47.
Masjid Merupakan Rumah Bagi Orang Bertakwa
Keistimewaan takwa ke empat puluh tujuh “Masjid merupakan rumah bagi orang bertakwa”, keistimewaan ini didasari atsar nomor 7149 di dalam kitab Mu’jam Thabarani Al Ausath, di dalamnya dinyatakan bahwa masjid adalah rumah bagi orang-orang yang bertakwa;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحِيمِ الدِّيباجِيُّ،
ثَنَا الْحَسَنُ بْنُ جَامِعٍ السُّكَّرِيُّ، ثَنَا عَمْرُو بْنُ جَرِيرٍ، ثَنَا إِسْمَاعِيلُ
بْنُ أَبِي خَالِدٍ، عَنْ قَيْسِ بْنِ أَبِي حَازِمٍ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا الدَّرْدَاءِ،
وَهُوَ يَقُولُ لِابْنِهِ: يَا بُنَيَّ، لِيَكُنِ الْمَسْجِدُ بَيْتَكَ، فَإِنَّ الْمَسَاجِدَ
بُيُوتُ الْمُتَّقِينَ، سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يَقُولُ: «مَنْ يَكُنِ الْمَسْجِدُ
بَيْتَهُ ضَمِنَ اللَّهُ لَهُ الرَّوْحَ، وَالرَّحْمَةَ، وَالْجَوَازَ عَلَى الصِّرَاطِ
إِلَى الْجَنَّةِ» لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيثَ
عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ إِلَّا عَمْرُو بْنُ جَرِيرٍ [1] "
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami Muhammad bin Abdurrahim ad-Dibaji, telah menceritakan kepada kami al-Hasan
bin Jami' as-Sukkari, telah menceritakan kepada kami Amr bin Jarir, telah menceritakan
kepada kami Isma'il bin Abi Khalid, dari Qais bin Abi Hazim, ia berkata: Aku mendengar
Abu Darda' berkata kepada anaknya: 'Wahai anakku, jadikanlah masjid sebagai rumahmu,
karena masjid adalah rumah bagi orang-orang yang bertakwa. Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Barang siapa yang menjadikan masjid sebagai rumahnya, Allah
menjamin baginya ketenangan, rahmat, dan kelulusan melewati shirat menuju surga."'
Hadis ini hanya diriwayatkan oleh Amr bin Jarir dari Isma'il bin Abi Khalid."
Di dalam kitab Hilyatul Auliya:
5; 384 juga dinyatakan bahwa masjid adalah rumah orang-orang yang bertakwa di bumi;
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ، ثنا جَدِّي عِيسَى، ثنا آدَمُ،
ثنا أَبُو دَاوُدَ الْوَاسِطِيُّ، عَنْ أَبِي عَلِيٍّ عَنْ كَعْبٍ قَالَ: مَنْ سَرَّهُ
أَنْ تَصْحَبَهُ كَتَائِبُ مِنَ الْمَلَائِكَةِ يَسْتَغْفِرُونَ لَهُ وَيَحْفَظُونَهُ،
وَيُكْفَى مَا أَهَمَّهُ، فَلْيُخْفِ فِي بَيْتِهِ مِنْ صَلَاتِهِ مَا شَاءَ. وَقَالَ
كَعْبٌ: " طُوبَى لِلَّذِينَ يَجْعَلُونَ بُيوتَهُمْ قِبْلَةً - يَعْنِي مَسْجِدًا
- قَالَ: وَالْمَسَاجِدُ بُيوتُ الْمُتَّقِينَ فِي الْأَرْضِ، وَيُبَاهِي اللهُ تَعَالَى
مَلَائِكَتَهُ بِالْمُخْفِي صَلَاتَهُ وَصِيَامَهُ وَصَدَقَتَهُ [2] "
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepada kami kakekku 'Isa, telah menceritakan
kepada kami Adam, telah menceritakan kepada kami Abu Dawud al-Wasiti, dari Abu 'Ali,
dari Ka'ab, ia berkata: 'Barang siapa yang senang disertai oleh pasukan malaikat
yang memohonkan ampun untuknya dan menjaganya, serta dicukupi segala yang menjadi
perhatiannya, hendaklah ia menyembunyikan sebagian shalatnya di rumahnya.' Ka'ab
berkata: 'Beruntunglah orang-orang yang menjadikan rumah mereka sebagai kiblat -
maksudnya sebagai masjid.' Dia berkata: 'Dan masjid-masjid adalah rumah orang-orang
yang bertakwa di bumi. Allah Ta'ala membanggakan orang yang menyembunyikan shalat,
puasa, dan sedekahnya di hadapan malaikat-Nya.'
Masjid merupakan rumah bagi
orang bertakwa, karena masjid oleh orang bertakwa, sebagaimana digambarkan di dalam
Al Quran surat At-Taubah (9): 108 di dalamnya dinyatakan bahwa sesungguhnya mesjid
yang didirikan atas dasar takwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut
kamu sholat di dalamnya;
لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى
التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ
أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
Artinya: Janganlah kamu bersembahyang
dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar takwa
(mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di
dalamnya mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. At-Taubah (9): 108)
Adapun masjid yang didirikan atas
dasar takwa adalah masjid kalian ini, yaitu Masjid Madinah, disebutkan di dalam kitab Shahih Muslim hadits
nomor 514;
سَمِعْتُ أَبا سَلَمَةَ بنَ عبدِ الرَّحْمَنِ، قالَ: مَرَّ بي عبدُ الرَّحْمَنِ
بنُ أَبِي سَعِيدٍ الخُدْرِيِّ، قالَ: قُلتُ له: كيفَ سَمِعْتَ أَباكَ يَذْكُرُ في
المَسْجِدِ الذي أُسِّسَ على التَّقْوى؟ قالَ: قالَ أَبِي: دَخَلْتُ على رَسولِ اللهِ
ﷺ في بَيْتِ بَعْضِ نِسائِهِ، فَقُلتُ: يا رَسولَ اللهِ، أَيُّ المَسْجِدَيْنِ الذي
أُسِّسَ على التَّقْوى؟ قالَ: فأخَذَ كَفًّا مِن حَصْباءَ، فَضَرَبَ به الأرْضَ، ثُمَّ
قالَ: هو مَسْجِدُكُمْ هذا، لِمَسْجِدِ المَدِينَةِ. قالَ: فَقُلتُ: أَشْهَدُ أَنِّي
سَمِعْتُ أَباكَ هَكَذا يَذْكُرُهُ [3]
Artinya: Aku mendengar Abu
Salamah bin Abdurrahman berkata: 'Abdurrahman bin Abi Sa'id al-Khudri melewatiku,
lalu aku berkata kepadanya: "Bagaimana engkau mendengar ayahmu menyebutkan
tentang masjid yang didirikan atas dasar takwa?" Dia berkata: "Ayahku
berkata: 'Aku masuk ke rumah Rasulullah ﷺ di rumah salah satu istrinya,
lalu aku berkata: 'Wahai Rasulullah, masjid yang mana yang didirikan atas dasar
takwa?' Maka Rasulullah ﷺ mengambil segenggam kerikil, kemudian
memukulkannya ke tanah, lalu beliau berkata: 'Ini adalah masjid kalian ini, yaitu
Masjid Madinah.'" Kemudian aku berkata: 'Aku bersaksi bahwa aku mendengar ayahmu
menyebutkannya seperti itu.'
[1] Abu
Al-Qasim Sulaiman ibn Ahmad Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Ausath, Dar
al-Haramain, Kairo, 1995, Jilid, 7, Halaman 158, Hadits nomor 7149.
[2] Abu
Nu’aim Ahmad ibn Abdullah Al-Ashbahani, Hilyatul Auliya’ Wa Thabaqatul
Ashfiya’, Mathba’ah Sa’adah, Mesir, 1974. Jilid 5 Halaman 384.
[3] Abu
Al-Husain Muslim Ibn Al-Hajaj , Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al
‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 2 , Halaman 1015, Hadits nomor 514.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar