25/04/2026

+ 7. TAQWA LEVEL MAHABBAH

+ 7. TAQWA LEVEL MAHABBAH

Mahabah berasal dari kata habba-yuhibbu-mahabbatan, artinya; menyukai, mencintai, jatuh cinta, senang akan, memuja, mengkhayalkan. Di dalam Al Quran terdapat kata yang terbentuk dari kata dasar hababa sebanyak 95 ditemukan di dalam 85 ayat.

Ayat-ayat tersebut ditambah dengan hadits-hadits Rasulullah yang berkaitan dengan mahabbah akan diklasifikasikan dan dianalisa untuk dapat memperoleh pemahaman yang menyeluruh tentang mahabbah, sehingga mahabbah dapat diamalkan menjadi sebuah bentuk ketaqwaan di tingkat mahabbah.

Di dalam Al Quran Surat Al-Baqarah/ 2: 165, ditegaskan bahwa orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah;

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

Artinya: Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).(QS. Al-Baqarah/ 2: 165)

Sedangkan di dalam Al Quran surat At-Taubah/ 9: 24 terkandung pengertian bahwa Allah, Rasul-Nya dan juhad di jalan-Nya harus lebih dicintai daripada apa saja yang dimilikinya;

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Artinya: Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.(QS. At-Taubah/ 9: 24)

Berdasar dua ayat Al Quran tersebut di atas dapat diperoleh pengertian sementara bahwa mahabbah adalah kesadaran untuk memprioritaskan cinta kepada yang paling berhak dicintai, yaitu Allah dan Rasul-Nya serta berjuang di jalan-Nya.

Untuk dapat memberikan gambaran yang menyeluruh tentang mahabbah maka pada bab ini akan dikemukakan pembahasan tentang;

1. Hikmah Mahabbah,

2. Keistimewaan Orang Mahabbah,

3. Karaktaer Orang Mahabbah

4. Taqwa Di Tingkat Mahabbah.

Adapun pembahasannya adalah sebagai berikut;.

1.  Hikmah Mahabbah

Di dalam Al Quran dan hadits Nabi Muhammad SAW disebutkan beberapa hikmah yang berkaitan dengan mahabbah, yakni antara lain;

1.1. Jika Allah Mencintai Seorang Hamba Maka Manusia Akan Dijadikan Suka Kepadanya

Di dalam kitab Shahih Muslim 2637 dinyatakan bahwa Jika Allah mencintai seorang hamba maka manusia akan dijadikan suka kepadanya;

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَقَالَ إِنِّي أُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبَّهُ قَالَ فَيُحِبُّهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي السَّمَاءِ فَيَقُولُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ فُلَانًا فَأَحِبُّوهُ فَيُحِبُّهُ أَهْلُ السَّمَاءِ قَالَ ثُمَّ يُوضَعُ لَهُ الْقَبُولُ فِي الْأَرْضِ وَإِذَا أَبْغَضَ عَبْدًا دَعَا جِبْرِيلَ فَيَقُولُ إِنِّي أُبْغِضُ فُلَانًا فَأَبْغِضْهُ قَالَ فَيُبْغِضُهُ جِبْرِيلُ ثُمَّ يُنَادِي فِي أَهْلِ السَّمَاءِ إِنَّ اللَّهَ يُبْغِضُ فُلَانًا فَأَبْغِضُوهُ قَالَ فَيُبْغِضُونَهُ ثُمَّ تُوضَعُ لَهُ الْبَغْضَاءُ فِي الْأَرْضِ [1]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb; Telah menceritakan kepada kami Jarir dari Suhail dari Bapaknya dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya apabila Allah Subhanahu wa Ta'ala mencintai seseorang, maka Dia akan memanggil malaikat Jibril alaihi salam seraya berseru: 'Hai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai si fulan. Oleh karena itu, cintailah ia! ' Rasulullah bersabda: 'Akhirnya orang tersebut pun dicintai Jibril. Setelah itu, Jibril berseru di atas langit; 'Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala mencintai si fulan. OIeh karena itu, cintailah ia! ' Kemudian para penghuni langit pun mulai mencintainya pula.' Rasulullah  bersabda: 'Setelah itu para penghuni bumi juga mencintainya.' Sebaliknya, apabila Allah Subhanahu wa Ta'ala membenci seseorang, maka Dia akan memanggil malaikat Jibril dan berseru kepadanya: 'Sesungguhnya Aku membenci si fulan. Oleh karena itu, bencilah ia.' Rasulullah  berkata: 'Lalu malaikat Jibril berseru di langit; 'Sesungguhnya Allah Subhanahu wa Ta'ala membenci si fulan. OIeh karena bencilah ia!" Kemudian para penghuni langit membencinya. Setelah itu para penghuni dan penduduk bumi juga membencinya.

1.2. Barangsiapa Mencintai Perjumpaan Dengan Allah, Allah Juga Mencintai Perjumpaan Dengannya

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits  nomor 6507 dinyatakan bahwa barangsiapa Mencintai perjumpaan dengan Allah, Allah juga mencintai perjumpaan dengannya;

حَدَّثَنَا حَجَّاجٌ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ أَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَمَنْ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ كَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ قَالَتْ عَائِشَةُ أَوْ بَعْضُ أَزْوَاجِهِ إِنَّا لَنَكْرَهُ الْمَوْتَ قَالَ لَيْسَ ذَاكِ وَلَكِنَّ الْمُؤْمِنَ إِذَا حَضَرَهُ الْمَوْتُ بُشِّرَ بِرِضْوَانِ اللَّهِ وَكَرَامَتِهِ فَلَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ فَأَحَبَّ لِقَاءَ اللَّهِ وَأَحَبَّ اللَّهُ لِقَاءَهُ وَإِنَّ الْكَافِرَ إِذَا حُضِرَ بُشِّرَ بِعَذَابِ اللَّهِ وَعُقُوبَتِهِ فَلَيْسَ شَيْءٌ أَكْرَهَ إِلَيْهِ مِمَّا أَمَامَهُ كَرِهَ لِقَاءَ اللَّهِ وَكَرِهَ اللَّهُ لِقَاءَهُ اخْتَصَرَهُ أَبُو دَاوُدَ وَعَمْرٌو عَنْ شُعْبَةَ وَقَالَ سَعِيدٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ زُرَارَةَ عَنْ سَعْدٍ عَنْ عَائِشَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ [2]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hajjaj telah menceritakan kepada kami Hammam telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas dari Ubadah bin Shamit dari Nabi , bersabda: "Barangsiapa Mencintai perjumpaan dengan Allah, Allah juga mencintai perjumpaan dengannya, sebaliknya barangsiapa membenci perjumpaan dengan Allah, Allah juga membenci perjumpaan dengannya." Kontan 'Aisyah atau sebagian isteri beliau berkomentar 'kami juga cemas terhadap kematian! ' Nabi lantas bersabda: "Bukan begitu maksudnya, namun maksud yang benar, seorang mukmin jika kematian menjemputnya, ia diberi kabar gembira dengan keridhaan Allah dan karamah-Nya, sehingga tak ada sesuatu apapun yang lebih ia cintai daripada apa yang dihadapannya, sehingga ia mencintai berjumpa Allah, dan Allah pun mencintai berjumpa kepadanya. Sebaliknya orang kafir jika kematian menjemputnya, ia diberi kabar buruk dengan siksa Allah dan hukuman-Nya, sehingga tidak ada yang lebih ia cemaskan daripada apa yang di hadapannya, ia membenci berjumpa Allah, sehingga Allah pun membenci berjumpa dengannya." Abu Daud dan Amru meringkasnya dari Syu'bah dan Said mengatakan dari Qatadah dari Zurarah dari Sa'd dari 'Aisyah dari Nabi .

1.3. Jika Allah Dan Rasul-Nya Lebih Dicintainya Dari Selain Keduanya: Dapat Merasakan Manisnya Iman

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6941, dijelaskan Tiga perkara yang apabila ada pada diri seseorang, ia akan mendapatkan manisnya iman, antara lain dijadikannya Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya dari selain keduanya;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ حَوْشَبٍ الطَّائِفِيُّ، حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ، حَدَّثَنَا أَيُّوبُ، عَنْ أَبِي قِلَابَةَ، عَنْ أَنَسٍ ﵁ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ.»ِ [3] 

Artinya: Muhammad bin Abdullah bin Hawsyaib ath-Thaifi telah meriwayatkan kepada kami, Abdurrahhab meriwayatkan kepada kami, Ayyub meriwayatkan kepada kami dari Abu Qilabah, dari Anas radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah  bersabda, “Ada tiga hal; siapa saja yang memilikinya akan merasakan manisnya iman: (1) menjadikan Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya; (2) mencintai seseorang dan tidak mencintainya kecuali karena Allah; dan (3) membenci untuk kembali kepada kekufuran sebagaimana ia benci jika dilemparkan ke dalam api.”

1.4. Jika Aku Sudah Mencintai Hambaku, Maka Akulah Pendengarannya Yang Ia Jadikan Untuk Mendengar, Dan Pandangannya Yang Ia Jadikan Untuk Memandang

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6502, dijelaskan bahwa jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah, maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan;

حَدَّثَنِي مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ كَرَامَةَ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ مَخْلَدٍ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ بِلَالٍ حَدَّثَنِي شَرِيكُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي نَمِرٍ عَنْ عَطَاءٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِي وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِي عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ [4]

Artinya: Telah menceritakan kepadaku [Muhammad bin 'Utsman bin Karamah] telah menceritakan kepada kami [Khalid bin Makhlad] Telah menceritakan kepada kami [Sulaiman bin Bilal] telah menceritakan kepadaku [Syarik bin Abdullah bin Abi Namir] dari ['Atho`] dari [Abu Hurairah] menuturkan, Rasulullah  bersabda: "Allah berfirman; Siapa yang memusuhi wali-KU, maka Aku umumkan perang kepadanya, dan hamba-Ku tidak bisa mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan, jika hamba-Ku terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah, maka Aku mencintai dia, jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia meminta-Ku, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepada-Ku, pasti Ku-lindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguan-Ku untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (khawatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri khawatir ia merasakan kepedihan sakitnya."

1.5. Tidak Ada Sesuatu Yang Dicintai Oleh Allah Kecuali Dua Tetas Air Dan Dua Bekas

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 1209 dinyatakan tidak ada sesuatu yang dicintai oleh Allah kecuali dua tetas air dan dua bekas;

حَدَّثَنَا زِيَادُ بْنُ أَيُّوبَ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ هَارُونَ أَنْبَأَنَا الْوَلِيدُ بْنُ جَمِيلٍ الْفِلَسْطِينِيُّ عَنْ الْقَاسِمِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ شَيْءٌ أَحَبَّ إِلَى اللَّهِ مِنْ قَطْرَتَيْنِ وَأَثَرَيْنِ قَطْرَةٌ مِنْ دُمُوعٍ فِي خَشْيَةِ اللَّهِ وَقَطْرَةُ دَمٍ تُهَرَاقُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَمَّا الْأَثَرَانِ فَأَثَرٌ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَأَثَرٌ فِي فَرِيضَةٍ مِنْ فَرَائِضِ اللَّهِ قَالَ هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ [5]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ziyad bin Ayyub berkata, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Harun berkata, telah memberitakan kepada kami Al Walid bin Jamil Al Filasthini dari Al Qasim bin 'Abdurrahman dari Abu Umamah dari Nabi , beliau bersabda: "Tidak ada sesuatu yang dicintai oleh Allah kecuali dua tetas air dan dua bekas; tetesan air mata karena takut kepada Allah dan tetesan darah yang tertumpah di jalan Allah. Adapun dua bekas itu adalah; bekas karena di jalan Allah dan bekas karena melaksanakan kewajiban Allah." Ia berkata, "Hadits derajatnya hasan gharib."

1.6. Barangsiapa Yang Allah Berikan Agama, Berarti Allah Mencintainya.

Di dalam kitab Musnad Ahmad 3672 dinyatakan bahwa barangsiapa yang Allah berikan agama, berarti Allah mencintainya.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُبَيْدٍ حَدَّثَنَا أَبَانُ بْنُ إِسْحَاقَ عَنْ الصَّبَّاحِ بْنِ مُحَمَّدٍ عَنْ مُرَّةَ الْهَمْدَانِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَخْلَاقَكُمْ كَمَا قَسَمَ بَيْنَكُمْ أَرْزَاقَكُمْ وَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُعْطِي الدُّنْيَا مَنْ يُحِبُّ وَمَنْ لَا يُحِبُّ وَلَا يُعْطِي الدِّينَ إِلَّا لِمَنْ أَحَبَّ فَمَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ الدِّينَ فَقَدْ أَحَبَّهُ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُسْلِمُ عَبْدٌ حَتَّى يَسْلَمَ قَلْبُهُ وَلِسَانُهُ وَلَا يُؤْمِنُ حَتَّى يَأْمَنَ جَارُهُ بَوَائِقَهُ قَالُوا وَمَا بَوَائِقُهُ يَا نَبِيَّ اللَّهِ قَالَ غَشْمُهُ وَظُلْمُهُ وَلَا يَكْسِبُ عَبْدٌ مَالًا مِنْ حَرَامٍ فَيُنْفِقَ مِنْهُ فَيُبَارَكَ لَهُ فِيهِ وَلَا يَتَصَدَّقُ بِهِ فَيُقْبَلَ مِنْهُ وَلَا يَتْرُكُ خَلْفَ ظَهْرِهِ إِلَّا كَانَ زَادَهُ إِلَى النَّارِ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَمْحُو السَّيِّئَ بِالسَّيِّئِ وَلَكِنْ يَمْحُو السَّيِّئَ بِالْحَسَنِ إِنَّ الْخَبِيثَ لَا يَمْحُو الْخَبِيث [6]

Artinya: "Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Ubaid, telah menceritakan kepada kami Aban bin Ishaq, dari As-Sabbaah bin Muhammad, dari Muraah Al-Hamdani, dari Abdullah bin Mas’ud. Dia berkata, Rasulullah  bersabda: 'Sesungguhnya Allah telah membagi akhlak kalian sebagaimana Dia membagi rezeki kalian. Dan sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memberikan dunia kepada siapa yang Dia kehendaki dan kepada siapa yang Dia tidak kehendaki. Dan Dia tidak memberikan agama kecuali kepada orang yang Dia cintai. Maka barangsiapa yang Allah berikan agama, berarti Allah mencintainya. Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seorang hamba tidak akan mencapai keselamatan hingga hatinya selamat, lisannya selamat, dan dia beriman hingga tetangganya aman dari gangguannya.’ Para sahabat bertanya, ‘Apa yang dimaksud dengan gangguan, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, 'Gangguan adalah kejahatan dan kezaliman. Dan seorang hamba tidak akan memperoleh harta dari yang haram, kemudian dia menginfakkan darinya, lalu diberkahi oleh Allah. Dan dia tidak bersedekah dengan harta tersebut, kemudian diterima darinya. Dan dia tidak meninggalkan di belakang punggungnya kecuali itu akan menjadi beban baginya di akhirat. Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak menghapus keburukan dengan keburukan, tetapi Dia menghapus keburukan dengan kebaikan. Sesungguhnya yang busuk tidak akan menghapus yang busuk.’"

Di dalam kitab Mujam Thabarani Ausath hadits nomor 704-705 dinyatakan bahwa Puncak kecerdasan setelah iman kepada Allah adalah mencintai manusia;

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ بْنُ رَوَاحَةَ الرَّامَهُرْمُزِيُّ ، حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ مُحَمَّدُ بْنُ الْعَلاءِ الْهَمْدَانِيُّ ، حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ بَشِيرٍ بِشْرٍ الأَسَدِيُّ ، حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ بَشِيرٍ بِشْرٍ الأَسَدِيُّ ، حَدَّثَنَا حَسَنُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ زَيْدٍ الْعَلَوِيُّ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ ، عَنْ أَبِيهِ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ ، عَنْ أَبِيهِ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ ، عَنِ الْحُسَيْنِ بْنِ عَلِيٍّ ، عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ كَرَّمَ اللهُ وَجْهَهُ فِي الْجَنَّةِ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : قَالَ لِي جَبْرَائِيلُ : يَا مُحَمَّدُ ، أَحِبَّ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ ، وَعِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ ، وَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : أَوْجَزَ لِي جِبْرِيلُ الْخُطْبَةَ وَبِإِسْنَادِهِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : رَأْسُ الْعَقْلِ بَعْدَ الإِيمَانِ بِاللهِ التَّحَبُّبُ إِلَى النَّاسِ [7]

Artinya: Diriwayatkan oleh Abdul Wahab bin Rawahah ar-Ramahurmuzi, berkata: Telah meriwayatkan kepada kami Abu Kuraib Muhammad bin al-'Ala' al-Hamdani, berkata: Telah meriwayatkan kepada kami Hafsh bin Basyir al-Asadi, berkata: Telah meriwayatkan kepada kami Hasan bin Husain bin Zaid al-'Alawi, dari ayahnya, dari Ja'far bin Muhammad, dari ayahnya Muhammad bin Ali, dari ayahnya Ali bin Husain, dari Husain bin Ali, dari Ali bin Abi Thalib, semoga Allah memuliakan wajahnya di surga, berkata: Rasulullah  bersabda: "Jibril berkata kepadaku: Wahai Muhammad, cintailah siapa saja yang engkau kehendaki, tetapi ketahuilah bahwa engkau akan berpisah dengannya. Dan hiduplah sebagaimana yang engkau kehendaki, tetapi ketahuilah bahwa engkau pasti akan mati." Rasulullah  juga bersabda: "Jibril telah meringkaskan khotbah untukku." Dengan sanadnya, beliau  juga bersabda: "Puncak kecerdasan setelah iman kepada Allah adalah mencintai manusia."

2.  Keistimewaan Orang Mahabbah

Berikut dikemukakan beberapa ayat Al Quran dan Hadits yang memberikan gambaran keistimewaan bagi orang yang mahabbah, yakni sebagai berikut;

2.1. Jika Kamu Mencintai Allah Dan Rasul-Nya, Maka Kamu Akan Bersama Orang Yang Kamu Cintai

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 3688, dijelaskan di hari akhir nanti orang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya;

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ زَيْدٍ عَنْ ثَابِتٍ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ السَّاعَةِ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ قَالَ وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ لَا شَيْءَ إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ قَالَ أَنَسٌ فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَبَا بَكْرٍ وَعُمَرَ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ [8]

Artinya: Telah bercerita kepada kami [Sulaiman bin Harb] telah bercerita kepada kami [Hammad bin Zaid] dari [Tsabit] dari [Anas radliallahu 'anhu] bahwa ada seseorang yang bertanya kepada Nabi SAW tentang hari qiyamat. Katanya; "Kapan terjadinya hari qiyamat?". Beliau balik bertanya kepada orang itu; "Apa yang telah kami siapkan untuk menghadapinya?". Orang itu menjawab; "Tidak ada. Kecuali, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya SAW". Maka beliau berkata: "Kamu akan bersama orang yang kamu cintai". Anas berkata; "Kami belum pernah bergembira atas sesuatu seperti gembiranya kami dengan sabda Nabi SAW, yaitu: "Kamu akan bersama orang yang kamu cintai". Selanjutnya Anas berkata; "Maka aku mencintai Nabi SAW, Abu Bakr, 'Umar dan aku berharap dapat berkumpul bersama mereka disebabkan kecintaanku kepada mereka sekalipun aku tidak memiliki amal seperti amal mereka".

2.2. Seorang Hamba Yang Dipenuhi Kecintaan Kepada Allah, Allah Mengharamkan Baginya Neraka Di Hari Kiamat

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadis nomor 6938, dijelaskan bahwa Tidaklah seorang hamba yang dipenuhi kecintaan kepada Allah, melainkan Allah mengharamkan neraka baginya di hari kiamat;

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ الزُّهْرِيِّ أَخْبَرَنِي مَحْمُودُ بْنُ الرَّبِيعِ قَالَ سَمِعْتُ عِتْبَانَ بْنَ مَالِكٍ يَقُولُ غَدَا عَلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ رَجُلٌ أَيْنَ مَالِكُ بْنُ الدُّخْشُنِ فَقَالَ رَجُلٌ مِنَّا ذَلِكَ مُنَافِقٌ لَا يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا تَقُولُوهُ يَقُولُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ يَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ قَالَ بَلَى قَالَ فَإِنَّهُ لَا يُوَافَى عَبْدٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِهِ إِلَّا حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ النَّارَ [9]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami ['Abdan] Telah mengabarkan kepada kami [Abdullah] Telah mengabarkan kepada kami [Ma'mar] dari [Az Zuhri] telah menceritakan kepadaku [Mahmud bin Rabi'] mengatakan, aku mendengar [Itban bin Malik] mengatakan, Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pernah menemuiku, lantas ada seseorang bertanya; 'mana Malik bin Duhsyun? ' seseorang dari kami mengatakan; 'Dia munafik, tidak mencintai Allah dan Rasul-NYA.' Spontan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Bukankah kalian katakan bahwa ia mengucapkan; laa-ilaaha-illallah, untuk mencari wajah Allah?" Ia menjawab; 'Benar'. Maka Nabi bersabda: "Tidaklah seorang hamba dipenuhi kecintaan kepada Allah, melainkan Allah mengharamkan neraka baginya di hari kiamat."

2.3.  Seseorang Bersama Dengan Orang Yang Dia Cintai

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 13316, dinyatakan bahwa Seseorang itu bersama dengan yang dia cintai;

حَدَّثَنَا هَاشِمٌ حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ الرَّجُلُ يُحِبُّ الرَّجُلَ وَلَا يَسْتَطِيعُ أَنْ يَعْمَلَ كَعَمَلِهِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ فَقَالَ أَنَسٌ فَمَا رَأَيْتُ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرِحُوا بِشَيْءٍ قَطُّ إِلَّا أَنْ يَكُونَ الْإِسْلَامَ مَا فَرِحُوا بِهَذَا مِنْ قَوْلِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أَنَسٌ فَنَحْنُ نُحِبُّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَعْمَلَ كَعَمَلِهِ فَإِذَا كُنَّا مَعَهُ فَحَسْبُنَا [10]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hasyim, telah menceritakan kepada kami Sulaiman dari Tsabit al- bunani dari Anas Bin Malik berkata, datang seorang laki-laki kepada Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam, lalu berkata, wahai Rasulullah, ada seorang laki-laki yang suka kepada temannya namun tidak bisa beramal sebagaimana temannya tersebut. Kemudian Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam bersabda, "Seseorang itu bersama dengan yang dia cintai". Anas berkata, sejak hari itu saya tidak melihat para sahabat Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam merasa lebih gembira dengan sesuatu selain Islam daripada ucapan beliau ini. Kemudian Anas berkata, dan kami sangat menyukai Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam sekalipun kami tidak sanggup untuk beramal sebagaimana amalannya, dan kalulah kami bisa bersamanya maka hal itu cukup bagi kami.

3.  Karakter Orang Taqwa Di Tingkat Mahabbah

Berikut dikemukakan ayat-ayat Al Quran dan Hadits yang dapat memberikan gambaran tentang orang yang memiliki karakter taqwa di tingkat mahabbah adalah sebagai berikut;

3.1. Jika Kamu (Benar-Benar) Mencintai Allah, Ikutilah Nabi Muhammad SAW

Al Quran Surat Ali 'Imran/ 3: 31, menjelaskan Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad SAW);

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Artinya: Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Ali 'Imran: 31)

3.2. Kaum Yang Allah Mencintai Mereka Dan Merekapun Mencintai Allah

Di dalam Al Quran Surat Al-Ma'idah/ 5: 54, disebutkan bahwa barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya), lagi Maha Mengetahui. (QS. Al-Ma'idah/ 5: 54)

3.3. Lebih Mencintai Allah, Rasul-Nya Dan Jihad Di Jalannya

Al Quran surat At-Taubah/ 9: 24 mengandung pengertian bahwa Allah, Rasul-Nya dan juhad di jalan-Nya harus lebih dicintai daripada apa saja yang dimilikinya;

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Artinya: Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.(QS. At-Taubah/ 9: 24)

3.4. Mencintai Allah Atas Nikmat Yang Telah Di Berikan Oleh-Nya

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 4123, dijelaskan Cintailah Allah atas nikmat yang telah di berikan oleh-Nya;

حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ سُلَيْمَانُ بْنُ الْأَشْعَثِ قَالَ أَخْبَرَنَا يَحْيَى بْنُ مَعِينٍ حَدَّثَنَا هِشَامُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سُلَيْمَانَ النَّوْفَلِيِّ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيِّ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحِبُّوا اللَّهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ مِنْ نِعَمِهِ وَأَحِبُّونِي بِحُبِّ اللَّهِ وَأَحِبُّوا أَهْلَ بَيْتِي بِحُبِّي قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ إِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ [11]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Abu Daud Sulaiman bin Al Asy'ats] dia berkata; telah mengabarkan kepada kami [Yahya bin Ma'in] telah menceritakan kepada kami [Hisyam bin Yusuf] dari [Abdullah bin Sulaiman An Naufali] dari [Muhammad bin Ali bin Abdullah bin Abbas] dari [ayahnya] dari [Abdullah bin Abbas] dia berkata; Rasulullah  bersabda: "Cintailah Allah atas nikmat yang telah di berikan oleh-Nya, dan cintailah aku karena cinta kepada Allah serta cintailah ahli baitku karena cinta kepadaku." Abu Isa berkata; "Hadis ini adalah hadis hasan gharib, kami hanya mengetahui hadis ini dari jalur ini."

3.5. Allah Menyukai Orang Yang Menampakkan Kenikmatan Yang Diberi Allah

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 19934 dinyatakan bahwa Barangsiapa telah diberi nikmat oleh Allah, sesungguhnya Allah lebih suka tanda nikmatnya diperlihatkan kepada makhluknya;

حَدَّثَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنِ الْفُضَيْلِ بْنِ فَضَالَةَ رَجُلٌ مِنْ قَيْسٍ حَدَّثَنَا أَبُو رَجَاءٍ الْعُطَارِدِيُّ قَالَ خَرَجَ عَلَيْنَا عِمْرَانُ بْنُ حُصَيْنٍ وَعَلَيْهِ مِطْرَفٌ مِنْ خَزٍّ لَمْ نَرَهُ عَلَيْهِ قَبْلَ ذَلِكَ وَلَا بَعْدَهُ فَقَالَ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ أَنْعَمَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْهِ نِعْمَةً فَإِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يُحِبُّ أَنْ يُرَى أَثَرُ نِعْمَتِهِ عَلَى خَلْقِهِ وَقَالَ رَوْحٌ بِبَغْدَادَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ  [12]

Artinya: Telah menceritakan pada kami Rauh, telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Al Fudlail bin Fadlalah seorang laki-laki dari Kabilah Qais; telah menceritakan kepada kami Abu Raja` Al 'Utharidi dia berkata, 'Imran bin Hushain keluar menemui kami dengan mengenakan pakaian bercorak dari sutera, kami belum pernah melihatnya sebelum ataupun sesudahnya, lalu dia berkata; Sesungguhnya Rasulullah  bersabda: "Barangsiapa telah diberi nikmat oleh Allah, sesungguhnya Allah lebih suka tanda nikmatnya diperlihatkan kepada makhluknya." Rauh di Baghdad berkata; "Tanda nikmatnya lebih suka diperlihatkan kepada hambanya."

3.6. Menjaga Asma’ul Husna

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 8410 dinyatakan bahwa Allah memiliki 99 nama, barang siapa menjaganya masuk surga, Allah ganjil dan menyukai yang ganjil;

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ قَالَ حَفِظْنَاهُ مِنْ أَبِي الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رِوَايَةً قَالَ لِلَّهِ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ اسْمًا مِائَةٌ إِلَّا وَاحِدًا لَا يَحْفَظُهَا أَحَدٌ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ وَهُوَ وَتْرٌ يُحِبُّ الْوَتْرَ [13]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Abdullah telah menceritakan kepada kami Sufyan dia berkata; Kami hafal dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah secara periwayatan, dia berkata; "Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama, seratus kurang satu, tidaklah seseorang menghafalnya melainkan ia akan masuk surga, dan Dia adalah witir dan menyukai yang ganjil."

3.7. Shalat Witir

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 453 dinyatakan bahwa sesungguhnya Allah adalah witir (ganjil) dan menyukai dengan sesuatu yang ganjil, maka berwitirlah kalian wahai para ahli Qur'an;

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ عَيَّاشٍ حَدَّثَنَا أَبُو إِسْحَقَ عَنْ عَاصِمِ بْنِ ضَمْرَةَ عَنْ عَلِيٍّ قَالَ الْوِتْرُ لَيْسَ بِحَتْمٍ كَصَلَاتِكُمْ الْمَكْتُوبَةِ وَلَكِنْ سَنَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ فَأَوْتِرُوا يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ قَالَ وَفِي الْبَاب عَنْ ابْنِ عُمَرَ وَابْنِ مَسْعُودٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ عَلِيٍّ حَدِيثٌ حَسَنٌ [14]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin 'Ayyas telah menceritakan kepada kami Abu Ishaq dari 'Ashim bin Dlamrah dari Ali dia berkata, shalat witir tidaklah wajib sebagaimana shalat wajib kalian, akan tetapi ia merupakan sunnah Rasulullah . Dan dia juga berkata, sesungguhnya Allah adalah witir (ganjil) dan menyukai dengan sesuatu yang ganjil, maka berwitirlah kalian wahai para ahli Qur'an. (perawi) berkata, dan dalam bab ini (ada juga riwayat -pent.) dari Ibnu Umar, Ibnu Mas'ud dan Ibnu 'Abbas. Abu Isa berkata, hadits Ali adalah hadits hasan.

3.8. Orang Yang Paling Aku Cintai Dan Yang Tempat Duduknya Lebih Dekat Kepadaku Pada Hari Kiamat Ialah Orang Yang Akhlaknya Paling Bagus

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2018 Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan yang tempat duduknya lebih dekat kepadaku pada hari kiamat ialah orang yang akhlaknya paling bagus;

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْحَسَنِ بْنِ خِرَاشٍ الْبَغْدَادِيُّ حَدَّثَنَا حَبَّانُ بْنُ هِلَالٍ حَدَّثَنَا مُبَارَكُ بْنُ فَضَالَةَ حَدَّثَنِي عَبْدُ رَبِّهِ بْنُ سَعِيدٍ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ قَالَ الْمُتَكَبِّرُونَ قَالَ أَبُو عِيسَى وَفِي الْبَاب عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَهَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَرَوَى بَعْضُهُمْ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ الْمُبَارَكِ بْنِ فَضَالَةَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ الْمُنْكَدِرِ عَنْ جَابِرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَمْ يَذْكُرْ فِيهِ عَنْ عَبْدِ رَبِّهِ بْنِ سَعِيدٍ وَهَذَا أَصَحُّ وَالثَّرْثَارُ هُوَ الْكَثِيرُ الْكَلَامِ وَالْمُتَشَدِّقُ الَّذِي يَتَطَاوَلُ عَلَى النَّاسِ فِي الْكَلَامِ وَيَبْذُو عَلَيْهِمْ [15]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Al Hasan bin Hirasy Al Baghdadi, telah menceritakan kepada kami Habban bin Hilal, telah menceritakan kepada kami Mubarak bin Fadlalah, telah menceritakan kepadaku Abdu Rabbih bin Sa'id dari Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir bahwa Rasulullah  bersabda: "Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan yang tempat duduknya lebih dekat kepadaku pada hari kiamat ialah orang yang akhlaknya paling bagus. Dan sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh tempat duduknya dariku pada hari kiamat ialah orang yang paling banyak bicara (kata-kata tidak bermanfaat), yang suka memperolok manusia dan para Mutafaihiq." Para shahabat bertanya, "Wahai Rasulullah  , kami tahu orang yang banyak bicara (kata-kata tidak bermanfaat) dan yang suka memperolok manusia, tapi para Mutafaihiq siapakah mereka itu?" Nabi  menjawab: "Yaitu orang-orang yang sombong." Berkata Abu Isa: Hadits semakna juga diriwayatkan dari Abu Hurairah dan ini merupakan hadits Hasan Gharib melalui jalur ini. Sebagian mereka meriwayatkan hadits ini dari Mubarak bin Fadlalah dari Muhammad bin Al Munkadir dari Jabir dari Nabi  namun tidak disebutkan didalamnya dari Abdu Rabbih bin Sa'id dan riwayat ini lebih shahih.

3.9. Mencintai Ali ibnu Abu Thalib Menantu Rasulullah

Di dalam kitab Hilyatul Aulia hadits nomor 201 dinyatakan inilah Ali cintailah dia karena cinta kepadaku;

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ يَعْقُوبَ بْنِ الْمَهْرَجَانِ الْمُعَدِّلُ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ، ثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ إِسْحَاقَ الضَّبِّيُّ، ثَنَا قَيْسُ بْنُ الرَّبِيعِ، عَنْ لَيْثِ بْنِ أَبِي سُلَيْمٍ، عَنِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ادْعُوا لِي سَيِّدَ الْعَرَبِ»، يَعْنِي عَلِيَّ بْنَ أَبِي طَالِبٍ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: أَلَسْتَ سَيِّدَ الْعَرَبِ؟ فَقَالَ: «أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ، وَعَلِيٌّ سَيِّدُ الْعَرَبِ»، فَلَمَّا جَاءَ أَرْسَلَ إِلَى الْأَنْصَارِ فَأَتَوْهُ، فَقَالَ لَهُمْ: «يَا مَعْشَرَ الْأَنْصَارِ أَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدَهُ أَبَدًا؟» قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: «هَذَا عَلِيٌّ فَأَحِبُّوهُ بِحُبِّي، وَأَكْرِمُوهُ بِكَرَامَتِي، فَإِنَّ جِبْرِيلَ أَمَرَنِي بِالَّذِي قُلْتُ لَكُمْ عَنِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ» رَوَاهُ أَبُو بِشْرٍ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ، عَنْ عَائِشَةَ، نَحْوَهُ فِي السُّؤْدَدِ مُخْتَصَرًا [16]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad ibnu Ya’qub ibnu Al Mahrajani Al Mu’adil, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Utsman ibnu Abi Syaibah, telah menceritakan kepada kami Ibrahim ibnu Ishaq Ad Dhabi, telah menceritakan kepada kami Qais ibnu Rabi’, dari Lais ibnu Abi Sulaim, dari ibnu Abi Lail, dari Al Hasan ibnu Ali, berkata: Rasulullah  bersabda: “Panggilkan untukku pembesar arab”, yaitu Ali ibnu Abi Thalib, Maka Aisyah bertanya: Bukankah engkau pembesar Arab ? Maka Rasulullah  bersabda: “ Aku pembesar anak Adam, dan Ali pembesar Arab, maka ketika datang diutus ke kaum Anshar dan ketika datang di kaum Anshar Rasulullah bersabda kepada mereka: “Wahai kaum Anshar tidakkan kalian mau aku tunjukkan pada apa yang jika kamu berpegang teguh kepadanya, kamu setelah itu tidak akan tersesat selamanya ?, mereka menjawab: kenapa tidak ya Rasulullah, Rasulullah  bersabda : “inilah Ali cintailah dia karena cinta kepadaku, karena sesungguhnya Jibril menyuruhku dengan yang telah aku katakan kepada kalian dari Allah Azza Wajalla”, Riwayat Abu Bisyr, Said ibnu Jbair, dari ‘Aisyah selian di Syu’dad Muhtasharan

3.10.  Mencintai Husain Cucu Rasulullah SAW

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 3775 dinyatakan bahwa Husain bagian dariku, dan aku merupakan bagian dari Husain, Allah akan mencintai orang yang mencintai Husain;

حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ حَدَّثَنَا إِسْمَعِيلُ بْنُ عَيَّاشٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ رَاشِدٍ عَنْ يَعْلَى بْنِ مُرَّةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حُسَيْنٌ مِنِّي وَأَنَا مِنْ حُسَيْنٍ أَحَبَّ اللَّهُ مَنْ أَحَبَّ حُسَيْنًا حُسَيْنٌ سِبْطٌ مِنْ الْأَسْبَاطِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ وَإِنَّمَا نَعْرِفُهُ مِنْ حَدِيثِ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ وَقَدْ رَوَاهُ غَيْرُ وَاحِدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُثْمَانَ بْنِ خُثَيْمٍ [17]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Al Hasan bin 'Arafah telah menceritakan kepada kami Isma'il bin 'Ayyasy dari Abdullah bin Utsman bin Hutsaim dari Sa'id bin Rasyid dari Ya'la bin Murrah dia berkata; Rasulullah  bersabda: "Husain bagian dariku, dan aku merupakan bagian dari Husain, Allah akan mencintai orang yang mencintai Husain, Husain termasuk dari sibt (keturunan yang akan menurunkan banyak ummat) dari beberapa ummat." Abu Isa berkata; "Hadits ini adalah hadits hasan, kami hanya mengetahui hadits ini dari hadits Abdullah bin Utsman bin Khutsaim, dan telah di riwayatkan pula oleh beberapa perawi dari Abdullah bin Utsman bin Khutsaim."

3.11.  Mencintai Sahabat Rasulullah SAW

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi Hadits Nomor 3862 dinyatakan bertakwalah kalian kepada Allah terhadap hak-hak para sahabatku, janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran (dalam cacian dan cercaan) sepeninggalku, barangsiapa yang mencintai mereka, maka dengan kecintaanku, aku pun mencintai mereka;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا يَعْقُوبُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنَا عَبِيدَةُ بْنُ أَبِي رَائِطَةَ عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ زِيَادٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي اللَّهَ اللَّهَ فِي أَصْحَابِي لَا تَتَّخِذُوهُمْ غَرَضًا بَعْدِي فَمَنْ أَحَبَّهُمْ فَبِحُبِّي أَحَبَّهُمْ وَمَنْ أَبْغَضَهُمْ فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ وَمَنْ آذَاهُمْ فَقَدْ آذَانِي وَمَنْ آذَانِي فَقَدْ آذَى اللَّهَ وَمَنْ آذَى اللَّهَ يُوشِكُ أَنْ يَأْخُذَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ غَرِيبٌ لَا نَعْرِفُهُ إِلَّا مِنْ هَذَا الْوَجْهِ [18]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yahya telah menceritakan kepada kami Ya'qub bin Ibrahim bin Sa'd telah menceritakan kepada kami 'Abidah bin Abu Ra`ithah dari Abdurrahman bin Ziyad dari Abdullah bin Mughaffal dia berkata: Rasulullah  bersabda: "Bertakwalah kalian kepada Allah, bertakwalah kalian kepada Allah terhadap hak-hak para sahabatku, janganlah kalian menjadikan mereka sebagai sasaran (dalam cacian dan cercaan) sepeninggalku, barangsiapa yang mencintai mereka, maka dengan kecintaanku, aku pun mencintai mereka, dan barangsiapa membenci mereka, maka dengan kebencianku, aku pun membenci mereka (yang membenci sahabat), barangsiapa menyakiti mereka, sungguh ia telah menyakitiku, barangsiapa menyakitiku, berarti ia telah menyakiti Allah, barangsiapa menyakiti Allah, hampir saja Allah menyiksanya." Abu Isa berkata: "Hadits ini adalah hadits hasan gharib, kami tidak mengetahuinya kecuali dari jalur ini."

3.12.  Mencintai Bangsa Arab

Di dalam kitab Al-Mu’jam Al-Kabir hadits nomor 13650 dinyatakan bahwa siapa mencintai bangsa Arab maka dengan cintaku Aku mencintainya;

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ بْنُ أَحْمَدَ، وَأَبُو حَنِيفَةَ مُحَمَّدُ بْنُ حَنِيفَةَ الْوَاسِطِيُّ، قَالَا: ثنا أَحْمَدُ بْنُ الْمِقْدَامِ الْعِجْلِيُّ، ثنا حَمَّادُ بْنُ وَاقِدٍ الصَّفَّارُ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ ذَكْوَانَ، عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ، قَالَ: إِنَّا لَقُعُودٌ بِفِنَاءِ رَسُولِ اللهِ ﷺ، إِذْ مَرَّتِ امْرَأَةٌ، فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ: هَذِهِ ابْنَةُ مُحَمَّدٍ، فَقَالَ رَجُلٌ: إِنَّ مَثَلَ مُحَمَّدٍ فِي بَنِي هَاشِمٍ مَثَلُ الرَّيْحَانَةِ فِي وَسَطِ النَّتْنِ، فَانْطَلَقْتِ الْمَرْأَةُ فَأَخْبَرْتِ النَّبِيَّ ﷺ، فَجَاءَ النَّبِيُّ ﷺ يُعْرَفُ فِي وَجْهِهِ الْغَضَبُ حَتَّى قَامَ عَلَى الْقَوْمِ، فَقَالَ: «مَا بَالُ أَقْوَالٍ تَبْلُغُنِي عَنْ أَقْوَامٍ، إِنَّ اللهَ ﷿ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ، وَالْأَرْضَ سَبْعًا، فَاخْتَارَ الْعُلْيَا مِنْهَا فَسَكَنَهَا، وَأَسْكَنَ سَمَاوَاتِهِ مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ، وَخَلَقَ الْأَرْضَ سَبْعًا، فَاخْتَارَ الْعُلْيَا مِنْهَا فَأَسْكَنَهَا مَنْ شَاءَ مِنْ خَلْقِهِ، وَخَلَقَ الْخَلْقَ فَاخْتَارَ مِنَ الْخَلْقِ بَنِي آدَمَ، وَاخْتَارَ مِنْ بَنِي آدَمَ الْعَرَبَ، وَاخْتَارَ مِنَ الْعَرَبِ مُضَرَ، وَاخْتَارَ مِنْ مُضَرَ قُرَيْشًا، وَاخْتَارَ مِنْ قُرَيْشٍ بَنِي هَاشِمٍ، وَاخْتَارَنِي مِنْ بَنِي هَاشِمٍ، فَأَنَا مِنْ خِيَارٍ إِلَى خِيَارٍ، فَمَنْ أَحَبَّ الْعَرَبَ فَبِحُبِّي أَحَبَّهُمْ، وَمَنْ أَبْغَضَ الْعَرَبَ فَبِبُغْضِي أَبْغَضَهُمْ» [19] "

Artinya: Abdan bin Ahmad dan Abu Hanifah Muhammad bin Hanifah al-Wasithi meriwayatkan bahwa Ahmad bin al-Miqdam al-‘Ijli telah menceritakan kepada mereka, berkata: telah menceritakan kepada kami Hammad bin Waqid ash-Shaffar, dari Muhammad bin Dzkwan, dari ‘Amr bin Dinar, dari Abdullah bin Umar. Ia berkata: Ketika kami sedang duduk di halaman rumah Rasulullah , lewatlah seorang wanita. Sebagian orang berkata, “Itu adalah putri Muhammad.” Lalu seseorang berkata, “Perumpamaan Muhammad di tengah-tengah Bani Hasyim seperti sekuntum bunga harum di tengah bau busuk.” Wanita itu pun pergi dan menyampaikan ucapan itu kepada Nabi . Maka Nabi  datang, tampak pada wajah beliau tanda kemarahan, hingga beliau berdiri di hadapan orang-orang itu dan bersabda: “Ada apa dengan ucapan-ucapan yang sampai kepadaku dari sebagian orang? Sesungguhnya Allah menciptakan langit tujuh tingkat dan memilih yang paling tinggi lalu menempatinya, dan Dia menempatkan di langit-Nya siapa pun yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya. Dan Allah menciptakan bumi tujuh lapis, kemudian memilih bagian yang paling tinggi dan menempatkan padanya siapa yang Dia kehendaki dari makhluk-Nya. Allah menciptakan seluruh makhluk, lalu memilih dari makhluk itu Bani Adam. Dari Bani Adam, Dia memilih bangsa Arab; dari bangsa Arab, Dia memilih kabilah Mudhar; dari Mudhar, Dia memilih Quraisy; dari Quraisy, Dia memilih Bani Hasyim; dan Dia memilihku dari Bani Hasyim. Maka aku adalah pilihan dari generasi pilihan. Barang siapa mencintai bangsa Arab, maka dengan cintanya kepadakulah ia mencintai mereka. Dan barang siapa membenci bangsa Arab, maka dengan kebenciannya kepadakulah ia membenci mereka.”

3.13.  Silaturahmi Menumbuhkan Rasa Cinta Dalam Keluarga

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 1979 dinyatakan bahwa sesungguhnya silaturahmi itu menumbuhkan rasa cinta dalam keluarga

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ الْمُبَارَكِ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عِيسَى الثَّقَفِيِّ عَنْ يَزِيدَ مَوْلَى الْمُنْبَعِثِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِي الْأَهْلِ مَثْرَاةٌ فِي الْمَالِ مَنْسَأَةٌ فِي الْأَثَرِ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ مِنْ هَذَا الْوَجْهِ وَمَعْنَى قَوْلِهِ مَنْسَأَةٌ فِي الْأَثَرِ يَعْنِي بِهِ الزِّيَادَةَ فِي الْعُمُرِ [20]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Muhammad, telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Mubarak dari Abdul Malik bin Isa Ats Tsaqafi dari Yazid Maula Al Munba'itsi dari Abu Hurairah dari Nabi , beliau bersabda: "Belajarlah dari nasab kalian yang dapat membantu untuk silaturrahmi karena silaturrahmi itu dapat membawa kecintaan dalam keluarga dan memperbanyak harta, serta dapat memperpanjang umur." Abu Isa berkata: Ini merupakan hadits gharib melalui jalur ini.

Di dalam kitab Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain hadits nomor 7471 juga dinyatakan sesungguhnya menyambung hubungan rahim adalah sebab sebuah kecintaan;

أَخْبَرَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ السَّيَّارِيُّ، أَنْبَأَ أَبُو الْمُوَجَّهِ، أَنْبَأَ عَبْدَانُ، أَنْبَأَ عَبْدُ اللَّهِ عَنْ عَبْدِ الْمَلِكِ بْنِ عِيسَى الثَّقَفِيُّ، عَنْ يَزِيدَ، مَوْلَى الْمُنْبَعِثِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، ﵁ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: «تَعَلَّمُوا مِنْ أَنْسَابِكُمْ مَا تَصِلُونَ بِهِ أَرْحَامَكُمْ فَإِنَّ صِلَةَ الرَّحِمِ مَحَبَّةٌ فِي الْأَهْلِ مَثْرَاةٌ فِي الْمَالِ مَنْسَأَةٌ فِي الْأَثَرِ» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ " [21]

Artinya: Abu al-‘Abbas as-Sayyari telah mengabarkan kepada kami, ia berkata: Abu al-Muwajjih mengabarkan kepada kami, Abdan mengabarkan kepada kami, Abdullah meriwayatkan dari Abdul Malik bin ‘Isa ats-Tsaqafi, dari Yazid maula al-Munba‘its, dari Abu Hurairah, dari Nabi , beliau bersabda: “Pelajarilah dari nasab kalian apa yang dapat digunakan untuk menyambung tali silaturahmi, karena sesungguhnya silaturahmi itu menumbuhkan rasa cinta dalam keluarga, menambah keberkahan pada harta, dan memanjangkan umur.” Hadits ini shahih sanadnya, namun tidak diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.

3.14.  Menyegerakan Berbuka Puasa

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 700 dinyatakan bahwa 'Sesungguhnya hamba-Ku yang paling Aku cintai ialah yang menyegerakan berbuka puasa;

حَدَّثَنَا إِسْحَاقُ بْنُ مُوسَى الْأَنْصَارِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ، عَنِ الْأَوْزَاعِيِّ، عَنْ قُرَّةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ أَبِي سَلَمَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: قَالَ اللهُ: «إِنَّ أَحَبَّ عِبَادِي إِلَيَّ أَعْجَلُهُمْ فِطْرًا» [22]

Artinya: Diriwayatkan oleh Ishaq bin Musa al-Anshari, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Walid bin Muslim, dari al-Auza‘i, dari Qurrah bin Abdurrahman, dari az-Zuhri, dari Abu Salamah, dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah  bersabda bahwa Allah berfirman: “Sesungguhnya hamba-Ku yang paling Aku cintai adalah yang paling cepat dalam berbuka (ketika berpuasa).”

3.15. Mencintai Untuk Saudaranya Sebagaimana Dia Mencintai Untuk Dirinya Sendiri

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 13 dinyatakan bahwa tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri;

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ قَالَ حَدَّثَنَا يَحْيَى عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَنْ حُسَيْنٍ الْمُعَلِّمِ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ [23]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Musaddad berkata, telah menceritakan kepada kami Yahya dari Syu'bah dari Qotadah dari Anas dari Nabi  Dan dari Husain Al Mu'alim berkata, telah menceritakan kepada kami Qotadah dari Anas dari Nabi , beliau bersabda: "Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga dia mencintai untuk saudaranya sebagaimana dia mencintai untuk dirinya sendiri".

3.16. Mencintai Saudaranya Sesama Muslim Atau Untuk Tetangganya Sebagaimana Yang Ia Cintai Untuk Dirinya Sendiri

Sedangkan di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 45 juga dinyatakan bahwa termasuk dari bagian keimanan adalah mencintai saudaranya sesama muslim atau untuk tetangganya sebagaimana yang ia cintai untuk dirinya sendiri;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى وَابْنُ بَشَّارٍ قَالَا حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ قَالَ سَمِعْتُ قَتَادَةَ يُحَدِّثُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ أَوْ قَالَ لِجَارِهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ [24]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin al-Mutsanna dan Ibnu Basysyar keduanya berkata, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dia berkata, aku mendengar Qatadah menceritakan dari Anas bin Malik dari Nabi , beliau bersabda: "Tidaklah salah seorang dari kalian beriman hingga dia mencintai untuk saudaranya, atau dia mengatakan, 'untuk tetangganya sebagaimana yang ia cintai untuk dirinya sendiri."

3.17. Mencintai Kebaikan Bagi Saudaranya Sebagaimana Ia Mencintai Kebaikan Bagi Dirinya Sendiri

Di dalam kitab hadits Sunan Nasai hadits nomor 5016 dinyatakan tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana ia mencintai kebaikan bagi dirinya sendiri;

أَخْبَرَنَا مُوسَى بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ عَنْ حُسَيْنٍ وَهُوَ الْمُعَلِّمُ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِأَخِيهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ مِنْ الْخَيْرِ [25]

Artinya: Telah mengkhabarkan kepada kami Musa bin Abdur Rahman, dia berkata; telah menceritakan kepada kami Abu Usamah dari Husain yaitu Al Mua'allim dari Qatadah dari Anas bahwa Rasulullah  bersabda: "Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada di tanganNya, tidaklah sempurna keimanan salah seorang di antara kalian hingga ia mencintai kebaikan bagi saudaranya sebagaimana ia mencintai kebaikan bagi dirinya sendiri."

3.18. Mencintai Manusia Sebagaimana Dia Mencintai Dirinya Sendiri Dan Mencintai Saudaranya Hanya Karena Allah Azzawajalla

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 13875 ditegaskan bahwa Tidak (sempurna) iman seseorang sehingga mencintai manusia sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri dan mencintai saudaranya hanya karena Allah Azzawajalla;

حَدَّثَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ قَتَادَةَ قَالَ سَمِعْتُ أَنَسًا يُحَدِّثُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لِلنَّاسِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ وَحَتَّى يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ [26]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Rouh telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Qatadah berkata; saya telah mendengar Anas menceritakan dari Nabi  bersabda: "Tidak (sempurna) iman seseorang sehingga mencintai manusia sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri dan mencintai saudaranya hanya karena Allah Azzawajalla "

3.19. Mencintai Orang Sebagaimana Kamu Suka Mendapatkannya

Di dalam kitab Mujam Thabarani Kabir hadits nomor 5478 disebutkan amal yang dapat mendekatkan ke surga dan menjauhkan dari neraka, salah satunya mencintai untuk saudaranya apa yang dia senang mendapatkannya dan meninggalkan untuk manusia apa yang dia tidak suka menerimanya;

 حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ الْحَضْرَمِيُّ، ثنا أَبُو كُرَيْبٍ، وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ، ح وَحَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ هَارُونَ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ قَالُوا: ثنا يَحْيَى بْنُ عِيسَى، عَنِ الْأَعْمَشِ، عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ، عَنِ الْمُغِيرَةِ بْنِ سَعْدِ بْنِ الْأَخْرَمِ، عَنْ أَبِيهِ أَوْ عَنْ عَمِّهِ يَشُكُّ الْأَعْمَشُ قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ ﷺ، فَقُلْتُ: يَا نَبِيَّ اللهِ، دُلَّنِي عَلَى عَمِلٍ يُقَرِّبُنِي مِنَ الْجَنَّةِ، وَيُبَاعِدُنِي مِنَ النَّارِ، فَسَكَتَ سَاعَةً، ثُمَّ رَفَعَ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ، فَنَظَرَ فَقَالَ: «تَعْبُدُ اللهَ لَا تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا، وَتُقِيمُ الصَّلَاةَ، وَتُؤْتِي الزَّكَاةَ، وَتَصُومُ رَمَضَانَ، وَتُحِبُّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْكَ، وَمَا كَرِهْتَ أَنْ يُؤْتَى إِلَيْكَ فَدَعِ النَّاسَ مِنْهُ» [27]

Artinya: Telah menceriterakan kepada kami Muhammad ibnu Abdillah Al Hadramiy, telah menceriterakan kepada kami Abu Kuraib dan ‘Utsman ibnu Abi Syaibah, dan telah menceriterakan kepada kami Musa ibnu Harun telah menceriterakan kepada kami Muhammad ibnu Abdillahibnu Numair berkata: telah menceriterakan kepada kami Yahya ibnu ‘Isa dari Al A’masi dari Umar ibnu Murah dari Al Mughirah dari said ibnu Al Ahram dari Bapaknya atau Pamannya A’mas ragu berkata: Aku mendatangi Nabi Muhammad  maka aku berkata: Wahai Nabi tunjukkan kepadaku amal yang dapat mendekatkanku ke surga dan menjauhkannku ke neraka, maka beliau diam sejenak dan mengangkat kepalanya ke langit, maka beliau melihat dan berkata: Kamu menyembah Allah tidak mensekutukannya dengan sesuatupun, dan kamu menegakkan shalat, dan membayar zakat, dan berpuasa di bulan Ramadhan, dan kamu mencintai untuk orang lain, apa yang kamu suka mendapatkannya, dan apa yang kamu tidak suka mendapatkannya, maka kamu meninggalkannya untuk orang lain.

4.  Taqwa Di Tingkat Mahabbah

Di mulai dari tingkat ketaqwaan di tingkat ihsan ke atas, yang harus dipahami  adalah ketetapan yang berlaku sebagaimana yang ditegaskan di dalam Al Quran surat Ar-Rahman/ 55: 60;

هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ

Artinya: Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).(QS. Ar-Rahman/ 55: 60)

Yakni kebaikan akan dibalas dengan kebaikan yang setingkat, mencintai akan di balas dicintai, menyayangi akan dibalas di sayangi, meridhai akan dibalas diridhai dan seterusnya. Hal ini juga senada dengan perintah Allah yang termuat di dalam Al Quran surat Al-Qashash/ 28: 77 untuk berbuat ihsan sebagaimana Allah telah berbuat ihsan kepada hambanya;

وَابْتَغِ فِيمَا آتَاكَ اللَّهُ الدَّارَ الْآخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَأَحْسِنْ كَمَا أَحْسَنَ للَّهُ إِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ فِي الْأَرْضِ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِينَ

Artinya: Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash/ 28: 77)

Dari ayat di atas dapat dipahami sesungguhnya kebaikan mencintai, menyayangi, meridhai dan kebaikan lainnya telah diberikan oleh Allah, maka sudah sepatutnya manusia sebagai hambanya melakukan amal kebaikan yang didasari karena cinta, sayang dang ridha atas ketetapan Allah.

Dengan demikian maka ayat dan hadits berikut mengandung pengertian bahwa Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa, dalam pengertian bahwa Allah mencintai orang yang bertaqwa, yakni orang yang ketaqwaanya hingga taqwa di tingkat mahabbah.

Di dalam Al Quran surat Ali-'Imran/ 3: 76  ditegaskan bahwa sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa;

بَلَى مَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ وَاتَّقَى فَإِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَّقِينَ

Artinya: (Bukan demikian), sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, maka sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS. Ali-'Imran/ 3: 76 )

Di dalam kitab Mujam Thabarani Kabir hadits nomor 4237 ditegaskan bahwa yang paling aku cintai adalah yang paling bertaqwa

حَدَّثَنَا هَاشِمٌ، ثنا مُحَمَّدٌ، حَدَّثَنِي أَبِي، حَدَّثَنِي ضَمْضَمٌ، عَنْ شُرَيْحٍ، عَنْ أَبِي مَالِكٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ وَلَا إِلَى أَحْسَابِكُمْ وَلَا إِلَى أَمْوَالِكُمْ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ، فَمَنْ كَانَ لَهُ قَلْبٌ صَالِحٌ تَحَنَّنَ اللهُ عَلَيْهِ، وَإِنَّمَا أَنْتُمْ بَنُو آدَمَ وأَحَبُّكُمْ إِلَيَّ أَتْقَاكُمْ» [28]

Artinya: Telah menceriterakan kepada kami Hasyim Telah menceriterakan kepada kami Muhammad Telah menceriterakan kepada kami Ayahku Telah menceriterakan kepadaku Dhamim dari Syarih: dari Abi Malik berkata; bersabda Rasulullah : “ Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla tidak melihat kepada tubuh-tubuh kalian, dan tidak kepada keturunan-keturunan kalian, dan tidak kepada harta-harta kalian, akan tetapi melihat kepada qalbu-qalbu kalian, maka barang siapa memiliki qalbu yang shalih maka Allah lembut kepadanya, dan sesungguhnya kamu sekalian anak-cucu Adam yang paling Aku cintai adalah yang paling bertaqwa.”

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 3989 dinyatakan bahwa Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbakti lagi bertakwa dan tidak dikenal;

حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي ابْنُ لَهِيعَةَ عَنْ عِيسَى بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ أَنَّهُ خَرَجَ يَوْمًا إِلَى مَسْجِدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَوَجَدَ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ قَاعِدًا عِنْدَ قَبْرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْكِي فَقَالَ مَا يُبْكِيكَ قَالَ يُبْكِينِي شَيْءٌ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ يَسِيرَ الرِّيَاءِ شِرْكٌ وَإِنَّ مَنْ عَادَى لِلَّهِ وَلِيًّا فَقَدْ بَارَزَ اللَّهَ بِالْمُحَارَبَةِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْأَبْرَارَ الْأَتْقِيَاءَ الْأَخْفِيَاءَ الَّذِينَ إِذَا غَابُوا لَمْ يُفْتَقَدُوا وَإِنْ حَضَرُوا لَمْ يُدْعَوْا وَلَمْ يُعْرَفُوا قُلُوبُهُمْ مَصَابِيحُ الْهُدَى يَخْرُجُونَ مِنْ كُلِّ غَبْرَاءَ مُظْلِمَةٍ [29]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Harmalah bin Yahya telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Wahb telah mengabarkan kepadaku Ibnu Lahi'ah dari Isa bin Abdurrahman dari Zaid bin Aslam dari Aslam dari Umar bin Khattab, bahwa suatu ketika dia keluar menuju masjid Nabi  lalu berjumpa dengan Mu'adz bin Jabal yang sedang duduk di sisi Kuburan Nabi  sambil menangis. Maka ia pun bertanya, "Apa yang membuatmu manangis?" Mu'adz menjawab, "Aku menangis karena sesuatu yang aku dengar dari Rasulullah , aku mendengar Rasulullah  bersabda: "Sesungguhnya riya' yang paling ringan pun sudah terhitung syirik, dan sesungguhnya orang yang memusuhi wali Allah maka dia telah menantang bertarung dengan Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbakti lagi bertakwa dan tidak dikenal, yaitu orang-orang yang apabila menghilang maka mereka tidak dicari-cari, dan jika mereka hadir maka mereka tidak di kenal, hati mereka ibarat lentera-lentera petunjuk yang muncul dari setiap bumi yang gelap."

Adapun gambaran dari wujud ketaqwaan di tingkat mahabbah berdasar pemahaman yang diperoleh dari ayat-ayat Al Quran dan Hadits adalah sebagai berikut:

4.1. Mencintai Allah, Mencintai Manusia, Mengingat Allah

Di dalam kitab Al-Sunan Al-Kubra hadits nomor 1782 dinyatakan bahwa Sesungguhnya Hamba yang paling dicintai Allah adalah yang mencitai Allah, dan dicintakan Allah kepada manusia;

 وَقَدْ أَخْبَرَنَاهُ أَبُو زَكَرِيَّا بْنُ أَبِى إِسْحَاقَ أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ : مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الْوَهَّابِ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ أَخْبَرَنَا مِسْعَرٌ عَنْ إِبْرَاهِيمَ السَّكْسَكِىِّ حَدَّثَنِى أَصْحَابُنَا عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ أَحَبَّ عِبَادِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ الَّذِينَ يُحِبُّونَ اللَّهَ، وَيُحَبِّبُونَ اللَّهَ إِلَى النَّاسِ، وَالَّذِينَ يُرَاعُونَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ وَالأَظِلَّةَ لِذِكْرِ اللَّهِ. وَرُوِىَ مَوْقُوفًا عَلَى أَبِى هُرَيْرَةَ فِى مَعْنَاهُ. [30]

Artinya: dan telah mengabarkan kepada kami Abu Zakariya ibnu Abi Ishaq, telah mengabarkan kepada kami Abu Abdillah; Muhammad ibnu Ya’qub, telah mengabarkan kepada kami Muhammad ibnu Abdi Al Wahab, telah mengabarkan kepada kami ibnu ‘Aun, telah mengabarkan kepada kami Mis’ar, dari Ibrahim As Saksaki, telah mengabarkan kepada kami Sahabat kami dari Abi Darda’ bahwa dia berkata: Sesungguhnya Hamba yang paling dicintai Allah adalah yang mencitai Allah, dan dicintakan Allah kepada manusia, dan orang-orang yang mengembala Matahari, bulan, bintang dan bayangan untuk mengingat Allah, dan diriwayatkan secara mauquf atas Abu Hurairah dalam maknanya.

4.2. Lebih Mencintai Allah dan Rasulnya Dibanding Selainnya

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 13959 ditegaskan bahwa Tidak (sempurna) iman salah seorang kalian sehingga Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada selainnya;

حَدَّثَنَا رَوْحٌ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَحَتَّى يُقْذَفَ فِي النَّارِ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ أَنْ نَجَّاهُ اللَّهُ مِنْهُ وَلَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَلَدِهِ وَوَالِدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ [31]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Rauh telah menceritakan kepada kami Syu'bah telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas Bin Malik dari Nabi  bersabda, "Tidak (sempurna) iman salah seorang kalian sehingga Allah dan RasulNya lebih dia cintai daripada selainnya, dan hingga ia dilempar ke neraka lebih disukainya dari pada kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya. Dan tidak (sempurna) iman salah seorang kalian sehingga saya (Rasulullah Shallallahu'alaihi wasallam) lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya atau manusia semuanya".

4.3. Cinta Kepada Allah

Orang yang bertakwa kepada Allah di tingkat mahabbah adalah orang cinta kepada Allah, adapun tanda-tanda mencintai Allah adalah sebagai berikut:

4.3.1. Banyak Mengingat Allah

Di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor 410 disebutkan bahwa tanda-tanda mencinta Allah adalah suka mengingat Allah;

أَخْبَرَنَاهُ عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ، أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ الصَّفَّارُ، حدثنا أَبُو بَكْرٍ عُمَرُ بْنُ الْمُعَلَّى النَّرْسِيُّ، حدثنا الْمُعَلَّى بْنُ مَهْدِيٍّ، حدثنا يُوسُفُ بْنُ مَيْمُونٍ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: " عَلَامَةُ حُبِّ اللهِ حُبُّ ذِكْرِ اللهِ، وَعَلَامَةُ بُغْضِ اللهِ بُغْضُ ذِكْرِ اللهِ " قَالَ الْبَيْهَقِيُّ رَحِمَهُ اللهُ: وَرُوِيَ عَنْ وَجْهٍ آخَرَ، عَنْ زِيَادِ بْنِ مَيْمُونٍ " وَزِيَادٌ مُنْكَرُ الْحَدِيثِ، وَرُوِيَ عنْ وَجْهٍ آخَرَ ضَعِيفٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، وَاللهُ أَعْلَمُ، وَرُوِّينَا بِمِثْلِهَا عَنِ السَّلَفِ الصَّالِحِينَ [32] "

Artinya:  Telah mengabarkan kepada kami Ali ibnu Muhammad ibnu Abdan, telah mengabarkan kepada kami Ahmad ibnu Ubaid As shafar, telah mengabarkan kepada kami Abu Bakri Umar ibnu Al Muali An Narsi, telah menceritakan kepada kami Al Mu’ali ibnu mahdi, telah menceritakan kepada kami Yusuf ibnu Maimun, dari Anas ibnu Malik berkata: aku mendengar Nabi Muhammad  bersabda: tanda-tanda mencinta Allah adalah suka mengingat Allah, dan tanda-tanda membenci Allah adalah benci mengingat Allah, Baihaqi RA berkata: dan diriwayatkan dari arah yang lain, dari ziad ibnu maimun, dan Ziyad haditnya diingkari, dan diriwayatkan dari arah lain dinilai lemah dari Anas ibnu Malik, dan Allah yang lebih mengetahui dan diriwayatkan seperti itu dari dari orang-orang dahulu yang shalih.

4.3.2. Mentaati Allah

Di dalam kitab Syuab Al-Iman Baihaqi Atsar nomor 419 digambarkan bahwa tanda cinta kepada Allah adalah mentaati Allah

- حَدَّثَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيُّ أَخْبَرَنَا أَبُو جَعْفَرٍ مُحَمَّدُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ سَعِيدٍ الرَّازِيُّ، حدثنا أَبُو الْفَضْلِ الْعَبَّاسُ بْنُ حَمْزَةَ حدثنا أَحْمَدُ بْنُ أَبِي الْحَوَارِيِّ قَالَ: " عَلَامَةُ حُبِّ اللهِ حُبُّ طَاعَةِ اللهِ - وَقِيلَ حُبُّ ذِكْرِ اللهِ - فَإِذَا أَحَبَّ اللهُ الْعَبْدَ أَحَبَّهُ، وَلَا يَسْتَطِيعُ الْعَبْدُ أَنْ يُحِبَّ اللهَ حَتَّى يَكُونَ الِابْتِدَاءُ مِنَ اللهِ بِالْحُبِّ لَهُ، وَذَلِكَ حِينَ عَرَفَ مِنْهُ الِاجْتِهَادَ فِي مَرْضَاتِهِ [33] "

Artinya: telah menceriterakan kepada kami Abu Abdi Rahman As Sulamiy, telah menceriterakan kepada kami Abu Ja’far Muhammad ibnu Ahmad ibnu Sa’id Ar Razi, telah menceriterakan kepada kami Abu Al fadhl Al ‘Abbas ibnu Hamzah, telah menceriterakan kepada kami Ahmad ibnu Abi Al Hawari berkata: Tanda-tanda cinta kepada Allah adalah cinta untuk taat kepada Allah, dan dikatakan cinta mengingat Allah, adapun jika Allah mencintai hamba maka dia akan mencintainya, dan tidak dapat seorang hamba mencintai Allah hingga Allah memulai mencintainya, dan yang demikian itu ketika diketahui kesungguhannya untuk mengharap ridhanya.

4.3.3. Sibuk Beribadah Kepada Allah

Di dalam kitab Syuab Al-Iman Baihaqi atsar nomor 417 digambarkan bahwa tanda mencintai Allah adalah sibuk beribadah kepadanya, shalat, berdzikir dengan lisannya dan memujinya, mengingat dengan qalbu dan fikiran,  

 حَدَّثَنَا أَبُو سَعْدٍ عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ أَبِي عُثْمَانَ الزَّاهِدُ رَحِمَهُ اللهُ، حدثنا عَلِيُّ بْنُ الْحَسَنِ الْفَقِيهُ، حدثنا أَبِي قَالَ: سَمِعْتُ الْمَعْرُوفَ بِعُمَيٍّ الْبِسْطَامِيِّ يَقُولُ: سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ: سُئِلَ أَبُو يَزِيدَ عَنْ عَلَامَةِ مَنْ يُحِبُّ اللهَ، وَعَلَامَةِ مَنْ يُحِبُّهُ اللهُ قَالَ: " مَنْ يُحِبُّ اللهَ فَهُوَ مَشْغُولٌ بِعِبَادَتِهِ سَاجِدًا وَرَاكِعًا، فَإِنْ عَجَزَ عَنْ ذَلِكَ اسْتَرْوَحَ إِلَى ذِكْرِ اللِّسَانِ وَالثَّنَاءِ، وَإِنْ عَجَزَ اسْتَرْوَحَ إِلَى ذِكْرِ الْقَلْبِ وَالتَّفْكِيرِ، فَأَمَّا مَنْ يُحِبُّهُ اللهُ أَعْطَاهُ سَخَاوَةً كَسَخَاوَةِ السَّحَابِ، وَشَفَقَةً كشفقةِ الشَّمْسِ، وَتَواضُعًا كَتَوَاضُعِ الْأَرْضِ [34] "

Artinya: Telah menceriterakan kepada kami Said abdul Malik ibnu Abi ‘Utsman Az Zahid rahimahullah, telah menceriterakan kepada kami Ali ibnu hasan Al Faqih, telah menceriterakan kepada kami Bapakku berkata: Aku mendengar Al Ma’ruf di ‘Umay Al Bisthami, belia berkata: aku mendengar Bapakku berkata: ditanya Abu Yazid tentang tanda-tanda orang yang mencintai Allah, dan tanda-tanda orang yang mencintai Allah berkata: Orang yang mencintai Allah maka dia sibuk dengan ibadah kepadanya sujud dan ruku’, apabila sudah capek dari hal tersebut berganti dengan berdzikir dengan lisan dan memujinya, dan jika telah lelah berganti dengan berdzikir dengan qalbu dan berfikir, adapun orang yang dicintai Allah akan diberikan kedermawanan sebagaimana kedermawanannya awan, dan diberikan kemurahan hati sebagaiman kemurahan hati matahari, dan diberikan kerendahan hati seperti kerendahan hatinya bumi”

4.3.4. Meninggalkan Segala Kesibukan Yang Bukan Untuk Allah

Di dalam kitab Syuab Al-Imam Baihaqi atsar nomor 421 disebutkan bahwa tanda cinta adalah meninggalkan segala kesibukan yang bukan untuk Allah

- أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ الرَّحْمَنِ قَالَ: سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ الْحَسَنِ الْحَدَّادَ يَقُولُ: سَمِعْتُ الْحَسَنَ بْنَ مُحَمَّدِ بْنِ إِسْحَاقَ يَقُولُ: سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ عُثْمَانَ يَقُولُ: سَمِعْتُ ذَا النُّونِ يَقُولُ: " مِنْ عَلَامَةِ الْحَبِّ تَرْكُ كُلِّ مَا شَغَلَهُ عَنِ اللهِ حَتَّى يَكُونَ الشُّغْلُ كُلُّهُ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَحْدَهُ [35] "

Artinya: Dikabarkan kepada kami Abu Abdi Ar Rahman berkata: aku mendengar Abd Ar Rahman ibnu Al Hasan Al Hadad berkata: Aku mendengar Al Hasan ibnu Muhammad ibnu ishaq berkata: aku mendengar sa’id ibnu ‘Usman berkata: aku mendengan Dzan Nun berkata: “di antara tanda tanda cinta adalah meninggalkan segala kesibukan yang bukan untuk Allah, sehingga seluruh kesibukannya  hanya dengan Allah Azza wa jalla saja.”

4.3.5. Bersungguh-Sungguh Menjaga Kemurnian Cinta

Di dalam kitab Syuab Al-Iman Baihaqi Atsar nomor 9071 disebutkan bahwa tanda cinta adalah bersungguh-sungguh menjaga kemurnian cinta, melemahkan kemauan untuk kemauan saudara dan kedermawanan jiwa, bersatu dalam kecintaan, dan yang tidak disukainya untuk menjaga ikatan yang benar;

- أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا مَنْصُورٍ الْعَتَكِيَّ، يَقُولُ: سَمِعْتُ أَبَا عُثْمَانَ سَعِيدَ بْنَ إِسْمَاعِيلَ الْوَاعِظَ، يَقُولُ: " ثَلَاثَةُ أَشْيَاءٍ مِنْ عَلَامَةِ الْحُبِّ فِي اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: بَذْلُ الشَّيْءِ لِصَفَاءِ الْمَوَدَّةِ، وَتَعْطِيلُ الْإِرَادَةِ لِإِرَادَةِ الْأَخِ لِلسَّخَاءِ بِالنَّفْسِ، وَالْمُشَارَكةُ لَهُ فِي مَحْبُوبِهِ، وَمَكْرُوهِهِ لِصِحَّةِ الْعَقْدِ ". وَقَدْ رُوِّينَا هَذَا الْكَلَامَ عَنْ ذِي النُّونِ [36]

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Abu Abdillah Al Hafidz, berkata: saya telah mendengar Aba Mansur Al ‘Ataki berkata: aku mendengar Abu usman Sa’id ibnu Isma’il Al wa’idh berkata: ada tiga macam dari tanda-tanda cinta kepada Allah Azza wa Jalla, yaitu: bersungguh-sungguh dalam menjaga kemurnnian cinta, mengurangi kemauan pada kemauan lain agar dapat menumpahkan kepada jiwa, dan bersatu dalam hal yang dicintainya, dan yang dibencinya untuk menjaga kemurnian janji, perkataan ini telah diriwayatkan dari Dzi Nun.

4.3.6. Tidak Melanggar Larangan Yang Diharamkan Allah

Di dalam kitab Shahih Bukhari  hadits nomor 4822 digambarkan bahwa Sesungguhnya Allah itu cemburu. Dan kecemburuan Allah datang, bilamana seorang mukmin melakukan hal yang diharamkan Allah;

وَعَنْ يَحْيَى أَنَّ أَبَا سَلَمَةَ حَدَّثَهُ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ح حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا شَيْبَانُ عَنْ يَحْيَى عَنْ أَبِي سَلَمَةَ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ اللَّهَ يَغَارُ وَغَيْرَةُ اللَّهِ أَنْ يَأْتِيَ الْمُؤْمِنُ مَا حَرَّمَ اللَّهُ [37]

Artinya: Dan dari Yahya bahwa Abu Salamah Telah meceritakan kepadanya bahwa Abu Hurairah Telah menceritakan kepadanya, bahwa ia mendengar Nabi  bersabda. -Dalam riwayat lain- Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim Telah menceritakan kepada kami Syaiban dari Yahya dari Abu Salamah bahwa ia mendengar Abu Hurairah radliallahu 'anhu, dari Nabi , bahwa beliau bersabda: "Sesungguhnya Allah itu cemburu. Dan kecemburuan Allah datang, bilamana seorang mukmin melakukan hal yang diharamkan Allah."

Cemburu tanda cinta, sebagai wujud cinta kepada Allah maka tidak melanggar larangan yang diharamkan Allah, untuk menjaga kecemburuan Allah.

4.3.7. Saling Mencintai Karena Aku Saling Merapatkan Barisan Karena Aku, Saling Berkorban Karena Aku, Saling Menolong Karena Aku

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 19438 ditegaskan bahwa 'Sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling mencintai karena Aku, dan sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling merapatkan barisan karena Aku, ..;

حَدَّثَنَا هَاشِمٌ حَدَّثَنِي عَبْدُ الْحَمِيدِ حَدَّثَنِي شَهْرٌ حَدَّثَنِي أَبُو ظَبْيَةَ قَالَ إِنَّ شُرَحْبِيلَ بْنَ السِّمْطِ دَعَا عَمْرَو بْنَ عَبَسَةَ السُّلَمِيَّ فَقَالَ يَا ابْنَ عَبَسَةَ هَلْ أَنْتَ مُحَدِّثِي حَدِيثًا سَمِعْتَهُ أَنْتَ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ فِيهِ تَزَيُّدٌ وَلَا كَذِبٌ وَلَا تُحَدِّثْنِيهِ عَنْ آخَرَ سَمِعَهُ مِنْهُ غَيْرِكَ قَالَ نَعَمْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ قَدْ حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلَّذِينَ يَتَحَابُّونَ مِنْ أَجْلِي وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلَّذِينَ يَتَصَافُّونَ مِنْ أَجْلِي وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلَّذِينَ يَتَزَاوَرُونَ مِنْ أَجْلِي وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلَّذِينَ يَتَبَاذَلُونَ مِنْ أَجْلِي وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلَّذِينَ يَتَنَاصَرُونَ مِنْ أَجْلِي [38]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Hasyim telah menceritakan kepadaku Abdul Hamid telah menceritakan kepadaku Syahr telah menceritakan kepadaku Abu Dzabyah ia berkata; Bahwasanya Syurahbil bin As Simth memanggil Amru bin Abasah As Sulami dan bertanya, "Wahai Ibnu Abasah, apakah Anda mau menceritakan kepadaku suatu hadits yang telah Anda dengar dari Rasulullah  tanpa ada tambahan ataupun kedustaan? Dan janganlah Anda ceritakan kepadaku suatu hadits dari sahabat lain yang ia mendengarnya dari beliau selain Anda. Amru bin Abasah berkata; Baiklah, aku telah mendengar Rasulullah  bersabda: "Allah Ta'ala telah berfirman: 'Sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling mencintai karena Aku, dan sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling merapatkan barisan karena Aku, dan sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling mengunjungi karena Aku, dan sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling berkorban (untuk membantu yang lain) karena Aku, dan sungguh telah berhak mendapatkan kecintaan-Ku orang-orang yang saling menolong karena Aku.'"

4.3.8. Saling Mencintai Karena-Ku, Saling Bermajlis Karena-Ku, Dan Saling Mengunjungi Karena-Ku. Yang Saling Berusaha Karena-Ku

Di dalam kitab Muwatha Imam Malik hadits nomor 2007 ditegaskan bahwa 'Kecintaan-ku pasti turun kepada siapa yang saling mencintai karena-Ku. Siapa saja yang bermajlis karena-Ku, dan saling mengunjungi karena-Ku. Yang saling berusaha karena-Ku;

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ أَبِي حَازِمِ بْنِ دِينَارٍ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْخَوْلَانِيِّ أَنَّهُ قَالَ دَخَلْتُ مَسْجِدَ دِمَشْقَ فَإِذَا فَتًى شَابٌّ بَرَّاقُ الثَّنَايَا وَإِذَا النَّاسُ مَعَهُ إِذَا اخْتَلَفُوا فِي شَيْءٍ أَسْنَدُوا إِلَيْهِ وَصَدَرُوا عَنْ قَوْلِهِ فَسَأَلْتُ عَنْهُ فَقِيلَ هَذَا مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ فَلَمَّا كَانَ الْغَدُ هَجَّرْتُ فَوَجَدْتُهُ قَدْ سَبَقَنِي بِالتَّهْجِيرِ وَوَجَدْتُهُ يُصَلِّي قَالَ فَانْتَظَرْتُهُ حَتَّى قَضَى صَلَاتَهُ ثُمَّ جِئْتُهُ مِنْ قِبَلِ وَجْهِهِ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ ثُمَّ قُلْتُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ لِلَّهِ فَقَالَ أَاللَّهِ فَقُلْتُ أَاللَّهِ فَقَالَ أَاللَّهِ فَقُلْتُ أَاللَّهِ فَقَالَ أَاللَّهِ فَقُلْتُ أَاللَّهِ قَالَ فَأَخَذَ بِحُبْوَةِ رِدَائِي فَجَبَذَنِي إِلَيْهِ وَقَالَ أَبْشِرْ فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ قَالَ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَجَبَتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَالْمُتَجَالِسِينَ فِيَّ وَالْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ وَالْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ وحَدَّثَنِي عَنْ مَالِك أَنَّهُ بَلَغَهُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ الْقَصْدُ وَالتُّؤَدَةُ وَحُسْنُ السَّمْتِ جُزْءٌ مِنْ خَمْسَةٍ وَعِشْرِينَ جُزْءًا مِنْ النُّبُوَّةِ [39]

Artinya: Telah menceritakan kepadaku dari Malik dari Abu Hazim bin Dinar dari Abu Idris Al Khaulani berkata, "Aku memasuki masjid Damaskus. Ternyata di dalamnya ada seorang pemuda yang bergigi putih berkilau. Apabila orang-orang yang bersamanya berselisih pendapat, mereka mengembalikannya kepada pemuda itu dan menerima pendapatnya. Lalu aku bertanya tentangnya, lantas ada yang menjawab bahwa dia adalah Mu'adz bin Jabal . Keesokan harinya, aku bergegas ke masjid pada waktu yang masih sangat pagi, ternyata aku mendapatinya telah mendahuluiku. Aku mendapatinya sedang shalat, maka aku menunggunya sampai dia selesai shalat. Lalu aku menemuinya dari arah depannya seraya mengucapkan salam, aku berkata kepadanya; 'Demi Allah, sungguh aku mencintaimu karena Allah.' Dia bertanya; 'Apakah karena Allah? ' Aku menjawab; 'Karena Allah.' Dia bertanya lagi; 'Apakah karena Allah? ' Aku menjawab; 'Karena Allah.' Dia bertanya; 'Apakah karena Allah? ' Aku menjawab; 'Karena Allah'." Abu Idris berkata; "Dia menarik ujung serbanku dan menarik diriku ke arahnya lalu berkata; Bergembiralah! aku telah mendengar Rasulullah  bersabda: "Allah Tabaraka Wa Ta'ala berfirman; 'Kecintaan-ku pasti turun kepada siapa yang saling mencintai karena-Ku. Siapa saja yang saling bermajlis karena-Ku, dan saling mengunjungi karena-Ku. Yang saling berusaha karena-Ku'." Telah menceritakan kepadaku dari Malik bahwa telah sampai kabar kepadanya, dari Abdullah bin Abbas bahwa dia berkata; "Tengah-tengah dalam suatu urusan (adil), bersikap lemah lembut dan penyambutan yang baik adalah sebagian dari dua puluh bagian kenabian."

4.3.9. Saling Mencintai Dengan Ruh Allah

Di dalam kitab Sunan Abu Daud hadits nomor 3527 digambarkan bahwa wali; kekasih Allah adalah kaum yang saling mencintai dengan ruh Allah;

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ وَعُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ قَالَا حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ عَنْ أَبِي زُرْعَةَ بْنِ عَمْرِو بْنِ جَرِيرٍ أَنَّ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ لَأُنَاسًا مَا هُمْ بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِمَكَانِهِمْ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ تُخْبِرُنَا مَنْ هُمْ قَالَ هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا بِرُوحِ اللَّهِ عَلَى غَيْرِ أَرْحَامٍ بَيْنَهُمْ وَلَا أَمْوَالٍ يَتَعَاطَوْنَهَا فَوَاللَّهِ إِنَّ وُجُوهَهُمْ لَنُورٌ وَإِنَّهُمْ عَلَى نُورٍ لَا يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ وَلَا يَحْزَنُونَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ وَقَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ " أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ " [40]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Zuhair bin Harb dan Utsman bin Abu Syaibah mereka berkata; telah menceritakan kepada kami Jarir dari 'Umarah bin Al Qa'qa' dari Abu Zur'ah bin 'Amru bin Jarir bahwa Umar bin Al Khathab berkata, "Nabi  bersabda: "Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat beberapa manusia yang bukan para nabi dan orang-orang yang mati syahid. Para nabi dan orang-orang yang mati syahid merasa iri kepada mereka pada Hari Kiamat karena kedudukan mereka di sisi Allah Ta'ala." Mereka berkata, "Wahai Rasulullah, apakah anda akan mengabarkan kepada kami siapakah mereka? Beliau bersabda: "Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai dengan ruh dari Allah tanpa ada hubungan kekerabatan di antara mereka, dan tanpa adanya harta yang saling mereka berikan. Demi Allah, sesungguhnya wajah mereka adalah cahaya, dan sesungguhnya mereka berada di atas cahaya, tidak merasa takut ketika orang-orang merasa takut, dan tidak bersedih ketika orang-orang merasa bersedih." Dan beliau membaca ayat ini: "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."

4.3.10.Saling Mencintai Sesama Manusia Karena Nur Allah

Di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 689, dijelaskan bahwa wali; Kekasih Allah adalah Mereka satu kaum yang saling mencintai karena nur Allah;

 أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْمُثَنَّى، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ صَالِحٍ الأَزْدِيُّ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ، عَنْ عُمَارَةَ بْنِ الْقَعْقَاعِ، عَنْ أَبِي زُرْعَةَ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ‏:‏ إِنَّ مِنْ عِبَادِ اللهِ عِبَادًا لَيْسُوا بِأَنْبِيَاءَ، يَغْبِطُهُمُ الأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ، قِيلَ‏:‏ مَنْ هُمْ لَعَلَّنَا نُحِبُّهُمْ‏؟‏ قَالَ‏:‏ هُمْ قَوْمٌ تَحَابُّوا بِنُورِ اللهِ مِنْ غَيْرِ أَرْحَامٍ وَلاَ انْتِسَابٍ، وُجُوهُهُمْ نُورٌ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ، لاَ يَخَافُونَ إِذَا خَافَ النَّاسُ، وَلاَ يَحْزَنُونَ إِذَا حَزِنَ النَّاسُ، ثُمَّ قَرَأَ‏:‏ ‏{‏أَلاَ إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللهِ لاَ خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَ هُمْ يَحْزَنُونَ‏}‏‏.‏ [41]

Artinya: mengabarkan kepada kami Ahmad bin Ah bin Al Mutsanna mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abdurrahman bin Shalih Al Azdi menceritakan kepada kami, ia berkata, Ibnu Fudhail menceritakan kepada kami, dari Umarah bin Al Qa’qa’ dari Abu Zur’ah, dari Abu Hmrairah, ia berkata, Rasulullah  telah bersabda, “Sesungguhnya ada hamba-hamba Allah yang mereka itu bukan para nabi, namun para nabi dan para syuhada iri terhadap mereka”. Ditanyakan kepada beliau, “Siapakah mereka?, semoga kami mencintai mereka,” beliau menjawab, “Mereka adalah satu kaum yang saling mencintai karena nur Allah, bukan karena hubungan keturunan juga bukan karena nasab, wajah- wajah mereka merupakan cahaya di atas mimbar-mimbar cahaya, mereka tidak merasa takut ketika manusia merasa takut, dan mereka tidak merasa sedih ketika manusia merasa sedih." kemudian beliau membaca firman Allah SWT, “Ketahuilah, sesungguhnya kekasih Allah itu tidak ada ketakutan pada mereka, juga tidak bersedih hati: (Qs. Yuunus [10]: 62)

4.3.11.Saling Mencintai Karena Allah

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22906 digambarkan bahwa wali; kekasih Allah adalah mereka yang saling mencintai karena Allah SWT;

حَدَّثَنَا أَبُو النَّضْرِ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْحَمِيدِ بْنُ بَهْرَامَ الْفَزَارِيُّ عَنْ شَهْرِ بْنِ حَوْشَبٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ غَنْمٍ أَنَّ أَبَا مَالِكٍ الْأَشْعَرِيَّ جَمَعَ قَوْمَهُ فَقَالَ يَا مَعْشَرَ الْأَشْعَرِيِّينَ اجْتَمِعُوا وَاجْمَعُوا نِسَاءَكُمْ وَأَبْنَاءَكُمْ أُعَلِّمْكُمْ صَلَاةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى لَنَا بِالْمَدِينَةِ فَاجْتَمَعُوا وَجَمَعُوا نِسَاءَهُمْ وَأَبْنَاءَهُمْ فَتَوَضَّأَ وَأَرَاهُمْ كَيْفَ يَتَوَضَّأُ فَأَحْصَى الْوُضُوءَ إِلَى أَمَاكِنِهِ حَتَّى لَمَّا أَنْ فَاءَ الْفَيْءُ وَانْكَسَرَ الظِّلُّ قَامَ فَأَذَّنَ فَصَفَّ الرِّجَالَ فِي أَدْنَى الصَّفِّ وَصَفَّ الْوِلْدَانَ خَلْفَهُمْ وَصَفَّ النِّسَاءَ خَلْفَ الْوِلْدَانِ ثُمَّ أَقَامَ الصَّلَاةَ فَتَقَدَّمَ فَرَفَعَ يَدَيْهِ فَكَبَّرَ فَقَرَأَ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ وَسُورَةٍ يُسِرُّهُمَا ثُمَّ كَبَّرَ فَرَكَعَ فَقَالَ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ثَلَاثَ مِرَارٍ ثُمَّ قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ وَاسْتَوَى قَائِمًا ثُمَّ كَبَّرَ وَخَرَّ سَاجِدًا ثُمَّ كَبَّرَ فَرَفَعَ رَأْسَهُ ثُمَّ كَبَّرَ فَسَجَدَ ثُمَّ كَبَّرَ فَانْتَهَضَ قَائِمًا فَكَانَ تَكْبِيرُهُ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ سِتَّ تَكْبِيرَاتٍ وَكَبَّرَ حِينَ قَامَ إِلَى الرَّكْعَةِ الثَّانِيَةِ فَلَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ أَقْبَلَ إِلَى قَوْمِهِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ احْفَظُوا تَكْبِيرِي وَتَعَلَّمُوا رُكُوعِي وَسُجُودِي فَإِنَّهَا صَلَاةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الَّتِي كَانَ يُصَلِّي لَنَا كَذَا السَّاعَةِ مِنْ النَّهَارِ ثُمَّ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَضَى صَلَاتَهُ أَقْبَلَ إِلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ اسْمَعُوا وَاعْقِلُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ عِبَادًا لَيْسُوا بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ عَلَى مَجَالِسِهِمْ وَقُرْبِهِمْ مِنْ اللَّهِ فَجَاءَ رَجُلٌ مِنْ الْأَعْرَابِ مِنْ قَاصِيَةِ النَّاسِ وَأَلْوَى بِيَدِهِ إِلَى نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا نَبِيَّ اللَّهِ نَاسٌ مِنْ النَّاسِ لَيْسُوا بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ عَلَى مَجَالِسِهِمْ وَقُرْبِهِمْ مِنْ اللَّهِ انْعَتْهُمْ لَنَا يَعْنِي صِفْهُمْ لَنَا فَسُرَّ وَجْهُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِسُؤَالِ الْأَعْرَابِيِّ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هُمْ نَاسٌ مِنْ أَفْنَاءِ النَّاسِ وَنَوَازِعِ الْقَبَائِلِ لَمْ تَصِلْ بَيْنَهُمْ أَرْحَامٌ مُتَقَارِبَةٌ تَحَابُّوا فِي اللَّهِ وَتَصَافَوْا يَضَعُ اللَّهُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ فَيُجْلِسُهُمْ عَلَيْهَا فَيَجْعَلُ وُجُوهَهُمْ نُورًا وَثِيَابَهُمْ نُورًا يَفْزَعُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلَا يَفْزَعُونَ وَهُمْ أَوْلِيَاءُ اللَّهِ الَّذِينَ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ [42]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu An Nadhr telah menceritakan kepada kami 'Abdul Hamid bin Bahram Al Fazari dari Syahr bin Hausyab telah menceritakan kepada kami 'Abdur Rahman bin Ghanm bahwa Abu Malik Al Asy'ari mengumpulkan kaumnya lalu berkata: Hai sekalian kaum Asy'ari! Berkumpullah, kumpulkan istri-istri dan anak-anak kalian, aku akan mengajarkan kepada kalian shalatnya Nabi  yang beliau lakukan di Madinah. Mereka pun berkumpul, mengumpulkan istri-istri dan anak-anak mereka, Abu Malik Al Asy'ari berwudhu dan memperlihatkan kepada mereka bagaimana caranya berwudhu, ia menyempurnakan wudhu hingga ke tempat-tempatnya hingga usai, ia pun berdiri lalu mengumandangkan adzan, kaum lelaki pun berbaris dalam shaf yang dekat, anak-anak berbaris dibelakang mereka dan kaum wanita berbaris dibelakang anak-anak. Shalat pun diiqamati. Ia maju kemudian mengangkat kedua tangan seraya bertakbir, ia membaca faatihatul kitaab dan surat yang dibaca pelan, selanjutnya ia bertakbir ruku' dan membaca: Subhaanallaah wa bihamdihi sebanyak tiga kali, setelah itu mengucapkan: Sami'allaahu liman hamidah dan berdiri lurus, setelah itu ia bertakbir dan turun sujud, selanjutnya bertakbir dan mengangkat kepala, setelah itu bertakbir lalu sujud, lalu bertakbir dan berdiri, ia bertakbir sebanyak enam kali dalam rakaat pertama, ia bertakbir saat berdiri untuk rakaat kedua. Seusai shalat ia menghadap ke kaumnya lalu berkata: Hafalkan takbirku, pelajarilah ruku'ku dan sujudku karena itulah shalat Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam yang beliau kerjakan untuk kami seperti itu saat di siang hari. Selanjutnya saat Rasulullah  usai shalat, beliau menghadap ke arah jamaah dengan wajah beliau lalu bersabda: "Wahai sekalian manusia! Dengar, fahami dan ketahuilah bahwa Allah AzzaWaJalla memiliki hamba-hamba, mereka bukan nabi atau pun syuhada` tapi para nabi dan syuhada` iri pada mereka karena tempat dan kedekatan mereka dengan Allah pada hari kiamat." Kemudian salah seorang badui datang, ia berasal dari pedalaman jauh dan menyendiri, ia menunjuk tangannya ke arah Nabi  lalu berkata: Hai Nabi Allah! Sekelompok orang yang bukan Nabi ataupun syuhada` tapi para nabi dan syuhada` iri kepada mereka karena kedudukan dan kedekatan mereka dengan Allah, sebutkan ciri-ciri mereka untuk kami. Wajah Rasulullah  bergembira karena pertanyaan orang badui itu lalu Rasulullah  bersabda: "Mereka adalah orang-orang yang berasal dari berbagai penjuru dan orang-orang asing, diantara meraka tidak dihubungkan oleh kekerabatan yang dekat, mereka saling mencintai karena Allah dan saling tulus ikhlas, Allah menempatkan untuk mereka mimbar-mimbar dari cahaya pada hari kiamat, Allah mendudukan mereka diatasnya, Allah menjadikan wajah-wajah mereka cahaya, pakaian-pakaian mereka cahaya, orang-orang ketakutan pada hari kiamat sementara mereka tidak ketakuan, mereka adalah para wali-wali Allah yang tidak takut dan tidak bersedih hati."

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 22064 digambarkan bahwa 'Wajiblah cinta-Ku untuk orang-orang yang saling mencintai karena Aku

حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ بُرْقَانَ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِي مَرْزُوقٍ عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي رَبَاحٍ عَنْ أَبِي مُسْلِمٍ الْخَوْلَانِيِّ قَالَ أَتَيْتُ مَسْجِدَ أَهْلِ دِمَشْقَ فَإِذَا حَلْقَةٌ فِيهَا كُهُولٌ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِذَا شَابٌّ فِيهِمْ أَكْحَلُ الْعَيْنِ بَرَّاقُ الثَّنَايَا كُلَّمَا اخْتَلَفُوا فِي شَيْءٍ رَدُّوهُ إِلَى الْفَتَى فَتًى شَابٌّ قَالَ قُلْتُ لِجَلِيسٍ لِي مَنْ هَذَا قَالَ هَذَا مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ قَالَ فَجِئْتُ مِنْ الْعَشِيِّ فَلَمْ يَحْضُرُوا قَالَ فَغَدَوْتُ مِنْ الْغَدِ قَالَ فَلَمْ يَجِيئُوا فَرُحْتُ فَإِذَا أَنَا بِالشَّابِّ يُصَلِّي إِلَى سَارِيَةٍ فَرَكَعْتُ ثُمَّ تَحَوَّلْتُ إِلَيْهِ قَالَ فَسَلَّمَ فَدَنَوْتُ مِنْهُ فَقُلْتُ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فِي اللَّهِ قَالَ فَمَدَّنِي إِلَيْهِ قَالَ كَيْفَ قُلْتَ قُلْتُ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فِي اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِي عَنْ رَبِّهِ يَقُولُ الْمُتَحَابُّونَ فِي اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ فِي ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ قَالَ فَخَرَجْتُ حَتَّى لَقِيتُ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ فَذَكَرْتُ لَهُ حَدِيثَ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ فَقَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَحْكِي عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَزَاوِرِينَ فِيَّ وَالْمُتَحَابُّونَ فِي اللَّهِ عَلَى مَنَابِرَ مِنْ نُورٍ فِي ظِلِّ الْعَرْشِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ, حَدَّثَنَا عَبْد اللَّهِ حَدَّثَنِي أَبِي حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ أَبِي الْعَبَّاسِ حَدَّثَنَا أَبُو الْمَلِيحِ حَدَّثَنَا حَبِيبُ بْنُ أَبِي مَرْزُوقٍ عَنْ عَطَاءٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُسْلِمٍ قَالَ دَخَلْتُ مَسْجِدَ حِمْصَ فَإِذَا حَلْقَةٌ فِيهَا اثْنَانِ وَثَلَاثُونَ رَجُلًا مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفِيهِمْ فَتًى شَابٌّ أَكْحَلُ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ [43]

Artinya: Telah bercerita kepada kami 'Abdullah telah bercerita kepadaku ayahku. Telah bercerita kepada kami Waki' telah bercerita kepada kami Ja'far bin Burqon dari Habib bin Abu Marzuq dari 'Atho` bin Abu Rabah dari Abu Muslim Al Khoulani berkata; Saya datang ke masjid rakyat Damaskus, disana ada suatu majlis yang dihadiri oleh beberapa sahabat Nabi  yang sudah tua, ditengah-tengah mereka ada pemuda, berusia muda, elok rupanya, hitam matanya, putih giginya. Bila mereka berbeda pendapat tentang suatu hal, ia mengatakan kata-kata pamungkas. Saya bertanya kepada teman, siapakah dia, ia menjawab bahwa orang itu adalah Mu'adz bin Jabal. Keesokan harinya mereka tidak datang kemudian saya pun pergi, ternyata disana ada seorang pemuda yang tengah shalat menghadap tiang masjid. Aku pun shalat kemudian mendekati pemuda itu. Saya mengucapkan salam kemudian mendekat, saya berkata; Sesungguhnya aku mencintaimu karena keagungan Allah. Ia menarikku dan berkata; Apa yang kau katakan? Saya berkata; Sesengguhnya aku mencintaimu karena keagungan Allah. Ia berkata; Saya pernah mendengar Rasulullah  bersabda dari RabbNya; "Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai karena Allah berada diatas mimbar-mimbar dari cahaya dibawah naungan Allah pada saat tidak ada naungan selain naungan-Nya. Kemudian saya menemui 'Ubadah bin Shamit kemudian saya sampaikan hadits Mu'adz bin Jabal itu padanya, ia berkata; Saya mendengar Rasulullah  bersabda dari Rabb-Nya AzzaWaJalla berfirman; 'Wajiblah cintaKu untuk orang-orang yang saling mencintai karena Aku, wajiblah cintaKu untuk orang-orang yang saling berkorban karena Aku, wajiblah cintaKu untuk orang-orang yang saling berkunjung karena Aku dan orang-orang yang saling mencintai karena Allah berada diatas mimbar-mimbar dari cahaya dibawah naungan 'arsy pada hari yang tidak ada naungan selain naungan-Nya." Telah bercerita kepada kami 'Abdullah telah bercerita kepadaku ayahku. Telah bercerita kepada kami Ibrahim bin Abu Al 'Abbas telah bercerita kepada kami Abu Al Malih telah bercerita kepada kami Habib bin Abu Marzuq dari 'Atho` telah bercerita kepada kami Abu Muslim berkata; Saya memasuki masjid Himash, disana ada pertemuan, disana ada tiga puluh dua sahabat Rasulullah  di antara mereka ada seorang pemuda bercelak mata. Kemudian ia menyebutkan hadits.

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 11402 ditegaskan bahwa Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai karena Allah, kamar-kamar mereka di surga akan tampak bagaikan bintang yang bersinar di ufuk timur atau barat;

 حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَيَّاشٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ مُطَرِّفٍ حَدَّثَنَا أَبُو حَازِمٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ الْمُتَحَابِّينَ لَتُرَى غُرَفُهُمْ فِي الْجَنَّةِ كَالْكَوْكَبِ الطَّالِعِ الشَّرْقِيِّ أَوْ الْغَرْبِيِّ فَيُقَالُ مَنْ هَؤُلَاءِ فَيُقَالُ هَؤُلَاءِ الْمُتَحَابُّونَ فِي اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ [44]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bin ‘Ayyasy, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Mutarrif, telah menceritakan kepada kami Abu Hazim, dari Abu Sa‘id Al-Khudri, ia berkata: Rasulullah  bersabda: "Sesungguhnya orang-orang yang saling mencintai karena Allah, kamar-kamar mereka di surga akan tampak bagaikan bintang yang bersinar di ufuk timur atau barat. Maka dikatakan, 'Siapakah mereka itu?' Lalu dijawab, 'Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah 'Azza wa Jalla.'"

4.3.12.Mengatakan Aku Sungguh Mencintaimu Karena Allah

Di dalam kitab Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 569 digambarkan bahwa adanya perasaan saling mencintai harus dinyatakan dengan ucapan; Aku Sungguh mencintaimu karena Allah;

 أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْمُثَنَّى، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا الأَزْرَقُ بْنُ عَلِيٍّ أَبُو الْجَهْمِ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا حَسَّانُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، قَالَ‏:‏ حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ مُحَمَّدٍ، عَنْ عُبَيْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ، وَمُوسَى بْنِ عُقْبَةَ، عَنْ نَافِعٍ، قَالَ‏:‏ سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ، يَقُولُ‏:‏ بَيْنَا أَنَا جَالِسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ أَتَاهُ رَجُلٌ فَسَلَّمَ عَلَيْهِ، ثُمَّ وَلَّى عَنْهُ، فَقُلْتُ‏:‏ يَا رَسُولَ اللهِ إِنِّي لَأُحِبُّ هَذَا لِلَّهِ، قَالَ‏:‏ فَهَلْ أَعْلَمْتَهُ ذَاكَ‏؟‏ قُلْتُ‏:‏ لاَ، قَالَ‏:‏ فَأَعْلِمْ ذَاكَ أَخَاكَ، قَالَ‏:‏ فَاتَّبَعْتُهُ فَأَدْرَكْتُهُ فَأَخَذْتُ بِمَنْكِبِهِ فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ، وَقُلْتُ‏:‏ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ لِلَّهِ، قَالَ هُوَ‏:‏ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ لِلَّهِ قُلْتُ‏:‏ لَوْلاَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، أَمَرَنِي أَنْ أُعْلِمُكَ لَمْ أَفْعَلْ‏.‏تَفَرَّدَ بِهَذَا الْحَدِيثِ الأَزْرَقُ بْنُ عَلِيٍّ، قَالَهُ الشَّيْخُ‏.‏ [45]

Artinya: Ahmad bin Ali bin Mutsanna mengabarkan kepada kami, ia berkata, Al Azraq bin Ali Abu Al Jahm menceritakan kepada kami, ia berkata, Hasan bin Ibrahim menceritakan kepada kami, ia berkata, Zuhair bin Muhammad menceritakan kepada kami, dari Ubaidillah bin Umar dan Musa bin Uqbah, dari Nafi’ ia berkata, “Aku mendengar Ibnu Umar berkata, “Ketika aku sedang duduk bersama Nabi  datanglah seseorang kemudian memberi salam kepada beliau kemudian orang tadi berlalu dari beliau. Maka aku bertanya, “Ya Rasulullah , sesungguhnya aku benar-benar mencintai orang ini karena Allah,” maka beliau bertanya, “Apakah engkau pernah memberi tahu hal ini kepadanya ?” aku menjawab, “Belum,” maka beliau bersabda, “Beritahulah hal ini kepada saudaramu!” dia (Ibnu Umar) berkata, “Maka aku menyusul orang tersebut dan mendapatkannya, kemudian aku memegang pundaknya dan memberi salam kepadanya, dan aku katakan, “Demi Allah sesungguhnya aku mencintaimu karena Allah,” dia menjawab: “Demi Allah aku (juga) mencintaimu karena Allah,” aku berkata, “Kalau saja bukan karena Nabi yang memerintahkan kepadaku untuk menyampaikan hal ini kepadamu maka aku tidak akan mengatakannya.” 357 Penulis berkata, “Al Azraq bin Ali bersendiri dalam periwayatan hadis ini.”

4.3.13.Memerintahkan Dengan Yang Dicintai Allah, Melarang Dengan Yang Dibenci Allah Dan Suka Mengingat Allah

Di dalam kitab Syuab Al-Iman Baihaqi hadits nomor 410 dinyatakan bahwa mencintai Allah dengan cara memerintahkan dengan yang dicintai Allah, melarang dengan yang dibenci Allah;

أَخْبَرَنَا عَلِيُّ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ عَبْدَانَ، حدثنا أَحْمَدُ بْنُ عُبَيْدٍ الصَّفَّارُ، حدثنا عُبَيْدُ بْنُ شَرِيكٍ، حدثنا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، حدثنا اللَّيْثُ، عَنِ ابْنِ عَجْلَانَ، عَنْ وَاقِدِ بْنِ سَلَامَةَ، عَنْ يَزِيدَ الرَّقَاشِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، عَنْ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: " أَلَا أُخْبِرُكُمْ، عَنْ أَقْوَامٍ لَيْسُوا بِأَنْبِيَاءَ وَلَا شُهَدَاءَ يَغْبِطُهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الْأَنْبِيَاءُ وَالشُّهَدَاءُ بِمَنَازِلِهِمْ مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى مَنْابِرَ مِنْ نُورٍ يَكُونُونَ عَلَيْهَا ". قَالُوا: مَنْ هُمْ؟ قَالَ: " الَّذِينَ يُحَبِّبُونَ عِبَادَ اللهِ إِلَى اللهِ، وَيُحَبِّبُونَ اللهَ إِلَى عِبَادِهِ، وَهُمْ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ نُصَحَاءَ ". قَالَ: قُلْنَا: يُحَبِّبُونَ اللهَ إِلَى عِبَادِ اللهِ، فَكَيْفَ يُحَبِّبُونَ عِبَادَ اللهِ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: " يَأْمُرُونَهُمْ بِحُبِّ اللهِ وَيَنْهُونَهُمْ - يَعْنِي - عَمَّا كَرِهَ اللهُ فَإِذَا أَطَاعُوهُمْ أَحَبَّهُمُ اللهُ " -[13]- قَالَ الْبَيْهَقِيُّ رَحِمَهُ اللهُ: " وَجَاءَ عَنْهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " عَلَامَةُ حُبِّ اللهِ حُبُّ ذِكْرِ اللهِ، وَعَلَامَةُ بُغْضِ اللهِ بُغْضُ ذِكْرِهِ "، وَهَذَا إِنَّمَا بَلَغَنَا بِإِسْنَادٍ فِيهِ ضَعْفٌ [46] "

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Ali ibnu Ahmad ibnu abdan, telah menceritakan kepada kami ahmad ibnu Ubaid As Shafar, telah menceritakan kepada kami Ubaid ibnu Syarik, telah menceritakan kepada kami Yahya ibnu Bukair, telah menceritakan kepada kami Allaits, dari ibnu ‘Ajlan, dari Waqidi ibnu Salam, dari Yazid Ar Raqasyi, dari Anas ibnu Malik, dari Rasulullah  bahwa beliau bersabda: “Tidakkah kalian mau Aku beri khabar, tentang umat yang ukan Nabi dan bukan Syuhada’ , yang pada hari qiyamat para Nabi, Syuhada cemburu dengan kedudukannya di sisi Allah Azza wa Jalla berada di atas mimbar-mimbar dari Cahaya”, mereka berkata: “ siapakah mereka”, Rasulullah SAW bersabda:”mereka adalah hamba-hamba Allah yang saling mencintai karena Allah, dan Allah mencintai kepada hambanya, dan mereka berjalan di dunia menjadi orang-orang yang jujur”, berkata: bertanya kepada kami: Allah cinta pada hamba-hambanya Allah, bagaimana hamba-hamba Allah mereka saling mencintai karena Allah ?”, Rasulullah bersabda: “Mereka menyuruh dengan yang dicintai Allah dan melarang mereka, yakni; dari apa yang dibenci Allah, maka jika mereka mentaatinya Allah mencinta mereka”, Baihaqi rahimahullah berkata: “dan datang dari Nabi  bersabda: Tanda-tanda cinta Allah cinta mengingat Allah, dan dan tanda-tanda benci Allah benci mengingatnya, dan ini sebenarnya sampai kepada kami dengan sanad yang di dalamnya ada kelemahan.

4.3.14.Cinta Karena Allah Ta'ala Dan Benci Karena-Nya

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 14998 dinyatakan bahwa Seorang hamba tidak mencapai hakikat kebenaran iman yang sebenarnya, hingga dia cinta karena Allah Ta'ala dan benci karena-Nya;

حَدَّثَنَا الْهَيْثَمُ بْنُ خَارِجَةَ قَالَ أَبُو عَبْد الرَّحْمَنِ وَسَمِعْتُهُ أَنَا مِنْ الْهَيْثَمِ حَدَّثَنَا رِشْدِينُ بْنُ سَعْدٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْوَلِيدِ عَنْ أَبِي مَنْصُورٍ مَوْلَى الْأَنْصَارِ عَنْ عَمْرِو بْنِ الْجَمُوحِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ لَا يَحِقُّ الْعَبْدُ حَقَّ صَرِيحِ الْإِيمَانِ حَتَّى يُحِبَّ لِلَّهِ تَعَالَى وَيُبْغِضَ لِلَّهِ فَإِذَا أَحَبَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى وَأَبْغَضَ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فَقَدْ اسْتَحَقَّ الْوَلَاءَ مِنْ اللَّهِ وَإِنَّ أَوْلِيَائِي مِنْ عِبَادِي وَأَحِبَّائِي مِنْ خَلْقِي الَّذِينَ يُذْكَرُونَ بِذِكْرِي وَأُذْكَرُ بِذِكْرِهِمْ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Al Hutsaim bin Khorijah Abu Abdurrahman berkata; dan saya telah mendengarnya dan Al Hutsaim, telah menceritakan kepada kami Risydin bin Sa'd dari Abdullah bin Al Walid dari Abu Manshur, budak Al Anshor dari 'Amr bin Al Jamuh dia mendengar Nabi  bersabda: "Seorang hamba tidak mencapai hakikat kebenaran iman yang sebenarnya, hingga dia cinta karena Allah Ta'ala dan benci karena-Nya. Jika dia telah cinta karena Allah Ta'ala dan benci karena-Nya maka ia berhak mendapatkan pembelaan dari Allah." (Allah AzzaWaJalla berfirman) 'Para wali-Ku dari hambaku dan para kekasih-Ku dari mahluk-Ku adalah mereka yang disebut-sebut jika aku disebut, dan Aku disebut jika mereka disebut.

4.3.15.Mengajak Manusia Untuk Mencintai Allah

Di dalam kitab Mustadrak Hakim Atsar nomor 164 dinyatakan bahwa hamba Allah yang paling dicintai-Nya adalah orang-orang yang mengajak manusia untuk mencintai Allah;

أَخْبَرَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ السَّيَّارِيُّ، بِمَرْوَ، وَأَخْبَرَنَا أَبُو الْمُوَجَّهِ، أَنْبَأَ عَبْدَانُ، أَنْبَأَ عَبْدُ اللَّهِ، عَنْ مِسْعَرٍ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ السَّكْسَكِيِّ، قَالَ: حَدَّثَنِي أَصْحَابُنَا، عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ، أَنَّهُ قَالَ: إِنَّ «أَحَبَّ عِبَادِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ الَّذِينَ يُحَبِّبُونَ اللَّهَ إِلَى النَّاسِ وَالَّذِينَ يُرَاعُونَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ» . «هَذَا لَا يُفْسِدُ الْأَوَّلَ وَلَا يُعَلِّلُهُ فَإِنَّ ابْنَ عُيَيْنَةَ حَافِظٌ ثِقَةٌ، وَكَذَلِكَ ابْنُ الْمُبَارَكِ إِلَّا أَنَّهُ أَتَى بِأَسَانِيدَ أُخَرَ كَمَعْنَى الْحَدِيثِ الْأَوَّلِ [47] »:

Artinya: Abu Al Abbas As-Sayyari mengabarkan kepada kami di Marwa, Abu Al Muwajjih mengabarkan kepada kami, Abdan memberitakan (kepada kami), Abdullah memberitakan (kepada kami) dari Mis'ar, dari Ibrahim As-Saksaki, dia berkata: Teman-teman kami menceritakan kepadaku dari Abu Ad-Darda', dia berkata, ''Sesungguhnya hamba-hamba Allah yang paling dicintai-Nya adalah orang-orang yang mengajak manusia untuk mencintai Allah, dan orang-orang yang memperhatikan matahari serta bulan.” Ini tidak merusak hadis yang pertama dan tidak membuatnya ber-illat, karena Ibnu Uyainah seorang hafizh yang tsiqah. Begitu pula Ibnu Al Mubarak. Hanya saja, dia meriwayatkan dengan sanad-sanad lain seperti makna hadis pertama.

4.4. Mencintai Rasulullah SAW

Mencintai Rasulullah SAW merupakan bagian yang tidak terpisakan dari wujud  kecintaan kepada Allah, sehingga harus berupaya mewujudkannya, antara lain dalam bentuk;

4.4.1. Saling Mencintai Karena Rasulullah

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 2471 dinyatakan bahwa orang-orang yang saling mencintai karena Allah (menurut saya ia berkata) maka ia berada di dalam naungan Allah pada saat tidak ada naungan selain naungan-Nya;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ يَعْلَى بْنِ عَطَاءِ بْنِ الْوَلِيدِ بْنِ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ الْعَبْدِيِّ أَوْ الْخَوْلَانِيِّ قَالَ جَلَسْتُ مَجْلِسًا فِيهِ عِشْرُونَ مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَإِذَا فِيهِمْ شَابٌّ حَدِيثُ السِّنِّ حَسَنُ الْوَجْهِ أَدْعَجُ الْعَيْنَيْنِ أَغَرُّ الثَّنَايَا فَإِذَا اخْتَلَفُوا فِي شَيْءٍ فَقَالَ قَوْلًا انْتَهَوْا إِلَى قَوْلِهِ فَإِذَا هُوَ مُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ فَلَمَّا كَانَ مِنْ الْغَدِ جِئْتُ فَإِذَا هُوَ يُصَلِّي إِلَى سَارِيَةٍ قَالَ فَحَذَفَ مِنْ صَلَاتِهِ ثُمَّ احْتَبَى فَسَكَتَ قَالَ فَقُلْتُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ مِنْ جَلَالِ اللَّهِ قَالَ أَاللَّهِ قَالَ قُلْتُ أَاللَّهِ قَالَ فَإِنَّ مِنْ الْمُتَحَابِّينَ فِي اللَّهِ فِيمَا أَحْسَبُ أَنَّهُ قَالَ فِي ظِلِّ اللَّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ ثُمَّ لَيْسَ فِي بَقِيَّتِهِ شَكٌّ يَعْنِي فِي بَقِيَّةِ الْحَدِيثِ يُوضَعُ لَهُمْ كَرَاسٍ مِنْ نُورٍ يَغْبِطُهُمْ بِمَجْلِسِهِمْ مِنْ الرَّبِّ عَزَّ وَجَلَّ النَّبِيُّونَ وَالصِّدِّيقُونَ وَالشُّهَدَاءُ قَالَ فَحَدَّثْتُهُ عُبَادَةَ بْنَ الصَّامِتِ فَقَالَ لَا أُحَدِّثُكَ إِلَّا مَا سَمِعْتُ عَنْ لِسَانِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَحَابِّينَ فِيَّ وَحَقَّتْ لِلْمُتَبَاذِلِينَ فِيَّ وَحَقَّتْ مَحَبَّتِي لِلْمُتَصَادِقِينَ فِيَّ وَالْمُتَوَاصِلِينَ شَكَّ شُعْبَةُ فِي الْمُتَوَاصِلِينَ أَوْ الْمُتَزَاوِرِينَ [48]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Ja'far telah menceritakan kepada kami Syu'bah dari Ya'la bin 'Atho` bin Al Walid bin Abu 'Abdur Rahman dari Abu Idris Al 'Abdi atau Al Khoulani, ia berkata; Saya duduk disuatu majlis, disana ada duapuluh sahabat Nabi , ditengah-tengah mereka ada pemuda, berusia muda, elok rupanya, hitam matanya, putih giginya. Bila mereka berbeda pendapat tentang suatu hal, ia mengatakan kata-kata pamungkas. Ternyata ia adalah Mu'adz bin Jabal. Keesokan harinya saya datang dan ia tengah shalat menghadap seseorang yang berjalan. Mu'adz menghentikan shalat lalu duduk memeluk lutut kemudian diam. Kemudian saya berkata; 'Demi Allah, aku mencintaimu karena keagungan Allah. Ia berkata; Allah. Saya berkata; Engkau mengucapkan; Allah. Ia berkata; Karena orang-orang yang saling mencintai karena Allah -menurut saya ia berkata- maka ia berada didalam naungan Allah pada saat tidak ada naungan selain naungan-Nya. Selanjutnya tidak ada keraguan pada kelanjutannya -maksudnya kelanjutan hadits- Kursi-kursi dari cahaya diletakkan untuk mereka, pertemuan mereka dengan Allah membuat iri para nabi, orang-orang jujur dan para syuhada. Ia berkata; Kemudian saya menceritakannya kepada 'Ubadah bin Ash Shamit, ia berkata; Aku tidak menceritakan kepadamu selain yang telah aku dengar dari lisan Rasulullah '; "Wajiblah cintaKu untuk orang-orang yang saling mencintai karena Aku, bagi orang-orang yang berkorban karena Aku, bagi orang-orang yang saling berteman dan menyambung sillalurrahim -Syu'bah ragu tentang orang-orang yang menyambung sillaturrahim ataukah orang-orang yang saling mengunjungi." (HR. Ahmad: 20995)

4.4.2. Nabi Muhammad Lebih Dicintai Daripada Dirinya Sendiri

Di dalam Al Quran surat Al-Ahzab/ 33: 6 ditegaskan bahwa Nabi adalah lebih utama bagi orang beriman dibandingkan dirinya sendiri.

النَّبِيُّ أَوْلَى بِالْمُؤْمِنِينَ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَأَزْوَاجُهُ أُمَّهَاتُهُمْ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَى بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ إِلَّا أَنْ تَفْعَلُوا إِلَى أَوْلِيَائِكُمْ مَعْرُوفًا كَانَ ذَلِكَ فِي الْكِتَابِ مَسْطُورًا

Artinya: Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmim dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis di dalam Kitab (Allah).(QS. Al-Ahzab/ 33: 6)

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 6632 tergambar bahwa Rasulullah SAW harus lebih dicintai dari pada dirinya sendiri;

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ سُلَيْمَانَ قَالَ حَدَّثَنِي ابْنُ وَهْبٍ قَالَ أَخْبَرَنِي حَيْوَةُ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو عَقِيلٍ زُهْرَةُ بْنُ مَعْبَدٍ أَنَّهُ سَمِعَ جَدَّهُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ هِشَامٍ قَالَ كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ فَقَالَ لَهُ عُمَرُ فَإِنَّهُ الْآنَ وَاللَّهِ لَأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ نَفْسِي فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْآنَ يَا عُمَرُ [49]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Sulaiman menuturkan; telah menceritakan kepadaku Ibnu Wahab menuturkan; telah telah mengabarkan kepadaku Haiwah mengatakan; telah menceritakan kepadaku Abu Uqail Zuhra bin Ma'bad bahwasanya ia mendengar kakeknya, Abdullah bin Hisyam menuturkan; kami pernah bersama Nabi  yang saat itu beliau menggandeng tangan Umar bin Khattab, kemudian Umar berujar: "ya Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai dari segala-galanya selain diriku sendiri." Nabi  bersabda: "Tidak, demi Dzat yang jiwa berada di Tangan-Nya, hingga aku lebih engkau cintai daripada dirimu sendiri." Maka Umar berujar; 'Sekarang demi Allah, engkau lebih aku cintai daripada diriku'. Maka Nabi  bersabda: "sekarang (baru benar) wahai Umar."

4.4.3. Aku Lebih Dicintai Daripada Keluarga Dan Hartanya

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 3587-3589 ditegaskan bahwa suatu jaman yang ketika itu ia berkeyakinan aku lebih dicintainya daripada dia memiliki seperti keluarga dan hartanya;

حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ حَدَّثَنَا أَبُو الزِّنَادِ عَنْ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تُقَاتِلُوا قَوْمًا نِعَالُهُمْ الشَّعَرُ وَحَتَّى تُقَاتِلُوا التُّرْكَ صِغَارَ الْأَعْيُنِ حُمْرَ الْوُجُوهِ ذُلْفَ الْأُنُوفِ كَأَنَّ وُجُوهَهُمْ الْمَجَانُّ الْمُطْرَقَةُ وَتَجِدُونَ مِنْ خَيْرِ النَّاسِ أَشَدَّهُمْ كَرَاهِيَةً لِهَذَا الْأَمْرِ حَتَّى يَقَعَ فِيهِ وَالنَّاسُ مَعَادِنُ خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْإِسْلَامِ وَلَيَأْتِيَنَّ عَلَى أَحَدِكُمْ زَمَانٌ لَأَنْ يَرَانِي أَحَبُّ إِلَيْهِ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَهُ مِثْلُ أَهْلِهِ وَمَالِهِ [50]

Artinya: Telah bercerita kepada kami Abu Al Yaman telah mengabarkan kepada kami Syu'aib telah bercerita kepada kami Abu Az Zanad dari Al A'raj dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu dari Nabi  bersabda: "Tidak akan terjadi hari qiyamat hingga kalian memerangi suatu kaum yang sandal mereka terbuat dari rambut dan hingga kalian memerangi bangsa Turki yang bermata kecil (sipit), berwajah merah dan berhidung pesek, wajah-wajah mereka bagaikan perisai yang ditambal. Dan kalian dapatkan manusia paling baik adalah yang paling tidak selera terhadap urusan ini (kekuasaan) hingga dia terlibat (demi menegakkan keadilan) dalam urusan kepemerintahan ini, dan manusia mempunyai potensi bagaikan barang tambang, orang yang terbaik pada masa jahiliyah akan menjadi yang terbaik pula di masa Islam jika mereka memahami Islam, dan sungguh pasti akan datang kepada salah seorang dari kalian suatu jaman yang ketika itu ia berkeyakinan aku lebih dicintainya daripada dia memiliki seperti keluarga dan hartanya".

4.4.4. Memiliki Satu Helai Rambutnya Lebih Disukai Dari Dunia Seisinya

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 165 digambarkan bahwa Sekiranya aku memiliki satu helai rambut Rasulullah, maka itu lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya;

حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ إِسْمَاعِيلَ قَالَ حَدَّثَنَا إِسْرَائِيلُ عَنْ عَاصِمٍ عَنْ ابْنِ سِيرِينَ قَالَ قُلْتُ لِعَبِيدَةَ عِنْدَنَا مِنْ شَعَرِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصَبْنَاهُ مِنْ قِبَلِ أَنَسٍ أَوْ مِنْ قِبَلِ أَهْلِ أَنَسٍ فَقَالَ لَأَنْ تَكُونَ عِنْدِي شَعَرَةٌ مِنْهُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا [51]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Malik bin Isma'il berkata, telah menceritakan kepada kami Israil dari 'Ashim dari Ibnu Sirin berkata, "Aku berkata kepada Abidah, "Kami memiliki rambut Nabi  yang kami dapat dari Anas, atau keluarga Anas.' Ia lalu berkata, "Sekiranya aku memiliki satu helai rambut Rasulullah, maka itu lebih aku sukai daripada dunia dan seisinya."

4.5. Menyiapkan Perisai Dari Kefakiran

Di dalam kitab Sunan Tirmidzi hadits nomor 2506 ditegaskan bahwa Jika kamu mencintaiku maka persiapkanlah perisai untuk kefakiran, karena kefakiran lebih cepat kepada orang yang mencintaiku melebihi aliran menuju hilir;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرِو بْنِ نَبْهَانَ بْنِ صَفْوَانَ الثَّقَفِيُّ الْبَصْرِيُّ حَدَّثَنَا رَوْحُ بْنُ أَسْلَمَ حَدَّثَنَا شَدَّادٌ أَبُو طَلْحَةَ الرَّاسِبِيُّ عَنْ أَبِي الْوَازِعِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُغَفَّلٍ قَالَ قَالَ رَجُلٌ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ انْظُرْ مَاذَا تَقُولُ قَالَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ انْظُرْ مَاذَا تَقُولُ قَالَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ إِنْ كُنْتَ تُحِبُّنِي فَأَعِدَّ لِلْفَقْرِ تِجْفَافًا فَإِنَّ الْفَقْرَ أَسْرَعُ إِلَى مَنْ يُحِبُّنِي مِنْ السَّيْلِ إِلَى مُنْتَهَاهُ [52]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin 'Amru bin Nabhan bin Shafwan Ats Tsaqafi Al Bashri telah menceritakan kepada kami Rauh bin Aslam telah menceritakan kepada kami Syaddad Abu Thalhah Ar Rasibi dari Abul Wazi' dari 'Abdullah bin Mughaffal dia berkata bahwa ada seorang lelaki berkata kepada Nabi : Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sangat mencintai baginda. Beliau bersabda: "Perhatikan apa yang kamu katakan." Dia berkata lagi: Demi Allah sungguh aku sangat mencintai baginda. Nabi  bersabda lagi: "Perhatikan apa yang kamu katakan." Dia berkata lagi: Demi Allah sungguh aku sangat mencintai baginda. tiga kali dia mengucapkannya, lalu beliau  bersabda: "Jika kamu mencintaiku maka persiapkanlah perisai untuk kefakiran, karena kefakiran lebih cepat kepada orang yang mencintaiku melebihi aliran menuju hilir."

4.6. Baik, Bertaqwa Dan Menyamarkan Diri

Di dalam kitab Mustadrak Hakim hadits nomor 4 dinyatakan Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang baik yang bertakwa, yang suka menyamarkan diri;

حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ عَيَّاشِ بْنِ عَبَّاسٍ الْقِتْبَانِيُّ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ عُمَرَ، خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ يَوْمًا فَوَجَدَ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ عِنْدَ قَبْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْكِي، فَقَالَ: مَا يُبْكِيكَ يَا مُعَاذُ؟ قَالَ: يُبْكِينِي حَدِيثٌ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «الْيَسِيرُ مِنَ الرِّيَاءِ شِرْكٌ، وَمَنْ عَادَى أَوْلِيَاءَ اللَّهِ فَقَدْ بَارَزَ اللَّهَ بِالْمُحَارَبَةِ، إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْأَبْرَارَ الْأَتْقِيَاءَ الْأَخْفِيَاءَ، الَّذِينَ إِنْ غَابُوا لَمْ يُفْتَقَدُوا، وَإِنْ حَضَرُوا لَمْ يُعْرَفُوا، قُلُوبُهُمْ مَصَابِيحُ الْهُدَى، يَخْرُجُونَ مِنْ كُلِّ غَبْرَاءَ مُظْلِمَةٍ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ وَلَمْ يُخَرَّجْ فِي الصَّحِيحَيْنِ، وَقَدِ احْتَجَّا جَمِيعًا بِزَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ الصَّحَابَةِ، وَاتَّفَقَا جَمِيعًا عَلَى الِاحْتِجَاجِ بِحَدِيثِ اللَّيْثِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ عَيَّاشِ بْنِ عَبَّاسٍ الْقِتْبَانِيِّ وَهَذَا إِسْنَادٌ مِصْرِيٌّ صَحِيحٌ وَلَا يَحْفَظُ لَهُ عِلَّةٌ» [53] 

Artinya: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya'qub menceritakan kepada kami, Ar-Rabi' bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami, Al-Laits bin Sa'ad mengabarkan kepadaku dari Ayyasy bin Abbas Al Qitbani, dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, bahwa pada suatu hari Umar keluar menuju masjid, lalu dia mendapati Mu'adz bin Jabal menangis di sisi makam Rasulullah . Umar pun bertanya, "Apa yang membuatmu menangis, wahai Mu'adz?" Mu'adz menjawab, "Aku menangis karena suatu hadis yang pernah aku dengar dari Rasulullah , beliau bersabda, 'Riya yang sedikit adalah syirik. Barangsiapa memusuhi wali-wali Allah, maka dia telah menyatakan perang terhadap Allah secara terang-terangan. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang baik yang bertakwa, yang suka menyamarkan diri (yang menyepi dari masyarakat dan tidak diketahui tempatnya). Jika mereka tidak ada maka mereka tidak dicari, dan jika mereka ada maka mereka tidak dikenal. Hati mereka adalah lentera petunjuk, mereka keluar dari setiap masalah yang sulit'." Hadis ini shahih dan tidak dinukil dalam Ash-Shahihain. Al Bukhari dan Muslim sama-sama menjadikan Yazid bin Aslam dari ayahnya, dari para sahabat sebagai hujjah. Selain itu, keduanya juga sama-sama sepakat menjadikan hadis Al-Laits bin Sa'ad dari Ayyasy bin Abbas Al Qutbani sebagai hujjah. Ini merupakan sanad yang shahih dan tidak diketahui memiliki cacat.

4.7. Qalbu Yang Shalih

Di dalam kitab Hilyatul Aulia hadits nomor 8443 digambarkan tentang wadah yang dicintai Allah adalah qalbunya orang-orang shalih;

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ مَالِكٍ , ثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ أَحْمَدَ , ثَنَا هَارُونُ بْنُ مَعْرُوفٍ , ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْقَاسِمِ , ثَنَا ثَوْرٌ , عَنْ خَالِدٍ , عَنْ أَبِي أُمَامَةَ , قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ لِلَّهِ فِي الْأَرْضِ آنِيَةٌ وَأَحَبُّ آنِيَةِ اللهِ إِلَيْهِ مَا رَقَّ مِنْهَا وَصَفَا، وَآنِيَةُ اللهِ فِي الْأَرْضِ قُلُوبُ الْعِبَادِ الصَّالِحِينَ» غَرِيبٌ مِنْ حَدِيثِ ثَوْرٍ لَمْ نَكْتُبْهُ إِلَّا مِنْ حَدِيثِ مُحَمَّدِ بْنِ الْقَاسِمِ [54]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar ibnu Malik, telah mengabarkan kepada kami Abdullah ibnu Ahmad, telah mengabarkan kepada kami Harun ibnu Harun, telah mengabarkan kepada kami Muhammad ibnu Al Qasim, telah mengabarkan kepada kami Tsaur, dari Khalid, dari Abi umamah, berkata: Rasulullah  bersabda “Sesungguhnya Allah memiliki wadah-wadah di bumi dan wadah yang paling dicintai Allah apa yang menjadikannya bagus dan teratur, dan wadah Allah di bumi adalah qalbu Hamba-hambanya yang shalih Hadits Gharib dari Tsaur kami tidak menulisnya kecuali dari hadits Muhammad ibnu Qasim.

4.8. Sesekali Berkunjung Menambah Cinta

Di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi hadits nomor 8559 dinyatakan kunjungilah sesekali, maka cinta akan bertambah;

أَخْبَرَنَا أَبُو حَامِدٍ أَحْمَدُ بْنُ أَبِي خَلَفٍ الْإِسْفَرَاينِيُّ بِهَا، نا مُحَمَّدُ بْنُ يَزْدَادَ بْنِ -[566]- مَسْعُودٍ، نا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ سُلَيْمَانَ أَبُو أَيُّوبَ الْبَصْرِيُّ، نا عُوَيْدُ بْنُ أَبِي عِمْرَانَ الْجَوْنِيُّ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ الصَّامِتِ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " يَا أَبَا ذَرٍّ، زُرْ غِبًّا تَزْدَدْ حُبًّا "

Artinya: Diriwayatkan oleh Abu Hamid Ahmad bin Abi Khalaf al-Isfara’ini, dia berkata: “Muhammad bin Yazdad bin Mas’ud menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdullah bin Sulaiman Abu Ayyub al-Bashri menceritakan kepada kami, Uwaid bin Abi Imran al-Juni menceritakan kepada kami, dari ayahnya, dari Abdullah bin Shamit, dari Abu Dzar, dia berkata: Rasulullah  bersabda: ‘Wahai Abu Dzar, kunjungilah sesekali, maka cinta akan bertambah.’” (HR. Baihaqi, Syuabul Iman Baihaqi: 8362)

4.9. Saling Mencintai Dengan  Menebar Salam

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 93 dinyatakan bahwa Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling mencintai, dengan menebar salam;

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ وَوَكِيعٌ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ [55]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Abu Mu'awiyah dan Waki' dari al-A'masy dari Abu Shalih dari Abu Hurairah dia berkata, "Rasulullah bersabda: "Kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling mencintai. Maukan kalian aku tunjukkan atas sesuatu yang mana apabila kalian mengerjakannya niscaya kalian akan saling mencintai. Sebarkanlah salam di antara kalian."

4.10. Saling Memberi Hadiah Akan Menumbuhkan Rasa Saling Mencintai

Di dalam kitab Muwatho’ Malik hadits nomor 16 dinyatakan bahwa saling memberi hadiah dapat menumbuhkan perasaan saling mencintai;

و حَدَّثَنِي عَنْ مَالِك عَنْ عَطَاءِ بْنِ أَبِي مُسْلِمٍ عَبْدِ اللَّهِ الْخُرَاسَانِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَصَافَحُوا يَذْهَبْ الْغِلُّ وَتَهَادَوْا تَحَابُّوا وَتَذْهَبْ الشَّحْنَاءُ [56]

Artinya: Telah menceritakan kepadaku Malik dari 'Atha bin Abu Muslim Abdullah Al Khurasani berkata, "Rasulullah  bersabda: "Hendaklah kalian saling berjabat tangan, niscaya maka akan hilanglah kedengkian. Hendaklah kalian saling memberi hadiah, niscaya akan saling mencintai dan menghilanglah permusuhan."

Di dalam kitab Al Mu’jam Al Kubra Li-Thabarani hadits nomor 393, dinyatakan bahwa Salinglah memberi hadiah, karena sesungguhnya hadiah itu dapat melipatgandakan rasa cinta;

حَدَّثَنَا الْعَبَّاسُ بْنُ الْفَضْلِ، حَدَّثَنَا مُوسَى بْنُ إِسْمَاعِيلَ، حَدَّثَتْنَا حُبَابَةُ بِنْتُ عَجْلَانَ الْخُزَاعِيَّةُ، قَالَتْ: حَدَّثَتْنِي أُمِّي حَفْصَةُ، عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ جَرِيرٍ، عَنْ أُمِّ حَكِيمٍ بِنْتِ وَدَاعٍ الْخُزَاعِيَّةِ، قَالَتْ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ ﷺ، يَقُولُ: «تَهَادَوْا فَإِنَّ الْهَدِيَّةَ تُضْعِفُ الْحُبَّ وَتَذْهَبُ بِغَوَائِلِ الصَّدْرِ»[57]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Al-‘Abbas bin Al-Fadhl, telah menceritakan kepada kami Musa bin Isma‘il, telah menceritakan kepada kami Hubabah binti ‘Ajlan Al-Khuza‘iyyah, ia berkata: Telah menceritakan kepadaku ibuku Hafshah, dari Shafiyyah binti Jarir, dari Ummu Hakim binti Wada‘ Al-Khuza‘iyyah, ia berkata: Aku mendengar Nabi  bersabda: "Salinglah memberi hadiah, karena sesungguhnya hadiah itu dapat melipatgandakan rasa cinta dan menghilangkan kebencian yang ada di dalam dada."

4.11. Menerima Hadiah Dan Membalasnya

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2396 dinyatakan bahwa Rasulullah  menerima pemberiah hadiah dan membalasnya;

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا عِيسَى بْنُ يُونُسَ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقْبَلُ الْهَدِيَّةَ وَيُثِيبُ عَلَيْهَا لَمْ يَذْكُرْ وَكِيعٌ وَمُحَاضِرٌ عَنْ هِشَامٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ [58]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Musaddad telah menceritakan kepada kami 'Isa bin Yunus dari Hisyam dari bapaknya dari 'Aisyah radliallahu 'anha berkata: "Adalah Rasulullah  menerima pemberiah hadiah dan membalasnya". Waki' dan Muhadhir tidak menebutkan dari Hisyam dari bapaknya dari 'Aisyah radliallahu 'anha.

4.12. Baik Akhlaqnya

Di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2585 ditegaskan bahwa Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaqnya';

حَدَّثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ سُلَيْمَانَ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا وَائِلٍ قَالَ سَمِعْتُ مَسْرُوقًا قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَكُنْ فَاحِشًا وَلَا مُتَفَحِّشًا وَقَالَ إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا [59]

Artinya: Telah bercerita kepada kami Hafsh bin 'Umar telah bercerita kepada kami Syu'bah dari Sulaiman berkata, aku mendengar Abu Wa'il berkata, aku mendengar Masruq berkata; " 'Abdullah bin 'Amr berkata; "Rasulullah  bukanlah orang yang suka berbicara kotor (keji) juga tidak pernah berbuat keji dan beliau bersabda: "Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian adalah orang yang paling baik akhlaqnya".

4.13.   Banyak Manfaatnya Bagi Keluarga

Di dalam kitab Mujam Thabarani Kabir nomor 10033 dan kitab Syuab Al-Iman Baihaqi nomor 7446 dinyatakan bahwa  yang paling dicintai Allah adalah yang paling banyak manfaanya bagi keluarga;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْفَضْلِ السَّقَطِيُّ، ثنا إِسْحَاقُ بْنُ كَعْبٍ، ثنا مُوسَى بْنُ عُمَيْرٍ، عَنِ الْحَكَمِ، عَنْ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عَلْقَمَةَ، عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: «الْخَلْقُ كُلُّهُمْ عِيَالُ اللهِ، فَأَحَبُّ الْخَلْقِ إِلَى اللهِ أَنْفَعُهُمْ لِعِيَالِهِ» [60]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Al Fadhl As Saqathi telah menceritakan kepada kami Ishaq ibnu Ka’b telah menceritakan kepada kami Musa ibnu Umair dari Al hakim dari Ibrahim dari ‘Alqamah dari Abdullah berkata; Bersabda rasulullah  “Semua makhluk adalah keluarga Allah, adapun makhluk yang paling dicintai Allah adalah yang paling banyak manfaatnya bagi keluarganya.”

حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدِ بْنُ يُوسُفَ، أنا أَبُو عَمْرِو بْنُ مَطَرٍ، أنا أَبُو الْقَاسِمِ بْنُ -[522]- أُمَيَّةَ بْنِ مَنِيعٍ، نا أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْمَوْصِلِيُّ، قَالَ: كُنْتُ مَعَ أَمِيرِ الْمُؤْمِنِينَ بِالشُّمَاسِيَّةِ وَهُوَ يُجْرِي الْحَلَبَةَ، وَمَعَهُ يَحْيَى بْنُ أَكْثَمَ وَهُوَ يَقُولُ: يَا يَحْيَى أَمَا تَرَى؟ أَمَا تَرَى؟ ثُمَّ قَالَ: حَدَّثَنَا يُوسُفُ بْنُ عَطِيَّةَ عَنْ ثَابِتٍ الْبُنَانِيِّ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: " الْخَلْقُ كُلُّهُمْ عِيَالُ اللهِ، فَأَحَبُّ الْخَلْقِ إِلَى اللهِ أَنْفَعُهُمْ لِعِيَالِهِ " قَالَ أَحْمَدُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ الْمَوْصِلِيُّ، ثنا يُوسُفُ بْنُ عَطِيَّةَ، عَنْ ثَابِتٍ بِهَذَا [61]

Artinya: Telah menceriterakan kepada kami Abu Muhammad ibnu Yusuf, telah menceriterakan kepada kami Abu Umar ibnu Mathar, telah menceriterakan kepada kami Abu Qasim ibnu Umayah ibnu Mani’, telah menceriterakan kepada kami Muhammad ibnu Ibrahim Al Maushiliyu berkata: kami bersama amirul mu’minin di Sumasiyah dan beliau memeras susu, dan bersama dengannya Yahya ibnu Aksam dan dia berkata: Hai Yahya apa yang kamu lihat ? apa yang kamulihat ? kemudian berkata: bahwa sesungguhnya Nabi Muhammad  bersabda: “ Semua makhluq semuanya adalah keluarga Allah, adapun makhluq yang paling dicintai Allah adalah yang paling banyak manfaatnya untuk keluarganya”, berkata Ahmad ibnu Ibrahim Al Maushili, telah menceriterakan kepada kami Yusuf ibnu ‘Athiyah dari Tsabit sama dengan ini.

4.14. Berlaku Zuhud Dalam Urusan Dunia

Di dalam kitab Sunan Ibnu Majah hadits nomor 4102 dijelaskan bahwa amalan yang dapat menimbulkan cinta Allah adalah berlaku zuhud terhadap dunia;

حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ أَبِي السَّفَرِ حَدَّثَنَا شِهَابُ بْنُ عَبَّادٍ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ عَمْرٍو الْقُرَشِيُّ عَنْ سُفْيَانَ الثَّوْرِيِّ عَنْ أَبِي حَازِمٍ عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ السَّاعِدِيِّ قَالَ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ دُلَّنِي عَلَى عَمَلٍ إِذَا أَنَا عَمِلْتُهُ أَحَبَّنِي اللَّهُ وَأَحَبَّنِي النَّاسُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ [62]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu 'Ubaidah bin Abu As Safar telah menceritakan kepada kami Syihab bin 'Abbad telah menceritakan kepada kami Khalid bin 'Amru Al Qurasyi dari Sufyan Ats Tsauri dari Abu Hazim dari Sahl bin Sa'd As Sa'idi dia berkata, "Seorang laki-laki datang kepada Nabi seraya berkata, "Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku suatu amalan yang jika aku kerjakan maka Allah dan seluruh manusia akan mencintaiku." Rasulullah  bersabda: "Berlakulah zuhud dalam urusan dunia niscaya kamu akan dicintai Allah, dan zuhudlah kamu terhadap apa yang dimiliki orang lain niscaya kamu akan dicintai orang-orang."

4.15.  Cinta Dan Benci Kepada Manusia Seperlunya Saja

Di dalam kitab Al-Adab Al-Mufrad hadits nomor 1321 dinyatakan Cintailah orang yang engkau cintai seperlunya, dan bencilah orang yang kamu benci seperlunya;

حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا سُوَيْدُ بْنُ عَمْرٍو الْكَلْبِيُّ عَنْ حَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ عَنْ أَيُّوبَ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ سِيرِينَ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أُرَاهُ رَفَعَهُ قَالَ أَحْبِبْ حَبِيبَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ بَغِيضَكَ يَوْمًا مَا وَأَبْغِضْ بَغِيضَكَ هَوْنًا مَا عَسَى أَنْ يَكُونَ حَبِيبَكَ يَوْمًا مَا [63]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Kuraib, telah menceritakan kepada kami Suwaid bin Amru Al Kalbi dari Hammad bin Salamah dari Ayyub dari Muhammad bin Sirrin dari Abu Hurairah (aku menduga, bahwa dia memarfu'kannya) berkata: "Cintailah orang yang engkau cintai seperlunya, karena bisa saja suatu hari dia akan menjadi musuhmu, dan bencilah orang yang kamu benci seperlunya, karena bisa jadi suatu hari kelak dia akan menjadi orang yang engkau cintai."

4.16. Perkataan Yang Paling Dicintainya Subhanallah wabihamdihi

Di dalam kitab Shahih Muslim hadits nomor 2731 ditegaskan bahwa sesungguhnya ucapan yang paling disukai Allah Azza Wa Jalla adalah Subhaanallahu wa bihamdih' (Mahasuci Allah dengan segala puji bagi-Nya).

حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَبِي بُكَيْرٍ عَنْ شُعْبَةَ عَنْ الْجُرَيْرِيِّ عَنْ أَبِي عَبْدِ اللَّهِ الْجِسْرِيِّ مِنْ عَنَزَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الصَّامِتِ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلَا أُخْبِرُكَ بِأَحَبِّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِأَحَبِّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ فَقَالَ إِنَّ أَحَبَّ الْكَلَامِ إِلَى اللَّهِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ [64]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Abu Bakr bin Abu Syaibah telah menceritakan kepada kami Yahya bin Abu Bukair dari Syu'bah dari Al Jurairi dari Abu 'Abdullah Al Jisri dari 'Anazah dari 'Abdullah bin Ash Shamit dari Abu Dzar dia berkata; "Rasulullah  pernah bertanya kepada saya: 'Hai Abu Dzarr, maukah kamu aku beritahukan tentang ucapan yang disenangi Allah? ' Saya menjawab; 'Ya, saya mau ya Rasulullah. Beritahukanlah kepada saya tentang ucapan yang disenangi Allah.' Kemudian beliau bersabda: 'Sesungguhnya ucapan yang paling disukai Allah Azza Wa Jalla adalah Subhaanallahu wa bihamdih' (Mahasuci Allah dengan segala puji bagi-Nya).'

4.17.   Menjadi Imam “Pemimpin” Yang Adil

Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 11525, dinyatakan bahwa Sesungguhnya manusia yang paling Allah cintai dan paling dekat tempat duduknya dengan-Nya pada hari kiamat adalah seorang pemimpin yang adil;

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ إِسْحَاقَ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا الْفُضَيْلُ بْنُ مَرْزُوقٍ عَنْ عَطِيَّةَ الْعَوْفِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ أَحَبَّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَقْرَبَهُمْ مِنْهُ مَجْلِسًا إِمَامٌ عَادِلٌ وَإِنَّ أَبْغَضَ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَشَدَّهُمْ عَذَابًا إِمَامٌ جَائِرٌ [65]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ali bin Ishaq berkata; telah mengabarkan kepada kami Abdullah berkata; telah mengabarkan kepada kami Al Fudhail bin Marzuq dari 'Athiyyah Al 'Aufi dari Abu Sa'id Al Khudri ia berkata; Rasulullah  bersabda: "Sesungguhnya manusia yang paling Allah cintai dan paling dekat tempat duduknya dengan-Nya pada hari kiamat adalah seorang pemimpin yang adil, dan manusia yang paling Allah benci dan paling keras siksanya pada hari kiamat adalah pemimpin yang lalim."

4.18.   Apabila Marah Maka Dia Dapat Menahannya

Di dalam kitab Mustadrak Hakim hadits nomor 433 dinyatakan bahwa Ada tiga orang yang akan dilindungi oleh Allah dalam naungan-Nya dan akan ditutupi dengan rahmat-Nya serta dimasukkan dalam cinta-Nya, yaitu; Orang yang apabila diberi maka dia bersyukur, apabila mampu memberi hukuman maka dia mengampuni, dan apabila marah maka dia dapat menahannya.;

حَدَّثَنَا أَبُو مُحَمَّدٍ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ جَعْفَرِ بْنِ دَرَسْتَوَيْهِ الْفَارِسِيُّ، ثنا يَعْقُوبُ بْنُ سُفْيَانَ، ثنا عُمَرُ بْنُ رَاشِدٍ، مَوْلَى عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ التَّيْمِيِّ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي ذِئْبٍ الْقُرَشِيُّ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَلِيٍّ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «ثَلَاثَةٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ آوَاهُ اللَّهُ فِي كَنَفِهِ، وَسَتَرَ عَلَيْهِ بِرَحْمَتِهِ، وَأَدْخَلَهُ فِي مَحَبَّتِهِ» قِيلَ: مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «مَنْ إِذَا أُعْطِي شُكَرَ، وَإِذَا قَدَرَ غَفَرَ، وَإِذَا غَضِبَ فَتَرَ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الْإِسْنَادِ، فَإِنَّ عُمَرَ بْنَ رَاشِدٍ شَيْخٌ مِنْ أَهْلِ الْحِجَازِ مِنْ نَاحِيَةِ الْمَدِينَةِ، قَدْ رَوَى عَنْهُ أَكَابِرُ الْمُحَدِّثِينَ [66]

Artinya: Abu Muhammad Abdullah bin Ja'far bin Darastawaih Al Farisi menceritakan kepada kami, Ya'qub bin Sufyan menceritakan kepada kami, Umar bin Rasyid ([maula Abdurrahman bin Aban bin Utsman At-Taimi) menceritakan kepada kami, Muhammad bin Abdurrahman bin Abu Dzi'ib Al Qurasyi menceritakan kepada kami dari Hisyam bin Urwah, dari Muhammad bin Ali, dari Ibnu Abbas, dia berkata: Rasulullah  bersabda, “Ada tiga orang yang akan dilindungi oleh Allah dalam naungan-Nya dan akan ditutupi dengan rahmat-Nya serta dimasukkan dalam cinta-Nya” Beliau lalu ditanya, "Siapakah mereka, wahai Rasulullah?" Beliau  menjawab, "Orang yang apabila diberi maka dia bersyukur, apabila mampu memberi hukuman maka dia mengampuni, dan apabila marah maka dia dapat menahannya." Hadis ini sanadnya shahih, karena Umar bin Rasyid adalah seorang syaikh dari Hijaz, dari arah Madinah. Para muhaddits besar meriwayatkan darinya.

4.19.  Beriman dan Beramal Shalih

Di dalam Al kitab Mujam Thabarani Ausath hadits nomor 5516 digambarkan berdasar Al Quran surat Maryam/ 19: 96 Allah akan menumbuhkan dalam hati orang beriman yang beramal shalih rasa cinta;

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عُثْمَانَ بْنِ أَبِي شَيْبَةَ قَالَ: ثَنَا عَوْنُ بْنُ سَلَّامٍ قَالَ: ثَنَا بِشْرُ بْنُ عِمَارَةَ الْخَثْعَمِيُّ، عَنْ أَبِي رَوْقٍ، عَنِ الضَّحَّاكِ بْنِ مُزَاحِمٍ، عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: «نَزَلَتْ فِي عَلِيٍّ: ﴿إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَيَجْعَلُ لَهُمُ الرَّحْمَنُ وُدًّا﴾ [مريم: ٩٦] قَالَ: مَحَبَّةٌ فِي قُلُوبِ الْمُؤْمِنِينَ» لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيثَ عَنْ أَبِي رَوْقٍ إِلَّا بِشْرُ بْنُ عِمَارَةَ، وَتَفَرَّدَ بِهِ: عَوْنُ بْنُ سَلَّامٍ " [67]

Artinya: Diriwayatkan oleh Muhammad bin Utsman bin Abu Syaibah, ia berkata: "Telah menceritakan kepada kami 'Aun bin Salam, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami Bisyr bin 'Amarah Al-Khuts'ami dari Abu Rauq dari Adh-Dhahhak bin Muzahim dari Ibnu 'Abbas, ia berkata: 'Turun ayat ini tentang Ali (yaitu): {Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang} (Maryam: 96).' Ibnu 'Abbas berkata: 'Maksudnya adalah cinta dalam hati orang-orang yang beriman.' Tidak ada yang meriwayatkan hadis ini dari Abu Rauq kecuali Bisyr bin 'Amarah dan yang meriwayatkannya secara sendiri adalah 'Aun bin Salam."

4.20.   Mengikuti Jalan Yang Lurus

Di dalam Al Quran surat Al-An'am (6): 153 disebutkan perintah untuk mengikuti jalannya Allah yang lurus;

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah agar kamu bertakwa. (QS. Al-An'am/ 6: 153)

Mengikuti jalan yang lurus membimbing hati saling terikat dan saling mencintai karena ketakwaan kepada Allah, sedangkan jika mengikuti jalan-jalan yang lainnya akan perpecahan dan tercerai berai.

4.21. Berdoa “Aku Meminta Cintamu, Cinta Orang Yang Mencintaimu, Cinta Amalan Yang Mendekatkanku Pada Cintamu”

Di dalam Kitab Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain hadits nomor 1913 disebutkan permintaan (doa) Rasulullah SAW kepada Allah SWT; 'Ya Allah! Aku meminta kepada-Mu perbuatan-perbuatan baik, meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, mengampuniKu, merahmatiKu, bila Kau hendak menyiksa suatu kaum, maka wafatkanlah aku tanpa terkena siksaan, aku meminta cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, cinta amalan yang mendekatkanku pada cinta-Mu;

أَخْبَرَنَا أَبُو حَفْصٍ عُمَرُ بْنُ مُحَمَّدٍ الْفَقِيهُ بِبُخَارَى، ثنا صَالِحُ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ حَبِيبٍ الْحَافِظِ، ثنا مُحَمَّدُ بْنُ سَعِيدِ بْنِ سُوَيْدٍ الْقُرَشِيُّ، بِالْكُوفَةِ، حَدَّثَنِي أَبِي، ثنا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ إِسْحَاقَ، عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِي لَيْلَى، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، ﵁، قَالَ: «أَبْطَأَ عَنَّا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ بِصَلَاةِ الْفَجْرِ حَتَّى كَادَتْ أَنْ تُدْرِكَنَا الشَّمْسُ، ثُمَّ خَرَجَ فَصَلَّى بِنَا فَخَفَّفَ فِي صَلَاتِهِ، ثُمَّ انْصَرَفَ، فَأَقْبَلْ عَلَيْنَا بِوَجْهِهِ»، فَقَالَ: «عَلَى مَكَانِكُمْ أُخْبِرُكُمْ مَا أَبْطَأَنِي عَنْكُمُ الْيَوْمَ فِي هَذِهِ الصَّلَاةِ، إِنِّي صَلَّيْتُ فِي لَيْلَتِي هَذِهِ مَا شَاءَ اللَّهُ، ثُمَّ مَلَكَتْنِي عَيْنِي، فَنِمْتُ فَرَأَيْتُ رَبِّي ﵎ فَأَلْهَمَنِي أَنْ قُلْتُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الطَّيِّبَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَتُوبَ عَلَيَّ، وَتَغْفِرَ لِي، وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِي خَلْقِكَ فِتْنَةً فَنَجِّنِي إِلَيْكَ مِنْهَا غَيْرَ مَفْتُونٍ، اللَّهُمَّ وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ»، ثُمَّ أَقْبَلَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ ﷺ فَقَالَ: «تُعَلَّمُوهُنَّ وَادْرُسُوهُنَّ فَإِنَّهُنَّ حَقٌّ» [68] 

Artinya: Mu‘ādz bin Jabal RA berkata: “Rasulullah  terlambat datang kepada kami untuk melaksanakan salat Subuh hingga hampir saja matahari terbit. Kemudian beliau keluar dan mengimami kami dengan salat yang diperingan, lalu setelah selesai beliau menghadap kepada kami dan bersabda: ‘Tetaplah di tempat kalian, akan aku beritahukan kepada kalian apa yang membuatku terlambat dari salat ini hari ini. Sesungguhnya aku salat malam pada malam ini sesuai yang Allah kehendaki, kemudian mataku dikuasai rasa kantuk lalu aku tertidur, maka aku melihat Rabbku dalam tidurku, dan Dia mengilhamkan kepadaku hingga aku mengatakan: Ya Allah, aku memohon kepada-Mu kebaikan-kebaikan, dan meninggalkan segala kemungkaran, serta mencintai orang-orang miskin. Dan aku memohon agar Engkau menerima taubatku, mengampuniku, dan merahmatiku. Dan jika Engkau menghendaki terjadi fitnah pada makhluk-Mu, maka selamatkanlah aku kepada-Mu tanpa terkena fitnah. Ya Allah, aku memohon cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta amal yang mendekatkan aku kepada cinta-Mu.’ Kemudian Rasulullah  bersabda kepada kami: ‘Pelajarilah doa-doa ini dan ajarkanlah, karena sesungguhnya doa-doa ini adalah kebenaran.’”

4.22. Berdoa Agar Dijadikan Sebagai Orang Yang Mencintai Allah

Di dalam kitab Hilyatul Aulia Atsar nomor halaman 308 dan Al-Sunan Al-Kubra Hadits nomor 9346 disebutkan doa agar dijadikan sebagai orang yang mencintai Allah;

حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ بْنُ أَحْمَدَ، ثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى بْنِ الْمُنْذِرِ، ثَنَا حَفْصُ بْنُ عُمَرَ الْحَوْضِيُّ، ثَنَا هَمَّامُ بْنُ يَحْيَى، عَنْ نَافِعٍ، أَنَّ ابْنَ عُمَرَ، كَانَ يَدْعُو عَلَى الصَّفَا: " اللهُمَّ اعْصِمْنِي بِدِينِكَ وَطَوَاعِيَتِكَ وَطَوَاعِيَةِ رَسُولِكَ، اللهُمَّ جَنِّبْنِي حُدُودَكَ، اللهُمَّ اجْعَلْنِي مِمَّنْ يُحِبُّكَ، وَيُحِبُّ مَلَائِكَتَكَ، وَيُحِبُّ رُسُلَكَ، وَيُحِبُّ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ، اللهُمَّ حَبِّبْنِي إِلَيْكَ، وَإِلَى مَلَائِكَتِكَ، وَإِلَى رُسُلِكَ، وَإِلَى عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ، اللهُمَّ يَسِّرْنِي لِلْيُسْرَى، وَجَنِّبْنِي الْعُسْرَى، وَاغْفِرْ لِي فِي الْآخِرَةِ وَالْأُولَى، وَاجْعَلْنِي مِنْ أَئِمَّةِ الْمُتَّقِينَ، اللهُمَّ إِنَّكَ قُلْتَ: {ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ} [غافر: 60]، وَإِنَّكَ لَا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ، اللهُمَّ إِذْ هَدَيْتَنِي لِلْإِسْلَامِ فَلَا تَنْزِعْنِي مِنْهُ، وَلَا تَنْزِعْهُ مِنِّي حَتَّى تَقْبِضَنِي وَأَنَا عَلَيْهِ «. كَانَ يَدْعُو بِهَذَا الدُّعَاءِ مَعَ دُعَاءٍ لَهُ طَوِيلٌ عَلَى الصَّفَا وَالْمَرْوَةِ وَبِعَرَفَاتٍ، وَيَجْمَعُ بَيْنَ الْجَمْرَتَيْنِ، وَفِي الطَّوَافِ» رَوَاهُ أَيُّوبُ، عَنْ نَافِعٍ، مِثْلَهُ [69]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Sulaiman ibnu Ahmad, telah menceritakan kepada kami Muhammad ibnu Yahya ibnu Al Mundiri, telah menceritakan kepada kami Hafsh ibnu Umar Al Haudzy, telah menceritakan kepada kami Hamam ibnu Yahya, dari Nafi’, bahwa ibnu Umar berdoa di Shafa: “Ya Allah jadikanlah kami berpegang teguh dengan Agamamu dan aku menjadi taat kepadamu dan taat kepada rasul-Mu, Ya Allah selamatkanlah kami dari hukum-hukum-Mu, Ya Allah jadikanlah kami dari orang-orang yang mencintai-Mu, mencintai Malaikat-Malaikat-Mu, mencintai Rasul-rasul-Mu, mencintai hamba-hamba-Mu yang Shalih, Ya Allah cintakanlah kami kepada-Mu,  kepada Malaika-Malaikat-Mu, kepada Rasul-rasul-Mu dan kepada hamba-hamba-Mu yang shalih, Ya Allah mudahkanlah kami pada kemudahan, selamatkanlah kami dari kesulitan, ampunilah kami di akhir dan permulaan dan jadikanlah kami bagian dari pemimpin orang-orang bertaqwa, Ya Allah sesungguhnya Engkau telah bersabda: “Mohonlah kepada-Ku makan akan Aku perkenankan” (Ghafir: 60) dan sesungguhnya Engkau tidak menyelisihi janji, Ya Allah jika engkau telah memberi petunjuk kepada kami untuk berislam, maka janganlah engkau memisahkan kami darinya, dan jangan engkau pisahkan Islam dari kami hingga Engkau menjaga kami dan kami ada di dalamnya, beliau berdoa dengan doa ini dengan yang Panjang di atas Shafa, Marwa dan Arafah, dan Bersama-sama di antara dua Jumrah, dan di saat Thawaf, diriwayatkan oleh Ayub dari Nafi, yang semisal dengannya.

وَأَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ : مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ دَاوُدَ الْعَلَوِىُّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ شُعَيْبٍ الْبَزْمَهْرَانِىُّ حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ حَفْصِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنِى إِبْرَاهِيمُ بْنُ طَهْمَانَ عَنْ أَيُّوبَ بْنِ أَبِى تَمِيمَةَ عَنْ نَافِعٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ عَلَى الصَّفَا : اللَّهُمَّ اعْصِمْنَا بِدِينِكَ وَطَوَاعِيَتِكَ وَطَوَاعِيَةِ رَسُولِكِ وَجَنِّبْنَا حُدُودَكَ اللَّهُمَّ اجْعَلْنَا نُحِبُّكَ وَنُحِبُّ مَلاَئِكَتَكَ وَأَنْبِيَاءَكَ وَرُسُلَكَ وَنُحِبُّ عِبَادَكَ الصَّالِحِينَ اللَّهُمَّ حَبِّبْنَا إِلَيْكَ وَإِلَى مَلاَئِكَتِكَ وَإِلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَإِلَى عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ اللَّهُمَّ يَسِّرْنَا لِلْيُسْرَى وَجَنِّبْنَا الْعُسْرَى وَاغْفِرْ لَنَا فِى الآخِرَةِ وَالأُولَى وَاجْعَلْنَا مِنْ أَئِمَّةِ الْمُتَّقِينَ. [70]

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Abu al-Hasan: Muhammad bin al-Husain bin Dawud al-Alawi rahimahullah, telah mengabarkan kepada kami Abdullah bin Muhammad bin Syu'aib al-Bazmahraani, telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Hafsh bin Abdullah, telah menceritakan kepadaku ayahku, telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Thahman dari Ayyub bin Abi Tamimah, dari Nafi', dari Ibnu Umar radhiyallahu 'anhu bahwa dia (Ibnu Umar) biasa berdoa di atas Shafa” Ya Allah, peliharalah kami dengan agamamu, dengan ketaatan kepada-Mu, dan ketaatan kepada Rasul-Mu. Jauhkanlah kami dari batasan-batasan-Mu. Ya Allah, jadikan kami mencintai-Mu, mencintai malaikat-Mu, nabi-nabi-Mu, rasul-rasul-Mu, dan hamba-hamba-Mu yang saleh. Ya Allah, jadikanlah kami dicintai oleh-Mu, oleh malaikat-Mu, oleh nabi-nabi-Mu, oleh rasul-rasul-Mu, dan oleh hamba-hamba-Mu yang saleh. Ya Allah, mudahkanlah kami menuju kebaikan dan jauhkanlah kami dari kesulitan. Ampunilah kami di akhirat dan di dunia, dan jadikan kami termasuk pemimpin orang-orang yang bertakwa”

Berdasar pembahasan yang telah dikemukakan di atas dapat diperoleh pengertian bahwa taqwa di level mahabbah adalah kesadaran qalbu untuk memprioritaskan cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, sehingga segala ketaatan untuk mengerjakan amal kebaikan, dilakukan dengan atas dasar kesadaran cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Beribadah kepada Allah atas dasar mencintainya lebih mulia di sisi Allah dari beribadah kepada Allah karena mengharap pahalanya atau takut dosanya, hal tersebut didasari pernyataan yang terdapat di dalam kitab Hilyatul Aulia halaman 314;

قَالَ: وَسَمِعْتُ السَّاجِيَّ يَقُولُ: " لَوْ لَمْ يَكُنْ لِلَّهِ ثَوَابٌ يُرْجَى وَلَا عِقَابٌ يُخْشَى لَكَانَ أَهْلًا أَنْ يُطَاعَ فَلَا يُعْصَى، وَيُذْكَرَ فَلَا يُنْسَى بِلَا رَغْبَةٍ فِي ثَوَابٍ وَلَا رَهْبَةٍ مِنْ عِقَابٍ، وَلَكِنْ لِحُبِّهِ وَهِيَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ، أَمَا تَسْمَعُ مُوسَى عَلَيْهِ السَّلَامُ يَقُولُ: {وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَى} [طه: 84] فَانْتَظَمَ الثَّوَابُ وَالْعِقَابُ لِأَنَّ مَنْ عَبَدَ اللَّهَ عَلَى حُبِّهِ أَشْرَفُ عِنْدَ اللَّهِ مِمَّنْ عَمِلَ عَلَى خَوْفِهِ، وَمَثَلُ ذَلِكَ فِي الدُّنْيَا أَيْنَ مَنْ أَطَاعَكَ عَلَى خَوْفٍ مِنْكَ؟ [71] "

Artinya: Berkata, dan aku mendengan As Sajiyu berkata: Seandainya tidak ada pahala dari Allah yang diharapkan, dan tidak ada hukuman yang ditakuti, maka tidak ada yang ditaati dan didurhakai, dan mengingat dan tidak melupakan tanpa mengharap pahala, dan tidak menjaga diri dari hukuman, akan tetapi karena mencintai-nya adalah lebih tinggi derajatnya, adapun Musa AS berkata: Dan aku bersegera kepada-Mu agar engkau ridha (Thaha: 84) maka terkontrolah pahala dan hukuman sebab orang yang menyembah Allah karena mencintainya lebih mulia kedudukannya di sisi Allah dibandingkan orang yang mengerjakannya karena takut, dan perumpamaan untuk itu di dunia adalah siapapun yang taat kepadamu karena takut kepadamu.

Ketaqwaan di level mahabbah akan mendorong orang untuk memiliki rasa cinta kepada semua makhluq Allah, mencintai syariat; aturan; hukum Allah, mencintai taqdir; ketentuan; ketetapan; kekuasaan Allah, mencintai perbuatan baik, hingga tumbuh kesadaran dalam melakukan amal dan kebaikan dilakukan atas dasar kesadaran cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Dengan demikian kesadaran taqwa di level mahabbah ini, tidak menjadikan cintanya kepada Allah dan Rasulnya, sebagai penghalang untuk banyak berbuat baik kepada manusia, tetapi kesadaran taqwa di level mahabbah justru akan dapat mendorong manusia untuk melakukan sebanyak-banyaknya kebaikan, yang dilakukannya karena terdorong kecintaannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasulullah sallallahu ‘alahi wa salam sekaligus untuk meraih cinta Allah dan Rasul-Nya.

Takwa di tingkat Mahabbah adalah kesadaran ruhani untuk mencintai Allah dan Rasul-Nya, dan melandasi semua amal perbuatannya karena Cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya, segera bertistighfar dan bertaubat jika melakukan  amal perbuatannya bukan karena Cintanya kepada Allah dan Rasul-Nya.



Doa “Aku Meminta Cintamu, Cinta Orang Yang Mencintaimu, Cinta Amalan Yang Mendekatkanku Pada Cintamu”

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ وَأَنْ تَغْفِرَ لِي وَتَرْحَمَنِي وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةً فِي قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى حُبِّكَ

'Ya Allah! Aku memintaMu perbuatan-perbuatan baik, meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, mengampuniKu, merahmatiKu, bila Kau hendak menyiksa suatu kaum, maka wafatkanlah aku tanpa terkena siksaan, aku meminta cintaMu, cinta orang yang mencintaiMu, cinta amalan yang mendekatkanku pada cintaMu’

(HR. Ahmad, Musnad Ahmad: 21093)



[1] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman 2030, Hadits nomor 2637.

[2] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 106, Hadits nomor 6507.

[3] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 20, Hadits nomor 6941.

[4] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 105, Hadits nomor 6502.

[5] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 2 halaman 498, Hadits nomor 1209.

[6] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 6, Halaman 189, Hadits nomor 3672.

[7] Abu Qasim Al-Thabarani, Mu’jam Al-Thabarani Ausath, Dar Al Haramain, Kairo, 1995, Jilid 2, Halaman 20-21, Hadits nomor 704-705.

[8] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 5, Halaman 12, Hadits nomor 3688.

[9] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 9, Halaman 18, Hadits nomor 6938.

[10] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 21, Halaman 39, Hadits nomor 13316.

[11] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah al-‘Alamiyah, , 2009, Jilid 6 halaman 337, Hadits nomor 4123.

[12] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 33, Halaman 159, Hadits nomor 19934.

[13] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 87, Hadits nomor 6410.

[14] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah al-‘Alamiyah, , 2009, Jilid 1 halaman 470, Hadits nomor 453.

[15] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 3 halaman 545, Hadits nomor 2018.

[16] Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah Al-Asbahani, Hilyatul Auilya’ Wa Thabaqat Al- Ashfiya’, Matba’ah Al-Sa’adiyah, Mesir, 1974, Jilid 1, Halaman 63, Tanpa nomor.

[17] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 6 halaman 118, Hadits nomor 3775.

[18] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 6 halaman 169, Hadits nomor 3862.

[19] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 12, Halaman 455, Hadits nomor 13650.

[20] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 3 halaman 521, Hadits nomor 1979.

[21] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990, Jilid 8, Halaman 202, Hadits nomor 7471.

[22] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 2 halaman 76, Hadits nomor 700.

[23] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 12, Hadits nomor 13.

[24] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1, Halaman 64, Hadits nomor 45.

[25] Abu Abd Al-Rahman Ahmad ibn Syuaib al-Nasa’i, Sunan Al-Nasa’i Al-Mujtabi, Dar Al-Risalah Al-Alamiyah, 2018, Jilid 8, Halaman 195, Hadits nomor 5016.

[26] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 21, Halaman 353, Hadits nomor 13875.

[27] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 6, Halaman 59, Hadits nomor 5478.

[28] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 3, Halaman 297, Hadits nomor 3456.

[29] Ibnu Majah Ibnu Abdullah Muhammad, Sunan Ibnu Majah, Dar Ihya al-Kitab al-‘Arabiyah, Beirut, 1418 H, Jilid 2, Halaman 1320, Hadits nomor 3989.

[30] Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Al-Sunan Al-Kubra, Dar Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2003, Jilid 1, Halaman 558, Hadits nomor 1782.

[31] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 21, Halaman 387, Hadits nomor 13959.

[32] Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 1, Halaman 367, Hadits nomor 410.

[33] Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 1, Halaman 370, Hadits nomor 419.

[34] Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 1, Halaman 369, Hadits nomor 417.

[35] Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 1, Halaman 370, Hadits nomor 421.

[36] Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 2, Halaman 504, Hadits nomor 9071.

[37] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As- Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 6, Halaman 44, Hadits nomor 4581.

[38] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah Ar-Risalah, 2001, Jilid 32, Halaman 183, Hadits nomor 19438.

[39] Malik Ibn Anas, Muwatha’ Al-Imam Malik, Muassasah Al-Risalah, Beirut 1991, Jilid 2, Halaman 133, Hadits nomor 2007.

[40] Abu Daud Sulaiman ibn Al Asy’ats, Sunan Abi Daud, Al Maktabah Al ‘Ashriyah, Beirut, tt, Jilid, 3, Halaman 288, Hadits nomor 3527.

[41] Abu Hatim Muhammad Ibnu Hiban Ibnu Ahmad, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibu Hazm, Beirut, 2012, Jilid 1, Halaman 471, Hadits nomor 689.

[42] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 37, Halaman 541, Hadits nomor 22906.

[43] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 36, Halaman 384, Hadits nomor 22064.

[44] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 18, Halaman 345, Hadits nomor 11829.

[45] Abu Hatim Muhammad Ibnu Hiban Ibnu Ahmad, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibu Hazm, Beirut, 2012, Jilid 1, Halaman 469, Hadits nomor 685.

[46] Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 1, Halaman 367, Hadits nomor 410.

[47] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990, Jilid 1, Halaman 112, Hadits nomor 164.

[48] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 36, Halaman 327.Hadits nomor 2471.

[49] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 8, Halaman 129, Hadits nomor 6632.

[50] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 4, Halaman 196, Hadits nomor 3587-3589.

[51] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 1, Halaman 45, Hadits nomor 170.

[52] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi, Dar al-Risalah al-‘Alamiyah, , 2009, Jilid 4 halaman 374, Hadits nomor 2506.

[53] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990, Jilid 1, Halaman 44, Hadits nomor 4.

[54] Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah Al-Asbahani, Hilyatul Auilya’ Wa Thabaqat Al- Ashfiya’, Matba’ah Al-Sa’adiyah, Mesir, 1974, Jilid 6, Halaman 97, Tanpa nomor.

[55] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1, Halaman 74, Hadits nomor 93.

[56] Malik Ibn Anas, Muwatha’ Al-Imam Malik, Muassasah Al-Risalah, Beirut 1991, Jilid 2, Halaman 908, Hadits nomor 16.

[57] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 25, Halaman 162, Hadits nomor 393.

[58] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 3, Halaman 157, Hadits nomor 2585.

[59] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1404, Jilid 5, Halaman 28, Hadits nomor 3759.

[60] Abu Al-Qasim Al-Thabarani, Al-Mu’jam Al-Kabir, Maktabah Ibnu Taimiyah, Kairo, 1994, Jilid 10, Halaman 86, Hadits nomor 10033.

[61] Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 2, Halaman 43, Hadits nomor 7446.

[62] Abu Adullah Muhammad Yazid Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, Dar Al-Shidiq li Al-Nsyr, Saudi, 2014 H, Jilid 1, Halaman 868, Hadits nomor 4102.

[63] Muhammad bin Ismail Al-Bukhari, Al-Adab Al-Mufrad, Dar Al-Basyair Al-Islamiyah, Kairo, 1989, Jilid 1, Halaman 447, Hadits nomor 1321.

[64] Abu Al-Husain Muslim Ibn Al Hajaj, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4, Halaman 2093, Hadits nomor 2731.

[65] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 18, Halaman 85, Hadits nomor 11525.

[66] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990, Jilid 8, Halaman 202, Hadits nomor 7471.

[67] Abu Qasim Al-Thabarani, Mu’jam Al-Thabarani Ausath, Dar Al Haramain, Kairo, 1995, Jilid 5, Halaman 348, Hadits nomor 5516.

[68] Abdullah Al Hakim An-Naisaburi, Al Mustadrak ‘Ala Ash-Shahihain, Dar Ar-Risalah Al-‘AIamiyah, Beirut, 1990, Jilid 1, Halaman 702, Hadits nomor 1913.

[69] Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah Al-Asbahani, Hilyatul Auilya’ Wa Thabaqat Al- Ashfiya’, Matba’ah Al-Sa’adiyah, Mesir, 1974, Jilid 1, Halaman 308, Tanpa nomor.

[70] Abu Bakr Ahmad ibn Al-Husain ibn Ali Al-Baihaqi, Al-Sunan Al-Kubra, Dar Al-Kitab Al-Ilmiyah, Beirut, 2003, Jilid 5, Halaman 153, Hadits nomor 9346.

[71] Abu Nu’aim Ahmad Ibn Abdullah Al-Asbahani, Hilyatul Auilya’ Wa Thabaqat Al- Ashfiya’, Matba’ah Al-Sa’adiyah, Mesir, 1974, Jilid 9, Halaman 314, Tanpa nomor.


Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post