Sebagaimana telah
dikemukakan di buku “Hakekat Takwa” tingkatan ajaran Islam secara menyeluruh
dapat dirangkum ke dalam susunan hierarki tingkatan takwa, yang dapat
memberikan gambaran bahwa takwa merupakan tujuan utama dari semua amal ibadah
manusia, takwa juga menentukan tingkat kemuliaan manusia di sisi Allah, susunan
hierarki tingkatan takwa ini kemudian diberi nama “Cermin Qalbu”, dinamakan
cermin qalbu dengan tujuan agar susunan hierarki tingkatan takwa, dapat
digunakan sebagai alat untuk bercermin melihat dan mengukur qalbu sendiri,
dengan melihat cermin qalbu seseorang dapat mengetahui dirinya berada di
tingkat ketakwaan level berapa, alat ini sangat penting kedudukannya bagi upaya
untuk meningkatkan ketakwaan; tazkiyatun nafs, sebab peningkatan ketakwaan
harus dimulai dari mengetahui tingkatan fujur dan takwa, kemudian diikuti
kesadaran diri, bahwa dirinya berada di level tingkat ketakwaan berapa,
selanjutnya akan dapat dilakukan perbaikan dan peningkatkan ketakwaannya dengan
metode tazkiyatun nafs, yang akan dibahas di buku Ilmu Takwa seri empat
“Tazkiyatun Nafs Membersihkan Jiwa Dari Fujur Dan Menumbuhkan Takwa”.
Bercermin pada kaca
merupakan aktivitas untuk dapat melihat diri sendiri secara lahiriyah, melihat
kelebihan atau kekurangan yang ada pada dirinya secara objektif, sedangkan
“Cermin Qalbu” merupakan alat yang dapat digunakan untuk melihat diri sendiri
secara batiniah; rohaniah, untuk mengetahui kebaikan dan keburukan yang ada
pada dirinya. Aktivitas bercermin di depan kaca bertujuan untuk berdandan;
memperbaiki kekurangan-kekurangan sehingga penampilannya tampak lebih baik,
sedangkan aktivitas bercermin dengan cermin qalbu adalah upaya untuk berdandan;
memperbaiki kekurangan (menghilangkan fujur) sekaligus meningkatkan ketakwaan
yang ada di dalam qalbu.
Aktivitas bercermin
tidak lepas dari aktivitas melihat diri sendiri dan dilihat selain diri
sendiri, Allah memperlihatkan tanda-tanda-Nya ada pada segala wilayah bumi dan
pada diri manusia sebagai bukti yang jelas atas keberadaan-Nya, pernyataan
tersebut dikemukakan di dalam Al Quran surat Fushshilat/ 41: 53;
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ
حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ
عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
Artinya: Kami
akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala
wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al
Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi
atas segala sesuatu? (QS. Fushshilat/ 41: 53)
Ayat di atas
memberikan gambaran bahwa Allah menampakkan keberadaan-Nya ada di segala
wilayah bumi dan pada nafs; diri manusia sendiri, jika ayat tersebut dikaitkan
dengan hadits tentang ihsan, di dalam kitab shahih Muslim nomor 10 yang memberi
penjelasan bahwa ihsan adalah khasyah kepada Allah seakan-akan melihat atau
dilihat Allah;
قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ
تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ
يَرَاكَ
[1]
Artinya:
'Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ' Beliau menjawab, 'Kamu takut
(khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak
melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.'
Maka dapat dipahami
bahwa ihsan merupakan kesadaran adanya perasaan khasyah; takut; segan; sungkan
kepada Allah, karena merasa melihat atau dilihat Allah, sedangkan Allah menampakkan tanda-tandanya pada
anfusihim; jiwa mereka, dengan demikian berlaku sebagaimana ihsan, karena Allah
menampakkan tanda keberadaan-Nya pada nafs, maka sebaliknya nafs jugalah yang
dapat melihat; merasakan tanda-tanda keberadaan Allah.
Jika dikaitkan
dengan Al Quran surat Adz-Dzariyat/ 51: 21 yang di dalamnya secara tidak
langsung mengandung pengertian bahwa Allah memerintahkan kepada manusia untuk
memperhatikan pada nafs; jiwa; diri;
وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
Artinya: dan (juga)
pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?
Memperhatikan ayat
tersebut akan muncul pertanyaan, Sebenarnya ada apa dengan nafs ini, sehingga
Allah memerintahkan untuk memperhatikannya ?, artinya nafs merupakan sesuatu
yang sangat penting untuk diperhatikan, untuk itu mari kita perhatikan
informasi yang diberikan Allah tentang nafs yang disebutkan di dalam Al Quran
surat Asy Syams/ 91: 7-10;
وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا, فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا
وَتَقْوَاهَا, قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا, وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
Artinya:
dan (demi) jiwa serta
penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan)
kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan
jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.(QS. Asy Syams/ 91:
7-10)
Di dalam ayat Al
Quran tersebut, Allah menggunakan kata nafs untuk bersumpah, hal tersebut
menunjukkan pengertian bahwa nafs merupakan sesuatu yang sangat penting dan
berharga, setelah bersumpah kemudian Allah memberikan informasi, bahwa Allah
mengilhami ke dalam nafs fujur dan takwa, sehingga dapat dipahami bahwa
kesadaran takwa dan fujur terletak di dalam nafs, dengan demikian juga dapat
ditarik pengertian bahwa yang mengetahui; merasakan fujur dan takwa itu adalah
nafs, sedangkan ketakwaan adalah dorongan untuk melakukan amal perbuatan baik
atau meninggalkan amal perbuatan buruk yung tumbuh dari kesadaran melihat atau
dilihat Allah.
Yang menjadi
permasalahan berikutnya adalah mengetahui di mana letak nafs, karena di dalam
nafs itulah Allah menampakkan tanda-tanda keberadaannya, untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan
tersebut, maka di sini perlu dikemukakan pernyataan Rasulullah, sebagaimana
dimuat di dalam Kitab Shahih Muslim Hadits nomor 2564; bahwa Allah tidak melihat rupa dan
harta melainkan hanya melihat qalbu dan amalnya;
حدثنا عمرو الناقد.
حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ هِشَامٍ. حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ بُرْقَانَ عَنْ
يَزِيدَ بْنِ الأَصَمِّ، عَنْ أَبِي هريرة. قال: قال
رسول الله ﷺ "إِنَّ اللَّهَ لَا ينظر إلى صوركم وأموالكم. ولكن ينظر إلى
قلوبكم وأعمالكم". [2]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami ‘Amr an-Nāqid; telah menceritakan kepada kami Katsīr
bin Hisyām; telah menceritakan kepada kami Ja‘far bin Burqān dari Yazīd bin
al-Asam, dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu. Ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi
Dia melihat kepada hati kalian dan amal perbuatan kalian.”
Berdasar Hadits di
atas dapat ditarik pengertian bahwa Allah melihat qalbu manusia untuk
mengetahui amal perbuatan yang dilakukan manusia, hal ini dapat dipahami bahwa
amal perbuatan manusia tidak dilihat pada dzahirnya, tetapi yang lebih
diperhatikan Allah adalah kesadaran yang ada di dalam qalbu; bathin yang
mendasari amal perbuatan dilakukan, kesadaran tersebut dapat bernilai takwa
atau fujur, amal perbuatan akan bernilai takwa, jika saat melakukannya didasari
kesadaran melakukannya karena Allah; ingat Allah; melihat dengan qalbu,
sedangkan amal perbuatan akan bernilai fujur, jika saat melakukannnya tidak
didasari kesadaran melakukannya karena Allah ataupun ingat Allah.
Dengan demikian
memperhatikan qalbu sangat penting dilakukan oleh orang beriman, karena qalbu
dapat digunakan untuk bercermin melihat amal perbuatannya, sebagaimana
digambarkan di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi Atsar nomor 7207, bahwa qalbu
orang beriman itu putih, bening, jelas, dapat untuk menghias diri bagai
cermin,;
أَخْبَرَنَا
أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، أَنَا أَبُو جَعْفَرِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْخَوَّاصُ،
حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ نَصْرٍ، حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ بَشَّارٍ،
قَالَ: سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ أَدْهَمَ يَقُولُ: " قَلْبُ الْمُؤْمِنِ
أَبْيَضُ نَقِيٌّ مَجْلِيٌّ مُحَلًّى مِثْلَ الْمِرْآةِ، فَلَا يَأْتِيهُ
الشَّيْطَانُ مِنْ نَاحِيَةٍ مِنَ النَّوَاحِي بِشَيْءٍ مِنَ الْمَعَاصِي إِلَّا
نَظَرَ إِلَيْهِ كَمَا يَنْظُرُ إِلَى وَجْهِهِ فِي الْمِرْآةِ، فَإِذَا أَذْنَبَ
ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِنْ تَابَ مِنْ ذَنْبِهِ
مُحِيَتِ النُّكْتَةُ مِنْ قَلْبِهِ وَانْجَلَى، وَإِنْ لَمْ يَتُبْ وَعَاوَدَ
أَيْضًا، وَتَتَابَعَتِ الذُّنُوبُ، ذَنْبٌ بَعْدَ ذَنْبٍ، نُكِتَ فِي قَلْبِهِ
نُكْتَةٌ نُكْتَةٌ حَتَّى يَسْوَدَّ الْقَلْبُ، وَهُوَ قَوْلُ اللهِ عَزَّ
وَجَلَّ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}
[المطففين: 14]، قَالَ: " الذَّنْبُ بَعْدَ الذَّنْبِ، حَتَّى يَسْوَدَّ
الْقَلْبُ فِي إِبْطَاءٍ، مَا نَجَعَ فِي هَذَا الْقَلْبِ الْمَوَاعِظُ، فَإِنْ
تَابَ إِلَى اللهِ قَبِلَهُ اللهُ وَانْجَلَى عَنْ قَلْبِهِ كَجَلْيِ الْمِرْآةِ "[3]
Artinya: Telah
mengabarkan kepada kami Abu Ubaidillah Al Hafidz, Aku Abu Ja’far ibnu Muhammad
Al Khawash, telah menceriterakan kepadaku Ibrahim ibnu Nashir telah
menceriterakan kepadaku Ibrahim ibnu Basyar, berkata; aku telah mendengar
Ibrahim bin Adham berkata: Qalbu orang beriman itu putih, bening, jelas, dapat
untuk menghias diri bagaikan cermin, maka syetan tidak dapat datang dengan
maksiat dari berbagai arah kecuali melihat kepadanya sebagaimana melihat wajah
di cermin, maka jika berbuat sebuah dosa terdapat titik di dalam qalbunya titik
hitam, maka jika bertaubat dari dosanya terhapuslah titik dari qalbunya dan
kembali bening, dan jika belum bertaubat dan mengulangi lagi, dan diikuti dosa,
dosa-dosa yang lain, terdapat titik di dalam qalbunya titik yang banyak hingga
qalbu menjadi hitam, yaitu sebagaimana Firman Allah azza wa jalla “ Sekali-kali
tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati
mereka”.QS. Al Muthafifin: 14, dia berkata dosa sesudah dosa hingga qalbu
perlahan-lahan menjadi hitam, pada qalbu ini pelajaran tidak berguna, tetapi
jika bertaubat kepada Allah, Allah menerimanya dan qalbu menjadi bening seperti
beningnya cermin.
Sedangkan di dalam
kitab Shahih Muslim hadis nomor 207 digambarkan bahwa Qalbu terbagi dua:
sebagian menjadi putih bagaikan batu licin yang tidak lagi terkena bahaya
fitnah (cobaan, gangguan, hasutan) Sedangkan sebagian yang lain menjadi hitam
keabu-abuan seperti bekas tembaga berkarat, tidak menyuruh kebaikan dan tidak
pula melarang kemungkaran kecuali sesuatu yang diserap oleh hawa nafsunya,;
وَحَدَّثَنَا
مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ يَعْنِي
سُلَيْمَانَ بْنَ حَيَّانَ عَنْ سَعْدِ بْنِ طَارِقٍ ،عَنْ رِبْعِيٍّ عَنْ
حُذَيْفَةَ قَالَ: «كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ: أَيُّكُمْ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ
ﷺ يَذْكُرُ الْفِتَنَ؟ فَقَالَ قَوْمٌ: نَحْنُ سَمِعْنَاهُ، فَقَالَ: لَعَلَّكُمْ
تَعْنُونَ فِتْنَةَ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَجَارِهِ؟ قَالُوا: أَجَلْ. قَالَ:
تِلْكَ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ، وَلَكِنْ أَيُّكُمْ
سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ يَذْكُرُ الْفِتَنَ الَّتِي تَمُوجُ مَوْجَ الْبَحْرِ؟ قَالَ
حُذَيْفَةُ: فَأَسْكَتَ الْقَوْمُ، فَقُلْتُ: أَنَا، قَالَ: أَنْتَ؟ لِلهِ
أَبُوكَ، قَالَ حُذَيْفَةُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: تُعْرَضُ الْفِتَنُ
عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ
فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ
بَيْضَاءُ، حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ: عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا،
فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ
مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ، مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا، وَلَا يُنْكِرُ
مُنْكَرًا إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ. قَالَ حُذَيْفَةُ: وَحَدَّثْتُهُ
أَنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا يُوشِكُ أَنْ يُكْسَرَ، قَالَ
عُمَرُ: أَكَسْرًا لَا أَبَا لَكَ؟ فَلَوْ أَنَّهُ فُتِحَ لَعَلَّهُ كَانَ
يُعَادُ، قُلْتُ: لَا، بَلْ يُكْسَرُ، وَحَدَّثْتُهُ أَنَّ ذَلِكَ الْبَابَ رَجُلٌ [4]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abdullah bin Numair] telah menceritakan
kepada kami [Abu Khalid] -yaitu Sulaiman bin Hayyan- dari [Sa'ad bin Thariq]
dari [Rib'i] dari Hudzaifah berkata: “Kami sedang berada di sisi Umar, lalu ia
berkata: ‘Siapa di antara kalian yang pernah mendengar Rasulullah ﷺ menyebut
tentang fitnah?’ Para sahabat menjawab: ‘Kami mendengarnya.’ Umar berkata:
‘Barangkali yang kalian maksud adalah fitnah seseorang pada diri, keluarga, dan
tetangganya?’ Mereka menjawab: ‘Benar.’ Umar berkata: ‘Itu semua dihapuskan
oleh salat, puasa, dan sedekah. Tetapi siapa di antara kalian yang mendengar
Nabi ﷺ
menyebut fitnah-fitnah yang
bergelombang seperti gelombang laut?’ Hudzaifah berkata: ‘Maka mereka semua
terdiam, lalu aku berkata: Aku.’ Umar bertanya: ‘Engkau?’ Maka aku menjawab:
‘Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda: Fitnah-fitnah itu akan
ditawarkan kepada hati seperti anyaman tikar, sebatang demi sebatang. Hati yang
menerima fitnah itu akan ditandai dengan satu titik hitam, dan hati yang
menolaknya akan ditandai dengan satu titik putih, hingga hati manusia menjadi
dua jenis: hati yang putih seperti batu licin, yang tidak akan membahayakannya
satu pun fitnah selama langit dan bumi masih ada; dan hati yang hitam
keabu-abuan seperti bejana terbalik, tidak mengenal kebaikan dan tidak
mengingkari kemungkaran kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya.’ Hudzaifah
berkata: ‘Aku juga memberitahunya bahwa antara engkau (wahai Umar) dan
fitnah-fitnah itu ada sebuah pintu tertutup yang hampir akan segera
dipecahkan.’ Umar bertanya: ‘Apakah akan dipecahkan, bukan dibuka?’ Aku
menjawab: ‘Ya, dipecahkan.’ Dan aku telah memberitahunya bahwa pintu itu adalah
seorang laki-laki.”
Buku “Ilmu Takwa
‘Cermin Qalbu’ Melihat Dan Mengukur Tingkat Fujur Dan Takwa Pada Diri Sendiri”
disusun menjadi dua buku, buku yang pertama berjudul “Ilmu Takwa 3- ‘Cermin
Qalbu Fujur’ Melihat Dan Membersihkan Fujur Pada Diri Sendiri” untuk dapat
memberikan gambaran yang jelas mengenai fujur; keburukan, yang terdiri dari
sepuluh tingkat, selanjutnya masing-masing tingkatan fujur diberikan penjelasan
secara mendalam berdasar informasi yang bersumber dari Al Quran dan Hadits.
Buku yang kedua
berjudul “Ilmu Takwa 4 ‘Cermin Qalbu Taqwa’ Melihat Dan Menumbuhkan Takwa Pada
Diri Sendiri”, untuk dapat memberikan
gambaran yang jelas mengenai takwa; kebaikan, kemudian diberikan gambaran
tentang tingkatan takwa yang terdiri dari sebelas tingkat, selanjutnya
masing-masing tingkatan takwa diberikan penjelasan secara mendalam berdasar
informasi yang bersumber dari Al Quran dan Hadits.
Dengan membaca dan
mempelajari buku ini diharapkan dapat digunakan sebagai alat introspeksi;
mengukur; melihat qalbu sendiri, dan selanjutnya dapat digunakan sebagai
pedoman untuk membersihkan qalbu dari fujur dan meningkatkan ketakwaan qalbu
pada diri sendiri.
Doa Mohon
Ketetapan Qalbu Berada Dalam Islam Dan Taat Kepada Allah SWT
"يَا
مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَطَاعَتِكَ"
“Wahai
Zat yang membolak balikkan qalbu, tetapkanlah qalbu kami pada agama-Mu
dan
taat kepada-Mu.”
(HR.
Ahmad: 26133)
[1] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby,
Beirut, 1955 M, Jilid 1 , Halaman 40, Hadits nomor 10.
[2] Imam Muslim,
Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman
1987, Hadits nomor 2564.
[3] Abu Bakar
Ahmad Al Husain Al Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut,
2000, Jilid 5 Hal. 441, Hadits nomor 7207.
[4] Abu Al-Husain
Muslim ibn Al-Hajaj ibn Muslim, Shahih Muslim, Dar At-Thaba’ah
Al-‘Amirah, Turki, 1334 H, Jilid 1 , Halaman 89, Hadits nomor 144.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar