدٍ الْفَرَّاءُ حَدَّثَنَا أَبِى حَدَّثَنَا الْمُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ عَنِ الْحَسَنِ : أَنَّ أَبَا بَكْرٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ خَطَبَ النَّاسَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ : إِنَّ أَكْيَسَ الْكَيْسِ التَّقْوَى وَأَحْمَقَ الْحُمْقَ الْفُجُورُ أَلاَ وَإِنَّ الصِّدْقَ عِنْدِى الأَمَانَةُ وَالْكَذِبَ الْخِيَانَةُ أَلاَ وَإِنَّ الْقَوِىَّ عِنْدِى ضَعِيفٌ حَتَّى آخُذَ مِنْهُ الْحَقَّ وَالضَّعِيفَ عِنْدِى قَوِىٌّ حَتَّى آخُذَ لَهُ الْحَقَّ أَلاَ وَإِنِّى قَدْ وُلِّيتُ عَلَيْكُمْ وَلَسْتُ بِأَخْيَرِكُمْ [1]

Artinya: Dan telah mengabarkan kepada kami Abu Abdillah Al Hafidz, telah mengabarkan kepada kami Muhammad ibnu Thahir ibnu Yahya telah bercerita kepadaku Ayahku, telah mengabarkan kepada kami Muhammad ibnu Abi Khalid Al Fara’ teleh bercerita kepada kami Ayahku, telah bercerita kepada kami Al Mubarak ibnu Fadhalah dari Al Hasan: bahwa Abu Bakr RA memberi khatbah orang-orang maka dia memuji Allah dan memperbagusnya kemudian berkata: “Sesungguhnya orang yang paling cerdas di antara orang cerdas adalah orang yang bertakwa, dan orang yang paling bodoh di antara orang bodoh adalah orang yang fujur, ketahuilah bahwa kejujuran itu bagiku adalah amanah dan kedustaan adalah pengkhianatan, ketahuilah sesungguhnya orang yang kuat bagiku adalah lemah hingga aku mengambil darinya kebenaran, dan orang yang lemah bagiku adalah kuat hingga aku mengambil darinya kebenaran dan sungguh aku telah menjadi pemimpin atas kalian tetapi bukanlah aku orang yang terbaik di antara kalian”

Senada dengan pernyataan tersebut di dalam Al Mu’jam Al Kabir  Hadits nomor 2559 disebutkan bahwa di dalam khutbahnya Hasan ibnu Ali juga menyatakan bahwa sesungguhnya orang yang paling cerdas adalah orang yang bertakwa;

حَدَّثَنَا أَبُو خَلِيفَةَ، ثنا عَلِيُّ بْنُ الْمَدِينِيِّ، ثنا سُفْيَانُ، عَنْ مُجَالِدٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، قَالَ: شَهِدْتُ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ بِالنَّخِيلَةِ حِينَ صَالَحَهُ مُعَاوِيَةُ ، فَقَالَ لَهُ مُعَاوِيَةُ: إِذَا كَانَ ذَا فَقُمْ فَتَكَلَّمْ، وَأَخْبِرِ النَّاسَ أَنَّكَ قَدْ سَلَّمْتَ هَذَا الْأَمْرَ لِي. وَرُبَّمَا قَالَ سُفْيَانُ: أَخْبِرِ النَّاسَ بِهَذَا الْأَمْرِ الَّذِي تَرَكْتَهُ لِي. فَقَامَ فَخَطَبَ عَلَى الْمِنْبَرِ، فَحَمِدَ اللهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ - قَالَ الشَّعْبِيُّ: وَأَنَا أَسْمَعُ - ثُمَّ قَالَ: " أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ أَكْيَسَ الْكَيْسِ التُّقَى، وَإِنَّ أَحْمَقَ الْحُمْقِ الْفُجُورُ، وَإِنَّ هَذَا الْأَمْرَ الَّذِي اخْتَلَفْتُ فِيهِ أَنَا وَمُعَاوِيَةُ إِمَّا كَانَ حَقًّا لِي تَرَكْتُهُ لِمُعَاوِيَةَ إِرَادَةَ صَلَاحِ هَذِهِ الْأُمَّةِ، وَحَقْنِ دِمَائِهِمْ، أَوْ يَكُونُ حَقًّا كَانَ لِامْرِئٍ أَحَقَّ بِهِ مِنِّي، فَفَعَلْتُ ذَلِكَ، ﴿وَإِنْ أَدْرِي لَعَلَّهُ فِتْنَةٌ لَكُمْ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ﴾ [الأنبياء: ١١١] [2]

Artinya: Abu Khalīfah telah meriwayatkan kepada kami; Ali bin al-Madīnī menceritakan kepada kami; Sufyān menceritakan kepada kami dari Mujālid, dari al-Sya‘bī, ia berkata: “Aku menyaksikan al-Hasan bin Ali radhiyallāhu ‘anhumā di al-Nakhīlah ketika ia berdamai dengan Mu‘āwiyah radhiyallāhu ‘anhu. Mu‘āwiyah berkata kepadanya: ‘Jika saatnya tiba, berdirilah lalu berpidatolah, dan beritahukan kepada manusia bahwa engkau telah menyerahkan urusan ini kepadaku.’ Dan Sufyān terkadang berkata: ‘Beritahukanlah kepada manusia tentang urusan yang engkau tinggalkan untukku ini.’ Maka al-Hasan pun berdiri dan berkhutbah dari atas mimbar, memuji Allah dan menyanjung-Nya —al-Sya‘bī berkata: dan aku mendengarnya— kemudian ia berkata: ‘Amma ba‘du, sesungguhnya kecerdikan yang paling cerdas adalah ketakwaan, dan kebodohan yang paling bodoh adalah kefajiran; dan sesungguhnya perkara yang menjadi perselisihan antara aku dan Mu‘āwiyah ini, jika memang hak itu milikku maka aku meninggalkannya untuk Mu‘āwiyah demi menginginkan kebaikan umat ini dan menumpahkan darah-darah mereka; atau jika hak itu adalah milik seseorang yang lebih berhak dariku, maka aku telah melakukan apa yang seharusnya. Dan aku tidak mengetahui, barangkali ini menjadi fitnah bagi kalian dan kesenangan sampai waktu yang ditentukan.’ (QS. al-Anbiyā’: 111).”

Dalam riwayat lainnya Imam Hakim (Wafat 405 H) di dalam kitab Mustadrak ‘Ala Shahihain lilhakim atsar nomor 4813, juga disebutkan pernyataan sesungguhnya secerdas-cerdasnya kecerdasan adalah ketakwaan ;

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ إِسْحَاقَ، وَعَلِيُّ بْنُ حَمْشَاذٍ، قَالَا: ثنا بِشْرُ بْنُ مُوسَى، ثنا الْحُمَيْدِيُّ، ثنا سُفْيَانُ، عَنْ مُجَالِدِ بْنِ سَعِيدٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، قَالَ: خَطَبَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ بِالنَّخْلَةِ حِينَ صَالَحَ مُعَاوِيَةَ، فَقَامَ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ: «إِنَّ أَكْيَسَ الْكَيْسِ التُّقَى، وَإِنَّ أَعْجَزَ الْعَجْزِ الْفُجُورُ، وَإِنَّ هَذَا الْأَمْرَ الَّذِي اخْتَلَفَتْ فِيهِ أَنَا وَمُعَاوِيَةُ حَقٌّ لِامْرِئٍ، وَكَانَ أَحَقَّ بِحَقَّهِ مِنِّي أَوْ حَقٌّ لِي فَتَرَكْتُهُ لِمُعَاوِيَةَ إِرَادَةَ اسْتِضْلَاعِ الْمُسْلِمِينَ وَحَقْنَ دِمَائِهِمْ، وَإِنْ أَدْرِي لَعَلَّهُ فِتْنَةٌ لَكُمْ، وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ، أَقُولُ قُولِي هَذَا وَاسْتَغْفَرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ»[3] 

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Ishaq dan Ali bin Hamsyadz; keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Bisyr bin Musa; telah menceritakan kepada kami Al-Humaydi; telah menceritakan kepada kami Sufyan, dari Mujalid bin Sa‘id, dari Asy-Sya‘bi, ia berkata: Al-Hasan bin Ali berkhutbah kepada kami di Nakhlah ketika ia berdamai dengan Mu‘awiyah. Ia berdiri, memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata: “Sesungguhnya secerdas-cerdasnya kecerdasan adalah ketakwaan, dan selemah-lemahnya kelemahan adalah kefajiran. Adapun perkara yang aku dan Mu‘awiyah berselisih di dalamnya, maka itu adalah hak seseorang, dan ia lebih berhak atas haknya daripada aku atau mungkin itu hakku, namun aku menyerahkannya kepada Mu‘awiyah demi menjaga kemaslahatan kaum Muslimin dan menumpahkan darah mereka. Dan aku tidak tahu, barangkali ini merupakan ujian bagi kalian dan kenikmatan sementara hingga waktu yang ditentukan. Aku mengucapkan perkataanku ini, dan aku memohon ampun kepada Allah untukku dan untuk kalian.”

Abu Bakar Ibnu Abi Saibah (wafat 235 H) juga meriwayatkan di dalam kitab Mushanaf Ibnu Abi Saibah atsar nomor 37372 disebutkan pernyataan sesungguhnya secerdas-cerdasnya kecerdasan adalah ketakwaan;

يَحْيَى بْنُ آدَمَ، قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ مُجَالِدٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، قَالَ: لَمَّا كَانَ الصُّلْحُ بَيْنَ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ، وَمُعَاوِيَةَ أَرَادَ الْحَسَنُ الْخُرُوجَ إِلَى الْمَدِينَةِ، فَقَالَ لَهُ مُعَاوِيَةُ: مَا أَنْتَ بِالَّذِي تَذْهَبُ حَتَّى تَخْطُبَ النَّاسَ، قَالَ: قَالَ الشَّعْبِيُّ: فَسَمِعْتُهُ عَلَى الْمِنْبَرِ حَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ: «فَإِنَّ أَكْيَسَ الْكَيْسِ التُّقَى، وَإِنَّ أَعْجَزَ الْعَجْزِ الْفُجُورُ، وَإِنَّ هَذَا الْأَمْرَ الَّذِي أَخْتَلِفُ أَنَا فِيهِ وَمُعَاوِيَةُ حَتَّى كَانَ لِي، فَتَرَكْتُهُ لِمُعَاوِيَةَ، أَوْ حَقٌّ كَانَ لَا يَرَى أَحَقَّ بِهِ مِنِّي، وَإِنَّمَا فَعَلْتُ هَذَا لِحَقْنِ دِمَائِكُمْ، وَإِنْ أَدْرِي لَعَلَّهُ فِتْنَةٌ لَكُمْ وَمَتَاعٌ إِلَى حِينٍ»، ثُمَّ نَزَلَ [4]

Artinya: Telah meriwayatkan kepada kami Yahya bin Adam, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Ibnu ‘Uyaynah, dari Mujalid, dari Asy-Sya‘bi, ia berkata: Ketika terjadi perdamaian antara Al-Hasan bin ‘Ali dan Mu‘awiyah, Al-Hasan hendak berangkat menuju Madinah. Maka Mu‘awiyah berkata kepadanya, “Engkau tidak akan pergi sebelum engkau berkhutbah kepada manusia.”Asy-Sya‘bi berkata: “Aku mendengarnya di atas mimbar, beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata: ‘Sesungguhnya secerdas-cerdasnya kecerdasan adalah ketakwaan, dan selemah-lemahnya kelemahan adalah kefajiran. Adapun urusan yang aku dan Mu‘awiyah berselisih di dalamnya, hingga akhirnya menjadi hakku, maka aku menyerahkannya kepada Mu‘awiyah. Atau barangkali itu adalah hak yang ia anggap lebih pantas baginya daripada aku. Aku hanya melakukan ini demi mencegah pertumpahan darah kalian. Dan aku tidak tahu, mungkin ini merupakan ujian bagi kalian dan kenikmatan sementara hingga waktu yang ditentukan.’” Kemudian beliau turun dari mimbar.

Sedangkan di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 4259 disebutkan pernyataan Rasulullah SAW bahwa orang mukmin yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat mati dan yang paling baik persiapannya untuk setelah mati;

حَدَّثَنَا الزُّبَيْرُ بْنُ بَكَّارٍ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ عِيَاضٍ حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ فَرْوَةَ بْنِ قَيْسٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ قَالَ كُنْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَهُ رَجُلٌ مِنْ الْأَنْصَارِ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَفْضَلُ قَالَ أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا قَالَ فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْيَسُ قَالَ أَكْثَرُهُمْ لِلْمَوْتِ ذِكْرًا وَأَحْسَنُهُمْ لِمَا بَعْدَهُ اسْتِعْدَادًا أُولَئِكَ الْأَكْيَاسُ [5]

Artinya: Telah bercerita kepada kami Az Zubair ibnu Bakr, telah bercerita kepada kami Anas ibnu Iyadz, telah bercerita kepada kami Nafi’ ibnu Abi Abdillah, dari Farwah ibnu Qais dari Atha’ ibnu Abi Rabah dari ibnu Umar bahwa dia berkata: Aku Bersama Rasulullah SAW, maka datanglah seorang laki-laki dari Anshar, maka dia memberi salam kepada Nabi SAW kemudian berkata: Wahai Rasulullah Siapakan orang mukmin yang paling utama, Rasulullah SAW bersabda: yang paling baik akhlaqnya di antara mereka, dia berkata: Siapa orang mukmin yang paling pandai, Rasulullah SAW bersabda: orang mukmin yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat mati dan yang paling baik persiapannya untuk setelah mati mereka itulah orang yang cerdas

Di dalam kitab Musnad Abi Daud Al-Thayalisi hadits nomor 1218 juga disebutkan pernyataan Rasulullah bahwa orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk sesudah mati;

حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ ، قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ ، عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ ، عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللهِ».[6]

Artinya:  Abu Dāwud telah meriwayatkan kepada kami; ia berkata: Ibnu al-Mubārak telah meriwayatkan kepada kami; ia berkata: Abu Bakr bin Abī Maryam telah meriwayatkan kepada kami dari Dhamrah bin Habīb, dari Syaddād bin Aws, ia berkata: Nabi bersabda, “Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk kehidupan setelah mati, sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan hanya berangan-angan kepada Allah.”

Dua pernyataan Rasulullah yang termuat di dalam kitab Sunan Ibnu Majah: 4249 bahwa orang mukmin yang paling cerdas adalah yang paling banyak mengingat mati dan yang paling baik persiapannya untuk setelah mati dan di dalam kitab Al Mustadrak lilhakim: 191, bahwa Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk bekal setelah mati,  memiliki makna yang sama, yaitu bahwa orang yang paling cerdas adalah orang yang mempersiapkan bekal untuk hidup di akherat, sedangkan bekal terbaik adalah takwa, sebagaimana telah dikemukan pada keistimewaan takwa ke tiga puluh empat “takwa merupakan bekal (Pendidikan/pelajaran/ amal) terbaik”



[1] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al baihaqi, Al-Sunan Al-Kubra Al-Baihaqi, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2003, Jilid 6 Hal. 574, Hadits nomor 13009.

[2] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 3, Halaman 26, Hadits nomor 2559.

[3] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Al Kitab Al-Alamiyah, Beirut, 1990, Jilid 3, Halaman 192, Hadits nomor 4813.

[4] Muhammad ibn Abi Syaibah Al-Kufi Al-Abasi, Al-Kitab Al-Mushanaf Fi Al-Ahadits Wa Al-Atsar, Maktabah Al-Ulum Wa Al-Hukm, Madinah, 1989, Jilid 7, Halaman 478, Hadits nomor 37372

[5] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman 1423, Hadits nomor 4259.

[6] Abu Daud Al-Thayalisi Sulaiman, Musnad Abi Daud Al-Thayalisi, Dar Hijr, Mesir, 1999, Jilid 2, Halaman 445, Hadits nomor 1218

Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post