29/09/2026

3.6. Menyembah Allah Dan Tidak Mensekutukannya

 3.6.  Menyembah Allah Dan Tidak Mensekutukannya

Pada sub bab ini akan dikemukakan pembahasan tentang berbagai informasi yang menggambarkan perintah menyembah Allah dan larangan mensekutukan Allah, yang dijelaskan di dalam ayat-ayat Al-Quran;

3.6.1. Sembahlah Allah Dan Jangan Mensekutukan-Nya Dengan Sesuatupun

Di dalam Al-Quran surat An-Nisa'/ 4: 36 disebutkan perintah Allah untuk menyembah Allah dan larangan untuk mensekutukan Allah dengan sesuatupun;

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَبِذِي الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينِ وَالْجَارِ ذِي الْقُرْبَى وَالْجَارِ الْجُنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالْجَنْبِ وَابْنِ السَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يُحِبُّ مَنْ كَانَ مُخْتَالًا فَخُورًا

Artinya: Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapa, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, dan teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri, (QS. An-Nisa'/ 4: 36)

3.6.2. Kesaksian Bahwa Tidak Ada Tuhan-Tuhan Lain Di Samping Allah

Di dalam Al-Quran surat Al-An'am/ 6: 19 Allah mengajukan pertanyaan Apakah ada Tuhan-Tuhan lain selain Allah ? kemudian Allah menyuruh untuk bersaksi bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan;

قُلْ أَيُّ شَيْءٍ أَكْبَرُ شَهَادَةً قُلِ اللَّهُ شَهِيدٌ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَأُوحِيَ إِلَيَّ هَذَا الْقُرْآنُ لِأُنْذِرَكُمْ بِهِ وَمَنْ بَلَغَ أَئِنَّكُمْ لَتَشْهَدُونَ أَنَّ مَعَ اللَّهِ آلِهَةً أُخْرَى قُلْ لَا أَشْهَدُ قُلْ إِنَّمَا هُوَ إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنَّنِي بَرِيءٌ مِمَّا تُشْرِكُونَ

Artinya: Katakanlah: "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah: "Allah". Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran (kepadanya). Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?" Katakanlah: "Aku tidak mengakui". Katakanlah: "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan (dengan Allah)".(QS. Al-An'am/ 6: 19)

3.6.3. Jangan Menyembah Sesuatupun Bersama Allah

Di dalam Al-Quran surat Al-Jin/ 72: 18 disebutkan larangan untuk jangan menyembah sesuatupun bersama Allah;

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

Artinya: Dan sesungguhnya mesjid-mesjid itu adalah kepunyaan Allah. Maka janganlah kamu menyembah seseorangpun di dalamnya di samping (menyembah) Allah. (QS. Al-Jin/ 72: 18)

3.6.4. Jangan Mensekutukan Allah Dengan Sesuatu Yang Allah Tidak Menurunkan Hujjah

Al-Quran surat Al-A'raf/ 7: 33 dan Al-Hajj/ 22: 71 menyebutkan larangan untuk mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui". (QS. Al-A'raf/ 7: 33)

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَا لَيْسَ لَهُمْ بِهِ عِلْمٌ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ نَصِيرٍ

Artinya: Dan mereka menyembah selain Allah, apa yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu, dan apa yang mereka sendiri tiada mempunyai pengetahuan terhadapnya. Dan bagi orang-orang yang zalim sekali-kali tidak ada seorang penolongpun. (QS. Al-Hajj/ 22: 71)

3.6.5. Sembahlah Allah (Saja), Dan Jauhilah Thaghut Itu

Di dalam Al-Quran surat An-Nahl/ 16: 36 disebutkan perintah Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu;

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولًا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلَالَةُ فَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ

Artinya: Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. An-Nahl/ 16: 36)

Menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah, thaghut merupakan konsep penting dalam memahami sumber kesesatan manusia. Ia mendefinisikannya secara komprehensif sebagai segala sesuatu yang menyebabkan seorang hamba melampaui batas ketaatan yang seharusnya hanya diberikan kepada Allah. Dalam I‘lam al-Muwaqqi‘īn, Ibnu Qayyim menyatakan;

الطَّاغُوتُ مَا تَجَاوَزَ بِهِ الْعَبْدُ حَدَّهُ مِنْ مَعْبُودٍ، أَوْ مَتْبُوعٍ، أَوْ مُطَاعٍ".[1]

Thaghut adalah “segala sesuatu yang membuat hamba melampaui batas, baik dalam bentuk sesuatu yang disembah, diikuti, atau ditaati.” Dengan demikian, thāghūt dapat berupa berhala, setan, pemimpin sesat, ideologi menyimpang, atau manusia yang memaksakan ketaatan di luar tuntunan Allah. Konsep ini menegaskan bahwa inti thāghūt adalah segala bentuk penyimpangan yang mengalihkan ketaatan, kepatuhan, atau penghambaan dari Allah kepada selain-Nya.


[1] Ibn Qayyim al-Jawziyyah, I‘lam al-Muwaqqi‘īn ‘an Rabb al-‘Ālamīn, Juz 1 (Beirut: Dār al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1991), halaman 50.

Tidak ada komentar:

Post Post

HADIAH

HADIAH Buku Ilmu Takwa 1 hingga 6 ini kami persembahkan sebagai hadiah yang sangat berharga,  kami hadiahkan kepada siapapun umat Islam ya...

Popular Post