23/04/2026

+ 5. TAKWA LEVEL IMAN

+ 5. TAKWA LEVEL IMAN

Iman berasal dari kata Amana-yu’minu-imanan secara harfiyah artinya aman, yakin, percaya. Berdasar pencarian menggunakan kata dasar amana di dalam Al Quran menggunakan aplikasi Al Quran Zekr. 1.1 ditemukan 879 kata yang di 723 ayat. Ayat-ayat tersebut ditambah dengan hadits-hadits Rasulullah yang berkaitan dengan iman akan diklasifikasikan dan dianalisa untuk dapat memperoleh pemahaman yang menyeluruh tentang keimanan, sehingga iman dapat diamalkan menjadi sebuah bentuk ketakwaan di tingkat iman.

Di dalam Al Quran Surat Al-Hujurat/ 49: 15, ditegaskan bahwa orang beriman itu percaya kepada Allah dan Rasulnya dengan tidak ada keraguan, serta berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya, mereka itulah orang-orang yang benar;

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (QS. Al-Hujurat/ 49: 15)

Sedangkan di dalam Al Quran surat Al An’am/ 6: 82 disebutkan bahwa orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimannya dengan kedhaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk;

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُم بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُم مُّهْتَدُونَ

Artinya: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. Al An’am/ 6: 82)

Adapun di dalam Al Quran Surat At-Taubah/ 9: 111, ditegaskan bahwa Allah telah membeli dari orang-orang beriman diri dan harta mereka dengan surga untuk mereka;

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Artinya: Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman, diri dan harta mereka dengan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. (QS. At-Taubah/ 9: 111)

Dari tiga ayat Al Quran di atas, dapat di tarik pengertian bahwa iman adalah kesadaran untuk percaya kepada Allah dan yakin bahwa ketaatan kepada-Nya akan mendatangkan rasa aman dan keberuntungan di dunia hingga akhirat.

Sedangkan di dalam kitab hadits Sunan Mu’jam Thabarani Ausath hadits nomor 6254 dijelaskan bahwa iman itu adalah ma’rifah di dalam hati, perkataan dengan lisan, dan perbuatan dengan anggota badan;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَلِيٍّ الصَّائِغُ قَالَ: نا عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ صَالِحٍ الْهَرَوِيُّ قَالَ: نا عَلِيُّ بْنُ مُوسَى بْنِ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَلِيٍّ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ: «الْإِيمَانُ مَعْرِفَةٌ بِالْقَلْبِ، وَإِقْرَارٌ بِاللِّسَانِ، وَعَمَلٌ بِالْأَرْكَانِ» لَا يُرْوَى هَذَا الْحَدِيثُ عَنْ عَلِيٍّ إِلَّا بِهَذَا الْإِسْنَادِ، تَفَرَّدَ بِهِ عَبْدُ السَّلَامِ بْنُ صَالِحٍ الْهَرَوِيُّ " [1]

Artinya: Muhammad bin Ali ash-Sha’igh meriwayatkan bahwa ‘Abdus Salam bin Shalih al-Harawi telah menceritakan kepada mereka, ia berkata: Ali bin Musa bin Ja’far bin Muhammad telah menceritakan kepadaku, dari ayahnya, dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, dari Ali bin al-Husain, dari ayahnya, dari Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Iman adalah pengenalan (pembenaran) dengan hati, pengucapan dengan lisan, dan amal dengan anggota tubuh.” Hadis ini tidak diriwayatkan dari Ali kecuali melalui sanad ini, dan sanad ini dipersendiri oleh ‘Abdus Salam bin Shalih al-Harawi.

Imam al-Ghazali menjelaskan bahwa iman adalah pembenaran yang mantap dalam hati (tadīq al-qalb) yang disertai kepasrahan penuh kepada Allah. Menurutnya, iman bukan sekadar pengetahuan rasional tentang kebenaran, tetapi cahaya spiritual yang menetap dalam hati sehingga memengaruhi akhlak dan perilaku seseorang. Ia menekankan bahwa iman memiliki tingkatan: mulai dari iman taqlīd bagi orang awam, iman burhānī (berbasis dalil) bagi para pencari ilmu, hingga iman dhawqī (rasa spiritual) bagi para ‘ārifīn. Bagi al-Ghazali, inti iman terletak pada pengakuan batin yang melahirkan ketaatan, karena iman tanpa amal adalah tanda kelemahan spiritual yang dapat mengantarkan pada kemunafikan.[2]

Sementara itu, Ibn Qayyim al-Jauziyah menggambarkan iman sebagai gabungan antara ucapan, keyakinan, dan amal, yang bertambah dengan ketaatan dan berkurang akibat kemaksiatan. Ia menegaskan bahwa iman bukan keadaan statis, tetapi realitas hidup yang senantiasa bergerak sesuai kondisi hati seorang hamba. Ibn Qayyim menekankan bahwa kekuatan iman ditentukan oleh tiga pilar: pengetahuan yang benar tentang Allah, ketundukan hati, dan amal yang konsisten. Menurutnya, iman menjadi hidup dan kuat ketika hati dipenuhi cinta, takut, dan harap kepada Allah, sementara iman menjadi lemah ketika hati dikuasai syahwat, kelalaian, dan penyakit batin. [3]

Untuk dapat memberikan pemahaman yang menyeluruh tentang iman hingga dapat diamalkan menjadi sebuah bentuk ketakwaan di tingkat iman, berikut ini akan dikemukakan pembahasan tentang;

1.   Hikmah Iman,

2.   Keistimewaan Orang Beriman,

3.   Karakter Orang Yang Beriman,

4.   Takwa Di Tingkat Iman

Yang pembahasannya dikemukakan berdasar kajian ayat-ayat Al Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW;

1.  Hikmah Iman

Berikut akan dikemukakan beberapa nilai atau hikmah yang berkaitan dengan keimanan yang terdapat di dalam Al Quran dan Hadits ;

1.1. Allah Yang Menjadikan Manusia Cinta Kepada Keimanan Dan Menjadikan Keimanan Indah Di Dalam Qalbu

Di dalam Al Quran Surat Al-Hujurat/ 49 : 7, dijelaskan bahwa Allah menjadikan kamu "cinta" kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam qalbu-mu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasiqan dan kema’siyatan;

وَاعْلَمُوٓا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ اللَّهِ ۚ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِى كَثِيرٍ مِّنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمٰنَ وَزَيَّنَهُۥ فِى قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولٰٓئِكَ هُمُ الرّٰشِدُونَ

Artinya: Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu "cinta" kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam qalbu mu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasiqan dan kema’siyatan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang benar. (QS. Al-Hujurat/ 49: 7)

1.2. Allah Yang Meneguhkan Iman Orang-orang Beriman Dengan Perkataan Yang Teguh

Di dalam Al Quran surat Ibrahim/ 14: 27 ditegaskan bahwa Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat;

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ

Artinya: Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman dengan ucapan yang teguh itu dalam kehidupan di dunia dan di akhirat; dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan memperbuat apa yang Dia kehendaki. (QS. Ibrahim/ 14: 27)

1.3. Kasih Sayang Allah Kepada Orang Beriman Dengan Memberi Rahmat Kepadanya Dan Mengeluarkannya Dari Kegelapan Menuju Cahaya

Di dalam Al Quran surat Al Ahzab/ 33: 43 digambarkan bahwa Allah merahmati orang beriman dengan mengeluarkannya dari kegelapan menuju cahaya;

هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُم مِّنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا  

Artinya: Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman. (QS. Al Ahzab/ 33: 43)

1.4. Allah Meninggikan Derajad Orang Beriman Dan Orang Yang Berilmu

Di dalam Al Quran surat Al-Mujadilah/ 58: 11 dinyatakan bahwa Allah Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat;

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا۟ فِى ٱلْمَجَـٰلِسِ فَٱفْسَحُوا۟ يَفْسَحِ ٱللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ ٱنشُزُوا۟ فَٱنشُزُوا۟ يَرْفَعِ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مِنكُمْ وَٱلَّذِينَ أُوتُوا۟ ٱلْعِلْمَ دَرَجَـٰتٍۢ ۚ وَٱللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌۭ

Artinya: Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadilah/ 58: 11)

1.5. Orang Beriman Tidak Khawatir Dengan Pengurangan Pahala

Di dalam Al Quran Surat Al Jin/ 72: 13, dinyatakan Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan;

وَأَنَّا لَمَّا سَمِعْنَا الْهُدَىٰ آمَنَّا بِهِ ۖ فَمَنْ يُؤْمِنْ بِرَبِّهِ فَلَا يَخَافُ بَخْسًا وَلَا رَهَقًا

Artinya: Dan sesungguhnya kami tatkala mendengar petunjuk (Al Quran), kami beriman kepadanya. Barangsiapa beriman kepada Tuhannya, maka ia tidak takut akan pengurangan pahala dan tidak (takut pula) akan penambahan dosa dan kesalahan.(QS. Al Jin/ 72: 13)

1.6. Orang Beriman Dan Beramal Shalih, Tidak Merasa Takut Dan Sedih

Di dalam Al Quran Surat Al-Baqarah/ 2: 62, 277 dijelaskan bahwa orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, mendapat pahala dan hatinya tidak takut dan tidak sedih;

مَنۡ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡأٓخِرِ وَعَمِلَ صَٰلِحٗا فَلَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

Artinya: Siapa saja (di antara mereka) yang beriman kepada Allah dan hari akhir, dan melakukan kebajikan, mereka mendapat pahala dari Tuhannya, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah/ 2: 62)

إِنَّ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَأَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ لَهُمۡ أَجۡرُهُمۡ عِندَ رَبِّهِمۡ وَلَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ

Artinya: Sungguh orang-orang yang beriman, mengerjakan kebajikan, melaksana-kan shalat dan menunaikan zakat, mereka mendapat pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah/ 2: 277)

1.7. Keimanan Itu Diberikan Kepada Seorang Hamba Sebelum Al Qur'an

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 6604, dijelaskan bahwa keimanan itu diberikan kepada seorang hamba sebelum Al Qur'an;

حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا حُيَيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أَقْرَأُ الْقُرْآنَ فَلَا أَجِدُ قَلْبِي يَعْقِلُ عَلَيْهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ قَلْبَكَ حُشِيَ الْإِيمَانَ وَإِنَّ الْإِيمَانَ يُعْطَى الْعَبْدَ قَبْلَ الْقُرْآن   [4]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Hasan] telah menceritakan kepada kami [Ibnu Lahi'ah] telah menceritakan kepadaku [Huyai Ibnu Abdullah] dari [Abu Abdurrahman Al Hubuli] dari [Abdullah bin 'Amru], dia berkata; seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu 'Aliahi Wasallam dan berkata: Aku membaca Al Qur'an tapi hatiku tidak dapat menjaga dan menghafalnya. Maka Rasulullah Shallallahu 'Aliahi Wasallam pun berkata: "Sesungguhnya hatimu telah dijauhkan dari keimanan, dan sungguh keimanan itu diberikan kepada seorang hamba sebelum Al Qur'an."

1.8.  Iman Itu Di Dalam Qalbu

Di dalam Al Quran surat Al-Hujurat/ 49: 14 ditegaskan bahwa iman itu ada di dalam qalbu;

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. Al-Hujurat/ 49: 14)

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 180 digambarkan bahwa Allah meletakkan iman di dalam qalbu;

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ وَإِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَاللَّفْظُ لِأَبِي بَكْرٍ قَالَ إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا وَقَالَ الْآخَرَانِ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ آدَمَ بْنِ سُلَيْمَانَ مَوْلَى خَالِدٍ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ يُحَدِّثُ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ لَمَّا نَزَلَتْ هَذِهِ الْآيَةُ " وَإِنْ تُبْدُوا مَا فِي أَنْفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللَّهُ " قَالَ دَخَلَ قُلُوبَهُمْ مِنْهَا شَيْءٌ لَمْ يَدْخُلْ قُلُوبَهُمْ مِنْ شَيْءٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَسَلَّمْنَا قَالَ فَأَلْقَى اللَّهُ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِهِمْ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى " لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا " قَالَ قَدْ فَعَلْتُ" رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا " قَالَ قَدْ فَعَلْتُ " وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا " قَالَ قَدْ فَعَلْتُ [5]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib serta Ishaq bin Ibrahim dan lafazh tersebut milik Abu Bakar, berkata Ishaq telah mengabarkan kepada kami, sedangkan dua orang lainnya berkata, telah menceritakan kepada kami Waki' dari Sufyan dari Adam bin Sulaiman mantan budak Khalid, dia berkata, saya mendengar Sa'id bin Jubair menceritakan dari Ibnu Abbas dia berkata, "Ketika turun ayat: '(Dan jika kamu melahirkan sesuatu yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikannya, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu) ' (Qs. Albaqarah: 284). Ibnu Abbas berkata, "Maka masuklah suatu kesedihan darinya ke dalam hati mereka yang mana tidak pernah masuk ke dalam hati mereka sedikit pun." Maka Nabi  bersabda: "Katakanlah, 'Saya mendengar dan saya menaati serta saya menyerahkan diri'." Ibnu Abbas berkata, "Lalu Allah meletakkan iman pada hati mereka, yang kemudian menurunkan ayat: '(Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa), 'Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah) ' (Qs. Al Baqarah: 286), Allah berfirman: "Sungguh aku telah melakukannya." '(Wahai Rabb kami, dan janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami) ' (Qs. Al baqarah: 286), Allah berfirman: "Aku telah melakukanya." '(Wahai Rabb kami, Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami) ' Allah berfiraman: "Aku telah lakukan."

1.9. Kesucian Adalah Separuh Iman

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 17571 dinyatakan bahwa Kesucian adalah setengah dari iman;

حَدَّثَنَا مُعَاذُ بْنُ مُعَاذٍ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ أَخْبَرَنَا أَبُو إِسْحَاقَ الْهَمْدَانِيُّ عَنْ جُرَيٍّ النَّهْدِيِّ عَنْ رَجُلٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ قَالَ عَقَدَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي يَدِهِ أَوْ فِي يَدِي فَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ نِصْفُ الْمِيزَانِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ تَمْلَأُ الْمِيزَانَ وَاللَّهُ أَكْبَرُ تَمْلَأُ مَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَالطُّهُورُ نِصْفُ الْإِيمَانِ وَالصَّوْمُ نِصْفُ الصَّبْرِ [6]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Mu'adz bin Mu'adz telah mengabarkan kepada kami Syu'bah telah mengabarkan kepada kami Abu Ishaq Al Hamdani dari Jurai An Nahdi dari seorang laki-laki Bani Sulaim ia berkata, "Rasulullah  menghitung di tangannya atau di tanganku seraya bersabda: "Subhanallah (Maha Suci Allah) adalah setengah mizan, Wal Hamdulillah (Dan Segala puji bagi Allah) akan memenuhi timbangan, Waallahu Akbar (Dan Allah Maha Besar) akan memenuhi antara langit dan bumi. Kesucian adalah setengah dari iman. Sedangkan puasa adalah setengah dari kesabaran."

Berikut tanda bersih dan murninya iman yang tergambar di dalam hadits Rasulullah SAW;

1.9.1. Kekhawatiran Yang Besar Untuk Membicarakan Sesuatu

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 132 dan dijelaskan bahwa kekhawatiran yang besar untuk membicarakan sesuatu merupakan tanda bersihnya Iman;

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ جَاءَ نَاسٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَسَأَلُوهُ إِنَّا نَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا مَا يَتَعَاظَمُ أَحَدُنَا أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ قَالَ وَقَدْ وَجَدْتُمُوهُ قَالُوا نَعَمْ قَالَ ذَاكَ صَرِيحُ الْإِيمَانِ [7]

Artinya: Telah meriwayatkan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir dari Suhail dari bapaknya dari Abu Hurairah dia berkata, "Sekelompok manusia dari kalangan sahabat Nabi  datang, maka mereka bertanya kepada beliau, 'Sesungguhnya kami mendapatkan dalam diri kami sesuatu yang salah seorang dari kami merasa besar (khawatir) untuk membicarakannya? ' Beliau menjawab: 'Benarkah kalian telah mendapatkannya? ' Mereka menjawab, 'Ya.' Beliau bersabda: "Itu adalah tanda bersihnya iman." 

Sedangkan di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 4378 dijelaskan bahwa ketakutan untuk membicarakan sesuatu merupakan tanda murninya iman;

 صحيح ابن حبان 146: أَخْبَرَنَا أَبُو عَرُوبَةَ بِحَرَّانَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ، عَنْ شُعْبَةَ، عَنْ عَاصِمِ ابْنِ بَهْدَلَةَ، عَنْ أَبِي صَالِحٍ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّهُمْ قَالُوا‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّا لَنَجِدُ فِي أَنْفُسِنَا شَيْئًا لَأَنْ يَكُونَ أَحَدُنَا حُمَمَةً أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ، قَالَ‏:‏ ذَاكَ مَحْضُ الإِيمَانِ‏.‏ قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ‏:‏ إِذَا وَجَدَ الْمُسْلِمُ فِي قَلْبِهِ، أَوْ خَطَرَ بِبَالِهِ مِنَ الأَشْيَاءِ الَّتِي لاَ يَحِلُّ لَهُ النُّطْقُ بِهَا، مِنْ كَيْفِيَّةِ الْبَارِي جَلَّ وَعَلاَ، أَوْ مَا يُشْبِهُ هَذِهِ، فَرَدَّ ذَلِكَ عَلَى قَلْبِهِ بِالإِيمَانِ الصَّحِيحِ، وَتَرَكَ الْعَزْمَ عَلَى شَيْءٍ مِنْهَا، كَانَ رَدُّهُ إِيَّاهَا مِنَ الإِيمَانِ، بَلْ هُوَ مِنْ صَرِيحِ الإِيمَانِ، لاَ أَنَّ خَطَرَاتٍ مِثْلَهَا مِنَ الإِيمَانِ‏.‏ [8]

Artinya: Abu Arubah mengabarkan kepada kami di Harran, dia berkata: Muhammad bin Bassyar menceritakan kepada kami, dia berkata: Ibnu Abi Ady menceritakan kepada kami dari Syu’bah dari Ashim bin Bahdalah, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah bahwa mereka berkata, “Wahai Rasulullah! sesungguhnya kami merasakan sesuatu di hati kami yang seandainya seseorang dari kami menjadi sebatang arang tentu lebih ia sukai dari pada membicarakannya.” Rasulullah  bersabda, “Itulah keimanan yang murni” [3:65] Abu Hatim berkata, “Apabila terdapat sesuatu di hati seorang muslim atau terlintas sesuatu yang tidak halal diucapkan seperti bagaimananya Allah SWT atau sepertinya kemudian hal itu ditangkal dengan keimanan yang benar serta bertekad untuk tidak mengulangi lagi, maka penangkalan tersebut bersumber dari iman bahkan dari keimanan murni, bukan pikiran-pikiran seperti itu yang berasal dari keimanan."

1.9.2. Merasa Was-was

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 189 dijelaskan bahwa perasaan was-was merupakan tanda murninya Iman

حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ الصَّفَّارُ حَدَّثَنِي عَلِيُّ بْنُ عَثَّامٍ عَنْ سُعَيْرِ بْنِ الْخِمْسِ عَنْ مُغِيرَةَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سُئِلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْوَسْوَسَةِ قَالَ تِلْكَ مَحْضُ الْإِيمَانِ [9]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yusuf bin Ya'qub ash-Shaffar telah menceritakan kepadaku Ali bin Atstsam dari Su'air bin al-Khims dari Mughirah dari Ibrahim dari 'Alqamah dari Abdullah dia berkata, "Nabi  pernah ditanya mengenai perasaan waswas, maka beliau menjawab: 'Itu adalah tanda keimanan yang murni (benar) '."

1.9.3.  Takut Membicarakan Godaan (Dunia)

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 24752 digambarkan bahwa perasaan takut membicarakan godaan merupakan tanda iman yang murni;

حَدَّثَنَا مُؤَمَّلٌ حَدَّثَنَا حَمَّادٌ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ عَنْ خَالِهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ شَكَوْا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَجِدُونَ مِنْ الْوَسْوَسَةِ وَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا لَنَجِدُ شَيْئًا لَوْ أَنَّ أَحَدَنَا خَرَّ مِنْ السَّمَاءِ كَانَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَتَكَلَّمَ بِهِ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاكَ مَحْضُ الْإِيمَانِ [10]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Mu'ammal, telah menceritakan kepada kami Hammad, dari Tsabit, dari Syahr bin Hausyab, dari pamannya, dari Aisyah berkata: "Para sahabat mengadu kepada Rasulullah  tentang godaan yang mereka rasakan." Mereka berkata: "Wahai Rasulullah! jika salah satu dari kami jatuh dari langit itu lebih saya sukai dari pada membicaraan godaan yang ada (godaan dunia)." Maka Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Yang demikian itu adalah kemurnian iman."

1.10. Amal Yang Paling Utama Adalah Beriman Kepada Allah Dan Tidak Ragu

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 7198 dinyatakan bahwa Amalan yang paling utama di sisi Allah adalah beriman kepada-Nya tanpa disertai dengan keraguan;

حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا هِشَامٌ عَنْ يَحْيَى عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ عِنْدَ اللَّهِ إِيمَانٌ لَا شَكَّ فِيهِ وَغَزْوٌ لَا غُلُولَ فِيهِ وَحَجٌّ مَبْرُورٌ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ حَجٌّ مَبْرُورٌ يُكَفِّرُ خَطَايَا تِلْكَ السَّنَةِ [11]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengkabarkan kepada kami Hisyam dari Yahya dari Abu Ja'far bahwa ia mendengar Abu Hurairah berkata; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Amalan yang paling utama di sisi Allah adalah beriman kepada-Nya tanpa disertai dengan keraguan, jihad dengan tidak mengambil harta ghonimah dan haji yang mabrur." Abu Hurairah berkata: haji yang mabrur dapat menghapus dosa pada tahun tersebut."  

1.11. Seorang Mukmin Itu Lebih Mulia Bagi Allah Daripada Sebagian Dari Malaikat

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 3937 dinyatakan bahwa seorang mukmin itu lebih mulia bagi Allah daripada sebagian dari malaikat;

حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ سَلَمَةَ حَدَّثَنَا أَبُو الْمُهَزِّمِ يَزِيدُ بْنُ سُفْيَانَ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ أَكْرَمُ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مِنْ بَعْضِ مَلَائِكَتِهِ [12]  

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hisyam bin 'Ammar telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim telah menceritakan kepada kami Hammad bin Salamah telah menceritakan kepada kami Abu Al Muhazzam Yazid bin Sufyan saya mendengar Abu Hurairah berkata, "Rasulullah  bersabda: "Seorang mukmin itu lebih mulia bagi Allah daripada sebagian dari malaikat."

1.12. Tidak Ada Yang Lebih Mulia Di Sisi Allah Dari Orang Beriman

Di dalam kitab Mujam Thabarani Ausath hadits nomor 238 dinyatakan bahwa tidak ada yang lebih mulia di sisi Allah dari orang beriman;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ عَزْرَةَ الأَهْوَازِيُّ ، حَدَّثَنَا مَعْمَرُ بْنُ سَهْلٍ ، حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللهِ بْنُ تَمَامٍ ، عَنْ يُونُسَ ، عَنِ الْوَلِيدِ بْنِ بِشْرٍ ، عَنْ بِشْرِ بْنِ شَغَافٍ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَمَ عَلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ لَمْ يَرْوِهِ عَنْ يُونُسَ ، إِلَّاعُبَيْدُ اللهِ ، تَفَرَّدَ بِهِ مَعْمَرٌ [13]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Muhammad ibnu Azrah Al Ahwari, telah menceritakan kepada kami Ma’mar ibnu Sahl, telah menceritakan kepada kami Ubaidullah ibnu Tamam, dari Yunus, dari Al Walid ibnu Bisyr, dari Bisyr ibnu Syaghaf, dari Ayahnya dari Abdullah ibnu Amr berkata: Rasulullah  bersabda: tidak ada sesuatupun yang lebih mulia bagi Allah dari orang beriman,

1.13.  Semua Manusia Rugi Kecuali Orang Yang Beriaman

Di dalam Al Quran Surat Al-Asr/ 103: 2 dinyatakan bahwa Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh;

إِنَّ ٱلْإِنسَـٰنَ لَفِى خُسْرٍ, إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ ٱلصَّـٰلِحَـٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلْحَقِّ وَتَوَاصَوْا۟ بِٱلصَّبْرِ

Artinya: Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. [Surat Al-Asr/ 103: 3-4)

1.14. Iman Yang Paling Utama: Hijrah, Hijrah Yang Paling Utama: Jihad

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 17027 dinyatakan bahwa iman yang paling utama adalah hijrah dan hijrah yang paling utama adalah jihad;

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ قَالَ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ عَمْرِو بْنِ عَبَسَةَ قَالَ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ أَنْ يُسْلِمَ قَلْبُكَ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ وَأَنْ يَسْلَمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِكَ وَيَدِكَ قَالَ فَأَيُّ الْإِسْلَامِ أَفْضَلُ قَالَ الْإِيمَانُ قَالَ وَمَا الْإِيمَانُ قَالَ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ قَالَ فَأَيُّ الْإِيمَانِ أَفْضَلُ قَالَ الْهِجْرَةُ قَالَ فَمَا الْهِجْرَةُ قَالَ تَهْجُرُ السُّوءَ قَالَ فَأَيُّ الْهِجْرَةِ أَفْضَلُ قَالَ الْجِهَادُ قَالَ وَمَا الْجِهَادُ قَالَ أَنْ تُقَاتِلَ الْكُفَّارَ إِذَا لَقِيتَهُمْ قَالَ فَأَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ عُقِرَ جَوَادُهُ وَأُهْرِيقَ دَمُهُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ عَمَلَانِ هُمَا أَفْضَلُ الْأَعْمَالِ إِلَّا مَنْ عَمِلَ بِمِثْلِهِمَا حَجَّةٌ مَبْرُورَةٌ أَوْ عُمْرَةٌ  [14]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq berkata; telah menceritakan kepada kami Ma'mar dari Ayyub dari Abu Qilabah dari 'Amr bin 'Abasah berkata; ada seorang laki-laki berkata; "Wahai Rasulullah, apa maksud Islam?" beliau menjawab, "Kamu menyerahkan hatimu kepada Allah Azzawajalla dan orang muslim selamat dari lidah dan tanganmu." Dia bertanya, "Islam manakah yang paling utama?" Beliau menjawab, "Iman." Dia bertanya, "Apa maksud iman?" Beliau bersabda: "Kamu beriman kepada Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-Kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya dan kebangkitan setelah mati." Dia bertanya lagi, "Iman apa yang paling utama?" beliau bersabda: "Hijrah." dia bertanya, "Apa maksud hijrah itu?" beliau bersabda: "Kamu meninggalkan kejelekan." Dia bertanya, "Hijrah apa yang paling utama?." Beliau menjawab, "Jihad." Dia bertanya, "Apakah jihad itu?" beliau bersabda: "Kamu memerangi orang kafir jika kamu menemui mereka." dia bertanya, "Jihad apa yang paling utama?" beliau menjawab, "Barangsiapa yang kudanya disembelih dan darahnya ditumpahkan." Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda: "Ada dua amalan yang kedua amalan itu adalah paling utama kecuali orang itu melakukan amalan semisal, haji mabrur atau umrah."

1.15. Firasat Orang Beriman: Melihat Dengan Cahaya Allah

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 3052 tergambar bahwa firasat orang beriman adalah melihat dengan cahaya Allah;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَعِيلَ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي الطَّيِّبِ حَدَّثَنَا مُصْعَبُ بْنُ سَلَّامٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ قَيْسٍ عَنْ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ  قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقُوا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُورِ اللَّهِ ثُمَّ قَرَأَ " إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ " قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ بَعْضِ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي تَفْسِيرِ هَذِهِ الْآيَةِ " إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ " قَالَ لِلْمُتَفَرِّسِينَ [15]  

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Isma'il telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abu Ath Thayyib telah menceritakan kepada kami Mush'ab bin Sallam dari Amru bin Qais dari Athiyah dari Abu Sa'id Al Khudri berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Takutlah pada firasat orang mu`min karena sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah." Lalu beliau membaca: "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda." (Al Hijr: 75) Abu Isa berkata: Hadits ini gharib, kami hanya mengetahuinya dari sanad ini. dan diriwayatkan dari sebagaian ahlul ilmi tentang penafsiran ayat ini: "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda." Yaitu untuk yang menjelaskan tanda-tanda. (HR. Tirmidzi: 3052)

1.16.  Iman Itu Di Qalbu

Di dalam kitab Musnad Imam Ahmad hadits nomor 12381 dinyatakan bahwa Islam itu sesuatu yang nampak sedangkan iman itu ada dalam hati." Lalu beliau menunjuk ke dadanya sambil bersabda: Takwa itu ada di sini;

حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مَسْعَدَةَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْإِسْلَامُ عَلَانِيَةٌ وَالْإِيمَانُ فِي الْقَلْبِ قَالَ ثُمَّ يُشِيرُ بِيَدِهِ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَ ثُمَّ يَقُولُ التَّقْوَى هَاهُنَا التَّقْوَى هَاهُنَا [16]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Bahz berkata, telah menceritakan kepada kami Ali bin Mas'adah berkata, telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas ia berkata; Rasulullah  bersabda: "Islam itu sesuatu yang nampak sedangkan iman itu ada dalam hati." Anas berkata; "Lalu beliau menunjuk ke dadanya dengan tangan sebanyak tiga kali." Anas berkata; Kemudian beliau bersabda: "Takwa itu ada di sini, takwa itu ada di sini." (HR. Ahmad: 11933)

1.17. Seorang Mukmin Itu Pencemburu, Dan Allah Itu Lebih Pencemburu Lagi

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 7210 dinyatakan bahwa seorang mukmin itu pencemburu, dan Allah itu lebih pencemburu lagi;

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عَدِيٍّ عَنْ شُعْبَةَ عَنِ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ يَغَارُ الْمُؤْمِنُ يَغَارُ الْمُؤْمِنُ يَغَارُ وَاللَّهُ أَشَدُّ غَيْرًا [17]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi 'Adiy dari Syu'bah dari Al Ala` dari bapaknya dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Seorang mukmin itu pencemburu, seorang mukmin itu pencemburu, seorang mukmin itu pencemburu, dan Allah itu lebih pencemburu lagi."

1.18. Perhiasan Seorang Mukmin Adalah Sejauh Mana Air Wudlunya Membasuh

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 250 dinyatakan bahwa Perhiasan seorang mukmin adalah sejauh mana air wudlunya membasuh;

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا خَلَفٌ يَعْنِي ابْنَ خَلِيفَةَ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ عَنْ أَبِي حَازِمٍ قَالَ كُنْتُ خَلْفَ أَبِي هُرَيْرَةَ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ لِلصَّلَاةِ فَكَانَ يَمُدُّ يَدَهُ حَتَّى تَبْلُغَ إِبْطَهُ فَقُلْتُ لَهُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ مَا هَذَا الْوُضُوءُ فَقَالَ يَا بَنِي فَرُّوخَ أَنْتُمْ هَاهُنَا لَوْ عَلِمْتُ أَنَّكُمْ هَاهُنَا مَا تَوَضَّأْتُ هَذَا الْوُضُوءَ سَمِعْتُ خَلِيلِي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ تَبْلُغُ الْحِلْيَةُ مِنْ الْمُؤْمِنِ حَيْثُ يَبْلُغُ الْوَضُوءُ  [18]  

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Khalaf -yaitu Ibnu Khalifah- dari Abu Malik al-Asyja'i dari Abu Hazim dia berkata, "Saya di belakang Abu Hurairah saat dia sedang berwudlu untuk shalat. Dia memanjangkan tangannya hingga mencapai ketiaknya, maka saya berkata kepadanya, 'Wahai Abu Hurairah, wudlu apaan ini? ' Dia menjawab, 'Wahai bani Farrukh, kalian di sini, kalau saya tahu kalian di sini niscaya aku tidak akan berwudlu dengan (cara) wudlu ini. Saya mendengar kekasihku  bersabda: "Perhiasan seorang mukmin adalah sejauh mana air wudlunya membasuh."

1.19. Orang Mu`Min Bagi Ahli Iman Seperti Kedudukan Kepala Bagi Raga

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22877 digambarkan bahwa Orang mu`min bagi ahli iman seperti kedudukan kepala bagi raga;

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَجَّاجِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا مُصْعَبُ بْنُ ثَابِتٍ حَدَّثَنِي أَبُو حَازِمٍ قَالَ سَمِعْتُ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ السَّاعِدِيَّ يُحَدِّثُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنْ الْجَسَدِ يَأْلَمُ الْمُؤْمِنُ لِأَهْلِ الْإِيمَانِ كَمَا يَأْلَمُ الْجَسَدُ لِمَا فِي الرَّأْسِ [19]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Al Hajjaj telah menceritakan kepada kami 'Abdullah telah menceritakan kepada kami Mush'ab bin Tsabit telah menceritakan kepadaku Abu Hazim berkata: Aku mendengar Sahal bin Sa'ad bercerita dari Nabi Shallallahu'alaihiwasallam beliau bersabda: "Orang mu`min bagi ahli iman seperti kedudukan kepala bagi raga, rasa sakit seorang mu`min bagi ahli iman seperti raga merasa sakit karena (penyakit) yang ada di kepala."

1.20. Seorang Hamba Yang Mukmin Akan Memperoleh Kenyamanan Dari Kelelahan Dunia Dan Kesulitan-Kesulitannya Menuju Rahmat Allah

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 256 dinyatakan bahwa seorang hamba yang mukmin akan memperoleh kenyamanan dari kelelahan dunia dan kesulitan-kesulitannya menuju rahmat Allah

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَلْحَلَةَ عَنْ مَعْبَدِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِي قَتَادَةَ بْنِ رِبْعِيٍّ الْأَنْصَارِيِّ أَنَّهُ كَانَ يُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرَّ عَلَيْهِ بِجِنَازَةٍ فَقَالَ مُسْتَرِيحٌ وَمُسْتَرَاحٌ مِنْهُ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْمُسْتَرِيحُ وَالْمُسْتَرَاحُ مِنْهُ قَالَ الْعَبْدُ الْمُؤْمِنُ يَسْتَرِيحُ مِنْ نَصَبِ الدُّنْيَا وَأَذَاهَا إِلَى رَحْمَةِ اللَّهِ وَالْعَبْدُ الْفَاجِرُ يَسْتَرِيحُ مِنْهُ الْعِبَادُ وَالْبِلَادُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَابُّ [20]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ismail mengatakan, telah menceritakan kepadaku Malik dari Muhammad bin Amru bin Halhalah dari Ma'bad bin Ka'b bin malik dari Abu Qatadah bin Rib'i Al Anshari, ia menceritakan bahwasanya Rasulullah  pernah dilewati jenazah, kemudian beliau bersabda: "Telah tiba gilirannya seorang mendapat kenyamanan atau yang lain menjadi nyaman". Para sahabat bertanya; 'Wahai Rasulullah, apa maksud anda ada orang mendapat kenyamanan atau yang lain menjadi nyaman? ' Jawab Nabi : "seorang hamba yang mukmin akan memperoleh kenyamanan dari kelelahan dunia dan kesulitan-kesulitannya menuju rahmat Allah, sebaliknya hamba yang jahat, manusia, negara, pepohonan atau hewan menjadi nyaman karena kematiannya."

1.21. Dunia Merupakan Penjara Bagi Orang beriman

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2956 dinyatakan bahwa dunia merupakan penjara bagi orang beriman;

حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ يَعْنِي الدَّرَاوَرْدِيَّ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الدُّنْيَا سِجْنُ الْمُؤْمِنِ وَجَنَّةُ الْكَافِرِ [21]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah bin Sa'id telah menceritakan kepada kami Abdulaziz Ad Darawardi dari Al Ala` dari ayahnya dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda: "Dunia penjara orang mu`min dan surga orang kafir."

1.22. Di Akhir Jaman Nanti Muncul Suatu Kaum Yang  Iman Mereka Tak Sampai Melewati Kerongkongan

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2540 digambarkan bahwa di akhir jaman nanti muncul suatu kaum yang umur-umur mereka masih muda, pikiran-pikiran mereka bodoh, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia, padahal iman mereka tak sampai melewati kerongkongan;

حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصِ بْنِ غِيَاثٍ حَدَّثَنَا أَبِي حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ حَدَّثَنَا خَيْثَمَةُ حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ غَفَلَةَ قَالَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ إِذَا حَدَّثْتُكُمْ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَدِيثًا فَوَاللَّهِ لَأَنْ أَخِرَّ مِنْ السَّمَاءِ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَكْذِبَ عَلَيْهِ وَإِذَا حَدَّثْتُكُمْ فِيمَا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ فَإِنَّ الْحَرْبَ خِدْعَةٌ وَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ سَيَخْرُجُ قَوْمٌ فِي آخِرِ الزَّمَانِ أَحْدَاثُ الْأَسْنَانِ سُفَهَاءُ الْأَحْلَامِ يَقُولُونَ مِنْ خَيْرِ قَوْلِ الْبَرِيَّةِ لَا يُجَاوِزُ إِيمَانُهُمْ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ فَأَيْنَمَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاقْتُلُوهُمْ فَإِنَّ فِي قَتْلِهِمْ أَجْرًا لِمَنْ قَتَلَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ [22]

Artinya; Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh bin Ghiyats telah menceritakan kepada kami Ayahku telah menceritakan kepada kami Al A'masy telah menceritakan kepada kami Khaitsumah telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Ghaflah mengatakan, Ali radliallahu 'anhu mengatakan; "Jika saya menyampaikan sebuah hadits kepada kalian dari Rasulullah , demi Allah, saya terjatuh dari langit adalah lebih aku sukai daripada aku mendustakannya. Karenanya, akan saya ceritakan kepada kalian sesuatu yang akan terjadi diantara saya dan kalian, sesungguhnya perang adalah tipu daya, dan aku mendengar Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Di akhir jaman nanti muncul suatu kaum yang umur-umur mereka masih muda, pikiran-pikiran mereka bodoh, mereka mengatakan dari sebaik-baik manusia, padahal iman mereka tak sampai melewati kerongkongan, mereka keluar dari agama sebagaimana anak panah keluar dari busurnya, dimanapun kalian menemukannya, bunuhlah dia, sebab siapa membunuhnya mendatangkan ganjaran pagi pelakunya di hari kiamat."

2.  Keistimewaan Orang Beriman

Berdasar keterangan dari ayat-ayat Al Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW, bahwa beriman kepada Allah akan mendapatkan banyak keuntungan yang akan diperoleh, antara lain sebagai berikut;

2.1. Laki-Perempuan yang Beramal Shalih Didasari Iman: Kehidupannya Baik

Al Quran Surat An-Nahl Ayat 97, menjelaskan bahwa Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik;

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.

2.2. Allah Menjanjikan Surga Bagi Orang Beriman, Mereka Kekal Di Dalamnya

Al Quran Surat At-Taubah Ayat 72, menjelaskan bahwa Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya;

وَعَدَ اللَّهُ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ وَرِضْوَانٌ مِنَ اللَّهِ أَكْبَرُ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

Artinya: Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga 'Adn. Dan keridlaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar.

2.3. Dia Sungguh-Sungguh Akan Menjadikan Mereka Berkuasa Dimuka Bumi

Di dalam Al Quran surat An-Nur/ 24: 55 dinyatakan bahwa Allah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi;

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Artinya: Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nur/ 24: 55)

2.4.  Musibah Yang Diterima Orang Beriman Menjadi Penghapus Dosanya

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 4674, dinyatakan bahwa Tidak ada penderitaan, kesengsaraan, sakit, kesedihan dan bahkan juga kekalutan yang menimpa seorang mukmin, melainkan dengan semua itu dihapuskan sebagian dosanya;

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ الْوَلِيدِ بْنِ كَثِيرٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَمْرِو بْنِ عَطَاءٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ وَأَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُمَا سَمِعَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَا يُصِيبُ الْمُؤْمِنَ مِنْ وَصَبٍ وَلَا نَصَبٍ وَلَا سَقَمٍ وَلَا حَزَنٍ حَتَّى الْهَمِّ يُهَمُّهُ إِلَّا كُفِّرَ بِهِ مِنْ سَيِّئَاتِهِ [23]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah dan Abu Kuraib keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Al Walid bin Katsir dari Muhammad bin 'Amru dari 'Athaa bin Yasar dari Abu Sa'id dan Abu Hurairah bahwasanya kedua orang sahabat itu pernah mendengar Rasulullah  bersabda: "Tidak ada penderitaan, kesengsaraan, sakit, kesedihan dan bahkan juga kekalutan yang menimpa seorang mukmin, melainkan dengan semua itu dihapuskan sebagian dosanya."

2.5. Akan Keluar Dari Neraka, Orang Yang Di Dalam Hatinya Terdapat Iman Seberat Biji Sawi

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 21 disebutkan bahwa Allah Ta'ala berfirman: "Keluarkan dari neraka siapa yang didalam hatinya ada iman sebesar biji sawi;

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ عَمْرِو بْنِ يَحْيَى الْمَازِنِيِّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَدْخُلُ أَهْلُ الْجَنَّةِ الْجَنَّةَ وَأَهْلُ النَّارِ النَّارَ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ تَعَالَى أَخْرِجُوا مِنْ النَّارِ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ مِنْ إِيمَانٍ فَيُخْرَجُونَ مِنْهَا قَدْ اسْوَدُّوا فَيُلْقَوْنَ فِي نَهَرِ الْحَيَا أَوْ الْحَيَاةِ شَكَّ مَالِكٌ فَيَنْبُتُونَ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِي جَانِبِ السَّيْلِ أَلَمْ تَرَ أَنَّهَا تَخْرُجُ صَفْرَاءَ مُلْتَوِيَةً [24]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Isma'il berkata, telah menceritakan kepada kami Malik dari 'Amru bin Yahya Al Mazani dari bapaknya dari Abu Sa'id Al Khudri dari Nabi , beliau bersabda: "Ahlu surga telah masuk ke surga dan Ahlu neraka telah masuk neraka. Lalu Allah Ta'ala berfirman: "Keluarkan dari neraka siapa yang didalam hatinya ada iman sebesar biji sawi". Maka mereka keluar dari neraka dalam kondisi yang telah menghitam gosong kemudian dimasukkan kedalam sungai hidup atau kehidupan. -Malik ragu. - Lalu mereka tumbuh bersemi seperti tumbuhnya benih di tepi aliran sungai. Tidakkah kamu perhatikan bagaimana dia keluar dengan warna kekuningan."Berkata Wuhaib Telah menceritakan kepada kami 'Amru: "Kehidupan". Dan berkata: "Sedikit dari kebaikan". (HR. Bukhari: 21)

2.6. Kebaikannya Akan Mengiringinya Meski Dirinya Telah Meninggal Dunia

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 242 dinyatakan bahwa Sesungguhnya kebaikan yang akan mengiringi seorang mukmin setelah ia meninggal adalah ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan, anak shalih yang ia tinggalkan dan Al Qur`an yang ia wariskan, atau masjid yang ia bangun…;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ وَهْبِ بْنِ عَطِيَّةَ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا مَرْزُوقُ بْنُ أَبِي الْهُذَيْلِ حَدَّثَنِي الزُّهْرِيُّ حَدَّثَنِي أَبُو عَبْدِ اللَّهِ الْأَغَرُّ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِمَّا يَلْحَقُ الْمُؤْمِنَ مِنْ عَمَلِهِ وَحَسَنَاتِهِ بَعْدَ مَوْتِهِ عِلْمًا عَلَّمَهُ وَنَشَرَهُ وَوَلَدًا صَالِحًا تَرَكَهُ وَمُصْحَفًا وَرَّثَهُ أَوْ مَسْجِدًا بَنَاهُ أَوْ بَيْتًا لِابْنِ السَّبِيلِ بَنَاهُ أَوْ نَهْرًا أَجْرَاهُ أَوْ صَدَقَةً أَخْرَجَهَا مِنْ مَالِهِ فِي صِحَّتِهِ وَحَيَاتِهِ يَلْحَقُهُ مِنْ بَعْدِ مَوْتِهِ [25]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Wahb bin 'Athiyyah berkata, telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim berkata, telah menceritakan kepada kami Marzuq bin Abu Hudzail berkata, telah menceritakan kepadaku Az Zuhri berkata, telah menceritakan kepadaku Abu Abdullah Al Aghar dari Abu Hurairah ia berkata; Rasulullah  bersabda: "Sesungguhnya kebaikan yang akan mengiringi seorang mukmin setelah ia meninggal adalah ilmu yang ia ajarkan dan sebarkan, anak shalih yang ia tinggalkan dan Al Qur`an yang ia wariskan, atau masjid yang ia bangun, atau rumah yang ia bangun untuk ibnu sabil, atau sungai yang ia alirkan (untuk orang lain), atau sedekah yang ia keluarkan dari harta miliknya di masa sehat dan masa hidupnya, semuanya akan mengiringinya setelah meninggal."

2.7.  Tidak Masuk Surga Kecuali Orang Beriman

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 232 dinyatakan bahwa tidak masuk surga kecuali orang beriman;

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا هَاشِمُ بْنُ الْقَاسِمِ حَدَّثَنَا عِكْرِمَةُ بْنُ عَمَّارٍ قَالَ حَدَّثَنِي سِمَاكٌ الْحَنَفِيُّ أَبُو زُمَيْلٍ قَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبَّاسٍ قَالَ حَدَّثَنِي عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ قَالَ لَمَّا كَانَ يَوْمُ خَيْبَرَ أَقْبَلَ نَفَرٌ مِنْ صَحَابَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا فُلَانٌ شَهِيدٌ فُلَانٌ شَهِيدٌ حَتَّى مَرُّوا عَلَى رَجُلٍ فَقَالُوا فُلَانٌ شَهِيدٌ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلَّا إِنِّي رَأَيْتُهُ فِي النَّارِ فِي بُرْدَةٍ غَلَّهَا أَوْ عَبَاءَةٍ ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ اذْهَبْ فَنَادِ فِي النَّاسِ أَنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ قَالَ فَخَرَجْتُ فَنَادَيْتُ أَلَا إِنَّهُ لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ إِلَّا الْمُؤْمِنُونَ  [26]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Hasyim bin al-Qasim telah menceritakan kepada kami Ikrimah bin Ammar dia berkata, telah menceritakan kepada kami Simak al-Hanafi Abu Zumail dia berkata, telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abbas dia berkata, telah menceritakan kepada kami Umar bin al-Khaththab dia berkata, "Ketika terjadi perang Khaibar, maka sejumlah sahabat menghadap Nabi  seraya berkata, 'Fulan mati syahid, fulan mati syahid', hingga mereka melewati seorang laki-laki lalu berkata, 'fulan mati syahid.' Maka Rasulullah  bersabda: "Tidak demikian, sesungguhnya aku melihatnya di neraka dalam pakaian atau mantel yang dia ambil (sebelum dibagi).' Kemudian Rasulullah  bersabda lagi: 'Wahai Ibnu al-Khaththab, pergi dan serukanlah kepada manusia bahwa tidak akan masuk surga kecuali orang-orang yang beriman.' Maka Umar berkata, 'Aku keluar seraya berseru, 'Ketahuilah, tidak akan masuk surga kecuali orang mukmin'."

2.8. Orang-Orang Fakir Dari Kauam Mukminin Akan Masuk Surga Sebelum Orang-Orang Kaya Dari Mereka Dengan Selisih Lima Ratus Tahun

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 7946 dinyatakan bahwa Orang-orang fakir dari kauam mukminin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya dari mereka dengan selisih lima ratus tahun;

حَدَّثَنَا يَزِيدُ أَخْبَرَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْخُلُ فُقَرَاءُ الْمُؤْمِنِينَ الْجَنَّةَ قَبْلَ أَغْنِيَائِهِمْ بِخَمْسِ مِائَةِ عَامٍ [27]

Artinya: telah menceritakan kepada kami Yazid telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin 'Amru dari Abu Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata; Rasulullah  bersabda: "Orang-orang fakir dari kauam mukminin akan masuk surga sebelum orang-orang kaya dari mereka dengan selisih lima ratus tahun."

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 2770 digambarkan bahwa orang kaya tertahan tidak masuk surga hingga lima ratus tahun dengan penahanan yang tidak menyenangkan;

حَدَّثَنَا حُسَيْنٌ حَدَّثَنَا دُوَيْدٌ عَنْ سَلْمِ بْنِ بَشِيرٍ عَنْ عِكْرِمَةَ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْتَقَى مُؤْمِنَانِ عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ مُؤْمِنٌ غَنِيٌّ وَمُؤْمِنٌ فَقِيرٌ كَانَا فِي الدُّنْيَا فَأُدْخِلَ الْفَقِيرُ الْجَنَّةَ وَحُبِسَ الْغَنِيُّ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يُحْبَسَ ثُمَّ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَلَقِيَهُ الْفَقِيرُ فَيَقُولُ أَيْ أَخِي مَاذَا حَبَسَكَ وَاللَّهِ لَقَدْ احْتُبِسْتَ حَتَّى خِفْتُ عَلَيْكَ فَيَقُولُ أَيْ أَخِي إِنِّي حُبِسْتُ بَعْدَكَ مَحْبِسًا فَظِيعًا كَرِيهًا وَمَا وَصَلْتُ إِلَيْكَ حَتَّى سَالَ مِنِّي الْعَرَقُ مَا لَوْ وَرَدَهُ أَلْفُ بَعِيرٍ كُلُّهَا آكِلَةُ حَمْضٍ لَصَدَرَتْ عَنْهُ رِوَاءً [28]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Husain telah menceritakan kepada kami Duwaid dari Salm bin Basyir dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, ia berkata; Nabi  bersabda: "Ada dua orang mukmin akan berjumpa di depan pintu surga, keduanya adalah seorang mukmin yang kaya dan seorang mukmin yang fakir saat di dunia. Lalu si fakir dimasukkan ke dalam surga, sementara si kaya tertahan selama yang dikehendaki Allah untuk tertahan, kemudian dimasukkan ke dalam surga, lalu ia ditemui oleh si fakir tadi dan bertanya; 'Wahai saudaraku, apa yang menahanmu? Demi Allah, engkau telah tertahan sehingga aku mengkhawatirkanmu.' Ia pun menjawab; 'Wahai saudaraku, sesungguhnya aku tertahan setelahmu dengan penahanan yang berat dan tidak menyenangkan, dan aku tidak juga sampai kepadamu hingga keringat mengucur dariku yang jika diminum oleh seribu unta yang kesemuanya sedang kehausan, niscaya semuanya akan merasa kenyang karenanya.'"

2.9. Orang Yang Dalam Dadanya Ada Iman Seberat Biji Sawi Akan Dimasukkan Ke Surga

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 11898 dinyatakan bahwa orang-orang yang dalam dadanya ada iman seberat biji sawi akan dikeluarkan dari Neraka dan dimasukkan ke dalam Surga;

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَلَصَ الْمُؤْمِنُونَ مِنْ النَّارِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَمِنُوا فَمَا مُجَادَلَةُ أَحَدِكُمْ لِصَاحِبِهِ فِي الْحَقِّ يَكُونُ لَهُ فِي الدُّنْيَا بِأَشَدَّ مُجَادَلَةً لَهُ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ لِرَبِّهِمْ فِي إِخْوَانِهِمْ الَّذِينَ أُدْخِلُوا النَّارَ قَالَ يَقُولُونَ رَبَّنَا إِخْوَانُنَا كَانُوا يُصَلُّونَ مَعَنَا وَيَصُومُونَ مَعَنَا وَيَحُجُّونَ مَعَنَا فَأَدْخَلْتَهُمْ النَّارَ قَالَ فَيَقُولُ اذْهَبُوا فَأَخْرِجُوا مَنْ عَرَفْتُمْ فَيَأْتُونَهُمْ فَيَعْرِفُونَهُمْ بِصُوَرِهِمْ لَا تَأْكُلُ النَّارُ صُوَرَهُمْ فَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ النَّارُ إِلَى أَنْصَافِ سَاقَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ إِلَى كَعْبَيْهِ فَيُخْرِجُونَهُمْ فَيَقُولُونَ رَبَّنَا أَخْرَجْنَا مَنْ أَمَرْتَنَا ثُمَّ يَقُولُ أَخْرِجُوا مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ وَزْنُ دِينَارٍ مِنْ الْإِيمَانِ ثُمَّ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ وَزْنُ نِصْفِ دِينَارٍ حَتَّى يَقُولَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ قَالَ أَبُو سَعِيدٍ فَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْ بِهَذَا فَلْيَقْرَأْ هَذِهِ الْآيَةَ " إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا " قَالَ فَيَقُولُونَ رَبَّنَا قَدْ أَخْرَجْنَا مَنْ أَمَرْتَنَا فَلَمْ يَبْقَ فِي النَّارِ أَحَدٌ فِيهِ خَيْرٌ قَالَ ثُمَّ يَقُولُ اللَّهُ شَفَعَتْ الْمَلَائِكَةُ وَشَفَعَ الْأَنْبِيَاءُ وَشَفَعَ الْمُؤْمِنُونَ وَبَقِيَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِينَ قَالَ فَيَقْبِضُ قَبْضَةً مِنْ النَّارِ أَوْ قَالَ قَبْضَتَيْنِ نَاسٌ لَمْ يَعْمَلُوا لِلَّهِ خَيْرًا قَطُّ قَدْ احْتَرَقُوا حَتَّى صَارُوا حُمَمًا قَالَ فَيُؤْتَى بِهِمْ إِلَى مَاءٍ يُقَالُ لَهُ مَاءُ الْحَيَاةِ فَيُصَبُّ عَلَيْهِمْ فَيَنْبُتُونَ كَمَا تَنْبُتُ الْحِبَّةُ فِي حَمِيلِ السَّيْلِ فَيَخْرُجُونَ مِنْ أَجْسَادِهِمْ مِثْلَ اللُّؤْلُؤِ فِي أَعْنَاقِهِمْ الْخَاتَمُ عُتَقَاءُ اللَّهِ قَالَ فَيُقَالُ لَهُمْ ادْخُلُوا الْجَنَّةَ فَمَا تَمَنَّيْتُمْ أَوْ رَأَيْتُمْ مِنْ شَيْءٍ فَهُوَ لَكُمْ عِنْدِي أَفْضَلُ مِنْ هَذَا قَالَ فَيَقُولُونَ رَبَّنَا وَمَا أَفْضَلُ مِنْ ذَلِكَ قَالَ فَيَقُولُ رِضَائِي عَلَيْكُمْ فَلَا أَسْخَطُ عَلَيْكُمْ أَبَدًا [29]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq berkata, telah mengabarkan kepada kami Ma'mar dari Zaid bin Aslam dari 'Atho` bin Yasar dari Abu Sa'id ia berkata; Rasulullah  bersabda: "Jika kaum mukminin pada hari kiamat telah lolos dan aman dari neraka, maka tidaklah perdebatan salah seorang dari kalian dengan temannya tentang kebenaran waktu di dunia lebih besar dari perdebatan kaum mukminin terhadap Rabb mereka berkenaan dengan nasib saudaranya yang telah dimasukkan ke dalam neraka." Beliau bersabda: "Mereka berkata; 'Wahai Rabb kami, mereka adalah saudara kami, mereka shalat, puasa dan berhaji bersama kami, tapi kenapa Engkau masukkan mereka ke dalam neraka? '" beliau bersabda: "Lalu Allah berfirman: 'Masuklah kalian ke dalam neraka, dan keluarkan orang-orang yang kalian kenal.' maka mereka pun masuk ke dalam neraka dan mereka dapat mengenali mereka dengan wajah yang tidak dimakan oleh api. Di antara mereka ada yang dimakan oleh api hingga pertengahan betisnya, dan ada yang dimakan hingga kedua mata kakinya, lalu mereka mengeluarkannya. Setelah itu mereka berkata; 'Wahai Rabb kami, kami telah mengeluarkan orang-orang yang telah Engkau perintahkan (untuk kami keluarkan), ' lalu Allah berfirman; 'Keluarkan pula orang-orang yang dalam dadanya ada iman seberat dinar, lalu orang-orang yang dalam dadanya ada iman seberat setengah dinar, ' hingga Allah mengatakan; 'dan orang-orang yang dalam dadanya ada iman seberat biji sawi." Abu Sa'id berkata; "Barangsiapa yang tidak yakin dengan ini semua, hendaklah ia baca ayat ini: "Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah pun, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar." Beliau bersabda: "Lalu mereka berkata; 'Wahai Rabb kami, kami telah mengeluarkan semua orang yang telah Engkau perintah untuk kami keluarkan, hingga tidak ada seorang pun di dalam neraka yang di dalam dadanya ada kebaikan." Beliau bersabda: "Kemudian Allah berfirman: 'Para malaikat telah memberikan syafa'at, para Nabi telah memberikan syafa'at, dan orang-orang yang beriman telah memberikan syafa'at, sekarang tinggallah Dzat Yang Maha Pengasih." Beliau bersabda: "Lalu Allah menggenggam dengan satu genggaman dari neraka, atau beliau mengatakan, "dua genggaman, yaitu orang-orang yang belum pernah melakukan amal kebaikan untuk Allah, mereka telah terbakar hingga menjadi arang." Beliau bersabda: "Lalu mereka dibawa ke air (sungai) yang disebut dengan air kehidupan, lalu mereka disiram dan tumbuh sebagaimana tumbuhnya biji-bijian di tepi aliran sungai. Setelah itu mereka keluar dari dalam jasad-jasad mereka seperti mutiara, pada leher mereka ada cincin, mereka adalah orang-orang yang telah Allah bebaskan." Beliau bersabda: "Lalu dikatakan kepada mereka; 'Masuklah kalian ke dalam surga, maka apa yang kalian angan-angankan atau yang kalian lihat adalah untuk kalian, namun apa yang ada di sisi-Ku adalah lebih utama dari ini." Beliau bersabda: "Mereka lalu berkata; 'Wahai Rabb, apa yang lebih utama dari semua itu? ' beliau bersabda: "Allah lalu berfirman; 'Keridha`an-Ku terhadap kalian semua, maka Aku tidak akan murka kepada kalian selamanya."

2.10.  Orang Yang Beriman Meski Tidak Bertemu Nabi, Lebih Baik Dari Para Sahabat

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 16362, disebutkan bahwa apakah ada seseorang yang lebih baik dari kami, kami masuk Islam dan berjihad bersama anda?." Beliau bersabda: "Ya, yaitu suatu kaum yang ada setelah kalian mereka beriman kepadaku padahal mereka belum pernah melihatku;

حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ قَالَ حَدَّثَنَا الْأَوْزَاعِيُّ قَالَ حَدَّثَنِي أَسِيدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنِي صَالِحٌ أَبُو مُحَمَّدٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو جُمُعَةَ قَالَ تَغَدَّيْنَا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَعَنَا أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ قَالَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلْ أَحَدٌ خَيْرٌ مِنَّا أَسْلَمْنَا مَعَكَ وَجَاهَدْنَا مَعَكَ قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ يَكُونُونَ مِنْ بَعْدِكُمْ يُؤْمِنُونَ بِي وَلَمْ يَرَوْنِي[30] 

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abu Al Mughirah] berkata; telah menceritakan kepada kami [Al Auza'i] berkata; telah bercerita kepadaku [Asid bin Abdurrahman] berkata; telah bercerita kepadaku [Shalih Abu Muhammad] berkata; telah bercerita kepadaku [Abu Jumu'ah] berkata; kami keluar pada awal siang bersama Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam dan bersama beliau Abu Ubaidah bin Al Jarrah. (Abu Jumu'ah radliyallahu'anhu) berkata; lalu (Abu Ubaidah bin Al Jarrah radliyallahu'anhu) berkata; "Wahai Rasulullah, apakah ada seseorang yang lebih baik dari kami, kami masuk Islam dan berjihad bersama anda?." Beliau bersabda: "Ya, yaitu suatu kaum yang ada setelah kalian mereka beriman kepadaku padahal mereka belum pernah melihatku."

2.11.   Rasulullah Menjadi Penjamin Orang-orang Beriman

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2133 dinyatakan bahwa Aku (Rasulullah) lebih utama menjamin untuk orang-orang beriman dibanding diri mereka sendiri;

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يُؤْتَى بِالرَّجُلِ الْمُتَوَفَّى عَلَيْهِ الدَّيْنُ فَيَسْأَلُ هَلْ تَرَكَ لِدَيْنِهِ فَضْلًا فَإِنْ حُدِّثَ أَنَّهُ تَرَكَ لِدَيْنِهِ وَفَاءً صَلَّى وَإِلَّا قَالَ لِلْمُسْلِمِينَ صَلُّوا عَلَى صَاحِبِكُمْ فَلَمَّا فَتَحَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْفُتُوحَ قَالَ أَنَا أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ فَمَنْ تُوُفِّيَ مِنْ الْمُؤْمِنِينَ فَتَرَكَ دَيْنًا فَعَلَيَّ قَضَاؤُهُ وَمَنْ تَرَكَ مَالًا فَلِوَرَثَتِهِ [31]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari 'Uqail dari Ibnu Syihab dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah  pernah disodorkan kepada beliau seorang yang sudah merninggal dunia (jenazah) yang meninggalkan hutang maka Beliau bertanya: "Apakah dia meninggalkan harta untuk membayar hutangnya?" Jika diceritakan bahwa jenazah tersebut ada meninggalkan sesuatu untuk melunasi hutangnya maka Beliau menyolatinya, jika tidak maka Beliau berkata, kepada Kaum Muslimin: "Shalatilah saudara kalian ini". Ketika Allah telah membukakan kemenangan kepada Beliau di berbagai negeri Beliau bersabda: "Aku lebih utama menjamin untuk orang-orang beriman dibanding diri mereka sendiri, maka siapa yang mneninggal dunia dari kalangan Kaum Mukminin lalu meninggalkan hutang akulah yang wajib membayarnya dan siapa yang meninggalkan harta maka harta itu untuk pewarisnya".

Sedangkan di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 5371 dnyatakan bahwa mukmin mana saja yang pernah aku cela, atau aku cambuk, hendaklah hal itu Engkau gantikan untuknya sebagai penghapus dosa pada hari kiamat kelak;

حَدَّثَنِي زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَ زُهَيْرٌ حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا ابْنُ أَخِي ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عَمِّهِ حَدَّثَنِي سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي اتَّخَذْتُ عِنْدَكَ عَهْدًا لَنْ تُخْلِفَنِيهِ فَأَيُّمَا مُؤْمِنٍ سَبَبْتُهُ أَوْ جَلَدْتُهُ فَاجْعَلْ ذَلِكَ كَفَّارَةً لَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ [32]

Artinya: Telah menceritakan kepadaku Zuhair bin Harb dan 'Abad bin Humaid keduanya berkata; Zuhair Telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim; Telah menceritakan kepada kami anak saudaraku yaitu Ibnu Syihab dari Pamannya; Telah menceritakan kepadaku Sa'id bin Al Musayyab dari Abu Hurairah dia berkata; "Ya Allah, sesungguhnya aku telah membuat perjanjian dengan-Mu yang Engkau tidak akan menyelisihinya. Maka mukmin mana saja yang pernah aku cela, atau aku cambuk, hendaklah hal itu Engkau gantikan untuknya sebagai penghapus dosa pada hari kiamat kelak."

2.12. Sakitnya Orang Beriman Menjadi Penghapus Dosa Dan Kesalahan

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 14613 dinyatakan bahwa Tidaklah seorang muslim laki-laki ataupun perempuan atau mukmin laki-laki ataupun mukmin perempuan yang terkena penyakit kecuali Allah menghapus kesalahannya;

حَدَّثَنَا مُعَاوِيَةُ يَعْنِي ابْنَ عَمْرٍو حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَاقَ يَعْنِي الْفَزَارِيَّ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ وَلَا مُسْلِمَةٍ وَلَا مُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ يَمْرَضُ مَرَضًا إِلَّا حَطَّ اللَّهُ عَنْهُ مِنْ خَطَايَاهُ [33]

Artinya: Telah bercerita kepada kami Mu'awiyah yaitu Ibnu 'Amr telah bercerita kepada kami Abu Ishaq yaitu Al Fazari dari Al 'A'masy dari Abu Sufyan dari Jabir berkata; Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Tidaklah seorang muslim laki-laki ataupun perempuan atau mukmin laki-laki ataupun mukmin perempuan yang terkena penyakit kecuali Allah menghapus kesalahannya."

2.13. Allah Menutupi Dan Mengampuni Dosa Orang Beriman

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 5436 digambarkan bahwa Allah menutupi dan mengampuni dosa orang beriman;

حَدَّثَنَا بَهْزٌ وَعَفَّانُ قَالَا حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ قَالَ عَفَّانُ عَنْ صَفْوَانَ بْنِ مُحْرِزٍ قَالَ كُنْتُ آخِذًا بِيَدِ ابْنِ عُمَرَ إِذْ عَرَضَ لَهُ رَجُلٌ فَقَالَ كَيْفَ سَمِعْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ فِي النَّجْوَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُدْنِي الْمُؤْمِنَ فَيَضَعُ عَلَيْهِ كَنَفَهُ وَيَسْتُرُهُ مِنْ النَّاسِ وَيُقَرِّرُهُ بِذُنُوبِهِ وَيَقُولُ لَهُ أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا أَتَعْرِفُ ذَنْبَ كَذَا حَتَّى إِذَا قَرَّرَهُ بِذُنُوبِهِ وَرَأَى فِي نَفْسِهِ أَنَّهُ قَدْ هَلَكَ قَالَ فَإِنِّي قَدْ سَتَرْتُهَا عَلَيْكَ فِي الدُّنْيَا وَإِنِّي أَغْفِرُهَا لَكَ الْيَوْمَ ثُمَّ يُعْطَى كِتَابَ حَسَنَاتِهِ وَأَمَّا الْكُفَّارُ وَالْمُنَافِقُونَ فَيَقُولُ الْأَشْهَادُ " هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ " [34]

Artinya: Telah menceritakan keapda kami Bahz dan Affan telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qatadah berkata Affan dari Shafwan bin Muhriz, dia berkata: Aku pernah hendak menggandeng tangan Ibnu Umar namun tiba-tiba ada seorang lelaki menghalanginya seraya berkata: Apa yang kamu dengar dari Rasulullah  mengenai bisikan-bisikan pada hari kiamat? Lalu ia menjawab: Aku mendengar Rasulullah  berkata: "Allah Ta'ala mendekati seorang mukmin lalu Dia memberi perlindunganNya atasnya dan menutupinya dari manusia, serta mengajaknya untuk mengakui dosa-dosanya, dan Dia berkata kepadanya, Apakah kamu mengetahui dosa ini?, apakah kamu mengetahui dosa ini? ' Hingga ia mengakui dosa-dosanya dan melihat dirinya akan berada dalam kebinasan, Allah berkata: ' Aku sekarang telah menutupinya bagimu di dunia dan sesungguhnya pada hari ini Aku telah mangampuninya untukmu.' kemudian Dia memberikan catatan amal kebajikannya. Adapun orang-orang kafir dan munafiq, dan para saksi akan berkata: 'Orang-orang inilah yang telah berdusta terhadap Tuhan mereka.' Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas orang-orang yang zhalim".

2.14. Jika Penduduk Negeri Beriman dan Bertakwa Akan dibukakan Berkah

Al Quran Surat Al-A’raf/ 7: 96, mejelaskan janji Allah. Jika penduduk sebuah negeri beriman dan bertakwa niscaya dibukakan berkah dari langit dan bumi;

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Artinya: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.(QS. Al-A’raf/ 7: 96)

2.15.  Ibadah Yang Dilakukan Atas Dasar Iman Akan Diberikan Banyak Kebaikan

Di antara ibadah-ibadah yang dilakukan atas dasar iman, yang akan diberikan balasan yang lebih baik adalah;

2.15.1. Menegakkan Ramadhan Akan Dihapus Dosanya

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 37 dinyatakan bahwa Barangsiapa menegakkan Ramadlan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu;

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكٌ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ [35]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Isma'il berkata, telah menceritakan kepadaku Malik dari Ibnu Syihab dari Humaid bin Abdurrahman dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah  bersabda: "Barangsiapa menegakkan Ramadlan karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu".

2.15.2. Menshalatkan Dan Mengiringi Jenazah Akan Diberikan Pahala Dua Qirat

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 47 dinyatakan bahwa Barangsiapa mengiringi jenazah muslim karena iman, akan mendapat pahala yang banyak sekali;

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَلِيٍّ الْمَنْجُوفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا رَوْحٌ قَالَ حَدَّثَنَا عَوْفٌ عَنْ الْحَسَنِ وَمُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ اتَّبَعَ جَنَازَةَ مُسْلِمٍ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا وَكَانَ مَعَهُ حَتَّى يُصَلَّى عَلَيْهَا وَيَفْرُغَ مِنْ دَفْنِهَا فَإِنَّه يَرْجِعُ مِنْ الْأَجْرِ بِقِيرَاطَيْنِ كُلُّ قِيرَاطٍ مِثْلُ أُحُدٍ وَمَنْ صَلَّى عَلَيْهَا ثُمَّ رَجَعَ قَبْلَ أَنْ تُدْفَنَ فَإِنَّهُ يَرْجِعُ بِقِيرَاطٍ[36]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Abdullah bin Ali Al Manjufi berkata, telah menceritakan kepada kami Rauh berkata, telah menceritakan kepada kami 'Auf dari Al Hasan dan Muhammad dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah  telah bersabda: "Barangsiapa mengiringi jenazah muslim, karena iman dan mengharapkan balasan dan dia selalu bersama jenazah tersebut sampai dishalatkan dan selesai dari penguburannya, maka dia pulang dengan membawa dua qiroth, setiap qiroth setara dengan gunung Uhud. Dan barangsiapa menyolatkannya dan pulang sebelum dikuburkan maka dia pulang membawa satu qiroth".

2.15.3.  Memelihara Kuda Untuk Fi Sabilillah Segala Usahanya Dinilai Kebaikan

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2641 dinyatakan Barang siapa yang memelihara seekor kuda untuk fii sabilillah karena iman kepada Allah segala usahanya akan dinilai sebagai kebaikan;

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حَفْصٍ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُبَارَكِ أَخْبَرَنَا طَلْحَةُ بْنُ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدًا الْمَقْبُرِيَّ يُحَدِّثُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ احْتَبَسَ فَرَسًا فِي سَبِيلِ اللَّهِ إِيمَانًا بِاللَّهِ وَتَصْدِيقًا بِوَعْدِهِ فَإِنَّ شِبَعَهُ وَرِيَّهُ وَرَوْثَهُ وَبَوْلَهُ فِي مِيزَانِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ [37]

Artinya: Telah bercerita kepada kami 'Ali bin Hafsh telah bercerita kepada kami Ibnu Al Mubarak telah mengabarkan kepada kami Thalhah bin Abi Sa'id berkata aku mendengar Sa'id Al Maqburiy bercerita bahwa dia mendengar Abu Hurairah radliallahu 'anhu berkata; Nabi  bersabda: "Barang siapa yang memelihara seekor kuda untuk fii sabilillah karena iman kepada Allah dan membenarkan janji-Nya maka sesungguhnya setiap makanan kuda itu, minumannya, kotorannya dan kencingnya akan menjadi timbangan (kebaikan) baginya pada hari qiyamat".

2.15.4. Menegakkan Qiyamul Lail Lailatul Qadr Akan Diampuni Dosanya

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 1768 dinyatakan bahwa Barangsiapa yang menegakkan lailatul qadar (mengisi dengan ibadah) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa;

حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ [38]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muslim bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami Hisyam telah menceritakan kepada kami Yahya dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi  bersabda: "Barangsiapa yang menegakkan lailatul qadar (mengisi dengan ibadah) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya, dan barangsiapa yang melaksanakan shaum Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya".

3.  Karakter Orang Beriman

Berikut ini akan dikemukakan beberapa karakter orang beriman, disebut dengan karakter untuk menggambarkan amal perbuatan yang dilakukan yang tumbuh dari kesadaran qalbu, bukan amal ibadah yang tampak secara lahir semata;

3.1. Tidak Keberatan Dan Bersedia Menerima Hukum Rasulullah

Di dalam Al Quran surat An-Nisa'/ 4: 65 digambarkan bahwa mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan…;

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.(QS. An-Nisa'/ 4: 65)

3.2.  Tanda-tanda Cinta Pada Keimanan Dan Tanda-tanda Orang Beriman

Di dalam kitab Musnad Al-Syamiin hadits nomor 206 dijelaskan tentang tanda-tanda bila cinta kepada keminan telah masuk ke dalam hati dan tanda-tanda orang beriman;

حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ سَهْلٍ، ثنا نُعَيْمُ بْنُ حَمَّادٍ، ثنا ابْنُ الْمُبَارَكِ، عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى، عَنْ أَبِي رَزِينٍ الْعُقَيْلِيِّ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَى؟ قَالَ: «أَمَرَرْتَ بِأَرْضٍ مِنْ أَرْضِكَ مُجْدِبَةً، ثُمَّ مَرَرْتَ بِهَا مُخْصَبَةً» قَالَ: نَعَمْ، قَالَ: كَذَلِكَ النُّشُورُ، قَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِيمَانُ؟ قَالَ: «تَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، وَأَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبُّ إِلَيْكَ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ تُحْرَقَ بِالنَّارِ أَحَبُّ إِلَيْكَ مِنْ أَنْ تُشْرِكَ بِاللَّهِ، وَأَنْ تُحِبَّ غَيْرَ ذِي نَسَبٍ لَا تُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، فَإِذَا كُنْتَ كَذَلِكَ فَقَدْ دَخَلَ حُبُّ الْإِيمَانِ قَلْبَكَ، كَمَا دَخَلَ حُبُّ الْمَاءِ قَلْبَ الظَّمْآنِ فِي الْيَوْمِ الْقَائِظِ» . قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ لِي بِأَنْ أَعْلَمَ أَنِّي مُؤْمِنٌ؟ قَالَ: «مَا مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ مِنْ عَبْدٍ يَعْمَلُ حَسَنَةً يَرَى أَنَّهَا حَسَنَةً وَلَا يَعْمَلُ سَيِّئَةً يَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِيهَا إِلَّا هُوَ مُؤْمِنٌ»[39]

Artinya: Bakar bin Sahl meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Nu‘aim bin Hammad meriwayatkan kepada kami, ia berkata: Ibnu al-Mubarak meriwayatkan kepada kami, dari Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, dari Sulaiman bin Musa, dari Abu Razin al-‘Uqaili, ia berkata: Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana Allah menghidupkan orang-orang yang telah mati?” Beliau menjawab: “Pernahkah engkau melewati tanah milikmu yang tandus, kemudian engkau melewatinya lagi dalam keadaan subur?” Ia menjawab, “Ya.” Beliau bersabda, “Demikianlah Allah membangkitkan (makhluk pada hari kebangkitan).” Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, apa itu iman?” Beliau bersabda: “Engkau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya; dan bahwa Allah dan Rasul-Nya lebih engkau cintai daripada selain keduanya; dan bahwa engkau lebih suka dibakar api daripada melakukan syirik kepada Allah; dan bahwa engkau mencintai seseorang yang tidak memiliki hubungan nasab denganmu, tetapi engkau mencintainya semata-mata karena Allah. Jika engkau memiliki sifat-sifat tersebut, maka kecintaan kepada iman telah masuk ke dalam hatimu sebagaimana rasa cinta orang yang kehausan kepada air pada hari yang sangat panas.” Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana aku dapat mengetahui bahwa aku adalah seorang mukmin?” Beliau menjawab, “Tidak ada seorang hamba pun dari umat ini yang melakukan suatu kebaikan lalu ia melihat bahwa itu adalah kebaikan, dan ia tidak melakukan suatu keburukan lalu kemudian memohon ampun kepada Allah atasnya, melainkan ia adalah seorang mukmin.”

3.3.   Tetangganya Merasa Aman Darinya

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6016 ditegaskan bahwa tidak beriman orang yang tetangganya tidak merasa aman dengan gangguannya;

حَدَّثَنَا عَاصِمُ بْنُ عَلِيٍّ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي ذِئْبٍ عَنْ سَعِيدٍ عَنْ أَبِي شُرَيْحٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ وَاللَّهِ لَا يُؤْمِنُ قِيلَ وَمَنْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الَّذِي لَا يَأْمَنُ جَارُهُ بَوَايِقَهُ [40]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ashim bin Ali telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Dzi'ib dari Sa'id dari Abu Syuraih bahwasanya Nabi  bersabda: "Demi Allah, tidak beriman, demi Allah tidak beriman, demi Allah tidak beriman." Ditanyakan kepada beliau; "Siapa yang tidak beriman wahai Rasulullah?" beliau bersabda: "Yaitu orang yang tetangganya tidak merasa aman dengan gangguannya."

3.4. Beriman Kepada Allah Dan Hari Akhir Hendaknya Dia Memuliakan Tamunya, Dan Berkata Baik Atau Diam

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6136 ditegaskan bahwa barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir hendaknya berkata baik atau diam;

حَدَّثَنِي عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِي سَلَمَةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُؤْذِ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ [41]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Ibrahim bin Sa'd dari Ibnu Syihab dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah  bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaknya ia berkata baik atau diam, dan barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya, dan barang siapa beriaman kepada Allah dan hari Akhir, hendaknya ia memuliakan tamunya."

3.5.  Tidaklah Beriman Seorang Hamba Sehingga Dia Mengimani Empat Hal

Di dalam kitab Sunan Musnad Ahmad hadits nomor 1057 ditegaskan Tidak akan dianggap beriman seorang hamba sehingga dia mengimani empat hal; beriman kepada Allah, (beriman) bahwa Allah telah mengutusku dengan Al Haq, beriman dengan hari kebangkitan setelah kematian dan beriman kepada taqdir yang baik maupun buruk.";

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ رِبْعِيِّ بْنِ حِرَاشٍ عَنْ رَجُلٍ عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَنْ يُؤْمِنَ عَبْدٌ حَتَّى يُؤْمِنَ بِأَرْبَعٍ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَأَنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي بِالْحَقِّ وَيُؤْمِنُ بِالْبَعْثِ بَعْدَ الْمَوْتِ وَيُؤْمِنُ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ [42]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Manshur dari Rib'i bin Hirasy dari seorang laki-laki dari Ali Radhiallah 'anhu berkata; Rasulullah  bersabda: "Tidak akan dianggap beriman seorang hamba sehingga dia mengimani empat hal: beriman kepada Allah, (beriman) bahwa Allah telah mengutusku dengan Al Haq, beriman dengan hari kebangkitan setelah kematian dan beriman kepada taqdir yang baik maupun buruk."

3.6. Sederhana Dalam Berpakaian Adalah Bagian Dari Iman

Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 4161 dinyatakan bahwa Sesungguhnya sederhana dalam berpakaian adalah bagian dari iman… ;

حَدَّثَنَا النُّفَيْلِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَلَمَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَقَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ كَعْبِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ ذَكَرَ أَصْحَابُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا عِنْدَهُ الدُّنْيَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا تَسْمَعُونَ أَلَا تَسْمَعُونَ إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنْ الْإِيمَانِ إِنَّ الْبَذَاذَةَ مِنْ الْإِيمَانِ يَعْنِي التَّقَحُّلَ قَالَ أَبُو دَاوُد هُوَ أَبُو أُمَامَةَ بْنُ ثَعْلَبَةَ الْأَنْصَارِيُّ [43]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami An Nufaili berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Salamah dari Muhammad bin Ishaq dari Abdullah bin Abu Umamah dari Abdullah bin Ka'b bin Malik dari Abu Umamah ia berkata, "Pada suatu hari sahabat Rasulullah  memperbincangkan tentang dunia di sisinya, maka Rasulullah  bersabda: "Tidakkah kalian mendengar? Tidakkah kalian mendengar? Sesungguhnya sederhana dalam berpakaian adalah bagian dari iman. Sesungguhnya sederhana dalam berpakaian adalah bagian dari iman." Maksudnya adalah berpakaian apa adanya dan pantas.", Abu Dawud berkata; "Dia adalah Abu Umamah bin Tsa'labah Al Anshari."

3.7.  Tidak Suka Mengungkap Aib, Melaknat, Berperangai Buruk Dan Menyakiti

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 1977 dinyatakan bahwa Tidaklah termasuk hamba yang mukmin, yaitu mereka yang selalu mengungkap aib, melaknat, berperangai buruk dan suka menyakiti;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى الْأَزْدِيُّ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَابِقٍ عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلَا اللَّعَّانِ وَلَا الْفَاحِشِ وَلَا الْبَذِيءِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ وَقَدْ رُوِيَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ مِنْ غَيْرِ هَذَا الْوَجْهِ [44]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya Al Azdi Al Bashari, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sabiq dari Isra`il dari Al A'masy dari Ibrahim dari Alqamah dari Abdullah ia berkata; Rasulullah  bersabda: "Tidaklah termasuk hamba yang mukmin, yaitu mereka yang selalu mengungkap aib, melaknat, berperangai buruk dan suka menyakiti." Abu Isa berkata; Ini adalah hadits hasan shahih gharib. Dan telah diriwayatkan pula dari Abdullah selain jalur ini.

3.8.  Tidak Suka Mencela, Melaknat Dan Berkata Kotor

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 8448 ditegaskan bahwa Seorang mukmin yang sempurna bukanlah orang yang suka mencela, melaknat dan berkata kotor;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ سَابِقٍ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنِ الْأَعْمَشِ عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَلْقَمَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِطَعَّانٍ وَلَا بِلَعَّانٍ وَلَا الْفَاحِشِ الْبَذِيءِ وَقَالَ ابْنُ سَابِقٍ مَرَّةً بِالطَّعَّانِ وَلَا بِاللَّعَّانِ [45]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sabiq telah menceritakan kepada kami Isra`il dari Al A'masy dari Ibrahim dari 'Alqamah dari Abdullah bin Mas'ud ia berkata; Rasulullah  bersabda: "Seorang mukmin yang sempurna bukanlah orang yang suka mencela, melaknat dan berkata kotor." Ibnu Sabiq berkata sekali lagi; "Suka mencela dan melaknat."

3.9. Keimanan Tidak Dicampuri Dengan Kedhaliman

Di dalam Al Quran Surat Al-An'am/ 6: 82, dijelaskan bahwa orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman, mereka itulah yang mendapat keamanan;

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَٰئِكَ لَهُمُ الْأَمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

Artinya: Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.(QS. Al-An'am/ 6: 82)

3.10. Orang Beriman Beramal Shalih

Di dalam Al Quran Surat Al-'Ankabut/ 29: 7, dijelaskan bahwa orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik;

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَنُكَفِّرَنَّ عَنْهُمْ سَيِّئَاتِهِمْ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَحْسَنَ الَّذِي كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: Dan orang-orang yang beriman dan beramal saleh, benar-benar akan Kami hapuskan dari mereka dosa-dosa mereka dan benar-benar akan Kami beri mereka balasan yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-'Ankabut/ 29: 7)

3.11. Ketenangan Dalam Hati Orang Beriman Sehingga Bertambah Iman Mereka

Di dalam Al Quran Surat Al-Fath/ 48: 4, disebutkan bahwa Allah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah;

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ ۗ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Artinya: Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang beriman supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Fath/ 48: 4)

3.12.  Orang Beriman Kuat Menghadapi Ujian

Al Quran Surat Al-‘Ankabut/ 29: 2-3, mengandung pengertian bahwa Allah akan menguji orang beriman, untuk mengetahui orang-orang yang benar ataupun orang yang berdusta;

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ, وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ

Artinya: “Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, “Kami telah beriman,” dan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut/ 29: 2-3)

3.13. Orang Beriman Siap Mendengar, Patuh Kepada Allah Dan Rasul-Nya

Di dalam Al Quran Surat An-Nur/ 24: 51, terkandung pengertian bahwa orang-orang beriman, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya, mereka mengatakan "Kami mendengar, dan kami patuh;

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Artinya: Sesungguhnya jawaban orang-orang beriman, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

3.14.  Orang Beriman Itu Menjadikan Orang Lain Aman Harta Dan Dirinya

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 23966, disebutkan bahwa orang beriman, (adalah) orang yang (membuat) orang lain aman atas harta dan diri mereka;

 حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ قَالَ حَدَّثَنِي رِشْدِينُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ حُمَيْدٍ أَبِي هَانِئٍ الْخَوْلَانِيِّ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَالِكٍ عَنْ فَضَالَةَ بْنِ عُبَيْدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ أَلَا أُخْبِرُكُمْ مَنْ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُؤْمِنُ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذَّنُوبَ وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ [46]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Qutaibah bin Sa'id] berkata: Telah menceritakan kepadaku [Risydin] dari [Humaid Abu Hani` Al Khaulani] dari ['Amru bin Malik] dari [Fadlalah bin 'Ubaid] Rasulullah SAW bersabda saat haji wada': "Maukah kalian aku beritahukan siapakah orang muslim itu, (orang muslim adalah) orang yang (membuat) orang lain terhindar dari (bahaya) lidah dan tangannya, orang beriman , (adalah) orang yang (membuat) orang lain aman atas harta dan diri mereka, muhajir adalah orang meninggalkan kesalahan-kesalahan dan dosa-dosa mujahid adalah orang yang memerangi diri sendiri dalam menaati Allah 'azza wajalla.

3.15.  Iman Itu Ada Di Hati

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 12381, dijelaskan bahwa Islam itu sesuatu yang nampak, iman itu ada dalam hati, sedangkan takwa itu ada di sini (dada);

حَدَّثَنَا بَهْزٌ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مَسْعَدَةَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ الْإِسْلَامُ عَلَانِيَةٌ وَالْإِيمَانُ فِي الْقَلْبِ قَالَ ثُمَّ يُشِيرُ بِيَدِهِ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَ ثُمَّ يَقُولُ التَّقْوَى هَاهُنَا التَّقْوَى هَاهُنَا [47]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Bahz] berkata, telah menceritakan kepada kami [Ali bin Mas'adah] berkata, telah menceritakan kepada kami [Qatadah] dari [Anas] ia berkata; Rasulullah SAW bersabda: "Islam itu sesuatu yang nampak sedangkan iman itu ada dalam hati." Anas berkata; "Lalu beliau menunjuk ke dadanya dengan tangan sebanyak tiga kali." Anas berkata; Kemudian beliau bersabda: "Takwa itu ada di sini, takwa itu ada di sini."

3.16. Beriman Kepada Allah: Telah Berpegang Kepada Ikatan Yang Amat Kuat

Di dalam Al Quran Surat Al-Baqarah/ 2: 256, mengandung pengertian bahwa orang yang beriman kepada Allah, telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat,

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

Artinya: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.(HR. Al-Baqarah/ 2: 256)

3.17. Tidaklah Beriman Seorang Hingga Aku Lebih Dicintainya Daripada Orang Tuanya, Anak dan semua manusia;

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 14, disebutkan bahwa Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya. Anaknya dan semua orang;

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ [48]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Ya'qub bin Ibrahim] berkata, telah menceritakan kepada kami [Ibnu 'Ulayyah] dari [Abdul 'Aziz bin Shuhaib] dari [Anas] dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam Dan telah menceritakan pula kepada kami [Adam] berkata, telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] dari [Qotadah] dari [Anas] berkata, Nabi SAW bersabda: "Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan dari manusia seluruhnya".

3.18. Orang Beriman Yang Kuat Lebih Baik Dan Lebih Dicintai Oleh Allah Daripada Orang Beriman Yang Lemah

Di dalam kitab Shahih Muslim hadis nomor 2664, dijelaskan bahwa Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta 'ala daripada orang mukmin yang lemah;

 حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَابْنُ نُمَيْرٍ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ إِدْرِيسَ عَنْ رَبِيعَةَ بْنِ عُثْمَانَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ يَحْيَى بْنِ حَبَّانَ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنْ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِي كُلٍّ خَيْرٌ احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلَا تَعْجَزْ وَإِنْ أَصَابَكَ شَيْءٌ فَلَا تَقُلْ لَوْ أَنِّي فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ [49]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakr bin Abu Syaibah] dan [Ibnu Numair] mereka berdua berkata; telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin Idris] dari [Rabi'ah bin 'Utsman] dari [Muhammad bin Yahya bin Habban] dari [Al A'raj] dari [Abu Hurairah] dia berkata; "Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: 'Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta 'ala daripada orang mukmin yang lemah. Pada masing-masing memang terdapat kebaikan. Capailah dengan sungguh-sungguh apa yang berguna bagimu, mohonlah pertolongan kepada Allah Azza wa Jalla dan janganlah kamu menjadi orang yang lemah. Apabila kamu tertimpa suatu kemalangan, maka janganlah kamu mengatakan; 'Seandainya tadi saya berbuat begini dan begitu, niscaya tidak akan menjadi begini dan begitu'. Tetapi katakanlah; 'lni sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan dilaksanakan-Nya. Karena sesungguhnya ungkapan kata 'law' (seandainya) akan membukakan jalan bagi godaan syetan.'"

3.19.   Cinta Kepada Keimanan masuk Ke Dalam Qalbu

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 12194, dijelaskan bahwa Jika kamu seperti itu (Kamu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Allah dan Rasul-Nya lebih kamu sukai daripada selainnya..), kecintaan kepada iman telah masuk dalam hatimu, sebagaimana masuknya air kepada orang yang haus pada hari yang sangat panas;

قَالَ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْحَاقَ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ يَعْنِي ابْنَ الْمُبَارَكِ قَالَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ يَزِيدَ بْنِ جَابِرٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ مُوسَى عَنْ أَبِي رَزِينٍ الْعُقَيْلِيِّ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يُحْيِي اللَّهُ الْمَوْتَى قَالَ أَمَا مَرَرْتَ بِأَرْضٍ مِنْ أَرْضِكَ مُجْدِبَةٍ ثُمَّ مَرَرْتَ بِهَا مُخْصَبَةً قَالَ نَعَمْ قَالَ كَذَلِكَ النُّشُورُ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْإِيمَانُ قَالَ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ وَأَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ تُحْرَقَ بِالنَّارِ أَحَبُّ إِلَيْكَ مِنْ أَنْ تُشْرِكَ بِاللَّهِ وَأَنْ تُحِبَّ غَيْرَ ذِي نَسَبٍ لَا تُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَإِذَا كُنْتَ كَذَلِكَ فَقَدْ دَخَلَ حُبُّ الْإِيمَانِ فِي قَلْبِكَ كَمَا دَخَلَ حُبُّ الْمَاءِ لِلظَّمْآنِ فِي الْيَوْمِ الْقَائِظِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ لِي بِأَنْ أَعْلَمَ أَنِّي مُؤْمِنٌ قَالَ مَا مِنْ أُمَّتِي أَوْ هَذِهِ الْأُمَّةِ عَبْدٌ يَعْمَلُ حَسَنَةً فَيَعْلَمُ أَنَّهَا حَسَنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ جَازِيهِ بِهَا خَيْرًا وَلَا يَعْمَلُ سَيِّئَةً فَيَعْلَمُ أَنَّهَا سَيِّئَةٌ وَاسْتَغْفَرَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ مِنْهَا وَيَعْلَمُ أَنَّهُ لَا يَغْفِرُ إِلَّا هُوَ إِلَّا وَهُوَ مُؤْمِنٌ [50]

Artinya: berkata; telah menceritakan kepada kami ['Ali bin Ishaq] berkata; telah menghabarkan kepada kami [Abdullah] yaitu Ibnu Al Mubarak, berkata; telah menghabarkan kepada kami [Abdurrahman bin Yazid bin Jabir] dari [Sulaiman bin Musa] dari [Abu Razin Al 'Uqaili] berkata; saya menemui Rasulullah  lalu saya berkata; Wahai Rasulullah, bagaimana Allah menghidupkan orang yang mati, apa bukti tersebut bagi makhluq-Nya? (Rasulullah ) menjawab, "Apa kalian pernah melewati suatu tanah yang tandus lalu kalian melewatinya dalam keadaan subur?" (Abu Razin) berkata; "Ya." Lalu (Rasulullah ) bersabda: "Begitulah fenomena kebangkitan." (Abu Razin) berkata; Wahai Rasulullah, apakah iman itu? Beliau bersabda: "Kamu bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, Muhammad adalah hamba-Nya dan Rasul-Nya. Allah dan Rasul-Nya lebih kamu sukai daripada selainnya. Ia dibakar dengan neraka lebih dia sukai daripada menyekutukan Allah. Kamu mencintai orang yang tidak punya kekerabatan denganmu, kamu tidak mencintainya kecuali hanya karena Allah AzzaWaJalla. Jika kamu seperti itu, kecintaan kepada iman telah masuk dalam hatimu, sebagaimana masuknya air kepada orang yang haus pada hari yang sangat panas. Saya bertanya, Wahai Rasulullah, bagaimana saya mengetahui bahwa saya adalah seorang mukmin?. Beliau bersabda: "Tidaklah dari umatku, atau dari umat ini seorang hamba yang mengerjakan kebaikan, lalu dia mengetahui bahwa hal itu adalah kebaikan, ia sadar bahwa Allah Azza WaJalla akan membalasnya dengan kebaikan, dia tidak melakukan kejelekan dan dia mengetahui bahwa itu adalah kejelekan, lalu dia meminta ampunan kepada Allah Azza WaJalla, dan dia sadar bahwa tidak ada yang mengampuni selain Dia kecuali orang yang mukmin."

3.20. Bila Kejelekanmu Menggelisahkanmu Dan Kebaikanmu Menggembira-kanmu Berarti Engkau Orang Beriman

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22120, dijelaskan bahwa Bila kejelekanmu menggelisahkanmu dan kebaikanmu menggembirakanmu berarti engkau orang beriman;

حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ خَالِدٍ حَدَّثَنَا رَبَاحٌ عَنْ مَعْمَرٍ عَنْ يَحْيَى بْنِ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ سَلَّامٍ عَنْ جَدِّهِ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا أُمَامَةَ يَقُولُ سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا الْإِثْمُ فَقَالَ إِذَا حَكَّ فِي نَفْسِكَ شَيْءٌ فَدَعْهُ قَالَ فَمَا الْإِيمَانُ قَالَ إِذَا سَاءَتْكَ سَيِّئَتُكَ وَسَرَّتْكَ حَسَنَتُكَ فَأَنْتَ مُؤْمِنٌ [51]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Ibrohim bin Kholid] telah menceritakan kepada kami [Rabah] dari [Ma'mar] dari [Yahya bin Abu Katsir] dari [Zaid bin Sallam] dari [kakeknya] berkata; Aku mendengar [Abu Umamah] berkata: Seseorang bertanya pada Nabi ShallallahuAlaihiWasallam; Apa itu dosa? Rasulullah Shallallahu'alaihiWasallam bersabda; "Bila sesuatu menggelisahkan hatimu tinggalkan." Orang itu bertanya; Apa itu iman? Rasulullah Shallallahu'alaihiWasallam bersabda; "Bila kejelekanmu menggelisahkanmu dan kebaikanmu menggembirakanmu berarti engkau mu`min."

3.21. Beriman Kepada Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, Hari Akhir Dan Taqdir

Di dalam kitab Shahih Muslim hadis nomor 9, disebutkan bahwa ketika Rasulullah ditanya oleh malaikat Jibril tentang Iman, beliau menjawab bahwa Iman adalah percaya kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Hari akhir, Qadar baik dan buruk;

قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ الْإِيمَانِ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ [52]

Artinya: Dia bertanya lagi, 'Kabarkanlah kepadaku tentang iman itu? ' Beliau menjawab: "Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan takdir baik dan buruk." Dia berkata, 'Kamu benar.'

3.22.  Semangatnya Berkobar Untuk Berjuang Di Jalan Allah

Di dalam Al Quran surat An Nisa/ 4: 84 diperintahkan untuk berjuang di jalan Allah dengan semangat yang berkobar;

فَقَاتِلْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ لَا تُكَلَّفُ إِلَّا نَفْسَكَ وَحَرِّضِ الْمُؤْمِنِينَ عَسَى اللَّهُ أَن يَكُفَّ بَأْسَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَاللَّهُ أَشَدُّ بَأْسًا وَأَشَدُّ تَنكِيلًا

Artinya: Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan(Nya). (QS. An Nisa/ 4: 84)

3.23.  Membaca Al Quran Dengan Benar-benar

Di dalam Al Quran surat Al Baqarah/ 2: 121 ditegaskan bahwa orang beriman membaca Al Quran dengan sebenar-benarnya;

الَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَتْلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ أُولَٰئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَن يَكْفُرْ بِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

Artinya: Orang-orang yang telah Kami berikan Al Kitab kepadanya, mereka membacanya dengan bacaan yang sebenarnya, mereka itu beriman kepadanya. Dan barangsiapa yang ingkar kepadanya, maka mereka itulah orang-orang yang rugi. (QS. Al Baqarah/ 2: 121)

3.24.  Menjadikan Rasul Sebagai Hakim Atas Segala Perkara

Di dalam Al Quran surat An Nisa/ 4: 65 ditegaskan bahwa orang beriman menjadikan Allah dan Rasulnya menjadi hakim atas perkara yang diperselisihkan, tidak ada keberatan dan berserah diri kepadanya dengan sepenuhnya;

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنفُسِهِمْ حَرَجًا مِّمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Artinya: Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An Nisa/ 4: 65)

3.25.  Meminta Ijin Saat Meninggalkan Majelis

Di dalam Al Quran surat An-Nur/ 24: 62 ditegaskan bahwa Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya;

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَإِذَا كَانُوا مَعَهُ عَلَى أَمْرٍ جَامِعٍ لَمْ يَذْهَبُوا حَتَّى يَسْتَأْذِنُوهُ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَأْذِنُونَكَ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ فَإِذَا اسْتَأْذَنُوكَ لِبَعْضِ شَأْنِهِمْ فَأْذَنْ لِمَنْ شِئْتَ مِنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمُ اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Sesungguhnya yang sebenar-benar orang mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan apabila mereka berada bersama-sama Rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan pertemuan, mereka tidak meninggalkan (Rasulullah) sebelum meminta izin kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (Muhammad) mereka itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya, maka apabila mereka meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang kamu kehendaki di antara mereka, dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(QS. An-Nur/ 24: 62)

3.26. Merasa Takut Kepada Allah

Di dalam kelompok fujur terdapat tingkatan fujur khauf dan khasyah; yakni takut kepada selain Allah, sedangkan di kelompok takwa di tingkat iman, khauf dan khasyah ini merupakan perasaan takut kepada Allah, perinciannya adalah sebagai berikut;

3.26.1. Takut Kepada Allah Dan Tidak Takut Kepada Yang Lain

Di dalam Al Quran surat Ali Imran/ 3: 175 diingatkan untuk takut kepada Allah dan tidak takut kepada yang lain;

إِنَّمَا ذَٰلِكُمُ الشَّيْطَانُ يُخَوِّفُ أَوْلِيَاءَهُ فَلَا تَخَافُوهُمْ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ

Artinya: Sesungguhnya mereka itu tidak lain hanyalah syaitan yang menakut-nakuti (kamu) dengan kawan-kawannya (orang-orang musyrik Quraisy), karena itu janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar orang yang beriman. (Qs. Ali Imran/ 3: 175)

3.26.2. Berdoa Kepada Allah Dengan Penuh Rasa Takut

Di dalam Al Quran surat As-Sajdah/ 32: 16 digambarkan bahwa orang-orang beriman selalu berdoa kepada Allah dengan penuh rasa takut dan harap;

تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ يَدْعُونَ رَبَّهُمْ خَوْفًا وَطَمَعًا وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Artinya: Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan.(QS. As-Sajdah/ 32: 16)

3.26.3.  Tidak Takut Mati Karena Lebih Takut Kepada Allah

Di dalam Al Quran surat Al Maidah/ 5 28 tergambar seandainya kamu akan membunuhku maka aku tidak akan membunuhmu karena takut kepada Allah;

لَئِن بَسَطتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ ﴿المائدة: ٢٨﴾  

Artinya: "Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam". (QS. Al Maidah/ 5: 28)

3.26.4. Takut Mendurhakai Allah

Di dalam Al Quran surat Al An’am/ 6: 15 diperintahkan untuk takut mendurhakai Allah, karena akan mendapat Adzab yang pedih;

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ ﴿الأنعام: ١٥﴾  

Artinya: Katakanlah: "Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar (hari kiamat), jika aku mendurhakai Tuhanku". (QS. Al An’am/ 6: 15)

3.26.5. Takut Untuk Mempersekutukan Allah

Di dalam Al Quran surat  Al An’am/ 6: 81 tergambar untuk lebih takut mempersekutukan Allah dibandingkan daripada takut dengan apa yang dipesekutukan orang musyrik;

وَكَيْفَ أَخَافُ مَا أَشْرَكْتُمْ وَلَا تَخَافُونَ أَنَّكُمْ أَشْرَكْتُم بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ عَلَيْكُمْ سُلْطَانًا فَأَيُّ الْفَرِيقَيْنِ أَحَقُّ بِالْأَمْنِ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ ﴿الأنعام: ٨١﴾  

Artinya: Bagaimana aku takut kepada sembahan-sembahan yang kamu persekutukan (dengan Allah), padahal kamu tidak takut mempersekutukan Allah dengan sembahan-sembahan yang Allah sendiri tidak menurunkan hujjah kepadamu untuk mempersekutukan-Nya. Maka manakah di antara dua golongan itu yang lebih berhak memperoleh keamanan (dari malapetaka), jika kamu mengetahui? (6: 81)

3.26.6.  Mengingat Allah Dengan Rasa Takut

Di dalam Al Quran surat Al A’raf/ 7: 205 diperintahkan untuk mengingat Allah dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut;

وَاذْكُر رَّبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُن مِّنَ الْغَافِلِينَ

Artinya: Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai. (QS. Al A’raf/ 7: 205)

3.26.7. Mengharapkan Rahmat Allah Dan Takut Dengan Adzab-Nya

Di dalam Al Quran surat Al Isra’/ 17: 57 tergambar bahwa orang yang telah beriman mengharapkan rahmat Allah dan takut dengan adzabnya;

أُولَٰئِكَ الَّذِينَ يَدْعُونَ يَبْتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ الْوَسِيلَةَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ وَيَرْجُونَ رَحْمَتَهُ وَيَخَافُونَ عَذَابَهُ إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ كَانَ مَحْذُورًا ﴿الإسراء: ٥٧﴾  

Artinya: Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (QS. Al Isra’/ 17: 57)

3.26.8. Hanya Takut Kepada Allah

Orang yang memakmurkan Masjid digambarkan di dalam Al Quran Surat At Taubah/ 9: 18, adalah yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak khasyah (takut) kepada selain Allah;

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

Artinya: Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. At Taubah/ 9: 18)

3.26.9. Tiada Merasa Takut Kepada Seorang(Pun) Selain Kepada Allah

Di dalam Al Quran Surat Al-Ahzab/ 33: 39, memberikan penjelasan bahwa orang-orang yang menyampaikan risalah Allah itu tidak takut kepada selain Allah;

الَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَالَاتِ اللَّهِ وَيَخْشَوْنَهُ وَلَا يَخْشَوْنَ أَحَدًا إِلَّا اللَّهَ ۗ وَكَفَىٰ بِاللَّهِ حَسِيبًا

Artinya: (yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah, mereka takut kepada-Nya dan mereka tiada merasa takut kepada seorang(pun) selain kepada Allah. Dan cukuplah Allah sebagai Pembuat Perhitungan.(QS. Al-Ahzab/ 33: 39)

3.26.10.   Takut Kalau Amalan Mereka Tidak Diterima

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 3175 digambarkan penjelasan sebuah ayat Al Quran yang pengertiannya adalah orang-orang yang puasa, shalat dan bersedekah, mereka takut kalau amalan mereka tidak diterima;

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ مِغْوَلٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَعِيدِ بْنِ وَهْبٍ الْهَمْدَانِيِّ أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ هَذِهِ الْآيَةِ "وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ " قَالَتْ عَائِشَةُ أَهُمْ الَّذِينَ يَشْرَبُونَ الْخَمْرَ وَيَسْرِقُونَ قَالَ لَا يَا بِنْتَ الصِّدِّيقِ وَلَكِنَّهُمْ الَّذِينَ يَصُومُونَ وَيُصَلُّونَ وَيَتَصَدَّقُونَ وَهُمْ يَخَافُونَ أَنْ لَا يُقْبَلَ مِنْهُمْ أُولَئِكَ الَّذِينَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ [53]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abu Umar telah menceritakan kepada kami Sufyan telah menceritakan kepada kami Malik bin Mighwal dari Abdurrahman bin Sa'id bin Wahab Al Hamdani bahwa Aisyah, istri nabi Shallallahu 'alaihi wa Salam, berkata: Aku bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam tentang ayat ini: "Dan orang-orang yang memberikan apa yang Rabb mereka berikan, dengan hati yang takut, " (Al Mu'minuun: 60) Aisyah bertanya: Apa mereka orang-orang yang meminum khamar dan mencuri? Beliau menjawab: Bukan, wahai putri Ash Shiddiq, tapi mereka adalah orang-orang yang puasa, shalat dan bersedekah, mereka takut kalau amalan mereka tidak diterima. Mereka itulah orang yang bersegera dalam kebaikan."

3.26.11.   Takut Orang Lain Mendapat Adzab Yang Pedih

Di dalam Al Quran surat Hud/ 11: 26 dan Asy-Syu'ara'/ 26: 135 tergambar bahwa orang beriman mengajak orang lain menyembah Allah karena takut orang lain mendapat adzab yang pedih;

أَنْ لَا تَعْبُدُوا إِلَّا اللَّهَ إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ أَلِيمٍ

Artinya: agar kamu tidak menyembah selain Allah. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab (pada) hari yang sangat menyedihkan".(QS. Hud/ 11: 26)

إِنِّي أَخَافُ عَلَيْكُمْ عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Artinya: sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar". (QS. Asy-Syu'ara'/ 26: 135)

4.  Cabang-Cabang Iman

Orang yang bertakwa di Tingkat Iman mulai memiliki karakter, yang karakter tersebut merupakan cabang dari iman, yaitu antara lain;

4.1. Malu

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 8 dinyatakan bahwa Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman;

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْجُعْفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ [54]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad Al Ju'fi dia berkata, Telah menceritakan kepada kami Abu 'Amir Al 'Aqadi yang berkata, bahwa Telah menceritakan kepada kami Sulaiman bin Bilal dari Abdullah bin Dinar dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dari Nabi , beliau bersabda: "Iman memiliki lebih dari enam puluh cabang, dan malu adalah bagian dari iman".

4.2. Al 'Iyyu; Sedikit Bicara

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 1950 dinyatakan bahwa Sifat malu dan al 'iyyu adalah dua cabang dari cabang-cabang keimanan;

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ عَنْ أَبِي غَسَّانَ مُحَمَّدِ بْنِ مُطَرِّفٍ عَنْ حَسَّانَ بْنِ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَيَاءُ وَالْعِيُّ شُعْبَتَانِ مِنْ الْإِيمَانِ وَالْبَذَاءُ وَالْبَيَانُ شُعْبَتَانِ مِنْ النِّفَاقِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ أَبِي غَسَّانَ مُحَمَّدِ بْنِ مُطَرِّفٍ قَالَ وَالْعِيُّ قِلَّةُ الْكَلَامِ وَالْبَذَاءُ هُوَ الْفُحْشُ فِي الْكَلَامِ وَالْبَيَانُ هُوَ كَثْرَةُ الْكَلَامِ مِثْلُ هَؤُلَاءِ الْخُطَبَاءِ الَّذِينَ يَخْطُبُونَ فَيُوَسِّعُونَ فِي الْكَلَامِ وَيَتَفَصَّحُونَ فِيهِ مِنْ مَدْحِ النَّاسِ فِيمَا لَا يُرْضِي اللَّهَ [55]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Mani', telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun dari Abu Ghassan Muhammad bin Mutharrif dari Hasan bin 'Athiyyah dari Abu Umamah dari Nabi , beliau bersabda: "Sifat malu dan al 'iyyu adalah dua cabang dari cabang-cabang keimanan. Sedangkan Al Badza` dan Al Bayan adalah dua cabang dari cabang-cabang kemunafikan." Abu Isa berkata; Ini adalah hadits Hasan Gharib, kami mengetahuinya hanya dari haditsnya Abu Ghassan Muhammad bin Mutharrif. Ia berkata, Al 'Iyy adalah sedikit bicara dan Al Badza` adalah kata-kata yang keji, sedangkan Al Bayan adalah banyak bicara seperti para khatib-khatib yang memperpanjang dan menambah-nambahkan isi pembicaraan guna memperoleh pujian publik dalam hal-hal yang tidak diridlai Allah.

4.3. Rasa Malu, Menjaga Kehormatan Diri, Gagap Pada Lisan Bukan Gagap Pada Hati, Serta Pemahaman (Tentang Agama) Merupakan Bagian Dari Keimanan

Di dalam kitab Sunan Darimi hadits nomor 526 ditegaskan bahwa 'Rasa malu, menjaga kehormatan diri, gagap pada lisan bukan gagap pada hati, serta pemahaman (tentang agama) merupakan bagian dari keimanan;

أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ حَدَّثَنَا أَبُو غِفَارٍ الْمُثَنَّى بْنُ سَعْدٍ الطَّائِيُّ حَدَّثَنِي عَوْنُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قُلْتُ لِعُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ حَدَّثَنِي فُلَانٌ رَجُلٌ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَرَفَهُ عُمَرُ قُلْتُ حَدَّثَنِي أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْحَيَاءَ وَالْعَفَافَ وَالْعِيَّ عِيَّ اللِّسَانِ لَا عِيَّ الْقَلْبِ وَالْفِقْهَ مِنْ الْإِيمَانِ وَهُنَّ مِمَّا يَزِدْنَ فِي الْآخِرَةِ وَيُنْقِصْنَ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا يَزِدْنَ فِي الْآخِرَةِ أَكْثَرُ وَإِنَّ الْبَذَاءَ وَالْجَفَاءَ وَالشُّحَّ مِنْ النِّفَاقِ وَهُنَّ مِمَّا يَزِدْنَ فِي الدُّنْيَا وَيُنْقِصْنَ فِي الْآخِرَةِ وَمَا يُنْقِصْنَ فِي الْآخِرَةِ أَكْثَرُ أَخْبَرَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ حَدَّثَنِي سُلَيْمَانُ بْنُ الْمُغِيرَةِ قَالَ قَالَ أَبُو قِلَابَةَ خَرَجَ عَلَيْنَا عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ لِصَلَاةِ الظُّهْرِ وَمَعَهُ قِرْطَاسٌ ثُمَّ خَرَجَ عَلَيْنَا لِصَلَاةِ الْعَصْرِ وَهُوَ مَعَهُ فَقُلْتُ لَهُ يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ مَا هَذَا الْكِتَابُ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَدَّثَنِي بِهِ عَوْنُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ فَأَعْجَبَنِي فَكَتَبْتُهُ فَإِذَا فِيهِ هَذَا الْحَدِيثُ [56]

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Al Husain bin Mansur telah menceritakan kepada kami Abu Usamah telah menceritakan kepada kami Abu Ghaffar Al Mutsanna bin Sa'ad At Tha`i ia berkata: telah menceritakan kepada kami 'Aun bin Abdullah ia berkata: "Aku pernah mengatakan kepada Umar bin Abdul Aziz: 'Telah menceritakan kepada kami fulan -seorang sahabat Nabi , dan Umar mengetahui orang tersebut, aku berkata: Ia menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah  pernah bersabda: 'Rasa malu, menjaga kehormatan diri, gagap pada lisan bukan gagap pada hati, serta pemahaman (tentang agama) merupakan bagian dari keimanan, dan kesemuanya merupakan bagian yang bertambah di akhirat dan berkurang di dunia, sementara yang bertambah di akhirat lebih banyak. Dan perkataan kotor, perilaku kasar, dan kebakhilan merupakan bagian dari kemunafikan, dan kesemua itu merupakan bagian yang bisa bertambah di dunia dan berkurang di akhirat, sementara yang berkurang di akhirat lebih banyak'. Telah menceritakan kepada kami AL Husain bin Manshur telah menceritakan kepada kami Abu Usamah telah menceritakan kepadaku Sulaiman bin Al Mughirah dia berkata; Abu Qilabah mengatakan; Umar bin Abdul Aziz pernah keluar kepada kami untuk melaksanakan shalat zhuhur, sementara ia membawa kertas, setelah itu ia keluar kepada kami untuk melaksanakan shalat ashar, dan dia masih membawa kertas tersebut, aku bertanya padanya; "Wahai Amirul mukminin, kitab apakah ini? Dia menjawab; "Ini adalah hadits yang pernah disampaikan oleh [Aun bin Abdullah [kepadaku, aku kagum dengan hadits tersebut, lalu aku tulis, dan di kertas ini terdapat hadits tersebut."

4.4. Perjanjian Yang Baik Termasuk Bagian Dari Iman

Di dalam kitab Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain hadits nomor 40 dinyatakan bahwa perjanjian yang baik termasuk bagian dari iman;

 المستدرك 40: حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْحَاقَ الصَّغَانِيُّ، ثنا أَبُو عَاصِمٍ، ثنا صَالِحُ بْنُ رُسْتُمَ، عَنِ ابْنِ أَبِي مُلَيْكَةَ، عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: جَاءَتْ عَجُوزٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ عِنْدِي، فَقَالَ: لَهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ أَنْتِ؟» قَالَتْ: أَنَا جَثَّامَةُ الْمُزَنِيَّةُ، فَقَالَ: «بَلْ أَنْتِ حَسَّانَةُ الْمُزَنِيَّةُ، كَيْفَ أَنْتُمْ؟ كَيْفَ حَالُكُمْ؟ كَيْفَ كُنْتُمْ بَعْدَنَا؟» قَالَتْ: بِخَيْرٍ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ، فَلَمَّا خَرَجَتْ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، تُقْبِلُ عَلَى هَذِهِ الْعَجُوزِ هَذَا الْإِقْبَالَ؟ فَقَالَ: «إِنَّهَا كَانَتْ تَأْتِينَا زَمَنَ خَدِيجَةَ، وَإِنَّ حُسْنَ الْعَهْدِ مِنَ الْإِيمَانِ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ فَقَدِ اتَّفَقَا عَلَى الِاحْتِجَاجِ بِرُوَاتِهِ فِي أَحَادِيثَ كَثِيرَةٍ وَلَيْسَ لَهُ عِلَّةٌ» [57]

Artinya: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya'qub menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ishaq Ash-Shaghani menceritakan kepada kami, Abu Ashim menceritakan kepada kami, Shalih bin Rustum menceritakan kepada kami dari Ibnu Abi Mulaikah, dari Aisyah, dia berkata, "Seorang nenek-nenek datang menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau sedang berada di sampingku, maka Rasulullah bertanya kepadanya, 'Siapakah engkau?' Dia menjawab, 'Aku Jutsamah (perempuan yang menakutkan) Al Muzniyah'. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bersabda, 'Justru engkau Hassanah (perempuan yang baik dan menarik) Al Muzniyah. Bagaimana kalian, bagaimana kabar kalian, bagaimana kondisi kalian setelah (ditinggal) kami?' Dia menjawab, 'Baik, demi ayah dan ibuku, wahai Rasulullah'. Tatkala perempuan tersebut keluar, aku (Aisyah) pun bertanya, 'Wahai Rasulullah, apakah terhadap nenek-nenek tadi engkau menyambutnya sedemikian rupa?' Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam lalu menjawab, 'Sesungguhnya dia pernah datang kepada kami pada masa Khadijah, dan perjanjian yang baik termasuk bagian dari iman'." Hadis ini shahih sesuai syarat Al Bukhari dan Muslim. Keduanya telah sepakat berhujjah dengan para periwayatnya dalam banyak hadis, dan tidak terdapat illat-nya.

5.  Tingkatan Iman

Berikut dikemukakan beberapa hadits yang memberikan keterangan tentang tingkatan iman, yaitu antara lain;

5.1. Mencegah Kemunkaran Dengan Hati Adalah Selemah-Lemah Iman

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 70, dijelaskan bahwa mencegahnya dengan hati adalah selemah-lemah iman;

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ سُفْيَانَ ح و حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ كِلَاهُمَا عَنْ قَيْسِ بْنِ مُسْلِمٍ عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ وَهَذَا حَدِيثُ أَبِي بَكْرٍ قَالَ أَوَّلُ مَنْ بَدَأَ بِالْخُطْبَةِ يَوْمَ الْعِيدِ قَبْلَ الصَّلَاةِ مَرْوَانُ فَقَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ فَقَالَ الصَّلَاةُ قَبْلَ الْخُطْبَةِ فَقَالَ قَدْ تُرِكَ مَا هُنَالِكَ فَقَالَ أَبُو سَعِيدٍ أَمَّا هَذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ [58]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abu Bakar bin Abu Syaibah] telah menceritakan kepada kami [Waki'] dari [Sufyan]. (dalam riwayat lain disebutkan) Dan telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin al-Mutsanna] telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Ja'far] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] keduanya dari [Qais bin Muslim] dari [Thariq bin Syihab] dan ini adalah hadis Abu Bakar, "Orang pertama yang berkhutbah pada Hari Raya sebelum shalat Hari Raya didirikan ialah Marwan. Lalu seorang lelaki berdiri dan berkata kepadanya, "Shalat Hari Raya hendaklah dilakukan sebelum membaca khutbah." Marwan menjawab, "Sungguh, apa yang ada dalam khutbah sudah banyak ditinggalkan." Kemudian [Abu Said] berkata, "Sungguh, orang ini telah memutuskan (melakukan) sebagaimana yang pernah aku dengar dari Rasulullah , bersabda: "Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan, jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.

Semanagat merubah kemungkaran dengan tangan (kekuatan, kemampuan fisik) adalah bentuk keimanan di tingkat Jannah, atau takwa di tingkat jannah, sedang upaya merubah kemungkaran dengan lisan (Ucapan) merupakan bentuk keimanan ihsan, atau takwa di tingkat ihsan. Adapaun kesadaran untuk merubah kemungkaran dengan qalbu adalah tingkat keimanan terendah, atau takwa di tingkat iman.

5.2. Orang Mukmin Yang Paling Sempurna Keimanannya Adalah Orang Yang Paling Baik Akhlaknya

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2507 dinyatakan bahwa Orang mukmin yang paling sempurna keimanannya adalah orang yang paling baik akhlaknya;

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ الْبَغْدَادِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ ،  عَنْ أَبِي قِلَابَةَ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «إِنَّ مِنْ أَكْمَلِ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا» أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَأَلْطَفُهُمْ بِأَهْلِهِ. [59]

Artinya: Ahmad bin Mani‘ al-Baghdadi telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Ismail bin ‘Ulayyah telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Khalid al-Haddzâ’ telah menceritakan kepada kami, dari Abu Qilabah, dari Aisyah. Ia berkata: Rasulullah  bersabda, “Sesungguhnya di antara orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan yang paling lembut sikapnya terhadap keluarganya.”

Orang yang baik akhlaknya Adalah bentuk keimanan di tingkat ihsan atau takwa di tingkat ihsan, pembahasannya di  bab takwa level ihsan.

5.3. Tidaklah Beriman Seseorang Dari Kalian Sehingga Dia Mencintai Untuk Saudaranya Sebagaimana Dia Mencintai Untuk Dirinya Sendiri

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 13 ditegaskan bahwa Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri;

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ [60]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu'bah dari Qotadah dari Anas dari Nabi  Dan dari Husain Al Mu'alim berkata, telah menceritakan kepada kami Qotadah dari Anas dari Nabi , beliau bersabda: "Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri".

Mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri merupakan bentuk keimanan tingkat mahabbah, atau takwa di tingkat mahabbah, penjelasannya di sampaikan di  bab takwa level mahabbah

5.4. Mencintai Rasulullah SAW Melebihi Cintanya Kepada Orang Tuanya Dan Anaknya

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 14 dinyatakan bahwa tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya dan anaknya;

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ[61] 

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Al Yaman berkata, telah mengabarkan kepada kami Syu'aib berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah  bersabda: "Maka demi Zat yang jiwaku di tangan-Nya, tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya dan anaknya".

Mencintai Rasulullah SAW melebihi cintanya kepada orang tuanya dan anaknya merupakan bentuk keimanan tingkat mahabbah, atau takwa di tingkat mahabbah, penjelasannya di sampaikan di  bab takwa level mahabbah.

5.5. Mencintai Rasulullah SAW Melebihi Cintanya Kepada Orang Tuanya, Anaknya Dan Manusia Seluruhnya

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 15 ditegaskan bahwa tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan dari manusia seluruhnya;

حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا ابْنُ عُلَيَّةَ عَنْ عَبْدِ الْعَزِيزِ بْنِ صُهَيْبٍ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح و حَدَّثَنَا آدَمُ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ قَالَ  قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ [62]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Ibnu 'Ulayyah dari Abdul 'Aziz bin Shuhaib dari Anas dari Nabi  Dan telah menceritakan pula kepada kami Adam berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Qotadah dari Anas berkata, Nabi  bersabda: "Tidaklah beriman seorang dari kalian hingga aku lebih dicintainya daripada orang tuanya, anaknya dan dari manusia seluruhnya".

Mencintai Rasulullah SAW melebihi cintanya kepada orang tuanya,  anaknya dan seluruh manusia merupakan bentuk keimanan tingkat mahabbah, atau takwa di tingkat mahabbah, penjelasannya di sampaikan di  bab takwa level mahabbah.

5.6. Keimanan Yang Paling Utama Adalah Engkau Mencintai Karena Allāh, Membenci Karena Allāh, Dan Engkau Membasahi Lisanmu Dengan Dzikir Kepada Allāh

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 22132, dijelaskan bahwa Keimanan yang paling utama adalah engkau mencintai karena Allāh , membenci karena Allāh, dzikir kepada Allah , mencintai orang lain dan berkata baik;

عنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ ، عَنْ أَبِيهِ مُعَاذٍ ؛ أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ أَفْضَلِ الإِيمَانِ ؟ قَالَ : أَفْضَلُ الإِيمَانِ : أَنْ تُحِبَّ ِللهِ ، وَتُبْغِضَ فِي اللهِ ، وَتُعْمِلَ لِسَانَكَ فِي ذِكْرِ اللهِ ، قَالَ : وَمَاذَا يَا رَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ : وَأَنْ تُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ ، وَتَكْرَهَ لَهُمْ مَا تَكْرَهُ لِنَفْسِكَ ، وَأَنْ تَقُولَ خَيْرًا ، أَوْ تَصْمُتَ. [63]

Artinya: “Dari Sahl bin Mu’adz dari ayahnya yang bernama Muadz bahwasanya beliau bertanya kepada Rasūlullāh SAW tentang keimanan yang paling utama. Beliau menjawab ; Keimanan yang paling utama adalah engkau mencintai karena Allāh , membenci karena Allāh , dan engkau membasahi lisanmu dengan dzikir kepada Allāh .Muadz bertanya lagi ; Kemudian apa lagi wahai Rasūlullāh ? Beliau menjawab ; Dan engkau mencintai bagi orang lain apa yang engkau cintai bagi dirimu sendiri. Engkau membenci keburukan menimpa mereka sebagaimana engkau benci keburukan menimpa dirimu. Dan engkau mengucapkan kebaikan atau diam.

Mencintai karena Allāh , membenci karena Allāh, mencintai bagi orang lain apa yang engkau cintai bagi dirimu sendiri dan membenci keburukan menimpa mereka sebagaimana engkau benci keburukan menimpa dirimu merupakan bentuk keimanan di tingkat mahabbah, atau takwa di tingkat mahabbah, penjelasannya di sampaikan di  bab takwa level mahabbah

5.7. Orang Beriman Yang Paling Sempurna Imannya Adalah Yang Paling Baik Akhlaknya Dan Paling Baik Terhadap Para Istrinya

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 1196 dinyatakan bahwa Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap para istrinya;

حدَّثَنا أبو كُرَيبٍ محمد بن العلاء، قال: حَدَّثَنا عَبدةُ بنُ سُلَيمانَ، عن مُحمَّدِ بن عمرٍو، قال: حَدَّثَنا أبو سَلَمَةَ عن أبي هُرَيرَةَ، قال: قال رسولُ الله ﷺ: «أكْمَلُ المؤمنينَ إيمانًا أحْسَنُهُم خُلُقًا، وخِيارُكم خِيارُكم لنِسائِهِم»[64].

Artinya: Abu Kuraib Muhammad bin Al-‘Ala’ telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: ‘Abdah bin Sulaiman telah menceritakan kepada kami, dari Muhammad bin ‘Amr. Ia berkata: Abu Salamah telah menceritakan kepada kami dari Abu Hurairah. Ia berkata: Rasulullah  bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya, dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik perlakuannya terhadap para istrinya.”

Orang yang baik akhlaknya dan baik perlakuannya terhadap para istrinya merupakan bentuk keimanan di tingkat Rahmah, atau takwa di tingkat Rahmah, pembahasannya akan dikemukakan pada bab takwa level Rahmah.

5.8. Iman Yang Paling Sempurna Adalah Yang Paling Baik Akhlaknya Dan Yang Paling Lembut Terhadap Keluarganya

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2612, di jelaskan bahwa Orang beriman yang paling sempurna imanannya adalah orang yang paling baik akhlaknya;

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مَنِيعٍ الْبَغْدَادِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ابْنُ عُلَيَّةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا خَالِدٌ الْحَذَّاءُ ،  عَنْ أَبِي قِلَابَةَ، عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «إِنَّ مِنْ أَكْمَلِ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا» أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَأَلْطَفُهُمْ بِأَهْلِهِ. [65]

Artinya:  Ahmad bin Mani’ al-Baghdadi telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Isma‘il bin ‘Ulayyah telah menceritakan kepada kami. Ia berkata: Khalid al-Haddza’ telah menceritakan kepada kami, dari Abu Qilabah, dari ‘Aisyah. Ia berkata: Rasulullah  bersabda, “Sesungguhnya di antara orang-orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah mereka yang paling baik akhlaknya dan yang paling lembut perlakuannya terhadap keluarganya.”

5.9. Perkataan Laa Ilaaha Illallahu Merupakan Tingkatan Iman Tertinggi Dan Yang Terendah Menyingkirkan Gangguan Dari Jalan

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 58 dinyatakan bahwa Iman itu ada tujuh puluh tiga sampai tujuh puluh sembilan, perkataan laa ilaaha illallahu yang tertinggi dan menyingkirkan gangguan dari jalan adalah yang terendah;

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُونَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ الْأَذَى عَنْ الطَّرِيقِ وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنْ الْإِيمَانِ [66]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb telah menceritakan kepada kami Jarir dari Suhail dari Abdullah bin Dinar dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah  bersabda: "Iman itu ada tujuh puluh tiga sampai tujuh puluh sembilan, atau enam puluh tiga sampai enam puluh sembilan cabang. Yang paling utama adalah perkataan, Laa Ilaaha Illallahu (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah). Dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan dari jalan. Dan malu itu adalah sebagian dari iman."

Keyakinan dengan kalimat Laa Ilaaha Illallahu (Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah), serta memperjuangkan untuk tegaknya kalimat tersebut merupakan bentuk keimanan di tingkat Jannah, atau takwa di tingkat Jannah pembahasannya akan dikemukakan pada bab takwa level Jannah.

Orang yang baik akhlaknya dan lembut perlakuannya terhadap keluarganya merupakan bentuk keimanan di tingkat Rahmah, atau takwa di tingkat Rahmah, pembahasannya akan dikemukakan pada bab takwa level Rahmah.

6.  Takwa Di Tingkat Iman

Landasan pokok dalam menjalankan keimanan dalam Islam adalah Rukun Iman, namun ajaran Islam tidak terbatas pada rukun Iman ini saja, tetapi mencakup seluruh konsekwensi dari keimanan, yaitu; yakin dan percaya pada ajaran agama Islam secara menyeluruh, seperti; ekonomi, sosial, budaya, pidana, perdata, tata negara, politik dll, merupakan tata kelola kehidupan yang terbaik. Ketakwaan pada level Iman ini ditandai dengan kesadaran untuk percaya kepada Allah dan Rasulullah diikuti dengan kesadaran untuk mengikuti ajaran Islam.

Kesadaran beriman mendorong hati merasa; aman, yakin, tenang, tentram, bahagia, dan percaya  pada kebenaran ajaran Islam, dengan keyakinan Allah pasti memberikan perlindungan, kecukupan dan menepati janjinya. Kesadaran takwa di tingkat iman mencakup kesadaran; taubat, sabar, ikhlas dan Islam, adapun bentuk-bentuk kesadaran takwa di tingkat iman yang tertuang di dalam Al Quran maupun Hadis antara lain, sebagai berikut;

6.1. Jika Disebut Allah Qalbunya Gemetar, Jika Dibacakan Ayat-ayatNya Imannya Bertambah

Di dalam Al Quran surat Al-Anfal/ 8: 2 ditegaskan bahwa Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka;

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal.(QS. Al-Anfal/ 8: 2)

6.2. Qalbunya Tenang Sehingga Imannya Ditambah Allah

Di dalam Al Quran surat Al-Fath/ 48: 4 dinyatakan Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah

هُوَ الَّذِي أَنْزَلَ السَّكِينَةَ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ لِيَزْدَادُوا إِيمَانًا مَعَ إِيمَانِهِمْ وَلِلَّهِ جُنُودُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَكَانَ اللَّهُ عَلِيمًا حَكِيمًا

Artinya: Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang telah ada). Dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana,

6.3. Dapat Membedakan Kebaikan Dan Keburukan

Di dalam Al Quran Surat Al-Anfal/ 8: 29 disebutkan orang beriman, jika bertakwa kepada Allah, akan diberikan Furqaan; dapat membedakan yang hak dan bathil;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا وَيُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

Artinya: Hai orang-orang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, Kami akan memberikan kepadamu Furqaan. Dan kami akan jauhkan dirimu dari kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.(QS. Al-Anfal/ 8: 29)

6.4. Beriman Dan Bertakwa; Iman Yang Menumbuhkan Ketakwaan

Di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 103 digambarkan bahwa orang yang beriman dan bertakwa akan mendapat pahala yang lebih baik;

وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ خَيْرٌ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Artinya: Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui. (QS. Al-Baqarah/ 2: 103)

Yaitu keimanan yang mendorong kesadaran untuk bersungguh-sungguh dalam mentaati Allah dan Rasul-Nya.

6.5. Sesama Orang Beriman Saling Bersaudara Dan Saling Memperbaiki Persaudaraan Karena Takwa Kepada Allah

Di dalam Al Quran surat Al-Hujurat/ 49: 10 ditegaskan bahwa orang-orang beriman saling bersaudara, maka saling perbaikilah persaudaraan kalian;

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.(QS. Al-Hujurat/ 49: 10)

6.6. Bersikap Bagaikan Kepala Dengan Tubuh Kepada Sesama Orang Beriman

Di dalam kitab Mujam Al-Kabir hadits nomor 1223 dinyatakan bahwa kedudukan seorang muslim terhadap muslim lainnya bagaikan kepala dengan tubuh jika kepala mengeluh maka tubuh juga akan merasakan;

 حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ دَاوُدَ الصَّوَّافُ التُّسْتَرِيُّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ مُوسَى الْحَرَشِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ جَعْفَرٍ، ثنا أَبُو سُهَيْلٍ نَافِعُ بْنُ مَالِكٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ كَعْبٍ الْقُرَظِيِّ، عَنْ بَشِيرِ بْنِ سَعْدٍ، صَاحِبِ رَسُولِ اللهِ ﷺ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «مَنْزِلَةُ الْمُؤْمِنِ مِنَ الْمُؤْمِنِ، مَنْزِلَةُ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ، مَتَى مَا اشْتَكَى الْجَسَدُ اشْتَكَى لَهُ الرَّأْسُ، وَمَتَى مَا اشْتَكَى الرَّأْسُ اشْتَكَى سَائِرُ الْجَسَدِ»[67]

Artinya: Telah menceriterakan kepada kami Ishaq ibnu Daud Ash Shawafi At Tastari, telah menceriterakan kepada kami Muhammad  ibnu Musa Al Hasyi, telah menceriterakan kepada kami Abdullah ibnu Ja’far, telah menceriterakan kepada kami Abu Suhai Nafi’ ibnu Malik dari Muhammad bin Ka’ab Al Qarathi, dari Basyir ibnu Said Sahabat Rasulullah  berkata; Bersabda Rasulullah : Kedudukan seorang mukmin dengan orang beriman lainya, seperti kedudukan kepala dengan tubuh, ketika tubuh mengeluh maka kepala akan merasakannya, ketika kepala mengeluh maka seluruh tubuh akan merasakannya.

Sedangkan di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22877 juga digambarkan bahwa Orang mu`min bagi ahli iman seperti kedudukan kepala bagi tubuh;

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَجَّاجِ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا مُصْعَبُ بْنُ ثَابِتٍ حَدَّثَنِي أَبُو حَازِمٍ قَالَ سَمِعْتُ سَهْلَ بْنَ سَعْدٍ السَّاعِدِيَّ يُحَدِّثُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الْمُؤْمِنَ مِنْ أَهْلِ الْإِيمَانِ بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنْ الْجَسَدِ يَأْلَمُ الْمُؤْمِنُ لِأَهْلِ الْإِيمَانِ كَمَا يَأْلَمُ الْجَسَدُ لِمَا فِي الرَّأْسِ [68]  

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Al Hajjaj telah menceritakan kepada kami 'Abdullah telah menceritakan kepada kami Mush'ab bin Tsabit telah menceritakan kepadaku Abu Hazim berkata: Aku mendengar Sahal bin Sa'ad bercerita dari Nabi  beliau bersabda: "Orang mu`min bagi ahli iman seperti kedudukan kepala bagi raga, rasa sakit seorang mu`min bagi ahli iman seperti raga merasa sakit karena (penyakit) yang ada di kepala."

6.7. Orang Beriman Sebagiannya Menjadi Penolong Sebagian Yang Lain

Di dalam Al Quran surat At-Taubah (9): 71 orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain;

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَيُؤْتُونَ الزَّكَاةَ وَيُطِيعُونَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ أُولَئِكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Artinya: Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma'ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

6.8. Orang-Orang Mukmin Saling Mengasihi, Mencintai, Dan Menyayangi

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2011 digambarkan bahwa orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh;

حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ عَنْ عَامِرٍ قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ سَمِعْتُ النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ فِي تَرَاحُمِهِمْ وَتَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى عُضْوًا تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى [69]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim telah menceritakan kepada kami Zakariya` dari 'Amir dia berkata; saya mendengar An Nu'man bin Basyir berkata; Rasulullah  bersabda: "Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya)."

6.9. Seorang Mukmin Terhadap Mukmin Yang Lainnya Adalah Seperti Sebuah Bangunan, Yang Saling Menguatkan Satu Sama Lain

Di dalam kitab shahin Bukhari hadits nomor  dinyatakan seorang mukmin terhadap mukmin yang lainnya adalah seperti sebuah bangunan, yang saling menguatkan satu sama lain;

حَدَّثَنَا خَلَّادُ بْنُ يَحْيَى قَالَ: حَدَّثَنَا سُفْيَانُ، عَنْ أَبِي بُرْدَةَ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ جَدِّهِ، عَنْ أَبِي مُوسَى عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ، يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا. وَشَبَّكَ أَصَابِعَهُ»[70]

Artinya: Khalad bin Yahya telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sufyan telah menceritakan kepada kami, dari Abu Burdah bin Abdullah bin Abi Burdah, dari kakeknya, dari Abu Musa, dari Nabi , beliau bersabda: “Sesungguhnya seorang mukmin terhadap mukmin yang lainnya adalah seperti sebuah bangunan, yang saling menguatkan satu sama lain.” Lalu beliau menyela-nyelakan jari-jarinya sebagai isyarat.

6.10. Saling Mengucapkan Salam Jika Bertemu, Mendoakannya Jika Bersin, Memenuhi Undangannya, Menjenguknya Ketika Sakit

Di dalam kitab Musnad Ahmad  hadits nomor 8271 digambarkan bahwa hak mu’min atas mu’min lainnya adalah mengucapkan salam jika bertemu, mendoakannya jika bersin, memenuhi undangannya, menjenguknya ketika sakit…;

حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْوَلِيدِ عَنِ ابْنِ حُجَيْرَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَقُّ الْمُؤْمِنِ عَلَى الْمُؤْمِنِ سِتُّ خِصَالٍ أَنْ يُسَلِّمَ عَلَيْهِ إِذَا لَقِيَهُ وَيُشَمِّتَهُ إِذَا عَطَسَ وَإِنْ دَعَاهُ أَنْ يُجِيبَهُ وَإِذَا مَرِضَ أَنْ يَعُودَهُ وَإِذَا مَاتَ أَنْ يَشْهَدَهُ وَإِذَا غَابَ أَنْ يَنْصَحَ لَهُ [71]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdurrahman telah menceritakan kepada kami Sa'id telah menceritakan kepada kami Abdullah Ibnul Walid dari Ibnu Hujairah dari bapaknya dari Abu Hurairah dari Nabi , beliau bersabda: "Hak seorang mukmin terhadap mukmin yang lain ada enam; mengucapkan salam jika bertemu, mendoakannya jika bersin, memenuhi undangannya, menjenguknya ketika sakit, melayatnya ketika meninggal, dan jika ia tidak ada hendaknya ia membelanyanya."

6.11. Bertakwa Kepada Allah, Memuliakan Tetangga, Memuliakan Tamu, Berkata Baik atau Diam

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 20285 ditegaskan barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah bertakwa kepada Allah, memuliakan tetangga, memuliakan tamu dan berkata baik atau diam

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمُزَنِيِّ عَنْ رِجَالٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَتَّقِ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَلْيُكْرِمْ جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَتَّقِ اللَّهَ وَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَتَّقِ اللَّهَ وَلْيَقُلْ حَقًّا أَوْ لِيَسْكُتْ حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ حَدَّثَنِي شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْمُزَنِيِّ عَنْ رِجَالٍ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ مِثْلَهُ [72]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far, telah menceritakan kepada kami Syu'bah, ia berkata; Aku mendengar Qatadah menceritakan dari 'Alqamah bin Abdullah Al Muzanni dari beberapa sahabat Rasulullah Shallalahu 'alaihi wasallam bahwa beliau bersabda: "Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia bertakwa kepada Allah 'azza wajalla dan memuliakan tetangganya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan memuliakan tamunya. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia bertakwa kepada Allah dan berkata benar atau diam." Telah menceritakan kepada kami Hajjaj, telah menceritakan kepadaku Syu'bah, dia berkata; "Aku mendengar Qatadah menceritakan dari 'Alqamah bin 'Abdillah al-Muzanni dari beberapa orang sahabat Nabi  dari Nabi , lalu ia menyebutkan yang hadits semisal itu.

6.12. Mengatakan Kepada Lisannya: 'Bertakwalah Kamu Kepada Allah

Di dalam kitab Musnad Ahmad Hadits nomor 11908 digambarkan bahwa anggota tubuh mengingatkan lisan untuk bertakwa kepada Allah, karena seluruh anggota tubuh bergantung pada lisan;

 حَدَّثَنَا عَفَّانُ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ حَدَّثَنَا أَبُو الصَّهْبَاءِ قَالَ سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ يُحَدِّثُ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ لَا أَعْلَمُهُ إِلَّا رَفَعَهُ قَالَ إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ أَعْضَاءَهُ تُكَفِّرُ لِلِّسَانِ تَقُولُ اتَّقِ اللَّهَ فِينَا فَإِنَّكَ إِنْ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَأَنْ اعْوَجَجْتَ اعْوَجَجْنَا [73]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami 'Affan berkata: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Zaid berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Ash Shahba` berkata: aku mendengar Sa'id bin Jubair menceritakan dari Abu Sa'id Al Khudri -aku tidak mengetahui kecuali bahwa ia telah memarfu`kannya-, beliau bersabda: "Apabila manusia berada pada waktu pagi, maka seluruh anggota tubuhnya mengatakan kepada lisannya: 'Bertakwalah kamu kepada Allah, sebab kami tergantung kepadamu, apabila kamu lurus maka kamipun akan lurus dan apabila kamu melenceng, kamipun akan melenceng."

6.13. Menyempurnakan Iman Dengan Mengerjakan Kebaikan Dan Meninggalkan Keburukan Karena Allah

Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 4061 dan kitab Musnad Ahmad hadits nomor 15064 dijelaskan bahwa kesempurnaan iman dapat diraih dengan cara mengerjakan kebaikan-kebaikan karena Allah;

حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ الْفَضْلِ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ شُعَيْبِ بْنِ شَابُورَ عَنْ يَحْيَى بْنِ الْحَارِثِ عَنْ الْقَاسِمِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدْ اسْتَكْمَلَ الْإِيمَانَ [74]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muammal Ibnul Fadhl berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Syu'aib bin Syabur dari Yahya Ibnul Harits dari Al Qasim dari Abu Umamah dari Rasulullah , beliau bersabda: "Barangsiapa mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah dan melarang (menahan) karena Allah, maka sempurnalah imannya."

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 4681 dinyatakan bahwa Barangsiapa memberi karena Allah Ta'ala, tidak memberi karena Allah Ta'ala, marah karena Allah Ta'ala dan menikah karena Allah Ta'ala, imannya telah sempurna;

حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ زَبَّانَ عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَنْ أَعْطَى لِلَّهِ تَعَالَى وَمَنَعَ لِلَّهِ تَعَالَى وَأَحَبَّ لِلَّهِ تَعَالَى وَأَبْغَضَ لِلَّهِ تَعَالَى وَأَنْكَحَ لِلَّهِ تَعَالَى فَقَدْ اسْتَكْمَلَ إِيمَانَهُ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hasan telah menceritakan kepada kami Ibnu Lahi'ah dari Zabban dari Sahl bin Mu'adz dari Bapaknya dari Rasulullah  beliau bersabda: "Barangsiapa memberi karena Allah Ta'ala, tidak memberi karena Allah Ta'ala, marah karena Allah Ta'ala dan menikah karena Allah Ta'ala, imannya telah sempurna".(HR. Ahmad: 15064)

6.14.   Masuk Pada Golongan Orang Beriman

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 11050 digambarkan tiga golongan orang beriman;

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا رِشْدِينُ قَالَ حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ عَنْ أَبِي السَّمْحِ عَنْ أَبِي الْهَيْثَمِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُؤْمِنُونَ فِي الدُّنْيَا عَلَى ثَلَاثَةِ أَجْزَاءٍ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِي يَأْمَنُهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ثُمَّ الَّذِي إِذَا أَشْرَفَ عَلَى طَمَعٍ تَرَكَهُ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ [75]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Ghailan berkata; telah menceritakan kepada kami Risydin berkata; telah menceritakan kepada kami 'Amru Ibnul Harits dari Abu As Samh dari Abu Al Haitsam dari Abu Sa'id Al Khudri Bahwasanya Rasulullah  bersabda: "Orang-orang yang beriman di dunia ini ada tiga golongan; orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian tidak ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa-jiwa mereka di jalan Allah, orang-orang yang mana manusia merasa aman terhadap diri-diri mereka harta-harta mereka, kemudian orang yang jika berlebih-lebihan atas ketamakan ia tinggalkan untuk Allah 'azza wajalla."

6.15. Merasakan Manisnya Iman

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6941 dijelaskan tiga hal yang dapat menyebabkan dapat merasakan manisnya iman; Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, ia mencintai seseorang dengan tiada dorongan selain karena Allah, dan benci kembali kepada kekafiran sebagaimana kebenciannya untuk dilempar ke neraka;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حَوْشَبٍ الطَّائِفِيُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ [76]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdullah bin Hausyab Ath Tha`ifi telah menceritakan kepada kami Abdul Wahhab telah menceritakan kepada kami Ayyub dari Abu Qilabah dari Anas radliallahu 'anhu mengatakan, Rasulullah  bersabda: "Ada tiga hal yang jika seseorang melaksanakannya, ia mendapat kemanisan iman, Allah dan Rasul-NYA lebih ia cintai daripada selain keduanya, ia mencintai seseorang dengan tiada dorongan selain karena Allah, dan benci kembali kepada kekafiran sebagaimana kebenciannya untuk dilempar ke neraka."

6.16.  Merasakan Nikmatnya Iman

Sedangkan di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 56 dinyatakan bahwa barangsiapa ridla bahwa Allah sebagai rabb, islam sebagai agama dan Muhammad sebagai utusan-Nya, maka dia telah merasakan nikmatnya iman;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ أَبِي عُمَرَ الْمَكِّيُّ وَبِشْرُ بْنُ الْحَكَمِ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ وَهُوَ ابْنُ مُحَمَّدٍ الدَّرَاوَرْدِيُّ عَنْ يَزِيدَ بْنِ الْهَادِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ عَامِرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ الْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ ذَاقَ طَعْمَ الْإِيمَانِ مَنْ رَضِيَ بِاللَّهِ رَبًّا وَبِالْإِسْلَامِ دِينًا وَبِمُحَمَّدٍ رَسُولًا [77]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya bin Abu Umar al-Makki dan Bisyr bin al-Hakam keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Abdul Aziz -yaitu Ibnu Muhammad ad-Darawardi- dari Yazid bin al-Had dari Muhammad bin Ibrahim dari Amir bin Sa'ad dari al-Abbas bin Abdul Muththalib bahwa dia mendengar Rasulullah  bersabda: "Orang yang ridla dengan Allah sebagai Rabb dan Islam sebagai agama serta Muhammad sebagai Rasul, maka dia telah merasakan nikmatnya iman."

6.17. Beriman Kepada Allah Dan Rasul-Nya, Kemudian Mereka Tidak Ragu-Ragu Dan Mereka Berjuang (Berjihad) Dengan Harta Dan Jiwa Mereka

Di dalam Al Quran surat Al-Hujurat/ 49: 15 orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.

6.18.  Berjihad Dengan Tangan, Lisan Atau Qalbu

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 80 dinyatakan bahwa orang yang berjihad dengan tangannya, lisannya atau hatinya adalah termasuk orang beriman;

حَدَّثَنِي عَمْرٌو النَّاقِدُ وَأَبُو بَكْرِ بْنُ النَّضْرِ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ وَاللَّفْظُ لِعَبْدٍ قَالُوا حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ قَالَ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ صَالِحِ بْنِ كَيْسَانَ عَنْ الْحَارِثِ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَكَمِ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ الْمِسْوَرِ عَنْ أَبِي رَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ نَبِيٍّ بَعَثَهُ اللَّهُ فِي أُمَّةٍ قَبْلِي إِلَّا كَانَ لَهُ مِنْ أُمَّتِهِ حَوَارِيُّونَ وَأَصْحَابٌ يَأْخُذُونَ بِسُنَّتِهِ وَيَقْتَدُونَ بِأَمْرِهِ ثُمَّ إِنَّهَا تَخْلُفُ مِنْ بَعْدِهِمْ خُلُوفٌ يَقُولُونَ مَا لَا يَفْعَلُونَ وَيَفْعَلُونَ مَا لَا يُؤْمَرُونَ فَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِيَدِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِلِسَانِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَمَنْ جَاهَدَهُمْ بِقَلْبِهِ فَهُوَ مُؤْمِنٌ وَلَيْسَ وَرَاءَ ذَلِكَ مِنْ الْإِيمَانِ حَبَّةُ خَرْدَلٍ [78]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Amru an-Naqid dan Abu Bakar bin an-Nadlr serta Abd bin Humaid dan lafazh tersebut milik Abd. Mereka berkata, telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim bin Sa'd dia berkata, telah menceritakan kepada kami bapakku dari Shalih bin Kaisan dari al-Harits dari Ja'far bin Abdullah bin al-Hakam dari Abdurrahman bin al-Miswar dari Abu Rafi' dari Abdullah bin Mas'ud bahwa Rasulullah  bersabda: "Tidaklah seorang nabi yang diutus oleh Allah pada suatu umat sebelumnya melainkan dia memiliki pembela dan sahabat yang memegang teguh sunah-sunnah dan mengikuti perintah-perintahnya, kemudian datanglah setelah mereka suatu kaum yang mengatakan sesuatu yang tidak mereka lakukan, dan melakukan sesuatu yang tidak diperintahkan. Barangsiapa yang berjihad dengan tangan melawan mereka maka dia seorang mukmin, barangsiapa yang berjihad dengan lisan melawan mereka maka dia seorang mukmin, barangsiapa yang berjihad dengan hati melawan mereka maka dia seorang mukmin, dan setelah itu tidak ada keimanan sebiji sawi." Abu Rafi' berkata, "Lalu aku menceritakan kepada Abdullah bin Umar, namun ia mengingkariku. Ketika Ibnu Mas'ud datang dan singgah pada Qanah, Abdullah bin Umar mengikutiku mengajakku untuk mengikuti Ibnu Mas'ud, maka ketika kami duduk, aku bertanya kepada Ibnu Mas'ud tentang hadits ini, maka dia menceritakannya hadits tersebut kepadaku sebagaimana aku menceritakannya kepada Ibnu Umar." Shalih berkata, "Sungguh telah diceritakan seperti itu dari Abu Rafi'."

6.19.   Tiga Akhlaq Orang Beriman

Di dalam kitab Mu’jam Thabarani Shaghir hadits nomor 164 disebutkan tiga akhlaq orang beriman;

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحُسَيْنِ الأَنْصَارِيُّ أَبُو جَعْفَرٍ الأَصْبَهَانِيُّ ، حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ يُوسُفَ بْنِ قُتَيْبَةَ الْهَمْدَانِيُّ ، حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْحُسَيْنِ ، عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِيٍّ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، أَنّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، قَالَ : ثَلاثٌ مِنْ أَخْلاقِ الإِيمَانِ : مَنْ إِذَا غَضِبَ لَمْ يُدْخِلْهُ غَضَبُهُ فِي بَاطِلٍ ، وَمَنْ إِذَا رَضِيَ لَمْ يُخْرِجْهُ رِضَاهُ مِنْ حَقٍّ ، وَمَنْ إِذَا قَدَرَ لَمْ يَتَعَاطَ مَا لَيْسَ لَهُ ، لَمْ يَرْوِهِ عَنِ الزُّبَيْرِ بْنِ عَدِيٍّ ، إِلَّابِشْرُ بْنُ الْحُسَيْنِ [79]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Al Husain Al Anshari Abu Ja’far Al Ashbahani, telah menceritakan kepada kami Hajaj ibnu Yusuf ibnu Qutaybah Al Hamdani, telah menceritakan kepada kami Bisyru ibnul Husain, dari Az Zubair ibnu ‘Adi, dari Anas ibnu Malik, bahwa Rasulullah SAW bersabda: tiga akhlak orang beriman; orang yang jika marah, marahnya tidak memasukkannya ke dalam kebathilan, dan orang jika ridha, ridhanya tidak mengeluarkannya dari kebenaran, dan orang jika mengalami keterbatasan, keterbatannya tidak menjadikannya menginginkan apa yang bukan miliknya, tidak diriwayatkan dari Zubair ibnu ‘Adi, selain Bisyr ibnu Al Husain.

6.20. Tidak Akan Ada Yang Memelihara Wudhu Kecuali Orang Beriman

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22436 ditegaskan bahwa tidak akan ada yang memelihara wudhu kecuali mu`min;

حَدَّثَنَا وَكِيعٌ وَيَعْلَى قَالَا حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ سَالِمِ بْنِ أَبِي الْجَعْدِ عَنْ ثَوْبَانَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمْ الصَّلَاةُ وَلَا يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلَّا مُؤْمِنٌ [80]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Waki' dan Ya'la keduanya berkata; Telah bercerita kepada kami Al A'masy dari Salim bin Abu Al Ja'd dari Tsauban berkata; Rasulullah  bersabda; " Beristiqomahlah dan kalian tidak bisa menghitungnya. Ketahuilah bahwa amalan-amalan kalian yang terbaik adalah shalat dan tidak akan ada yang memelihara wudhu kecuali mu`min."

6.21. Beriman Hingga Ke Relung Jiwa

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 147 digambarkan bahwa 'Ammar telah dipenuhi keimanan hingga ke relung jiwanya;

حَدَّثَنَا نَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ حَدَّثَنَا عَثَّامُ بْنُ عَلِيٍّ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ هَانِئِ بْنِ هَانِيءٍ قَالَ دَخَلَ عَمَّارٌ عَلَى عَلِيٍّ فَقَالَ مَرْحَبًا بِالطَّيِّبِ الْمُطَيَّبِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مُلِئَ عَمَّارٌ إِيمَانًا إِلَى مُشَاشِهِ [81]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Nashr bin Ali Al Jahdlami berkata, telah menceritakan kepada kami 'Atstsam bin Ali dari Al A'masy dari Abu Ishaq dari Hani` bin Hani` ia berkata; "'Ammar masuk menemui Ali. Maka Ali pun berkata: "Selamat datang kepada orang yang baik lagi yang berlaku baik. Aku telah mendengar Rasulullah  bersabda: "Sungguh, 'Ammar telah dipenuhi keimanan hingga ke relung jiwanya."

6.22. Memakmurkan Masjid

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2617 dinyatakan bahwa orang-orang yang memakmurkan masjid adalah orang-orang yang beriman;

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْحَارِثِ عَنْ دَرَّاجٍ أَبِي السَّمْحِ عَنْ أَبِي الْهَيْثَمِ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَأَيْتُمْ الرَّجُلَ يَتَعَاهَدُ الْمَسْجِدَ فَاشْهَدُوا لَهُ بِالْإِيمَانِ فَإِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَقُولُ "{ إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ الْآيَةَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ [82]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ibnu Abi Umar telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb dari Amru bin al Harits dari Darraj Abu as Samh dari Abu al Haitsam dari Abu Sa'id dia berkata, Rasulullah  bersabda; "Apabila kalian melihat seorang laki-laki memakmurkan masjid, maka persaksikanlah untuknya dengan keimanan, karena Allah berfirman; 'Sesungguhnya orang yang memakmurkan masjid hanyalah orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat'." Abu Isa berkata; 'Ini hadits hasan gharib.'

6.23. Orang Beriman Qalbunya Lembut

Di dalam kitab Mu’jam Thabarani Kabir hadits nomor 7655 dinyatakan bahwa sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah orang yang qalbunya lembut;

حدثنا أبو يزيد يوسف بن يزيد القراطيسي ثنا المعلى بن الوليد القعقاعي ثنا بقية بن الوليد ثنا محمد بن زياد الألهاني عن راشد بن سعد قال : لقيني أبو أمامة فأخذ بيدي ثم قال : لقيني رسول الله صلى الله عليه و سلم فأخذ بيدي ثم قال : يا أبا أمامة إن من المؤمنين من يلين له قلبي [83]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami  yusuf ibnu Yazid Al Qarathisi, telah menceritakan  kepada  kami Al Ma’la ibnu Al Walid Al Qa’qa’i, telah menceritakan  kepada  kami Baqiyah ibnu Al Walid, telah menceritakan  kepada  kami Muhammad ibnu ZiyadAl Alhani dari Rasyid ibnu Said, berkata: telah menemuiku Abu Umamah dan menggandeng tanganku kemudian berkata: telah mnemuiku Rasulullah  kemudian memegang tanganku dan bersabda: Wahai Abu Umamah sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah orang yang qalbunya lembut”.

6.24. Ikatan Iman Yang Paling Kuat Adalah Kamu Mencintai Karena Allah Dan Membenci Karena Allah

Di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor 13 dinyatakan bahwa Ikatan iman yang paling kuat adalah kamu mencintai karena Allah dan membenci karena Allah;

حدثنا دَاوُدُ بْنُ الْحُسَيْنِ الْبَيْهَقِيُّ، حدثنا حُمَيْدُ بْنُ زَنْجُوَيْهِ النَّسَائِيُّ، حَدَّثَنَا أَبُو شَيْخٍ الْحَرَّانِيُّ، حدثنا مُوسَى بْنُ أَعْيَنَ، عَنْ لَيْثٍ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ سُوَيْدٍ قَالَ: أُرَاهُ قَالَ: عَنْ أَبِيهِ - الشَّكُّ مِنْ أَبِي شَيْخٍ - قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمًا نَتَحَدَّثُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " أَتَدْرُونَ أَيُّ عُرَى الْإِيمَانِ أَوْثَقُ؟ " فَقَالُوا: الصَّلَاةُ، فَقَالَ: " إِنَّ الصَّلَاةَ لَحَسَنَةٌ، وَمَا هِيَ بِهَا ". فَقَالُوا: الْجِهَادُ فَقَالَ: " إِنَّ الْجِهَادَ لَحَسَنٌ، وَمَا هُوَ بِهِ ". فَقَالُوا: الْحَجُّ. فَقَالَ: " حَسَنٌ، وَلَيْسَ بِهِ ". فَقَالُوا: الصِّيَامُ، فَقَالَ: " الصِّيَامُ لَحَسَنٌ، وَلَيْسَ بِهِ ". فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " أَوْثَقُ عُرَى الْإِيمَانِ أَنْ تُحِبَّ لِلَّهِ، وَتُبْغِضَ لَهُ [84]"

Artinya: Kami diceritakan oleh Daud bin al-Husain al-Baihaqi, kami diceritakan oleh Hamid bin Zanjuwayh an-Nasa'i, kami diceritakan oleh Abu Syaikh al-Harani, kami diceritakan oleh Musa bin A'yun, dari Laits, dari 'Amr bin Murrah, dari Mu'awiyah bin Suwaid berkata: Dia (perawi) berkata: Dari ayahnya - ada keraguan dari Abu Syaikh - berkata: Kami sedang duduk bersama Nabi  suatu hari berbincang-bincang, maka Rasulullah  bersabda: "Tahukah kalian ikatan iman mana yang paling kuat?" Mereka berkata: Shalat. Beliau bersabda: "Sesungguhnya shalat itu baik, tetapi bukan itu." Mereka berkata: Jihad. Beliau bersabda: "Sesungguhnya jihad itu baik, tetapi bukan itu." Mereka berkata: Haji. Beliau bersabda: "Haji itu baik, tetapi bukan itu." Mereka berkata: Puasa. Beliau bersabda: "Puasa itu baik, tetapi bukan itu." Maka Rasulullah  bersabda: "Ikatan iman yang paling kuat adalah kamu mencintai karena Allah dan membenci karena Allah."

6.25. Mencapai Haqiqat Iman

Di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor 10592 tergambar haqiqat iman;

وَقَدْ أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السَّلَمِيُّ، أَنَا عَلِيُّ بْنُ الْفُضَيْلِ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ عُقَيْلٍ، ثَنَا مُطَيَّنُ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ، ثَنَا زَيْدٌ، ثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ، ثَنَا خَالِدُ بْنُ يَزِيدَ السَّكْسَكِيُّ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِلَالٍ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي الْجَهْمِ، عَنِ الْحَارِثِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّهُ مَرَّ بِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ: " كَيْفَ أَصْبَحْتَ يَا حَارِثَةُ؟ " قَالَ: أَصْبَحْتُ مُؤْمِنًا حَقًّا، قَالَ: " انْظُرْ مَا تَقُولُ إِنَّ لِكُلُّ حَقٍّ حَقِيقَةً، فَمَا حَقِيقَةُ إِيمَانِكَ؟ " قَالَ: عَزَفَتْ نَفْسِي عَنِ الدُّنْيَا، وَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى عَرْشِ رَبِّي بَارِزًا، وَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى أَهْلِ الْجَنَّةِ يَتَزَاوَرُونَ فِيهَا، وَكَأَنِّي أَنْظُرُ إِلَى أَهْلِ النَّارِ يَتَضَاغَوْنَ فِيهَا، قَالَ: " يَا حَارِثَةُ، عَرَفْتَ فَالْزَمْ " - قَالَهَا ثَلَاثًا -. " هَذِهِ الْقَصَّةُ فِي الْحَارِثِ بْنِ مَالِكٍ، وَيُقَالُ: حَارِثَةُ، وَقِصَّةُ الْأُمِّ فِي الْحَارِثَةِ بْنِ النُّعْمَانِ [85]"

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdurrahman as-Sulami, berkata: Ali bin al-Fudhail bin Muhammad bin Uqail telah menceritakan kepada kami, Mutayyin telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin al-Ala telah menceritakan kepada kami, Zaid telah menceritakan kepada kami, Ibnu Lahi'ah telah menceritakan kepada kami, Khalid bin Yazid as-Saksaki, dari Said bin Abi Hilal, dari Muhammad bin Abi al-Jahm, dari al-Harith bin Malik, bahwa dia melewati Rasulullah , maka beliau bertanya kepadanya: "Bagaimana keadaanmu pagi ini, wahai Harithah?" Dia menjawab: "Pagi ini aku menjadi seorang mukmin sejati." Beliau berkata: "Perhatikan apa yang kamu katakan, karena setiap kebenaran memiliki hakikat. Apa hakikat keimananmu?" Dia menjawab: "Jiwaku sudah berpaling dari dunia, seakan-akan aku melihat Arsy Tuhanku terlihat nyata, seakan-akan aku melihat ahli surga saling mengunjungi di dalamnya, dan seakan-akan aku melihat ahli neraka saling berteriak di dalamnya." Beliau berkata: "Wahai Harithah, kamu telah mengetahui, maka tetaplah dalam keadaan itu." Beliau mengucapkan kalimat tersebut tiga kali.

6.26. Memperbaharui Iman Dengan Memperbanyak Mengucapkan Laa Ilaaha Illaallah

Di dalam kitab Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain hadits nomor 7892 disebutkan kalimat untuk memperbaharui iman, yaitu dengan memperbanyak kalimat La Ilaha Illallah;

أخبرنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ حَمْدَانَ الْجَلَّابُ بِهَمَذَانَ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْجَهْمِ بْنِ هَارُونَ السِّمَّرِيُّ، ثَنَا أَبُو دَاوُدَ، ثَنَا صَدَقَةُ بْنُ مُوسَى، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ وَاسِعٍ، عَنْ سُمَيْرِ بْنِ نَهَارٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: "قَالَ رَبُّكُمْ عز وجل: لَوْ أَنَّ عِبَادِي أَطَاعُونِي لَأَسْقَيْتُهُمُ الْمَطَرَ بِاللَّيْلِ، وَلَأَطْلَعْتُ عَلَيْهِمُ الشَّمْسَ بِالنَّهَارِ، وَلَمَا أَسْمَعْتُهُمْ صَوْتَ الرَّعْدِ". وَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: "حُسْنُ الظَّنِّ مِنْ حُسْنِ الْعِبَادَةِ". وَقَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: "جَدِّدُوا إِيمَانَكُمْ". قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ، وَكَيْفَ نُجَدِّدُ إِيمَانَنَا؟ قَالَ: "أَكْثِرُوا مِنْ قَوْلِ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ [86] "

Artinya: Abdurrahman bin Hamdan al-Jallab di Hamadzan telah memberitahu kami, ia berkata: Muhammad bin al-Jahm bin Harun as-Simmari telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abu Dawud telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Shadaqah bin Musa telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Muhammad bin Wasi’ telah menceritakan kepada kami, dari Sumeir bin Nahhar, dari Abu Hurairah RA. Ia berkata: Rasulullah  bersabda: “Tuhan kalian ‘azza wa jalla berfirman: Seandainya hamba-hamba-Ku menaati-Ku, niscaya Aku akan menurunkan hujan kepada mereka pada malam hari, menampakkan matahari bagi mereka pada siang hari, dan tidak akan memperdengarkan kepada mereka suara petir.” Dan Rasulullah  bersabda: “Berbaik sangkalah (kepada Allah), karena itu termasuk bagian dari ibadah yang baik.” Dan Rasulullah  bersabda: “Perbaharuilah iman kalian.” Lalu ditanyakan: “Wahai Rasulullah, bagaimana kami memperbaharui iman kami?” Beliau bersabda: “Perbanyaklah ucapan: Laa ilaha illallah.”

6.27. Mohon Kepada Allah Agar Diperbaharui Imannya

Di dalam kitab Mustadrak Imam Hakim hadits nomor 5 digambarkan bahwa iman akan punah di dalam diri salah seorang dari kalian seperti punahnya pakaian yang usang. Oleh karena itu, mintalah kepada Allah agar senantiasa memperbarui iman di hati kalian;

حَدَّثَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ صَالِحِ بْنِ هَانِئٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ بْنِ مِهْرَانَ، ثنا أَبُو الطَّاهِرِ، أَنْبَأَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَيْسَرَةَ، عَنْ أَبِي هَانِئٍ الْخَوْلَانِيِّ حُمَيْدُ بْنُ هَانِئٍ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ الْإِيمَانَ لَيَخْلَقُ فِي جَوْفِ أَحَدِكُمْ كَمَا يَخْلَقُ الثَّوْبُ الْخَلِقُ، فَاسْأَلُوا اللَّهَ أَنْ يُجَدِّدَ الْإِيمَانَ فِي قُلُوبِكُمْ» . " هَذَا حَدِيثٌ لَمْ يُخَرَّجْ فِي الصَّحِيحَيْنِ وَرُوَاتُهُ مِصْرِيُّونَ ثِقَاتٌ، وَقَدِ احْتَجَّ مُسْلِمٌ فِي الصَّحِيحِ بِالْحَدِيثِ الَّذِي رَوَاهُ عَنْ ابْنِ أَبِي عُمَرَ، عَنْ الْمُقْرِئِ، عَنْ حَيْوَةَ، عَنْ أَبِي هَانِئٍ، عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى ذِكْرُهُ كَتَبَ مَقَادِيرَ الْخَلَائِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ» الْحَدِيثَ [87]

Artinya: Abu Ja'far Muhammad bin Shalih bin Hani' menceritakan kepada kami, Muhammad bin Ismail bin Mihran menceritakan kepada kami, Abu Ath-Thahir menceritakan kepada kami, Ibnu Wahab memberitakan kepada kami, Abdurrahman bin Maisarah mengabarkan kepadaku dari Abu Hani' Al Khaulani Humaid bin Hani', dari Abu Abdurrrahman Al Hubuli, dari Abdullah bin Amr bin Al Ash, dia berkata: Rasulullah  bersabda, "Sesungguhnya iman akan punah di dalam diri salah seorang dari kalian seperti punahnya pakaian yang usang. Oleh karena itu, mintalah kepada Allah agar senantiasa memperbarui iman di hati kalian" Hadis ini tidak dinukil dalam kitab Ash-Shahihain. Para periwayatnya adalah orang-orang Mesir yang tsiqah (tepercaya). Muslim dalam kitab shahih-nya. menjadikan hujjah hadis yang diriwayatkan dari Ibnu Abu Umar, dari Al Muqri', dari Haiwah, dari Abu Hani', dari Abu Abdurrahman Al Hubuli, dari Abdullah bin Amr, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, "Sesungguhnya Allah telah menulis (menetapkan) takdir semua makhluk sebelum menciptakan langit dan bumi"

6.28.  Berdoa Mohon Ampunan Untuk Orang-Orang Beriman

Di dalam kitab Mujam Thabarani Kabir hadits nomor 877 disebutkan doa untuk mohon ampun bagi dirinya sendiri dan orang-orang beriman;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ زَكَرِيَّا، ثنا قَحْطَبَةُ بْنُ غَدَانَةَ، ثنا أَبُو أُمَيَّةَ بْنُ يَعْلَى، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي الْحَسَنِ، عَنْ أُمِّهِ، عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ، قَالَتْ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «مَنْ قَالَ كُلَّ يَوْمٍ: اللهُمَّ اغْفِرْ لِي وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ أَلْحِقْ بِهِ مِنْ كُلِّ مُؤْمِنٍ حَسَنَةً» [88]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Zakariya, telah menceritakan kepada kami Qahthabah ibnu Arabah, telah menceritakan kepada kami Abu Amiyah ibnu Ya’la dari Said ibnu Abi Al hasan, dari Ibunya dari Umu Salamah telah berkata: Rasulullah  bersabda: “Siapa yang setiap hari Allahumma ghfirli walil mu’miniina wal Mu’minat; Ya Allah ampunilah kami dan orang-orang beriman laki-laki dan perempuan, dengannya akan mendapatkan kebaikan dari setiap orang beriman”

6.29.  Berdoa: Ya Allah Sesungguhnya Aku Memohon Kepada-Mu Benarnya Iman

Di dalam kitab Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain hadits nomor 5 disebutkan doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW “Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu benarnya iman.;

أَخْبَرَنَا بَكْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّيْرَفِيُّ بِمَرْوَ، ثنا عَبْدُ الصَّمَدِ بْنُ الْفَضْلِ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يَزِيدَ الْمُقْرِئُ، ثنا سَعِيدُ بْنُ أَبِي أَيُّوبَ، حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْوَلِيدِ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ حُجَيْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ﵁، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ وَصَّى سَلْمَانَ الْخَيْرِ، فَقَالَ: " يَا سَلْمَانُ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ يُرِيدُ أَنْ يَمْنَحَكَ كَلِمَاتٍ تَسْأَلُهُنَّ الرَّحْمَنَ، وَتَرْغَبُ إِلَيْهِ فِيهِنَّ، وَتَدْعُو بِهِنَّ فِي اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ، قُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ صِحَّةً فِي إِيمَانٍ، وَإِيمَانًا فِي حُسْنِ خُلُقٍ، وَنَجَاحًا يَتْبَعُهُ فَلَاحٌ وَرَحْمَةً مِنْكَ، وَعَافِيَةً وَمَغْفِرَةً مِنْكَ وَرِضْوَانًا «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ» [89]

Artinya: Bakar bin Muhammad ash-Shayrafi di Marw telah memberitahu kami, ia berkata: Abdu-amad bin al-Fal telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin Yazid al-Muqri’ telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Sa‘id bin Abi Ayyub telah menceritakan kepada kami, ia berkata: Abdullah bin al-Walid telah menceritakan kepadaku, dari Abdullah bin Abdurrahman bin Hujairah, dari ayahnya, dari Abu Hurairah RA, bahwa Rasulullah  pernah berwasiat kepada Salman al-Khair. Beliau bersabda: “Wahai Salman, sesungguhnya Rasulullah  ingin memberikan kepadamu beberapa kalimat yang engkau memohon kepada Ar-Rahman dengannya, merindukan-Nya dengan kalimat-kalimat itu, dan berdoa dengannya pada malam dan siang hari. Ucapkanlah: ‘Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kesehatan yang disertai keimanan; iman yang disertai akhlak yang baik; keberhasilan yang diikuti oleh kemenangan; rahmat dari-Mu; keselamatan; ampunan dari-Mu; dan keridhaan.’” Hadits ini sanadnya shahih, namun tidak diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

Setelah dikemukakan banyak ayat dan hadits yang menggambarkan tentang ketakwaan tingkat iman, maka berdasar Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 103;

وَلَوْ أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ خَيْرٌ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Artinya: Sesungguhnya kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui. (QS. Al-Baqarah/ 2: 103)

Dapat ditarik pengertian bahwa keimanan yang mendorong pada ketakwaan atau takwa di tingkat Iman, dapat menyebabkan perbuatan, perkataan, dan sikap yang dilakukan menjadi amal yang bernilai kebaikan (amal shalih), yang akan diberi pahala oleh Allah.

Adapun di dalam Al Quran surat Al-Hujurat/ 49: 14 ditegaskan bahwa iman itu ada di dalam qalbu;

قَالَتِ الْأَعْرَابُ آمَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Orang-orang Arab Badui itu berkata: "Kami telah beriman". Katakanlah: "Kamu belum beriman, tapi katakanlah 'kami telah tunduk', karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". (QS. Al-Hujurat/ 49: 14)

Sedangkan di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 158, ditambahkan keterangan bahwa Rasulullah tidak bermaksud membatasi iman hanya terbatas pada rukun iman saja tetapi iman juga mencakup yang lain, karena di lain kesempatan Rasulullah menyebutkan yang lainnya;

 أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الأَزْدِيُّ، حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْحَنْظَلِيُّ، أَخْبَرَنَا وَكِيعٌ، عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ، سَمِعْتُ عِكْرِمَةَ بْنَ خَالِدٍ يُحَدِّثُ طَاوُسًا، أَنَّ رَجُلاً قَالَ لاِبْنِ عُمَرَ‏:‏ أَلاَ تَغْزُو‏؟‏ فَقَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ عُمَرَ‏:‏ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ‏:‏ بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ‏:‏ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَإِقَامِ الصَّلاَةِ، وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ، وَصِيَامِ رَمَضَانَ، وَحَجِّ الْبَيْتِ‏.‏ قَالَ أَبُو حَاتِمٍ‏:‏ هَذَانِ خَبَرَانِ خَرَجَ خِطَابُهُمَا عَلَى حَسَبِ الْحَالِ، لأَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَكَرَ الإِيمَانَ، ثُمَّ عَدَّهُ أَرْبَعَ خِصَالٍ، ثُمَّ ذَكَرَ الإِسْلاَمَ وَعَدَّهُ خَمْسَ خِصَالٍ، وَهَذَا مَا نَقُولُ فِي كُتُبِنَا‏:‏ بِأَنَّ الْعَرَبَ تَذْكُرُ الشَّيْءَ فِي لُغَتِهَا بِعَدَدٍ مَعْلُومٍ، وَلاَ تُرِيدُ بِذِكْرِهَا ذَلِكَ الْعَدَدَ نَفْيًا عَمَّا وَرَاءَهُ، وَلَمْ يُرِدْ بِقَوْلِهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ إِنَّ الإِيمَانَ لاَ يَكُونُ إِلاَّ مَا عُدَّ فِي خَبَرِ ابْنِ عَبَّاسٍ، لأَنَّهُ ذَكَرَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي غَيْرِ خَبَرٍ أَشْيَاءَ كَثِيرَةً مِنَ الإِيمَانِ لَيْسَتْ فِي خَبَرِ ابْنِ عُمَرَ، وَلاَ ابْنِ عَبَّاسٍ اللَّذَيْنِ ذَكَرْنَاهُمَا‏.‏[90]

Artinya: Abdullah bin Muhammad Al Azdi mengabarkan kepada kami, dia berkata:Ishaq bin Ibrahim Al Hanzhali menceritakan kepada kami, dia berkata: Waki’ mengabarkan kepada kami, dari Hanzhalah bin Abu Sufyan, dia berkata: Aku mendengar Ikrimah bin Khalid menyampaikan sebuah hadis kepada Thawus bahwa seorang laki-laki berkata kepada Ibnu Umar; “Mengapa engkau tidak ikut berperang?”. Abdullah bin Umar menjawab, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Islam dibangun atas lima (perkara). Bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa (di bulan) Ramadhan dan melaksanakan ibadah haji ke Baitullah” [1:1] Abu Hatim berkata, “Dua khabar ini (157 dan 158), wacananya muncul sesuai dengan keadaan, karena Nabi Muhammad  menyebutkan iman, lalu memetakan iman ke dalam empat perkara. Kemudian Beliau menyebutkan Islam dan menghitungnya ke dalam lima perkara. Inilah apa yang kami sampaikan di dalam kitab-kitab kami bahwa orang Arab, dalam bahasa mereka, kerap menyebut hitungan tertentu. Bukan maksudnya dengan hitungan tersebut menafikan jumlah di luarnya. Nabi  Tidak bermaksud dengan ucapannya bahwa iman itu tidak lain kecuali apa yang terhitung dalam hadis Ibnu Abbas karena Beliau menyebutkan dalam khabar lain yang banyak perkara iman selain yang terdapat di dalam khabar Ibnu Umar maupun Ibnu Abbas telah kami sebutkan.”

Dengan demikian dapat dirumuskan bahwa takwa di tingkat iman adalah kesadaran qalbu untuk percaya kepada Allah, Malaikat, Kitab dan Rasul-Nya, juga Hari akhir dan Taqdir serta lain=lainnya, kemudian berdasar kepercayaan tersebut mendorong untuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya dengan cara mengikuti dan mengamalkan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya.

 

 

“Doa Agar Diberi Keimanan Yang Benar”

"اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ صِحَّةَ إِيمَانٍ وَإِيمَانًا فِي خُلُقٍ حَسَنٍ وَنَجَاحًا يَتْبَعُهُ فَلَاحٌ يَعْنِي وَرَحْمَةً مِنْكَ وَعَافِيَةً وَمَغْفِرَةً مِنْكَ وَرِضْوَانًا"

“Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu benarnya iman, dan keimanan dalam akhlak yang baik dan kesuksesan yang diikuti keberuntungan, dan aku memohon rahmat dan 'afiyat dari-Mu dan aku juga memohon ampunan dan keridhaaan dari-Mu”

(HR. Imam Hakim: 5)



[1] Abu Qasim Al-Thabarani, Mu’jam Al-Thabarani Ausath, Dar Al haramain, Kairo, 1995, Jilid 6, Halaman 226, Hadits nomor 6254.

[2]Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 1 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, tt.), 110–118. Pembahasan tentang hakikat iman, tingkatannya, dan hubungan iman dengan amal.

[3] Ibn Qayyim al-Jauziyyah, Madārij as-Sālikīn bayna Manāzil Iyyāka Na‘budu wa Iyyāka Nasta‘īn, Juz 1 (Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 2000), 329–340. Penjelasan tentang definisi iman, unsur-unsurnya, serta sebab bertambah dan berkurangnya iman.

[4] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 11, Halaman 177.Hadits nomor 6604.

[5] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1 , Halaman 116, Hadits nomor 126.

[6] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 30, Halaman 219.Hadits nomor 18287.

[7] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1, Halaman 119, Hadits nomor 132.

[8] Abu Hatim Muhammad Ibnu Hiban Ibnu Ahmad, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibu Hazm, Beirut, 2012, Jilid 5, Halaman 269, Hadits nomor 4378.

[9] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1, Halaman 119, Hadits nomor 133.

[10] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 41, Halaman 272.Hadits nomor 24752.

[11] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 12, Halaman 482, Hadits nomor 7511.

[12] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman 1301, Hadits nomor 3947.

[13] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Ausath, Dar Al Haramain, Kairo, 1995, Jilid 24, Halaman 90, Hadits nomor 238.

[14] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 28, Halaman 252.Hadits nomor 17027.

[15] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 5 halaman 200, Hadits nomor 3127.

[16] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 19, Halaman 374.Hadits nomor 12381.

[17] Ibid, Jilid 12, Halaman 144, Hadits nomor 7210.

[18] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1, Halaman 219, Hadits nomor 250.

[19] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 37, Halaman 517, Hadits nomor 22877.

[20] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 107, Hadits nomor 256.

[21] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman 2272, Hadits nomor 2956.

[22] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Dar Ibnu Katsir, Damsyiq, 1993, Jilid 6, Halaman 2539, Hadits nomor 2540.

[23] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman 1992, Hadits nomor 2573.

[24] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 13, Hadits nomor 22.

[25] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 1, Halaman 88, Hadits nomor 242.

[26] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1, Halaman 130, Hadits nomor 232.

[27] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 13, Halaman 328, Hadits nomor 7946.

[28] Ibid, Jilid 4, Halaman 492.Hadits nomor 2770.

[29] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 18, Halaman 395,nHadits nomor 11898.

[30] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 1, Halaman 24, Hadits nomor 3.

[31] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 7, Halaman 27, Hadits nomor 5371.

[32] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman 2009, Hadits nomor 2601.

[33] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 4, Halaman 2009, Hadits nomor 2601.

[34] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 9, Halaman 318, Hadits nomor 5436.

[35] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 12, Hadits nomor 37.

[36] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 18, Hadits nomor 47.

[37] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 3, Halaman 26, Hadits nomor 1901.

[38] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 18, Hadits nomor 47.

[39] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Musnad Al-Syamiin, Muassasah Al- Risalah, Beirut, 1984, Jilid 1, Halaman 346, Hadits nomor 206.

[40] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 10, Hadits nomor 6016.

[41] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 36, Hadits nomor 6136.

[42] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 2, Halaman 340.Hadits nomor 1112.

[43] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 4, Halaman 75, Hadits nomor 4161.

[44] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 3 halaman 520, Hadits nomor 1977.

[45] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 14, Halaman 163, Hadits nomor 8448.

[46] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 39, Halaman 387, Hadits nomor 23966.

[47] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 19, Halaman 374.Hadits nomor 12381.

[48] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 12, Hadits nomor 15.

[49] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman 2052, Hadits nomor 2664.

[50] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 26, Halaman 113, Hadits nomor 12194.

[51] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 32, Halaman 585, Hadits nomor 22120.

[52] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1, Halaman 36, Hadits nomor 37.

[53] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 5 halaman 236, Hadits nomor 3175.

[54] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 11, Hadits nomor 9.

[55] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 3 halaman 551, Hadits nomor 2027.

[56] Abd al-shamad Al-Darimi, Sunan Al-Darimi, Dar al-Mughni Li al-Nasyr wa Al-Tauzi’, Saudi Arabia, 2000, Jilid 1 halaman 441, Hadits nomor 526.

[57] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990, Jilid 1, Halaman 62, Hadits nomor 40.

[58] Muslim ibn Al hajaj ibn Muslim Al-Qusairi, Shahih Muslim, Dar Al-Thaba’ah Al-‘Amirah, Turki, 1334 H, Jilid 1, Halaman 40, Hadits nomor 78.

[59] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 278, Hadits nomor 2507.

[60] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 12, Hadits nomor 13.

[61] Ibid, Jilid 1, Halaman 12, Hadits nomor 14.

[62] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 12, Hadits nomor 15.

[63] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 36, Halaman 446, Hadits nomor 22132.

[64] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar Al-Risalah Al-Alamayah, Beirut, 2009, Jilid 3 halaman 20, Hadits nomor 1196.

[65] Ibid, Jilid 4 halaman 359, Hadits nomor 2612.

[66] Abu Al Husain Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1, Halaman 63, Hadits nomor 58.

[67] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 2, Halaman 40, Hadits nomor 1223.

[68] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 37, Halaman 517, Hadits nomor 22877.

[69] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 10, Hadits nomor 2011.

[70] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 10, Hadits nomor 2011.

[71] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 14, Halaman 22, Hadits nomor 8271.

[72] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 33, Halaman 407, Hadits nomor 20285.

[73] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 18, Halaman 402, Hadits nomor 11908.

[74] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid 4, Halaman 220, Hadits nomor 4681.

[75] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 17, Halaman 102, Hadits nomor 11050.

[76] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 20, Hadits nomor 6941.

[77] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1, Halaman 62, Hadits nomor 56.

[78] Muslim ibn Al hajaj ibn Muslim Al-Qusairi, Shahih Muslim, Dar Al-Thaba’ah Al-‘Amirah, Turki, 1334 H, Jilid 1, Halaman 50, Hadits nomor 80.

[79] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Shagir, Maktab Al-Islami, Beirut, 1985, Jilid 1, Halaman 114, Hadits nomor 164.

[80] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 37, Halaman 110, Hadits nomor 22436.

[81] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 1, Halaman 52, Hadits nomor 147.

[82] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 364, Hadits nomor 2617.

[83] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 8, Halaman 150, Hadits nomor 7655.

[84] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 1 Hal. 104, Hadits nomor 13.

[85] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 7 Hal. 363, Hadits nomor 10592.

[86] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990, Jilid 8, Halaman 631, Hadits nomor 7892.

[87] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990, Jilid 1, Halaman 45, Hadits nomor 5.

[88] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 23, Halaman 370, Hadits nomor 877.

[89] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990, Jilid 1, Halaman 45, Hadits nomor 5.

[90] Abu Hatim Muhammad Ibnu Hiban Ibnu Ahmad, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibu Hazm, Beirut, 2012, Jilid 1, Halaman 120, Hadits nomor 158.


Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post