MEMAHAMI MAKNA TAKWA
Pemahaman
istilah-istilah dalam agama secara benar, merupakan titik awal pengamalan agama
secara benar, untuk dapat memperoleh pemahaman yang menyeluruh tentang takwa,
perlu dikemukakan pembahasan tentang; Memahami istilah dalam agama Islam,
Definisi takwa menurut para ulama, identifikasi orang yang bertakwa dan
definisi takwa berdasar Al Quran dan Hadits, pembahasannya adalah sebagai
berikut;
1.
Memahami
Istilah Dalam Agama Islam
Untuk memahami istilah dalam
agama Islam, tidak dapat dilakukan hanya dengan menggunakan kemampuan akal
pikiran (pendekatan Ilmiyah) saja, tetapi harus disandarkan pada keterangan
keterangan Ilahiah, yang bersumber pada wahyu Al Quran dan Sunnah Nabi Muhammad
SAW, yang dipahami dengan kesadaran iman dari dalam qalbu (pendekatan
qalbiyah), karena pemahaman istilah-istilah dalam agama Islam akan berpengaruh
pada keyakinan dan pengamalannya.
Di dalam kitab Shahih Al-Bukhari hadits nomer 3116 dinyatakan bahwa
jika Allah menghendaki hambanya menjadi baik, maka akan di fahamkan “yufaqqihhu”
dalam urusan (Ilmu) agama;
حَدَّثَنَا
حِبَّانُ بْنُ مُوسَى أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ عَنْ يُونُسَ عَنْ الزُّهْرِيِّ
عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَمِعَ مُعَاوِيَةَ يَقُولُ قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ "مَنْ يُرِدْ اللَّهُ
بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ وَاللَّهُ الْمُعْطِي وَأَنَا الْقَاسِمُ
وَلَا تَزَالُ هَذِهِ الْأُمَّةُ ظَاهِرِينَ عَلَى مَنْ خَالَفَهُمْ حَتَّى
يَأْتِيَ أَمْرُ اللَّهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ " [1]
Artinya: Telah bercerita kepada
kami Hibban bin Musa telah mengabarkan kepada kami 'Abdullah dari Yunus dari Az
Zuhriy dari Humaid bin 'Abdur Rahman bahwa dia mendengar Mu'awiyah berkata;
Rasulullah Shallallahu'alaiwasallam bersabda: "Siapa yang Allah kehendaki
baik pada dirinya maka Allah akan pahamkan orang itu dalam urusan agama. Allah
adalah Yang Maha Pemberi sedangkan aku Al Qasim (yang membagi-bagi) dan akan
senantiasa ummat ini menang atas orang-orang yang menyelisihi mereka hingga
datang urusan Allah, sedang mereka berjaya (dengan kemenangan".
Di dalam kitab Mujam Al-Kabir
hadits nomor 929 dinyatakan bahwa sesungguhnya ilmu itu diperoleh dengan
belajar, dan pemahaman (fiqh) itu diperoleh dengan memperdalam pemahaman;
حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ الْمُعَلَّى
الدِّمَشْقِيُّ، ثنا هِشَامُ بْنُ عَمَّارٍ، ثنا صَدَقَةُ بْنُ خَالِدٍ، ثنا
عُتْبَةُ بْنُ أَبِي حَكِيمٍ، عَمَّنْ حَدَّثَهُ، عَنْ مُعَاوِيَةَ قَالَ:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: "يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا الْعِلْمُ
بِالتَّعَلُّمِ، وَالْفِقْهُ بِالتَّفَقُّهِ، وَمَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا
يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ، وَإِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ
الْعُلَمَاءُ" [2]
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami Ahmad bin Al-Mu'alla Ad-Dimasyqi, telah menceritakan kepada kami
Hisyam bin Ammar, telah menceritakan kepada kami Shadaqah bin Khalid, telah
menceritakan kepada kami Utbah bin Abi Hakim, dari seseorang yang menceritakan
kepadanya, dari Mu'awiyah, dia berkata: Saya mendengar Rasulullah Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: "Wahai manusia, sesungguhnya ilmu itu
diperoleh dengan belajar, dan pemahaman (fiqh) itu diperoleh dengan memperdalam
pemahaman. Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan
memberinya pemahaman dalam agama. Sesungguhnya yang takut kepada Allah dari
hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama."
Berkaitan dengan pemahaman
sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits di atas, di dalam Al Quran surat
Al-A'raf/7: 179, memberikan penjelasan bahwa Qalbu (hati)lah yang dapat
digunakan untuk memahami (agama) “Yafqahun”;
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا
لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ
بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ
بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Artinya: Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari
jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk
memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak
dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka
mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat
Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.
Mereka itulah orang-orang yang lalai.(QS. Al-A'raf/7 : 179)
Untuk dapat mencapai tingkat
pemahaman yang benar tentang suatu istilah, harus didahului dengan proses
berfikir, di dalam Al Quran Surat Al-Hajj/ 22: 46, memberikan penjelasan bahwa
Qalbu (hati)lah yang dapat digunakan untuk berfikir “ya’qilun” ;
أَفَلَمْ يَسِيرُوا
فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ
يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى
الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
Artinya: Maka apakah mereka tidak
berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai hati yang dengan itu mereka
dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat
mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta,
ialah hati yang di dalam dada.(QS. Al-Hajj/ 22: 46)
Karena begitu pentingnya
pemahaman terhadap agama, sehingga Allah SWT melalui firman-Nya di dalam Al
Quran surat At-Taubah/ 9: 122, Allah berkenan memberikan prioritas kepada umat
Islam yang sedang berjihad (berperang) untuk mengadakan golongan di antara
mereka, beberapa orang yang tidak ikut berperang untuk memperdalam pengetahuan
(pemahaman) mereka tentang agama sehingga kelompok tersebut diharapkan dapat
memberi peringatan kepada kaumnya;
وَمَا كَانَ
الْمُؤْمِنُونَ لِيَنْفِرُوا كَافَّةً فَلَوْلَا نَفَرَ مِنْ كُلِّ فِرْقَةٍ
مِنْهُمْ طَائِفَةٌ لِيَتَفَقَّهُوا فِي الدِّينِ وَلِيُنْذِرُوا قَوْمَهُمْ إِذَا
رَجَعُوا إِلَيْهِمْ لَعَلَّهُمْ يَحْذَرُونَ
Artinya: Tidak sepatutnya bagi
mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari
tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam
pengetahuan (pemahaman) mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan
kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat
menjaga dirinya.(QS. At-Taubah/ 9: 122)
Al Quran merupakan petunjuk, keterangan dan pembeda (definisi
secara spesifik) bagi manusia,
sebagaimana tertuang di dalam Al Quran Surat Al-Baqarah (2): 185, berikut;
شَهْرُ رَمَضَانَ
الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَى
وَالْفُرْقَانِ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ كَانَ
مَرِيضًا أَوْ عَلَى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ يُرِيدُ اللَّهُ
بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ
وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: (Beberapa hari yang
ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan
(permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan
mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena
itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan
itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau
dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak
hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki
kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu
mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya
yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.(QS. Al-Baqarah (2): 185)
Berdasar beberapa ayat-ayat
Al Quran yang telah dikemukakan di atas, dapat diperoleh pengertian bahwa Allah
SWT memberikan perhatian pada pentingnya pemahaman dalam beragama, sedangkan
agama hanya dapat dipahami dengan qalbu, yang didasari petunjuk dan keterangan
Allah SWT di dalam Al Qur’an dan Sunnah
Nabi Muhammad SAW, maka untuk dapat diperoleh pemahaman mendasar tentang
pengertian takwa, di sini akan dikemukakan ayat-ayat Al Quran dan Sunnah
Rasulullah SAW, yang dapat dijadikan sebagai dasar untuk dapat memperoleh
pemahaman yang otentik tentang takwa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar