15/03/2026

AULIYA ALLAH

 

            Allah menyatakan bahwa wali-wali Allah tidak takut dan bersedih, sedangkan wali-wali Allah adalah orang beriman yang bertakwa kepada Allah, pernyataan ini dimuat di dalam Al Quran Surat Yunus Ayat 62-64;

اَلَآ اِنَّ اَوْلِيَاۤءَ اللّٰهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَۗ لَهُمُ الْبُشْرٰى فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَفِى الْاٰخِرَةِۗ لَا تَبْدِيْلَ لِكَلِمٰتِ اللّٰهِ ۗذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُۗ

Artinya: Ketahuilah bahwa sesungguhnya (bagi) para wali Allah itu tidak ada rasa takut yang menimpa mereka dan mereka pun tidak bersedih. (Mereka adalah) orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (ketetapan dan janji) Allah. Demikian itulah kemenangan yang agung. (QS. Yunus Ayat 62-64)

            Di dalam Al Quran surat Al-Anfal/ 8: 34 juga dinyatakan bahwa sesungguhnya wali-wali Allah adalah orang bertakwa;

وَمَا لَهُمْ أَلَّا يُعَذِّبَهُمُ اللَّهُ وَهُمْ يَصُدُّونَ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَا كَانُوا أَوْلِيَاءَهُ إِنْ أَوْلِيَاؤُهُ إِلَّا الْمُتَّقُونَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ

Artinya: Kenapa Allah tidak mengazab mereka padahal mereka menghalangi orang untuk (mendatangi) Masjidilharam, dan mereka bukanlah orang-orang yang berhak menguasainya? Orang-orang yang berhak menguasai(nya) hanyalah orang-orang yang bertakwa. tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.(QS. Al-Anfal/ 8: 34)

Dalam menafsirkan ayat ini Imam Thabari memberi penjelasan yang dimaksud dengan IInna ma Auliyaauhu al-Muttaqun adalah bahwa wali wali Allah adalah orang yang bertakwa, kemudian dikemukakan beberapa hadits yang memperkuat pendapat tersebut.[1]

Sedangkan di dalam kitab Mustadrak ‘Ala Shahihain hadits nomor 4 digambarkan bahwa “Barangsiapa memusuhi wali-wali Allah, maka dia telah menyatakan perang terhadap Allah secara terang-terangan. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang baik yang bertakwa, yang suka menyamarkan diri”;

حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ، ثنا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ، ثنا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ، أَخْبَرَنِي اللَّيْثُ بْنُ سَعْدٍ، عَنْ عَيَّاشِ بْنِ عَبَّاسٍ الْقِتْبَانِيُّ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِيهِ، أَنَّ عُمَرَ، خَرَجَ إِلَى الْمَسْجِدِ يَوْمًا فَوَجَدَ مُعَاذَ بْنَ جَبَلٍ عِنْدَ قَبْرِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَبْكِي، فَقَالَ: مَا يُبْكِيكَ يَا مُعَاذُ؟ قَالَ: يُبْكِينِي حَدِيثٌ سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: «الْيَسِيرُ مِنَ الرِّيَاءِ شِرْكٌ، وَمَنْ عَادَى أَوْلِيَاءَ اللَّهِ فَقَدْ بَارَزَ اللَّهَ بِالْمُحَارَبَةِ، إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْأَبْرَارَ الْأَتْقِيَاءَ الْأَخْفِيَاءَ، الَّذِينَ إِنْ غَابُوا لَمْ يُفْتَقَدُوا، وَإِنْ حَضَرُوا لَمْ يُعْرَفُوا، قُلُوبُهُمْ مَصَابِيحُ الْهُدَى، يَخْرُجُونَ مِنْ كُلِّ غَبْرَاءَ مُظْلِمَةٍ» . «هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ وَلَمْ يُخَرَّجْ فِي الصَّحِيحَيْنِ، وَقَدِ احْتَجَّا جَمِيعًا بِزَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ الصَّحَابَةِ، وَاتَّفَقَا جَمِيعًا عَلَى الِاحْتِجَاجِ بِحَدِيثِ اللَّيْثِ بْنِ سَعْدٍ، عَنْ عَيَّاشِ بْنِ عَبَّاسٍ الْقِتْبَانِيِّ وَهَذَا إِسْنَادٌ مِصْرِيٌّ صَحِيحٌ وَلَا يَحْفَظُ لَهُ عِلَّةٌ»[2]

Artinya: Abu Al Abbas Muhammad bin Ya'qub menceritakan kepada kami, Ar-Rabi' bin Sulaiman menceritakan kepada kami, Abdullah bin Wahb menceritakan kepada kami, Al-Laits bin Sa'ad mengabarkan kepadaku dari Ayyasy bin Abbas Al Qitbani, dari Zaid bin Aslam, dari ayahnya, bahwa pada suatu hari Umar keluar menuju masjid, lalu dia mendapati Mu'adz bin Jabal menangis di sisi makam Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Umar pun bertanya, "Apa yang membuatmu menangis, wahai Mu'adz?" Mu'adz menjawab, "Aku menangis karena suatu hadis yang pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda, 'Riya yang sedikit adalah syirik. Barangsiapa memusuhi wali-wali Allah, maka dia telah menyatakan perang terhadap Allah secara terang-terangan. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang baik yang bertakwa, yang suka menyamarkan diri (yang menyepi dari masyarakat dan tidak diketahui tempatnya). Jika mereka tidak ada maka mereka tidak dicari, dan jika mereka ada maka mereka tidak dikenal. Hati mereka adalah lentera petunjuk, mereka keluar dari setiap masalah yang sulit'." Hadis ini shahih dan tidak dinukil dalam Ash-Shahihain. Al Bukhari dan Muslim sama-sama menjadikan Yazid bin Aslam dari ayahnya, dari para sahabat sebagai hujjah. Selain itu, keduanya juga sama-sama sepakat menjadikan hadis Al-Laits bin Sa'ad dari Ayyasy bin Abbas Al Qutbani sebagai hujjah. Ini merupakan sanad yang shahih dan tidak diketahui memiliki cacat.

Adapun di dalam kitab Sunan Abu Daud 3704, Musnad Ahmad 5892 digambarkan bahwa fitnah Al Ahlas adalah adanya permusuhan dan peperangan, kemudian fitnah kesenangan yang asapnya muncul dari bawah kedua kaki seorang laki-laki ahli baitku. Ia mengaku berasal dari keturunanku, padahal bukan. Wali-waliku hanya orang-orang yang bertakwa

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ عُثْمَانَ بْنِ سَعِيدٍ الْحِمْصِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو الْمُغِيرَةِ حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ سَالِمٍ حَدَّثَنِي الْعَلَاءُ بْنُ عُتْبَةَ عَنْ عُمَيْرِ بْنِ هَانِئٍ الْعَنْسِيِّ قَالَ سَمِعْتُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ كُنَّا قُعُودًا عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ فَذَكَرَ الْفِتَنَ فَأَكْثَرَ فِي ذِكْرِهَا حَتَّى ذَكَرَ فِتْنَةَ الْأَحْلَاسِ فَقَالَ قَائِلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا فِتْنَةُ الْأَحْلَاسِ قَالَ هِيَ هَرَبٌ وَحَرْبٌ ثُمَّ فِتْنَةُ السَّرَّاءِ دَخَنُهَا مِنْ تَحْتِ قَدَمَيْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِي يَزْعُمُ أَنَّهُ مِنِّي وَلَيْسَ مِنِّي وَإِنَّمَا أَوْلِيَائِي الْمُتَّقُونَ ثُمَّ يَصْطَلِحُ النَّاسُ عَلَى رَجُلٍ كَوَرِكٍ عَلَى ضِلَعٍ ثُمَّ فِتْنَةُ الدُّهَيْمَاءِ لَا تَدَعُ أَحَدًا مِنْ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا لَطَمَتْهُ لَطْمَةً فَإِذَا قِيلَ انْقَضَتْ تَمَادَتْ يُصْبِحُ الرَّجُلُ فِيهَا مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا حَتَّى يَصِيرَ النَّاسُ إِلَى فُسْطَاطَيْنِ فُسْطَاطِ إِيمَانٍ لَا نِفَاقَ فِيهِ وَفُسْطَاطِ نِفَاقٍ لَا إِيمَانَ فِيهِ فَإِذَا كَانَ ذَاكُمْ فَانْتَظِرُوا الدَّجَّالَ مِنْ يَوْمِهِ أَوْ مِنْ غَدِهِ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Utsman bin Sa'id Al Himshi berkata, telah menceritakan kepada kami Abu Al Mughirah berkata, telah menceritakan kepadaku Abdullah bin Salim berkata, telah menceritakan kepadaku Al 'Ala bin Utbah dari Umair bin Hani Al 'Ansi ia berkata; Aku mendengar Abdullah bin Umar berkata, "Saat kami duduk-duduk di sisi Rasulullah , beliau bercerita tentang fitnah, panjang lebar beliau bercerita seputar fitnah itu hingga beliau menyebutkan tentang fitnah Al Ahlas. Seorang laki-laki lalu bertanya, "Wahai Rasulullah, apa itu fitnah Al Ahlas?" beliau menjawab: "Adanya permusuhan dan peperangan, kemudian fitnah kesenangan yang asapnya muncul dari bawah kedua kaki seorang laki-laki ahli baitku. Ia mengaku berasal dari keturunanku, padahal bukan. Wali-waliku hanya orang-orang yang bertakwa. Kemudian orang-orang akan berdamai pada seorang laki-laki layaknya pangkal paha yang bertumpuk di tulang rusuk (kesepakatan yang semu). Kemudian akan muncul fitnah seorang yang buta (dengan kekuasaan), tidak seorang pun dari umat ini kecuali ia akan mendapat satu tamparan di mukanya (bencana kerusakan darinya). Ketika fitnah itu telah dianggap usai, namun fitnah tersebut justru berkelanjutan. Seorang laki-laki yang paginya beriman menjadi kafir di waktu sore, sehingga manusia akan menjadi dua kelompok; sekelompok orang yang beriman dan tidak ada kemunafikan dalam keimanannya, dan sekelompok orang yang penuh kemunafikan dan tidak ada keimanan padanya. Jika kondisi kalian sudah begitu, maka tunggulah munculnya Dajjal pada hari itu atau keesokan harinya."

Dua ayat Al-Quran dan dua Hadits yang telah dikemukakan menyebutkan bahwa wali-wali Allah dan Rasulullah Muhammad SAW adalah orang-orang yang bertakwa, maka tujuan penulisan buku Ilmu Takwa 6 Auliya Allah Menjadi Kekasih Allah Dengan Jalan Takwa, adalah untuk memaparkan ayat-ayat Al-Quran dan Hadits yang menggambarkan bagaimana langkah-langkah menjadi wali Allah.



[1] Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarir Al-Thabari (Wafat 310 H), Jami’ Al Bayan ‘An Ta’wil Ayi Al-Quran, Dar Al-Tarbiyah Wa Al-Turats, Mekah, tt, Jilid 13, Halaman 519-520.

[2] Muhammad ibn Abdullah Al-Hakim Al-Naisaburi, Al-Mustdrak ‘Ala Al-Shahihain, Dar Al-Kitab Al-Alamiyah, Beirut, 1990, Jilid 1, Halaman 44, Hadits nomor 4.

Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post