Allah menyatakan bahwa wali-wali Allah tidak takut dan bersedih, sedangkan wali-wali Allah adalah orang beriman yang bertakwa kepada Allah, pernyataan ini dimuat di dalam Al Quran Surat Yunus Ayat 62-64;
اَلَآ اِنَّ
اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ اَلَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَۗ لَهُمُ الْبُشْرٰى فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا
وَفِى الْاٰخِرَةِۗ لَا تَبْدِيْلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ
الْعَظِيْمُۗ
Artinya: Ketahuilah bahwa
sesungguhnya (bagi) para wali Allah itu tidak ada rasa takut yang menimpa
mereka dan mereka pun tidak bersedih. (Mereka adalah) orang-orang yang beriman
dan selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan
di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (ketetapan dan janji)
Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung. (QS. Yunus Ayat 62-64)
Di dalam Al Quran surat Al-Anfal/
8: 34 juga dinyatakan bahwa sesungguhnya wali-wali Allah adalah orang bertakwa;
وَمَا لَهُمْ أَلَّا
يُعَذِّبَهُمُ اللَّهُ وَهُمْ يَصُدُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَا
كَانُوا أَوْلِيَاءَهُ إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُونَ وَلَكِنَّ
أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ
Artinya: Kenapa Allah tidak
mengazab mereka padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi)
Masjidilharam, dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya?
Orang-orang yang berhak menguasai(nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa.
tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.(QS. Al-Anfal/ 8: 34)
Dalam menafsirkan ayat ini Imam Thabari memberi
penjelasan yang dimaksud dengan IInna ma Auliyaauhu al-Muttaqun adalah
bahwa wali wali Allah adalah orang yang bertakwa, kemudian dikemukakan beberapa
hadits yang memperkuat pendapat tersebut.[1]
Sedangkan di dalam kitab Mustadrak ‘Ala Shahihain
hadits nomor 4 digambarkan bahwa “Barangsiapa memusuhi wali-wali Allah, maka
dia telah menyatakan perang terhadap Allah secara terang-terangan. Sesungguhnya
Allah mencintai orang-orang baik yang bertakwa, yang suka menyamarkan diri”;
حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ،
ثنا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي
اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ عَيَّاشِ بْنِ عَبَّاسٍ الْقِتْبَانِيُّ، عَنْ زَيْدِ
بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ عُمَرَ، خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ يَوْمًا
فَوَجَدَ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ عِنْدَ قَبْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْكِي، فَقَالَ: مَا يُبْكِيكَ يَا مُعَاذُ؟ قَالَ:
يُبْكِينِي حَدِيثٌ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ،
يَقُولُ: «الْيَسِيرُ مِنَ الرِّيَاءِ شِرْكٌ، وَمَنْ عَادَى أَوْلِيَاءَ اللَّهِ
فَقَدْ بَارَزَ اللَّهَ بِالْمُحَارَبَةِ، إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْأَبْرَارَ
الْأَتْقِيَاءَ الْأَخْفِيَاءَ، الَّذِينَ إِنْ غَابُوا لَمْ يُفْتَقَدُوا، وَإِنْ
حَضَرُوا لَمْ يُعْرَفُوا، قُلُوبُهُمْ مَصَابِيحُ الْهُدَى، يَخْرُجُونَ مِنْ
كُلِّ غَبْرَاءَ مُظْلِمَةٍ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ وَلَمْ يُخَرَّجْ فِي
الصَّحِيحَيْنِ، وَقَدِ احْتَجَّا جَمِيعًا بِزَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِيهِ،
عَنْ الصَّحَابَةِ، وَاتَّفَقَا جَمِيعًا عَلَى الِاحْتِجَاجِ بِحَدِيثِ اللَّيْثِ
بْنِ سَعْدٍ، عَنْ عَيَّاشِ بْنِ عَبَّاسٍ الْقِتْبَانِيِّ وَهَذَا إِسْنَادٌ
مِصْرِيٌّ صَحِيحٌ وَلَا يَحْفَظُ لَهُ عِلَّةٌ»[2]
Artinya:
Abu Al Abbas Muhammad bin Ya'qub menceritakan kepada kami, Ar-Rabi' bin
Sulaiman menceritakan kepada kami, Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami,
Al-Laits bin Sa'ad mengabarkan kepadaku dari Ayyasy bin Abbas Al Qitbani, dari
Zaid bin Aslam, dari ayahnya, bahwa pada suatu hari Umar keluar menuju masjid,
lalu dia mendapati Mu'adz bin Jabal menangis di sisi makam Rasulullah
shallallahu 'alaihi wa sallam. Umar pun bertanya, "Apa yang membuatmu
menangis, wahai Mu'adz?" Mu'adz menjawab, "Aku menangis karena suatu
hadis yang pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam,
beliau bersabda, 'Riya yang sedikit adalah syirik. Barangsiapa memusuhi
wali-wali Allah, maka dia telah menyatakan perang terhadap Allah secara
terang-terangan. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang baik yang bertakwa,
yang suka menyamarkan diri (yang menyepi dari masyarakat dan tidak diketahui
tempatnya). Jika mereka tidak ada maka mereka tidak dicari, dan jika mereka ada
maka mereka tidak dikenal. Hati mereka adalah lentera petunjuk, mereka keluar
dari setiap masalah yang sulit'." Hadis ini shahih dan tidak dinukil dalam
Ash-Shahihain. Al Bukhari dan Muslim sama-sama menjadikan Yazid bin Aslam dari
ayahnya, dari para sahabat sebagai hujjah. Selain itu, keduanya juga sama-sama
sepakat menjadikan hadis Al-Laits bin Sa'ad dari Ayyasy bin Abbas Al Qutbani
sebagai hujjah. Ini merupakan sanad yang shahih dan tidak diketahui memiliki
cacat.
Adapun
di dalam kitab Sunan Abu Daud 3704, Musnad Ahmad 5892 digambarkan bahwa fitnah
Al Ahlas adalah adanya permusuhan dan peperangan, kemudian fitnah kesenangan
yang asapnya muncul dari bawah kedua kaki seorang laki-laki ahli baitku. Ia
mengaku berasal dari keturunanku, padahal bukan. Wali-waliku hanya orang-orang
yang bertakwa
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عُثْمَانَ بْنِ سَعِيدٍ
الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ
سَالِمٍ حَدَّثَنِي الْعَلَاءُ بْنُ عُتْبَةَ عَنْ عُمَيْرِ بْنِ هَانِئٍ
الْعَنْسِيِّ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ كُنَّا قُعُودًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ
فَذَكَرَ الْفِتَنَ فَأَكْثَرَ فِي ذِكْرِهَا حَتَّى ذَكَرَ فِتْنَةَ الْأَحْلَاسِ
فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا فِتْنَةُ الْأَحْلَاسِ قَالَ هِيَ
هَرَبٌ وَحَرْبٌ ثُمَّ فِتْنَةُ السَّرَّاءِ دَخَنُهَا مِنْ تَحْتِ قَدَمَيْ
رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يَزْعُمُ أَنَّهُ مِنِّي وَلَيْسَ مِنِّي وَإِنَّمَا
أَوْلِيَائِي الْمُتَّقُونَ ثُمَّ يَصْطَلِحُ النَّاسُ عَلَى رَجُلٍ كَوَرِكٍ
عَلَى ضِلَعٍ ثُمَّ فِتْنَةُ الدُّهَيْمَاءِ لَا تَدَعُ أَحَدًا مِنْ هَذِهِ
الْأُمَّةِ إِلَّا لَطَمَتْهُ لَطْمَةً فَإِذَا قِيلَ انْقَضَتْ تَمَادَتْ
يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا حَتَّى يَصِيرَ النَّاسُ
إِلَى فُسْطَاطَيْنِ فُسْطَاطِ إِيمَانٍ لَا نِفَاقَ فِيهِ وَفُسْطَاطِ نِفَاقٍ
لَا إِيمَانَ فِيهِ فَإِذَا كَانَ ذَاكُمْ فَانْتَظِرُوا الدَّجَّالَ مِنْ
يَوْمِهِ أَوْ مِنْ غَدِهِ
Artinya:
Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Utsman bin Sa'id Al Himshi berkata,
telah menceritakan kepada kami Abu Al Mughirah berkata, telah menceritakan
kepadaku Abdullah bin Salim berkata, telah menceritakan kepadaku Al 'Ala bin
Utbah dari Umair bin Hani Al 'Ansi ia berkata; Aku mendengar Abdullah bin Umar
berkata, "Saat kami duduk-duduk di sisi Rasulullah ﷺ,
beliau bercerita tentang fitnah, panjang lebar beliau bercerita seputar fitnah
itu hingga beliau menyebutkan tentang fitnah Al Ahlas. Seorang laki-laki lalu
bertanya, "Wahai Rasulullah, apa itu fitnah Al Ahlas?" beliau
menjawab: "Adanya permusuhan dan peperangan, kemudian fitnah kesenangan yang
asapnya muncul dari bawah kedua kaki seorang laki-laki ahli baitku. Ia mengaku
berasal dari keturunanku, padahal bukan. Wali-waliku hanya orang-orang yang
bertakwa. Kemudian orang-orang akan berdamai pada seorang laki-laki layaknya
pangkal paha yang bertumpuk di tulang rusuk (kesepakatan yang semu). Kemudian
akan muncul fitnah seorang yang buta (dengan kekuasaan), tidak seorang pun dari
umat ini kecuali ia akan mendapat satu tamparan di mukanya (bencana kerusakan
darinya). Ketika fitnah itu telah dianggap usai, namun fitnah tersebut justru
berkelanjutan. Seorang laki-laki yang paginya beriman menjadi kafir di waktu
sore, sehingga manusia akan menjadi dua kelompok; sekelompok orang yang beriman
dan tidak ada kemunafikan dalam keimanannya, dan sekelompok orang yang penuh kemunafikan
dan tidak ada keimanan padanya. Jika kondisi kalian sudah begitu, maka
tunggulah munculnya Dajjal pada hari itu atau keesokan harinya."
Dua
ayat Al-Quran dan dua Hadits yang telah dikemukakan menyebutkan bahwa wali-wali
Allah dan Rasulullah Muhammad SAW adalah orang-orang yang bertakwa, maka tujuan
penulisan buku Ilmu
Takwa 6 Auliya Allah Menjadi Kekasih Allah Dengan Jalan Takwa, adalah untuk
memaparkan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits yang menggambarkan bagaimana
langkah-langkah menjadi wali Allah.
[1] Abu
Ja’far Muhammad Ibn Jarir Al-Thabari (Wafat 310 H), Jami’ Al Bayan ‘An
Ta’wil Ayi Al-Quran, Dar Al-Tarbiyah Wa Al-Turats, Mekah, tt, Jilid 13,
Halaman 519-520.
[2] Muhammad
ibn Abdullah Al-Hakim Al-Naisaburi, Al-Mustdrak ‘Ala Al-Shahihain, Dar
Al-Kitab Al-Alamiyah, Beirut, 1990, Jilid 1, Halaman 44, Hadits nomor 4.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar