15/03/2026

CERMIN QALBU FUJUR

CERMIN QALBU FUJUR

Pada buku sebelumnya “Ilmu Takwa 2 ‘Hakekat Takwa’ Memahahami Takwa Berdasar Al-Quran Dan Hadits”, telah dikemukakan pembahasan terinci tentang pengertian dan tingkatan takwa, yang disusun berdasar ayat-ayat Al Quran dan Hadits Rasulullah SAW, disertai kajian ilmu Tasawuf dan Psikologi. Sedangkan buku “Ilmu Takwa 3 ‘Cermin Qalbu Fujur’ Melihat Dan Membersihkan Fujur Pada Diri Sendiri”, akan dikemukakan penjelasan dari masing-masing tingkat fujur, di dalamnya akan lebih banyak dikemukakan pembahasan berdasar pengertian ayat-ayat Al Quran dan Hadits Rasulullah SAW, buku ini hanya akan dapat dipahami, jika saat membaca menggunakan kesadaran qalbu; “iman” bukan kesadaran empiris, karena penjelasan dalam buku ini lebih bersifat ruhaniyah; percaya kepada Allah dan Rasulnya melalui Al Quran dan Hadits, sehingga lebih banyak dikemukakan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits yang disusun secara tematik dan hanya sedikit diberikan penjelasan atau penafsiran, dengan demikian membaca dan mempelajari buku ini akan dapat melihat dan membersihkan fujur dan meningkatkan kesadaran takwa pada diri sendiri.

Sebagaimana telah dikemukakan di buku “Hakekat Takwa” tingkatan ajaran Islam secara menyeluruh dapat dirangkum ke dalam susunan hierarki tingkatan takwa, yang dapat memberikan gambaran bahwa takwa merupakan tujuan utama dari semua amal ibadah manusia, takwa juga menentukan tingkat kemuliaan manusia di sisi Allah, susunan hierarki tingkatan takwa ini kemudian diberi nama “Cermin Qalbu”, dinamakan cermin qalbu dengan tujuan agar susunan hierarki tingkatan takwa, dapat digunakan sebagai alat untuk bercermin melihat dan mengukur qalbu sendiri, dengan melihat cermin qalbu seseorang dapat mengetahui dirinya berada di tingkat ketakwaan level berapa, alat ini sangat penting kedudukannya bagi upaya untuk meningkatkan ketakwaan; tazkiyatun nafs, sebab peningkatan ketakwaan harus dimulai dari mengetahui tingkatan fujur dan takwa, kemudian diikuti kesadaran diri, bahwa dirinya berada di level tingkat ketakwaan berapa, selanjutnya akan dapat dilakukan perbaikan dan peningkatkan ketakwaannya dengan metode tazkiyatun nafs, yang akan dibahas di buku Ilmu Takwa seri empat “Tazkiyatun Nafs Membersihkan Jiwa Dari Fujur Dan Menumbuhkan Takwa”.

Bercermin pada kaca merupakan aktifitas untuk dapat melihat diri sendiri secara lahiriyah, melihat kelebihan atau kekurangan yang ada pada dirinya secara objektif, sedangkan “Cermin Qalbu” merupakan alat yang dapat digunakan untuk melihat diri sendiri secara batiniyah; ruhaniyah, untuk mengetahui kebaikan dan keburukan yang ada pada dirinya. Aktifitas bercermin di depan kaca bertujuan untuk berdandan; memperbaiki kekurangan-kekurangan sehingga penampilannya tampak lebih baik, sedangkan aktifitas bercermin dengan cermin qalbu adalah upaya untuk berdandan; memperbaiki kekurangan (menghilangkan fujur) sekaligus meningkatkan ketakwaan yang ada di dalam qalbu.

Aktifitas bercermin tidak lepas dari aktifitas melihat diri sendiri dan dilihat selain diri sendiri, Allah memperlihatkan tanda-tanda-Nya ada pada segala wilayah bumi dan pada diri manusia sebagai bukti yang jelas atas keberadaan-Nya, pernyataan tersebut dikemukakan di dalam Al Quran surat Fushshilat/ 41: 53;

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Artinya: Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu? (QS. Fushshilat/ 41: 53)

Ayat di atas memberikan gambaran bahwa Allah menampakkan keberadaan-Nya ada di segala wilayah bumi dan pada nafs; diri manusia sendiri, jika ayat tersebut dikaitkan dengan hadits tentang ihsan, di dalam kitab shahih Muslim nomor 10 yang memberi penjelasan bahwa ihsan adalah khasyah kepada Allah seakan-akan melihat atau dilihat Allah;

قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَخْشَى اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ [1]

Artinya: 'Wahai Rasulullah, apakah ihsan itu? ' Beliau menjawab, 'Kamu takut (khasyyah) kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, maka jika kamu tidak melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.'

Maka dapat dipahami bahwa ihsan merupakan kesadaran adanya perasaan khasyah; takut; segan; sungkan kepada Allah, karena merasa melihat atau dilihat Allah, sedangkan Allah menampakkan tanda-tandanya pada anfusihim; jiwa mereka, dengan demikian berlaku sebagaimana ihsan, karena Allah menampakkan tanda keberadaan-Nya pada nafs, maka sebaliknya nafs jugalah yang dapat melihat; merasakan tanda-tanda keberadaan Allah.

Jika dikaitkan dengan Al Quran surat Adz-Dzariyat/ 51: 21 yang di dalamnya secara tidak langsung mengandung pengertian bahwa Allah memerintahkan kepada manusia untuk memperhatikan pada nafs; jiwa; diri;

وَفِي أَنْفُسِكُمْ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Artinya: dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?

Memperhatikan ayat tersebut akan muncul pertanyaan, Sebenarnya ada apa dengan nafs ini, sehingga Allah memerintahkan untuk memperhatikannya ?, artinya nafs merupakan sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan, untuk itu mari kita perhatikan informasi yang diberikan Allah tentang nafs yang disebutkan di dalam Al Quran surat Asy Syams/ 91: 7-10;

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا, فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا, قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا, وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

Artinya: dan (demi) jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.(QS. Asy Syams/ 91: 7-10)

Di dalam ayat Al Quran tersebut, Allah menggunakan kata nafs untuk bersumpah, hal tersebut menunjukkan pengertian bahwa nafs merupakan sesuatu yang sangat penting dan berharga, setelah bersumpah kemudian Allah memberikan informasi, bahwa Allah mengilhami ke dalam nafs fujur dan takwa, sehingga dapat dipahami bahwa kesadaran takwa dan fujur terletak di dalam nafs, dengan demikian juga dapat ditarik pengertian bahwa yang mengetahui; merasakan fujur dan takwa itu adalah nafs, sedangkan ketakwaan adalah dorongan untuk melakukan amal perbuatan baik atau meninggalkan amal perbuatan buruk yung tumbuh dari kesadaran melihat atau dilihat Allah.

Yang menjadi permasalahan berikutnya adalah mengetahui dimana letak nafs, karena di dalam nafs itulah Allah menampakkan tanda-tanda keberadaannya,  untuk memperoleh meperoleh jawaban atas pertanyaan tersebut, maka di sini perlu dikemukakan pernyataan Rasulullah, sebagaimana dimuat di dalam Kitab Shahih Muslim hadis nomor  2564; bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta melainkan hanya melihat qalbu dan amalnya;

حدثنا عمرو الناقد. حَدَّثَنَا كَثِيرُ بْنُ هِشَامٍ. حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ بُرْقَانَ عَنْ يَزِيدَ بْنِ الأَصَمِّ، عَنْ أَبِي هريرة. قال: قال رسول الله ﷺ "إِنَّ اللَّهَ لَا ينظر إلى صوركم وأموالكم. ولكن ينظر إلى قلوبكم وأعمالكم". [2]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami ‘Amr an-Nāqid; telah menceritakan kepada kami Katsīr bin Hisyām; telah menceritakan kepada kami Ja‘far bin Burqān dari Yazīd bin al-Asam, dari Abu Hurairah radhiyallāhu ‘anhu. Ia berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati kalian dan amal perbuatan kalian.”

Berdasar hadits di atas dapat ditarik pengertian bahwa Allah melihat qalbu manusia untuk mengetahui amal perbuatan yang dilakukan manusia, hal ini dapat dipahami bahwa amal perbuatan manusia tidak dilihat pada dzahirnya, tetapi yang lebih diperhatikan Allah adalah kesadaran yang ada di dalam qalbu; bathin yang mendasari amal perbuatan dilakukan, kesadaran tersebut dapat bernilai takwa atau fujur, amal perbuatan akan bernilai takwa, jika saat melakukannya didasari kesadaran melakukakannya karena Allah; ingat Allah; melihat dengan qalbu, sedangkan amal perbuatan akan bernilai fujur, jika saat melakukannnya tidak didasari kesadaran melakukannya karena Allah ataupun ingat Allah.

Dengan demikian memperhatikan qalbu sangat penting dilakukan oleh orang beriman, karena qalbu dapat digunakan untuk bercermin melihat amal perbuatannya, sebagaimana digambarkan di dalam kitab Syuabul Iman Baihaqi Atsar nomor 7207, bahwa qalbu orang beriman itu putih, bening, jelas, dapat untuk menghias diri bagai cermin,;

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللهِ الْحَافِظُ، أَنَا أَبُو جَعْفَرِ بْنُ مُحَمَّدٍ الْخَوَّاصُ، حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ نَصْرٍ، حَدَّثَنِي إِبْرَاهِيمُ بْنُ بَشَّارٍ، قَالَ: سَمِعْتُ إِبْرَاهِيمَ بْنَ أَدْهَمَ يَقُولُ: " قَلْبُ الْمُؤْمِنِ أَبْيَضُ نَقِيٌّ مَجْلِيٌّ مُحَلًّى مِثْلَ الْمِرْآةِ، فَلَا يَأْتِيهُ الشَّيْطَانُ مِنْ نَاحِيَةٍ مِنَ النَّوَاحِي بِشَيْءٍ مِنَ الْمَعَاصِي إِلَّا نَظَرَ إِلَيْهِ كَمَا يَنْظُرُ إِلَى وَجْهِهِ فِي الْمِرْآةِ، فَإِذَا أَذْنَبَ ذَنْبًا نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِنْ تَابَ مِنْ ذَنْبِهِ مُحِيَتِ النُّكْتَةُ مِنْ قَلْبِهِ وَانْجَلَى، وَإِنْ لَمْ يَتُبْ وَعَاوَدَ أَيْضًا، وَتَتَابَعَتِ الذُّنُوبُ، ذَنْبٌ بَعْدَ ذَنْبٍ، نُكِتَ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ نُكْتَةٌ حَتَّى يَسْوَدَّ الْقَلْبُ، وَهُوَ قَوْلُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ} [المطففين: 14]، قَالَ: " الذَّنْبُ بَعْدَ الذَّنْبِ، حَتَّى يَسْوَدَّ الْقَلْبُ فِي إِبْطَاءٍ، مَا نَجَعَ فِي هَذَا الْقَلْبِ الْمَوَاعِظُ، فَإِنْ تَابَ إِلَى اللهِ قَبِلَهُ اللهُ وَانْجَلَى عَنْ قَلْبِهِ كَجَلْيِ الْمِرْآةِ "[3]

Artinya: Telah mengabarkan kepada kami Abu Ubaidillah Al Hafidz, Aku Abu Ja’far ibnu Muhammad Al Khawash, telah menceriterakan kepadaku Ibrahim ibnu Nashir telah menceriterakan kepadaku Ibrahim ibnu Basyar, berkata; aku telah mendengar Ibrahim bin Adham berkata: Qalbu orang beriman itu putih, bening, jelas, dapat untuk menghias diri bagaikan cermin, maka syetan tidak dapat datang dengan maksiat dari berbagai arah kecuali melihat kepadanya sebagaimana melihat wajah di cermin, maka jika berbuat sebuah dosa terdapat titik di dalam qalbunya titik hitam, maka jika bertaubat dari dosanya terhapuslah titik dari qalbunya dan kembali bening, dan jika belum bertaubat dan mengulangi lagi, dan diikuti dosa, dosa-dosa yang lain, terdapat titik di dalam qalbunya titik yang banyak hingga qalbu menjadi hitam, yaitu sebagaimana Firman Allah azza wa jalla “ Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka”.QS. Al Muthafifin: 14, dia berkata dosa sesudah dosa hingga qalbu perlahan-lahan menjadi hitam, pada qalbu ini pelajaran tidak berguna, tetapi jika bertaubat kepada Allah, Allah menerimanya dan qalbu menjadi bening seperti beningnya cermin.

Sedangkan di dalam kitab Shahih Muslim hadis nomor 207 digambarkan bahwa Qalbu terbagi dua: sebagian menjadi putih bagaikan batu licin yang tidak lagi terkena bahaya fitnah (cobaan, gangguan, hasutan) Sedangkan sebagian yang lain menjadi hitam keabu-abuan seperti bekas tembaga berkarat, tidak menyuruh kebaikan dan tidak pula melarang kemungkaran kecuali sesuatu yang diserap oleh hawa nafsunya,;

وَحَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ نُمَيْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ يَعْنِي سُلَيْمَانَ بْنَ حَيَّانَ عَنْ سَعْدِ بْنِ طَارِقٍ ،عَنْ رِبْعِيٍّ عَنْ حُذَيْفَةَ قَالَ: «كُنَّا عِنْدَ عُمَرَ فَقَالَ: أَيُّكُمْ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَذْكُرُ الْفِتَنَ؟ فَقَالَ قَوْمٌ: نَحْنُ سَمِعْنَاهُ، فَقَالَ: لَعَلَّكُمْ تَعْنُونَ فِتْنَةَ الرَّجُلِ فِي أَهْلِهِ وَجَارِهِ؟ قَالُوا: أَجَلْ. قَالَ: تِلْكَ تُكَفِّرُهَا الصَّلَاةُ وَالصِّيَامُ وَالصَّدَقَةُ، وَلَكِنْ أَيُّكُمْ سَمِعَ النَّبِيَّ ﷺ يَذْكُرُ الْفِتَنَ الَّتِي تَمُوجُ مَوْجَ الْبَحْرِ؟ قَالَ حُذَيْفَةُ: فَأَسْكَتَ الْقَوْمُ، فَقُلْتُ: أَنَا، قَالَ: أَنْتَ؟ لِلهِ أَبُوكَ، قَالَ حُذَيْفَةُ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ ﷺ يَقُولُ: تُعْرَضُ الْفِتَنُ عَلَى الْقُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ، حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ: عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا، فَلَا تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ، وَالْآخَرُ أَسْوَدُ مُرْبَادًّا كَالْكُوزِ، مُجَخِّيًا لَا يَعْرِفُ مَعْرُوفًا، وَلَا يُنْكِرُ مُنْكَرًا إِلَّا مَا أُشْرِبَ مِنْ هَوَاهُ. قَالَ حُذَيْفَةُ: وَحَدَّثْتُهُ أَنَّ بَيْنَكَ وَبَيْنَهَا بَابًا مُغْلَقًا يُوشِكُ أَنْ يُكْسَرَ، قَالَ عُمَرُ: أَكَسْرًا لَا أَبَا لَكَ؟ فَلَوْ أَنَّهُ فُتِحَ لَعَلَّهُ كَانَ يُعَادُ، قُلْتُ: لَا، بَلْ يُكْسَرُ، وَحَدَّثْتُهُ أَنَّ ذَلِكَ الْبَابَ رَجُلٌ [4]

Artinya: Telah menceritakan kepada kami [Muhammad bin Abdullah bin Numair] telah menceritakan kepada kami [Abu Khalid] -yaitu Sulaiman bin Hayyan- dari [Sa'ad bin Thariq] dari [Rib'i] dari Hudzaifah berkata: “Kami sedang berada di sisi Umar, lalu ia berkata: ‘Siapa di antara kalian yang pernah mendengar Rasulullah  menyebut tentang fitnah?’ Para sahabat menjawab: ‘Kami mendengarnya.’ Umar berkata: ‘Barangkali yang kalian maksud adalah fitnah seseorang pada diri, keluarga, dan tetangganya?’ Mereka menjawab: ‘Benar.’ Umar berkata: ‘Itu semua dihapuskan oleh salat, puasa, dan sedekah. Tetapi siapa di antara kalian yang mendengar Nabi  menyebut fitnah-fitnah yang bergelombang seperti gelombang laut?’ Hudzaifah berkata: ‘Maka mereka semua terdiam, lalu aku berkata: Aku.’ Umar bertanya: ‘Engkau?’ Maka aku menjawab: ‘Aku mendengar Rasulullah  bersabda: Fitnah-fitnah itu akan ditawarkan kepada hati seperti anyaman tikar, sebatang demi sebatang. Hati yang menerima fitnah itu akan ditandai dengan satu titik hitam, dan hati yang menolaknya akan ditandai dengan satu titik putih, hingga hati manusia menjadi dua jenis: hati yang putih seperti batu licin, yang tidak akan membahayakannya satu pun fitnah selama langit dan bumi masih ada; dan hati yang hitam keabu-abuan seperti bejana terbalik, tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran kecuali yang sesuai dengan hawa nafsunya.’ Hudzaifah berkata: ‘Aku juga memberitahunya bahwa antara engkau (wahai Umar) dan fitnah-fitnah itu ada sebuah pintu tertutup yang hampir akan segera dipecahkan.’ Umar bertanya: ‘Apakah akan dipecahkan, bukan dibuka?’ Aku menjawab: ‘Ya, dipecahkan.’ Dan aku telah memberitahunya bahwa pintu itu adalah seorang laki-laki.”

Buku “Ilmu Takwa ‘Cermin Qalbu’ Melihat Dan Mengukur Tingkat Fujur Dan Takwa Pada Diri Sendiri” disusun menjadi dua buku, buku yang pertama berjudul “Ilmu Takwa 3 ‘Cermin Qalbu Fujur’ Melihat Dan Membersihkan Fujur Pada Diri Sendiri” untuk dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai fujur; keburukan, yang terdiri dari sepuluh tingkat, selanjutnya masing-masing tingkatan fujur diberikan penjelasan secara mendalam berdasar informasi yang ada di dalam Al Quran dan Hadits.

Buku yang kedua berjudul “Ilmu Takwa 4 ‘Cermin Qalbu Taqwa’ Melihat, Menumbuhkan Takwa Pada Diri Sendiri”,  untuk dapat memberikan gambaran yang jelas mengenai takwa; kebaikan, kemudian diberikan gambaran tentang tingkatan takwa yang terdiri dari sebelas tingkat, selanjutnya masing-masing tingkatan takwa diberikan penjelasan secara mendalam berdasar informasi yang ada di dalam Al Quran dan hadits.

Dengan membaca dan mempelajari buku ini diharapkan dapat digunakan sebagai alat introspeksi; mengukur; melihat qalbu sendiri, dan selanjutnya dapat digunakan sebagai pedoman untuk membersihkan qalbu dari fujur dan menumbuhkan ketakwaan qalbu.

 

Doa Mohon Ketetapan Qalbu Berada Dalam Islam Dan Taat Kepada Allah  SWT

"يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ وَطَاعَتِكَ"

“Wahai Zat yang membolak balikkan qalbu, tetapkanlah qalbu kami pada agama-Mu

dan taat kepada-Mu.”

(HR. Ahmad: 26133)



[2] Imam Muslim, Shahih Muslim, Dar Ihyau Turats Al ‘Araby, Beirut, 1955 M, Jilid 4 , Halaman 1987, Hadits nomor 2564.

[3] Abu Bakar Ahmad Al Husain Al Baihaqi, Syuab Al-Iman, Dar Al-Kutub Al-Ilmiyah, Beirut, 2000, Jilid 5 Hal. 441, Hadits nomor 7207.

[4] Abu Al-Husain Muslim ibn Al-Hajaj ibn Muslim, Shahih Muslim, Dar At-Thaba’ah Al-‘Amirah, Turki, 1334 H, Jilid 1 , Halaman 89, Hadits nomor 144.


Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post