KLASIFIKASI KATA “NAFS”
KE DALAM TINGKATAN TAKWA “CERMIN QALBU”
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 17320, tergambar bahwa untuk
mengetahui perkara yang baik “al birru” dan perkara yang dosa “al
Ismu”, Rasulullah SAW memberi
petunjuk dengan cara menyatukan tiga jarinya kemudian menepukkannya ke dada
“sadr” Wabishah, sambil memberi
penjelasan; mintalah petunjuk pada qalbu; hatimu, mintalah petunjuk pada
Nafs; jiwamu;
حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ أَخْبَرَنَا
الزُّبَيْرُ أَبُو عَبْدِ السَّلَامِ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
مِكْرَزٍ وَلَمْ يَسْمَعْهُ مِنْهُ قَالَ حَدَّثَنِي جُلَسَاؤُهُ وَقَدْ
رَأَيْتُهُ عَنْ وَابِصَةَ الْأَسَدِيِّ قَالَ عَفَّانُ حَدَّثَنِي غَيْرَ مَرَّةٍ
وَلَمْ يَقُلْ حَدَّثَنِي جُلَسَاؤُهُ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَنَا أُرِيدُ أَنْ لَا أَدَعَ شَيْئًا مِنْ
الْبِرِّ وَالْإِثْمِ إِلَّا سَأَلْتُهُ عَنْهُ وَحَوْلَهُ عِصَابَةٌ مِنْ الْمُسْلِمِينَ
يَسْتَفْتُونَهُ فَجَعَلْتُ أَتَخَطَّاهُمْ قَالُوا إِلَيْكَ يَا وَابِصَةُ عَنْ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ دَعُونِي فَأَدْنُوَ
مِنْهُ فَإِنَّهُ أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ أَنْ أَدْنُوَ مِنْهُ قَالَ دَعُوا
وَابِصَةَ ادْنُ يَا وَابِصَةُ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا قَالَ فَدَنَوْتُ مِنْهُ
حَتَّى قَعَدْتُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَقَالَ يَا وَابِصَةُ أُخْبِرُكَ أَوْ
تَسْأَلُنِي قُلْتُ لَا بَلْ أَخْبِرْنِي فَقَالَ جِئْتَ تَسْأَلُنِي عَنْ
الْبِرِّ وَالْإِثْمِ فَقَالَ نَعَمْ فَجَمَعَ أَنَامِلَهُ فَجَعَلَ يَنْكُتُ
بِهِنَّ فِي صَدْرِي وَيَقُولُ يَا وَابِصَةُ اسْتَفْتِ قَلْبَكَ وَاسْتَفْتِ
نَفْسَكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ
وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي النَّفْسِ وَتَرَدَّدَ فِي الصَّدْرِ وَإِنْ أَفْتَاكَ النَّاسُ
وَأَفْتَوْكَ [1]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Affan telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah mengabarkan
kepada kami Az Zubair Abu
Abdus Salam dari Ayyub bin
Abdullah bin Mikraz -namun ia tidak mendengar hadits itu darinya- ia berkata, telah
menceritakan kepadaku orang-orang yang duduk bersamanya dan saya melihatnya
dari Wabishah Al Asadi -Affan berkata; ia telah menceritakan kepadaku
beberapa kali, namun ia belum pernah mengatakan, 'Telah menceritakan kepadaku
orang-orang yang bermajelis dengannya'-, Ia berkata, " Saya datang kepada
Rasulullah ﷺ, dan saya ingin agar tidak ada sesuatu
baik berupa kebaikan atau keburukan kecuali aku telah menanyakannya pada
beliau. Dan pada saat itu di sekeliling beliau banyak terdapat kaum muslimin
yang sedang meminta nasehat kepadanya beliau. Maka aku pun nekar melangkahi
mereka hingga orang-orang itu berkata, "Wahai Wabishah, menjauhlah dari
Rasulullah ﷺ, menjauhlah wahai Wabishah!" Saya
berkata, "Biarkan saya mendekat kepada beliau. Karena beliau adalah orang
yang paling saya cintai dan sukai untuk saya dekati." Maka beliau pun
berkata, "Biarkan Wabisah mendekat. Mendekatlah wahai Wabishah."
Beliau mengatakannya dua atau tiga kali. Wabishah berkata, "Saya pun
mendekat kepada beliau hingga saya duduk di hadapannya. Kemudian beliau
bertanya: "Wahai Wabisah, aku beritahukan kepadamu
atau kamu yang akan bertanya padaku?" saya menjawab, "Tidak, akan
tetapi beritahukanlah padaku." Beliau lantas bersabda: "Kamu datang
untuk bertanya mengenai kebaikan dan keburukan (dosa)?" Saya
menjawab."Benar." Beliau kemudian menyatukan ketiga jarinya seraya
menepukkannya ke dadaku. Setelah itu beliau bersabda: "Wahai Wabishah,
mintalah petunjuk pada hati dan jiwamu -beliau mengulanginya tiga kali-.
Kebaikan itu adalah sesuatu yang dapat menenangkan dan menentramkan jiwa.
Sedangkan keburukan itu adalah sesuatu yang meresahkan hati dan menyesakkan
dada, meskipun manusia memberimu fatwa dan membenarkanmu." (HR. Ahmad
nomor 17320)
Hadits di atas menjadi dasar untuk melengkapi pemahaman taqwa, yakni
dengan cara mencari seluruh kata Nafs yang ada di dalam Al Quran,
pencarian kata Nafs di dalam Al Quran berdasar kata dasar Nafasa
menggunakan aplikasi Al Quran Zekr. 1.1.0 ditemukan 298 kata di 270 ayat.
ayat-ayat hasil pencarian tersebut kemudian dianalisa berdasar kata yang bersanding
dengan kata nafs, kedua kata yang
bersanding tersebut dapat menunjukan informasi, perintah atau larangan yang
berkaitan dengan fujur dan takwa, 270 ayat tersebut kemudian diklasifikasikan
ke dalam tingkatan taqwa “cermin qalbu”, dengan klasifikasi sebagai berikut;
Di dalam Al Quran ditemukan 6 kata taubat
atau kata lain yang memiliki pengertian yang sama dengan taubat yang
berdampingan dengan kata nafs di dalam satu ayat Al Qur’an, yang dapat
diklasifikasikan ke dalam klasifikasi taqwa level 0+; Taubat,
ayat-ayat tersebut adalah sebagai
berikut;
1.1. Al Quran
Surat Al Baqarah/ 2: 187
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ
إِلَىٰ نِسَائِكُمْ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ عَلِمَ
اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنتُمْ تَخْتَانُونَ أَنفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ
وَعَفَا عَنكُمْ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ
لَكُمْ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ
مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى
اللَّيْلِ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ
حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ
لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ
Artinya: Dihalalkan bagi
kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka
adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui
bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu
dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa
yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu
benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu
sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu
beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu
mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia,
supaya mereka bertakwa. (QS. Al Baqarah/ 2: 187)
Kesadaran bahwa dirinya tidak
mampu menahan nafsunya sendiri, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat 0+; taubat.
1.2. Al Quran
Surat Ali Imran /3 : 135
وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ
ظَلَمُوا أَنفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَن
يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَىٰ مَا فَعَلُوا وَهُمْ
يَعْلَمُونَ
Artinya: Dan (juga)
orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri
sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka
dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka
tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. (QS. Ali
Imran /3 : 135)
Kesadaran untuk segera ingat
Allah dan memohon ampun kepada-Nya, ketika melakukan perbuatan keji maupun
menganiaya diri sendiri, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat 0+; taubat.
1.3. Al Quran
Surat An Nisa/4 : 64
وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلَّا لِيُطَاعَ
بِإِذْنِ اللَّهِ وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوا أَنفُسَهُمْ جَاءُوكَ
فَاسْتَغْفَرُوا اللَّهَ وَاسْتَغْفَرَ لَهُمُ الرَّسُولُ لَوَجَدُوا اللَّهَ
تَوَّابًا رَّحِيمًا
Artinya: Dan Kami tidak
mengutus seseorang rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah.
Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu
memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka,
tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang. (An
Nisa/4 : 64)
Kesadaran untuk segera
memohon ampun kepada Allah jika menganiaya diri sendiri, merupakan bentuk
ketaqwaan di tingkat 0+; taubat.
1.4. Al Quran
Surat An Nisa/ 4: 110
وَمَن يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ
ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ اللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا
Artinya: Dan barangsiapa
yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun
kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. An Nisa/ 4: 110)
Kesadaran untuk segera ingat
Allah dan memohon ampun kepada-Nya, ketika melakukan perbuatan buruk maupun
menganiaya diri sendiri, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat 0+; taubat.
1.5. Al Quran
Surat Al Israa/ 17: 25
رَّبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمْ إِن
تَكُونُوا صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلْأَوَّابِينَ غَفُورًا
Artinya: Tuhanmu lebih
mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka
sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat. (QS. Al Israa/
17: 25)
Kesadaran untuk mengakui
kekurangan dan kesalahan dalam diri, serta meyakini bahwa Allah lebih
mengetahui yang ada dalam diri kita, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat 0+; taubat.
1.6. Al Quran
Surat Al Qashash/ 28: 16
قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ
لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya: Musa mendoa:
"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu
ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Qashash/ 28: 16)
Kesadaran untuk mengakui
telah berbuat dhalim pada dirinya sendiri dan segera memohon ampunan, merupakan
bentuk ketaqwaan di tingkat 0+; taubat.
Di dalam Al Quran ditemukan 2
kata sabar atau kata lain yang memiliki pengertian yang sama dengan sabar yang
berdampingan dengan kata nafs di dalam satu ayat Al Qur’an, yang dapat
diklasifikasikan ke dalam klasifikasi taqwa level +1; sabar, ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut;
2.1. Al Quran
Surat Al Kahfi/ 18: 28
وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ
الَّذِينَ يَدْعُونَ رَبَّهُم بِالْغَدَاةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيدُونَ وَجْهَهُ
وَلَا تَعْدُ عَيْنَاكَ عَنْهُمْ تُرِيدُ زِينَةَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَلَا
تُطِعْ مَنْ أَغْفَلْنَا قَلْبَهُ عَن ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوَاهُ وَكَانَ
أَمْرُهُ فُرُطًا
Artinya: Dan bersabarlah
kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja
hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari
mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti
orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti
hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al Kahfi/ 18: 28)
Kesadaran untuk mensabarkan
diri, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat 1+; sabar.
2.2. Al Quran
Surat Al Ankabut/ 29: 6
وَمَن جَاهَدَ فَإِنَّمَا يُجَاهِدُ لِنَفْسِهِ
إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنِ الْعَالَمِينَ
Artinya: Dan barangsiapa yang
berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari
semesta alam. (QS. Al Ankabut/ 29: 6).
Kesadaran untuk
bersungguh-sungguh (mensabarkan diri), merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat
1+; sabar.
Di dalam Al Quran ditemukan 3
kata ikhlas atau kata lain yang memiliki pengertian yang sama dengan
ikhlas yang berdampingan dengan kata nafs di dalam satu ayat Al Qur’an,
yang dapat diklasifikasikan ke dalam klasifikasi taqwa level +2; ikhlas,
ayat-ayat tersebut adalah sebagai
berikut;
3.1. Al Quran
Surat Al Fathir/ 35: 18
وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ وَإِن
تَدْعُ مُثْقَلَةٌ إِلَىٰ حِمْلِهَا لَا يُحْمَلْ مِنْهُ شَيْءٌ وَلَوْ كَانَ ذَا
قُرْبَىٰ إِنَّمَا تُنذِرُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُم بِالْغَيْبِ وَأَقَامُوا
الصَّلَاةَ وَمَن تَزَكَّىٰ فَإِنَّمَا يَتَزَكَّىٰ لِنَفْسِهِ وَإِلَى
اللَّهِ الْمَصِيرُ
Artinya: Dan orang yang
berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Dan jika seseorang yang berat
dosanya memanggil (orang lain) untuk memikul dosanya itu tiadalah akan
dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun (yang dipanggilnya itu) kaum
kerabatnya. Sesungguhnya yang dapat kamu beri peringatan hanya orang-orang yang
takut kepada azab Tuhannya (sekalipun) mereka tidak melihat-Nya dan mereka
mendirikan sembahyang. Dan barangsiapa yang mensucikan dirinya, sesungguhnya ia
mensucikan diri untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan kepada Allahlah
kembali(mu). (QS. Al Fathir/ 35: 18)
Kesadaran mensucikan diri;
membersihkan hati; mengikhlaskan hati, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat
2+; ikhlas.
3.2. Al Quran
Surat Al Hadid/ 57: 22
مَا أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا
فِي أَنفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِّن قَبْلِ أَن نَّبْرَأَهَا
إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
Artinya: Tiada suatu
bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan
telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya.
Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (QS. Al Hadid/ 57: 22)
Menghadapi musibah dengan
ikhlas, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat 2+; ikhlas.
3.3. Al Quran
Surat Al Hasr/ 59: 9
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ
مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي
صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ
كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ
الْمُفْلِحُونَ
Dan orang-orang yang telah
menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka
(Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka
(Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka
terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka
mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun
mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya,
mereka itulah orang orang yang beruntung (QS. Al Hasr/ 59: 9)
Keikhlasan membantu orang
lain meski dirinya sendiri kesusahan, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat 2+;
ikhlas.
Di dalam Al Quran ditemukan 7
kata islam atau kata lain yang memiliki pengertian yang sama dengan islam yang
berdampingan dengan kata nafs di dalam satu ayat Al Qur’an, yang dapat
diklasifikasikan ke dalam klasifikasi taqwa level +3; islam, ayat-ayat tersebut
adalah sebagai berikut;
4.1. Al Quran
Surat An Nisa/ 4: 65
فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ
يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ
حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya: Maka demi
Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu
hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa
dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan
mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An Nisa/4 : 65)
Kesadaran tidak merasa
keberatan dan menerima dengan sepenuhnya, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat
3+; islam.
4.2. Al Quran
Surat Al Maidah/ 5: 45
وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ
بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنفَ بِالْأَنفِ
وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ فَمَن
تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ لَّهُ وَمَن لَّمْ يَحْكُم بِمَا أَنزَلَ
اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ ﴿المائدة: ٤٥﴾
Artinya: Dan Kami telah
tetapkan terhadap mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas)
dengan jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga,
gigi dengan gigi, dan luka luka (pun) ada qishaashnya. Barangsiapa yang
melepaskan (hak qishaash)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa
baginya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan
Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang zalim. (QS. Al Maidah/ 5: 45)
Kesadaran untuk mengikuti
hukum qishash, jiwa dibalas jiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung..,
merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat 3+; islam.
4.3. Al Quran
Surat Al An’am/ 6: 164
قُلْ أَغَيْرَ اللَّهِ أَبْغِي رَبًّا وَهُوَ
رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ وَلَا تَكْسِبُ كُلُّ نَفْسٍ إِلَّا عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ
وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُم مَّرْجِعُكُمْ
فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ
Katakanlah: "Apakah aku
akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu.
Dan tidaklah seorang membuat dosa melainkan kemudharatannya kembali kepada
dirinya sendiri; dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.
Kemudian kepada Tuhanmulah kamu kembali, dan akan diberitakan-Nya kepadamu apa
yang kamu perselisihkan". (QS. Al An’am/ 6: 164)
Kesadaran bahwa semua amal
ibadah hasilnya akan diterima yang melakukannya, dan orang lain tidak akan
menerima kesalahan orang lain, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat 3+; islam.
4.4. Al Quran
Surat QS. An Nur/ 24: 61
لَّيْسَ عَلَى الْأَعْمَىٰ حَرَجٌ وَلَا عَلَى
الْأَعْرَجِ حَرَجٌ وَلَا عَلَى الْمَرِيضِ حَرَجٌ وَلَا عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَن
تَأْكُلُوا مِن بُيُوتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ آبَائِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أُمَّهَاتِكُمْ
أَوْ بُيُوتِ إِخْوَانِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخَوَاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ
أَعْمَامِكُمْ أَوْ بُيُوتِ عَمَّاتِكُمْ أَوْ بُيُوتِ أَخْوَالِكُمْ أَوْ بُيُوتِ
خَالَاتِكُمْ أَوْ مَا مَلَكْتُم مَّفَاتِحَهُ أَوْ صَدِيقِكُمْ لَيْسَ عَلَيْكُمْ
جُنَاحٌ أَن تَأْكُلُوا جَمِيعًا أَوْ أَشْتَاتًا فَإِذَا دَخَلْتُم بُيُوتًا فَسَلِّمُوا
عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ تَحِيَّةً مِّنْ عِندِ اللَّهِ مُبَارَكَةً طَيِّبَةً
كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ
Artinya: Tidak ada
halangan bagi orang buta, tidak (pula) bagi orang pincang, tidak (pula) bagi
orang sakit, dan tidak (pula) bagi dirimu sendiri, makan (bersama-sama mereka)
dirumah kamu sendiri atau dirumah bapak-bapakmu, dirumah ibu-ibumu, dirumah
saudara-saudaramu yang laki-laki, di rumah saudaramu yang perempuan, dirumah
saudara bapakmu yang laki-laki, dirumah saudara bapakmu yang perempuan, dirumah
saudara ibumu yang laki-laki, dirumah saudara ibumu yang perempuan, dirumah
yang kamu miliki kuncinya atau dirumah kawan-kawanmu. Tidak ada halangan bagi
kamu makan bersama-sama mereka atau sendirian. Maka apabila kamu memasuki
(suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada
(penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang
ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah
menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya. (QS. An Nur/ 24:
61)
Kesadaran ketika memasuki
(suatu rumah dari) rumah-rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada
(penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang
ditetapkan dari sisi Allah, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat 3+; islam.
4.5. Al Quran
Surat An Naml/ 27: 44
قِيلَ لَهَا ادْخُلِي الصَّرْحَ فَلَمَّا رَأَتْهُ
حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَكَشَفَتْ عَن سَاقَيْهَا قَالَ إِنَّهُ صَرْحٌ مُّمَرَّدٌ
مِّن قَوَارِيرَ قَالَتْ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي وَأَسْلَمْتُ مَعَ
سُلَيْمَانَ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
Artinya: Dikatakan
kepadanya: "Masuklah ke dalam istana". Maka tatkala dia melihat
lantai istana itu, dikiranya kolam air yang besar, dan disingkapkannya kedua
betisnya. Berkatalah Sulaiman: "Sesungguhnya ia adalah istana licin
terbuat dari kaca". Berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku
telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman
kepada Allah, Tuhan semesta alam". (QS. An Naml/ 27: 44)
Kesadaran telah berbuat
dhalim pada diri sendiri disetai kemauan berserah diri kepada Allah pencipta
semesta alam, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat 3+; islam.
4.6. Al Quran
Surat Al Ahzab/ 33: 50
يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَحْلَلْنَا لَكَ
أَزْوَاجَكَ اللَّاتِي آتَيْتَ أُجُورَهُنَّ وَمَا مَلَكَتْ يَمِينُكَ مِمَّا
أَفَاءَ اللَّهُ عَلَيْكَ وَبَنَاتِ عَمِّكَ وَبَنَاتِ عَمَّاتِكَ وَبَنَاتِ
خَالِكَ وَبَنَاتِ خَالَاتِكَ اللَّاتِي هَاجَرْنَ مَعَكَ وَامْرَأَةً
مُّؤْمِنَةً إِنْ وَهَبَتْ نَفْسَهَا لِلنَّبِيِّ إِنْ أَرَادَ النَّبِيُّ أَن
يَسْتَنكِحَهَا خَالِصَةً لَّكَ مِن دُونِ الْمُؤْمِنِينَ قَدْ عَلِمْنَا مَا
فَرَضْنَا عَلَيْهِمْ فِي أَزْوَاجِهِمْ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُهُمْ لِكَيْلَا
يَكُونَ عَلَيْكَ حَرَجٌ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا
Artinya: Hai Nabi,
sesungguhnya Kami telah menghalalkan bagimu isteri-isterimu yang telah kamu
berikan mas kawinnya dan hamba sahaya yang kamu miliki yang termasuk apa yang
kamu peroleh dalam peperangan yang dikaruniakan Allah untukmu, dan (demikian
pula) anak-anak perempuan dari saudara laki-laki bapakmu, anak-anak perempuan
dari saudara perempuan bapakmu, anak-anak perempuan dari saudara laki-laki
ibumu dan anak-anak perempuan dari saudara perempuan ibumu yang turut hijrah
bersama kamu dan perempuan mukmin yang menyerahkan dirinya kepada Nabi kalau
Nabi mau mengawininya, sebagai pengkhususan bagimu, bukan untuk semua orang
mukmin. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang Kami wajibkan kepada mereka
tentang isteri-isteri mereka dan hamba sahaya yang mereka miliki supaya tidak
menjadi kesempitan bagimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(QS. Al Ahzab/ 33: 50)
Kesadaran menyerahkan diri
kepada Rasulullah SAW untuk taat mengikutinya, merupakan bentuk ketaqwaan di
tingkat 3+; islam.
4.7. Al Quran
Surat At Thalaq/ 65: 7
لِيُنفِقْ ذُو سَعَةٍ مِّن سَعَتِهِ
وَمَن قُدِرَ عَلَيْهِ رِزْقُهُ فَلْيُنفِقْ مِمَّا آتَاهُ اللَّهُ لَا
يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا مَا آتَاهَا سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ
عُسْرٍ يُسْرًا
Artinya: Hendaklah orang
yang mampu memberi nafkah menurut kemampuannya. Dan orang yang disempitkan
rezekinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya.
Allah tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekedar apa yang Allah
berikan kepadanya. Allah kelak akan memberikan kelapangan sesudah kesempitan.
(QS. At Thalaq/ 65: 7)
Kesadaran menafkahkan harta
sesuai kemampuannya karena Allah tidak memikulkan beban melainkan sesuai
kemampuannya, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat 3+; islam.
Di dalam Al Quran ditemukan
24 kata iman atau kata lain yang memiliki pengertian yang sama dengan
iman yang berdampingan dengan kata nafs di dalam satu ayat Al Qur’an,
yang dapat diklasifikasikan ke dalam klasifikasi taqwa level +4; iman,
ayat-ayat tersebut adalah sebagai
berikut;
5.1. Al Quran
Surat QS. Al Baqarah/ 2: 281
وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى
اللَّهِ ثُمَّ تُوَفَّىٰ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا
يُظْلَمُونَ ﴿البقرة: ٢٨١﴾
Artinya: Dan peliharalah
dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua
dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang
sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak
dianiaya (dirugikan). (QS. Al Baqarah/ 2: 281)
Percaya kepada hari
kebangkitan dan pembalasan setiap diri sesuai dengan yang dikerjakannya,
merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +4; iman.
5.2. Al Quran
Surat Ali Imran/3: 25
فَكَيْفَ إِذَا جَمَعْنَاهُمْ لِيَوْمٍ لَّا
رَيْبَ فِيهِ وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا
يُظْلَمُونَ
Artinya: Bagaimanakah
nanti apabila mereka Kami kumpulkan di hari (kiamat) yang tidak ada keraguan
tentang adanya. Dan disempurnakan kepada tiap-tiap diri balasan apa yang
diusahakannya sedang mereka tidak dianiaya (dirugikan). (QS. Ali Imran/3: 25)
Percaya kepada hari
dikumpulkan (makhsyar) dan pembalasan setiap diri sesuai dengan yang
dikerjakannya, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +4; iman.
5.3. Al Quran
Surat Ali Imran/ 3: 30
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ
خَيْرٍ مُّحْضَرًا وَمَا عَمِلَتْ مِن سُوءٍ تَوَدُّ لَوْ
أَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهُ أَمَدًا بَعِيدًا وَيُحَذِّرُكُمُ اللَّهُ نَفْسَهُ
وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
Artinya: Pada hari ketika
tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga)
kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan
hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya.
Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya. (QS. Ali Imran/ 3: 30)
Percaya kepada hari
pembalasan setiap diri sesuai dengan yang dikerjakannya, merupakan bentuk
ketaqwaan di tingkat +4; iman.
5.4. Al Quran
Surat Ali Imran/ 3: 145
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تَمُوتَ إِلَّا بِإِذْنِ
اللَّهِ كِتَابًا مُّؤَجَّلًا وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الدُّنْيَا
نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَن يُرِدْ ثَوَابَ الْآخِرَةِ نُؤْتِهِ مِنْهَا وَسَنَجْزِي
الشَّاكِرِينَ
Artinya: Sesuatu yang
bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang
telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami
berikan kepadanya pahala dunia itu, dan barang siapa menghendaki pahala
akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala akhirat itu. Dan kami akan
memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. (QS. Ali Imran/ 3: 145)
Percaya bahwa kematian
sebagai ketetapan Allah, dan barang siapa menghendaki dunia akan diberikan dan
barang siapa yang menghendaki akhirat akan diberikan, merupakan bentuk
ketaqwaan di tingkat +4; iman.
5.5. Al Quran
Surat An Nisa’/ 4: 84
فَقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا تُكَلَّفُ
إِلَّا نَفْسَكَ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَسَى اللَّهُ أَن يَكُفَّ بَأْسَ
الَّذِينَ كَفَرُوا وَاللَّهُ أَشَدُّ بَأْسًا وَأَشَدُّ تَنكِيلًا
Artinya: Maka berperanglah
kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu
sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan
Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan
dan amat keras siksaan(Nya). (QS. An Nisa’/ 4: 84)
Kesadaran untuk berperang;
berjuang melawan musuh sesuai dengan kapasitasnya dan memberi motifasi kepada
orang-orang beriman, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +4; iman.
5.6. Al Quran
Surat Yunus/ 10: 100
وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَن تُؤْمِنَ إِلَّا
بِإِذْنِ اللَّهِ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا
يَعْقِلُونَ
Artinya: Dan tidak ada
seorangpun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan
kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya. (QS. Yunus/ 10:
100)
Kesadaran bahwa iman tidak
dapat diperoleh kecuali atas ijin Allah, dan Allah murka kepada orang yang
tidak menggunakan akal (qalbu), merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +4; iman.
5.7. Al Quran
Surat Thaha/ 20: 15
إِنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَىٰ
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَىٰ
Artinya: Segungguhnya hari
kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri
itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. (QS. Thaha/ 20: 15)
Percaya kepada hari qiamat
setiap diri sesuai dengan yang dikerjakannya, merupakan bentuk ketaqwaan di
tingkat +4; iman.
5.8. Al Quran
Surat Al Anbiya/ 21: 47
وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ
الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِن
كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَىٰ بِنَا
حَاسِبِينَ
Artinya: Kami akan
memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan
seseorang barang sedikitpun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawipun
pasti Kami mendatangkan (pahala)nya. Dan cukuplah Kami sebagai pembuat
perhitungan. (QS. Al Anbiya/ 21: 47)
Percaya kepada hari
pertimbangan di hari qiamat setiap diri sesuai dengan yang dikerjakannya,
merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +4; iman.
5.9. Al Quran
Surat Al Ankabut/ 29: 57
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ثُمَّ إِلَيْنَا
تُرْجَعُونَ
Artinya: Tiap-tiap yang
berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.
(QS. Al Ankabut/ 29: 57)
Percaya bahwa setiap jiwa
akan mati dan semuanya akan dikembalikan kepada Allah, merupakan bentuk
ketaqwaan di tingkat +4; iman.
5.10.
Al Quran Surat Luqman/ 31: 28
مَّا خَلْقُكُمْ وَلَا بَعْثُكُمْ إِلَّا كَنَفْسٍ
وَاحِدَةٍ إِنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ ﴿لقمان: ٢٨﴾
Artinya: Tidaklah Allah
menciptakan dan membangkitkan kamu (dari dalam kubur) itu melainkan hanyalah
seperti (menciptakan dan membangkitkan) satu jiwa saja. Sesungguhnya Allah Maha
Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. Luqman/ 31: 28)
Percaya kepada hari
kebangkitan semudah mencipta dan membangkitkan satu jiwa saja, merupakan bentuk
ketaqwaan di tingkat +4; iman.
5.11.
Al Quran Surat Luqman/ 31: 34
إِنَّ اللَّهَ عِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ
وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ
مَّاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ
اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: Sesungguhnya
Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah
Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada
seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya
besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS. Luqman/ 31: 34)
Percaya bahwa hanya Allah
yang mengetahui; kapan hari kiamat terjadi, yang apa yang ada di rahim, apa
yang terjadi besuk, di mana seseorang akan mati, merupakan bentuk ketaqwaan di
tingkat +4; iman.
5.12.
Al Quran Surat Az Zumar/ 39: 42
اللَّهُ يَتَوَفَّى الْأَنفُسَ حِينَ مَوْتِهَا
وَالَّتِي لَمْ تَمُتْ فِي مَنَامِهَا فَيُمْسِكُ الَّتِي قَضَىٰ عَلَيْهَا
الْمَوْتَ وَيُرْسِلُ الْأُخْرَىٰ إِلَىٰ أَجَلٍ مُّسَمًّى إِنَّ فِي ذَٰلِكَ
لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: Allah memegang
jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di
waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan
kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi
kaum yang berfikir. (QS. Az Zumar/ 39: 42)
Kesadaran bahwa Allah yang
memegang jiwa, menghidupkan atau mematikannya, merupakan bentuk ketaqwaan di
tingkat +4; iman.
5.13.
Al Quran Surat Az Zumar/ 39: 70
وَوُفِّيَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ وَهُوَ
أَعْلَمُ بِمَا يَفْعَلُونَ
Artinya: Dan disempurnakan
bagi tiap-tiap jiwa (balasan) apa yang telah dikerjakannya dan Dia lebih
mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. Az Zumar/ 39: 70)
Kesadaran bahwa amal
perbuatan manusia akan diberi balasan sesuai yang dilakukan dan Allah Maha
mengetahui apa yang dilakukan manusia, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat
+4; iman.
5.14.
Al Quran Surat Al Mu’min/ 40: 17
الْيَوْمَ تُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ
لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
Artinya: Pada hari ini
tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang
dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisabnya. (QS. Al
Mu’min/ 40: 17)
Kesadaran bahwa amal
perbuatan manusia akan diberi balasan sesuai yang dilakukan, Allah tidak
berlaku dhalim dan Allah Maha cepat perhitungan-Nya, merupakan bentuk ketaqwaan
di tingkat +4; iman.
5.15.
Al Quran Surat Hud/ 11: 105
يَوْمَ يَأْتِ لَا تَكَلَّمُ نَفْسٌ إِلَّا
بِإِذْنِهِ فَمِنْهُمْ شَقِيٌّ وَسَعِيدٌ
Artinya: Di kala datang
hari itu, tidak ada seorangun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka
di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia. (QS. Hud/ 11: 105)
Kesadaran bahwa pada hari
akhir orang tidak dapat berkata kecuali atas ijinnya, ada yang celaka dan ada
yang bahagia, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +4; iman.
5.16.
Al Quran Surat Al Jatsiyah/ 45: 22
وَخَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
بِالْحَقِّ وَلِتُجْزَىٰ كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا
يُظْلَمُونَ
Artinya: Dan Allah
menciptakan langit dan bumi dengan tujuan yang benar dan agar dibalasi
tiap-tiap diri terhadap apa yang dikerjakannya, dan mereka tidak akan
dirugikan. (QS. Al Jatsiyah/ 45: 22)
Kesadaran bahwa Allah yang
menciptakan langit dan bumi dengan haq, amal perbuatan manusia akan diberi
balasan sesuai yang dilakukan, Allah tidak berlaku dhalim, merupakan bentuk
ketaqwaan di tingkat +4; iman.
5.17.
Al Quran Surat Qaf/ 50: 21
وَجَاءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَّعَهَا سَائِقٌ
وَشَهِيدٌ
Artinya: Dan datanglah
tiap-tiap diri, bersama dengan dia seorang malaikat penggiring dan seorang
malaikat penyaksi. (QS. Qaf/ 50: 21)
Percaya bahwa pada setiap
diri diringi malaikat pengiring dan malaikat penyaksi, merupakan bentuk
ketaqwaan di tingkat +4; iman.
5.18.
Al Quran Surat Al Munafiqun/ 63: 11
وَلَن يُؤَخِّرَ اللَّهُ نَفْسًا إِذَا جَاءَ
أَجَلُهَا وَاللَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: Dan Allah
sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila telah datang
waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengenal apa yang kamu kerjakan. (QS. Al
Munafiqun/ 63: 11)
Percaya bahwa jika waktu ajal
(kematian) telah tiba tidak dapat di undur, merupakan bentuk ketaqwaan di
tingkat +4; iman.
5.19.
Al Quran Surat Al Mudtsir/ 74: 38
كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ رَهِينَةٌ
Artinya: Tiap-tiap diri
bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, (QS. Al Mudtsir/ 74: 38)
Kesadaran bahwa tiap diri
akan diberi balasan sesuai yang dilakukan, merupakan bentuk ketaqwaan di
tingkat +4; iman.
5.20.
Al Quran Surat At Takwir/ 81: 14
عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا أَحْضَرَتْ
Artinya: maka tiap-tiap
jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya. (QS. At Takwir/ 81: 14)
Kesadaran bahwa tiap diri
akan diberi balasan sesuai yang dilakukan, merupakan bentuk ketaqwaan di
tingkat +4; iman.
5.21.
Al Quran Surat Al Infithar/ 82: 5
عَلِمَتْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ وَأَخَّرَتْ
Artinya: maka tiap-tiap
jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya. (QS. Al
Infithar/ 82: 5)
Kesadaran bahwa tiap diri
akan diberi balasan sesuai yang dilakukan, merupakan bentuk ketaqwaan di
tingkat +4; iman.
5.22.
Al Quran Surat Al Infithar/ 82: 19
يَوْمَ لَا تَمْلِكُ نَفْسٌ لِّنَفْسٍ شَيْئًا
وَالْأَمْرُ يَوْمَئِذٍ لِّلَّهِ
Artinya: (Yaitu) hari
(ketika) seseorang tidak berdaya sedikitpun untuk menolong orang lain. Dan
segala urusan pada hari itu dalam kekuasaan Allah. (QS. Al Infithar/ 82: 19)
Percaya bahwa di hari akhir
setiap diri tidak kuasa atas dirinya sedikutpun, semuanya ada dalam kekuasaan
Allah, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +4; iman.
5.23.
Al Quran Surat Ath Thariq/ 86: 4
إِن كُلُّ نَفْسٍ لَّمَّا عَلَيْهَا حَافِظٌ
Artinya: tidak ada suatu
jiwapun (diri) melainkan ada penjaganya. (QS. Ath Thariq/ 86: 4)
Percaya bahwa pada setiap
diri ada penjaganya, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +4; iman.
5.24.
Al Quran Surat Al Fajr/ 89: 27
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ
Artinya: Hai jiwa yang
tenang. (QS. Al Fajr/ 89: 27)
Hai jiwa-jiwa yang tenang
(dengan keyakinannya), merupakan panggilan bagi orang yang taqwa hingga di
tingkat +4; iman.
Di dalam Al Quran ditemukan
24 kata ikhsan atau kata lain yang memiliki pengertian yang sama dengan ikhsan
yang berdampingan dengan kata nafs di dalam satu ayat Al Qur’an, yang
dapat diklasifikasikan ke dalam klasifikasi taqwa level +5; ikhsan,
ayat-ayat tersebut adalah sebagai
berikut;
6.1. Al Quran
Surat Al Baqarah/ 2: 110
وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ
وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ إِنَّ
اللَّهَ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Artinya: Dan dirikanlah
shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi
dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah
Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan. (QS. Al baqarah/ 2: 110)
Kesadaran untuk mengusahakan
kebaikan untuk diri karena Allah akan mendapatkan balasan kebaikan yang lebih
baik dari Allah, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +5; ikhsan.
6.2. Al Quran
Surat An Nisa’/ 4: 63
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَعْلَمُ اللَّهُ مَا فِي
قُلُوبِهِمْ فَأَعْرِضْ عَنْهُمْ وَعِظْهُمْ وَقُل لَّهُمْ فِي أَنفُسِهِمْ
قَوْلًا بَلِيغًا
Artinya: Mereka itu adalah
orang-orang yang Allah mengetahui apa yang di dalam hati mereka. Karena itu
berpalinglah kamu dari mereka, dan berilah mereka pelajaran, dan katakanlah
kepada mereka perkataan yang berbekas pada jiwa mereka. (QS. An Nisa’/ 4: 63)
Kesadaran untuk memberikan
pelajaran atau peringatan dengan perkataan yang berbekas pada jiwa, merupakan
bentuk ketaqwaan di tingkat +5; ikhsan.
6.3. Al Quran
Surat An Nisa’/ 4: 135
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا
قَوَّامِينَ بِالْقِسْطِ شُهَدَاءَ لِلَّهِ وَلَوْ عَلَىٰ أَنفُسِكُمْ أَوِ
الْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ إِن يَكُنْ غَنِيًّا أَوْ فَقِيرًا فَاللَّهُ
أَوْلَىٰ بِهِمَا فَلَا تَتَّبِعُوا الْهَوَىٰ أَن تَعْدِلُوا وَإِن تَلْوُوا أَوْ
تُعْرِضُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
Artinya: Wahai orang-orang
yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi
saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum
kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya.
Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari
kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi
saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu
kerjakan. (QS. An Nisa/ 4: 135)
Kesadaran untuk benar-benar
menjadi penegak keadilan karena Allah meski terhadap diri sendiri, kaum
kerabat, orang kaya maupun miskin, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +5;
ikhsan.
6.4. Al Quran
Surat Al maidah/ 5: 25
قَالَ رَبِّ إِنِّي لَا أَمْلِكُ إِلَّا
نَفْسِي وَأَخِي فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ
Artinya: Berkata Musa:
"Ya Tuhanku, aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku.
Sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu". (QS.
Al Maidah/ 5: 25)
Kesadaran bahwa diri tidak
punya kuasa kecuali mendapat pertolongan Allah, merupakan bentuk ketaqwaan di
tingkat +5; ikhsan.
6.5. Al Quran
Surat Al An’am/ 6: 104
قَدْ جَاءَكُم بَصَائِرُ مِن رَّبِّكُمْ فَمَنْ
أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُم
بِحَفِيظٍ
Artinya: Sesungguhnya
telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat
(kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta
(tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku
(Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu). (QS. Al An’am/ 6: 104)
Kesadaran mau melihat bukti
kebenaran yang terang sebagai bukti kebenaran Allah, merupakan bentuk ketaqwaan
di tingkat +5; ikhsan.
6.6. Al Quran
Surat Al A’raf/ 7: 188
قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلَا ضَرًّا
إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ
لَاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلَّا
نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِّقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ
Artinya: Katakanlah:
"Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula)
menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku
mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan
aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi
peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman".
(QS. Al A’raf/ 7: 188)
Kesadaran tidak berkuasa
menarik kemanfaatan bagi diri dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali
yang dikehendaki Allah, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +5; ikhsan.
6.7. Al Quran
Surat Al Anfal/ 8: 53
ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ لَمْ يَكُ مُغَيِّرًا
نِّعْمَةً أَنْعَمَهَا عَلَىٰ قَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ
وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: (Siksaan) yang
demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan merubah
sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu
meubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Anfal/ 8: 53)
Kesadaran bahwa Allah
sekali-kali tidak akan merubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya
kepada suatu kaum, hingga kaum itu merubah apa-apa yang ada pada diri mereka
sendiri, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +5; ikhsan.
6.8. Al Quran
Surat Al Anfal/ 8: 72
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا
وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ
آوَوا وَّنَصَرُوا أُولَٰئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَالَّذِينَ آمَنُوا
وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُم مِّن وَلَايَتِهِم مِّن شَيْءٍ حَتَّىٰ يُهَاجِرُوا
وَإِنِ اسْتَنصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلَّا عَلَىٰ قَوْمٍ
بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُم مِّيثَاقٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Artinya: Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad dengan harta dan jiwanya
pada jalan Allah dan orang-orang yang memberikan tempat kediaman dan
pertoIongan (kepada orang-orang muhajirin), mereka itu satu sama lain
lindung-melindungi. Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum
berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka,
sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan
kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan
kecuali terhadap kaum yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan
Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Anfal/ 8: 72)
Kesadaran untuk berhijrah;
meninggalkan ketidak baikan menuju ke kebaikan dan bersungguh sungguh dalam
menggunakan harta dan jiwa untuk berjuang di jalan Allah, merupakan bentuk
ketaqwaan di tingkat +5; ikhsan.
6.9. Al Quran
Surat Yunus/ 10: 49
قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي ضَرًّا وَلَا نَفْعًا
إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ لِكُلِّ أُمَّةٍ أَجَلٌ إِذَا جَاءَ
أَجَلُهُمْ فَلَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ
Artinya: Katakanlah:
"Aku tidak berkuasa mendatangkan kemudharatan dan tidak (pula) kemanfaatan
kepada diriku, melainkan apa yang dikehendaki Allah". Tiap-tiap umat
mempunyai ajal. Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat
mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak (pula) mendahulukan(nya). (QS.
Yunus/ 10: 49)
Kesadaran tidak berkuasa
menarik kemanfaatan bagi diri dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali
yang dikehendaki Allah, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +5; ikhsan.
6.10.
Al Quran Surat Ar Ra’d/ 13: 11
لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ
خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا
بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ
بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ
Artinya: Bagi manusia ada
malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di
belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak
merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri
mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum,
maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi
mereka selain Dia. (QS. Ar Ra’ad/ 13: 11)
Keasdaran bahwa dirinya
selalu dijaga oleh malaikat dan Kesadaran bahwa Allah sekali-kali tidak akan
merubah keadaan sesuatu suatu kaum, hingga kaum itu merubah keadaan yang ada
pada diri mereka sendiri, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +5; ikhsan.
6.11.
Al Quran Surat Al Isra’/ 17: 7
إِنْ أَحْسَنتُمْ أَحْسَنتُمْ لِأَنفُسِكُمْ
وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ
لِيَسُوءُوا وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ
مَرَّةٍ وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا
Artinya: Jika kamu berbuat
baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat
jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat
hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan
muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu
memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja
yang mereka kuasai. (QS. Al Isra/ 17: 7)
Kesadaran bahwa Jika kamu
berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu
berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, merupakan bentuk
ketaqwaan di tingkat +5; ikhsan.
6.12.
Al Quran Surat An Nur/ 24: 12
لَّوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ
الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا
إِفْكٌ مُّبِينٌ
Artinya: Mengapa di waktu
kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak
bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata:
"Ini adalah suatu berita bohong yang nyata". (QS. An Nur/ 24: 12)
Kesadaran berprasangka baik
terhadap diri sendiri, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +5; ikhsan.
6.13.
Al Quran Surat Ar Rum/ 30: 8
أَوَلَمْ يَتَفَكَّرُوا فِي أَنفُسِهِم مَّا
خَلَقَ اللَّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ
وَأَجَلٍ مُّسَمًّى وَإِنَّ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ بِلِقَاءِ رَبِّهِمْ
لَكَافِرُونَ
Artinya: Dan mengapa
mereka tidak memikirkan tentang (kejadian) diri mereka? Allah tidak menjadikan
langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya melainkan dengan (tujuan)
yang benar dan waktu yang ditentukan. Dan sesungguhnya kebanyakan di antara
manusia benar-benar ingkar akan pertemuan dengan Tuhannya. (QS. Ar Rum/ 30: 8)
Kesadaran untuk mau berpikir
tentang dirinya sendiri yang hidup hanya dalam batas waktu tertentu, dan
keasadaran bahwa nanti (di hari akhir) akan dipertemukan dengan Allah,
merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +5; ikhsan.
6.14.
Al Quran Surat Ar Rum/ 30: 44
مَن كَفَرَ فَعَلَيْهِ كُفْرُهُ وَمَنْ عَمِلَ
صَالِحًا فَلِأَنفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ
Artinya: Barangsiapa yang
kafir maka dia sendirilah yang menanggung (akibat) kekafirannya itu; dan
barangsiapa yang beramal saleh maka untuk diri mereka sendirilah mereka
menyiapkan (tempat yang menyenangkan), (QS. Ar Rum/ 30: 44)
Kesadaran untuk berbuat baik
yang didasari keyakinan bahwa perbuatan baikanya akan kembali kepada diri
sendiri, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +5; ikhsan.
6.15.
Al Quran Surat Fushilat/ 41: 31
نَحْنُ أَوْلِيَاؤُكُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا
وَفِي الْآخِرَةِ وَلَكُمْ فِيهَا مَا تَشْتَهِي أَنفُسُكُمْ وَلَكُمْ
فِيهَا مَا تَدَّعُونَ
Artinya: Kamilah
pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu
memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang
kamu minta. (QS. Fushilat/ 41: 31)
Kesadaran bahwa Allah sebagai
wali; pelindung; teman dekat di dunia maupun di akhirat, yang memberikan apa
yang diinginkan maupun yang diminta, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +5;
ikhsan.
6.16.
Al Quran Surat Fushilat/ 41: 46
مَّنْ عَمِلَ صَالِحًا فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ
أَسَاءَ فَعَلَيْهَا وَمَا رَبُّكَ بِظَلَّامٍ لِّلْعَبِيدِ
Artinya: Barangsiapa yang
mengerjakan amal yang saleh maka (pahalanya) untuk dirinya sendiri dan
barangsiapa mengerjakan perbuatan jahat, maka (dosanya) untuk dirinya sendiri;
dan sekali-kali tidaklah Rabb-mu menganiaya hamba-hamba-Nya. (41: 46)
Kesadaran untuk berbuat baik
yang didasari keyakinan bahwa perbuatan baikanya akan kembali kepada diri
sendiri, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +5; ikhsan.
6.17.
Al Quran Surat Fushilat/ 41: 53
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي
أَنفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ
بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
Artinya: Kami akan
memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah
bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu
adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas
segala sesuatu? (QS. Fushilat/ 41: 53)
Kesadaran pada kebenaran Al
Quran yang dibuktikan dengan segala apa yang ada di jagat raya dan yang ada
pada dirinya sendiri, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +5; ikhsan.
6.18.
Al Quran Surat Adz Dzariyat/ 51: 21
وَفِي أَنفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
Artinya: dan (juga) pada
dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan? (QS. Adz Dzariyat/ 51:
21)
Kesadaran untuk mau
memperhatikan dan memikirkan apa yang ada pada dirinya sendiri, merupakan
bentuk ketaqwaan di tingkat +5; ikhsan.
6.19.
Al Quran Surat Al Hashr/ 59: 18
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنظُرْ
نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا
تَعْمَلُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang
beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa
yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada
Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Hashr/ 59: 18)
Kesadaran untuk memperhatikan
dan memahami apa yang sudah dilakukan untuk tujuan memperoleh hikmah bagi
kebaikan di masa depan, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +5; ikhsan.
6.20.
Al Quran Surat At Taghabun/ 64: 16
فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ وَاسْمَعُوا
وَأَطِيعُوا وَأَنفِقُوا خَيْرًا لِّأَنفُسِكُمْ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ
فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿التغابن: ١٦﴾
Artinya: Maka bertakwalah
kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah dan
nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu. Dan barangsiapa yang dipelihara
dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. At
Taghabun/ 64: 16)
Kesadaran untuk mau
mendengar, taat dan menafkahkan harta dengan baik untuk dirinya sendiri serta
tidak kikir untuk dirinya sendiri, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +5;
ikhsan.
6.21.
Al Quran Surat Al Muzammil/ 73: 20
إِنَّ رَبَّكَ يَعْلَمُ أَنَّكَ تَقُومُ أَدْنَىٰ
مِن ثُلُثَيِ اللَّيْلِ وَنِصْفَهُ وَثُلُثَهُ وَطَائِفَةٌ مِّنَ الَّذِينَ مَعَكَ
وَاللَّهُ يُقَدِّرُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ عَلِمَ أَن لَّن تُحْصُوهُ فَتَابَ
عَلَيْكُمْ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنَ الْقُرْآنِ عَلِمَ أَن سَيَكُونُ
مِنكُم مَّرْضَىٰ وَآخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِي الْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِن فَضْلِ
اللَّهِ وَآخَرُونَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ
مِنْهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ وَأَقْرِضُوا اللَّهَ
قَرْضًا حَسَنًا وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ
اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ
اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya: Sesungguhnya
Tuhanmu mengetahui bahwasanya kamu berdiri (sembahyang) kurang dari dua pertiga
malam, atau seperdua malam atau sepertiganya dan (demikian pula) segolongan
dari orang-orang yang bersama kamu. Dan Allah menetapkan ukuran malam dan
siang. Allah mengetahui bahwa kamu sekali-kali tidak dapat menentukan
batas-batas waktu-waktu itu, maka Dia memberi keringanan kepadamu, karena itu
bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran. Dia mengetahui bahwa akan ada di
antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi
mencari sebagian karunia Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di
jalan Allah, maka bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al Quran dan dirikanlah
sembahyang, tunaikanlah zakat dan berikanlah pinjaman kepada Allah pinjaman
yang baik. Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu
memperoleh (balasan)nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang
paling besar pahalanya. Dan mohonlah ampunan kepada Allah; sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Muzammil/ 73: 20)
Kesadaran untuk memberikan
pinjaman yang baik kepada Allah; melakukan kebaikan untuk Allah, dan menyadari
bahwa semua kebaikan yang dilakukan untuk Allah sejatinya akan kembali kepada
dirinya sendiri, dengan memperoleh balasan yang lebih baik dari Allah,
merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +5; ikhsan.
6.22.
Al Quran Surat Al Qiyamah/ 75: 14
بَلِ الْإِنسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ
Artinya: Bahkan manusia
itu menjadi saksi atas dirinya sendiri, (QS. Al Qiyamah/ 75: 14)
Kesadaran bahwa di hari akhir
nanti setiap manusia menjadi saksi atas amal perbuatannya sendiri, merupakan
bentuk ketaqwaan di tingkat +5; ikhsan.
6.23.
Al Quran Surat At Takwir/ 81: 7
وَإِذَا النُّفُوسُ زُوِّجَتْ
Artinya: dan apabila
ruh-ruh dipertemukan (dengan tubuh) (QS. At Takwir/ 81: 7)
6.24.
Al Quran Surat Al Muthafifin/ 83: 26
خِتَامُهُ مِسْكٌ وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ
الْمُتَنَافِسُونَ
Artinya: laknya adalah
kesturi; dan untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba. (QS. Al
Muthafifin/ 83: 26)
Kesadaran untuk
berlomba-lomba / bersungguh-sungguh dalam melakukan kebaikan untuk memperoleh
balasan kebaikan jannah, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +5; ikhsan.
Di dalam Al Quran ditemukan 5
kata yuhibbu atau kata lain yang memiliki pengertian yang sama dengan yuhibbu
yang berdampingan dengan kata nafs di dalam satu ayat Al Qur’an, yang
dapat diklasifikasikan ke dalam klasifikasi taqwa level +6; mahabbah,
ayat-ayat tersebut adalah sebagai
berikut;
7.1. Al Quran
Surat Al A’raf/ 7: 189
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ
وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا فَلَمَّا تَغَشَّاهَا
حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ فَلَمَّا أَثْقَلَت دَّعَوَا اللَّهَ
رَبَّهُمَا لَئِنْ آتَيْتَنَا صَالِحًا لَّنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ
Artinya: Dialah Yang
menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan
isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya,
isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan
(beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri)
bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau
memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang
bersyukur". (QS. Al A’raf/ 7: 189)
Kesadaran bahwa lantaran
cinta Allahlah sehingga manusia dapat saling mencintai pasangannya, merupakan
bentuk ketaqwaan di tingkat +6; mahabbah.
7.2. Al Quran
Surat Al A’raf/ 7: 205
وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا
وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ
وَلَا تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ
Artinya: Dan sebutlah
(nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan
tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk
orang-orang yang lalai. (QS. Al A’raf/ 7: 205)
Kesadaran untuk mengingat
Allah di dalam hati dengan merendahkan diri, merasa takut dan tidak mengeraskan
suara, karena kerinduan dan rasa cinta, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat
+6; mahabbah.
7.3. Al Quran
Surat At Taubah/ 9: 120
مَا كَانَ لِأَهْلِ الْمَدِينَةِ وَمَنْ حَوْلَهُم
مِّنَ الْأَعْرَابِ أَن يَتَخَلَّفُوا عَن رَّسُولِ اللَّهِ وَلَا يَرْغَبُوا
بِأَنفُسِهِمْ عَن نَّفْسِهِ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ لَا يُصِيبُهُمْ ظَمَأٌ
وَلَا نَصَبٌ وَلَا مَخْمَصَةٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَطَئُونَ مَوْطِئًا
يَغِيظُ الْكُفَّارَ وَلَا يَنَالُونَ مِنْ عَدُوٍّ نَّيْلًا إِلَّا كُتِبَ لَهُم
بِهِ عَمَلٌ صَالِحٌ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ
Artinya: Tidaklah
sepatutnya bagi penduduk Madinah dan orang-orang Arab Badwi yang berdiam di
sekitar mereka, tidak turut menyertai Rasulullah (berperang) dan tidak patut
(pula) bagi mereka lebih mencintai diri mereka daripada mencintai diri Rasul.
Yang demikian itu ialah karena mereka tidak ditimpa kehausan, kepayahan dan
kelaparan pada jalan Allah, dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang
membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan sesuatu bencana
kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang demikian itu
suatu amal saleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang
yang berbuat baik, (QS. At taubah/ 9: 120)
Kesadaran untuk mencintai
Rasulullah melebihi dari cintanya kepada diri sendiri. merupakan bentuk
ketaqwaan di tingkat +6; mahabbah.
7.4. Al Quran
Surat At-Taubah/ 9: 24
قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ
وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا
وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ
إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا
حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ
الْفَاسِقِينَ
Artinya: Katakanlah:
"jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum
keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri
kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari
Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang fasik.(QS. At-Taubah/ 9: 24)
Kesadaran untuk lebih
mencintai Allah, Rasulullah dan berjuang di jalan Allah, dibandingkan cintanya
kepada; orang tua, anak, saudara, istri, keluarga, kekayaan, usaha, perniagaan,
merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +6; mahabbah.
7.5. Al Quran
Surat Ali-'Imran/ 3: 31
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ
فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ
غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya: Katakanlah:
"Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah
mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.(QS. Ali-'Imran/ 3: 31)
Kesadaran mengikuti
Rasulullah karena mencintai Allah dan Rasulullah SAW, merupakan bentuk
ketaqwaan di tingkat +6; mahabbah.
Di dalam Al Quran ditemukan
11 kata rahima atau kata lain yang memiliki pengertian yang sama dengan rahima
yang berdampingan dengan kata nafs di dalam satu ayat Al Qur’an, yang
dapat diklasifikasikan ke dalam klasifikasi taqwa level +7; rahmah,
ayat-ayat tersebut adalah sebagai
berikut;
8.1. Al Quran
Surat An Nisa’/ 4: 113
وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكَ
وَرَحْمَتُهُ لَهَمَّت طَّائِفَةٌ مِّنْهُمْ أَن يُضِلُّوكَ وَمَا يُضِلُّونَ
إِلَّا أَنفُسَهُمْ وَمَا يَضُرُّونَكَ مِن شَيْءٍ وَأَنزَلَ اللَّهُ عَلَيْكَ
الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَكَ مَا لَمْ تَكُن تَعْلَمُ وَكَانَ فَضْلُ
اللَّهِ عَلَيْكَ عَظِيمًا
Artinya: Sekiranya bukan
karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka
berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. Tetapi mereka tidak menyesatkan
melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun
kepadamu. Dan (juga karena) Allah telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu,
dan telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. Dan adalah karunia
Allah sangat besar atasmu. (QS. An Nisa’/ 4: 113)
Kesadaran bahwa karena
karunia dan rahmat Allah maka orang lain tidak dapat menyesatkan dan
membahayakan kecuali dirinya sendiri, dan kesadaran bahwa Allah yang menurunkan
Al Quran, hikmah dan ilmu yang luar biasa, merupakan bentuk ketaqwaan di
tingkat +7; rahmah.
8.2. Al Quran
Surat Al An’am/ 6: 12
قُل لِّمَن مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
قُل لِّلَّهِ كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ
يَوْمِ الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فَهُمْ لَا
يُؤْمِنُونَ
Artinya: Katakanlah:
"Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi". Katakanlah:
"Kepunyaan Allah". Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang.
Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan
padanya. Orang-orang yang merugikan dirinya mereka itu tidak beriman. (QS. Al
An’am/ 6: 12)
Kesadaran untuk meyakini
bahwa apa yang ada di langit dan di bumi ini hingga di hari akhir kelak, semua
keberadaanya adalah sebagai wujud kasih sayang Allah, merupakan bentuk
ketaqwaan di tingkat +7; rahmah.
8.3. Al Quran
Surat Al An’am/ 6: 54
وَإِذَا جَاءَكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ
بِآيَاتِنَا فَقُلْ سَلَامٌ عَلَيْكُمْ كَتَبَ رَبُّكُمْ عَلَىٰ نَفْسِهِ
الرَّحْمَةَ أَنَّهُ مَنْ عَمِلَ مِنكُمْ سُوءًا بِجَهَالَةٍ ثُمَّ تَابَ مِن
بَعْدِهِ وَأَصْلَحَ فَأَنَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya: Apabila
orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami itu datang kepadamu, maka
katakanlah: "Salaamun alaikum. Tuhanmu telah menetapkan atas diri-Nya
kasih sayang, (yaitu) bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan di antara
kamu lantaran kejahilan, kemudian ia bertaubat setelah mengerjakannya dan
mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (QS. Al An’am/ 6: 54)
Kesadaran bahwa bagi orang
yang mempercayai Al Quran akan mendapatkan keselamatan dari Allah karena kasih
sayang-Nya, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +7; rahmah.
8.4. Al Quran
Surat At Taubah/ 9: 128
لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِّنْ أَنفُسِكُمْ
عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ
رَّحِيمٌ
Artinya: Sungguh telah
datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya
penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat
belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin. (At Taubah/ 9: 128)
8.5. Al Quran
Surat Yusuf/ 12: 53
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ
لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ
رَّحِيمٌ
Artinya: Dan aku tidak
membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu
menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (QS. Yusuf/ 12: 53)
Kesadaran bahwa nafsu yang
dirahmati Allah akan menyuruh kepada kebaikan, merupakan bentuk ketaqwaan di
tingkat +7; rahmah.
8.6. Al Quran
Surat An Naml/ 27: 24
قَالَ الَّذِي عِندَهُ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتَابِ
أَنَا آتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَن يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآهُ
مُسْتَقِرًّا عِندَهُ قَالَ هَٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ
أَمْ أَكْفُرُ وَمَن شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن كَفَرَ
فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
Artinya: Berkatalah
seorang yang mempunyai ilmu dari Al Kitab: "Aku akan membawa singgasana
itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat
singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia
Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan
nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur
untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya
Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". (QS. An Naml/ 27: 24)
Kesadaran bahwa karunia Allah
adalah sebagai ujian bagi manusia apakah mensukurinya atau mengingkarinya dan
kesadaran untuk mensyukuri karunia Allah, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat
+7; rahmah.
8.7. Al Quran
Surat Ar Rum/ 30: 21
وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ
أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً
وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ
Artinya: Dan di antara
tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari
jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan
dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar Rum/ 30:
21)
Kesadaran bahwa diciptakannya
pasangan bagi manusia dari jenis manusia sendiri, agar ada kecenderungan,
merasakan ketenteraman dan kasih sayang adalah wujud kasih sayang Allah,
merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +7; rahmah.
8.8. Al Quran
Surat Luqman 31: 12
وَلَقَدْ آتَيْنَا لُقْمَانَ الْحِكْمَةَ أَنِ
اشْكُرْ لِلَّهِ وَمَن يَشْكُرْ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَن
كَفَرَ فَإِنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ
Artinya: Dan sesungguhnya
telah Kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada
Allah. Dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia
bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, maka
sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji". (QS. Luqman/ 31: 12)
kesadaran untuk mensyukuri
karunia Allah, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +7; rahmah.
8.9. Al Quran
Surat Al Ahzab/ 33: 6
النَّبِيُّ أَوْلَىٰ بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ
أَنفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُولُو
الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَن تَفْعَلُوا إِلَىٰ أَوْلِيَائِكُم
مَّعْرُوفًا كَانَ ذَٰلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا
Artinya: Nabi itu
(hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan
isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan
darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah
daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu
berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah
tertulis di dalam Kitab (Allah). (QS. Al Ahzab/ 33: 6)
Kesadaran untuk mengutamakan
Nabi Muhammad SAW dari pada diri sendiri sebagai bentuk penghormatan kepadanya,
merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +7; rahmah.
8.10.
Al Quran Surat Saba'/ 34: 28
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ
بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا
يَعْلَمُونَ
Artinya: Dan Kami tidak
mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita
gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada
mengetahui.(QS. Saba'/ 34: 28)
Kesadaran bahwa diutusnya
Rasulullah Muhammad SAW untuk memberi kabar gembira dan peringatan bagi seluruh
manusia adalah bentuk kasih sayang Allah kepada manusia, merupakan bentuk
ketaqwaan di tingkat +7; rahmah.
8.11.
Al Quran Surat Al-Anbiya'/ 21: 107
وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً
لِلْعَالَمِينَ
Artinya: Dan tiadalah Kami
mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.
Kesadaran bahwa diutusnya
Rasulullah Muhammad SAW adalah bentuk kasih sayang Allah kepada semesta alam,
merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +7; rahmah.
Di dalam Al Quran ditemukan 4 kata ridha
atau kata lain yang memiliki pengertian yang sama dengan ridha yang
berdampingan dengan kata nafs di dalam satu ayat Al Qur’an, yang dapat
diklasifikasikan ke dalam klasifikasi taqwa level +8; ridha,
ayat-ayat tersebut adalah sebagai
berikut;
9.1.
Al Quran Surat Al Baqarah/ 2: 207
وَمِنَ النَّاسِ مَن يَشْرِي نَفْسَهُ
ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ رَءُوفٌ بِالْعِبَادِ
Artinya: Dan di antara
manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan
Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya. (QS. Al Baqarah/ 2: 207)
Kesadaran untuk mengorbankan
dirinya untuk mengharapkan ridha Allah, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat
+8; ridha.
9.2.
Al Quran Surat Al Baqarah/ 2: 265
وَمَثَلُ الَّذِينَ يُنفِقُونَ أَمْوَالَهُمُ
ابْتِغَاءَ مَرْضَاتِ اللَّهِ وَتَثْبِيتًا مِّنْ أَنفُسِهِمْ كَمَثَلِ
جَنَّةٍ بِرَبْوَةٍ أَصَابَهَا وَابِلٌ فَآتَتْ أُكُلَهَا ضِعْفَيْنِ فَإِن لَّمْ
يُصِبْهَا وَابِلٌ فَطَلٌّ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ
Artinya: Dan perumpamaan
orang-orang yang membelanjakan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan
untuk keteguhan jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran
tinggi yang disiram oleh hujan lebat, maka kebun itu menghasilkan buahnya dua
kali lipat. Jika hujan lebat tidak menyiraminya, maka hujan gerimis (pun
memadai). Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu perbuat. (QS. Al baqarah/ 2:
265)
Kesadaran dalam membelanjakan harta untuk mengharapkan
ridha Allah dan untuk keteguhan jiwa, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +8;
ridha.
9.3.
Al Quran Surat Al A’raf/ 7: 172
وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن
ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ
بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَىٰ شَهِدْنَا أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ
إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ
Artinya: Dan (ingatlah),
ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan
Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman):
"Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau
Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di
hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah
orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (Al A’raf/ 7: 172)
Keridhaan bahwa Allah sebagai
pencipta, pemelihara dan yang mencukupi rizkinya, merupakan bentuk ketaqwaan di
tingkat +8; ridha.
9.4.
Al Quran Surat Al Fajr/ 89:
27
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ,
ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً
Artinya: Hai jiwa yang
tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.(QS.
Al Fajr/ 89: 27)
Keridhaan bahwa dirinya akan
kembali kepada Allah, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +8; ridha.
Di dalam Al Quran ditemukan 8 kata hidayah
atau kata lain yang memiliki pengertian yang sama dengan hidayah yang
berdampingan dengan kata nafs di dalam satu ayat Al Qur’an, yang dapat
diklasifikasikan ke dalam klasifikasi taqwa level +9; hidayah,
ayat-ayat tersebut adalah sebagai
berikut;
10.1.
Al Quran Surat An Nisa/ 4: 49
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يُزَكُّونَ
أَنفُسَهُم بَلِ اللَّهُ يُزَكِّي مَن يَشَاءُ وَلَا يُظْلَمُونَ فَتِيلًا
Artinya: Apakah kamu tidak
memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih?. Sebenarnya Allah
membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak aniaya sedikitpun.
(QS. An Nisa/ 4: 49)
Kesadaran bahwa yang
sesungguhnya mensucikan diri adalah Allah, merupakan bentuk ketaqwaan di
tingkat +9; hidayah.
10.2.
Al Quran Surat Al Maidah/ 5: 105
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا عَلَيْكُمْ
أَنفُسَكُمْ لَا يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ إِلَى اللَّهِ
مَرْجِعُكُمْ جَمِيعًا فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya: Hai orang-orang
yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi
mudharat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu
kembali semuanya, maka Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu
kerjakan. (QS. Al Maidah/ 5: 105)
Kesadaran telah mendapat
petunjuk sehingga dapat menjaga diri, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +9;
hidayah.
10.3.
Al Quran Surat Al An’am/ 6: 98
وَهُوَ الَّذِي أَنشَأَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ
فَمُسْتَقَرٌّ وَمُسْتَوْدَعٌ قَدْ فَصَّلْنَا الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَفْقَهُونَ
Artinya: Dan Dialah yang
menciptakan kamu dari seorang diri, maka (bagimu) ada tempat tetap dan tempat
simpanan. Sesungguhnya telah Kami jelaskan tanda-tanda kebesaran Kami kepada
orang-orang yang mengetahui. (QS. Al An’am/ 6: 98)
Kesadaran untuk dapat
memahami tanda-tanda kebesaran Allah dalam prnciptaan manusia, merupakan bentuk
ketaqwaan di tingkat +9; hidayah.
10.4.
Al Quran Surat Al An’am/ 6: 104
قَدْ جَاءَكُم بَصَائِرُ مِن رَّبِّكُمْ فَمَنْ
أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُم
بِحَفِيظٍ
Artinya: Sesungguhnya
telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat
(kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta
(tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya. Dan aku
(Muhammad) sekali-kali bukanlah pemelihara(mu).(QS. Al An’am/ 6: 104)
Kesadaran di dalam diri untuk
dapat melihat bukti-bukti dan mengakui kebenaran Allah, merupakan bentuk
ketaqwaan di tingkat +9; hidayah.
10.5.
Al Quran Surat Yunus/ 10: 108
قُلْ يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَكُمُ
الْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ
وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَمَا أَنَا عَلَيْكُم بِوَكِيلٍ
Artinya: Katakanlah:
"Hai manusia, sesungguhnya teIah datang kepadamu kebenaran (Al Quran) dari
Tuhanmu, sebab itu barangsiapa yang mendapat petunjuk maka sesungguhnya
(petunjuk itu) untuk kebaikan dirinya sendiri. Dan barangsiapa yang sesat, maka
sesungguhnya kesesatannya itu mencelakakan dirinya sendiri. Dan aku bukanlah
seorang penjaga terhadap dirimu". (QS. Yunus/ 10: 108)
Kesadaran dalam diri untuk
mengakui dan mengikuti petunjuk kebenaran yang datang dari Allah, merupakan
bentuk ketaqwaan di tingkat +9; hidayah.
10.6.
Al Quran Surat Al Isra’/ 17: 15
مَّنِ اهْتَدَىٰ فَإِنَّمَا يَهْتَدِي لِنَفْسِهِ
وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ عَلَيْهَا وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٌ وِزْرَ أُخْرَىٰ
وَمَا كُنَّا مُعَذِّبِينَ حَتَّىٰ نَبْعَثَ رَسُولًا
Artinya: Barangsiapa yang
berbuat sesuai dengan hidayah (Allah), maka sesungguhnya dia berbuat itu untuk
(keselamatan) dirinya sendiri; dan barangsiapa yang sesat maka sesungguhnya dia
tersesat bagi (kerugian) dirinya sendiri. Dan seorang yang berdosa tidak dapat
memikul dosa orang lain, dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus
seorang rasul. (QS. Al Isra’/ 17: 15)
Kesadaran dalam diri untuk
mengakui dan mengikuti petunjuk kebenaran yang datang dari Allah, merupakan
bentuk ketaqwaan di tingkat +9; hidayah.
10.7.
Al Quran Surat As Sajdah/ 32: 13
وَلَوْ شِئْنَا لَآتَيْنَا كُلَّ نَفْسٍ هُدَاهَا
وَلَٰكِنْ حَقَّ الْقَوْلُ مِنِّي لَأَمْلَأَنَّ جَهَنَّمَ مِنَ الْجِنَّةِ
وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ
Artinya: Dan kalau Kami
menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk, akan
tetapi telah tetaplah perkataan dari pada-Ku: "Sesungguhnya akan Aku
penuhi neraka jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama". (QS. As Sajdah/ 32: 13)
Kesadaran bahwa orang yang
dapat menerima hidayah hanya atas kehendak Allah, merupakan bentuk ketaqwaan di
tingkat +9; hidayah.
10.8.
Al Quran Surat Az Zumar/ 39: 41
إِنَّا أَنزَلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ لِلنَّاسِ
بِالْحَقِّ فَمَنِ اهْتَدَىٰ فَلِنَفْسِهِ وَمَن ضَلَّ فَإِنَّمَا يَضِلُّ
عَلَيْهَا وَمَا أَنتَ عَلَيْهِم بِوَكِيلٍ
Artinya: Sesungguhnya Kami
menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk manusia dengan membawa kebenaran;
siapa yang mendapat petunjuk maka (petunjuk itu) untuk dirinya sendiri,
dan siapa yang sesat maka sesungguhnya dia semata-mata sesat buat (kerugian)
dirinya sendiri, dan kamu sekali-kali bukanlah orang yang bertanggung jawab
terhadap mereka. (QS. Az Zumar/ 39: 41)
Kesadaran dalam diri untuk
mengakui dan mengikuti petunjuk kebenaran yang ada dalam kitab Allah; Al Quran,
merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +9; hidayah.
Di dalam Al Quran ditemukan
11 kata jannah atau kata lain yang memiliki pengertian yang sama dengan jannah
yang berdampingan dengan kata nafs di dalam satu ayat Al Qur’an, yang dapat
diklasifikasikan ke dalam klasifikasi taqwa level +10; jannah,
ayat-ayat tersebut adalah sebagai
berikut;
11.1.
Al Quran Surat An Nisa’/ 4: 95
لَّا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ
وَأَنفُسِهِمْ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ
عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ وَفَضَّلَ
اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا
Artinya: Tidaklah sama
antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai 'uzur
dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan
jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya
atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah
menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang
berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (QS. An Nisa’/ 4: 95)
Kesadaran untuk senantiasa
berjihad; berjuang dengan harta dan jiwa di jalan Allah, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +10; jannah.
11.2.
Al Quran Surat Al A’raf/ 7: 42
وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَا
نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ هُمْ
فِيهَا خَالِدُونَ
Artinya: dan orang-orang
yang beriman dan mengerjakan amal-amal yang saleh, Kami tidak memikulkan
kewajiban kepada diri seseorang melainkan sekedar kesanggupannya, mereka itulah
penghuni-penghuni surga; mereka kekal di dalamnya. (QS. Al A’raf/ 7: 42)
Kesadaran untuk beriman dan
mengerjakan amal shalih sesuai kemampuan optimalnya, merupakan bentuk ketaqwaan
di tingkat +10; jannah.
11.3.
Al Quran Surat At Taubah/ 9: 20
الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي
سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِندَ اللَّهِ
وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ
Artinya: orang-orang yang
beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan
diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah
orang-orang yang mendapat kemenangan. (QS. At Taubah/ 9: 20)
Kesadaran untuk senantiasa
berjihad; berjuang dengan harta dan jiwa di jalan Allah, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +10; jannah.
11.4.
Al Quran Surat At Taubah/ 9: 41
انفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا
بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ذَٰلِكُمْ
خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya: Berangkatlah kamu
baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan
harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu,
jika kamu mengetahui. (QS. At Taubah/ 9: 41)
Kesadaran untuk bersedia
berjihad; berjuang dengan harta dan jiwa di jalan Allah, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +10; jannah.
11.5.
Al Quran Surat At Taubah/ 9: 44
لَا يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ أَن يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ
وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِالْمُتَّقِينَ
Artinya: Orang-orang yang
beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta izin kepadamu untuk
tidak ikut berjihad dengan harta dan diri mereka. Dan Allah mengetahui
orang-orang yang bertakwa. (QS. At Taubah/ 9: 44)
Kesadaran untuk bersedia
berjihad; berjuang dengan harta dan jiwa di jalan Allah, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +10; jannah.
11.6.
Al Quran Surat At Taubah/ 9: 88
لَٰكِنِ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ جَاهَدُوا
بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ وَأُولَٰئِكَ لَهُمُ الْخَيْرَاتُ وَأُولَٰئِكَ
هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿التوبة: ٨٨﴾
Artinya: Tetapi Rasul dan
orang-orang yang beriman bersama dia, mereka berjihad dengan harta dan diri
mereka. Dan mereka itulah orang-orang yang memperoleh kebaikan, dan mereka
itulah orang-orang yang beruntung. (QS. At Taubah/ 9: 88)
Kesadaran untuk bersedia
berjihad; berjuang dengan harta dan jiwa di jalan Allah, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +10; jannah.
11.7.
Al Quran Surat At Taubah/ 9: 111
إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
أَنفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُم بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ
فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي
التَّوْرَاةِ وَالْإِنجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ
فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُم بِهِ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ
الْعَظِيمُ
Artinya: Sesungguhnya
Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan
memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka
membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di
dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya
(selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu
lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At Taubah/ 9: 111)
Kesadaran untuk bersedia
berperang; berjihad; berjuang dengan harta dan jiwa di jalan Allah, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +10; jannah.
11.8.
Al Quran Surat Al Anbiya/ 21: 102
لَا يَسْمَعُونَ حَسِيسَهَا وَهُمْ فِي مَا
اشْتَهَتْ أَنفُسُهُمْ خَالِدُونَ
Artinya: mereka tidak
mendengar sedikitpun suara api neraka, dan mereka kekal dalam menikmati apa
yang diingini oleh mereka. (QS. Al Anbiya/ 21: 102)
Pahala dari ketaqwaan di
dunia adalah dimasukkan ke dalam surga yang kekal dengan diberikan segala
kenikmatan yang diinginkannya.
11.9.
Al Quran Surat Az Zukhruf/ 43: 71
يُطَافُ عَلَيْهِم بِصِحَافٍ مِّن ذَهَبٍ
وَأَكْوَابٍ وَفِيهَا مَا تَشْتَهِيهِ الْأَنفُسُ وَتَلَذُّ الْأَعْيُنُ
وَأَنتُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ﴿الزخرف: ٧١﴾
Artinya: Diedarkan kepada
mereka piring-piring dari emas, dan piala-piala dan di dalam surga itu terdapat
segala apa yang diingini oleh hati dan sedap (dipandang) mata dan kamu kekal di
dalamnya". (QS. Az Zukhruf/ 43: 71)
Pahala dari ketaqwaan di
dunia adalah dimasukkan ke dalam surga yang kekal dengan diberikan segala
kenikmatan yang diinginkannya.
11.10.
Al Quran Surat Al Hujurat/ 49: 15
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا
بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ
وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ
Artinya: Sesungguhnya
orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada
Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang
(berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah
orang-orang yang benar. (QS. Al Hujurat/ 49: 15)
Kesadaran untuk bersedia
berjihad; berjuang dengan harta dan jiwa di jalan Allah, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +10;
jannah.
11.11.
Al Quran Surat Ash Shaf/ 61: 11
تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ
فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ
إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya: (yaitu) kamu
beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan
jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (QS. Ash Shaf/ 61:
11)
Kesadaran untuk bersedia
berjihad; berjuang dengan harta dan jiwa di jalan Allah, merupakan bentuk ketaqwaan di tingkat +10; jannah.
Di dalam Al Quran ditemukan 5
kata yang menunjukkan pada pengertian ananiyah (Ego, ujub, riya, kibr)
yang berdampingan dengan kata nafs di dalam satu ayat Al Qur’an, yang
dapat diklasifikasikan ke dalam klasifikasi taqwa level -1; ananiah,
ayat-ayat tersebut adalah sebagai
berikut;
12.1.
Al Quran Surat Al Baqarah/ 2: 87
وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا
مِن بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ
وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا
تَهْوَىٰ أَنفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا
تَقْتُلُونَ ﴿البقرة: ٨٧﴾
Artinya: Dan sesungguhnya
Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah
menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami
berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami
memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul
membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu
menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa
orang (yang lain) kamu bunuh? (QS. Al Baqarah/ 2: 87)
Tidak percaya kepada Rasul
karena tidak sesuai dengan keinginannya, lalu sombong dan mendustakannya,
merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -1; ananiyah.
12.2.
Al Quran Surat An Nisa’/ 4: 128
وَإِنِ امْرَأَةٌ خَافَتْ مِن بَعْلِهَا نُشُوزًا
أَوْ إِعْرَاضًا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًا
وَالصُّلْحُ خَيْرٌ وَأُحْضِرَتِ الْأَنفُسُ الشُّحَّ وَإِن تُحْسِنُوا
وَتَتَّقُوا فَإِنَّ اللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًا
Artinya: Dan jika seorang
wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak
mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan
perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya
kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu
(dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha
Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. An Nisa’/ 4: 128)
Bersikap kikir adalah
dorongan untuk lebih mementingkan dirinya sendiri, hal ini merupakan bentuk
ketidak taqwaan di level -1; ananiyah.
12.3.
Al Quran Surat Al Furqan/ 25: 21
وَقَالَ الَّذِينَ لَا يَرْجُونَ لِقَاءَنَا
لَوْلَا أُنزِلَ عَلَيْنَا الْمَلَائِكَةُ أَوْ نَرَىٰ رَبَّنَا لَقَدِ
اسْتَكْبَرُوا فِي أَنفُسِهِمْ وَعَتَوْا عُتُوًّا كَبِيرًا
Artinya: Berkatalah
orang-orang yang tidak menanti-nanti pertemuan(nya) dengan Kami:
"Mengapakah tidak diturunkan kepada kita malaikat atau (mengapa) kita
(tidak) melihat Tuhan kita?" Sesungguhnya mereka memandang besar tentang
diri mereka dan mereka benar-benar telah melampaui batas(dalam melakukan)
kezaliman". (QS. Al Furqan/ 25: 21)
Memandang besar dirinya
sendiri; sombong, merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -1; ananiyah.
12.4.
Al Quran Surat Muhammad/ 47: 38
هَا أَنتُمْ هَٰؤُلَاءِ تُدْعَوْنَ لِتُنفِقُوا
فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَمِنكُم مَّن يَبْخَلُ وَمَن يَبْخَلْ فَإِنَّمَا
يَبْخَلُ عَن نَّفْسِهِ وَاللَّهُ الْغَنِيُّ وَأَنتُمُ الْفُقَرَاءُ وَإِن
تَتَوَلَّوْا يَسْتَبْدِلْ قَوْمًا غَيْرَكُمْ ثُمَّ لَا يَكُونُوا أَمْثَالَكُم
Artinya: Ingatlah, kamu
ini orang-orang yang diajak untuk menafkahkan (hartamu) pada jalan Allah. Maka
di antara kamu ada yang kikir, dan siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah
kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah yang Maha Kaya sedangkan kamulah
orang-orang yang berkehendak (kepada-Nya); dan jika kamu berpaling niscaya Dia
akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain; dan mereka tidak akan seperti kamu
ini. (QS. Muhammad/ 47: 38)
Bersikap kikir adalah
dorongan untuk lebih mementingkan dirinya sendiri, hal ini merupakan bentuk
ketidak taqwaan di level -1; ananiyah.
12.5.
Al Quran Surat An Najm/ 53: 32
الَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَائِرَ الْإِثْمِ
وَالْفَوَاحِشَ إِلَّا اللَّمَمَ إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ هُوَ
أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌ فِي
بُطُونِ أُمَّهَاتِكُمْ فَلَا تُزَكُّوا أَنفُسَكُمْ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ
اتَّقَىٰ
Artinya: (Yaitu)
orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari
kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia
lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan
ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan
dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (QS. An
Najm/ 53: 32)
Menganggap dirinya suci
padahal memiliki banyak kesalahan, merupakan bentuk ketidak taqwaan di level
-1; ananiyah.
Di dalam Al Quran ditemukan 3
kata yang menunjukkan pada pengertian ghadab (marah) yang berdampingan
dengan kata nafs di dalam satu ayat Al Qur’an, yang dapat
diklasifikasikan ke dalam klasifikasi taqwa level -2; ghadab,
ayat-ayat tersebut adalah sebagai
berikut;
13.1.
Al Quran Surat Ali Imran/ 3: 61
فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِن بَعْدِ مَا جَاءَكَ
مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ
وَنِسَاءَنَا وَنِسَاءَكُمْ وَأَنفُسَنَا وَأَنفُسَكُمْ ثُمَّ نَبْتَهِلْ
فَنَجْعَل لَّعْنَتَ اللَّهِ عَلَى الْكَاذِبِينَ
Artinya: Siapa yang
membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka
katakanlah (kepadanya): "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan
anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri
kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya
laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. Ali Imran/ 3: 61)
Bermubahalah untuk
menyembunyikan kedustaan (dengan kemarahan) merupakan bentuk ketidak taqwaan di
level -2; Ghadab.
13.2.
Al Quran Surat Al Mu’min/ 40: 10
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنَادَوْنَ لَمَقْتُ
اللَّهِ أَكْبَرُ مِن مَّقْتِكُمْ أَنفُسَكُمْ إِذْ تُدْعَوْنَ إِلَى
الْإِيمَانِ فَتَكْفُرُونَ
Artinya: Sesungguhnya
orang-orang yang kafir diserukan kepada mereka (pada hari kiamat):
"Sesungguhnya kemurkaan Allah (kepadamu) lebih besar daripada kemurkanmu
kepada dirimu sendiri karena kamu diseru untuk beriman lalu kamu kafir".
(QS. Al Mu’min/ 40: 10)
Kemurkaan; kemarahan kepada
diri sendiri karena kecewa dengan diri sendiri, merupakan bentuk ketidak
taqwaan di level -2; Ghadab.
13.3.
Al Quran Surat Al Baqarah/ 2: 109
وَدَّ كَثِيرٌ مِّنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ
يَرُدُّونَكُم مِّن بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِّنْ عِندِ
أَنفُسِهِم مِّن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ فَاعْفُوا وَاصْفَحُوا
حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
Artinya: Sebahagian besar
Ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran
setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri,
setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka,
sampai Allah mendatangkan perintah-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas
segala sesuatu. (QS. Al Baqarah/ 2: 109)
Hasad timbul karena kemarahan
atas kenikmatan yang diperoleh orang lain, merupakan bentuk ketidak
taqwaan di level -2; Ghadab.
Di dalam Al Quran ditemukan 9
kata yang menunjukkan pada pengertian syahwat (hawa nafsu) yang
berdampingan dengan kata nafs di dalam satu ayat Al Qur’an, yang dapat
diklasifikasikan ke dalam klasifikasi taqwa level -3; syahwat,
ayat-ayat tersebut adalah sebagai
berikut;
14.1.
Al Quran Surat Al Baqarah/ 2: 87
وَلَقَدْ آتَيْنَا مُوسَى الْكِتَابَ وَقَفَّيْنَا
مِن بَعْدِهِ بِالرُّسُلِ وَآتَيْنَا عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ الْبَيِّنَاتِ
وَأَيَّدْنَاهُ بِرُوحِ الْقُدُسِ أَفَكُلَّمَا جَاءَكُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا
تَهْوَىٰ أَنفُسُكُمُ اسْتَكْبَرْتُمْ فَفَرِيقًا كَذَّبْتُمْ وَفَرِيقًا
تَقْتُلُونَ
Artinya: Dan sesungguhnya
Kami telah mendatangkan Al Kitab (Taurat) kepada Musa, dan Kami telah
menyusulinya (berturut-turut) sesudah itu dengan rasul-rasul, dan telah Kami
berikan bukti-bukti kebenaran (mukjizat) kepada Isa putera Maryam dan Kami
memperkuatnya dengan Ruhul Qudus. Apakah setiap datang kepadamu seorang rasul
membawa sesuatu (pelajaran) yang tidak sesuai dengan keinginanmu lalu kamu
menyombong; maka beberapa orang (diantara mereka) kamu dustakan dan beberapa
orang (yang lain) kamu bunuh? (QS. Al Baqarah/ 2: 87)
Tidak percaya kepada Rasul
karena tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsunya, , merupakan bentuk ketidak
taqwaan di level -3; syahwat.
14.2.
Al Quran Surat An Nisa’/ 4: 79
مَّا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا
أَصَابَكَ مِن سَيِّئَةٍ فَمِن نَّفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا
وَكَفَىٰ بِاللَّهِ شَهِيدًا
Artinya: Apa saja kebaikan
yang kamu dapatkan adalah dari Allah, dan apa saja keburukan yang kamu
dapatkan, adalah dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul
kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi. (QS. An Nisa’/ 4: 79)
Amal perbuatan tidak baik
adalah disebabkan hawa nafsu manusia sendiri, hal ini juga merupakan bentuk
ketidak taqwaan di level -3; syahwat.
14.3.
Al Quran Surat Al Maidah/ 5: 30
فَطَوَّعَتْ لَهُ نَفْسُهُ قَتْلَ أَخِيهِ
فَقَتَلَهُ فَأَصْبَحَ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Artinya: Maka hawa nafsu
Qabil menjadikannya menganggap mudah membunuh saudaranya, sebab itu
dibunuhnyalah, maka jadilah ia seorang diantara orang-orang yang merugi. (QS.
Al Maidah/ 5: 30)
Tunduk kepada hawa nafsu
merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -3; syahwat.
14.4.
Al Quran Surat Al Maidah/ 5: 70
لَقَدْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ
وَأَرْسَلْنَا إِلَيْهِمْ رُسُلًا كُلَّمَا جَاءَهُمْ رَسُولٌ بِمَا لَا
تَهْوَىٰ أَنفُسُهُمْ فَرِيقًا كَذَّبُوا وَفَرِيقًا يَقْتُلُونَ
Artinya: Sesungguhnya Kami
telah mengambil perjanjian dari Bani Israil, dan telah Kami utus kepada mereka
rasul-rasul. Tetapi setiap datang seorang rasul kepada mereka dengan membawa
apa yang yang tidak diingini oleh hawa nafsu mereka, (maka) sebagian dari
rasul-rasul itu mereka dustakan dan sebagian yang lain mereka bunuh. (QS. Al
Maidah/ 5: 70)
Tidak percaya kepada Rasul
karena tidak sesuai dengan keinginan hawa nafsunya, merupakan bentuk ketidak
taqwaan di level -3; syahwat.
14.5.
Al Quran Surat Al An’am/ 6: 130
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ أَلَمْ
يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي وَيُنذِرُونَكُمْ
لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا قَالُوا شَهِدْنَا عَلَىٰ أَنفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا
كَافِرِينَ
Artinya: Hai golongan jin
dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu
sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan
kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: "Kami
menjadi saksi atas diri kami sendiri", kehidupan dunia telah menipu
mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah
orang-orang yang kafir. (QS. Al An’am/ 6: 130)
Tertipu dengan kehidupan
dunia, merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -3; syahwat.
14.6.
Al Quran Surat Yusuf/ 12: 53
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ
لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي
غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya: Dan aku tidak
membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu
menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.
Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang. (QS. Yusuf/ 12: 53)
Mengikuti nafsu untuk berbuat
keburukan, merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -3; syahwat.
14.7.
Al Quran Surat Thaha/ 20: 96
قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوا بِهِ
فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِّنْ أَثَرِ الرَّسُولِ فَنَبَذْتُهَا وَكَذَٰلِكَ سَوَّلَتْ
لِي نَفْسِي
Artinya: Samiri menjawab:
"Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil
segenggam dari jejak rasul lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku
membujukku".(QS. Thaha/ 20: 96)
Terbujuk nafsu, merupakan
bentuk ketidak taqwaan di level -3; syahwat.
14.8.
Al Quran Surat An Najm/ 53: 23
إِنْ هِيَ إِلَّا أَسْمَاءٌ سَمَّيْتُمُوهَا
أَنتُمْ وَآبَاؤُكُم مَّا أَنزَلَ اللَّهُ بِهَا مِن سُلْطَانٍ إِن يَتَّبِعُونَ
إِلَّا الظَّنَّ وَمَا تَهْوَى الْأَنفُسُ وَلَقَدْ جَاءَهُم مِّن
رَّبِّهِمُ الْهُدَىٰ
Artinya: Itu tidak lain
hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak
menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah)nya. Mereka tidak lain hanyalah
mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan
sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. (QS. An
Najm/ 53: 23)
Mengikuti persangkaan dan
keinginan hawa nafsu, merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -3; syahwat.
14.9.
Al Quran Surat An Nazi’at/ 79: 40
وَأَمَّا مَنْ خَافَ مَقَامَ رَبِّهِ وَنَهَى
النَّفْسَ عَنِ الْهَوَىٰ
Artinya: Dan adapun
orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari
keinginan hawa nafsunya, (An Nazi’at/ 79: 40)
Tidak dapat menahan hawa
nafsu, merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -3; syahwat.
Di dalam Al Quran ditemukan 6
kata yang menunjukkan pada pengertian khauf (takut dalam pengertian
negatif) yang berdampingan dengan kata nafs di dalam satu ayat Al
Qur’an, yang dapat diklasifikasikan ke dalam klasifikasi taqwa level -4; khauf,
ayat-ayat tersebut adalah sebagai
berikut;
15.1.
Al Quran Surat Al Baqarah/ 2: 155
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ
وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ
وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
Artinya: Dan sungguh akan
Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan
harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang
yang sabar. (QS. Al Baqarah/ 2: 155)
Ketakutan dengan kondisi yang
akan di alami di dunia melebihi takutnya kepada Allah, merupakan bentuk ketidak
taqwaan di level -4; khauf.
15.2.
Al Quran Surat Ali Imran/ 3: 154
ثُمَّ
أَنزَلَ عَلَيْكُم مِّن بَعْدِ الْغَمِّ أَمَنَةً نُّعَاسًا يَغْشَىٰ طَائِفَةً
مِّنكُمْ وَطَائِفَةٌ قَدْ أَهَمَّتْهُمْ أَنفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ
الْحَقِّ ظَنَّ الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ الْأَمْرِ مِن شَيْءٍ
قُلْ إِنَّ الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنفُسِهِم مَّا لَا
يُبْدُونَ لَكَ يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا
هَاهُنَا قُل لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ
عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي
صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ
الصُّدُورِ
Artinya: Kemudian setelah
kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang
meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan
oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah
seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang
sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?". Katakanlah:
"Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah". Mereka
menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu;
mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur
tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di
sini". Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya
orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke
tempat mereka terbunuh". Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa
yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah
Maha Mengetahui isi hati. (QS. Ali Imran/ 3: 154)
Perasaan takut (bukan kepada
Allah) yang tersembunyi dalam diri dalam menghadapi permasalahan kehidupan
dunia, merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -4; khauf..
15.3.
Al Quran Surat Thaha/ 20: 67
فَأَوْجَسَ فِي نَفْسِهِ خِيفَةً مُّوسَىٰ
Artinya: Maka Musa merasa
takut dalam hatinya. (QS. Thaha/ 20: 67)
Ketakutan dengan kondisi yang
dihadapi di dunia melebihi takutnya kepada Allah, merupakan bentuk ketidak
taqwaan di level -4; khauf..
15.4.
Al Quran Surat Ar Rum/ 30: 28
ضَرَبَ لَكُم مَّثَلًا مِّنْ أَنفُسِكُمْ هَل
لَّكُم مِّن مَّا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُم مِّن شُرَكَاءَ فِي مَا رَزَقْنَاكُمْ
فَأَنتُمْ فِيهِ سَوَاءٌ تَخَافُونَهُمْ كَخِيفَتِكُمْ أَنفُسَكُمْ
كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Artinya: Dia membuat
perumpamaan untuk kamu dari dirimu sendiri. Apakah ada diantara hamba-sahaya
yang dimiliki oleh tangan kananmu, sekutu bagimu dalam (memiliki) rezeki yang
telah Kami berikan kepadamu; maka kamu sama dengan mereka dalam (hak
mempergunakan) rezeki itu, kamu takut kepada mereka sebagaimana kamu takut
kepada dirimu sendiri? Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat bagi kaum yang
berakal. (QS. Ar Rum/ 30: 28)
Takut kepada diri sendiri
melebihi takutnya kepada Allah, merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -4; khauf.
15.5.
Al Quran Surat Al Ahzab/ 33: 37
وَإِذْ تَقُولُ لِلَّذِي أَنْعَمَ اللَّهُ
عَلَيْهِ وَأَنْعَمْتَ عَلَيْهِ أَمْسِكْ عَلَيْكَ زَوْجَكَ وَاتَّقِ اللَّهَ
وَتُخْفِي فِي نَفْسِكَ مَا اللَّهُ مُبْدِيهِ وَتَخْشَى النَّاسَ وَاللَّهُ
أَحَقُّ أَن تَخْشَاهُ فَلَمَّا قَضَىٰ زَيْدٌ مِّنْهَا وَطَرًا
زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لَا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ
أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ
مَفْعُولًا
Artinya: Dan (ingatlah),
ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah melimpahkan nikmat kepadanya
dan kamu (juga) telah memberi nikmat kepadanya: "Tahanlah terus isterimu
dan bertakwalah kepada Allah", sedang kamu menyembunyikan di dalam hatimu
apa yang Allah akan menyatakannya, dan kamu takut kepada manusia, sedang
Allah-lah yang lebih berhak untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah
mengakhiri keperluan terhadap istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu
dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini)
isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah
menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah ketetapan Allah itu
pasti terjadi. (QS. Al Ahzab/ 33: 37)
Lebih takut kepada manusia
daripada takut kepada Allah, merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -4; khauf.
15.6.
Al Quran Surat Qaf/ 50: 16
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنسَانَ وَنَعْلَمُ مَا
تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Artinya: Dan sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya,
dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (QS. Qaf/ 50: 16)
Mengikuti was-was yang ada di
dalam hati, merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -4; khauf.
Di dalam Al Quran ditemukan 4
kata yang menunjukkan pada pengertian huzn (kesedihan) yang berdampingan
dengan kata nafs di dalam satu ayat Al Qur’an, yang dapat
diklasifikasikan ke dalam klasifikasi taqwa level -5; huzn,
ayat-ayat tersebut adalah sebagai
berikut;
16.1.
Al Quran Surat Ali Imran/ 3: 154
ثُمَّ أَنزَلَ عَلَيْكُم مِّن بَعْدِ الْغَمِّ
أَمَنَةً نُّعَاسًا يَغْشَىٰ طَائِفَةً مِّنكُمْ وَطَائِفَةٌ قَدْ
أَهَمَّتْهُمْ أَنفُسُهُمْ يَظُنُّونَ بِاللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ ظَنَّ
الْجَاهِلِيَّةِ يَقُولُونَ هَل لَّنَا مِنَ الْأَمْرِ مِن شَيْءٍ قُلْ إِنَّ
الْأَمْرَ كُلَّهُ لِلَّهِ يُخْفُونَ فِي أَنفُسِهِم مَّا لَا يُبْدُونَ لَكَ
يَقُولُونَ لَوْ كَانَ لَنَا مِنَ الْأَمْرِ شَيْءٌ مَّا قُتِلْنَا هَاهُنَا قُل
لَّوْ كُنتُمْ فِي بُيُوتِكُمْ لَبَرَزَ الَّذِينَ كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقَتْلُ
إِلَىٰ مَضَاجِعِهِمْ وَلِيَبْتَلِيَ اللَّهُ مَا فِي صُدُورِكُمْ وَلِيُمَحِّصَ
مَا فِي قُلُوبِكُمْ وَاللَّهُ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ
Artinya: Kemudian setelah
kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang
meliputi segolongan dari pada kamu, sedang segolongan lagi telah dicemaskan
oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah
seperti sangkaan jahiliyah. Mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang
sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?". Katakanlah:
"Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah". Mereka
menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu;
mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur
tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di
sini". Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya
orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke
tempat mereka terbunuh". Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa
yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah
Maha Mengetahui isi hati. (QS. Ali Imran/ 3: 154)
Kecemasan pada diri sendiri
dan persangkaan yang tidak benar terhadap Allah seperti persangkaan jahiliyah,
merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -5; huzn.
16.2.
Al Quran Surat Al Maidah/ 5: 52
فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ
يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَىٰ أَن تُصِيبَنَا دَائِرَةٌ فَعَسَى
اللَّهُ أَن يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِّنْ عِندِهِ فَيُصْبِحُوا عَلَىٰ
مَا أَسَرُّوا فِي أَنفُسِهِمْ نَادِمِينَ
Artinya: Maka kamu akan
melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik)
bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami
takut akan mendapat bencana". Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan
kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka
karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam
diri mereka. (QS. Al Maidah/ 5: 52)
Penyesalan terhadap diri
sendiri (bukan untuk taubat), merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -5; huzn.
16.3.
Al Quran Surat Al Qiyamah/ 75: 2
وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ ﴿القيامة:
٢﴾
Artinya: dan aku bersumpah
dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri). (QS. Al Qiyamah/ 75: 2)
Penyesalan terhadap diri
sendiri (bukan untuk taubat), merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -5; huzn.
16.4.
Al Quran Surat Al Hujurat/ 49: 11
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ
قَوْمٌ مِّن قَوْمٍ عَسَىٰ أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِّن
نِّسَاءٍ عَسَىٰ أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ
وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ
وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Artinya: Hai orang-orang
yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang
lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula
sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan
itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil
dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah
(panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka
mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. Al Hujurat/ 49: 11)
Mencela diri sendiri,
merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -5; huzn.
Di dalam Al Quran ditemukan 5
kata yang menunjukkan pada pengertian taiasu (putus asa) yang
berdampingan dengan kata nafs di dalam satu ayat Al Qur’an, yang dapat
diklasifikasikan ke dalam klasifikasi taqwa level -6; taiasu,
ayat-ayat tersebut adalah sebagai
berikut;
17.1.
Al Quran Surat At Taubah/ 9: 118
وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّىٰ
إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ
أَنفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَن لَّا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ
تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Artinya: Dan terhadap tiga
orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah
menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah
sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada
tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah
menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya
Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. (QS. At Taubah/ 9:
118)
Merasa sempit hati dalam
menghadapi kehidupan dan merasa tidak dapat ampunan dan pertolongan Allah,
merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -6; taiasu.
17.2.
Al Quran Surat Al Kahfi/ 18: 6
فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ عَلَىٰ
آثَارِهِمْ إِن لَّمْ يُؤْمِنُوا بِهَٰذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا
Artinya: Maka (apakah)
barangkali kamu akan membunuh dirimu karena bersedih hati setelah mereka
berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran).
(QS. Al Kahfi/ 18: 6)
Ingin bunuh diri karena sedih
merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -6; taiasu.
17.3.
Al Quran Surat Asy Su’ara/ 26: 3
لَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَّفْسَكَ أَلَّا
يَكُونُوا مُؤْمِنِينَ
Artinya: Boleh jadi kamu
(Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman. (QS. Asy
Su’ara/ 26: 3)
Ingin membinasakan diri;
bunuh diri merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -6; taiasu.
17.4.
Al Quran Surat Az Zumar/ 39: 53
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا
عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ
يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya: Katakanlah:
"Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (QS. Az Zumar/ 39: 53)
Berputus asa dari rahmat
Allah merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -6; taiasu.
17.5.
Al Quran Surat An Nahl/ 16: 7
وَتَحْمِلُ أَثْقَالَكُمْ إِلَىٰ بَلَدٍ لَّمْ
تَكُونُوا بَالِغِيهِ إِلَّا بِشِقِّ الْأَنفُسِ إِنَّ رَبَّكُمْ لَرَءُوفٌ
رَّحِيمٌ
Artinya: Dan ia memikul
beban-bebanmu ke suatu negeri yang kamu tidak sanggup sampai kepadanya,
melainkan dengan kesukaran-kesukaran (yang memayahkan) diri. Sesungguhnya
Tuhanmu benar-benar Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, (QS. An Nahl/ 16: 7)
Merasa hidup sebagai beban
yang memberatkan diri merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -6; taiasu.
Di dalam Al Quran ditemukan
10 kata fasiq atau kata lain yang menunjukkan pada pengertian fasiq yang
berdampingan dengan kata nafs di dalam satu ayat Al Qur’an, yang dapat
diklasifikasikan ke dalam klasifikasi taqwa level -7; fasiq,
ayat-ayat tersebut adalah sebagai
berikut;
18.1.
Al Quran Surat Al Baqarah/ 2: 9
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا
يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
Artinya: Mereka hendak
menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu dirinya
sendiri sedang mereka tidak sadar. (QS. Al Baqarah/ 2: 9)
Menipu Allah dan menipu orang
beriman sama dengan menipu diri sendiri, merupakan bentuk ketidak taqwaan di
level -7; fasiq.
18.2.
Al Quran Surat Al Baqarah/ 2: 44
أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنسَوْنَ
أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ الْكِتَابَ أَفَلَا
تَعْقِلُونَ
Artinya: Mengapa kamu
suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri
(kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah
kamu berpikir? (QS. Al Baqarah/ 2: 44)
Menyuruh orang lain berbuat
baik tetapi dirinya sendiri melakukan kebaikan, merupakan bentuk ketidak
taqwaan di level -7; fasiq.
18.3.
Al Quran Surat An Nisa’: 4: 107
وَلَا تُجَادِلْ عَنِ الَّذِينَ يَخْتَانُونَ
أَنفُسَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ خَوَّانًا أَثِيمًا
Artinya: Dan janganlah
kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi
bergelimang dosa, (QS. An Nisa’: 4: 107)
Mengkhianati dirinya sendiri
merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -7; fasiq.
18.4.
Al Quran Surat Al Maidah/ 5: 80
تَرَىٰ كَثِيرًا مِّنْهُمْ يَتَوَلَّوْنَ
الَّذِينَ كَفَرُوا لَبِئْسَ مَا قَدَّمَتْ لَهُمْ أَنفُسُهُمْ أَن سَخِطَ
اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَفِي الْعَذَابِ هُمْ خَالِدُونَ
Artinya: Kamu melihat
kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik).
Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu
kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. (QS. Al
Maidah/ 5: 80)
Mengaku beriman tetapi kafir
diambil/ dipilih menjadi teman dekat, pelindung atau pemimpin merupakan bentuk
ketidak taqwaan di level -7; fasiq.
18.5.
Al Quran Surat Al An’am/ 6: 158
هَلْ يَنظُرُونَ إِلَّا أَن تَأْتِيَهُمُ
الْمَلَائِكَةُ أَوْ يَأْتِيَ رَبُّكَ أَوْ يَأْتِيَ بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ يَوْمَ
يَأْتِي بَعْضُ آيَاتِ رَبِّكَ لَا يَنفَعُ نَفْسًا إِيمَانُهَا لَمْ تَكُنْ
آمَنَتْ مِن قَبْلُ أَوْ كَسَبَتْ فِي إِيمَانِهَا خَيْرًا قُلِ انتَظِرُوا
إِنَّا مُنتَظِرُونَ
Yang mereka nanti-nanti tidak
lain hanyalah kedatangan malaikat kepada mereka (untuk mencabut nyawa mereka)
atau kedatangan (siksa) Tuhanmu atau kedatangan beberapa ayat Tuhanmu. Pada
hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang
kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu, atau dia (belum)
mengusahakan kebaikan dalam masa imannya. Katakanlah: "Tunggulah olehmu
sesungguhnya Kamipun menunggu (pula)". (QS. Al An’am/ 6: 158)
Tidak bermanfaat iman yang
datang pada saat menjelang ajal, karena hal tersebut merupakan bentuk ketidak
taqwaan di level -7; fasiq.
18.6.
Al Quran Surat At Taubah/ 9: 42
لَوْ كَانَ عَرَضًا قَرِيبًا وَسَفَرًا قَاصِدًا
لَّاتَّبَعُوكَ وَلَٰكِن بَعُدَتْ عَلَيْهِمُ الشُّقَّةُ وَسَيَحْلِفُونَ
بِاللَّهِ لَوِ اسْتَطَعْنَا لَخَرَجْنَا مَعَكُمْ يُهْلِكُونَ أَنفُسَهُمْ
وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ
Artinya: Kalau yang kamu
serukan kepada mereka itu keuntungan yang mudah diperoleh dan perjalanan yang
tidak seberapa jauh, pastilah mereka mengikutimu, tetapi tempat yang dituju itu
amat jauh terasa oleh mereka. Mereka akan bersumpah dengan (nama) Allah:
"Jikalau kami sanggup tentulah kami berangkat bersama-samamu". Mereka
membinasakan diri mereka sendiri dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya mereka
benar-benar orang-orang yang berdusta. (QS. At Taubah/ 9: 42)
mengaku tidak sanggup dan
merasa berat untuk berjuang; bersungguh-sungguh di jalan Allah, merupakan
bentuk ketidak taqwaan di level -7; fasiq.
18.7.
Al Quran Surat An Naml/ 27: 14
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنفُسُهُمْ
ظُلْمًا وَعُلُوًّا فَانظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ
الْمُفْسِدِينَ
Artinya: Dan mereka
mengingkarinya karena kezaliman dan kesombongan (mereka) padahal hati mereka
meyakini (kebenaran)nya. Maka perhatikanlah betapa kesudahan orang-orang yang
berbuat kebinasaan. (QS. An Naml/ 27: 14)
Mengingkari hatinya karena
kesombongan dan kedzaliman, merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -7; fasiq.
18.8.
Al Quran Surat Az Zumar/ 39: 56
أَن تَقُولَ نَفْسٌ يَا حَسْرَتَا عَلَىٰ مَا
فَرَّطتُ فِي جَنبِ اللَّهِ وَإِن كُنتُ لَمِنَ السَّاخِرِينَ
Artinya: Supaya jangan ada
orang yang mengatakan: "Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam
(menunaikan kewajiban) terhadap Allah, sedang aku sesungguhnya termasuk
orang-orang yang memperolok-olokkan (agama Allah), (QS. Az Zumar/ 39: 56)
Memperolok-olok agama Allah,
merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -7; fasiq.
18.9.
Al Quran Surat Al Hadid/ 57: 14
يُنَادُونَهُمْ أَلَمْ نَكُن مَّعَكُمْ قَالُوا
بَلَىٰ وَلَٰكِنَّكُمْ فَتَنتُمْ أَنفُسَكُمْ وَتَرَبَّصْتُمْ
وَارْتَبْتُمْ وَغَرَّتْكُمُ الْأَمَانِيُّ حَتَّىٰ جَاءَ أَمْرُ اللَّهِ
وَغَرَّكُم بِاللَّهِ الْغَرُورُ
Artinya: Orang-orang
munafik itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata:
"Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?" Mereka menjawab:
"Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran
kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga
datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (syaitan)
yang amat penipu. (QS. Al Hadid/ 57: 14)
Mengaku bersama dengan orang
beriman padahal mereka tertipu angan-angan kosong, merupakan bentuk ketidak
taqwaan di level -7; fasiq.
18.10.
Al Quran Surat Al Hasr/ 59: 19
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ
فَأَنسَاهُمْ أَنفُسَهُمْ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya: Dan janganlah
kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka
lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. Al Hasr/
59: 19)
Melupakan Allah sehingga
mereka dilupakan terhadap dirinya sendiri, merupakan bentuk ketidak taqwaan di
level -7; fasiq.
Di dalam Al Quran ditemukan 21 kata dhalim
atau kata lain yang menunjukkan pada pengertian dhalim yang berdampingan dengan
kata nafs di dalam satu ayat Al Qur’an, yang dapat diklasifikasikan ke
dalam klasifikasi taqwa level -8; dhalim, ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut;
19.1.
Al Quran Surat Al Baqarah/ 2: 54
وَإِذْ قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ إِنَّكُمْ
ظَلَمْتُمْ أَنفُسَكُم بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوبُوا إِلَىٰ
بَارِئِكُمْ فَاقْتُلُوا أَنفُسَكُمْ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِندَ بَارِئِكُمْ
فَتَابَ عَلَيْكُمْ إِنَّهُ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ
Artinya: Dan (ingatlah),
ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah
menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu),
maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Hal
itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; maka Allah
akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang". (QS. Al Baqarah/ 2: 54)
Menjadikan anak lembu
(menjadi sembahan) merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -8; dhalim.
19.2.
Al Quran Surat Al Baqarah/ 2: 57
وَظَلَّلْنَا عَلَيْكُمُ الْغَمَامَ وَأَنزَلْنَا
عَلَيْكُمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَىٰ كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَمَا
ظَلَمُونَا وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Artinya: Dan Kami naungi
kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu "manna" dan
"salwa". Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami berikan
kepadamu; dan tidaklah mereka menganiaya Kami; akan tetapi merekalah yang
menganiaya diri mereka sendiri. (QS. Al Baqarah/ 2: 57)
Berbuat dhalim terhadap
dirinya sendiri merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -8; dhalim.
19.3.
Al Quran Surat Al Baqarah/ 2: 130
وَمَن يَرْغَبُ عَن مِّلَّةِ إِبْرَاهِيمَ إِلَّا
مَن سَفِهَ نَفْسَهُ وَلَقَدِ اصْطَفَيْنَاهُ فِي الدُّنْيَا وَإِنَّهُ فِي
الْآخِرَةِ لَمِنَ الصَّالِحِينَ
Artinya: Dan tidak ada
yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya
sendiri, dan sungguh Kami telah memilihnya di dunia dan sesungguhnya dia di
akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh. (QS. Al Baqarah/ 2: 130)
Memperbodoh dirinya sendiri
merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -8; dhalim.
19.4.
Al Quran Surat Al Baqarah/ 2: 231
وَإِذَا طَلَّقْتُمُ النِّسَاءَ فَبَلَغْنَ
أَجَلَهُنَّ فَأَمْسِكُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ أَوْ سَرِّحُوهُنَّ بِمَعْرُوفٍ وَلَا
تُمْسِكُوهُنَّ ضِرَارًا لِّتَعْتَدُوا وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَقَدْ ظَلَمَ
نَفْسَهُ وَلَا تَتَّخِذُوا آيَاتِ اللَّهِ هُزُوًا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ
اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمَا أَنزَلَ عَلَيْكُم مِّنَ الْكِتَابِ وَالْحِكْمَةِ
يَعِظُكُم بِهِ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ
عَلِيمٌ
Artinya: Apabila kamu
mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah
mereka dengan cara yang ma'ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma'ruf
(pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan
demikian kamu menganiaya mereka. Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia
telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan
hukum-hukum Allah permainan, dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang
telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah
memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah
kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.
(QS. Al Baqarah/ 2: 231)
Berbuat dhalim terhadap
dirinya sendiri dengan menjadikan hukum Allah sebagai permainan; merupakan
bentuk ketidak taqwaan di level -8; dhalim.
19.5.
Al Quran Surat Ali Imran/ 3: 117
مَثَلُ مَا يُنفِقُونَ فِي هَٰذِهِ الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا كَمَثَلِ رِيحٍ فِيهَا صِرٌّ أَصَابَتْ حَرْثَ قَوْمٍ ظَلَمُوا
أَنفُسَهُمْ فَأَهْلَكَتْهُ وَمَا ظَلَمَهُمُ اللَّهُ وَلَٰكِنْ
أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Artinya: Perumpamaan harta
yang mereka nafkahkan di dalam kehidupan dunia ini, adalah seperti perumpamaan
angin yang mengandung hawa yang sangat dingin, yang menimpa tanaman kaum yang
menganiaya diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menganiaya mereka,
akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. Ali Imran/ 3:
117)
Berbuat dhalim terhadap
dirinya sendiri merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -8; dhalim.
19.6.
Al Quran Surat An Nisa’/ 4: 111
وَمَن يَكْسِبْ إِثْمًا فَإِنَّمَا يَكْسِبُهُ
عَلَىٰ نَفْسِهِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا ﴿النساء: ١١١﴾
Artinya: Barangsiapa yang
mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan)
dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. An Nisa’/
4: 111)
Berbuat dosa; berbuat dosa
untuk dirinya sendiri merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -8; dhalim.
19.7.
Al Quran Surat Al A’raf/ 7: 9
وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ
الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُم بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ
Artinya: Dan siapa yang
ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya
sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami. (QS. Al A’raf/ 7:
9)
Merugikan diri sendiri dengan
cara berbuat dhalim terhadap ayat-ayat Al Quran, merupakan bentuk ketidak
taqwaan di level -8; dhalim.
19.8.
Al Quran Surat Al A’raf/ 7: 23
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا
وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Artinya: Keduanya berkata:
"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau
tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami
termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al A’raf/ 7: 23)
Berbuat dhalim terhadap
dirinya sendiri merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -8; dhalim.
19.9.
Al Quran Surat Al A’raf/ 7: 53
هَلْ يَنظُرُونَ إِلَّا تَأْوِيلَهُ يَوْمَ
يَأْتِي تَأْوِيلُهُ يَقُولُ الَّذِينَ نَسُوهُ مِن قَبْلُ قَدْ جَاءَتْ رُسُلُ
رَبِّنَا بِالْحَقِّ فَهَل لَّنَا مِن شُفَعَاءَ فَيَشْفَعُوا لَنَا أَوْ نُرَدُّ
فَنَعْمَلَ غَيْرَ الَّذِي كُنَّا نَعْمَلُ قَدْ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَضَلَّ
عَنْهُم مَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ
Artinya: Tiadalah mereka
menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al Quran itu. Pada hari
datangnya kebenaran pemberitaan Al Quran itu, berkatalah orang-orang yang
melupakannya sebelum itu: "Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan
kami membawa yang hak, maka adakah bagi kami pemberi syafa'at yang akan memberi
syafa'at bagi kami, atau dapatkah kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami
dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?". Sungguh mereka
telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan
yang mereka ada-adakan. (QS. Al A’raf/ 7: 53)
19.10.
Al Quran Surat Al A’raf/ 7: 160
وَقَطَّعْنَاهُمُ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ أَسْبَاطًا
أُمَمًا وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ مُوسَىٰ إِذِ اسْتَسْقَاهُ قَوْمُهُ أَنِ اضْرِب
بِّعَصَاكَ الْحَجَرَ فَانبَجَسَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًا قَدْ عَلِمَ
كُلُّ أُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْ وَظَلَّلْنَا عَلَيْهِمُ الْغَمَامَ وَأَنزَلْنَا
عَلَيْهِمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوَىٰ كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ
وَمَا ظَلَمُونَا وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Artinya: Dan mereka Kami
bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan Kami
wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: "Pukullah batu
itu dengan tongkatmu!". Maka memancarlah dari padanya duabelas mata air.
Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. Dan Kami
naungkan awan di atas mereka dan Kami turunkan kepada mereka manna dan salwa.
(Kami berfirman): "Makanlah yang baik-baik dari apa yang telah Kami
rezekikan kepadamu". Mereka tidak menganiaya Kami, tapi merekalah yang
selalu menganiaya dirinya sendiri. (QS. Al A’raf/ 7: 160)
19.11.
Al Quran Surat Al A’raf/ 7: 177
سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ كَذَّبُوا
بِآيَاتِنَا وَأَنفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ
Artinya: Amat buruklah
perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka
sendirilah mereka berbuat zalim. (QS. Al A’raf/ 7: 177)
19.12.
Al Quran Surat At Taubah/ 9: 36
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا
عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ
مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلَا تَظْلِمُوا
فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا
يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
Artinya: Sesungguhnya
bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di
waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah
(ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam
bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana
merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta
orang-orang yang bertakwa. (QS. At Taubah/ 9: 36)
19.13.
Al Quran Surat At Taubah/ 9: 70
أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِن
قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وَأَصْحَابِ
مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُم بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ
اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Artinya: Belumkah datang
kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu)
kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang
telah musnah?. Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan
yang nyata, maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi
merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri. (QS. At Taubah/ 9: 70)
Berbuat dhalim terhadap
dirinya sendiri merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -8; dhalim.
19.14.
Al Quran Surat Yunus/ 10: 23
فَلَمَّا أَنجَاهُمْ إِذَا هُمْ يَبْغُونَ فِي
الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا بَغْيُكُمْ عَلَىٰ
أَنفُسِكُم مَّتَاعَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ثُمَّ إِلَيْنَا مَرْجِعُكُمْ
فَنُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
Artinya: Maka tatkala
Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi
tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan
menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup
duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa
yang telah kamu kerjakan. (QS. Yunus/ 10: 23)
19.15.
Al Quran Surat Yunus/ 10: 44
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا وَلَٰكِنَّ
النَّاسَ أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Artinya: Sesungguhnya
Allah tidak berbuat zalim kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah
yang berbuat zalim kepada diri mereka sendiri. (QS. Yunus/ 10: 44)
Berbuat dhalim terhadap
dirinya sendiri merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -8; dhalim.
19.16.
Al Quran Surat Yunus/ 10: 54
وَلَوْ أَنَّ لِكُلِّ نَفْسٍ ظَلَمَتْ
مَا فِي الْأَرْضِ لَافْتَدَتْ بِهِ وَأَسَرُّوا النَّدَامَةَ لَمَّا رَأَوُا
الْعَذَابَ وَقُضِيَ بَيْنَهُم بِالْقِسْطِ وَهُمْ لَا يُظْلَمُونَ
Artinya: Dan kalau setiap
diri yang zalim (muayrik) itu mempunyai segala apa yang ada di bumi ini, tentu
dia menebus dirinya dengan itu, dan mereka membunyikan penyesalannya ketika
mereka telah menyaksikan azab itu. Dan telah diberi keputusan di antara mereka
dengan adil, sedang mereka tidak dianiaya. (QS. Yunus/ 10: 54)
Berbuat dhalim terhadap
dirinya sendiri merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -8; dhalim.
19.17.
Al Quran Surat Hud/ 11: 31
وَلَا أَقُولُ لَكُمْ عِندِي خَزَائِنُ اللَّهِ
وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ إِنِّي مَلَكٌ وَلَا أَقُولُ لِلَّذِينَ
تَزْدَرِي أَعْيُنُكُمْ لَن يُؤْتِيَهُمُ اللَّهُ خَيْرًا اللَّهُ أَعْلَمُ
بِمَا فِي أَنفُسِهِمْ إِنِّي إِذًا لَّمِنَ الظَّالِمِينَ
Artinya: Dan aku tidak
mengatakan kepada kamu (bahwa): "Aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan
kekayaan dari Allah, dan aku tiada mengetahui yang ghaib", dan tidak
(pula) aku mengatakan: "Bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat", dan
tidak juga aku mengatakan kepada orang-orang yang dipandang hina oleh
penglihatanmu: "Sekali-kali Allah tidak akan mendatangkan kebaikan kepada
mereka". Allah lebih mengetahui apa yang ada pada diri mereka;
sesungguhnya aku, kalau begitu benar-benar termasuk orang-orang yang zalim.
(QS. Hud/ 11: 31)
19.18.
Al Quran Surat Hud/ 11: 101
وَمَا ظَلَمْنَاهُمْ وَلَٰكِن ظَلَمُوا
أَنفُسَهُمْ فَمَا أَغْنَتْ عَنْهُمْ آلِهَتُهُمُ الَّتِي
يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مِن شَيْءٍ لَّمَّا جَاءَ أَمْرُ رَبِّكَ وَمَا
زَادُوهُمْ غَيْرَ تَتْبِيبٍ
Artinya: Dan Kami tidaklah
menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena
itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka
seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah
menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka. (QS. Hud/ 11: 101)
Berbuat dhalim terhadap
dirinya sendiri merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -8; dhalim.
19.19.
Al Quran Surat Ar Rum/ 30: 9
أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَيَنظُرُوا
كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ
قُوَّةً وَأَثَارُوا الْأَرْضَ وَعَمَرُوهَا أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا
وَجَاءَتْهُمْ رُسُلُهُم بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ
وَلَٰكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Artinya: Dan apakah mereka
tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan bagaimana akibat
(yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah
lebihkuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta
memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah
datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata.
Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah
yang berlaku zalim kepada diri sendiri. (QS. Ar Rum/ 30: 9)
Berbuat dhalim terhadap
dirinya sendiri merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -8; dhalim.
19.20.
Al Quran Surat Fathir/ 35: 32
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ
اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم
مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَٰلِكَ هُوَ
الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Artinya: Kemudian Kitab
itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba
Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di
antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih
dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia
yang amat besar. (QS. Fathir/ 35: 32)
Berbuat dhalim terhadap
dirinya sendiri merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -8; dhalim.
19.21.
Al Quran Surat Az Zumar/ 39: 53
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا
عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ
يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya: Katakanlah:
"Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri,
janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni
dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang. (QS. Az Zumar/ 39: 53)
Melampau batas terhadap
dirinya sendiri merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -8; dhalim.
Di dalam Al Quran ditemukan
14 kata kafir atau kata lain yang menunjukkan pada pengertian kafir
yang berdampingan dengan kata nafs di dalam satu ayat Al Qur’an, yang dapat
diklasifikasikan ke dalam klasifikasi taqwa level -9; kafir,
ayat-ayat tersebut adalah sebagai
berikut;
20.1.
Al Quran Surat Al Baqarah/ 2: 90
بِئْسَمَا اشْتَرَوْا بِهِ أَنفُسَهُمْ أَن
يَكْفُرُوا بِمَا أَنزَلَ اللَّهُ بَغْيًا أَن
يُنَزِّلَ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ عَلَىٰ مَن يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ فَبَاءُوا
بِغَضَبٍ عَلَىٰ غَضَبٍ وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ مُّهِينٌ
Artinya: Alangkah buruknya
(hasil perbuatan) mereka yang menjual dirinya sendiri dengan kekafiran kepada
apa yang telah diturunkan Allah, karena dengki bahwa Allah menurunkan
karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya diantara hamba-hamba-Nya. Karena
itu mereka mendapat murka sesudah (mendapat) kemurkaan. Dan untuk orang-orang
kafir siksaan yang menghinakan. (QS. Al Baqarah/ 2: 90)
Menjual diri untuk
mengingkari Al Quran karena kedengkian, merupakan bentuk ketidak taqwaan di
level -9: kafir.
20.2.
Al Quran Surat Al An’am/ 6: 12
قُل لِّمَن مَّا فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ
قُل لِّلَّهِ كَتَبَ عَلَىٰ نَفْسِهِ الرَّحْمَةَ لَيَجْمَعَنَّكُمْ إِلَىٰ يَوْمِ
الْقِيَامَةِ لَا رَيْبَ فِيهِ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فَهُمْ لَا
يُؤْمِنُونَ
Artinya: Katakanlah:
"Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi". Katakanlah:
"Kepunyaan Allah". Dia telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang.
Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan
padanya. Orang-orang yang merugikan dirinya mereka itu tidak beriman. (QS. Al
An’am/ 6: 12)
Tidak mempercayai bahwa
langit dan bumi milik Allah, di hari akhir manusia akan dibangkitkan kembali
adalah merugikan diri sendiri, hal ini merupakan bentuk ketidak taqwaan di
level -9: kafir.
20.3.
Al Quran Surat Al An’am/ 6: 20
الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْرِفُونَهُ
كَمَا يَعْرِفُونَ أَبْنَاءَهُمُ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فَهُمْ لَا
يُؤْمِنُونَ
Artinya: Orang-orang yang
telah Kami berikan kitab kepadanya, mereka mengenalnya (Muhammad) seperti
mereka mengenal anak-anaknya sendiri. Orang-orang yang merugikan dirinya,
mereka itu tidak beriman (kepada Allah). (QS. Al An’am/ 6: 20)
Tidak mempercayai Nabi
Muhammad SAW sebagai Rasulullah adalah merugikan diri sendiri, hal ini
merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -9: kafir
20.4.
Al Quran Surat Al An’am/ 6: 24
انظُرْ كَيْفَ كَذَبُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ
وَضَلَّ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ
Lihatlah bagaimana mereka
telah berdusta kepada diri mereka sendiri dan hilanglah daripada mereka
sembahan-sembahan yang dahulu mereka ada-adakan. (QS. Al An’am/ 6: 24)
Mendustai diri sendiri
mengenai Tuhan yang disembah selain Allah, merupakan bentuk ketidak taqwaan di
level -9: kafir
20.5.
Al Quran Surat Al An’am/ 6: 130
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ أَلَمْ
يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَقُصُّونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِي وَيُنذِرُونَكُمْ
لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا قَالُوا شَهِدْنَا عَلَىٰ أَنفُسِنَا وَغَرَّتْهُمُ
الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَشَهِدُوا عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا
كَافِرِينَ
Artinya: Hai golongan jin
dan manusia, apakah belum datang kepadamu rasul-rasul dari golongan kamu
sendiri, yang menyampaikan kepadamu ayat-ayat-Ku dan memberi peringatan
kepadamu terhadap pertemuanmu dengan hari ini? Mereka berkata: "Kami
menjadi saksi atas diri kami sendiri", kehidupan dunia telah menipu
mereka, dan mereka menjadi saksi atas diri mereka sendiri, bahwa mereka adalah
orang-orang yang kafir. (QS. Al An’am/ 6: 130)
Tertipu dengan kesenangan/
kesibukan kehidupan dunia sehingga menjadi ingkar kepada Allah, merupakan
bentuk ketidak taqwaan di level -9: kafir
20.6.
Al Quran Surat Al A’raf/ 7: 37
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى اللَّهِ
كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ أُولَٰئِكَ يَنَالُهُمْ نَصِيبُهُم مِّنَ
الْكِتَابِ حَتَّىٰ إِذَا جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا يَتَوَفَّوْنَهُمْ قَالُوا أَيْنَ
مَا كُنتُمْ تَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ قَالُوا ضَلُّوا عَنَّا وَشَهِدُوا
عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ
Artinya: Maka siapakah
yang lebih zalim daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah atau
mendustakan ayat-ayat-Nya? Orang-orang itu akan memperoleh bahagian yang telah
ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh Mahfuzh); hingga bila datang kepada
mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk mengambil nyawanya, (di waktu itu)
utusan Kami bertanya: "Di mana (berhala-berhala) yang biasa kamu sembah
selain Allah?" Orang-orang musyrik itu menjawab: "Berhala-berhala itu
semuanya telah lenyap dari kami," dan mereka mengakui terhadap diri mereka
bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. (QS. Al A’raf/ 7: 37)
Mendustakan Allah dan
Ayat-ayat-Nya serta mengakui kekafirannya, merupakan bentuk ketidak taqwaan di
level -9: kafir
20.7.
Al Quran Surat Al A’raf/ 7: 192
وَلَا يَسْتَطِيعُونَ لَهُمْ نَصْرًا وَلَا
أَنفُسَهُمْ يَنصُرُونَ
Artinya: Dan
berhala-berhala itu tidak mampu memberi pertolongan kepada
penyembah-penyembahnya dan kepada dirinya sendiripun berhala-berha]a itu tidak
dapat memberi pertolongan. (QS. Al A’raf/ 7: 192)
Menyembah berhala yang tidak
dapat memberi pertolongan bahkan kepada dirinya sendiri, merupakan bentuk
ketidak taqwaan di level -9: kafir
20.8.
Al Quran Surat A’raf/ 7: 197
وَالَّذِينَ تَدْعُونَ مِن دُونِهِ لَا
يَسْتَطِيعُونَ نَصْرَكُمْ وَلَا أَنفُسَهُمْ يَنصُرُونَ
Artinya: Dan
berhala-berhala yang kamu seru selain Allah tidaklah sanggup menolongmu, bahkan
tidak dapat menolong dirinya sendiri. (Al A’raf/ 7: 197)
Menyembah dan minta
pertolongan berhala yang tidak dapat memberi pertolongan bahkan kepada dirinya
sendiri, merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -9: kafir
20.9.
Al Quran Surat At Taubah/ 9: 17
مَا كَانَ لِلْمُشْرِكِينَ أَن يَعْمُرُوا
مَسَاجِدَ اللَّهِ شَاهِدِينَ عَلَىٰ أَنفُسِهِم بِالْكُفْرِ أُولَٰئِكَ
حَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ وَفِي النَّارِ هُمْ خَالِدُونَ
Artinya: Tidaklah pantas
orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui
bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan
mereka kekal di dalam neraka. (QS. At Taubah/ 9: 17)
Kemusyrikan adalah kekafiran
yang, merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -9: kafir
20.10.
Al Quran Surat At Taubah/ 9: 55
فَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَلَا
أَوْلَادُهُمْ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُعَذِّبَهُم بِهَا فِي الْحَيَاةِ
الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ أَنفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ
Artinya: Maka janganlah
harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki
dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam
kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam
keadaan kafir. (QS. At Taubah/ 9: 55)
Senang dengan kebahagian
hidup di dunia hingga nyawanya melayang dalam keadaan kafir, merupakan bentuk
ketidak taqwaan di level -9: kafir.
20.11.
Al Quran Surat At Taubah/ 9: 85
وَلَا تُعْجِبْكَ أَمْوَالُهُمْ وَأَوْلَادُهُمْ
إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَن يُعَذِّبَهُم بِهَا فِي الدُّنْيَا وَتَزْهَقَ
أَنفُسُهُمْ وَهُمْ كَافِرُونَ
Artinya: Dan janganlah
harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki
akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang
nyawa mereka, dalam keadaan kafir. (QS. At Taubah/ 9: 85)
Senang dengan kebahagian
hidup di dunia hingga nyawanya melayang dalam keadaan kafir, merupakan bentuk
ketidak taqwaan di level -9: kafir.
20.12.
Al Quran Surat Hud/ 11: 21
أُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ
وَضَلَّ عَنْهُم مَّا كَانُوا يَفْتَرُونَ
Artinya: Mereka itulah
orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, dan lenyaplah dari mereka apa yang
selalu mereka ada-adakan. (QS. Hud/ 11: 21)
Merugikan diri sendiri dengan
kemusyrikan, merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -9: kafir.
20.13.
Al Quran Surat Al Furqan/ 25: 3
وَاتَّخَذُوا مِن دُونِهِ آلِهَةً
لَّا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنفُسِهِمْ
ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا
Artinya: Kemudian mereka
mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan
itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak kuasa
untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk
mengambil) suatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak kuasa mematikan, menghidupkan
dan tidak (pula) membangkitkan. (QS. Al Furqan/ 25: 3)
Menjadikan Tuhan yang tidak
dapat menciptakan bahkan diciptakan, tidak memberi bahaya maupun manfaat, tidak
dapat mematikan, menghidupkan maupun membangkitkan, merupakan bentuk ketidak
taqwaan di level -9: kafir.
20.14.
Al Quran Surat Az Zumar/ 39: 15
فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُم مِّن دُونِهِ قُلْ
إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ
الْقِيَامَةِ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ
Artinya: Maka sembahlah
olehmu (hai orang-orang musyrik) apa yang kamu kehendaki selain Dia.
Katakanlah: "Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang
merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat". Ingatlah
yang demikian itu adalah kerugian yang nyata. (QS. Az Zumar/ 39: 15)
Menyembah kepada selain Allah
adalah perbuatan yang merugikan diri sendiri dan keluarga hai ini merupakan
bentuk ketidak taqwaan di level -9: kafir.yang di hari qiyamat akan
mendapatkan kerugian yang nyata.
21.
JAHANNAM
(Fujur Level -10)
Di dalam Al Quran ditemukan
11 kata yang menunjukkan pada pengertian jahannam yang berdampingan
dengan kata nafs di dalam satu ayat Al Qur’an, yang dapat
diklasifikasi-kan ke dalam klasifikasi taqwa level -10; jahannam,
ayat-ayat tersebut adalah sebagai
berikut;
21.1.
Al Quran Surat Al Baqarah/ 2: 48
وَاتَّقُوا يَوْمًا لَّا تَجْزِي نَفْسٌ عَن
نَّفْسٍ شَيْئًا وَلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَاعَةٌ وَلَا يُؤْخَذُ
مِنْهَا عَدْلٌ وَلَا هُمْ يُنصَرُونَ
Artinya: Dan jagalah
dirimu dari (azab) hari (kiamat, yang pada hari itu) seseorang tidak dapat
membela orang lain, walau sedikitpun; dan (begitu pula) tidak diterima syafa'at
dan tebusan dari padanya, dan tidaklah mereka akan ditolong. (QS. Al Baqarah/
2: 48)
Tidak menjaga diri dari hari
akhir, dimana seseorang tidak dapat membela orang lain, tidak diterima syafaat
dan tidak ada pertolongan, merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -10: jahannam.
21.2.
Al Quran Surat An Nisa’/ 4: 97
إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ
ظَالِمِي أَنفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنتُمْ قَالُوا كُنَّا
مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً
فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَٰئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ
مَصِيرًا
Artinya: Sesungguhnya
orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri,
(kepada mereka) malaikat bertanya: "Dalam keadaan bagaimana kamu
ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di
negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu
luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu
tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali, (QS.
An Nisa’/ 4: 97)
Orang-orang yang mati dalam
keadaan mendhalimi diri sendiri dan tidak mau berhijrah, merupakan bentuk
ketidak taqwaan di level -10: jahannam.
21.3.
Al Quran Surat Al Maidah/ 5: 32
مِنْ أَجْلِ ذَٰلِكَ كَتَبْنَا عَلَىٰ بَنِي
إِسْرَائِيلَ أَنَّهُ مَن قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِي
الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيعًا وَمَنْ أَحْيَاهَا فَكَأَنَّمَا
أَحْيَا النَّاسَ جَمِيعًا وَلَقَدْ جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِالْبَيِّنَاتِ ثُمَّ إِنَّ
كَثِيرًا مِّنْهُم بَعْدَ ذَٰلِكَ فِي الْأَرْضِ لَمُسْرِفُونَ
Artinya: Oleh karena itu
Kami tetapkan (suatu hukum) bagi Bani Israil, bahwa: barangsiapa yang membunuh
seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan
karena membuat kerusakan dimuka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh
manusia seluruhnya. Dan barangsiapa yang memelihara kehidupan seorang manusia,
maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya. Dan
sesungguhnya telah datang kepada mereka rasul-rasul Kami dengan (membawa)
keterangan-keterangan yang jelas, kemudian banyak diantara mereka sesudah itu
sungguh-sungguh melampaui batas dalam berbuat kerusakan dimuka bumi. (QS. Al
Maidah/ 5: 32)
Membunuh seorang manusia,
bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat
kerusakan dimuka bumi, serta melampaui batas dalam berbuat kerusakan, merupakan
bentuk ketidak taqwaan di level -10: jahannam.
21.4.
Al Quran Surat Al An’am/ 6: 26
وَهُمْ يَنْهَوْنَ عَنْهُ وَيَنْأَوْنَ عَنْهُ
وَإِن يُهْلِكُونَ إِلَّا أَنفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
Artinya: Dan mereka
melarang (orang lain) mendengarkan Al-Quran dan mereka sendiri menjauhkan diri
daripadanya, dan mereka hanyalah membinasakan diri mereka sendiri, sedang
mereka tidak menyadari. (QS. Al An’am/ 6: 26)
Melarang orang dari dekat
dengan Al Quran dan mereka sendiri menjauhinya adalah tindakan membinasakan
diri sendiri, hal tersebut merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -10: jahannam.
21.5.
Al Quran Surat Al An’am/ 6: 70
وَذَرِ الَّذِينَ اتَّخَذُوا دِينَهُمْ لَعِبًا
وَلَهْوًا وَغَرَّتْهُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَذَكِّرْ بِهِ أَن تُبْسَلَ
نَفْسٌ بِمَا كَسَبَتْ لَيْسَ لَهَا مِن دُونِ اللَّهِ وَلِيٌّ وَلَا شَفِيعٌ
وَإِن تَعْدِلْ كُلَّ عَدْلٍ لَّا يُؤْخَذْ مِنْهَا أُولَٰئِكَ الَّذِينَ
أُبْسِلُوا بِمَا كَسَبُوا لَهُمْ شَرَابٌ مِّنْ حَمِيمٍ وَعَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا
كَانُوا يَكْفُرُونَ
Artinya: Dan tinggalkan
lah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai main-main dan senda gurau,
dan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Peringatkanlah (mereka) dengan
Al-Quran itu agar masing-masing diri tidak dijerumuskan ke dalam neraka, karena
perbuatannya sendiri. Tidak akan ada baginya pelindung dan tidak pula pemberi
syafa'at selain daripada Allah. Dan jika ia menebus dengan segala macam
tebusanpun, niscaya tidak akan diterima itu daripadanya. Mereka itulah
orang-orang yang dijerumuskan ke dalam neraka. Bagi mereka (disediakan) minuman
dari air yang sedang mendidih dan azab yang pedih disebabkan kekafiran mereka
dahulu. (QS. Al An’am/ 6: 70)
Menjadikan agama menjadi
mainan dan sendau gurau, ditipu kehidupan dunia, tidak peduli dengan peringatan
Al Quran, merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -10: jahannam.
21.6.
Al Quran Surat Al An’am/ 6: 123
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا فِي كُلِّ قَرْيَةٍ
أَكَابِرَ مُجْرِمِيهَا لِيَمْكُرُوا فِيهَا وَمَا يَمْكُرُونَ إِلَّا
بِأَنفُسِهِمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
Artinya: Dan demikianlah
Kami adakan pada tiap-tiap negeri penjahat-penjahat yang terbesar agar mereka
melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan
dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya. (QS. Al An’am/ 6: 123)
Penjahat-penjahat terbesar
yang melakukan tipu daya, merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -10:
jahannam.
21.7.
Al Quran Surat QS. At Taubah/ 9: 35
يَوْمَ يُحْمَىٰ عَلَيْهَا فِي نَارِ جَهَنَّمَ
فَتُكْوَىٰ بِهَا جِبَاهُهُمْ وَجُنُوبُهُمْ وَظُهُورُهُمْ هَٰذَا مَا
كَنَزْتُمْ لِأَنفُسِكُمْ فَذُوقُوا مَا كُنتُمْ تَكْنِزُونَ
Artinya: Pada hari
dipanaskan emas perak itu dalam neraka jahannam, lalu dibakar dengannya dahi
mereka, lambung dan punggung mereka (lalu dikatakan) kepada mereka:
"Inilah harta bendamu yang kamu simpan untuk dirimu sendiri, maka
rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kamu simpan itu". (QS. At
Taubah/ 9: 35)
Menyimpan harta benda untuk
diri sendiri karena tamak, merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -10: jahannam.
21.8.
Al Quran Surat At Taubah/ 9: 81
فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ
رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَن يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي
سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنفِرُوا فِي الْحَرِّ قُلْ نَارُ
جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا لَّوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ
Artinya: Orang-orang yang
ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka
di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa
mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: "Janganlah kamu berangkat
(pergi berperang) dalam panas terik ini". Katakanlah: "Api neraka
jahannam itu lebih sangat panas(nya)" jika mereka mengetahui. (QS. At
Taubah/ 9: 81)
Merasa gembira bisa tidak
ikut berjihad di jalan Allah karena merasa tidak suka berjihad di jalan Allah
dengan harta dan jiwanya, merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -10:
jahannam.
21.9.
Al Quran Surat Al Mu’minun/ 23: 103
وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ
الَّذِينَ خَسِرُوا أَنفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ
Artinya: Dan barangsiapa
yang ringan timbangannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya
sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam. (QS. Al Mu’minun/ 23: 103)
Ringan timbangan amal
kebaikannya adalah kerugian untuk dirinya sendiri, merupakan bentuk ketidak
taqwaan di level -10: jahannam.
21.10.
Al Quran Surat Al Mujadalah/ 58: 8
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نُهُوا عَنِ
النَّجْوَىٰ ثُمَّ يَعُودُونَ لِمَا نُهُوا عَنْهُ وَيَتَنَاجَوْنَ بِالْإِثْمِ
وَالْعُدْوَانِ وَمَعْصِيَتِ الرَّسُولِ وَإِذَا جَاءُوكَ حَيَّوْكَ بِمَا لَمْ
يُحَيِّكَ بِهِ اللَّهُ وَيَقُولُونَ فِي أَنفُسِهِمْ لَوْلَا يُعَذِّبُنَا
اللَّهُ بِمَا نَقُولُ حَسْبُهُمْ جَهَنَّمُ يَصْلَوْنَهَا فَبِئْسَ
الْمَصِيرُ
Artinya: Apakah tidak kamu
perhatikan orang-orang yang telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia,
kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan
pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul.
Dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan
memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. Dan mereka
mengatakan kepada diri mereka sendiri: "Mengapa Allah tidak menyiksa kita
disebabkan apa yang kita katakan itu?" Cukuplah bagi mereka Jahannam yang
akan mereka masuki. Dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali. (QS. Al
Mujadalah/ 58: 8)
Mengadakan pembicaraan
rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada Rasul serta
mengolok-olok Allah dalam dirinya, kenapa Allah tidak segera menimpakan sisksa
untuk mereka, merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -10: jahannam.
21.11.
Al Quran Surat At Tahrim/ 66: 6
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا
أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا
وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ
لَّا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Artinya: Hai orang-orang
yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan
bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar,
keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada
mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. At Tahrim/ 66: 6)
Tidak menjaga diri dan
keluarga dari api neraka, merupakan bentuk ketidak taqwaan di level -10: jahannam.
Rangkuman jumlah ayat di setiap klasifikasi adalah sebagai berikut;
taubat 6 ayat, sabar 2 ayat, ikhlas 3 ayat, islam 7 ayat, iman 24 ayat, ihsan 24, mahabbah 5 ayat,
rahmah 11 ayat, ridha 4 ayat, hidayah 8 ayat,
jannah 11 ayat, ananiyah 5 ayat, ghadab 3 ayat, syahwat 9 ayat, khauf 6
ayat, huzn 4 ayat, taiasu 5 ayat, fasiq 10 ayat, dhalim 21 ayat, kafir 14 ayat
dan jahannam 11 ayat.
Dari 270 ayat yang di dalamnya terdapat kata yang terbentuk dari kata
dasar nafasa, ditemukan 193 ayat yang berdampingan dengan kata yang
sesuai dengan kata-kata yang dapat dimasukkan ke dalam klasifikasi “Cermin
Qalbu”, berdasar bukti tersebut maka tingkatan taqwa yang tersusun menjadi
cermin qalbu memiliki bukti yang kuat.
[1] Al Imam Ahmad
bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 29, Halaman 533.Hadits nomor 18006.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar