58. Ketakwaan Kepada Allah Untuk Keuntungan Hamba Sendiri
Keistimewaan takwa ke lima puluh delapan “Ketakwaan kepada Allah untuk keuntungan hamba sendiri, keistimewaan takwa ini tergambar dari dalam kitab Musnad Ahmad Hadis nomor 21420 dinyatakan Wahai para hamba-Ku, andaikan kalian semua dari yang awal sampai yang terakhir, baik dari bangsa manusia maupun jin, semuanya bertakwa dengan ketakwaan orang yang paling takwa di antara kalian, hal itu tidak menambah sedikit pun dalam Kerajaan-Ku;
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ وَعَبْدُ الصَّمَدِ الْمَعْنَى قَالَا حَدَّثَنَا
هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ عَبْدُ الصَّمَدِ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ
عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ وَقَالَ عَبْدُ الصَّمَدِ الرَّحَبِيُّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ
إِنِّي حَرَّمْتُ عَلَى نَفْسِي الظُّلْمَ وَعَلَى عِبَادِي أَلَا فَلَا تَظَالَمُوا
كُلُّ بَنِي آدَمَ يُخْطِئُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرُ
لَهُ وَلَا أُبَالِي وَقَالَ يَا بَنِي آدَمَ كُلُّكُمْ كَانَ ضَالًّا إِلَّا مَنْ
هَدَيْتُ وَكُلُّكُمْ كَانَ عَارِيًا إِلَّا مَنْ كَسَوْتُ وَكُلُّكُمْ كَانَ جَائِعًا
إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُ وَكُلُّكُمْ كَانَ ظَمْآنًا إِلَّا مَنْ سَقَيْتُ فَاسْتَهْدُونِي
أَهْدِكُمْ وَاسْتَكْسُونِي أَكْسُكُمْ وَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ وَاسْتَسْقُونِي
أَسْقِكُمْ يَا عِبَادِي لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَجِنَّكُمْ وَإِنْسَكُمْ
وَصَغِيرَكُمْ وَكَبِيرَكُمْ وَذَكَرَكُمْ وَأُنْثَاكُمْ قَالَ عَبْدُ الصَّمَدِ وَعُسِيَّكُمْ
وَبَنِيكُمْ عَلَى قَلْبِ أَتْقَاكُمْ رَجُلًا وَاحِدًا لَمْ تَزِيدُوا فِي مُلْكِي
شَيْئًا وَلَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَجِنَّكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَصَغِيرَكُمْ
وَكَبِيرَكُمْ وَذَكَرَكُمْ وَأُنْثَاكُمْ عَلَى قَلْبِ أَكْفَرِكُمْ رَجُلًا لَمْ
تُنْقِصُوا مِنْ مُلْكِي شَيْئًا إِلَّا كَمَا يُنْقِصُ رَأْسُ الْمِخْيَطِ مِنْ الْبَحْرِ [1]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abdurrahman dan Abdushamad secara makna, keduanya berkata:
telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah. Abdushamad berkata: telah menceritakan
kepada kami Qatadah dari Abu Qilabah dari Abu Asma`, Abdushamad Ar Rahabi berkata
dari Abu Dzar dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam sebagaimana yang beliau riwayatkan
dari Rabb-nya Azza Wa Jalla: 'Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan
kezaliman atas diri-Ku dan Aku mengharamkannya pula atas kalian, maka janganlah
kalian saling menzalimi. Wahai para hamba-Ku, kalian semua tersesat kecuali orang
yang Aku beri hidayah, maka mintalah hidayah itu kepada-Ku, niscaya Aku berikan
hidayah itu kepadamu. Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian lapar kecuali orang-orang
yang Aku beri makan, maka mintalah makan kepada-Ku niscaya Aku berikan makanan itu
kepadamu. Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian adalah orang-orang tidak berpakaian
kecuali orang-orang yang telah Aku beri pakaian, maka mintalah pakaian kepada-Ku
niscaya Aku berikan pakaian itu kepadamu. Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian
senantiasa berbuat dosa di malam dan siang hari sedangkan Aku akan mengampuni semua
dosa, maka mintalah ampun kepada-Ku, niscaya Aku ampuni kalian semua. Wahai para
hamba-Ku, sesungguhnya kalian tidak dapat mendatangkan kemanfaatan bagi-Ku sehingga
tidak sedikit pun kalian bermanfaat bagi-Ku. Wahai para hamba-Ku, sesungguhnya kalian
semua tidak akan dapat mendatangkan bahaya bagi-Ku sehingga tidak sedikit pun kalian
dapat membahayakan-Ku. Wahai para hamba-Ku, andaikan kalian semua dari yang awal
sampai yang terakhir, baik dari bangsa manusia maupun jin, semuanya bertakwa dengan
ketakwaan orang yang paling takwa di antara kalian, hal itu tidak menambah sedikit
pun dalam Kerajaan-Ku. Wahai para hamba-Ku, andaikan kalian semua dari yang awal
sampai yang terakhir, baik dari bangsa manusia maupun bangsa jin, berdiri di atas
satu dataran lalu meminta apa pun kepada-Ku, lalu Aku penuhi semua permintaan mereka,
hal itu sedikit pun tidak mengurangi kekayaan yang Aku miliki, kecuali seperti berkurangnya
air samudera ketika dimasuki sebatang jarum jahit (kemudian diangkat)."
Di dalam kitab Musnad
Ahmad Hadis No. 21540 juga dinyatakan sekiranya orang yang masih hidup dan orang yang sudah mati
dari kalian, yang pertama dicipta atau yang terakhir, yang kering atau yang basah,
seluruhnya bertakwa seperti orang yang paling bertakwa di antaramu, maka itu tidak
akan menambah kekuasaan-Ku sedikit pun walau seperti sayap nyamuk;
حَدَّثَنَا ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا مُوسَى يَعْنِي
ابْنَ الْمُسَيَّبِ الثَّقَفِيَّ عَنْ شَهْرٍ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ غَنْمٍ
الْأَشْعَرِيِّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى يَقُولُ يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ مُذْنِبٌ
إِلَّا مَنْ عَافَيْتُ فَاسْتَغْفِرُونِي أَغْفِرْ لَكُمْ وَمَنْ عَلِمَ مِنْكُمْ أَنِّي
ذُو قُدْرَةٍ عَلَى الْمَغْفِرَةِ فَاسْتَغْفَرَنِي بِقُدْرَتِي غَفَرْتُ لَهُ وَلَا
أُبَالِ وَكُلُّكُمْ ضَالٌّ إِلَّا مَنْ هَدَيْتُ فَسَلُونِي الْهُدَى أَهْدِكُمْ وَكُلُّكُمْ
فَقِيرٌ إِلَّا مَنْ أَغْنَيْتُ فَسَلُونِي أَرْزُقْكُمْ وَلَوْ أَنَّ حَيَّكُمْ وَمَيِّتَكُمْ
وَأُولَاكُمْ وَأُخْرَاكُمْ وَرَطْبَكُمْ وَيَابِسَكُمْ اجْتَمَعُوا عَلَى قَلْبِ أَتْقَى
عَبْدٍ مِنْ عِبَادِي لَمْ يَزِيدُوا فِي مُلْكِي جَنَاحَ بَعُوضَةٍ وَلَوْ أَنَّ حَيَّكُمْ
وَمَيِّتَكُمْ وَأُولَاكُمْ وَأُخْرَاكُمْ وَرَطْبَكُمْ وَيَابِسَكُمْ اجْتَمَعُوا
فَسَأَلَ كُلُّ سَائِلٍ مِنْهُمْ مَا بَلَغَتْ أُمْنِيَّتُهُ وَأَعْطَيْتُ كُلَّ سَائِلٍ
مَا سَأَلَ لَمْ يَنْقُصْنِي إِلَّا كَمَا لَوْ مَرَّ أَحَدُكُمْ عَلَى شَفَةِ الْبَحْرِ
فَغَمَسَ إِبْرَةً ثُمَّ انْتَزَعَهَا ذَلِكَ لِأَنِّي جَوَادٌ مَاجِدٌ وَاجِدٌ أَفْعَلُ
مَا أَشَاءُ عَطَائِي كَلَامِي وَعَذَابِي كَلَامِي إِذَا أَرَدْتُ شَيْئًا فَإِنَّمَا
أَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ [2]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Musa bin Musayyab
Ats Tsaqafi dari Syahr dari Abdurrahman bin Ghanm Al Asy'ari dari Abu Dzar dari
Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah berfirman: 'Wahai
hamba-Ku kalian semua berdosa kecuali yang Aku maafkan, maka mintalah ampun pada-KU
niscaya Aku ampuni, Siapa saja di antara kalian yang mengetahui bila Aku Maha kuasa
atas segala ampunan, maka mintalah ampunan dengan kuasa-Ku dan tentulah Aku mengampuninya
tanpa memperdulikan dosa-dosanya. Dan sungguh kalian adalah sesat kecuali orang
yang Aku tunjuki, oleh itu mintalah petunjuk pada-Ku niscaya Aku akan tunjuki. Dan
kalian semua adalah fakir kecuali yang Aku kayakan, mintalah pada-Ku niscaya aku
beri ia rezeki. Sekiranya orang yang masih hidup dan orang yang sudah mati dari
kalian, yang pertama dicipta atau yang terakhir, yang kering atau yang basah, seluruhnya
bertakwa seperti orang yang paling bertakwa di antaramu, maka itu tidak akan menambah
kekuasaan-Ku sedikit pun walau seperti sayap nyamuk. Dan apabila mereka semua baik
yang telah mati atau yang masih hidup, yang pertama dicipta atau yang terakhir,
yang kering atau yang basah, seluruhnya meminta setiap satunya dengan masing-masing
masalah yang ia bawa di satu tempat, niscaya Aku berikan setiap mereka atas apa
yang mereka pinta tanpa mengurangi apa yang ada pada-Ku, kecuali seperti salah seorang
kalian melewati tepi laut dan mencelupkan jarum lalu mengangkatnya, karena Aku adalah
Maha Pemberi, Mulia lagi Mengetahui, Aku melakukan ap yang Aku kehendaki, pemberian
dan siksa adalah ketetapan-Ku, dan jika Aku menghendaki seuatu maka Aku cukup mengatakan
'Jadi', maka jadilah ia."
Dua Hadits tersebut
memberi gambaran bahwa takwa merupakan bentuk amal kebaikan seorang hamba kepada
Allah, namun demikian meskipun ketakwaan ini dilakukan seluruh hambanya dengan sebaik-baik
ketakwaan, tidak akan dapat menambah kebesaran Allah. Artinya kebaikan seorang
hamba hanya akan kembali kepada hamba, bahkan akan dibalas lebih banyak lagi
kebaikan oleh Allah di akherat. Sebagaimana disebutkan di dalam Al Quran surat Al-Isra'/
17: 7
إِنْ أَحْسَنْتُمْ أَحْسَنْتُمْ لِأَنْفُسِكُمْ
وَإِنْ أَسَأْتُمْ فَلَهَا فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ الْآخِرَةِ لِيَسُوءُوا
وُجُوهَكُمْ وَلِيَدْخُلُوا الْمَسْجِدَ كَمَا دَخَلُوهُ أَوَّلَ مَرَّةٍ
وَلِيُتَبِّرُوا مَا عَلَوْا تَتْبِيرًا
Artinya: Jika
kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu
berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang
saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain)
untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana
musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan
sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (QS. Al-Isra' (17): 7)
Ihsan; kebaikan
meski ketika melakukannya harus dilakukan karena Allah, tetapi ihsan; kebaikan
bukan untuk keuntungan Allah, tetapi sejatinya ihsan hanya hanya untuk
keuntungan hamba sendiri, ihsan setara dengan takwa, pembahasannnya akan
dikemukan di buku ke dua “Memahami Takwa Berdasar Al Quran Dan Hadits”.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar