3. Pengertian Takwa Menurut Ulama’
Untuk menambah wawasan
tentang takwa, berikut ini akan dikemukakan beberapa pengertian takwa menurut
pendapat ulama’;
التقوى: هي
الخوف من الجليل، والعمل بالتنزيل، والاستعداد ليوم الرحيل [1]
Artinya: Takwa adalah
takut dari yang maha agung, dan beramal dengan yang di turunkan (Al Qur’an) dan
mempersiapkan diri untuk hari keberangkatan.
Ubay Bin Ka’ab ketika ditanya
oleh Umar Ibnu Al Khatab, meberikan keterangan tentang takwa, yaitu;
وقد سأل عمر
رضي الله عنه أُبَي بن كعب فقال له: ما التقوى؟ فقال أُبَي: يا أمير المؤمنين أما سلكت
طريقًا فيه شوك؟ قال: نعم .. قال: ما فعلت؟ .. قال عمر: أشمّر عن ساقي وأنظر إلى
مواضع قدمي وأقدم قدما وأؤخر أخرى مخافة أن تصيبني شوكة .. فقال أُبَي بن كعب: تلك
التقوى .. ! "، فهي تشمير للطاعة ونظر في الحلال والحرام وورع من الزلل
ومخافة وخشية من الكبير المتعال سبحانه وتعالى[2]
Artinya: Khalifah Umar bin
Khattab bertanya kepada Ubay bin Ka'ab tentang takwa. Ubay bertanya,
"Pernahkah kamu berjalan di jalan yang penuh dengan duri?" Umar
menjawab, "Ya." Ubay bertanya lagi, "Apa yang engkau
lakukan?" Umar menjawab, "Aku menggulung lengan bajuku dan berusaha
(melintasinya)." Ubay berkata, "Inilah (makna) takwa, melindungi
seseorang dari dosa dalam perjalanan kehidupan yang berbahaya sehingga ia mampu
melewati jalan itu tanpa terkena dosa".
Thalq Ibnu Habib, seorang
Tabi’in, salah satu murid Sahabat Nabi Ibnu Abbas memberikan keterangan tentang
pengertian takwa, yakni;
أن تعمل
بطاعة الله على نور من الله تخاف عقاب الله. [3]
Artinya: Amalan ketaatan
kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah dengan mengharap pahala Allah dan
menjauhi kemaksiatan-kemaksiatan kepada Allah berdasarkan cahaya dari Allah
dengan perasaan takut dari adzab Allah.
Umar Bin Abdul Aziz
memberikan keterangan tentang pengertian takwa, yakni sebagai berikut:
ليس تقوى
الله بصيام النهار، ولا بقيام الليل، والتخليط فيما بين ذلك فقط؛ ولكن تقوى الله:
ترك ما حرم الله، وأداء ما افترض الله، فمن رُزق بعد ذلك خيرًا فهو خير إلى خير[4]
Artinya: Bukanlah takwa
kepada Allah itu dengan puasa di siang hari dan bangun di malam hari dan
berkisar antara keduanya saja, tetapi takwa kepada Allah adalah meninggalkan
apa yang dihramkan Allah dan melaksanakan apa yang diwajibkan Allah, maka
barang siapa telah diberi rizki setelah itu dengan kebaikan maka itulah
kebaikan yang terus menerus.
Abdullah bin Mas’ud ketika
memberikan penafsiran terhadap Al Quran surat Ali Imran/ 3: 102 memberikan
penjelasan, bahwa takwa adalah:
عن مرة بن
شراحيل عَنِ ابنِ مسعودٍ اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقاتِهِ قال أنْ يُطاعَ فلا يُعْصى
وأنْ يُذْكَرَ فلا يُنْسى وأنْ يُشْكَرَ فلا يُكْفَرُ[5]
Artinya: Takwa
artinya adalah menaati Allah SWT dan tidak bermaksiat kepada-Nya. Senantiasa
mengingat Allah SWT serta bersyukur kepada-Nya tanpa ada pengingkaran (kufur)
di dalamnya.
Di dalam kitab Ar Risalah At
Tabukiyah, Ibnu Qayyim Al Jauziyah memberikan keterangan bahwa takwa adalah;
التقوى
فحقيقتها العمل بطاعة الله إيمانا واحتسابًا، أمرًا ونهيًا فيفعل ما أمره الله به
إيمانا بالأمر، وتصديقا بموعدِه ويتركُ ما نهى الله عنه إيمانا بالنهي، وخوفا من
وعيدِه. [6]
Artinya: “Hakikat takwa
adalah menaati Allah atas dasar iman dan ihtisab, baik terhadap perkara yang
diperintahkan atau pun perkara yang dilarang. Oleh karena itu, seseorang
melakukan perintah itu karena imannya, yang diperintahkan-Nya disertai dengan
pembenaran terhadap janji-jani-Nya. Dengan imannya itu pula, ia meninggalkan
yang dilarang Allah dan takut terhadap ancaman-Nya.
3.7. Imam Al
Baidhawi Rahimahullah
وهو استفراغ
الوسع في القيام بالواجب والاجتناب عن المحارم[7]
Artinya: Takwa adalah
mengerahkan potensi dalam menjalankan kewajiban dan menjauhi hal-hal yang
diharamkan.
أنْ يجعل
العبدُ بينَه وبينَ ما يخافُه ويحذره وقايةً تقيه منه، فتقوى العبد لربه أنْ يجعل
بينه وبينَ ما يخشاه من ربه من غضبه وسخطه وعقابه وقايةً تقيه من ذلك وهو فعلُ
طاعته واجتنابُ معاصيه. [8]
Artinya: Menjadikan seorang
hamba antara dia dengan apa yang ditakutinya dan yang diwaspadai menjaganya
dengan sungguh-sungguh, maka takwa seorang hamba kepada Tuhannya menjadikan
antara dia dengan yang ditakuti dari Tuhannya, dari marah, murka dan hukumannya
menjaganya dengan sungguh-sungguh, karena itu dia mengerjakan dengan taat dan
menjauhi menentangnya.
Imam Al Ghazali di dalam
kitab Misykatul Anwar memberikan gambaran tentang takwa, seperti berikut
ini;
وإنما تقوى
هذه الآثار فيمن له أصل الذوق. وأما العاطل عن خاصية الذوق فيشارك في سماع الصوت
وتضعف فيه هذه الآثار، وهو يتعجب من صاحب الوجد والشغى. ولو اجتمع العقلاء كلهم من
أرباب الذوق على تفهيمه معنى الذوق لم يقدروا عليه. فهذا مثال في أمر خسيس لكنه
قريب إلى فهمك[9]
Artinya: Dan Sesungguhnya
takwa ini lebih megutamakan pada sumber perasaan, dan adapun orang yang
membiarkan dari kekhususan perasaan, maka akan menyatu dengan pendengaran suara
dan melemahkan pada keutamaan perasaan ini, dan dia mengagumi orang-orang yang
memiliki suara hati dan semangat, walaupun orang-orang seluruhnya berkumpul
untuk mengalahkan orang-orang yang memilki perasaan untuk memahami makna
perasaan maka tidak akan dapat melakukannya, dan inilah perumpamaan dalam
perkara yang buruk tetapi hal ini dekat untuk engkau fahami.
و {يَرْفَعِ
الله الذين آمَنُواْ مِنكُمْ والذين أُوتُواْ العلم دَرَجَاتٍ} . والعلم فوق
الإيمان، والذوق فوق العلم. فالذوق وجدان والعلم قياس. والإيمان قبول مجرد
بالتقليد. وحسّن الظن بأهل الوجدان أو بأهل العرفان. [10]
Artinya: Dan (Allah
meninggikan orang yang berilmu dan orang yang menuntut ilmu beberapa derajad),
Ilmu berada di atas Iman, perasaan berada di atas ilmu, adapun perasaan adalah
suara hati sedangkan ilmu adalah qiyas; perumpamaan, dan iman menerima yang
abstrak dengan taqlid, dan prasangka baik bagi yang memilki perasaan atau orang
yang ‘Arif.
وأعمال هذه
الجوارح إنما تترشح من صفات القلب؛ فإن أردت حفظ الجوارح فعليك بتطهير القلب؛ فهو
تقوى الباطن[11]
Artinya: Dan
perbuatan-perbuatan anggota tubuh ini, merupakan pancaran dari sifat-sifat
qalbu, maka jika ingin menjaga anggota tubuh hendaknya membersihkan qalbu, dan
itulah ketakwaan bathin.
Sedangkan di dalam kitab
Faidh Al Qadir Sarh Jami’us Shaghir tercantum kutipan Imam Ghazali;
قَالَ
الْإِمَامُ الْغَزَالِيُّ لَيْسَ فِي الْعَالَمِ خَصْلَةٌ لِلْعَبْدِ أَجْمَعُ
لِلْخَيْرِ وَأَعْظَمُ لِلْأَجْرِ وَأَجَلُّ فِي الْعُبُودِيَّةِ وَأَعْظَمُ فِي
الْقَدْرِ وَأَوْفَى بِالْحَالِ وَأَنْجَحُ لِلْآمَالِ مِنْ هَذِهِ الْخَصْلَةِ
الَّتِي هِيَ التَّقْوَى وَإِلَّا لَمَا أَوْصَى اللَّهُ بِهَا خَوَاصَّ خَلْقِهِ
فَهِيَ الْغَايَةُ الَّتِي لَا مُتَجَاوَزَ عَنْهَا وَلَا مُقْتَصَرَ دُونَهَا
وَقَدْ جَمَعَ اللَّهُ فِيهَا كُلَّ نُصْحٍ وَدَلَالَةٍ وَإِرْشَادٍ وَتَأْدِيبٍ
وَتَعْلِيمٍ فَهِيَ الْجَامِعَةُ لِخَيْرِ الدَّارَيْنِ الْكَافِيَةُ لِجَمِيعِ
الْمُهِمَّاتِ الْمُبَلِّغَةِ إلَى أَعْلَى الدَّرَجَاتِ
"[12]
Imam Al-Ghazali menjelaskan
dalam kutipannya ini bahwa tidak ada sifat atau karakter dalam kehidupan
manusia yang lebih luas dalam kebaikan, lebih besar dalam pahala, lebih mulia
dalam penghambaan, lebih tinggi dalam nilai, lebih dekat dengan kondisi terbaik,
dan lebih efektif dalam mencapai harapan daripada sifat takwa. Menurutnya, jika
bukan karena keagungan sifat ini, Allah tidak akan merekomendasikan takwa
kepada hamba-hamba-Nya yang paling istimewa. Takwa menjadi tujuan akhir yang
tidak ada yang bisa melampauinya atau mencapainya tanpa usaha yang serius.
Dalam takwa, Allah telah mengumpulkan semua bentuk nasihat, petunjuk,
pendidikan, dan pelajaran. Takwa adalah jalan yang mencakup kebaikan di dunia
dan akhirat, cukup untuk semua kebutuhan, serta membawa seseorang menuju
derajat yang paling tinggi di sisi Allah.
Dari beberapa pengertian
takwa menurut para ulama’ yang telah disebutkan di atas, diketahui adanya
perbedaan-perbedaan antara satu dengan yang lainnya, dalam memberikan
penjelasan tentang takwa, hal tersebut dapat dimaklumi karena takwa merupakan
perbuatan qalbu, yang bekerja dalam wilayah perasaan, perasaan yang hanya dapat
diketahui dengan merasakan atau mengalaminya, dengan demikian akal akan
mengalami kesulitan untuk dapat memikirkan perasaan, sehingga tidak mudah untuk
dapat merumuskan pengertian takwa dengan perkataan, ditambah lagi karena takwa
memiliki cakupan yang sangat luas, sehingga tidak mudah membuat batasan dengan
sebuah definisi, yang dapat mencakup seluruhnya.
[1] Umar Abdul
Kaf, Silsilah Ad Dar Al Akhirah, Durusu Sauthiyah, As Sabkah al Islamiyah,
Nomor 33, hal. 3.
[2] Ibnu Katsir,
Tafsir Al Quranul Adzim, Dar Ath Thayibah, 1999, Juz 1, Hal. 164
[3] Abu Bakr Al
baihaqi, Az Zuhdu Al kabir, Muasasah al Kutub Ats Tsaqafah, 1996, juz.
1, hal. 351.
[4] Abu Bakr Al
baihaqi, Az Zuhdu Al kabir, Muasasah al Kutub Ats Tsaqafah, 1996, juz.
1, hal. 351.
[5] Ibnu Abi
Hatim, Tafsir Al Quranul Adzim Tafsir Li Ibnu Abi Hatim, Maktabah Nazar
Musthafa Al baz, 1419 M, Juz. 3 Hal. 722.
[6] Ibnu Qayyim Al
Jauziyah, Ar Risalah At Tabukiyah juz 1, halaman 9,
[7] Anwarut
Tanzil, 1/373. Tafsir Al Muyassar, 3/361, 4/340, 10/51
[8] Ahmad Ibnu
Rajab Ibnu Al Hasan, Jami’ Al ‘Ulum Wal Hukmi Fi Syarh Khamsina Haditsan Min
Jawami’I Al Kalam, Dar As Salam, Cet.2, 2004, Juz. 3, Hal. 398.
[9] Al Ghazali,
Misykatul Anwar, Ad Dar Al Qaumiyah, kairo, Juz 1, hal. 78
[10] Al Ghazali,
Misykatul Anwar, Ad Dar Al Qaumiyah, kairo, Juz 1,hal. 78
[11] Al Ghazali,
Bidayah Al hidayah, Maktabah Madbuli, Kairo, hal. 58
[12] Zainuddin
Muhammad (Abdur rauf ibnu Taj Al ‘Arifin), Faidh Al Qadir Sarh Jami’
Ash-shaghir, Maktabah At Tijariyah Al Kubra, Mesir, cet. 1356 H, Jilid 3,hal.
74
Tidak ada komentar:
Posting Komentar