34. Takwa Merupakan Bekal (Pendidikan/ Pelajaran/Amal) Terbaik
Keistimewaan takwa ke tiga puluh empat “Takwa merupakan bekal (Pendidikan/pelajaran/amal) terbaik”, di dasari dalam Al Quran Surat Al-Baqarah/ 2: 197, yang menggambarkan Allah memerintahkan manusia untuk mempersiapkan bekal, sehingga dinyatakan bahwa sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa;
الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ
الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا
مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى
وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ
Artinya: (Musim) haji adalah
beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu
akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan
di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya
Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa
dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.(QS. Al-Baqarah/
2: 197)
Sedangkan di dalam kitab
Hilyatul Auliya dinyatakan Tidak ada bekal yang lebih baik dari takwa;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرُ بْنُ سَلْمٍ حَدَّثَنِي
أَحْمَدُ بْنُ زِيَادٍ، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ بَزِيغٍ، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ
الْكَلْبِيِّ، عَنْ عَائِذِ بْنِ حَبِيبٍ قَالَ: قَالَ جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ: «لَا
زَادَ أَفْضَلُ مِنَ التَّقْوَى، وَلَا شَيْءَ أَحْسَنُ مِنَ الصَّمْتِ، وَلَا عَدُوَّ
أَضَرُّ مِنَ الْجَهْلِ، وَلَا دَاءَ أَدْوَى مِنَ الْكَذِبِ» [1]
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami Muhammad bin Umar bin Salm, dia berkata: Ahmad bin Ziyad telah
menceritakan kepadaku, al-Hasan bin Bazigh telah menceritakan kepada kami, dari
al-Hasan bin Ali al-Kalbi, dari A'id bin Habib, dia berkata: Ja'far bin
Muhammad berkata: "Tidak ada bekal yang lebih baik dari takwa, tidak ada
sesuatu yang lebih indah dari diam, tidak ada musuh yang lebih berbahaya dari
kebodohan, dan tidak ada penyakit yang lebih mematikan dari kebohongan."
Di dalam Kitab Sunan Tirmidzi
Hadits nomor 3444 disebutkan doa Rasulullah
kepada orang yang akan berpergian Semoga Allah membekali dengan ketakwaan;
حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي زِيَادٍ حَدَّثَنَا
سَيَّارٌ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ جَاءَ
رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
إِنِّي أُرِيدُ سَفَرًا فَزَوِّدْنِي قَالَ زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى قَالَ زِدْنِي
قَالَ وَغَفَرَ ذَنْبَكَ قَالَ زِدْنِي بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي قَالَ وَيَسَّرَ لَكَ
الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ [2]
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami Abdullah bin Abu Ziyad telah menceritakan kepada kami Sayyar telah menceritakan
kepada kami Ja'far bin Sulaiman dari Tsabit dari Anas, ia berkata; telah datang
seseorang kepada Nabi ﷺ dan berkata; wahai Rasulullah,
sesungguhnya aku ingin bersafar, maka berilah aku bekal! Beliau mengatakan: "Semoga
Allah memberimu bekal ketakwaan." Orang tersebut berkata; tambahlah! Beliau
berkata: "Dan semoga Dia mengampuni dosamu." Ia berkata; tambahlah! demi
Bapakku, Engkau dan Ibuku, Beliau mengatakan: "Semoga Allah memudahkan untukmu
segala kebaikan dimanapun engkau berada." Abu Isa berkata; hadits ini adalah
hadits hasan gharib.
Di dalam kitab Al Mu’jam
Al Kabir li al-Thabarani Hadits nomor 1159 disebutkan doa ‘Ya Allah, jadikan
takwa sebagai bekal mereka;
حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ الْفَضْلِ الْأَسْفَاطِيُّ،
ثنا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، ثنا أَبُو عَبْدِ اللهِ، صَاحِبُ الصَّدَقَةِ، ثنا عَلْقَمَةُ
بْنُ مَرْثَدٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: بَيْنَمَا
النَّبِيُّ ﷺ فِي مَسِيرٍ لَهُ، إِذْ أَتَى عَلَى رَجُلٍ يَتَقَلَّبُ فِي الرَّمْضَاءِ
ظَهْرًا لِبَطْنٍ، وَيَقُولُ: يَا نَفْسُ نَوْمٌ بِاللَّيْلِ، وَبَاطِلٌ بِالنَّهَارِ،
وتُرَجِّينَ أَنْ تَدْخُلِي الْجَنَّةَ؟ فَلَمَّا قَضَى ذَاتَ نَفْسِهِ أَقْبَلَ إِلَيْنَا
فَقَالَ: «دُونَكُمْ أَخُوكُمْ»، قُلْنَا: ادْعُ اللهَ لَنَا يَرْحَمْكَ اللهُ، قَالَ:
اللهُمَّ اجْمَعْ عَلَى الْهُدَى أَمْرَهُمْ، قُلْنَا: زِدْنَا، قَالَ: اللهُمَّ اجْعَلِ
التَّقْوَى زَادَهُمْ، قُلْنَا: زِدْنَا، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «زِدْهُمِ اللهُمَّ،
وَفِّقْهُ»، قَالَ: اللهُمَّ اجْعَلِ الْجَنَّةَ مَآبَهُمْ [3]
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami Al-'Abbas bin Al-Fadl Al-Asfathi, ia berkata: Telah menceritakan kepada
kami Musa bin Isma’il, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah,
pemilik sedekah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Alqamah bin Martsad,
dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata: Ketika Nabi ﷺ sedang dalam perjalanan, beliau mendatangi seorang pria yang berguling-guling
di pasir panas dari punggung ke perut, dan berkata: ‘Wahai jiwa, tidur di malam
hari dan sia-sia di siang hari, dan kamu berharap masuk surga?’ Ketika pria itu
menyelesaikan urusannya, beliau mendatangi kami dan berkata: ‘Ini saudara kalian.’
Kami berkata: ‘Berdoalah kepada Allah untuk kami, semoga Allah merahmatimu.’ Beliau
berkata: ‘Ya Allah, kumpulkan urusan mereka dalam petunjuk.’ Kami berkata: ‘Tambahkan
lagi.’ Beliau berkata: ‘Ya Allah, jadikan takwa sebagai
bekal mereka.’ Kami berkata: ‘Tambahkan lagi.’ Maka Nabi ﷺ berkata: ‘Tambahkan lagi, ya Allah, dan berikan mereka pemahaman.’ Beliau
berkata: ‘Ya Allah, jadikan surga sebagai tempat kembali mereka.’” [4]
Di dalam kitab Doa Thabarani hadits nomor
847 di sebutkan do’a mohon dibekali ketakwaan;
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، ثنا
مُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ الْأَصْبَهَانِيِّ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ
مُحَمَّدٍ الْمُحَارِبِيُّ، عَنْ عُمَرَ بْنِ مُسَاوِرٍ الْعِجْلِيِّ، عَنِ
الْحَسَنِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، ﵁ قَالَ: لَمْ يُرِدْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ
سَفَرًا قَطُّ إِلَّا قَالَ: «اللَّهُمَّ بِكَ انْتَشَرْتُ، وَإِلَيْكَ
تَوَجَّهَتْ، وَبِكَ اعْتَصَمْتُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ ثِقَتِي، وَأَنْتَ رَجَائِي،
اللَّهُمَّ اكْفِنِي مَا هَمَّنِي وَمَا لَا أَهْتَمُّ بِهِ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ
بِهِ مِنِّي، اللَّهُمَّ زَوِّدْنِي التَّقْوَى، وَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي،
وَوَجِّهْنِي لِلْخَيْرِ أَيْنَمَا كُنْتُ» قَالَ: ثُمَّ يَخْرُجُ ﷺ [5]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami
Ali bin Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa'id bin al-Asbahani,
telah menceritakan kepada kami Abdul Rahman bin Muhammad al-Muharibi, dari Umar
bin Masawir al-Ajli, dari Al-Hasan, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Dia
berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah bermaksud untuk
bepergian ke suatu tempat pun, kecuali beliau mengucapkan, 'Ya Allah, dengan-Mu
aku berangkat, kepada-Mu aku bermaksud, dan dengan-Mu aku berlindung. Ya Allah,
Engkau adalah tempat bergantungku dan harapanku. Ya Allah, cukupkanlah aku dari
apa yang membuatku merisaukan dan dari apa yang tidak aku pedulikan. Engkau lebih
mengetahui tentang keadaanku daripada diriku sendiri. Ya Allah, bekalilah aku takwa,
ampunilah dosaku, dan tunjukkanlah aku kepada kebaikan di mana pun aku berada.'
Kemudian beliau shallallahu 'alaihi wa sallam berangkat."
[1] Abu
Nu’aim Ahmad ibn Abdullah Al-Ashbahani, Hilyatul Auliya’ Wa Thabaqatul
Ashfiya’, Mathba’ah Sa’adah, Mesir, 1974. Jilid 3 Halaman 196, tanpa nomor.
[2] Abu ‘Isa
Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi,
Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 5 Halaman 441, Hadits nomor 3444.
[3] Abu
Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir li al-Thabarani, Maktabah Ibnu
Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 2, Halaman 22, Hadits nomor 1159.
[4] Muʿjam
al-Kabīr Ṭabarānī, Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī, t.t., hadits no.
10556.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar