18. Orang Yang Paling Dekat Dengan Nabi Muhammad SAW Adalah
Orang Yang Bertakwa
Keistimewaan takwa ke delapan belas “Orang yang paling dekat dengan nabi Muhammad saw adalah orang yang bertakwa” di dasari Hadits nomor 4509 dalam kitab Shahih Ibnu Hibban disebutkan bahwa Sesungguhnya keluargaku menganggap bahwa merekalah manusia yang paling dekat di sisiku, manusia yang paling dekat di sisiku adalah orang-orang yang bertakwa. Siapapun mereka dan dari mana saja mereka berasal ;
أَخْبَرَنَا أَحْمَدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْمُثَنَّى،
قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو نَشِيطٍ مُحَمَّدُ بْنُ هَارُونَ بْنِ رُهَيْمٍ بَغْدَادِيٌّ
ثِقَةٌ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ، قَالَ: حَدَّثَنَا صَفْوَانُ بْنُ
عَمْرٍو، قَالَ: حَدَّثَنِي رَاشِدُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ عَاصِمِ بْنِ حُمَيْدٍ السَّكُونِيِّ،
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ، قَالَ: لَمَّا بَعَثَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْيَمَنِ، خَرَجَ مَعَهُ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ يُوصِيهِ مُعَاذٌ رَاكِبٌ، وَرَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
تَحْتَ رَاحِلَتِهِ فَلَمَّا فَرَغَ، قَالَ: يَا مُعَاذُ، إِنَّكَ عَسَى أَنْ لاَ
تَلْقَانِي بَعْدَ عَامِي هَذَا، لَعَلَّكَ أَنْ تَمُرَّ بِمَسْجِدِي وَقَبْرِي فَبَكَى
مُعَاذٌ خَشَعًا لِفِرَاقِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، ثُمَّ
الْتَفَتَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَحْوَ الْمَدِينَةِ، فقَالَ:
إِنَّ أَهْلَ بَيْتِي هَؤُلاَءِ يَرَوْنَ أَنَّهُمْ أَوْلَى النَّاسِ بِي، وَإِنَّ
أَوْلَى النَّاسِ بِي الْمُتَّقُونَ، مَنْ كَانُوا حَيْثُ كَانُوا، اللَّهُمَّ إِنِّي
لاَ أُحِلُّ لَهُمْ فَسَادَ مَا أَصْلَحْتَ، وَايْمُ اللهِ لَيَكْفَؤُونَ أُمَّتِي
عَنْ دِينِهَا كَمَا يُكْفَأُ الإِنَاءُ فِي الْبَطْحَاءِ.[1]
Artinya: Ahmad bin Ali bin
Al Mutsanna mengabarkan kepada kami, ia berkata, Abu Nasyith Muhammad bin Harun
bin Rahim — penduduk Baghdad, ia tsiqah— menceritakan kepada kami, ia berkata, Abu
Al Mughirah menceritakan kepada kami, ia berkata, Shafwan bin Amar menceritakan
kepada kami, ia berkata, Rasyid bin Sa’ad menceritakan kepadaku, dari Ashim bin
Hamid As-Sakuni, dari Mu’adz bin Jabal, ia berkata, ‘Tatkala Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam mengutusnya ke Yaman, beliau mengantarkannya hingga sampai di
kendaraannya. Saat ia berada di atas kendaraan dan beliau berada di bawahnya, beliau
memberikan wasiat kepadanya, beliau bersabda, “Wahai Mu ’adz, sesungguhnya kamu,
mungkin tidak akan berjumpa denganku lagi setelah lewat tahun ini. —bila hal itu
terjadi— kunjungilah masjid dan kuburanku’. Mu’adz lalu menangis karena takut berpisah
dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Kemudian beliau menoleh di sekitar
Madinah lalu bersabda, 'Sesungguhnya keluargaku menganggap bahwa merekalah manusia
yang paling dekat di sisiku, manusia yang paling dekat di sisiku adalah orang-orang
yang bertakwa. Siapapun mereka dan dari mana saja mereka berasal. Ya Allah SWT,
sesungguhnya aku tidak menghalalkan bagi mereka untuk merusak apa yang telah Engkau
buat baik. Demi Allah, niscaya umatku akan menyimpang dari agamanya sebagaimana
bejana disimpangkan pada salurannya’.”
Di dalam kitab Musnad Ahmad hadits
nomor 22052 juga dinyatakan bahwa sesungguhnya orang yang paling dekat bagi Nabi
Muhammad adalah orang yang bertakwa;
حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنَا صَفْوَانُ حَدَّثَنِي رَاشِدُ
بْنُ سَعْدٍ عَنْ عَاصِمِ بْنِ حُمَيْدٍ عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ لَمَّا بَعَثَهُ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى الْيَمَنِ خَرَجَ مَعَهُ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُوصِيهِ وَمُعَاذٌ رَاكِبٌ وَرَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْشِي تَحْتَ رَاحِلَتِهِ فَلَمَّا فَرَغَ
قَالَ يَا مُعَاذُ إِنَّكَ عَسَى أَنْ لَا تَلْقَانِي بَعْدَ عَامِي هَذَا أَوْ لَعَلَّكَ
أَنْ تَمُرَّ بِمَسْجِدِي هَذَا أَوْ قَبْرِي فَبَكَى مُعَاذٌ جَشَعًا لِفِرَاقِ رَسُولِ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ الْتَفَتَ فَأَقْبَلَ بِوَجْهِهِ
نَحْوَ الْمَدِينَةِ فَقَالَ إِنَّ أَوْلَى النَّاسِ بِي الْمُتَّقُونَ مَنْ كَانُوا
وَحَيْثُ كَانُوا [2]
Artinya: Telah bercerita kepada kami [Abu Al Mughiroh]
telah bercerita kepada kami [Shofwan] telah bercerita kepadaku [Rosyid bin Sa'ad]
dari ['Ashim bin Huamid] dari [Mu'adz bin Jabal] berkata saat diutus Rasulullah
SAW ke Yaman, Rasulullah SAW pergi bersamanya seraya memberinya wasiat saat ia naik
sementara Rasulullah SAW berjalan, setelah selesai Rasulullah SAW bersabda; "Hai
Mu'adz! Sepertinya kau tidak akan bertemu denganku lagi setelah tahun ini, "
atau "Mungkin kau melewati masjidku ini atau makamku." Mu'adz pun menangis
tersendu-sendu karena berpisah dengan Rasulullah SAW kemudian ia menolehkah wajahnya
ke arah Madinah dan berkata; Sesungguhnya orang-orang yang paling dekat bagiku
adalah orang-orang yang bertakwa, siapa pun dan dimana pun mereka berada.
Di dalam kitab Musnad Ahmad Hadis nomor 8881
disebutkan pernyataan Rasulullah SAW bahwa penanggung anak yatim, baik miliknya
atau milik orang lain akan berada di surga denganku seperti dua jari ini,
selama dia bertakwa kepada Allah
حَدَّثَنِي إِسْحَاقُ أَنْبَأَنَا مَالِكٌ عَنْ
ثَوْرِ بْنِ زَيْدٍ الدِّيلِيِّ قَالَ سَمِعْتُ أَبَا الْغَيْثِ يُحَدِّثُ عَنْ
أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
كَافِلُ الْيَتِيمِ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الْجَنَّةِ
إِذَا اتَّقَى اللَّهَ وَأَشَارَ مَالِكٌ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى [3]
Artinya: Telah menceritakan kepada kami Ishaq
telah memberitakan kepada kami Malik dari Tsaur bin Zaid Ad Dili berkata: aku
mendengar Abu Al Ghaits menceritakan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Penanggung anak yatim baik
miliknya atau milik orang lain akan berada di surga denganku seperti dua jari
ini, selama dia bertakwa kepada Allah." Dan Malik mengisyaratkan dengan
jari tulunjuk dan tengah.
Orang yang memelihara anak yatim akan dimasukkan
ke dalam Surga dengan kedudukan sangat dekat dengan Rasulullah, yang
kedekatannya digambarkan bagaikan jari telunjuk dan jari tengah, dengan syarat
bertakwa kepada Allah SWT.
[1] Abu
Hatim Muhammad ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibnu Hazm, Beirut,
Jilid 5, Halam, 342, Hadits nomor 4509.
[2] Al Imam Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu
Hambal, Muassasah ar-Risalah, 2001, Jilid 36, Halaman 376.Hadits nomor 22052.
[3] Al Imam
Ahmad bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah
ar-Risalah, 2001, Jilid 14, Halaman 465.Hadits nomor 8881.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar