19/04/2026

+ 1. TAKWA LEVEL TAUBAT

+ 1. TAKWA LEVEL TAUBAT

Taubat berasal dari kata taaba-yatuubu-taubatan; menyesal, kembali ke jalan yang benar, Pengertiannya adalah; kesadaran spiritual untuk mengakui kesalahan (keyakinan, jalan, cara, fikiran, pandangan, perasaan, tindakan, ucapan, kebiasaan, prinsip hidup, pengetahuan, komunitas, gaya hidup, budaya dll) yang tidak sesuai dengan ajaran Islam diikuti dengan perasaan menyesal, diiringi kemauan yang kuat untuk mengikuti dan melaksanakan kebenaran yang sesuai ajaran Islam.

Taubat merupakan bagian dari kesempurnaan ajaran Islam yang penuh dengan kasih sayang, karena taubat merupakan jalan keluar dari jalan kesesatan yang pernah dilalui untuk dapat kembali ke jalan yang benar, taubat juga sekaligus menjadi pintu masuk menuju ke jalan kebenaran dan meningkatkan ketakwaan, di dalam Al Quran kata yang menunjuk pada pengertian taubat, disebutkan dengan kata taaba, awaba dan anaba, pencaraian kata di dalam Al Quran menggunakan aplikasi Dzekr 1.1.0, berdasar kata dasar tawaba ditemukan 87 kata di 69 , berdasar pencaraian kata dasar awaba; kembali ditemukan 17 kata di 17 ayat dan berdasar pencaraian kata dasar anaba; kembali ditemukan 15 kata di 15 ayat.

Taubat merupakan titik awal dalam menjalani proses mensucikan jiwa dari fujur dan sekaligus meningkatkan ketakwaan jiwa, taubat berada satu level energi di atas level negatif ananiyah; ego; keakuan, sehingga masih ada pengaruh ego, namun demikian taubat ini sudah berada pada ego level positif, karena setiap pribadi harus mulai menyadari nilai kebaikan yang dapat diperoleh untuk dirinya sendiri dan kebenaran keyakinan yang dijalani, sehingga dapat membawanya kepada keselamatan dan kebahagiaan.

Taubat merupakan langkah awal yang harus dilakukan pada setiap proses dalam menapaki proses pembersihan qalbu di setiap tingkatan fujur, mulai dari nafsiyah, ghadab, syahwat dan hawa hingga Jahannam, harus diwalai dengan taubat; mengakui kesalahan bahwa dalam qalbunya terdapat unsur nilai fujur, demikian juga taubat juga harus mengawali semua langkah dalam dalam upaya meningkatkan ketakwaan, dimulai dari taubat itu sendiri, sabar, Ikhlas, Islam, iman, ihsan hingga Jannah, di setiap langkah menapaki tingkatan awal harus diawali dengan taubat bahwa qalbunya belum sempurna dalam bertaubat, bersabar, Ikhlas, islam, iman, ihsan dan seterusnya hingga Jannah.

Imam al-Ghazali, taubat merupakan proses spiritual yang terdiri dari tiga unsur pokok: pengetahuan (‘ilm), keadaan batin (āl), dan tindakan nyata (amal). Ia menjelaskan bahwa hakikat taubat adalah kesadaran mendalam atas dosa yang dilakukan, disertai penyesalan yang tulus, serta tekad kuat untuk tidak mengulanginya. Menurut al-Ghazali, pengetahuan tentang akibat dosa melahirkan keadaan batin berupa penyesalan, dan dari penyesalan itu timbul kehendak untuk memperbaiki diri, sehingga taubat bukan sekadar lisan tetapi transformasi moral yang menyentuh hati dan perilaku.[1]

Taubat Itu Bagi Yang Melakukan Perbuatan Buruk Karena Kebodohannya

Di dalam Al Quran Surat An-Nisa'/ 4: 17, dijelaskan bahwa taubat yang diterima adalah taubat bagi orang yang melakukan perbuatan buruk karena kebodohannya, sedangkan taubat bagi orang yang melakukan keburukan hingga menjelang mati dan taubat orang yang mati dalam keadaan kafir tidak diterima Allah SWT;

إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ فَأُولَٰئِكَ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا, وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السَّيِّئَاتِ حَتَّىٰ إِذَا حَضَرَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ إِنِّي تُبْتُ الْآنَ وَلَا الَّذِينَ يَمُوتُونَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۚ أُولَٰئِكَ أَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا

Artinya: Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera, maka mereka itulah yang diterima Allah taubatnya; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang". Dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. Bagi orang-orang itu telah Kami sediakan siksa yang pedih.(QS. An-Nisa'/ 4: 17)

Allah Menghendaki Hambanya Bertaubat Dan Menerima Taubatnya

Al Quran Surat An-Nisa'/ 4: 27, menjelaskan bahwa Allah menghendaki hambanya bertaubat dan menerima taubatnya, sedangkan orang yang tunduk kepada hawa nafsu hendak menyesatkan manusia sejauh-jauhnya;

وَاللَّهُ يُرِيدُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْكُمْ وَيُرِيدُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ الشَّهَوَاتِ أَنْ تَمِيلُوا مَيْلًا عَظِيمًا

Artinya: Dan Allah hendak menerima taubatmu, sedang orang-orang yang mengikuti hawa nafsu-nya bermaksud supaya kamu berpaling sejauh-jauhnya (dari kebenaran).(QS. An-Nisa'/ 4: 27)

Taubat Terhampar Setelah Melakukan Dosa

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6810 digambarkan bahwa taubat terhampar setelah melakukan dosa;

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ ذَكْوَانَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ حِينَ يَشْرَبُهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَالتَّوْبَةُ مَعْرُوضَةٌ بَعْدُ [2]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Adam telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Al A'masy dari Dzakwan dari Abu Hurairah mengatakan, Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: Tidaklah berzina orang yang berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman, dan tidaklah mencuri orang yang mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman, tidaklah ia meminum khamr ketika meminumnya dan ia dalam keadaan beriman, dan taubat terhampar setelah itu."

Agar dapat memahahami hakikat taubat dan dapat mengamal-kannya dalam bentuk ketakwaan di tingkat taubat, maka pada bab ini dikemukakan pembahasan tentang;

1. Keistimewaan Yang Akan Diperoleh Orang Bertaubat, 

2. Karakter Orang Yang Bertaubat,

3. Cerita Hikmah Orang-orang Yang Berdosa Besar, Yang Taubatnya Diterima Allah,

4. Takwa Di Tingkat Taubat, 


Adapun pembahasannya adalah sebagai berikut;

1.Keistimewaan Yang Akan Diperoleh Orang Bertaubat

Berikut akan dikemukakan beberapa keistimewaan yang akan diperoleh bagi orang-orang yang bertaubat, yang disebutkan di dalam Al Quran maupun Hadits;

1.1. Mendapatkan Keberuntungan

Di dalam Al Quran Surat An Nur/ 24: 31, dijelaskan perintah untuk bertaubat dengan tujuan agar mendapatkan keberuntungan;

وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَ الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.(QS. An Nur/ 24: 31)

1.2. Mendapat Pahala Yang besar

Di dalam Al Quran Surat An Nisa’/ 4: 145-146, dijelaskan bahwa orang munafik akan dimasukkan di kerak api neraka, kecuali mau bertaubat, mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah, bersama orang beriman mendapatkan pahala yang besar;

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا, إِلَّا الَّذِينَ تَابُوا وَأَصْلَحُوا وَاعْتَصَمُوا بِاللَّهِ وَأَخْلَصُوا دِينَهُمْ لِلَّهِ فَأُولَئِكَ مَعَ الْمُؤْمِنِينَ وَسَوْفَ يُؤْتِ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ أَجْرًا عَظِيمًا

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka. Kecuali orang-orang yang taubat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh pada (agama) Allah dan tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah. Maka mereka itu adalah bersama-sama orang yang beriman dan kelak Allah akan memberikan kepada orang-orang yang beriman pahala yang besar.” (QS. An Nisa’: 145-146).

1.3. Dicintai Allah

Al Quran Surat Al-Baqarah/ 2: 222, menegaskan bahwa Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri;

ۚ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ

Artinya: Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.(QS.  Al-Baqarah/ 2: 222)

1.4. Allah Menyambut Dengan Gembira Taubat Hamba Kepada-Nya

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2746, digambarkan bahwa kegembiraan Allah karena taubat hamba-Nya melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian terhadap hewan tunggangannya di sebuah padang pasir yang luas, namun tiba-tiba hewan tersebut lepas, setelah putus asa mencarinya, tiba-tiba binatang itu ketemu; 

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الصَّبَّاحِ وَزُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي طَلْحَةَ حَدَّثَنَا أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ وَهُوَ عَمُّهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَلَّهُ أَشَدُّ فَرَحًا بِتَوْبَةِ عَبْدِهِ حِينَ يَتُوبُ إِلَيْهِ مِنْ أَحَدِكُمْ كَانَ عَلَى رَاحِلَتِهِ بِأَرْضِ فَلَاةٍ فَانْفَلَتَتْ مِنْهُ وَعَلَيْهَا طَعَامُهُ وَشَرَابُهُ فَأَيِسَ مِنْهَا فَأَتَى شَجَرَةً فَاضْطَجَعَ فِي ظِلِّهَا قَدْ أَيِسَ مِنْ رَاحِلَتِهِ فَبَيْنَا هُوَ كَذَلِكَ إِذَا هُوَ بِهَا قَائِمَةً عِنْدَهُ فَأَخَذَ بِخِطَامِهَا ثُمَّ قَالَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ اللَّهُمَّ أَنْتَ عَبْدِي وَأَنَا رَبُّكَ أَخْطَأَ مِنْ شِدَّةِ الْفَرَحِ [3]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ash Shabbah] dan [Zuhair bin Harb] mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami ['Umar bin Yunus] telah menceritakan kepada kami ['Ikrimah bin 'Ammar] telah menceritakan kepada kami [Ishaq bin 'Abdullah bin Abu Thalhah] telah menceritakan kepada kami [Anas bin Malik] -dan dia adalah pamannya- dia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda; "Sungguh kegembiraan Allah karena taubatnya hamba-Nya melebihi kegembiraan salah seorang dari kalian terhadap hewan tunggangannya di sebuah padang pasir yang luas, namun tiba-tiba hewan tersebut lepas, padahal di atasnya ada makanan dan minuman hingga akhirnya dia merasa putus asa untuk menemukannya kembali. kemudian ia beristirahat di bawah pohon, namun di saat itu, tiba-tiba dia mendapatkan untanya sudah berdiri di sampingnya. Ia pun segera mengambil tali kekangnya kemudian berkata; 'Ya Allah Engkau hambaku dan aku ini Tuhan-Mu.' Dia telah salah berdo'a karena terlalu senang.'(HR. Muslim: 4932)

1.5. Allah Menutupi Kesalahnya Dan Memasukkannya Ke Jannah

Allah SWT di dalam surat At-Tahrim/ 66: 8, memerintahkan kepada orang orang beriman untuk bertaubat kepada Allah dengan sebenar-benarnya taubat, dengan bertaubat niscaya akan ditutup kesalahannya dan dimasukkan ke Jannah;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُكَفِّرَ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ ۖ نُورُهُمْ يَسْعَىٰ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang mukmin yang bersama dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: "Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu".(QS. At-Tahrim/ 66: 8)

1.6. Keburukannya Akan Diganti Dengan Kebaikan

Allah akan menggantikan keburukannya dengan kebaikan bagi orang yang bertaubat, beriman dan beramal shalih, sebagaimana dimuat di dalam Al Quran surat Al Furqan/ 25: 70;

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُولَٰئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا ﴿الفرقان: ٧٠﴾  

Artinya: kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Furqan/ 25: 70)

1.7. Dia Akan Menambahkan Kekuatan Kepada Kekuatanmu

Bagi orang yang mau memohon ampun dan bertaubat Allah akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, sebagaimana dimuat di dalam Al Quran surat Hud/ 11: 52;

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

Artinya: Dan (dia berkata): "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa". (QS. Hud/ 11: 52)

1.8. Taubat Akan Mengembalikan Iman yang Hilang Karena Ma’siyat

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 6809, disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW menjelaskan Iman seseorang hilang ketika melakukan perbuatan ma’siyat kepada Allah dan Iman hanya akan kembali apabila seorang hamba telah bertaubat;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى أَخْبَرَنَا إِسْحَاقُ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا الْفُضَيْلُ بْنُ غَزْوَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَزْنِي الْعَبْدُ حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَسْرِقُ حِينَ يَسْرِقُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَشْرَبُ حِينَ يَشْرَبُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَا يَقْتُلُ وَهُوَ مُؤْمِنٌ قَالَ عِكْرِمَةُ قُلْتُ لِابْنِ عَبَّاسٍ كَيْفَ يُنْزَعُ الْإِيمَانُ مِنْهُ قَالَ هَكَذَا وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ ثُمَّ أَخْرَجَهَا فَإِنْ تَابَ عَادَ إِلَيْهِ هَكَذَا وَشَبَّكَ بَيْنَ أَصَابِعِهِ [4]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] Telah mengabarkan kepada kami [Ishaq bin Yusuf] Telah mengabarkan kepada kami [Al Fudhail bin Ghazwan] dari [Ikrimah] dari [Ibnu Abbas] RA mengatakan, Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah berzina seorang hamba yang berzina ketika ia berzina dalam keadaan beriman, dan tidaklah mencuri ketika ia mencuri dalam keadaan beriman, tidaklah ia meminum khamr ketika meminumnya dan ia dalam keadaan beriman, dan tidaklah dia membunuh sedang dia dalam keadaan beriman." Kata Ikrimah, saya bertanya kepada 'Ibnu 'Abbas; 'bagaimana iman bisa dicabut padanya? ' ia menjawab; 'begini', sambil menjalinkan jari-jemarinya, kemudian ia keluarkan, 'maka jika ia bertaubat, iman itu kembali kepadanya, ' sambil ia menjalin jari jemarinya.

1.9. Mendapat Ampunan Allah

Al Quran Surat Al Maidah/ 5: 73-74 menjelaskan bahwa; telah kafir orang yang mengatakan, bahwa Allah salah seorang dari yang tiga, sehingga akan ditimpa siksaan yang pedih, kecuali mau bertaubat dan memohon ampunan, karena Allah maha pengampun dan maha penyayang;

أَفَلا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya ?. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Maidah/ 5: 73-74)

Di dalam Al Quran Surat Al Isra/ 17: 25 ditegaskan bahwa sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat;

رَّبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَا فِي نُفُوسِكُمْ ۚ إِن تَكُونُوا صَالِحِينَ فَإِنَّهُ كَانَ لِلْأَوَّابِينَ غَفُورًا

Artinya: Tuhanmu lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu; jika kamu orang-orang yang baik, maka sesungguhnya Dia Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertaubat.(QS. Al Isra/ 17: 25)

1.10. Diberi Kenikmatan Yang Baik (Terus Menerus) Kepadamu Sampai Kepada Waktu Yang Telah Ditentukan

Di dalam Al Quran Surat Hud/ 11: 3, Allah memerintahkan kepada orang yang berdosa untuk memohon ampunan dan bertaubat kepada-Nya, niscaya akan diberi kenikmatan yang baik;

وَأَنِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُمَتِّعْكُمْ مَتَاعًا حَسَنًا إِلَىٰ أَجَلٍ مُسَمًّى وَيُؤْتِ كُلَّ ذِي فَضْلٍ فَضْلَهُ ۖ وَإِنْ تَوَلَّوْا فَإِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ كَبِيرٍ

Artinya: dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.(QS. Hud/ 11: 3)

1.11. Diberi Ampunan Dan Dijaga Dari Adzab Neraka

Di dalam Al Quran Surat Al-Mu’min/ 40: 7 digambarkan bahwa malaikat pemikul arsy memohonkan ampunan bagi orang yang bertaubat dan menjaganya dari adzab Jahannam;

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ

Artinya: (Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): "Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,(QS. Al-Mu’min/ 40: 7)

1.12.   Allah Tertawa

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2826 digambarkan bahwa Allah tertawa terhadap dua orang dimana yang satu membunuh yang lainnya namun keduanya masuk surga;

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَضْحَكُ اللَّهُ إِلَى رَجُلَيْنِ يَقْتُلُ أَحَدُهُمَا الْآخَرَ يَدْخُلَانِ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُ هَذَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيُقْتَلُ ثُمَّ يَتُوبُ اللَّهُ عَلَى الْقَاتِلِ فَيُسْتَشْهَدُ [5]

Artinya: Telah bercerita kepada kami 'Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah bersabda: "Allah terawa terhadap dua orang dimana yang satu membunuh yang lainnya namun keduanya masuk surga. Yang satu berperang di jalan Allah hingga terbunuh. Kemudian Allah menerima taubat orang yang membunuhnya lalu diapun (berperang) hingga mati syahid".

2.Karakter Orang Yang Bertaubat

Berikut beberapa karakter orang yang bertaubat kepada Allah, berdasar informasi yang terdapat di dalam Al Quran dan Hadits;

2.1. Datang Kepada Allah Dengan Hati Yang Taubat

Di dalam Al Quran surat Qaf/ 50: 33 digambarkan bahwa bagi orang yang menyadari kasih sayang Allah akan datang kepadanya dengan qalbu yang taubat;

مَنْ خَشِيَ الرَّحْمَنَ بِالْغَيْبِ وَجَاءَ بِقَلْبٍ مُنِيبٍ

Artinya: (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat,(QS. Qaf/ 50: 33)

2.2. Menyesali Perbuatan Tidak Benar Yang Sudah Dilakukan

Di dalam kitab Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain hadits nomor 7612, dijelaskan bahwa penyesalan merupakan taubat;

حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ شَيْبَانَ الرَّمْلِيُّ، ثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ، عَنْ عَبْدِ الْكَرِيمِ الْجَزَرِيِّ، عَنْ زِيَادِ بْنِ أَبِي مَرْيَمَ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ، قَالَ: دَخَلْتُ أَنَا وَأَبِي عَلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ  فَقَالَ لَهُ أَبِي: أَسَمِعْتَ النَّبِيَّ ﷺ يَقُولُ: «النَّدَمُ تَوْبَةُ؟» قَالَ: نَعَمْ، أَنَا سَمِعْتُهُ يَقُولُ: «النَّدَمُ تَوْبَةٌ» [6]

 

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu al-Abbas Muhammad bin Ya‘qub, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Syaiban ar-Ramli, telah menceritakan kepada kami Sufyan bin ‘Uyainah, dari Abdul Karim al-Jazari, dari Ziyad bin Abi Maryam, dari Abdullah bin Mughaffal. Ia berkata: Aku dan ayahku datang menemui Abdullah bin Mas‘ud r.a. Lalu ayahku berkata kepadanya: “Apakah engkau mendengar Nabi  bersabda: ‘Penyesalan adalah taubat’?” Ibnu Mas‘ud menjawab: “Ya, aku sendiri mendengarnya bersabda: ‘Penyesalan adalah taubat.’”

2.3. Tidak Mengulangi Perbuatan Dosa Yang Pernah Dilakukan

Di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor 6635 dijelakaskan bahwa taubat nasuha adalah taubat dari dosa dan tidak mengulanginya untuk selamanya;

 أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، أَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الْحَسَنِ الْقَاضِي، نا إِبْرَاهِيمُ بْنُ الْحُسَيْنِ، نا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ، نا إِسْرَائِيلُ، عَنْ أَبِي إِسْحَاقَ الْهَمْدَانِيِّ، عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ، عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ: " التَّوْبَةُ النَّصُوحُ أَنْ يَتُوبَ الْعَبْدُ مِنَ الذَّنْبِ ثُمَّ لَا يَعُودُ إِلَيْهِ أَبَدًا [7] 

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdillah Al Hafidz, Telah menceritakan kepada kami Abdur Rahman ibnu Al hasan AL Qadhi, Telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Al Husain, Telah menceritakan kepada kami Adam ibnu Abi Iyas, Telah menceritakan kepada kami Israil, dari Abi Ishaq Al hamdani, dari Abi Al Ahwash, dari Ibnu Masud berkata: “Taubat nasuha adalah taubatnya seorang hamba dari dosa kemudian tidak mengulanginya selamanya”. 

2.4. Berdoa; Ikrar Taubat

Di dalam Al Quran Surat Al Ahqaf/ 46: 15 tergambar adanya doa dan pernyataan mengaku bertaubat kepada Allah;

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

Artinya: sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: "Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri". (46: 15)

Berikut ini dikemukakan beberapa doa nabi sebagai bentuk taubatnya;

2.4.1.  Doa Taubat Nabi Adam

Di dalam Al Quran surat Al-A’raf/ 7: 23 disebutkan doa taubat Nabi Adam AS dan ibu Hawa, setelah melakukan kesalahan;

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya: Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi.(QS. Al-A’raf/ 7: 23)

2.4.2. Doa Nabi Nuh AS

Di dalam Al Quran surat Hud/ 11: 47 disebutkan doa Nabi Nuh AS, ketika menyeru anaknya untuk masuk kapal, tetapi kemudian ditegur dan dingatkan bahwa anaknya bukan termasuk keluarga Nabi Nuh AS;

قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Artinya: Nuh berkata: Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada Engkau sesuatu yang aku tiada mengetahui (hakekat)nya. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan (tidak) menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku akan termasuk orang-orang yang merugi".

2.4.3.  Doa Taubat Nabi Yunus AS

Di dalam Al Quran surat Al-Anbiya/ 21: 87 disebutkan doa taubat Nabi Yunus AS ketika berada di dalam perut ikan;

وَذَا النُّونِ إِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ أَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ

Artinya: Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim".(QS. Al-Anbiya/ 21: 87)

2.4.4.  Doa Taubat Nabi Musa AS

Di dalam Al Quran surat Al-Qashash/ 28: 16 disebutkan doa taubat Nabi Musa AS;

قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ ۚ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Artinya: Musa mendoa: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. Al-Qashash/ 28: 16)

2.4.5. Doa Taubat Yang Diajarkan Nabi Muhammad SAW

Rasulullah Muhammad SAW mengajarkan doa dalam berbagai ibadah, yang di dalamnya terdapat doa taubat, antara lain sebagai berikut;

2.4.5.1.        Doa Setelah Selesai Berwudhu

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadis nomor 55 disebutkan doa setelah selesai berwudhu untuk dijadikan hamba yang bertaubat;

حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عِمْرَانَ الثَّعْلَبِيُّ الْكُوفِيُّ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ حُبَابٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ يَزِيدَ الدِّمَشْقِيِّ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ وَأَبِي عُثْمَانَ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ قَالَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي مِنْ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِي مِنْ الْمُتَطَهِّرِينَ فُتِحَتْ لَهُ ثَمَانِيَةُ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَدْخُلُ مِنْ أَيِّهَا شَاءَ  [8]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Ja'far bin Muhammad bin Imran Ats Tsa'labi Al Kufi] berkata, telah menceritakan kepada kami [Zaid bin Hubab] dari [Mu'awiyah bin Shalih] dari [Rabi'ah bin Yazid Ad Dimasyqi] dari [Abu Idris Al Khaulani] dan [Abu Utsman] dari [Umar bin Khaththab] ia berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa berwudlu dan menyempurnakan wudlunya kemudian membaca: aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah Yang Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertaubat dan jadikanlah aku termasuk orang-orang yang mensucikan diri), niscaya akan dibukakan baginya delapan pintu surga, ia dipersilahkan masuk dari pintu mana saja yang ia kehendaki."

2.4.5.2.  Doa Yang Dibaca Dalam Shalat

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 7388 disebutkan doa ketika shalat (Tasyahud awal) ada pengakuan dan permohonan ampun dari perbuatan dhalim;

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ أَبِي الْخَيْرِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلَاتِي قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ [9]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid bin Abu Habib dari Abu Al Khair dari 'Abdullah bin 'Amru dari Abu Bakar Ash Shiddiq radliallahu 'anhu, ia berkata kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam: "Ajarkanlah aku suatu do'a yang bisa aku panjatkan saat shalat!" Maka Beliau pun berkata: "Bacalah Ya Allah, sungguh aku telah menzhalimi diriku sendiri dengan kezhaliman yang banyak, sedangkan tidak ada yang dapat mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka itu ampunilah aku dengan suatu pengampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ."

2.4.5.3.  Beristighfar Dan Bertaubat Lebih Dari Tujuh Puluh Kali Sehari

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 5948, disebutkan bahwa Rasulullah beristighfar memahon ampunan dan bertaubat kepada Allah dalam sehari lebih dari tujuh puluh kali;

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَأَتُوبُ إِلَيْهِ فِي الْيَوْمِ أَكْثَرَ مِنْ سَبْعِينَ مَرَّةً [10]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Yaman] telah mengabarkan kepada kami [Syu'aib] dari [Az Zuhri] dia berkata; telah mengabarkan kepadaku [Abu Salamah bin Abdurrahman] dia berkata; [Abu Hurairah] berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya aku beristighfar (meminta ampunan) dan bertaubat kepada Allah dalam satu hari lebih dari tujuh puluh kali."

2.4.5.4. Doa Yang Banyak Dibaca Rasulullah Sebelum Wafat

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 218 digambarkan bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam sebelum meninggal memperbanyak membaca doa, “Mahasuci Engkau, dan dengan memujiMu, aku meminta ampun dan bertaubat kepada-Mu";

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ مُسْلِمٍ عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ قَبْلَ أَنْ يَمُوتَ سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا هَذِهِ الْكَلِمَاتُ الَّتِي أَرَاكَ أَحْدَثْتَهَا تَقُولُهَا قَالَ جُعِلَتْ لِي عَلَامَةٌ فِي أُمَّتِي إِذَا رَأَيْتُهَا قُلْتُهَا " إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ "إِلَى آخِرِ السُّورَةِ [11]  

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib keduanya berkata, "Telah menceritakan kepada kami Abu Muawiyah dari al-A'masy dari Muslim dari Masruq dari Aisyah dia berkata, "Dahulu Rasulullah  sebelum meninggal memperbanyak membaca doa, “Mahasuci Engkau, dan dengan memujiMu, aku meminta ampun dan bertaubat kepadaMu'." Aisyah berkata, "Aku berkata, 'Wahai Rasulullah, kalimat inikah yang aku melihatmu barusan membacanya? ' Beliau menjawab, 'Telah dijadikan suatu tanda untukku dalam umatku, apabila aku melihatnya niscaya aku mengucapkannya, 'Idza Ja'a Nashrullah wa al-Fath…hingga akhir surat'."

2.4.5.5.  Doa Kafaratul Majelis

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 3433 digambarkan bahwa Barang siapa yang duduk di sebuah majelis dan banyak keributan (kericuhan) padanya kemudian sebelum berdiri ia mengucapkan; doa kafaratul majelis melainkan diampuni dosanya selama di majelisnya itu;

حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ أَبِي السَّفَرِ الْكُوفِيُّ وَاسْمُهُ أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْهَمْدَانِيُّ حَدَّثَنَا الْحَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ أَخْبَرَنِي مُوسَى بْنُ عُقْبَةَ عَنْ سُهَيْلِ بْنِ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ جَلَسَ فِي مَجْلِسٍ فَكَثُرَ فِيهِ لَغَطُهُ فَقَالَ قَبْلَ أَنْ يَقُومَ مِنْ مَجْلِسِهِ ذَلِكَ سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ وَبِحَمْدِكَ أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ إِلَّا غُفِرَ لَهُ مَا كَانَ فِي مَجْلِسِهِ ذَلِكَ وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي بَرْزَةَ وَعَائِشَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ لَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ سُهَيْلٍ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ [12]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Ubaidah bin Abu As Safar Al Kufi, dan namanya adalah Ahmad bin Abdullah Al Hamdani, telah menceritakan kepada kami Al Hajjaj bin Muhammad, ia berkata; Ibnu Juraij berkata; telah mengabarkan kepadaku Musa bin 'Uqbah dari Suhail bin Abu Shalih dari ayahnya, dari Abu Hurairah, ia berkata; Rasulullah  bersabda: "Barang siapa yang duduk di sebuah majelis dan banyak keributan (kericuhan) padanya kemudian sebelum berdiri ia mengucapkan; “Maha Suci Engkau wahai Allah, dan dengan memujiMu, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak di sembah melainkan Engkau, aku meminta ampun dan bertaubat kepadaMu) melainkan diampuni dosanya selama di majelisnya itu." Dan dalam bab tersebut terdapat riwayat dari Abu Barzah, serta Aisyah, Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib dari sisi ini. Kami tidak mengetahuinya dari hadits Suhail kecuali dari jalur ini.

2.4.6.  Taubat Diikuti Dengan Beramal Shalih

Di dalam Al Quran surat Al Furqan/ 25: 71 digambarkan bahwa orang yang bertaubat diikuti dengan beramal shalah merupakan wujud taubat yang sebenarnya.

وَمَن تَابَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَإِنَّهُ يَتُوبُ إِلَى اللَّهِ مَتَابًا

Artinya: Dan orang-orang yang bertaubat dan mengerjakan amal saleh, maka sesungguhnya dia bertaubat kepada Allah dengan taubat yang sebenar-benarnya. (QS. Al Furqan/ 25: 71)

2.4.7. Berdoa Mohon Di Beri Petunjuk Dan Ketakwaan.

Di dalam kitab Shahih Muslim hadis nomor 72 disebutkan bahwa Rasulullah berdoa memohon kepada Allah untuk diberi petunjuk dan ketakwaan..;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ أَبِي الْأَحْوَصِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى [13] 

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] dan [Muhammad bin Basysyar] mereka berkata; telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Abu Ishaq] dari [Abul Ahwash] dari ['Abdullah] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bahwasanya beliau pernah berdoa: "Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu; petunjuk, ketakwaan, terhindar dari perbuatan yang tidak baik, dan kecukupan (tidak minta-minta,)."

2.4.8.  Berdoa Mohon Jiwanya Dikaruniai Ketakwaan Dan Disucikan

Di dalam kitab Shahih Muslim hadis nomor 73 disebutkan doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW untuk mohon perlindungan dari kelemahan dan kemalasan…juga mohon untuk diberikan di dalam jiwanya ketakwaan dan kesuciannya;

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ وَاللَّفْظُ لِابْنِ نُمَيْرٍ قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا و قَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ وَعَنْ أَبِي عُثْمَانَ النَّهْدِيِّ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْقَمَ قَالَ لَا أَقُولُ لَكُمْ إِلَّا كَمَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ كَانَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْالْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِي تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا [14]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr bin Abu Syaibah] dan [Ishaq bin Ibrahim] dan [Muhammad bin 'Abdullah bin Numair] -dan lafadh ini milik Ibnu Numair- Ishaq berkata; Telah mengabarkan kepada kami, sedangkan yang lainnya berkata; Telah menceritakan kepada kami [Abu Mu'awiyah] dari [Ashim] dari [Abdullah bin Al Harits] dan dari [Abu Utsman An Nahdi] dari [Zaid bin Arqam] dia berkata; "Saya tidak akan mengatakan kepada kalian kecuali seperti apa yang pernah diucapkan Rasulullah  dalam doanya yang berbunyi: Ya Allah ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan, ketakutan, kekikiran, kepikunan, dan siksa kubur. Ya Allah ya Tuhanku, berikanlah ketakwaan kepada jiwaku, sucikanlah ia, sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik Dzat yang dapat mensucikannya, Engkaulah yang menguasai dan yang menjaganya. Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak berguna, hati yang tidak khusyu', diri yang tidak pernah puas, dan doa yang tidak terkabulkan.'"

3.Cerita Hikmah Orang-orang Yang Berdosa Besar, Yang Taubatnya Diterima Allah

Untuk menambah kesadaran untuk segera bertaubat, berikut dikemukakan beberapa cerita hikmah, bersumber dari hadits Nabi SAW yang berkaitan dengan orang yang berdosa besar dan taubatnya diterima Allah

3.1.    Wanita Hamil Karena Zina Yang Minta Kepada Rasul Untuk Menegakkan Hukum Baginya

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 3209 diceriterakan wanita hamil karena zina yang datang kepada Nabi untuk ditegakkan hukum kepadanya, sehingga setelah selesai dirajam Nabi Mensholatkannya karena taubatnya diterima;

حَدَّثَنِي أَبُو غَسَّانَ مَالِكُ بْنُ عَبْدِ الْوَاحِدِ الْمِسْمَعِيُّ حَدَّثَنَا مُعَاذٌ يَعْنِي ابْنَ هِشَامٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ حَدَّثَنِي أَبُو قِلَابَةَ أَنَّ أَبَا الْمُهَلَّبِ حَدَّثَهُ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَنَّ امْرَأَةً مِنْ جُهَيْنَةَ أَتَتْ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهِيَ حُبْلَى مِنْ الزِّنَى فَقَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ أَصَبْتُ حَدًّا فَأَقِمْهُ عَلَيَّ فَدَعَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلِيَّهَا فَقَالَ أَحْسِنْ إِلَيْهَا فَإِذَا وَضَعَتْ فَأْتِنِي بِهَا فَفَعَلَ فَأَمَرَ بِهَا نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشُكَّتْ عَلَيْهَا ثِيَابُهَا ثُمَّ أَمَرَ بِهَا فَرُجِمَتْ ثُمَّ صَلَّى عَلَيْهَا فَقَالَ لَهُ عُمَرُ تُصَلِّي عَلَيْهَا يَا نَبِيَّ اللَّهِ وَقَدْ زَنَتْ فَقَالَ لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِينَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِينَةِ لَوَسِعَتْهُمْ وَهَلْ وَجَدْتَ تَوْبَةً أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا لِلَّهِ تَعَالَى و حَدَّثَنَاه أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَفَّانُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا أَبَانُ الْعَطَّارُ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ [15]

Artinya: Telah menceritakan kepadaku Abu Ghassan Malik bin Abdul Wahid Al Misma'i telah menceritakan kepada kami Mu'adz -yaitu Ibnu Hisyam- telah menceritakan kepadaku ayahku dari Yahya bin Abu Katsir telah menceritakan kepadaku Abu Qilabah bahwa Abu Al Muhallab telah menceritakan kepadanya dari 'Imran bin Hushain, bahwa seorang wanita dari Juhainah datang menghadap kepada Nabi , padahal dia sedang hamil akibat melakukan zina. Wanita itu berkata, "Wahai Rasulullah, aku telah melanggar hukum, oleh karena itu tegakkanlah hukuman itu atasku." Lalu Nabi Allah memanggil wali perempuan itu dan bersabda kepadanya: "Rawatlah wanita ini sebaik-baiknya, apabila dia telah melahirkan, bawalah dia ke hadapanku." Lalu walinya melakukan pesan tersebut. setelah itu Nabi  memerintahkan untuk merajam wanita tersebut, maka pakaian wanita tersebut dirapikan (agar auratnya tidak terbuka saat dirajam). Kemudian beliau perintahkan agar ia dirajam. Setelah dirajam, beliau menshalatkan jenazahnya, namun hal itu menjadkan Umar bertanya kepada beliau, "Wahai Nabi Allah, perlukah dia dishalatkan? Bukankah dia telah berzina?" beliau menjawab: "Sunnguh, dia telah bertaubat kalau sekiranya taubatnya dibagi-bagikan kepada tujuh puluh orang penduduk Madinah, pasti taubatnya akan mencukupi mereka semua. Adakah taubat yang lebih utama daripada menyerahkan nyawa kepada Allah Ta'ala secara ikhlas?" Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami 'Affan bin Muslim telah menceritakan kepada kami Aban Aal 'Athar telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Katsir dengan isnad seperti ini."

3.2.    Lelaki Yang Memperkosa Wanita Tetapi Kemudian Taubatnya Diterima

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 1454 diceritakan tentang seorang laki-laki yang memperkosa wanita, tetapi yang tertangkap justru laki-laki lain, dan ketika hukuman rajam akan ditegakkan, lelaki tersebut mengakui sebagai pelakunya, namun kemudian lelaki tersebut tidak dirajam karena taubatnya diterima;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى النَّيْسَابُورِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ، عَنْ إِسْرَائِيلَ، قَالَ: حَدَّثَنَا سِمَاكُ بْنُ حَرْبٍ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ وَائِلٍ الْكِنْدِيِّ، عَنْ أَبِيهِ «أَنَّ امْرَأَةً» خَرَجَتْ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللهِ ﷺ تُرِيدُ الصَّلَاةَ، فَتَلَقَّاهَا رَجُلٌ فَتَجَلَّلَهَا، فَقَضَى حَاجَتَهُ مِنْهَا فَصَاحَتْ فَانْطَلَقَ، وَمَرَّ عَلَيْهَا رَجُلٌ فَقَالَتْ: إِنَّ ذَاكَ الرَّجُلَ فَعَلَ بِي كَذَا وَكَذَا، وَمَرَّتْ بِعِصَابَةٍ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ فَقَالَتْ: إِنَّ ذَاكَ الرَّجُلَ فَعَلَ بِي كَذَا وَكَذَا، فَانْطَلَقُوا فَأَخَذُوا الرَّجُلَ الَّذِي ظَنَّتْ أَنَّهُ وَقَعَ عَلَيْهَا وَأَتَوْهَا، فَقَالَتْ: نَعَمْ هُوَ هَذَا، فَأَتَوْا بِهِ رَسُولَ اللهِ ﷺ، فَلَمَّا أَمَرَ بِهِ لِيُرْجَمَ قَامَ صَاحِبُهَا الَّذِي وَقَعَ عَلَيْهَا فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ أَنَا صَاحِبُهَا، فَقَالَ لَهَا: اذْهَبِي فَقَدْ غَفَرَ اللهُ لَكِ وَقَالَ لِلرَّجُلِ قَوْلًا حَسَنًا، وَقَالَ لِلرَّجُلِ الَّذِي وَقَعَ عَلَيْهَا: ارْجُمُوهُ. وَقَالَ: لَقَدْ تَابَ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا أَهْلُ الْمَدِينَةِ لَقُبِلَ مِنْهُمْ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ صَحِيحٌ. وَعَلْقَمَةُ بْنُ وَائِلِ بْنِ حُجْرٍ سَمِعَ مِنْ أَبِيهِ، وَهُوَ أَكْبَرُ مِنْ عَبْدِ الْجَبَّارِ بْنِ وَائِلٍ، وَعَبْدُ الْجَبَّارِ لَمْ يَسْمَعْ مِنْ أَبِيهِ. [16]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya an-Naisaburi, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf, dari Israil, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Simak bin Harb, dari ‘Alqamah bin Wa’il al-Kindi, dari ayahnya, bahwa ada seorang wanita pada masa Rasulullah  keluar hendak menunaikan shalat. Lalu seorang laki-laki menemuinya dan menyelimutinya (menutupi dirinya dengan paksa), kemudian ia memenuhi syahwatnya terhadap wanita itu. Wanita itu berteriak, dan laki-laki itu pun lari. Kemudian lewat seorang laki-laki dan wanita itu berkata: “Sesungguhnya laki-laki itu telah berbuat begini dan begini kepadaku.” Ia juga bertemu dengan sekelompok Muhajirin dan berkata: “Sesungguhnya laki-laki itu telah berbuat begini dan begini kepadaku.” Maka mereka pergi dan menangkap laki-laki yang disangkanya melakukan itu, lalu mereka membawanya kepada wanita tersebut dan ia berkata: “Ya, dialah orangnya.” Mereka pun membawa laki-laki itu kepada Rasulullah . Ketika Rasulullah memerintahkan agar ia dirajam, tiba-tiba datang laki-laki yang sebenarnya telah menzinainya dan berkata: “Wahai Rasulullah, sayalah pelakunya.” Maka Nabi  bersabda kepada wanita itu: “Pergilah, sungguh Allah telah mengampunimu.” Dan beliau berkata kepada laki-laki yang sebelumnya dituduh secara keliru dengan perkataan yang baik. Kemudian beliau bersabda kepada laki-laki yang benar-benar berzina itu: “Rajamlah dia.” Nabi  bersabda: “Sungguh ia telah bertaubat dengan suatu taubat yang jika penduduk Madinah semuanya bertaubat seperti itu, niscaya taubat mereka diterima.” Hadits ini hasan gharib sahih. Dan Alqamah bin Wa’il bin Hujr telah mendengar dari ayahnya, dan ia lebih tua daripada ‘Abdul Jabbar bin Wa’il, sementara ‘Abdul Jabbar tidak mendengar dari ayahnya.

3.3.    Diterimanya Taubat Orang Yang Sudah Membunuh Seratus Manusia

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 4967 diceritakan diceritakan seseorang yang telah membunuh seratus manusia dan yang terakhir adalah seorang rahib, namun kemudian taubatnya diterima Allah;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَاللَّفْظُ لِابْنِ الْمُثَنَّى قَالَا حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ هِشَامٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَبِي الصِّدِّيقِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ نَبِيَّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ رَجُلٌ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَسَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَاهِبٍ فَأَتَاهُ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ تِسْعَةً وَتِسْعِينَ نَفْسًا فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ لَا فَقَتَلَهُ فَكَمَّلَ بِهِ مِائَةً ثُمَّ سَأَلَ عَنْ أَعْلَمِ أَهْلِ الْأَرْضِ فَدُلَّ عَلَى رَجُلٍ عَالِمٍ فَقَالَ إِنَّهُ قَتَلَ مِائَةَ نَفْسٍ فَهَلْ لَهُ مِنْ تَوْبَةٍ فَقَالَ نَعَمْ وَمَنْ يَحُولُ بَيْنَهُ وَبَيْنَ التَّوْبَةِ انْطَلِقْ إِلَى أَرْضِ كَذَا وَكَذَا فَإِنَّ بِهَا أُنَاسًا يَعْبُدُونَ اللَّهَ فَاعْبُدْ اللَّهَ مَعَهُمْ وَلَا تَرْجِعْ إِلَى أَرْضِكَ فَإِنَّهَا أَرْضُ سَوْءٍ فَانْطَلَقَ حَتَّى إِذَا نَصَفَ الطَّرِيقَ أَتَاهُ الْمَوْتُ فَاخْتَصَمَتْ فِيهِ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ وَمَلَائِكَةُ الْعَذَابِ فَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ جَاءَ تَائِبًا مُقْبِلًا بِقَلْبِهِ إِلَى اللَّهِ وَقَالَتْ مَلَائِكَةُ الْعَذَابِ إِنَّهُ لَمْ يَعْمَلْ خَيْرًا قَطُّ فَأَتَاهُمْ مَلَكٌ فِي صُورَةِ آدَمِيٍّ فَجَعَلُوهُ بَيْنَهُمْ فَقَالَ قِيسُوا مَا بَيْنَ الْأَرْضَيْنِ فَإِلَى أَيَّتِهِمَا كَانَ أَدْنَى فَهُوَ لَهُ فَقَاسُوهُ فَوَجَدُوهُ أَدْنَى إِلَى الْأَرْضِ الَّتِي أَرَادَ فَقَبَضَتْهُ مَلَائِكَةُ الرَّحْمَةِ قَالَ قَتَادَةُ فَقَالَ الْحَسَنُ ذُكِرَ لَنَا أَنَّهُ لَمَّا أَتَاهُ الْمَوْتُ نَأَى بِصَدْرِهِ [17]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Al Mutsanna dan Muhammad bin Basysyar -dan lafadh ini miliki Ibnul Mutsanna- mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Hisyam telah menceritakan kepadaku bapakku dari Qatadah dari Abu Ash Shiddiq dari Abu Sa'id Al Khudri bahwasanya Nabiyullah  telah bersabda: "Pada jaman dahulu ada seorang laki-laki yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang. Kemudian orang tersebut mencari orang alim yang banyak ilmunya. Lalu ditunjukan kepada seorang rahib dan ia pun langsung mendatanginya. Kepada rahib tersebut ia berterus terang bahwasanya ia telah membunuh sembilan puluh sembilan orang dan apakah taubatnya itu akan diterima? Ternyata rahib itu malahan menjawab; 'Tidak. Taubatmu tidak akan diterima.' Akhirnya laki-laki itu langsung membunuh sang rahib hingga genaplah kini seratus orang yang telah dibunuhnya. Kemudian laki-laki itu mencari orang lain lagi yang paling banyak ilmunya. Lalu ditunjukan kepadanya seorang alim yang mempunyai ilmu yang banyak. Kepada orang alim tersebut, laki-laki itu berkata; 'Saya telah membunuh seratus orang dan apakah taubat saya akan diterima? ' Orang alim itu menjawab; 'Ya. Tidak ada penghalang antara taubatmu dan dirimu. Pergilah ke daerah ini dan itu, karena di sana banyak orang yang beribadah kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Setelah itu, beribadahlah kamu kepada Allah bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke daerahmu, karena daerahmu itu termasuk lingkungan yang buruk.' Maka berangkatlah laki-laki itu ke daerah yang telah ditunjukan tersebut. Di tengah perjalanan menuju ke sana laki-laki itu meninggal dunia. Lalu malaikat Rahmat dan Azab saling berbantahan. Malaikat Rahmat berkata; 'Orang laki-laki ini telah berniat pergi ke suatu wilayah untuk bertaubat dan beribadah kepada Allah dengan sepenuh hati.' Malaikat Azab membantah; 'Tetapi, bukankah ia belum berbuat baik sama sekali.' Akhirnya datanglah seorang malaikat yang berwujud manusia menemui kedua malaikat yang sedang berbantahan itu. Maka keduanya meminta keputusan kepada malaikat yang berwujud manusia dengan cara yang terbaik. Orang tersebut berkata; 'Ukurlah jarak yang terdekat dengan orang yang meninggal dunia ini dari tempat berangkatnya hingga ke tempat tujuannya. Mana yang terdekat, maka itulah keputusannya.' Ternyata dari hasil pengukuran mereka itu terbukti bahwa orang laki-laki tersebut meninggal dunia lebih dekat ke tempat tujuannya. Dengan demikian orang tersebut berada dalam genggaman malaikat Rahmat.' Qatadah berkata; 'Al Hasan berkata; 'Seseorang telah berkata pada kami bahwasanya laki-laki itu meninggal dunia dalam kondisi jatuh terlungkup.'

4.Takwa Di Tingkat Taubat

Di dalam kitab Hilyatul Aulia atsar nomor 6003 dinyatakan bahwa  Pembukaan takwa adalah niat yang baik, dan puncaknya adalah mendapatkan pertolongan;

حَدَّثَنَا أَبِي، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبَانَ، ثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عُبَيْدٍ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ، ثنا عَيَّاشُ بْنُ عَاصِمٍ الْكَلْبِيُّ، حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ صَدَقَةَ الْكَيْسَانِيُّ، وَكَانَ يُقَالُ أَنَّهُ مِنَ الْأَبْدَالِ، قَالَ: قَالَ عَوْنُ بْنُ عَبْدِ اللهِ: «فَوَاتِحَ التَّقْوَى حُسْنُ النِّيَّةِ، وَخَوَاتِيمُهَا التَّوْفِيقُ، وَالْعَبْدُ فِيمَا بَيْنَ ذَلِكَ بَيْنَ هَلَكَاتٍ، وَشُبُهَاتٍ، وَنَفْسٍ تَحْطِبُ عَلَى شِلْوِهَا، وَعَدُوٍّ مَكِيدٍ غَيْرِ غَافِلٍ وَلَا عَاجِزٍ». ثُمَّ قَرَأَ: {إِنَّ الشَّيْطَانَ لَكُمْ عَدُوٌّ فَاتَّخِذُوهُ عَدُوًّا} [فاطر: 6] [18].

Artinya: Diceritakan oleh Ayahku, menceritakan oleh Ahmad bin Aban, menceritakan oleh Abu Bakr bin 'Ubayd, menceritakan kepadaku Muhammad bin al-Husain, menceritakan oleh 'Ayyash bin 'Asim al-Kalbi, menceritakan kepadaku Sa'id bin Sadaqah al-Kaysani, yang dikatakan sebagai salah satu dari al-Abdal. Dia berkata, "Aun bin Abdullah berkata, 'Pembukaan takwa (kesalehan) adalah niat yang baik, dan puncaknya adalah bimbingan; persetujuan. Di antara keduanya, seorang hamba berada di antara bencana, ujian, dan dirinya yang selalu menggoda untuk melakukan dosa. Musuhnya adalah tipu daya yang tidak lengah dan tidak lemah.'" Kemudian dia membaca ayat: "Sesungguhnya setan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah dia sebagai musuh yang sebenarnya." (QS. Fushshilat: 6)

Sesuai dengan judul bab takwa di level taubat, maka pada sub bab ini dikumakakan dasar dan pengertian takwa di tingkat taubat, yakni sebagai berikut;

4.1.  Kembali Mengabdi Kepada Allah

Di dalam Al Quran surat Ar-Rum/ 30: 31 dijelaskan perintah untuk kembali bertaubat dan bertakwa kepada-Nya dan menegakkan shalat;

مُنِيبِينَ إِلَيْهِ وَاتَّقُوهُ وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَلَا تَكُونُوا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Artinya: dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah,(QS. Ar-Rum/ 30: 31)

Di dalam ayat tersebut perintah taubat, takwa dan shalat diperintahkan secara bersamaan, hal ini menunjukkan bahwa ketiga perintah tersebut harus dilakukan secara bersamaan dan dilakukan secara terus-menerus, bahkan ada tambahan lagi satu larangan untuk tidak mensekutukan-Nya.

4.2.  Selalu Bertaubat Dari Kekurangan Dan Kesalahan Setiap hari

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 42 ditegaskan perintah untuk bertaubat kepada Allah, Karena Nabi Muhammad sebagai seorang Rasulullah bertaubat kepada Allah terus-menerus dalam sehari seratus kali;

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ قَالَ سَمِعْتُ الْأَغَرَّ وَكَانَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ ابْنَ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ فَإِنِّي أَتُوبُ فِي الْيَوْمِ إِلَيْهِ مِائَةَ مَرَّةٍ [19]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Ghundar dari Syu'bah dari 'Amru bin Murrah dari Abu Burdah dia berkata; "Saya pernah mendengar Al Agharr, salah seorang sahabat Rasulullah, memberitahukan Ibnu Umar, bahwasanya Rasulullah bersabda: 'Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah, karena aku bertaubat seratus kali dalam sehari.' 

Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 1516 digambarkan bahwa Rasulullah SAW dalam satu majlis beliau mengucapkan “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang” sebanyak seratus kali

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ مَالِكِ بْنِ مِغْوَلٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُوقَةَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ إِنْ كُنَّا لَنَعُدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةَ مَرَّةٍ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ [20]

Artinya: Telah menceritakan kepada Kami Al Hasan bin Ali, telah menceritakan kepada Kami Abu Usamah dari Malik bin Mighwal dari Muhammad bin Suqah dari Nafi' dari Ibnu Umar, ia berkata; sungguh Kami telah menghitung ucapan Rasulullah shallla Allahu 'alaihi wa sallam dalam satu majlis beliau “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan terimalah taubatku sesungguhnya Engkau adalah Dzat yang Maha menerima taubat lagi Maha Penyayang” sebanyak seratus kali.

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 3434 digambarkan Bahwa Rasulullah membaca seratus kali doa “Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku, dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi taubat dan Maha Pengampun” dalam satu majelis;

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْكُوفِيُّ حَدَّثَنَا الْمُحَارِبِيُّ عَنْ مَالِكِ بْنِ مِغْوَلٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُوقَةَ عَنْ نَافِعٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كَانَ يُعَدُّ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَجْلِسِ الْوَاحِدِ مِائَةُ مَرَّةٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ يَقُومَ رَبِّ اغْفِرْ لِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الْغَفُورُ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سُوقَةَ بِهَذَا الْإِسْنَادِ نَحْوَهُ بِمَعْنَاهُ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ غَرِيبٌ [21]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Abdurrahman Al Kufi, telah menceritakan kepada kami Al Muharibi dari Malik bin Mighwal dari Muhammad bin Suqah dari Nafi' dari Ibnu Umar, ia berkata; Dalam satu majlis Rasulullah shallallahu wa'alaihi wa sallam, sebelum beliau berdiri (meninggalkan majlis), terhitung seratus kali beliau mengucapkan: (Wahai Tuhanku, ampunilah dosaku, dan terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau adalah Maha Pemberi taubat dan Maha Pengampun). Abu Isa berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Muhammad bin Suqah dengan sanad ini seperti itu dengan maknanya. Hadits ini adalah hadits hasan shahih gharib.

4.3. Tidak Meninggalkan Shalat Jum’at, Karena Jika Meninggal-Kannya Akan Menjadikan Shalat, Zakat, Haji, Puasa, Dan Kebaikan Tidak Berarti Baginya Hingga Ia Bertaubat

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 1081 ditegaskan perintah Ketahuilah, sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kalian shalat jum'at di tempat berdiriku ini, di hariku ini, di bulanku ini dan di tahunku ini hingga hari kiamat. Barangsiapa meninggalkannya di waktu hidupku atau setelahku, dan dia memiliki imam adil atau bejat, kemudian meremehkan atau menolaknya, maka Allah tidak akan menyatukannya dan urusannya tidak akan diberkahi. Ketahuilah, tidak ada shalat, tidak ada zakat, tidak ada haji, tidak ada puasa, dan tidak ada kebaikan baginya hingga ia bertaubat;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ بُكَيْرٍ أَبُو جَنَّابٍ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْعَدَوِيُّ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ خَطَبَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ تُوبُوا إِلَى اللَّهِ قَبْلَ أَنْ تَمُوتُوا وَبَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ الصَّالِحَةِ قَبْلَ أَنْ تُشْغَلُوا وَصِلُوا الَّذِي بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ رَبِّكُمْ بِكَثْرَةِ ذِكْرِكُمْ لَهُ وَكَثْرَةِ الصَّدَقَةِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ تُرْزَقُوا وَتُنْصَرُوا وَتُجْبَرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ قَدْ افْتَرَضَ عَلَيْكُمْ الْجُمُعَةَ فِي مَقَامِي هَذَا فِي يَوْمِي هَذَا فِي شَهْرِي هَذَا مِنْ عَامِي هَذَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَمَنْ تَرَكَهَا فِي حَيَاتِي أَوْ بَعْدِي وَلَهُ إِمَامٌ عَادِلٌ أَوْ جَائِرٌ اسْتِخْفَافًا بِهَا أَوْ جُحُودًا لَهَا فَلَا جَمَعَ اللَّهُ لَهُ شَمْلَهُ وَلَا بَارَكَ لَهُ فِي أَمْرِهِ أَلَا وَلَا صَلَاةَ لَهُ وَلَا زَكَاةَ لَهُ وَلَا حَجَّ لَهُ وَلَا صَوْمَ لَهُ وَلَا بِرَّ لَهُ حَتَّى يَتُوبَ فَمَنْ تَابَ تَابَ اللَّهُ عَلَيْهِ أَلَا لَا تَؤُمَّنَّ امْرَأَةٌ رَجُلًا وَلَا يَؤُمَّ أَعْرَابِيٌّ مُهَاجِرًا وَلَا يَؤُمَّ فَاجِرٌ مُؤْمِنًا إِلَّا أَنْ يَقْهَرَهُ بِسُلْطَانٍ يَخَافُ سَيْفَهُ وَسَوْطَهُ [22]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Numair berkata, telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Bukair Abu Jannab berkata, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Muhammad Al 'Adawi dari Ali bin Zaid dari Sa'id Ibnul Musayyab dari Jabir bin Abdullah ia berkata, "Rasulullah  berkhutbah di hadapan kami, beliau mengatakan: "Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah sebelum kalian mati, bersegeralah beramal shalih sebelum kalian sibuk, dan sambunglah antara kalian dengan Rabb kalian dengan memperbanyak dzikir kepada-Nya, banyak sedekah dengan sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Niscaya kalian akan diberi rezeki, ditolong dan dicukupi. Ketahuilah, sesungguhnya Allah telah mewajibkan kepada kalian shalat jum'at di tempat berdiriku ini, di hariku ini, di bulanku ini dan di tahunku ini hingga hari kiamat. Barangsiapa meninggalkannya di waktu hidupku atau setelahku, dan dia memiliki imam adil atau bejat, kemudian meremehkan atau menolaknya, maka Allah tidak akan menyatukannya dan urusannya tidak akan diberkahi. Ketahuilah, tidak ada shalat, tidak ada zakat, tidak ada haji, tidak ada puasa, dan tidak ada kebaikan baginya hingga ia bertaubat. Maka barangsiapa bertaubat, Allah akan menerima taubatnya. Ketahuilah, tidak boleh seorang perempuan mengimami laki-laki, orang badui mengimami seorang muhajir dan tidak boleh orang fajir mengimami seorang mukmin, kecuali jika ia memaksanya dengan kekuasaan yang ditakuti pedang dan cambuknya."( Ibnu Majah: 1071)

4.4.    Bertaubat Dengan Taubat Nasuha

Di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi Atsar nomor 7026 digambarakan bahwa taubat nasuha adalah jika seseorang melakukan dosa kemudian tidak mau mengerjakan dan mengulanginya lagi;

أَخْبَرَنَا أَبُو الْقَاسِمِ زَيْدُ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ الْعَلَوِيُّ، وَأَبُو الْقَاسِمِ  عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ مُحَمَّدٍ النِّجَادُ الْمُقْرِئُ، بِالْكُوفَةِ قَالَا: أَنَا أَبُو جَعْفَرِ بْنُ دُحَيْمٍ، نا الْقَاضِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْحَاقَ، نا قَبِيصَةُ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ سِمَاكِ بْنِ حَرْبٍ، عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ، سَمِعْتُ عُمَرَ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ يَقُولُ: " تُوبُوا إِلَى اللهِ تَوْبَةً نَصُوحًا " قَالَ: هُوَ الرَّجُلُ يَعْمَلُ الذَّنْبَ ثُمَّ يَتُوبُ وَلَا يُرِيدُ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ وَلَا يَعُودُ [23]

Artinya: Telah mengabarakan keapda kami Abu Al Qasim Zaid ibnu Ja’far ibnu Muhammad ibnu ‘Ali Al ‘Alawi dan Abu Qasim Abdul Wahid ibnu Muhammad An Nijad Al Muqri’u di Kufah berkata: telah mengabarakan kepada kami Abu Ja’far ibnu Dahim, telah mengabarakan kepada kami Al Qadhi Ibrahim ibnu Ishaq, telah mengabarakan kepada kami Qabishah, dari Sufyan dari Simak ibnu Harb dari Nu’man ibnu Basyir Aku telah mendengar Umar RA berkata: “Bertaubatlah kepada Allah dengan taubat nasuha, dia berkata; yaitu seseorang mengerjakan dosa kemudian bertaubat, tidak mau melakukannya dan mengulanginya lagi”

4.5.  Dirinya Tidak Merasa Suci

Di dalam Al Quran surat An-Najm/ 53: 32 dinyatakan janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa;

ٱلَّذِينَ يَجْتَنِبُونَ كَبَـٰٓئِرَ ٱلْإِثْمِ وَٱلْفَوَٰحِشَ إِلَّا ٱللَّمَمَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ وَٰسِعُ ٱلْمَغْفِرَةِ ۚ هُوَ أَعْلَمُ بِكُمْ إِذْ أَنشَأَكُم مِّنَ ٱلْأَرْضِ وَإِذْ أَنتُمْ أَجِنَّةٌۭ فِى بُطُونِ أُمَّهَـٰتِكُمْ ۖ فَلَا تُزَكُّوٓا۟ أَنفُسَكُمْ ۖ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنِ ٱتَّقَىٰٓ

Artinya: (Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu maha luas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa. (An-Najm/ 53: 32)

4.6. Shalat Awwabin (Orang-Orang Bertaubat)

Di dalam Hadits Nabi Muhammad SAW, ditemukan beberapa keterangan tentang shalat awwabin;

4.6.1.    Shalat Dhuha Adalah Shalat Awwabin

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 7586 dinyatakan bahwa shalat dluha adalah shalatnya awwabin; orang-orang yang bertaubat;

حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ السَّمَّاكِ حَدَّثَنَا الْعَوَّامُ بْنُ حَوْشَبٍ حَدَّثَنِي مَنْ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ أَوْصَانِي خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِصَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَبِالْوِتْرِ قَبْلَ النَّوْمِ وَبِصَلَاةِ الضُّحَى فَإِنَّهَا صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ [24]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abul 'Abbas Muhammad bin As Sammak telah menceritakan kepada kami Al Awwam bin Hausyab telah menceritakan kepadaku orang yang telah mendengar dari Abu Hurairah, dia berkata; "Kekasihku Shallallahu 'alaihi wa Salam mewasiatkan kepadaku dengan puasa tiga hari dalam setiap bulannya, shalat witir sebelum tidur dan shalat dluha, sebab ia adalah shalatnya orang-orang yang bertaubat."

4.6.2.  Tidaklah Dapat Menjaga Shalat Dhuha Kecuali Awwab

Di dalam kitab Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain hadits nomor 1182 dinyatakan bahwa 'Tidaklah dapat menjaga shalat Dhuha melainkan awwab; orang-orang yang kembali kepada Allah;

أَخْبَرَنَا أَبُو النَّضْرِ الْفَقِيهُ، ثنا عُثْمَانُ بْنُ سَعِيدٍ الدَّارِمِيُّ، ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ زُرَارَةَ الرَّقِّيُّ، ثنا خَالِدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «لَا يُحَافِظُ عَلَى صَلَاةِ الضُّحَى إِلَّا أَوَّابٌ» قَالَ: «وَهِيَ صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ مُسْلِمٍ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ بِهَذَا اللَّفْظِ "  [25]

 Artinya: Diberitakan kepada kami oleh Abu an-Nadhr al-Faqih; telah menceritakan kepada kami ‘Utsman bin Sa‘id ad-Darimi; telah menceritakan kepada kami Isma‘il bin ‘Ubaidillah bin Zurārah ar-Raqqi; telah menceritakan kepada kami Khalid bin ‘Abdillah; telah menceritakan kepada kami Muhammad bin ‘Amr, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah  bersabda: “Tidak ada yang menjaga (menekuni) shalat Dhuha kecuali orang yang rajin kembali kepada Allah (al-Awwāb).” Beliau bersabda: “Dan itulah shalat para awwābīn.” Hadits ini sahih menurut syarat Muslim, namun keduanya (al-Bukhari dan Muslim) tidak meriwayatkannya dengan lafaz seperti ini.

4.6.3. Shalat Awwabin Dikerjakan Ketika Anak Unta Mulai Beranjak Karena Kepanasan

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 143 digambarkan bahwa Shalat awwabin (orang yang bertaubat) dikerjakan ketika anak unta mulai beranjak karena kepanasan

و حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ وَهُوَ ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ الْقَاسِمِ الشَّيْبَانِيِّ أَنَّ زَيْدَ بْنَ أَرْقَمَ رَأَى قَوْمًا يُصَلُّونَ مِنْ الضُّحَى فَقَالَ أَمَا لَقَدْ عَلِمُوا أَنَّ الصَّلَاةَ فِي غَيْرِ هَذِهِ السَّاعَةِ أَفْضَلُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ صَلَاةُ الْأَوَّابِينَ حِينَ تَرْمَضُ الْفِصَالُ [26]  

Artinya: Dan telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Ibnu Numair keduanya berkata; telah menceritakan kepada kami Ismail yaitu Ibnu 'Ulayyah dari Ayyub dari Al Qasim Asy Syaibani bahwa Zaid bin Arqam pernah melihat suatu kaum yang tengah mengerjakan shalat dluha, lalu dia berkata; "Tidakkah mereka tahu bahwa shalat diluar waktu ini lebih utama? sebab Rasulullah  bersabda: "Shalat awwabin (orang yang bertaubat) dikerjakan ketika anak unta mulai beranjak karena kepanasan."

4.7.    Mengakui Kesalahan Dan Bertaubat

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah   hadits nomor 4241 dinyatakan bahwa semua bani Adam pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang segera bertaubat;

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مَسْعَدَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ [27]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani' telah menceritakan kepada kami Zaid bin Hubab telah menceritakan kepada kami Ali bin Mas'adah dari Qatadah dari Anas dia berkata; Rasulullah  bersabda: "Semua bani Adam pernah melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang salah adalah yang segera bertaubat."

4.8.    Berdoa Mohon Diterima Taubatnya

Di dalam kitab Musnad Ahmad  hadits nomor 5100 disebutkan doa Ya Allah, ampunilah dosaku dan kasihanilah aku serta terimalah taubatku;

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ الْمَلِكِ أَخْبَرَنَا زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ كُنْتُ جَالِسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَمِعْتُهُ اسْتَغْفَرَ مِائَةَ مَرَّةٍ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي وَارْحَمْنِي وَتُبْ عَلَيَّ إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ أَوْ إِنَّكَ تَوَّابٌ غَفُورٌ [28]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Malik telah mengabarkan kepada kami Zuhair telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari Mujahid dari Ibnu Umar ia berkata, "Suatu ketika aku pernah duduk di dekat Nabi  lalu aku mendengar beliau mengucapkan istighfar seratus kali, kemudian beliau berdo'a: “Ya Allah, ampunilah dosaku dan kasihanilah aku serta terimalah taubatku, sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Menerima taubat dan Maha Pengasih, atau Sesungguhnya Engkau adalah Dzat Yang Maha Menerima taubat dan Maha Mengampuni) “.

4.9. Sesungguhnya Allah Mencintai Seorang Hamba Yang Mukmin Yang Tergiur Yang Bertaubat

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 571 dinyatakan sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang mukmin yang tergiur yang bertaubat;

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي عَبْدُ الْأَعْلَى بْنُ حَمَّادٍ النَّرْسِيُّ حَدَّثَنَا دَاوُدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ مَسْلَمَةُ الرَّازِيُّ عَنْ أَبِي عَمْرٍو الْبَجَلِيِّ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ سُفْيَانَ الثَّقَفِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ عَنْ مُحَمَّدِ ابْنِ الْحَنَفِيَّةِ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ الْمُفَتَّنَ التَّوَّابَ [29]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah, telah menceritakan kepadaku Abdul A'la Bin Hammad An Narsi Telah menceritakan kepada kami Daud Bin Abdurrahman Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah Maslamah Ar Razi dari Abu 'Amru Al Bajali dari Abdul Malik Bin Sufyan Ats Tsaqafi dari Abu Ja'far Muhammad Bin Ali dari Muhammad Bin Al Hanafiyah dari bapaknya, dia berkata; Rasulullah  bersabda: "Sesungguhnya Allah mencintai seorang hamba yang mukmin yang tergiur yang bertaubat." (HR. Ahmad: 571)

Sedangkan di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor 7252 dinyatakan bahwa sebaik-baik kalian adalah orang yang tergiur yang bertaubat;

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، نا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْخَلَدِيُّ، نا مُحَمَّدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الرَّازِيُّ بِمِصْرَ، نا سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ الزَّعْفَرَانِيُّ، نا عَبْدُ الْوَاحِدِ بْنُ زِيَادٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ إِسْحَاقَ، عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ عَلِيٍّ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " خِيَارُكُمْ كُلُّ مُفْتَنٍ تَوَّابٌ ".[30]

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdillah Al Hafidz, telah mengabarkan kepada kami Ja’far ibnu Muhammad Al Khaladi, telah mengabarkan kepada kami Muhammad ibnu Ibrahim Ar Razi di Mesir, telah mengabarkan kepada kami Sulaiman ibnu Daud Az Za’farani, telah mengabarkan kepada kami Abdul Wahid ibnu Ziyad, dari Abdillah Ar Rahman ibnu Ishaq, dari An Nu’man ibnu Sa’din dari Ali RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sebai-baik kalian adalah orang yang tergiur yang bertaubat” (HR. Baihaqi: 7252)

4.10.    Rahmat Allah Dekat Dengan Orang Yang Bertaubat

Di dalam kitab Hilyatul Aulia 372 dinyatakan bahwa Rahmat Allah Dekat Dengan Orang Yang Bertaubat;

حَدَّثَنَا أَبِي، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبَانَ، ثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عُبَيْدٍ، حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ، ثنا شِهَابُ بْنُ عَبَّادٍ، ثَنَا سُوَيْدُ بْنُ عَمْرٍو الْكَلْبِيُّ، عَنْ مَسْلَمَةَ بْنِ جَعْفَرٍ، حَدَّثَنِي أَبُو الْعِجْلِ الْأَسَدِيُّ، قَالَ: قَالَ عَوْنُ بْنُ عَبْدِ اللهِ: «قَلْبُ التَّائِبُ بِمَنْزِلَةِ الزُّجَاجَةِ، يُؤَثِّرُ فِيهَا جَمِيعُ مَا أَصَابَهَا، وَالْمَوْعِظَةُ إِلَى قُلُوبِهِمْ سَرِيعَةٌ، وَهُمْ إِلَى الرِّقَةِ أَقْرَبُ، فَدَاوُوهَا مِنَ الذُّنُوبِ بِالتَّوْبَةِ، فَلَرُبَّ تَائِبٍ دَعَتْهُ تَوْبَتُهُ إِلَى الْجَنَّةِ حَتَّى أَوْفَدَتْهُ عَلَيْهَا، وَجَالِسُوا التَّوَّابِينَ؛ فَإِنَّ رَحْمَةَ اللهِ إِلَى التَّوَّابِينَ أَقْرَبُ» [31]..

Artinya: Telah menceritakan kepada kami ayahku, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Aban, telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin 'Ubaid, telah menceritakan kepadaku Muhammad bin al-Husain, telah menceritakan kepada kami Syihab bin 'Abbad, telah menceritakan kepada kami Suwaid bin 'Amr al-Kalbi, dari Maslamah bin Ja'far, telah menceritakan kepadaku Abu al-'Ijl al-Asadi, dia berkata: 'Aun bin 'Abdullah berkata: "Hati orang yang bertaubat seperti kaca; semua yang mengenainya berpengaruh padanya. Nasihat cepat masuk ke hati mereka, dan mereka lebih dekat kepada kelembutan. Maka obatilah hati tersebut dari dosa-dosa dengan taubat, karena bisa jadi seorang yang bertaubat dibawa taubatnya ke surga hingga menghantarkannya kepadanya. Duduklah bersama orang-orang yang bertaubat, karena rahmat Allah lebih dekat kepada orang-orang yang bertaubat."

4.11.   Setiap Kali Melakukan Kesalahan Segera Bertobat

Di dalam kitab Hilyatul Aulia hadits nomor 16745 dinyatakan bahwa setiap kali ia melakukan kesalahan, ia segera bertobat dengan taubat yang menghapus dosa-dosanyat;

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ الْحُسَيْنِ الصُّوفِيُّ النَّيْسَابُورِيُّ، ثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي عِمْرَانَ الْفَرَائِضِيُّ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ إِسْحَاقَ الرَّازِيُّ، قَالَ: ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سُلَيْمَانَ، ثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ عِيسَى، ثَنَا مَالِكٌ، عَنِ ابْنِ شِهَابٍ، عَنِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ مَا تَقُولُ فِي الْقَلِيلِ الْعَمَلِ الْكَثِيرِ الذُّنُوبِ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ، فَمَنْ كَانَتْ لَهُ سَجِيَّةُ عَقْلٍ وَغَرِيزَةُ يَقِينٍ لَمْ تَضُرَّهُ ذُنُوبُهُ شَيْئًا» قِيلَ: وَكَيْفَ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللهِ قَالَ: «لِأَنَّهُ كُلَّمَا أَخْطَأَ لَمْ يَلْبَثُ أَنْ يَتُوبَ تَوْبَةً تَمْحُو ذُنُوبَهُ وَيَبْقَى لَهُ فَضْلٌ يَدْخُلُ بِهِ الْجَنَّةَ، فَالْعَقْلُ أَدَاةُ الْعَامِلِ بِطَاعَةِ اللهِ وَحُجَّةٌ عَلَى أَهْلِ مَعْصِيَةِ اللهِ» غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ مَالِكٍ تَفَرَّدَ بِهِ سُلَيْمَانُ بْنُ عِيسَى وَهُوَ الْحِجَازِيُّ وَفِيهِ ضِعْفٌ  [32]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Al-Husain As-Shufi An-Naisaburi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abi Imran Al-Faraidhi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma'il bin Ishaq Ar-Razi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Isa, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Malik, dari Ibnu Syihab, dari Anas bin Malik, ia berkata: Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, apa yang engkau katakan tentang sedikit amal tetapi banyak dosa?" Maka Rasulullah  bersabda: "Setiap anak Adam adalah pendosa. Barang siapa memiliki tabiat akal yang sehat dan keyakinan yang kokoh, dosa-dosanya tidak akan membahayakannya sedikit pun." Lalu ditanyakan, "Bagaimana hal itu bisa terjadi, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Karena setiap kali ia melakukan kesalahan, ia segera bertobat dengan taubat yang menghapus dosa-dosanya, dan ia tetap memiliki keutamaan yang akan memasukkannya ke dalam surga. Akal adalah alat bagi orang yang taat kepada Allah, dan menjadi hujjah (argumen) atas orang-orang yang bermaksiat kepada Allah." Hadis ini gharib (unik) dari jalur Malik, diriwayatkan secara tunggal oleh Sulaiman bin Isa Al-Hijazi, dan di dalamnya terdapat kelemahan (dalam sanadnya).

Akhirnya di sini perlu dirumuskan bahwa takwa di tingkat taubat adalah wujud kesadaran untuk taat kepada Allah, menjaga diri dari kekurangan dan kesalahan dalam meninggalkan larangan dan menjalankan perintahnya disertai dengan kesadaran untuk selalu mengingat Allah yang maha menerima taubat, diiringi dengan kesadaran untuk segera beristighfar dan bertaubat kepada Allah SWT.

 

Dzikir Taubat

"سُبْحَانَكَ وَبِحَمْدِكَ أَسْتَغْفِرُكَ وَأَتُوبُ إِلَيْكَ"

"Mahasuci Engkau, dan dengan memujiMu, aku meminta ampun dan bertaubat kepadaMu."

(HR. Muslim: 747)

سَبَّحَ لله:عَظَّمَهُ وَمَجَّدَهُ وَنَزَّهَهُ :

Bertasbih: Mengagungkan, memuliakan dan bijaksanakan 



[1] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, tt.), jilid 4, halaman 3-10.

[2] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 164, Hadits nomor 6810.

[3] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman 2104, Hadits nomor 2746.

[4] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 164, Hadits nomor 6809.

[5] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 23, Hadits nomor 2826.

[7] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 9 Hal. 264, Hadits nomor 6635.

[8] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar Al-Risalah Al-Alamayah, Beirut, 2009, Jilid 1 halaman 72, Hadits nomor 55.

[9] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 118, Hadits nomor 7388.

[10] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Dar Ibnu Katsir, Damsiq, 1993, Jilid 5, Halaman 2324, Hadits nomor 5948.

[11] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1 , Halaman 351, Hadits nomor 218.

[12] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 5 halaman 431, Hadits nomor 3433.

[13] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 2187, Hadits nomor 72.

[14] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 2088, Hadits nomor 73.

[15] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 3, Halaman 1324, Hadits nomor 24.

[17] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman 2118, Hadits nomor 46.

[18] Abu Nu’aim Ahmad ibn Abdullah Al-Ashbahani, Hilyatul Auliya’ Wa Thabaqatul Ashfiya’, Mathba’ah Sa’adah, Mesir, 1974. Jilid 4 Halaman 250.

[19] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman 2075, Hadits nomor 42.

[20] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 5, Halaman 433, Hadits nomor 3434.

[21] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 5 halaman 399, Hadits nomor 3396.

[22] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 1, Halaman 343, Hadits nomor 1081.

[23] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 5 Hal. 387, Hadits nomor 7026.

[24] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 7, Halaman 350.Hadits nomor 7586.

[25] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Al Kitab Al-‘Ilmiyah, Beirut, 1990, Jilid 1, Halaman 459, Hadits nomor 1182.

[26] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1 , Halaman 515, Hadits nomor 143.

[28] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Dar Al-Hadits, Kairo, 1995, Jilid 5, Halaman 31.Hadits nomor 5354.

[29] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 2, Halaman 42.Hadits nomor 6050.

[30] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 9 Hal. 327, Hadits nomor 6720.

[31] Abu Nu’aim Ahmad ibn Abdullah Al-Ashbahani, Hilyatul Auliya’ Wa Thabaqatul Ashfiya’, Mathba’ah Sa’adah, Mesir, 1974. Jilid 1 Halaman 372.

[32] Abu Nu’aim Ahmad ibn Abdullah Al-Ashbahani, Hilyatul Auliya’ Wa Thabaqatul Ashfiya’, Mathba’ah Sa’adah, Mesir, 1974. Jilid 6 Halaman 333.


Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post