24/03/2026

3. Pengertian Takwa Menurut Ulama’

3.     Pengertian Takwa Menurut Ulama’

Untuk menambah wawasan tentang takwa, berikut ini akan dikemukakan beberapa pengertian takwa menurut pendapat ulama’;

3.1. Ali Ibnu Abi Thalib

التقوى: هي الخوف من الجليل، والعمل بالتنزيل، والاستعداد ليوم الرحيل [1]

Artinya: Takwa adalah takut dari yang maha agung, dan beramal dengan yang di turunkan (Al Qur’an) dan mempersiapkan diri untuk hari keberangkatan.

3.2. Ubay Ibnu Ka’ab

Ubay Bin Ka’ab ketika ditanya oleh Umar Ibnu Al Khatab, meberikan keterangan tentang takwa, yaitu;

وقد سأل عمر رضي الله عنه أُبَي بن كعب فقال له: ما التقوى؟ فقال أُبَي: يا أمير المؤمنين أما سلكت طريقًا فيه شوك؟ قال: نعم .. قال: ما فعلت؟ .. قال عمر: أشمّر عن ساقي وأنظر إلى مواضع قدمي وأقدم قدما وأؤخر أخرى مخافة أن تصيبني شوكة .. فقال أُبَي بن كعب: تلك التقوى .. ! "، فهي تشمير للطاعة ونظر في الحلال والحرام وورع من الزلل ومخافة وخشية من الكبير المتعال سبحانه وتعالى[2]

Artinya: Khalifah Umar bin Khattab bertanya kepada Ubay bin Ka'ab tentang takwa. Ubay bertanya, "Pernahkah kamu berjalan di jalan yang penuh dengan duri?" Umar menjawab, "Ya." Ubay bertanya lagi, "Apa yang engkau lakukan?" Umar menjawab, "Aku menggulung lengan bajuku dan berusaha (melintasinya)." Ubay berkata, "Inilah (makna) takwa, melindungi seseorang dari dosa dalam perjalanan kehidupan yang berbahaya sehingga ia mampu melewati jalan itu tanpa terkena dosa".

3.3. Thalq Ibnu Habib

Thalq Ibnu Habib, seorang Tabi’in, salah satu murid Sahabat Nabi Ibnu Abbas memberikan keterangan tentang pengertian takwa, yakni;

أن تعمل بطاعة الله على نور من الله تخاف عقاب الله. [3]

Artinya: Amalan ketaatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dengan mengharap pahala Allah dan menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dengan perasaan takut dari adzab Allah.

3.4. Umar Bin Abdul Aziz

Umar Bin Abdul Aziz memberikan keterangan tentang pengertian takwa, yakni sebagai berikut:

ليس تقوى الله بصيام النهار، ولا بقيام الليل، والتخليط فيما بين ذلك فقط؛ ولكن تقوى الله: ترك ما حرم الله، وأداء ما افترض الله، فمن رُزق بعد ذلك خيرًا فهو خير إلى خير[4]

Artinya: Bukanlah takwa kepada Allah itu dengan puasa di siang hari dan bangun di malam hari dan berkisar antara keduanya saja, tetapi takwa kepada Allah adalah meninggalkan apa yang dihramkan Allah dan melaksanakan apa yang diwajibkan Allah, maka barang siapa telah diberi rizki setelah itu dengan kebaikan maka itulah kebaikan yang terus menerus.

3.5. Abdullah bin Mas’ud

Abdullah bin Mas’ud ketika memberikan penafsiran terhadap Al Quran surat Ali Imran/ 3: 102 memberikan penjelasan, bahwa takwa adalah:

عن مرة بن شراحيل عَنِ ابنِ مسعودٍ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقاتِهِ قال أنْ يُطاعَ فلا يُعْصى وأنْ يُذْكَرَ فلا يُنْسى وأنْ يُشْكَرَ فلا يُكْفَرُ[5]

Artinya: Takwa artinya adalah menaati Allah SWT dan tidak bermaksiat kepada-Nya. Senantiasa mengingat Allah SWT serta bersyukur kepada-Nya tanpa ada pengingkaran (kufur) di dalamnya.

3.6. Ibnu Qayyim Al Jauziyah

Di dalam kitab Ar Risalah At Tabukiyah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah memberikan keterangan bahwa takwa adalah;

التقوى فحقيقتها العمل بطاعة الله إيمانا واحتسابًا، أمرًا ونهيًا فيفعل ما أمره الله به إيمانا بالأمر، وتصديقا بموعدِه ويتركُ ما نهى الله عنه إيمانا بالنهي، وخوفا من وعيدِه. [6]

Artinya: “Hakikat takwa adalah menaati Allah atas dasar iman dan ihtisab, baik terhadap perkara yang diperintahkan atau pun perkara yang dilarang. Oleh karena itu, seseorang melakukan perintah itu karena imannya, yang diperintahkan-Nya disertai dengan pembenaran terhadap janji-jani-Nya. Dengan imannya itu pula, ia meninggalkan yang dilarang Allah dan takut terhadap ancaman-Nya.

3.7. Imam Al Baidhawi Rahimahullah

وهو استفراغ الوسع في القيام بالواجب والاجتناب عن المحارم[7]

Artinya: Takwa adalah mengerahkan potensi dalam menjalankan kewajiban dan menjauhi hal-hal yang diharamkan.

3.8. Ibnu Rajab

أنْ يجعل العبدُ بينَه وبينَ ما يخافُه ويحذره وقايةً تقيه منه، فتقوى العبد لربه أنْ يجعل بينه وبينَ ما يخشاه من ربه من غضبه وسخطه وعقابه وقايةً تقيه من ذلك وهو فعلُ طاعته واجتنابُ معاصيه. [8]

Artinya: Menjadikan seorang hamba antara dia dengan apa yang ditakutinya dan yang diwaspadai menjaganya dengan sungguh-sungguh, maka takwa seorang hamba kepada Tuhannya menjadikan antara dia dengan yang ditakuti dari Tuhannya, dari marah, murka dan hukumannya menjaganya dengan sungguh-sungguh, karena itu dia mengerjakan dengan taat dan menjauhi menentangnya.

3.9. Imam Al Ghazali

Imam Al Ghazali di dalam kitab Misykatul Anwar memberikan gambaran tentang takwa, seperti berikut ini;

وإنما تقوى هذه الآثار فيمن له أصل الذوق. وأما العاطل عن خاصية الذوق فيشارك في سماع الصوت وتضعف فيه هذه الآثار، وهو يتعجب من صاحب الوجد والشغى. ولو اجتمع العقلاء كلهم من أرباب الذوق على تفهيمه معنى الذوق لم يقدروا عليه. فهذا مثال في أمر خسيس لكنه قريب إلى فهمك[9]

Artinya: Dan Sesungguhnya takwa ini lebih megutamakan pada sumber perasaan, dan adapun orang yang membiarkan dari kekhususan perasaan, maka akan menyatu dengan pendengaran suara dan melemahkan pada keutamaan perasaan ini, dan dia mengagumi orang-orang yang memiliki suara hati dan semangat, walaupun orang-orang seluruhnya berkumpul untuk mengalahkan orang-orang yang memilki perasaan untuk memahami makna perasaan maka tidak akan dapat melakukannya, dan inilah perumpamaan dalam perkara yang buruk tetapi hal ini dekat untuk engkau fahami.

و {يَرْفَعِ الله الذين آمَنُواْ مِنكُمْ والذين أُوتُواْ العلم دَرَجَاتٍ} . والعلم فوق الإيمان، والذوق فوق العلم. فالذوق وجدان والعلم قياس. والإيمان قبول مجرد بالتقليد. وحسّن الظن بأهل الوجدان أو بأهل العرفان. [10]

Artinya: Dan (Allah meninggikan orang yang berilmu dan orang yang menuntut ilmu beberapa derajad), Ilmu berada di atas Iman, perasaan berada di atas ilmu, adapun perasaan adalah suara hati sedangkan ilmu adalah qiyas; perumpamaan, dan iman menerima yang abstrak dengan taqlid, dan prasangka baik bagi yang memilki perasaan atau orang yang ‘Arif.

وأعمال هذه الجوارح إنما تترشح من صفات القلب؛ فإن أردت حفظ الجوارح فعليك بتطهير القلب؛ فهو تقوى الباطن[11]

Artinya: Dan perbuatan-perbuatan anggota tubuh ini, merupakan pancaran dari sifat-sifat qalbu, maka jika ingin menjaga anggota tubuh hendaknya membersihkan qalbu, dan itulah ketakwaan bathin. 

Sedangkan di dalam kitab Faidh Al Qadir Sarh Jami’us Shaghir tercantum kutipan Imam Ghazali;

قَالَ الْإِمَامُ الْغَزَالِيُّ لَيْسَ فِي الْعَالَمِ خَصْلَةٌ لِلْعَبْدِ أَجْمَعُ لِلْخَيْرِ وَأَعْظَمُ لِلْأَجْرِ وَأَجَلُّ فِي الْعُبُودِيَّةِ وَأَعْظَمُ فِي الْقَدْرِ وَأَوْفَى بِالْحَالِ وَأَنْجَحُ لِلْآمَالِ مِنْ هَذِهِ الْخَصْلَةِ الَّتِي هِيَ التَّقْوَى وَإِلَّا لَمَا أَوْصَى اللَّهُ بِهَا خَوَاصَّ خَلْقِهِ فَهِيَ الْغَايَةُ الَّتِي لَا مُتَجَاوَزَ عَنْهَا وَلَا مُقْتَصَرَ دُونَهَا وَقَدْ جَمَعَ اللَّهُ فِيهَا كُلَّ نُصْحٍ وَدَلَالَةٍ وَإِرْشَادٍ وَتَأْدِيبٍ وَتَعْلِيمٍ فَهِيَ الْجَامِعَةُ لِخَيْرِ الدَّارَيْنِ الْكَافِيَةُ لِجَمِيعِ الْمُهِمَّاتِ الْمُبَلِّغَةِ إلَى أَعْلَى الدَّرَجَاتِ "[12]

Imam Al-Ghazali menjelaskan dalam kutipannya ini bahwa tidak ada sifat atau karakter dalam kehidupan manusia yang lebih luas dalam kebaikan, lebih besar dalam pahala, lebih mulia dalam penghambaan, lebih tinggi dalam nilai, lebih dekat dengan kondisi terbaik, dan lebih efektif dalam mencapai harapan daripada sifat takwa. Menurutnya, jika bukan karena keagungan sifat ini, Allah tidak akan merekomendasikan takwa kepada hamba-hamba-Nya yang paling istimewa. Takwa menjadi tujuan akhir yang tidak ada yang bisa melampauinya atau mencapainya tanpa usaha yang serius. Dalam takwa, Allah telah mengumpulkan semua bentuk nasihat, petunjuk, pendidikan, dan pelajaran. Takwa adalah jalan yang mencakup kebaikan di dunia dan akhirat, cukup untuk semua kebutuhan, serta membawa seseorang menuju derajat yang paling tinggi di sisi Allah.

Dari beberapa pengertian takwa menurut para ulama’ yang telah disebutkan di atas, diketahui adanya perbedaan-perbedaan antara satu dengan yang lainnya, dalam memberikan penjelasan tentang takwa, hal tersebut dapat dimaklumi karena takwa merupakan perbuatan qalbu, yang bekerja dalam wilayah perasaan, perasaan yang hanya dapat diketahui dengan merasakan atau mengalaminya, dengan demikian akal akan mengalami kesulitan untuk dapat memikirkan perasaan, sehingga tidak mudah untuk dapat merumuskan pengertian takwa dengan perkataan, ditambah lagi karena takwa memiliki cakupan yang sangat luas, sehingga tidak mudah membuat batasan dengan sebuah definisi, yang dapat mencakup seluruhnya.



[1] Umar Abdul Kaf, Silsilah Ad Dar Al Akhirah, Durusu Sauthiyah, As Sabkah al Islamiyah, Nomor 33, hal. 3.

[2] Ibnu Katsir, Tafsir Al Quranul Adzim, Dar Ath Thayibah, 1999, Juz 1, Hal. 164

[3] Abu Bakr Al baihaqi, Az Zuhdu Al kabir, Muasasah al Kutub Ats Tsaqafah, 1996, juz. 1, hal. 351.

[4] Abu Bakr Al baihaqi, Az Zuhdu Al kabir, Muasasah al Kutub Ats Tsaqafah, 1996, juz. 1, hal. 351.

[5] Ibnu Abi Hatim, Tafsir Al Quranul Adzim Tafsir Li Ibnu Abi Hatim, Maktabah Nazar Musthafa Al baz, 1419 M, Juz. 3 Hal. 722.

[6] Ibnu Qayyim Al Jauziyah, Ar Risalah At Tabukiyah juz 1, halaman 9,

[7] Anwarut Tanzil, 1/373. Tafsir Al Muyassar, 3/361, 4/340, 10/51

[8] Ahmad Ibnu Rajab Ibnu Al Hasan, Jami’ Al ‘Ulum Wal Hukmi Fi Syarh Khamsina Haditsan Min Jawami’I Al Kalam, Dar As Salam, Cet.2, 2004, Juz. 3, Hal. 398.

[9] Al Ghazali, Misykatul Anwar, Ad Dar Al Qaumiyah, kairo, Juz 1, hal. 78

[10] Al Ghazali, Misykatul Anwar, Ad Dar Al Qaumiyah, kairo, Juz 1,hal. 78

[11] Al Ghazali, Bidayah Al hidayah, Maktabah Madbuli, Kairo, hal. 58

[12] Zainuddin Muhammad (Abdur rauf ibnu Taj Al ‘Arifin), Faidh Al Qadir Sarh Jami’ Ash-shaghir, Maktabah At Tijariyah Al Kubra, Mesir, cet. 1356 H, Jilid 3,hal. 74

Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post