CERMIN QALBU FUJUR
Pada buku sebelumnya “Ilmu Takwa 2 ‘Hakekat Takwa’
Memahahami Takwa Berdasar Al-Quran Dan Hadits”, telah dikemukakan pembahasan
terinci tentang pengertian dan tingkatan takwa, yang disusun berdasar ayat-ayat
Al Quran dan Hadits Rasulullah SAW, disertai kajian ilmu Tasawuf dan Psikologi.
Sedangkan buku “Ilmu Takwa 3 ‘Cermin Qalbu Fujur’ Melihat Dan Membersihkan Fujur
Pada Diri Sendiri”, akan dikemukakan penjelasan dari masing-masing tingkat fujur,
di dalamnya akan lebih banyak dikemukakan pembahasan berdasar pengertian ayat-ayat
Al Quran dan Hadits Rasulullah SAW, buku ini hanya akan dapat dipahami, jika
saat membaca menggunakan kesadaran qalbu; “iman” bukan kesadaran empiris,
karena penjelasan dalam buku ini lebih bersifat ruhaniyah; percaya kepada Allah
dan Rasulnya melalui Al Quran dan Hadits, sehingga lebih banyak dikemukakan
ayat-ayat Al-Quran dan Hadits yang disusun secara tematik dan hanya sedikit
diberikan penjelasan atau penafsiran, dengan demikian membaca dan mempelajari
buku ini akan dapat melihat dan membersihkan fujur dan meningkatkan kesadaran
takwa pada diri sendiri.
Sebagaimana telah dikemukakan di buku “Hakekat
Takwa” tingkatan ajaran Islam secara menyeluruh dapat dirangkum ke dalam
susunan hierarki tingkatan takwa, yang dapat memberikan gambaran bahwa takwa
merupakan tujuan utama dari semua amal ibadah manusia, takwa juga menentukan
tingkat kemuliaan manusia di sisi Allah, susunan hierarki tingkatan takwa ini
kemudian diberi nama “Cermin Qalbu”, dinamakan cermin qalbu dengan tujuan agar
susunan hierarki tingkatan takwa, dapat digunakan sebagai alat untuk bercermin
melihat dan mengukur qalbu sendiri, dengan melihat cermin qalbu seseorang dapat
mengetahui dirinya berada di tingkat ketakwaan level berapa, alat ini sangat
penting kedudukannya bagi upaya untuk meningkatkan ketakwaan; tazkiyatun
nafs, sebab peningkatan ketakwaan harus dimulai dari mengetahui tingkatan fujur
dan takwa, kemudian diikuti kesadaran diri, bahwa dirinya berada di level
tingkat ketakwaan berapa, selanjutnya akan dapat dilakukan perbaikan dan
peningkatkan ketakwaannya dengan metode tazkiyatun nafs, yang akan
dibahas di buku Ilmu Takwa seri empat “Tazkiyatun Nafs Membersihkan Jiwa
Dari Fujur Dan Menumbuhkan Takwa”.
Bercermin pada kaca merupakan aktifitas untuk
dapat melihat diri sendiri secara lahiriyah, melihat kelebihan atau kekurangan
yang ada pada dirinya secara objektif, sedangkan “Cermin Qalbu” merupakan alat
yang dapat digunakan untuk melihat diri sendiri secara batiniyah; ruhaniyah,
untuk mengetahui kebaikan dan keburukan yang ada pada dirinya. Aktifitas
bercermin di depan kaca bertujuan untuk berdandan; memperbaiki
kekurangan-kekurangan sehingga penampilannya tampak lebih baik, sedangkan
aktifitas bercermin dengan cermin qalbu adalah upaya untuk berdandan;
memperbaiki kekurangan (menghilangkan fujur) sekaligus meningkatkan ketakwaan
yang ada di dalam qalbu.
Aktifitas bercermin tidak lepas dari aktifitas
melihat diri sendiri dan dilihat selain diri sendiri, Allah memperlihatkan
tanda-tanda-Nya ada pada segala wilayah bumi dan pada diri manusia sebagai
bukti yang jelas atas keberadaan-Nya, pernyataan tersebut dikemukakan di dalam
Al Quran surat Fushshilat/ 41: 53;
سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى
يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى
كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ
Artinya: Kami akan memperlihatkan
kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri
mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar.
Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?
(QS. Fushshilat/ 41: 53)
Ayat di atas memberikan gambaran bahwa Allah
menampakkan keberadaan-Nya ada di segala wilayah bumi dan pada nafs; diri
manusia sendiri, jika ayat tersebut dikaitkan dengan hadits tentang ihsan, di
dalam kitab shahih Muslim nomor 10 yang memberi penjelasan bahwa ihsan adalah
khasyah kepada Allah seakan-akan melihat atau dilihat Allah;
قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ
كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ [1]
Artinya: 'Wahai
Rasulullah, apakah ihsan itu? ' Beliau menjawab, 'Kamu takut (khasyyah) kepada
Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka
sesungguhnya Dia melihatmu.'
Maka dapat dipahami bahwa ihsan merupakan
kesadaran adanya perasaan khasyah; takut; segan; sungkan kepada Allah, karena
merasa melihat atau dilihat Allah, sedangkan Allah menampakkan tanda-tandanya
pada anfusihim; jiwa mereka, dengan demikian berlaku sebagaimana ihsan, karena
Allah menampakkan tanda keberadaan-Nya pada nafs, maka sebaliknya nafs jugalah
yang dapat melihat; merasakan tanda-tanda keberadaan Allah.
Jika dikaitkan dengan Al Quran surat Adz-Dzariyat/
51: 21 yang di dalamnya secara tidak langsung mengandung pengertian bahwa Allah
memerintahkan kepada manusia untuk memperhatikan pada nafs; jiwa; diri;
وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ
Artinya: dan (juga) pada dirimu
sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?
Memperhatikan ayat tersebut akan muncul
pertanyaan, Sebenarnya ada apa dengan nafs ini, sehingga Allah memerintahkan
untuk memperhatikannya ?, artinya nafs merupakan sesuatu yang sangat penting
untuk diperhatikan, untuk itu mari kita perhatikan informasi yang diberikan
Allah tentang nafs yang disebutkan di dalam Al Quran surat Asy Syams/ 91: 7-10;
وَنَفْسٍ
وَمَا سَوَّاهَا, فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا, قَدْ أَفْلَحَ مَن
زَكَّاهَا, وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
Artinya: dan
(demi) jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada
jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang
yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang
mengotorinya.(QS. Asy Syams/ 91: 7-10)
Di dalam ayat Al Quran tersebut, Allah menggunakan
kata nafs untuk bersumpah, hal tersebut menunjukkan pengertian bahwa nafs
merupakan sesuatu yang sangat penting dan berharga, setelah bersumpah kemudian
Allah memberikan informasi, bahwa Allah mengilhami ke dalam nafs fujur dan
takwa, sehingga dapat dipahami bahwa kesadaran takwa dan fujur terletak di
dalam nafs, dengan demikian juga dapat ditarik pengertian bahwa yang
mengetahui; merasakan fujur dan takwa itu adalah nafs, sedangkan ketakwaan
adalah dorongan untuk melakukan amal perbuatan baik atau meninggalkan amal
perbuatan buruk yung tumbuh dari kesadaran melihat atau dilihat Allah.
Yang menjadi permasalahan berikutnya adalah
mengetahui dimana letak nafs, karena di dalam nafs itulah Allah menampakkan
tanda-tanda keberadaannya, untuk
memperoleh meperoleh jawaban atas pertanyaan tersebut, maka di sini perlu
dikemukakan pernyataan Rasulullah, sebagaimana dimuat di dalam Kitab Shahih
Muslim hadis nomor 2564; bahwa Allah
tidak melihat rupa dan harta melainkan hanya melihat qalbu dan amalnya;
حدثنا عمرو الناقد. حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ
هِشَامٍ. حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ بُرْقَانَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ الأَصَمِّ، عَنْ
أَبِي هريرة. قال: قال رسول الله ﷺ
"إِنَّ اللَّهَ لَا ينظر إلى صوركم وأموالكم. ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم". [2]
Artinya: Telah menceritakan kepada
kami ‘Amr an-Nāqid; telah menceritakan kepada kami Katsīr bin Hisyām; telah
menceritakan kepada kami Ja‘far bin Burqān dari Yazīd bin al-Asam, dari Abu
Hurairah radhiyallāhu ‘anhu. Ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi
Dia melihat kepada hati kalian dan amal perbuatan kalian.”
Berdasar hadits di atas dapat ditarik pengertian
bahwa Allah melihat qalbu manusia untuk mengetahui amal perbuatan yang
dilakukan manusia, hal ini dapat dipahami bahwa amal perbuatan manusia tidak
dilihat pada dzahirnya, tetapi yang lebih diperhatikan Allah adalah kesadaran
yang ada di dalam qalbu; bathin yang mendasari amal perbuatan dilakukan,
kesadaran tersebut dapat bernilai takwa atau fujur, amal perbuatan akan
bernilai takwa, jika saat melakukannya didasari kesadaran melakukakannya karena
Allah; ingat Allah; melihat dengan qalbu, sedangkan amal perbuatan akan
bernilai fujur, jika saat melakukannnya tidak didasari kesadaran melakukannya
karena Allah ataupun ingat Allah.
Dengan demikian memperhatikan qalbu sangat penting
dilakukan oleh orang beriman, karena qalbu dapat digunakan untuk bercermin
melihat amal perbuatannya, sebagaimana digambarkan di dalam kitab Syuabul Iman
Baihaqi Atsar nomor 7207, bahwa qalbu orang beriman itu putih, bening, jelas,
dapat untuk menghias diri bagai cermin,;
أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، أَنَا أَبُو جَعْفَرِ بْنُ
مُحَمَّدٍ الْخَوَّاصُ، حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ نَصْرٍ، حَدَّثَنِي
إِبْرَاهِيمُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ: سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ أَدْهَمَ يَقُولُ:
" قَلْبُ الْمُؤْمِنِ أَبْيَضُ نَقِيٌّ مَجْلِيٌّ مُحَلًّى مِثْلَ
الْمِرْآةِ، فَلَا يَأْتِيهُ الشَّيْطَانُ مِنْ نَاحِيَةٍ مِنَ النَّوَاحِي
بِشَيْءٍ مِنَ الْمَعَاصِي إِلَّا نَظَرَ إِلَيْهِ كَمَا يَنْظُرُ إِلَى وَجْهِهِ
فِي الْمِرْآةِ، فَإِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ،
فَإِنْ تَابَ مِنْ ذَنْبِهِ مُحِيَتِ النُّكْتَةُ مِنْ قَلْبِهِ وَانْجَلَى،
وَإِنْ لَمْ يَتُبْ وَعَاوَدَ أَيْضًا، وَتَتَابَعَتِ الذُّنُوبُ، ذَنْبٌ بَعْدَ
ذَنْبٍ، نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ نُكْتَةٌ حَتَّى يَسْوَدَّ الْقَلْبُ،
وَهُوَ قَوْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا
كَانُوا يَكْسِبُونَ} [المطففين: 14]، قَالَ: " الذَّنْبُ بَعْدَ الذَّنْبِ،
حَتَّى يَسْوَدَّ الْقَلْبُ فِي إِبْطَاءٍ، مَا نَجَعَ فِي هَذَا الْقَلْبِ
الْمَوَاعِظُ، فَإِنْ تَابَ إِلَى اللهِ قَبِلَهُ اللهُ وَانْجَلَى عَنْ قَلْبِهِ
كَجَلْيِ الْمِرْآةِ "[3]
Artinya: Telah mengabarkan kepada
kami Abu Ubaidillah Al Hafidz, Aku Abu Ja’far ibnu Muhammad Al Khawash, telah
menceriterakan kepadaku Ibrahim ibnu Nashir telah menceriterakan kepadaku
Ibrahim ibnu Basyar, berkata; aku telah mendengar Ibrahim bin Adham berkata:
Qalbu orang beriman itu putih, bening, jelas, dapat untuk menghias diri
bagaikan cermin, maka syetan tidak dapat datang dengan maksiat dari berbagai
arah kecuali melihat kepadanya sebagaimana melihat wajah di cermin, maka jika
berbuat sebuah dosa terdapat titik di dalam qalbunya titik hitam, maka jika
bertaubat dari dosanya terhapuslah titik dari qalbunya dan kembali bening, dan
jika belum bertaubat dan mengulangi lagi, dan diikuti dosa, dosa-dosa yang
lain, terdapat titik di dalam qalbunya titik yang banyak hingga qalbu menjadi
hitam, yaitu sebagaimana Firman Allah azza wa jalla “ Sekali-kali tidak
(demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati
mereka”.QS. Al Muthafifin: 14, dia berkata dosa sesudah dosa hingga qalbu perlahan-lahan
menjadi hitam, pada qalbu ini pelajaran tidak berguna, tetapi jika bertaubat
kepada Allah, Allah menerimanya dan qalbu menjadi bening seperti beningnya
cermin.
Sedangkan di dalam kitab Shahih Muslim hadis nomor
207 digambarkan bahwa Qalbu terbagi dua: sebagian menjadi putih bagaikan batu
licin yang tidak lagi terkena bahaya fitnah (cobaan, gangguan, hasutan)
Sedangkan sebagian yang lain menjadi hitam keabu-abuan seperti bekas tembaga
berkarat, tidak menyuruh kebaikan dan tidak pula melarang kemungkaran kecuali
sesuatu yang diserap oleh hawa nafsunya,;
وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو
خَالِدٍ يَعْنِي سُلَيْمَانَ بْنَ حَيَّانَ عَنْ سَعْدِ بْنِ طَارِقٍ ،عَنْ
رِبْعِيٍّ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: «كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ: أَيُّكُمْ
سَمِعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَذْكُرُ الْفِتَنَ؟ فَقَالَ قَوْمٌ: نَحْنُ سَمِعْنَاهُ،
فَقَالَ: لَعَلَّكُمْ تَعْنُونَ فِتْنَةَ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَجَارِهِ؟
قَالُوا: أَجَلْ. قَالَ: تِلْكَ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ
وَالصَّدَقَةُ، وَلَكِنْ أَيُّكُمْ سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ يَذْكُرُ الْفِتَنَ
الَّتِي تَمُوجُ مَوْجَ الْبَحْرِ؟ قَالَ حُذَيْفَةُ: فَأَسْكَتَ الْقَوْمُ،
فَقُلْتُ: أَنَا، قَالَ: أَنْتَ؟ لِلهِ أَبُوكَ، قَالَ حُذَيْفَةُ: سَمِعْتُ
رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ
عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ،
وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ، حَتَّى تَصِيرَ
عَلَى قَلْبَيْنِ: عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا، فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا
دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ،
مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا، وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلَّا مَا
أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ. قَالَ حُذَيْفَةُ: وَحَدَّثْتُهُ أَنَّ بَيْنَكَ
وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا يُوشِكُ أَنْ يُكْسَرَ، قَالَ عُمَرُ: أَكَسْرًا لَا
أَبَا لَكَ؟ فَلَوْ أَنَّهُ فُتِحَ لَعَلَّهُ كَانَ يُعَادُ، قُلْتُ: لَا، بَلْ
يُكْسَرُ، وَحَدَّثْتُهُ أَنَّ ذَلِكَ الْبَابَ رَجُلٌ [4]
Artinya: Telah
menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abdullah bin Numair] telah menceritakan
kepada kami [Abu Khalid] -yaitu Sulaiman bin Hayyan- dari [Sa'ad bin Thariq]
dari [Rib'i] dari Hudzaifah berkata: “Kami sedang berada di sisi Umar, lalu ia
berkata: ‘Siapa di antara kalian yang pernah mendengar Rasulullah ﷺ menyebut tentang fitnah?’ Para sahabat menjawab:
‘Kami mendengarnya.’ Umar berkata: ‘Barangkali yang kalian maksud adalah fitnah
seseorang pada diri, keluarga, dan tetangganya?’ Mereka menjawab: ‘Benar.’ Umar
berkata: ‘Itu semua dihapuskan oleh salat, puasa, dan sedekah. Tetapi siapa di
antara kalian yang mendengar Nabi ﷺ menyebut
fitnah-fitnah yang bergelombang seperti gelombang laut?’ Hudzaifah berkata:
‘Maka mereka semua terdiam, lalu aku berkata: Aku.’ Umar bertanya: ‘Engkau?’
Maka aku menjawab: ‘Aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
Fitnah-fitnah itu akan ditawarkan kepada hati seperti anyaman tikar, sebatang
demi sebatang. Hati yang menerima fitnah itu akan ditandai dengan satu titik
hitam, dan hati yang menolaknya akan ditandai dengan satu titik putih, hingga
hati manusia menjadi dua jenis: hati yang putih seperti batu licin, yang tidak
akan membahayakannya satu pun fitnah selama langit dan bumi masih ada; dan hati
yang hitam keabu-abuan seperti bejana terbalik, tidak mengenal kebaikan dan
tidak mengingkari kemungkaran kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya.’
Hudzaifah berkata: ‘Aku juga memberitahunya bahwa antara engkau (wahai Umar)
dan fitnah-fitnah itu ada sebuah pintu tertutup yang hampir akan segera
dipecahkan.’ Umar bertanya: ‘Apakah akan dipecahkan, bukan dibuka?’ Aku
menjawab: ‘Ya, dipecahkan.’ Dan aku telah memberitahunya bahwa pintu itu adalah
seorang laki-laki.”
Buku “Ilmu Takwa ‘Cermin Qalbu’ Melihat Dan
Mengukur Tingkat Fujur Dan Takwa Pada Diri Sendiri” disusun menjadi dua buku,
buku yang pertama berjudul “Ilmu Takwa 3 ‘Cermin Qalbu Fujur’ Melihat Dan Membersihkan
Fujur Pada Diri Sendiri” untuk dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai
fujur; keburukan, yang terdiri dari sepuluh tingkat, selanjutnya masing-masing
tingkatan fujur diberikan penjelasan secara mendalam berdasar informasi yang
ada di dalam Al Quran dan Hadits.
Buku yang kedua berjudul “Ilmu Takwa 4 ‘Cermin
Qalbu Taqwa’ Melihat, Menumbuhkan Takwa Pada Diri Sendiri”, untuk dapat memberikan gambaran yang jelas
mengenai takwa; kebaikan, kemudian diberikan gambaran tentang tingkatan takwa
yang terdiri dari sebelas tingkat, selanjutnya masing-masing tingkatan takwa
diberikan penjelasan secara mendalam berdasar informasi yang ada di dalam Al
Quran dan hadits.
Dengan membaca dan mempelajari buku ini diharapkan
dapat digunakan sebagai alat introspeksi; mengukur; melihat qalbu sendiri, dan
selanjutnya dapat digunakan sebagai pedoman untuk membersihkan qalbu dari fujur
dan menumbuhkan ketakwaan qalbu.
Doa Mohon
Ketetapan Qalbu Berada Dalam Islam Dan Taat Kepada Allah SWT
"يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ
قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَطَاعَتِكَ"
“Wahai Zat yang membolak balikkan qalbu, tetapkanlah qalbu kami pada
agama-Mu
dan taat kepada-Mu.”
(HR. Ahmad: 26133)
[1] Imam Muslim, Shahih Muslim,
Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 1 , Halaman 40, Hadits nomor
10.
[2] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al
‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 1987, Hadits nomor 2564.
[3] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al Baihaqi, Syuab Al-Iman,
Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 5 Hal. 441, Hadits nomor 7207.
[4] Abu Al-Husain Muslim ibn Al-Hajaj ibn Muslim, Shahih
Muslim, Dar At-Thaba’ah Al-‘Amirah, Turki, 1334 H, Jilid 1 , Halaman 89, Hadits
nomor 144.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar