Fasik berasal dari kata Fasaqa-Yafsuqu-Fusuqan
artinya keluar dari ketaatan kepada Allah, melanggar ketentuan syariat Allah.
Imam al-Ghazālī menjelaskan bahwa fāsiq
adalah seseorang yang keluar dari ketaatan kepada Allah melalui pelanggaran
terhadap perintah-perintah syariat, terutama dosa-dosa besar yang dilakukan
secara sadar dan berulang tanpa penyesalan. Dalam Iḥyā’
‘Ulūm al-Dīn, ia
menegaskan bahwa kefasikan terjadi ketika hati kehilangan rasa takut kepada
Allah, sehingga pelaku tidak lagi merasakan beratnya dosa dan mudah meremehkan
larangan-larangan-Nya.[1]
Al-Ghazālī menilai bahwa sifat fāsiq bukan sekadar perbuatan, tetapi
kondisi spiritual yang menunjukkan kerusakan batin, karena “maksiat yang
terus-menerus akan mematikan hati,” menjadikan pelakunya jauh dari hidayah.[2]
Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah memaknai fāsiq
sebagai pelaku pelanggaran syariat yang secara sengaja meninggalkan kewajiban
atau melakukan keharaman, baik melalui dosa besar maupun dosa kecil yang
dilakukan terus-menerus. Dalam al-Jawāb al-Kāfī, ia menegaskan bahwa
kefasikan adalah buah dari hati yang dikuasai hawa nafsu sehingga “mengetahui
kebenaran tetapi tetap memilih kesesatan.”[3]
Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah menambahkan bahwa kefasikan, apabila terus
dibiarkan, dapat menutup pintu taufiq dan mengantarkan seseorang kepada
kekufuran praktis, yaitu kondisi hati yang tidak lagi tunduk kepada kebenaran.[4]
Di dalam Al Quran Surat Al-Baqarah/ 2: 27, Fasik
didifinisakan sebagai orang yang melanggar perjanjian Allah , memutuskan apa
yang diperintahkan Allah untuk menghubungkannya dan membuat kerusakan di muka
bumi;
الَّذِينَ يَنْقُضُونَ عَهْدَ اللَّهِ
مِنْ بَعْدِ مِيثَاقِهِ وَيَقْطَعُونَ مَا أَمَرَ اللَّهُ بِهِ أَنْ يُوصَلَ
وَيُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
Artinya: (yaitu) orang-orang yang melanggar
perjanjian Allah sesudah perjanjian itu teguh, dan memutuskan apa yang
diperintahkan Allah (kepada mereka) untuk menghubungkan-nya dan membuat
kerusakan di muka bumi. Mereka itulah orang-orang yang rugi.(QS. Al-Baqarah/ 2: 27)
Dengan demikian dapat difahami bahwa fasik adalah orang
yang melakukan perbuatan ma’siyat, melanggar hukum Allah; dengan cara melakukan
yang dilarang dan atau meninggalkan yang diperintahkan Allah. Berdasar
pencarian kata dasar fasaqa menggunakan aplikasi Al Quran Zekr 1.1, ditemukan
54 kata di dalam 54 ayat Al Quran.
Ayat-ayat tersebut merupakan gambaran hakikat tentang fasik.
Agar dapat memahami Takwa dari Kefasikan secara
menyeluruh, maka di sini akan dikemukakan pembahasan tentang;
1. Hikmah Tentang Kefasikan
2. Karakter Orang Yang Fasik
3. Takwa Dari Kefasikan
Adapun pembahasannya adalah sebagai berikut;
Berikut ini akan dikemukakan beberapa ayat Al Quran dan
Hadits yang mengandung Hikmah yang berkaitan tentang kefasikan
1.1. Dan Sesungguhnya Kebanyakan Manusia
Adalah Orang Yang Fasik
Di dalam Al Quran surat
Al-Ma'idah/ 5: 49, Al-Maidah/ 5: 59 At-Taubah/ 9: 8, dan Ali-'Imran/ 3: 110
disebutkan pernyataan bahwa kebanyakan manusia adalah fasik;
وَأَنِ احْكُمْ
بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ
يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ
أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا
مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ
Artinya: dan
hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan
Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu
terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang
telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah
diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan
menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan
sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Ma'idah/
5: 49)
قُلْ يَا
أَهْلَ الْكِتَابِ هَلْ تَنْقِمُونَ مِنَّا إِلَّا أَنْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا
أُنْزِلَ إِلَيْنَا وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلُ وَأَنَّ أَكْثَرَكُمْ فَاسِقُونَ
Artinya:
Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, apakah kamu memandang kami
salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah, kepada apa yang diturunkan
kepada kami dan kepada apa yang diturunkan sebelumnya, sedang kebanyakan di
antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?
(QS. Al-Maidah/ 5: 59)
كَيْفَ
وَإِنْ يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ لَا يَرْقُبُوا فِيكُمْ إِلًّا وَلَا ذِمَّةً
يُرْضُونَكُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ وَتَأْبَى قُلُوبُهُمْ وَأَكْثَرُهُمْ فَاسِقُونَ
Artinya:
Bagaimana bisa (ada perjanjian dari sisi Allah dan Rasul-Nya
dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka memperoleh kemenangan
terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan kekerabatan terhadap kamu dan
tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka menyenangkan hatimu dengan
mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang
fasik (tidak menepati perjanjian). (QS. At-Taubah/ 9: 8)
كُنْتُمْ
خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ
عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ
خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya:
Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia,
menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada
Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di
antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang
fasik. (QS. Ali-'Imran/ 3: 110)
1.2. Sesungguhnya Allah Tidak Ridha Kepada
Orang-Orang Yang Fasik
Di dalam Al Quran Surat
At-Taubah/ 9: 96, dijelaskan bahwa sesungguhnya Allah tidak ridha kepada
orang-orang yang fasik;
يَحْلِفُونَ
لَكُمْ لِتَرْضَوْا عَنْهُمْ ۖ فَإِنْ تَرْضَوْا عَنْهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ لَا
يَرْضَىٰ عَنِ الْقَوْمِ الْفَاسِقِينَ
Artinya: Mereka akan
bersumpah kepadamu, agar kamu ridha kepada mereka. Tetapi jika sekiranya kamu
ridha kepada mereka, sesungguhnya Allah tidak ridha kepada orang-orang yang
fasik itu.(QS. At-Taubah/ 9: 96)
1.3. Allah Tidak Memberi Petunjuk Kepada
Orang-Orang Yang Fasik
Di dalam Al Quran surat Al-Ma'idah/ 5: 108, disebutkan
pernyataan bahwa Allah tidak memberi petunjuk bagi orang-orang fasik;
ذٰلِكَ أَدْنٰىٓ أَن يَأْتُوا
بِالشَّهٰدَةِ عَلٰى وَجْهِهَآ أَوْ يَخَافُوٓا أَن تُرَدَّ أَيْمٰنٌۢ بَعْدَ
أَيْمٰنِهِمْ ۗ وَاتَّقُوا اللَّهَ وَاسْمَعُوا ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ
الْفٰسِقِينَ
Artinya: Itu lebih dekat untuk
(menjadikan para saksi) mengemukakan persaksiannya menurut apa yang sebenarnya,
dan (lebih dekat untuk menjadikan mereka) merasa takut akan dikembalikan
sumpahnya (kepada ahli waris) sesudah mereka bersumpah. Dan bertakwalah kepada Allah
dan dengarkanlah (perintah-Nya). Allah tidak memberi petunjuk kepada
orang-orang yang fasik. (QS. Al-Ma'idah/ 5: 108)
Di dalam Al Quran surat At-Taubah/ 9:
80, dijelaskan bahwa kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh
kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka;
اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا
تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ
اللَّهُ لَهُمْ ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ۗ وَاللَّهُ
لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Artinya: Kamu memohonkan ampun bagi
mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja).
Kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah
sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. Yang demikian itu adalah
karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi
petunjuk kepada kaum yang fasik. (QS. At-Taubah/ 9: 80).
Di dalam Al Quran surat At-Taubah/ 9:
84, dijelaskan bahwa janganlah kamu sekali-kali menyembahyangkan (jenazah)
seorang yang mati di antara mereka dalam keadaan Fasik, dan janganlah kamu
berdiri (mendoakan) di kuburnya;
وَلَا تُصَلِّ عَلَىٰ أَحَدٍ مِنْهُمْ
مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَىٰ قَبْرِهِ ۖ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ
وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ
Artinya: Dan janganlah kamu
sekali-kali menyembahyangkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan
janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir
kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (QS.
At-Taubah/ 9: 84.
Di dalam Al Quran Surat An-Nur/ 24: 4,
dijelaskan bahwa orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat
zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, mereka itulah orang
Fasik;
وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ
ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً
وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya: Dan orang-orang yang menuduh
wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat
orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera,
dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka
itulah orang-orang yang fasik. (QS. An-Nur/ 24: 4)
Di dalam Al Quran Surat As-Sajdah/ 32:
20, Allah memberikan penjelasan bahwa tempat kembali orang fasik adalah neraka
, tetapi di ayat 21 Allah juga sudah memberikan sebagian siksanya di dunia
dengan harapan orang-orang Fasik mau kembali ke jalan yang benar;
وَأَمَّا الَّذِينَ فَسَقُوا
فَمَأْوٰىهُمُ النَّارُ ۖ كُلَّمَآ أَرَادُوٓا أَن يَخْرُجُوا مِنْهَآ أُعِيدُوا
فِيهَا وَقِيلَ لَهُمْ ذُوقُوا عَذَابَ النَّارِ الَّذِى كُنتُم بِهِۦ
تُكَذِّبُونَ وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ الْعَذَابِ الْأَدْنٰى دُونَ الْعَذَابِ
الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ, وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنَ الْعَذَابِ
الْأَدْنَىٰ دُونَ الْعَذَابِ الْأَكْبَرِ لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ
Artinya: Dan adapun orang-orang
yang Fasik maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar
daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka:
"rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya". Dan sesungguhnya
kami merasakan kepada mereka [orang Fasik] sebahagian azab yang dekat (di
dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat), mudah-mudahan mereka kembali
(ke jalan yang benar), Dan Sesungguhnya Kami merasakan kepada mereka sebahagian
azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar (di akhirat),
mudah-mudahan mereka kembali (ke jalan yang benar). (QS. As-Sajdah/ 32:
20-21)
Berikut ini akan dikemukakan
beberapa ayat Al Quran dan Hadits yang dapat memberikan gambaran tentang
karakter orang-orang fasik;
2.1. Durhaka Dengan Perintah Tuhannya
Di dalam Al Quran surat Surat Al-Kahfi/ 18: 50
dijelaskan bahwa pelaku Fasik pertama kali adalah Iblis, durhaka tidak mau
mengikuti perintah Allah SWT;.
وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا
لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ أَمْرِ رَبِّهِ
ۗ أَفَتَتَّخِذُونَهُ وَذُرِّيَّتَهُ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِي وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّ
ۚ بِئْسَ لِلظَّالِمِينَ بَدَلًا
Artinya: Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman
kepada para malaikat: "Sujudlah kamu kepada Adam, maka sujudlah mereka
kecuali Iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia mendurhakai
perintah Tuhannya. Patutkah kamu mengambil dia dan turanan-turunannya sebagai
pemimpin selain daripada-Ku, sedang mereka adalah musuhmu? Amat buruklah iblis
itu sebagai pengganti (dari Allah) bagi orang-orang yang zalim.(QS. Al-Kahfi/
18: 50)
2.2. Sesungguhnya Orang-Orang Yang Fasik
Tidak Beriman
Sedangkan
di dalam Al Quran surat Yunus/ 10: 33 ditegaskan bahwa orang fasik itu tidak
beriman;
كَذٰلِكَ
حَقَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ عَلَى الَّذِينَ فَسَقُوٓا أَنَّهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ
Artinya: Demikianlah
telah tetap hukuman Tuhanmu terhadap orang-orang yang Fasik, kerana
sesungguhnya mereka tidak beriman. (QS. Yunus/
10: 33)
2.3. Tak Ada Yang Ingkar Kepada Ayat-Ayat
Yang Jelas, Melainkan Orang-Orang Yang Fasik
Dan ditegaskan lagi di dalam Al Quran Surat Al-Baqarah/
2: 99; bahwa tidak ada yang mengingkari (kafir) terhadap ayat-ayat Allah
kecuali orang yang Fasik;
وَلَقَدْ أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ آيَاتٍ بَيِّنَاتٍ
ۖ وَمَا يَكْفُرُ بِهَا إِلَّا الْفَاسِقُونَ
Artinya: Dan sesungguhnya Kami telah menurunkan
kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan
orang-orang yang fasik.(QS. Al-Baqarah/
2: 99)
Di dalam Al Quran surat Al
An’am/ 6: 121 digambarkan bahwa memakan binatang-binatang yang tidak disebut
nama Allah ketika menyembelihnya. Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu
adalah suatu kefasikan;
وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ
اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ
إِلَىٰ أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ
لَمُشْرِكُونَ
Artinya: Dan janganlah kamu memakan
binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.
Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya
syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika
kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang
musyrik. (QS. Al An’am/ 6: 121)
2.5. Hati Mereka Menjadi Keras. Dan
Kebanyakan Di Antara Mereka Adalah Orang-Orang Yang Fasik
Di dalam Al Quran surat Al
Hadid/ 57: 16) digambarkan bahwa sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian
berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan
kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik;
أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَن
تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا
يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِن قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ
الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِّنْهُمْ فَاسِقُونَ
Artinya: Belumkah datang waktunya bagi
orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada
kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti
orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian
berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan
kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Al Hadid/ 57: 16)
2.6. Menyombongkan Diri Di Muka Bumi Tanpa
Hak Dan Karena Kamu Telah Fasik
Di dalam Al Quran surat Al
Ahqaf/ 46: 20 digambarkan bahwa kecombongan merupakan bentuk kefasikan;
وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا
عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا
وَاسْتَمْتَعْتُم بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنتُمْ
تَسْتَكْبِرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَبِمَا كُنتُمْ تَفْسُقُونَ
Artinya: Dan (ingatlah) hari (ketika)
orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): "Kamu
telah menghabiskan rezekimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu
telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab
yang menghinakan karena kamu telah menyombongkan diri di muka bumi tanpa hak
dan karena kamu telah fasik". (QS. Al Ahqaf/ 46: 20)
2.7. Kebanyakan Di Antara Ahli Kitab
Benar-Benar Orang-Orang Yang Fasik
Di dalam Al Quran surat Al Maidah/ 5: 59 digambarkan bahwa
kebanyakan di antara kamu (ahli kitab) benar-benar orang-orang yang fasik;
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ هَلْ
تَنقِمُونَ مِنَّا إِلَّا أَنْ آمَنَّا بِاللَّهِ وَمَا أُنزِلَ إِلَيْنَا وَمَا
أُنزِلَ مِن قَبْلُ وَأَنَّ أَكْثَرَكُمْ فَاسِقُونَ ﴿المائدة: ٥٩﴾
Artinya: Katakanlah: "Hai Ahli Kitab,
apakah kamu memandang kami salah, hanya lantaran kami beriman kepada Allah,
kepada apa yang diturunkan kepada kami dan kepada apa yang diturunkan
sebelumnya, sedang kebanyakan di antara kamu benar-benar orang-orang yang fasik?
(QS. Al Maidah/ 5: 59)
2.8. Mencerca Orang Muslim Adalah Fasik Dan
Memeranginya Adalah Kufur
Di dalam kitab Shahih Bukhari 7076 Shahih Muslim
81 ditegaskan bahwa mencerca orang muslim adalah fasik dan memeranginya adalah
kufur;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَرْعَرَةَ
قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ زُبَيْدٍ قَالَ سَأَلْتُ أَبَا وَائِلٍ عَنْ
الْمُرْجِئَةِ فَقَالَ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ سِبَابُ الْمُسْلِمِ فُسُوقٌ وَقِتَالُهُ كُفْرٌ [5]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin
'Ar'arah berkata, Telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Zubaid berkata:
Aku bertanya kepada Abu Wa'il tentang Murji`ah, maka dia menjawab: Telah
menceritakan kepadaku Abdullah bahwa Nabi ﷺ bersabda:
"mencerca orang muslim adalah fasik dan memeranginya adalah kufur.
Di dalam kitab Shahih Bukhari 5585 Tidaklah
seseorang melempar tuduhan kepada orang lain dengan kefasikan, dan tidak pula
menuduh dengan kekufuran melainkan (tuduhan itu) akan kembali kepadanya, jika
saudaranya tidak seperti itu;
حَدَّثَنَا أَبُو مَعْمَرٍ حَدَّثَنَا
عَبْدُ الْوَارِثِ عَنْ الْحُسَيْنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ
حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ يَعْمَرَ أَنَّ أَبَا الْأَسْوَدِ الدِّيلِيَّ حَدَّثَهُ
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَرْمِي رَجُلٌ رَجُلًا بِالْفُسُوقِ وَلَا
يَرْمِيهِ بِالْكُفْرِ إِلَّا ارْتَدَّتْ عَلَيْهِ إِنْ لَمْ يَكُنْ صَاحِبُهُ
كَذَلِكَ [6]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Ma'mar
telah menceritakan kepada kami Abdul Warits dari Al Husain dari Abdullah bin
Buraidah telah menceritakan kepadaku Yahya bin Ya'mar bahwa Abu Aswad Ad Diili
menceritakan kepadanya dari Abu Dzar radliallahu 'anhu bahwa dia mendengar Nabi
ﷺ
bersabda: "Tidaklah seseorang melempar tuduhan kepada orang lain dengan
kefasikan, dan tidak pula menuduh dengan kekufuran melainkan (tuduhan itu) akan
kembali kepadanya, jika saudaranya tidak seperti itu." (HR. Bukhari 5585)
2.10. Bahwa Kekufuran, Kefasikan, Dan Kerasnya Hati Ada Pada
Orang-Orang Sombong
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 10978 ditegaskan
bahwa kekufuran, kefasikan, dan kerasnya hati ada pada orang-orang sombong;
حَدَّثَنَا عِصَامُ بْنُ خَالِدٍ
حَدَّثَنَا حَرِيزٌ عَنْ شَبِيبٍ أَبِي رَوْحٍ أَنَّ أَعْرَابِيًّا أَتَى أَبَا
هُرَيْرَةَ فَقَالَ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ حَدِّثْنَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ فَقَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا إِنَّ الْإِيمَانَ يَمَانٍ وَالْحِكْمَةَ
يَمَانِيَةٌ وَأَجِدُ نَفَسَ رَبِّكُمْ مِنْ قِبَلِ الْيَمَنِ وَقَالَ أَبُو
الْمُغِيرَةَ مِنْ قِبَلِ الْمَغْرِبِ أَلَا إِنَّ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ
وَقَسْوَةَ الْقَلْبِ فِي الْفَدَّادِينَ أَصْحَابِ الشَّعْرِ وَالْوَبَرِ
الَّذِينَ يَغْتَالُ الشَّيَاطِينُ عَلَى أَعْجَازِ الْإِبِلِ [7]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami 'Isham bin
Khalid berkata; telah menceritakan kepada kami Harir dari Syabib Abu Rauh
berkata; seorang arab badui menemui Abu Hurairah dan berkata; "Wahai Abu
Hurairah ceritakanlah kepada kami hadits Nabi ﷺ, " lalu ia
menyebutkan hadits, Abu Hurairah berkata; Nabi ﷺ bersabda:
"Ingatlah, bahwa keimanan itu ada di Yaman dan hikmah juga di Yaman, dan
aku mendapati bahwa nafas Rabb kalian dari arah Yaman." Abu Mughirah
menyebutkan; "dari arah Maghrib, ingatlah bahwa kekufuran, kefasikan, dan
kerasnya hati ada pada orang-orang sombong dari para penyair dan pengembala
unta, yang mana setan -setan merasuk kepada para penggembala unta."
2.11. Jika Diberi Tidak Bersyukur (Berterima
Kasih) Dan Jika Diuji Tidak Bersabar
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor
14983, dijelaskan bahwa orang Fasik itu adalah para wanita, mereka jika
diberi tidak bersyukur (berterima kasih) dan jika diuji tidak bersabar;
حَدَّثَنَا
إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ عَنْ هِشَامٍ يَعْنِي الدَّسْتُوَائِيَّ قَالَ
حَدَّثَنِي يَحْيَى بْنُ أَبِي كَثِيرٍ عَنْ أَبِي رَاشِدٍ الْحَبْرَانِيِّ قَالَ
قَالَ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ شِبْلٍ قَالَ وَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْفُسَّاقَ هُمْ أَهْلُ النَّارِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
وَمَنْ الْفُسَّاقُ قَالَ النِّسَاءُ قَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَلَسْنَ
أُمَّهَاتِنَا وَأَخَوَاتِنَا وَأَزْوَاجَنَا قَالَ بَلَى وَلَكِنَّهُمْ إِذَا أُعْطِينَ
لَمْ يَشْكُرْنَ وَإِذَا ابْتُلِينَ لَمْ يَصْبِرْنَ [8]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Isma'il bin Ibrahim(1) telah menceritakan kepada kami
Hisyam(2) yaitu Ad Dastiwa'i, berkata; telah menceritakan kepadaku Yahya bin
Abu Katsir(3) dari Abu Rasyid Al Habrani(4) berkata; Abdur Rahman bin Syibl(5)
berkata; Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: " orang-orang
Fasik adalah para penghuni neraka", Ditanyakan, wahai Rasulullah siapakah
orang orang Fasik itu? Beliau bersabda: "para wanita", lalu ada
seorang laki-laki yang berkata; bukankah mereka itu adalah ibu-ibu kita,
saudara-saudara perempuan kita, dan istri-istri kita? (Rasulullah
Shallallahu'alaihiwasallam) bersabda: "Ya, tapi mereka jika diberi tidak
bersyukur (berterima kasih) dan jika diuji tidak bersabar."
Nasyahum
anfusahum artinya dijadikan lupa terhadap diri sendiri; lupa
diri, maksudnya adalah orang sudah tidak menyadari fitrah dirinya sebagai hamba
Allah, tujuan hidupnya serta tugas hidupnya.
2.12.1. Orang Yang Melupakan Allah, Mereka Akan Dilupakan
Terhadap Dirinya Sendiri, Dan Mereka Termasuk Orang Yang Fasik
Di dalam Al Quran Surat Al-Hasyr/ 59: 19, dijelasan
bahwa orang yang melupakan Allah, mereka akan dilupakan terhadap dirinya
sendiri, dan mereka termasuk orang yang fasik.
وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا
اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya: Dan janganlah kamu seperti
orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada
mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (QS. Al-Hasyr/ 59: 19)
Di
dalam Al Quran Surat At-Taubah/ 9: 67, dijelaskan bahwa Orang-orang munafik
Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka, orang munafik
termasuk orang Fasik;
الْمُنَافِقُونَ
وَالْمُنَافِقَاتُ بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ
عَنِ الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ
الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya: Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan.
sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang
munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya.
Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya
orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.(QS. At-Taubah/
9: 67)
2.12.3. Melupakan Apa Yang Diperingatkan Kepada Mereka: Berbuat
Fasik
Di dalam Al Quran surat Al a’raf/ 7: 165 digambarkan tatkala
mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka: mereka selalu berbuat
fasik;
فَلَمَّا
نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ أَنجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ
وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ
Artinya: Maka tatkala mereka melupakan apa yang
diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari
perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang
keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. (QS. Al A’raf/ 7: 165)
2.13. Orang Yang Tidak Berhukum Dengan Apa
Yang Diturunkan Allah (AL Quran) Adalah Orang Fasik
Di
dalam Al Quran Surat Al-Ma'idah/ 5: 47, dijelaskan bahwa orang yang tidak
berhukum dengan apa yang diturunkan Allah (Al Quran) adalah orang Fasik;
وَلْيَحْكُمْ
أَهْلُ الْإِنْجِيلِ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فِيهِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ
اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya: Dan
hendaklah orang-orang pengikut Injil, memutuskan perkara menurut apa yang
diturunkan Allah didalamnya. Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa
yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik.
Munafik berasal dari kata Naafaqa-Yunafiqu-Nifaaqan-Munafiqun,
artinya menyembunyikan, berbohong, berpura-pura, pengertiannya adalah berbeda
antara lahir dan batinnya; berbeda antara ucapan dan hatinya; bermuka dua.
Kefasikan yang ada di dalam qalbu seseorang, dapat mendorongnya untuk
berperilaku munafik
dan lupa diri.
Sesungguhnya Orang-Orang Munafik Itu
Adalah Orang-Orang Yang Fasik
Al Quran Surat At-Taubah/ 9: 67, memberikan gambaran
bahwa orang-orang munafik dengan orang-orang munafik lainnya saling bekerjasama
menyuruh kepada kemunkaran dan mencegah kebaikan, dan orang-orang munafik
termasuk orang fasik;
الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ
بَعْضُهُمْ مِنْ بَعْضٍ ۚ يَأْمُرُونَ بِالْمُنْكَرِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ
الْمَعْرُوفِ وَيَقْبِضُونَ أَيْدِيَهُمْ ۚ نَسُوا اللَّهَ فَنَسِيَهُمْ ۗ إِنَّ
الْمُنَافِقِينَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
Artinya: Orang-orang munafik laki-laki dan
perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh
membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan
tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka.
Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik.(QS. At-Taubah/ 9: 67)
Dalam perspektif Imam al-Ghazali,
kemunafikan (nifāq) merupakan penyakit hati yang muncul ketika lahiriah
seseorang tampak taat sementara batinnya dipenuhi keraguan, keburukan, atau
kecenderungan kepada maksiat. Ia menegaskan bahwa sumber kemunafikan adalah
dominasi syahwat dan kelemahan dalam muraqabah, sehingga seseorang
menampilkan kebaikan untuk memperoleh keuntungan duniawi namun menyembunyikan
kerusakan batin. Al-Ghazali membedakan antara nifāq i‘tiqādī—yang
mengeluarkan pelakunya dari iman—dan nifāq ‘amalī yang tampak dalam
akhlak seperti dusta, khianat, dan ingkar janji.[9]
Sementara itu, Ibn Qayyim al-Jauziyah
menjelaskan bahwa kemunafikan adalah bentuk penyimpangan hati yang paling
berbahaya karena pelakunya hidup dalam dua wajah: zahirnya mengikuti kaum
beriman sementara batinnya condong kepada kebatilan. Menurutnya, nifaq berakar
pada hati yang sakit—yang diliputi keraguan, syahwat, dan kecenderungan
mengikuti hawa nafsu. Ia menegaskan bahwa nifaq memiliki level, dari sekadar
perilaku tercela hingga kemunafikan akidah yang menjadikan seseorang lebih
buruk dari orang kafir, karena menyembunyikan kebencian terhadap kebenaran
sambil menampakkan kesalehan semu.[10]
Berikut karakter tentang orang munafik
secara umum yang digambarkan di dalam Al Quran dan Hadits;
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 6634
dinyatakan bahwa Sesungguhnya golongan munafik dari umatku paling banyak
terdapat dari para pembacanya (Ahli Qur'an);
حَدَّثَنَا زَيْدُ بْنُ الْحُبَابِ مِنْ
كِتَابِهِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ شُرَيْحٍ سَمِعْتُ شُرَحْبِيلَ بْنَ
يَزِيدَ الْمَعَافِرِيَّ أَنَّهُ سَمِعَ مُحَمَّدَ بْنَ هُدَيَّةَ الصَّدَفِيَّ
قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِي يَقُولُ سَمِعْتُ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ أَكْثَرَ
مُنَافِقِي أُمَّتِي قُرَّاؤُهَا [11]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Zaid bin Al Hubbaab
-dari bukunya- telah menceritakan kepada kami Abdurrahman bin Syuraih aku
mendengar Syurahbil bin Yazid Al Ma'arifi berkata; bahwa dia mendengar Muhammad
bin huddayyah Ash Shadafi berkata; aku mendengar Abdullah bin 'Amru bin Al 'Ash
berkata; bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Salam bersabda:
"Sesungguhnya golongan munafik dari umatku paling banyak terdapat dari
para pembacanya (Ahli Qur'an)."
2.14.2. Sesungguhnya Mereka (Orang-Orang
Munafik) Benar-Benar Pendusta
Di dalam Al Quran Surat Al-Hasyr/ 59: 11, digambarkan
bahwa orang munafik adalah pendusta;
أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ نَافَقُوا يَقُولُونَ
لِإِخْوَانِهِمُ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَئِنْ أُخْرِجْتُمْ لَنَخْرُجَنَّ
مَعَكُمْ وَلَا نُطِيعُ فِيكُمْ أَحَدًا أَبَدًا وَإِنْ قُوتِلْتُمْ لَنَنْصُرَنَّكُمْ
وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّهُمْ لَكَاذِبُونَ
Artinya: Apakah kamu tidak memperhatikan
orang-orang munafik yang berkata kepada saudara-saudara mereka yang kafir di
antara ahli kitab: "Sesungguhnya jika kamu diusir niscaya kamipun akan
keluar bersamamu; dan kami selama-lamanya tidak akan patuh kepada siapapun
untuk (menyusahkan) kamu, dan jika kamu diperangi pasti kami akan membantu
kamu". Dan Allah menyaksikan bahwa Sesungguhnya mereka benar-benar
pendusta.
2.14.3. Berprasangka Buruk Terhadap Allah
Di dalam Al Quran Surat Al-Fath/ 48: 6, digambarkan
bahwa orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik
laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah;
وَيُعَذِّبَ الْمُنٰفِقِينَ وَالْمُنٰفِقٰتِ
وَالْمُشْرِكِينَ وَالْمُشْرِكٰتِ الظَّآنِّينَ بِاللَّهِ ظَنَّ السَّوْءِ ۚ عَلَيْهِمْ
دَآئِرَةُ السَّوْءِ ۖ وَغَضِبَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ وَلَعَنَهُمْ وَأَعَدَّ لَهُمْ
جَهَنَّمَ ۖ وَسَآءَتْ مَصِيرًا
Artinya: dan supaya Dia mengazab orang-orang
munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan
yang mereka itu berprasangka buruk terhadap Allah. Mereka akan mendapat giliran
(kebinasaan) yang amat buruk dan Allah memurkai dan mengutuk mereka serta
menyediakan bagi mereka neraka Jahannam. Dan (neraka Jahannam) itulah
sejahat-jahat tempat kembali.
2.14.4. Tidak Ada Shalat Yang Lebih Berat Bagi
Orang-Orang Munafik Kecuali Shalat Shubuh Dan 'Isya
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 657, dijelaskan bahwa Tidak ada shalat yang
lebih berat bagi orang-orang Munafik kecuali shalat shubuh dan 'Isya;
حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَفْصٍ قَالَ حَدَّثَنَا
أَبِي قَالَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ صَلَاةٌ أَثْقَلَ
عَلَى الْمُنَافِقِينَ مِنْ الْفَجْرِ وَالْعِشَاءِ وَلَوْ يَعْلَمُونَ مَا فِيهِمَا
لَأَتَوْهُمَا وَلَوْ حَبْوًا لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ الْمُؤَذِّنَ فَيُقِيمَ ثُمَّ
آمُرَ رَجُلًا يَؤُمُّ النَّاسَ ثُمَّ آخُذَ شُعَلًا مِنْ نَارٍ فَأُحَرِّقَ عَلَى
مَنْ لَا يَخْرُجُ إِلَى الصَّلَاةِ بَعْدُ[12]
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami ['Umar bin Hafsh] berkata, telah telah menceritakan kepada kami
[Bapakku] berkata, telah menceritakan kepada kami [Al A'masy] berkata, telah
menceritakan kepadaku [Abu Shalih] dari [Abu Hurairah] berkata, "Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Tidak ada shalat yang
lebih berat bagi orang-orang Munafik kecuali shalat shubuh dan 'Isya.
Seandainya mereka mengetahui (kebaikan) yang ada pada keduanya tentulah mereka
akan mendatanginya walau harus dengan merangkak. Sungguh, aku berkeinginan
untuk memerintahkan seorang mu'adzin sehingga shalat ditegakkan dan aki
perintahkan seseorang untuk memimpin orang-orang shalat, lalu aku menyalakan
api dan membakar (rumah-rumah) orang yang tidak keluar untuk shalat berjama'ah
(tanpa alasan yang benar)."
2.14.5. Mereka Menyenangkan Hatimu Dengan
Mulutnya, Sedang Hatinya Menolak.
Di dalam Al Quran surat At Taubah/ 9: 8, digambarkan
bahwa mereka menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan
kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik;
كَيْفَ وَإِن يَظْهَرُوا عَلَيْكُمْ لَا
يَرْقُبُوا فِيكُمْ إِلًّا وَلَا ذِمَّةً يُرْضُونَكُم بِأَفْوَاهِهِمْ وَتَأْبَىٰ
قُلُوبُهُمْ وَأَكْثَرُهُمْ فَاسِقُونَ
Artinya: Bagaimana bisa (ada perjanjian dari
sisi Allah dan Rasul-Nya dengan orang-orang musyrikin), padahal jika mereka
memperoleh kemenangan terhadap kamu, mereka tidak memelihara hubungan
kekerabatan terhadap kamu dan tidak (pula mengindahkan) perjanjian. Mereka
menyenangkan hatimu dengan mulutnya, sedang hatinya menolak. Dan kebanyakan
mereka adalah orang-orang yang fasik (tidak menepati perjanjian). (QS. At
Taubah/ 9: 8)
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadis nomor 8368, dijelaskan bahwa di bulan ramadhan yang
dipersiapan oleh orang-orang munafiq adalah kesenangan mereka akan kelalaian
orang lain dan mencari-cari aib mereka;
أَبُو بَكْرٍ
الْحَنَفِيُّ قَالَ ثَنَا كَثِيرُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ عَمْرِو بْنِ تَمِيمٍ عَنْ أَبِيهِ
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
لَمَحْلُوفُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَتَى عَلَى الْمُسْلِمِينَ
شَهْرٌ خَيْرٌ لَهُمْ مِنْ رَمَضَانَ وَلَا أَتَى عَلَى الْمُنَافِقِينَ شَهْرٌ شَرٌّ
مِنْ رَمَضَانَ وَذَلِكَ لِمَا يُعِدُّ الْمُؤْمِنُونَ فِيهِ مِنْ الْقُوَّةِ لِلْعِبَادَةِ
وَمَا يُعِدُّ فِيهِ الْمُنَافِقُونَ مِنْ غَفَلَاتِ النَّاسِ وَعَوْرَاتِهِمْ هُوَ
غَنْمٌ وَالْمُؤْمِنُ يَغْتَنِمُهُ الْفَاجِرُ [13]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abu
Bakar Al Hanafi] berkata: telah menceritakan kepada kami [Katsir bin Zaid] dari
['Amru bin Tamim] dari [bapaknya] dari [Abu Hurairah], dia berkata; Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam Bersabda: "Inilah janji Rasulullah
shallallahu 'alaihi wasallam bahwa tidak datang kepada kaum muslimin suatu
bulan yang lebih baik bagi mereka dari bulan Ramadhan, dan tidak datang kepada orang-orang munafiq
suatu bulan yang lebih buruk bagi mereka selain bulan ramadhan, yang demikian
itu karena kaum muslimin menyiapkan tenaga dan semangat untuk beribadah
sedangkan yang dipersiapan oleh orang-orang munafiq adalah kesenangan mereka
akan kelalaian orang lain dan mencari-cari aib mereka, bulan ramadhan adalah
ghonimah orang mukmin yang dimanfaatkan oleh orang yang fajir."
Di dalam Al Quran Surat An-Nisa'/ 4: 145, dijelaskan
bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang
paling bawah dari neraka;
إِنَّ الْمُنَافِقِينَ فِي الدَّرْكِ الْأَسْفَلِ
مِنَ النَّارِ وَلَنْ تَجِدَ لَهُمْ نَصِيرًا
Artinya: Sesungguhnya orang-orang munafik itu
(ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu
sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka.(QS. An-Nisa'/
4: 145)
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 143 dinyatakan
bahwa sesungguhnya yang paling aku takuti dari ummatku adalah setiap munafiq
yang pandai bersilat lidah;
حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ حَدَّثَنَا
دَيْلَمُ بْنُ غَزْوَانَ عَبْدِيٌّ حَدَّثَنَا مَيْمُونٌ الْكُرْدِيُّ حَدَّثَنِي
أَبُو عُثْمَانَ النَّهْدِيُّ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ أَخْوَفَ
مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ [14]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Sa'id
Telah menceritakan kepada kami Dailam Bin Ghazwan seorang abd, Telah
menceritakan kepada kami Maimun Al Kurdi Telah menceritakan kepadaku Abu Utsman
An Nahdi dari Umar Bin Al Khaththab bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya yang paling aku takuti dari ummatku adalah setiap munafiq
yang pandai bersilat lidah."
Di dalam kitab
Sunan Tirmidzi hadits nomor 2027dinyatakan bahwa Malu dan gagap berbicara
adalah dua bagian keimanan sedangkan kata-kata kotor dan kata-kata yang indah
adalah dua bagian kemunafikan;
حَدَّثَنَا حُسَيْنُ بْنُ مُحَمَّدٍ
وَغَيْرُهُ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُطَرِّفٍ عَنْ حَسَّانَ بْنِ
عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْحَيَاءُ وَالْعِيُّ شُعْبَتَانِ مِنْ الْإِيمَانِ
وَالْبَذَاءُ وَالْبَيَانُ شُعْبَتَانِ مِنْ النِّفَاقِ [15]
Artinya: Telah bercerita kepada kami Husain bin
Muhammad dan juga yang lainnya berkata; Telah bercerita kepada kami Muhammad
bin Muthorrif dari Hassan bin 'Athiyyah dari Abu Umamah Al Bahili dari Nabi
Shallallahu'alaihiWasallam bersabda; "Malu dan gagap berbicara adalah dua
bagian keimanan sedangkan kata-kata kotor dan kata-kata yang indah adalah dua
bagian kemunafikan."
2.14.10. Manusia Yang Paling Buruk Adalah Yang Bermuka Dua
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6643 dinyatakan
bahwa Manusia yang paling buruk adalah yang bermuka dua
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ حَدَّثَنَا
اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ عِرَاكٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ
شَرَّ النَّاسِ ذُو الْوَجْهَيْنِ الَّذِي يَأْتِي هَؤُلَاءِ بِوَجْهٍ وَهَؤُلَاءِ
بِوَجْهٍ [16]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Qutaibah telah
menceritakan kepada kami Al Laits dari Yazid bin Abu Hubaib dari Irak dari Abu
Hurairah, ia mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Manusia yang paling buruk adalah yang bermuka dua (Oportunis), yang
mendatangi kaum dengan muka tertentu dan mendatangi lainnya dengan muka yang
lain."
Di dalam kitab
Shahih Bukhari hadits nomor 34
dinyatakan barangsiapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal
tersebut maka pada dirinya terdapat sifat nifaq hingga dia meninggalkannya.
Yaitu, jika diberi amanat dia khianat, jika berbicara dusta, jika berjanji
mengingkari dan jika berseteru curang;
حَدَّثَنَا قَبِيصَةُ بْنُ عُقْبَةَ
قَالَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُرَّةَ
عَنْ مَسْرُوقٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا
وَمَنْ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيهِ خَصْلَةٌ مِنْ النِّفَاقِ
حَتَّى يَدَعَهَا إِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ وَإِذَا حَدَّثَ كَذَبَ وَإِذَا عَاهَدَ
غَدَرَ وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ تَابَعَهُ شُعْبَةُ عَنْ الْأَعْمَشِ[17]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami
Qabishah bin 'Uqbah berkata, telah menceritakan kepada kami Sufyan dari Al
A'masy dari Abdullah bin Murrah dari Masruq dari Abdullah bin 'Amru bahwa Nabi ﷺ bersabda:
"Empat hal bila ada pada seseorang maka dia adalah seorang munafiq tulen,
dan barangsiapa yang terdapat pada dirinya satu sifat dari empat hal tersebut
maka pada dirinya terdapat sifat nifaq hingga dia meninggalkannya. Yaitu, jika
diberi amanat dia khianat, jika berbicara dusta, jika berjanji mengingkari dan
jika berseteru curang". Hadits ini diriwayatkan pula oleh Syu'bah dari Al
A'masy.
Adapun penjelasan dari ciri-ciri khusus karakter
orang munafik sebagaimana disebutkan dalam hadits ini Adalah sebagai berikut;
1.1.1.1. Berkhianat
Khianat berasal dari kata dasar
khawna yang artinya khianat; tidak amanah.
Merupakan karakter orang munafik jika dipercaya berkhianat, berikut ayat-ayat
Al Quran yang berkaitan dengan khiyanat;
Jangan Berkhianat Kepada Allah Dan
Rasul-Nya
Di dalam Al Quran surat Al
Anfal/ 8: 27 ditegaskan janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad)
dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan
kepadamu;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا
تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga)
janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang
kamu mengetahui. (QS. Al Anfal/ 8: 27)
Sesungguhnya Allah Tidak Menyukai
Tiap-Tiap Orang Yang Berkhianat Lagi Mengingkari Nikmat
Di dalam Al Quran surat Al
Hajj/ 22: 38, ditegaskan bahwa Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap
orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat;
إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ
آمَنُوا إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ
Artinya: Sesungguhnya Allah
membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai
tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat. (QS. Al Hajj/ 22:
38)
Sesungguhnya Allah Tidak Menyukai
Orang-Orang Yang Berkhianat
Di dalam Al Quran surat Al
Anfal/ 8: 58 juga ditegaskan bahwa sesungguhnya Allah tidak menyukai
orang-orang yang berkhianat;
وَإِمَّا تَخَافَنَّ مِن قَوْمٍ
خِيَانَةً فَانبِذْ إِلَيْهِمْ عَلَىٰ سَوَاءٍ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ
الْخَائِنِينَ
Artinya: Dan jika kamu
khawatir akan (terjadinya) pengkhianatan dari suatu golongan, maka
kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat. (QS. Al Anfal/ 8: 58)
Bahwasanya Allah Tidak Meridhai Tipu
Daya Orang-Orang Yang Berkhianat
Di dalam Al Quran surat Yusuf/
12: 52 dinyatakan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang
berkhianat;
ذَٰلِكَ لِيَعْلَمَ أَنِّي لَمْ
أَخُنْهُ بِالْغَيْبِ وَأَنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي كَيْدَ الْخَائِنِينَ
Artinya: (Yusuf berkata):
"Yang demikian itu agar dia (Al Aziz) mengetahui bahwa sesungguhnya aku
tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai
tipu daya orang-orang yang berkhianat. (QS. Yusuf/ 12: 52)
Janganlah Kamu Menjadi Penantang,
Karena (Membela) Orang-Orang Yang Khianat
Di dalam Al Quran surat An
Nisa’/ 4: 105 ditegaskan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak
bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat;
إِنَّا أَنزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ
بِالْحَقِّ لِتَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ بِمَا أَرَاكَ اللَّهُ وَلَا تَكُن
لِّلْخَائِنِينَ خَصِيمًا
Artinya: Sesungguhnya Kami
telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili
antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah
kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela)
orang-orang yang khianat, (QS. An Nisa’/ 4: 105)
1.1.1.2. Berdusta; Berbohong; Penipu
Berdusta; berbohong; menipu merupakan
karakter orang munafik, berikuta ayat-ayat Al Quran dan Hadits yang berkaitan
dengan perbuatan dusta; bohong; menipu;
Mereka Hendak Menipu Allah Dan
Orang-Orang Beriman
Di dalam Al Quran Surat Al-Baqarah/ 2: 9, dijelaskan bahwa
orang munafik hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka
hanya menipu dirinya sendiri;
يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا
وَمَا يَخْدَعُونَ إِلَّا أَنْفُسَهُمْ وَمَا يَشْعُرُونَ
Artinya: Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman,
padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar.(QS. Al-Baqarah/
2: 9)
Sesungguhnya Orang-Orang Munafiq Itu
Menipu Allah, Dan Allah Akan Membalas Tipuan Mereka, Mereka Malas Ketika
Mendirikan Shalat, Karena Shalatnaya Hanya Untuk Riya’
Karakter orang munafik digambarkan di dalam Al Quran
surat An-Nisa'/ 4: 142, bahwa orang munafik malas ketika mendirikan shalat,
karena shalatnaya hanya untuk riya’, sehingga hanya sedikit mengingat Allah;
إِنَّ الْمُنٰفِقِينَ يُخٰدِعُونَ اللَّهَ
وَهُوَ خٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا إِلَى الصَّلٰوةِ قَامُوا كُسَالٰى يُرَآءُونَ
النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا
Artinya: Sesungguhnya
orang-orang munafiq itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka.
Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka
bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka
mengingat Allah kecuali sedikit sekali. (An-Nisa'/ 4: 142)
Tidaklah Seorang Pemimpin Memimpin
Masyarakat Muslimin, Lantas Dia Meninggal Dalam Keadaan Menipu Mereka, Selain
Allah Mengharamkan Surga Baginya
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 7151
ditegaskan tidaklah seorang pemimpin memimpin masyarakat muslimin, lantas dia
meninggal dalam keadaan menipu mereka, selain Allah mengharamkan surge baginya;
حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مَنْصُورٍ
أَخْبَرَنَا حُسَيْنٌ الْجُعْفِيُّ قَالَ زَائِدَةُ ذَكَرَهُ عَنْ هِشَامٍ عَنْ
الْحَسَنِ قَالَ أَتَيْنَا مَعْقِلَ بْنَ يَسَارٍ نَعُودُهُ فَدَخَلَ عَلَيْنَا
عُبَيْدُ اللَّهِ فَقَالَ لَهُ مَعْقِلٌ أُحَدِّثُكَ حَدِيثًا سَمِعْتُهُ مِنْ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ مَا مِنْ وَالٍ يَلِي
رَعِيَّةً مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَيَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لَهُمْ إِلَّا حَرَّمَ
اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ [18]
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami Ishaq bin Manshur Telah mengabarkan kepada kami Husain Al Ju'fi,
Zaidah mengatakan, bahwa ia menyebutkannya dari Hisyam dari Al Hasan
mengatakan, kami mendatangi Ma'qil bin Yasar, lantas Ubaidullah menemui kami,
lantas Ma'qil berujar kepadanya; Saya ceritakan hadist kepadamu yang aku
mendengarnya dari Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam, beliau bersabda;
"Tidaklah seorang pemimpin memimpin masyarakat muslimin, lantas dia
meninggal dalam keadaan menipu mereka, selain Allah mengharamkan surga
baginya."
1.1.1.3. Mengingkari Janji
Tepatilah Perjanjian Dengan Allah
Apabila Kamu Berjanji Dan Janganlah Kamu Membatalkan Sumpah-Sumpah(Mu)
Di dalam Al Quran surat An-Nahl/ 16: 91 disebutkan perintah
untuk menepati janji dan larangan membatalkan sumpah;
وَأَوْفُوا بِعَهْدِ اللَّهِ إِذَا
عَاهَدْتُمْ وَلَا تَنْقُضُوا الْأَيْمَانَ بَعْدَ تَوْكِيدِهَا وَقَدْ جَعَلْتُمُ
اللَّهَ عَلَيْكُمْ كَفِيلًا إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا تَفْعَلُونَ
Artinya: Dan tepatilah
perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan
sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan
Allah sebagai saksimu (terhadap sumpah-sumpahmu itu). Sesungguhnya Allah
mengetahui apa yang kamu perbuat. (QS. An-Nahl/ 16: 91)
Janji Adalah Hutang
Di dalam kitab Mu’jam Al Shagir
hadits nomor 418 disebutkan bahwa Janji adalah hutang;
حَدَّثَنَا حَمْزَةُ بْنُ دَاوُدَ بْنِ
سُلَيْمَانَ بْنِ الْحَكَمِ بْنِ سُلَيْمَانَ بْنِ الْحَكَمِ بْنِ الْحَجَّاجِ
بْنِ يُوسُفَ الثَّقَفِيُّ الْمُؤَدِّبُ بِالْأُبُلَّةِ، حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ
مَالِكِ بْنِ عِيسَى، حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْأَشْعَثِ
الْحُدَّانِيُّ، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ عَنِ الْأَسْوَدِ،
وَعَلْقَمَةَ، عَنْ عَلِيٍّ، وَعَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودِ رضي الله عنهما
أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وآله وسلم قَالَ: «الْعِدَّةُ دَيْنٌ» لَمْ
يَرْوِهِ عَنِ الْأَعْمَشِ إِلَّا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْحُدَّانِيُّ [19]
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami Hamzah bin Dawud bin Sulaiman bin Al-Hakam bin Sulaiman bin
Al-Hakam bin Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi Al-Mu’addib di Al-Ubullah, ia
berkata telah menceritakan kepada kami Sa’id bin Malik bin Isa, ia berkata
telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Al-Asy’ats Al-Huddani,
dari Al-A’masy, dari Ibrahim, dari Al-Aswad dan Alqamah, dari Ali dan Abdullah
bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa aalihi
wa sallam bersabda: “Janji adalah hutang,” dan hadis ini tidak diriwayatkan dari
Al-A’masy kecuali oleh Abdullah bin Muhammad Al-Huddani.
Sesungguhnya Seseorang Apabila
Berhutang Dia Akan Cenderung Berkata Dusta Dan Berjanji Lalu Mengingkarinya
Di dalam kitab Shahih Bukhari
hadits nomor 789 dinyatakan bahwa sesungguhnya seseorang apabila berhutang dia
akan cenderung berkata dusta dan berjanji lalu mengingkarinya
حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ قَالَ
أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنَا عُرْوَةُ بْنُ
الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ
يَدْعُو فِي الصَّلَاةِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ
وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ
فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ
الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ
مِنْ الْمَغْرَمِ فَقَالَ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ وَوَعَدَ
فَأَخْلَفَ وَعَنْ الزُّهْرِيِّ قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ
أَنَّ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَسْتَعِيذُ فِي صَلَاتِهِ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ [20]
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami Abu Al Yaman berkata: telah mengabarkan kepada kami Syu'aib dari Az
Zuhri berkata: telah mengabarkan kepada kami 'Urwah bin Az Zubair dari 'Aisyah
isteri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, dia telah mengabarkan kepadanya, bahwa
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam di dalam shalat membaca do'a: Ya
Allah, aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur dan aku berlindung kepada-Mu
dari fitnah Al Masih Ad Dajjal, dan aku berlindung kepada-Mu dari fitnah
kehidupan dan fitnah kematian. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari
perbuatan dosa dan hutang. Tiba-tiba ada seseorang berkata kepada beliau:
"Kenapa tuan banyak meminta perlindungan dari hutang?" Beliau
menjawab: "Sesungguhnya seseorang apabila berhutang dia akan cenderung
berkata dusta dan berjanji lalu mengingkarinya." Dan dari Az Zuhri ia
berkata: 'Urwah bin Az Zubair telah mengabarkan kepadaku, bahwa 'Aisyah
radliyallahu 'anha berkata: "Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam dalam shalatnya meminta perlindungan dari fitnah Dajjal."
Salah Satu Bentuk Ketakwaan Adalah
Menepati Janji
Di dalam Al Quran surat Al-Baqarah/ 2: 177 tergambar bahwa
salah satu bentuk ketakwaan adalah menepati janji;
لَيْسَ الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا
وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنْ آمَنَ
بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ
وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ
وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى
الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي
الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا
وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Artinya: Bukanlah
menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi
sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian,
malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya
kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang
memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan)
hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang
menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam
kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang
benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS. Al-Baqarah/
2: 177)
1.1.1.4. Curang
Berikut akan dikemukakan beberapa Hadits yang berkaitan dengan
keburukan perilaku curang;
Hakim Yang Berlaku Curang Saat Memberi
Putusan Maka Ia Di Neraka
Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah Hadis nomor 2315 dinyatakan
bahwa hakim yang berlaku curang saat memberi putusan maka ia di neraka;
حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ تَوْبَةَ
حَدَّثَنَا خَلَفُ بْنُ خَلِيفَةَ حَدَّثَنَا أَبُو هَاشِمٍ قَالَ لَوْلَا حَدِيثُ
ابْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ الْقُضَاةُ ثَلَاثَةٌ اثْنَانِ فِي النَّارِ وَوَاحِدٌ فِي
الْجَنَّةِ رَجُلٌ عَلِمَ الْحَقَّ فَقَضَى بِهِ فَهُوَ فِي الْجَنَّةِ وَرَجُلٌ
قَضَى لِلنَّاسِ عَلَى جَهْلٍ فَهُوَ فِي النَّارِ وَرَجُلٌ جَارَ فِي الْحُكْمِ
فَهُوَ فِي النَّارِ لَقُلْنَا إِنَّ الْقَاضِيَ إِذَا اجْتَهَدَ فَهُوَ فِي
الْجَنَّةِ [21]
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami Isma'il bin Taubah berkata: telah menceritakan kepada kami Khalaf
bin Khalifah berkata: telah menceritakan kepada kami Abu Hasyim ia berkata:
"Kalau bukan karena hadits Ibnu Buraidah yang bersumber dari Bapaknya, dari
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam beliau bersabda: 'Hakim itu ada tiga
golongan, dua di neraka dan satu di surga: hakim yang mengetahui kebenaran lalu
memutuskan perkara tersebut dengan ilmunya, maka ia berada di surga. Hakim yang
memberi putusan kepada manusia atas dasar kebodohan, maka ia di neraka. Dan
hakim yang berlaku curang saat memberi putusan maka ia di neraka, ' niscaya
kami akan mengatakan, 'Sesungguhnya seorang hakim apabila berijtihad dia akan
berada di dalam surga."
Melalui hadits ini sudah diprediksi akan adanya hakim yang
berlaku curang saat memberi putusan.
Allah Akan Bersama Seorang Hakim,
Selama Tidak Berbuat Curang Dengan Sengaja
Sedangkan di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 20305
dinyatakan bahwa Allah akan bersama seorang hakim, selama tidak berbuat curang
dengan sengaja
حَدَّثَنَا الْحَكَمُ بْنُ نَافِعٍ
أَبُو الْيَمَانِ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ أَبِي شَيْبَةَ
يَحْيَى بْنِ يَزِيدَ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَبِي أُنَيْسَةَ عَنْ نُفَيْعِ بْنِ
الْحَارِثِ عَنْ مَعْقِلٍ الْمُزَنِيِّ قَالَ أَمَرَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ أَقْضِيَ بَيْنَ قَوْمٍ فَقُلْتُ مَا أَحْسَنَ أَنْ
أَقْضِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ اللَّهُ مَعَ الْقَاضِي مَا لَمْ يَحِفْ
عَمْدًا [22]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Al Hakam bin Nafi'
Abul Yaman, telah menceritakan kepada kami Isma'il bin 'Ayyasy dari Abu Syaibah
Yahya bin Yazid dari Zaid bin Abu 'Unaisah dari Nufai' bin Al Harits dari
Ma'qil Al Muzani dia berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
memerintahkanku mengadili (perkara) beberapa orang, Kukatakan: "Betapa
bagusnya apa yang hendak aku putuskan, wahai Rasulullah.' Beliau bersabda:
"Allah akan bersama seorang hakim, selama tidak
berbuat curang dengan sengaja."
Allah akan membersamai hakim apabila dalam proses penanganan
perkara tidak ada unsur kesengajaan untuk berlaku curang, dengan tujuan untuk
memenangkan salah satu pihak yang berperkara.
Barangsiapa Berbuat Curang, Ia Tidak
Termasuk Golongan Kami
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 1315 ditegaskan
pernyataan bahwa Barangsiapa berbuat curang, ia tidak termasuk golongan kami;
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ
أَخْبَرَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى صُبْرَةٍ مِنْ طَعَامٍ فَأَدْخَلَ يَدَهُ فِيهَا
فَنَالَتْ أَصَابِعُهُ بَلَلًا فَقَالَ يَا صَاحِبَ الطَّعَامِ مَا هَذَا قَالَ
أَصَابَتْهُ السَّمَاءُ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أَفَلَا جَعَلْتَهُ فَوْقَ
الطَّعَامِ حَتَّى يَرَاهُ النَّاسُ ثُمَّ قَالَ مَنْ غَشَّ فَلَيْسَ مِنَّا قَالَ
وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَأَبِي الْحَمْرَاءِ وَابْنِ عَبَّاسٍ
وَبُرَيْدَةَ وَأَبِي بُرْدَةَ بْنِ نِيَارٍ وَحُذَيْفَةَ بْنِ الْيَمَانِ قَالَ
أَبُو عِيسَى حَدِيثُ أَبِي هُرَيْرَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَالْعَمَلُ عَلَى
هَذَا عِنْدَ أَهْلِ الْعِلْمِ كَرِهُوا الْغِشَّ وَقَالُوا الْغِشُّ حَرَامٌ [23]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Hujr, telah
mengabarkan kepada kami Isma'il bin Ja'far dari Al 'Ala` bin Abdurrahman dari
ayahnya dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
melewati setumpuk makanan, lalu beliau memasukkan tangan ke dalamnya dan
jari-jarinya mengenai sesuatu yang basah, beliau pun mengatakan: "Wahai
pemilik makanan, apa ini?" ia menjawab: Terkena hujan, wahai Rasulullah.
Beliau mengatakan: "Mengapa engkau tidak menempatkannya di atas makanan ini
hingga orang-orang melihatnya?" kemudian beliau bersabda: "Barangsiapa berbuat curang, ia tidak termasuk golongan
kami." Ia mengatakan: Dalam hal ini ada hadits serupa dari Umar, Abu
Al Hamra`, Ibnu Abbas, Abu Burdah bin Niyar dan Hudzaifah bin Al Yaman. Abu Isa
berkata: Hadits Abu Hurairah adalah hadits hasan shahih dan menjadi pedoman
amal menurut para ulama, mereka memakruhkan perbuatan curang, mereka
mengatakan: Perbuatan curang adalah haram.
Amalan Yang Paling Utama Jihad Yang
Tidak Ada Kecurangan Padanya
Di dalam kitab Sunan Darimi
hadits nomor 1464 dinyatakan bahwa amalan yang paling utama jihad yang tidak
ada kecurangan padanya;
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَبْدِ
اللَّهِ حَدَّثَنَا حَجَّاجُ بْنُ مُحَمَّدٍ قَالَ قَالَ ابْنُ جُرَيْجٍ
أَخْبَرَنِي عُثْمَانُ بْنُ أَبِي سُلَيْمَانَ عَنْ عَلِيٍّ الْأَزْدِيِّ عَنْ
عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ اللَّيْثِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ حُبْشِيٍّ أَنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ أَيُّ الْأَعْمَالِ أَفْضَلُ
قَالَ إِيمَانٌ لَا شَكَّ فِيهِ وَجِهَادٌ لَا غُلُولَ فِيهِ وَحَجَّةٌ
مَبْرُورَةٌ قِيلَ فَأَيُّ الصَّلَاةِ أَفْضَلُ قَالَ طُولُ الْقِيَامِ قِيلَ
فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ قَالَ جُهْدُ مُقِلٍّ قِيلَ فَأَيُّ الْهِجْرَةِ
أَفْضَلُ قَالَ أَنْ تَهْجُرَ مَا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْكَ قِيلَ فَأَيُّ
الْجِهَادِ أَفْضَلُ قَالَ مَنْ جَاهَدَ الْمُشْرِكِينَ بِمَالِهِ وَنَفْسِهِ
قِيلَ فَأَيُّ الْقَتْلِ أَشْرَفُ قَالَ مَنْ عُقِرَ جَوَادُهُ وَأُهْرِيقَ دَمُهُ [24]
Artinya: Telah mengabarkan
kepada kami Ahmad bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Hajjaj bin
Muhammad ia berkata: Ibnu Juraij berkata: telah mengabarkan kepadaku Utsman bin
Abu Sulaiman dari Ali Al Azdi dari 'Ubaid bin 'Umair Al Laitsi dari Abdullah
bin Hubsyi, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam ditanya, "Amalan
apakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Keimanan yang tidak ada
keraguan padanya, jihad yang tidak ada kecurangan padanya, dan haji yang
mabrur." Beliau ditanya lagi, "Shalat apakah yang paling utama?"
Beliau menjawab: "Shalat yang lama." Beliau ditanya lagi,
"Sedekah apakah yang paling utama?" Beliau menjawab: "Membantu
orang miskin." Beliau ditanya lagi, "Hijrah apakah yang paling utama?"
Beliau menjawab: "Engkau meninggalkan apa yang Allah haramkan
kepadamu." Beliau ditanya lagi, "Jihad apakah yang paling
utama?" Beliau menjawab: "Orang yang memerangi orang-orang musyrik
dengan harta dan jiwanya." Beliau ditanya lagi, "Kematian apakah yang
paling mulia?" Beliau menjawab: "Orang yang kudanya disembelih dan
darahnya ditumpahkan (mati syahiud)."
Wahai Anakku, Jika Kamu Mampu Pada
Pagi Hari Dan Sore Hari Tanpa Ada Kecurangan Dalam Hatimu Kepada Seorangpun
Maka Lakukanlah
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi
hadits nomor 2678 disebutkan nasehat Wahai anakku, jika kamu mampu pada pagi
hari dan sore hari tanpa ada kecurangan dalam hatimu kepada seorangpun maka
lakukanlah
حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ حَاتِمٍ
الْأَنْصَارِيُّ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ
الْأَنْصَارِيُّ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَلِيِّ بْنِ زَيْدٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ
الْمُسَيَّبِ قَالَ قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بُنَيَّ إِنْ قَدَرْتَ أَنْ تُصْبِحَ وَتُمْسِيَ لَيْسَ
فِي قَلْبِكَ غِشٌّ لِأَحَدٍ فَافْعَلْ ثُمَّ قَالَ لِي يَا بُنَيَّ وَذَلِكَ مِنْ
سُنَّتِي وَمَنْ أَحْيَا سُنَّتِي فَقَدْ أَحَبَّنِي وَمَنْ أَحَبَّنِي كَانَ
مَعِي فِي الْجَنَّةِ وَفِي الْحَدِيثِ قِصَّةٌ طَوِيلَةٌ قَالَ أَبُو عِيسَى
هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَمُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ
اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ ثِقَةٌ وَأَبُوهُ ثِقَةٌ وَعَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ صَدُوقٌ
إِلَّا أَنَّهُ رُبَّمَا يَرْفَعُ الشَّيْءَ الَّذِي يُوقِفُهُ غَيْرُهُ قَالَ و
سَمِعْت مُحَمَّدَ بْنَ بَشَّارٍ يَقُولُ قَالَ أَبُو الْوَلِيدِ قَالَ شُعْبَةُ
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ زَيْدٍ وَكَانَ رَفَّاعًا وَلَا نَعْرِفُ لِسَعِيدِ بْنِ
الْمُسَيَّبِ عَنْ أَنَسٍ رِوَايَةً إِلَّا هَذَا الْحَدِيثَ بِطُولِهِ وَقَدْ
رَوَى عَبَّادُ بْنُ مَيْسَرَةَ الْمِنْقَرِيُّ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ عَلِيِّ
بْنِ زَيْدٍ عَنْ أَنَسٍ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ
قَالَ أَبُو عِيسَى وَذَاكَرْتُ بِهِ مُحَمَّدَ بْنَ إِسْمَعِيلَ فَلَمْ
يَعْرِفْهُ وَلَمْ يُعْرَفْ لِسَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ أَنَسٍ هَذَا
الْحَدِيثُ وَلَا غَيْرُهُ وَمَاتَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ سَنَةَ ثَلَاثٍ
وَتِسْعِينَ وَمَاتَ سَعِيدُ بْنُ الْمُسَيَّبِ بَعْدَهُ بِسَنَتَيْنِ مَاتَ
سَنَةَ خَمْسٍ وَتِسْعِينَ [25]
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami Muslim bin Hatim Al Anshari Al Bashri telah menceritakan kepada
kami Muhammad bin Abdullah Al Anshari dari Ayahnya dari Ali bin Zaid dari Sa'id
bin Al Musayyaib ia berkata: Anas bin Malik berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi
wa sallam bersabda kepadaku: "Wahai anakku, jika
kamu mampu pada pagi hari dan sore hari tanpa ada kecurangan dalam hatimu
kepada seorangpun maka lakukanlah, " kemudian beliau berabda kepadaku:
"Wahai anakku, itu termasuk dari sunnahku, barangsiapa menghidupkan
sunnahku, berarti dia mencintaiku dan barangsiapa mencintaiku, maka dia akan
bersamaku di surga." Dan dalam hadits ini ada kisah yang panjang. Abu Isa
berkata: Hadits ini hasan gharib dari jalur ini. Muhammad bin Abdullah Al
Anshari adalah perawi tsiqah, Ayahnya juga tsiqah, sedangkan Ali bin Zaid
shaduq, namun dia memarfu'kan hadits yang di mauqufkan oleh yang lainnya, dia
mengatakan: Aku mendengar Muhammad bin Basyar berkata: Abul Walid berkata:
Syu'bah berkata: telah menceritakan kepada kami Ali bin Zaid dan dia adalah
orang yang biasa memafru'kan hadits, kami tidak mengetahui riwayat Sa'id bin Al
Musayyab dari Anas selain hadits panjang ini, Abbad bin Maysarah Al Minqari
telah meriwayatkan hadits ini dari Ali bin Zaid dari Anas dan tidak menyebutkan
dalam hadits ini dari Sa'id bin Al Musayyab. Abu Isa berkata: Dan aku
menyebutkannya kepada Muhammad bin Isma'Il, akan tetapi dia tidak
mengetahuinya, hadits tidak diketahui dari riwayat Sa'id dari Anas, demikian
juga tidak dari yang lainnya, karena Anas bin Malik wafat tahun sembilan puluh
tiga sedangkan Sa'id bin Musayyab wafat dua tahun setelahnya yaitu tahun
sembilan puluh lima."
Janganlah Kalian Berbuat Curang Pada
Suami-Suami Kalian.
Di dalam kitab Musnad Ahmad
hadits nomor 25882 disebutkan larangan Janganlah kalian berbuat curang pada
suami-suami kalian;
حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ قَالَ حَدَّثَنَا
أَبِي عَنِ ابْنِ إِسْحَاقَ قَالَ حَدَّثَنِي سَلِيطُ بْنُ أَيُّوبَ بْنِ
الْحَكَمِ بْنِ سُلَيْمٍ عَنْ أُمِّهِ عَنْ سَلْمَى بِنْتِ قَيْسٍ وَكَانَتْ
إِحْدَى خَالَاتِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ صَلَّتْ
مَعَهُ الْقِبْلَتَيْنِ وَكَانَتْ إِحْدَى نِسَاءِ بَنِي عَدِيِّ بْنِ النَّجَّارِ
قَالَتْ جِئْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَايَعْتُهُ
فِي نِسْوَةٍ مِنْ الْأَنْصَارِ فَلَمَّا شَرَطَ عَلَيْنَا أَنْ لَا نُشْرِكَ
بِاللَّهِ شَيْئًا وَلَا نَسْرِقَ وَلَا نَزْنِيَ وَلَا نَقْتُلَ أَوْلَادَنَا
وَلَا نَأْتِيَ بِبُهْتَانٍ نَفْتَرِيهِ بَيْنَ أَيْدِينَا وَأَرْجُلِنَا وَلَا
نَعْصِيَهُ فِي مَعْرُوفٍ قَالَ قَالَ وَلَا تَغْشُشْنَ أَزْوَاجَكُنَّ قَالَتْ
فَبَايَعْنَاهُ ثُمَّ انْصَرَفْنَا فَقُلْتُ لِامْرَأَةٍ مِنْهُنَّ ارْجِعِي
فَاسْأَلِي رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا غِشُّ
أَزْوَاجِنَا قَالَتْ فَسَأَلَتْهُ فَقَالَ تَأْخُذُ مَالَهُ فَتُحَابِي بِهِ
غَيْرَهُ [26]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami
Ya'qub berkata: telah menceritakan kepada kami ayahku dari Ibnu Ishaq dia
berkata: telah menceritakan kepadaku Salith bin Ayyub bin Al Hakam bin Sulaim
dari Ibunya dari Salma binti Qais dia adalah salah satu bibi Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, bahwa dia pernah shalat bersama beliau menghadap
dua kiblat, dan termasuk salah satu wanita Bani 'Adi bin Najjar. Dia berkata:
"Aku menemui Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam untuk berbait kepada
beliau bersama para wanita Anshar, ketika itu beliau memberi kami syarat agar
kami tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun, tidak mencuri, tidak berzina,
tidak membunuh anak-anak kami, tidak mendatangi keburukan yang kami perbuat
antara kedua tangan dan kaki kami, dan tidak bermaksiat dalam kebaikan."
Salith berkata: "Rasulullah bersabda: "Janganlah kalian berbuat
curang pada suami-suami kalian." Salma binti Qais berkata: "Maka kami
berbaiat kepada beliau kemudian kami beranjak pergi, lalu aku berkata kepada
seorang wanita di antara mereka, 'Kembali dan tanyakanlah kepada Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, apa yang dimaksud berbuat curang kepada
suami-suami kami? ' Salma bin Qais berkata: "Wanita itu lalu kembali dan
menanyakannya, kemudian beliau bersabda: "Kamu mengambil hartanya
sedangkan kamu lebih mengutamakan selainnya."
Apabila kefasikan ada di dalam
qalbu seseorang, akan dapat menyebabkan orang tersebut berbuat; bohong, dusta, kepalsuan, tidak jujur, penggelapan,
penyembunyian fakta, bermuka dua, tidak amanah, berkhianat dll. Sedangkan lupa diri menyebabkan pelakunya
berbuat; pemalsuan, tipu daya, tipu muslihat, rencana jahat/makar, rekayasa
aturan, fitnah, berita bohong, cerita bohong, kebohongan publik, bersaksi palsu
dll.
Perintah bertakwa dari kefasikan disebutkan di dalam Al
Quran di bagian akhir surat Al Baqarah/ 2 : 282 yang melarang dan janganlah
penulis dan saksi saling sulit menyulitkan. Jika kamu lakukan (yang demikian),
maka sesungguhnya hal itu adalah suatu kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah
kepada Allah;
وَأَشْهِدُوا إِذَا تَبَايَعْتُمْ وَلَا
يُضَارَّ كَاتِبٌ وَلَا شَهِيدٌ وَإِنْ تَفْعَلُوا فَإِنَّهُ فُسُوقٌ بِكُمْ
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Artinya: … Dan persaksikanlah apabila kamu berjual beli; dan janganlah penulis dan saksi saling sulit menyulitkan.
Jika kamu lakukan (yang demikian), maka sesungguhnya hal itu adalah suatu
kefasikan pada dirimu. Dan bertakwalah kepada Allah; Allah mengajarmu; dan
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al Baqarah/ 2 : 282)
Maka di sini perlu dirumuskan bahwa takwa dari Fasik
adalah kesadaran diri untuk mentaati Allah, mengendalikan qalbu agar selalu
terjaga dari segala bentuk kefasikan, dan segera sadar jika telah melakukan
kefasikan segera mengakui kesalahan diikuti dengan kesadaran bertaubat kepada
Allah SWT dan memohon ampun kepada Alah atas kesalahan telah berbuat kefasikan.
Ada beberapa langkah yang harus dilakukan untuk menjaga
diri agar berada di dalam ketakwaan dari kefasikan, yaitu antara lain;
Di dalam Al Quran surat Al Hujurat/ 49: 7, dinyatakan
bahwa Allah menjadikan kamu "cinta" kepada keimanan dan menjadikan
keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada
kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan;
وَاعْلَمُوا أَنَّ فِيكُمْ رَسُولَ
اللَّهِ لَوْ يُطِيعُكُمْ فِي كَثِيرٍ مِّنَ الْأَمْرِ لَعَنِتُّمْ وَلَٰكِنَّ
اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ
إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ
Artinya: Dan ketahuilah
olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. Kalau ia menuruti kemauanmu dalam
beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan
kamu "cinta" kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di
dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan
kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, (QS. Al Hujurat/ 49: 7)
3.2. Shalat Berjamaah Dapat Membebaskan
Diri Dari Sifat-sifat Munafiq
Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 241
dinyatakan bahwa Barangsiapa shalat berjama'ah selama empat puluh hari dengan
mendapatkan takbir pertama ikhlas karena Allah, maka akan dicatat baginya
terbebas dari dua hal; terbebas dari api neraka dan terbebas dari sifat
munafik;
حَدَّثَنَا عُقْبَةُ بْنُ مُكْرَمٍ
وَنَصْرُ بْنُ عَلِيٍّ الْجَهْضَمِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو قُتَيْبَةَ سَلْمُ
بْنُ قُتَيْبَةَ عَنْ طُعْمَةَ بْنِ عَمْرٍو عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي ثَابِتٍ عَنْ
أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ مَنْ صَلَّى لِلَّهِ أَرْبَعِينَ يَوْمًا فِي جَمَاعَةٍ يُدْرِكُ
التَّكْبِيرَةَ الْأُولَى كُتِبَتْ لَهُ بَرَاءَتَانِ بَرَاءَةٌ مِنْ النَّارِ
وَبَرَاءَةٌ مِنْ النِّفَاقِ [27]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Uqbah bin
Mukram dan Nashr bin Ali Al Jahdlami keduanya berkata; telah menceritakan
kepada kami Abu Qutaibah Salm bin Qutaibah dari Thu'mah bin 'Amru dari Habib
bin Abu Tsabit dari Anas bin Malik ia berkata; "Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa shalat
berjama'ah selama empat puluh hari dengan mendapatkan takbir pertama ikhlas
karena Allah, maka akan dicatat baginya terbebas dari dua hal; terbebas dari
api neraka dan terbebas dari sifat munafik."
Di dalam kitab Musnad Ahmad Hadis nomor 19507 dinyatakan sesungguhnya orang
yang paling berkhianat menurutku adalah orang yang meminta dipekerjakan (untuk
menjadi pejabat), maka hendaklah kalian bertakwa kepada Allah 'azza wajalla;
-حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ،
أَخْبَرَنَا سُفْيَانُ، عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ، عَنْ أَخِيهِ، عَنْ
أَبِي بُرْدَةَ، عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ قَالَ: قَدِمَ رَجُلَانِ مَعِي
مِنْ قَوْمِي قَالَ: فَأَتَيْنَا إِلَى النَّبِيِّ ﷺ، فَخَطَبَا، وَتَكَلَّمَا،
فَجَعَلَا يُعَرِّضَانِ بِالْعَمَلِ، فَتَغَيَّرَ وَجْهُ النَّبِيِّ ﷺ، أَوْ
رُئِيَ فِي وَجْهِهِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «إِنَّ
أَخْوَنَكُمْ عِنْدِي مَنْ يَطْلُبُهُ، فَعَلَيْكُمَا بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ
وَجَلَّ » قَالَ: فَمَا اسْتَعَانَ بِهِمَا عَلَى شَيْءٍ [28]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdurrazzaq,
telah mengabarkan kepada kami Sufyan, dari Isma’il bin Abi Khalid, dari
saudaranya, dari Abu Burdah, dari Abu Musa Al-Asy’ari, ia berkata: Terjemahan
Isi Hadis (Matan): "Dua orang laki-laki dari kaumku datang
bersamaku." (Abu Musa) berkata: "Lalu kami mendatangi Nabi ﷺ, kemudian keduanya
berbicara dan mengutarakan maksud, keduanya mulai menyindir (mengisyaratkan)
meminta pekerjaan (jabatan/kekuasaan). Maka wajah Nabi ﷺ berubah atau
terlihat perubahan pada wajah beliau lalu Nabi ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya
orang yang paling berkhianat (tidak amanah) di antara kalian menurutku adalah
orang yang memintanya (jabatan tersebut), maka hendaklah kalian berdua bertakwa
kepada Allah Azza wa Jalla.'" (Abu Musa) berkata: "Maka beliau tidak meminta
bantuan (tidak mempekerjakan) mereka berdua untuk urusan apa pun."
3.4. Berdoa Mohon Perlindunganmu Dari
Kekafiran dan Kefasikan
Di dalam kitab Doa Thabarani
hadits nomor 794, disebutkan doa masuk pasar; untuk mohon perlindungan kepada
Allah dari kekafiran dan kefasikan;
حَدَّثَنَا الْحَضْرَمِيُّ، ثنا عَبْدُ
الْحَمِيدِ بْنُ صَالِحٍ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ أَبَانَ، عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ
مَرْثَدٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، رضي الله عنه أَنَّ
النَّبِيَّ ﷺ كَانَ إِذَا دَخَلَ السُّوقَ قَالَ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ
مِنْ خَيْرِ هَذِهِ السُّوقِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفُسُوقِ[29]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Al
Hadrami, Telah menceritakan kepada kami Abdul Hamid Ibnu Shalih, Telah
menceritakan kepada kami Muhammad Ibnu Aban, dari ‘Alqamah Ibnu Mursid, dari
Sulaiman Ibnu Buraidah dari bapaknya radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Muhammad
SAW jika masuk pasar membaca: “Ya Allah Sesungguhnya kami mohon kepada-Mu
kebaikan pasar ini dan kami mohon perlindungan dari-Mu dari kekafiran dan
kefasikan.”
3.5. Berdoa Mohon Perlindungan dari
Perpecahan Dan Kemunafikan
Di dalam kitab Sunan Abu Daud
hadits nomor 1546 disebutkan doa Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari
perpecahan dan kemunafikan serta akhlak yang jelek;
حَدَّثَنَا عَمْرُو بْنُ عُثْمَانَ
حَدَّثَنَا بَقِيَّةُ حَدَّثَنَا ضُبَارَةُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي
السُّلَيْكِ عَنْ دُوَيْدِ بْنِ نَافِعٍ حَدَّثَنَا أَبُو صَالِحٍ السَّمَّانُ
قَالَ قَالَ أَبُو هُرَيْرَةَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ كَانَ يَدْعُو يَقُولُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الشِّقَاقِ
وَالنِّفَاقِ وَسُوءِ الْأَخْلَاقِ[30]
Artinya: Telah menceritakan kepada Kami 'Amr
bin Utsman, telah menceritakan kepada Kami Baqiyyah, telah menceritakan kepada
Kami Dhubarah bin Abdullah bin Abu As Sulaik dari Duwaid bin Nafi', telah
menceritakan kepada Kami Abu Shalih As Samman, ia berkata; Abu Hurairah
radliallahu 'anhu berkata; sesungguhnya Rasulullah shallAllahu wa'alaihi wa
sallam pernah berdo'a: Ya Allah aku berlindung kepadaMu dari perpecahan dan
kemunafikan serta akhlak yang jelek .
3.6. Berdoa Mohon Perlindungan dari
Kefasikan, Perpecahan Dan Kemunafikan
Di dalam kitab Al-Du’a
li-Thabarani hadits nomor 1343 disebutkan doa permohonan kepada Allah dari
kefasikan, perpecahan, kemunafikan, sum’ah dan riya’;
حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ
الْقَلانِسِيُّ الرَّمْلِيُّ ، حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ
الْعَسْقَلانِيُّ ، حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ النَّحْوِيُّ ،
عَنْ قَتَادَةَ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ ، قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، يَقُولُ : اللَّهُمَّ ، إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ
الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْقَسْوَةِ وَالْغَفْلَةِ
وَالْعَيْلَةِ ، وَالذِّلَّةِ وَالْمَسْكَنَةِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفُسُوقِ
وَالشِّقَاقِ وَالنِّفَاقِ ، وَالسُّمْعَةِ وَالرِّيَاءِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ
الصَّمَمِ وَالْبَكَمِ ، وَالْجُنُونِ وَالْبَرَصِ ، وَالْجُذَامِ وَسَيِّءِ
الأَسْقَامِ لَمْ يَرْوِهِ بِهَذَا التَّمَامِ ، إِلَّاشَيْبَانُ تَفَرَّدَ بِهِ
آدَمُ [31]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ja’far ibnu Muhammad Al Qalnisi Ar Ramli, telah
menceritakan kepada kami Adam ibnu Abi Iyas Al ‘Asqalani, telah menceritakan
kepada kami Syaiban ibnu Abdi Rahman An Nahwi, dari Qatadah, dari Anas ibnu
Malik, berkata: Rasulullah SAW bersabda: Ya Allah, Sesungguhnya aku berlindung
kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan dan aku berlindung kepada-Mu dari
kekerasan, kelalaian, ketergantungan, kehinaan, kemiskinan dan aku berlindung
kepada-Mu dari kefasikan, perpecahan, kemunafikan, sum’ah, riya’ dan aku
berlindung kepada-Mu dari ketulian, kebisuan, kegilaan, kusta, lepra, dan
penyakit yang buruk.
Doa Mohon
Perlindungan Dari Kefasikan, Perpecahan dan Kemunafikan
اللَّهُمَّ ، إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ ،
وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْقَسْوَةِ وَالْغَفْلَةِ وَالْعَيْلَةِ ، وَالذِّلَّةِ
وَالْمَسْكَنَةِ ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفُسُوقِ وَالشِّقَاقِ وَالنِّفَاقِ ،
وَالسُّمْعَةِ وَالرِّيَاءِ[32]
Ya Allah,
Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan, kemalasan dan aku
berlindung kepada-Mu dari kekerasan, kelalaian, ketergantungan, kehinaan,
kemiskinan dan aku berlindung kepada-Mu dari kefasikan, perpecahan,
kemunafikan, sum’ah, riya’
(Al-Du’a
li-Thabarani hadits nomor 1343)
[1] Abū Ḥāmid al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Dār
al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, 2005, Jilid 3, halaman. 118.
[2] Ibid., halaman 120.
[3] Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, al-Jawāb al-Kāfī, Dār
al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, 1997, halaman 68.
[4] Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah, Madarij al-Sālikīn,
Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, 1996, jilid 1, halaman 142.
[5] Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid
9, Halaman 50, Hadits nomor 7076.
[6] Ibid, Jilid 8,
Halaman 15, Hadits nomor 6045.
[7] Al Imam Ahmad
bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 17, Halaman 576, Hadits nomor 10978.
[8] Al Imam Ahmad
bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 24, Halaman 291, Hadits nomor 15531.
[9] Abū Ḥāmid
al-Ghazālī, Iḥyā’ ‘Ulūm al-Dīn, Juz 3 (Beirut: Dār al-Ma‘rifah, tt.),
58–65. (Pembahasan: Bāb Ḍam al-Ghūrūr dan penyakit-penyakit hati, termasuk
nifaq).
[10] Ibn Qayyim
al-Jauziyyah, Madārij as-Sālikīn bayna Manāzil Iyyāka Na‘budu wa Iyyāka
Nasta‘īn, Juz 1 (Beirut: Dār al-Kitāb al-‘Arabī, 2000), 342–349.
[11] Al Imam Ahmad
bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 11, Halaman 211, Hadits nomor 6634.
[12] Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid
1, Halaman 132, Hadits nomor 657.
[13] Al Imam Ahmad
bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 14, Halaman 104, Hadits nomor 8368.
[14] Al Imam Ahmad
bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 1, Halaman 288, Hadits nomor 143.
[15] Abu ‘Isa
Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi,
Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 3 halaman 551, Hadits nomor 2027.
[16] Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404,
Jilid 9, Halaman 71, Hadits nomor 7179.
[17] Ibid, Jilid 1,
Halaman 16, Hadits nomor 34.
[18] Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid
9, Halaman 64, Hadits nomor 7151.
[19] Abu Qasim
Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Shagir, Maktab Al Islami, Beirut, 1985, Jilid
1, Halaman 256, Hadits nomor 419.
[20] Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, Dar Ibnu Katsir, Damsyiq, 1993,
Jilid 1, Halaman 286, Hadits nomor 798.
[21] Ibnu Majah
Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab
al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman 776, Hadits nomor 2315.
[22] Al Imam Ahmad
bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 33, Halaman 420, Hadits nomor 20305.
[23] Abu ‘Isa
Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi,
Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Musthafa, Beirut, 1975, Jilid 3 halaman 598,
Hadits nomor 1315.
[24] Abd Al-Shamad Al-Darimi, Sunan Darimi, Dar Al
Mughni Linashr Watauzi’, Saudi Arabi, 2000, Jilid 2, Halaman 892, Hadits nomor 1464, Abu Abd
al-Rahman Ahmad ibn Syu’aib al-Nasa’I, Al Sunan Al Kubra, Muassasah Al Risalah,
2001, Beirut, Jilid 3 Halaman 47, Nomor hadits 2317.
[25] Abu ‘Isa
Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi,
Syirkah Maktabah wa Mathba’ah Musthafa, Beirut, 1975, Jilid 5 halaman 46,
Hadits nomor 2678.
[26] Al Imam Ahmad
bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 45, Halaman 103, Hadits nomor 27133.
[27] Abu ‘Isa
Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi,
Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 1 halaman 281, Hadits nomor 241.
[28] Al Imam Ahmad
bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 32, Halaman 266, Hadits nomor 19507.
[29] Abu Qasim
Al-Thabarani, Al-Du’a Thabarani, Dar Al Kutub Al Ilmiyah, Beirut,
1413, Halaman 252, Hadits nomor 794.
[30] Abu Daud
Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt,
Jilid, 2, Halaman 91, Hadits nomor 1546.
[31] Abu Qasim
Al-Thabarani, Al-Du’a Thabarani, Dar Al Kutub Al Ilmiyah, Beirut,
1413, Jilid 1, Halaman 400, Hadits nomor 1343.
[32] Ibid.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar