+ 7. TAQWA LEVEL MAHABBAH
Mahabah
berasal dari kata habba-yuhibbu-mahabbatan, artinya; menyukai,
mencintai, jatuh cinta, senang akan, memuja, mengkhayalkan. Di dalam Al Quran
terdapat kata yang terbentuk dari kata dasar hababa sebanyak 95
ditemukan di dalam 85 ayat.
Ayat-ayat
tersebut ditambah dengan hadits-hadits Rasulullah yang berkaitan dengan
mahabbah akan diklasifikasikan dan dianalisa untuk dapat memperoleh pemahaman
yang menyeluruh tentang mahabbah, sehingga mahabbah dapat diamalkan menjadi
sebuah bentuk ketaqwaan di tingkat mahabbah.
Di
dalam Al Quran Surat Al-Baqarah/ 2: 165, ditegaskan bahwa orang-orang yang
beriman amat sangat cintanya kepada Allah;
وَمِنَ
النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ
اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ
ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ
اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ
Artinya: Dan
diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain
Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun
orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya
orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada
hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat
berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).(QS. Al-Baqarah/ 2: 165)
Sedangkan
di dalam Al Quran surat At-Taubah/ 9: 24 terkandung pengertian bahwa Allah,
Rasul-Nya dan juhad di jalan-Nya harus lebih dicintai daripada apa saja yang
dimilikinya;
قُلْ
إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ
وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا
وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ
فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا
يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Artinya:
Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri,
kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu
khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu
cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah
sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang fasik.(QS. At-Taubah/ 9: 24)
Berdasar
dua ayat Al Quran tersebut di atas dapat diperoleh pengertian sementara bahwa
mahabbah adalah kesadaran untuk memprioritaskan cinta kepada yang paling berhak
dicintai, yaitu Allah dan Rasul-Nya serta berjuang di jalan-Nya.
Untuk
dapat memberikan gambaran yang menyeluruh tentang mahabbah maka pada bab ini
akan dikemukakan pembahasan tentang;
1.
Hikmah Mahabbah,
2.
Keistimewaan Orang Mahabbah,
3.
Karaktaer Orang Mahabbah
4.
Taqwa Di Tingkat Mahabbah.
Adapun
pembahasannya adalah sebagai berikut;.
Di
dalam Al Quran dan hadits Nabi Muhammad SAW disebutkan beberapa hikmah yang
berkaitan dengan mahabbah, yakni antara lain;
1.1. Jika Allah Mencintai Seorang Hamba Maka Manusia
Akan Dijadikan Suka Kepadanya
Di
dalam kitab Shahih Muslim 2637 dinyatakan bahwa Jika Allah mencintai seorang
hamba maka manusia akan dijadikan suka kepadanya;
حَدَّثَنَا
زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ
اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا
فَأَحِبَّهُ قَالَ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ قَالَ
ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ وَإِذَا أَبْغَضَ عَبْدًا دَعَا
جِبْرِيلَ فَيَقُولُ إِنِّي أُبْغِضُ فُلَانًا فَأَبْغِضْهُ قَالَ فَيُبْغِضُهُ
جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ فُلَانًا
فَأَبْغِضُوهُ قَالَ فَيُبْغِضُونَهُ ثُمَّ تُوضَعُ لَهُ الْبَغْضَاءُ فِي
الْأَرْضِ [1]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb; Telah menceritakan kepada kami Jarir
dari Suhail dari Bapaknya dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah ﷺ
bersabda: "Sesungguhnya apabila Allah Subhanahu wa Ta'ala mencintai
seseorang, maka Dia akan memanggil malaikat Jibril alaihi salam seraya berseru:
'Hai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai si fulan. Oleh karena itu, cintailah
ia! ' Rasulullah bersabda: 'Akhirnya orang tersebut pun dicintai Jibril.
Setelah itu, Jibril berseru di atas langit; 'Sesungguhnya Allah Subhanahu wa
Ta'ala mencintai si fulan. OIeh karena itu, cintailah ia! ' Kemudian para
penghuni langit pun mulai mencintainya pula.' Rasulullah ﷺ bersabda: 'Setelah itu para penghuni bumi juga mencintainya.' Sebaliknya,
apabila Allah Subhanahu wa Ta'ala membenci seseorang, maka Dia akan memanggil
malaikat Jibril dan berseru kepadanya: 'Sesungguhnya Aku membenci si fulan.
Oleh karena itu, bencilah ia.' Rasulullah ﷺ berkata: 'Lalu malaikat Jibril berseru di
langit; 'Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala membenci si fulan. OIeh karena
bencilah ia!" Kemudian para penghuni langit membencinya. Setelah itu para
penghuni dan penduduk bumi juga membencinya.
1.2. Barangsiapa Mencintai Perjumpaan Dengan Allah,
Allah Juga Mencintai Perjumpaan Dengannya
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6507
dinyatakan bahwa barangsiapa Mencintai perjumpaan dengan Allah, Allah juga
mencintai perjumpaan dengannya;
حَدَّثَنَا
حَجَّاجٌ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ عُبَادَةَ
بْنِ الصَّامِتِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ
أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ
كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ قَالَتْ عَائِشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ إِنَّا
لَنَكْرَهُ الْمَوْتَ قَالَ لَيْسَ ذَاكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ
الْمَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ
إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ
وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ
فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ
وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ اخْتَصَرَهُ أَبُو دَاوُدَ وَعَمْرٌو عَنْ شُعْبَةَ
وَقَالَ سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ زُرَارَةَ عَنْ سَعْدٍ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
[2]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Hammam telah
menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas dari Ubadah bin Shamit dari Nabi ﷺ,
bersabda: "Barangsiapa Mencintai perjumpaan dengan Allah, Allah juga
mencintai perjumpaan dengannya, sebaliknya barangsiapa membenci perjumpaan
dengan Allah, Allah juga membenci perjumpaan dengannya." Kontan 'Aisyah
atau sebagian isteri beliau berkomentar 'kami juga cemas terhadap kematian! '
Nabi lantas bersabda: "Bukan begitu maksudnya, namun maksud yang benar,
seorang mukmin jika kematian menjemputnya, ia diberi kabar gembira dengan
keridhaan Allah dan karamah-Nya, sehingga tak ada sesuatu apapun yang lebih ia
cintai daripada apa yang dihadapannya, sehingga ia mencintai berjumpa Allah, dan
Allah pun mencintai berjumpa kepadanya. Sebaliknya orang kafir jika kematian
menjemputnya, ia diberi kabar buruk dengan siksa Allah dan hukuman-Nya,
sehingga tidak ada yang lebih ia cemaskan daripada apa yang di hadapannya, ia
membenci berjumpa Allah, sehingga Allah pun membenci berjumpa dengannya."
Abu Daud dan Amru meringkasnya dari Syu'bah dan Said mengatakan dari Qatadah
dari Zurarah dari Sa'd dari 'Aisyah dari Nabi ﷺ.
1.3. Jika Allah Dan Rasul-Nya Lebih Dicintainya Dari
Selain Keduanya: Dapat Merasakan Manisnya Iman
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6941, dijelaskan Tiga perkara yang
apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman, antara lain
dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ حَوْشَبٍ الطَّائِفِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ
الْوَهَّابِ، حَدَّثَنَا أَيُّوبُ، عَنْ أَبِي قِلَابَةَ، عَنْ أَنَسٍ ﵁ قَالَ: قَالَ
رَسُولُ اللهِ ﷺ: «ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ
يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ
الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي
الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ.»ِ
[3]
Artinya:
Muhammad bin Abdullah bin Hawsyaib ath-Thaifi telah meriwayatkan kepada kami,
Abdurrahhab meriwayatkan kepada kami, Ayyub meriwayatkan kepada kami dari Abu
Qilabah, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Ada tiga hal; siapa saja yang memilikinya akan merasakan manisnya
iman: (1) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain
keduanya; (2) mencintai seseorang dan tidak mencintainya kecuali karena Allah;
dan (3) membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci jika
dilemparkan ke dalam api.”
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6502, dijelaskan bahwa jika hamba-Ku
terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah, maka Aku
mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia
jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan
tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk
berjalan;
حَدَّثَنِي
مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ كَرَامَةَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ
حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ حَدَّثَنِي شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
أَبِي نَمِرٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا
فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ
إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ
بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي
يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا
وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ
اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ
تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ
مَسَاءَتَهُ [4]
Artinya: Telah
menceritakan kepadaku [Muhammad bin 'Utsman bin Karamah] telah menceritakan
kepada kami [Khalid bin Makhlad] Telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin
Bilal] telah menceritakan kepadaku [Syarik bin Abdullah bin Abi Namir] dari
['Atho`] dari [Abu Hurairah] menuturkan, Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah
berfirman; Siapa yang memusuhi wali-KU, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan
hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku
cintai daripada yang telah Aku wajibkan, jika hamba-Ku terus menerus
mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah, maka Aku mencintai dia, jika
Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk
mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang
ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau
ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-Ku, pasti
Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi
pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang
mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia
merasakan kepedihan sakitnya."
1.5. Tidak Ada Sesuatu Yang Dicintai Oleh Allah Kecuali
Dua Tetas Air Dan Dua Bekas
Di
dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 1209 dinyatakan tidak ada sesuatu yang
dicintai oleh Allah kecuali dua tetas air dan dua bekas;
حَدَّثَنَا
زِيَادُ بْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَنْبَأَنَا الْوَلِيدُ
بْنُ جَمِيلٍ الْفِلَسْطِينِيُّ عَنْ الْقَاسِمِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ
أَبِي أُمَامَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ
شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ قَطْرَتَيْنِ وَأَثَرَيْنِ قَطْرَةٌ مِنْ
دُمُوعٍ فِي خَشْيَةِ اللَّهِ وَقَطْرَةُ دَمٍ تُهَرَاقُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
وَأَمَّا الْأَثَرَانِ فَأَثَرٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَثَرٌ فِي فَرِيضَةٍ مِنْ
فَرَائِضِ اللَّهِ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ [5]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ziyad bin Ayyub berkata, telah menceritakan kepada
kami Yazid bin Harun berkata, telah memberitakan kepada kami Al Walid bin Jamil
Al Filasthini dari Al Qasim bin 'Abdurrahman dari Abu Umamah dari Nabi ﷺ, beliau
bersabda: "Tidak ada sesuatu yang dicintai oleh Allah kecuali dua tetas
air dan dua bekas; tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah
yang tertumpah di jalan Allah. Adapun dua bekas itu adalah; bekas karena di
jalan Allah dan bekas karena melaksanakan kewajiban Allah." Ia berkata,
"Hadits derajatnya hasan gharib."
1.6. Barangsiapa Yang Allah Berikan Agama, Berarti
Allah Mencintainya.
Di
dalam kitab Musnad Ahmad 3672 dinyatakan bahwa barangsiapa yang Allah berikan
agama, berarti Allah mencintainya.
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا أَبَانُ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ الصَّبَّاحِ بْنِ
مُحَمَّدٍ عَنْ مُرَّةَ الْهَمْدَانِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَسَمَ
بَيْنَكُمْ أَخْلَاقَكُمْ كَمَا قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ وَإِنَّ اللَّهَ
عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ وَلَا يُعْطِي
الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ أَحَبَّ فَمَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ الدِّينَ فَقَدْ
أَحَبَّهُ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُسْلِمُ عَبْدٌ حَتَّى يَسْلَمَ
قَلْبُهُ وَلِسَانُهُ وَلَا يُؤْمِنُ حَتَّى يَأْمَنَ جَارُهُ بَوَائِقَهُ قَالُوا
وَمَا بَوَائِقُهُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَالَ غَشْمُهُ وَظُلْمُهُ وَلَا يَكْسِبُ
عَبْدٌ مَالًا مِنْ حَرَامٍ فَيُنْفِقَ مِنْهُ فَيُبَارَكَ لَهُ فِيهِ وَلَا
يَتَصَدَّقُ بِهِ فَيُقْبَلَ مِنْهُ وَلَا يَتْرُكُ خَلْفَ ظَهْرِهِ إِلَّا كَانَ
زَادَهُ إِلَى النَّارِ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَمْحُو السَّيِّئَ
بِالسَّيِّئِ وَلَكِنْ يَمْحُو السَّيِّئَ بِالْحَسَنِ إِنَّ الْخَبِيثَ لَا
يَمْحُو الْخَبِيث [6]
Artinya:
"Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Ubaid, telah menceritakan
kepada kami Aban bin Ishaq, dari As-Sabbaah bin Muhammad, dari Muraah
Al-Hamdani, dari Abdullah bin Mas’ud. Dia berkata, Rasulullah ﷺ bersabda: 'Sesungguhnya Allah telah membagi akhlak kalian sebagaimana Dia
membagi rezeki kalian. Dan sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memberikan dunia
kepada siapa yang Dia kehendaki dan kepada siapa yang Dia tidak kehendaki. Dan
Dia tidak memberikan agama kecuali kepada orang yang Dia cintai. Maka
barangsiapa yang Allah berikan agama, berarti Allah mencintainya. Dan demi Dzat
yang jiwaku berada di tangan-Nya, seorang hamba tidak akan mencapai keselamatan
hingga hatinya selamat, lisannya selamat, dan dia beriman hingga tetangganya
aman dari gangguannya.’ Para sahabat bertanya, ‘Apa yang dimaksud dengan
gangguan, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, 'Gangguan adalah kejahatan dan
kezaliman. Dan seorang hamba tidak akan memperoleh harta dari yang haram, kemudian
dia menginfakkan darinya, lalu diberkahi oleh Allah. Dan dia tidak bersedekah
dengan harta tersebut, kemudian diterima darinya. Dan dia tidak meninggalkan di
belakang punggungnya kecuali itu akan menjadi beban baginya di akhirat.
Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak menghapus keburukan dengan keburukan,
tetapi Dia menghapus keburukan dengan kebaikan. Sesungguhnya yang busuk tidak akan
menghapus yang busuk.’"
Di
dalam kitab Mujam Thabarani Ausath hadits nomor 704-705 dinyatakan bahwa Puncak
kecerdasan setelah iman kepada Allah adalah mencintai manusia;
حَدَّثَنَا
عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ رَوَاحَةَ الرَّامَهُرْمُزِيُّ ، حَدَّثَنَا أَبُو
كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاءِ الْهَمْدَانِيُّ ، حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ
بَشِيرٍ بِشْرٍ الأَسَدِيُّ ، حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ بَشِيرٍ بِشْرٍ الأَسَدِيُّ
، حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ زَيْدٍ الْعَلَوِيُّ ، عَنْ أَبِيهِ ،
عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ ، عَنْ أَبِيهِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ ، عَنْ
أَبِيهِ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ ، عَنِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ ، عَنْ عَلِيِّ
بْنِ أَبِي طَالِبٍ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ فِي الْجَنَّةِ ، قَالَ : قَالَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَالَ لِي جَبْرَائِيلُ : يَا
مُحَمَّدُ ، أَحِبَّ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ ، وَعِشْ مَا شِئْتَ
فَإِنَّكَ مَيِّتٌ ، وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
أَوْجَزَ لِي جِبْرِيلُ الْخُطْبَةَ وَبِإِسْنَادِهِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : رَأْسُ الْعَقْلِ بَعْدَ الإِيمَانِ بِاللهِ
التَّحَبُّبُ إِلَى النَّاسِ [7]
Artinya: Diriwayatkan
oleh Abdul Wahab bin Rawahah ar-Ramahurmuzi, berkata: Telah meriwayatkan kepada
kami Abu Kuraib Muhammad bin al-'Ala' al-Hamdani, berkata: Telah meriwayatkan
kepada kami Hafsh bin Basyir al-Asadi, berkata: Telah meriwayatkan kepada kami
Hasan bin Husain bin Zaid al-'Alawi, dari ayahnya, dari Ja'far bin Muhammad,
dari ayahnya Muhammad bin Ali, dari ayahnya Ali bin Husain, dari Husain bin
Ali, dari Ali bin Abi Thalib, semoga Allah memuliakan wajahnya di surga,
berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Jibril berkata kepadaku:
Wahai Muhammad, cintailah siapa saja yang engkau kehendaki, tetapi ketahuilah
bahwa engkau akan berpisah dengannya. Dan hiduplah sebagaimana yang engkau
kehendaki, tetapi ketahuilah bahwa engkau pasti akan mati." Rasulullah ﷺ juga
bersabda: "Jibril telah meringkaskan khotbah untukku." Dengan
sanadnya, beliau ﷺ juga bersabda: "Puncak kecerdasan setelah iman kepada
Allah adalah mencintai manusia."
2. Keistimewaan Orang Mahabbah
Berikut
dikemukakan beberapa ayat Al Quran dan Hadits yang memberikan gambaran
keistimewaan bagi orang yang mahabbah, yakni sebagai berikut;
2.1. Jika Kamu Mencintai Allah Dan Rasul-Nya, Maka Kamu
Akan Bersama Orang Yang Kamu Cintai
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 3688, dijelaskan di hari akhir nanti
orang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya;
حَدَّثَنَا
سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ
أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا
أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ
أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو
أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ
أَعْمَالِهِمْ [8]
Artinya:
Telah bercerita kepada kami [Sulaiman bin Harb] telah bercerita kepada kami
[Hammad bin Zaid] dari [Tsabit] dari [Anas radliallahu 'anhu] bahwa ada
seseorang yang bertanya kepada Nabi SAW tentang hari qiyamat. Katanya;
"Kapan terjadinya hari qiyamat?". Beliau balik bertanya kepada orang
itu; "Apa yang telah kami siapkan untuk menghadapinya?". Orang itu
menjawab; "Tidak ada. Kecuali, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya
SAW". Maka beliau berkata: "Kamu akan bersama orang yang kamu
cintai". Anas berkata; "Kami belum pernah bergembira atas sesuatu
seperti gembiranya kami dengan sabda Nabi SAW, yaitu: "Kamu akan bersama
orang yang kamu cintai". Selanjutnya Anas berkata; "Maka aku
mencintai Nabi SAW, Abu Bakr, 'Umar dan aku berharap dapat berkumpul bersama
mereka disebabkan kecintaanku kepada mereka sekalipun aku tidak memiliki amal
seperti amal mereka".
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 6938, dijelaskan bahwa Tidaklah seorang
hamba yang dipenuhi kecintaan kepada Allah, melainkan Allah mengharamkan neraka
baginya di hari kiamat;
حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ
أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي مَحْمُودُ بْنُ الرَّبِيعِ
قَالَ سَمِعْتُ عِتْبَانَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ غَدَا عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَجُلٌ أَيْنَ مَالِكُ بْنُ
الدُّخْشُنِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَّا ذَلِكَ مُنَافِقٌ لَا يُحِبُّ اللَّهَ
وَرَسُولَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا
تَقُولُوهُ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ
قَالَ بَلَى قَالَ فَإِنَّهُ لَا يُوَافَى عَبْدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِهِ إِلَّا
حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ النَّارَ [9]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami ['Abdan] Telah mengabarkan kepada kami
[Abdullah] Telah mengabarkan kepada kami [Ma'mar] dari [Az Zuhri] telah
menceritakan kepadaku [Mahmud bin Rabi'] mengatakan, aku mendengar [Itban bin
Malik] mengatakan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah menemuiku,
lantas ada seseorang bertanya; 'mana Malik bin Duhsyun? ' seseorang dari kami
mengatakan; 'Dia munafik, tidak mencintai Allah dan Rasul-NYA.' Spontan Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bukankah kalian katakan bahwa ia
mengucapkan; laa-ilaaha-illallah, untuk mencari wajah Allah?" Ia menjawab;
'Benar'. Maka Nabi bersabda: "Tidaklah seorang hamba dipenuhi kecintaan
kepada Allah, melainkan Allah mengharamkan neraka baginya di hari kiamat."
2.3. Seseorang Bersama Dengan Orang Yang Dia Cintai
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 13316, dinyatakan bahwa Seseorang itu
bersama dengan yang dia cintai;
حَدَّثَنَا هَاشِمٌ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ عَنْ
ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ
يُحِبُّ الرَّجُلَ وَلَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَعْمَلَ كَعَمَلِهِ فَقَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ فَقَالَ
أَنَسٌ فَمَا رَأَيْتُ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَرِحُوا بِشَيْءٍ قَطُّ إِلَّا أَنْ يَكُونَ الْإِسْلَامَ مَا فَرِحُوا
بِهَذَا مِنْ قَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ
أَنَسٌ فَنَحْنُ نُحِبُّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا
نَسْتَطِيعُ أَنْ نَعْمَلَ كَعَمَلِهِ فَإِذَا كُنَّا مَعَهُ فَحَسْبُنَا [10]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari
Tsabit al- bunani dari Anas Bin Malik berkata, datang seorang laki-laki kepada
Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam, lalu berkata, wahai Rasulullah, ada
seorang laki-laki yang suka kepada temannya namun tidak bisa beramal
sebagaimana temannya tersebut. Kemudian Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam
bersabda, "Seseorang itu bersama dengan yang dia cintai". Anas
berkata, sejak hari itu saya tidak melihat para sahabat Rasulullah
Shallallahu'alaihi wasallam merasa lebih gembira dengan sesuatu selain Islam
daripada ucapan beliau ini. Kemudian Anas berkata, dan kami sangat menyukai
Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam sekalipun kami tidak sanggup untuk
beramal sebagaimana amalannya, dan kalulah kami bisa bersamanya maka hal itu
cukup bagi kami.
3. Karakter Orang Taqwa Di Tingkat Mahabbah
Berikut
dikemukakan ayat-ayat Al Quran dan Hadits yang dapat memberikan gambaran
tentang orang yang memiliki karakter taqwa di tingkat mahabbah adalah sebagai
berikut;
3.1. Jika Kamu (Benar-Benar) Mencintai Allah, Ikutilah
Nabi Muhammad SAW
Al
Quran Surat Ali 'Imran/ 3: 31, menjelaskan Jika kamu (benar-benar) mencintai
Allah, ikutilah aku (Muhammad SAW);
قُلْ
إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Artinya:
Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku,
niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. (QS. Ali 'Imran: 31)
3.2. Kaum Yang Allah Mencintai Mereka Dan Merekapun
Mencintai Allah
Di
dalam Al Quran Surat Al-Ma'idah/ 5: 54, disebutkan bahwa barangsiapa di antara
kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum
yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya;
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ
يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى
الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ
وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ
ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
Artinya: Hai
orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya,
maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan
merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin,
yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah,
dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia
Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas
(pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Ma'idah/ 5: 54)
3.3. Lebih Mencintai Allah, Rasul-Nya Dan Jihad Di
Jalannya
Al
Quran surat At-Taubah/ 9: 24 mengandung pengertian bahwa Allah, Rasul-Nya dan
juhad di jalan-Nya harus lebih dicintai daripada apa saja yang dimilikinya;
قُلْ
إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ
وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا
وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ
فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا
يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Artinya:
Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri,
kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu
khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu
cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah
sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk
kepada orang-orang yang fasik.(QS. At-Taubah/ 9: 24)
3.4. Mencintai Allah Atas Nikmat Yang Telah Di Berikan
Oleh-Nya
Di
dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 4123, dijelaskan Cintailah Allah atas
nikmat yang telah di berikan oleh-Nya;
حَدَّثَنَا
أَبُو دَاوُدَ سُلَيْمَانُ بْنُ الْأَشْعَثِ قَالَ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ
مَعِينٍ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سُلَيْمَانَ
النَّوْفَلِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ
عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحِبُّوا اللَّهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ مِنْ نِعَمِهِ
وَأَحِبُّونِي بِحُبِّ اللَّهِ وَأَحِبُّوا أَهْلَ بَيْتِي بِحُبِّي قَالَ أَبُو
عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ [11]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Abu Daud Sulaiman bin Al Asy'ats] dia berkata; telah
mengabarkan kepada kami [Yahya bin Ma'in] telah menceritakan kepada kami
[Hisyam bin Yusuf] dari [Abdullah bin Sulaiman An Naufali] dari [Muhammad bin
Ali bin Abdullah bin Abbas] dari [ayahnya] dari [Abdullah bin Abbas] dia
berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Cintailah Allah atas nikmat yang telah
di berikan oleh-Nya, dan cintailah aku karena cinta kepada Allah serta
cintailah ahli baitku karena cinta kepadaku." Abu Isa berkata; "Hadis
ini adalah hadis hasan gharib, kami hanya mengetahui hadis ini dari jalur
ini."
3.5. Allah Menyukai Orang Yang Menampakkan Kenikmatan
Yang Diberi Allah
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 19934 dinyatakan bahwa Barangsiapa telah
diberi nikmat oleh Allah, sesungguhnya Allah lebih suka tanda nikmatnya
diperlihatkan kepada makhluknya;
حَدَّثَنَا
رَوْحٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنِ الْفُضَيْلِ بْنِ فَضَالَةَ رَجُلٌ مِنْ قَيْسٍ
حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ الْعُطَارِدِيُّ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا عِمْرَانُ بْنُ
حُصَيْنٍ وَعَلَيْهِ مِطْرَفٌ مِنْ خَزٍّ لَمْ نَرَهُ عَلَيْهِ قَبْلَ ذَلِكَ
وَلَا بَعْدَهُ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ مَنْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ نِعْمَةً فَإِنَّ اللَّهَ
عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى خَلْقِهِ وَقَالَ
رَوْحٌ بِبَغْدَادَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ [12]
Artinya: Telah
menceritakan pada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Al
Fudlail bin Fadlalah seorang laki-laki dari Kabilah Qais; telah menceritakan
kepada kami Abu Raja` Al 'Utharidi dia berkata, 'Imran bin Hushain keluar
menemui kami dengan mengenakan pakaian bercorak dari sutera, kami belum pernah
melihatnya sebelum ataupun sesudahnya, lalu dia berkata; Sesungguhnya
Rasulullah ﷺ bersabda: "Barangsiapa telah diberi nikmat oleh Allah,
sesungguhnya Allah lebih suka tanda nikmatnya diperlihatkan kepada
makhluknya." Rauh di Baghdad berkata; "Tanda nikmatnya lebih suka
diperlihatkan kepada hambanya."
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 8410 dinyatakan bahwa Allah memiliki 99
nama, barang siapa menjaganya masuk surga, Allah ganjil dan menyukai yang
ganjil;
حَدَّثَنَا
عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَفِظْنَاهُ مِنْ أَبِي
الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رِوَايَةً قَالَ لِلَّهِ
تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اسْمًا مِائَةٌ إِلَّا وَاحِدًا لَا يَحْفَظُهَا أَحَدٌ
إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَهُوَ وَتْرٌ يُحِبُّ الْوَتْرَ
[13]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan
dia berkata; Kami hafal dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah
secara periwayatan, dia berkata; "Allah memiliki sembilan puluh sembilan
nama, seratus kurang satu, tidaklah seseorang menghafalnya melainkan ia akan
masuk surga, dan Dia adalah witir dan menyukai yang ganjil."
Di
dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 453 dinyatakan bahwa sesungguhnya Allah
adalah witir (ganjil) dan menyukai dengan sesuatu yang ganjil, maka berwitirlah
kalian wahai para ahli Qur'an;
حَدَّثَنَا
أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَقَ
عَنْ عَاصِمِ بْنِ ضَمْرَةَ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ الْوِتْرُ لَيْسَ بِحَتْمٍ
كَصَلَاتِكُمْ الْمَكْتُوبَةِ وَلَكِنْ سَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ فَأَوْتِرُوا
يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَابْنِ مَسْعُودٍ
وَابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عَلِيٍّ حَدِيثٌ حَسَنٌ [14]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Abu Bakar
bin 'Ayyas telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari 'Ashim bin Dlamrah
dari Ali dia berkata, shalat witir tidaklah wajib sebagaimana shalat wajib
kalian, akan tetapi ia merupakan sunnah Rasulullah ﷺ. Dan
dia juga berkata, sesungguhnya Allah adalah witir (ganjil) dan menyukai dengan
sesuatu yang ganjil, maka berwitirlah kalian wahai para ahli Qur'an. (perawi)
berkata, dan dalam bab ini (ada juga riwayat -pent.) dari Ibnu Umar, Ibnu
Mas'ud dan Ibnu 'Abbas. Abu Isa berkata, hadits Ali adalah hadits hasan.
Di
dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2018 Sesungguhnya di antara orang yang
paling aku cintai dan yang tempat duduknya lebih dekat kepadaku pada hari
kiamat ialah orang yang akhlaknya paling bagus;
حَدَّثَنَا
أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ خِرَاشٍ الْبَغْدَادِيُّ حَدَّثَنَا حَبَّانُ بْنُ
هِلَالٍ حَدَّثَنَا مُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ حَدَّثَنِي عَبْدُ رَبِّهِ بْنُ
سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ
وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا
وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ
الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ قَالُوا
يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا
الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ الْمُتَكَبِّرُونَ قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ
وَرَوَى بَعْضُهُمْ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ الْمُبَارَكِ بْنِ فَضَالَةَ عَنْ
مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ عَبْدِ رَبِّهِ بْنِ سَعِيدٍ وَهَذَا
أَصَحُّ وَالثَّرْثَارُ هُوَ الْكَثِيرُ الْكَلَامِ وَالْمُتَشَدِّقُ الَّذِي
يَتَطَاوَلُ عَلَى النَّاسِ فِي الْكَلَامِ وَيَبْذُو عَلَيْهِمْ [15]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Al Hasan bin Hirasy Al Baghdadi, telah menceritakan kepada kami Habban bin Hilal, telah menceritakan kepada kami Mubarak bin Fadlalah, telah menceritakan kepadaku Abdu Rabbih bin Sa'id dari Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan yang tempat duduknya lebih dekat kepadaku pada hari kiamat ialah orang yang akhlaknya paling bagus. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat ialah orang yang paling banyak bicara (kata-kata tidak bermanfaat), yang suka memperolok manusia dan para Mutafaihiq." Para shahabat bertanya, "Wahai Rasulullah ﷺ , kami tahu orang yang banyak bicara (kata-kata tidak bermanfaat) dan yang suka memperolok manusia, tapi para Mutafaihiq siapakah mereka itu?" Nabi ﷺ menjawab: "Yaitu orang-orang yang sombong." Berkata Abu Isa: Hadits semakna juga diriwayatkan dari Abu Hurairah dan ini merupakan hadits Hasan Gharib melalui jalur ini. Sebagian mereka meriwayatkan hadits ini dari Mubarak bin Fadlalah dari Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir dari Nabi ﷺ namun tidak disebutkan didalamnya dari Abdu Rabbih bin Sa'id dan riwayat ini lebih shahih.
3.9. Mencintai Ali ibnu Abu Thalib Menantu Rasulullah
Di
dalam kitab Hilyatul Aulia hadits nomor 201 dinyatakan inilah Ali cintailah dia
karena cinta kepadaku;
حَدَّثَنَا
أَحْمَدُ بْنُ يَعْقُوبَ بْنِ الْمَهْرَجَانِ الْمُعَدِّلُ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
عُثْمَانَ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، ثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْحَاقَ الضَّبِّيُّ،
ثَنَا قَيْسُ بْنُ الرَّبِيعِ، عَنْ لَيْثِ بْنِ أَبِي سُلَيْمٍ، عَنِ ابْنِ أَبِي
لَيْلَى، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ادْعُوا لِي سَيِّدَ الْعَرَبِ»، يَعْنِي عَلِيَّ بْنَ أَبِي
طَالِبٍ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: أَلَسْتَ سَيِّدَ الْعَرَبِ؟ فَقَالَ: «أَنَا
سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ، وَعَلِيٌّ سَيِّدُ الْعَرَبِ»، فَلَمَّا جَاءَ أَرْسَلَ
إِلَى الْأَنْصَارِ فَأَتَوْهُ، فَقَالَ لَهُمْ: «يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ أَلَا
أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا؟»
قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «هَذَا عَلِيٌّ فَأَحِبُّوهُ بِحُبِّي،
وَأَكْرِمُوهُ بِكَرَامَتِي، فَإِنَّ جِبْرِيلَ أَمَرَنِي بِالَّذِي قُلْتُ لَكُمْ
عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ» رَوَاهُ أَبُو بِشْرٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ،
عَنْ عَائِشَةَ، نَحْوَهُ فِي السُّؤْدَدِ مُخْتَصَرًا
[16]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ya’qub ibnu Al Mahrajani Al Mu’adil, telah
menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Utsman ibnu Abi Syaibah, telah
menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Ishaq Ad Dhabi, telah menceritakan kepada
kami Qais ibnu Rabi’, dari Lais ibnu Abi Sulaim, dari ibnu Abi Lail, dari Al
Hasan ibnu Ali, berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: “Panggilkan untukku pembesar
arab”, yaitu Ali ibnu Abi Thalib, Maka Aisyah bertanya: Bukankah engkau
pembesar Arab ? Maka Rasulullah ﷺ bersabda: “ Aku pembesar anak Adam, dan Ali
pembesar Arab, maka ketika datang diutus ke kaum Anshar dan ketika datang di
kaum Anshar Rasulullah bersabda kepada mereka: “Wahai kaum Anshar tidakkan
kalian mau aku tunjukkan pada apa yang jika kamu berpegang teguh kepadanya,
kamu setelah itu tidak akan tersesat selamanya ?, mereka menjawab: kenapa tidak
ya Rasulullah, Rasulullah ﷺ bersabda : “inilah Ali cintailah dia karena cinta
kepadaku, karena sesungguhnya Jibril menyuruhku dengan yang telah aku katakan
kepada kalian dari Allah Azza Wajalla”, Riwayat Abu Bisyr, Said ibnu Jbair,
dari ‘Aisyah selian di Syu’dad Muhtasharan
3.10. Mencintai Husain Cucu Rasulullah SAW
Di
dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 3775 dinyatakan bahwa Husain bagian
dariku, dan aku merupakan bagian dari Husain, Allah akan mencintai orang yang
mencintai Husain;
حَدَّثَنَا
الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ رَاشِدٍ عَنْ يَعْلَى
بْنِ مُرَّةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
حُسَيْنٌ مِنِّي وَأَنَا مِنْ حُسَيْنٍ أَحَبَّ اللَّهُ مَنْ أَحَبَّ حُسَيْنًا
حُسَيْنٌ سِبْطٌ مِنْ الْأَسْبَاطِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ
وَإِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ
وَقَدْ رَوَاهُ غَيْرُ وَاحِدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ [17]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Al Hasan bin 'Arafah telah menceritakan kepada kami
Isma'il bin 'Ayyasy dari Abdullah bin Utsman bin Hutsaim dari Sa'id bin Rasyid
dari Ya'la bin Murrah dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Husain bagian dariku, dan
aku merupakan bagian dari Husain, Allah akan mencintai orang yang mencintai
Husain, Husain termasuk dari sibt (keturunan yang akan menurunkan banyak ummat)
dari beberapa ummat." Abu Isa berkata; "Hadits ini adalah hadits
hasan, kami hanya mengetahui hadits ini dari hadits Abdullah bin Utsman bin
Khutsaim, dan telah di riwayatkan pula oleh beberapa perawi dari Abdullah bin
Utsman bin Khutsaim."
3.11. Mencintai Sahabat Rasulullah SAW
Di
dalam kitab Sunan Tirmidzi Hadits Nomor 3862 dinyatakan bertakwalah kalian
kepada Allah terhadap hak-hak para sahabatku, janganlah kalian menjadikan
mereka sebagai sasaran (dalam cacian dan cercaan) sepeninggalku, barangsiapa
yang mencintai mereka, maka dengan kecintaanku, aku pun mencintai mereka;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ
حَدَّثَنَا عَبِيدَةُ بْنُ أَبِي رَائِطَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زِيَادٍ
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي اللَّهَ اللَّهَ فِي
أَصْحَابِي لَا تَتَّخِذُوهُمْ غَرَضًا بَعْدِي فَمَنْ أَحَبَّهُمْ فَبِحُبِّي
أَحَبَّهُمْ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ وَمَنْ آذَاهُمْ فَقَدْ
آذَانِي وَمَنْ آذَانِي فَقَدْ آذَى اللَّهَ وَمَنْ آذَى اللَّهَ يُوشِكُ أَنْ
يَأْخُذَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ
إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ [18]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya telah menceritakan kepada
kami Ya'qub bin Ibrahim bin Sa'd telah menceritakan kepada kami 'Abidah bin Abu
Ra`ithah dari Abdurrahman bin Ziyad dari Abdullah bin Mughaffal dia berkata:
Rasulullah ﷺ bersabda: "Bertakwalah kalian
kepada Allah, bertakwalah kalian kepada Allah terhadap hak-hak para sahabatku,
janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran (dalam cacian dan cercaan)
sepeninggalku, barangsiapa yang mencintai mereka, maka dengan kecintaanku, aku
pun mencintai mereka, dan barangsiapa membenci mereka, maka dengan kebencianku,
aku pun membenci mereka (yang membenci sahabat), barangsiapa menyakiti mereka,
sungguh ia telah menyakitiku, barangsiapa menyakitiku, berarti ia telah
menyakiti Allah, barangsiapa menyakiti Allah, hampir saja Allah
menyiksanya." Abu Isa berkata: "Hadits ini adalah hadits hasan
gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini."
Di
dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabir hadits nomor 13650 dinyatakan bahwa siapa
mencintai bangsa Arab maka dengan cintaku Aku mencintainya;
حَدَّثَنَا
عَبْدَانُ بْنُ أَحْمَدَ، وَأَبُو حَنِيفَةَ مُحَمَّدُ بْنُ حَنِيفَةَ
الْوَاسِطِيُّ، قَالَا: ثنا أَحْمَدُ بْنُ الْمِقْدَامِ الْعِجْلِيُّ، ثنا
حَمَّادُ بْنُ وَاقِدٍ الصَّفَّارُ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ ذَكْوَانَ، عَنْ عَمْرِو
بْنِ دِينَارٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: إِنَّا لَقُعُودٌ بِفِنَاءِ
رَسُولِ اللهِ ﷺ، إِذْ مَرَّتِ امْرَأَةٌ، فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ: هَذِهِ
ابْنَةُ مُحَمَّدٍ، فَقَالَ رَجُلٌ: إِنَّ مَثَلَ مُحَمَّدٍ فِي بَنِي هَاشِمٍ
مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ فِي وَسَطِ النَّتْنِ، فَانْطَلَقْتِ الْمَرْأَةُ
فَأَخْبَرْتِ النَّبِيَّ ﷺ، فَجَاءَ النَّبِيُّ ﷺ يُعْرَفُ فِي وَجْهِهِ الْغَضَبُ
حَتَّى قَامَ عَلَى الْقَوْمِ، فَقَالَ: «مَا بَالُ أَقْوَالٍ تَبْلُغُنِي عَنْ
أَقْوَامٍ، إِنَّ اللهَ ﷿ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ، وَالْأَرْضَ سَبْعًا، فَاخْتَارَ الْعُلْيَا
مِنْهَا فَسَكَنَهَا، وَأَسْكَنَ سَمَاوَاتِهِ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ، وَخَلَقَ
الْأَرْضَ سَبْعًا، فَاخْتَارَ الْعُلْيَا مِنْهَا فَأَسْكَنَهَا مَنْ شَاءَ مِنْ
خَلْقِهِ، وَخَلَقَ الْخَلْقَ فَاخْتَارَ مِنَ الْخَلْقِ بَنِي آدَمَ، وَاخْتَارَ
مِنْ بَنِي آدَمَ الْعَرَبَ، وَاخْتَارَ مِنَ الْعَرَبِ مُضَرَ، وَاخْتَارَ مِنْ
مُضَرَ قُرَيْشًا، وَاخْتَارَ مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاخْتَارَنِي مِنْ
بَنِي هَاشِمٍ، فَأَنَا مِنْ خِيَارٍ إِلَى خِيَارٍ، فَمَنْ أَحَبَّ الْعَرَبَ
فَبِحُبِّي أَحَبَّهُمْ، وَمَنْ أَبْغَضَ الْعَرَبَ فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ» [19]
"
Artinya: Abdan
bin Ahmad dan Abu Hanifah Muhammad bin Hanifah al-Wasithi meriwayatkan bahwa
Ahmad bin al-Miqdam al-‘Ijli telah menceritakan kepada mereka, berkata: telah
menceritakan kepada kami Hammad bin Waqid ash-Shaffar, dari Muhammad bin
Dzkwan, dari ‘Amr bin Dinar, dari Abdullah bin Umar. Ia berkata: Ketika kami
sedang duduk di halaman rumah Rasulullah ﷺ, lewatlah seorang wanita. Sebagian orang
berkata, “Itu adalah putri Muhammad.” Lalu seseorang berkata, “Perumpamaan
Muhammad di tengah-tengah Bani Hasyim seperti sekuntum bunga harum di tengah
bau busuk.” Wanita itu pun pergi dan menyampaikan ucapan itu kepada Nabi ﷺ. Maka
Nabi ﷺ datang, tampak pada wajah beliau tanda kemarahan, hingga beliau
berdiri di hadapan orang-orang itu dan bersabda: “Ada apa dengan ucapan-ucapan
yang sampai kepadaku dari sebagian orang? Sesungguhnya Allah menciptakan langit
tujuh tingkat dan memilih yang paling tinggi lalu menempatinya, dan Dia
menempatkan di langit-Nya siapa pun yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya. Dan
Allah menciptakan bumi tujuh lapis, kemudian memilih bagian yang paling tinggi
dan menempatkan padanya siapa yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya. Allah
menciptakan seluruh makhluk, lalu memilih dari makhluk itu Bani Adam. Dari Bani
Adam, Dia memilih bangsa Arab; dari bangsa Arab, Dia memilih kabilah Mudhar;
dari Mudhar, Dia memilih Quraisy; dari Quraisy, Dia memilih Bani Hasyim; dan
Dia memilihku dari Bani Hasyim. Maka aku adalah pilihan dari generasi pilihan.
Barang siapa mencintai bangsa Arab, maka dengan cintanya kepadakulah ia
mencintai mereka. Dan barang siapa membenci bangsa Arab, maka dengan
kebenciannya kepadakulah ia membenci mereka.”
3.13. Silaturahmi Menumbuhkan Rasa Cinta Dalam Keluarga
Di
dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 1979 dinyatakan bahwa sesungguhnya
silaturahmi itu menumbuhkan rasa cinta dalam keluarga
حَدَّثَنَا
أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ
عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عِيسَى الثَّقَفِيِّ عَنْ يَزِيدَ مَوْلَى الْمُنْبَعِثِ
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّ صِلَةَ
الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِي الْأَهْلِ مَثْرَاةٌ فِي الْمَالِ مَنْسَأَةٌ فِي
الْأَثَرِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ
وَمَعْنَى قَوْلِهِ مَنْسَأَةٌ فِي الْأَثَرِ يَعْنِي بِهِ الزِّيَادَةَ فِي
الْعُمُرِ [20]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad, telah mengabarkan kepada kami
Abdullah bin Mubarak dari Abdul Malik bin Isa Ats Tsaqafi dari Yazid Maula Al
Munba'itsi dari Abu Hurairah dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Belajarlah dari
nasab kalian yang dapat membantu untuk silaturrahmi karena silaturrahmi itu
dapat membawa kecintaan dalam keluarga dan memperbanyak harta, serta dapat
memperpanjang umur." Abu Isa berkata: Ini merupakan hadits gharib melalui
jalur ini.
Di
dalam kitab Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain hadits nomor 7471 juga
dinyatakan sesungguhnya menyambung hubungan rahim adalah sebab sebuah
kecintaan;
أَخْبَرَنَا
أَبُو الْعَبَّاسِ السَّيَّارِيُّ، أَنْبَأَ أَبُو الْمُوَجَّهِ، أَنْبَأَ
عَبْدَانُ، أَنْبَأَ عَبْدُ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عِيسَى
الثَّقَفِيُّ، عَنْ يَزِيدَ، مَوْلَى الْمُنْبَعِثِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، ﵁ عَنِ
النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ
أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِي الْأَهْلِ مَثْرَاةٌ فِي
الْمَالِ مَنْسَأَةٌ فِي الْأَثَرِ» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ
يُخَرِّجَاهُ " [21]
Artinya: Abu
al-‘Abbas as-Sayyari telah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu al-Muwajjih
mengabarkan kepada kami, Abdan mengabarkan kepada kami, Abdullah meriwayatkan
dari Abdul Malik bin ‘Isa ats-Tsaqafi, dari Yazid maula al-Munba‘its, dari Abu
Hurairah, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: “Pelajarilah dari nasab
kalian apa yang dapat digunakan untuk menyambung tali silaturahmi, karena sesungguhnya silaturahmi itu menumbuhkan rasa cinta dalam
keluarga, menambah keberkahan pada harta, dan memanjangkan umur.” Hadits
ini shahih sanadnya, namun tidak diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
3.14. Menyegerakan Berbuka Puasa
Di
dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 700 dinyatakan bahwa 'Sesungguhnya
hamba-Ku yang paling Aku cintai ialah yang menyegerakan berbuka puasa;
حَدَّثَنَا
إِسْحَاقُ بْنُ مُوسَى الْأَنْصَارِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ
مُسْلِمٍ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، عَنْ قُرَّةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنِ
الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ
اللهِ ﷺ: قَالَ اللهُ: «إِنَّ أَحَبَّ عِبَادِي إِلَيَّ أَعْجَلُهُمْ فِطْرًا» [22]
Artinya: Diriwayatkan
oleh Ishaq bin Musa al-Anshari, ia berkata: telah menceritakan kepada kami
al-Walid bin Muslim, dari al-Auza‘i, dari Qurrah bin Abdurrahman, dari
az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda bahwa Allah berfirman: “Sesungguhnya hamba-Ku yang paling Aku cintai
adalah yang paling cepat dalam berbuka (ketika berpuasa).”
3.15. Mencintai Untuk Saudaranya Sebagaimana Dia Mencintai Untuk Dirinya
Sendiri
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 13 dinyatakan bahwa tidaklah beriman
seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia
mencintai untuk dirinya sendiri;
حَدَّثَنَا
مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ
حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ
لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ [23]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya
dari Syu'bah dari Qotadah dari Anas dari Nabi ﷺ Dan dari Husain Al Mu'alim berkata, telah
menceritakan kepada kami Qotadah dari Anas dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Tidaklah beriman
seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia
mencintai untuk dirinya sendiri".
Sedangkan
di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 45
juga dinyatakan bahwa termasuk dari bagian
keimanan adalah mencintai saudaranya sesama muslim atau untuk tetangganya
sebagaimana yang ia cintai untuk dirinya sendiri;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ
جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَنَسِ
بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا
يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ أَوْ قَالَ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ
لِنَفْسِهِ [24]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar keduanya
berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan
kepada kami Syu'bah dia berkata, aku mendengar Qatadah menceritakan dari Anas
bin Malik dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Tidaklah salah
seorang dari kalian beriman hingga dia mencintai untuk saudaranya, atau dia
mengatakan, 'untuk tetangganya sebagaimana yang ia cintai untuk dirinya
sendiri."
3.17. Mencintai Kebaikan Bagi Saudaranya Sebagaimana Ia Mencintai Kebaikan
Bagi Dirinya Sendiri
Di
dalam kitab hadits Sunan Nasai hadits nomor 5016 dinyatakan tidaklah sempurna
keimanan salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai kebaikan bagi
saudaranya sebagaimana ia mencintai kebaikan bagi dirinya sendiri;
أَخْبَرَنَا
مُوسَى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ حُسَيْنٍ
وَهُوَ الْمُعَلِّمُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا
يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنْ
الْخَيْرِ [25]
Artinya: Telah
mengkhabarkan kepada kami Musa bin Abdur Rahman, dia berkata; telah
menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Husain yaitu Al Mua'allim dari Qatadah
dari Anas bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Demi Dzat yang jiwa
Muhammad ada di tanganNya, tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antara
kalian hingga ia mencintai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana ia mencintai
kebaikan bagi dirinya sendiri."
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits
nomor 13875 ditegaskan bahwa Tidak (sempurna) iman seseorang sehingga mencintai manusia sebagaimana dia mencintai dirinya
sendiri dan mencintai saudaranya hanya karena Allah
Azzawajalla;
حَدَّثَنَا
رَوْحٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا يُحَدِّثُ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ
حَتَّى يُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ وَحَتَّى يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا
يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
[26]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Rouh telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari
Qatadah berkata; saya telah mendengar Anas menceritakan dari Nabi ﷺ bersabda: "Tidak (sempurna) iman seseorang sehingga mencintai manusia
sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri dan mencintai saudaranya hanya karena
Allah Azzawajalla "
3.19. Mencintai Orang Sebagaimana Kamu Suka Mendapatkannya
Di
dalam kitab Mujam Thabarani Kabir hadits nomor 5478 disebutkan amal yang dapat
mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, salah satunya mencintai untuk
saudaranya apa yang dia senang mendapatkannya dan meninggalkan untuk manusia
apa yang dia tidak suka menerimanya;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْحَضْرَمِيُّ، ثنا أَبُو كُرَيْبٍ، وَعُثْمَانُ
بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، ح وَحَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ هَارُونَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ
عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ قَالُوا: ثنا يَحْيَى بْنُ عِيسَى، عَنِ الْأَعْمَشِ،
عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ سَعْدِ بْنِ الْأَخْرَمِ، عَنْ
أَبِيهِ أَوْ عَنْ عَمِّهِ يَشُكُّ الْأَعْمَشُ قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ،
فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمِلٍ يُقَرِّبُنِي مِنَ
الْجَنَّةِ، وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ، فَسَكَتَ سَاعَةً، ثُمَّ رَفَعَ
رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ، فَنَظَرَ فَقَالَ: «تَعْبُدُ اللهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ
شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ،
وَتُحِبُّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْكَ، وَمَا كَرِهْتَ أَنْ
يُؤْتَى إِلَيْكَ فَدَعِ النَّاسَ مِنْهُ»
[27]
Artinya: Telah
menceriterakan kepada kami Muhammad ibnu Abdillah Al Hadramiy, telah
menceriterakan kepada kami Abu Kuraib dan ‘Utsman ibnu Abi Syaibah, dan telah
menceriterakan kepada kami Musa ibnu Harun telah menceriterakan kepada kami
Muhammad ibnu Abdillahibnu Numair berkata: telah menceriterakan kepada kami
Yahya ibnu ‘Isa dari Al A’masi dari Umar ibnu Murah dari Al Mughirah dari said
ibnu Al Ahram dari Bapaknya atau Pamannya A’mas ragu berkata: Aku mendatangi
Nabi Muhammad ﷺ maka aku berkata: Wahai Nabi tunjukkan kepadaku amal yang
dapat mendekatkanku ke surga dan menjauhkannku ke neraka, maka beliau diam
sejenak dan mengangkat kepalanya ke langit, maka beliau melihat dan berkata:
Kamu menyembah Allah tidak mensekutukannya dengan sesuatupun, dan kamu
menegakkan shalat, dan membayar zakat, dan berpuasa di bulan Ramadhan, dan kamu
mencintai untuk orang lain, apa yang kamu suka mendapatkannya, dan apa yang
kamu tidak suka mendapatkannya, maka kamu meninggalkannya untuk orang lain.
Di
mulai dari tingkat ketaqwaan di tingkat ihsan ke atas, yang harus dipahami adalah ketetapan yang berlaku sebagaimana
yang ditegaskan di dalam Al Quran surat Ar-Rahman/ 55: 60;
هَلْ
جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
Artinya:
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).(QS. Ar-Rahman/ 55: 60)
Yakni
kebaikan akan dibalas dengan kebaikan yang setingkat, mencintai akan di balas
dicintai, menyayangi akan dibalas di sayangi, meridhai akan dibalas diridhai
dan seterusnya. Hal ini juga senada dengan perintah Allah yang termuat di dalam
Al Quran surat Al-Qashash/ 28: 77 untuk berbuat ihsan sebagaimana Allah telah
berbuat ihsan kepada hambanya;
وَابْتَغِ
فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ
الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ للَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ
فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ
Artinya: Dan
carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri
akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan
berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik,
kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya
Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash/ 28:
77)
Dari
ayat di atas dapat dipahami sesungguhnya kebaikan mencintai, menyayangi,
meridhai dan kebaikan lainnya telah diberikan oleh Allah, maka sudah sepatutnya
manusia sebagai hambanya melakukan amal kebaikan yang didasari karena cinta,
sayang dang ridha atas ketetapan Allah.
Dengan
demikian maka ayat dan hadits berikut mengandung pengertian bahwa Allah
mencintai orang-orang yang bertaqwa, dalam pengertian bahwa Allah mencintai
orang yang bertaqwa, yakni orang yang ketaqwaanya hingga taqwa di tingkat
mahabbah.
Di
dalam Al Quran surat Ali-'Imran/ 3: 76
ditegaskan bahwa sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa;
بَلَى
مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ وَاتَّقَى فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ
Artinya:
(Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati
janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai
orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali-'Imran/ 3: 76 )
Di
dalam kitab Mujam Thabarani Kabir hadits nomor 4237 ditegaskan bahwa yang
paling aku cintai adalah yang paling bertaqwa
حَدَّثَنَا
هَاشِمٌ، ثنا مُحَمَّدٌ، حَدَّثَنِي أَبِي، حَدَّثَنِي ضَمْضَمٌ، عَنْ شُرَيْحٍ،
عَنْ أَبِي مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى
أَجْسَامِكُمْ وَلَا إِلَى أَحْسَابِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ
إِلَى قُلُوبِكُمْ، فَمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ صَالِحٌ تَحَنَّنَ اللهُ عَلَيْهِ،
وَإِنَّمَا أَنْتُمْ بَنُو آدَمَ وأَحَبُّكُمْ إِلَيَّ أَتْقَاكُمْ» [28]
Artinya: Telah
menceriterakan kepada kami Hasyim Telah menceriterakan kepada kami Muhammad
Telah menceriterakan kepada kami Ayahku Telah menceriterakan kepadaku Dhamim
dari Syarih: dari Abi Malik berkata; bersabda Rasulullah ﷺ: “ Sesungguhnya
Allah ‘Azza wa Jalla tidak melihat kepada tubuh-tubuh kalian, dan tidak kepada
keturunan-keturunan kalian, dan tidak kepada harta-harta kalian, akan tetapi
melihat kepada qalbu-qalbu kalian, maka barang siapa memiliki qalbu yang shalih
maka Allah lembut kepadanya, dan sesungguhnya kamu sekalian anak-cucu Adam yang
paling Aku cintai adalah yang paling bertaqwa.”
Di
dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 3989 dinyatakan bahwa Sesungguhnya
Allah mencintai orang-orang yang berbakti lagi bertakwa dan tidak dikenal;
حَدَّثَنَا
حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي ابْنُ
لَهِيعَةَ عَنْ عِيسَى بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ
أَبِيهِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَنَّهُ خَرَجَ يَوْمًا إِلَى مَسْجِدِ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ
قَاعِدًا عِنْدَ قَبْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْكِي
فَقَالَ مَا يُبْكِيكَ قَالَ يُبْكِينِي شَيْءٌ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ يَسِيرَ الرِّيَاءِ شِرْكٌ وَإِنَّ مَنْ عَادَى
لِلَّهِ وَلِيًّا فَقَدْ بَارَزَ اللَّهَ بِالْمُحَارَبَةِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ
الْأَبْرَارَ الْأَتْقِيَاءَ الْأَخْفِيَاءَ الَّذِينَ إِذَا غَابُوا لَمْ
يُفْتَقَدُوا وَإِنْ حَضَرُوا لَمْ يُدْعَوْا وَلَمْ يُعْرَفُوا قُلُوبُهُمْ
مَصَابِيحُ الْهُدَى يَخْرُجُونَ مِنْ كُلِّ غَبْرَاءَ مُظْلِمَةٍ [29]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Harmalah bin Yahya telah menceritakan kepada kami
Abdullah bin Wahb telah mengabarkan kepadaku Ibnu Lahi'ah dari Isa bin
Abdurrahman dari Zaid bin Aslam dari Aslam dari Umar bin Khattab, bahwa suatu
ketika dia keluar menuju masjid Nabi ﷺ lalu berjumpa dengan Mu'adz bin Jabal yang
sedang duduk di sisi Kuburan Nabi ﷺ sambil menangis. Maka ia pun bertanya,
"Apa yang membuatmu manangis?" Mu'adz menjawab, "Aku menangis
karena sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah ﷺ, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya riya' yang paling ringan pun sudah terhitung
syirik, dan sesungguhnya orang yang memusuhi wali Allah maka dia telah
menantang bertarung dengan Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang
berbakti lagi bertakwa dan tidak dikenal, yaitu orang-orang yang apabila
menghilang maka mereka tidak dicari-cari, dan jika mereka hadir maka mereka
tidak di kenal, hati mereka ibarat lentera-lentera petunjuk yang muncul dari
setiap bumi yang gelap."
Adapun
gambaran dari wujud ketaqwaan di tingkat mahabbah berdasar pemahaman yang
diperoleh dari ayat-ayat Al Quran dan Hadits adalah sebagai berikut:
4.1. Mencintai Allah, Mencintai Manusia, Mengingat
Allah
Di
dalam kitab Al-Sunan Al-Kubra hadits nomor 1782 dinyatakan bahwa
Sesungguhnya Hamba yang paling dicintai Allah adalah yang mencitai Allah, dan
dicintakan Allah kepada manusia;
وَقَدْ
أَخْبَرَنَاهُ أَبُو زَكَرِيَّا بْنُ أَبِى إِسْحَاقَ أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ
اللَّهِ : مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ
حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ أَخْبَرَنَا مِسْعَرٌ عَنْ إِبْرَاهِيمَ
السَّكْسَكِىِّ حَدَّثَنِى أَصْحَابُنَا عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ أَنَّهُ قَالَ:
إِنَّ أَحَبَّ عِبَادِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ الَّذِينَ يُحِبُّونَ اللَّهَ،
وَيُحَبِّبُونَ اللَّهَ إِلَى النَّاسِ، وَالَّذِينَ يُرَاعُونَ الشَّمْسَ
وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ وَالأَظِلَّةَ لِذِكْرِ اللَّهِ. وَرُوِىَ مَوْقُوفًا
عَلَى أَبِى هُرَيْرَةَ فِى مَعْنَاهُ. [30]
Artinya: dan
telah mengabarkan kepada kami Abu Zakariya ibnu Abi Ishaq, telah mengabarkan
kepada kami Abu Abdillah; Muhammad ibnu Ya’qub, telah mengabarkan kepada kami
Muhammad ibnu Abdi Al Wahab, telah mengabarkan kepada kami ibnu ‘Aun, telah
mengabarkan kepada kami Mis’ar, dari Ibrahim As Saksaki, telah mengabarkan
kepada kami Sahabat kami dari Abi Darda’ bahwa dia berkata: Sesungguhnya Hamba
yang paling dicintai Allah adalah yang mencitai Allah, dan dicintakan Allah
kepada manusia, dan orang-orang yang mengembala Matahari, bulan, bintang dan
bayangan untuk mengingat Allah, dan diriwayatkan secara mauquf atas Abu
Hurairah dalam maknanya.
4.2. Lebih Mencintai Allah dan Rasulnya Dibanding
Selainnya
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 13959 ditegaskan bahwa Tidak (sempurna)
iman salah seorang kalian sehingga Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada
selainnya;
حَدَّثَنَا
رَوْحٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يُؤْمِنُ
أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا
سِوَاهُمَا وَحَتَّى يُقْذَفَ فِي النَّارِ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَعُودَ
فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ نَجَّاهُ اللَّهُ مِنْهُ وَلَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ
حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ
أَجْمَعِينَ [31]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah
menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas Bin Malik dari Nabi ﷺ bersabda, "Tidak (sempurna) iman salah seorang kalian sehingga
Allah dan RasulNya lebih dia cintai daripada selainnya, dan hingga ia dilempar
ke neraka lebih disukainya dari pada kembali kepada kekufuran setelah Allah
menyelamatkannya. Dan tidak (sempurna) iman salah seorang kalian sehingga saya
(Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam) lebih dicintainya daripada anaknya,
orang tuanya atau manusia semuanya".
Orang
yang bertakwa kepada Allah di tingkat mahabbah adalah orang cinta kepada Allah,
adapun tanda-tanda mencintai Allah adalah sebagai berikut:
Di
dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor 410 disebutkan bahwa tanda-tanda
mencinta Allah adalah suka mengingat Allah;
أَخْبَرَنَاهُ
عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ، أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ
الصَّفَّارُ، حدثنا أَبُو بَكْرٍ عُمَرُ بْنُ الْمُعَلَّى النَّرْسِيُّ، حدثنا
الْمُعَلَّى بْنُ مَهْدِيٍّ، حدثنا يُوسُفُ بْنُ مَيْمُونٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ
مَالِكٍ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ:
" عَلَامَةُ حُبِّ اللهِ حُبُّ ذِكْرِ اللهِ، وَعَلَامَةُ بُغْضِ اللهِ
بُغْضُ ذِكْرِ اللهِ " قَالَ الْبَيْهَقِيُّ رَحِمَهُ اللهُ: وَرُوِيَ عَنْ
وَجْهٍ آخَرَ، عَنْ زِيَادِ بْنِ مَيْمُونٍ " وَزِيَادٌ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ،
وَرُوِيَ عنْ وَجْهٍ آخَرَ ضَعِيفٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، وَاللهُ أَعْلَمُ،
وَرُوِّينَا بِمِثْلِهَا عَنِ السَّلَفِ الصَّالِحِينَ
[32]
"
Artinya:
Telah mengabarkan kepada kami Ali
ibnu Muhammad ibnu Abdan, telah mengabarkan kepada kami Ahmad ibnu Ubaid As
shafar, telah mengabarkan kepada kami Abu Bakri Umar ibnu Al Muali An Narsi,
telah menceritakan kepada kami Al Mu’ali ibnu mahdi, telah menceritakan kepada
kami Yusuf ibnu Maimun, dari Anas ibnu Malik berkata: aku mendengar Nabi
Muhammad ﷺ bersabda: tanda-tanda mencinta Allah
adalah suka mengingat Allah, dan tanda-tanda membenci Allah adalah benci
mengingat Allah, Baihaqi RA berkata: dan diriwayatkan dari arah yang lain, dari
ziad ibnu maimun, dan Ziyad haditnya diingkari, dan diriwayatkan dari arah lain
dinilai lemah dari Anas ibnu Malik, dan Allah yang lebih mengetahui dan
diriwayatkan seperti itu dari dari orang-orang dahulu yang shalih.
Di
dalam kitab Syuab Al-Iman Baihaqi Atsar nomor 419 digambarkan bahwa tanda cinta
kepada Allah adalah mentaati Allah
- حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ
أَخْبَرَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ سَعِيدٍ الرَّازِيُّ،
حدثنا أَبُو الْفَضْلِ الْعَبَّاسُ بْنُ حَمْزَةَ حدثنا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي
الْحَوَارِيِّ قَالَ: " عَلَامَةُ حُبِّ اللهِ حُبُّ طَاعَةِ اللهِ - وَقِيلَ
حُبُّ ذِكْرِ اللهِ - فَإِذَا أَحَبَّ اللهُ الْعَبْدَ أَحَبَّهُ، وَلَا
يَسْتَطِيعُ الْعَبْدُ أَنْ يُحِبَّ اللهَ حَتَّى يَكُونَ الِابْتِدَاءُ مِنَ
اللهِ بِالْحُبِّ لَهُ، وَذَلِكَ حِينَ عَرَفَ مِنْهُ الِاجْتِهَادَ فِي
مَرْضَاتِهِ [33]
"
Artinya:
telah menceriterakan kepada kami Abu Abdi Rahman As Sulamiy, telah
menceriterakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad ibnu Ahmad ibnu Sa’id Ar Razi,
telah menceriterakan kepada kami Abu Al fadhl Al ‘Abbas ibnu Hamzah, telah
menceriterakan kepada kami Ahmad ibnu Abi Al Hawari berkata: Tanda-tanda cinta
kepada Allah adalah cinta untuk taat kepada Allah, dan dikatakan cinta
mengingat Allah, adapun jika Allah mencintai hamba maka dia akan mencintainya,
dan tidak dapat seorang hamba mencintai Allah hingga Allah memulai
mencintainya, dan yang demikian itu ketika diketahui kesungguhannya untuk
mengharap ridhanya.
4.3.3. Sibuk Beribadah Kepada Allah
Di
dalam kitab Syuab Al-Iman Baihaqi atsar nomor 417 digambarkan bahwa tanda
mencintai Allah adalah sibuk beribadah kepadanya, shalat, berdzikir dengan
lisannya dan memujinya, mengingat dengan qalbu dan fikiran,
حَدَّثَنَا
أَبُو سَعْدٍ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ أَبِي عُثْمَانَ الزَّاهِدُ رَحِمَهُ اللهُ،
حدثنا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ الْفَقِيهُ، حدثنا أَبِي قَالَ: سَمِعْتُ
الْمَعْرُوفَ بِعُمَيٍّ الْبِسْطَامِيِّ يَقُولُ: سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ: سُئِلَ
أَبُو يَزِيدَ عَنْ عَلَامَةِ مَنْ يُحِبُّ اللهَ، وَعَلَامَةِ مَنْ يُحِبُّهُ
اللهُ قَالَ: " مَنْ يُحِبُّ اللهَ فَهُوَ مَشْغُولٌ بِعِبَادَتِهِ سَاجِدًا
وَرَاكِعًا، فَإِنْ عَجَزَ عَنْ ذَلِكَ اسْتَرْوَحَ إِلَى ذِكْرِ اللِّسَانِ
وَالثَّنَاءِ، وَإِنْ عَجَزَ اسْتَرْوَحَ إِلَى ذِكْرِ الْقَلْبِ وَالتَّفْكِيرِ،
فَأَمَّا مَنْ يُحِبُّهُ اللهُ أَعْطَاهُ سَخَاوَةً كَسَخَاوَةِ السَّحَابِ،
وَشَفَقَةً كشفقةِ الشَّمْسِ، وَتَواضُعًا كَتَوَاضُعِ الْأَرْضِ [34]
"
Artinya:
Telah menceriterakan kepada kami Said abdul Malik ibnu Abi ‘Utsman Az Zahid
rahimahullah, telah menceriterakan kepada kami Ali ibnu hasan Al Faqih, telah
menceriterakan kepada kami Bapakku berkata: Aku mendengar Al Ma’ruf di ‘Umay Al
Bisthami, belia berkata: aku mendengar Bapakku berkata: ditanya Abu Yazid
tentang tanda-tanda orang yang mencintai Allah, dan tanda-tanda orang yang
mencintai Allah berkata: Orang yang mencintai Allah maka dia sibuk dengan
ibadah kepadanya sujud dan ruku’, apabila sudah capek dari hal tersebut
berganti dengan berdzikir dengan lisan dan memujinya, dan jika telah lelah
berganti dengan berdzikir dengan qalbu dan berfikir, adapun orang yang dicintai
Allah akan diberikan kedermawanan sebagaimana kedermawanannya awan, dan diberikan
kemurahan hati sebagaiman kemurahan hati matahari, dan diberikan kerendahan
hati seperti kerendahan hatinya bumi”
4.3.4. Meninggalkan Segala Kesibukan Yang Bukan Untuk
Allah
Di
dalam kitab Syuab Al-Imam Baihaqi atsar nomor 421 disebutkan bahwa tanda cinta
adalah meninggalkan segala kesibukan yang bukan untuk Allah
- أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ:
سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الْحَسَنِ الْحَدَّادَ يَقُولُ: سَمِعْتُ
الْحَسَنَ بْنَ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ يَقُولُ: سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ
عُثْمَانَ يَقُولُ: سَمِعْتُ ذَا النُّونِ يَقُولُ: " مِنْ عَلَامَةِ
الْحَبِّ تَرْكُ كُلِّ مَا شَغَلَهُ عَنِ اللهِ حَتَّى يَكُونَ الشُّغْلُ كُلُّهُ
بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحْدَهُ [35]
"
Artinya:
Dikabarkan kepada kami Abu Abdi Ar Rahman berkata: aku mendengar Abd Ar Rahman
ibnu Al Hasan Al Hadad berkata: Aku mendengar Al Hasan ibnu Muhammad ibnu ishaq
berkata: aku mendengar sa’id ibnu ‘Usman berkata: aku mendengan Dzan Nun
berkata: “di antara tanda tanda cinta adalah meninggalkan segala kesibukan yang
bukan untuk Allah, sehingga seluruh kesibukannya hanya dengan Allah Azza wa jalla saja.”
4.3.5. Bersungguh-Sungguh Menjaga Kemurnian Cinta
Di
dalam kitab Syuab Al-Iman Baihaqi Atsar nomor 9071 disebutkan bahwa tanda cinta
adalah bersungguh-sungguh menjaga kemurnian cinta, melemahkan kemauan untuk
kemauan saudara dan kedermawanan jiwa, bersatu dalam kecintaan, dan yang tidak
disukainya untuk menjaga ikatan yang benar;
- أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ،
قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا مَنْصُورٍ الْعَتَكِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ أَبَا عُثْمَانَ
سَعِيدَ بْنَ إِسْمَاعِيلَ الْوَاعِظَ، يَقُولُ: " ثَلَاثَةُ أَشْيَاءٍ مِنْ
عَلَامَةِ الْحُبِّ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: بَذْلُ الشَّيْءِ لِصَفَاءِ
الْمَوَدَّةِ، وَتَعْطِيلُ الْإِرَادَةِ لِإِرَادَةِ الْأَخِ لِلسَّخَاءِ
بِالنَّفْسِ، وَالْمُشَارَكةُ لَهُ فِي مَحْبُوبِهِ، وَمَكْرُوهِهِ لِصِحَّةِ
الْعَقْدِ ". وَقَدْ رُوِّينَا هَذَا الْكَلَامَ عَنْ ذِي النُّونِ [36]
Artinya:
Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdillah Al Hafidz, berkata: saya telah
mendengar Aba Mansur Al ‘Ataki berkata: aku mendengar Abu usman Sa’id ibnu
Isma’il Al wa’idh berkata: ada tiga macam dari tanda-tanda cinta kepada Allah
Azza wa Jalla, yaitu: bersungguh-sungguh dalam menjaga kemurnnian cinta,
mengurangi kemauan pada kemauan lain agar dapat menumpahkan kepada jiwa, dan
bersatu dalam hal yang dicintainya, dan yang dibencinya untuk menjaga kemurnian
janji, perkataan ini telah diriwayatkan dari Dzi Nun.
4.3.6. Tidak Melanggar Larangan Yang Diharamkan Allah
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 4822 digambarkan bahwa
Sesungguhnya Allah itu cemburu. Dan kecemburuan Allah datang, bilamana seorang
mukmin melakukan hal yang diharamkan Allah;
وَعَنْ
يَحْيَى أَنَّ أَبَا سَلَمَةَ حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ حَدَّثَهُ أَنَّهُ
سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ
حَدَّثَنَا شَيْبَانُ عَنْ يَحْيَى عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا
هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِيَ
الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ [37]
Artinya:
Dan dari Yahya bahwa Abu Salamah Telah meceritakan kepadanya bahwa Abu Hurairah
Telah menceritakan kepadanya, bahwa ia mendengar Nabi ﷺ bersabda. -Dalam riwayat lain- Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim Telah
menceritakan kepada kami Syaiban dari Yahya dari Abu Salamah bahwa ia mendengar
Abu Hurairah radliallahu 'anhu, dari Nabi ﷺ, bahwa beliau bersabda: "Sesungguhnya
Allah itu cemburu. Dan kecemburuan Allah datang, bilamana seorang mukmin
melakukan hal yang diharamkan Allah."
Cemburu
tanda cinta, sebagai wujud cinta kepada Allah maka tidak melanggar larangan
yang diharamkan Allah, untuk menjaga kecemburuan Allah.
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 19438 ditegaskan bahwa 'Sungguh telah
berhak mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling
mencintai karena Aku, dan sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku
orang-orang yang saling merapatkan barisan karena Aku, ..;
حَدَّثَنَا
هَاشِمٌ حَدَّثَنِي عَبْدُ الْحَمِيدِ حَدَّثَنِي شَهْرٌ حَدَّثَنِي أَبُو
ظَبْيَةَ قَالَ إِنَّ شُرَحْبِيلَ بْنَ السِّمْطِ دَعَا عَمْرَو بْنَ عَبَسَةَ
السُّلَمِيَّ فَقَالَ يَا ابْنَ عَبَسَةَ هَلْ أَنْتَ مُحَدِّثِي حَدِيثًا
سَمِعْتَهُ أَنْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ
فِيهِ تَزَيُّدٌ وَلَا كَذِبٌ وَلَا تُحَدِّثْنِيهِ عَنْ آخَرَ سَمِعَهُ مِنْهُ
غَيْرِكَ قَالَ نَعَمْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ قَدْ حَقَّتْ مَحَبَّتِي
لِلَّذِينَ يَتَحَابُّونَ مِنْ أَجْلِي وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلَّذِينَ يَتَصَافُّونَ
مِنْ أَجْلِي وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلَّذِينَ يَتَزَاوَرُونَ مِنْ أَجْلِي
وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلَّذِينَ يَتَبَاذَلُونَ مِنْ أَجْلِي وَحَقَّتْ
مَحَبَّتِي لِلَّذِينَ يَتَنَاصَرُونَ مِنْ أَجْلِي
[38]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepadaku Abdul Hamid
telah menceritakan kepadaku Syahr telah menceritakan kepadaku Abu Dzabyah ia
berkata; Bahwasanya Syurahbil bin As Simth memanggil Amru bin Abasah As Sulami
dan bertanya, "Wahai Ibnu Abasah, apakah Anda mau menceritakan kepadaku
suatu hadits yang telah Anda dengar dari Rasulullah ﷺ tanpa
ada tambahan ataupun kedustaan? Dan janganlah Anda ceritakan kepadaku suatu
hadits dari sahabat lain yang ia mendengarnya dari beliau selain Anda. Amru bin
Abasah berkata; Baiklah, aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah Ta'ala telah berfirman: 'Sungguh telah berhak mendapatkan
kecintaan-Ku orang-orang yang saling mencintai karena Aku, dan sungguh telah
berhak mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling merapatkan barisan
karena Aku, dan sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang
saling mengunjungi karena Aku, dan sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku
orang-orang yang saling berkorban (untuk membantu yang lain) karena Aku, dan
sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling menolong
karena Aku.'"
Di
dalam kitab Muwatha Imam Malik hadits nomor 2007 ditegaskan bahwa 'Kecintaan-ku
pasti turun kepada siapa yang saling mencintai karena-Ku. Siapa saja yang
bermajlis karena-Ku, dan saling mengunjungi karena-Ku. Yang saling berusaha
karena-Ku;
و
حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ أَبِي حَازِمِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ
الْخَوْلَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ دَخَلْتُ مَسْجِدَ دِمَشْقَ فَإِذَا فَتًى شَابٌّ
بَرَّاقُ الثَّنَايَا وَإِذَا النَّاسُ مَعَهُ إِذَا اخْتَلَفُوا فِي شَيْءٍ
أَسْنَدُوا إِلَيْهِ وَصَدَرُوا عَنْ قَوْلِهِ فَسَأَلْتُ عَنْهُ فَقِيلَ هَذَا
مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ هَجَّرْتُ فَوَجَدْتُهُ قَدْ
سَبَقَنِي بِالتَّهْجِيرِ وَوَجَدْتُهُ يُصَلِّي قَالَ فَانْتَظَرْتُهُ حَتَّى
قَضَى صَلَاتَهُ ثُمَّ جِئْتُهُ مِنْ قِبَلِ وَجْهِهِ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ ثُمَّ
قُلْتُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ لِلَّهِ فَقَالَ أَاللَّهِ فَقُلْتُ
أَاللَّهِ فَقَالَ أَاللَّهِ فَقُلْتُ أَاللَّهِ فَقَالَ أَاللَّهِ فَقُلْتُ
أَاللَّهِ قَالَ فَأَخَذَ بِحُبْوَةِ رِدَائِي فَجَبَذَنِي إِلَيْهِ وَقَالَ
أَبْشِرْ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَجَبَتْ مَحَبَّتِي
لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَالْمُتَجَالِسِينَ فِيَّ وَالْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ
وَالْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ وحَدَّثَنِي عَنْ مَالِك أَنَّهُ بَلَغَهُ عَنْ عَبْدِ
اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ الْقَصْدُ وَالتُّؤَدَةُ وَحُسْنُ
السَّمْتِ جُزْءٌ مِنْ خَمْسَةٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ [39]
Artinya:
Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Abu Hazim bin Dinar dari Abu Idris
Al Khaulani berkata, "Aku memasuki masjid Damaskus. Ternyata di dalamnya
ada seorang pemuda yang bergigi putih berkilau. Apabila orang-orang yang
bersamanya berselisih pendapat, mereka mengembalikannya kepada pemuda itu dan
menerima pendapatnya. Lalu aku bertanya tentangnya, lantas ada yang menjawab
bahwa dia adalah Mu'adz bin Jabal . Keesokan harinya, aku bergegas ke masjid
pada waktu yang masih sangat pagi, ternyata aku mendapatinya telah
mendahuluiku. Aku mendapatinya sedang shalat, maka aku menunggunya sampai dia
selesai shalat. Lalu aku menemuinya dari arah depannya seraya mengucapkan
salam, aku berkata kepadanya; 'Demi Allah, sungguh aku mencintaimu karena
Allah.' Dia bertanya; 'Apakah karena Allah? ' Aku menjawab; 'Karena Allah.' Dia
bertanya lagi; 'Apakah karena Allah? ' Aku menjawab; 'Karena Allah.' Dia
bertanya; 'Apakah karena Allah? ' Aku menjawab; 'Karena Allah'." Abu Idris
berkata; "Dia menarik ujung serbanku dan menarik diriku ke arahnya lalu
berkata; Bergembiralah! aku telah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Allah Tabaraka Wa Ta'ala berfirman; 'Kecintaan-ku pasti turun
kepada siapa yang saling mencintai karena-Ku. Siapa
saja yang saling bermajlis karena-Ku, dan saling mengunjungi karena-Ku. Yang
saling berusaha karena-Ku'." Telah menceritakan kepadaku dari Malik bahwa
telah sampai kabar kepadanya, dari Abdullah bin Abbas bahwa dia berkata;
"Tengah-tengah dalam suatu urusan (adil), bersikap lemah lembut dan
penyambutan yang baik adalah sebagian dari dua puluh bagian kenabian."
4.3.9. Saling Mencintai Dengan Ruh Allah
Di
dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 3527 digambarkan bahwa wali; kekasih
Allah adalah kaum yang saling mencintai dengan ruh Allah;
حَدَّثَنَا
زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَا حَدَّثَنَا جَرِيرٌ
عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ بْنِ عَمْرِو بْنِ جَرِيرٍ
أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ لَأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلَا
شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
بِمَكَانِهِمْ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ تُخْبِرُنَا
مَنْ هُمْ قَالَ هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا بِرُوحِ اللَّهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ
بَيْنَهُمْ وَلَا أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا فَوَاللَّهِ إِنَّ وُجُوهَهُمْ
لَنُورٌ وَإِنَّهُمْ عَلَى نُورٍ لَا يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ وَلَا
يَحْزَنُونَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ وَقَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ " أَلَا إِنَّ
أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ " [40]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Utsman bin Abu Syaibah
mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Jarir dari 'Umarah bin Al Qa'qa'
dari Abu Zur'ah bin 'Amru bin Jarir bahwa Umar bin Al Khathab berkata,
"Nabi ﷺ bersabda: "Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah
terdapat beberapa manusia yang bukan para nabi dan orang-orang yang mati
syahid. Para nabi dan orang-orang yang mati syahid merasa iri kepada mereka
pada Hari Kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah Ta'ala." Mereka
berkata, "Wahai Rasulullah, apakah anda akan mengabarkan kepada kami
siapakah mereka? Beliau bersabda: "Mereka adalah orang-orang yang saling
mencintai dengan ruh dari Allah tanpa ada hubungan kekerabatan di antara
mereka, dan tanpa adanya harta yang saling mereka berikan. Demi Allah,
sesungguhnya wajah mereka adalah cahaya, dan sesungguhnya mereka berada di atas
cahaya, tidak merasa takut ketika orang-orang merasa takut, dan tidak bersedih
ketika orang-orang merasa bersedih." Dan beliau membaca ayat ini:
"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran
terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."
4.3.10.Saling Mencintai Sesama Manusia Karena Nur Allah
Di
dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 689, dijelaskan bahwa wali; Kekasih
Allah adalah Mereka satu kaum yang saling mencintai karena nur Allah;
أَخْبَرَنَا
أَحْمَدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْمُثَنَّى، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ
بْنُ صَالِحٍ الأَزْدِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ، عَنْ عُمَارَةَ
بْنِ الْقَعْقَاعِ، عَنْ أَبِي زُرْعَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قَالَ
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللهِ
عِبَادًا لَيْسُوا بِأَنْبِيَاءَ، يَغْبِطُهُمُ الأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ،
قِيلَ: مَنْ هُمْ لَعَلَّنَا نُحِبُّهُمْ؟ قَالَ: هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا
بِنُورِ اللهِ مِنْ غَيْرِ أَرْحَامٍ وَلاَ انْتِسَابٍ، وُجُوهُهُمْ نُورٌ عَلَى
مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، لاَ يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ، وَلاَ يَحْزَنُونَ
إِذَا حَزِنَ النَّاسُ، ثُمَّ قَرَأَ: {أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لاَ
خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ}.
[41]
Artinya:
mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ah bin Al Mutsanna mengabarkan kepada kami,
ia berkata, Abdurrahman bin Shalih Al Azdi menceritakan kepada kami, ia
berkata, Ibnu Fudhail menceritakan kepada kami, dari Umarah bin Al Qa’qa’ dari
Abu Zur’ah, dari Abu Hmrairah, ia berkata, Rasulullah ﷺ telah bersabda, “Sesungguhnya ada hamba-hamba Allah yang mereka itu
bukan para nabi, namun para nabi dan para syuhada iri terhadap mereka”.
Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah mereka?, semoga kami mencintai mereka,”
beliau menjawab, “Mereka adalah satu kaum yang saling mencintai karena nur
Allah, bukan karena hubungan keturunan juga bukan karena nasab, wajah- wajah
mereka merupakan cahaya di atas mimbar-mimbar cahaya, mereka tidak merasa takut
ketika manusia merasa takut, dan mereka tidak merasa sedih ketika manusia
merasa sedih." kemudian beliau membaca firman Allah SWT, “Ketahuilah,
sesungguhnya kekasih Allah itu tidak ada ketakutan pada mereka, juga tidak
bersedih hati: (Qs. Yuunus [10]: 62)
4.3.11.Saling Mencintai Karena Allah
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22906 digambarkan bahwa wali; kekasih
Allah adalah mereka yang saling mencintai karena Allah SWT;
حَدَّثَنَا
أَبُو النَّضْرِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ بَهْرَامَ الْفَزَارِيُّ عَنْ
شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ غَنْمٍ أَنَّ أَبَا
مَالِكٍ الْأَشْعَرِيَّ جَمَعَ قَوْمَهُ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الْأَشْعَرِيِّينَ
اجْتَمِعُوا وَاجْمَعُوا نِسَاءَكُمْ وَأَبْنَاءَكُمْ أُعَلِّمْكُمْ صَلَاةَ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى لَنَا بِالْمَدِينَةِ
فَاجْتَمَعُوا وَجَمَعُوا نِسَاءَهُمْ وَأَبْنَاءَهُمْ فَتَوَضَّأَ وَأَرَاهُمْ
كَيْفَ يَتَوَضَّأُ فَأَحْصَى الْوُضُوءَ إِلَى أَمَاكِنِهِ حَتَّى لَمَّا أَنْ
فَاءَ الْفَيْءُ وَانْكَسَرَ الظِّلُّ قَامَ فَأَذَّنَ فَصَفَّ الرِّجَالَ فِي
أَدْنَى الصَّفِّ وَصَفَّ الْوِلْدَانَ خَلْفَهُمْ وَصَفَّ النِّسَاءَ خَلْفَ
الْوِلْدَانِ ثُمَّ أَقَامَ الصَّلَاةَ فَتَقَدَّمَ فَرَفَعَ يَدَيْهِ فَكَبَّرَ
فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ يُسِرُّهُمَا ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ
فَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ثَلَاثَ مِرَارٍ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ
اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَاسْتَوَى قَائِمًا ثُمَّ كَبَّرَ وَخَرَّ سَاجِدًا
ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ رَأْسَهُ ثُمَّ كَبَّرَ فَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ
فَانْتَهَضَ قَائِمًا فَكَانَ تَكْبِيرُهُ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ سِتَّ
تَكْبِيرَاتٍ وَكَبَّرَ حِينَ قَامَ إِلَى الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ فَلَمَّا
قَضَى صَلَاتَهُ أَقْبَلَ إِلَى قَوْمِهِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ احْفَظُوا تَكْبِيرِي
وَتَعَلَّمُوا رُكُوعِي وَسُجُودِي فَإِنَّهَا صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّتِي كَانَ يُصَلِّي لَنَا كَذَا السَّاعَةِ مِنْ
النَّهَارِ ثُمَّ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا
قَضَى صَلَاتَهُ أَقْبَلَ إِلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا
النَّاسُ اسْمَعُوا وَاعْقِلُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عِبَادًا
لَيْسُوا بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ
وَالشُّهَدَاءُ عَلَى مَجَالِسِهِمْ وَقُرْبِهِمْ مِنْ اللَّهِ فَجَاءَ رَجُلٌ
مِنْ الْأَعْرَابِ مِنْ قَاصِيَةِ النَّاسِ وَأَلْوَى بِيَدِهِ إِلَى نَبِيِّ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ نَاسٌ
مِنْ النَّاسِ لَيْسُوا بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ
الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ عَلَى مَجَالِسِهِمْ وَقُرْبِهِمْ مِنْ اللَّهِ
انْعَتْهُمْ لَنَا يَعْنِي صِفْهُمْ لَنَا فَسُرَّ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِسُؤَالِ الْأَعْرَابِيِّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُمْ نَاسٌ مِنْ أَفْنَاءِ النَّاسِ
وَنَوَازِعِ الْقَبَائِلِ لَمْ تَصِلْ بَيْنَهُمْ أَرْحَامٌ مُتَقَارِبَةٌ
تَحَابُّوا فِي اللَّهِ وَتَصَافَوْا يَضَعُ اللَّهُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ فَيُجْلِسُهُمْ عَلَيْهَا فَيَجْعَلُ وُجُوهَهُمْ نُورًا
وَثِيَابَهُمْ نُورًا يَفْزَعُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَفْزَعُونَ
وَهُمْ أَوْلِيَاءُ اللَّهِ الَّذِينَ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [42]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhr telah menceritakan kepada kami
'Abdul Hamid bin Bahram Al Fazari dari Syahr bin Hausyab telah menceritakan
kepada kami 'Abdur Rahman bin Ghanm bahwa Abu Malik Al Asy'ari mengumpulkan
kaumnya lalu berkata: Hai sekalian kaum Asy'ari! Berkumpullah, kumpulkan
istri-istri dan anak-anak kalian, aku akan mengajarkan kepada kalian shalatnya
Nabi ﷺ yang beliau lakukan di Madinah. Mereka pun
berkumpul, mengumpulkan istri-istri dan anak-anak mereka, Abu Malik Al Asy'ari
berwudhu dan memperlihatkan kepada mereka bagaimana caranya berwudhu, ia
menyempurnakan wudhu hingga ke tempat-tempatnya hingga usai, ia pun berdiri
lalu mengumandangkan adzan, kaum lelaki pun berbaris dalam shaf yang dekat,
anak-anak berbaris dibelakang mereka dan kaum wanita berbaris dibelakang
anak-anak. Shalat pun diiqamati. Ia maju kemudian mengangkat kedua tangan
seraya bertakbir, ia membaca faatihatul kitaab dan surat yang dibaca pelan,
selanjutnya ia bertakbir ruku' dan membaca: Subhaanallaah wa bihamdihi sebanyak
tiga kali, setelah itu mengucapkan: Sami'allaahu liman hamidah dan berdiri
lurus, setelah itu ia bertakbir dan turun sujud, selanjutnya bertakbir dan
mengangkat kepala, setelah itu bertakbir lalu sujud, lalu bertakbir dan
berdiri, ia bertakbir sebanyak enam kali dalam rakaat pertama, ia bertakbir
saat berdiri untuk rakaat kedua. Seusai shalat ia menghadap ke kaumnya lalu
berkata: Hafalkan takbirku, pelajarilah ruku'ku dan sujudku karena itulah
shalat Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam yang beliau kerjakan untuk kami
seperti itu saat di siang hari. Selanjutnya saat Rasulullah ﷺ usai shalat, beliau menghadap ke arah jamaah dengan
wajah beliau lalu bersabda: "Wahai sekalian manusia! Dengar, fahami dan
ketahuilah bahwa Allah AzzaWaJalla memiliki hamba-hamba, mereka bukan nabi atau
pun syuhada` tapi para nabi dan syuhada` iri pada mereka karena tempat dan
kedekatan mereka dengan Allah pada hari kiamat." Kemudian salah seorang badui
datang, ia berasal dari pedalaman jauh dan menyendiri, ia menunjuk tangannya ke
arah Nabi ﷺ lalu berkata: Hai Nabi Allah! Sekelompok
orang yang bukan Nabi ataupun syuhada` tapi para nabi dan syuhada` iri kepada
mereka karena kedudukan dan kedekatan mereka dengan Allah, sebutkan ciri-ciri
mereka untuk kami. Wajah Rasulullah ﷺ bergembira
karena pertanyaan orang badui itu lalu Rasulullah ﷺ bersabda: "Mereka adalah orang-orang yang berasal dari berbagai penjuru
dan orang-orang asing, diantara meraka tidak dihubungkan oleh kekerabatan yang
dekat, mereka saling mencintai karena Allah dan saling tulus ikhlas, Allah
menempatkan untuk mereka mimbar-mimbar dari cahaya pada hari kiamat, Allah
mendudukan mereka diatasnya, Allah menjadikan wajah-wajah mereka cahaya,
pakaian-pakaian mereka cahaya, orang-orang ketakutan pada hari kiamat sementara
mereka tidak ketakuan, mereka adalah para wali-wali Allah yang tidak takut dan
tidak bersedih hati."
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22064 digambarkan bahwa 'Wajiblah
cinta-Ku untuk orang-orang yang saling mencintai karena Aku
حَدَّثَنَا
عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ
بُرْقَانَ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي مَرْزُوقٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ
عَنْ أَبِي مُسْلِمٍ الْخَوْلَانِيِّ قَالَ أَتَيْتُ مَسْجِدَ أَهْلِ دِمَشْقَ
فَإِذَا حَلْقَةٌ فِيهَا كُهُولٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِذَا شَابٌّ فِيهِمْ أَكْحَلُ الْعَيْنِ بَرَّاقُ
الثَّنَايَا كُلَّمَا اخْتَلَفُوا فِي شَيْءٍ رَدُّوهُ إِلَى الْفَتَى فَتًى شَابٌّ
قَالَ قُلْتُ لِجَلِيسٍ لِي مَنْ هَذَا قَالَ هَذَا مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ قَالَ
فَجِئْتُ مِنْ الْعَشِيِّ فَلَمْ يَحْضُرُوا قَالَ فَغَدَوْتُ مِنْ الْغَدِ قَالَ
فَلَمْ يَجِيئُوا فَرُحْتُ فَإِذَا أَنَا بِالشَّابِّ يُصَلِّي إِلَى سَارِيَةٍ
فَرَكَعْتُ ثُمَّ تَحَوَّلْتُ إِلَيْهِ قَالَ فَسَلَّمَ فَدَنَوْتُ مِنْهُ فَقُلْتُ
إِنِّي لَأُحِبُّكَ فِي اللَّهِ قَالَ فَمَدَّنِي إِلَيْهِ قَالَ كَيْفَ قُلْتَ
قُلْتُ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فِي اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِي عَنْ رَبِّهِ يَقُولُ الْمُتَحَابُّونَ فِي
اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ فِي ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا
ظِلُّهُ قَالَ فَخَرَجْتُ حَتَّى لَقِيتُ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ فَذَكَرْتُ
لَهُ حَدِيثَ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِي عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ حَقَّتْ
مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَبَاذِلِينَ
فِيَّ وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ وَالْمُتَحَابُّونَ فِي
اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ فِي ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا
ظِلُّهُ, حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ
أَبِي الْعَبَّاسِ حَدَّثَنَا أَبُو الْمَلِيحِ حَدَّثَنَا حَبِيبُ بْنُ أَبِي
مَرْزُوقٍ عَنْ عَطَاءٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُسْلِمٍ قَالَ دَخَلْتُ مَسْجِدَ حِمْصَ
فَإِذَا حَلْقَةٌ فِيهَا اثْنَانِ وَثَلَاثُونَ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِيهِمْ فَتًى شَابٌّ أَكْحَلُ
فَذَكَرَ الْحَدِيثَ [43]
Artinya:
Telah bercerita kepada kami 'Abdullah telah bercerita kepadaku ayahku. Telah
bercerita kepada kami Waki' telah bercerita kepada kami Ja'far bin Burqon dari
Habib bin Abu Marzuq dari 'Atho` bin Abu Rabah dari Abu Muslim Al Khoulani
berkata; Saya datang ke masjid rakyat Damaskus, disana ada suatu majlis yang
dihadiri oleh beberapa sahabat Nabi ﷺ yang sudah tua,
ditengah-tengah mereka ada pemuda, berusia muda, elok rupanya, hitam matanya,
putih giginya. Bila mereka berbeda pendapat tentang suatu hal, ia mengatakan
kata-kata pamungkas. Saya bertanya kepada teman, siapakah dia, ia menjawab
bahwa orang itu adalah Mu'adz bin Jabal. Keesokan harinya mereka tidak datang
kemudian saya pun pergi, ternyata disana ada seorang pemuda yang tengah shalat
menghadap tiang masjid. Aku pun shalat kemudian mendekati pemuda itu. Saya
mengucapkan salam kemudian mendekat, saya berkata; Sesungguhnya aku mencintaimu
karena keagungan Allah. Ia menarikku dan berkata; Apa yang kau katakan? Saya
berkata; Sesengguhnya aku mencintaimu karena keagungan Allah. Ia berkata; Saya
pernah mendengar Rasulullah ﷺ bersabda dari RabbNya;
"Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai karena Allah berada diatas
mimbar-mimbar dari cahaya dibawah naungan Allah pada saat tidak ada naungan
selain naungan-Nya. Kemudian saya menemui 'Ubadah bin Shamit kemudian saya
sampaikan hadits Mu'adz bin Jabal itu padanya, ia berkata; Saya mendengar
Rasulullah ﷺ bersabda dari Rabb-Nya AzzaWaJalla
berfirman; 'Wajiblah cintaKu untuk orang-orang yang saling mencintai karena
Aku, wajiblah cintaKu untuk orang-orang yang saling berkorban karena Aku,
wajiblah cintaKu untuk orang-orang yang saling berkunjung karena Aku dan
orang-orang yang saling mencintai karena Allah berada diatas mimbar-mimbar dari
cahaya dibawah naungan 'arsy pada hari yang tidak ada naungan selain
naungan-Nya." Telah bercerita kepada kami 'Abdullah telah bercerita
kepadaku ayahku. Telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Abu Al 'Abbas telah
bercerita kepada kami Abu Al Malih telah bercerita kepada kami Habib bin Abu
Marzuq dari 'Atho` telah bercerita kepada kami Abu Muslim berkata; Saya
memasuki masjid Himash, disana ada pertemuan, disana ada tiga puluh dua sahabat
Rasulullah ﷺ di antara mereka ada seorang pemuda
bercelak mata. Kemudian ia menyebutkan hadits.
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 11402 ditegaskan bahwa Sesungguhnya
orang-orang yang saling mencintai karena Allah, kamar-kamar mereka di surga
akan tampak bagaikan bintang yang bersinar di ufuk timur atau barat;
حَدَّثَنَا
عَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُطَرِّفٍ حَدَّثَنَا أَبُو
حَازِمٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُتَحَابِّينَ لَتُرَى غُرَفُهُمْ فِي
الْجَنَّةِ كَالْكَوْكَبِ الطَّالِعِ الشَّرْقِيِّ أَوْ الْغَرْبِيِّ فَيُقَالُ
مَنْ هَؤُلَاءِ فَيُقَالُ هَؤُلَاءِ الْمُتَحَابُّونَ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ [44]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy, telah menceritakan kepada
kami Muhammad bin Mutarrif, telah menceritakan kepada kami Abu Hazim, dari Abu
Sa‘id Al-Khudri, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya orang-orang
yang saling mencintai karena Allah, kamar-kamar mereka di surga akan tampak
bagaikan bintang yang bersinar di ufuk timur atau barat. Maka dikatakan,
'Siapakah mereka itu?' Lalu dijawab, 'Mereka adalah orang-orang yang saling
mencintai karena Allah 'Azza wa Jalla.'"
4.3.12.Mengatakan Aku Sungguh Mencintaimu Karena Allah
Di
dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 569 digambarkan bahwa adanya
perasaan saling mencintai harus dinyatakan dengan ucapan; Aku Sungguh
mencintaimu karena Allah;
أَخْبَرَنَا
أَحْمَدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْمُثَنَّى، قَالَ: حَدَّثَنَا الأَزْرَقُ بْنُ
عَلِيٍّ أَبُو الْجَهْمِ، قَالَ: حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ،
قَالَ: حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ،
وَمُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ نَافِعٍ، قَالَ: سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ،
يَقُولُ: بَيْنَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِذْ أَتَاهُ رَجُلٌ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ، ثُمَّ وَلَّى عَنْهُ،
فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي لَأُحِبُّ هَذَا لِلَّهِ، قَالَ: فَهَلْ
أَعْلَمْتَهُ ذَاكَ؟ قُلْتُ: لاَ، قَالَ: فَأَعْلِمْ ذَاكَ أَخَاكَ،
قَالَ: فَاتَّبَعْتُهُ فَأَدْرَكْتُهُ فَأَخَذْتُ بِمَنْكِبِهِ فَسَلَّمْتُ
عَلَيْهِ، وَقُلْتُ: وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ لِلَّهِ، قَالَ هُوَ:
وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ لِلَّهِ قُلْتُ: لَوْلاَ النَّبِيُّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَمَرَنِي أَنْ أُعْلِمُكَ لَمْ أَفْعَلْ.تَفَرَّدَ
بِهَذَا الْحَدِيثِ الأَزْرَقُ بْنُ عَلِيٍّ، قَالَهُ الشَّيْخُ. [45]
Artinya:
Ahmad bin Ali bin Mutsanna mengabarkan kepada kami, ia berkata, Al Azraq bin
Ali Abu Al Jahm menceritakan kepada kami, ia berkata, Hasan bin Ibrahim
menceritakan kepada kami, ia berkata, Zuhair bin Muhammad menceritakan kepada
kami, dari Ubaidillah bin Umar dan Musa bin Uqbah, dari Nafi’ ia berkata, “Aku
mendengar Ibnu Umar berkata, “Ketika aku sedang duduk bersama Nabi ﷺ datanglah seseorang kemudian memberi salam kepada beliau
kemudian orang tadi berlalu dari beliau. Maka aku bertanya, “Ya Rasulullah ﷺ, sesungguhnya aku benar-benar mencintai orang ini
karena Allah,” maka beliau bertanya, “Apakah engkau pernah memberi tahu hal ini
kepadanya ?” aku menjawab, “Belum,” maka beliau bersabda, “Beritahulah hal ini
kepada saudaramu!” dia (Ibnu Umar) berkata, “Maka aku menyusul orang tersebut
dan mendapatkannya, kemudian aku memegang pundaknya dan memberi salam
kepadanya, dan aku katakan, “Demi Allah sesungguhnya aku mencintaimu karena
Allah,” dia menjawab: “Demi Allah aku (juga) mencintaimu karena Allah,” aku
berkata, “Kalau saja bukan karena Nabi yang memerintahkan kepadaku untuk
menyampaikan hal ini kepadamu maka aku tidak akan mengatakannya.” 357 Penulis
berkata, “Al Azraq bin Ali bersendiri dalam periwayatan hadis ini.”
Di dalam kitab Syuab Al-Iman
Baihaqi hadits nomor 410 dinyatakan bahwa mencintai Allah dengan cara
memerintahkan dengan yang dicintai Allah, melarang dengan yang dibenci Allah;
أَخْبَرَنَا
عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ، حدثنا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ الصَّفَّارُ،
حدثنا عُبَيْدُ بْنُ شَرِيكٍ، حدثنا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، حدثنا اللَّيْثُ، عَنِ
ابْنِ عَجْلَانَ، عَنْ وَاقِدِ بْنِ سَلَامَةَ، عَنْ يَزِيدَ الرَّقَاشِيِّ، عَنْ
أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
أَنَّهُ قَالَ: " أَلَا أُخْبِرُكُمْ، عَنْ أَقْوَامٍ لَيْسُوا بِأَنْبِيَاءَ
وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ
بِمَنَازِلِهِمْ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى مَنْابِرَ مِنْ نُورٍ يَكُونُونَ
عَلَيْهَا ". قَالُوا: مَنْ هُمْ؟ قَالَ: " الَّذِينَ يُحَبِّبُونَ
عِبَادَ اللهِ إِلَى اللهِ، وَيُحَبِّبُونَ اللهَ إِلَى عِبَادِهِ، وَهُمْ
يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ نُصَحَاءَ ". قَالَ: قُلْنَا: يُحَبِّبُونَ اللهَ
إِلَى عِبَادِ اللهِ، فَكَيْفَ يُحَبِّبُونَ عِبَادَ اللهِ إِلَى اللهِ؟ قَالَ:
" يَأْمُرُونَهُمْ بِحُبِّ اللهِ وَيَنْهُونَهُمْ - يَعْنِي - عَمَّا كَرِهَ
اللهُ فَإِذَا أَطَاعُوهُمْ أَحَبَّهُمُ اللهُ " -[13]- قَالَ الْبَيْهَقِيُّ
رَحِمَهُ اللهُ: " وَجَاءَ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ:
" عَلَامَةُ حُبِّ اللهِ حُبُّ ذِكْرِ اللهِ، وَعَلَامَةُ بُغْضِ اللهِ
بُغْضُ ذِكْرِهِ "، وَهَذَا إِنَّمَا بَلَغَنَا بِإِسْنَادٍ فِيهِ ضَعْفٌ [46]
"
Artinya:
Telah mengabarkan kepada kami Ali ibnu Ahmad ibnu abdan, telah menceritakan
kepada kami ahmad ibnu Ubaid As Shafar, telah menceritakan kepada kami Ubaid
ibnu Syarik, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Bukair, telah
menceritakan kepada kami Allaits, dari ibnu ‘Ajlan, dari Waqidi ibnu Salam,
dari Yazid Ar Raqasyi, dari Anas ibnu Malik, dari Rasulullah ﷺ bahwa beliau
bersabda: “Tidakkah kalian mau Aku beri khabar, tentang umat yang ukan Nabi dan
bukan Syuhada’ , yang pada hari qiyamat para Nabi, Syuhada cemburu dengan
kedudukannya di sisi Allah Azza wa Jalla berada di atas mimbar-mimbar dari
Cahaya”, mereka berkata: “ siapakah mereka”, Rasulullah SAW bersabda:”mereka
adalah hamba-hamba Allah yang saling mencintai karena Allah, dan Allah mencintai
kepada hambanya, dan mereka berjalan di dunia menjadi orang-orang yang jujur”,
berkata: bertanya kepada kami: Allah cinta pada hamba-hambanya Allah, bagaimana
hamba-hamba Allah mereka saling mencintai karena Allah ?”, Rasulullah bersabda:
“Mereka menyuruh dengan yang dicintai Allah dan melarang mereka, yakni; dari
apa yang dibenci Allah, maka jika mereka mentaatinya Allah mencinta mereka”,
Baihaqi rahimahullah berkata: “dan datang dari Nabi ﷺ bersabda: Tanda-tanda
cinta Allah cinta mengingat Allah, dan dan tanda-tanda benci Allah benci
mengingatnya, dan ini sebenarnya sampai kepada kami dengan sanad yang di
dalamnya ada kelemahan.
4.3.14.Cinta Karena Allah Ta'ala Dan Benci Karena-Nya
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor
14998 dinyatakan bahwa Seorang hamba tidak mencapai hakikat kebenaran iman yang
sebenarnya, hingga dia cinta karena Allah Ta'ala dan benci karena-Nya;
حَدَّثَنَا
الْهَيْثَمُ بْنُ خَارِجَةَ قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ وَسَمِعْتُهُ أَنَا
مِنْ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا رِشْدِينُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
الْوَلِيدِ عَنْ أَبِي مَنْصُورٍ مَوْلَى الْأَنْصَارِ عَنْ عَمْرِو بْنِ
الْجَمُوحِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
لَا يَحِقُّ الْعَبْدُ حَقَّ صَرِيحِ الْإِيمَانِ حَتَّى يُحِبَّ لِلَّهِ تَعَالَى
وَيُبْغِضَ لِلَّهِ فَإِذَا أَحَبَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَأَبْغَضَ
لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَقَدْ اسْتَحَقَّ الْوَلَاءَ مِنْ اللَّهِ وَإِنَّ
أَوْلِيَائِي مِنْ عِبَادِي وَأَحِبَّائِي مِنْ خَلْقِي الَّذِينَ يُذْكَرُونَ
بِذِكْرِي وَأُذْكَرُ بِذِكْرِهِمْ
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Al Hutsaim bin Khorijah Abu Abdurrahman
berkata; dan saya telah mendengarnya dan Al Hutsaim, telah menceritakan kepada
kami Risydin bin Sa'd dari Abdullah bin Al Walid dari Abu Manshur, budak Al
Anshor dari 'Amr bin Al Jamuh dia mendengar Nabi ﷺ bersabda: "Seorang hamba tidak mencapai hakikat kebenaran iman yang
sebenarnya, hingga dia cinta karena Allah Ta'ala dan benci karena-Nya. Jika dia
telah cinta karena Allah Ta'ala dan benci karena-Nya maka ia berhak mendapatkan
pembelaan dari Allah." (Allah AzzaWaJalla berfirman) 'Para wali-Ku dari
hambaku dan para kekasih-Ku dari mahluk-Ku adalah mereka yang disebut-sebut
jika aku disebut, dan Aku disebut jika mereka disebut.
4.3.15.Mengajak Manusia Untuk Mencintai Allah
Di dalam kitab Mustadrak Hakim Atsar nomor
164 dinyatakan bahwa hamba Allah yang paling dicintai-Nya adalah orang-orang
yang mengajak manusia untuk mencintai Allah;
أَخْبَرَنَا
أَبُو الْعَبَّاسِ السَّيَّارِيُّ، بِمَرْوَ، وَأَخْبَرَنَا أَبُو الْمُوَجَّهِ،
أَنْبَأَ عَبْدَانُ، أَنْبَأَ عَبْدُ اللَّهِ، عَنْ مِسْعَرٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ
السَّكْسَكِيِّ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَصْحَابُنَا، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ،
أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ «أَحَبَّ عِبَادِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ الَّذِينَ
يُحَبِّبُونَ اللَّهَ إِلَى النَّاسِ وَالَّذِينَ يُرَاعُونَ الشَّمْسَ
وَالْقَمَرَ» . «هَذَا لَا يُفْسِدُ الْأَوَّلَ وَلَا يُعَلِّلُهُ فَإِنَّ ابْنَ
عُيَيْنَةَ حَافِظٌ ثِقَةٌ، وَكَذَلِكَ ابْنُ الْمُبَارَكِ إِلَّا أَنَّهُ أَتَى
بِأَسَانِيدَ أُخَرَ كَمَعْنَى الْحَدِيثِ الْأَوَّلِ
[47]
»:
Artinya:
Abu Al Abbas As-Sayyari mengabarkan kepada kami di Marwa, Abu Al Muwajjih
mengabarkan kepada kami, Abdan memberitakan (kepada kami), Abdullah
memberitakan (kepada kami) dari Mis'ar, dari Ibrahim As-Saksaki, dia berkata:
Teman-teman kami menceritakan kepadaku dari Abu Ad-Darda', dia berkata,
''Sesungguhnya hamba-hamba Allah yang paling dicintai-Nya adalah orang-orang
yang mengajak manusia untuk mencintai Allah, dan orang-orang yang memperhatikan
matahari serta bulan.” Ini tidak merusak hadis yang pertama dan tidak
membuatnya ber-illat, karena Ibnu Uyainah seorang hafizh yang tsiqah. Begitu
pula Ibnu Al Mubarak. Hanya saja, dia meriwayatkan dengan sanad-sanad lain
seperti makna hadis pertama.
Mencintai
Rasulullah SAW merupakan bagian yang tidak terpisakan dari wujud kecintaan kepada Allah, sehingga harus
berupaya mewujudkannya, antara lain dalam bentuk;
4.4.1. Saling Mencintai Karena Rasulullah
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 2471 dinyatakan bahwa orang-orang yang
saling mencintai karena Allah (menurut saya ia berkata) maka ia berada di dalam
naungan Allah pada saat tidak ada naungan selain naungan-Nya;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءِ بْنِ
الْوَلِيدِ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْعَبْدِيِّ أَوْ
الْخَوْلَانِيِّ قَالَ جَلَسْتُ مَجْلِسًا فِيهِ عِشْرُونَ مِنْ أَصْحَابِ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِذَا فِيهِمْ شَابٌّ حَدِيثُ
السِّنِّ حَسَنُ الْوَجْهِ أَدْعَجُ الْعَيْنَيْنِ أَغَرُّ الثَّنَايَا فَإِذَا
اخْتَلَفُوا فِي شَيْءٍ فَقَالَ قَوْلًا انْتَهَوْا إِلَى قَوْلِهِ فَإِذَا هُوَ
مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ فَلَمَّا كَانَ مِنْ الْغَدِ جِئْتُ فَإِذَا هُوَ يُصَلِّي
إِلَى سَارِيَةٍ قَالَ فَحَذَفَ مِنْ صَلَاتِهِ ثُمَّ احْتَبَى فَسَكَتَ قَالَ
فَقُلْتُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ مِنْ جَلَالِ اللَّهِ قَالَ أَاللَّهِ قَالَ
قُلْتُ أَاللَّهِ قَالَ فَإِنَّ مِنْ الْمُتَحَابِّينَ فِي اللَّهِ فِيمَا
أَحْسَبُ أَنَّهُ قَالَ فِي ظِلِّ اللَّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ ثُمَّ
لَيْسَ فِي بَقِيَّتِهِ شَكٌّ يَعْنِي فِي بَقِيَّةِ الْحَدِيثِ يُوضَعُ لَهُمْ
كَرَاسٍ مِنْ نُورٍ يَغْبِطُهُمْ بِمَجْلِسِهِمْ مِنْ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ
النَّبِيُّونَ وَالصِّدِّيقُونَ وَالشُّهَدَاءُ قَالَ فَحَدَّثْتُهُ عُبَادَةَ
بْنَ الصَّامِتِ فَقَالَ لَا أُحَدِّثُكَ إِلَّا مَا سَمِعْتُ عَنْ لِسَانِ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقَّتْ مَحَبَّتِي
لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَحَقَّتْ لِلْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي
لِلْمُتَصَادِقِينَ فِيَّ وَالْمُتَوَاصِلِينَ شَكَّ شُعْبَةُ فِي
الْمُتَوَاصِلِينَ أَوْ الْمُتَزَاوِرِينَ
[48]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada
kami Syu'bah dari Ya'la bin 'Atho` bin Al Walid bin Abu 'Abdur Rahman dari Abu
Idris Al 'Abdi atau Al Khoulani, ia berkata; Saya duduk disuatu majlis, disana
ada duapuluh sahabat Nabi ﷺ, ditengah-tengah mereka
ada pemuda, berusia muda, elok rupanya, hitam matanya, putih giginya. Bila
mereka berbeda pendapat tentang suatu hal, ia mengatakan kata-kata pamungkas.
Ternyata ia adalah Mu'adz bin Jabal. Keesokan harinya saya datang dan ia tengah
shalat menghadap seseorang yang berjalan. Mu'adz menghentikan shalat lalu duduk
memeluk lutut kemudian diam. Kemudian saya berkata; 'Demi Allah, aku
mencintaimu karena keagungan Allah. Ia berkata; Allah. Saya berkata; Engkau
mengucapkan; Allah. Ia berkata; Karena orang-orang yang saling mencintai karena
Allah -menurut saya ia berkata- maka ia berada didalam naungan Allah pada saat
tidak ada naungan selain naungan-Nya. Selanjutnya tidak ada keraguan pada
kelanjutannya -maksudnya kelanjutan hadits- Kursi-kursi dari cahaya diletakkan
untuk mereka, pertemuan mereka dengan Allah membuat iri para nabi, orang-orang
jujur dan para syuhada. Ia berkata; Kemudian saya menceritakannya kepada
'Ubadah bin Ash Shamit, ia berkata; Aku tidak menceritakan kepadamu selain yang
telah aku dengar dari lisan Rasulullah ﷺ';
"Wajiblah cintaKu untuk orang-orang yang saling mencintai karena Aku, bagi
orang-orang yang berkorban karena Aku, bagi orang-orang yang saling berteman
dan menyambung sillalurrahim -Syu'bah ragu tentang orang-orang yang menyambung
sillaturrahim ataukah orang-orang yang saling mengunjungi." (HR. Ahmad:
20995)
4.4.2. Nabi Muhammad Lebih Dicintai Daripada Dirinya
Sendiri
Di
dalam Al Quran surat Al-Ahzab/ 33: 6 ditegaskan bahwa Nabi adalah lebih utama
bagi orang beriman dibandingkan dirinya sendiri.
النَّبِيُّ
أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ
وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ
الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَنْ تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَائِكُمْ
مَعْرُوفًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا
Artinya:
Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka
sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang
mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam
Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali
kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang
demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).(QS. Al-Ahzab/ 33: 6)
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6632 tergambar bahwa Rasulullah SAW
harus lebih dicintai dari pada dirinya sendiri;
حَدَّثَنَا
يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي
حَيْوَةُ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو عَقِيلٍ زُهْرَةُ بْنُ مَعْبَدٍ أَنَّهُ سَمِعَ
جَدَّهُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ هِشَامٍ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ لَهُ
عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا
مِنْ نَفْسِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ فَقَالَ لَهُ
عُمَرُ فَإِنَّهُ الْآنَ وَاللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي فَقَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْآنَ يَا عُمَرُ [49]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaiman menuturkan; telah
menceritakan kepadaku Ibnu Wahab menuturkan; telah telah mengabarkan kepadaku
Haiwah mengatakan; telah menceritakan kepadaku Abu Uqail Zuhra bin Ma'bad
bahwasanya ia mendengar kakeknya, Abdullah bin Hisyam menuturkan; kami pernah
bersama Nabi ﷺ yang saat itu beliau menggandeng tangan Umar bin Khattab,
kemudian Umar berujar: "ya Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai
dari segala-galanya selain diriku sendiri." Nabi ﷺ bersabda: "Tidak, demi Dzat yang jiwa berada di Tangan-Nya, hingga aku
lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri." Maka Umar berujar; 'Sekarang
demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku'. Maka Nabi ﷺ bersabda: "sekarang (baru benar) wahai Umar."
4.4.3. Aku Lebih Dicintai Daripada Keluarga Dan Hartanya
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 3587-3589 ditegaskan bahwa suatu jaman
yang ketika itu ia berkeyakinan aku lebih dicintainya daripada dia memiliki
seperti keluarga dan hartanya;
حَدَّثَنَا
أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ
الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا
قَوْمًا نِعَالُهُمْ الشَّعَرُ وَحَتَّى تُقَاتِلُوا التُّرْكَ صِغَارَ
الْأَعْيُنِ حُمْرَ الْوُجُوهِ ذُلْفَ الْأُنُوفِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الْمَجَانُّ
الْمُطْرَقَةُ وَتَجِدُونَ مِنْ خَيْرِ النَّاسِ أَشَدَّهُمْ كَرَاهِيَةً لِهَذَا
الْأَمْرِ حَتَّى يَقَعَ فِيهِ وَالنَّاسُ مَعَادِنُ خِيَارُهُمْ فِي
الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْإِسْلَامِ وَلَيَأْتِيَنَّ عَلَى أَحَدِكُمْ
زَمَانٌ لَأَنْ يَرَانِي أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَهُ مِثْلُ أَهْلِهِ
وَمَالِهِ [50]
Artinya:
Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib
telah bercerita kepada kami Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah
radliallahu 'anhu dari Nabi ﷺ bersabda: "Tidak akan terjadi hari
qiyamat hingga kalian memerangi suatu kaum yang sandal mereka terbuat dari
rambut dan hingga kalian memerangi bangsa Turki yang bermata kecil (sipit),
berwajah merah dan berhidung pesek, wajah-wajah mereka bagaikan perisai yang
ditambal. Dan kalian dapatkan manusia paling baik adalah yang paling tidak
selera terhadap urusan ini (kekuasaan) hingga dia terlibat (demi menegakkan
keadilan) dalam urusan kepemerintahan ini, dan manusia mempunyai potensi
bagaikan barang tambang, orang yang terbaik pada masa jahiliyah akan menjadi
yang terbaik pula di masa Islam jika mereka memahami Islam, dan sungguh pasti
akan datang kepada salah seorang dari kalian suatu jaman yang ketika itu ia
berkeyakinan aku lebih dicintainya daripada dia memiliki seperti keluarga dan
hartanya".
4.4.4. Memiliki Satu Helai Rambutnya Lebih Disukai Dari Dunia Seisinya
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 165 digambarkan bahwa Sekiranya aku
memiliki satu helai rambut Rasulullah, maka itu lebih aku sukai daripada dunia
dan seisinya;
حَدَّثَنَا
مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ ابْنِ
سِيرِينَ قَالَ قُلْتُ لِعَبِيدَةَ عِنْدَنَا مِنْ شَعَرِ النَّبِيِّ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصَبْنَاهُ مِنْ قِبَلِ أَنَسٍ أَوْ مِنْ قِبَلِ
أَهْلِ أَنَسٍ فَقَالَ لَأَنْ تَكُونَ عِنْدِي شَعَرَةٌ مِنْهُ أَحَبُّ إِلَيَّ
مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا [51]
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Malik bin Isma'il berkata, telah menceritakan
kepada kami Israil dari 'Ashim dari Ibnu Sirin berkata, "Aku berkata
kepada Abidah, "Kami memiliki rambut Nabi ﷺ yang kami dapat dari Anas, atau keluarga
Anas.' Ia lalu berkata, "Sekiranya aku memiliki satu helai rambut
Rasulullah, maka itu lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya."
4.5. Menyiapkan Perisai Dari Kefakiran
Di
dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2506 ditegaskan bahwa Jika kamu
mencintaiku maka persiapkanlah perisai untuk kefakiran, karena kefakiran lebih
cepat kepada orang yang mencintaiku melebihi aliran menuju hilir;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ نَبْهَانَ بْنِ صَفْوَانَ الثَّقَفِيُّ الْبَصْرِيُّ
حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ أَسْلَمَ حَدَّثَنَا شَدَّادٌ أَبُو طَلْحَةَ
الرَّاسِبِيُّ عَنْ أَبِي الْوَازِعِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ قَالَ
رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ
وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ انْظُرْ مَاذَا تَقُولُ قَالَ وَاللَّهِ
إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ انْظُرْ مَاذَا تَقُولُ قَالَ وَاللَّهِ إِنِّي
لَأُحِبُّكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ إِنْ كُنْتَ تُحِبُّنِي فَأَعِدَّ
لِلْفَقْرِ تِجْفَافًا فَإِنَّ الْفَقْرَ أَسْرَعُ إِلَى مَنْ يُحِبُّنِي مِنْ
السَّيْلِ إِلَى مُنْتَهَاهُ [52]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Amru bin Nabhan bin Shafwan Ats Tsaqafi Al Bashri telah menceritakan kepada kami Rauh bin Aslam telah menceritakan kepada kami Syaddad Abu Thalhah Ar Rasibi dari Abul Wazi' dari 'Abdullah bin Mughaffal dia berkata bahwa ada seorang lelaki berkata kepada Nabi ﷺ: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sangat mencintai baginda. Beliau bersabda: "Perhatikan apa yang kamu katakan." Dia berkata lagi: Demi Allah sungguh aku sangat mencintai baginda. Nabi ﷺ bersabda lagi: "Perhatikan apa yang kamu katakan." Dia berkata lagi: Demi Allah sungguh aku sangat mencintai baginda. tiga kali dia mengucapkannya, lalu beliau ﷺ bersabda: "Jika kamu mencintaiku maka persiapkanlah perisai untuk kefakiran, karena kefakiran lebih cepat kepada orang yang mencintaiku melebihi aliran menuju hilir."
4.6. Baik, Bertaqwa Dan Menyamarkan Diri
Di
dalam kitab Mustadrak Hakim hadits nomor 4 dinyatakan Sesungguhnya Allah
mencintai orang-orang baik yang bertakwa, yang suka menyamarkan diri;
حَدَّثَنَا
أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ،
ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ
عَيَّاشِ بْنِ عَبَّاسٍ الْقِتْبَانِيُّ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ
أَبِيهِ، أَنَّ عُمَرَ، خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ يَوْمًا فَوَجَدَ مُعَاذَ بْنَ
جَبَلٍ عِنْدَ قَبْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْكِي،
فَقَالَ: مَا يُبْكِيكَ يَا مُعَاذُ؟ قَالَ: يُبْكِينِي حَدِيثٌ سَمِعْتُهُ مِنْ
رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «الْيَسِيرُ مِنَ
الرِّيَاءِ شِرْكٌ، وَمَنْ عَادَى أَوْلِيَاءَ اللَّهِ فَقَدْ بَارَزَ اللَّهَ
بِالْمُحَارَبَةِ، إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْأَبْرَارَ الْأَتْقِيَاءَ
الْأَخْفِيَاءَ، الَّذِينَ إِنْ غَابُوا لَمْ يُفْتَقَدُوا، وَإِنْ حَضَرُوا لَمْ
يُعْرَفُوا، قُلُوبُهُمْ مَصَابِيحُ الْهُدَى، يَخْرُجُونَ مِنْ كُلِّ غَبْرَاءَ
مُظْلِمَةٍ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ وَلَمْ يُخَرَّجْ فِي الصَّحِيحَيْنِ،
وَقَدِ احْتَجَّا جَمِيعًا بِزَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ
الصَّحَابَةِ، وَاتَّفَقَا جَمِيعًا عَلَى الِاحْتِجَاجِ بِحَدِيثِ اللَّيْثِ بْنِ
سَعْدٍ، عَنْ عَيَّاشِ بْنِ عَبَّاسٍ الْقِتْبَانِيِّ وَهَذَا إِسْنَادٌ مِصْرِيٌّ
صَحِيحٌ وَلَا يَحْفَظُ لَهُ عِلَّةٌ» [53]
Artinya: Abu Al
Abbas Muhammad bin Ya'qub menceritakan kepada kami, Ar-Rabi' bin Sulaiman
menceritakan kepada kami, Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami, Al-Laits
bin Sa'ad mengabarkan kepadaku dari Ayyasy bin Abbas Al Qitbani, dari Zaid bin
Aslam, dari ayahnya, bahwa pada suatu hari Umar keluar menuju masjid, lalu dia
mendapati Mu'adz bin Jabal menangis di sisi makam Rasulullah ﷺ. Umar pun bertanya, "Apa yang membuatmu menangis, wahai
Mu'adz?" Mu'adz menjawab, "Aku menangis karena suatu hadis yang
pernah aku dengar dari Rasulullah ﷺ, beliau
bersabda, 'Riya yang sedikit adalah syirik. Barangsiapa memusuhi wali-wali
Allah, maka dia telah menyatakan perang terhadap Allah secara terang-terangan.
Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang baik yang bertakwa, yang suka
menyamarkan diri (yang menyepi dari masyarakat dan tidak diketahui tempatnya).
Jika mereka tidak ada maka mereka tidak dicari, dan jika mereka ada maka mereka
tidak dikenal. Hati mereka adalah lentera petunjuk, mereka keluar dari setiap
masalah yang sulit'." Hadis ini shahih dan tidak dinukil dalam
Ash-Shahihain. Al Bukhari dan Muslim sama-sama menjadikan Yazid bin Aslam dari
ayahnya, dari para sahabat sebagai hujjah. Selain itu, keduanya juga sama-sama
sepakat menjadikan hadis Al-Laits bin Sa'ad dari Ayyasy bin Abbas Al Qutbani
sebagai hujjah. Ini merupakan sanad yang shahih dan tidak diketahui memiliki
cacat.
Di
dalam kitab Hilyatul Aulia hadits nomor 8443 digambarkan tentang wadah yang
dicintai Allah adalah qalbunya orang-orang shalih;
حَدَّثَنَا
أَبُو بَكْرِ بْنُ مَالِكٍ , ثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ , ثَنَا هَارُونُ
بْنُ مَعْرُوفٍ , ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْقَاسِمِ , ثَنَا ثَوْرٌ , عَنْ خَالِدٍ
, عَنْ أَبِي أُمَامَةَ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: «إِنَّ لِلَّهِ فِي الْأَرْضِ آنِيَةٌ وَأَحَبُّ آنِيَةِ اللهِ
إِلَيْهِ مَا رَقَّ مِنْهَا وَصَفَا، وَآنِيَةُ اللهِ فِي الْأَرْضِ قُلُوبُ
الْعِبَادِ الصَّالِحِينَ» غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ ثَوْرٍ لَمْ نَكْتُبْهُ إِلَّا
مِنْ حَدِيثِ مُحَمَّدِ بْنِ الْقَاسِمِ
[54]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Malik, telah mengabarkan kepada kami
Abdullah ibnu Ahmad, telah mengabarkan kepada kami Harun ibnu Harun, telah
mengabarkan kepada kami Muhammad ibnu Al Qasim, telah mengabarkan kepada kami
Tsaur, dari Khalid, dari Abi umamah, berkata: Rasulullah ﷺ bersabda
“Sesungguhnya Allah memiliki wadah-wadah di bumi dan wadah yang paling dicintai
Allah apa yang menjadikannya bagus dan teratur, dan wadah Allah di bumi adalah
qalbu Hamba-hambanya yang shalih Hadits Gharib dari Tsaur kami tidak menulisnya
kecuali dari hadits Muhammad ibnu Qasim.
4.8. Sesekali Berkunjung Menambah Cinta
Di dalam kitab
Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor 8559 dinyatakan kunjungilah sesekali, maka
cinta akan bertambah;
أَخْبَرَنَا
أَبُو حَامِدٍ أَحْمَدُ بْنُ أَبِي خَلَفٍ الْإِسْفَرَاينِيُّ بِهَا، نا مُحَمَّدُ
بْنُ يَزْدَادَ بْنِ -[566]- مَسْعُودٍ، نا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ
سُلَيْمَانَ أَبُو أَيُّوبَ الْبَصْرِيُّ، نا عُوَيْدُ بْنُ أَبِي عِمْرَانَ
الْجَوْنِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الصَّامِتِ، عَنْ أَبِي
ذَرٍّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " يَا
أَبَا ذَرٍّ، زُرْ غِبًّا تَزْدَدْ حُبًّا "
Artinya: Diriwayatkan
oleh Abu Hamid Ahmad bin Abi Khalaf al-Isfara’ini, dia berkata: “Muhammad bin
Yazdad bin Mas’ud menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Sulaiman
Abu Ayyub al-Bashri menceritakan kepada kami, Uwaid bin Abi Imran al-Juni
menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abdullah bin Shamit, dari Abu
Dzar, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Wahai Abu Dzar, kunjungilah
sesekali, maka cinta akan bertambah.’” (HR. Baihaqi, Syuabul Iman Baihaqi:
8362)
4.9. Saling Mencintai Dengan Menebar Salam
Di
dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 93 dinyatakan bahwa Kalian tidak akan
masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian
saling mencintai, dengan menebar salam;
حَدَّثَنَا
أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ عَنْ
الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى
تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ
إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ [55]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada
kami Abu Mu'awiyah dan Waki' dari al-A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah
dia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Kalian tidak akan masuk
surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling
mencintai. Maukan kalian aku tunjukkan atas sesuatu yang mana apabila kalian
mengerjakannya niscaya kalian akan saling mencintai. Sebarkanlah salam di
antara kalian."
4.10. Saling Memberi Hadiah Akan Menumbuhkan Rasa Saling Mencintai
Di
dalam kitab Muwatho’ Malik hadits nomor 16 dinyatakan bahwa saling memberi
hadiah dapat menumbuhkan perasaan saling mencintai;
و
حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي مُسْلِمٍ عَبْدِ اللَّهِ
الْخُرَاسَانِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ تَصَافَحُوا يَذْهَبْ الْغِلُّ وَتَهَادَوْا تَحَابُّوا وَتَذْهَبْ
الشَّحْنَاءُ [56]
Artinya: Telah
menceritakan kepadaku Malik dari 'Atha bin Abu Muslim Abdullah Al Khurasani
berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda: "Hendaklah kalian saling
berjabat tangan, niscaya maka akan hilanglah kedengkian. Hendaklah kalian
saling memberi hadiah, niscaya akan saling mencintai dan menghilanglah
permusuhan."
Di
dalam kitab Al Mu’jam Al Kubra Li-Thabarani hadits nomor 393, dinyatakan bahwa
Salinglah memberi hadiah, karena sesungguhnya hadiah itu dapat melipatgandakan
rasa cinta;
حَدَّثَنَا
الْعَبَّاسُ بْنُ الْفَضْلِ، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَتْنَا
حُبَابَةُ بِنْتُ عَجْلَانَ الْخُزَاعِيَّةُ، قَالَتْ: حَدَّثَتْنِي أُمِّي
حَفْصَةُ، عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ جَرِيرٍ، عَنْ أُمِّ حَكِيمٍ بِنْتِ وَدَاعٍ
الْخُزَاعِيَّةِ، قَالَتْ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ، يَقُولُ: «تَهَادَوْا فَإِنَّ
الْهَدِيَّةَ تُضْعِفُ الْحُبَّ وَتَذْهَبُ بِغَوَائِلِ الصَّدْرِ»[57]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Al-‘Abbas bin Al-Fadhl, telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Hubabah binti ‘Ajlan Al-Khuza‘iyyah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ibuku Hafshah, dari Shafiyyah binti Jarir, dari Ummu Hakim binti Wada‘ Al-Khuza‘iyyah, ia berkata: Aku mendengar Nabi ﷺ bersabda: "Salinglah memberi hadiah, karena sesungguhnya hadiah itu dapat melipatgandakan rasa cinta dan menghilangkan kebencian yang ada di dalam dada."
4.11. Menerima Hadiah Dan Membalasnya
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor
2396 dinyatakan bahwa Rasulullah ﷺ menerima pemberiah hadiah dan membalasnya;
حَدَّثَنَا
مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ
عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا لَمْ يَذْكُرْ
وَكِيعٌ وَمُحَاضِرٌ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ [58]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami 'Isa bin Yunus
dari Hisyam dari bapaknya dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Adalah
Rasulullah ﷺ menerima pemberiah hadiah dan membalasnya". Waki' dan
Muhadhir tidak menebutkan dari Hisyam dari bapaknya dari 'Aisyah radliallahu
'anha.
Di
dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2585 ditegaskan bahwa Sesungguhnya
orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah orang yang paling baik
akhlaqnya';
حَدَّثَنَا
حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا
وَائِلٍ قَالَ سَمِعْتُ مَسْرُوقًا قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو إِنَّ
رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا
مُتَفَحِّشًا وَقَالَ إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا [59]
Artinya: Telah
bercerita kepada kami Hafsh bin 'Umar telah bercerita kepada kami Syu'bah dari
Sulaiman berkata, aku mendengar Abu Wa'il berkata, aku mendengar Masruq
berkata; " 'Abdullah bin 'Amr berkata; "Rasulullah ﷺ bukanlah orang yang suka berbicara kotor (keji) juga tidak pernah berbuat keji
dan beliau bersabda: "Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara
kalian adalah orang yang paling baik akhlaqnya".
4.13. Banyak Manfaatnya Bagi Keluarga
Di
dalam kitab Mujam Thabarani Kabir nomor 10033 dan kitab Syuab Al-Iman Baihaqi
nomor 7446 dinyatakan bahwa yang paling
dicintai Allah adalah yang paling banyak manfaanya bagi keluarga;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ السَّقَطِيُّ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ كَعْبٍ، ثنا مُوسَى
بْنُ عُمَيْرٍ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ، عَنْ عَبْدِ
اللهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «الْخَلْقُ كُلُّهُمْ عِيَالُ اللهِ،
فَأَحَبُّ الْخَلْقِ إِلَى اللهِ أَنْفَعُهُمْ لِعِيَالِهِ»
[60]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Al Fadhl As Saqathi telah menceritakan
kepada kami Ishaq ibnu Ka’b telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Umair dari
Al hakim dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah berkata; Bersabda rasulullah ﷺ “Semua makhluk adalah keluarga Allah, adapun makhluk yang paling dicintai
Allah adalah yang paling banyak manfaatnya bagi keluarganya.”
حَدَّثَنَا
أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ يُوسُفَ، أنا أَبُو عَمْرِو بْنُ مَطَرٍ، أنا أَبُو
الْقَاسِمِ بْنُ -[522]- أُمَيَّةَ بْنِ مَنِيعٍ، نا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ
الْمَوْصِلِيُّ، قَالَ: كُنْتُ مَعَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ بِالشُّمَاسِيَّةِ
وَهُوَ يُجْرِي الْحَلَبَةَ، وَمَعَهُ يَحْيَى بْنُ أَكْثَمَ وَهُوَ يَقُولُ: يَا
يَحْيَى أَمَا تَرَى؟ أَمَا تَرَى؟ ثُمَّ قَالَ: حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ
عَطِيَّةَ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ
النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " الْخَلْقُ كُلُّهُمْ
عِيَالُ اللهِ، فَأَحَبُّ الْخَلْقِ إِلَى اللهِ أَنْفَعُهُمْ لِعِيَالِهِ "
قَالَ أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْمَوْصِلِيُّ، ثنا يُوسُفُ بْنُ عَطِيَّةَ،
عَنْ ثَابِتٍ بِهَذَا [61]
Artinya: Telah
menceriterakan kepada kami Abu Muhammad ibnu Yusuf, telah menceriterakan kepada
kami Abu Umar ibnu Mathar, telah menceriterakan kepada kami Abu Qasim ibnu
Umayah ibnu Mani’, telah menceriterakan kepada kami Muhammad ibnu Ibrahim Al
Maushiliyu berkata: kami bersama amirul mu’minin di Sumasiyah dan beliau
memeras susu, dan bersama dengannya Yahya ibnu Aksam dan dia berkata: Hai Yahya
apa yang kamu lihat ? apa yang kamulihat ? kemudian berkata: bahwa sesungguhnya
Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “ Semua makhluq semuanya adalah keluarga Allah,
adapun makhluq yang paling dicintai Allah adalah yang paling banyak manfaatnya
untuk keluarganya”, berkata Ahmad ibnu Ibrahim Al Maushili, telah
menceriterakan kepada kami Yusuf ibnu ‘Athiyah dari Tsabit sama dengan ini.
4.14. Berlaku Zuhud Dalam Urusan Dunia
Di
dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 4102 dijelaskan bahwa amalan yang
dapat menimbulkan cinta Allah adalah berlaku zuhud terhadap dunia;
حَدَّثَنَا
أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ أَبِي السَّفَرِ حَدَّثَنَا شِهَابُ بْنُ عَبَّادٍ
حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ عَمْرٍو الْقُرَشِيُّ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ عَنْ
أَبِي حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي
عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ
فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ازْهَدْ فِي
الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ [62]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu 'Ubaidah bin Abu As Safar telah menceritakan
kepada kami Syihab bin 'Abbad telah menceritakan kepada kami Khalid bin 'Amru
Al Qurasyi dari Sufyan Ats Tsauri dari Abu Hazim dari Sahl bin Sa'd As Sa'idi
dia berkata, "Seorang laki-laki datang kepada Nabi ﷺ seraya
berkata, "Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang jika
aku kerjakan maka Allah dan seluruh manusia akan mencintaiku." Rasulullah ﷺ bersabda: "Berlakulah zuhud dalam urusan dunia niscaya kamu akan dicintai
Allah, dan zuhudlah kamu terhadap apa yang dimiliki orang lain niscaya kamu
akan dicintai orang-orang."
4.15. Cinta Dan Benci Kepada Manusia Seperlunya Saja
Di
dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad hadits nomor 1321 dinyatakan Cintailah
orang yang engkau cintai seperlunya, dan bencilah orang yang kamu benci
seperlunya;
حَدَّثَنَا
أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ عَمْرٍو الْكَلْبِيُّ عَنْ حَمَّادِ بْنِ
سَلَمَةَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
أُرَاهُ رَفَعَهُ قَالَ أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ
بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ
حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا [63]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Suwaid bin
Amru Al Kalbi dari Hammad bin Salamah dari Ayyub dari Muhammad bin Sirrin dari
Abu Hurairah (aku menduga, bahwa dia memarfu'kannya) berkata: "Cintailah
orang yang engkau cintai seperlunya, karena bisa saja suatu hari dia akan
menjadi musuhmu, dan bencilah orang yang kamu benci seperlunya, karena bisa
jadi suatu hari kelak dia akan menjadi orang yang engkau cintai."
4.16. Perkataan Yang Paling Dicintainya Subhanallah wabihamdihi
Di
dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2731 ditegaskan bahwa sesungguhnya
ucapan yang paling disukai Allah Azza Wa Jalla adalah Subhaanallahu wa
bihamdih' (Mahasuci Allah dengan segala puji bagi-Nya).
حَدَّثَنَا
أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ عَنْ
شُعْبَةَ عَنْ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْجِسْرِيِّ مِنْ
عَنَزَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الصَّامِتِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِأَحَبِّ
الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِأَحَبِّ
الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ فَقَالَ إِنَّ أَحَبَّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ
سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ [64]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada
kami Yahya bin Abu Bukair dari Syu'bah dari Al Jurairi dari Abu 'Abdullah Al
Jisri dari 'Anazah dari 'Abdullah bin Ash Shamit dari Abu Dzar dia berkata;
"Rasulullah ﷺ pernah bertanya kepada saya: 'Hai Abu Dzarr, maukah kamu aku
beritahukan tentang ucapan yang disenangi Allah? ' Saya menjawab; 'Ya, saya mau
ya Rasulullah. Beritahukanlah kepada saya tentang ucapan yang disenangi Allah.'
Kemudian beliau bersabda: 'Sesungguhnya ucapan yang paling disukai Allah Azza
Wa Jalla adalah Subhaanallahu wa bihamdih' (Mahasuci Allah dengan segala puji
bagi-Nya).'
4.17. Menjadi Imam “Pemimpin” Yang Adil
Di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 11525, dinyatakan bahwa Sesungguhnya
manusia yang paling Allah cintai dan paling dekat tempat duduknya dengan-Nya
pada hari kiamat adalah seorang pemimpin yang adil;
حَدَّثَنَا
عَلِيُّ بْنُ إِسْحَاقَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا الْفُضَيْلُ بْنُ
مَرْزُوقٍ عَنْ عَطِيَّةَ الْعَوْفِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى
اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَقْرَبَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ
وَإِنَّ أَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَشَدَّهُمْ
عَذَابًا إِمَامٌ جَائِرٌ [65]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq berkata; telah mengabarkan kepada kami
Abdullah berkata; telah mengabarkan kepada kami Al Fudhail bin Marzuq
dari 'Athiyyah Al 'Aufi dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: "Sesungguhnya manusia yang paling Allah cintai dan paling dekat
tempat duduknya dengan-Nya pada hari kiamat adalah seorang pemimpin yang adil,
dan manusia yang paling Allah benci dan paling keras siksanya pada hari kiamat
adalah pemimpin yang lalim."
4.18. Apabila Marah Maka Dia Dapat Menahannya
Di dalam kitab Mustadrak Hakim hadits
nomor 433 dinyatakan bahwa Ada tiga orang yang akan dilindungi oleh Allah dalam
naungan-Nya dan akan ditutupi dengan rahmat-Nya serta dimasukkan dalam
cinta-Nya, yaitu; Orang yang apabila diberi maka dia bersyukur, apabila mampu
memberi hukuman maka dia mengampuni, dan apabila marah maka dia dapat
menahannya.;
حَدَّثَنَا
أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ دَرَسْتَوَيْهِ الْفَارِسِيُّ،
ثنا يَعْقُوبُ بْنُ سُفْيَانَ، ثنا عُمَرُ بْنُ رَاشِدٍ، مَوْلَى عَبْدِ
الرَّحْمَنِ بْنِ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ التَّيْمِيِّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي ذِئْبٍ الْقُرَشِيُّ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ
مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ثَلَاثَةٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ آوَاهُ اللَّهُ فِي
كَنَفِهِ، وَسَتَرَ عَلَيْهِ بِرَحْمَتِهِ، وَأَدْخَلَهُ فِي مَحَبَّتِهِ» قِيلَ:
مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «مَنْ إِذَا أُعْطِي شُكَرَ، وَإِذَا
قَدَرَ غَفَرَ، وَإِذَا غَضِبَ فَتَرَ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ،
فَإِنَّ عُمَرَ بْنَ رَاشِدٍ شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ الْحِجَازِ مِنْ نَاحِيَةِ
الْمَدِينَةِ، قَدْ رَوَى عَنْهُ أَكَابِرُ الْمُحَدِّثِينَ
[66]
Artinya: Abu Muhammad Abdullah bin Ja'far bin Darastawaih Al Farisi menceritakan kepada kami, Ya'qub bin Sufyan menceritakan kepada kami, Umar bin Rasyid ([maula Abdurrahman bin Aban bin Utsman At-Taimi) menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Dzi'ib Al Qurasyi menceritakan kepada kami dari Hisyam bin Urwah, dari Muhammad bin Ali, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda, “Ada tiga orang yang akan dilindungi oleh Allah dalam naungan-Nya dan akan ditutupi dengan rahmat-Nya serta dimasukkan dalam cinta-Nya” Beliau lalu ditanya, "Siapakah mereka, wahai Rasulullah?" Beliau ﷺ menjawab, "Orang yang apabila diberi maka dia bersyukur, apabila mampu memberi hukuman maka dia mengampuni, dan apabila marah maka dia dapat menahannya." Hadis ini sanadnya shahih, karena Umar bin Rasyid adalah seorang syaikh dari Hijaz, dari arah Madinah. Para muhaddits besar meriwayatkan darinya.
4.19. Beriman dan Beramal Shalih
Di dalam Al kitab Mujam Thabarani
Ausath hadits nomor 5516 digambarkan berdasar Al Quran surat Maryam/ 19: 96
Allah akan menumbuhkan dalam hati orang beriman yang beramal shalih rasa cinta;
حَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: ثَنَا عَوْنُ بْنُ سَلَّامٍ
قَالَ: ثَنَا بِشْرُ بْنُ عِمَارَةَ الْخَثْعَمِيُّ، عَنْ أَبِي رَوْقٍ، عَنِ
الضَّحَّاكِ بْنِ مُزَاحِمٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: «نَزَلَتْ فِي عَلِيٍّ:
﴿إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ
وُدًّا﴾ [مريم: ٩٦] قَالَ: مَحَبَّةٌ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ» لَمْ يَرْوِ
هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَبِي رَوْقٍ إِلَّا بِشْرُ بْنُ عِمَارَةَ، وَتَفَرَّدَ
بِهِ: عَوْنُ بْنُ سَلَّامٍ " [67]
Artinya: Diriwayatkan
oleh Muhammad bin Utsman bin Abu Syaibah, ia berkata: "Telah menceritakan
kepada kami 'Aun bin Salam, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Bisyr
bin 'Amarah Al-Khuts'ami dari Abu Rauq dari Adh-Dhahhak bin Muzahim dari Ibnu
'Abbas, ia berkata: 'Turun ayat ini tentang Ali (yaitu): {Sesungguhnya
orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan
menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang} (Maryam: 96).' Ibnu 'Abbas
berkata: 'Maksudnya adalah cinta dalam hati orang-orang yang beriman.' Tidak
ada yang meriwayatkan hadis ini dari Abu Rauq kecuali Bisyr bin 'Amarah dan
yang meriwayatkannya secara sendiri adalah 'Aun bin Salam."
4.20. Mengikuti Jalan Yang Lurus
Di
dalam Al Quran surat Al-An'am (6): 153 disebutkan perintah untuk mengikuti
jalannya Allah yang lurus;
وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا
فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ
ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: dan bahwa (yang Kami
perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah
kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai
beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu
bertakwa. (QS. Al-An'am/ 6: 153)
Mengikuti
jalan yang lurus membimbing hati saling terikat dan saling mencintai karena
ketakwaan kepada Allah, sedangkan jika mengikuti jalan-jalan yang lainnya akan
perpecahan dan tercerai berai.
Di
dalam Kitab Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain hadits nomor 1913 disebutkan
permintaan (doa) Rasulullah SAW kepada Allah SWT; 'Ya Allah! Aku meminta kepada-Mu
perbuatan-perbuatan baik, meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang
miskin, mengampuniKu, merahmatiKu, bila Kau hendak menyiksa suatu kaum, maka
wafatkanlah aku tanpa terkena siksaan, aku meminta cinta-Mu, cinta orang yang
mencintai-Mu, cinta amalan yang mendekatkanku pada cinta-Mu;
أَخْبَرَنَا أَبُو حَفْصٍ عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ
الْفَقِيهُ بِبُخَارَى، ثنا صَالِحُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَبِيبٍ الْحَافِظِ، ثنا
مُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ سُوَيْدٍ الْقُرَشِيُّ، بِالْكُوفَةِ، حَدَّثَنِي
أَبِي، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِسْحَاقَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ
الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، ﵁، قَالَ:
«أَبْطَأَ عَنَّا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِصَلَاةِ الْفَجْرِ حَتَّى كَادَتْ أَنْ
تُدْرِكَنَا الشَّمْسُ، ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى بِنَا فَخَفَّفَ فِي صَلَاتِهِ،
ثُمَّ انْصَرَفَ، فَأَقْبَلْ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ»، فَقَالَ: «عَلَى مَكَانِكُمْ
أُخْبِرُكُمْ مَا أَبْطَأَنِي عَنْكُمُ الْيَوْمَ فِي هَذِهِ الصَّلَاةِ، إِنِّي
صَلَّيْتُ فِي لَيْلَتِي هَذِهِ مَا شَاءَ اللَّهُ، ثُمَّ مَلَكَتْنِي عَيْنِي،
فَنِمْتُ فَرَأَيْتُ رَبِّي ﵎ فَأَلْهَمَنِي أَنْ قُلْتُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ
الطَّيِّبَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَتُوبَ عَلَيَّ،
وَتَغْفِرَ لِي، وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِي خَلْقِكَ فِتْنَةً فَنَجِّنِي
إِلَيْكَ مِنْهَا غَيْرَ مَفْتُونٍ، اللَّهُمَّ وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ
مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ»، ثُمَّ أَقْبَلَ
عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: «تُعَلَّمُوهُنَّ وَادْرُسُوهُنَّ
فَإِنَّهُنَّ حَقٌّ» [68]
Artinya: Mu‘ādz bin Jabal RA berkata:
“Rasulullah ﷺ terlambat datang kepada kami untuk
melaksanakan salat Subuh hingga hampir saja matahari terbit. Kemudian beliau
keluar dan mengimami kami dengan salat yang diperingan, lalu setelah selesai
beliau menghadap kepada kami dan bersabda: ‘Tetaplah di tempat kalian, akan aku
beritahukan kepada kalian apa yang membuatku terlambat dari salat ini hari ini.
Sesungguhnya aku salat malam pada malam ini sesuai yang Allah kehendaki,
kemudian mataku dikuasai rasa kantuk lalu aku tertidur, maka aku melihat Rabbku
dalam tidurku, dan Dia mengilhamkan kepadaku hingga aku mengatakan: Ya Allah,
aku memohon kepada-Mu kebaikan-kebaikan, dan meninggalkan segala kemungkaran,
serta mencintai orang-orang miskin. Dan aku memohon agar Engkau menerima
taubatku, mengampuniku, dan merahmatiku. Dan jika Engkau menghendaki terjadi
fitnah pada makhluk-Mu, maka selamatkanlah aku kepada-Mu tanpa terkena fitnah.
Ya Allah, aku memohon cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta amal
yang mendekatkan aku kepada cinta-Mu.’ Kemudian Rasulullah ﷺ bersabda kepada kami: ‘Pelajarilah doa-doa
ini dan ajarkanlah, karena sesungguhnya doa-doa ini adalah kebenaran.’”
4.22. Berdoa Agar Dijadikan Sebagai Orang Yang Mencintai Allah
Di dalam kitab Hilyatul Aulia Atsar nomor
halaman 308 dan Al-Sunan Al-Kubra Hadits nomor 9346 disebutkan doa agar dijadikan sebagai
orang yang mencintai Allah;
حَدَّثَنَا
سُلَيْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ الْمُنْذِرِ، ثَنَا
حَفْصُ بْنُ عُمَرَ الْحَوْضِيُّ، ثَنَا هَمَّامُ بْنُ يَحْيَى، عَنْ نَافِعٍ،
أَنَّ ابْنَ عُمَرَ، كَانَ يَدْعُو عَلَى الصَّفَا: " اللهُمَّ اعْصِمْنِي
بِدِينِكَ وَطَوَاعِيَتِكَ وَطَوَاعِيَةِ رَسُولِكَ، اللهُمَّ جَنِّبْنِي
حُدُودَكَ، اللهُمَّ اجْعَلْنِي مِمَّنْ يُحِبُّكَ، وَيُحِبُّ مَلَائِكَتَكَ،
وَيُحِبُّ رُسُلَكَ، وَيُحِبُّ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ، اللهُمَّ حَبِّبْنِي
إِلَيْكَ، وَإِلَى مَلَائِكَتِكَ، وَإِلَى رُسُلِكَ، وَإِلَى عِبَادِكَ
الصَّالِحِينَ، اللهُمَّ يَسِّرْنِي لِلْيُسْرَى، وَجَنِّبْنِي الْعُسْرَى،
وَاغْفِرْ لِي فِي الْآخِرَةِ وَالْأُولَى، وَاجْعَلْنِي مِنْ أَئِمَّةِ
الْمُتَّقِينَ، اللهُمَّ إِنَّكَ قُلْتَ: {ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ} [غافر:
60]، وَإِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ، اللهُمَّ إِذْ هَدَيْتَنِي
لِلْإِسْلَامِ فَلَا تَنْزِعْنِي مِنْهُ، وَلَا تَنْزِعْهُ مِنِّي حَتَّى
تَقْبِضَنِي وَأَنَا عَلَيْهِ «. كَانَ يَدْعُو بِهَذَا الدُّعَاءِ مَعَ دُعَاءٍ
لَهُ طَوِيلٌ عَلَى الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَبِعَرَفَاتٍ، وَيَجْمَعُ بَيْنَ
الْجَمْرَتَيْنِ، وَفِي الطَّوَافِ» رَوَاهُ أَيُّوبُ، عَنْ نَافِعٍ، مِثْلَهُ [69]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami
Muhammad ibnu Yahya ibnu Al Mundiri, telah menceritakan kepada kami Hafsh ibnu
Umar Al Haudzy, telah menceritakan kepada kami Hamam ibnu Yahya, dari Nafi’,
bahwa ibnu Umar berdoa di Shafa: “Ya Allah jadikanlah kami berpegang teguh
dengan Agamamu dan aku menjadi taat kepadamu dan taat kepada rasul-Mu, Ya Allah
selamatkanlah kami dari hukum-hukum-Mu, Ya Allah jadikanlah kami dari
orang-orang yang mencintai-Mu, mencintai Malaikat-Malaikat-Mu, mencintai
Rasul-rasul-Mu, mencintai hamba-hamba-Mu yang Shalih, Ya Allah cintakanlah kami
kepada-Mu, kepada Malaika-Malaikat-Mu,
kepada Rasul-rasul-Mu dan kepada hamba-hamba-Mu yang shalih, Ya Allah
mudahkanlah kami pada kemudahan, selamatkanlah kami dari kesulitan, ampunilah
kami di akhir dan permulaan dan jadikanlah kami bagian dari pemimpin
orang-orang bertaqwa, Ya Allah sesungguhnya Engkau telah bersabda: “Mohonlah
kepada-Ku makan akan Aku perkenankan” (Ghafir: 60) dan sesungguhnya Engkau
tidak menyelisihi janji, Ya Allah jika engkau telah memberi petunjuk kepada
kami untuk berislam, maka janganlah engkau memisahkan kami darinya, dan jangan
engkau pisahkan Islam dari kami hingga Engkau menjaga kami dan kami ada di
dalamnya, beliau berdoa dengan doa ini dengan yang Panjang di atas Shafa, Marwa
dan Arafah, dan Bersama-sama di antara dua Jumrah, dan di saat Thawaf,
diriwayatkan oleh Ayub dari Nafi, yang semisal dengannya.
وَأَخْبَرَنَا
أَبُو الْحَسَنِ : مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ دَاوُدَ الْعَلَوِىُّ رَحِمَهُ
اللَّهُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ شُعَيْبٍ
الْبَزْمَهْرَانِىُّ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَفْصِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ
حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنِى إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ
أَبِى تَمِيمَةَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ
كَانَ يَقُولُ عَلَى الصَّفَا : اللَّهُمَّ اعْصِمْنَا بِدِينِكَ وَطَوَاعِيَتِكَ
وَطَوَاعِيَةِ رَسُولِكِ وَجَنِّبْنَا حُدُودَكَ اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا نُحِبُّكَ
وَنُحِبُّ مَلاَئِكَتَكَ وَأَنْبِيَاءَكَ وَرُسُلَكَ وَنُحِبُّ عِبَادَكَ
الصَّالِحِينَ اللَّهُمَّ حَبِّبْنَا إِلَيْكَ وَإِلَى مَلاَئِكَتِكَ وَإِلَى
أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَإِلَى عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ اللَّهُمَّ يَسِّرْنَا
لِلْيُسْرَى وَجَنِّبْنَا الْعُسْرَى وَاغْفِرْ لَنَا فِى الآخِرَةِ وَالأُولَى
وَاجْعَلْنَا مِنْ أَئِمَّةِ الْمُتَّقِينَ. [70]
Artinya: Telah
mengabarkan kepada kami Abu al-Hasan: Muhammad bin al-Husain bin Dawud al-Alawi
rahimahullah, telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Syu'aib
al-Bazmahraani, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hafsh bin Abdullah,
telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin
Thahman dari Ayyub bin Abi Tamimah, dari Nafi', dari Ibnu Umar radhiyallahu
'anhu bahwa dia (Ibnu Umar) biasa berdoa di atas Shafa” Ya Allah, peliharalah
kami dengan agamamu, dengan ketaatan kepada-Mu, dan ketaatan kepada Rasul-Mu.
Jauhkanlah kami dari batasan-batasan-Mu. Ya Allah, jadikan kami mencintai-Mu,
mencintai malaikat-Mu, nabi-nabi-Mu, rasul-rasul-Mu, dan hamba-hamba-Mu yang
saleh. Ya Allah, jadikanlah kami dicintai oleh-Mu, oleh malaikat-Mu, oleh
nabi-nabi-Mu, oleh rasul-rasul-Mu, dan oleh hamba-hamba-Mu yang saleh. Ya
Allah, mudahkanlah kami menuju kebaikan dan jauhkanlah kami dari kesulitan.
Ampunilah kami di akhirat dan di dunia, dan jadikan kami termasuk pemimpin
orang-orang yang bertakwa”
Berdasar
pembahasan yang telah dikemukakan di atas dapat diperoleh pengertian bahwa
taqwa di level mahabbah adalah kesadaran qalbu untuk memprioritaskan cintanya
kepada Allah dan Rasul-Nya, sehingga segala ketaatan untuk mengerjakan amal
kebaikan, dilakukan dengan atas dasar kesadaran cinta kepada Allah dan
Rasul-Nya.
Beribadah
kepada Allah atas dasar mencintainya lebih mulia di sisi Allah dari beribadah
kepada Allah karena mengharap pahalanya atau takut dosanya, hal tersebut
didasari pernyataan yang terdapat di dalam kitab Hilyatul Aulia halaman 314;
قَالَ:
وَسَمِعْتُ السَّاجِيَّ يَقُولُ: " لَوْ لَمْ يَكُنْ لِلَّهِ ثَوَابٌ يُرْجَى
وَلَا عِقَابٌ يُخْشَى لَكَانَ أَهْلًا أَنْ يُطَاعَ فَلَا يُعْصَى، وَيُذْكَرَ
فَلَا يُنْسَى بِلَا رَغْبَةٍ فِي ثَوَابٍ وَلَا رَهْبَةٍ مِنْ عِقَابٍ، وَلَكِنْ
لِحُبِّهِ وَهِيَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، أَمَا تَسْمَعُ مُوسَى عَلَيْهِ
السَّلَامُ يَقُولُ: {وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى} [طه: 84] فَانْتَظَمَ
الثَّوَابُ وَالْعِقَابُ لِأَنَّ مَنْ عَبَدَ اللَّهَ عَلَى حُبِّهِ أَشْرَفُ
عِنْدَ اللَّهِ مِمَّنْ عَمِلَ عَلَى خَوْفِهِ، وَمَثَلُ ذَلِكَ فِي الدُّنْيَا
أَيْنَ مَنْ أَطَاعَكَ عَلَى خَوْفٍ مِنْكَ؟
[71]
"
Artinya:
Berkata, dan aku mendengan As Sajiyu berkata: Seandainya tidak ada pahala dari
Allah yang diharapkan, dan tidak ada hukuman yang ditakuti, maka tidak ada yang
ditaati dan didurhakai, dan mengingat dan tidak melupakan tanpa mengharap
pahala, dan tidak menjaga diri dari hukuman, akan tetapi karena mencintai-nya
adalah lebih tinggi derajatnya, adapun Musa AS berkata: Dan aku bersegera
kepada-Mu agar engkau ridha (Thaha: 84) maka terkontrolah pahala dan hukuman
sebab orang yang menyembah Allah karena mencintainya lebih mulia kedudukannya
di sisi Allah dibandingkan orang yang mengerjakannya karena takut, dan
perumpamaan untuk itu di dunia adalah siapapun yang taat kepadamu karena takut
kepadamu.
Ketaqwaan di level mahabbah akan mendorong orang untuk memiliki rasa cinta kepada semua makhluq Allah, mencintai syariat; aturan; hukum Allah, mencintai taqdir; ketentuan; ketetapan; kekuasaan Allah, mencintai perbuatan baik, hingga tumbuh kesadaran dalam melakukan amal dan kebaikan dilakukan atas dasar kesadaran cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Dengan
demikian kesadaran taqwa di level mahabbah ini, tidak menjadikan cintanya
kepada Allah dan Rasulnya, sebagai penghalang untuk banyak berbuat baik kepada
manusia, tetapi kesadaran taqwa di level mahabbah justru akan dapat mendorong
manusia untuk melakukan sebanyak-banyaknya kebaikan, yang dilakukannya karena
terdorong kecintaannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah
sallallahu ‘alahi wa salam sekaligus untuk meraih cinta Allah dan Rasul-Nya.
Takwa di tingkat Mahabbah adalah kesadaran ruhani untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan melandasi semua amal perbuatannya karena Cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, segera bertistighfar dan bertaubat jika melakukan amal perbuatannya bukan karena Cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.
Doa “Aku Meminta Cintamu, Cinta Orang Yang
Mencintaimu, Cinta Amalan Yang Mendekatkanku Pada Cintamu”
اللَّهُمَّ
إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ
الْمَسَاكِينِ وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي
قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ
يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ
'Ya
Allah! Aku memintaMu perbuatan-perbuatan baik, meninggalkan kemungkaran,
mencintai orang-orang miskin, mengampuniKu, merahmatiKu, bila Kau hendak
menyiksa suatu kaum, maka wafatkanlah aku tanpa terkena siksaan, aku meminta
cintaMu, cinta orang yang mencintaiMu, cinta amalan yang mendekatkanku pada
cintaMu’
(HR.
Ahmad, Musnad Ahmad: 21093)
[1] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman
2030, Hadits nomor 2637.
[2] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 106, Hadits
nomor 6507.
[3] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 20, Hadits nomor
6941.
[4] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 105, Hadits
nomor 6502.
[5] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 2 halaman 498, Hadits nomor 1209.
[6] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 6, Halaman 189,
Hadits nomor 3672.
[7] Abu Qasim Al-Thabarani, Mu’jam
Al-Thabarani Ausath, Dar Al Haramain, Kairo, 1995, Jilid 2, Halaman 20-21,
Hadits nomor 704-705.
[8] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 5, Halaman 12, Hadits nomor
3688.
[9] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 18, Hadits nomor
6938.
[10] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 21, Halaman 39,
Hadits nomor 13316.
[11] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah
al-‘Alamiyah, , 2009, Jilid 6 halaman 337, Hadits nomor 4123.
[12] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 33, Halaman
159, Hadits nomor 19934.
[13] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 87, Hadits nomor
6410.
[14] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah
al-‘Alamiyah, , 2009, Jilid 1 halaman 470, Hadits nomor 453.
[15] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 3 halaman 545, Hadits nomor 2018.
[16]
Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah Al-Asbahani, Hilyatul Auilya’ Wa Thabaqat Al-
Ashfiya’, Matba’ah Al-Sa’adiyah, Mesir, 1974, Jilid 1, Halaman 63, Tanpa nomor.
[17] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 6 halaman 118, Hadits nomor 3775.
[18] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 6 halaman 169, Hadits nomor 3862.
[19] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam
Al-Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 12, Halaman 455,
Hadits nomor 13650.
[20] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 3 halaman 521, Hadits nomor 1979.
[21] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al
Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990,
Jilid 8, Halaman 202, Hadits nomor 7471.
[22] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy,
Beirut, 1996, Jilid 2 halaman 76, Hadits nomor 700.
[23] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 12, Hadits nomor
13.
[24] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1,
Halaman 64, Hadits nomor 45.
[25]
Abu Abd Al-Rahman Ahmad ibn Syuaib al-Nasa’i, Sunan Al-Nasa’i Al-Mujtabi,
Dar Al-Risalah Al-Alamiyah, 2018, Jilid 8, Halaman 195, Hadits nomor 5016.
[26] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 21, Halaman
353, Hadits nomor 13875.
[27] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam
Al-Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 6, Halaman 59, Hadits
nomor 5478.
[28] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam
Al-Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 3, Halaman 297, Hadits
nomor 3456.
[29]
Ibnu Majah Ibnu Abdullah
Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418
H, Jilid 2, Halaman 1320, Hadits nomor 3989.
[30]
Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Al-Sunan Al-Kubra, Dar
Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2003, Jilid 1, Halaman 558, Hadits nomor 1782.
[31] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 21, Halaman
387, Hadits nomor 13959.
[32]
Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar
Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 1, Halaman 367, Hadits nomor 410.
[33]
Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar
Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 1, Halaman 370, Hadits nomor 419.
[34]
Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar
Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 1, Halaman 369, Hadits nomor 417.
[35]
Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar
Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 1, Halaman 370, Hadits nomor 421.
[36]
Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar
Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 2, Halaman 504, Hadits nomor 9071.
[37] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 6, Halaman 44, Hadits nomor
4581.
[38] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah Ar-Risalah, 2001, Jilid 32, Halaman
183, Hadits nomor 19438.
[39]
Malik Ibn Anas, Muwatha’ Al-Imam Malik, Muassasah Al-Risalah, Beirut
1991, Jilid 2, Halaman 133, Hadits nomor 2007.
[40] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan
Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 3, Halaman 288,
Hadits nomor 3527.
[41]
Abu Hatim Muhammad Ibnu Hiban
Ibnu Ahmad, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibu Hazm, Beirut, 2012, Jilid 1,
Halaman 471, Hadits nomor 689.
[42] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 37, Halaman
541, Hadits nomor 22906.
[43] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 36, Halaman
384, Hadits nomor 22064.
[44] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 18, Halaman
345, Hadits nomor 11829.
[45]
Abu Hatim Muhammad Ibnu Hiban
Ibnu Ahmad, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibu Hazm, Beirut, 2012, Jilid 1,
Halaman 469, Hadits nomor 685.
[46]
Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar
Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 1, Halaman 367, Hadits nomor 410.
[47] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al
Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990,
Jilid 1, Halaman 112, Hadits nomor 164.
[48] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 36, Halaman
327.Hadits nomor 2471.
[49] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 129, Hadits nomor
6632.
[50] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 196, Hadits nomor
3587-3589.
[51] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 45, Hadits nomor
170.
[52] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah
al-‘Alamiyah, , 2009, Jilid 4 halaman 374, Hadits nomor 2506.
[53] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al
Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990,
Jilid 1, Halaman 44, Hadits nomor 4.
[54]
Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah Al-Asbahani, Hilyatul Auilya’ Wa Thabaqat Al-
Ashfiya’, Matba’ah Al-Sa’adiyah, Mesir, 1974, Jilid 6, Halaman 97, Tanpa
nomor.
[55] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1, Halaman 74,
Hadits nomor 93.
[56]
Malik Ibn Anas, Muwatha’ Al-Imam Malik, Muassasah Al-Risalah, Beirut
1991, Jilid 2, Halaman 908, Hadits nomor 16.
[57] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam
Al-Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 25, Halaman 162,
Hadits nomor 393.
[58] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 3, Halaman 157, Hadits nomor
2585.
[59] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih
Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 5, Halaman 28, Hadits nomor
3759.
[60] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam
Al-Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 10, Halaman 86, Hadits
nomor 10033.
[61]
Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar
Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 2, Halaman 43, Hadits nomor 7446.
[62]
Abu Adullah Muhammad Yazid Ibnu
Majah, Sunan Ibnu Majah, Dar Al-Shidiq li Al-Nsyr, Saudi, 2014 H, Jilid
1, Halaman 868, Hadits nomor 4102.
[63] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Al-Adab
Al-Mufrad, Dar Al-Basyair Al-Islamiyah, Kairo, 1989, Jilid 1, Halaman 447,
Hadits nomor 1321.
[64] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj,
Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman
2093, Hadits nomor 2731.
[65] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad
al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 18, Halaman 85,
Hadits nomor 11525.
[66] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al
Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990,
Jilid 8, Halaman 202, Hadits nomor 7471.
[67] Abu Qasim Al-Thabarani, Mu’jam
Al-Thabarani Ausath, Dar Al Haramain, Kairo, 1995, Jilid 5, Halaman 348,
Hadits nomor 5516.
[68] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al
Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990,
Jilid 1, Halaman 702, Hadits nomor 1913.
[69]
Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah Al-Asbahani, Hilyatul Auilya’ Wa Thabaqat Al-
Ashfiya’, Matba’ah Al-Sa’adiyah, Mesir, 1974, Jilid 1, Halaman 308, Tanpa
nomor.
[70]
Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Al-Sunan Al-Kubra, Dar
Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2003, Jilid 5, Halaman 153, Hadits nomor 9346.
[71]
Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah Al-Asbahani, Hilyatul Auilya’ Wa Thabaqat Al-
Ashfiya’, Matba’ah Al-Sa’adiyah, Mesir, 1974, Jilid 9, Halaman 314, Tanpa
nomor.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar