4. Definisi Takwa Berdasar Al Quran Dan Hadits
Dilatarbelakangi
banyak dan beragamnya definisi takwa, maka dipandang perlu untuk mendefinisikan
ulang pengertian takwa dengan tujuan agar dengan definisi takwa tersebut dapat
mengantar pada pemahaman dan pengamalan takwa yang sebenar-benarnya takwa sesuai
panduan Al Quran dan Hadits.
Mengingat Firman
Allah di dalam Al Quran surat An-Nisa' (4): 59, yang memberikan panduan apabila
terdapat perbedaan pendapat tentang sesuatu untuk kembali kepada Al Qura’an dan
Sunnah;
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي
الْأَمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ
وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ
خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا
Artinya: Hai orang-orang yang beriman,
taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian
jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada
Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada
Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik
akibatnya. (QS. An Nisa’/ 4: 59)
Untuk dapat
merumuskan definisi tentang suatu istilah di dalam agama, langkah pertama harus
memiliki landasan pengertian yang bersumber dari Al Qur’an, karena di dalam Al
Quran surat An-Nahl/ 16: 89 yang menyebutkan bahwa Al Quran merupakan definisi;
penjelasan atas segala sesuatu;
وَيَوْمَ
نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ
شَهِيدًا عَلَى هَؤُلَاءِ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ
شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ
Artinya: (Dan ingatlah) akan hari
(ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari
mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh
umat manusia. Dan Kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan
segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang
yang berserah diri. (QS. An-Nahl/ 16: 89)
Sedangkan langkah
kedua adalah merujuk pada pengertian yang bersumber dari penjelasan Rasulullah
SAW (Hadits), karena di dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 25077 digambarkan
bahwa perkataan Nabi Muhammad SAW adalah terperinci;
حَدَّثَنَا
وَكِيعٌ، عَنْ سُفْيَانَ، عَنْ أُسَامَةَ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، عَنْ عُرْوَةَ، عَنْ
عَائِشَةَ، قَالَتْ: " كَانَ كَلَامُ النَّبِيِّ ﷺ فَصْلًا يَفْقَهُهُ كُلُّ
أَحَدٍ، لَمْ يَكُنْ يَسْرُدُهُ سَرْدًا "[1]
Artinya: Telah menceritakan kepada
kami Waki' dari Sufyan dari Usamah dari Az-Zuhri dari Urwah dari Aisyah
berkata; "Perkataan Nabi Shallallahu 'alaihiwasallam adalah sangat
terperinci yang setiap orang memahaminya dan beliau tidak pura-pura membagus-baguskannya."
Berdasar Al Quran
surat An-Nahl/ 16: 89 dan Hadits Riwayat Imam Ahmad di dalam kitab Musnad Ahmad
hadits nomor 25077, diketahui bahwa Al Quran dan Hadits merupakan keterangan
yang jelas dan terinci atas segala sesuatu, Maka untuk dapat memperoleh gambaran
yang jelas dan terperinci tentang pengertian takwa, maka penulis akan
mengumpulkan ayat-ayat dan hadits yang berkaitan dengan takwa, yang dapat
digunkaan untuk merumuskan pengertian tentang takwa.
Berikut akan
dikemukakan beberapa ayat Al Quran dan Hadits Rasulullah Muhammad SAW yang
dapat dijadikan sebagai dasar perumusan definisi takwa ;
4.1. Ketakwaan Itu
Bertingkat-Tingkat
Di dalam Al Quran Surat
Al-Hujurat/ 49: 13, Allah menegaskan bahwa orang yang paling mulia di sisi
Allah adalah yang paling bertakwa;
يَا
أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ
شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ
أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ
Artinya: Hai manusia,
sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan
dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah
ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
lagi Maha Mengenal. (QS. Al-Hujurat/ 49: 13).
Ayat di atas memberikan
gambaran bahwa kemuliaan manusia itu bertingkat-tingkat, mulai dari dari
kemulyaannya rendah, sedang dan tinggi, yang paling tinggi kemuliaannya adalah
yang paling bertakwa. Ayat tersebut sekaligus juga memberikan gambaran bahwa ketakwaan
itu juga bertingkat, mulai dari takwa tingkat rendah, sedang dan tinggi,
sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat ketakwaan seseorang dapat menentukan
tingkat kemuliaannya di sisi Allah.
Senada dengan Al Quran surat
Al-Hujurat Ayat 13 yang menggambarkan bahwa takwa bertingkat di dalam kitab
Mushannaf Ibnu Abi Syaibah hadits nomor 3758 juga memberikan gambaran bahwa
takwa bertingkat, dengan menyebutkan bahwa orang yang paling bertakwa adalah
orang yang paling banyak memerintahkan kepada yang ma'ruf, paling banyak
melarang dari yang munkar, dan paling banyak menyambung tali silaturahmi;
شَرِيكٌ عَنْ سِمَاكٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ
عَمِيرَةَ، عَنْ زَوْجِ دُرَّةَ، عَنْ دُرَّةَ، قَالَتْ: دَخَلْتُ عَلَى
النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَقُلْتُ:
" مَنْ أَتْقَى النَّاسِ؟ قَالَ: «آمَرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ، وَأَنْهَاهُمْ
عَنِ الْمُنْكَرِ، وَأَوْصَلُهُمْ لِلرَّحِمِ»[2]
Artinya: Diriwayatkan dari
Syarik dari Simak dari Abdullah bin Amirah dari suami Durrah dari Durrah, ia
berkata: "Aku masuk menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika
beliau berada di masjid, lalu aku bertanya: 'Siapakah orang yang paling
bertakwa?' Beliau menjawab: 'Orang yang paling banyak memerintahkan kepada yang
ma'ruf, paling banyak melarang dari yang munkar, dan paling banyak menyambung
tali silaturahmi.'
Di dalam kitab
Musnad Ahmad hadits nomor 6654 dinyatakan bahwa
Qalbu-qalbu itu adalah kesadaran dan sebagiannya merupakan bagian
kesadaran yang lainnya;
حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ
حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ قَالَ الْقُلُوبُ أَوْعِيَةٌ وَبَعْضُهَا أَوْعَى مِنْ بَعْضٍ فَإِذَا
سَأَلْتُمْ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ أَيُّهَا النَّاسُ فَاسْأَلُوهُ وَأَنْتُمْ
مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ فَإِنَّ اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ لِعَبْدٍ دَعَاهُ عَنْ
ظَهْرِ قَلْبٍ غَافِلٍ.[3]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Hasan, Ibnu Lahi'ah berkata: Bakar bin Amr berkata
dari Abu Abdurrahman al-Hubli dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Qalbu-qalbu itu adalah kesadaran dan
sebagiannya merupakan bagian kesadaran yang lainnya. Maka jika kalian meminta
kepada Allah, wahai manusia, mintalah dengan penuh keyakinan akan dikabulkan,
karena sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa seorang hamba yang berdoa
dengan hati yang lalai."
Berdasar hadits ini dapat
difahamai bahwa takwa bertingkat-tingkat, karena takwa berada di qalbu
(ruhani), sedangkan kesdaran qalbu bertingkat-tingkat, maka takwa juga
merupakan kesadaran qalbu yang bertingkat-tingkat.
Tingkatan dalam ketakwaan ini
akan dibahas secara mendalam di bab-bab berikutnya dengan mengemukakan
bukti-bukti berdasar ayat-ayat Al Quran yang berkaitan dengan ketakwaan.
4.2. Ketakwaan Itu
Ada Di Dalam Qalbu; Dada; Ruhani
Di dalam Al Quran
Surat Al-Hajj (22): 32, tergambar bahwa ketakwaan bersumber dari qalbu (hati);
ذَٰلِكَ
وَمَنْ يُعَظِّمْ شَعَائِرَ اللَّهِ فَإِنَّهَا مِنْ تَقْوَى الْقُلُوبِ
Artinya:
Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi'ar-syi'ar Allah,
maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.(QS. Al-Hajj (22): 32)
Sedangkan di
dalam Al Quran Surat Al-Hujurat (49): 3, juga tergambar bahwa ujian ketakwaan
ada di dalam qalbu;
إِنَّ
الَّذِينَ يَغُضُّونَ أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ أُولَئِكَ الَّذِينَ
امْتَحَنَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ لِلتَّقْوَى لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ عَظِيمٌ
Artinya: Sesungguhnya
orang yang merendahkan suaranya di sisi Rasulullah mereka itulah orang-orang
yang telah diuji hati mereka oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan
pahala yang besar. (QS. Al-Hujurat (49): 3)
Adapun hadits
nomor 215 di dalam kitab Shahih Muslim, memberikan gambaran bahwa Nabi Muhammad
menyebutkan takwa itu ada di dalam dada (ruhani);
حَدَّثَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْلَمَةَ بْنِ قَعْنَبٍ حَدَّثَنَا دَاوُدُ يَعْنِي ابْنَ
قَيْسٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ مَوْلَى عَامِرِ بْنِ كُرَيْزٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَحَاسَدُوا
وَلَا تَنَاجَشُوا وَلَا تَبَاغَضُوا وَلَا تَدَابَرُوا وَلَا يَبِعْ بَعْضُكُمْ
عَلَى بَيْعِ بَعْضٍ وَكُونُوا عِبَادَ اللَّهِ إِخْوَانًا الْمُسْلِمُ أَخُو
الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يَخْذُلُهُ وَلَا يَحْقِرُهُ التَّقْوَى
هَاهُنَا وَيُشِيرُ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ
الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ
حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ. حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ أَحْمَدُ بْنُ
عَمْرِو بْنِ سَرْحٍ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ أُسَامَةَ وَهُوَ ابْنُ زَيْدٍ
أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا سَعِيدٍ مَوْلَى عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَامِرِ بْنِ كُرَيْزٍ
يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَذَكَرَ نَحْوَ حَدِيثِ دَاوُدَ وَزَادَ وَنَقَصَ وَمِمَّا
زَادَ فِيهِ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَادِكُمْ وَلَا إِلَى
صُوَرِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ إِلَى
صَدْرِهِ [4]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami 'Abdullah bin Maslamah bin Qa'nab; Telah menceritakan
kepada kami Dawud yaitu Ibnu Qais mendengar dari Abu Sa'id budak 'Amir bin
Kuraiz mendengar dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah ﷺ bersabda: 'Janganlah kalian saling mendengki, saling memfitnah,
saling membenci, dan saling memusuhi. Janganlah ada seseorang di antara kalian
yang berjual beli sesuatu yang masih dalam penawaran muslim lainnya dan jadilah
kalian hamba-hamba Allah yang saling bersaudara. Muslim yang satu dengan muslim
yang lainnya adalah bersaudara tidak boleh menyakiti, merendahkan, ataupun
menghina. Takwa itu ada di sini (Rasulullah menunjuk dadanya), Beliau
mengucapkannya sebanyak tiga kali. Seseorang telah dianggap berbuat jahat
apabila ia menghina saudaranya sesama muslim. Muslim yang satu dengan yang
Iainnya haram darahnya. hartanya, dan kehormatannya." Telah menceritakan
kepadaku Abu At Thahir Ahmad bin Amru bin Sarh Telah menceritakan kepada kami
Ibnu Wahab dari Usamah yaitu Ibnu Zaid Bahwa dia mendengar Abu Sa'id -budak-
dari Abdullah bin Amir bin Kuraiz berkata; aku mendengar Abu Hurairah berkata;
Rasulullah ﷺ bersabda: -kemudian
perawi menyebutkan Hadits yang serupa dengan Hadits Daud, dengan sedikit
penambahan dan pengurangan. Diantara tambahannya adalah; "Sesungguhnya Allah
tidak melihat kepada tubuh dan rupa kalian, akan tetapi Allah melihat kepada
hati kalian. (seraya mengisyaratkan telunjuknya ke dada beliau).
Di dalam kitab
Musnad Ahmad hadis nomor 24319 tergambar bahwa Rasulullah Muhammad SAW adalah
orang yang paling bertakwa dengan qalbu;
حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ قَالَ أَخْبَرَنَا
هِشَامٌ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُهُمْ بِمَا يُطِيقُونَ فَيَقُولُونَ إِنَّا
لَسْنَا كَهَيْئَتِكَ قَدْ غَفَرَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ
ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ فَيَغْضَبُ حَتَّى يُرَى ذَلِكَ فِي وَجْهِهِ قَالَ
ثُمَّ يَقُولُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأَعْلَمُكُمْ بِاللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
وَأَتْقَاكُمْ لَهُ قَلْبًا [5]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Abu Usamah], dia berkata; Telah mengabarkan kepada
kami [Hisyam] dari [ayahnya] dari [Aisyah] berkata; "Rasulullah ﷺ memerintahkan mereka dengan apa yang mereka mampui." Sehingga mereka
mengatakan; "Sesungguhnya kami tidak seperti engkau. Sebab Allah
AzzaWaJalla telah mengampuni dosa-dosa engkau yang telah lalu dan yang akan
datang." Kemudian Rasulullah SAW marah hingga terlihat dari raut wajahnya.
Dia berkata; Kemudian beliau bersabda: "Demi Allah, sesungguhnya aku
adalah orang yang paling tahu terhadap Allah dan yang paling bertakwa di antara
kalian dengan qalbu.
Sedangkan di
dalam kitab Musnad Ahmad hadits nomor 1999 juga dinyatakan bahwa takwa itu ada
di dada (qalbu);
حَدَّثَنَا
بَهْزٌ حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مَسْعَدَةَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ عَنْ أَنَسٍ
قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ
الْإِسْلَامُ عَلَانِيَةٌ وَالْإِيمَانُ فِي الْقَلْبِ قَالَ ثُمَّ يُشِيرُ
بِيَدِهِ إِلَى صَدْرِهِ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ قَالَ ثُمَّ يَقُولُ التَّقْوَى
هَاهُنَا التَّقْوَى هَاهُنَا. [6]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Bahz berkata, telah menceritakan kepada kami Ali bin
Mas'adah berkata, telah menceritakan kepada kami Qatadah dari Anas ia berkata;
Rasulullah ﷺ bersabda: "Islam
itu sesuatu yang nampak sedangkan iman itu ada dalam hati." Anas berkata;
"Lalu beliau menunjuk ke dadanya dengan tangan sebanyak tiga kali."
Anas berkata; Kemudian beliau bersabda: "Takwa itu ada di sini, takwa itu
ada di sini."
Di dalam hadits
ini Rasulullah SAW menyebutkan adanya tiga Tingkat pengamalan agama, yang
pertama adalah pengamalan agama di tingkat Islam yakni pengamalan agama yang
bersifat lahiriyah; empiris; aqliyah, yang kedua adalah pengamalan agama Iman
yakni pengamalan agama yang bersifat qalbiyah; perasaan; emosi, sedangkan
pengamalan agama di tingkat Takwa merupakan pengalaman agama yang bersifat
ruhaniyah; spiritual; kesadaran, hal ini dapat difahami dari petunjuk
Rasulullah ketika menjelaskan bahwa takwa itu ada di dada, padahal di dalam
dada terdapat beberapa organ tubuh, tetapi tidak ditunjuk secara langsung di
organ tubuh yang mana, sebagaimana ketika menunjukkan iman ada di qalbu, karena
pengertian Takwa lebih dititik beratkan pada fungsi ruhaniyah dibandingkan
tempat ruh itu sendiri.
4.3. Takwa Itu
Ingat dan Sadar
Di dalam kitab
Shahih Ibnu Hibban hadits nomor 3055 digambarkan bahwa orang yang paling
bertakwa adalah orang yang ingat dan tidak lupa;
أَخْبَرَنَا
عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ سَلْمٍ، بِبَيْتِ الْمَقْدِسِ، حَدَّثَنَا حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى، حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ
الْحَارِثِ، أَنَّ أَبَا السَّمْحِ، حَدَّثَهُ، عَنِ ابْنِ حُجَيْرَةَ، عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ
قَالَ: «سَأَلَ مُوسَى رَبَّهُ عَنْ سِتِّ خِصَالٍ، كَانَ يَظُنُّ أَنَّهَا لَهُ
خَالِصَةً، وَالسَّابِعَةُ لَمْ يَكُنْ مُوسَى يُحِبُّهَا، قَالَ: يَا رَبِّ
أَيُّ عِبَادِكَ أَتْقَى؟ قَالَ: الَّذِي يَذْكُرُ وَلَا يَنْسَى، قَالَ:
فَأَيُّ عِبَادِكَ أَهْدَى؟ قَالَ: الَّذِي يَتْبَعُ* الْهُدَى، قَالَ: فَأَيُّ
عِبَادِكَ أَحْكُمُ؟ قَالَ: الَّذِي يَحْكُمُ لِلنَّاسِ كَمَا يَحْكُمُ
لِنَفْسِهِ، قَالَ: فَأَيُّ عِبَادِكَ أَعْلَمُ؟ قَالَ: عَالِمٌ لَا يَشْبَعُ مِنَ
الْعِلْمِ، يَجْمَعُ عِلْمَ النَّاسِ إِلَى عِلْمِهِ، قَالَ: فَأَيُّ عِبَادِكَ
أَعَزُّ؟ قَالَ: الَّذِي إِذَا قَدَرَ غَفَرَ، قَالَ: فَأَيُّ عِبَادِكَ أَغْنَى؟
قَالَ: الَّذِي يَرْضَى بِمَا يُؤْتَى، قَالَ: فَأَيُّ عِبَادِكَ أَفْقَرُ؟ قَالَ:
صَاحِبٌ مَنْقُوصٌ*"، قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ: «لَيْسَ الْغِنَى عَنْ ظَهْرٍ، إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ،
وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ خَيْرًا جَعَلَ غِنَاهُ فِي نَفْسِهِ وَتُقَاهُ
فِي قَلْبِهِ، وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِعَبْدٍ شَرًّا جَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ
عَيْنَيْهِ" [7]
Artinya: Telah
mengabarkan kepada kami Abdullah ibnu Muhammad Salmi, di Baitul Maqdis, telah
bercerita kepada kami Harmalah ibnu Yahya, telah bercerita kepada kami ibnu
Wahbin, telah mengabarkan kepada kami Umar ibnu Al Haris, bahwa Ayahnya Samhin
bercerita kepadanya, dari ibnu Hujairah, dari Abu Hurairah: dari Rasulullah ﷺ bersabda: Nabi Musa bertanya mengenai tujuh masalah, dia menyangka bahwa dia
berlepas diri darinya, dan keenanya Musa tidak menyukainya, Musa bertanya:
Wahai Rab, siapa hamba-Mu yang paling bertakwa ?, Allah menjawab: Orang yang
ingat dan tidak lupa, Musa bertanya: Siapa hamba-Mu yang paling mendapat
petunjuk ? Allah menjawab: orang yang mengikuti petunjuk, Musa bertanya: siapa
hamba-Mu yang paling bijaksana ? Allah menjawab: orang yang menghukumi manusia
sebagaimana menghukumi untuk dirinya sendiri, Musa bertanya: Siapa Hamba-Mu
yang paling ‘alim ? Allah menjawab: orang ‘alim yang tidak kenyang dengan
ilmunya, berkumpul ilmu manusia menjadi ilmunya, Musa bertanya: siapa hamba-Mu
yang paling agung, Allah menjawab: orang yang jika berkuasa memberi ampun, Musa
bertanya: siapa hamba-Mu yang paling kaya ? Allah menjawab: orang yang ridha
dengan yang diberikan kepadanya, Musa bertanya: siapa hamba-Mu yang paling
faqir ? Allah menjawab: orang yang selalu kekurangan, Rasulullah ﷺ bersabda:
Bukanlah kaya itu lahirnya, tetapi kaya itu jiwanya, dan jika Allah menghendaki
hambanya kebaikan dijadikannya kaya di dalam jiwanya, dan ketakwaannya dalam
qalbunya, dan jika Allah menghendaki keburukan hambanya, dijadikannya miskin
dari apa saja yang dilihat kedua matanya”
Di dalam kitab
Musnad Ahmad hadits nomor 6368 dinyatakan bahwa
Qalbu-qalbu itu adalah kesadaran dan sebagiannya merupakan bagian
kesadaran yang lainnya;
حَدَّثَنَا
حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ حَدَّثَنَا بَكْرُ بْنُ عَمْرٍو عَنْ أَبِي
عَبْدِ الرَّحْمَنِ الْحُبُلِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ "الْقُلُوبُ أَوْعِيَةٌ
وَبَعْضُهَا أَوْعَى مِنْ بَعْضٍ فَإِذَا سَأَلْتُمْ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ
أَيُّهَا النَّاسُ فَاسْأَلُوهُ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالْإِجَابَةِ فَإِنَّ
اللَّهَ لَا يَسْتَجِيبُ لِعَبْدٍ دَعَاهُ عَنْ ظَهْرِ قَلْبٍ غَافِلٍ".
[8]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Hasan, Ibnu Lahi'ah berkata: Bakar bin Amr berkata
dari Abu Abdurrahman al-Hubli dari Abdullah bin Amr bahwa Rasulullah ﷺ bersabda: "Qalbu-qalbu itu adalah kesadaran dan
sebagiannya merupakan bagian kesadaran yang lainnya. Maka jika kalian meminta
kepada Allah, wahai manusia, mintalah dengan penuh keyakinan akan dikabulkan,
karena sesungguhnya Allah tidak akan mengabulkan doa seorang hamba yang berdoa
dengan hati yang lalai."
Di dalam
kitab Hilyatul Aulia hadits nomor 46 dinyatakan bahwa siapa pun yang
bersungguh-sungguh dalam ibadah dan dermawan dalam melakukan kebaikan tanpa
akal yang memandunya untuk mengikuti perintah Allah Azza wa Jalla dan menjauhi
apa yang dilarang oleh-Nya, mereka itulah orang-orang yang paling merugi
amalnya;
حَدَّثَنَا
أَبُو بَكْرِ بْنُ خَلَّادٍ، ثَنَا الْحَارِثُ بْنُ أَبِي أُسَامَةَ، ثَنَا
دَاوُدُ بْنُ الْمُحَبَّرِ، ثَنَا نَصْرُ بْنُ طَرِيفٍ، عَنْ مَنْصُورِ بْنِ
الْمُعْتَمِرِ، عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ سُوَيْدِ بْنِ غَفَلَةَ، أَنَّ أَبَا
بَكْرٍ الصِّدِّيقَ، رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ خَرَجَ ذَاتَ يَوْمٍ
فَاسْتَقْبَلَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ لَهُ: بِمَ
بُعِثْتَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: «بِالْعَقْلِ» , قَالَ: فَكَيْفَ لَنَا
بِالْعَقْلِ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ
الْعَقْلَ لَا غَايَةَ لَهُ , وَلَكِنْ مَنْ أَحَلَّ حَلَالَ اللهِ وَحَرَّمَ
حَرَامَهُ سُمِّيَ عَاقِلًا , فَإِنِ اجْتَهَدَ بَعْدَ ذَلِكَ سُمِّيَ عَابِدًا ,
فَإِنِ اجْتَهَدَ بَعْدَ ذَلِكَ سُمِّيَ جَوَادًا , فَمَنِ اجْتَهَدَ فِي
الْعِبَادَةِ وَسَمَحَ فِي نَوَائِبِ الْمَعْرُوفِ بِلَا حَظٍّ مِنْ عَقْلٍ
يَدُلُّهُ عَلَى اتِّبَاعِ أَمْرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ , وَاجْتِنَابِ مَا نَهَى
الله عَنْهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْأَخْسَرُونَ أَعْمَالًا , الَّذِينَ ضَلَّ
سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ
صُنْعًا»[9]
Artinya: Abu Bakr bin Khalad
telah meriwayatkan kepada kami, Harits bin Abi Usamah telah meriwayatkan kepada
kami, Dawud bin Muhabbir telah meriwayatkan kepada kami, Nushair bin Tarif
telah meriwayatkan kepada kami, dari Manshur bin Mu'tamir, dari Abu Wa'il, dari
Suwaid bin Ghafalah, bahwa Abu Bakr Ash-Shiddiq, radhiyallahu 'anhu, suatu hari
keluar dan bertemu dengan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam. Maka Abu Bakr
bertanya kepada beliau: "Dengan apa engkau diutus wahai Rasulullah?"
Beliau menjawab: "Dengan akal." Abu Bakr bertanya: "Bagaimana
cara kita mendapatkan akal?" Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab:
"Akal itu tidak ada batasnya, tetapi barangsiapa yang menghalalkan apa
yang dihalalkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan oleh-Nya, maka
dia disebut sebagai orang yang berakal. Jika dia bersungguh-sungguh setelah
itu, maka dia disebut sebagai seorang 'abid (ahli ibadah). Jika dia
bersungguh-sungguh lagi setelah itu, maka dia disebut sebagai orang yang murah
hati. Maka siapa pun yang bersungguh-sungguh dalam ibadah dan dermawan dalam
melakukan kebaikan tanpa akal yang memandunya untuk mengikuti perintah Allah
Azza wa Jalla dan menjauhi apa yang dilarang oleh-Nya, mereka itulah
orang-orang yang paling merugi amalnya, yang usahanya sesat dalam kehidupan
dunia ini, padahal mereka menyangka bahwa mereka melakukan kebaikan."
4.4. Takwa Adalah
Ketaatan Kepada Allah dan Rasulnya
Di dalam
Al Quran surat Asy-Syu'ara' (26) ayat yang sama diulang sebanyak delapan kali,
yaitu ayat: 108, 110, 126, 131, 144, 150, 163 dan 179.
فَاتَّقُوا
اللَّهَ وَأَطِيعُونِ
Artinya: Maka bertakwalah kepada
Allah dan taatlah kepadaku.(QS. Asy-Syu'ara' (26): 108, 110, 126, 131, 144,
150, 163, 179)
Di dalam
kitab Shahih Muslim hadits nomor 1835 dinyatakan Barang siapa yang menaati aku,
maka sungguh dia telah menaati Allah, dan barang siapa yang mendurhakaiku, maka
sungguh dia telah mendurhakai Allah;
حَدَّثَنَا
يَحْيَي بْنُ يَحْيَي. أَخْبَرَنَا الْمُغِيرَةُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ
الْحِزَامِيُّ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ، عَنِ الأعرج، عن أبي هريرة، عن النبي ﷺ
قَالَ مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى
اللَّهَ. وَمَنْ يُطِعِ الْأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي. وَمَنْ يَعْصِ الأمير فقد
عصاني.[10]
Artinya: Telah menceritakan kepada
kami Yahya bin Yahya. Telah mengabarkan kepada kami al-Mughirah bin
'Abdurrahman al-Hizami dari Abu al-Zinad, dari al-A'raj, dari Abu Hurairah,
dari Nabi ﷺ, beliau bersabda: "Barang siapa yang menaati aku, maka
sungguh dia telah menaati Allah, dan barang siapa yang mendurhakaiku, maka
sungguh dia telah mendurhakai Allah. Dan barang siapa yang menaati pemimpin,
maka sungguh dia telah menaati aku. Dan barang siapa yang mendurhakai pemimpin,
maka sungguh dia telah mendurhakaiku."
Ayat tersebut memberikan gambaran
perintah untuk bertakwa kepada Allah dengan cara mentaati Rasul atau Nabinya,
sedangkan Rasul dan Nabi adalah orang yang paling taat kepada Allah,
sebagaimana tergambar di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 3344;
حَدَّثَنِي
مُحَمَّدُ بْنُ عَرْعَرَةَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ الْحَكَمِ عَنْ مُجَاهِدٍ
عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ نُصِرْتُ بِالصَّبَا وَأُهْلِكَتْ عَادٌ بِالدَّبُورِ قَالَ
وَقَالَ ابْنُ كَثِيرٍ عَنْ سُفْيَانَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ ابْنِ أَبِي نُعْمٍ عَنْ
أَبِي سَعِيدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَعَثَ عَلِيٌّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ
إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِذُهَيْبَةٍ فَقَسَمَهَا
بَيْنَ الْأَرْبَعَةِ الْأَقْرَعِ بْنِ حَابِسٍ الْحَنْظَلِيِّ ثُمَّ
الْمُجَاشِعِيِّ وَعُيَيْنَةَ بْنِ بَدْرٍ الْفَزَارِيِّ وَزَيْدٍ الطَّائِيِّ
ثُمَّ أَحَدِ بَنِي نَبْهَانَ وَعَلْقَمَةَ بْنِ عُلَاثَةَ الْعَامِرِيِّ ثُمَّ
أَحَدِ بَنِي كِلَابٍ فَغَضِبَتْ قُرَيْشٌ وَالْأَنْصَارُ قَالُوا يُعْطِي
صَنَادِيدَ أَهْلِ نَجْدٍ وَيَدَعُنَا قَالَ إِنَّمَا أَتَأَلَّفُهُمْ فَأَقْبَلَ
رَجُلٌ غَائِرُ الْعَيْنَيْنِ مُشْرِفُ الْوَجْنَتَيْنِ نَاتِئُ الْجَبِينِ كَثُّ
اللِّحْيَةِ مَحْلُوقٌ فَقَالَ اتَّقِ اللَّهَ يَا مُحَمَّدُ فَقَالَ مَنْ
يُطِعْ اللَّهَ إِذَا عَصَيْتُ أَيَأْمَنُنِي اللَّهُ عَلَى أَهْلِ الْأَرْضِ
فَلَا تَأْمَنُونِي فَسَأَلَهُ رَجُلٌ قَتْلَهُ أَحْسِبُهُ خَالِدَ بْنَ
الْوَلِيدِ فَمَنَعَهُ فَلَمَّا وَلَّى قَالَ إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا أَوْ فِي
عَقِبِ هَذَا قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ
يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ يَقْتُلُونَ
أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ لَئِنْ أَنَا أَدْرَكْتُهُمْ
لَأَقْتُلَنَّهُمْ قَتْلَ عَادٍ. [11]
Artinya: Telah bercerita kepadaku
Muhammad bin 'Ar'arah telah bercerita kepada kami Syu'bah dari Al Hakam dari
Mujahid dari Ibnu 'Abbas radliallahu 'anhuma dari Nabi ﷺ bersabda: ""Aku ditolong dengan perantaraan angin
yang berhembus dari timur (belakang pintu Ka'bah) sedangkan kaum 'Aad
dibinasakan dengan angin yang berhembus dari barat". Perawi berkata; Dan
Ibnu Katsir berkata dari Sufyan dari bapaknya dari Ibnu Abi Nu'im dari Abu
Sa'id radliallahu 'anhu berkata; 'Ali mengirim perhiasan emas kepada Nabi ﷺ lalu Beliau membagikannya kepada empat orang, yaitu kepada Al
Aqra' bin Habis Al Hanzhaliy, yang kemudian sebutannya menjadi Al Mujasyi'iy,
'Uyaynah bin Badr Al Fazariy, Zaid ath-Tha'iy kemudian dia menjadi salah
seorang suku Bani Nabhan dan 'Alqamah bin 'Ulatsah yang kemudian menjadi salah
seorang suku Bani Kilab. Orang-orang Qurais dan Kaum Anshar menjadi marah.
Mereka berkata; "Beliau telah memberi para pahlawan penduduk Nejed dan
malah mengabaikan kita". Beliau berkata: "Aku memberi mereka dengan
tujuan agar menjinakkan hati mereka" (ke dalam Islam). Lalu datanglah
seseorang yang kedua matanya menjorok ke dalam, wajahnya kusut dengan jenggotnya
dicukur seraya berkata: "Bertakwalah kamu kepada Allah, wahai
Muhammad". Maka Beliau berkata: "Siapakah yang taat (bertakwa) kepada
Allah seandainya aku saja mendurhakai-Nya. Apakah patut Allah memberi
kepercayaan kepadaku untuk penduduk bumi sementara kalian tidak mempercayai
aku?". Kemudian ada seseorang, aku kira dia adalah Khalid bin Al
Walid, yang meminta izin untuk membunuh orang itu namun Beliau melarangnya.
Setelah orang itu pergi, Beliau bersabda: "Sesungguhnya dari asal orang
ini atau di belakang orang ini (keturunan) akan ada satu kaum yang mereka
membaca al-Qur'an namun tidak sampai ke tenggorokan mereka. Mereka keluar dari
agama bagaikan keluarnya anak panah dari busurnya dan mereka membunuh pemeluk
Islam dan membiarkan para penyembah berhala. Seandainya aku bertemu dengan
mereka pasti aku akan bunuh mereka sebagaimana kaum "Ad dibantai".
Dari ayat Al Quran dan hadits
di atas dapat ditarik pengertian bahwa takwa merupakan bentuk ketaatan kepada
Allah dan Rasulnya.
4.5. Takwa Harus
Dilakukan Dengan Bersungguh-Sungguh
Bertakwa diperintahkan Allah untuk dilakukan dengan
bersungguh-sungguh/ benar-benar bertakwa, sebagaimana disebutkan di dalam Al
Quran Surat Ali 'Imran Ayat 102;
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ
إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Artinya: Hai
orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa
kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan
beragama Islam.(QS. Ali 'Imran/ 2: 102)
Perintah
bersungguh-sungguh dalam bertakwa dengan cara berjihad (berjuang) dengan harta
dan jiwa, juga disebutkan di dalam Al Quran surat At Taubah/ 9: 44 yang
menegaskan bahwa orang beriman dilarang minta ijin dari berjihad (berjuang);
لَا
يَسْتَأْذِنُكَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ اَنْ
يُّجَاهِدُوْا بِاَمْوَالِهِمْ وَاَنْفُسِهِمْۗ وَاللّٰهُ عَلِيْمٌۢ
بِالْمُتَّقِيْنَ
Artinya:
Orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, tidak akan meminta
izin (tidak ikut) kepadamu untuk berjihad dengan harta dan jiwa mereka.
Allah mengetahui orang-orang yang bertakwa. (At-Taubah/9:44)
Ayat tersebut
diakhiri dengan menyebut bahwa Allah maha mengetahui orang-orang yang bertakwa,
mengandung pengertian bahwa Allah maha mengetahui orang-orang yang
sungguh-sungguh berjuang dengan dilandasi ketakwaan.
Di dalam Al Quran
terdapat perintah yang pola kalimatnya sama dengan perintah bertakwa, yaitu
perintah berjihad (berjuang /bersunggunh-sungguh), dimuat di dalam surat
Al-Hajj/ 22: 78;
وَجَاهِدُوا
فِي اللَّهِ حَقَّ جِهَادِهِ هُوَ اجْتَبَاكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِي
الدِّينِ مِنْ حَرَجٍ مِلَّةَ أَبِيكُمْ إِبْرَاهِيمَ هُوَ سَمَّاكُمُ
الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ
وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ فَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ
وَاعْتَصِمُوا بِاللَّهِ هُوَ مَوْلَاكُمْ فَنِعْمَ الْمَوْلَى وَنِعْمَ
النَّصِيرُ
Artinya: Dan
berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah
memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu
kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai
kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al
Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua
menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sembahyang, tunaikanlah
zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka
Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.(QS. Al-Hajj/ 22: 78)
Perintah untuk
berjihad dengan jihad yang sebenar-benarnya (berjuang dengan bersungguh-sungguh
adalah bentuk ketakwaan level tertinggi, akan di jelaskan di buku seri Ilmu
Takwa 3);
Mujahid adalah
orang yang berjihad (berjuang/bersungguh) melawan dirinya di dalam ketaatan
kepada Allah, dinyatakan di dalam kitab Musnad Ahmad 23958;
حَدَّثَنَا
عَلِيُّ بْنُ إِسْحَاقَ قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ قَالَ أَنْبَأَنَا لَيْثٌ
قَالَ أَخْبَرَنِي أَبُو هَانِئٍ الْخَوْلَانِيُّ عَنْ عَمْرِو بْنِ مَالِكٍ
الْجَنْبِيِّ قَالَ حَدَّثَنِي فَضَالَةُ بْنُ عُبَيْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ
اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي حَجَّةِ الْوَدَاعِ أَلَا
أُخْبِرُكُمْ بِالْمُؤْمِنِ مَنْ أَمِنَهُ النَّاسُ عَلَى أَمْوَالِهِمْ
وَأَنْفُسِهِمْ وَالْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
وَالْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ فِي طَاعَةِ اللَّهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ
هَجَرَ الْخَطَايَا وَالذَّنُوبَ. [12]
Artinya:
Diriwayatkan dari Ali bin Ishaq yang berkata: Abdullah telah menceritakan
kepada kami dari Laits yang berkata: Abu Hani' Al-Khaulani menceritakan
kepadaku dari Amr bin Malik Al-Janbi yang berkata: Fadalah bin Ubaid
menceritakan kepadaku bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda
pada Haji Wada': "Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang seorang
mukmin? Seorang mukmin adalah orang yang manusia merasa aman dari gangguan pada
harta dan diri mereka. Dan seorang muslim adalah orang yang manusia selamat
dari lisan dan tangannya. Dan seorang mujahid adalah orang yang berjihad
melawan dirinya sendiri dalam ketaatan kepada Allah. Dan seorang muhajir adalah
orang yang meninggalkan kesalahan dan dosa."
4.6. Takwa Berarti
Menjaga Diri
Secara bahasa
takwa berasal dari kata waqa artinya memelihara, melindungi, menjaga,
menaungi, di dalam Al Quran surat Al-Baqarah (2): 24, kata ittaqu diartikan
dengan jagalah/ peliharalah dirimu;
فَإِنْ لَمْ
تَفْعَلُوا وَلَنْ تَفْعَلُوا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِي وَقُودُهَا النَّاسُ
وَالْحِجَارَةُ أُعِدَّتْ لِلْكَافِرِينَ
Artinya: Maka
jika kamu tidak dapat membuat(nya) -- dan pasti kamu tidak akan dapat
membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan
batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS. Al-Baqarah (2): 24)
Di dalam Al Quran surat Al-Tahrim (66): 6, kata quu diartikan
dengan jagalah/ peliharalah dirimu
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا
النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ
اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ
Artinya: Hai
orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka
yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang
kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya
kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (QS. Al-Tahrim
(66): 6)
Di dalam kitab
6540 kata ittaqu nara berarti Shahih Bukhari Jagalah diri kalian (menjaga diri) dari api neraka;
قَالَ الْأَعْمَشُ: حَدَّثَنِي عَمْرٌو، عَنْ خَيْثَمَةَ، عَنْ عَدِيِّ بْنِ حَاتِمٍ قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: «اتَّقُوا
النَّارَ. ثُمَّ أَعْرَضَ وَأَشَاحَ، ثُمَّ قَالَ: اتَّقُوا
النَّارَ. ثُمَّ أَعْرَضَ وَأَشَاحَ ثَلَاثًا، حَتَّى
ظَنَنَّا أَنَّهُ يَنْظُرُ إِلَيْهَا، ثُمَّ قَالَ: اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ،
فَمَنْ لَمْ يَجِدْ فَبِكَلِمَةٍ طَيِّبَةٍ»[13]
Artinya:
Al-A‘masy berkata: Telah menceritakan kepadaku ‘Amr dari Khaisamah dari ‘Adiy
bin Hatim, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Jagalah diri kalian dari api neraka.”, Kemudian beliau berpaling dan menoleh
(ke arah lain), lalu bersabda lagi: “Jagalah diri kalian dari api neraka.”
Beliau mengulanginya tiga kali, sampai
kami menyangka bahwa beliau benar-benar sedang melihatnya. Kemudian beliau
bersabda: “Jagalah diri kalian dari api neraka walaupun hanya dengan
(bersedekah) separuh butir kurma. Jika tidak menemukannya (tidak mampu
bersedekah), maka dengan ucapan yang baik.”
di dalam kitab Shahih Bukhari hadits nomor 50 di dalamnya
tergambar bahwa ketakwaan; menjaga diri (dari subhat) itu ada di dalam qalbu;
حَدَّثَنَا
أَبُو نُعَيْمٍ، حَدَّثَنَا زَكَرِيَّاءُ، عَنْ عَامِرٍ قَالَ: سَمِعْتُ
النُّعْمَانَ بْنَ بَشِيرٍ يَقُولُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ:
«الْحَلَالُ بَيِّنٌ وَالْحَرَامُ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهُمَا مُشَبَّهَاتٌ، لَا
يَعْلَمُهَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ، فَمَنِ اتَّقَى الْمُشَبَّهَاتِ اسْتَبْرَأَ
لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ، وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ كَرَاعٍ يَرْعَى حَوْلَ
الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يُوَاقِعَهُ، أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى، أَلَا
إِنَّ حِمَى اللهِ فِي أَرْضِهِ مَحَارِمُهُ، أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ
مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ
الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ».[14]
Artinya: Dari
Abu Nu'aim, ia berkata: Zakariya menceritakan kepada kami, dari 'Amir yang
berkata: Aku mendengar Nu'man bin Basyir berkata: Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: "Yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas,
dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar-samar (syubhat) yang
tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa yang menjaga diri dari syubhat,
maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Dan barang siapa yang terjerumus
dalam syubhat, ia seperti seorang penggembala yang menggembalakan di sekitar
area terlarang, sangat mungkin ia akan terjerumus ke dalamnya. Ketahuilah bahwa
setiap raja memiliki area terlarang, dan area terlarang Allah di bumi-Nya
adalah apa-apa yang diharamkan-Nya. Ketahuilah bahwa dalam tubuh terdapat
segumpal daging, jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan jika ia rusak,
maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, itulah hati."
4.7. Ketakwaan Itu
Meninggalkan Keburukan Dan Menumbuhkan Kebaikan
Di dalam Al Quran Surat Asy Syam ayat 7-10 digambarkan bahwa fujur
dan takwa merupakan ilham dari Allah SWT;
وَنَفْسٍ
وَمَا سَوَّاهَا, فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا, قَدْ أَفْلَحَ مَنْ
زَكَّاهَا, وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
Artinya: dan
(Demi) jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada
jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Maka Allah mengilhamkan kepada
jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, Sesungguhnya beruntunglah orang
yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
(QS. Surat Asy Syam: 7-10)
Berdasar
petunjuk/hudan ayat tersebut di atas dapat diperoleh pengertian bahwa
takwa adalah ilham; kesadaran; potensi yang tertanam di dalam jiwa, dengan
keterangan/bayan takwa berlawanan dengan fujur, artinya takwa merupakan
potensi kebaikan sedangkan fujur merupakan potensi keburukan. Dan pembeda/Furqan-nya
yaitu takwa berarti mensucikan jiwa dari keburukan sekaligus menumbuhkan
kebaikan, sedangkan fujur adalah terkotorinya jiwa kebaikan dan tumbuhnya
keburukan.
Berdasar ilham
fujur dan takwa, manusia memiliki potensi dan peluang yang sama untuk dapat
berbuat fujur ataupun takwa, maka takwa di sini dapat difahami sebagai
kemampuan (Kesadaran) diri untuk menjaga kesucian jiwa, sedangkan fujur adalah
ketidak mampuan (ketidak sadaran) diri untuk menjaga kesucian jiwa sehingga
dirinya dikendalikan oleh potensi fujur.
Dengan demikian orang yang
paling bertakwa adalah orang yang paling banyak memerintahkan kepada yang
ma'ruf (kebaikan) dan paling banyak melarang dari yang munkar (keburukan)
sebagaimana di gambarkan di dalam kitab Mushannaf Ibnu Abi Syaibah hadits nomor
3758;
شَرِيكٌ
عَنْ سِمَاكٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمِيرَةَ، عَنْ زَوْجِ دُرَّةَ، عَنْ
دُرَّةَ، قَالَتْ: دَخَلْتُ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
وَهُوَ فِي الْمَسْجِدِ فَقُلْتُ: " مَنْ أَتْقَى النَّاسِ؟ قَالَ:
«آمَرُهُمْ بِالْمَعْرُوفِ، وَأَنْهَاهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ، وَأَوْصَلُهُمْ
لِلرَّحِمِ»[15]
Artinya: Diriwayatkan dari
Syarik dari Simak dari Abdullah bin Amirah dari suami Durrah dari Durrah, ia
berkata: "Aku masuk menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika
beliau berada di masjid, lalu aku bertanya: 'Siapakah orang yang paling
bertakwa?' Beliau menjawab: 'Orang yang paling banyak memerintahkan kepada yang
ma'ruf, paling banyak melarang dari yang munkar, dan paling banyak menyambung
tali silaturahmi.'
4.8. Takwa
Merupakan Inti Dalam Beragama
Konsep takwa merupakan konsep
yang kafah (Menyeluruh), takwa menjadi pokok dari semua perkara, takwa menjadi
syarat penentu nilai amal ibadah manusia, Hal ini didasari hadits nomor 361
dalam kitab Shahih Ibnu Hibban, di dalamnya disebutkan banyak pertanyaan dan
jawaban dalam berbagai perkara, kemudian disebutkan bahwa Takwa adalah inti
semua perkara;
أَخْبَرَنَا
الْحَسَنُ بْنُ سُفْيَانَ الشَّيْبَانِيُّ، وَالْحُسَيْنُ بْنُ عَبْدِ اللهِ
الْقَطَّانُ بِالرَّقَّةِ، وَابْنُ قُتَيْبَةَ، وَاللَّفْظُ لِلْحَسَنِ،
قَالُوا: حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ هِشَامِ بْنِ يَحْيَى بْنِ يَحْيَى
الْغَسَّانِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا أَبِي، عَنْ جَدِّي، عَنْ أَبِي إِدْرِيسَ
الْخَوْلاَنِيِّ، عَنْ أَبِي ذَرٍّ، قَالَ: دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ، فَإِذَا
رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، جَالِسٌ وَحْدَهُ، قَالَ: يَا
أَبَا ذَرٍّ إِنَّ لِلْمَسْجِدِ تَحِيَّةً، وَإِنَّ تَحِيَّتَهُ رَكْعَتَانِ،
فَقُمْ فَارْكَعْهُمَا، قَالَ: فَقُمْتُ فَرَكَعْتُهُمَا، ثُمَّ عُدْتُ
فَجَلَسْتُ إِلَيْهِ، فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، إِنَّكَ أَمَرْتَنِي
بِالصَّلاَةِ، فَمَا الصَّلاَةُ؟ قَالَ: خَيْرُ مَوْضُوعٍ، اسْتَكْثِرْ أَوِ
اسْتَقِلَّ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ؟
قَالَ: إِيمَانٌ بِاللَّهِ، وَجِهَادٌ فِي سَبِيلِ اللهِ، قَالَ: قُلْتُ:
يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ أَكْمَلُ إِيمَانًا؟ قَالَ:
أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا. قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ الْمُؤْمِنِينَ
أَسْلَمُ؟ قَالَ: مَنْ سَلِمَ النَّاسُ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ، قَالَ:
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ الصَّلاَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: طُولُ
الْقُنُوتِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ الْهِجْرَةِ
أَفْضَلُ؟ قَالَ: مَنْ هَجَرَ السَّيِّئَاتِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ
اللهِ، فَمَا الصِّيَامُ؟ قَالَ: فَرْضٌ مُجْزِئٌ، وَعِنْدَ اللهِ أَضْعَافٌ
كَثِيرَةٌ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ الْجِهَادِ أَفْضَلُ؟
قَالَ: مَنْ عُقِرَ جَوَادُهُ، وَأُهْرِيقَ دَمُهُ، قَالَ: قُلْتُ: يَا
رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ؟ قَالَ: جَهْدُ الْمُقِلِّ
يُسَرُّ إِلَى فَقِيرٍ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَأَيُّ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ
عَلَيْكَ أَعْظَمُ؟ قَالَ: آيَةُ الْكُرْسِيِّ ثُمَّ، قَالَ: يَا أَبَا
ذَرٍّ، مَا السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ مَعَ الْكُرْسِيِّ إِلاَّ كَحَلْقَةٍ
مُلْقَاةٍ بِأَرْضٍ فَلاَةٍ وَفَضْلُ الْعَرْشِ عَلَى الْكُرْسِيِّ كَفَضْلِ
الْفَلاَةِ عَلَى الْحَلْقَةِ، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَمِ الأَنْبِيَاءُ؟
قَالَ: مِائَةُ أَلْفٍ وَعِشْرُونَ أَلْفًا قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، كَمِ
الرُّسُلُ مِنْ ذَلِكَ؟ قَالَ: ثَلاَثُ مِائَةٍ وَثَلاَثَةَ عَشَرَ جَمًّا
غَفِيرًا، قَالَ: قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، مَنْ كَانَ أَوَّلُهُمْ؟
قَالَ: آدَمُ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَنَبِيٌّ مُرْسَلٌ؟ قَالَ:
نَعَمْ، خَلَقَهُ اللَّهُ بِيَدِهِ، وَنَفَخَ فِيهِ مِنْ رُوحِهِ، وَكَلَّمَهُ
قِبَلاً ثُمَّ، قَالَ: يَا أَبَا ذَرٍّ أَرْبَعَةٌ سُرْيَانِيُّونَ: آدَمُ،
وَشِيثُ، وَأَخْنُوخُ وَهُوَ إِدْرِيسُ، وَهُوَ أَوَّلُ مَنْ خَطَّ بِالْقَلَمِ،
وَنُوحٌ وَأَرْبَعَةٌ مِنَ الْعَرَبِ: هُودٌ، وَشُعَيْبٌ، وَصَالِحٌ،
وَنَبِيُّكَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ
اللهِ، كَمْ كِتَابًا أَنْزَلَهُ اللَّهُ؟ قَالَ: مِائَةُ كِتَابٍ، وَأَرْبَعَةُ
كُتُبٍ، أُنْزِلَ عَلَى شِيثٍ خَمْسُونَ صَحِيفَةً، وَأُنْزِلَ عَلَى أَخْنُوخَ
ثَلاَثُونَ صَحِيفَةً، وَأُنْزِلَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ عَشَرُ صَحَائِفَ،
وَأُنْزِلَ عَلَى مُوسَى قَبْلَ التَّوْرَاةِ عَشَرُ صَحَائِفَ، وَأُنْزِلَ
التَّوْرَاةُ وَالإِنْجِيلُ وَالزَّبُورُ وَالْقُرْآنُ، قَالَ: قُلْتُ: يَا
رَسُولَ اللهِ، مَا كَانَتْ صَحِيفَةُ إِبْرَاهِيمَ؟ قَالَ: كَانَتْ
أَمْثَالاً كُلُّهَا: أَيُّهَا الْمَلِكُ الْمُسَلَّطُ الْمُبْتَلَى
الْمَغْرُورُ، إِنِّي لَمْ أَبْعَثْكَ لِتَجْمَعَ الدُّنْيَا بَعْضَهَا عَلَى
بَعْضٍ، وَلَكِنِّي بَعَثْتُكَ لِتَرُدَّ عَنِّي دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنِّي
لاَ أَرُدُّهَا وَلَوْ كَانَتْ مِنْ كَافِرٍ، وَعَلَى الْعَاقِلِ مَا لَمْ يَكُنْ
مَغْلُوبًا عَلَى عَقْلِهِ أَنْ تَكُونَ لَهُ سَاعَاتٌ: سَاعَةٌ يُنَاجِي فِيهَا
رَبَّهُ، وَسَاعَةٌ يُحَاسِبُ فِيهَا نَفْسَهُ، وَسَاعَةٌ يَتَفَكَّرُ فِيهَا فِي
صُنْعِ اللهِ، وَسَاعَةٌ يَخْلُو فِيهَا لِحَاجَتِهِ مِنَ الْمَطْعَمِ
وَالْمَشْرَبِ، وَعَلَى الْعَاقِلِ أَنْ لاَ يَكُونَ ظَاعِنًا إِلاَّ لِثَلاَثٍ:
تَزَوُّدٍ لِمَعَادٍ، أَوْ مَرَمَّةٍ لِمَعَاشٍ، أَوْ لَذَّةٍ فِي غَيْرِ
مُحَرَّمٍ، وَعَلَى الْعَاقِلِ أَنْ يَكُونَ بَصِيرًا بِزَمَانِهِ، مُقْبِلاً
عَلَى شَأْنِهِ، حَافِظًا لِلِسَانِهِ، وَمَنْ حَسَبَ كَلاَمَهُ مِنْ عَمَلِهِ،
قَلَّ كَلاَمُهُ إِلاَّ فِيمَا يَعْنِيهِ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، فَمَا كَانَتْ
صُحُفُ مُوسَى؟ قَالَ: كَانَتْ عِبَرًا كُلُّهَا: عَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ
بِالْمَوْتِ، ثُمَّ هُوَ يَفْرَحُ، وَعَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالنَّارِ، ثُمَّ
هُوَ يَضْحَكُ، وَعَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالْقَدَرِ ثُمَّ هُوَ يَنْصَبُ،
عَجِبْتُ لِمَنْ رَأَى الدُّنْيَا وَتَقَلُّبَهَا بِأَهْلِهَا، ثُمَّ اطْمَأَنَّ
إِلَيْهَا، وَعَجِبْتُ لِمَنْ أَيْقَنَ بِالْحِسَابِ غَدًا ثُمَّ لاَ يَعْمَلُ
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، أَوْصِنِي، قَالَ: أُوصِيكَ بِتَقْوَى اللهِ،
فَإِنَّهُ رَأْسُ الأَمْرِ كُلِّهِ. قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، زِدْنِي،
قَالَ: عَلَيْكَ بِتِلاَوَةِ الْقُرْآنِ، وَذِكْرِ اللهِ، فَإِنَّهُ نُورٌ لَكَ
فِي الأَرْضِ، وَذُخْرٌ لَكَ فِي السَّمَاءِ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ،
زِدْنِي: قَالَ: إِيَّاكَ وَكَثْرَةَ الضَّحِكِ، فَإِنَّهُ يُمِيتُ الْقَلْبَ،
وَيَذْهَبُ بِنُورِ الْوَجْهِ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، زِدْنِي، قَالَ:
عَلَيْكَ بِالصَّمْتِ إِلاَّ مِنْ خَيْرٍ، فَإِنَّهُ مَطْرَدَةٌ لِلشَّيْطَانِ
عَنْكَ، وَعَوْنٌ لَكَ عَلَى أَمْرِ دِينِكَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ،
زِدْنِي، قَالَ: عَلَيْكَ بِالْجِهَادِ، فَإِنَّهُ رَهْبَانِيَّةُ أُمَّتِي
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، زِدْنِي، قَالَ: أَحِبَّ الْمَسَاكِينَ
وَجَالِسْهُمْ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ زِدْنِي، قَالَ: انْظُرْ إِلَى مَنْ
تَحْتَكَ وَلاَ تَنْظُرْ إِلَى مَنْ فَوْقَكَ، فَإِنَّهُ أَجْدَرُ أَنْ لاَ
تُزْدَرَى نِعْمَةُ اللهِ عِنْدَكَ قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ زِدْنِي، قَالَ:
قُلِ الْحَقَّ وَإِنْ كَانَ مُرًّا قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ زِدْنِي، قَالَ:
لِيَرُدَّكَ عَنِ النَّاسِ مَا تَعْرِفُ مِنْ نَفْسِكَ وَلاَ تَجِدْ عَلَيْهِمْ فِيمَا
تَأْتِي، وَكَفَى بِكَ عَيْبًا أَنْ تَعْرِفَ مِنَ النَّاسِ مَا تَجْهَلُ مِنْ
نَفْسِكَ، أَوْ تَجِدَ عَلَيْهِمْ فِيمَا تَأْتِي ثُمَّ ضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى
صَدْرِي، فقَالَ: يَا أَبَا ذَرٍّ لاَ عَقْلَ كَالتَّدْبِيرِ، وَلاَ وَرَعَ
كَالْكَفِّ، وَلاَ حَسَبَ كَحُسْنِ الْخُلُقِ. قَالَ أَبُو حَاتِمٍ رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ: أَبُو إِدْرِيسَ الْخَوْلاَنِيُّ هَذَا، هُوَ عَائِذُ اللهِ
بْنُ عَبْدِ اللهِ، وُلِدَ عَامَ حُنَيْنٍ فِي حَيَاةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَاتَ بِالشَّامِ سَنَةَ ثَمَانِينَ وَيَحْيَى بْنُ
يَحْيَى الْغَسَّانِيُّ مِنْ كِنْدَةَ، مِنْ أَهْلِ دِمَشْقَ، مِنْ فُقَهَاءِ
أَهْلِ الشَّامِ وَقُرَّائِهِمْ، سَمِعَ أَبَا إِدْرِيسَ الْخَوْلاَنِيَّ، وَهُوَ
ابْنُ خَمْسَ عَشْرَةَ سَنَةً، وَمَوْلِدُهُ يَوْمَ رَاهِطَ، فِي أَيَّامِ مُعَاوِيَةَ
بْنِ يَزِيدَ، سَنَةَ أَرْبَعٍ وَسِتِّينَ، وَوَلاَّهُ سُلَيْمَانُ بْنُ عَبْدِ
الْمَلِكِ قَضَاءَ الْمَوْصِلِ سَمِعَ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيِّبِ، وَأَهْلَ
الْحِجَازِ، فَلَمْ يَزَلْ عَلَى الْقَضَاءِ بِهَا حَتَّى وَلِيَ عُمَرُ بْنُ
عَبْدِ الْعَزِيزِ الْخِلاَفَةَ، فَأَقَرَّهُ عَلَى الْحُكْمِ فَلَمْ يَزَلْ
عَلَيْهَا أَيَّامَهُ، وَعُمِّرَ حَتَّى مَاتَ بِدِمَشْقَ سَنَةَ ثَلاَثٍ
وَثَلاَثِينَ وَمِائَةٍ.[16]
Artinya: Al Hasan bin Sufyan
Asy-Syaibani dan Al Husain bin Abdullah Al Qathan, serta Ibnu Qutaibah
mengabarkan kepada kami —di Riqqah (Syiria Utara -ed) adapun lafazhnya dari Al
Hasan— mereka berkata, Ibrahim bin Hisyam bin Yahya bin Yahya Al Ghassani menceritakan
kepada kami, ia berkata, Ayahku menceritakan kepada kami, dari kakeknya, dari
Abu Idris Al Khaulani, dari Abu Dzar, ia berkata, Suatu ketika aku masuk ke
dalam masjid dan menjumpai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam sedang
duduk sendirian. Beliau bersabda, “Wahai Abu Dzar, sesungguhnya masjid itu
mempunyai penghormatan. Dan penghormatan masjid itu adalah berupa shalat dua
rakaat. Maka shalat (tahiyyatul masjid) lah." Abu Dzar berkata, Maka aku
melakukan shalat tahiyyatul masjid. Setelah selesai, aku kembali kepada
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan duduk di hadapannya. Lalu aku
bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Sungguh engkau telah
memerintahkanku untuk shalat, shalat apakah itu? Beliau menjawab, “(shalat untuk
menghormati) sebaik-baiknya tempat. Perbanyak (shalat) lah kamu atau
sedikitkanlah.” Abu Dzar berkata, Aku bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, amalan apakah yang paling utama? Beliau menjawab, “Beriman
kepada Allah SWT dan Jihad di Jalan-Nya. Abu Dzar bertanya, “Wahai Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, siapakah orang mukmin yang paling sempurna
imannya? Beliau menjawab, " Orang yang paling baik akhlaknya." Aku
bertanya, Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, siapakah orang mukmin
yang paling selamat? Beliau menjawab, “Orang yang memberikan keselamatan kepada
manusia dari lisan dan tangannya. ” Abu Dzar berkata, Aku bertanya, “Wahai
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, Shalat apakah yang paling utama?
Beliau menjawab, “(shalat) yang lama berdiri, berdoa dan memohonnya." Abu
Dzar berkata, “Aku bertanya, Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
hijrah seperti apakah yang paling utama? Beliau menjawab: “Orang yang hijrah
dari perbuatan jelek menuju perbuatan baik. Abu Dzar berkata, “Aku bertanya,
“Wahai Rasulullah S A W, apakah puasa itu? Beliau menjawab, “(Puasa) adalah
kewajiban yang mencukupkan. Dan di sisi Allah pelipatgandaan (pahala) yang
banyak." Abu Dzar berkata, aku bertanya, “Wahai Rasulullah S A W, jihad
apakah yang paling utama? Beliau menjawab, “Orang yang kuda tunggangannya
terluka karena sayatan pedang dan darahnya mengalir (berperang di Jalan Allah
SWT kemudian tewas). Abu Dzar berkata, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, shadaqah apa yang paling utama? Beliau menjawab,
“Kesungguhan orang yang punya sedikit harta di dalam menyenangkan orang
faqir." Aku bertanya, Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
apakah yang paling agung, yang pernah Allah SWT turunkan kepada engkau? Beliau
menjawab: “Ayat Kursi." Lalu beliau bersabda, “Wahai Abu Dzar, tidaklah
ada langit tujuh berserta Kursi itu kecuali seperti lingkaran yang terdapat di
padang pasir. Dan keutamaan ‘Arsy atas Kursi itu adalah seperti keutamaan
padang pasir atas lingkaran." Abu Dzar berkata, “Aku bertanya, “Wahai
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ada berapakah jumlah nabi seluruhnya?
Beliau menjawab, “Seratus dua puluh ribu nabi. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam, dari jumlah itu, ada berapakah jumlah rasul?
Beliau menjawab, “Jumlahnya banyak, yaitu: Tiga ratus tiga belas rasul.” Abu
Dzar berkata, “Aku bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
siapakah rasul pertama?” Beliau menjawab, “Adam.” Aku bertanya, “Wahai
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, apakah seorang nabi itu juga diutus?
Beliau menjawab, “Iya, mereka juga diutus untuk umatnya. Allah SWT
menciptakannya dengan kekuasaan-Nya, lalu Allah SWT tiupkan kepadanya dari
Ruh-Nya, kemudian Allah SWT berbicara dengannya secara berhadapan."
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam lalu bersabda, “Wahai Abu Dzar, empat
diantara para rasul berbahasa Suryani, mereka adalah Adam, Syits, Akhnukh (Ia
adalah Idris, dan orang yang pertama kali menulis dengan pena), dan Nuh.
Sedangkan empat darinya adalah Arab, mereka adalah Hud, Syu ’aib, Shalih, dan
nabimu Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Aku bertanya, “Wahai Rasulullah,
ada berapa kitab suci yang pernah Allah SWT turunkan? Beliau menjawab, "
Seratus kitab (berupa shahifah), dan empat kitab suci. Allah SWT turunkan
kepada Syits lima puluh shahifah, kepada Akhnukh (Idris) tiga puluh shahifah,
kepada Ibrahim sepuluh shahifah, kepada Musa sebelum turunnya Kitab Suci Taurat
sepuluh shahifah. Kemudian Allah SWT turunkan Kitab Suci Taurat, Injil, Zabur,
dan Al Qur'an.” Abu Dzar berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam, apa isi Shahifah Ibrahim? Beliau menjawab, “Shahifah Ibrahim berisikan
ketauladanan. Isinya sebagai berikut, “Wahai raja yang berkuasa, yang akan
hancur, yang terperdaya (dengan dunia), sungguh Aku tidak mengutusmu untuk
mengumpulkan seluruh isi dunia, akan tetapi Aku mengutusmu agar kamu tidak
menolak doa orang yang teraniaya, karena sungguh doa orang yang teraniaya tidak
akan Aku tolak sekalipun itu dari doanya orang kafir. (Aku mengutusmu ) atas
orang yang berakal selama ia tidak dikuasai oleh akalnya sendiri, akan terjadi
padanya beberapa saat, “Saat dimana ia bermunajat kepada Tuhannya, saat dimana
ia bermuhasabah terhadap dirinya, saat dimana ia berfikir tentang ciptaan Allah
SWT, dan saat dimana ia tidak mempunyai hajat berupa makanan dan minuman. Dan
bagi orang yang berakal, tidak akan melakukan perjalanan kecuali telah siap
tiga hal, yaitu bekal untuk kembali, harta (yang ditinggal) di rumah untuk
keluarga yang dinafkahi, atau (mencari) kelezatan pada perkara yang tidak di
haramkan. Orang yang berakal adalah orang yang melihat (keadaan) zamannya, yang
menerima keadaannya, yang menjaga lisannya, dan bila dihitung (antara) pembicaraan
dan perbuatannya, maka bicaranya lebih sedikit, hanya bicara seperlunya."
Aku bertanya, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, apa isi Shahifah
Musa? Beliau menjawab, "Shahifah Musa berisikan peringatan-peringatan.
Isinya sebagai berikut: “Aku heran terhadap orang yang yakin akan datangnya
kematian, kemudian ia masih saja bergembira (berfoya-foya). Aku heran terhadap
orang yang yakin adanya neraka, kemudian ia masih saja tertawa-tawa. Aku heran
terhadap orang yang yakin terhadap takdir, kemudian ia masih saja
mengejar-ngejar kedudukan. Aku heran terhadap orang yang yakin terhadap adanya
Hisab di akhirat, kemudian dia masih saja tidak beramal. “ Aku berkata, “Wahai
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, berikanlah aku taushiyah.” Beliau bersabda,
“Aku wasiatkan kepadamu untuk selalu bertakwa kepada Allah SWT. Karena
sesungguhnya takwa adalah inti semua perkara. ” Aku berkata, “Wahai
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tambahkanlah lagi taushiyah untukku.
Beliau bersabda, “Bacalah Al Qur'an, berdzikirlah kepada Allah SWT, karena
sesungguhnya hal itu menjadi cahaya untukmu di bumi, dan menjadi bekalmu di
akhirat. ” Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
tambahkan lagi taushiyah untukku.” Beliau bersabda, “Hindarilah banyak tertawa,
karena sesungguhnya hal itu dapat mematikan hati dan menghilangkan cahaya
wajah. ” Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
tambahkan lagi taushiyah untukku.” Beliau bersabda, “Diamlah kamu kecuali dari
(pembicaraan) yang baik, karena sesungguhnya hal itu dapat mengusir syetan
darimu, dan menjadi penolong atas perkara agamamu. ” Aku berkata, “Wahai
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tambahkan lagi taushiyah untukku.”
Beliau bersabda, “Berjihadlah, karena sesungguhnya hal itu adalah ketaatan
umatku.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
tambahkan lagi taushiyah untukku.” Beliau bersabda, “Cintailah orang miskin,
dan duduklah (temanilah) bersama mereka. ” Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, tambahkan lagi taushiyah untukku.” Beliau bersabda, “(Dalam
urusan dunia) Lihatlah orang yang di bawahmu dan jangan lihat orang yang di
atasmu. Karena sesungguhnya hal itu lebih pantas agar nikmat Allah SWT tidak
diremehkan. ” Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
tambahkan lagi taushiyah untukku. Beliau bersabda, “Berkatalah yang benar,
walaupun itu pahit.“ Aku berkata, “Wahai Rasulullah shallallahu 'alaihi wa
sallam, tambahkan lagi taushiyah untukku.” Beliau bersabda, “Cukuplah denganmu
aib yang kamu ketahui dari manusia berupa aib yang kamu tidak ketahui dari
dirimu, atau kamu temukan atas mereka pada sesuatu yang kamu kerjakan. ”
Kemudian beliau memukulkan tangannya atas dadaku, lalu bersabda, “Wahai Abu
Dzar, tidak ada akal seperti akal yang dipergunakan untuk berfikir. Dan tidak
ada sifat wara ’ seperti menahan diri (dari larangan). Dan tidak ada kehormatan
diri seperti kehormatan yang timbul dari budi pekerti yang baik” 81 Abu Hatim
RA berkata, “Abu Idris Al Khaulani yang di maksud adalah ‘Aidzullah bin
Abdullah. Ia lahir pada tahun hunain pada masa hidupnya Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, dan wafat di Syam tahun 80. Yahya bin Yahya Al Ghassani
berasal dari Kindah, termasuk penduduk Damaskus. Ia juga termasuk ahli fiqih
negeri Syam. Ia mendengar Hadis dari Abu Idris Al Khaulani, saat berumur 15
tahun. Kelahirannya antara tanggal 1-3, pada masa Mu’awiyah bin Yazid tahun 64.
Sulaiman bin Malik mengangkatnya sebagai ketua Mahkamah Mosul. Ia belajar dari
Sa’id bin Al Musayyab dan penduduk Hijaz. Kedudukannya di Mahkamah Mosul lalu
berlangsung hingga diangkatnya Umar bin Abdul Aziz sebagai khalifah. Oleh Umar
bin Abdul Aziz, ia masih tetap dipercaya memegang jabatannya, hingga ia wafat
pada tahun 133 di Damaskus. [1:2] (HR. Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban 361)
Sedangkan di dalam kitab
Musnad Ahmad hadits nomor 11349 dinyatakan bahwa takwa adalah pokok segala
urusan;
حَدَّثَنَا
حُسَيْنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ عَيَّاشٍ يَعْنِي إِسْمَاعِيلَ عَنِ الْحَجَّاجِ بْنِ
مَرْوَانَ الْكَلَاعِيِّ وَعَقِيلِ بْنِ مُدْرِكٍ السُّلَمِيِّ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ
الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَجُلًا جَاءَهُ فَقَالَ أَوْصِنِي فَقَالَ سَأَلْتَ عَمَّا
سَأَلْتُ عَنْهُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ قَبْلِكَ
أُوصِيكَ بِتَقْوَى اللَّهِ فَإِنَّهُ رَأْسُ كُلِّ شَيْءٍ وَعَلَيْكَ
بِالْجِهَادِ فَإِنَّهُ رَهْبَانِيَّةُ الْإِسْلَامِ وَعَلَيْكَ بِذِكْرِ اللَّهِ
وَتِلَاوَةِ الْقُرْآنِ فَإِنَّهُ رَوْحُكَ فِي السَّمَاءِ وَذِكْرُكَ فِي
الْأَرْضِ حَدَّثَنَا أَبُو نُعَيْمٍ حَدَّثَنَا فِطْرٌ حَدَّثَنِي إِسْمَاعِيلُ
بْنُ رَجَاءٍ قَالَ سَمِعْتُ أَبِي يَقُولُ سَمِعْتُ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ
يَقُولُ كُنَّا جُلُوسًا نَنْتَظِرُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فَذَكَرَ الْحَدِيثَ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ فَأَتَيْتُهُ لِأُبَشِّرَهُ
قَالَ فَلَمْ يَرْفَعْ بِهِ رَأْسًا كَأَنَّهُ قَدْ سَمِعَهُ.
[17]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Husain berkata; telah menceritakan kepada kami Ibnu
'Ayyasy -yaitu Isma'il- dari Al Hajjaj bin Marwan Al Kala'i dan Aqil bin Mudrik
As Sulami dari Abu Sa'id Al Khudri bahwasanya ada seorang laki-laki datang
kepadanya seraya berkata; "Beri aku nasihat!" Abu Sa'id berkata;
"Engkau meminta apa yang aku pernah memintanya kepada Rasulullah ﷺ sebelummu! Aku wasiatkan kepadamu untuk selalu bertakwa kepada
Allah, karena takwa adalah pokok segala sesuatu, hendaklah engkau berjihad
karena itu adalah rahbaniyyah (kependetaan) dalam Islam. Hendaklah engkau
selalu mengingat Allah dan membaca Al Qur`an, karena itu adalah tourmu ke
langit dan dzikirmu di bumi." Telah menceritakan kepada kami Abu Nu'aim
berkata; telah menceritakan kepada kami Fithr berkata; telah menceritakan
kepadaku Isma'il bin Raja` berkata; aku mendengar Bapakku berkata; aku
mendengar Abu Sa'id Al Khudri berkata; "Kami duduk-duduk menunggu
Rasulullah ﷺ, lalu ia menyebutkan hadits tersebut.
Hanya saja ia menyebutkan; "Aku menemuinya untuk memberikan kabar gembira
ini, " ia berkata lagi, "Namun dia tidak mengangkat kepala
seakan-akan dia sudah mendengar hadits ini."(HR. Ahmad, Musnad Ahmad: 11349)
Sedangkan di dalam kitab
Sunan Tirmidzi hadits nomor 2607 dan Mujam Thabarani Kabir 2267 disebutkan
bahwa kalimat yang merangkum itu semua hadits adalah bertakwa kepada Allah
dalam hal-hal yang kamu ketahui;
حَدَّثَنَا
هَنَّادٌ حَدَّثَنَا أَبُو الْأَحْوَصِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ مَسْرُوقٍ عَنْ ابْنِ
أَشْوَعَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ سَلَمَةَ الْجُعْفِيِّ قَالَ قَالَ يَزِيدُ بْنُ
سَلَمَةَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي قَدْ سَمِعْتُ مِنْكَ حَدِيثًا كَثِيرًا
أَخَافُ أَنْ يُنْسِيَنِي أَوَّلَهُ آخِرُهُ فَحَدِّثْنِي بِكَلِمَةٍ تَكُونُ
جِمَاعًا قَالَ اتَّقِ اللَّهَ فِيمَا تَعْلَمُ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ
لَيْسَ إِسْنَادُهُ بِمُتَّصِلٍ وَهُوَ عِنْدِي مُرْسَلٌ وَلَمْ يُدْرِكْ عِنْدِي
ابْنُ أَشْوَعَ يَزِيدَ بْنَ سَلَمَةَ وَابْنُ أَشْوَعَ اسْمُهُ سَعِيدُ بْنُ
أَشْوَعَ. [18]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Hannad telah menceritakan kepada kami Abul Ahwas dari
Sa'id bin Masruq dari Ibnu Asywa' dari Yazid bin Salamah Al Ju'fi ia berkata;
Yazid bin Salamah berkata; "Wahai Rasulullah, aku telah mendengar banyak
hadits dari anda, aku takut akan lupa awal dan akhirnya, maka beritahukanlah
kepadaku suatu kalimat yang merangkum itu semua!." Beliau menjawab: "Bertakwalah
kepada Allah dalam hal-hal yang kamu ketahui." Abu Isa berkata; Hadits
ini sanadnya tidak muttashil (tidak bersambung), hadits ini menurut saya
mursal, menurut saya Ibnu Asywa' tidak bertemu dengan Yazid bin Salamah. Nama
Ibnu Asywa' adalah Sa'id bin Asywa'.
Di dalam Al Quran Surat
Al-Baqarah/ 2: 189, dinyatakan bahwa amal yang bernilai kebajikan/ kebaikan
adalah takwa;
يَسْأَلُونَكَ
عَنِ الْأَهِلَّةِ قُلْ هِيَ مَوَاقِيتُ لِلنَّاسِ وَالْحَجِّ وَلَيْسَ الْبِرُّ
بِأَنْ تَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ ظُهُورِهَا وَلَكِنَّ الْبِرَّ مَنِ اتَّقَى
وَأْتُوا الْبُيُوتَ مِنْ أَبْوَابِهَا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ
تُفْلِحُونَ
Artinya: Mereka bertanya
kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: "Bulan sabit itu adalah
tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; Dan bukanlah kebajikan
memasuki rumah-rumah dari belakangnya, akan tetapi kebajikan itu ialah
kebajikan orang yang bertakwa. Dan masuklah ke rumah-rumah itu dari
pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.(QS.
Al-Baqarah/ 2: 189)
Di dalam Al Quran surat
Al-Baqarah/ 2: 177, dinyatakan bahwa sesungguhnya kebaktian itu adalah beriman
kepada Allah dan seterusnya, dan mereka itulah orang yang bertakwa;
لَيْسَ
الْبِرَّ أَنْ تُوَلُّوا وُجُوهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلَكِنَّ
الْبِرَّ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْمَلَائِكَةِ
وَالْكِتَابِ وَالنَّبِيِّينَ وَآتَى الْمَالَ عَلَى حُبِّهِ ذَوِي الْقُرْبَى
وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينَ وَابْنَ السَّبِيلِ وَالسَّائِلِينَ وَفِي
الرِّقَابِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَالْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ
إِذَا عَاهَدُوا وَالصَّابِرِينَ فِي الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِينَ
الْبَأْسِ أُولَئِكَ الَّذِينَ صَدَقُوا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُتَّقُونَ
Artinya: Bukanlah
menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi
sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian,
malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya
kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang
memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan)
hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang
menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam
kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang
benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa. (QS.
Al-Baqarah/ 2: 177)
Ayat ini memberi penjelasan
bahwa kebaikan (Iman, Infaq, Shalat, Zakat, menepati janji, sabar) itu adalah
bertakwa
Di dalam Al Quran surat
Al-Baqarah/ 2: 103 digambarkan jika beriman dan bertakwa maka akan mendapat
pembalasan yang baik;
وَلَوْ
أَنَّهُمْ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَمَثُوبَةٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ خَيْرٌ لَوْ
كَانُوا يَعْلَمُونَ
Artinya: Sesungguhnya
kalau mereka beriman dan bertakwa, (niscaya mereka akan mendapat pahala), dan
sesungguhnya pahala dari sisi Allah adalah lebih baik, kalau mereka mengetahui.
(QS. Al-Baqarah/ 2: 103)
Ayat ini memberi gambaran
bahwa takwa bernilai kebaikan di sisi Allah, sehingga akan dibalas dengan
kebaikan.
Adapun di dalam kitab Shahih
Al Bukhari hadits nomor 2964 dinyatakan bahwa seseorang akan senantiasa dalam
kebaikan selama ia bertakwa kepada Allah;
حَدَّثَنَا عُثْمَانُ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ
حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ مَنْصُورٍ عَنْ أَبِي وَائِلٍ قَالَ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ
رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لَقَدْ أَتَانِي الْيَوْمَ رَجُلٌ فَسَأَلَنِي عَنْ أَمْرٍ
مَا دَرَيْتُ مَا أَرُدُّ عَلَيْهِ فَقَالَ أَرَأَيْتَ رَجُلًا مُؤْدِيًا نَشِيطًا
يَخْرُجُ مَعَ أُمَرَائِنَا فِي الْمَغَازِي فَيَعْزِمُ عَلَيْنَا فِي أَشْيَاءَ
لَا نُحْصِيهَا فَقُلْتُ لَهُ وَاللَّهِ مَا أَدْرِي مَا أَقُولُ لَكَ إِلَّا
أَنَّا كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَعَسَى أَنْ لَا
يَعْزِمَ عَلَيْنَا فِي أَمْرٍ إِلَّا مَرَّةً حَتَّى نَفْعَلَهُ وَإِنَّ
أَحَدَكُمْ لَنْ يَزَالَ بِخَيْرٍ مَا اتَّقَى اللَّهَ وَإِذَا شَكَّ فِي نَفْسِهِ
شَيْءٌ سَأَلَ رَجُلًا فَشَفَاهُ مِنْهُ وَأَوْشَكَ أَنْ لَا تَجِدُوهُ وَالَّذِي
لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ مَا أَذْكُرُ مَا غَبَرَ مِنْ الدُّنْيَا إِلَّا
كَالثَّغْبِ شُرِبَ صَفْوُهُ وَبَقِيَ كَدَرُهُ. [19]
Artinya: Telah bercerita
kepada kami 'Utsman bin Abi Syaibah telah bercerita kepada kami Jarir dari
Manshur dari Abu Wa'il berkata: 'Abdullah bin Mas'ud berkata: Pada hari ini ada
seorang yang datang menemuiku lalu bertanya tentang sesuatu yang aku tidak tahu
apa yang harus aku jawab. Dia berkata: "Bagaimana pendapatmu tentang
seseorang yang bersemangat dan sungguh-sungguh, ia keluar bersama para pemimpin
kita pada peperangan, lalu ia mengatakan kepada kita segala sesuatu yang kita
tidak mampu menghitungnya?" aku jawab: "Demi Allah, aku tidak tahu
apa yang harus aku katakan padamu, kecuali ketika kami bersama Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam, dimana Beliau tidak menginginkan kepada kami kecuali hanya
sekali hingga kami melakukannya. (Kata Beliau): "Dan sesungguhnya ada
orang diantara kalian yang akan senantiasa dalam kebaikan selama ia bertakwa
kepada Allah. Jika ia ragu pada dirinya tentang sesuatu ia bertanya kepada
orang lain lalu ia meyelesaikan perkaranya. Dan hampir-hampir kalian tidak akan
menemuinya. Demi Dzat yang tidak ada ilah selain Dia, aku ingat bahwa tidak ada
yang menyelimuti dunia kecuali seperti air keruh yang diminum bagian bersihnya
dan tersisa keruhnya".
Di dalam kitab Musnad Ahmad
Hadis No. 10359 digambarkan bahwa takwa menentukan perbuatan bernilai pahala
atau dosa;
حَدَّثَنَا
عَبْدُ الْمَلِكِ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا الْمُغِيرَةُ عَنْ أَبِي الزِّنَادِ
عَنِ الْأَعْرَجِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ
فَإِنْ أَمَرَ بِتَقْوَى وَعَدَلَ فَإِنَّ لَهُ بِذَلِكَ أَجْرًا وَإِنْ أَمَرَ
بِغَيْرِ ذَلِكَ فَإِنَّ عَلَيْهِ فِيهِ وِزْرًا. [20]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami Abdul Malik bin 'Amru, dia berkata: telah menceritakan
kepada kami Al Mughirah dari Abu Az Zinad dari Al A'raj dari Abu Hurairah dari
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Hanyasanya imam itu
adalah perisai, seseorang berperang karena perintahnya dan berlindung
kepadanya, jika ia memerintah dengan ketakwaan dan berlaku adil maka ia
mendapatkan pahala, dan jika ia memerintah selain itu maka ia mendapatkan
dosa."
Jika pemimpin memerintah
dengan ketakwaan akan mendapat pahala, hal ini menunjukkan bahwa jika perbuatan
dilakukan atas dasar takwa bernilai kebaikan, dan amal yang bernilai kebaikan
akan mendapat pahala.
Di dalam kitab Shahih Bukhari
hadits nomor 42 digambarkan bahwa kebaikan itu yang ada di dalam qalbu (Takwa);
حَدَّثَنَا
مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ قَالَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ قَالَ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ
عَنْ أَنَسٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَخْرُجُ
مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ
شَعِيرَةٍ مِنْ خَيْرٍ وَيَخْرُجُ مِنْ النَّارِ مَنْ قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا
اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ بُرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ وَيَخْرُجُ مِنْ النَّارِ مَنْ
قَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَفِي قَلْبِهِ وَزْنُ ذَرَّةٍ مِنْ خَيْرٍ قَالَ
أَبُو عَبْد اللَّهِ قَالَ أَبَانُ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ حَدَّثَنَا أَنَسٌ عَنْ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ إِيمَانٍ مَكَانَ مِنْ خَيْرٍ.
[21]
Artinya: Telah menceritakan
kepada kami Muslim bin Ibrahim berkata, telah menceritakan kepada kami Hisyam
berkata, telah menceritakan kepada kami Qotadah dari Anas dari Nabi SAW, beliau
bersabda: "Akan dikeluarkan dari neraka siapa yang mengatakan tidak ada
Ilah kecuali Allah dan dalam hatinya ada kebaikan sebesar jemawut. Dan akan
dikeluarkan dari neraka siapa yang mengatakan tidak ada ilah kecuali Allah dan
dalam hatinya ada kebaikan sebesar biji gandum. Dan akan dikeluarkan dari
neraka siapa yang mengatakan tidak ada ilah kecuali Allah dan dalam hatinya ada
kebaikan sebesar biji sawi. Abu Abdullah berkata; Aban berkata; Telah
menceritakan kepada kami Qotadah Telah menceritakan kepada kami Anas dari Nabi
SAW, beliau bersabda. Dan kata iman di dalam hadits ini diganti dengan kata
kebaikan.
Kebaikan yang ada di dalam hati, memberi gambaran bahwa amal yang bernilai kebaikan adalah amal yang dikerjakan berdasar kesadaran hati, sedangkan amal kebaikan berdasar hati merupakan bentuk ketakwaan.
Dari beberapa ayat dan hadits di atas dapat diperoleh beberapa unsur utama, yang dapat digunakan sebagai dasar dalam merumuskan definisi/ pengertian takwa, unsur-unsur takwa antara lain; bertingkat-tingkat berupa kesadaran, ada di dalam dada; bersifat ruhani, mengingat Allah, ketaatan kepada Allah, adanya kesungguhan, menjaga diri, meninggalkan keburukan mengerjakan kebaikan, merupakan inti dan bernilai kebaikan.
Dengan demikian
dapat didefinisikan bahwa “Takwa adalah
seluruh tingkat kesadaran ruhani untuk selalu mengingat dan mentaati Allah,
bersungguh-sungguh menjaga diri untuk meninggalkan keburukan dan mengerjakan
kebaikan, dilandasi kesadaran bahwa takwa merupakan inti nilai kebaikan seluruh
amal perbuatan manusia.”
Di dalam rumusan definisi takwa ini, takwa dapat mencakup
semua tingkat pemahaman agama; Bayani, Burhani dan ‘Irfani, juga
dapat mencakup semua tingkat pengamalan agama; Syariat, Thariqat, Ma’rifat dan
Haqiqat, demikian juga dapat mencakup semua tingkatan ilmu; Fiqh,
Aqidah, Akhlaq hingga Tasawuf, serta dapat mencakup semua tingkatan
kesadaran agama; Islam, Iman dan Ihsan.
Memahami istilah Agama, pengertian takwa menurut para ulama’ dan
identifikasi berdasar ayat Al Quran serta redefinisi takwa di atas merupakan
bagian dari gambaran singkat pengertin takwa, pada bab berikutnya akan
dikemukakan gambaran menyeluruh tentang sempurnanya konsep takwa, yang mencakup
seluruh tingkat kesadaran beragama seseorang. Setelah memahami gambaran
menyeluruh tentang takwa, in syaa Allah seseorang akan dapat menerima dan
memahami definisi singkat tentang takwa yang telah dikemukakan di atas.
[1] Al Imam Ahmad
bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 41, Halaman 20.Hadits nomor 25007
[2] Ibn Abi
Shaybah, Mushannaf Ibn Abi Shaybah, Dar At-Taj, Lenbanon, 1989, Jilid 7,
Halaman 504, hadits nomor 3758.
[3] Al Imam Ahmad
bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 11, Halaman 235.Hadits nomor 6654.
[4] Muslim bin
al-Hajjaj, Shahih Muslim, Jilid 4, hadits nomor 4650, terjemah, edisi
Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 2007, hlm. 215.
[5] Al Imam Ahmad
bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 40, Halaman 376.Hadits nomor 24319
[6] Ahmad bin
Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 3, hadits nomor 10577, edisi Dar
al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1999.
[7] Abu Hatim
Muhammad ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibnu Hazm, Beirut, Jilid 4,
Halam, 67, Hadits nomor 3055.
[8] Ahmad bin
Hanbal, Musnad Ahmad bin Hanbal, jilid 3, hadits nomor 10577, edisi Dar
al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, 1999
[9] Abu Nu’aim
Ahmad ibn Abdullah Al-Ashbahani, Hilyatul Auliya’ Wa Thabaqatul Ashfiya’,
Mathba’ah Sa’adah, Mesir, 1974. Jilid 1 Halaman 21.
[10] Imam Muslim,
Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 3 , Halaman
1466, Hadits nomor 1835.
[11] Abu Abdullah
ibn Ismail Al Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Ibnu Katsir, Damsyiq, 1993 H,
Jilid 1, Halaman 24, Hadits nomor 44.
[12] Al Imam Ahmad
bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 39, Halaman 381.Hadits nomor 23958.
[13] Abu Abdullah
ibn Ismail Al Bukhari, Shahih Bukhari, Dar Ibnu Katsir, Damsyiq, 1993 H,
Jilid 8, Halaman 112, Hadits nomor 6540.
[14] Abu Abdullah
ibn Ismail Al Bukhari, Shahih Bukhari, As-Sulthaniyah, Mesir, 1422 M,
Jilid 1, Halaman 20, Hadits nomor 52.
[15] Ibn Abi
Shaybah, Mushannaf Ibn Abi Shaybah, Dar At-Taj, Lenbanon, 1989, Jilid 7,
Halaman 504, hadits nomor 3758.
[16] Abu Hatim
Muhammad ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hiban, Dar Ibnu Hazm, Beirut, Jilid 1,
Halam, 534, Hadits nomor 9.
[17] Al Imam Ahmad
bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 18, Halaman 297.Hadits nomor 11774.
[18] Abu ‘Isa
Muhammad Ibnu ‘Isa at-Tirmidzi, Sunan Tirmidzi,
Dar al-Gharb al-Islamiy, Beirut, 1996, Jilid 4 halaman 415, Hadits nomor 2683.
[19] Muhammad bin
Ismail Al-Bukhari, Shahih Al-Bikhari, As- Sulthaniya, Mesir, 1404, Jilid
4, Halaman 51, Hadits nomor 2964..
[20] Al Imam Ahmad
bin Ibnu Hambal, Musnad al-Imam Ahmad Ibu Hambal, Muassasah ar-Risalah,
2001, Jilid 12, Halaman 453.Hadits nomor 10777.
[21] Muḥammad ibn
Ismā‘īl al-Bukhārī, Ṣaḥīḥ al-Bukhārī, Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah,
1994, hadits no.42
Tidak ada komentar:
Posting Komentar