- 1. TAKWA DARI NAFSIYAH
Dari segi bahasa Nafsiyah berasal dari kata nafs artinya jiwa, ruh, batin, spirit, diri, pribadi, esensi, zat, alami, Nafsiyah adalah dorongan yang berasal dari diri sendiri untuk memperoleh kesenangan atau kebahagiaan.
Dalam pandangan Imam al-Ghazali, nafsiyah merupakan dimensi batin manusia yang mencakup dorongan, kecenderungan, dan sifat-sifat psikologis yang mempengaruhi perilaku lahiriah. Ia menjelaskan bahwa nafs memiliki tingkatan-tingkatan yang dapat berkembang dari kondisi rendah menuju kesucian spiritual, mulai dari an-nafs al-ammārah (jiwa yang memerintahkan kepada keburukan), kemudian an-nafs al-lawwāmah (jiwa yang mencela diri), hingga an-nafs al-muṭma’innah (jiwa yang tenang). Struktur kejiwaan ini, menurut al-Ghazali, harus dididik melalui riyāḍah an-nafs dan mujāhadah sehingga dorongan negatif dapat dikendalikan dan diarahkan menuju ketaatan serta penyucian hati.[1]
Sementara itu, Ibn Qayyim al-Jauziyah menegaskan bahwa nafsiyah adalah pusat keinginan dan kecenderungan manusia, yang dapat membawa seseorang kepada kebinasaan apabila dibiarkan tunduk kepada hawa nafsu. Namun, ia juga menekankan bahwa nafs memiliki potensi untuk mencapai derajat tertinggi apabila dibimbing dengan ilmu, muhasabah, dan kesadaran tauhid. Menurutnya, perjalanan spiritual seorang hamba adalah perpindahan terus-menerus antara kondisi jiwa yang lemah, yang dicengkeram syahwat dan waswas, menuju kondisi jiwa yang tenang karena tunduk sepenuhnya pada kehendak Allah. [2]
Di dalam Al Quran nafs digambarkan sebagai sebuah dorongan kepada ketidak baikan, sebagaimana dinyatakan di dalam surat Yusuf /12: 53 “bahwa sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan”;
وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya: Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyanyang.(QS. Yusuf /12: 53)
Sedangkan di dalam kitab Mustadrak Hakim hadits nomor 7639 digambarkan bahwa Orang yang cerdas (spiritual) adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk bekal setelah mati, Sedangkan orang yang lemah (spiritual) adalah orang yang mengikuti kemauan dirinya dan berangan-angan terhadap Allah;
أَخْبَرَنَا الْحَسَنُ بْنُ حَلِيمٍ الْمَرْوَزِيُّ، ثنا أَبُو الْمُوَجَّهِ، ثنا عَبْدَانُ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ، أَنْبَأَ أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي مَرْيَمَ الْغَسَّانِيُّ، عَنْ ضَمْرَةَ بْنِ حَبِيبٍ، عَنْ شَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ، وَالْعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا، وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الْبُخَارِيِّ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ» [3]
Artinya: Al Hasan bin Halim Al Marwazi mengabarkan kepada kami, Abu Al Muwajjih menceritakan kepada kami, Abdan menceritakan kepada kami, Abdullah menceritakan kepada kami, Abu Bakar bin Abu Maryam Al Ghassani memberitakan (kepada kami) dari Dhamrah bin Habib, dari Syaddad bin Aus, dia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, ”Orang yang cerdas adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya dan beramal untuk bekal setelah mati. Sedangkan orang yang lemah adalah yang mengikuti hawa nafsunya dan berharap-harap kepada Allah (agar mengampuninya)" Hadis ini shahih sesuai syarat Al Bukhari, tapi Al Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.
Dari ayat dan hadits tersebut dapat dipahami bahwa manusia tidak dapat terbebas dari keburukan karena nafsu akan selalu mendorong kepada keburukan, sedangkan orang yang cerdas (spiritual) adalah orang yang mampu mengendalikan “Nafs” melakukan keburukan, karena harus mempersiapkan diri dan dengan amal kebaikan yang dapat dijadikan bekal di akhirat, orang yang dapat mengendalikan “nafs” untuk taat kepada Allah inilah yang disebut sebagai orang takwa, sedangkan orang yang lemah (spiritual) adalah orang yang tidak dapat mengendalikan diri “nafs”, sehingga lebih banyak mengikuti kemauan untuk memenuhi kesenangan dan kebahagiaan dirinya sendiri, orang yang tidak dapat mengendalikan diri untuk taat kepada Allah ini disebut sebagai orang fujur.
Selain Nafs sendiri memiliki kecenderungan kepada ketidak baikan, masih ada tambahan pengaruh buruk dari godaan syetan, sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran surat An-Nur/ 24: 21;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. An-Nur/ 24: 21)
Di dalam Al Quran surat Qaf/ 50: 16 digambarkan bahwa Allah mengetahui apa saja yang dibisikkan di dalam nafs, namun Allah lebih dekat kepadanya daripada urat leher;
وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ وَنَعْلَمُ مَا تُوَسْوِسُ بِهِ نَفْسُهُ وَنَحْنُ أَقْرَبُ إِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيدِ
Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, (QS. Qaf/ 50: 16)
Ayat tersebut memberi gambaran bahwa ketika tumbuh kesadaran bahwa hakekatnya Allah lebih dekat daripada urat leher, maka bisikan; peringatan; ajakan Allah kepada kebaikan lebih dekat daripada bisikan syetan kepada keburukan, jika bisikan kebaikan kepada nafs lebih diindahkan akan menjadikannya sebagai sesorang yang memiliki nafs yang tenang, yang akan mengajak Kembali kepada Allah secara Ridha dan diridhai, hingga dipersilahkan masuk ke Surganya Allah, sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran surat Al-Fajr/ 89: 27-30;
يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ, ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً, فَادْخُلِي فِي عِبَادِي, وَادْخُلِي جَنَّتِي
Artinya: Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. Al-Fajr/ 89: 27-30)
Dengan demikian dapat difahami bahwa selain “Nafs” yang ada pada setiap diri manusia yang dapat mendorong seseorang untuk berbuat fujur, ditambah adanya dorongan atau gangguan dari syetan yang selalu mepengaruhi; mengajak; menggoda manusia untuk melakukan perbuatan fujur, namun juga ada dorongan untuk bertakwa; melakukan kebaikan; ketaatan, yang datangnya dari Allah melalui malaikat-Nya.
Pada bab ini hanya akan mengemukakan pembahasan tentang nafs yang berkaitan dengan perbuatan fujur, perbuatan fuju yang dilakukan manusia berawal dari Nafsiyah yang ada pada diri seseorang, nafsiyah yang kemudian akan mendorang manusia bersikap Nafsiyah, antara lain;
1. Atsarah,
2. Ujub,
3. Ria’ Dan Sum’ah,
4. Takabur,
5. Ashabiyah,
6. Merasa Mampu/ Berkuasa/ Memiliki/ Menguasai
7. Takwa Dari Nafsiyah.
Berikut pembahasan dari beberapa sikap yang dapat muncul, yang didorong dari adanya sifat nafsiyah dalam diri manusia dan Ketakwaan dari Nafsiyah;
Atsarah berasal dari berasal dari bahasa Arab yang artinya egoisme, sifat mementingkan diri sendiri, lebih mengutamakan diri sendiri, Atsarah merupakan istilah yang banyak digunakan Rasulullah SAW untuk menyebutkan perilaku mementingkan diri sendiri, antara lain disebutkan di dalam beberapa hadits berikut.
1.1. Kalian Semua Akan Mendapatkan Orang-Orang Yang Sangat Mementingkan Pribadinya Masing-Masing
Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 1753, diceritakan tentang pembagian ghanimah dari perang hunain, ketika orang-orang Anshar tidak senang dengan pembagian yang hanya diberikan kepada orang-orang Qurais, sedangkan orang-orang Anshar tidak diberi bagian, setelah Rasulullah menasehati mereka kumudian bersabda: “Kalian semua akan mendapatkan orang-orang yang sangat mementingkan pribadinya masing-masing …”;
حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى التُّجِيبِيُّ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ أَنَّ أُنَاسًا مِنْ الْأنْصَارِ قَالُوا يَوْمَ حُنَيْنٍ حِينَ أَفَاءَ اللَّهُ عَلَى رَسُولِهِ مِنْ أَمْوَالِ هَوَازِنَ مَا أَفَاءَ فَطَفِقَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْطِي رِجَالًا مِنْ قُرَيْشٍ الْمِائَةَ مِنْ الْإِبِلِ فَقَالُوا يَغْفِرُ اللَّهُ لِرَسُولِ اللَّهِ يُعْطِي قُرَيْشًا وَيَتْرُكُنَا وَسُيُوفُنَا تَقْطُرُ مِنْ دِمَائِهِمْ قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ فَحُدِّثَ ذَلِكَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ قَوْلِهِمْ فَأَرْسَلَ إِلَى الْأَنْصَارِ فَجَمَعَهُمْ فِي قُبَّةٍ مِنْ أَدَمٍ فَلَمَّا اجْتَمَعُوا جَاءَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا حَدِيثٌ بَلَغَنِي عَنْكُمْ فَقَالَ لَهُ فُقَهَاءُ الْأَنْصَارِ أَمَّا ذَوُو رَأْيِنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَلَمْ يَقُولُوا شَيْئًا وَأَمَّا أُنَاسٌ مِنَّا حَدِيثَةٌ أَسْنَانُهُمْ قَالُوا يَغْفِرُ اللَّهُ لِرَسُولِهِ يُعْطِي قُرَيْشًا وَيَتْرُكُنَا وَسُيُوفُنَا تَقْطُرُ مِنْ دِمَائِهِمْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِنِّي أُعْطِي رِجَالًا حَدِيثِي عَهْدٍ بِكُفْرٍ أَتَأَلَّفُهُمْ أَفَلَا تَرْضَوْنَ أَنْ يَذْهَبَ النَّاسُ بِالْأَمْوَالِ وَتَرْجِعُونَ إِلَى رِحَالِكُمْ بِرَسُولِ اللَّهِ فَوَاللَّهِ لَمَا تَنْقَلِبُونَ بِهِ خَيْرٌ مِمَّا يَنْقَلِبُونَ بِهِ فَقَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ رَضِينَا قَالَ فَإِنَّكُمْ سَتَجِدُونَ أَثَرَةً شَدِيدَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْا اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَإِنِّي عَلَى الْحَوْضِ قَالُوا سَنَصْبِرُ...
Artinya: Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya At Tujibi telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Wahb telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab telah mengabarkan kepadaku Anas bin Malik ia berkata; Ketika perang Hunain, Allah memberikan harta rampasan kepada Rasulullah ﷺ dari harta kaum Hawazin. Kemudian beliau membagikannya kepada kaum Quraisy berupa seratus ekor unta. Karena itu, beberapa kaum Anshar berujar, "Semoga Allah mengampuni Rasulullah ﷺ yang telah memberi kaum Quraisy sedangkan kita dibiarkan saja oleh beliau, padahal perang kita masih basah oleh darah musuh." Anas berkata; Kemudian ucapan mereka itu sampai kepada Rasulullah ﷺ, karena itu beliau memerintahkan kaum Anshar agar berkumpul di kemah kulit. Setelah mereka berkumpul, Rasulullah ﷺ mendatangi mereka dan bertanya: "Benarkah berita yang datang kepadaku mengenai ucapan kalian?" Orang yang paling pandai diantara kaum Ansahr menjawab, "Kami tidak pernah berkata demikian ya Rasulullah! Tetapi pemuda-pemuda kamilah yang mengatakan, 'Semoga Allah mengampuni Rasulullah ﷺ yang telah memberi orang Quraisy, sedangkan kita dibiarkannya saja. Padahal pedang kita masih basah oleh darah musuh.'" Maka Rasulullah ﷺ pun bersabda: "Sebenarnya, aku hanya memberi kepada orang-orang yang belum lama masuk Islam, sekedar untuk melunakkan hati mereka. Apakah kalian tidak rela kalau mereka pergi dengan harta benda dunia, sedangkan kalian pulang ke rumah masing-masing bersama Rasulullah ﷺ? Demi Allah, sesungguhnya apa yang kalian bawa pulang adalah lebih berarti daripada apa yang mereka bawa." Mereka pun menjawab, "Benar ya Rasulullah! Kami rela ya Rasulullah." Kemudian beliau bersabda lagi: "Kalian semua akan mendapatkan orang-orang yang sangat mementingkan pribadinya masing-masing; karena itu, bersabarlah hingga kalian menjumpai Allah dan Rasul-Nya. Aku akan menunggu kalian di telaga (kelak pada hari kiamat)." Mereka menjawab, "Kami akan bersabar wahai Rasulullah." …(HR. Muslim:: 1753)
1.2. Sepeninggalku Nanti, Akan Kalian Jumpai Sikap-Sikap Utsrah
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 3508 dijelaskan bahwa Rasulullah menyatakan: Sepeninggalku nanti, akan kalian jumpai sikap-sikap utsrah;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا غُنْدَرٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أُسَيْدِ بْنِ حُضَيْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ أَنَّ رَجُلًا مِنْ الْأَنْصَارِ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَلَا تَسْتَعْمِلُنِي كَمَا اسْتَعْمَلْتَ فُلَانًا قَالَ سَتَلْقَوْنَ بَعْدِي أُثْرَةً فَاصْبِرُوا حَتَّى تَلْقَوْنِي عَلَى الْحَوْضِ
Artinya: Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Basyar telah bercerita kepada kami Ghundar telah bercerita kepada kami Syu'bah berkata, aku mendengar Qatadah dari Anas bin Malik dari Usaid bin Hudlair radliallahu 'anhum; ada seseorang dari kalangan Anshar yang berkata; "Wahai Rasulullah, tidakkah sepatutnya baginda mempekerjakanku sebagaimana baginda telah mempekerjakan si fulan?". Beliau menjawab: "Sepeninggalku nanti, akan kalian jumpai sikap-sikap utsrah (individualis, egoism, orang yang mementingkan dirinya sendiri). Maka itu bersabarlah kalian hingga kalian berjumpa denganku di telaga al-Haudl (di surga) ".(HR. Bukhari: 3508)
Di dalam kitab Shahih Muslim nomor 3426 dijelaskan bahwa salah satu bagian dari baiat Rasulullah kepada para sahabatnya adalah kesediaan untuk tidak lebih mementingkan kepentingannya sendiri;
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ عَنْ يَحْيَى بْنِ سَعِيدٍ وَعُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الْوَلِيدِ بْنِ عُبَادَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ بَايَعْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي الْعُسْرِ وَالْيُسْرِ وَالْمَنْشَطِ وَالْمَكْرَهِ وَعَلَى أَثَرَةٍ عَلَيْنَا وَعَلَى أَنْ لَا نُنَازِعَ الْأَمْرَ أَهْلَهُ وَعَلَى أَنْ نَقُولَ بِالْحَقِّ أَيْنَمَا كُنَّا لَا نَخَافُ فِي اللَّهِ لَوْمَةَ لَائِمٍ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Idris dari Yahya bin Sa'id dan Ubaidullah bin Umar dari 'Ubadah bin Walid bin 'Ubadah dari ayahnya dari kakeknya dia berkata, "Kami pernah membaiat Rasulullah ﷺ untuk taat dan mendengar baik dalam keadaan lapang atau sempit, dalam keadaan semangat atau terpaksa dan lebih mementingkan kepentingannya dari pada diri sendiri, tidak menentang perintahan yang berwenang dan untuk mengatakan kebenaran di mana saja kami berada, serta tidak takut (dalam menegakkan kalimat) Allah terhadap celaan orang-orang yang mencela." …(HR. Muslim : 3426)
1.4. Sungguh Akan Terjadi Sifat-Sifat Egoisme Dan Perkara- Perkara Yang Kalian Mengingkarinya
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 3335, dijelaskan bahwa Sungguh akan terjadi sifat-sifat egoisme dan perkara- perkara yang kalian mengingkarinya;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ كَثِيرٍ أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ زَيْدِ بْنِ وَهْبٍ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سَتَكُونُ أَثَرَةٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ تُؤَدُّونَ الْحَقَّ الَّذِي عَلَيْكُمْ وَتَسْأَلُونَ اللَّهَ الَّذِي لَكُمْ
Artinya: Telah bercerita kepada kami [Muhammad bin Katsir] telah mengabarkan kepada kami [Sufyan] dari [Al A'masy] dari [Zaid bin Wahb] dari [Ibnu Mas'ud] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Sungguh akan terjadi sifat-sifat egoisme dan perkara- perkara yang kalian ingkari". Mereka bertanya; "Wahai Rasulullah, apa yang baginda perintahkan untuk kami (bila zaman itu kami alami)? '. Beliau menjawab: "Kalian tunaikan hak-hak (orang lain) yang menjadi kewajiban kalian dan kalian minta kepada Allah apa yang menjadi hak kalian". (HR. Bukhari: 3335)
Imam Al-Ghazālī di dalam kitab Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn memberikan gambaran tentang atsarah;
«وَمِنْ أَثَرَةِ النَّفْسِ أَنْ يَتَمَلَّكَ الرَّجُلُ مَعْرُوفًا لَيَسْتَفِيدَهُ لِنَفْسِهِ فَيَكُونَ هَذَا حِجَابًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ»[4]
Artinya: “Dan di antara sifat jiwa atsarah adalah ketika seseorang memiliki suatu kebaikan atau amal kebajikan dengan tujuan untuk mengambil manfaatnya bagi dirinya sendiri. Maka hal itu menjadi penghalang (hijab) antara dirinya dengan Allah ‘Azza wa Jalla.”
Demikian juga Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah, memberikan gambaran bahwa al-Atsarah merupakan sifat tercela yang menjadi lawan langsung dari al-Itsār. Jika al-Itsār adalah mendahulukan kepentingan orang lain atas diri sendiri karena Allah, maka al-Atsarah adalah mendahulukan diri sendiri dan mengabaikan kepentingan orang lain demi keuntungan pribadi.[5]
Ibnu al-Qayyim menjelaskan bahwa al-Atsarah muncul dari dominasi cinta dunia dan hawa nafsu dalam hati seseorang. Orang yang memiliki sifat atsarah akan sulit merasakan empati, karena ia mengutamakan kemaslahatan dirinya dan menutup hati dari kasih sayang terhadap sesama.[6] Dalam Madarij al-Sālikīn, Ibnu al-Qayyim menyebut bahwa atsarah merupakan “penyakit hati yang lahir dari kelemahan iman dan cinta dunia,” sehingga menghancurkan keikhlasan dan memutus hubungan spiritual dengan Allah.[7]
Beliau juga menegaskan dalam Ighāthat al-Lahfān bahwa atsarah adalah akar dari segala bentuk ketamakan (ṭama‘) dan kebakhilan (bukhl).⁴ Seseorang yang dikuasai oleh sifat atsarah tidak akan mampu mencapai maqām al-Itsār maupun al-ikhlaṣ, karena hatinya masih terikat pada kepentingan duniawi dan keakuan diri.[8]
Orang beriman harus membersihkan diri dari karakter atsarah dan menggantinya menjadi karakter ‘Itsar; yaitu mementingkan kepentingan orang lain dibandingkan kepentingan diri sendiri, didasari Al Quran surat Al-Hasyr (59): 9
وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya: Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung (QS. Al-Hasyr/ 59: 9)
Mengendalikan diri dari perilaku atsarah karena Allah, berarti takwa dari atsarah, perilaku ini merupakan bagian dari takwa dari nafsiyah.
Dari segi bahasa ‘ujub berasal dari ‘Ajaba-Yu’jibu-, artinya angkuh, ujub, besar kepala, berbangga diri. Imam al-Ghazālī menjelaskan bahwa ‘ujub adalah keadaan seseorang yang memandang dirinya dengan penuh kekaguman atas amal, ilmu, atau kedudukan yang dimilikinya, dan melupakan bahwa semua itu berasal dari karunia Allah. Ia merasa dirinya memiliki keutamaan tanpa menyandarkan nikmat tersebut kepada pemberian Allah.[9]
Sedang Ibn al-Qayyim memandang ‘ujub sebagai salah satu bentuk kerusakan hati yang paling berbahaya, karena ia merupakan awal dari kebinasaan amal dan terputusnya hubungan dengan Allah. Dalam Madarij al-Sālikīn, beliau menulis bahwa: “‘Ujub adalah seseorang memandang dirinya dan amalnya dengan pandangan penuh kekaguman, hingga ia lupa dosa-dosanya dan merasa aman dari makar Allah. Padahal ia tidak tahu bahwa rasa kagumnya terhadap dirinya sendiri adalah pintu kehancuran yang paling besar.”[10]
Dengan demikian Ujub dapat digambarkan sebagai perasan bangga atau kagum pada diri sendiri, penyakit ini sangat samar merasuki hati manusia, karena penyakit ini hanya ada di hati dan tidak mendorong untuk ditampakkan kepada manusia, misal, seorang sudah secara teratur melakukan amal shalih yang tidak diketahui orang lain dalam waktu yang cukup lama, di suatu saat ketika mengetahui orang lain tidak banyak melakukan amal shalih yang banyak seperti dirinya, timbul perasaan bangga atau kagum pada dirinya sendiri yang telah melakukan banyak amal shalih, kebanggan tersebut juga dapat muncul atas kelebihan-kelebihan lain yang dimiliki seseorang, seperti; kepandaian, kekayaan, karir, keluarga, anak, keturunan, tampang dll.
Di dalam Al Quran dan Hadits penunjukan perilaku ‘ujub juga sebutkan dengan menggunakan kata-kata lain yang memiliki pengertian yang dekat dengan pengertian ujub, antara lain; fakhr, Tabaha’a, ta’adhama, ihtala/muhtalan/khuyala,. Seperti dalam ayat dan hadits berikut;
2.1. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri
Al Quran Surat Luqman/ 31: 18 memberikan peringatan kepada manusia, bahwa Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri;
وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ مُخْتَالٍ فَخُورٍ
Artinya: Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.(QS. Luqman/ 31: 18).
Senada dengan ayat ini Al Quran surat An Nisa: 4: 36, Al Hadid/ 57: 23.
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6809 memuat penjelasan Rasulullah SAW bahwa sebuah karunia yang diberikan Allah kepada hamba berupa kuda (juga karunia lainnya) dapat mendatangkan pahala, solusi, atau dosa, tergantung pada hatinya, jika karunia yang diberikan Allah dijadikan sebagai kembanggaan di dalam hati, maka karunia tersebut mendatangkan dosa bagi pemiliknya;
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِي صَالِحٍ السَّمَّانِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْخَيْلُ لِثَلَاثَةٍ لِرَجُلٍ أَجْرٌ وَلِرَجُلٍ سِتْرٌ وَعَلَى رَجُلٍ وِزْرٌ فَأَمَّا الَّذِي لَهُ أَجْرٌ فَرَجُلٌ رَبَطَهَا فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَأَطَالَ لَهَا فِي مَرْجٍ أَوْ رَوْضَةٍ فَمَا أَصَابَتْ فِي طِيَلِهَا ذَلِكَ مِنْ الْمَرْجِ أَوْ الرَّوْضَةِ كَانَ لَهُ حَسَنَاتٍ وَلَوْ أَنَّهَا قَطَعَتْ طِيَلَهَا فَاسْتَنَّتْ شَرَفًا أَوْ شَرَفَيْنِ كَانَتْ آثَارُهَا وَأَرْوَاثُهَا حَسَنَاتٍ لَهُ وَلَوْ أَنَّهَا مَرَّتْ بِنَهَرٍ فَشَرِبَتْ مِنْهُ وَلَمْ يُرِدْ أَنْ يَسْقِيَ بِهِ كَانَ ذَلِكَ حَسَنَاتٍ لَهُ وَهِيَ لِذَلِكَ الرَّجُلِ أَجْرٌ وَرَجُلٌ رَبَطَهَا تَغَنِّيًا وَتَعَفُّفًا وَلَمْ يَنْسَ حَقَّ اللَّهِ فِي رِقَابِهَا وَلَا ظُهُورِهَا فَهِيَ لَهُ سِتْرٌ وَرَجُلٌ رَبَطَهَا فَخْرًا وَرِيَاءً فَهِيَ عَلَى ذَلِكَ وِزْرٌ وَسُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْحُمُرِ قَالَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَيَّ فِيهَا إِلَّا هَذِهِ الْآيَةَ الْفَاذَّةَ الْجَامِعَةَ { فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ } [11]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Ismail] telah menceritakan kepadaku [Malik] dari [Zaid bin Aslam] dari [Abu Shalih assiman] dari [Abu Hurairah] radliyallahu'anhu, bahwa Rasulullah SAW. berkata: 'Kuda itu bagi tiga orang; bagi orang pertama mendatangkan pahala, bagi orang kedua sebagai penutup (penyelesaian, solusi), dan bagi orang ketiga mendatangkan dosa. Adapun kuda yang mendatang pahala adalah seseorang yang menambatkan kudanya di jalan Allah, lantas ia gembalakan kudanya di rerumputan luas atau kebun, maka segala yang dimakan kuda itu di padang gembalaan, baik kebun atau rerumputan luas selain tercatat sebagai kebaikan baginya, dan sekiranya kuda itu mengarungi padang gembalaan, lantas dia melangkah satu atau dua langkah, maka bekas dan kotorannya juga terhitung kebaikan baginya, dan sekiranya kuda itu melewati sungai dan meminumnya, padahal si pemilik tidak berniat memberinya minuman, maka itu terhitung kebaikan baginya, kesemuanya itu terhitung ganjaran baginya. Kuda kedua, adalah seseorang yang mengikatnya untuk mencari penghasilan dan untuk menjaga kehormatan diri, sedang ia tidak melupakan hak Allah terhadap ikatannya dan tidak pula terhadap punggungnya, maka kuda itu sebagai penyelesaian baginya. Adapun kuda ketiga adalah, seseorang yang mengikatnya untuk sekedar kebanggaan dan pamer, maka itu adalah dosa baginya. Dan Rasulullah SAW. pernah ditanya tentang keledai. Maka beliau hanya menjawab: 'Allah tidak menurunkan kepadaku tentangnya selain satu ayat yang ringkas ini: '(Barangsiapa yang beramal kebaikan seberat biji atom, maka Allah akan melihatnya, sebaliknya barangsiapa yang beramal seberat biji atom keburukan, pasti ia melihatnya) ' (Qs. Al Zalzalah: 7-8).
Rasulullah juga mengajarkan tiga hal yang menyelamatkan dan tiga hal yang merusak (membinasakan) yang dimuat di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor 7252, didalamnya disebutkan bahwa tiga yang merusak adalah termasuk ujub :membanggakan diri, bahkan disebut sebagai suatu yang paling berbahaya.
أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عُمَرَ الْمُقْرِئُ ابْنُ الْحَمَامِيِّ، بِبَغْدَادَ، نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَلِيٍّ الْخُطَبِيُّ، نا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ النَّصْرِ أَبُو بَكْرٍ، نا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ، حَدَّثَنِي بَكْرُ بْنُ سُلَيْمٍ الصَّوَّافُ، عَنْ أَبِي حَازِمٍ، عَنِ الْأَعْرَجِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " ثَلَاثٌ مُنْجِيَاتٌ، وَثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ، فَأَمَّا الْمُنْجِيَاتُ: فَتَقْوَى اللهِ فِي السِّرِّ وَالْعَلَانِيَةِ، وَالْقَوْلُ بِالْحَقِّ فِي الرِّضَا وَالسُّخْطِ، وَالْقَصْدُ فِي الْغِنَى وَالْفَقْرِ، وَأَمَّا الْمُهْلِكَاتِ: فَهَوًى مُتَّبِعٌ، وَشُحٌّ مُطَاعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ، وَهِيَ أَشَدُّهُنَّ "[12]
Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Abu Husain Ali bin Ahmad bin Umar al Muqri ibnu Hamami di Baghdad, dari Ismail Ibnu Khutabi, dari Muhammad ibnu Ahmad ibnu Nashr Abu Bakr ari A’raji dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Ada tiga perkara yang menyelamatkan dan tiga perkara yang membinasakan. Adapun perkara yang menyelamatkan adalah takwa kepada Allah, baik dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan, berkata yang benar, baik dalam keadaan ridha maupun marah, dan berperilaku sederhana, baik dalam keadaan kaya maupun fakir. Adapun perkara yang membinasakan adalah hawa nafsu yang dituruti, kekikiran yang ditaati serta bangga akan diri sendiri dan perkara ini merupakan yang paling berbahaya."
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 6708, dijelaskan bahwa Makanlah, minumlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah kalian dengan tidak merasa bangga dan sombong serta berlebih-lebihan;
حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُوا وَاشْرَبُوا وَتَصَدَّقُوا وَالْبَسُوا فِي غَيْرِ مَخِيلَةٍ وَلَا سَرَفٍ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ أَنْ تُرَى نِعْمَتُهُ عَلَى عَبْدِهِ [13]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Bahz] telah menceritakan kepada kami [Hammam] dari [Qotadah] dari ['Amru bin Syu'aib] dari [bapaknya] dari [kakeknya], dia berkata; bahwa seseungguhnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Makanlah, minumlah, bersedekahlah, dan berpakaianlah kalian dengan tidak merasa bangga dan sombong serta berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah bangga bila nikmat-Nya ada pada hamba-Nya diperlihatkan."
2.5. Tidak Terjadi Hari Kiamat Sehingga Orang Membanggakan Diri Di Masjid
Nabi Muhammad SAW juga memberi peringatan yang di muat dalam Kitab Musnad Abi Daud hadits nomor 448, bahwa hari kiamat tidak akan terjadi hingga orang membanggakan diri di masjid;
حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ وَعَفَّانُ قَالَا حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى يَتَبَاهَى النَّاسُ فِي الْمَسَاجِدِ [14]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abdus Shomad] dan [Affan] berkata, Telah menceritakan kepada kami [Hammad] dari [Ayyub] dari [Abi Qilabah] dari [Anas] sesungguhnya Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam bersabda, "Tidak terjadi hari kiamat sehingga orang membanggakan diri di masjid."
Hadits di ini mengandung pengertian, bahwa amal kebaikan yang dilakukan di Masjid bila diikuti perasaan bangga, maka akan hilang nilai kebaikan tetapi justru mendatangkan dosa. Dan hal tersebut akan menjadi tanda datangnya hari Qiyamat.
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2448 disebutkan Seburuk buruk hamba adalah hamba yang sombong, berbangga diri dan lupa terhadap Dzat yang maha besar dan maha tinggi;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الْأَزْدِيُّ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ عَبْدِ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا هَاشِمٌ وَهُوَ ابْنُ سَعِيدٍ الْكُوفِيُّ حَدَّثَنِي زَيْدٌ الْخَثْعَمِيُّ عَنْ أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ الْخَثْعَمِيَّةِ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ تَخَيَّلَ وَاخْتَالَ وَنَسِيَ الْكَبِيرَ الْمُتَعَالِ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ تَجَبَّرَ وَاعْتَدَى وَنَسِيَ الْجَبَّارَ الْأَعْلَى بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ سَهَا وَلَهَا وَنَسِيَ الْمَقَابِرَ وَالْبِلَى بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ عَتَا وَطَغَى وَنَسِيَ الْمُبْتَدَا وَالْمُنْتَهَى بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ يَخْتِلُ الدُّنْيَا بِالدِّينِ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ يَخْتِلُ الدِّينَ بِالشُّبُهَاتِ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ طَمَعٌ يَقُودُهُ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ هَوًى يُضِلُّهُ بِئْسَ الْعَبْدُ عَبْدٌ رَغَبٌ يُذِلُّهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَلَيْسَ إِسْنَادُهُ بِالْقَوِيِّ [15]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya Al Azdi Al Bashri telah menceritakan kepada kami 'Abdus Shamad bin 'Abdul Warits telah menceritakan kepada kami Hasyim bin Sa'id Al Kufi telah menceritakan kepada kami Zaid Al Khats'ami dari Asma` binti 'Umais Al Khats'amiyah berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Seburuk buruk hamba adalah hamba yang sombong, berbangga diri dan lupa terhadap Dzat yang maha besar dan maha tinggi, seburuk buruk hamba adalah hamba yang diktator dan kejam dan dia lupa terhadap Dzat yang maha perkasa lagi maha tinggi, seburuk buruk hamba adalah hamba yang lupa dan lalai dan lupa akan kuburan dan ujian, seburuk buruk hamba adalah hamba yang melampaui batas dan berlebih lebihan, lupa terhadap adanya permulaan dan kesudahan, seburuk buruk hamba adalah hamba yang mencari dunia dengan mengorbankan agama, seburuk buruk hamba adalah hamba yang mencari agama dengan hal hal yang syubhat, seburuk buruk hamba adalah hamba yang dikendalikan oleh sifat tamak, seburuk buruk hamba adalah hamba yang dikuasai oleh hawa nafsu yang menyesatkannya dan seburuk buruk hamba adalah hamba yang dikuasai sifat rakus yang menjadikannya hina." Abu Isa berkata: Hadits ini gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur sanad ini sedangkan sanadnya tidak kuat."
Di dalam kitab Al Adabu Al-Mufrad hadits nomor 549 dinyatakan Barangsiapa yang merasa sombong dalam dirinya atau dalam cara berjalannya, ia bertemu Allah dan Dia murka kepadanya
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ إِسْحَاقَ أَخْبَرَنَا يُونُسُ بْنُ الْقَاسِمِ الْحَنَفِيُّ يَمَامِيٌّ سَمِعْتُ عِكْرِمَةَ بْنَ خَالِدٍ الْمَخْزُومِيَّ يَقُولُ سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ تَعَظَّمَ فِي نَفْسِهِ أَوْ اخْتَالَ فِي مِشْيَتِهِ لَقِيَ اللَّهَ وَهُوَ عَلَيْهِ غَضْبَانُ [16]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ishaq telah mengabarkan kepada kami Yunus bin Qasim Al Hanafi Yamami saya mendengar Ikrimah bin Khalid Al Makhzumi berkata, saya mendengar Ibnu Umar berkata; saya mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Barangsiapa yang merasa sombong dalam dirinya atau dalam cara berjalannya, ia bertemu Allah dan Dia murka kepadanya."
Di dalam Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor 7401 digambarkan bahwa “Jika kalian tidak berdosa maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya (yaitu) ujub ! ujub ;
- أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ بِشْرَانَ، أَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّفَّارُ، نا عَبَّاسُ -[400]- بْنُ مُحَمَّدٍ الدُّورِيُّ، نا عَبْدُ اللهِ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ، نا سَلَامُ بْنُ أَبِي الصَّهْبَاءِ، نا ثَابِتٌ الْبُنَانِيُّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لَوْ لَمْ تَكُونُوا تُذْنِبُونَ خَشِيتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ الْعُجْبَ[17] "
Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Abu Al Husain ibnu Bisyran, Telah mengabarkan kepada kami Ismail ibnu Muhammad Ash Shafar, Telah mengabarkan kepada kami”Abbas ibnu Muhammad Ad Dauri, Telah mengabarkan kepada kami Abdullah ibnu Abdul Wahab, Telah mengabarkan kepada kami Salam ibnu Abi Ash Shahba, Telah mengabarkan kepada kami Tsabit al Bunani, dari Anas ibnu Malik, berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Jika kalian tidak berdosa maka aku takut kalian ditimpa dengan perkara yang lebih besar darinya (yaitu) ujub ! ujub !”
2.9. Tidak Ada Yang Lebih Liar Dari ‘Ujub
Di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi atsar nomor 4663 dinyatakan bahwa tidak ada yang lebih liar (tidak terkendali) dari ‘ujub;
أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ، أنا جَدِّي، نا عِيسَى بْنُ مُحَمَّدٍ الْمَرْوَزِيُّ، نا الْحَسَنُ بْنُ حَمَّادٍ الْعَطَّارُ، نا أَبُو حَمْزَةَ مُحَمَّدُ بْنُ مَيْمُونٍ السُّكَّرِيُّ، أَخْبَرَنِي إِبْرَاهِيمُ الصَّائِغُ، عَنْ حَمَّادٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ: قَالَ عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ: " التَّوْفِيقُ خَيْرُ قَائِدٍ، وَحُسْنُ الْخُلُقِ خَيْرُ قَرِينٍ، وَالْعَقْلُ خَيْرُ صَاحِبٍ، وَالْأَدَبُ خَيْرُ مِيرَاثٍ، وَلَا وَحْشَةَ أَشَدُّ مِنَ الْعُجْبِ "[18]
Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdir Rahman As Sulami, telah mengabarkan kepada kami kakekku, telah mengabarkan kepada kami ‘Isa ibnu Muhammad Al Marwazi, telah mengabarkan kepada kamiAl Hasan ibnu Hamad Al ‘Athar, telah mengabarkan kepada kami Hamzah Muhammad ibnu Maimun Asy Syukari, telah mengabarkan kepada kami Ibrahim Ash Shai’, dari Hamad, dari Ibrahim, berkata, berkata Ali ibnu Abi Thalib: “ Taufiq (bimbingan) adalah sebaik-baik pimpinan, dan akhlak yang baik adalah sebaik-baik pendamping, dan akal adalah sebaik-baik sahabat, dan adab (sopan santun) adalah sebaik-baik warisan, dan tidak ada yang lebih liar dari ‘ujub (Atsar riwayat Imam Baihaqi: 8226)
Orang beriman menjaga diri dari perilku ‘Ujub; Tafakhur; Bangga, karena kebanggaan dapat merusak amal menjadi amal yang tidak bernilai kebaikan, sebagaiman digambarkan di dalam Al Quran surat Al-Hadid (57): 20;
اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ
Artinya: Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS. Al-Hadid (57): 20)
Mengendalikan diri dari perilaku Ujub; Tafakhur; bangga yang dilakukan karena Allah berarti takwa kepada Allah dari ujub, yang merupakan bagian dari takwa dari nafsiyah.
Dari segi bahasa kata riya’ berasal dari kata kerja ra’â yang berarti memperlihatkan. Riya’ adalah perasaan untuk memperlihatkan amal perbuatan kepada selain Allah dengan harapan mendapat perhatian dan pujian darinya. Sedangkan sum’ah berasal dari sumi’a; didengar, yaitu melakukan amal tetapi ingin didengar oleh selain Allah dengan harapan mendapat perhatian dan pujian darinya.
Imam al-Ghazālī dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn menjelaskan bahwa riya’ adalah “mencari pandangan dan pujian manusia dengan amal yang semestinya diniatkan untuk Allah semata.” Riya’ termasuk salah satu bentuk syirik kecil (al-syirk al-khafī), karena seseorang menginginkan kemuliaan di hadapan manusia, bukan di sisi Allah.[19] Beliau membedakan antara riya’ dan sum‘ah: Riya’ adalah melakukan amal agar dilihat manusia, Sedangkan sum‘ah adalah melakukan amal agar didengar manusia.[20]
Sedangkan Ibn al-Qayyim dalam Madarij al-Sālikīn menegaskan bahwa riya’ adalah “menjadikan manusia sebagai sekutu dalam ibadah, dengan mengharapkan perhatian, pujian, atau kedudukan dari mereka.” Ia menyebutnya sebagai “pintu kebinasaan amal” karena niat telah tercampur antara Allah dan makhluk.[21] Beliau menulis: “Riya’ adalah memperindah amal di hadapan manusia agar mereka melihatnya, sedangkan sum‘ah adalah menceritakan amal agar mereka mendengarnya. Keduanya adalah syirik dalam niat, yang merusak kemurnian ibadah kepada Allah.”[22]
Dalam Ighāthat al-Lahfān, Ibn al-Qayyim menambahkan bahwa riya’ merupakan cabang dari cinta terhadap kedudukan (ḥubb al-jāh) dan ketenaran (ḥubb al-ṣaut), sedangkan sum‘ah adalah bentuk dari keinginan agar amal dikenal luas oleh manusia.[23]
Riya’ keberadaannya masih sangat dekat dengan ‘ujub, di dalam kitab Hilyatul Aulia atsar nomor 15511, digambarkan perbedaan antara riya’ dengan ‘ujub;
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ , ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا تُرَابٍ يَقُولُ: قَالَ حَاتِمٌ الْأَصَمُّ: " لَا أَدْرِي أَيُّهُمَا أَشَدُّ عَلَى النَّاسِ الْعَجَبُ أَوِ الرِّيَاءُ , الْعَجَبُ دَاخِلٌ فِيكَ وَالرِّيَاءُ يَدْخُلُ عَلَيْكَ , الْعَجَبُ أَشَدُّ عَلَيْكَ مِنَ الرِّيَاءِ وَمِثَلُهُمَا أَنْ يَكُونَ كَلْبُكَ فِي الْبَيْتِ كَلْبَ عُقُورٍ وَكَلْبٌ آخَرُ خَارِجَ الْبَيْتِ فَأَيُّهُمَا أَشَدُّ عَلَيْكَ الدَّاخِلُ -[49]- مَعَكَ أَوِ الْخَارِجُ؟ أَمَّا الدَّاخِلُ فَهُوَ الْعَجَبُ وَأَمَّا الْخَارِجُ فَهُوَ الرِّيَاءُ [24]..
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad, telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad berkata; aku mendengar Aba Turab berkata: Berkata Hatim Al Asham: “Aku tidak mengetahui mana di antara keduanya yang lebih berbahaya bagi manusia ‘ujub atau riya’, ‘ujub berada di dalam dirimu, sedangkan riya’ yang masuk ke dalam dirimu, ‘ujub lebih berbahaya bagimu dari riya’, dan perumpamaan keduanya seperti anjingmu berada di dalam rumah sebagai anjing yang keranjingan, dan anjing yang lain diluar rumah, maka mana yang lebih berbahaya bagimu yang bersamamu di dalam atau yang di luar ? adapun yang di dalam itu ‘ujub dan yang di luar itu riya’”.. (Atsar Abu Nuaim: 15511)
Berikut disajikan beberapa ayat dan Hadits yang berkaitan dengan riya’ dan sum’ah yang dapat merusak nilai kebaikan dari amal perbuatan manusia;
3.1. Neraka Wail Bagi Orang-Orang Yang Shalat, (Yaitu) Orang-Orang Yang Lalai Dari Salatnya, Orang-Orang Yang Berbuat Riya
Allah memperingatkan kepada hambanya agar Ketika shalat tidak lalai dari tujuannya, yaitu untuk beribadah (mengabdi) dengan mengingat Allah serta tidak mengharapkan perhatian dari selain Allah, jika shalatnya lalai dan justru berharap mendapat perhatian dari manusia, maka amal ibadah shalatnya justru mengakibatkan akan dimasukkan neraka wail;
فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ, الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ, الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ, وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
Artinya: Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari salatnya, orang-orang yang berbuat riya, dan enggan (menolong dengan) barang berguna.(QS. Al Maun/ 107: 4-7)
Sedangkan di dalam Al Quran Surat An-Nisa'/ 4: 38, Allah juga memperingatkan manusia agar tidak mengharapkan perhatian kepada manusia saat berinfaq: menafkahkan harta, dan jika ada riya’ berarti mengikuti bisikan syaithan;
وَالَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ رِئَاءَ النَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَا بِالْيَوْمِ الْآخِرِ ۗ وَمَنْ يَكُنِ الشَّيْطَانُ لَهُ قَرِينًا فَسَاءَ قَرِينًا
Artinya: Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya. (QS. An-Nisa'/ 4: 38)
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2383 digambarkan bahwa Jubbil Hazan adalah “Sebuah lembah di neraka jahannam, sementara neraka jahannam sendiri berlindung darinya setiap hari sebanyak seratus kali, " kami bertanya: Dan siapakah yang akan memasukinya? beliau menjawab: Para pembaca Al Qur`an yang memamerkan perbuatan mereka;
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنِي الْمُحَارِبِيُّ عَنْ عَمَّارِ بْنِ سَيْفٍ الضَّبِّيِّ عَنْ أَبِي مُعَانٍ الْبَصْرِيِّ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَعَوَّذُوا بِاللَّهِ مِنْ جُبِّ الْحَزَنِ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا جُبُّ الْحَزَنِ قَالَ وَادٍ فِي جَهَنَّمَ تَتَعَوَّذُ مِنْهُ جَهَنَّمُ كُلَّ يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ يَدْخُلُهُ قَالَ الْقُرَّاءُ الْمُرَاءُونَ بِأَعْمَالِهِمْ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ [25]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepadaku Al Muharibi dari 'Ammar bin Saif Adl Dluba'I dari Abu Mu'an Al Bashri dari Ibnu Sirin dari Abu Hurairah dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: Berlindunglah kalian kepada Allah dari dari Jubbil hazn." para sahabat bertanya: Apa itu jubbil hazan wahai Rasulullah? beliau menjawab: "Sebuah lembah di neraka jahannam, sementara neraka jahannam sendiri berlindung darinya setiap hari sebanyak seratus kali, " kami bertanya: Dan siapakah yang akan memasukinya? beliau menjawab: Para pembaca Al Qur`an yang memamerkan perbuatan mereka." Dia (Abu Isa) berkata: Hadits ini hasan gharib.
Rasulullah Muhammad SAW juga memperingatkan kepada umatnya untuk tidak riya, karena di neraka Jahannam terdapat lembah yang disediakan untuk orang-orang yang riya dari kalangan umat Muhammad yang hafal Kitabullah dan suka bersedekah, tetapi bukan karena Zat Allah, dan juga bagi orang yang berhaji ke Baitullah dan orang yang keluar untuk berjihad(tetapi bukan karena Allah Swt.). dimuat di dalam kitab Mujam Thabarani Kabir hadits nomor 12803;
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُبْدَوَيْهِ الْبَغْدَادِيُّ، حَدَّثَنِي أَبِي، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ عَطَاءٍ، عَنْ يُونُسَ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنَّ فِي جَهَنَّمَ لَوَادِيًا تَسْتَعِيذُ جَهَنَّمُ مِنْ ذَلِكَ الْوَادِي فِي كُلِّ يَوْمٍ أَرْبَعَمِائَةِ مَرَّةٍ، أُعِدَّ ذَلِكَ الْوَادِيَ لِلْمُرَائِينَ مِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ: لِحَامِلِ كِتَابِ اللَّهِ. وَلِلْمُصَّدِّقِ فِي غَيْرِ ذَاتِ اللَّهِ، وَلِلْحَاجِّ إِلَى بَيْتِ اللَّهِ، وَلِلْخَارِجِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ" [26]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Abdullah ibnu Abdu Rabbih Al-Bagdadi, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab ibnu Ata; dari Yunus, dari Al-Hasan, dari Ibnu Abbas, dari Nabi Saw. yang telah bersabda: Sesungguhnya di dalam neraka Jahanam benar-benar terdapat sebuah lembah yang neraka Jahanam sendiri meminta perlindungan kepada Allah dari (keganasan) lembah itu setiap harinya sebanyak empat ratus kali. Lembah itu disediakan bagi orang-orang yang riya (pamer)dari kalangan umat Muhammad yang hafal Kitabullah dan suka bersedekah, tetapi bukan karena Zat Allah, dan juga bagi orang yang berhaji ke Baitullah dan orang yang keluar untuk berjihad(tetapi bukan karena Allah Swt.).
Rasulullah Muhammad SAW lebih takut pada syirik kecil; riya’; beramal karena kedudukan orang lain dibandingkan takutnya kepada Dajjal, informasi ini dimuat di dalam kitab Musnad Ahmad Hadits nomor 11252;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ رُبَيْحِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ كُنَّا نَتَنَاوَبُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَبِيتُ عِنْدَهُ تَكُونُ لَهُ الْحَاجَةُ أَوْ يَطْرُقُهُ أَمْرٌ مِنْ اللَّيْلِ فَيَبْعَثُنَا فَيَكْثُرُ الْمُحْتَسِبُونَ وَأَهْلُ النُّوَبِ فَكُنَّا نَتَحَدَّثُ فَخَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ اللَّيْلِ فَقَالَ مَا هَذِهِ النَّجْوَى أَلَمْ أَنْهَكُمْ عَنْ النَّجْوَى قَالَ قُلْنَا نَتُوبُ إِلَى اللَّهِ يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنَّمَا كُنَّا فِي ذِكْرِ الْمَسِيحِ فَرَقًا مِنْهُ فَقَالَ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ مِنْ الْمَسِيحِ عِنْدِي قَالَ قُلْنَا بَلَى قَالَ الشِّرْكُ الْخَفِيُّ أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يَعْمَلُ لِمَكَانِ رَجُلٍ [27]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Az Zubair berkata; telah menceritakan kepada kami Katsir bin Zaid dari Rubaih bin Abdurrahman bin Abu Sa'id Al Khudri dari bapaknya, dari kakeknya, ia berkata; "Kami saling bergantian menjaga Rasulullah ﷺ, ketika tiba giliran kami menjaga Rasulullah, pada malam itu beliau mempunyai keperluan atau kebutuhan hingga mengutus kami, maka para sukarelawan dan orang yang berjaga-jaga pun membanjir tempat beliau, akhirnya Rasulullah ﷺ keluar ke arah kami dan bersabda: "Ini bisik-bisik apa? Bukankah aku telah melarang kalian dari berbisik-bisik?" Abu Sa'id berkata; Maka kami pun berkata; "Kami bertaubat kepada Allah wahai Nabi Allah, hanya saja kami sedang menyebut-nyebut tentang Al Masih karena takut bertemu dengannya, " beliau bersabda: "Maukah aku kabarkan sesuatu yang lebih aku takutkan atas kalian daripada Al Masih?" Abu Sa'id berkata; Kami berkata; "Tentu, " maka beliau bersabda: "Syirik kecil, yaitu seseorang beramal karena keberadaan orang lain." (HR. Ahmad: 10822)
3.6. Sesungguhnya Yang Paling Aku Khawatirkan Dari Kalian Adalah Syirik Kecil, Yaitu Riya’
Di dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir hadits nomor 4301, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa riya termasuk syirik kecil, yang menyebabkan amal kebaikan yang dilakukan karena riya tidaka akan mendapat balasan kebaikan dari Allah;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرٍ الْمُقَدَّمِيُّ، ثنا عَبْدُ اللهِ بْنُ شَبِيبٍ، ثنا إِسْمَاعِيلُ بْنُ أَبِي أُوَيْسٍ، حَدَّثَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِي عَمْرٍو، عَنْ عَاصِمِ بْنِ عُمَرَ بْنِ قَتَادَةَ، عَنْ مَحْمُودِ بْنِ لَبِيدٍ، عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ ﷺ قَالَ: «إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمُ الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ» قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ وَمَا الشِّرْكُ الْأَصْغَرُ؟ قَالَ: «الرِّيَاءُ يُقَالُ لِمَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ إِذَا جَاءَ النَّاسُ بِأَعْمَالِهِمْ: اذْهَبُوا إِلَى الَّذِينَ كُنْتُمْ تُرَاءُونَ فَاطْلُبُوا ذَلِكَ عِنْدَهُمْ» [28]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Abi Bakar al-Muqaddamī, berkata: telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Syabīb, berkata: telah menceritakan kepada kami Ismail bin Abi Uwais, berkata: telah menceritakan kepadaku Abdul Aziz bin Muhammad, dari ‘Amr bin Abi ‘Amr, dari ‘Ashim bin ‘Umar bin Qatadah, dari Mahmūd bin Labīd, dari Rāfi‘ bin Khadīj, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:“Sesungguhnya hal yang paling aku khawatirkan atas kalian adalah syirik kecil.” Mereka (para sahabat) bertanya:“Wahai Rasulullah, apakah syirik kecil itu?”Beliau ﷺ menjawab:“(Yaitu) riya’ memperlihatkan amal kepada orang lain.Akan dikatakan kepada orang yang melakukannya (pada hari kiamat):‘Pergilah kepada orang-orang yang dahulu kamu pamerkan (amalmu) kepada mereka di dunia, mintalah balasan kepada mereka!’”
3.7. Barangsiapa Yang Shalat, Berpuasa, Bersedekah Karena Riya’, Maka Dia Telah Berbuat Syirik.
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 17140 disebutkan bahwa barangsiapa yang shalat karena riya’, maka dia telah berbuat syirik. barangsiapa yang berpuasa karena riya’, maka dia telah berbuat syirik. barangsiapa yang bersedekah karena riya’, maka dia telah berbuat syirik;
حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ يَعْنِي ابْنَ بَهْرَامَ قَالَ قَالَ شَهْرُ بْنُ حَوْشَبٍ قَالَ ابْنُ غَنْمٍ لَمَّا دَخَلْنَا مَسْجِدَ الْجَابِيَةِ أَنَا وَأَبُو الدَّرْدَاءِ لَقِينَا عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ فَأَخَذَ يَمِينِي بِشِمَالِهِ وَشِمَالَ أَبِي الدَّرْدَاءِ بِيَمِينِهِ فَخَرَجَ يَمْشِي بَيْنَنَا وَنَحْنُ نَنْتَجِي وَاللَّهُ أَعْلَمُ فِيمَا نَتَنَاجَى وَذَاكَ قَوْلُهُ فَقَالَ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ لَئِنْ طَالَ بِكُمَا عُمْرُ أَحَدِكُمَا أَوْ كِلَاكُمَا لَيُوشِكَنَّ أَنْ تَرَيَا الرَّجُلَ مِنْ ثَبَجِ الْمُسْلِمِينَ يَعْنِي مِنْ وَسَطٍ قَرَأَ الْقُرْآنَ عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعَادَهُ وَأَبْدَاهُ وَأَحَلَّ حَلَالَهُ وَحَرَّمَ حَرَامَهُ وَنَزَلَ عِنْدَ مَنَازِلِهِ أَوْ قَرَأَهُ عَلَى لِسَانِ أَخِيهِ قِرَاءَةً عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَعَادَهُ وَأَبْدَاهُ وَأَحَلَّ حَلَالَهُ وَحَرَّمَ حَرَامَهُ وَنَزَلَ عِنْدَ مَنَازِلِهِ لَا يَحُورُ فِيكُمْ إِلَّا كَمَا يَحُورُ رَأْسُ الْحِمَارِ الْمَيِّتِ قَالَ فَبَيْنَا نَحْنُ كَذَلِكَ إِذْ طَلَعَ شَدَّادُ بْنُ أَوْسٍ وعَوْفُ بْنُ مَالِكٍ فَجَلَسَا إِلَيْنَا فَقَالَ شَدَّادٌ إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَيْكُمْ أَيُّهَا النَّاسُ لَمَا سَمِعْتُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مِنْ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ وَالشِّرْكِ فَقَالَ عُبَادَةُ بْنُ الصَّامِتِ وَأَبُو الدَّرْدَاءِ اللَّهُمَّ غَفْرًا أَوَلَمْ يَكُنْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ حَدَّثَنَا أَنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ يَئِسَ أَنْ يُعْبَدَ فِي جَزِيرَةِ الْعَرَبِ فَأَمَّا الشَّهْوَةُ الْخَفِيَّةُ فَقَدْ عَرَفْنَاهَا هِيَ شَهَوَاتُ الدُّنْيَا مِنْ نِسَائِهَا وَشَهَوَاتِهَا فَمَا هَذَا الشِّرْكُ الَّذِي تُخَوِّفُنَا بِهِ يَا شَدَّادُ فَقَالَ شَدَّادٌ أَرَأَيْتُكُمْ لَوْ رَأَيْتُمْ رَجُلًا يُصَلِّي لِرَجُلٍ أَوْ يَصُومُ لَهُ أَوْ يَتَصَدَّقُ لَهُ أَتَرَوْنَ أَنَّهُ قَدْ أَشْرَكَ قَالُوا نَعَمْ وَاللَّهِ إِنَّهُ مَنْ صَلَّى لِرَجُلٍ أَوْ صَامَ لَهُ أَوْ تَصَدَّقَ لَهُ لَقَدْ أَشْرَكَ فَقَالَ شَدَّادٌ فَإِنِّي قَدْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ صَلَّى يُرَائِي فَقَدْ أَشْرَكَ وَمَنْ صَامَ يُرَائِي فَقَدْ أَشْرَكَ وَمَنْ تَصَدَّقَ يُرَائِي فَقَدْ أَشْرَكَ فَقَالَ عَوْفُ بْنُ مَالِكٍ عِنْدَ ذَلِكَ أَفَلَا يَعْمِدُ إِلَى مَا ابْتُغِيَ فِيهِ وَجْهُهُ مِنْ ذَلِكَ الْعَمَلِ كُلِّهِ فَيَقْبَلَ مَا خَلَصَ لَهُ وَيَدَعَ مَا يُشْرَكُ بِهِ فَقَالَ شَدَّادٌ عِنْدَ ذَلِكَ فَإِنِّي قَدْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ أَنَا خَيْرُ قَسِيمٍ لِمَنْ أَشْرَكَ بِي مَنْ أَشْرَكَ بِي شَيْئًا فَإِنَّ حَشْدَهُ عَمَلَهُ قَلِيلَهُ وَكَثِيرَهُ لِشَرِيكِهِ الَّذِي أَشْرَكَ بِهِ وَأَنَا عَنْهُ غَنِيٌّ [29]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Nadlr berkata; telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid yaitu Ibnu Bahram berkata; Syahr bin Hausyab berkata; Ibnu Ghanam berkata; "Tatkala kami masuk di masjid Al Jabiyah, saya bersama dengan Abu Darda' bertemu 'Ubadah bin Shamit, lalu dia menggandeng tangan kananku dengan tangan kirinya dan tangan kiri Abu Darda dengan tangan kanannya, lalu dia keluar dengan berjalan. Tatkala kami sedang berbisik, demi Allah yang Maha tahu apa yang kami bisikkan, dan itu adalah perkataanya. Lalu 'Ubadah berkata; "Jika umur salah seorang dari kalian atau kalian berdua panjang, kalian akan melihat seorang laki-laki dari tengah-tengah kamu muslimin, " makna tsabaj yaitu tengahnya, yang dia membaca Al qur'an dengan lidah Muhammad SAW, lalu dia mengulang-ulanginya dan menampakkannya, dia akan menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Lalu dia akan singgah di tempat istirahatnya atau dia akan membaca dengan lidah saudaranya, dengan bacaan sebagaimana bacaan Muhammad SAW, lalu dia mengulang-ulanginya dan menampakkanya, dia menghalalkan yang halal dan mengharamkan yang haram. Lalu dia akan singgah di tempat istirahatnya. (laki-laki itu) tidak akan kembali dengan kebaikan pada kalian kecuali sebagaimana kembalinya kepala keledai yang telah mati. ('Ubadah bin Shamit Radliyallahu'anhu) berkata; "Tatkala kami sedang dalam keadaan seperti itu, datanglah Syaddad bin Aus dan Auf bin Malik, lalu mereka berdua duduk bersama kami." lalu Syaddad berkata; "Sesungguhnya yang paling saya takutkan atas kalian wahai manusia, tatkala saya mendengar Rasulullah SAW bersabda tentang syahwat yang tersembunyi dan syirik. Lalu 'Ubadah bin Shamit berkata; dan Abu Darda berkata; "Ya. Allah, Ampunilah. Bukanlah Rasulullah SAW telah menceritakan kepada kami, sesungguhnya setan telah berputus asa dari harapan untuk disembah di Jazirah Arab. Syahwat yang tersembunyi, kami telah mengetahuinya, yaitu syahwat dunia berupa wanita dan kesenangan lainnya. Apa maksud syirik itu, yang sangat kamu takutkan kepada kami, Wahai Syaddad?." Syaddad berkata; "Tidaklah kalian melihat, jika kalian melihat seorang laki-laki yang shalat karena orang yang lain, atau berpuasa karenanya atau bersedekah karenanya, bukankah kalian melihatnya telah berbuat syirik?" Mereka berkata; "Ya, demi Allah, barangsiapa yang shalat atau puasa karena seseorang atau bersedekah karenanya maka dia telah berbuat syirik". Lalu Syaddad berkata; "Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Barangsiapa yang shalat karena riya’, maka dia telah berbuat syirik. Barangsiapa yang berpuasa karena riya’, maka dia telah berbuat syirik. Barangsiapa yang bersedekah karena riya’, maka dia telah berbuat syirik. Lalu Auf bin Malik ketika itu berkata; "Tidak sebaiknyakah dia jadikan amal itu untuk mencari wajah-Nya semata, sehingga ia lakukan apa yang ia ikhlaskan untuk-Nya dan meninggalkan segala hal yang ia mempersekutukan-Nya?, " Syaddad ketika itu berkata; "Sesungguhnya saya mendengar Rasulullah SAW bersabda: 'Allah Azzawajalla berfirman, Aku adalah sebaik-baik musuh bagi siapa yang berbuat syirik kepada-Ku. Barangsiapa yang berbuat syirik kepada-Ku dengan sesuatu, sesungguhnya segala hal yang dia kumpulkan, amalannya, banyak dan sedikitnya untuk sekutunya yang dijadikannya persekutuan dan Aku tidak butuh terhadapnya.(HR. Ahmad, Musnad Ahmad: 16517)
3.8. Jangan Membatalkan Shadaqah Dengan Riya
Di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 264 diingatkan untuk tidak membatalkan shadaqah dengan riya’;
يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُبْطِلُوا۟ صَدَقَـٰتِكُم بِٱلْمَنِّ وَٱلْأَذَىٰ كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْـَٔاخِرِ ۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌۭ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٌۭ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًۭا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَىْءٍۢ مِّمَّا كَسَبُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَـٰفِرِينَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (QS. Al-Baqarah/ 2: 264)
3.9. Barangsiapa Beramal Karena Sum'ah (Ingin Didengar), Maka Allah Menjadikannya Dikenal Suka Bersum'ah Pada Hari Kiamat
Sedangkan bagi orang yang melakukan amal karena sum’ah akan dikenal sebagai orang yang suka sum’ah di hari qiyamat, disebutkan di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 7156;
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ الْوَاسِطِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ طَرِيفٍ أَبِي تَمِيمَةَ قَالَ شَهِدْتُ صَفْوَانَ وَجُنْدَبًا وَأَصْحَابَهُ وَهُوَ يُوصِيهِمْ فَقَالُوا هَلْ سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَيْئًا قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ مَنْ سَمَّعَ سَمَّعَ اللَّهُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ وَمَنْ يُشَاقِقْ يَشْقُقْ اللَّهُ عَلَيْهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ [30]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Ishaq Al Wasithi] telah menceritakan kepada kami [Khalid] dari [Al Jurairi] dari [Tharif Abu Tamimah] mengatakan, aku menghadiri Shafwan dan [Jundab] serta sahabat-sahabatnya ketika Jundab memberi wasiat kepada mereka, lantas mereka bertanya; 'Apakah kau mendengar sesuatu dari Rasulullah Shallallahu 'alaihiwasallam? ' Ia menjawab; aku mendengar beliau bersabda: "Barangsiapa beramal karena sum'ah (ingin didengar), maka Allah menjadikannya dikenal suka bersum'ah pada hari kiamat, dan barangsiapa menyusahkan (manusia), maka Allah juga bakalan menyusahkannya pada hari kiamat."
Di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor 6864 digambarkan bahwa syaithan tidak berhenti menggelincirkan hingga menyebutkan amalnya kepada manusia dan mengumumkannya, hingga ditetapkan sebagai amal yang tampak, dan dihapuslah lipatganda pahalanya;
أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّلَمِيُّ، أَنَا أَبُو عَمْرِو بْنُ مَطَرٍ، وَمُحَمَّدُ بْنُ يَزِيدَ الْعَدْلُ، قَالَا: نا يُوسُفُ بْنُ مُوسَى الْمَرْوَرُوذِيُّ، نا يَحْيَى بنُ عُثْمَانَ، نا بَقِيَّةُ، عَنْ سَلَامِ بْنِ صَدَقَةَ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: " إِنَّ الِاتِّقَاءَ عَلَى الْعَمَلِ أَشَدُّ مِنَ الْعَمَلِ، إِنَّ الرَّجُلَ لِيَعْمَلُ الْعَمَلَ فَيُكْتَبُ لَهُ عَمَلٌ صَالِحٌ مَعْمُولٌ بِهِ فِي السِّرِّ يُضَعِّفُ أَجْرُهُ سَبْعِينَ ضِعْفًا، فَلَا يَزَالُ بِهِ الشَّيْطَانُ حَتَّى يَذْكُرَهُ لِلنَّاسِ وَيُعْلِنَهُ فَيُكْتَبَ عَلَانِتَيُهُ، وَيُمْحَى تَضْعِيفُ أَجْرِهِ، ثُمَّ لَا يَزَالُ بِهِ الشَّيْطَانُ حَتَّى يَذْكُرَهُ لِلنَّاسِ الثَّانِيَةَ، وَيُحِبُّ أَنْ يُذْكَرَ بِهِ وَيُحْمَدَ عَلَيْهِ فَيُمْحَى مِنَ الْعَلَانِيَةِ وَيُكْتُبَ رِيَاءً، فَاتَّقَى اللهَ امْرُؤٌ صَانَ دِينَهُ عَنِ الدُّنْيَا "، وَقَالَ غَيْرُهُ: وَصَانَ دِينَهُ، فَإِنَّ الرِّيَاءَ شِرْكٌ وَقَدْ مَضَى ذِكْرُهُ [31]
Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdi Ar Rahman As Sulami, telah mengabarkan kepada kami Abu Amri ibnu Mathar, dan Muhammad ibnu Yazid Al ‘Adlu, keduanya mengatakan: telah mengabarkan kepada kami Yusuf ibnu Musa Al Marwarudzi, telah mengabarkan kepada kami Yahya ibnu Usman, telah mengabarkan kepada kami Baqiyah dari Salam ibnu Shadaqah, dari Zaid ibnu Aslam, dari Al Hsan, dari Abi Darda’, dari Rasulullah SAW, bersabda: Sesungguhnya menjaga amal lebih berat dari amal, sesungguhnya seorang untuk mengerjakan amal maka ditulis baginya amal shalih yang diamalkan secara tersembunyi, pahalanya akan dilipatgandakan tujuh puluh kali, maka syaithan tidak berhenti menggelincirkan hingga menyebutkan amalnya kepada manusia dan mengumumkannya, hingga ditetapkan sebagai amal yang tampak, dan dihapuslah lipatganda pahalanya, kemudian syaithan tidak berhenti menggelincirkan hingga menyebutkannya kedua kalinya, dan suka disebutkan amalnya dan dipijinya, maka dihapuslah dari amal yang tampak dan ditetapkan sebagai amal riya’, maka hendaklah seseorang bertakwa kepada Allah untuk menjaga agamanya dari dunia, dan berkata yang lainnya: dan memelihara agamnya, karena riya’ merupakan kesyirikan dan telah disebutkan pada yang lalu.
Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 4802 dinyatakan barangsiapa mempelajari keindahan bahasa untuk menjadikan hati orang-orang condong kepadanya, maka pada hari kiamat Allah tidak akan menerima ibadah wajib atau nafilahnya;
حَدَّثَنَا ابْنُ السَّرْحِ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ الضَّحَّاكِ بْنِ شُرَحْبِيلَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ تَعَلَّمَ صَرْفَ الْكَلَامِ لِيَسْبِيَ بِهِ قُلُوبَ الرِّجَالِ أَوْ النَّاسِ لَمْ يَقْبَلْ اللَّهُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا وَلَا عَدْلًا [32]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ibnu As Sarh berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb dari Abdullah Ibnul Musayyab dari Adh Dhahhak bin Syurahbil dari Abu Hurairah ia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa mempelajari keindahan bahasa untuk menjadikan hati orang-orang condong kepadanya, maka pada hari kiamat Allah tidak akan menerima ibadah wajib atau nafilahnya."
Di dalam kitab Syu‘ab al-Imān hadits nomor 121 dinyatakan bahwa Barang siapa mencari ilmu sekedar untuk berbantah-bantahan dengan orang bodoh, untuk menandingi para ulama dan untuk mencari muka manusia, dia masuk neraka jahannam;
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْمُعَلَّى الدِّمَشْقِيُّ، ثنا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، ثنا عَمْرُو بْنُ وَاقِدٍ، ثنا يَزِيدُ بْنُ أَبِي مَالِكٍ، عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْمٍ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، عَنْ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ: «مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ، وَيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ فِي الْمَجَالِسِ، لَمْ يَرَحْ رَائِحَةَ الْجَنَّةِ»[33]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin al-Mu‘alla ad-Dimasyqī, berkata: telah menceritakan kepada kami Hisyam bin ‘Ammār, berkata: telah menceritakan kepada kami ‘Amr bin Wāqid, berkata: telah menceritakan kepada kami Yazīd bin Abī Mālik, dari Syahr bin Hawsyab, dari ‘Abdurrahman bin Ghanm, dari Mu‘ādz bin Jabal, dari Rasulullah ﷺ, beliau bersabda: “Barang siapa mencari ilmu dengan tujuan untuk menyombongkan diri di hadapan para ulama, atau untuk berdebat dengan orang-orang bodoh dalam majelis, maka ia tidak akan mencium bau surga.”
Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Mājah (254), al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Imān, dan yang lainnya — dengan sanad dha‘if, namun maknanya sahih, karena didukung oleh banyak riwayat lain tentang pentingnya ikhlas dalam menuntut ilmu.
Perasaan takut dicela orang lain, dapat menjadi bagian dari riya’, ketika perasaan takut dicela tersebut merasuki hati ketika seseorang melakukan kebaikan, sehingga mengotori hati kebaikannnya dilakukan karena orang lain, apalagi jika perasaan takut dicela tersebut menjadikannya tidak jadi melakukan kebaikan.
Di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor 6930 digambarkan tiga kelompok orang beramal, dan dinyatakan bahwa orang yang beramal dengan ikhlas yang diterima Allah;
أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، وَأَبُو بَكْرٍ أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ، قَالَا: نا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، نا الْحَسَنُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ عَفَّانَ، نا عُبَيْدُ اللهِ هُوَ ابْنُ مُوسَى، نا قَطَرِيٌّ الْخَشَّابُ، عَنْ عَبْدِ الْوَارِثِ، عَنْ مَوْلَى أَنَسٍ، قَالَ: قَالَ أَنَسٌ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " إِذَا كَانَ يَوْمُ الْقِيَامَةِ صَارَتْ أُمَّتِي ثَلَاثَ فِرَقٍ: فِرْقَةٌ يَعْبُدُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ خَالِصًا، وَفِرْقَةٌ يَعْبُدُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ رِيَاءً، وَفِرْقَةٌ يَعْبُدُونَ اللهَ يُصِيبُونَ بِهِ دُنْيَا. قَالَ: فَيَقُولُ لِلَّذِي كَانَ يَعَبُدُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ لِلدُّنْيَا: بِعِزَّتِي وَجَلَالِي، مَا أَرَدْتَ بِعِبَادَتِي؟ فَيَقُولُ: الدُّنْيَا. فَيَقُولُ: لَا جَرَمَ، لَا يَنْفَعُكَ مَا جَمَعْتَ وَلَا تَرْجِعُ إِلَيْهِ، انْطَلِقُوا بِهِ إِلَى النَّارِ، قَالَ: وَيَقُولُ لِلَّذِي يَعَبُدُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ رِيَاءً: بِعِزَّتِي وَجَلَالِي، مَا أَرَدْتَ بِعِبَادَتِي؟ قَالَ: الرِّيَاءَ. قَالَ: يَقُولُ: إِنَّمَا كَانَتْ عِبَادَتُكَ الَّتِي كُنْتَ تُرَائِي بِهَا لَا يَصْعَدُ إِلَيَّ مِنْهَا شَيْءٌ، وَلَا يَنْفَعُكَ الْيَوْمَ انْطَلِقُوا بِهِ إِلَى النَّارِ، قَالَ: وَيَقُولُ لِلَّذِي كَانَ يَعَبُدُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ خَالِصًا: بِعِزَّتِي وَجَلَالِي، مَا أَرَدْتَ بِعِبَادَتِي؟ فَيَقُولُ: بِعِزَّتِكَ وَجَلَالِكَ، لَأَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي كُنْتُ أَعْبُدُكَ لِوَجْهِكَ وَلِدَارِكَ، قَالَ: صَدَقَ عَبْدِي انْطَلِقُوا بِهِ إِلَى الْجَنَّةِ [34] "
Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdillah Al Hafidz dan Abu Bakar Ahmad ibnu Hasan, berkata: telah mengabarkan kepada kami Abu Abas Muhammad ibnu Ya’qub, telah mengabarkan kepada kami Al hasan ibnu Ali ibnu ‘Afan, telah mengabarkan kepada kami ‘Ubaidullah yaitu ibnu Musa, telah mengabarkan kepada kami Qathari Al Hasab, dari Abd Al Waris, dari Maula Anas, berkata, berkata Anas: Rasulullah SAW bersabda: Jika terjadi Hari Qiyamat umatku terbagi menjadi tiga kelompok, kelompok yang menyembah Allah Azza wa Jalla dengan ikhlas, kelompok yang menyembah Allah Azza wa Jalla dengan riya’, kelompok yang menyembah Allah Azza wa Jalla untuk memperoleh dunianya, beliau bersabda, Maka Allah berkata kepada orang yang menyembah Allah Azza wa Jalla untuk duniannya, dengan keagungan dan kemulyaanku, apa yang kamu inginkan dari ibadah kepadaKu ?, mereka berkata: dunia, maka Allah berkata: tidak diragukan, tidak ada manfaat bagimu apa yang telah kamu kumpulkan dan tidak dapat kembali kepadanya, karenanya lemparkanlah ke Neraka, Allah berkata kepada orang yang menyembah Allah Azza wa Jalla untuk duniannya, dengan keagungan dan kemulyaanku, apa yang kamu inginkan dari ibadah kepadaKu ?, mereka berkata: riya’, maka Allah berkata: sesungguhnya ibadahmu untuk siapa kamu ingin diperhatikan, ibadahmu tidak naik kepadaKu sedikitpun, dan hari ini tidak memberi manfaat kepadamu, karenanya lemparkanlah ke Neraka, Allah berkata kepada orang yang menyembah Allah Azza wa Jalla dengan ikhlas, dengan keagungan dan kemulyaanku, apa yang kamu inginkan dari ibadah kepadaKu ?, mereka berkata: dengan keagungan dan kemulyaanMu sungguh engakau lebih mengetahui , maka Allah berkata:hambaKu benar karenanya bebaskan dia ke Jannah.
3.14. Bermajelis Dengan Guru Yang Mengajarkan Menghilangkan Riya Menuju Kepada Keikhlasan
Di dalam kitab Hilyatul Aulia hadits nomor 72 diingatkan untuk tidak bermajelis dengan semua guru, kecuali yang mengajarkan menghilangkan riya menuju kepada keikhlasan;
ما حَدَّثَنَاهُ أَبُو الْقَاسِمِ زَيْدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ أَبِي بِلَالٍ , ثنا عَلِيُّ بْنُ مَهْرَوَيْهِ , ثنا يُوسُفُ بْنُ حَمْدَانَ , ثنا أَبُو سَعِيدٍ الْبَلْخِيُّ , ثنا شَقِيقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الزَّاهِدُ , ثنا عَبَّادُ بْنُ كَثِيرٍ , عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ، عَنْ جَابِرٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " لَا تَجْلِسُوا مَعَ كُلِّ عَالِمٍ إِلَّا مَعَ عَالِمٍ يَدْعُوكُمْ مِنْ خَمْسٍ إِلَى خَمْسٍ: مِنَ الشَّكِّ إِلَى الْيَقِينِ , وَمِنَ الْعَدَاوَةِ إِلَى النَّصِيحَةِ وَمِنَ الْكِبْرِ إِلَى التَّوَاضُعِ وَمِنَ الرِّيَاءِ إِلَى الْإِخْلَاصِ وَمِنَ الرَّغْبَةِ إِلَى الرَّهْبَةِ "[35]
Artinya: Apa yang telah kami ceritakan kepadanya Abu Qasim Zaid ibnu Ali ibnu abi Bilal. telah menceritakan kepada kami Ali ibnu Mahrawaih, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Hamdan, telah menceritakan kepada kami Abu Said Al Balhi, telah menceritakan kepada kami Syaqiq ibnu Ibrahim Al Zahid, telah menceritakan kepada kami ‘Abad ibnu Katsir dari abu Zubair, dari Jabir berkata: Rasulullah SAW bersabda: Jangan bermajelis (belajar) dengan semua guru, kecuali dengan yang mengajakmu dari lima hal menuju lima; dari keraguan kepada keyakinan, dari permusuhan menuju nasehat, dari takabur kepada tawadhu’, dari riya’ menuju ikhlas dan dari berhasrat menuju merasa takut.”
Dari beberapa ayat Al Qura’an dan Hadits Nabi SAW di atas, dapat kita ketahui bahwa dalam amal ibadah mahdhah saja masih rentan terhadap terjadinya riya’ dan sum’ah, maka apalagi terhadap amal ibadah yang ghairu mahdah, juga pada seluruh aktifitas kehidupan manusia, sangat mungkin dilakukan karena riya’, sehingga tidak akan mendapatkan pahala kebaikan, melainkan justru mendatangkan kesyirikan, dengan akibat di akhirat nanti dimasukkan ke dalam neraka Wail atau Jahannam.
Allah meberi peringatan yang termuat di dalam Al Quran surat Al A’raf/ 8: 47, di dalamnya ditegaskan larangan untuk menjadi seperti orang-orang yang keluar rumah dengan angkuh dan riya’ untuk menghalangi dari jalan Allah;
وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّذِينَ خَرَجُوا۟ مِن دِيَـٰرِهِم بَطَرًۭا وَرِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌۭ
Artinya: Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya' kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Anfal/ 8: 47)
Mengendalikan diri dari perilaku Riya’ dan Sum’ah yang dilakukan karena Allah berarti takwa kepada Allah dari Riya’ dan Sum’ah, yang merupakan bagian dari takwa dari nafsiyah.
Dari segi bahasa takabur berasal dari kata takabara-yatakabu-takaburan, artinya menjadi bangga, sombong, angkuh, congkak.
artinya adalah perasaan lebih yang ada pada dirinya dibandingkan dengan orang lain, merasa lebih; kaya, pintar, hebat, terhormat, baik, alim, bersih, takwa, dll dari orang lain.
Perilaku takabur pertama kali diperlihatkan oleh iblis, ketika Allah menciptakan manusia dengan segala kesempurnaannya, setelah selesai proses penciptaannya dan sukses diuji, kemudian Allah memerintahkan kepada makhluk yang tercipta sebelum manusia (malaikat dan jin) untuk bersujud hormat kepada Adam, namun Iblis (merupakan bagian dari jin) menolak bersujud, karena iblis merasa dirinya lebih baik dari manusia, pernyataan iblis ini diabadikan di dalam Al Quran Surat Al-A’raf/ 7: 12;
قَالَ مَا مَنَعَكَ أَلَّا تَسْجُدَ إِذْ أَمَرْتُكَ ۖ قَالَ أَنَا خَيْرٌ مِنْهُ خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِينٍ
Artinya: Allah berfirman: "Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?" iblis Menjawab "Aku lebih baik daripada dia: Engkau ciptakan aku dari api sedang dia Engkau ciptakan dari tanah".(QS. Al-A’raf/ 7: 12)
Karena Iblis merasa lebih baik unsur penciptaannya dibandingkan manusia, maka iblis enggan dan takabur, sehingga menolak tidak mau menjalankan perintah Allah.
Rasulullah SAW menjelaskan pengertian takabur adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia, hal ini tertuang di dalam kitab Hadits Shahih Muslim nomor hadits 147;
وحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَمُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ وَإِبْرَاهِيمُ بْنُ دِينَارٍ جَمِيعًا عَنْ يَحْيَى بْنِ حَمَّادٍ قَالَ ابْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ حَمَّادٍ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبَانَ بْنِ تَغْلِبَ عَنْ فُضَيْلٍ الْفُقَيْمِيِّ عَنْ إِبْرَاهِيمَ النَّخَعِيِّ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ [36]
Artinya: Dan telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin al-Mutsanna] dan [Muhammad bin Basysyar] serta [Ibrahim bin Dinar] semuanya dari [Yahya bin Hammad], [Ibnu al-Mutsanna] berkata, telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Hammad] telah mengabarkan kepada kami [Syu'bah] dari [Aban bin Taghlib] dari [Fudlail al-Fuqaimi] dari [Ibrahim an-Nakha'i] dari [Alqamah] dari [Abdullah bin Mas'ud] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda: "Tidak akan masuk surga, orang yang di dalam hatinya terdapat seberat biji sawi dari kesombongan." Seorang laki-laki bertanya, "Sesungguhnya laki-laki menyukai apabila baju dan sandalnya bagus (apakah ini termasuk kesombongan)?" Beliau menjawab: "Sesungguhnya Allah itu bagus menyukai yang bagus, kesombongan itu menolak kebenaran dan meremehkan manusia.".
Sedangkan di dalam Musnad Ahmad hadits nomor 3789 disebutkan pertanyaan, Sesungguhnya aku menyukaiku bila aku berpakaian bersih, kepalaku berminyak dan tali sandalku baru, ia menyebutkan semuanya hingga menyebutkan ikatan cambuknya, apakah termasuk kesombongan, wahai Rasulullah? Beliau bersabda: "Tidak, itu adalah keindahan sesungguhnya Allah itu Maha Indah, menyukai keindahan, tetapi kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.;
حَدَّثَنَا عَارِمٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ مُسْلِمٍ الْقَسْمَلِيُّ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ الْأَعْمَشُ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ جَعْدَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَدْخُلُ النَّارَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ إِيمَانٍ وَلَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ كِبْرٍ فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي لَيُعْجِبُنِي أَنْ يَكُونَ ثَوْبِي غَسِيلًا وَرَأْسِي دَهِينًا وَشِرَاكُ نَعْلِي جَدِيدًا وَذَكَرَ أَشْيَاءَ حَتَّى ذَكَرَ عِلَاقَةَ سَوْطِهِ أَفَمِنْ الْكِبْرِ ذَاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لَا ذَاكَ الْجَمَالُ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ وَلَكِنَّ الْكِبْرَ مَنْ سَفِهَ الْحَقَّ وَازْدَرَى النَّاسَ [37]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami 'Arim telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Muslim Al Qasmali telah menceritakan kepada kami Sulaiman Al A'masy dari Habib bin Abu Tsabit dari Yahya bin Ja'dah dari Abdullah bin Mas'ud ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidak akan masuk neraka, orang yang di dalam hatinya ada iman seberat biji (sawi) dan tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji (sawi)." Seorang laki-laki bertanya; Wahai Rasulullah, Sesungguhnya aku menyukaiku bila aku berpakaian bersih, kepalaku berminyak dan tali sandalku baru, ia menyebutkan semuanya hingga menyebutkan ikatan cambuknya, apakah termasuk kesombongan, wahai Rasulullah? Beliau bersabda: "Tidak, itu adalah keindahan, sesungguhnya Allah itu Maha Indah, menyukai keindahan, tetapi kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." .
4.2. Allah Mengunci Mati Hati Orang Yang Sombong Dan Sewenang-Wenang
Allah memberikan ancaman yang keras kepada orang yang takabur, yang menolak kebenaran Al Quran dengan cara mencari-cari alasan (merasa lebih pintar), Allah akan mengunci mati hati orang yang sombong, dijelaskan di dalam Al Quran Surat Al-Mu’min /40: 35;
الَّذِينَ يُجَادِلُونَ فِي آيَاتِ اللَّهِ بِغَيْرِ سُلْطَانٍ أَتَاهُمْ ۖ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ وَعِنْدَ الَّذِينَ آمَنُوا ۚ كَذَٰلِكَ يَطْبَعُ اللَّهُ عَلَىٰ كُلِّ قَلْبِ مُتَكَبِّرٍ جَبَّارٍ
Artinya: (Yaitu) orang-orang yang memperdebatkan ayat-ayat Allah tanpa alasan yang sampai kepada mereka. Amat besar kemurkaan (bagi mereka) di sisi Allah dan di sisi orang-orang yang beriman. Demikianlah Allah mengunci mati hati orang yang sombong dan sewenang-wenang. (QS. Al-Mu’min /40: 35)
4.3. Keras Dan Membatunya Hati Terdapat Pada Orang-Orang Yang Angkuh Lagi Sombong
Dalam Kitab Shahih Bukhari hadits nomor 5303 Nabi Muhammad SAW juga menjelaskan bahwa keangkuhan dan kesombongan itu menyebabkan keras dan membatunya hati;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ إِسْمَاعِيلَ عَنْ قَيْسٍ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ قَالَ وَأَشَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِيَدِهِ نَحْوَ الْيَمَنِ الْإِيمَانُ هَا هُنَا مَرَّتَيْنِ أَلَا وَإِنَّ الْقَسْوَةَ وَغِلَظَ الْقُلُوبِ فِي الْفَدَّادِينَ حَيْثُ يَطْلُعُ قَرْنَا الشَّيْطَانِ رَبِيعَةَ وَمُضَرَ [38]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Al Mutsanna] Telah menceritakan kepada kami [Yahya bin Sa'id] dari [Isma'il] dari [Qais] dari [Abu Mas'ud] ia berkata; Nabi shallallahu 'alaihi wasallam memberi isyarat dengan tangannya seraya bersabda: "Sesungguhnya iman itu letaknya di sini." Beliau mengucapkannya dua kali. Beliau melanjutkan: "Sesungguhnya keras dan membatunya hati terdapat pada orang-orang yang angkuh lagi sombong, yaitu di tempat tanduk-tanduk syetan muncul yakni pada Rabi'ah dan Mudlar." .
Di dalam Al Quran Surat An-Nahl/ 16: 22, dijelaskan bahwa orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), mereka adalah orang-orang yang sombong.
إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ فَالَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ قُلُوبُهُمْ مُنْكِرَةٌ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ
Artinya: Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. (QS. An-Nahl/ 16: 22)
4.5. Sesungguhnya Allah Tidak Menyukai Orang-Orang Yang Sombong
Di dalam Al Quran Surat An-Nahl/ 16: 23, dijelaskan bahwa Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong;
لَا جَرَمَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْتَكْبِرِينَ
Artinya: Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong.(QS. An-Nahl/ 16: 23)
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 8864 dan kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 4090, Rasulullah SAW menyampaikan pernyataan Allah; kesombongan adalah selendang-Ku dan kebesaran adalah sarung-Ku, maka barangsiapa mengambil salah satunya dari-Ku, Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Jahannam;
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَنْبَأَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَطَاءِ بْنِ السَّائِبِ عَنِ الْأَغْرِّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْنِي قَالَ اللَّهُ الْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي وَالْعَظَمَةُ إِزَارِي فَمَنْ نَازَعَنِي وَاحِدًا مِنْهُمَا أَدْخَلْتُهُ جَهَنَّمَ [39]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abdurrazzaq] telah memberitakan kepada kami [Sufyan] dari ['Atho` bin As Sa`ib] dari [Al Aghar] dari [Abu Hurairah] berkata; Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Allah berfirman: 'kesombongan adalah selendang-Ku dan kebesaran adalah sarung-Ku, maka barangsiapa mengambil salah satunya dari-Ku, Aku akan memasukkannya ke dalam neraka Jahannam.'"
4.7. Tidak Akan Masuk Surga Orang Yang Dalam Hatinya Terdapat Kesombongan Sebesar Biji Sawi
Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 3568, Sunan Ibnu hiban hadits nomor 3751 dan Sunan Tirmidzi hadits nomor 1998, Rasulullah menyampaikan Bahwa Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi;
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يُونُسَ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ يَعْنِي ابْنَ عَيَّاشٍ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ كِبْرٍ وَلَا يَدْخُلُ النَّارَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ خَرْدَلَةٍ مِنْ إِيمَانٍ [40]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Ahmad bin Yunus] berkata, telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr] -maksudnya Abu Bakr Ibnu Ayyasy- dari [Al A'masy] dari [Ibrahim] dari [Alqamah] dari [Abdullah] ia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak akan masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi, dan tidak akan masuk ke dalam neraka orang yang dalam hatinya terdapat keimanan sebesar biji sawi."
4.8. Orang-Orang Sombong Dikumpulkan Pada Hari Kiamat Seperti Semut Bermuka Manusia, Mereka Diliputi Kehinaan Dari Segala Penjuru
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2492, dijelaskan balasan kehinaan di akhirat bagi orang sombong;
حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ نَصْرٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلَانَ عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُحْشَرُ الْمُتَكَبِّرُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَمْثَالَ الذَّرِّ فِي صُوَرِ الرِّجَالِ يَغْشَاهُمْ الذُّلُّ مِنْ كُلِّ مَكَانٍ فَيُسَاقُونَ إِلَى سِجْنٍ فِي جَهَنَّمَ يُسَمَّى بُولَسَ تَعْلُوهُمْ نَارُ الْأَنْيَارِ يُسْقَوْنَ مِنْ عُصَارَةِ أَهْلِ النَّارِ طِينَةَ الْخَبَالِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ [41]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Suwaid bin Nashr] telah mengkhabarkan kepada kami [Abdullah bin Al Mubarak] dari [Muhammad bin 'Ajlan] dari [Amru bin Syu'aib] dari [ayahnya] dari [kakeknya] dari nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Orang-orang sombong dikumpulkan pada hari kiamat seperti semut bermuka manusia, mereka dilputi kehinaan dari segala penjuru, mereka digiring menuju penjara di neraka jahanam yang bernama Bulas, di atas mereka ada api paling panas, mereka di minumi muntahan dan darah penduduk neraka yang namanya thinatul khabal." Berkata Abu Isa: Hadits ini hasan shahih.
4.9. Di Hari Qiyamat Allah Akan Menunjukkan Kekuasaannya Pada Orang-Orang Yang Sombong
Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 4995 digambarkan bahwa 'Pada hari kiamat kelak, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan melipat langit. Setelah itu, Allah akan menggenggamnya dengan tangan kanan-Nya sambil berkata: 'Akulah Sang Maha Raja. Di manakah sekarang orang-orang yang selalu berbuat sewenang-wenang? Dan di manakah orang-orang yang selalu sombong dan angkuh?;
و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ عُمَرَ بْنِ حَمْزَةَ عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَخْبَرَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَطْوِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ السَّمَاوَاتِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ثُمَّ يَأْخُذُهُنَّ بِيَدِهِ الْيُمْنَى ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ ثُمَّ يَطْوِي الْأَرَضِينَ بِشِمَالِهِ ثُمَّ يَقُولُ أَنَا الْمَلِكُ أَيْنَ الْجَبَّارُونَ أَيْنَ الْمُتَكَبِّرُونَ [42]
Artinya: Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari 'Umar bin Hamzah dari Salim bin 'Abdullah telah mengabarkan kepadaku 'Abdullah bin 'Umar dia berkata; "Rasulullah ﷺ telah bersabda: 'Pada hari kiamat kelak, Allah Subhanahu wa Ta'ala akan melipat langit. Setelah itu, Allah akan menggenggamnya dengan tangan kanan-Nya sambil berkata: 'Akulah Sang Maha Raja. Di manakah sekarang orang-orang yang selalu berbuat sewenang-wenang? Dan di manakah orang-orang yang selalu sombong dan angkuh? ' Setelah itu, Allah akan melipat bumi dengan tangan kiri-Nya sambil berkata: 'Akulah Sang Maha Raja. Di manakah sekarang orang-orang yang sering berbuat sewenang-wenang? Di manakah orang-orang yang sombong? '"
4.10. Penghuni Neraka Adalah Setiap Yang Beringas Membela Kebatilan, Kasar Lagi Sombong
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 4537 digambarkan bahwa penghuni neraka? Yaitu setiap yang beringas membela kebatilan, kasar lagi sombong;
حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَعْبَدِ بْنِ خَالِدٍ قَالَ سَمِعْتُ حَارِثَةَ بْنَ وَهْبٍ الْخُزَاعِيَّ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ الْجَنَّةِ كُلُّ ضَعِيفٍ مُتَضَعِّفٍ لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللَّهِ لَأَبَرَّهُ أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ [43]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim Telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Ma'bad bin Khalid ia berkata, Aku mendengar Haritsah bin Wahb Al Khuza'i ia berkata; Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda: "Maukah kalian aku beritahukan mengenai penghuni surga? Yaitu setiap orang lemah dan ditindas, yang sekiranya ia bersumpah atas nama Allah, niscaya Allah mengabulkannya. Dan maukah kalian aku beritahukan mengenai penghuni neraka? Yaitu setiap yang beringas membela kebatilan, kasar lagi sombong."
4.11. Lembah Habhab Di Neraka Jahannam Ditinggali Orang Yang Sewenang-wenang
Di dalam kitab Sunan Darimi hadits nomor 2695 digambarkan bahwa Sesungguhnya di dalam neraka ada sebuah lembah yang disebut Habhab, yang dihuni oleh orang-orang yang sewenang-wenang;
أَخْبَرَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَخْبَرَنَا أَزْهَرُ بْنُ سِنَانٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ وَاسِعٍ قَالَ دَخَلْتُ عَلَى بِلَالِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ فَقُلْتُ إِنَّ أَبَاكَ حَدَّثَنِي عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ فِي جَهَنَّمَ وَادِيًا يُقَالُ لَهُ هَبْهَبُ يَسْكُنُهُ كُلُّ جَبَّارٍ فَإِيَّاكَ أَنْ تَكُونَ مِنْهُمْ [44]
Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Yazid bin Harun telah mengabarkan kepada kami Azhar bin Sinan dari Muhammad bin Wasi' ia berkata; Aku masuk ke rumah Bilal bin Abi Burdah, lalu aku berkata kepadanya; Bahwa ayahmu telah menceritakan kepadaku dari ayahnya dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Sesungguhnya di dalam neraka ada sebuah lembah yang disebut Habhab, yang dihuni oleh orang-orang yang sewenang-wenang. Maka takutlah engkau menjadi bagian dari mereka."
4.12. Tiga Orang Yang Allah Tidak Mengajak Mereka Berbicara Pada Hari Kiamat, Dan Tidak Mensucikan Mereka
Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 173 disebutkan ada tiga orang yang mana Allah tidak mengajak mereka berbicara pada hari kiamat, dan tidak mensucikan mereka;
و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَا يُكَلِّمُهُمْ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمْ قَالَ أَبُو مُعَاوِيَةَ وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ شَيْخٌ زَانٍ وَمَلِكٌ كَذَّابٌ وَعَائِلٌ مُسْتَكْبِرٌ [45]
Artinya: Dan telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Waki' dan Abu Muawiyah dari al-A'masy dari Abu Hazim dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Ada tiga orang yang mana Allah tidak mengajak mereka berbicara pada hari kiamat, dan tidak mensucikan mereka." Abu Mu'awiyah menyebutkan, "Dan tidak melihat kepada mereka. Dan mereka mendapatkan siksa yang pedih: yaitu orang tua yang pezina, pemimpin yang pendusta, dan orang miskin yang sombong."
Ayat-ayat Al Quran dan Hadits yang telah dikemukakan memberi peringatan bagi orang yang berperilaku sombong, Di dalam Al Quran surat Al Mukmin/ 40: 60 juga ditegaskan bahwa orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina;
وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدْعُونِىٓ أَسْتَجِبْ لَكُمْ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ عِبَادَتِى سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Artinya: Dan Tuhanmu berfirman: "Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina". (QS. Al Mukmin/ 40: 60)
Ayat ini memberi peringatan kepada orang beriman untuk mau mengabdi; menyembah; mentaati Allah dan tidak menyombongkan diri karena takwa kepada Allah, ketaatan ini termasuk di dalam ketakwaan kepada Allah dari nafsiyah.
Ashabiyah adalah pembelaan kepada sesama suku, agama, bangsa, keluarga dll, secara dalam hal yang tidak baik; fanatik buta.
Imam al-Ghazālī menjelaskan bahwa ‘aṣabiyyah (fanatisme golongan) adalah sikap membela kelompok, keluarga, atau golongan sendiri secara batil (tanpa memperhatikan kebenaran). Dalam Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, beliau menegaskan bahwa ‘aṣabiyyah adalah penyakit hati yang muncul dari cinta dunia dan kebanggaan terhadap kelompoknya. “‘Aṣabiyyah adalah membela kelompok sendiri dalam kebatilan, serta menolak kebenaran karena datang dari selain golongannya. Inilah bentuk kebodohan yang dapat menghapus cahaya hati dan menutup jalan kebenaran.”[46]
Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah menjelaskan bahwa ‘aṣabiyyah adalah membela kelompok atau diri sendiri bukan karena kebenaran, melainkan karena hawa nafsu atau ikatan darah. Dalam Zād al-Ma‘ād, beliau menulis: “‘Aṣabiyyah yang tercela adalah apabila seseorang membantu kaumnya dalam kezaliman, membela mereka meski di atas kebatilan, dan menolak kebenaran karena datang dari musuh atau pihak lain.”[47]
Dalam Madarij al-Sālikīn, beliau memperingatkan bahwa ‘aṣabiyyah termasuk sifat yang menjerumuskan hati ke dalam kebanggaan palsu dan menutup pintu tazkiyah (penyucian jiwa).[48] “al-‘aṣabiyyah (Fanatisme) adalah bentuk kebinasaan hati, karena hati yang fanatik terhadap kelompoknya tidak akan tunduk kepada kebenaran. Ia menjadikan hawa nafsunya sebagai imam dan kelompoknya sebagai tuhan selain Allah.”[49]
Berikut ini akan dikemukakan beberapa Hadits Rasulullah SAW yang memberikan gambaran tentang perilaku ‘Ashabiyah dan akibatnya;
5.1. Ashabiyah Adalah Membantu Kaum/ Golonganmu Dalam Kedhaliman
Di dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir nomor 236, digambarkan bahwa yang disebut ashabiyah adalah membantu kaum/ golonganmu dalam kedhaliman;
حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ إِسْحَاقَ التُّسْتَرِيُّ، ثنا مَحْمُودُ بْنُ خَالِدٍ الدِّمَشْقِيُّ قَالَ: حَدَّثَتْنَا خُصَيْلَةُ بِنْتُ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ أَنَّهَا سَمِعَتْ أَبَاهَا، يَقُولُ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَا الْعَصَبِيَّةُ؟ قَالَ: «أَنْ تُعِينَ قَوْمَكَ عَلَى الظُّلْمِ» [50]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami al-Ḥusayn bin Isḥāq at-Tustarī, telah menceritakan kepada kami Maḥmūd bin Khālid ad-Dimashqī, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Khuṣaylah binti Wāthilah bin al-Asqa‘, bahwa ia mendengar ayahnya (Wāthilah bin al-Asqa‘) berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, apakah yang dimaksud dengan ‘ashabiyyah (fanatisme golongan)?” Beliau ﷺ bersabda: “Yaitu engkau menolong kaummu dalam perbuatan zalim.”
Di dalam kitab Musnad Ahmad 17472 dan kitab Al Mu’jam Al Kabir nomor 235 juga digambarkan: apakah termasuk fanatis kesukuan jika seseorang mencintai kaumnya?" beliau menjawab: "Tidak. Akan tetapi yang termasuk fanatis kesukuan jika seseorang membela dan menolong kaumnya di atas kezhaliman;
حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ الرَّبِيعِ حَدَّثَنَا عَبَّادُ بْنُ كَثِيرٍ الشَّامِيُّ مِنْ أَهْلِ فِلَسْطِينَ عَنْ امْرَأَةٍ مِنْهُمْ يُقَالُ لَهَا فُسَيْلَةُ قَالَتْ سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمِنْ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُحِبَّ الرَّجُلُ قَوْمَهُ قَالَ لَا وَلَكِنْ مِنْ الْعَصَبِيَّةِ أَنْ يُعِينَ الرَّجُلُ قَوْمَهُ عَلَى الظُّلْمِ [51]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Rabi' Telah menceritakan kepada kami Abbad bin Katsir Asy Syami dari penduduk Mesir dari seorang wanita di antara mereka yang biasa dipanggil Fusailah ia berkata, saya mendengar Bapakku berkata, "Saya pernah bertanya kepada Rasulullah ﷺ, aku katakan, "Wahai Rasulullah, apakah termasuk fanatis kesukuan jika seseorang mencintai kaumnya?" beliau menjawab: "Tidak. Akan tetapi yang termasuk fanatis kesukuan jika seseorang membela dan menolong kaumnya di atas kezhaliman."
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ دَاوُدَ الْمَكِّيُّ قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ نَجْدَةَ الْحَوْطِيُّ، ثنا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، عَنْ صَدَقَةَ بْنِ يَزِيدَ قَالَ: حَدَّثَتْنِي بِنْتُ وَاثِلَةَ بْنِ الْأَسْقَعِ، عَنْ أَبِيهَا قَالَ: قُلْتُ: " يَا رَسُولَ اللهِ، الرَّجُلُ يُحِبُّ قَوْمَهُ، أَعَصِبِيٌّ هُوَ؟ قَالَ: «لَا» قُلْتُ: مَنَ الْعَصَبِيُّ؟ قَالَ: «الَّذِي يُعِينُ قَوْمَهُ عَلَى الظُّلْمِ»[52]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Dawud al-Makkī, telah menceritakan kepada kami ‘Abdul Wahhāb bin Najdah al-Hawṭī, telah menceritakan kepada kami al-Walīd bin Muslim, dari Ṣadaqah bin Yazīd, ia berkata: telah menceritakan kepadaku putri Wāthilah bin al-Asqa‘, dari ayahnya (Wāthilah bin al-Asqa‘), ia berkata: Aku berkata: “Wahai Rasulullah, seseorang mencintai kaumnya, apakah itu termasuk sikap ‘ashabiyyah (fanatisme golongan)?”Beliau menjawab: “Tidak.”Aku bertanya lagi: “Lalu siapa yang disebut ‘ashabiyy (bersikap fanatik)?”Beliau bersabda: “Yaitu orang yang menolong kaumnya dalam perbuatan zalim.”
Hadits-hadits tersebut memberikan gambaran langsung dari Nabi ﷺ tentang makna ‘ashabiyyah yaitu menolong atau membela kelompok sendiri dalam kebatilan atau kezaliman, semata karena ikatan kekerabatan, suku, atau kelompok, bukan karena kebenaran.
5.2. Barangsiapa Mati Di Bawah Bendera Kefanatikan, Dia Marah Karena Fanatik Kesukuan Atau Karena Ingin Menolong Kebangsaan Kemudian Dia Mati, Maka Matinya Seperti Mati Jahiliyah
Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 1847 dinyatakan bahwa barangsiapa mati di bawah bendera kefanatikan, dia marah karena fanatik kesukuan atau karena ingin menolong kebangsaan kemudian dia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah;
حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ يَعْنِي ابْنَ حَازِمٍ حَدَّثَنَا غَيْلَانُ بْنُ جَرِيرٍ عَنْ أَبِي قَيْسِ بْنِ رِيَاحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِي يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا وَلَا يَتَحَاشَى مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلَا يَفِي لِذِي عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ [53]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Syaiban bin Farruh telah menceritakan kepada kami Jarir -yaitu Ibnu Hazim- telah menceritakan kepada kami Ghailan bin Jarir dari Abu Qais bin Riyah dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda: "Barangsiapa keluar dari ketaatan dan tidak mau bergabung dengan Jama'ah kemudian ia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah. Dan barangsiapa mati di bawah bendera kefanatikan, dia marah karena fanatik kesukuan atau karena ingin menolong kebangsaan kemudian dia mati, maka matinya seperti mati jahiliyah. Dan barangsiapa keluar dari ummatku, kemudian menyerang orang-orang yang baik maupun yang fajir tanpa memperdulikan orang mukmin, dan tidak pernah mengindahkan janji yang telah di buatnya, maka dia tidak termasuk dari golonganku dan saya tidak termasuk dari golongannya." (HR. Muslim: 3436)
Demikian juga di dalam Kitab Shahih Muslim 3440 ditegaskan bahwa Barangsiapa terbunuh karena membela bendera kefanatikan yang menyeru kepada kebangsaan atau mendukungnya, maka matinya seperti mati Jahiliyah;
حَدَّثَنَا هُرَيْمُ بْنُ عَبْدِ الْأَعْلَى حَدَّثَنَا الْمُعْتَمِرُ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي مِجْلَزٍ عَنْ جُنْدَبِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْبَجَلِيِّ قَالَ, قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ قُتِلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَدْعُو عَصَبِيَّةً أَوْ يَنْصُرُ عَصَبِيَّةً فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Huraim bin Abdul A'la telah menceritakan kepada kami Al Mu'tamir dia berkata; saya mendengar ayahku menyebutkan dari Abu Mijlaz dari Jundab bin Abdullah Al Bajali dia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa terbunuh karena membela bendera kefanatikan yang menyeru kepada kebangsaan atau mendukungnya, maka matinya seperti mati Jahiliyah."
5.3. Bukan Dari Kami Orang Yang Mengajak Kepada Golongan, Bukan Dari Kami Orang Yang Berperang Karena Golongan Dan Bukan Dari Kami Orang Yang Mati Karena Golongan
Di dalam kitab Sunan Abu Daud 4456 ditegaskan Bukan dari kami orang yang mengajak kepada golongan, bukan dari kami orang yang berperang karena golongan dan bukan dari kami orang yang mati karena golongan;
حَدَّثَنَا ابْنُ السَّرْحِ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْمَكِّيِّ يَعْنِي ابْنَ أَبِي لَبِيبَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي سُلَيْمَانَ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ مِنَّا مَنْ دَعَا إِلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ قَاتَلَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ وَلَيْسَ مِنَّا مَنْ مَاتَ عَلَى عَصَبِيَّةٍ
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ibnu As Sarh berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb dari Sa'id bin Abu Ayyub dari Muhammad bin 'Abdurrahman Al Makki -maksudnya Ibnu Abu Labibah- dari Abdullah bin Abu Sulaimn dari Jubair bin Muth'im bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Bukan dari kami orang yang mengajak kepada golongan, bukan dari kami orang yang berperang karena golongan dan bukan dari kami orang yang mati karena golongan."
Orang beriman diperintahkan untuk tolong menolong saudaranya baik ia berbuat zalim maupun dizalimi, sebagaimana disebutkan di dalam kitab Shahim Bukhari hadits nomor 2312 berikut;
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ: حَدَّثَنَا مُعْتَمِرٌ، عَنْ حُمَيْدٍ، عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: (انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا). قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، هَذَا نَنْصُرُهُ مَظْلُومًا، فَكَيْفَ نَنْصُرُهُ ظَالِمًا؟ قَالَ: (تَأْخُذُ فَوْقَ يَدَيْهِ.).[54]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Musaddad. Telah menceritakan kepada kami Mu’tamar, dari Anas bin Malik ra., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Tolonglah saudaramu, baik ia berbuat zalim maupun dizalimi.” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, kami menolong orang yang dizalimi, tetapi bagaimana menolong orang yang berbuat zalim? ”Beliau menjawab: “Engkau menolongnya dengan menahannya dari kezaliman, itulah bentuk pertolongan kepadanya.”
Hadis ini menunjukkan konsep pertolongan yang adil dalam Islam. Menolong yang dizalimi berarti membantu agar kezaliman terhadapnya berhenti. Menolong yang zalim berarti mencegahnya dari berbuat dosa dan kezaliman, sebab membiarkannya berbuat zalim berarti membiarkannya merusak diri sendiri di hadapan Allah.
Allah juga memerintahkan kepada orang beriman untuk bertolong-menolong dalam kebaikan dan takwa, sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran surat Al-Maidah (5): 2;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya. (QS. Al-Maidah (5): 2)
Mentaati perintah Allah dari hadits dan ayat ini yaitu dengan melakukan tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan dan menjauhkan diri dari perilaku ashabiyah (Tolong menolong dalam kedzaliman) sebagai bentuk ketakwaan kepada Allah dari ashabiyah, yang merupakan bagian dari ketakwaan dari nasfiyah.
6. Merasa Mampu / Berkuasa / Memiliki / Menguasai / Berjasa
Orang beriman harus menanamkan kesadaran dalam dirinya bahwa apa yang sudah dan akan dikerjakan, merupakan kuasa dan kehendak Allah, berikut akan dikemukakan ayat-ayat al Quran dan Hadits yang menggambarkan batas kemampuan manusia;
6.1. Aku Tidak Berkuasa Menarik Kemanfaatan Bagi Diriku
Al Quran surat Al-A'raf/ 7: 188, mengingatkan kepada Rasulullah (dan umatnya) untuk menyatakan aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah;
قُل لَّآ أَمْلِكُ لِنَفْسِى نَفْعًۭا وَلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَآءَ ٱللَّهُ ۚ وَلَوْ كُنتُ أَعْلَمُ ٱلْغَيْبَ لَٱسْتَكْثَرْتُ مِنَ ٱلْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِىَ ٱلسُّوٓءُ ۚ إِنْ أَنَا۠ إِلَّا نَذِيرٌۭ وَبَشِيرٌۭ لِّقَوْمٍۢ يُؤْمِنُونَ
Artinya: Katakanlah: "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman". (QS. Al-A'raf/ 7: 188)
6.2. Kebaikan Maupun Musibah, Semuanya (Datang) Dari Sisi Allah
Di dalam Al Quran surat An-Nisa'/ 4: 78 diingatkatkan untuk menyatakan bahwa kebaikan maupun musibah, semuanya (datang) dari sisi Allah;
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍ وَإِنْ تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ وَإِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَذِهِ مِنْ عِنْدِكَ قُلْ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ فَمَالِ هَؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا
Artinya: Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: "Ini adalah dari sisi Allah", dan kalau mereka ditimpa sesuatu bencana mereka mengatakan: "Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)". Katakanlah: "Semuanya (datang) dari sisi Allah". Maka mengapa orang-orang itu (orang munafik) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikitpun? (QS. An-Nisa'/ 4: 78)
6.3. Kebaikan Yang Kamu Peroleh Adalah Dari Allah
Di dalam Al Quran surat An-Nisa'/ 4: 79, juga dinyatakan bahwa kebaikan yang kamu peroleh adalah dari Allah sedangkan keburukan yang menimpamu (juga dari Allah) yang disebabkan karena kesalahanmu;
مَا أَصَابَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللَّهِ وَمَا أَصَابَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَفْسِكَ وَأَرْسَلْنَاكَ لِلنَّاسِ رَسُولًا وَكَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا
Artinya: Apa saja nikmat yang kamu peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana yang menimpamu, maka dari (kesalahan) dirimu sendiri. Kami mengutusmu menjadi Rasul kepada segenap manusia. Dan cukuplah Allah menjadi saksi.(QS. An-Nisa'/ 4: 79)
6.4. Segala Kejadian Yang Menimpa Seseorang Hanya Terjadi Seijin Allah
Pernyataan tersebut diperkuat dengan penegasan Allah yang dimuat di dalam Al Quran surat At-Taghabun/ 64: 11, bahwa segala kejadian yang menimpa seseorang hanya terjadi seijin Allah;
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَنْ يُؤْمِنْ بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya: Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan ijin Allah; dan barangsiapa yang beriman kepada Allah niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.(QS. At-Taghabun/ 64: 11)
Manusia juga tidak mengetahui apa yang akan dilakukannya besuk, sehingga manusia disuruh ketika akan mengerjakan sesuatu di hari yang akan datang, diperintahkan mengucapkan jika Allah menghendaki, sebagaimana termuat di dalam Al Quran surat Al Kahfi/ 18: 23 dan surat Luqman/ 31: 34 berikut;
وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا , إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّهُ ۚ وَاذْكُر رَّبَّكَ إِذَا نَسِيتَ وَقُلْ عَسَىٰ أَن يَهْدِيَنِ رَبِّي لِأَقْرَبَ مِنْ هَٰذَا رَشَدًا
Artinya: Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan tentang sesuatu: "Sesungguhnya aku akan mengerjakan ini besok pagi, kecuali (dengan menyebut): "Insya Allah". Dan ingatlah kepada Tuhanmu jika kamu lupa dan katakanlah: "Mudah-mudahan Tuhanku akan memberiku petunjuk kepada yang lebih dekat kebenarannya dari pada ini".(QS. Al Kahfi/ 18: 23)
6.6. Hanya Pada Sisi-Nya Sajalah Pengetahuan Tentang Hari Kiamat
إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dialah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.(QS. Luqman/ 31: 34)
6.7. Tidak Akan Merasakan Lezatnya Iman Dan Tidak Pula Sampai Kepada Kebenaran Hakikat Ilmu Tentang Allah Tabaaroka Wa Ta'aala Sehingga Kamu Beriman Dengan Taqdir
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22705 digambarkan bahwa tidak akan merasakan lezatnya iman dan tidak pula sampai kepada kebenaran hakikat ilmu tentang Allah Tabaaroka wa Ta'aala sehingga kamu beriman dengan taqdir yang baik maupun yang buruk. Yaitu kamu mengetahui bahwa apa saja yang tidak akan mengenaimu tidak akan menimpamu dan apa saja yang mengenaimu pasti tidak meleset darimu;
حَدَّثَنَا أَبُو الْعَلَاءِ الْحَسَنُ بْنُ سَوَّارٍ حَدَّثَنَا لَيْثٌ عَنْ مُعَاوِيَةَ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ زِيَادٍ حَدَّثَنِي عُبَادَةُ بْنُ الْوَلِيدِ بْنِ عُبَادَةَ حَدَّثَنِي أَبِي قَالَ دَخَلْتُ عَلَى عُبَادَةَ وَهُوَ مَرِيضٌ أَتَخَايَلُ فِيهِ الْمَوْتَ فَقُلْتُ يَا أَبَتَاهُ أَوْصِنِي وَاجْتَهِدْ لِي فَقَالَ أَجْلِسُونِي قَالَ يَا بُنَيَّ إِنَّكَ لَنْ تَطْعَمَ طَعْمَ الْإِيمَانِ وَلَنْ تَبْلُغْ حَقَّ حَقِيقَةِ الْعِلْمِ بِاللَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى حَتَّى تُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ قُلْتُ يَا أَبَتَاهُ فَكَيْفَ لِي أَنْ أَعْلَمَ مَا خَيْرُ الْقَدَرِ وَشَرُّهُ قَالَ تَعْلَمُ أَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ وَمَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ يَا بُنَيَّ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَوَّلَ مَا خَلَقَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى الْقَلَمُ ثُمَّ قَالَ اكْتُبْ فَجَرَى فِي تِلْكَ السَّاعَةِ بِمَا هُوَ كَائِنٌ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ يَا بُنَيَّ إِنْ مِتَّ وَلَسْتَ عَلَى ذَلِكَ دَخَلْتَ النَّارَ[55]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Al 'Alla` Al Hasan bin Sawwar telah bercerita kepada kami Laits dari Mu'awiyah dari Ayyub bin Ziyad telah bercerita kepadaku 'Ubadah bin Al Walid bin 'Ubadah telah bercerita kepadaku ayahku, ia berkata; aku menemui 'Ubadah bin Ash Shamit ketika ia sedang sakit, aku membayangkan kematian pada dirinya, aku berkata: Wahai ayah, berwasiatlah kepadaku, dan bersungguh-sungguhlah dalam berwasiat kepadaku. Ia berkata: Dudukkan saya. ia berkata: Wahai anakku, kamu tidak akan merasakan lezatnya iman dan tidak pula sampai kepada kebenaran hakikat ilmu tentang Allah Tabaaroka wa Ta'aala sehingga kamu beriman dengan taqdir yang baik maupun yang buruk. Aku berkata: Wahai ayah bagaimana saya bisa mengetahui taqdir yang baik dan taqdir yang buruk? ayahku menjelaskan: Yaitu hendaknya kamu mengetahui bahwasanya apa saja yang tidak akan mengenaimu tidak akan menimpamu dan apa saja yang mengenaimu pasti tidak meleset darimu, wahai anakku, saya mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Sesuatu yang Allah Tabaaroka wa Ta'aala cipta pertama kali adalah pena, kemudian Allah ta'ala berfirman: "Tulislah, " maka pada saat itu pula diberlakukan apa saja yang terjadi hingga hari kiamat, wahai anakku jika kamu meninggal dalam keadaan tidak beriman terhadap yang demikian, maka kamu masuk ke dalam neraka".
6.8. Pada Hakekatnya Manusia Diciptakan Allah Menjadi Hambanya
Di dalam Al Quran surat Adz-Dzariyat/ 51: 56 dinyatakan bahwa manusia diciptakan untuk mengabdi kepada Allah;
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.(QS. Adz-Dzariyat/ 51: 56)
Dan di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 21 dinyatakan bahwa manusia diperintahkan untuk mengabdi kepada-Nya, dengan tujuan agar bertakwa;
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa (QS. Al-Baqarah/ 2: 21)
Dari dua ayat Al Quran ini dapat ditarik pengertian bahwa manusia diciptakan untuk menjadi hamba yang mengabdi kepada Allah, dan hanya dengan patuh; taat; bertakwa kepada Allah manusia akan dapat memperoleh kebahagian hakiki, sedangkan jika mengabdi pada selain Allah hanya akan memperoleh kebahagiaan semu belaka.
Demikian beberapa kesadaaran hati negatif yang didorong karena adanya sifat nafsiyah di dalam diri, masih ada banyak kesadaran negatif lain yang terdorong oleh sifat nafsiyah ini, seperti; munculnya perasaan gengsi, angkuh, bersaing, meremehkan, mengabaikan, tidak peduli, mengejek, mencari-cari kekurangan, dll.
Di sini perlu dirumuskan bahwa takwa dari nafsiyah adalah kesadaran qalbu untuk mengendalikan diri dari dorongan melakukan keburukan yang berasal dari diri sendiri, diikuti pengakuan ketika dirinya memiliki kesalahan-kesalahan yang disebabkan dorongan yang bersifat nafsiyah, kemudian diikuti dengan kesadaran untuk bertaubat dan memohon ampun kepada Allah atas kesalahan tersebut.
Di antara Langkah-langkah yang dapat dijadikan pedoman untuk dapat bertakwa dari nafsiyah Adalah sebagai berikut;
7.1. Bersujud, Bertasbih, Memuji Allah Dan Tidak Menyombongkan Diri
Di dalam Al Quran Surat As Sajdah/ 32: 15 digambarkan bahwa orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong;
إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِـَٔايَـٰتِنَا ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا۟ بِهَا خَرُّوا۟ سُجَّدًۭا وَسَبَّحُوا۟ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ
Artinya: Sesungguhnya orang yang benar-benar percaya kepada ayat-ayat Kami adalah mereka yang apabila diperingatkan dengan ayat-ayat itu mereka segera bersujud seraya bertasbih dan memuji Rabbnya, dan lagi pula mereka tidaklah sombong. (QS. As Sajdah/ 32: 15)
Di dalam Al Quran surat An Nahl/ 16: 49 dinyatakan bahwa kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para ma]aikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri;
وَلِلَّهِ يَسْجُدُ مَا فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ مِن دَآبَّةٍۢ وَٱلْمَلَـٰٓئِكَةُ وَهُمْ لَا يَسْتَكْبِرُونَ
Artinya: Dan kepada Allah sajalah bersujud segala apa yang berada di langit dan semua makhluk yang melata di bumi dan (juga) para malaikat, sedang mereka (malaikat) tidak menyombongkan diri. (QS. An Nahl/ 16: 49)
Langkah utama untuk bertakwa kepada Allah dari nafsiyah adalah selalu berdzikir, bertasbih, memuji Allah dan tidak sombong.
7.2. Sesungguhnya Di Antara Tempat Masuk Dan Jebakannya Adalah Kesombongan Dengan Ni’mat Allah, Dan Bangga Dengan Pemberian Allah
Di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor 8180 dinyatakan bahwa Sesungguhnya Syetan memiliki tempat-tempat masuk dan jebakan-jebakan, dan sesungguhnya di antara tempat masuk dan jebakannya adalah kesombongan dengan ni’mat Allah, dan bangga dengan pemberian Allah;
أَخْبَرَنَا أَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ الْفَضْلِ الْقَطَّانُ، أنا عَبْدُ اللهِ بْنُ جَعْفَرٍ، نا يَعْقُوبُ بْنُ سُفْيَانَ، نا أَبُو الْيَمَانِ، نا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ، ثَنَا أَبُو رَوَاحَةَ يَزِيدُ بْنُ -[479]- أَبْهَمَ، عَنِ الْهَيْثَمِ بْنِ مَالِكٍ الطَّائِيِّ، قَالَ: سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ، وَهُوَ عَلَى الْمِنْبَرِ، يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسلَّمَ يَقُولُ: " إِنَّ لِلشَّيْطَانِ مَصَالِيًا وَفُخُوخًا، وَإِنَّ مِنْ مَصَالِيهِ وَفُخُوخِهِ الْبَطَرَ بِنِعَمِ اللهِ، وَالْفَخْرَ بِعَطَاءِ اللهِ، وَالْكِبْرَ عَلَى عِبَادِ اللهِ، وَاتِّبَاعَ الْهَوَى فِي غَيْرِ ذَاتِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ "[56]
Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Abu Al husna ibnu Fadl Al Qathan, telah mengabarkan kepada kami Abdullah ibnu Ja’far, telah mengabarkan kepada kami Ya’qub ibnu Sufyan, telah mengabarkan kepada kami Abu Al Yaman, telah mengabarkan kepada kami Ismail ibnu Ayas, telah menceritakan kepada kami Abu Rawahah Yazid ibnu Abham, dari Al Haitsam ibnu Malik At Thai, berkata: aku telah mendengar An Nu’man ibnu Basyir, dan dia sedang di atas mimbar, berkata: aku telah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Syetan memiliki tempat-tempat masuk dan jebakan-jebakan, dan sesungguhnya di antara tempat masuk dan jebakannya adalah kesombongan dengan ni’mat Allah, dan bangga dengan pemberian Allah dan sombong kepada Hamba Allah, dan mengikuti hawa nafsu pada selain Dzat Allah Azza wa Jalla”
Wasapada dengan jebakan syetan yaitu kesombongan dengan ni’mat Allah, dan bangga dengan pemberian Allah dan sombong kepada Hamba Allah, dan mengikuti hawa nafsu
7.3. Rasulullah Tidak Pernah Membenci Karena Pertimbangan Pribadinya
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2560 digambarkan bahwa Rasulullah ﷺ tidak pernah membenci (memusuhi) karena pertimbangan kepentingan pribadi semata, kecuali memang karena menodai kehormatan Allah;
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ مَا خُيِّرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَيْنَ أَمْرَيْنِ إِلَّا أَخَذَ أَيْسَرَهُمَا مَا لَمْ يَكُنْ إِثْمًا فَإِنْ كَانَ إِثْمًا كَانَ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنْهُ وَمَا انْتَقَمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِنَفْسِهِ إِلَّا أَنْ تُنْتَهَكَ حُرْمَةُ اللَّهِ فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ بِهَا [57]
Artinya: Telah bercerita kepada kami 'Abdullah bin Yusuf telah mengabarkan kepada kami Malik dari Ibnu Syihab dari 'Urwah bin Az Zubair dari 'Aisyah radliallahu 'anha bahwa dia berkata; "Tidaklah Rasulullah ﷺ diberi pilihan dari dua perkara yang dihadapinya, melainkan beliau mengambil yang paling ringan selama bukan perkara dosa. Seandainya perkara dosa, beliau adalah orang yang paling jauh darinya, dan Rasulullah ﷺ tidak pernah membenci (memusuhi) karena pertimbangan kepentingan pribadi semata, kecuali memang karena menodai kehormatan Allah, dan apabila kehormatan Allah dinodai, maka beliau adalah orang yang paling membenci (memusuhi) nya".
Mengendalikan diri agar nafsiyahnya tidak mudah tersinggung, terpancing, sehingga mengakibatkan munculnya perilku nasfiyah.
7.4. Doa Agar Dapat Takwa Dari Nafsiyah
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 3396 disebutkan doa mohon perlindungan dari keburukan nafs dan syetan;
حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ الْوَلِيدِ حَدَّثَنَا ابْنُ عَيَّاشٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ زِيَادٍ الْأَلْهَانِيِّ عَنْ أَبِي رَاشِدٍ الْحُبْرَانِيِّ قَالَ أَتَيْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ فَقُلْتُ لَهُ حَدِّثْنَا مَا سَمِعْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَلْقَى بَيْنَ يَدَيَّ صَحِيفَةً فَقَالَ هَذَا مَا كَتَبَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَنَظَرْتُ فِيهَا فَإِذَا فِيهَا أَنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِي مَا أَقُولُ إِذَا أَصْبَحْتُ وَإِذَا أَمْسَيْتُ فَقَالَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا أَبَا بَكْرٍ قُلْ اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ رَبَّ كُلِّ شَيْءٍ وَمَلِيكَهُ أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي وَمِنْ شَرِّ الشَّيْطَانِ وَشِرْكِهِ وَأَنْ أَقْتَرِفَ عَلَى نَفْسِي سُوءًا أَوْ أَجُرَّهُ إِلَى مُسْلِمٍ [58]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Khalaf bin Walid telah menceritakan kepada kami Ibnu 'Ayyasy dari Muhammad bin Ziyad Al Alhani dari Abu Rasyid Al Hubrani dia berkata; aku mendatangi Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash, aku katakan kepadanya: "ceritakan kepada kami apa yang telah engkau dengar dari Rasul Shallallahu 'alaihi wa Salam." Maka dia menyodorkan ke tanganku sebuah lembaran shahifah seraya berkata: "Ini yang dituliskan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam untukku." Maka akupun melihat lembaran shahifah tersebut, dan aku dapatkan dalam lembaran tersebut bahwa Abu Bakar Ash Shidiq pernah bertanya kepada beliau: "Wahai Rasulullah, ajarilah aku, apa yang harus aku ucapkan ketika berada pada waktu pagi dan sore hari?" Maka Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam pun menjawab: "wahai Abu Bakar, ucapkalah: (Ya Allah, Tuhan pencipta langit dan bumi, Tuhan yang mengetahui yang Ghaib dan yang nyata, tiada tuhan yang berhak untuk disembah kecuali Engkau, Tuhan yang menguasai segala sesuatu dan merajainya, aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan nafsiyahku, kejahan setan dan bala tentaranya, dan aku berbuat kejelekkan pada diriku atau aku mendorongnya pada seorang muslim)."
7.5. Doa “Ya Allah, Jagalah Daku Dari Kejahatan Diriku Dan Tunjukilah Daku Kepada Kebaikan Urusanku”
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 19992 disebutkan doa ” Ya Allah, jagalah daku dari kejahatan diriku dan tunjukilah daku kepada kebaikan urusanku”
حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ أَوْ غَيْرِهِ أَنَّ حُصَيْنًا أَوْ حَصِينًا أَتَى رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ لَعَبْدُ الْمُطَّلِبِ كَانَ خَيْرًا لِقَوْمِهِ مِنْكَ كَانَ يُطْعِمُهُمْ الْكَبِدَ وَالسَّنَامَ وَأَنْتَ تَنْحَرُهُمْ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ فَقَالَ لَهُ مَا تَأْمُرُنِي أَنْ أَقُولَ قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ قِنِي شَرَّ نَفْسِي وَاعْزِمْ لِي عَلَى أَرْشَدِ أَمْرِي قَالَ فَانْطَلَقَ فَأَسْلَمَ الرَّجُلُ ثُمَّ جَاءَ فَقَالَ إِنِّي أَتَيْتُكَ فَقُلْتَ لِي قُلْ اللَّهُمَّ قِنِي شَرَّ نَفْسِي وَاعْزِمْ لِي عَلَى أَرْشَدِ أَمْرِي فَمَا أَقُولُ الْآنَ قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي مَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ وَمَا أَخْطَأْتُ وَمَا عَمَدْتُ وَمَا عَلِمْتُ وَمَا جَهِلْتُ [59]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hasan, telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Manshur dari Rabi'i bin Hirasy dari 'Imran bin Hushain atau yang lain bahwa seseorang bernama Hushain atau Hashin datang kepada Rasulullah ﷺ sambil berkata; "Wahai Muhammad, sungguh Abdul Muthallib adalah orang terbaik bagi kaumnya daripada kamu. Ia memberi makan kaumnya dengan hati dan punuk unta, sementara kamu menyembelih mereka." Lalu Nabi ﷺ bersabda sebagaimana yang di kehendaki Allah. Laki-laki itu berkata lagi; "Lalu apa yang anda suruh untuk aku katakan?." Beliau bersabda: "Katakanlah: Ya Allah, jagalah daku dari kejahatan diriku dan tunjukilah daku kepada kebaikan urusanku." 'Imran bin Hushain berkata; "Lalu laki-laki itu itu pergi dan masuk Islam, kemudian datang lagi sambil berkata; "Aku datang kepadamu lalu engkau menyuruhku untuk membaca; Ya Allah, jagalah daku dari kejahatan diriku dan tunjukilah daku kepada kebaikan urusanku, lantas apa yang aku katakan sekarang?." Beliau bersabda: "Katakanlah; Ya Allah, ampunilah daku dari dosa yang tersembunyi dan yang nampak, yang lalai maupun yang disengaja, yang aku tahu maupun tidak."
7.6. Doa Mohon Perlindungan Kepada Allah dari Keburukan Diri Nafsiyah
Di Dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 17229 disebutkan doa Ya Allah, aku memohon petunjuk-Mu sehingga lurus urusanku, dan aku berlindung pada-Mu dari keburukan jiwaku
حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ مُوسَى حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ عَن سَعِيدٍ الْجُرَيْرِيِّ عَن أَبِي الْعَلَاءِ عَن عُثْمَانَ بْنِ أَبِي الْعَاصِ وَامْرَأَةٍ مِنْ قَيْسٍ أَنَّهُمَا سَمِعَا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَحَدُهُمَا سَمِعْتُهُ يَقُولُ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِي ذَنْبِي خَطَئِي وَعَمْدِي اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَهْدِيكَ لِأَرْشَدِ أَمْرِي وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ نَفْسِي [60]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hasan bin Musa telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah dari Sa'id Al Jurairi dari Abul Ala dari Utsman bin Abul Ash dan Seorang perempuan dari Quwais, bahwa keduanya pernah mendengar Nabi ﷺ. Salah satu dari keduanya berkata, "Saya mendengar beliau berdo'a: "Allahummaghfir Lii Dzanbii Khatha`Ii Wa 'Amdii. Allahumma Innii Astahdiika Liarsyadi Amrii, Wa A'uudzu Bika Min Syarri Nafsii (Ya Allah, ampunilah dosaku baik yang sengaja ataupun yang tidak. Ya Allah, aku memohon petunjuk-Mu sehingga lurus urusanku, dan aku berlindung pada-Mu dari keburukan jiwaku)."
7.7. Berdoa Ya Allah, ilhamkan kepadaku petunjukku, dan lindungilah aku dari kejahatan diriku
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 3405 disebutkan doa Ya Allah, ilhamkan kepadaku petunjukku, dan lindungilah aku dari kejahatan diriku
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ شَبِيبِ بْنِ شَيْبَةَ عَنْ الْحَسَنِ الْبَصْرِيِّ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَبِي يَا حُصَيْنُ كَمْ تَعْبُدُ الْيَوْمَ إِلَهًا قَالَ أَبِي سَبْعَةً سِتَّةً فِي الْأَرْضِ وَوَاحِدًا فِي السَّمَاءِ قَالَ فَأَيُّهُمْ تَعُدُّ لِرَغْبَتِكَ وَرَهْبَتِكَ قَالَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ قَالَ يَا حُصَيْنُ أَمَا إِنَّكَ لَوْ أَسْلَمْتَ عَلَّمْتُكَ كَلِمَتَيْنِ تَنْفَعَانِكَ قَالَ فَلَمَّا أَسْلَمَ حُصَيْنٌ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ عَلِّمْنِيَ الْكَلِمَتَيْنِ اللَّتَيْنِ وَعَدْتَنِي فَقَالَ قُلْ اللَّهُمَّ أَلْهِمْنِي رُشْدِي وَأَعِذْنِي مِنْ شَرِّ نَفْسِي قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَقَدْ رُوِيَ هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ [61]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani' telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dari Syabib bin Syaibah dari Al Hasan Al Bashri dari Imran bin Hushain ia berkata; Nabi ﷺ berkata kepada ayahku: "Wahai Hushain, berapa tuhan yang engkau sembah dalam sehari?" Ayahku berkata; tujuh, enam di dunia dan satu di langit."Manakah yang engkau perhitungkan keinginanmu dan rasa rasa takutmu?"Ia berkata; Yang ada di langit."Wahai Hushain, ketahuilah seandainya engkau masuk Islam aku akan mengajarimu dua kalimat yang bermanfaat bagimu." Imran berkata; tatkala Hushain telah masuk Islam ia berkata; wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku dua kalimat yang engkau janjikan kepadaku! Kemudian beliau bersabda: "Katakan; Ya Allah, ilhamkan kepadaku petunjukku, dan lindungilah aku dari kejahatan diriku. Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan gharib. Dan telah diriwayatkan hadits ini dari Imran bin Hushain dan yang lainnya dari jalur ini.
[1] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 3 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, tt.), hlm. 52–60.(Pembahasan: Bāb Riyāḍah an-Nafs wa Mukhalafatuhā).
[2] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Madārij as-Sālikīn bayna Manāzil Iyyāka Na‘budu wa Iyyāka Nasta‘īn, Juz 1 (Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 2000), hlm. 308–315.
[3] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Al Kitab Al-Alamiyah, Beirut, 1990, Jilid 4, Halaman 280, Hadits nomor 7639.
[4] Imam al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz III, Beirut: Dar al-Fikr, 1413 H/1993 M, halaman. 221
[5] Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Badā’i‘ al-Fawā’id, Juz 3 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1416 H/1996 M), halaman. 75.
[6] Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Madarij al-Sālikīn baina Manāzil Iyyāka Na‘budu wa Iyyāka Nasta‘īn, Juz 2 (Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 1404 H/1983 M), halaman. 301.
[7] Ibid, Halaman. 303.
[8] Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Ighāthat al-Lahfān min Maṣāyid al-Syaithān, Juz 2 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1422 H/2001 M), halaman. 170.
[9] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 3 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.), hlm. 343.
[10] Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Madarij al-Sālikīn baina Manāzil Iyyāka Na‘budu wa Iyyāka Nasta‘īn, Juz 2 (Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 1404 H/1983 M), hlm. 310.
[11] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniya, Mesir, 1404, Jilid 7, Halaman 53, Hadits nomor 5303.
[12] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 5 Hal. 453, Hadits nomor 7252.
[13] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 11, Halaman 312.Hadits nomor 6708.
[14] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 1, Halaman 123, Hadits nomor 448.
[15] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Musthafa, Beirut, 1975, Jilid 4 halaman 632, Hadits nomor 2448.
[16] Muhammad ibn Ismail Al Bukhari, Al Adabu Al-Mufrad, Al-Mathba’ah As-Salafiyah wa Maktabatuha, Keiro, 1989, Jilid 1, Halaman, 193, Hadits nomor 549.
[17] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 5 Hal. 453, Hadits nomor 7255.
[18] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 4 Hal. 161, Hadits nomor 4663.
[19] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 3 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.), hlm. 294.
[20] Ibid., hlm. 296.
[21] Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Madarij al-Sālikīn baina Manāzil Iyyāka Na‘budu wa Iyyāka Nasta‘īn, Juz 2 (Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 1404 H/1983 M), hlm. 344.
[22] Ibid., hlm. 347.
[23] Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Ighāthat al-Lahfān min Maṣāyid al-Syaithān, Juz 1 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, 1422 H/2001 M), hlm. 121.
[24] Abu Nu’aim Ahmad ibn Abdullah Al-Ashbahani, Hilyatul Auliya’ Wa Thabaqatul Ashfiya’, Mathba’ah Sa’adah, Mesir, 1974. Jilid 1 Halaman 21.
[25] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 191, Hadits nomor 2383.
[26] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 12, Halaman 175, Hadits nomor 12803.
[27] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 17, Halaman 355.Hadits nomor 11252.
[28] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 4, Halaman 253, Hadits nomor 4301.
[29] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 28, Halaman 364.Hadits nomor 17140.
[30] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniya, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 64, Hadits nomor 7156.
[31] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 5 Hal. 344, Hadits nomor 6864.
[32] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Dar al-Fikr, Beirut, tt, Jilid, 7, Halaman 3121, Hadits nomor 4802.
[33] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al baihaqi, Syuab Al-Iman, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 20 Hal. 66, Hadits nomor 121.
[34] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 5 Hal. 327, Hadits nomor 6809.
[35] Abu Nu’aim Ahmad ibn Abdullah Al-Ashbahani, Hilyatul Auliya’ Wa Thabaqatul Ashfiya’, Mathba’ah Sa’adah, Mesir, 1974. Jilid 8 Halaman 72.
[36] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1 , Halaman 93, Hadits nomor 147.
[37] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 6, Halaman 338.Hadits nomor 3789.
[38] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniya, Mesir, 1404, Jilid 7, Halaman 53, Hadits nomor 5303.
[39] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 14, Halaman 473. Hadits nomor 8864. Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman 1397, Hadits nomor 4174.
[40] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 4, Halaman 95, Hadits nomor 4091. Abu Hatim Muhammad ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibnu Hazm, Beirut, Jilid 4, Halam, 449, Hadits nomor 3751. Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 3 halaman 533, Hadits nomor 1998.
[41] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 268, Hadits nomor 2492.
[42] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 2148, Hadits nomor 2788.
[43] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 6, Halaman 159, Hadits nomor 4918.
[44] Abd Al-Shamad Al-Darimi, Sunan Darimi, Dar Al Mughni Linashr Watauzi’, Saudi Arabi, 2000, Jilid 3, Halaman 1858, Hadits nomor 2858.
[45] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1 , Halaman 103, Hadits nomor 173.
[46] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 3 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, t.t.), hlm. 354.
[47] Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Zād al-Ma‘ād fī Hadyi Khayr al-‘Ibād, Juz 3 (Beirut: Mu’assasah al-Risālah, 1414 H/1993 M), hlm. 303.
[48] Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Madarij al-Sālikīn baina Manāzil Iyyāka Na‘budu wa Iyyāka Nasta‘īn, Juz 2 (Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 1404 H/1983 M), hlm. 317.
[49] Ibid., hlm. 318.
[50] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 22, Halaman 98, Hadits nomor 236.
[51] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 29, Halaman 12.Hadits nomor 17472
[52] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 22, Halaman 97, Hadits nomor 235.
[53] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 3, Halaman 1476, Hadits nomor 1847.
[54] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Dar Ibnu Katsir, Damsyiq, 1993, Jilid 2, Halaman 863, Hadits nomor 2312.
[55] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 37, Halaman 378.Hadits nomor 22705.
[56] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 6 Hal. 287, Hadits nomor 8180.
[57] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 189, Hadits nomor 2560.
[58] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 5 halaman 399, Hadits nomor 3396.
[59] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 33, Halaman 197.Hadits nomor 19992.
[60] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 29, Halaman 434.Hadits nomor 17904.
[61] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 5 halaman 468, Hadits nomor 3483.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar