TINGKATAN MANUSIA
Manusia diciptakan Allah dalam keadaan
berbeda-beda; jenis kelamin, warna kulit, bahasa, suku dan bangsanya namun
tingkatan kemuliaan manusia tidak didasarkan pada perbedaan tersebut, tetapi
Allah menegaskan bahwa orang yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling
bertakwa, hal ini dinyatakan di dalam Al Quran Surat Al-Hujurat Ayat 13;
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ
ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ
أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari
seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa
dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang
paling mulia di antara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa di
antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. QS.
Al-Hujurat Ayat 13.
Ayat ini memberikan gambaran bahwa
kemuliaan manusia itu bertingkat-tingkat, mulai dari kemuliaannya rendah,
sedang dan tinggi, yang paling tinggi kemuliaannya ditentukan dengan ukuran
yang paling bertakwa. Ayat ini sekaligus juga memberikan gambaran bahwa
ketakwaan itu juga bertingkat, mulai dari takwa tingkat rendah, sedang dan
tinggi, sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat ketakwaan seseorang dapat
menentukan tingkat kemuliaannya di sisi Allah.
Untuk dapat memahami tingkatan takwa, di
sini akan dikemukakan pembahasan mengenai proses penyusunan tingkatan takwa
dengan cara mengemukakan perbandingan antara; “Maqamat Tasawuf” dari
dalam ilmu Tasawuf, “Map Of The Scale Of The Consciousness“ dari dalam
ilmu Psikologi, dengan ayat-ayat Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad SAW yang
menggambarkan adanya tingkatan manusia, dari perbandingan tersebut kemudian
disusun menjadi sebuah susunan tingkatan takwa dengan berpegang pada Al Quran
dan Sunnah Nabi sebagai dasar utama, adapun pembahasannya adalah sebagai
berikut;
1. Maqamat Dan Ahwal Dalam Ilmu Tasawuf
Tasawuf merupakan suatu
proses penyucian dan pembinaan jiwa (tazkiyatunnafs) yang dilakukan dengan
penuh kesungguhan melalui latihan rohani, dengan tujuan mendekatkan diri
(taqarrub) kepada Allah SWT. Melalui praktik tasawuf, seorang hamba berupaya
membersihkan hati dari sifat tercela dan menghiasinya dengan sifat-sifat
terpuji agar seluruh orientasi hidupnya hanya tertuju kepada Allah semata.
Dalam kajian tasawuf, maqāmāt
merupakan salah satu konsep utama yang menggambarkan tahapan spiritual yang
harus ditempuh oleh seorang salik (pengelana rohani) dalam mendekatkan diri
kepada Allah. Secara etimologis, kata maqāmāt adalah bentuk jamak dari maqām,
yang berarti “tempat berdiri” atau “posisi tertentu”, sedangkan secara
terminologis mengacu pada tingkatan-tingkatan kerohanian yang dicapai melalui
usaha dan Mujahadah yang berkesinambungan.
Di dalam Al-Quran kata maqām
diartikan sebagai tempat disebutkan beberapa kali, antara lain terdapat pada
surat; Al-Baqarah ayat 125, Al-Isra ayat 79, Maryam ayat 73, As-Saffat, ayat
164, QS ad-Dukhan ayat 51 dan QS ar-Rahman ayat 46. Sedangkan kata ahwal
merupakan bentuk jamak dari kata hal, yang artinya keadaan. Adapaun secara
lebih luas ahwal dapat diartikan sebagai keadaan mental yang dialami oleh para
sufi di sela-sela perjalanan spiritualnya.
Di sini akan dikemukakan
beberapa maqamat maupun ahwal yang disusun oleh para sufi dalam ilmu Tasawuf,
untuk memperoleh gambaran adanya tingkatan kedudukan dalam proses menempuh
jalan tasawuf.
1.1. At Taubah –
Az Zuhud – As Sabr – Al Faqr – Attawadu – At Takwa, At Tawakkal - Ar-Ridha – Al
Mahabbah - Al Ma’rifah
Abu Bakr Muhammad Ibnu Ishaq Al-Kalabazi (wafat 380 H) , di dalam
kitab At Ta’aruf li madzhab ahl at tasawuf , menyebutkan urutan maqamat pertama
adalah At-Taubah;
ونريد
أن نخبر الآن بِبَعْض المقامات على لِسان القَوْم من غير بسط كَراهَة الإطالة
ونحكى من مقالات المَشايِخ فِيها ما قرب مِنها إلى الأفهام دون الرموز الخفية
والإشارات الدقيقة ونبدأ بِالتَّوْبَةِ
[1]
Adapun urutan berikutnya yang dikemukakan di dalam kitabnya adalah
Az-Zuhud, As-Sabr, Al-Faqr, Attawadu, At-Takwa, At-Tawakkul, Ar-Ridha,
Al-Mahabbah Dan Al-Ma’rifah
1.2. Taubat -
Sabar - Sukur - Raja’ – Khauf - Zuhud – Tawakal - Ridha – Mahabbah
Abu Thalib al Maky (wafat 386 H), Di dalam kitab Qut al Qulub fi mu’amalatil Mahbub wa wasfu thariq al
marid ila maqami tauhid hal 275, menyebutkan maqamat al yaqin wa ahwalul muttaqin adalah sebagai berikut;
أصول مقامات اليقين التي ترد إليها
فروع أحوال المتقين تسعة، أوّلها التوبة، والصبر، والشكر، والرجاء،
والخوف، والزهد، والتوكل، والرضا، والمحبة وهذه محبة الخصوص
وهي محبة المحبوب
Artinya: dasar maqamat orang yang
yakin menuju kepada cabang ahwal orang-orang yang bertakwa ada sembilan,
yang pertama Taubat kemudian sabar, syukur, harapan, kecemasan, zuhud, tawakal,
ridla dan mahabbah, ini adalah mahabbah yang khusus yaitu mahabbah orang yang
dicintai.
1.3. Taubat –
Khauf - Raja’ – Shalihin – Muridin – Muthi’in – Muhibbin – Mustaqin – Auliya –
Muqarabin
Abu Nu’aim Al Ashbahani (wafat 430 H) di dalam kitab Hilyatul Aulia Wa Thabaqatul Auliya atsar nomor
16157 menyebutkan tingkata-tingkatan maqamat;
سَمِعْتُ عُثْمَانَ بْنَ مُحَمَّدٍ الْعُثْمَانِيَّ، يَقُولُ: ثنا
أَبُو بَكْرٍ الْكَتَّانِيُّ، وَأَبُو الْحَسَنِ الرَّمْلِيُّ قَالَا: سَأَلْنَا
أَبَا سَعِيدٍ الْخَزَّازَ فَقُلْنَا: أَخْبِرْنَا عَنْ أَوَائِلِ الطَّرِيقِ
إِلَى اللَّهِ فَقَالَ: " التَّوْبَةُ وَذِكْرُ شَرَائِطِهَا ثُمَّ
يُنْقَلُ مِنِ مَقَامِ التَّوْبَةِ إِلَى مَقَامِ الْخَوْفِ، وَمِنْ
مَقَامِ الْخَوْفِ إِلَى مَقَامِ الرَّجَاءِ وَمِنْ مَقَامِ
الرَّجَاءِ إِلَى مَقَامِ الصَّالِحِينَ، وَمِنْ مَقَامِ الصَّالِحِينَ إِلَى
مَقَامِ الْمُرِيدِينَ وَمِنْ مَقَامِ الْمُرِيدِينَ إِلَى مَقَامِ
الْمُطِيعِينَ وَمِنْ مَقَامِ الْمُطِيعِينَ إِلَى مَقَامِ الْمُحِبِّينَ
وَمِنْ مَقَامِ الْمُحِبِّينَ إِلَى مَقَامِ المُشْتَاقِينَ، وَمِنْ
مَقَامِ المُشْتَاقِينَ إِلَى مَقَامِ الْأَوْلَيَاءِ، وَمِنْ مَقَامِ
الْأَوْلَيَاءِ إِلَى مَقَامِ الْمُقَرَّبِينَ، وَذَكَرُوا لِكُلِّ مَقَامٍ
عَشْرَ شَرَائِطَ إِذَا عَانَاهَا وَأَحْكَمَهَا وَحَلَّتِ الْقُلُوبُ هَذِهِ
الْمَحِلَّةَ أَدْمَنَتِ النَّظَرَ فِي النِّعْمَةِ وَفَكَّرَتْ فِي الْأَيَادِي
وَالْإِحْسَانِ فَانْفَرَدَتِ النُّفُوسُ بِالذِّكْرِ وَجَالَتِ الْأَرْوَاحُ فِي
مَلَكُوتِ عِزِّهِ بِخَالِصِ الْعِلْمِ بِهِ وَارِدَةً عَلَى حِيَاضِ
الْمَعْرِفَةِ إِلَيْهِ صَادِرَةً وَلِبَابِهِ قَارِعَةً وَإِلَيْهِ فِي
مَحَبَّتِهِ نَاظِرَةً.[2]
Artinya:
Aku mendengar ‘Utsmān bin Muhammad al-‘Utsmānī berkata: Telah meriwayatkan
kepada kami Abu Bakr al-Kattānī dan Abu al-Hasan ar-Ramlī, keduanya berkata:
Kami bertanya kepada Abu Sa‘īd al-Khazzāz, “Beritahukanlah kepada kami tentang
awal mula jalan menuju Allah.” Maka ia berkata: “(Awal jalannya adalah) taubat,
beserta penjelasan syarat-syaratnya. Kemudian seseorang dipindahkan dari maqam
taubat menuju maqam takut (khauf), dari maqam takut menuju maqam harap (raja’),
dari maqam harap menuju maqam orang-orang saleh,
dari
maqam orang-orang saleh menuju maqam para murid (penempuh jalan spiritual),
dari maqam para murid menuju maqam orang-orang taat, dari maqam orang-orang
taat menuju maqam orang-orang yang mencintai (muhibbīn), dari maqam para
pecinta menuju maqam orang-orang yang rindu (musytāqīn), dari maqam orang-orang
yang rindu menuju maqam para wali, dan dari maqam para wali menuju maqam
orang-orang yang didekatkan (muqarrabīn). Mereka (para ahli suluk) menyebutkan
bahwa setiap maqam memiliki sepuluh syarat; apabila seseorang menjalani dan
menyempurnakan syarat-syarat itu, serta hati telah menetap pada kedudukan
tersebut, maka hatinya akan terbiasa merenungkan nikmat-nikmat Allah, dan
memikirkan karunia serta kebaikan-Nya. Jiwa-jiwa mereka pun akan menyendiri
dalam zikir, dan roh-roh mereka berkelana dalam kerajaan kemuliaan Allah,
dengan pengetahuan yang murni tentang-Nya, datang ke telaga ma‘rifah
(pengenalan kepada Allah), kembali darinya dengan penuh pemahaman, mengetuk
pintu-Nya, dan memandang kepada-Nya dengan cinta.”
1.4. At-Taubah,
Assabr, Al-khauf, Az-Zuhud, At-Tawakkal, Al-Mahabbah, Ar-Ridha.
Di dalam Kitab Ihya’ ulumuddin Abu Hamid Al-Ghazali (wafat 505 H)
mengemukakan pembahasan yang mengandung pengertian ahwal dan maqamat yang
dibahas dalam sepuluh bab:
وأما
ربع المهلكات فيشتمل على عشرة كتب كتاب شرح عجائب القلب وكتاب رياضة النفس
وكتاب آفات الشهوتين شهوة البطن وشهوة الفرج وكتاب آفات اللسان
وكتاب آفات الغضب والحقد والحسد وكتاب ذم الدنيا
وكتاب ذم المال والبخل وكتاب ذم الجاه والرياء وكتاب ذم الكبر
والعجب وكتاب ذم الغرور
وأما
ربع المنجيات فيشتمل على عشرة كتب كتاب التوبة وكتاب الصبر والشكر
وكتاب الخوف والرجاء وكتاب الفقر والزهد وكتاب التوحيد
والتوكل وكتاب المحبة والشوق والأنس والرضا وكتاب النية والصدق والإخلاص
وكتاب المراقبة والمحاسبة وكتاب التفكر وكتاب ذكر الموت[3]
Artinya:
Adapun bagian keempat tentang hal-hal yang membinasakan mencakup sepuluh
kitab, yaitu: kitab penjelasan tentang keajaiban hati, kitab pelatihan jiwa
(riyāḍat an-nafs), kitab tentang
bahaya dua syahwat, yaitu syahwat perut dan syahwat kemaluan, kitab tentang
bahaya lidah, kitab tentang bahaya marah, dendam, dan dengki, kitab tentang
celaan terhadap dunia, kitab tentang celaan terhadap harta dan sifat kikir,
kitab tentang celaan terhadap kedudukan dan riya’ (pamer ibadah), kitab tentang
celaan terhadap kesombongan dan keangkuhan (ujub), kitab tentang celaan
terhadap tipu daya diri (ghurūr).
sedangkan
bagian keempat tentang hal-hal yang menyelamatkan juga mencakup sepuluh kitab, yaitu: kitab
tentang taubat, kitab tentang sabar dan syukur, kitab tentang takut (khauf) dan
harap (rajā’), kitab tentang kefakiran dan zuhud, kitab tentang tauhid dan
tawakal, kitab tentang cinta, kerinduan, keakraban, dan ridha, kitab tentang
niat, kejujuran, dan keikhlasan, kitab tentang pengawasan diri (murāqabah) dan
introspeksi (muḥāsabah), kitab tentang
perenungan (tafakkur), kitab tentang mengingat kematian (dzikr al-maut).
1.5. Ikhlas –
Taubat – Raja’ – Khauf – Muraqabah – Tawakal – Mahabbah – Tauhid – Sabar –
Dzikr – Takwa – Syukur
Ibnu
Jazi Al Kalbi Al Gharnathi (wafat 741 H) di dalam kitab At Tashil li Ulumil Tanzil , menyebutkan dua
belas Maqamat Tasawuf yang bersumber dari Al Quran;
وقد ذكرنا هذا
الكتاب في ما يستحسن من الإشارات الصوفية دون ما يعترض أو يقدح فيه، وتكلمنا
أيضًا على اثني عشر مقامًا من مقامات التصوف في مواضعها من القرآن، فتكلمنا
على الشكر في أم القرآن، لما بين الحمد والشكر من الاشتراك في المعنى،
وتكلمنا على التقوى في قوله تعالى في البقرة: ﴿هُدىً لِلْمُتَّقِينَ﴾
[البقرة ٢]، وعلى الذكر في قوله فيها: ﴿فاذْكُرُونِي أذْكُرْكُمْ﴾ [البقرة
١٥٢]، وعلى الصبر في قوله تعالى: ﴿وبَشِّرِ الصّابِرِينَ﴾ [البقرة ١٥٥]،
وعلى التوحيد في قوله فيها: ﴿وإلَهُكُمْ إلَهٌ واحِدٌ﴾ [البقرة ١٦٣]، وعلى المحبة
في قوله فيها: ﴿والَّذِينَ آمَنُوا أشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ﴾ [البقرة ١٦٥]، وعلى التوكل
في قوله في آل عمران: ﴿فَإذا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلى اللَّهِ﴾ [آل عمران ١٥٩]،
وعلى المراقبة في قوله في النساء: ﴿إنَّ اللَّهَ كانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا﴾
[النساء ١]، وعلى الخوف والرجاء في قوله في (الأعراف): ﴿وادْعُوهُ خَوْفًا
وطَمَعًا﴾ [الأعراف ٥٦]، وعلى التوبة في قوله في (النور): ﴿وتُوبُوا إلى
اللَّهِ جَمِيعًا﴾ [النور ٣١]، وعلى الإخلاص في قوله في (لم يكن): ﴿وما
أُمِرُوا إلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ﴾ [البينة ٥] [4]
Artinya: “Kami telah menyebutkan kitab ini dalam konteks membahas hal-hal yang baik dari
isyarat-isyarat kaum sufi, tanpa menyentuh hal-hal yang dapat menimbulkan
keberatan atau kritik terhadapnya. Kami juga telah membicarakan dua belas
maqām (tahapan spiritual) dari maqām-maqām tasawuf di tempatnya
masing-masing dalam Al-Qur’an: Kami membicarakan maqām syukur dalam
Ummul-Qur’an (Surat al-Fātiḥah), karena adanya
kesamaan makna antara al-ḥamd (pujian) dan
asy-syukr (syukur). Kami membicarakan maqām takwa dalam firman Allah
Ta‘ālā di Surat al-Baqarah: “(Al-Qur’an ini adalah) petunjuk bagi orang-orang
yang bertakwa.” (QS. al-Baqarah: 2), Kami membicarakan maqām dzikr (zikir)
dalam firman-Nya: “Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu.” (QS.
al-Baqarah: 152), Kami membicarakan maqām sabar dalam firman-Nya: “Dan
berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. al-Baqarah: 155),
Kami membicarakan maqām tauhid dalam firman-Nya: “Dan Tuhanmu adalah
Tuhan Yang Maha Esa.” (QS. al-Baqarah: 163), Kami membicarakan maqām
mahabbah (cinta kepada Allah) dalam firman-Nya: “Dan orang-orang yang
beriman itu sangat besar cintanya kepada Allah.” (QS. al-Baqarah: 165), Kami
membicarakan maqām tawakal dalam firman-Nya di Surat Āli ‘Imrān: “Apabila
engkau telah bertekad, maka bertawakallah kepada Allah.” (QS. Āli ‘Imrān: 159),
Kami membicarakan maqām muraqabah (pengawasan diri) dalam firman-Nya di
Surat an-Nisā’: “Sesungguhnya Allah senantiasa mengawasi kalian.” (QS.
an-Nisā’: 1), Kami membicarakan maqām khauf dan rajā’ (takut dan harap)
dalam firman-Nya di Surat al-A‘rāf: “Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan
penuh harapan.” (QS. al-A‘rāf: 56) Kami membicarakan maqām taubat dalam
firman-Nya di Surat an-Nūr: “Bertobatlah kamu semua kepada Allah.” (QS. an-Nūr:
31), Dan kami membicarakan maqām ikhlas dalam firman-Nya di Surat
al-Bayyinah: “Padahal mereka tidak diperintah kecuali untuk beribadah kepada
Allah dengan ikhlas menaati-Nya dalam (menjalankan) agama.” (QS. al-Bayyinah:
5).
Selain
itu di dalam kitab ini ketika memberikan tafsir tentang Al Quran surat Al
Baqarah ayat dua “Hudan Li Al Muttaqin” menjelaskan dengan menyebutkan bahwa
tingkatan atau derajat orang bertakwa ada lima, yaitu; Islam, Taubat, Wara’,
Zuhud, Musyahadah;
درجات التقوى
خمس: أن يتقي العبد الكفر، وذلك مقام الإسلام، وأن يتقي المعاصي والحرمات وهو مقام التوبة، وأن يتقي الشبهات، وهو
مقام الورع، وأن يتقي المباحات وهو مقام الزهد، وأن يتقي حضور غير الله على قلبه،
وهو مقام المشاهدة [5]
Artinya: “Derajat (tingkatan) takwa itu ada
lima: Menjauhi kekufuran, dan ini merupakan maqām (tingkatan) Islam. Menjauhi
maksiat dan hal-hal yang diharamkan, dan ini merupakan maqām tobat. Menjauhi
hal-hal yang syubhat (samar antara halal dan haram), dan ini merupakan maqām
wara‘ (kehati-hatian).
Menjauhi hal-hal yang mubah (yang
sebenarnya boleh dilakukan), dan ini merupakan maqām zuhud (menjauhkan diri
dari dunia). Menjauhi kehadiran selain Allah dalam hati, dan ini merupakan
maqām musyāhadah (penyaksian batin terhadap kehadiran Allah).”
1.6. Tawadhu -
Sabar – Sukur – Takwa – Taubat – Tawakal – Khauf – Raja – Mahabbah – Khasyah –
Muraqabah – Tafakur – Zuhud - Husiyah
Muhammad ibnu Ali ibnu Muhammad Al Asbahi Al Andalusi (wafat 796
H) di dalam kitab Bada’ius Saliki Fi Thabai’ul Maliki mengemukakan Permasalahan
Qalbu yang lebih terperinci, terdiri dari
kelompok yang harus dikondisikan selalu ada di dalam qalbu, yakni;
Tawadhu, Sabar, Sukur, takwa, taubat dll, dan kelompok yang yang harus
dihilangkan dari qalbu, yakni; Kibr, Ujub, ghadab, hiqd, hasad dll;
المَسْألَة
الأولى فِي المَطْلُوب بِهِ من ذَلِك تحليا من ذَلِك وامتثالا وهُوَ جملَة العقل
العلم الشجاعَة العِفَّة الحلم كظم الغيظ العَفو الرِّفْق الوَفاء بالوعد والعهد
السخاء والجود الحزم والدهاء التغافل المداراة التَّواضُع الصَّبْر الشُّكْر
التَّقْوى التَّوْبَة التَّوَكُّل الخَوْف الرَّجاء المحبَّة الحِكْمَة الخشية
المراقبة المحاسبة التفكر الزّهْد الحُرِّيَّة الإتباع التثبت فِي الأُمُور
الفقر إلى الله الغيرَة التبتل الخُشُوع الرضى التَّفْوِيض الخضوع الحياء
الإنابَة التورع الإستقامة حسن الخلق القناعة الإعتصام بِاللَّه.[6]
المَسْألَة
الثّانِيَة فِي المَطْلُوب بِهِ من ذَلِك تخليا واجتنابا وهُوَ جملَة البُخْل التبذير
الجُبْن الكبر العجب الغَضَب الحقد الحَسَد اتِّباع الهوى حب الدُّنْيا حب
الشَّهَوات حب الجاه المضر حب المال الحِرْص حب المَدْح كَراهَة الذَّم
كَراهَة النَّصِيحَة الكفْر الشّرك بِهِ حب المال الطمع الغرُور الغَفْلَة كفر
النِّعْمَة اتِّباع الظنون اتِّباع خطوات الشَّيْطان النِّفاق الرِّياء
الحمية لغير الله مُفارقَة الجَماعَة الفَرح بالدنيا الركون إلَيْها الهَلَع الجزع
حب الظُّلم قبُول السّعايَة الإعْراض عَن الذّكر طاعَة من اتبع هَواهُ
التَّكَلُّف اللَّغْو التقطع الإصْرار على المعْصِيَة الأمْن من مكر الله اليَأْس
من روح الله القنُوط من رَحْمَة الله الذّبْح لغير الله التَّكْذِيب بِالقدرِ
الإبتداع إتباع المُتَشابه الغلظة الفظاظة نِسْيان الذَّنب إتخاذ الكافِر وليا سوء
الخلق قطع الرَّحِم عقوق الوالِدين الصد عَن سَبِيل الله احتقار المُسلم القَسْوَة
اتِّباع غير سَبِيل المُؤمنِينَ الحِيَل فِي الدّين البِدايَة بِالسنةِ السَّيئَة
خوف الفقر الجفاء الشماتة[7]
Masalah pertama: Yang dimaksud dari hal
itu — baik dalam bentuk perhiasan diri dengannya (yakni berakhlak dengannya)
maupun melaksanakannya — mencakup keseluruhan sifat-sifat berikut ini: Akal,
ilmu, keberanian, kehormatan diri (iffah), kesabaran, menahan amarah, pemaaf,
kelembutan, menepati janji dan perjanjian, kedermawanan dan kemurahan hati,
ketegasan dan kecerdikan, berpura-pura tidak tahu (demi menjaga hubungan),
kemampuan bergaul dengan baik, kerendahan hati, kesabaran, syukur, takwa,
tobat, tawakal, rasa takut (kepada Allah), harapan (kepada rahmat-Nya), cinta
(kepada Allah), hikmah, rasa takut yang disertai pengagungan (khasyah),
pengawasan diri (muraqabah), introspeksi diri (muhasabah), perenungan
(tafakkur), zuhud (menjauh dari dunia), kebebasan (dari selain Allah),
mengikuti (petunjuk wahyu), kehati-hatian dalam urusan, merasa butuh kepada
Allah, rasa cemburu terhadap kehormatan agama (ghirah), pengkhususan diri untuk
beribadah (tabattul), kekhusyukan, ridha, menyerahkan urusan kepada Allah
(tafwīdh), ketundukan, rasa malu (haya’), kembali kepada Allah (inabah),
kehati-hatian (wara‘), istiqamah (keteguhan dalam kebenaran), akhlak yang baik,
qana‘ah (merasa cukup), dan berpegang teguh kepada Allah (i‘tiṣām
billāh).
Masalah Kedua: Yang dimaksud dari hal ini
— dalam bentuk pembersihan diri dan menjauhinya — mencakup keseluruhan
sifat-sifat tercela berikut ini: Kikir, boros, pengecut, sombong, takjub pada
diri sendiri (‘ujub), mudah marah, dendam, iri hati, mengikuti hawa nafsu,
cinta dunia, cinta syahwat, cinta kedudukan yang merusak, cinta harta, tamak,
cinta pujian, benci terhadap celaan, benci terhadap nasihat, kekafiran,
mempersekutukan Allah (syirik), ketamakan, tertipu (ghurur), lalai (ghaflah),
mengingkari nikmat Allah, mengikuti dugaan tanpa dasar, mengikuti
langkah-langkah setan, kemunafikan, riya (pamer amal), fanatisme yang tidak
karena Allah, memisahkan diri dari jamaah kaum Muslimin, gembira berlebihan
terhadap dunia, bersandar kepada dunia, sifat panik dan gelisah berlebihan,
cinta kezaliman, menerima adu domba (fitnah), berpaling dari zikir kepada
Allah, menaati orang yang mengikuti hawa nafsunya, berpura-pura (takalluf),
banyak bicara sia-sia (laghw), memutus hubungan (dengan orang lain),
terus-menerus dalam kemaksiatan tanpa tobat, merasa aman dari makar Allah,
berputus asa dari rahmat Allah, kehilangan harapan terhadap pertolongan Allah,
menyembelih untuk selain Allah, mendustakan takdir, membuat-buat bid‘ah,
mengikuti hal-hal yang samar dalam agama (mutasyābih), bersikap keras dan
kasar, melupakan dosa, menjadikan orang kafir sebagai teman dekat atau wali,
berakhlak buruk, memutus tali silaturahmi, durhaka kepada kedua orang tua,
menghalangi manusia dari jalan Allah, meremehkan sesama Muslim, keras hati, mengikuti
selain jalan orang-orang beriman, melakukan tipu daya dalam urusan agama,
memulai dengan sunnah yang buruk, takut berlebihan terhadap kemiskinan, kaku
dan tidak berperasaan, serta bergembira atas musibah orang lain (syamātah).
1.7. Taubat –
Khauf – Raja’ – Zuhud – Haya’ – Syukr – Wafa – Sabar – Ikhlas – Shidq –
Mahabbah – Tawakal – Ridha
Jalaluddin As Suyuti (wafat 911 H) di dalam kitab Qut Al Mu’tadi ‘Ala
Jami’I Tirmidzi menyebutkan sepuluh pokok yang harus dibersihkan dari batin dan
tiga belas pokok yang harus dikondisikan di dalam jiwa;
ما
يتعلق بالباطن؛ وحاصِله تزكية النفس عن الرذائل، وأمهاتها عشرة: شره الطعام
وشره الكلام وحب الجاه وحب المال، وحب الدنيا، والحقد، والحسد والرِياء والعجب.
وتحلية النفس بالكمالات؛ وأمهاتها ثلاث عشرة: التوبة، والخوف،
والرجاء، والزهد، والحياء، والشكر، والوفاء، والصبر، والإخلاص، والصدق، والمحبة،
والتوكل، والرضى بالقضاء.[8]
Artinya: yang berkaitan dengan batin — intinya
adalah penyucian jiwa dari sifat-sifat tercela (tazkiyah al-nafs), dan
pokok-pokok sifat tercela itu ada sepuluh, yaitu:rakus terhadap makanan, rakus
dalam berbicara, cinta akan kedudukan, cinta akan harta, cinta dunia, dendam, iri
hati (hasad), riya (pamer amal), dan takjub pada diri sendiri (‘ujub). dan juga
menghiasi jiwa dengan kesempurnaan akhlak (tahallī), yang pokok-pokoknya ada
tiga belas, yaitu: tobat, rasa takut (khauf), harapan (raja’), zuhud, malu (hayā’),
syukur, menepati janji (wafā’), sabar, ikhlas, jujur (ṣidq),
cinta (maḥabbah),
tawakal, dan ridha terhadap ketentuan allah (qaḍā’).
1.8. Taubah –
Khauf – Zuhud – Sabar – Syukur – Ikhlas – Tawakal – Mahabbah – Ridha – Zikrul
Maut
Abu Hasan Nuruddin Al Mala Al harawi Al Qari (wafat 1014 H) di
dalam kitab Mirqatul Mafatih Sarh Misykatul Masabih
menyebutkan Ahwal bathiniyah dalam Tazkiyatun Nafs baik yang harus dibersihkan
maupun yang harus dijaga, yaitu;
وأحْوالٍ
باطِنَةٍ هِيَ الخُلُقُ الحَسَنُ، وهُوَ إمّا تَزْكِيَةُ النَّفْسِ عَنِ الرَّذائِلِ، وأُصُولُها عَشَرَةٌ: الطَّعامُ، والكَلامُ، والغَضَبُ،
والحَسَدُ، والبُخْلُ، وحُبُّ المالِ، والجاهُ، والكِبْرُ، والعُجْبُ، والرِّياءُ،
أوْ تَحْلِيَتُها بِالفَضائِلِ، وأُمَّهاتُها عَشْرَةٌ: التَّوْبَةُ،
والخَوْفُ، والزُّهْدُ، والصَّبْرُ، والشُّكْرُ، والإخْلاصُ، والتَّوَكُّلُ،
والمَحَبَّةُ، والرِّضا بِالقَضاءِ، وذِكْرُ المَوْتِ،[9]
Artinya: Dan (yang termasuk) keadaan-keadaan
batin adalah akhlak yang baik (al-khuluq al-ḥasan).Akhlak
yang baik itu terbagi menjadi dua bentuk: Penyucian jiwa dari sifat-sifat
tercela (tazkiyah al-nafs ‘an al-radzā’il), dan pokok-pokoknya ada sepuluh,
yaitu:Rakus terhadap makanan, Rakus dalam berbicara, Marah, Dengki (hasad), Kikir
(bakhil), Cinta harta, Cinta kedudukan (al-jāh), Sombong (kibr), Ujub (bangga
diri), dan Riya (pamer amal). Menghiasi jiwa dengan sifat-sifat mulia (taḥliyyatuha
bi al-faḍā’il),
dan pokok-pokoknya ada sepuluh, yaitu: Tobat, Takut (khauf), Zuhud, Sabar, Syukur,
Ikhlas, Tawakal, Cinta (maḥabbah), Ridha
terhadap ketentuan Allah (al-riḍā bi al-qaḍā’),
dan Mengingat kematian (dzikr al-maut).
1.9. Taubat –
Khauf – Raja’ – Wara’ - Zuhud – Tawakal – Sabar – Ridha – Taslim – Mahabbah –
Muraqabah – Musahadah – Islam – Iman – Ihsan
Abu Abas Ahmad Ibnu Muhammad (wafat 1224 H) di dalam kitab Al Bahr
Al Madid Fi Tafsir Al Quranul Majid, mengemukakan tingkatan Maqamat sebagai
berikut;
والمقامات
التي ينزل فيها المريد: التوبة، والخوف، والرجاء، والورع، والزهد،
والتوكل، والصبر، والرضى، والتسليم، والمحبة، والمراقبة، والمشاهدة بالفناء ثم
البقاء، أو الإسلام، ثم الإيمان، ثم الإحسان. فلا ينتقل من مقام إلى ما بعده
حتى يحقق المقام الذي هو فيه، ذوقًا وحالًا[10]
Artinya: Dan maqām-maqām (tingkatan spiritual)
yang ditempati oleh seorang murīd (penempuh jalan menuju Allah) adalah: Tobat
(at-taubah), Takut (al-khauf), Harapan (ar-rajā’), Kehati-hatian (al-wara‘), Zuhud,
Tawakal, Sabar (ash-shabr),
Ridha, Tunduk dan pasrah (at-taslīm), Cinta
(al-maḥabbah),
Muraqabah (perasaan diawasi oleh Allah), Musyahadah (penyaksian hakikat
ketuhanan) melalui fana’ (lenyapnya ego diri), kemudian baqā’ (kekekalan
bersama Allah). Atau dapat pula dikatakan: maqam-maqam itu ialah Islam,
kemudian Iman, kemudian Ihsan. Maka seseorang tidak boleh berpindah dari satu
maqam ke maqam berikutnya sebelum ia benar-benar merealisasikan maqam yang
sedang ia tempati, baik secara rasa (dzauq) maupun keadaan (ḥāl).
Beberapa maqamat dan ahwal yang telah dikemukakan di atas, meskipun para penulis kitab tidak secara eksplisit menyebutkannya sebagai maqamat atau ahwal tasawuf, namun rangkaian susunan yang dikemukakan di dalam kitab-kitab tersebut memberi gambaran tentang maqamat dan ahwal, untuk mempermudah memahami beberapa maqamat dan ahwal yang telah di atas, berikut ini akan dikemukakan perbandingan dalam bentuk tabel berikut;
Tabel
1. Maqamat Dan Ahwal Dalam Ilmu Tasawuf
Dari tabel tersebut dapat
diperoleh pemahaman bahwa tidak ada kesamaan tingkatan maqamat, baik di
kelompok positif yang harus ditumbuhkan maupun di kelompok negatif yang harus
di bersihkan, dan hanya ada satu tingkatan yang sama yaitu di tingkat pertama “taubat”,
hanya satu yang berbeda di tingkat pertama tidak meletakkan “taubat” tetapi
memulainya dengan “ikhlas”.
Seluruh bagian dari tingkatan
maqamat dan ahwal tersebut, jika dipahami satu persatu semuanya merupakan
bagian dari ajaran Islam, namun ketika bagian tingkatan tersebut merupakan
bagian dari Ilmu Tasawuf, maka ada sekelompok orang Islam yang tidak bersedia
mengamalkannya, yang disebabkan karena bagian tingkatan tersebut merupakan
bagian-bagian dari Ilmu Tasawuf, penolakan untuk tidak bersedia mengamalkan
bagian-bagian tersebut di dasari karena penolakannya terhadap Tasawuf, dan
penolakannya terhadap tasawuf di dasari karena ketidak benarannya dalam
memahami ilmu tasawuf.
Maka susunan tingkatan
maqamat dan ahwal tersebut perlu disusun kembali menjadi sebuah susunan yang
dapat diterima semua orang Islam, sebab semua bagian maqamat dan ahwal
merupakan bagian dari ajaran Islam, susunan yang akan disusun ini didasari
dengan; ayat-ayat Al Quran dan hadits Nabi Muhammad SAW, hasil kajian dari
ayat-ayat kauniyah tentang jiwa dari dalam ilmu Psikologi. susunan ini
dirangkai dalam bingkai “Tingkatan Takwa”, karena ketakwaan merupakan amalan
qalbu yang harus dilaksanaan siapapun, dalam keadaan apapun, di manapun dan
kapanpun, maka diharapkan semua umat Islam dapat memahami, menerima dan
mengamalkannya.
Prof. Dr. H. Abdul Malik
Abdul Karim Amrullah (Hamka) menuliskan di dalam kitab Tafsir Al Azhar, bahwa
kebudayaan Islam adalah kebudayaan takwa, takwa bukan hanya berarti takut,
tetapi di dalam takwa terdapat; cinta, kasih, harap, cemas, tawakal, ridha, sabar
dan lain sebagaimnya.[11]
[1] Abu Bakr Muhammad Ibnu Ishaq Al-Kalabazi , At
Ta’aruf li madzhab ahl at tasawuf , Dar Al Kitab Al ‘Alamiyah, Beirut
Libanon, Cet. 1, 1413 H, hal. 107
[2] Abu Nu’aim Al Ashbahani, Hilyatul Aulia Thabaqatul
Auliya, Dar Al Fikr, Beirut Libanon, 1997, hal. 248.
[3] Abu Hamid Al
Ghazali At Thusi, Ihya’ Ulumudin, Dar Al Ma’rifah, Beirut, Hal.
[4] Ibnu Jazi Al Kalbi Al Gharnathi, At Tashil li Ulumil Tanzil,
Darul Arqam ibnu Abi Arqam, Beirut, 1416 H, Juz. I, hal. 17.
[5] Ibnu Jazi Al Kalbi Al Gharnathi, At Tashil li Ulumil Tanzil,
Darul Arqam ibnu Abi Arqam, Beirut, 1416 H, Juz. I, hal. 69.
[6] Muhammad ibnu
Ali ibnu Muhammad Al Asbahi Al Andalusi, Bada’ius Saliki Fi Thabai’ul Maliki,
Wizaratul A’lam Iraq, Cet. 1, Juz. I, Hal 548.
[7] Muhammad ibnu
Ali ibnu Muhammad Al Asbahi Al Andalusi, Bada’ius Saliki Fi Thabai’ul Maliki,
Wizaratul A’lam Iraq, Cet. 1, Juz. I, Hal 548.
[8] Jalaluddin As Suyuti, Qut Al Mu’tadi ‘Ala Jami’I
Tirmidzi, Risalah Ad Daktarah Jamiah Ummul Qura, Makah Al Mukaramah, 1424
H, Juz. 2, Hal. 631
[9] Abu Hasan
Nuruddin Al Mala Al harawi Al Qari, Mirqatul Mafatih Sarh Misykatul Masabih,
Darul Fikr Beirut, Cet. I, 2002, Jilid I, hal. 119.
[10] Abu Abas Ahmad
Ibnu Muhammad, Al Bahr Al Madid Fi Tafsir Al Quranul Majid, Kairo, 1419
H, Juz. 2, Hal. 550.
[11] Hamka, Prof,
Dr, Tafsir Al Azhar, Pustaka Nasional PTE LTE Singapura, tt, jilid 1, hal. 115

Tidak ada komentar:
Posting Komentar