56. Bertakwa Merupakan Amal Yang Istimewa
Keistimewaan takwa ke lima puluh enam “Bertakwa merupakan amal yang istimewa” Di dalam kitab Musnad Darimi Hadis Nomor 2594 ditanyakan amal yang istimewa;
أَخْبَرَنَا سَعِيدُ بْنُ الرَّبِيعِ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ يَعْلَى
بْنِ عَطَاءٍ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ سُفْيَانَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ قُلْتُ
يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنِي بِعَمَلٍ فِي الْإِسْلَامِ لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا
قَالَ اتَّقِ اللَّهَ ثُمَّ اسْتَقِمْ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيُّ شَيْءٍ قَالَ فَأَشَارَ
إِلَى لِسَانِهِ [1]
Artinya: Telah
mengabarkan kepada kami Sa'id bin Ar Rabi' telah menceritakan kepada kami Syu'bah
dari Ya'la bin 'Atha` ia berkata; Aku mendengar Abdullah bin Sufyan dari ayahnya
ia berkata; Aku berkata; Wahai Rasulullah, kabarkanlah kepada amalan dalam Islam
yang tidak akan aku tanyakan kepada seorang pun. Beliau bersabda: "Bertakwalah
kepada Allah kemudian istiqamahlah." Ia mengatakan; Aku berkata lagi; Kemudian
apa? Ia mengatakan; Lalu beliau menujuk ke arah lidahnya.
Dalam kondisi
istimewa di suatu hari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberi
wejangan kepada kami setelah shalat subuh wejangan yang sangat menyentuh
sehingga membuat air mata mengalir dan hati menjadi gemetar digambarkan di
dalam kitab Sunan Tirmidzi Hadis nomor 2600 ;
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ حَدَّثَنَا
بَقِيَّةُ بْنُ الْوَلِيدِ عَنْ بَحِيرِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ خَالِدِ بْنِ مَعْدَانَ
عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَمْرٍو السُّلَمِيِّ عَنْ الْعِرْبَاضِ بْنِ
سَارِيَةَ قَالَ وَعَظَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَوْمًا بَعْدَ صَلَاةِ الْغَدَاةِ مَوْعِظَةً بَلِيغَةً ذَرَفَتْ مِنْهَا
الْعُيُونُ وَوَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوبُ فَقَالَ رَجُلٌ إِنَّ هَذِهِ مَوْعِظَةُ
مُوَدِّعٍ فَمَاذَا تَعْهَدُ إِلَيْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ أُوصِيكُمْ
بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ فَإِنَّهُ
مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ يَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ
الْأُمُورِ فَإِنَّهَا ضَلَالَةٌ فَمَنْ أَدْرَكَ ذَلِكَ مِنْكُمْ فَعَلَيْهِ
بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا
عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ [2]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Ali bin Hujr telah menceritakan kepada
kami Baqiyyah bin al Walid dari Bahir bin
Sa'd dari Khalid bin Ma'dan dari Abdurrahman bin Amru as
Sulami dari al 'Irbadh bin Sariyah dia berkata: suatu hari
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memberi wejangan kepada kami setelah
shalat subuh wejangan yang sangat menyentuh sehingga membuat air mata mengalir
dan hati menjadi gemetar. Maka seorang sahabat berkata: 'seakan-akan ini
merupakan wejangan perpisahan, lalu apa yang engkau wasiatkan kepada kami ya
Rasulullah? ' Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Aku
wasiatkan kepada kalian untuk (selalu) bertakwa kepada Allah, mendengar dan
ta'at meskipun terhadap seorang budak habasyi, sesungguhnya siapa saja diantara
kalian yang hidup akan melihat perselisihan yang sangat banyak, maka jauhilah
oleh kalian perkara-perkara yang dibuat-buat, karena sesungguhnya hal itu
merupakan kesesatan. Barangsiapa diantara kalian yang menjumpai hal itu
hendaknya dia berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Khulafaur
Rasyidin yang mendapat petunjuk, gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi
geraham."
Mengutamakan menjaga ketakwaan
juga digambarkan di dalam kitab Sunan Tirmidzi Hadis nomor 1328, di saat
pemberangkatan perang, bertakwa merupakan wasiat khusus; istimewa kepada
pemimpin pasukan;
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا
عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ مَهْدِيٍّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ عَلْقَمَةَ بْنِ
مَرْثَدٍ عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ كَانَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا بَعَثَ أَمِيرًا عَلَى جَيْشٍ
أَوْصَاهُ فِي خَاصَّةِ نَفْسِهِ بِتَقْوَى اللَّهِ وَمَنْ مَعَهُ مِنْ
الْمُسْلِمِينَ خَيْرًا فَقَالَ اغْزُوا بِسْمِ اللَّهِ وَفِي سَبِيلِ اللَّهِ
قَاتِلُوا مَنْ كَفَرَ اغْزُوا وَلَا تَغُلُّوا وَلَا تَغْدِرُوا وَلَا
تُمَثِّلُوا وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيدًا وَفِي الْحَدِيثِ قِصَّةٌ قَالَ وَفِي
الْبَاب عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ وَشَدَّادِ بْنِ أَوْسٍ وَعِمْرَانَ
بْنِ حُصَيْنٍ وَأَنَسٍ وَسَمُرَةَ وَالْمُغِيرَةِ وَيَعْلَى بْنِ مُرَّةَ وَأَبِي
أَيُّوبَ قَالَ أَبُو عِيسَى حَدِيثُ بُرَيْدَةَ حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَكَرِهَ
أَهْلُ الْعِلْمِ الْمُثْلَةَ [3]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Muhammad bin Basysyar, telah menceritakan kepada kami
Abdurrahman bin Mahdi telah menceritakan kepada kami Sufyan dari 'Alqamah bin
Martsad dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya ia berkata: Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam jika mengutus pimpinan pasukan, beliau memberi
wasiat khusus untuk dirinya untuk bertakwa kepada Allah dan wasiat kebaikan
kepada kaum muslimin yang bersamanya. Beliau bersabda: "Berperanglah
dengan nama Allah dan di Jalan Allah, perangilah orang yang kafir, berperanglah
dan janganlah melampaui batas, berkhianat, memutilasi dan janganlah membunuh
anak-anak." Dalam hadits ini terdapat kisah. Ia mengatakan: Dalam hal ini
ada hadits serupa dari Abdullah bin Mas'ud, Syaddad bin Aus, Imran bin Hushain,
Anas, Samurah, Al Mughirah, Ya'la bin Murrah dan Abu Ayyub. Abu 'Isa berkata:
Hadits Buraidah adalah hadits hasan shahih. Para ulama memakruhkan Al Mutslah.
Di banyak kesempatan
Rasulullah memberi wasiat kepada sahabatnya yang diawali dengan wasiat untuk
bertakwa kepada Allah, bahkan wasiat takwa ditetapkan sebagai salah satu rukun
khatbah, hal tersebut menunjukkan bahwa takwa merupakan amal istimewa; sangat
penting untuk dikerjakan setiap pribadi orang beriman.
[1] Abd Al-Shamad
Al-Darimi, Sunan Darimi, Dar al-Mughni linasyr Wa Tauzi’, 2000, Jilid 3 halaman
1780, Hadits nomor 2785.
[2] Abu ‘Isa
Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi,
Dar al-Gharib al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 408, Hadits nomor 2676.
[3] Abu ‘Isa
Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi,
Dar al-Gharib al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 408, Hadits nomor 1328.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar