Dzalim
berasal dari kata dhalama-yadhlimu-dhulman, artinya: menindas, menekan, menganiaya, memperlakukan secara tak wajar
atau tak adil, Dzalim pengertiannya adalah meletakkan sesuatu tidak pada
tempatnya. Kezaliman ada dua, yaitu mendzalimi diri sendiri, dan mendzalimi
orang lain. Mendzalimi diri sendiri ada dua bentuk yaitu syirik, dan perbuatan
dosa atau maksiat. Mendzalimi orang lain adalah menyia-nyiakan atau tidak
menunaikan hak orang lain yang wajib ditunaikan.
Berdasar pencarian kata dasar dhalama
menggunakan aplikasi Al Quran Zekr 1.1, ditemukan 315 kata di 290 ayat Al Quran. Ayat-ayat tersebut dapat digunakan
sebagai dasar utama untuk memahami hakikat dzalim, hakikat dzalim ini penting
untuk dipahami dengan tujuan agar kita dapat benar-benar bertakwa dari
kedzaliman.
Agar dapat memahami Takwa dari Kedzaliman
secara menyeluruh, maka di sini akan dikemukakan pembahasan tentang;
1. Hikmah Tentang Kedzaliman
2. Karakter Orang Yang Dzalim
3. Kelompok Orang Dzalim
4. Akibat Dari Kedzaliman
5. Takwa Dari Kedzaliman
Adapun pembahasannya adalah sebagai
berikut;
Berikut akan dikemukakan
beberapa ayat Al Quran maupun Hadits Rasulullah yang berkaitan dengan hikmah
tentang kedzaliman
Di dalam Al Quran Surat Al-Jasiyah/ 45; 19, disebutkan
bahwa orang dzalim itu sebagiannya menjadi wali: pemimpin, penolong, pelindung,
teman dekat dari Sebagian yang lain;
إِنَّهُمْ لَنْ يُغْنُوا عَنْكَ مِنَ اللَّهِ
شَيْئًا ۚ وَإِنَّ الظَّالِمِينَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ ۖ وَاللَّهُ وَلِيُّ
الْمُتَّقِينَ
Artinya: Sesungguhnya mereka sekali-kali tidak
akan dapat menolak dari kamu sedikitpun dari siksaan Allah. Dan Sesungguhnya
orang-orang yang zalim itu sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang
lain, dan Allah adalah pelindung orang-orang yang bertakwa.(QS. Al-Jasiyah/ 45; 19)
1.2. Kami Jadikan Sebahagian Orang-Orang
Yang Zalim Itu Menjadi Teman Bagi Sebahagian Yang Lain
Demikian juga disebutkan di dalam Al Quran Surat
Al-An'am/ 6: 129; karena usaha mereka sama;
وَكَذَٰلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ
بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ
Artinya: Dan demikianlah Kami jadikan
sebahagian orang-orang yang zalim itu menjadi teman bagi sebahagian yang lain
disebabkan apa yang mereka usahakan.(QS. Al-An'am/ 6: 129)
Allah memperingatkan kepada orang beriman di dalam Al
Quran Surat At-Taubah/ 9: 23, untuk tidak menjadikan orang tua dan saudara
menjadi wali: pemimpin, penolong, pelindung, teman dekat, jika mereka lebih
mengutamakan kekafiran atas keimanan, barang siapa menjadikannya sebagai wali:
pemimpin, penolong, pelindung, teman dekat maka akan menjadi bagian darinya,
termasuk orang dzalim;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَتَّخِذُوا
آبَاءَكُمْ وَإِخْوَانَكُمْ أَوْلِيَاءَ إِنِ اسْتَحَبُّوا الْكُفْرَ عَلَى الْإِيمَانِ
ۚ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Artinya: Hai orang-orang beriman, janganlah
kamu jadikan bapak-bapak dan saudara-saudaramu menjadi wali(mu), jika mereka
lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan dan siapa di antara kamu yang
menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim. (QS. At-Taubah/ 9: 23)
Nabi Muhammad SAW juga memberikan peringatan, yang
dimuat di dalam Musnad Ahmad hadits nomor 18126, bahwa “Sesungguhnya akan ada
setelahku para pemimpin yang berbuat kedustaan dan kezhaliman. Barangsiapa
mendatangi mereka kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka
dalam kezhalimannya, maka ia bukan golonganku dan aku bukan golongannya”;
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سَعِيدٍ عَنْ سُفْيَانَ
حَدَّثَنِي أَبُو حَصِينٍ عَنِ الشَّعْبِيِّ عَنْ عَاصِمٍ الْعَدَوِىِّ عَنْ كَعْبِ
بْنِ عُجْرَةَ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَوْ دَخَلَ وَنَحْنُ تِسْعَةٌ وَبَيْنَنَا وِسَادَةٌ مِنْ أَدَمٍ فَقَالَ إِنَّهَا
سَتَكُونُ بَعْدِي أُمَرَاءُ يَكْذِبُونَ وَيَظْلِمُونَ فَمَنْ دَخَلَ عَلَيْهِمْ فَصَدَّقَهُمْ
بِكِذْبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ وَلَيْسَ
بِوَارِدٍ عَلَيَّ الْحَوْضَ وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ بِكَذِبِهِمْ وَيُعِنْهُمْ
عَلَى ظُلْمِهِمْ فَهُوَ مِنِّي وَأَنَا مِنْهُ وَهُوَ وَارِدٌ عَلَيَّ الْحَوْضَ [1]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Yahya
bin Sa'id] dari [Sufyan] telah menceritakan kepadaku [Abu Hashin] dari [Asy
Sya'bi] dari [Ashim Al Adawi] dari [Ka'ab bin Ujrah] ia berkata,
"Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah keluar atau masuk menemui
kami, saat itu kami berjumlah sembilan orang. Dan di antara kami ada bantal
yang terbuat dari kulit. Beliau lalu bersabda: "Sesungguhnya akan ada
setelahku para pemimpin yang berbuat kedustaan dan kezhaliman. Barangsiapa
mendatangi mereka kemudian membenarkan kebohongan mereka, atau membantu mereka
dalam kezhalimannya, maka ia bukan golonganku dan aku bukan golongannya. Serta
ia tidak akan minum dari telagaku. Dan barangsiapa tidak membenarkan kebohongan
mereka dan tidak membantu mereka dalam berbuat shalim, maka ia adalah
golonganku dan aku adalah golongannya. Dan kelak ia akan minum dari
telagaku." (HR. Ahmad:
17424)
1.5. Berjalan Beriringan Dengan Orang
Dzalim Keluar Dari Islam
Di dalam kitab Syuab al-Iman Baihaqi
hadits nomor 7675 dinyatakan bahwa barang siapa berjalan; beriringan dengan
orang dzalim dan memperkuatnya; mendukungnya padahal dia mengetahui bahwa dia
orang dzalim, maka telah keluar dari Islam;
أَخْبَرَنَا
عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ، أنا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ الصَّفَّارُ،
نا -[127]- أَبُو إِسْمَاعِيلَ التِّرْمِذِيُّ، حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ بْنُ
إِبْرَاهِيمَ، حَدَّثَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ، نا عَبْدُ اللهِ بْنُ سَالِمٍ،
نا الزُّبَيْرُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ الْوَلِيدِ، نا عَامِرٌ، نا عَيَّاشُ بْنُ
مُؤْنِسٍ، أَنَّ أَبَا الْحَسَنِ نِمْرَانَ الرَّحَبِيَّ حَدَّثَهُ، أَنَّ أَوْسَ
بْنَ شُرَحْبِيلَ - أَحَدَ بَنِي الْمَجْمَعِ - حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ
اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " مَنْ مَشَى مَعَ ظَالِمٍ
يُقَوِّيهِ وَهُوَ يَعْلَمُ أَنَّهُ ظَالِمٌ فَقَدْ خَرَجَ مِنَ الْإِسْلَامِ
" لَمْ يُثْبِتْ شَيْخُنَا إِسْنَادَهُ، وَهُوَ كَمَا كَتَبْتُهُ صَحِيحٌ لَا
شَكَّ فِيهِ، وَقَالَ جَرِيرُ بْنُ عُثْمَانَ مَرَّةً: شُرَحْبِيلُ بْنُ أَوْسٍ [2]
Artinya: Telah mengabarkan kepada Kami Ali ibnu
Ahmad ibnu Abdan, telah mengabarkan kepada kami Ahmad ibnu Ubaidin Ash Shafar,
telah mengabarkan kepada kami Abu Ismail At Timidzi, telah menceritakan kepada
kami Ishaq ibnu Ibrahim, telah menceritakan kepada kami Amru ibnu Al Harits,
telah menceritakan kepada kami Abdullah ibnu Salim, telah menceritakan kepada
kami Az Zubair ibnu Muhammad ibnu Al Walid, telah menceritakan kepada kami
Amir, telah menceritakan kepada kami ‘Ayas ibnu Mu’nis, bahwa Ayahnya Al Hasan
Nimran Ar Rahabi bercerita kepadanya, bahwa Aus ibnu Surahbil –salah seorang
keturunan Al Majma’- bercerita kepadanya bahwa dia mendengar dari Rasulullah
SAW berkata: “barang siapa berjalan; beriringan dengan orang dzalim dan
memperkuatnya; mendukungnya padahal dia mengetahui bahwa dia orang dzalim, maka
telah keluar dari Islam” (HR. Baihaqi: 7824)
1.6. Allah Tidak Menyukai Orang-Orang Yang
Dzalim
Di dalam Al Quran surat
Ali-'Imran/ 3: 57, 140 dan surat Asy Syura/ 42: 40 ditegaskan bahwa Allah tidak menyukai
orang-orang yang dzalim;
وَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا
الصَّالِحَاتِ فَيُوَفِّيهِمْ أُجُورَهُمْ وَاللَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Artinya: Adapun orang-orang yang beriman dan
mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka
dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka; dan Allah tidak menyukai
orang-orang yang zalim.(QS. Ali-'Imran/ 3: 57)
إِنْ يَمْسَسْكُمْ قَرْحٌ فَقَدْ مَسَّ
الْقَوْمَ قَرْحٌ مِثْلُهُ وَتِلْكَ الْأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيْنَ النَّاسِ
وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَيَتَّخِذَ مِنْكُمْ شُهَدَاءَ وَاللَّهُ
لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ
Artinya: Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat
luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka
yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara
manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan
orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu
dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang
yang zalim,(QS. Ali-'Imran/ 3: 140)
وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ
مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ
الظَّالِمِينَ
Artinya: Dan balasan suatu kejahatan adalah
kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka
pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang
yang zalim. (QS. Asy-Syura/42: 40)
1.7. Allah Tidak Mengampuni Dan Memberi
Petunjuk Kepada Orang-Orang Yang Dzalim
Di dalam Al Quran Surat An Nisa’/ 4: 168, ditegaskan
bahwa Allah tidak mengampuni dan memberi petunjuk kepada orang-orang yang
dzalim;
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَظَلَمُوا
لَمْ يَكُنِ اللَّهُ لِيَغْفِرَ لَهُمْ وَلَا لِيَهْدِيَهُمْ طَرِيقًا
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang kafir
dan melakukan kezaliman, Allah sekali-kali tidak akan mengampuni (dosa) mereka
dan tidak (pula) akan menunjukkan jalan kepada mereka, (QS. An Nisa’/ 4:
168)
1.8. Allah
Tidak Memberi Petunjuk Orang-Orang Dzalim
Di dalam Al Quran Surat Ali 'Imran/ 3: 86 dan Surat
As-Saff/ 61: 7 ditegaskan bahwa Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
yang dzalim;
كَيْفَ يَهْدِي اللَّهُ قَوْمًا كَفَرُوا
بَعْدَ إِيمَانِهِمْ وَشَهِدُوا أَنَّ الرَّسُولَ حَقٌّ وَجَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ
ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Artinya: Bagaimana Allah akan menunjuki suatu
kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka telah mengakui bahwa Rasul
itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun telah datang
kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim.(QS. Ali 'Imran/ 3: 86)
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَىٰ عَلَى
اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَىٰ إِلَى الْإِسْلَامِ ۚ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ
الظَّالِمِينَ
Artinya: Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam? Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim. (QS. As-Saff/ 61: 7)
Berikut akan dikemukakan beberapa sikap, perbuatan atau tindakan
yang menyebabkan pelakunya termasuk pada kategori dzalim berdasar Al Quran
maupun Sunnah;
2.1. Orang Yang Dzalim Selalu Berbuat Fasik
Di dalam Al Quran surat Al
a’raf/ 7: 165 dinyatakan akan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim
siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik;
فَلَمَّا نَسُوا مَا ذُكِّرُوا بِهِ
أَنجَيْنَا الَّذِينَ يَنْهَوْنَ عَنِ السُّوءِ وَأَخَذْنَا الَّذِينَ ظَلَمُوا
بِعَذَابٍ بَئِيسٍ بِمَا كَانُوا يَفْسُقُونَ
Artinya: Maka tatkala mereka melupakan apa yang
diperingatkan kepada mereka, Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari
perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang
keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. (QS. Al A’raf/ 7: 165)
2.2. Orang Dzalim Adalah Orang Yang
Membuat-Buat Kedustaan Terhadap Allah
Di dalam Al Quran surat Hud/ 11: 18 tergambar bahwa orang dzalim adalah
orang yang membuat-buat kedustaan terhadap Allah;
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى
اللَّهِ كَذِبًا أُولَئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَى رَبِّهِمْ وَيَقُولُ الْأَشْهَادُ
هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى
الظَّالِمِينَ
Artinya: Dan siapakah yang lebih zalim daripada
orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada
Tuhan mereka, dan para saksi akan berkata: "Orang-orang inilah yang telah
berdusta terhadap Tuhan mereka". Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas
orang-orang yang zalim, (QS. Hud/ 11: 18)
Di dalam Al Quran surat Al-Kahfi/ 18: 15 tergambar bahwa orang dzalim
adalah orang yang membuat-buat kedustaan terhadap Allah;
هَؤُلَاءِ قَوْمُنَا اتَّخَذُوا مِنْ
دُونِهِ آلِهَةً لَوْلَا يَأْتُونَ عَلَيْهِمْ بِسُلْطَانٍ بَيِّنٍ فَمَنْ
أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ كَذِبًا
Artinya: Kaum kami ini telah menjadikan selain
Dia sebagai tuhan-tuhan (untuk disembah). Mengapa mereka tidak mengemukakan
alasan yang terang (tentang kepercayaan mereka)? Siapakah yang lebih zalim
daripada orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah?(QS.
Al-Kahfi/ 18: 15)
Di dalam Al Quran surat Al-An'am/ 6: 21 dijelaskan bahwa orang
dzalim adalah orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah dan
mendustakan ayat-ayat-Nya;
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى
اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الظَّالِمُونَ
Artinya: Dan siapakah yang lebih aniaya
daripada orang yang membuat-buat suatu kedustaan terhadap Allah, atau
mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang yang aniaya itu tidak
mendapat keberuntungan.(QS. Al-An'am 6: 21)
Di dalam Al Quran surat Al-A'raf/ 7: 37 digambarkan bahwa
orang dzalim adalah orang yang membuat-buat kedustaan terhadap Allah dan
mendustakan ayat-ayat Allah;
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى
اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ أُولَئِكَ يَنَالُهُمْ نَصِيبُهُمْ مِنَ
الْكِتَابِ حَتَّى إِذَا جَاءَتْهُمْ رُسُلُنَا يَتَوَفَّوْنَهُمْ قَالُوا أَيْنَ
مَا كُنْتُمْ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ قَالُوا ضَلُّوا عَنَّا وَشَهِدُوا
عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَنَّهُمْ كَانُوا كَافِرِينَ
Artinya: Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang
membuat-buat dusta terhadap Allah atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Orang-orang
itu akan memperoleh bahagian yang telah ditentukan untuknya dalam Kitab (Lauh
Mahfuzh); hingga bila datang kepada mereka utusan-utusan Kami (malaikat) untuk
mengambil nyawanya, (di waktu itu) utusan Kami bertanya: "Di mana
(berhala-berhala) yang biasa kamu sembah selain Allah?" Orang-orang
musyrik itu menjawab: "Berhala-berhala itu semuanya telah lenyap dari kami,"
dan mereka mengakui terhadap diri mereka bahwa mereka adalah orang-orang yang
kafir.(QS. Al-A'raf/ 7: 37)
Di dalam Al Quran surat Yunus/ 10: 17 digambarkan bahwa orang dzalim
adalah orang yang membuat-buat kedustaan terhadap Allah dan mendustakan
ayat-ayat Allah;
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى
اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِآيَاتِهِ إِنَّهُ لَا يُفْلِحُ الْمُجْرِمُونَ
Artinya: Maka siapakah yang lebih zalim
daripada orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan
ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya, tiadalah beruntung orang-orang yang berbuat
dosa.(QS. Yunus/ 10: 17)
Di dalam Al Quran surat Al-An'am/
6: 93 tergambar bahwa orang dzalim orang yang membuat kedustaan terhadap Allah
atau yang berkata: "Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada
diwahyukan sesuatupun kepadanya;
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى
اللَّهِ كَذِبًا أَوْ قَالَ أُوحِيَ إِلَيَّ وَلَمْ يُوحَ إِلَيْهِ شَيْءٌ وَمَنْ
قَالَ سَأُنْزِلُ مِثْلَ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَوْ تَرَى إِذِ الظَّالِمُونَ
فِي غَمَرَاتِ الْمَوْتِ وَالْمَلَائِكَةُ بَاسِطُو أَيْدِيهِمْ أَخْرِجُوا
أَنْفُسَكُمُ الْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ بِمَا كُنْتُمْ تَقُولُونَ
عَلَى اللَّهِ غَيْرَ الْحَقِّ وَكُنْتُمْ عَنْ آيَاتِهِ تَسْتَكْبِرُونَ
Artinya: Dan siapakah yang lebih
zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata:
"Telah diwahyukan kepada saya", padahal tidak ada diwahyukan
sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: "Saya akan menurunkan
seperti apa yang diturunkan Allah". Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu
melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakratul maut,
sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata):
"Keluarkanlah nyawamu" Di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat
menghinakan, karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang
tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap
ayat-ayat-Nya.(QS. Al-An'am/ 6: 93)
2.4. Orang Dzalim Adalah Orang Yang
Membuat-Buat Kedustaan Terhadap Allah Dan Mendustakan Kebenaram
Di dalam Al Quran surat
Al-'Ankabut/ 29: 68 tergambar bahwa orang dzalim adalah Orang Yang Membuat-Buat
Kedustaan Terhadap Allah Dan Mendustakan Kebenaram yang datang kepadanya;
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى
اللَّهِ كَذِبًا أَوْ كَذَّبَ بِالْحَقِّ لَمَّا جَاءَهُ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ
مَثْوًى لِلْكَافِرِينَ
Artinya: Dan siapakah yang lebih zalim daripada
orang-orang yang mengada-adakan kedustaan terhadap Allah atau mendustakan yang
hak tatkala yang hak itu datang kepadanya? Bukankah dalam neraka Jahannam itu
ada tempat bagi orang-orang yang kafir?(QS. Al-'Ankabut/ 29: 68)
Di dalam Al Quran surat
Az-Zumar/ 39: 32 tergambar bahwa orang dzalim adalah orang yang membuat-buat
kedustaan terhadap Allah dan mendustakan kebenaram yang datang kepadanya ;
فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى
اللَّهِ وَكَذَّبَ بِالصِّدْقِ إِذْ جَاءَهُ أَلَيْسَ فِي جَهَنَّمَ مَثْوًى
لِلْكَافِرِينَ
Artinya: Maka siapakah yang lebih zalim
daripada orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah dan mendustakan kebenaran
ketika datang kepadanya? Bukankah di neraka Jahannam tersedia tempat tinggal
bagi orang-orang yang kafir? (QS. Az-Zumar/ 39: 32)
Di dalam Al Quran surat
Ash-Shaff/ 61: 7 tergambar bahwa orang dzalim adalah orang yang mengada-adakan
dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam;
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى
اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَى إِلَى الْإِسْلَامِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي
الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Artinya: Dan siapakah yang lebih zalim daripada
orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada Islam?
Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim.(QS. Ash-Shaff/
61: 7)
2.5. Orang Dzalim Mendustakan Ayat-Ayat Al
Quran Dan Berpaling Darinya
Di dalam Al Quran Surat Al-An'am/ 6: 157 digambarkan
bahwa orang dzalim adalah orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan berpaling
dari padanya;
أَوْ تَقُولُوا لَوْ أَنَّا أُنْزِلَ
عَلَيْنَا الْكِتَابُ لَكُنَّا أَهْدَى مِنْهُمْ فَقَدْ جَاءَكُمْ بَيِّنَةٌ مِنْ
رَبِّكُمْ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَّبَ بِآيَاتِ اللَّهِ
وَصَدَفَ عَنْهَا سَنَجْزِي الَّذِينَ يَصْدِفُونَ عَنْ آيَاتِنَا سُوءَ
الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يَصْدِفُونَ
Artinya: Atau agar kamu (tidak)
mengatakan: "Sesungguhnya jikalau kitab ini diturunkan kepada kami,
tentulah kami lebih mendapat petunjuk dari mereka". Sesungguhnya telah
datang kepada kamu keterangan yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat.
Maka siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mendustakan ayat-ayat Allah
dan berpaling dari padanya? Kelak Kami akan memberi balasan kepada orang-orang
yang berpaling dari ayat-ayat Kami dengan siksa yang buruk, disebabkan mereka
selalu berpaling.(QS. Al-An'am/ 6: 157)
2.6. Orang Dzalim Berpaling Dari Ayat-Ayat
Al Quran
Di dalam Al Quran surat
As-Sajdah/ 32: 22 digambarkan bahwa orang dzalim adalah orang yang telah
diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya, kemudian ia berpaling daripadanya;
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذُكِّرَ
بِآيَاتِ رَبِّهِ ثُمَّ أَعْرَضَ عَنْهَا إِنَّا مِنَ الْمُجْرِمِينَ
مُنْتَقِمُونَ
Artinya: Dan siapakah yang lebih
zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya,
kemudian ia berpaling daripadanya? Sesungguhnya Kami akan memberikan pembalasan
kepada orang-orang yang berdosa.(QS. As-Sajdah/ 32: 22)
2.7. Orang Dzalim Berpaling Dari Ayat-Ayat
Al Quran Dan Melupakan Apa Yang Telah Dikerjakan
Di dalam Al Quran surat Al
Kahfi/ 18: 57 digambarkan bahwa orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat
Tuhannya lalu dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah
dikerjakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di
atas hati mereka, (sehingga mereka tidak) memahaminya;
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّن ذُكِّرَ
بِآيَاتِ رَبِّهِ فَأَعْرَضَ عَنْهَا وَنَسِيَ مَا قَدَّمَتْ يَدَاهُ إِنَّا
جَعَلْنَا عَلَىٰ قُلُوبِهِمْ أَكِنَّةً أَن يَفْقَهُوهُ وَفِي آذَانِهِمْ وَقْرًا
وَإِن تَدْعُهُمْ إِلَى الْهُدَىٰ فَلَن يَهْتَدُوا إِذًا أَبَدًا
Artinya: Dan siapakah yang lebih
zalim dari pada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Tuhannya lalu
dia berpaling dari padanya dan melupakan apa yang telah dikerjakan oleh kedua
tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka,
(sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami letakkan pula) sumbatan di
telinga mereka; dan kendatipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya
mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya. (QS. Al Kahfi/ 18: 57)
2.8. Orang Dzalim Mengingkari Ayat-Ayat Al
Quran Yang Nyata Kebenarannya
Di dalam Al Quran
Surat Al-'Ankabut/ 29: 49 dijelaskan bahwa orang-orang yang memiliki ilmu
(kebenaran Al Quran), tetapi mengingkari kebenarannya adalah orang yang dzalim;
بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ
الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ ۚ وَمَا يَجْحَدُ بِآيَاتِنَا إِلَّا الظَّالِمُونَ
Artinya: Sebenarnya, Al Quran itu
adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan
tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim. (QS. Al-'Ankabut/
29: 49)
Berdasar keterangan ayat-ayat
Al Quran dijelaskan bahwa orang-orang yang dzalim lebih cenderung untuk
mengikuti hawa nafsu dibanding mengikuti petunjuk Allah dalam Al Quran.
Sesungguhnya Jika Kamu Mengikuti Hawa
Nafsu (Keinginan) Mereka Setelah Datang
Ilmu Kepadamu, Sesungguhnya Kamu Kalau Begitu Termasuk Golongan Orang-Orang
Yang Zalim
Di dalam Al Quran
surat Al-Baqarah/ 2: 145, diberikan penjelasan bahwa jika orang-orang yang
mengikuti keinginan mereka (yang tidak benar), padahal orang-orang itu telah
mengetahui ilmu yang benar, sesungguhnya orang-orang tersebut termasuk golongan
orang-orang yang zalim;
وَلَئِنْ أَتَيْتَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتٰبَ
بِكُلِّ ءَايَةٍ مَّا تَبِعُوا قِبْلَتَكَ ۚ وَمَآ أَنتَ بِتَابِعٍ قِبْلَتَهُمْ
ۚ وَمَا بَعْضُهُم بِتَابِعٍ قِبْلَةَ بَعْضٍ ۚ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَآءَهُم
مِّنۢ بَعْدِ مَا جَآءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ إِنَّكَ إِذًا لَّمِنَ الظّٰلِمِينَ
Artinya: Dan sesungguhnya jika kamu
mendatangkan kepada orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab
(Taurat dan Injil), semua ayat (keterangan), mereka tidak akan mengikuti
kiblatmu, dan kamupun tidak akan mengikuti kiblat mereka, dan sebahagian merekapun
tidak akan mengikuti kiblat sebahagian yang lain. Dan sesungguhnya jika kamu
mengikuti keinginan mereka setelah datang ilmu kepadamu, sesungguhnya kamu
kalau begitu termasuk golongan orang-orang yang zalim.(QS. Al-Baqarah/ 2: 145)
Orang-Orang Yang Dzalim, Mengikuti
Hawa Nafsunya Tanpa Ilmu Pengetahuan
Di dalam Al Quran surat Ar Rum/ 30: 29 digambarkan
bahwa orang-orang yang zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan;
بَلِ اتَّبَعَ الَّذِينَ ظَلَمُوا
أَهْوَاءَهُم بِغَيْرِ عِلْمٍ ۖ فَمَن يَهْدِي مَنْ أَضَلَّ اللَّهُ ۖ وَمَا لَهُم
مِّن نَّاصِرِينَ
Artinya: Tetapi orang-orang yang
zalim, mengikuti hawa nafsunya tanpa ilmu pengetahuan; maka siapakah yang akan
menunjuki orang yang telah disesatkan Allah? Dan tiadalah bagi mereka seorang
penolongpun.(QS. Ar Rum/ 30: 29)
Orang Yang Mengikuti Hawa
Nafsunya Dengan Tidak Mendapat Petunjuk Dari Allah Adalah Orang-Orang Yang
Dzalim
Al Quran Surat Al-Qashash/ 28: 50, memberikan gambaran
bahwa siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya
dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak
memberi petunjuk kepada orang-orang yang dzalim;
فَإِنْ لَمْ يَسْتَجِيبُوا لَكَ فَاعْلَمْ
أَنَّمَا يَتَّبِعُونَ أَهْوَاءَهُمْ ۚ وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ
هُدًى مِنَ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
Artinya:
Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya
mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih
sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat
petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-Qashash/ 28: 50)
Di
dalam Al Quran surat Luqman/ 31: 13 dan surat Yunus/ 10: 106 tergambar bahwa
orang dzalim menyekutukan Allah;
وَإِذْ
قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَا بُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ
إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ
Artinya:
Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi
pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah,
sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang
besar". (QS. Luqman/ 31: 13)
وَلَا
تَدْعُ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنفَعُكَ وَلَا يَضُرُّكَ فَإِن فَعَلْتَ
فَإِنَّكَ إِذًا مِّنَ الظَّالِمِينَ
Artinya:
Dan janganlah kamu menyembah apa-apa yang tidak memberi manfaat dan tidak
(pula) memberi mudharat kepadamu selain Allah; sebab jika kamu berbuat (yang
demikian), itu, maka sesungguhnya kamu kalau begitu termasuk orang-orang yang
zalim". (QS. Yunus/ 10: 106)
Berikut
dikemukakan pengelompokan orang dzalim berdasar obkek kedzaliman yang
dilakukan;
3.1.
Dzalim Kepada Diri Sendiri
Kedzaliman pada diri sendiri adalah melakukan
perbuatan, ucapan dan sikap tidak bertakwa dari ananiyah, ghadab, syahwat,
khauf, huzn, taiasu, fasik yang didasari kesadaran mengetahui perbuatan itu
salah dan tidak boleh di lakukan, namun tetap dilakukan atau meninggalkan
perintah yang seharusnya dilakukan, meskipun hanya melakukannya pada diri
sendiri, namun selain memiliki dampak tidak baik pada diri sendiri juga
berdampak pada orang lain, karena akan dipakai sebagai contoh orang lain,
sehingga secara tidak langsung dapat mempengaruhi orang lain.
Al Quran Surat Yunus/ 10: 44, menjelaskan bahwa Allah
tidak mendzalimi manusia tetapi manusia sendirilah yang berbuat dzalim untuk
dirinya sendiri;
إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ النَّاسَ شَيْئًا
وَلَٰكِنَّ النَّاسَ أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ
Artinya: Sesungguhnya Allah tidak berbuat zalim
kepada manusia sedikitpun, akan tetapi manusia itulah yang berbuat dzalim
kepada diri mereka sendiri.(QS. Yunus/ 10: 44)
3.1.2. Orang Dzalim Adalah Orang Yang
Mendustakan Ayat-Ayat Allah Dan Kepada Diri Mereka Sendiri
Al Quran Surat Al A’raf/ 7: 177 memberi gambaran bahwa
Orang dzalim adalah orang yang mendustakan ayat-ayat Allah dan kepada diri
mereka sendiri;
سَاءَ مَثَلًا الْقَوْمُ الَّذِينَ
كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَأَنفُسَهُمْ كَانُوا يَظْلِمُونَ
Artinya: Amat buruklah perumpamaan orang-orang
yang mendustakan ayat-ayat Kami dan kepada diri mereka sendirilah mereka
berbuat zalim. (QS. Al A’raf/ 7: 177)
3.1.3. Di antara Hamba Allah Ada Yang Dzalim
Terhadap Diri Sendiri
Di dalam Al Quran Surat Fathir/ 35: 32 tergambar bahwa
di antara Hamba Allah Ada Yang Dzalim Terhadap Diri Sendiri, pertengahan dan
lebih dahulu berbuat kebaikan;
ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ
اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِ وَمِنْهُم
مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَٰلِكَ هُوَ
الْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Artinya: Kemudian Kitab itu Kami wariskan
kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara
mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang
pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan
dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar. (QS.
Fathir/ 35: 32)
3.1.4. Orang Yang Mengatakan: Sesungguhnya
Aku Adalah Tuhan Selain Dari Allah Adalah Orang Dzalim
Al Quran Surat Al-Anbiya/ 21: 29, menegaskan bahwa
orang yang mengaku Tuhan adalah dzalim, dan akan dimasukkan ke dalam neraka
Jahannam;
وَمَنْ يَقُلْ مِنْهُمْ إِنِّي إِلَٰهٌ مِنْ
دُونِهِ فَذَٰلِكَ نَجْزِيهِ جَهَنَّمَ ۚ كَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ
Artinya: Dan barangsiapa di antara mereka,
mengatakan: "Sesungguhnya Aku adalah tuhan selain daripada Allah",
maka orang itu Kami beri balasan dengan Jahannam, demikian Kami memberikan
pembalasan kepada orang-orang zalim.(QS. Al-Anbiya/ 21: 29)
3.1.5. Sesungguhnya Manusia Itu, Sangat Zalim
Dan Sangat Mengingkari (Nikmat Allah).
Di dalam Al Quran Surat Ibrahim/ 14: 34 ditegaskan
bahwa Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat
Allah);
وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ
كَفَّارٌ
Artinya: Dan Dia telah memberikan kepadamu
(keperluanmu) dan segala apa yang kamu mohonkan kepadanya. Dan jika kamu
menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya
manusia itu, sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah). (QS.
Ibrahim/ 14: 34)
3.1.6. Orang Dhlaim Jika Mendapat Kesenangan
Berpaling Dan Jika Mendapati Kesusahan Putus Asa
Di dalam Al Quran Surat Al-Isra'/ 17: 83, dijelaskan
bahwa orang dhlaim jika mendapat kesenangan berpaling dan jika mendapati
kesusahan putus asa;
وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنْسَانِ
أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ ۖ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا
Artinya: Dan apabila Kami berikan kesenangan
kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang
sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. (QS.
Al-Isra'/ 17: 83)
3.1.7. Doa Dan Pengakuan Nabi Adam AS Telah Melakukan Kedzaliman Terhadap
Dirinya Sendiri
Di dalam Al Quran surat Al A’raf/ 7: 23,
disebutkan pengakuan Nabi Adam AS telah melakukan kedzaliman terhadap
dirinya sendiri;
قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا
وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ
Artinya: Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami,
kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami
dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang
merugi. (QS. Al A’raf/ 7: 23)
3.1.8. Doa Dan Pengakuan Nabi Yunus AS Telah Melakukan Kedzaliman Terhadap Dirinya
Sendiri
Di dalam Al Quran surat Al Anbiya/ 21: 87 disebutkan
pengakuan Nabi Yunus AS telah melakukan
kedzaliman terhadap dirinya sendiri;
وَذَا النُّونِ إِذ ذَّهَبَ مُغَاضِبًا
فَظَنَّ أَن لَّن نَّقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادَىٰ فِي الظُّلُمَاتِ أَن لَّا إِلَٰهَ
إِلَّا أَنتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنتُ مِنَ الظَّالِمِينَ
Artinya: Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus),
ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan
mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat
gelap: "Bahwa tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau,
sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim". (Al Anbiya/
21: 87)
3.1.9. Doa Dan Pengakuan Nabi Musa AS Telah Melakukan Kedzaliman Terhadap
Dirinya Sendiri
Di dalam Al Quran surat Al Qashash/ 28: 16 disebutkan
pengakuan Nabi Musa AS telah melakukan
kedzaliman terhadap dirinya sendiri;
قَالَ رَبِّ إِنِّي ظَلَمْتُ نَفْسِي
فَاغْفِرْ لِي فَغَفَرَ لَهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya: Musa mendoa: "Ya Tuhanku,
sesungguhnya aku telah menganiaya diriku sendiri karena itu ampunilah
aku". Maka Allah mengampuninya, sesungguhnya Allah Dialah Yang Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Qashash/ 28: 16)
Dzalim kepada orang Lain adalah melakukan perbuatan,
ucapan dan sikap tidak bertakwa dari ananiyah, ghadab, syahwat, khauf, huzn,
taiasu, fasik yang didasari kesadaran mengetahui perbuatan itu salah dan tidak
boleh di lakukan, namun tetap dilakukan kepada orang lain atau meninggalkan
perintah yang seharusnya dilakukan, hal tersebut memiliki dampak tidak baik
kepada orang lain namun juga berdampak tidak baik kepada diri sendiri.
3.2.1. Sesungguhnya Dosa Itu Atas Orang-Orang Yang Berbuat
Dzalim Kepada Manusia Dan Melampaui Batas Di Muka Bumi Tanpa Hak
Al
Quran Surat Asy-Syura/ 42: 42 memberikan gambaran, bahwa dosa bagi orang-orang
yang berbuat zalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak;
إِنَّمَا
السَّبِيلُ عَلَى الَّذِينَ يَظْلِمُونَ النَّاسَ وَيَبْغُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ
الْحَقِّ ۚ أُولَٰئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Artinya: Sesungguhnya dosa itu atas orang-orang yang
berbuat dzalim kepada manusia dan melampaui batas di muka bumi tanpa hak.
Mereka itu mendapat azab yang pedih. (QS. Asy-Syura/
42: 42)
Di dalam Al Quran Surat Al-An'am/
6: 144 digambarkan bahwa orang dzalim adalah orang-orang yang membuat-buat
dusta terhadap Allah untuk menyesatkan manusia tanpa pengetahuan;
وَمِنَ الْإِبِلِ اثْنَيْنِ وَمِنَ
الْبَقَرِ اثْنَيْنِ قُلْ آلذَّكَرَيْنِ حَرَّمَ أَمِ الْأُنْثَيَيْنِ أَمَّا
اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ أَرْحَامُ الْأُنْثَيَيْنِ أَمْ كُنْتُمْ شُهَدَاءَ إِذْ
وَصَّاكُمُ اللَّهُ بِهَذَا فَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ
كَذِبًا لِيُضِلَّ النَّاسَ بِغَيْرِ عِلْمٍ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ
الظَّالِمِينَ
Artinya: dan sepasang dari unta dan sepasang
dari lembu. Katakanlah: "Apakah dua yang jantan yang diharamkan ataukah
dua yang betina, ataukah yang ada dalam kandungan dua betinanya? Apakah kamu
menyaksikan di waktu Allah menetapkan ini bagimu? Maka siapakah yang lebih
zalim daripada orang-orang yang membuat-buat dusta terhadap Allah untuk
menyesatkan manusia tanpa pengetahuan?" Sesungguhnya Allah tidak memberi
petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (QS. Al-An'am/ 6: 144)
Al Quran Surat Al-Hujurat/ 49: 11 memberikan gambaran
tentang perbuatan dzalim kepada orang lain; merendahkan, mencela, memanggil
dengan gelar tidak baik;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ
قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ
عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا
بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ
فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Artinya: Hai orang-orang yang beriman,
janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi
yang direndahkan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan
perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih
baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan
gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang
buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah
orang-orang yang zalim. (QS. Al-Hujurat/
49: 11)
Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2564
dijelaskan bahwa sesama muslim adalah bersaudara tidak boleh mendzalimi ,
merendahkan, ataupun menghina. Takwa itu ada di sini (Rasulullah menunjuk
dadanya) :
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا دَاوُدُ يَعْنِي ابْنَ قَيْسٍ عَنْ أَبِي
سَعِيدٍ مَوْلَى عَامِرِ بْنِ كُرَيْزٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحَاسَدُوا وَلَا تَنَاجَشُوا
وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ
وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا
يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى هَاهُنَا وَيُشِيرُ
إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ
أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ
وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ. [3]..
Artinya: Telah menceritakan kepada kami
'Abdullah bin Maslamah bin Qa'nab; Telah menceritakan kepada kami Dawud yaitu
Ibnu Qais dari Abu Sa'id budak 'Amir bin Kuraiz dari Abu Hurairah dia berkata;
Rasulullah ﷺ
bersabda: 'Janganlah kalian saling mendengki, saling memfitnah, saling
membenci, dan saling memusuhi. Janganlah ada seseorang di antara kalian yang
berjual beli sesuatu yang masih dalam penawaran muslim lainnya dan jadilah
kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim yang satu dengan muslim
yang lainnya adalah bersaudara tidak boleh mendzalimi , merendahkan, ataupun
menghina. Takwa itu ada di sini (Rasulullah menunjuk dadanya), Beliau
mengucapkannya sebanyak tiga kali. Seseorang telah dianggap berbuat jahat
apabila ia menghina saudaranya sesama muslim. Muslim yang satu dengan yang
Iainnya haram darahnya. hartanya, dan kehormatannya." …
3.2.5. Dosa Orang Saling Mencaci Ditanggung
Orang Yang Memulai
Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 6587
ditegaskan bahwa, dosa orang yang saling mencaci-maki akan ditanggung oleh
orang yang memulai cacian selama orang yang dizhalimi itu tidak melampaui
batas;
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ
وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ يَعْنُونَ ابْنَ
جَعْفَرٍ عَنْ الْعَلَاءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْتَبَّانِ مَا قَالَا
فَعَلَى الْبَادِئِ مَا لَمْ يَعْتَدِ الْمَظْلُومُ [4]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya
bin Ayyub dan Qutaibah dan Ibnu Hujr mereka berkata; Telah menceritakan kepada
kami Isma'il yaitu Ibnu Ja'far dari Al A'laa dari Bapaknya dari Abu Hurairah
bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila ada dua orang yang saling mencaci-maki, maka cacian
yang diucapkan oleh keduanya itu, dosanya akan ditanggung oleh orang yang
memulai cacian selama orang yang dizhalimi itu tidak melampaui batas."
3.2.6. Mencoreng Kehormatan Seorang Muslim
Adalah Kedzaliman
Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 2015
dinyatakan mencoreng kehormatan seorang muslim dan ia berbuat kedzaliman;
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي
شَيْبَةَ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ الشَّيْبَانِيِّ عَنْ زِيَادِ بْنِ عِلَاقَةَ
عَنْ أُسَامَةَ بْنِ شَرِيكٍ قَالَ خَرَجْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَاجًّا فَكَانَ النَّاسُ يَأْتُونَهُ فَمَنْ قَالَ يَا
رَسُولَ اللَّهِ سَعَيْتُ قَبْلَ أَنْ أَطُوفَ أَوْ قَدَّمْتُ شَيْئًا أَوْ
أَخَّرْتُ شَيْئًا فَكَانَ يَقُولُ لَا حَرَجَ لَا حَرَجَ إِلَّا عَلَى رَجُلٍ
اقْتَرَضَ عِرْضَ رَجُلٍ مُسْلِمٍ وَهُوَ ظَالِمٌ فَذَلِكَ الَّذِي حَرِجَ
وَهَلَكَ [5]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Utsman
bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami Jarir dari Asy Syaibani dari
Ziyad bin 'Ilaqah dari Usamah bin Syarik, ia berkata; aku keluar bersama Nabi ﷺ untuk melakukan
haji. Dan orang-orang datang kepada beliau, maka ada yang mengatakan; wahai
Rasulullah, aku telah melakukan sa'i sebelum melakukan thawaf. Atau aku telah
mendahulukan sesuatu dan mengakhirkan sesuatu. Dan beliau mengatakan:
"Tidak mengapa, tidak mengapa." Kecuali terhadap seseorang yang telah
mencoreng kehormatan seorang muslim dan ia berbuat kedzaliman, maka itulah
orang yang berdosa lagi binasa.
3.2.7. Menunda Membayar Hutang Bagi Orang
Kaya Adalah Kezhaliman
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2287
dinyatakan Menunda membayar hutang bagi orang kaya adalah kezhaliman;
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ
أَخْبَرَنَا مَالِكٌ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ فَإِذَا أُتْبِعَ أَحَدُكُمْ عَلَى
مَلِيٍّ فَلْيَتْبَعْ [6]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Yusuf
telah mengabarkan kepada kami Malik dari Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu
Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
"Menunda membayar hutang bagi orang kaya adalah kezhaliman dan apabila
seorang dari kalian hutangnya dialihkan kepada orang kaya, hendaklah dia
ikuti".
Al Quran Surat Al-Ma'idah/ 5: 45 menjelaskan ketetapan
Allah dengan hukum Qishas dan menegaskan bahwa Barangsiapa tidak memutuskan
perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang
yang dzalim;
وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيهَا أَنَّ النَّفْسَ
بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْأَنْفَ بِالْأَنْفِ وَالْأُذُنَ بِالْأُذُنِ
وَالسِّنَّ بِالسِّنِّ وَالْجُرُوحَ قِصَاصٌ ۚ فَمَنْ تَصَدَّقَ بِهِ فَهُوَ كَفَّارَةٌ
لَهُ ۚ وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
Artinya: Dan Kami telah tetapkan terhadap
mereka di dalamnya (At Taurat) bahwasanya jiwa (dibalas) dengan jiwa, mata
dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi,
dan luka luka (pun) ada qishaashnya. Barangsiapa yang melepaskan (hak
qishaash)nya, maka melepaskan hak itu (menjadi) penebus dosa baginya.
Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka
mereka itu adalah orang-orang yang dzalim. (QS. Al-Ma'idah/ 5: 45)
Kedzaliman yang dilakukan manusia akan berakibat kepada
dirinya sendiri dan orang lain baik di dunia maupun di akhirat, yaitu antara
lain;
4.1. Doa Orang Yang Terdzalimi Akan
Dikabulkan Allah
Di
dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 3598 dinyatakan bahwa do'anya orang
yang di dzalimi. Allah akan mengangkat do'anya ke atas awan, dan membukakan
baginya pintu-pintu langit, seraya berfirman: "Demi kemuliaan-Ku, sungguh
Aku akan menolongmu meski beberapa saat lamanya;
حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ نُمَيْرٍ عَنْ سَعْدَانَ الْقُمِّيِّ عَنْ أَبِي مُجَاهِدٍ
عَنْ أَبِي مُدِلَّةَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الصَّائِمُ حَتَّى
يُفْطِرَ وَالْإِمَامُ الْعَادِلُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللَّهُ
فَوْقَ الْغَمَامِ وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ
وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ
حَسَنٌ وَسَعْدَانُ الْقُمِّيُّ هُوَ سَعْدَانُ بْنُ بِشْرٍ وَقَدْ رَوَى عَنْهُ
عِيسَى بْنُ يُونُسَ وَأَبُو عَاصِمٍ وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ كِبَارِ أَهْلِ
الْحَدِيثِ وَأَبُو مُجَاهِدٍ هُوَ سَعْدٌ الطَّائِيُّ وَأَبُو مُدِلَّةَ هُوَ
مَوْلَى أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ عَائِشَةَ وَإِنَّمَا نَعْرِفُهُ بِهَذَا الْحَدِيثِ
وَيُرْوَى عَنْهُ هَذَا الْحَدِيثُ أَتَمَّ مِنْ هَذَا وَأَطْوَلَ [7]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu
Kuraib telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Numair dari Sa'dan Al Qummi
dari Abu Mujahid dari Abu Mudillah dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda:
"Tiga orang yang do'a mereka tidak tertolak, yaitu; seorang yang berpuasa
hingga berbuka, seorang imam (penguasa) yang adil dan do'anya orang yang di
dzalimi. Allah akan mengangkat do'anya ke atas awan, dan membukakan baginya
pintu-pintu langit, seraya berfirman: "Demi kemuliaan-Ku, sungguh Aku akan
menolongmu meski beberapa saat lamanya." Abu Isa berkata; "Hadits ini
derajatnya hasan. Sa'dan Al Qummi adalah Sa'dan bin Bisyr, dan telah
meriwayatkan darinya Isa bin Yunus, Abu 'Ashim dan yang lainnya dari para tokoh
ahli hadits, sedangkan Abu Mujahid nama aslinya adalah Sa'd Ath Tha`i, dan Abu
Mudillah adalah mantan budak (yang telah dimerdekakan oleh) Ummul Mukminin
Aisyah, kami hanya mengenalnya dengan hadits ini, dan hadits ini diriwayatkan
darinya (melalui jalur selain ini) dengan redaksi yang lebih sempurna dan
panjang dari pada.
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits
nomor 9233 disebutkan bahwa salah satu doa yang pasti dikabukan adalah doa
orang yang didzalimi;
حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ هِشَامٍ
حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثُ دَعَوَاتٍ لَا شَكَّ فِيهِنَّ
دَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَالْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ عَلَى وَلَدِهِ [8]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami
Yahya dari Hisyam dari Yahya dari Abu Ja'far dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Tiga doa yang tidak ada keraguan
lagi akan pengkabulannya; doa seorang musafir, orang yang terzhalimi dan doa
orang tua kepada anaknya."(HR. Ahmad: 9233)
Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits
nomor 4318 dinyatakan bahwa Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta 'ala akan
menangguhkan siksaan bagi orang yang berbuat zhalim. Dan apabila Allah telah
menghukumnya, maka Dia tidak akan pernah melepaskannya;
حَدَّثَنَا صَدَقَةُ بْنُ الْفَضْلِ
أَخْبَرَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا بُرَيْدُ بْنُ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ
أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ
حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ قَالَ ثُمَّ قَرَأَ { وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ
إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ }
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Al Fadll Telah mengabarkan kepada kami Abu Mu'awiyah Telah menceritakan kepada kami Buraid bin Abu Burdah dari Abu Burdah dari Abu Musa radliallahu 'anhu dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta 'ala akan menangguhkan siksaan bagi orang yang berbuat zhalim. Dan apabila Allah telah menghukumnya, maka Dia tidak akan pernah melepaskannya." Kemudian Rasulullah membaca ayat yang berbunyi: 'Begitulah adzab Tuhanmu, apabila Dia mengadzab penduduk negeri-negeri yang berbuat zhalim. Sesungguhnya adzab-Nya itu sangat pedih dan keras.' (Qs. Huud (11): 102).
Di
dalam Al Quran Surat Al-Qashash/ 28: 59, dijelaskan bahwa Allah tidak akan
menhancurkan kota sebelum mengutus utusan yang membacakan ayat-ayatnya, dan
mereka berlaku dzalim;
وَمَا كَانَ رَبُّكَ مُهْلِكَ الْقُرَىٰ
حَتَّىٰ يَبْعَثَ فِي أُمِّهَا رَسُولًا يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِنَا ۚ وَمَا كُنَّا
مُهْلِكِي الْقُرَىٰ إِلَّا وَأَهْلُهَا ظَالِمُونَ
Artinya: Dan tidaklah Tuhanmu membinasakan
kota-kota, sebelum Dia mengutus di ibukota itu seorang rasul yang membacakan
ayat-ayat Kami kepada mereka; dan tidak pernah (pula) Kami membinasakan
kota-kota; kecuali penduduknya dalam keadaan melakukan kezaliman. (QS. Al-Qashash/ 28: 59)
4.4. Dia Mengazab Penduduk Negeri-Negeri
Yang Berbuat Dzalim
Al
Quran Surat Hud/ 11: 102, menjelaskan Adzab yang sangat pedih dan keras yang
ditimpakan kepada penduduk negeri yang berlaku dzalim;
وَكَذَٰلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ
الْقُرَىٰ وَهِيَ ظَالِمَةٌ ۚ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ
Artinya: Dan begitulah azab Tuhanmu, apabila
Dia mengazab penduduk negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya azab-Nya
itu adalah sangat pedih lagi keras.(QS. Hud/ 11: 102)
4.5. Banyak Kota Yang Telah Kami Binasakan
Karena Penduduknya Dalam Keadaan Dzalim
Di
dalam Al Quran surat Al-Hajj/ 22: 45 dijelaskan bahwa banyaknya kota yang Kami
telah membinasakannya, yang penduduknya dalam keadaan Dzalim;
فَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ
أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِيَةٌ عَلَى عُرُوشِهَا وَبِئْرٍ
مُعَطَّلَةٍ وَقَصْرٍ مَشِيدٍ
Artinya: Berapalah banyaknya kota yang Kami telah membinasakannya, yang
penduduknya dalam keadaan zalim, maka (tembok-tembok) kota itu roboh menutupi
atap-atapnya dan (berapa banyak pula) sumur yang telah ditinggalkan dan istana
yang tinggi,(QS. Al-Hajj/
22: 45)
Di
dalam Al Quran surat Al-Hajj/ 22: 48 dijelaskan bahwa banyaknya kota yang Aku
tangguhkan (azab-Ku) kepadanya, yang penduduknya berbuat Dzalim, kemudian Aku
azab mereka;
وَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةٍ أَمْلَيْتُ
لَهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ ثُمَّ أَخَذْتُهَا وَإِلَيَّ الْمَصِيرُ
Artinya: Dan berapalah banyaknya kota yang Aku tangguhkan (azab-Ku)
kepadanya, yang penduduknya berbuat zalim, kemudian Aku azab mereka, dan hanya
kepada-Kulah kembalinya (segala sesuatu).(QS. Al-Hajj/ 22: 48)
4.7.
Kedzaliman itu Mengarahkan Kepada Kekafiran
Di dalam Al Quran surat Al Isra’/ 17: 99 ditegaskan
bahwa orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran;
أَوَلَمْ
يَرَوْا أَنَّ اللَّهَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ قَادِرٌ عَلَىٰ
أَن يَخْلُقَ مِثْلَهُمْ وَجَعَلَ لَهُمْ أَجَلًا لَّا رَيْبَ فِيهِ فَأَبَى
الظَّالِمُونَ إِلَّا كُفُورًا
Artinya: Dan apakah
mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan langit dan bumi
adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan telah menetapkan
waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka
orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran. (QS. Al Isra’/ 17:
99)
4.8. Timbangan Amal Kebaikan Di Akhirat
Akan Ringan Disebabkan Dzalim Dengan Ayat-Ayat Al Quran
Al Quran Surat Al-A’raf/ 7: 9, menjelaskan bahwa
timbangan amal kebaikan mereka di akhirat akan ringan disebabkan mereka dzalim
dengan Ayat-ayat Al Quran;
وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ
الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ
Artinya: Dan siapa yang ringan
timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri,
disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami.(QS. Al-A’raf/ 7: 9)
Di dalam Al Quran Surat Al-A’raf/ 7: 40-41, dijelaskan
bahwa Allah memberi balasan kepada orang dzalim, yaitu orang-orang yang
mendustakan ayat-ayatnya dan menyombongkan diri atas ayat-ayatnya dengan tikar
dan selimut dari neraka, dan tidak akan memasukkan mereka ke dalam surga;
إِنَّ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِنَا وَاسْتَكْبَرُوا
عَنْهَا لَا تُفَتَّحُ لَهُمْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَلَا يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّىٰ
يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُجْرِمِينَ,
لَهُمْ مِنْ جَهَنَّمَ مِهَادٌ وَمِنْ فَوْقِهِمْ غَوَاشٍ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الظَّالِمِينَ
Artinya: Sesungguhnya orang-orang yang
mendustakan ayat-ayat Kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali
tidak akan dibukakan bagi mereka pintu-pintu langit dan tidak (pula) mereka
masuk surga, hingga unta masuk ke lubang jarum. Demikianlah Kami memberi pembalasan
kepada orang-orang yang berbuat kejahatan. Mereka mempunyai tikar tidur dari
api neraka dan di atas mereka ada selimut (api neraka). Demikianlah Kami
memberi balasan kepada orang-orang yang zalim,(QS. Al-A’raf/ 7: 40-41)
4.10. Allah Mela’nat Orang Yang Dzalim
Di dalam Al Quran surat Al-A'raf / 7: 44 dan surat Hud/ 11: 18 ditegaskan bahwa Kutukan
Allah ditimpakan kepada orang-orang yang zalim;
وَنَادَى أَصْحَابُ الْجَنَّةِ
أَصْحَابَ النَّارِ أَنْ قَدْ وَجَدْنَا مَا وَعَدَنَا رَبُّنَا حَقًّا فَهَلْ
وَجَدْتُمْ مَا وَعَدَ رَبُّكُمْ حَقًّا قَالُوا نَعَمْ فَأَذَّنَ مُؤَذِّنٌ
بَيْنَهُمْ أَنْ لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى الظَّالِمِينَ
Artinya: Dan penghuni-penghuni surga berseru kepada
Penghuni-penghuni neraka (dengan mengatakan): "Sesungguhnya kami dengan
sebenarnya telah memperoleh apa yang Tuhan kami menjanjikannya kepada kami.
Maka apakah kamu telah memperoleh dengan sebenarnya apa (azab) yang Tuhan kamu
menjanjikannya (kepadamu)?" Mereka (penduduk neraka) menjawab:
"Betul". Kemudian seorang penyeru (malaikat) mengumumkan di antara
kedua golongan itu: "Kutukan Allah ditimpakan kepada orang-orang yang
zalim, (QS. Al-A'raf / 7: 44)
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى
اللَّهِ كَذِبًا أُولَئِكَ يُعْرَضُونَ عَلَى رَبِّهِمْ وَيَقُولُ الْأَشْهَادُ
هَؤُلَاءِ الَّذِينَ كَذَبُوا عَلَى رَبِّهِمْ أَلَا لَعْنَةُ اللَّهِ عَلَى
الظَّالِمِينَ
Artinya: Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang
membuat-buat dusta terhadap Allah? Mereka itu akan dihadapkan kepada Tuhan
mereka, dan para saksi akan berkata: "Orang-orang inilah yang telah
berdusta terhadap Tuhan mereka". Ingatlah, kutukan Allah (ditimpakan) atas
orang-orang yang zalim, (QS. Hud/ 11: 18)
Kedzaliman
yang dilakukan seseorang dapat menyebabkan qalbu seseorang menjadi tertutup
dari kebenaran, sehingga akan menjadikan orang tersebut tidak tahu dan tidak
peduli kebenaran. Maka dari itu sangat penting untuk memahami takwa dari
kedzaliman agar dapat menjaga diri; takwa dari perbuatan dzalim, sebagaimana
diperingatkan oleh Nabi Muhammad SAW yang tertuang di dalam hadits riwayat
Muslim nomor 2015 di atas.
Di sini perlu dirumuskan bahwa takwa dari kedzaliman
adalah kesadaran qalbu untuk mentaati Allah, menjaga diri dari segala bentuk
perbuatan dzalim, serta diikuti kesadaran diri untuk mengakui kesalahan diri
ketika dirinya melakukan kesalahan-kesalahan dalam bentuk kedzaliman,
kemudian disertai kesadaran penuh untuk
bertaubat dan memohon ampun kepada Allah atas kesalahan kedzaliman yang dilakukan.
Berikut akan dikemukakan beberapa ayat Al Quran dan
Hadits yang berkaitan dengan perintah untuk bertakwa dari kedzaliman dan
larangan berbuat dzalim;
5.1. Bertakwalah Dari Kedzaliman
Di
dalam kitab Shahih Muslim hadis nomor 2578 disebutkan peringatan untuk
bertakwa; menjaga diri dari kezhaliman, karena kezhaliman itu adalah
mendatangkan kegelapan pada hari kiamat kelak;
حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا دَاوُدُ يَعْنِي ابْنَ
قَيْسٍ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ مِقْسَمٍ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ
أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اتَّقُوا
الظُّلْمَ فَإِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَاتَّقُوا الشُّحَّ
فَإِنَّ الشُّحَّ أَهْلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ حَمَلَهُمْ عَلَى أَنْ سَفَكُوا
دِمَاءَهُمْ وَاسْتَحَلُّوا مَحَارِمَهُمْ[9]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami ['Abdullah bin
Maslamah bin Qa'nab]; Telah menceritakan kepada kami [Dawud] yaitu Ibnu Qais
dari ['Ubaidillah bin Miqsam] dari [Jabir bin 'Abdullah] bahwa Rasulullah SAW
bersabda: "Jagalah diri dari kezhaliman, karena kezhaliman itu akan
mendatangkan kegelapan pada hari kiamat kelak! Jauhilah kekikiran, karena
kekikiran itu telah mencelakakan (menghancurkan) orang-orang sebelum kalian
yang menyebabkan mereka menumpahkan darah dan menghalalkan yang
diharamkan."
5.2. Berhati-Hatilah Kamu Terhadap Do'anya
Orang Yang Dizhalimi
Sedangkan di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2268
diperintahkan bertakwalah; jagalah dirimu dari orang yang di dzalimi (berbuat
dzalim kepada orang lain) ;
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ مُوسَى
حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ بْنُ إِسْحَاقَ الْمَكِّيُّ عَنْ
يَحْيَى بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ صَيْفِيٍّ عَنْ أَبِي مَعْبَدٍ مَوْلَى ابْنِ
عَبَّاسٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ مُعَاذًا إِلَى الْيَمَنِ فَقَالَ اتَّقِ
دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ [10]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Musa
telah menceritakan kepada kami Waki' telah menceritakan kepada kami Zakariyya'
bin Ishaq Al Makkiy dari Yahya bin 'Abdullah bin Shaifiy dari Abu Ma'bad, maula
Ibnu 'Abbas dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma bahwa Nabi ﷺ mengutus Mu'adz ke negeri Yaman lalu bersabda:
"Berhati-hatilah kamu terhadap do'anya orang yang dizhalimi karena antara
do'anya dan Allah tidak ada penghalangnya"
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 20451
ditegaskan bahwa Aku (Allah) mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku
mengharamkannya pula atas kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri
hidayah, maka mintalah hidayah itu kepada-Ku, niscaya Aku berikan hidayah itu
kepadamu;
حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ وَعَبْدُ
الصَّمَدِ الْمَعْنَى قَالَا حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ عَبْدُ
الصَّمَدِ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَبِي أَسْمَاءَ
وَقَالَ عَبْدُ الصَّمَدِ الرَّحَبِيُّ عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا يَرْوِي عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِنِّي
حَرَّمْتُ عَلَى نَفْسِي الظُّلْمَ وَعَلَى عِبَادِي أَلَا فَلَا تَظَالَمُوا
كُلُّ بَنِي آدَمَ يُخْطِئُ بِاللَّيْلِ وَالنَّهَارِ ثُمَّ يَسْتَغْفِرُنِي
فَأَغْفِرُ لَهُ وَلَا أُبَالِي وَقَالَ يَا بَنِي آدَمَ كُلُّكُمْ كَانَ ضَالًّا
إِلَّا مَنْ هَدَيْتُ . [11].
Artinya: Telah menceritakan kepada
kami Abdurrahman dan Abdushamad secara makna, keduanya berkata, telah
menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah. Abdushamad berkata, telah
menceritakan kepada kami Qatadah dari Abu Qilabah dari Abu Asma`, Abdushamad Ar
Rahabi berkata dari Abu Dzar dari Nabi Shalallahu 'Alaihi Wasallam sebagaimana
yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Azza Wa Jalla: 'Wahai para hamba-Ku,
sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku dan Aku mengharamkannya
pula atas kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi. Wahai para hamba-Ku,
kalian semua tersesat kecuali orang yang Aku beri hidayah, maka mintalah
hidayah itu kepada-Ku, niscaya Aku berikan hidayah itu kepadamu..
5.4. Barang Siapa Bertaubat setelah
Melakukan Kedzaliman Allah Menerima Taubatnya
Di dalam Al Quran Surat Al Maidah/ 5: 39 ditegaskan
bahwa barang siapa bertaubat setelah melakukan kedzaliman kemudian memperbaiki
diri, Allah Menerima Taubatnya;
فَمَن
تَابَ مِن بَعْدِ ظُلْمِهِ وَأَصْلَحَ فَإِنَّ اللَّهَ يَتُوبُ عَلَيْهِ إِنَّ
اللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Artinya:
Maka barangsiapa bertaubat (di antara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan
kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima taubatnya.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Maidah/ 5: 39)
Di dalam Al Quran Surat An Nisa’/ 4: 11 ditegaskan
bahwa barang siapa mengerjakan keburukan atau berbuat dzalim kemudian memohon
ampun kepada Allah, Allah akan mengampuninya;
وَمَن
يَعْمَلْ سُوءًا أَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهُ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللَّهَ يَجِدِ
اللَّهَ غَفُورًا رَّحِيمًا
Artinya:
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian
ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang. (QS. An Nisa’/ 4: 11)
5.6. Menyatakan Yang Dzalim Itu Dzalim
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 6521
dinyatakan Apabila kalian melihat umatku takut kepada seorang yang zhalim, maka
katakanlah kepadanya, 'Sesungguhnya kamu adalah orang yang zhalim', karena
dengan demikian berarti kamu telah memisahkannya dari mereka;
حَدَّثَنَا
ابْنُ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ أَبِي الزُّبَيْرِ عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا رَأَيْتُمْ أُمَّتِي تَهَابُ الظَّالِمَ أَنْ تَقُولَ
لَهُ إِنَّكَ أَنْتَ ظَالِمٌ فَقَدْ تُوُدِّعَ مِنْهُمْ [12]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Ibnu Numair telah menceritakan kepada kami Al
Hasan bin Amr dari Abu Zubair dari Abdullah bin Amr, dia berkata; Saya
mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Apabila kalian melihat
umatku takut kepada seorang yang zhalim, maka katakanlah kepadanya,
'Sesungguhnya kamu adalah orang yang zhalim', karena dengan demikian berarti
kamu telah memisahkannya dari mereka."
5.7. Doa Mohon Ampun Dari Perbuatan Dzalim
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 790 disebutkan doa mohon ampunan dari
perbuatan dzalim;
حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ
قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ عَنْ أَبِي الْخَيْرِ
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ أَبِي بَكْرٍ الصِّدِّيقِ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُ أَنَّهُ قَالَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
عَلِّمْنِي دُعَاءً أَدْعُو بِهِ فِي صَلَاتِي قَالَ قُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي
ظَلَمْتُ نَفْسِي ظُلْمًا كَثِيرًا وَلَا يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلَّا أَنْتَ
فَاغْفِرْ لِي مَغْفِرَةً مِنْ عِنْدِكَ وَارْحَمْنِي إِنَّك أَنْتَ الْغَفُورُ
الرَّحِيم[13]
Artinya: Telah menceritakan kepada
kami Qutaibah bin Sa'id berkata, telah menceritakan kepada kami Al Laits dari
Yazid bin Abu Habib dari Abu Al Khair dari 'Abdullah bin 'Amru dari Abu Bakar
Ash Shiddiq radliallahu 'anhu, ia berkata kepada Rasulullah ﷺ:
"Ajarkanlah aku suatu do'a yang bisa aku panjatkan saat shalat!" Maka
Beliau pun berkata: "Bacalah Ya Allah, sungguh aku telah menzhalimi diriku
sendiri dengan kezhaliman yang banyak, sedangkan tidak ada yang dapat
mengampuni dosa-dosa kecuali Engkau. Maka itu ampunilah aku dengan suatu
pengampunan dari sisi-Mu, dan rahmatilah aku. Sesungguhnya Engkau Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang) '."
5.8. Doa Mohon Perlindungan Kepada Allah
Dari Berbuat Dzalim Atau Didzalimi
Di
dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 4430 disebutkan doa mohon perlindungan dari berbuat dzalim atau
didzalimi;
حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ
حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ
قَالَتْ مَا خَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ بَيْتِي
قَطُّ إِلَّا رَفَعَ طَرْفَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ
أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ أَوْ أُظْلَمَ
أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ
Artinya: Telah menceritakan kepada
kami Muslim bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari
Manshur dari Asy Sya'bi dari Ummu Salamah ia berkata, "Nabi ﷺ tidak
pernah keluar dari rumah kecuali beliau melihat ke langit seraya berdoa: Ya
Allah ya Tuhanku, aku berlindung kepada-Mu dari ketersesatan atau disesatkan,
tergelincir atau digelincirkan, menzhalimi atau dizhalimi dan membodohi atau
dibodohi." (HR. Abu Daud: 4430)
5.9. Doa Agar Tidak Dijadikan Berada
Bersama Orang Dzalim
Di
dalam Al Quran surat Al-Mu'minun/ 23: 94 disebutkan doa janganlah Engkau
jadikan aku berada di antara orang-orang yang zalim;
رَبِّ فَلَا تَجْعَلْنِي فِي الْقَوْمِ
الظَّالِمِينَ
Artinya: ya Tuhanku, maka janganlah
Engkau jadikan aku berada di antara orang-orang yang zalim". (QS. Al-Mu'minun/
23: 94)
5.10. Mohon Perlindungan Kepada Allah Dari
Pemimpin Bodoh (Dzalim)
Di
dalam kitab Mustadrak Hakim hadits nomor 265 dijelaskan untuk mohon
perlindungan kepada Allah dari pemimpin bodoh, yaitu para pemimpin sesudahku,
mereka tidak memberikan petunjuk dengan petunjukku dan tidak mengamalkan
Sunnahku. Barangsiapa membenarkan mereka karena kebohongan mereka dan menolong
mereka atas kezhaliman mereka, maka mereka bukan termasuk golonganku dan aku
pun bukan termasuk golongannya;
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ جَعْفَرٍ
الْقَطِيعِيُّ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ حَنْبَلٍ، حَدَّثَنِي
أَبِي، ثنا عَبْدُ الرَّزَّاقِ، أَنْبَأَ مَعْمَرٌ، عَنِ ابْنِ خُثَيْمٍ، عَنْ
عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ سَابِطٍ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، أَنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ لِكَعْبِ بْنِ عُجْرَةَ:
«أَعَاذَكَ اللَّهُ يَا كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ مِنْ إِمَارَةِ السُّفَهَاءِ» قَالَ:
وَمَا إِمَارَةُ السُّفَهَاءِ؟ قَالَ: " أُمَرَاءُ يَكُونُونَ مِنْ بَعْدِي
لَا يَهْتَدُونَ بِهَدْيِي وَلَا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي، فَمَنْ صَدَّقَهُمْ
بِكَذِبِهِمْ وَأَعَانَهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ، فَأُولَئِكَ لَيْسُوا مِنِّي
وَلَسْتُ مِنْهُمْ وَلَا يَرِدُونَ عَلَيَّ حَوْضِي، وَمَنْ لَمْ يُصَدِّقْهُمْ
بِكَذِبِهِمْ وَلَمْ يُعِنْهُمْ عَلَى ظُلْمِهِمْ فَأُولَئِكَ مِنِّي وَأَنَا
مِنْهُمْ وَسَيَرِدُونَ عَلَيَّ حَوْضِي، يَا كَعْبَ بْنَ عُجْرَةَ الصَّوْمُ
جُنَّةٌ، وَالصَّدَقَةُ تُطْفِئُ الْخَطِيئَةَ، وَالصَّلَاةُ قُرْبَانٌ أَوْ قَالَ: بُرْهَانٌ-[14]
"
Artinya: Ahmad bin Ja'far Al Qathi'i mengabarkan kepada
kami, Abdullah bin Ahmad bin Hanbal menceritakan kepada kami, ayahku
menceritakan kepadaku, Abdurrazzaq menceritakan kepada kami, Ma'mar
memberitakan (kepada kami) dari Ibnu Khaitsam, dari Abdurrahman bin Sabith,
dari Jabir bin Abdullah, bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda
kepada Ka'ab bin Ujrah, 'Wahai Ka'ab bin Ujrah, semoga Allah melindungimu dari
para pemimpin yang bodoh' Dia lalu bertanya, 'Apa itu para pemimpin yang
bodoh?' Beliau menjawab, "Yaitu para pemimpin sesudahku, mereka tidak
memberikan petunjuk dengan petunjukku dan tidak mengamalkan Sunnahku.
Barangsiapa membenarkan mereka karena kebohongan mereka dan menolong mereka
atas kezhaliman mereka, maka mereka bukan termasuk golonganku dan aku pun bukan
termasuk golongannya, serta mereka tidak akan sampai ke telagaku. Barangsiapa
tidak membenarkan mereka karena kebohongan mereka dan tidak menolong mereka
atas kezhaliman mereka, maka mereka termasuk golonganku dan aku pun termasuk golongannya,
dan dia akan sampai di telagaku. Wahai Ka'ab bin Ujrah, puasa adalah tameng,
sedekah adalah pelebur (penghilang) kesalahan, dan shalat adalah (sarana untuk)
mendekatkan diri —atau beliau berkata: Bukti'
Doa Mohon Perlindungan Kepada
Allah Dari Berbuat Dzalim Atau Didzalimi
اللَّهُمَّ
أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَضِلَّ أَوْ أُضَلَّ أَوْ أَزِلَّ أَوْ أُزَلَّ أَوْ أَظْلِمَ
أَوْ أُظْلَمَ أَوْ أَجْهَلَ أَوْ يُجْهَلَ عَلَيَّ
“Ya Allah ya Tuhanku, aku
berlindung kepada-Mu dari ketersesatan atau disesatkan, tergelincir atau
digelincirkan, menzhalimi atau dizhalimi dan membodohi atau dibodohi."
(HR. Abu Daud: 4430)
[1] Abu Daud
Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt,
Jilid, 30, Halaman 50, Hadits nomor 18126.
[2] Abu Bakr Ahmad
ibn Al-Husain Al-Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al Ilmiyah, Beirut,
2000, Jilid 6, Halaman 122, Hadits nomor 7675.
[3] Imam Muslim,
Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman 1986,
Hadits nomor 2564.
[4] Ibid, Jilid 4
, Halaman 2000, Hadits nomor 6587.
[5] Abu Daud
Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah,
Beirut, tt, Jilid 2, Halaman 211, Hadits nomor 2015.
[6] Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniya, Mesir, 1404, Jilid
3, Halaman 94, Hadits nomor 2287.
[7] Abu ‘Isa
Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi,
Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 5 halaman 548, Hadits nomor 3598.
[8] Al Imam Ahmad
bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 15, Halaman 371, Hadits nomor 9606.
[9] Imam Muslim,
Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman 1996,
Hadits nomor 2578.
[10] Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404,
Jilid 3, Halaman 129, Hadits nomor 2448.
[11]
Al Imam Ahmad
bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 35, Halaman 332.Hadits nomor 21420.
[12]
Al Imam Ahmad
bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 11, Halaman 72, Hadits nomor 6521.
[13]
Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404,
Jilid 9, Halaman 118, Hadits nomor 7388.
[14] Abdullah Al
Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Al Kitab
Al-Alamiyah, Beirut, 1990, Jilid 1, Halaman 152, Hadits nomor 265.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar