3.6. Menyembah Allah Dan Tidak Mensekutukannya
Pada sub bab ini akan dikemukakan pembahasan tentang
berbagai informasi yang menggambarkan perintah menyembah Allah dan larangan
mensekutukan Allah, yang dijelaskan di dalam ayat-ayat Al-Quran;
3.6.1. Sembahlah
Allah Dan Jangan Mensekutukan-Nya Dengan Sesuatupun
Di dalam Al-Quran surat An-Nisa'/ 4: 36 disebutkan
perintah Allah untuk menyembah Allah dan larangan untuk mensekutukan Allah
dengan sesuatupun;
وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا
بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى
وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ
بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا
يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا
Artinya: Sembahlah
Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat
baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang
miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu
sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
sombong dan membangga-banggakan diri, (QS. An-Nisa'/ 4: 36)
3.6.2. Kesaksian
Bahwa Tidak Ada Tuhan-Tuhan Lain Di Samping Allah
Di dalam Al-Quran
surat Al-An'am/ 6: 19 Allah mengajukan pertanyaan Apakah ada Tuhan-Tuhan lain
selain Allah ? kemudian Allah menyuruh untuk bersaksi bahwa Allah adalah
satu-satunya Tuhan;
قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً
قُلِ اللَّهُ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ
لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ
آلِهَةً أُخْرَى قُلْ لَا أَشْهَدُ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي
بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ
Artinya: Katakanlah:
"Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah:
"Allah". Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini
diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan
kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu
mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?" Katakanlah:
"Aku tidak mengakui". Katakanlah: "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan
Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu
persekutukan (dengan Allah)".(QS. Al-An'am/ 6: 19)
3.6.3. Jangan
Menyembah Sesuatupun Bersama Allah
Di dalam Al-Quran
surat Al-Jin/ 72: 18 disebutkan larangan untuk jangan menyembah sesuatupun
bersama Allah;
وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا
تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا
Artinya:
Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah
kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (QS. Al-Jin/ 72: 18)
3.6.4. Jangan
Mensekutukan Allah Dengan Sesuatu Yang Allah Tidak Menurunkan Hujjah
Al-Quran
surat Al-A'raf/ 7: 33 dan
Al-Hajj/ 22: 71 menyebutkan
larangan untuk mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan
hujjah untuk itu
قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ
الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ
الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ
تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ
Artinya:
Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang
nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia
tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu
yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan
terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui". (QS. Al-A'raf/ 7: 33)
وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا
لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَا لَيْسَ لَهُمْ بِهِ عِلْمٌ وَمَا
لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ
Artinya:
Dan mereka menyembah selain Allah, apa yang Allah tidak menurunkan
keterangan tentang itu, dan apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan
terhadapnya. Dan bagi orang-orang yang zalim sekali-kali tidak ada seorang
penolongpun. (QS. Al-Hajj/ 22: 71)
3.6.5. Sembahlah
Allah (Saja), Dan Jauhilah Thaghut Itu
Di dalam Al-Quran
surat An-Nahl/ 16: 36 disebutkan perintah Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah
Thaghut itu;
وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ
رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى
اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ
فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ
Artinya:
Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk
menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka
di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula
di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah
kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan
(rasul-rasul). (QS. An-Nahl/ 16: 36)
Menurut Ibnu
Qayyim al-Jauziyyah, thaghut merupakan konsep penting dalam memahami sumber
kesesatan manusia. Ia mendefinisikannya secara komprehensif sebagai segala
sesuatu yang menyebabkan seorang hamba melampaui batas ketaatan yang seharusnya
hanya diberikan kepada Allah. Dalam I‘lam al-Muwaqqi‘īn, Ibnu Qayyim
menyatakan;
الطَّاغُوتُ مَا تَجَاوَزَ بِهِ الْعَبْدُ
حَدَّهُ مِنْ مَعْبُودٍ، أَوْ مَتْبُوعٍ، أَوْ مُطَاعٍ".[1]
Thaghut adalah “segala sesuatu yang membuat hamba melampaui batas, baik dalam bentuk sesuatu yang disembah, diikuti, atau ditaati.” Dengan demikian, thāghūt dapat berupa berhala, setan, pemimpin sesat, ideologi menyimpang, atau manusia yang memaksakan ketaatan di luar tuntunan Allah. Konsep ini menegaskan bahwa inti thāghūt adalah segala bentuk penyimpangan yang mengalihkan ketaatan, kepatuhan, atau penghambaan dari Allah kepada selain-Nya.
[1] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, I‘lam al-Muwaqqi‘īn ‘an Rabb al-‘Ālamīn,
Juz 1 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1991), halaman 50.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar