30/03/2026

5. Susunan Hierarki Tingkatan Takwa “Cermin Qalbu”

5. Susunan Hierarki Tingkatan Takwa “Cermin Qalbu”

Setelah dikemukakan beberapa tingkatan manusia berdasar ilmu Tasawuf, ilmu Psikologi, ayat-ayat Al Quran dan Hadits Nabi Muhammad SAW, dapat diperoleh pengertian bahwa realitanya manusia berada pada tingkatan yang berbeda-beda, berdasar beberapa data mengenai tingkatan di atas, maka penulis menilai bahwa tingkatan-tingkatan tersebut merupakan bagian dari hierarki tingkatan takwa.

Dari beberapa susunan tingkatan manusia tersebut, akan dikombinasikan, dimodifikasi dan disusun kembali menjadi hierarti tingkat kesadaran takwa, yang selanjutnya disebut sebagai “Cermin Qalbu”, dinamakan Cermin Qalbu dengan tujuan agar susunan tingkat kesadaran manusia tersebut dapat digunakan sebagai cermin, untuk dapat melihat keadaan qalbunya diri sendiri, sehingga dapat mengetahui qalbunya sedang berada dikelompok fujur atau takwa dan sedang berada di level nilai kesadaran spiritual tingkat ketakwaan berapa ?

Di sini akan dikemukakan “Cermin Qalbu” yang terdiri dari dua puluh satu level tingkatan, sebelas tingkatan di dalam kelompok takwa dan sepuluh tingkatan berada di tingkat fujur. Cermin qalbu ini juga dilengkapi dengan beberapa perspektif; tasawuf, taqarub, amal, psikologi dan Islam, dikemukakannya perspektif ini memiliki dua tujuan, tujuan pertama untuk menguji akurasi susunan tingkatan takwa dan fujur, tujuan kedua untuk mengetahui bahwa beberapa tingkatan level takwa atau fujur tersebut berdasar perspektif berada di kelompok mana.

 

Gambar 5. Cermin Qalbu Dan Perspektif

 

Di dalam bab ini hanya dikemukakan keterangan singkat dari komponen yang ada di dalam gambar Cermin Qalbu, adapaun keterangan rinci akan dikemukakan pada buku berikutnya, sedangkan keterangan singkat dari cermin qalbu adalah sebagai berikut;

1.   Kolom Level : pada kolom ini tertera angka  +10 sampai dengan –10, angka minus satu sampai angka minus sepuluh menggambarkan kondisi qalbu yang negatif, dapat merusak diri sendiri, orang lain maupun lingkungan, sedangkan nol merupakan batu pijakan menuju angka plus satu sampai plus sepuluh, yang menggambarkan kondisi qalbu yang positif, dapat memperbaiki diri sendiri, orang lain maupun lingkungan, Angka yang besar menghimpun angka yang lebih kecil, misal; seseorang sudah berada di kondisi qalbu di angka plus lima, maka dia sudah memiliki kondisi kesadaran nol, plus satu, plus dua, plus tiga dan plus empat. Demikian juga seseorang saat berada dalam kondisi qalbu minus lima, maka dia juga menghimpun kondisi kesadaran minus satu, minus dua, minus tiga dan minus empat.

2. Kolom Energi: pada kolom ini tertera bilangan 0 sampai dengan ∞ (tak terbatas), bahwa bilangan yang tertera merupakan bilangan logaritma bukan desimal, bilangan tersebut menggambarkan gelombang energi yang tercipta dari kondisi qalbu, baik kepada diri sendiri maupun lingkungan, energi gelombang membangun “kebaikan” dimulai pada angka 190 ke atas, sedangkan energi gelombang merusak “keburukan” berada di bawah 190, angka yang tertera merupakan ambang batas minimal yang dapat menggambarkan energi kondisi qalbu hingga mencapai ambang angka maksimal, misal kondisi qalbu 250 maka akan mencakup angka 250 sampai dengan 309. Sedangkan untuk bilangan minimal 700 akan dapat meningkat hingga tak terbatas, karena hidayah sudah masuk di wilayah ilahiyah.

Pembahasan pemanfaatan gelombang untuk membantu menumbuhkan kesadaran takwa, akan dikemukan di buku seri ketiga tentang metode Tazkiyatun Nafs, yang dikaitkan dengan pembahasan Solfegio frekwensi dan energi gelombang otak; delta, theta, alpha, betha, gama dll.

3. Kolom Spiritual: pada kolom ini tertera keterangan bahwa level spiritual positif dimulai dari taubat sampai dengan Jannah, sedangkan di level spiritual negatif dimulai dari anananiyah; ego sampai dengan Jahannam, kolom ini menggambarkan level spiritual qalbu sedang berada dimana, di sini berlaku angka yang besar menghimpun angka yang lebih kecil, misalnya; seorang yang berada di di level spiritual iman, juga berada di level spiritual taubat, ikhlas dan Islam, demikian juga sebaliknya ketika berada di di level spiritual negatif, ketika seseorang berada di di level spiritual khauf maka dia juga berada di di level spiritual ananiyah, ghadab dan nafsu. keterangan terperinci masing-masing di level spiritual akan di jelaskan di bab berikutnya.

4. Kolom Kesadaran: pada kolom ini tertera nilai kesadaran positif dimulai dari nol (Kesadaran) sampai dengan plus sepuluh (husnul khatimah), sedangan nilai kesadaran negatif dimulai dari minus satu (keakuan;ego) sampai dengan minus sepuluh (su’ul khatimah). Kesadaran tersebut dapat menggambarkan kondisi qalbu pada waktu tertentu, karena kondisi qalbu dapat berubah-ubah sesuai permasalahan yang dihadapi, waktu dan keadaanya. Penjelasan tentang level kesadaran ini akan dijelaskan bersamaan dengan level spiritual pada buku berikutnya.

5. Kolom Tasawuf; menggambarkan tingkat keyakinannya kepada Allah, pada kolom ini terdiri dari kelompok ma’rifat yang meliputi level spiritual; jannah, hidayah dan ridla, kelompok haqiqat meliputi; rahmah dan mahabah, kelompok thariqah meliputi; ikhsan dan iman, kelompok syariat meliputi level spiritual islam, ikhlas, sabar dan taubat. Sedangkan pada kelompok negatif kelompok ma’siyat meliputi level spiritual; ananiyah, ghadab dan syahwat, kelompok ghawa (terpedaya) meliputi; khauf, huzn dan taiasu, sedangkan kelompok tagha (melampaui batas); fasik, dhalim, kafir dan jahannam.

6. Kolom Taqarub; menggambarkan kedekatan jalan menuju Allah, pada kolom ini terdiri dari kelompok sabil yang meliputi level spiritual; jannah, hidayah dan ridla, kelompok shirath meliputi; rahmah dan mahabah, kelompok thariq meliputi; ikhsan dan iman, kelompok syari’ meliputi level spiritual islam, ikhlas, sabar dan taubat. Sedangkan pada kelompok negatif kelompok ghafil (lalai)  meliputi level spiritual; ananiyah, ghadab dan syahwat, kelompok yukadzibu (mendustakan) meliputi; khauf, huzn dan taiasu, sedangkan kelompok dhalal (tersesat) meliputi; fasik, dhalim, kafir dan jahannam.

7. Kolom Amal; menggambarkan tingkat pengamalan ajaran Islam, mulai kolom ini masuk pada keterangan perspektif dari level cermin qalbu, pada kelompok positif kolom amal tertera kelompok akhlaq mencakup level spiritual; jannah, hidayah, ridla, rahmah dan mahabah, kelompok Aqidah mencakup level spiritual; ihsan dan iman, kelompok ibadah mencakup level spiritual islam, ikhlas, sabar dan taubat. Sedangkan pada kelompok negatif kelompok sahun (lalai) meliputi; ananiyah, ghadab dan syahwat, pada kelompok khadiun (tertipu) meliputi; khauf, huzn dan taiasu, adapun kelompok khasirun (rugi) meliputi; fasik, dhalim, kafir dan jahannam.

8. Kolom Faqih; menggambarkan tingkat pemahaman terhadap ajaran Islam, pada kolom ini terdiri dari kelompok ‘irfani yang terdiri dari; husnul khatimah, hidayah, ridha, rahmah dan mahabbah, kelompok burhani meliputi; ikhsan dan iman, sedangkan kelompok bayani meliputi; islam, ikhlas, sabar dan taubat. Sedangkan pada level spiritual negatif terdiri dari kelompok la ya’lamun (tidak mengetahui) meliputi; ananiyah, ghadab dan syahwat, kelompok la ya’qilun (tidak berfikir) yang meliputi; khauf, huzn dan taiasu, dan pada kelompok la yafqahun (tidak memahami) meliputi; fasiq, dhalim, kafir dan jahnnam.

9. Kolom Psikologi: tertera Kebenaran dan Kepalsuan, menggambarkan kondisi qalbu berada di dalam keadaan apa, jika dalam kondisi kebenaran maka qalbu dimulai berada di level spiritual taubat hingga jannah, sedangkan jika qalbu dalam kondisi kepalsuan, maka qalbu berada di level spiritual ananiyah turun hingga sampai pada jahannam.

10.Kolom Islam: menggambarkan qalbu mengikuti ilham yang mana, jika qalbu dalam kondisi takwa maka qalbu berada di level spiritual taubat hingga jannah, sedangkan dalam kondisi fujur, qalbu berada di level spiritual ananiyah turun hingga sampai pada jahannam.

 

Untuk membuktikan kebenaran dari tingkatan takwa dan fujur yang tertuang di dalam cermin qalbu tersebut di atas, akan dikemukakan bukti ayat-ayat Al Quran yang berkaitan dengan masing-masing tingkatan kesadaran spiritual, adapun kata yang akan dijadikan sebagai kata kunci untuk membuktikan kebenaran adanya tingkatan fujur dan takwa adalah kata yang terbentuk dari kata dasar waqa;takwa,  ayat-ayat Al Quran yang di dalamnya terdapat kata waqa;takwa dikumpulkan, kemudian ayat-ayat tersebut diklasifikasikan ke dalam sebelas tingkatan takwa dan sepuluh tingkatan fujur, berdasar kata yang berdampingan dengan kata takwa dalam satu ayat, misalnya kata takwa berdampingan dengan kata sabar, maka ayat tersebut dikategorikan ke dalam takwa di tingkatan sabar.

Selain kata kunci takwa yang ada di dalam ayat-ayat Al Quran, untuk memperkuat pembuktian juga akan dilakukan dengan cara yang sama terhadap kata-kata yang mengarah pada pengertian yang sama dengan takwa, yaitu kata; Nafs, Qalb, Sadr dan satu kata kunci khusus yaitu kata Taubat, pembahasannya akan dikemukakan di dalam bab-bab berikutnya.

Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post