5. Susunan Hierarki Tingkatan Takwa “Cermin Qalbu”
Setelah dikemukakan beberapa
tingkatan manusia berdasar ilmu Tasawuf, ilmu Psikologi, ayat-ayat Al Quran dan
Hadits Nabi Muhammad SAW, dapat diperoleh pengertian bahwa realitanya manusia
berada pada tingkatan yang berbeda-beda, berdasar beberapa data mengenai
tingkatan di atas, maka penulis menilai bahwa tingkatan-tingkatan tersebut
merupakan bagian dari hierarki tingkatan takwa.
Dari beberapa susunan
tingkatan manusia tersebut, akan dikombinasikan, dimodifikasi dan disusun
kembali menjadi hierarti tingkat kesadaran takwa, yang selanjutnya disebut
sebagai “Cermin Qalbu”, dinamakan Cermin Qalbu dengan tujuan agar susunan
tingkat kesadaran manusia tersebut dapat digunakan sebagai cermin, untuk dapat
melihat keadaan qalbunya diri sendiri, sehingga dapat mengetahui qalbunya
sedang berada dikelompok fujur atau takwa dan sedang berada di level nilai
kesadaran spiritual tingkat ketakwaan berapa ?
Di sini akan dikemukakan
“Cermin Qalbu” yang terdiri dari dua puluh satu level tingkatan, sebelas
tingkatan di dalam kelompok takwa dan sepuluh tingkatan berada di tingkat
fujur. Cermin qalbu ini juga dilengkapi dengan beberapa perspektif; tasawuf,
taqarub, amal, psikologi dan Islam, dikemukakannya perspektif ini memiliki dua
tujuan, tujuan pertama untuk menguji akurasi susunan tingkatan takwa dan fujur,
tujuan kedua untuk mengetahui bahwa beberapa tingkatan level takwa atau fujur
tersebut berdasar perspektif berada di kelompok mana.
Gambar
5. Cermin Qalbu Dan Perspektif
Di dalam bab ini hanya
dikemukakan keterangan singkat dari komponen yang ada di dalam gambar Cermin
Qalbu, adapaun keterangan rinci akan dikemukakan pada buku berikutnya,
sedangkan keterangan singkat dari cermin qalbu adalah sebagai berikut;
1.
Kolom Level : pada kolom ini tertera angka
+10 sampai dengan –10, angka minus satu sampai angka minus sepuluh
menggambarkan kondisi qalbu yang negatif, dapat merusak diri sendiri, orang
lain maupun lingkungan, sedangkan nol merupakan batu pijakan menuju angka plus
satu sampai plus sepuluh, yang menggambarkan kondisi qalbu yang positif, dapat
memperbaiki diri sendiri, orang lain maupun lingkungan, Angka yang besar
menghimpun angka yang lebih kecil, misal; seseorang sudah berada di kondisi
qalbu di angka plus lima, maka dia sudah memiliki kondisi kesadaran nol, plus
satu, plus dua, plus tiga dan plus empat. Demikian juga seseorang saat berada
dalam kondisi qalbu minus lima, maka dia juga menghimpun kondisi kesadaran
minus satu, minus dua, minus tiga dan minus empat.
2. Kolom Energi: pada kolom ini tertera bilangan 0
sampai dengan ∞ (tak terbatas), bahwa bilangan yang tertera merupakan bilangan
logaritma bukan desimal, bilangan tersebut menggambarkan gelombang energi yang
tercipta dari kondisi qalbu, baik kepada diri sendiri maupun lingkungan, energi
gelombang membangun “kebaikan” dimulai pada angka 190 ke atas, sedangkan energi
gelombang merusak “keburukan” berada di bawah 190, angka yang tertera merupakan
ambang batas minimal yang dapat menggambarkan energi kondisi qalbu hingga
mencapai ambang angka maksimal, misal kondisi qalbu 250 maka akan mencakup
angka 250 sampai dengan 309. Sedangkan untuk bilangan minimal 700 akan dapat
meningkat hingga tak terbatas, karena hidayah sudah masuk di wilayah ilahiyah.
Pembahasan pemanfaatan gelombang untuk membantu menumbuhkan kesadaran
takwa, akan dikemukan di buku seri ketiga tentang metode Tazkiyatun Nafs, yang
dikaitkan dengan pembahasan Solfegio frekwensi dan energi gelombang otak;
delta, theta, alpha, betha, gama dll.
3. Kolom Spiritual: pada kolom ini tertera keterangan
bahwa level spiritual positif dimulai dari taubat sampai dengan Jannah,
sedangkan di level spiritual negatif dimulai dari anananiyah; ego sampai dengan
Jahannam, kolom ini menggambarkan level spiritual qalbu sedang berada dimana,
di sini berlaku angka yang besar menghimpun angka yang lebih kecil, misalnya;
seorang yang berada di di level spiritual iman, juga berada di level spiritual
taubat, ikhlas dan Islam, demikian juga sebaliknya ketika berada di di level
spiritual negatif, ketika seseorang berada di di level spiritual khauf maka dia
juga berada di di level spiritual ananiyah, ghadab dan nafsu. keterangan
terperinci masing-masing di level spiritual akan di jelaskan di bab berikutnya.
4. Kolom Kesadaran: pada kolom ini tertera nilai
kesadaran positif dimulai dari nol (Kesadaran) sampai dengan plus sepuluh
(husnul khatimah), sedangan nilai kesadaran negatif dimulai dari minus satu
(keakuan;ego) sampai dengan minus sepuluh (su’ul khatimah). Kesadaran tersebut
dapat menggambarkan kondisi qalbu pada waktu tertentu, karena kondisi qalbu
dapat berubah-ubah sesuai permasalahan yang dihadapi, waktu dan keadaanya.
Penjelasan tentang level kesadaran ini akan dijelaskan bersamaan dengan level
spiritual pada buku berikutnya.
5. Kolom Tasawuf; menggambarkan tingkat
keyakinannya kepada Allah, pada kolom ini terdiri dari kelompok ma’rifat yang
meliputi level spiritual; jannah, hidayah dan ridla, kelompok haqiqat meliputi;
rahmah dan mahabah, kelompok thariqah meliputi; ikhsan dan iman, kelompok
syariat meliputi level spiritual islam, ikhlas, sabar dan taubat. Sedangkan
pada kelompok negatif kelompok ma’siyat meliputi level spiritual;
ananiyah, ghadab dan syahwat, kelompok ghawa (terpedaya) meliputi;
khauf, huzn dan taiasu, sedangkan kelompok tagha (melampaui batas);
fasik, dhalim, kafir dan jahannam.
6. Kolom Taqarub; menggambarkan kedekatan
jalan menuju Allah, pada kolom ini terdiri dari kelompok sabil yang meliputi
level spiritual; jannah, hidayah dan ridla, kelompok shirath meliputi; rahmah
dan mahabah, kelompok thariq meliputi; ikhsan dan iman, kelompok syari’ meliputi
level spiritual islam, ikhlas, sabar dan taubat. Sedangkan pada kelompok
negatif kelompok ghafil (lalai)
meliputi level spiritual; ananiyah, ghadab dan syahwat, kelompok yukadzibu
(mendustakan) meliputi; khauf, huzn dan taiasu, sedangkan kelompok dhalal
(tersesat) meliputi; fasik, dhalim, kafir dan jahannam.
7. Kolom Amal; menggambarkan tingkat pengamalan
ajaran Islam, mulai kolom ini masuk pada keterangan perspektif dari level
cermin qalbu, pada kelompok positif kolom amal tertera kelompok akhlaq mencakup
level spiritual; jannah, hidayah, ridla, rahmah dan mahabah, kelompok Aqidah
mencakup level spiritual; ihsan dan iman, kelompok ibadah mencakup level
spiritual islam, ikhlas, sabar dan taubat. Sedangkan pada kelompok negatif
kelompok sahun (lalai) meliputi; ananiyah, ghadab dan syahwat, pada
kelompok khadiun (tertipu) meliputi; khauf, huzn dan taiasu, adapun
kelompok khasirun (rugi) meliputi; fasik, dhalim, kafir dan jahannam.
8. Kolom Faqih; menggambarkan tingkat pemahaman
terhadap ajaran Islam, pada kolom ini terdiri dari kelompok ‘irfani yang
terdiri dari; husnul khatimah, hidayah, ridha, rahmah dan mahabbah, kelompok burhani
meliputi; ikhsan dan iman, sedangkan kelompok bayani meliputi; islam,
ikhlas, sabar dan taubat. Sedangkan pada level spiritual negatif terdiri dari
kelompok la ya’lamun (tidak mengetahui) meliputi; ananiyah, ghadab dan
syahwat, kelompok la ya’qilun (tidak berfikir) yang meliputi; khauf,
huzn dan taiasu, dan pada kelompok la yafqahun (tidak memahami)
meliputi; fasiq, dhalim, kafir dan jahnnam.
9. Kolom Psikologi: tertera Kebenaran dan Kepalsuan,
menggambarkan kondisi qalbu berada di dalam keadaan apa, jika dalam kondisi
kebenaran maka qalbu dimulai berada di level spiritual taubat hingga jannah,
sedangkan jika qalbu dalam kondisi kepalsuan, maka qalbu berada di level
spiritual ananiyah turun hingga sampai pada jahannam.
10.Kolom Islam: menggambarkan qalbu mengikuti ilham
yang mana, jika qalbu dalam kondisi takwa maka qalbu berada di level spiritual
taubat hingga jannah, sedangkan dalam kondisi fujur, qalbu berada di level
spiritual ananiyah turun hingga sampai pada jahannam.
Untuk membuktikan kebenaran
dari tingkatan takwa dan fujur yang tertuang di dalam cermin qalbu
tersebut di
atas, akan dikemukakan bukti ayat-ayat Al Quran yang berkaitan dengan
masing-masing tingkatan kesadaran spiritual, adapun kata yang akan dijadikan
sebagai kata kunci untuk membuktikan kebenaran adanya tingkatan fujur dan takwa
adalah kata yang terbentuk dari kata dasar waqa;takwa, ayat-ayat Al Quran yang di dalamnya terdapat
kata waqa;takwa dikumpulkan, kemudian ayat-ayat tersebut
diklasifikasikan ke dalam sebelas tingkatan takwa dan sepuluh tingkatan fujur,
berdasar kata yang berdampingan dengan kata takwa dalam satu ayat, misalnya
kata takwa berdampingan dengan kata sabar, maka ayat tersebut dikategorikan ke
dalam takwa di tingkatan sabar.
Selain kata kunci takwa yang
ada di dalam ayat-ayat Al Quran, untuk memperkuat pembuktian juga akan
dilakukan dengan cara yang sama terhadap kata-kata yang mengarah pada
pengertian yang sama dengan takwa, yaitu kata; Nafs, Qalb, Sadr
dan satu kata kunci khusus yaitu kata Taubat, pembahasannya akan
dikemukakan di dalam bab-bab berikutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar