60 KEISTIMEWAAN TAKWA
Allah
memerintahkan kepada orang beriman untuk bertakwa kepada Allah dengan
sebenar-benar takwa, perintah ini dimuat di dalam Al Quran Surat Ali 'Imran Ayat 102;
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ
حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Artinya: Hai orang-orang
yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan
janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.(QS. Ali
'Imran/ 2: 102)
Perintah
tersebut menunjukkan bahwa takwa kepada Allah memiliki kedudukan yang sangat
penting bagi orang beriman sehingga takwa diperintahkan untuk dapat dilaksanakan dengan sebenar-benarnya takwa,
Rasulullah SAW memberikan penjelasan ayat ini dengan cara memberikan gambaran
bahwa di neraka hanya ada makanan zaqum, kemudian diberi perumpamaan tentang
zaqum, bahwa jika setetes zaqum yang diteteskan ke bumi, maka akan menjadikan
makanan diseluruh bumi rusak, yang tertuang di dalam hadits nomor 2510 kitab
Sunan Tirmidzi;
حَدَّثَنَا
مَحْمُودُ بْنُ غَيْلَانَ حَدَّثَنَا أَبُو دَاوُدَ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ
الْأَعْمَشِ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَرَأَ هَذِهِ الْآيَةَ " اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ
تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ " قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَوْ أَنَّ قَطْرَةً مِنْ الزَّقُّومِ
قُطِرَتْ فِي دَارِ الدُّنْيَا لَأَفْسَدَتْ عَلَى أَهْلِ الدُّنْيَا
مَعَايِشَهُمْ فَكَيْفَ بِمَنْ يَكُونُ طَعَامَهُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا
حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ [1]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Mahmud
bin Ghailan telah menceritakan kepada kami Abu Daud telah menceritakan kepada
kami Syu'bah dari al A'masy dari Mujahid dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah ﷺ membaca ayat, "Bertakwalah kamu sekalian
kepada Allah dengan sebenar benarnya takwa, dan janganlah kamu sekalian
meninggal melainkan kalian dalam keadaan muslim." Maka Rasulullah ﷺ bersabda: "Kalau seandainya setetes Zaqqum
(nama pohon di neraka) menetes ke kampung dunia, niscaya akan merusakkan
kehidupan penduduk dunia. Lalu bagaimana dengan (keadaan) orang-orang yang
menjadikan zaqqum sebagai makanannya?" Abu Isa berkata; 'Ini hadits hasan
shahih."
Penjelasan
Nabi tersebut dapat difahami bahwa orang beriman agar benar-benar bertakwa
kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, karena jika tidak bertakwa, maka di
akhirat nanti akan dimasukkan ke dalam neraka, dan di neraka makanannya
hanyalah Zaqum, yang seandainya setetes Zaqum menetes di dunia, niscaya rusak
seluruh kehidupan dunia. Sehingga bigitu tidak nyamannya tinggal di neraka yang
makanannya hanya zaqum.
Di
dalam Al Quran ditemukan banyak disebutkan kata takwa, pencarian kata takwa
berdasar kata dasar waqa dan ittaqa menggunakan aplikasi Al Quran
Zekr. 1.1.0 ditemukan 258 kata di 237 ayat, juga dapat ditemukan dalam jumlah
yang sama, ketika dilakukan pencarian secara online di https://tanzil.net dan https://www.islamicity.org/quransearch/#
dan https://www.al-Islam.org adapun hasil pencarian kata
di dalam ayat-ayat Al Quran yang menunjukkan
perintah untuk bertakwa kepada Allah, dalam bentuk kata perintah “ittaqullaha”
ditemukan sebanyak 64 kali dalam ayat-ayat Al Quran, sedangkan yang ditunjukkan
dengan kata “ittaqu rabbakum” ditemukan sebanyak 4 kali dalam ayat-ayat
Al Quran, banyaknya jumlah kata takwa di dalam ayat Al Quran tersebut
menunjukkan bahwa ketakwaan perlu mendapatkan perhatian yang istimewa dari
orang beriman.
Pernyataan
Abu Hamid Al-Ghazali (wafat 505 H) yang termuat di dalam kitab Faidh Al Qadir
Sarh Jami’ Ash-shaghir berikut;
قَالَ
الْإِمَامُ الْغَزَالِيُّ لَيْسَ فِي الْعَالَمِ خَصْلَةٌ لِلْعَبْدِ أَجْمَعُ
لِلْخَيْرِ وَأَعْظَمُ لِلْأَجْرِ وَأَجَلُّ فِي الْعُبُودِيَّةِ وَأَعْظَمُ فِي
الْقَدْرِ وَأَوْفَى بِالْحَالِ وَأَنْجَحُ لِلْآمَالِ مِنْ هَذِهِ الْخَصْلَةِ
الَّتِي هِيَ التَّقْوَى وَإِلَّا لَمَا أَوْصَى اللَّهُ بِهَا خَوَاصَّ خَلْقِهِ
فَهِيَ الْغَايَةُ الَّتِي لَا مُتَجَاوَزَ عَنْهَا وَلَا مُقْتَصَرَ دُونَهَا
وَقَدْ جَمَعَ اللَّهُ فِيهَا كُلَّ نُصْحٍ وَدَلَالَةٍ وَإِرْشَادٍ وَتَأْدِيبٍ
وَتَعْلِيمٍ فَهِيَ الْجَامِعَةُ لِخَيْرِ الدَّارَيْنِ الْكَافِيَةُ لِجَمِيعِ
الْمُهِمَّاتِ الْمُبَلِّغَةِ إلَى أَعْلَى الدَّرَجَاتِ [2]
Artinya: Imam Ghazali berkata: "Tidak ada
sifat atau karakter dalam kehidupan manusia yang lebih luas dalam kebaikan,
lebih besar dalam pahala, lebih mulia dalam penghambaan, lebih tinggi dalam
nilai, lebih dekat dengan kondisi terbaik, dan lebih efektif dalam mencapai
harapan daripada sifat takwa. Jika bukan karena keagungan sifat ini, Allah
tidak akan merekomendasikan takwa kepada hamba-hamba-Nya yang paling istimewa.
Takwa menjadi tujuan akhir yang tidak ada yang bisa melampauinya atau
mencapainya tanpa usaha yang serius. Dalam takwa, Allah telah mengumpulkan
semua bentuk nasihat, petunjuk, pendidikan, dan pelajaran. Takwa adalah jalan
yang mencakup kebaikan di dunia dan akhirat, cukup untuk semua kebutuhan, serta
membawa seseorang menuju derajat yang paling tinggi di sisi Allah."
Termotivasi
banyaknya ayat Al Quran, penjelasan Rasulullah SAW tentang takwa dan pernyataan
Imam Ghazali tersebut, maka buku ini disusun untuk mengemukakan hasil
penelitian apakah benar ayat-ayat Al Quran, Hadits Nabi Muhammad SAW dan Atsar
Sahabat tentang takwa, menunjukkan bahwa takwa memeiliki kedudukan yang
istimewa.
Pengungkapan
banyaknya keistimewaan takwa merupakan upaya yang sangat berharga, karena
dengan terungkapnya keistimewaan-keitimewaan takwa menunjukkan bahwa takwa
memang benar-benar merupakan syariat Islam yang sangat istimewa, yang perlu
mendapat perhatian besar, agar tumbuh motivasi yang kuat untuk dapat
mengamalkan ketakwaan dengan takwa yang sebenar-benarnya, hingga dapat meraih
hikmah dari seluruh keistimewaan takwa.
Salah
satu hikmah besarnya bahwa pengamalan takwa secara kolektif oleh penduduk
negeri akan mendatangkan keberkahan dari langit dan bumi, sebagaimana
dinyatakan di dalam di dalam Al Quran Surat Al-A’raf/ 7: 96, Seandainya
penduduk sebuah negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan
kepada mereka berkah dari langit dan bumi;
وَلَوْ
أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ
مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا
يَكْسِبُونَ
Artinya: Jikalau sekiranya penduduk
negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada
mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami)
itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya. (QS. Al-A’raf/ 7: 96)
Penulisan
buku Ilmu Takwa ke satu 60 Keistimewaan takwa berdasar Al-Quran, Hadits dan
Atsar ini bersifat diskriptif, yakni merupakan bentuk pemaparan hasil
pengumpulan ayat-ayat Al Quran, Hadits dan Atsar sahabat yang mengandung
keistimewaan-keitimewaan takwa.
[1] Abu ‘Isa Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi,
Sunan Tirmidzi, Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman
336, Hadits nomor 2580.
[2] Zainuddin Muhammad (Abdur
rauf ibnu Taj Al ‘Arifin), Faidh Al Qadir Sarh Jami’
Ash-shaghir, Maktabah At Tijariyah Al Kubra, Mesir, cet. 1356 H, Jilid
3,hal. 74

Tidak ada komentar:
Posting Komentar