04/04/2026

34. Takwa Merupakan Bekal (Pendidikan/ Pelajaran/Amal) Terbaik

34. Takwa Merupakan Bekal (Pendidikan/ Pelajaran/Amal) Terbaik

Keistimewaan takwa ke tiga puluh empat “Takwa merupakan bekal (Pendidikan/pelajaran/amal) terbaik”, di dasari dalam Al Quran Surat Al-Baqarah/ 2: 197, yang menggambarkan Allah memerintahkan manusia untuk mempersiapkan bekal, sehingga dinyatakan bahwa sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa;

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلَا رَفَثَ وَلَا فُسُوقَ وَلَا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الْأَلْبَابِ

Artinya: (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.(QS. Al-Baqarah/ 2: 197)

Sedangkan di dalam kitab Hilyatul Auliya dinyatakan Tidak ada bekal yang lebih baik dari takwa;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُمَرُ بْنُ سَلْمٍ حَدَّثَنِي أَحْمَدُ بْنُ زِيَادٍ، حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ بَزِيغٍ، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ الْكَلْبِيِّ، عَنْ عَائِذِ بْنِ حَبِيبٍ قَالَ: قَالَ جَعْفَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ: «لَا زَادَ أَفْضَلُ مِنَ التَّقْوَى، وَلَا شَيْءَ أَحْسَنُ مِنَ الصَّمْتِ، وَلَا عَدُوَّ أَضَرُّ مِنَ الْجَهْلِ، وَلَا دَاءَ أَدْوَى مِنَ الْكَذِبِ» [1]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Umar bin Salm, dia berkata: Ahmad bin Ziyad telah menceritakan kepadaku, al-Hasan bin Bazigh telah menceritakan kepada kami, dari al-Hasan bin Ali al-Kalbi, dari A'id bin Habib, dia berkata: Ja'far bin Muhammad berkata: "Tidak ada bekal yang lebih baik dari takwa, tidak ada sesuatu yang lebih indah dari diam, tidak ada musuh yang lebih berbahaya dari kebodohan, dan tidak ada penyakit yang lebih mematikan dari kebohongan."

Di dalam Kitab Sunan Tirmidzi  Hadits nomor 3444 disebutkan doa Rasulullah kepada orang yang akan berpergian Semoga Allah membekali dengan ketakwaan;

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَبِي زِيَادٍ حَدَّثَنَا سَيَّارٌ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي أُرِيدُ سَفَرًا فَزَوِّدْنِي قَالَ زَوَّدَكَ اللَّهُ التَّقْوَى قَالَ زِدْنِي قَالَ وَغَفَرَ ذَنْبَكَ قَالَ زِدْنِي بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي قَالَ وَيَسَّرَ لَكَ الْخَيْرَ حَيْثُمَا كُنْتَ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ [2]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Abu Ziyad telah menceritakan kepada kami Sayyar telah menceritakan kepada kami Ja'far bin Sulaiman dari Tsabit dari Anas, ia berkata; telah datang seseorang kepada Nabi  dan berkata; wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin bersafar, maka berilah aku bekal! Beliau mengatakan: "Semoga Allah memberimu bekal ketakwaan." Orang tersebut berkata; tambahlah! Beliau berkata: "Dan semoga Dia mengampuni dosamu." Ia berkata; tambahlah! demi Bapakku, Engkau dan Ibuku, Beliau mengatakan: "Semoga Allah memudahkan untukmu segala kebaikan dimanapun engkau berada." Abu Isa berkata; hadits ini adalah hadits hasan gharib.

Di dalam kitab Al Mu’jam Al Kabir li al-Thabarani Hadits nomor 1159 disebutkan doa ‘Ya Allah, jadikan takwa sebagai bekal mereka;

حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ الْفَضْلِ الْأَسْفَاطِيُّ، ثنا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، ثنا أَبُو عَبْدِ اللهِ، صَاحِبُ الصَّدَقَةِ، ثنا عَلْقَمَةُ بْنُ مَرْثَدٍ، عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: بَيْنَمَا النَّبِيُّ ﷺ فِي مَسِيرٍ لَهُ، إِذْ أَتَى عَلَى رَجُلٍ يَتَقَلَّبُ فِي الرَّمْضَاءِ ظَهْرًا لِبَطْنٍ، وَيَقُولُ: يَا نَفْسُ نَوْمٌ بِاللَّيْلِ، وَبَاطِلٌ بِالنَّهَارِ، وتُرَجِّينَ أَنْ تَدْخُلِي الْجَنَّةَ؟ فَلَمَّا قَضَى ذَاتَ نَفْسِهِ أَقْبَلَ إِلَيْنَا فَقَالَ: «دُونَكُمْ أَخُوكُمْ»، قُلْنَا: ادْعُ اللهَ لَنَا يَرْحَمْكَ اللهُ، قَالَ: اللهُمَّ اجْمَعْ عَلَى الْهُدَى أَمْرَهُمْ، قُلْنَا: زِدْنَا، قَالَ: اللهُمَّ اجْعَلِ التَّقْوَى زَادَهُمْ، قُلْنَا: زِدْنَا، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «زِدْهُمِ اللهُمَّ، وَفِّقْهُ»، قَالَ: اللهُمَّ اجْعَلِ الْجَنَّةَ مَآبَهُمْ [3]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Al-'Abbas bin Al-Fadl Al-Asfathi, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma’il, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Abu Abdullah, pemilik sedekah, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Alqamah bin Martsad, dari Sulaiman bin Buraidah, dari ayahnya, ia berkata: Ketika Nabi  sedang dalam perjalanan, beliau mendatangi seorang pria yang berguling-guling di pasir panas dari punggung ke perut, dan berkata: ‘Wahai jiwa, tidur di malam hari dan sia-sia di siang hari, dan kamu berharap masuk surga?’ Ketika pria itu menyelesaikan urusannya, beliau mendatangi kami dan berkata: ‘Ini saudara kalian.’ Kami berkata: ‘Berdoalah kepada Allah untuk kami, semoga Allah merahmatimu.’ Beliau berkata: ‘Ya Allah, kumpulkan urusan mereka dalam petunjuk.’ Kami berkata: ‘Tambahkan lagi.’ Beliau berkata: ‘Ya Allah, jadikan takwa sebagai bekal mereka.’ Kami berkata: ‘Tambahkan lagi.’ Maka Nabi berkata: ‘Tambahkan lagi, ya Allah, dan berikan mereka pemahaman.’ Beliau berkata: ‘Ya Allah, jadikan surga sebagai tempat kembali mereka.’” [4]

Di dalam kitab Doa Thabarani hadits nomor 847 di sebutkan do’a mohon dibekali ketakwaan;

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ الْأَصْبَهَانِيِّ، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْمُحَارِبِيُّ، عَنْ عُمَرَ بْنِ مُسَاوِرٍ الْعِجْلِيِّ، عَنِ الْحَسَنِ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، ﵁ قَالَ: لَمْ يُرِدْ رَسُولُ اللَّهِ ﷺ سَفَرًا قَطُّ إِلَّا قَالَ: «اللَّهُمَّ بِكَ انْتَشَرْتُ، وَإِلَيْكَ تَوَجَّهَتْ، وَبِكَ اعْتَصَمْتُ، اللَّهُمَّ أَنْتَ ثِقَتِي، وَأَنْتَ رَجَائِي، اللَّهُمَّ اكْفِنِي مَا هَمَّنِي وَمَا لَا أَهْتَمُّ بِهِ وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، اللَّهُمَّ زَوِّدْنِي التَّقْوَى، وَاغْفِرْ لِي ذَنْبِي، وَوَجِّهْنِي لِلْخَيْرِ أَيْنَمَا كُنْتُ» قَالَ: ثُمَّ يَخْرُجُ ﷺ [5]

Artinya:  Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdul Aziz, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sa'id bin al-Asbahani, telah menceritakan kepada kami Abdul Rahman bin Muhammad al-Muharibi, dari Umar bin Masawir al-Ajli, dari Al-Hasan, dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu. Dia berkata, "Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidak pernah bermaksud untuk bepergian ke suatu tempat pun, kecuali beliau mengucapkan, 'Ya Allah, dengan-Mu aku berangkat, kepada-Mu aku bermaksud, dan dengan-Mu aku berlindung. Ya Allah, Engkau adalah tempat bergantungku dan harapanku. Ya Allah, cukupkanlah aku dari apa yang membuatku merisaukan dan dari apa yang tidak aku pedulikan. Engkau lebih mengetahui tentang keadaanku daripada diriku sendiri. Ya Allah, bekalilah aku takwa, ampunilah dosaku, dan tunjukkanlah aku kepada kebaikan di mana pun aku berada.' Kemudian beliau shallallahu 'alaihi wa sallam berangkat."



[1] Abu Nu’aim Ahmad ibn Abdullah Al-Ashbahani, Hilyatul Auliya’ Wa Thabaqatul Ashfiya’, Mathba’ah Sa’adah, Mesir, 1974. Jilid 3 Halaman 196, tanpa nomor.

[2] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 5 Halaman 441, Hadits nomor 3444.

[3] Abu Qasim Al-Thabarani, Al Mu’jam Al Kabir li al-Thabarani, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 2, Halaman 22, Hadits nomor 1159.

[4] Muʿjam al-Kabīr Ṭabarānī, Beirut: Dār Iḥyā’ al-Turāth al-‘Arabī, t.t., hadits no. 10556.

[5] Abu Al-Qasim Sulaiman Ibn Ahmad Al-Thabarani, Al-Dua Al-Thabarani, Dar Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 1413 H, Halaman 255, Hadits nomor 805.

Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post